-->

Pahlawan Harapan Jilid 20

Jilid 20

Kalau saja orang yang bernyali kecil, melihat ini akan timbul takutnya, sehingga sebelum terjadi pertarungan hatinya sudah ciut sebagian. Kie Sau melirik sekalian anak buahnya, tampak semuanya mempunyai wajah yang keren, sedikitpun tidak menunjukkan perasaan takut, sekalian anak muda penuh tekad bulat .untuk melakukan pembalasan pada musuh-musuh rakyat, sadar pula bahwa pertarungan yang mempertaruhkan jiwa sudah berada di ambang pintu.

Tiga - - - - empat ----- lima - - - • terus terhitung sampai sembilan tengkorak, di tempat yang ke sembilan ini terletak, sebuah lembah salju yang kecil, kedua sisinya adalah tebing yang tiga sampai empat tombak tingginya, di tengah tengahnya terdapat ruangan yang membujur sebanyak beberapa tombak persegi. Kie Sau segera berseru keras:

"Anak anak. siap waspada!" belum suaranva habis terbawa angin, tampak berkelebat sesosok tubuh di balik tebing, kemudian datang menghampiri, orang ini berpakaian putih, sepatu putih, lengannya bersenjata sebilah Hie Kut Kiam yang putih mengkilap, sedangkan paras mukanya juga putih seperti salju, dihiasi rambut yang putih pula. sehingga warnanya serupa dengan salju yang memenuhi seluruh bukit dan lembah, kalau agak jauh melihatnya, pasti tidak dapat mengetahui adanya orang bersembunyi di sini. Tanpa komentar lagi sekalian anak muda berseru tertahan secara serentak;

"Ong Hie Ong!"Sedangkan Ong Hie Ong pun perlahan lahan berseru heran. "Ihh. kenapa segala bocah yang datang!" S3sungguhnya hal ini di luar perkiraannya sekali. Ong Hie Ong yang mengetahui bahwa sarangnya sudah di obrak abrik sekalian pemuda kita, sehingga 

hatinya menjadi geram untuk mencari balas Tersebab mendapat tantangan dari Pang Kim Hong, tak ada lain jalan melainkan ia harus mendaki Peng San, untuk mengeabungkan tenaga menghadap Pang Kim Hong. Saat ini dengan kebenaran sekali, dilihatnya sekalian bocah bocah yang dicari carinya berada di depan mata, mau tak mau matanya menjadi merah membara.

"Hentikan kakimu!" bentak Ong Hie Ong, suara mi menggeleger dai bergema di sekeliling bukit dan lembah, membuat pendengaran orang mendengung - dengung.

Sekalian anak muda segera berdiri dengan baik. membuat suatu barisan yang dapat saling tolong menolong. Kie Sau yang berada di paling depan segera berkata: "Apakah saudara yang bernama Ong Hie Ong?" Dengan senyum dingin Ong Hie Ong membuka mulut:

"Kie Sau sebenarnya kita pernah bertemu muka sewaktu terjadi perkelahian di Oey San. sayang sekali waktu itu kita tidak bergebrak. Kemudian kudengar kau membawa bawa sekalian bocah berengsek, mengamuk di tempat kediamanku. Saat itu aku sedang tiada di rumah, sehingga antara kita tidak terjadi pertarungan, kini tak kuduga kau bisa datang ke sini, kini waktu nya untuk kita mengukur tenaga!" Sehabis berkata Ong Hie Ong tertawa besar, disekalian lembah dan gunung salju ini terasa semakin sunyi, dan suram penuh kegaiban. Sambil menunjuk dengan pedang tulang ikannya, Ong Hie Ong berkata lagi: "Omong kosong tak perlu banyak-banyak diucapkan, lebib baik senjata yang bicara! Kie Sau kau datang untuk menyerang barisan Kiu Se Tin atau melulu untuk bertanding dengan aku pribadi?"

"Kalau untuk menghancurkan barisan bagaimana?

Sebaliknya untuk menghajar kau bagaimana pula?" tanya Kie Sau dengan sabar, memang sudah menjadi kebiasaan untuk dirinya, sesuatu hal yang akan dilakukan ditanyakan dahulu sampai jelas. Kie Sau belum pernah melakukan hal secara sembrono.

"Kie Sau, kau hidup sudah cukup tua. belumkah kau mengenal peraturan atau tidak tahu bagaimana harusnya menyerang Kiu Sie Tin. Kau dengarlah, setiap penyerang barisan harus seorang diri. sekali - kali tidak boleh mengandalkan jumlah yang besar. Kalau kau menyerang sampai mati berarti kau mati secara hormat, namamu Pasti akan diingat terus oleh sekalian orang orang di dunia Kang- ouw. Ketahuilah setiap penyerang Kiu Sie Tin harus jago jago dari kelas satu!"

"Kalau tidak menyerang barisan?"

"Tidak menyerang barisan tidak menjadi soal, kita boleh menggunakan cara peraturan Kang-ouw untuk menentukan siapa yang terlebih lihay diantara kita. Kini berhadap hadapan misalkan kau mau mengeroyok, aku Ojg Hie Oag tetap akan melayani!"

"Ong Hie Ong. kami tidak terlalu sibuk untuk lekas lekas berurusan dengan kau, kami memerlukan untuk berurusan dahulu dengan manusia yang tidak punya malu Louw Tiau!"

"Kau ingin mencari dia?" Kau harus menghancurkan barisan ini terlebih dahulu, karena ia berada di belakang!" Sehabis berkata Ong Hie Ong tertawa lagi.

Suara tawanya yang mengandung penghinaan terhadap Kie Sau membuat sekalian anak muda menjadi naik darah, sampaipun Tju Hong yang biasa berlaku tenang berubah mukanya, andaikata Ong Hie Ong memilih salah seorang untuk bertempur sudah pasti orang she Tju ini akan tampil paling muka. Tapi penghinaan ini untuk Kie Sau di biarkan begitu saja, nanya kedua alisnya berkerut, agaknya sedang merenungkan sesuatu secara sungguh sungguh, sesaat kemudian baru ia mengambil keputusan. Kakinya melangkah dua tindak, sesudah memasang kuda kudanya dengan baik, kedua lengannya dirangkapkan sambil tersenyum ia berkata.

"Baiklah, aku akan menerjang barisan!" Kedua mata Ong Hie Ong menjadi mendelik.

"Apakah kau hanya mengandalkan kedua lenganmu saja?

Ketahuilah, di dalam Kiu Sie Tin tiada terdapat belas kasihan"

"Tak perlu banyak bicara lagi!" bentak Kie Sau. Tubuhnya bergerak perlahan lahan, tapi mencelat dengan cepat, seperti gunung Thai San menyergap ke sebelah kiri tubuh lawannya. Berikutnya kaki kirinya menggaet kaki kiri musuh, lengan kirinya bekerja, menindih lengan kiri lawan, serentak dengan itu lengan kanannya cepat seperti kilat memapas punggung musuh, inilah gerakan dari ilmu silat Bukit Berantai yang bernama Thian Hu Pek San (kapak iangit membelah gunung) Semua gerakan ini dilengkapi ilmu dalam yang lihay, sehingga mengandung tenaga menekan yang luar biasa besarnya. Ong Hie Ong bukan bangsa lemah, serangan yang demikian hebat ini tidak membuatnya mundur atau mengalah, tubuhnya tetap di tempat semula, dinantikannya sampai lengan musuh hampir mengenai tubuhnya, baru lengan kanannya bergerak dengan cepat, memutarkan pedang tulang ikannya kebelakang, kemudian diteruskan menyerang telapak lengan musuh.

Pedang ikan dari Ong Hie Ong ini bergerak dengan luar biasa, tidak seperti yang dimainkan oleh sekalian Thai Ouw Tjap Go Sat. Kecepatan bergerak dari lengannya, sukar dilihat dengan tegas. Sesudah pedangnya menyerang, kakinya ditekuk, lengan kirinya melindungi dada, tubuhnya berputar ke kiri. sehingga tubunnya berhadap hadapan dengan lawan sejauh beberapa kaki. Tubuhnya yang berputar itu membuat pukulan Kie Sau lewat, saja. lengan kanannya berganti arah dari hulu ke hilir, sikutnya ditekuk, membuat pedang tulang ikannya ditarik gerakan ini membuat tangan Kie Sau hampir di gergaji hancur!

Tidak kalah cepat dari lawan, Kie Sau menarik lengan kanannya, menghindarkan diri dari gergajian musuh.

Lengan yang di tarik ini bukan saja melulu mundur, melainkan diteruskan menyerang lawannya dengan ujung balu. Gerak yang indah ini bernama Tiau In Tjut Hiu (Awan pagi ke luar dari celah celah gunung). Serangan ini menjurus ke mata lawan, dan mengancam untuk membutakan!

"Heminm," kata Ong Hie Ong, dehemannya ini seolah olah berkata : "Ah. kau memang lihay!" Sedangkan tubuhnya, lengan cepat mencelat jauh. Sedangkan Kie Sau pun mencelat ke belakang sesudah melancarkan serangannya. Dua jago bertarung, cukup dengan dua jurus sudah menimbulkan saat saat penuh bahaya maut. Sesudah saling berpisah, masing masing saling pandang dengan kedua mata bersinar, agaknya masing masing berpikir : "tak kukira kau mempunyai kepandaian yang begini lihay!"

Sesudah Ong Hie Ong berdiri dengan baik, segera melakukan serangan berangkai dengan dahsyat untuk mendesak lawannya. Adapun permainan pedang dari Raja Sungai ini berlainan sekali dengan ilmu pedang yang kebiasaan. Ilmu pedang yang umum menitik beratkan dengan, tusukan maut, sabetan ganas dan tabasan kilat, ia menitik beratkan untuk menggergaji tubuh lawan dari bagian samping. Walaupun Kie Sau tidak bersenjata, ia tetap seorang jago kelas utama, semua gerakan tautannya mengandung tenaga besar, sehingga pertarungan berjalan secara seimbang Sekali.

Pergumulan antara kedua orang ini berlangsung semakin seru. dalam waktu sekejap kembali empat lima jurus yang penuh bahaya berlalu, perkutatan menjadi renggang kembali sesudah saling mencelat menghindarkan maut. tak lama kemudian merapat kembali, membuat pertarungan berlangsung kembali, delapan sembilan jurus kembali benalu tanpa ada yang menang atau kalah. Dalam gerak gerik yang serba cepat ini. sewaktu waktu tampak Ong Hie Ong yang bersenjata aneh berada di atas angin, tapi keadaan menjadi berbalik sesudah Kie Sau memunahkan serangannya dan berganti menyerang, keadaan buruk dan baik dari kedua belah pihak silih berganti. Akan jalan pertarungan masih tetap seimbang saja.. Kembali beberapa jurus berlalu, tiba tiba Ong Hie Ong pura pura memberikan lowongan kepada lawannya secara sengaja. Kie Sau maju menyerang. Dengan cepat ia berbalik dengan ilmu gabus berbalik badan, meletik ke sebelah kiri dan tubuh musuh, pedangnya bekerja menggergaji kaki kanan lawan. Dalam perkiraannya serangannya ini akan membawa hasil yang diharapkan, sehingga tenaga yang digunakanpun cukup besar.

Ilmu Bokit Berantai dari Kie Sau banyak sekali perubahannya, tipu kosong berisi atau sebaliknya berubah ubah dan tak habis habisnya dipergunakan. Begitu melibat pedang datang, kaki kirinya bergeser ke Sebelah kaki kiri lawan, kemudian deigan satu gerakan mutar. tubuhnya hilang daii pandangan musuh. Saat ini pedang lawan yang tengah derasnya menyerang, kehilangan sasaran, dengan didahului suara 'praaak' keras menghantam salju, sehingga percikan es muncrat ke empat penjuru. Ketika inilah Kie Siu melancarkan tipu Bukit Aneh Terbang Mendatang, menyergap dada lawan. Ong Hie Ong memiringkan tubuhnya memberi lewat serangan, terkecuali itu hatinya memikir untuk menyabetkan pedangnya yang berada di lengan kanan, tapi niatnya ini menjadi batal, karena duri- duri dan pedang tulang ikannya, menancap di dalam es« sehingga pedangnya tidak dapat dengan segera dicabut bebas. Ia menjadi gugup. kalau kalau pedangnya tidak bisa di cabut, sehingga kehilangan sebuah senjata Yang menjadi andalannya. Kie Sau mengetahui Kekuatiran musuhnya, dengan senyum yang penuh welas asih. ia loncat mundur ke samping sambil berkata; '"Cabutlah dahulu pedangmu!"

Ong Hie Ong tanpa malu-malu lagi segera mencabut pedangnya dengan sekuat tenaga, kemudian tubuhnya berguling agak jauh. hal ini dilakukan karena takut dibokong lawan. Perkelahian berlangsung lagi sesudah berhenti sebentar, sementara itu Tnian Hong yang menyaksikan perkelahian ini hatinya menjadi tergerak sesudah melihat bagaimana pedang Ong Hie Ong menancap di dalam es. Tubuhnya Segera lari ke bawah gunung, kebetulan sekali di situ diketemuinya sebatang kayu pohon yang menggeletak, kayu itu entah siapa yang membuangnya di situ, mungkin juga lebih lebihan dari orang yang membuat rumah di atas gunung. Thian Hong tidak memperdulikan panjang lebar lagi dari mana datangnya kayu itu, dengan cepat dibawanya kembali ke tempat di mana sedang berlaku perkelahian seru.

Saat ini Oag Hie Ong dan Kie Sau seperti berkelahi di dalam sebuah kuali yang sangat besar, karena es di bawah kaki mereka lama kelamaan sudah menjadi legok terinjakinjak. Thian Hong menantikan ketika baik kemudian dengan luar biasa hebatnya, di serangnya Ong Hie Ong dan belakang dengan didahului bencakan keras:

"Ong Hie Ong, kematianmu sudah tiba!" Dengan cepat Hie Hong membalik badan menanskis benda besaryang kehitam hitaman, begitu pedang dan kayu bentrok segera menjadi satu dan tidnk terlepas.

lagi, karena duri-duri pedang vang tajamtajam itu semuanya menancap dengan kokohnya.

Wan Thian Hong melepaskan cekalannya. dan bertepuk tandan kegirangan. Lengan Ong Hie Ong yang mercekal pedang menjadi kaku keberatan, sehingga pedangnya tidak bisa dikerahkan dengan cepat seperti biasa Untunglah ia bertenaga besar, sehingga kayu dan pedang itu dapat diangkat ke atas.

Kemudian dikebaskan dengan maksud melepaskan pedangnya dari kayu. Tak kira duri itu menancap terlalu keras sehingga tak berhasil untuknya meloloskan pedangnya dari kayu itu. Pada saat inilah Ong Hie Ong baru merasa menyesal menggunakan pedang vang berdiri dikedua belah pinggirnya, sedangkan pada hari har i yang lalu ia menganggap senjatanya ini adalah yang paling luar biasa hebatnya, dan merasa bangga sekali, sekarang baru ia merasa pedangnya yang dipuja puja ini berbalik menyusahkan dirinya.

Karena hal inilah membuatnya dalam keadaan serba salah Sementara itu lawannya tidak memberi ketika untuknya lama lama berpikir, serangan hebat yang bernama Di luar Bukit Terdapat Bukit, menghantam keras seperti gada pada dadanya!

Keadaan sudah demikian mendesak Ong Hie Ong dengan terpaksa melemparkan senjatanya, dengan kedua lengannya, serangan Kie Sau disambutnya, dengan berbuat begitu ia bermaksud menindih dan menggencet lengan lawan. Siapa tahu lengan Kie Sau itu mengandung tenaga yang bukan main kerasnya, begitu sepasang lengan bentrok Ong Hie Ong kena dibikin,terpental sejauh dua tumbak.

Baru ia'berdiri dengan baik, serangan berangkai dari Kie Sau yang masing masing bernama Bukit Aneh' Terbang Mendatang. Dua Gunung Aubruk, Gunung Bersusun Tindih membuat lawannya berguling menggelinding, tanpa berdaya untuk membalas, Secepat kilat Kie Sau membidik dada lawan yang sudah kosong dengan ilmu Kapak Langit Membelah Gunung. Lengannya yang terbuka seperti kapak turun dengan hebat agaknya nasib dari Si Raja Sungai tinggal ditentukan saja.

Pada saat inilah Ong Hie Ong menolong dirinya dengan seruan keras: "Sabar! Kau tidak boleh memukul aku. Sekali kali tidak boleh!" Agaknya perkataan ini lucu kedengarannya. pikir saja dalam perkelahian seru mana ada aturan yang melarang untuk memukul. Tapi kata kata ini diucapkan Ong Hie Ong dengan serius sekali, mau tak mau Kie Sau menunda juga tangannya, sedangkan kedua matanya terus mengawasi dengan tajam. "Hemm, Kie Sau! Sebenarnya kau datang untuk menyerang barisan bukan?" tegur Ong Hie Ong dengan nada kasar.

"Untuk apa banyak bicara? Terang terang-aku menyerang barisan, apa lagi yang mau dikatakan!"

Didahului dengan tertawa dingin Ong Hie Ong kembali berkata: "Tidak mungkiri! Sang siang kutahu kau tidak mempunyai kemampuan untuk menerjang barisan!

Sungguh tak punya malu!"

"Apa artinya dengan kata kata kotormu ini!" seru Kie Sau dengan dongkol.

"Bukankah aku sudah menerangkan bagaimana seharusnya menyerang barisan? Yakni harus seorang diri lawan seorang Tidak boleh main keroyok, kau lihat bagaimana cara kau memperoleh kemenangan barusan, semata mata berkat bantuan bocah itu! Kau tidak sanggup untuk menyerang barisan, pintu untuk melarikan diri masih terbuka lebar!"

Kie Sau tertegun mematung hilang pendapat di bawah sinar mata menatap menanti jawaban dari sekalian pemuda kita. Agaknya usia lanjut dan kedudukan tinggi dirinya di dunia Kang ouw mempengaruhi sekali jalan pikirannya.

Tetapi tidak demikian dengan darah panas dari jiwa muda anak buahnya, mereka tidak kuasa mengekang kegusaran dari segala penghinaan yang di lontarkan musuh, ingin hati mereka sekali terjang menghancur luluhkan tubuh sang musuh, tapi apa daya?

Maju menyerang seorang diri adalah kelakuan yang tolol penuh bahaya, mundurkah? Agaknya tidak terpikir oleh mereka perkataan itu! Suasana gawat .yang membuat setiap orang serba salah ini menjadikan keadaan penuh keheniman untuk berpikir secara masak.

Gwat Hee memecahkan ketegangan yang berselimut di setiap hati orang dengan berbisik kepada Tjiu Piau, teralihkanlah. Pandangan mata heran pada mereka secara tak wajar guna menanti sesuatu dari kandungan hati saudaranya itu.

"Moy tju pendapat apakah sudah mengilhamkan dirimu?" tanya Djie Hat.

"Piau Su ko, tolonglah aku untuk menerangkan hal ini pada mereka." pinta Gwat Hee kepada Tjiu Piau.

"Sebaiknya engkau saja adikku." tolak Tjiu Piau dengan halus.

Didahului senyum dikulum sang gadis menggerakkan bibirnya: "Saudara saudara menurut hematku, tak pantaslah kita mematuhi peraturan mereka? Sebaliknya kita pun menyusun sebuah peraturan berdasarkan keuntungan pihak kita. dengan demikian berarti kita dapat buat sesuatu berdasarkan peraturan kita sendiri!" Sesudah- berdiam sejenak ia menambahkan lagi perkataannya: "Di da'am kitab - kitab peninggalan Yauw Lo-tjan pwee tertera sebuah kalimat yang bermakna sekali, entah saudara saudara mengetahui apa tidak?"

"Aku mengetahui kalimat yang kau maksud itu," kata Thian Hong dengan cepat serta mengerlingkan e<or matanya mencegah kakaknya yang akan membuka mulut ia berkata lagi mendahului:

"Kalimat itu berbunyi: Peraturan demi peraturan di dunia persilatan banyak ragamnya, tetapi sifatnya sama yakni, menguntungkan kepada si pembuat sendiri, karenanya teramat bodohnya kalau kita mematuhi peraturan yang tidak keruan itu. pokoknya kita boleh bertindak sesuka kita asal tidak melanggar perikebejikan dan keadilan! Barang siapa bisa berbuat demikian berarti sudah menjalankan peraturan hidup sesama manusia dengan terpuji!"

"Benar, kalimat inilah yang kami maksud," kata Tjiu Piau, "camkanlah Ong Hie Ong membuat aturan ini melulu

untuk keuntungan dirinya kini kalau kita langgar sedikit pun tidak melanggar kebajikan atau memperkosa keadilan, karena kita bertindak atas kebenaran. Marilah kita terjang sarang jahanam jahanam penghianat bangsa ini!"

"Setuju!" seru mereka beramai ramai. Tju Hong mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju sedangkan Kie Sau belum bisa mengambil ketetapan dplam seketika, tapi keraguannya tidak berjalan lama. ia pun sependapat dengan yang lain: "Benar! Mari kita terjang barisan setan mereka!"

Kegirangan anak anak muda tidak dapat dibendung lagi, dengan dulu mendahului mereka berlarian dengan keras maju ke depan sambil mengeluarkan bentakan bentakan keras:

"Ong Hie Ong jangan lari!" Suara ribut ribut yang membisingkan telinga membuat Ong Hie Oig menoleh ke belakang, tampak olehnya rombongan musuhnya tengah mengejar datang. Dengan cepat ia membalik badan menghadang jalan, didahului senyum dinginnya ia berkata: "Bagaimana?"

Rombongan Kie Sau melakukan pengurungan di delapan penjuru angin, membuat musuhnya bertambah heran, sesudah beres Kie Sau berkata: "Ong Hie Ong kini hanya tinggal dua jalan yang harus kau pilih!"

"Dua jalan?" tanya Ong Hie Ong mencemooh.

"Ya, satu jalan hidup kalau kau menunjukkan di mana letaknya kediaman Louw Tiau, dan bertobatlah tidak berbuat jahat lag! Satu lagi adalah jalan kematian!"

Ong Hie Ong tidak menjawab pertanyaan itu, matanya bersinar sinar menyapu kesekeliling, tiba - tiba pedangnya diputar dengan keras dan menerjang ke jurusan Wan Thian Hong seperti harimau luka.. Dalam perkiraannya gadis kita yang kecil ini pasti ilmunya paling lemah di antara yang lain, ia yakin dalam sekali gebrak bisa mengantar jiwa sang gadis ke dalam neraka, tapi tak terkira olehnya bahwa perhitungannya ini meleset seratus persen. Bukan saja kepandaian silat Thian Hong tidak lemah, bahkan lebih unggul dari pada saudara-saudara lainnya terkecuali kakaknya, lebih-lebih dalam kelincahan dapat dikatakan ia jagonya. Begitu pedang tulang ikan dari lawannya memapas datang, tubuhnya menggeliat secara tenang ke sebelah kanan, membuat pedang lawan menyerang angin, sedangkan tubuhnya kini berada di sebelah sisi tubuh penyerang, terkecuali itu Pedang cendrawasihnya yang ampuh ditarik dari tugas melindungi dada dan dipakai menyerang Ia tahu bahwa musuh selihay yang dihadapinya tidak mungkin kena dilukai bagian berbahayanya, karena itu serangannya hanya menyerang tubuh musuhnya.

Ong Hie Ong yang tak berhasil dengan serangannya menjadi terkejut tidak alang kepalang, lengannya yang terjulur panjang tidak dapat d'tarik dalam seketika, sehingga kedudukannyapun tidak mungkin dapat diPerbaiki dalam sekejap, untunglah ia berkepandaian tinggi dan berpengalaman sehingga mengetahui ke mana larinya serangan lawan, untuk mengimbangi ia mengubah lengan kanannya secara halus menyabet ke belakang.

Kelihayannya ini membuat Thian Hong terdesak dan hilang posisinya, kemudian Jatuh di bawah angin. Pedang tulang itu sangat aneh sekali, begitu akan mengenai sasarannya bergerak mundur maju seolah-olah ingin menggergaji lengan gadis kita!

Secepat kilat Thian Hong bergerak dengan lincah secara sempoyongan dan di luar dugaan, sehingga dapat menghindarkan maut secara meyakinkan.

Begitu Thian Hong berpisah dengan musuhnya Tjiu Piau tidak membuang waktu untuk mengisi kekosongan ini, kakinya bekerja dengan cepat melepaskan potongan potongan es menuju lutut musuh. Serangan kilat mendadak ini membuat Ong Hie Ong tidak dapat melihat dengan tegas permainan apa sebenarnya yang dilakukan pihak lawan, ia hanya mengetahui suatu serangan aneh yang membahayakan terasa datang, untuk menyelamatkan diri ia loncat merapung ke udira. Baru kakinya meninggalkan permukaan bumi terdengar suara menderu deru dari senjata tambang Tju Sie Hong, andaikata ia berada di atas tanah sedikitpun" tidak sukar untuknya menghindarkan diri, tapi kakinya kini berada di udara yang kosong!

Dalam keadaan terdesak ia memukul mukulkan pedangnya dengan maksud meminggirkan tambang yang sudah berhasil melibat kakinya, usahanya dari pada berhasil berbalik lilitan tambang semakin erat. Ia berseru kaget sambil mengangkat kakinya melangkah lkeluar lingkaran sayang gerak tipunya agak terlambat, kaki kanannya terhindar dari jeratan, akan kaki kirinya sudah kena dililit dengan eratnya.

Begitu kakinya yang sudah terikat senjata lawan mencapai bumi, ilmu Tjian Kin Tjui (ilmu memberatkan tubuh ribuan kati) dipergunakan untuk menancapkan tubuhnya. Sie Hong mencoba menarik dengan keras, tapi usahanya ini tidak berhasil, tubuh musuh sedikitpun tidak bergeming.

Dua saudara Wan serentak maju dengan kedua pedang naga dan cendrawasihnya menyerang kepada bagian kepala lawan. Untuk menyelamatkan diri dari sekalian penyerangnya ini Ong Hie Ong memutarkan pedangnya, malang baginya begitu bentrok pedang tulang ikannya patah menjadi tiga potong, dua potong jatuh ke tanah sepotong lagi masih tetap dipegangi terus. Berbareng dengan itu dua saudara Ong maju menyerang tanpa memberi kelonggaran barang sedikit dengan ilmu Kong Sim Tjiang, satu dari kanan satu dari kiri secara bengis menghimpit lawannya Ilmu telapak tangan kosong diri dua saudara Ong sudah terkenal kelihayannya, tak heran musuh yang lihay sering sering masih kena terpedaya oleh mereka. Lebih-lebih kini Djie Hai sudah faham ilmu Ini Yang Kang, sehingga kedua ilmu ini d gabung menjadi satu waktu dipakai menyerang, tak heran kelihayan ilmu bergabung mereka semakin maju kalau dibanding dengan dahulu.

Gwat Hee melakukan serangan bertenaga keras. Djie Hai pun kelihatan melancarkan serangan keras pula, padahal kosong Akal mereka ini'sedikitpun tak disadari musuhnya, mau tak mau yang tersebut belakangan menangkis dengan tenaga delapan puluh bagian pada Djie Hai sedangkan sisa tenaganya dipergunakan menyambut serangan Gwat Hee, ia mengira Djie Hai tentu lebih lihay dan serangannya lebih dahsyat dari adiknya karenanya ia membagi tenaganya secara tak sama. tapi malang baginya dugaanuya salah sedangkan serangan dahsyat datangnya Jari pihak sang gadis,

Ia kena perangkap dua saudara Ong secara tak sadar, ia hanya merasakan suatu dorongan keras mendesak dari pihak sang gadis, sedangkan serangannya yang delapan puluh bagian tenaga menyerang tempat kosong, tubuhnya sudah menjorok ke sebelah Djie Hai. tambahan ditolak lagi oleh Gwat Hee tentu saja keseimbangan tubuhnya jadi bergoyang goyang. Tju Sie Hong mengetahui sudah'waktunya menarik senjatanya, tangannya bekerja cepat pada waktunya. *bruk' tubuh Ong Hie Onp kena ditarik ambruk!

Tanah di Peng San adalah salju, dengan sendirinya sangat licin sekali, untuk berdiri saja sudah sukar apa lagi sudah jatuh. Mau-mau Ong Hie Ong jatuh pada tempat yang menurun, tubuhnya secara otomatis menggelesar turun. Me Hong memasang kuda- kudanya sekuat mungkin, "naik!" serunya dengan keras seraya menarik senjatanya.

Tubuh besar dari Ong Hie Ong menurut perintahnya kena tertarik ke udara, dengan cepat pemuda kita mengerjakan kedua lengannya. tambangnya berputar - putar berikut tubuh musuhnya seperti kitiran!

Perputaran itu membuat Ong Hie Ong merasa agak pening, sungguhpun demikian ia tetap seorang jago yang lihay, dengan memeramkan mata dan mengumpulkan semangat otaknya menjadi terang kembali, perlahan lahan lengannya melepaskan tambang yang membelit kakinya, ia berhasil dalam., usahanya itu, hatinya menjadi girang dan berkata di dalam hati secara dongkol: "Hemmm sekalian cucu kura kura yang masih bau susu, lihatlah pembalasanku!" Hatinya sudah tetap untuk meletik dengan ilmu ikan mas membalik badan, tangannya dilepaskan dari cekalan saat itu juga!

Kesialan karma sang raja sungai rupanya belum berakhir sampai di sini. tubuhnya yang terlepas dari putaran bukan saja berhasil mencapai bumi, malahan terpental ke tempat jauh seperti tertiup angin puyuh yang dahsyat! (inilah akibat terlepas dari pada sentripugal yang kita kenal pada ilmu alam jaman sekarang).

Semangat dan ruhnya Ong Hie Ong seperti hilang dari nyawanya sewaktu ia membuka mata. karena kini ia berada di atas sebuah jurang yang dalam sekali, hawa dingin dari pegunungan es agaknya memberikan kesadaran pada dirinya, tampak ia menggeliat geliat untuk menghindarkan hancur badan dari maut yang sudah terbayang di depan mata, untunglah ia berhasil mencapai ke tepian jurang, akan tetapi kemalangan yang belum habis menimpa lagi dirinya. Permukaan es itu licin sekali, tambahan di tepian jurang tiada rumput rumputan untuk dipegang, tubuhnya menggeleser lagi turun, semakin lama semakin cepat dan masuk permukaan jurang dan hilang !

Sayup-sayup terdengar suara jeritan yang mengenaskan dan terakhir dari Ong Hie Ong, pastilah ia menemui ajal secara hancur luluh diparut cadas-cadas es yang tak mengenal kasian itu.

Tju Sie Hong sedikitpun tidak bermimpi dapat menamatkan riwayat seorang jago Kang ouw yang kenamaan secara demikian mudah, atas hal ini ia dan sekalian saudara saudaranya boleh merasa beruntung dan syukur, kalau tidak sedikit banyak lawan itu cukup memberabekan juga pada diri mereka.

Apakah yang dimaksud dengan kata kata terakhir dari kalimat di atas? Kita sudah mengetahui makna dari barisan sembilan puluh persen mati itu bukan? Yakni barisan ini teratur rapi, seorang demi seorang menjaga pintu yang tidak tertentu banyaknya. Kalau penjaga pertama sudah kalah penjaga kedua baru ke luar dan demikian seterusnya. Menurut peraturan perkelahian berlangsung satu lawan satu. sebenarnya tidak, sebab kalau penjaga pintu pertama dapat dikalahkan, si penyerang harus menghadapi penjaga pintu kedua dan seterusnya. Peraturan lain yang perlu diketahui dari Kiu Sie Tin ialah setiap penjaga barisan, harus bertekad mengadu jiwa dan berkelahi sampai mati, kalau tidak orang kedua tidak akan ke luar untuk bertanding. Andaikata penjaga itu menghadapi lawan yang tangguh, ia harus berusaha sekuat mungkin agar dapat melukakan penyerang besar atau kecil.

Akibat dari peraturan ini sang penyerang lama lama akan kalah juga kalau sampai di pintu terakhir. Ong Hie Ong dan sekalian kawannya sebenarnya paling mementingkan keuntungan pribadi dan tidak mau sesungguh hati untuk menghadapi musuh tangguh seorang diri, tapi ia tak berdaya karena yang menantangnya adalah Pang Kim Hong andaikata secara mengeroyok pun tidak ada gunanya, tersebab inilah mereka mengambil kebutusan untuk membuat Kiu Sie Tin. Sesudah diundi dengan jujur, Ong Hie Ong harus menjaga pintu pertama. Setiap penjaga barisan sudah bertekad bulat mati matian mempertahankan barisannya, karena itu dapat dikatakan mujur untuk sekalian pemuda kita. karena dapat melempar Ong Hie Ong secara mudah dan berarti menghilangkan penjaga barisan yang pertama, kalau tidak demikian pasti di antara anak mudi kita ada yang kena dirugikan Siraja Sungai yang terkenal lihay.

Kie Sau. Tju Hong dan sekalian anak-anak muda mendekati jurang es dan memandang ke bawah dengan hati-hati.

Ong Gwat Hee memungut sebuah potongan es. dan melemparkannya ke bawah, lama kemudian masih belum terdengar suara balikannya. nyatalah kedalaman jurang itu tidak alang kepalang! Sehingga setiap orang melelerkan lidah bahna seramnya! Tiba tiba pada detik ini di belakang rombongan Kie Sau terdengar suara kaki yang sangat ringan sekali.

Pendengaran setiap jago kita sudah cukup lihay, dengan serentak mereka menoleh kebelakang, di aias salju yang putih tampak segulung bayangan merah yang menyolok mata. Kiranya adalah seorang tinggi besar yang berusia pertengahan, memakai baju merah membara, dan beperhiasan menabur tubuhnya. Orang ini bukan lain dari pada si Pangeran berbaju Emas Kim Dju Kie adanya.

Dengan berdirinya ia dihadapan rombongan Kie Sau beiarti menghadang jalan, sedangkan jalan mundur adalah celah es yang berbahaya, sehingga memaksa mereka harus maju.

Dengan cengar cengir yang memuakkan Kim Dju Kie memandang pada Gwat Hee dan Thian Hong. Knanya Pangeran Berbaju Emas ini adalah salah seorang hidung belang, tak heran begitu melibat ke dua gadis kita yang berwajah cantik, hatinya terpikat mabuk rindu ingin menjangkau.

Adapun Kim Dju Kie sebenarnya seorang hartawan yang paling kaya untuk daerah Hoo Pak, keluasan dari sawahnya sampai tidak habis diterbangkan burung. Akan tabiatnya senang sekali menpelajari ilmu silat, dan kekayaan yang berlimpah limpah, mudah saja untuknya mencari seorang guru silat yang pindai, sehingga ia dapat mempelajari silat dengan baik. Berkat rajin dan keuletannya pelajaran pelajaran yang sudah diperoleh diolahnya sendiri dan terciptalah semacam ilmu lihay yang lain dari yang lain. beri<utnya kedudukannya di dunia persilatanpun menjadi tinggi. Ada pun kegemarannya terhadap paras cantik melebihinya kegemarannya belajar silat, dengan mengandalkan kekayaan dan kelihiyannya tambahan berkomplot dengan Louw Tiau, seningga enak saja untuknva melakukan perbuatan yang tidak senonoh secara sewenang wenang.

Tak heran banyak sekali gadis gadis yang suci menjadi korbannya. Barang siapa berani merintangi perbuatannya yang terkutuk pasti pada malam harinya menemui ajal. Lebih lebih sekalian orang orang bayarannya yang mengerjakan sawahnya lebih celaka lagi diperbuatnya, karena itulah untuk di Hoo Pak orang she Kim inidijuluki sebagai Kim Tjian Wo ( Biang malapetaka ).

Saat ini Kim Dju Kie bulak-balik memandang pada Gwat Hee dan Thian Hong dengan lagak yang tidak sopan sekali, dengan dibuat-buat ia berkata : "Djie-wie Sio-tjia, yang rendah adalah Kim Dju Kie terimalah hormatku!" Ong Gwat Hee dan Wan Thian Hong dengan serentak membuang ludah 'cueh!'

Dengan menebalkan muka Kim Dji Kie seperti tidak melihat. Ekor matanya melirik pada Kie Sau dan berkata: "Hei! Tukang Catur lagi lagi kau datang untuk menggerecok gerecok urusan orang? Sedangkan orang mengatur barisan kau datang ke sini, kalau kau sendiri tidak mengapa, kenapa kau bawa bawa juga gadis yang manis manis?

Andaikata mendapat kecelakaan sungguh sayang bukan! Sudahlah sekarang kau jangan, menerjang barisan lagi tinggalkan ke dua gadis ini, sedangkan kau sendiri boleh pulang ke Hoa San untuk main catur, sekalian bawa pergi bocah-bocah gila yang tidak kubutuhkan!"

"Kim Dju Kie! Tahukah bahwa kau sudah mendapat gelar Biang malapetaka dari rakyat? Biang penyakit yang merajale'a! Ubahlah tabiat busukmu itu, kembali menjadi orang benar, mungkin umurmu bisa bertambah panjang.

Jawablah pertanyaanku, di mana bersembunyinya Louw Tiau? Segeralah beri petunjuk kepada kami. agar kau bisa hidup terlebih lama, kalau tidak . . ."

"Kalau tidak bagaimana?" tanya Kim Dju Kie dengan wajah mangkal.

"Kau jangan mengandalkan jumlah besar, untuk menghina orang. Ong Hie Ong menemui ajal, tersebab kelalaiannya. sehingga kena perangkap dan akal bulusmu! Aku Kim Dju Kie bukan seperti Ong Hie Ong yang bisa diperdayakan!" Sehabis berkata, lengannya berputar seiring dengan itu terdengar bunyi meretek beberapa kali. senjata cambuk yang terbuat dari emas. panjangnya dua depa disabetkan di depan muka Kie Sau sejauh beberapa jengkal. Djie Hai berseru "Hari hati Situ!" Kiranya rantai emas yang, di kedua tangga Kim Dju Kie sudah membuat suatu retakan pada salju.

Hoa San Kie Sau berdiri tidak seberapa jauh dari jurang, sedangkan es yang dipijak tidak kuat, sesudah dipijak agak lama,mungkin akan gugur. Kim Dju Kie adalah manusia pintar, tambahan sudah lama juga ia berdiam di Peng San. sehingga ia sudah mempelajari banyak sekali tentang keadaan es dari Bok Tiat Djin. Kini begitu melihat Kie Sau berdiri dekat celah es. cambuk emasnya segera menyabet kesalju dengankeras, pecutnya terbenam sebanyak satu meter. Sedangkan ia sudah menyabet nyabet beberapa kali, keruan saja di atas salju itu terdapat retakan yang dalam juga. Kie Sau selalu memperhatikan cambuk lawan sekali kali tidak memperhatikan apa yang terjadi di bawah kakinya. Untunglah Dji Hai memperingatinya, kalau tidak tentu dirinya akan menderita kerugian besar. Kini kakinya dipertahankan dengan menggunakan tenaga dalam, dan berniat melompat kesamping. Tapi saat ini telinganya sudah mendengar meluruknya dari suara es ke dalam jurang, yang susul menyusul semakin banyak gugur ke dalam mulut jurang.

Akhirnya ia mendapat akal juga, kakinya dirapatkan dengan baik, kemudim ia mencelat setinggi satu tumbak ke atas. sedangkan es yang bekas diinjaknya sudah hilang dan merupakan bagian tebing yang menyambung dengan mulut jurang yang sudah ada, hal ini sungguh menyeramkan sekali.

"Tju Hong Lo tee!" seru Kie Sau. Berikutnya tambang dari Tju Hong dan anaknya sudah terbang membelit tubuhnya kemudian ditarik kembali oleh sipemiltk. sehingga Kie Sau tertolong dengan selamat. Kim Dju Kie mundur sebanyak tiga tombak secara tiba tiba. sedangkan kedua cambuknya dipukulkan ke kiri dan ke kanan pada salju dengan kerasnya, selanjutnya ia lari berputar sambil mengerjakan terus cambuk emasnya.

Dalam waktu sekejap di atas salju sudah terbentang sebuah retakan yang panjangnya sepuluh depa dan dalamnya satu meter, langsung mengurung delapan orang. Inilah keganasan dari si Pangeran Berbaju Emas. Ia hendak sekali pukul membelesaki musuh-musuhnya masuk kejurang dan binasa.

Kie Sau mengetahui es yang sudah retak itu mudah menjadi gugur, dengan segera berseru: "Sekalian jangan gugup dan jangan bergerak! Pergunakanlah ilmu mengentengkan tubuh dan kalian, bentuk dua barisan mengejar ke kiri dan kanan pada jahanam itu!" Delapan orarg susul menyusul seperti walet yang ringan melintasi celah lubang yang dibuat oleh sang musuh.

Saat ini Kira Dju Kie sudah berada didepan mereka dan sudah mengerjakan lagicambuknya untuk meretakkan salju. Waktu sekalian pengejarnya berhamil melewatkan lubang yang pertama, di muka mereka sudah terbentang lagi lubang buatan yang kedua, Sedangkan lubang lubang yang ketiga dan keempat sedang dikerjakan.

Gerak pukulan rantai cambuk emas dari Kim Dju Kie. kelihatannya sudah terlatih baik. begitu pecat emasnya menghantam salju, segera tampak tanda yang dalam, terkecuali itu iapun membuat setiap lubang dengan lubang lain berjarak rapat satu sama lain, asal saja salju yang retak retak ini kena pijak agak keras segera akan gugur Saat ini Kim Dju Kie sudah menghentikan tangannya cambuknya digoyangkan perlahan lahan, sambil menghadap kepada Kie Sau sekalian dengan senyuman yane dibuat buat, ia diam tenang menantikan setiap orang yang akan mencoba menyerang dengan suatu hajaran yang dahsyat.

Untuk mengadu otak tentu saja Kie Sau tidak berada di sebelah bawah musuh, dengan tenang tukang catur melibat keadaan, tampak olehnya lubang-lubang retakan yang dibuat kedua cambuk musuh berbentuk bulatan, yang tidak menyambuns. Karena ini di bagian yang tidak menyambung itu keadaan es lebih agak kukuh Demi melihat keadaan ini. Kie Sau mendapat pendapat yang baik, dengan perlahan lahan ia membisiki Tju Hong, kemudian mereka memisahkan orang-orangnya menjadi dua rombongan. Kie Siu membawa dua saudara Ong dan Tiu Sie Hong. sedangkan Tju Hong membawa Tjiu Piau dan dua saudara Wan. dengan serentak din tiba tiba kedua regu berpencar ke kiri dan kanan dengan cepat. Melihat perubahan musuh ini. Kim Dju Kie masih tetap tenang. Sambil tertawa dingin. ia mengerjakan kedua cambuk rantai emasnya dengan cara lama. Kie Sau dan rombongannya sewaktu sampai tiga empat tumbak di depan lawannya, lagi lagi sudah terhalang tiga empat garis retakan es yang dalam. Kim Dju Kie merasa senang sekali, hatinya berpikir: "Asal saja es yang dekat jurang gugur, pasti es es yang sudah diretakkan susul menyusul akan turut gugur pula dan merupakan es longsor, pemandangan ini indah sekali. Saat itu gadis mana yang harus kutolong, yang sebelah kirinya atau yang sebelah kanan? Keduanya sama cantik dan manis, kalau bisa sekaligus menolong dua duanya bukan main enaknya!"

Ia melamun dengan seenaknya, dan tidak mengetahui bahwa Kie Sau menggunakan akal untuk melawan akalnya, tampak olehnya lengan dari Kie Sau dilambaikan sesali, pengikut pengikutnya yang dari kiri dan kanan, segera membentangkan ilmu mengentengkan badan dan lari secepat-cepatnya ke depan tanpa menghiraukan lagi pada dirinya. Saat ini baru ia mengerti, bahwa musuh ingin merebut tempat di belakang dirinya, dengan cara begini musuh bisa berada di atas, berbalik membuat dirinya berada di sebelah bawah.

"Celaka," keluh hatinya, "biar bagaimana aku harus menghadang mereka dan mendesak mereka ke tempat es yang akan gugur!'' Tapi pikirannya menjidi berbalik lagi: "Mereka menjadi dua rombongan, aku bisa menghadang yang serombongan, pasti tidak bisa menghalangi kemajuan yang serombongan lagi." Akhirnya dengan cepat ia mengambil keputusan lagi. "aku pun harus Jari ke atas bukit, siapa yang cepat dialah yang menang." -

Pada salju yang putih mengkilap tampak titik titik.hitam dari manusia yang berlerot Seperti semut, dulu mendahului naik ke atas. dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan musuhnya di belakang. Tampaknya lambat lambatan!

sebenarnya setiap orang itu sedang mengadu tenaga mati matian. Kita mengetahui bahwa di atas gunung menyesakkan napas, karena itu setiap gerakan meminta tenaga yang lebih banyak dari pada biasa. Walau pun tempat di mana mereka berada tidak terlalu tinggi, tapi air sudah membeku dan salju tak lumer, sehingga gerakan mereka tidak bisa bebas seperti biasa. Lebih lebih untuk mereka adalah pertama kali mendaki gunung es, mau tak mau keletihan ini lebih terasa beberapa kali. Masing masing mengeluarkan kepandaian yang dimilikinya untuk membawa tubuhnya secepat mungkin, walaupun kelihatannya lambat, tapi cepat juga kalau dibanding dengan orang biasa.

Dalam suasana yang demikian hebat ini dengon cepat kekuatan setiap orang dapat terlihat. Ilmu Kie Sau'paling dalam, kalau mau ia dapat lari paling dahulu, tapi ia sengaja meninggalkan diri di belakang untuk melindungi anak buahnya kalau kalau ada yang jatuh. Sedangkan yang lain terus mempercepat langkahnya dengan ngotot.

Saat ini dari regu Kie Sau, Ong Djie Hai berada di paling maka, di tempat yang semacam inilah Im Yang Kang cocok untuk dipergunakan. Dongan langkah enteng dan berat silih berganti napasnya tetap terpelihara baik, sehingga tenaganya tetap kuat. Orang ke dua adakah Tjiu Piau, ke dua kakinya sudah terlatih baik, tak heran ia pun bisa lari dengan cepat. Orang yang ke tiga adalah Wan Thian Hong, kalau dari ilmunya ia tidak melebihi ilmu saudara saudara lainnya, tapi gerak lincah dan gesitnya sangat luar biasa, karenanya ia dapat menduduki tempat ke tiga. Selanjutnya adalah Tju Sie Hong, Ong Gwat Hee. Wan Djin Liong yang diikuti oleh Tju Hong dan Kie Sau. Sedangkan Kim Dju Kie yang sedang kuatnya dapat naik dengan cepat, tambahan ia sudah lama juga diam di Peng San sehingga agak berpengalaman. Baju merah yang membara seperti gulungan api mencelat naik ke atas.

Kendati ia terlambat start beberapa tindak dari Ong Djie Hai. lama kelamaan tampak keunggulannya.

Kesembilan orang ini mendaki dari tiga jurusan yang berlainan, tapi keadaan bukit semakin ke atas semakin kecil dan menjadi semakin lama orang mendaki semakin dekat satu sama lain. Kini Kim Dju Kie sudah menduduki tempat lebih tinggi dari Ong Djie Hai sebanyak dua langkah!

Sambil membalik badan Kim Dju FCie membentak pada Djie Hai: "Hei bocah, kuperintah kau menggelinding ke bawah lagi!" sedangkan kedua lengannya berbareng dilepas menghajar pada kedua bahu pemuda kita, Djie Hai siang siang sudah sedia untuk menyambut serangan lawan, dengan kedua lengan melindungi dada ia berdiri dengan tegak, sedangkan Im Yang Kang digunakan secara diam, asal saji lawannya tidak hati hati pasti akan kena akalnya dan bisa jatuh ke bawah.

Ilmu pelajaran yang dimiliki Kim Dju Kie beraneka ragam ilmu dalam dan luar sudah dipelajarinya sampai sempurna dan mahir, kedua lengannya yang dipergunakan menyerang lawan tidak menggunakan tenaga seratus persen. Ini adalah kebiasaan untuk orang orang yang berilmu tinggi, pertama bergerak, selalu menggunakan tiga bagian tenaga, untuk menyelidiki ilmu Lawan itu sampai bagaimana lihaynya. sedangkan tenaga selebihnya siap menyusul kalau merasa lawannya tidak kuat.

Kini ia merasa kedua bahu lengan lawan luar biesa anehnya ia menjadi terkejut. dengan cepat pergerakan perubahan dari lengannya mengikuti keadaan lawan, lengannya berubah seperti kuku garuda untuk mencakar dan melukakan kedua bahu musuhnya. Demi Djie Hai melihat kelihayan lawan, iapun sudah mengira bahwa musuhnya tidak mungkin kena diperdayakan, tentu saja ia boleh berdiam diri terus. Lengannya yang melindungi dada, segera berubah, satu menyabet ke atas satu lagi menolak ke bawah, lengan kirinya yang naik ke atas menuju ke kerongkongan lawan, sedangkan lengan kanannya yang menuju ke bawah menyerang bagian perut orang dengan ilmu Bukit Aneh Terbang Mendatang.

Bagian atas adalah alat pemappsan yang penting, sedangkan bawah adalah pusar, kalau sampai Kim Dju Ke merasakan dua hajaran ini pasti akan mati seketika. Gerak gerik yang lincah dan luar biasa indahnya dari Djie Hai membuat lawaknya tidak berani bergerak secara serampangan. sehingga memaksa lawannya menarik serangan kedua lengannya yang seperti kuku garuda, untuk melindungi bagian tubuh yang serangan Lengan kanannya dengan cepat berputar melindungi kerongkongannya. sedangkan lengan kirinya menghajar lengan kiri Djie Hai.

Dengan demikian seluruh serangan Djie Hai kena dikandaskan. TerKecuali dari itu serangan balasan dari Kim Dju Kie serentak dilancarkan, langsung menyerang bagian ulu hati dari pemuda kita.

Sambil berteriak: "Lihay!" Djie Hai mengubah kedudikanuya agak ke belakang, sedangkan perutrya disedot, sambil memiringkan tubuhnya, inilah salah satu gerak dari ilmu Bukit Berantai yang bernama Teguh Seperti Gunuug Thai San, suatu tipu gerakan menyerang yang berubah menjadi bertahan, tampaknya tidak menunjukkan keistimewaan sama sekali tapi dapat membuat si pemakai tidak menderita kerugian apa apa. Terkecuali dari itu dilancarkan Im Yang Kang. Tak heran waktu serangan Kim Dju Kie mengenai sasarannya, sekait sekali tidak berhasil mencelakakan, bahkan berbalik membuat dirinya agak terhuyung sedikit.

Sewaktu Djie Hai memiringkan tubuhnya sudah berhasil membuat serangan ganas dari tenaga lawan hilang pergi, kemudian lengan lawan itu dibuang dengan tenaga keras dan lunak sehingga lengan itu meleset pergi, "tenaga yang sudah terlepas itu tak mudah 'untuk dikendalikan lagi, demikianJan memaksa si penyerang berbalik berada di bawah angin. Untunglah serangan ini tidak menggunakan tenaga seratus persen kalau tidak dapat dipastikan tubuhnya sudah terguling-guling turun ke bawah.

Djie Hai sudah lama menantikan ketika ini, walaupun musuhnya tidak telak kena perangkap akalnya, tak irung harus terhuyung agak sedikit. Dalam sekejap inilah, ia berbalik badan memutari lawannya seninya tubuhnya berada di atasan, tanpa membuang waktu lengannya dikerjakan dengan serentak, menggecek kepala lawannya.

Saat ini kedudukan sudah berubah. Kim Dju Kie yang tadinya berada di sebelah atas. berbalik jatuh disebelah bawah. Kalau mengukur kekuatan masing masing. sebenarnya ilmu Kim Dju Kie berada di sebelah atas dari lawannya, hanya saja ia tidak mengetahui kelihayan dari Im Yang Kang. sehingga kedudukan dirinya kena digeser.

Waktu melihat serangan datang, dengan cepat ia mengeluarkan ke dua lengannya untuk menangkis, empat lengan bentrok dengan keras, Djie Hai agak tak kuat menahan tenaga lawan, tapi masih tetap berdiri di sebelah atasan dari musuh.

Semenara itu tujuh kawan dari Ong Djie Hai sudah berada di tempat paling atas, mereka berbaris sejajar menghadang jalan maju Pangeran Berbaju Emas, Saat inilah Kim Dju Kie baru merasa gugup, ia tahu jalan mundur sudah diretakkan olehnya sendiri. Walaupun kini belum menunjukkan perubahan yang aneh, tapi ia mengetahui tabiat d&ri es, tampaknya tenang tidak bersuara, tapi dalam waktu sekejap saja es es itu akan gugur dan menimbulkan bahana guruh yang membisingkan telinga dan menghilangkan sukma seseorang. Ia tahu dirinya berada dalam bahaya, karenanya tidak boleh berlambat lambat barang sedikit, dengan cepat rantainya dikeluarkan, lagi Ong Djie Hai ditinggalkan begitu saja. ia melangkah dengan lebar menuju kesebelan, kanan, di mana Ong Gwat Hee sudah menantikan untuk menghajarnya.

Demi melihat gadis cantik ini, Kim Dju Kie segera membuka mulut : "Nona, kalau kita tidak berkelahi mana bisa menjadi kenal!" sambil berkata lengannya memutarkan cambuk rantai emasnya, Siuuuut.......

ciuuut menyapu datang. Dengan lengan baju yang dilengkapi tenaga dalam gadis kita menangkis serangan, inilah salah satu ilmu Bukit Berantai yang bernama Penjagaan Awan dan Kabut, dengan lengan bajunya yang berkelebaran dirinya, tak ubah seperti dilindungi kabut rapatnya. Sedangkan lengan baju kanannya mengeluarkan ilmu Mengebut Pergi Lengan Baju, dengan cepat menyerang pada mata musuh.

Untunglah Kim Dju Kie berilmu lihay sehingga matanya tidak menjadi buta kena serangan lengan baju lawan itu. Dengan demikian Pangeran ini tidak berani naik ke atas dan mundur setindak, ia memperkuat kuda kudanya, saat inilah matanya melihat benda tajam yang menyilaukan mata menuju pada dirinya. Tak perlu diterangkan, tentu dua saudara Wan datang menyerang. Kim Dju Kie menjadi gugup.

bukan karena takut pada sekalian anak muda ini, melainkan ia takut dengan keadaan bahaya dan gugurnya es. Dengan secara menggila ia memutarkan cambuk rantai emasnya dengan lengan kanan, sehingga tubuhnya hilang di bawah lindungan sinar emas kuning.

Sedangkan lengan kiiinya perlahan lahan bergerak, menerbangkan semacam benda kecil ke jurusan Wan Thian Hong. Sedangkan mulutnya mengoceh tidak keruan: "Nona yang manis, terimalah intan ini sebagai tanda miita terikatnya perjodohan kita!"

Benda itu kiranya adalah rantai intan yang panjang dm begemerlapan Taian Hong yang lincah tentu saja dapat menghindarkan diri dari benda itu. Dengan tiba tiba Tjiu Piau memperingati yang lain. "Hati hati!" Kiranya rantai intan itu hanya semacam benda untuk menyilaukan mata dan mengalihkan perhatian orang, dan tidak memperhatikan senjata rahasia berikutnya yang dilepaskan demikian banyak, sehingga tak ubahnya seperti bintang dilangit berkeredep keredep Sebesar besar kacang hijau, berputar putar ke kanan dan kiri menyerang dengan lihay!

Bahwasanya senjata gelap itu sangat aneh sekali, karena terbuat dari intan, sebab itu bisa menimbulkan sinar yang begemerlapan seperti bintang. Sewaktu terbang senjata itu berputar putar sehingga sinarnya bu lak balik dari sudut satu ke lain sudut, kelihatannya seperti kunang kunang yang bisa lari sana lari sini dan membuat orang terkesiap heran.Karena keanehan inilah senjata ini sering-sering berhasil mengenai musuh. Sekalian erang orang yang diserang sudah siap sedia, berkat peringatan dari Tjiu Piau Ada yang memakai senjata untuk melindungi tubuh, ada pula yang menyambut dengan lengan, pokoknya segala macam kebiasaan dipergunakan untuk menyelamatkan diri. Tjiu Piau berpikir akan menggulingkan badan umuk menggelinding ke samping tubuh lawannya, berikutnya ia akan melepaskan senjata rahasianya yang ampuh.

Tapi entah bagaimana, niatnya itu menjadi batal waktu matanya melihat benda benda putih yang seperti disebarkan dari langit memenuhi pandangannya Menyusul telinganya mendengar suara ting tang ting tang beruntun, seluruh senjata dari Kim Dju Kie kena dihajar jatuh. Tak sebutirpun yang berhasil melukai orang. Sekalian orang banyakpun keheranan seperti Kim Dju Kie. dan tidak mengetahui siapa yang sudah membantunya secara gaib itu. Siat ini lengan Kim Dju Kie perlahan lahan tengah menuju ke dalam saku, siap melepaskan lagi senjata rahasianya". Tapi untuk seka1i ini perbuatannya siang siang sudah diawasi Tjiu Piau. dengan tersenyum dingin pemuda kita membentak dengan keras: "Orang she Kim, lihailah Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu!" Serentak melayang sebuah mutiara emas berkilau menuju ke bawah sikut Kim Dju Kie. Mutiara ini dilepas demikian cermat dan tepat pada waktunya, membuktikan bahwa cara melepas dari senjata rahasia dari keluarga Tjiu sudah sampai ditilik sempurna.

Demi mendengar nama 'Bwee Hoa Tok Tju' Kim Dju Kie sudah mengetahui kelihayannya senjata rahasia ini dari Louw Tiau, hatinya -semakin takut dengan cara anjing kena pentung dan tak ayal lagi ia menggeliatkan pinggangnya daa membuat suatu jungkiran ying tergesa fesa, dirinya selamat tapi kedudukan dirinya sudah merosot lagi ke bawah beberapa langkah.

Begitu ia bangun kedua matanya segera mengeluarkan sinar jahat yang luar biasa tajamnya bercampur cemas dan geram. Ia tahu kalau semakin lama berdiam di situ semakin besar pala bahaya untuk dirinya. Untuk menghindarkan diri dari bahaya maut ini ia mengeluarkan lagi rantai cambuk emasnya, diputarnya dengan cepat dan keras sedangkan tubuhnyapun semakin lama semakin dikataikan agaknya seperti mau jongkok. Cambuk emas itu memutari dirinya dengan erat, menjadikan ia sebuah gulungan yang merupakan bola emas. Inilah salah situ tipu silatnya yjng luar biasa, sesudah tubuhnya berbentuk bulat ia dapat menggelinding seperti bola dengan tangkasnya.

Cara demikian untuk menyerang agaknya kurang dahsyat, tapi kilau untuk memecahkan kurungan dan merat, sering-sering berhasil dengan biik. Kini Kim Dju Kie yang sudah merupakan bola emas menerjang ke jurusan antara Djie Hai dan Gwat Hee, mengetahui ke dua orang ini tidak menggunakan senjata, kalau ramainya di gerakkan mana berani mereka menangkis dengan ke dua lengannya?

Tapi saat ini terdengar bunyi sreet yang bergelombang datang, semakin lama semakin besar, tiba tiba menggelugur seperti geledek membelah bumi, sampai es yang berada di sekalian kaki mereka terasa tergetar sedikit. Waktu mata memaudang mengawasi kearah bawah, di atas tanah yang putih memercik hancuran es yang berwarna perak memenuhi tepian jurang, kiranya sebidang es yang besar sudah longsor dan gugur turun ke bawah jurang, Kie Sau dan kawan-kawannya mengetahui bahwa es yang gugur itu adalah bekas mereka berada di situ, mau tak mau mereka mengucapkan: "berbahaya!" Di dalam hati. Saat ini Kim Dju Kie menoleh ke belakang mukanya mendadak menjadi pucat pasi seperti kertas, dengan tergesa gesa tubuhnya digerakkan untuk mencelos di antara Gwat Hee dan Djie Hai. Bidang bidang es yang sudah kena diretakkan oleh Kim Dju Kie, sepotong demi sepotong saling susul melongsor ke bawah jurang. Kejadian ini berlangsung dengan cepat. Kie Sau mengetahui bahaya dengan cemat menitahkan sekalian anak buahnya menyingkir mencari tempat yang aman.

Sementara itu Kim Dju Kie yang berada di tempat berbahaya itu menjadi gugup, tanpa banyak pikir lagi kakinya dikerahkan dengan seluruh tenaganya biar bagaimana tidak ada yang berani merintangi sepak terjangnya yang ganas ini! Seorang yang sangat ganas dan kejam, biasanya ia tidak mengenal takut melulu mengandalkan ilmunya yang tinggi, terkecuali itu ia mempunyai harta dan pengaruh.

Tapi ia takut menjejak es untuk melompat.. .kalau di tanah biasa jejakannya ini pasti dapat membuat tubuhnya mencelat sejauh beberapa tumbak. Tapi sekali ini Kim Dju Kie tidak dapat mencelat pergi!

Tanpa diketahuinya es yang berada di bawah kakinya, menjadi retak dan goyang kena tenaga yang demikian besar itu. Begitu potongan es gusur hatinya terkejut dan lemas. Mukanya semakin pucat, sedargkan matanya memandang kepada delapan orang dengan penuh perasaan minta tolong, wajah yang harus dikasihani ini dalam waktu sebentar saja tampak dari balik muda menghadapi maut.

Hukuman pengadilan dan manusia dapat ia elakkan atas kelakuan jahatnya tetapi ia tak dapat mengelakkan hukum alam yang menuntut atas perbuatannya. Sesudah demikian Kim Dju Kie ini tak ubahnya sepeiti cacing yang lemah berada di atas abu. Akhirnya ia mengeluarkan jeritan yang melengking serta membuat bulu roma berdiri, berbareng dengan suaranya yang menyedihkan itu potongan potongan es yang diretakkannya sendiri gugur dan melongsor ke bawah jurang dengan cepatnya. Dalam waktu sekejap alam sudah membenamkan dua orang Ok pa susul menyusul ke dalam celah celah es yang dalam ini.

Kie Sau dan rombongan yang berada di sebelah atas, semakin naik ke atas untuk menjauhkan tempat yang berbahaya itu, kemudian baru menghampiri tempat yang longsor sesudah kejadian berlalu seketika. Mereka merasa terkejut dan meleletkan lidah karena es yang retak dan gugur itu bekas didiami mereka, coba kalau mereka tidak menyirgkir tak dapat disangkal lagi mereka pun pasti terbenam juga. Untung bahaya sudah berlalu dan dapatlah mereka lega, sehingga semangat mereka menjadi berlebih baik lagi sesudah memperoleh kemenangan kedua kalinya. Langkah langkah mereka maju ke depan semakin tenang penuh keyakinan.

Tjiu Piau sambil jalan sambil berpikir, otaknya tak henti hentinya merenungkan dan mengingat ingat pada penolorg tadi yang membuat senjata rahasia bintang bertaburan, Kim Dju Kie jatuh semuanya, la tidak melihat dengan tegas wajah sang penolong, lebih lebih senjata rahasia yang dilepaskannya. padahal dal3m ilmu melepas senjata rahasia ia termasuk salah seorang yang terpandai untuk angkatan muda pada jamannya. Tapi seiikitpun ia tak dapat menduga senjata rahasia tadi berwujud bagaimana, ia hanya menghela herai! Adapun hal yang membuatnya heran, pertama senjata rahasia itu datang tanpa menerbitkan angin, sifatnya ini tidak terdapat pada senjata rahasia lain, kedua senjata Kim Dju Kie sudah demikian banyak dan rapat, tapi senjata itu lebih rapat lagi, entah dengan cara apa digunakannya, ketiga senjata yang demikian banyak menghilang sesudah mengenai salju! --- Tju Piau terbenam terus dalam herannya tiba tiba telinganya mendengar seruan dari Gwat Hee.

"Kau lihat, tegas terlihat dua telapak kaki dua orang yang berkejar kejaran!"

Telapak itu demikian cetek, menyatakan kedua orang itu mempunyai ilmu mengentengi tubuh yang sudah tinggi sekali. Terkecuali itu kedua macam telapak itu mempunyai perbedaan yang nyata sekali, yang satu langkahnya sama jauh dan teratur dengan baik. sedangkan yang semacam lagi sewaktu waktu rapat sewaktu waktu renggang, seperti lari saja. Kie Sau berpikir sebentar, kemudian baru berkata : "Penolong tadi sudah terang menyatakan dirinya adalah sahabat kita.. mengikuti jejak ini terus, barangkali saja berguna untuk membantu penolong kita itu!"

Sambil mengikuti telapak kaki mereka terus naik ke atas tanpa pikiran lain, ditengah perjalanan sedikitpun tiada suatu hal yang mengherankan mereka, sedangkan telapak kaki itu tetap demikian terang, tapi tidak terlihat bayangan orang, entah ke mana ke dua orang itu pergi.

Mereka terus mengikuti tanpa berputus asa, sesudah berjalan seketika lamanya, jalanan berbelok ke suatu lingkaran yang besar, sehingga perputaran ini membuat mereka sampai di tempat semula, bedanya ialah lebih tinggi sedikit dari tadi. sehingga tampak dengan tegas di mana tadi Ong Hie Ong dan KLim Dju Kie terbenam, hal ini kalau dibayangkan sekarang agaknya lebih menyeramkan dari pada tadi. demikian pikir mereka semua. Tapi mereka menjadi bertanya sendiri, ke manakah ke dua orang itu meninggalkan jejak pergi? Kenapa orang orang dari Kiu Sie Tin tidak ke luar lagi untuk meneruskan perkelahian?

Mereka tidak mempunyai daya lain terkecuali mengikuti terus jejak yang nyata di hadapan mereka. Makin lama makin tinggi mereka mendaki, tapi secara mendadak sekali di suatu belokan tampak dengan tegas sebuah dinding es menggadang jalan dan menjulang ,ke angkasa seperti sebuah tembok kota raksasa, yang beda, tembok kota terbuat dari bata sedangkan ini terbuat dari pada es yang mengkilap seperti permata indah.

Jejak kaki itu hilang sampai di sini dan menyambung kepada dinding es itu, tapi tanda yang terdapat di dinding bukan telapak dari kaki, melainkan liang liang yang melukiskan bekas tertotok jari tangan, dan berbentuk gambaran bunga berhelai lima. Tanda tanda ini mulai dari bawah terus ke atas puncaknya. Kie Sau memperhatikan dengan teliti keadaan dinding es itu sekali lagi, sambil mengangguk angguk kepalanya ia berkata secara menghela napas: "Liang liang ini adalah tanda dari lima jeriji P'eng San Hek Pau Bok Tat Djin! Sungguh seekor macan tutul yang lihay. seluruh kepandaiannya dipamerkan di dalam sarangnya sendiri!"

Sekalian anak muda menjadi kaget barang mengetahui bahwa liang liang itu adalah tanda dari jeriji jeriji Bok Tiat Djin, hatinya bertanya sendiri mungkinkah dengan ke dua lengan kosong ia dapat merayap pada dinding yang tingginya belasan tumbak? Tapi tanda bekasnya terbentang di depan mata, biar brgaimana tak dapat disangkal lagi.

KieSiu memperhatikan ke sekeliling tapi tidak melihat tanda dari seorang lagi, dengan demikian ke manakah perginya orang itu ?

Tanpa banyak pikir lagi Kie Sau mengeluarkan perintahnya. "Naik!" Sekalian anak muda dengan ilmu Cecak Merayap Ditembok susul menyusul naik ke atas, sedangkan Tju Hong dan anaknya sampai paling dahulu karena menggunakan senjatanva yang lihay! Kiranya di atas dinding es yang mengkilap itu kembali terdapat dataran lagi, di sinilah mereka mendapatkan lagi tanda tanda dari telapak kaki dua orang! Kie Sau kini baru tahu bahwa orang tadi pasti naik ke atas menggunakan cara yang sama dengan Bok Tiat Djin. bahkan menggunakan liang liang bekas jari Bok Tiat Djin, sehingga di dinding hanya terlihat semacam tanda saja.

Di aras dataran itu terlihat salju salju yang menonjol tinggi tinggi dan terlihat pula liang liang yang tidak rata, tegas terlihat bahwa pemandangan ini bukan buatan alam semua, mungkin sebagian adalah pemandangan buatan. Kedua telapak kaki itu berputar putar memasuki tumpukan tumpukan es. sewaktu waktu telapak itu menjadi satu dan berpisah, berputar-putar tidak keruan, seolah-olah sedang main petak lari. Tiba tiba semacam suara 'set . . . set'yang halus terdengar di belakang tubuh mereka, sekalian orang menoleh ke belakang, tapi sepotong bayangan orangpun tidak terlihat.

Sebenarnya Ong Gwat Hee berada di paling depan, tapi begitu mereka menoleh secara serentak, membuat dirinya di paling belakang. Secara aneh ia merasakan di bagian kepalanya mendapat semacam serangan yang hebat, untung ia dapat mengegos dan menangkis dengan lengan bajunya, sehingga serangan mendadak dan membokong itu kena dipunahkan, kemudian ia mencelat ke samping sambil memasang kuda-kudanya.

Telinganya mendengar suara memberebet. karena lengan bajunya kena disobek sebagian, menyusul terdengar suara tertawa "ke ke ke" di atas kepalanya. Sekalian kawannya berpaling, tampak oleh mereka di sebuah gundukan es yang agak tinggi terdapat seorang laki laki yang berpakaian serba hitam berdiri dengan tenangnya, orang ini bukan lain dari Bok Tiat Djin adanya!

"BoKTiat Djin kenapa kau main lari-larian tidak keruan?" ejek Kie Siu

"Jangan banyak mulut lagi! Kau sudah mencelakakan dua saudaraku, atas ini aku mencari kalian untuk menuntut balas! Hayo maju!.." Belum suaranya habis diucapkan, ia menoleh secara tiba tiba ke sebelah kiri, di mana terdapat tumpukan tumpukan es yang tinggi, ia lari ke sana secara gugup sehingga menghilang masuk dalam waktu sekejap.

Sekalian orang merasa heran, kemudian mereka melihat dari sebelah kanan sebuah gulungan berwarna abu abu yang seperti angin puyun bergulung datang melewati sekalian orang sambil menoleh tapi tidak berkata kata, terus mengejar di mana tadi Bok Tiat Djin hilang, Ong Djie Hai menjadi girang dengan cepat ia membuka mulut:

"Pang Suhu!'* tubuhnya mencelat mengejar, tapi usahanya menjadi sia sia karena orang yang berada di depan sudah hilang tidak berbekas.

Waktu Djie Hai akan melanjutkan usahanya untuk mengejar, terdengar angin dari jauh membawa suara dan kata kata dari gurunya; "Kalian tidak boleh usilan. Kiu Sie Tin diatur untuk aku, karenanya harus aku yang menghancurkan!" Sekalian mata saling pandang dengan penuh pertanyaan, teruskan atau tidak? Dalam keadaan demikian menemui hal yang serupa ini benar membuat mereka menjadi serba salah. Siapapun mengetahui bahwa Pang Kim Hong adalah seorang Lo tjian pwee yang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, tentu saja hati kecilnya berkeras untuk menghancurkan Kiu Sie Tin seorang diri, memang hal ini mudah untuk dimengerti orang luar.