-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 11 (Tamat)

Jilid 11 (Tamat)

Bab 51

Dewi,

aku lelah dalam pertempuran ini tuntunlah aku menuju nirwana

dimana ranah tak lagi memerah oleh darah dan pedang telah menjelma menjadi bunga

- Fa Mulan

Refleksi Avalokitesvara

***

Apa yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan Tionggoan?! Sungguh, aku tak paham akan nestapa ini. Adalah denyar dan dengung kematian sajalah yang senantiasa mengitari hidupku.

Adalah parade iblis sajalah di penglihatanku sejauh kulabuhkan pandang mataku. Semuanya adalah tarian anacastik, mengirama dengan sempurna dan moralistik. Kesempurnaan adalah asma yang bertiup sepanjang masa. Aku terbang, melayang dan melayang tertiup angin. Aku tidak pernah tahu di mana aku berada. Kadang aku merasa telah berada di Selatan, atau di Utara. Lalu suatu waktu, angin jualah yang membawaku ke Timur atau Barat. Entahlah. Anominitas ini sungguh menjadikanku pebuta di antara buta. Semuanya gelap. Noktah terang hanyalah gemintang di atas langit malam. Titik terang hanyalah pijar lentera di bawah temaram dusun-dusun.

Apakah ini gerhana di dalam jiwaku?

Ada kaisar yang lalim. Ada rani yang bijak. Semuanya seiring sejalan dalam detak-detak jantung ini. Oh, adakah pengampunan atas dosa-dosa kami ini? Adakah pembelaan atas ketertindasan yang senantiasa mengirama di dalam kedinaan ini?

Semuanya hening. Diam dan bisu.

***

Ketahuilah, Mulan. Sesungguhnya, ada dua warna yang menangkupi dunia. Sesungguhnya pula, warna-warni lain, hanyalah bias dari kedua warna tersebut. Namun, kita tidak pernah dapat menangkap apa makna di balik semua warna yang terpancar tersebut. Keindahan dari pelangi adalah kesemuan.

Sungguh, kita telah menafsir keliru segala. Dan dalam menyusuri jalan nan panjang, kita semakin dibutakan oleh sang kala. Ketahuilah, Anakku, bahwa jauhar dan mute yang tersebar di sepanjang jalan yang telah kita tempuh, telah membinasakan badan.

Lalu apa yang sesungguhnya kita cari?! Bukankah pedoman telah dimaktubkan oleh Sanghyang dalam setiap sisi nurani manusia?! Lantas, mengapa kita demikian bodoh dan dungu sehingga monceng dan salah arah?!

Oh, durja benar napas yang diembus para pendosa di tanah nan batil, Mulan. Apakah ini awal mulakat manusia dengan maut?!

Jawablah, Anakku. Satu di antara perintah keng nan suci adalah, jangan bersenada dengan kebatilan. Namun manusia, para pendosa, telah meremeh-temehkan genta agung yang mendengung dari langit ketujuh. Manusia telah menulikan pendengarannya sendiri. Manusia terus menjazam. Hingga timbullah maharana nan rana.

Oh, andai saja engkau tahu, Anakku, betapa pilunya irama hati para rani dan dedewa di langit ketujuh. Mereka semua telah meneteskan airmata darah, dan perlahan airmata tersebut menjadi bah lantas menggenangi istana langit. Inilah murka bagi mereka yang berkuasa atas titah dan amar. Inilah ihwal azab yang akan diturunkan dari langit ketujuh.

Malang nian nasib para pembatil di tanah kerontang ini, Anakku. Sungguh dina diri-diri nan berlumpur nanah dan kotoran, yang keluar dari anus mereka sendiri. Adakah genosida sebagai bentuk pembersihan pendosa-pendosa itu?!

Seratus kalpa tumimbal lahir tak akan mampu membasuh nista tercela. Mereka terus melanglang, dan lahir dari rahim betina ke rahim betina yang lainnya. Kelelahan dan perjalanan nan panjang tidak pernah menyadarkan mereka. Lahir, lahir, dan lahir adalah sebentuk rutinitas yang menjemukan. Manusia tidak pernah dapat memutus rantai yang membelenggu mereka.

Apakah pertobatan merupakan sebentuk pengampunan bagi para pendosa tersebut?!

Lantas, di manakah sesungguhnya letak nirwana yang telah didengung-dengungkan di dalam sanubari mereka oleh dedewa dan dedewi?! Padahal, dua di antara sepuluh keng menitahkan manusia supaya bijak bertindak. Namun lagi-lagi manusia tak mengindahkan hal tersebut. Diberinya neraka inmoral bagi sesamanya. Kekisruhan tak pelak terelakkan. Manusia telah melanggar aturan.

Oh, Anakku, Bunga Magnolia, Pahlawan Tionggoan, kini engkau tergolek tak berdaya di dalam haribaan pertiwi.

Tanah bergetar.

Langit meratap dengan gelegar sejuta guntur. Derau angin berdesing-desing.

Bangunlah, Anakku. Bangunlah!

Di sini yang-liu meliuk-liuk memanggilmu. Bangunlah, Anakku.

Inilah Aku, Avalokitesvara dari langit ketujuh.
Sebagai jenderal aku menogakan titah bahwa mutlaklah

bagi engkau sebagai pemimpin mendukung nilai-nilai luhur ini:

kebijaksanaan ketulusan kemurahan hati keberanian dan ketegasan

- Sun Tzu

Refleksi Seni Rana

***

Bab 52 (Epilog)

"Pasukan besar Mongol tidak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan tekad semata, Kapten Shang. Banyak faktor yang mesti dipikirkan sebelum bertindak." "Lantas, apakah kita hanya tinggal berdiam diri saja sampai Tionggoan benar-benar jatuh ke dalam tangan Temujin?!" "Bukan begitu. Ingat, emosi yang membahang seperti yang Anda lakukan dulu bukan merupakan tindakan yang tepat. Anda masih ingat bagaimana dengan nyawa Anda sendiri yang hampir melayang ketika menyongsong tanpa nalar pasukan pemberontak Han dulu. Jangan menambah masalah dengan bertindak gegabah. Penyerangan balasan terhadap kubu Mongolia harus dipikirkan matang-matang. Mundur bukan berarti kalah."

"Ibukota Da-du kritis, Kaisar Yuan Ren Zhan di ambang maut. Entah, apa yang tengah dilakukan oleh si Birang Shan-Yu itu. Sekarang Bao Ling tengah menjemput beliau di hutan Hwa.

Beberapa pasukan elit kita tengah bersama Bao Ling untuk menghadang pergerakan kecil pemberontak Han pimpinan Shan-Yu yang tengah mengejar Kaisar Yuan Ren Zhan." "Saya mafhum. Namun bukan demikian caranya untuk menuntaskan masalah sepelik ini, Kapten Shan. Tugas Anda

sekarang adalah memimpin sembari mengatur strategi militer di Tung Shao. Saya sendiri akan menyusul Bao Ling ke hutan Hwa."

"Saya percaya kamu dapat menuntaskan setiap masalah, Mulan. Tapi saya tidak ingin kamu menjadi tumbal di garda depan Yuan."

"Tidak penting memikirkan pada posisi apa kita berada, Kapten Shang. Tidak penting dalam posisi, jabatan, dan strata apa kita sekarang. Mempertahankan negara merupakan kewajiban setiap orang. Bukankah sedari dulu telah saya tegaskan kepada Anda bahwa, masalah Yuan merupakan tanggung jawab kolektif.

Bukan masalah orang per orang saja."

"Saya mengerti. Tapi terjepit di dalam masalah besar begini, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi."

"Untuk itulah diperlukan kontemplasi." "Apa itu, Mulan?"

"Meditasi, itulah salah satu permenungan agar kita dapat berpikir jernih untuk dapat menyelesaikan masalah sebesar ini."

"Saya tidak tahu seberapa besar manfaat meditasi. Hei, bukankah hal itu merupakan salah satu ajaran Sakyamuni?" "Sakyamuni hanya membeberkan jalan. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada sesiapa. Jiwa dan raga kita tergantung pada kehendak kita sendiri. Kitalah yang menjadi majikan atau tuan atas diri dan pikiran kita sendiri. Kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita masing-masing. Untuk itulah diperlukan kontemplasi. Tujuannya, agar kita dapat mengambil langkah-langkah tepat menyiasati masalah. Bukannya mengambil langkah gegabah yang keliru." "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk mengantisipasi pergerarakan pasukan Mongolia?"

"Saya mengerti, memang sudah sepatutnyalah kita mengambil langkah-langkah penting dan cepat untuk menghalau pergerakan Mongolia. Jujur saja, sebenarnya pasukan kavaleri Fo Liong kita sudah dihancurkan di perbatasan Tembok Besar. Jadi, satu-satunya kekuatan kita sekarang hanya bertumpu di Tung Shao ini. Pasukan elit Yuan di Ibukota Da-du sendiri sudah menyerah. Saya kira, pasukan kitalah yang merupakan titik terakhir untuk mengadakan perlawanan sebelum sungguh- sungguh jatuh ke dalam tangan Temujin."

"Kalau begitu, tunggu apalagi? Secepatnya kita harus menyerang sebelum Temujin merebut Ibukota Da-du."

Fa Mulan menghela napas panjang. Sungguh, ia tak paham benar lara yang belum mereda. Tak henti-hentinya Tionggoan dirundung maharana. Rakyat dan para jelata jualalah yang akan menjadi korban kebiadaban.

"Kapten Shang. "

"Maafkan saya jika terlampau emosional."

"Anda tidak salah. Saya mengerti seseorang akan menjadi labil jika didera situasi sulit seperti ini."

"Tapi, saya merasa bersalah. Saya merasa seperti tidak berguna sama sekali." "Kesalahan tidak dapat ditujukan pada satu pundak saja, Kapten Shang. Masuknya pasukan Mongolia ke Tionggoan tidak dapat dikatakan sebab kelalaian Anda semata. Banyak faktor penyebab. Di antaranya euforiaritas akibat kemenangan Yuan terhadap pasukan pemberontak Han di Tung Shao beberapa waktu yang lalu. Jadi, saya berharap Anda tidak larut dalam penyesalan diri begitu."

"Seperti di sini, kalau bukan kamu, entah apa yang akan terjadi. Saya merasa benar-benar tidak berguna. Kamulah yang berhasil mengalahkan pasukan Han Chen Tjing."

"Bukan saya. Tapi kemenangan kita adalah kemenangan kolektifitas. Semua prajurit di sini turut berandil mengalahkan pasukan pemberontak Han. Jadi, bukan saya semata." Pemuda itu mengangguk. Sorot bola matanya yang serupa elang masih mematri pada wajah tegas Fa Mulan.

Sesungguhnya kegamangannya kali ini bukan lantaran runtuhnya Dinasti Yuan, namun lebih daripada semua itu. Ada yang lebih ia takutkan melebihi marabahaya manapun yang siap merenggut nyawanya sendiri.

Hitungan bilangan hari, dan bulir padi pada pematang adalah ihwal kematian. Sedemikian dekatkah gadis itu pada ujung kematian?! Makhluk manakah yang akan yang akan menghabisi dan menyabut nyawa Bunga Magnolia itu?! Sekali lagi ia menggeleng tanpa sadar. Bukankah kematian merupakan awal kehidupan yang baru?! Bukankah kematian merupakan pengakhiran derita yang seperti tak pernah ada habisnya?! Lalu, untuk apa ia menyesalinya?!

Apakah napasnya hanya sependek gelung tabir asap dupa yang bergeletar getas di atas paidon?! Oh, Dedewa, meski ia bukanlah rani, namun sudilah Engkau turun ke bumi.

Mengangkatnya dari kubangan kematian. Sebab maharana ini sungguh menyesakkan jiwa.

"Saya akan segera berangkat ke hutan Hwa untuk membantu Bao Ling menolong Baginda."

"Mulan. "

"Sudahlah, Kapten Shang. Anda harus berkonsentrasi di Tung Shao ini. Jangan terlalu memikirkan saya. Saya akan jaga diri baik-baik."

"Saya khawatir Shan-Yu. "

"Percayalah, Kapten Shang. Kebatilan tidak pernah dapat mengalahkan kebajikan. Saya berjanji akan kembali dengan selamat. Tentu saja, bersama Kaisar Yuan Ren Zhan." "Tapi, Shan-Yu memiliki ilmu silat yang tinggi. Dia juga licik."

"Saya, beserta Bao Ling, yakin dapat mengatasinya. Lagipula, Dewata tentu tidak ingin membiarkan kebatilan merajalela di Tionggoan ini." "Ya, ya."

"Sebentar lagi saya harus ke hutan Hwa. Di sini, Anda harus memperkuat basis tempur. Anda harus berhati-hati, Kapten Shang. Mongolia bukan musuh sembarangan. Mereka memiliki kapabilitas tempur yang melebihi pasukan pemberontak Han. Temujin jauh lebih lihai ketimbang Han Chen Tjing, yang lebih mengandalkan emosional ketimbang logika dalam sebuah rana. Temujin adalah tokoh tipikal nomadi. Dia merupakan petarung gurun yang hebat dan ulet. Meski saya tidak gentar terhadap terhadap kubu lawan yang kuat, namun rasa pesimistis akan kemampuan pasukan kita tetap saja menghantui saya." "Memang. Saya sendiri sudah pesimistis, Mulan. Ibukota Da-du hanya tinggal menunggu hari saja jatuh ke dalam tangan Temujin. Keadaaan sudah sangat genting. Perdana Menteri Shu Yong dan Jenderal Gau Ming sudah tewas. Sementara itu jenderal-jenderal lain sudah melarikan diri jauh-jauh hari sebelum Mongolia menyerang. Sekarang, harapan Yuan hanya terletak di pundak kita berdua. Lalu, apa yang dapat kita lakukan dengan sisa pasukan begini?!"

Fa Mulan menghela napas panjang.

Ya, apa yang dapat mereka lakukan sekarang?! Digigitnya bibir.

Oh, inikah karma dari kebatilan manusia atas manusia lainnya?! Sungguh, inilah beban terberat yang pernah ia emban. Namun selalu ada jalan keluar dari masalah. Selalu ada sinar terang di balik kegelapan.

Dan ia percaya, Dewata senantiasa melindunginya! 

SELESAI

Keterangan
  • Yang-liu = Sejenis bunga sakura (blossom flower) yang banyak tumbuh di daerah Tionggoan Selatan.
  • Ying-tin = Sekarang Nangjin. Fo Liong = Meriam.
  • Da-du = Sekarang Beijing.
  • Han Chen Tjing = Pemimpin tertinggi Han, mengepalai secara rahasia sebuah organisasi bawah tanah bernama Kelompok Topeng Hitam.
  • Liong = Naga.
  • Temujin = Nama kecil Genghis Khan.
  • Kao Ching = Pendekar Danuh, anak angkat Genghis Khan yang akhirnya membelot setelah Mongolia berhasil mengusai Tionggoan.
  • Persik = Prunus persica.
  • Sam Kok = Epos Tiga Kerajaan yang mashyur di Tiongkok, mengisahkan kepahlawanan Guan Yu yang sangat dihormati dan dipuja para Konfusiunisme - beberapa ribu tahun yang lalu, Guan Yu Sang Jenderal Besar Konfusius ini pernah terkena panah musuh dengan racun serupa. Namun akhirnya ia dapat selamat karena memiliki semangat hidup dan jiwa yang satria. Sun Tzu = Panglima perang termashyur di Tiongkok, sangat populer dengan ilmu seni perangnya, Refleksi Seni Rana - The Art of War.
  • Kowtow = Bersujud dengan sikap sembah, dahi menyentuh lantai.
  • Sam Pek Eng Tay = Romansa Tiongkok kuno, sangat populer dan sering dijadikan tema klasik dalam pertunjukan opera selain epos Sam Kok.
  • Taichi Chuan = Salah satu cabang wushu yang unik, dengan mengandalkan tenaga lawan sebagai teknik kekuatan beladiri itu sendiri.
  • Hwasan = Bukit Bunga, salah satu bukit di Pulau Bunga. Pulau Bunga sangat masyhur karena banyak melahirkan pendekar tangguh. Di antaranya, Auw Yang Pei San - Pendekar Telapak Penghancur Tengkorak yang batil, Oey Young - Ketua Partai Pengemis (Kaipang Pay) serta kelak menjadi istri Kao Ching, dan Chie Pek Tong - Pendekar Jurus Aurora yang kekanak- kanakan. Fu = Jimat.
  • Tsar chi = Energi negatif.
  • Auw Yang Pei San = Nama salah seorang pendekar batil yang berasal dari Pulau Bunga, memiliki ilmu silat tinggi hasil olah batin hitam. Mengalami gangguan jiwa sebelum meninggal akibat termakan oleh tenaga dalam negatifnya sendiri.
  • Ulan Bator = Ibukota Mongolia. Hainam = Sekarang Taiwan.
  • Setan Putih = Julukan satire untuk orang Eropa pada masa itu. Kingkong = Jurus andalan biarawan Shaolin, merupakan paduan tenaga dalam yang mengalir ke telapak tangan. Sangat bertenaga dan dahsyat. Ciri khas jurus ini selalu meninggalkan bekas telapak di batu atau tubuh korban. Jurus ini diciptakan oleh Biksu Datmo ribuan tahun lalu, saat menyebarkan agama Buddha pertama kali di Tiongkok.
  • Wong Qi Bei = Leluhur pendekar legendaris Wong Fei Hung, Si Tendangan Tanpa Bayangan. Pemilik dan penerus kedai obat kondang Pho Chi-Lam.
  • Samsara = Sebuah kondisi berniskala derita, merupakan serangkaian kehidupan yang berulang-ulang dalam kepercayaan Buddhisme.
  • Tao Te Cing = Ajaran spiritual Lao Tze, menyoal keharmonisan kosmis, keseimbangan kehidupan makhluk hidup - manusia - dengan alam.
  • Baba = Merupakan sebutan ayah untuk kaum Mongol.
  • Wu Zetian = Adalah kaisar perempuan pertama di China. Memimpin Tiongkok kuno pada zaman Dinasti Tang yang berkuasa di era tahun 618-907 Masehi. Ia menjadi kaisar setelah menggantikan mendiang suaminya yang mangkat, Kaisar Taizong.
  • Semenanjung Kuning = Salah satu julukan untuk Tionggoan. Yakkha Alavaka = Merupakan personifikasi kejahatan dalam kepercayaan Buddhisme mazhab Theravada atau Hinayana. Digambarkan sebagai sosok gergasi serupa genderuwo, memimpin sekawanan prajurit setan bergajah yang sangat menakutkan.
  • Mongku = Sebutan lain untuk Mongol. Ren = Manusia.
  • Darah dibalas darah = Artifisial dendam, dikenal galib dalam dunia persilatan di Tionggoan.
  • Sakyamuni = Sebutan lain untuk Siddharta Gautama. Salah satu ajaran terpenting Siddharta Gautama adalah penekanan ke arah cinta kasih. Termaktub dalam salah satu sutra versi Buddha Theravada atau Hinayana di Kitab Suci Tipitaka, Karaniyametta Sutta.
  • Keng = Sutra atau sutta, dalam bahasa Mandarin. Merupakan ritual verbal dalam agama Buddha mashab Mahayana. Setelah terkena anak panah beracun kaum nomad Mongol di perbatasan Tembok Besar semasa wamil, Fa Mulan mengalami koma beberapa hari. Selama komanya itulah ia berhalusinasi bertemu dengan Avalokitesvara.
  • Avalokitesvara = Memiliki pengertian yang multitafsir. Umat Buddha mashab Mahayana meyakini sosok-Nya sebagai Dewi Guan Im, namun umat Buddha mashab Theravada meyakini sosok-Nya sebagai Arahat atau makhluk suci yang telah mencapai kesempurnaan batin.