Tangan Geledek Jilid 18

Jilid 18

ALANGKAH girang hati Tiang Bu dan juga Bi Li ketika mereka dapat bertemu tangan. Tiang Bu membetot, mengerahkan tenaganya dan....... terangkatlah Bi Li dari dalam lumpur maut yang hampir saja menjadikan gadis ini mangsanya. Saking girangnya Tiang Bu lupa diri dan memeluk gadis itu, tidak perduli pakaiannya sendiri menjadi kotor terkena lumpur yang menyelimuti tubuh dari pakaian Bi Li sebatas pinggang kebawah, Juga Bi Li yang baru saja terlepas dari ce ngkeraman maut, yang amat mengerikan dan menakutkan, saking terharunya tidak merasa lagi akan pelukan pemuda itu, bahkan ia menyandarkan kepalanya di atas dada Tiang Bu sambil terisak-isak. Bi Li bukan seorang gadis penakut, jauh dari pada itu. Sebaliknya, dia memiliki kepandaian tinggi dan nyalinya besar sekali. Menghadapi kematian dalam pertempuran kiranya akan dilakukan dengan senyum di bibir. Akan tetapi ancaman maut yang baru saja dialaminya tadi terlalu mengerikan. Dihisap oleh lumpur perlahan-lahan, sama sekali tidak berdaya seakan-

akan maut merenggut nyawa sekerat demi sekerat, ditambah lagi pandangan mengerikan dari kijang yang di hisap sampai lenyap perlahan-lahan tadi, benar-benar luar biasa sekali. Orang yang paling tabah juga akan merasa ngeri. Jauh bedanya dengan menghadapi lawan, biarpun lawan itu kuat bagaimanapun juga, kita dapat melawan dapat berdaya upaya mempertahankan diri.

Sementara itu, biarpun tadinya ia memeluk tubuh Bi Li karena terharu dan girang dalam usahanya yang berhasil menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman maut, setelan pikirannya tenang kembali dan merasa betapa kepala dengan rambut yang hitam halus dan harum itu terletak di dadanya, ketika melihat kulit leher putih kekuningan yang hangat itu demikian dekat dengan mukanya. Tiang Bu teringat akan pengalaman membunuh Pek Coa malam itu.

Tiba-tiba dadanva tergetar, berdebar-debar tidak karuan, kedua lengan yang meme luk juga menggigil dan tubuhnya menjadi panas dingin.

Bi Li agaknya juga tersadar atau terjalar oleh rangsang yang mulai menguasai Tiang Bu, karena ia tersentak kaget dan tiba-tiba merenggutkan tubuhnya dari pelukan Tiang Bu. Pemuda itu sendiri menundukkan mukanya, kedua pipinya merah sekali dan wajahnva nampak sedih, keningnya berkerut. Tiba-tiba tangan kanannya diangkat dan "plakl plak !!” ditamparnya pipinya sendiri dengan kerasnya sampai bibirnya se belah kanan pecah dan berdarah.

“Tiang Bu, kau kenapakah ?!" Bi Li bertanya, terheran- heran dan lupa akan perasaan malu dan jengah yang tadi membuat ia merenggutkan tubuhnya dan menjauhi pemuda itu.

"Aku seorang jahat.... aku telah menggunakan kesempatan selagi kau terharu untuk untuk

memelukmu. Sebenarnya tidak boleh aku memang

amat jabat. Bi Li !”

Bi Li melangkah maju, sepasang matanya kini bersinar dan wajahnya barseri. Dipegangnya kedua tangan Tiang Bu dan ia berkata, "Tidak, Tiang Bu. Kau seorang yang baik sekali, amat baik aku berterima kasih kepadamu. Kalau saja kau tidak capat mendapatkan akal dengan bambu-bambu itu, aahh ......” Bi Li melepaskan kedua tangan Tiang Bu dan menengok memandang ke arah rawa lumpur itu dan bergidik.

Sikap dan kata-kata gadis ini mengusir kesedihan Tiang Bu yang tadi merasa betapa kembali ia dikuasai oleh rangsang yang jahat dan berbahaya, yang timbul dari dalam tubuhnya. Rangsang yang amat kuat dan kalau kurang waspada, akan dapat manguasai  seluruh hati  dan pikirannya. akan melumpuhkan pertimbangannya dan melenyapkan sifat kegagahannya seperti dulu dengan Cui Lin dan Cui Kim. Karena itulah ia bersedih. Akan tetapi kata-kala Bi Li menghiburnya, dan  pula  bukankah  tadi iapun belum dikuasai  benar-benar dan  masih ingat, buktinya ia masih dapat merasa bersedih dan marah kepada diri sendiri?

“Bi Li, kita harus mencari air untuk mencuci lumpur- lumpur ini. Lihat. pakaianmu sudah tidak karuan macamnya, kotor semua.”

Bi Li memandang. “Apa kau juga bersih? Lihat saja, lumpur sudah mengotori muka dan rambutmu," Gadis ini tertawa geli, agaknya baru sekarang ia melihat betapa pipi dan kepala pemuda itu penuh lumpur hitam.

Dengan gembira kembali dua orang muda ini berlari-lari menjauhi rawa itu dan mncari air. Untuk ini mudah saja. karena Sungai Luan-ho mangalir dekat saja dan mereka segera turun ke dalam sungai. Bi Li berganti pakaian kering dari buntalan yang tadi digendongnya. Akan tetapi Tiang Bu yang tidak mempunyai bekal pakaian, terpaksa, hanya mencuci bagian yang terkena lumpur dan masih terus memakainya. Tentu saja mereka mencuci pakaian di tempat terpisah yang tidak kelihatan dari tempat masing-masing.

Tak lama kemudian mereka sudah melanjutkan perjalanan, menjelajah daerah pegunungan itu, mencari-cari di mana Hutan Bambu Kuning. Biarpun Tiang Bu sudah menyelidiki dan mendengar bahwa tempat tanggal Liok Kong Ji berada di sekitar tempat ini, namun ia sendiri belum pernah mendatangi tempat ini dan belum tahu di mana sebetulnya letak Hutan Bambu Kuning yang menjadi sarang Liok Kong Ji. Mereka berputaran sampai beberapa hari di tempat ini, naik turun gunung. masuk keluar hutan hutan besar. namun belum juga mereka melihat Hutan Bambu Kuning.

Bi Li sudah mulai hilang sabar ketika pada hari ke tujuh, pada pagi hari selagi dua orang muda ini berada di sebuah daerah berbatu karang, tiba-tiba mereka mendengar suara orang. Suara ini adalah suara laki laki dan wanita yang agaknya bertengkar, karena suara mereka keras dan terdengar marab-marah. Bi Li dan Tiang Bu menuju ke tempat itu, dan dari balik pohon-pobon dan batu karang mereka mengintai.

Bi Li melihat seorang pemuda tampan berhadapan dengan dua orang gadis cantik. Melihat pemuda itu, teringatlah Bi Li bahwa itulah pemuda yang dulu ikut menyerbu ke kota raja, pemuda yang tadinya datang bersama tosu kaki buntung sebagai utusan Kaisar Mongol, pemuda lihai yang pernah ia keroyok dengan Wan Sun dahulu di tepi Sungai Hoan ho, pemuda kurang ajar dan ceriwis, Liok Cui Kong. Akan tetapi dua orang gadis cantik itu belum pernah dilihatnya. Tidak demikian dengan Tiang Bu. Begitu melihat dua orang gadis itu, wajahnya berubah sebentar pucat sebentar merah, matanya menyinarkan cahaya aneh, seperti marah dan malu. Ini tidak mengherankan oleh karena dua orang gadis itu bukan lain adalah Cui Lin den Cui Kim! Dua orang kakak beradik ini masih secantik dulu, tahi lalat kecil di dagu Cui Lin masih amat manis menarik hati, sepasang mata yang genit dan berbentuk indah itu masih membuat Cui Kim seorang gadis cantik yang jarang ada keduanya. Akan tetapi kecantikan mereka sekarang menjadi racun bagi mata Tiang Bu, bagaikan duri menusuk hatinya, membangkitkan marah dan sakit hatinya. Akan tetapi ia tidak mau rahasianya diketahui Bi Li dan ia dapat mengendalikan perasaannya dan tinggal diam, mengintai di samping Bi Li. Ular-ular yang berada di dalam saku baju Bi Li mulai keluar, tanda bahwa gadis itu bersiap-siap manghadapi pertempuran. Dua orang muda ini masih tidak mau bergerak lebih dulu, hanya mendengarkan pertengkaran antara Cui Kong dan dua orang gadis itu.

"Kalian masih kukuh tidak mau memberikan katak itu kepadaku?" Cui Kong berkata marah. "Kalian ini orang-orang perempuan sungguh tak tahu malu. Untuk apa kalian menyimpan katak itu? Binatang ajaib itu hanya untuk laki- laki, tidak ada artinya kalian membawanya. Lekas berikan kepadaku !"

"Kong ko, bukan kami yang tidak tahu malu, sebaliknya engkau yang keterlaluan," bantah Cui Lin berani. “Binatang ajaib katak pembangkit asmara ini kami dapatkan dari Tiang Bu dan kami simpan sebagai kenang-kenangan. Kami yang berhak memilikinya, setidaknya menjadi hadiah kami sebagai balas jasa kami ketika kita merobohkan Tiang Bu.

Mengapa kau mau memaksa kami minta katak ini? Aku tahu kau hendak main gila, kau akan menjadi makin binal dan mata keranjang. Sudah cukup kau menyakiti hati kami !"

“Setan! Kau bilang apa? Cui Lin, kau dan adikmu ini menjadi berbeda benar sikap kalian setelah menjadi kekasih- kekasih Tiang Bu. Agaknya kalian sudah jatuh cinta benar- boner kepadanya, he? Cinta kepada monyet busuk itu, bukan ? Ha-ha ha, sungguh menggelikan !”

"Cui Kong, kau bicara apa !?" Cui Kim membentak marah sampai lupa menyebut Cui Kong dengan kakak. “Jangan terlalu menghina kami !”

"Cui Kim, di mana kesopananmu ?! Aku adalah kakakmu, lupakah kau? Atau kau sudah tidak mau mengaku aku sebagai kakakmu lagi ?" bentak Cui Kong marah. "Kakak macam apa kau ini ?!" Cui Kim berkata dengan nada mengejek. `Mana di dunia ini ada kakak yang memperlakukan kami seperti yang kaulakukan? Kami! menurut saja karena kami memang bukan adik-adik kandungmu, kita masing-masing adalah orang lain,  dan kami melayani segala kehendakmu membantu dalam segala hal yang kaulakukan. Attie tetapi mana terima kasihmu ?

Sekarang malah hendak merampas barang yang menjadi hak milik kami. Cuh, tak tahu malu !”

"Bedebah !" Cui Kong memukul dada Cui Kim. Gadis ini mengelak cepat, akan tetapi sebuah tendangan mengenai perutnya, membuat ia terlempar dan roboh. Sambil meringis kesakitan Cui Kim duduk dan menekan perutnya yang tertendang.

"Cui Kong, kau terlalu sekali !” seru Cui Lin marah. "Untuk kepentinganmu kami sering kali berkorban. Untuk kemenanganmu dan membalasmu kami sampai rela menjadi kekasih Tiang Bu. Sampai sebulan lebih, rela meterima hinaan dari padanya. Sekararg kau bertindak sewenang- wenang melukai adikku. Kau dan kami sama-saina anak angkat dari ayah, adakah apa kau bersikap sebagai atasan kami ?”

Cui Kong tertawa mengejek. "Hak tingkat kepandaian, bodoh ! Pula, jangan kira ayah akan terlalu membela kalian kalau kalian tidak menurut perintahku. Ayah masih belum tahu bahwa anak-anak angkatnya yang manis-manis, calon- calon penghiburnya yang dirawat sejak kecil sampai menjadi gadis-gadis jelita, ternyata telah menjadi kekasih Tiang Bu.

Ha ha ha !"

Pada saat itu, sebelum dua orang yang sodah siap bertempur ini saling se rang, terdengar seruan orang dan dari balik gunung batu  karang  muncul  dua orang, satu dari kanan kedua dari kiri.

"Hayaa, kami mencari kalian di mana……!" teriak seorang di antara mereka. Meli hat kedatangan dua orang ini, otomatis Cui Kong dan Cui Lin merubah sikap menjadi biasa tidak seperti orarg mau be rtempur. Bahkan Cui Kim sudah berdiri lagi me nahan sakit.

Sementara itu, mendengar percakapan itu, muka Bi Li juga berubah merah sekali. Ia merasa muak mendengar isi percakapan yang kotor itu, dan be berapa kali ia mengerling ke arah Tiang Bu, bibirnya yang manis ditarik se demikian rupa untuk mengejek pe muda itu.

“Aha, kiranya kau mempunyai banyak kekasih ! Sekali bertemu saja sudah ada dua orang. Mengapa kau tidak lekas keluar menemui dua orang kekasihmu itu ?” katanya perlahan.

"Ssstt!, diamlah, Bi Li." kata Tiang sambil menyentuh tangin gadis itu, akan te tapi Bi Li menarik tangannya sambil be rkata ketus.

"Jangan pegang tanganku !"

Tiang Bu kaget dan khawatir. Belum pernah gadis itu bersikap segalak ini, dan agaknya seperti orang marah- marah. Heran ! Akan tetapi ia tidak berkata-kata lagi, sebaliknya memperhatikan ke depan seperti Bi Li yang juga sudah memandang ke depan penuh perhatian.

Yang baru datang adalah seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, kelihatannya kuat sekali, usianya setara empat puluh tahun. Orang ke dua sebaliknya adalah seorang yang kecil pendek, mukanya kuning pucat seperti berpenyakitan. Akan tetapi baik Bi Li maupun Tiang Bu maklum bahwa orang berpenyakitan ini adalah se orang ahli lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.

”Liok-kongcu, kau membuat beberapa orang kawan sibuk mencarimu ke sana ke mari. Tidak tahunya sedang bersenang-senang dengan jiwi siocia ini  di sini,"  kata si muka hitam. ”Jiwi-siokhu (kedua paman) menyusul ke sini ada keperluan apakah gerangan ?” tanya Cui Kong, menyembunyikan kemendongkolannya.

"Kami disuruh menyusulmu karena ayahmu yang mulia bendak membicarakan urusan penting denganmu. Agaknya Ui-tiok-lim akan kedatangan tamu tamu penting."

Mende ngar bahwa ia dipanggil ayahnya, Cui Kong tidak berani membantah. Setelah melempar karling penuh ancaman kepada Cui Lin, ia lalu menyatakan baik dan

be rlari ce pat meninggalkan tempat itu, berlari ke balik Pegunungan Batu Karang Putih. Si muka hitam juga lari di belakang Cui Kong. Akan tetapi orang yang kurus kering dan pucat itu tersenyum-senyum di depan Cui Lin lalu berkata.

"Nona tadi agaknya ribut mulut dengan Liok kongcu. Di antara saudara ribut-ribut ada urusan apakah. Aku adalah saudara angkat Liok-taihiap, aku akan merasa girang se kali kalau dapat mendamaikan urusan kalian."

Mendengar ini, dua orang gadis itu diam-diam memuji akan kelihaian si muka pucat ini. Juga Tiang Bu diam-diam kaget karena hal  itu saja membuktikan bahwa si  muka pucat ini benar-benar lihai.

"Ah, Cong-susiok agaknya main-main. Di antara saudara serdiri, mana kami bertengkar! Hanya sedikit ribut mulut urusan kecil," kata Cui Lin.

Si muka pucat she Cong itu tertawa bergelak, suaranya tinggi kecil mengiris telinga rasanya, "Ha ha,ha-ha, nona. Aku terhitung pamanmu sendiri. mengapa hendak membohong? Kulihat adikmu ini menderit a luka dalam akibat tendangan, apakah ketika menendang Liok-kongcu

juga main-main ? Lebih baik lekas minum obat ini, agar luka itu tidak menjalar makin hebat? Setelah berkata demikian, ia melemparkan sebutir pel merah kepada Cui Kim yang menerimanya lalu me nelannya. "Teriima kasih, Cong-sustok. Kau baik sekali. Memang saudaraku Cui Kong itu keterlaluan." kat a Cui Kim, "Coba saja pikir, kami merampas sebuah be nda dari musuh kami dan benda itu sudah menjadi hak milik kami. Masa Kong-ko datang-datang hendak merampasnya dari kami? Mena ada aturan demikian?”

"Memang tidak ada aturan seperti itu, apalagi  kalau benda itu sebuah pusaka seperti katak pembangkit asmara." kata si pucat yang bernama Cong Lung itu.

”Bagaimana kau bisa tahu, Cong-susiok?” Cui Lin bertanya kaget, juga Cui Kim memandang dengan heran.

"Tentu saja aku tahu. Juga aku tahu bahwa katak di tanganmu itu tidak ada gunanya bagimu, sebaliknya katak yang berada di tanganku juga tidak ada gunanya bagiku.

Kaiau kita bertukar katak, barulah ada gunanya."

“ ..... Apa maksudmu, Cong-susiok?" tanya Cui Lie.

"Kalian mendapatkan katak betina yang tidak ada gunanya bagi orang-orang wanita. sebaliknya aku mendapatkan katak jantan yang sama sekali tidak ada artinya dan tidak lebih baik dan pada katak mampus bagi orang laki-laki. Sebaliknya kalau kita bertukar katak, barulah dua benda ajaib itu akau banyak gunanya bagi kita." Ia tertawa menyeringai.

"Bagaimana kami bisa me mpercayai omonganmu, Cong- susiok. »

“Bukankah katakmu itu berwarna hijau ? Katakku berwarna merah dan kalau kalian mau buktinya, mari kita keluarkan katak masing-masing." Sambil berkata demikian, Cong Lung mengeluarkan sebuah kotak yang sama dengan katak yang dibawa oleh Cui Lin. Ia membuka  sedikit  kotak itu dan terdengarlah bunyi nyaring tinggi. ”Kok ! Kok I Kok !"

Pada saat itu, Cui Lin mengeluarkan seruan kaget karena kotak di dalam saku bajunya bergerak. Cepat ia mengeluarkan kotak itu dan me mbuka sedikit tutupnya. "Kok- kok-kok !” terdengar suara keras dan besar dari dalam kotak itu dan tutup kotak bergerak-gerak karena binatang itu meronta-ronta.

"Nan, mereka sudah saling mengenal suara. Bagaimana maukah kau bertukar, nona? Aku bersumpan bahwa aku tidak menipumu."

Cui Lin yang memang tidak mendapat  untung apa-apa dari katak hijau yang ia rampas dari Tiang Bu, segera menukarkan kotak berisi binatang aneh itu. Dan belum lama begitu ia memegangi kotak berisi katak jantan, tiba-tiba mukanya be rubah merah dan tak lama kemudian ia tertawa cekikikan sambil meme luk adiknya dan membisikkan sesuatu di telinga adiknya. Juga Cui Kin tertawa cekikikan.

Agaknya dua orang gadis bermoral bejat ini sudah mulai merasai pengaruh dari katak ajaib itu yang membuat mereka terkekeh sambil berpelukan mereka hendak lari pergi dari situ, akan tetapi Con Lun berkata.

"Nanti dulu, nona-nona manis. Ceritakan dari mana mendapatkan katak ini ?"

"Dari dalam saku orang bernama Tiang Bu musuh kami. Karena dia membawa katak itulah kami dapat me robohkan dia, dan kami merampas kataknya setelah itu tak berdaya lagi," jawab Cui Kim yang tertawa-tawa genit dengan mata liar dan pipi kemerahan. Kemudian dia dan kakaknya berlari-larian pergi, kelihatannya girang sekali.

“Perempuan cabul jangan lari......!” Tiba-tiba Bi Li melompat keluar dengan marah. Sekarang tahulah Bi Li bahwa Tiang Bu roboh di bawah kekuasaan dua orang wanita itu karena pangaruh katak ajaib. Hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa padanya, maka tanpa menanti isyarat dari Tiang Bu lagi ia sudah melompat ke luar dan beberapa kali lompatan sudah berhadapan

dengan Cui Lin dan Cui Kim yang berhenti dan membalikkan tubuh dengan heran. Dua orang gadis ini terheran-heran melihat Tiang Bu yang  mereka  sangka  sudah  tewas.  Cui Kong tidak pernah bercerita tertang Tiang Bu  kepada siapapun juga, karena pemuda itu tentu saja malu bahwa dirinya dibikin seperti bola mati oleh Tiang Bu. Akan tetapi, ketika melihat Bi  Li  menyerang dengan  ular di tangan  kiri dan pedang di tangan kanan, Cui Lin dan Cui Kim kaget.

Cepat merekapun mencabut pedang dan sebentar saja mereka bertempur ramai.

Melihat Bi Li sudah turun tangan, Tiang Bu terpaksa melompat ke luar pula. Ia memang ingin menawan seorang di antara mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Ia tidak mengkhawatirkan Bi Li yang kiranya cukup tangguh untuk menghadapi pengeroyoknya dua orang gadis cabul itu maka ia segera menghampiri Cong Lun dengan tenang.

Sementara Cong Lun yang melihat munculnya seorang gadis cantik jelita bersenjata ular dan nampak gagah sekali kini sudah bertempur dikeroyok oleh Cui Lin dan Cui Kim, maklum bahwa inilah agaknya dua di antara tamu-tamu penting" yang dikatakan oleh Liok Kong Ji yaitu musuh- musuh yang datang menyerbu Ui-tiok lim yang harus dilawan. Maka melihat munculnya seorang pemuda tangan kosong bersikap tenang, tanpa banyak cakap lagi ia lalu memapaki dengan tangan kanan diulur untuk menangkap Tiang Bu. Justeru pada saat itu, Tiang Bu juga mengulur tangan untuk menangkapnya. Dua tangan bertemu, dua tangan yang dibentangkan sehingga telapak tangan kanan mereka saling bertumbukan.

“Plakk……” Tiang Bu merasa betapa ada semacam tenaga mesedot yang luar biasa sekali keluar dari telapak tangan lawan dan menjalar ke dalam tangannya sendiri membuat tangannya terasa pegal -pegal dan kaku. Ia kagum bukan main, tidak mengira bahwa lawannya memiliki tenaga kweekang setinggi itu, maka tadi ia tidak mengerahkan seluruh tenaga karena ia memang tidak berniat membunuh orang. Baiknya pemuda ini sudah melatih diri secara hebat sekali di dalam gua yang ia sebut sendiri Gua Siluman di dalam jurang di daerah lembah Sungai  Huang-ho  itu. Ia telah mempelajari semua isi kitab Seng thian-to yang luar biasa sekali, ilmu keturunan yang hanya menjadi rahasia, diturunkan oleh Tat Mo Couwsu sendiri dan hanya  dua orang kakek Omei-san yang pernah me lihat dan mempelajarinya. Bedanya kalau kakek 0mei-san itu terlalu banyak mempelujari ilmu silat dari kitab kitab itu, adalah Tiang Bu dapat mempelajari Song-thian-to secara khusus karena karena terkurung dalam jurang, maka kalau dibandingkan dengan dua orang gurunya itu. Tiang Bu lebih sempurna ilmunya yang ia pelajari dari kitab Song-thiau-to.

Hasilnya, ia me miliki sinkang yang luar biaya sekali, bahkan lebih hebat dari pada ketika ia mewarisi sin-kang dari dua orang gurunya, kemudian tenaga atau hawa sakti dalam

tubuhnya itu lenyap ke tika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui Kim.

Begiitu merasa ada tenaga menyedot luar biasa dari telapak tangan lawannya, Tiang Bu mengerahkan sedikit tenaga membetot dan dengan mudah saja ia dapat menarik kembali tangannya. Cong Lung yang mendapat julukan Ban- kin liong (Naga Bertenaga Selaksa Kati) di daerah utara mengeluarkan se ruan kaget. Ia sudah terkenal akan tenaganya yang hebat luar biasa sehingga diumpamakan

see kor naga yang bertenaga selaksa kati. Se tiap pukulannya akan menghancurkan batu karang, tiap kali tangannya menggunakan tenaga menyedot, tak seorangpun di dunia ini dapat me lepaskan diri dengan mudah. Akan tetapi bocah ini, yang kelihatannya sederhana dan masih hijau, setelah kena ditempel telapak tangannya, sekali be tot sudah terlepas !

Apakah dia sudah kehilangan te naganya ataukah bocah ini yang menggunakan ilmu sihir? Dengan malu dan penasaran sekali Cong Lung menyerang lagi, kini mengerahkan se luruh Iweekangnya memberondong dada Tiang Bu dengan pukulan tangan kanan kiri. Untuk menebus malu tadi Si Naga Bertenaga Selaksa Kati ini rupa-rupanya hendak membunuh Tiung Bu dalam sekali serangan. Akan tetapi, justeru inilah kesalahannya,  kalau ia mempergunakan  ilmu serangan biasa, dengan ilmu silatnya yang tinggi kiranya mereka berdua masih akan dapat bertempur ramai untuk beberapa babak lamanya. Celakanya, dia mengandalkan lweekangnya, tidak tahu bahwa dalam hal  ilmu ini menghadapi  Tiang  Bu ia sama dengan berjumpa gurunya! Serangannya yang hebat dan dilakukan dengan maksud membunuh ini memukul dirinya sendiri. Tiang Bu menghadapi pukulan dahsyat ini dengan tenang, hanya melakukan gerakan mendorong dengan tangan kirinya ke depan untuk menghadapi gelombang serangan dahsyat itu.

Ketika dua tenaga raksasa ini bertemu tubuh Tiang Bu hanya bergerak sedikit ke belakang, akan tetapi yang hebat adalah Cong Lung. Ia menjerit kesakitan, tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh telentang tak bergerak lagi, pingsan. Dari mulutnya keluar darah segar. Masih untung baginya bahwa Tiang Bu tadi tidak mengerahkan tenaga untuk menyerangnya, hanya melakukan pertahanan saja sehingga tenaga serangannya me mbalik dan memukulnya sendiri. Kalau tenaga yang membalik ini ditambah oleh tenaga serangan Tiang Bu sedikit saja, Cong Lung tidak hanya akan roboh pingsan, akan tetapi tentu akan mati seketi ka itu juga.

Sementara Cui Lin dan Cui Kim yang sedang mengeroyok Bi Li  merasa kewalahan juga. Gadis  yang baru datang ini lihai bukan main ilmu pedangnya, terutama sekali ular di tangan kirinya itu merupakan senjata yang amat berbahaya dan sukar dilawan. Tadinya dua orang gadis ini masih bes ar hati karena di situ ada Cong Lung, akan tetapi ketika

melihat bahwa Cong Lung roboh pingsan, mereka kaget bukan main dan cepat melompat ke belakang terus melarikan diri. "Siluman-s iluman beti na hendak lari kemana ?” Bi Li membentak sambil mengejar dua orang lawannya yang melarikan diri ke arah batu karang putih ke mana tadi Cui Kong, juga pergi. Sambil mengejar, B Li menggerakkan tangan dan beberapa buah senjata rahasia pat-kwa-ci menyambar ke arah dua oran gadis yang melarikan diri itu. Senjata rahasi yang dipergunakan oleh Bi Li ini adalah senjata rahasia Ang-jiu Mo-li, hebatnya buka main. Biarpun Cui Lin dan Cui Kim sudah me miliki kepandaian tinggi juga, namun mereika terpaksa membalikkan tubuh dan menggunakan  pedang menyampok semua senjata rahasia ini, tidak berani mereka berlaku semberono. Sementara mereka membalik ini Bi Li sudah dekat lagi dan langsung menyerang. Akan tetapi Cui Lin dan Cui Kim tidak mau melayaninya, setelah sekali menangkis, mereka kembali lari, Bi Li hendak melepas senjata rahasia lagi akan tetapi dua orang lawannya sudah melompat ke belakang batu karang dan terus lari sehingga untuk sesaat gunung batu karang menjadi penghalang baginya.

“Bi Li, jangan kejar ...........!” seru Tiang Bu,  tahu bahwa Bi Li bukanlah serang gadis  yang mudah tunduk menurut, ia melompat mencegat. Dapat dibayangkan betapa mendongkol hati Bi Li ketika tahu tangannya dipegang dan ditarik dari belakang oleh Tiang Bu.

"Kau ..... kau begitu sayang kepada mereka se hingga tidak ingin meli hat aku membunuh mereka? Kau membela ke kasih-kekasihmu itu ...... ?” bentaknya marah sambit membanting-banting kaki karena ia tidak berdaya melepaskan pegangan tangan Tiang Bu.

"Bi Li, kau selalu salah mengerti. Dua orang wanita itu amat eurang dan licin kau harus ingat bahwa agaknya kita sudah sampai di daerah Ui-tiok-lim, siapa tahu mereka itu sengaja memancingmu untuk mangejar kemudian menjebakmu! Pula, aku sudah berhasil menangkap yang seorang itu dia bisa menjadi penunjuk jalan ke Ui tiok-lim. Mendengar ini, dan melihat bahwa dua orang gadis tadi sudah lenyap dari situ, Bi Li mengalah. Akan tetapi pandang matanya kepada Tiang Bu masih membayangkao ke-tidak senangan hatinya. Tiang Bu merasa hal  ini  ia tahu pula bahwa tentu gadis ini memandang rendah kepadanya setelah mendengar percakapan antara Cui Lin, Cui Kim dan Cong Lung tadi.

Bi Li menghampiri Cong Lung yang masih pingsan. Ia metihat saku baju orang itu dan teringatlah ia akan katak ajaib yang berada di dalam peti. Tanpa banyak cakap lalu mengambil peti kecil itu dari dalam saku baju Cong Lung.

"Bi Li, jangan ...... sentuh binatang itu!” Tiang Bu berseru dan mengulur tangan hendak merampasnya.

Bi Li mengelak dan mengejek, matanya bersinar marah. "Manusia rendah kau hendak merampasnya dan mengulangi perbuatan rendah seperti dulu dengan dua orang pelacur tadi?"

Tiang Bu tersentak kaget. Sungguh diluar dugaannya gadis ini akan begitu marah. Benar-benar sukar dimengerti watak wanira. "Tidak, Bi Li. Aku....... aku  hendak membunuh binatang berbahaya itu!”

"Bukan kau, akan tetapi aku yang akan membunuhnya.

Binatang menyebalkan, menjijikkan!" Dengan gemas ia membuka peti kecil itu dan...... katak hijau itu melompat ke luar cepat bukan main dan di lain saat ular di lengan Bi Li sudah putus lehernya tergigit oleh kaiak itu! Anehnya, tiga ekor ular lain yang tadinya bersembunyi di saku baju Bi Li, kini meruyap ke luar semua, nampak ketakukan dan hendak melarikan diri. Akan te tapi, cepat seperti bersuyap, katak itu sudah melayang lagi dan dalam sekejap mata saja, dua ekor ular lain sudah putus lehernya dan mati.  Tinggal seekor  lagi ular kecil bersisik putih yang dengan ketakutan mencoba bersembunyi di balik lipatan baju Bi Li. Katak hijau itu mengejar terus dengan buasnya. Melihat ketiga ekor ularnya mati digigit katak yang dibencinya ini, Bi Li menjadi makin marah.

“Katak siluman mampuslah !” Tangannya mencengkeram ke arah katak, akan tetapi katak itu bukan main cepat gerakannya karena sudah dapat mengelak lagi melompat ke bawah dan cepat menyambar ke belakang tubuh Bi Li untuk mengejar ular bersembunyi  di  balik punggung.  Dengan mulut terpentang le bar katak itu menyerang dari luar baju, tercium olehnya agaknya bau ular yang bersembunyi di balik pungung. Sebelum Bi Li dapat mengelak, katak itu ternyata sudah me nempel di punggungnya, menggigit kulit daging punggungnya dan tidak dapat teelepas lagi. Bi Li menjerit dan roboh  terguling,  pingsan. Te rnyata  bahwa  ketika  katak itu menyambar ke arah ular yang bersembunyi di balik bajunya, katak ini mencium bau harum luar biasa yang sumbernya berada di punggung Bi Li, maka mengira kalau ular tadi berada di situ, ia lalu menggigit sekuat tenaga.

Akan tetapi, begitu menggigit, katak itu bertemu dengan racun yang dulu dipasang oleh Tee-tok Kwan Kok Sun di bawah kulit punggung anaknya ini dan gigitan itu tak dapat terlepas lagi kare na katak ajaib ini telah tewas. Di lain fihak, racun yang keluar dari  mulut  kataksudah  menjalar ke tubuh Bi Li, bertemu dengan racun penarik ular, terjadi perang hebat menimbulkan hawa panas membakar tubuh gadis itu sehingga Bi Li roboh pingsan.

Tiang Bu kaget dan cepat mameluk tubuh gadis itu sehingga tidak terbanting. Ia lebih kaget lagi merasa betapa tubuh itu panas membakar. Pertama-tama in melihat katak itu yang ternyata sudah mati akan tetapi masih lengket pada punggung Bi Li. Dan ular itu sudah bersembunyi di tempat aman, di dalam lipatan baju. Tiang Bu menjadi bingung.

Biarpan sudah pernah mempelajari ilmu pengobatal dari Wan Sin Hong tentang luka-luka dan akibat racun, namun belum pernah ia mendengar tentang racun katak hijau, katak pembangkit asmara! Malah baru sekarang ia tahu bahwa ”gilanya" dia dulu ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui Kim juga karena hawa beracun dari katak hijau ini. Berita yang ia dengar dari percakapan tadi tentang khasiat katak hijau terhadap pria, membuat ia terhibur sedikit.

Setidaknya ia mempunyai alasan kini mengapa ia dahulu sampai melakukan pe rbuatan rendah itu. Kiranya ia berada di bawah pengaruh katak pembangkit asmara.

Tiang Bu tidak berani sembarangan mempergunakan obat-obatnya untuk menolong Bi Li sebelum ia tahu betul obat apa yang harus diberikannya. Ia menarik bangkai katak itu, tanpa ragu-ragu lagi merobek baju Bi  Li  bagian punggung setelah miringkan tubuh gadis itu. Tampak kulit punggung yang putih halus dan bekas gigitan katak itu meninggalkan bekas kehijauan. Anehnya, ia melihat bintik merah di punggung itu. bintik yang agaknya sudah lama ada dan yang mengeluarkan bau harum ke ras sekali. Kini bintik merah itu dilingkari  bekas  gigitan katak yang berwarna hijau. Tiang Bu mengambil pedang Bi Li yang terlempar di

atas tanah  menggunakan  ujung pedang untuk melukai sedikit pada punggung Bi Li dan melihat darah yang keluar diri luka.  Darah  yang keracunan  selalu mendatangkan warna yang akan dapat me mastikan obatnya. Keluarlah darah merah segar dari luka itu, darah merah biasa seperti darah orang sehat. Aneh sekali, pikir Tiang Bu. Saking penasaran ia menusuk lagi di dekat luka gigttan katak itu. Kembali mengal ir darah merah segar, sama sekali tidak ada tanda-tanda racun. Tiang Bu menjadi makin bingung. Hanya dengan melihat warna darah orang yang tergigit binatang berbisa, ia akan dapat menentukan obat yang mana harus ia pakai. Akan tetapi darah Bi Li ternyata darah sehat  yang sama se kali tidak memperlihatkau tanda keracunan.

Tiang Bu mengeluarkan buku catatannya tentang pengobatan ketika ia belajar dari Wan Sin Hong. ia membaca dan membalik-balik lembaran catatannya itu namun sia-sta belaka. Dia masih terlalu hijau dalam hal ini. Kalau Wan Sin Hong berada di situ pe ndekar ini akan tahu se babnya dan akan tertawa, karena sesungguhnya, racun dari katak hijau itu lenyap kekuatannya oleh racun me rah yang berada di tubuh Bi Li, racun merah yang dahulu dimasukkan ke punggungnya oleh Tee-tok Kwan Kok Sun. Racun merah inilah yang mengeluarkan bau harum dan yang menarik semua ular-ular berbisa yang segera menjadi j inak kalau berdekatan dengan Bi Li. Kini dua macam racun itu saling serang dan kedua-duanya menjadi habis kekuatannya.

Perlahan-lahan dan racun yang bertawanan itu me njadi musnah lenyap di dalam darah yang segar, yang mempunyai daya sendiri untuk melebur dua macam racun yang sudah tidak ada gunanya itu. Racun katak lenyap juga racun

merah yang me nimbulkan bau harum itu musnah. Bau harum dari tubuh Bi Li makin lama makin menghilang dan ia menjadi seorang menusia biasa lagi.

Karena kehabisan akal dan tidak tahu harus mempergunakan obat apa, Tiang Bu hanya bisa mengambil obat tempel untuk mengobati luka-luka bekas gigitan katak dan bekas tusukan ujung pedang, ditempelkau di punggung gadis itu. Kemudian ia membereskan lagi baju di bagian punggung yang trrbuka dan mengangkat Bi Li ke tempat bersih, di atas rumput yang tumbuh di bawah pobon. Baru saja ia menurunkan Bi Li di atas rumput, gadis itu siuman, mengeluh perlahan, disambung seruan yang menyenangkan hati Tiang Bu.

• Aduh nyamannya....... .....!” Ketika pemuda itu meraba jidat Bi Li, ternyata hawa panas tadi sudah hilang dan keadaan Bi Li sudah normal kembali. Gadis itu bangkit duduk dan teringatkah dia akan katak hijau yang menyerangnya tadi.

“Mana binatang itu ?” katanya gemas.

“Dia sudah mati sete lah menggigit punggungmu. syukur kau tidak apa-apa,” kata Tiang Bu yang menceritakan dengan singkat kejadian tadi. Bi Li  menyesal  bukan main ke hilangan tiga ekor ularnya. Kini ia hanya tinggal mempunyai seekor ular kecil bersisik putih itu, akan tetapi ular ini cukup berbahaya. Ia sendiri masih belum insyaf bahwa sekarang pengaruhnya terhadap ular telah lenyap, bau harum yang aneh itu telah meninggalkan tubuhnya. Ular kecil putih yang tinggal satu satunya itu masih jinak kepadanya karena sudah lama ia pelihara.

Terdengar keluhan orang dan Cong Lung bergerak lalu duduk sambil meringis kesakitan.

“Kau benar-benar orang lihai, orang muda,” katanya sambil memandang ke arah Tiang Bu dengan kagum,

"Kau sudah mengaku kalah?" desak Tiang Bu.

Cong Lung mengangguk. "Belum pernah aku bertemu dengan lawan seperti engkau akan tetapi kalau lukaku sudah sembuh, aku masih ingin minta petunjuk darimu dalam ilmu silat. Sispakah namamu ?”

"Namaku Tiang Bu dan kalau kau sudah mengaku kalah, sekarang kau harus menjadi petunjuk jalan kami memaauki Ui-tok-lim.

Mendengar nama itu, Cong Lung agak terkejut. “Kau bernama Tiang Bu ? Aku pernah mende ngar tentang Putera Liok-taihiap yang bernama Tiang Bu ”

”Bukan aku ! Aku musuh besar Liok Kong Ji. Bawa aku ke sana."

Tiba-tiba Cong Lung bergelak, kelihatannya geli. “Kau....... ? Kau hendak memasuki Ui-tiok-lim untuk mencari Liok-taihiap? Benar-benar sukar dipercaya. Akan tetapi kalau demikian kehendakmu, marilah kuantar kalian ke Ui tiok-lim!” Ia melompat berdiri dan tiba-tiba ia meraba- raba saku bajunya, keningnya berkerut.

“Katak hijau yang kotor itu telah mampus, tak porlu kaucari lagi,” kata Tiang Bu sambil menunjuk ke arah bangkai katak yang sudah kering.

Cong Lung menarik napas panjang berulang-ulang, kelihatannya menyesal bukan main. Ia mengerling ke arah wajah Bi Li yang amat jelita itu, lalu berkata, "Sayang !"

Akan tetapi ia segera berjalan cepat dan berkata, “Marilah !"

Dengan hati-hati sekali Tiang Bu mengikutinya, memberi isyarat kepada Bi Li untuk berjalan di belakangnya. Gadis itupun bersiap-siap; berjalan di belakang Tiang Bu dengan pedang di tangan kanan dan ular putih melingkar di pergelangan tangan kiri.

Cong Lung berlarl mengitari Pegunungan Batu Karang Putih, lalu memnbelok ke kiri menuju ke pegunungan yang penuh dengan batu karang dan sebatang pohonpun tidak kelihatan dari bawah. Orang yang hendak mencari Ui tiok lim *Hutan Bambu Kuning) tidak nanti akan mengambil jalan ini karena siapakah orangnya mau mencari sebuah hutan di atas pegunungan yang be gitu kering penuh batu melulu ? Inikah keistimewaan Ui-liok-lim yang amat sukar dicari orang. Tidak saja letaknya di tempat yang tak semestinya, yitu di atas pegunungan batu karang, akan tetapi juga amat sukar mencari jalan di antara batu karang itu. batu-batu yang berada di situ menj ulang tinggi menutupi pandangan sehingga orang mudah tersesat tidak mengenal daerah ini.

Cong Lung adalah seorang di antara kaki tangan Liok Kong Ji. Liok Kong Ji satelah mengundurkan  dari bala tentara Mongol dan berhasil mengumpulkan harta kekayaan besar sekali dari harta rampas an di istana Kerajaan Kin dan hadiah hadiah diri Jengis  Khan,  lalu hidup sebagai  raja muda di Ui tiok lim. Di tengah Rimba Bambu Kuning ini mendirikan gedung besar seperti istana yang mempunyai hampir seratus buah kamar. Kini Kong Ji tinggal bersama selir-selirnya yang jumlahnya ada enam belas orang muda muda, ayu-ayu, didampingi pula oleh tiga orang “anak angkatnya" yaitu Liok Cui Kong, Cui Lin dan Cui Kim.

Tadinya Cui Kim juga menjadi calon selirnya akan te tapi

semenjak ia mendengar bahwa dua orang "anak” ini sudah melayani Tiang Bu, ia tidak mau menganggu mereka. Dasar manusia berwatak bejat biarpun di  depan matanya ia melihat betapa Cui Lin  dan  Cui Kim dua  orang gadis cabul itu bermain  gila dengan “kakaknya” sendiri  Cui  Kong, namun Kong Ji sengaja menutup mata. Dapat dibayangkan betapa rusak dan bejat moral orang-orang yang tinggal di Ui- tiok- lim.

Karena maklum bahwa ia mempunyai banyak musuh, terutama sekali ia merasa jerih  terhadap Wan  Sin Hong, Kong Ji telah me milih lima orang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi. Lima orang ini adalah kawan-kawannya yang ia kenal di dalam perantauannya, bahkan mereka telah pula membantu pergerakan tentara Mongol. Dengan lima orang ini Kong Ji yang cerdik mengangkat saudara dan dia diangkat menjadi saudara tua. Bukan karena usia,

melainkan karena kepandaiannya, kedudukannya dan

te rutama sekali kare na hartabendanya. Dua di antara lima orang “adik angkat” ini adalah si muka pucat Cong Lung ahli

lweekeh itu dan orang tinggi basar muka Imam yang muncul bernama Cong Lung, bernama Ma It Sun. Seperti juga Cong Lung, Ma It Sun ini adalah seorang  tokoh  besar di perbatasan utara yang sudah  lama  malang melintang sebagai seorang penyamun tunggal yang disegani karena golok besarnya. Maka ia mempunyai julukan Twa-to (Si Golok Besar). Tiga orang yang lain juga bukab orang-orang biasa, melainkan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang sudah terkenal memilih kepandaian tinggi. It-ci-san Kwa Lo It Dewa Jari Tunggal adalah seorang ahli totok dari barat, berwajah gagah penuh brewok berusia lima puluh tahun.

Orang ke empat tak lain adatah Lee Bok Wi, seorang kate kecil, berusia belum empat puluh tahun namun sudah membuat nama besar karena kepandaian meneopetnya yang luar biasa sehingga ia mendapat julukan Koai- jiu Sin-touw (Malaikat Copet). Yang ke lima adalah seorang hwesio murtad dari Siauw lim-si, ahlit toya bernama Hok Lun Hosiang. Dengan adanya lima orang ini di sampingnya. Liok Kong Ji me rasa aman. Dia dan anak-anak angkatnya sudah merupakan barisan yang amat kuat dan sukar terkalahkan, apa lagi para selirnya juga rata-rata memiliki kepandaian silat karena ia beri latihan, lalu para pelayan yang puluhan jumlahnya juga bukan orang-orang sembarangan. Keluarga besar berikut kaki tangannya ini selain amat kuat, juga mereka tinggal di Ui-tiok-lim, sebuah hutan rahasia yang penuh jebakan- jebakan, penuh perangkap- perangkap berbahaya juga bambu yang tumbuh di situ diatur menurut tin ( barisan ) tertentu se hingga belum pernah ada musuh dapat masuk. Sekali masuk, orang akan tersesat dan menghadapi pasangan perangkap yang aneh-aneh dan menyeramkan dan jaranglah ada orang masuk dapat keluar ke mbali dalam keadaan hidup !

Akan tetapi sekarang Cong Lung te lah terjatuh ke dalam tangau Tiang Bu, pendekar muda yang baru muncul dan memaksanya menjadi petunjuk jalan memasuki Ui-tiok-lim. Sudah tentu saja Cong Lung dan kawan-kawanrya dapat memasuki Ui-tiok-lim melalui jalan satu-satunya, jalan rahasia yang tidak diketahui orang luar. Cong Lung berlari- lari di antara batu-batu karang yang sulit untuk dikenal karena semua hampir sama dan jalan yang dilaluinya ini benar benar sukar untuk diingat. Tiang Bu sendiri yang biasanya amat cerdik, menjadi bingung ketika untuk kesembilan kalinya Cong Lung menikung pada tikungan yang kelihatannya sama saja dengan yang tadi, seolah-oleh mereka menikung pada belokan yang itu-itu juga.

Cong Lung tentu tidakakan termasuk seorang diantara "lima besar” yang sudah mendapat kehormatan diangkat saudara oleh Liok Kong Ji kalau dia seorang bodoh. Seperti juga Liok Kong Ji dan semua kaki tangannya, Cong Lung ini juga selain lihai ilmu silatnya, lihai pula otaknya. Ia cerdik sekali. Melihat kehebatan ilmu kepandaian pemuda yang menawannya ini, ia maklum bahwa melawan takkan ada gunanya. Oleh karena itu ia sengaja mengalah dan takluk, lalu bersedia mangantar Tiang Bu dan Bi Li ke Ui tiok-lim. Akan tetapi ini hanya pancingan belaka. Hal ini diketahui oleh Tiang Bu sebelah terlambat.

Ketika menikung untuk kesebelas kalinya tiba-tiba Cong Lung mendorong sebuah gunung-gunungan di sebelah kirinya. Batu karang yang berbentuk bukit kecil itu tentu beratnva laksaan kati, akan tetapi anehnya ketika didorong oleh Cong Lung lalu bergeser dan terbukalah sebuah lubang seperti sumur. Cong Lung sudah mendesak masuk dan tubuhnya terguling ke dalam sumur di balik batu karang itu. Terdengar ia menjerit ngeri !

Tentu saja Tiang Bu dan Bi Li kaget bukan main dan sempat menahan kaki tidak mengikuti  jejak Cong Lung. Kalau demikian halnya tentu mereka juga akan terjerumus ke dalam sumur itu pula. Akan tetapi, ketika mereka menahan kaki dan beidiri tegak dan ngeri di depan batu karang itu tiba-tiba saja tanah yang mereka injak nyeplos ke bawah! Untuk melompat tiada kese mpatan lagi karena kiri tebing gunung batu karang, di depan menghalang batu karang yang ada sumur di belakang itu.

“Celaka ......!!” seru Tiang Bu yang cepat menyambar lengan tangan Bi Li sehingga mereka dapat melayang turun bersama ke bawah. Ketika kaki mereka menyentuh tanah, ternyata mereka telah terjerumus ke dalam sumur yang dalamnya ada lima tombak lebih gelapnya bukan main dan di sekeliling mereka adalah dinding batu karang yang keras dan licin belaka. Terdengat suara ketawa dari atas dan alangkah heran dan mendongkolnya hati Tiang Bu dan Bi Li ketika mendatpat kenyataan bahwa yang menertawakan mereka itu alalah Cong Lung yang tadi dikira mati tersuling

ke dalam sumur. Tidak tahunya itu hanya akal belaka dari si muka pucat yang lihai.

"Ha-ha ha, Tiang Bu. Biarpun kau menghadapi kematian di dalam jurang maut itu, kau tidak penasaran karena di sampingmu ada bidadari cantik Ha-ha, puaskanlah hatimu sebelum mampus orang muda!" Kemudian keadaan sunyi sekali karena si muka pucat itu se gera pergi meninggalkan tempat itu.  Tiang Bu berusaha  melompat  ke  atas, akan tetapi kedua tangannya te rbentur batu karang yang telah menutup lagi lubang itu dari atas, agaknya semua itu tadi digerakkan oleh alat-alat tersembunyi yang sengaja dipasang di situ untuk menjebak musuh.

"Tidak ada jalan ke luar ?” tanya Bi Li, suaranya tenang saja karena gadis ini tidak takut menghadapi bahaya. Di dalam gelap Bi Li tidak tinggal diam, iapun meraba-raba dinding mencari-cari jalan ke luar.

"Tiang Bu, di sini ada lobang besar !" se runya dari arah kiri. Tiang Bu eepat menghampiri ke arah suara gadis ini dan karena keadaan di situ amat gelap, hampir saja beradu muka dengan Bi Li.

"Hugh, kau gila. Main tubruk saja !” gadis itu menegur. "Maaf tidak kusengaja, Bi Li. Mana lubang itu ?"

"Ini rabalah. Nah, bukankah ini merupakan jalan terowongan ?”

Tiang Bit meraba-raba. Memang betul, pada dinding sebelah kiri itu terdapat lubang, antara satu tombak tingginya dari dasar sumur. Telowongan batu karang yang cukup besar untuk orang merayap masuk, basah dan licin. Memang ada bahayanya tempat seperti itu dipergunakan oleh binatang buas seperti ul ar untuk bersembunyi, akan tetapni dari pada mati konyol di dalam sumur, lebih baik berusaha mencari jalan. keluar.

"Bi Li, mari kau ikut di belakangku. Kita memeriksa terowongan ini akan membawa kita sampai ke mana."

“Aku di depan, aku yang membawa pedang,” kata Bi Li.

”Tidak, kau di belakang. Biar aku yang menghadapi bahaya lebih dulu”

"Kalau begitu, bawalah pedangku, Kalau kau tidak mau, akupun tidak mau di belakang.” Bi Li berkeras. Akhirnya Tiang Bu mengalah dan menerima pedang gadis itu, lalu ia melompat ke dalam lubang terowongan diikuti oleh Bi Li.

Dua orang muda ini merayap terus. Terowongan itu panjang

sekali dan di  dalam gelap itu rasanya  ada setengah  hari mereka merangkak sampai kaki tangan terasa sakit akhirnya

mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup besar seperti sebuah kamar tidur atau sebuah kamar tahanan. Ini lebih baik, setidaknya lebih lebar dan ada sinar masuk dari atas membuat mereka dapat saling me lihat, biarpun hanya remang-remang seperti orang melihat bayangan. Kembali mereka benar-benar terkurung oleh empat dinding batu karang yang amat kuat.

"Bagaimana Tiang Bu? apakah kita harus mati konyol di tempat ini?"

Tiang Bu tak segera menjawab, hatinya tertus uk. Setelah memeriksa agak lama, iapun habis harapan. Perjalanan melalui terowongan tadi sama dengan perjalanan mencari kuburan me reka sendiri. Tidak ada jalan keluar lagi dan bicara tentang pertolongin sama dengan mimpi kosong.

”Agaknya begitulah, Bi Li. Bagi aku seorang rendah

budi dan kotor. masih tidak apa ..... akan tetapi kau ”

Suaranya tertahan haru.

"Akupun tidak lebih baik dari pada kau. Tak perlu kita bersedih menghadapi saat terakhir. Lebih baik kita saling menceritakan riwayat masing-masing. Nah, kaumulailah Tiang Bu.”

”Keadaanku sudah kuceritakan kepadamu walaupun singkat. Apa sih yang menarik dari diriku yang tak berharga ini?”

“Belum semua kauceritakan, misalnya tentang.-.......

mengenai....... dua orang gadis kakak beradik itu. Aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang mereka. Manis, benarkah sikap mereka terhadaprau. Tiang Bu?" Biarpun kata-kata ini diucapkan lemah-lembut, namun terasa oleh Tiang Bu betapa di dalamnya mengandung hawa marah dan tak senang. Heran !

"Bi Li,  tentu kau mendapat  kesan buruk sekali setelah kau mendengar pe rcakapan antara mereka itu. Aku tidak menyalahkan kau memang sudah sepatutnya kau memandang hina kepadaku. Aku orang lemah iman dan berberwatak kotor dan cabul. Kau mau mendengar riwayatnya? Baik, dengarlah. Ketika aku bertemu dengan mereka, Cui Kong dan dua orang gadis itu, Cui Kim dan Cui Lin, di dalam pertempuran aku dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi mereka membujuk dan mengatakan bahwa sebapai anak-anak dari Liok Kong Ji tidak selayaknya kita bermusuhan. Mereka membawaku ke rumah di lembah Sungai Huang-ho dan di sana mereka mulai menipuku. Dua orang grdis itu sengaja membujuk rayu. mempergunakan kecantikan mereka dan di luar tahuku, katak hijau yang kubawa dan kurampas dari tangan isteri Pek thouw-tiauw- ong itu membantu usaha keji mereka. Dan aku terjeblos, tak berdaya di dalam permainan mereka. Akhirnya setelah aku tidak berdaya lagi, mereka melemparku ke dalam jurang di mana seharusnya aku mampus sebagai hukuman atas dosa- dosaku. Akan tetapi agaknya Thian belum menghendaki orang macam aku ini mampus, agaknya aku harus bertemu dengan orang-orang agar aku menderita malu. Setelah terkurung hampir tiga tahun, aku dapat meloloskan diri dari tempat itu kembali ke dunia ramai. Nah, demiki anlah cerita tentang dua orang gadis itu. Kau tentu akan makin jemu, bukan ?”

Bi Li tidak menjawab, takut  kalau suaranya  akan tergetar. Diam-diam ia merasa terharu, kasihan dan kagum sekali kepada Tiang Bu yang dianggapnya amat jujur dan berbudi mulia. Ia dapat mengerti bahwa perbuatan Tiang Bu itu tentu karena pengaruh hawa racun dari katak hijau yang dari namanya saja katak pembangkit asmara, sudah dapat diduga bagaimana pengaruhnya terhadap seorang pria.

Kesalahan Tiang Bu pantas dimaafkan. Sebaliknya Tiang Bu  me ngira  bahwa  gadis  itu  tentu muak dan jemu mendengar penuturannya tadi maka diam saja. Untuk melenyapkan suasana muram ini, ia  lalu bertanya dengan suara dibikin gembira. "Bi  Li, tahukah kamu di mana adanya Wan Sun kakakmu itu? Aku angin sekali bertemu dengan dia." Sebetulnya ucapan ini kosong. karena dalam keadaan seperti itu, menghadapi maut karena tidak ada jalan keluar, bagaimana bicara tentang ingin bertemu dengan Wan Sun?

"Dia bukan kakakku,"  bantah Bi  Li  sambil  duduk di pojok kamar batu itu melepaskan lelah. "Dan aku tidak tahu ke mana perginya. Mungkin pergi bersama Wan Sin Hong taihiap yang datang menolong kami pada saat kami

terdesak." Lalu gadis ini menceritakan pe ngalamannya pada saat kota raja diserbu bala tentara Mongol dan pada saat itu ia mendengar pengakuan Kwan Kok Sun sehingga ia pergi meninggalkan Wan Sun.

Tiang Bu menarik napas panjang. "Memang aneh, dia bukan kakakmu padahal semenjak keci l berdekatan, akan tetapi dia adalah adik kandungku berlainan ayah, biarpun kami tak saling mengenal. Aku ingin sekali bertemu dengan adikku itu. Ingin aku berbuat sesuatu untuknya, berkorban sesuatu untuknya demi baktiku kepada ibu yang tentu amat mencintanya ”

Bi Li menjadi terharu. Mulia benar hati pemuda ini. "Memang,....... ibu....... eh. Nyonya Wanyen amat sayang kepadanya. juga kepadaku. Dan San-ko sudah ditunangkan dengan Coa Lee Goat, puteri Coa Hong Kin "

"Betulkah ?” Tiang Bu berjingkrak sepe rti hendak menari kegirangan. "Dengan Lee Goat adikku? Ha-ha-ha. Lee Goat adikku manis yang suka menangis ! Ahh, alangkah baiknya

...... alangkah bahagiannya kalau saja aku dapat menyaksikan pernikahan itu....... !” Tiba-tiba ia berhenti bicara karena segera teringat akan keadaannya bersama Bi Li yang agaknya sudah tidak ada harapan lagi itu. “Kau seorang yang baik sekali, Tiang Bu.......” kata Bi Li lirih terharu.

"Ah, hanya kau yang memujiku, Bi Li. Kaulah orang baik, adapun aku....... aku orang lemah ”

"Tidak, kaulah satu-satunya orang yang mendatangkan kagum dalam hatiku."

Mendengar kata-kata yang jujur ini Tiang Bu melengak. ”Bi Li..,.. kau tidak berolok-ol ok ? Kau ..... betulkah kata- katamu itu ?”

Bi Li mengangguk.

“Terima kasih Bi Li, terima kasih.” menyentuh tangan gadis itu. "Sekarang aku bersiap untuk mati dengan hati senang. Setidaknya ada orang yang...... suka kepadaku. Kau suka kepadaku, Bi Li? Betulkah ini ?”

“Aku..... aku suka kepadamu, Tiang Bu.”

”Luar biasa ! Hampir tak dapat aku percaya ! Bi Li, kau .. gadis perkasa yang begini cantik jelita, bekas puteri pangeran....... bisa jadikah kau suka kepada laki-laki semacam aku ini yang buruk rupa, miskin, dan hina? Bi Li, jangan kau mempermainkan aku de ngan ini ! Jangan "

Suara Bi Li terdengar ke ras dan marah ketika ia menjawab, "Tiang Bu. apa kaukira aku me njual hatiku begitu murah, suka kepada laki-laki hanya oleh wajah tampan dan budi bahasa halus belaka ? Kau memang tidak tampan, juga tidak pandai mengambil hati akan tetapi, watakmu gagah perkasa, budimu mulia dan kau benar- benar seorang jantan sejati. Itulah yang kusuka ”

Saking girang dan herannya. Tiang Bu hanya berdiri seperti patung, mengerahkan selurub tenaga urat-urat matanya untuk menembus kegelapan agar ia dapat menatap pandang mata gadis itu membaea isi hatinya. Akan tetapi kegelapan menghalanginya. Bi Li tetap merupakan bayangan yang duduk tersardar pada dinding batu karang. Tiba-tiba keduanya tersentak kaget ketika mendengar seruan-seruan tertahan disusul oleh makian dan teri akan kesakitan, te pat di balik dinding sebelah kanan. Agaknya di balik dinding sebelah kanan itu terdapat "kamar tahanan" pula dan baru saja ada orang orang. wanita dilempar masuk, karena segera ada suara dua orang wanita di balik dinding itu. Alangkah heran dan kagetnya hati Tiang Bu dan Bi Li ketika mereka mengenal suara-suara itu sebagai suara  Cui Lin dan Cui Kim !

"Benar-benar manusia berhati binatang Cui-Kong itu” terdengar Cui Kim memaki marah. Dahulu dia bemanis muka, membujuk bujuk kita dan menyatakan cintanya, semua itu palsu belaka....... !" terdengar gadis ini me nangis.

“Memang hati laki-laki semua palsu, mana yang bisa dipercaya?” kata Cui Lin, suaranya mengandung kemarahan. "Apa lagi Cui Kong, dia malah lebih jahat dari se mua laki- laki yang pernah kita jumpai. Kurang apa kita membantu

dia? Sampai-sampai kita mengorbankan diri beberapa kali kepada musuh yang terlalu berat untuk ditawan dengan kekerasan, terpaksa kita mempergunakan kecantikan untuk mengalahkan musuh. Sekarang melupakan kita, malah memusuhi kita. Benar-benar anjing biadab !”

“Agaknya ini hukuman bagi dosa-dosa kita, enci Lin. kalau aku mengingat akan Tiang Bu yang dulu kita goda, benar-benar aku masih merasa malu. Dia itulah laki-laki sejati dan kita harus mengaku bahwa tanpa bantuan katak hijau kiranya tak mungkin kita dapat menjatuhkannya.

Kalau aku tahu Cui Kong akan menyia-nyiakan kita dan menyiksa seperti ini, lebih baik aku dulu turut dan membantu Tiang Bu. Dia laki-laki gagah betilmu tinggi ”

"Hush, adik Kim, bagaimana kau bisa me lamun yang tidak-tidak? Cui Kong sudah menipu kita dan melempar kita ke tempat ini. Kita sudah tertotok hiat-to kita sehingga tidak berdaya keluar dari tempat ini. Kalau ayah tidak lekas-lekas mencari kita dan Cui Kong mendiamkan saja apakah kita tidak akan mati kelaparan......?” Kedua orang gadis ini lalu menangis terisak-isak.

Sementara itu, di balik dinding batu itu, Tiang Bu memegang tangan Bi Li dengan hati girang. “Bi Li, kesempatan baik untuk lolos dari sini, bahkan untuk menyerbu masuk mencari  manusia  Liok Kong Ji." Tanpa menanti Bi Li menjawab, Tiang Bu mengetuk- ngetuk dinding batu itu dan berkata dengan suara nyaring.

"Cui Lin dan Cui Kim. Aku Tiang Bu berada di sini, terjebak oleh Cong Lung. Kalau kalian bisa menolongku keluar, tentu akupun dapat menolong kalian !"

Suara tangis di sebelah terhenti seketika dan  agaknya dua orang gadis itu terheran dan kaget. "Kau di situ.  Tiang Bu ? terdengar Cui Lin berkata, hati-hati sekali. "Bagaimana kau bisa menotong kami yang pernah mencelakaimu?”

"Tolonglah aku keluar dari sini, tentu aku akan melupakan perbuatan kalian yang dulu dan aku akan berusaha menolongmu ke luar pula serta membebaskan hiat-totmu yang tertotok."

Beberapa lama tidak terdengar jawaban, agaknya emci dan adik itu berunding. Kemudian terdengar lagi suara Cui Lin melalui celah-celah kecil di tembok batu karang itu. ”Tiang Bu kau cari se buah batu berbentuk tengkorak di ujung kanan bagian ini, putar hulu tengkorak itu tiga kali ke kiri, akan terbuka pintu rahasia."

Bukan main girangaya hati Tiang Bu mende ngar ini. Cepat tangannya meraba-raba akhirnya ia mendapatkan batu tengkorak itu. Hatinya berdebar tegang ketika tangannya mengerahkan tenaga memutar batu tengkorak ke kiri.

“Kriiittt ....... !" Perlahan-lahan terbukalah pintu rahasia yang tidak kelihatan di ujung itu. Tiang Bu dan Bi Li menerohos ke luar. Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan sudah curiga kepada Bi Li yang sejak tadit diam saja. Begitu melihat pedang berkelebat ia menangkap pergelangan tangan Bi Li.

"Bi Li, demi Thian....... kau hendak berbuat apa ?"

“Tiang Bu, dua ekor siluman seperti dia patut dibunuh ! Apa kau hendak melindungi mereka ini, due ekor siluman jahat bekas...... bekas...... kekasihmu ?"

Ruangan di mana Cui Lin dan Cui Kim berada ini cukup te rang sehingga mereka dapat saling melihat wajah masing- masing. Dua orang gadis itu menggeletak dalam keadaan setengah lumpuh dan tidak berdaya karena sudah tertotok hiat-to (jalan darah) mereka. Bi Li nampak marah sekali, sepasang matanya me ngeluarkan sinar berapi-api ke tika ia memandang kepada dua orang gadis itu.

”Sabarlah, Bi Li. bukan perbuatan gagah untuk menarik kembali janji kita. Aku tadi telah berjanji akan balas menolong mereka ini yang sudah menolong kita."

"Kau yang berjanji, akan tetapi aku tidak !" Bi Li membantah.

"Akan tetapi aku sudah berjanji akan bebaskan mereka." sambil berkata demikian, Tiang Bu cepat melepaskan pegangannya, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya ia menepuk punggung Cu Lin dan Cui Kim yang segera menjadi bebas kembali.

"Tiang Bu, kau mau bertemu dengan ayah? mari kuantar," kata Cui Lin tanpa banyak cakap lagi, juga tidak mau memandang kepada Bi Li yang galak.

Tiang Bu mengangguk, lalu dengan ramah menggandeng tangan Bi Li yang masih marah, karena mendengar bahwa dua orang gadis itu hendak mengantarnya ke tempat Liok Koug Ji, maka Bl Li menurut dan tidak banyak cakap. Tentu saja berhadapan dengan Kong Ji lebih penting dari pada mengurus dua orang gadis yang amat dibencinya itu. Segera setelah empat orang ini melompat ke luar dari sumur dangkal di mana Cui Lin dun Cui Kim berada tadi, kelihatan sebuah Hutan Bambu Kuning di depan.

Nampaknya seperti hutan biasa, dengan bambu kuning yang amat indah berkelompok di sana sini. Akan tetapi sesungguhnya  kelompok-ketompok bambu kuning itu teratur menurut kedudukan bintang dan amat sulit

dimasuki orang. Kali ini Cui Lin dan Cui  Kim tidak berani be rlaku curang lagi. Memang mereka ingin membalas dendam, terutama kepada Cui Kong, maka dengen sengaja mereka mengantar Tiang Bu memasuki sarang Ui-tiok-lim ini.

Di dalam gedungnya yang  indah  seperti Istana,  Liok  Kong Ji dan saudara angkatnya sedang duduk menghadapi meja perjamuan. Mereka sedang mendengarkan penututan Cong Lung tentang Tiang Bu dan seorang gadis jelita yang  telah dije baknya masuk ke dalam sumur maut.

"Siauwte tidak berani lancang membunuh karena harus menanti keputusan Liok-toako tentang puteranya itu. Harus diakui bahwa pemuda itu lihai bukan main dan agaknya tidak menaruh hormat sama sekali terhadap Liok toako.” Cong Lung mengakhiri penuturannya.

Pada saat mereka sedang bercakap-cakap muncullah orang yang menjadi bahan percakapan mereka. Tiang Bu memasuki pintu ruangan yang luas itu bersama Bi Li sedangkan dua orang gadis yang mengantarnya tentu saja tidak berani masuk den sudah dari tadi pergi.

”Tiang Bu, akhirnya  kau datang juga di  sini!”  Liok Kong Ji melompat  berdiri  dari bangkunya  de ngan  wajah tersenyum girang sekali, padahal dadanya berdebar keras. Memang pandai sekali Kong Ji menyembunyikan perasaannya. “Ayahmu telah amat mengharapkan kedatanganmu, syukur kau datang, nak ! Dan ini siapakah? Calon istetimu? Bagus, Kau boleh tinggal di sini sebagai puteraku bersama isterimu yang jelita ini. Mari, mari duduklah di sini, kuperkenalkan dengan susiok-susiokmu.”

Tiang Bu memandang de ngan hati tidak keruan rasa. Ia berhadapan dengan orang yang sejahat-jahatnya, akan tetapi orang ini adalah ayahnya sendiri, hal ini sekarang ia tidak dapat  membantah  atau menyangkal  pula. Inilah  Liok Kong Ji, ayahnya yang dengan keji melebihi binatang telah merusak hidup ibunya. Gak Soan Li sehingga terlahirlah ia, anak yang tidak diakui ibunya sendiri!

Tiang Bu memandang penuh perhatian dan harus ia akui bahwa Liok Kong Ji tidak patut  menjadi ayahnya. Liok Kong Ji yang sudah berusia e mpat puluh tahun lebih itu kelihatannya masih muda, pakaiannya terbuat dari pada sutera yang halus dan mahal, wajahnya tampan berseri-seri dan terawat baik, rambulnya  yang masih hitam itu mengkilap oleh minyak, digelung ke atas dan diikat dengan

sutera halus pula. Pedang yang indah gagangnya te rgantung di punggung, kelihatan tanpan dan gagah sekali.

"Liok Kong Ji manusia iblis ! Jangan kau bicara tak karuan. Siapa itu puteramu ! Aku, Tiang Bu datang untuk mengambil kepalamu agar rohmu dapat menebus dosamu yang sudah bertumpuk,” kata Tiang Bu, suaranya terang saja namun mengandung ancaman hebat.

Terdengar suara tertawa bergelak dan empat orang saudara angkat Kong Ji bangkit dari kursi  mereka. Cong Lung dan Cui Kong yang berada di situ tidak berani sembarang berkutik karena dua orang ini sudah mengenal kelihaian Tiang Bu, akan tetapi empat  orang  jagoan yang lain merasa amat lucu melihat se orang pemuda se derhana tanpa memegang senjaia apa-apa berani datang di Ui tiok- lim dan mengancam he ndak mengambil kepala Thian te Bu- tek Taihiap Liok Kong Ji begitu saja. Ini benar-benar keterlaluan sekali.

"Bocah ingusan jangan kau kurang ajar! Twa-ko, kalau kau memberi ijin, biar siauwte menangkap puteramu yang puthauw (tidak berbakti ) ini !" kata Koat-jiu Sin-touw Lee- Bok-Wi Si Malaikat Copet.

Kong Ji yang menjadi merah mukanya mendengar dampratan Tiang Bu tadi, menganguk sambil berkata, “Bocah ini me mang me ndapat pelajaran dari orang-orang tidak benar. Perlu digembleng di sini. Kautangkaplah, akan tetapi hati-hati, Lee.sute."

Begitu mendapat perkenan Kong Ji, Lee Bok Wi melompat dan bukan main cepatnya gerakannya ketika melompat karena tahu-tahu ia sudah berada di depan Tiang Bu, terus kedua tangannya dipukulkan ke depan bertubi- tubi. Melihat gerakan orang kate yang amat cepal ini, diam- diam Tiang Bu kagum dan tahu bahwa ia  berhadapan dengan orang pandai yang ahti dalam ilmu ginkang. Akan tetapi karena tujuan ke datangannya ini untuk membunuh Liok Kong Ji, ia tidak mau me mbuang banyak waktu.

Pukulan Lee Bok Wi ia hadapi dengan pukulan pula sambil mengerahkan sin-kangnya. Akan tetapi Si Malaikat Copet ternyata cepat sekali. Dari sambaran angin pukulan Tiang Bu, dengan kaget sekali ia dapat menge tahui bahwa pemuda

sederhana ini ternyata  memiliki tenaga  yang luar biasa, cepat ia menarik kembali tangannya dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah berkelebat ke belakang Tiang Bu dan mengirim totokan dari belakang ke arah punggung pemuda itu. Akan tetapi bukan Tiang Bu yang roboh, melainkan dia sendiri yang mencelat dan me mbentur tembok. Tanpa menoleh Tiang Bu tadi sudah menggerakkan

tangan ke belakang dan sekali dorong ia telah dapat membuat tubuh si kate itu terlempar.

"Dia lihai, mari beramai tangkap!” se ru Cui Kong tak sabar. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian Tiang Bu, maka begitu tubuh Lee Bok Wi terlempar, ia menjadi khawatir dan menganjurkan supaya dilakukan pengeroyokan. "Betul, mari keroyok!” seru Cong Lung yang sudah tahu pula bahwa maju  seorang  de mi seorang  takkan  ada gunanya. Demikianlah, Twa-in Ma It Sun memutar golok besarnya, It-ci-sian Kwa Lo juga melompat maju dan mengirim serangan totokannya yang lihai, Hok Lun Hosiang juga memutar toyanya. Ditambah lagi de ngan Cong Lung dan Cui Kong serta Lee Bok Wi yang sudab maju lagi, sebentar saja Tiang Bu dikeroyok oleh enam orang ahli silat tinggi yang mempunyai kepandaian lihai.

"Majulah. majul ah semua kalau sudah bosan hidup!" Tiang Bu membentak garang, sedikitpun tidak takut. Kaki tangannya be rgerak cepat dan semua serangan lawan dapat digagalkannya. dielak atau ditangkis. Pemuda ini benar- benar mengagetkan para lawannya, karena hanya dengan sentilan jari tangan ia berani menangkis serangan se njata tajam.

Sementara itu, melihat betapa Tiang Bu dikeroyok, Bi Li menjadi marah sekali. Ia menggerakkan pe dangnya dan menyerang Liok Kong Ji  sambil membentak marah. "Manusia keji Liok Kong Ji, rasakan pembalasanku!” Pedang itu menyambar ke arah leher Liok Kong Ji sedangkan ular di tangan kirinya juga ia gerakkan dalam serangan susulan.

“Hem, kau cantik sekali akan tetapi ganas !" seru Liok Kong Ji sambil tersenyum mengejek. Akan te tapi senyum ejekannya segera lenyap ketika hampir saja lehernya tergigit oleh ular kecil yang melingkar di pergelangan tangan Bi Li karena gadis ini menggerakkan tangan kirinya dengan cepat bukan main, Inilah ilmu serangan yang khusus dengan senjata ular hidup. yang ia pelajari dari ayahnya, Kwan Kok Sun.

"Keji sekali !” seru Liok Kong Ji dan pedangnya sudah tercabut pula. Dengan mainkan pedangnya  secara tenang dan lambat, Kong Ji dapat mempertahankan diri de ngan mudah. Me mang kalau dibandingkan, ilmu kepandaian Liok Kong Ji jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li, maka dengan mudah saja Kong Ji mempermainkanrya. Kadang- kadang pedangnya mengancam dada Bi Li, akan tetapi tidak te rus ditusukkannya, melainkan sedikit colekannya membuat baju gadis itu bolong se dikit !

"Kau jeli ta sekali, kau cantik dan gagah. Ahh kalau

belum menjadi milik dia, hemm....... kau akan membikin gedungku lebih menyenangkan lagi.... !” dengan kata- kata yang kotor Kong Ji memuji-muji kecantikan Bi Li, setengah mempermainkan dan setengah kagum betul-betul karena memang gadis ini memiliki kecantikan yang luar biasa.

Bahkan di antara belasan orang selirnya yang cantik-cantik, di antaranya terdapat pula puteri-puteri dari istana hasil rampasan, tidak ada yang memiliki kecantikan asli seperti Bi Li. Mendengar ini dan melihat betapa ia dipermainkan, Bi Li menjadi makin marah bertempur dengan nekat.

Sementara itu, dengan kegagahannya yang luar biasa Tiang Bu mengamuk. Apa lagi melihat Bi Li bertempur dengan Kong Ji ia me rasa khawatir karena ia sudah mendengar akan kepandaian Kong Ji yang tinggi dan wataknya yang kejam. Karena ingin cepat cepat  membantu Bi Li, Tiang Bu segera mengeluarkan kepaundaiannya yang istimewa. Tubuhnya seakan-akan lenyap dari pandangan mata orang-orang pengeroyoknya dan dalam segebrak saja tubuh Cui Kong sudah terlempur berikut huncwenya, juga Ban-kin-liong Cong Lung bergulingan roboh tak dapat bangun pula. Cui Kong terkena tendangan kilat sehingga menderita luka di dalam perut, sedangkan  Cong Lung terkena pukulan hawa lweekangnya yang membalik ketika tadi ia memukul punggung pemuda itu, didiamkan saja ole h Tiang Bu akan terapi sinkangnya bekerja sehingga tangan yang memukulnya itu terpukul sendiri oleh tenaga lweekang yang membalik, membuat Cong Lung merasa tangannya seperti dibakar dan ditusuk-tusuk dan ia bergulingan seperti cacing terkena abu panas. It-ci-sian Kwa Lo menjadi kaget dan penasaran sekali. Ia mengerjakan jari-jari tangannya berganti-ganti untuk mengirim totokan sehingga tulang-tul angnya berkerotokan tanda bahwa setiap totokannya dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam dan sekali saja mengenai sasaran tentu tak perlu diulang pula. Namun Tiang Bu yang sudah marah itu mengangkat tangannya, membuka telapak tangan menerima sebuah totokan jari satu de ngan telunjuk kanan. Kwa Lo sudah girang sekali. Pemuda ini goblok, pikirnya, mengira bahwa totokanku seperti totokan biasa yang dapat dipunahkan dengan telapak tangan yang penuh tenaga sinkang. Dia tidak tahu bahwa aku sudah melatih jari jariku dengan bubuk baja putih, jangankan telapak tangan  dari kulit daging, biarpun besi akan dapat tembus oleh jari telunjukku, demikian Kwa Lo berpikir dan me lanjutkan totokannya dengan sepenuh te naga.

"Trakk.......!!” Jari telunjuk menotok tengah  tengah telapak tangan kiri Tiang Bu dan akibatnya tubuh Tiang Bu tergetar sedikit akan tetapi Dewa Jari Satu itu menjerit kesakitan sambil  me lompat  mundur  terus  memegangi tangan kanannya. Jari telunjuknya sudah bongkak bengkok tidak karuan karena tulang jarinya sudah patah-patah.

Melihat ini, Twa-to Ma It Sun yang melihat gelagat buruk cepat berseru.

"Liok-twako, lekas bereskan bocah itu dan bantu kami!”

Liok Kong Ji sudah tahu bahwa dengan mudah Tiang Bu sudah merobohkan tiga orang dan tinggal  tiga orang lagi yang mengeroyoknya. I a mendapatkan akal. Cepat ia manggerakkan tangan kiri, dengan Ilmu Lokoai-sin-kiam (Iblis Tua Menyambut Pedang) ia be rhasil menggunakan jari- jari tangannya menjepit pedang Bi Li dan pada saat gadis itu berkutetan hendak mencabut pedaog, pedang Kong Ji menyambar bagaikan kilat.

"Capp ....!” Bi Li mengeluh, darah me nyembur dan gndis itu roboh pingsan dengan lengan kiri terbabat putus oleh pedang Kong Ji ! Ular putih yang masih melingkar di pergelangan tangan kiri ini misih menggeliat-geliat di tangan yang kini menggetetak di atas terpisah dari tubuh Bi Li.

"Bi Li...!" Ti ang Bu memekik nyaring sekali dan berdiri bagai patung melihat ke arah gadis yang sudah buntung lengan kirinya itu. Ia tidak perdulikan lagi Iawan-lawannya, mukanya pucat matanya terbelalak.

“Bi Li ...... . ! Tiang Bu malompat dan me nubruk gadis itu yang masih pingsan dan darah bercucuran keluar dari pangkal lengan yang buntung. Dipondongnya tubuh gadis itu, sama sekali tidak perduli akan Twa-to Ma It un yang mempergunakan saat baik itu untuk mengerakkan goloknya dari belakang menyambar kepala Tiang Bu !

Namun kepandaian Tiang Bu sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingkatnya, biarpun  perhatiannya tercurah kepada Bi Li dan pikirannya bingung sekali melihat gadis ini buntung tangannya, namun perasaannya  yang sudah otomatis dalam menghadapi serangan lawan dapat menangkap adanya gol ok yang me nyambar dari be lakang.

Secara otomatis pula tubuhnya miring dan kakinya menyambar. Terdengar pekik kesakitan, golok terlepas dan tubuh Ma It Sun yang tinggi besar itu terjengkang mengukur tanah.

Tiang Bu memandang kepada Kong Ji, pandang matanya be ringas pe nuh ancaman.

"Kau....... kau ....... manusia keji.......!”  Cepat laksana kilat, dengan Bi Li masih dalam pondongannya. Tiang Bu menyerang ke depan, tangan kanan memondong Bi Li, tangan kiri melakukan pukulan dengan pangerahan tenaga sinking sepenuhnya ke arah dada Liok Kong Ji. Pukulan ini hebat sekali karena mengandung hawa sinkang yang sakti. Inilah pukulan berdasarkan gerakan sajak yang berkepala "Ya tertembut mene mbus yang terkeras di  kolong langit" yaitu sebait sajak dari kitab To-tikkeng yang termuat dalam kitab pelajaran Thian-te Si-kong dan di dalam pukulan "terlembut” ini berse mbunyi kekuatan maha dahsyat yang sudah dapat ia kumpulkan berdasarkan latihan dari kitab Seng thian to.

Seperti diketahui. Liok Kong Ji adalah se orang ahli silat yang sakti yang memiliki i lmu-ilmu  sakti seperti Hek  tok ciang (Tangan Racun Hitam ), Tin-san-kang (Tenaga Mandorong Gunung) dan lain-lain ilmu silat tinggi yang serba lihai. Kepandaiannya pada waktu itu sudah amat jarang tandingannya maka ia berani memakai julukan

Thian-te Bu-tek. (di Dunia Tidak Ada Lawannya) ! Menghadapi serangan anaknya yang sesungguhnya ini, ia cepat menggerakkan dua tangan menangkis, mengerahkan tenaga untuk melumpuhkan Tiang Bu dan me nawannya.

Betapapun juga hasrat hati Kong Ji terhadap Tiang Bu hanya untuk menaklukkan pemuda itu,  untuk menarik Tiang Bu sebagai anaknya yang tidak memusuhinya untuk memberi penghidupan mulia dan bahagia kepadanya. Sama sekali tidak ingin melihat Tiang Bu tewas, maka ia sengaja menangkis dengan pengerahan tenaga untuk kemudian menangkap anaknya ini.

Akan tetapi belum juga ia dapat manangkap lengan Tiang Bu, hawa pukulan pemuda ini sudah  menyambar, mendobrak hawa tangan Kong Ji dan  terus  memukul  ke arah dada. Bukan main kagetnya hati Kong It. Sungguh  di luar dugaannya bahwa pukulan pemuda akan sedemikian hebatnya, pukulan yang selama dia hidup belum pernah mengalaminya. Cepat ia merendahkan tubuhnya dan dengan kedua tangan ia mendorong, melakukan pukulan Tin san kang sehebat-hebatnya karena maklum bahwa pukulan pemuda itu merupakan pukulan maut.

Dua tenaga tidak kelihatan bertemu di udara, dan.......

Liok Kong Ji terlempar kebelakang sepeti rumput kering ditiup angin me nubruk dinding sehingga dinding itu jebol! Untung baginya, tubuhnya sudah kebal dan se tidaknya hawa pukulan Tin-san-kang tadi sudah mengurangi atau menghambat daya se rangan pukulan Tiang Bu sehingga ia tidak terluka hebat, hanya muntahkan darah segar karena getaran yang amat he bat. Dengan se pasang mata terbelalak le bar saking kagum, kaget, heran, dan takut Kong Ji berdiri lagi, siap- siap menghadapi pemuda yang lihai ini.

Tiang Bu sudah mendesak maju lagi dengan muka beringas, sedangkan Hok Lun Hosiang sudah  mendekati Kong Ji untuk membantu "twako" ini. Juga para jagoan yang tidak terluka berat seperti Lee Bok Wi dan Ma It Sun sudah bangkit lagi dan bersiap-siap membantu Kong Ji.

Akan tetapi Kong Ji yang maklum bahwa biarpun dtkeroyok kiranya mere ka takkan mampu menahan amukan pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa ini, cepat ia berkata. "Tiang Bu, kalau tidak lekas diobati, gadis itu akan mati kehabisan darah!"

Memang Kong Ji cerdik bukan main. Sekilas pandang saja ia sudah dapat menduga bahwa Tiang Bu mencinta gadis itu sepenuh hatinya, maka ia sengaja berkata demikian untuk menahan amukan pemuda itu. Dan kata- katanya ini memang tidak bohong. Tiang Bu kaget mendengar ini dan baru ia sadar dan melihat betapa darah te rus menerus mengucur dari pangkal lengan Bi Li.

"Bi Li...........!” serunya tercampur isak. Cepat ia menekan jalan darah Bi Li di pundak dan untuk menghentikan darah yang mengucur ini perhatiannya tercurah kembali kepada Bi Li dan ia tahu, bahwa yang terpenting di antara segalanya adalah merawat Bi Li lebih dulu. Cepat is melompat pergi dari tempat itu me lalui para penjaga yang sudah datang

mengepung sambil berseru, *Bangsat Liok Kong Ji, lain kali aku datang mengambil kepalamu!”

Beberapa orang penjaga roboh dan kocar-kacir ketika mencoba untuk menghadang larinya. "Biarkan dia pergi”" seru Kong Ji kepada para penjaga, maklum bahwa mereka ini sama sekali bukan tandingan Tiang Bu dan ia masih mengharapkan untuk dapat menawan pemuda perkasa itu mengandalkan alat- alat rahasia di dalam Ui-tiok-lim.

Siapakah yang dapat ke luar dari Ui-tiok-lim? Hutan Bambu Kuning ini sudah terkenal sebagai tempat yang tak mungkin dimasuki orang kalau toh orang itu dapat masuk, tak mungkin akan dapat ke luar. Lebih sulit dan berbahaya dari pada Kuil Siauw-lim-si yang te rmasyhur.

Tanpa mendapat rintangan lagi dari kaki tangan Liok Kong Ji, Tiang Bu berlari cepat ke luar ruangan itu dengan maksud ke luar dari istana besar dan membawa Bi Li ke tempat aman. Begitu melompat ke luar ruangan itu, lebih dulu ia mengeluarkan obat dari saku bajunya, yaitu obat tempel yang ia tempelkan pada luka atau ujung lengan yang buntung dan dibalutnya ujung itu depan robekan bajunya sendiri. Kemudian ia menotok beberapa jalan darah penting, selain untuk menghentikan darah yang mengalir ke bagian yang buntung, juga untuk mematikan rasa nyeri yang tentu akan menyiksa gadis itu apabila siuman.

(Bersambung jilid ke XIX)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]