Terima Kasih buat yang sudah donasi, semoga rezeki cianpwee sekalian dilipatgandakanšŸ™

Tangan Geledek Jilid 15

Jilid 15

KARENA tertarik, Tiang Bu cepat menye linap di antara pepohonan dan menuju tempat pertempuran. Dan di dekat sungat ia melihat pemuda tampan dan gadis jelita itu benar- benar tengah bertempur melawan seorang pemuda tampan yang lain yang hebat sekali kepandaiannya. Pemuda itu tampan, bertubuh jangkung kurus, dahinya lebar seperti botak, mulutnya tersenyum-senyum mengejek dan mata yang bersinar-sinar aneh! Yang hebat, ia mainkan senjata yang luar biasa sekali, yaitu sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjangnya dua kaki, terbuat dari pada bambu badan batangnya dan tempat apinya dari tanah.

Akan tetapi ia mainkan huncwe itu secara luar biasa sekaIi. Jelas kelihatan oleh Tiang bu bahwa pemuda tampan ini mainkan senjata huncwenya seperti orang mainkan pedang dan ilmu pedangnya inilah yang hebat.

"Eh, seperti Soan-hong-kiams ut (llmu Pedang Angin Puyuh) …… eh, me ngapa begitu? Itu seperti Soan-lian kiamsut (Ilmu Pedang Teratai Saju') .....” Tiang Bu berkata seorang diri ketika matanya mengikuti permainan pedang yang dilakukan dengan huncwe itu. Apalagi ketika tiba- tiba ia merasa sambaran huncwe itu mendatangkan hawa dingin, ia tidak ragu lagi bahwa tentu pemuda ini mengerah tenaga dalam Ilmu Pedang Teratai Salju, semacam ilmu pedang disertai lweekang tinggi yang asalnyn dari Omei -san!

"Siapa dia yang begini lihai .....?” Tiang Bu dalam hati, membuat ia ragu untuk mencampuri pertempuran itu. Akan tapi kakak beradik itupun ternyata memiliki  kepandaian yang tidak rengah. Hebat se kali adalah dara jelita itu, karena ia menghadapi lawannya dengan senjata yang lebih luar biasa lagi, yaitu dua ekor ular belang di kedua tangan kanan kiri. Melihat senjata aneh  di tangan  dara  cantik ini, Tiang Bu, melengong dan seperti dibuka matanya. Teringatlah akan peristiwa  di  puncak Gunung Omei-san  ketika  ia melihat  dua orang gadis  kecil  bertempur,  yang se orang adalah Lee Goat adiknya dan gadis kedua bukan lain adalah gadis ini. Tak salah lagi! Dan pemuda itu ...... pemuda yang sekarang mempergunakan pedang dengan amat indahnya mengeroyok pemuda be rhuncwe itupun bukan lain adalah pemuda yang kemudian datang melerai adiknya yang berkelahi. Akan tetapi, pendapat ini tetap saja tidak mendatangkan keyakinan di hati Tiang Bu apakah ia harus membantu mereka. Ia tidak mengenal mereka, juga tidak mengenal pemuda lihai berhuncwe itu, kalau tanpa mengetahui urusannya ia membantu sefihak, itu tidak adil sekali. Akan tetapi kalau didiamkanya saja. juga tidak betul karena ia merasa  khawatir sekali  akan keselamatan gadis itu.

Selagi ia ragu ragu, terdengar pemuda berhuncwe itu tertawa, suara ketawanya sungguh-sungguh berlawanan dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang halus. Suara ketawanya parau, kasar dan kurang ajar. Apalagi ucapannya yang menyusul ketawanya itu, "Ha, ha ha, menurut patut aku harus membikin mampus kalian ini, budak-budak bangsa Kin! Akan tetapi ...... aduh sayang sekali kau, gadis manis. Mari ikut dengan aku mengejar kebagiaan, dan aku akan mengampuni jiwa budak yang menjadi kakakmu ini.”

Kata-kata ini saja cukup bagi Tiang Bu untuk mengambil keputusan membantu gadis itu. Bukan karena ia kini tahu bahwa gadis dan kakaknya itu bangsa Kin, ia tidak mempunyai hubungan dengan bangsa Kin, akan tapi kenyataan bahwa pemuda berhuncwe itu ternyata cabul dan jahat cukup membuat ia menganggapnya bersalah.

“Se tan pe madatan jangan kau menjual lagak,” bentak Tiang Bu dan begitu ia menyerbu, pemuda berhuncwe itu terkejut setengah mati. Tadinya ia sudah melihat datangnya pemuda sederhana ini, akan tetapi tidak memperhatikannya dan tidak memandang sebelah mata, mengira bahwa pemuda itu bukan lain adalah seorang di antara "kuli-kuli" pemuda dan gadis itu. Kiranya sekarang begitu membentak dan me nyerbu dengan tangan kosong angin dorongan tangannya menyambar hebat dan hampir saja huncwenya terlepas dari pegangan dan hampir terampas kalau saja tidak cepat-cepat melompat mundur.

Dara jelita dan pemuda itu seperti pembaca sudah dapat menduga adalah Wan Bi Li dan kakaknya, Wan Sun, melihat datangnya benturan, dapat  bernapas  lega.  Tentu saja mereka mengenal Tiang Bu sebagai pemuda yang kemarin mengejar-ngejar Ceng Ceng, akan tetapi karena sekarang pemuda ini membantu mereka melawan si pemegang huncwe yang lihai, mereka segera bersiap untuk mangeroyok pemegang huncwe itu.

Pada saat semua barang dari dalam kuil  sudah diangkut ke sebelah perahu besar yang sejak tadi berada di tepi pantai sungai dan muncullah seorang panglima gundul dari dalam perahu itu.

“Bi Li dan  kongcu, mari  kita berangkat!” seru panglima ini dengan suara keras. Dua orang pemuda itu biarpun ragu- ragu tak berani membantah perintah ini dan segera me reka melompat keluar dari kalangan pertempuran, membiarkan Tiang Bu seorang diri  menghadapi  si  pemegang huncwe, te rus mereka berlompatan lari ke atas perahu.

"Gadis manis tunggulah aku!” Si pemegang huncwe berseru dan tubuhnya berkelebat mengejar. Bukan main cepatnya gerakannya ini kare na tahu- tahu ia sudah berada di dekat Bi Li yang melarikan diri dan begitu mulutnya ditiupkan segulung asap ungu menyambar ke arah muka Bi Li dan gadis itu terguling ! Akan tetapi, Tiang Bu yang tadinya bengong dan heran mengenai panglima gundul di perahu besar itu adalah Kwan Kok Sun atau orang gundul yang dahulu membunuh suhunya, Bu Hok Lokai kini menjadi sadar melihat tergulingnya Bi Li. Ia berseru keras dan pemuda berhuncwe yang sudah membungkuk untuk menyambar tubuh Bi Li, tiba-tiba terpental dan bergulingan sampai beberapa tombak jauhnya. Ternyata ia telah kena didorong oleh Tiang Bu yang marah sekali.

Hebatnya, dorongan yang dilakukan dengan tenaga lweekang besar itu agaknya tidak melukai pemuda berhuncwe ini. Ia telah bangkit kembali dan telah melompat ke dekat Tiang Bu dengan muka bengong terheran, bahkan saking herannya meli hat kelihaian Tiang Bu tadi, ia sampai tidak memperhatikan dan tidak perduli lagi melihat Bi Li dipondong oleh kakaknya dan dibawa lari ke atas perahu.

Kemudian perahu dengan cepat berlayar ke tengah sungai yang sedang banjir !

"Bagus, jadi kau mempunyai sedikit kepandaian? Setan belang, kau ini siapakah berani sekali mencampuri urusanku!”

Tiang Bu tersenyum, lega melihat gadis manis itu sudah pergi dengan aman. Kini ia mendapat banyak ke sempatan untuk melihat dan memperhatikan pemuda itu. Pemuda itu paling banyak berusia dua puluh satu tahun dan biarpun wajah dan gerak-geriknya serta pakaiannya menandakan bahwa dia itu seorang sopan terpelajar namun sepasang matanya membuat orang berdebar ngeri. Sepasang mata mempunyai sinar yang aneh menyambar-nyambar dan seperti bukan mata manusia. Di dalam matanya inilah letak keistimewaan dan mungkin kejahatan pemuda ini, pikir Tiang Bu, kagum melihat seorang masih begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi. Ia amat tertarik kare na tadi ia mengenal dua ilmu pedang terbayang dalam ilmu pedang yang dimainkan dengan huncwe oleh pemuda ini, dan dua ilmu pedang yang berasal dari Omei-san.

"Sobat, ilmu silatmu hebat sekali. Sayang kau berlaku kurang sopan kepada seorang gadis terhormat. Setelah gadis itu pergi, perlukah kita meneruskan permusuhan ?

Bukankah lebih baik kita berkenalan  ? Namaku Tiang Bu dan aku sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengan kau, hanya tadi aku ingin menolong nona itu “

Akan tetapi ia melongo ketika tiba-tiba pemuda berhuncwe itu terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dan kadang-kadang menatap wajahnya. Tiang Bu merasa seakan-akan mukanya ada coretan arang, ia menjadi gemas sekali akan tetapi diam-diam ia meraba-raba mukanya kalau kalau muka itu kotor dan kelihatan lucu membuat orang tertawa seperti tadi.

"Ha-ha ha-ha, kau ...... ? Kau yang bernama Tiang Bu

...... !? Ha-ha ha ha. kok begini saja macamnya ? Lucu......

lucu !”

Pada saat itu, dari jauh terdengar suara wanita bertanya. "Twako kau tertawa- tawa gembira ada apakah ?"

Mendengar pertanyaan ini, pemuda Itu makin keras ketawanya dan Tiang Bu diam-diam terkejut. Suara pertanyaan Itu dikeluarkan orang dari tempat jauh dengan pengerahan ilmu Coan im-jip-bit (Mengirimi Suara dari Jauh)  yang cukup lihai,  tanda  bahwa  wanita  yang bicara tadipun memiliki kepandaian tidak boleh dipandang ringan.

"Moi.moi, kalian lekas datang ke sini. Ada hal yang amat menyenangkan dan menggelikan hati. Lekas!” Pemuda berhuncwe menjawab, juga dengan pengerahan Ilmu Coan lm-jip-bit ke arah barat dari mana suara datang.

Baru saja gema suara ini lenyap, dari barat berlari datang dua orang gadis berpakaian serba merah dan ketika dua orang gadis itu datang dekat, Tiang Bu mendapat kenyataan bahwa mereka ini masih muda belia, paling banyak usia mereka sembilan belas dan delapan belas tahun, keduanya cantik-cantik dan manis-manis menggairahkan. Apalagi cara mereka berpakaian amat ketat dan ringkas, mencetak

be ntuk tubuh mereka yang bagaikan kembang baru mekar- mekarnya sehingga muka Tiang Bu menjadi merah padam melihat lekuk-lekuk tubuh yang ke ncang menantang dan dicetak oleh pakaian tipis, padahal biasanya disembunyikan rapat-rapat oleh setiap orang gadis sopan. Gadis pertama yang mempunyai tahi lalat merah kecil di dagunya berusia paling banyak sembilan belas tahun, matanya galak kejam akan tetapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum manis sekali. Gadis kedua yang lebih muda sedikit amat menarik karena memiliki sepasang mata yang bening dan indah bentuknya, bergerak- gerak dengan amat genit,

ke rlingnya  tajam menyambar-nyambar  dari ujung mata.

"Apa yang menyenangkan hati twako tanya gadis bertahi lalat sambil memandang kearah Tiang Bu. "Apakah pemuda seperti ini kau bilang menyenangkan ?"

"Biarpun tidak menyenangkan, memang betul dia menggelikan," kata gadis ke dua dan kerlingnya menyambar ke arah muka Tiang Bu yang menjadi makin merah, semerah warna pakaian dua orang dara lincah ini. "Enci Lin, kaulihat, matanya lapar betul."

Memang sepasang mata Tiang Bu menyapu mereka berdua dan nampaknya "lapar" sekali, padahal pemuda ini memperhatikan mereka karena amat tertarik melihat keadaan mereka ini seperti yang digambarkan oleh Ceng Ceng! Tahi lalat di dagu itu! Dan sikap dua orang gadis ini, tak salah lagi inilah dua orang gadis she Liok yang telah merampas *kItab Omei-san dari tangan Ceng Ceng. Sebelum ia sempat menegur atau bertanya, pemuda yang memegang huncwe itu sudah berkata,

“Kalian tidak tahu, beliau ini bukan orang lain, akan tetapi inilah dia yang be rnama Tiang Bu !"

Disebutnya nama ini benar-benar mendatangkan perubuhan besar pada dua orang dara manis itu. Lcnyap muka yang tadinya geli mentertawakan itu, terganti oleh perasaan heran, kagum, dan bahkan ..... mencari-cari muka.

"Memang namaku Tiang Bu apakah anehnya dengan itu

? Kalian ini siapa?”

Pemuda be rhuncwe itu membusungkan dada, berdiri dengan sikap menantang di depan Tiang Bu, lalu menjawab dengau suaranya yang kasar dan se rak,

“Mau tahu namaku? Aku...... Cui Kong namaku tidah kalah baiknya dengan namamu, juga aku lebih tampan. Adapun tentang kepandaian, aku tidak kalah kalau belum mencoba. Sambut ini !” Begitu kata-kata ini dike luarkan huncwe itu meluncur cepat menusuk tenggorokan Tiang Bu, disusul oleh tangan kiri yang masuk ke perut dengan telapak miring seperti pedang membacok. Inilah serangan maut yang luar biasa lihai dan berbahayanya.

"Bagus !” seru Tiang Bu yang cepat sekali reaksinya menghadapi serangan dahsyat yang dilancarkan secara tiba- tiba ini. Ia maklum bahwa pemuda di depannya ini tidak main-main dan menyerangnya dengan mati-matian, begitu pula bahwa pemuda yang mengaku bernama Cui Kong ini memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada kepandaian Ceng Ceng, bahkan lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li dan kakaknya. Cepat ia mengerahkan ginkangnya, berkelebat mengelak tusukan huncwe ke  tenggorokan sedangkan tangan kiri lawan yang “membacok" perutnya itu ia sambut dengan tangan kanan untuk dicengkeram. Akan tetapi Cui Kong ternyata cerdik dan gesit sekali. Rupanya pemuda tampan inipun  sudah  dapat  menduga akan ke lihaian Tiang Bu dan karenanya merasa jerih untuk mangadu tangan. Cepat ia menarik kembali tangan kirinya yang seperti see kor ular tahu-tahu telah menyusup ke dalam

saku bajunya dan keluar lagi, kemudian dibarengi bentakan aneh, dari mulut  pemuda  itu menyambar asap ungu dan dari tangan kirinya menyambar jarum-jarum hitam, sedangkan huncwenya meluncur lagi ke arah ulu hati Tiang Bu. Sekaligus tiga macam serangan yang dapat merenggut nyawa telah mengurung Tiang Bu.

“Ganas dan keji...... !" seru Tiang Bu kaget. Ia cepat melompat sambil mengumpulkan sinkangnya menggerakkan tangan berulang-ulang untuk memukul runtuh jarum-jarum hitam yang menyambar ke arahnya itu dengan hawa pukulannya, sedangkan dengan tenaga khikang yang

mengagumkan, ia meniup arah asap ungu itu sehingga buyar dan terbang tetbawa angin.

“'Hebat....... !" demikian dua orang gadis menonton pertempuran itu memuji kepandaian  Tiang Bu.  Juga  Cui Kong diam-diam merasa kagum dan kaget  sekali  melihat cara Tiang Bu menghadapi semua se rangan dengan demikian aneh dan mudah. Namun masih merasa penasaran dan dengan marah kembali menyerang dengan empat cara, yaitu dengan huncwe, dengan asap ungu, dengan jarum- jarum hitam atau dengan tangan kirinya. Setiap gerakan dalam serangan ini merupak tangan maut menjangkau ke arah nyawa Tiang Bu, karena serangan huncwe selalu ditujukan kepada bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan asap ungu  dan  jarum hitam itu semuanya  mengandung racun yang amat jahat, juga pukulan-pukulan tangan kiri selalu mengarah jalan darah kematian. Menghadapi serangan-serangan lawan yang amat ganas ini, Tiang Bu marah sekali. Akan tetapi dia tidak sekeji Cui Kong dan tidak mau dia menewaskan orang tanpa se bab. Kalau Tiang Bu menghendaki, dengan ilmunya yang jauh masih berada di atas tingkat Cui Kong kiranya mudah saja ia mengeluarkan serangan maut sebagai balasan yang takkan mungkin dapat dihindari oleh lawannya. Akan tetapi Tiang Bu tidak berniat membunuh orang. Ia hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian pemuda ini dan ingin mengalahkannya tanpa membunuh atau melukai berat. Inilah yang sukar karena pemuda inipun bukan orang lemah dan memiliki kepandaian tinggi sekali,  maka mengalahkan dia tanpa melukai  berat atau membunuh, hanya mudah dibicarakan akan tetapi pelaksanaannya sukar sekali.

"Aha, kau benar lihai, dan hatimu lemah sekali. Ha ha- ha!” berteriak-teriak Cui Kong memuji dibarengi ejekan- ejekan yang memanaskan hati. “Lihat, alangkah manisnya Cui Lin dan Cui Kim itu, alangkah bagusnya bentuk badannya. Eh, Tiang Bu, kalau kau bisa me nangkan aku, akan kuberikan mereka kepadamu untuk menyenangkan hatimu!”

Tiang Bu marah sekali dan berusaha sekerasnya untuk merobohkan lawan yang lihai tangan lihai mulut ini. Seratus lima puluh jurus sudah lewat dan selama itu Tiang Bu tetap menghadapinya dengan tangan  kosong.  Makin  lama Tiang Bu makin terkejut oleh karena ilmu silat dari pemuda di depannya itu selain lihai sekali juga banyak macamnya dan diantaranya terdapat  ilmu pedang yang sifatnya  tak salah lagi bers umbe r pada ilmu-ilmu Omei-san Di lain pihak, biarpun mulutnya mengome l namun Cui Kong diam-diam merasa panas bukan main. Belum pernah selama hidupnya menghadapi lawan sehebat ini yang melayani huncwe dan senjata-senjata rahasianya hanya dengan dua tangan kosong untuk selama seratus lima  puluh  jutus, sedikitpun  tak pernah terdesak bahkan mendesaknya dengan hebat. Saking ge mas dan penasaran, ia melompat mundur dan melakukan pelanggaran apa yang dilarang oleh ayahnya,  yaitu melakukan pukulan dahsyat ajaran ayahnya. Pukulan Tin- san-kang (Pukulan Mendorong Gunung). Tubuhnya agak merendah setengah berjongkok selagi Tiang Bu mengejar maju, Cui Kong dorong dengan kedua tangan kosong ke depan mulutnya membentak, “Roboh !!"

Hebat tekali pukulan Tin-san-kang ini. Pukulan ini asalnya ciptaan seorang tosu kenamaan, ketua lm-yang bu pai dan bernama Giok Seng Cu. Tosu rambut panjang ini adalah murid Pak Hong Siansu. Oleh Giok Seng Cu ilmu ini diturunkan kepada Liok Kong Ji dan dari Liok Kong Ji menurun kepada Cui Kong. Dalam me nggunakan ilmu ini, te rnyata Cui Kong tidak kalah lihainya oleh Liok Kong Ji.

Tiang Bu meras a seperti terbawa tiupan angin  ke ras,  dan ia tidak kuasa menahan lagi. Biarpun ia sudah mengerahkan te naga sehingga pukulan ini sama sekali tidat dapat melukainya, namun dorongan hawa pukulan dahsyat ini membuatnya terlempar ke belakang dan roboh terlentang!

Saking kaget dan kagumnya ia tidak cepat-cepat berdiri dan ini dipergunakan oleh Cui Kong yang berwatak licik. Melihat betapa Tiang Bu hanya roboh saja dan pada mukanya tidak terlihat tanda kesakitan melainkan ke heranan, Cui Kong masih belum puas akan kemenangannya, cepat ia melompat mendekati dan kini dari jarak dekat ia melancarkan pukulan Tin-san-kang pada perut Tiang Bu. Pukulan maut !

Kali ini Tiang Bu tidak mau mengalah lagi karena menghadapi bahaya sebesar itu, mengalah berarti mati. Dengan tubuh masih telentang di atas tanah, ia menggerakkan kedua tangannya dipukulkan ke atas, ke arah dua tangan Cui Kong yang menghantamnya.

Biarpun tidak kelihatan dua pasang tangan bertemu, namun pertemuan dua tenaga raksasa di te ngah udara itu akibatnya hebat sekali. Tubuh Tiang Bu yang terlentang itu melesak ke dalam tanah sampai sejengkal lebih, sedangkan tubuh Cui Kong bagaikan tertendang dari bawah, terpental ke atas kemudian roboh lemas dan muntah-muntah darah !

"Saudaraku Tiang Bu, aku mengaku kalah kau patut

menjadi putera sejati dari ayah.....” kata Cui Kong dan dua orang gadis itu maju dan merangkul pundak Tiang Bu. “Koko, kau be nar-benar lihai sekali….” kata Cui Lin sambil meremas remas tangan Tiang Bu.

*Koko, kau nanti harus ajarkan pukulan hebat itu kepada adikmu ini, biar upah. kuberi dulu ...... " kata Cui Kin dan cepat me raih kepala Tiang Bu untuk ditarik dan diciumnya pipi pemuda itu dengan bibir dan hidungnya.

Hal ini sama sekali di luar dugaan Tiang Bu. Karuan saja ia menjadi gelagapan hampir saja ia mendorong dua orang gadis itu kalau saja t idat terjadi hal yang aneh di dalam dirinya. Entah mengapa, begitu dua orang gadis itu merangkulnya dan bersikap manja dan manis, begitu kulit lengan yang halus putih bersentuhan dengan kulit leher dan lengannya, begitu keharuman bunga-  bunga  yang keluar dari pakaian mereka menyentuh hidungnya, tiba-tiba saja Tiang Bu menjadi panas seluruh tubuhnya. Dadanya berdebar tidak karuan, kepalanya seperti berdenyut-denyut, pandang matanya berkunang dan pikirannya menjadi tidak karuan. Tiba-tiba saja timbul sesuatu yang mendorongnya untuk merasa senang, merasa gembira berse ntuh kulit dengan dua orang gadis ini, bahkan membuatnya ingin membalas dan menyambut tangan dan belaian mereka.

Pe ndeknya dalam waktu singkat dan secara aneh sekali, nafsu binatang telah menguasai hati dan pikiran Tiang-Bu, sukar untuk dilawan lagi.

Sementara itu, Cui Kong sudah bangun berdiri dan menghapus darah yang me lumuri bibirnya, lalu menghampiri Tiang Bu sambil menjura dan berkata,

'Benar-benar siauwie takluk sekali, kepandaian Tiang Bu koko patut dikagumi dan tentu akan membanggakan hati ayah kita."

Tiang Bu agak tersadar dari pada buaian pengaruh aneh yang memabokkannya melihat kedatangan Cui Kong, akan tetapi ia menjadi terheran- heran. "Kalian ini siapakah ? Dan apa maksud kata-kata yang ganjil itu?' “'Saudara tua Tiang Bu harap maklum bahwa aku adalah putera angkat dari ayahmu Liok Kong Ji, jadi kita masih terhitung saudara, dan mereka ini, Cui  Lin dan Cui Kim adalah ……”

“Kami juga saudara-saudara angkat, akan tetapi seperti telah dijanjikan oleh Cui Kong toako tadi, setelah dia kalah maka kami menjadi...... ' setelah berkata demikian, dengan stkap genit sekali Cui Lin menggandeng tangan kanan Tiang Bu sedangkan tangan kiri pemuda itu digandeng oleh Cui Kim ! Adapun Cut Kong memandang dengan tersenyum girang, lalu katanya.

"Tiang Bu koko, mari silakan mengaso di tempat di mana kita dapat bercakap- cakap dengan senang."

"Kita bukan saudara...... " bantah Tiang Bu lemah karena hatinya makin tidak karuan ketika dua tangannya digandeng dan dibelai oleh dua orang dara cantik itu, "Aku aku

bukan anak Liok Kong Ji      ”

Akan tetapi sambil tertawa-tawa Cui Kim berkata, "Aah, koko jangan kau main-main dicubitnya lengan pemuda itu dan ditarik-tariknya maju. Sambil tcrtawa-tawa dua orang gadis itu membetot Tiang Bu yang terpaksa berjalan bersama mereka, singguhpun mukanya masih memperlihatkan keraguan Cui Kong di sepanjang jalan terus menerus 'bernyanyi” memuji kegagahan, kelihaian Tiang Bu. Bahkan kini dua orang gadis itu mulai memuji-muji ketampanan Tiang Bu, pada hal tadi mereka mencela. Anehnya. Tiang Bu yang biasanya be rwatak gagah dan bersemangat, kini seakan-akan pikirannya diselubungi sesuatu yang membuat

daya pikirannya tumpul, membuat ia seperti kehilangan semangat dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh nafsu, kotor. Tentu saja ia tidak menyangka sama sekali bahwa hal ini adalah akibat pengeruh katak ajaib yang ada di dalam saku bajunya! Katak hijau itu memang betul semacam katak yang beracun aneh, seperti yang pernah dikatakan oleh  Pek- thouw tiauw-ong Lie Kong bahwa katak hijau itu adlah katak pembangkit asmara. Racun yang keluar dari tubuh katak itu menjalar kepada orang yang membawanya dan

mendatangkan pengaruh yang luar biasa kuatnya sehingga

orang yang membawanya akan diserang nafsu berahi yang tidak sewajarnya, membuat orang itu gelap mata dan kehilangan semangatnya. Kalau si pembawa tidak bersentuhan kulit dengan wanita, maka pengaruh katak itu tidak terasa. Akan tetapi sekali orang bersentuhan kulit dengan seorang wanita, ia akan terpenguruh hebat sekali, apa lagi jika yang terpengaruh itu orang yang memang pada dasarnya mempunyai watak romantis. Adapun Tiang Bu, sebagai putera Liok Kong Ji yang aseli, ternyata sedikit banyak ada “darah” ayahnya mengalir di tubuhnya yang membawa watak "gila perempuan' dari ayahnya itu kepadanya. Oleh sebab inilah maka mudah sekali dibinggapi penyakit dari racun katak itu.

Bagaikan orang mabuk, Tiang Bu menurut saja digandeng dan ditarik oleh Cui Lin dan Cui Kim, se perti

see kor kerbau ditarik hidungnya. Mereka menuju ke sebuah pondok kecil yang berada di sebuah hutan, be las an li dari pantai sungai tadi di mana perahu besar ng membawa Bi Li dan Wan Sun menghilang.

Seperti kelenteng tua yang ditinggali Bi Li dan Wan Sun tadi, pondok inipun dalamnya serba indah dan mewah, bahkan di sini terdapat tiga orang pelayan laki-laki. Cui Kong segera memberi perintah kepada para pelayan untuk mengeluarkan hidangan arak wangi dan Tiang Bu dijamu dengan segala kehormatan.

Dengan ramah-tamah Cui Kong menuangkan arak wangi dalam cawan besar penuh dan memberikan cawan itu kepada Tiang Bu. "Tiang Bu koko, silakan menerima ucapan selamat bertemu dari siauwte dengan se gelas arak

“'Aku...... aku tidak biasa minum arak,” kata Tiang Bu menolak. Akan tetapi Cui Kim merangkul lehernya dan menerima cawan arak itu lalu menempelkannya pada bibir Tiang Bu sambil berkata "Koko, apakah kau tidak suka kepada kami. Terimalah. biar ucapan selamat itu ditambahi oleh penghormatanku.” Dihadapi bujuk rayu oleh si jelita dalam keadaan dia sedang terpengaruh oleh racun  katak hijau, mana Tiang Bu dapat menolaknya? Sambil tersenyum- senyum bingung ia akhirnya menerima juga minum arak itu. Akan tetapi begitu arak itu mrmasuki mulutnya, hawa sinkang di dalam tubuhnya otomatis naik den menahan arak itu sehingga tidak sampai masuk ke tenggorokan. Tiang Bu merasa sesuatu yang panas, pedas dan nenusuk-nusuk dari arak itu maka di dalam setengah sadarnya ia bercuriga.

Cepat ia memutar kepala ke samping dan menyemburkan arak itu ke tanah.

“Racun...... !" katanya. Sebenarnya seruan  itu hanya karena kagetnya saja merasa sesuaru yang amat tidak cocok di dalam mulutnya, akan tetapi tanpa disengaja ia telah mengeluarkan seruan yang amat tepat. Kalau saja Tiang Bu memperhatikan, tentu ia melihat betapa wajah Cui Kong dan dua orang gadis itu me njadi pucat. Bahkan Cui Kong sudah menarik huncwenya, bersiap kalau-kalau Tiang Bu akan menyerang. Akan tetapi karena melihat Tiang Bu tidak menyerangnya, Cui Kong lalu menyambar cawan arak di tangan Tiang Bu yang masih ada sisa araknya.

"Kurang ajar, kau berani mencoba meracuni kakakku?" bentaknya kepada pelayan yang tadi menge luarkan hidangan.

“Tidak ...... siauwya...... bukankah siuwya menyuruh hamba ”

Kata-kata pelayan yang menjadi ketakutan itu dipotong cepat oleh Cui Kong. “Aku menyuruhmu mengeluarkan arak te rbaik dan yang paling wangi, akan tetapi apa yang kauhidangkan? Arak obat luka, arak yang mengandung racun. Hayo kauminum ini!” Ia mengulurksn tangan memberikan cawan itu, akan tetapi pelayan itu dengan muka pucat dan tubuh gemetar mundur tidak mau menerimanya.

'Tidak...... tidak...... ampun siauwya…”

Akan tetapi sebuah totokan dengan ujung huncwe membuat pelayan itu berdiri kaku dengan mulut ternganga, kemudian sekali menggerakkan cawan, isi cawan itu tertuang ke dalam mulut terus memasuki perut si pelayan yang bernasib malang. Setelah itu Cui Kong menotok pula

jalan darah pelayan itu membebaskannya. Akan tetapi racun sudah bekerja dan seke tika itu juga pelayan itu terjungkal, berkelojotan dan mati.

“Akh, mengapa dia dibunuh?” Tiang Bu mencela, kaget dan ngeri.

"Dia tentu pesuruh musuh-musuhmu, twako. Dia itu pelayan yang baru saja tiga hari bekerja pada kami. Kalau tidak dibunuh, dia bisa berbahaya," jawab Cui Kong yang segera me nyuruh dua orang pelayan lain untuk mcngurus mayat pelayan sial itu. Kemudian ia mengundurkan diri dan mempersilakan Tiang Bu bersenang-senang dengan dua orang gadis itu.

Tiang Bu benar-benar seperti orang lemah. Tak kuasa ia mengusir pengaruh racun katak pembangkit asmara itu dan akibatnya membawa ia seperti buta, tidak dapat ia menolak cumbu rayu kedua orang gadis yang sikapnya amat manis, mesra dan penuh cinta kasih kepadanya. Tiang Bu menjadi lupa akan segala ilmu batin yang pernah dipelajarinya, ia tidak berdaya dan menurut saja dirinya dibawa dan diseret ke jurang kehinaan oleh dua orang gadis yang biarpun pada lahirnya cantik-cantik, namun di lubuk hatinya sebetulnya adalah siluman-siluman bermuka manusia ini.

Pada keesokan harinya, seperti orang yang baru sadar dari maboknya, Tiang Bu mendapatkan dirinya terlentang di atas pembaring, di dalam kamar yang indah dan harum. Ia tak melihat Cui Lin dan Cui Kim dan tubuhnya terasa kaku dan sakit-sakit ketika ia hendak bangun. Pada saat itu, perasaannya yang sudah terlatih, juga berkat sinkangnya yang tinggi. ia tahu akan  adanya  senjata-senjata rahasia yang menyambar. Cepat sekali reaksinya dan di lain saat ia telah mengge lundungkan tubuh ke bawah ranjang dan cepat melompat berdiri pada saat ujung huncwe di  tangan Cui Kong menusuk ke arah matanya.

Tiang Bu kaget bukan main. Se rangan ini luar biasa cepatnya dan pula sedang dalam keadaan limbung. pikirannya masih belum sadar benar, baiknya  ilmu silat yang dilatih be rtahun tahun oleh Tiang Bu adalah ilmu silat tinggi yang jarang bandingannya di dunia. Kedua kakinya

secara otomatis sudah bergerak menurutkan Ilmu Kelit Sam- hoan-sam-bu. Kedua kaki ini ketika bergerak dalam I lmu Kelit Sam-hoan-sam-bu, seakan-akan dua ekor ular saja

lemasnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melejit ke samping dan bebaslah ia dari tusukan yang mengarah matanya.

Sebelum ia dapat mengatur kembali posisinya. Cui Kong telah menerjangnya lagi dengan ilmu silatnya yang cepat dan lihai, dengan serangan-serangan bertubi-tubi yang amat ganas dan dahsyat. Kamar itu cukup lebar, tetapi karena di situ terdapat meja kursi, sukar juga bagi Tiang Bu untuk menghindar diri dari serangan-serangan yang bertubi-tubi dan amat lihai itu, sehingga dua kali ia terkena juga tusukan ujung bambu huncwe, sekali pada pahanya, dan kedua kalinya pada pundaknya. Baiknya tubuh pemuda ini sudah luar biasa kuatnya, kebal dan tidak mudah terluka sehiogga tusukan-tusukan yang de mikian cepat dan kerasnya itu hanya merobek pakaian dan sedikit daging di bawah kulit saja, sama sekali tidak mendatangkan luka yang

membayakan.

Marahlah Tiang Bu. Tadinya ia belum membalas karena tidak tahu apa sebabnya ia diserang mati-matian oleh pemuda yang mengaku sebagai saudararya itu. Akan tetapi, luka-luka di pundak dan pahanya membuat ia maklum bahwa tanpa perlawanan, ia akan menghadapi malapetiaka. Sambil berseru keras yang merupakan bentakan dahsyat, Tiang Bu mementang kedua tangannya dan sepuluh jari tangannya didorongkan ke depan. Inilah pukulan dahsyat sekali  dari  Ilmu Pukulan Pek-lo  (Jari-jari  Geledek). Masih balk bagi Cui Kong bahwa Tiang Bu tidak bermaksud membunuhnya maka pukulan dahsyat ini ditujukan ke bawah. Cui Kong menjerit keras  dan terlempar keluar kamar, kedua tulang pahanya remuk.

Tiang Bu hendak melompat keluar pula, te tapi tiba-tiba Cui Lin dan Cui Kim lari masuk dan memeluknya.

"Koko yang baik, jangan bunuh dia….” Cui Lin me mbujuk sedangkan Cui Kim memeluknya erat-erat. Begitu dua orang gadis itu berada di dekatnya, lemaslah seluruh tubuh Tiang Bu, lenyap kemarahannya.

“Akan te tapi...... kenapa dia hendak membunuhku ?”

tanyanya, keningnya berkarut matanya bersinar penasaran.

“Duduklah ...... biar kuterangkan kepadamu " kata

Cui Lin dan bersama adiknya ia menyeret Tiang Bu untuk duduk di atas ranjang.

"Sesungguhnya, te rus terang saja, dia mempunyai hati kepadaku, akan tetapi aku tidak membalas cintanya dan

...... dan cinta padamu. Ini agaknya membuat iri dan cemburu dan tanpa tanya lagi dia me nyerangmu. Akan tetapi dia sudah mendapat bagiannya dan tentu kapok. Biar dia pergi dari sini, jangan kita perdulikan dia."

'Koko, kau ...... kau gagah parkasa hebat ...... !I" Cui Kim memuji dan nampak bangga sekali.

Untuk kedua kalinya Tiang Bu roboh. Racun katak sudah menjalar memasuki darahya membuat ia lupa daratan dan tidak tahu bahwa dua orang wanita cantik ini  mengatur siasat untuk  mencelakakannya.  Namun,  Cui Kim  dan  Cui Lin agaknya jerih menghadapi kelihaian ilmu silat Tiang Bu, sehingga sampai sebulan lebih mereka mengajak Tiang Bu bersenang-senang di tempat itu. Segala keperluan disediakan oleh dua orang pelayan itu dan anehnya, di tempat sesunyi itu apa saja yang dikehendaki mereka akan tersedia, makanan-makanan yang mahal atau minuman- minuman yang lezat. Dalam maboknya, hal inipun tidak menarik perhatian Tiang Bu, apalagi menimbulkan kecurigaannya.

Di luar pengetahuannya, makin lama tubuh Tiang Bu makin le mas. Racun katak itu memang hebat. Kalau yang dirangsang tidak melayaninya, racun itu takkan  ada gunanya dan akan mati sendiri. Sebaliknya, apabila orang yang dirangsang menuruti dorongan nafsu yang timbul dari rangsangan racun ini, racun itu akan bekerja makin hebat, mengeram dalam jalan-jalan darah dan menyerang jantung. Kalau bukan Tiang Bu. dalam waktu dua pekan saja orang yang menuruti nafsu akibat rangsangan racun ini akan kehabisan semua tenaganya dan darahnya akan keracunan sedemikian hebat yang akan merenggut nyawa. Baiknya Tiang Bu memang memiliki sinkang luar biasa, juga ia pernah mempelijari kitab Seng-thian-to dan melatih semacam yoga yang tertinggi, maka pengaruh racun itu dalam waktu sebulan lebih hanya membuat ia  lemas saja dan tenaga sinkangnya banyak yang lolos ke -luar !

Empat puluh hari  sudah lamanya Tiang Bu dipermainkan oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim dan masih tetap saja dua orang gadis ini jerih dan tidak berani sembarangan turun tangan terhadap Tiang Bu. Pada suatu pagi, Tiang Bu yang makin lemas  tubuhnya dan masih belum bangun dari tidurnya, akan tetapi dua orang wanita itu sudah berhias dan se dang mengatur hidangan pagi di atas meja. Tiba-tiba terdengar suara. "kok kok kok kok !" yang nyaring. Cui Lin dan Cui Kim sampai tersentak mendengar suara ini di dalam kamar. Mereka melihat Tiang Bu masih tidur dan ketika mereka mercari-cari, terlihatlah

kotak hitam berukir di bawah bantal Tiang Bu. Dengan hati- hati Cui Kim mengamhil kotak ini dan kembali terdengar suara nyaring seperti tadi. Cui Kim membuka perlahan tutupnya dan seekor katak hijau melompat keluar, terus

ia menycrbu ke atas meja dan ...... makan  makanan  buah yang berada di situ. Agaknya katak ini paling doyan manisan atau makanan yang manis-  manis  maka  tadi  ketika mencium bau manis-manis yang baru dihidangkan pagi ini,

ia memberontak dan berbunyi di dalam kotaknya. Katak aneh itu memang luar biasa biarpun tidak diberi makan sampai berbulan-bulan ia tidak apa-apa.

"Aneh sekali!" kata Cui Kim. 'Untuk apakah dia menyimpan seekor katak?'

"Hush, jangan keras keras. Kukira katak ini se macam katak ajaib yang besar kasiatnya. Biar kupegang dia," Cepat sekali tangan Cui Lin menyambar, namun sekali menggerakkan ping gul saja katak itu sudah dapat mengelak. Tiga kali Cui Lin menubruk, selalu katak itu dapat mengelak di atas meja, mengelili ngi piring berisi manisan itu.

"Pancing dengan manisan." kata Cui Kim yang segera mengambil semua manisan, disukkan ke dalam kotak. Benar saja, katak segera melompat dan  sekali melompat tahu-tahu ia telah  berada  di dalam kotak. Demikian  cepat lompatannya. Cui Kim cepat menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam sakunya.

Suara ribut-ribut ini me mbuat Tiang Bu bangun dari tidurnya. Dengan lemah dan ogah-ogahan ia membuka mata lalu bangkit duduk, memutar pinggang ke kanan kiri lalu bersila untuk bersamalhi seperti yang ia lakukan tiap malam dan pagi. Begitu panca indranya terkumpul dan pernapasannya jalan  dengan sempurna,  mendadak  ia merasa sesuatu yaig aneh sekali. Ia tidak rindu dan mencari- cari Cui Lin dan Cui Kim seperti biasa ia rasakan setiap saat kalau ia tidak tidur dan semangatnya perlahan-lahan datang kembali. Tiba-tiba saja pikirannya seperti dibuka dari selubungan tirai hitam gelap, membuat ia teringat segala kehinaan yang ia lakukan selama puluhan hari ini. Dan ia tiba-tiba menjadi malu dan terkejut sekali. Cepat ia membuka matanya dan melihat dua orang wanita cantik itu tengah memandangnya sambil tersenyum-senyum. Senyum mereka yang biasanya mendatangkan rasa nikmat pada perasaan Tiang Bu, kini me rupakan ejekan yang menikam kalbu, seperti mentertawakan kelemahan dan kedunguannya. Tak tertahan lagi Tiang Bu menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk mengusir bayang wajah dua orang suhunya  yang seakan-akan memandangnya dengan bengis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras untuk mengusir kata kata Tiong Sin Hwesio yang bergema di telinganya pada saat ia “sadar" itu.

"Tiang Bu muridku, syarat untuk menjadi seorang gagah adalah sama dengan syarat untuk me njadi seorang kuncu (budiman), karena seorang gagah itulah seorang budiman dan demikian sebaliknya. Kalau kau dapat mengalahkan seratus orang musuh, itu masih belum gagah. Sebaliknya kalau kau dapat mengalahkan iblis yang selalu datang dan hendak menguasai hati dan pikiran setiap orang, dapat mengalahkan iblis yang mengeram dalam dirimu sendiri, barulah kau patut mengaku sebagai murid Ome i-san! Hati- hati bahwa iblis menguasai batinmu adalah kalau kau

menghindari menyakiti hati, atau mencelakai lain orang yang tidak berdosa  hanya  untuk memuaskan  nafsu dan  benci, kau merugikan lain orang hanya untuk kepentingan dan keuntunganmu sendiri, kalau kau melakukan perbuatan

hina dan kotor untuk memuaskan nafsu, terutama sekali kalau kau berjina…….”

Kata-kata ini semua berdengung di telinga Tiang Bu dan akhirnya tak dapat tertahan lagi Tiang Bu menangis.

“Ampun suhu ...... ampunkan teecu…” katanya, masih menutup muka dan air matanya jatuh be rderai.

"Melakukan perbuatan salah itu sebuah kesesatan, akan tetapi tidak menghentikan perbuatan yang salah itu sebuah kesesatan lain yang lebih besar." suara Tiong Jin Hwesio bergema di telinganya, membuat semangat Tiang Bu bangkit dan ia menurunkan kedua tangannya, membuka matanya yang menjadi merah dan basah.

“Koko, kau kenapakah ?" kata Cui Lin.

“Agaknya kau mimpi buruk...... " kata Cui Kim sambil tertawa dan bersama encinya ia maju menghampiri Tiang Bu.

Akan tetapi Tiang Bu mengebutkan selimut ke arah mereka. 'Pergi kalian!" bentaknya keras. Selimut itu menyambar ke arah dua gadis ini yang tidak mampu mengelak. Akan te tapi sambaran selimut itu hanya mendatangkan rasa  pedas sedikit  pada  kulit. Maklumlah dua orang gadis ini bahwa Tiang Bu telah kehilangan banyak tenaganya sehingga pukulannya tidak berbahaya lagi.

“Twako ...... bantu kami........,!” tiba-tiba Cui Lin be rteriak sambil mencabut pedang diturut oleh Cui Kim. Me reka serentak nyerang Tiang Bu !

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Tiang Bu atas serangan yang sama sekali tak pernah disangkanya ini. Ia melompat dari atas perbaringan sambil mengelak dan dengan kecewa ia mendapat kenyataan betapa gerakannya tidak begitu gesit lagi. Namun berkat ilmunya yang tinggi, masih dapat ia menghindar sambaran-sambaran pedang dua orang kakak beradik yang malam tadi masih menjadi kekasih-kekasihnya yang kelihatannya mencintainya.

"Kerbau itu sudah cukup gemuk untuk disembelih?” Terdengar suara orang dan muncullah Cui Kong dengan huncwenya di tangan.

Selama puluhan hari ini, Cui Kong bersembunyi tak jauh dari situ, sambil mengobati luka-lukanya dan menyambung tulang-tul ang pahanya yang remuk oleh pukulan Tiang Bu, sementara dua orang wanita itu me rayu dan menyeret Tiang Bu ke lembah kehinaan mempergunakan kecantikan mereka dan di luar tahu semua orang, mereka mendapat bantuan dari katak pembangkit asmara!

Melihat pemuda ini muncul, pikiran Tiang Bu yang selama ini gelap dia tidak ingat apa-apa seperti dibuka. Dapatlah ia menduga bahwa selama ini ia memang sengaja dibikin mabok oleh dua orang.gadis itu dengan rayuan dan cumbuan mereka. Karena tidak dapat menangkan dia dengan ilmu silat, mereka telah menggunakan kecantikannya dan agaknya semua ini diatur oleh Cui Kong yang menjadi dalang di belakang layar! Marahlah Tiang Bu melihat pemuda itu dan cepat ia menubruk mengirim pukulan ke arah dada Cui Kong. Akan tetapi, dua orang "kekasihnya" yang selama puluhan hari dari malam berlaku amat manis kepadanya, kini merupakan lawan yang haus

darah dan pedang mere ka menyambar dari kanan kiri secara kilat. Terpaksa Tiang Bu menarik kembali serangannya terhadap Cui Kong untuk menge!ak dan menggunakan jari tangannya menyentil pedang dua nona itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika hampir saja jari-jari tangannya tcrbabat putus ketika bertemu dengan pedang! Masih baik ia cepat me lompat ke samping sambil menarik tanganya.

Ternyata bahwa tenaga sentilannyapun hilang kekuatannya. Pada saat itu, ujung huncwe di tangan Cui Kong sudah menyambar. Tiang Bu mencoba untuk mengelak, akan tetapi kedua kakinya lemas dan ia hanya se mpat miringkan tubuh. Namun ujung huncwe terus mengejar dan lrhrr belakangnya ditotok !

Tian Bu mengeluh. Kalau  biasanya, totokan seperti itu saja takkan mengakibatkan apa- apa karena hawa - sinkangnya tentu akan me lawannya, akan tetapi sekarang ia tidak kuat menolak sehingga jalan darahnya terkena totokan lihai, membuat ia lemas dan roboh terpelanting ketika Cui Kong menendang lututnya. Di lain saat, ujung dua  pedang dan sebuah huncwe telah menodong jalan jalan darah kematian, membuat ia tak berdaya sama sekali. "Ha ha ha tikus buruk. Kau mau apa sekarang?"  bentak Cui Kong, menusuk- nusuk kulit dada Tiang Bu memancing pemuda itu mengaduh. Akan tetapi biarpun kesakitan, Tiang Bu diam saja, sama sekali tidak mengeluh. Ia lebih banyak merasa hanteur hatinya mengingat akan kesesatannya dari pada merasa takut.

Dua orang nona itupun tertawa cekikikan. “Twako, kalau tidak ada kami dua orang wanita lemah, tak mungkin hari ini berhasil membekuknya," kata Cui Kim.

"Memang kalian anak anak baik dan pintar sekali, telah menjalankan siasatku secara sempurna. Tunggulah, kelak aku akan menyatakan terima kasihku kepada kalian," jawab Cui Kong sambil tertawa-tawa.

Mendengar ini, hati Tiang Bu makin hancur dan ia ingin memukuli diri sendiri karena kebodohannya. Mataku telah buta, pikiranku penuh penyesalan.

“Cui Kong, hayo kau bunuh saja aku. Orang macam aku memang layak dibunuh, tidak ada gunanya hidup!'  kata Tiang Bu sambil memandang kepada Cui Kong dengan mata mendelik.

"Ha-ha ha ha, .Tiang Bu. Kau merengek-rengek ingin minta kasihan? Apa kau mau mengingatkan aku bahwa kita masih saudara angkat?”

"Tidak, kaubunuhlah aku. Siapa sudi punya saudara angkat macammu? Juga aku bukan anak ayah angkatmu. Lebih baik mati !” jawab Tiang Bu gemas.

“Twako, tusuk saja jantungnya biar lekas beres . Se bal hatiku melihat monyet ini,” kata Cui Kim sambtl menekan ujung pedangnya sehingga ujung pedang itu masuk ke dalam daging di pundak Tiang Bu sampai mengenai tulang pundaknya. Dapat dibayangkan betapa nyerinya, namun Tiang Bu sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.

Jangankan mengeluh berkedippun tidak ! “Biarkan aku yang memenggal lehernya, dia sudah

terlalu banyak mempermainkan diriku. Aku ingin membalas sakit hati dan penghinaan itu!" kata Cui Lan dan nona ini mengayun pedangnya ke arah leher Tiang Bu yang menanti datangnya pedang dengan mata menantang berani.

"Traaangeg....,...... !. Pedang itu te rpental oleh tangkisan huncwe di tangan Cui Kong.

“Eh, twako...... apa kau tiba-tiba menjadi lemah hati dan penyayang ?"

"Lin-moi. jangan lupa akan pesan ayah? Dia boleh ditawan, boleh dibikin tak berdaya dan dihilangkan kepandaiannya, akan tetapi tidak boleh dibunuh. Dia berbahaya dan aku masih meninggalkan hutang kepadanya, biar sekarang kusurun dia membayarnya.” Setelah berkata demikian huncwenya bcrgcrak cepat sekali dan, .....

"krak...... krak.....!" tulang-tulang kaki Tiang Bu patah-patah oleh pukulan huncwe.

Rasa nyeri menyusup ke tulang-tulang seluruh tubuh Tiang Bu, membuat wajah menjadi pucat seperti mayat dan bibirnya tang tebal itu mengeluarkan darah karena digigitnya sendiri dalam menahan rasa sakit akan tetapi berkat kekerasan hatinya, ia masih sadar ketika ia diseret oleh Cui Kong dan dua orang nona itu, diseret keluar dari dalam pondok kemudian dilempar ke dalam jurang yang dalam di pantai sungai!

Dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, Tiang Bu mempergunakan kesempatan terakhir me nolong nyawa dari maut dengan cara membentangkan kedua lengannya mencari pegangan sesuatu penahan tubuhnya yang meluncur ke bawah, bergulingan di atas batu-batu yang tajam. Akhirnya ia tertolong, tangan kanannya dapat memeluk sebatang pohoa yang tumbuh di lereng jurang.

Mempergunakan sisa te naganya Tiang Bu memeluk batang pohon itu dan ia bcrhenti bergulingan. Agaknya Thian masih menghendaki supaya ia hidup. Setelah dapat menempatkan diri, duduk di atas batu di dekat pobon sambil memeluk batang pohon yang menjadi penolongnya itu, Tiang Bu pingsan. Tubuhnya menggelantung di pohon, matanya me ram dan napasnya lemah sekali.

-oo(mch)oo-

Biar kita tinggalkan dulu Tiang Bu yang berada dalam keadaan mati tidak hiduppun payah itu dan mari kita

mene ngok keadaan dunia luar jurang itu di mana terjadi hal- hal yang tidak kalah he batnja.

Pemimpin bangsa Mongol, Temu Cin yang pandai meminpin itu, makin lama makin terkenal di antara  para suku bangsa yang tinggal di daerah utara. Suku bingsa demi suku bangsa ia taklukkan, bahkan suku bangsa Kerait yang amat kuat dan yang tadinya selalu mengalahkan orang - orang Mangol,  dapat  ia  tundukkan.  Oleh karena semua orang menganggap Te mu Cin sebagai pemimpin besar yang amat boleh diandalkan,  pada  tahun  l206 semua  suku bangsa mengadakan rapat besar di hulu Sungai Onon dan dalam kesempatan inilah Temu Cin diangkat menjadi raja besar dari seluruh Mongolia dan diberi gelar Jengis Khan yang kemudian menjadi tokoh besar yang amat termasyhur di dalam sejarah.

Nama besar Jengis Khan ditakuti oleh semua  suku bangsa dan banyak sekali suku bangsa yang takluk tanpa diserang, Sepak terjang barisan Jengis Khan yang gagah berani dan ganas kejam terkenal di mana-mana. Memang di dalam barisan Jengis Khan terdapat banyak sekali orang- orang pandai, bahkan banyak pula orang Han dan orang orang se latan, ahli- ahli silat yang pandai, terkena bujukannya dan masuk menjadi pembantu.

Di antara suku-suku bangsa di daerah perbatasan di utara, hanya suku bangsa Han Hsia yang masih belum mau tunduk. Jengis Khan mulai memimpin tentaranya ke sana dan dalam waktu dua tiga tahun saja berturut-turut diserangnya suku bangsa ini hancurlah balatentara  Hsi- Hsia. Setelah itu Jengis Khan mulailah dengan rencananya yang besar, rencana yang sudah lama ia idam-idamkan dan sudah lama ia mengatur siasat untuk rencana ini, yaitu menyerbu ke selatan. Di se rangnya Kerajaan Kin.  Pada tahun l2ll ia mulai menyerbu Shensi dais Hopei, mambakar rumah-rumah rakyat, merampok, membinasakan, mengganas dan menghancurkan segala apa yang menghalangi tentaranya. Rakyat di daerah utara melakukan perlawanan mati matian. Di mana-mana Jengis Khan menemui perlawanan. Namun bala tentara Mongol terlampau kuat. Biarpun dengan adanya perlawanan rakyat ini pergerakan bala tentara Mongol agak terhalang, namun

dalam waktu dua tahun saja bala tentaranya sudah berhasil menyerbu Yenking atnu Peking, kota raja Kerajaan Kin!

Hebat sekali pertempuran-pertempuran yang terjadi sebelum bala tentara musuh berhasil menyerbu ibukota ini. Pihak Kerajaan Kin melakukan perlawanan gagah perkasa dan mati-matian. Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil mengumpulkan banyak orang gagah, apa lagi akhir-akhir ini setelah ia mengutus Kwan Kok Sun  untuk mercari  bantuan ke selatan, melakukan perlawanan mati-matian. Oleh usaha Pangeran Wanyen Ci Lun yang melakukan segala daya upaya untuk menghalau musuh inilah maka tidak mudah bagi balatentara Mongol untuk  memasuki  atau membobolkan kota raja. Juga bukan sedikit tentara dan perwira  Mongol yang tewas dalam perrempuran ini.

Beberapa kali pertempuran terpaksa ditunda karena kedua fihak sudah banyak me ngalami kerusakan. Mereka menunda pertempuran untuk memberi nafas kepada balatentera masing-masing. di fihak Mongol untuk dapat berunding guna mengatur slaw peoyerbuao baru, saw nye di fibak Kin untuk dapat berunding guna mengatur siasat pertahanan yang kokoh kuat. Sudah untuk kedua belas kalinya kedua pihak menunda perang. Kembali masing-masing fihak mengatur siasat. Di fihak istana kaisar, Pangeran Wanyen Ci Lun mengadakan perundingan de ngan para panglima perang. Pangeran ini nampak jauh lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya, hal ini karena ia terlalu banyak menderira selama negaranya diserang oleh orang Mongol. Keningnya berkerut cambangnya panjang, menambah  keangkeran  wajahnya yang tampan. Di dalam ruangan sidang itu. selain sepuluh orang panglima besar Kerajaan Kin, juga di sampingnya duduk berapa  orang tokoh-tokoh  kang-ouw  yang sudah datang untuk membantu Kerajaan menghadapi serbuan bala-tentara Mongol. Nampak di situ Tee-tok Kwan Kok Sun yang berpakaian panglima dan be rkepala gundul,  Hwa Thian

Hwesio tukang dapur Kele nteng Kwan twe bio di selatan kota

raja, hwesio gemuk bundar yang amat lucu akan tetapi kepandaiannya tinggi, dan banyak lagi tokoh kangouw yang datang ke situ karena tertarik oleh hadiah-hadiah besar !

Bahkan disitu hadir pula Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, sepasang suami isteri pendekar yang gagah perkasa, yang baru datang dari Kim-bun-to beberapa hari yang lalu.

Kedatangan sepasang suami-isteri ini bersama puteri mereka Coa Lee Goat yang sudah remaja puteri dan selain cantik jelita juga gagah perkasa murid Wan Sin Hong.

Mereka ini datang untuk menjemput Gak Soan Li dan anak- anak mereka karena dahulu Pangeran Wanyen Ci Lun sudah minta pertolongan mereka agar supaya memboyong anak

isterinya ke Kim-bun-to apabila perang dengan orang-orang Mongol pecah.

Akan tetapi, Gak Soan Li juga dua orang anaknya,  Wan Sun dan Wan Bi Li, be rkeras idak mau mengungsi pergi meninggalkan Pangeran Wanyen Ci Lun.  0leh  karena itu, biar pun tidak tertarik oleh perang, se pasang suami isteri ini menjadi tidak enak hati kalau buru-buru pergi seakan-akan mereka takut menghadapi perang. Terpaksa mere ka memutuskan untuk tinggal beberapa lama, selain mengawani Gak Soan Li, juga melihat-lihat apakah mereka dapat membantu sahabat mere ka, Pangeran Wanyen Ci Lun yang sedang berjuang membela negaranya. Pangeran Wanyen Ci Lun merasa kecewa dan berduka karena Wan Sin Hong tisak datang membantunya.

“Wan-taihiap tak mungkin mau datang,” kata Coa Hung Kin yang sudah tahu akan pendirian pendekar besar itu. "Tentu siauw ongya dapat menyelami perasaannya. Dia adalah seorang patriot Han tulen dan terus terang saja dia tidak mau mencampuri urusan dua kerajaan bukan bangsanya." Me mang Hong Kin suka berterus terang dan hubungannya dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sudah amat erat, tanpa sungkan-sungkan lagi.

"Dan pendirianmu sendiri bagaimana, kawan?" tanya Wanyen Ci Lun, memandang tajam dan penuh harap kepada suami isteri itu.

Coa Hang Kin tersenyum pahit dan menarik napas panjang. 'Tentu saja kami berdua siap sedia membantumu dan akan re la mengorbankan nyawa untuk menolongmu. Akan tetapi ini hanya kesetiaan seorang terhadap sahabat baiknya, bukan kesetiaan seorang warga negara terhadap negaranya."

Wanyen Ci Len menarik napas panjang. "Sayang aku bukan orang Han. Aku akan senang sekali berjuang membela tanah air bahu membahu dengan kalian dan dengan orang-orang seperti Wan Sin Hong. Tidak, sobat- sobatku yang baik, aku takkan minta pengorban jiwa sahabat-sahabat baik untuk kepentinganku semata. Aku hanya minta apabila keadaan terlalu mendesak dan anak- anak serta isteriku terancam bahaya kalian suka membawanya mengungsi dan menyelamatkan diri ke selatan."

Demikianlah percakapan antara mereka sebelum rapat penundaan perang itu diadakan. Dengan kagum Hong Kin dan Hui Lian mendengar sahabatnya itu mengatur siasat, akan tetapi mereka juga berduka mendengar be tapa keadaan sahabatnya itu sudah terdesak hebat seperti terbukti dalam ucapan Pangeran Wanyen Ci Lun kepada orang-orang gagah dan para panglima yang hadir di situ.

"Barisan musuh menggunakan siasat meme cah belah pusat kekuatan kita. Maka mereka menyerang dari empat penjuru secara bergantian agar payah kita memusatkan tcnaga pertahanan secara berpindah-pindah. Memang pertahanan  kita cukup kuat,  benteng cukup tebal  dan terjaga kuat. Akan tetapi tentara kita jauh kalah banyak jumlahnya. bahkan kini makin lama makin kecil karena jatuhnya korban tanpa dapat ditampung tenaga baru karena kota raja sudah terkurung. Makin berkurangnya anggauta barisan, berarti makin lemahnya pertahanan kita. Memang dengan cara baihok (barisan bersembunyi) kita dapat melakukan pertempuran gerilya dan mendatangkan kerugian lebih besar pada mereka. Namun, biarpun kita andaikata dapat merobohkan seratus orang musuh hanya dengan mengorbankan sepuluh orang, yang sepuluh ini bagi kita amat besar artinya, karena tidak ada penggantinya sedangkan musuh mudah saja mendatangkan bala bantuan atau mengganti tentaranya yang luka- luka dan lelah. Juga, amat  sukar bagi  kita untuk mendatangkan rangsum dari luar tanpa menghadapi bahaya  besar dirampas  musuh." Ia be rhenti sebentar untuk melihat reaksi pada muka para pendengarnya.

"Celakanya, semua hal yang tidak menguntungkan kita itu diketahui belaka dengan baiknya oleh pihak musuh !" kata Tee-tok Kwan Kok Sun dengan muka muram.

"Akan tetapi keadaan kita sebetulnya tidak amat buruk," kata Pangeran Wanyen Ci Lun cepat-cepat untuk mengusir kelemahan semangat para pembantunya, "memang harus diakui bahwa pihak musuh amat kuat. Akan tetapi selama semangat  orang-orang  kita  berkobar  seperti sekarang, jangan harap mereka dapat membobolkan pertahanan. Di samping pertahanan kita yang kuat juga aku sudah mengirim permintaan bala bantuan dari saudara saudara bangsa Hsi-Hsia yang menaruh dendam terhadap orang- orang Mongol. Kepala barisan mereka yang masih bersembunyi di hutan, Tiku Tami telah berjanji untuk memperkuat pertahanan kita dan memukul dari luar.

Berita ini menggirangkan semua orang. Kwan Kok Sun mangangguk-angguk dan berkata, "Memang baik sekali, dan pula, dapat diharapkan kehadiran scorang tokoh besar yang kepandaiannya amat tinggi. Tokoh besar inilah yang dapat diharapkan untuk merobohkan pentolan-pentolan Mongol seperti Thian-te Base k-Tai-hiap Liok Kong Ji. Bu-tek Sin ciang Bouw Gan dan yang lain-lain."

Kaget semua orang mendengar ini. Siapakah yang dapat mengalahkan pentolan Mongol yang disebutkan tadi? Kwan Kok Sun tertawa cara ketawanya masih menyeramksn biarpun sudah memakai pakaian panglima besar.

"Dia itu adalah Toat beng Kui-bo dari Banmo-tong !"

Baru saja nama ini disebut, tiba-tiba dari luar ruangan terdeagar suara ketawa cekikikan terbawa angin yang bertiup masuk, kemudian terdengar suara, "Hi-hi-hi-hi.

Pangeran Wan-yen, aku datang membawa hadiah!”

Dua buah  benda  melayang  masuk,  jatuh  berdebuk  di atas meja yang dike lilingi mereka yang sedang berunding. Ketika dua  benda itu berhe nti  menggelinding dan  semua orang  memandang,  ternyata  bahwa  dua  benda  itu  adalah dua buah kepala manusia yang agaknya baru saja dipenggal lehernya karena darah segar masih menetes netes dari leher! Melihat bahwa dua kepala itu memakai topi panglima

Mongol, Kwan Kok Sun tertawa senang dan berkata ramah. "Locianpwe Toat -be ng Toanio, silahkan masuk!”

Akan tetapi belum habis kata-kata ini, orang yang diundang itu telah berdiri di dekat meja sambil tertawa cekikikan. Mereka yang belum pernah melihat rupa Toat be ng Kui-bo, menjadi pucat dan bergidik penuh kengerian hati. Apalagi ketika melihat bahwa nenek itu memondong seorang anak perempuan kecil yang usianya baru dua tiga tahun, anak yang mungil sekali, pipinya kemerahan dan bibirnya merah tersenyum-senyum. Akan tetapi, baju dan jidat anak ini bernoda darah, agaknya darah dari dua buah kepala yang dipenggal oleh nenek mengerikan itu!

"Pangeran Wanyen, aku memenuhi janji datang untuk memberi hajaran kepala anjing-anjiug Mongol yang melampaui perbatasan dan mengacau di bumi Tiongkok! Ke tika hendak masuk kota raja tadi, aku dihadang oleh pasukan tentara Mongol Ketika mengamuk aku teringat

bahwa seorang tamu harus bawa oleh-oleh, maka kusambar kepala dua orang panglima pemimpin pasukan itu dan kubawa ke mari untuk dipersembahkan ke padamu. Hi-hi hi

!"

Tadi Pangeran Wanyen Ci Lun bengong dengan kagum dan ngeri. Sekarang ia cepat berdiri memberi hormat dan berkata. "Kedatangan locianpwe bagi kami adalah seperti datangnya air hujan di  musim kening!  Terima kasih atas pe mberian hadiah locianpwe. Dalam masa seperti ini tidak ada hadiah yang lebih be rharga dari pada kepala musuh !" Pangeran itu me mpersilakan nenek buruk rupa itu duduk dan memberi perintah kepada pelayan untuk membawa pergi dua buah kepala dan membersihkan bekas darah.

Kemudian ia sendiri menuangkan arak ke dalam cawan emas untuk Toat-beng Kui-bo. Nenek itu menerima sambil tertawa-tawa senang.

Kwan Kok Sun mengatur siasatnya. Orang se perti nenek ini sukar diurus dan kalau tidak me makai akal, biarpun nenek ini kepandaiannya tinggi sekali, takkan ada gunanya karena tentu takkan mau mentaati perintah.

"Locianpwe, tadinya kami sudah kegiranaan sekali karena mengira bahwa dua buah kepala itu adalah kepala dari Liok Kong Ji dan Bouw Gun. Eh, tidak tahunya hanya kepala dua perwira-perwira yang tidak ada nilainya. Akan tetapi aku tidak berani menyalahkan locianpwe oleh karena siapakah orangnya bisa memenggal kepala Thian.te Bu-tek Taihiap Liok kong Ji dan Bu.tek Sin-ciang Bouw Gun yang lihai sekali. Apalagi mereka berada di markas tentara musuh. Sukar...... sukar…….!”

Kwan Kok Sun terpaksa berhenti bicara karena arak dari cawan Toat-beng Kui.bo menyiram mukanya dan terasa

pe das, bukan main sampai -sampai ia tidak bisa membuka matanya.

"Gundul pacul! Kau terlalu memandang rendah padaku.

Kaukira aku tidak becus mencabut kepala tikus-tikus macam mereka?'

Kwan Kok Sun cepat memberi hormat pada  nene k  galak itu dan berkata sambil memaksa tersenyum di  mulut padahal hatinya me maki marah. "Harap locianpwe tidak marah, tentu saja aku percaya penuh akan kemampuan locianpwe. Soalnya, kami sudah terlalu awat dibikin pusing oleh orang orang seperti Thian-te Bu-tek Taihiap dan Bu-te k Sin ciang, tanpa mampu berbuat apa-apa. Kalau kiranya locianpwe sanggup mencabut kepala mereka dan dibawa ke sini. benar benar kami akan berterima kasih besar sekali kepada locianpwe.”

Semua orang, termasuk Pangeran Wanyen Ci Lun, diam- diam memuji kecerdikan Kwa Kok Sun yang mula-mula “membakar" hati nenek sakti itu untuk kemudian didorong kearah perbuatan yang akan banyak membantu pergerakan mereka melawan musuh. Hanya Toat-be ng Kui-bo seorang yang tidak tahu, buta oleh kesombongannya. Toat beng Kui- bo menoleh kepada Wanyen Ci Lun, lalu tiba- tiba melontarkan anak kecil yang dipondongnya itu ke arah Pangeran Wanyen.

“Pangeran, aku titip bocah ini kepadamu. Nanti kalau sudah kubawa datang dua kepala tikus itu, aku ambil kembali anak itu !” Wanyen Ci Lun sudah menangkap bocah perempuan yang menjadi kaget karena dilemparkan dan menangis itu. Sebelum ia sempat menjawab, angin mendesir dan nenek yang seperti siluman itu sudah lenyap dari ruangan itu.

Semua orang menjadi bengong. Bahkan Hong Kin dan Hui Lian sendiri yang sudah banyak bertemu dengan orang- orang pandai, harus mengaku bahwa nenek itu memiliki kepandaian yang hebat sekali. Yang paling gembira adalah Pangeran Wanyen Ci Lun oleh karena kalau benar-benar nenek itu bisa membunuh dua orang yang disebutkan tadi berarti pihak musuh akan kehilangan dua orang panglima yang kuat dan pandai.

Toat-beng Kui-bo me mang luar biasa sekali. Ketika  ia berlari seperti terbang keluar dari kota raja, sukar bagi orang biasa untuk dapat  melihatnya.  Yang  nampak  hanya bayangan hitam  berkelebat  cepat,  atau  kalau orang  me lihat ke atas akan terlihat tiga titik hitam terbang cepat ke utara dan tiga titik hitam ini kalau diperhatikan adalah tiga ekor kelelawar besar.

Ketika Toat-beng Kui -bo memasuki kota-raja, ia sudah dihadang dan bertempur, maka para pasukan Mongol yang bertugas mengurung kota raja, tahu bahwa kini nenek itu sudah keluar lagi dari kota raja. Akan tetapi pengalaman tadi masih membuat mereka gentar, pengalaman hebat di mana sepasukan Mongol habis dibunuh oleh nenek itu dan dua orang panglimanya lenyap kepalanya dibawanya pergi. Kini me lihat kelelawar dan bayangan hitam,  me reka sebagian besar hanya pura-pura tidak melihat! Bahkan perwira yang memimpin pasukan kecil cepat-cepat menyimpangkan pasukannya ke arah lain agar jangan bertemu dengan nenek itu. '

Toat-beng Kui bo juga tidak memperdulikan mereka. Tujuannya kini hanya mendatangi kemah para panglima Mongol dan berusaha mencari Liok Kong Ji dan Bouw Gun untuk dipenggal batang lehernya dan dibawa kepalanya ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun sebagai bukti bahwa ia bukan hanya omong kosong. Kelelawar-kelelawar yang terbang di atas selalu mengikuti ke mana nenek itu menuju.

Pada saat itn kaisar Jangis  Khan  juga sedang mengadakan perundingan dengan para panglimanya, merundingkan siasat untuk mcmbobolkan benteng pertahanan Kora Raja Kin yang kokoh kuat itu. Di  antara para pangliwa besar, nampak pula di  situl Liok Kong Ji, Bouw Gun, Pak-kek Sam kui. Dan orang-orang akan merasa terkejut, heran dan juga malu kalau saja mereka melihat siapa-siapa yang hadir pula dalam ruangan kemah Raja Mongol itu. Tokoh-tokoh besar dari selatan, orang-orang yang menamakan dirinya orang gagah di dunia kang.ouw banyak yang hadir di situ, menjadi pengkhianat-penghianat

penjual negara, menjadi kaki tangan orang Mongol! Di antara mereka rampak Le Thong Hosiang ketua Tatyun-pai, Nam Kong Hosiang dan Nam-Siang Hosiang dua orang tokoh Kaolikung-pai, He ng-tuan Lojin, hwesio pe rantau dari

Hengtuan-s an dan masih banyak lagi.

“Jalan terbaik menurut pendapat hamba, Kota Raja Kin itu harus dikurung rapat. Jalan ke selatan harus dipotong, dan pembantu-pembantu yang berada di dalam kota raja dan mendapat kedudukan penting supaya mulai dengan gerakan mereka pada sast kita mengadakan penyerbuan besar-besaran, bukan dari satu pintu melainkan dari empat jurusan,' demikian usul Liok Kong Ji kepada Jengis Khan.

Kaisar yang sekarang bertubuh kekar mengangguk- angguk.

“Taihiap berkata benar, cocok dengan rencanaku.

Memang kita tidak ada banyak waktu untuk dibuang-buang di sini, hanya untuk mengepung sebuah  kota  saja.  Aku sudah mendatangkan bala bantuan dari utara, tiga puluh laksa banyaknya, begitu mereka datang setelah diberi waktu mengaso sehari, malamnya kita serbu kota Kin dari empat penjuru. Kita habiskan dan ratakan kota itu dengan bumi. Setelah memberi keputusan terakhir dalam pertemuan itu, Jengis Khan memberi tanda bahwa persidangan ditutup dan ia masuk ruangan dalam.

Pada saat kaisar sudah masuk ke dalam dan para panglitna mulai berjalan keluar, tiba-tiba terjadi ribut-ribut yang datangnya dari arah kiri. Nampak para penjaga berlari- larian.

Melihat ini Bu-tek Sin ciang Bouw Gun panglima Mongol tua yang tinggi besar bere wokan itu menjadi marah. Memang dia terkenal berwatak keras dan berdisiplin sekali. Rata-rata panglima Mongol amat berdisiplin sehingga, barisan-barisan mereka terkenal sebagai barisan yang amat teratur dan kuat. Melihat para penjaga cerai-berai, Bouw Gun cepat  lari  ke arah tempat itu sambil beteriak-teriak memaki para penjaga.

“Anjing-anjing kekanyangan tak tahu malu. Begitukah caranya berjaga? Seorang penjaga kebetulan lari ke tempatnya tiba-tiba terlempar dengan kaki patah patah karena ditendang oleh Bauw Gun. Penjaga itu kesakitan hebat akan tetapi, masih dapat me lapor dengan suara mrintih-rintih,

'Ampun, taiciangkun. ..... . di sana….. ada ada

siluman mengamuk hebat ...... banyak kawan binasa “

"Setan pengecut, di mana dia?”

"Di sana ...... " penjaga itu menudingkan jarinya, "dia tadi masuk ke dalam kemah tai-ciangkun “

Bouw Gun marah sekali mendengar ada siluman mengamuk dan memasuki ke kemahnya, ce pat ia melompat dan lari ke  kemahnya. Alanglah kaget  dan marahnya ketika ia melihat di se panjang jalan menuju ke kemahnya penuh penjaga-penjaga yang menggeletak dalam keadaan mati atau terluka berat. Ada yang kepalanya pecah, lehernya patah, perutnya pecah berantakan, kaki tangan patah-patah. Juga di depan kemahnya bergelimpangan mayat penjaga. Bouw Gun berlari cepat dan me nyerbu ke dalam kemahnya sendiri,  begitu  ia  membuka  pintu,  ia melihat  seorang perwira, kepala penjaga kemahnya  sedang  bertempur melawan seorang nenek yang mengerikan.

Perwira itu kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi pada saat itu ia kena dicengkeram oleh nenek itu yang menggerakkan tangan kanan mencengkeram kepalanya.

Perwira itu menjerit keras dan mengerikan sekali sebelum muka dan kepalanya hancur oleh  cengkeraman  kuku panjang nenek itu. Darah dan otaknya berceceran, tubuhnya roboh tak bernyawa lagi.

"Hi hi hi. hi, otak udang macam ini melawanku? Mana tikus likus besar Liok Kong Ji dan Bauw Gun, suruh keluar jangan sembunyi di kosong ranjang!" nenek itu bersumbar.

Bouw Gun sudah pernah mendengar nama besar Toat- beng Kui.bo, bahkan di puncak Omei-san pernah ia bertemu dengan nenek itu. Biarpun.  maklum akan  kelihatan  nenek ini namun saking marahnya ia tidak gentar. Apa lagi  ia berada dalam kandang sendiri,

"Siluman betina kau ingin mampus!” bentaknya marah sambil menyerbu maju. Sesuai dengan julukannya, Bu tek Sin-ciang atau Tangan Sakti Tanpa Tandinganya Bouw Gun adalah ahli tangan kosong yang me ngandalkan ilmu silat tangan kosong dan kekuatan kedua lengannya yang hebat. Selain ilmu silatnya juga orang tinggi besar ini mahir ilmu gulat dari Mongol yang sudah terkenal dan berbahaya. Sekali saja orang tertangkap oleh tangannya, jangan harap akan dapat terlepas se belum ada yang patah-patah tulangnya.

Oleh karena itu, kali inipun ia menyerbu Toat-beng Kui bo dungan tangan kosong saja, menubruk sambil mengirim pukulan yang disusul oleh cengkeraman.

Akan tetapi kali ini ia menghadapi Toat-beng Kui bo seorang tokoh yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari padarya, baik dalam ilmu silat maupun dalam hal tenaga lweekang. Melihat orang tinggi besar itu, Toat-beng Kui-bo tertawa cekikikan.

"Ah! Kiranya kau? Mari  cucuku,  mari  maju untuk kucabut kepalamu dari tubuhmu yang tak terharga itu!" Tongkatnya menyambar cepat  memapaki serbuan Bouw Gun, langsung menyambar ke arah leher dengan kekuatan yang dahsyat dan kalau mengenai leher, bisa copot lepala itu dari tubuhnya. Bouw Gun kaget sekali. Hawa pukulannya biasanya amat kuat din dengan hawa pukulannya saja ia dapat me mbunuh orang. Akan tetapi nenek ini sama sekali tidak memperdulikan pukulannya, bahkan dengan tak terduga sudah mendahuluinya dengan serangan maut.

Terpaksa ia mengelak mendekari untuk menyerang dari jarak dekat. Tangan kirinya menyambar tongkat untuk ditangkapnya, tangan kanan memukul dada.

"Hihi, kau lihai juga  !" Toat  be ng Kui-bo  mengejek. Ia hanya menarik tongkatnya agar jangan sampai terampas lawan sedangkan pukulan pada dadanya tidak dihiraukan sama sekali. Bouw Gun kaget dan orang Mongol ini dapat menduga bahwa tentu nenek itu mengandalkan sinkangnya yang tinggi untuk menahan pukulannya, maka setelah kepalannya menyambar dekat dada, ia merubahnya menjadi cengkeraman. Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika tangannya berte mu dengan permukaan yang rata dan keras seperti papan baja. Ne nek itu sama sekali dadanya sudah tidak ada daging maupun kulit yang dapat dicengkeram. Agaknya kulitnya sudah mangeras dan rata dengan tulang sehingga kuat sekali.

Bouw Gun dalam kagetnya cepat hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi terlambat. Toat beng Kui-bo sudah menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara “buk” yang keras ketika tongkat itu mendorong dadanya. Tubuh orang Mongol itu terjengkang darah tersembur dari mulutnya. Dalam keadaan sekarat ia tidak berdaya ketika kembali tongkat menyambar, kini mengenai lehernya. "Krak..!” leher itu remuk sama sekali dan putus. Kepala

Bauw Gun sudah terpisah dari badannya.

“Hi hi-hi-hi.........!  Toat-beng Kui-bo tertawa-tawa ketika ia menyambar kepala dan diangkat untuk mengamat-amati muka Bouw Gun yang masih meringis dan masih marah.

"Iblis betina jangan kau menjual lagak!" Berturut-turut beberapa orang yang memiliki gerakan gesit sekali melompat masuk. Mereka ini adalah Liok Kong Ji yang diikuti ole h tokoh-tokoh lain. Melibat betapa kepala Bouw Gun sudah dicopot oleh nenek itu, karuan saja Liok Kong Ji dan kawan kawannya marah sekali.

Di lain saat, melihat datangnya Liok Kong Ji, Toat-beng Kui-bo juga menjadi girang. "Aha, kau datang pula, cucuku? Mari..... mari sini, kawanmu ini sudah lama menanti.

Berikan kepalamu kepada nenekmu ini, hi hi-hi!"

Marah sekali Kong Ji mendengar ini. Tangannya bergerak dan dari tengan kirinya menyambar sinar hitam, yaitu Hek- tok-ciam (Jarum-jarum Racun Hitam)  dan tangan  kanannya mengeluarkan hawa pukulan Hek-tok-ciang yang amat berbahaya.

Toat-berg Kui bo yang terlalu memandang rendah kepada Kong Ji, berlaku sembrono dan tidak mengelak atau menangkis, hanya mangerahkan sinkangnya. Ketika jarum- jarum mengenai tubuhnya, jarum jarum itu runtuh, akan tetapi pukulan Hek-tok-ciang membuat tubuh nenek itu terhuyung ke belakang.

"Ayaao...... !” Setan, kau berani memukulku…!” bentak nenek itu marah sekali dan, tiba-tiba dari atas udara menyambar turun benda hitam  yang ce pat menyambar  Kong Ji. Tentu saja Li ok Kong Ji kaget dan menankis dengan tangannya. Sebuah benda hitam terlempar dan yang dua berhasil menyambar pundaknya. Baiknya Liok Kong Ji berkepandaian tinggi sehingga ia cepat miringkan tubuh dan kelelawar itu hanya merobek baju saja. Namun cukup membuat ia bergidik karena maklum bahwa terluka ole h kelelawar itu sukar sekali mengobatinya.

“Serbu, bunuh siluman ini!” Kong Ji berteriak- teriak marah sekali sambil menyerbu diikuti oleh kawan- kawannya.

Kini tahulah Toat-beng Kui-bo bahwa nama besar Liok Kong Ji bukan kosong belaka dan bahwa ia telah dikurung oleh banyak orang pandai. Sambil tertawa-tawa ia melempar kepala Bouw Gun ke depan. "Makaulah kepala sahabat baikmu !"

Liok Kong Ji dan kawan-kawannya terpaksa mengelak agar jangan sampai terkena sambitan dengan kepala  ini. Kong Ji mengulur tangannya menyambar kepala itu dan memberikan kepada seorang pengawal untuk merawatnya. Sementara itu Toat-beng Kui-bo mempergunakan kesempatan ini untuk melompat keluar dari kemah. Akan tetapi Kong Ji dan kawan-kawannya mana mau melepaskannya ?  Cepat mereka mengejar. Akan te tapi dalam kegaduhan ini, sambil tertawa cekikikan, kembali tongkat di tangan nerek itu sudah me robohkan tiga orang pengeroyok.

Pcngepungan rapat sekali dan nenek itupun berlaku nekad, mengamuk bagaikan siluman terjepit. Tongkatnya sampai mcnjadi merah karena darah para korban yang dirobohkannya. Keadaan menjadi gempar. Baru kali ini orang-orang Mongol itu menghadapi lawan sehebat ini.

Bahkan ketika Ang jiu Mo-li mcngamuk dikeroyok oleh panglima-panglima Mongol tidak sclihai nenek ini. Selain lihai nene k inipun ganas sekali, setiap kali tongkatnya menyambar tentu ada lawan roboh binasa. Akhirnya hanya yang pandai-pandai saja berani mengeroyok, di antaranya Liok Kong Ji sendiri, Pak Kek Sam-kui, dan para  ketua partai yang membantunya.

Selagi mereka repot mengeroyok nenek yang benar-benar kosen sekali itu, tiba-tiba terdengar suitan panjang dan tinggi. Suitan ini memekakkan telinga. “Lo thian-tung Cun Gi  Toting datang….,”  seru  Liok Kong Ji dengan suara girang sekali. "Totiang yang mulia, bantulah kami !" Kemudian disambungnya dengan suara memerintah. "Cui Kong, lekas bantu kami !"

Yang datang adalah seorang tos u tua yang buntung kaki kanannya, namun biar kakinya hanya sebelah saja yang kiri, jalannya tidah pincang. Sebuah tongkat panjang menjadi pengganti kaki kanannya, gerakannya cepat sekali. Ia datang bersama seorang pemuda yang memegang huncwe. Liok Cui Kong yang sudah kita kenal kelihaiannya.

"Silakansemua minggir, biar kami berdua menangkap siluman ini." kata tosu buntung itu, yang bukan lain adalah Lo-thian-tung Can Gi Tosu. Seperti dapat diduga dari julukannya Lo Thian-tung atau Tongkat Pengacau Langit, kakek ini adalah seorang ahli bermain tongkat yang jarang bandingannya. Dia  adalah se orang tosu  pengembara  dari barat yang dapat diperalat oleh Liok Kong Ji, bahkan ia akhirnya mendapat kepercayaan dari Kong Ji untuk melatih ilmu silat kepada anak-anak angkatnya, yaitu putera angkatnya, yaitu Liok Cui Kong, dan dua orang puteri angkat sejak kecil Cui Lin dan Cui  Kim. Melihat  bakat  yang amat baik dan luar biasa dalam diri Cui Kong, Liok Kong Ji

menjadi amat sayang kepada putra angkat ini dan menurunkan semua kepandaiannya, maka ditambah oleh gemblengan dari tosu buntung itu, kepandaian Cui Kong menjadi hebat sekali.

Begitu Can Gi Totiang menggerakkan tongkatnya dan Cui Kong menye rang dengan  huncwenya,  Toat  beng  Kui-bo sudah maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh. Ia memutar tongkatnya dan sekaligus menangkis serangan  dua  orang lawannya  itu. Terde ngar suara keras, bunga api berpijar dan tiga orang itu melompat

mundur untuk memeriksa senjata masing-masing. Setelah

dengan lega melihat bahwa senjata masing-masing tidak rusak mereka maju bertempur lagi dengan seru. Ttga ekor kelelawar menyambir ke bawah hendak membantu Toat beng

Kui-bo, akan tetapi, Liok Kong Ji mengayun jarum-jarum Hek-tok-ciamnya sehingga binatang binatang itu jatuh ke bawah mengeliarkan pekik nyaring.

Toat -‘beng Kui-bo berlaku nekad. Ia tadi sudah menghadapi pe ngeroyokan banyak orang pandai dan sudah merasa lelah sekali. Kini ia dikeroyok oleh dua orang guru dan murid yang kepandaiannya tinggi, apa lagi Liok Kong Ji yang juga lihai sekali itu mulai maju mendesak membantu dua orang pengeroyok, maka Toat-beng Kui-bo merasa makin terdesak hebat. Sambil mengeluarkan seruan-seruan seperti harimau terjepit, nenek yang sudah tua sekali ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga terakhir untuk membela diri dan membalas menyerang. Namun tiga orang lawannya terlampau kuat dan setelah beberepat kali terkena pukulan, akhirnya Toat bong Kui-bo terpaksa harus mengakui keunggulan lawan.

Tongkat dari Lo thian tung Cun Gi Tosu berhasil menyerampang kakinya, menibuat ia roboh dan pada saat itu, pukulan Tin san-kang dilancarkan oleh Liok Kong Ji, membuat nenek itu muntah darah, ditambab totokan hun- cwe di tangan Cui Kong yang mengenai jalan darah kematian pada lehernya membuat nyawa Toat-beng Kui-bo melayang meninggalkan raganya.

Liok Kong Ji tertawa bergelak saking girangnya. Dengan kasar ia membalik tubuh nenek itu terlentang lalu menggerayangi saku-saku jubah nenek itu. Sebuah kitab keluar dari saku dan sektlas pandang saja Liok Kong Ji maklum bahwa itu adalah kitab wasiat dari Omeisan.

Judulnya DELAPAN JALAN UAMA. Cepat-cepat kitab itu menghilang di dalam bajunya sendiri.

(Bersambung jilid ke XVI.)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain