Tangan Geledek Jilid 01

Jilid 01

LULIANG-SAN

Nama Pegunungan Luliang-san ini amat terkenal. Bagi rakyat jelata hanya terkenal sebagai pegunungan yang indah dan panjang, yang mempunyai banyak puncak tinggi menembus  awan dan sukar didatangi  orang. Akan tetapi bagi orang-orang di dunia kang-ouw, nama Pegunungan Luliang-san lebih terkenal lagi. Di pegunungan ini terjadi banyak hal-hal hebat yang takkan dapat mudah terlupa oleh tokoh-tokoh dunia persilatan.  Di sebuah  puncak pegunungan ini pula terdapat makam dari dua orang datuk persilatan, dua orang kakak-beradik seperguruan yang tinggi ilmu silatnya, yang pada saat terakhir sebagai dua orang kakek tua renta saling bunuh.

Di pegunungan ini pula menjadi perebutan kaum rimba persilatan kitab dan pedang warisan kakek sakti itu. Akhir- akhir ini Luliang-san menjadi makin terkenal karena bengcu baru yang memimpin semua partai persilatan bertempat di puncak pegunungan itu. Bengcu itu adalah Wan Sin Hong. seorang pendekar gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya. Pegunungan Luliang-san berderet-deret di sepanjang perbatasan Propisi Shensi sebelah timur, memisahkan Propinsi Shensi dari Propinsi Sansi. terus ke utara sampal di perbatasan Mongol. Bukit-bukit indah berjajar di sepanjang Sungai Huangho atau Sungai Kuning yang terkenal itu.

Karena pegunungan ini berada di lembah Sungai Huangho, maka tanahnya amat subur penuh tetumbuhan dan pohon besar.

Diantara puncak-puncak yang tinggi terdapat sebuah puncak yang menjulang  menembus  awan, puncak inilah yang amat terkenal karena di situlah adanya dua buah makam yang terkenal itu, makam dari dua orang kakek sakti kakak beradik seperguruan yang bernama Pak Hong Siansu dan suhengnya Pak Kek Siansu. Di puncak ini pula dahulu menjadi tempat pertapaan kakek sakti Pak Kek Siansu dan di sini terdapat bagian puncak yang disebut Jeng-in-thia (Ruang-an Awan Hijau). Indah sekali tempat ini dan jarang terinjak kaki manusia biasa.

Agak ke bawah terdapat tiga makam dari Luliang Sam- lojin (Tiga Orang Tua dari Luliang-san). Mereka ini adalah murid-murid Pak Kek Siansu yang tewas ketika orang-orang gagah memperebutkan kitab dan pedang wasiat peninggalan Pak Kek Siansu dan kesemuanya terjatuh ke dalam tangan Pendekar Besar Wan Sin Hong yang sekarang menjadi bengcu dan dipuja serta ditaati oleh seluruh dunia kangouw. (Baca PEDANG PENAKLUK IBLIS).

Waktu itu musim dingin telah tiba. Puncak Luliang-san diliputi hawa dingin yang luar biasa sekali.  Orang-orang biasa takkan kuat menahan serangan hawa dingin ini dan awan dingin merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau mencari korban. Matahari tak dapat menembus halimun yang amat tebalnya, hanya setelah matahari naik tinggi kabut itu mulai menipis dan orang akan dapat melihat ke depan. Setelah matahari naik tinggi barulah burung- burung dan binatang hutan berani ke luar. Tanpa lindungan matahari, biarpun tubuh para binatang ini diselimuti oleh bulu tebal, tetap saja kabut dingin akan menembus dan membunuh mereka. Apalagi di bagian puncak Jeng-in-thia itu! Dalam musim panas sekalipun puncak ini selalu diliputi awan kehijauan yang dingin.

Dalam musim dingin seperti itu, tak tertahankan lagi, baik oleh orang-orang yang sudah terlatih dan memiliki hawa dalam tubuh yung kuat sekalipun.

Akan tetapi, pada saat sedingin itu, seorang laki-laki muda belum tiga puluh tahun usianya, duduk berslla di depan gua Jeng-in--thia begitu asyik dia dalam semadhinya dan hawa yang perlahan-lahan ke luar dari lubang hidungnya merupakan uap putih, menimbulkan pemandangan yang menyeramkan karena ia kelihatan seperti bukan rnanusia melainkan seorang penjaga gunung itu. Apalagi setelah dari ubun-ubun kepalanya juga mengepul uap putih ke atas!

Orang ini bukan lain adalah Wan Sin Hong, bengcu daripada sekalian partai persilatan, semuda ini sudah menjadi bencu dan dianggap sebagai pemimpin oleh tokoh- tokoh seluruh dunia persilatan benar-benar merupakan hal luar biasa sekali dan menjadi bukti betapa tingginya ilmu kepandaian laki-iaki muda ini. Pada saat seperti itu, bengcu ini ternyata sedang berlatih lweekang! Semenjak pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam terjatuh di dalam tangannya dari seorang yang jahat seperti iblis bernama Liok Kong Ji (baca Pedang Penakluk Iblis), Wan Sin Hong memperdalam ilmu kepandaiannya berdasarkan pelajaran dalam kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang telah dibakarnya namun yang isinya telah pindah dalam ingatannya. Kitab wasiat itu memang mengandung sari pelajaran ilmu silat yang hebat. Juga di situ terdapat pelajaran ilmu Lweekang dan lain ilmu kesaktian tinggi.

Wan Sin Hong sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang dan dalam hal ilmu pedang, kiranya sukar dicari keduanya yang memiliki tingkat setinggi tingkatnya pada masa itu.

Akan tetapi ia masih muda dan dalam hal ilmu lweekang dan kesaktian lainnya, memerlukan latihan yang tekun dan lama di samping pelajaran yang tepat dan baik. Pelajaran ilmu lweekang yang terdapat dalam kitab warisan Pak Kek Siansu bukan hanya luar biasa, bahkan ajaib sehingga dalam usia muda Sin Hong sudah memiliki sinkang (hawa sakti dalam tubuh) yang luar biasa.

Apalagi selama empat lima tahun ini Wan Sin Hong melatih diri di Jeng-in-thia, puncak dari Luliang-san. lweekang yang ia pelajari terdiri dari dua bagian, yaitu bagian Yang (panas/aktip). Melatih-nya harus di bawah panas terik matahari, atau di dekat api unggun, di tempat yang sepanas-panasnya. Untuk melatih ini Sin Hong sengaja pergi ke daerah Mongol di utara dan berlatih di tengah gurun pasir yang panas luar biasa. Dan sekarang bengcu ini tengah berlatih lweekang bagian ke dua, yaitu bagian Im (dingin/ pasip) yang biasanya dilatih di tengah malam di puncak gunung pada saat 'hawa sedingin-dinginnya.  Sekarang musim dingin telah tiba, maka puncak Jeng-in-thia itu merupakan tempat yang amat baik sekali untuk melatih Im- kang (tenaga Im).

Setelah matahari naik tinggi dan uap putih dari kepala dan hidungnya menipis tanda bahwa di luar tidak begitu dingin lagi, Sin Hong menyudahi latihannya. Selagi ia menggerakkan tubuh hendak bangkit, telinganya yang tajam itu mendengar sesuatu dan matanya berkilat ke arah suara. Dilihatnya bayangan, orang sedang mendatangi dari bawah puncak.

Setelah tiba di puncak, sekali menggerakkan kaki bayangan itu telah tiba di hadapannya. Jarak yang dicapai oleh sekali lompatan ini tidak kurang dari lima tombak.

Melihat betapa kaki dan tangan orang itu hampir tidak kelihatan bergerak, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu ginkang (meringankan tubuh) dari orang itu. Sin Hong memandang tajam dan melihat seorang wanita muda dan cantik jelita berdiri di depannya. Wanita ini merias wajahnya secara sederhana sekali. Rambut yang hitam dan panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera kecil. Akan tetapi pakaiannya cukup indah dan mewah. Bajunya berkembang, di dadanya

terdapat lukisan burung garuda. Celananya terbuat dari-pada sutera halus berkembang pula. Pakaian yang ringkas ini mencetak tubuhnya dan membuat bentuk tubuhnya yang bagus nampak nyata.

Di pinggangnya tergantung pedang yang indah gagangnya, membuat ia kelihatan gagah sekali. Wajahnya yang cantik nampak kemerahan, bibirnya tersenyum akan tetapi sepasang alis di  atas mata bintang itu terangkat  tanda bahwa ia sedang tak senang hati.

"Wan Sin Hong, kau manusia sombong...!" inilah kata-kata pertama yang keluar dari bibir merah itu membuat Wan Sin Hong tersenyum.

"Hui-eng Niocu, kau masih belum berubah. Sama benar dengan beberapa tahun yang lalu!"

Wanita itu adalah Siok Li Hwa yang  berjuluk  Hui-eng Niocu (Nona Garuda Terbang) dan menjadi ketua dari Perkumpulan Hui-eng-pai yang berada di Go-bi-san. Dia masih gadis, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Li Hwa adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi karena dia adalah ahli waris tunggal dari Put-jiu Nio-nio, seorang nenek tokoh kang-ouw yang namanya pernah menggemparkan empat penjuru jagat.

Bibir yang merah dan indah bentuknya itu tersenyum mengejek.

''Orang gagah memang tidak seharusnya berubah-ubah, tanda bahwa kulit sama dengan isi. Tidak seperti engkau, setelah menjadi bengcu, kau berubah sama sekali. Hai, Wan- bengcu (Ketua Wan), apa namanya orang yang tidak memegang teguh janjinya?"

Melihat gadis itu makin naik darah. Sin Hong memperlebar senyumnya. "Namanya tentu saja orang pelupa atau seorang yang tidak boleh dipercaya."

"Sin Hong, kau termasuk golongan pertama atau ke dua?" kata-kata gadis ini dikeluarkan dengan suara penuh penjelasan.

"Ini ...... hemmmm, entahlah, Niocu, Mungkin kedua- duanya."

"Kau memang berubah banyak sekali semenjak menjadi bengcu. Kau pertapa muda yang pikun, mengapa menyebut Niocu kepadaku? Apa kau sudah lupa lagi siapa namaku? Kalau lupa, kuingatkan. Namaku Siok Li Hwa dan dahulu kau menyebutku cukup memanggil namaku saja. Atau kau sengaja mengubah sikap!"

"Aaah, aku lupa. Maafkahlah, karena sudah lama, aku lupa dan tentu saja aku tadi tidak berani sembarangan menyebut namamu. Sekarang aku ingat, maafkan aku, Li Hwa."

"Sedikitnya kau masih mau mengubah kesalahan," Li Hwa mengomel dan tampak agak senang. "Kau tadi mengaku mungkin kau pelupa dan tak boleh dipercaya. Memang kau pelupa dan pikun ini sudah terang. Akan tetapi apakah kau tak boleh dipercaya?"

"Agaknya begitulah, Li Hwa. Orang pelupa mana boleh dipercaya?" Li Hwa membanting-banting kakinya.

"Sin Hong, apakah kau sengaja hendak mempermainkan aku? Lupakah akan janjimu dahulu bahwa kau pasti datang ke Go-bi -san mengunjungi aku? Mengapa sampai sekarang kau belum pernah datang? Dahulu aku memberi waktu setahun, dan aku telah menanti-nanti sampai bertahun- tahun. Sin Hong, kau benar-benar tak punya hati dan menyiksa aku secara kejam sekali ...... " Gadis ini tiba-tiba menjadi merah matanya, tanda bahwa air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.

Tentu saja Wan Sin Hong ingat akan semua itu, ingat bahwa dahulu memang ia berjanji hendak mengunjungi gadis itu di Go-bi-san. Masih ingat ia betapa empat lima tahun yang lalu berjumpa untuk pertama kalinya dengan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa ini di puncak Ngo-heng-san di mana sedang diadakan perebutan bengcu (baca Pedang Penakluk Iblis). Di puncak itu Li Hwa selain menyatakan hendak menanti kunjungannya dan hendak mencari kalau selama setahun dia tidak juga datang mengunjungi, juga gadis ini dengan terus terang menyatakan cinta kasihnya!

Inilah sebetulnya yang memberatkan hatinya. Kalau dahulu Li Hwa tidak menyatakan cinta kasihnya, agaknya ia sudah mengunjungi gadis itu di Go-bi-san. Akan tetapi perasaan gadis itu terhadapnya membuat Sin Hong merasa bingung dan serba salah.

"Jangan kau marah, Li  Hwa. Selama ini  aku sibuk, banyak terjadi kekacauan di dunia  kang-ouw dan  aku sebagai bengcu tentu saja berkewajiban untuk membereskan semua ini."

"Aku pun tahu akan hal itu, Sin Hong, kau kira aku tidak tahu akan segala gerak-gerikmu selama ini? Kau telah meredakan pertikaian yang timbul antara Teng-sanpai dan Kong-thong-pai di An-wei, kau telah membantu Siauw-lim-pai menangkap muridnya yang murtad di daerah Shantung, kau telah memulihkan keamanan di sekitar Ta-pa-san, dan kau telah membantu membereskan keributan di Kun-lun-pai karena pemilihan Ketua. Akan tetapi aku juga  tahu bahwa kau telah berjasa besar dalam menindih penyelewengan kaum liok-lim yang berpusat di kaki Go-bi-san. Kau sudah sampai da sana, sudah dekat tempat tinggalku,  mengapa tidak juga berkunjung? Pendeknya, kau ini menjadi

sombong, atau memang sudah lupa kepadaku, atau barang kali sengaja kau menjauhkan diri karena kau benci

kepadaku!" Sekarang air mata itu tak dapat ditahan lagi, menitik turun ke pipi bertitik-titik.

Sin Hong melongo. Bagaimana gadis ini benar-benar mengetahui segala sepak terjangnya selama ini? Behar-benar seorang gadis luar biasa sekali!

"Bukan itu saja, Li Hwa. Terus terang saja, selebihnya waktu selama ini kupergunakan untuk melatih Lweekang dan "

"Tak perlu menjual omongan seperti tukang obat! Kau kira aku pun tidak tahu? Kau pergi ke daerah Mongol, berjemur di tengah gurun pasir. Ah, kukira kau sudah gila, tidak tahunya kau melatih Yang-kang yang luar biasa. Kau ingat untuk melakukan hal-hal baik,  akan  tetapi lupa  untuk mengunjungi aku. Sin Hong, kau tahu bahwa aku cinta kepadamu.  Di  dunia  ini hanya  kau seorang yang kucinta, dan hanya satu kali saja dalam hidupku aku mencinta orang.

Akan tetapi kau betul-betul tidak mempunyai hati, kau kejam."

Kembali Sin Hong melengak. Kalau gadis itu mengetahui akan semua yang ia lakukan selama ini, tidak bisa lain tentu gadis ini melakukan pengintaian, atau mungkin juga anggauta-anggauta Hui-eng-pai yang melakukan. Demikian besar perhatian gadis ini terhadap dirinya sampai bertahun- tahun masih saja ingat dan mengejar-ngejar, membuktikan bahwa cinta kasihnya bukan main-main!

Selagi Sin Hong berpikir-pikir untuk mencari alasan dan untuk memberi jawaban  yang tepat  dan tidak menyakitkan hati, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki orang mendatangi dari bawah puncak. Biarpun yang berjalan itu memiliki kepandaian tinggi, namun Sin Hong yang sudah terlatih baik itu dapat mendengar datangnya tiga orang yang naik ke puncak, Sin Hong menjadi bingung. Biasanya yang datang mengunjungi tentu tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama.

Kalau sampai mereka melihat dia sedang bercakap-cakap dengan Li Hwa, seorang gadis muda yang cantik, tentu mereka akan salah sangka dan mengira yang bukan-bukan.

"Li Hwa, ada orang datang. Harap kau masuk ke gua dulu."

"Aku tahu ada orang datang. Biar saja, aku tidak takut kepada mereka!" katanya gagah sambil meraba gagang pedangnya.

"Kalau yang datang orang jahat masih tidak mengapa, akan tetapi kalau mereka itu sahabat-sahabat kang-ouw, bukankah akan ...... akan tidak baik ?"

"Sin Hong, orang muda canggung seperti engkau ini masih menjadi bengcu? Hemm, sungguh lucu. Kau takut apakah? Seorang gagah tidak akan rnundur setapak, tidak akan takut menghadapi apa pun juga asal dia berdiri di atas ke benaran, Kita berdua tidak melakukan pelanggaran apa- apa mengapa kau takut-takut dan malu-malu?"

Sin Hong terpukul. Memang ucapan gadis ini tepat sekali. Diam-diam ia pun merasa aneh. Kalau dia sudah tidak ambil pusing tentang gadis ini, tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap gadis ini, mengapa kehadirannya membikin dia merasa malu kepada orang lain?

Sementara itu, dari bawah puncak berkelebat tiga bayangan orang dan di  lain saat, tiga  orang aneh  telah berdiri menghadapi Sin Hong dan Li Hwa. Sin Hong kaget bukan main melihat orang-orang ini. Melihat cara mereka naik ke puncak membuktikan kelihaian mereka. Akan tetapi bukan ini yang mengejutkan Sin Hong, melainkan wajah dan keadaan tubuh mereka itu. Orang pertama bertubuh jangkung kurus dengan jari-jari tangan panjang berkuku seperti cakar setan, nampaknya kuat bukan main. Kepalanya gundul pelontos tidak kelihatan akar rambut sehelai pun, agaknya kulit kepala itu sudah mati. Tidak saja  gundul bahkan kepala itu potongannya lonjong ke atas pletat-pletot seperti buah waluh. Orang ke tiga lebih lucu lagi. Tubuhnya kurus kering seperti cecak mati, apalagi sepasang lengannya hanya kulit, membungkus tulang seperti rangka jerangkong. Dilihat dari depan, kepalanya seperti gundul akan tetapi kalau orang melihat dari samping atau belakang, kepalanya ada rambutnya lurus ke belakang seperti duri binatang landak. Matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya lebar.

Potongan mukanya tajam hingga kalau dilihat dari samping, persis kepala burung siluman! Seperti juga si kepala gundul, si botak ini potongannya tidak karuan ma- camnya. Bedanya kalau si gundul itu memakai selendang pada dadanya yang mengalungi pundaknya, adalah si botak ini setengah telanjang karena bajunya terbuka dan awut- awutan!

Orang ke tiga paling menyeramkan. Tubuhnya besar dan kuat. Mukanya seperti singa dan rambutnya memenuhi kepala, kasar dan panjang riap-riapan, pakaiannya seperti yang biasa dipakai oleh pertapa, longgar dan sederhana.

"Iiihh, kalian ini manusia atau silu... man?" Li Hwa bertanya sambil melangkah mundur dan mencabut pedangnya. Akan tetapi Sin Hong menegurnya dengan pandangan mata, kemudian ia melangkah maju dan menjura dengan penuh hormat. "Kedatangan Sam-wi Locianpwe yang terhormat, di puncak Jeng-in-thia dari Luliang-san ini, aku yang muda mengucapkan selamat datang.  Tidak tahu Sam- wi Locianpwe datang dari mana dan ada keperluan apakah?"

Tiga orang itu saling pandang, kemudian bagaikan mendapat komando, ketiganya tertawa terbahak-bahak. Suara ketawa mereka nyaring, aneh dan menyeramkan sehingga terdengar seperti ringkik kuda dan suara burung hantu. Mendengar suara ketawa ini, bulu tengkuk Li Hwa sampai meremang semua. Gadis ini maklum bahwa di dalam suara ketawa ini terkandung pengerahan khi-kang yang kuat, maka cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi bagian-bagian lemah dari tubuhnya agar jangan terpengaruh oleh suara ketawa itu.

Si Jangkung Gundul melangkan maju. "Apakah kau Wan- bengcu?" Suaranya serak dan kasar seperti burung gagak.

"Aku yang muda memang betul Wan Sin Hong yang mendapat kehormatan dipilih sebagai bengcu."

Kembali tiga orang itu saling pandang dan tertawa bergelak. Kakek ketiga yang rambutnya riap-riapan dan mukanya seperti Singa itu menoleh ke arah Li Hwa sambil menyeringai, kemudian tanyanya dengan suara yang besar dan dalam sekali, "Si manis itu binimu?" 

Sebelum Sin Hong menjawab, Li Hwa sudah membentak marah. "Siluman busuk jangan asal buka mulut saja! Aku Hui-eng Niocu Siok Li Hwa kalau sudah merasa terhina, tidak akan menjanin kepalamu tinggal utuh lagi!"

"Aduh galaknya'" kata Si Jangkung Gundul yang menyambut kata-katanya dengan suaranya yang parau menyakitkan telinga. "Wan-bengcu, ketahuilah bahwa aku bernama Ci Kui, mereka berdua ini adalah sute-suteku."

"Aku Ang Bouw," kata Si Botak.

"Aku Ang Louw," kata Si Rambut Riap-riapan.

Li Hwa mengeluarkan suara menyindir lalu berkata nyaring. "Sudah lama aku mendengar bahwa raja besar di utara makin berkuasa dan pemerintahnya  makin  maju berkat bantuan orang-orang pandai dari barat dan dari utara. Di  antara mereka itu ada  yang disebut Pak-kek Sam-kui (Tiga Siluman dari Kutub Utara) tidak tahu apakah kalian ini yang disebut Pak-kek Sam-kui?"

Tiga orang kakek aneh itu saling pandang, kemudian tertawa besar. "Tidak kusangka Nona mengenal nama besar kami. Memang betul, kami bertiga yang dimaksudkan dengan sebutan Pak-kek Sam-kui itu. Aku berjuluk Giam-lo- ong (Raja Maut), Sute Ang Bouw ini Liok-te Mo -ko (Iblis Bumi), Sute Ang Louw disebut Sinsai-kong (Pendeta Singa Sakti)."

"Setelah kami mengenal Sam-wi, apakah selanjutnya yang Sam-wi kehendaki dengan kunjungan ini?" tanya Sin Hong yang merasa tidak senang mendengar bahwa mereka ini adalah pembantu-pembantu dari Temu Cin, raja baru di Mongol yang makin lama makin berkuasa dan merupakan ancaman bagi pedalaman Tiongkok.

Dengan mulut terkekeh Giam-lo-ong Ci Kui Si Kepala Gundul menjawab, "Wan-bengcu, kami datang bukan dengan maksud buruk. Kami adalah utusan raja besar kami, disuruh mencarimu mengundangmu ke Mongol. Khan (Raja) kami ingin berjumpa dengan Wan-bengcu, oleh karena itu Wan- bengcu diperintahkan untuk segera menghadap ke sana bersama kami."

Terang bahwa tiga orang kakek aneh yang menjadi utusan Raja Mongol itu memandang rendah kepada bengcu yang masih muda ini, buktinya undangan itu mereka ubah menjadi perintah menghadap. Akan tetapi Sin Hong masih bersikapsabar. Dengan senyum lebar ia berkata.

"Apakah Sam-wi tidak salah? Mungkin bukan aku yang diperintahkan menghadap oleh karena selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan rajamu. Aku dan dia tidak pernah berkenalan, bagaimana bisa tahu tentang diriku dan minta menghadap?"

"Wan-bengcu jangan salah mengerti. Sudah tentu Khan kami mendengar tentang diri bengcu maka bengcu dipanggil menghadap. Khan kami mengenal bengcu dari keterangan Thian-te Bu-tek Taihiap."

Sin Hong dan Li Hwa heran mendengar sebutan ini. Thian-te Bu-tek Tai-hiap berarti Pendekar Besar Tanpa Tandingan di Seluruh Dunia! Siapa orangnya yang sudah begitu nekad dan berani mati menggunakan julukan macam itu? "Harap Sam-wi sampaikan terima kasihku kepada rajamu atas undangan itu, juga maafkan bahwa aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaannya.  Aku pun  tidak pernah kenal dengan orang yang mengaku sebagai Thian-te Bu-tek Taihiap itu. Kalau rajamu ada kepentingan sesuatu boleh disampaikan melalui utusan saja, tak usah. aku datang menghadap kesana.”

"Wan-bengcu, jangan sekali-kali kau berani memandang rendah kepada tai-hiap!" kata Sin-sai-kong Ang Louw dengan suaranya seperti singa mengaum.

"Wan-bengcu harap jangan menolak. Raja kami sudah berlaku sabar dan baik terhadapmu sehingga tahun lalu ketika bengcu melanggar wilayah Mongol di gurun pasir, kami tidak berbuat sesuatu " kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw.

Kaget hati Sin Hong mendengar ini. Jelas bahwa Temu Cin Raja Mongol itu benar-benar mempunyai pembantu- pembantu yang hebat sehingga ketika ia berlatih lweekang di gurun pasir, mereka juga mengetahui

"Maafkan, terpaksa aku membikin kecewa Sam-wi Locianpwe. Sungguh aku tidak dapat memenuhi kehendak rajamu untuk menghadap."

Tiga orang kakek itu nampak marah. Sayang," kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw dengan suaranya yang tinggi kecil, "sayang sekali tai-hiap melarang kita turun tangan. Kalau tidak ingin aku mencoba-coba kelihaian bengcu yang muda ini. Hi hi hi

...”.

Kalau Wan Sin Hong mendengarkan dengan sabar dan tenang, adalah Li Hwa yang menjadi panas hatinya. Digerak- gerakkan pedangnya di depan dada dan ia membentak.

"Kalian ini tiga siluman macam apakah? Bukan begitu menjadi  utusan raja. Kalian sudah  menyampaikan undangan, yang diundang sudah menolaknya, kau tinggal melapor kepada yang mengutus. Habis perkara. Mengapa banyak cerewet dan ngoceh di sini? Mau coba-coba mengapa mesti ada perkenan dari segala macam taihiap? Kalau sudah bosan hidup dan mau coba-coba, majulah. Tak usah dengan bengcu, dengan aku pun kalian  bertiga  siluman-siluman jelek boleh maju terima binasa!"

"Li Hwa, jangan kasar terhadap tamu ...... " Sin Hong mencegah.

Sin-sai-kong Ang Louw yang wataknya mata keranjang, mendengar tantangan Li Hwa ini, segera melompat maju dan berkata kepada suhengnya.

"Suheng, kita belum boleh mengganggu Wan-bengcu, akan tetapi tiada jeleknya main-main sebentar dengan Nona manis ini."

Sebelum Giam-lo-ong Ci Kui menjawab, Li Hwa dengan pedang hijaunya menyerang Ang Louw. Pedang di tangan nona ini lenyap berubah menjadi sinar hijau yang menyilaukan mata. Ini tidak mengherankan oleh  karena yang dipegangnya itu adalah Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau), pedang pusaka peninggalan mendiang Pat-jiu Nio-nio gurunya. Apalagi yang memainkan adalah Li Hwa yang memiliki kiamsut (ilmu pedang) tinggi dan gerakannya cepat bagaikan kilat menyambar.

"Pedang bagus!" Pendeta bermuka singa itu menggeram.

Suaranya menggetar seperti  auman singa.  Kalau Li Hwa tidak memiliki sinkang yang tinggi tentu akan lumpuh mendengar geraman. Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga, tetap saja jantungnya berdebar dan kedua kakinya agak gemetar karena pengaruh geraman ini sehingga ia terkejut bukan main dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Pedangnya membuat gerakan memutar, lalu meluncur maju dengan gerakan berlenggok seperti ular merayap, mengarah tubuh lawan bagian dada,  sukar diketahui lebih dulu ke mana pedang hendak menusuk, ke tenggorokan atau ke ulu hati. Inilah gerak tipu ilmu pedangnya yang disebut Hui-eng- tok-cia (Garuda Terbang Mematuk Ular), sebuah )urus lihai dari ilmu pedangnya Hui-eng-kiam-sut. Akan tetapi, Sin-sai-kong Ang Louw ternyata bukan

orang sembarangan. Melihat hebatnya tusukan pedang yang mengarah dua jurusan ini, ia berlaku tenang dan otomatis kedua lengannya diangkat, sepuluh jari tangannya yang berkuku singa menjaga di depan dada, yang kini menjaga ulu hati, yang kanan menjaga dekat leher. Pedang sinar hijau datang menusuk, secepat kilat menerobos hendak menusuk ulu hati.

"Cringgg ...... !" Pedang terpental akan tetapi terus meluncur agak ke atas, kini menusuk tenggorokan. Kembali Ang Louw menggerakkan tangan dan sekarang jari tangan kiri melakukan gerakan menyentil.

Sin Hong kagum sekali. Menangkis pedang setajam pedang pusaka Cheng-liongkiam hanya  dengan sentilan kuku jari, benar-benar hanya mampu dilakukan oleh orang- orang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Ia maklum bahwa kakek bermuka singa ini merupakan lawan berbahaya dan tangguh sekali bagi Ll Hwa, maka ia segera berseru.

"Li Hwa, cukuplah main-main ini'"

Akan tetapi gadis seperti Siok Li Hwa ini mana mau mengalah dan puas begitu saja? Ia memang berwatak aneh dan tidak pernah kenal apa artinya takut.

"Aku harus memberi hajaran kepada singa kaki dua ini!" serunya dengan penasaran karena pedangnya ditangkis lawan dua kali hanya dengan sentilan kuku jari. Cepat ia mengerahkan tenaga pada dua kakinya dan  tahu-tahu tubuh yang langsing itu melesat ke atas bagaikan seekor burung garuda dan ketika lawannya memandang ke atas, secepat garuda menyarnbar Li Hwa melayang turun dengan pedang bergulung merupakan sinar hijau menyambar- nyambar ke arah lawannya dari atas. Serangan ini lebih hebat dari tadi dan inilah ilmu serangan yang di-sebut Hui- eng-lothian (Garuda Terbang Mengacau Langit). "Lihai sekali !" Sin-sai-kong Ang Louw berseru kaget.

Ia tidak dapat menangkis seperti tadi karena kini pedang pusaka itu bukan menusuk, melainkan menyambar dengan bacokan hebat. Juga untuk mengelak sukar sekali karena serangan datang dari atas secara bertubi-tubi. Terpaksa Si Muka Singa ini menggulingkan dirinya ke atas tanah. Sambil bergulingan kedua tangannya bergerak-gerak ke atas melindungi tubuh sehingga ketika  Li Hwa  turun menusuknya berkali-kali, kembali terdengar suara nyaring "cring, cring, cring ...... !" dan kini pertemuan antara pedang pusaka dan kuku jari  tangan  itu bahkan  menimbulkan bunga api berpijar!

"Hebat ...... !" Sin Hong berkata perlahan menahan napas menyaksikan kelihaian Si Muka Singa ini.

Li Hwa menjadi marah, dan ketika melihat kesempatan baik, kaki kirinya bergerak dan sebuah tendangan tepat mengenai pundak lawannya yang masih bergulingan sehingga tubuh lawannya itu terlempar tiga tombak lebih! Hebatnya begitu tiba di tanah, si Muka Singa melompat berdiri, sama sekali tidak kelihatan sakit atau terluka, padahal tendangan Li Hwa tadi dapat membunuh lawan lain dengan mudah.

"Hui-eng Niocu lihai sekali!" kata Sin-sai-kong Ang Louw sambil menyeringai dengan muka mengandung ejekan.

"Cukup, Sute. Jangan-jangan kita mendapat marah dari. taihiap kalau sampai salah tangan," kata Giam-lo-ong Ci Kui.

"Kita sudah menguji kelihaian ilmu silat dari Hui-eng Niocu, juga kelihaian ilmu pengobatan dari Wan-bengcu. Nah, Wan-bengcu, sampai jumpa kembaii dalam waktu dekat." Setelah berkata demikian, Giam-lo-ong Ci Kui melompat sambil menyambar tangan Liok-te Mo-ko Ang

Bouw, di lain fihak Ang Bouw juga menyambar tangan Sin- sai-Kong Ang Louw adiknya dan di lain saat tiga orang kakek itu sambil bergandengan  tangan  melayang turun  dari puncak Jeng-in-thia. "Sungguh mereka itu lihai ...... " kata Sin Hong sambil menghela napas. "Kalau orang-orang seperti itu datang memusuhi dunia kang-ouw, tugasku makin berat saja."

"Sin Hong, mengapa kaupusingkan semua itu? Lihat, jauh-jauh dari Mongol orang datang mencari kau yang menjadi bengcu. Mari kautinggalkan tempat ini dan ikut aku ke  Go-bi-san saja, di  mana kita bisa hidup tenteram. Aku yang menjamin bahwa hidupmu akan bahagia dan tidak terganggu, Sin Hong." Kata-kata ini diucapkan penuh perasaan oleh Li Hwa sehingga suaranya menggetar. Tangan kanan yang memegang pedang tergantung di samping, ujung pedangnya menyentuh tanah.

Sin Hong tersenyum. "Terima kasih, Li Hwa. Kau baik sekali. Akan tetapi aku tak dapat memenuhi ajakanmu itu. Tak mungkin aku meninggalkan kawan-kawan, apalagi kalau keadaan mereka terancam oleh orang-orang Mongol itu."

"Sin Hong, mengapa kau begitu keras hati? Kau tahu aku mencintaimu, dan hasrat hidupku satu-satunya hanya ingin membahagiakan kau, ingin hidup di sampingmu menghabiskan usia yang tidak berapa banyak lagi ini. Sin Hong, kita sudah sama-sama bertambah tua, mau tunggu kapan lagi kalau kita tidak lekas-lekas berumah tangga? Sin Hong, apakah sedikit pun kau tidak dapat membalas cinta kasihku yang setulusnya?" Suara gadis itu kini  merayu penuh keharuan.

Sin Hong merasa susah sekali. Dengan bingung ia menggosok-sosok dagunya dan kemudian ia mengeraskan hati mengambil keputusan untuk memberi jawaban yang sebenamya.

"Li Hwa, kau tadi bilang bahwa kau hanya dapat mencinta seorang saja di dunia ini. Demikian pun aku, Li Hwa. Aku pernah mencintai seorang gadis dan biarpun aku gagal dalam percintaan itu, akan tetap setia kepadanya dan tidak mungkin aku menerima cinta kasih gadis lain." Muka Li Hwa menjadi pucat sekali kemudian berubah merah. Matanya memancarkan cahaya berapi penuh cemburu dan kecewa.

"Kau mencinta Gak Soan Li?" tanyanya sambil melintangkan pedangnya di dada, tangan kirinya menuding ke dada Sin Hong.

Disebutnya nama Gak Soan Li mengingatkan Sin Hong akan semua pengalamannya yang dulu. Pengalaman yang menyedihkan. Gak Soan Li adalah seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa, murid Hwa I Enghiong yang masih terhitung suhengnya sendiri. Gak Soan Li mencinta kepadanya, cinta kasih yang murni dan suci, mencinta kepadanya dengan sepenuh jiwa biarpun gadis itu mengira dia seorang pemuda tani biasa saja, karena dalam pertemuannya dengan Gak Soan Li dia mengaku sebagai seorang pemuda dusun. Sampai gadis itu menjadi gila oleh karena perbuatan keji dari manusia iblis Liok Kong Ji, gadis itu masih terus mencintanya sepenuh  hati.  Sekarang gadis itu telah menjadi isteri muda dari Pangeran Wanyen Ci Lun yang wajahnya sama benar dengan dia karena memang Wanyen Ci Lun itu masih terhitung saudara misannya  dan dia sendiri adalah keturunan Pangeran Wanyen juga. Semua ini terbayang kembali di depan matanya membuat ia termenung (baca Pedang Penakluk Iblis).

"Sin Hong, kau betul-betul mencinta Gak Soan Li yang sudah menjadi isteri Pangeran Wanyen Ci Lun?" tanya lagi Li Hwa dengan suara sayu.

Sin Hong menggeleng kepalanya dengan ragu-ragu.

Memang sejak dahulu ia pun ragu-ragu, entah Soan Li entah Hui Lian yang telah merampas hati dan cinta kasihnya.

Terhadap dua orang wanita ini ia mempunyai kenangan mesra.

"Kalau begitu, tak salah lagi, kau tentu mencinta Go Hui Lian'" kata pula Li Hwa yang mulai menangis. "Cih laki-laki tak tahu malu. Sin Hong, di manakah kegagahanmu? Ke mana perginya semangatmu? Go Hui Lian sudah menjadi isteri orang, mungkin sekali sudah menjadi ibu, dan kau masih setia dan tetap mencinta kepadanya? Bukankah perasaan yang demikian itu rendah dan hina?"

Sin Hong hanya menundukkan kepala, keningnya berkerut, pandang matanya muram, nampaknya bersedih sekali. Melihat ini, Li Hwa menjadi kasihan lagi. la melangkah maju, ditariknya lengan Sin Hong.

"Sin Hong, lupakanlah kenangan lama. Marilah kau ikut aku ke Go-bi-san. Biarpun kau tidak menyintaku, biarlah. Aku cukup bahagia kalau melihat kau hidup tenteram dan aku dapat melayanimu, dapat selalu berada di sampingmu

...... "

Sin Hong memandang kepada gadis itu, hatinya terharu.

Alangkah akan bahagianya hidup bersama seorang isteri seperti Li Hwa ini. Kalau saja ia dulu bertemu dengan Li Hwa sebelum ia berjumpa dengan Soan Li dan Hui Lian. Kini tak dapat ia berlaku rendah, tak mau ia menuruti maksud gadis itu hanya untuk menghibur hatinya. Tidak tega ia mempermainkan cinta kasih yang begitu mendalam dari gadis ini.

"Tidak, Li Hwa. Aku akan berbuat keliru dan berdosa kalau aku ikut dengan engkau. Aku tidak berharga untukmu. Pula, tugasku masih berat, dan aku harus memenuhi tugas dan kewajibanku sebagai bengcu yang

sudah mendapat kepercayaan semua saudara di dunia kang- ouw."

Li Hwa menjadi lemas. "Kau kau dulu berjanji

hendak datang ke Go-bi san ...... aku selama ini menanti- nanti ...... ternyata sia-sia ...... Sin Hong, kau menyakiti hatiku. Kalau aku bersaing dalam cinta kasih dengan seorang gadis lain, aku akan mengalah. Akan tetapi, sainganku adalah isteri orang, mungkin ibu anak-anak. Kau terlalu menghinaku!" Li Hwa membanting- banting kakinya. Tiba- tiba ia menjerit dan roboh pingsan. Tubuhnya tentu akan terbanting di atas tanah kalau saja Sin Hong tidak cepat-cepat memeluknya. Wajah gadis itu menjadi kebiruan, matanya mendelik dan mulutnya berbusa.

Sin Hong kaget sekali. Dia adalah ahli waris dari Tabib Dewa Kwa Siucai, sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis itu telah menjadi korban

racun yang amat berbahaya. Ia tidak melihat datangnya

senjata gelap dan tidak melihat seekor pun binatang berbisa yang menggigit  gadis  itu. Mengapa begitu  membanting- banting kaki kirinya gadis itu lalu menjerit roboh pingsan? Sin Hong membaringkan Li Hwa di atas rumput, lalu ia cepat melepaskan sepatu kiri gadis itu dan memeriksa. Ternyata di dekat ibu jari di telapak kaki kiri itu terdapat sebuah bisul merah kecil sekali.

"Kurangajar, ini tentulah perbuatan Sin-saikong Ang Louw." gerutunya dan tahulah ia kini apa artinya kata-kata Giam-lo-ong Ci Kui yang menyatakan bahwa mereka telah menguji ilmu pengobatan dari Wan-bengcu. Tidak ia sangka sama sekali bahwa di waktu Li Hwa menendang tubuh Sin- sai-ong Ang Louw sampai terguling-guling tadi, Si Muka Singa ini telah berhasil melukai kaki gadis itu, luka yang dilakukan dengan sebuah jarum halus berbisa! "Benar-benar mereka lihai. Berbahaya sekali orang-orang seperti itu menjadi lawan," katanya sambil memeriksa luka di kaki Li Hwa yang membengkak.

Dengan jarum peraknya, Sin Hong menusuk beberapa jalan darah di kaki  kiri, kemudian membelek sedikit  kulit kaki dekat luka itu, mengeluarkan jarum yang halus berbisa, mengeluarkan pula darah kehijauan yang berada di sekitar luka. Setelah itu, ia menempelkan telapak tangannya di pinggang gadis itu, mengerahkan hawa sinkang untuk memunahkan racun di tubuh Li Hwa. Perlahan-lahan muka yang kebiruan itu mulai menjadi merah lagi.

Setelah yakin bahwa gadis ini telah terhindar dari pengaruh racun, Sin Hong menarik kembali tangannya, mengatur pernapasannya supaya pulih kembali, kemudian ia mengobati luka bekas belekan dengan obat tempel yang luar biasa manjurnya sehingga dalam sekejap saja, kulit yang dibelek telah rapat kembali.

Setelah bahaya lewat dan hati pemuda ini merasa tenteram, baru ternyata olehnya betapa mungil dan bagus bentuknya kaki kiri Li Hwa yang dipegang-pegangnya itu. Teringatlah ia akan pengalamannya dahulu ketika ia menolong Gak Soan Li dan menyambung tulang tulang kedua paha gadis itu yang remuk dipukul oleh seorang penjahat keji bernama Giok Seng Cu (baca Pedang Penakluk Iblis). Wajahnya menjadi merah dan hatinya berdebar. Cepat- cepat ia mengenakan kembali kaus kaki dan sepatu di kaki gadis itu.

Li Hwa membuka matanya. Cepat ia meloncat berdiri dan menyambar  pedang  Cheng-liong-kiam  yang tadi terletak di atas tanah. Ia memandang kepada Sin Hong dan mulutnya meringis sedikit menahan sakit ketika kaki kirinya dipakai berdiri. Ada rasa perih sedikit karena luka bekas belekan belum sembuh benar.

"Li Hwa, kau tadi pingsan karena pengaruh racun jarum gelap yang dilepaskan oleh Sin-sai-kong Ang Louw pada kakimu ketika kau menendangnya tadi. Aku telah melepaskannya dan mengobatinya, kau akan sembuh "

Li Hwa nampak tercengang. Hal ini tidak pernah diduganya dan kini ia ber-kata dengan suara cemas.

"Sin Hong, mereka begitu lihai ! Kalau mereka

datang lagi dan mengeroyokmu Marilah kau ikut aku

saja ke Go-bi-san, di sana aman dan mereka tak mungkin dapat memasuki daerahku."

Sin Hong terharu. Gadis ini yang baru saja terlepas dari bahaya maut, tidak memikirkan keadaan diri sendiri, sebaliknya begitu siuman dan mendengar tentang kelihaian musuh, malah merasa cemas untuk keselamatannya. Dari sini saja dapat dilihat nyata betapa besar cinta kasih gadis ini terhadap dirinya.

"Aku akan melawan mereka, Li Hwa. Kau pulanglah dan rawat dirimu bai k-baik." Air mata bercucuran dari sepasang mata yang jelita itu. Dengan terisak-isak gadis ini berkata.

"Merawat diri baik-baik? Untuk apakah? Kau kau

menolak dan mencinta seorang wanita yang sudah menjadi isteri orang lain. Kau terlalu menyakiti hati-ku, kau terlalu menghinaku ...... " Dengan isak tertahan gadis ini melompat, tidak mempedulikan lagi telapak kaki kirinya yang sakit, lalu lari cepat turun dari puncak Jeng-in-thia.

Sin Wong menahan napas, menyilang-kan lengan di depan dada dan menundukkan kepala, kedua matanya dipejamkan. Sampai lama ia berada dalam keadaan demikian, kemudian terdengar ia menarik napas panjang berkali-kali.

-oo0mch0oo-

Kim-bun-to (Pulau Pintu Emas) adalah sebuah pulau kecil yang indah di dekat pantai timur. Pulau ini dekat saja dengan pantai, hanya terpisah oleh air laut sejauh dua li.

Rumah-rumah di atas pu-lau itu kelihatan jelas dari pantai. Oleh karena air laut yang memisahkan pulau dan daratan Tiongkok ini airnya selalu tenang, jernih, dan banyak ikannya, maka tempat ini menjadi tempat pesiar dan terkenal di seluruh Tiongkok. Selain menjadi tempat menghibur hati, juga pantainya menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Rumah di Kim-bun-to bagus-bagus dan kelihatan semua masih baru. Memang, lima tahun yang lalu, rumah-rumah di atas pulau ini telah dibakar habis oleh barisan Pemerintah Kin yang ditipu oleh penjahat siluman Liok Kong Ji.

Akhirnya, berkat bantuan Pangeran Wanyen Ci Lun, kaisar insyaf akan kekeliruannya dan memerintahkan supaya semua rumah yang terbakar diganti dengan rumah baru!

Pulau ini menjadi makin tersohor semenjak terjadi peristiwa serbuan oleh tentara Pemerintah Kin itu. Di atas pulau itu terjadi geger besar yang mengguncangkan dunia kang-ouw. Terjadi pertempuran hebat antara tokoh-tokoh persilatan yang terkenal menjagoi dunia kang-ouw di masa itu. Dalam pertempuran inilah jago-jago silat berguguran, di antaranya Cam-kauw Sin-kai, sepasang suami isteri Pendekar Go Ciang Le yang berjuluk Hwa I Enghiong dan isterinya Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan, dan masih banyak orang-orang gagah lain yang kebetulan menjadi  tamu di waktu serbuan terjadi.

Di pihak para penyerbu, tewas pula See-thian Tok-ong dan isterinya, Kwan Ji Nio. Sepasang suami isteri ini bukan orang-orang sembarang, melainkan tokoh-tokoh besar dari barat yang sudah menggoncangkan dunia persilatan di Tiongkok. Semua ini terjadi pada saat dilangsungkan pernikahan antara puteri Hwa I Eng-hiong Go Ciang Le yang bernama Go Hui Lian dengan Coa Hong Kin, pemuda tampan dan gagah murid dari Cam-kauw Sin-kai (baca Pedang Penakluk Iblis).

Di antara sekian banyak rumah-rumah baru di atas Pulau Kim-bun-to, terdapat sebuah rumah besar di tengah- tengah, yang menonjol karena paling tinggi di antara semua bangunan di situ. Inilah rumah yang menjadi tempat tinggal Coa Hong Kin dan isterinya. Pangeran Wan-yen Ci Lun yang membangun rumah ini untuk membalas budi Coa Hong Kin yang dulu menjadi tangan kanannya yang setia.

Keluarga Coa ini disegani  dan dihormati oleh semua orang baik penduduk Pulau Kim-bun-to maupun orang- orang yang datang dari daratan Tiongkok. Siapakah yang berani mengganggu mereka dan bagaimana semua orang tidak menghormati  keluarga ini? Coa Hong Kin terkenal gagah perkasa di samping sikapnya yang halus dan lemah lembut seperti seorang terpelajar yang ramah tamah. Akan tetapi di dalam pertempuran ia akan berubah menjadi seorang yang lihai bukan main dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang tongkat pendek berkepala ular yang disebut Coa-thouw-tung, ia dapat mainkan Ilmu Silat Cam- kauw-tung-hoat (Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing) dan kiranya tidak banyak orang yang dapat mengalahkan dia dengan ilmu tongkatnya ini.

Di samping dia, masih ada isterinya yang tidak kalah lihainya, kalau tidak boleh dibilang lebih lihai malah!

Isterinya ini Go Hui Lian, adalah anak tunggal dari mendiang Hwa I Enghiong Go Ciang Le yang kepandaiannya sudah dikenal oleh semua tokoh kang-ouw.  Sudah  tentu saja  Go Hui Lian ini mewarisi kepandaian dari ayahnya dan juga dari ibunya yang memiliki kepandaian sangat tinggi pula.

Kelihaian Hui Lian adalah permainan pedang, akan tetapi di samping ini, ia pandai pula memainkan delapan belas macam senjata dan ilmu silat tangan kosongnya juga sudah berada

di tingkatan tinggi.

Suami isteri ini mempunyai dua orang anak, seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih, yang ke dua seorang anak berusia dua tahun. Sebetulnya, anak pertama yang laki-laki itu bukan anak mereka sendiri, melainkan anak angkat. Anak ini mereka pelihara semenjak kecilnya dan mereka beri nama Coa Tiang Bu. Rahasia bahwa anak laki-laki ini bukan anak mereka yang sesungguhnya, mereka simpan rapat sekali sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Hal ini adalah untuk menjaga nama baik ibu yang aseli daripada anak itu. Ibunya bukan lain adalah Gak Soan Li, suci dari Hui Lian.

Dalam cerita Pedang Penakluk Ibiis telah diceritakan betapa Gak Soan Li ketika masih gadis terjatuh ke dalam tangan penjahat siluman Liok Kong Ji dan dalam keadaan tidak sadar dan setengah gila, Soan Li menjadi korban kekejian Liok Kong Ji. Oleh karena itu, ketika Gak Soan Li mengandung dan melahirkan anak, anak ini dianggap sebagai anak yang tidak berayah. Diam-diam anak yang hendak dibunuh oleh Gak Soan Li ini, dipelihara baik-baik oleh Hui Lian yang mengaku sebagai puteranya sendiri.

Anak ke dua, yaitu puteri yang sesungguhnya dari Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, diberi nama Coa Lee Goat.

Semenjak kecil Coa Tiang Bu nampak sayang sekali kepada Lee Goat. Setiap kali ia makan sesuatu tentu ia ingat kepada adiknya ini dan memberinya. Kalau Lee Goat yang baru dua tahun usianya  itu menangis,  Tiang Bu menghiburnya sedapat mungkin sehingga  nampak lucu sekali.  Bahkan kalau Lee Goat sedang rewel dan menangis tidak mau diam- diam, saking bingung dan ikut sedih Tiang Bu juga ikut- ikutan menangis!

Tiang Bu nampak cerdik sekali sejak ia masih kecil.

Sayangnya, bocah ini tidak bisa dikatakan tampan. Mukanya berbentuk segi empat, kulit mukanya agak kemerahan tanda sehat, jidatnya lebar sekali sampai hampir setengah kepala; seperti botak, rambutnya hitam kaku seperti bulu kuda, sepasang alisnya berbentuk golok tebal dan hitam, matanya tajam sekali kelihatan seperti mata  penjahat  kejam, hidungnya pesek dan bibirnya tebal sekali. Dari kecil sudah dapat dilihat bahwa bentuk tubuhnya padat dan kuat. Sering kali di waktu malam apabila anak itu sudah tidur, Hui Lian dan Hong Kin memandang muka Tiang Bu ini dan Hui Lian berkata menyatakan keheranannya.

"Benar-benar aneh sekali, Enci Soan Li cantik manis, juga Kong Ji orangnya tampan, mengapa dia ini begitu jelek?"

Suaminya menarik napas panjang. "Dapat dimengerti. Bocah ini tercipta dalam keadaan yang tidak sewajarnya, ibunya dalam keadaan sengsara lahir-batin, ayahnya dikuasai oleh iblis, tidak mengherankan apabila keturunan yang keluar bermuka buruk. Akan tetapi kita harap saja biarpun mukanya buruk, wataknya jangan seburuk rupanya, dan semoga iblis yang menguasai ayahnya jangan menurun kepadanya."

Hong Kin dan Hui Lian memang berhati mulia. Melihat keburukan Tiang Bu, mereka sama sekali tidak membenci, bahkan merasa kasihan kepada anak yang tidak diakui oleh ayah bundanya ini, yang kini telah menjadi putera mereka sendiri. Apalagi melihat Tiang Bu begitu sayang kepada Lee Goat, mereka makin suka kepada Tiang Bu.

"Kita jangan memberi pelaj'aran ilmu silat kepadanya siapa tahu kalau-kalau sifat keturunan  ayahnya  ada padanya. Tanpa memiliki kepandaian silat, ia tidak mempunyai andalan untuk menyeleweng di kemudian hari," kata Hong Kin. Isterinya merasa setuju sekali sungguhpun agak kecewa mengapa Tiang Bu bukan putera mereka sendiri yang boleh diberi pelajaran ilmu silat mereka yang tinggi tanpa ragu-ragu lagi.

Berbeda dengan sepasang suami isteri yang baik hati ini, anehnya hampir semua orang yang melihat Tiang Bu merasa tak senang kalau tak boleh dikatakan benci. Entah mengapa wajah anak ini segala gerak-geriknya menimbulkan kebencian dan kegemasan. Semua pelayan yang berada di dalam

rumah besar itu, benci belaka kepada Tiang Bu. Memang para pelayan inilah yang mengetahui bahwa Tiang Bu bukanlah putera aseli dari majikan mereka, bahkan mereka mendengar dari para pelayan tua yang semenjak dahulu telah menjadi pelayan dari keluarga Go dan sekarang ikut pula bekerja di rumah Go Hui Lian, bahwa bocah itu adalah putera suci dari nyonya majikan mereka dan tidak karuan ayahnya! Inllah agaknya yang menimbulkan rasa tak senang dan benci.

Baiknya Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti atau merasa akan hal ini. Di depan Hong Kin atau Hui Lian, tidak ada orang berani mengganggu Tiang Bu, akan tetapi di belakang dua orang ini, para pelayan suka menggodanya dan mentertawakannya.

Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tiang Bu yang berusia lima tahun itu sudah berada di dalam kebun bunga luas. Anak ini mencari-cari dengan pandang matanya, kemudian dengan girang ia melihat yang dicarinya, yaitu kembang berwarna merah yang mekar di dalam pohonnya yang agak besar. Cepat anak ini menghampiri batang pohon itu dan tanpa ragu-ragu ia mulai memanjat ke atas.

"Eh, bocah bengal, pagi-pagi kau sudah mau main panjat- panjatan. Kalau kau jatuh dan kepalamu pecah, aku yang dimaki, tahu?" tiba-tiba terdengar bentakan dan tukang kebun menarik turun anak itu.

"Aku tidak mau turun!" Tiang Bu merengek dan kedua tangannya memeluk batang pohon erat-erat. "Jangan  tarik- tarik kakiku."

"Tidakboleh naik, turun kau!" bentak tukang kebun gemas, ditambahnya makian perlahan. "Dasar anak haram!"

"Tidak, aku tidak mau turun. Aku hendak mencarikan bunga merah yang diminta Adik Lee Goat!" Melihat tukang kebun itu masih saja menarik-narik kakinya, ia mengancam, "Lepaskan kalau tidak kau kukencingi!" Tukang kebun itu sesungguhnya bukan takut melihat anak ini jatuh, karena memangsudah sering Tiang Bu main panjat-panjatan, melainkan ia lebih cepat disebut menggoda anak itu supaya kehilangan kegembiraannya. Maka ia membetot-betot terus sambil tertawa-tawa menggoda. Tiba- tiba ia melepaskan pegangannya dan melompat mundur sambil menyumpah-nyumpah. Mukanya menjadi basah oleh air kencing yang betul-betul dikeluarkan oleh anak itu.

"Bangsat kecil, bocah haram .........” Makinya perlahan, karena biarpun ia merasa marah dan mendongkol, ia tidak berani memaki anak itu keras-keras.

"Apa kaubilang, Sam-lopek?" anak itu menunda panjatannya ketika mendengar sebutan terakhir yang tidak dimengertinya, Akan tetapi tukang kebun itu tidak menjawab dan Tiang Bu melanjutkan usahanya memetik bunga merah yang hendak diberikan kepada Lee Goat.

Tiba-tiba mata tukang kebun melihat seekor kumbang besar beterbangan di sekitar pohon kembang itu, agaknya hendak mencari madu kembang. Untuk melampiaskan marahnya, juga dengan hati setengah mengharap agar kumbang itu menyengat Tiang Bu, ia mengambil batu kecil dan melempari kumbang yang sedang menghisap madu.

Lemparan itu tepat sekali mengenai kumbang itu dan si kumbang terlempar, akan tetapi tidak mati. Kumbang menjadi marah sekali dan di lain saat, kumbang itu terbang me-nyambar ke arah pohon dan menyerang Tiang Bu. Tukang kebun menyeringai kegirangan.

Terdengar pekik kesakitan dan tubuh anak itu terguling jatuh dari atas pohon. Malang baginya, di bawah pohon terdapat batu besar. Jatuhnya menimpa batu dan anak itu tidak berkutik lagi, meringkuk pingsan. Barulah tukang kebun men}adi pucat dan panik.

"Bangsat keji!" Bentakan nyaring ini mengejutkan tukang kebun yang tidak jadi lari masuk. la menengok dan melihat seorang wanita cantik tahu-tahu telah berdiri di depannya. ”Kau memaki siapa?" tukang kebun yang berangasan ini bertanya marah.

"Siapa lagi kalau bukan kau! Kau yang menyebabkan anak itu jatuh, orang macam kau harus dipukul mampus”. Tukang kebun itu menjadi marah, marah karena ia takut kalau-kalau dakwaan ini terdengar oleh majikannya.

”Apa kau gila? Dia itu putera majikanku, bagaimana aku berani membuatnya jatuh? Kau perempuan gila sembarangan memaki orang. Kutampar mukamu!"

Wanitaitu tersenyum mengejek. "Kau? Macam engkau bisa memukul orang? Hah, seekor se mut pun akan mentertawakanmu kalau mendengar obrolanmu ini!"

Diejek seperti itu, tukang kebun ini menerjang maju dan tangan kanannya diayun untuk menampar pipi wariita cantik itu. Akan tetapi, sungguh luar biasa. Sebelum tangan itu mengenai pipi yang halus kemerahan, tiba-tiba tukang kebun itu menjerit, tubuhnya terpental, jatuh dan napasnya empas-empis.

Dengan tenang wanita itu menghampiri bawah pohon, menyambar tubuh Tiang Bu yang masih pingsan.Ia memandang muka yang jelek itu, tersenyum mengejek dan berkata lirih, "Macam ini putera Hui Lian? Hah, menyebalkan!"

Pada saat itu, terdengar desiran angin dan dua orang berkelebat dari dalam rumah. Mereka ini bukan lain adalah Hui Lian dan Hong Kin. Melihat datangnya kedua orang majikannya itu, tukang kebun yang sudah siuman kembali menuding ke arah wanita itu sambil berkata, suaranya lemah terengah-engah.

"Dia ...... dia hendak menculik Kong-cu ...... " Dan ia roboh pingsan lagi karena dadanya sesak seperti dipukul oleh benda keras yang berat. Hui Lian dan Hong Kin melompat ke depan wanita yang memondong Tiang Bu itu dan melihat wajjah yang cantik itu tersenyum mengejek.

"Kau ...... bukankah kau Hui-eng Niocu Siok Li Hwa ......

?" tanya Hui Lian kaget.

Li Hwa tersenyum. "Kalian tidak patut menjadi ayah bunda bocah ini. Aku hendak membawanya dan biarpun di sana ada Wan Sin Hong bengcu yang akan membela kalian mati-matian, aku tidak takut." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Li Hwa telah berada di atas tembok taman.

"Lepaskan anakku" Hui Lian membentak dan sekali berkelebat ia pun. telah mengejar dan kembali dua orang wanita yang sama cantik dan sama gagahnya ini telah saling berhadapan di luar tembok taman, diikuti oleh Hong Kin yang hampir berbareng menyusul .

"Hui-eng Niocu, di antara kita tidak ada permusuhan, mengapa kau hendak menculik- anakku?" bentak Hui Lian yang sudah mencabut pedangnya.

"Hei, Tiang Bu seperti pingsan  dan  tubuhnya berdarah !" Hong Kin berseru kaget sambil menuding ke

arah Tiang Bu yang masih pingsan dalam pondongan Li Hwa. "Memang dia jatuh dari pohon, kakinya patah ...... " kata

Li Hwa seenaknya seakan-akan hal itu tidak berarti apa-apa.

”Kau hendak mencelakai anakku. Kembalikan!" Hui Lian sudah tak sabar lagi dan maju menusukkan pedangnya ke arah lambung Li Hwa dan tangan kirinya menyambar tubuh Tiang Bu yang dipondong oleh Hui-eng Niocu.

"Galak seperti Ibunya ...... !" Li Hwa mengejek dan cepat melompat mundur. "Tentang jatuhnya, lebih baik kausiksa tukang kebunmu suruh dia mengaku!" Li Hwa terus melompat jauh dan melarikan diri. "Penculik jangan lari!" Hong Kin berseru marah dan bersama isterinya ia pun mengejar cepat.

Li Hwa memutar

tubuh dan berseru, "Awas senjata!" Tangannya yang kiri bergerak dan belasan sinar hijau menyambar ke arah dua orang pengejamya.  Inilah senjata rahasia Cheng- chouw-ciam (Jarum Rumput Hijau) yang amat lihai. Sampai tiga kali Li Hwa menggerakkan tangannya dan tiga kali belasan jarum hijau ini menyambar ke arah Hui

Lian dan Hong Kin. Suami isteri ini lihai ilmu Silatnya, tentu saja mereka dapat menghindarkan diri dari bahaya dengan mudah akan tetapi kejaran mereka tertunda dan sebentar saja Li Hwa sudah lenyap dari situ, mereka terus mengejar, bahkan mencari sampai ke pinggir laut. Akan tetapi karena tidak tahu arah mana yang diambil oleh Li Hwa untuk menyeberang ke daratan, mereka menjadi bingung. Hui Lian mengajak suaminya terus meyeberang dengan perahu akan

tetapi Li Hwa seperti lenyap ditelan ombak laut dan tidak kelihatan bayangannya lagi.

Hui Lian membanting-banting kakinya dan menangis.

Hong Kin menghiburnya.

"Kita tidak ada permusuhan dengan Li Hwa. Bu-ji (anak Bu) tentu selamat di tangannya."

"Mari kita susul perempuan siluman itu ke Go-bi-san! Perbuatan ini sungguh merupakan penghinaan bagi kita." kata Hui Lian marah. "Kau tidak melihat Bu-ji tadi terluka dan pingsan? Siapa tahu kalau siluman itu mempunyai niat keji ”

"Sabar dan tenanglah, isteriku. Paling perlu mari kita pulang dulu dan bertanya kepada tukang kebun apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam taman bunga."

Kata-kata ini mengingatkan Hui Lian akan ucapan Li Hwa agar supaya mereka menyiksa tukang kebun dan menyuruhnya mengaku. Cepat-cepat mereka pulang dan alangkah kecewa dan menyesal mereka ketika melihat bahwa tukang kebun itu ternyata telah tewas! Hong Kin memeriksa dan mendapatkan beberapa batang jarum hijau menembus dadanya yang juga terkena pukulan tenaga lweekang. Agaknya Li Hwa marah sekali kepada tukang kebun ini dan mengirim serangan maut.

"Perempuan siluman aku harus mengejarnya dan mengadu nyawa dengan dia!" Hui Lian berteriak-teriak.

Kembali Hong Kin menyabarkannya.

"Isteriku, pikirlah baik-baik. Selain belum ada kepastian bahwa di Go-bi-san kita akan dapat berjumpa dengan dia, juga perjalanan ke Go-bi-san bukanlah perjalanan dekat, akan memakan waktu berbulan-bulan. Bagaimana kau dapat meninggalkan Lee Goat untuk waktu selama itu? Ingat anak kita masih amat kecil, kalau kita berdua pergi mencari Hui - eng Niocu untuk merampas kembali Tiang Bu siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan anak kita, Lee Goat?"

Mendengar ini Hui Lian menjadi bingung dan ia menangis sarnbil bersandar di  dada suaminya. Ia suka kepada Tiang Bu, akan tetapi ia sayang kepada Lee Goat.  Terhadap Tiang Bu ia tidak mempunyai rasa sayang seorang ibu, hanya kasihan dan suka, pula disertai rasa tanggung jawab atas keselamatan putera sucinya itu.

"Habis bagaimana baiknya ...... ?" tanyanya perlahan. "Kautunggu saja di rumah, biar aku yang pergi mencarinya. Memang tidak seharusnya didiamkan saja. Andaikata Li Hwa itu tidak bermaksud jahat dan ingin mengambil murid kepada Tiang Bu, tidak selayaknya ia menculik seperti seorang penjahat. Pula, kita bertanggung jawab atas keselamatan anak itu. Bagaimana kata orang- orang gagah di dunia kalau sampai anak itu celaka dalam tangan kita tanpa kita berusaha menolongnya? Biar aku besok berangkat pergi mencarinya."

Hu Lian memeluk suaminya, "Akan tetapi ...... dia amat lihai. Kukira kau atau aku bukan tandingannya. Kalau kita maju berdua kiranya baru dapat mengimbanginya."

Hong Kin mengangguk-angguk. "Aku mengerti, oleh karena itu aku pun mempunyai maksud hendak singgah di Luliang-san bertemu dehgan Wan-bengcu. Kebetulan jalan menuju ke Go-bi-san melalui Luliang-san. Pula» kalau aku tidak keliru sangka, agaknya Hui-eng Niocu mengharapkan supaya Wan-bengcu campur tangan dalarn penculikan ini."

"Mengapa kausangka demikian!" Hui Lian mengerutkan keningnya.

"Lupakah kau akan ucapannya ketika ia menculik Tiang Bu? Dia menyatakan bahwa biarpun kita akan dibela oleh Wan-bengcu, dia tidak takut. Ucapan ini agaknya sengaja ia keluarkan untuk menentang Wan-bengcu. Kalau tidak demikian mengapa ia membawa-bawa nama Wan-bengcu dalam urusan ini. Oleh karena itu aku hendak singgah di Luliang-san dan hendak minta nasihatnya.

Setelah mendapat kepastian bahwa suaminya akan minta pertolongan Wan Sin Hong, hati Hui Lian menjadi tenang. Ia merasa yakin bahwa kalau Sin Hong mendengar, tentu akan membantunya dan akan merebut kembali Tiang Bu dari tangan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa. Tiba-tiba Hui Lian mendapat pikiran yang baik sekali. ”Suamiku, amat tidak enak kalau begitu saja  minta tolong kepada Wan-bengcu. Lebih baik kalau kita serahkan saja Tiang Bu untuk menjadi muridnya. Anak itu sudah cukup besar, pula kalau kita berkukuh tidak mau menurunkan ilmu silat kepadanya, tentu orang-orang akan bilang kita tidak suka kepada anak itu. Kalau Wan-bengcu mau menerimanya sebagai murid, kiraku ia akan menjadi orang baik-baik, dan biarlah kelak ia menjadi seorang gagah yang berbudi mulia untuk menebus kejahatan orang yang menurunkannya."

Seperti juga isterinya, Hong Kin suka kepada Tiang Bu akan tetapi tidak sayang, maka usul ini diterimanya dengan baik. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong Kin berangkat meninggalkan Kim-bun-to untuk memulai dengan perjalanannya yang jauh,  mungkin  sampai  ke Go-bi-san, atau sedikitnya sampai ke Luliang-san. Setelah menyeberang ke daratan ia melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda.

-oo0mch0oo-

Pada masa cerita ini terjadi, daratan Tiongkok terbagi dua antara Pemerintah Kaisar dari Kerajaan Cin dan Kaisar dari Kerajaan Sung selatan. Sudah lima enam puluh tahun daratan Tiongkok berada dalam keadaan seperti ini. Batas dari daerah atau wilayah kekuasaan dua kerajaan ini adalah Sungai Yangce. Di sebelah utara Sungai Yangce termasuk wilayah Kerajaan Cin, sedangkan di sebelah selatan termasuk wilayah Kerajaan Sung Selatan atau disingkat Kerajaan Sung saja.

Antara dua kekuasaan ini sering kali terjadi pertentangan dan pertempuran yang sengit. Akan tetapi pertentangan ini hanya terbatas pada kelompok kecil saja, tidak sampai merembet kepada kerajaan masing-masing. Apalagi setelah kedua fihak melihat adanya perkembangan pada bangsa Mongol yang selalu mengincar, maka sekali saja timbul perangdi antara mereka, pasti bangsa utara yang berani mati itu akan menyerbu, menggunakan kesempatan selagi dua ekor anjing berebut tulang dan bertengkar, diam-diam mengambil tulangnya.

Yang payah adalah rakyat jelata. Untuk bagian sebelah utara Sungai Yang-ce, yaitu di wilayah Kerajaan Cin, kesengsaraan rakyat tidak mengherankan ini oleh karena memang Kerajaan Cin dianggap sebagai kerajaan penjajah yaitu terdiri dari bangsa Yu-cin yang kemudian mendirikan bangsa Cin. Akan tetapi ternyata bahwa di daerah selatan, di mana kerajaannya masih di tangan orang-orang "aseli", keadaannya pun sama saja, kalau tak boleh dikatakan lebih buruk. Korupsi merajalela, hukum rimba berlaku, siapa berkuasa dia sewenang-wenang, siapa kuat dia menang atas yang lemah, siapa kaya dia dapat berbuat  sekehendak hatinya. Tidak ada pembesar yaog tidak menerima sogokan.

Pengadilan hanya namanya saja, pada hakekatnya adalah sarang sogokan  dan  pemerasan. Urusan  putih  bisa dikatakan hitam oleh hakim yang telah menerima sogokan sampai perutnya yang gendut hampir pecah. Rakyat petani miskin jangan sekali-kali menghadapi urusan pengadilan, karena benar maupun salah tetap kalah. Perkara penasaran bertumpuk-tumpuk. Tuan-tuan tanah menjadi raja-raja kecil di dusun-dusun. Kerja sama yang kotor sekali terjadi setiap hari di kota antara para hartawan dan bangsawan berpangkat.

Bahkan, keadaan di  selatan  ini sesungguhnya  lebih buruk daripada keadaan di utara. Oleh karena itu, kalau di selatan orang-orang gagah sama sekali tidak sudi membantu pemerintah Kerajaan Sung, adalah sebaliknya di utara terdapat kerja sama yang baik dalam arti kata tidak pernah ada pertentangan, sungguhpun  orang-  orang gagah  tidak ada yang terang-terangan membantu Kerajaan Cin.

Sebaliknya di  selatan, sering  kali  orang-orang  gagah membantu rakyat jelata yang tertindas, sering kali membasmi okpa-okpa yaitu orang-orang hartawan dan bangsawan yang memeras rakyat.

Tidak adanya pertentangan di utara, sebagian besar adalah karena di fihak kerajaan ada Pangeran Wanyen Ci Lun yang bijaksana dan dapat bersikap mulia terhadap orang-orang kang-ouw. Di lain fihak, yaitu di fihak dunia kang-ouw, yang menjadi bengcu adalah Wan Sin Hong, yang sebagaimana telah diceritakan di bagian depan adalah seorang keturunan darah bangsa Cin pula. Ayah Wan Sin Hong adalah seorang pangeran bernama keturunan Wanyen pula dan masih terhitung paman dari Pangeran Wanyen Ci Lun (baca Pedang Penakluk Iblis).

Cukup sekian sekedar mengetahui keadaan  Tiongkok pada masa itu dan mari kita kembali mengikuti perjalanan Coa Hong Kin yang menuju ke Luliang-san. la melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti untuk makan dan tidur saja.

Oleh karena maklum dan sukarnya perjalanan mendaki puncak Jeng-in-thia di Luliang-san,  maka  setelah tiba  di kaki Gunung Luliang-san pada senja hari, ia menunda perjalanan dan bermalam di sebuah dusun. Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia mendaki bukit dan langsung menuju ke puncak di mana Wan-bengcu tinggal. Perjalanan amat sukar dan melelahkan. Baiknya Hong Kin adalah seorang gagah yang telah memiliki kepandaian tinggi sehingga baginya tidak terlalu sukar untuk mencapai puncak.

Setelah ia tiba di dekat puncak Jeng-in-thia, tiba-tiba ia mendengar seruan-seruan seperti orang bersilat dan alangkah kagetnya ketika ia merasa sambaran-sambaran angin pukulan yang dahsyat. Puncak itu masih terpisah jauh, akan tetapi dari tempat ia berdiri biarpun ia tidak melihat orang-orang yang bertempur, namun ia telah merasai sambaran angin pukulan. Benar-benar hebat sekali tenaga orang-orang yang sedang bertempur itu! la mempercepat jalannya naik ke puncak.

Setelah tiba di Jeng-in-thia, terlihatlah olehnya dua orang kakek sedang bertempur dengan gerakan lambat-lambat sekali, akan tetapi angin pukulan menyambar-nyambar dari dua orang kakek ini. Hong Kin cepat mengerahkan tenaga lweekangnya ketika angin pukulan menyambar hebat sekali. Namun tetap saja ia terhuyung ke belakang sampai tiga tindak terdorong oleh angin pukulan itu. Padahal dua orang kakek yang bertempur itu jauhnya ada sepuluh tombak dari tempat ia berdiri!

"Hebat ...... " katanya dalam hati dan  cepat-cepat Hong Kin menyelinap dan berlindung di  batu karang besar sekali yang takkan roboh oleh serbuan angin taufan sekalipun. Dari tempat berlindung yang kokoh kuat itu ia mengintai.

Dilihatnya Wan Sin Hong dengan sikap tenang, bibir tersenyum akan tetapi mata bersinar-sinar penuh ketegangan dan penuh perhatian memandang ke arah dua orang kakek yang sedang bertempur, duduk bersila di atas batu rendah. Di sebelah kanannya duduk pula  tiga  orang tosu tua yang sikapnya tenang akan tetapi jelas kelihatan betapa kagum dan juga tegang menonton pertempuran itu. Di sebelah kiri dari Sin Hong tampak  pula  tiga  orang  hwesio yang berdiri dengan lengan tangan bersilang di depan dada dan kaki lebar,  juga penuh perhatian menonton pertempuran.

Tiga orang tosu dan tiga orang hwesio ini dapat tahan berada di dekat tempat pertempuran tanpa bergeming, ini saja sudah menandakan bahwa ilmu kepandaian mereka amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmu kepandaian Coa Hong Kin yang bersembunyi dan mengintai di balik batu karang. Kemudian Hong Kin mengalihkan pandangannya kepada dua orang yang asyik bertempur.

Mereka ini adalah seorang tosu yang sudah tua sekali dan seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian kasar serta beralis tebal dan hitam. Melihat tosu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang sekali ini, kenallah Hong Kin. Tosu itu adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, dan gemuk sekali dengan jenggot pendek itu tidak salah lagi tentulah Pang Soan Tojin ketua dari Teng-san-pai. Tosu ke tiga yang kurus bongkok memegang tongkat butut ia tidak kenal. juga tiga orang hwesio yang berdiri itu ia tidak kenal.

Kini pertempuran berjalan lebih cepat daripada tadi. Tadi mereka bertempur lambat-lambat, tidak mengandalkan kecepatan untuk mencari kemenangan, melainkan mengandalkan sepenuhnya kepada tenaga lweekang mereka. Ternyata mereka seimbang dalam kekuatan lweekang. Hawa pukulan masing-masing tidak dapat mempengaruhi lawan, apalagi merobohkan. Juga tiap kali tangan mereka beradu keduanya tergetar karena tenaga raksasa yang seimbang besarnya bertemu.

Setelah pertempuran dilanjutkan dengan cepat, keduanya berputaran dan saking cepatnya mereka bergerak sampai bayangan mereka menjadi satu dan sukar membedakan mana tosu mana hwesio!

Coa Hong Kin memandang kagum. menghadapi pertempuran yang jarang dapat disaksikan orang, pertempuran antara cabang-cabang atas, antara tokoh-tokoh besar persilatan. Bu Kek Siansu adalah ketua Bu-tong-pai, sebuah partai persilatan besar yang sudah amat tersohor, maka tidak mengherankan apabila ilmu silatnya tinggl sekali. Akan tetapi hwesio yang menjadi lawannya juga lihai bukan main. Tentu saja ia tidak tahu bahwa empat orang hwesio itu adalah tokoh-tokoh dari selatan yang menjagoi dunia kang-ouw di daerah selatan.

Sementara itu, ketika pertempuran terjadi makin hebat dan di puncak ketegangannya, Wan Sin Hong bangkit berdiri dan berseru.

"Ji-wi  Locianpwe  harap membatasi  diri  dan  jangan membahayakan lawan!" Mendengar seruan ini, Bu Kek Siansu melompat mundur dan kakek ini menjadi merah.

"Kepandaian Le Thong Hosiang benar-benar hebat, pinto merasa taktuk!" katanya sambil menjura.

"Mana bisa! Ketua Bu-tong-pai terlalu merendah. Kita masih seimbang, belum ada yang lebih tinggi atau rendah. Pinceng sudah lama mendengar tentang Bu-tong Kiam-sut yang sukar dicari tandingannya. Kalau toyu sudah membuka mata pinceng dengan sinar pedang, barulah pinceng akan merasa puas dan biar pinceng bawa sebagai oleh-oleh ke selatan. Ha-ha-ha!"

Bu Kek Siansu menjadi pucat karena menahan marah.

Hwesio selatan ini benarbenar sombong sekali, pikirnya. Tanpa menjawab sesuatu, melihat Le Thong Hosiang telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang toya pendek yang kelihatan berat, Bu Kek Siansu lalu menggerakkan tangan kirinya dan "srat !" sebatang pedang tipis telah berada di

tangannya. Gerakannya cepat sekali dan cara mencabut pedang ini saja sudah menunjukkan betapa tinggi kiam-sut dari ketua Bu-tong-pai ini.

Sin Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak sempat mencegah karena Le Thong Hosiang sambil tertawa- tawa telah memutar toyanya melakukan seranganserangan hebat. Ilmu toya dari hwesio ini benar-benar tangguh sekali dan beberapa jurus kemudian Sin Hong sudah mengenal ilmu toya ini sebagai Ilmu Toya Siauw-lim-pai yang sudah banyak berubah.

Bu Kek Siansu juga maklum akan kelihaian toya lawan, maka ia pun tidak mau kalah, memutar pedangnya yang berubah menjadi segulungan sinar putih yang kuat. Di lain saat dua orang kakek ini sudah lenyap dari pandangan mata, bayangan mereka terbungkus oleh sinar pedang yang putih seperti perak dan sinar toya yang agak kehitaman. Apalagi bagi pandangan mata Hong Kin, ia seakan-akan melihat dua ekor naga, putih dan hitam, tengah bermain- main di tempat itu, melayang-layang dan menyambar- nyambar!

"Bukan main ...... " kembali ia memuji. Sin Hong yang melihat betapa dua orang kakek yang bertempur itu mulai "panas" sehingga sinar senjata mereka merupakan kuku maut, lalu menarik napas panjang, maju beberapa langkah, kemudian ia mengebut-ngebutkan kedua ujung lengan bajunya seakan-akan membuang kotoran dan debu yang menempel pada ujung lengan bajunya itu. Padahal sebetulnya pemuda sakti ini tengah mengerahkan tenaga sinkangnya sehingga beberapa gelintir tanah kering yang menempel di kedua ujung lengan baju itu melayang dengan luncuran cepat ke arah dua kakek yang sedang bertempur.

"Ayaaa ...... !" Le Thong Hosiang melompat ke belakang dan wajahnya berubah pucat. Ketika ia sedang bertempur tadi, ia melihat benda hitam kecii seperti capung menyambar mengenai tongkatnya dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan terus hawa panas menjalar ke lengannya membuat lengan itu seperti lumpuh.

Juga Bu Kek Siansu melompat mundur, menjura ke arah Sin Hong sambil berkata, "Baiknya bengcu datang melerai, kalau tidak mungkin pinto akan tewas di bawah toya Le Thong Hosiang."

Mendengar ini, barulah Le Thong Hosiang tahu bahwa tadi adalah perbuatan bengcu muda itu, diam-diam ia kaget sekali. "Masih begini muda sudah lihai bukan main "

pikirnya kagum dan gentar.

"Le Thong Hosiang, maafkan kalau aku campur tangan.

Biarpun terpisah oleh Sungai Yangce dan bernaung di bawah kerajaan yang berbeda, namun pada hakekatnya, kita kedua fihak masih terhitung orang-orang segolongan, yakni orang- orang yang menjunjung tinggi kegagahan, keadilan dan bertindak di atas jalan kebenaran dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, biarpun pada saat ini di antara kita terdapat perbedaan faham dan pendapat, namun tidak semestinya kalau perbedaan faham ini dikotori dan dibikin hebat oleh pertempuran yang hanya akan memperdalam salah mengerti, mungkin akan menimbulkan permusuhan. Oleh karena itu, aku harap kau dan kawan-kawanmu suka mempertimbangkan hal ini baik-baik."

Le Thong Hosiang mengempit toyanya dan berkata kepada tiga orang hwesio yang berdiri bagaikan patung. "Wan-bengcu telah memperlihatkan kelihaiannya dan terus

terang saja, pinceng merasa kagum dan tunduk sekali. Lepas dari darah bangsawannya, memang dilihat dari kelihaiannya ia patut menjagoi. Hayo kita pergi."

Tiga orang itu lalu menjura ke arah Wan Sin Hong dan para tosu, setelah Sin Hong dan empat orang tosu membalas penghormatan mereka, Le Thong Hosiang dan tiga orang kawannya lalu berlari turun gunung dengan langkah lebar sekali. Ketika lewat di dekat batu karang di belakang  mana Hong Kin bersembunyi, Le Thong Hosiang berkata sambil tertawa, "Toyaku sudah tidak ada gunanya!" Dan dipukulnya batu karang itu. Terdengar suara keras dan permukaan batu karang itu remuk sambil mengeluarkan bunga api. Seluruh batu karang itu tergetar hebat. Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hong Kin yang mengira batu karang itu akan roboh menimpanya, cepat melompat keluar. Empat orang hwesio itu tertawa-tawa sambil melanjutkan lari mereka.

(Bersambung Jilid ke  II)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain