Tangan Geledek Jilid 11

Jilid 11

“ORANG muda, kau dari perguruan mana dan tiam hoat apakah yang kau gunakan untuk menotok Fei Lan tadi ?" katanya lupa  menyebut  “mantuku" saking herannya  bahwa ia seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, sampai tidak becus memulihkan akibat totokan seorang pelonco seperti bocah itu!

“Lopek, dari perguruan mana tak perlu kupamerkan, juga tiam-hoat yang kulakukan tadi biasa saja. Kaulihat saja, aku akan memulihkan puterimu.” Setelah berkata demikian dengan tenang Tiang Bu menghampiri Fei Lan, tangan kanannya meraba leher tangan ki ri mengurut  punggung tiga kali dan gadis itu sudah dapat bergerak lagi!

Penebang kayu itu makin terheran- he ran. Tadi ia sudah melakukan gengobatan macam itu akan tetapi tidak ada hasilnya.   Bagai mana  pemuda ini sekali bergerak terus berhasil? Namun ia menjadi girang sekali karena mendapat kenyataan bahwa pemuda itu  ternyata bukan orang sembarangan. "A-Lan, bagaimana pikiranmu se karang? Tidak betulkah omonganku bahwa mencari jodoh baik tak boleh diukur dari panjangnya hidung?" Diam-diam Tiang Bu makin gemas karena sudah beberapa kali hidungnya disinggung- singgung orang. Betul demikian pesekkah hidungnya? Tak terasa lagi tangan kanannya diangkat ke arah hidung untuk meraba daging menonjol di atas mulut itu.

Fe i Lan kini sudah takluk betul-betul, mengerling ke arah Tiang Bu mengeluarkan suara ketawa tertahan, lalu dengan penuh aksi memutar tubuh membelakangi pemuda itu, muka ditundukkan ditutup kedua tangan dan ujung kaki utak-utik tanah.

“Ha-ha-ha-ha! Anakku yang biasanya tabah dan berani sekarang tak sanggup mengucapkan kata-kata di depan calon suaminya. Ha-ha ha-ha! Orang muda, kau  bahagia sekali. Sudah seratus dua belas orang pemuda ditolak mentah- ment ah oleh anakku yang cantik dan gagah ini dan sekarang pilihannya terjatuh kepadamu! Kau mimpi apakah semalam? Ha. ha-ha! Anak mantuku, ketahuilah bahwa aku bernama Lai Fu Fat berjuluk Lim-song (Raja Hutan)! Dan ini puteri tunggalku Lai-Fei Lan. Kau benar-benar kejatuhan bulan menjadi mantu keluarga Lai. Eh, kau tadi  bernama Tiang Bu, siapa orang tuamu, apa shemu dan kau tinggal di mana?"

Biarpun hatinya mendongkol bukan main, Tiang  Bu masih bersikap sabar dan menjura berkata lemah. lembut.

"Lopek, harap suka maafkan aku dan sungguh menyesal bahwa aku tak dapat menerima budi kecintaan kalian. Aku datang jauh-jauh ke selatan ini sama sekali bukan untuk urusan perjodohan, aku masih terlalu muda untuk itu . ... .

..”

"Ha ha- ha, malu-malu kucing. Berapa sih usiamu?" tanya Lai Fu Fat sambil tertawa. Merah muka Tiang Bu. Celaka, pikirnya. Orang ini benar-benar patut mendapat julukan Lim-song (Raja Hutan) karena kelakuannya memang seperti orang hutan!

"Usiaku baru lima belas tahun kurang."  Ia  menjawab juga.

"Aha ! Lima belas tahun? Sudah terlalu-besar! Dulu dalam usia empat belas tahun aku sudah menikah. Heh- heh-heh !"

"Aku jauh lebih mula diri pada anakmu!” Saking jengkelnya Tiang Bu tak terasa lagi mengeluarkan kata-kata ini untuk membuka mata orang bahwa dia tidak patut menjadi jodoh Fei Lan.

“Lebih muda empat tahun. Bagus! Laki-laki memang harus lebih muda dari isterinya, baru bisa saling mengasuh. Selisih empat tahun bagus, bagus. Ini jodoh namanya, selisih empat tahun namanya kaki meja,  jadi  kokoh  kuat tidak goyah tidak ganjil.

Tiang Bu me nggigit bibirnya yang  tebal.  Ia  marah sekarang. "Lai-lopek, aku tidak mau menikah dengan anakmu !”

Lim-song Lai Fu Fat yang sedang tertawa bergelak gelak itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang kepada Tiang Bu seakan-akan tidak percaya apa yang telah didengarnya tadi.

"Apa kau bilang? Coba bilang satu kali lagi."

"Aku tidak mau kawin dengan anakmu!” Tiang Bu mengulang. Lai Fu Fat melongo, juga Fei Lan memandang dengan muka pucat ke arah pemuda itu.

"Orang muda, apakah pikiranmu waras? Tidak gila?"

"Lopek, apakah kausengaja mau menghi na aku orang muda?'

"Hanya orang berotak miring yang akan menolak Fei Lan! Seratus dua belas orang muda gagah-gagah dan tampan- tampan ditolak Fei Lan, pada hal mereka mau menyembah- nyembah asal di terima menjadi suaminya. Dan kau kau

si      hidung      pesek,      Si      muka      monyet,     kau......

menolaknya........... ?" Saking herannya Lai  Fu  Fat  sampai tak dapat marah. Ia benar-benar heran melihat ada orang muda berani menolak Fei Lan! Juga gadis itu saking marah dan merasa terhina, mulai menangis terisak-isak!

"Aku tahu bahwa aku tidak berharga, buruk rupa, miskin dan bodoh lopek. Akan tetapi aku sama sekali tidak ingin kawin, biar dengan puterimu sekalipun. Harap maafkan.” Akhirnya Tiang Bu berkata, kewalahan melihat sikap mereka itu.

“Maafkan....? Maafkan…..? Sebetulnya  kau  harus mampus kalau saja aku tidak  kasihan  pada  anakku  yang akan kehilangan kau! Kau harus menikah dengan Fei Lan. Tidak boleh tidak. Apa kau biasa melanggar peraturan?”

Tiang Bu terheran. "Peraturan apa yang telah kulanggar?"

"Bocah gendeng, jangan kau berpura-pura, ya? Kau sudah menerima bertanding dengan Fei Lan bahkan sudah

mengalahkannya. berarti bahwa kau telah memasuki sayembara anakku yang hanya mau menikah dengan mareka yang dapat mengalahkan dua kapaknya ! Bukan itu saja, kau telah sudah menotoknya, bahkan sudah membuka lagi totokanmu."

"Kalau demikian mengapa gerangan ?”

“Tolol! kau sudah menyentuh badannya dan tadi kau membebaskan totokan dengan meraba-rabanya. Setelah melakukan pelanggaran kurang ajar ini, kau masih mau nyangkal dan tidak mau menjadi suaminya !”

Tiang Bu melongo den sampai lama tidak dapat menjawab. "Itu… itu...... aku tidak tahu.......” ia berkata gagap-gugup. "Bagaimanapun juga, kau harus menjadi suaminya, dan sekarang juga!" kata Lai Fat bersitegang.

“Aku tetap tak dapat menerimanya, lopek.” “Kau menolak ?"

"Terpaksa kutolak karena aku tidak ada niatan untuk kawin." Terdengar jerit tertahan dan Fei Lan berlari pergi dengan kaki limbung.

"Bocah, kau telah menghina kami. Kalau aku menggunakan kerasan, apakah kau juga masih berani menolak?"

“Aku tetap menolak," jawab Tiang Bu penasaran.

Kembali Lai Fa Fat terheran dan ia kagum juga.  "Kau gagah dan berani, patut menjadi suami anakku. Mari kita bertanding, kalau kau kalah, kau mau tidak mau harus mengawini Fei Lan."

"Dan kalau kau yang kalah, kau harus menunjukkan kepadaku di mana adanya Ban-mo-tong.” jawab Tiang Bu menantang, sedikitpun tidak gentar.

"Bersiaplah dan keluarkan senjatamu !"

Tiang Bu berdiri tegak, sikapnya tenang,  “Lopek,  aku tidak bisa menggunakan senjata, cukup dua tangan dan dua kaki ini."

Lai Fu Fat memandang  ke  arah  kapaknya  yang  besar, lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan berkata, “Masa aku harus melawan kau yang bertangan kosong dengan kapak wasiatku ? Ke mana akan kutaruh mukaku?”

"Terse rah mau lopek taruh ke mana muka itu tetap tidak akan menggunakan senjata kecuali kaki tanganku."

Biarpun  tadi  bersikap  dan berkata sungkan-sungkan, kini sekali menyerang si penebang pohon yang aneh itu ternyata menggunakan kapaknya dengan dahsyat, melakukan serangan maut yang amat berbahaya. Kapak yang besar dan lebar itu menyambar ce pat me rupakan gulungan maut yang amat berbahaya. Kapak yang besar dan lebar   itu  menyambar cepat merupakan gulungan  sinar perak, berubah ubah serangannya seperti naga sakti yang sedang memilih tempat yang baik untuk     menerkam. Alangkah jauh bedanya serangan ini dengan serangan  Fai Lan tadi, sungguhpun gadis itu tadi menggunakan dua buah kapak. Kapak di tangan Lai Fu Fat ini be nar-benar lihai sekali dan Tiang Bu merasa sambaran angin yang dingin mengiris kulit. Namun pemuda ini sama sekali tidak gugup. Dan tenang sekali, tak pernah berkedi p dan kedua kakinya digeser  ke kanan  kiri  belakang.  “...........sett sett

..........” semua sambaran sinar kapak itu memukul angin!

Lim song Lai Fu Fat menjadi penasaran sekali. Ia mengerahkan tenaga dan kapak melayang dengan gerakan menyilang dan nyerong.

"Wirr ........... ! Wirr ........... !  Siuuuutt   ......!  Hebat gerakan ini, kapak sampai berubah menjadi kilat menyambar-nyambar sungguh pun hari itu tidak akan turun hujan. Tiang Bu cepat mengelak  terhadap  serangan  kilat tadi, namun  kapak itu sinarnya  mengikuti ke manapun  juga ia mengelak, menyambar-nyambar di atas kepala dan lewat demikian cepat dan kerasnya di atas telinga sehingga anak muda ini mendengar suara, “ngung….ngung……” yang menakutkan, seolah-olah kapak sudah dekat benar hendak memancung lehernya.

Lai Fu Far melanjutkan serangan-serangannya dengan tiga kali pukulan tadi, dan suara “wirr............. siuutt !”

terdengar berulang-ulang. Inilah ilmu  serangan  de ngan gerakan menebang batang pohon-pohon yang besar itu. Tiang Bu terkejut sekali. Sarangan ini benar-benar hebat. Hawa pukulan yang keluar dari tiga kali serangan ini susul- menyusul dan makin kuat. Pantas saja  pohon-pohon  bes ar itu rebah setelah tiga kali bacok, ternyata begini hebatnya serangan itu. Setelah mempelajari isi kitab suci Seng-thian-to, tanpa disadarinya, ginkang atau ilmu ringankan tubuh  dari  Tiang Bu telah meningkat tinggi sekali, juga ilmu silatnya sudah menjadi luar biasa setelah ia  mempelajari  beberapa  bait sajak dalam kitab Thian-te-sinkeng. Ane hnya, menghadapi serangan tiga serangkai yang dahsyat dari penebang pohon itu, tiba tiba saja Tiang Bu teringat akan bunyi  sajak yang telah  dibacanya dalam kitab thian-te Si-keng  itu.  Bunyi sajak itu seperti berikut;

Ada mulia tentu ad a yang hina sebag ai imbangan.

Adayang tinggi tentu ad a yang rend ah sebag ai d asar.

Sajak-sajak di dalam kitab Thian to Si- keng itu terisi sajak-sajak pelajaran Nabi- nabi Buddha, Locu, Khong-  cu dan lain-lain.  Yang  teringat oleh  Tiang Bu ini sebetulnya adalah dua bait dari sajak dalam kitab To-tek-keng dari Agama Tao. Akan tetapi, anehnya, bagi seorang yang sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi, isi dari pada sajak-sajak ini merupakan tipu-tipu silat   yang hebat. Demikian pula, teringat akan bunyi sajak ini Tiang Bu segera mendapat akal untuk mengalahkan lawannya dengan mudah. Begitu kapak itu menyambar di atas kepala. ia tertawa, kedua tangan bergerak menangkis dengan hawa pukulan lwe ekang ke arah pergelangan tangan kedua kakinya bergerak dan ...... di lain saat kapak itu telah terpental dari pegangan Lai Fu Fat dan orang itu sendiri roboh dengan  lutut  le mas  dan  lumpuh karena sambungan lututnya telah kena dibikin terlepas oleh Tiang Bu!

"Aneh ...... luar biasa ....... kata Lai Fa Fat dengan nada seperti Fei Lan ketika ia dikalahkan dan menyebut  “sulap dan sihir.”  Ia benar-benar   tidak  tahu bagaimana ia dikalahkan lawannya. Ini benar-benar tak masuk di akal. Lim-ong  Lai   Fa  Fat  sudah  puluhan tahun  tak pernah dikalahkan orang, jangan kata dirobohkan tanpa ia mengetahui bagaimana caranya ! Ia mulai percaya akan sangkaan Fei Lan tadi bahwa bocah ini tentu seorang ahli sulap atau dukun sihir.

"Sicu lihai sekali. Tidak tahu sicu mencari  Ban-mo-tong ada keperluan apakah ?" tanyanya meringis menahan sakit dan tangannya mulai me mijit-mijit lutut untuk membetulkan letak tulang yang keseleo.

"Aku hendak mencari Toat-beng Kui-bo si pemelihara kelelawar !" jawab Tiang Bu kurang perduli, karena ia tidak banyak mengharapkan keterangan lengkap dari orang seperti penebang aneh ini. Akan tetapi, dami mendengar ucapannya, Lai Fu Fat dengan susah payah berdiri dan menjura dengan hormat.

"Aha, kiranya tamu agung dari Ban-mo-tong yang hendak bertemu dengan Nio nio. Selamat datang, sicu. Ketahuilah bahwa ini sudah termasuk daerah Nio -nio, akan tetapi tentu saja aku sudah mendapat ijinnya untuk menebang pohon di sini. Kalau sicu hendak bertemu dengan Nio-nio, kauambillah  jalan  lulus  ke selatan.  Kurang lebih  tiga  puluh li lagi kau akan bertemu dengan sebatang  sungai.  Nah,  di sana sicu carilah Cia Nam si nelayan yang tentu akan suka mengantar sicu ke Ban-mo-tong. Selain Cia Nam, tak  ada orang di dunia ini yang akan dapat mengantar sicu ke sana."

Tiang Bu girang sekali. Tak disangkanya bahwa dari penebang ini ia akan  mendapat  keterangan  demikian  jelas. Ia me nyesal telah melukai orang ini. Cepat ia me luruskan kembali tulang-tulang kaki itu.

“Lai lopek, kau baik sekali, terima kasih katanya sambil menjura lalu pergi dari situ.

"Hee, sicu yang gagah. Bagaimana dengan anakku ?” penebang itu berteriak, akan tetapi  Tiang  Bu  pura-pura tidak mendengar melainkan mempercepat larinya menuju selatan. Ketika ia lari sejauh lima li, eh tahu-tahu Fei Lan telah berdiri di tengah jalan, menghadangnya ! "Cici Fei Lan, kau mau apa di sini ?"

"Tiang Bu ko-ko (kakanda Tiang Bu) tentu saja aku mau ikut denganmu .....” jawab Fei Lan dengan suara merdu merayu dan tersenyum manis sekali.

Tiang Bu gelagapan. "Ikut ke mana    ?”

"Ke mana saja kau pergi, aku ikut. Ke  neraka sekalipun aku suka ikut, koko yang baik ”

Tiang Bu melongo. Wah, runyam nih, pikirnya. Disangkanya ia telah bebas dari  ayah  dan  anak yang aneh itu, kiranya sekarang masih dirong-rong oleh gadis ayu ini.

"Tidak boleh, cici. Aku tidak bisa pergi membawa orang lain. Perjalananku penuh bahaya, laginya ...... tak pantas dilihat orang kalau seorang gadis seperti engkau ini pergi berdua-dua saja dengan seorang laki laki ”

"Iiih, siapa bilang tidak patut ? Seorang isteri pergi mengikuti suaminya yang terkasih, bagaimana tidak patut?" sahut Fei Lan sambil mengerling.

“Isteri siapa suami mana? Jangan main-main, tidak ada suami di sini. Aku tak pernah mengambil kau sebagai isteriku!”

"Akan tetapi aku sudah menyerahkan jiwa-raga menjadi isterimu, koko...........” Fei Lan merayu dan melingkah dekat.

"Gila........... ! Tidak, aku tidak mau. Sudah, aku pergi

..........! Tiang Bu melompat melewati gadis itu. "Koko, aku bunuh diri !”

Tiang Bu cepat menggunakan gerakan berjungkir balik dalam lompatannya ketika melihat betapa gadis itu betul- betul mengangkat kapak dibacokkan ke arah leher sendiri ! Cepat gerakan Tiang Bu ini. Biarpun tubuhnya di udara, berkat ginkang dan lweekangnya yang tinggi ia dapat memutar balik tubuhnya dan sekali tangannya terayun memukul, hawa pukulan yang dahsyat telah memukul atau mendorong tangan Fei Lan, membuat kapak itu terlepas dan tubuh gadis itu terhuyung-huyung.

"Fei Lan, apa kau sudah gila ?" tegur Tiang Bu, marah sekali sambil berdiri bertolak pinggang di depan gadis itu.

"Kalau aku jadi gilapun, kau yang berdosa."  jawab Fei Lan bersungut-sungut sambil mendekati pemuda itu.

“Cici Fei Lan, kaudengarlah omonganku baik-baik. Aku masih kanak-kanak, aku belum suka menikah, bahkan aku sama    sekali     tidak    ada     pikiran    tentang    jodoh.    Kau be rsabarlah, dalam urusan perjodohan, mana boleh dilakukan paksaan ? Tunggu sampai  lima tahun lagi,  kalau aku sudah berusia dua puluh tahun nah, nanti kita bicarakan lagi. Sementara jangan kauganggu aku kau boleh mencari calon suami lain.”

“Kalau kau menolak, aku akan bunuh diri saja," kembali Fei Lan me ngancam.

"Aduh, kau ini terlalu sakali. Siapa yang menolak? Aku hanya minta tempo. Sekarang aku masih terlalu kecil. Lima tahun lagi baru kita bicara tentang jodoh. Bagaimana? Kalau kau tidak menerima usul ini masa bodoh, kau boleh berbuat sesukamu   aku   takkan menghalangimu   lagi. Akan tetapi kalau kau bunuh diri, jangan arwahmu nanti menganggap aku sama sekali tidak me mberi kelonggaran  dan kesempatan. Aku bukan menolak hanya minta waktu untuk ke lak berunding lagi.”

Wajah Fei Lan yang tadinya merengut itu kini tersenyum kembali.

"Begitukah? Sebetulnya ..... sekarang lebih baik akan

tatapi biarlah, asal kau tidak berbohong. Biarlah sebagai tanda mata agar  kau  tidak lupa  kelak,  kaubawa ini "

Gadis   itu   merogoh balik   bajunya dan keluarlah se helai saputangan berwarna merah  muda yang harum."Kausimpanlah, koko ...... " Akan tetapi tiba-tiba gadis itu mengebutkan saputangan merah muda itu dan bau yang harum luar biasa memasuki hidung Tiang Bu. Bau wangi ini begitu kerasnya sampai terasa menjalar ke dahi pemuda itu. Tiang Bu meramkan matanya, kepalanya terasa pening akan tetapi hanya sebentar saja. Ketika ia membuka mata........... aneh bin ajaib........... gadis di  depannya  itu telah be rubah sama sekali dalam pandang matanya.

Kalau tadinya Fei Lan merupakan gadis yang cantik manis, sekarang gadis itu berubah menjadi seorang yang cantik jelita seperti bidadari Kayangan, ayu tiada bandingannya dan menggairahkan. Ane hnya, Tiang Bu merasai sesuatu berdebar-debar dalam dadanya, merasai gejolak hati yang selama hidupnya be lum pernah ia alami. Ia merasa ada nafsu binatang yang amat panas menguasai hati dan pikirannya, membuat darahnya  mendidih, dan senyum Fei Lan seakan-akan merupakan lambaian dan tantangan. Nafsu jahat dalam dirinya mendorong-dorongnya agar ia menubruk dan memeluk gadis jelita di depannya itu.

Namun, Tiang Bu telah menjadi murid orang-orang sakti. Biarpun ia marasai adanya nafsu iblis yang entah dari mana datangnya menguasai hatinya, namun nuraninya masih bekerja kuat. Dan dia telah mempelajari kitab Seng-thian-to, maka cepat ia meramkan mata mengerahkan seluruh perasaan dan tenaga batinnya untuk menyelidiki diri sendiri. Ke tika ia memeriksa keadaan pernapasannya maka dengan kaget tahulah ia bahwa hawa kotor pe nuh keharuman yang mempengaruhi pere daran darah, membuat  darah  menjadi cepat jalannya.

Ketika ia meneliti perjalanan darahnya untuk mengetahui dari mana datangnya itu, ia menjadi lebih kaget karena ia dapat merasai bahwa nafsu itu memang sudah ada dalam darahnya! Hanya biasanya tidak bangkit dan baru sekarang nafsu itu memberontak setelah "dibangunkan" oleh  hawa yang harum dari luar, dan setelah memberontak demikian hebatnya hendak mempengaruhi jiwa raganya, Tiang  Bu cepat menggunakan hawa murni untuk menekan semua gelombang ini dan dengan khikangnya yang tinggi ia dapat “menangkap" dan “mengumpulkan" semua hawa yang mengandung keharuman beracun yang disedotnya tadi. Setelah tenang, ia membuka matanya dan baru sekarang ia melihat bahwa gadis itu kini telah merangkul lehernya dan menyandarkan kepala dengan rambut harum semerbak di atas dadanya sambil matanya meram melek.

"Tarima kembali racunmu ...... !" Tiang Bu be rbisik dan dengan  pengerahan khikang ia meniupkan hawa  harum yang memabukkan tadi seluruhnya ke arah muka gadis yang berada dekat dengan mukanya.

Fei Lan gelagapan seperti kepalanya dibenamkan ke dalam air, Tanpa dapat ia cegah  lagi  ia telah  kena  hisap hawa yang harum, yang keluar dari mulut dan hidung Tiang Bu, hawa harum yang tadinya berasal dari sapu tangan merahnya! Gadis itu terhuyung huyung, lalu roboh di atas tanah. Mukanya marah sekali, matanya berkilat-kilat dan dengan penuh nafsu sepetti seekor binatang liar ia menubruk Tiang Bu.

'Koko ...... .!" Akan tetapi Tiang Bu telah melompat pe rgi, meninggalkan  gadis   itu   yang kini  menjadi  korban dari racunnya sendiri. Beberapa lama kemudian, Lai Fu Fat si penebang pohon mendapatkan puterinya itu dalam keadaan menyedihkan.   Pakaiannya robek-robek menjadi setengah telanjang, mulutnya mengingau tidak karuan dan tubuhnya panas sekali.

-oo(mch)oo-

Tiang Bu  beberapa  kali  bergidik  dan  me rasa  ngeri  kalau ia teringat akan pengalamannya yang amat berbahaya tadi. Kalau diingat-ingat, ia menganggap pengalamannya dengan Fei Lan tadi yang paling berbahaya mengerikan dari pada semua peristiwa yang pernah ia alami. Terutama sekali yang membuat ia gelisah dan ketakutan adalah keinsyafannya bahwa di dalam dirinya sebenarnya hidup semacam nafsu iblis yang seakan-akan naga jahat sedang tidur di dasar hatinya untuk sewaktu-waktu bangkit dan mengamuk apabila batinnya terganggu dan lemah.

Nafsu ini te rletak di dalam darahnya. Warisan keturunan

.....? Dengan ngeri hati Tiang Bu makin tekun melatih diri dengan samadhi seperti yang diajarkan dalam kitab suci Se thian-to agar hawa murni dalam dirinya menjadi kuat betul untuk melawan naga jahat dalam diri itu dan menjaga agar jangan sampai naga itu bangkit !

Karena ia tidak ingin tersusul oleh Lai Fu Fat dan Lai Fei Lan, Tiang Bu berlari cepat sekali sehingga tak lama kemudian sampai  ia di sungai seperti  yang dituturkan oleh Lai Fu Fat tadi. Sungai itu cukup lebar, airnya jernih dan alirannya tenang menuju ke selatan. Karena tidak melihat seorangpun manusia dan  tidak  melihat  sebuahpun  perahu di situ, Tiang Bu melanjutkan perjalanannya mengikuti aliran air sungai ke selatan.

Kurang lebih lima li ia mengikuti sungai, sampailah ia di sebuah dusun yang subur sekali tanahnya. Dari jauh sudah terlihat,perahu-perahu tukang ikan hilir mudik membawa muatan ikan seperahu penuh. Wajah orang-orang nampak gembira, rumah-rumah nampak bagus biarpun  sederhana dan orang-orang yang berada di desa itu gemuk-gemuk dan be rpakaian utuh. Ini semua menjadi bukti bahwa dusun ini tentu merupakan dusun makmur dan murah sandang pangan.

Karena hari sudah mulai gelap, Tiang Bu mencari rumah penginapan. Akan tetapi alangkah kecewanya ketika mendapat keterangan bahwa di dusun itu tidak ada rumah penginapan. Lebih baik kucari nelayan yang bernama Cia Nam itu, pikirnya, dan aku dapat bermalam di rumahnya. Segera ia kembali lagi ke tepi sungai di mana tadi ia melihat banyak perahu diikat di situ.

la melihat beberapa orang nelayan sibuk membongkari muatan dari perahu-perahu mereka. Ada yang menurunkan barang dagangan para pedagang yang me ngangkut dagangan dari lain kota melalui sungai itu, ada yang menurunkan ikan-ikan hasil menjala dan mancing. Di tepi sungai banyak pula yang membetulkan jala yang robek, ada yang duduk bergerombol mengelilingi api unggun sambiI be rcakap-cakap dan ada pula yang duduk seorang diri termenung di tepi sungai. Tiang Bu menghampiri segerombolan orang yang tengah bercakap-cakap itu. Mere ka ini adalah nelayan- nelayan yang kasar, bermuka kehitaman karena setiap hari mandi cahaya matahari yang panas terlihat de ngan kerut merut dalam dalam pada muka mereka sebagai tanda bahwa mereka tidak asing dengan pengalaman pengalaman sukar dan hebat.

"Maaf, saudara-saudara sekalian kalau mengganggu, aku hendak mencari orang nama Cia Nam si nelayan. Apakah dia berada di sini ?"

Orang-orang itu tertarik akan langgam bicara Tiang Bu yang berbeda dengan orang selatan, akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda ini mencari Cia Nam, mereka membuang muka. Seorang nelayan tua berkata padanya.

"Sungguh aku tidak tahu apa keperluan mencari  Cia Nam, orang muda. Akan tetapi kalau kau mencari si gila itu, nah, tuh di sana ia sedang melenggut." Telunjuknya ditudingkan ke arah gelap.

Tiang Bu menoleh, akan tetapi tidak melihat sesuatu di dalam gelap hanya ia tahu bahwa yang dituding itu adalah sungai. Akan tetapi melibat sikap mereka seperti tidak senang ketika ia  menanyakan  Cia Nam.  Tiang Bu tidak mau be rtanya lagi mengucapkan terima kasih lalu pergi  ke  arah yang ditunjuk oleh nelayan tua tadi. Ia menyusuri pantai sungai dan akhirnya di tempat sunyi ia melihat seorang laki- laki bertopi caping lebar tengah jongkok di atas sebuah perahu kecil yang buttut. Di ujung atau ke pala perahu itu dipasangi sebuah lampu   teng   yang  tidak   berapa terang namun cukup memperlihatkan lantai perahu yang selalu basah seperti telah bocor. Orang itu seorang laki-laki, sukar ditaksir usianya karena mukanya berada di bagian yang gelap, sedang menongkrong sambil memegangi ujung tangkai pancing dari bambu.

"Sahabat yang di  atas  perahu !  Apakah kau kenal  orang be rnama Cia Nam dan di mana tempat tinggalnya, lahukah kau?” seru Tiang Bu dari pinggir sungai.

Orang itu tertawa mengikik tanpa menoleh, lalu be rkata, "Setan she  Cia itu adalah iblis penjaga sungai dan rumahnya di dasar sungai ini!" Ia melanjutkan pekerjaannya memancing tanpa menoleh sama sekali. "Loncat saja ke air, tentu kau akan bertemu dengan dia!'

Tiang Bu mendongkol  sekali. Akan tetapi  ia juga girang karena boleh jadi orang itu sendirilah Cia Nam. Kalau tidak, mana ada orang begitu keterlaluan mempermainkannya ? Kalau Cia Nam   sendiri,   mungkin, karena jarang yang diperkenalkan oleh seorang aneh seperti penebang kayu itu, tentulah   seorang   aneh pula. Berpikir  demikian, ia  lalu berkata,

“Aku mau bertemu dengan dia !"  dan  lompatlah  ia  ke arah perahu kecil yang jauhnya ada tiga tombak dari daratan itu. Tentu saja amat mudah bagi Tiang Bu untuk melompat hanya tiga tombak jauhnya. Akan tetapi aneh sekali, tiba-tiba perahu itu meluncur pergi seperti didorong atau didayung padahal orang itu masih tetap nongkrong dan tdak melakukan sesuatu.

Hampir saja Tiang Bu celaka. Siapa orangnya yang takkan bingung kalau sedang melompat ke perahu, lalu perahunya itu berpindah tempat ? Orang lain tidak akan ampun lagi pasti akan tercebur ke dalam sungai. Akan tetapi Tiang Bu dapat menggerakkan kedua kaki dan tangannya sehingga tubuhnya yang sudah menurun itu terpental kembali keatas dan secepat kilat ia telah menutulkan kaki di atas geladak peruhu.

"Berbahaya sekali ..........!” katanya perlahan. Kemudian ia berkata kepada orang itu keras-keras. “He, sobat, mengapa kau main-main se perti itu ? Kalau aku terce bur ke dalam sungai bukankah berbahaya sekali ? Aku tidak bisa berenang, tahu !”

Sebagai jawaban, orang itu menyambar lampu teng di kepala perahu kemudian dengan tubuh masih berjongkok, kedua kakinya mengembat dan ..... perahu itu miring dan terbalik ! Akan tetapi dia sendiri tetap  nongkrong,  kini  di atas punggung perahunya yang  sudah  terbalik.  Tiang  Bu juga tetap melompat ke atas, kagetnya bukan kepalang. Baiknya ia tadi melihat gerakan orang itu dan menirunya sehingga ketika perahu sudah terbalik,  iapun  dapat  turun dan tetap berdiri di punggung perahu !

'Eh, eh, kau ini apa-apaan ?” Tiang Bu menegur. Kini terlihat olehnya bahwa orang itu  adalah  seorang  pendek kecil yang rambutnya sudah putih, seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh tahun. Akan tetapi matanya berkedap-kedip dan jelalatan, kelihatannya nakal sekali.

“Bukankah kau mau bertemu dengan iblis sungai di dasar sungai ? Hi-hi-hi.. !"

"Cia-lopek, jangan kau main- main. Aku benar-benar ingin sekali bertemu denganmu, dan aku mencarimu, atas pemberitahuan lopek Lai Fu Fat si pe nebang pohon."

Kakek itu memandang penuh perhatian. Ia menurunkan lampunya didekatkan ke depan sambil berkata, "Duduklah !" Tiang Bu lalu berjongkok seperti kakek itu di atas  perahu yang terbalik dan lampu berada di tengah-tengah mereka. Benar-benar pertemuan yang aneh! Bercakap-cakap di atas perahu terbalik yang terapung-apung di sungai terbawa perlahan oleh aliran sungai itu. “Kau mau apa mencari Cia Nam ?” tanya kakek itu sambil tertawa mengejek dan tiba-tiba saja Tiang Bu dapat menduga mengapa kakek ini agaknya tidak disuka oleh para nelayan. Tentu disamping ke pandaiannya yang tinggi, kakek ini adalah seorang tua yang be rwatak nakal seperti bocah bengal, suka mengganggu dan menggoda orang.

"Aku hendak memohon pertolonganmu mengantarkanku ke Ban-mo-tong!" Jawab Tiang Bu singkat. Kakek itu mengangkat alisnya. "Aku hendak bertemu dengan Toat beng Kui-bo !” sambung Tiang Bu. Kakek itu kini mengerutkan keningnya.

"Apa kau gila?" tanyanya. Tiang Bu mendongkol. Benar- benar di selatan ini banyak orang pandai, akan tetapi hampir semua otaknya miring!

“Kalau aku gila, apa aku melayanimu mengobrol di atas perahu terbalik?” jawab

Tiang Bu.

“Hem, kau betul, kau betul! Apa kau bosan hidup?"

"Tidak! Yang sudah tua dan kesepian masih belum bosan, bagaimana aku yang muda sudah bosan? Aku mohon kau sudi mengantarku besok pagi, aku akan berterima kasih sekali.”

"Sekarang kita pergi!" kata kakek itu tiba-tiba dan sekali ia mengenjot- enjot kakinya, perahu itu kembali miring dan

membalik.  Seperti  tadi,  keduanya   menggunakan  sinkang. melompat ke atas dan turun kembali setelah perahu terbalik seperti sedia kala.

"Mangapa sekarang? Begini gelap?"

"Takut apa? Kalau mau sekarang, kalau tidak mau kau boleh melompat ke dalam air! Akan tetapi kakek itu telah mendayung perahunya cepat sekali ke tengah sungai sehingga Tiang Bu harus menutup mulut karena tak mungkin ia me lompat ke darat, apalagi dalam keadaan yang gelap itu. Kakek itu melepaskan dayungnya dan perahu terbawa arus sungai. Lampu kedua yang sama tuanya dengan yang pertama, dinyalakan oleh kakek itu.

"Kalau aku perlu membalikkan perahu, kau harus memegangi lampu kedua ini,” pesannya.

"Mengapa perahu harus dibalikkan?" tanya Tiang Bu, ngeri juga karena kalau perahu terus tenggelam. bukankah berabe?

"Sudah bocor, menguras sukar, lebih mudah dibalikkan agar airnya keluar semua!” Orang aneh, pikir Tiang Bu. Akan tetapi di lain saat ia sudah tidak sempat berpikir lagi karena kini kakek itu mendayung perahunya yang meluncur cepat bukan main ke depan, menerjang malam gelap,  sehingga Tiang Bu yang tabah merasa ngeri juga. Bagaimana kalau terbalik ? ia merasa bahwa kali ini  nyawanya  berada  di dalam kenggaman kakek gila ini.

Entah berapa lama perahu itu meluncur cepat sekali. Tahu-tahu bulan sudah muncul dan nampak pemandangan yang menyeramkan di kanan kiri sungai. Tebing sungai sekarang bukan merupakan tanah daratan yang datar ditumbuhi rumput dan tanaman lain, melainkan merupakan batu-batu karang yang berbaris menyeramkan seperti barisan raksasa hitam yang meme gang senjata-senjata tajam besar, seperti mulut naga siap mencaplok kurban yang berani mendekat. "Heh-heh.heh. inilah Ban-mo-tong (Gua-gua Selaksa Iblis). Kau mendaratlah di sini, aku harus kembali!” Kakek nelayan itu mendayung perahunya ke pinggir, akan tetapi tidak berani mepet, hanya dalam jarak dua tombak dari batu-batu karang itu. "Melompatlah ke pinggir!”

Tiang Bu ragu-ragu. Di tengah malam buta ia harus mendarat di tempat se perti itu. masih baik kalau memang ini tempat yang dicari-cari, bagaimana kalau bukan ?

"Betulkah di sini Ban mo tong ?" tanyanya.

"Kau tidak percaya kepada Cia Nam berarti tidak percaya kepada  dirimu sendiri  !   Lihat!   Kakek   itu   menudingkan te lunjuknya dan Tiang Bu me lihat bayangan-bayangan hitam berterbangan di atas batu-batu karang. ltulah bayangan-bayangan kelelawar yang terbang membunyikan sayap memukul tubuh. Mengerikan sekali.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh dan tahu- tahu perahunya miring tenagelam ! Tiang Bu kaget sekali, menotol kaki di geladak perahu sambil menggenjot tubuh mengerahkan ginkangnya, melompat ke atas batu karang terdekat. Ketika ia menoleh. ia melihat perahu benar-benar tenggelam dan dua lampunya padam ! Akan te tapi tak lama kemudian  muncul lagi perahu itu di tengah sungai  dan kakek itupun muncul di atas perahunya sambil tertawa-tawa cekikikan. Tiang Bu mendongkol juga. Kakek itu benar- benar nakal sekali. nakal dan berbahaya. Kalau ia tidak memiliki ginkang yang cukup tinggi. bukankah ia akan mampus di tengah sungai?

Mendadak kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan ketakutan. “Nlo-nio ...... ampun. aku........... ampun...........

aku akan segera pergi …..... harap suka panggil kembali ini.......... ini." Ia menggerak-gerakkan dayungnya di atas kepala untuk melindungi kepalanya yang disambari oleh tiga ekor  kelelawar  hitam.   Me lihat   sikap   kakek  itu  yang   amat ke takutan, Tiang Bu dapat menduga bahwa binatang- binatang itu tentulah amat berbahaya, kalau tidak demikian, masa seorang yang lihai seperti kakek itu sampai ketakutan

? Biarpun kakek itu nakal, namun harus di akui bahwa  ia telah ditolong olehnya diantarkan ke tempat yang dicarinya. Tiang Bu meraba ke pinggir  badannya  dan  me remas  ujung batu karang di dekatnya. Kemudian ia  mengayun tangannya ke  depan  menyambit  ke arah  tiga ekor  kelelawar yang kemudian jatuh ke atas sungai, mati !

"Orang muda, kau baik sekali. Akan  tetapi  hati-hatilah, kau sudah  membunuh  binatang peliharaan Nio-nio "

kata kakek itu yang cepat-cepat mendayung perahunya melawan arus sungai. Bangkai tiga ekor kelelawar itu hanyut terbawa arus, kepala mereka pecah terkena sambitan Tiang Bu.

Karena malam hanya diterangi bulan sepotong dan tempat itu penuh batu karang, amat berbahaya kalau orang sampai terpeleset ke bawah. Tiang Bu tidak berani pergi dari tempat iru. Ia malah memilih tempat yang rata antara batu- batu karang di mana ia duduk bersila me nanti datangnya pagi. Mudah-mudahan aku dapat bertemu dengan Toat-beng Kui-bo dan Wan Sin Hong di tempat ini, pikirnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se kali, begitu terang tanah,  Tiang  Bu  meninggalkan barisan batu   karang di pinggir sungai itu mulai menjelajah daerah yang benar-benar liar ini. Daerah baru karang ini amat luas dan di mana-mana terdapal gua-gua yang besar. Memang tidak sampai laksaan banyaknya seperti namanya, akan tetapi lebih dari se ratus buah gua  yang besar-besar. Apakah  orang-orang  yang dicarinya tinggal  di dalam gua-gua itu?   Apa ia harus memeriksa ke dalam gua satu demi satu? Tiang Bu berjalan memeriksa keadaan disitu dan mendapat  kenyataan  bahwa di antara bukit-bukit batu karang terdapat pula tanah-tanah datar yang tak berapa luas dan pohon-pohon yang aneh bentuknya.

Selagi ia longak-longok tak tahu harus mulai mencari bagian mana, tiba-tiba  berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa dan tampak gagang pedang nampak tersembul dari balik pundanya. Laki-laki itu berdiri tegak di dekatnya, memandang tajam penuh selidik.

*Wan-siok-siok (Paman Wan)..........” seru Tiang Bu dengan girang sekali melihat bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Wan Sin Hong, orang yang dicari-carinya.

Orang itu memang benar Wan Sin Hong yang dahulu dari Omei-san terus mengejar Toat-beng Kui-bo untuk minta kembali isterinya. Akan tetapi Toat-beng Kui-bo lebih tepat larinya dan meninggalkan Wan Sin Hong setelah memesan supaya mencarinya di Ban-mo-tong. Ketika Wan Sing Hong menyusul ke Ban-mo-tong, ia mendapatkan Li Hwa isterinya itu telah menjadi murid Toat-beng Kui-bo dan Li Hwa memaksa suaminya supaya tinggal di Ban  mo  tong.  Tentu saja Sin Hong tidak senang mendengar ini.

"Kau sungguh aneh,” te gurnya kepada isterinya, "dalam hal ilmu silat saja, mengapa harus belajar dari Toat-beng Kui-bo. Benar-benar aku tidak mengerti."

Sambil menundukkan mukanya Li Hwa berkata  lirih. "Be tapapun juga .......... aku tak dapat meninggalkan dia seorang diri di sini ..... sudah menjadi kewajibanku untuk mengawaninya sampai dia meninggal dunia...”

"Hwa- moi........... ! Mengapa demikian?” Sin Hong terheran-heran.

“Dia ..... dia itu ibuku,.....” akhirnya Li Hwa membuat pengakuan yang amat mengejutkan hati Sin Hong. Maka berceritalah Li Hwa apa yang ia dengar dari Toat-beng Kui- bo, bahwa duhulu Hoat beng Kui bo setelah melahirkan dia. menitipkan Li  Hwa yang masih orok itu kepada Pat-jiu Nio- nio yang menjadi adik seperguruannya, Toat-beng Kui-bo melakukan hal ini karena merasa malu mempunyai  anak yang tidak berayah! Demikianlah ketika bertemu di lereng Omei -san. Toat-beng Kui-bo bertemu kembali dengan puterinya yang mula-mula ia kenal secara kebetulan saja. Tadinya  Toat beng Kui-bo hanya hendak menolong Li Hwa diri tangan Liok Kong Ji, akan tetapi kemudian ia melihat Cheng-liong-kiam maka terbukalah rahasia bahwa nyonya muda yang cantik ini sesungguhnya adalah puterinya sendiri yang dulu ia titipkan kepada sumoinya, Pat-jiu Nio nio!

Mendengar penuturan ini, Sin Hong menjadi terharu dan menghela napas. Tak disangkanya bahwa isterinya akan bertemu dengan ibunya yang ternyata seperti iblis itu. Diam- diam ia masih menyangsikan kebenaran cerita Toat beng Kui-bo ini, akan tetapi ia tidak banyak membantah dan oleh karena hatinya sendiri sudah menjadi dingin terhadap penghidupan di dunia kaug-ouw yang selalu ribut, ia meluluskan keinginan isterinya untuk tinggal di  Ban-mo- tong agar Li Hwa selalu dekat dengan "Ibunya" dan dapat melayaninya sambil belajar ilmu silat dari Toat -beng Kui-bo yang lihai.

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya hati Sin Hong ketika di pagi hari itu ia melihat Tiang Bu terkeliaran di daerah berbahaya ini.

"Tiang Bu, bagaimana kau bisa sampai ke-sini dan...........

ada keperluan apakah kau datang di tempat berhahaya ini?” tegurnya.

Tiang Bu tersenyum dan memandang wajah Sin  Hong yang tampan  itu. "Wan siokhu, aku sengaja  datang  di Ban- mo to untuk mencarimu dan mencari siluman tua Toat beng Kui-bo,"

"Kau mencari Toat beng Kui bo ada urusan apakah ?"

Melihat   Wan  Sin  Hong   mengerutkan kening  nampak tidak senang. Tiang Bu menjawab terus-terang, “Wan siok- siok, ketika terjadi keributan di puncak 0mei-san, Toat beng Kui bo juga mencuri sebuah kitab. Aku datang untuk minta kembali kitab itu, me menuhi perintah suhu." Diam-diam ia memuji kesetiaan bocah ini dan keberaniannya. “Dan kau mencari aku ada keperluan apa?' tanyanya, wajahnya agak berubah kalau ia teringat akan peristiwa di puncak Omei-san di mana bocah ini bertemu dengan Liok Kong Ji.

"Aku sengaja mencarimu untuk bertanya tentang keadaan diriku, siok-siok. Ceritakan padaku sejujurnya tentang hubunganku dengan Liok Kong Ji yang mengaku sebagai ayahku itu!" Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Tiang Bu bersikap keras dan jelas nampak dari suara  dan sinar matanya bahwa apapun yang akan terjadi, ia berkukuh menghendaki dipecahnya rahasia ini, kalau perlu ia akan memaksa Sin Hong dengan kekerasan !

Sin Hong tersenyum pahit. Alangkah beraninya bocah ini! Pertama-tama ingin merampas kembali sebuah kitab dari tangan Toat-beng Kui-bo, satu hal yang kiranya tak akan berani seorang tokoh kang-ouw kenamaaa melakukannya. Kedua kalinya hendak memaksanya melakukan sesuatu. Akan tetapi, perlu bocah ini diuji, pikir Sin Hong. Dia hendak menemui Toat.beng Kui-bo, hal yang amat berbahaya. Baik kulihat sampai di mana kepandaiannya. Kalau dia belum pandai menjaga diri harus dihalangi niatnya bertemu dengan Kui-bo me ngantar nyawa dengan sia-s ia.

"Tiang Bu, dulu sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa menceritakan hal itu kepadamu. Menyesal sekali!” Suara Sin Hong benar-benar me ngandung penyesalan, akan tetapi juga tegas. Memang pendekar ini tidak ingin membuka rahasia anak ini yang akan merendahkan nama ibunya?

“Wan siot-siok!” Mata Tiang Bu bersinar-sinar menge- luarkan  api,  mengingatkan  Sin  Hong akan  mata  Liok Kong Ji. "Kau  harus  menceritakannya  kepadaku,  biarpun  untuk itu harus kupaksa!"

"Tiang Bu bocah lancang, belum pernah ada orang mampu memaksa Wan Sin Hong, apalagi engkau !" “Kau orang tua minta dihajar!" Tiang Bu menjerit dan ia menggerakkan tubuh me nyerang Sin Hong.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Hong ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari tangan bocah ini luar biasa se kali panas dan antepnya! Namun ia adalah seorang  pendekar  yang  memiliki  kepandaian tinggi  dan pengalaman  luas, maka  cepat mengelak, tidak berani menangkis tangan bocah yang ternyata memiliki tenaga aneh ini. Tiang Bu mendesak terus dan pukulan pukulan yang ia lancarkan, makin lama membuat Sin Hong makin terkejut dan heran. Biarpun ia memiliki Ilmu Silat Pak -kek Sin-kun yang lihai namun pukulan pukulan bertubi-tubi  dari  bocah itu menghalangi semua jalannya, membuat ia terdesak. Dan hebatnya, ia tidak mengenal   ilmu pukulan  yang dipergunakan Tiang Bu itu.

Kadang-kadang Tiang Bu memukul, kadang-kadang menggampar atau me nusuk dengan jari-jari tangan terbuka dan gerakan-gerakannya seperti orang menulis huruf. Sekelebat seperti ilmu silat huruf yang pernah dipelajari dari Luliang Siucai, akan tetapi ini lebih hebat lagi. Bocah ini menyerang dengan gerakan seenaknya saja, tanpa tergesa- gesa seakan-akan Tiang Bu sudah dapat menduga atau sudah tahu ke mana Sin Hong hendak mengelak,  karena selalu tubuh Sin Hong dalam mengelak dipapak oleh serangan lain!

Sin Hong dari heran terkejut menjadi penasaran. Ia melompat ke sana ke mari, dan menghindarkan diri dari pukulan, lalu mencoba untuk membalas. Namun ia mengalami keanehan luar biasa. Begitu Tiang Bu percepat gerakan-gerakannya, Sin Hong kehabisan pintu, sama sekali tak melihat lowongan untuk dapat membalas. Jangankan membalas serangan, baru melindungi diri saja sudah sukar bukan main.

“Wan siok-siok, apakah kau masih be lum mau membuka rahasia itu?” Tiang Bu bertanya sambil terus menyerang, kini mempergunakan gerakan-gerakan yang ia "temukan" dalam sajak-sajak kitab Thian-te Si-keng.

“Hayaaa ...........!’ Tak terasa Sin Hong berseru sambil melompat ketika tangan kanan Tiang Bu yang terbuka dipukulkan secara sembarangan saja ke arah dadanya dan telah menyerempet pundaknya. Bocah ini yang menyerang sembarangan saja masih sambil bicara lagi, telah berhasil mengenai pundaknya. Benar luar biasa.

"Sratt. ......  !!" Di lain saat, berbareng dengan berkelebatnya   sinar   me nyilaukan   mata  tangan kanan Sin Hong sudah memegang  Pak-sin-kiam  pcdang pusaka peninggalan Pak kek Siansu !

"Lebih baik kau bunuh aku  dari  pada  menutup  rahasia itu !" seru Tiang Bu, sedikitpun tidak gentar biarpun silau melihat pedang pusaka yang he bat ini. Ia masih terus mendesak maju dan kini kcdua kakinya berdiri di atas ujung jari jarinya dan mengerahkan ginkangnya yang paling tinggi. He bat sekali pemuda cilik ini. Dia tiba-tiba saja menjadi begitu ringan gerakannya seolah-olah bersayap! Diam-diam Sin Hong menjadi makin kagum. Biarpun pendekar ini sudah mencabut Pak-kek Sin-kiam, pedang pusaka yang jarang sekali ia pergunakan kalau tidak amat terpaksa, namun mana ia mempunyai niat membunuh Tiang Bu?

Ia hanya ingin menguji kepandaian pemuda ini dan biarpun tadi ia sudah mendapat kenyataan bahwa dengan tangan kosong. Ia sendiri tidak dapat menangkan Tiang Bu, namun hatinya masih belum  puas.  Sin  Hong  maklum  akan ke lihaian dan berbahayanya Toat-beng Kui-bo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari padanya sendiri, maka kini ia ingin menguji Tiang Bu dengan senjata tajam.

Siapa kira bahwa pemuda itu melanjutkan serangannya dengan tangan kosong ! Tentu saja Sin Hong merasa enggan menghadapi se orang pemuda cilik bertangan  kosong sedangkan ia menggunakan Pak-kek  Sin kiam, maka berkata: "Tiang Bu, kalau  kau  memang   hendak   memamerkan ke pandaian, keluarkan senjatamu!”

"Aku tidak ingin pamer, hanya ingin kau me nceritakan riwayatku, Wan-siok-siok. Orang bilang kau seorang pendekar budiman, mengapa dalam hal ini kau begitu kukuh? kau tidak kasihan kepadaku ?”

Sin Hong sudah amat kagum akan kepandaian Tiang Bu, maka merasa kepalang kalau tidak menguji terus. Ia menggerakkan pedangnya dan berkata, "Awas, lihat pokiam

!"

Kepandaian yang paling diandalkan oleh Sin Hong adalah ilmu pedangnya. Memang ilmu pedangnya, Pak-kek Kiam- sut,   adalah  ilmu   pedang  yang  luar   biasa   sekali   dan ia menjagoi di dunia kang-ouw. Belum pernah ada ahli pedang lain yang berani menyatakan ilmu pedangnya dapat melebihi Pak-kek Kiam-sut.  Begitu  Sin Hong menggerakkan pedangnya, sinar pedang bergulung-gulung mengurung tubuh Tiang Bu.

Namun Tiang Bu yang sudab siap, cepat bergerak menurutkan jurus jurus mujijat dari Sam-hoan-sam-bu, tubuhnya menjadi seakan-akan bulu ringannya dan dapat mengelak se belum pedang lawan menyambar, seakan-akan hawa pukulan pedang sudah lebih dulu mendorongnya menyingkir dari sabetan mata pedang. Betapapun hebatnya ilmu mengelak ini, Namun Tiang Bu masih hijau dalam pengalaman pertempuran dan Ilmu  Pedang Pak-kek  Kiam- sut  memang betul-betul luar biasa  sekali sehingga  pemuda ini sekarang menjadi terkurung sinar pedang dan  sama sekali tidak mendapat kesempatan membalas. Ini disebabkan ia hanya mengandalkan pertahanan diri dengan jalan mengelak karena untuk menangkis ia tidak berani. Ia maklum akan ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin-kiam maka tidak mau mengambil resiko buntung lengan. Setelah terdesak hebat, baru ia teringat akan pesan suhunya bahwa kalau terpaksa sekali ia boleh mempergunakan benda apa saja yang dekat dengan dia untuk menjaga diri. Dilihatnya sebatang ranting kayu kering tak jauh dari situ. Cepat ia menggeser kedudukannya ke tempat itu dan  lain  saat  ia telah menjemput ranting ini terus melakukan perlawan hebat.

“Trangg........... ! Tranggg............!” Berkali-kali pedang Pak-kek Sin-kiam berbunyi nyaring ketika bertemu dengan ranting dan Sin Hong menjadi pucat. Baru kali ini seumur hidupnya ia mengalami hal yang luar biasa ini. Sebatang ranting kayu kering kuat menahan pedangnya, padahal senjata-senjata berat jago-jago silat lain tidak akan kuat menahan dan pasti akan terbabat putus. Bukan hanya kuat menahan, bahkan dari ranting itu me njalar tenaga yang melalui pedangnya terus menghantam telapak tangannya dengan getaran di dahsyat.

Ia merasa  lweekangnya terpukul dan tergetar.  Hebat sekali, pikirnya. Sin-kang yang sudah kumiliki ditambah latihan lm-kang dan Yang-kang bertahun-tahun, masa kalah kuat oleh tenaga bocah ini ? Juga ia mengalami hal yang mengagetkan. Ilmu Pedang   Pak kek Kiam-sut sudah merupakan raja ilmu pedang dan setiap getaran membuat ujung  pedangnya tergeser  pecah  menjadi tujuh   yang langsung menyerang jalan darah lawan di tujuh bagian.

Tentu saja hanya mendiang Pak Kek Siansu yang sudah sanggup menggetarkan pedang menjadi tujuh bagian, akan tetapi Sin Hong sudah mencapai tingkat tinggi dan dalam kedudukan yang tidak terlalu terdesak ia  dapat mengeluarkan pedangnya menjadi enam. Namun anehnya, bocah yang memegang ranting ini, biarpun ilmu silat yang dimainkan itu jelas sekali bukan ilmu pedang  melainkan ilmu  pukulan   biasa   yang   dimainkan   dengan   biasa  yang dimainkan dengan bantuan ranting, ternyata sudah dapat menggetarkan  ranting   itu   menjadi enam   pula, sehingga semua serangan Pak-kek Sin-kiam gagal. Saking penasaran dan dalam niatnya mangadu tenaga lweekang. Sin Hong mengeluarkan seruan keras dan tiba- tiba pedang dan ranting bertemu di udara, saling menempel tak  dapat   dilepaskan lagi. Sin  Hong mempergunakan lweekang dan mengerahkan  tenaga  menye dot sehingga ranting lawan tak dapat terlepas dari pedangnya, kemudian ia mulai  mengerahkan   tenaga melalui  pedang  untuk menyerang.   Kalau ia sudah   dapat   me maksa  pemuda melepaskan  rantingnya.  itu   berarti tenaga lwee kangnya masih menang setingkat!

Biarpun Tiang Bu belum pernah mengalami pertempuran mati-matian dan hebat seperti sekarang ini dan  tidak  tahu apa maksud dari  Sin  Hong  namun  tubuhnya  yang  sudah te risi tenaga sinkang yang ia warisi dari dua orang suhunya, secara otomalis telah merasai datangnya serangan dahsyat dari lawan  dan otomatis te naga sinkang di badannya mengalir keluar melalui ranting untuk menahan gelombang serangan lawan.  Dua

tenaga raksasa bertemu, saling dorong, kadang- kadang Tiang Bu terdo- rong sehingga tenaga- tenaga itu bergerak di dalam rantingnya membuat    ranting    itu be rgerak keras.

Akan tetapi secara mendadak kadang-ka- dang arus tenaga itu membalik dan Sin Hong yang terdesak hebat sampai tenaga itu saling dorong di dalam pedang- nya, membuat pedang Pak-kek Sin-kiam terge- tar dan mengeluarkan suara mengaung !

Tenaga sinkang dari Sin Hong sudah tinggi dan hebat. Biarpun  Tiang  Bu  telah mewarisi sinkang dari dua orang gurunya namun karena belum dapat mempergunakannya secara sempurna, ia tentu akan kalah oleh Sin Hong,  kalau saja tidak secara kebetulan bocah ini me mpelajari kitab Se ng thian-to dalam perjalanannya. Di luar pengetahuannya sendiri, tenaga sinkang di tubuhnya telah melonjak tinggi tingkatnya ke tika ia mulai melatih samadhi menurut petunjuk kitab suci itu. Demikianlah, dalam pertandingan adu tenaga lweekang ini, Sin Hong sama sekali tidak dapat mendesak Tiang Bu. Setiap kali ia me ngerahkan tenaga mendesak, selalu tenaganya mental kembali. Akan tetapi, juga Tiang Bu tidak dapat mendesak oleh karena memang pemuda ini belum pandai betul mempergunakan lweekang untuk menyerang lawan.

Pada saat itu, terdengar suara sayap memukul dibarengi suara ce cuwitan di atas kepala. Dua ekor, kelelawar menyambar Tiang Bu.

"Hushh........... jangan ........... !. seru Sin Hong dan  tiba- tiba tubuhnya terpental  ke  belakang terhuyung-huyung dan ia muntahkan darah segar. Saking cemasnya  melihat  Tiang Bu diserang dua ekor kelelawar berbisa,  Sin Hong sampai lupa diri dan tadi mengeluarkan suara mengusir binatang- binatang itu. Padahal dalam pertandingan lweekang di mana menghadapi lawan yang sama kuatnya sehingga ia perlu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, bicara merupakan pantangan keras. Begitu ia  terkejut  dan  terguncang hatinya ia mengeluarkan suara, tenaganya membalik dan memukul diri sendiri membuat ia terpental dan memuntahkan darah karena di dalam dadanya mergalami  guncangan  pukulan yang mendatangkan luka.

Sementara itu, Tiang Bu yang tadinya juga mencurahkan seluruh perhatian ke pada lawannya, menjadi gugup ketika tahu-tahu dua titik hitam menyambar ke arahnya dengan tepat sekali. Baiknya Sin Hong sudah terpental mundur sehingga ia bebas. Akan tetapi saking lamanya ia mengadu tenaga tadi, tangan kanannya yang memegang ranting sampai terasa kaku dan kesemutan. Maka ia cepat mengangkat tangan kiri menyampok kelelawar yang menyerang kepalanya.

"Plak  !”  KeIelawar  itu  terlempar  dan   kepalanya   remuk. Ke lelawar ke dua sudah tiba dan tanpa dapat dicegah lagi menggigit leher Tiang Bu sebelah kiri. Akan tetapi,  juga kelelawar ini begitu menggigit. tubuhnya berkelojotan dan terlempar ke bawah terus mati ! Kiranya tenaga sin-kang di tubuh Tiang Bu ketika tadi  dikerahkan,  masih  bekerja  keras dan begitu ada yang menggigit leher, otamatis tenaga itu mengalir ke lehe r menyerang lelelawar tadi.

Sin Hong melihat betapa kelelawar itu menggigit  leher Tiang Bu. ia menjadi kaget sekali.

"Celaka ...... !" teriaknya dia cepat melo mpat ke dekat Tiang Bu tanpa memperdulikan lukanya sendiri. Tiang Bu hanya merasa lehernya tertusuk dan gatal sekali, hidungnya mencium hawa busuk yang memuakkan. Biarpun ia belum berpengalaman, namun sikap Sin Hong dan bau busuk itu menimbulkan dugaan Tiang Bu bahwa kele lawar ini tentu bcrbisa. Cepat ia meramkan mata dan mengarahkan kekuatan batinnya seperti yang pernah dilatihnya dari kitab Seng-thian-to. Di lain saat ia roboh pingsan !

Wan Sin Hong adalah seorang yang tidak saja memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu pedang nomor satu, akan tetapi ia juga terkenal bagai ahli pengobatan yang jempolan sehingga beberapa orang kang-ouw yang pernah ditolongnya diam- diam memberi julukan Yok-ong (Raja Obat) kepadanya. Sebagai ahli waris kitab pengobatan dari Kwa-siucai ahli segala racun, tentu saja begitu melihat kelelawar peliharaan Toat-beng Kui bo di tempat itu Sin Hong lantas tahu bahwa kelelawar itu adalah sejenis binatang yang amat berbisa.  Kelalawar  pantai  laut  selatan  ini  sekali  menggigit  orang sukar diobati lagi.

Bahkan setelah meneliti keadaan bisa kelelawar ini puluhan hari lamanya, Sin Hong hanya sanggup mengobati racun gi gitan binatang itu asal saja racun belum menjalar ke jantung orang yang digigit. Hal ini hanya bisa terjadi apabila orang yang digigit segera mendapat pertolongannya, akan tetapi tempat yang digigit itu  jauh  dari  jantung,  karena racun yang jahat  ini agak lambat  jalannya.  Se karang Tiang Bu digigit di lehernya, dekat jalan darah, dalam  beberapa detik saja tentu racun telah menjalar ke jantung dan tak mungkin diobati pula! Maka dengan sedih Sin Hong cepat berlutut memeriksa keadaan luka pemuda itu setelah agak merasa heran mengapa kelelawar yang menggigit itu mati mendadak.

Untuk ketiga kalinya, Sin Hong terkejut dan terheran- heran lalu kagum setelah ia mameriksa leher yang terkena gigitan kelelawar itu. Pertama kali ia kaget menyaksikan ilmu silat tangan kosong dari Tiang Bu yang terang jauh mengatasinya,   kedua  kalinya ia terperanjat  menghadapi te napa sinkang dari pemuda itu luar biasa sekali. Kini untuk ketiga kalinya ia kaget bukan main menyaksikan hal yang aneh sekali. Tiang Bu pingsan  bukan karena gigitan kelelawar, akan tetapi pi ngsan yang aneh, jalan darahnya terhenti sama sekali akan tetapi napasnya masih be rjalan perlahan-lahan.

Hebatnya, racun kelelawar yang jelas kelihatan hitam itu berkumpul dan diam di bawah kulit leher, tidak bergerak- gerak dan tidak menjalar ke mana-mana karena semua peredaran darah pe muda itu berhenti  seperti  tubuh  yang sudah tidak bernyawa lagi! Akan tetapi jelas pemuda  itu masih hidup karena napasnya masih keluar masuk, hanya detak jantungnya berhenti !

Sin Hong tidak membuang banyak waktu lagi. Cepat ia mengeluarkan jarum peraknya dan menus uki luka di leher itu menge luarkan se mua racun hitam dengan amat mudah karena hanya berkumpul di bawah kulit. Sambil bekerja ia mengingat-ingat akan penuturan gurunya dahulu, Pak Kek Siansu tentang ilmu batin yang gaib seperti Ilmu sihir, yakni dalam keadaan hidup mematikan raga. Dengan ilmu inilah orang dapat me lakukan segala hal aneh seperti me nusuk lidah dengan pisau, menusuk dada dengan pedang, menginjak api, dan lain-lain tanpa merasa sakit dan tanpa berpengaruh apa-apa oleh keadaan raga. Apakah pemuda ini sudah memiliki ke pandaian semacam itu? Akan tetapi tidak mungkin kalau ini main sihir, karena pemuda itu pingsan.

Setelah selesai mengeluarkan semua racun dan selagi ia hendak mencekoki Tiang Bu dengan pel merah obat kuatnya, tiba-tiba Tiang Bu siuman, meraba lehernya yang sudah di tutup koyo (obat tempel), lalu berkata,

"Terima kasih atas pertolongan Wan siok-siok." Sin Hong melongo.  Ia  tidak  tahu  bahwa  sebe narnya  tadi  Tiang  Bu telah melakukan ilmu yang ia dapat dari kitab Seng-thian-to. Biarpun ia pingsan tak dapat bergerak karena seluruh peredaran darahnya ia "suruh" berhenti, namun ia masih sadar. Inilah kehebatan ilmu "menguasai" peredaran darah dan jalanan napas dan hawa dalam tubuh!

“Kau...... kau hebat sekali, Tiang Bu…..”, kata Sin Hong dalam hatinya takluk betul. Kini ia boleh melepas anak ini menemui Toat-beng Kui-bo dengan hati  tenang karena percaya penuh bahwa kepardaian pemuda cilik ini sudah cukup  tinggi untuk menghadapi nyonya besar majikan daerah Bin-mo-tong ini.

"Wan siok-siok, kiranya sekarang kau tak-kan begitu pelit untuk membuka rahasiaku. Siapakah ayah bundaku sesungguhnya dan mengapa sejak kecil aku menjadi  anak ayah bundaku di Kim bun-to ?”

Sin Hong menjadi serba salah. Terbayang olehnya segala peristiwa di waktu dahulu (baca Pe dang Penakluk Iblis). Ia sudah berjanji takkan membuka rahasia itu yang akibatnya hanya akan memalukan Tiang Bu sendiri dan berarti pula mendatangkan kecemaran bagi nama baik Nyonya Pangeran Wanyen Ci Lun. Pula Sin Hong maklum betapa bencinya nyonya itu, Gak Soan Li, kepada anaknya keturunan Liok Kong Ji. Kalau ia membuka rahasia Tiang Bu, bukanlah itu sama halnva dengan me ndatangkan malapetaka bagi me reka semua ? Sin Hong menjadi bingung betul dan tak dapat menjawab. Tiba-tiba bintang penolong datang, berupa isterinya sendiri.

"Eh, Tiang Bu ! Kau di sini..........” teguran ini keluar dari mulut Li Hwa yang muncul dari balik batu-batu karang. Tiang Bu menengok dan melihat Hui-eng Niocu masih cantik dan lincah seperti dulu, hanya kini agak lambat gerakannya dan nampak lesu. Tentu saja pemuda ini tidak tahu bahwa itu adalah tanda-tanda seorang wanita sedang mengandung. Segera ia memberi hormat kepada Siok Li Hwa.

Melihat munculnya Li Hwa, Sin Hong mendapatkan kembali kete nangannya dan berkata kepada Tiang Bu.

"Tiang Bu,  kalau hendak bertemu dengan  Toat.beng Kui bo pergilah ke sana dulu. Kau ambillah jalan ini terus ke selatan, sampai di pinggir laut kau belok ke kanan melalui bukit batu-batu karang yang amat sukar. Di sana terdapat tujuh gua-gua besar. Nah, kau masuki gua-gua itu  satu demi satu dan di  salah satu antara tujuh gua itu kau tentu akan menjumpai orang tua itu. Kalau sudah selesai urusanmu dengan beliau, kau datanglah ke sini, nanti  aku akan memberi jawaban atas pertanyaanmu tadi." Dengan kata-kata ini selain untuk memberi petunjuk tentang jalan menuju ke tempat tinggal Toat-beng Kui-bo, juga Sin Hong "minta tempo" untuk berunding lebih dulu dengan isterinya.

Tiang Bu girang sekali. Tidak saja untuk petunjuk jalan mencari Toat-beng Kui-bo, akan tetapi juga karena janji Sin Hong. Ia percaya akan kata-kata pendekar itu. maka ia cepat menghaturkan terima kasih, lalu  menjura  kepada  Li  Hwa lalu melompat berlari cepat ke selatan. Dalam sekejap mata saja ia lenyap darI pandangan mata.

Sin Hong menarik napas panjang. "Luar biasa sekali, anak itu kelak akan menjadi jago yang tiada taranya. Kalau saja watak buruk ayahnya tidak menurun kepadanya...........”    Ia    lalu    menceritakan semua  peristiwa yang ia alami tadi kepada isterinya. Dengan terus terang ia akui sekarang saja kepandaian Tiang Bu sudah melampaui kepandaiannya, apalagi kelak beberapa tahun lagi  kalau Tiang Bu sudah dewasa benar-benar dan sudah banyak pengalaman.

"Aku bingung bagaimana harus menjawabnya," ia menutup penuturannya.

"Mengapa mesti bingung. suamiku? Ceritakan saja kepadanya, bahwa dia bukan putera Hong Kin dan Hui Lian, melainkan  putera  Soso  Li  dan  Kong Ji."

“Ah, tak mungkin aku sekejam itu. Kau  tahu  apa  yang akan terjadi kalau aku buka rahasia itu, Hwa-moi. Anak itu akan terpukul batinnya, Soan  Li  akan  tercemar  namanya dan kalau ibu dan anak  itu  dipertemukan,  aku  khawatir akan terjadi hal-hal hebat dan mengerikan."

Li Ilwa maklum akan maksud kata-kata suaminya. Dia memang sudah mendengar se mua tentang peristiwa itu dan tahu   betapa bencinya Soan  Li kepada anak kandung keturunan Kong    Ji. "Akan tetapi,   lebih tidak baik lagi menutupi kenyataan. Kulihat Tiang Bu bukan anak  bodoh dan akhirnya ia tentu akan tahu juga."

"Akan tetapi   aku    sudah bersumpah tak membuka rahasia Soan Li “

"Kalau begitu mudah saja, diatur supaya dia mendengar dari orang lain. Lebih baik diatur begini saja ...... " Isterinya yang cerdik ini lalu memberi petunjuk-petunjuk kepada suaminya. Sin Hong mengangguk-angguk setuju.

-oo(mch)oo- Kata-kata Sin Hong ketika memberi petunjuk kepada Tiang Bu tentang tempat kediaman Toat-beng Kui-bo memang betul. Setelah Tiang Bu sampai di tepi laut dan membelok ke karan, ia benar-benar menghadapi perjalanan yang amat sukar. Bukit batu karang yang mendoyong di sepanjang pantai laut itu nampak menyeramkan dan bukan tempat manusia. Pantas saja disebut Ban-mo-tong (Gua Selaksa Iblis) karena memang banya iblis dan siluman saja yang patut tinggal di daerah ini. Perjalanan ke gua-gua yang disebutkan oleh Sin Hong bukan perjalanan mudah dan hanya orang-orang berkepandaian tinggi saja dapat lewat di sini. Jalan menanjak atau menurun selalu melalui  ujung- ujung batu karang yang tajam meruncing. Jalan di atas batu-batu karang ini tanpa pe ngerahan ginkang yang tinggi, akibatnya tentu sepatu hancur dan telapak kaki luka-luka.

Dari jauh sudah nampak tujuh buah gua menghitam seperti mulut-mulut siluman raksasa terbuka dengan  gigi- gigi runting monongol dari bawah dan bergantungan di atas gigi-gigi runcing batu karang pula. Tentu saja Tiang Bu tidak tahu di dalam guha yang mana di antara tujuh buah itu adanya orang yang dicarinya, maka terpaksa ia mencari dari guha pertama. Perjalanan yang amat sukar.

Gua itu kosong, hanya ada beberapa e kor kelelawar menyambar keluar, akan tetapi se gera menjauhi Tiang  Bu ketika pemuda ini menyampok dongan pengerahan hawa pukulan yang cukup akan dapat mematikan binatang- binatang itu kalau berani mendekat. Te rpaksa turun lagi dan perjalanan dari gua pertama ke gua kedua lebih sukar lagi. Kembali kosong!

Tiang Bu benar-benar diuji kesabarannya atau agaknya Toat beng Kui-bo sengaja mempermainkan anak muda ini karena setelah ia buang waktu setengah hari,  bersusah- payah merayap dari gua ke gua sampai gua ke enam ternyata semua gua yang didatangi Tiang Bu kosong ! Hari telah mulai senja ketika Tiang Bu tanpa mengenal lelah mendaki naik ke bukit gua ke tujuh. Dari jauh sudah nampak titik-titik hitam, yang ternyata adalah kelelawar- kelelawar hitam kelelawar-kelelawar berbisa yang terbang tinggi  di  atas   kepala   Tiang   Bu   berkeliling  seakan-akan pe ngintai-pengintai yang pandai. Diam-diam Tiang Bu  ngeri juga melihat ada kelelawar yang amat besar. Panjang dari ujung sayap kiri ke ujung sayap kanan tidak kurang dari sedepa dan besar badan binatang itu seperti anjing kecil. Akan tetapi binatang-binatang ini tidak menyerang, maka Tiang Bu juga bersikap tenang saja me lanjutkan perjalanannya di atas batu-batu karang yang runcing itu, memegang sana meraba sini. Telapak tangan dan kakinya sudah mulai pedas-pe das.

Akhirnya ia sampai di mulut gua dan pertama-tama yang menyambutnya adalab asap putih yang harum dari dupa wangi yang dibakar orang di dalam gua! Ia merayap terus dan...... be nar saja, di dalam gua itu duduk bersila menghadapi dupa terbakar dan dikelilingi oleh "hulubalang- hulubalangnya" yaitu kelelawar-kele lawar besar  yang sayapnya hitam berbintik-bintik. Toat-beng Kui-bo memandang ke arahnya dengan tersenyum mengerikan! Nenek ini tertawa tanpa mengeluarkan suara, kemudian ketika ia mengangkat tangannya yang penuh kuku panjang ke depan, baru suara ketawanya terdengar, cekikikan seperti suara iblis tertawa.

“Hi-hi-hi-hi, kau bocah murid hwesio malas di Omei-san ! Besar sekali nyalimu, datang dan menjenguk ke semua gua- guaku. Hi-hi-hi-hik, kalau bukan murid Omei-san aku suka mempunyai murid setabah ini .......!” Kata-kata sambutan ini melegakan hati Tiang Bu, karena tadinya ia mengira bahwa begitu bertemu ia tentu akan diserang mati-matian oleh nenek biang iblis ini. Ia sudah siap sedia dan diam-diam ia juga tidak berani memandang ringan kepada nenek tokoh dunia selatan ini. "Locianpwe, harap maafkan kalau aku yang muda berlaku lancang, datang menghadap tanpa dipanggil," katanya hormat.

“Hi-hi-hi-hi, dasar murid gundul gendeng. Bersopan- sopan menjemukan!” Nenek itu mengambil babakan kayu harum dan mengawurkannya di atas pedupaan. Asap baru putih tebal bergulung-gulung naik dan bau harum memenuhi gua yang buruk dan kotor itu. "Orang muda, kau datang ada apakah? Apa tidak cukup bertemu dengan anak mantuku di luar sana?"

"Aku sengaja datang mencari locianpwe untuk minta kembali kitab Omei-san yang dulu terbawa ke sini." Tiang Bu masih berlaku sabar dan menghindar kata-kata tuduhan mencuri.

"Kalau aku tidak mau mengembalikannya kepadamu, bagaimana?” Sepasang mata itu liar  menyapu  keluar  gua dan dua ekor kelelawar datang dari luar, sedangkan yang berada di dalam menggelepar-teleparkan sayap.

"Kalau demikian, terpaksa aku yang muda berlaku kurang ajar dan mohon dilanjutkan  pibu  di  puncak Omei- san dahulu. Aku bersedia mengorbankan nyawa untuk memenuhi tugas ini mengumpulkan kembali kitab kitab Omei -san yang tercuri."

“Hi hi hi! Kau luar biasa sekali. Hebat. Setua ini baru sekarang ini aku mengalami ditantang oleh seorang bocah masih ingusan! Benar-benar besar sekali nyalinya. Bocah siapa namamu?”

"Namaku Tiang Bu." jawab pemuda singkat. "Tidak pakai she (ke turunan)?"

Tiang Bu menggeleng kepala. "Lupa lagi siapa she ku!"

Nenek itu tertawa cekikikan, suara ketawanya aneh sekali, ada nada marah ada juga nada menangis. Binatang- binatang kelelawar di dekatnya beterbangan tidak menentu di atas kepalanya, agaknya merekapun bingung mendengar suara ketawa ini dan tidak tahu me reka diperintah apa.

“Masih kecil kau sudah memiliki watak aneh," kata Toat- be ng Kui-bo, kemudian ia  nampak sungguh-sungguh ketika terkata  lagi,  "Tiang  Bu, karena kau mewakili dua orang gundul Omei-san yang sudah tewas, baik  aku  mengaku terus terang bahwa  dalam keributan itu, aku menyelamatkan sebuah kitab dari tangan  pencuri  itu.  Akan te tapi setelah kulihat, kitab ini ternyata cocok sekali untuk seorang tua bangka yang penuh dosa seperti aku, sama sekali tidak ada artinya bagi seorang bocah seperti engkau. Kitab ini dapat berjasa bes ar sekali untuktu dan karenanya akan kupelajari untuk bekal mati. Kau tidak boleh minta kembali."

Mana Tiang Bu mau percaya? Kalau kitab tidak berarti, mana nenek ini mau mengambilnya dan menahannya ? Tentu kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi. Ke dua orang suhunya pernah me nyatakan kepadanya bahwa kalau kitab- kitab pelajaran ilmu silat tinggi terjatuh ke dalam tangan orang jahat, maka akan me rupakan hal yang berbahaya sekali, dan harus dihalangi. Le bih baik kitab pelajaran itu dibakar dari pada terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Karena selain hal itu berarti akan memperkuat kedudukan orang-orang jahat, juga kelak dapat mencemarkan nama baik dua orang hwesio Omei-san itu, bahkan dapat mencemarkan nama besar Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu dua orang guru besar itu.

"Kalau begitu, terpaksa aku minta pelajaran dari locianpwe," kata Tiang Bu menantang dengan sikap tenang. Kembali ia bersiap sedia menghadapi serangan mendadak dari nenek itu. Akan tetapi aneh, ne nek itu menghela napas dan tidak berbuat apa-apa, lalu berkata pe rlahan,

"Aku sudah pernah mencoba kepandaianmu di 0mei-san. Ilmu silatmu tinggi dan sinkangmu  hebat.  Tidak  kepalang dua orang kakek gundul mengambilmu sebagai murid. Akan tetapi jangan kira aku masih kurang akal dan kepandaian untuk membunuhmu. Mudah bagiku untuk membunuhmu, apalagi kau berada di sini. Hemm, soalnya semenjak

membaca kitab itu, aku tidak mau lagi membunuh manuaia tanpa dosa. Dan kau anak baik........... aku tidak mau menambah dosa"

“Locianpwe, memang akupun tidak suka berkelahi, apalagi dengan locianpwe yang berilmu tinggi. Akan tetapi kitab itu diambil dari Omei-san dan aku sudah menerima pesan suhu agar mengambil kembali semua kitab-kitab itu."

"Dan selanjutnya? Akan kauapakan kitab-kitab itu?"

“Selanjutnya terserah kepadaku. akan tetapi sudah pasti kitab-kitab itu takkan terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat."

"Ha, kau menggolongkan aku manusia jahat ? Memang tidak salah. Aku jahat, lebih jahat dari pada kelelawar- kelelawar berbisa ini. Aku tadinya tidak perduli, tidak takut hukuman neraka. Tidak tahunya semua itu ada hukuman timbal baliknya dan semua perbuatanku merupakan tamparan bagiku sendiri. Ah, bocah bernyali besar, tahukah kau bahwa kalau aku belum membaca  kitab yang kauminta itu, pada saat ini kau tentu sudah menggeletak mampus dan darah  serta dagingmu menjadi umpan  kelelawar- kelelawarku?"

"Aku tidak takut mati, locianpwe. Lebih baik mati menjalankan tugas dari pada hidup melihat kitab dipelajari orang lain dan kelak kepandaian  dari  kitab  di pergunakan untuk perbuatan jahat."

“Ha, kau memang hebat. Apa kaukira kitab itu kitab pelajaran ilmu silat Tiang Bu, kalau itu kitab pelajaran silat, mana aku sudi menyimpannya ? Semua ilmu silatku boleh kutukar cuma-cuma dengan pelajaran dari kitab  itu.  Kau tidak percaya ? Apa kau mau berjanji bahwa kalau kitab itu bukan pe lajaran silat kau mau meminjamkan atau memberikan kepadaku?”

Tiang Bu berpikir sejenak. Dua orang suhunya adalah hwesio-hwesio yang alim dan suci. Sangat boleh  jadi  di antara sekian banyaknya kitab-kitab itu, terdapat kitab-suci yang tidak ada hubungannya dengan ilmu silat, melainkan kitab pelajaran ilmu batin agar manusia dapat mencari kebenaran sejati. Kalau betul kitab itu hanya pe lajaran agama atau kebatinan dan dapat "menyembuhka Toat-beng Kui-bo dari kejahatannya, bukankah akan  berjasa baik dan apa salahnya dipinjamkan ?

"Baik. locianpwe. Aku berjanji bahwa  setelah  melihat kitab itu dan mendapat kenyataan hanya kitab pelajaran berhubungan de ngan kebatinan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu silat atau ilmu kegagahan lain, kitab itu boleh kupinjamkan kepada locianpwe untuk sepuluh tahun lamanya.

Nenek itu tertawa cekikikan. "Kau memang bocah pintar dan berhati baik. Nah, kau periksalah kitab ini !” Sambil berkata demikian, Toat-beng Kui-bo mengeluarkan sebuah kitab yang sampulnya kuning dan melemparkan kitab itu ke arah Tiang Bu. Pemuda ini segera menerimanya dan cepat membalik-balik lembaran kitab itu di bawah penerangan matahari yang sudah me nyuram. Pada halaman pertama ia melihat judul kitab itu ditulis dengan huruf-huruf besar.

DELAPAN JALAN UTAMA

Di bawah huruf-huruf besar ini tertulis dengan huruf- huruf kecil. Sari pelajaran dari Yang Mulia Ji lai hud untuk membebaskan diri dari Siksa Dunia.

Tiang Bu mengerutkan kening. Melihat nama Tiong Jin Hwesio di ujung bawah sampul dan melihat tulisan- tulisan kecil itu, tidak salah lagi bahwa kitab ini memang kitab suhunya. Dan melihat bunyi judul dan penjelasannya, tidak dapat disangsikan lagi bahwa ini tentu kitab pe lajaran yang menjadi kitab suci dari Agama Budha, mengandung semacam pelajaran kebatinan. Ia masih kurang puas, dan membuka-buka halaman selanjutnya.

Dengan pandang matanya yang tajam ia mencari-cari namun tak dapat menemukan sebuah kalimatpun yang menulis tentang ilmu silat. Ia melihat kalimat-kalimat  yang tak dimengertinya seperti: "Hanya ada Delapan Jalan Utama, Empat Kebenaran Mulia, kebajikan yang utama adalah Bebas Nafsu, manusia utama adalah dia yang dapat melihat pelajaran ini". Di bagian lain dari kitab itu Tiang Bu membaca kalimat-kalimat yang berbunyi: "Segala yang tercipta akan musnah. Segala yang tercipta mendatangkan duka nestapa dan sakit. Segala bentuk itu tidak  aseli  dan palsu adanya”. Dan banyak kaIimat-kalimat lain yang tidak begitu jelas baginya, akan te tapi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu silat.

(Bersambung jilid ke XII)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain