Tangan Geledek Jilid 02

Jilid 02

Hong Kin mandi keringat. Bukan. main lihainya Le Thong Hosiang tadi yang ternyata dapat melihatnya dan sengaja menggertaknya keluar dari tempat persembunyian. Karena tidak dapat bersembunyi pula, Hong Kin lalu keluar meng- hampiri Sin Hong, dan memberi  hormat  kepada Sin Hong dan para tosu itu.

Para tosu yang sedang menghadapi Sin Hong dan nampaknya ada urusan penting hanya mengangguk saja kepada Hong Kin, sedangkan Sin Hong berkata.

"Saudara Coa  Hong Kin,  duduklah  dan  tunggu sampai aku selesai bicara dengan para Locianpwe ini." Ia menuding ke arah sebuah batu hitam di dekat sepasang makam yang terawat baik dan mewah. Hong Kin mengangguk lalu berjalan cepat dan duduk di atas batu setelah mengangguk hormat di depan sepasang makam yang ia tahu adalah makam Pak Kek Siansu dan Pak Hong Siansu. Setelah itu ia duduk mendengarkan percakapan mereka.

"Wan-bengcu, pinto hendak bertanya dengan singkat saja. Tentang tuduhan kawan-kawan gundul tadi bahwa dahulu Wan Sin Hong adalah seorang penjahat besar, tak perlu dibicarakan lagi karena pinto dan kawan-kawan lain semua maklum bahwa dahulu kau difitnah oleh Liok Kong Ji yang melakukan kejahatan mempergunakan namamu. Akan tetapi, ada hal yang baru yang kami dengar tadi. Betul- betulkah kau adalah keturunan dari keluarga Raja Cin dan nama keturunanmu Wanyen? Betulkah kau keturunan bangsa Cin yang menjajah tanah air kita di utara ini?"

Wajah Sin Hong menjadi sebentar  pucat  sebentar  merah. Ia menarik napas panjang berulang-ulang, lalu melambaikan tangan dan berkata.

"Duduklah dulu, Totiang dan dengarkan penjelasanku." Kemudian sambil bersila di atas batu, Sin Hong berkata.

"Cuwi Locianpwe dan para Locianpwe yang dulu hadir dalam pemilihan bengcu di  Ngo-heng-san, semua  tahu belaka bahwa sesungguhnya aku Wan Sin Hong tidak sekali- kali mengajukan diri  dan  berusaha  mendapatkan kedudukan bengcu. Terus terang saja, adalah setengah terpaksa aku menerima tugas dan kedudukan bengcu, karena apa sih senangnya menjadi bengcu? Tanggung jawab besar, selalu menghadapi hal-hal tak menyenangkan untuk dipecahkan dan diselesaikan.

Akan tetapi, sudahlah semua itu, aku  sudah menerimanya dan aku akan menjaga agar dapat menunaikan tugas dengan taruhan jiwa  ragaku.  Sekarang ini, Cuwi Locianpwe, setelah terkena tiupan dari orang-orang gagah di selatan yang  berpikiran sempit,  meributkan soal nama keturunan. Apakah isi hati manusia di-ukur dari keturunannya? Adakah manusia hendak disamakan dengan kuda yang selalu ditanya keturunan apa untuk ditentukan baik tidaknya?

Sepanjangsejarah yang kuketahui, banyak keturunan orang biasa saja menjadi raja dan menjadi pembesar tinggi, juga tidak kurang banyak keturunan raja dan orang-orang besar akhirnya menjadi penjahat rendah!" "Wan-bengcu, pinto rasa cukup semua pembelaan yang Wan-bengcu ajukan ini karena kami semua sudah mengerti akan hal itu. Yang menjadi persoalan apakah benar kau keturunan Wanyen?" tanya Tai Wi Siansu, kakek yang sudah amat tua itu sambil memandang tajam.

"Tai Wi Taisu, kau orang tua yang sudah jadi sahabat baik, dan penasehatku selama ini, yang kuanggap sebagai pengganti orang tua dan guru, kau juga ?"

"Justeru karena  itulah  pinto  menghendaki  kepastian, karena ini bukan hal yang remeh saja " Wan Sin Hong

memandang kepada keempat orang tosu itu berganti-ganti, kemudian berkatalah ia dengan suara lantang, nadanya menantang.

"Memang benar! Aku Wan Sin Hong adalah putera tunggal dari Wan Kan yang tadinya bernama Pangeran Wanyen Kan! Ayahku seorang pangeran besar dan Ibuku seorang anak murid Hoa-san-pai. Memang betul aku keturunan seorang pangeran bernama Wanyen. Habis, apa bedanya?"

Keempat orang tosu ini  seperti  mendapat  komando, bangkit  berdiri  dari  tempat  duduk masing-masing,  menjura ke arah Wan Sin Hong, lalu pergi setelah Tai Wi Taisu berkata lirih.

"Wan-bengcu, urusan ini harus kami bicarakan di antara ketua partai. Sampai berjumpa kembali!" Maka pergilah empat orang tosu ini turun dari puncak Jeng-inthia, meninggalkan Wan Sin Hong yang tersenyum getir dan hatinya tertusuk. la berdiri termenung memandang ke arah perginya empat orang tosu tadi dan baru tersadar ketika mendengar suara di belakangnya.

"Sungguh empat orang kakek yang hanya panjang usianya saja akan tetapi pikirannya sempit!" Wan Sin Hong menengok dan memandang kepada Coa Hong Kin. "Orangseperti engkau yang pernah bekerja sama dengan Pangeran Wanyen Ci Lun, baru tahu bahwa bukan hanya suku bangsa Han yang mempunyai orang-orang budiman. Akan tetapi pandangan orang-orang tua itu tentang kebangsaan amat kolot dan kukuh. Bagi mereka, selain bangsa Han tulen tidak ada orang baik. Ah, Saudara  Coa, aku benar-benar mulai menyesal mengapa dulu kuterima kedudukan bengcu. Sekarang tentu akan datang hal-hal yang amat tidak enak."

"Wan-bengcu, empat orang tosu tadi  agaknya ketua- ketua dari partai-partai besar yang dahulu bekerja sama menghadapi orang-orang jahat seperti Liok Kong Ji, See-thian Tok-ong dan lain-lain. Akan tetapi empat orang hwesio itu siapakah? Dan mengapa tadi Bu Kek Siansu bertempur melawan hwesio itu?"

Sin Hong menghela napas. "Saudara Coa, karena kebetulan kau menyaksikan semua ini, baik kuceritakan padamu. Duduklah."

Coa Hong Kin lalu duduk di atas batu dan Sin Hong bercerita. Ternyata bahwa empat orang hwesio yang lihai- lihai itu adalah tokoh-tokoh besar dari selatan, yaitu Le Thong Hosiang ketua Partai Taiyun-pai di Pegunungan

Taiyun-san yang letaknya di pantai utara, Nam Kong Hosiang dan sutenya Nam Siong Hosiang pemimpin-pemimpin kelenteng besar di Gunung Kao-likung-san, dan  yang ke empat seorang yang amat terkenal di selatan yang bernama Heng-tuan-san Lojin (Orang Tua dari Heng-tuan-san), seoranghwesio perantau yang tinggi ilmu silatnya.

Ketika empat orang hwesio ini tiba di puncak Jeng-in-thia Wan Sin Hong sedang duduk bercakap-cakap dengan empat orang tosu yang memang betul seperti dikenal oleh Hong Kin adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai, Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai. dan yang seorang lagi adalah Cin-lien  Tojin, seorang tosu perantau dari Gunung Cin-Lien-san. Empat orang tosu ini mengunjungi Wan-bengcu dan tengah bercakap-cakap tentang ancaman orang-orang Mongol yang menurut Sin Hong mulai mengirimkan orang- orang pandai ke perbatasan untuk menjadi penyelidik dan juga agaknya ada maksud-maksud dari orang-orang Mongol itu untuk membujuk orang-orang gagah di wilayah Kerajaan Cin agar suka bekerja sama. Sin Hong dan empat orang tosu itu sedang berdebat. Menurut pendapat Sin Hong, sudah sepatutnya kalau para orang gagah bangkit dan melawan orang-orang Mongol itu dan membasmi atau mengusir mereka, bukan sekali-kali demi Kerajaan Cin,  melainkan demi keselamatan rakyat agar jangan sampai dijajah oleh orang-orang Mongol. Akan tetapi empat orang tosu itu membantah, menyatakan bahwa bukan menjadi kewajiban mereka untuk membantu raja yang bukan bangsa sendiri.

Mereka ini hendak lepas tangan dan menyatakan bahwa

selama mereka tidak diganggu oleh orang-orang Mongol, mereka  hendak mengambil sikap sebagai  penonton saja apabila timbul perang antara Negara Cin dan Negara Mongol.

Selagi mereka berdebat, muncul empat orang hwesio dari selatan itu yang datangdatang memaki-maki dan mencela orang-orang kang-ouw di wilayah utara yang dikatakannya sudah lupa kebangsaan sehingga memilih bengcu seorang penjahat yang bernama Wan Sin Hong. Bukan hanya penjahat, bahkan seorang keturunan Wan-yen.

"Sungguh tidak disangka bahwa orang-orang gagah seperti Kun-lun dan Bu-tong sampai kena dibeli oleh Kaisar Cin sehingga mau saja mempunyai bengcu seorang anak pangeran. Hm, memalukan sekali," demikian Le Thong Hosiang mengakhiri caci makinya.

Kata-katanya membuat Bu Kek Siansu marah, maka tak dapat dicegah lagi kedua orang kakek ini lalu mengadu kepandaian sampai Sin Hong turun tangan mencegah pertumpahan darah lebih  lanjut.  Kelihaian  Sin  Hong ternyata dapat mengusir empat orang hwesio itu. Akan tetapi, kata-kata Le Thong Hosiang mengejutkan para tosu dan mereka mengajukan pertanyaan tentang keturunan Wanyen. "Demikianlah, Saudara Coa. Tentu para ciangbunjin (ketua) partai besar akan sependapat dan tidak setuju rnempunyai bengcu seorang Wanyen. Hal ini bagiku tidak ada  artinya, biar aku tidak menjadi bengcu tidak akan kecewa atau menyesal. Akan tetapi, justeru pada saat orang-orang Mongol akan bergerak, muncul urusan ini dan sikap para ciang- bunjin yang tidak ambil peduli atas gerakan orang-orang Mongol itu benar-benar menggelisahkan hatiku. Ahh, aku membicarakan urusanku sendiri saja sampai melupakan urusanmu.  Saudaraku yang baik,  kau  datang tentu membawa urusan penting. Ada apakah?"

Wajah Hong Kin menjadi muram. "Agak sukar aku membuka mulut setelah mendengar betapa kau tertimbun urusan sulit. Kedatanganku berarti menambah beban dan kepusinganmu, Wan-bengcu."

Melihat kemuraman wajah Hong Kin, hati Sin Hong berdebar. Betapapun juga, persangkaan bahwa Hui Lian tertimpa malapetaka membuat ia gelisah dan cemas.

"Saudara Coa, jangan kaubilang begitu. Lekas katakan; kesulitan apakah yang mengganggumu?"

Dengan singkat Hong Kin lalu menceritakan tentang penculikan atas diri Tiang Bu yang dilakukan oleh Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.

"Inilah yang menyusahkan hati kami, Wan-bengcu, karena Tiang Bu bagi  Kami  sama  dengan  putera  sendiri. Tadinya kami mempunyai niat untuk menyerahkan anak itu kepadamu agar dapat menerima pelajaran ilmu silat dan pendidikan darimu. Dan bukan sekali-kali aku hendak memanaskan hatimu atau mengadu, Wan-bengcu, akan

tetapi sesungguhnya Hui-eng Niocu telah meninggalkan

kata-kata bahwa biarpun kau akan membela kami, dia takkan takut menghadapimu." Sejak tadi Sin Hong sudah tersenyum dan mendengar kata-kata terakhir ini senyumnya melebar dan ia mengangguk-angguk. .

"Tak usah kau berkata begitu, aku pun telah mengerti, Saudara Coa. Aku tahu akan maksud Hui-eng Niocu.

Memang aku sudah menduga bahwa ia tentu akan mencari gara-gara. Jangan kau khawatir, biarlah aku yang akan menyusul ke Go-bi-san dan memintakan anakmu itu. Akan tetapi tentang menjadikan aku sebagai gurunya aku

belum sanggup menerima murid, saudaraku yang baik. Entah kelak. Biarlah, hal itu kita bicarakan  kelak saja. Sekarang yang terpenting, aku akan mengejarnya dan karena aku mempunyai sebuah urusan, harap kau suka mewakili aku pergi, dengan demikian semua urusan dapat beres."

"Tentu saja, katakanlah. Apa yang harus kulakukan?" tanya Hong Kin cepat -cepat.

"Sepulangwu dari sini, singgahlah di kota raja dan berikan sepucuk suratku kepada Pangeran Wanyen Ci Lun.

Dapatkah kaulakukan hal ini untukku?"

Wajah Hong Kin berseri gembira. "Cocok dan kebetulan sekali! Tentu saja tugas ini akan kulakukan dengan segala senang hati, Wan-bengcu, karena memang aku pun hendak singgah di kota raja, hendak mengunjungi Pangeran Wanyen Ci Lun!"

"Bagus! Kalau begitu tunggulah sebentar kubuatkan suratnya dan kita berangkat menjalankan tugas masing- masing."

Dengan cepat Sin Hong masuk ke dalam gua, membuat surat untuk Pangeran Wanyen Ci Lun yang menjadi saudara misannya, memberikan itu kepada Coa Hong Kin dan tak lama kemudian dua orang muda ini turun dari puncak, lalu berpisah mengambil jalan masing-masing. Coa Hong Kin menuju ke timur sedangkan Sin Hong menuju ke utara. Hui-eng-pai atau Perkumpulan Garuda Terbang mempunyai markas di sebuah hutan yang subur dan indah di atas salah sebuah puncak di Pegunungan Go-bi-san.

Puncak ini memang bertanah subur sehingga dari kaki bukit sampai ke atas, penuh dengan dusun-dusun yang didiami oleh para petani.

Di puncak inilah tinggal Hui-eng Niocu Siok Li Hwa dengan seratus orang anak buahnya, semua terdiri dari wanita belaka. Ada yang .sudah tua, ada yang masih remaja, akan tetapi sebagian besar adalah gadis-gadis yang cantik.

Biarpun tidak hidup sebagai pertapa-pertapa atau pendeta- pendeta akan tetapi keadaan mereka hampir sama dengan penghidupan para nikouw (pendeta wanita Buddha), berdisiplin dan memegang tata tertib. « Seorang anggauta yang berani melakukan penyelewengan, akan dihukum keras oleh Siok Li Hwa, akan tetapi ini bukan berarti bahwa semua anggauta tidak mempunyai kebebasan. Banyak sudah anggauta yang mendapatkan "jodoh" dan mereka ini tidak dilarang untuk menikah, hanya dilarang untuk kembali ke situ dan diharuskan keluar dan ikut suaminya! Pendeknya, yang diperbolehkan tinggal di situ hanyalah anggauta- anggauta yang masih gadis yang sudah janda, pendeknya orang-orang yang tidak terikat hidupnya oleh suami.

Di belakang bangunan yang besar sekali dan amat indahnya seperti istana raja-raja, terdapat sebuah taman yang luas dan indah pula. Taman ini penuh dengan bunga- bunga yang jarang terlihat di kota dan di sudut taman terdapat sebuah makam yang terawat baik. Inilah makam dari Pat-jiu Nio-nio, pendiri Hui-eng-pai atau guru Siok Li Hwa dan semua anggauta Hui-eng-pai. Makam ini terawat baik dan merupakan pujaan di samping Hui-eng Niocu Siok Li Hwa sendiri yang dipuja dan disegani oleh semua anggauta. Siok Li Hwa masih selalu menghormat makam mendiang gurunya karena menganggap makam ini sebagai pengganti guru dan orang tuanya. Seringkali ia kelihatan duduk termenung di depan makam, atau kadang-kadang kelihatan ia tekun bersembahyang seakan-akan minta doa restu dari gurunya itu.

Pada suatu hari Li Hwa pulang membawa seorang bocah laki-laki yang buruk mukanya. Semua anggauta Hui -eng-pai terheran-heran. Anggauta-anggauta yang sudah lanjut usianya dan menjadi pembantu Siok Li Hwa, memprotes.

Akan tetapi mereka ini dibentak ole h Li Hwa yang berkata lantang..

"Jangan ribut-ribut!  Aku bukan  membawa  pulang seorang pemuda! Ini adalah bocah yang masih kecil dan bersih, yang kubawa pulang untuk menjadi muridku karena aku melihat ia berbakat baik."

"Akan tetapi, Niocu. Amat tidak pantas kalau dia

sudah besar, sepuluh tahun lagi saja ....... dia menjadi seorang pemuda di antara kita " bantah seorang

anggauta yang berusia lima puluh tahun.

"Ini namanya melanggar sumpah dan larangan perkumpulan ....... " kata pula wanita tua ke dua.

"Diam! Sekali lagi bilang melanggar sumpah, kutampar mulutmu! Siapa yang melanggar larangan? Bunyi larangan ialah tidak diperbolehkan memasukkan seorang laki-laki ke tempat ini. Yang kumaksudkan bukan orang dewasa melainkan seorang bocah. Dia akan berbuat jahat apakah? Tentu saja ada batasnya. Paling lama tujuh tahun dia berada di sini. Setelah berusia dua belas tahun, ia harus pergi. Nah, siapa berani  bilang aku memasukkan  laki-laki? Apakah bocah umur lima sampai dua belas  tahun  bisa mendatangkan hal-hal  buruk? Hayo jawab!"  Tak seorang pun berani menjawab karena selain takut, juga mereka pikir tiada salahnya kalau di situ ada seorang bocah cilik, biar laki-laki sekalipun.

Demikianlah, Tiang Bu dirawat dan diobati oleh ahli-ahli pengobatan di situ dan  ternyata setelah beberapa hari  berada di situ, hampir semua anggauta Hui-eng-pai, tua muda, suka kepadanya. Hal ini tidak mengherankan karena sudah lajim kaum wanita suka kepada anak-anak, apalagi di situ tidak pernah ada anak kecil, dan lakilaki pula!

Setelah kakinya yang patah sembuh sama sekali, pada suatu pagi, Li Hwa mengajak anak itu ke taman bunga, tempat yang paling disukai oleh Tiang Bu. Anak ini tak pernah mau bertanya tentang ayah bundanya, karena pernah ia satu kali bertanya dijawab dengan tamparan yang menyakitkan kedua pipinya oleh Siok Li Hwa.

"Kau menurut saja apa yang dikatakan oleh Niocu," berkali-kali para anggauta Huieng-pai memberi nasihat kepada bocah ini sehingga Tiang Bu menjadi takut kalau berhadapan dengan Siok Li Hwa.

Li Hwa membawa ke makam yang berada di sudut taman dan menyalakan beberapa batang hio. Ia memberikan hio itu kepada Tiang Bu, sebagian  dipegangnya  sendiri,  lalu berkata.

"Hayo kau sembahyang di depan makam Su-couw."

Tiang Bu menurut saja. Ia berdiri di depan makam dan mengangkat-angkat hio ke atas kepala. Li Hwa minta hio itu dan menancapkannya di depan bongpai (batu nisan).

"Hayo berlutut dan kautiru kata-kata yang kuucapkan nanti!"

Li Hwa berlutut dan Tiang Bu berlutut di sebelahnya, hatinya berdebar penuh rasa takut. Makam itu mengerikan hatinya dan upacara yang tidak dimengertinya ini menimbulkan rasa seram dan takut.

"Sucouw Pat-jiu Nio-nio, teecu Liok Tiang Bu bersumpah

....... " kata Li Hwa, lalu disambungnya perintah kepada Tiang Bu, "Hayo tiru!"

"Sucouw Pat-jui Nio-nio, teecu Tiang Bu

bersumpah.." bocah itu meniru akan tetapi meninggalkan she Liok, karena biarpun masih kecil, anak ini cerdik dan sudah tahu bahwa shenya bukan Liok, melainkan Coa.

Li Hwa marah dan menampar kepala anak itu sehingga bergulinganlah tubuh kecil itu. Baiknya Li Hwa tidak menggunakan tenaganya sehingga Tiang Bu tidak terluka. Dengan takut Tiang Bu berlutut lagi.

"Goblok! Aku bilang LIOK Tiang Bu, dan kau pun harus meniru begitu. Kau-kira kau ini she Coa dan kau ini anak siapakah? Coa Hong Kin dan Go Hui Lian itu bukan ayah bundamu. Ayahmu bernama Liok Kong Ji dan Ibumu bernama Gak Soan Li, tahu? Hayo, semua kata-kataku harus ditiru, tidak boleh diubah!"

Dengan sebentar-sebentar berhenti agar bocah itu mudah mengikutinya, Li Hwa membuat anak itu bersumpah begini.

"Sucouw Pat-jiu Nio-nio, teecu Liok Tiang Bu bersumpah akan menjadi murid yang taat dan rajin dari Hui-eng Niocu, Siok Li Hwa. Kelak kalau teecu sudah pandai, teecu berjanji akan membalas budi Hui-eng Niocu Siok Li Hwa, membalas sakit hatinya kepada dua orang, yaitu pertama kepada Wan Sin Hong dan ke dua kepada Go Hui Lian, karena dua orang itu telah membuat guruku Siok Li Hwa kehilangan kebahagiaannya."

Baru saja sumpah atau janji ini selesai diucapkan, terdengar suara menegur.

"Li Hwa, kau benar-benar terlalu sekali'" Bayangan yang gesit sekali berkelebat dan di lain saat tubuh Tiang Bu telah disambar dan dipondong oleh orang yang baru tiba dan menegur tadi.

"Sin Hong, manusia keji dan sombong. Kembalikan muridku!" Li Hwa mengejar dengan pedang Cheng-liong-kiam sudah berada di tangannya. Dengan marah sekali ia menyerang Sin  Hong  yang cepat  mengelak karena  serangan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. "Li Hwa, dengarlah dulu. Jangan mengganggu orang tidak berdosa ”

"Laki-laki kejam, kembalikan dia." Li Hwa berseru lagi dan pedangnya berkelebat amat berbahaya,  bukan saja berbahaya bagi Sin Hong, bahkan juga mengancam keselamatan Tiang Bu yang berada dalam pondongan Sin

Hong.

Melihat betapa serangan Li Hwa bukan main-main dan benar-benar mengancam keselamatan Tiang Bu, terpaksa Sin Hong mencabut pedang di pundaknya dengan tangan kanan dan sekali tangannya bergerak,  pedangnya telah dapat menindih pedang Li Hwa! Li Hwa berkutetan mengerahkan segenap tenaga agar pedangnya terlepas dari tindihan pedang Sin Hong, namun sia-sia belaka, pedangnya seakan-akan sudah lekat dan menjadi satu dengan pedang Pak-kek-sin-kiam di tangan Sin Hong. Dengan mengerahkan tenaga sambil menggigit bibir saking gemasnya, Li Hwa mencoba sekali lagi untuk membetot pedangnya, supaya terlepas. Masih saja sia-sia belaka.

Marahlah Li Hwa. I a masih mempunyai tangan kiri yang menganggur, akan tetapi ia tahu bahwa kalau ia menyerang Sin Hong akan percuma saja karena pemuda itu mempunyai kepandaian yang beberapa kali lebih tinggi tingkatnya. Oleh karena itu, tiba-tiba tangan kirinya meluncur ke depan dan jari telunjuk tangan kirinya menotok ke arah jidat Tiang Bu yang digendong Sin Hong. Serangan ini cepat sekali dan tidak terduga sama sekali, sehingga Sin Hong menjadi terkejut sekali. Ia berseru kaget membanting tubuhnya ke belakang. Dengan sendirinya ia menarik kembali pedangnya dan melompat dengan cara berjungkir-balik ke belakang dengan Tiang Bu masih berada dalam pondongannya.

"Kembalikan muridku!" Li Hwa berseru gemas sambil mengejar ketika melihat Sin Hong berlari dan melompat keluar dari tembok yang mengelilingi taman bunga itu. Air matanya sudah mengalir saking gemasnya, karena gadis ini tahu betul bahwa tak mungkin ia akan dapat menyusul Sin Hong kalau laki-laki itu betul-betul hendak melarikan diri. Ilmu lari cepatnya kalah jauh dibandingkan dengan Sin Hong.

Akan tetapi ketika ia tiba di luar taman, ia melihat bahwa Sin Hong ternyata sedang bertempur hebat  melawan  tiga orang kakek aneh yang ketika ia perhatikan bukan  lain adalah Pak-kek Sam-kui! Tiga orang aneh ini dengan bertangan kosong menyerang Sin Hong dan  mengepungnya dari tiga jurusan dengan ilmu silat mereka yang aneh dan luar biasa akan tetapi hebat sekali.  Tak jauh  dari situ, hampak tiga  puluh enam orang berdiri teratur seperti barisan dan mereka ini kelihatan kuat-kuat. Tiang Bu yang tadi dipondong oleh Sin Hong telah berada di pondongan seorang yang berdiri terdepan di barisan itu. Apakah yang terjadi dalam waktu singkat tadi?

Ketika Sin Hong melompat keluar dari taman bunga dikejar oleh Li Hwa, begitu tiba di luar tembok, ia merasa ada angin pukulan yang dahsyat menyambarnya dari segala jurusan, ditambah pula dengan bermacam-macam sinar yang

ternyata bukan lain adalah jarum-jarum halus yang berbisa. Sin Hong kaget bukan main karena serangan tiba-tiba ini benar-benar amat membahayakan, terutama sekali berbahaya bagi Tiang Bu yang berada dalam pondongannya. Ia maklum bahwa hawa-hawa pukulan itu dilakukan oleh orang-orang berkepandaian tinggi. Baginya hawa pukulan ini masih tertahan karena tubuhnya memiliki sin-kang yang tinggi, akan tetapi kalau hawa pukulan itu mengenai  Tiang Bu tentulah bocah ini akan tewas! Oleh karena itu sambil melesat ke samping dan menggerakkan lengan kanannya untuk menyampok semua jarum-jarum halus itu, Sin Hong melemparkan Tiang Bu ke  tempat  aman dan anak itu jatuh ke  atas  tanah berumput  yang tidak keras.  Anak itu kaget dan menangis. Baru sekarang ia dapat menangis sejak kekagetan hebat yang ia alami. Tadinya jatuh dari pohon setelah disengat lebah sampai kakinya patah, lalu diculik Hui-eng Niocu, kemudian dijadikan perebutan antara Sin Hong yang tidak dikenalnya dengan Hui-eng Niocu yang ia takuti. Sekarang ia mengalami hal yang hebat lagi.

Di lain saat tiga orang berkelebat dan menyerang Sin Hong sambil tertawa-tawa. melihat bahwa tiga orang ini bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui, Sin Hong mendongkol sekali dan cepat melayani mereka. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bagaimana sebarisan orang tiba- tiba muncul dari  balik pohonpohon dan seorang di antaranya yang kelihatan sebagai pemimpirnya, melompat dan menyambar tubuh Tiang Bu. Saking takut dan kagetnya melihat barisan orangorang berwajah galak ini, Tiang Bu menutup kembali mulutnya dan tidak berani menangis.

Hanya matanya yang lebar itu memandang ke sana ke mari dengan liar.

Melihat semua ini, Li Hwa menjadi marah dan dengan pedang di tangan ia melompat, bukan untuk merampas kembali Tiang Bu, melainkan untuk membantu Sin Hong.

"Pak-kek Sam-kui siluman-siluman pengecut!" ia memaki dan pedangnya menyerbu cepat. Kedatangan Li Hwa ini kebetulan sekali oleh karena Sin Hong yang telah mainkan Pak-kek Sin-kiam ternyata juga terdesak oleh tiga orang aneh ini. Padahal mereka bertiga bertangan kosong saja!

Ketiganya memiliki kepandaian tinggi dan aneh, berani mempergunakan kuku jari tangan untuk menyentil pedang pusaka

Andaikata Li Hwa tidak datang membantu, akan sukar sekali bagi Sin Hong mencapai kemenangan, atau sedikitnya ia harus mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga serta memakan waktu lama. Akan tetapi setelah Li Hwa maju dengan pedang Cheng-liong-kiam di tangannya, keadaan segera berubah. Dua sinar pedang putih kuning dan hijau menyambar dan bergulung-gulung seperti dua ekor naga membuat Pak-kek Sam-kui kewalahan sekali. Akan tetapi dua orang muda itu ternyata hanya dapat melindungi diri dengan baik saja, sama sekali tidak dapat mengirim serangan yang membahayakan musuh. Mengapa begitu? Oleh karena Sin Hong maklum bahwa tingkat kepandaian Li Hwa masih kalah beberapa tingkat kalau dibandingkan dengan tiga orang aneh ini. Apabila dia melakukan serangari dalam keadaan seperti itu, mungkin ia akan dapat merobohkan seorang di antara tiga lawan ini, akan tetapi sebaliknya keadaan Li Hwa juga berbahaya karena tidak terlindung oleh pedangnya. Inilah yang menyebabkan Sin Hong mengurangi daya serangannya dan memperkuat daya tahan karena ia harus melindungi keselamatan Li Hwa.

Di lain fihak, Pak-kek Sam-kui merasa seperti menghadapi dua tembok baja yang kuat sekali. Tiga orang kakek yang sakti dan banyak pengalamannya ini maklum bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, mereka takkan menang. Giam-lo-ong Ci Kui yang jangkung dan gundul itu tiba-tiba mengeluarkan seruan-seruan aneh yang menjadi isyarat bagi kawan-kawannya. Sin Hong sudah merasa khawatir sekali, kalau-kalau tiga puluh enam orang itu diperintahkan maju membantu.

Akan tetapi anehnya, ketika barisan itu mulai bergerak mencabut senjata, tiga orang kakek itu bahkan melompat imundur! Giam-lo-ong Ci Kui melompat ke depan komandan barisan, menyambar tubuh Tiang Bu,  kemudian  bersama dua orang sutenya ia melarikan diri. 

"Penjahat-penjahat keji, tinggalkan anak itu ....... !" Sin Hong berseru dan besama Li Hwa ia mengejar.

Akan tetapi, tiba-tiba barisan itu ber-gerak cepat sekali, menghadang dua orang muda yang hendak mengejar itu!

Semua anggauta barisan memegang golok besar di tangan, sikap mereka garang sekali.

"Tikus-tikus busuk, kalian sudah bosan hidup!" Li Hwa memaki dan pedang hijaunya menyambar-nyambar. Sebentar saja Li Hwa dan  Sin Hong terkurung rapat  oleh tiga  puluh enam orang itu yang bertempur secara nekat dan mati- matian. Biarpun bagi Sin Hong dan Li Hwa kepandaian mereka ini tidak seberapa artinya, namun kenekatan mereka membuat dua orang muda ini kewalahan dan harus berhati- hati juga. Mereka berdua sama sekali tidak melihat kesempatan untuk melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pak-kek Sam-kui.

Hebatnya tiga puluh enam orang ini seakan-akan tidak takut mati atau memang tolol. Melihat kawan-kawan mereka banyak yang roboh oleh pedang dua orang yang lihai itu mereka tidak menjadi jerih, sebaliknya bagaikan singa mencium darah, mereka makin nekad dan mendesak terus. Benar-benar seperti rombongan nyamuk yang tidak takut api lilin, menyerbu terus sampai mereka roboh binasa.

Sin Hong tidak tega untuk membunuh sekian banyak orang. Akan tetapi Li Hwa seperti berpesta, pedangnya menyambar-nyambar dan setiap kali terdengar jerit kesakitan atau golok terputus menjadi dua.

"Kalian masih tidak mau menyerah ?” Sin Hong membentak, marah dan heran.

Sebagai jawaban, beberapa orang serdadu ini melemparkan sesuatu ke arahnya. Melihat benda  bulat hitam, Sin Hong rnengira bahwa mereka mempergunakan senjata rahasia pelor besi. Melihat cara mereka melempar dan jalannya pelor yang tidak kencang, Sin Hong tertawa mengejek. Ada lima buah benda hitam yang menyambar ke arahnya. Cepat ia menyampok pelor pertama dengan pedangnya.

"Darrr ....... !" Benda itu meledak mengeluarkan api!

Sin Hong cepat menggulingkan tubuh ketika merasa hawa panas dan benda-benda kecil menyambar ke arahnya dari pecahan itu. Akan tetapi empat buah benda lain berturut-turut jatuh ke tanah dan meledak. Hal yang tidak disangka-sangka ini, biarpun seorang sakti seperti Sin  Hong sekalipun, tak sempat menghindarkan diri lagi. Kalau ia tahu, tentu ia akan melompat jauh-jauh dari tempat itu. Biarpun ia sudah mengelak ke sana ke mari dan memutar pedangnya, tetap

saja beberapa benda kecil mengenai tubuhnya. Benda-benda kecil yang panas memasuki kaki dan lengannya!

Li Hwa mengalami nasib sama! Bahkan lebih hebat.

Sebuah benda yang menyambar kepadanya ia tendang dan benda itu meledak, isinya melukai paha kanannya, membuat gadis itu roboh tak dapat bangun pula.

Melihat ini, Sin Hong menjadi marah sekali. Tadinya pemuda ini masih merasa enggan dan ragu-ragu untuk membunuh semua orang itu, karena ia maklum bahwa mereka ini hanyalah pasukan yang menjadi alat dan menerima komando. Akan tetapi melihat betapa mereka mempergunakan senjata rahasia yang demikian jahat ia mengeluarkan seruan keras, pedang Pak-kek-sin-kiam berkelebat, tubuh Sin Hong lenyap terbungkus gulungan sinar pedang dan terdengar pekik susul-menyusul ketika seorang demi seorang, fihak musuh roboh menjadi korban pedang.

Yang mengagumkan, pasukan Mongol itu terus melakukan perlawanan sampai orang terakhir dan setelah orang terakhir ini roboh pula oleh pedang Sin Hong, baru pertempuran berhenti! Di sana-sini menggeletak mayat orang dan jumlah mereka tiga puluh enam orang.

Kesemuanya tewas. Sin Hong menggeleng-geleng kepala melihat ini. Benar-benar pasukan yang hebat, kalau semua barisan Mongol mempunyai semangat berperang seperti yang tiga puluh enam orang ini, tidak ada  kekuasaan  di  dunia yang dapat mengalahkan mereka. Baiknya hanya ada tiga puluh enam orang yang mengeroyok dia dan Li Hwa, kalau ada ratusan kiranya dia takkan dapat menyelamatkan diri. Baru tiga puluh enam orang saja, kaki dan lengannya terluka dan Li Hwa roboh pingsan.

Cepat Sin Hong menolong Li Hwa. Dilihatnya celana yang menutupi kaki kanan gadis itu berlumur darah. Tahulah, dia bahwa Li Hwa terluka hebat pada kakinya. Tanpa berpikir panjang lagi, membuang segala rasa sungkan dan malu-malu, ia lalu merobek kaki celana  yang kanan  ini. Nampak betis dan paha yang berkulit putih halus itu ternoda darah yang mengucur dari beberapa bagian di paha gadis itu. Beberapa potongan besi telah memasuki paha itu dan lukanya hebat juga karena tuiang paha gadis itu ditembusi potongan besi!

Tiba-tiba Sin Hong merasa tubuhnya panas sekali, kaki dan tangannya yang terluka terasa ngilu. Ia meramkan mata menggigit bibir menahan sakit, lalu cepat mengambil bungkusan obat di punggungnya. Ia harus mengobati dirinya sendiri lebih dulu sebelum memulai dengan pengobatan kepada Li Hwa. Dengan sebuah pisau perak, ia membelek kulit lengan dan kakinya yang kemasukan potongan besi, mengorek potongan besi panas itu keluar.

Dapat dibayangkan betapa sakitnya pembedahan ini, dan ia menahan sakit sampai keringat sebesar kacang-kacang hijau memenuhi mukanya. Kemudian ia menempelkan bubukan obat pada luka-luka itu dan menelan tiga butir pel hijau. Baru ia merasa enak dan panas yang menyerang tubuhnya lenyap, juga rasa ngilu tidak ada lagi. Bubukan obat yang ia tempelkan pada luka-luka itu mendatangkan rasa dingin nyaman.

Setelah menolong diri sendiri, ia mulai memeriksa paha kaki Li Hwa yang terluka parah itu. Tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali karena ia teringat akan pengalamannya dahulu ketika ia mengobati paha dari Gak Soan Li yang diremuk oleh pukulan Tin-san-kang dari seorang tosu jahat bernama Giok Seng Cu (baca Pedang Penakluk Iblis). Akan tetapi ia menenangkan pikirannya dan dengan sehelai saputangan yang dicelup air, ia mencuci paha yang penuh darah itu untuk dapat memeriksa dengan baik.

Kemudian ia mulai mengerjakan pisau peraknya setelah menotok beberapa bagian jalan darah yang penting untuk mencegah darah keluar lagi dari luka-luka itu dan untuk mengurangi rasa sakit apabila ia melakukan pembedahan untuk mengeluarkan potongan-potongan besi yang memasuki paha gadis itu.

Ketika ia mulai mengorek keluar sebuah potongan besi, Li Hwa merintih perlahan. Gadis itu telah siuman dan merasa pahanya sakit sekali. la membuka mata dan  melihat Sin Hong sedang mengobati pahanya yang telah terluka parah, melihat betapa Sin Hong memegang kakinya yang tidak tertutup apa-apa, tiba-tiba rasa jengah dan malu melebihi rasa nyeri.

Rintihannya terhenti, mukanya berubah merah dan Li Hwa meramkan kembali kedua matanya! Sama sekali tidak berkutik dan gadis yang aneh ini diam-diam berterima kasih kepada musuh-musuhnya yang telah melukainya sehingga ia bisa dirawat secara demikian mesra oleh Sin Hong! Memang cinta kasih bisa mendatangkan pikiran yang gila-gila dalam kepala manusia.

Sin Hong bukan seorang bodoh apalagi seorang ahli pengobatan. Jangankan tadi Li Hwa sudah merintih dan membuka mata, andaikata Li Hwa tidak melakukan dua hal sebagai tanda telah siuman itu, dari denyut darah yang didorong oleh perasaan dan yang terasa oleh  jari-jari tangannya melalui kaki Li  Hwa, dia akan tahu bahwa gadis itu tidak pingsan lagi. Melihat gadis itu berpura-pura terus pingsan atau mungkin juga terlalu lemah untuk bangun, Sin Hong. lalu berkata lirih, untuk mencegah salah pengertian gadis itu.

"Li Hwa, kau terluka. Pahamu tertembus pecahan- pecahan besi-besi senjata rahasia lawan, tulang pahamu patah. Untuk mencegah keracunan, aku terpaksa melakukan pembedahan sekarang juga untuk mengeluarkan besi-besi itu dan untuk menyambung tulang paha yang patah.".

Diam-diam di dalam hatinya Li Hwa tersenyum geli dan memuji watak yang sopan dari Sin Hong.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan puluhan orang wanita anak buah Hui-eng-pai datang berlari- lari sambil membawa senjata. Mereka ini terlambat keluar membantu Li Hwa, karena memang tadinya mereka tidak tahu  adanya  pertempuran  itu  yang terjadi  dalam  waktu cepat. Selain ini, juga mereka ini biasanya selalu hanya mematuhi  perintah dari  Li Hwa, sedangkan pada waktu itu Li Hwa tidak kelihatan maka semua orang ketika mulai mendengar ribut-ribut pertempuran di luar pagar tembok taman, menjadi bingung tidak mempunyai komando.

Setelah mendengar suara ledakan-ledakan keras dari senjata-senjata rahasia berapi, mereka mengkhawatirkan ketua mereka yang tidak kelihatan di antara mereka.

Barulah mereka menyerbu ke luar.

Melihat ketua mereka telentang seperti mayat di atas tanah dan seorang laki-laki sedang duduk di dekatnya, kemudian melihat keadaan pakaian Li Hwa yang tidak karuan, yaitu kaki kanannya tidak tertutup sampai di paha, marahlah mereka ini. Mereka mengira bahwa Sin Hong tentu telah melakukan perbuatan yang tidak patut dan melukai ketua mereka. Biarpun di antara mereka, yaitu yang dulu pernah ikut dengan Li Hwa pergi ke Ngo-heng-san, mengenal Sin Hong sebagai pemuda yang terpilih men-jadi bengcu, akan tetapi  melihat  keadaan Li  Hwa dan Sin Hong, tidak mau berpikir panjang lagi dan mereka maju menerjang.

"Jahanam, kau berani  mencelakakai Niocu"  bentak mereka.

"Eh, eh, nanti dulu ....... ! Aku tidak mencelakakan dia, aku bahkan mengobatinya!" Sin Hong cepat menggerakkan tangan kiri mengebutkan ujung lengan baju dan sekaligus empat buah pedang yang menyerangnya terlempar. Akan tetapi  ia menjadi  gugup oleh  karena ia sedang membedah paha Li Hwa dan kalau ia tinggalkan untuk menghadapi amukan para wanita itu, paha itu akan rnenjadi makin parah dan sukar diobati pula.

Para anggauta Hui-eng-pai terkejut melihat bagaimana dengan kebutan lengan baju kiri secara sembarangan saja, empat batang pedang telah dapat dipukul terlempar oleh Sin Hong. Akan tetapi, untuk menolong ketua mereka, para wanita ini tidak takut dan juga kata-kata Sin Hong tadi tidak mereka percaya. Baiknya, sebelum para wanita ini menyerang lagi, Li Hwa membuka matanya dan membentak.

"Mundur semua! Wan-bengcu sedang mengobati kakiku, mengapa kalian berani mengganggu? Mundur dan pergilah."

Dengan mata terbelalak heran dan  kaget, semua anggauta Hui-eng-pai mundur, kecuali tujuh belas orang wanita yang setengah tua dan memegang pedang. Sikap mereka heran sekali dan mereka inilah yang tidak mau mundur. Tujuh belas orang wanita setengah tua ini terkenal di kalangan mereka sebagai Cap-jit Hui-eng Toanio (Tujuh Belas Nyonya Besar Garuda Terbang). Sebutan Hui-eng Toanio ini saja menunjukkan bahwa tingkat mereka tidak berbeda jauh dengan Siok Li Hwa sendiri yang berjuluk Hui- eng Niocu (Nona Garuda Terbang). Memang demikianlah adanya Cap-jit Hui-eng Toanio ini adalah murid-murid utama dari mendiang Pat-jiu Nio-nio dan ketika Pat-jiu Nio-

nio masih hidup, tujuh belas orang murid kepala ini menjadi pembantu-pembantunya yang boleh diandalkan. Akan tetapi, karena Li Hwa yang mewarisi kitab rahasia peninggalan Pat- jiu Nio-nio dan kemudian nona ini yang menjadi ketua maka tujuh belas orang yang terhitung sucinya itu hanya menduduki tempat ke dua, menjadi pembantu-pembantu Li Hwa. Kini, menghadapi hal yang menyangkut nama baik Hui- eng-pai, biarpun semua anggauta takut dan mundur atas seruan Li Hwa, tujuh belas orang toanio ini menghadapi ketua mereka dengan muka sungguh-sungguh.

"Niocu, harap Niocu ingat akan peraturan kita. Usir laki- iaki kurang ajar ini dan biarkan ahli-ahli kita mengobati Niocu." kata seorang di antara mereka. Dia ini adalah Toanio yang tertua dan yang paling lihai kepandaiannya di antara kawankawannya, nama julukannya Pek-eng Toanio (Nyonya Garuda Putih).

"Aku tidak mau diobati orang lain! Sin Hong, mari antarkan aku kembali ke puncak dan kauobati aku sampai sembuh”.

Sin Hong ragu-ragu dan tidak tahu harus berkata apa.

Sementara itu, Pek-eng Toanio berkata lagi, suaranya kaku.

"Niocu, betul-betul sudah lupakah kau akan aturan- aturan yang diadakan oleh Nionio dahulu? Tidak diperbolehkan laki-laki, hidup atau mati, berada di tempat tinggal kita! Setiap anggauta yang berani memasukkan seorang pria, hukumannya mati dan peraturan ini; berlaku baik bagi seorang pelayan sampai ketuanya sendiri Niocu, biarpun kau sendiri, tidak boleh membawa orang ini naik ke atas. Itu pelanggaran besar namanya, dan kami tidak boleh tinggal diam saja."

Li Hwa marah, "Pek-eng Toanio kau mengandalkan apamu maka berani bicara seperti ini di depanku? Biarpun kau dan enam belas orang Suci yang lain, takkan mampu menahan aku seorang. Aku sekarang sedang terluka, mungkin tak berdaya. Akan tetapi tahukah  kau akan kelihaian Wan-bengcu ini yang sepuluh kali lebih lihai daripada aku? Jangankan baru kalian tujuh belas Cap-jit Toanio, biarpun seluruh Hui-eng-pai ditambah beberapa kali lipat takkan mampu menahannya kalau dia membawaku ke atas." "Apa boleh buat, Niocu. Biarpun sampai mati semua, kami tetap akan  menentangsiapapun  juga  menghina perkumpulan kami dan melanggar peraturan yang diadakan oleh Nio-nio!" jawab Pek-eng Toanio.

"Kau mau melawan?" Tiba-tiba tangan Li Hwa bergerak. Sinar hijau menyambar dan Pek-eng Toanio mengeluh roboh pingsan. Ia  telah  menjadi  korban  Cheng-jouw-ciam (Jarum Rumput Hijau) yang lihai dari Li Hwa! "Baru kau tahu kelihaianku," gerutunya, agak menyesal bahwa ia terpaksa harus merobohkan orang sendiri. Akan tetapi enam belas orang wanita yang lain tetap berdiri tegak, bahkan mereka berkata tegas.,

”Pek-eng Toanio betul, Niocu. Kami terpaksa menghalangi kehendak Niocu,  biarpun  kami  harus  berkorban  nyawa untuk memegang teguh peraturan dari Nio-nio almarhum."

Li Hwa marah bukan main. "Sin Hong, pondong aku dan bawa ke atas! Jangan kau pedulikan perawan-perawan tua ini, sapu saja siapa yang berani merintangi kita!" katanya kepada Sin Hong.

Akan tetapi Sin Hong tidak bergerak. Ia telah selesai mengobati paha Li Hwa dan telah membalutnya. Selama pertengkaran itu, ia tidak mencampuri, hanya melanjutkan pengobatannya. Sekarang setelah selesai dan mendengar kata-kata Li Hwa itu, ia tidak menurut, bahkan menarik napas panjang dan berkata.

"Tidak, Li Hwa. Kau yang keliru, mereka itu benar.

Pulanglah kau dan beristirahatlah. Aku harus mencari Tiang Bu dan merampasnya kembali dari tangan Pak-kek Sam-kui."

"Aku tidak mau!" Li Hwa menjerit dan beberapa titik air mata melompat keluar dari matanya. "Aku takkan kembali ke puncak, aku tidak sudi lagi menjadi ketua Hui-eng-pai. Aku mau ikut kau mencari Tiang Bu, karena akulah yang bertanggung jawab atas kehilangannya."

"Jangan, Li  Hwa,  kau masih terluka  dan  " "Kausembuhkan aku lebih dulu, atau kau boleh meninggalkan aku mampus di sini, karena kau tidak mau membawa aku, aku pun tidak sudi kembali ke atas, aku

....... biarlah kalian semua meninggalkan aku di sini, biar mampus dimakan srigala "

Dan ketua Hui-eng-pai yang gagah berani dan tak kenal takut itu sekarang menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, Pek-eng Toanio telah siuman kembali setelah ditolong oleh kawan-kawannya. Melihat keadaan ketua mereka, ia menghela napas dan sebagai seorang yang sudah berpengalaman ia maklum bahwa ketuanya sampai berbuat begitu aneh bukan lain adalah karena gadis itu telah tergila-gila dan cinta kepada Wan Sin Hong.

"Wan-bengcu, terserah kepadamu apakah kau hendak membiarkan Niocu mati di sini ataukah hendak menolongnya.  Kami tak berdaya, dan  mati  hidup Niocu berada di tanganmu." Setelah berkata demikian, tujuh belas orang rombongan pemimpin Hui-eng-pai ini lalu mengajak semua anak buah mereka kembali ke puncak.

Dengan air mata masih mengucur, Li Hwa berkata kepada Sin Hong.

"Wan Sin Hong, kaupergilah, kau-tinggalkanlah aku. Aku tahu, selama ini aku telah berlaku bodoh, bahkan sampai sekarang aku masih bodoh dan gila. Aku mencintamu sedangkan kau ....... kau tidak peduli sama sekali kepadaku. Aku memang seorang gadis tidak berharga biarlah aku

mati di sini, tak patut seorang bengcu seperti kau dekat dengan seorang hina seperti aku "

Sin Hong menarik napas panjang. Benar-benar luar biasa sekali, gadis ini. Di suatu saat bersikap keras dan galak seperti iblis wanita, di lain saat dapat berlaku lemah lembut dan mengalah, mertimbulkan kasihan.

"Li Hwa, kau memang aneh. Kalau kau mau dibawa pulang dan dirawat oleh orangorangmu, bukankah hal ini sudah beres? Akan tetapi kau tidak mau dan kau rela mati kalau aku tidak mau membawamu bersamaku. Ahh .......

apakah yang harus kulakukan? Meninggalkan kau

membunuh diri di sini, benar-benar aku tidak tega. Apalagi kau telah menjadi korban senjata karena membantu aku menghadapi setansetan dari utara itu."

"Pergilah, jangan memikirkan orang seperti aku ini "

"Tidak mungkin. Aku tidak akan meninggalkan kau, Li Hwa. Biar aku mengobati lukamu sampai kau sembuh dan dapat berjalan lagi."

Wajah Li Hwa mulai berseri akan tetapi ia tetap cemberut. "Akan tetapi aku tidak mau pergi dari sini, aku mau mati di sini."

"Aku pun akan menunggumu di sini."

"Di tempat ini siang malam? Menahan serangan angin dan hujan?"

"Mengapa tidak? Kalau kau kuat, aku pun tentu kuat menahan." jawab Sin Hong mendongkol juga menghadapi gadis yang aneh wataknya ini. Tanpa ia ketahui. Li Hwa kini tersenyum, penuh kemenangan.

"Sin Hong, kau benar-benar berhati mulia. Kakakku yang baik, aku tidak nanti mau tinggal siang malam di tempat terbuka ini. Lihat, di sebelah utara sana, kurang lebih satu li dari sini, terdapat sebuah gua besar di bukit batu karang.

Kita dapat sementara waktu tinggal di sana sampai kakiku sembuh. Di sana kita dapat berlindung dari angin dan hujan, juga dari serangan binatang buas di waktu malam". Ketika mengeluarkan ucapan ini suaranya ramah-tamah dan manis sekali. Sin Hong yang mendengar perubahan suara ini cepat menengok dan memandang, akan tetapi lebih cepat lagi Li Hwa sudah mengubah lagi mukanya sehingga tidak kelihatan seri gembira yang tadi membayang di situ. "Hm, akhirnya, ternyata kau bukan seorang yang sudah nekat kepingin mati." gerutunya sambil berdiri. "Mari kupondong kau.ke sana."

"Kau tidak malu memondong aku?" Li Hwa pura-pura bersungut- sungut, padahal hatinya berdebar girang.

Sin Hong tidak menjawab, melainkan membungkuk dan memondong tubuh gadis itu. Ketika kedua lengannya merasa betapa hangat tubuh Li Hwa dalam pondongannya, ia berdebar dan mukanya merah. Untuk menghilangkan perasaan dan menghibur hatinya sendiri, ia berkata, suaranya seperti orang mendongkol.

”Mengapa mesti malu memondongmu? Dalam keadaan terpaksa seperti ini memondongmu tidak melanggar kesopanan. Apalagi rnemondong, bahkan aku telah. ..telah

....... mengobati pahamu " Ingin Sin Hong menampar

mulutnya sendiri, karena kata-kata ini seperti melompat saja dari mulutnya. Kata-kata ini bukan menghibur dan menghilangkan debar hati dan merah mukanya, bahkan menambah! Apa-lagi ketika terasa olehnya betapa pinggir dada Li Hwa yang menempel di lengannya berdebar-debar keras dan melihat sepasang pipi gadis itu menjadi merah sampai ke telinga sedangkan kedua matanya dipejamkan! "Sin Hong, kau memang seorang laki-laki berhati mulia, seorang laki-laki tahan uji dan sopan, pemalu dan canggung. Karena itulah aku cinta kepadamu," kata Li Hwa dengan sepasang mata masih terpejam. Kata-kata ini membuat Sin Hong makin bingung sehingga jalan kakinya tidak tetap.

"Hush, jangan bicara tentang cinta lebih baik kaki kananmu itu jangan bergerakgerak nanti sambungan tulangnya tidak betul lagi."

Akan tetapi Li Hwa seperti sengaja menggerak-gerakkan kaki kanannya, Sin Hong memandang heran dan marah, kemudian ia melepaskan tangan kiri yang memondong, dan menotok pinggang kanan gadis itu. Kaki kanan Li Hwa menjadi lumpuh tak dapat bergerak-gerak lagi

"Nah, sekarang bergeraklah kalau bisa," katanya, tersenyum puas dapat memberi "pelajaran" kepada gadis nakal itu.

Akan tetapi Li Hwa tidak menjadi marah karena totokan yang membuat ia tidak berdaya menggerakkan kakinya itu. Sebaliknya ia berkata dengan nada menggoda.

"Kautahu Sin Hong? Setiap kali kau bermaksud meninggalkan aku seorang diri, aku akan menggerak- gerakkan kaki  kananku supaya  lukanya  pecah  dan tulangnya putus kembali. Kalau kau menotokku terus sampai kakiku sembuh akan kupukul patah sendiri supaya jerih payahmu sia-sia."

Sin Hong mengerutkan keningnya, "Mengapa kau seaneh ini, Li Hwa? Mengapa kau hendak melakukan hal itu"

"Habis, tujuan hidupku hanya dua macam. Hidup di samplngmu atau mati, habis perkara. Selama kau mau membawaku bersamamu, aku malah takut mati. Akan tetapi kalau kau meninggalkan aku, aku jadi takut hidup.

Mengertikah kau?" Seluruh muka Sin Hong berkerut-kerut dan ia berpikir keras. Akan tetapi tetap saja ia tidak mengerti watak gadis yang dianggapnya aneh ini.  Bagi  orang yang sudah  tahu akan racun dan madu asmara, watak atau sikap yang diperlihatkan Li Hwa ini sama sekali tidak aneh. Akan tetapi,

biarpun ia memiliki kepandaian yang sudah berada di tingkat tinggi sekali dan pengalamannya bertempur, sudah banyak sekali, namun dalam hal asmara, Sin Hong boleh dibilang masih "hijau”.

Demikianlah, Sin Hong membawa Li Hwa ke gua yang ditunjuk oleh gadis itu dan tinggal di situ berdua dengan Li Hwa untuk merawat dan mengobati paha Li Hwa yang patah tulangnya. Sikapnya selalu sopan dan ia menjaga keras agar selalu ingat dan sadar,  jangan sampai terpengaruh oleh nafsu dan jangan sampai melanggar kesusilaan. Ia bersikap sopan sekali, ya, terlalu sopan sehingga kadang-kadang membikin mengkal hati Li Hwa!

-oo0mch0oo-

Kita tinggalkan dulu dua orang ini dan mari kita mengikuti pengalaman Tiang Bu, bocah yang dalam usia paling banyak lima tahun telah mengalami hal-hal yang hebat itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, baru saja kakinya yang patah tulangnya sembuh, ia dipaksa menjadi murid Hui-eng-pai dan bersumpah, kemudian mendengar cerita tentang ayah-bundanya yang menggores  dalam-dalam di hati dan plkiran anak kecil ini. Ia menjadi bingung sekali kalau memikirkan kata-kata Hui -eng Niocu Siok Li Hwa bahwa ia bukanlah putera Coa Hong Kin dan Go Hui Lian yang selama ini memang ia anggap ayah-bundanya, melainkan putra Liok Kong Ji dan Gak Soan Li, dua nama yang sama sekali asing baginya dan baru sekali ini didengarnya dari mulut Li Hwa. Akan tetapi karena urusannya menggores di hatinya, dua nama ini menempel dalam ingatannya dan tidak terlupakan lagi.

Kemudian ia mengalami perebutan atas dirinya antara seorang laki-laki gagah  yang tak dikenalnya  dan  Siok Li Hwa, akan tetapi di dalam hati ia  memihak laki-laki itu karena maklum bahwa laki-laki itu hendak menolongnya dari tangan ketua Hui-eng-pai yang tak disukanya  itu.  Lebih hebat lagi muncul orang-orang aneh yang merampas dirinya dan sekarang ia dibawa lari seperti terbang cepatnya oleh tiga orang aneh itu.

Ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh)  dan ilmu berlari cepat dari tiga orang kakek aneh ini memang benar-benar luar biasa sekali. Dalam waktu pendek saja mereka telah turun dari puncak dan telah melalui dua puncak lain dan tiba di sebuah hutan. Hutan ini berada di lereng sebuah puncak lain karena Pegunungan Gobi memang mempunyai banyak puncak yang sebagian besar tidak didiami manusia.

Setelah masuk di dalam hutan lebat ini dan merasa bahwa mereka telah lari  cukup jauh, Giam-lo-ong Ci Kui yang tinggi gundul itu tiba-tiba berhenti, diturut pula oleh dua orang sutenya Agaknya bagi Si Gundul  ini teringat bahwa sejak tadi ia mengempit tubuh seorang anak kecil di bawah lengan kirinya. Melihat ini, ia menyumpah-nyumpah dan sekali menggerakkan lengan kiri, anak itu terlempar ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Tiang Bu merangkak bangun dari semak-semak yang penuh duri itu, pengalaman

dilempar ke dalam semak-semak bukan apa-apa lagi baginya.

Setelah terlalu menderlta, menjerit dan menangis penderitaan kecil tidak dirasakannya lagi dan ia merasa enggan untuk menjerit maupun menangis.

"Kutu busuk! Sejak tadi kauikut, he? Setan!" Giam-lo-ong Ci Kui memaki dan menyeringai tangan kirinya menggaruk- garuk kepala gundulnya seperti orang kehabisan akal mengapa ia sampai tidak ingat lagi bahwa sejak tadi ia mengempit seorang bocah. "Kalau ingat tadi-tadi, kau sudah kulempar ke dalam jurang!"

"Twa-suheng, kulihat bocah ini ada nyalinya. Sayang

kalau dibuang begitu saja. Hati dan otaknya akan menambah semangat," kata Sin-sai-kong Ang Louw Si Muka Singa.

"Juga dia  berbakat, kalau sudah tiba  waktunya memilih murid, aku mau memilih dia ini," kata  Liok-te  Mo -ko  Ang Bouw Si Muka Burung. Giam-lo-ong Ci . Kui mengeluarkan suara menghina dari lubang hidungnya. "Hah, mana ada bocah Han mempunyai nyali?" ia mendekati Tiang Bu, memegang leher anak itu dan sekali menyendal, tubuh Tiang Bu terlempar tinggi di udara!

Dapat dibayangkan betapa rasa kaget dan takutnya hati Tiang Bu. Akan tetapi memang betul bahwa anak ini memiliki nyali yang besar. Pula semenjak kecil sering kali ia mendengar dongeng dari Hui Lian tentang orang-orang

gagah sehingga pikirannya terbuka dan ia dapat melihat kenyataan. Melihat sikap orang-orang gagah ini, bocah ini sudah dapat menduga bahwa ia tidak akan dapat hidup lebih lama lagi. I a pernah mendengar dari ibunya tentang sikap seorang gagah yaitu biarpun menghadapi kematian bernyali seperti harimau, bukan seperti babi. Mengingat semua ini, ketika tubuhnya dilempar ke atas dan mulai melayang turun cepat sekali dan membuat jantungnya berhenti berdetik, ia meramkan mata dan menggigit bibir agar supaya tidak mengeluarkan jerit dan tangis.

Akan tetapi, ia tidak mati terbanting di atas tanah karena tangan Giam-lo-ong Ci Kui sekarang sudah menyarnbarnya dan melemparkannya perlahan ke atas tanah di mana Tiang Bu jatuh terguling.

"Ha, ha, ha, apa kubilang? Dia mempunyai nyali naga." kata Ang Louw suara ketawanya seperti singa mengaum. "Siapa tahu, barangkali dia diam saja saking takutnya. Ji-sute, coba kautangkap seekor kucing atau anjing untuk mencobanya," kata Giam-lo-ong Ci Kui yang mulai tertarik. Tiga orang aneh dari utara ini boleh dibil ang manusia- manusia aneh yang seperti iblis, kejam, tak mengenal kasihan dan watak mereka buruk mengerikan. Hanya satu hal yang mereka junjung tinggi dan mereka kagumi; yaitu sifat keberanian yang luar biasa. Kalau saja Tiang Bu memperlihatkan ketakutan, tentu mereka takkan segan- segan membanting mati bocah itu, atau menurut Ang Louw, membelek dadanya memecahkan kepalanya untuk mengambil jantung otaknya sebagai "obat kuat". Akan tetapi Tiang Bu memperlihatkan sikap yang berani sekali, maka mereka mulai menjadi tertarik. Berani dan pendiam, sikap ini selain mengagumkan mereka, juga membuat mereka suka sekali.

Ang Bouw berkelebat pergi bagaikan iblis menghilang, dan tak lama kemudian dia sudah kembali memanggul seekor ....... harimau. Inilah agaknya yang dimaksudkan “kucing” oleh Giam-lo-ong Ci Kui tadi. Menangkap seekor harimau seperti menangkap kucing saja, benar-benar dari sini sudah dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian Ang Bouw. Ia memanggul harimau itu, empat kaki harimau dipegang dengan satu tangan dan lain tangan memutar leher. Dengan cara demikian ia memanggul harimau itu dengan enaknya tanpa si raja hutan dapat berkutik sedikit pun juga!

Setelah tiba di tempat itu, Liok-te Mo-ko Ang Bouw lalu menurunkan harimau itu di depan Tiang Bu yang sudah duduk di atas tanah dengan tenang. Harimau itu mengaum dan meronta marah, akan tetapi ia tidak berdaya di dalam pegangan Ang Bouw. Kini ia melihat seorang bocah di depan mulutnya, bocah yang merupakan makanan  dan  daging yang empuk, ia mencium-cium dengan hidungnya berkembang-kempis, seperti seekor kucing yang lebih dulu mencium-cium makanan yang hendak dimakannya. Dapat dibayangkan betapa takut rasa hati Tiang Bu. Ia merasa betapa kulit hidung yang kasar dan dingin dan basah menyentuh-nyentuh seluruh mukanya, betapa kumis harimau yang kasar itu menyikat mukanya menimbulkan rasa perih. Apalagi sepasang mata  harimau itu mendatangkan kengerian di dalam hatinya.

Bau harimau itu memuakkan perutnya dan suaranya menggereng-gereng membuat jantungnya meloncat-loncat keras. Akan tetapi dengan seluruh kekuatan, anak ini menggigit bibir dan menghadapi, harimau itu dengan mata terbelaiak memandang tabah.

"Hayo, kucing terkam dia, robek-robek dadanya, cokel keluar matanya! Bikin dia menjerit-jerit minta ampun! Ha, ha, ha!" Ci Kui berteriak-teriak menakut-nakuti Tiang Bu.

Harimau yang tadinya kebingungan itu, yang tadinya marah akan tetapi tidak berdaya, sekarang menimpakan kemarahannya kepada anak kecil yang duduk di depannya. Ia mulai menampar dengan kaki depan yang kanan.

Tamparan ini mengenai pundak Tiang Bu merobek baju dan kulit pundaknya, dan membuat ia terguling-guling. Air mata meloncat, keluar dari mata anak itu, pundaknya berdarah dan bibirnya yang tebal itu pun berdarah saking kerasnya ia menggigit bibir yang menahan sakit dan menahan keluarnya tangis atau jeritan. Biarpun air matanya mengucur, sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya.

Tiga orang kakek Pak-kek Sam-kui ini tertawa bergelak- gelak dan berteriak-teriak, agar harimau itu menyerang terus. Mencium bau darah yang segera dijilat-jilat dari kuku kaki depannya, harimau itu menjadi buas. Ia menubruk lagi, mempermainkan tubuh Tiang Bu seperti seekor kucing main- main dengan bola karet. Akan tetapi tiap kali ia mau menggigit anak itu, ia menerima pukulan  atau ekornya ditarik dari belakang oleh Ci Kui. Memang bukan maksud Ci Kui  untuk membunuh anak ini. I a hendak menguji ketabahan Tiang Bu. Sekali saja Tiang Bu menjerit takut atau menangis tentu ia akan mengajak dua orang sutenya pergi meninggalkan Tiang Bu untuk menjadi mangsa harimau. Akan tetapi melihat anak itu belum juga mengeluarkan jeritan, ia selalu menahan apabila harimau hendak menggigit.

Tubuh Tiang Bu terasa sakit semua, pakaiannya robek- robek tidak karuan dan darah memenuhi pakaian dan mukanya. Giginya tertanam dalam-dalam di bibirnya yang mengucurkan darah karena gigitannya sendiri. Akhirnya saking terlampau banyak mengeluarkan darah dan seluruh tubuhnya lemas tak berdaya lagi ia menjadi pingsan.

Tubuhnya seperti sudah menjadi mayat saja, tidak bergerak lagi dalam permainan harimau.

"Dia pingsan" kata Sin-sai-kong Ang Louw.

Terdengar suara keras dan kepala harimau itu pecah berantakan terkena pukulan tangan Ang Louw yang lebih hebat daripada pukulan martil besi lima puluh kilo.

"Dia betul-betul bernyali besar!" kata Ci Kui kagum. la menghampiri tubuh anak yang sudah mandi darah itu, lalu merawat dan memberi obat dengan pandangan mata sayang. "Anak baik, murid baik ....... " berkali-kali ia bicara sedangkan kedua tangannya bekerja.  Ia  membersihkan darah dengan lidahnya sendiri yang menjilat-jilat darah itu sampai bersih. Kemudian Ci Kui mengeluarkan bungkusan, dibukanya dan ternyata isinya adalah obat-obat bubuk bermacam-macam. Diobatinya luka-luka di tubuh Tiang Bu dengan obat dan ditotoknya jalan darah anak itu di beberapa bagian sehingga Tiang Bu menjadi siuman kembali. Ia merasa tubuhnya sakit-sakit semua dan lemas sekali.

Setelah luka-lukanya dijilati oleh Giam-lo-ong Ci  Kui, rasanya lebih sakit dan perih daripada tadi. I a me ringis dan menahan rasa sakit sampai pingsan lagi. Bukan main hebatnya penderitaan anak ini.

Ketika Tiang Bu membuka matanya perlahan-lahan, hari telah senja dan tubuhnya terasa sejuk dan nyaman sekali. Tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang mendengkur. I a hendak bangkit akan tetapi mendapat kenyataan bahwa tubuhnya terikat, kaki tangan dan pinggangnya terikat pada sebuah cabang pohon yang besar. Ketika ia meliri k ke kanan kiri, ia melihat tiga orang kakek itu tidur malang melintang di atas cabang-cabang pohon, tidur begitu saja di atas cabang pohon yang lebih kecil daripada tubuh  mereka  tanpa  diikat dan mereka enak-enak mendengkur! Tiang Bu melirik ke bawah dan wajahnya yang sudah pucat itu menjadi makin pucat ketika melihat bahwa mereka berempat itu berada di atas pohon yang tinggi sekali.

Akan tetapi rasa ngerinya hilang ketika ia teringat bahwa tubuhnya diikat dengan kuat pada cabang pohon hingga tak mungkin ia jatuh ke bawah. Kini ia mulai memperhatikan tiga orang kakek itu dengan heran sekali, juga geli karena cara mereka tidur dan mendengkur lucu sekali.

Si Gundul itu tidur miring di atas cabang kecil,

kepalanya sudah tergantung ke bawah seperti menjadi buah dari pohon itu dan kaki kirinya menindih muka Si Muka Burung dekat sekali dengan hidungnya. Si Muka Burung ini tidur telentang dengan kedua kaki tergantung ke bawah dari kanan kiri cabang, hidungnya kembang-kempis dan dengkurnya disertai suara dari hidung seperti orang yang merasa jijik mencium bau yang tidak enak dari kaki suhengnya.

Si Muka Singa tidur terpisah telungkup dengan muka miring, dengkurnya keras sekali sehingga ranting pohon berikut daun-daunnya yang berada di depan mukanya, sebentar tertiup pergi sebentar tersedot sampai menutupi mukanya.

Geli hati Tiang Bu melihat semua ini. Apalagi ketika ia melihat ranting dan daundaun di depan muka Ang Louw itu seperti menggelitik lubang hidung Si Muka Singa sehingga Si Muka Singa berbangkis beberapa kali dan dengan mata masih meram ia menggerakkan tubuh, miring ke kanan. Hampir saja Tiang Bu berteriak ketika melihat betapa tubuh itu miring dan seperti hampir terguling dari atas dahan.

Namun, ajaib sekali, biarpun tubuh itu sudah lebih

setengahnya berada di bawah dahan, tetap saja Ang Louw tidak terguling ke bawah, seakan-akan tubuhnya telah lekat pada dahan pohon itu!

"Hi, hi, hi, hi ....... !" Tiang Bu tak dapat menahan gelak ketawanya. Suara bocah ini nyaring sekali biarpun ia berada dalam keadaan sakit.

Tiba-tiba tiga orang kakek itu serentak melompat bangun dari tidurnya dan tentu saja karena mere ka melompat, tubuh mereka semua terguling ke bawah!

"Celaka ....... !" Tiang Bu berseru lirih melihat hal ini. Akan tetapi di lain saat, bagaikan tiga ekor burung besar yang beterbangan kacau-balau terdengar suara keras dan tiga orang kakek itu sudah berada di atas dahan pula. Mata mereka terbelalak dan dengan liar memandang ke kanan kiri.

"Mana siluman wanita itu?" Liok-te Mo-ko Ang Bouw bertanya sambil memandang ke kanan kiri.

"Mana dia Ang-jiu Mo-li?" Sin-saikong Ang Louw juga ikut bertanya, suaranya terdengar gentar. Ci Kui mendekati Tiang Bu dan memegang lengannya.

"Bocah, apakah kau tadi melihat seorang wanita muda cantik berlengan merah di dekat sini?" tanyanya.

"Aku tidak melihat siapa-siapa kecuali kalian bertiga." jawab Tiang Bu terheranheran. Bukan hanya heran karena pertanyaan ini, terutama sekali heran melihat bahwa orang- orang seperti ini, masih mengenal takut.

"Tolol kau. Apa telingamu tuli?" Ci Kui membentak sambil melotot, "baru saja dia tertawa di dekat sini!"

Mendengar kata-kata ini, Tiang Bu mengerti bahwa tiga orang kakek ini telah salah duga. Suara ketawanya dianggap sebagai suara ketawa seorang iblis wanita yang bernama Ang-jiu Mo-li (Iblis Wanita Bertangan Merah)! Mengingat ini, ia menjadi geli hati dan tak dapat ditahannya pula ia tertawa.

"Hi, hi, hi, hi ....... lucu sekali "

Tiga orang kakek ini melongo, saling pandang kemudian tertawa bergelak. Ci Kui lalu melepaskan tali yang mengikat tubuh Tiang Bu dan membantu anak itu duduk di atas cabang. Tiang Bu berpegang erat-erat pada ranting pohon supaya jangan terguling ke bawah.

"Anak baik, kau beinyali besar dan ketawamu seperti iblis wanita. Ha, ha, ha! Siapakah namamu?" .

Tiang Bu berpikir sebentar. Teringat ia akan ucapan- ucapan Siok Li Hwa tentang orang tuanya dan ia menjadi ragu-ragu. Benarkah Coa Hong Kin dan Go  Hui Lian  itu bukan ayah bnndanya? Ayahnya tampan sekali ibunya cantik jelita, juga adiknya Lee Goat yang baru berusia dua tahun sudah kelihatan cantik mungil. Akan tetapi dia? Banyak pelayan mengatakan bahwa rupanya seperti setan cilik!

Akan tetapi, untuk percaya omongan Hui-eng Niocu, ia pun masih ragu-ragu karena ia benci kepada Li Hwa.

"Namaku Tiang Bu," akhirnya ia menjawab, tanpa menyebutkan shenya karena ia masih ragu-ragu tentang ayah bundanya.

"Kau anak siapa?"

"Aku ....... yatim piatu, dan aku tidak tahu siapa ayah bundaku ....... " kata-kata ini ia ucapkan dengan sejujurnya karena memang pada saat itu ia merasa ragu-ragu dan tidak tahu siapakah sebetulnya ayah bundanya. I a masih belum mau percaya omongan Siok Li Hwa. Pendeknya, untuk saat itu ia tidak tahu betul siapa gerangan ayah bundanya yang sesungguhnya. "Kenapa kau bisa diperebutkan oleh Wan-bengcu dan Hui- eng Niocu?" tanya pula Ci Kui.

"Aku tidak tahu sebab-sebabnya. Akan tetapi Hui-eng Niocu memaksaku menjadi muridnya, lalu datang laki-laki yang tak kukenal itu merampasku dari tangan Huieng Niocu."

"Ah, ah, tak salah lagi. Dua orang itu sudah melihat bakat baik dalam dirinya, Suheng. Maka mereka berebut untuk mengambil murid padanya," kata Sin-saikong Ang Louw.

"Betul begitu kiranya," Ci Kui mengangguk-angguk. "Memang bocah ini berjodoh dengan kita. Kalau kita bertiga mengajarnya, kelak dia akan membikin harum nama kita."

"Tiang Bu, mulai sekarang kau menjadi murid Pak-kek Sam-kui, hayo kau berlutut memberi hormat," kata Sin-sai- kong Ang Louw yang kegirangan sekali karena memang sejak ia melihat Tiang Bu, ia sudah ingin mengambil anak itu sebagai muridnya.

Biarpun baru berusia lima tahun, Tiang Bu memang seorang bocah yang cerdik luar biasa. Ia maklum bahwa ia berada di dalam cengkeraman tiga orang yang jahat dan lihai seperti iblis, dan bahwa ia tidak berdaya sama sekali dan tidak mempunyai pilihan lain  kecuali  mentaati segala kehendak tiga orang itu. Juga  ia  maklum bahwa tiga  orang ini tidak membunuhnya, bahkan mengambilnya sebagai murid hanya berkat ketabahan yang telah ia perlihatkan.

Maka, mendengar perintah Ang Louw, ia lalu berlutut di atas dahan itu, sama sekali tidak takut terguling karena ia yakin bahwa tiga orang gurunya takkan membiarkan ia jatuh terguling. Anehnya, karena pikiran ini, ia memperoleh ketenangan dan kalau tadinya ia merasa sukar sekali untuk menahan dirinya agar jangan jatuh, sekarang ia merasa mudah saja berdiri atau duduk di atas dahan, bahkan ia dapat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada tiga orang kakek itu tanpa kehilangan keseimbangan tubuhnya. Demikianlah, mulai saat itu,  Tiang Bu telah menjadi murid tiga orang tokoh besar dari utara yang kepandaiannya tinggi sekali dan memiliki  watak aneh dan jahat seperti setan. Dengan bergiliran mereka mulai  memberi  pelajaran ilmu silat kepada Tiang Bu yang ternyata benar-benar mempunyai bakat yang luar biasa dalam ilmu ini. Pelajaran ini diberikan sambil melakukan perjalanan, yaitu menuju ke selatan, melewati Sungai Yangce, meninggalkan daerah Cin dan memasuki daerah, Sung.

-oo0mch0oo-

Siapakah sebetulnya Pak-kek Sam-kui dan apa tujuan mereka pergi ke daerah Kerajaan Sung?

Tiga orang kakek ini sebetulnya adalah tiga di antara banyak sekali orang-orang pandai yang membantu Temu Cin, raja dari bangsa Mongol yang mulai bangkit dan kuat. Masih banyak orang-orang yang selihai mereka ini, bahkan ada yang lebih lihai lagi, yang masih berada di Mongol membantu Temu Cin menaklukkan semua suku bangsa di utara yang nnasih belum mau tunduk.

Adapun Pak-kek Sam-kui tadinya di-utus oleh Temu Cin untuk menemui Wanbengcu di  Lu-liang-san dan mengundang bengcu muda yang tersohor namanya itu. Tentu saja maksud Temu Cin adalah hendak menarik hati bengcu ini, karena adalah menjadi cita-citanya  untuk kelak menyerbu ke selatan dan paling baik ia mendekati orang- orang gagah di selatan. Kalau sampai mereka ini mau membantunya, tentu kedudukannya menjadi makin kuat.

Temu Cin amat cerdik dan pandai mengambil hati orang- orang gagah. Untuk membagi hadiah ia berlaku royal sekali.

Akan tetapi sebagaimana telah di-tuturkan di bagian atas, Wan-bengcu tidak mau menerima undangan itu, bahkan mereka menjadi  bentrok dengan  Hui-eng Niocu  yang kebetulan berada di Lu-liang-san. Semua ini mereka laporkan kepada Temu Cin yang menyatakan ke-kecewaannya, kemudian tiga orang kakek . ini disuruh mengadaka.n hubungan dengan orang-orang kang-ouw di daerah selatan, yaitu di wilayah Negara Sung.

Berangkatlah Pak-kek Sam-kui. Mereka teringat akan hinaan yang mereka peroleh ketika di Lu-liang-san oleh Hui- eng Niocu, maka sambil membawa pasukan yang kuat, mereka singgah di Go-bi-san yang dekat dengan perbatasan negaranya untuk melakukan balas dendam, kalau perlu membasmi Hui-eng- pai. Akan tetapi siapa kira di situ mereka bertemu pula dengan Wan-bengcu yang membantu Hui-eng Niocu sehingga tiga orang kakek ini mengalami kekalahan dan terpaksa melarikan diri sambil membawa Tiang Bu yang dianggap sebagai penebus kekalahan mereka.

Dengan berhasil menculik murid Hui-eng Niocu atau bahkan calon murid Wanbengcu, tiga orang kakek ini sudah merasa puas dan mereka tidak mempedulikan lagi nasib pasukan yang mereka tinggalkan.

Pada suatu hari, setelah mereka melakukan perjalanan melalui Propinsi Shen-si dan Se-cuan mereka melintasi Sungai Yang-ce dan tiba di sebuah dusun di Propinsi Kwicu. Dusun ini terkenal sebagai tempat di mana seringkali terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara orang-orang di daerah selatan. Di sebelah selatan dusun ini terletak kota Cun-yi yang menjadi pusat perkumpulannya orang-orang gagah. Ke kota inilah yang menjadi tujuan Pak-kek Sam-kui. Akan tetapi oleh karena hari sudah mulai gelap ketika mereka tiba di dusun Ui-cun itu, mereka lalu bermalam di sebuah kelenteng yang sudah rusak dan nampak kotor karena tidak terurus. Ketika mereka memasuki kelenteng yang tidak berdaun pintu lagi itu, di dalam banyak terdapat sarang laba-laba. Bau tempat  itu pun  tidak enak sekali, tanda bahwa selain tidak terurus, juga tempat ini kotor sekali, berbau kencing dan kotoran manusia. Baru masuk

saja Tiang Bu sudah merasa muak. Akan tetapi Pak-kek Sam- kui dengan enaknya terus saja masuk dan melempar tubuh di atas lantai.

"Siauw-sute, coba kaucari makanan dan terutama minuman, aku merasa haus sekali," kata Ci Kui kepada Ang Louw. Si Muka Singa ini terkekeh-kekeh, kemudian tubuhnya berkelebat dan lenyaplah ia. Hanya bayangannya saja yang berkelebat cepat keluar dari pintu.

Baru saja Sin-saikong Ang Louw keluar,  terdengar dengkur dua orang kakek yang rebah di atas lantai! Tiang Bu duduk bersila setelah  membersihkan  lantai di  sudut ruangan itu, mengenangkan semua pengalamannya. Biarpun ia harus hidup tidak karuan, kadang-kadang dua hari tidak makan dan ada kalanya perutnya dipenuhi makanan lezat tiada habis-habisnya sampai kekenyangan, kadang-kadang ia disuruh berlari-lari naik turun gunung akan  tetapi karena tiga orang gurunya tidak sabar melihat kelambatannya, ia lebih sering digendong, namun tak boleh disangkal bahwa tiga orang gurunya yang buruk watak itu memperlakukan dengan baik. Telah ribuan li ia melakukan perjalanan bersama Pak-kek Sam-kui dan telah berbulan-bulan ia mengikuti mereka. Dan dia mendapatkan sesuatu yang amat menonjol pada diri  tiga  orang kakek yang kasar dan  jahat itu, yaitu watak setia kawan di antara mereka bertiga."

Tak lama kemudian  terdengar suara  terkekeh-kekeh  dari Si Muka Singa. Keadaan di dalam ruangan  kelenteng itu sudah gelap. Hanya Tiang Bu yang masih belum tidur, anak ini duduk mengatur pernapasannya seperti yang ia pelajari dari guru-gurunya dan menahan lapar yang menggerogoti isi perutnya. Hanya ada angin menyambar ketika Ang Louw masuk ke dalam ruangan itu dan  tak lama  kemudian nampak api menyala dan tiga batang lilin dipasang oleh Si Muka Singa ini  di  atas  meja sembahyang yang sudah bobrok. Selain lilin menyala ini, juga di atas meja kelihatan sepanci besar mi dan di sebelahnya terlihat hiolouw (tempat abu hio) besar sekali yang terisi ....... arak wangi! Dan lucunya, dua orang kakek yang tadinya tidur mendengkur, seperti disiram air dingin, tiba-tiba melompat bangun dan berteriakteriak.

"Arak ....... ! Arak ....... !" Mereka tertawa dan menyerbu meja. Bergantian tiga orang kakek ini minum arak wangi itu dari hiolouw besar begitu saja tanpa cawan lagi.

"Enak ....... enak ....... eh, Sute, kau mendapatkan arak dan mi ini dari mana?" kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw.

Adapun Giam-lo-ong Ci Kui lalu memanggil Tiang Bu untuk ikut makan mi yang ternyata memang enak sekali. Untuk minum arak dengan mengangkat hiolouw itu, tentu saja Tiang Bu tidak kuat, maka ia lalu minum arak menggunakan

....... tangannya yang dijadikan pengganti cawan! Anak berusia lima tahun ini sekarang sudah biasa minum arak keras.

Setelah tertawa bergelak, Ang Louw menjawab pertanyaan ji-suhengnya.

"Di dusun seperti ini, mana ada warung arak yang baik? Mana ada masakan mi yang selezat ini? Aku sudah putar- putar dan hanya mendapatkan warung arak yang menjual arak campur air. Baiknya hidungku tajam, aku mencium bau arak wangi keluar dari sebuah kelenteng.' Ketika aku masuk ke dalam, kulihat lima orang hwesio muda menghadapi arak dan masakan mi ini. Aku totok mereka, aku kumpulkan mi dalam panci dan karena di  sana tidak ada  guci besar, aku lalu mengambii hio-louw kelenteng itu, menuang-nuangkan- semua arak dari guci kecil, dan me mbawa semua ini ke sini setelah menyambar tiga buah lilin."

(Bersambung Jilid ke III)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain