-->

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 1

Jilid 1

Pria itu usianya sudah kurang lebih enam puluh tahun, namun tubuhnya masih gagah dan ramping kokoh, tidak seperti orang seusia dia yang biasanya kalau tidak kurus kering, tentu gendut dan gembrot dengan kulit bergantungan penuh lemak, muka penuh keriput dan garis- garis ketuaan tanda derita hidup. Wajahnya masih nampak tampan dan anggun walaupun kedua matanya buta, terpejam dan tidak berbiji lagi. Dia melangkah perlahan dengan tongkat butut di tangan pada saat ada belasan orang berdatangan dari depan. Pada hal tadi, ketika tidak ada orang lain, pria ini berjalan dengan cepat seperti orang berlari saja, akan tetapi begitu muncul rombongan terdiri dari belasan orang itu, tiba-tiba saja langkahnya menjadi perlahan dan biasa. Hal ini saja membuktikan bahwa biarpun kedua matanya buta, orang ini dapat mengetahui akan munculnya belasan orang itu. 

BELASAN orang itu rata-rata nampak gagah dan kuat. berusia dari tigapuluh sampai limapuluh tahun, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar berusia limapuluh tahun yang sikapnya gagah sekali. Begitu melihat pria buta itu, belasan orang ini saling berbisik dan mereka sengaja lari menghadang pria itu. Pria buta itu maklum bahwa belasan orang itu menghadang di depannya. Dia menahan langkahnya, berdiri bersandar tongkat bututnya dan menundukkan muka. Nampak acuh, namun sesungguhnya, sepasang telinganya menangkap semua gerakan belasan orang itu, sampai gerakan yang sekecil-kecilnya.

Setelah berhadapan. pemimpin rombongan itu, yang tinggi besar dan gagah, segera maju dan berlutut dengan sebelah kakinya, memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada. Empat belas orang pengikutnya. Ikut pula berlutut ketika si tinggi besar berlutut dan semua orang memberi hormat. Akan tetapi, pria buta itu bersikap seolah tidak tahu akan, apa yang terjadi di depannya.

"Pangeran, hamba bekas Jenderal Yap Lok, maafkan hamba dan empat belas orang pengikut hamba yang tardiri dari bekas para perwira menengah Kerajaan Liu-sung kalau hamba sekalian menghadang dan mengganggu ketenteraman paduka."

Pria buta itu memang bekas Pangeran Tiauw Sun Ong. Dia tersenyum, senyum lembut dan suaranya juga lembut ketika dia berkata, "Seperti juga kalian ini bebas jenderal dan bekas perwira, akupun hanya bekas pangeran saja. Saudara Yap, kita sekarang menjadi orang-orang biasa, harap jangan memakai segala macam peradatan dan kesungkanan. Marilah kita bicara seperti kanalan dan sahabat saja. Bangkitlah kalian dan kalau aku boleh bertanya, kalian hendak ke mana?"

"Maaf, pangeran. Kami tidak dapat menghapus sebutan pangeran karena bagi kami, paduka satu-satunya pangeran yang masih ada, dan padukalah harapan kami satu-satunya. Kami sengaja mendaki Bukit Hwa-san untuk mencari dan menghadap paduka."

Pria buta itu mengerutkan alisnya. Sudah puluhan tahun dia meninggalkan Kerajaan Liu-sung, sampai beberapa tahun yang lalu kerajaan itu hancur dan runtuh, kini digantikan oleh Kerajaan Chi. Dia sudah tidak menganggap dirinya sebagai pangeran, Apalagi berhubungan dengan bekas pembesar militer kerajaan keluarganya yang sudah jatuh itu.

"Saudara Yap, ada urusan apakah engkau dan teman-temanmu mencari aku? Sudah puluhan tahun aku mengasingkan diri dan tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia." Biarpun mulutnya berkata demikian, namun diam-diam Tiauw Sun Ong merasa hatinya pedih. Baru saja dia terpaksa meninggalkan puncak Hwa-san setelah mendengar bahwa dia mempunyai keturunan, mempunyai seorang anak kandung yang terlahir dari Pouw Cu Lan, hasil hubungan gelapnya dengan selir kaisar duapuluhan tahun yang lalu. Dan kini, keselamatan Pouw Cu Lan dan puterinya itu diancam oleh Kwan Im Sianli Bwe Si Ni yang hendak membalas dendam kepadanya karena dia tidak mau diajak hidup bersama! Dia terpaksa terjun ke dunia ramai untuk melindungi anak kandungnya, akan tetapi di depan bekas Jenderal Yap Lok, dia mengatakan bahwa dia tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia!”

"Pangeran, bagaimana mungkin kita mendiamkan saja para pemberontak dari keluarga siauw yang hina itu merampas tahta kerajaan, menghancurkan Kerajaan Liu-Sung kita yang jaya dan mendirikan kerajaan baru? Selama kita masih hidup, kita harus berusaha untuk merebut kembali kekuasaan itu dan menegakkan kembali Kerajaan Liu-sung? Selama ini, kami tidak berdaya karena tidak ada lagi seorangpun pangeran dari Kerajaan Liu-sung. Kami telah berusaha mencari paduka, namun sia-sia belaka. Baru sekarang kami dapat menemukan jejak paduka, dan kami sengaja menghadap untuk mohon agar paduka suka memimpin kami, menyusun barisan untuk merebut kenbali kekuasaan dari raja pemberontak Chi itu.”

Tiauw Sun Ong tertawa, tertawa karena geli mendengar usul yang penuh semangat itu. "Ha-ha- ha, sungguh lucu mendengar kata-katamu itu, seperti bermain sandiwara di panggung saja, maaf saudara Yap Lok, cita-citamu itu seperti membangun benteng di awang-awang saja. Aku hanya seorang buta, apalagi sudah tidak menginginkan segala kemuliaan duniawi, bagaimana kini kalian menganjurkan aku untuk menjadi pemimpin pemberontak terhadap Kerajaan Chi? Tidak, selain aku tidak mampu, juga aku tidak mau terlibat dalam perang dan keributan."

"Harap paduka tidak berpura-pura lagi. Kami telah melakukan penyelidikan dengan seksama dan kami tahu bahwa paduka sekarang, biarpun tidak dapat melihat lagi, namun telah menjadi seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Pangeran, demi kejayaan Kerajaan Liu- sung, demi nama dan kehormatan keluarga paduka sendiri, marilah kita bangkit dan rampas kembali kerajaan ... "

"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi dan harap kalian memilih orang lain saja. Jangan ganggu aku lagi." kata bekas pangeran itu, nada dan suaranya tegas.

Wajah bekas jendral itu berubah merah dan dengan matanya dia memberi isarat kepada kawan-kawannya. Limabelas orang itu kelihatan marah dan garang, bahkan sudah meraba gagang senjata masing-masing.

"Hemmm, sungguh tidak kami sangka bahwa Pangeran Tiauw Sun Ong hanya seorang penakut dan pengecut."

"Yap Lok, tahan mulutmu!" bentak pria buta itu.

"Pangeran, kalau paduka tidak takut dan bukan pengecut, maka paduka lebih rendah lagi, karena paduka akan menjadi seorang pengkhianat yang menaruh dendam terhadap kerajaan keluarga sendiri karena peristiwa dengan selir yang sangat memalukan itu. Paduka dendam dan karena itu tidak perduli kerajaan sendiri dirampas orang lain."

"Yap Lok. aku tidak mau bekerja sama denganmu. Tidak perlu engkau menghinaku dan memanaskan hatiku. Pergilah kalian dan jangan ganggu aku lagi."

"Kalau paduka tidak mau, terpaksa kami paksa. Lebih baik kami melihat paduka tewas di tangan kami dari pada melihat paduka berkeliaran sebagai seorang pengkhianat," kata Yap Lok sambil mencabut pedangnya.

Perbuatannya ini diikuti empatbelas orang pengikutnya dan nampaklah senjata berkilauan di tangan mereka dan otomatis merekapun membuat gerakan mengepung pangeran itu. Lima belas orang itu adalah bekas para perwira kerajaan, masing-masing memiliki Ilmu silat yang tangguh dan merupakan Jagoan-Jagoan Istana Kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh.

Biarpun dia masih berdiri dengan kepala menunduk, namun bekas pangeran yang buta matanya itu dapat mengikuti gerak-gerik lima belas orang itu dengan pendengarannya yang amat peka dan tajam. Dia tahu bahwa limabelas orang itu telah mengepungnya dengan senjata tajam di tangan, siap membunuh atau menawannya. Dia tersenyum getir. Tak di sangkanya bahwa setelah menyembunyikan diri dan hidup tenteram di tempat-tempat sunyi, hari ini dia terpaksa turun gunung dan begitu turun, dia sudah bertemu dengan belasan orang yang hendak menawan atau membunuhnya! Seolah g. makin terasa olehnya betapa dunia ini menjadi panas dan kotor oleh nafsu yang lelah menguasai diri manusia. Di mana terdapat manusianya, di mana terdapat kekerasan, nafsu bergelora dan manusia menjadi hamba setan yang merajalela dalam hati dan akal pikiran. Nafsu iblis mengendalikan manusia. menyeret manusia dalam segala macam perbuatan yang keras, kejam, kotor dan menyimpang dari sifat manusia pada saat dia dilahirkan. Panas bumi semakin panas, dunia semakin kacau. Di tempat-tempat yang tidak ada manusianya, segala sesuatu nampak penuh damai dan tenteram, margasatwa, bahkan pohon-pohon, hidup bebas dan begitu wajar. Namun, begitu dia tiba di tempat di mana ada manusianya, kebebasan sirna, persaingan, perebutan kekuasaan, pengejaran kesenangan, pemaksaan kehendak terhadap orang lain, penindasan, permusuhan, tiada hentinya menjadi permainan manusia.

"Kalian mau apa? Sadarlah, Yap Lok, engkau dan kawan-kawanmu telah menyimpang dari kebenaran. Jangan biarkan nafsu setan menyeret kalian ke jalan sesat!” Bekas pangeran itu masih mencoba untuk menyadarkan mereka.

"Engkau yang menyimpang dari kebenaran, engkau yang tersesat, Tiauw Sun Ong!” bentak Yap Lok. "Menyerahlah atau terpaksa kami akan membunuhmu!"

"Hemm, seekor semutpun akan menggigit kalau diinjak. Aku manusia. tentu akan membela diri kalau hendak dibunuh!” kata pangeran itu dengan sikap tenang.

Yap Lok memberi Isarat dengan pandang matanya dan seorang di antara pengikutnya, yang berdiri di belakang pangeran itu, mengeluarkan bentakan nyaring dan menusukkan pedangnya ke arah punggung Tiauw Sun Ong.

"Haiiiilitttt ...!"

Pedang meluncur bagaikan kilat menyambar dan agaknya tidak mungkin bekas pangeran itu akan mampu menyelamatkan diri dari serangan tiba-tiba yang dilakukan dari belakangnya dan amat cepat dan kuat itu. Namun, baru saja orang itu bergerak, Tiauw Sun Ong sudah dapat mengetahui dan menangkap gerakannya dengan pendengaran. Dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, memutar tubuh atas ke belakang didahului sinar hitam menyambar dan tahu-tahu tongkat bututnya yang hitam sudah bergerak ke belakang dan memakai pergelangan tangan yang menusukkan pedang. Gerakan memutar tubuh itu membuat pedang yang menusuk lewat di samping tubuhnya dan pukulan tongkatnya dengan tepat mengenai pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

"Dukkk! Aughhh ...!” Orang itu melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang sambil menggosok pergelangan tangan kanan yang menjadi matang biru dan terasa nyeri bukan main. Masih untung bahwa Tiauw Sun Ong tidak menggunakan seluruh tenaganya. Kalau demikian halnya, tentu tulang lengan itu telah menjadi patah!”

Melihat ini, empat belas orang yang lain dipimpin Yap Lok segera menggerakkan senjata menyerang. Hujan senjata menyambar dari segala jurusan ke arah tubuh Tiauw Sun Ong. Bekas pangeran ini dengan amat lincahnya berloncatan ke sana-sini. didahului gulungan sinar hitam tongkatnya dan diapun tenggelam dalam pengeroyokan yang amat ketat. Biarpun lima belas orang itu merupakan bekas jagoan-jagoan Istana, namun kalau dibandingkan, tak seorangpun di antara mereka yang mampu menandingi tingkat kepandaian Tiauw Sun Ong. Akan tetapi karena mereka berjumlah banyak, rata-rata lihai dan memiliki pengalaman bertempur, di lain pihak Tiauw Sun Ong tidak tega untuk membunuh atau melukai berat, hanya membela diri, maka sebentar saja bekas pangeran itu terdesak hebat! Tiauw Sun Ong menganggap mereka itu tidak jahat, walaupun dia tahu benar akan watak manusia yang selalu berbuat dengan bimbingan nafsu.

Mereka ini banya akan memperalat dia, karena kalau dia mau memimpin "perjuangan" mereka itu, karena dia seorang bekas pangeran, tentu banyak bekas pasukan Liu-sung yang suka bergabung. Di balik semua ini, tentu mereka ini mempunyai suatu cita-cita yang pada hakekatnya mementingkan diri sendiri. Disebut dengan kata yang muluk bagaimanapun juga, pada dasarnya, mereka itu nekat karena mengejar sesuatu hasil yang mereka bayangkan akan dapat membuat mereka hidup mulia dan senang.

Dan dia tahu bahwa ini memang kelemahan manusia. Nafsu yang menguasai diri membuat manusia selalu mengejar sesuatu yang dianggap akan menyenangkan dirinya, dan dalam pengejaran ini, manusia lupa diri, lupa akan kebenaran. Cara apapun yang dipergunakan, dianggap benar demi mencapai cita-cita yang dikejarnya. Tujuan menghalalkan segala cara selalu akan terjadi, lambat maupun cepat, disadari maupun tidak. Tiauw Sun Ong tidak menyalahkan mereka. Mereka ini hanya manusia-manusia lemah, seperti yang lain. Karena itu, dia tidak tega untuk membunuh atau melukai mereka, dan hal ini membuat dia sendiri menjadi repot dan terdesak hebat, bahkan terancam bahaya maut!

Pada saat itu, tiba-tiba bagaikan ada badai mengamuk, sesosok bayangan tubuh orang terjun ke dalam pertempuran. Dia menggerakkan kedua tangannya dan hanya dengan mendorong saja, para pengeroyok itu terpelanting, terjengkang dan terlempar bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin.

"Suhu ... !” Bayangan itu berteriak girang. "Ehh ... ? Kaukah itu, Bun Houw?”

"Suhu, biar tcecu (murid) yang mengusir anjing-anjing serigala yang jahat ini!" teriak pula Kwa Bun Houw yang baru datang.

"Jangan lukai mereka, jangan bunuh. Mereka bukan perampok, bukan penjahat. Mereka bekas para perwira Liu-sung." kata Tiauw Sun Ong.

Bun Houw terkejut dan juga merasa heran. Gurunya bekas pangeran kerajaan Liu-sung, berarti para perwira Liu-sung adalah bawahannya. Kenapa menyerang bekas pangeran atasan mereka sendiri? Dan melihat gerakan mereka, penyerangan itu bukan main-main, melainkan dimaksudkan untuk membunuh. Lebih aneh lagi gurunya melarang dia untuk melukai mereka, apalagi membunuh. Akan tetapi, Bun Houw amat menghormati dan mentaati gurunya, maka diapun berseru, "Baik, suhu. Harap suhu mundur dan biar teecu sendiri menghadapi mereka."

Bun Houw mengamuk. Ketika bekas panglima Yap lok mendengar percakapan itu, dia tahu bahwa pemuda itu adalah murid bekas pangeran itu. Dan memang pernah mendengar bahwa pangeran yang menjadi buta dan meninggalkan istana sebelum kerajaan Liu-sung jatuh itu kabarnya telah menjadi seorang yang lihai.

Tadinya dia dan kawan-kawannya memandang rendah karena betapapun lihainya, bekas pangeran itu telah menjadi seorang buta. Siapa kira, pangeran itu benar-benar lihai, buktinya tadi pengeroyokan mereka tidak mampu merobohkan sang pangeran. Kini muncul muridnya, tentu tidak selihai gurunya. Maka dengan marah karena putus harapan ditolak permintaannya oleh bekas pangeran itu, Yap Lok berseru menyuruh anak buahnya untuk menyerang dan diapun memelopori mereka dengan menusukkan pedangnya. diikuti oleh empat belas orang anak buahnya.

Akan tetapi Bun Houw menghadapi mereka dengan amat mudahnya. Pemuda ini hanya berdiri tegak dan nampak dia menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti orang menangkis dan mendorong. Akan tetapi akibatnya sungguh luar biasa. Lima belas orang itu tidak mampu mendekat dan mereka terpental atau terpelanting seperti dilanda badai yang dahsyat dan setiap kali mereka menyerang, dalam jarak dua meter mereka seperti bertemu dengan dinding yang tidak nampak, yang membuat mereka terpental kembali.

Akhirnya, setelah jatuh bangun tanpa tersentuh langsung oleh kedua tangan Bun Houw. Yap Lok maklum bahwa kepandaian pemuda ini bahkan jauh lebih dahsyat dan mengerikan dibandingkan ilmu Pangeran Tiauw Sun Ong! Maka, diapun memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka melarikan diri dari tempat itu.

Bun Houw membalik, menghadapi gurunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. "Suhu, apakah selama ini suhu baik-baik saja?”

Akan tetapi kakek buta itu berdiri tegak, alisnya berkerut dan dia tidak segera menjawab, mukanya terangkat ke atas seperti tidak perduli kepada pemuda yang berlutut di depan kakinya.

"Suhu ... “ Bun Houw merasa akan sikap yang dingin itu.

"Bun Houw, katakan, ilmu iblis apa yang kau pergunakan tadi?" Kini mengertilah Bun Houw. Gurunya yang buta ini lebih waspada dibandingkan orang yang melek. Sehingga gurunya tadi dapat mengikuti semua gerakannya ketika dia melawan empat belas orang itu.

"Suhu, tcecu mentaati perintah Suhu, tidak melukai mereka, bahkan tidak menyentuh mereka, hanya mendorong dari jauh saja.”

"Itulah yang kumaksudkan. Tenaga doronganmu itu. Ilmu apa yang kaupergunakan dan dari mana engkau mempelajari ilmu itu? Hayo katakan! Apakah selama ini engkau berguru kepada orang lain tanpa minta ijin dariku?"

"Suhu, bagaimana teecu berani berguru kepada orang lain? Pula, di dunia ini mana ada guru lain yang lebih baik dari pada suhu suhu? Tidak, teecu tidak berguru kepada orang, akan tetapi teecu telah mengalami banyak hal yang aneh yang suhu tidak akan pernah mimpikan. Di antaranya, teecu telah menelan habis mustika Akar Bunga Gurun Pasir."

Kini sepasang mata yang buta itu terbelalak. kedua tangan itu kini meraba-raba kepala pemuda yang berlutut di depannya. "Apa ...? Kau ... kau makan seluruh Akar Bunga Gurun Pasir dan kau masih hidup ...? Muridku, apa yang telah terjadi? Ceritakan semua kepadaku!”

Gembira sekali rasa hati Bun Houw melihat sikap gurunya yang sudah berubah ramah itu. Dia memegang tangan gurunya, bangkit dan menuntun gurunya untuk dnduk di atas batu besar di bawah pohon yang teduh. Setelah keduanya duduk, Bun Houw berkata, "Panjang sekali ceritanya, suhu. Selama ini teecu telah mengalami banyak hal yang hebat dan aneh.” Pemuda itu lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa dia menerima pukulan yang dahsyat dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek yang bahkan telah merampas pedangnya, Lui-kong-kiam dan membiarkan dia pergi dengan menderita luka parah. Betapa kemudian dia bertemu dengan Kui- siauw Giam-ong Suma Koan dan karena tidak tahu di mana adanya Akar Bunga Gurun Pasir, datuk majikan Bukit Kui-eng-san itu memukul punggungnya, membuat dia semakin payah karena menerima dua kali pukulan beracun dari dua orang datuk sakti.

"Dalam keadaan hampir mati, teecu yang hampir telanjang karena semua pakaian dan bekal emas pemberian suhu dirampas Suma Koan, teecu menerima pertolongan suami isteri pemburu ketika teecu jatuh pingsan di depan pondok mereka. Dan entah bagaimana teecu sendiri tidak tahu, isteri pemburu itu di luar pengetahuannya, telah memberi teecu obat minum. Teecu sendiri tadinya tidak tahu obat apa yang diminumkan kepada teecu itu. Teecu merasa seperti terbakar dari dalam, akan tetapi selanjutnya ternyata teecu telah mendapatkan tenaga sinkang yang dahsyat luar biasa. Dan tanpa disengaja, tanpa diketahui pula oleh suami isteri itu,     teecu     telah     menelan     habis     seluruh     Akar     Bunga      Gurun      Pasir!' "Hemm, menarik sekali! Bagaimana pemburu itu dapat menemukan Akar Bunga Gurun Pasir?”

"Teecu tidak tahu bagaimana mustika yang dibuat perebutan oleh semua orang sakti di dunia itu terjatuh ke tangan seorang pemburu yang lemah saja. Dan tanpa disengaja, mustika itu telah memasuki perut teecu!"

"Teruskan ceritamu yang amat menarik itu, Bun Houw."

"Setelah teecu minum mustika aneh itu, terjadi keanehan dalam tubuh teecu. Agaknya hawa beracun dari kedua orang datuk itu bercampur dengan mustika Akar Bunga Gurun Pasir, mendatangkan semacam hawa yang dahsyat dan sukar dikendalikan." Bun Houw lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan perampok-perampok yang kemudian memberi tahu kepadanya tentang adanya guha siluman yang telah menjatuhkan banyak korban.

"Banyak terdapat kerangka manusia dan senjata-senjata di depan guha itu, dan pada saat teecu datang ke sana, teecu sempat melihat seorang korban terakhir. Dia seperti orang gila, menyerang teecu ketika teecu melihat dia bersilat aneh dan terhuyung. Teecu menangkis dan diapun roboh tewas. Kemudian teecu mendengar suara orang-orang di luar guha ketika teecu sudah berada di dalam bahwa yang batu saja tewas itu adalah Toat-beng Kiam-ong."

"Hemm, Toat-beng Kiam-ong? Dia seorang tokoh sesat yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi. Kalau dia sampai tewas, tentu ada yang amat hebat di dalam guha itu dan engkau memasukinya, Bun Houw? Manusia macam apakah yang berada di dalam guha dan telah membunuh banyak tokoh persilatan tu?" "Tidak ada seorangpun manusia di sana, suhu. Yang ada hanyalah pelajaran Ilmu silat dan ilmu itulah yang telah membunuh banyak orang itu!”

"Ehh? Apa maksudmu? Ceritakan yang jelas!” Kakek buta itu semakin tertarik mendengar cerita muridnya.

Bun Houw lain menceritakan dengan jelas tentang isi guha, tentang pelajaran ilmu Im-yang Bu- tek Cin-keng dan tentang peringatan akan bahayanya mempelajari ilmu yang mujijat itu. Kemudian Bun Houw menceritakan bahwa karena tertarik, dan karena ingin menguasai kekuatan dahsyat yang menggelora dan meliar di dalam tubuhnya, dia lalu mempelajari Im- yang Bu-tek Cin-keng sampai berhasil baik dan dia mampu menguasai dan mengendalikan hawa sakti yang meliar di dalam tubuhnya.

"Ahh, kiranya begitu? Engkau telah mewarisi Im-yang Bu-tek Cin-keng? Akan tetapi, aku sendiri hanya pernah mendengar Ilmu itu yang dikabarkan telah musnah dari dunia ini. siapa tahu engkau malah yang telah mewarisi, Bun Houw. Pantas saja engkau tadi menggunakan tenaga yang demikian dahsyat, kiranya engkau telah menguasai Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tadinya kukira hanya dongeng belaka. Muridku yang baik. bersiaplah engkau!”

“Tapi, tuhu ... " Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Tiauw Sun Ong telah menyerangnya dengan ganas sekali, menggunakan tongkatnya dengan jurus maut dan bahkan menggunakan seluruh tenaganya sehingga nampak kilat berkelebat dan bunyi berciutan ketika tongkat itu sudah melakukan totokan yang bertubi-tubi terhadap jalan darah di bagian depan tubuh Bun Houw.

Bun Houw maklum bahwa gurunya tidak main-main dan ingin mengujinya, maka dia pun tahu bahwa kalau dia mempergunakan Ilmu yang dia dapat dari gurunya, dia tidak akan mampu bertahan. Gurunya menyerang dengan sepenuh tenaga dan kecepatan. Juga menggunakan jurus-jurus yang paling lihai. Maka, diapun tidak ragu lagi, segera mengerahkan tenaga sakti dan bergerak menurut ilmu barunya, yaitu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Bagaikan air samudera digerakkan badai, datanglah tenaga yang bergelombang dahsyat menyambut serangan Tiauw Sun Ong.

Terjadi benturan-benturan tanaga jarak jauh yang membuat semua serangan kakek buta itu membalik. Tiauw Sun Ong terkejut akan tetapi juga girang sekali. Kini dia membuktikan sendiri bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah ilmu yang amat hebat dan yang membuat dia girang dan bangga adalah bahwa muridnya yang menjadi pewaris Ilmu itu! Dia menyerang lagi semakin hebat. Akan tetapi, makin keras dia menyerang, semakin keras pula dia terpental dan akhirnya. ketika sarangan terakhir yang amat dahsyatnya dia lakukan, ditangkis oleh Bun Houw. tubuh kakek itu terlempar dan terbanting keras.

"Suhu ... !” Bun Houw berteriak dan sekali meloncat dia sudah berada di dekat suhunya dan membantu kakek itu bangkit berdiri.

"Suhu. maafkan teecu ... "

Tiauw Sun Ong tertawa girang dan menyusut keringat dari dahi dan lehernya. "Ha-ha-ha, bukan main! Sungguh aku merasa girang dan bangga sekali, Bun Hoaw. Engkau kini lebih hebat dariku, jauh lebih kuat dan aku bukanlah tandinganmu lagi! Ha-ha-ha!"

Wajah pemuda itu berubah kemerahan. "Aih, suhu! Tadi suhu hanya menguji tenaga teecu saja dan mungkin karena teecu telah menelan Akar Bunga Gurun Pasir, dan karena suhu sudah tua, maka teecu unggul dalam hal tenaga. Kalau suhu menggunakan tongkat pedang dan menyerang teecu tanpa mengandalkan tenaga, mungkin teecu tidak akan mampu melawan."

"Hemm, memang baik sekali sikapmu merendahkan diri itu, tanda bahwa biar engkau telah mewarisi ilmu yang dahsyat, engkau tidak menjadi sombong. Akan tetapi, sesungguhnya, Bun Houw. Ilmu pedang kilat kita tidak akan mampu menandingi Im-yang Bu-tek Cin-keng. Apalagi kalau engkau sudah melatihnya sampai matang. Aku yakin semua datuk di empat penjuru tidak akan mudah mengalahkanmu kalau engkan menggunakan ilmu itu dan mengerahkan tenagamu yang timbul dari Akar Bunga Gurun Pasir. Hemm, bagaimanapun juga, engkau harus berterima kasih kepada dua datuk itu, Ouwyang Sek dan Suma Koan." "Suhu, mereka berdua sudah memukul dan menyiksa teecu dengan pukulan beracun yang tentu akan mematikan teecu kalau saja tidak secara kebetulan teecu diberi minum Akar Bunga Gurun Pasir!” Bun Houw merasa penasaran.

"Justeru pukulan itulah yang membantu mustika itu bekerja dalam tubuhmu. Kalau hanya meminum air masakan mustika itu saja, kuyakin tidak akan sehebat itu khasiatnya. Ingat, mustika itu adalah milik Ouwyang Sek. Kalan mustika itu mendatangkan kekuatan sehebat itu. tentu sudah sejak dahulu dia minum sendiri! Mustika itu tadinya hanya dikenal sebagai obat penyembuh saja. Baru setelah bertemu dengan dua macam hawa beracun dalam tubuhmu, terjadi akibat yang luar biasa, yaitu menimbulkan tenaga mujijat yang kini menjadi milikmu. Nah, bukankah mereka telah berjasa besar, walaupun mereka melakukan tanpa sengaja, bahkan beriktikad buruk, yaitu untuk membunuhmu secara perlahan-lahan?”

Bun Houw mengangguk-angguk. "Sekarang barulah teecu mengerti akan kata-kata dan nasehat suhu dahulu bahwa cara yang dipergunakan Tuhan untuk memberkahi manusia kadang berselubung rahasia besar. Kini teecu mengerti apa artinya berkah terselubung. Dalam suatu peristiwa yang nampaknya buruk merugikan, mungkin tersembunyi berkah yang amat besar seperti yang teecu alami sendiri.”

Kakek buta itu mengangguk sagguk. "Benar sekali, muridku. Aku sendiri, kalau tidak terjadi peristiwa dengan selir kaisar sehingga akan membutakan mataku, yang membuat aku hampir tewas, tentu tidak akau dapat menguasai ilmu seperti sekarang ini dan tidak akan berjumpa denganmu. Oleh karena itu, seorang bijaksana pantang mengeluh apabila mengalami hal-hal yang tampaknya merugikan dan mengecewakan, karena dalam setiap peristiwa itu selalu terdapat hikmatnya yang terselubung,"

"Suhu benar, akan tetapi teecu hanya seorang manusia biasa, bagaimana mungkin teecu. dapat terbebas dari permainan rasa puas kecewa dan suka duka? Seperti kehilangan Lui-kong- kiam, hal itu tetap saja membuat teecu merasa kecewa dan menyesal sekali. Sekarang teecu harus mengunjungi Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. untuk minta kembali pedang itu."

"Bun Houw, engkau tadi belum bercerita jelas tentang terampasnya Lui-kong-kiam dari tanganmu oleh Ouwyang Sek. Nah, sekarang aku ingin mendengar ceritamu yang sejelasnya tentang itu."

Bun Houw mengulang ceritanya tentang pertemuannya dengan Ouwyang Hui Hong, kemudian pertemuannya dengan Ouwyang Sek dan betapa nyaris dia dibunuh Ouwyang Sek kalau tidak ada Hui Hong yang menyelamatkannya dan mencegah ayahnya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri!

Kakek buta itu mendengarkan dengan asyik dan wajahnya berubah-ubah, sebentar pucat sebentar merah sehingga Bun Houw khawatir kalau-kalau suhunya terluka ketika bertanding dengan dia tadi.

"Kau kenapakah, suhu? Apakah suhu sakit?" tanyanya, menghentikan ceritanya yang sudah berakhir.

"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Bun Houw, ceritakan kepadaku, bagaimana keadaan gadis bernama Ouwyang Hui Hong itu? Bagaimana bentuk wajahnya, bentuk tubuhnya dan terutama bagaimana watak dan perangainya ketika engkau bersamanya?"

Tentu saja Bun Hoiw merasa heran sekali kenapa gurunya bertanya tentang gadis yang tidak dikenalnya itu. "Ia ... ia seorang gadis yang gagah perkasa, suhu, dan menurut pendapat teecu, wataknya baik sekali, berbudi dan sederhana walaupun ia dapat bersikap keras dan galak."

"Wajahnya ... wajahnya bagaimana?"

Bun Houw menahan keheranannya, "Wajahnya! Ia cantik dan agung, suhu, dan bentuk tubuhnya, ramping indah ... " Bun Houw teringat ketika sekilas dia melihat tubuh Hui Hong yang telanjang di dalam guha.

"Usianya berapa?"

"Sekitar dua puluh satu tahun ... " "Ceritakan bagaimana bentuk matanya, hidungnya, mulutnya dan bentuk wajahnya, satu demi satu, yang jelas. ... " Kakek itu nampak tegang dan bergairah sekali sehingga Bun Houw merasa semakin heran. Akan tetapi, merasa kasihan karena teringat bahwa gurunya tidak mampu melihat, dia lalu menggambarkan keadaan Hui Hong sejelasnya dan dia semakin bingung mendengar mulut gurunya berbisik-biiik.

"Mirip ia ... ah, mirip ia ... "

Kamudian tiba-tiba Tiauw Sun Ong menangkap kedua tangan muridnya dan kedua mata yang hanya putih itu seperti hendak menatap wajah Bun Houw ketika mulutnya bertanya dengan suara gemetar, "Bun Houw, bilang terus terang kepadaku. Apakah engkau mencinta Hui Hong?"

Bun Houw terkejut mendengar pertanyaan ini. Akan tetapi, dia amat sayang dan taat kepada gurunya, dan tidak pernah berkata yang tidak benar. Dia menganggap gurunya sebagai pengganti orang tuanya, maka mendengar pertanyaan itu, dia menjenguk isi hatinya sendiri. Dia memang tak pernah dapat melupakan Hui Hong, hanya dia sendiri tidak yakin apakah dia mencinta Hui Hong, Dia pernah mencinta seorang wanita, yaitu Ling Ay. mungkin cintanya terhadap Ling Ay hanyalah cinta remaja, hanya karena ada ikatan perjodohan di antara mereka. Setelah perjodohan itu putus, dia tidak lagi memikirkan Ling Ay, Ketika dia bertemu lagi dengan Ling Ay yang telah menjadi isteri Cun Hok Seng dan melihat penderitaan wanita itu, yang ada dalam hatinya hanyalah iba. Dan sekarang, perasaannya terhadap Hui Hong membuat dia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan suhunya.

"Bagaimana, Bun Houw? Katakan terus terang, apakah eugkau mencinta Hui Hong?”"

"Suhu, Justeru teecu masih bingung untuk menjawab yang sebenarnya kepada suhu. Teecu juga bingung mengapa suhu menanyakan hal itu. Akan tetapi, suhu, terus terang saja, teecu merasa kagum, suka dan iba kepadanya. Ia telah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan teecu. Bagaimana mungkin teecu dapat melupakannya? Akan tetapi, teecu tidak berani memastikan bahwa teecu mencintanya karena terus terang saja, teecu sendiri tidak mengerti, bagaimana dan apa cinta itu?"

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, cinta antar pria dan wanita penuh pengaruh nafsu berahi, cinta seperti itu mementingkan kesenangan hati sendiri, karenanya hanya mendatangkan lebih banyak tangis dari pada tawanya. Akan tetapi, cinta seperti itu mungkin diperlukan oleh manusia. Begini saja, apakah engkau ingin selain berdekatan dengan Hui Hong, ingin melihat ia berada di sampingmu selalu ingin hidup bersamanya, membagi susah dan senang berdua? Nah, jawablah sejujurnya."

Wajah Bun Houw berubah kemerahan. "Aih, suhu, siapa yang tidak mau? Ia pandai dan cantik jelita, berbudi dan ... ah, apa gunanya semua itu? Seorang gadis seperti Hu Hong, mana mungkin mau menjadi ... eh, maksud teecu, mana mungkin mau dekat dengan orang seperti teecu? Dari pada mengharapkan lamunan kosong, lebih baik teecu melihat kenyataan. Ayahnya dan kakaknya amat membenci teecu, bahkan menganggap teecu sebagai musuh,"

Akan tetapi, Tiauw Sun Ong tertawa, "Ha-ha-ha, Bun Houw, engkau seorang laki-laki yang bodoh. Kautahu, Hui Hong itu amat mencintamu!”

"Eh-eh? Bagaimana mungkin suhu dapat mengetahuinya? Bakankah suhu belum pernah jumpa dengannya? Bagaimana suhu dapat mengatakan demikian?"

"Bodoh! Seorang gadis yang sudah membela seorang laki-laki dengan taruhan nyawa, itu berarti bahwa ia mencintamu. Bun Houw, mencintamu dengan tulus, bahkan lebih dari pada nyawanya sendiri."

"Akan tetapi, hal itu ia lakukau hanya untuk membatas budi, suhu. Teecu pernah menghindarkan ia dari pada malapetaka diperkosa oleh Suma Hok!”

"Tidak ada bilas budi dengan mengorbankan nyawa sendiri. Aku yakin. Bun Houw, gadis itu mencintamu. Dan akupun yakin bahwa engkau juga mencintanya! Tidak perlu kau membantah lagi, aku dapat menjenguk isi hatimu dari suara dan kata-katamu. Nah, sekarang, bagaimana kalau kita pergi menemui keluarga Ouwyang dan aku melamarkan Hui Hong untuk menjadi jodohmu?" Berbagai macam perasaan mencengkeram hati Bun Houw. Dia merasa girang, akan tetapi juga terharu dan diapun menjatuhan diri di depan kaki gurunya, "Suhu ... "

Tiauw Sun Ong meraba kepala muridnya. "Eh! Kau kenapa? Tidak girangkah hatimu kalau kulamarkan Hui Hong untuk menjadi Jodohmu!”

"Suhu. tentu saja teecu gembira sekali dan terima kasih atas budi kecintaan suhu terhadap teecu. Akan tetapi, suhu. keluarga Ouwyang amat membenci teecu, Teecu khawatir kalau lamaran suhu hanya akan mendatangkan kemarahan kepada mereka dan akan menyusahkan suhu saja. Mengingat akan sikap Bu-eng-kiam Ouwyang Sek kepada teecu, teecu hampir yakin bahwa dia tentu akan menolak lamaran itu."

Bun Houw merasa betapa jari-jari tangan gurunya yang kini berada di pundaknya itu mengeras dan menegang. "Dia berani menolaknya, akan kubunuh dia! Perhitungan antara aku dan dia masih belum lunas dan dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!”

"Suhu, kenapa subu marah kepadanya? Apakah karena dia telah menganiaya teecu dan merampas Lui-kong-kiam! Harap subu jangan membunuhnya, teecu kasihan kepada Hui Hong dan ... “

“Justeru karena Hui Hong aku hendak membunuhnya! Karena Hui Hong dan Ibunya!" "Suhu ...!”

"Bun Houw, dengar baik-baik. Kalau engkau mencinta Hui Hong, dan Hui Hong mencintamu, tidak ada seorang manusia atau iblis pun di dunia ini yang akan menghalangi kalian berjodoh. Cintamu terhadap Hui Hong kuterima dan engkau kutarima menjadi calon suami Hui Hong. Ingin aku melihat siapa yang akan berani mencampuri!”

"Akan tetapi, yang berhak menentukan tentu saja ayahnya, suhu."

"Tepat sekali! Ayahnya yang harus menentukan tentang pernikahan anaknya, dan ayah Hui Hong adalah aku!”

Bun Houw hampir terjengkang saking kagetnya. Dia memandang kepada gurunya dengan mata terbelalak dan bingung, khawatir lagi kalau-kalau suhunya terluka oleh pertandingan tadi dan mengalami gangguan pada pikirannya karena terguncang hebat.

"Sudahlah, suhu, harap jangan pikirkan lagi urusan itu. Mari, suhu, silakan suhu beristirahat. Sebetulnya, kenapa suhu meninggalkan pondok dan mengapa suhu berada di sini? Suhu hendak pergi ke manakah?"

Tiauw Sun Ong tertawa, maklum apa yang dikhawatirkan muridnya. "Ha-ha-ha, engkau mengira aku gila? Bun Houw, justeru aku pergi nutuk mengunjungi Ouwyang Sek, dan kebetulan bertemu denganmu di sini. Tidak ada berita yang lebih menggembirakan dari pada kenyataan bahwa engkau saling mencinta dengan Hui Hong, saling mencinta dengan anakku.”

“Anak suhu? Siapakah anak suhu ...?” “Hui Hong itu adalah puterikn, Bun Houw.” “Akan tetapi bagaimana mungkin ...?"

"Bun Houw, ingatkah engkau akan ceritaku dahulu tentang sebab butanya kedua mataku?"

Bun Houw mengangguk, lupa bahwa gurunya tidak dapat melihatnya. Ketika ingat akan hal itu, dia cepat berkata, "Teecu ingat, suhu. Bukankah karena suhu membutakan diri sendiri karena urusan ... eh, selir kaisar itu?"

"Benar. Nah, selir itu bernama Pouw Co Lan dan setelah aku pergi meninggalkan Istana, kemudian aku mendengar bahwa selir itu dihukum buang oleh kaisar, akan tetapi di dalam perjalanan ia dibebaskan oleh seorang tokoh kang-ouw yang kemudian terkenal dengan julukannya Bu-eng-kiam ... "

"Ouwyang Sek ... ?” "Benar. Pouw Cu Lan dibebaskan Ouwyang Sek dari tangan para perajurit pengawal, dan dia membunuh semua perajurit dan membawa pergi wanita itu yang kemudian dia jadikan isterinya."

"Ibunya Hui Hong ...?" Bun Houw bertanya terkejut dan heran.

"Benar lekali. Pouw Cu Lan menjadi isteri Ouwyang Sek dan kemudian ia melahirkan Hui Hong, anakku!”

"Bagaimana ini, suhu? ia menjadi isteri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek lalu melahirkan seorang anak, akan tetapi suhu mengatakan bahwa anak itu, Ouwyang Hui Hong, adalah puteri suhu?"

"Karena kemudian kuketahui bahwa setelah enam bulan menikah dengan Ouwyang Sek, Pouw Cu Lan melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini berarti bahwa ketika menjadi Isteri datuk itu, ia telah mengandung kurang lebih tiga bulan. Jelas bahwa Hui Hong adalah keturunanku, anakku, bukan keturunan Ouwyang Sek. Maka, akulah yang berhak menentukan jodohnya, jodoh anakku. Nah, mari kita berkunjung ke Lembah Bukit Siluman!”

Bun Houw masih bingung. Kiranya Hui Hong adalah puteri gurunya, walaupun sejak anak itu berada dalam perut ibunya, sudah ditinggalkan ayah kandung. Bagaimana mungkin Hui Hong akan dapat mengakui Tiauw Sun ong sebagai ayahnya kalan sejak lahir ia berada di rumah Ouwyang Sek yang tentu dianggap ayahnya sendiri? Akan tetapi, kini dia berbesar hati. Kiranya gadis yang dikasihinya itu malah puteri gurunya sendiri! Kalau begitu, bukan hal penting mengenai pendapat Ouwyang Sek tentang hubungan batin antara dia dan gadis itu. Dengan hati dan langkah ringan, Bun Houw lalu berangkat bersama gurunya, menuju ke Lembah Bukit Siluman, tempat tinggal datuk yang ditakuti orang itu.

***

Dengan sikap jengkel Ouwyang Sek melangkah ke arah kamar puterinya dan sekali ini dia bertekad untuk memaksa Hui Hong keluar menemui kedua orang tamunya. Kui-siauw Giam- ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kui suma Hok yang hendak pamit. Akan tetapi ketika dengan kasar dia mendorong daun pintu kamar itu terbuka, dia hanya mendapatkan isterinya yang sedang menangis di atas pembaringan Hui Hong.

"Hem, kenapa engkau menangis di sini dan di mana Hui Hong?" tanya datuk itu dengan suara yang ketus karena dia masih marah kepada isterinya yang membuka rahasia tentang ayah kandung Hui Hong. Dia telah banyak mengalah terhadap wanita ini, yang memang amat dicintanya. Dia memenuhi permintaan Pouw Cu Lan dan tidak mengganggunya sama tekali sebelum Hui Hong terlahir, kemudian, dia menyayang Hui Hong seperti anak kandungnya sendiri walaupun dia tahu bahwa anak itu bukan keturunannya. Dan kini tahu-tahu wanita itu sendiri yang membuka rahasia berkata di depan Hui Hong bahwa gadis itu bukan anaknya!

Mendengar suara suaminya, Pouw Cu Lan bangkit duduk dan menghadapi suaminya. Kedua matanya merah membengkak karena tangis. Kedua pipinya yang menjadi pucat basah air mata dan kedua mata itu mengeluarkan sinar marah. Melihat pria tinggi besar bermuka hitam itu berdiri di situ dan teringat akan kepergian Hui Hong, timbul sakit hati dan kemarahan yang hebat di dalam hati wanita itu. Teringat ia betapa selama bertahun-tahun, demi keselamatan Hui Hong, ia rela dijadikan benda permainan oleh pria yang sebetulnya amat dibencinya ini. Kini baru ia menyadari sepenuhnya betapa ia amat muak dan benci kepada wajah yang kasar hitam dan bengis itu. Maka, Pouw Cu Lan lalu bangkit berdiri dan dengan tangan gametar ia menudingkan telunjuknya ke arah muka itu dan suaranya terdengar lantang, "Ouwyang Sek, engkan manusia jahat! Engkaulah yang membuat anakku pergi, tak dapat kucegah lagi! Engkau hendak memaksanya menikah dengan seorang pemuda yang tidak disukainya!”

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya yang tebal. "Apa Hui Hong pergi? ia berani minggat? Anak bedebah itu!”

"Engkau yang bedebah! Engkau tidak berhak menentukan jodohnya akan tetapi engkau memaksanya menjadi calon Isteri orang yang tidak disukainya!”

"Cu Lan, engkau tidak tahu diri! Bulankah selama ini aku selalu baik dan mencintamu? Bukankah selama ini aku amat menyayang Hui Hong seperti anakku sendiri? Akan tetapi engkau malah yang membuka rahasia itu, tentu membuat Hui Hong menjadi bingung. Dan aku  memilihkan jodoh yang amat baik, kenapa kau ribut-ribut? Suma Hok adalah seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan kaya raya. Kurang Apalagi? Ayahnya juga seorang sahabatku, seorang yang memiliki tingkat yang sama denganku!”

"Huh, pemuda jahat itu kaupuji-puji? Padahal, dia nyaris memperkosa Hui Hong! Sepatutnya engkau marah dan membunuh pemuda itu, bukannya malah hendak manariknya sebagai mantu."

"Perbuatannya itu wajar saja, karena cintanya kepada Hui Hong ... "

"Busuk! Jahat! Tentu saja engkau tidak menyalahkan dia yang hendak memperkosa anakku, karena engkau sendiri juga jahat seperti dia, karena engkau juga telah memperkosaku!”

"Cu Lan ... !" Wajah yang hitam itu menjadi semakin hitam karena marah. "Engkau perempuan tak mengenal budi! Kalau tidak ada aku, kini tentu engkau telah mati bersama anak dalam kandunganmu, atau menjadi seorang nenek terlantar, mungkin menjadi jembel, minta-minta bersama anakmu, mungkin anak perempuanmu menjadi pelacur karena tidak ada yang menjamin kehidupannya. Engkau kini menjadi wanita terhormat dan hidup mewah, anakmu menjadi seorang gadis yang berilmu dan dihormati temua orang. Semua itu berkat jasaku, mengerti? Dan engkau berani bersikap seperti ini kepadaku?”

Cu Lan merasa terpukul karena apa yang diucapkan pria itu memang tidak bohong. Karena mengingat akan budi itulah ia rela menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Ouwyang Sek, sekedar membalas budi, demi kebahagiaan putrinya. Kalau kini ia marah adalah karena melihat anaknya dipaksa untuk berjodoh dengan orang yang tidak disukai anaknya sehingga anaknya sekarang nekat pergi untuk mencari ayah kandungnya.

"Bagaimanapun juga, engkau yang memaksa ia menerima laki-laki yang bahkan dibencinya dan sekarang ia melarikan diri, ia pergi tanpa dapat kucegah." Cu Lan menangis dengan sedihnya, Ouwyang Sek mengepal tinju, dia marah sekali. "Anak itu sungguh tak tahu diri! Sejak kecil kusayang dan kurawat, kudidik akan tatapi sekarang bukan saja berani membantahku bahkan pergi tanpa pamit. Tentang perjodohannya, bukan aku memaksanya! Bukankah ia telah mengajukan syarat yang cukup berat, yaitu pertama agar yang menjadi calon suaminya menemukan kembali mustika Akar Bunga Guruu Pasir, dan kedua agar calon suaminya dapat mengalahkannya dalam pertandingan? Nah, dengan adanya syarat itu, apakah itu berarti aku memaksanya?”

Cu Lan juga tarpaksa membenarkan ucapan suaminya ini. Ia tahu bahwa suaminya memang sungguh menyayang Hui Hong seperti anak sendiri, dan syarat yang diajukan Hui Hong itupun diterima, kecuali syarat ke tiga, yaitu agar calon jodohnya dapat mempertemukannya dengan Bun Houw untuk minta maaf tidak dipenuhi oleh Ouwyang Sek. Dilain hal itu, berarti suaminya memang sudah memberi kelonggaran kepada Hui Hong, "Syarat itu harus ditambah, sekarang syarat dari aku sendiri! Kalau syaratku itu tidak dipenuhi, sampai mati aku akan menentang perjodohan anakku!”

"Hemm, syarat apalagi? Dua syarat Hui Hong itu sudah cukup berat!" Ouwyang Sek mengomel.

"Syaratku adalah bahwa siapa yang dapat mengembalikan Hui Hong kepadaku, ialah yang patut menjadi mantuku!”

Ouwyang Sek dapat menerima syarat isterinya, karena diapun maklum betapa akan duka hati isterinya kalau Hui Hong tidak kembali lagi kepadanya. Akan tetapi tentu saja dia merasa sungkan kepada rekannya, datuk dari Bukit Bayangan Iblis (Kui-eng-san). "Baik, kau katakan sendiri kepada ayah dan anak itu agar tidak disangka aku yang sengaja mempersulit mereka."

"Huh, di mana kegagahanmu yang selama ini kau sombongkan? Demi membela anak, kenapa engkau tidak berani menentang mereka? Baik, aku akan menemui mereka dan mengatakannya sendiri!” kata Pouw Cu Lan dan diam-diam Ouwyang Sek memandang heran dan kagum, isterinya ini, bekas selir kaisar dan bekas kekasih Pangeran Tiauw Sun Ong, selama ini bersikap sebagai seorang wanita lemah yang suka melakukan segala perintahnya dengan patuh. Akan tetapi saat ini telah berubah menjadi seorang wanita pemberani, bahkan berani untuk menentang keluarga Suma. Dan diapun menyadari bahwa semua kelemahan dan kepatuhan Cu Lan ternyata hanya demi puterinya. Kini begitu puterinya terganggu, iapun dapat berubah sebagai seekor harimau betina yang melindungi anaknya!”

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kwi suma Hok telah siap untuk pergi dan mereka berdua menanti di ruangan depan untuk berpamit dari keluarga Ouwyang, terutama sekali Suma Hok ingin bertemu lagi dengan Hui Hong dan pamit kepada gadis yang dianggapnya sebagai tunangan atau calon isterinya itu. Tentu saja mereka merasa heran, dan terutama Suma Hok merasa kecewa ketika mereka melihat Ouwyang Sek muncul kembali hanya bersama isterinya. Tidak nampak Hui Hong bersama mereka, juga tidak nampak Ouwyang Toan! Tidak munculnya Ouwyang Toan tidak diambil pusing oleh Suma Hok, akan tetapi tidak adanya Hui Hong membuat dia merasa kecewa sekali dan saking tidak dapat menahan kekecewaan hatinya, diapun menyambut Ouwang Sek dengan pertanyaan tanpa sungkan lagi, "Paman Ouwyang, mana Hui Hong? Aku ingin berpamit kepada tunanganku yang tercinta itu!”

Sebelum Ouwyang Sek yang merasa malu dapat menjawab, isterinya telah mendahului dan dengan suara lantang Pouw Cu Lan berkata, "Orang muda. dengarlah baik-baik. Anakku Hui Hong telah pergi tanpa pamit, entah ke mana kamipun tidak tahu, aku sebagai ibunya, kini menambahkan syarat sebagai sayembara untuk menjadi calon suami anakku. Anakku Hui Hong sudah mengajukan tyarat bahwa calon suami harus dapat menemukan kembali mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dan harus pula dapat mengalahkan ia dalam pertandingan. Sekarang kutambah dengan sebuah syarat lagi, yaitu siapa yang dapat menemukan Hui Hong dan dapat mengajaknya pulang ke sini, dialah calon suami anakku, calon mantuku!”

Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar, "Bagus sekali! Syarat yang tiga itu cukup adil dan kami sanggup memenuhi ketiganya!"

Tentu saja semua orang terkejut, terutama Ouwyang Sek dan Suma Koan karena kedua orang datuk ini tidak dapat mengetahui atau mendengar kedatangan orang yang mengeluarkan suara itu. Tahu-tahu orang itu telah berada di situ dan ketika mereka menengok, ternyata di pekarangan itu telah berdiri seorang pemuda dan seorang kakek buta! Mereka itu bukan lain adalah Bun Houw dan gurunya, bekas Pangeran Tiauw Sun Ong.

Sejenak semua orang memandang ke arah guru dan murid itu dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan. Akan tetapi tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh isak tangis dari Pouw Cu Lan sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepada Tiauw Sun Ong dan terdengar di antara isaknya ia berkata lemah.

"Pangeran ...!” Dapat dibayangkan betapa hancur hati wanita itu. Dahulu, ketika ia menjadi selir terkasih kaisar, ia telah saling jatuh cinta dengan Pangeran Tiauw Sun Ong. Adik suaminya. Mereka berdua telah lupa diri, berdua sehingga akhirnya tertangkap basah dan biarpun kaisar tidak menghukum adiknya, namun Pangeran Tiauw Sun Ong yang merasa berdosa dan malu, membutakan matanya sendiri di depannyal Pangeran itu telah menjadi seorang buta karena iapun ketika itu tidak mengharapkan hidup lagi, dihukum buang dan akhirnya dirampas oleh Ouwyang Sek. Andaikata Ia tidak mengandung, tentu ia akan membunuh diri! Kini, setelah kesemuanya itu hanya tinggal kenangan belaka, tiba-tiba ia berhadapan dengan Pangeran Tiauw Sun Ong, satu-satunya pria yang dicintanya, akan tetapi juga yang menderita sengsara karenanya!”

"Pangeran ...!” Kembali ia memanggil dengan suara merintih, diiringi tangis mengguguk.

"Ha-ha-ha-ha!" Kui-siauw Giam-ong tertawa bergelak. "Saudara Ouwyang Sek. sungguh pertunjukan ini lucu sekali, seperti di atas panggung wayang dan engkau membiarkan saja badut ini datang disambut sembah dan tangis isterimu? Kalau perlu, aku dapat membantumu mengirimnya ke neraka!"

Ouwyang Sek yang mukanya hitam itu kini memandang kepada Tiauw Sun Ong dengan mata melotot marah. "Tiauw Sun Ong, mau apa engkau datang ke sini?" Sungguh sama sekali tidak ramah ucapannya itu, namun Tiauw Sun Ong menyambutnya dengan senyum. Kakek buta ini juga sama sekali tidak memperdulikan bekas kekasihnya yang kini telah menjadi isteri datuk Bukit Siluman itu. Seperti orang yang dapat melihat saja, dia mengangkat muka ke arah dua orang datuk itu dan suaranya terdengar lembut namun berwibawa. "Suma Koan, kebetulan sekati aku bertemu denganmu di sini. Dan Ouwyang Sek, aku juga girang bahwa engkau berada di rumah sehingga aku dapat bertemu dengan kalian dua orang datuk besar. Aku ingin menyampaikan terima kasih kepada kalian yang telah memukul muridku dengan pukulan beracun, karena perbuatan kalian itu mendatangkan untung yang teramat besar dan tak ternilai harganya bagi muridku."

Mendengar ucapan itu wajah kadua orang datuk itu berubah kemerahan karena tentu saja mereka mengira bahwa ucapan bekas pangeran itu merupakan ejekan atau sindiran, sama sekali mereka tidak tahu bahwa ucapan itu memang sungguh sungguh!

"Tiauw Sun Ong, tidak perlu banyak cakap. Cepat katakan mau apa kau ke sini sebelum kuusir engkau yang tidak kuundang!" bentak Ouwyang Sek yang menjadi semakin marah karena mara ia diejek.

Bekas pangeran itu tetap tersenyum. "Ouwyang Sek, kami telah mendengar sayembara untuk pencalonan suami bagi anakmu Hui Hong. Nah, aku datang bersama muridku untuk mengajukan pinangan agar Hui Hong dapat menjadi jodoh muridku Bun Houw ... "

"Tidak boleh!" bentak Ouwyang Sek memotong.

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bercakap begitu. Dengarkan dulu apa yang dikatakan pangeran!" bentak Cu Lan dan kembali Ouwyang Sek merasa heran. Wanita ini sekarang sungguh amat berani! "Hui Hong adalah anakku dan aku berhak pula memutuskan!” sambung pula Pouw Cu Lan.

"Kami sudah mendengar tentang tiga macam syarat itu. Pertama, menemukan Akar Bunga Gurun Pasir, ke dua menandingi Hui Hong dalam ilmu silat, dan ke tiga, membawa kembali Hui Hong yang sekarang pergi entah ke mana. Dan juga pedang Lui-kong-kiam milik muridku telah berada di tanganmu, Ouwyang Sek, biarlah kami menganggap itu sebagal Ikatan jodoh!”

"Tidak, aku tidak menerima pinangan itu! Hui Hong telah kujodohkan dengan putera saudara Suma Koan! Andaikata belum juga, aku tidak akan menjodohkan anakku dengan murid seorang buta!”

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bicara seperti itu!” Pouw Cu Lan berteriak, lalu ia bangkit, lari ke depan kaki Tiauw Sun Ong, menjatuhkan diri berlutut lagi dan berkata, "Pangeran, Hui Hong adalah puteri pangeran, anak kita, dan saya setuju kalau ia dijodohkan dengan muridmu

... ,"

"Diam kau, perempuan binal!" bentak Ouwyang Sek marah, kemudian dia berkata kepada bekas pangeran itu dengan pandang mata penuh kebencian karena cemburu. "Tiauw Sun Ong, pargilah engkau dari sini atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!”

Akan tetapi bekas pangeran itu kini tidak memperdulikannya lagi. Dia menunduk dan memalingkan muka ke arah bekas kekasihnya." Cu Lan, aku menysal sekali telah menyebabkan engkau menderita dalam hidupmu. Aku pun cukup menderita dan agaknya memang Tuhan telah menghukum kita berdua karena perbuatan kita yang tidak benar. Cu Lan, aku telah tahu tentang anak kita Hui Hong, sekarang katakan, ke mana ia pergi?"

"Pangeran, saya menceritakan kepadanya tentang kita, dan ia ... ia pergi bersama seorang wanita yang katanya mengetahui di mana engkau berada. Saya tidak dapat mencegahnya ... "

"Siapa wanita itu?" tanya Tiauw Sun Ong, sedangkan Ouwyang Sek juga mendengarkan dengan penuh perhatian karena baru sekarang dia mendengar bahwa anaknya pergi bersama seorang wanita.

"Saya tidak melihatnya. hanya mendengar suaranya, dan menurut Hui Hong, ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tiga puluhan. Pangeran, tolong carikan ia, carilah anakku, cari anak kita karena aku merasa khawatir sekali ... "

"Ha-ha-ha, saudara Ouwyang, sebetulnya bagaimanakah ini? Hui Hong yang hendak diperisteri putraku itu anak siapa! Anakmu, anak si buta ini, ataukah anak haram?" Suma Toan yang tidak sabar kini berseru dengan suara mengejek. "Tiauw Sun Ong, dengar baik-baik!" Ouwyang Sek kini membentak marah. "Engkau dan perempuan binal ini sama sekali tidak berhak atas diri Hui Hong! Lihat perempuan ini. Ia selir kaisar yang telah memberi segala galanya, kedudukan dan kemewahan, akan tetapi apa yang ia lakukan? Ia melakukan penyelewengan, berkhianat dan berjina denganmu, adik suaminya sendiri. Setelah tertangkap basah, kalian berpisah dan apa yang ia lakukaa? Ia mau menjadi isteriku dan Ìa melayaniku dengan sepenuh hati sampai sekarang. Perempuan macam ini apakah berhak untuk menjadi seorang ibu yang berhak penuh atas diri Hui Hong? Dan lihat dirimu sendiri! Engkau telah mengkhianati kakak sendiri, berjina dengan isteri kakakmu. Setelah ketahuan, engkau tidak bertanggung jawab, malah melarikan diri, tidak perduli kekasih gelapmu telah mengandung. Orang macam engkan ini apakah pantas menjadi ayah Hui Hong? Sebaliknya, sejak kecil, sejak lahir, Hui Hong kupelihara, kudidik sampai menjadi seorang gadis seporti sekarang keadaannya. Tidakkah sudah sepatutnya kalau aku yang berhak menentukan jodohnya? Hayo jawab!"

Terdengar rintihan dan tangis keluar dari mulut Pouw Cu Lan. Wanita ini merasa betapa ucapan suaminya itu seperti pedang beracun menancap di ulu hatinya. Ia tidak mampu membantahnya walaupun semua itu ia lakukan demi Hui Hong! Juga bekas pangeran itu berdiri menunduk dan berulang kali menghela napas panjang. Biarpun kasar dan keji, ucapan dari datuk sesat itu memang benar. diapun mempunyai alasan, yaitu bahwa dia tidak tahu bahwa kekasihnya itu telah mengandung ketika dia meninggalkannya. Andaikata dia tahu, mnngkin tidak akan begini jadinya. Akan tetapi alasan itupun amat lemah dan dia tidak mau mengeluarkannya.

"Ouwyang Sek, aku datang bukan untuk merampas hakmu sebagai ayah atas diri Hui Hong. Bahkan aku mengakui engkan sebagai ayahnya. Buktinya, aku datang sebagai wakil muridku ini untuk melakukan pinangan atas diri Hui Hong sebagai puterimu. Dan kami akan memenuhi tiga syarat tadi, juga pedang Lui-kong-kiam itu boleh kausimpan sebagai tanda ikatan jodoh atau tanda bahwa kami telah meminang puterimu."

"Pedang Lui-kong-kiam ini kuambil dari tangan muridmu dengan kekerasan. Kalau memang dia mempunyai kemampuan, boleh merampasnya kembali dari tanganku!" kata Ouwyang Sek sambil menepuk pedang dengan sarungnya yang seperti tongkat dan yang tergantung di punggungnya itu.

Sementara itu Suma Koan juga melangkah maju menghampiri Tiauw Sun Ong dan tertawa dengan nada mengejek. "Heii, orang buta. Sungguh lancang sekali engkau, berani meminang Ouwyang Hui Hong. Anak perempuan itu telah menjadi calon mantuku, tahu? Siapa yang meminang calon mantuku, berarti menghinaku. Engkau boleh mengajukan pinanganmu kalau mampu menghadapi suling mautku!"

Ditantang olah kedua orang datuk itu, Tiauw Sun Ong menoleh ke arah muridnya. "Bun Houw, tidak ada jalan lain lagi. Kau rampaslah kembali Lui-kong-kiam dari Ouwyang Sek, dan biar aku yang akan melayani Iblis Suling Maut ini."

Bun Houw yang merasa kasihan sekali kepada ibu kandung Hui Hong, mengangguk, lalu diapun melangkah maju mengbampiri Ouwyang Sek. Bagaimaupun juga, dia tetap memandang kakek tinggi besar muka hitam ini sebagai ayah Hui Hong. maka diapun bersikap sopan. "Lo- cian-pwe, aku menerima tantanganmu untuk mencoba mengambil kembali Lui-kong-kiam yang kaudapat."

"Heh, bocah yang bosan hidup. Kebetulan sekali karena akupun ingin menyelesaikan niatku yang tidak kulaksanakan dahulu, yaitu membunuhmu. Nah, majulah untuk menerima kematian!" Kakek itu menggerakkan tangannya dan dia sudah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri sehingga mendatangkan suara menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Houw. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian lawan, maka dia pun sudah bersikap waspada, cepat dia meloncat ke belakang untuk mengelak dan mencari tempat yang lebih luat agar jangan mengganggu gurunya. Juga agar tidak terlalu dekat dengan ibu Hui Hong yang masih berlutut sambil menangis sedih.

Sementara itu, Suma Koan sudah menggunakan sulingnya untuk menyerang Tiauw Sun Ong Datuk dari Bukit Bayangan Iblis ini berjuluk Kui-siauw Giam-ong (Iblis Suling Maut), tentu saja senjata sulingnya itu dahsyat bukan main. Suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata yang kokoh kuat karena terbuat dari baja yang pilihan, juga ujungnya mengandung racun, dan suling itupun dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum-jarum beracun ke arah lawan. Senjata inilah yang mengangkat Suma Koan dan membuat dia dijuluki Suling Maut.

Namun sekali ini, majikan Kui-eng-san itu berhadapan dengan Tiauw Sun Ong. Tadinya dia memang memandang rendah kepada kakek buta itu karena diapun baru pernah mendengar saja nama bekas pangeran ini. namun belum membuktikan sendiri kelihaiannya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang buta,’ demikian pikir Suma Koan dan serangan- serangannya yang dahsyat itu, dia mengira akan mampu merobohkan lawan buta itu dalam beberapa gebrakan saja. Akan tetapi, begitu Tiauw Sun Ong menggerakkan tangannya, sebatang pedang berkilauan telah berada di tangannya dan dia melemparkan tongkat yang menjadi sarung pedang itu kepada muridnya sambil berseru, "Bun Houw, kau pergunakan ini!”

Tiauw Sun Ong menggerakkan pedangnya dan nampak sinar bergulung-gulung, menangkis suling dan begitu kedua senjata itu bertemu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan terkejut bukan main karena dia merasa betapa retapak tangannya yang memegang suling tergetar hebat, tanda bahwa lawan buta itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, tidak berada di sebelah bawahnya! Maka, diapun berseru keras dan sulingnya melakukan serangkaian serangan yang lebih dahsyat lagi. disambut dengan tenang oleh Tiauw Sun Ong yang juga maklum bahwa dia melawan seorang datuk yang lihai.

Bun Houw menyambut sarung pedang berbentuk tongkat butut yang dilemparkan suhunya, akan tetapi melihat betapa Ouwyang Sek menyerangnya dengan tangan kosong, diapun hanya menyelipkan tongkat itu di ikat pinggangnya dan menghadapi serangan datuk Bukit Siluman itu dengan tangan kosong pula. Sampai belasan jurus dia hanya mengelak dengan berloncatan dan dengan menggeser kedua kakinya secara ringan dan lincah sekali sehingga semua serangan kakek itu hanya mengenai tempat kosong.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menjadi penasaran bukan main, rasa penasaran yang mendatangkan kemarahan. Belasan jurus dia menyerang dan pemuda itu hanya mengelak, akan tetapi tidak pernah pukulannya mengenai sasaran. Diam-diam dia terkejut di samping kemarahannya. Pemuda ini dahulu telah dia pukul dengan pukulan yang mengandung hawa beracun mematikan. Akan tetapi, kini bukan saja pemuda itu sama sekali tidak kelihatan menderita oleh pukulannya, bahkan kini pemuda itu sedemikian mudahnya menghindarkan diri dari belasan kali serangannya yang dahsyat.

"Bocah sombong, mampuslah!" Tiba-tiba dia membentak dan dia mengirim serangan dengan kedua tangannya yang menghadang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat. tidak memungkinkan pemuda itu untuk mengelak lagi. Andaikata lawannya meloncat ke belakangpun tentu akan dilanda hawa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang dan hawa beracun itu.

Melihat serangan maut ini. Bun Houw tidak mau mengelak lagi. Diapun diam-diam mengerahkan tenaga yang didapatnya dari latihan Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya dia mengatur dan membatasi tenaganya, hanya untuk melindungi dirinya saja, tanpa niat untuk menyerang atau mencelakai lawan.

"Wuuuuttt, desss ...!” Kedua telapak tangan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek bertemu dengan dinding yang tidak nampak dan demikian kuatnya benturan pada dinding tak nampak itu sehingga tubuh datuk itu terdorong ke belakang.

Dia tidak mampu menguasai kuda-kudanya lagi sehingga terpaksa kakinya terhuyung melangkah ke belakang sampai lima langkah! Dan yang membuat dia terbelalak adalah melihat pemuda itu masih berdiri tegak dengan sikap tenang!

Ilmu apa ini, pikirnya kaget dan karena maklum bahwa dengan tangan kosong dia tidak akan mampu menandingi pemuda yang memiliki tenaga mujijat yang tidak dikenalnya itu, Ouwyang Sek lalu menggerakkan tangan kanan ke punggungnya dan di lain saat, nampak kilat berkelebat menyambar ketika dia telah mencabut Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) yang dahulu dirampasnya dari tangan Bun Houw!”

Melihat pedangnya sendiri kini dipergunakan lawan untuk menyerangnya, Bun Houw segera mencabut tongkat sarung pedang gurunya yang dia selipkan di pinggang. Dia tentu saja mengenal keampuhan Lui-kong-kiam, dan biarpun dia belum pernah melihat ilmu pedang datuk itu, namun mengingat bahwa datuk itu berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), dia dapat menduga bahwa Ouwyang Sek tentu seorang ahli pedang yang amat lihai.

"Singgg ... wuuuut, singgg ...!” Lui-kong-kiam di tangan Ouwyang Sek diputar-putar di atas kepalanya membentuk gulungan sinar yang menyilaukan mata. "Bocah sombong, biar pedangmu sendiri menghirup darahmu!"

Pedang yang kalau digerakkan menimbulkan sinar berkilat itu menyambar ke arah leher Bun Houw. Memang pantas Ouwyang Sek dijuluki Bu-eng-kiam karena dia memang seorang ahli pedang yang mampu menggerakkan pedang dengan kecepatan luar biasa sehingga seolah- olah pedang itu tidak mempunyai bayangan, tahu-tahu telah tiba disasaran yang dituju. Namun Bun Houw adalah murid tersayang dari Tiauw Sun Ong yang memiliki ilmu pedang yang ampuh, yaitu ilmu pedang yang mengandalkan ketajaman pendengaran dan perasaan naluri seorang buta. Gerakan pedang yang betapapun dapat ditangkap oleh pendengaran dan perasaan itu, maka begitu pedang itu menyambar ke arah lehernya, Bun Houw, sudah dapat menangkisnya dengan tongkat sarung pedang gurunya.

“Trangg ... !” Pedang terpental lalu menukik ke bawah, menusuk ke arah perut Bun Houw.

"Trangg ...!” Kembali pedang yang terpental itu membuat gerakan membalik dan kini sudah menyambar lagi menusuk dada.

"Trangg ...!” Dan kini Bun Houw melanjutkan tangkisannya dengan serangan balasan yang meubuat Ouwyang Sek harus cepat memutar pedangnya untuk membuat perisai gulungan sinar melindungi dirinya karena dia dapat merasakan sambaran angin dahsyat ketika tongkat itu menyambar-nyambar ke arah dirinya.

Terjadi perkelahian yang amat hebat antara Ouwyang Sek dan Bun Houw, dan makin lama, Ouwyang Sek menjadi semakin terkejut dan terheran-heran. Belum lama, ketika dia untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda ini, Bun Houw belumlah sepandai ini walaupun tingkat pemuda ini sudah sedikit lebih tinggi dari pada tingkat Ouwyang Toan dan Hui Hong. Akan tetapi sekarang, bagaimana mungkin pemuda ini sudah menjadi sedemikian lihainya sehingga dia sendiri selalu kalah kalau beradu tenaga, dan ilmu pedangnyapun tidak mampu mendesak pemuda yang hanya bersenjatakan tongkat pendek ini?

Sementara itu. perkelahian antara Tiauw Siauw Ong dan Suma Koan juga terjadi dengan hebatnya. Namun, setelah beberapa kali meniupkan jarum beracun tanpa hasil karena selalu dapat dipukul runtuh oleh gulungan sinar pedang di tangan lawan yang buta itu. mulailah Suma Koan terdesak oleh gulungan sinar pedang yang dimainkan Tiauw Sun Ong. Melihat betapa ayahnya tidak mampu menang bahkan terdesak oleh orang buta yang tadinya mereka pandang rendah itu. Suma Hok juga mencabut sulingnya dan dia tanpa banyak cakap lagi sudah terjun ke dalam perkelahian membantu ayahnya mengeroyok Tiauw Sun Ong! Sang ayah juga diam saja dan agaknya mereka tidak merasa malu harus mengeroyok seorang lawan yang buta! Mengelahui bahwa dia dikeroyok oleh dua orang lawan tangguh. Tiauw Sun Ong memutar pedangnya semakin cepat dan membentuk benteng pertahanan dari gulungan sinar pedang yang berkilauan untuk melindungi dirinya.

Bun Houw hanya mengimbangi permainan Ouwyang Sek karena bagaimanapun juga, dia tidak ingin membuat datuk yang menjadi ayah tiri Hui Hong ini merasa terhina kalau dia kalahkan. Akan tetapi, kini dia melihat keadaan gurunya yang dikeroyok secara curang oleh ayah dan anak Suma, dia harus membantu gurunya,’ pikir Bun Houw dan untuk dapat melakukan itu. dia harus menyudahi perkelahiannya melawan Ouwyang Sek. Tiba-tiba Bun Bouw mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang membuat Ouwyang Sek merasa betapa jantungnya terguncang dan saat itu, pedang Lui-kong-kiam di tangannya bertemu dengan tongkat di tangan Bun Houw dan melekat! Dia berusaha menarik kembali pedang itu, namun tidak dapat dan karena marah dia lalu menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah muka Bun Houw. Hantaman ini dilakukan sekuat tenaga dengan kandungan hawa beracun dan kalau sampai terkena pukulan ini. betapapun lihainya, tentu pemuda itu akan roboh dan tewas.

Melihat pukulan tangan kiri ini, Bun Houw maklum betapa besar bahayanya, maka diapun mengerahkan tenaga dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan tangan kiri menyambut hantaman ke arah mukanya itu. "Plakkk!" Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, Ouwyang Sek mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya gemetar, terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Houw untuk secepat kilat melepaskan lekatan tongkatnya dari pedang, dan ujung tongkatnya sudah menotok pergelangan tangan kanan Ouwyang Sek sehingga pedang itu terlepas dan dilain detik, Lui-kong-kiam telah kembali kepada pemiliknya!”

Ouwyang Sek yang terhuyung ke belakang, terbelalak melihat pedang itu sudah terampas oleh Bun Houw. Dia merata malu, penasaran dan kemarahannya memuncak. Dengan mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dia menyambar sarung pedang yang masih tergantung di punggungnya, lalu dia meloncat ke depan, dengan buas menerkam dan menggerakkan sarung pedang berbentuk tongkat itu ke arah Bun Houw, menyerang dengan membabi-buta.

Bun Houw menyambut serangan sarung pedang itu. Melihat betapa Ouwyang Sek memegang ujung sarung pedang sehingga bagian yang berlubang menghadap ke arahnya, diapun mengelebatkan Lui-kong-kiam yang sudah dirampasnya, menarik ke depan dan tepat sekali Lui-kong-kiam masuk ke dalam sarung pedang itu! Dan pada saat itu, sarung pedang milik gurunya yang masih dipegang tangan kirinya, membuat gerakan menyerang ke arah leher Ouwyang Sek. Datuk ini terkejut, berusaha menarik sarung pedang itu, namun sia-sia dan kalau dia tidak cepat mengelak, serangan sarung pedang lawan tentu akan mengenai lehernya. Diapun dengan nekat menggunakan tangan kiri menangkap sarung pedang itu.

"Desss!” pada saat itu, Bun Houw sudah menendang, tepat mengenai perutnya dan biar pun dalam menendang ini Bun Houw membatasi tenaganya, tetap saja Ouwyang Sek terlempar ke belakang dan terpaksa melepaskan kedua sarung pedang tadi. Dia terbanting jatuh dan sakit di hatinya lebih hebat dari pada rasa nyeri di pinggulnya yang terbanting.

Sementara itu, Bun Houw sudah meloncat ke arah gurunya dan sekali pedang Lui-kong-kiam menyambar suling di tangan Suma Hok patah menjadi dua! Pemuda tampan pesolek itu tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi juga jerih. Dia meloncat ke belakang dan ayahnya yang bukan orang bodoh, maklum bahwa kalau dilanjutkan dia akan kalah, cepat meloncat ke belakang pula, dekat puteranya. Ayah dan anak ini selamat dari keadaan yang lebih memalukan, yaitu jatuh di tangan si buta dan muridnya, Suma Koan memberi hormat ke arah Ouwyang Sek dan berkata. "Saudara Ouwyang, kami berpamit. Kalau kami sudah memenuhi tiga syarat puterimu, kami akan kembali membicarakan urusan perjodohan."

Setelah berkata demikian, ayah dan anak itu pergi tanpa menengok lagi kepada Tiauw Sun Ong dan Bun Houw yang juga tidak memperdulikan mereka.

Dengan tenang Tiauw Sun Ong mengangkat mukanya ke arah Ouwyang Sek dan diapun berkata dengan mara tegai. "Nah, muridku telah memenuhi tantanganmu dan berhasil mendapatkan kembali Lui-kong-kiam dari tanganmu. Kami berdua menyanggupi sayembara itu dan kalau kami yang dapat memenuhinya, maka Bun Houw yang berhak untuk menjadi suami Hui Hong. Harap angkau sebagai seorang datuk tidak akan menjilat ludah sendiri, Ouwyang Sek."

Ouwyang Sek yang sudah bangkit berdiri dengan kedua kaki gemetar saking marah dan tak berdaya, kini melotot dan wajahnya yang hitam itu menyeramkan sekali, "Tidak! Lebih baik melihat Hui Hong mati dari pada harus menjadi isteri muridmu! Lebih baik aku kawinkan Hui Hong dengan seorang jembel busuk tanpa nama dari pada harus menikah dengan muridmu! Engkau tidak patut dan tidak berhak menjadi ayahnya, dan Cu Lan juga hanya seorang perempuan hina, tidak berhak menentukan nasibnya. Hanya aku seorang yang berhak, dan aku akan mempertahankan Hui Hong dengan nyawaku!"

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak berbicara demikian!" tiba-tiba terdengar suara Cu Lan memekik. Wanita ini sudah berdiri dengan marah sekali. Wajahnya yang biasanya segar kemerahan, kini menjadi pucat, rambutnya awut-awutan, matanya merah membengkak, pipinya masih basah air mata dan mulutnya membayangkan kedukaan dan kemarahan yang teramat besar. "Aku rela menjadi isterimu, rela menjadi barang permainanmu hanya untuk Hui Hong! Engkau tentu masih ingat bahwa aku mengancam akan membunuh diri kalau engkau menjamah tubuhku sebelum Hui Hong terlahir. Kemudian, akupun menyerahkan diri hanya dengan syarat bahwa engkau akan memperlakukan Hui Hong sebagai anak sendiri dan bersikap baik kepadanya. Semua derita itu kupertahankan demi Hui Hong. Sekarang, engkau hendak memaksakan kehendakmu atas diri Hui Hong, hendak kau jodohkan dengan orang yang tidak disukainya. Akupun tidak sudi lagi menjadi isterimu, dan sekarang karena Hui Hong telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, maka aku menyerahkan Hui Hong kepada ayah kandungnya. Aku rela meninggalkannya karena ada ayah kandungnya yang akan melindungi dan membelanya. Pangeran, aku pasrah anak kita kepadamu dan aku setuju kalau akan kaujodohkan dengan muridmu. Selamat tinggal ...!”

“Cu Lan ... !” Tiauw Sun Ong berseru.

“Cu Lan ... !“ Ouwyang Sek juga berteriak sambil meloncat ke arah isterinya. Namun terlambat, karena Cu Lan sudah menusukkan pisau yang tajam runcing itu ke dadanya, di bawah iga kiri dan iapun roboh dalam rangkulan Ouwong Sek.

"Cu Lan ...! Cu Lan isteriku ...! Aihh, Cu Lan ...!” Ouwyang Sek mengguncang-guncang tubuh isterinya dalam pelukannya, namun Cu Lan tidak dapat menjawab lagi karena ia sudah tewas seketika. Mengingat ini. Pangeran Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. Dia tahu bahwa bagaimanapun juga, Ouwyang Sek mencinta isterinya, dan kini tentu Ouwyang Sek akan menderita tekanan batin dan kedukaan besar yang akan menyiksa hidupnya. diapun merasa iba kepada datuk itu yang akan kehilangan pula anak tiri yang dianggap anaknya sendiri dan disayangnya, telah kehilangan pula isterinya, walaupun kesayangan dan kecintaan datuk ini penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri.

"Ouwyang Sek, engkau memetik buah dari hasil tanamanmu sendiri," katanya lirih.

Ouwyang Sek menghentikan keluhannya dan mengangkat muka memandang kepada bekas pangeran itu dengan sinar mata penuh kebencian. "Tiauw Sun Ong aku akan membalas semua ini! Aku bersumpah akan membalas semua ini kepada kalian berdua!”

Akan tetapi Tiauw Sun Ong tidak memperdulikannya. "Bun Houw, mari kita pergi." Guru dan murid itupun pergi meninggalkan Lembah Bukit Siluman. Biarpun di situ terdapat banyak anak buah Ouwyang Sek, namun tidak ada seorangpun berani bergerak untuk menentang mereka karena selain mereka tidak berani, Juga tidak ada perintah dari majikan mereka. Ouwyang Sek dengan sedih memondong jenazah isterinya, dibawa masuk ke dalam runah dan keluarga itu berkabung. Akan tetapi, Hui Hong tidak berada di situ, bahkan Ouwyang Toan juga tidak ada karena pemuda ini setelah mengetahui bahwa Hui Hong pergi tanpa pamit, segera pergi pula untuk mencarinya.

***

Semua orang yang berada di dalam rumah makan itu, terutama yang pria, memandang kepada dua orang wanita yang baru memasuki rumah makan dengan pandang mata kagum. Lucu melihat gaya setiap orang pria yang berada di situ. Ada yang memandang langsung dan menyeringai, ada yang mengerling lalu membereskan letak pakaian dan rambut, ada yang melirik dengan sikap acuh namun sesungguhnya perhatiannya tercurah kepada dua orang wanita itu. Bahkan tiga orang pelayan rumah makan seperti berebut dulu menyambut mereka, dengan sikap hormat dan manis, dan mempersilakan, mereka ke meja yang masih kosong, yang kebetulan berada di sudut sebelah dalam sehingga banyak tamu yang dapat melihat mereka. Peristiwa seperti ini. datangnya tamu wanita-wanita cantik, amat menguntungkan rumah makan dan hal ini diketahui benar oleh para pelayan, maka dua orang wanita itu dipersilakan duduk di tempat yang mudah dilihat oleh para tamu di meja lain. Dengan adanya "tontonan" gratis ini. para tamu akan lebih betah tinggal di situ dan pesanan makanan dan minuman akan bertambah banyak.

DUA orang wanita yang mamasuki rumah makan An-lok (Selamat Bahagia) di kota Ki-ciu itu memang amat menarik hati, terutama kaum pria, karena keduanya amat cantik jelita. Orang pertama adalah seorang wanita yang telah matang karena ia nampaknya berusia tiga puluh tahun lebih. Pada hal sesungguhnya wanita ini sudah berusia empat puluh delapan tahun! Dalam usia mendekati setengah abad itu, ia masih kelihatan muda dan cantik menarik. Wajahnya yang berkulit putih halus kemerahan itu manis sekali, nampak masih segar dan tidak kelihatan tanda ketuaan sama sekali. Juga bentuk tubuhnya masih padat dan ramping. Rambutnya digelung indah seperti sanggol rambut seorang puteri bangsawan saja, dan pakaiannya juga indah dan mahal. Hal ini tidaklah mengherankan karena wanita ini adalah Bwe Si Ni yang berjuluk Kwan-im sian-li (Dewi Kwan Im)! Ia adalah bekas dayang istana kerajaan Liu-sung yang telah jatuhi, dan setelah kini keluar dari istana, ia meniru gaya dan dandanan seorang pateri istana, bukan seorang dayang lagi!”

Wanita yang ke dua lebih menarik lagi walaupun pakaian dan dandanannya tidak semewah wanita pertama. Ia seorang gadis yang juga berkulit putih mulus, namun pakaian dan dandanannya sederhana sehingga ia nampak cantik manis dan agung, juga gagah karena di punggungnya terdapat gendongan sebuah bantalan kain kuning dan di bawah buntalan itu terdapat pula sepasang pedang yang sarung dan gagangnya terukir indah. Gadis berusia dua puluh satu tahun ini adalah Hui Hong.

Seperti kita ketahui, Hui Hong mendengar pengakuan ibu kandungnya bahwa ia bukanlah puteri Ouwyang Sek, melainkan puteri bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, ketika ia bertanya kepada ibunya di mana ayah kandungnya itu berada, ibunya tidak mampu menjawab, dan Kwan-im Sian-li Bwe Si Ni yang menjawabnya, bahwa ia tahu di mana adanya Tiauw Sun Ong. Maka Hui Hong lalu mau diajak pergi untuk ditunjukkan di mana ayahnya tinggal. Dan mereka melakukan perjalanan jauh sampai pada pagi hari itu mereka tiba di kota Ki-ciu dan memasuki rumah makan An-lok, menjadi pusat perhatian para tamu yang pada pagi hari itu banyak yang sarapan di rumah makan itu.

Kedua orang wanita itu sama sekali tidak perduli akan sikap dan gaya para pria yang berada di rumah makan itu. Hui Hong sendiri sudah sering melakukan perjalanan dan ia tahu benar bahwa semua pria di manapun juga sama saja, selalu bergaya dan beraksi kalau melihat wanita cantik dan ia tahu bahwa sahabat barunya ini yang mengaku bernama Bwe Si Ni dan mengetahui di mana adanya ayah kandungnya, adalah seorang wanita yang amat cantik. Juga selain cantik, wanita ini tentu lihai, hal itu pernah ia buktikan ketika ia mengejar wanita ini yang dapat berlari cepat bukan main. Biarpun belum pernah ia menguji ilmu silatnya dan mereka berdua dalam perjalanan tidak banyak cakap dan tidak pernah bicara tentang ilmu silat, namun Hui Hong dapat menduga bahwa wanita ini tentu lihai. Setelah mengambil tempat duduk dan pelayan dengan sikap hormat bertanya makanan dan minuman apa yang mereka pesan, Bwe Si Ni bertanya kepadanya. "Engkau ingin makan apa? Dan minum apa?"

Hui Hong tersenyum. Wanita cantik ini jarang sekali bicara. Kalau tidak perlu tidak pernah bicara dan nampaknya acuh saja terhadap dirinya. Akan tetapi pagi ini kelihatan lebih ramah dari pada biasanya, "Apa saja sesukamu, enci. Aku tidak ingin sesuatu yang istimewa, juga tidak menolak macam makanan." jawabnya, ramah pula. Biarpun di lubuk hatinya, Hui Hong belum percaya sepenuhnya kepada wanita ini, dan tidak begitu suka karena wanita ini dianggapnya pesolek dan dingin, namun karena ia membutuhkan bantuannya untuk dapat bertemu dengan ayah kandungnya maka iapun berusaha untuk bersikap baik dan ramah.

Bwe Si Ni tersenyum. "Aku ingin makan bebek panggang dan goreng burung dara. Minumnya ringan saja sari buah, tidak enak minum yang keras sepagi ini."

"Terserah, pilihanmu terdengar enak. Enci." Bwe Si Ni lalu memesan masakan itu kepada kepala pelayan yang sudah datang melayani sendiri. Ketika kepala pelayan sudah mencatat pesanannya, dan matanya jelas menatap tajam dan penuh kagum kepada dua orang tamunya itu. Bwe Si Ni mengerutkan alisnya dan suaranya mendesis ketus.

"Apa yang kaulihat! Matamu kurang ajar, hayo cepat sediakan pesanan kami!”

Kepala pelayan itu terkejut, membungkuk-bungkuk dan segera pergi. Sudah beberapa kali dalam perjalanan mereka, Hui Hong melihat sikap galak dan ketus dari temannya itu terhadap pria. ia sendiri juga membenci pria yang kurang ajar dan tidak sopan, akan tetapi tidak sehebat Bwe Si Ni. Baru melihat saja sudah dapat membuat ia marah-marah. Sikapnya seolah wanita cantik ini amat membenci kaum pria. Diam-diam ia merasa heran. Seorang wanita sehebat ini, mustahil kalau belum berumah tangga dan ia menduga-duga siapa gerangan suami wanita ini dan di mana tempat tinggalnya, dari mana asalnya. Akan tetapi ia belum sempat mendapatkan saat yang tepat untuk menanyakan hal itu tanpa menyinggungnya.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan keduanya lalu makan minum tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang seolah mengikuti setiap gerak gerik mereka. Hui Hong yang diam-diam memperhatikan temannya, melihat betapa cara makan Bwe Si Ni juga anggun, seperti dibuat-buat dan diatur. Pernah ia mendengar dari ayahnya, atau ayah tirinya, bahwa kehidupan para bangsawan tinggi lain dari cara hidup orang biasa. Bahkan dalam hal bicara atau makan saja mereka mempunyai cara sendiri, seperti diatur. Apakah wanita di depannya ini juga seorang wanita bangsawan?

Ketika kedua orang wanita ini hampir selesai makan, tiba-tiba mereka melihat para pelayan nampak ketakutan, dan kepala pelayan bersama pimpinan rumah makan itu yang tadinya hanya duduk di dekat kasir, dengan membungkuk-bungkuk dan senyum dibuat-buat menyongsong ke luar, seperti menyambut datangnya tamu agung. Bahkan para tamu yang tadinya nampak gembira mengamati dua orang wanita cantik itu, kini nampak khawatir, bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang tergesa-gesa membayar harga makanan dan meninggalkan meja mereka.

“Sediakan meja besar untuk kami! Yang di tengah itu, dan keluarkan hidangan yang kami sukai, seperti biasa! Usir yang duduk di meja besar tengah itu dan bersihkan mejanya sampai mengkilap!” terdengar suara dengan logat selatan, dan suara itu mengandung keangkuhan yang memuakkan hati Bwe Si Ni dan Hui Hong.

Akan tetapi karena yang diusir dari meja bukan mereka, keduanya diam saja dan tidak ambil perduli. Sekeluarga yang tadinya makan minum di meja itu, tanpa berani membantah lalu pindah ke meja lain dan makanan mereka diusungi para palayan. Ada yang membersihkan meja itu.

"Hayo cepat hidangkan masakan buat kami. Kami sudah lapar dan keluarkan dulu arak yang paling baik!” kembali terdengar suara orang, sekali ini bukan suara yang tadi, kemudian terdengar bangku diseret dan terdengar pula orang yang membesihkan hidung dan tenggorokan dengan suara yang menjijikkan sekali.

"Jahanam!” Bwe Si Ni mendesis dan melepaskan sepasang sumpitnya di atas meja. Juga Hui Hong merasa muak dan tidak melanjutkan makan. Untung mereka sudah kenyang. Kini dengan sinar mata marah, ketuanya menoleh untuk melihat orang-orang macam apa yang demikian sombong dan tidak mengenal sopan santun.

Kiranya meraka adalah tiga orang yang sikapnya kasar, berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, potongan pakaian mereka ringkas seperti yang biasa dipakai orang-orang dari dunia persilatan, dan di punggung mereka terselip golok telanjang yang berkilauan. Dari dandanan, senjata, dan sikap mereka jelas dan mudah diketahui bahwa mereka tentu orang- orang kang-ouw golongan sesat yang suka mempergunakan kekuatan bermain kasar dan keras memaksakan kehendak kepada orang lain. Hal inipun tidak akan diperduli oleh Hui Hong maupun Bwe Si Ni kalau saja tiga orang itu tidak mencari penyakit sendiri. Ketika dua orang wanita itu menoleh ke arah mereka, kebetulan sekali yang termuda, berusia tiga puluh tahun dan mukanya kekuning-kuningan seperti penderita penyakit dan tubuhnya tinggi kurus, memandang kepada mereka dan baru melihat bahwa dua orang wanita yang menoleh itu amatlah cantiknya.

"Heiiii! Wah, sekali ini kita memang beruntung sekali, kawan-kawan!” Serunya gembira. "Siapa kira di sini ada dua orang bidadari yang amat cantik jelita sudah menunggu dan siap menemani kita makan minum dan bersenang-senang!"

Mendengar ucapan adik segerombolan mereka itu, dua orang yang lain juga memandang. Mereka tidak semata keranjang adik mereka, akan tetapi sekali ini mereka menelan ludah karena jarang mereka melihat dua orang wanita secantik yang ditunjukkan adik mereka itu.

"Heh-heh-heh. matamu awas sekali, sute (adik seperguruan)!" kata yang bertubuh pendek gendut berperut besar sambil terkekeh. "Mereka memang cantik manis dan sekali ini aku tidak ingin pura-pura alim."

Orang ke tiga yang paling tua, berusia empat puluhan tahun, juga terpesona. Akan tetapi dia lebih berhati-hati dibandingkan dua orang sutenya karena dia melihat sepasang pedang yang tergantung di pinggang Hui Hong. Bwe Si Ni sendiri menyembunyikan pedangnya di balik jubahnya yang lebar dan panjang. "Sute, mereka agaknya segolongan. Sebaiknya kalau kita mengundang mereka baik-baik untuk berkenalan." katanya dan tiga orang itu seperti dikomando, telah bangkit berdiri dan menghampiri meja di mana dua orang wanita itu sudah tidak makan lagi dan sedang membersihkan bibir dengan saputangan.

Mereka memutari meja itu dan berdiri berjejer, menghadapi dua orang wanita itu dengan muka cengar-cengir. Si kumis lebat, yaitu orang tertua yang bertubuh sedang dan nampak kokoh kuat. mengangkat kedua tangan dan memberi hormat kepada Si Ni dan Hui Hong, diikuti dua orang sutenya yang masih menyeringai senang karena setelah kini mereka berhadapan dengan dua orang wanita itu, semakin jelas nampak betapa cantik menariknya dua orang wanita di depan mereka itu.

"Nona berdua tentulah wanita wanita kang-ouw yang segolongan dengan kami, oleh karena itu, kami ingin berkenalan dengan ji-wi (anda berdua). Kami adalah tiga orang di antara Ki-ciu Ngo- houw (Lima Harimau Ki-ciu) ,yang mengusai daerah ini. Kami mengundang ji-wi untuk berkenalan sambil makan minum di meja kami. Silakan!" Dengan sikap dibuat-buat si kumis lebat itu mempersilakan dua orang wanita itu untuk pindah ke meja mereka dengan keyakinan bahwa dua orang wanita itu akan pasti suka menerima undangannya karena kama berur Ki-elu Nf,o-houw ditakuti senni orang didsersb itu ... “

Bwe Si Ni mengerutkan alisnya dan matanya mencorong ketika ia menyapu tiga orang itu dengan pandang matanya. "Tidak perduli kalian ini Lima Harimau atau Lima Anjing dari Ki-ciu, aku tidak perduli dan aku tidak sudi berkenalan dengan kalian!"

Hui Hong tersenyum. "Hi-hik. kami sudah makan kenyang. Andaikata belum makanpun, kami tidak sudi makan bersama kalian yang jorok dan menjijikkan!”