-->

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 6

Jilid 6

Serbuan yang menewaskan hampir seratus orang penduduk Tai-bun, dan mengalahkan para jagoan yang memimpin di situ, segera tersiar ke seluruh daerah tak bertuan itu dan semua orang tahu bahwa di situ kini berkuasa gerombolan yang menamakan diri mereka perkumpulan Thian-te Kui-pang. Ada beberapa orang pemimpin gerombolan lain yang mencoba untuk merebut perkampungan itu namun satu demi satu mereka dikalahkan oleh Thian-te Kui-pang sehingga akhirnya tak seorangpun berani mengganggu gerombolan berpakaian hitam itu. Beberapa pekan kemudian, pada suatu siang, para anggauta Thian-te Kui-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang dusun Tai-bun, menghadang dan menghentikan seorang laki-laki yang hendak memasuki dusun itu. Semenjak dusun itu dikuasai Thian-te Kui- pang, tak seorangpun bukan anggauta diperbolehkan memasukinya dan siang malam pintu gerbang dusun dijaga ketat. Dusun itu berubah seperti sebuah benteng saja!

"BERHENTI! Harap melapor dulu siapa engkau dan ada keperluan apa hendak memasuki dusun kami." kata kepala jaga dan sepuluh orang penjaga sudah mengepung pemuda itu dengan sikap yang galak.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. tubuhnya sedang dan wajahnya tampan, sikapnya lembut, pakaiannya indah dan mewah seperti seorang pemuda hartawan. Dia bersikap tenang dan tersenyum melihat sikap galak sepuluh orang itu.

"Kalian laporkan kepada Bu-tek Sam-kui bahwa Tok-siauw-kwi (Setan Suling Beracun) Suma Hok mewakili ayahnya, Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Setan) Suma Koan, ingin bertemu dengan mereka bertiga."

Mendengar ucapan pemuda itu, sepuluh orang anggauta Thian-te Kui-pang terkejut dan sikap mereka segera berubah sama sekali.

"Harap kongcu suka menanti sebentar." kata kepala jaga dan para anak buahnya mempersilakan pemuda itu duduk di dalam gardu penjagaan, sementara menanti kepala jaga yang berlari masuk untuk membuat laporan.

Tak lama kemudian, muncullah tiga orang pimpinan Thian-te Kui-pang, yaitu tiga orang kakak beradik seperguruan yang disebut Bu-tek Sam-kui (Tiga Setan Tanpa Tanding) dengan sikap ramah. Tiga orang ini adalah Pek-thian-kui yang bertubuh gendut bulat, Huang-ho-kui yang tinggi kurus, dan Toat-beng-kui yang paling muda, berusia empat puluhan tahun dan wajahnya tampan.

"Kiranya Suma Kongcu yang datang, maafkan karena tidak tahu, kami terlambat menyambut."

Melihat sikap pimpinan mereka, para penjaga itupun berdiri tegak dengan sikap hormat. Suma Hok tersenyum dan membalas penghormatan mereka.

"Ayahku mewakilkan kepadaku sebagai utusan Kaisar kami untuk membicarakan urusan kita."

"Silakan, kongcu, mari kita bicara di dalam." Bu-tek Sam-kui mempersilakan pemuda itu memasuki dusun dan mereka segera mengadakan pembicaraan yang serius di dalam sebuah ruangan tertutup. Sebelum Suma Hok, berkunjung ke dusun yang menjadi sarang Thian-te Kui- pang, sudah lebih dulu ayahnya, Suma Koan, menghubungi Bu-tek Sam-kui dan dengan perantaraan Bu-tek Sam-kui, Suma Koan menyampaikan uluran tangan bekas Kaisar Cang Bu untuk bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Kaisar Cang Bu yang sudah terguling tahtanya itu minta bintuan kerajaan Wei untuk menyerang ke selatan dan merebut kembali tahta kerajaannya dari Kaiasar Siauw Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi, dengan janji kalau berhasil akan menyerahkan daerah tak bertuan antara Huang-ho dan Yang-ce-kiang kepada kerajaan Wei. Kaisar Thai Wu dari kerajian Wei menerima baik uluran tangan itu dan akan memberi keputusan setelah itu diperbincangkan dahulu dengan para pembantunya. Dan hari itu, Suma Hok ditugaskan ayahnya untuk mewakilinya minta berita keputusan Kaisir Thai Wu, sekalian membicarakan rencana kerja bersama itu. "Paman bertiga tentu sudah maklum apa maksud kunjunganku ini," kata Suma Hok setelah menerima hidangan selamat datang dari Bu-tek Sam-kui. "Atas nama Sribaginda Kasar Cang Bu, ayah mengharapkan keputusan dari kerajaan Wei, dan juga ingin mendengar rencana siasat yang akan kita atur bersama."

"Kami gembira sekali. Suma Kongcu," kata Pek-thian-kui. "Semula, kami membentuk Thian-te Kui-pang untuk melaksanakan tugas mengacau kerajaan baru Chi di selatan. Ketika kaisar kami menerima surat uluran tangan Kaisar Cang Bu, beliau merasa gembira dan menyatakan setuju. Ini kami membawa surat dari kaisar kami untuk Kaisar Cang Bu mengenai persetujuan kerja sama itu."

Dengan girang Suma Hok menerima surat itu dan menyimpan di balik jubahnya. "Terima kasih, paman. Nah, sekarang kita bicarakan tenting usaha kerja sama itu. Kami telah mempersiapkan sekitar lima ribu orang pasukan yang siap tempur. Kaisar Cang Bu mengharapkan agar secepatnya kerajaan Wei mengirim pasukan untuk minta bantuan pasukan kami menggempur Nan-ping."

Toat beng-kui, orang termuda dari Bu-tek Sam-kui, tersenyum dan dia yang menjawab, "Wah, tidak semudah itu, kongcu! Apa artinya pasukan yang hanya lima ribu orang banyaknya? Kalau menyerang kerajaan Chi begitu saja dengan kekuatan pasukan, maka akan terjadi perang besar yang menimbulkan banyak kerugian di pihak kerajaan kami karena kami yang menjadi penyerang dari tempat jauh, pada hal kekuatan antara kedua kerajaan berimbang. Belum tentu kita akan menang."

Suma Hok mengerutkan alisnya. "Hemm, kalau begitu, apa artinya persekutuan ini? Apa yang direncanakan oleh Kaisar Wei Tay Wu untuk membantu kami?"

"Kongcu, kaisar kami telah menyerahkan kerja sama dengan Kaisar Cang Bu kepada kami. Kami yang akan mengatur semua rencana, dan kami hanya akan mengacaukan kerajaan baru Chi dari dalam. Kalau perlu, kami dapat membunuh kaisar dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada pangeran yang tertinggal. Dengan keadaan yang kacau, kerajaan Chi akan menjadi lemah dan mudah diserbu dan dikalahkan. Selain mencoba membunuh Kaisar Siauw Bian Ong dan keluarga serta sekutunya, kitapun harus dapat menguasai dunia kang-ouw sehingga kalau saatnya yang baik tiba, kita dapat mengerahkan tenaga mereka untuk membantu kita. Bagaimana pendapat Suma Kongcu?"

Suma Hok mengangguk-angguk. Ayahnya sendiri sudah berpendapat bahwa kekuatan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu masih terlalu lemah untuk dapat merebut kembali tahta kerajaan, oleh karena itu ayahnya menganjurkan Kaisar Cang Bu untuk bekerja sama dengan kerajian Wei di utara.

"Rencana itu baik sekali," katanya. "Dan tentang penguasaan dunia kang-ouw di daerah selatan, harap jangan khawatir. Ayahku telah melakukan usaha itu dan sudah menghubungi banyak tokoh kang-ouw. Bahkan kini Datuk wanita Kwan Im Sianli telah menjadi sahabat baik ayahku."

"Bagaimana dengan datuk yang menjadi majikan Lembah Bukit Siluman?" tanya Huang-ho-kui, orang ke dua Bu-tek Sam-kui.

Suma Hok mengerutkan alisnya. Dia telah mendengar berita tentang datuk yang tadinya akan menjadi ayah mertuanya, ketika dia mengharapkan Hui Hong, puteri angkat datuk itu, menjadi isterinya. Bahkan sampai sekarangpun dia masih merindukan gadis itu. Akan tetapi, berita yang diterimanya sungguh amat tidak menyenangkan, yaitu bahwa kini Ouwyang Toan, putera datuk itu, telah menjadi pengawal anggauta pasukan keamanan di istana Kaisar Siauw Bian Ong, bersama Bi Moli yang telah menjadi pengawal permaisuri kaisar itu. Dengan sendirinya Ouwyang Sek tentu akan berpihak kepada puteranya, berarti berpihak kepada kerajaan Chi yang baru itu.

"Ah, sukar mengharapkan kerja sama dengan dia," katanya. "Puteranya, Ouwyang Toan, kini telah menjadi pengawal kerajaan Chi, bersama Bi Moli Kwan Hwe Li. Dari kedua orang datuk itu, Bi Moli (Iblis Betina Cantik) Kwan Hwe Li dan juga dari Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek kita tidak dapat mengharapkan kerja sama, bahkan mereka akan menjadi penghalang karena mereka berpihak kepada Kaisar Siauw Bian Ong."

Bu-tek Sam-kui tertawa dan Suma Hok memandang heran, juga penasaran. "Kenapa paman bertiga malah tertawa?"

"Kenapa kongcu tidak dapat melihat kesempatan yang teramat baik ini? Kita harus dapat memanfaatkan segala macam keadaan demi keuntungan kita! Kami juga sudah mendengar tentang Bi Moli dan Ouwyang Toan bekerja di istana Kaisar Siauw Bian Ong. Dan itu justeru bagus sekali! Kami mengenal dua orang datuk itu. Bi Moli dan Bu-eng-kiam, mereka bukanlah orang yang suka dianggap pahlawan atau pendekar. Mereka akan bertindak demi keuntungan, mereka bukan orang bodoh. Kalau kita menawarkan keuntungan yang lebih besar, kedudukan yang lebih baik, mustahil mereka akan memilih menjadi pengawal kerajaan Chi saja. Ha-haha ha!" Pek-thian-kui tertawa bergelak, perutnya yang gendut itu bergerak-gerak seperti hidup. Kembali Suma Hok mengangguk-angguk setuju. "Baiklah, aku akan melaporkan hasil pertemuan kita ini kepada ayah dan Sribaginda Kaisar Cang Bu. Sebaiknya kita membagi tugas. Paman bertiga yang menghubungi Paman Ouwyang Sek dan Bi Moli Kwan Hwe Li, sedangkan kami akan menghubungi Kwan Im Sianli dan tokoh-tokoh lain di daerah barat. Kami akan mengerahkan kepada para tokoh kang-ouw di daerah kerajaan selatan agar mengadakan pemilihan seorang beng-cu (pemimpin rakyat) dunia kang-ouw. Kalau beng-cu itu dapat kita kuasai, dan berpihak kepada kita, tentu mudah mengerahkan para tokoh kang-ouw membantu kita kelak."

"Bagus Sekali!" Pek-thian-kui berkata girang, "Selain tugas itu, juga kami akan menyuruh orang-orang kami untuk menundukkan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw di wilayah Chi bagian utara ini, sedangkan untuk menguasai begian selatan, kami serahkan kepadamu, kongcu. Sebaiknya kalau mareka itu semua dapat dibujuk, kalau ada yang menentang, sebaiknya ditundukkan dengan kekerasan. Paling lama dalam waktu setengah tahun, kita harus sudah berhasil membasmi kaisar Siauw Bian Ong sekeluarganya dan termasuk semua sekutunya, lalu mengepung Nan-king dan membasmi pasukan yang mempertahankan kerajaan Chi."

Setelah berunding matang dan bermalam semalam di dusun Tai-bun, pada keesokan harinya Suma Hok meninggalkan tempat itu untuk kembali ke daerah Kui-cu, di lembah sungai di mana bekas kaisar Cang Bu bersama adiknya tinggal.

Sebuah persekutuan telah diatur, persekutuan yang merupakan ancaman bahaya bagi kerajaan Chi, karena persekutuan itu amat kuat. Di satu pihak bekas kaisar Cang Bu yang dibantu adik iparnya, Suma Hok dan datuk sesat Suma Koan, telah menghimpun pasukan yang berjumlah lima ribu orang. Di lain pihak ada kerajaan Wei di utara yang mau bekerja sama dan telah menyerahkan kerja sama itu kepada Bu-tek Sam-kui yang membentuk pasukan Thian-te Kui- pang yang terdiri diri orang-orang berkepandaian tinggi. Kalau rencana mereka berhasil dan mereka dapat membujuk Bi Moli dan Ouwyang Toan bekerja sama, maka keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong sekeluarganya memang terancam bahaya maut, karena dua orang tokoh kang-ouw ini sekarang telih menduduki jabatan pengawal dalam istana! “

Dua orang laki-laki itu bercakap-cakap dalam ruangan rumah ketua Thian-beng-pang. Tuan rumah, ketua Thian beng-pang bernama Ciu Tek itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya sederhana dan ringkas seperti pakaian seorang pesilat, Wajahnya terhias brewok yang membuat dia nampak gagah. Adapun tamunya, seorang pria berusia sebaya dengan tuan rumah, bertubuh kurus dan pakaiannya penuh tambalan. Akan tetapi dia bukanlah seorang pengemis tua biasa, karena dia adalah ketua Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) yang terkenal di wilayah Nan-king sebelah selatan sungai Yang-ce. Namanya Kam Cu dan sebutannya adalah Hek-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Hitam). Kumis dan jenggotnya sudah beruban dan biarpun tubuhnya kurus dan tubuh itu nampak lemah, namun dari sinar matanya yang mencorong orang dapat menduga bahwa dia bukanlah orang biasa.

"Menyebalkan sekali mereka itu! Suma Koan dan anaknya memaksa kita untuk menaluk kepada mereka! Huh, siapa tidak tahu bahwa sejak dahulu Kui-siauw Giam-ong terkenal sebagai seorang datuk sesat? Sekarang, setelah kerajaan Liu-sung jatuh dan Kaisar Cang melarikan diri, dia berpura-pura muncul sebagai seorang ksatria yang hendak mendukung Kaisar Cang Bu."

"Kami juga menolak mentah-mentah bujukan mereka, bahkan kami juga mereka ancam. Akan tetapi kami tidak takut," kata ketua Thian-beng-pang. "Kita semua melihat betapa bijaksananya Kaisar Siauw Bian Ong. Bahkan beliau tidak menumpas orang-orang bekas pejabat Liu-sung dan menerima siapa saja yang akan membantu pemerintah kerajaan Chi untuk menenteramkan dan memakmurkan kehidupan rakyat. Bagaimana mungkin pemerintahan yang demikian bijaksana hendak kita tentang? Dan mengembalikan Kaisar Cang Bu yang masih muda dan hanya mengejar kesenangan itu ke atas tahta? Tidak, kami tidak mau dan sudah pasti Suma Koan mempunyai rencana busuk bagi keuntungan dirinya sendiri dengan memperalat bekas kaisar muda itu." "Inilah akibatnya kalau kaisar Siauw Bian Ong bersikap terlalu baik hati. Di samping segi baiknya mendapat bantuan orang-orang pandai, juga ada segi buruknya, yaitu kelemahan karena kebaikan beliau itu membuka pintu bagi orang-orang sesat untuk ikut menyelinap masuk. Apakah pang-cu tidak mendengar berita bahwa orang-orang yang tadinya terkenal di kang-ouw sebagai golongan sesat. kini ikut pula bekerja di dalam istana?"

Ciu Tek pang-cu dari Thian-beng-pang terkejut dan memandang kepada pencemis tua. "Lokai, siapa yang engkau maksudkan?"

"Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan putera Bu-eng-kiam Ouwyang Sek."

"Ahh!" Ciu Tek membelalakkan matanya. "Kalau Bi Moli Kwan Hwe Li, bagaimanapun juga ia dahulu adalah seorang puteri bangsawan, bahkan kini ayahnya masih tinggal di kota raja. dan adiknya, Kwan Hwe Un menjadi hakim di Bi-ciu, tidak mengherankan kalau ia datang ke kota raja dan bekerja di istana kaisar. Akan terapi Ouwyang Toan putera Bu-eng-kiam, majikan Lembah Bukit Siluman? Hemmm, ini berbahaya sekali!"

"Harap pang-cu tenangkan diri. Kurasa biar seorang seperti Bu-eng-kiam sekalipun tidak akan begitu gila untuk membuat kekacauan di istana. Kaisar memiliki banyak pengawal dan jagoan istana yang cukup tangguh. Sekarang, bagaimana kita harus menghadapi ancaman dari Kui- siauw Giam-ong? Tiga hari lagi dia akan datang untuk minta keputusan kita. Kalau kita menolak, tentu dia akan menyerang."

"Takut apa, Lo-kai? Kalau dia memaksa kita melawan untuk mempertahankan nama dan kehormatan." kata ketua Thian-beng-pang itu.

"Akan tetapi kalau dia menantangmu perkelahian satu lawan satu? Kui-siauw Giam-ong lihai sekali, dan siapa tahu dia juga membawa orang-orang yang lihai. Kabarnya sudah banyak tokoh kang-ouw yang takluk padanya dan mau bekerja sama."

"Tidak usah khawatir, kita menjadi satu dan melawan! Sebaiknya pada hari yang ditentukan, engkau dan anak buahmu berkumpul di sini dan kita bersatu padu menghadapinya, Lo-kai."

"Baik, pangcu. Kita bersatu menghadapi datuk sesat itu!" kata Hek-tung Lo-kai.

Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali Hek-tung Lo kai Kam Cu bersama sekitar dua ratus orang anggauta Hek-tung Kai-pang telah berkumpul di rumah perkumpulan Thian-beng p.In! yang juga sudah mengumpulkan anak buahnya sebanyak dua ratus orang lebih. Thian beng- pangcu Ciu Tek menyambut sahabatnya itu dan dia juga sudah siap dengan anak buahnya untuk menghadapi serangan Suma Koan.

Suasana di pusat perkumpulan Thian-ben-;-pang itu nampak hening dan tegang biarpun di situ berkumpul ratusan orang anak buah kedua perkumpulan. Baik Hek-tung Lo-kai Kam Cu maupun Thian-beng-pangcu Ciu Tek tidak mau minta bantuan pasukan keamanan, pemerintah karena urusan ini merupakan urusan mempertahankan kehormatan sehingga mereka akan merendahkan diri kalau sampai minta bantuan pasukan pemerintah. Setelah matahari naik tinggi, semua anak buah kedua perkumpulan telah berbaris di depan pusat perkumpulan Thian- ber g-pang yang berdiri di tereng sebuah bukit. Dari tereng itu. kini nampak serombongan orang tidak begitu besar jumlahnya, hanya sekitar tiga puluh orang, berjalan mendaki bukit. Yang berjalan di depan adalah Suma Koan lalu nampak Suma Hok puteranya, dan seorang yang bertubuh gendut bulat. Yang ke tiga itu adalah Pak-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam- kui yang ikut memperkuat rombongan Suma Koan karena mereka sudah mendengar bahwa perkumpulan Thian-beng-pang dan Hek-tung Kai-pang agaknya hendak membangkang terhadap perintah mereka.

Hek-tung Lo-kai Kam Cu dengan tongkat hitamya di tangan, berdiri di depan anak buahnya, didampingan Thian-beng-pangcu Ciu Tek yang juga berdiri di depan anak buahnya, dengan golok besar siap di pinggang.

Suma Koan tersenyum mengejek setelah dia berhadapan dengan kedua orang ketua itu. "Selamat pagi, Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu. Kami melihat bahwa kalian berdua telah siap menyambut kami. Langsung saja kami ingin mengetahui jawaban kalian terhadap keinginan kami yang telah kami sampaikan tiga hari yang lalu." "Kami tetap menolak kerja sama dengan pihakmu!" kata Tian-beng-pangcu dengan suara tegas.

"Kami juga menolak kerja sama itu. Kami ingin bebas menentukan langkah sendiri!" kata pula Hek-tung Lo-kai.

"Ha-ha-ha, sudah kami sangka demikian. Kam Cu dan Ciu Tek, kalian sudah berani menolak uluran tangan kami untuk menjadi sahabat, berarti kalian menganggap kami musuh. Kalau begitu, permusuhan ini kita selesaikan secara laki-laki sejati. Kami menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu. Beranikah kalian menyambut tantangan kami, ataukah kalian begitu pengecut untuk mengerahkan anak buah kalian melawan kami?"

Terdengar suara bergelak dan Pek-thian-kui yang gendut bulat sudah maju mendampingi Suma Koan. "Ha-ha-ha, aku sudah mendengar nama besar Hek-tung Lo-kai dan ingin sekali mengenal tongkat hitamnya!"

Beberapa orang murid Thian-beng-pang dan Hek-tung-kaipang maju untuk membela ketua mereka, akan tetapi kedua orang ketua itu memberi isyarat agar mereka mundur.

"Musuh datang dan menantang secara laki-laki. Biar dengan taruhan nyawapun, kami adalah laki-laki sejati untuk menyambut tantangan itu dalam pertandingan satu lawan satu," kata mereka.

"Ha-ha-ha, bagus! Majulah kalian berdua dan bersiaplah untuk mati!” Kata Suma Koan sambil mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.

“Tahan ...!!!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ, di sebelah kanan kedua orang ketua itu, telah berdiri seorang pemuda, yang usianya sekitar dua puluh lima tahun. Melihat pemuda itu, Suma Koan dan Suma Hok terkejut, bahkan wajah Suma Hok berubah agak pucat.

"Kau...! Kwa Bun Houw, apakah engkau tidak tahu malu mencampuri urusan kami? Kami hanya berurusan dengan Thian-beng-pang dan Kek-tung Kai-pang, dan engkau tidak ada sangkut pautnya dengan mereka atau kami! Heii, Kam-pangcu dan Ciu-pangcu, apakah kalian sudah begitu pengecut untuk mengundang jagoan dari luar perkumpulan kalian untuk melindungi kalian?"

Disudutkan seperti itu, tentu saja kedua orang ketua itu merasa kehormatan mereka tersinggung. "Kui-siauw Giam-ong, jangan sembarangan menuduh!" bentak Thian-bengcu Ciu Tek, "Kami sama sekali tidak mengenal pemuda ini dan tidak mengundangnya untuk membantu kami!"

Sementara itu, Hek-tung Lo-kai sudah menghadapi Bun Houw dan dia memberi hormat. "Orang muda yang gagah, harap engkau tidak mencampuri urusan kami. Kami ditantang oleh mereka, kami harus menghadapi secara jantan!"

Bun Houw melangkah maju. "Ji-wi pang-cu, harap dengarkan sebentar, dan semua saudara anggauta Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang, harap ikut dengarkan apa yang kukatakan. Ketahuilah bahwa kedua pang-cu ini telah terjebak oleh kecurangan dan kelicikan Kui-siauw Giam-ong dan sekutunya! Karena persekutuan itu tidak berhasil membujuk kedua orang pang- cu untuk bekerja sama, maka kini mereka datang dan menantang, dengan perhitungan bahwa mereka pasti menang. Kalau kedua pang-cu melawan dengan alasan menjaga kehormatan karena ditantang, maka berarti mereka terkena jebakan. Mereka tentu akan tewas seperti banyak dialami oleh para pimpinan perkumpulan yang bernasib sama. Karena itu, tidak semestinya kalau tantangan itu dilayani, bahkan sebaiknya kalau seluruh anggauta kedua perkumpulan bergerak mengusir pengacau brengsek ini dari tempat ini, dan aku akan membantu kalian menghadapi Kui-siauw Giam-ong dan sekutunya!"

Mendengar seruan ini, para anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang yang memang sejak tadi sudah marah kepada para penyerbu, bersorak penuh semangat.

Pek-thian-kui, orang pertama di Bu-tek Sam-kui yang belum mengenal Bun Houw, memandang rendah pemuda itu. "Bocah pengacau ini biar kusingkirkan lebih dulu!" bentaknya dan tubuhnya yang bulat itu seperti sebuah bola besar menggelinding ke arah Bun Houw dan ternyata dia telah mengirim pukulan jarak jauh dengan kedua tangan didorongkan ke arah pemuda itu dan angin dahsyat menyambar ke arah Bun Houw.

Pemuda ini sudah siap siaga. Dia tahu bahwa kakek gendut itu lihai sekali, maka diapun sudah mengerahkan tenaga Im-yang Bu-tek Cin-keng, mendorong pula dengan kedua tangan terbuka untuk menyambut serangan yang sepenuhnya mengandalkan hawa sin-kang (tenaga sakti) itu.

"Wuuuuttt ... desas ...!!” Dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu dan akibatnya, tubuh yang gendut bundar itu terlempar ke belakang dan bergulingan! Akan tetapi, orang pertama dari Bu- tek Sam-kui ini memang kebal dan kuat. Dia tidak terluka, hanya terkejut dan sudah meloncat berdiri. Mukanya menjadi merah sekali saking marahnya. Dia, orang pertama dari Tiga Setan Tanpa Tanding, sekali mengadu tenaga, dalam segebrakan saja sudah terguling-guling oleh seorang pemuda tak ternama!

"Singg ...!!" Diapun sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar hitam. "Bocah keparat, pedangku akan minum darahmu!"

Akan tetapi Bun Houw tersenyum. "Bukankah engkau ini Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu- tek Sam-kui. Aku mendengar bahwa kok-su (guru negara) dari kerajaan Wei yang berjuluk Thian-te Seng-jin amat lihai dan bahwa di antara para muridnya terdapat Bu-tek Sam-kui. Sebaiknya kalau engkau kembali saja ke utara, tidak membuat kekacauan di daerah selatan sini!"

"Bocah sombong, majulah. Mari kita bertanding sampai seribu jurus!" Si gendut yang merasa malu karena kekalahannya tadi, menantang untuk mengangkat kembali namanya yang tentu akan jatuh karena di depan banyak orang dia dikalahkan dalam segebrakan! "Baik, aku menyambut tantanganmu. Pek-thian-kui!" Dan begitu tangan kanan Bun Houw bergerak, nampak kilat menyambar dan semua orang menjadi silau oleh sinar pedang Lui-kong-kiam!

Pek-thian-kui terbelalak, akan tetapi dia sudah menerjang dengan pedangnya yang bersinar hitam. Bun Houw mengerahkan tenaga lagi dan menggerakkan Lui-kong-kiam, menangkis dan sengaja mengadu tenaga lewat pedang.

"Trakkk ...!" terdengar suara nyaring dan si gendut kembali meloncat ke belakang dengan muka pucat memandang pedang hitamnya yang sudah buntung, patah ketika bertemu dengan pedang di tangan Bun Houw. Kini dia tidak ragu lagi.

"Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) ...!!" serunya gentar. Dahulu, pedang itu pernah menjadi rebutan para tokoh persilatan, akan tetapi akhirnya terjatuh ke tangan Tiauw Sun Ong pendekar buta yang amat lihai.

Bun Houw tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya. "Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahian, Pek-thian-kui? Atau engkau yang akan maju, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan? Dan bagaimana dengan engkau, Suma Hok?” Bun Houw sengaja menantang untuk membikin panas hati ayah dan anak itu.

Sementara itu, kedua orang pangcu hanya menonton dengan hati penuh kagum dan diam-diam bersukur bahwa ada bintang penolong datang. Kalau tidak, mungkin mereka berdua akan tewas di tangan masuh.

Suma Hok memandang dengan muka merah, akan tetapi tidak berani menyambut tantangan itu, sedangkan Suma Koan yang melihat betapa mudahnya orang pertama Bu-tek Sam-kui dikalahkan Bun Houw, juga menjadi ragu. Dia sendiri gentar terhadap Tiauw Sun Ong, akan tetapi tadinya masih memandang remeh murid Tiauw Sun Ong ini. Setelah tadi dia melihat betapa Bun Houw dengan mudah mengalahkan Pek-thian-kui, dia maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi Si Pedang Kilat.

"Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang telah mengundang murid hekas pangeran Tiauw Sun Ong, mulai sekarang, kalian adalah musuh-musuh kami. Lain kali kami akan datang membikin perhitungan!" satelah berkala demikian, Suma Koan memberi isarat dan bersama Suma Hok dan Pek-thian-kui yang merasa tidak akan mampu menang, dia meninggalkan tempat itu, diikuti semua anak buah mereka yang juga sudah merasa gentar melihat demikian banyaknya anak buah kedua perkumpulan itu yang agaknya sudah dipanaskan hatinya oleh ucapan Bun Houw tadi. Sebetulnya, tiga puluh orang anak buah penyerbu itu adalah orang-orang Thian-te Kui-pang, dan mereka terdiri dari orang-orang yang lihai dan mereka tidak akan gentar melawan anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang. Akan tetapi menyaksikan kelihaian Si Pedang Kilat, mereka menjadi gentar juga. Pemimpin mereka saja, yang juga merupakan guru mereka, dalam segebrakan dikalahkan pemuda itu, apa lagi mereka!

"Kejar mereka! Banuh!" Terdengar teriakan-teriakan anak buah kedua perkumpulan, akan tetapi Bun Houw mengangkat tangan. "Jangan! Biarkan mereka pergi!"

Juga ketua dari dua perkumpulan itu mencegah anak buah mereka untuk melakukan pengejaran. Kara Cu dan Ciu Tek maklum bahwa tanpa bantuan Kwa Bun Houw, mereka berdua bersama anak buah mereka tidak akan mampu mengalahkan rombongan penyerbu itu. Keduanya lalu menghadapi Bun Houw dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.

'Terima kasih atas bantuan tai-hiap." kata Hek-tung Lo-kai.

"Kalau tidak tai-hiap yang muncul, pasti kami berdua telah tewas dan entah bagaimana jadinya dengan perkumpulan kami." kata pula Thian-beng-pang Ciu Tek.

"Sudahlah, ji-wi pang-cu (ketua berdua) telah kena dijebak oleh Suma Koan. Dia memang licik sekali. Kalau ji-wi tidak menghadapi tantangan mereka, akan tetapi mengerahkan semua anak buah ji-wi, kiranya tidak, akan mudah bagi mereka untuk menggertak. Juga, kalau ji-wi menghubungi pasukan keamanan, tentu akan mendapatkan bantuan karena pasukan keamanan pemerintah kini amat memperhatikan keamanan daerahnya."

"Tai-hiap, mari kita bicara di dalam. Kami merasa kagum kepada tai-hiap yang masih begini muda telah memiliki kepandaian tinggi. Pantas sekali julukan Si Pedang Kilat bagi tai-hiap." kata pula tuan rumah, ketua Thian-beng-pang.

"Benar, silakan tai-hiap. Kami juga ingin sekali mendengar tentang keadaan sekarang ini dan apa pula yang mendorong tindakan mereka tadi," kata Hek-tung Lo-kai.

Bun Houw merasa tidak enak untuk menolak dan diapun mengikuti mereka berdua memasuki pusat perkumpulan Thian-beng-pang itu. Diam-diam dia tersenyum dalam hatinya. Kedua orang ketua ini tadi mendengar seruan Pek-thian-kui nama pedangnya yaitu Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) dan menganggap bahwa itu adalah nama julukannya. Akan tetapi dia diam saja dan tidak menyangkal. Apa salahnya kalau dia dikenal sebagai Si Pedang Kilat?

Setelah mereka memasuki rumah Thian-beng-pangcu Ciu Tek, mereka lalu bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan tuan rumah untuk menyambut pemuda itu.

"Dapatkah Kwa-taihiap menerangkan mengapa seorang datuk seperti Suma Koan, tiba-tiba saja menaklukkan banyak perkumpulan, bahkan memaksa mereka takluk kalau tidak mau dibujuk? Apa yang tersembunyi di balik tindakannya itu?" tanya Ciu Tek.

"Tadinya aku menganggap bahwa dia hanya ingin mengangkat diri menjadi beng-cu di dunia persilatan, akan tetapi setelah tadi aku melihat dia muncul bersama Pek-thian-kui, aku merasa curiga sekali. Ketahuilah, ji-wi pangcu. sekarang Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, membantu bekas kaisar Cang Bu yang bersiap-siap untuk merampas kembali tahta kerajaan."

"Ahhh ...!!" kedua orang pang-cu itu berseru kaget. Bun Houw menghela napas panjang. "Sebetulnya, orang-orang seperti kita ini yang hanya berkewajiban mempertahankan kebenaran dan keadilan, membela rakyat kecil yang tertindas, tidak perlu mencampurkan diri ke dalam perebutan kekuasaan itu. Adalah hak bekas kaisar Cang Bu untuk mencoba merampas kembali tahta kerajaan. Akan tetapi kalau dia melakukan hal itu, berarti terjadi lagi perang dan kembali rakyat yang akan menderita sebagai akibat perang. Apalagi mengingat betapa dahulu, ketika kaisar Cang Bu masih berkuasa, dia terlalu lemah sehingga hampir semua pejabat menyelewengkan kekuasaan masing-masing dengan tindakan korupsi dan kesewenang- wenangan, dan sekarang kita melihat sendiri betapa baiknya kaisar yang baru memegang pemerintahan, tegas, adil dan juga memperhatikan nasib rakyat jelata. Aku sendiri tidak ingin terlibat dalam perebutan kekuasaan itu, akan tetapi sekarang aku melihat gejala yang amat tidak haik. Munculnya Suma Koan bersama Pek-Thian-kui sungguh mencurigakan. Pek-thian- kui adalah orang pertama dari Bu-tek Sam-kui, yang merupakan tokoh-tokoh dan jagoan dari istana kerajaan Wei di utara, sedangkan Suma Koan jelas membantu bekas kaisar Cang Bu. Besar kemungkinannya, bekas kaisar Cang Bu agaknya kini bersekutu dengan kerajaan Wei di utara, dan mereka bermaksud menguasai dunia kang-ouw untuk persiapan perang mereka terhadap kerajaan Chi yang baru.”

“Ah, kalau begitu berbahaya sekali, taihiap!" kata Ciu Tek ketua Thian-beng-pai. "Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk mencegah terjadinya hal itu?"

"Tidak ada jalan lain, kita harus menentang mereka menguasai dunia persilatan. Sebaiknya kalau ji-wi mengusahakan agar dapat berhubungan dengan para ketua perkumpulan persilatan lain yang tidak mau mereka peralat dan kita bersama mendirikan kubu yang kuat. Kalau perlu, kita mengadakan pemilihan beng-cu tandingan."

"Bagus sekali itu !” kata Hek-tung Kai-pang. "Aku akan menghubungi seluruh kai-pang di negeri ini agar mendukung Si Pedang Kilat untuk menjadi bengcu!”

"Benar, kamipun mendukung Kwa-taihiap menjadi bengcu!" kata pula Ciu Tek.

Bun Houw mengangkat tangan ke atas. "Harap ji-wi tidak salah duga. Aku sama sekali tidak ingin menjadi beng-cu. Aku hanya ingin menentang dan menjaga agar kedudukan beng-cu tidak dipegang orang yang dapat diperalat persekutuan antara bekas kaisar Cang Bu dan kerajaan Wei. Kalau kerajaan Wei dari utara hendak menyerang selatan, bagaimanapun juga kita harus menentangnya!"

"Kami akan mengerjakan usul taihiap. Akan tetapi, bagaimana caranya kalau kami hendak menghubungi taihiap? Kalau muncul suatu persoalan dan kami ingin minta petunjuk tai-hiap, bagaimana kami dapat menghubungimu?"

"Aku yang akan datang ke sini, pang-cu. Aku akan berada di sekitar Nan-king dan kalau, ada keperluan mendadak, mungkin aku bertemu dengan anak buah Hek-tung Kai-pang dan melalui mereka pang-cu dapat menghubungiku."

Selagi mereka bercakap-cakap, seorang anggauta Thian-beng-pang mengetuk pintu ruangan itu. Ketika dia disuruh masuk, dia memberi hormat, "Maafkan gangguan saya, pang-cu. Akan tetapi di luar datang seorang tamu yang katanya mempunyai keperluan penting untuk Hek-tung Kai-pangcu."

"Hemm, siapakah dia dan dari mana?" tanya ketua perkumpulan pengemis itu.

"Mengatakan datang dari kota raja, diutus oleh Thai-kam (Sida-sida) Koan." jawab anggauta Thian-beng-pang itu.

Mendengar ini, ketua Hek-tung Kai-pang nampak bergairah. "Ah. kalau begitu, minta dia masuk sekarang juga!" Setelah orang itu pergi, dia memberitahu kepada Ciu Tek dan Bun Houw, "Thai-kam Koan adalah sahabatku yang bekerja di istana kaisar. Dari dialah aku dapat mengetahui semua keadaan dalam istana, dan kini dia mengutus seseorang datang kepadaku, tentu ada berita penting dari istana."

Mendengar itu, sahabatnya, ketua Thian-beng-pang, mengangguk-angguk, Bun Houw juga kagum. Kiranya Kam Cu, biarpun hanya pemimpin para pengemis, mempunyai hubungan yang luas sampai dapat mengetahui keadaan dalam istana kaisar Siauw Bian Ong. Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki tua yang pakaiannya seperti seorang buruh kecil, sederhana dan bahkan butut. Dia memberi hormat kepada tiga orang itu.

"Harap memaafkan kalau saya mengganggu sam-wi. Saya perlu bertemu dengan Hek-tung Lo- kai ... "

"A-sin, ada kepentingan apakah sampai engkau menyusulku ke sini?" tanya Hek-tung Lo-kai yang sudah mengenal orang itu.

"Maaf, pang-cu. Tadi aku pergi ke markas Hek-tung-kaipang, di sana kosong dan aku, mendengar bahwa pangcu berada di sini, maka aku langsung menyusul ke sini karena Koan- thaikam memesan agar suratnya dapat secepat mungkin kuserahkan kepada pang-cu.” Dia mengeluarkan segulung surat dari dalam saku bajunya dan menyerahkannya kepada ketua Hek-tung Kai-pang itu. Ketua itu menerimanya dan membuka gulungan, lalu membacanya. Alisnya berkerut dan matanya terbelalak lalu tanpa banyak cakap dia menyerahkan surat itu kepada Ciu Tek.

Ketua Thian-beng-pang inipun membacanya dan wajahnya berubah pucat.

"Tai-hiap, silakan baca surat ini. Penting sekali!" katanya dan Kam Cu mengangguk menyetujui.

Bun Houw yang tadinya tidak memperhatikan karena mengira bahwa surat itu merupakan urusan pribadi, menyambut dan membaca surat itu. Dalam surat itu, secara ringkas dikabarkan bahwa Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan telah mengundang Bu-eng-kiam Ouwyang Sek ke istana dan bahkan diterima oleh Kaisar Siauw Bian Ong. Akan tetapi bukan itu yang terpenting, melainkan bahwa mereka bertiga itu membentuk persekutuan dengan orang-orang dari kerajaan Wei. mengadakan persekongkolan untuk membunuh Kaisar Siauw Bian Ong sekeluarga berikut para pembantu yang setia kepada kaisar baru ini! Dan bahwa Koan-thaikam mengharapkan bantuan sahabatnya, Hek-tung Lo-kai untuk membantu dan menyelamatkan kaisar dari ancaman bahaya itu.

"Hemm, kiranya keluarga Ouwyang telah dapat pula menyelundup ke istana?" kata Bun Houw, mengerutkan alisnya karena kalau ayah dan anak itu di sana, berarti memang ancaman bahaya bagi keselamatan kaisar.

"Bukan mereka saja, akan tetapi juga Kwan Hwe Li bekerja di sana sebagai pengawal permaisuri," kata Hek-tung Lo-kai. "Memang di istana terdapat banyak jagoan istana yang tangguh, akan tetapi kalau mereka itu terlalu dekat dengan kaisar, tentu akan sulit untuk menjamin keselamatan kaisar. Jalan satu-satunya adalah mengharapkan bantuanmu Kwa- taihiap!"

"Hemm, aku siap menghadapi kejahatan mereka. Akan tetapi bagaimana aku dapat melindungi kaisar?" tanya pemuda ini ragu.

"Kalau tai-hiap muncul seperti biasa dan persekutuan itu mengetahui, tentu mereka akan menjadi waspada dan keadaan menjadi semakin berbahaya. Sebaiknya thai-hiap menyamar dan biar oleh Koan-thaikam dihadapkan sribaginda agar thai-hiap dapat diterima menjadi pengawal pribadi. Tentang penyamaran, harap jangan khawatir karena kami mempunyai ahli- ahli penyamaran yang akan dapat menyulap tai-hiap menjadi orang lain." kata-Hek-tung Lo-kai.

Demikianlah, pada hari itu juga Hek-tung Lo-kai memberi kabar kepada Koan-thaikam melalui A-sin agar thaikam itu dapat membuat persiapan menyambut Bun Houw di istana. Setelah semua siap, Bun Houw dipertemukan dengan Koan thaikam dan diajak masuk istana. Kini tak seorangpun akan dapat mengenal Bun Houw karena wajahnya telah berubah sama sekali. Muka yang biasanya halus tampan itu berubah menjadi muka yang ternoda bopeng (bekas cacar), juga bentuk hidung dan matanya berubah. Orang yang terdekat sekalipun dengan Bun Houw, akan sukar dapat mengenalnya.

Sebelumnya. Koan-thaikam telah memberi tahu kepada Kaisar bahwa dia mempunyai seorang keponakan yang memiliki ilmu silat tinggi dan dapat diandalkan untuk menjadi pengawal pribadi kaisar, atau menambah lagi pasukan pengawal pribadi. Kaisar amat percaya kepada Koan- thaikam yang memang amat setia kepadanya itu, maka pada hari itu, kaisar berjanji akan menerima keponakan Koan-thaikam yang bernama Koan Jin itu.

Ketika pada pagi hari itu Koan-thaikam menghadapkan seorang pemuda yang wajahnya bopeng dan tidak mengesankan, kaisar menerimanya dengan alis berkerut dan nampak kecewa. Keponakan Thai-kam kepercayaannya itu sungguh tidak mengesankan, selain mukanya tidak menarik juga penampilannya tidak dapat membayangkan seorang yang kuat. Bahkan pasukan pengawal yang berjaga di ruangan itu, yang dipimpin Ouwyang Toan sebagai perwira pasukan pengawal, melirik dengan senyum mengejek. Mereka sudah mendengar dari para thai-kam bahwa Koan-thaikam akan memasukkan keponakannya sebagai calon anggauta pengawal pribadi kaisar! Pada hal selama Ouwyang Toan berada di situ, dialah yang sudah memasukkan enam orang pengawal baru yang telah diuji kepandaiannya dan kini menjadi anak buah pasukan pengawal istana. Biarpun hatinya merasa panas karena ada thaikam berani mengajukan keponakannya sendiri sebagai calon pengawal, akan tetapi Ouwyang Toan tidak berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya. Dia tahu bahwa Koan-thaikam adalah seorang thaikam kepercayaan kaisar, sedangkan dia sendiri adalah seorang perwira pengawal yang masih baru. Akan tetapi dia sudah bersepakat dengan anak buahnya untuk menggagalkan keponakan thaikam itu menjadi pengawal, dan dalam ujian ilmu silat, mereka dapat membuat keponakan thaikam itu dan Koan-thaikam sendiri mendapat malu. Apalagi ketika melihat calon pengawal itu masuk dengan sikap takut-takut dari dusun, mereka saling pandang dan tersenyum mengejek.

Setelah mengamati sejenak pemuda yang nampak tidak mengesankan itu, Sribaginda Kaisar Siauw Bian Ong, yang juga merupakan seorang ahli silat yang cukup tangguh, karena ketika dia masih bernama Souw Hui! Kong, dia adalah seorang petualang yang telah mempelajari banyak ilmu sehingga akhirnya dia berhasil menumbangkan kerajaan Liu-sung yang telah menjadi lemah dan mendirikan kerajaan Chi, berkata kepada thaikam kepercayaannya dengan nada menegur, "Koan thaikam, tidak kelirukah permohonanmu untuk memasukkan keponakanmu ini sebagai seorang pengawal istana? Engkau tentu tahu bahwa seorang pengawal istana harus memiliki ilmu kepandaian tinggi, apalagi sebagai pengawal pribadi kami yang melindungi keselamatan kami, haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan sakti."

"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak keliru, karena keponakan hamba ini, Koan Ji, sejak kecil telah berguru kepada ratusan orang guru silat yang pandai dan kini dia telah memiliki ilmu kepandaian silat yang ampuh."

Kembali para anggauta pasukan pengawal tersenyum simpul dan kebetulan Kaisar memandang kepada mereka sehingga tanpa disengaja kaisar melihat mereka bersenyum simpul mengejek. Hal ini membuat kaisar merasa tidak senang kepada mereka.

"Koen-thaikam, apakah keponakanmu ini siap untuk diuji kepandaiannya?" "Tentu saja, Yang Mulia. Dia sudah siap untuk menghadapi ujian."

Kembali kaisar memandang kepada Bun Houw. Wajah yang tidak meyakinkan dan tidak menarik. Akan tetapi, hal ini malah menguntungkan. Sebaiknya memang pasukan pengawal istana terdiri dari laki-laki yang wajahnya buruk dan tidak menarik bagi wanita untuk mencegah terjadinya hal-hal yang akan menodai nama dan kehormatan istana kalau sampai ada wanita istana jatuh cinta kepada seorang anggauta pasukan pengawal. Untuk mencegah perjinaan seperti itulah maka semua petugas istana yang pria diharuskan menjadi sida-sida, karena seorang thai-kam sudah bukan pria normal lagi, tidak dapat lagi berjina dengan wanita.

"Koan Ji, beranikah engkau kami suruh melawan seorang di antara para perajurit pengawal itu?" Dia menuding ke arah para pengawal yang berdiri tegak dalam barisan di, bagian luar ruangan itu.

Koan Ji yang berlutut itu memberi hormat. "Siapa saja yang mengancam keamanan paduka dan seisi istana, pasti akan hamba lawan mati-matian, Yang Mulia!” kata Kwa-Bun Houw dengan sikap seperti seorang dusun.

Kaisar Siauw Bian Ong tertawa. "Ha-ha. maksud kami bukan melawan sebagai musuh. Mereka adalah anggauta pasukan pengawal dan mereka semua sudah lulus ujian ketangkasan. Engkau akan kami uji dengan bertanding ilmu silat melawan seorang di antara mereka. Yang mana kaupilih?"

Bun Houw menoleh ke arah selusin perajurit pengawal yang dikepalai Ouwyang Toan, lalu dia memberi hormat lagi, "Yang mana pun akan hamba hadapi, Yang Mulia."

"Bagus! Ouwyang-ciangkun pilihkan seorang di antara anak buahmu untuk menguji apakah keponakan Koan-thaikam ini pantas menjadi pengawal pribadi kami."

"Maaf, Yang Mulia. Untuk menjadi anggauta pasukan pengawal istana, memang cukup dapat menandingi seorang di antara anak buah hamba. Akan tetapi untuk menjadi pengawal pribadi paduka, dia haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan sedikitnya memiliki tingkat kepandaian dua kali lipat dari tingkat seorang perajurit pengawal istana. Karena itu, sebaiknya kalau calon ini dapat menghadapi dan menandingi pengeroyokan dua atau tiga orang perajurit pengawal." kata Ouwyang Toan.

Kaisar itu mengangguk-angguk dan kembali berkata kepada Bun Houw yang maklum bahwa Ouwyang Toan jelas tidak menghendaki ada pengawal pribadi kaisar yang baru. "Bagaimana, Koan Ji. Beranikah engkau melawan dua atau tiga orang perajuril pengawal istana? Kalau engkau merasa tidak sanggup, katakan saja. Kami tidak ingin bersikap sewenang-wenang, hanya ingin menguji kemampuanmu."

"Kalau paduka memerintahkan, biar menghadapi berapa saja lawan, hamba siap untuk menandinginya, Yang Mulia." kata Bun Houw dengan sikap bersahaja.

Kaisar Siauw Bian Ong kembali tertawa gembira.

"Ha-ha ha, baru semangatmu saja sudah menyenangkan hati kami, Koan Ji. Nah, Ouwyang- ciangkun, engkau sudah mendengar sendiri. Calon pengawal pribadi ini berani menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buahmu.”

"Baik, Yang Mulia. Hamba akan memilih tiga orang di antara mereka."

Ouwyang Toan memilih tiga orang anak buahnya yang paling jagoan. Tiga orang ini bukan sembarangan orang. Mereka adalah jagoan-jagoan dari Thian-te Kui pang dan tingkat kepandaian masing-masing hanya sedikit di bawah tingkat Ouwyang Toan! Biar Ouwyang Toan sendiri, agaknya tidak akan mungkin menang menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buahnya ini dan kini dia mengajukan mereka untuk mengeroyok seorang calon, perajurit pengawal!

Tiga orang pengawal itu setelah memberi hormat kepada Kaisar, lalu siap dan mengepung Bun Houw yang juga sudah memberi hormat dan bangkit berdiri, membiarkan dirinya dikepung oleh tiga orang lawan yang membentuk segi tiga. Seorang di depannya, seorang di kanan dan seorang di kiri. Diam-diam dia mengamati mereka dan gerak-gerik mereka. Seorang yang menghadapinya adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang mukanya penuh brewok tebal dan nampak menyeramkan. Yang berada di kirinya seorang laki-laki tinggi kurus muka hitam arang, sedangkan yang berada di sebelah kanannya seorang laki-laki bertubuh sedang dan didahinya terdapat codet bekas bacokan senjata tajam. Sikap mereka ketika memegang kuda-kuda saja memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun.

Bun Houw memutar tubuhnya membelakangi mereka, memberi hormat lagi kepada kaisar dan diapun berkata, "Hamba telah siap, Yang Mulia. Mereka itu boleh mulai menyerang sekarang."

"Heii, Koan Ji, kenapa engkau membelakangi tiga orang lawanmu?" tiba-tiba Koan-thaikam berseru karena merasa cemas melihat betapa pemuda itu membelakangi tiga orang pengeroyoknya.

"Ha-ha, kenapa engkau melakukan itu, Koan Ji? Bagaimana engkau dapat melawan tiga orang itu kalau engkau berdiri membelakangi mereka?" Kaisar juga bertanya heran dan geli.

"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak berani sedemikian kurang sopan untuk berdiri membelakangi paduka."

"Ha-ha-ha-ha-ha!" Sribaginda Kaisar tertawa bergelak. Pemuda ini memang lucu dan aneh. Pikirnya "Kalau begitu, kalian saling berhadapan di sebelah kiri dan kanan, jadi tidak adanya membelakangiku." katanya.

Kini tiga orang itu sudah siap, ketiganya menghadapi Bun Houw yang berdiri seenaknya, namun waspada dan siap siaga. "Aku sudah siap, kalian boleh mulai!” katanya tenang.

Tiga orang anggauta Thian-te Kui pang itu sebetulnya menanti agar Bun How menyerang lebih dulu. Mereka merasa diri mereka tangguh, dan bagaimanapun mereka agak malu karena harus mengeroyok seorang calon pengawal yang kelihatannya lemah. Akan tetapi karena pemuda itu tidak mau menyerangnya dan mempersilakan mereka yang maju lebih dulu, merekapun mulai menyerang. Serangan mereka merupakan pukulan yang kuat dan berat, juga cepat. Bun Houw menggerakkan tubuh, dia menangkisi semua pukulan itu. Begitu kedua lengan bertemu, seorang penyerang mengeluh karena merasa seolah-olah lengannya bertemu dengan besi panas yang amat keras! Demikian pula orang ke dua dan ke tiga. Si raksasa brewok yang merasa paling kuat dan besar tenaganya, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga dari atas ke arah kepala Bun Houw. Pemuda ini mengangkat lengan kiri menangkis.

"Dukk ...! suhhh ...!" Si raksasa brewok berteriak kesakitan, dan terhuyung ke belakang. Bun Houw hanya mengandalkan tanaga sinkangnya, karena dia tidak ingin memperlihatkan kepandaiannya sehingga akan mencurigakan hati Ouwyang Toan. Dia tidak mau memperkenalkan diri dan dengan tenaga sin-kang dia menangkis, juga mengelak sehingga dia sama sekali tidak mengeluarkan ilmu silat yang akan dikenal Ouwyang Toan.

Karena merasa malu, tiga orang itu menahan rasa nyeri dan mereka menyerang semakin kuat dan gencar. Bahkan si raksasa brewok mengandalkan kakinya yang besar, kokoh dan panjang, mengayun kaki kirinya menendang. Tendangan itu kuat bukan main dan sekiranya mengenai tubuh Bun Houw, agaknya tubuh yang tidak berapa besar itu akan terlempar sampai beberapa meter jauhnya. Akan tetapi, Bun Houw tidak mengelak, bahkan menggerakkan pula kaki kanannya menyambut atau menangkis tendangan itu.

"Dukkk!" Kini si brewok raksasa itu menggigit bibir. Kiut-miut rasa kakinya, seperti patah-patah tulangnya, rasa nyeri sampai menyengat seluruh tubuh sampai ke ubun-ubun dan karena dia menahan rasa nyeri sambil menggigit bibir, kakinya yang tidak tahan dan diapun mengangkat kaki kiri ke belakang, memeganginya dap berloncat-loncatan dengan kaki kanan!

Sribaginda Kaisar tertawa bergelak-gelak karena memang pemandangan itu lucu bukan main. Akan tetapi Ouwyang Toan dan anak buahnya terbelalak, hampir tidak percaya betapa pemuda yang agaknya tidak pandai silat itu karena tidak pernah mengeluarkan jurus silat, ternyata memiliki kaki tangan yang agaknya kebal dan kuat sekali.

Dua orang yang lain menjadi marah dan menyerang sekuat tenaga, hanya untuk meringis karena ketika lengan mereka ditangkis, mereka merasa lengan mereka semakin nyeri seperti patah-patah. Lengan mereka, kanan dan kiri, sudah matang biru dan bengkak-bengkak! Pada hal, lengan dan kaki mereka itu terlatih baik, sekali hantam saja lengan mereka dapat memecahkan bambu. Akan tetapi sekarang, lengan mereka seperti diadu dengan baja!

Biarpun mereka bertiga menahan nyeri, akhirnya lengan mereka yang tidak tahan. Kedua lengan mereka itu akhirnya tergantung lemah, terkulai dan tak dapat diangkat, juga kaki mereka hampir tak kuat untuk berdiri dan dengan sendirinya perlawanan merekapun terhenti!

"Ha-ha-ha, bagaimana ini? Mengapa kalian bertiga tidak menyerang lagi?" tanya Kaisar Siauw Bian Ong gembira, pada hal dia sebagai seorang ahli silat tahu bahwa tiga orang itu sudah kalah, walaupun Koan Ji belum pernah memukul mereka!

"Kenapa kalian bertiga? Hayo jawab pertanyaan Yang Mulia!" bentak Ouwyang Toan marah dan merasa malu, juga terheran-heran melihat ulah tiga orang anak buahnya itu.

Dua orang berlutut, dan si raksasa brewok akhirnya juga berlutut menghadap kaisar dan mewakili dua orang temannya. "Mohon paduka mengampuni hamba bertiga. Yang Mulia. Hamba bertiga tidak mampu melanjutkan pertandingan, agaknya lawan hamba itu memasang baja pada kaki tangannya ... "

"Yang mulia, hamba mohon ijin untuk memeriksa kaki dan tangan calon perajurit pengawal ini." kata Ouwyang Toan dan kaisar mengangguk.

"Periksalah, apakah benar di dalam lengan baju dan kaki celananya terdapat potongan baja." kata kaisar sambil tersenyum geli.

Sebetulnya Ouwyang Toan bukanlah seorang yang demikian bodohnya. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, iapun maklum bahwa orang yang sin-kangnya sudah amat kuat, dapat saja membuat kaki tangannya keras seperti baja. Akan tetapi, dia tidak percaya Koan Ji memiliki sin- kang sedemikian kuatnya, maka mendengar keluhan tiga orang anak buahnya tadi, diapun merasa curiga. Setelah mendapat ijin kaisar, Ouwyang Toan lalu menghampiri Bun Houw dan menyingkap lalu menggulung ke atas kedua lengan baju dan pipa celananya. Akan tetapi tentu saja dia tidak menemukan apa-apa kecuali kaki dan tangan biasa yang bertulang, berotot dan berkulit!

Tentu saja Ouwyang Toan tidak dapat berkata apa-apalagi, lalu mundur sambil menundukkan mukanya.

Seorang tokoh pengawal pribadi kaisar yang sejak tadi hanya menjadi penonton bersama para pengawal pribadi lainnya, kini berkata dengan hormat, '”mpun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, saudara Koan Ji ini cukup pantas untuk menjadi pengawal pribadi paduka, menambah kekuatan pasukan pengawal pribadi paduka."

Kaisar Siauw Bian Ong menoleh ke arah lima orang pengawal pribadinya dan mereka semua mengangguk menyetujui. Kaisar tersenyum girang. Dia menemukan seorang pengawal lain yang lihai dan tentu saja dapat dipercaya karena pemuda itu adalah keponakan Koan-thaikam, seorang yang sudah dipercayanya penuh sebagai seorang hamba yang setia.

Demikianlah, mulai saat itu, Bun Houw diterima sebagai seorang pengawal pribadi kaisar sehingga kini pengawal pribadi kaisar berjumlah sebelas orang yang melakukan penjagaan terhadap keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong pribadi, Bun Houw juga berjumpa dengan Kwan Hwe Li yang menjadi pengawal permaisuri, akan tetapi datuk wanita itu tidak mengenalnya.

Koan-thaikam yang cerdik tidak memberitahu kepada kaisar tentang siapa sebenarnya Koan Ji, akan tetapi, dia diam-diam mengumpulkan sepuluh orang pengawal pribadi kaisar yang lain. Dia percaya sepenuhnya kepada sepuluh orang itu sebagai orang-orang yang setia kepada kaisar dan merupakan pengawal lama, sejak Kaisar Siauw Bian Ong menduduki singasana kerajaan Chi yang baru. Tentu saja sepuluh orang itu tidak dapat dia kumpulkan sekaligus, hal itu tidak mungkin karena setiap saat harus ada sedikitnya dua orang pengawal yang mengawal kaisar. Bahkan kalau kaisar sedang berada di dalam kamar tidurnya, dua atau tiga orang pengawal berjaga di luar kamar itu, walaupun sudah ada pasukan istana yang melakukan penjagaan di seluruh istana. Koan-thaikam dengan cerdik dapat mengajak sepuluh orang pengawal pribadi kaisar itu untuk mengadakan pertemuan, setiap kali hanya dengan lima orang. Dalam dua kali pertemuan saja dia sudah dapat mengadakan perundingan dengan mereka.

Sepuluh orang pengawal pribadi itu terkejut bukan main mendengar laporan Koan-thaikam yang telah mendengar rahasia Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan yang mengadakan persekutuan dengan kaki tangan kerajaan Wei untuk melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong.

"Koan-taijin, kalau begitu, kenapa kita tidak langsung saja menangkap para pengkhianat itu!" kata para pengawal atau jagoan istana itu dengan penasaran.

"'Atau kita langsung laporkan kepada Sri-baginda biar mereka itu ditangkap?” kata yang lain.

Akan tetapi Koan Thai-kam menggeleng kepalanya. "Hal itu tidak mungkin kita lakukan, walaupun persekongkolan mereka sudah jelas karena aku telah mendengarnya sendiri. Akan tetapi apa buktinya? Tanpa bukti, apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Ingat, selain mereka itu merupakan dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mereka telah berhasil memperoleh kedudukan yang tinggi pula, dan mendapat kepercayaan Sribaginda, Kwan Hwe Li telah menjadi pengawal permaisuri, sedangkan Ouwyang Toan telah menjadi perwira pasukan pengawal istana. Tanpa bukti, kalau kita melaporkan kepada Sribaginda, kemudian mereka berbalik menuduh kita melakukan fitnah, kita tidak akan menang. Demikian pula, melakukan kekerasan tanpa bukti, tentu akan membuat Sribaginda marah kepada kita."

"Habis, bagaimana baiknya? Kalau kita melihat Sribaginda terancam keselamatannya, apakah kita harus tinggal diam saja?" mereka mencela.

"Tidak begitu," kata Koan-thaikam, "tentu saja kita harus bertindak dan karena itulah cu-wi (anda sekalian) saya undang untuk berunding. Kita sekarang, para pengawal pribadi Sribaginda, telah tahu akan rencana jahat mereka dan dapat melakukan penjagaan yang lebih ketat tanpa menimbulkan kecurigaan mereka. Selain itu, kita mengadakan hubungan rahasia dengan para panglima pasukan pengawal dan pasukan keamanan, agar mereka mempersiapkan pasukan untuk bergerak sewaktu-waktu diperlukan. Kita mau tidak mau harus membiarkan para pengkhianat itu bergerak, agar kita dapat menindak mereka dengan bukti."

"Akan tetapi, hal itu berarti membiarkan Sribaginda terancam bahaya! Bagaimana kalau mereka turun tangan secara tiba-tiba sehingga kita terlambat dan Sribaginda dan keluarganya tertimpa bencana?" kembali para pengawal pribadi itu membantah dan mencela dengan hati khawatir sekali, "Kami lebih condong melapor kepada Sribaginda!" "Jangan! Cu-wi tentu telah mengenal watak Sribaginda. Beliau amat bijaksana menghargai kegagahan, juga beliau selalu bersikap adil. Kalau kita melapor, akan tetapi beliau tidak menemukan bukti, bagaimana mungkin beliau akan menangkap dan menghukum para pengkhianat itu? Kitalah yang akan mendapat kemarahan, atau bukan mustahil kita yang akan ditangkap dan dihukum karena dianggap malakukan fitnah dan membuat kekacauan. Tentang keselamatan Sribaginda dan keluarganya, kenapa khawatir? Bukankah ada cu-wi yang selalu menjaga dan mengawal Sribaginda? Dan hendaknya cu-wi tahu bahwa pemuda yang baru saja diterima sebagai pengawal pribadi itu ... "

"Koan Ji, keponakan Koan-aijin itu?”

“Ya, dialah yang akan menjamin keselamatan Sribaginda!"

"Ah, maaf, taijin. Memang Koan Ji memiliki tubuh yang kebal dan kuat, akan tetapi apa artinya itu? Ingat, Ouwyang-ciangkun amat lihai dan Kwan Hwe Li jauh lebih lihai lagi. Kami semua sudah membuktikannya sendiri ketika mereka diuji. Bahkan kami akan kewalahan melawan mereka berdua. Biarpun ditambah Koan Ji itu ... maaf. bukan kami hendak memandang rendah keponakan tai-jin,”

“Ketahuilah, Koan Ji itu bukan keponakanku! Saya memang sengaja mencari bantuan dari luar dan dia adalah orang yang dipilih oleh Hek-tung Lo-kai untuk tugas penting melindungi Sribaginda. Hanya dialah yang akan mampu menandingi Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan. Karena saya tidak ingin membuat persekutuan itu curiga, maka saya mengakuinya sebagai keponakan dan juga agar Sri baginda percaya kepadanya."

Sepuluh orang pengawal pribadi itu merasa kagum. Kalau benar pemuda itu pilihan Hek-tung Lo-kai yang mereka kenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan juga mendukung pemerintah baru, tentu pemuda itu bukan orang sembarangan.

"Akan tetapi, siapa dia sesungguhnya, taijin? Kami merasa tidak pernah mengenal seorang tokoh dunia persilatan yang wajahnya seperti dia itu."

"Tentu saja, karena itu adalah wajah penyamaran, bukan wajah aselinya. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan dia berjuluk Si Pedang Kilat! Bahkan oleh Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu dia dicalonkan menjadi beng-cu dunia persilatan.”

“Bukan main! Siapa namanya, taijin?”

“Namanya Kwa Bun Houw, memang belum begitu terkenal di dunia persilatan, akan tetapi dia merupakan seorang bintang baru yang hebat. Kalian tahu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan ... "

"Datuk sesat majikan Bukit Bayangan Iblis itu?"

"Benar, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, dibantu oleh Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi kaki tangan kerajaan Wei, hendak memaksa Hek-tung Kai-pang dan Thian- beng-pang untuk bekerja sama. Ketika mereka hendak membunuh kedua pang-cu itu, muncullah Si Pedang Kilat ini dan dia yang mengalahkan para tokoh sesat itu.”

Tentu saja para pangawal pribadi kaisar itu terbelalak dan sukar dapat percaya berita ini. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu mengalahkan Kui-siauw Giam-ong Suma Koam yang mereka tahu amat sakti itu?

Para jagoan istana ini masih belum yakin benar kalau belum mengerti kepandaian Bun Houw. Mereka mempunyai sebuah tempat tersendiri untuk berlatih silat dan tidak ada orang lain yang boleh menonton mereka berlatih. Sebagai pengawal-pengawal pribadi kaisar, tentu saja mereka memiliki pengaruh dan wibawa. Kesempatan inilah mereka pergunakan untuk menguji sendiri kepandaian Bun Houw. Kwa Bun Houw sudah mendengar dari Koan-thaikam bahwa keadaan dirinya sudah bukan rahasia lagi bagi sepuluh orang pengawal pribadi kaisar, maka diapun tidak berpura-pura terhadap mereka. Dalam kesempatan berlatih, dia membiarkan dirinya dikeroyok oleh lima orang pengawal yang paling tangguh dan tanpa banyak kesukaran dia dapat mengalahkan mereka semua, baik dalam pertandingan tangan kosong maupum mempergunakan pedang kilatnya.

Setelah sepuluh orang pengawal pribadi itu membuktikan sendiri kemampuan Bu Houw, barulah mereka merasa tenang dan kini Bun Houw merupakan pengawal pribadi kaisar yang paling depan, selalu paling dekat dengan kaisar, terutama kalau di ruangan terbuka di mana terdapat para anggauta pasukan pengawal istana yang dipimpin oleh Ouwyang Toan. Sementara itu, Koan-thaikam juga sudah menghubungi para pimpinan pasukan pengawal, bahkan panglimanya dan merekapun mempersiapkan pasukan untuk turun tangan sewaktu- waktu para pengkhianat itu mengadakan gerakan.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan memang telah terbujuk dan mau mengadakan persekutuan dengan kerajan Wei. Hal ini terjadi ketika Ouwyang Toan bertemu dengan ayahnya, Ouwyang Sek di luar kota raja, ketika Ouwyang Sek sengaja datang untuk bertemu dengan puteranya. Datuk sesat ini mendengar bahwa puteranya kini menjadi seorang perwira pasukan pengawal di istana kerajaan Chi yang baru. Hal ini membuat Ouwyang Sek marah sekali. Puteranya, putera majikan Lembah Bukit Siluman, yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan, kini merendahkan diri menjadi seorang perwira pasukan pengawal saja! Kalau menjadi pembesar yang tinggi kedudukannya, tentu akan lain pendapatnya.

Dalam keadaan marah dan murung ini, Ouwyang Sek menerima kunjungan Bu-tek Sam-kui yang telah dikenalnya. Dia mendapat uluran tangan utusan kerajaan Wei ini yang mengajak dia untuk bersekongkol membantu bekas kaisar Cang Bu untuk merebut kembali kerajaan dari tangan kaisar Chi, dan adanya Ouwyang Toan di istana kaisar Siauw Bian Ong sungguh merupakan keuntungan besar dan kesempatan yang baik sekali. Ouwyang Sek mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu telah menghimpun pasukan, bahkan kini dibantu oleh Suma Koan dan Suma Hok yang telah menjadi adik iparnya, menikah dengan adik bekas kaisar itu, dan bahwa bekas Kaisar Cang Bu kini telah bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Dengan janji bahwa kalau gerakan itu berhasil. Ouwyang Sek dan puteranya akan mendapatkan kedudukan tinggi sebagai menteri dan panglima. Ouwyang Sek menjadi bersemangat. Lenyaplah kemarahannya terhadap puteranya dan diapun mencari puteranya, mengirim orang untuk memanggil puteranya itu menemuinya di luar kota raja.

Ouwyang Sek yang menceritakan semua penawaran Bu-tek Sam-kui sebagai utusan ke puteranya, dan dia menuntut agar Ouwyang Toan dapat membujuk Bi-moli untuk bekerja sama.

Bi-moli Kwan Hwe Li adalah seorang wanita yang haus cinta. Setelah ia mengalami kekecewaan karena cintanya terhadap Tiauw Sun Ong putus, kemudian setelah mereka menjadi tua, Tiauw Sun Ong tetap tidak mau hidup bersamanya, maka kini bertemu dengan Ouwyang Toan yang muda dan pandai mengambil hati, tentu saja membuat ia takluk. Ketika Ouwyang Toan membujuknya untuk menerima uluran tangan kerajaan Wei, iapun tanpa berpikir panjang lagi menerimanya. Ia rela hidup dan mati bersama kekasihnya yang masih muda itu. 

Demikianlah, kedua orang yang mendapatkan kepercayaan Kaisar Siauw Bian Ong ini mulai siap-siap melaksanakan perintah dari persekutuan itu. Ouwyang Toan yang telah mendapat kepercayaan itu berhasil menyelundupkan beberapa orang anggauta Thian-te Kui-pang reka menanti saatnya yang matang, bukan hanya mempersiapkan para anggauta Thian-te Kui-pang yang diselundupkan sebagai anggauta pasukan pengawal, akan tetapi juga menyebar para anggauta perkumpulan Iblis itu di kota raja agar pada saat yang ditentukan, para anggauta itu, dipimpin oleh Bu-tek Sam-kui sendiri, dapat menyerbu ke istana. Kalau penyerbuan dan pembunuhan terhtdap kaisar dan keluarganya dilaksanakan, maka pasukan bekas Kaisar Cang Bu dan pasukan bantuan dari kerajaan Wei yang sudah mempersiapkan diri akan menyerbu masuk ke daerah kerajaan Chi, dimulai dari sarang pasukan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu.

Persiapan pertempuran! Persiapan perang! Persiapan bunuh membunuh. Kapankah keadaan seperti ini akan berakhir? Dunia dilanda perang, permusuhan, kebencian sejak sejarah tercatat sampai kini. Tak pernah ada henti-hentinya. Perang saling bunuh, demi kemenangan, demi kedudukan, demi keuntungan, demi nama baik, demi pemuasan dendam.. Perang senjata, perang ekonomi, perang sosiaL perang ideologi, bahkan ada perang agama dan yang disebut perang suci! Ada yang menganggap perang satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian! Betapa palsunya omong kosong semua itu. Perang adalah pencetusan dari kebencian, dendam, permusuhan, perebutan kekuasaan atau harta. Perang antara bangsa hanya peluasan dari pada perang antara dua manusia yang juga menjadi akibat dari pada perang yang terjadi di dalam batin kita sendiri! Konflik batin berkembang menjadi konflik dengan manusia lain. Kemelut yang berkecamuk di dalam mencuat keluar.

Manusia yang sudah tidak memiliki lagi kasih sayang, menjadi mahluk yang lebih buas dari pada binatang yang paling buas. Kebuasan binatang hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya, dan kebuasan itu dituntut oleh kebutuhan untuk hidup. Akan tetapi manusia memiliki hati akal pikiran yang membuat dia menjadi lebih buas dan lebih berbahaya. Dalam perang, manusia menjadi haus darah yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh, cara menyelamatkan diri dengan jalan membunuh dan membunuh lagi. Kalau sudah begini, segala kepalsuan manusiapun nampak . Bahkan Tuhan dibawa-bawa ke dalam perang saling bantai itu. Kedua pihak yang berperang memohon kepada Tuhan untuk diberi bantuan agar menang. Tuhan dimintai bantuan untuk membunuh manusia lain sebanyak-banyaknya!

Dan yang menyedihkan sekali, setiap peperangan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka yang tidak tahu apa-apa, yang tidak ikut berperang, bahkan yang paling parah menderita karena perang. Melarikan diri mengungsi ke sana ini, menjadi korban perampokan, pembunuhan, perkosaan dan penghinaan. Mereka yang sama sekali tidak berdosa kehilangan harta milik, kehilangan rumah tinggal, kehilangan kehormatan, bahkan kehilangan nyawa.

Melihat betapa ketatnya panjagaan terhadap istana dan seluruh penghuninya, Bi Moli dan Ouwyang Toan tidak berani melakukan gerakan dan mereka seringkali mengadakan perundingan rahasia di luar istana dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan Bu-tek Sam-kui.

"Lalu kapan rencana kita dapat dilaksanakan? Kami sudah mempersiapkan anak-buah di kota raja dan hal ini tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kalau sampai ketahuan, tentu sebelum kita bergerak, pasukan keamanan sudah akan melakukan penggerebekan dan, semua usaha akan gagal. Bahkan dari Kaisar Cang Bu kami sudah mendapat berita bahwa selain beliau sudah mampersiapkan pasukannya, juga Kui-siauw Giam-ong sudah berhasil mengerahkan para tokoh kang-ouw berikut anak buah mereka yang berhasil diajak bergabung, untuk membantu kalau terjadi keributan di kota raja." kata Pak-thian-kui yang sudah kehilangan kesabaran.

"Pak-thian-kui, semua pekerjaan harus dilaksanakan sebaik mungkin. Kalau tanya serampangan saja lalu gagal, apa artinya?" Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menegur orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi itu yang tadi nadanya menegur puterinya yang dianggap bekerja lambat dan belum juga siap.

Melihat Bu-eng-kiam marah, Bi Moli cepat berkata, "Sebaiknya kita tidak meributkan persoalan ini. Ouwyang Kongcu benar. Memang penjagaan di istana amatlah ketatnya sehingga menyulitkan kami untuk bergerak. Kalau kami nekat, tentu akan gagal. Akan tetapi, Pak-thian- kui juga benar. Persiapan sudah dilakukan, kalau tidak cepat cepat gerakan dilakukan dan ketahuan, tentu semua akan gagal. Sebaiknya kita mencari jalan terbaik bagaimana agar kita dapat cepat bergerak dan tidak sampai gagal."

Sejenak dalam ruangan itu menjadi hening.

Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari jalan terbaik agar semua rencana mereka dapat dilaksanakan. Bu-tek Sam-kui bertanggung jawab terhadap kaisar mereka yang tentu saja menghendaki agar semua rencana berhasil baik, sedangkan bekas Kaisar Cang Bu juga tentu saja sudah menanti saat terbaik yang sudah lama dinanti-nanti itu.

"Ada satu jalan yang kurasa paling baik untuk dilaksanakan," kata Kwan Hwe Li dan semua orang memandang kepadanya penuh harap.

"Jalan apa itu, Mo-li? Cepat ceritakan!" kata Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.

"Sudah kuperhitungkan baik-baik, kalau kami yang bertugas di istana harus menyerang Kaisar sekeluarganya, hal itu amatlah sulitnya. Penjagaan amat ketat, bahkan kurasa, pengawal pribadi yang baru dan kelihatan tidak meyakinkan itu, bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan. Karena itu sulit rasanya kalau sekaligus kita harus menyerang seluruh keluarga."

"Akan tetapi, Mo-li. Menurut Kaisar kami, kalau hanya membunuh kaisar kerajaan Chi saja tidak ada gunanya, karena tentu akan segera diganti oleh seorang pangeran. itulah sebabnya mengapa kami ditugaskan untuk membasmi seluruh keluarga. Dengan demikian, tentu pemerintahannya akan menjadi kacau seolah ular tanpa kepala, dan dalam keadaan kacau tanpa adanya raja itulah pasukan akan mulai menyerbu masuk.”

Kwan Hwe Li mengangguk-angguk. "Aku mengerti, dan kiranya hanya ada satu jalan, yaitu menawan kaisar. Sebetulnya, menawan permaisuri jauh lebih mudah, akan tetapi kurang berguna. Sebaliknya, kalau kita dapat menawan kaisar, kita tentu dapat melumpuhkan semua kekuatan di istana. Dengan kaisar sebagai sandera, kita dapat memaksa semua menteri, panglima dan pangeran untuk menyerah. Sandera itu dapat kita pergunakan untuk menangkapi seluruh keluarga kaisar!”

“Hebat! Engkau memang lihai dan pintar sekali, Bi Moli. Akan kami laporkan jasamu ini kepada kaisar kami dan juga kepada Kaisar Ceng Bu agar kelak mereka tidak melupakan jasamu, Nah, kita laksanakan saja seperti yang direncanakan Moli tadi."

Mereka lalu mangadakan perundingan, Bi Moli dan Ouwyang Toan akan melaksanakan penawanan terhadap kaisar itu, dengan bantuan enam orang anggauta Thian-te Kui-pang yang menjadi pengawal. Kalau mereka berdua telah berhasil menawan kaisar, maka mereka akan menggunakan kaisar sebagai sandera untuk memasukkan semua anggauta Thian-te Kui-pang yang sudah berada di kota raja untuk menguasai istana. Kesempatan itu pula akan dipergunakan oleh Bu-tek Sam-kui dan Bu-eng-kiam untuk memasuki istana, memim pin pasukan Thian-te Kui-pang untuk menangkapi semua keluarga kaisar dan sekutunya. Bahkan mereka telah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi ketika Kaisar Siauw Bian Ong pergi ke kuil istana dan melakukan sembahyang bersama permaisuri. Saat itu memang tepat karena kaisar dan permaisuri berada di satu tempat sehingga tentu saja Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan dapat pula berada di sana dan bersama-sama mereka dapat melaksanakan penawanan itu. Kalau mungkin, mereka bahkan dapat menawan kaisar dan permaisurinya, sedangkan anak buah Ouwyang Toan yang enam orang dapat membantu melumpuhkan para pengawal lain yang hendak menghalangi gerakan mereka. Mereka sudah memperhitungkan bahwa paling banyak akan ada tiga atau empat orang pengawal pribadi kaisar dan Kwan Hwe Li yakin akan mampu mengatasi mereka, sedangkan Ouwyang Toan akan menawan kaisar dilindungi anak buahnya yang penting, asal kaisar sudah jatuh ke tangan mereka, tentu semua perlawanan akan dapat dihentikan dengan menjadikan kaisar itu seorang sandera yang amat penting dan berharga.

Kuil istana pagi itu nampak meriah dan sibuk sekali. Para hwesionya mengenakan jubah bersih dan wajah merekapun nampak segar berseri. Semua orang menyambut pagi itu dengan hati gembira karena hari itu Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisuri akan melakukan sembahyang leluhur di kuil istana. Jarang sekali kaisar sendiri melakukan sembahyang di kuil dan setiap kali hal ini terjadi, para hwesio di kuil itu merasa mendapat kehormatan besar. Kaisar Siauw Bian Ong memang pandai sekali mengambil hati rakyat dari semua golongan. Dia bijaksana pula terhadap para hwesio di kuil ini sehingga para pendeta itu juga kagum dan memujinya, tak pernah melalaikan menyebut nama sribaginda dalam sembahyangan mereka mendoakan yang baik-baik bagi kaisar yang bijaksana itu.

Sejak pagi tadi, sebelum kaisar dan permaisuri pergi ke kuil itu, Ouwyang Toan telah sibuk bersama dua belas orang anak buahnya, melakukan pembersihan, di kuil itu.

Hanya para hwesio saja yang diperkenankan berada di kuil. Para hwesio dipesan agar dalam sehari itu, tidak seorangpun boleh berkunjung ke kuil, demi keamanan kaisar dan permaisuri. Para hwesio menaati perintah perwira pasukan pengawal ini dan mereka sibuk mempersiapkan semua keperluan sembahyang itu. Semua perlengkapan telah dipersiapkan, meja diberi tilam baru yang indah, bahkan seluruh ruangan sembahyang telah dibersihkan dan dicat baru sejak beberapa hari yang lalu. Lantainyapun mengkilap karena dipel sampai beberapa kali oleh para hwesio. Pendeknya, ruangan sembahyang itu menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Pot-pot bunga dengan yang mekar semerbak menghiasi semua sudut ruangan. Sejak pagi, dupa harum dibakar sehingga ruangan itu berbau harum dan terasa nyaman. Ouwyang Toan sengaja mengatur agar penjagaan di sebelah dalam ruangan sembahyang dilakukan oleh enam orang anak buahnya sedangkan perajurit pasukan pengawal yang lain berjaga di ruangan depan dan belakang. Setelah semua persiapan selesai, dia lalu melapor kepada Kaisar Siauw Bian Ong yang sudah bersiap dengan permaisurinya. Matahari sudah naik tinggi dan hawa udara tidak begitu dingin lagi katika Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisurinya berjalan melalui lorong di taman istana, menuju ke istana, yang berada di ujung taman, di atas sebuah bukit buatan yang kecil. Kaisar dan permaisuri tidak mau duduk di joli, hanya terjalan kaki karena pagi itu cerah dan sinar matahari hangat. Juga pemandangan di taman itu amat indahnya. Musim bunga membuat taman itu nampak indah bukan main, juga jarak ke kuil tua itu tidaklah terlalu jauh.

Karena kaisar dan permaisuri hanya pergi ke kuil istana, ke dalam lingkungan istana, maka penjagaan tidaklah luar biasa ketatnya. Rombongan itu hanya terdiri dari kaisar, permaisuri, dua orang selir terdekat dan tujuh orang gadis dayang saja. Tentu saja Bi Moli Kwan Hwe Li sebagai pengawal pribadi permaisuri, tidak ketinggalan dan wanita cantik ini berjalan di belakang rombongan. Di belakang kaisar dan permaisuri berjalan tiga orang pengawal pribadi, yaitu Koan Ji atau Kwa Bun Houw dan dua orang pengawal lain. Koan Thai-kam sebagai kepala thai-kam, ikut pula dalam rombongan itu karena dia yang akan mengatur sembahyangan itu bersama para hwesio kuil. Di depan, kanan kiri dan belakang nampak pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang, dipimpin oleh Ouwyang Toan.

Baik Bi Moli Kwan Hwe Li maupun Ouwyang Toan sama sekali tidak pernah menduga sedikit pun juga bahwa semua rencana mereka dan yang mereka atur bersama Bu-tek Sam-kui, telah diketahui oleh Kwa Bun Houw! Bersama Koan-thaikam, Bun Houw sudah mengatur siasat untuk menghadapi usaha pemberontakan yang membahayakan keselamatan keluarga kaisar itu. Memang Bun Houw belum mengetahui dengan tepat, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan, akan tetapi dia dan Koan Thai-kam telah menduga bahwa hari itu, saat Kaisar dan permaisuri bersembahyang, merupakan saat yang amat gawat, dan mereka menduga bahwa tentu para pemberontak akan bergerak pada saat itu. Koan Thai-kam sudah mengadakan kontak dengan panglima pasukan pengawal dan keamanan, dan mata-mata telah disebar. Mata-mata ini yang melaporkan bahwa ada kurang lebih seratus orang asing bukan penduduk kota raja yang nampak bersembunyi di sekitar pintu gerbang istana, ada yang menyamar sebagai pedagang keliling, menjadi pengemis dan ada yang seperti pelancong biasa. Keterangan tentang gerakan orang-orang asing ini didapatkan oleh komandan pasukan dari para anggauta Hek-tung Kai-pang yang seperti biasa berkeliaran di kota raja. Karena mereka adalah anggauta kai-pang, maka kehadiran mereka tidak mencurigakan orang, juga para anggauta Thian-te Kui-pang tak mencurigai mereka. Pada hal, para anggauta pengemis ini adalah orang-orang yang mengamati gerak-gerik mereka!

Juga Bun Houw telah dapat menduga bahwa di antara dua belas orang perajurit pengawal, termasuk yang pernah disuruh mengujinya, adalah kaki tangan komplotan itu, maka diapun sudah bersikap waspada. Agar jangan sampai mencurigakan Ouwyang Toan dan Bi Moli, maka penjagaan terhadap kaisar dan permaisuri hanya dilakukan oleh dia dan dua orang pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi, telah diatur dengan rapi agar banyak pengawal yang setia terhadap kaisar, mengatur barisan pendam di sekitar tempat sembahyang itu.

Setelah tiba di kuil, para hwesio menyambut kaisar dan permaisuri dengan sikap hormat. Semua berlangsung seperti biasa, tidak ada perubahan sedikitpun dan ini memang dikehendaki Koan-thaikam agar tidak mencurigakan komplotan pemberontak. Dia bersama lima orang hwesio melayani kaisar dan permaisuri, menemani mereka memasuki ruangan sembahyang, ditemani pula oleh dua orang selir dan tujuh orang gadis dayang yang setelah masuk ke ruangan sembahyang lalu duduk bersimpuh di pinggiran. Kwa Bun Houw dan dua orang rekannya ikut pula masuk, akan tetapi merekapun berdiri di pinggiran. Demikian pula Ouwyang Toan dan enam orang pengawal ikut masuk dan berjaga di pintu ruangan.

Bi Moli ikut pula masuk dan ia yang paling dekat dengan kaisar dan permaisuri dan dua orang selir yang kini sudah berlutut di depan meja sembahyang, dilayani oleh lima orang hwesio yang menyerahkan hio-swa (dupa biting) untuk sembahyang, dan menyerahkan alat penyulut lilin yang akan dinyalakan Kaisar.

Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Saat ini memang yang sudah ditentukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan untuk bertindak. Pada saat kaisar hendak menyalakan lilin dan permaisuri beserta dua orang selir berlutut dan menerima hio-swa dari para hwesio. Saat itu memang amat baik karena tiga orang pengawal pribadi kaisar tidak berani mendekat, dan juga para pengawal yang bukan kaki tangan mereka berada di luar. Sudah mereka rencanakan bahwa Ouwyang Toan akan menangkap kaisar dan Bi Moli menangkap permaisuri, sedangkan enam orang kaki tangan mereka menjaga agar tidak ada yang berani menghalangi perbuatan kedua orang itu menawan kaisar dan permaisuri. Kalau kaisar dan permaisuri sudah ditawan, maka segalanya akan menjadi mudah!

Dan memang perhitungan itu tepat sekali. Ketika tiba-tiba sekali Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat ke depan sambil mencabut pedang, Bun Houw sempat dibuat tertegun.

Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang itu akan bergerak pada saat yang khidmat itu, di mana kaisar dan permaisuri baru mulai melakukan sembahyang. Juga kedua orang rekannya terbelalak.

Ouwyang Toan dengan pedang di tangan meloncat ke dekat kaisar, dan Bi Moli juga meloncat ke dekat permaisuri sambil menendang seorang selir yang menghalang di samping sehingga selir itu terguling sambil menjerit.

"Semua diam! Kaisar dan Permasuri kami tawan!” kata Ouwyang Toan dengan suara nyaring. Enam orang pengawal yang menjadi kaki tangannya juga tiba-tiba mencabut pedang dan hendak melindungi dua orang itu. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar perhitungan Ouwyang Toan dan Bi Moli. Lima orang hwesio yang tadinya melayani kaisar, permaisuri dan dua orang selir, yang nampaknya adalah hwesio-hwesio yang lemah dan lembut, tiba-tiba saja mereka itu menerjang ke arah Bi Moli dan Ouwyang Toan!

Mereka yang lebih dekat dengan kaisar dan permaisuri sehingga mereka dapat menyerang sambil membelakangi kaisar dan permaisuri. Terkejutlah Ouwyang Toan ketika hwesio yang tadi menyerahkan alat penyulut lilin kepada kaisar tiba-tiba menyambutnya dengan serangan tusukan alat penyulut lilin itu. Dan Bi Moli juga terkejut ketika dua orang hwesio sudah menyerangnya dari depan. Karena para hwesio itu menyerang Ouwyang Toan dan Bi Moli dari depan dan sekaligus menghalangi mereka menawan kaisar dan permaisuri, terpaksa kedua orang pengkhianat itu lalu menggerakkan pedang mereka menyerang para hwesio itu! Dan mereka semakin terkejut. Kiranya mereka bukanlah hwesio-hwesio lemah, karena mereka mampu melakukan perlawanan dengan gerakan yang cukup gesit dan tangkas.

Biarpun akhirnya lima orang hwesio itu roboh mandi darah oleh pedang Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li, namun telah memberi waktu yang cukup bagi Kwa Bun Houw untuk turun tangan. Dia dan dua orang rekannya berloncatan.

"Amankan Sribaginda!" teriak Bun Houw kepada dua orang rekannya. Dua orang pengawal pribadi kaisar itu lalu menggandeng kaisar dan permaisuri, menarik mereka keluar dari ruangan sembahyang itu, sedangkan dua orang selir itu menangis dan lari ke sudut ruangan bersama para dayang. Kini tinggal Bun Houw seorang yang berdiri di pintu samping dari mana kaisar tadi menyelamatkan diri dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan.

"Si Pedang Kilat ... !" Ouwyang Toan berseru kaget bukan main melihat pedang yang berkilauan di tangan Bun Houw itu. Juga Bi Moli yang telah merobohkan tiga orang hwesio itu terkejut mendengar teriakan yang mengandung rasa gentar yang amat sangat dari kekasihnya itu.

"Siapa ...?!?" tanyanya.

"Kwa Bun Houw ... murid Tiauw Sun Ong ...!" kata Ouwyang Toan dan diapun sudah memberi isarat kepada enam orang anggauta Thian-te Kui-pang untuk menerjang dan mengeroyok Bun Houw. Enam orang itu-pun maklum bahwa usaha mereka gagal, maka dengan nekat mereka lalu menggerakkan senjata dan menerjang pemuda yang memegang sebatang pedang yang berkilauan itu.

"Moli, kita lari!" teriak Ouwyang Toan kepada kekasihnya dan mereka berloncatan keluar pintu ruangan sembahyang. Akan tetapi, betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu telah terkepung ratusan orang pasukan keamanan istana yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ. Tahulah mereka bahwa kesemuanya telah gagal sama sekali. Kekecewaan membuat mereka menjadi marah, ditambah lagi dengan rasa takut. Mereka menumpahkan semua kesalahannya kepada Bun Houw dan seperti ada persetujuan tanpa kata, keduanya membalik dan meloncat masuk lagi untuk membuat perhitungan  dengan Kwa  Bun Houw! Ouwyang Toan memang membenci pemuda itu, dan Bi Moli mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Tiauw Sun Ong, maka iapun amat membencinya!

Sementara itu, melihat dia diserang oleh enam orang kaki tangan Ouwyang Toan, Bun Houw tidak mau membuang banyak waktu melayani mereka. Dia tahu bahwa kaisar dan permaisuri sudah selamat, dan dua orang pengkhianat itu tidak akan mungkin dapat lolos dari tempat itu, maka diapun menggerakkan pedang di tangannya. Enam orang itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka merupakan para anggauta di-lihan dari Thian-tc Kui-pang. Akan tetapi, berhadapan dengan. Si Pedang Kilat, enam orang itu seperti berhadapan kakek guru mereka! Nampak gulungan sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata dan satu demi satu, enam orang itu roboh dan tewas seketika. Nampaknya saja mereka tidak terluka, saking tajamnya pedang pusaka itu sehingga ketika menembus dada atau leher lawan, hampir tidak meninggalkan bekas dan hanya diketahui orang itu terluka setelah darah mengalir keluar dan orang itu tewas seketika!

Ketika Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat kembali memasuki ruangan sembahyang, mereka terbelalak. Di samping mayat lima orang hwesio yang sebenarnya merupakan pengawal- pengawal yang menyamar, nampak mayat enam orang anggauta Thian-te Kui-pang itu rebah malang melintang dalam keadaan tewas. Begitu cepatnya enam orang itu tewas dan hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda yang masih berdiri dengan pedang berkilauan di tangan itu.

"Kwa Bun Houw! Engkau selalu menjadi penghalang bagiku dan selalu memusuhiku!” bentak Ouwyang Toan marah.

"Engkau keliru, Ouwyang Toan. Engkau tentu tahu bahwa aku menentang siapa saja yang melakukan kejahatan, tak terkecuali engkau. Adalah engkau dan Bi Moli yang sungguh tidak tahu diri, tak mengenal budi. Sribaginda telah memberikan kedudukan yang baik bagi kalian, akan tetapi kalian bahkan mengkhianati dan bersekutu dengan pemberontak dan dengan kerajaan Wei."

'Bocah she Kwa, hari ini engkau harus menebus dosa gurumu kepadaku!" Bi Moli membentak dan ia sudah menggerakkan pedangnya. Ouwyang Toan juga membantu kekasihnya itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya pula. Akan tetapi, Bun Houw memutar Lui- kong-kiam dan nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata dan dua orang itu terpaksa meloncat keluar dari ruangan itu karena tempat itu terlalu sempit dengan adanya sebelas sosok mayat yang bergelimpangan. Bun Houw juga menerjang keluar karena diapun menghendaki agar dapat melawan kedua orang musuhnya itu di tempat yang lebih luas.

Melihat dua orang pengkhianat itu berloncatan keluar, disusul oleh pengawal pribadi yang baru, para pengawal siap untuk mengepung dan mengeroyok.

"Tahan, jangan keroyok, biarkan Si Pedang Kilat sendiri menghadapi dua orang itu." kata Kaisar Siauw Bian Ong.

Kaisar ini tadi telah mendapat laporan yang singkat dan jelas dari Koan Thai-kam tentang diri Kwa Bun Houw yang dijuluki Si Pedang Kilat, mendengar pula bahwa dia dan Hek-tung Kai- pang mengatur agar pendekar itu melindungi kaisar, kemudian tentang persekutuan pemberontak dan betapa dia sudah mengadakan kontak dengan para panglima untuk menanggulangi pengkhianatan itu. Juga dia beritahukan mengapa dia tidak melapor lebih dahulu kepada kaisar, yaitu karena kedua orang pengkhianat itu telah mendapatkan kedudukan, maka dia khawatir kalau-kalau kaisar tidak percaya begitu saja tanpa adanya bukti. Kaisar dapat memaklumi dan mendengar bahwa Kwan Bun Houw yang berjuluk Si Pedang Kilat adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi, maka melihat kedua orang pengkhianat itu kini bertanding melawan Si Pedang Kilat, kaisar ini yang juga suka ilmu silat ingin sekali menontonnya.

"Kalau dia terdesak, barulah kalian boleh membantunya," pesannya kepada para pengawal pribadi dan para pengawal yang mengerti apa yang dikehendaki junjungan mereka, mengangguk dan mereka siap dengan senjata di tangan untuk membantu kalau-kalau Si Pedang Kilat terdesak. Kaisar lalu memberi isarat kepada panglima pasukan keamanan untuk mendesak, lalu berkata, "Panglima, cepat kerahkan pasukan dan tangkapi semua anggauta gerombolan Thian-te Kui- pang yang berkeliaran di kota raja."

Panglima itu memberi hormat lalu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu, berkat latihan yang diterimanya dari Tiauw Sun Ong, gurunya yang buta, Kwa Bun Houw telah dapat melatih pendengarannya menjadi amat tajam, pengganti kedua mata bagi gurunya dan bagi dia, membantu pekerjaan mata, pendengarannya menjadi amat peka dan dengan kepekaan inilah dia dapat pula mendengar perintah kaisar kepada para pengawalnya tadi, walaupun dia menghadapi dua lawan yang tangguh. Bun Houw maklum bahwa tentu kaisar telah mendengar dari Koan Thai-kam siapa dia, maka kini kaisar ingin menyaksikan pertandingan yang seru, maka dia-pun segera mengerahkan tenaganya dan memutar Lui-kong-kiam dengan dahsyat sekali.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan sudah maklum bahwa mereka telah terkepung ratusan orang pasukan pengawal. Dengan gagalnya mereka menawan kaisar dan permaisuri, mereka tidak dapat mengandalkan apapun untuk melindungi diri, maka mereka menjadi gelisah, kecewa dan akhirnya membuat mereka menjadi nekat. Semua kemarahan mereka tumpahkan kepada Kwa Bun Houw yang mereke anggap sebagai penghalang dan penghancur semua rencana mereka yang sudah tersusun rapi.