Tangan Geledek Jilid 10

Jilid 10

TlANG BU merasa kaget sendiri. Memang ia sudah memiliki ginkang yang tInggi bahkan dapat dengan baik melakukan ilmu lompat Liap in sut (Ilmu Mengejar Awan) akan tetapi kali ini begitu ia me nggerakkan kedua kakinya tubuhnya melesat bagaikan didorong orang dari belakang. Ia mengira tentu suhunya yang membantunya, maka hatinya besar lagi dalam melakukan penyerangannya kepada nenek yang menakutkan ini.

Toat-be ng Kui-ho tertawa mengejek. "Kau seperti burung baru tumbuh sayap ....” Akan tetapi kata-katanya terputus dengan terpaksa karena tahu-tahu pukulan anak itu sudah mendekati dadanya dan didahului angin pukulan yang kuat sekali. Cepat nenek ini mengangkat lengan menangkis dan untuk kedua kalinya ia terkejut karena lengan tangannya tergetar hebat. Sebaliknya Tiang Bu juga merasa lengannya terge tar, akan tetapi hanya se bentar,  Dari  dalam  perutnya naik semacam hawa panas yang mengalir ke lengaan yang membuatnya merasa kuat sekali. Sebelum tubuh turun ke atas tanah, ia telah dapat manggerakkan tangan kanan menampar pundak kiri Toat beng Kui-bo. Gerakan ini bukan tamparan  biasa  karena  sekali  me nampar  ia  telah mengancam tiga pusat jalan darah terutama di tubuh bagian atas.

“Hayaaaa….!” Toat-beng Kui-bo menjerit dan cepat ia mengeluarkan gerakan ilmu silatnya yang aneh. Kedua tangannya ying seperti cakar ayam itu mencakar ke depan yang kiri mengejar gerakan tangan Tiang Bu, yang kanan mencakar ke arah muka bocah itu. Perlu diketahui bahwa kuku-kuku tangan nenek ini mengandung hawa pukulan beracun yang amat lihai, yaitu racun kelelawar yang selalu mengawaninya. Jangankan kuku-kuku itu sampai masuk di daging lawan, baru menggurat kulit saja sudah cukup membuat lawan roboh binasa !

Akan tetapi Tiang Bu sudah mempelajari banyak gerukan ilmu silat yang amat tinggi. Sebelum ia berlatih di bawah pengawasan dua orang kakek sakti Omei-san itu, diapun sudah paham Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang hebat  dan cukup kuat untuk menghadapi tokoh-tokoh besar, serta sudah ahli malakukan gerakan kaki Lam-hoan.sam-hu untuk membebaskan diri dari segala macam serangan aneh. Cuma saja, kepandaiannya itu dahulu masih belum masak, belum kuat dasarnya.

Apalagi dia masih belum memiliki sinkang, maka tentu ia takkan menang kalau menghadapi lawan tangguh. Sekarang lain lagi, di luar pengetahuannya sendiri, anak ini sudah memiliki lwee-kang yang tiada taranya di dalam tubuhnya, warisan dari twa-suhunya.  Sayang ia selain belum mengetahui akan hal ini, juga belum biasa mempergunakan sinking   dengan  sebaiknya. Begitu me lihat berge raknya kedua tangan lawan, Tiang Bu cepat me ngangkat tangan kiri, dengan jari telunjuknya ia melakukan sentilan ke arah pergelangan tangan itu.

Inilah   gerakan   dari   It-ci-tia:n-hoat   (Menotok   Satu   Jari) dan tangan kanannya tetap saja   melakukan serangan. Ketika hendak dicakar,  tangan kanannya itu  otomatis mengelak sambil me lanjutkan serangan ......... "kokk !” leher nenek itu telah kena dipukul dengan jari-jari  miring. Nenek itu mengeluh, tubuhnya terhuyurg huyung sampai lima tindak. Iniltah hebat ! Tadi melihat datangnya pukulan yang tak mungkin dapat dihindarkannya lagi, ia sudah bersiaga. Dengan pengerahan tenaga Chian-kin.jat (Tenaga Seribu Kati) ia menanti datangnya se rangan anak itu sambil dia diam-diam mentertawai Tiang Bu karena sudah banyak orang gagah berjungkir balik roboh memukul nenek yang mengerahkan tenaga hebat ini.

Akan tetapi. alangkah kagetnya ketika tangan bocah itu mengenai lehernya ia merasa jalan pernapasan di lehernya seperti dicekik setan dan tubuhnya terhuyung tak dapat ditahan lagi ! Masih baik bahwa tubuhnya terhuyung dan ia tidak mengerahkan tenaga pada kedua kakinya. Kalau sekiranya demikian tentu pukulan itu datangnya akan lebih hebat dan sangat boleh jadi tulang lehernya akan remuk.

Kejadian ini benar benar hebat dan luar biasa. Toat-beng Kui-bo adalah seorang yang kepandaiannya amat tinggi dan tenaga lweekangnya sudah sampai di puncak yang  amat tinggi. Biarpun harus ia akui bahwa semua kesalahannya itu memang sebagian besar karena kesalahannya sendiri, yaitu terlalu memandang rendah lawan, namun seorang bocah seperti ini dapat memukulnya sampai sedemikian benar- benar hampir tak dapat dipercaya.

"Setan iblis anak haram, kau ingin mampus?' bentak Toat-bong Kui-bo yang me rasa tersinggung kehormatannya sebagai seorang datuk persilatan.  Tongkatnya diputar sampai berubah menjadi sinar hitam bergumpal-gumpal menyilaukan dan menggelapkan pandangan mata.

Akan letapi pada saat itu terdengar Tiong Sin Hwesio berseru kaget.

"Cclaka, penjahat membakar gedung kitab !!" Ketika semua orang memandang, benar saja pondok itu bagian belakangnya sudah menjadi lautan api dan di antara asap dan api itu berkelebatan beberapa bayangan orang.

"Tiang Bu ! Bantu pinceng menangkap pcnjahat dan melindungi kitab.kitab !" seru Tiong Jin Hwesio. Akan tetapi pada saat  itu,  Tiang Bu sedang memandang ke  arah  Tiong Sin Hwesio yang kini sudah rebah terlentang dengan muka ditutup kain. Ia tidak tahu bahwa tadi Tiong Jin Hwesio merawat janazah suhengnya yang sudah mulai mendoyong letak duduknya dan me mbaringkan jenazah itu dengan baik di atas tanah serta menutupi muka itu dangan  kain.  Kini Tiang Bu tidak memperdulikan seruan Tiong Jin Hwesio, bahkan tidak perdulikan gurunya itu berlari ke arah tempat kebakaran.

Anak itu sebaliknya lari menghampiri tubuh suhunya, berlutut dan menyingkap kain pcnutup muka. Melihat muka suhunya pucat kebiruan dan tak bergerak lagi, ia  kaget bukan main. Apa lagi se telah ia menjamah tangan  gurunya itu dan mendapatkan bahwa kakek ini sebcnarnya telah putus nyawanya. Tiang Bu lalu menangis mengggerung- gerung.

Kebakaran itu merubah keadaan di depan pondok. Toat- be ng Kui-bo tiba-tba lupa kepada Tiang Bu dan sambil mengeluarkan suara ketawa cekikikan, ia menutulkan tongkatnya di atas tanah dan tubuhnya berkelebat menengejar Tiong Jin Hwesio.

"Toat bcng Kui-bo, berhenti dulu" Tubuh Sin Horg berkelebat dan cepat sekali ia mengejar Toat-beng Kui-bo.

Juga Ang jiu Mo-li sambil menggandeng dua orang muridnya telah pergi dari situ, demikian pula Pek-tbow- tiauw-ong Lie Kong betsama isterinya saling pandang dan cepat mcnyusul orang.orang itu menuju ke tempat kebakaran. Mudah saja diduga niat mereka. Tentu akan mcncoba-coba barangkali mereka dapat memperoleh sebuah dua buah kitab pusaka. -oo(mch)oo-

"Tiang Bu......... ! siniii !!"

Tcriakan dahsyat dari Tiong Jin Hwesio ini menyadarkan Tiang Bu. Bocah ini mendengar suara ji -suhunya seperti orang minta tolong. Cepat ia menutupkan kain di atas muka suhunya yang sudah mati itu dan menggerakkan tubuh, ia telah melesat cepat sekali ke arah suara itu. Untuk kedua kalinya ia merasa heran atas keringanan tubuhnya sendiri. Akan tetapi ia tidak ada tempo lagi untuk banyak berpikir akan hal ini. Ketika ia tiba di tempat itu, yaitu di belakang pondok, di situ telah terjadi pertempuran hebat.

Bagian yang lerbakar adalah di sebelah kamar kitab dan kini api sudah mulai membakar gudang kitab di mana terdapat ratusan buah kitab kuno dari macam-macam pelajaran. Dan di luar tempat kebakaran itu. di sana-sini menggeletak tubuh orang yang sudah menjadi mayat. Pek- thouw-tiauw.ong Lie Kong yang beradu punggung dengan isterinya, bertempur melawan enam orang yang tak dikenal oleh Tiang Bu. Kalau saja dua ekor burung rajawali mereka tidak membantu, tentu suami isteri ini akan terdesak hebat. Agaknya beberapa pengcroyok tadi telah tewas oleh  dua cakar burung itu, terbukti adanya tanda-tanda darah pada paruh dan cakar mereka dan di dekat tempat itu tcrdapat beberapa orang yang kepalanya dan mukanya pecah-pe cah penuh darah.

Di lain bagian, Ang.jiu Mo-li juga mangamuk. Tokoh utara ini mainkan pedang yang bersinar merah, tangan kirinya juga memukul-mukul, bahlcan kadang-kadang tangan kirinya menyebar pat-kwa-ci, senjata rahasianya yang mengintai nyawa para pengeroyoknya. Ia dikeroyok oleh empat orang yang kosen juga.

Tak jauh dari situ, Toat-beng Kui-bo bertempur melawan Sin Hong dan dua orang tak terkenal membantu Sin Hong mengeroyok nenek itu. Yang mengherankan hati Tiang Bu adalah orang-orang yang tidak dikenalnya yang semua berpakaian seperti orang-orang asing dan melihat pakaian mereka, mudah duga bahwa mereka itu adalah orang-orang segolongan yang entah datang diri mana.

Akan tetapi ia tidak dapat memperhatikan terlalu lama karena sege ra ia melihat gurunya tengah dikeroyok oleh tiga orang. Orang pertama adalah  seorang  tosu  berkaki  satu, yang luar biasa lihainya. Orang ke dua ia kenal yaitu Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun dan orang ke tiga membuat Tiang Bu marah bukan main karena orang ini adalah  Liok  Kong  Ji yang mengaku berjuluk Thian-te Bu-te k Taihiap mengaku pula sebagai calon bengcu seluruh dunia dan paling celaka mengaku sebagai.. ayahnya !

Keadaan Tiong Jiu Hwesio payah sekali Tangan kiri hwesio jangkung kurus ini meme luk tiga buah kitab dan ia menghadapi tiga orang lawannya hanya dengan sebelah tangan, namun ia terdesak hebat. Terutama sekali tosu buntung kakinya itu lihai bukan main, sedangkan Bouw Gin dan Liok Kong Ji juga bukan orang-orang lemah. Jelas sekali bahwa Tiong Jin Hwesio sudah terluka hebat.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, Tiang Bu mengeluarkan suara bentakan dan cepat menyerbu, membantu suhunya. Karena ia paling benci kepada Kong Ji yang mengaku-aku sebagai anaknya, Tiang Bu menyerang Kong Ji dengan memukulkan tangan kanannya  ke  dada orang itu.

Liok Kong Ji adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Dia adalah ahli ilmu-ilmu keji seperti Ilmu Pukulan Tin-san-kang (Pukulan Merobohkan Gunung) yang lihai dari Giok Seng Cu, Hek-tok-ciang ( Tangan Racun Hitam) dari See thian Tok-ong, bahkan ia paham pula Thian-bong-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Angin Taufan) yang dipelajarinya dari Hwa I Enghiong Go Ciang Lee dahulu. Di samping ilmu-ilmu hebat ini, ia masih memiliki banyak macam ilmu silat yang lihai dan ganas. Oleh karena itu, tentu saja ia me mandang rendah kepada Tiang Bu. Akan tetapi oleh karena ia tahu bahwa bocah ini adalah puteranya, ia tentu saja tidak mau mencelakai Tiang Bu. Pukulan bocah itu diterimanya dengan tangkisan pelahan agar jangan sampai ia melukai tangan bocah itu.

Akan tetapi ia kccele dan alangkah terkejutnya ketika belum juga tangan Tiang Bu mengenainya, hawa  pukulan yang menyambar keluar dari tangan anak itu sudah terasa olehnya, kuat sekali ! Kedua lengan bertemu ….. Kong Ji mengeluarkan seruan kaget dan tak dapat ditahan lagi ia terjengkang roboh ketika Tiang Bu yang cepat sekali gerakan tangannya telah merobah serangannya yang tertangkis tadi menjadi dorongan. Dengan gemas Tiang Bu melompat mendekati dan hendak mengirim pukulan pula. Kong Ji menyesal sekali mengapa tadi  ia memandang ringan  bocah ini sehingga saking kurang hati-hatinya ia kena dorongan roboh.  Ia melihat sinar maut  di  dalam pandang  mata anak itu dan se rangan yang datang bukan main cepatnya.

Betapapun besarnya kasih hatinya kepada anaknya yang belum mau mengakuinya itu, Kong Ji tentu saja lebih cinta kepada diri se ndiri. Melihat kedatangan Tiang Bu yang melakukan serangan luar biasa, Kong Ji cepat menggerakkan kedua tangannya dan. ...... sinar hitam yang banyak sekali meluncur memapak kedatangan tubuh Tiang Bu.

“Tiang Bu, hati-hati......... !" seru Tiong Jin Hwesio kaget. Akan tetapi karena ia memecah perhatian ke arah Tiang Bu, ia berlaku lengah dan ujung tongkat dari tosu buntung itu tepat menotok iga kanannya.

"Tukk !" Tubuh  Tiong  Jin  Hwesio  te rlempar  dalam keadaan masih berdiri. Hwesio jangkung kurus ini tidak roboh akan tetapi ketika kakek buntung itu melayang dan menyambar, sebuah kitab dapat terampas lawan. Se karang tinggal dua buah kliab saja di tangan Tiong Jin Hwesio. Namun  hwesio tua  ini  benar-benar sakti. Biarpun  ia  sudah te rkena totokan demikian he bat, hanya sebuah saja dapat dirampas musuh dan di lain saat ia sudah mengamuk lagi. Tangan kanannya be rgerak-gerak mengeluarkan angin dan hawa pukulannya dapat menahan serangan Bouw Gun dan tosu kaki buntung.

Adapun Tiang Bu yang terancam bahaya maut oleh jarum-jarum racun hitam (Hek-tok-ciam) yang dilepaskan Kong Ji menjadi bingung. Biarpun bocah ini sudah memiliki kepandaian tinggi, namun pengalamannya masih dangkal sekali. Ia belum pernah bertempur menghadapi orang-orang lihai apalagi menghadapi se rangan senjata rahasia yang mengandung racun jahat. Me lihat sinar hitam yang berbau amis itu menyerangnya, Tiang Bu hanya menggerakkan dua tangan untuk me ngibasnya sambil me ngerahkan tenaga. Memang hebat! Dari kibasan kedua tangannya itu  keluar hawa pukulan yang kuat sekali sehingga jarum-jarum hitam itu terkibas runtuh semua. Namun ada dua  buah  jarum hitam yang masih melukai tangan kirinya sebelum tersampok jatuh. Darah mengucur dari dua luka kccil di tangannya.

Tiang Bu tidak menjadi gentar biarpun rasa luka-luka di tangan itu sikit dan panas sekali. ia me nubruk maju dan mengirim serangan lagi selagi Kong Ji berdiri termangu- mangu. Melihat anaknya terluka Hek-tok-ciang Kong Ji menjadi khawatir juga.

'Tiang Bu, kau  terluka  jarumku,  jang  banyak bergerak ”

Akan tetapi Tiang Bu tidak perdulikan  se ruan  ini  dan segera menyerang orang yang mengaku ayahnya akan tetapi melukainya itu dengan pukulan-pukulan Tat Mo Ciang hoat yang ia pelajari dari Tiong Sin Hweso. Ilmu silat kuno warisan Tat Mo Couwsu, yang merupakan sebuah dari pada sumber-sumber seluruh ilmu silat di dunia. Menghadapi ilmu silat yang aneh, kelihatan lambat namun sukar diikuti gerakan- gerakannya ini, Kong Ji menjadi bingung.

Ia tahu bahwa bocah di depannya ini biarpun memiliki    kepandaian tinggi, namun  dalam pertempuran  masih hijau sekali, akan tetapi untuk   menjatuhkan tangan maut ia merasa sayang  karena bacah ini adalah  anaknya sendiri. Selain itu, sejak semula       telah

menyelinap di dalam otaknya yang cerdik suatu niat yang dianggapnya amat baik.

Tiang Bu agaknya telah mewarisi kepandaian sakti dari dua orang kakek Omei-san. Kalau

kelak bocah itu mau mengakui sebagai ayah, bukankah mudah saja "mengoper" semua kepandaian itu melalui anaknya ?

"Tiang Bu, kau......... kau puteraku. Jangan serang aku, mari kuobati tangnnmu yang terluka itu," katanya bcrulang ulang melompat lompat mundur menghindarkan tangan Tiang Bu.

"Kau pembohong, penipu, pengecut !" Tiang Bu bukan tunduk terhadap bujukan itu bahkan menjadi marah sekali dan terus menyerang dengan gencar. Karena bingung menahan ilmu silat itu dia tahu bahwa Tiang Bu me miliki tenaga sinkang yang bukan sewajarnya Kong Ji serba susah dan menjadi bingung. Pada saat itu terdengar seruan tosu kaki butung.

"Tai ciangkun (panglima besar), sudah dapat kitab. Hayo pergi !”

Biarpun kata-kata ini diucapkan seperti perintah, namun jelas bahwa kakek buntung menganggap Kong Ji sebagai atasannya. Kong Ji mendengar ini segera bersuit keras. Heran sekali. Semua orang yang tadi bertempur melawan Pek-tbouw thiauw-ong Lie Kong, dan isterinya, juga yang mengeroyok Ang-jiu Mo-li mendengar suitan ini lalu melompat pergi dan sekejap saja pertempuran berhenti semua dan Kong Ji serta kawan-kawannya lenyap dari situ, meninggalkan kawan-kawan yang sudah tewas, membawa yang terluka bersama mereka.

Tiang Bu melompat ke arah gurunya  yang  telah  roboh dan duduk bersila di atas tanah dengan muka pucat. Gurunya masih memegang dua buah kitab dan napasnya terengab-engah. ketika meli hat bocah itu, ia berkata lemah,

"'Tiang Bu, yang membakar ini ....... Thai Gu Cinjin.........

kaucari  dan kejar dia, rampas kitab yang dibawanya.........

kalau perlu bunuh dia “

Tiang Bu melompat cepat ke arah gudang yang terbakar. Hatinya terasa perih melihat betapa kitab-kitab kuno itu telah  menjadi umpan api yang tak mungkin  dapat dipadamkan lagi. Kitab-kitab itu tak dapat ditolong lagi. Ia memandaog ke kanan kiri dengan beringas. Akan tetapi di situ tidak terdapat bayangan manusia,  maka ia  lalu melompat ke atas genteng pondok dan memandang tajam kesemua jurusan. Jauh sekali di lereng gunung ia melihat bayangan Liok Kong Ji dan kawan-kawannya. Kalau saja di antara tombongan ini tidak terdapat tosu buntung yang lihai, tentu Tiang Bu tidak akan mengenal rombongan siapa itu. Melihat tosu buntung dan banyaknya orang-orang yang turun, ia dapat menduga bahwa itulah bayangan Liok Kong Ji dan kawan-kawannya. “Hmmm, kalau saja suhu tidak menyuruh aku  mencari Thai Gu Cinjin, tentu aku akan mengejar me reka  pikirnya. Tiba   tiba  di    sebelah   kiri   ia    melihat   bayangan    orang be rkelebat. Cepat ia melompat turun dan mengejar sampai di bawah puncak, di daerah batu-batu karang tidak  kelihatan ada orang di situ, ia terheran-heran. Tak salah lagi penglihatannya, tadi ada dua atau tiga bayangan orang bcrkelebatan me ngapa sebentar saja lenyap?

Selagi ia celingukan, tiba-tiba terdangar suara orang berkelahi. Suara ini baru  te rde ngar  karena  terbawa  angin yang tiba-tiba bertiup ke arahnya, ia mengejar dan kiranya Giam-lo ong Ci Kui yang sedang bertempur itu, melawan seorang hwesio yang bertubuh gemuk bundar. Hwesio gemuk bundar itu mengeluarkan suara "hah! heh! hayaaa

...... .!" dengan suara jenaka. Ilmu silatnyapun aneh, berloncat-loncatan  seperti  katak  me lompat  Akan  tetapi sudah tentu ia bukan lawan Giam lo ong Ci Kui yang mendesak hebat dengan pukulan-pukulan Hui houw- tong.ree yang ganas.

Tiang Bu mengintai dari belakang batu karang dan ia menjadi   bingung  siapa  yang  harus  dibantunya. Ia tidak mengenal hwesio gemuk itu, dan tidak tahu pula mengapa mereka bertempur. Ia hanya bingung karena tidak melihat adanya Thai Gu Cinjin, ia merasa tidak perlu mencampuri urusan Giam-lo ong Ci-Kui dan hendak meninggalkan tempat itu. Tiba tiba muncul Liok-te Mo-ko Ang Bouw den Siangkong Ang Louw. Ang Bouw segera berkata.

"Suheng, tikus gemuk ini bereskan saja lekas-lekas. Semua orang sudah pergi dan biarpun kake k tua itu terluka parah, kalau dia menyusul ke sini kita bisa celaka!"

"Kalian bantulah. Anjing gemuk ini sukar sekali dipukul mampus," kata Ci Kui. Segera kedua orang sutenya menyerbu.

"Heh-heh heh, siluman-siluman hutan,  majulah. Sebelum kalian mengembalikan kitab curian, aku Hwa Thian Hwesio takkan mau mengampuni kalian maling-maling hina- dina."

"Hwa Thian Hwe sio, kau ini anjing pemerintah Kin, ada sangkut paut apakah dengan urusan kami? Kitab ini bukan kitabmu, kau perduli apakah?" kata Ci Kui marah.

"Ha-ha-ha,  dasar  bangsat  tetap  bangsat. Barang siapapun juga yang kaucolong, itu namanya tetap maling- Bagaimana pinceng harus mendiamkan saja? Pinceng paling anti kepada segala macam maling dan copet. Hayo kaukembalikan!”

*Suheng, habiskan saja dia ini!” seru Sin  saikong  Ang Louw marah sekali sambil melompat dan menyerang hwesio gemuk itu dengan cakarnya yang berbahaya.

"Ayaaa.........! Ini siluman atau binatang buas?" seru Hwa Titian Hwesio sambil mengelak dengan lompatan ke kiri. Biarpun  tubuhnya  gemuk bundar, namun gerakannya ternyata ringan sekali. Tiap kali tubuhnya turun ke tanah, segera terpental kembali ke atas. Karena ia me narik kedua kakinya, maka ia merupakan segundukan tubuh bundar seperti bola  yang selalu mental ke  atas  lagi   tiap kali menyentuh tanah.   Betapapun gesitnya, karena  yang menyerangnya adalah Pak kek Sam-kui yang lihai, dalam dua gebrakan saja cakar kuku tangan Sin-saikong Ang Louw telah mengenai pundaknya.  Hwesio  itu  cepat  miringkan pundak dan   "breett   ......   !"   bajunyaterobe k  ke bawah sehinggga nampak dadanya yang penuh daging dan gajih serta sedikit pe rut yang gendut seperti kerbau hamil.

"Eh, main rusuh .......!  Berkelahi  ya  berkelahi,  masa merobek baju seperti perempuan berkelahi ! Rusuh tak tahu malu!” Hwesio gendut itu marah-marah dan mengejek ketiga orang lawannya. Diam-diam Tiang Bu  menjadi  geli  melihat lagak  hwesio  gemuk  itu,  geli  tercampur  kagum  karena biarpun terdesak hebat  terang  sekali  nyawanya  terancam maut, hwesio ge ndut itu masih sempat mengolok-olok para lawannya, juga Tiang Bu tergerak hatinya ketika mendengar pe rcakapan antara mereka tadi dan sekilas pandang kearah baju Giam-lo-ong Ci-Kui, ia melihat sesuatu yang menonjol dari dalam saku baju Ci Kui. Tak salah lagi, tentu diapun mencuri sebuah kitab dari gudang yang terbakar, pikir Tiang Bu. Segera ia melompat dan menerjang iblis jangkung itu.

Lompatan Tiang Bu seperti kilat menyambar. Empat orang itu tidak melihat ia datang dan tahu-tahu bocah ini sudah tiba di depan Ci Kui, mengirim pukulan dengan tangan kiri ke arah muka kakek itu sedangkan tangan kanan terulur ke arah jubah yang me nonjol.

“Plakk ......... brettt........!” Giam.lo-ong Ci Kui menangkis. Terpekik kesakitan ketika lengan tangannya patah beradu dengan lengan Tiang Bu disusul terobeknya bajunya dan kitab yang disimpan di dalam sakunya telah berada di dalam tangan Tiang Bu.

Tiga orang setan utara itu menjadi bengong dan juga marah.   Mereka  merasa   kaget   dan    heran   menyaksikan ke hebatan bocah yang pernah menjadi murid mereka itu.

“Tiang Bu......... Kembalikan kitab kami!” Seru Ang Houw dan Ang Louw yang sudah melompat menghadapi Tiang Bu.

Bocah itu menggeleng ke palanya. "Apakah kalian ikut- ikut membakar gudang kitab Omei-san?” tanyanya, suaranya perlahan dan lambat, akan tetapi di dalamnja mengandung ancaman hebat. Kalau tiga orang kakek mengaku ikut membakar, ia takkan segan-sogan lagi untuk menyerang mereka dan kalau perlu membunuh mereka.

"Tidak, kami tidak membakar ..... kau tanya  Thai  Cu Cinjin, dialah yang membakarnya  bersama  Tee-tok  Kwan Kok Sun ...... " kata Ci Kui. "Akan tetapi kitab itu….. kauberikanlah kepada kami, Tiang Bu." Biarpun ia kesakitan dan marah sekali tulang lengannya sudah dipatahkan oleh bocah itu namun ia masih lebih sayang kepada kitab itu dan hendak membujuk Tiang Bu supaya suka memberikannya. "Tak mungkin. Bahkan  perbuatan  kalian  mencuri  kitab ini saja sudah harus dihukum.”

"Keparat busuk, murid murtad. Berani kau melawan guru-gurumu?” bentak Ang Bou sambil menubruk maju.

"Aku bukan murid kalian, hanya murid paksaan. Bahkan kalian telah menculikku.” Jawab Tiang Bu tenang sambil mengolok, lalu balas menyerang. Ang Bouw menangkis berbareng dengan datangnya Ang Louw yang menyerang hebat. Namun seperti juga Ci Kui, begitu beradu lengan dengan bocah itu, ke duanya melompat mundur dengan meringis kesakitan. Baiknya Tiang Bu yang kini sudah maklum akan kehebatan tenaga sendiri, masih ingat bahwa mereka pernah mengaku murid kepadanya maka tidak mau mengerahkan seluruh tenaga sehingga Ang Bouw dan Ang Louw tidak mengalami patah tulang lengan seperti Ci Kui. Namun cukup ketiga orang kakek ini maklum akan kelihaian Tiang Bu, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu melarikan diri menyusul rombongan Liok Kong Ji.

"Hayaaaa......... ! Kalau tidak kedua mataku yang lamur melihat sendiri, mana aku bisa percaya? Bocah ajaib .......

apakah kau pe njelmaan Sin-tong Lo cia!” tanya Hwa Thian Hwesio sambil mengelus elus perutnya yang gendut.

Lo Cia adalah seorang anak dewa yang sakti, tokoh terkenal sekali sepanjang masa dalam dongeng-dongeng Tiongkok. Kare na Lo  Cia  adalah  seorang  bocah  sakti  (sin tong) atau bocah ajaib, maka Hwa Thian Hwesio  yang melihat kelihaian Tiang Bu mengucapkan perbandingan itu. Memang sesungguhnya hwesio gandut ini kagum dan heran sekali. Selama hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan seorang anak berusia paling banyak empat belas tahun dapat mengalahkan tiga orang tokoh iblis seperti Pak kek Sam-kui.

Sekali pandang saja Tiang Bu merasa suka kepada hwesio gendut ini. Apalagi tadi ia sudah jelas mendengar kata-kata hwesio ini yang berjiwa gagah, hendak mencegah orang membawa lari kitab Omei-san.  Akan tetapi  pada saat itu ia tidak mempunyai banyak waktu untuk bercakap- cakap, maka setelah tersenyum sebentar ia bertanya.

"Mohon tanya, apakah losuhu tadi melihat Thai Gu Cinjin? Ke mana larinya?”

Sepasang mata Hwa Thian Hwesio yang sudah bundar besar itu kini melotot makin lebar seperti hendak meloncat keluar dari pelupuk matanya. Kalau ia terheran he ran metihat bocah ini dapat mengusir Pa.k-kek  Sam-kui, sekarang ia hampir tak percaya mendengar bocah ini bertanya tentang Thai Gu Cinjin dan seolah-olah hendak mengejarnya. Akan tetapi ia masih penasaran dan balas bertanya,

"Siauw-hiap mencari Lama Jubah Merah itu mau apakah?”

"Diapun me ncuri kitab dan dia  yang  membakar  pondok, aku harus mengejarnya dan menyeretnya  ke  depan  suhu atau membunuhnya !" jawab Tiang Bu tanpa ragu-ragu lagi dengan suara gemas.

Baru Hwa Thian Hwesio percaya dan se pasang matanya memandang penuh kekaguman. Dapatkah ia menduga bahwa tentu anak ini adalah murid dari kedua orang kakek sakti Omei-san. Ia cepat menudingkan telunjuknya ke arah utara sambil berkata,

"Tadi pinceng melihat  Thai  Gu  Cinjin  berdua  Tee -tok Kwan Kok Sun berlari ke sana, masing-masing membawa sebuah kitab. Pinceng tidak berani  menghalangi   mereka yang amat jahat dan lihai.”

"Sudah lamakah ?' Tiang Bu cepat memandang ke jurusan yang ditunjuk oleh hwesio itu.

"Sudah, tadi sebelum pinccng menghadang Pak-kek Sam- kui. Kiranya sekarang mereka sudah jauh di kaki gunung sebelah utara. Tiang Bu membanting-banting kaki kanannya dan hwesio yang berdiri kira-kira dua meter jauhnya dari padanya itu tiba.tiba terdorong roboh !

"Celaka......... harus kuheritahukan kepada suhu. Terima kasih atas kebaikanmu, losuhu." Tiang Bu terus berkelebat kembali ke atas puncak tanpa memperdulikan hwesio gendut itu yang masih rebah di atas tanah sambil memandang kepadanya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.

Setelah ia tiba di dekat pondok, ternyata gudang kitab itu sudah habis terbakar di kini api sudah merembet sampai di pondok depan dan agaknya tak lama lagi seluruh pondok bekas tempat tinggal kedua orang kakek sakti itu akan musnah menjadi abu. Hati Tiang Bu tiba-tiba menjadi perih dan untuk sejenak ia meramkan  mata  sambil  menggigit bibir.

"Maling-maling buruk itu jahat sekali. Awaslah,  kelak aku akan mencari kalian seorang demi seorang untuk diberi hajaran   atas kejahatan   kalian ini !”  katanya perlahan. Ke mudian ia menengok ke arah Tiong Jin Hwesio yang masih duduk bers ila. Tubuhnya tidak bergerak-gerak, akan tetapi bayangannya bergerak-gerak di depannya karena nyala api yang membakar di belakangnya itu bergerak.

"Suhu ...... !" Tiang Bo berlutut di depan gurunya, hatinya penuh haru dan duka. Tahu betapa sedihnya hati gurunya ini yang tidak saja kematian suhengnya, akan tetapi juga kehilangan kitab pusaka yang selama ini amat disayang melebihi nyawa sendiri. Kedua orang kakek itu selama ini menjaga dan melindungi kitab di dalam gudang itu seperti menjaga  keselamatan  sendiri  dan  sekarang sekaligus

kitab-kitab peninggalan Tat Mo, Cauws u dan Hoat Hian Couwsu itu menjadi abu.

"Suhu..... !" sekali lagi Tiang Bu berbisik dengan suara serak. Tiong Jin Hwesio menarik napas panjang, membuka mata dan di bawah sinar api itu wajahnya nampak angker sekali. Ia memandang kepada Tiang Bu dan bertanya.

"Bagaimana dengan Thai Gu Cinjin ?"

"Dia sudah melarikan diri bersama seorang yang bernama Tee tok Kwan Kok Sun. Kalau suhu menghe ndaki, sekarang  juga  teecu  akan  mengejar  mereka   sampai   dapat dan mengadu nyawa dengan maling  maling  itu,”  kata  Tiang Bu penuh semangat. Gurunya  menghela napas  dan menggeleng-geleng kepala.

"Mereka terlalu lihai. Mungkin dengan kepandaianmu dan tenaga sinkang yang diturunkan oleh suheng kepadamu kau akan mampu mengalahkan mereka, akan tetapi kau bisa celaka oleh tipu muslihat mereka. Kau belum banyak pengalaman, muridku dan kau tidak tahu betapa jahat dan kejinya orang orang di dunia kangouw. Hemmm.........” Tiba- tiba hwesio jangkung kurus ini menatap tangan muridnya. "Coba dekatkan lenganmu yang kiri!”

Ketika tangan kiri itu  diulurkan  dan  dipe gang oleh  Tiong Jin Hwesio, kakek ini berkata. “Hemm, siapa yang melukai tanganmu ini?"

"Luka tidak seberapa suhu, hanya kulitnya lecet, mengeluarkan sedikit datah. Tidak apa-apa."

"Hemm ......... inilah yang kumaksudkan bahwa kau masih hijau. Kau tidak tahu bahwa tanganmu ini telah terkena racun yang amat berbahaya. Sudah tentu kau mati seketika kalau saja sinkang di dalam tubuh tidak menolak hawa berbisa itu. Bagaima kau sampai terluka ?”

Tiang Bu terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa jarum-jarum hitam itu mengandung racun yang demikian berbahaya.  "Orang bernama  Liok Kong Ji  itu yang melukai tee cu dengan jarum-jarum gelapnya." "Ah,  Hek-tok  ciam  (Jarum  Racun  Hiram).   Nih,  kautelan obat ini!" kata Tiong Sin Hwesio sambil memberikan  pel putih. Tiang Bu menelannya.

"Tiang Bu, dengan hawa sin-kang di tubuhmu yang sekarang sudah cukup kuat, memang kau dapat menahan racun yang tidak berapa banyak itu. Akan tetapi di dunia ini masih berkeliaran manusia-manusia  macam  Liok  Kong  Ji dan yang sudah biasa mempergunakan senjata gelap dan racun jahat. Apalagi orang yang datang bersama Thai  Gu Cinjin dan bernama Tee tok Kwan Kok Sun itu, yang sudah biasa dengan racun racun ular. Belum lagi kita bicara tentang Toat beng Kui Bo dengan racun-racun kelelawar, kelabang dan lain-lain. Kau......... kau  berhati-hatilah,  Tiang Bu karena sebentar lagi kau harus hidup sebatang kara dan harus me nghadapi mereka seorang diri…..”

Jantung Tiang Bu berdebar. "Apa maksudmu, suhu     ?”

"Tiang Bu, tosu kaki buntung kawan Liok Kong Ji tadi

amat lihai ilmu silatnya. Aku terluka hebat olehnya, takkan tortolong lagi.”

"Suhuuu !"

"Hush, tenanglah. Manusia di dunia ini siapa yang takkan mati? Bagiku, untuk apa susah ? Aku akan menyusul suheng dan......... kitab kitab kita Sekarang

kaudengar   baik-baik   pesanku. Lihat,   aku   telah berhas il menyelamatkan  dua buah kitab ini. Kitabini bersama sebuah kitab lain yang terampas oleh tosu kaki buntung, adalah kitab-kitab paling penting dan berharga dari sekalian kitab peninggalan dua couwsu kita. Kaupelajari dua kitab ini baik-baik dan kiranya kau takkan mudah dikalahkan orang dalam ilmu silat dengan kepandaianmu asalkan berlatih baik-baik,   Liok   Kong   Ji   itu   manusia   jahat, jangan kau mudah dipengaruhi olehnya.”

"Satu-satunya manus ia yang boleh kau percaya hanya Wan Sin Hong. Kau datanglah kepadanya dan kauminta dia membuka rahasia apakah benar kau putera Litok  Kong  Ji yang jahat itu. Kalau benar demikian terserah kepadamu akan tetapi pinceng ikut menyesalkan kalau benar kau putera Liok Kong Ji. Kitab-kitab di sini sebagian besar terbakar musnah lebih baik dari pada terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Akan tetapi selain kitab Suan hong-kiam-coan-si yang dirampas oleh tosu buntung tadi, masih ada beberapa kitab terjatuh ke dalam tangan mereka. Kalau pinceng tidak salah lihat Pak-kek Sam-kui juga telah mencuri sebuah."

"Teecu merampasnya dari tangan Giam-lo-ong Ci  Kui," kata Tiang Bu yang lalu menuturkan tentang pertentuannya dengan Pak-kek Sam kui, juga tentang hwesio gendut yang bernama Hwa Thian Hwesio.

"Bagus, kausimpan juga kitab itu. Kemudian kaucari Ang-jiu Mo-li, Pek- thouw-tiauw-ong, Thai Gu Cinjin. Tee-tok Kwan Kok Sun dan tosu kaki buntung itu serta Liok Kong Ji. Mungkin mereka itu masing-masing telah membawa pergi sebuah kitab, harus kau rampas kembali.”

"Baik, suhu. Akan teccu balaskan sakit hati itu hari ini,” jawab Tiang Bu, mencatat baik-baik nama-nama itu di dalam hatinya.

"Jangan   berlaku   kejam.   Hanya    Thai    Gu    Cinjin    yang membakar pondok kita. Yang lain-lain itu hanya mengambil kitab karena ingin mempelajari ilmu tinggi. Akan tetapi hatiku masih belum tenteram kalau kau tidak memiliki kepandaian dalam ilmu pengobatan seperti Wan Sin Hong. Kalau bisa, muridku, kau ……. kau mintalah Wan sicu mengajarmu ...... " Tiba-tiba kakek itu berhenti bicara dan batuk-batuk.

Tiang Bu kaget melihat suhunya itu pucat sekali  dan darah menyembur keluar dari mulutnya ketika batuk-buruk hebat.

"Suhu, kau istirahatlah....... “ katanya. Hwesio itu menggeleng kepala, lalu berkata, suaranya lantang berpengaruh. "Thiang Bu, kau lakukan Khai-khi jiu- hiat!"

Thing Bu kaget. Biarpun hanya menduga-duga ia sudah tahu apa artinya kalau ia melakukan perintahitu. Bukankah tadi twa-suhunya, Tiong Sin Hwesio, juga menyuruh ia Khai- khi-jiu-hiat dan kake k itu lalu memukul kepalanya dan rupa-rupanya memindahkan sin-kang ke dalam tubuhnya sampai gurunya itu sendiri mati? Apakah guru ke dua inipun bukan hendak melakukan seperti guru pentama tadi? Ia menggeleng-geleng kepalanya.

“Tidak......... tidak.........jangan,…suhu....” katanya gagap. 'Tiang Bu, twa-suhumu berlaku betul tepat. Kalau kau

tadi  tidak   menerima   sinkangnya,   kiranya   sekarang   kau

sudah tidak be rnapas lain atau diculik oleh orang jahat. Twa-suhumu tadi sudah hampir tewas dan takkan dapat membantu menghadapi orang orang jahat. Se karang pinceng juga sudah menghadapi pintu kematian, me ngapa pinceng harus membawa pergi sinkang yang di dunia sana tidak akan ada gunanya lagi? Tiang Bu, biarpun sekarang ini sinkang di dalam tubuhmu tidak banyak selisihnya dengan sinkang di dalam tubuhku, namun sedikit hawa murni yang selama ini pinceng latih puluhan tahun, kiranya akan dapat menambah kekuranganmu. Hayo jangan kau membantah lagi, ini perintahku. Khai-khi jiu-hiat!"

Tiang Bu berlutut sambil  menangis  menggerung-gerung di depan suhunya. "Pesanku terakhir, Tiang Bu. Selama hidupmu kau tidak boleh  membawa-bawa  senjata  tajam, juga tidak bolehmembawa-bawa se njata  gelap.  Kau pergunakan kaki tanganmu untuk melindungi diri dan segala apa yang berada di dekatmu boleh kau pergunakan sementara kau memerlukannya. Akan tetapi senjata, itu pantang benar." Lapat-lapat terdengar suara Tiong-Jin Hwesio, disusul perintah lagi. "Sekarang, Khai-khi jiu-hiat!" Tiang Bu sang amat patuh akan perintah suhunya, tidak berani membantah. Dengan hati dan perasaan hancur ia melakukan perintah suhunya berlutut. Tiong Jin Hwesio sambil tetap duduk bersila  lalu mengangkat tangan  kanan dan seperti dilakukan oleh  Tiong  Sin  Hwesio tadi, ia memukul kepala muridnya dengan   pengerahan se luruh hawa  sinkangnya,yang   dipaksa keluar dari  jari-jari tangannya memasuki tubuh muridnya!

Tadi ketika menerima hawa sinkang dari twa-suhunya, kontan keras Tiang Bu terjungkal dan berkelojotan tak ingat orang. Akan tetapi sekarang lain lagi ke adaannya. Di dalam tubuhnya telah mengalir hawa sinkang yang biarpun belum dapat ia gerakkan secara tepat karena belum terlatih namun sudah memiliki tenaga otomatis yang me nolak  penyerangan dari luar.

Oleh  karena  itu,   biarpun  sebagian  dari pada tenaga sinkang yang dilancarkan oleh pukulan Tiong Jin Hwesio dapat memasuki tubuhnya, namun sebagian pula terpental kembali membuat Tiong Jin Hwesio te rpelanting roboh dan tewas di saat itu juga. Ada pun Tiang Bu juga terpental dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, akan tetapi ia hanya merasa dada dan perutnya panas seperti orang baru menenggak secawan besar   arak   keras,  ia  segera  dapat melompat berdiri dan menubruk suhunya yang ternyata telah meninggal dunia.

Dengan hati sedih dan terharu sekali, Tiang Bu lalu mengurus jenazah kedua orang suhunya itu, dikuburnya di tempat yang baik di dekat pondok yang sekarang sudah padam apinya  dan menjadi tumpukan  puing. Setelah berlutut berjam-jam di depan gundukan kuburan kedua orang suhunya, Tiang Bu ia berdiri dan bagaikan patung ia memandang mayat orang-orang  yang  masih malang melintang di  tempat  itu. Ada tujuh mayat yang tak dikenalnya siapa orangnya, hatinya gemas karena ia maklum bahwa tujuh orang itu adalah mayat dari kawan-kawan Liok Kong Ji yang agaknya tewas ketika memperebutkan kitab- kitab dengan tokoh tokoh seperti Ang-jiu Mo-li dan Lie Kong.

Akan tetapi, kegemasan itu dikalahkan oleh bisikan hati nuraninya yang mengumandangkan ajaran-ajaran dua kakek sakti Omei-san tentang pribadi dan kebajikan. Akhirnya, ia menggali lubang di suatu tempat dan mengubur mayat-mayat itu secara baik.

Setelah sekali lagi berlutut sampai lama sambil mengheningkan cipta untuk menghormati makam dua orang suhunya, Tiang Bu lalu turun gunung sambil membawa tiga buah kitab. Dua kitab dari  suhunya  tadi  adalah  Seng-thian- to  (Jalan  Naik  ke   Sorga)   dan  Thian-to  Si  keng  (Kitab  Sajak Bumi Langit). Tiang Bu terheran sendiri mengapa dua kitab yang judulnya aneh ini dianggap terpenting oleh suhunya. padahal isi dua kitab Seng-thian to  itu adalah petunjuk ilmu ke batinan dan Thian-te Si-keng terisi sajak-sajak dan syair- syair melulu.

Akan tetapi ini hanya pandangan sepintas lalu saja dan Tiang Bu belum sempat mempelajari secara mendalam. Adapun kitab yang dirampasnya dari Giam-lo-ong Ci Kui tadi berjudul Kiang- liong-kun-hoat (lImu Silat Naga Tangguh).

Demikianlah, sambil membawa tiga buah kitab ini  Tiang Bu mulai turun gunung menempuh jalan hidup baru. Cita- citanya, pertama-tama hendak mencari Wan Sin Hong untuk bertanya tentang rahasia hidupnya.

Ia akan bertanya secara baik-baik atau memaksa. Pcndeknya. Wan Sin Hong harus bicara terus terang kepadanya siapa sebenarnya ayah bundanya dan me ngapa orang yang bernama Liok Kong Ji itu mengaku-aku sebagai ayahnya.

Selagi ia berjalan perlahan menuruni puncak ia mendengar suara orang batuk-batuk. Tiang Bu  memang tidak menggunakan ilmu lari cepat karena sesungguhnya hatinya berat sekali meninggalkan puncak Omei-San dimana ia  telah  tinggal  lima  enam  tahun  lamanya.  Cepat   ia menengok  dan  kelihatanlah  tubuh  gemuk   bulat menggelinding keluar dari balik batu karang. Agaknya Hwa Thian Hwesio  yang  bertubuh  gendut  itu  tadi  telah melepaskan  lelah   di  balik  batu  karang.  Wajah  yang  gemuk itu tersenyum lebar ketika ia melihat Tiang Bu.

"Eh, kiranya siauwhiap. Hendak ke manakah? Harap sebelum pergi kau suka menolong pinceng lebih dulu."

"Losuhu,  kau   berada   di  puncak   Omei-san   ada perlu apakah?” tiba-tiba Tiang Bu bertanya penuh curiga. Semenjak  datang  orang-orang   yang  telah  mendatangkan mala petaka hatinya selalu curiga kepada siapapun juga.

"Pinceng sengaja datang untuk menghadap Jiwi locianpwe di puncak Omei-san. Bukan saja karena pinceng sudah lama kagum sekali kepada Jiwi-locianpwe itu, juga kedatangan pinceng ini diutus oleh Pangeran Wanyen Ci-Lun di kota raja, ke rajaan Kin di utara. Ku lihat siauw-sicu ini tentulah murid dari Jiwi locianpwe di sini, maka mohon sudilah siauw-hiap melapor kan kedatangan pinceng untuk menghadap.”

Tiang Bu memandang  tajam,  keningnya  berkerut.  Kalau ia tidak salah ingat, yang bernama Pange ran Wanyen Ci Lun adalah Pangeran di Negara Kin yang mukan ya hampir sama dengan Wan Sin Hong dan yang pernah menolongnya dari serangan Pak-kek Sam  kui  dahulu.  Apakah  niat  pangeran itu mengutus seorang hwesio mene mui kedua orang gurunya "Losuhu hendak menghadap dua orang guruku? Bole h, mari ikut !' pemuda cilik ini  membalikkan  tubuh  dan  berjalan naik ke puncak lagi. Dengan wajah tersenyum lebar  Hwa Thian Hwesio mengulur langkah mengikuti Tiang Bu.

Akan tetapi  alangkah heran hati hwesio itu ketika Tiang Bu mengajaknya berhenti di depan dua makam yang masih amat baru yang berada di dekat tumpukan puing. "Losuhu. kau sudah menghadap kedua guruku. Lekas kauberitahukan apa maksud kedatanganmu dan apa kehendakmu datang ka tempat ini.”

"Omitohud  ......  jadi.....  jadi  jiwi  locianpwe   te lah.........

telah meninggal dunia...... ?' katanya gagap.

“Akan tetapi kau sudah kubawa menghadap,  Biarpun dua orang guruku sudah meninggal dunia, namun ada aku wakilnya yang dapat mendengar apa maksud kedatanganmu

!” kata Tiang Bu suaranya keren.

Hwesio gendut itu melirik ke arah Tiang Bu, kagum dan juga heran. Melihat betapa bocah berusia tiga empat belas tahun itu bersikap gagah biarpun pakaiannya  robek-robek dan dandanannya sederhana sekali, benar-benar ia merasa kagum. Apalagi sepasang mata bocah  itu  yang  membuat Hwa Thian Hwesio diam-diam berpikir bahwa anak ini kelak akan lebih hebat dari Wan Sin Hong pendekar yang ia kagumi.

"Hayo katakan apa maksud kedatangan di depan makam suhu-suhuku, kalau tidak akan berubah pandanganku kepadamu, losuhu. Tadinya kau kuanggap satu-satunya di antara orang yang baru-baru ini banyak datang ke sini, satu-satunya yang dapat dipercaya dan bukan maling kitab. Akan tetapi kalau kau tidak mau mengaku apa maksud kedatargan mungkin akan berubah pandarganku itu."

Hwa Thian Hwesio mcnarik napas panjang. Lebih dulu ia memberi hormat di depan d makam itu, lalu ia menghadapi Tiang Bu.

"Siauw-sicu, ketahuilah bahwa pinceng adalah utusan Pangeran Wanyen Ci Lun. Pincen disuruh menghadap Jiwi locianpwe di Omei-san untuk mohon bantuan mereka. Pada waktu ini, Negara kita di utara sedang terancam bahaya besar, bahaya penyerbuan bangsa Mongol yang dirajai oleh Temu Cin dan dibantu oleh orang-orang pandai dan jahat seperti Liok Kong Ji, Pak-kek Sam kui, dan lain-lain. Oleh karena itu demi menjaga keselamatan rakyat apabila bangsa Mongol menyerbu, Pangeran Wanyen Ci Lun atas nama kaisar Kerajaan mohon bantuan Jiwi-locianpwe di sini. Sudi kiranya untuk sementara tinggal di istana dan melatih ilmu silat kepada panglima-panglima Kerajaan Kin. De mikianlah tugas pinceng, tidak tahunya Jiwi locianpwe meninggal dunia."

Tiang   Bu  mengerutkan   kening.   Ia tidak begitu tahu tentang keadaan kerajaan dan negara juga tidak perduli. Akan tetapi dise butnya Liok   Kong  Ji  sebagai pe mbantu kaisar bangsa Mongol mengingatkan dia akim pengalaman- pengalamannya ketika dahulu ia dibawa melalui perbatasan utara  ke daerah orang  Mongol oleh Pak-kek Sam-kui. Hatinya makin timbul kebenciannya tcrhadap orang yang bernama Liok Kong Ji itu. Inilah se rangan macamnya orang yang oleh suhunya dianggap penghianat baugsa, pcnjahat yang paling rendah di permukaan bumi. Tiong Sin Hwesio dahulu  pernah  berkata  kepadanya bahwa penjahat  yang paling hina dina dan harus dibasmi di dunia ini adalah Penghianat bangsa itu orang yang membantu musuh negara serta orang semacam Liok Korg Ji.

Kong Ji seorang bangsa Han, mengapa membantu bangsa Mongol musuh negara? Getir dan pahit rasa hati Tiang Bu kalau ia ingat akan kemungkinan bahwa orang macam ini menjadi ayahnya.

"Kedatanganmu percuma saja, losuhu."  jawabnya. suaranya dingin. "Andaikata kedua orang suhuku masih hidup. juga takkan ada gunanya. Di waktu hidupnya, kedua orang guruku adalah orang-orang yang menyucikan diri, tidak mau memusingkan urusan dunia bagaimana beliau dapat diajak ke istana kaisar ? Pula, kedua orang guruku patriot-patriot sejati,  bagaimana bisa diajak membantu Kerajaan Kin ? Tidak, kedatanganmu sia-sia belaka, losuhu.”

Biarpun orangnya suka melawak dan tingkah lakunya kadang-kadang  lucu.   Hwa  Thian   Hwesio  adalah   seorang yang cerdik. Ia, dapat menduga bahwa satu-satunya orang yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat dari dua orang kakek sakti di Omei-sun hanyalah bocah ini.

"Siauw-sicu, salah duga. Biarpun daerah utara dipimpin oleh Kerajaan Kin, namun mereka itu tidak ada bedanya dengan kita orang-orang Han. Buktinya, banyak orang-orang pandai seperti Wan -sicu dan lain-lain membantu Kerajaan Kin Bahkan Ang-jiu Sian li juga membantu menjadi guru di sana. Sedangkan orang-orang Mongol merupakan pengaruh asing yang hendak menjajah kita dan pasti rakyat akan menderita kalau mereka sampai menyerbu ke selatan, maka membantu memperkuat kedudukan Kerajaan Kin di perbatasan utara sama  halnya  dengan  membantu  negara dan menyelamatkan rakyat, kewajiban utama bagi para patriot. Oleh karena itu, sauw-sicu sendiri tentu saja sebagai seorang patriot muda, sudah berkewajiban untuk membela rakyat Han yang tinggal di utara dan terancam  maut  di tangan para serdadu Mongol."

Hati Tiang Bu tergerak. "Bagaimana nanti sajalah. Toh sekarang orang-orang Mongol belum me nyerbu dan  pula orang seperti aku ini yang bodoh dan tidak tahu apa.apa, sungguh bingung memikirkan tentang perang dan sebagainya. Aku masih mempunyai banyak tugas dari mendiang suhu-suhuku untuk kulaksanakan.

'Memang kau belum mengerti tentang semua itu, siauw sicu. Sayang sekali Wan sicu telah  pergi,  kalau  tidak  tentu dia dapat menjelaskan kepadamu. Ah, entah bagaimana dengan nasib, Wan.sicu tadi "

Kata-kata tentang Wan Sin Hong yang tak dise ngaja ini menarik hati Tiang Bu. Memang ia sedang mencari Wan Sin Hong dan tidak tahu harus mencari di mana.

“Di manakah adanya Wan Sin Hong?"  tanyanya  sambil lalu. akan tetapi se betulnya penuh perhatian. Memang Tiang Bu biar masih kecil sudah memiliki kecerdikan. “Entah di mana. Tadi pinceng melihat bertempur dengan Toat-beng Kui-bo nenek mengerikan itu. Kemudian nenek itupun menyerbu gudang kitab dan me ncuri sebuah kitab, tetapi  dikejar  dan  diserang  oleh  Wan-sicu  yang hendak memaksa nenek itu mengembalikan isterinya yang dirampas oleh nenek dari tangan Liok Kong Ji. Akan tetapi agaknya Wan-sicu  biarpun lihai   sekali   belum dapat menangkan nenek itu. Akhirnya pince ng yang bersembunyi di balik batu karang, melihat nenek itu melari kan diri cepat sekali sambil berseru kepada Wan-sicu bahwa kalau Wan-sicu hendak mencari isterinya, supaya menyusulnya ke Ban-mo tong (Gua Selaksa Iblis) di tepI pantai Laut Selatan."

"Lalu bagaimana ?” tanya Tiang Bu, kini amat tertarik. "Nenek  itu  lari cepat sekali, dikejar-kejar oleh Wan-

bengcu. Entah bagaimana jadinya. Akan tetapi melihat gerakan nenek itu, pinceng menduga kiranya Wan-bengcu takkan dapat menyusulnya."

Tiang Bu diam tejenak berpikir.

"Losuhu yang baik, kelak kalau sudah selesai tugasku tentu kita akan bertemu lagi di kota raja Kerajaan Kin. Kita sama lihat saja kelak, apakah aku perlu membantumu. Sekarang bolehkah aku be rtanya di mana adanya Ban mo- tong itu ?"

'Siauw-si-cu hendak menyus ul ke sana  ?”  tanya  hwesio itu membelalakkan mata. Tiang Bu mengangguk. 'Dia membawa kitab, aku harus memintanya kembali,” katanya dingin.

Hwa Thian Hwesio menggerak gerakkan kepala yang bundar itu ke atas ke bawah beberapa kali. "Siauw-sicu pandai, memang baik berbakti kepada guru biarpun guru sudah meninggal dunia. Siauw-sicu pergilah ke selatan, ke Propinsi Kiangsi yang berbatasan dengan Hokkian, carilah Pegunungan Wu-yi-san dan Tai-yun-san dan di antara dua pegunungan itu pergilah terus ke selatan sampai bertemu dengan laut. Di dae rah situlah kalau tidak salah letaknya Ban-mo-tong. Akan tetapi harap siauw-sicu berhati-hati karena daerah itu amat berbahaya."

Tiang Bu menghaturkan terima kasih lalu cepat mempergunakan kepandaiannya, dalam sekejap mata saja ia lenyap dari depan Hwa Thian Hwesio yang berdiri melongo. Ginkang bocah itu malah lebih hebat dari Wan-bengcu pikirnya. Kemudian iapun turun gunung.

Pagunungan Wu-yi-san da Tai-yun-san terletak di bagian paling selatan dari daratan Tiongkok yang luas. Untuk mencapai daerah ini, Tiang Bu telah melalui perjalanan beberapa bulan lamanya menjelajah daerah-daerah yang amat asing baginya. menempuh bahaya- bahaya besar dalam perjalanan. Akan tetapi berkat kepandaiannya  yang  tinggi dan kekuatan tubuhnya yang luar biasa semua rintangan dapat diatasinya dan pada suatu hari kelihatan pemuda cilik ini dengan tenangnya berjalan masuk hutan keluar  hutan yang tumbuh di lereng gunung di antara Pegunungan Wu- yin-san dan Tai-yun-san itu.

Biarpun usia Tiang Bu  baru  kurang  lebih  empat  atau lima belas tahun, namun be nar-benar mengherankan sekali, setelah ia mewarisi sinkang yang hebat dari dua orang suhunya, tubuhnya mengalami perubahan cepat. Pertumbuhan badannya mengagetkan sekali, membuat ia dalam usia itu kelihatan seperti seorang laki-laki dewasa. Bahkan wajahnya yang membayangkan kejujuran itu kelihatan "matang” hilang sifat kekanak- kanakannya. Tiang Bu memang rajin bukan main. Selama melakukan perjalanan, tiada hentinya ia membuka-buka tiga buah kitab yang dibawanya untuk dipelajari. Kitab yang mengandung pelajaran silat Kiang liong-kun-hwat dibuka-buka sebentar saja karena Ilmu Silat Naga Tangguh yang termuat di  situ tidak begitu berarti baginya. Dia telah pula mempelajari ilmu-ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada Kiang liong- kun-hwat ini dari dua orang suhunya. Akan tetapi dua kitab lainnya  yangtadinya   sukar   ia mengerti   dan   yang mengherankan hatinya mengapa justru dua kitab ini yang dibela mati-matian oleh suhunya, sekarang amat me narik hatinya. Setelah ia teliti secara mendalam, ia menjadi girang bukan  main  karena  ilmu-ilmu  yang  luar biasa sekali bersembunyi di dalam dua kitab ini. Kitab Seng-thi an to (Jalan  Naik ke Surga)  mengandung  pelajaran samadhi tingkat tertinggi. Biasanya, pelajaran siulian atau samadhi sudah mencapai tingkat paling tinggi apabila orang dapat mengheningkan  cipta  mengumpulkan segala  panca-indra sampai lupa diri atau yang disebut "mati dalam hidup" atau "tidur dalam kesadaran". Akan te tapi ilmu Seng thian- to ini mengajar cara bersamadhi lebih tinggi lagi sehingga orang mencapai  persatuan dengan jalannyapernapasan  dan peredaran darah. Apabila ilmu ini sudah dilatih baik-baik, maka orang   itu   akan dapat  mengikuti dan  menguasai jalannya pernapasan dan darah di dalam tubub dan ini merupa sinkang yang tertinggi juga khikang yang tak dapat diukur   lagi      tingkatnya   karena      orangakan dapat mempergunakan hawa di dalam tubuh sesuka hatinya.

Dengan kekuatan hawa ini orang  akan dapat nembikin semua bagian tubuh menjadi   kebal, karena tidak ada kekuatan dan ke kerasan di dunia ini  yang  dapat  melebihi hawa.

Adapun kitab yang ke dua, yaitu Thian-te Sikeng (Kitab Sejak Bumi Langit) itu biarpun kalau dibuka lembarannya hanya akan berisi sajak dan syair melulu, namun di situ tercakup rahasia alam tentang bumi dan langit. Inilah sari pelajaran yang tidak saja membuka rahasia tentang Im dan Yang, termasuk sifat dan kekuatan Ngo heng yang menjadi lima sifat bumi-langit.

Setiap sajak yang termuat dalam Thian-te Sike ng ini dengan sendirinya merupakan semacam imbangan yang dapat dirangkaikan menjadi semacam ilmu silat yattg luar biasa. Tiang Bu yang memiliki kecerdikan luar biasa tentu saja segera dapat membentuk atau mencipta bermacam- macam ilmu silat dari pada sajak-sajak ini. Tentu saja ia menjadi girang luar biasa dan kemajuan ilmu kepandaiannya meningkat secara kilat.

Selagi   Tiang   Bu   berlari-lari  keluar   dari   hutan untuk memasuki hutan berikutnya yang amat besar, tiba-tiba ia mendengar suara keras orang menebang pohon. Suara orang menebang    pohon   bukanlah ane h, karena kiranya  setiap orang tentu sudah pernah mendengar  bunyi kapak membacok batang pohon yang berbunyi “crok, crok, crok

........” dengan irama me nentu dan tiada he nti hentinya. Akan tatapi pendengaran Tiang Bu sudah menjadi luar biasa sekali  setelah  ia  melatih  diri  dengan  ilmu  Se ng-thian-to, maka ia mendengar sesuatu yang tidak sewajarnya dengan penebangan ini. Saking tertarik, ia  menghentikan   larinya dan mendengarkan lebih teliti.

"Crok    crak-cruk…….    bruuuukk.........    !"    demikian te rde ngar suara jauh di sebelah kirinya. Belum juga habis gema suara ini, terutama suara terakhir yang diikuti oleh getaran tanah, tahu-tahu di sebelah belakangnya sudah terde ngar lagi, "Crok-crak-  cruk ...............  bruuuk !"

Cepat Tiang Bu menengok ke belakang dan,...... eh,.........

lagi-lagi terdengar suara yang sama, kini dari sebelah kanannya. “Crok-cruk......cruk ... bruuuuk !"

"Hebat," pikirnya sambil cepat-cepat mempergunakun ginkangnya me lompat ke kanan, ke arah suara terakhir itu. Mana ada cara menebang pohon secepat itu?

Ketika  mengejar ke  kanan tadi Tiang Bu sudah mempergunaken ilmunya yang hebat yaitu Liap-in-sut (Ilmu Mengejar  Awan),  ce patnya  bukan  main.  Akan  tetapi  tetap saja terlambat karena ketika ia tiba di tempat suara tadi, ia hanya melihat  se batang pohon siong besar sekali telah tumbang dan melihat daun-daunnya masih bergoyang- goyang menandakan bahwa pohon itu baru saja tumbang. Dan saat itu, jauh di depan sudah mulai lagi terdengar suara yang sama, suara orang menebang pohon besar hanya dengan tiga kali bacokan.

'Hebat!' Tanpa membuang waktu lagi Tiang Bu melompat, kali ini ia menggunakan ilmunya melompat, yang disebut Sam-teng-jig thian (Tipa Kali Lari Melompat Memasuki Langit)! Ilmu ini luar biasa hebatnya sehingga tubuh pemuda itu lenyap dan tak dapat diikuti lagi dengan pandangan mata saking cepatnya gerakannya. Satu kali lompatan ia bisa mencapai jarak belasan sampai dua puluh tombak.

Kali ini Tiang Bu tidak terlambat dan dapat melihat seorang laki berusia kurang lebih empat puluh tahun sedang menebang pohon besar. Laki-laki ini hebat sekali. Tubutnya tinggi besar, jenggot dan kumis pendek kasar, mukanya segi empat, dan telinganya lebar. Karena ia bekerja dengan tubuh atas telanjang, nampak dadanya yang bidang peruh otot-otot besar. Demikian pula sepasang lengannya penuh otot-otot yang melingkar, celananya sampai sebatas lutut, berwarna hitam. Kapak yang dipergunakan juga luar biasa. Besar dan matanya lebar, tajam bukan kepalang tajam sampai gemerlapan terkena sinar    matahari. Orang itu bekerja dengan tubuh penuh peluh. Dengan ge rakan tegap, kapak diayun ke arah batang pohon siong yang besarnya dua kali tubuh orang.

"Crok-crak cruk......... " Tiga kali ayunan saja batang pohon itu roboh dan tumbang, mengeluarkan suara ''brukkk.........  ! "  dan  tergetarlah pohon-pohon di sekelilingnya.

Begitu pohon itu roboh, orang itu lalu berlari cepat sekali ke depan, kepalanya menengok ke kanan kiri memilih pohon lain. Begitu mendapatkan pohon yang dike hendaki, ia berhenti dan kembali mengayun kapaknya !

"Sahabat gagah, harap berhenti dulu. Siauwte ingin bicara ...... .!" Tiang Bu cepat melompat mengejar dan mengangkat tangan mengajak bicara, Akan tetapi orang itu mengerlingpun tidak, terus melanjutkan pekerjaannya, mengayun kapaknya. Tiang Bu memperhatikan. Kapak itu mula-mula menghantam dari kanan agak miring atau menyerong dari atas ke  bawah, lalu ayunan kedua kali dari kiri ke kanan kemudian yang ke tiga kalinya kembali dari kanan, akan tetapi kali ini gerakannya lurus me nabas. Dan kembali sebatang pohon baru tumbang. Kemudian orang itu lari lagi.

"Hee, sahabat tukang kayu ! Be rhenti dulu sebentar !' Kembali Tiang Bu berseru keras. Namun  orang  itu  tetap tidak perduli, terus saja lari ke depan sambil memili h pohon dengan  pandang  matanya  kemudian  berdiri  de kat  pohon yang terpilih dan mengayun kapak.

"Sahabat baik, siauwte Tiang Bu mohon bicara sebentar......... !" kata Tiang Bu lagi, ia berdiri di depan orang tinggi besar ini. Namun ia dianggap seperti lalat saja oleh orang luar biasa itu.

Tiang Bu mendongkol. Terlalu memandang rendah orang ini, pikirnya. Aku harus memperlihatkan sedikit kepandaian. Tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu menggunakan ginkangnya melompat ke atas menyambar ujung cabang  yang  cukup besar dari pohon yang ditebang itu,  dan  duduklah Tiang  Bu di dalam pohon yang berdekatan sambil memegangi cabang pohon yang ditebang. Pe muda ini tadi sudah memperhatikan betapa pohon yang ditebang oleh penebang aneh itu, robohnya ke kiri, oleh karena itu ia sengaja duduk di atas pohon se belah kanan pohon yang ditebang itu.

“Crok-crak crok …..!  Tiga kali ayunan dahsyat itu dilakukan dan batang pohon yang besar itu telah terbacok dalam sekali dan hanya tinggal sedikit hati kayu saja yang masih menahan. Biasanya sedikit tahanan ini tidak kuat menahan batang itu berdiri dan tentu segera tumbang akan tetapi kali ini tidak demikian. Barang pobon yang sudah kena sambaran kapak sampai tiga  kali itu tidak roboh.Masih be rdiri tegak bagaikan raksasa yang tidak  merasakan hantaman kapak. Penebang   kayu   itu mengerutkan   keningnya yang   le bar,    mengusap muka yang penuh peluh itu, lalu memandang ke atas.  Segera     ia   dapat melihat  seorang  pemuda tegap,    berhidung   pesek berbibir tebal dan berkulit hitam   sedang    duduk di atas cabang pohon yang berdekatan sambil meme- gangi      ujung      cabang pohon   yang ditebangnya! Pantas saja pohon ini tak mau    roboh,      pikirnya, kiranya   ada orang  yang sengaja menahan dengan memegang  cabangnya.

Dengan tak acuh penebang pohon itu mendupak pohon di depannya. Pohon berguncang keras, namun tetap tidak tumbang!

Mulailah penebang pohon itu menaruh se dikit perhatian kepada Tiang Bu. Ia maklum bahwa untuk menahan sebatang pohon roboh dengan memegangi cabangnya saja bukanlah pekerjaan sukar, karena memang daya berat pohon itu berada di bawah, di atasnya ringan sekali. Seorang bocah saja kiranya akan mampu melakukan hal itu. Akan tetapi tadi ia sudah mendorong pohon dengan kakinya dan bocah di atas itu sanggup mempertahankan, tentu memiliki sedikit tenaga.

“Monyet cari perkara,. rasakanlah!” Tiba-tba penebang pohon itu berkata dengan suaranya yang keras  dan tiba-tiba ia menendang pohon itu bukan ke kiri,  melainkan  ke kanan! Ia sengaja membalik arah robohnya pohon sehingga bagi pemuda itu tidak ada jalan lain lagi untuk menahan, bahkan akan tartimpa oleh pohon itu !

Akan tetapi, aneh di atas ane h, pohon yang didupak oleh kakinya yang sedikitnya bertenaga lima ratus kati itu, tetap saja tidak roboh sungguhpun sudah bergoyang-goyang dan daunnya pada rontok! Kali ini penebang kayu itu tertegun sejenak. Menarik cabang untuk menahan robohnya pohon bukan hal mengherankan akan te tapi menahan robohnya pohon ke arahnya dengan jalan mendorong cabang itu, benar benar mustahil ! Namun benar-benar telah dilakukan oleh pe muda itu.

"Anak muda, turunlah. Kau cukup berharga untuk orang meninggalkan pekerjaannya dan melayanimu."

"Ha, akhirnya kau mau juga  bicara,  lopek  !"  seru  Tiang Bu dengan girang dan sekarang pcmuda ini me lepaskan pegangannya pada ujung  cabang  sambilmelompat ke bawah, pohon itupun tumbanglah, menerbitkan suara hiruk pikuk. Dengan gerakan ringan Tiang Bu melayang ke depan penebang pohon itu dan ia sudah menjura dengan hormat sebelum penebang  itu hilang kaget dan herannya menyaksikan cara Tiang Bu melayang turun benar-benar merupakan gerakan yang jarang ia jumpai. Pemuda itu tadi telah melayang diantara cabang-cabang dan ranting-ranting pohon raksasa yang sedang tumbang menimpanya, benar- benar gesit melebihi seekor burung kecil.

Penebang kayu itu memandang kepada Tiang Bu dengan tajam dan penuh perhatian peluhnya deleweran  dari leher dan dadanya. Kemudian ia berkata.

"Kau yang semuda ini sudah me miliki tenaga luar biasa, siapakah kau dan mengapa kau mengganggu pekerjaanku ?”

Sambil tersenyum ramah dan bersikap hormat- Tiang Bu menjawab, "Harap maafkan lopek. Aku Tiang Bu dan bukan maksud mengganggu pekerjaan lopek. Aku merasa amat tertarik dan kagum sekali menyaksikan cara lopek menebang kayu yang menunjukkan bahwa lopek adalah seorang be rilmu tinggi. Mohon tanya  siapakah  nama  lopek yang terhormat dan mengapa lopek menebangi kayu-kayu pohon yang besar besar ini ?”

Penebang itu  menggerak-gerakkan  alisnya yang hitam dan tebal. "Hemm, apa sih anehnya menebang kayu, dan lebih-lebih lagi apa sih anehnya seorang penebang kayu ? Kerjaku  menebangi  kayu-kayu  yang   tua dan dan baik, kukapak  menjadi kayu-kayu balok dan kujual  kepada pe dagang kayu. Apa anehnya dalam hal itu? Kaubilang aku memiliki kepandaian luar biasa dan berilmu, tentu saja. Kepandaianku ialah menebang kayu dan ilmuku tentu saja cara mempergunakan kapak menumbangkan pohon. Apa anehnya  dalam  hal   ini?  Orang  muda  jadikanlah hal ini sebagai pegangan olehmu  bahwa di   dunia  ini  memang terdapat banyak sekali macam ilmu, se tiap orang lain lagi ilmunya. Ilmu apakah yang boleh dibanggakan? Kau boleh memiliki lweekang dan ginkang istimewa, akan tetapi dalam hal menebang kayu, kiranya  kau harus  belajar dulu kepadaku! Juga terhadap ahli silat lain seperti aku ini, kau tentu akan kalah. Apa anehnya dalam hal itu ? Seorang ahli tentu saja mudah mengerjakan pekerjaan keahliannya, ini sudah lumrah."

Tiang Bu menjura dengan lebih hormat setelah mendengar kata-kata ini. Ia tahu bahwa di balik kesederhanaan gerak-gcrik dan kata-katanya ini, ia berhadapan dengan seorang yang pandai.  “Lopek,  hari  ini aku Tiang Bu yang muda dan bodoh telah be rtemu  dengun lopek dan menerima pelajaran, sungguh merupakan hari yang amat beruntung bagiku. Mohon tanya namamu yang mulia agar tak mudah kulupakan."

"Eh, orang muda, apakah tadi kau me nghentikan pekerjaanku hanya untuk bertanya nama belaka ?" tiba-tiba orang itu membentak kelihatan marah. Diam-diam Tiang Bu merasa terkejut akan sikap orang yang amat aneh.  Tak disangkanya bahwa  di  bagian selatan, di tempat yang sunyi ini terdapat orang seaneh ini. Ia tidak berani membohong dan segera berkata terus terang.

"Sesungguhnya, lopek. Selain meras a tertarik dan kagum sehingga aku ingin sekali mengenal dan me ngetahui  nama lopek, juga ada sedikit urusan yang ingin aku mendapat bantuanmu. Aku sedang mencari pantai di mana terdapat gua-gua yang disebut Ban-mo-to. Dapatkah kau menunjukkan  di mana tempat itu dan jalan  mana  yang harus kuambil untuk menuju ke sana ?"

Tiba-tiba orang itu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, untuk se mentara tak dapat menjawab.

"Kau.......  kau  hendak  pergi  ke  Ban  mo-tong ?”

akhirnya ia dapat bertanya gagap. Tiang  Bu  mengangguk dan pada saat itu terdengar suara nyaring.

"Thia thia ( ayah ), mengapa kau  berhenti  menebang  ?' Suara ini nyaring sekali dan tak lama kemudian dari selatan datang  berlari-lari  seorang  gadis  berpakaian  serba  hijau. Gadis ini cepat sekali  larinya,  pakaiannya  berkibar  ketika  ia lari membuat ia kelihatan seperti  seekor  kupu  besar. Tangannya  memegang  sepasang  kapak  kecil  di   kanan  kiri dan tiap  kali  ia  tiba  di  dekat  pohon  yang  sudah ditumbangkan oleh  ayahnya,  ia  menggerakkan  kedua  kapak itu cepat sekali dan tubuhnya melompat ke sana ke mari di sekitar pohon itu.

Gerakannya tangkas dan ge sit seperti burung walet menyambar-nyambar, dan sebentar saja pohon yang telah tumbang itu telah digunduli, semua cabang dan ranting berikut daun-daunnya telah habis dibacok kapak, tinggal batang pohonnya saja yang kini telah merupakan  balok besar panjang. Kalau  cara  mane bang  pohon  dari  perebang tadi sudah luar biasa, maka cara membersihkan cabang ranting dan daun ini tidak kalah hebatnya. Pekerjaan yang kiranya oleh dua orang laki-laki biasa akan dilakukan setengah hari, oleh gadis baju hijau itu hanya dilakukan dalam be berapa menit saja !

Setelah memandang ke arah puterinya yang bekerja itu dengan puas dan mulut tersenyum si pene bang pohon lalu menjawab pertanyaan tadi.

"Pemuda ini yang menghentikan pekerj aanku. Kau ke sinilah, Fei Lan !”

Karena  pohon  yang  ditebang   oleh  ayahnya  sudab dibe rsihkanya semua, gadis itu lalu berlari -lari ke tempat ayahnya. Dari jauh ia sudah memandang ke arah Tiang Bu dengan penuh perhatian. Akan terapi setelah tiba di situ ia membuang muka dan berkata kepada ayahnya:

"Ayah, bocah seperti  ini  bagaimana  sampai bisa menghentikan pekerjaanmu?" Memang   sudah sepatutnya kalau Fei Lan terheran-heran karena ia tahu betul bahwa biasanya   kalau   ayahnya   sudah   mulai   bekerja  jangankan manusia, biarpun alam yang mendatangkan hujan angin besar, tidak  mampu menghentikan ayahnya  dan pe kerjaannya. Bagaimana sekarang seorang manusia biasa saja dapat melakukan hal itu?

“A-Lan, jangan kau memandang ringan kepadanya," kata penebang pohon itu sambil  tersenyum penuh arti, "semuda ini ia telah memiliki kepandaian tinggi. Kiranya inilah orang yang kaunanti-nantikan. Kalau kau setuju hemmm ……..

aku akan girang sekali menjadi mertuanya !"

Mendengar   ucapan ayahnya,  sepasang  pipi  gadis itu menjadi merah sekali. Namun dengan tabah ia memutar tubuh menghadapi Tiang Bu dan sepasang matanya memandangi pemuda itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Terdengar ia menarik napas panjang lalu berkata,

"Hemmm, kau tak dapat dikatakan tampan ”

Tiang Bu sejak tadi sudah me mperhatikan gadis baju hijau yang berdiri tegak di depannya itu. Gadis ini usianya tentu   tak kurang dari delapan belas   tahun, tubuhnya berbentuk indah, ramping dan berisi seperti biasa be ntuk tubuh gadis gunung yang biasa bekerja berat.

Kulit   tangan dan  leher yang tidak tertutup pakaian nampak tidak   begitu   putih  kare na setiap hari tetbakar matahari,  namun  kelihatan kulit yang  halus kecuali  di telapak tangan yang sudah biasa bertemu dengan gagang kapak. Kedua kakinya biasa, tidak kecil seperti kaki wanita yang dibungkus semenj ak lahir. Rambutnya panjang dan hitam sekali, digelung ke atas secara sederhena dan diikat dengan tali rambut warna hijau pula. Wajah gadis itu cantik dan manis,   sayang  sekali   matanya  tidak lembut seperti ke banyakan gadis  cantik, keras  dan membayangkan kegalakan dan kesombongan.

“Me mang aku buruk,  akan  tetapi  kau  cantik,  cici "

kata-kata ini terlepas dari mulut Tian Bu begitu saja, sama sekali tidak mengandung maksud kurang ajar atau kagum melainkan untuk menyatakan bahwa ia tidak sakit hati disebut tidak tampan. Adapun puji annya bahwa gadis itu cantik memang sewajarnya. Tiang Bu masib belum cukup dewasa untuk merasa sungkan memuji kecantikan seorang gadis yang baru dilihatnya begitu saja.

Anehnya, mendengar kata-kata Tiang Bu seketika sinar mata yang keras galak untuk beberapa detik melembut dan pada bibir yang merah sewajarnya itu terbayang senyum bangga. Pandang mata Tiang Bu amat tajam dan ia dapat menangkap semua ini tanpa mengerti sebab-sebabnya. Ia belum tahu bahwa wanita manapun juga, kanak-kanak, muda maupun nenek nenek, selalu akan  me rasa  senang kalau dipuji cantik.

"Memang dia kurang tampan, A-Lan. Akan tetapi perhatikan baik-baik sepasang matanya lihat alisnya. Mata yang seperti bintang dengan alis yang seperti golok itu cukup jelas me mbayangkan kegagahannya. Air mukanya segi empat, daun telinga lebar, hidung pesek dan bibir tebal. Lihat, apakah dia tidak   berwajah toapan (wajah yang mulia)?” kata penebang pohon dengan wajah berseri. "Pilihan yang baik sekali, Fei Lan ”

"Apakah dia lebih kuat daripada pohon siong ayah ?” Pohon siong adalah nama pahon yang setiap hari "dikerjakan” oleh gadis itu dan ayahnya. karenanya dianggap lemah. Kalau pemuda ini lebih kuat dari pada pohon siong, berarti lebih tangguh dari pada dirinya sendiri.

"Kaucobalah," ayahnya menganjuri.

Tiba-tiba pandang mata gadis itu berubah keras ketika ia menatap wajah Tiang Bu. "Awas, lihat kapakku!"  teriaknya dan pada saat itu juga ia menerjang maju dengan kapak di kedua tangannya diayun cepat sekali, yang kiri menyambar leher yang kanan menyambar pundak Tiang Bu! Gerakannya kuat dan cepat seperti ketika ia "menjerbu" pohon yang telah dite bang ayahnya tadi, maka kalau serangannya berhasil, tentu dalam sesaat saja le her dan pundak akan terbabat putus! Tiang Bu kaget sekali karena tidak menduga bahwa dirinya akan diserang hebat. Namun serangan itu baginya tidak berarti, dan dengan gerakan lambat saja ia dapat menghindarkan diri sehingga dua kapak itu menghantam angin. Akan te tapi, cepat seperti kilat sepasang kapak itu telah menyambar lagi, yang kiri mengapak hidung yang kanan  menyambar perut. Cepat sekali datangnya dua serangan ini sehingga kalau Tiang Bu tidak dapat bergerak cepat, hidungnya akan makin pendek lagi dan perutnya akan ambrol !

“Hayaaaa.........!  Galak amat !!” seru Tiang Bu sambil

menggeser kaki miringkan muka dan dua tangannya bergerak maju. Tahu-tahu sepasang kapak telah pindah ke dalam tangannya tanpa si gadis tahu bagai mana cara lawan merampasnya. Untuk sejenak Fei Lan tertegun dun berdiri seperti patung.

"Sulap ......... ! Sihir.........!!” bisiknya, akan tetapi segera disambungnya marah. "Hidung pesek, aku masih belum kalah, belum roboh.”  Cepat ia menyerang  maju,  kini mempergunakan dua tangannya yang tak kalah lihainya oleh sepasang kapak tadi. Sambaran  kedua   tangannya mendatangkan  angin pukulan  yang   cukup dahsyat   dan kiranya  takkandapat  ditahan   oleh tukang-tukang silat biasa.

“Aduh galaknya ...... " Dian-diam Tiang Bu mengeluh. Ia memang tadi sengaja hanya merampas kapak, tentu saja ia merasa  sungkan  untuk me njatuhkan gadis orang, apalagi karena di antara mereka tidak ada permusuhan apa-apa. Cepat ia melempar sepasang kapak ke kiri dan kapak itu melayang  lalu menancap di  atas tanah berjajar rapi, kemudian me nghadapi serangan gadis itu dengan tenang. Dengan langkah  Sam-hoan Sam- bu. mudah saja ia mengelak dari serangan-serangan Fei Lan yang bertubi-tubi datangnya. Kemudian Tiang Bu membuat gerakan mengulet, pinggangnya melengkung ke kiri, lalu dengan cepat jari telunjuknya bekerja.

"Catt!” Dengan cepat sekali jalan darah tai-wi-hiat telah kena ditotok dan ......... tubuh gadis itu menjadi kaku dalam keadaan kedua tangan sedang ditarik ke belakang, dada membusung ke depan dan kedua kaki setengah berlutut, muka dikedikan ke depan. Benar-benar ia telah berubah menjadi patung yang manis dan indah sekali !

"Wah-wah wah..... kali ini benar-benar kami beruntung sekali. Tanpa melepas umpan datang ikan emas yang jarang terdapat. Calon mantuku yang baik, kau benar-benar pantas dibanggakan !” Penebang pohon itu tertawa bergerak-gelak keras sekali. Tiang Bu hanya memandang dan mengerutkan kening.

“Calon mantu kepalamu!” Diam-diam ia memaki di dalam hati. Ayah dan anak ini benar-benar bikin hati me ndongkol, pikirnya. Ia dianggap apa sih datang-datang mau diperlakukan sesuka mereka sendiri saja ? Dengan puas ia melihat penebang kayu itu berkutetan dengan gadisnya, ditepuk sana ditepuk sini, digosok golok sana dipijit sini dalam   usahanya membebaskan   Fei Lan dari pengaruh totokan. Ada empat macam cara pembebas tiam-hoat yang lihai dipergunakan oleh penebang kayu itu dan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia adalah  seorang yang memiliki banyak macam ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat me nyembuhkan puterinya ! Hal ini benar-benar di luar dugaan tukang penebang kayu itu hingga kalau tadi ia berusaha membebaskan totokan itu dengan masih tertawa-tawa, kini suara ketawanya berhenti seketika dan mukanya bahkan nampak terheran-heran.

(Bersambung jilid ke XI)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain