-->

Pahlawan Harapan Jilid 12

Jilid 12

Nenek itu mendelikkan matanya sambil berkata:

"Kau mengetahui juga Pang Kim Hong? Pang Kim Hong itu bukan lain dari pada aku sendiri!"

Ong Djie Hay menjadi kaget, karena dalam penuturan gurunya bahwa Pang Kim Hong sudah berusia lebih kurang delapan puluh tabun tapi nenek ini baru berusia lebih kurang enam puluh tahun. Sesudah dipikir lagi ia ingat memang orang yang berkepandaian tinggi sangat awet muda, segera ia memberi hormat.

"Aku sungguh bodoh dan tidak berguna, mempunyai mata tidak melihat gunung Thay San. harap mohon maaf atas ketololanku ini."

Pang Kim Hong segera membanguninya sambil berkata: "Peradatan semacam ini aku tidak berani menerimanya,

pokoknya kau menerima atau tidak menjadi muridku?" "Pasti mau "

"Nah lekaslah panggil aku Su tjuan!"

"Su tjuan," kata Djie Hay sambil Kou tou.

Dengan cepat upacara pengangkatan murid sudah selesai, Ong Djie Hay merasa heran sekali dijadikan murid secara paksa kalau caranya begini pasti muridnya banyak sekali, tapi yang nyata ia tidak bermurid, hanya satu satunya orang yang mewariskan ilmunya itu ialah Lu Kang di Bu Beng To. Belum selesai ia memikir Pang Kim Hang sudah berkata lagi mengajukan dua syarat yang aneh kesatu, sesudah mempelajari Ilmu Im Yang Kang tidak boleh dipergunakan untuk kejahatan juga tidak boleh mengaku muridnya. Ditentukan pula pada suatu masa harus mengasingkan diri dari dunia bebas seperti yang dilakukannya. Kedua hari untuk mengasingkan diri ke dalam gunung tidak ditentukan, pokoknya asal sudah sedia boleh lantas melakukannya. Sepuluh tahun kemudian tidak terlambat, setahun tidak kecepatan. Dalam mengasingkan diri ini tidak boleh menemukannya, kalau bertemu muka seumur hidup tidak boleh nikah dan turun ke dunia Kang ouw lagi. Pada saat itulah ia akan mendapat ilmu ini yang sesungguhnya dan menjadi ahli waris yang benar benar.

Djie Hay menganggap dua syarat ini luar biasa sekali, tapi ia tidak berani berkata, semuanya disanggupi. Dengan begitulah ia diajak pergi ke dalam goa untuk mempelajarinya, seperti yang kita sudah ketahui pada pasal terdahulu.

Kini penyakit Tju Hong hanya Pang Kim Hong seorang yang dapat mengobatinya. Hatinya menjadi risau, pergi atau jangan? Kalau menemuinya penyakit dari Tju Siok siok pasti dapat disembuhkan, tapi dirinya sendiri harus mengasingkan dunia bebas. Sedangkan ia masih mempunyai banyak hal yang belum dapat diselesaikan.

Ke satu hal sakit hati ayahnya dan negara belum dapat diselesaikan, dari itu bagaimana bisa ia mengasingkan diri? Kedua hal Gwat Hee adiknya, kini orang tuanya sudah meninggal "Kakak harus menjadi orang tua," untuk sang adik. karena itu harus mengatur untuk hari kemudian dari sang adik. Beberapa hari ini dilihatnya pergaulan Tjiu Piau drn adiknya yang demikian intim sehingga hatinya menjadi merasa lega. tetapi ia belum sempat untuk menanyakannya hal ini karena dua hal ini ditambah dengan jiwa remaja yang masih senang akan pergaulan umum Matinya menjadi tidak bisa mengambil ketetapan yang positif. Ia tengah berpikir, sedangkan kabut yang berada di Oey San sudah naik sampai di atas puncak dan lewat di samping tubuhnya. Dalam keadaan kabut yang demikian tebal pohon pohon Siong yang berada di situ menjadi guram dan merupakan seperti naga yang tengah melingkar menembus mega. Sesaat kemudian segala benda sudah tak tampak lagi kena diselimuti awan, dunia yang luas ini kelihatannya hanya putih saja. Segala pemandangan yang indah indah menjadi hilang, hal ini membuat Djie Hay berpikir. "Manusiapun seperti ini tidak perlu ada yang diberatkan. Aku akan pergi secara diam- diam ke Kiu Liong Po menjumpakan guruku, agar ia bisa turun tangan menyembuhkan penyakitnya dari Tju Siok siok, aku sendiri boleh turut dengannya mengasingkan diri sambil melatih diri hal mi apa susahnya?" Tengah ia berpikir dengan asyiknya tiba-tiba di atas kepalanya menggelepak dengan suara sayap burung, ia menengadah dan melihat bayangan hitam dari burung garuda. Ia merasa heran dan tidak mengerti garuda itu untuk apa datang ke situ. pedangnya dicabut menantikan serangan, tiba riba burung itu melewat di atas kepalanya, disambutnya dengan pedang sudah terhunus, tapi burung itu sudah terbang pergi sambil menjatuhkan sebuah bungkusan yang menerbitkan suara "pluk".

Bungkusan itu. walaupun kecil tapi berat, entah apa di dalamnya. Ia tahu bahwa kedatangan burung itu pasti menerima titah dari majikannya. Tanpa membuang waktu ia lari ke dalam goa untuk menyerahkan bungkusan

itu kepada  gurunya. Begitu ia masuk ke dalam goa dilihatnya Tju Hong sudah sadar dari tidurnya. Matanya dapat dibuka dengan sorot yang aneh, ia merasakan asing tempat sekeliling ini. di balik itu merasakan sudah kenal pula, diamat amatinya sekeliling. Nanti ia memandang ke sebelah kiri. kemudian melihat lihat sebelah kanan sambil mengernyitkan  keningnya. Sesaat kemudian ia lari ke dinding goa kedua lengannya meraba raba, seolah olah tengah cari sesuatu. Tapi tanpa mendapat hasil, ia duduk lagi dengan perasaan kesal dan mabuk. Semua orang tahu ia tengah mengingat ingat kejadian yang lalu. dari itu di biarkan saja tidak mengganggu. Tapi Tju Hong kembali sudah berubah lagi, kini kembali ia angin-anginan lagi tambangnya mulai dikebutkan ke kiri kanan secara gila gilaan!

Djie Hay menjadi sedih dan merasa kesal, sampai bungkusan yang dipegangnya jatuh lepas. dirasa lagi. Jatuhnya benda ini membuatnya sadar dari Kesedihannya, sedangkan bungkusan itu begitu jatuh segera terbuka ikatannya. Bermacam macam benda terdapat di situ. melihat ini ia menjadi kaget sekali, waktu ia mengangkat kepala untuk mengawasi suhunya dan lain lain, tampak mereka sudah menatap mengawasi benda benda yang berserakan di tanah. Pemuda pemudi merasa aneh. sebaliknya dengan Kie Sau menggoyangkan kepalanya, sedangKan Yauw Tjian Su memandang benda itu dengan jemu. la berkaia: "Bagus, sekalian musuhku sudah datang!"

Yauw Tjian Su maju ke depan mengambil sebilah pedang kecil sambil tertawa. "Hmmm inilah Tjie Sang Kiam ( pedang jeriji Lauw Tjiok Sim, bocah itu menamakan dirinya salah satu pendekar dari Go Bie. sampai senjata rahasianyapun berbentuk pedang, kini diberikan untuk dibanggakan barangkali? Baik pedang ini kusimpan." Pedang kecil itu dimasukkan ke dalam sakunya, kemudian dikorek korek kumpulan senjata senjata rahasia, sesudah memilih kembali ia tertawa: "Ha ha ha, Thay Ouw Hu Lui pun datang, terkecuali dari Ong Hie Oag orang lain mana suka memain tulang ikan ini. Baik tulang ikanpun ingin kutelan," sambil menyimpan barang itu. Kembali ia memeriksa benda-benda lain. Sebuah besi persegi mengkilap yang berat diangkatnya. Orang tua itu kembali berkata: "Senjata ini adalah kepunyaan Bok Tiat Djin." Besi itu diberikan kepada Kie Sau untuk diperiksa. "Kau periksa, masih terdapat apa yang aneh disitu!" Begitu Kie Sau melihat ia menjadi kaget. "Kiranya Pangeran Baju mas Kim Dju Kie pun ada di sini! Tadipun aku Kie Sau segera memberikan besi itu untuk di periksa mereka sambil berkata. "Lihat ! di besi itu terdapat tanda apa? Tanda itu adalah peninggalan dari paku emasnya yang dipukulkan ke situ!" Orang banyak bergiliran mengawasi, benar saja di papan besi tertancap dengan tegas sebatang paku yang hampir menyerupai kelingking. Dari sudut ini sudah dapat dibayangkan betapa lihaynya orang itu.

Yauw Tjian Su kembali memeriksa benda lain yang menyerupai bendera, di atasnya berlukisan sebuah gambar Pat-kwa

"Hek Liong Lo Kuay rupanya kau ingin menakut nakutkan orang dengan bendera Pat-kwamu! Lihat akan kugunakan untuk menghapus ingus!" Baru saja bendera ini akan dimasukkan ke dalam sakunya tiba-tiba dilihatnya di atas bendera itu tertera lima liang kecil peninggalan dari jeriji wanita. Sesudah ditelitikan orang tua itu, berkata; "Tak kupikir Niko ( paderi perempuan ) kecil ini ilmunya maju demikian pesat lihatlah jerijinya dapat menembus benda yang demikian tipis dan ringan, Kepandaiannya sungguh aneh bukan?" 

Sedangkan di tanah masih banyak sekali senjata rahasia lain dari Louw Eng, Ouw Yu Thian. Tam Tjiu Liong. Ku To Hoo Pun. Wie Lie Hay. Poa Toa Hong tujuh kauw. Pek Sek Sie Seng le Kim Wan. . , dan lain-lain semua semata mata untuk menunjukkan kekuatan yang besar.

Kie Sau menghitung jumlah dari seluruh senjata rahasia ada tujuh delapan puluh. Terkecuali dari Hek Liong Lo Kuay. Ong Hie Ong. Bu Beng Nie. Lauw Tjiok Sim. Kim Dju Kie.

Bok Tiat Djin yang termasuk jago aliran kelas satu. masih terdapat Louw Eng. Tong Long, Ie Kim Wan dan yang sekelas dengan mereka sebaryak dua puluh lebih.

Terkecuali itu yang lainnya terdiri dari senjata rahasia orang-orangnya undangan Louw Eng yang pasti berilmu tinggi pula. Dengan jumlahnya yang banyak ini tak heran musuh bisa mengurung mereka dari segala penjuru.

Kie Sau sadar bahwa Louw Eng sudah berhasil membuat satu jaring yang kokoh, dengan maksud sekali tebar dapat menangkap semua orang. Dalam situasi yang berbahaya ini, biar Yauw Tjian Su yang tinggi, ilmu kepandaiannya belum tentu dapat menerjang ke luar. lebih lebih anak anak muda lainnya lebih sukar pula, sedangkan ia sendiri pating banter hanya bisa menghadapi Bu Beng Nie seorang. Pikir pikir keadaannya terap kurang jauh dari jumlah musuh.

Terkecuali itu masih terdapat Tju Hong yang masih lupa ingat dan menjadi beban. Kie Sau terdiam sambil menarik napas. hatinya berpikir: "Cara yang terbaik, harus dapat meninggalkan puncak ini tanpa diketahui musuh"

Tapi hal ini masih belum memastikan pikirannya, dari itu ia bertanya kepada Yauw Tjian Su: "Yauw Lauw, kau lihat bagaimana baiknya untuk menyelesaikan urusan hari ini?"

"Menurut hematku, kita jaga puncak ini, kalau mereka datang satu kita tangkap satu. Karena tempat ini sukar untuk didaki mereka, sebaliknya untuk turun pun bukan hal y*ng mudah. Kalau mereka tidak mau naik kita jangan turun, kita diam terus di sini sambil menikmati pemandangan yang indah menangkap beberapa ekor burung untuk memain, seumur hidup tntuk tetap tinggal di sini akupun ridlah. Sampai kita sudah tidak betah tinggal di sini, musuh sudah bosan pula menantikan kita. pasti di antara mereka sudah ada yang pergi, saat itulah kita turun pasti tidak ada berani yang merintangi!" Orang tua ini mempunyai pandangan yang ringan dan mengambil ketetapan untuk tinggal terus di sini untuk selamanya. Pikir Kie Sau kata katanya itu memang masuk di akal juga.

Wan Tnian Hong adalah anak yang cerdik dengan segera ia pendapat perkataan gurunya: "Suhu, kau boleh mengatakan begitu, tapi dari mana kita mendapatkan makanan untuk waktu yang demikiaa lamanya itu?"

"Ah, semua karena gara garamu yang mengundang mereka datang ke sini, kini masih berani banyak bicara!" kata orang tua itu sambil bangun berdiri dan lari ke luar,

"Suhu kau ingin ke mana?" tanya Wan Djin Liong. "Di sini tidak ada makanan, untuk apa berdiam lama

lama? Pergunakan waktu kabut menutup gunung dan tak terlihat tegas kita menerjang turun, mereda berjumlah banyak belum tentu bisa bergerak semuanya dalam cuaca demikian buruk, marilah kita terjang!"

"Yauw Louw kata katamu sungguh baik sekali! Tapi sebelum turun kita harus membuat rencana dahulu!" kata Kie Sau.

"Bagus, cobalah kau katakan!"

"Ke satu, kita tidak boleh berpencar, harus berkumpul untuk sampai di bawah gunung. Musuh berjumlah banyak kalau kita berpencar pasti tidak dapat melawan kekuatan mereka, kerugian pasti akan kita derita!"

"Kata katamu sungguh baik, tapi sesampainya di bawah gunung kalau kehilangan aku sendiri kalian tidak perlu kuatir dan menghiraukan!" sela Yauw Tjian Su.

"Kedua, kita harus mengatur sebuah barisan, depan dan belakang tidak boleh berpencar. Kalau tidak dapat turun harus mencari kawan jadi berdua." Sekalian pemuda menganggukkan kepalanya.

"Yang ketiga. Sie Hong kau harus menggendong ayahmu, aku akan menjaga di sisi tubuhmu." Saat ini Tju Hong sudah tidur dan mudah dibawa. "Yang ke empat. andaikata usaha kita gagal semua harus balik kembali ke puncak ini untuk membuat rencana lain." Kie Sau memesan sekalian pemuda sekali lagi, kemudian ia berkata kepada Yauw Tjian Su. "Yauw Lauw, kau harus berada di belakang barisan untuk memutar dari belakang, bagaimana pendapatmu?"

Orang tua itu membenarkan siasat Kie Sau. Sesudah barisan beres diatur Tjiu Piau yang sangat awas matanya jalan di depan selanjutnya Djie Hay, Gwat Hee, dan saudara Wan. Kie Sau, Sie Hong menggendoag ayahnya, dan yang terakhir adalah Yauw Tjian Su. Sesudah mereka ke luar dari goa segera naik ke atas puncak Thian Tou, tampaklah sekeliling sudah menjadi putih tertutup kabut, hanya sinar surya senja saja yang kelihatan menjadi merah menembus kabut itu. Sesudah dilihatnya di bawah puncak tidak terdapat gerakan Tjiu Piau segera berseru. "Terjang!" tubuhnya segera masuk ke dalam kabut dan hilang tidak kelihatan. Ong Djie Hay mendengari arah kaki Tjiu Piau dan menyusul dari belakang. Kedua bayangan hampir hilang ditelan kabut, tapi belum terdengar gerakan apa apa dan musuh. Selanjutnya Gwat Hee, Wan Thian Hong dan Wan Djin Liong menyusul dari belakang.

Baru saja beberapa orang yang tersebut belakangan ini memasuki kabut, segera mendengar suara saling bentak dengan kerasnya, satu suara Tjiu Piau satu lagi suara menggeledek dari musuh, menyusul terdengar suara saling labrak dengan hebatnya, tapi hal ini tidak kelihatan dari belakang.

Siapakah yang lagi berkelahi dengan Tjiu Piau? Kiranya adalah seteru lamanya, ialah Tong Leng Ho Sang!

Paderi itu mengandalkan pada tebalnya kabut, menyandar di tebing yang cekung ke dalam untuk menyembunyikan dirinya. Siasat ini adalah Hek Liong Lo Kuay yang mengatur, bukan saja Tong Leng bahkan semuanya mengambil tempat yang demikian untuk menyembunyikan dirinya, menjaga kelalaian lawan dan menangkapnya.

Tjiu Piau selalu berlaku hati-hati sesudah berjalan agak lama tampak olehnya di depan terdapat tikungan, ia berhenti sebentar untuk mengamat amati, ia tahu di balik tikungan itu terdapat masuk yang sedang bersembunyi.

Walaupun demikian ia tidak bisa berbuat apa apa karena sekelilingnya penuh kabut, tengah ia bingung mendadak timbul akal bagus diambilnya pohon yang agak panjang bajunya dibuka dan ditaruh di atas kayu lalu dikosongkan ke depan, dalam keadaan remang remang baju itu tidak ubahnya seperti orang.

Sementara itu Tong Leng sudah mendengar suara kaki orang datang mendekat hatinya teramat girang, pikirnya pasti akan berhasil menangkap orang yang datang. Siapa tahu tiba-tiba suara kaki itu tiba tiba hilang, sang paderi menjadi gelisah, ia takut orang itu tidak datang dan tidak patut kiranya kalau ia memanggil orang itu agar datang. Sedang ia cemas tiba-tiba terdengar lagi derak sepatu orang, sesosok tubuh berkelebat di depan matanya menerjang turun. Tak banyak rewel lagi sang paderi mengulurkan kedua lengannya yang panjang dengan ganas untuk menangkap, sambil membentak: "Kena!" ya, memang kena . . . sebatang kayu dengan baju. Sebenarnya begitu orang itu kena dipegang segera akan dibantingkan ke bawah kini ia diam mendelong keheranan, sambil mengangkat kedua lengannya memegangi kayu itu, sedangkan di samping tubuhnya berkelebat dengan gesitnya seorang muda sambil menghajar perutnya yang gendut dengan telak sekali, Tong Leng berteriak kesakitan. Untunglah pukulan itu adalah ilmu silat luar yang tidak berapa lihay, walau pun keras seperti batu tak berfaedah terlalu besar menghajar perutnya yang seperti kapas Walaupun sakit tidak sampai melukakannya sang paderi segera balik badan melancarkan serangan dengan ilmu Sian Wun Pay Gwat, lengan kanannya yang besar terbuka

lebar menyampok miring dengan maksud memotes batang kepala orang. Tapi sang musuh itu sangat lincah sekali ia sudah berhasil memutar badan lari ke arah jalan yang sempit, sambil merapatkan diri di lembing gunung sehingga tidak kelihatan. Terkecuali itu sewaktu membalik badan musuh itu sudah melepaskan dua butir batu sambil membentak: "Hwee shio gemuk, makanlah batu ini!" Tong Leng berniat membuka mulutnya untuk menyambut serangan itu, tapi segera dibatalkan karena batu itu datangnya terlalu keras segera ia mengegos sehingga batu itu lewat disampingnya dan langsung menghajar tebing gunung dan mengeluarkan bunyi yang keras sekali Gerakan tangan dan batu cukup di kenal Tong Lenp, sehingga ia menjadi gusar: "Hei Tjiu Piau sekali ini kalau kena kutangkap tak ada ampun lagi!"

Suara saling bentak ini terdengar nyata sekali di dalam kabut yang sunyi, Pihak Tjiu Piau sudah mendengar, demikian juga dengan pihak Louw Eng. Mereka saling tidak melihat, tapi pihak yang rugi adalah Tjiu Piau sekalian, karena mereka tidak mengetahui apa yang sudah diatur musuh di tengah perjalanan turun ini. Orang banyak menjalankan siasat Kie Sau, begitu melihat musuh segera diam tidak bergerak sambil menahan napas agar tidak diketemukan musuh. Sesudah bersembunyi Tjiu Piau segera menahan napasnya. demikian juga dengan yang lain. Dalam waktu sekejap saja kesunyian Oey San kembali seperti semula, kesunyian ini mendebarkan orang orang dipihak Kie Sau. mereka menahan napas dengan engapnya. Sebelum turun gunung Kie Sau sudah memesan, kaiau ketemu musuh harus menggabungkan tenaga, untuk memusnahkan dengan cara ini baru tidak terhambat perjalanannya, Dalam kesunyian yang mengandung suasana pembunuhan TjiU Piau sudah melewati Tong Leng, sedangkan Djie Hay masih berada di belakang dengan dua tenaga ini bisa mengapit Tong Leng. Mereka berdua mengawasi terus gerak geriknya musuh dengan maksud sekali serang membinasakannya.

Tjiu Piau menahan napas sambil menghampiri musuh, tiba tiba didengarnya suara berderaknya sepatu dengan halus bergerak di atas kepalanya, secara cepat sekali.

Mungkin di atas itu terdapat pula jalan gunung, Tjiu Piau dongak ke atas untuk melihat, di situ masih tetap tampak kabut putih sedangkan bayangan orang tidak kelihatan Ia berpikir : "Walaupun di dalam kabur yang demikian tebal orang itu dapat lari dengan pesatnya, agaknya sekali langkah ada beberapa tumbak jauhnya. ditambah dengan gerak geriknya yang demikian halus dan lincah, entah jago kelas berat dari mana?" Suara langkah kaki itu berhenti tepat di atas kepalanya seolah olah sudah mengetahui ada orang bersembunyi di bawahnya.

"Wah celaka," keluh Tjiu Piau, "kalau Tong Leng datang menyerang aku harus melawan, kalau dalam keadaan begitu orang yang di atas datang menyerang pasti aku dapat celaka Lebih baik menyerang dahulu!"Lengannya segera melontarkan dua butir batu kesebelah atas, serentak kakinya maju melompat ke dekat Tong Leng. Tui Ia To Gwat keluar menghantam musuh, berbareng dengan serangannya ia berseru nyaring' "Ong Toa ko. mari kita hajar binatang in!" Djie Hay sudah siap dengan lengannya, sesudah mengetahui di mana musuh berada segera menyerbu dengan Kie Hong Hui Lay. ia sudah mempelajari Im Yang Kang dan sudah mengerti cara menggunakannya sekaligus, serangannya sekarang berbeda jauh dengan dahulu, tenaganya keras dan berat sukar ditangkis.

Begitu mereka bergerak, di atas kepala Tjiu Piau berkelebat sebuah bayangan langsing yang tiba di hadapan Tong Leng Ho Siang. Sedangkan Tjiu Piau dan Ong Djie Hay masing masing merasakan di mukanya mengebas dengan perlahan tangan yang berhawa dingin seperti es, sehingga serangan mereka menjadi buyar. Djie Hay masih dapat mempertahankan kebasan itu., tapi Tjiu Piau sudah jungkir balik dibuatnya kebasan yang demikian halus itu Secara cepat mereka kembali bersiap dan menerjang lagi, dalam jarak yang dekat mereka melihat tegas orang itu adalah seorang Niko yang kurus kecil berusia kurang lebih lima puluh tahun, sedangkan mukanya pucat tak berdarah, matanya sayu dan dingin, bajunya yang berwarna putih, sangat bersih sekali. Di lehernya bergantung seuntai mutiara Buddha yang panjangnya sampai di perutnya.

Melihat oranh ini Djie Hay segera membentak. "Hei! Bu Beng Nie. kau juga datang!"

"Hei bocah kemarin dulu. kenapa kau bisa tahu namaku? Lekas kau wartakan ke pada gurumu, agar datang ke mari untuk kutabok!" katanya dengan tawar. Sehabis bicara jeriji tangannya ke luar satu secara perlahan - lahan disabetkan kepada Djie Hay. Melihat serangan datang pemuda ini mengebaskan lengan bajunya, tapi kebasannya ini tidak membuat jeriji lawan bergerak barang sedikit, bahkan masih tetap maju menyerang. Djie Hay kaget dan mundur ke belakang. Musuh tidak memberikan kelonggaran terus merangsak maju. Mereka saling desak, sepuluh tindak kemudian hilang dalam liputan kabut. Tertinggal Tjiu Piau dengan Tong Leng sepasang lawan lama, masih tetap saling mendelik. Sepasang sarung tangan yang terbuat dari kulit rusa dipakai Tjiu Piau di depan mata Tong Leng, ia berkata:

"Tong Leng! Apa kau berpikir untuk menikmati mutiara beracun seperti Louw Eng dan Bok Tiat Djin?" Tong Leng memang sangat segan terhadap senjata rahasia lawan, dari itu ia berlaku sangat hati hati sekali, lebih lebih dilihatnya lawan sudah menggunakan sarung tangan, sembarang waktu bisa melepaskan Tok Tju. Diperhatikannya lengan kanan Tjiu Piau dengan kedua matanya yang besar kalau kalau tangan iiu melepaskan senjata rahasia. Tiba tiba ia menyerang waktu sang pemuda tidak siap sedia, jurusnya tidak lain dari Sian Wan Pay Gwat.Pukulan lengannya menimbulkan angin yang keras, Tjiu Piau tidak berani menyambut, ia segera berkelit sekilat mungkin kesebelah samping sejauh beberapa kaki

Dalam jarak tujuh delapan kaki, tubuh orang dapat dilihat seperti ada seperti tidak, inilah kesempatan untuk Tjiu Piau melepas senjata rahasianya yang ampuh.

Sebaliknya musuh tak akan melihat senjata rahasianya yang dilepasnya. Segera disiapkannya mutiara yang berkilap kilap digapaikannya musuh: "Hei Hweeshio, mutiara ini sudah pasti ku berikan kepadamu sambutlah!" Tangannya terangkat menggertak, Tong Leng ketakutan dan mencelat ke belakang sebanyak dua tumbak. Pemuda kita mendesak terus dan menjaga jarak antara tujuh delapan kaki, menantikan ketika yang baik untuk membereskan jiwa lawan. Ho Siang mundur selangkah ia maju selangkah. Suasana sudah menjadi terang, walaupun keadaan ini baru berjalan sebentar dirasakan mereka sudah lama sekali. Tjiu Piau melempar senjata secara menggertak, lengannya ditaruh di belakang tubuhnya dengan niatan melepas senjata dari bawah ketiak kiri agar Tong Leng tidak menduga duga, tapi baru akan bergerak lengannya sudah ada yang pegang dengan erat.

Kekagetan Tjiu Piau bukan alang kepalang dengan cepat tubuhnya berbalik dari sebelah kanan, kaki kirinya menendang orang Dalam waktu sekejap mata, dilihatnya dengan tegas orang yang memegang dan datang tanpa suara itu, kiranya adalah seorang gadis besar yakni Tjen Tjen adanya. Tendangan Tjiu Piau itu lebih keras dari tenaga tangannya sepuluh kali, sehingga menimbulksn angin tenaga yang mendesak lawan. Tjen Tjen berseru dengan heran: "Ah, hei ilmu silatmu kenapa bisa maju demikian pesat!" lengannya melepaskan lengan orang sedangkan tubuhnya berbalik kebelakang dan hilang dalam kabut yang tebal. Dalam sejenak saja Tong Leng sudah menyerang punggung belakang Tjiu Piau dengan jurus Sian Wan Po Su (malaikat kera memeluk pohon) dua tangannya itu seperti sendok garpu dicocokkan kepada tenggorokan lawan Pemuda ini tidak menantikan serangan lawan bersarang di tubuhnya sudah menundukkan kepalanya dan berguling di tanah sambil mengayunkan lengan kanannya untuk menghadiahkan Tong Leng mutiara beracun.

Tjiu Piau sebenarnya akan menpergunakan jurus 'Naga rebah menyemburkan mustika' tapi jalanan di gunung sangat sempit dan tak rata. Tak heran begitu ia berguling segera tak kuasa menahan tubuh nya yang langsung berguling guling kebawah! Bagian kaki Tong Leng sama sekali tidak gesit, begitu dilihatnya sinar mutiara yang mengkilap menuju ke perut membuatnya kaget dan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya mencelat ke samping. Malang baginya jalanan gunung sangat buruk sehingga kakinya tak kuasa menahan tubuhnya, ia terguling guling jatuh ke bawah. Jalanan gunung ini licin sekali dalam waktu sekejap mereKa belum bisa memperbaiki diri. sehingga yang tertampak hanya dua gulungan besar bergelindingan sama sama menuju ke bawah.

Kini kita tengok Djie Hay yang sedang bergebrak dengan Bu Beng Nie. Saat ini Djie Hay tengah kena terdesak, dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi lawan yang aneh dan lihay ini. Sebenarnya pemuda ini sudah mendapat didiKan baik dan Kie Sau sehingga ilmu silatnya tidaklah buruk, ditambah im Yang Kang yang baru dipelajarinya, kepandaiannya ini sudah boleh disebut cukup tangguh Tapi kalau dibanding dengan musuh, tenaga dan kepandaiannya ini masih kurang beberapa angka. Walaupun ia bisa ilmu lm Yang Kang tapi belum berapa lama dipelajarinya, sehingga tenaga yang berada di dalamnya belum dapat digunakan secara sempurna. Tambahan nama "Bu Beng Nie sangat terkenal, belum belum hatinya menjadi gugup Dilihatnya ilmu lawan yang kukuay. sampai ia tidak mengenal jurus apa yang digunakan, apa yang tampak hanya terangkatnya kaki tangan musuh secara bersamaan menghajar bagian berbahaya dari tubuhnya.

Dalam waktu sekejap ini membuatnya gugup dan terus mundur untuk siap mengadakan serangan balasan, sesaat ia mundur lagi beberapa tindak terdengar suara Gwat Hee : "Koko. kau di mana?" Dengan cepat ia mencelat ke arah suara adiknya, sambil berkata : "Moy tju, hati hati musuh lihay sekali, mari kita gabungkan tenaga untuk menghajarnya." Belum suara ini habis bayangan musuh sudah terlihat mengejar

Dua saudara Ong sudah biasa bekerja sama untuk menghadapi lawan, begitu dilihatnya musuh datang mereka secara otomatis menggeser kakinya memisahkan diri. Ong Djie Hay ke timur Gwat Hee keutara menyambut kedatangan musuh dari barat daya, Bu Beng Nie melangkah masuk ke tengah tengah, lengan kirinya dilepaskan dari dadanya menyampok Gwat Hee yang berada di utara dan sekalian jerijinya ke luar menotok Djie Hay. Dengan cepat Gwat Hee mengeluarkan jurus Tian In Tjut Siu (awan pagi ke luar dari celah celah gunung) mengebutkan lengan bajunya memukul serangan musuh, disusul dengan serangan balasannya dengan jurus Soa Tiong Leng Tiap ( gunung besar bukit bertumpuk ) menuju ke bahu kiri lawan dengan ganas dan cepat. Ong Djie Hay yang berada di sebelah timur begitu melihat jeriji lawan, tak berani lambat lambatan lagi. diemposnya tenaga di seluruh tubuhnya kedua lengannya yang diangkat tinggi dan diserangnya musuh dengan jurus Thian Hu Pek San (Kapak langit membelah gunung) kalau kepala terpukul bila terbelah dua. kalau tulang yang menangkis akan hancur berantakan, pokoknya pukulan ini ganas dan membahayakan, Bu Beng Nie semula tidak memandang mata kepada sepasang muda mudi ini, siapa tahu sesudah dihimpitnya dengan serangan bersama baru tahu kelihayan orang. Lebih lebih serangan Oag Djie Hay ini bukan saja bertenaga besar menindih dan terasa anginnya, bahkan dilengkapi pula dengan suatu gaya Im Yang kang yang sukar diraba Kiranya Im Yang Kang ini di luar tahu Djie Hay sendiri sudah menambah tenaganya demikian mengagumkan.

Bu Beng Nie berpikir : "Aku sudah biasa malang melintang di dunia Kang ouw, masa takut menyambut lenganmu? Biar ku sambut!" Lengan kanannya terangkat menangkis lengan lawan, sehingga dua tangan bentrok, aneh. tak menimbulkan suara barang sedikit. sedangkan tenaga yang mereka gunakan bukan main besarnya.

Kepandaian Bu Beng Nie berdasarkan pada Kang (keras) yang sudah sampai di batas maunya, sampaipun sutera halus yang menggeleber di udara dapat dibuat berlobang oleh jerijinya. Demikian juga dengan ilmu Bukit Berantai dari Ong Djie Hay berdasarkan kepada keras, tetapi sejak ia faham Im Yang Kang, tenaga di telapak tangannya itu kalau ketemu keras segera berubah lunak, ketemu lunak berubah keras. Ong Djie Hay merasakan kekerasan lawan melebihkan kekerasannya beberapa lipat, Telapak tangan itu tanpa dirasa sudah beralih menjadi lunak untuk menghindarkan dari luka. Tak heran begitu lengannya beradu tak terdengar suara, sehingga membuat Bu Beng Nie keheran heranan. Tangannya ditarik pulang mengubah permainannya, jeriji telunjuk dari sepasang lengannya ditegakkan ke luar sedang empat jeriji lainnya ditekuk dan ditotokkan kepada dua lawannya. Pukulannya ini bukan merupakan kepalan atau telapak tangan, sehingga mengherankan dua lawannya yang belum pernah melihat pukulan semacam itu. Mereka menyambut serangan ini secara maksimum dengan ilmu pukulan Bukit Berantai yang paling mahir dimainkannya.

Sepuluh jurus sudah berlalu, jeriji Bu Beng Nie yang tegak tak ubahnya seperti belati pendek, mengeluarkan jurus bermain belati bercampur ilmu pukulan tangan kosong, berubah ubah secara aneh Dua saudara Oag tidak berani mendekatkan tubuhnya pada lawan. mereka bertahan terus dari jarak agak jauh. Supuluh jurus kembali berlalu dua saudara Ong masih belum berhasil menyelami ilmu lawan sehingga kedudukannya berada di bawah angin. "Ha ha ha," Bu Beng Nie tertawa, "kira nya kalian adalah murid murid Hoa San Kie Siu, tak heran berilmu demikian baik. Sepuluh tabuh yahg lalu aku mengetahui Kie Sau mempunyai ilmu Bukit Berantai sebanyak delapan jurus, tak kira kini sudah bertambah menjadi duapuluh empat jurus banyaknya. Masih adakah jurus keduapuluh limanya?" sambil bicara tangannya terpecah kedua jurusan menghajir dada dua musuhnya. Tinpa berjanji lagi dua saudara Ong mengeluarkan jurus Hud Siu Djie Kie mengebut dengan lengan bajunya untuk menangkis serangan, sedangkan lengannya bersembunyi di balik lengan baju dan dapat dipakai menyerang atau bertahan. Jurus ini dimainkan demikian baiknya* tapi lawan sudah mengetahuinya. "Ha na ha." Bu Beng Nietemwa mengejek* "rupanya sudah kehabisan ilmu. ini lagi. ini lagi!"

Saat itu juga ssudara Ong merasakan lengan baju mereka kena ditarik lawan. Matanya terbuka mengawasi, lengan baju itu sudah ditembusi jeriji sang Niko sampai berlubang dan terkait dengan eratnya, sehingga lengan baju itu tidak dapat ditarik pulang.

Gwat Hee cukup tenang, dikeluarkannya pisau belati dari pinggangnya lengan baju itu disabet menjadi pecah, sambil lalu belatinya menyerang lawan dengan jurus Kim Liong Hiat (naga emas ke luar dari guna) menusuk kerongkongan lawan. Bu Beng Nie cukup tangguh, bergerakpun tidak, dinantikan belati lawan sampai di dekat badannya sebera dipentil oleh jari jarinya yang tertekuk, "ting" bersuara, belati itu kena disentil mundur. Bukan saja ia berhasil mematahkan serangan lawan bahkan telapak lengan si gadis tergetar secara keras, hampir hampir belatinya itu terlepas jatuh. Ong Djie Hay juga sudah berhasil mencabut senjata dan memutuskan lengan bajunya, dengan senjata yang berkilat kilat dua saudara Ong membuat pertandingan bertambah seru dan seimbang.

Semakin bertarung Gwat Hee semakin gelisah. Menurut siasat yang sudah ditentukan. dua saudara Wan sudah harus sampai untuk membantu, kenapa sampai sekarang belum kelihatan bayangan-bayangannya?/ Ia pun kuatir kepada Tjiu Piau yang berada seorang diri di muka. entah kalah entah menang tidak diketahuinya. Begitu ia merasa gelisah akalnya segera ke luar, tiap kali menyerang atau menangkis selalu diiringi suara bentakannya. Hal ini dilakukan dengan maksud saudara saudara lainnya mengetahui mereka ada di situ dan datang membantu.

Kenapa dua saudara Wan belum kunjung datang. tidak tahunya merekapun tengah berkelahi mati-matian dengan lawannya, Takala mereka mengetahui saudara yang berada di depan sudah bergebrak dengan musuh segera maju membantu, siapa tahu baru kakinya melangkah beberapa tindak tiba-tiba didengarnya suara "ber... 'siuttt!" dari sebuah rantai yang berkilau kilau. Wan Djin Liong yang berada di depan segera merebahkan dirinya menghindarkan serangan gelap itu. waktu ia bangun untuk mencari si penyerang sedikit juga tidak tertampak

Sedangkan Wan Thian Hong pun berhasil mencelat beberapa tindak menghindarkan serangan itu, tepi iapun heran melihat penyerangnya. Mereka berdiri dengan heran, Djin Liong memanggil: "Moy-tju!" baru suaranya keluar dari belakang tubuhnya kembali terdengar suara 'Ber . . « siuuutt!" rantai ini datangnya dari atas udara. Djin Liong menubruk dari mana suara mendatang, dalam kabut yang tebal terlihat di depannya sebuah bayangan hitam, tidak kasian lagi diserangnya bayangan itu dengan tendangan kakinya, bayangan itu tetap tidak bergerak. Waktu diawasinya ia menjadi kaget sebab bayangan itu bukannya orang melainkan sebuah pohon Siong tua! Kakinya ditarik sambil memutarkan badan, baru ia berdiri kembali datang serangan rantai emas dari belakang pohon Siong tua itu.

Djin Liong mengegos, tapi tetap belum bisa mengetahui di mana musuh berada. Rantai emas itu mengeluarkan deru yang hebat sekali, tiba tiba di belakang tubuhnya terlihat berkelebat sesosok tubuh dengan lincah dan gesit, sebelum Djin Liorg dapat menyerang bayangan itu sudah sampai di sampingnya sambil tersenyum kiranya adalah adiknya sendiri yang habis berkelit dari serangan rantai musuh.

Kedua orang ini merasa mangkel sekali, penyerang gelap yang tak menunjukkan diri itu memang terlalu licik berkelahinya dan tidak tahu malu.

Rantai itu lebih kurang panjangnya ada sepuluh tumbak, orang yang menyabetkan berdiri sepuluh tindak di luar garis, sehingga tidak kelihatan mata hidungnya karena terhalang kabut yang tebal. Rantai itu selalu menyerang kalau lawan bergerak ingin saudara Wan membalas menyerang" tapi tidak diKetahuinya di mana kedudukan lawan. Rantai itu nanti berada di sebelah kiri, nanti di sebelah kanan sewaktu waktu di tengah udara dan tak dapat ditentukan, sabetannya demikian bertenaga dan membahayakan sekali, untung dua saudara Wan cukup lincah dan lihay. kalau tidak siang siang sudah kena dikerjakan musuh.

Sesudah mereka meigelakkan sepuluh sabitan musuh, baru mengetahui bahwa musuh bukan terdiri dari seorang, mungkin ada dua tiganya, tapi bersenjatakan rantai emas yang serupa, hanya tenaga menyerangnya saja yang berbeda. Mereka kesal dan mendongkol tidak dapat dengan seeera mengetahui di mana musuh bersembunyi,untuk menyerangnya dan mengadu jiwa.

Orang-orang yang berjalan duluan sudah masuk dalam pertarungan yang sengit. Sedangkan Tju Hang yang masih berada di belakang mendengar ini menjadi kumat lagi penyakitnya, kaki tangannya bekerja, ingin maju ke depan untuk berkelahi. Tju Sie Hong sekuat tenaga menahannya di atas punggung d&n tidak berani maju Yauw Tjian Su sesudah bersungut-sungut segera lari menerjunkan diri ke dalam kepulan mega yang putih dan tebal dengan tujuan menolong orang. Dengan kepandaiannya yang tinggi telinganya bisa menggantikan mata terus berjalan dicuaca yang buruk dengan leluasa, tapi apa mau dikata begitu ia masuk ke dalam kabut segala jurusan tidak dapat dibedakannya.

Hoa San Kie Sau menahan napasnya untuk menerjang musuh, ia diam tidak bergerak seperti patung batu layaknya, telinganya mengikuti terus jalannya pertandingan dengan tenang. Dari itu ia sudah mengetahui Tjiu Piau. Djie Hiy, Gwat Hee dan dua saudara Wan di tiga tempat. Hanya Yauw Tjian Su tidak diketahuinya lari ke mana, sebab tidak menimbulkan suara barang sedikit.

Saat ini hari hampir magrib, kabut-kabut masih tetap menyelimuti puncak-puncak yang berada di Oey San dengan tebalnya.

Melihat keadaan dari pertandingan ini Kie Sau Sadar bahwa musuh sudah mempunyai persiapan untak menghadang, tentu saja mereka tidak dapat menerjang turun, ia sudah bertekad untuk menarik orang orangnya. Dari itu dikumpulkannya napasnya dari dalam pusar dan diemposkan ke luar dengan siulan panjang tanda memanggil pulang. Pemuda pemudi yang tengah bergulat seru walaupun sudah mendengar ini mereka belum berhasil untuk melepaskan diri dari libetan musuh untuk kembali keatas.

Begitu. Yauw Tjian Su terjun ke dalam kabut yang tebal, segera menuju ke tempat datangnya suara petarungan.

Tapi orang orang yang tengah berkelahi di dalam kabut itu tak ubahnya seperti main kucing kucingan bergebrak sebentar lantas diam tak bergerak. Sesudah orang tua ini berjalan beberapa tindik tiba tiba keadaan perkelahian menjadi  sunyi, sehingga membuatnya kehilangan penuntun jalan. Dipasang telinganya dengan penuh perhatian untuk menantikan  lagi suara-suara itu,  tiba- tiba dari tempat yang jauhnya seratus  tindak  lebih terdengar suara. "Oahhh. . . kek!" dua kali, orang  tua ini mengenai    betul   suara itu, yakni batuk khas dan Hek Liong Lo Kuay. berbareng dengan itu   ia  mendengar suara Wan Thian Hong yang lemah. "Suhu tolong!" agaknya mulutnya   disumpal orang dan memaksakan diri untuk berteriak. Orang  tua ini jadi berpikir. "Wah, Hek Liong Lo Kuay menangkap muridku, biar bagaimana aku harus membebaskannya!" Segera ia menyusul dengan ilmu mengentengkan tubuh yang lihay, tubuhnya  seperti terbang dalam sekejap mata sudah  sampai di tempat yang dituju Samar samar terlihat olehnya sesosok tubuh orang berkelebat, tak salah lagi HeK Liong Lo Kuay adanya, dalam tangannya mengempit  seseorang. Sebalik Lo Kuay begitu melihat Yauw Tjian Su datang segera berteriak. "Wadun celaka, seteru  lama datang, lebih baik menyingkir." Tubuhnya segera hilang di balik kabut putih yang menutup mata.  Pada saat ini hanya terdengar suara berderak sepatunya saja dan rintihan dari Wan Thian Hong,

"Suhuuu !"

Yauw Tjian Su tidak mau melepas begitu saha. dikejar terus seteru lamanya itu. Dua orang ahli persilatan terlihay untuk jamannya saling kejar kejaran, dalam sekejap waktu saja sudah banyak puncak dan jurang yang dilaluinva. kini di hadapan mereka tanpak sebuah puncak yang tinggi dan sangat megah menghadang di depan mata, makin lama mereka sudah berada di tempat yang semakin tinggi, di sini keadaan kabut agak tipis, sehingga mata dapat memandang agak jauh.

Begitu mereka lari lagi seketika, puncak gunung sudah di depan mata sedangkan awan awan dan kabut berada di bawah kaki mereka. Kala mereka menoleh tampak puncak Thian Tou Hong berada di hadapannya. Yauw Tji n Su sadar bahwa mereka sudah sampai di puncak Lian Hoa. Tak diperdulikan segala sesuatu, paling utama adalah menolong muridnya, dipercepat langkah kakinya sehingga dalam sekejap mata dirinya sudah berada di tempat tertinggi dari Liang Hoa Hong. Begitu matanya memandang, tak terasa lagi membuatnya menjadi tepaku seperti patung kayu yang terdapat di rumah berhala.

Tidak tahunya di atas puncak tapi di bawah pohon Siong yang rindang dilihatnya dua orang tengah duduk dengan menganggur sekali sambil minum arak Satu Lo Kuay lainnya adalah Siseratu Lidah Ie Kim Wan. Yauw Tjian Su mengenal orang ini dan sadar bahwa muridnya tidak terjatuh di lengan musuh, ia terjebak datang ke situ disebabkan gara gara le Kim Wan yang meniru suara muridnya.

"Tjian Su heng lama kita tidak bersua, mari kita bercakap-cakap sambil duduk menuturkan pengalaman kita selama berpisah." kata Lo Kuay.

"Apa lagi yang perlu dipercakapkan! Bukankah kata kata kita sudah habis dipercakapkan dua puluh tahun berselang!" jawab Yauw Tjian Su dengan gusar.

Hek Liong Lo Kuay ini memang sesuai benar dengan namanya yang aneh itu. Pundaknya demikian lebar, perutnya luar biasa besarnya, mukanya seperti raut daun sirih yang terbalik di bawah besar diatas lancip. Lebih lebih kepalanya panjang berbentuk kerucut dan botak di tengah tengahnya sehingga mengkilap., dan seperti tanduk kalau dilihat dari tempat yang agak jauh. Sedangkan pakaiannya yang berwarna hitam tidak mengena di tubuhnya.

Sesudah Hek Liong mendengar perkataan itu, ia berkata: "Aaya, Lo-heng kenapa masih aseran saja seperti duapuluh tahun yang lalu!"

"Apa kau ingat waktu kuputuskan persahabatan kita pada tahun itu? Ingatlah apa yang kukatakan kepadamu?" tanya Yauw Tjian Su dingin.

"PLSti ingat, tapi waktu itu aku tidak membuat sesuatu kesalahan yang menyakitkan hati loheng bukan? Pikirlah betapa baik hatiku untuk memberikan suatu kemuliaan hidup untukmu, tapi kebaikan ini tidak kau terima, bahkan aku diusirnya pergi! Terkecuali itu kau masih mengatakan segala urusan negara serta kebangsaan yang tidak masuk di akalku. Kau pikir ada kesenangan tidak dinikmati bukankah sama dengan cari susah sendiri?"

"Kata-kataku pada tahun itu masih tetap tidak berubah seujung rambut, karena sedikitpun tidak salah!"

"Kenapa tidak salah! Apakah raja yang bertahta kini masih she Tji(she dari raja Beng) Kalau dahulu kau mendengar kataku, Kini sudah dapat berdiri di samping raja untuk menikmatkan kebahagiaan hidup, sehingga tidak perlu susah susah mencari penyakit ke Oey San ini! H.nmm dasar bodoh!" "Jabatan Menteri anjing yang kau dapat dari raja anjing itu boleh kau nikmati sesukamu untuk apa kau membujuk aku pula! Lo Kuay! Ingatlah dua puluh tahun berselang apa yang kukatakan sewaktu kita berpisah, yakni kalau tetap kau menjadi anjing bangsa asing, begitu ketemu muka lagi denganku salah satu harus lenyap dari muka bumi!"

Tentu aku ingat, tapi kata-katamu itu terang salah adanya. Ambillah ibarat sekarang, kenapa kita harus menjadi seteru besar? Pokoknya asal kau. masih dapat mengubah kelakuanmu, kesenangan yang kuperoleh tetap akan kubagi untuk kau nikmati!"

Mendengar sampai di sini kesabaran Yauw TjianSu habis maunya. Dengan kasar ia membentak: "Lo Kuay, hari ini aku tidak sempat untuk menemani, lain hari nyawamu baru akan kucabut!" Targannya bergerak menopok pohon Siong yang berada di samping tubuhnya, daun daun yang runcing seperti jarum itu rontok dan berhamburan seperti anak panah menuju pada Hek Liong Lo Kuay, "Bagus," puji Lo Kuay sambil menghirup arak dan menyembur kepada daun daun Siong yang lebih kurang lima enam puluh helai itu.

Semburannya itu mengandung tenaga yang keras pula, membuat daun daun yang seperti jarum itu tertahan jalannya. Berikutnya Lo Kuay mengebaskan lengan bajunya memukul semua daun daun itu ke tanah. Tubuhnya segera mencelat ke hadapan lawan, ia berkata: "Yauw Lo heng, apa halangan kita mengobrol tiga empat hari lagi, dan jangan tergesa gesa untuk berlalu!"

"Lo Kuay aku tahu maksudmu memancing aku ke sini tak lain untuk melibat aku. agar kawan kawanmu yang tidak kenal malu dapat mengeroyok bocah bocah kecil yang sedikit jumlahnya. Lo Koay lekas minggir! Kalau kubilang jalan pasti jalan!

"Tidak begitu mudah seperti kau goyangi lidahmu!" sambil memalangkan kedua lengannya menghadang jalan: "Lo Yauw Tauw hari ini aku tidak niat untuk bertarung mati- matian denganmu. Kau mau pulang dengan selamat itu mudah saja, pokoknya kita bergebrak dulu barang sejurus. Ingatlah dua puluh tahun lamanya kita tidak bertemu, dalam waktu selama itu tentu kau banyak mendapat kemajuan. Pergunakanlah kesempatan yang jarang itu untuk mencoba coba keahlianmu itu!"

"Baik, dengan cara apa kau  mau?"

Lo Kuay mengulurkan kaki kanannya, sedangkan kaki kirinya tetap tidak berubah, tubuhnya berputar membuat satu lingkaran yang berjari jari satu kaki setengah. Ia menggapaikan lengannya sambil berkata: "Mari, mari kita mengadu kekuatan sebelah tangan, di dalam lingkaran ini, barang siapa jatuh din ke luar dari bulatan ini berarti kalah!"

"Kalau kau kalah lantas bagaimana?"

"Ha.ha ha." LoKuay tertawa keras 'kalau aku yang kalah pasti kau boleh berlalu. Sepuluh tahun lamanya aku belum pernah menderita kalah, sehingga membuat aku rindu untuk merasakan kekalahan itu. Sebaliknya kalau kau yang kalah, tidak kuijinkan meninggalkan tempat ini, kau harus tetap di sini semalaman penuh minum minum arak denganku, setuju tidak?"

"Setuju." jjwab Yauw Tjian Su dengan singkat., sedangkan tubuhnya sudah mencelat ke dalam lingkaran itu. Dua orang masuk dalam lingkaran, sehingga merasakan kesempitan: Masing-masing mengambil kedudukan di tepian garis lingkaran sebelah dalam, mereka saling berhadapan, pokoknya asal mau mengangkat kaki atau tangan pasti akan sampai di tubuh lawan. "Siap!" seru Lo Kuay. "apakah akan mengadu kekuatan telapak lengan atau kekuatan jeriji?"

"Mengadu jeriji kelingking ( jeriji yang terkecil ) setuju?" "Setuju." jawab Lo Kuay dengan girang.

Mereka mulai menekuk lengan bawahnya ketiak, sedangkan jempol, telunjuk jari tengah dan "jari manis ditekuk ke dalam yang dikeluarkan hanya kelingking saja, satu. Mereka tidak berkata kata lagi. matanya saling pandang seperti harimau lapar dan mengumpulkan seluruh ambekannya guna merobohkan musuh. Dua manusia berkepandaian tertinggi di dunia persilatan menunjukkan pertarungannya yang luar biasa, sungguh suatu pemandangan yang jarang dapat di lihat, hal ini membuat le Kim Wan yang berdiri di samping bengong terpaku.

Selanjutnya dua Lo tjian pwee ini menekuk sedikit anggota bawahnya memasang kuda kuda, tampaknya mereka seperti pohon yang berakar, Teguh tak bergerak gerak. Lengan kanannya mereka mulai terlihat maju kemuka dengan perlahan lahan, belum kedua kelingking ini bentrok, masing masing sudah mengeluarkan suatu tenaga penghalang yang tidak dapat dilihat mata. mereka mengempos semangatnya, jeriji itu baru bisa maju sedikit. Hek Liong Lo Kuay mengernyitkan kedua alisnya menjadi bersambungan satu. dengan lain. sedangkan kedua bibirnya melar ke samping, matanya seperti meram, Yauw Tjian Su matanya bulat, semakin melotot semakin besar. Kedua lengan itu sudah hampir terjulur habis dan rata, sedangkan ke dua jari kelingking mereka hampir bertemu. Semua kekuatar sudah dialihkan kepada jari kecil ini. kalau jari ini beradu entah bagai mana jadinya? Sedangkan le Kim Wan yang berada di samping makin lama nganganya semakin lebar sehingga liurnya sudah keluar dari mulutnya belum dirasa.

Tiba tiba mereka membenturkan jerijinya masing masing kepada jeriji lawan, kedua jeriji kecil itu tidak miring tidak ke samping, tepat beradu pada tempatnya. Dengan bentroknya jeriji ini. kedua Lo tjian pwee sudah menunjukkan ilmu dan kekuatan masing masing. Mereka tak kuasa menahan getaran keras dari tenaga lawan, tubuhnya masing masing tergelat ke belakang. Harus diketahui di belakang tubuh mereka sudah tidak ada tempat lagi. asal bertindak kebelakang sedikit saja sudah harus ke luar dari lingkaran dan kalah. Hek Liong Lo Kuay walaupun mempunyai kuda kuda yang ampuh, tapi bagian atas dari tubuhnya sudah tergempar desakan tenaga lawan yang maha dahsyat, sehingga kepalanya terkulai ke belakang dan tak kuat mengangkat pinggangnya. Sebaliknya dengan Yauw Tjian Su sama juga keadaannya, pinggangnya sudah lekuk ke beiakang sedangkan tubuhnya bergerak gerak sedikit. Sedari dahulu Hek Liong Lo Kuay mendapat nama dan terkenal dengan ilmu yang kukuay, sedangkan ilmunya yang benar dan wajar tidak ada yang luar biasa. Sebaliknya ilmu yang aneh dan tidak wajar dimilikinya dengan baik.

Saat ini pinggangnya sudah berapa kali hendak diluruskannya, tapi tetap nihil, walaupun demikian ia tak menjadi gelisah, tubuhnya terus menggeliat kebelakang. Seolah olah tubuhnya ini tidak bertulang, ditekuk beberapa kali sampai kebawah, sedangkan kepalanya sampai berada di bawah kakinya dan menempel pada tanah. Pinggang dan pantatnya merapat menjadi satu, punggungnyapun merapat pula dengan pangkal pahanya. Keseimbangan tubuhnya terletak di atas kepala, kedua kakinya perlahan lahan diangkat naik, menyusul tubuhnya jadi berbalik kepala di bawah kaki di atas. hal ini dilakukan untuk menghindarkan tubuhnya ke luar dari lingkaran yang menjadi batas menang dan kalah. Dengan ini tubuhnya dapat tegak tidak bergerak dan tidak kalah.

Sebaliknya Yauw Tjian Su agak tidak tahan serangan itu. tubuhnya tidak bisa melihat seperti Lo Kuay dari itu tubuhnya yang menuju ke belakang itu dengan cepat diputar membuat satu jungkiran besar. Menurut perkiraan biasa orang tua ini pasti kalah, karena sehabis jungkir tubuhnya pasti berada di belakang lingkaran sejauh tiga empat kaki. Tapi dalam hal ini ia mempunyai kepandaian yang cukup mengagumkan, begitu tubuhnya berada di udara kepalanya berada di bawah, sedangkan anggota bawahnya berada di atas, seperti merapung miring bagai burung layang layang.. Terdengar ia berseru sekali, tubuhnya dari udara mengeluarkan tenaga dan turun menukik menerjang bumi, lengan kanannya ke luar sambil menjulurkan jeriji telunjuknya, dengan tepat sekali jeriji itu jatuh di garis lingkaran, menyusul tubuhny berbalik masuk ke dalam lingkaran, sambil mengeluarkan angin yang keras tubuhnya sudah berdiri dengan anteng di tengah lingkaran lagi.. Hal ini dilakukan dengan cepat dan indah, sehingga membuat Lo Kuay berseru "bagus" "Apa bagusnya?" seru Yauw Tjian Su. "lain hari masih ada yang akan kupertunjukkan kepadamu! Sekarang aku tidak sempat lagi untuk menemani kau bermain!" belum bicara habis tubuhnya sudah berlalu. Orang tua ini mengetahui ilmu Lo Kuay tidak di sebelah bawah dari kepandaiannya, dari itu tidaK ingin kena di libat: sebaliknya Lo Kuay pun menganggap orang tua ini tidak dapat dibakal main, karena Itu ia tak mau menghadapinya dan dibiarkan seterunya itu kembali pulang.

Yauw Tjian Su menjadi bingung dan cemas memikiri keadaan buruk di pihaknya hanya semakin cepat, dan seperti terbang. Saat ini awan awan perlahan lahan tertiup angin pindah bergeser. Waktu ia hampir tiba di lereng puncak, awan awan itu sudah menipis sekali, mata mulai dapat memandang kembali sejauh dua tigapuluh depa.

Telinganya mendengar suara perkelahian, buru buru ia menuju ke tempat itu. dilihatnya seorang anak muda sedang mati matian melawan belasan dari Hweeshio Hweeshio. Pemuda itu bukan lain dari Tjiu Piau adanya. Ia tengah mengerjakan kakinya menerbangkan batu batu memaksa Hweeshio yang jumlahnya banyak ini tidak bisa mendekat kepada tubuhnya.

Hal ini baiklah kita lihat kembali sesudah Tjiu Piau jatuh terguling terguling. Ia cukup gesit begitu kakinya menginjak tanah tubuhnya segera mencelat bangun, di usap usap tubuhnva untung tidak menderita luka. Tiba-tiba dari jarak dua tiga tumbak terdengar suara Tong Leng. "Hai bocah mati tidak kau?"

Tjiu Piau bsrpikir: "Aku seorang diri, lebih baik aku pulang kembili dan tidak melayaninya." la diam tidak membuat gerakan atau suara, dengan bertameng kabut ia berjalan perlahan-lahan Tiba tiba menjadi kaget karena didepan matanya berkelebat seorang Hweshio yang membentaknya. "Bagus! kau mengantarkan diri sendiri untuk dibelenggu!" Sedangkan tangannya disembahkan mengeluarkan jurus Siam Wan Pay Gwat. Tjiu Piau lekas lekas mencelat ke belakang, hatinya berpikir, "Aneh, Hweeshio iai pasti bukan Tong Leng, tapi siapa," baru saja ia mundur beberapa tindak angin pukulan dari lawan sudah datang dari belakang! Ia menekuk kakinya dan melompat seperti kodok, dan menoleh ke belakang,kembali dilihatnya seorang Hweeshio, tapi bukan yang tadi.

Hanya paderi lain yang mengeluarkan ilmu pukulan Sian Wan Pay Gwat. Ia mengeluh dan tahu musuh sudah mempunyai barisan tersembunyi, untuk menangkap dirinya. Lebih lebih Hweeshio Hweeshio itu serupa benar pukulannya dengan Tong Leng tidak salah lagi mereka adalah murid murid dari Hweeshio gemuk itu. Tiba tiba terbit akalnya, tubuhnya dibungkuk bungkukkan jalan seperti kera. dengan cara ini ia dapat melihat orang terlebih dahulu sebelum lain orang melihatnya. Begitu tampak bayangan orang tangannya segera bekerja mengirimkan batu batu. sedangkan tubuhnya segera mencelat lagi ke samping bersembunyi di balik awan. Dengan caranya ini ia mutar mutar dan melihat kurang lebih delapan sampai sepuluh Hweeshio sudah dapat dilewatkan. Tapi sayang sekali walaupun akalnya baik. akan jalanan untuk kembali tidak di ketemukannya. lebih lebih sesudah berputar beberapa kali, segala arah angin sudan tidak dikenalnya. Hatinya sedikit gugup, tatkala mendetigar siulan panjang dari Kie Sau.

Kala ini angin berhembus membawa awan berlalu! keadaan semakin terang, sehingga keadaan sekeliling dapat dilihat dengan baik. Hal ini membuatnya semakin sukur untuk meloloskan diri. Hweeshio Hweeshio yang sudah letih bermain petak dengannya menjadi girang bisa melihat dirinya. Mereka segera maju mengurung Hweeshio Hweeshio ini adalah ahli ahli tenaga dalam sehingga serangannya cukup berisi, jangan dikatakan lagi pemuda ini pasti bukan tandingan mereka, sedangkan Tong Leng berdiri di samping sambil tersenyum dan mengomandokan murid muridnya untuk menangkap orang. Dalam gugupnya dikeluarkannya Bwee Hoa Tok Tju, sehingga sinar emas berkilauan menusuk mata. Dibentaknya paderi paderi itu dengan geram. "Mutiara beracun berada di tanganku, siapa yang bosan hidup boleh maju kesini!" Gerakan ini membuat sekalian Hweeshio terkejut dibuatnya mereka mundur agak jauh ke belakang dengan berbareng, sehingga lingkaran kurungan semakin besar.

Tjiu Piau loncat ketengah tengah lingkaran, begitu kakinya memijak tanah hampir hampir saja jatuh sebab kakinya menginjakbatu batu koral yang licin, akibat diri inimembangkitkan ingatannya kepada kepandaian kakinya. Dengan mutiara beracun sebagai senjata gerakan kakinya mulai menerbangkan batu batu kolar keempat penjuru. Batu batu yang kena tendangan itu berserabutan dengan dahsyatnya dan berhasil membendung serangan musuh yang besar, tapi hal ini hanya dapat dilakukan sementara Saja sebab batu batu yang berada di situ jumlahnya tidak berapa banyak, ia menjadi gelisah sekali, untunglah dalam keadaaa yaing genting ini Yauw Tjian Su keburu datang menolongnya.

Sambil memperhatikan jalannya perkelahian, orang tua ini berbicara sendiri : "Ilmu kakinya anak ini sebenarnya tidak lemah, tapi sayang sekali tidak mempunyai aturan, apa yang dilakukan hanya sembarangan saja. sehingga tidak berapa lihay. Kalau ia dapat mencipiakan aturannya dan jurus dari kaki ini, dirinya boleh menjagoi di kolong langit!" Orang tua ini semakin melihat semakin senang, kala ia mau memberikan petunjuknya bagaimana menyerang dan bagaimana bertahan, otaknya sadar dengan mendadak, paling betul lebih baik lekas lekas kembali ke atas untuk sekalian menolong anak anak yang lain. Dan itu ia segera membentak "Hei Hweeshio Hweeshio hentikan tanganmu!

Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk nenemani kalian Liam keng (membaca mantera)!" Kakinya maju melangkah ke dalam lingkaran dengan, seenaknya.

Hweeshio hweeshio itu tidak mengenal pada orang tua ini, dilihat laga orang yang semau mau ini dengan gusar. Tak dapat di hindarkan lagi kaki dan tangan bekerja maju merintang. Lo Yauw tidak memperdulikan sama sekali, setiap kaki lawan mengenai tubuhnya segera terpental sejauh satu tumbak lebih, hal ini membuat yang lain bengong dan memandang Tong Leng yang menjadi pemimpin, siapa tahu Tong Leng sudah sedari tadi membungkukkan badan memberi hormat ke Lo tjian pwee ini.

"Anak yang baik kau terhindar dari kematian, anakku ini sudah bermain dengan kalian setengah harian lebih, sekarang akan kuajak pulang, kau lepas atau tidak."

"Pasti, pasti kulepas!" jawab Tong Leng tergesa-gesa. "Enyahlah kau dari sini dan bawalah barisan kotakmu

itu!" sedangkan lengannya menarik Tjiu Piau untuk diajak berlalu. Tong Leng dan belasan anak buahnya sedikit juga tidak berani bergerak, ia tahu orang itu bukan tandingannya dari itu ia menghormat dan membiarkan berlalu.

Yauw Tjian Su dan Tjiu Piau dengan cepat kembali ke atas gunung, belum lama mereka berjalan sudah melihat dua saudara Ong yang tengah berkelahi dengan Bu Beng Nie. Walaupun mereka menggabungkan tenaga dengan ilmu Kong Sin Tjiang yang baik masih tetap tidak dapat mengalahkan lawan, perkelahian itu masih tetap seimbang. Kini kabut putih sudah berlalu, keadaan sekeliling sudah dapat dilihat dengan tegas, melihat keadaan begini sang Bikuni tertawa dengan dingin: "Budak kecil, kalian dapat melawan Lo nie dalam lima enam puluh jurus menandakan ilmu silat kalian sudah boleh juga. Tapi untuk bertanding lama lama aku tidak mempunyai cukup waktu, dari itu terpaksa aku harus menurunkan lengan jahat guna mempercepat jalannya pertandingan ini! Nah siaplah!"

Terlihat lengannya membuka Hud tju yang berada

di lehernya, mulutnya membaca mantera sambil menghitung mutiara mutiara dari rantainya, agaknya ia tidak menghirukan Ong Gwat Hee yang berada di belakang tubuhnya, tubuhnya menghampiri pada Djie Hay. Dari pertandingan tadi ia mengetahui bahwa anak laki laki ini berilmu lebih tinggi dari yang perempuan beberapa lipat, pikirnya asal dapat kukalahkan dahulu yang ini. satunya lagi sudah tidak menjadi soal. Tapi dasar nasibnya masih gelap, tanpa diketahuinya Yauw Tjian Su sudah berada di belakang tubuhnya. Djie Hay tidak tahu musuh akan mengeluarkan ilmu yang macam apa. diawasinya lengan bikuni yang memegang mutiaranya yang terbuat dari pada kumala hijau yang bernaas dan bersinar itu dengan tajam. Pikirnya rantai kumala itu adalah benda keras, kalau dijadikan senjata untuk menyerangku sungguh mengherankan dan agak ganjil, sesaat ini ia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, sedangkan kakinya melangkah ke belakang beberapa tindak. Pada saat inilah ia melihat datangnya Yauw Tjian Su dan Tjiu Piau sehingga hatinya jadi besar dan tambah semangat. baru saja ia akan memanggilnya serangan dari bikuni itu sudah sampai kedadanya, dirasainya serangan itu tidak mengandung tenaga yang terlalu hebat Dengan seenaknya rantai kumala hijau disampoknya dengan tujuan meminggirkan, tapi ia tidak mengetahui sampokan ini mengakibatkan sesuatu yang di luar dugaan.. Rantai itu bukan saja tidak kena dikepinggirkan, bahkan berbalik melilit lengannya dengan keras, diiring dengan tertawa yang dingin bikuni itu menarik rantainya, sehingga lawan tak kuasa mempertahankan

kuda-kudanya, tubuhnya terhuyung ke muka dengan keras, kalau sampai tubuhnya ini kena beradu dengan batu yang keras, pasti luka di dalam akan diderita. Tapi dalam kekagetan dan jeritan Gwat Hee, Djie Hay merasakan suatu tenaga yang besar menyelak masuk di antara batu batu dan tubuhnya, sehingga dirinya tersangga dan terluput dari bencana itu. Sedangkan kepandaian yang sudah lihay begitu mendapat pertolongan segera dapat menguasai lagi tubuhnya dan berdiri dengan tetap. Sebaliknya sang lawan menjadi keheranan, matanya menatap dengan mendelong kepadanya.

Tiba tiba didengarnya suara tertawa dari belakang tubuhnya. "Kenapa? Herankah?

Budak ini tetap bukan menjadi lawanmu, ia dapat menghindarkan kecelakaan yang kau buat berkat bantuanku." Sang bikuni merasakan suara ini datangnya dari tempat sejauh tiga kaki. tapi dirinya tidak mendengar suara dari langkah kaki orang itu, ia tahu tahwa kalau bukan Yauw Tjian Su tidak yang lain Tanpa menoleh ia berkata:

"Yauw Lo-tauw! Kenapa kau tidak turun tangan!" "Untuk apa memukul orang dari belakang, menang juga

tidak berarti. Terkecuali itu akupun tidak mempunyai waktu terluang untuk melayani kamu, lekaslah kau pergi!"

"Baik. kapan waktu ada ketika aku ingin menerima pengajaran darimu,"kata Bu Beng Nie dengan aseran dan bernada congkak. Sedangkan tubuhnya berlalu dari hadapan orang banyak tanpa menoleh lagi. Saat ini magrib sudah mendatang, cuaca sudah menjadi agak gelap.

Sesudah mereka berjalan beberapa tindak, terlihat oleh mereka dua saudara Wan yang seperti naga dan harimau galak melawan tiga laki laki berjubah merah, laki laki itu kira - kira berusia tiga puluhan tubuhnya mengenakan perhiasan yang berkilauan.

Sedangkan yang seorang berdiri di sampingnya memperhatikan jalan pertandingan, dua yang lain menggunakan rantai emas mengebut pergi datang dengan gila gilaan, sehingga dalam cuaca magrib senjatanya itu merupakan ular emas yang sedang menari nari. Dua saudara Wan sedikitpun tidak merasa gugup menghadapi mereka, dengan tubuhnya yang gesit mencelat dan molos di sela sela sinar emas, sehingga rantai itu tidak dapat berbuat apa apa pada diri mereka. Pergumulan ini sudah berlangsung sedari kabut putih berpencar. Hanya seorang yang tidak turun tangan, orang ini tak lain dari Kim DjuKie si Pangeran Berbaju Emas, sedangkan kedua orang yang bertarung dengan saudara Wan adalah Su tee nya. Sewaktu kabut masih tebal mereka berdiri di atas pohon sambil menyabetkan rantai emasnya, tidak heran kalau dua saudara Wan tidak dapat menemuinya. Sementara ini pertarungan berjalan semakin seru dan hebat, dua saudara Wan sudah dapat merangsak musuhnya dan menempatkan dirinya di atas angin. Tiba tiba Kim Dju Kie membuka mulutnya; "Hentikan tangan, kita setop pertandingan sampai di sini!" Dua saudara seperguruannya itu segera mencelat ke luar dari kalangan perkelahian. Sedangkan dua saudara Wan berdiri di samping lain sambil tersenyum mengejek

: "Begini saja Takut?"

"Saudara kecil, kita tokh sudah cukup lama bermain main, dari itu kami melepaskan kalian untuk pulang," habis berkata tubuhnya berlalu ke atas gunung, dua saudara Wan dengan cepat mengikuti dari belakang Kira kira sudah sampai di atas gunung, dari belakang batu besar berkelebat beberapa bayangan orang yang disusul dengan tubuhnya, orang orang ini adalah Hek Liong Lo Kuay, Louw Eng, Bok Tiat Djin dan lain lain.

Lo Kuay menunjuk kepada sekalian orang gagah dengan sombong dan tersenyum mengejek : "Bagaimana? Mau menerjang lagi? Dipersilahkan? Tapi ingat, suuggubpun kami tidak mempunyai pasukan besar dan ribuan kuda, tapi mempunyai cukup orang untuk melayani kalian melatih tenaga atau melemaskan urat urat!" Louw Eng yang diam di sampingnyapun tidak ketinggalan :

"Hari sudah malam, perut tentu sudah lapar sekali, kembalilah ke gunung untuk masak dan makan sepuas puasnya, sesudah tidur nyenyak semalam penuh esok boleh kembali lagi untuk bermain main lagi. Kalian tidak perlu kuatir nanti kami naik ke atas untuk mengganggu!" Mereka antara puncak dan lembah tak lama kemudian suara tertawa ini mendapat sambutan dari kawan kawanrya yang berada di jurang dan puncak sehingga seluruh gunung mi tengah tertawa.

Saat ini Tjiu Piau sudah lapar sekali, tambahan kena ejekan pihak lawan yang mengetahui bahwa persediaan makanan dari mereka tinggal sedikit sekali sehingga laparnya menjadi jadi, didekatinya Gwat Hee sambil berkata:

"Tahukah maksud dari Louw Eng?" "Tentu saji aku tahu." "Biar bagaimana kita harus mati matian menerjang

turun." "Untuk menerjang, harus berencana dan berdamai dengan yang lain." Tengah mereka bicara, terdengar kembali siulan dari Kie Sau. Yauw Tjian Su tidak tahan mendengar ocehan dari pihak lawan, mulutnya terbuka sambil berludah: "Cuehhr! Binatang busuk, jangan banyak sombong, besok kita berkelahi lagi sampai puas!" kepalanya menoleh kepada putera puterinya: "Anak anak mari kita pulang!" Lo Kuay tidak menjawab, hanya tertawa sambil menekan perutnya. Dengan perlahan lahan orang banyak kembali ke puncak gunung dengan perasaan tidaK tenang. Sesampai di puncak mereka melihat Kie Sau sedang menantikan sambil berduduk. Sesudah sekalian orang berduduk dengan baik. Kie Sau mulai mengeluarkan perkataan: "Coba periksa makanan masing masing masih cukup untuk berapa hari?"

"Anak anak dengar! Makanan tinggal dua hari lagi, karenanya kita harus berhemat betul betul untuk menjadikan tiga hari. Dalam tiga hari setindakpun jangan turun gunung!"

"Aku tahu memang kau mempunyai daya yang baik," kata Yauw Tjian Su, "selanjutnya tindakan apa yang akan kau ambil."

"Sebenarnya akupun tidak mempunyai daya apa apa, tapi dalam tiga hari ini masakan kita tak dapat memikirkannya untuk mencari jalan keluar?"jawab Kie Sau dengan meringis.

"Aku sudah tua, otakku sudah berkarat dari itu kalian saja yang memikir daya daya dan rencana untuk turun gurung."

"Tidak bisa biar bagaimana kami mengandalkan sekali bantuanmu ini!"

Yauw Tjian Su tersenyum tidak menjawab.

Pemuda dan pemudi sudah memusatkan pikirannya mencari daya yang baik untuk mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya kini. Keadaan menjadi sunyi, hanya suara daun Siong tertiup angin yang terdengar. Malampun sudah mendatang diiringi bulan bulat di balik gunung sebelah timur. Gwat Hee baru mengetahui bahwa Tju Siok siok dan Tju Sie Hong tidak berada dengan mereka, ia tahu mereka pasti sudah turun ke dalam goa untuk beristirahat. Tanpa berkata kata ia berlalu meninggalkan saudara saudaranya yang tengah berpikir keras untuk menuju kedalam goa. Tjiu Piau melihat, segera mengikuti dari belakang.