Tangan Geledek Jilid 17

Jilid 17

“TIANG BU, agaknya kau masih belum mau mengaku bahwa aku ini ayahmu yang sejati. Padahal kau memang betul anakku bukankah kau sudah mendengar sendiri dari Wan Sin Hong yang tidak menyangkal bahwa kau adalah puteraku? Anak yang baik, kau tidak percaya padaku memang pantas karena kita tidak pernah bertemu, akan tetapi apakah keterangan Wan Sin Hong masih belum kaupercayai? Tiang Bu, kau hanya mempunyai seorang akulah orangnya. Dan puteraku di dunia ini hanya seorang, kaulah orangnya !"

“Hmm, setahuku anakmu banyak. Ada Cui Kong, ada

...... ada yang lain-lain." Tiang Bu tidak dapat  menyebut nama Cui Lin dan Cui Kim. Jangankan menyebut nama dua orang gadis itu, teringat kepada mereka saja sudah mendatangkan rasa malu yang luar biasa besarnya. Kalau bisa ia ingin melupakan dua orang gadis itu selama hidupnva, ingin malenyapkan mereka dari ingatannya.

"Aah, mereka itu hanya anak-anak angkat atau murid- murid. Cui Kong menjadi anak angkatku baru beberapa tahun ini. Dia anak yatim piatu yang berbakat baik maka kuangkat menjadi puteraku. Ini terjadi sebelum aku tahu bahwa kau masih hidup. Akan tetapi sekarang ada kau, yang lain-lain tidak masuk hitungan. Tentang Cui Lin dan Cui Kim ..... mereka itu biarpun kuangkat menjadi anak- anakku, sebetulnya mereka itu akan menjadi bini-bini mudaku. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa kau cinta kepada mereka. Tidak apa, aku mengalah. Dua orang gadis cantik itu biar kuberikan kepadamu. Mari kau ikut dengan aku, Tiang Bu. dan dua orang gadis itu, Cui Lin dan Cui Kim, biar melayanimu untuk selamanya atau selama kau masih suka kepada mereka “

“Tutup mulut dan pergilah!" Tiang Bu membentak marah. mukanya berubah marah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut orang ini benar-benar membuat ia merasa muak perutnya. “Aku tidak percaya bahwa aku anakmu. Aku tidak sudi punya ayah seperti engkau !"

Kong Ji tersenyum getir. "Kau sudah terlalu lama hidup

di antara orang-orang yang memusuhiku, sehingga tertanam kebencian terhadapku di dalam dadamu. Baik juga kau merasai hukuman di sini agar dapat merubah pendirianmu yang keliru itu. Mana ada anak membenci bapaknya ? Kalau aku mempunyai  anak lain, tentu sekali  pukul  aku dapat bikin mampus kau. Akan tetapi anakku hanya kau seorang sedapat mungkin hendak kuperbaiki watakmu. Biar kau bertapa di sini sampai kau mengakui aku sebagai ayahmu, ikut dengan aku sebagai anak berbakti. hidup mulia dan bahagia di  Ur-liok-lim seperti seorang pangeran. Sebelum kau mau mengaku, jangan harap kau bisa keluar dari sini.”

Setelah berkata demikian, Kong Ji melompat lagi dan ke luar diri jurang itu. Ketika Tiang Bu yang mengikuti gerakan- gerakannya melihat Kong Ji sudah keluar dari jurang, ia melihat  belasan  orang  berpakaian serdadu  menjaga  di pinggir jurang siap untuk menghalangi ia keluar ! Memang mudah saja kalau orang mau mencegah ia keluar. Dengan melemparkan batu ke bawah, biarpun kepandaiannya tinggi takkan mungkin ia dapat keluar dari jurang yang terjal itu. Akan tetapi Tiang Bu tidak kehilangan akal. Ia mulai menyelidiki keadaan lereng jurang yang seperti anak gunung tingginya itu. Akhirnya penyelidikannya berhasil. Di antara batu-batu karang yang terjal. ia melihat sebuah gua yang

le barnya hanya paling banyak satu mete r segi empat. Ia merayap dan dengan susah payah akhirnya ia dapat masuk dan duduk di dalam gua melepaskan kele lahannya. Kini mendapatkan tempat terlindung dari hujan dan angin atau panas matahari.

Diraba-rabanya saku bajunya. Bagus, kitab-kitabnya dari Omei-san ternyata masih ada berikut ohat-obatnya. Agaknya dua orang gadis tidak berani mengambil kitab-kitabnya selama mereka masih menjadi “kekasi hnya”. Hanya peti kecil berisi katak itu saja yang terampas. Juga kiranya dalam keadaan  tergesa-gesa,  Cui Kong tidak  memeriksa isi sakunya. kalau kitab-kitab Omei-san itu sampai terjatuh ke dalam tangan Cui Kong, celaka !

Setelah lelahnya berkurang, Tiang Bu merayap makin dalam. Ternyata gua kecil itu adalah sebuah terowongan. I a merayap terus di dalam gelap membawa setangkai kayu untuk dipakai melindungi diri, kalau-kalau di depan ada sesuatu yang menyerangnya. Terowongan itu panjang dan berliku-liku, sukar diukur berapa panjangnya,  hanya Tiang Bu merayap sudah cukup lama ketika ia tiba di sebuah jalan buntu. Terowongan itu berhenti di tepi se buah sumur !

Sumur ini hanya dapat ia ketahui atau duga-duga dengan meraba-raba saja karena keadaan gelap Melihat jari tangan di depan mata sendiri saja tidak kelihatan. Tiang Bu makin tertarik dia ingin tahu.

Dengan pengerahan tenaga yang masih ada padanya. ia mencabut batu kecil dari dinding karang dan melempar ke bawah. Tidak ada air di bawah, juga tidak terlalu dalam.

Hanya lima kali ia menghitung, batu kecil itu sudah mengenai dasar sumur berdebuk seperti jatuh di atas tanah yang lunak. Tiang Bu berlaku nekad, mengerahkan sinkangnya dan merosot turun. Ia meluncur ke bawah dan tepat seperti sangkaannya. Sumur itu tidak dalam dan dasarnya bukan batu karang melainkan tanah lempung.

Ketika ia meraba-raba di sebelah kiri kembali ada lubang, bentuknya bundar, bergaris tengah satu meter. Dan yang membuat hati Tiang Bu berdebar tegang, adalah sinar terang yang samar samar ia lihat di ujung sana ketika ia  melongok ke dalam terowongan baru ini.

Akan tetapi hanya kelihatan samar samar saja. Cepat ia merayap lagi  melalui  lubang ini. Ia tertipu sinar samar- samar yang dilihatnya itu cahaya yang datang dari jauh, karena kembali ia tiba di tikungan. Terowongan ini tidak saja berliku-liku akan tetapi juga  naik turun  dan  dua  kali panjang terowongan pertama. Tanpa mengenal lelah Tiang Bu merayap terus. Keadaan terowongan makin lama makin terang dan akhirnya, dengan  napas terengab-engah,  tibalah ia di sebuah ruangan dalam tanah  yang lebar  dan  lega seperti sebuah kamar. Di atas terdapat lubang-lubang di antara batu-batu karang dari mana sinar matahari masuk.

Dan di bawah terdapat lubang me rupakan sungai-sungai kecil di mana air hujan yang masuk dari alas terus mengalir ke bawah, tidak sampai membanjiri ruangan.

Melihat bentuk dinding ruangan, tak salah lagi bahwa tempat ini adalah buatan alam dan sama sekali  belum pernah dijamah tangan manusia atau diinjak kaki manusia. Ketika Tiang Bu merayap naik melalui dinding sebelah kiri yang agak mendoyong, melalui se buah lubang yang cukup besar ia keluar atas ruangan itu dan ternyata tiba di sebuah lereng gunung yang penuh dengan tetumbuhan segar.

Bukan main girangnya dan diam-diam ia menertawai Liok Kong Ji yang menyuruh orang menjaga di pinggir jurang.

Di dalam ruangan itu Tiang Bu  menggembl eng  dirinya lagi. Untuk mengembalikan sinkang yang sudah meninggalkan tubuhnya selama ia bermain gila dengan dua orang gadis cabul itu, ia harus melatih diri keras-keras dan tanpa mengenal lelah. Siang malam bersamadhi mengatur napas, dan melatih ilmu dari kitab-kitabnya, Seng.thian-to, Thian te-Shi-keng, dan Kiang-liong-kun-hwat. Ia melatih diri sungguh-sungguh dan dengan tekun sekali, bahkan menghafal semua isinya di luar ke pala. Ia ingin memindahkan semua kitab ke dalam kepala kemudian hendak membakar kitab-kitab itu agar jangan sampai terjatuh ke tangan orang-orang jahat.

Oleh karena belajar seoring diri dengan tekun kadang- kadang mendatangkan keisengan, dan  pula  membalik-balik le mbaran buku untuk mempelajari tiap jurus merupakan hal yang melelahkan juga, tanpa disengaja Tiang Bu menggunakan jari telunjuknya untuk melukiskan  tiap gerakan di atas dinding ruangan  batu itu.  Setelah  melatih diri dengan amat tekun dan prihatin, pemuda ini  mendapat ke mbali kekuatannya, bahkan setelah ilmu  Seng-thian-to dan Thian-te Si-keng ia pelajari sampai tamat tenaga lweekangnya meningkat cepat dan sinkang di tubuhnya bertumbuh cepat.

Ia memerlukan waktu setahun  lebih  untuk menghafal tiga kitab itu, lalu dibakarnya sampai menjadi abu semua. Akan tetapi sebagai penggantinya di dinding gua itu terdapat lukisan-lukisan tiap jurus dari ilmu silat  tinggi  dan luar biasa. Thian-te Si keng dan Seng-thian-to sama sekali tidak mengajarkan ilmu silat. Akan tetapi di dalam tiap sajak itu bersembunyi gerakan  yang harus  dime ngerti sendiri.  Tiang Bu yang selain memiliki dasar ilmu silat tinggi dari  Omei- san, juga memiliki bakat dan kecerdikan luar biasa, dapat menangkap maksud-maksud tersembunyi dalam sajak ini dan dapat menciptakan gerakan silat jurus-jurus ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia ini. Girangnya bukan

main karena baru sekarang terbuka matanya dan ia betul- betul dapat mengisap sari pelajaran dari dua macam kitab itu. Inilah sebabnya mengapa ia terlambat datang di kota raja dan ketika ia akhirnya meninggalkan gua itu pergi ke kota raja, ia melihat kota raja sudah diserbu oleh balatentara Mongol. Dengan amat kaget pemuda ini ikut menyerbu masuk, morobohkan setiap orang serdadu Mongol yang hendak menghalanginya. Cepat  ia menyelidiki dan akhirnya ia berhasil menemukan istana Pangeran Wanyen Ci Lun.

Akan tetapi kedatangannya terlambat, pangeran itu bersania isterinya sudah tewas. Namun masih belum terlambat bagi Tiang Bu untuk bertemu dengan ibunya, Gak Soan Li, dan mendengar keterangan yang menusuk hatinya dari Pangeran Wanyen Ci Lun bahwa memang betul dia adalah anak dari Liok Kong Ji.

Dewikianlah perjalanan Tiang Bu semenjak dia terjerumus ke dalam jurang sampai ia muncul di kota raja yang sedang geger itu. Kemudian, di antara asap dan api yang membakar kota raja dan di artara pertempuran- pertempuran yang masih juga be lum padam, berkelebat bayangan seorang pemuda yang memondong tubuh seorang wanita yang sudah mati. Gerakan pemuda ini luar biasa cepatnya dan sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja yang menjadi neraka itu, terus lari ke selatan sambil memondong mayat itu. Pemuda ini adalah Tiang Bu yang memondong jenazah ibunya, Gak Soan Li.

Sementara itu, di lain bagian dari lingkungan istana, Wan Sun dan Wan Bi Li mengamuk dikoroyok oleh banyak panglima Mongol, Wan Sun menggerakkan pedangnya dengan ganas, akan tetapi, lebih ganas lagi adalah Wan Bi Li

yang tangan kanan mainkan pedang tangan kiri mainkan seekor ular ! Sudah banyak pengeroyok yang roboh binasa oleh dua orang muda murid Ang-jiu Mo-li ini.

Sementara itu, tidak jauh dari mereka  Kwan Kok Sun dan beberapa orang panglima lain mengamuk secara nekad dan mati-matian. Lawan juga amat kuat karena di antara mereka terdapat Pak-kek Sam-kui yang berkepandaian tinggi. Kwan Kok Sun sudah terdesak hebat dan terluka pundaknya, sedangkan Bi Li dan Wan Sun yang kepandaiannya lebih tinggi juga tak dapat membantunya karena dua orang muda ini sendiri terkurung oleh musuh yang banyak jumlahnya.

Beberapa jurus kemudian, setelah dengan nekad merohohkan dua orang pengeroyok dengan pululan Hek-tok- ciang yang lihai. Kwan Kok Sun juga roboh terkena pukulan tangan Giam-lo-ong Ci Kui sehingga ia terbanting pingsan dengan kepala luka-luka berat.

“Semua minggir, biarkan kami bertiga me nangkap dua orang muda liar ini,” seru Sin-sai-kong Ang Louw yang merasa penasaran melihat orang-otangnya tidak mampu merobohkan Bi Li dan Wan Sun. Tentu saja perintah ini diterima dengan girang oleh para panglima Mongol. Mereka segera mengundurkan diri dan diam-diam pergi dari situ untuk meIakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan menggembirakan, yaitu merampok istana. Tak lama kemudian tinggal Pak-kek Sam-kui yang bertempur melawan Bi Li dan Wan Sun.

Pak-kek Sam-kui adalah tokoh-tokoh dari utara yang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi menghadapi dua orang muda ini, mereka tidak dapat mengalahkan dengan mudah. Bi Li  dan Wan Sun adalah murtd-murid; Ang-jiu Mo- li dan Wan Sun sudah mewarisi ilmu dari  Omei-san pula, yaitu Kwan-im cam-mo biarpun belum sempurna betul, demikian pula Bi Li. Bahkan akhir-akhir ini Bi Li mewarisi ilmu-ilmu yang lihai dari Kwan Kok Sun.

Maka dapat dibayangkan betapa hebat dan serunya pertempuran itu yang hanya disaksikan oleh mayat-mayat bergelimpangan di se kitar tempat itu. Malam telah mulai surut dan fajar sudah menjelang datang. Perlawanan pihak Kin sudah mulai habis, sebagian besar terbunuh, ada yang tertawan, dan hanya sebagian kecil saja berhasil melarikan diri menerobos pintu belakang. Akhirnya Bi Li dan Wan Sun terdesak juga oleh Pak-kek Sam-kui yang lihai. Kalau hanya seorang lawan seorang, kiranya dua orang muda ini takkan kalah. Akan tetapi sekarang mereka berdua menghadapi tiga orang lawan yang sudah ada kerja sama yang amat kompak, maka perlahan akan tetapi tentu mereka berdua terdesak mundur dan terkurung rapat.

"Pak-kek Sam kui jangan menghina orang-orang muda!" terdengar seruan keras dan sinar pedang yang gemilang menyambar, membuat tiga orang itu kaget sekali. Ketika Ci Kui melihat bahwa yang datang itu adalah Wan Sin Hong yang memegang Pak-kek-sin-kiam, ia menjadi gentar.

Apalagi ketika mene ngok ke sana ke mari tidak melihat seorangpun kawan kecuali mereka bertiga. Sin Hong tidak membuang banyak waktu dan menggerakkan pedang menyerang Pak-kek Sam-kui.

Sementara itu ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Sin Hong yang gagah perkasa, Wan Sun menjadi lega dan segera mengajak Bi Li meli hat keadaan Kwan Kok Sun yang sudah menggeletak mandi darah.

Wan Sun berlutut dan melihat Kwan Kok Sun sudah empas empis napasnya dan matanya memandang ke arah Bi Li penuh peraaaan, cepat bertanya,

“Suhu, harap suhu suka membuka rahasia Li-moi…….!”

Sebagai seorang tua, Kwan Kok Sun tentu saja menjadi maklum dan gerak-gerik Wan Sun selama ini. Pemuda ini mencinta puterinya, tak salah lagi. Dan sekarang tentu Wan

Sun ingin Bi Li mendengar bahwa mereka bukan saudara kandung.

"Bi Li, datanglab dekat. Ayahmu takkan lama lagi ”

Bi Li mempunyai perasaan sayang yang yang ia mengerti terhadap ayah angkatnya ini. Mungkin karena sikap Kwan Kok Sun amat sayang kepadanya maka gadis ini membalasnya. “Gihu, (ayah angkat), mari kutolong kau keluar dari tempat ini dan berobat, kau akan sembuh…….,” katanya terharu.

"Bi Li, anakku sayang ........” Kwan Kok-Sun me megang tangan anaknya, "dengar baik-baik. Aku tertuka berat, hanya untuk meninggalkan pesan ini aku menguatkan diri. Kau..... kau adalah anakku yang sesungguhnya Ibumu

telah meninggal dunia ...... ketika kau masih kecil sekali, aku ....... aku menitipkan kau pada Pangeran Wanyen Ci Lun. Mereka itu adalah orang tua pungut, akulah sebenarnya ayahmu ”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bi Li, kaget dan kecewa. Ia tadinya mengira senang puteri bangsawan, tidak tahunya dia adalah anak Kwan Kok Sun yang ia tahu dahulunya adalah orang jahat. Dengan muka pucat ia memandang ayahnya yang makin pucat dan lemah dan dengan mengeluarkan jerit tertahan Kwan Kok Sun menghembuskan nafas terakhir dengan tangan Bi Li masih dalam genggamannya.

Bi Li merenggutkan tangannya, berdiri dengan kaki gametar, lalu ...... ia lari cepat pergi dari situ!

“Li-moi ....... kau mau ke mana ??”

Wan Sun mengejar, akan tetapi enam orang panglima Mongol yang kebetulan lewat di situ se gera menyerangnya dengan hebat sehingga terpaksa ia melawan. Sementara itu, Bi Li sudah lenyap dari pandangan mata.

Enam orang panglima Mongol ini memiliki kepandaian yang lumayan juga sehingga dengan susah payah setelah bertempur lama baru Wan Sun dapat merobohkan seorang lawan. Akan tetapi hampir saja pahanya kesetempet golok, baiknya pada saat itu muncul Wan Sin Hong lagi. Ternyata bahwa Pak-kek Sam-kui tidak kuat melawan Sin Hong dan larilah mereka sambil membawa luka pada pangkal lengan Giam-lo-ong Ci Kui. Sin Hong juga tidak mengejar karena ia melihat Wan Sun dikeroyok dan cepat ia membantunya.

Tiga orang pengeroyok roboh pula oleh Sin Hong. Yang lain cepat lari.

"Wan Sun. mari kita pergi. Di mann Bi Li?”

"Dia sudah lari, entah ke mana. ...... ." jawab Wan Sun sedih.

Dari luar terdengar kaki banyak orang mendatangi. "Wan Sun. cepat pergi!" Sin Hong menyambar lengan

orang dan di lain saat ia telah membawa pemuda itu

melompat ke atas genteng. Wan Sun kagum sekali melihat kehe batan kepandaian pamannya ini, maka tanpa banyak cakap lagi iapun mengikuti Sin Hong melarikan diri. Di atas genteng tidak terdapat banyak rintangan karena para serdadu Mongol sedang senang-senang merampoki istana di bawah. Juga di pintu gerbang sebelah barat tidak terdapat

banyak rintangan sehingga Sin Hong dan Wan Sun dapat melarikan diri dengan mudah.

Karena tidak tahu ke mana perginya Bi Li dan Sin Hong berjanji ketak akan bantu mencari, akhirnya dengan hati berat dan sedih karena berita tentang kematian ayah burdanya, pe muda ini ikut dengan Sin Hong ke Kim-bun to. Memang Sin Hong tadinya datang ke istanu Pangeran Wanyen Ci Lun, akan tetapi ia terlambat. Yang dilihatnya hanyalah jenazah pangeran itu saja, sedangkan Gak Soan Li tidak melihat ke mana perginya. Namun, kalau Wanyen Ci Lun tewas, kecil sekali kemungkinannya Soan Li akan selamat. Ia tadinya hendak membawa  pergi  jenazah  Wanyen Ci Lun, akan tetapi kemudian is teringat akan kata-kata pangeran itu bahwa mati hidup ia akan tinggal di kota raja.

Akhhirnya ia meletakkan jenazah itu di atas bangku dan

menutupinya dengan sehelai kain hijau yang dirobeknya dari dekat pintu besar. Kemudian ia pergi. Kepada Wan Sun ia menceritakan bahwa Pangeran Wnnyen Ci Lun sudah gugur sebagai orang gagah dan ibunya entah pergi ke mana, akan tetapi sedikit harapan selamat melihat keadaan di istana yang sudah rusak itu.

Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Wan Sun.

Ayahnya meninggal dunia tanpa ada yang dapat merawat jenazahnya. Ibunya lenyap tidak ketahuab bagaimana nasibnya, Bi Li juga entah ke mana. Di sepanjang perjalanan ke Kim-bun to. Wan Sun hanya menundukkan ke pala saja mendengarkan kata hiburan Wan Sin Hong. Kadang-kadang ia menarik napas  panjang dan kadang-kadang jarang  sekali ia mengusap air mata yang jatuh berderai di atas pipinya.

-oo(mch)oo-

Di mana-mana pergerakan Jengis Khan ke selatan menemui perlawanan rakyat yang gigih. Orang-orang gagah di seluruh penjuru bangkit memimpin rakyat melakukan perang gerilya. Karena orang-orang seperti Liok Kong Ji dan lain-lain meninggalkannya dan merasa bosan menghadapi rong-rongan rakyat, perhatian Jengis Khan beralih ke barat. Ia menarik semua pasukannya, mengumpulkan kekuatan dan bagaikan gelombang banjir yang dahsyat dan tak terbendung bala tentara Mongol mulai menyerbu ke barat.

Mula-mula Sin-kiang diserbu, lalu terus menaklukkan Iran, Afghanistan, bahkan dari Iran Utara mereka menyerbi Rusia Selatan melalui Peguuungan Kaukasia. Puluhan laksa orang dibunuh, kota-kota dibakar, dihancurkan oleh bala te ntara yang maha hebat ini.

Sementara itu, kerajaan Kin yang tiba-tiba ditinggal pergi musuhnya ini mulai  lagi membangun  kota  yang sudah rusak. Akan tetapi semangat mereka sudah patah-patah dan Karajaan Kin sudah tidak se makur dahulu. Apalagi karena orang-orang besar seperti Pangeran Wanyen Ci Lun sudah tidak ada lagi. Betapapun juga, setelah tidak ada gangguan dari bala tentara Mongol keadaan di dalam negeri menjadi aman kembali. Orang berdagang se perti biasa dan scbentar saja keramaian menjadi pulih kembali. Orang sudah hampir melupakan perang kalau saja di sana sini tidak nampak sisa-sisa tumpukan puing, tanda bahwa belum lama ini perang mengganas.

Pada suatu pagi  yang ce rah  di  kota Si-yang yang  terletak di perbatasan Propinsi Shensi dan Honan, di sebelah selatan Sungai Kuning yang membelok dari utara ke timur. Kota Si- yang adalah kota ramai, karena adanya Sungai Kuning membuat lalu lintas perdagangan hidup. Apa lagi di situ adalah kota di perbatasan antara dua propinsi, mika orang- orang dari ke dua wilayah pada datang untuk berdagang. membuat kota itu makin lama menjadi makin besar penuh dengan hotel-hotel dan restoran-retoran untuk melayani para tamu pedagang dari luar kota.

Semenjak orang-orang Mongol menyerbu dari utara dan orang-orang gagah dari hutan dan gunung bermunculan, orang-orang tidak merasa heran dan aneh lagi melihat orang-orang kang-ouw yang ganjil, baik roman muka, pakaian maupun sikap mereka. Akan tetapi apa yang dilihat orang pada pagi hari itu di  dalam sebuab restoran terbesar di kota Si-yang, benar-benar membuat para tamu restoran lari cerai. berai dan para pelayan restoran berdiri melongo dengan muka pucat dan kaki gametar ketakutan.

Mula-mula orang ini tidak mendatangkan rasa takut sama se kali bahkan banyak mata diarahkan kepadanya dengan kagum dan penuh gairah. Dia seorang gadis muda yang cantik sekali, cantik manis wajahnya, dengan bentuk tubuh yang indah tercetak oleh pakaiannya yang ketat.

Lekuk lengkung tubuh yang me nunjukkan kedewasaan, bagaikan se tangkai bunga cilan yang baru mulai mekar.

Namun tak seorangpun berani mempe rlihatkan sikap atau mengeluarkan kata-kata sembrono oleh karena sikap si cantik ini amat gagcah, apalagi gagang  pedang yang tersembul di balik bajunya membisikkan bahwa gadis jelita ini-pun adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa dan berbahaya. Mula-mula gadis ini hanya duduk dan minta pesanan arak dan bakmi serta beberapa macam kueh basah.

Akan tetapi, ketika arak dihidangkan dan ia mulai minum, sedangkan se mua mata di kerlingkan ke arahnya, tiba-tiba muncul ular-ular berbisa yang galak dan mengerikan, keluar merayap dari dalam baju gadis itu.

Makin lama makin banyak ular ke luar,  ada  yang merayap dan mengalungi leher si  cantik,  ada  yang membelit-belit kaki, ada yang membelit tangan dan ular-ular itu menjilat- jilat arak dari cawan yang dipegang olehnya! Ular-ular itu biarpun nampat jinak, akan  tetapi  maras  mendesis -desis dan kelihatan galak sekali ketika melihat orang lain.

Mclihat ini, para tamu merasa ngeri dan larilah mereka keluar dan restoran itu, berbisik pada orang-orang yang berada di luar restoran. "Ada siluman ular !”

Para pelayan tidak berani mendekat, karena ular-ular itu nampaknya siap menyerang siapa saja yang mendekati gadis itu dan semua orang dapat melihat bahwa ular-ular itu adalah binatang-binatang berbisa yang paling berbahaya.

Pada saat itu, dari luar restoran terdengar suara laki-laki yang tenang dan lembut, "Aah, kalian me ngingau. Mana ada siluman muncul di pagi hari?” Tak lama kemudian dari luar masuklah seorang pemuda dengan langkah tenang. Begitu ia memandang dan melihat gadis itu, ia mengeluarkan seruan girang,

"Aah, kiranya kau, nona Wanyen !”

Pemuda itu bukan lain adalah Tiang Bu. Tadi ketika ia sedang berjalan, ia me ndengar bisikan-bisikan mereka yang lari keluar dari restoran. Tentu saja ia merasa tertarik sekali mendengar ada "siluman ular” di dalam restoran,  maka cepat ia memasuki restoran itu dan melihat bahwa ying disebut “siluman ular” itu bukan lain adalah  Wan  Bi  Li. Maka dengan girang ia mene gur dan  dalam kesederhanaannya tanpa banyak sungkan lagi Tiang Bu lalu menyeret sebuah bangku duduk menghadapi nona itu.

Melihat pemuda ini duduk menghadapi nona aneh itu dan sama sekali tidak kelihatan takut akan empat ekor ular yang kini semua mengulurkan kepala kepadanya dengan garang, para tamu yang tadinya masih ragu-ragu sekarang pergi semua, Bahkan para pelayan juga menjauhkan diri, berdiri berkelompok sambil berbis ik-bisik.

Dengan tenang Bi Li memandang kepada Tiang Bu, cawan arak masih di tangan kirinya, dan ia berkata dingin. "Aku bukan nona Wanyen!”

"Aah, harap jangan main-main nona Wan-yen. Aku mengenalmu, bahkan dulu di Omni-san kita sudah pernah berte mu. Aku Tiang Bu dan....... dan sesungguhnya diantara kita masih ada tali persaudaraan. Kita ini masih saudara tiri nona satu ibu lain ayah."

"Sudah kukatakan, aku bukan keluarga Winyen. Ayahku Kwan Kok Sun yang berjuIuk Tee-tok (Racun Bumi), kongkongku yang berjuluk See-thian Tok-ong  ( Raja  Racun dari barat ).  Apa  kau tidak lekas  lari  minggir ketakutan seperti orang-orang itu ?" Bi Li bersikap angker, hendak mematut diri dengan sebutan-sebutan  menyeramkan  dari ayah dan kongkongnya itu.

Biarpun Tiang Bu merasa heran mendengar ini namun ia tidak takut. Ia bahkan tersenyum. "Bctulkah itu?" tanyanya ragu-ragu.

"Siapa membohong padamu? Wanyen Ci Lun dan isterinya bukan orang tuaku, hanya semenjak kccil ayah menitipkan aku kepada mereka…….. eh, kau ini  orang apakah yang mengajakku bercakap-cakap? Setan, pergi kau

!” Tiang Bu tersenyum, nampak girang dan geli melihat sikap nona ini. Nona yang cantik jel ita, tak pernah ia

be rtemu dengan yang secantik ini, akan tetapi yang

berusaha sekerasnya supaya kelihatan  menyeramkan. "Kalau kita bukan saudara, lebih baik lagi, nona Kwan. Kau memang dari keluarga yang cukup menakutkan. Akan tetapi jangan kira bahwa akupun dari keluarga biasa saja. Siapa yang tidak mengenal ayahku, Liok Kong Ji yang dijuluki manusia manusia iblis karena jahat, keji dan kejamnya ?

Akulah puteranya! Nah, bukankah kita sama-sama keturunan orang-orang jahat belaka?”

Akan tetapi, mendengar kelakar ini, Bi Li tidak tertawa. bahkan membanting cawan araknya di atas mejat sampai ambles ke  dalam lalu me lompat  berdiri  dan pe dangnya sudah berada di tangan. Empat ekor ular itu otomatis sudah melingkar di kedua tangannya, siap untuk membantunya.

Nona ini benar-benar kelihatan menyeramkan sekarang, dengan senjata pedang dan ular-ularnya itu. Bau semerbak harum yang keluar dari tubuhnya makin keras menyengat hidung.

Akan tetapi Tiang Bu tetap duduk memeluk lutut, menggoyang-go yangkan kaki dan tersenyum, seakan-akan melihat pemandangan yang lucu sekali.

“Bagus, anak dari bangsat keji Liok Kong Ji? Dengar aku hendak membunuh keparat Liok Kong Ji dan kau ini anaknya, boleh sekarang juga membela ayahmu !"

Senyum Tiang Bu melebar. "Baik sekali kalau begitu, kita setujuan. Akupun hendak membunuhnya kalau bertemu dengan  Liok Kong Ji."

Bi Li kelihatan kaget dan terheran-heran. "Kau ?

Kalau kau anaknya....... kau hendak membunuh ayahmu sendiri ...... ?” ia nampak tidak percaya dan pedannya masih siap di tangan. “Biar dia ayahku namun aku tak shdi mengakunya. Dia telah berdosa besar kepada ibuku Gak Soan Li yang menjadi Nyonya Wanyen Ci Lun. Aku sudah bersumpab di depan jenazah ibuku untuk membunuhnya."

Padang itu menurun, lalu kembali ke tempat di punggung gadis itu. Bi Li duduk lagi, kini pandang matanya kepada Tiang Bu agak ramah. Garis garis duka membayang di jidatnya.

"Ibu ...... eh, Nyonya Wanyen sudah....... sudah tewas

.......?” tanyanya, jelas sekali ia menahan isak tangisnya.

Tiang Bu menelan ludah menekan keharuan hati. "Betul, juga Pangeran Wanyen Ci Lun, mereka tewas sebagai orang- orang gagah. Aku hanya sempat merawat dan mengubur jenazah ibuku, terpaksa meninggalkan jenazah Pangetan Wanyen  di   istananya.   Nona  Wanyen.......   oh,   nonae Kwan “

"Namaku Bi Li !”

"Baiklah, Bi Li, mana kakakmu, Wan Sun? Dia itulah saudara tiriku yang satu-satunya, aku ingin sekali bertemu dengan saudaraku itu."

"Entahlah, aku pergi meninggaIkannya.  Dia bukan kakakku lagi, kami adalah orang lain yang secara kebetulan saja sejak kecil mengaku saudara kandung. Aku kini seorang yatim piatu sebatang kara di dunia ini, hanya dengan ular- ularku yang setia.”

“Sama dengan aku. Biarpun ayahku, masih hidup, aku sudah menganggapnya tidak ada. Akupun yattm piatu seperti kau. Bi Li, kau sekarang hendak ke manakah ?”

"Mencari Liok Kong Ji untuk kubunuh, karena dia sudah terlalu banyak membikin susah orang-orang yang kusayang.”

“Kau tahu ke mana harus mencarinya?”

"Ke mana saja. Biar ke neraka sekalipun akan kususul.” "Tidak usah bergitu jauh. Aku tahu te mpat sembunyinya, dan akupun  hendak ke  sana.  Mau kau ikut? Dia  bukan orang sembarangan, kaki tangannya banyak, kedudukannya amat kuat. Kau bergerak seorang diri amat berbahaya, kalau kita me nyerbu bersama, baru ada harapan. Bagaimana?"

“Di mina tempatnya ?”

“Di tempat berbahaya yang dinamai Un-tiok-lim, tempat yang penuh rahasia dan kabarnya tak seorangpun, bagaimana gagahnya mampu masuk ke sana. Di sana Liok Kong Ji tinggal bersama kaki tangannya. Bagaimana kau suka?”

”Boleh sekali ! Kau orang baik, Tiang Bu."

Pemuda itu tertawa girang. Gadis ini be nar-benar berwatak polos dan jujur, dan ini, me nggirangkan hatinya, sesungguhnya baru sekarang ia bertemu dengan gadis yang menarik hati dan menyenangkan hatinya, di samping Ceng Ceng dan Pek Lian.

"Kalau begitu, sesudah kita menjadi sahabat, mengapa kau tidak menawarkan minum?” Bi Li tersenyum dan hati Tiang Bu berdebar keras. Hebat sekali. Bukan main manisnya gadis ini kalau tersenyum, pikirnya. Kalah Ceng Ceng.

"Agaknya watak nenek moyangku yang bu ruk sudah menurun padaku. Duduklah di sini menghadapi meja dan mari minum arak bersamaku, Tiang Bu."

"Terima kasih, Bi Li. Heei, pelayan, tambah araknya seguci lagi. Dan bakmi semangkok besar, bakpauw sepiring. Cepat !!"

"Ba ...... baik, siauwya .......!” Seorang pelayan cepat mengerjakan pesanan ini, akan tetapi setelah siap dan hendak mengantarkan, ia berdiri ketakutan di tempat agak jauh, me megangi mangkok dan piring itu, tidak berani mendekat. “Kenapa kau?” tanya Tiang Bu.

"Maaf, siauwya .......maaf, siocia…….. itu……. itu ular- ular…"

Bi Li tersenyum dan mengel uarkan suara mendesis perlahan dengan bibirnya yang me rah. Cepat sekali  empat ekor ular itu manyelinap dan le nyap ke dalam saku bajunya setelah mendengar desis perintah ini.

"Nah, mereka sudah sembunyi, takut apa lagi?" kata Tiang Bu dan pelayan itu dengan  masih takut-takut sekarang berani mendekat untuk menaruh bakmi, arak dan bakpauw di atas meja. Ia hendak berlaku hormat den membuka tutup guci menuangkan arak untuk Tiang Bu ke dalam cawan. Akan tetapi ketika hendak menuangkan arak untuk Bi Li dan melihat cawan melesak ke dalam meja, menjadi pucat.

“Tuangkan arak untuk siocia,” kata Tiang Bu sambil menekan meja dan....... seperti tercabut oleh tangan yang tidak kelihatan tahu-tahu cawan yang tadinya melesak ke dalam meja itu mumbul kembali. Melihat ini, pelayan itu makin kaget dan kagum, di dalam hatinya menduga bahwa hari ini restorannya betul-betul kedatangan siluman-siluman yang pandai ilmu sihir ! Setelah menuangkan  arak untuk Bi Li, ia cepat mengundurkan diri dengan sikap hormat. Akan tetapi begitu ia masuk ke dalam ia cepat lari ke  luar dari pintu belakang.

Di kota Si-yang terdapat  tikoan the  Thio. Dia adalah tikoan baru. yang diangkat semenjak perang selesai. Tikoan she Thio  ini se betulnya  adalah  bekas  guru silat  yang sombong. Setelah perang selesai, entah bagaimana Thio- kauwsu ini menjadi kaya raya. Padahal menurut pengakuannya sendiri, ketika terjadi penyerbuan orang- orang Mongol ia bcrjuang di  kota raja dan berjasa besar dalam "memukul mundur" bala tentara Mongol! Dia kembali ke Si-yang dengan harta benda banyak dan membual akan jasa-jasanya. Dengan alasan jasa-jasa terhadap negara inilah terutama sekali dengan pengaruh sogokan-sogokan yang secara royal ia sebarkan kepada pembesar. pembesar tinggi, akhirnya ia berhasil merebut kedudukan pembesar tikoan di kota Si-yang. Memang sudah lajim di dunia ini, sesudah

perjuangan selesai, cecunguk-cecunguk rendah bermunculan dan berebut penonjolan jasa-jasa.

Contohnya Thio-kauwsu ini. Ketika perang berkobar dan orang-orang gagah berjuang untuk membela negara, dia menyelundup ke kota raja, bukan untuk berjuang melawan musuh melainkan untuk “berjuang" mengumpulkan harta yang ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang bangsawan, bekerja sebagai maling atau rampok. Kemudian, di Si-yang, ia menonjolkan jasa-jasanya sebagai pejuang dan menggunakan harta curiannya untuk menyuap dan menyogok sana-sini sehingga akhirnya ia dapat menduduki tempat sebagai pembesar. Dapat dibayangkan betapa bobroknya keadaan masyarakat dengan "pe mbesar- pembesar" macam ini sebagai orang-orang berkuasa yang "memimpin” rakyat !

Cara Thio-kauwsu, atau sekarang disebut Thio-tikoan, mempertahankan dan membela kedudukannya adalah cata lama yaitu mengumpulkan tukang-tukang pukul yang merupakan pasukan istimewa, pada lahirnya disebut pasukan pengawal keselamatan tikoan, pada hal sebetulnya adalah pasukan yang harus mempertahankan isi gudang kekayaannya dan mempertahankan pangkatnya. Selain ini, Thio-tikoan juga berusaha mengambil hati rakyat. Dengan jalan melidungi rakyat dari gangguan orang jahat. Tentu saja sebutan rakyat dalam mata tikoan ini berbeda dengan rakyat dalam pandangan mata kita.

Bukan rakyat kalau orang itu tidak dapat memberi "apa- apa" kepadanya ! Yang dimaksudkan rakyat olehnya, rakyat yang perlu dilindungi dan dibela, adalah orang yang dapat memberi "apa-apa" untuk menambah penuh isi gedungnya. Petani-petani miskin ? Ooo, mereka itu bukan rakyat, melainkan tenaga-tenaga yang harus tunduk kepada “rakyat”, pemilik tanah seperti kerbau-kerbau bermuka manusia. Si jembel? Apalagi. Mereka itu bukan rakyat melainkan penjahat pe njahat yang perlu diawasi.

Restoran-restoran pada waktu menghasilkan untung besar, maka menjadi "langganan" baik Thio-tikoan dan terlindung. Maka ketika pelayan itu dengan terengah melaporkan bahwa restorannya didatangi dua "siluman" aneh yang mencurigakan. Thio-tikoan lalu memberi perintah kepada serombongan tukang pukulnya untuk "membereskan" perkara ini.

Demikianlah, ketika Tiang Bu dan Bi Li sedang enak- enak makan bakmi dan bakpauw sambil minum arak, tiba- tiba serombongan orang terdiri dari tujuh orang yang kelihatan kuat-kuat dan galak memasuki restoran itu.

Tadinya Tiang Bu dan Bi Li tidak ambil perduli, akan tetapi ketika melihat betapa mata ke tujuh orang itu diarahkan kepada mereka, Bi Li berkata nyaring.

"Kaulihat restoran ini jorok sekali, lalat hijau yang kotor dibiarkan masuk. Mari kita habiskan arak dan lekas pergi ! ” Sambil berkata demikian, Bi Li mengangkat hidungnya yang kecil mancung dengan sikap menghina.

Tujuh orang tukang pukul itu saling pandang, lalu

pe mimpinnya seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan dengan kedua lengan baju disingsingkan ke atas sehingpa nampak otot-otot melingkar di sepasang lengannya berkata kepada pelayan yang kepalanya menongol dari balik daun pintu di belakang restoran, “Memang cantik jelita, akan tetapi mana ularnya? Jangan-jangan kau yang khilaf, bidadari disangka siluman. Ha ha ha !"

Pelayan itu diam saja karena ia takut. Akan tetapi pemimpin rombongan yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya ini, dengan langkah lebar menghampiri Bi Li dan Tiang Bu, lalu berkata sambil menunjuk hidungnya sendiri. “Nona manis, kau memaki lalat hijau padaku,  memang aku lalat yang ingin sekali  hinggap di  pipimu yang licin. Ha ha  ha.  Kalian tidak tahu,  aku adalah  Ban-Ek Si  Ke palan Besi, komandan polisi kota ini. Apa kalian masih berani kurang hormat ?" Ban-Ek SiKepalan Besi itu mengamangkan tinjunya untuk memperkuat julukannya: “Kepalan Besi"

Tiang Bu yang tidak ingin mencari perkara mendahului Bi Li yang sudah me rah padam pipinya. Pemuda ini mengedipkan mata kepada gadis lalu menengok kepada Ban Ek. "Kau datang-datang kok ribut-ribut, mau apa sih?”

Dada Ban Ek hampir meledak saking marahnya.

Biasanya nama besar Ban Ek Si Kepalan Besi sudah cukup untuk membikin seorang liok-lim bertekuk lutut ketakutan, atau se tidaknya seorang kang ouw  bersikap  lebih  hormat dan bersahabat. Akan tetapi pemuda yang sederhana ini sama sekali tidak mengacuhkannya.

"Pemuda tahu ! Kau dan nona ini mencurigakan, harus kami pe riksa. Kalian berani makan di restoran, hayo keluarkan uang pembayarannya di depan kami !"

"Apa kau yang tadi mengaku komandan polisi sudah merangkap pekerjaan pelayan restoran? Kami tentu akan bayar makanan, akan tetapi hanya kepada pelayan restoran. Siapa tahu kalau kau bukan perampok yang Ingin membawa lari uang kami ?"

“Setan alas kelaparan! Kau berani menghina Ban Ek Si Kepalan Besi ? Jangan menantang kesabaranku. Hayo lekas perlihatkan bahwa kau bukan tukang tipu makanan dan bahwa kau memang betul akan membayar. Kalau tidak, sebelum makananmu habis, mukamu akan lebih dulu habis oleh kepalan besiku !”

Kini Tiang Bu yang tedinya sabar menjadi marah. Terlalu sekali, pikirnya. Biasanya orang-orang yang menamakan dirinya penjaga-penjaga keamanan kota atau polisi itu adalah orang-orang terpelajar, orang-orang sopan yang betul-betul menjadi pelindung menjadi pe negak keadilan, menjadi bapak-rakyat yang mendatangkan rasa cinta dan terima kasih rakyat atas jasa-jasa mereka. Akan tetapi, sikap yang diperlihatkan oleh Ban Ek Si KepaIan Besi ini sama sekali bukan sikap penjaga keamanan, bahkan sebaliknya, sikap pengacau keamanan,  bukan  sikap bapak atau palindung rakyat,  sebaliknya  sikap  musuh rakyat  yang harus diganyang habis-habisan.

"Bi Li, ke luarkan uangmu dan perlihatkan kepada monyet ini," katanya menahan marah. Memang Tiang Bu tidak punya uang. Kalau tadi ia berani masuk dan makan, adalah karena ia percaya bahwa Bi  Li  tentu punya  uang. Bi Li semenjak kecil hidup di dalam gedung pangeran, mustahil kalau gadis itu tidak bawa uang “

Memang betul dugaannya. Gadis seperti Br Li puteri pangeran, tak mungkin berkantong kosong.  Biarpun uangnya yang tadinya berada di saku sudah habis, namun gadis ini sudah menjual perhiasannya satu demi satu dan selalu ia membawa uang. Akan tetapi sejak tadi Bi Li sudah naik darah dan kalau tidak ada Tiang Bu di situ yang se lalu main sabar, tentu dia sudah memberi hajaran kepada orang yang mengaku diri komandan polisi itu.  Sekarang mendengar kata-kata Tiang Bu, ia sengaja berkata.

"Aku tidak punya uang, yang ada hanya sepasang

ke palan tahu. Kau ini anjing kudisan minta bayaran. Nah, terimalah kepalan tahu ini untuk kawan kepalan besimu!" Setelah berkata demikian, t iba-tiba tubuh yang tadinya duduk di kursi itu tahu-tahu telah berkelebat di  depan Ban Ek dan....... “plak! plak !" Dua kali te lapak tangan gadis "mampir" di sepasang pipi Ban Ek. Pukulan itu kelihatannya tidak keras, juga terasa sendiri oleh Ban Ek sendiri tidak

ke ras. Maka komandan ini bertolak pinggang dan tertawa bergelak.

"Ha ha haaaeeekkk !” Suara ketawanya berubah secara mengagetkan karena tiba-tiba ia muntah darah segar diikuti gigi- giginya yang ternyata sudah copot semua seperti dicabuti. Ternyata bahwa tamparan Bi Li tadi hanya kelihatannya saja perlahan, namun dilakukan dengan pengerahan lwekang tinggi sehingga melukai jantung dan mencopotkan se mua gigi.

Ban Ek terhuyung-huyung. baru terasa mulutnya sakit- sakit dan dadanya sesak. Ia he ndak marah-marah, akan tetapi dadanya menjadi sesak dan di lain saat ia roboh

te rlentang dalam keadaan pingsan.

Gegerlah di situ. Enam orang tukang pukul yang lain menjadi marah dan mencabut golok mereka, akan tetapi hanya tiga orang yang berani menyerbu. Yang tiga takut- takut dan hanya berdiri dengan golok di tangan. Begitu menyerbu tiga orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa lagi. Masing-masing tergigit oleh tiga ekor ular yang tahu- tahu sudah menyambar ke luar. dan kini merayap masuk lagi ke dalam saku baju Bi Li.

"Tahan....... ! Tahan ........ ! Celaka dua belas  dia itu adalah Wanyen Siocia ! Apa mata kalian sudah buta ??” Dari luar datang Thio-tikoan berlari-lari dan pe mbesar itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.

Melihat lagak pembesar yang berlutut  itu kemarahan Bi Li seperti api disiram minyak. Ia sudah memegang seekor ularnya  untuk  me nyerang pembesar  itu, akan  tetapi  Tiang Bu yang sejak tadi sudah mengerutkan kening tak senang melihat gadis itu menyebar maut cepat melangkah maju dan menendang. Sekali tendang saja tubuh  Thio-tikoan terlempar keluar dari rumah makan, bergulingan seperti bola.

“Pergilah ! dan jangan mengganggu kami !” Tiang Bu berseru dengan suara keras berpengaruh.

Thio-tikoan kaget sekali. Di dalam hati ia marah sekali dan kalau tidak melihat bahwa gadis itu adalah puteri Pangeran Wanyen Ci Lun yang te rkenal di kota raja, tentu ia akan mengerahkan tukang pukulnya untuk mengeroyok dan mencelakai dua orang muda itu. Apa lagi karena sebagai ahli silat ia tahu bahwa pemuda yang menendangnya tidak memiliki kepandaian hanya bertenaga kuat, buktinya ia yang ditendang sampai mencelat jauh itu tidak menderita luka dalam tubuh. Tentu saja sebetulnya ia tidak terluka karena memang Tiang Bu sengaja tidak mau melukainya.

Bi Li sudah mengeluarkan uangnya dan membayar harga makanan dan minuman kepada pelayan yang berdiri gemetaran saking takutnya. Kemudian orang muda itu pergi meninggalkan tumah makan.

“Bi Li, kenapa kau begitu kejam? Memang tukang-tukang pukul itu menjemukan sekali, akan tetapi  kurasa belum patut dibunuh,” di tengah jalan Tiang Bu mencela gadis itu.

Celaan ini tidak memarahkan Bi Li, bahkan ia tersenyum merasa dipuji.

"Aku sudah cukup kejam, Tiang Bu? Bagus, aku sudah takut kalau-kalau kelihatan tarlampau lemah. Ingat, aku keturunan See-thian Tok ong dan Tee-tok, dua orang yang sudab amat terkenal sebagai manusia-manusia paling kejam di dunia ini. Me ngapa aku tak boleh kejam dan jahat? Hai, aku orang yang kejam di dunia ini, patut menjadi cucu See thian Tok-ong. Awas, Tiang Bu, kalau datang se leraku kaupun dapat kubunuh!”

Tiang Bu tersenyum pahit. Ia maklum akan gejolak hati gadis cantik ini. Agaknya kenyataan bahwa ia adalah puteri Tee-tok Kwan Kok Sun, menghancurkan hatinya dan ia menjadi nekad, sengaja berlaku jahat dan  kejam karena tentu orang-orang akan memandang rendah dan  hina kepada keturunan See thian Tok ong yang jahat. Dari pada disangka kejam dan jahat, lebih baik sekalian menjadi orang jahat dan kejam agar cocok menjadi keturunan orang yang terkenal paling jahat di dunia. Tentu demikian jalan pikiran gadis ini. Diam-diam Tiang Bu berpikir dan ke tidaksenangan hatinya menipis, terganti oleh perasaan kasihan yang besar. “Ingat, Bi Li. Bukan kau saja keturunan orang jahat.

Orang tuaku jauh lebih jahat dart pada orang tuamu. Kalau tidak percaya kau boleh tanya-tanya di dunia kang-ouw, siapa yang lebih jahat antara Kwan Kok Sun dan Liok Kong Ji. Tidak ada orang lebih jahat  dari Liok Kong Ji  yang disebut manusia iblis. Tapi, apa kaukira kalau keturunan orang jahat itupun harus jahat pula ? Kau keliru! Pohonnya boleh bongkrek batangnya, akan tetapi belum tentu kalau buahnya buruk."

Bi Li tertawa mendengar perumpamaan ini. Memang pada dasarnya Bi Li seorang gadis lincah gembira mudah tertawa. Hanya semenlak ia mendengar bahwa dia anak orang jahat membuat wajahnya diliputi kebengisan mengerikan.

“Kau bicara seperti kakek-kakek. Nenek-moyang kita jahat, siapa yang akan percaya kita baik? Nenek moyang kita jahat, kalau kita lebih jahat dari  mereka,  bukankah itu artinya melanjutkan garis hidup mereka? Katanya seorang anak harus berbakti. kalau kita pura-pura menjadi  orang baik, selain tak seorangpun di dunia ini percaya, juga

saolah-olah kita mengejek dan merendahkan orang tua sendiri, manyele weng dari jalan hidup mereka. Aku tidak sudi menjadi anak orang jahat yang pura-pura baik, ditertawai oleh orang kang-ouw dan dikutuk oleh arwah nenek moyang se ndiri !”

Hebat, pikir Tiang Bu. Celakalah kalau jalan pikiran macam ini tidak dirubah. "Bi Li ! Kau keliru! Diumpamakan ayah kita itu sebatang pobon yang bongkrek dan buruk tiada guna, akan tetapi kita sebagai  buah-buah pohon bongtkrek itu ternyata manis dan berguna, tentu pohonnya akan dihargai orang dan tidak dirusak. Sebaliknya,  kalau pohonnya buruk buahnya masam, dua-duanya tiada guna bukankah pohonnya akan  ditebang dan  dijadikan umpan api. Nama buruk orang tua kita hanya dapat dicuci dan dibersihkan oleh perbuatan baik kita, bukan makin dicemarkan dan dikotori oleh perbuatan jahat kita. Kau tahu betapa sakit  dan  hancur hatiku memusuhi  ayah sendiri, akan tetapi biarpun harus meramkan mata, kalau bertemu dengan Liok Kong Ji yang di luar ke hendakku ternyata adalah ayahku itu, pasti akan kubunuh !”

Bt Li memandang dengan matanya yang indah seperti mata burung Hong. Kemudian tertawa geli sambil menutupi mulutnya yang berbibir merah segar dan bergigi putih seperti mutiara itu. "Kau....... kau orang lucu benar! Kau bilang mau berbuat baik menebus kedosaan ayah, akan tetapi kau bermaksud membunuh ayah sendiri! Hei, Tiang Bu, tidak tahukah kau bahwa tidak ada kejahatan yang lebih besar dari pada membunuh ayah sendiri? Andaikata aku dapat membunuh seratus orang tidak berdosa, aku masih kalah hebat olehmu yang membunuh ayah sendiri !"

Mendengar ucapan ini, Tiang Bu melongo dan untuk sesaat tak dapat menjawab. Akhirnya ia hanya dapat berkata lirih, terputus-putus, “Dia jahat ...... dia jahat sekali aku

harus bunuh  dia......”  Bimbang  hatinya  me ndengar ucapan Bi Li yang langsung menusuk hatinya itu. Ucapan sederhana namun mengandung sari filsafat hidup tentang "hauw" atau berbakti. Sari pelajaran  dari  Guru Besar Khong Hu Cu tentang hauw ini banyak disalahgunakan orang. khususnya para pengikut atau para penganut pelajaran-pelajaran guru besar yang tiada keduanya di dunia itu.  Sebagian  besar orang tua mempergunakan ujar-ujar Khong Hu Cu tentang hauw ini demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Anak-anak diajar atau bahkan hampir dapat dikatakan dipaksa untuk berbakti  secara  membuta, untuk menurut apa yang dikehendaki oleh orang tua bukan demi kepentingan anak itu sendiri melainkan demi keuntungan si orang tua. Anak-anak hendak dijadikan alat-alat untuk menyenangkan hati orang tua dan agar anak-anak itu melakukannya dengan senang hati den membuta, maka si orang tua menyalahgunakan hauw, pelajaran yang suci dari Guru Besar Khong Hu Cu! Karena penyalah gunakan pelajaran tentang hauw inilah maka di Tiongkok dahulu banyak terjadi hal-hal yang tidak adil, hanya karena orang hendak mengikuti pelajaran tentang hauw secara membabi buta. Mtsalnya, anak harus menikah dengan orang yang tak disukainya karena orang tuanya sudah suka, dan anak itu dihadiahi sebutan u-hauw (berbakti). Anak harus membantu orang tuanya biarpun orang tuannya melakukan pekerjaan jahat dan biarpun si anak di dalam hati tidak menyetujui pekerjaan itu dan anak itu juga anak u-hauw ! Masih

banyak hal-hal yang rendah terjadi akibat orang tua menyalahgunakan sari pelajaran ini demi kesenangan dan kepentingan sendiri.

"Kau keliru, Bi Li," kata Tiang Bu dengan suara tegas. "Kalau sampai aku membunuh Liok Kong Ji, aku membunuhnya sebagai orang pembela keadilan membunuh seorang penjahat besar, seorang pcngkhianat bangsa dan seorang pengganggu keamanan rakyat. Bukan sekali-kali sebagai seorang anak membunuh ayahnya."

Untuk beberapa detik sinar mata gadis menatap wajah Tiang Bu penuh kekaguman akan tetapi hanya sebentar karena gadis segera tertawa lagi dengan nada mengejek kemudian berkata,

"Kau tadi telah bilang sudah tahu tempat tinggal ayahmu....... eh, jahanam she Liok itu. Jauhkah dari sini ?"

"Tidak begitu jauh. Ui-tiok-lim berada di lembah Sungai Luan-ho, di luar tembok Kota Raja Kin di utara. Di sanalah Liok Kong Ji tinggal, menyembunyikan diri dengan anak- anak angkat dan kaki tangannya semenjak dia mengundurkan diri dari bala tentara Mongol."

"Judi dia  tidak membantu Jengis  Khan  lagi?” “Sepanjang yang kudengar tidak. Bala tentara Mongol

menyerhu ke barat dan hampir semua orang Han yang tadinya membantu, merasa enggan untuk menyerbu ke negara orang lain dan meninggalkan bala tentara Mongol. Akan tetapi mereka ini agaknya meras a malu kepada bangsa sendiri, juga Liok Kong Ji menyembunyikan diri di Ui-tiok- lim, tak pernah muncul lagi di dunia,  kang-ouw.  Yang muncul hanya anak-anak angkatnya yang dalam kejahatan kiranya tidak kalah oleh Liok Kong Ji.” Tiang Bu menarik napas panjang, teringat akan Liok Cui Lin dan Liok Cui Kim, dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.

"Kalau begitu mari kita segera berangkat ke sana!" ajak Bi Li dengan nada gembira.

"Baiklah, hanya pesanku jangan kau semberono. Aku mendengar sudah ada beberapa orang gagah mencoba memasuki Ui-tiok-lim, akan tetapi mereka itu gagal di tengab jalan dan dan tewas sebelum mereka dapat bertemu muka dengan Liok Kong Ji atau anak-anak angkatnya."

"Mengapa begitu? Demikian berbahayakah Hutan Bambu Kuning” itu?”

Tiang Bu mengantguk-angguk “Kabarnya begitu. Bambu- bambu di hutan itu sengaja di tanam merupalan barisan- barisan dalam bentuk yang ganjil, dipasangi alat-alat rahasia yang berbahaya. Kubarnya memasuki Ui-tiok-lim tempat tinggal Liok Kong Ji itu bahkan lebih sulit dari pada memasukt Kuil Siauw-Lim si yang te rkenal kuat."

DIam-diam Bt Li kaget sekali. ia pernah mendengar dari gurunya, Ang jiu Mo-li  bahw Kuil  Siauw-lim-si  amat kuatnya. Bahkan gurunya itu, Ang-Jiu Mo  li  yang lihai, pernah mencoba-coba memasuki Siauw lim-si  untuk memcuri kitab, akan tetapi te rpaksa keluar lagi dan  hampir saja tewas ! Kalau Siauw-lim-si saja sudah begitu lihat dan tempat ini katanya lebih lihai lagi. dapat dibayangkan betapa sukarnya memasuki Ui tok-lim.

Tanpa kenal lelah, Bi Li dan Tiang Bu melakukan perjalanan bersama menuju ke utara melalui tembok besar. Di sepanjang perjalanan tiada hentinya Tiang Bu mengulurkan tangan menolong rakyat jelata yang keadaannya amat menyedihkan. Bekas tangan bala tentara Mongol kelihatan nyata, mendirikan bulu roma, mengerikan sekali. tumpukan puing menghitam sisa api, bau busuk dari mayat manusia yang lambat dikubur dan darah-darah manusia yang berceceran di atas tanah,  ditambah pula dengan manusia-manusia hidup setengah mati, kurus kering sepetti rangka hidup terhuyung-huyung atau berjongkok

dan bergelimpangan di antara tumpukan puing, suara anak- anak menangis minta makan, semua ini menggugah hati Tiang Bu untuk bertindak, didatanginya rumah-rumah pembesar setempat, digunakannya kekerasan agar para pembesar lalim ini suka menggulung lengan baju dan melakukan tugasnya sebagai bapak rakyat,  menolong mereka yang pat ut ditolong dan mengatur mana yang patut diatur. Berkat kekerasan tangan Tiang Bu,  banyak orang desa tertolcong, tidak saja yang kelaparan mundapat makanan, juga yang kepanasan mendapat tempat berteduh dan yang menganggur mendapat pekerjaan. Semua dijamin oleh para pembesar yang dipaksa oleh tangan keras Tiang Bu.

Mula-mula Bi Li tidak sabar bahkan mendongkol melihat betapa pemuda itu melakukan usaha ini. Dianggapnya membuang waktu dan tenaga, hanya memperlambat

pe rjalanan. Akan tetapi ketika ia melihat betapa rakyat yang sengsara itu berterima kasih, betapa anak-anak yang menangis menjadi tertawa, tergugah pula batin gadis yang memang bukan pada dasarnya jahat ini. Bi Li sengaja

be rlaku jahat dan kejam untuk "menyesuaikan diri" dengan darah keturunannya yang mengalir di tubuhnya. Setelah rakyat memberi julukan PEK LUl ENG (Ksatria Iangan Geledeg.) kepada Tiang Bu. Bi Li juga mulai aktip membantu pemuda itu. Tiang Bu diberi julukan demikian karena selalu ia bertindak tanpa mempergunakan senjata, hanya mengandalkan kedua tangannya yang cepat dan ban bahaya seperti geledek menyambar. Setelah Bi Li turun tangan pula. mempergunakbn pedangnya untuk menabas buntung hidung atau batang telinga pembesar lalim dan korup, mempergunakan ular-ularnya  untuk menakut  nakuti mereka yang menindas rakyat, maktn berhasil lah usaha Tiang Bu. Makin banyak pulae desa-desa tertolong dari kelaparan dan kebinasaan. Akan tetapi perjalanan dua orang

muda itu menjadi makin lambat sehingga tiga bulan lewat tak terasa ketika mereka akhirnya tiba di daerah lembab Sungai Luan-ho. Mereka terus menyusur tepi sungai yang mengalir dari utara,

Pada pekan ke dua terpaksa bermalam di sebuah hutan.

Belasan li di sekeliling tempat ini tidak ada pedusunan sehingga mereka terpaksa bermalam di bawah pohon. Malam itu bulan bersinar terang sekali, mendatangkan suasana romantis di dalam butan itu. Mereka me milih sebuah tempat yang bersih, dibayangi pohon-pobon yangliu yang tinggi dan be rbatang ramping seperti pinggang gadis-gadis ayu. Di atas pohon, langit bersih, biru putih kekuning-kuningan penuh sinar bulan yang mendatangkan hawa dingin sejuk menyegarkan.

Bi Li sepera menjatuhkan diri. duduk di atas rumput lunak menyandarkan tubuh pada sebatang pohon sambil menarik napas penuh nikmat melemaskan anggauta tubuh yang kaku-kaku kelelahan.

"Aaahhh, enaknya di sini ....... nyaman sekali !"

katanya perlahan, senyumnya menambah cemerlang sinar bulan.

Tiang Bu juga merebahkan tubuhnya yang lelab di dekat batang pohon yang sudah tumbang melintang tak jauh dari tempat Bi Li duduk. Mendengar ucapan gadis itu, Tiang Bu memandang dan hatinya berdebar aneh. Bukan main indahnya pe mandangan itu. Seorang bidadari mandi cahaya bulan. Alangkah cantik jelitanya Bi Li ketika bersandar pada pohon dengan muka sepenuhnya disinari cahaya bulan purnama. Matanya tertutup dan bulu matanya yang lentik panjang itu menimbulkan bayang-bayang di bawah matanya, manis sekali.

Bi Li membuka matanya, "Kau di mana, Tiang Bu ?" tanyanya tanpa menoleh, dengan mata berkedip-kedip jarang.

"Di sini- ..... !” jawab pemuda itu. "Lebih enak di sini, dapat tidur."

Mendengar jawaban ini, Bi Li menengadah dan memandang. Ia melihat Tiang Bu melonjorkan kakinya ke depan, pungaung dan ke palanya disandarkan pada batang pohon melintang, seperti memakai bantal. Nampaknya memang enak sekali, tidak seperti bersandar pada batang pohon berdiri, terlalu lurus dan hanya dapat duduk, tak dapat berbaring.

"Minggirlah, akupun ingin t idur ! Jangan borong semus tempat itu !” Bi Li meloncat lincah jenaka.

Tiang Bu mengguling-gulingkan tubuhnya sampai ia berada di ujung batang pohon lalu berbaring miring sambil tersenyum memandang kawannya yang jenaka itu. Bi Li merebahkan diri terlentang di ujung batang pohon yang lain, kurang lebih lima belas kaki jauhnya dari Tiang Bu sehingga pemuda ini dapat melihat dengan nyata. Bahkan ia dapat mencium bau harum yang selalu selalu semerbak menghambur dari tubuh gadis itu, bau harum yang ganjil sekali. Makin berdebar hati Tiang Bu melihat keindahan wajah dan tubuh gadis re maja yang kini berbaring  tak  jauh dari tempatnya. Teringat ia akan semua pengalamannya dengan Cui Lin dan Cui Kim dan tiba tiba ingin ia menampar mukanya sendiri. Bi Li seorang gadis terhormat, tak patut seorang  rendah budi  dan hina dina semacam dia memikirkan dan merindukannya ! Cepat ia membuang muka ke lain jurusan agar jangan  matanya  manatapi  mahluk indah di depannya itu dan agar jangan sampai hatinya tergoda. Akan tetapi makin dijauhi makin menggoda. Ke manapun juga ia melempar pandang, bayangan gadis telentang dengan, dada dan kepala terganjal batang pohon sehingga dada itu membusung padat dan leher yang putih kekuningan itu berlawanan sekali dengan batang pohon yang berwarna coklat, selalu nampak di depan mata.

Seakan-akan bayangan gadis itu berpindah-pindah selalu ke

depan matanya, atau seakan-akan sepasang matanya yang pindah ke belakang keplanya, tidak mau meninggalkan pemandangan yang indah itu

Akhirnya Tiang Bu berbaring miring lagi menghadapi Bi Li! Aku tidak berhak mengganggunya. aku tidak berharga mcncintainya. tidak patut mengenangkannya, sama sekali tidak boleh mendekatinya. Akan tetapi kalau hanya pandang mata saja apa salahnya? Aku tidak akan merugikannya dengan hanya pandang mata. Dengan pikiran ini, Tiang Bu memuaskan rindunya dengan sepasang matanya. Bi Li agaknya le lah sekali karena gadis itu sudah tertidur, napasnya lambat dan halus, bibirnya agak terbuka se hingga gigi yang berdere t rata dan putih itu terkena cahaya bulan bersinar-sinar seperti mutiara. Oleh karena gadis itu sudah tidur, Tiang Bu dapat leluasa memandangnya. Dengan sinar mutanya ia me ncumbu rayu Bi Li  dibelai-belainya  rambut yang agak kusut itu, penuh kasih sayang. Heran sekali, terhadap Bi Li ia tidak mengalami rangsangan seperti ketika ia digoda oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim. Tidak timbul nafsu binatangnya, yang ada hanya kasih sayang, kasihan dan ingin melindunginya, ingin berkorban untuknya dan ingin hidup berdua yang lain-lain tidak ada artinya lagi baginya.

"Bi Li mengapa perasaanku terhadap kamu seperti ini

...... . ?" Tiang Bu menge luh di dalam hatinya dan tak terasa ia merasa berduka sekali. Teringat ia akan keadaannya yang sama sekali tidak patut dijejerkan dengan gadis itu. Bi Li cantik jelita. lebih cantik daripada Ceng Ceng, lebih cantik dari pada Cui  Lin dan Cui  Kim, lebih cantik dari  pada Lai Fei, pendeknya lebih cantik dari pada semua wanita yang pernah ia jumpai. Dan dia sendiri, ah, Tiang Bu cukup maklum dan insaf akan keburukan rupanya. Ia tahu bahwa dia tidak boleh dibilang tampan, apa lagi ganteng. Olok-olok dan ejekan yang dulu dilontarkan ke mukanya oleh Ceng Ceng, sudah cukup jelas. Hidungnya pesek, bibitnya tebal, mukanya ke hitaman, gerak-geriknya canggung. Selain itu, ia seorang yatim pialu, seorang pemuda terlantar yang miskin, tidak punya apa-apa. Dia sama  sekali  tidak memikirkan  Bi Li, apalagi me ngharapkan dapat mencintai gadis itu.

Bermalam di tempat seperti ini bersama saja se betulnya dia sudah tidak berhak! Apa lagi kalau diingat akan perbuatannya yang terkutuk dengan Cui Lin dan Cui Kim. Auhh, dia seorang bermoral bejat. seorang rendah budi. Tak terasa pula dua titik air mata turun dari sepasang matanya. Cepat-cepat Tiang Bu menghapusnya dengan tangan.

Mengapa putus asa ? Aku sudah cukup menyesal akan penyelewengan itu. bahkan sudah cukup terhukum di dalam jurang, sudah cutup terhina karena perbuatan kotor itu.

Aku sudah bertobat dan takkan mengulangi perbuatan keji itu. Ia akan mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melawan rangsangan nafsu jahat yang agaknya sudah mengalir ke dalam darahnya. Aku harus kuat. Aku seorang jantan.

“Tiang Bu kau melamun apa ?”

Tiang Bu kaget sekali. Begitu jauh ia melamun sehingga tidak tahu bahwa gadis itu sudah bergerak dalam tidurya, kini juga miring menghadapinva dan membuka mata perlahan. Pertanyaan itu biarpun diucapkaa dengnan perlahan dan lembut, tetap saja membuat Tiang Bu kaget dan hampir pemuda int melompat. Baiknya ia dapat menekan perasaannya dan hanya bangkit lalu duduk menyandarkan punggung di batang pohon.

“Aku....... aku hanya memtkirkan nasib kita yang buruk.....,” akhirnya dapat juga ia menjawab.

"Mengapa kau bilang buruk?” Kini suara Bi Li menyatakan bahwa ia sudah sadar betul dan sepasang matanya juga terbuka lebih lebar. Ia nampak ingin tahu sekali.

"Betapa tidak buruk ? Nasibmu sudah tak usah ditanya lagi. Dari seorang puteri bangsawan yang semenjak kecil hidup se rba mewah dan  mulia,  sekarang kau berada  di tempat sepeti ini, di udara terbuka, bertilam rumput beratap langit berkelambu hutan berlampu bulan ”

Bi Li tertawa geli. “Kau seperti bersajak ! Tiang Bu, di tengah malam buta kau bersajak. Benat-benar lucu!”

Tiang Bu menarik napas panjang sehingga terdergar ole h gadis itu. Bi Li juga bangkit dan duduk se perti Tiang Bu.

“Tiang Bu, susah benarkah hatimu? Kenapa?"

“Aku menghela napas bukan menyusahkan nasib sendiri melainkan ...... aku kasihan kepadamu kalau kukenang perubahan nasib hidupmu, Bi Li.”

"Aaah, aku yang mengalami sendiri tidak apa-apa kok kau yang susah ! Lebih baik kau ceritakan mengapa kau melamun tentang nasibmu. Buruk benarkah nasibmu?”

"Semenjak kecil ketika berada dengan keluarga Coa. aku memang merasa bahagia, akan tetapi selalu timbul keraguan dan keheranan kalau meIihat sikap para pelayan yang aneh terhadapku. Kemudian aku terculik dan semenjak itu tak pernah kembali ke Kim-bun-to, dan mengalami hal-hal yang selalu tidak menyenangkan hati. Makin tua nasibku menjadi semakin buruk jua……”

Kembali Bi Li tertawa geli, mengangkat muka ke atas memandang bulan lalu berkata. “Bulan, kaudengarlah keluh-kesah kakek ini! Sudah tua nasibnya buruk. Bulan, tak dapatkah kau monolong kakek ini?”

Kebetulan tegumpal awan putih lewat di bawah bulan, untuk sajenak menutupi ratu malam itu.

"Tiang Bu, kaulihat. Kesusahan hatimu membuat bulan sendiri ikut meras a se dih dan bermuram muka." Tiang Bu menghadapi kejenakaan gadis ini dan hatinya terbuka, ia menjadi ikut gembira. “Bi Li, kukatakan  tadi bahwa nasibku sejak dulu sampai sekarang sialan,  akan tetapi hanya berhenti sampai sekarang., Mulai aku berjumpa dengan kau sinar terang mengusir semua kegelapan dan.......

"

"Apa maksudmu !?" Bi Li tersentak dari duduk te gak, sepasang matanya memandang penuh selidik dan tajam sekali.

Tiang Bu sadar bahwa ia mengeluarkan ucapan yang janggal dan patut menimbulkan curiga. "Aku tidak bermaksud buruk, Bi Li. Kumaksudkan bahwa semenjak bertemu de ngan kau, aku mendapat seorang kawan baru yang kiranya akan dapat bekerja sama dengan aku membasmi orang-orang jahat. Bukankah hal ini menggirangkan hati benar dan mengusir semua kesunyian? Aku... aku tidak bermaksud kurang ajar. Bi Li,... jangan kau marah ”

Sikap terang yang diperlihatkan Bi Li menjadi kendur kembali dan gadis itu kembali merebahkan diri seperti tadi sebelum terjaga berbaring terlentang berbantal batang pohon ia mengeluarkan seekor ularnya yang berkulit putih lalu main-main dengan ular ini yang melingkar-lingkar diantara jari-jari tangannya.

"Siapa marah ? Hanya kau yang canggung dan bodoh, ucapanmu kadang kadang membingungkan orang."

“Me mang aku bodoh, Bi Li. Bodoh dan dungu.” kata Tiang Bu perlahan, hatinya gondok. Kalau ia masih kecil, tentu ia akan menangis.

"Pemuda yang merasa seperti kakek-kakek padahal masih hijau, orang berilmu tinggi tapi lemah, yang mau pura-pura jadi orang baik memang kau bodoh ! Pe k Coa (Ular Putih) ini lebih pintar dari padamu !" Tiang Bu makin mendongkol, akan tetapi tidak membantah atau menjawab, takut kalau-kalau jawabannya akan lebih menonjolkan kecanggungan dan kebodohannya. Padahal ia sendiri tidak tahu dalam hal apakah ia disebut bodoh, sedangkan dalam persoalan apapun juga ia merasa tidak kalah pintar oleh dara ini. Ia hanya mengerling tanpa menoleh, berbuat se olah-olah tidak mengindahkan dan tidak memperdulikan Bi Li, pada hal matanya sampai terasa hampir juling karena selalu mengerling ke  kanan !  Dari sudut matanya ia melihat gadis itu makin lama makin lemas dan napasnya makin lembut tak lama kamudian Bi  Li kembali tidur pulas. Ular putih itu merayap-rayap di antara jari-jari tangan Bi Li dan diam-diam Tiang Bu menyumpahi ular itu.

"Bedebah kau ! Masa macammu lebih pintar dari pada aku ? Ular setan, ular siluman! Dan kau boleh sesuka hatimu merayap-rayap membelai-belai dia, disayang dan dicintai!”

Dengan hati gemas dan kepala penuh cemburu dan iri hati ia melihat betapa ular putih merayap-rayap terus di antara dada Bi Li, kepalanya yang berlidah merah itu dijulur-julurkan, merayap melalui leher yang berkulit putih kekuningan itu, beberapa kali terpeleset di atas rambut hitam halus yang jatuh di pundak. Beberapa kali Tiang Bu mene lan ludah memaki-maki ular itu dengan mata penuh kebencian. Tangannya sudah gatal-gatal untuk meraih ul ar itu dan membantingnya hancur di atas batu untuk melampiaskan rasa marah, cemburu dan iri hatinya.

Kemudian gangguan ular itu sampai pada puncaknya ketika ular itu merayap melalui dagu Bi Li dan Iidahnya menjilat- jilat pipi dan bibir gadis itu.

"Jahanam jangan  menghina  dia.....!”  bentaknya  dan sekali tangannya bergerak sebuah batu kecil menyambar dan di lain saat ular itu Sudah menggeletak di dekat tubuh Bi Li dengan kepala remuk dilanggar batu tadi, mati tak berkuti k lagi !

Bi Li ters entak kaget. Ketika matanya yang tajam itu melihat Pe k Coa sudah menggeletak dengan kepala hancur di dekat, ia melompat bangun dan sudah mencabut pedangnya.

"Siapa berani me mbunuh Pek coa ?" bentaknya marah.

Melihat sikap Bi Li ini, baru Tiang Bu sadar akan perbuatannya tadi dan merasa menyesal. Iapun bangkit berditi dan berkata dengan suara lemah.

"Maaf, Bi Li. Akulah yang membunuhnya.”

Pedang itu dengan perlahan me masuki kembali sarangnya. Untuk sebentar mata Bi Li terbelalak heran, kemudian membayangkan kekhawatiran ketIka ia melangkah menghampiri Tiang Bu untuk menatap wajah

pemuda itu lebih dekat.

"Kau ...... ? Kau membunuh Pek Coa......?” Aneh sekali, Tiang Bu, kau kenapakah dan mengapa Pek Coa yang kau tahu menjadi kesayanganku itu kaubunuh ?”

“Aku aku tidak sengaja……”

"Tadinya akupun tidak ada niat itu, akan tetapi ......

melihat dia menjalar ke atas dada-mu, me rayap ke leher dan dagumu ...... melihat dia secara kurang ajar sekali menjilat..... pipimu ...... bibirmu ”

"Lalu timbul bencimu?" Heran sekali hati Tiang Bu. Bagaimana gadis itu tahu belaka akan perasaannya?

“Ya.... eh, aku takut kalau kalau ........ kau digigitnya, dia ular berbisa dan kau sedang tidur pulas....... aku lalu.......

lalu lupa diri dan...... membunuhnya.! Bi Li, maafkan aku.

Kelak aku akan mencarikan ular putih berapa hanyak kau suka untuk menjadi penggantinya.” Kalau saja ia tidak bicara sambil menundukkan muka, tentu Tiang Bu akan melihat perobahan luar biasa  pada wajah gadis itu. Seluruh muka Bi Li  menjadi  merah sekali dan gadis ini  membuang muka, lalu duduk di  tempatnya yang tadi. Sekali cokel ia telah membuang bangkai ular putih

itu.

"Dia toh hanya seekor binatang ular ....” katanya perlahan. "Tiang Bu, kau memang laki-laki bodoh. Jangan ganggu, aku ingin tidur, besok harus melanjutkan perjalanan jauh .....” Gadis itu membaringkan tubuhnya, miring membelakangi Tiang Bu dan tak lama ke mudian ia sudah pulas lagi. Tinggal Tiang Bu yang gulak-gulik tak

dapat pulas, hatirqa tidak karuan rasanya, merasa berdosa terhadap Bi Li. Ularnya kubunuh dan dia tidak marah !

Bagaimana dia tahu bahwa aku menjadi benci melihat ular itu menciummya? Heran, sampai berapa jauh dia mengetahui isi hatiku ?

Menjelang pagi, ketika Tiang Bu baru layap-layap tertidur, ia mendengar suara orang. Seperti kebiasaan. seorang ahli silat tinggi, Tiang Bu segera sadar dan menengok. Dilihatnya Bi Li tersenyum-senyum dalam tidurnya dan mengigau dengan suara yang belum pernah ia dengar keluar dari mulut gadis itu, demikian merdu bagikan lagu indah memasuki telinganya. "Tiang Bu ....... kau.......

baik se kali ”

Dengan wajah berseri Tiang Bu pulas lagi, hatinya girang bukan main, Alangkah lucu dan bodohnya manusia  kalau lagi diamuk asmara !

-oo(mch)oo-

Beberapa pekan kemudian tibalah Tiang Bui dan Bi Li di daerah lembah Sungai Luan ho yang menikung. Daerah ini terdapat banyak pegunungan dan kaya akan hutan.

Tanahnya subur sekali akan tetapi sayangnya, di sana-sani terdapat rawa yang amat berhahaya. Bahkan ada bagian lain yang disebut rawa-rawa maut, karena di sini terdapat rawa yang tertutup rumput-rumput hijau tebal. Padahal di bawah rumput tebal ini bukanlah tanah keras, me lainkan lumpur yang amat dalam dan yang me mpunyai hawa menyedot.

Sekali orang terpeleset ke dalamnya, kalau tidak mendapat pertolongan orang lain. akan sukarlah ia menolong diri sendiri, karena begitu kedua kaki terperosok ke dalam lumpur yang sembunyi di bawah rumput, kaki itu akan terhisap dan sukar dibetot keluar lagi. Makin lama makin dalam sampai akhirnya seluruh tubuh dihisap mas uk.

Kebetulan sekali ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di daerah ini, mereka menjadi saksi akan kengerian ini. Mul a-mula mereka mendengar suara binatang menguak keras berkali- kali. Mereka merasa tertarik dan berlari ce pat ke arah suara itu.

Mula-mula mereka tidak tahu mengapa kijang besar itu meronta-ronta di tengah padang rumput hijau itu sambil menguak-nguak ketakutan. Seakan-akan binatang itu patah kakinya dan tidak bisa lari lagi, atau seakan-akan kedua kakinya terikat sesuatu.

Jangan-jangan ia dimangsa ular !" kata Tiang Bu.

Bi Li mengerutkan kening, bidungnya yang mancung kecil itu berkembang-kempis.

“Tidak ada ular di sini. Akan tetapi kasihan sekali kijang itu, agaknya ketakutan. Coba kulihat dekat !” Sebelum Tiang Bu sempat mencegah karena pemuda ini sudah  merasa curiga melihat padang rumput yang nampaknya mtin sunyi dan menyeramkan itu. Bi Li sudah melompat dan berlari mendekati tempat binatang itu yang meronta-ronta dan momekik-mekik ketakutan. Tiba-tiba  Bi  Li  me njerit  dan kedua kakinya amblas ke dalam lumpur yang tertutup rumput hijau. Baiknya gadis ini telah memiliki kepandaian tinggi sehingga tubuhnya tak sampai roboh. Ia mengerahkan ginkangnya untuk menahan keseimbangan badan, tetapt ketika ia me ncoba untuk mencabut kedua kakinya, makin dalam ia terjerumus ! Baru sekarang Bi Li me ngerti apa yang menyebabkan binatang itu meronta-ronta dan memekik- mekik ketakutan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang hidup, yang amat kuat menghisap kedua kakinya, terasa dingin- dingin dan betapapun kuat ia bertahan. tubuhnya makin tersedot ke bawah. Tiba-tiba ia menjadi pucat dan baru kali ini selama hidupnya Bi Li ketakutan dan menjerit !

“Tiang Bu…… tolong !”

Tiang Bu sudah tiba di situ. Pemuda yang cerdik ini sebentar saja dapat menduga apa yang telah terjedi. Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya mcnjaga jangan sampai terjerumus pula. Kalau demikian halnya mereka takkan tertolong lagi.

"Tenang, Bi Li. Kau tertangkap oleh apa yang dinamai lumpur maut atau rawa maut. Jangan banyak bergerak, tunggu aku membetotmu keluar. Diam jangan bergerak, Bi Li “

Benar saja, setelah Bi Li berhenti bergerak sedotan yang terasa pada kedua kakinya berhenti pula, akan tetapi lumpur itu sudah me nghisapnya sampai ia amblas sebatas paha ! Ia mandi keringat dingin saking ngeri dan takutnya, dan kini dengan penuh harapan ia me lihat betapa Tiang Bu menghampirinya dengan kedua kaki diraba-rabakan ke depan, sambil tangannya mencabuti rumput untuk memilih tanah ke ras. Akan tetapi, tanah yang tadinya  kelihatan keras, begitu diinjaknya lalu Iongsor dan di bawahnya tanah

ke ras itu hanya tipis saja, dan di bawahnya adalah lumpur belaka.

Celaka, pikir Tiang Bu dengan jantung terhenti berdenyut. Kalau begini, tak mungkin Bi Li dapat tertolong. Begitu ia menarik tubuh gadis itu, tentu tanah yang diinjaknya amblas pula dan mereka berdua akan te rjerumus dimakan lautan lumpur! “Tiang Bu, mengapa kau be rhenti.... Apakah ……. apakah aku tak dapat ditolong lagi…….!” Sebagai jawaban, terdengar kijang itu menguak penuh kengerian. Terpaksa Bi Li menengok ke belakang, ke arah kijang yang hanya terpisah

lima enam meter dari padanya dan me lihat  keadaan  itu,  Bi Li menjerit, "Tiang Bu !"

Pemuda itupun menengok‹ dan menjadi pucat. Kijang itu kini telah terhisap sampai melewati lehernya, yang kelihatan hanya sapasang mata  yang terbelalak ketakutan lebar, hidung yang mendengus -dengus mengeluarkan uap putih dan mulut yang menguak-nguak panjang dan nyaring.

Binatang itu tidak merasa sakit hanya takut....... takut luar biasa melihat maut berjoge t di depan mukanya. Dan Bi  Li yang merasa ngeri lupa diri dan bergerak membuat ia amblas lagi sampai sebatas pinggang.

"Tiang Bu....... demi Thian ....... tolonglah aku aku

tidak mau mati begini, t idak mau!” teriak Bi l,i ketakutan dan sepasang matanya melebar seperti mata kijang itu.

Nguak terdengar terus, makin lama makin lemah dan yang terakhir suara  itu terdengar aneh seperti  parau kemudian be rhenti tiba-tiba  seperti  tercekik.  Mulut  atau moncong kijang itu tidak kelihatan lagi, hanya rumput di mana tadi ia

be rada bergcrak-gerak, se perti ada ular besar lewat di bawahnya.

"Bi Li. kautunggu se bentar. Kau tenanglah jangan bergerak. Ingat ini . jangan be rgerak kalau kau ingin tertolong. Demi Thian, aku akan me nolongmu, biarpun aku harus berkorban nyawa. Akan tetapi kau tenanglah, pergunakan lweekang untuk mematikan semua pergerakan tubuh. Hanya kalau kau diam seperti barang mati lumpur itu takkan dapat menyedotmu. Aku akan mencari bambu untuk menolongmu. Tenang !"

Tiang Bu melompat dan berlari ke arah hutan  kecil  di mana ia me lihat batang batang bambu berkelompok dengan daun daunnya yang indah. Setelah tiba di tempat itu, pemuda yang tidak mcmbekal senjata tajam ini lalu menggunakan kedua tangan, mencabuti bambu yang amat kuat itu sampai terlcpas akarnya.

Tak lama kemudian ia sudah menyeret tiga batang bambu yang sudah ia patah-patahkan cabang-cabangnya.

Dengan bambu ini dipasang melintang, dapat menghampiti Bi Li yang betul saja tidak be rge rak sama

sekali sehingga ia terbenam hanya sampai di pinggang, tidak le bih. Akan tetapi matanya berlinang air mata, mukanta pucat dan bibirnya gemetar. Berdiri di atas tiga batang bambu itu, Tiang Bu dapat berjalan dengan mudahnya, karena bambu-bambu yang panjang itu tidak tenggelam, seperti se buah perahu rakit.

(Bersambung jilid XVIII.)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Oktober 2022 :)

On Progres......

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain