Tangan Geledek Jilid 05

Jilid 05

"Karena dulu Suhu sekalian berlari cepat ke tempat orang-orang bertempur, teecu tertinggal di belakang. Selagi teecu kebingungan mencari jalan yang amat sukar itu, tiba- tiba muncul seorang hwesio besar yang aneh, jubahnya merah-merah dan ia memegang sebuah tongkat panjang.

Tiba-tiba saja munculnya entah dari mana, dan hwesio galak itu begitu bertemu dengan teecu, lalu mendorong teecu masuk ke dalam jurang di pinggir lorong kecil itu."

Pak-kek Sam-kui saling pandang dan tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Tiang Bu tentulah Thai Gu Cinjin, pendeta Lama dari Tibet yang lihai itu. Mereka juga percaya atas keterangan Tiang Bu karena dengan menyebut pendeta

Lama itu kiranya bocah ini tidak bohong.

"Kenapa dia mendorongmu masuk jurang?" tanya Liok-te Mo-ko Ang Bouw mata burungnya memandang penuh selidik.

"Mana teecu bisa tahu? Dia seperti orang gila sedang marah-marah, begitu bertemu di jalan kecil itu, ia berkata, 'Minggir, setan cilik' dan teecu didorongnya sampai terjungkal ke dalam jurang."

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Ci Kui tertarik.

"Teecu tidak ingat apa-apa lagi, ketika teecu sadar ternyata teecu telah dipondong oleh seorang pengemis tua yang kakinya pincang. Kemudian menurut jembel itu, teecu terjatuh di dalam jurang dan pingsan. Pengemis itulah yang

menolong teecu dari bahaya maut. Kemudian pengemis itu membawa teecu merantau sampai ke kota raja. Tadinya teecu hendak menolak ajakannya merantau dan mengemis, akan tetapi teecu tidak berdaya karena teecu masih lemah dan tidak bisa berjalan akibat jatuh itu. Terpaksa teecu ikut dengan pengemis tua itu dan sampai akhirnya bertemu dengan Suhu bertiga di kota raja."

"Mengapa kau berada di sana dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sekeluarganya, dan apa yang dikatakan  oleh  pangeran itu padamu?"

"Setibanya di kota raja, kakek jembel itu terserang penyakit aneh dan meninggal dunia di pinggir jalan. Teecu yang tinggal seorang diri menjadi  ke-bingungan. Lalu muncul kereta pangeran itu dan pangeran  itu sendiri berjanji hendak mengurus jenazah kakek jembel. Dia tidak berkata apa-apa, hanya bertanya apa yang terjadi di situ." Tiang Bu yang melihat peristiwa di kota raja, maklum bahwa tiga orang kakek ini tidak suka kepada Pangeran Wanyen Ci Lun maka ia pun tidak mau memuji-mujinya walaupun di dalam hatinya Tiang Bu amat kagum dan berterima kasih kepada keluarga Pangeran Wanyen Ci Lun itu.

"Selama kau ikut jembel busuk itu, apakah kau tidak belajar silat?"

"Jembel tua  begitu mana  mengerti silat? Teecu hanya belajar mengemis dan sedikit membaca menulis." Bocah ini memang cerdik. Ia tahu bahwa Bu Hok Lokai bukanlah orang tidak ternama. Kalau kelak tiga orang gurunya ini tahu bahwa kakek jembel itu Bu Hok Lokal adanya, tentu mereka akan menaruh curiga apabila ia bilang tidak belajar apa-apa. Bu Hok Lokai adalah seorang bun-bu-coan-jai, maka orang seperti itu kalau tidak mengajar ilmu silat, tentu mengajar ilmu surat. Dan ia  mengaku belajar ilmu surat  ini  agar jangan membangkitkan amarah tiga orang kakek yang galak- galak itu.

"Bocah bodoh! Lain kali biar dipukul sampai mampus jangan kau  mau  secara  sembarangan saja  dibawa pergi orang. Kau sudah belajar dari kami, mengapa kau tidak mau membunuh mati saja jembel tua itu lalu pergi mencari kami?' kata Sinsaikong. Ang Louw.

"Tangan dan kaki teecu sakit-sakit semua, salah urat ketika teecu terjatuh, juga kepala amat pening. Bagaimana teecu bisa rnelawannya? Apalagi ketika teecu siuman, teecu telah dipondongnya. Jembel tua itu ternyata hatinya baik sekali maka teecu tidak tega untuk membunuhnya. Pula, teecu tidak tahu kemana harus mencari Sam-wi Suhu, maka teecu mau saja ikut dengan dia sambil mencari Suhu dalam perantauan."

"Sudahlah, lain kali kalau kau lari dari kami dan ikut orang lain, akan kami bunuh. Kau menyia-nyiakan waktu. Apa kau masih ingat semua pelajaran yang kau terima dari kami?"

Tiang Bu terkejut. Selama ini ia hanya menghafal  kitab dan melatih ilmu silat Samhoan Sam-bu. Ia tidak pernah melatih dasar-dasar ilmu silat yang ia dulu terima dari Pak- kek Sam-kui. Cepat otak dan ingatannya bekerja, diperasnya untuk mengingat-ingat, lalu berkata.

"Teecu masih ingat, Suhu hanya selama ini tidak ada yang memberi petunjuk, tentu saja teecu tidak  mendapat kemajuan."

"Haya kauperlihatkan padaku!" kata Ci Kui. "Malu aku kalau orang lain melihat muridku tidak becus apa-apa" Diam-diam Tiang Bu gembira karena dari kata-katanya ini, Giam-Lo-ong Ci Kui sudah memaafkannya. Dengan muka riang bocah ini lalu bersilat seperti yang dulu pernah ia latih ketika masih ikut dengan tiga kakek ini.

"Waah ....... waaah celaka! Buruk sekali!" seru Sin-

saikong Ang Louw. "Hah, memalukan punya murid semacam ini"

Giam-lo-ong Ci Kui melangkah maju dan berkata dengan suara sungguh-sungguh kepada Tlang Bu.

"Tiang Bu, ingatlah bahwa kau adalah murid Pak-kek Sam-kui dan bahwa kau sekarang sudah besar. Sungguh memalukan hati kami kalau ilmu silatmu seburuk itu. Hayo kauperhatikan baik-baik dan mulai latihan. Ikuti gerakan- gerakanku ini dan jangan salah."

Setelah berkata  demlkian,  Giam-lo-ong Ci Kui lalu bersilat tangan kosong, sepuluh jari tangannya dengan kuku panjang-panjang itu berbentuk cakar harimau dan ia bersilat secara menyeramkan sekali. Dulu pernah Tiang Bu menerima pelajaran ini akan tetapi belum berlatih, maka ia tahu bahwa ia harus belajar ilmu silat yang oleh gurunya

disebut Ilmu Silat Hu-houw-tong-tee (Harimau Terbang

Menggetarkan Bumi). I a memperhatikan gerakan-gerakan suhunya secara sungguh-sungguh dan penuh perhatian, kemudian ia mulai meniru gerakan-gerakan suhunya itu. Tiang Bu bersilat penuh semangat meniru gerakan Giam-lo- ong Ci Kui.

Ang Bouw dan Ang Louw menonton dan kadang-kadang mereka memberi petunjuk kalau gerakan bocah itu ada yang keliru. Sampai tiga jam lebih Ci Kui memberi pelajaran kepada muridnya tanpa mengenal lelah sampai akhirnya Tiang Bu dapat menguasai gerakan-gerakan yang sukar dan hati Si Jangkung Gundul ini puas.

"Mulai besok kau harus latlhan memukul pasir dan batu agar kedua tanganmu dapat cepat menjadi tok-ciang (tangan beracun) seperti kami," kata Glaro-lo-ong dengan puas sambil menghapus peluh yang memenuhi kepala gundulnya.

Tiang Bu mengucapkan terima kasih sungguhpun di dalam hati ia tidak suka akan ilmu-ilmu silat yang aneh dan menyeramkan ini. I a lebih suka mempelajari Samhoan Sam- bu atau Pat-hong-hong-i dari kitab yang isinya sudah ia hafalkan itu. Akan tetapi ia tidak dapat  memilih  dan terpaksa harus me nerima pelajaran yang diberikan oleh tiga orang kakek dari utara ini. Tiang Bu yang sudah tahu betul akan watak aneh dari Pak-kek Sam-kui, sama sekali tidak berani mencoba melatih Sam- hoan Sim-bu atau Pat-hong- hong-i dihadapan mereka. Hanya sewaktn ia berada seorang diri saja, sambil mengingat-ingat tangannya bergerak-gerak melakukan gerakan-gerakan Pat-hong-hong-i yang sudah ia hafal di luar kepala.

Dari kota raja Pak-kek Sam-kui mengajak Tiang Bu melakukan perjalanan yang jauh dan lama sekali tidak tahu bahwa ia diajak oleh tiga orang kakek itu ke Mongol, di pusat bangsa Mongol yang mulai berkembang, ke tempat di mana Raja Besar Temu Cin sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan penyerbuan besar-besaran sesuai dengan cita-citanya, yaitu menguasai dunia dan memperlihatkan kekuatan bangsa Mongolia!"

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan dan makin lama makin jarang bertemu dengan kota, bahkan mulai mendaki gunung dan menyeberang laut pasir yang luas dan ganas, Tiang Bu baru berani bertanya kepada guru-gurunya.

"Suhu, mengapa makin lama makin sunyi, dan makin jarang kita bertemu manusia? Kita sedang menuju ke mana- kah?"

Giam-lo-ong Ci Kui tertawa bergelak "Kita menuju pulang"

"Pulang ke rumah Sam-wl Suhu?" tanya Tiang Bu, yang cerdik. "Betul, kau akan ikut dengan kami ke sebuah negara yang besar, sebuah negara yang sebentar lagi akan  menjagoi  di dunia ini. Kau akan belajar ilmu kepada kami dan kelak kau pun akan membantu negara itu menjadi suatu negara yang jaya dan kuat, ditakuti oleh semua negara lain."

"Suhu, melihat munculnya matahari dari sebelah kanan kita, teecu tahu bahwa kita sedang menuju ke utara. Akan tetapi, teecu belum pernah mendengar dari negara manakah asal Sam-wi, dan negara besar itu negara apakah?"

Ketiga orang kakek itu tertawa bergelak. "Bocah bodoh, masa kau tidak mendengar tentang Mongol yang jaya dan kuat, dan tentang raja besar kami yang tiada taranya. Raja Temu Cin?"

Tentu saja Tiang Bu tidak pernah mendengar nama negara atau raja itu, bahkan ia tidak tahu yang bagaimanakah bangsa Mongol itu. Melihat wajah ketiga orang suhunya, bangsa Mongol tentu jelek.

"Jadi di Negara Mongol itu kita akan  menjumpai  bangsa Mongol semua, seperti Samwi Suhu?" tanyanya dengan hati kecewa akan tetapi wajahnya tetap tidak berubah.

"Tentusaja di Negara Mongol kau akan bertemu dengan bangsa Mongol," jawab Ang Louw, gemas melihat kebodohan muridnya.

Mendengar suara Ang Louw dan tahu bahwa guru ke tiga ini gemas,  Tiang Bu berkata sambil tertawa, "Bukan demikian maksud teecu. Tentu saja betul seperti kata Sam-wi Suhu bahwa di Negara Mongol tentu kita akan bertemu dengan bangsa Mongol. Maksud teecu, apakah di sana tidak terdapat bangsa lain dan apakah disana tidak ada  pula bangsa Han?"

"Kau tidak tahu, bangsa kami sudah menjadi  bangsa besar. Hanya ada beberapa suku bangsa saja yang belum menaluk dan menyatukan diri di daerah utara, akan tetapi sebagian besar sudah bersatu di bawah pimpinan Khan kami yang besar dan semua suku bangsa itu kini menjadi bangsa Mongol. Tentu saja masih ada bangsabangsa lain seperti orang-orang Tibet dan suku-suku bangsa di pedalaman yang berada di Mongol. Mereka ini termasuk orang-orang yang membantu perjuangan kami. Bahkan yang menjadi kepala dari semua orang gagah pembantu kaisar kami adalah seorang Han yang berilmu tinggi. Dia itu ber-nama Liok Kong Ji dan berjuluk Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tiada Bandingan di Kolong Langit). Kepandaiannya hebat dan dia menjadi tangan kanan raja besar kami."

Agak terhibur hati Tiang Bu mendengar bahwa di utara sana terdapat bangsa Han dan yang lain-lain, karena ia dapat membayangkan bahwa ia akan merasa tidak kerasan kalau harus tinggal di sebuah negara yang orang-orangnya macam Pak-kek Sam-kui ini buruknya!

Akan tetapi segera kekhawatirannya ini lenyap. Setelah ia bertemu dengan beberapa kelompok suku bangsa di antara pegunungan dan padang pasir, ia melihat suku bangsa yang orang-orangnya terdiri dari orang-orang yang sempurna baik bentuk muka maupun bentuk badannya. Ada kelompok terdiri dari orang-orang berkulit agak coklat  kemerahan, akan tetapi wanita-wanitanya manis-manis  dan yang laki- laki gagah tinggi besar tubuh mereka kokoh kekar.

Ada kelompok yang orang-orangnya mempunyai kulit putih kuning seperti orang-orang Han biasa, bahkan wanita- wanitanya memiliki kecantikan yang menyendiri dan para prianya juga tampan-tampan, dengan tulang pipi menonjol, hidung mancung dan dagu meruncing kadang-kadang ada belahan di tengahnya. Ada pula kelompok yang prianya memelihara kumis panjang semua baik yang tua maupun yang baru remaja hingga kelihatan lucu sekali. Bahasa mereka juga bermacam-macam, akan tetapi pada umumnya para wanitanya tidak berwatak malu-malu seperti wanita Han, pandang mata dan senyum pada wajah yang manis- manis itu terbuka dan ramah. Yang nnenyenangkan hati Tiang Bu,  setiap kelompok yang bertemu dengan tiga orang gurunya, bersikap menghormat. Di mana-mana Pak-kek Sam-kui disambut seperti rakyat menyambut pembesar tinggi, dijamu dengan hidangan-hidangan pilihan dan diadakan pesta-pesta tarian untuk menyenangkan hati Pak-kek Sam-kui. Ketika para kelompok suku bangsa taklukan itu mendengar bahwa Tiang Bu menjadi murid Pak-kek Sam-kui, mereka juga menghormati anak ini sehingga Tiang Bu yang dipuja-puja merasa sungkan dan malu, akan tetapi  perutnya lalu kenyang.

Akhirnya mereka tiba dikaki Gunung Kangai, di mana pada waktu itu Raja Besar Temu Cin dan bala tentaranya tinggal. Markas besar ini dikelilingi pagar tembok dan dijaga amat kuat. Di sekeliling markas ini terdapat dusun-dusun yang ramai. Markas  besar itu sendiri  merupakan sebuah kota tentara yang megah dan di dalamnya dilengkapi dengan

tempat-tempat hiburan bagi anggauta pasukan yang bebas tugas dan beristirahat. Di mana-mana nampak kelompok pasukan yang amat berdisiplin dan bersikap gagah perkasa sehingga diam-diam Tiang Bu merasa gentar juga.

Pak-kek Sam-kui di tempat ini pun selalu disambut dengan hormat oleh para penjaga. Tiga orang kakek itu membawa Tiang Bu masuk ke dalam markas dan langsung menuju ke sebuah bangunan besar di mana berkumpul banyak orang yang aneh-aneh sikapnya. Tiang Bu melihat orang-orang yang berpakaian seperti hwesio, ada yang seperti pendeta tosu, ada pula yang compang-camping pakaiannya seperti pengemis. Bahkan banyak pula terdapat wanita- wanita tua yang sikapnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Serdadu- serdadu Mongol dengan sikap menghormat sekali melayani orang-orang ini makan minum.

Ketika Pak-kek Sam-kui tiba di tempat itu, mereka semua menyambut dan menyalam dengan gembira. Ketika Pak-kek Sam-kui yang bercakap-cakap dengan mereka dengan sikap seperti sahabat-sahabat lama memberi tahu atau memperkenalkan Tiang Bu sebagai muridnya, orang- orang itu segera merubung Tiang Bu dan dari sana sini terdengar pujian-pujian. Sayangnya Tiang Bu tidak mengerti bahasa mereka karena mereka bicara dalam bahasa Mongol. Akan tetapi banyak di antara mereka yang pandai bicara dalam bahasa Han dan segera bocah ini dihujani pertanyaan tentang nama dan sebagainya.

"Tiang Bu, mereka semua  ini  adalah sahabat-sahabat baik kami yang membantu pergerakan bangsa Mongol yang besar,  Mereka ini  adalah orang-orang berilmu yang  datang dari segala pelosok, kepala-kepala suku bangsa yang menyatukan diri dengan pasukan kami. Kalau kau dapat menyenangkan hati mereka, dan dapat memetik pelajaran- pelajaran dari mereka, kau akan beruntung sekali. Sekarang kau tinggal dulu di sini, kami hendak menghadap raja," kata Ci  Kui  kepada muridnya. Tiang Bu mengangguk dan menelan ludah. Ia merasa gelisah juga ditinggalkan seorang diri di antara orang-orang asing yang rata-rata aneh dan menyeramkan itu.

Jumlah mereka kurang lebih dua puluh orang dan ruangan yang amat luas itu masih terus kedatangan orang baru. Juga ada yang menihggalkan ruangan itu. Agaknya tempat ini menjadi tempat istirahat bagi mereka, beristirahat sambil bercakap-cakap dengan kawan yang dijumpainya dan minum-minum arak. Benar-benar mereka kelihatan hidup senang. Dari percakapan beberapa orang di antara mereka yang dilakukan dalam bahasa Han, Tiang Bu mendapat kenyataan bahwa mereka ini adalah orang-orang gagah yang membantu Raja Temu Cin. Mereka ini bercerita betapa mereka sudah berhasil memimpin pasukan menaklukan suku bangsa ini atau itu sehingga kedudukan bangsa

Mongol bertambah lagi. Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang politik dan tentang keadaan pemerintahan di masa itu. Akan tetapi karena sudah banyak mendengar dari Pak-kek Sam- kui, ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah. orang- orang berilmu yang datang ke tempat itu untuk membantu Temu Cin karena berbagai alasan. Ada yang memang ditaklukkan, ada yang memang suka membantu secara suka rela, ada pula yang karena mengharapkan hadiah  yang secara royal  dikeluarkan oleh Temu Cin. Melihat  cara mereka menyambut Pak-kek Sam-kui seperti sahabat yang setingkat, diam-diam Tiang Bu kagum sekali.

Kepandaian mereka tentu tinggi seperti kepandaian Pak- kek Sam-kui maka mereka berani bersikap seperti itu. Dan dugaan ini memang betul. Pergerakan bangsa Mongol yang dipimpin Temu Cin dapat berkembang dengan cepat dan berhasil, bukan saja karena pandainya Temu Cin memimpin bala tentaranya yang berdisiplin dan gagah, akan tetapi juga terutama sekali karena di belakang raja ini terdapat banyak sekali orang pandai yang membantunya.

Pak-kek Sam-kui memasuki bangunan terbesar yang berada di dalam lingkungan benteng itu. Bangunan ini selain besar juga terjaga kuat sekali. Di sebelah dalamnya indah dan megah. Inilah tempat tinggal Raja Besar Temu Cin! Raja yang berhasil memimpin bangsa yang tadinya awut-awutan dan terpisah-pisah menjadi satu bangsa kesatuan yang amat hebat.

Pak-kek Sam-kui diterima oleh lapisan penjaga yang tujuh lapis banyaknya dan diantar dari penjaga pertama ke pos penjaga ke dua dan selanjutnya sampai ia tiba di pos penjagaan terakhir. Semua penjaga mengenal mereka maka mereka dapat langsung ke dalam tanpa banyak halangan.

Dari para penjaga Pak-kek Sam-kui mendapat tahu bahwa raja sedang berundlng dengan dua orang panglima besarnya.

"Kebetulan sekali, bahwa kami meng-hadap," kata Giam- lo-ong Ci Kui. Setelah seorang penjaga melapor dan mendapat perkenan dari raja, tiga orang kakek aneh itu lalu diperkenankan masuk. Ruangan sidang yang mereka masuki besar dan berlantai mengkilap.  Di sudut-sudut  delapan penjuru terlihat pengawal-pengawal berdiri tegak dengan tombak dan

pedang di tangan. Mereka itu tidak bergerak seperti patung, pandang mata tak pernah terlepas dari raja mereka dan sekelilingnya.

"Pak-kek Sam-kui Suhu datang! Selamat datang, silakan duduk dan mari minum dulu menghilangkan dahaga!" sambutan meriah ini adalah kebiasaan dari Raja Temu Cin setiap kali ia menyambut panglima-panglima atau utusan- utusannya dari sebuah tugas yang berat. Dan dengan ramahnya, tangan raja besar ini sendiri yang menuangkan arak wangi ke dalam cawan untuk tiga orang kakek itu. Pak- kek Samkui yang tadinya berlutut memberi hormat, lalu bangkit membungkuk-bungkuk, menghampiri meja besar, memberi hormat lagi sebelum menerima cawan arak dan menghaturkan terima kasihnya. Kemudian mereka dipersilakan duduk di bangku agak bawah.

Temu Cin adalah seorang raja muda berusia tiga puluh lima atau empat puluh tahun. Tubuhnya tegap. dengan dada bidang, mukanya berbentuk segi empat dengan daun telinga lebar panjang, alisnya kecil cocok dengan matanya yang kecil sipit. Kumisnya dipelihara pendek dan di bawah bibir bawah juga terdapat rambut pendek, akan tetapi jenggotnya di bawah dagu dibiarkan panjang.  Sinar matanya  yang kelihatan ramah dan lembut itu membayangkan kekerasan

hati yang tiada bandingannya, hati membaja yang tak dapat dilipat. Inilah Raja Muda Temu Cin calon raja besar di Mongol, pendiri bangsa Mongol yang kuat sekali. Nama besarnya kelak sebagai Raja Jengis Khan akan terkenal di seluruh jagad!

Di dekat kaisar ini duduk dua orang laki-laki yang berpakaian sebagai panglima perang. Yang sebelah kanan adalah seorang laki-laki tampan dan gagah se-kali, kulit dan bentuk mukanya jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang Han. Inilah  dia  Thian-te  Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji, kenalan lama dari para pembaca cerita "Pedang Penakluk Iblis". Liok Kong Ji yang berjuluk Pendekar Besar Tiada Bandingan di Kolong Langit ini sekarang telah berhasil menduduki  tempat  terhormat  di sebelah Raja Muda  Temu Cin. Bagi para pembaca yang tidak mendapat kesempatan membaca cerita Pedang Penakluk Iblis, baiklah kita terangkan secara singkat siapa adanya Liok Kong Ji ini.

Liok Kong Ji adalah seorang laki-laki yang sekarang berusia hampir empat puluh tahun. Semenjak kecilnya, Liok Kong Ji memiliki kecerdikan yang amat luar biasa. Dia amat jahat dan berbahaya. Kecerdikannya membuat ia lebih berbahaya lagi sampai-sampai ia berhasil menipu tokoh- tokoh besar di dunia kang-ouw, di antaranya Hwa l Enghiong Go Ciang Le, See -thian Tok-ong, Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu dan yang lain-lain sehingga tokoh-tokoh besar ini telah tertipu oleh, Liok Kong Ji di waktu dia masih kecil dan menurunkan ilmu-ilmu mereka yang tinggi kepada bocah setan ini! Dengan kecerdikannya yang luar biasa itu

akhirnya Liok Kong Ji berhasil membuat dirinya pandai dan lihai sekali ilmu silatnya.

Bahkan dengan kepandaiannya dan kecerdikannya ia telah berhasil mencuri hati semua tokoh besar di  selatan dan timur sehingga ia pernah diangkat oleh mereka ini sebagai Tung-nam-bengcu (Ketua Persilatan Daerah Selatan dan Timur). Kejahatannya melebihi iblis. Banyak orang menderita oleh kejahatannya, dan akhirnya karena tidak dapat menahan kejaran Wan Sin Hong yang ternyata lebih pandai daripadanya, Liok Kong Ji melarikan diri ke utara.

Sebelum melarikan diri, ia melakukan penipuan yang hebat pula dan yang hanya diketahui oleh Wan Sin Hong seorang. Hal ini terjadi ketika Nyonya Pangeran Wanyen Ci Lun, yaitu Gak Soan Li yang di waktu masih gadis pernah menjadi

korban kekejian Liok Kong Ji sehingga melahirkan anak di luar kehendaknya, berhasil membunuh Liok Kong Ji! Bagi semua orang, terutama sekali Gak Soan Li sendiri, yang dibunuh itu tentu Liok Kong Ji si manusia jahanam.

Akan tetapi pada hakekatnya, dan ini hanya diketahui oleh Wan Sin Hong, Liok Kong Ji masih hidup dan yang terbunuh» itu hanya orang lain, yaitu orang yang dipergunakan oleh Liok Kong Ji untuk melindungi dirinya karena orang itu kebetulan sekali memiliki bentuk muka dan tubuh yang serupa dengan dia. Semua ini dapat anda baca dalam cerita Pedang Penakluk Iblis yang amat menarik.

Demikianlah perkenalan secara singkat dengan tokoh besar ini, yang sekarang memakai nama julukan Thian-te Bu-tek Taihiap. Hanya kecerdikannya semata yang dapat membuat ia diterima dan diangkat sebagai komandan oleh Raja Temu Cin. Raja orang-orang Mongol ini memang seorang pemimpin yang amat pandai. Raja Temu Cin- maklum betul bahwa Liok Kong Ji bukan manusia baik, berhati palsu, berwatak keji dan dengki dan kalau menjadi

musuh, merupakan lawan yang amat berbahaya. Akan tetapi Temu Cin tidak membutuhkan  wataknya,  tidak peduli apakah orang jahat atau baik, yang penting baginya adalah tenaga orang itu. Asalkan dapat membantu perjuangannya, memperkuat bala tentaranya, ia akan menutup mata terhadap kejahatan orang itu dan akan mengangkatnya sebagai pembantu.

Justeru orang semacam Liok  Kong  Ji  ini  amat dibutuhkan oleh Temu Cin. Ilmu silatnya tinggi, orangnya kejam, dan memiliki kecerdikan luar biasa dan tipu muslihat yang hebat-hebat! Oleh karena itu, ia menerima Liok Kong Ji dengan senang hati, memberi hadiah dan pangkat tinggi, dan menyenangkan hati orang she Liok ini. Raja orang Mongol ini maklum akan watak Kong Ji yang mata keranjang, maka untuk menyenangkan hatinya, sengaja Temu Cin memberi hadiah puteriputeri  dan dara-dara cantik hasil  rampasan dari berbagai suku bangsa yang ditalukkan. Makmur dan senanglah penghidupan Liok Kong Ji dengan belasan orang selirnya yang cantik-cantik!

Namun kebahagiaan hidup seseorang tak mungkin dapat diukur dengan keadaan lahir saja, dan biasanya kebahagiaan hanyalah khayal pandangan orang-orang luar berdasarkan harta benda dan kedudukan. Akan tetapi, sesungguhnya bahagiakah  hidup Liok Kong Ji? Tidak! I a  sudah  terlalu biasa dengan kemewahan dan kecukupan sehingga pangkat tinggi dan harta benda serta belasan orang selir itu tidak mendatangkan kebahagiaan, dan semua itu tidak terasa lagi kesenangannya. Sering kali ia duduk termenung memikirkan kekecewaan hatinya yang kadang-kadang mengganjal isi dadanya.

Ia sering kali murung kalau sedang demikian dan apabila selir-selirnya datang hendak menghlburnya, ia mengusir mereka pergi seperti orang mengusir ayam. Kadang-kadang ia memaki-maki belasan orang selirnya ini, dimakinya

mereka itu bodoh, tidak sehat, tidak setia dan lain-lain makian kotor. Semua selirnya tahu belaka mengapa Liok Kong Ji bersikap seperti ini dan di belakang mereka mengomel dan berkata.

"Dia sendiri yang tidak becus, mengapa marah-marah kepada orang lain? Kalau hanya seorang isteri saja yang tidak bisa punya anak, bolehlah dipersalahkan isteri itu,  akan tetapi kalau lima belas orang selir tak seorang pun yang bisa punya anak, sudah jelas letak kesalahannya bukan pada

selir-selir itu melainkan kepada suaminya!” Demikian mereka mengomel.

"Memang, ganjalan hati Liok Kong Ji yang sering membuat ia termenung dan marah-marah adalah karena ia tidak mempunyai keturunan. Inilah sebabnya mengapa ia sampai mempunyai demikian banyak selir, di  samping lain sebab bahwa ia memang seorang mata keranjang. Makin tua ia merasa makin gelisah kalau mengingat bahwa ia tidak mempunyai keturunan seorang pun! Akhirnya atas nasihat Temu Cin, Liok Kong Ji memungut dua orang anak, keduanya adalah anak-anak perempuan yang manis-manis berusia lima dan enam tahun. Mengapa ia memungut anak perempuan dan bukan laki-laki? Ini tentu ada sebabnya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan. Kong Ji adalah seorang yang memiliki watak rendah dan jahat. Tak mungkin ia dapat sayang kepada orang, lain yang bukan anaknya sendiri, kalau orang itu laki-laki. Kalau perempuan lain lagi karena ia mengandung harapan bahwa kalau kelak anak- anak itu menyenangkan hatinya, ia bisa mengambilnya sebagai ....... bukan sebagai anak, melainkan sebagai selir muda! Memang dalam batin bejat seperti ini selalu terkandung maksud-maksud yang kotor dan tidak suci.

Karena maksud hati kotor ini»maka pengangkatan dua orang anak itu tidak memuaskan hatinya  dan sering kali kalau sedang termenung seorang diri, ia teringat kepada Gak Soan Li. Sama sekali bukan  teringat  karena ia  amat mencinca wanita ini, bukan. Orang macam Kong Ji ini mana mempunyai perasaan cinta kasih yang suci? Ia bersifat mata keranjang dan suka akan wanita hanya berdasarkan nafsu- nafsu kotor semata. Ia sering kali termenung kepada Soan Li oleh karena hanya wanita inilah yang telah melahirkan seorang anak keturunannya! Ingin sekali ia tahu di mana adanya anaknya itu, laki-laki atau perempuan?

Lima belas orang selirnya selain muda-muda dan cantik- cantik, juga kelihatan amat sayang dan cinta kepadanya. Hal ini tidak aneh oleh karena Kong Ji  pernah membunuh seorang selir yang berani memperlihatkan sikap membenci kepadanya. I a mencekik selir itu begitu saja sampai mati di depan semua selirnya sehingga mereka menjadi takut sekali kalau-kalau mengalami nasib mengerikan seperti itu. Oleh karena ini maka mereka berlumba mengambil hati Kong Ji. Hanya seorang saja di antara lima belas orang selir itu yang bersikap sewajarnya dan tidak mengambil-ambil hati. Namun Kong Ji pun tidak mengganggunya, oleh karena selir ini memang paling cantik dan paling disayangi, selain itu Kong Ji pun tidak berani menyiksanya apalagi membunuhnya.

Selir ini adalah bekas isteri seorang panglima besar Mongol yang masih muda. melihat kecantikan isteri panglima muda itu, Kong Ji tak dapat menahan nafsunya dan dengan kepandaiannya yang tinggi ia mendatangi kamar panglima itu untuk mengganggu isterinya. Panglima itu melihatnya dan terjadi pertempuran, akan tetapi dia bukan lawan Kong Ji.

Dalam belasan jurus saja panglima itu tewas dan Kong Ji menculik isteri panglima itu ke rumahnya.

Temu Cin mendengar tentang hal ini. Akan tetapi dia tidak menghukum Kong Ji, bahkan dengan sah memberikan wanita itu kepada Kong Ji sebagai selirnya dengan pesan supaya Kong Ji memperlakukan janda muda itu baik-baik, kemudian menyuruh orang mengubur jenazah panglima mudanya. Habis perkara! Temu Cin bukan seorang hakim, melainkan seorang raja yang sedang membangun kerajaannya. Oleh karena itu segala keputusannya bukan berdasarkan keadilan melainkan berdasarkan rugi untung bagi kemajuan kerajaannya. Kong Ji adalah orang panglima yang boleh diandalkan, apakah artinya seorang panglima muda seperti yang telah terbunuh itu? Dan lagi, soalnya adalah perebutan perempuan. Perkara yang tidak ada artmya bagi Temu Cin.

Cukuplah kiranya tentang Liok Kong Ji panglima besar yang usianya hampir empat puluh tahun, berwajah tampan, bersikap halus terpelajar, dan berkepandaian tinggi serta memilikl kecerdikan luar biasa ini. Kita kembali ke ruangan sidang di mana Raja Temu Cin sedang menyambut kedatangan Pak-kek Sam-kui.

Di sebelah kiri Temu Cin duduk seorang berpakaian panglima pula. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa. Mukanya penuh brewok dan hampir menutupi hidung dan mulutnya. Hanya matanya saja yang kelihatan nyata, sepasang matanya setengah keluar, menakutkan. Inilah panglima besar yang usianya sudah Lima puluh tahun, bernama Bouw Gun dengan julukan Bu-tek Sin-ciang (Tangan Sakti Tiada Bandingan). Oleh karena julukan inilah kiranya maka Liok Kong Ji mengambil julukan yang lebih unggul, yaitu Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tanpa Bandingan di Kolong Langit). Dan ia memang berhak

memakai julukan yang lebih hebat dan tinggi daripada Bouw Gun karena dalam sebuah pertandingan ketika hendak diterima oleh Temu Cin, ia telah mengalahkan Bouw Gun ini.

Dua orang ini, Liok Kong Ji dan Bouw Gun, pada waktu itu merupakan pembantupembantu lihai.

Setelah Pak-kek Sam-kui minum arak yang disuguhkan oleh Temu Cin sendin, mereka lalu membuat laporan tentang perjalanan mereka melakukan tugas. Mereka melaporkan bahwa Wan Sin Hong menolak undangan Temu Cin dan menceritakan pula tentang peristiwa yang mereka alami di puncak Luliang-san, di mana Sin-saikong Ang Louw telah mencoba kepandaian Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.

"Sayang," kata Liok Kong Ji. "Kepandaian Wan Sin Hong benar-benar tinggi dan kalau kita berhasil menariknya, tentu ia akan dapat menghadapi orang-orang seperti Ang-jiu Mo-li."

Kemudian Pak-kek Sam-kui melanjutkan pelaporan mereka. Dengan menarik hati mereka menceritakan bahwa mereka telah berhasil merebut simpati dari para tokoh kang- ouw di daerah selatan. Temu Cin girang sekali mendengar ini, sambil tertawa bergelak ia kembali menuang-kan arak ke dalam tiga cawan dan mempersilakan Pak-kek Sam-kui minum. Inilah penghormatan besar sekali bagi tiga orang utusan ini!

"Bagus-bagus! Dan bagaimana penye-lidikan kalian tentang sikap suku bangsa Shia-shia yang berkepala batu itu?" tanya Temu Cin kepada Pak-kek Sam-kui.

"Mereka masih tetap hendak berdiri sendiri, merdeka dan terlepas dari kita maupun dari kerajaan-kerajaan di selatan. Bangsa Shia-shia itu biarpun hanya sekelompok saja namun merupakan rintangan yang besar dalam cita-cita kita menyerbu ke selatan. Akan tetapi, hamba bertiga berani memastikan bahwa mereka pun takkan sudi bersekutu dengan Kerajaan Cin," kata Giam-lo-ong Ci Kui.

"Biarlah, jumlah mereka besar. Kelak dalam pergerakan kita, kalau mereka suka membantu sukur, kalau tidak kita harus mempergunakan kekerasan."

Kemudian Giam-lo-ong Ci Kui men-ceritakan pengalamannya di Go-bi-san, ketika ia dan dua orang sutenya membawa pasukan menyerbu Hui-eng-pai.

"Karena hamba mendengar bahwa Hui-eng-pai di bawah pimpinan Hui-eng Niocu merupakan perkumpulan wanita yang kuat, maka hamba bermaksud menaklukan mereka dan menarik mereka membantu kita."

"Bagus sekali! Selain tenaga mereka kita butuhkan, juga mereka terdiri dari banyak wanita-wanita cantik yang dapat menggembirakan hati anak buah kita!" kata Liok Kong Ji gembira mendengar penuturan Ci Kui.

"Liok-taihiap tak pernah ketinggalan kalau mendengar wanita-wanita cantik,” kata Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun sambil tersenyum. Juga Temu Cin tertawa lebar.

"Tentusaja, kalau kita dapat menggembirakan hati para pemimpm pasukan bukankah mereka akan makin bersemangat?" jawab Kong Ji.

“Tentu saja diberikan kepada mereka setelah dipilih dan diambil yang paling baik untuk pengisi taman bungamu sendiri. Bukankah begitu, Saudara Liok?” kata Temu Cin menggoda.

Liok Kong Ji tersenyum dan mengangguk. "Dengan seijin Paduka tentu saja akan terjadi demikian, karena bukankah panglima mendapat hak lebih dulu dari anak buahnya, bukan?" Temu Cin tidak menjawab hanya tertawa bergelak lalu menyuruh Giam-lo-ong Ci Kui melanjutkan penuturannya.

"Sayangnya hamba tidak berhasil karena di luar dugaan hamba bertiga di sana sudah muncul Wan Sin Hong!

Temu Cin dan Liok Kong Ji tertarik sekali dan mendesak supaya Ci Kui segera melan)utkan laporannya. "Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Hamba sudah mengerahkan kawan-kawan dan bertempur mati-matian, akan tetapi Wan Sin Hong benar- benar lihai sekali. Akhirnya karena anak; buah hamba semuanya binasa terpaksa hamba melari-kan diri."

Terdengar Temu Cin menggebrak meja. Raja ini marah sekali. mendengar sepasukan orang-orangnya telah binasa oleh Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa. Juga Liok Kong Ji menjadi kecewa sekali.

"Bawa pasukan yang lebih besar dan tangkap anjing Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa itu!" seru Kong Ji lupa diri saking marahnya. Ia benci sekali kepada Sin Hong dan ini sudah sewajarnya karena ia sampai lari dari pedalaman dan tinggal di Mongol hanya karena takut menghadapi kejaran Sin

Hong.

Akan tetapi Temu Cin mengangkat tangan dan memandang kepadanya dengan mata tajam.

"Saudara Liok, tenanglah. Seorang yang dapat melawan Pak-kek Sam-kui dan tidak saja mengalahkan mereka bahkan membinasakan sepasukan tentara pilihan, tidak seharusnya dibunuh. Pak-kek Sam-kui, sekarang kalian kuberi tugas, usahakan sedapat mungkin agar supaya Wan Sin Hong bisa menghadap ke sini dan membantu aku.

Persidangan selesai!"

Dengan hati masih panas Liok Kong Ji terpaksa menjura dengan hormat bersama yang lain-lain, lalu mengundurkan diri keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar, Kong Ji minta kepada Pak-kek Sain-kui supaya menceritakan lagi sejelas-jelasnya tentang pertempuran di Go-bi-san itu. Ci Kui menuturkan dengan jelas, bahkan menceritakan pula betapa nama Liok Kong Ji masih dihormati dl selatan. Hal ini menggirangkan hciti Kong Ji dan diam-diam ia merasa rindu untuk pulang ke pedalaman hanya ia masih gentar menghadapi Wan Sin Hong.

Ketika mereka tiba di tempat peristirahatan dan melihat seorang bocah dikerumuni para perwira, Kong Ji laki bertanya.

"Siapakah bocah ini?" Ia merasa heran melihat seorang bocah bangsa Han berada di tempat itu.

"Taihiap, dia ini murid Pak-kek. Sam-kui, apa kau belum tahu?"

Kong Ji menatap wajah bocah itu, wajah yang buruk dan tidak menyenangkan hatinya, kemudian ia berpaling kepada Ci Kui, "Apakah kau mendapatkan murid ini di selatan?"

Ci Kui tertawa. "Bocah ini bukan sembarangan bocah, karena dia sudah diperebutkan antara Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa!" Kemudian ia menuturkan tentang keadaan Hui-eng-pai ketika Tiang Bu diperebutkan oleh Sin Hong dan Siok Li Hwa. Kong Ji merasa heran sekali mendengar ini.

Kalau sampai Sin Hong dan Li Hwa memperebutkan bocah ini, tentu ada hal yang luar biasa pada anak ini. Ia menjadi tertarik dan memanggil bocah itu mendekat.

Melihat seorang panglima gagah memanggilnya dengan suara dan bahasa Han, Tiang Bu segera maju menghadap dan berdiri di depan Liok Kong Ji. Setelah dekat, Kong Ji melihat bahwa di balik kulit muka yang kotor dan pakaian yang compangcamping itu ia melihat sinar mata yang tajam sekali, wajah yang tidak tampan namun membayangkan ketabahan luar biasa dan gerakan bocah itu ketika berjalan membayangkan bakat ilmu silat yang besar.

"Siapa namamu?" tanyanya. "Nama saya Tiang Bu," jawab anak itu tegas, dan sedikit pun tidak kikuk atau takut-takut.

"Siapa ayah bundamu?" tanya pula Kong Ji yang tertarik hatinya bukan karena bocah ini sendiri, melainkan oleh kehyataan bahwa bocah itu diperebutkan oleh Sin Hong dan Li Hwa.

"Saya tidak punya ayah bunda, entah siapa mereka saya tidak tahu."

"Kau yatim piatu dan sebatangkara?"

"Tiang Bu mengangguk dan membalas tatapan sinar mata Kong Ji tanpa takut. "Mengapa kau diperebutkan oleh Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa?"

"Hui-eng Niocu ingin mengambil murid padaku, lalu datang laki-laki itu yang hendak merampasku. Entah apa sebabnya saya sendiri pun tidak tahu."

Jawaban-jawaban ini tidak menarik hati Kong Ji dan ia beranggapan bahwa tentu dua orang itu melihat bakat baik dalam diri anak ini dan berebutan hendak menjadi gurunya. Tidak aneh dan tidak menarik. Ia menoleh kepada Ci Kui.

Giam-lo-ong Ci Kui tersenyum. "Tadinya kami merampasnya hanya untuk membalas dendam kepada Wan Sin Hong dan Hui-eng Niocu. Kemudian kami tertarik melihat bakat pada bocah ini dan melihat ketabahannya.

Oleh karena itulah maka kami lalu mengambil keputusan untuk mengambilnya sebagai murid."

Kong Ji tidak berkata apa-apa lagi dan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke gedungnya sendiri.

Mendengar penuturan Pak-kek Sam-kui tentang pedalaman Tiongkok, ia menjadi rindu sekali akan tanah airnya. Ini bukan berarti bahwa dalam dada Liok Kong Ji ada sedikit semangat patriotik, melainkan ia ingin menikmati segala

kesenangan yang bisa didapatkan di selatan dan yang sukar dicari di daerah utara yang dingin itu. Adapun Pak-kek Sam-kui lalu mengajak Tiang Bu ke sebuah dusun tak jauh dari benteng itu di mana memang biasanya Pak-kek Sam-kui tinggal kalau mereka tak sedang menjalankan tugas. Dusun ini merupakan dusun istimewa yang boleh dibilang paling baik keadaannya di antara semua dusun di sekitar pegunungan itu, di sinilah sebagian besar perwira tinggal bersama anak isteri mereka. Juga didusun ini berdiri gedung tempat tinggal Liok Kong Ji bersama lima belas orang selir, dua orang anak angkat dan sejumlah besar pelayan, Di gedung yang terbuat dari kayu ini Liok Kong Ji tinggal seperti seorang raja muda.

Pak-kek Sam-kui tinggal di sebuah rumah besar dan mereka mempunyai banyak pelayan laki-laki dan wanita. Tiang Bu mendapat sebuah kamar sendiri dan bocah ini merasa lega dan senang karena. ternyata tiga orang suhunya tidak tinggal bersama banyak orang yang dijumpainya tadi.

Dengan amat tekun Tiang Bu berlatih ilmu silat di bawah pimpinan Pak-kek Samkui. Biarpun bocah ini tidak suka dengan ilmu-ilmu silat mereka yang dianggapnya kasar dan penuh gerakan-gerakan curang, namun harus ia akui bahwa ilmu silat mereka itu hebat sekali, lagi sukar dipelajari.

Dengan sabar dan rajin ia berlatih terus, dan kini ia mendapat kesempatan untuk mulai melatih diri dengan gerakan-gerakan Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang sudah dihafal teorinya. Tiap malam ia berlatih di dalam kamarnya dengan amat tekun sehingga dalam waktu setahun saja Tiang Bu telah memperoieh kemajuan pesat. Ilmu silat yang ia dapat dari kitab dari Omei-san itu benar-benar hebat.

Gerakan-gerakan kaki tangan dalam Ilmu Silat Pat-hong- hong-i ini mengandung kekuatan yang mendorong kemampuannya dalam berlatih Iweekang menurut petunjuk Pak-kek Sam-kui.

Tiga orang kakek ini sampai terheran-heran melihat kemajuan yang luar biasa dari murid mereka. Mereka hanya merasa heran dan gembira, sama sekali tidak mengira bahwa kemajuan Tiang Bu itu sebagian besar berkat latihan- latihannya di waktu malam di dalam kamarnya!

Tiang Bu merasa menyesal sekali bahwa kamarnya tidak cukup luas untuk berlatih Pat-hong-hong-i, karena pukulan- pukulan dari ilmu silat ini mengandung hawa pukulan yang menderu sehingga kalau ia berlatih terlalu cepat dan terlalu mengerahkan tenaga, suara hawa pukulan itu akan terdengar oleh ketiga suhunya. Alangkah senangnya kalau ia dapat berlatih di luar, di udara terbuka, pikirnya.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Pak-kek Sam-kui mulai melakukan tugas-tugas baru, membantu pasukan-pasukan menggempur suku-suku bangsa yang belum mau taluk di daerah perbatasan selatan dan barat.

Pengaruh bala tentara Mongol mulai berkembang dan membesar. Temu Cin mulai memperluas wilayahnya ke barat menyerbu daerah Sin-kiang dan ke selatan menalukkan suku-suku bangsa perantau, memaksa mereka menggabung

dengan bala tentaranya. Bahkan ia mulai mendesak kedudukan orang-orang bermata biru di utara!

Kesempatan selagi guru-gurunya tidak ada, dipergunakan oleh Tiang Bu sebaikbaiknya. Biarpun para pelayan memper- lakukannya dengan baik dan hormat mengingat bahwa anak ini murid dari  Pak-kek Sam-kui,  namun Tiang Bu tidak berani berlatih silat  di dekat  rumah itu. Ia sengaja keluar dari rumah, bahkan keluar dari perkampungan dan berlatih silat di dalam sebuah hutan yang sunyi. Di dalam hutan ini ia boleh berlatih sesuka hatinya. Ia bersilat Sam-hoan Sam-bu sehingga ketangkasannya yang dulu kembali  setelah ia latihan beberapa kali.

Juga Ilmu Silat Pat-hong-hong-i yang dilatihnya makin maju saja. Ia merasa tubuhnya ringan dan kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan kalau ia mainkan Pat-hong- hong-i. Sampai sehari penuh ia melatih di dalam hutan ini, bahkan kadang-kadang ia datang di situ pada malam hari secara diam-diam kalau para pelayan sudah tidur pulas. Kalau ia lelah, ia  duduk di  atas  batu karang dan  melamun. Di samping keg;irangannya melihat kemajuannya sendiri, kadang-kadang ia juga merasa sedih. Ia tidak kerasan tinggal di daerah utara yang amat dingin ini. Dan celakanya tiga orang gurunya sama sekali tidak mau mempedulikannya sehingga pakaiannya tak pernah diganti, masih tetap compang-camping.

Bahkan baju yang dipakainya itu kini sudah tidak berlengan lagi, atau hanya berlengan setengah. Terpaksa ia potong sebatas Siku dan potongannya dipergunakan untuk menambali bagian-bagian yang sudah robek dan berlubang. akan tetapi kepada siapa ia harus mengeluh? Tiga orang gurunya memang manusia-manusia aneh. Mereka menduduki pangkat-pangkat besar, kaya raya dan hidupnya mewah, namun pakaian ketiga orang gurunya itu pun hampir tak perhah diganti!

Biarlah, pikirnya menghibur hati sendiri. Aku mendapat makan cukup, ini saja sudah baik sekali. Kelak kalau ada kekuatan, aku harus segera minggat dari tempat ini. Dengan pikiran seperti ini Tiang Bu dapat menahan hidup di.utara sampai dua tahun lebih. Ia masih belum berani melarikan

diri oleh karena maklum akan luasnya pengaruh bangsa Mongol dan bahwa Temu Cin mempunyai banyak sekali kaki tangan di mana-mana. Kalau ia harus pergi, pergi ke manakah?, Pergi ke selatan tentu akan dapat  dikejar oleh tiga orang gurunya, karena kepandaiannya sendiri masih jauh untuk dapat dipergunakan menjaga diri dalam tempat berbahaya itu.

Ketika itu Pak-kek Sam-kui melakukan tugas penting sampai dua bulan lebih. Tiang Bu menjadi senang sekali dan waktu yang dua bulan lebih itu ia pergunakan untuk melatih Pat-hong-hong-i dan Sam-hoan Sam-bu sebaik-baiknya, sehingga boleh dibilang siang malam ia berada di dalam hutan itu. Memang ia memiliki bakat yang baik sekali, pula otaknya memang cerdas maka ia kici telah dapat memainkan dua macam ilmu silat tinggi ini secara cukup baik.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak ia datang, kurang lebih dua bulan kemudian, Panglima Besar Thian-te Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji telah berangkat ke selatan, sesuai dengan siasat Temu Cin, yaitu mengumpulkan bala bantuan di selatan dan kalau mungkin menghancurkan kekuatan- kekuatan yang menentangnya di daerah Cin. Semenjak pertemuan pertama itu, Tiang Bu sudah lupa lagi akan panglima itu. Kalau saja ia tahu bahwa orang itu bukan lain adalah ayah-nya sendiri! Akan tetapi ia tidak tahu, tak seorang pun tahu. Juga Kong Ji sendiri tidak tahu. Di dalam dunia ini kiranya hanya tiga orang yang tahu betul akan hal itu, mereka adalah Wan Sin Hong, Go Hui Lian dan Coa

Hong Kin.

Pada hari itu seperti biasa Tiang Bu pagi-pagi sudah pergi ke hutan dan di tempat biasa ia mulai berlatih Ilmu Silat Pat- hong-hong-i. Angin pukulan yang ke-luar dari kedua tangannya menderu-deru mengeluarkan suara. Benar-benar luar biasa ilmu silat ini dan lebih luar biasa lagi adalah anak itu yang dalam usia sembilan tahun sudah dapat bersilat seperti itu baiknya. Saking asyiknya Tiang Bu berlatih ia

sama sekali  tidak tahu bahwa Pak-kek Sam-kui  sudah berdiri tak jauh dari situ, memandang dengan mata bersinar marah sekali!

"Setan cilik! Kau telah menipu dan menghina kami! Kau harus mampus!" seru Liok-te Mo-ko Ang Bouw dengan marah sekali.

Tiang Bu menjadi pucat ketika ia menghentikan gerakan kaki tangannya dan menoleh kepada mereka. Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan menanti dengan tenang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bangsat rendah, ilmu silat apa yang kau latih tadi?" tanya Giam-lo-ong Ci Kui dengan suara menggeledek. Tiang Bu maklum bahwa membohong takkan ada gunanya setelah mereka itu menyaksikan dengan mata sendiri. Ia berlutut sambil berkata, "Teecu berlatih Ilmu Silat Pat-hong-hong-i."

"Dari siapa kau belajar ilmu setan itu?" tanya pula Ci Kui, agak tertegur melihat muridnya bicara demikian terus terang.

"Dari ....... dari sebuah kitab di bawah petunjuk mendiang Bu Hok Lokai."

Kembali tiga orang kakek itu melengak. Jadi orang jembel yang mati di pinggir jalan itu adalah Bu Hok Lokai dan menjadi guru Tiang Bu? Benar-benar mereka tidak pernah menyangkanya.

"Apalagi yang kaupelajari dari jembel itu selain ilmu tadi dan mengemis?" Ci Kui bertanya, suaranya mengandung ejekan.

"Teecu diberi pelajaran ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu .......

"

Baru saja ia bicara sampai di sini, Liok-te Mo-ko Ang

Bouw sudah tak dapat menahan sabar lagi.

"Bagus, coba kita lihat sampai di mana lihainya dua ilmu silat itu!" Sambil berkata demikian ia melompat maju menerkam Tiang Bu dengan buasnya!

Tiang Bu  terkejut sekali. Ia  maklum bahwa  ia  berada dalam bahaya besar karena ia sudah mengenal baik watak tiga orang gurunya ini. Cepat ia menggerakkan kakinya, melesat ke belakang dan di lain saat ia telah dapat mengelak beberapa serangan Ang Bouw yang bertubi-tubi dengan mempergunakan gerakan Pat-honghong-i yang tadi dilatihnya.

"Setan alas! Dia dapat mengelak!" seru Sin-saikong Ang Louw yang segera maju pula menyerbu. "Biar aku yang membunuh setan ini!" "Tidak, aku yang harus merobohkannya," kata Ci Kui yang maju pula menyerang. Di lain saat Tiang Bu sedang diserbu oleh tiga orang suhunya!

"Celaka ....... " anak ini mengeluh, menghadapi  seorang saja ia tahu bahwa akhirnya akan terpukul binasa, apalagi ketiga-tiganya maju bersama. Namun ia tidak putus asa dan cepat mainkan Pat-hong hong-i sebaik-baiknya. Untung baginya bahwa karena memandang rendah, tiga orang kakek itu tidak mempergunakan ilmu silat lain dan menggunakan Ilmu Silat Hui-houw-tong-te untuk menyerangnya. Mungkin Pak-kek Sam-kui merasa  malu kalau mengghinakan  ilmu silat lain yang belum dikenal Tiang Bu. Hui-houw» tong-te sudah dipelajari oleh Tiang Bu secara baik-baik, maka sudah cukup adil kiranya kalau mereka juga menggunakan ilmu ini untuk menyerang. Sama sekali mereka lupa bahwa tiga

orang kakek yang sudah kenamaan di dunia kang-ouw mengeroyok seorang bocah berusia sembilan-sepuluh tahun, benar-benar merupakan hal yang menggelikan dan menjemukan. Akan tetapi Pak-kek Sam-kui bukanlah orang- orang biasa, mereka berwatak  jahat  dan  aneh  dan segala niat di dalam hati mereka lakukan tanpa mempedulikan anggapan orang lain.

Melihat datangnya serangan dari tiga jurusan Tiang Bu yang cerdik lalu mengubah gerakannya dan mainkan ilmu mengelak Sam-hoan Sam-bu. Ilmu ini lebih tepat untuk menghadapi keroyokan tiga orang, apalagi karena dengan ilmu ini perhatiannya seluruhnya dipusatkan untuk menghindarkan diri dari serangan, sama sekali tidak ada jurus menyerang.

Pak-kek Sam-kui benar-benar merasa penasaran sekali.

Bocah itu gerakannya lincah melebihi burung walet, gesit melebih kera. Dipukul sana melesat ke sini, dicegat sini menerobos sana, benar-benar sukar ditangkap atau dipukul. Gerakan kaki yang juga langkah berubah dan  tangannya yang bergerak ke sana ke mari seperti menari itu benar- benar sukar di-ikuti. Sampai  dua  puluh  jurus  Tiang Bu selalu dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi ia mulai lelah dan langkah-langkahnya mulai dikenal oleh  Pak-kek Sam- kui. Sekali bergerak, Pak-kek Sam-kui sudah mengambil kedudukan yang mencegat dan mematikan tiga langkah-nya, Tiang Bu terjepit dan sekali pukul ia akan mati.

"Pak-kek Sam-kui tak tahu malu! Pergi kalian!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang tongkat panjang dengan ukiran kepala naga berkelebat menyambar ke arah tiga orang itu dengan hebat sekali. Sambaran tongkat ini benar hebat, menyambarnya ke arah kepala Pak-kek Sam-kui jadi melewati atas kepala Tiang Bu. Tongkat itu sekaligus menyerang tiga orang pengurung Tiang Bu tanpa membahayakan bocah itu sendiri.

Pak-kek Sam-kui  kaget  sekali dan tidak berani menangkis sambaran tongkat yang angin pukulannya panas ini. Mereka cepat melompat mundur dan ketika mereka memandang, ternyata yang berdiri di depan mereka adalah seorang hwesio gundul tinggi besar dengan jubah merah dan tongkat kepala naga yang panjang. Pendeta Lama baju

merah dari Tibet.

"Thai Gu Cinjin ....... !" Giam-lo-ong Ci Kui berseru kaget.

Tak disangkanya sama sekali pendeta Lama ini bisa berkeliaran sampai di sini! "Kau datang ke Mongol ada keperluan apakah?"

Seperti diketahui, Thai Gu Cinjin ini adalah hwesio Lama dari Tibet yang telah berhasil mencuri sebuah kitab dari Gunung Omei-san. Di bagian depan telah diceritakan bahwa karena takut dirampas oleh Ang-jiu Mo-li, Thai Gu Cinjin ini menitipkan kitab curiannya kepada Tiang Bu dan kemudian setelah Ang-jiu Mo-li gagal mendapatkan kitab di tangannya, ia pun gagal mendapatkan bocah yang dititipi kitab itu!

Kemudian setelah mencari sekian lama tanpa hasil, ia mendengar bahwa bocah itu adalah murid Pak-kek Sam-kui, maka bergegas ia pergi ke Mongol untuk mencari Pak-kek Sam-kui. Kebetulan sekali ia mendengarkan percakapan antara Pak-kek Sam-kui dah Tiang Bu, dan melihat betapa bocah itu terancam bahaya maut.

Kalau saja ia sudah mendapatkan kitabnya kembali, kiranya ia takkan peduli apakah Pak-kek Sam-kui hendak memecah dada atau kepala bocah itu» Akan tetapi ia harus mendapatkan kitabnya lebih dulu, maka cepat ia mencegah, Pak-kek Samkui membunuh Tiang Bu.

"Pak-kek Sam-kui, kalau tidak ada urusan penting untuk apa pinceng jauh-jauh datang ke tempat buruk ini. Seperti kalian ketahui, pinceng kehilangan kitab pelajaran ilmu silat yang dulu pin-ceng titipkan kepada Setan Cilik ini. Setelah pinceng mendapatkan kembali kitab itu, kalian mau bunuh dia boleh bunuh, pinceng tidak ada urusan lagi." Kemudian tanpa menghiraukan Pak-kek Sann-kui lagi, Thai Gu Cinjin melangkah maju menghadapi Tiang Bu dan membentak.

"Anak setan, mana kitab yang kutitipkan padamu dulu?"

Diam-diam Tiang Bu mengeluh akan nasibnya yang benar-benar buruk. Baru saja terlepas dari tangan Pak-kek

Sam-kui, ternyata yang menolongnya adalah hwesio yang ia bawa lari kitabnya dan yang tentu marah sekali kepadanya. Ini sama halnya dengan terlepas dari mulut harimau jatuh di mulut naga Akan tetapi sudah kepalang.I a maklum takkan dapat hidup lebih lama  lagi, maka timbul keberaniannya yang luar biasa.

"Losuhu, kitab itu sudah teecu bakar'."

Muka Thai Gu Cinjin yang berwarna ungu itu berubah hijau. Tongkat kepala naga di tangannya menggigil, agaknya hendak dijatuhkan ke atas kepala Tiang Bu. Kalau hal ini terjadi, tentu kepala bocah itu akan remuk seperti telur ayam dipukul dengan batu.

"Anak setan! Jangan kau membohong. Tadi pinceng lihat ilmu silatmu Pat-honghong-i dari kitab itu cukup baik. Dari mana kau belajar kalau tidak dari, kitab itu? Mana sekarang kitabnya?"

"Teecu katakan sudah teecu bakar. Tentu saja teecu belajar dari kitab itu. Setelah isinya teecu pindahkan ke dalam otak, lalu kitab itu teecu bakar."

"Jadi kau hafal  semua  isi kitab itu?"  tanya  Thai Gu Cinjin terheran.

Tiang Bu mengangguk. "Hafal di luar kepala segala teori dan gerakannya."

Sengaja Tiang Bu menyombong karena melihat lubang jarum untuk lolos. Barangkali hal ini yang akan menyambung nyawaku pikirnya.

Betul saja dugaan bocah cerdik ini. Sekali menggerakkan tangan kiri, Thai Gu Cinjin sudah menyambar tubuhnya dan dikempitnya demikian kuat sehingga Tiang Bu khawatir dadanya akan pecah.

"Pak-kek Sam-kui, bocah ini kubawa.

Setelah isi kitab kuperas keluar dari kepalanya, pinceng akan mewakili kalian mencabut nyawanya."

Pak-kek Sam-kui tak beram membantah. Mereka maklum bahwa pendeta Lama ini kepandaiannya lebih tinggi daripada mereka sehingga kalau terjadi pertempuran, kiranya mereka akan kalah. Dan lagi apa sih gunanya bertempur? Mereka tidak sudi menjadi guru-guru Tiang Bu lagi dan akan lebih baik kalau anak itu dibawa dan juga kaiau mereka yang membunuh, mereka takut kelak dibunuh oleh Thai Gu Cinjin. Betapapun juga akan pembalasan yang mungkin datang dari fihak Wan Sin Hong!

"Sesukamulah, Thai Gu Cinjin. Kami tidak membutuhkan bocah ini. Sebaiknya kalau bocah ini dibunuh  karena  kelak ia hanya akan mendatangkan malapetaka saja." kata Ci Kui.

Thai Gu Cin Jin hanya tersenyum dan  mengeluarkan suara ketawa menghina seakanakan mentertawakan nasihat Ci Kui ini, kemudian dengan gerakan yang amat cepat ia berlari keluar daii hutan menpju ke selatan. Untuk kesekian kali-nya;  Tiang Bu terjatuh ke dalam tangan seorang sakti lain lagi yang akan mengubah seluruh keadaan hidupnya selanjutnya.

-oo(mch)oo-

Mari kita menengok keadaan Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa yang sudah terlalu lama kita tinggalkan. Telah diceritakan betapa tulang paha dari Hui-eng Niocu Siok Li Hwa parah terkena ledakan senjata rahasia dari serdadu- serdadu  Mongol,  kemudian Sin Hong terpaksa sekali menolong dan merawatnya karena kalau ia tidak mau, gadis itu pun tidak mau dirawat orang lain dan rela mati terlantar di dalam hutan!

Wan Sin Hong yang dapat mengenal watak orang maklum bahwa gadis seperti Li Hwa ini tidak takut mati dan akan membuktikan apa yang dikatakannya. Oleh karena itu, juga karena ia memang kasihan dan suka kepada dara liar ini, ia memondong tubuh Li Hwa yang terluka, membawanya ke dalam sebuah goa yang menjadi tempat tinggal sementara karena Li Hwa tidak boleh kembali ke Hui-engpai kalau membawa laki-laki. Ia merawat paha yang pecah tulangnya itu sehingga Li Hwa yang mencinta Sin Hong dengan seluruh jiwa raganya merasa amat bahagia! Memang lucu sekali. Alangkah mudahnya bahagia datang bagi orang yang dimabuk cinta!

Setelah berbulan-bulan hidup di dekat Siok Li Hwa, Sin Hong mendapat kenyataan bahwa gadis yang nampaknya liar dan keras ini, sesungguhnya mempunyai watak yang baik sekali dan berhati emas. Selain Li Hwa amat mencintanya, juga gerakgerik gadis itu makin meresap mencocoki seleranya, kelihatan manis, menarik dan menawan hati.

Heran dia! Mungkinkah dia mencinta Li Hwa? Atau mungkinkah cinta kasih gadis itu kepadanya yang amat mendalam membawa pengaruh dan "menular" kepadanya? Sin Hong menjadi bingung kaiau perasaan cinta kasih terhadap Li Hwa merangsang di hatinya. ia berpikir-pikir. Dulu aku mencinta Gak Soan  Li,  lalu  aku  merasa bahwa yang kucinta Go Hui Lian.  Sekarang ....... aku  mencinta  Siok Li Hwa!  Begini  mudah berubahkah hatiku? Begini  murah dan palsukah cintaku? Aku tak boleh tergesa-gesa. Harus kubuktikan lebih dulu apakah perasaanku kali ini  betul-- betul murni. Sudah dua kali aku mecinta orang dan selalu gagal merangkai cinta kasih menjadi sebuah pernikahan yang membahagiakan. Kali ini aku tak boleh gagal lagi dan tidak boleh sembarangan mengaku cinta sebelum aku tahu pasti bahwa perasaan yang timbul ini murni!

Selagi ia melamun itu, dari dalam goa keluarlah Siok Li Hwa, jalannya masih perlahan akan tetapi tidak terasa sakit lagi.

"Sin Hong, sepagi ini kau sudah melamun. Memikirkan apa sih?" Tegur dara itu dengan suara manis.

Sin Hong terkejut mendengar suara orang yang sedang menjadi buah lamunannya itu. Ia berpaling dan matanya bersinar melihat Li Hwa keluar dari goa. Pakaiannya kumal, rambutnya awut-awutan dan matanya masih mengantuk Akan tetapi nampak cantik dalam pandang matanya, kecantikan aseli. Sin Hong menekan kekaguman hatinya dan membelokkan perhatian gadis itu dengan tegurannya.

"Kau sudah tidak pincang lagi, Li Hwa. Akan tetapi hati- hati, jangan terlalu cepat berjalan! Dan kau bangun terlalu siang. Makin pagi makin baik merendam pahamu di telaga. Hayo kuantar ke sana cepat-cepat, jangan sampai matahari keburu keluar!"

Li Hwa nnemandang kepada. pemuda itu dengan mata bersinar dan wajahnya yang sayu berseri. Ia menjura dan mengangkat kedua tangan ke dada dengan sikap menghormat sekali, lalu berkata nadanya menggoda.

"Baiklah, Tuan Perawat. Hamba akan mentaati segala perintah Tuan." Setelah berkata demikian gadis ini hendak lari ke telaga yang tak jauh dari situ letaknya.

"Bandel ....... !" Sin Hong mendamprat dan di lain saat gadis itu sudah dipondongnya dan dibawanya lari ke telaga seperti yang setiap hari ia lakukan sebelum Li Hwa kuat berjalan.

Li Hwa menyandarkan kepalanya di dada Sin Hong sambil memejamkan matanya. Terasa enak dan nyaman dalam pondongan tangan yang kuat itu, seperti anak kecil dipondong ibunya, terayun-ayun dan penuh perasaan aman.

"Sin Hong, sudah seminggu lebih kau tidak memondongku. Aku sengaja keluar agak siang supaya kau khawatir aku terlambat merendam kakiku ....... " , '

"Hemmmmm, kau memang bengal sekali. Jadi kau sengaja bangun siang dan memperlambat pergi merendam kaki ke telaga hanya agar aku memondongmu ke sini?"

"Habis, aku rindu akan pondonganmu sih!" jawabnya manja dan genit.

Sin Hong menurunkan Li Hwa di pinggir telaga di atas sebuah batu yang berada di pinggir telaga sehingga dengan duduk di atas batu itu Li Hwa dapat merendam kakinya dan dapat pula mandi seperti yang biasa ia lakukan apabila pada pagi hari merendam kaki.

"Mandilah, aku hendak pulang dulu," kata Sin Hong.

Kata-kata "pulang" ini memang sudah biasa mereka katakan kalau mereka bermaksud kembali ke dalam goa besar yang seakan-akan sudah menjadi rumah tinggal mereka. Setelah berkata demikian, Sin Hong membalikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu agar Li Hwa dapat mandi dan merendah kaki dengan leluasa.

"Sin Hong, jangan tinggalkan aku !"

"Eh, eh, kau seperti anak kecil saja, Li Hwa. Bukankah sudah beberapa hari ini kau berendam seorang diri?"

"Dulu kau selalu membantuku me-rendam kaki "

cela Li Hwa manja.

Sin Hong memandang dan tersenyum gemas. "Dulu. tulang pahamu masih belum tersambung benar, kau tidak bisa turun seorang diri. Sudah tentu aku membantumu.

Akan tetapi sekarang ....... kau sudah kuat, tidak saja dapat merendam kaki, akan tetapi juga dapat turun mandi.  Apa kau ini anak kecil yang harus kumandikan?" Tiba-tiba muka Sin Hong menjadi merah oleh kata-kata terakhir yang terlanjur ia ucapkan itu.

"Mengapa tidak ....... ?" Li Hwa menjawab, senyum dan pandang matanya menantang sehingga muka Sin Hong menjadi makin merah.

"Sudahlah Li Hwa. Jangan main-main. Lekas kau mandi dan aku menunggu di depan goa."

”Sin Hong, kalau aku terjeblos ke dalam lubang di telaga lagi, aku sekarang takkan menjerit kalau kau pergi'"

Sin Hong teringat ketika beberapa hari yang lalu ia meninggalkan Li Hwa mandi seorang diri, tiba-tiba ia mendengar gadis itu menjerit. Cepat bagaikan terbang ia lari dari depan goa menuju ke telaga itu dan melihat gadjis itu tenggelam dan hanya kelihatan dua tangannya saja di permukaan air. Dapat dibayangkan betapa kagetnya. Tanpa ingat apa-apa lagi ia lalu melompat ke dalam air dan menolong gadis itu yang setelah ia tarik tangannya ternyata bahwa gadis itu telah terjeblos ke dalam sebuah lubang yang dalam.

Setelah Li Hwa selamat baru ia insaf, bahwa ia berada dalam keadaan yang amat tidak pantas berdekatan dengan gadis yang baru mandi! Cepat ia melepaskan Li Hwa yang sudah selamat dan melompat ke pinggir, dengan muka membelakangi Li Hwa ia mengomeli gadis itu yang tertawa- tawa! Teringat akan ini, terpaksa Sin Hong tidak berani meninggalkan tempat itu dan ia me narik napas panjang merasa kalah oleh gadis yang pintar menggoda dan keras kepala itu.

"Baiklah, aku akan menunggu di sini, akan tetapi jangan kau ke tengah. Mandi di pinggir juga cukup, mengapa mesti ke tengah di mana banyak lubangnya yang tak tersangka- sangka?"

Li Hwa tersenyum penuh kemenangan dan dia kini tanpa sungkan-sungkan lagi lalu menanggalkan pakaian dan merendam paha sekalian mandi. Ia bermain-main dengan air bahkan sambil tertawa-tawa beberapa kali menggunakan air untuk dipercikkan ke pinggir ke arah Sin Hong. Tiada hentinya ia menggoda pemuda itu dan mengajaknya bercakap-cakap.  Akan tetapi  Sin Hong selalu menjawab tanpa menoleh. Diam-diam Li Hwa makin suka melihat sikap Sin Hong yang sopan ini, makin suka dan juga geli hatinya.

Perasaan wanitanya dapat meraba betapa sangat inginnya hati pemuda itu menoleh dan melihatnya namun, ditahan- tahannya. Ini semua hanya karena Wan Sin Hong adalah seorang pemuda yang hebat, seorang pemuda yang berhati kuat, beriman teguh. Pemuda pilihan dan karenanya Li Hwa menjadi makin cinta saja. Sebetulnya, berkat perawatan Sin Hong yang amat telaten dan penuh perhatian, juga karena pengobatan Sin Hong yang luar biasa, tulang paha yang patah itu sudah tersambung baik dan kaki Li Hwa sudah sembuh sama sekali. Akan tetapi karena gadis itu takut kalau-kalau Sin Hong akan meninggalkannya, maka ia berlaku purapura masih sakit! Gadis ini amat berkhawatir kalau-kalau Sin Hong akan pergi dari sampingnya dan hal ini akan merupakan siksaan batin baginya. I a tidak kuat lagi kalau harus berpisah dari dekat pemuda itu.

Setelah selesai merendam kakinya dan mandi, Li Hwa cepat mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian lagi. Rambutnya yang hltam panjang itu dikepang dan diperasnya.

"Mari kita pulang, Sin Hong," katanya setelah selesai.

Baru Sin Hong mau menoleh dan memandang gadis itu yang nampak segar dan cantik, biarpun kini rambutnya menjadi tidak karuan karena basah.

"Marilah, aku hendak bicara sesuatu dengan kau, Li Hwa," jawab Sin Hong.

Mereka berjalan kaki berdampingan. Telaga itu terletak di sebelah barat goa sehingga ketika mereka "pulang" mereka menyongsong terbitnya matahari. Pagi yang cerah dan indah. Musim semi telah tiba sehingga hutan itu penuh bunga dan daun. Burung-burung menyambut matahari, bunga-bunga tersenyum kepada mereka. Pagi nan indah, Li Hwa berjalan perlahan di samping Sin Hong sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sesungguhnya gadis ini merasa amat gelisah karena kata-- kata Sin Hong tadi.

Ia takut ditinggalkan, Akan tetapi ia menahan  hatinya dan mengobati kegelisahannya dengan bernyanyi-nyanyi, Di antara anak buah Hui-eng-pai terdapat banyak wanita yang pandai bernyanyi dan Li Hwa yang mempunyai suara merdu mempelajari banyak macam nyanyian. Sin Hong berjalan dengan pikiran penuh pertanyaan dan kesangsian. Gadis di sampingnya ini memang aneh sekali.

Ia sampai merasa heran memikirkan mengapa Li Hwa demikian, mencintanya.  Belum pernah seingatnya  ada wanita yang mencintanya sebesar cinta Li Hwa kepadanya. Sudah beberapa kali para ketua Hui-eng-pai datang dan membujuk Ll Hwa untuk kembali seorang diri  di Hui-eng- pai, menduduki kembali kedudukan ketua. Akan tetapi tetap Li Hwa menolak.

"Tempatku adalah di dekat Wan-bengcu. Kalian kembalilah. Kalau perlu, bubarkan saja Hui-eng-pai. Aku tidak mau lagi memimpln dan aku akan hidup membantu Wan-bengcu."

Adapun Li Hwa yang bernyanyi-nyanyi kecil itu juga melamun. Selama beberapa bulan ini Sin Hong hidup di dekatnya siang malam. Belum pernah satu kali pun  Sin Hong memperlihatkan bahwa pemuda itu membalas cinta kasihnya dan pemuda ini selalu bersikap penuh sopan santun. Akan tetapi, tak dapat disangkal pula bahwa Sin Hong selalu menjaganya, selalu merawatnya dan wajah yang tampan dan tenang Itu nampak berseri gembira setiap kali mendapat kenyataan bahwa kakinya berangsur sembuh.

Apakah benar-benar pemuda ini tega meninggalkannya? Tidak, ia akan menolak untuk ditinggalkan! Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa dadanya berdebar gelisah ketika mendengar kata-kata Sin Hong yang menyatakan hendak bicara sesuatu dengan dia. Karena kegelisahan inilah maka Li Hwa untuk sementara lupa akan peranannya sebagai seorang gadis yang "tak pernah sembuh kakinya". Biasanya ia selalu berpura-pura kakinya masih sakit dan belum sembuh betul sehingga jalannya tak begitu cepat. Akan

tetapi sekarang, saking tegangnya perasaan, ia berjalan cepat dan terus mengikuti Sin Hong yang sengaja mempercepat langkahnya. Setelah mereka tiba di depan goa, Sin Hong berhenti dan memutar tubuh

menghadapi Li Hwa

sambil berkata.

"Li  Hwa,  kakimu sudah sembuh. Jalanmu sudah kuat dan cepat!" Li Hwa kaget sekali. Baru ia sadar bahwa ia tadi telah berjalan cepat sekali, terlalu cepat bagi seorang yang kakinya masih sakit!

"Tidak ....... tidak .......

!" ia tak dapat melanjutkan  kata- katanya karena tahu bahwa kali ini ia tidak dapat membohong lagi. Ia hanya berdiri bingung dan mukanya berubah pucat, matanya terbelalak lebar seperti orang ketakutan.

Melihat keadaan gadis ini, Sin Hong menghela napas dan berkata perlahan setelah dua kali menelan ludah, sukar baginya untuk mengeluarkan suara pada saat itu.

"Li Hwa, setiap pertemuan tentu akan berakhir dengan perpisahan. Kini sudah tiba masanya kita harus berpisah."

"Tidak ....... Sin Hong, kau tidak boleh meninggalkan aku

....... !" Kata-kata ini dikeluarkan dengan nada menjerit akan tetapi keluarnya perlahan sekali seperti bisikan yang serak terhalang isak. Mata yang terbelalak itu mulai membasah, bibir yang berbentuk indah dan berwarna merah itu mulai menggigil dan digigit-gigitnya menahan tangis. "Sin Hong

....... jangan tinggalkan aku!!" Dan tiba-tiba gadis ini menjatuhkan dirinya berlutut di depan Sin Hong, menundukkan kepala. Pundaknya bergoyang-goyang dan isaknya ditahan-tahannya. "Sin Hong kau boleh

tinggalkan aku setelah kaubunuh dulu aku "

Melihat ini, kembali Sin Hong merasa ada debar aneh di dalam dadanya. Ia cepat memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkat bangun. Mereka berdiri berhadapan. kedua tangan Sin Hong masih menyentuh pundak Li Hwa.

"Li Hwa, angkat muka dan berlakulah gagah! Tidak semestinya kau berlutut di depanku. Li Hwa, kau melarang aku pergi, apakah selama hidupku aku harus berdiam di sini di goa ini seperti mahluk jaman purba? Aku telah

ditugaskan sebagai seorang bengcu dan pekerjaanku banyak. Apa akan kata orang di dunia kalau Wan-bengcu menyembunyikah diri saja di sini bersamamu?"

"Sin Hong," Li Hwa berkata dengan air mata masih menetes turun di kedua pipinya. "Kau boleh pergi dari sini, akan tetapi aku ikut! Kalau kau pergi meninggalkan aku dengan paksa ....... aku ....... aku akan membunuh diri!"

Sin Hong menarik napas panjang. Hal ini sudah ia duga, bahkan ia sudah mengerti bahwa dara ini pasti akan berkata demikian.

"Li Hwa, apa kau sudah pikirkan masak-masak apa artinya ucapanmu? Kau adalah seorang ketua perkumpulan yang besar. Hidupmu di sini sudah senang dan mewah. Kau ikut aku? Aku ini orang apakah? Tidak karuan tempat tinggalku, lagi pula, kau sendiri tidak tahu bahwa kini kedudukanku terancam, tokoh-tokoh selatan memusuhiku, orang-orang dari utara mengarah nyawaku, dan agaknya tokoh-tokoh di daerah Cin juga sudah mulai tak percaya kepadaku karena aku keturunan pangeran bangsa Cin. Kau mau ikut aku? Kau tahu bahaya setiap waktu mengancam diriku dan kalau kau ikut, berarti kau pun terancam bahaya pula." Mendengar ini, Li Hwa memandang kepada Sin Hong dengan marah. Matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api.

"Sin Hong, kaukira aku ini gadis macam apakah? Kau pemberani, apa kaukira aku pun takut mati? Apalagi hanya menghadapi bahaya, biarpun harus menyerbu lautan api, kalau bersamamu aku rela dan berani! Sin Hong harus berapa kalikah aku menyatakan bahwa hidupku hanya untukmu seorang? Tanpa kau disampingku lebih baik aku mati!"

"Li Hwa ....... Li Hwa  ....... !  Tentu saja  aku tahu akan cinta kasihmu kepadaku dan aku percaya sepenuhnya akan perasaanmu yang murni itu. Aku merasa amat berbahagia bahwa seorang serendah aku mendapat penghormatan sebesar ini, mendapat cinta kasih seorang gadis sepertimu. Baiklah, Li Hwa. Hal ini memang sudah kupertimbangkan masak-masak. Kau boleh ikut dengan aku,  selamanya sampai kau bosan."

"Kau gila ....... !" Li Hwa bersorak seperti anak kecil lalu memandang kepada Sin Hong dengan bibir cemberut. "Sin Hong, kau benar-benar gila kalau mengira aku akan menjadi bosan."

Sin Hong tersenyum, diam-diam terharu sekali melihat gadis ini. "Li Hwa, dengarlah baik-baik. Kita sudah sama- sama dewasa, bukan orang-orang muda yang masih hijau. Kita sama tahu apa artinya dan apa bahayanya apabila kita berdua selalu berkumpul dan melakukan perjalanan bersama. Li Hwa, marilah kita duduk dan mari kita bicara sebagai seorang laki-laki  dan seorang perempuan dewasa yang penuh pengertian dan berpandangan luas. Aku perlu membuka isi hatiku sebelum melakukan perjalanan berdua bersamamu."

Dengan wajah berseri dan muka kemerahan karena kata- kata yang baru diucapkan oleh Sin Hong itu Li Hwa mengangguk dan me reka memilih tempat duduk di atas batu-batu hitam yang banyak terdapat di tempat itu, di bawah lindungan bayangan pohon yang teduh.

"Li Hwa, mari kita selidiki keadaan kita masing-masing.

Dan mari kita membuka isi hati secara jujur." Sin Hong memulai dan wajahnya yang nampak sungguh-sungguh membuat Li Hwa berdebar dan gadis ini tidak berani main- main dan berjenaka seperti biasanya. "Lebih dulu aku akan bicara tentang dirimu. Kau seorang gadis yang menjadi ketua Hui-eng-pai, kau telah rela menghadapi kekurangan dan kesengsaraan karena kau mencinta kepada seorang seperti aku dan sudah sewajarnyalah kalau kau menjadi seorang isteri yang berbudi dan membahagiakan hati suamimu.

(Bersambung jilid ke VI)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]