-->

Pahlawan Harapan Jilid 08

Jilid 08

Melepas senjata rahasia memakai kaki, hal ini sebenarnya sudah harus terpikir sejak dulu. tetapi kenapa tidak ada seseorang yang memikirinya?

Habis bicara kaki tangannya memeta seperti orang menari tarian rakyat, maka batu-batu itu beterbangan kena kakinya. Agaknya ia tertarik benar dengan ilmu melepas senjata rahasia dengan kaki ini.

Sesudah orang tua itu berjalan agak jauh, dengan tenang Tjiu Piau mengaji dan merenungkan kata-kata orang tua itu, Tjiu Piau mengambil kesimpulan bahwa kata-kata dan petunjuk petunjuk dari orang tua itu bermanfaat sekali.

Baru saja kakinya akan terangkat untuk melanjutkan latihannya, terlihat Gwat Hee berlari-lari sambil membawa sangkar burungnya.

Begitu melihat Gwat Hee orang tua itu merasa girang sekali.

"Ah, kau datang juga. Lekas kasih tahu di mana kita dapat menangkap burung semacam ini. Yu lekas-lekas kita pergi menangkapnya."

Sebaliknya Gwat Hee tetap ayal-ayalan.

"Jangan tergesa gesa, sebelum kau turut aku pergi menangkap burung, kau harus mempelajari beberapa macam ilmu. Kemudian baru dapat berhasil menangkap burung-burung semacam ini."

"Pelajaran apa yang harus dipelajari? Jangan yang berabe ya?"

"Kalau takut berabe pasti kau tidak dapat menangkapnya. Mari, mari ikut padaku!" Gwat Hee lari ke dalam pohon pohonan yang lebat, orang tua itu mengikuti dari belakang.

Tjiu Piau melihat Gwat Hee dan orang tua itu pergi ke dalam pohon yang lebat hatinya tidak tertarik untuk mengetahui. Ia terus saja berlatih dengan ilmunya itu. Gwat Hee mengajak orang tua itu sampai ke sebatang pohon yang besar sekali, mengeluarkan ilmunya untuk dilihat orang. Dengan pura pura merasa kaget dibanguninya orang tua itu.

"Kau tidak bisa memanjat, baiklah! Lihat dan perhatikan caraku memanjat!"

Dengan cepat Gwat Hee memeluk batang pohon Tubuhnya mengangsrot angsrot naik ke atas. Lengan dan kakinya silih berganti dikendorkan, sedangkan tubuhnya semakin lama semakin tinggi. Dalam sekejap saja . ia sudah sampai setinggi empat lima tambak, Gwat Hee sedari kecil biasa melakukan permainan anak laKi laki. Tak heran ilmu naik ke pohonpun sangat mahir, tambahan ia sudah mempunyai ilmu dalam yang baik, tubuhrya kecil dan lincah. Karenanya cara naik pohon ini berlainan dengan orang biasa. Orang tua itu sedari tadi menganggap Gwat Hee tidak lebih tidak kurang sebagai bocah yang masih ingusan, siapa kira ilmu memanjatnya demikian cepat dan ringan, sehingga tidak menggoyangkan sehelai daun yang halus daii pohon cemara itu.

Orang tua ini merasa heran, matanya terbuka lebar lebar untuk mengawasi orang menaik ini.

"Kau turun. Lekas turun. Perlihatkanlah sekali lagi kepadaku ilmu memanjat ini!"

Dengan cara yang sama Gwat Hee merosot turun secara cepat. Dengan tersenyum bangga ia berkata:

"Apa kau merasa tunduk dengan ilmuku ini? Aku masih mempunyai ilmu yang bisa mengejutkan orang, kau lihat!" Segera ia lari ke bawah pohon, dengan satu kali enjotan badannya sudah berada di atas pohon, jika dibanding dengan ilmu yang pertama lebih cepat sepuluh kali tikel. Tubuhnya kelihatan sebentar merapat dengan batang pohon sebentar lagi molos diantara. cabang pohon. Dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada di puncak pohon. Orang tua itu kegirangan, dan tidak hentinya mengucapkan "bagus." Orang tua itu sadar bahwa anak muda ini bukan orang sembarangan, tapi ia tidak sempat untuk memikirkan ini, karena hatinya lebih banyak tertarik dengan ilmu Gwat Hee naik ke atas pohon.

"Ilmunya ini walaupun tidak memadai ilmu mencelat dari golongan kelas utama, tapi mempunyai keistimewaan sendiri Ilmu mencelatku paling tinggi hanya lima enam tumbak. Misalkan ketemu pohon yang terlalu tinggi tidak dapat sekaligus sampai ke atas, kalau mau menginjak cabangnya yang kecil dengan sendirinya ranting ranting itu tidak kuat untuk diinjak. Waktu itu, ilmu bocah ini lebih cepat lagi, dapat dihitung semacam kepandaian yang luar biasa," pikir hatinya.

Gwat Hee sudah tarun kembali, waktu di lihatnya orang tua itu berdiri terbengong-bengong. Ia mengurungkan untuk bertanya tentang ilmunya ini baik atau tidak. Orang tua itu masih terbenam terus dari lamunannya setengah jam lebih, sedangkan Gwat Hee berdiri di sampingnya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata.

Senyum gembira perlahan lahan menghiasi bibir orang tua itu. Mulutnya terbuka dibantu dengan gerakan gerakan tangannya ia ngoceh sendiri: "Sungguh suatu pendapat yang bagus sekali, bagusss sekali. Sayang waktu dulu aku tak dapat memikirnya. Ah! Kenapa dulu iku tidak dapat memikirnya!! ! " Matanya melirik pada Gwat Hee. "Siau ko kau turutlah padasu!" Mereka segera pergi ke dalam pepohonan yang rimbun sekali.

Mereka hilir mudik di dalam hutan itu selama setengah jam lebih, akhirnya orang tua itu berhenti di bawah pohon yang besar sekali. Pohon itu lebih kurang tiga pelukan orang dewasa tingginya kurang lebih lima puluh depa.

"Kau lihat." kata orang tua itu kepada Gwat Hee. "Di sini ada sebatang, di sebelah sana ada pula sebatang. Dua pohon demikian tingginya. Apakah kau sanggup untut memanjatnya?"

Gwat Hee menghitung di dalam hatinya, bahwa jarak antara pohon yang pertama dengan pohon yang kedua sejauh lima enam tumbak,

"Ya, akan kucoba," kata Gwat Hee dengan sungguh sungguh. Dengan ilmunya yang serupa tadi Gwat Hee sudah mulai memanjat, dalam waktu singkat tubuhnya sudah di tempat yang tinggi. Tak lama kemudian Gwat Hee sudah kembali lagi di bumi dengan tidak Kurang suatu apa. Orang tua itu tetap memandang ke atas. seolah olah tidak melihat gerakan turun dari Gwat Hwee. Hanya mulutnya kemak kemik berkata. "Lambat sekali, kenapa kru tidak mempertunjukkan ilmu kenandaianmu yang sejati?"

"Ya, aku hanya dapat memanjat dengan kecepatan demikian. Dapatkah kau memanjat terlebih cepat dariku untuk diperlihatkan kepadaku?"

Terang-terang kau mempunyai ilmu yang baik, kenapa tidak kau perlihatkan kepadaku?"

Biar bagaimana Gwat Hee adalah anak gadis yang pndai, kata-kata orang tua itu membuat hatinya gugup. Hatinya berpikir. "Aku sudah memperlihatkan segala

kemampuanku yang terbaik, tapi masih dikatakan aku belum mengeluarkan ilmu yang sejati. Bukankah dengan kata ini ia mengatakan aku bodjie (tolol )?"Mulutnya ingin mengeluarkan beberapa patah kata, tapi semuanya kandas di tepi bibirnya.

"Kau ingin aku memperlihatkan ilmu yang lebih baik? Katakanlah yang bagaimana, aku sendiri merasakan tidak mempunyai cara lain yang terlebih baik dari ilmuku yang tadi itu "

"Waktu kau mengundurkan lengan dan mengangsrot ke atas kenapa tidak kau tenaga itu ditambah dengan sendirinya kau bisa mengangsrot terlebih tinggi dari angsrotanmu tadi, bahkan dengan cara ini kau bisa manjat terleoih cepat?"

Gwat Hee mendengari petunjuk dari orang tua itu dengan tenang. Hati kecilnya mempelajari dan menimbang nimbang kata-kata orang tua itu. Bulak balik ia berpikir tetap merasa tidak sanggup. Dari itu dengan hati-hati sekali ia menjawab: "Pak, kau harus tahu nku tidak mempunyai tenaga yang demikian besar untuk melakukan itu, dapatkah kau mengajarinya kepadaku?"

"Kenapa kau merasa tidak mampu? Dapatkah kau jelaskan kepadaku?"

"Pohon ini demikian tinggi dan tegak berdirinya. Dengan sendirinya kaki dan tangan tidak dapat mengeluarkan tenaga untuk mengenjot tubuh ngangsrot ke atas Misalkan dipaksakan juga terpaksa kedua kaki dan tangan harus terlepas dari batang pohon. Kaki dan tangan tak mempunyai pegangan sesampainya di atas, bukankah dengan cara demikian bisa jatuh terbanting ke bawah.?"

Orang tua itu menunjuk ke batang pohon satunya lagi sambil berkata: "Ya, memang jadi miring dan terlepas dari batang pohon itu, tapi kau bisa menjambret pohon satunya lagi." Kata orang tua itu agaknya serampangan saja. Tapi untuk Gwat Hee yang cerdik sudah cukup dimengerti dengan baik maksudnya orang tua itu. Dengan girang ia berkata, "Terima kasih banyak atas petunjukmu itu pak." Habis berkata tubuhnya segera mencelat ke atas pohon setinggi satu depa, kedua kakinya menotol batang pohon itu dengan keras, tubuhnya terbang miring ke batang pohon satunya lagi. Sesampai di batang pohon kakinya ditekuk untuk menjejak batang pohon dengan mendadak dan cepat, tubuhnya membal kembali ke pohon yang semula setinggi satu depa lagi, Gwat Hee bulak balik diantara dua pohon itu dengan ilmu itu dalam waktu sekejap ia sudah berada di tempat yang tertinggi dari pohon tersebut, sedangkan kecepatannya melebihi caranya yang semula satu setengah kali.

Dari tempat tinggi Gwat Hee memandang ke empat penjuru, keluasan alam dan langit yang tidak ada batasnya membuat hatinya berpikir. "Ilmu itu tak ada batasnya, seperti luas raya alam. Lebih lebih ilmu silatku masih terhitung biasa, tapi dengan didapatnya ilmu ini secara kebetulan aku dapat naik ke segala pohon atau tebing yang tinggi asalkan saja terdapat pohon atau tebing yang tidak berjauhan. Ah. kakakku mempunyai kepandaian yang lebih dalam dari kepandaianku, kalau nanti kuceritakan hal ilmu ini kepadanya tentu dapat mempelajarinya terlebih baik dariku. Aku kuatir dalam sekali tarikan napas ia bisa terbang ratusan cm tingginya!" Saat inilah Gwiat Hee dikejutkan suara burung yang merdu. Burung itu tidak berapa jauh dari tubuhnya. Warnanya sama dengan burung yang dibelinya di pasar. Dalam girangnya Gwat Hee berpikir: "Aku harus membalas budi orangtua itu. dari itu aku harus menangkap beberapa ekor burung yang disenangi ini." Pikirannya itu segera tubuhnya mencelat sejauh dua tumbak. tangannya terjulur menyergap burung itu.

Gerakan Gwat Hee ini tidak ubahnya seperti jalannya anak panah yang pesat sekali. Tapi burung itu lebih gesit lagi. Baru saja tangan Gwat Hee akan berhasil menangkap entah bagaimana burung itu hilang dati pandangan, sehingga Gwat Hee menangkap angin. Gwat Hee berjumpalitan untuk membetulkan tubuhnya dan mengawasi ke sekeliling. Mana dan di mana ada burungku? Sedangkan bayangan bayangannya saja tak kelihatan.

Burung ini demikian lincah dan gesit sekali. sewaktu ia mengetahui akan ditangkap sekali kali tidak terbang, sebaliknya molos ke dalam tubuh orang melalui lengan baju terus ke ketiak dan sampai di punggung, Tak heran Gwat Hee tak dapat menemukannya.

Tubuh Gwat Hee yang makin ada di udara itu kembali jumpalitan untuk hinggap di cabang pohon. Tapi tak terkira sekali ia gagal. Matanya entah kenapa merasa kabur, pandangannya menjadi gelap Sedang kepalanya pening dan tak sadarkan diri, tubuhnya jatuh tanpa dirasa lagi!

Orang tua itu sedang merasa girang dengan hasilnya pemuda yang menurut petunjuknya itu. Tiba tiba dilihatnya pemuda itu berjumpalitan di atas udara, menunjukkan sebagai seorang berilmu yang tidak rendah. Hatinya berpikir untuk meraba raba Gwat Hee itu murid siapa. Tiba tiba dilihatnya Gwat Hee jatuh dari atas, orang tua itu menjadi kaget. Buru buru tubuhnya mencelat untuk menolong, Gwat Hee dapat diselamatkan, akan tetapi mukanya sudah pucat sekali. Matanya meram dengan napasnya yang sudah menjadi lemah sekali lekas lekas Gwat Hee diletakkan di tanah untuk diperiksa nadinya. Orang tua itu merasa heran, karena ia merasakan bahwa Gwat Hee menderita penyakitnya berat yang diakibatkan sesuatu pukulan keras.

Tapi di sekeliling tidak terdapat bayangan orang. Orang tua itu jadi berpikir keras mengenai pemuda ini yang tadi berada di tempat yang tinggi sekali, biar orang yang bagaimana tinggi kepandaiannya juga tidak mungkin dapat mencelat setinggi itu untuk melukakannya demikian hebat. Dengan hati hati diteruskan pemeriksaannya terlebih lanjut. Alhasil ia dapat mengetahui bahwa pemuda itu sudah menderita luka sebelum naik ke atas pohon, sakitnya itu belum sembuh betul. Dengan mencelat dan jumpalitan mengeluarkan teaaga terlalu banyak sehingga penyakitnya kambuh kembali. Penyakitnya ini walaupun tidak meminta jiwa tapi orang tua itusangat kuatir, kepalanya digoyang- goyangkan tanpa merasa. Pemeriksaan orang tua itu memang sedikit juga tidak salah, sebab Gwat Hee sesudah kena pukulan lengan Louw Eng dan menderita luka parah, betul sudah diobati Kie Sau, akan tetapi penyakitnya belum sembuh betul. Barusan sebab terlalu girang ia tidak merasakan sesuatu akan penyakitnya itu, sehingga ia mengeluarkan terlalu banyak tenaga dan akibatnya jatuh ke muka bumi tanpa sadarkan diri.

Tidak lama kemudian Gwat Hee siuman dari pingsannya, ia merasakan seperti hidup kembali dari suatu kematian.

Matanya terbuka, dilihatnya orang tua itu dengan penuh perhatian berada di samping tubuhnya. Gwat Hee ingin berdiri, tapi tubuh itu terasa lemas dan tak berdaya.

"Nona kecil kau jangan bergerak! Telan lah tiga butir pel ini dahulu, baru bicara." Kiranva begitu orang tua ini memeriksa nadi Gwat Hee sudah mengetahui bahwa pemuda ini sebenarnya adalah seorang nona yang menyamar. Karenanya tidak ragu ragu untuk memanggil Gwat Hee dengan sebutan nona. Sesudah Gwat Hee menelan pel pel itu segera tertidur dengan nyenyaknya.

Sewaktu Gwat Hee akan pulas ia merasa kan sesuatu yang nyaman. Seluruh urat dan jalan darahnya terasa longsong, pikirannya terasa jernih. Gwat Hee berpikir : "Heran? mungkinkah aku akan mati! Kenapa aku mempunyai perasaan demikian yang belum pernah kualami, ia mimpipun belum pernah demikian nikmatnya!" Tapi belum pikirannya dapat diutarakan kepada orang tua itu ia sudah jatuh pulas terlebih dahulu. Orang tua itu merasa girang melihat Gwat Hee tertidur dengan nyenyak, Sudut bibirnya mengeluarkan senyuman dari kepuasan.

Diperiksanya nadi Gwat Hee sekali lagi. kepalanya manggut manggut, mulutnya bicara sendiri: "Sungguh menyusahkan gadis ini, di sebabkan ingin menangkap burung untukku sehingga menimbulkan kekambuhan dari penyakitnya ini.

Tapi tidak mengapa sebab lukanya ini kalau tidak diobati pasti pada suatu ketika akan kumat lagi. Lebih lebih kalau kekumatan ini terjadi waktu bertarung lantas pingsan bukankah mencelakakan akan dirinya? Tapi gadis ini sungguh mengherankan sekali, begini muda usianya sudah mempunyai kepandaian yang hebat juga. Terang-terang lukanya ini diderita dari pukulan seseorang yang berilmu lebih tinggi darinya! Kenapa tidak mati? Lagi pula aku tidak mengetahui murid siapakah dia? Biarlah sesudah ia terjaga dari tidurnya akan kucoba barang sejurus untuk mengetahui dari cabang perguruan dari mana gadis ini berasal "

Sambil bicara sendiri dilepaskannya kain panjang yang melibat di pinggangnya. Di keluarkannya sebuah bungkusan kecil, dengan hati hati dibukanya. Apa yang berada didalamnya yakni semacam pel yang serupa dengan yang diberikan kepada Gwat Hee. Dihitungnya pel yang tinggal enam butir itu. Orang tua itu kembali bicara seorang diri. "Enam butir pel ini hanya bisa menyuruh dia tidur lagi selama dua hari. Tapi untuk menyembuhkan seluruh penyakitnya tidak bisa tidak harus menyuruhnya tidur selama tujuh hari tujuh malam. Orang tua, ya aku orang tua biar bagaimana harus berdaya untuk mengobati gadis ini sampai sembuh betul."

Orang tua itu melihat burung Gwat Hee yang masih berada di dalam sangkar dengan perasaan sayang. Hatinya berpikir, ah, sebab burung ini gadis itu menderita kembali lukanya secara begini. Lebih baik kulepas saja. Dibukanya sangkar itu dan disuruhnya burung itu terbang untuk mendapatkan kembali kebebasannya. Dengan penuh kegirangan burung itu terbang berputar putar kemudian baru terbang menjauh. Sebaliknya kita tengok dulu Tjiu Piau yang tengah melatih diri.

Sesudah senja ia kembali ke penginapan. Sesampainya di pemondokan haripun sudah jauh malam. Hoa San Kie Sau pun baru habis melatih diri. Nasi sudah dihidangkan. Dua orang ini menantikan kembalinya Gwat Hee untuk makan malam. Siapa tahu tunggu punya tunggu Gwat Hee belum juga pulang, dari itu mereka makan terlebih dahulu. Kedua orang ini masing - masing diliputi perasaan cemas tak keruan. Pertama-tama mereka mengira Gwat Hee melupakan waktu untuk menuntut ilmu. Tapi sampat jauh malam masih belum kelihatan ia kembali, sehingga kekuatiran mereka bertambah-tambah. Sehingga mereka berpikir Gwat Hee ketemu orang jahat dan menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Hoa San Kie Sau tidak sabaran lagi untuk menunggu. Diajaknya Tjiu Piau sebagai petunjuk jalan dan terus pergi menyusul untuk mencarinya. Tjiu Piau ingat di mana Gwat Hee masuk ke pepohonan yang lebat itu. Tapi disebabkan mengurus dirinya saja melatih diri, sehingga tidak tertarik untuk melihat keadaan mereka. Saat ini kedua orang ini ubak ubakan di dalam hutan tanpa mengeluarkan suara. Waktu berlalu terus.

Gwat Hee belum kena dicari. Tak lama kemudian haripun segera akan menjadi terang. Tiba tiba dari jarak jauh mendatang suara nyanyian yang merdu sekali. Suara ini semakin lama semakin dekat. Dengan penuh perhatian kedua orang ini memasang telinganya. Dengan suara perlahan Kie Sau berbisik di telinga Tjiu Piau; "Ini adalah suara burung Gwat Hee yang ungu itu!"

"Ya, benar," kata Tjiu Piau, "tapi bukan suara seekor, agaknya banyak sekali."

Kala ini fajar menyingsing dari timur, gumpalan awan ungu yang terang mendatang dari arah timur juga. Awan ini semakin lama semakin rendah terbangnya Oh kiranya bukan awan dari angkasa, melainkan adalah ribuan burung kecil berwarna ungu. Burung burung ini sesudah terbang melewat Kie Sau dan Tjiu Piau segera menuju ke barat daya. maka kedua orang ini berbareng mengangkat kaki menuju arah itu.

Mereka terus mencari jejak Ong Gwat Hee tanpa berhasil. Mereka memutari sebuah bukit Kecil di sini mereka melihat kembali burung burung ungu yang merupakan gumpalan awan itu. Barung burung itu berputaran tak

henti-hentin va di atas pepohonan yang rimbun. Di hutan itu terlihat dua batang pohon yang menjulang tinggi mencakar angkasa. Kedua orang itu tercengang melihat pemandangan yang luar biasa ini. Sementara itu burung burung itu sudah berhenti tidak berkicauan lagi. Tapi masih terus berputar mengelilingi pohon raksasa itu. Semakin lama semakin cepat burung burung itu berputar - putar.

Kemudian hinggap dengan cepatnya ke dalam cabang cabang pohon dan hilang tidak kelihatan.

"Lekas kita ke sana," kata Hoa San Kie Sau. "Burung burung itu berputar putar di situ, mungkin Yauw Tjian pwee berada di situ untuk menangkapnya beberapa ekor!" Kedua orang ini segera lari dengan pesat masuk ke dalam hutan. Dari jauh mereka melihat seseorang tengah terlentang di bawah pohon yang besar itu.

"Nah, itu Gwat Hee !'" seru Tjiu Piau kegirangan.

Memang tidak salah orang itu Gwat Hee adanya. Mereka mempercepat tindakannya menuju ke tempat Gwat Hee berada. Hoa San Kie Sau mengawasi Gwat Hee tengah tidur nyenyak. Wajahnya menunjukkan tengah tidur dengan tenang, di balik parasnya yang pucat terdapat sinar semu merah. Kie Sau memeriksa jalan darahnya walaupun denyutan nadinya itu agak lemah, jalannya sang rata.

"Denyutan nadi Gwat-djie agak lemah, tapi teratur.

Seperti sakit tapi tidak. Terkecuali itu ia bisa tidur di dalam hutan ini dengan begini nyenyak. Sungguh mengherankan sekali dan tidak dapat kumengerti," kata Kie San dengan heran.

"Coba banguni dan tanyai kepadanya," kata Tjiu Piau. "Oh, jangan biarlah ia menikmati tidurnya ini!" Dua

orang ini selanjutnya duduk di samping tubuh Gwat Hee untuk beristirahat keletihan mereka semalam suntuk ini membuat Tjiu Piau merapatkan mata dan tertidur nyenyak, sedangkan Hoa San Kie Sau tetap diam diri memelihara semangatnya.

Entah berapa lama sudah berlalu. Waktu Tjiu Piau membuka matanya terlihat orang tua itu sudah berada di antara mereka. Tjiu Piau tergesa - gesa bangun dan memberi hormat. Seruan Tjiu Piau ini membuat Hoa San Kie Sau membuka matanya. Hatinya kaget dan berkata secara diam. "Kepandaiannya Lo Yau (si Yauw tua) ini sungguh luar biasa sekali." Sebelum Hoa San Kie Sau sempat membuka mulut, orang tua itu sudah tertawa terkekeh-kekeh terlebih dahulu.

"Nio Lo tee ini murid kau bukan?" tanya orang tua itu sambil menunjuk pada Tjiu Piau.

"Yauw Tjian pwee, yang tidur ini barulah ada muridku yang tak berguna."

Jawaban itu di luar perkiraan orang tua itu. Kembali ia tertawa: "Ah Lo tee, kepandaianmu sungguh bagus, sehingga dapat mengajar seorang murid yang cakap seperti dia...Apakah yang terjadi atas dirinya sehingga ia menderita luka yang demikian hebat?" Dengan singkat Hoa San Kie Sau menuturkan hal yang dialami Gwat Hee. Kemudian Tjiu Piau diperkenalkan. "Oh, kalau demikian kita masih orang serumah!" kata orang tua itu. Hoa San Kie Sau dan Tjiu Piau tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan orang serumah itu. Kie Sau meminta keterangan tentang hal Gwat Hee pada orang tua itu. Orang tua itu dengan singkat menerangkan; ''Setiap orang yang makan obatku segera akan tidur nyenyak. Seharusnya ia mesti tidur selama tujuh hari tujuh malam. Sayang aku belakangan ini menjadi malas, sampai pelku hampir habis belum membuatnya lagi. Yang tertinggal hanya sembilan butir, dan hanya dapat menyuruhnya tidur selama tiga hari tiga malam saja, sehabis minum sebanyak sembilan butir ini sebenarnya tidak seberapa berguna, paling banter kesehatannya dapat dipulihkan seperti penyakitnya belum sembuh."

"Lo Tjian pwee, dapatkah resepnya di berikan kepadaku?", tanya Tjiu Piau dengan Cepat.

"Caranya dapat kuberikan kepadamu. tapi obat-obat yang dibutuhkan untuk membuatnya tidak cuKup dalam tiga lima hari didapatnya. Cara membuatnya dapat diselesaikan dalam waktu sepuluh sampai lima belas hari. Tapi kalian tidak perlu gelisah sebab bocah ini mujur sekali, yakni ada sesuatu benda yang tak ternilai harganya masih dapat menyembuhkannya."

Tjiu Piau mendengar adanya semacam benda yang langka, membuka matanya lebar-lebar. Orang tua itu mengeluarkan sebuah cangkir kecil yang digunakan Gwat Hee untuk memberi minum burungnya. Di dalam cangkir itu tidak berisi air melainkan cairan yang berwarna ungu, entah benda apa itu adanya.

"Bukan saja kalian belum pernah melihatnya, akupun baru pertama kali melihatnya. Dahulu menurut orang orang tua punya cerita, di antara bumi dan langit ini terdapat sejenis burung yang dinamai walet sakti yang kecil dan cerdik, warnanya ungu mulus harganya tak ternilai. Walet sakti ini bisa mengeluarkan cairan ungu yang harum dan berkasiat untuk menyembuhkan segala macam penyakit.

Sungguh di luar perkiraan bocah ini bisa mendapatkan walet sakti ini. Kemarin aku melepaskan burung itu, hari ini ia mengundang ribuan dari teman temannya datang ke sini. Aku mencoba membawa cangkir ini naik ke atas pohon, di luar perkiraan burung burung itu satu demi satu mengeluarkan liurnya ke cangkir ini. Kamu lihat inilah liur harum dari ribuan ekor walet sakti itu. Kalian harus menjaga bocah ini baik baik. Berikanlah obatku dulu untuk menidurkan ia selama tiga hari tiga malam, kemudian baru berikan liur harum dan walet sakti ini. Dengan cara ini tidak perlu dikuatirkan sakitnya itu tidak akan sembuh. Bahkan sesudah sembuh tubuhnya itu akan terlebih sehat dan terlebin kuat dari pada sebelumnya memakan obat ini." Tjiu Piau buru buru menerima obat obat itu. Orang tua itu memandang Tjiu Piau dan berkata pada Hoa San Kie Sau. "Lo tee, lebih baik Siau ko ini kau terima juga sebagai muridmu! Ilmu kakinya melepas senjata sungguh menyerangkan sekali. Carilah tempat yang baik untuk membimbing dan mendidiknya, aku jamin ia akan berhasil dengan gemilang sekali. Terkecuali itu menerima murid semacam dia ini pasti tidak akan memalukan!"

'Jika dihari kemudian ia mendapat kemajuan, ia harus mengucapkan sukur dan terima kasih kepadamu, sebab semua ini adalah jasamu."

'Bagus, bagus kau melulusi untuk menerima dia

sebagai murid!" Tjiu Piau buru buru buru maju ke depan Kie Sau untuk memberi hormat, dan memanggil "Soe hoe." Sewaktu orang orang sibuk menjalankan kehormatan sebagai murid dan guru. Orang tua itu mengencangkan kain pengikat pinggangnya, dengan tenang ia berlalu. Dua murid berguru itu berdiri dengan hormat mengantar kepergian orang tua itu dengan sinar matanya,

"Sampai ketemu pula. tak lama lagi kita kembali bertemu!" kata orang tua itu sambil melambai-lambaikan tangannya. Sementara itu kakinya melangkah semakin cepat, Kemudian tubuhnya lenyap di balik pohon pohon yang rimbun, Kemudian Kie Sau berpaling pada Tjiu Piau: "Piau djie kau harus mengingat petunjuk petunjuk dari Yauw Tjian pwee itu pelajarilah terlebih giat ilmu itu." "Aku masih membutuhkan banyak petunjuk dari Soe hoe juga."

Dua guru bermurid ini kelihatannya senang sekali Kiranya sesudah Kie Sau berkumpul dalam beberapa hari dengan Tjiu Piau, di dalam hatinya timbul rasa sayang dan ingin menjadikan Tjiu Piau sebagai muridnya.

Demikian juga dengan Tjiu Piau sudah mempunyai niat untuk berguru kepada Kie Sau sewaktu di Ban Liu Tjung. Hanya keduanva belum bisa membuka mulut untuk mengutarakan pikirannya, kini mendapat bantuan dari Yauw Tjian-pwee dengan sendirinya mereka merasa girang.

"Di sini, tidak berapa leluasa untuk berlama-lama, mari kita pulang." kata Kie Sau. Tjiu Piau lengannya belum sembuh betul.Dari itu Gwat Hee harus dipondong oleh Hoa San Kie Sau.

Ketiga orang itu kembali pulang ke dalam kota kecil. Mereka mengatakan habis mengajak Gwat Hee berobat, karenanya tidak seorangpun merasa curiga atas kepergian mereka semalaman penuh.

Gwat Hee tertidur sampai malam hari baru bangun.

Dilihatnya sang guru dan Tjiu Piau berada di sisanya, hal ini membuatnya merasa heran. Tjiu Piau menuturkan hal ikhwal ini kepada Gwat Hee.

"Tak kukira burung ungu itu adalah walet sakti, kapan hari kalau ketemu burung-burung itu harus baik-baik memperlakukannya, baru betul !"

Sesudah dahar Gwat Hee meminum obat Yauw Tjian pwee lagi, sesaat kemudian kembali ia tidur nyenyak. Hal ini berturut turut sudah dilakukan tiga hari lamanya.

Sehingga kesehatannya sudah pulih kembali seperti semula. Tapi mereka tidak berani mengabaikan pesan dari orang tua itu. Gwat Hee diberinya minum liur harum dari walet sakti itu sedikit sedikit setiap harinya. Sepuluh hari kemudian liur harum itu sudah habis minum. Gwat Hee merasakan kian hari kian bersemangat dan sehat. Kie Sau melihat sakitnya Gwat Hee dan Tjiu Piau sudah sembuh betul. Dari itu diajaknya mereka berdamai untuk pergi ke Oey San gunanya mencari tempat yang baik untuk melatih kepandaian. Tentu saja kedua orang itu menurut saran gurunya. Keesokan harinya mereka meninggalkan kota kecil itu untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka singgah sebentar di Gui Tju Hu.

Di situ terdapat gunung yang bernama Pek Gak San. Di sinilah Tjiu Piau dan Gwat Hee memperdalam ilmu silatnya di bawah penilikan Hoa San Kie Sau. Malam hari mereka tidur di gua, siang hari melanjutkan latihannya.

Adapun letaknya Pek Gak San tidak berjauhan dengan Oey San. Mereka menunggu untuk mendaki Oey San sambil berlatih terus. Kedua lengan Tjiu Piau sudah banyak baikan, tapi belum bisa digunakan seperti masa sehatnya, mengenai ilmu kakinya itu setiap hari dilatih terus dengan giatnya. Hari itu Tjiu Piau dan Gwat Hee tengah asyiknya melatih diri, tiba-tiba Tjiu Piau menghentikan latihannya dan duduk di bawah pohon dengan mata mendolong kaya orang tolol. Sudah lama juga ia terbenam dalam lamunannya, kemudian loncat bangun sambil berseru kegirangan: "Aku sudah menyadari! Aku tahu!'* Gwat Hee melihat ia kegirangan demikian macam segera loncat turun dari atas pohon.

"Api yang kau sudah sadari, dan ketahui?" tanyanya dengan heran.

"Yauw Lo Tjian-pwee pernah mengatakan kepadaku. Kau harus dapat membidik seekor lalat seperti seekor kerbau.

Kini aku sudah mendapatkan caranya ini!"

"Kalau begini kau sudah mendapatkan batas yang dikehendaki Yauw Lo Tjian pwee bukan? Tentu ini batas yang sukar dan tidak mudah untuk didapat oleh sembarang orang! Coba kau ceritakan kepadaku apa yang kau sudah sadari itu."

Tjiu Piau memusatkan pikirannya. Agaknya ingin mengingat dan mencatat dengan baik apa yang sudah disadari itu. Sesaat kemudian baru ia bicara:

"Begini, barusan aku mengambil lancah yang terdapat di pohon itu sebagai bulan-bulanan dari batuku."

Gwat Hee melihat ke tempat arah yang ditunjuk Tjiu Piau, tampak sebuah sarang laba labah yang sudah rusak. "Batuku yang pertama hanya dapat merusakkan sarangnya, sedangkan lancah-lancah itu tengah merayap pergi, sehingga batu pertama gagal. Sesudah itu lancah-lancah itu mundar mandir di atas jaringannya itu. Menyukarkan untuk membidikrya. Terpaksa aku membuka mataku lebar lebar dan kuperhatikan gerak geriknya dan menantikan dia diam secara tenang. Sesudah aku menatap demikian lamanya, tiba tiba kurasakan sesuatu yang aneh, labah labah itu semakin lama semakin besar, baru baru sebesar kepala, terus sebesar kura - kura kemudian berubah pula menjadi sebesar kerbau. Tatkala mataku melihat lancah yang sebesar kerbau itu. mataku seolah- olah tertutupnya dan tidak melibat lagi keadaan sekeliling, apa yang kulihat melulu lancah itu. Aku kegirangan dapat mencapai batas yang diberikan Yauw Lo Tjian-pwee itu. Sehingga membuat perhatianku terpencar, begitu buyar akan pikiranku kembali aku dapat melibat lagi keadaan dunia yang luas ini.

Sedangkan labah labah itu kembali berubah menjadi kecil lagi."

Ong Gwat Hee mendengarkan perkataan Tjiu Piau dengan penuh perhatian, dengan kepintarannya yang luar biasa itu ia dapat menyadari dan memahami sebab- sebabnya itu. Saat ini Gwat Hee sudah tak tahan untuk mengutarakan pendapatnya.

Kata - kata Tjiu Piau dipotongnya di tengah jalan: "Aku sudah mengerti akan hal itu. Yakni waktu kau

mencurahkan perhatianmu pada labah - labah itu, matamu hanya melihat itu saja, sehingga dunia dan alam yang luas ini seolah olah tertutup oleh labah labah itu. Tak heran labah labah dalam matamu itu menjadi sebesar kerbau.

Kerbau bisa sebesar dunia, betulkah begitu?" "Benar! Benar! Memang demikian. Tadi aku duduk menyandar di bawah pohon untuk beristirahat. Demikian juga benda menjadi kecil kalau ada benda lain yang lebih besar. Dalam diamku aku mendapatkan sesuatu yang menjadi pertanyaanku selama ini. Yakni adanya benda besar dan kecil semata mata hanya dari perbandingan saja. Kalau mata kita tidak melihat kerbau tentu tidak merasakan labah labah itu Kecil adanya. Kalau mata memandang sebuah gunung maka kerbau itu menjadi kecil. Disebabkan riai ini seekor kerbau tidak mudah untuk di kenakan batu, sebaliknya kalau kita memusatkan perhatian pada seekor labah-labah labah-labah itu bisa memenuhi mata kita. karenanya mudah untuk dikenakan." mendengar ini Gwat Hee tidak henti hentinya menganggukkan kepalanya.

Tiba-tiba Tjiu Piau meloncat bangun sambil berseru: "Sekarang aku dapat menghajar seekor labah-labah semudah membalikkan tangan, lihatlah percobaanku ini!"

Tjiu Piau mengangkat kakinya matanya penuh perhatian kepada labah labah yang tengah merayap ke sana merayap ke sini itu. Batu itu ditendangnya terbang menyamber labah labah tersebut, tidak miring tidak terlampau tinggi tepat mengenai sasaran.

"Wah, hebat betul!"seru Gwat Hee dengan girang. "Sumoy coba kau jajal caraku ini!"

"Ah, tidak bisa. Labah labah itu pulang pergi kulihat tetap sebesar kacang kedelai saja!"

"Kau harus memusatkan perhatianmu, segala pikiran harus disingkirkan, dan anggaplah di matamu hanya ada labah-labah itu saja. Dengan cara ini pasti kau berhasil."

"Ilmu melepas senjata rahasia pun aku tak berapa bisa!" kata Gwat Hee sambil menarik Tjiu Piau. Tak terkira Tjiu Piau pun lengan menatapnya dengan asyiknya. Keempat sinar mata bentrok! Masing masing merasakan sesuatu yang menyegarkan dan menggoncangkan perasaan. Mulut mereka seolah olah penuh dengan kata kata yang sukar dilukiskan. Ingin hati mereka untuk mengutarakan sesuatu akan isi hati masing-masing tetapi kandas dalam goncangan hati muda yang penuh diliputi cinta dan malu malu.

Sesudah mereka membungkam dan terbenam dalam kemacetan dan ketidakwajaran muka mereka menjadi dadu dan manis!

Gwat Hee buru buru memungut batu sambil berkata untuk menghilangkan suasana yang janggal ini:

"Aku ingin mencoba untuk menghantam sarang burung itu!"

Batu melayang, tapi jauh sekali dari sasaran. Tak heran Gwat Hee tak berhasil sebab pikirannya masih risau disebabkan hal tadi. Pergaulan hidup bersama beberapa hari membuat hubungan mereka terlebih intim. Tjiu Piau merasa kasihan pada Gwat Hee yang kehilangan Djie Hai. Sehingga Gwat Hee hidup seorang diri tanpa saudara, atas ini Tjiu Piau memperlakukannya seperti adik sendiri. sebaliknya juga Gwat Hee memperlakukan Tjiu Piau seperti kakak kandungnya. Perasaan bersaudara ini agaknya berubah pada hari-hari terakhir, antara dua orang ini tersimpul suatu perasaan saling memperhatikan dan menyayang. Tak heran begitu mata Gwat Hee bentrok pada Tjiu Piau tadi denyutan jantungnya berdebardebar sehingga bidikannya tak menemui sasaran. Dengan bersemangat Tjiu Piau menarik lengan Gwat Hee.

"Coba, ayo Coba sekali lagi. Kau pasti berhasil!"

Begitu lengan Gwat Hee kena terpegang ia merasa likat.

Lengannya dipengkeretkan. Tjiu Piau pun sadar atas ini, buru buru menurunkan cekalannya. Tapi nyatanya orang muda ini tidak melepaskan lengan mereka satu dengan lain bahkan semakin erat!

Dengan lemah lembut Gwat Hee berkata: "Piau Soe ko, kau sungguh baik, mau menurunkan kepandaian yang hebat ini kepadaku. Kalau kau tidak menurunkan ilmu ini, bukankah kau bisa menjagoi di dunia Kang Ouw?"

Dengan pandangan yang penuh arti Tjiu Piau menjawab: "Sumoy, kenapa kau berkata begitu. Aku ridlah dengan seikhlas ikhlasnya segala yang kupelajari dan yang kupikir untuk diberikan kepadamu."

"Akupun demikian ingin memberikan apa yang kupelajari, yang kupikir kepadamu."

Kembali mata mereka saling menatap dan tertawa. Tertawa ini penuh dihiasi kemesraan gelombang remaja yang bergelora penuh asmara. Kedua hati muda mudi ini menjadi hangat penuh kenikmatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata ini. Saat ini bukan main senang dan segarnya semangat Gwat Hee. Serentak lengannya di lepaskan perlahan lahan dari pegangan Tjiu Piau.

"Baik! Akan kucoba sekali lagi!"

Di pungutnya sebuah batu dan ditatapnya sarang burung itu dengan sepenuh perhatiannya. Kini entah bagaimana hatinya menjadi tenang dan tenteram. Matanya hanya melihat sarang burung terkecuali itu yang lain tidak diperhatikan. Begitu lengannya bergerak maka sarang burung tersebut kena dihancurkan sehingga burung burung yang berada di dalamnya bercowet terbang.

"Piau Soe ko, kau lihat bagaimana hasilnya?" tanya Gwat Hee dengan girang.

"Sedari tadi pun aku memastikan bahwa kau akan berhasil."

Kembali mereka berpegangan tangan, hatinya menjadi terbuka penuh kepuasan.

Tjiu Piau sudah dapat mempelajari apa yaug disebut 'tepat,' selanjutnya Tjiu Piau melatih kedasyatan dan kecepatan di bawah pimpinan Hoa San Kie Sau. Tjiu Piau dalam waktu singkat sudah memiliki ilmu melepas senjata rahasia itu dengan baik. Hal ini disebabkan rajinnya dan sudah dipelajarinya sejak kecil.

Tambahan sekarang mendapat guru yang ternama tak heran kalau ia bisa seratus kali melepas seratus kali kena. Harus diketahui bahwa tenaga kaki adalah lebih besar dari tenaga lengan, dari itu Tjiu Piau dapat melepaskan senjata rahasianya sejauh tiga-empat tumbak untuk membinasakan seekor kelinci. Sedangkan kedua lengannya sudah semakin sembuh dan dapat dipakai seperti dulu, tapi tenaganya belum pulih seratus persen.

Demikian pula Gwat Hee kelihatannya sudah pulih dan bertambah sesudah minum liur harum walet sakti. Beberapa hari ini Ki Sau melatihnya akan ilmu yang diberi orang tua itu. Berkat latihan dan keuletannya Gwat Hee dapat turun naik di tebing, di pohon dengan sesuka hatinya.

Tanpa dirasa musim panas sudah berlalu musim rontok sudah mulai menggantikannya. Bulan delapan malam Tiong Tjiu sudah dekat Hati ketiga orang ini penuh diliputi sesuatu perasaan yang aneh aneh untuk mendaki Oey San.

Perasaan dan pikiran Gwat Hee menjadi aduk adukan, demi dipikirinya pertemuan Oey San yang akan datang itu. Kesatu saat untuk mencari balas guna ayahnya sudah hampir sampai saatnya, hal ini tentu saja membuat hatinya bergelora: kedua, sejak kakaknya terpisah dengan dirinya, hingga kini masih belum ada kabar ceritanya. Dapatkah kiranya sang kakak itu berkumpul di Oey San pada waktu yang sudah ditentukan. Kalau kalau kakak itu tidak datang, harus ke mana dicarinya? Ketiga dapatkah kiranya berjumpa dengan saudara Tju itu? Keempat mengkuatirkan orang yang memberikan sajak itu masih hidup atau tidak? Orang dari golongan mana? Pikirannya ini membuat Gwat Hee tak keruan rasa, sehingga sering tidak tidur dan tidak napsu makan. Tjiu Piau pun mempunyai perasaan sama seperti Gwat Hee. Terkecuali dari itu dalam

Hatinya selalu berpikir, bahwa pertemuan Oev San ini pasti akan terjadi keributan,bahkan seuatu bahaya besar akan dihadapi,untuk mengatasi keadaan ini, hatinya tak henti hentinya berpikir.

Bulan delapan yang dinanti nantikan sudah di ambang pintu Bulan yang terbenam di cakrawala perlahan lahan menampakkan dirinya, lama kelamaan membentuk seperti sisir. Kemudian menjadi agak besar. Ketiga guru bermurid itu melanjutkan perjalanannya mendaki Oey San pada tanggal sepuluh. Dengan perhitungan akan sampai - pada malaman Tiong Tjiu ( tanggal lima belas bulan delapan) di puncaknya Oey San yang bernama Thian Tou Hong. Pagi itu Tjiu Piau terjaga dari tidurnya tanpa melihat Gwat Hee.

Hatinya merasa cemas sekali, tidak diketahui ke mana Sumoynya pergi. Sesudah membereskan dirinya, terus mencarinya sepanjang jalan yang biasa mereka bermain dan melaiih diri. Tapi bayangan Gwat Hee tak kelihatan sama sekali. ia berpikir sejenak, hatinya ingat di puncak gunung terdapat jeram ( air terjun ) yang

kecil. Di mana air itu berkumpul merupakan satu situ yang kecil. Tempat ini adalah tempat mereka biasa bermain juga,mungkinkah Gwat Hee pergi ke sana? Kakinya segera bergerak membentangkan ilmu mengentengkan tubuhnya lari ke atas. Pada hari belakangan ini Tjiu Piau baru memperoleh pelajaran ilmu dalam dari Hoa San Kie Sau.

Karena dasarnya tidak berapa dalam, belum bisa mempelajari ilmu semacam Gwat Hee untuk mendaki dan naik ke pohon secara cepat, tapi hari hari belakangan ini, ia banyak melatih ilmu kakinya. Sehingga tenaga kakinya memperoleh banyak kemajuan. Tak heran ia bisa lari seperti terbang di atas pegunungan seperti di dataran biasa. Sesaat kemudian ia sudah tiba di tempat tujuan. Tampaklah di bawah air terjun, di depan situ berduduk seorang gadis, yang membalik badan ke arahnya. Agaknya gadis itu tengah menghias diri, rambutnya yang panjang terurai hitam mengkilap dan menyenangkan. Membuat orang belum melihat mukanya sudah memastikan gadis itu sangat cantik adanya.

Tjiu Piau merasa tertegun akan hatinya. Pikirnya di dalam hutan belantara ini dapat menemui seorang gadis yang demikian cantiknya, sungguh mengherankan sekali, dapatkah gadis biasa datang ke sini?

Sementara, itu gadis sudah selesai berhias. Tubuhnya membungkuk ke air situ untuk mengaca, sedangkan mulutnya kemak kemik entah mengatakan apa. Tanpa merasa Tjiu Piau menggeser kakinya mendekati. Telinganya segera mendengar kata-kata gadis itu. "Oh, ayah inilah wajah dari puterimu." Tjiu Piau semakin mendekati kepalanya melongok air situ, dalam air itu terdapat bayangan dari seorang gadis cantik bermata bulat hitam. Tjiu Piau merasa kenal wajah ini, tapi tak dapat mengingatnya dalam waktu yang singkat.

Perlahan lahan gadis itu berdiri bangun, badannya berputar ke arah Tjiu Piau berdiri. Ditatapnya Tjiu Piau, sedangkan pipinya menjadi merah dadu, ia tertawa dengan manisnya sambil berkata. "Piau Soe ko!" Suara ini membuat Tjiu Piau sadar dari lamunannya. Inilah suara Gwat Hee bukan? pikir hatinya.Tak heran-membuatnya menjadi bengong tak keruan karena pada hari hari biasa belum pernah melihat sang Sumoy berpakaian wanita. Tak kira sesudah Gwat Hee menghias diri gadisnya demikian macam cantiknya luar biasa, sampai Tjiu Piau tidak tahu harus mengatakan apa. Ia terpaku terus menatap tubuh yang demikian ramping, langsing dan cantiknya.

Sesudah membengong demikian lamanya, Tjiu Piau baru dapat berkata dengan tak wajar:

"Moy tjoe, kau- kau kenapa?"

Dengan keren Gwat Hee menerangkan: "Piau Soe ko, sejak kecil aku biasa mengenakan pakaian anak laki laki. Dengan cara menyamar ini aku dapat bergerak bebas di dunia Kang ouw, tapi kini aku akan mengurus dan membereskan sakit hati ayahku, dari itu aku harus kembali pada wajah gadisku, agar ayahku dapat melihat wajahku yang sebenarnya. Kau pikir betul tidak?" Tjiu Piau tak dapat menjawab, hanya kepalanya yang mengangguk. Sesudah hening seketika, Tjiu Piau baru dapat mengeluarkan lagi kata katanya:

"Gwat Hee Moy tjoe, apakah pada hari hari nanti kau tetap berdandan semacam ini?"

"Ya."

"Selamanyakah begini?" tanya Tjiu Piau lagi. "Kenapa?" "Aku senang dengan cara kau berdandan ini."

"Ya, selamanya begini." jawab Gwat Hee tersipu sipu.

Kedua muda mudi ini berduduk-duduk di tepian situ itu sambil mandi sinar surya pagi yang indah. Masing masing hati mereka mempunyai sesuatu omongan yang indah- indah dan banyak sekali untuk diutarakan. Tapi agaknya entah bagaimana mereka lebih senang terbenam dalam kesunyian tanpa kata kata. Pagi hari di pegunungan, sungguh indah sekali, burung burung berkicauan dan beterbangan. Angin sepoi-sepoi basah membawa kesegaran hidup. Harumnya bunga hutan membuat mereka terbenam dalam kemabukan mesra hidup remaja. 

Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa oleh mereka. Saat milah matahari sudah menjulang tinggi di angkasa. Gwat Hee tersadar dari lamunannya yang manis itu dengan kaget.

"Kita harus segera pulang, jangan jangan Soe hoe tengah menunggu kita dengan tak sabar!" kata Gwat Hee - sambil menarik sang jaka.

Mereka segera turun ke kaki gunung, Tjiu Piau mempunyai ilmu kaki yang lihay dalam sekejap saja sudah meninggalkan Gwat Hee di belakang. Tapi begitu ada pohon Gwat Hee segera mempergunakan ilmunya dengan caranya itu ia dapat berlari kebawah terlebih cepat dari Tjiu Piau.

Demikianlah mereka berkejar-kejaran susul menyusul, sehingga dalam waktu sebentar sudah tiba di bawah kaki gunung. Benar saja mereka melihat Hoa San Kie Sau sudah menantikan mereka dalam banyak waktu. Tiga orang ini segera berkemas kemas. Langsung menuju Oey San.

Sesudah berjalan sepuluh lie jauhnya, di depan mereka menghadang sebuah sungai kecil, di situlah mereka beristirahat untuk memakan ransum keringnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi Sesudah cukup beristirahat.

Kembali sepuluh lie sudah dilalui, jauh jauh memandang terlihat sebuah pegunungan yang berbukit berantai bertumpuk menjadi satu. Hoa San Kie Sau menunjuk ar3h itu:

"Nah itulah Oey San yang menjadi tujuan kita." Habis bicara, hatinya berkata sendiri:

"Ah, Oey San . .. Oey San. Delapan belas tahun berselang di tubuhmu itu terjadi peristiwa apa yang sesungguhnya. Kini tak lama lagi. kembali di tubuhmu itu akan terjadi pula Kisah, kisah yang harus kau saksikan. Penghidupan orang tak ubahnya seperti awan yang mudah berubah, asal matanya sudah rapat segala sesuatu peristiwa yang dialami segera menjadi tamat. Tapi lain denganmu, kau akan terus tegak menjulang ke angkasa dengan megahnya, sambil menyaksikan terus peristiwa- peristiwa kehidupan manusia yang tidak habis habisnya ini."

Oey San kelihatanya di depan mata tapi tidak dapat dengan segera dicapai. Sesudah memakan waktu sehari lagi, baru mereka tiba di lereng Oey San itu. Untuk melewatkan malam mereka menumpang mondok Pada penduduk di situ.

Dengan berlalunya waktu ini, bulan di angkasa luas itu sudah menjadi bulat. Tjiu Piau dan Gwat Hee menurut pesan dari Kie Sau segera mendaki ke puncak Thian Tou Hong,, sedangkan Kie Sau membuntuti dan melindungiidari belakaiyg. Malam harinya mereka sudah sampai di puncak gunung itu. Thian Tou Hong adalah salah satu dari puncak Oey San yang banyak itu. Salah satu yang tertinggi dari sekalian puncak. Satunya lagi yang menyamai Thian Tou Hong adalah Lian Hoa Hong. Tapi untuk didaki Thian Tou Honglah yang paling sukar. Tapi untuk mereka yang mempunyai ilmu linay itu, puncak ini sedikit juga tidak menyukarkan. Hati mereka menjadi mabuk sesampainya di puncak ini, walaupun mereka dibesarkan di daerah pegunungan, tapi belum pernah menyaksikan pemandangan alam yang demikian indah dan permai. Terkecuali dari puncak Lian Hoa tak sebuah puncak lain yang menyamai puncak Thian Tou Hong. Ratusan dan ribuan puncak lain semua berada di bawah kaki mereka. Puncak-puncak itu tidak teratur dengan rata, selang seling di kiri-kanan menjadikan sesuatu pemandangan yang mentakjubkan. Hal yang lebih mengherankan, yakni di sela-sela awan yang banyak itu, tampak warna warni yang indah.

Tjiu Piau berkata :

"Konon pohon Siong dari Oey San ini sangat ternama di jagat raya. Kini aku baru dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, memang sebenarnya indah sekali. Agaknya aku tengah dalam mimpi saja. Kau lihat! Di antara banyaknya pohon Siong itu terdapat tambahan warna merah, apa itu?"

"Sewaktu aku kecil pernah mendengar percakapan seorang paderi dengan Soe hoe. Paderi itu mengatakan bahwa pohon Siong di Oey San sangat terkenal dan dikagumi orang tapi tidak pernah ada yang memuji akan pohon Hongnya. Kala musim rontok daun pohon Hong itu menjadi kuning dan merah sehingga percampuran warna merah dari Hong dan warna hijau dari pohon Siong itu menjadikan suatu keindahan alam yang sukar di dapat. Dari itu pemandangan di celah celah awan itu bukan lain dari pada kombinasi daun Hong dan Siong." Tjiu Piau mengangguk.

Mereka menikmati panorama yang luar biasa ini dengan perasaan lapang dan segar. Malam hari demikian sunyi, sekeliling tak ada suara atau kepalan asap maupun sinar api dari rumah penduduk: Di balik puncak sebelah timur tampak bulan yang membulat seperti nyiru sudah naik ke tinggi.

"Pertemuan malam ini hanya diketahui beberapa orang saja. Tetapi tak dapat dipastikan, terkecuali dari kita mungkin ada yang mengetahui dan sengaja datang untuk mengacau. Lebih baik kiia bersembunyi untuk menjaga sesuatu di luar perhitungan." kata Tjiu Piau. Gwat Hee menganggukkan kepalanya.

Mereka mendapatkan sebuah batu besar di atas puncak yang tinggi itu.

"Tempat itu sungguh baik untuk kita menempatkan diri." kata Tjiu Piau. Tetapi sesampai mereka di balik batu itu hatinya menjadi kaget sebab di belakang batu tersebut adalah sebuah tebing yang sangat curam sekali, sama sekali tidak ada tempat untuk mereka berdiam.

"Di sini tidak bagus, lebih baik di sana saja." kata Gwat Hee.

Tjiu Piau memandangkan ke arah yang ditunjuk oleh Gwat Hee. Tampak sebuah pohon Siong tua yang berlekuk lekuk dibawah batu besar itu. Tanpa berkata-kata lagi mereka memanjat ke pohon Siong itu dengan cepat dan bersembunyi di dalam daunnya yang lebat. Dalam kesunyian yang sangat ini terdengar semacam suara yang semakin lama semakin keras dan tinggi. Suara ini tak ubahnya seperti gelombang laut dengan topannya yang dahsyat, membuat hati pendengar menjadi goncang.

"Inilah suara gelombang pohon Siong." kata Gwat Hee perlahan. Saat itu kembali terdengar suara gelombang dan ombak daun Siong itu memenuhi jurang dan bergema kembali.

"Apa katamu, aku tak mendengar." kata Tjiu Piau. "Kataku, suara gelombang pohon Siong!" seru Gwat Hee

dengan keras.

"Gelombang suara pohon Siong ini mematikan dan menghilangkan suara yang lain. Misalkan ada orang lain naik ke sini sukar untuk dibedakan. Kita harus terlebih hati hati, baru betul." sambung Tjiu Piau.

"Tentu saja," jawab Gwat Hee singkat.

Kedua orang itu bersembunyi sampai bulan tinggi di atas.

Tetapi apa yang dinantikan belum juga datang, perlahan lahan hatinya mulai gelisah.

Mereka masing masing berpikir: "Sudah larut malam begini belum juga ada yang datang mungkin tak ada yang datang." Mereka terpikir demikian tapi enggan untuk mengatakannya. Kembali beberapa saat sudah berlalu.

"Kita turun ke bawah saja mungkin mereka berada di sana." kata Gwat Hee.

"Baik biarlah aku turun terlebih dahulu." jawab Tjiu Piau.

Perlahan dan tak menimbulkan suara Tjiu Piau turun menginjak bumi Bulan yang bulat dan terang menggambarkan tubuhnya menjadi bayangan hitam. Baru ia akan dongak untuk bicara dengan Gwat Hee telinganya telah mendengar suara tertawa dingin. Tjiu Piau menjadi terkejut kepalanya segera menoleh ke arah datangnya suara itu. Di atas batu besar tadi terlihat sesosok tubuh orang yang tengah duduk dengan senangnya. Sesudah tertawa dingin orang itu kembali bicara dengan suara mengejek. "Kiranya bersembunyi di atas pohon, kau tahu aku sudah lama menantikan dan membuang waktu."

Dengan heran Tjiu Piau mengawasi orang itu, ia berpikir: "Bilamana orang itu sampai di situ, sedangkan jalan untuk mencapai batu itu hanya ada satu yakni jalan yang di bawah pohon Meski seekor kelinci yang bagaimana gesitpun akan terlihat dengan tegas dari atas pohon apalagi orang.

Tetapi sekian lama aku menantikan di atas pohon tak melihat sama sekali akan adanya bayangan orang.

Mungkinkah orang ini mengambil jalan dari belakang batu? Tetapi di belakang batu itu ialah satu tebing yang curam sekali, dapatkah kiranya didaki?" Memikir sampai di sini batin Tjiu Piau menjadi tak habis mengerti "kau siapa." tanya Tjiu Piau dengan kasar.

Orang itu tidak menjawab melainkan berdiri di atas batu. Dalam penerangan sinar bulan yang terang tertampak tegas orang itu. Tubuhnya kurus dan jangkung, anggota tubuhnya sangat lincah, sedangkan mukanya penuh dengan kernyutan, usianya kurang lebih tiga puluhan. Matanya kedap kedip bersinar, dalam gelap mata itu tak ubahnya seperti mata macan. Tiba tiba tubuhnya maju dua tindak dan secepat kilat melayang seperti anak panah, tangannya memegang semacam senjata yang aneh serta langsung menyerang, Tjiu Piau . Hal ini di luar perkiraan siapapun. Dengan berseru kaget Tjiu Piau mengangkat kakinya menyerang pergelangan lawan. Ilmu kakinya yang lihai ini dengan enaknya menurut perintah tak ubahnya seperti menggunakan lengan saja. Serangannya demikian keras dan tepat, hampir mengenai lengan orang itu. Heran sekali! Orang itu tidak kelihatan mengegos atau berkelit hanya lengannya kelihatan mengedat senjata dan sinar emas memenuhi mata Tjiu Piau, kiranya adalah sebuah kaitan yang mengkilap. Kaitan itu hampir mengikat dan menggaet kaki Tjiu Piau. Tetapi Tjiu Piau dengan cepat dapat menyetop kakinya untuk ditarik pulang.

Begitu kaki kanannya turun maka kaki kirinya terangkat naik. Kaki ini menyerang sendi lengan bawah dari orang itu langsung menuju Tjie-tjek hiat. Meskipun senjata orang itu demikian panjang dan tak dapat meraba dari mana serangan datang maka bahunya diangkat untuk menyambut serangan Tjiu Piau. Entah dari mana terdapat pula sebuah kaitan dari bawah bahunya. Kaki Tjiu Piau menyerang dengan tangan dahsyat, misalkan kena tergaet kaitan tersebut sama dengan mencari penyakit sendiri. Maka buru buru dihentikan serangannya di atas udara secepat kilat kakinya ditarik kembali sambil mundur dua langkah.

Kedua kaki ini dapat menyerang dengan cepat dan ganas serta dapat ditarik kembali dari udara dengan cepatnya membuat orang itu berseru mengeluarkan pujaan. "Sungguh semacam ilmu yang lihay sekali!" ia berteriak sekali lagi;

"Kini kau lihat permainanku!"

Berbareng dengan hilangnya suara seruan itu senjatanya aneh sudah ke luar pula menjambar kerah Tjiu Piau.

Padahal Tjiu Piau sudah mundur sejauh dua langkah, jaraknya dengan orang itu kurang lebih sejauh satu tumbak. Tetapi sekonyong konyong semacam sinar kuning seperti emas stdah berada di depan mata. Kekagetan Tjiu Piau tidak terkatakan tubuhnya buru buru menggelinding untuk menjauhi diri. Sambil berbaring di atas tanah Tjiu Piau dapat melihat senjata orang itu dengan tegas, kiranya senjata itu terbuat dari seutas tambang yang mempunyai kaitan di tiap ujungnya. Begitu melihat senjata itu Tjiu Piau menjadi girang. Orang ini kalau bukan saudara Tjiu siapa lagi adanya. Baru saja mulutnya akan berkaok, tapi ia tidak diberi kesempatan sama sekali karena orang itu begini menarik tambangnya segera mengebutnya pergi. tambang itu berputar di atas udara dengan mengeluarkan suara - menderu deru dan langsung menyerang kepada Tjiu Piau. Kecepatan sekali ini tak dapeit dikatakan tanpa gugup lagi Tjiu Piau meraup batu batu yang terdapat di situ dan dihajarnya kaitan itu. Walaupun tenaga lengannya, belum pulih seperti semula. Tenaga itu, cukup besar...

Trang terdengar suara beradunya batu dan kaitan itu, sedangkan kajtan itu sendiri dibikin terpental sejauh beberapa kaki. Bersamaan mana tubuh Tjiu Piau sekalian mencelat bangun mendekati orang itu. "Kau bukankah..."

Baru saja suaranya ke luar sebagian segera mulutnya tertutup lagi. Kiranya begitu dekat dengan orang itu. Tjiu Piau segera melihat wajah orang itu dengan terang. Orang itu hitam legam, selebar mukanya penuh dengan kernyutan yang menandakan ketuaannya. Sama sekali tidak merupakan seorang yang baru berumur dua puluh tahun!

Lebih-lebih wajahnya yang demikian dingin itu membangkitkan rasa curiga orang. Tak terasa lagi kata kata "saudara Tju" tertelan lagi ke dalam mulutnya.

"Aku ya aku," jawabnya dingin. "Kau lihat." Tiba-tiba tambangnya yang berkaitan itu menyerang kembali ke arah Tjiu Piau. Tjiu Piau menyambut setiap serangan. kembali serangan kilat dari kaitan itu lewat di tubuh Tjiu Piau, ia mengegos dengan cepat. Dalam perkiraan Tjiu Piau kelitannya ini demikian sempurna, siapa tahu sekali ini ia masuk perangkap. Tidak tahunya begitu kaitan emas ini mendekati Tjiu Piau maka tangannya tiba tiba ditarik sehingga ilmunya berubah mengeluarkan jurus yang aneh. Tambang itu kena ditarik kembali sambil melingkar-lingkar merupakan bulatan. Kecepatan dari pulang perginya tambang ini sungguh luar biasa. Hanya beberapa kali berputar, maka tubuh Tjiu Piau kena diringkus dengan eratnya. Orang itu mengiringkan hasilnya itu dengan suara ketawa yang gembira. Tjiu Piau masih tetap mengawasi orang itu dengan penuh pertanyaan. Kalau dilihat senjatanya serta gerak geriknya orang ini adalah saudara dari keluarga Tju Tetapi kalau dilihat akan usianya agak lebih tua sepuluh tahun sedangkan wajahnya kelihatan demikian dingin dan beku. Tjiu Piau hanya berpikir saja sama sekali tidak menghiraukan akan tambang yang membelit tubuhnya. Malahan ia masih sempat bertanya:

"Kau sebenarnya siapa?"

"He he he " orang itu ketawa.

"Aku sudah berhasil menangkapmu seharusnya akulah yang bertanya. Kau bermaksud apa pada malam buta datang ke sini? lekas bilang!"

"Aku datang dengan sekalian orang" jawab Tjiu Piau.

Orang itu mengeratkan tambangnya sambil membentak: "Sekalian dengan siapa!" Pikir Tjiu Piau lebih baik berlaku

hati hati, maka sengaja ia tidak menjawab, sebaliknya ia berkata:

"Kau lepas dulu tambang ini!"

"Aku dapat melepaskan, pokoknya kau harus menerangkan siapa kau ini? Apa maksudmu datang kesini?" Tjiu Piau merasa dongkol juga maka ia berpikir : "Orang ini terlalu kurang ajar sekali, kiranya aku sudah terjatuh di dalam kekuasaannya. Hem, masih terlalu pagi. Kalau tidak diajar adat agaknya tidak puas"

Tubuhnya tetap tidak bergerak dan kakinya sudah siap melakukan serangan. Tiba-tiba ia membentak: "Lepas segera!" Menyusut kakinya terangkat menerbangkan dua butir batu.

Batu itu demikian dahsyat dan tepat menghantam kedua mata orang itu. Orang itu.. . tidak mengira akan mendapat serangan yang demikian hebat dan mendadak. Buru-buru Kepalanya diegoskan. Sedangkan Tjiu Piau mengirimkan lagi dua butir batu ke arah dada orang. Orang itu terpaksa berjungkir ke belakang sejauh satu tumbak lebih. Dengan cara ini ia berhasil menghindarkan batu itu. Gerakannya sungguh lincah sekali. Tapi dengan berbuat begitu tangannya yang memegang tambang itu terpaksa harus dilepaskan. Sewaktu ia sudah berdiri dari jungkir - balik. Tjiu Piau sudah berhasil melepaskan dirinya dari belengguan tambang itu dan senjata itu dipeganginya sambil diamat amati.

Melihat senjatanya kena dirampas orang itu menjadi nekad, dengan mati matian diserangnya Tjiu Piau untuk merampas kembali senjatanya. Entah kapan ia sudah mengeluarkan dua buah kaitan, tiap tangannya memegang sebuah, seperti angin puyuh ia menyerang sambil berteriak teriak: "He! Kau harus tahu tiap tiap benda ada tuannya, lekas kau kembalikan benda itu kepadaku!"

Tjiu Piau mengawasi tambang itu dengan teliti. Ia mengenangkan kata kata dari ibunya bahwa tambang dari Tju Siok siok ini panjangnya ada tiga tumbak terbuat dari benang emas dan seutas tali besi yang sudah diolah secara baik sekali dipilin menjadi satu. Sambil berpikir matanya- tetap mengawasi tambang itu tak henti hentinya. Ahh senjaTa ini memang kepunyaan Tju Siok siok! Kalau orang itu mudaan sedikit saja pasti ia sudah memanggil Tju Heng.tee dan sudah menerangkan dirinya ini siapa. Tapi sekarang ia tidak dapat meraba raba siapa gerangan orang ini. Waktu ia akan bicara tiba tiba mendengar suara dari Ong Gwat Hee yang demikian nyaring di atas kepalanya. "Piaw Soe ko jangan kembalikan kepada nya" Habis bicara tubuhnya melayang turun, seperti daun kering, bajunya melambai-lambaikan kena tiupan angin halus. Sorotan rembulan yang terang dan halus ini membuat wajah Gwat Hee tak ubahnya seperti bidadari turun dari kayangan.

Orang itu mula-mula merasa kaget tetapi akhirnya tenang kembali, dengan dingin ditatapnya wajah Gwat Hee.

"Kiranya masih mempunyai pembantu ! Masib ada berapa, ayo ke luar semuanya." tanyanya dengan sengit. "Kau jangan kuatir, tak ada lagi. Kau minta kembali tambangmu ini, boleh saja. Asalkan mau melulusi permintaanku." kata Gwat Hee dengan tersenyum. "Apa permintaanmu?" "Aku mempunyai tiga macam permintaan yang harus kau jawab dengan sejujur jujurnya." Orang itu sudah mulai ingin bicara tetapi kena didahului Gwat Hee : "Kami sudah pasti akan menanyamu, di balik itu kalau kau ingin bertanya kepada kami silahkan kau ajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan mu itu dengan sendirinya akan kami jawab dengan ikhlas dan jujur,"

"Begitupun baik. pokoknya kembalikan dulu tambangku!" "Laki laki bicara tak mungkin menarik lagi kata katanya!"

seru Tjiu Piau dengan gagah. Sesudah itu tambang orang

segera dikembalikannya. Orang itu sudah menerima tambangnya, dengan dingin kembali berkata. "Tanyalah lekas."

"Yang pertama. Tambang ini siapa tuannya?" tanya Gwat Hee.

"Pemiliknya kini berada di puncak Thian Tou Hong!" "Yang kedua. Pemilik dari tambang ini, apakah menurut

perintah dari ibunya datang ke sini menunggu orang?"

"Ya. menunggu tiga orang."

"Yang ketiga... Piau Soe ko coba kau baca sajakmu itu."

Tjiu Piau baru ingin membacakan sajaknya itu, tiba tiba ia ingat sajaknya itu bukan yang pertama. Sedangkan yang pertama seharusnya Ong Djie Hai yang membacakan Pada saat inilah terdengar orang membaca sajak. Tapi suara itu adalah suara anak kecil.

Orang yang membacakan sajak itu walaupun anak kecil tetapi suaranya dapat terdengar dengan tegas. Sajak itu berbunyi:

"Peristiwa Oey San membawa dendam bagai lautan!"

Hal ini bukan saja membuat Tjiu Piau dan Gwat Hee berdiri bengong, sedangkan orang-orang yang tidak dikenal itupun agaknya menjadi terkejut. Ketiga orang itu memalingkan kepalanya ke arah suara itu. Terlihatlah di jalan ke gunung itu mendatang seorang anak kecil yang berusia delapan sembilan tahun. Anak ini berwajah demikian gagah dan aksi. Matanya yang besar tak henti hentinya larak lirik dengan mungil membayangkan wajah yang cerdik dan cekatan.