Tangan Geledek Jilid 03

Jilid 03

Kembali tiga orang itu tertawa, tergelak. Sebentar saja mi yang sepanci besar banyaknya telah habis, pindah ke dalam perut empat  orang ada sepuluh kati  lebih dan arak sehiolouw penuh itu. Dan tak lama kemudian terdengar dengkur mereka, dan kali ini Tiang Bu juga ikut tidur pula setelah perutnya diisi. Di atas meja sembahyang yang  bobrok itu hanya kelihatan sisa-sisa makanan, dan hiolouw bekas tempat arak telah terguling miring di atas meja, sedikit sisa arak mengalir keluar membasahi meja.

Matahari telah naik tinggi ketika Tiang Bu membuka matanya, kaget dan bangun mendengar suara ribur-ribut. la melihat tiga orang suhunya telah bangun, bahkan Ang Louw nampak sedang ribut mulut dengan seorang hwesio yang berwajah angker. I a marah-marah dan mencaci-maki.

"Kalian ini iblis-iblis dari mana berani membikin rusuh di Ui-cun?"

Si Muka Singa Ang Louw tertawa dan bertolak pinggang. "Badut Gundul, kau datang-datang marah mau apa? Kau seperti raja kehilangan selir saja. Apa gundulmu terbentur pintu?" Memang Ang Louw yang mukanya seperti singa ini paling doyan berkelakar, berbeda dengan dua orang suhengnya yang bersungguh-sungguh menghadapi lain orang dan hanya tertawa bergurau dengan saudara sendiri.

Hwesio itu nampak makin marah. I a membanting kaki kanannya dan ....... lantai yang dihantam oleh kakinya menjadi jebol, kakinya masuk ke dalam lubang sekaki lebih!

"Keparat, kau ini saikong siluman agaknya yang telah menghina murid-muridku. Kau merampas hidangan orang, menurunkan tangan jahat, menotok hwesio-hwesio suci, menghina kelenteng dengan membawa pergi hiolouw yang kau isi dengan arak. Kau benar-benar dikutuk para dewata!"

Ang Louw menyeringai dan mukanya benar-benar menyerupai singa yang hendak menerkam mangsanya. "Badut GunduL orang-orang macam kau dan murid- muridmu memang patut dihajar. Mana ada hwesio-hwesio menghadapi hidangan berupa arak dan mi yang penuh dengan daging? Kalian ini mempunyai pekerjaan mengemis dan minta belas kasihan orang untuk mengisi perut.

Sekarang kami orang-orang asing datang dengan perut kosong, sudah sepatutnya kalian yang sudah  seribu kali minta makanan dari orang lain itu sekali-kali memberi sedekah kepadaku. Tentang hiolouw, bagaimana kaubilang aku menghina? Hiolouw biasanya buat tempat abu, aku meminjamnya untuk diisi arak dan dipakai untuk minum itu tandanya malah menghormat."

Hwesio itu marah sekali. Dengan menggeram ia memukul Ang Louw. Gerakannya cepat pukulannya berat. Tidak aneh, karena hwesio ini sebetulnya adalah anak murid dari Kaolikung-pai, seorang di antara para murid ketua kelenteng di Kaolikung-san. Kepandaiannya sudah tinggi dan dengan murid-muridnya ia bertugas mengepalai kelenteng di Ui-cun sekalian memata-matai gerakan orang-orang utara yaitu orang-orang yang datang dari daerah Cin. Kaolikung-pai termasuk partai yang anti kepada pemerintah Cin dan termasuk sebagai pelopor dalam tiap pertempuran kecil-kecilan antara orang-orang dari daerah Cin dengan orang-orang dari daerah Sung. Ketika hwesio itu pulang dari bepergian dan melihat murid-muridnya tertotok kaku seperti patung dan selain arak dan makanan, juga hiolouw dibawa pergi orang, ia menduga bahwa ini tentu perbuatan orang-orang dari utara. Cepat ia melakukan penyelidikan dan pada keesokan harinya baru ia rnendapatkan tiga orang aneh dan seorang bocah tidur di dalam kelenteng bobrok yang sudah tidak dipakai lagi itu.

Akan tetapi Ang Louw yang diserang itu tertawa-tawa mengejek. "Eh, eh, kau mau berkelahi? Apa kau sudah bosan hidup?"

Hwesio itu yang beberapa kali serangannya dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya menjadi naik darah dan serangannya makin gencar. Sebuah tonjokannya yang dilakukan dengan sekuat tenaga mampir di pundak Ang Louw, membuat Si Muka Singa itu meringis-ringis. Memang ilmu silat memiliki keistimewaan masing-masing dan biarpun kepandaian Ang Louw jauh lebih tinggi, namun menghadapi lawan yang menggunakan ilmu silat asing baginya,  tidak aneh kalau ia sampai terkena pukulan.

Akan tetapi pukulan ini membuat Si Muka Singa marah sekali. Ia mengeluarkan auman yang keras dan menyeramkan sekali. Hwesio itu terkejut karena tiba-tiba ia merasa tubuhnya tergetar hebat oleh suara auman yang melebihi auman singa hebatnya.

Gerakan kaki tangannya menjadi lambat dan di lain saat Si Muka Singa menerkam maju dengan dahsyat, tangan kanannya menyambar dengan tenaga ratusan kati memukul dagu hwesio itu.

"Prakkk ....... !" Demikian kerasnya pukulan ini sehingga kepala hwesio yang tidak berambut itu menjadi pecah berantakan! Tubuhnya terlempar dan roboh terguling-guling di sudut, mati sebelum tubuhnya jatuh di tanah.

Melihat kehebatan pukulan ini, Tiang Bu diam-diam merasa ngeri, akan tetapi juga kagum. Akan tetapi Giam-lo- ong Ci Kui menegur Si Muka Singa.

"Siauw-sute, kau benar-benar gegabah. Kita datang untuk menghubungi orangorang kang-ouw, akan tetapi datang-datang kau membunuh seorang hwesio. Sungguh bukan permulaan yang baik."

"Twa-suheng, hwesio macam begini saja, apa sih artinya?

Tugas kita adalah menghubungi tokoh-tokoh besar dan ketua-ketua partai," Sutenya membantah.

Ci Kui tidak banyak cakap lagi lalu mengajak rombongannya segera me lanjutkan perjalanan, menuju ke kota Cun-yi di sebelah selatan dusun itu. Jalan menuju ke Cun-yi melalui pegunungan yang sunyi dan penuh dengan hutan yang lebat. Oleh  karena masih asing dengan daerah ini, maka biarpun jsrak ke kota itu hanya seratus li, akan tetapi Pak-kek Sam-kui harus bertanya-tanya kepada orang- orang dusun dan perjalanan tak dapat dilakukan cepat- cepat.

Salahnya, tiga orang kakek itu melakukan perjalanan terburu-buru oleh karena Ci Kui hendak menghindari segala ekor yang tidak enak dari peristiwa pembunuhan hwesio itu, maka pada hari pertama itu mereka telah sesat jalan! Mereka tersesat ke dalam hutan yang amat besar dan liar di antara perbatasan Propinsi Kwicu dan Secuan dan tanpa disadari mereka memasuki daerah Tai-hang-san! Telah sehari penuh mereka berjalan cepat, Tiang Bu digendong oleh  Liok-te  Mo - ko Ang Bouw akan tetapi sampai matahari terbenam mereka masih belum keluar dari daerah pegunungan yang penuh hutan itu. Terpaksa malam hari itu mereka bermalam di hutan. Karena sehari  penuh  tidak pernah  melihat ada dusun, tentu saja mereka masih belum dapat minta keterangan kepada penduduk dan karenanya masih belum sadar bahwa mereka mengambil jalan yang salah.

Pada keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian mereka berada di lereng gunung dan melihat puncak gunung menjulang tinggi di depan, Ci Kui berkata.

"Ah, kita telah salah jalan. Di depan ada gunung tinggi padahal menurut keterangan, jalan menuju ke Cun-yi tidak melewati puncak gunung yang tinggi."

"Sejak kemarin aku sudah bilang, Suheng. Kita menuju ke jurusan tenggelamnya matahari berarti kita telah mengambil jalan ke barat. Padahal seharusnya kita ke selatan," kata Liok-te Mo-ko sambil menurunkan Tiang Bu dari gendongan dan rnengeringkan peluh di kepalanya yang botak menggunakan ujung bajunya.

Selagi mereka termenung memandang puncak gunung yang tidak mereka kenal itu tiba-tiba Ci Kui berseru.

"Hai, di sana ada orang bertempur.” Dan ia lari melalui lereng yang menanjak naik, diikuti oleh kedua sutenya. Tiang Bu juga berlari secepatnya untuk mengikuti gurugurunya, akan tetapi tentu saja ia tertinggal.  Ia  tidak takut ditinggalkan  dan  mengejar terus. Anak kecil ini sudah terlatih dalam hal berlari melalui jalan-jalan pegunungan yang sukar-sukar.

"Ah, yang bertempur adalah orang-orang pandai. Ini kesempatan baik bagi kita untuk menghubungi mereka dan membantu mereka," kata pula Ci Kui setelah melihat empat orang hwesio setengah tua yang berwajah keren tengah mengeroyokseorang hwesio lain yang lihai sekali llmu silatnya. Empat orang hwesio itu dilihat dari bentuk pakaiannya saja dapat diduga bahwa rnereka adalah hwesio- hwesio yang biasa menjadi penghuni kelenteng-kelenteng di Tiongkok selatan, sedangkan hwesio yang dikeroyok dan lihai sekali itu berjubah merah darah, bermuka hitam dan tinggi sekali hidungnya bengkok. Melihat ini, Pak-kek Sam- kui segera dapat menduga bahwa hwesio lihai yang berjubah merah dan ;memakai topi pendeta kuning itu tentulah seorang pendeta dari Tibet, pendeta Lama yang banyak merantau ke Tiongkok.

"Sute, pendeta Lama itu lihai sekali. Akan tetapi  kita harus  membantu empat orang hwesio itu," kata Ci Kui kepada dua orang sutenya. Dua orang sutenya juga maklum akan  maksud suheng mereka,  maka  tanpa  banyak cakap lagi tiga orang ini lalu melompat ke gelanggang pertempuran.

"Lama kurang ajar, jangan banyak tingkah di sini!" bentak Ci Kui sambil menyerang dengan pukulan-pukulannya yang dahsyat. Juga Ang Bouw dan Ang ouw berseru keras.

"Empat sahabat jangan khawatir, kami datang membantu!"

Pendeta Lama yang mainkan sebuah tongkat pendeta panjang itu nampak terkejut sekali, karena serbuan tiga orang ini benar-benar hebat sekali. Tadi, menghadapi sebuah toya, dua buah tom-bak dan sepasang golok yang dimainkan oleh empat orang pengeroyoknya, ia masih mendapat angin dan berada di fihak yang mendesak. Akan tetapi begitu tiga orang kakek aneh seperti iblis itu menyerbu, biarpun mereka ini hanya bertangan kosong, sebentar saja ia menjadi terdesak hebat. Sebaliknya empat orang hwesio itu menjadi girang dan bertambah semangat mereka karena menerima bantuan tiga orang pandai yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"He, kalian ini bukankah orang-orang dari dunia utara?

Mengapa mencampuri urusan kami!" Pendeta Lama itu biarpun terdesak hebat, masih sempat menegur Pak-kek Sam-kui. Tiga orang kakek ini kagum juga akan ketajaman mata pendeta yang sudah tua itu.

"Kau ini pendeta dari barat berani kurang ajar terhadap sahabat-sahabat kami dari selatan, tentu saja kami membantu!" kata Ci  Kui  yang sengaja berkata demikian untuk menarik  hati  empat  orang hwesio  itu. Ia  dapat menduga bahwa empat orang hwesio yang belum  dikenalnya ini tentulah tokoh-tokoh selatan yang ternama, maka dengan

mengambil hati mereka, akan lebih mudah ia menghubungl tokoh-tokoh selatan.

Di lain fihak, empat orang hwesio itu khawatir kalau- kalau tiga orang kakek aneh yang membantu akan meoghentikan bantuannya, maka seorang di antara mereka berseru.

"Sam-wi Locianpwe, jangan melepaskan penjahat berkedok Lama ini. Dia telah mencuri pusaka dari Omei- san!"

Pendeta Lama itu tertawa terbahak bahak. "Ha, ha, ha, ada perampok-perampok berteriak maling. Sungguh lucu!" Setelah berkata demikian, karena tidak tahan akan desakan tujuh orang itu, ia memutar tongkat panjangnya secara istimewa sekali, cepat dan kuat-kuat hingga angin pukulannya saja membuat tujuh orang lawannya, kecuali Giam-lo-ong Ci Kui seorang, terpaksa bergerak mundur. Ini menandakan bahwa tenaga lweekang dari pendeta Lama itu amat besar dan hanya Ci Kui yang mampu menahan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pendeta Lama untuk melompat pergi dan melarikan diri.

"Jangan lari!" seru Sin-saikong Ang Louw sambil menubruk maju dan ketika ia  bergerak dari  kedua tangannya menyambar sinar-sinar merah yang amat lembut. Inilah jarum-jarum rahasia dari Sin-saikong Ang Louw yang amat lihai. Akan tetapi anehnya, pendeta Lama itu tidak mengelak dan terus saja lari. Jarum-jarum itu ketika mengenai jubah yang lebar dan berkibar di belakang menutupi tubuh pendeta itu, menancap akan tetapi tidak menembus. Ternyata bahwa yang dipakai oleh pendeta Lama itu bukanlah jubah sembarangan, melainkan jubah sutera istimewa yang di sebelah dalamnya terdapat kain benang- benang perak yang amat kuat!

"Kejar penjahat itu!" Empat orang hwesio tadi berteriak- teriak dan lari mengejar. Pak-kek Sam-kui juga mengejar, akan tetapi mereka ini ketika melihat bahwa ilmu lari cepat dari empat orang hwesio itu tidak dapat melawan ilmu lari cepat si pendeta Lama, lalu mengendurkan larinya dan tidak mengejar dengan sungguhsungguh hendak memusuhi si pendeta Lama.

Pendeta Larha itu berlari cepat melihat tujuh orang mengejarnya terus. Tiba-tiba di depannya ia melihat seorang bocah yang wajahnya amat menarik perhatiannya. Bocah ini nampak sehat kuat, jujur dan sinar matanya  tajam  luar biasa.

Pakaian bocah yang sederhana dan compang-camping itu menandakan bahwa ia berhadapan dengan seorang bocah gunung. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari sebelah kiri, di balik puncak. Suara ini melengking tinggi seperti suling, kemudian mengalun dan lapat-lapat terdengar seperti suara ketawa seorang wanita, suara ketawa yang merdu.

"Celaka ....... " pendeta Lama itu menjadi pucat, "kalau dia ikut mengejar ....... " Timbul pikiran yang amat baik. Ia melompat ke dekat bocah itu yang bukan lain adalah Tiang Bu yang sedang susah payah mengejar tiga orang suhunya. Di-keluarkannya sebuah bungkusan dari jubahnya, diberikan bungkusan itu kepada Tiang Bu dan pendeta itu berkata.

"Anak baik, kausimpankan ini. Ku titipkan kepadamu, kelak aku akan datang mengambilnya. Siapa namamu?"

"Namaku Tiang Bu," jawab bocah itu sambil menerima bungkusan. Pada saat itu terdengar suara lengking meninggi itu!

"Lekas, simpan dalam bajumu jangan kelihatan orang," kata pendeta Lama sambil membantu Tiang Bu memasukkan bungkusan itu ke dalam saku baju di sebelah dalam. Kemudian pendeta itu tiba-tiba menarik lengan Tiang Bu dan melemparkan anak itu ke dalam jurang! '

"Tinggal dulu di sana, jangan berteriak. Kalau ada orang melihatmu, kau akan mampus!" kata pendeta Lama itu yang cepat lari ke depan.

Akan tetapi baru belasan kali lompatan, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang wanita cantik sekali telah berdiri  di  depannya. Wanita ini berpakaian serba putih, wajahnya kemerahan  dan rambutnya yang halus hitam panjang itu terurai di belakang punggungnya. Sebatang pedang menempel pada punggung, sikapnya gagah sekali. Ketika ia mengangkat tangan kirinya ke atas dengan isyarat menyuruh Lama itu berhenti, nampak jelas bahwa telapak tangannya kemerahan seperti berlepotan darah. Inilah Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Tangan Merah).

"Thai Gu Cinjin, berhenti dulu" wanita itu berseru suaranya merdu dan tinggi nyaring menusuk telinga tanda bahwa di-keluarkan dengan pengerahan tenaga khikang.

Kemudian terdengar suara ketawanya yang aneh seperti lengking suling. Pendeta Lama itu nampak gelisah mendengar suara ketawa ini.

"Ang-jiu Mo-li, kau menghentikan pinceng ada keperluan apakah?" tanyanya, suaranya digagah-gagahkan agar tidak kelihatan bahwa dia gentar menghadapi wanita ini. Memang sungguh lucu melihat tokoh besar seperti Thai Gu Cin-jin yang di  Tibet  terkenal  sebagai  jagoan berilmu tinggi, kelihatan gentar menghadapi seorang wanita cantik yang biarpun kelihatan muda jelita akan tetapi sudah berusia lima puluh tahun ini!

Ang-jiu Mo-li sekali lagi tertawa cekikikan, kemudian suara ketawanya terhenti tiba-tiba dan keningnya berkerut, matanya memancarkan cahaya menakutkan. “Thai Gu Cinjin, sudah lama aku mendengar bahwa kau adalah seorang pendeta Lama yang paling cerdik banyak akal dan suka pura-pura. Ternyata sekarang betul, kau masih hendak berpura-pura dan bertanya apa maksudku menghentikanmu, seakan-akan kau tidak berdosa sama sekali! Akan tetapi aku tidak mau seperti kau, aku berterus terang saja. Aku sengaja menghadangmu dan lekas-lekas kauberikan kitab-kitab Omei-san itu."

Mendengar ini Thai Gu Cinjin berdongak ke atas, tertawa bergelak dan memukulmukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah sehinggga batu-balu menjadi remuk.

"Ha, ha, ha, ha! Kau juga, Ang-jiu Mo-li? Benar-benar lucu. Baru saja Le Thong Hosiang, Nam Kong Hosiang, Nam Siong Hosiang dan Hengtuan Lojin empat orang  hwesio goblok itu mengeroyok pinceng dan juga minta kitab dari Omei-san. Apa kaukira mudah saja mengambil kitab dari dalam gua yang dijaga oleh dua ekor naga sakti itu? Kau boleh coba-coba mengambilnya di Omei-san! Ha, ha, ha!"

"Kalau mempergunakan tongkatmu itu aku percaya, kau takkan mampu mengambll kitab dari Omei-san. Akan tetapi tipu muslihatmu mungkin membuatmu berhasil. Aku mendengar berita bahwa kau sudah berhasil menipu Tiong Jin Hwesio. Nah, sekarang jangan banyak cakap, lekas kauserahkan kitab itu kepadaku."

"Eh, kau tidak percaya kepadaku, Ang-jiu Mo-li? Pinceng bersumpah bahwa kitab itu tidak ada pada pinceng!"

"Hmmm, siapa percaya pada sumpahmu? Perlihatkanlah isi saku bajumu."

"Ang-jiu Mo-li, kau benar-benar terlalu! Kau tidak saja tak percaya kepada kata-kata pinceng, bahkan sampai pinceng bersumpah kau tidak percaya. Kau ingin menggeledah?"

"Betul, lekas buka jubahmu dan ja- i ngan banyak cerewet!" "Ini penghinaan namanya!" "Habis kau mau apa?"

"Ang-jiu Mo-li, sudah lama pinceng tidak merasai kelihaianmu.  Kalau kau dapat  merampas tongkat  pinceng ini, baru pinceng mengaku kalah dan menuruti kehendakmu memeriksa saku jubahku ini." Setelah berkata begini, pendeta Lama yang bernama Thai Gu Cinjin itu lalu memegang tongkatnya lurus ke depan dada dengan tangan kanan disodorkan ke arah Ang-jiu Mo-li.

Wanita ini kembali tertawa aneh. "Kalau aku tidak melihat kau sudah tua dan sudah  bersusah payah  meninggalkan Tibet untuk mencari kitab Omei-san, tentu kau takkan dapat meninggalkan tempat ini dengan nyawa dalam tubuhmu.

Baiklah, kaupertahankan tongkatmu!"

Ang-jiu Mo-li lalu menangkap tongkat itu dengan tangan kirinya, mengerahkan tenaga lweekang disalurkan ke arah tongkat untuk membetot, Thai Gu Cinjin mempertahankan. Ang-jiu Mo-li mengubah-ubah tenaganya, kadang-kadang membetot, kadang-kadang mendorong. Akan tetapi Thai Gu Cinjin tak dapat diakali dan dapat mengimbangi serangan lawan.

Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan seruan keras dan warna merah dari telapak kedua tangannya menjalar perlahan-lahan sehingga tak lama kemudian tongkat di bagian yang terpegang oleh wanita ttu mulai mengeluarkan uap! Terus saja uap itu menjalar menuju ke tangan Thai Gu Cinjin yang merasa terkejut sekali.  Akan tetapi mengandalkan tenaga lweekangnya yang sudah tinggi sekali, dia tidak takut dan bersiap-siap menerima serangan hawa dari tangan merah itu. Uap terus menjalar menyusuri tongkat, tanda bahwa hawa itu makin lama menjalar makin jauh mendekati lawan. Akhirnya uap menyentuh tangan Thai Gu Cinjin yang memegang tongkat.

Pendeta Lama ini merasa seakan-akan ia memegang besi merah. Panasnya tak tertahankan lagi, apalagi selain hawa panas ini masih disertai hawa mendorong yang amat dahsyat. Ia mempertahankan, akibatnya, telapak tangannya mulai hangus dan beruap, mengeluarkan bau seperti kulit dibakar.

"Menyerah ....... '" katanya terengah-engah karena ia menahan napas dan mengerahkan seluruh tenaga.

Ang-jiu Mo-li tertawa nyaring sekali dan menancapkan tongkat yang sudah berpindah tangan itu ke atas tanah. Tongkat amblas sampai setengahnya. Tanpa banyak cakap lagi, Thai Gu Cinjin membuka jubah luarnya dan melemparkan jubah di atas tanah. Ia kini hanya memakai pakaian dalam yang ringkas dan tidak bersaku.

Dengan ujung sepatunya, Ang-jiu Mo-Li meraba-raba jubah itu. Ketika mendapat kenyataan bahwa di situ tidak tersimpan kitab, ia nampak kecewa dan marah.

Dipandangnya, wajah Thai Gu Cinjin dengan tajam.

"Thai Gu Cinjin, sekarang kau menang. Memang kau tidak membawa kitab, akan

tetapi kalau kelak ternyata kitab itu ada

padamu, ingatlah bahwa aku tidak biasa melupakan penghinaan orang kepadaku. Dan kalau saat ini kau menipuku, berarti kau telah menghinaku!" Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah wanita yang mengerikan itu.

Thai Gu Cinjin mencabut tongkatnya sambil menarik napas panjang, memakai lagi jubahnya yang merah, lalu tiba-tiba ia berpaling memandang ke arah tujuh orang yang baru saja muncul dari tempat persembunyiannya.

"Nah, apakah kalian hendak melanjutkan pertempuran tadi sampai mati?" bentaknya marah.

Tujuh orang ini bukan lain adalah empat orang hwesio dan tiga  kakek Pak-kek Samkui. Mereka ini tadi mengejar dan melihat Thai Gu Cinjin bertengkar dengan seorang wanita baju putih yang kedua tangannya merah, mereka berhenti. Pak-kek Sam-kui menjadi pucat ketika mengenal bahwa wanita itu bukan lain adalah Ang-jiu Mo-li yang mereka takuti, maka buru-buru mereka mengajak empat orang hwesio itu bersembunyi di balik pohon-pohon. Setelah Ang-jiu Mo-li pergi, baru mereka berani muncul. Thai Gu Cinjin yang merasa terhina oleh Ang-jiu Mo-li akan tetapi tidak berdaya, melihat munculnya bekas lawan ini, menimpakan kemarahannya kepada mereka dan menantang mereka melanjutkan pertempuran.

Akan tetapi ketika empat orang hwe-s io itu melihat betapa setelah digeledah ternyata pendeta Lama itu benar-benar tidak menyimpan kitab yang mereka hendak rebut, mereka bahkan menjura memberi hormat dan Le Thong Hosiang berkata.

"Mohon Taisuhu sudi memaafkan kami yang keliru menyangka dan telah berlaku kurang ajar."

Thai Gu Cinjin mengeluarkan suara di hidung, melirik ke arah Pak-kek Sam-kui dan berkata perlahan, "Ang-jiu, Mo-Li Si Ratu Iblis dari utara datang untuk mencari kitab Omei- san, agaknya banyak orang-orang dari utara juga datang beramai-ramai. Hemmm, kalau yang tiga ini bukan Tiga Setan Kutub Utara, siapa lagi?”.

Giam-lo-ong Ci Kui menjura dan tertawa. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian dari Thai Gu Cinjin tinggi sekali dan biarpun mereka bertujuh mengeroyok, kalau .dilakukan pertempuran mati-matian, andaikata mereka menang sekalipun tentu di fihak mereka akan jatuh banyak korban.

"Penglihatan Cinjin benar-benar tajam sekali. Kelak kalau ada kesempatan ke Tibet, tentu kami bertiga akan mengadakan kunjungan penghormatan."

Kembali Thai Gu Cinjin mengeluarkan suara mengejek di hidung, kemudian menyeret tongkatnya dan pergi dari situ. Tentu saja ia tidak terus  pergi meninggalkan  pegunungan itu, melainkan berkeliaran di sekitar situ mencari Tiang Bu. Akan tetapi alangkah heran, kaget dan mendongkolnya ketika ia tidak dapat menemukan bocah yang ia titipi kitab- kitab itu! Tadi ia melemparkan Tiang Bu ke dalam jurang mempergunakan ke-pandaiannya sehingga bocah itu tidak terluka ketika tiba di dasar jurang, akan. tetapi sekarang bocah itu sudah tidak berada di dalam jurang lagi, entah ke mana perginya dan dengan cara bagaimana. Thai Gu Cinjin marah-marah, terus mencari, bahkan pergi ke sekitar puncak

gunungitu, tetap saja sia-sia dan tidak menemukan bocah itu.

"Celaka! Bocah setan! Kalau aku mendapatkan engkau, akan kuputar batang lehermu. Berani kau mempermainkan aku," pikir pendeta Lama itu dengan marah dan terus mencari-cari, kini menuju ke selatan karena disangkanya bocah itu tentu telah lari ke selatan membawa bungkusan kitab-kitab itu.

Adapun Pak-kek Sam-kui pada saat itu sedang bercakap- cakap dengan empat orang hwesio itu. Memang, empat orang hwesio itu bukan lain adalah Le Thong Hosiang, Nam Kong Hosiang, Nam Siong Hosiang dan Hengtuan Lojin, empat orang hwesio yang pernah datang di Lu-liangsan dan membuka rahasia Wan-bengcu sebagai keturunan dari Pangeran Wanyen yang dibenci oleh orang-orang gagah, kemudian telah dituturkan di bagian depan betapa Le Thong Hosiang telah mengadu kepandaian dengan Bu Kek Siansu. Le thong Hosiang dan kawan-kawannya memberi hormat kepada Pak-kek Sam-kui dan memperkenalkan namanya.

Kemudian ia berkata.

"Sudah lama pinceng mendengar nama besar Sam-wi Locianpwe dan kebetulan sekali hari ini selain menyaksikan kelihaian Sam-wi, juga telah menerima pertolongan. Pinceng dan kawan-kawan menghaturkan banyak terima kasih.”.

Giam-lo-ong Ci Kui tertawa. "Ah, Saudara-saudara terlalu sungkan. Sudah selayaknya orang-orang segolongan saling membantu dan tentang kepandaian ah. memalukan

bicara tentang kepandaian setelah kita bertemu dengan orang-orang seperti Thai Gu Cinjin dan lebih-lebih Ang-jiu Mo-li itu. Hanya orang dengan kepandaian tinggi seperti Wan-bengcu kiranya boleh dibandingkan dengan mereka”.

Ci Kui sengaja menyebut Wan-bengcu untuk melihat bagaimana hubungan mereka ini dengan bengcu itu. Girang hatinya melihat betapa wajah empat orang hwesio itu menjadi muram, bahkan Heng tuan Lojin berkata tak senang.

"Orang-orang utara memang banyak yang pandai, sayang mereka tolol, memilih bengcu keturunan Pangerah Cin dan bekas penjahat pula!"

Ci Kui tertawa girang. "Cocok! Memang kami sendiri merasa benci melihat bengcu yang muda sorhbong dan keturunan bangsawan penindas rakyat itu! Akari tetapi, mengapa saudara-saudara dari selatan tidak mau turun tangan dan mendiamkannya saja bangsat itu merajalela?"

Le Thong Hosiang menarik napas panjang. "Orang-orang kang-ouw di daerah utara itulah yang menyebabkan. Mereka semua percaya kepada bengcu mereka dan menyokongnya. Terus terang saja, di utara banyak terdapat orang-orang pandai dan andaikata kami turun tangan terhadap Wan- bengcu kami tentu akan bermusuhan dengan semua orang kang-ouw di sana." Ci Kui melanjutkan pancingannya. "Heran sekali, bukankah di selatan ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai? Bahkan dulu aku pernah mendengar nama  besar dari seorang bengcu di sini yang disebut Tung-nam Beng-cu (Ketua Persilatan Selatan dan Timur) dan bernama Liok Kong Ji!"

Le Thong Hosiang mengangguk-angguk. "Memang betul, akan tetapi Liok-taihiap itu hanya sebentar saja berada  di sini memirripin kami. Sekarang dia telah pergi menghilang dari dunia kang-ouw, entah ke mana. Paling akhir ia berada di utara, akan tetapi di sana ia dimusuhi oleh orang-orang di bawah pimpinan Wan-bengcu. Kalau masih ada di sini, kiranya kami akan lebih kuat dan mudah untuk menghadapi penghinaan orang-orang utara."

Mendengar ini, kegirangan Ci Kui memuncak. Sambil tertawa-tawa ia mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya, memperlihatkan benda itu kepada Le Thong Hosiang dan kawan-kawannya sambil berkata.

"Kenalkah Saudara-saudara akan benda ini?"

"Hek-tok-ciam dari Liok-taihiap ....... !" seru Le Thong Hosiang dan Hengtuan Lojin yang mengenal baik senjata rahasia berupa jarum hitam yang terkenal sebagai senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh Liok Kong Ji atau bengcu mereka dahulu. "Apakah Liok-taihiap masih hidup? Di mana dia dan bagairnana Hek-tokciam berada di tanganmu?" tanya hwesio ketua dari Taiyun-pai itu.

"Ketahuilah, Le Thong Hosiang, kami sebetulnya adalah utusan-utusan dari Thian-te Bu-tek Taihiap yang kini berada di luar daerah sebelah utara wilayah Cin."

"Siapa itu Thian-te Bu-tek Taihiap? tanya Nam Kong Hosiang, terkejut mendengar nama julukan yang demikian hebatnya. "Apakah kau tidak bisa menduga? Thian-te Bu-tek Taihlap adalah Liok-taihiap yang kini menjadi  tangan kanan raja.besar di Mongolia."

Empat orang hwesio itu menjadi heran dan curiga. "Menjadi pembantu pemimpin bangsa Mongol yang disebut Temu Cin dan amat terkenal itu? Akan tetapi mengapa? Dan apa maksudnya mengutus Sam-wi ke selatan ini?"

"Ketahullah Saudara-saudara yang baik. Taihiap melihat keadaan yang makin buruk di utara, di mana rakyat ditindas oleh penjahat-penjahat bangsa Cin itu, bahkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw Sudah dikuasai pula oleh orang she Wan yang bukan lain adalah juga seorang keturunan Pangeran Wanyen dari suku bangsa Cin. Oleh karena itu, taihiap dengan bantuan raja besar dari bangsa Mongol, kami bermaksud memukul Kerajaan  Cin  dan  membebaskan rakyat dari-pada penjajahan orang-orang Cin. Maka, kami diutus untuk menyampaikan hal ini kepada saudara-saudara di selatan agar kita dapat bekerja sama  dalam usaha mulia itu.

“Hmmm, inilah urusan besar sekali yang tidak dapat begitu saja diputuskan oleh kami berempat," kata Le Thong Hosiang hati-hati sekali, "bagi pinceng sendiri, tentu saja pinceng bersedia bekerja sama kalau kerja sama ini dimaksudkan untuk memberi hukuman kepada Wan-bengcu dan mengangkat seorang bengcu baru yang lebih tepat, juga pinceng kira semua saudara di selatan akan setuju kalau diajak menggulingkan Pemerintah Cin untuk membebaskan rakyat daripada; tindasan penjajahan." Ia berhenti sebehtar, kemudian melanjutkan, "Akan tetapi, bukan semestinya kalau, untuk usaha ini, kami menarik bantuan  bangsa Mongol. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk bekerja dengan kekuatan sendiri."

Ci Kui mengerutkan keningnya. tak disangkanya orang- orang di selatan begini angkuh. "Akan tetapi, Le Thong Hosiang. Kau sendiri tadi yang menyatakan bahwa di selatan kekurangan orang pandai, kalah oleh orang-orang di utara. Tanpa kerja sama, bagaimana akan berhasil cita-cita?"

Le Thong Hosiang tertawa. "Bukan di selatan tidak ada orang pandai, hanya belum muncul orang pandai. Kalau dua Naga Sakti yang bertapa di Omei-san tidak begitu tua dan mengasingkan diri puluhan tahun lamanya, kiranya di seluruh dunia ini tidak ada yang berani memandang rendah kepada kami orang-orang selatan." Untuk meninggikan derajat orang-orang selatan, Le Thong Hosiang lalu menceritakan kepada tiga orang pendengarnya bahwa kitab yang diperebutkan oleh Thai Gu Cinjin dan Ang-jiu Mo-li tadi, dimaksudkan kitab dari Omei-san. Di puncak Omeisan yang amat keramat terdapat dua orang pertapa sakti bernama Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio, dua orang kakek pertapa yang sudah mengasingkan diri di tempat itu selama tiga puluh tahun lebih dan  kabarnya  dua  orang kakek ini masingmasing telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya dari nenek moyang persilatan Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu.

Karena dua orang kakek ini tidak mau "turun" ke dunia ramai dan tekun bertapa, maka banyak orang yang ingin sekali mencuri kitab-kitab pelajaran ilmu silat mereka yang kabarnya mereka simpan di dalam kuil tua di mana mereka tinggal. Inilah sebabnya maka ketika tersiar berita bahwa Thai Gu Cinjin dari Tibet berhasil mencuri kitab-kitab itu, ia dikejar-kejar oleh semua orang yang ingin merampas kitab- kitab itu.

“Demikianlah, mengapa tadi kami berempat mengeroyoknya untuk merampas kembali kitab-kitab yang seharusnya tinggal di selatan. Akan tetapi ternyata kitab-- kitab itu tidak berada padanya. Memang tadinya kami sudah bersangsi apakah betul-betul ada orang mampu mencuri kitab-kitab itu dari tangan dua orang kakek sakti itu," Le Thong Hosiang mengakhiri ceritanya.

Pak-kek Sam-kui tertarik sekali oleh cerita ini dan diam- diam mereka mencatat semua yang mereka dengar itu, karena sebagai  orang-orang ahli  silat,  mendengar  tentang ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh dua orang kakek itu, amat menarik perhatian mereka dan ingin mereka berjumpa dengan dua orang kakek itu.

"Betapapun juga, seperti telah pinceng katakan tadi, urusan yang sam-wi kemukakan  bukanlah  urusan  kecil yang dapat pinceng putuskan sendiri. Pinceng akan menyampaikan hal itu kepada kawan-kawan lain dan minta pendapat mereka. Kemudian, sekali lagi kami menghaturkan terima kasih dan apabila kebetulan samwi lewat di Taiyun- san, pinceng persilakan mampir."

Mereka berpisah di situ. Setelah empat orang hwesio itu pergi, Pak-kek Sam-kui baru teringat akan murid mereka, Tiang Bu.

"Eh, mana bocah itu?" kata Sin-saikong Ang Louw. Mereka mencari-cari, akan  tetapi, seperti juga  Thai  Gu Cinjin, mereka tidak dapat menemukan TiangBu.

-oo0mch0oo-

Mari kita menengok apa yang dialami oleh Tiang Bu, bocah yang dicari-cari oleh Thai Gu Cinjin dan Pak-kek Sam- kui  itu. Tiang Bu kaget bukan  main  ketika pendeta Lama yang memaksanya menerima titipannya berupa bingkisan itu melemparkannya ke dalam jurang yang cukup dalam.

Anehnya, ia terlempar ke dalam jurang dalam keadaan berdiri dan agak memutar sehingga tidak laju benar jatuhnya dan ia jatuh dalam keadaan duduk. Ia tidak memperdulikan lagi seruan kakek Lama itu yang menyuruhnya tinggal menunggu di situ, karena pada saat itu Tiang Bu menghadapi keanehan lain yang membuatnya melongo. Ternyata ketika ia jatuh dalam keadaan duduk, ia merasa betapa tubuhnya diterima oleh sepasang tangan yang kuat dan ketika ia memandang, betul saja bahwa ia terjatuh ke dalam pangkuan seorang kakek yang kepalanya bundar botak dan tubuhnya pendek, kecil dan kurus seperti tengkorak ! Dengan sepasang mata seperti orang baru bangun tidur, kakek ini memandang bocah di pangkuannya dengan pandangan tajam menyelidik, kemudian ia tersenyum aneh, disusul suara ketawa perlahan.

"Heh, heh, heh, peruntungan manusia memang aneh.

Yang setengah mampus mencari tidak mendapat, yang duduk diam tak tersangka-sangka menerima apa yang direbutkan orang. Bocah, tahukah kau bahwa kau telah menerima sebuah pusaka yang tak ternilai harganya dari Thai Gu Cinjin tadi?"

Tiang Bu biarpun seorang anak kecil, karena ia sudah lama mengikuti tiga orang gurunya yang juga orang-orang aneh dan sakti, dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang pandai. Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

"Teecu menghaturkan banyak terima  kasih  atas pertolongan locianpwe." Orang aneh yang pakaiannya bertambal-tambal seperti pengemis kelaparan itu mengangkat alis. "Eh ....... ? Terima kasih untuk apa ? Siapa yang menolongmu? Memang Thai Gu Cinjin tidak menghendaki kau binasa maka  kau  dilempar  ke  sini seperti tadi. Kau tahu, apa yang kau bawa di saku bajumu itu ?'

Tiang Bu menggeleng kepala. "Teecu tidak tahu." Kembali kakek itu tertawa, hampir-hampir tidak bersuara, hanya angin dari mulutnya yang ompong saja terdengar hahaheheh.

"Lucu sekali lucu sekali ! Kalau kedua losuhu di

Omei-san mendengar akan hal ini, mereka bisa mati tertawa. Pusaka berharga berada di dalam saku, masih tidak tahu benda apa sebenarnya itu ! Heh, heh, heh, bocah tolol, ketahuilah bahwa bungkusan itu berisi kitab rahasia pelajaran ilmu silat yang luar biasa dari Tiong Jin Hwesio yang dicuri oleh Thai Gu Cinjin."

Tiang Bu tetap tidak berubah air mukanya. "Tiada gunanya bagiku, locian pwe."

"Tiada gunanya ? Apa maksudmu ?" Muka yang botak ini menjadi merah sekali, saking mendongkol dan heran mendengar kata-kata yang baginya tak masuk akal ini.

Bagaimana orang yang mendapatkan kitab luar biasa itu berani mengatakan tiada guna?.

"Pertama-tania, benda ini hanyalah barang titipan saja dan tentu akan diambil kembali oleh pendeta berjubah merah itu. Kedua kalinya, teecu tidak dapat membaca sebuah hurufpun."

"Bodoh ! Pertama, Thai Gu Cinjin hanya akan menerima kembali kitab itu berikut nyawamu karena kau menjadi saksi utama bahwa kitab itu berada padanya. Kedua, apa sih sukarnya belajar membaca huruf ? Kau tidak tahu bahwa sebentar lagi, pendeta Lama itu tentu akan mencari-carimu untuk mengambil kembali kitab itu berikut nyawamu."

Kini Tiang Bu benar-benar kaget. "Locianpwe, harap tolong teecu."

"Mari kau ikut keluar dari sini." Kakek pengemis ini berdiri dan temyata kakinya cacat, besar sebelah. Kaki yang kiri amat kecil sehingga jalannya terpincang-pincang. Akan tetapi, sekali ia memegang lengan Tiang Bu dan menggerakkan kaki kanan, tubuh mereka berdua telah melayang naik dari dalam jurang itu. Tak lama kemudian, dengan menggandeng tangan Tiang Bu, atau lebih tepat mengangkat tubuh anak itu karena kedua kaki Tiang Bu tidak menyentuh tanah, kakek aneh ini berlari cepat sekali keluar dari tempat itu, memasuki hutan, keluar hutan dengan cekatan seperti seekor burung walet saja.

Beberapa hari kemudian, di dalam sebuah hutan yang luas, di tempat sunyi yang jarang didatangi manusia di mana-mana sekitar tempat itu hanya terdapat pohon-pohon dan batu karang menjulang tinggi bersaingan dengan pohon, kelihatan Tiang Bu membalik-balik lembaran buku, belajar membaca di bawah petunjuk kakek pengemis pincang. Anak ini belajar dengan tekun sekali karena hatinya berbisik bahwa inilah kesempatan baginya untuk maju setelah ia mendengar penuturan pengemis tua itu tentang kitab yang jatuh di dalam tangannya.

Siapakah kakek botak ini? Dia  bukanlah  orang  yang tidak ternama di dunia kangouw. Kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan ilmu sastra membuat la dahulu dianggap sebagai seorang bun-bu-cwan-jai (ahli silat dan surat). Tidak saja ia pandai membaca menulis,  juga  ia terkenal sebagai ahli bermain catur. Kegemaran inilah yang membuat ia akhirnya berkenalan dengan dua orang sakti yang bertapa di Omei-san. Pada suatu hari, kakek yang lihai ini ketika berjalan seorang diri, tiba-tiba ia mendengar desir angin dan tahu-tahu ia merasa dikempit dan dibawa pergi orang. Tahu- tahu ia telah berada di puncak Omei-san dan ketika ia dibebaskan dari totokan yang luar biasa lihainya itu, ia berhadapan dengan dua orang hwesio tinggi besar yang sudah tua sekali.

Akhirnya ia tahu bahwa dua orang hwesio itu bukan lain adalah dua orang pertapa sakti yang ditakuti' semua orang karena dikabarkan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya, bernama Tiong Sin Hwesio dan Tiong Jin Hwesio, berusia tujuh puluh tahun lebih. Tiong Jin Hwesio yang "menculiknya" tadi dan  perbuatan ini  saja sudah  menjadi bukti betapa hebat dan tinggi kepandaian hwe-sio ini.

Menculik orang biasa secara demikian saja sudah merupakan kelihaian yang jarang dimiliki orang, apalagi menculik orang yang ilmunya sudah tinggi seperti kakek botak ini!

Ternyata bahwa dua orang hwesio itu sengaja membawanya ke Omei-san untuk diajak bermain catur! Kakek botak itu yang mempunyai nama  julukan Bu Hok Lokai (Pengemis Tua Tidak Beruntung) menjadi girang sekali dan melayani keinginan dua orang kakek sakti itu dengan gembira. Sampai sebulan lebih ia tnggal di sana dan sebagai tanda terima kasih, dua orang kakel sakti itu menurunkan semacam ilmu silat kepadanya atau lebih tepat disebut ilmu menghindarkan diri dari serangan musuh.

Ilmu ini disebut Sam-hoan-san-bu (Tiga Kali Lingkaran Tiga Kali Menari), semacam ilmu yang berdasarkan ginkang dan khusus dipergunakan untuk menghadapi serangan lawan, baik dengan tangan kosong maupun bersenjata.

Dengan memiliki ilmu silat ini, sewaktu apabila menghadapi lawan  yang jauh  lebih lihai sekalipun,  Bu Hok Lokai  tak usah takut, akan tetapi sudah pasti ia dapat menyelamatkan diri mempergunakan ilmu silat ini.

Dua orang kakek sakti itu menurunkan  ilmu ini mengingat bahwa Bu Hok Lokai adalah seorang yang bercacad kakinya. Bu Hok Lokai setelah menerima ilmu ini mendapat kenyataan bahwa dua orang sakti itu benar-benar lihai sekali dan kalau saja ia bisa menjadi murid mereka, tidak ada apa-apa lagi di dunia ini yang ia inginkan. Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut, minta diangkat murid.

Tak diduga sama sekali, dua orang kakek itu menjadi marah-marah, memakimakinya sebagai orang tak tahu terima kasih, kemudian mengusirnya dengan ancaman ilmunya akan dicabut kembali kalau ia berani kembali ke situ! Inilah yang menimbulkan sakit hati Bu Hok Lokai maka ketika ia melihat kitab rahasia Omei-san terjatuh ke dalam tangan Tiang Bu, ia mendapat pikiran, untuk mengambil bocah ini sebagai muridnya. Dia sendiri adalah seorang bercacad, lagi sudah tua, kalau belajar sendiri takkan mungkin jadi. Kalau dia mempunyai seorang murid pandai, bukankah hari tuanya akan terjamin?

Mernang nasib manusia kadang-kadang ditentukan oleh sikapnya yang dianggapnya tidak akan berakibat sesuatu. Andaikata dua orang kakek sakti itu tidak marah ketika melihat Bu Hok Lokai minta diangkat menjadi murid dan menolak dengan halus saja, kiranya Bu Hok Lokai melihat kitab itu akan cepat-cepat membawa kitab itu kembali ke Omei-san untuk dikembalikan kepada pemiliknya.

Akan tetapi, kemarahan dua orang sakti yang sebetulnya tidak berarti, dapat membalikkan sejarah, dan kitab itu tidak kembali kepada pemiliknya melainkan dipelajari oleh Tiang Bu!

Makin lama Bu Hok Lokai menjadi makin sayang kepada Tiang Bu yang ternyata memang luar biasa sekali ketajaman ingatannya. Biarpun setiap hari dijejali puluhan huruf-huruf baru, akan tetapi sekali huruf-huruf itu menempel pada ingatannya, takkan terlupa lagi. Di samping kepintarannya ini, ia juga amat tekun. jarang sekali ia kelihatan menganggur dan buku pelajaran tak pernah dilepas dari tangannya!

Setahun kemudian Tiang Bu telah dapat membaca kitab dari Omei-san itu yang ternyata berisi pelajaran ilmu silat tinggi yang disebut Pat-hong Hong-i (Ilmu Pukulan Delapan Penjuru Angin Hujan)! la mulai mempelajari ilmu pukulan ini di bawah pengawasan gurunya yang baru, Bu Hok Lokai. Bahkan Bu Hok Lokai menurunkan pula pelajaran ilmu silat yang ia dulu terima dari dua kakek sakti Omei-san, yaitu Ilmu Silat Sam-hoan Sam-bu kepada muridnya yang ia sayang.

-oo0mch0oo-

Di lingkungan bangunan-bangunan istana kaisar di ibu kota  Yen  Ping (Pe-king},  yaitu istana Kerajaan Cin, terdapat sebuah istana yang indah dengan pekarangan depan yang lebar dan taman bunga yang penuh dengan bunga-bunga indah di bagian belakang. Inilah istana dari Pangeran Wanyen Ci Lun, seorang pangeran yang tidak saja amat berpengaruh dan dipercaya oleh kaisar, akan tetapi juga terkenal di kalangan rakyat sebagai seorang pangeran yang budiman dan tidak pernah menolak permintaan tolong orang.

Anehnya, pangeran yang hartawan, berpengaruh dan berwajah tampan ini sampai berusia tiga puluh tahun belum juga menikah, menikah dengan sah. Karena isterinya di luar kawin sah ada lima orang! Atau pendeknya pangeran yang masih perjaka ini telah mempunyai lima orang selir.  Di antara selir-selirnya terdapat seorang selir yang paling disayanginya dan agaknya selir inilah yang membuat ia segan untuk menikah lagi.

Di dalam diri selir ini ia mendapatkan seorang yang ia cinta sepenuh hatinya, seorang yang menjadi ibu dari puteranya, dan seorang pelindung keselamatannya.

Oleh karena itu, biarpun selir ini ia kawin di luar upacara yang sah, akan tetapi agaknya selir ini  menjadi pengganti dari isteri yang sah. Selir ini yang menjadi ratu rumah tangga dan mengepalai semua penghuni rumah.

Akan tetapi para selir lain tidak merasa iri hati, karena memang selir ini mempunyai watak yang pendiam dan tidak sombong biarpun ia amat disayang oleh Pangeran Wanyen Ci Lun. Adanya selir inilah maka tidak ada orang yang berani sembarangan mengganggu istana ini, dan keluarga di rumah itu merasa aman dan tenteram seakan-akan di situ terdapat seorang dewi pelindung.

Orang takkan merasa heran kalau sudah mengetahui bahwa selir ini bukan lain adalah pendekar wanita yang amat gagah perkasa murid dari Hwa l Enghiong Go Ciang Le pendekar besar dari Kim-bun-to. Dia inilah yang dulu dijuluki orang Kangsim-li atau Dara Berhati  Baja,  karena  ia keras hati dan jujur, tidak mengenal ampun menghadapi para penjahat. Namanya Gak Soan Li dan ia adalah suci (kakak seperguruan) dari Go Hui Lian. Di dalam cerita Pedang Penakluk iblis telah diceritakan betapa Gak Soan Li telah menjadi gila karena perbuatan keji yang dilakukan oleh penjahat besar Liok Kong Ji dan betapa kemudian Gak Soan Li telah ditolong oleh Pangeran Wanyen Ci Lun yang mencintanya. Kemudian akhirnya Gak Soan Li tinggal di istana pangeran itu dan menjadi selir yang paling dicinta.

Apalagi karena Wanyen Ci Lun tidak mendapatkan seorang pun anak dari empat orang selir yang lain, sedangkan setahun setelah ia mengambil Gak Soan Li, pendekar wanita ini melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan sekali. Cinta kasih dan sayangnya makin besar dan dengan tidak resmi Gak Soan Li menjadi Toanio atau Toa- hujin (Nyonya Besar)!

Anak itu diberi nama Sun, dan Wan-yen Ci Lun yang ingat akan jasa-jasa Wan Sin Hong memberi she atas nama keturunan Wan kepada  puteranya,  karena ia  tahu bahwa she Wan itu pun asalnya adalah she Wanyen. Demikianlah, puteranya itu nama lengkapnya Wan Sun dan semenjak kecilnya Wan Sun sudah nampak bahwa ia akan menjadi seorarg yang cerdik dan tampan sekali.

Ketika Wan Sun baru berusia dua tahun, pada suatu malam yang sunyi, seorang pelayan wanita yang kebetulan pergi ke taman bunga, mendengar tangis bayi dari taman itu. Pelayan ini ketakutan dan lari masuk sambil berteriak- teriak, "Siluman ....... ! Siluman !"

Mendengar ini, para pelayan lain dan selir-selir Pangeran Wanyen Ci Lun menjadi ketakutan pula. Hanya Gak Soan Li yang tidak takut sama sekali, bahkan dengan marah ia mengguncang-guncangkan pundak pelayan yang menjerit- jerit ketakutan itu sambil menghardik.

"Diam! Ceritakan apa yang kau telah lihatl" "Ampun ....... Toanio ....... hamba me-lihat eh,

mendengar tangis bayi di dalam taman tentu siluman

....... "

Soan Li tidak menanti habisnya ocehan pelayan yang ketakutan ini melainkan cepat ia berlari ke belakang sambil menyambar pedangpya. Ketika tiba di taman bunganya yang indah itu, tiba-tiba ia tertegun dan tak terasa pula bulu tengkuknya meremang. Benar saja, ia pun mendengar suara tangis anak kecil yang nyaring sekali, keluar dari tengah- tengah taman. Bagaimana bisa ada bayi menangis di situ kalau bukan perbuatan siluman? Akan tetapi, dia adalah seorang wanita yang memiliki kegagahan. Sebentar saja ditindasnya perasaan seram ini dan di lain saat ia telah melompat ke tengah taman.

Malam itu gelap, hanya ribuan bintang yang menimbulkan cahaya remang-remang menambah keseraman keadaan di taman itu. Setelah tiba di tempat di mana  terdengar suara tangis bayi itu, kembali Soan Li tertegun dan kedua kakinya seperti terpaku pada tanah ketika ia melihat sebuah benda kecil ber-gerak-gerak di atas tanah di depannya. Ketika ia memperhatikan, tak salah lagi, benda itu bukan lain adalah seorang bayi yang baru beberapa bulan usianya! Tangis bayi itu luar biasa nyaringnya, hampir senyaring tangis Wan Sun ketika masih bayi.

Soan Li menyarungkan pedangnya dan cepat menyambar tubuh bocah itu yang ternyata hanya dibungkus dengan sehelai kain kuning.  Tubuh  anak itu montok dan  sehat sekali dan ketika Soan Li mendekap bocah itu pada dadanya

ia mencium bau yang harum sekali, keharuman yang amat aneh seakan-akan dalam tubuh anak itu bersembunyi ribuan tangkai kembang beraneka warna!

Wanyen Ci Lun dan yang lain-lain menjadi bengong ketika melihat Soan Li datang memondong seorang bayi perempuan yang montok dan mungil. "Eh, eh ....... anak siapakah ini ....... ?" tanya Wanyen Ci Lun.

"Entah dia ditinggalkan menangis di tengah taman. Harus diselidiki perbuatan siapa ini yang demikian kejam dan biadab. Orang tuanya harus diberi hukuman berat. Kurasa tentu seorang di antara pegawai kita atau dari rumah yang berdampingan, karena kalau bukan orang dalam yang berdekatan, siapa bisa meninggalkan anak di tengah

taman?" kata Soan Li marah sambil merawat anak itu penuh kasih sayang.

Melihat bocah yang begitu mungil dengan rambutnya yang hitam lebat, matanya bercahaya dan bening, kulitnya yang putih halus, timbul rasa sayang. Cepat ia menyuruh pelayan memanggil seorang inang pengasuh yang biasa menyusui anak-anak dan sebentar saja setelah mendapat minum susu, anak. itu tidur pulas dengan bibir tersenyum manis. Anak ini berusia paling banyak lima bulan.

Usaha Wanyen Ci Lun untuk menemukan orang tua anak perempuan itu sia-sia belaka. Tidak saja ia menyelidiki para pelayan, bahkan ia telah memerintahkan penjaga-penjaga untuk menyelidiki siapa orang-orang yang mempunyai seorang anak perempuan berusia lima  bulan,  namun ternyata bahwa yang dicari-cari tidak dapat diketemukan.

Banyak yang mempunyai anak, akan tetapi anak-anak itu masih ada semua pada orang-orang tuanya, jadi anak perempuan itu seakan-akan jatuh dari langit ke taman bunga itu!

Soan Li mengerutkan kening dan mukanya yang cantik itu berpikir keras.

"Tidak mungkin anak ini jatuh begitu saja dari  atas langit. Pasti ada orangnya yang menaruhnya di tengah taman pada malam hari. Akan tetapi, memasuki lingkungan istana, apalagi memasuki taman kita tanpa diketahui oleh siapapun juga kemudian meninggalkan seorang bayi di situ, sungguh hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kepandaian silat tinggi. Entah apa maksud dan kehendak orang yang meninggalkan anak itu, aku tidak tahu. Akan tetapi, anak ini bukanlah bocah biasa, melainkan seorang anak yang memiliki bakat baik sekali  dan kelak pasti menjadi orang luar biasa. Melihat anak ini, timbul rasa suka dalam hatiku dan kalau sekiranya kau tidak keberatan, biarlah anak ini menjadi anak kita yang ke dua, menjadi kawan bermain dari anak kita Sun-ji."

Mendengar ini, Wanyen Ci Lun tidak keberatan sama sekali oleh karena ia sendiri pun suka melihat bocah yang cantik itu. Puteranya hanya seorang, tentu saja ia ingin anak ke dua, apalagi kalau perempuan. Dengan demikian, ia mempunyai dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan.

Demikianlah, bocah yang mereka dapatkan di tengah taman bunga itu menjadi anak mereka dan mereka beri nama Bi Li (Wanita Cantik) dan selanjutnya disebut Wan Bi Li. Bi Li semenjak kecilnya sudah mengalami hal yang aneh- aneh. Pertama-tama, munculnya di keluarga pangeran itu sudah merupakan teka-teki yang tidak diketahui artinya.

Kemudian, pada suatu malam, ketika Bi Li berusia satu tahun, terdengar Soan Li menjerit keras. Wanyen Ci Lun yang masih tidur nyenyak itu kaget bukan main dan cepat-cepat ia melompat dari tempat tidurnya untuk memburu ke arah isterinya yang sedang berdiri di dekat tempat tidur Bi Li.

Dan alangkah kagetnya ketlka ia me-lihat isterinya itu memegang seekor ular pada kepalanya dan dengan tenaganya telah meremas kepala ular itu sampai hancur di dalam genggamannya! Ular itu hanya dapat menggeliat- geliatkan ekornya beberapa kali sebelum diam dan mati. Dan anehnya, Bi Li tetap tidur nyenyak seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

"Aneh ....... " kata Soan Li  menjawab pertanyaan suaminya. "Tadi aku mendengar Bi Li tertawa-tawa dalam tidurnya, kemudian karena mendengar keresekan-keresekan di dalam tempat tidurnya, aku turun dan menengoknya. Kau mengerti betapa kagetku melihat seekor ular hijau yang berbisa ini melingkar di dekatnya, dengan kepalanya diusap- usapkan pada pipi Bi Li saking ngeri dan terkejut aku menjerit dan cepat menyambar kepala ular itu untuk kubunuh."

Wanyen Ci Lun membelalakkan matanya dan memandang kepada Bi Li yang tidur dengan nyenyak dan nampak begitu mungil!

"Heran benar, Bi Li selalu berbau begini harum, apalagi kalau sedang tidur," katanya.

Kata-kata. ini seakan-akan mengingatkan Soan Li akan sesuatu. Ia mendekati Bi Li dan hidungnya mencium-cium. Kemudian, ia memandang suaminya dan mengangguk- angguk, lalu menarik napas panjang.

"Entah ini anak siapa dan dari mana datangnya. Bau harum ini mengingatkan aku akan cerita mendiang Suhu dahulu akan semacam bunga aneh yang harum sekali dan amat disuka oleh bangsa ular berbisa namanya Coa-ong-hwa (Bunga Raja Ular). Bunga seperti ini hanya tumbuh di dekat Kutub Utara dan banyak orang-orang kang-ouw yang tinggi kepandaiannya mempergunakan bunga ini untuk menjaga diri apabila mereka bermalam di dalam hutan liar. Dengan bunga seperti itu di dalam saku baju, binatang-binatang berbisa takkan mau mengganggu, malah ular-ular berbisa akan melindungi orang yang membawa bunga itu! Dan bocah ini entah bagaimana tubuhnya terutama hawa

mulutnya, berbau harum sekali seperti bunga itu!"

"Isteriku, anak ini benar-benar anak yang aneh. Kiranya kelak akan menjadi seorang gagah perkasa, atau seorang yang cerdik pandai. Oleh karena itu, bukankah ini berarti kita telah memperoleh sebuah keuntungan bagus sekali?

Kita mempunyai Wan Sun yang kita sayang, sekarang bertambah lagi seorang anak perempuan yang begini  luar biasa. Kita harus mengucap syukur kepada Thian Yang Maha Kuasa."

Akan tetapi Soan Li mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya itu.

"Kata-katamu memang benar, Koko. Akan tetapi kalau

aku teringat akan orang yang menaruh Bi Li di dalam taman, hatiku tidak enak sekali. Siapa dia dan apa maksudnya?

Ahh ....... kalau saja aku tahu siapa orangnya itu, takkan begini gelisah hatiku. Kalau saja aku tahu dan yakin bahwa ia memang hendak memberikan anak ini kepada kita, akan lega dan puaslah hatiku "

Wanyen Ci Lun merangkul isterinya. “Sudahlah, mari kita tidur. Tak perlu hal itu dipikirkan terlalu dalam. Siapapun juga orangnya, dia tidak bernnaksud buruk, dan lagi andaikata ia bermaksud buruk, kita takut  apakah? Kau sendiri berilmu tinggi, belum lagi di sini terjaga kuat. Lebih baik kita jangan beritahu kepada para pelayan tentang ular itu, supaya mencegah cerita-cerita yang tidak karuan tentang anak kita Bi Li."

Pangeran itu lalu melempar sendiri ular tadi ke dalam empang di taman, kemudian tidur bersama isterinya setelah Soan Li membersihkan bekas-bekas darah ular dengan teliti.

Akan tetapi, keanehan ini tak dapat ditutup untuk selamanya. Ketika Bi Li sudah berusia dua tahun, dan Wan Sun empat tahun, dua orang bocah itu selalu bermain-main dengan rukun sekali. Sering-kali mereka main-main berdua di taman bunga, dikawani oleh beberapa orang pengasuh.

Pada suatu hari, ketika dua orang anak kecil itu sedang bermain-main di taman bunga tiba-tiba seorang di antara pelayan-pelayan itu menjerit.

Semua pelayan memandang dan mereka menjadi pucat melihat tiga ekor ular belang yang ganas melenggang-lenggok datang menuju ke arah dua orang anak yang sedang duduk bermain-main pasir di bawah pohon itu. Seorang di antara para pelayan itu takut kalau-kalau tiga ekor ular itu akan menggigit anak-anak tadi, maka ia cepat mengambil sepotong kayu dan memukul pada ular-ular itu, dengan maksud me-ngusirnya pergi dari situ. Akan tetapi, tibatiba seekor ular belang mendesis dan tubuhnya meluncur cepat ke depan. Di lain saat pelayan itu sudah memekik dan roboh dengan muka kehitaman dan napas terhenti. Ular  yang  menggigit  lengannya itu  merayap pergi dan bersama kawannya terus saja menghampiri Bi Li dan Wan Sun!

Dua orang pelayan wanita yang lain berdiri terpaku dengan mata terbuka lebarlebar. Mereka tadi kaget setengah mati melihat seorang kawan mereka roboh tergigit ular, dan sekarang semangat mereka seperti terbang pergi meninggalkan tubuh ketika mereka melihat ular-ular itu merayap mendekati asuhan mereka.

Ketika mereka melihat seekor ular merayap ke atas pangkuan Bi Li dan lidahnya yang dijulurkan keluar itu menjilat-jilat muka anak itu, ia menjadi setengah pingsan dan lari bersama kawannya yang sudah pucat seperti orang dikejar setan!

"Celaka ....... mati ....... ular ....... aduuhhh ....... " ratap mereka tidak karuan.

Keduanya jatuh berdebuk di depan Soan Li dan selir-selir Pangeran Wanyen Ci Lun yang lain. Yang seorang megap- megap seperti ikan dilempar di darat, mulutnya terbuka tertutup tanpa suara apa-apa. Sedangkan pelayan ke dua malah  sudah  pingsan seperti  orang t»dur,  tertelungkup di atas lantai.

"Ada apakah? Mana Kongcu dan Siocia?" tanya Soan Li, hanya dia yang nampak tenang, sedangkan selir-selir yang lain sudah ikut-ikutan panik.

"Ular ....... ular ....... aduh celaka, toanio ....... ular .......

mati " "Apa? Ular mati? Kenapa takut ular mati?" Soan Li bertanya gemas.

Gak Soan Li memang semenjak muda berwatak keras sehingga ia mendapat julukan Kang-sim-li (Wanita Berhati Baja). Ia paling benci melihat sifat pengecut, maka paling sebal kalau melihat orang ketakutan seperti pelayan- pelayannya itu. Dibentak-bentaknya pelayan itu sehingga menjadi makin panik.

"Toanio, ular ....... ada ular di taman. .. .Siocia dan Kongcu ....... digigit ular belang-belang ....... " kata pelayan itu sambil menangis tidak karuan.

Mendengar ini, tanpa membuang waktu lagi Soan Li melompat dan berlari cepat ke taman sambil membawa pedangnya. Sambil mengeluh cemas Pangeran Wanyen Ci Lun ikut berlari ke belakang sedang para selirnya dan pelayan-pelayan lain mengejar pula, akan tetapi dengan hati

kecut dan kedua kaki siap berlari balik apabila terdapat bahaya!

Ketika Soan Li tiba di taman di mana kedua orang anaknya sedang duduk di bawah pohon, wanita gagah yang tak kenal takut itu tiba-tiba menjadi pucat mukanya dan ia berdiri tegak tak bergerak, hanya dua tombak dari tempat dua bocah itu duduk, ia melihat pemandangan yang menggetarkan jantungnya saking cemas dan khawatir.

Seekor ular mengalungi leher Bi Ci, seekor lagi merayap- rayap melingkari pinggangnya dan ular ketiga yang paling panjang ekornya melilit tangan kanan Wan Sun sedangkan kepalanya berada di pundak Bi Li dan menjilat-jilat.

Kalau Soan Li menahan napas panjang saking khawatirnya, adalah Bi Li yang berada dalam keadaan mengerikan itu tertawa-tawa. Melihat ibunya datang, Bi Li bahkan berkata. ...

"Ibu, ular bagus ....... ular bagus !" Tak jauh dari situ menggeletak tubuh pelayan yang mukanya kehitaman dan sudah tak bergerak. Benar-benar pemandangan yang menyeramkan. Yang mengagumkan adalah Wan Sun. Bocah  ini sudah  empat tahun  usianya sudah mengerti urusan. Ia tahu bahwa pelayan itu roboh karena gigitan ular dan bahwa sekarang yang bermain-main dengan dia dan Bi Li adalah ular-ular berbisa yang amat berbahaya. Akan tetapi, biarpun tak mungkin dapat tertawa- tawa seperti Bi Li yang bermain-main dengan tiga ekor ular itu, namun ia tidak kelihatan takut sama sekali, hanya diam seperti patung memandang adiknya, mengeraskan hati mengusir rasa jijik dan takut ketika ular ketiga merayapi tubuhnya dan kini ekornya melilit tangannya! Anak yang lain kiranya akan menjerit-jerit atau lari dan kalau ia lakukan

hal ini, besar ke mungkinannya ia pun akan menggeletak seperti pelayan itu. Akan tetapi melihat kedatangan ibunya, baru Wan Suh teringat akan bahaya besar yang mengancam. Maka ia memanggil ibunya dengan suara penuh harapan pertolongan.

" Ibu "

Baru saja ia membuka mulut mengeluarkan suara, ular yang paling panjang dan melilit tangannya itu tiba-tiba membalik dan kini ia merayap pundak Wan Sun, mendesis- desis dan lidahnya menjilat-jilat leher dan muka Wan Sun, agaknya siap untuk menyerang! Kalau tadi Bi Li tertawa- tawa dan bicara keras ular-ular itu jinak saja, adalah sekarang terhadap Wan Sun yang baru saja mengeluarkan sedikit katakata, ular itu sudah nampak marah.

Melihat bahaya ini, Soan Li menggigil. Ia tidak berani bergerak secara sembrono. Ular itu sudah terlampau dekat dengan anaknya, kalau ia menyerang, tentu ular itu akan marah. Sekali saja gigitan, nyawa puteranya sukar ditolong lagi. I a melihat ular-ular ini sebagai ular belang yang paling berbisa, yaitu ular belang kuning dengan leher berkalung biru. "Wan Sun, jangan bergerak, jangan? bicara "

katanya, kemudian dia berkata kepada Bi Li, "Bi Li, kau berdirilah perlahan-lahan, ya ....... ya ....... begitu .......

sekarang berjalan ke sini, perlahan-lahan "

Bi Li amat sayang kepada ibunya dan segala permintaan ibunya tentu ditaatinya. Sambil tertawa-tawa ia berdiri dan berjalan mendekati ibunya, meninggalkan Wan Sun. Ular yang tadi melilit Wan Sun, melihat Bi Li bergerak menjauhi, lalu merayap turun dan mengejar, akan tetapi secepat kilat Soan Li menggerak-kan pedangnya dan "sratt!" kepala ular itu terpisah dari tubuhnya yang menggeliat-geliat.

"Ibu ....... ular baik mengapa dibunuh...?" tanya Bi Li kaget. Dua ekor ular masih melilit tubuhnya.

"Bi Li, ular-ular itu jahat ....... Awas...!" teriak Soan Li ketika tiba-tiba ular yang melilit pinggang anak itu nampak marah, demikian pula yang mengalungi lehernya. Ular-ular itu mencium bau darah kawannya dan kini kepala mereka bergerak-gerak mencari. 

Tiba-tiba ular yang melilit pinggang Bi Li menjulurkan kepala dan lehernya ke arah Soan Li dan tiba-tiba. dengan gerakan mendadak ular itu meluncur melakukan serangan dahsyat ke leher nyonya itu. Akan tetapi tentu saja binatang ini bukan apa-apa bagi  Soan Li. Sekali  pedangnya berkelebat, tubuh ular itu putus menjadi dua.

"Jangan gigit  Ibuku ....... "  berkali-kali Bi  li berteriak- teriaksambil memanggil ular yang mengalungi lehernya dan yang meronta-ronta hendak membela kawannya. Anak itu kalah kuat dan ular hampir terlepas dari pegangnya, hanya tinggal ekornya yang dipegang.

"Jangan serang Ibuku, kau ular nakal!' teriak Bi  Li  lagi, Kemudian anak ini menggigit ekor ular  yang  dipeganginya dan ....... Soan Li melongo melihat ular itu tiba-tiba menjadi lemas, tergantung lumpuh seperti seekor ular yang sudah mati di tangan anak itu. Dengan suara di tenggorokan, setengah menangis dan setengah tertawa. Soan Li melompat, merampas dan melempar ular itu ke taman dengan kuat yang membuat tubuh ular itu remuk,  kemudian  ia merangkul  dan menciumi kedua anaknya yang selamat. Diam-diam ia mengaku bahwa betul-betul dalam diri Bi Li terdapat sesuatu yang luar biasa, dan tidak saja ular-ular ganas tidak mau mengganggu anak yang berkeringat harum ini, akan tetapi juga dengan sekali gigitan anak ini telah melumpuhkan seekor ular berbisa!

Wanyen Ci Lun dan yang lain-lain juga girang sekali melihat dua orang bocah itu selamat, akan tetapi  pangeran itu mengerutkan kening melihat pelayan yang menggeletak di situ. Soan Li yang sedang me ngenangkan perbuatan Bi Li menggigit ular tadi, mendapat pikiran baik. Ia melepaskan kedua orang anaknya dan cepat menghampiri tubuh pelayan yang tertelungkup di atas tanah. Diperiksanya pergelangan lengan dan ketukan jantungnya. Tubuh pelayan itu sudah dingin akan tetapi ketukan jantungnya masih terasa sedikit, tanda bahwa pelayan itu sesungguhnya belum tewas. Ia lalu menghampiri Bi Li dan berbisik.

"Anak baik, mari ikut Ibu." Ia menggendong Bi Li dan menggandeng Wan Sun kemudian mengajak suaminya memasuki rumah, setelah memesan kepada para pelayan untuk mengangkat tubuh pelayan yang digigit ular itu ke dalam kamar.

"Jangan beri obat  apa-apa, aku sendiri mau mengobatinya," pesan nyonya ini kepada para pelayan. "Dan bersihkan tempat ini, babat semua tanaman yang berupa alang-alang. Juga perkuat pagar tembok agar jangan  ada ular berbisa masuk sini." Setelah tiba di dalam kamar, ia memberi tahu kepada suaminya tentang pikirannya hendak mengobati pelayan itu. "Kurasa sedikit darah dari Bi Li  mungkin menolong nyawa pelayan itu," katanya kepada suaminya. "Setujukah kau kalau aku menghisap sedikit darah anak kita ini?"

Biarpun dalam hal-hal seperti ini  Soan Li  lebih pandai dan mengerti daripada suaminya, akan tetapi ia selalu minta pendapat suaminya sebelum melakukan sesuatu hal, tanda akan kasih sayangnya dan kesetiaannya kepada suaminya ini.

"Tidak membahayakan diri Bi  Li  sendiri?"  tanya Wanyen Ci Lun. Isterinya menggeleng kepala. "Tidak ada bahayanya diambil sedikit saja darahnya. Melihat betapa sekali menggigit ekor ular dia bisa membikin ular itu tidak berdaya, kurasa di dalam darah anak ini terkandung khasiat melumpuhkan pengaruh bisa ular."

"Kalau tidak membahayakan jiwanya, tentu saja aku setuju. Mulia sekali orang yang dapat menolong keselamatan nyawa lain orang, biarpun yang ditolong itu hanya seorang pelayan. Lakukanlah kehendakmu itu."

Soan Li mencium Bi Li yang merangkul ibunya dengan manja. "Bi Li, anakku yang manis. Kau tadi tentu melihat pelayan yang digigit ular tadi, bukau?

"Ibu maksudkan Liang Ma?"

"Ya, dia itulah. Bi Li, kita harus mengobatinya dan kalau Ibumu ini tidak salah, sedikit darahmu akan menolong nyawanya. Bi Li, kuatkanlah, aku hendak mengambil sedikit darahmu!" Dengan gerakan cepat sekali agar anak itu tidak mengira dan tidak merasa ngeri, tahu-tahu Soan Li telah menancapkan sebuah jarum dan menggurat pangkal  lengan Bi Li. Darah mengucur dari luka ini dan Bi Li hanya menjerit kecil, mukanya menjadi merah dan air matanya bertitik akan tetapi tidak menangis.

"Anak baik, siapa tahu dengan darahmu ini kau menolong nyawa lain orang," kata Soan Li sambil menggunakan. jari- jari tangannya memencet lengan Bi Li dan menggunakan lweekang untuk mendorong keluar darah anak itu keluar melalui luka pangkal lengannya.

Setelah mendapatkan darah sebanyak dua puluh lima tetes, Soan Li menutup luka itu dengan koyo (obat tempel) dan mencium kedua pipi anaknya dengan pandang mata sayang dan kagum. Sepasang mata Bi Li yang bening itu bersinar-sinar, sedikit pun tidak kelihatan takut biar darahnya diambil sampai dua puluh lima tetes! Benar-benar anak yang luar biasa mengingat bahwa usianya baru dua tahun lebih. Wan Sun memandang semua ini dengan mata penuh kekhawatiran dan kasihan terhadap adiknya.

Soan Li membawa darah itu ke kamar pelayan yang sakit, menggunakan sedikit darah dioles-oleskan kepada luka bekas gigitan ular yang sudah menggembung bengkak, kemudian sisa darah itu ia minumkan dengan paksa ke mulut pelayan itu. Memang amat sukar memasukkan darah

itu karena orang ini hampir tak bernapas lagi. Akan tetapi perlahan-lahan darah itu dapat juga mengalir masuk.

Tidak seorang pun pelayan mengira bahwa yang dipergunakan sebagai obat itu adalah darah dari siocia! Semua pelayan dan selir melihat cara pengobatan ini dengan penuh harapan. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara berisik, dan semua, termasuk Soan Li dan Wan-yen Ci Lun, menjaga di situ melihat akibat daripada obat istimewa itu.

Tak lama kemudlan terdengar suara kerurak-keruruk seperti suara ayam di tenggorokan dan perut pelayan itu, kemudian seperti tersentakia muntah-muntah, muntah darah, darah hitam! Para pelayan atas perintah Soan Li lalu menolongnya. Banyak sekali darah hitam keluar dan makin banyak yang keluar, keadaan si sakit makin baik. Cahaya kehitaman yang menyelimuti seluruh tubuhnya berangsur- angsur hilang, ter-ganti warna pucat.

Melihat pelayan itu muntah-muntah, Wanyen Ci Lun dan Soan Li meninggalkan kamar itu dan Soan Li memesan kepada para pelayan agar supaya si sakit itu dibersihkan, kemudian diberi obat makan bubur encer dan diberi obat penambah darah. Betul seperti dugaan Soan Li, dalam waktu dua pekan saja pelayan itu sudah sembuh kembali.

Semenjak saat itu, kesayangan suami isteri ini terhadap Bi Li makin dalam, akan tetapi tetap saja teka-teki tentang siapa adanya Bi Li siapa orang tuanya dan apa maksud orang yang meninggalkannya di taman bunga, masih selalu menggelisahkan hati mereka. Diam-diam Wanyen Ci Lun teringat kepada saudara misannya, Wan Sin Hong dan alangkah rindu hatinya untuk bertemu dengan Sin Hong karena kiranya hanya Wan Sin Hong yang akan dapat membantunya memecahkan teka-teki tentang diri Bi Li ini.

Oleh karena itu, alangkah girangnya hati Wanyen Ci Lun ketika dua bulan setelah peristiwa di atas, tiba-tiba muncul Coa Hong Kin! Seperti telah diketahui dalam cerita Pedang Penakluk Iblis, Coa Hong Kin ini dahulu adalah sahabat dan tangan kanan Wanyen Ci Lun yang amat disayang dan dipercaya penuh, seorang pembantu yang amat setia.

Dua orang sahabat yang telah lama berpisah ini saling peluk dengan tertawa-tawa terharu. Kemudian mereka duduk bercakap-cakap melepas rindu. Hong Kin tidak mau bercerita tentang terculiknya Tiang Bu, karena memang ia tahu bahwa tidak pada tempatnya kalau ia bercerita tentang putera Gak Soan Li yang menjadi anak tiri pangeran ini. Pula Pangeran Wanyen Ci Lun juga tidak mau banyak bertanya.

Apalagi Soan Li yang juga menjumpai bekas sahabat suaminya ini, sama sekali tidak bicara tentang bocah itu, karena memang ia sama sekali tidak tahu di mana adanya bocah yang dilahirkannya dengan penuh kebencian itu.

Hong Kin mertgeluarkan surat yang ia bawa dari Luliang- san.

"Selain datang berkunjung dan menengok karena sudah rindu, juga hamba membawa surat dari Wan-bengcu," katanya sambil  memberikan surat  itu kepada  Wanyen  Ci Lun. Ia menanti sampai Soan Li meninggalkan mereka berdua saja sebelum memberikan surat itu, karena ia pun tahu bahwa baik Wanyen Ci Lun tidak menghendaki nyonya itu tahu akan adanya seorang Wan Sin Hong di permukaan bumi ini. Seperti telah diceritakan dalam cerita Pedang Penakluk Iblis, mula-mula Gak Soan Li jatuh cinta ke pada Wan Sin Hong dan kemudian ia menjadi isteri Wanyen Ci Lun yang mukanya serupa benar dengan Sin Hong. Bagi Soan Li, orang yang pertama-tama merebut hatinya itu disangkanya suaminya yang sekarang itulah!

Setelah membaca surat dari Sin Hong, Wanyen Ci Lun duduk termenung. Di dalam surat itu Wan Sin Hong menceritakan tentang keadaan bahaya dari Pemerintah Cin berhubung dengan makin kuatnya bangsa Mongol dan betapa ia telah didatangi oleh tokoh-tokoh utusan Temu Cin. Sin Hong selanjutnya menyatakan bahwa apabila kelak terjadi perang kalau tentara Mongol menyerang Kerajaan Cin, sukarlah diharapkan bantuan orang-orang gagah di dunia kang-ouw, karena selain orang-orang gagah itu sebagian besar tidak suka kepada Kerajaan Cin, juga bahwa mereka sekarang tahu bahwa bengcu mereka juga keturunan bangsa Cin dan agaknya hendak memberontak! Selanjutnya Sin

Hong memberi nasihat kepada saudara misannya itu agar supaya mengundurkan diri saja di tempat yang aman dan, tenteram.

Demikianlah, Wanyen Ci Lun merasa  bingung dan gelisah. Dengan nasihatnya itu, Sin Hong seakan-akan memberi tahu lebih dulu bahwa kalau sampai terjadi perang, Sin Hong sendiri pun takkan mau membantu Kerajaan Cin untuk memukul mundur musuh. Hal ini dapat dimaklumi oleh Pangeran Wanyen Ci Lun. Biarpun keturunan bangsawan Cin, akan tetapi seperti mendiang ayahnya, Wan Sin Hong lebih dekat dengan rakyat jelata daripada dengan kebangsawanannya.

Akan tetapi bagi dia sendiri, sampai mati Wanyen Ci Lun tidak nanti mau rnembelakangi Kerajaan Cin begitu saja. I a bukan seorang pengecut, ia telah mengecap kebahagiaan dengan berdirinya Kerajaan Cin, tak mungkin ia sudi me- ninggalkan lari begitu saja setelah kini menghadapi bahaya! Akan tetapi kalau ia memikirkan dua orang anak-anaknya

....... ia menjadi gelisah sekali.

Coa Hong Kin tinggal sampai satu bulan di istana Pangeran Wanyen Ci Lun. Pangeran itu tidak menyimpan rahasia tentang anak pungutnya dan menceritakan tentang Bi Li kepada Hong Kin. Tentu saja Hong Kin menjadi terheran-heran dan ia pun tidak dapat menduga siapa orangnya yang telah meninggalkan anak itu di dalam taman, dan anak siapa pula gerangan bocah itu.

Ketika Hong Kin hendak pulang, Wan-yen Ci Lun memberi banyak barang hadiah dan Gak Soan Li juga minta disampaikan pesannya kepada sumoinya, Go Hui Lian, bahwa dia sudah merasa rindu sekali dan sewaktu-waktu hendak pergi menengok ke Kim-bun-to.

"Hong Kin, kalau sudah tiba masanya, harap kau bersiap menerima kedua anakku bersama ibu mereka untuk tinggal di Kim-bun-to, mengungsi apabila keadaan sudah amat mendesak," katanya.

Hong Kin yang diberitahu juga tentang isi surat dari Sin Hong, mengerti akan maksud hati Wanyen Ci Lun. Ia sudah kenal baik akan watak Wanyen Ci Lun yang setia kepada negara dan bangsanya. Ia tahu bahwa kalau sampai terjadi perang, Wanyen Ci Lun tak mungkin mau lari seperti yang diusulkan oleh Sin Hong, dan akan membela Kerajaan Cin sampai mati. Dan agaknya pangeran itu sudah bersiapsiap, kalau terjadi sesuatu, tentu Gak Soan Li dan dua orang anak itu disuruh mengungsi ke Kim-bun-to. Oleh karena itu Hong Kin mengangguk dan menjawab.

"Harapjangan khawatir, tentu kami akan menerima dengan segala senang hati." Maka berangkat pulanglah Hong Kin, diantar oleh pangeran itu sampai keluar istana. (Bersambung Jilid ke  IV)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Oktober 2022 :)

On Progres......

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain