Tangan Geledek Jilid 20

Jilid 20

GERAKANNYA ini sudah me nunjukkan bahwa kesombongan orang she Ouw ini memang berisi. Namun Li Hwa sama sekali tidak gentar. De ngan tenang ia melangkah ke tengah ruangan yang luas, berdiri melintangkan pedang di dada sambil berkata, “Saudara Ouw, silakan !"

Ouw Beng Sin melangkah maju menghampiri, membungkuk-bungkuk dan menjawab, “Wan toanio, siauwte menanti. Mulailah."

"Aku pihak nyonya rumah, kaumulailah dulu." Li Hwa menjawab, sesuai dengan kesopanan ahli silat.

"Akan tatapi siauwte seorang pria, tidak patut kurang ajar. Toanio jangan banyak sungkan, harap membuka serangan."

Memang LI Hwa bukan seorang yang biasa sungkan- sungkan, maka ia mulai memutar pedangnya dan berkata,

“Saudara Ouw, lihat pedang !" Tangannya menggerakkan pedang dan sinar hijau manyambar ke arah dada Ouw Beng Sin. Ouw Beng Sin cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga untuk mengukur sampai di mana tenaga nyonya pendekar itu. Akan tetapi ia kecele karena bagaikan seekor belut yang cepat gerakannya, pedang Cheng-liong kiam sudah ditarik mundur untuk melakukan serangan ke dua membabat leher.

Terkejutlah sekarang Ouw Beng Sin. Dia sudah banyak berhadapan dengan ahli pedang namun belum pernah bertemu ilmu pedang secepat ini. Ia berlaku hati-hati, mengelak dan menangkis sambil mencari lowongan membalas serangan. Akan tetapi, Li Hwa tidak memungkinkan adanya lowongan itu. Pedangnya terus menerjang secara berantai, tidak dapat diselingi sebuah tusukan maupun bacokan dari lawan. Demikian cepatnya gerak pedangnya sehingga yang kelihatan hanya sinar hijau dan Ouw Beng Sin merasa diserang oleh ratusan buah pedang !

"Hebat .....! Kim-hoat bagus....... ! berkali-kali Ouw Bwng Sin berseru kagum. Baru sekarang ia merasa takluk betul- betul. Baru isteri Wan Sin Hong saja kiam hoatnya sudah begini luar biasa, apa lagi ilmu pedang pendekar sakti itu ! Sebentar saja sinar pedangnya yang kemerahan sudah lenyap cahayanya, terbungkus oleh berkelebatnya sinar hijau, pedang di tangan Li Hwa.

Kalau ia mau, Li Hwa dapat melukai Ouw Beng Sin. Akan tetapi tentu saja Li Hwa tidak mau membikin malu seorang tamu yang dibawa datang oleh Hwa Thian Hwesio. Bukannya karena ilmu kepandaian orang she Ouw itu amat rendah.

Sebetulnya ilmu pedang Ouw Beng Sin juga lihai dan pantas kalau jarang ada orang kangouw dapat menandinginya.

Kalau hanya Coa Hong Kin atau Go Hui Lian saja kiranya hanya bisa mengimbangi permainan pedang Ouw Beng Sin dan tentu akan makan waktu ratusan jurus baru bisa mangalahkannya. Kepandaian mereka setingkat. Akan tetapi harus diketahui bahwa sebelumnya Li Hwa memang sudah lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Kemudian ditambah lagi ole h latihan dari Toat be ng Kui-bo dan akhir-akhir ini mendapat petunjuk dari suaminya sendiri. Tentu saja kiam-hoatnya luar biasa sekali.

Li Hwa hanya menyerang sampai dua puluh jurus.

Sengaja ia me nanti sampai dua puluh jurus dan pada jurus terakhir ujung pedangnya menotol bajunya di bagian dada kiri Ouw Be ng Sin, kemudian ia melompat mundur sambil berkata

"Saudara Ouw memang memiliki  kiam hoat bagus !"

Merah sekali muka Ouw Beng Sin. Gerakan Li Hwa tadi selain indah juga amat cepat sehingga "tusukannya" tidak terlihat oleh orang lain keceuali Ouw Beng Sin yang cepat melirik ke arah bajunya yang sudah bolong kecil.

"Wan-toanio benar-benar lihai sekali ihmu pedangnya." ia berkata sambil menjura berkali-kali. Hwa Thian Hwesio tertawa bergelak dan berkata nyaring.

"Bagus, pinceng telah menyaksikan kiam-hoat indah dan kali ini Ouw-sicu tidak penasaran. Ha-ha-ha !”

Tiba-tiba terdengar suara keras dan tubuh seorang penjaga melayang ke dalam ruangan itu. Muka penjaga itu pucat sekali. Agaknya menderita luka bebat. Dengan susah payah ia bangun kembali dan Hong Kin cepat menolongnya, mendudukkannya di atas bangku.

"A Liok, kau kenapakah?” tanyanya.

"Di luar..... ada penjahat ...... Ting twako dibunuh.......

dan....... dan....... uaaah!" Penjaga itu muntahkan darah segar dan tubuhnya menjadi lemas, kepalanya lunglai dan terbanting ke atas meja. Bagaikan orang tertidur saja ia tak bergerak. Semua orang menjadi terkejut dan cepat memandang ke luar. Sunyi saja di luar. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang gerakannya cepat bukan main sehingga tahu-tahu kelihatan orangnya di dalam ruangan itu, tersenyum-senyum mengejek dan matanya menyapu-nyapu lima orang yang berdiri memandangnya. Dia masih muda, seorang pemuda tampan yang membawa dua senjata aneh sekali.

Tangan kanannya memegang sebuah lengan manusia yang sudah tidak ada dagingnya, tinggal kulit yang membungkus tulang dan di dekat pergelangan tangan terdapat seekor ular putih berbisa. Tangan kirinya memegang sebatang huncwe bambu. Ia memandang sambil tersenyum, kadang-kadang mengisap ujung huncwe yang sudah diisi tembakau dan menyala, akan tetapi anehnya, asap yang diisapnya tak pernah keluar dari mulutnya.

Lima orang yang berada di ruangan itu adalah ahli-ahli silat tinggi. Melihat cara pemuda tampan ini mengisap huncwa yang terus disedot ke dalam akan tetapi tidak

dike luarkan lagi, menjadi terkejut. Hanya dengan lweekang yang amat tinggi orang dapat melakukan hal ini dan secara diam-diam pemuda ini datang-datang telah mendemonstrasikan kesaktiannya.

"Kau siapakah dan apakah kau yang membunuh, dan melukai dua orang panjaga rumah kami?" tanya Coa Hong Kin yang sudah melangkah maju.

Pemuda itu bukan lain adalah Liok Cui Kong! Senyumnya melebar dan harus diakui bahwa pemuda ini berwajah tampan. Dengan sikap kurang ajar ia  melirik ke  arah Hui Lian dan Li Hwa, kemudian menjawab.

"Kusangka penjaga-penjaga Kim bun-to lihai, tidak tahunya hanya gentong-gentong kosong! Ada tamu agung tidak disambut, bukankah mereka itu kurang ajar dan patut dibunuh?’ Mendengar ucapan ini, Hui Lian naik darah. Ia melangkah maju dan berdiri dekat suaminya, lalu menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.

"Tikus busuk ! Siapa namamu dan dengan maksud apa kau datang-datang mengacau? Apa kau sudah bosan hidup?” Sambil berkata demikian Hui Lian sudah mencabut pedangnya juga Hong Kin meraba gagang pedang karena maklum bahwa pemuda itu datang bukan dengan maksud baik.

"Hmmm, kalau tidak salah lihat, pernah pinceng melihat muka orang muda ini, dia bersama bangsat besar Liok Kong Ji.....” Hwa Thian Hwesio menghentikan kata-katanya ketika sepasang mata pemuda itu memandang dengan tajam penuh ancaman seperti mata setan.

"Aku bernama Liok Cui Kong dan siapakah di antara kalian yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian?”

"Kami yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Kau mau apa?” Kini Hong Kin juga sudah mencabut pedang.

Cui Kong tertawa mengejek. "Apakah Tiang Bu itu anak kalian ?”

Mendengar pertanyaan ini, Hong Kin melengak. Akan tetapi Hui Lian segera menjawab. "Betul, Tiang Bu anak kami. Kau mau apa ?"

Kembali Cui Kong tertawa dan tiba-tiba menyemburkan asap putih bergumpal-gumpal ke arah muka Hong Kin dan Hui Lian. "Bagus! Aku datang hendak membunuh kalian. Ha-ha ha!” Makin banyak asap ke luar dari mulut pemuda ini. agaknya asap dari huncwe yang tadi diisapnya dan baru

sekarang ia keluarkan. Hong Kin dan Hui Lian kaget sekali, hendak mengelak namun tidak keburu,. Mata mereka terasa pedas tak dapat dibuka dan bau yang amat keras menyesakkan pernapasan mereka. “Asap beracun, awas !” seru Hwa Thian Hwesio yang cepat mendekap hidung dan mulutnya, sedangkan tangan kirinya menggerakkan tongkat. Juga  Li  Hwa  sudah mencabut pedang sambil mengeluarkan dua butir pil merah.

Sebutir ia masukkan ke dalam mulut, yang sebutir lagi ia berikan kepada Hwa Thian Hwesio.

“Hwa Thian suhu, simpan ini di mulut dan mari kita gempur iblis cilik ini !”

Akan tetapi, Cui Kong benar benar hebat. Ia menyemburkan terus asap putih itu memenuhi ruangan dan lengan manusia dengan ularnya itu mulai ia gerakkan menyerang Hwa Thian Hwesio yang berada di mukanya.

Ouw Beng Sin berseru, “Pemuda jahat sekali, kau mampus di tanganku orang she Ouw.” Pedangnya diayun dan karena kebetulan berdiri di belakang Cui Kong ia langsung menyabetkan pedang ke arah kepala pemuda itu sekuat tenaga. Akan tetapi. tanpa menoleh Cui Kong menyabetkan tangan kering itu ke belakang untuk menangkis dan ...... Ouw Beng Sin memekik nyaring lalu roboh, tewas tergigit ular putih yang amat berbisa!

Sementara itu, Hui Lian dan Hong Kin masih terhuyung huyung dan mundur sambil batuk-batuk. Baiknya ada Hwa Thian Hwesio dan Li Hwa yang sudah memutar senjata menyerang Cui Kong sehingga pemuda ini terhambat gerakannya. Kalau tidak ada pertolongan ini, tentu dengan mudah Cui Kong dapat menyerang suami isteri yang sedang repot ini.

Asap yang disemburkan oleh Cui Kong memang asap berbisa yang amat berbahaya. Mata hanya terasa pedas saja kalau terkena akan tetapi siapa yang menyedot asap ini, paru-parunya akan keracunan dan keadaannya berbahaya sekali. Cui Kong seridiri sudah mempergunakan obat penawar maka ia tidak terpengaruh oleh asap ini. Selain asapnya yang berbisa, juga huncwe di tangan pemuda itu adalah sebuah senjata yang luar biasa lihainya dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Kepandaian Cui Kong dalam mempergunakan senjata istimewa ini amat tinggi. Ditambah lagi dengan senjata aneh berupa lengan manusia dengan ular berbisa, benar-benar Cui Kong merupakan lawan yang amat tangguh. Bahkan pengeroyokan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio tak dapat mendesaknya. Sebaliknya.  Cui Kong tidak mau menghabiskan seluruh perhatiannya untuk dua orang lihai ini. Kedatangannya untuk membunuh ayah ibu Tiang Bu sebagai perbuatan balasan dari serbuan Tiang Bu ke Ui tiok- lim.

la tahu bahwa setelah Tiang Bu tidak mau mengaku Kong Ji sebagai ayah bahkan memusuhinya, tentu Tiang Bu amat sayang kepada ayah bunda angkatnya ini. Dan menghadapi Tiang Bu sendiri adalah berbahaya dan sukar karena Tiang Bu amat

lihai, jalan satu-satunya yang paling mudah dan terbaik untuk membalas dendam hanyalah mencelakai ayah bunda angkat Tiang Bu yang berada di Kim-bun-to ini.

Oleh karena itulah, ia menangkis serangan- serangan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio sambil menghambur-hamburkan asap beracun, ke mudian berusaha keras untuk menyerang dan mendesak Hong Kin dap Hui Lian yang masih belum dapat membuka mata dan masih kebigungan di pojok ruangan. Li Hwa maklum akan maksud ini, demikian pula Hwa Thian Hwesio.

Maka dua orang ini yang merasa amat khawatir akan keselamatan suami isteri terus mendesak Cui Kong sambil melindungi mereka, sungguhpun amat sukar bagi mereka usaha ini karena mata mereka sendiri terasa pedas-pedas dan sudah mengeluarkan air mata karena pengaruh asap beracun. Cui Kong mempercepat gerakan lengan manusia dan huncwenya. Kepandaiannya memang masih lebih tinggi dari pada kepandaian Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio, maka sedikit demi sedikit ia mulai dapat me ndekati Hong Kin dan Hui Lian! Keselamatan suami isteri Kim-bun-to ini benar- benar terancam bahaya maut!

Asap beracun yang keluar dari huncwe Cui Kong itu benar-benar amat berbahaya. Karena Hong Kin dan Hui Lian tadi berdiri di depannya, maka asap yang disemburkan itu tepat memasuki mata suami-isteri ini dan membuat mereka sukar membuka mata yang amat pedas rasanya.

Hwa Thian Hwesio sudah mempunyai pengalaman luas. Ia dapat menduga atau mengira-ngira bahwa tentu Tiang Bu telah membuat sakit hati Kong Ji dan Cui Kong maka sekarang pemuda ini datang hendak membalas dendam kepada ayah bunda Tiang Bu. Maka sambil menggereng kakek gundul ini mengayun tongkatnya menyerang pemuda itu agar jangan sampai mencelakai Hong Kin dan isterinya. Akan tetapi dengan enak saja Cui Kong meloncat maju, huncwenya menangkis tongkat dan lengan kering yang dipegangnya menyambar.

“Krakk!” Jari-jari tangan lengan kering itu tepat menghantam leher Hwa Thian Hwesio. Dunia menjadi gelap di depan mata hwesio semua kesadarannya masih membuat ia lekas-lekas melempar diri ke belakang. Ia bergulingan di atas lantai dan pingsan Baiknya ia tadi melempar diri ke belakang kalau tidak, tentu ular putih yang melingkar di lengan itu akan menggigitnya dan kalau hal ini terjadi, nyawanya tentu sudah melayang.

"Iblis keji, rasakan pembalasanku!" Li Hwa menjerit marah dan pedangnya yang berubah menjadi segunduk sinar hijau menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk.

Cui Kong kewalahan juga menghadapi ilmu pedang yang lihai ini, maka terpaksa untuk sementara meninggalkan Hong Kin dan Hui Lian, mencurahkan perhatiannya menghadapi serangan Li Hwa. Setelah ia melawan dengan sepenuh tenaga, baru ia dapat membendung gelombang serangan sinar hijau itu.

Sementara itu, biarpun matanya sukar di buka lama- lama, Hui Liao dan Hong Kin dapat menangkap suara pertempuran itu dan tahu bahwa Ouw Beng Sin dan Hwa Thian Hwesio sudah roboh oleh pemuda lihai itu. Mereka menjadi nekat. Dengan mata dipaksa terbuka, Hui Lian menerjang dengan pedangnya. Hong Kin juga demikian, menyerang mati-matian membantu Li Hwa.

“Adik Hui Lian, jangan dekat …..!’ seru Li Hwa. "Biar aku menghadapi setan ini !” Nyonya ini maklum bahwa kedatangan Cui Long adalah hendak membunuh suami isteri ini dan melihat keadaan mereka, sukar untuk mengalahkan Cui Kong. Kalau saja mata suami isteri ini tidak terpengaruh asap beracun, tentu mereka bertiga dapat menandinginya, akan tetapi keadaan sekarang lain. Amat berbahaya kalau Hong Kin dan Hui Lian maju. Akan tetapi mana suami isteri yang berjiwa gagah itu mau mundur membiarkan Li Hwa seorang diri menghadapi musuh yang tangguh? LI Hwa hendak menolong mereka tampa memperdulikan

keselamatan nyawa sendiri, mereka juga tidak akan mundur, tidak takut mati dalam menghadapi musuh membantu Li Hwa.

“Ha-ha.ha, ayah bunda Tiang Bu, si keparat  ternyata tidak seberapa! Ha-ha!” Cui Kong mengejek sambil memutar dua senjatanya yang aneh. Sebetulnya ilmu kepandaian Hong Kin tidak rendah. Apa lagi Hui Lian. Nyonya ini adalah adik seperguruan dari Liok Kong Ji sendiri. Ilmu pedangnya lihai bukan main. Akan tetapi, kini mereka tidak dapat bergerak leluasa karena mata terasa sukar sekali dibuka terus. Dan yang mereka hadapi adalah Liok Cui Kong, seorang pemuda gemblengan yang amat luar biasa ilmu kepandaiannya. Selain mendapat petunjuk dari Liok Kong Ji sendiri, juga pemuda ini adalah murid dari Lothian-tung Cun Gi Tosu.

Hui Lian marah bukan main. Sambil menggertak gigi ia membuka matanya yang pedas itu lebar-lebar. kemudian ia menggerakkan pedangnya dari atas ke bawah lalu membalik dengan mendadak dimiringkan dengan gerakan menyerong dan ujungnya membuat lingkaran- lingkaran.

Inilah gerakan yang disebut Hui-in-ci-tian (Awan Mengeluarkau Kilat ), sebuah gerakan tipu dalam ilmu Pedang Pak-kek Kiam-sut. Hebatnya bukan kepalang ! Tidak percuma Hui Liang menjadi puteri pendekar besar Go Ciang Lee.

Cui Kong benar-benar terkejut. Baru terbuka matanya bahwa dua  orang  suami  isteri  yang secara  menggelap  telah ia serang dengan asap ini adalah ahli-ahli pedang yang lihai. Cepat ia meninggalkan Li Hwa, menggunakan tongkatnya menangkis sinar pedang yang menyambar-nyambar leher dan kepalanya.

“Plaak !” Tongkatnya menempel pada pedang dan tak dapat ditarik kembali karena tiba-tiba pedang nyonya itu diputar cepat sehingga tongkatnya turut berputaran.

"Mampuslah kau, bedebah!” Hui Lian membentak sambil memukul dengan tangan kirinya ke arah pusar lawannya.

Pukulan ini juga bukan serangan biasa, melainkan gerakan Hai ti lap-liong (Menyelam ke Laut Mengejar Naga) dari Ilmu silat Thian-hong cianghwat peninggalan ayahnya.

Keistimewaan pukulan ini yalah dilakukan dalam keadaan tak tersangka-sangka dan luar biasa cepat datangnya. Sebelum Cui Kong sempat  mengelak atau menangkis, pukulan sudah sampai di pusarnya ! Pemuda itu pasti akan terjungkal mampus kalau saja tenaga lweeeang dari Hui Lian lebih besar lagi. Sayangnya, tenaga dalam nyonya itu masih kalah jauh oleh Cui Kong, pemuda ini dengan muka pucat cepat merendahkan diri sehingga pukulan itu tidak

mangenai pusarnya, melainkan mengenai dada. Ia mengerahkan sinkangnya menyambut datangnya pukulan, akan tetapi berbareng mengerjakan lengan kirinya ke arah leher Hui Lian.

Dada Cui Kong terpukul dan pemuda itu terhuyung mundur dengan muka pucat, akan tetapi Hui Lian mengeluh perlahan dan roboh dengan pedang masih di tangan.

Ternyata bahwa leher nyonya perkasa ini telah terpagut ular putih yang melingkar di pergelangan lengan kering itu dan dalam sekejap saja racun ular telah menjalar ke seluruh

tubuhnya. Sungguh sayang nyonya yang perkasa ini terpaksa harus melepaskan napas terakhir dalam tangan

Liok Cui Kong.

Hong Kin mengeluarkan seruan kaget dan marah bukan main. Ia menubruk maju dan menukan pedangnya secepat kilat. Gerakannya ini sudah bukan gerakan menurut ilmu pedang lagi yang selain mengandung sifat menyerang selalu ada sifat melindungi diri. Serangan Hong Kin kali ini sama sekali tidak mengandung unsur penjagaan diri, seratus prosen menyerang dengan nekat dan cepat sekali.

Menghadapi kenekatan seorang ahli pedang seperti Hong Kin, betapapun lihai adanya Cui Kong tetap saja ia tidak keburu mengelak. Hampir saja lehernya tertembus pedaug kalau saja ia tidak sempat membuang diri ke kanan sehingga hanya kulit leher dan pundaknya yang terkena pedang sampai mengeluarkan darah banyak sekali.

Marahlah Cui Kong, dengan sepenuh tenaga lengan kering itu di sabetkan kepada Li Hwa yang sudah mendesaknya lagi, sedangkan huncwenya ia pukulkan ke depan menghantam kepala Hong Kin. Hong Kin mencoba untuk menangkis pukulan ini dengan pedangnya, namun ia kalah tenaga. Benar huncwe dapat tertangkis, akan tetapi melesat dan dengan tepat mengenai pinggir kepala di atas telinga.

"Prakk !" Tanpa mengeluarkan keluhan. Tubuh Hong Kin terguling dan bergelimpangan di dekat jenazah isterinya, tak bernyawa lagi !

"Iblis terkutut ! Mari kita mengadu jiwa !” seru Li Hwa marah sekali dan kedua matanya bercucuran air mata melihat nasib dua orang sahabat baiknya itu. Pedangnya mendesak dan kemarahannya membuat gerakannya lebih hebat daripada biasanya. Juga kini tangan kirinya sudah mengeluarkan Cheng-jouw-cian ( Jarum Rumput Hijau) siap untuk menyerang lawan tangguh itu dengan senjata rahasianya yang sudah amat terkenal itu.

Cui Kong tertawa bergelak. Girang sekali hatinya dapat menewaskan Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Himpas sudah sakit hatinya terhadap Tiang Bu yang dalam penyerbuan Ui- liok-lim telah menewaskan banyak kawan dan merusak bangunan itu semau-maunya.

"Ha-ha-ha, Tiang Bu ! Aku ingin melihat mukamu kalau kau melihat ayah ibumu menggeletak tak bernyawa oleh tanganku. Ha ha ha !" Sambil tertawa-tawa Cui Kong melawan Li Hwa. Memang ilmu kepandaian pemuda ini hebat sekali, bahkan Li Hwa masih bukan tandingannya.

Ular di lengan kering itu terus menerus mengancam, membuat Li Hwa tak dapat mendesaknya. Sebaliknya, nyonya yang terkenal dengan julukan Hui eng Niocu ini sekarang terpaksa mundur selalu untuk menghindarkan sepasang senjata aneh dari lawannya yang masih muda.

"Ha ha ha, nyonya manis, kepandaiannya boleh juga.

Akan tetapi tuan mudamu tak boleh kaupandang rendah ! Nah, terima seranganku !” Huncwe mautnya bekerja cepat sekali. Li Hwa masih menangkis dengan pedangnya dengan maksud mematahkan huncwe itu dengan Cheng-liong-kiam. Namun, huncwe di tangan Cui Kong itu terbuat dari bahan yang amat keras. Huncwe terpental, akan tetapi bukan terpental membalik, melainkan menyerong ke atas dan tahu- tahu huncwe itu telah berhasil mengetuk pundak kiri Li Hwa

! Nyonya ini terhuyung sambil memegangi pundaknya.

Cui Kong tertawa terbahak-bahak sumbil melompat keluar karena pada saat itu di luar rumah terdengar amat banyak orang. 0rang-orang penduduk Pulau Kim-ban-yo yang datang tertarik oleh ribut-ribut di dalam. Li Hwa menggigit bibirnya, melepaskan  pe dang dan  tangan kanannya yang masih dapat sigerakkan lalu menghujankan Cheng-jouw-ciam ke arah bayangan Cui Kong.

Namun percuma saja. Cui Kong gesit sekali gerakannya dan sebentar sudah menghilang melalui atas genteng. Hanya suara ketawanya yang bergema menyeramkan. Ketika

pe nduduk datang menyerbu ke dalam. mereka hanya dapat menolong para korban keganasan Liok Cui Kong. pute ra angkat Liok Kong Ji yang telah mewarisi kekejaman ayah angkatnya.

-oo(mch)oo-

Pada suatu pagi yang indah di kaki Pegunungan Tapie- san, matahati sudah naik tinggi dan pagi hari itu benar- benar indah. Di pinggir jalan, para pe tani sibuk beke rja di sawah ladang di mana batang-batang padi sudah satu kaki tingginya, hijau segar bergoyang- goyang tertiup angin seperti penari penari bergerak lincah. Para petani bekerja riang, dan digembirakan oleh harapan panen baik.

Burung-burung beterbangan, diteriaki dan disoraki, ditakut-takuti oleh para petani yang amat membenci mereka. Biarpun barang padi belum berbuah, namun para petani sudah benci melihat kedatangan burung-burung ini.

Sebagian besar para petani mencabut-cabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar padi. Sebagian pula mengatur perairan agar sawah mereka tidak kekurangan air.

Dari arah utara kelihatan seorang gadis menuntun seekor kuda tinggi besar. Gadis ini sampai turun dan kudanya dan berjalan kaki agar dapat lebih menikmati pemandangan alam indah di pagi cerah itu. Pakaian gadis ini sederhana saja, rambutnya yang hitam dibiarkan tergantung ke belakang punggung, diikat pita di tengah-tengah. Namun kesederhanaannya tidak menyembunyikan kecantikannya yang menawan hati. Gadis ini manis benar, usianya paling banyak sembilan  belas tahun. Pada  wajahnya  yang manis dan halus itu terbayang kegagahan,  terutama  sekali terpancar dari pasang matanya yang tajam. Memang tidak sukar menduga bahwa dia adalah seorang gadis kangouw yang memilliki kepandaian ilmu silat. Seorang gadis muda melakukan perjalanan seorang diri, membawa seekor kuda yang kelihatan liar dan  tinggi  besar. sudah  barang tentu gadis itu bukan sembarang wanita. Tanpa memiliki kepandaian, mana seorang gadis seperti dia berani menunggang kuda setinggi itu.

Dara manis ini bukan lain adalah Lie Ceng, puteri Pek- touw tiauw ong Lie Kong. Usianya delapan belas tahun dan semerjak Ceng Ceng dikalahkan oleh Tiang Bu dahulu ketika ia berusia lima belas tahun, gadis ini melatih diri dengan tekun sehingga ia mewarisi kepandaian ayah bundanya, juga ia kini telah dapat mewarisi isi kitab Pat-sian-jut-hun yang didapat oleh ayahnya dari Omei-san. Kepandaiannya sudah meningkat tinggi sekali, akan tetapi wataknya masih tetap seperti dulu gembira, lincah dan galak!

Seperti telah dituturkan di bagian depan, tiga tahun yang lalu pernah ia bertemu dengan Tiang Bu dan kedua orang tuanya malah sudah menetapkan untuk menjodohkan dia dengan Tiang Bu. Akan tetapi Ceng Ceng dengan tegas menolak perjodohan itu, Berkali-kali kedua orang tuanya mendesaknya, namun tetap saja Ceng Ceng tidak mau. Akhir-akhir ini, ayah bundanya mengalah dan ayahnya berkata gemas.

"Ceng Ceng, kau sekarang sudah berusia delapan belas tahun dan ayah bundamu sudah ingin sekali  mempunyai anak mantu. Dalam pandangan kami selin Tiang Bu di mana lagi ada pemuda yang patut menjadi sisianmu diukur dari kepandaiannya? Apakah  kau tidak kecewa  kalau medapatkan pemuda  yang kepandaiannya  rendah? Kalau kau selalu menolak untuk menikah, habis kau. Hendak hendak menanti sampai berusia berapa?”

"Biar aku berusia sampai seratus tahun tak menikah, apa sih salahnya, ayah? Apakah pernikahan itu suatu keharusan hidup?”

“Sudah tentu, Ceng Ceng !” kata ibunya marah. "Bagaimana kau masih bertanya lagi ?”

“Ehm, begini, ibu. Kalau memang betul ini suatu keharusan, siapakah gerangan yang mengharuskan ?” Memang Ceng Ceng sebagai anak tunggal semenjak kecil dimanjakan dan sudah biasa berdebat dengan ayah bundanya.

“Yang mengharuskan siapa....... ?" bentak ibunya gemas. “Kau..... kau memang anak terlalu manja…..” karena tidak bisa menjawab, nyonya Lie Kong hanya bisa menunjuk- nunjuk muka anaknya dengan telunjuknya.

“Ceng Ceng. seorang manusia harus mengalami tiga kejadian. Pertama Lahir, ke dua kawin, ke tiga mati. Orang terlahir pasti akan mati dan matinya itu baru sempurna kalau dia meninggalkan keturunan. Kalau tidak kawin, bagaimana bisa meninggalkan keturunan ? Salah satu di antara sifat-sifat tidak berbakti yang paling penting adalah tidak punya keturunan. Kalau kau tidak ingin disebut anak puthauw (anak durhaka), kau harus memilih jodohmu agar ayah bundamu dapat menikmati kebahagiaan menimang cucu.”

Merah wajah Ceng Ceng mendengar kata-kata ayahnya yang diucapkan dengan tenang namun sungguh-sungguh ini. “Akan tetapi, ayah,” bantahnya berkepala batu, "kalau aku tidak suka, masa aku harus dipaksa ?"

"Akan datang saatnya timbul rasa suka kalau kau sudah bertemu dengan jodohmu. Kau menolak seorang pemuda seperti Tiang Bu, yang kau cari orang macam apakah?"

Dengan kepala tunduk Ceng Ceng menjawab perlahan, "Dia harus memiliki kepandaian labih tinggi dari pada kepandaianku, dia harus gagah perkasa, harus berbudi mulia, dan dia harus berwajah tampan ”

lbunya menggeleng-geleng kepala, akan tetapi Lie Kong tertawa. “Semua wanita tentu saja mencari suami begitu ! Akan tetapi kau lupa sedikit, Ceng Ceng anakku yang manja. Yang harus diutamakan adalah sifat  jujur dan setia !  Tiang Bu memiliki kejujuran, juga dia seorang yang memiliki kegagahan dan kesetiaan. Memang harus aku nyatakan bahwa dia tidak tampan. Akan tetapi jangan kau ngukur watak manusia dari  tampangnya. Banyak sekali  laki-laki yang kelihatan gagah, tampan dan mulia, padahal semua itu palsu belaka. Aku amat khawatir kau akan terpikat oleh macam  itu.  Ceng Ceng.  Sekali  lagi  kunasehatkan,  jangan kau terlalu percaya kepada wajah tampan."

Ceng Ceng diam saja, akan tetapi di dalam hatinya ia tetap berkeras bahwa dia hanya kawin dengan seorang pemuda yang tampan, ganteng dan mendatangkien rasa suka di dalam hatinys, Tidak seperti Tiang Bu yang berhidung pesek berbibir tebal!

Semenjak kecil Ceng Ceng memang suka pergi bermain- main sampai jauh. Setelah dewasa dan kepandaiannya tinggi dia sering kali pergi jauh ke kota lain sampai berhari- hari.

Ayah bundanya membolehkannya saja. Pertama agar gadis itu bertambah pengalaman serta pengetahuannya, ke dua siapa tahu kalau di kota lain bertemu jodohnya.

Demikianlah, pada pagi hari itu Ceng Ceng juga sedang melakukan perantauannya. Ia mendaki Bukit Tapie-san dan kini sedang berada dalam perjalanan pulang. Tertarik oleh keindahan alam dan kesibukan para petani, gadis ini melompat turun dari kuda, lalu berjalan perlahan menuntun kudanya yang besar dan bagus itu. Ceng Ceng memang semenjak kecil suka  akan  keindahan. Kepada  orang tuanya ia selalu minta  apa-apa  yang serba  indah. Pakaian sederhana yang dipakainya itu hanya untuk menutupi pakaian indah dan mewah yang tersembunyi di dalamnya. Ia selalu menutupi pakaiannya yang indah apabila melakukan perjalanan, pertama tama untuk menjaga agar pakaiannya yang indah tidak menjadi kotor terkena debu, kedua kalinya agar jangan menarik perhatian orang-orang jahat. Kudanya pun kuda mahal, kuda pilihan yang amat kuat.

Ceng Ceng berdiri di pinggir sawah dan tersenyum gembira melihat  dua  orang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun mengejar-ngejar burung. Memang amat nakal burung-burung kecil berdada kuning itu. Digebah dari sini turun di sana, diusir dari sane hinggap di sini. Burung yang berkelompok itu seakan-akan tahu bahwa yang mengusir mereka hanya dua orang bocah maka sengaja menggoda dan mengejek. Dipermainkan oleh burung kecil ini, dua orang bocah cilik itu marah-marah. Mereka berteriak-teriak dan menyambitkan batu.

“Awas kalian, perampok perampok kecil. Kalau terjatuh ke dalam tanganku, kau tentu akan kucabuti  bulumu, kupuntir batang lehermu, kupanggang sampai kuning !” kata seorang anak.

“Setan-setan kelaparan !” memaki anak kedua. "Kami bersusah payah bekerja, ayah dan kerbau meluku, Ibu menanam, aku membersihkan rumput, kami menunggu panen dan kalian ini setan setan selalu mengganggu. Enyah keparat !”

Bocah-bocah itu lari ke sana ke mari sambil memaki- maki. "Kami makan tak pernah memakai daging, kalau kami dapat menangkapmu, kami makan kepalamu !"

Melihat bocah-bocah ini dan para petani yang sepagi itu sudah bekerja keras dan rajin di sawah ladang, timbul pikiran di dalam kepala Ceng Ceng betapa sukarnya orang bekerja untuk menghasilkan  bahan  makanan.  Dia setiap hari makan nasi akan tetapi belum pernah bekerja di ladang untuk manuai padi, apa lagi meluku dan mencangkul.

Alangkah senangnya orang kota, hidup mewah dan setiap hari makan nasi dari padi terbaik. Sebaliknya para petani yang setiap hari semenjak pagi buta sampai malam gelap bekerja membanting tulang memeras keringat di sawahnya, hidup serba kurang dan miskin.

Ceng Ceng membungkuk, mengambil segenggam pasir, menanti sampai kelompok burung dada kuning itu terbang lewat. tangannya digerakkan, pasir menyambar mekar jala dan....... belasan ekor burung runtuh ke atas tanah, sisanya terkejut dan terbang jauh-jauh.

Dua orang bocah itu memandang dengan mata terbelalak lebar dan mulut bengong, kemudian melihat burung-burung be rgeletakan  di  atas tanah,  mereka  bersorak-sorak girang dan berlari-lari menghampiri untuk mengambil bangkai burung-burung itu.

"Hebat, timpukan yang lihai sekali……!” dengan suara halus memuji.

Ceng Ceng cepat menengok dan melihat seorang pemuda tampan lewat di atas jalan itu. Pemuda ini  berpakaian seperti seorang ahli silat, akan tetapi sikap dan gerak- geriknya halus seperti seorang pelajar. Ketika Ceng Ceng menengok, pemuda itu mempercapat langkahnya dan sebentar saja sudah jauh. Ceng Ceng tertarik. Sikap pemuda itu gagah bukan main, juga wajahnya amat tampan, agaknya seorang pendekar perantau. Di pinggangnya terselip sebatang bambu kecil, bukan pedang. Biarpun amat  tertarik dan  ingin tahu siapakah gerangan pemuda itu dan sampai di mana kelihaiannya, namun sebagai seorang wanita tentu saja Ceng Ceng tidak berani menegur. Apa lagi pemuda itu sudah pergi jauh dan  sebentar saja  bayangannya  lenyap di  tikungan jalan sebelah selatan.

Gadis itu lalu melanjutkan perjalanannya, melompat ke atas kuda yang dilarikan ke selatan. Ia hendak mencari ayah bundanya yang berada di kota Kiu-kiang yang terletak di dekat Telaga Poyang. Perjalanan masih jauh, makan waktu dua hari lagi.

Malam hari itu Ceng Ceng tiba di sebuah dusun yang cukup ramai. Ia bermalam di rumah perginapan, memberikan kudanya kepada pelayan sambil memesan.

"Beri makan dan minum secukupnya pada kudaku ini dan masukkan dalam kandang yang baik dan terlindung dari angin malam. Jaga dia baik-baik. besok kuberi hadiah."

Pelayan itu mengangguk-angguk lalu menuntun kuda besar itu ke samping hotel. Lewat tengah malam, Ceng Ceng terkejut bangun dari tidurnya ketika pintu kamarnya digedor orang.

"Siocia....... siocia....... bangunlah ! Kuda itu dilarikan orang !"

Ceng Ceng mendengar suara kaki kuda berderap lewat di depan hotel. Dengan cepat ia melompat turun, menyambar pedangnya lalu menerjang pintu luar. Begitu mendadak dan cepat ia membuka pintu sehingga pelayan yang melaporkan tentang kehilangan kuda dan tadinya berdiri di luar pintu, terjengkang tunggang-langgang ketika pinta dibuka. Akan tetapi Ceng Ceng tidak memperdulikannya lagi, terus saja melompat keluar dan lari mengejar ke arah suara kuda melarikan diri ke barat. Malam itu baiknya terang bulan,

dan ternyata malam sudah larut sekali dan sudah menjelang fajar.

Ceng Ceng memiliki ginkang yang tinggi warisan dari ayah bundanya. Kalau hanya kuda biasa saja yang dilarikan orang, kiranya ia masih akan sanggup menyusulnya, akan tetapi kudanya yang dieuri ini bukanlah kuda biasa, melainkan kuda pilihan dari utara yang sanggup lari seribu

li sehari semalam.

"Maling kuda pengecut jahanam! Berhentilah kalau kau memang jantan l° teriak Ceng Ceng sambil mengerahkan tenaga dalamnya agar suaranya terdengar jauh. Akan tetapi pencuri kuda itu bahkan membalapkan kudanya dan hanya suara ketawanya terdengar dari jauh. Diam-diam Ceng Ceng terkejut. maklum bahwa pencuri kudanya itu bukanlah pencuri biasa. Orang yang suara ketawanya dari tempat sejauh itu dapat terdengar, tentu memiliki Iweekang tinggi.

Ia mempereepat larinya, akan tetapi percuma saja. Makin lama derap kaki kuda makin menghilang berikut bayangan kuda.  Ceng Ceng membanting banting kakinya  dengan gemas ketika ia berdiri di luar sebuah hutan. Ia tidak tahu kemana pencuri itu melarikan kudanya.

Dengan hati mendongkol sekali Ceng Ceng berjalan terus sampai pagi. Ia keluar dari hutan dan mengambil keputusan untuk mencari terus kudanya yang hilang sebelum pergi menyusul ayah bundanya. ia merasa penasaran sekali kalau belum mendapatkan kembali  kudanya,  terutama sekali kalau belum mamberi hajaran kepada pencuri kuda yang kurang ajar itu.

Tiba-tiba ia mendengar ringkikan kuda dari arah kiri. Girangnya bukan main karena ia segera mengenal suara kudanya ! Biarpun sudah letih karena bangun pada tengah malam tidak tidur lagi, ia segera lari ke arah kiri dengan cepat. Dan betul saja. ia melihat kudanya sedang makan rumput di bawah pohon dilepas begitu saja ! Dengan beberapa kali lompatan Ceng Ceng sudah tiba di dekat kudanya dan segera ia memegang kendalinya. Dan pada saat itu baru ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, di atas baru- baru besar, duduk seorang pemuda tampan yang bersila dan sedang bersamadhi ! Pemuda ini bukan lain adalah pemuda yang memujinya kemarin ketika ia menyambit burting- burung dengan pasir. Peniuda Itu meramkan mata. bibirnya agak tersenyum, tampan sekali, kedua tangan di depan dada dan sebatang bambu yang ternyata  adalah  huncwe terselip di pinggangnya.

Sampai lama Ceng Ceng berdiri memandang,  kemudian ia menjadi marah. Tentu pemuda ini yang telah mencuri kudanya ! Ia melepaskan kendali kudanya, melangkah maju mendekati pemuda itu sambil membentak.

"Pencuri kuda kurang ajar ! Turunlah kau menerima hajaran!"

Pemuda itu membuka matanya memandang kepada Ceng Ceng dengan mata bersinar dan bibir tersenyum. "Nona, kau memaki siapa ?" tanyanya, suaranya halus, sikapnya sopan.

“Memaki kau, siapa lagi ? Kau pencuri  kuda  hina, turunlah kalau kau mempunyai kepandaian !” Dilolosnya pedang dari pinggangnya dan gadcis ini siap untuk menyerang. Pemuda itu tersenyum tenang. "Nona, aku Cui Kong selamanya tidak pernah mencuri kuda.  Harap kau dapat memperbedakan antara pencuri kuda dan orang baik- balk.” Memang pemuda ini bukan lain adalah Liok Cui Kong. Setelah berhasil membunuh Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, pemuda ini lalu melakukan perjalanan ke selatan menuju ke tempat tinggal ayah angkatnya yang baru, yaitu di sebuah pulau di pantai  selatan, mendekati  Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang juga melarikan diri ke selatan setelah di utara ia tidak diterima baik oleh Jengis Khan.

Kobetulan sekali di tengah jalan ia melihat Ceng Ceng.

Sebagai seorang pemuda mata kerarjang yang bejat moralnya, tentu saja melihat seorang dara cantik seperti Ceng Ceng. hati Cui Kong tergorcang hebat. Akan tetapi, melihat sikap dan gerak gerik Ceng Ceng, pula menyaksikan kepandaian gadis ini, timbul perasaan aneh dalam diri Cui Kong. Berbeda dengan perasaan kalau melihat gadis-gadis lain. ia amat tertarik dan  timbul  kasih sayang. Inilah agaknya cinta yang bersemi di dalam hatinya, oleh karena manusia bagaimana jahatpun sekali waktu akan jatuh hati kepada seorang tertentu.

Ini pula sebabnya maka Cui Kong tidak mau bermain kasar. Ia sengaja mencari kuda nona itu dan sekarang menanti di sini, siap mencari alasan baik untuk berkenalan.

Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar jawaban pemuda itu. Ia tidak mengenal nama Cui Kong, dan ia ragu- ragu apakah ucapan itu betul.

"Bagaimana kau bisn bilang bukan pencuri kuda kalau kudaku hilang dari rumah penginapan, dibawa orang pada tengah malam, terus kukejar di sini dan kudapatkan kuda itu berada di sini bersamamu? Bagaimana kau bisa menyangkal ?”

Cui Koug mengangguk-angguk berkata, masih tersenyum memikat hati. “Memang ada kulihat tadi seorang laki-laki membalapkan kuda lewat dekat ini. Karena curiga melihat orang pagi-pagi membalapkan kuda yang besar dan indah, aku menegurnya. Akan tetapi orang itu malah mengayun pecut menyerangku. Aku menangkap pecutnya dan membetotnya sehingga orang tidak punya guna itu roboh terjungkal. Dua kali  ia menyerangku lagi  akan tetapi  dua kali ia terjungkal lalu melarikan diri. Kuda itu ia tinggalkan

dan kuda baik ini ternyata tidak mau pergi. Nah, aku sudah memberi keterangan,  apakah kau masih hendak memaki aku sebagai maling kuda?"

Ceng Ceng memang seorang  gadis  lincah  pandai berdebat. Mendengar penuturan ini ia menjawab, "Enak saja kau mendongeng! Apa buktinya kebenaran dongenganmu itu dan siapa bisa bilang kalau kau tidak membohong?" “Nona, ada dua sebab kuat yang menjelaskan bahwa aku bukan pencuri kuda. Aku sudah menyaksikan kepandaianmu, kalau aku yang mencuri, perlu apa aku masih melarikan diri ? Kedua, andaikata aku yang mencuri lalu lari ketakutan, perlu apa aku sekarang musti menantimu di sini? Coba kau pikir baik-baik."

Memang beralasan sekali ucapan ini, akan tetapi perut Ceng Ceng sudah menjadi panas. Kalau saja Cui Kong memberi alasan yang ke dua  saja, ia sudah  akan  merasa puas dan percaya. Akan tetapi, alasan pertama dari pemuda itu menyatakan bahwa pemuda itu memandang rendah kepadaianya ! Cui Kong bilang bahwa dia sudah menyaksikan kepandaian Ceng Ceng dan andaikata dia yang mencuri kuda, ia takkam lari. Bukankah itu berarti bahwa pemuda ini menganggap kepandaian Ceng Ceng tidak berapa

?

"Bagus, tidak tahunya kau selihai itukah ? Boleh, boleh kita coba-coba. Kalau kau betul sudah dapat mengalabkan pencuri kuda, tentu kepandaianmu lebih tinggi dari  pada aku. Turunlah ¡" Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menggunakan kakinya mendorong baru besar yang diduduki oleh Cui Kong. Hebat sekali lweekang nona ini. Batu yang

be ratnya ada seribu kali ini menjadi miring !

"Ayaaa, kiranya kau sekuat ini!” Seru Cui Kong, benar- benar terkejut. Tadinya ia hanya mel ihat gadis itu menimpukkan pasir merobohkan banyak burung sekaligus. Kepandaian ini indah, akan tetapi belum menunjukkan bahwa gadis itu seorang ahli silat tinggi. Melihat usianya yang bogitu muda, Cui Kong menganggap gadis itu tentu tidak sedemikiah hebat. Akan tetapi dorongan kaki pada batu besar tadi benar-benar mendemonstrasikan tenaga yang hebat dan kepandaian yang tinggi !

Sementara itu, Ceng Ceng juga kagum melihat tubuh yang tadinya bersila di atas batu, kini, "melayang” turun dalam kedudukan masih bersila seakan-akan pemuda itu pandai terbang. Padahal inipun demonstrast ginkang yang hebat dari Cui Kong, yang mempergunakan ujung-ujung jari kakinya menotol batu di bawahnya sehingga tubuhnya dapat mencelat turun. Ketika tiba di tanah, kedua kakinya dilepas sehingga ia jatuh be rdiri dengan ringan dan tenang.

Ceng Ceng bersiap-siap, ia mengandalkan Ilmu silatnya Pat-sian-jut-bun, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda di depannya inipun ahli dalam ilmu silat itu ! Soalnya begini. Seperti telah diceritakan dahulu, kitab Pat-sian-jut -bun yang tadinya terjatuh ke dalam tangan Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan diberikan Ceng Ceng, telah dirampas ole h Cui Lin dan Cui Kim dan akhirnya terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji. Akan tetapi se belum terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji, Cui Kong sudah mencuri lihat dan otaknya yang cerdas dapat menghafal isinya dan diam-diam iapun mempelajari ilmu silat ini. Oleh Liok Kong Ji kitab itu bahkan dijadikan bahan untuk mengatur barisan bambu di

Ui tiok-lim, yang makin disempurnakan ilmu dari kitab ini. Demikianlah Ceng Ceng sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia berhadapan dengan tokoh Ui-tiok lim atau kakak angkat dari dua orang gadis yang mencuri kitabnya dan yang sekarang masih dicarinya itu.

"Nona, kau betul-betul hendak mengujiku ? Boleh, boleh, akupun ingin sekali tahu sampai di mana tingginya kepandaianmu. Akan tetapi harap kauingat bahwa aku betul-betul bukan pencuri kudamu dan kita bertempur hanya sebagai pibu persahabatan saja."

"Jangan banyak cingcong !  Keluarkan senjatamu !" seru Ceng Ceng. Gadis ini belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda ini. Biarpun ia  tertarik akan ketampanan wajah pemuda ini dan sifat-sifainya yang gagah, namun sebelum mengukur tinggi rendah kepandaiannya, mana bisa ia menarh penghargaan ?

Cui Kong mencabut keluar huncwenya menjawab, “Aku masih muda dan tidak doyan menghisap tembakau, akan te tapi huncwe ini sudah menjadi kawau lama yang selalu melindungiku, inilah senjataku nona. Kau majulah!”

Diam-diam Ceng Ceng menjadi agak gembira. Seorang yang mempergunakan senjata begitu aneh, tentu memiliki kepandaian tinggi dan ia ingin sekali tahu sampai bagaimana tingginya.

"Lihat pedang !” serunya  dan  dengan  ge rakan  manis sekali ia menusuk ke arah te nggorokan lawannya, kemudian pedang diteruskan dengan gerakan memutar ke atas ke bawah sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada.

Sekaligus ujung pedang itu menyerang tiga  bagian  tubuh yang berbahaya. Melihat gerakan  ini,  Cui  Kong terkejut sekali. Itulah gerakan Cui  sian-sia-ciok (  Dewa  Arak Mamanah Batu) sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pat sian- jut-bun! Ia cepat memutar huncwenya  ke  depan  tubuh sambil melompat mundur dan berkata.

"Nanti dulu, nona. Seranganmu be gitu Iihai dan ganas, kalau sampai mengenai aku, bukankah nyawaku akan menghadap Giam-kun (Dawa Maut)?" ia berkelakar.

Ceng Ceng cemberut. "Kalau takut pedang jangan bicara sombong !"

"Aku seorang jantan tulen tidak takut mati, nona. Hanya aku khawatir akan mati dengan mata melek karena penasaran sebelum aku tahu siapa orangnya yang akan. membunuhku. Pedang tidak bermata, nona. Sebelum ada kemungkinan dada ini tergores pedang aku harus tahu siapa gerangan nona yang gagah perksa ini? Kau sudah tahu, namaku Cui Kong. Akan tetapi siapa nona dan dari aliran manakah ?”

"Namaku Lie Ceng, bukan dari aliran mana-mana.

Ayahku Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong.”

Cui Kong pura-pura terkejut girang, padahal di dalam hatinya ia benar-benar terkejut dan cemas. Ia merasa punya dosa terhadap Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong karena bukankah Cui Lin dan Cui Kim telah me ncuri kitab gadis

ini? Dengan air muka kelihatan tercengang girang ia berseru sambil merangkapkan kedua tangan memberi hormat,

"Aduh, kiranya li-hiap (pendekar wanita) adalah puteri dari Lie-locianpwe yang mulia. Maaf, maaf, aku yang bodoh tidak tahu dan  berlaku  kurang hormat.  Memang li-hiap tentu saja tidak mengenal namaku yang terpendam ke dalam lumpur, akan tetapi  sebaliknya dari  bawah lumpur aku sudah melihat rajawali kepala putih terbang melayang di angkasa raya."

Mendengar pujian yang muluk ini tentu saja hati Ce ng Ceng merasa senang, akan tetapi ia masih penasaran.

Seranga n pertamanya tadi ternyata dengan mudah dapat

ditangkis oleh Cui Kong, apakah pemuda ini betul-betul akan dapat menangkan dia....... ? Kalau betul demikian .....

hemmm, pemuda seperti ini lah kiranya yang patut.......

menjadi jodohnya! Merah muka Ceng Ceng dengan sendirinya ketika ia berpikir sampai di situ.

"Sudahlah, tak perlu banyak peradatan ini. Hayo kita selesaikan pibu kita !”

Cui Kong merasa girang mendengar nona itu menyebut “pi-bu", bukan pertandingan sungguh-sungguh, maka ia segera bersiap dan berkata, "Aku yang bodoh sudah siap menerima petunjuk dari li-hiap."

Ceng Ceng tidak mau berlaku sungkan lagi. Pedangnya digerakkan amat cepatnya, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung rajawali mengamuk. Sinar putih seperti perak bergulung-gulung mengurung diri Cui Kong yang berlaku tenang tenang saja. Pemuda yang sudah tahu akan kelihaian ilmu Pak-sian-jut -bun ini, tidak mau  berlaku  gugup dan tidak mau mengikuti pergerakan pedang lawan. Kalan ia mengikutinya, akan celakalah dia. Inilah kehebatan ilmu pedang itu yang harus dilawan dengan tenang. Ia hanya memperhatikan sinar pedang menyambar ke arahnya untuk ditangkis dengan huncwenya. ilmu silat Cui Kong masih setingkat lebih tinggi dari pada gadis  ini, juga tenaganya lebih besar. Oleh karena itu ia dapat melayani Ceng Ceng dengan baik. Andaikata ia belum mencuri baca kitab Pat- sian-jut -bun, kiranya dia takkan depat menghadapi gadis ini demikian enak, sedikitnya dia harus mengerakkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi.

Sebaliknva, Ceng Ceng merasa seakan-akan menghadapi tembok baja yang amat kuat. Biarpun pemuda itu berge rak lambat dan tenang namun ke mana saja pedangnya menyerang di situ sudah ada huncwe yang menangkis. Dan setiap tangkisan huncwe membuat telapak tangan tergetar. Hati Ce ng Ceog ikut tergetar pemuda itu benar-benar lihai. Kiranya tidak kalah lihai oleh Tiang Bu.

Akan tetapi dia pernah dikalahkan oleh Tiang Bu dan ia merasa penasaran apakah pe muds tampan yang lihai inipun dapat mengalahkannya.

"Hayo kaubalas menye rang !" bentaknya berulang-ulang melihat pemuda itu hanya menjaga diri saja.

"Mana aku berani !" jawab Cui Kong mengambil hati.

Tentu saja pemuda ini tidak tahu akan suara hati gadis ini. Dia tertarik kepada Ceng Ceng dan berusaha mengambil hatinya, ia takut kalau kalau gadis itu akan merasa terhina dan marah kalau sampai ia mengalahkannya, maka ia hanya mempertahankan diri saja. Tidak tahunya gadis ini bahkan menghendaki sebaliknya.

“Bagaimana tidak berani ini pi-bu namanya ! Hayo kaubalas, hendak kulihat apa kau mampu mengalahkan aku."

"Aku tidak berani melukaimu. nona. Aku tidak mau kau menjadi sakit hati dan marah,” jawab Cui Kong halus sambil menangkis tusukan pedang sehingga lagi lagi terdengar bunyi "tringg" yang amat nyaring dibarengi bunga api berpijar. “Bodoh ! Kalau pedangku terlepas dari tangan aku menyerah kalah," kata pula Ceng Ceng.

Mendengar ini, Cui Kong cepat menggerakkan huncwe nya, kini membalas dengan totokan-totokan

berbahaya. Gerakannya cepat sekali karena ia telah mainkan ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya, mengambil dari kitab Omei-san yang terjatub ke dalam tangan  Lo.  Tnian- tung Cun Gi Tosu, yaitu kitab Soanhong-kiam-coan-si (Kitab Ilmu Pe dang Angin Puyuh). Pedang  ini sekarang  diganti dengan huncwe dan diputar sampai mengeluarkan angin dingin. Sebetulnya, sama-sama kitab dari  Omei-san kehebatan ilmu yang dimainkan oleh Cui Kong dengan Pat- sian jut-bun yang dimainkan Ce ng Ceng itu mempunyai keistimewaan se ndiri-sendiri. Namun karena Cui Kong memangnya menang setingkat, tentu saja permainannya

juga lebih lihai dan Ceng Ce ng sebentar saja merasa pe ning. Ia mencoba menangkis dengan pedangnya, akan tetapi pedang itu tertempel huncwe dan ikut be rputaran dan

te rlepas dari pegangannya, berpindab ke tangan kiri Cui Kong !

Dengan sikap manis budi dan merendah Cui Kong memutar pedang itu dan memegang ujungnya. Gagangnya ia angsurkan ke pada Ceng Ceng sambil berkata.

"Karena kurang hati-hati pedangmu terlepas, nona.

Terimalah kembal i dan maafkan aku, kiam-hoatmu benar- benar hebat sekali aku merasa kagum."

Ucapan ini dikeluarkan dengan sikap sungguh-sungguh sehingga sama sekali Ceng Ceng tidak merasa diejek. Akan tetapi, te tap saja mukanya menjadi me rah sekali ketika ia nerima kembali pedangnya dan me masukannya kedalam sarung pedang.

"Dalam ilmu pedang aku telah kalah, akan tetapi aku masih hendak menecoba ilmu silat tangan kosong!" kata Ceng Ceng. I a tahu bahwa sikapnya ini kete rlaluan. Sudah je las bahwa ia kalah lihai, tantangannya ini benar-benar bocengli (tidak pakai aturan). Akan tetapi gadis ini memang ke ras ke pala dan pada saat itu ia memang ingin sekali tahu apakah benar-benar pemuda tampan ini lebih lihai dari padanya dalam sagala macam ilmu silat.

Cui Kong tersenyum. Gadis ini cantik jelita dan keras hati, puteri Pak-thouw-tiauw-ong pula. Hemm, aku harus dapat me nundukkannya. Jarang di dunia ini bisa kudapatkan gadis sehebat ini.

“Baiklah, nona. Aku yang bodoh hanya menurut saja atas segala kehendakmu, dan tentu saja aku girang mendapat petunjuk-petunjuk dari puteri Pek-thouw-tiauw-ong yang

te rnama."

”Lihat pukulan !" Ceng Ceng terus saja menyerang tanpa mau membuang waktu lagi. Begitu me nyerang ia mempergunakan ilmu silat ciptaan ayahnya, yaitu Pek- tiauw-kun-hwat (Ilmu Silat Rajawali Putih). Ayahnya mencipta ilmu silat ini dari gerak-gerak pek-thouw-tiauw (rajawali kepala putih) peliharaannya. Ketika dua ekor

rajawali itu pertama kali dipeliharanya dan masih liar, sering kali Lie Kong sengaja mengajaknya bertempur atau ia menyuruh isterinya melayani mereka dan diam-diam ia memperhatikan ge rak gerik mereka. Cara mereka mengelak, menangkis dan menyerang. Dari ”latihan” inilah pendekar pantai timur ini akhirnya berhasil mencipta Pek-tiauw-kun- hwat yang merupakan gabungan dari gerak gerak rajawali dicampur gerak-gerak tipu ilmu silat tinggi yang sudah ia pelajari semenjak kecil.

Gerakan Ceng Ceng amat lincah. Kedua tangannya bergerak-gerak, kadang-kadang mekar seperti sayap rajawali, kadang-kadang menotok seperti paruh rajawali, tubuhnya menyambar ke atas ke bawah, ke dua kakinya kadang-kadang berjungkit, kadang-kadang merendah atau meloncat loncat tinggi. Pendeknya amat indah dipandang akan tetapi amat berbahaya dihadapi lawan. “Bagus sekali ! Kau hebat, nona,” berkali-kali Cui Kong mengeluarkan suara pujian bukan hanya sekedar untuk mengambil hati  akan  tetapi  memang ia  me rasa  kagum sekali. Sifat gadis yang lincah jenaka ini memang  cocok sekali dengan ilmu silat ini. Dan Cui Kong girang mendapat kesempatan “main-main" dengan gadis seperti ini, sungguhpun main-main ini dapat membahayakan keselamatannya karena pukulan-pukulan gadis itu ternyata bukan main-main. Tingkat kepandaian Cui Kong memang masih menang setingkat, akan tetapi ia harus berlaku hati- hati sekali kalau tidak mau terkena pukulan  yang berbahaya.

Seratus jurus lewat dan belum juga Ce ng Ceng dapat mendesak Cui Kong. Sebenarnya kalau Cui Kong mau,  ia tentu akan dapat  robohkan lawannya ini  dalam seratus jurus, dia sudah banyak mempunyai ilmu pukulan yang aneh-aneh dan beracun. Namun menghadapi Ceng Ceng ia menjadi lemah, tidak tega me ncelakainya. Ia  ingin me rebut hati gadis ini tanpa kekerasan, melainkan dengan kehalusan dan cinta kasih.

Di lain pihak, Ceng Ceng makin lama makin kagum terhadap pemuda ini. Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda demikian pandainya, kecuali Tiang Bu. Ia sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja tidak mampu ia mendesak. Pertahanan pemuda itu kuat seperti baja se hingga semua serangannya membalik.

Cui Kong berpikir bahwa kalau dalam pertandingan tangan kosong ini ia mengalahkin gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi tersinggung hatinya dan berbalik membencinya. Harus kuberi kesempatan kepadanya supaya kali ini dia menang, pikirnya.  Cepat ia menyerang akan tetapi berbalik memberi kesempatan dan lowongan. Sebagai seorang ahli silat ia tentu saja Ceng Ceng dapat melihat lowongan ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik.

Tangan kirinya menyambar ke arah dada yang terbuka dengan pukulan keras, akan tetapi segera kepalannya dibuka dan hanya telapak tanganuya yang mendorong sekuat tenaga.

"Bukk !” Cui Kong terjengkaog dan berjungkir balik ke belakang, Sedangkan Ceng Ceng me rasa tangannya kesemutan dan kaku. Bukan main kagetnya dan diam-diam ia menjadi makin kagum karena hal itu membuktikan bahwa tenaga lweekang pemuda itu tinggi.

"Nona lihai sekali. Aku Cui Kong mengaku kalah," kata Cui Kong sambil mengebut-ngebutkan bajunya.

Akan tetapi Ceng Ceng bukan anak kecil. Kini ia maklum bahwa pemuda itu sengaja mengalah dan merahlah mukanya. Makin tertatarik hatinva, pemuda ini selain gagah perkasa, juga berbudi manis dan pandai merendah. Di lain fihak, Cui Kong hampir menari kegirangan karena ketika merubah pukulan menjadi dorongan tadi. Ia dapat menduga bahwa sedikitnya gadis itu mempunyai pandangan baik

te rhadap dirinya dan tidak mempunyai sikap bermusuh lagi

!

"Ah, kau terlalu memuji. Sebetulnya akulah yang kalah dan terus terang saja aku mengakui kelihaianmu, saudara....

saudara, ”

“Cui Kong namaku,  nona. Kau  selalu  merendah,  nona Lie. Sebetulnya saja kepandaian kita setingkat, mungkin aku sodikit lebih kuat, ini tidak aneh karena kau seorang wanita, Akan tetapi, dibandingkan dengan ayahmu tentu aku kalah

jauh sekali. Sudahlah, tertang kepandaian memang tidak ada batasnya, nona. Bolehkah aku bertanya, nona hendak pergi kemanakah?"

"Aku pergi merantau meluaskan pengalaman," jawab Ceng Ceng singkat.”

Wajah Cui Kong berseri. "Aah, tentu saja begitu. Puteri seorang pendekar tentu ingin pula mengetahui bagaimana keadaan dunia kang-ouw. Akupun mempunyai keinginan seperti itu, nona. Hanya bedanya, kalau ayah bundamu terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, adalah aku seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini, hanya mempunyai seorang ayah angkat. Akan tetapi ”

Cui Kong menarik napas panjang, “Ayah angkat inipun hanya menambah beban hidupku. Aku ...... aku terpaksa lari dari rumahnya ”

Mendengar ucapan terputus-putus dan tidak jelas ini, hati Ceng Ceng tertarik. Kepribadian pemuda itu memang telah menarik hatinya. ingin sekali ia mengetahui keadaan pemuda ini.

"Mengapa ...... ? Mengapa kau lari?"

Diam-diam Cui Kong makin gembira.  Jelas  bahwa  nona ini menaruh perhatian kepada dirinya. Ia harus berlaku hati- hati. Nona ini bukan nona sembarangan, melainkan puteri dari Pek.thouw-tiauw-ong Lie Kong. Ia harus menggunakan

akal dan siasat untuk mendapatkan gadis yang benar-benar yang benar-benar telah membetot semangatnya ini.

"Ahh, kepada orang lain biar mati aku takkan mau menceritakan urusan keluargaku, nona. Akan te tapi terhadapmu....... entah mengapa biarpun baru sekarang bertemu, aku merasa ...... seakan-akan kita sudah menjadi sahabat baik puluhan tahun lamanya.......” Ia berhenti sebentar untuk melihat bagaimana reaksi kata-katanya yang berani ini, apakah gadis ini akan marah? Tidak, Ceng Ceng malah menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Ia menjadi makin berani dan melanjutkan kata-katanya, "Sebenarnya, ayah angkatku hendak memaksa aku untuk menikah dengan seorang gadis kampungku. Maka aku .....

lari pergi !”

Tanpa disengaja Ceng Ceng tertawa kecil mendengar ini.

Ia memandang muka pemuda itu dan bertanya jenaka sudah timbul sifatnya yang jenaka dan  lincah. `Mengapa lari? Apa dia itu buruk rupa?” “Tidak buruk, bahkan cantik menjadi kembang

kampungku. Akan tetapi, nona Lie yang baik, bukan seorang gadis cantik yang lemah menjadi idam-idaman hatiku. Gadis itu benar cantik, akan tetapi dia lemah dan bodoh. Kakinya sebesar kepalan tangan ”

”Eh. bukankah itu baik sekali? Kata orang kaki wanita harus kecil, makin kecil makin baik.” Diam-diam ia melirik ke arah kakinya yang biarpun tidak besar dan mungiL namun tidak bisa dibilang kecil seperti kaki wanita dusun yang semenjak bayi dibungkus dan diikat.

"Mana bisa dibilang baik? Kaki kecil bengkok, jalannya terpincang-pincang. Ah, tak sudi aku dekat wanita demikian. lemah berpenyakitan. Idaman  hatiku,  kalau orang buruk rupa dan bodoh semacam aku ini laku kawin, calon isteriku harus seorang wanita yang gagah perkasa. Tak usah dibilang lagi kalau gagahnya seperti engkau, nona, baru memiliki kegagahan setengah kepandaianmu saja, aku sudah akan merasa bahagia sekali. Kalau ......... andaikata dia itu

seperti engkau baik rupa maupun kepandaian ah.

aku....... aku mau berlutut di depannya, nona!” Sambil berkata demikian, Cui Kong betul betul menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Ceng. Deikian pandainya Cui Kong mengambil hati ! Ceng Ceng cepat membalikkan tubuh tidak mau menerima  penghormatan  itu sambil berkata, "Jangan begitu! Tidak patut orang-orang muda seperti kita bicara tertang perjodohan. “Itu urusan orang tua. Berdirilah agar kita bisa bicara dengan baik.” Diam-diam gadis ini me rasa girang sekali hatinya. Sudah lama ia mengidamkaa seorang calon suami yang tidak saja tampan dan halus budinya,

akan tetapi juga me miliki kepandaian yang melebihi

ke pandaiannya. Dan pemuda ini tidak saja sudah memenuhi semua syarat, bahkan terang-terangan sudah me nyatakan cinta kepadanya ! "Kau tidak marah ? Terima kasih, nona. Agaknya hari ini Thian menuntunku ke jalan babagia." Cui Kong berdiri dan nona itu kembali menghadapinya.

“Seperti juga kau. aku dipaksa oleh ayah untuk menikah dengan seorang pemuda yang tidak kusetujui. Aku tadinya hendak dipaksa menjadi jodoh seorang pemuda bernama .....

Tiang Bu."

Kalau Cui Kong tidak mempunyai ke pandaian menguasai diri, tentu ia akan tersentak kaget mendengar disebutnya nama ini. Hendak dijodohkan dengan Tiang Bu pemuda sakti nu, Hatinya berdebar keras. Alangkab kebetulan.  Kalau ia bisa mendapatkan gadis ini, tidak saja hatinya akan puas karena memang ia tartarik dan cinta  kepada  Ceng Ceng, Akan tetapi juga sekaligus itu merupakan pukulan terhadap Tiang Bu, merupakan sebagian dari pada balas dendam kepada pemuda yang dibencinya itu.

"Mengapa kau tidak setuiu, nona ? Apakah Tiang Bu itu seorang pemuda yang tidak memiliki kepandaian silat?” ia pura.pura bertanya.

Ceng Ceng tersenyum. “Tentang kepandaian silat aku sama sekali tidak dapat menang melawan dia, mungkin kau dapat mengalahkannya. He mm, aku ingin sekali melihat kan dan dia bertempur.”

Diam-diam Cui Kong mengeluh di dalam hatinya. Kalau saja Ceng Ceng tahu betapa Tiang Bu sudah membikin kocar.kacir Ui-tiok-lim ! Dikeroyok tujuh saja masih tidak kalah, bagaimana Cui Kong harus menghadapi Tiang Bu seorang diri? memikirkan hal ini saja bulu te ngkuknya sudah berdiri saking ngerinya.

"Ah, kalau begitu dia seorang yang berkepandaian tingi?

Mengapa kau menolaknya. nona?" tanyanya menyimpangkan pembicaraan tentang kepandaian silat. Kemudian disambungnya cepat agar dianggap sopan. "Ah, maaf beribu maaf, sebetulnya tidak patut aku be rlancang mulut. Malutku patut digampar!"

Cenga Ceng yang tadinya hendak marah menjadi tersenyum, "Apakah kepandaian tinggi saja cukup menjadi syarat perjodohan? Kalau hati tidak suka, siapa bisa memaksaku?”

Cui Kong bertepuk tangan, wajahnya berseri. "Bagus!

Barus! Memang menjadi orang muda barus demikian. Aku girang sekali bahwa ternyata pendirianku ada yang menyamai, keadaanku dan keadaanmu cocok sekali, nona."

Kembali Ceng Ceng menjadi merah mukanya, akan tetapi dia memang bukan gadis pemalu. Ditatapnya wajah pemuda itu penuh selidik, lalu bertanya.

“Kau telah  mempe rkenalkan  nama,  akan  tetapi siapa  she ( nama keturunan ) mu ? Dan kemana kau hendak pergi ?”

“Aku she Kwe dan seperti juga kau, aku pergi merantau menjauhkan diri dari paksaan ayah angkatku." Kemudian ia berkata dengan sikap sungguh-sungguh.  “Nona Lie  Ceng, aku Kwee Cui Kong biasa bicara jujur dan terbuka, sesuai dengan sikap orang gagah yang tidak suka me nyimpan perasaan sendiri sebagai rahasia. Terus terang nona. Begitu bertemu dengan nona, apa lagi setelah mengadu kepandaian, aku merasa cocok sekali denganmu, dan.......

apa bila nona setuju….. maafkan kelancanganku karena aku suka berterus terang menyatakan isi hatiku, apabila nona setuju, aku ingin ikut nona menemui orang tua nona untuk........ untuk mengajukan pinangan atas diri nona."

Dapat dibayangkan betapa likat dan malu rasa hati Ceng Ceng se bagai seorang dara mendengar kata-kata yang terus terang seperti ini. Akan tetapi diam-diam ia memuji keberanian pemuda ini dan sama sekali ia tidak bisa marah karena memang pemuda ini tidak bisa dibilang kurang ajar. Bahkan ucapan itu membuktikan betapa jujur dan gagah sikapnya ! Memang Ceng Ceng hanya pandai ilmu silat akan tetapi pengalamannya masih hijau sekali. Tentu saja menghadapi seorang "buaya " seperti Cui Kong, ia terpikat !

Sampai lama Cang Ceng tidak bisa bicara, akhirnya sambil menundukkan muka ia berkata, "Urusan jodoh urusan orang tua, bagaimana jika kau hendak bertemu sendiri dengan ayah bundaku ?"

Sudah menang setengah bagian, pikir Cui Kong! Terang gadis ini setuju, kalau tidak masa bertanya demikian, tentu marah. Kalau gadis ini marah dan me nolaknya, tentu Cui Kong hendak menggunakan kekerasan menculiknya, akan tetapi ia lebih senang mengambil jalan halus karena memang kali  ini ia bersungguh-sungguh,  begitu berjumpa dengan Ceng Ceng ia tertatik sekali. Apa lagi kalau diingat  bahwa dara ini puteri Pek-tbouw-tiauw-ong, dia harus berhati-hati.

"Ucapanmu itu memang tepat sekali, nona, dan akupun tentu akan mematuhi peraturan dan kesopanan. Akan tetapi apa mau dikata, seperti tadi telah kuceritakan, aku adalah seorang anak yatim piatu, tiada ayah bunda lagi ”

Sampai di sini dengan pandai sekali sepasang mata Cui Kong menjadi basah oleh air mata ! "Ayah angkatku memaksaku menikah dengan seorang gadis kampungku puteri seorang hartawan, kalau kuceritakan kepadanya tentang niatku ini sudah pasti ia akan marah-marah dan menolak. Oleh karena itu, lebih baik aku datang sendiri

kepada ayah bundamu dan menyatakan bahwa di dunia ini

tidak ada lagi waliku sehingga terpaksa aku mengajukan pinangan sendiri. Nona Lie yang mulia. sudikah kau menyetujui permohonanku ini ?”

Ceng Ceng menjadi terharu. Hatinya sudah jatuh betul- betul. akan tetapi sebagai seorang gadis terhormat, bagaimana dia bisa menjawabnya ¿ Tiba-tiba kudanya meringkik dan menggaruk-garuk tanah dengan kaki depan. Kuda itu sudah tidak sabar dan minta diberi kesempatan lari. "Aku memang hendak manyusul ayah di kota Kiu-kiang. Kalau kau hendak mencari kami, datang saja di Telaga Po- yang, di sana ayah mempunyai perahu besar tempat kami pelesir. Nah, aku pergi dulu !” Dengan gerak ringan sekali Ceng Ceng melompat ke atas punggung kudanya. Sekali menarik kendali kuda itu meringkik dan melompat jauh terus berlari ce pat.

“Nona, bagaimana aku tahu yang mana perahu ayahmu?” Cui Kong berteriak keras.

“Carl saja burung pek-thouw-tiauw, tentu ketemu!” jawab Ceng Ceng sambil menoleh dan melambaikan tangannya.

Ke mudian kuda itu membalap cepat, sebentar saja lenyap di sebuah tikungan jalan. Cui Kong berdiri be ngong, meras a hatinya dan semangatnya terbawa lari oleh kuda itu.

Akhirnya ia menghela napas panjung dan berkata heran, "Cui Kong ......Cui Kong....... mengapa hatimu seaneh ini? Hemm, banyak sekali wanita cantik, akan tetapi tak seorangpun dapat menandingi Ceng Ceng. Dia itulah calon isteriku ! Aku harus mendapatkan dia !” Kemudian iapun lari cepat menuju ke Kiu-kiang.

-oo(mch)oo-

Telaga Poyang adalah sebuah telaga besar di Propinsi Kiang-si. telaga yang indah dan juga  ramai.  Telaga  ini menjadi pusat ke ramaian dan tempat orang berpelesir, terutama sekali oleh karena letaknya di dekat  kota-kota besar seperti Nan  ciang dan  lain-lain. Para saudagar tidak ada yang tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi telaga

ini apa bila maraka kebetulan lewat di daerah ini, juga para pembesar setempat selalu menghibur hati di telaga dengan perahu-perahu mereka yang se rba mewah dan indah.  Telaga ini menjadi pusat para se niman di mana mereka  menvari ilham di tempat sunyi indah ini untuk menghasiIkan karya- karya besar. Hanya rakyat kecil, kaum petani dan nelayan yang agaknya tidak menaruh perhatian atas segala keindahan alam ini, pandangan mata mereka jauh sekali bedanya dengan orang-orang kota itu.

Mengapa demikian ? Ole h karena rakyat kecil yang selamanya tinggal di dusun-dusun ini sudah biasa dengan segala keindahan alam semenjak mereka ke cil. Mere ka te lah menjadi satu dengan keindahan tamasya alam se hingga para pe lukis dan  penyajak  tidak  pernah  lupa  menyebut  mereka ini dalam lukisan atau sajak mereka. Memang sagala keindahan itu akan kehilangan rasanya  apabila  telah dimiliki.

Di antara puluhan buah perahu indah millik para pembesar dan saudagar, terdapat se buah perahu cat putih yang sedang saja besarnya. Akan tetapi tentu saja sudah termasuk besar dan mewah apa bila dibandingkan dengan perahu-perahu butut milik para se niman dan nelayan yang banyak be rkeliaran di permukaan  telaga.  Perahu bercat putih ini sudah tiga bulan berada di situ, dimiliki oleh sepasang suami isteri pendekar yang amat ternama, yaitu Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya Souw Cui Eng. Bagi orang-orang yang sudah biasa merantau di dunia kangouw, melihat dua ekor burung pak-thouw-tiauw yang sering kali hinggap di atas  pe rahu  atau  terbang berputaran di atasnya, tentu akan mengenal siapa pemilik perahu itu.

Pada suatu pagi, ketika matahari mulal memancarkan sinarnya di permukaan telaga suami isteri pendekar ini sudah kelihatan duduk di atas dek perahu mereka. Sudah jadi kebiasaan mereka untuk "mandi cahaya matahari" di waktu pagi yang me rupakan sebagian dari pada latihan mereka sehingga tubuh selalu sehat dan awet muda. Inilah saatnya mereka be rcakap cakap dengan asyik, si isteri melayani suami minum teh hangat dan sekedar santapan pagi.

"Heran mengapa Ceng Ce ng masih juga belum kembali ? Apa dia lupa bahwa dalam bulan ini kita akan meninggalkan Po-yang ?” terdengar Lie Kong berkata sambil menghirup teh panasnya.

"Anak ini kalau sudah bertamasya lupa waktu." jawab Souw Cui Eng. ”Akan tetapi pada saatnya ia tentu akan datang. Biarpun suka pelesir, Ceng Ceng selalu ingat akan pesan kita. Kurasa sebelum lewat bulan ini tentu ia akan pulang."

Lie Kong menarik napas panjang, "Tabun ini Ceng Ceng sudah berusia delapan belas lebih, dan kita belum mendapatkan calon jodohnya ”

Isterinya juga menarik napas panjang. "Anak itu agak bandel. Akupun sudah setuju sekali kalau dia menjadi isteri Tiang Bu pemuda yang sakti itu. Akan tetapi,  aahhh, memang Ceng Ceng amat bandel ”

"Tunggu saja sampai kita bertemu dengan keluarga di Kim-bun-to, tentu hal perjodohan ini akan kujadikan,” kata Lie Kong,

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring. Suami isteri itu menoleh ke darat se belah timur sambil mengerutkan kening. Sekali lagi pekik terde ngar dan tak lama kemudian seekor buruag rajawali berkepala putih datang beterbangan di alas perahu, berputar-putar sambil cecowetan.

“Hemm, betinanya ke mana?” tanya Lie Kong sambil memandang burungnya itu.

“Celaka, tentu terkena be ncana. Hayo kita lihat !” kata isterinya yang amat sayang kepada separang burungnya. Suami isteri ini cepat minggirkan pe rahu, diikuti oleh pok- thouw-tiauw dari atas. Dengan sigap mereka me lompat ke darat meninggalkan perahu lalu berlari mengikuti burung mereka yang menjadi penunjuk jalan.

Burung itu terbang terus ke sebuah hutan keci l di sebelah timur telaga. Setelah memaauki hutan, mereka melihat enam orang laki-laki aneh yang berdiri saling berhadapan. Lie Kong dan isterinya berdiri bengong seperti patung! Apa yang mereka lihat memang luar biasa ane hnya. Tiga di antara enam orang itu pernah mereka lihat, yaitu bukan lain adalah Pak-ke k Sam-kui (Tiga Iblis Kutub Utara) yang bernama Giam lo-ong Ci Kui, Liok-to Mo-ko Ang Bouw, dan Sin sai-kong Ang Louw.

Akan tetapi, tiga orang ini sekarang berdiri berhadapan dengan  tiga orang Pak kek Sam-kui  pula!  Tegasnya pada saat itu terdapat dua  orang Ci  Kui,  dua  orang Ang Bouw, dan dua orang Ang Louw. tiga pasang manusia kembar yang sukar sekali dibedakan mana aseli mana  palsu! Hanya bentuk pakaian mereka yang agak berbeda, selebihnya mereka serupa benar. Saking heran dan terkejut menyaksikan pemandangan ganjil ini, Lie Kong dan isterinya sampai tak dapat mengeluarkan suara. Burung pek-thouw- tiauw betina sedang dipe gang sayapnya oleh seorarg Ci  Kui dan burung itu sama sekall tak dapat berkutik. Memegang burung besar yang amat kuat seperti itu menunjukkan keahlian sipemegangnyaa.

“Ha, pemilik pek thouw tiauw sudah datang kau masih juga belum melepaskannya!" kata Ci Kui kedua kepada Ci Kui pert ama. Ci Kui yang memegang burung mengeluarkan ketawa sambil memandang kepada Lie Kong, agaknya ia jerih dan sekali menggerakkan tangan, burung pek thouw tiauw betina itu sudah terbang tinggi mengeluarkan pekik marah.

Ci Kui kedua yang menyuruh Ci Kui pertama tadi lalu menjura kepada Lie Kong. "Si-cu harap sudi memaafkan kami. tiga orang adik kakak ini membuat kesalahan terhadadap sicu, kami yang mintakan maaf. Sekarang kami enam orang kakak beradik masih mempunyai urusan panting sekali, harap sicu mengalah dan mundur."

Lie Kong cepat-cepat mengerahkan tenaganya ketika dari sepasang kepalan itu menyambar angin yang amat kuatnya. Ia membari penghormatan itu dengan merangkap kedua tangan ke dada dan digerakkan ke depan. Dua tenaga dahsyat saling berte mu dan Lie Kong tergeser sedikit kaki kirinya, tanda bahwa orang tinggi kurus itu benar-benar lihai sekali. Hal ini mengejutkan hati Lie Kong. Ia tahu bahwa tiga orang Pak kek Sam kui lihai, akan tetapi tidak mungkin seorang saja dari mereka dapat me nandinginya. Akan tetapi karena orang bicara dengan cengli (menurut aturan), iapun tidak mau banyak cakap. Burungnya tidak terganggu, mengapa ia harus banyak ribut? Ia mengangguk kepada isterinya, lalu mengundurkan diri.

Akan tetapi oleh karena hutan itu tempat umum, ia berani dengan isterinya duduk di bawah pohon agak jauh dari situ untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi antara tiga pasang manusia kembar yang aneh-aneh se perti siluman itu.

Dua pasang Pak-kek Sam kui selanjutnya tidak memperdulikan lagi akan hadirnya Lie Kong dan isterinya dan mereka saling be rhadapan, sikapPak-kek Sam kui pertama menantang dan Pak-kek Sam -kui kedua sikapnya tenang, sabar membujuk.

"Bagaimana, apakah kalian masih berkeras kepala tidak mau ikut  kami  pulang ke  utara?” terdengar Ci Kui  kedua be rtanya.

Ci Kui pertama menjawab, "Tidak! Kami bebas melakukan apa saja yang kami sukai dan kalian tak perlu mencampuri  urusan  kami!"  Agaknya  se perti  juga  Ci  Kui ke dua, yang pertama inipun mewakili kawan-kawannya.

"Hemmm, kalian ini benar-benar tak tahu diri. Kami sebagai saudara-s audara tua masih bersikap sabar sekali. Kalian patut dilenyapkan dari muka bumi. Kalian se cara tak tahu malu sekali me ncemarkan nama saudara tua, membantu manusia manusia jahat dan  pengkhianat semacam Liok Koug Ji dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Di mana sifat kegagahanmu? Raja besar kami sedang sibuk memukul ke barat, kalian anak-enak hedak mengikuti Liok Kong Ji yang bersembunyi di Pulau Pe k-houw-to (Pulau Harimau Putih) di laut selatan. Sudah banyak kejahatan kalian lakukan sebagai kaki tangan Liok Kong Ji sudah banyak kalian membuat permusuhan dengan orang-orang gagah di dunia selatan. Dari pada kelak kalian mampus di tangan orang-orang gagah, lebih baik sekarang kalian roboh oleb tangan kami sendiri.

(Bersambung jilid ke XXI)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]