-->

Rajawali Hitam Jilid 05

Jilid 05

Lee Cin tersenyum mengejek. "Habis, engkau mau apa?

Salahmu sendiri sampai lenganmu buntung!"

Mereka saling pandang. Ouw Kwan  Lok  merasa  sakit hati, bukan hanya karena lengannya dibuntungi gadis itu, akan tetapi juga untuk membalaskan sakit hati para gurunya, mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong. Akan tetapi kini dia menghadapi Lee Cin, Souw Tek Bun dan Ang-tok Mo-li. Mereka bertiga itu dengan tegak berdiri dan siap untuk melawan. Biarpun Ouw Kwan Lok bersama Siang Koan Bhok, namun dia tidak berani main-main menghadapi tiga orang itu. Akhirnya dia tersenyum dan kembali menjura kepada Lee Cin.

"Nona Souw, biarlah lain kali saja aku membalas kebaikanmu itu," katanya lalu pergi bersama gurunya meninggalkan tempat itu. Keadaan menjadi sunyi setelah semua orang pergi.

Lee Cin mengepal tinjunya. "Mengapa ayah melarangku ketika aku hendak menentang dan melawan bangsat itu?" katanya dengan kesal.

"Engkau tentu tahu bahwa saat itu sedang diadakan pemilihan beng-cu baru sehingga tidak ada alasannya kalau engkau hendak menyerangnya. Selain itu, kulihat ilmu kepandaian pemuda itu sungguh luar  biasa  sekali.  Bahkan Im Yang Seng-cu tidak dapat mengatasinya, dan Nenek Cia juga kalah olehnya. Sungguh berbahaya kalau engkau hendak melawan dia, Lee Cin." "Aku tidak takut, ayah. Biarpun aku juga mengerti bahwa ilmu kepandaiannya sudah maju dengan pesatnya dan mungkin saja aku tidak akan mampu menandinginya."

"Aku juga penasaran. Aku ingin mencoba kelihaiannya, akan tetapi engkau menghalangi aku!" kata pula  Ang-tok Mo-li kepada suaminya.

Souw Tek Bun tersenyum. "Aku hanya menjaga agar jangan sampai engkau dikalahkannya di depan begitu banyak orang. Lain waktu masih banyak kesempatan  bagi kita untuk menentangnya kalau dia melakukan kejahatan."

"Celaka! Dia menjadi beng-cu, akan dibawa kemanakah dunia persilatan? Aku tahu, dia  adalah  seorang  pemuda yang herhati palsu dan amat jahat, ayah," kata Lee Cin khawatir.

"Biarpun dia beng-cu, kalau tindakannya tiilak benar, kurasa para orang gagah tak akan menuruti kemauannya. Paling-paling golongan sesat yang akan taat kepadanya," ayahnya menghibur.

Sementara itu Ouw Kwan Lok yang melakukan perjalanan dengan Siang Koan Bhok, telah tiba di  kaki gunung Hong -san.

"Kwan Lok, kalau gadis puteri Souw Tek Bun itu yang membuntungi lengan kirimu, kenapa tadi engkau tidak membunuhnya saja?" Siang Koan Bhok menegur muridnya.

"Ia dan ayah ibunya merupakan lawan yang tidak ringan, suhu. Aku khawatir kalau gagal tadi. Kalau aku sudah turun tangan, haruslah berhasil.  Biarlah,  lain  waktu  aku  pasti akan membalas dendam kepadanya, tidak cukup dengan membunuhnya atau membuntungi lengannya. Sekarang, yang paling penting bagiku adalah menyusun kekuatan. Apa artinya menjadi beng-cu kalau tidak mempunyai anak buah?" "Anak buah kita di Pulau Naga cukup banyak."

"Akan tetapi mereka hanya anak buah biasa saja, suhu. Yang kumaksudkan, kita harus dapat mengundang orang- orang berkepandaian tinggi untuk menjadi anggautaku di sana. Aku harus dapat membuat seluruh dunia persilatan tunduk kepadaku, dan kalau ada yang tidak mau taat, akan kuberi hajaran. Tentu saja aku harus mempunyai anak buah yang pandai dan banyak."

Siang Koan Bhok mengangguk. Dia kagum kepada murid barunya ini, dan menganggap dia sebagai pengganti Siang Koan Tek, pureranya.

"Jangan lupa untuk membalaskan dendamku kepada Song Thian Lee, Kwan Lok."

"Jangan khawatir, suhu. Tak lama lagi tentu aku akan mampu menghadiahkan kepada Song Thian Lee kepada suhu. Juga isterinya harus mati di tanganku. Mereka bertiga itu, Song Thian Lee, Tang Cin Lan, dan Souw Lee Cin, adalah musuh-musuh utamaku."

Legalah hati Siang Koan Bhok dan dia percaya muridnya ini tidak hanya membual saja. Dia percaya bahwa dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, Kwan Lok akan mampu menandingi dan mengalahkan Song Thian Lee.

Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan di depan mereka telah berdiri seorang kakek tinggi kurus yang berusia hampir enampuluh tahun. Kwan  Lok  dan  Siang Koan Bhok segera mengenal kakek ini yang  bukan  lain adalah Thian to Mo-ong Koan Ek.

“Eh, kiranya suhu Thian-te Mo-ong!" tegur Kwan Lok dengan gembira.

"Kwan Lok, lupakah engkau akan pesanku ketika kita berpisah? Engkau tidak memenuhi pesanku, bahkan engkau ikut Tung-hai-ong dan merebut kedudukan beng-cu! Mulai saat ini engkau hatus ikut aku dan membalas dendam kepada musuh- musuhku!"

"Hemm, suhu Thian-te Mo-ong. Aku sama  sekali  tidak lupa akan pesanmu. Tahukah engkau bahwa aku sampai kehilangan lengan kiri karena memenuhi pesanmu? Sekarang aku tidak perlu memenuhi  pesanmu  ini  karena tiga orang yang suhu musuhi itu juga merupakan musuhku. Musuh kita bersama."

"Heh, Thian-te Mo-ong, apa maumu menghadang perjalanan kami di sini?" Siang Koan Bhok berseru tidak senang.

"Siang Koan Bhok, engkau mencuri muridku!" Thian-te Mo-ong membalas dengan marah.

"Tidak, suhu Thian-te Mo-ong. Suhu Siang Koan  Bhok tidak mencuriku. Aku yang minta menjadi muridnya dan sekarang kebetulan sekali. Aku sedang mencari-cari orang- orang seperti suhu ini untuk menjadi pengikut dan pembantuku. Marilah suhu, engkau ikut denganku ke Pulau Naga dan kita membangun kekuatan bersama. Kalau kita sudah kuat, apa sih  sukarnya  membasmi  musuh-  musuh kita itu?"

"Hemm, engkau berlagak. Aku menjadi pembantumu? Apakah engkau mimpi ? Biarpun engkau sudah menjadi beng-cu, engkau tetap muridku. Bagaimana aku sebagai gurumu kini menjadi anak buahmu?"

"Suhu, biarpun aku muridmu, akan tetapi sekarang aku lebih lihai daripada mu. Sekarang begini saja. Kalau suhu dapat mengalahkan aku, baiklah,  aku  akan  ikut  dengan suhu dan menaati semua perintah uhu. Akan tetapi sebaliknya kalau suhu kalah olehku, suhu  harus  ikut  ke Pulau Naga dan membantuku. Bagaimana ?"

"Engkau menantangku? Hemm, setelah menjadi murid Siang Koan Bhok, engkau berani menantangku, ya?" "Tidak, aku tidak akan menggunakan ilmu yang kupelajari dari suhu Siang Koan Bhok. Aku akan melawan suhu dengan ilmu yang kupelajari dari suhu sendiri, dengan demikian barulah adil"

Thian-te Mo-ong tersenyum mengejek. Dia tadi sudah melihat betapa lihainya Ouw Kwan Lok. Akan tetapi kalau pemuda itu tidak mempergunakan ilmu silat lain, melainkan menggunakan ilmu silat yang diajarkannya dulu, bagai mana mungkin Kwan Lok mampu menandinginya?

"Baik, bersiaplah. Siang Koan Bhok menjadi saksinya!" "Ha-ha-ha, akan kusaksikan betapa Thian-te Mo-ong

kalah oleh muridnya!" Siang Koan Bhok tertawa.

" Awas, lihat seranganku.” Thian-te Mo-ong berteriak ganas dan dia sudah menerjang maju dan menyerang dengan ilmu silat Pek-swat Tok-ciat (Tangan Beracun Salju Putih). Ouw Kwan Lok cepat mengelak lalu balas menyerang dengan ilmu yang sama! Tentu saja Kwan Lok kurang leluasa memainkan ilmu silat itu karena hanya dengan sebeah tangan, akan tetapi dia memiliki gerakan yang lebih cepat dari gurunya itu sehingga dia tidak sampai terdesak.

"Haiiiiittttt ..... !" Thian-te Mo-ong nengirim pukulan keras sekali dengan tangan kanannya, mengarah kepala muridnya, akan tetapi Kwan Lok membuat gerakan yang sama dengan tangan kanannya, menangkis pukulan itu sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Wuuuttt......... desss......... "" Akibat benturan kedua lengan itu, tubuh Thian te Mo-ong terhuyung ke belakang. Ternyata dia kalah kuat!

"Nah, suhu telah kalah," kata Kwan Lok sambil tersenyum.

"Baiklah, dalam pertandingan tangan kosong aku mengaku kalah kuat, akan tetapi coba tahan pedangku kalau engkau mampu!" kata Thian-te Mo-ong sambil mencabut sepasang pedangnya dan menyilangkan sepasang pedang itu di depan dadanya.

"Baiklah, akan kulayani kehendakmu, suhu!" Diapun meloloskan pedangnya dari punggung dan keduanya segera bertanding dengan pedang. Kwan Lok tetap memainkan ilmu pedang yang dipelajarinya dari gurunya. Akan tetapi karena memang dia menang cepat dan menang kuat, dia  segera dapat mendesak Thian-te Mo-ong. Dia sudah hafal akan gerakan serangan gurunya, maka dia selalu dapat mengelak dan menangkis. Dan setiap kali menangkis, pedang suhunya terpental. Kwan Lok mempercepat gerakannya dan sekali membentak nyaring, sambil memutar pedangnya, dia berhasil membuat sepasang pedang itu terpental dan lepas dari tangan Thian-te Mo-ong.

"Bagaimana,  suhu,  maukah  suhu  menjadi  pembantuku di Pulau Naga?" Tanya Kwan Lok sambil menyarungkan pedangnya kembali.

Thian-te Mo-ong hampir tidak percaya. Muridnya ini benar-benar telah mampu mengalahkannya dalam permaianan silat yang pernah diajarkannya!

"Ha-ha-ha, Thian-te Mo-ong, engkau harus mengakui sudah tua dan kalah oleh murid sendiri!" Siang Koan Bhok menertawainya.

"Dan  bagaimana   dengan   engkau,   Siang   Koan   Bhok?

Apakah engkau mampu mengalahkannya?"

Siang Koan Bhok menggeleng kepalanya. "Aku belum mencobanya dan tidak akan mencobanya. Aku siap menjadi pembantu utama dari Ouw Kwan Lok.

"Bagus, suhu Siang Koan Bhok menjadi pembantu pertama dan suhu Thiante Mo-ong menjadi pembantu kedua. Akan kuat sekali keadaan kita di Pulau Naga." Thian-te Mo-ong menghela napas dan mengambil sepasang pedangnya. "Baiklah, aku suka menjadi pembantumu yang ke dua."

Tiga orang itu lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Pulau Naga.

-oo(mch)oo-

Kaisar Kian Liong memang merupakan seorang kaisar yang baik dan pandai, akan tetapi tiada manusia di dunia ini yang tanpa cacat. Kaisar Kian Liong suka sekali akan wanita cantik. Kalau sudah melihat wanita cantik,  biarpun  wanita itu sudah bersuami, akan diusahakan agar wanita itu dapat menjadi miliknya. Selir dan dayangnya ratusan orang banyaknya, namun agaknya Kaisar Kian Liong masih memalingkan mukanya kepada wanita lain yang bukan miliknya.

Akan tetapi segala bentuk kesenangan kalau terlalu di turuti, akhirnya membuat orang menjadi bosan juga. Demikian juga dengan Kaisar Kian Liong. Akhirnya dia merasa bosan juga bermain- main dengan wanita  cantik. Pada suatu hari, ketika dia duduk dalam tandu, dia melihat wajah seorang di antara para pemikul tandu. Wajah pemuda itu sedemikian menarik hatinya, membuat Kian Liong teringat akan wajah seorang selir ayahnya yang pernah dicintanya akan tetapi dahulu tak pernah dia dapat memiliki selir ayahnya itu.

Setelah duduk di bagian dalam istana, dia menyuruh panggil pemuda pemikul tandu Setelah pemuda yang berusia delapanbelas tahun itu datang berlutut di depannya, Kaisar Kian Liong semakin tertarik. Seorang pemuda yang tampan sekali, demikian tampan dan halus bersih kulitnya seperti seorang wanita saja. Dia lalu mengangkat pemuda itu menjadi pelayannya. Pemuda itu bernama Ho Shen. Ketika pada suatu malam Kaisar Kian Long memanggilnya kemudian mengajaknya tidur, pemuda itu diam-diam merasa terkejut dan menganggap kaisarnya telah menjadi gila. Akan tetapi kemudian dia mengetahui bahwa kaisarnya benar-benar tergila- gila kepadanya dan menjadikan dia sebagai kekasihnya! MuIai saat itu, Ho Shen yang cerdik itu tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia diangkat menjadi kepala pelayan. Kalau semua pelayan pria adalah kasim (orang kebiri) maka dia sendiri tidak dan bahkan diangkat menjadi kepala!

Tabun-tahun terlewat dan Ho Shen dapat merayu sang kaisar sedemikian rupa sehingga akhirnya dia diberi kedudukan tinggi sebagai perdana menteri! Untuk menutupi kecurigaan orang, Kaisar Kian Liong menyuruh Ho Shen menikah.

Peristiwa ini merupakan rahasia, akan tetapi sebaik- baiknya barang busuk ditutupi, baunya tercium juga. Hanya, orang tidak berani  membicarakan  secara  terbuka dan diam-diam saja, pura-pura tidak tahu. Mereka bahkan merasa iri kepada Ho Shen yang dapat menumpuk kekayaan dari kedudukannya.

Peristiwa ini akhirnya terdengar pula oleh Panglima muda Song Thian Lee. Panglima muda ini memang sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Ketika mendengar berita itu, dia merasa muak dan mendorongnya untuk cepat mengundurkan diri. Pada suatu hari, dia mohon menghadap Kaisar dan membawa sesampul surat permohonan berhenti dari jabatannya.

Kaisar Kian Liong mengerutkan alisnya setelah membaca surat permohonan itu dan menatap wajah panglima muda Song Thian Lee yang menunduk. "Song Ciang-kun, apa sebabnya engkau tiba-tiba hendak mengundurkan diri dari jabatanmu? Apakah jabatanmu yang sekarang kurang tinggi?"

"Tidak sama sekali, Yang Mulia. Jabatan sekarang  ini sudah cukup tinggi dan terhormat bagi hamba."

"Kalau begitu, apakah penghasilanmu kurang? Gajimu tidak mencukupi?"

"Juga  tidak,  Yang  Mulia.  Penghasilan  hamba  sudah  lebih dari cukup, gaji hamba cukup besar."

"Kalau begitu, mengapa engkau hendak mengundurkan diri, Song Ciangkun? Selama ini engkau menjadi panglima muda yang cakap dan setia, bahkan baru-baru ini engkau sudah berhasil memadamkan pemberontakan di pantai timur. Lalu mengapa mendadak engkau ingin berhenti?"

"Terus terang saja, Yang Mulia. hamba ingin hidup dalam suasana tenang dan damai bersama anak isteri hamba."

"Apakah selama menjadi panglima di sini hidupmu tidak tenang dan tidak damai?"

Song Thian Lee memberi hormat.

"Memang tidak, Yang Mulia. Terutama sekali kalau hamba melaksanakan tugas, beberapa kali hamba harus berhadapan dan melawan para pendekar yang ikut memberontak. Hamba merasa bersalah dan gelisah."

"Hemm, akan tetapi mereka adalah pemberontak yang hanya mendatangkan kekacauan dalam kehidupan negara dan rakyat!"

"Memang benar, Yang Mulia. Akan tetapi merekapun merupakan segolongan pendekar."

"Kalau......... engkau memihak kepada mereka yang memberontak, Song-ciangkun?" "Sama sekali tidak, Yang Mulia. Biarpun mereka itu pendekar, kalau mereka bersekutu dengan orang-orang asing dan pemberontak seperti di pantai timur itu, hamba akan tetap menentang."

"Song-ciangkun, apakah sudah engkau pikir baik-baik keputusanmu ini? Kami akan merasa kehilangan sekali kalau engkau mengundurkan diri. Bukankah selama ini kita bersahabat dan kami bersikap balk kepadamu?"

"Ampun, Yang Mulia. Memang Yang Mulia telah memberi anugerah dan kebaikan kepada hamba. Akan tetapi hamba sudah memikirkan dengan matang. Hamba tidak ingin menjadi seorang panglima yang diam-diam membenci pekerjaannya sendiri. Lebih baik hamba berterus terang dan minta berhenti dengan hormat."

"Baiklah, Song-ciangkun. Kami dapat menghargai kejujuranmu. Akan tetapi karena pengunduran dirimu merupakan urusan besar dan menyangkut penataan pasukan, kami akan membicarakan derigan Panglima Tua Bouw dan Panglima Coa agar dapat diatur bagaimana baiknya dan siapa yang akan menggantikan jabatanmu. Sesudah itu, baru kami akan memberi surat pelepasan kepadamu."

Setelah memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, Song Thian Lee mengundurkan diri keluar dari istana.

Tak lama setelah Song Thian Lee pergi, Kaisar Kian Liong memanggil Panglima Tua Bouw Kin Sek dan wakilnya, yaitu Panglima Coa Kun.

Setelah kedua orang panglima itti  menghadap,  Kaisar Kian Liong lalu memberitahu kepada mereka. "Baru saja Song-ciangkun menghadap kami dan mengutarakan niatnya untuk mengundurkan diri sebagai panglima. Apakah kalian berdua mengetahui apa sebabnya?" Dua orang panglima itu saling Pandang dan Bouw- ciangkun segera menjawab. "Sepanjang yang hamba ketahui, tidak ada sebab-sebab yang menyebabkan dia mengundurkan diri, Yang Mulia."

"Hemm, akan tetapi dia mengatakan bahwa hatinya tidak merasa nyaman karena dalam pemberantasan pemberontak, seringkali dia harus berhadapan dengan para pendekar. Apakah kalian mengetahui apa artinya itu?"

Coa Ciang-kun yang tinggi kurus dan bermuka pucat itu lalu memberi hormat. "Ampun, Yang Mulia. Kalau hamba tidak salah duga, hamba mengetahui sebab-sebabnya."

"Coba ceritakan, Coa-ciangkun," kata kaisar.

"Ketika Song-ciangkun memadamkan pemberontakan di timur, dia tidak mau mempergunakan pasukan untuk membasmi sebuah keluarga yang sangat benci kepada kerajaan. Keluarga itu adalah Keluarga Cia dan mungkin keluarga Cia yang telah membunuhi pembesar-pembesar yang setia kepada paduka. Akan tetapi panglima Song tidak inelanjutkan pengejaran dan membiarkan mereka itu lolos!"

"Wah, itu merupakan kesalahan besar! Membasmi pemberontak haruslah sampai ke akar-akarnya! Kalau keluarga itu tidak dibasmi, tentu mereka lain kali akan mengadakan pemberontakan lagi."

"Ampun, Yang Mulia," kata Panglima Tua Bouw Kin Sek yang memang mencari kesempatan. "Kalau begitu, mundurnya Panglima Song tentu ada kaitannya dengan itu. Jangan-jangan dia mundur untuk menyusun kekuatan untuk memberontak bersama Keluarga Cia itu!"

"Hamba juga mendengar berita yang mencurigakan, Yang Mulia. Baru baru ini  para kang-ouw mengadaka  pertemuan di Hong-san untuk memilih ketua baru. Akan tetapi tidak seperti biasanya, mereka tidak mengundang perwira setempat sehingga pemilihan itu gelap bagi kita. Jangan- jangan ini ada hubungannya pula dengan berhentinya Song- ciangkun. Mereka hendak menyusun kekuatan!" kata pula Coa-ciangkun.

Wajah Kaisar Kian Liong menjadi merah dan alisnya berkerut, lalu tangannya mengepal tinju. "Sangat boleh jadi dugaan kalian itu! Kalau begitu kalian harus turun tangan. Setelah dia berhent nanti, kalian harus  mengutus  orang- oran pandai dan mengamati gerak-geriknya dan kalau benar dia mengadakan perhubungan dengan para pemberontak, jangan ragu-ragu lagi, tangkap dan binasakan Song- ciangkun!"

"Baik, Yang Mulia. Hamba akan mengaturnya!" jawab Bouw-ciangkun yang merasa girang karena diam-diam panglima ini membenci Song Thian Lee yang mendapat kepercayaan besar dari Kaisar. Dia merasa iri dan benci.

Akan tetapi, orang yang baik dan benar selalu dilindungi oleh Kekuasaan yang tidak tampak. Percakapan antara dua panglima dan kaisar ini didengar oleh seorang thai-kam (kasim) yang bertugas di situ. Thia-kam ini amat mengagumi Song Thian Lee, dan mendengar itu, diam-diam dia lalu mengirim surat kepada Thian Lee, memberitahu bahwa pendekar itu teramcam dan harus berhati-hati karena tindak-tanduknya akan diamati dengan ancaman mati.

Song Thian Lee bercakap-cakap dengan, isterinya tentang permintaannya mundur dari jabatannya.

"Apa yang kaulakukan itu aku setuju  sekali,  Lee-ko. Kalau aku teringat akan orang-orang tua kita  yang  tewas oleh pasukan pemerintah, sungguh aneh sekali kalau sekarang engkau malah nenjadi panglima pemerintah. Aku sendiri puteri angkat seorang pangeran, maka akupun tidak dapat berkata apa-apa ketika engkau diangkat menjadi panglima. Namun di sudut hatiku, aku merasa tidak enak sekali." "Benar kata-katamu. Bukan hanya mengingat akan orang tua kita, akan tetapi juga mengingat akan saudara-saudara Para pendekar di dunia kang-ouw, mereka tentu tidak senang mendengar aku menjadi panglima kerajaan. Ayahku dulu adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang patriotik yang gagah, akan tetapi anaknya sekarang menjadi panglima kerajaan penjajah. Kalau aku melakukan tugas membasmi pemberontak, aku sering bertemu dengan orang-orang kangouw yang ikut memberontak. Nah, di situ hatiku menjadi tidak senang sekali karena pekerjaanku ini berlawanan dengan batinku."

"Lalu, kalau engkau sudah mengundurkan diri,  apakah kita juga akan tetap tinggal di kota raja, Lee-ko?"

"Tidak, Lan-moi. Kota raja bukan tempat  yang  tepat untuk kita hidup secara aman dan tenteram.  Aku  akan tinggal di kampung halamanku, yaitu  di  dusun  Tung-sin- bun yang tidak jauh dari kota raja.  Aku  akan  menjauhkan diri dari semua pemberontakan-pemberontakan kecil sambil menanti datangnya saat di mana rakyat yang akan memberontak terhadap penjajah. Aku juga akan menjauhkan diri dari dunia kang-ouw. Aku ingin tinggal di dusun di mana dahulu ayahku tinggal dan hidup sebagai seorang petani."

"Akan tetapi kalau sekali waktu aku merasa rindu kepada ibu, bolehkah aku pergi menengoknya di  istana ayah?"

"Tentu saja boleh."

Beberapa hari kemudian, surat keputusan  dari  Kaisar tiba, yaitu yang menyetujui bahwa Thian Lee mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai panglima.  Karena  setelah tidak lagi menjali panglima muda dia harus meninggalkan gedung yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, maka setelah menerima surat keputusan itu, Thian Lee segera memboyong keluarganya pindah ke dusun Tung-sin-bun. Pangeran Tang Gi Su, ayah tiri Cin Lan, terkejut sekali mendengar akan mundurnya Thian Lee dari jabatannya. Dia segera mengunjungi Thian Lee dan bertanya tentang hal itu. Akan tetapi setelah menerima penjelasan Thian Lee, pangeran yang bijaksana itupun dapat mengerti. Mantunya adalah seorang pendekar besar, tentu  saja  merasa  tidak enak kalau harus bermusuhan dengan  sesama  pendekar yang mendukung pemberontakan terhadap pemerintah Mancu. Dia hanya menghela napas dan memesan kepada mantunya itu agar jangan melibatkan diri dengan pemberontakan karena dia akan merasa berduka  sekali kalau mantunya menjadi musuh kerajaan.

Ci Tung-sin-bun, Thian Lee  membeli  rumah  ayahnya yang dulu, membangunnya kembali dan membeli beberapa petak sawah ladang dan selanjutnya dia hidup sebagai petani. Sama sekali dia tidak tahu dan tidak mengira bahwa segala gerak geriknya diawasi dengan tajam oleh orang-orang yang disebar oleh Bouw-ciangkun dan Coa-ciangkun. Dia hidup sebagai seorang petani, mempergunakan tenaga buruh tani untuk menggarap sawah ladangnya, juga dia berusaha untuk memperdagangkan hasil bumi. Thian Lee hidup dengan tenang dan sederhana bersama Tang Cin Lan dan Song Han San, putera mereka yang kini sudah berusia tiga tahun.

-oo(mch)oo-

Kota Cin-an, amat ramainya.. Kota besar ini menjadi penting karena berada di dekat Sungai Huang-ho yang menghubungkannya sampai ke lautan di Teluk Pohai, dan menghubungkan kota Cin-an dengan barat. Lalu lintas perdagangan melalui Sungai Huang-ho menjadi kota Cin-an makin ramai dikunjungi banyak pedagang dari lain daerah. Untuk menampung dan melayani para pengunjung yang banyak jumlahnya, maka di Cin-an didirikan banyak rumah penginapan yang merangkap sebagai rumah makan.

Pada suatu hari, seorang pemuda yang menumpang pada perahu besar yang membawa banyak penumpang yang datang dari barat, turun mendarat lalu nelakukan perjalanan menuju kota Cin-an. Pemuda ini berusia duapuluh satu tahun, berpakaian sebagai seorang pelajar miskin karena pakaiannya terbuat dari kain kasar. Pemuda ini berwajah tampan dan gerak geriknya lembut seperti biasa gerakan seorang pelajar atau sastrawan. Mulutnya  yang selalu mengandung senyum ramah dan sabar itu membuat wajahnya selalu tampan cerah gembira dan matanya yang bersinar-sinar menandakan bahwa dia memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan menggembirakan.

Pemuda itu bukan lain adalah Cia Tin Han. Seperti kita ketahui, Tin Han adalah putera Cia Kun dan cucu Nenek Cia yang galak. Tidak seperti kakaknya, Cia Tin Siong yang sejak kecil tampa mempelajari ilmu silat dengan tekun Tin Han lebih kelihatan sebagai seorang sastrawan yang suka akan pelajaran sastra. Akan tetapi di luar tahu semua keluarganya, diam-diam Tin Han digembleng oleh seorang pertapa aneh berjuluk Bu Beng Lo-jin sehingga tanpa ada yang mengetahui dia memiliki tingkat ilmu silat yang bahkan lebih tinggi dari pada kakaknya, bahkan tingkatnya hampir menandingi tingkat kepandaian silat neneknya.

Akan tetapi, kalau neneknya dan seluruh keluarganya berwatak patriot dan mati-matian membenci Kerajaan Mancu dan berusaha dengan segala daya untuk menentang pemerintahan, sebaliknya Tin Han tidak menyetujui sikap neneknya yang tidak segan bersekutu dengan orang-orang Jepang dan orang-orang sesat. Tin Han memiliki jiwa patriot sejati yang tidak mau dikotori oleh hubungan dengan orang- orang dari dunia sesat, apa lagi dengan orang-orang Jepang yang sesungguhnya hanya bajak- bajak laut itu. Dia berjiwa pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Kalau keluarganya memusuhi semua pembesar walaupun ada di antara mereka yang baik dan bijaksana, Tin Han tidak memusuhi pembesar yang bijaksana, hanya menentang pembesar yang menindas rakyat, pembesar korup yang hanya memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan kesengsaraan rakyat. Terhadap pembesar  yang  bijaksana, Tin Han hanya memperingatkan agar mereka tidak menjadi antek Mancu menindas rakyat.

Ketika keluarganya bersekutu dengan orang-orang Jepang dan para tokoh sesat, membantu  pemberontakan yang dilakukan Phoa-ciangkun di pantai  timur,  Tin  Han tidak ikut, bahkan beberapa kali dia menghalangi keluarganya yang menangkap Lee Cin dan juga Thian Lee yang menyamar sebagai orang biasa dalam penyelidikannya. Dalam melakukan hal ini Tin Han mengenakan pakaian dan topeng hitam sehingga dia dikenal sebagai Si Kedok Hitam. Akan tetapi akhirnya dia ketahuan oleh keluarganya dan dalam pertempuran sebagai Kedok Hitam menentang keluarganya dan membebaskan Lee Cin, dia terkena tendangan neneknya dan terjatuh ke dalam  jurang  yang amat dalam. Baru pada saat itu keluarganya tahu bahwa Si Kedok Hitam adalah Tin Han.

Telah diceritakan di bagian depan, betapa Tin Han yang terjatuh ke dalam jurang tertolong oleh Hek-tiauw-ko, burung rajawali hitam yang besar itu dan bertemu dengan gurunya, Bu Beng Lojin dan Thai Kek Cin-jin kakek pertapa pemilik burung rajawali yang berilmu tinggi. Selanjutnya, Tin Han menjadi murid Thai Kek Cin-jin. Walaupun dia  diajar ilmu oleh kakek sakti itu selama tiga bulan saja, namun tingkat kepandaiannya telah maju dengan pesat sekali dan kini Tin Han sama  sekali berbeda dengan Tin Han sebelum dia terjatuh ke dalam jurang! Dia telah  menguasai  dua macam ilmu yang diajarkan Thaikek Cin-jin, yaitu pertama Ilmu Silat Hek-tiau-kun (Silat Rajawali Hitam), dan cara menghimpun tenaga sin-kang yang disebut Khong-sim Sin- kang yang membuat dia dapat bergerak cepat sekali dan tenaganya menjadi amat kuat.

Setelah berpisah dari Thai Kek  Cin-jin,  Tin  Han  lalu mulai melakukan perjalanan merantau. Pertama-tama dia pergi ke kota Hiu-cu di kaki bukit Lo-sian-san untuk mencari tahu perihal keluarganya. Akan tetapi di tempat ini dia hanya melihat bekas tempat tinggal keluarganya saja dan tidak ada seorangpun mengetahui di mana adanya keluarga Cia sekarang. Dari situ dia lalu melakukan perjalanan merantau, memenuhi pesan gurunya bahwa dia harus bertindak sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan keadilan.

Pada suatu hari, dia tertarik untuk menumpang perahu dan setelah perahu tiba di dekat  Cin-an,  dia  mendarat karena hatinya tertarik untuk pergi ke Cin-an, kota yang ramai itu.

Perjalanan dari tepi Huang-ho ke Cin-an memakan waktu sehari. Dari tepi sungai itu telah dibangun jalan yang cukup lebar dan para pedagang yang datang berkunjung, biasanya melakuka perjalanan bersama-sama agar lebih aman. Bahkan di Cin-an maupun di tepi sungai itu, banyak piauw- su (pengawal bekerja untuk mengawal) mereka agar selamat dalam perjalanan. Jarang ada yang berani melakukan perjalanan seorang diri karena dia dapat menjadi korban orang-orang jahat yang suka merampok. Dengan berkelompok mereka dapat menyewa beberapa orang piauw- su untuk mengawal mereka, apa lagi mereka yang membawa barang dagangan dan menggunakan gerobak-gerobak untuk mengangkut barang-barang dagangan mereka itu. Di antara para piauw-su dan para penjahat itu sudah ada kerja sama yang baik. Para piauw-su itu suka memberi uang jalan kepada para penjahat dan mereka tidak akan mengalami gangguan.

Akan tetapi Tin Han yang ingin menikmati perjalanan itu, melakukan perjalanan seorang diri saja. Dia melangkah santai sambil menggendong buntalan pakaian di punggungnya, menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang perjalanan. Lembah Sungai Huang-ho di waktu tidak sedang meluap karena banyak turun hujan, merupakan lembah yang subur sehingga pemandangan indah sekali.

Ketika Tin Han sedang berjalan seenaknya, terdengar seruan-seruan dari belakang. Dia cepat menengok dan berjalan minggir. Ternyata serombongan pedagang membawa dua gerobak barang dagangan sedang melakukan perjalanan cepat. Mereka dikawal oleh sepuluh orang piauw-su yang membawa golok telanjang di tangan. Tin Han berhenti dan memandang mereka itu. Kenapa orang-orang ini membawa pengawal, pikirnya. Tentu perjalanan di sini kurang aman. Baru saja dia berpikir demikian, dia melihat di depan muncul belasan orang yang menghadang di jalan. Tin Han yang ingin tahu segera mendekat dan menonton dari kejauhan. Dia melihat betapa para piauw-su itu menghampiri mereka yang menghadang di tengah jaIan dan mereka bercakap-cakap, lalu para piauw-su itu menyerahkan barang entah apa kepada mereka. Mereka bercakap sambil tertawa-tawa dan setelah itu, belasan orang itu berloncatan meng hilang ke balik semak-semak. Rombongarr itu lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Tin Han mengangguk-angguk. Biarpun dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para piauw-su dan  para  pedagang tadi, dia dapat menduga. Tentu para piauw-su itu telah memberi "uang jaIan" kepada para perampok itu sehingga rombongan itu dibiarkan lewat dengan aman. Ini merupakan semacam pemerasan pikirnya. Perampok-perampok itu menerima suapan dari para piauw-su dan ini merupakan kerja sama mereka. Tentu para piauw-su itu minta ganti dari para pedagang. Lalu ke mana perginya para petugas keamanan? Di mana-mana dia melihat terjadinya perampokan-perampokan tanpa adanya petugas keamanan untuk membasmi para penjahat itu. Ini hanya menunjukkan bahwa mereka yang bertugas menjadi komandan pasukan keamanan daerah itu tidak bekerja dengan benar. Kalau mereka itu bijaksana, tentu sudah mendengar akan adanya gangguan ini dan mudah saja bagi mereka untuk membasmi para perampok itu. Sungguh kasihan  rakyat,  seolah  tidak ada yang melindungi, dan terpaksa harus menyuap para perampok. Yang paling menderita tentulah para pembeli barang dagangan itu karena dengan adanya biaya yang banyak dalam perjalanan, tentu barang dagangannya akan dinaikkan harganya. Akhirnya yang menderita adalah rakyat yang membutuhkan barang-barang itu.

Tin Han melanjutkan perjalanannya. Ketika dia tiba di tempat di mana para penghadang tadi muncul, dia melihat dua orang tiba-tiba muncul dari balik  semak-semak.  Dia tidak menjadi heran atau kaget karena  dia  sudah  tahu bahwa mereka tentulah perampok yang sengaja akan "memungut pajak" kepada setiap orang yang lewat di situ.

"Berhenti !" bentak seorang di antara  mereka  yang bertubuh tinggi besar dan berwajah seram.

"Ada apakah kalian menyuruhku berhenti?"  tanya  Tin Han sambil tersenyum ramah. "Kalau kalian hendak menanyakan jalan, aku sendiri orang yang baru  datang  di sini dan tidak mengenal jalan."

"Hayo bayar dulu pajak jalanan kepada kami!"  bentak pula si tinggi besar sambil mengamangkan goloknya yang telanjang.

"Pajak jalanan apa yang kau maksud kan? Aku tidak mengerti," kata Tin Han, pura-pura. "Yang lewat di sini harus membayar pajak jalanan kalau ingin selamat sampai di Cin-an!"

"Akan tetapi aku tidak  mempunyai  uang,"  katanya. "Kalau   tidak   punya   uang,   tinggalkan   buntalan   yang

kaugendong   itu   dan   kami   akan   menggeledah   kanttmg-

kantung pakaianmu!"

"Wah, jangan begitu, sobat. Buntalan ini adalah pakaianku untuk berganti pakaian, dan uangku hanya tinggal dua tail." Tin Han mengeluarkan uangnya yang memang hanya tinggal dua tail, lalu menyodorkan kepada mereka.

"Untuk apa uang dua tail ? Hayo lepaskan buntalan itu!" Perampok ke dua yang bertumbuh pendek gendut merenggutkan buntalan pakaian itu dari pundak Tin Han. Kemudian, yang tinggi besar menggeledah saku pakaian Tin Han akan tetapi dia tidak menemukan apapun yang berharga. Dia lalu mengantungi uang yang  dua  tail  perak dan mengambil pula buntalan pakaian Tin Han.

"Nah, tinggalkan buntalan ini dan kau boleh melanjutkan perjalananmu. Cepat!" Si tinggi besar mengamangkan goloknya. Tin Han cepat melanjutkan perjalanannya. Ketika dia tiba di sebuah tikungan jalan, Tin Han  melompat  ke dalam hutan di sebelah kanan jalan dan. di balik sebatang potion besar dia menanggalkan pakaian luarnya. Kini dia memakai pakaian dalam yang serba hitam, mengambil pula kain hitam yang tadinya dilibatkan di pinggang dan memasang kain hitam itu di depan mukanya. Yang tampak kini hanya sepasang matanya. Setelah menanggalkan pakaian luarnya dan mengenakan pakaian hitam yang memang sudah dipakainya di sebelah dalam,  gerakan  Tin Han berubah. Dengan gesit sekali dia lalu melompat dan berlari ke tempat tadi. Dia tidak melalui jalan raya, melainkan menyusup-nyusup dalam hutan itu mencari-ari. Akhirnya dia menemukan gerombolan perampok itu. Ternyata gerombolan itu mempunyai sebuah pondok besar di tengah hutan dan mereka sedang  minum  minum,  bahkan ada yang mabok dan tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha, hasil kita hari ini cukup memuaskan!" kata seorang di antara mereka.

"Wah, lama-lama kita bisa menjadi malas, mendapatkan hasil besar tanpa bekerja sedikitpun."

"A-sam! Kenapa sastrawan miskin itu tidak kau biarkan lewat saja? Sialan besar, uangnya hanya dua tail dan buntalan itu hanya terisi pakaian butut!"

"Ticlak ada seorangpun yang boleh kita biarkan lewat tanpa membayarkan sesuatu. Terlalu enak  bagi  sastrawan itu kalau dia lewat tanpa membayarkan apa-apa. Biar  dia tahu rasa, datang ke Cin-an tanpa sekepingpun uang di sakunya dan tanpa pakaian pengganti sepotongpun, ha-ha- ha!"

Semua orang tertawa geli membayangkan sastrawan miskin itu kebingungan di Cin-an! Tin Han mengerutkan alisnya dan dia segera melompat turun dari atas pohon, tiba di depan pondok. Semua perampok itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula berada di situ.

Kepala gerombolan itu seorang tinggi kurus yang wajahnya kekuning-kuningan. Melihat orang bertopeng, dia menjadi marah dan segera maju dan membentak, "Siapa kau dan mau apa datang ke sini?" Sementara itu teman- temannya sudah mengambil posisi mengepung Tin Han.

"Tidak penting siapa aku! Yang penting, lekas kalian kumpulkan semua barang dan uang hasil rampokan kalian dan serahkan kepadaku!" bentak Tin Han. Kepala gerombolan itu tentu saja menjadi marah bukan main. Mereka adalah perampok-perampok ganas, bagaimana kini ada orang yang berani merampok mereka?

"Jahanam busuk, tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Toat-beng Ui-houw (Harimau Kuning Pencabut Nyawa) yang sudah terkenal di wilayah ini. Hayo katakan siapa engkau dan cepat berlutut kalau engkau tidak ingin nyawamu kucabut!" Sambil berkata demikian, kepala gerombolan yang nama julukannya Harimau Kuning Pencabut Nyawa itu telah melolos sebatang golok besar yang tampaknya berat dan tajam sekali.

Tin Han tersenyum di balik topengnya. "Engkau yang jahanam busuk! Kalau tidak cepat  kalian  berikan  semua hasil rampasan dan sogokan dari para piauw-su itu, jangan salahkan aku kalau engkau menjadi Bu-thow Ui-houw (Hari mau Kuning Tanpa Kepala)!"

Dimaki dengan ejekan seperti itu, kepala perampok menjadi marah bukan main. "Bunuh jahanam ini!" perintahnya dan limabelas orang anak buahnya sudah menerjang maju sambil menghujankan golok mereka. Mereka mengira bahwa orang bertopeng itu akan roboh dengan tubuh hancur lebur. Akan tetapi, "trang trang-trang!" golok mereka sating beradu dan si kedok hitam sudah tidak berada di tengah-tengah mereka. Mereka  memutar  tubuh dan melihat betapa si kedok hitam sudah berdiri di sana sambil tertawa-tawa. Dengan marah mereka menerjang lagi. Akan tetapi sekali Tin Han tidak mengelak dan begitu dia menggerakkan kaki tangannya, golok-golok berpelantingan disusul para pengeroyok itu roboh satu  demi satu. Melihat ini, Toat-beng Ui-houw menjadi marah sekali dan sambil mengeluarkan bentaka panjang nyaring diapun lari menghampiri dan menyerang Tin Han dengan goloknya. Serangan yang cukup dahsyat itu tampaknya tidak diperdulikan oleh Tin Han. Akan tetapi setelah golok itu mendekat kepalanya, tiba-tiba tangan kirinya menyambar dan menyambut. Dengan tangan telanjang Tin Han menangkap golok itu dan tangan kirinya membabat lengan kanan kepala gerombolan.

"Trakk......... ......... aduhhh.....!" Kepala gerombolan menjerit kesakitan karena lengan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan tangan Tin Ham. Sebelum dia dapat berbuat selanjutnya, sebuah tendangan Tin Han membuat tubuhnya terlempar ke belakang sampai lima meter dan jatuh berdebuk di atas tanah.

Para anak buah perampok itu menjadi penasaran dan semakin marah. Mereka menyerang lagi, akan tetapi kini tubuh Tin Han berlompatan ke sana sini membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga dalam waktu singkat limabelas orang anak buah gerombolan itu sudah jatuh tersungkur semua!

Bukan main kagetnya Toat-beng Ui houw. Diapun menjadi ketakutan dan maklum bahwa dia bertemu dengan seorang sakti! Maka, tanpa malu-malu la gi dia lalu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya ke arah Tin Han sambil berkata, "Tai-hiap (Pendekar Besar), ampunkan kami semua......... " Dia meratap dan melihat ini, limabelas orang anak buahnya juga segera berlutut sambil mengangguk- anggukkan kepalanya.

Tin Han bertolak pinggang. "Hayo cepat lakukan perintahku. Keluarkan semua uang dan  barang  rampasan dan suapan yang kalian terima dari para piauw-su itu!"

Kepala perampok itu memberi isya rat dan lima orang anak buahnya setengah berlari ke dalam pondok dan mereka keluar lagi sambil membawa banyak barang dan uang, ditumpuk di depan Tin Han.

Tin Han mengambil tumpukan uang yang  banyaknya tidak kurang dari limapuluh tail perak. Dia mengambil pula buntalan pakaianya, memasukkan uang itu ke dalam buntalannya lalu menggendong lagi buntalan itu di punggungnya.

" Aku hanya mengambil uang dan buntalan ini, barang selebihnya boleh kalian miliki. Akan tetapi, mulai saat ini kalian tidak boleh lagi melakukan penghadangan dan perampokan di sini. Kalau kalian masih melakukannya, aku akan datang kembali dan tidak akan memberi ampun kepada kalian semua. Akan kubunuh kalian satu demi satu!"

Tin Han membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ. "Ampun, tai-hiap. Kami akan menaati perintah tai-hiap, akan tetapi harap tai-hiap memberitahu siapa sebetulnya tai-hiap," kata kepala gerombolan dengan takut-takut.

"Hemm, sebut saja aku Hek-tiauw Eng-hiong (Pendekar Rajawali  Hitam  )!"  setelah  berkata  demikian,  sekali berkelebat Tin Han sudah lenyap dari depan mata mereka.

Tin Han kembali ke tempat di mana dia meninggalkan pakaiannya dan dengan cepat dia mengenakan lagi pakaian biasa di sebelah luar itu dan sambil menggendong buntalannya dia melanjutkan perjalanannya menuju Cin-an. Dia tersenyum senang. Uangnya tinggal dua tail dan uang limapuluh tail yang dia rampas dari para perampok itu amat berguna baginya. Untuk biaya perjalanannya. Melakukan perjalanan merantau membutuhkan uang untuk biaya dan dari mana dia dapat memperoleh uang itu? Kalau perlu dia harus mencuri atau mengambil dari tangan para penjahat!

-oo(mch)oo-

Di kota Cin-an, Tin Han bermalam di sebuah rumah penginapan yang juga merupakan sebuah  rumah  makan yang besar. Setelah mendapatkan kamar, dia pergi ke depan, bagian rumah makan dan mengambil tempat duduk di meja yang berada di sudut belakang.

Selagi dia menanti datangnya pesanan makanan, dia melihat-lihat ke bagian lain dari ruangan rumah makan itu. Dia tertarik ketika melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh tahun duduk seorang diri menghadapi meja. Laki-laki ini bertubuh sedang dan wajahnya cukup tampan, pakaiannya sederhana berwarna serba hijau. Yang menarilc perhatian Tin Han adalah sebuah tongkat  bambu  kuning yang terselip di punggungnya. Aneh sekali orang itu, pikirnya. Agaknya karena tidak berani membawa  senjata yang dilarang oleh pemerintah, dia membawa tongkat bambu kuning sebagai pengganti pedang. Rambutnya dikuncir panjang dan berada di belakang punggung lewat pundaknya. Sepasang matanya bersinar tajam dan diam-diam Tin Han dapat menduga bahwa orang itu tentu memiliki ilmu silat yang tangguh. Dari sinar matanya saja dia dapat menduga bahwa dia seorang ahli lweekeh (Tenaga dalam) yang kuat. Ketika orang itu mengangkat muka dan mereka bertemu pandang, Tin Han mengalihkan pandang matanya dan tidak memperhatikan lagi orang itu, yang mulai makan karena hidangan yang dipesannya sudah diantar oleh seorang pelayan.

Pada saat itu, ruangan tamu di rumah makan itu sudah terisi separuhnya. Tiba-tiba masuk dua orang yang membuat Tin Han terkejut sekali karena dia menyangka bahwa seorang di antara mereka adalah Souw Lee Cin! Gadis itu mirip benar dengan Lee Cin. Akan tetapi debar jantungnya menjadi tenang kembali setelah dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu bukan Lee Cin, melainkan  seorang  gadis yang mirip dengan Lee Cin. Setelah diperhatikan, biarpun gadis itu juga cantik, akan tetapi tidaklah secantik Lee Cin. Teman gadis itu juga seorang pemuda yang usianya sekitar duapuluh lima tahun dan tampak gagah dan tampan. Mereka lalu mengambil tempat duduk di meja yang kosong dan memesan makanan.

Pada saat itu, orang berbaju hijau itupun mengangkat muka memandang kepada dua orang muda yang baru masuk karena mereka kebetulan duduk di bagian depannya. Dan Tin Han melihat sesuatu yang  membuatnya  terkejut. Dari sinar mata orang berbaju hijau itu tampak kebencian dan kemarahan yang amat hebat! Akan tetapi agaknya orang itu menahannya dan tetap melanjutkan makannya. Tin Han juga tidak memperhatikannya lagi.

Pertemuannya dengan gadis yang mirip Lee Cin ini membuat Tin Han teringat kepada gadis yang dicintanya itu. Dia mencinta. Lee Cin dan perasaan hatinya ini telah dibisikkannya kepada gadis itu ketika dia menolongnya lari dari tangan keluarganya. Dia sudah mengaku bahwa dia mencinta Lee Cin, sebagai Si Kedok Hitam! Di manakah adanya Lee Cin sekarang? Dan apakah gadis itu melihat dia terjatuh ke dalam jurang? Kalau melihatnya demikian, tentu Lee Cin akan menganggap bahwa dia. telah mati! Tin Han termenung dan teringat bahwa Lee Cin adalah puteri Beng- cu Souw Tek Bun di Hong-san. Sekali waktu dia akan mencari Lee Cin di sana. Tentu saja dia tidak dapat mencarinya sebagai Si Kedok Hiram karena Si Kedok Hitam pernah melukai Souw Tek Bun yang tentu akan menganggapnya sebagai musuh. Dia akan mencarinya, sebagai Tin Han! Lee Cin tentu belum mengetahui bahwa dialah Si Kedok Hitam, dan sebagai Tin Han dia dapat menemui gadis itu dengan aman, tidak terganggu oleh ayah gadis itu. Berdebar jantungnya teringat akan Lee Gin. Bagaimana gadis itu akan menyambutnya kalau bertemu dengannya sebagai Tin Han? Sepanjang ingatannya, Lee Cin bersikap baik kepadanya sebagai Tin Han, sikap bersahabat. Entah bagaimana penerimaan gadis itu terhadap dirinya sekarang, apa lagi kalau dia menyatakan cintanya! Lamunannya terganggu dengan datangnya pelayan yang membawa makanan pesanannya. Dia lalu mulai makan dan kembali dia mengerling ke arah pemuda baju hijau. Pemuda baju hijau itu telah selesai makan sekarang, akan tetapi dia masih minum-minum sambil terkadang melirik ke arah muda-mudi yang makan di meja yang berada di depannya. Tin Han merasa curiga. Sinar mata pemuda baju hijau itu selalu ditujukan kepada si gadis, tidak pernah memandang si pemuda kawan gadis itu.

Tin Han teringat akan sesuatu dan terkejut. Dia pernah mendengar akan adanya penjahat yang disebut jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang kerjanya menculik gadis- gadis cantik untuk diperkosa. Jangan-jangan pemuda baju hijau itu sebangsa jai-hwa-cat! Ja i-hwa -c at atau bukan, pemuda baju hijau itu bersikap mencurigakan dan dia harus waspada. Biarpun gadis dan pemuda itu juga kelihatan sebagai orang-orang yang tidak lemah, namun kalau perlu mereka harus dilindungi, apalagi gadis itu yang mirip Lee Cin.

Tak lama kemudian, ketika pesanan makanan gadis dan pemuda itu diantar oleh pelayan, pemuda baju hijau bangkit berdiri, membayar makanan dan hendak pergi keluar. Dia melewati meja gadis dan pemuda itu,. berhenti dan tiba-tiba bertanya kepada gadis itu. "Maafkan sa ya, bukankah nona ini she Souw?"

"Bukan!" jawab gadis itu tak senang karena ada orang laki-laki yang berani mengajaknya bicara.

"Ah, maaf," kata pemuda baju hijau dan diapun pergi dari situ.

Tin Han yang mendengar pertanyaan itu berdebar-debar. She Souw? Kalau begitu, agaknya pemuda baju hijau itupun mengira bahwa gadis itu adalah Souw Lee Cin! Apa hubungannya dengan Lee Cin? Akan tetapi, jelas bahwa hubungan itu tidak akrab. Buktinya pemuda itu mengira gadis itu Lee Cin. Kalau sudah berhubungan akrab, tentu dapat mengetahui bahwa ia bukan Lee Cin.

Tin Han sengaja memperlambat makannya karena dia ingin menanti sampai gadis dan pemuda itu selesai makan. Dia harus membayangi mereka secara diam-diam, untuk melindungi mereka karena dia semakin curiga kepada pemuda baju hijau itu.

Setelah dua orang itu selesai makan dan membayar kepada pelayan lalu keluar. dari rumah makan, Tin Han juga ke luar sambil masih menggendong  buntalan  pakaiannya. Dia tidak meninggalkan buntalan itu  di  kamarnya  karena ada uang limapuluh tail perak  dalam buntalan.  Diam-diam dia membayangi kedua orang itu yang segera keluar di jalan besar.

Belum jauh gadis dan pemuda itu pergi, Tin Han melihat pemuda baju hijau yang tadi keluar dari tikungan jalan dan membayangi mereka berdua. Diam-diam dia tersenyum geli. Orang berbaju hijau itu membayangi pemuda dan gadis sedangkan dia membayangi si pemuda baju hijau!

Siapakah pemuda baju hijau yang mencurigakan itu? Seperti telah diduga oleh Tin Han, pemuda itu bukan orang biasa, melainkan seorang jagoan yang tinggi ilmu  silatnya. Dia bernama Yauw Seng Kun dan dia adalah murid dari mendiang Jeng-ciang-kwi Chi Sam Ti! Seperti kita ketahui, Jeng-ciang-kwi yang bermusuhan dengan Ang-tok Mo-li Bu Siang, ketika sedang merayakan hari ulang tahunnya, diserbu oleh Ang-tok Mo-li dan Lee Cin. Ibu dan anak ini mengamuk. Ang-tok Mo-li mengamuk dan merobohkan banyak anak buah Jeng ciang-kwi, sedangkan  datuk  dari Guha Tengkorak itu sendiri dihadapi Lee Cin. Dalam pertandingan satu lawan satu yang amat seru, akhirnya Jeng-ciang-kwi dapat terbunuh oleh Lee Cin. Pada saat itu, Yauw Seng Kun juga berada di antara mereka Akan tetapi melihat betapa gurunya tewas, diapun seperti yang lain-lain menyerah dan tidak melawan lagi. Akan  tetapi  diam-diam dia mendendam kepada Lee Cin. Setelah Lee Cin dan ibunya pergi, Yauw Seng Kun rajin melatih diri dengan ilmu  silat yang dia pelajari dari gurunya. Demikian tekun dia melatih diri sehingga dia memperoleh banyak sekali kemajuan. Setelah merasa dirinya kuat, dia mulai pergi untuk mencari musuh besarnya.

Akan tetapi, sebelum dia pergi mencari Lee Cin yang dia tahu bersama Ang-tok Mo-li berada di Bukit Ular. dia kedatangan tamu. Tamu itu adalah utusan Thian-te Mo-ong yang mencari Jeng-ciang-kwi. Oleh Thian-te Mo-ong Jeng- ciang-kwi ditawari kedudukan yang baik kalau mau bekerja sama dan mau datang ke Pulau Naga di mana Beng-cu yang baru berada. Utusan Thian-te Mo-ong dengan jelas memberitahu kepada Yauw Seng Kun bahwa kini kedudukan Beng-cu yang baru amat kuat, mendapat  dukungan  dari Siang Koan Bhok dan Thian-te Mo-ong. Beng-cu bermaksud untuk mengumpulkan para datuk, diajak bekerja sama untuk menentang pemerintah Mancu dan mengambil alih kekuasaan. Kelak kalau perjuangan mereka berhasil, mereka semua tentu akan memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia.

"Sayang, guruku telah tewas terbunuh oleh musuh," kata Yauw Seng Kim. "Aku sedang hendak mencari musuh besar itu untuk membalas dendam atas kematian suhu."

Utusan itu bertanya, siapakah musuh besar yang telah membunuh Jeng ciang- kwi?”

"Dia adalah Souw Lee Cin dan ibu nya, Ang-tok  mo Li.” "Ah, mereka adalah orang-orang yang lihai sekali!" kata

utusan  itu.  "Kalau  engkau  suka  bersekutu  dengan  kami,

tentu akan lebih mudah untuk membalas kematian gurumu." Utusan itu adalah seorang tokoh dunia sesat yang ditugaskan untuk membujuk tokoh-tokoh kangouw lainnya_ Dia bernama Ma Huan dan mempunyai pergaulan yang luas di dunia golongan sesat. Maka, begitu mendengar bahwa Jeng-ciang-kwi telah meninggal dunia, dia membujuk Yauw Seng Kun untuk bergabung dengan Pulau Naga. Dia tahu bahwa sebagai murid Jeng-ciang-kwi, tentu Yauw Seng Kun berkepandaian tinggi pula, apa lagi majikan baru dari Cuba Tengkorak ini juga memiliki anak buah yang hampir limapuluh orang banyaknya.

Yauw Seng Kim tertarik sekali.

"Baiklah, aku akan berkunjung dulu ke Pulau Naga dan melihat keadaan. Kalau nanti aku merasa tertarik untuk bergabung, aku akan membawa semua anak  buahku  ke sana."

Demikianlah, Yauw Seng Kun lalu mengadakan perjalanan menuju ke Pulau Naga dan kebetulan pada hari itu dia tiba di Cm-an dan bertemu  dengan  seorang  gadis yang mirip sekali dengan Lee Cin. Dia baru satu kali melihat Lee Cin, yaitu ketika gadis itu bertanding melawan gurunya, karena itu melihat gadis yang mirip sekali dengan Lee Cin, dia mengira bahwa gadis itu benar-benar musuh besarnya. Biarpun setelah bertanya apakah gadis itu she Souw dan mendapat jawaban bukan, hatinya masih penasaran dan diam-diam dia menanti di luar rumah makan lalu membayangi gadis dan pemuda itu. Seng Kun sama sekali tidak tahu bahwa. ada orang lain yang membayangi dia!

Siapakah gadis yang mirip Lee Cin dan siapa pula pemuda yang melakukan perjalanan bersamanya?  Pemuda itu bernama The Siang In, seorang pemuda yang tinggal bersama orang tuanya di Ho-ciu. Adapun  gadis yang mirip Lee Cin itu bernama The Kiok Hwa, adik kandungnya. Kakak beradik ini baru saja meninggalkan perguruan  mereka  di Kun lun-pai dan mereka hendak pulang ke Ho-ciu. Ka.rena perjalanan itu amat jauh, setibanya di Cin-an mereka kehabisan uang. Sebagai pendekar-pendekar Kunlun, mereka pantang melakukan hal tercela untuk mencari uang, maka setelah menghabiskan sisa uang untuk membeli makanan di rumah makan, mereka lalu keluar untuk mencari tempat ramai dengan maksud untuk mencari dana dengan memainkan ilmu silat di depan umum.

Setelah kakak beradik ini tiba di sebuah taman umum yang ramai, keduanya lalu berniat untuk memamerkan ilmu silat mereka di tempat itu dan minta bantuan uang dari para penonton. Sesungguhnya mereka berdua masih malu-malu karena belum pernah mereka melakukan hal ini, akan tetapi karena bekal uang yang sedikit sudah habis dan mereka membutuhkan uang untuk pembeli makanan dan penyewa kamar, mereka memberanikan diri. The Siang In  dengan muka kemerahan berdiri dan bertepuk tangan memancing perhatian banyak orang.

"Saudara-saudara sekalian yang budiman!" teriaknya dan orangpun mulai berdatangan dan membentuk lingkaran menonton apa yang hendak diperbuat pemuda dan gadis cantik itu. "Saudara-saudara yang budiman. Kami kakak beradik she The yang berasal dari Ho-ciu, karena di tengah perjalanan kehabisan uang, kami hendak mempertontonkan ilmu silat dengan harapan saudara sekalian sudi memberi imbalan sekedarnya untuk kami pakai sebagai bekal perjalanan kami yang masih jauh."

Setelah berkata demikian, diapun mengangguk kepada Kiok Hwa. Gadis inipun bangkit berdiri, memberi hormat ke empat penjuru sambil berkata, "Harap cu- wi (saudara sekalian) tidak menertawakan ilmu silat yang masih dangkal!" Setelah berkata demikian, mulailah gadis itu bersilat. Mula- mula gerakannya lambat, makin lama semakin cepat sehingga akhirnya orang hanya melihat bayangannya berkelebat ke sana sini. Ilmu silat Kun-lun-pai memang cepat dan indah sehingga semua orang yang menonton menjadi tertarik sekali dan ramailah orang bertepuk tangan. Keramaian ini menarik perhatian lebih banyak orang lagi sehingga tempat itu penuh dengan penonton. Orang- orang bertepuk tangan ketika Kiok Hwa menghentikan gerakan silatnya dengan sikap manis, lalu memberi hormat ke empat penjuru.

"Sekarang tiba giliran saya untuk memperlihatkan sedikit ilmu silat, ha rap cu-wi tidak menertawakannya," kata Siang In dan diapun melolos sabuk dari pinggangnya yang berwarna biru. Setelah memberi hormat ke empat penjuru, diapun lalu bersilat mempergunakan sabuk biru yang panjangnya dua meter itu. Memang indah sekali gerakan pemuda ini. Sabuk yang lembek itu kadang berubah tegak lurus ketika dia memainkannya dan dari putaran sabuk itu terdengar angin menderu seolah yang diputar itu adalah tongkat dari baja saja.

Sementara Siang In memperlihatkan kebolehannya, Kiok Hwa berjalan berkeliling sambil mengembangkan ujung bajunya ke mana orang-orang melemparkan uang. Sebentar saja ujung baju yang dikembangkan itu telah penuh dengan uang dan Kiok Hwa menuangkannya ke atas tanah, kemudian berkeliling lagi dengan baju yang kosong dikembangkan seperti tadi.

Ketika ia tiba di sebelah kiri, tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang pemuda baju hijau yang dikenalnya sebagai pemuda yang tadi menegurnya ketika berada di rumah makan. Kiok Hwa berhenti melangkah dan  pemuda  baju hijau itu berkata dengan suara lantang.

"Nona, aku suka menyumbang sebanyak sepuluh tail perak kalau engkau dapat bertahan melawanku selama duapuluh jurus!''

Mendengar ini, semua orang berdiam dan memandang ke arah Yauw Seng Kun. Bahkan The Siang In yang sedang bersilat lalu menghentikan gerakannya dan diapun menghampiri adiknya, dan memandang kepada pemuda baju hijau. Dia juga teringat bahwa pemuda itu adalah pemuda yang tadi bertanya kepada adiknya apakah  adiknya  she Souw. Dia memandang penuh perhatian. Seorang pemuda yang usianya sekitar tigapuluh tahun, pakaiannya  serba hijau dan wajahnya juga tampan bertubuh sedang. Rambutnya yang juga dikuncir panjang itu amat tebal dan tergantung di belakang pundak. Di punggungnya terdapat sebatang tongkat bambu kuning.

Siang In segera memberi hormat kepada orang itu dan berkata dengan lembut, "Sobat, kami berdua hanya mencari tambahan bekal uang di jalan dengan mempertontonkan sedikit ilmu silat kami yang tidak ada artinya. Adikku tidak akan bertanding dan bertaruh dengan siapapun juga."

"Sobat, apakah engkau takut kalau  aku  akan  melukai atau mencelakakan adikmu ini? Sama  sekali  tidak,  sobat. Aku hanya tertarik melihat ilmu silatnya dan ingin mencobanya. Untuk itu, aku akan memberi bantuan sebanyak duapuluh tail perak. Baik ia kalah atau menang, ia akan kuberi duapuluh tail perak!"

"Terima kasih atas kebaikanmu, sobat. Bagaimana kalau aku saja yang mewakili adikku, berlatih sebentar denganmu?"

"Tidak bisa, aku tertarik akan permainan silat nona ini, bukan permainan sabukmu tadi. Nah, bagaimana pendapat para saudara yang menonton? Apakah tawaranku tadi tidak patut? Aku ingin bermain-main ilmu silat sebentar dengan nona ini, sukur kalau dapat  bertahan  sampai  duapuluh jurus dengan janji tidak akan melukai dan akan kusumbangkan duapuluh tail perak!"

Semua orang bersorak setuju. Tentu saja selain mereka ingin melihat gadis itu menerima duapuluh tail perak, juga mereka ingin menyaksikan pertandingan ilmu  silat.  Ilmu silat gadis itu cukup tangguh, maka orang berbaju hijau ini tentu memiliki kepandaian sehingga dia berani menawarkan uang duapuluh tail perak. Melihat semua penonton menyetujui, dan pemuda itu berjanji tidak akan mencelakai atau melukai adiknya, Siang in terpaksa tidak dapat menolak lagi.

"Baiklah, biar adikku melayanimu selama duapuluh jurus!" katanya dan kepada adiknya dia berkata, "Hwa- moi, berhati- hatilah kau."

Kiok Hwa mengangguk dan orang berpakaian hijau  itu lalu mengambil uang dari sakunya sebanyak duapuluh tail perak. Dengan gerakan sembarangan dia melemparkan duapuluh potong kecil perak itu ke  atas  tumpukan  uang yang tadi telah dikumpulkan Kiok Hwa dan potongan perak kecil- kecil itu jatuh tepat di atas tumpukan uang dengan rapih membentuk lingkaran seperti ditata dengan tangan saja!

Kiok Hwa segera memasang kuda-kuda di depan  Seng Kun dan berkata, "Aku telah bersiap!"

"Eh, nona. Aku menjadi malu sekali kalau harus menyerang terlebih dulu. Engkau adalah seorang wanita, maka biarlah engkau yang lebih dulu menyerangku," kata Seng Kun dengan sikap sembarangan, tidak memasang kuda-kuda seperti Kiok Hwa.