--> -->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 09

Jilid 09

Bab 40

Lalu aku melihat gemintang bercahya seperti lelatu yang berkobar dari Naga Api inikah maklumat dari Langit?

Ada satria pada padang nan tandus menatap gemintang serupa basir pasir seorang diri

lalu ia seperti membilang

rana-rana yang telah merenggut nyawa-nyawa sebanyak noktah perak di langit

- Fa Mulan

Refleksi Satria pada Padang Tandus

***

Fa Mulan mengendap dari balik serumpun bambu.

Daerah itu memang sudah dipenuhi oleh pasukan Mongol. Seratus kaki dari tempatnya mengintai memang telah terpancang tenda-tenda serupa cendawan raksasa. Di mana- mana ada lidah unggun yang meranggas, sesekali terdengar suara menggemeretak serta menebarkan bau abnus gosong yang menusuk-nusuk hidung.

Angin yang berembus semilir menyertakan sisa aroma khas kambing guling Mongol. Bau itu menyeruak bersama wangi arak dan dadih kuda, dibawa sang bayu sampai di ujung hidungnya. Fa Mulan menyandarkan bahunya di salah satu batang bambu. Duduk menjinjit sembari mengamati suasana barak musuh dengan mata mawas. Dadanya berdegup kencang. Armada besar berkuda itu jauh lebih berbahaya daripada nasar-nasar yang menghitam di langit. Tionggoan sesungguhnya di ambang bahaya.

Lima puluh kaki bukanlah jarak yang aman untuk mengamati gerak-gerik kaum nomad itu. Sebab pada jarak itulah beberapa puluh prajurit Mongol tengah meronda, hilir-mudik sepanjang barak menjaga keamanan tenda-tenda dan pasukan yang sedang beristirahat. Namun Fa Mulan memberanikan dirinya mendekat. Ia ingin mendeteksi seberapa besar kekuatan armada perang Mongol.

Diseretnya langkah kakinya dengan gerak hati-hati. Sebab reranting dan dedaunan yang mati mengerontang di tanah merupakan musuh tak bernyawa. Setiap bunyi derak pada tanah merupakan awal petaka. Maka dihindarinya bahaya dengan berjalan jinjit.

Dilewatinya beberapa puluh jajaran batang bambu yang jenjang merimbun dan bisu di pangkal hutan bambu, lalu menelusup di bahu tanah lapang sehingga berangsur dapat menangkap dengan jelas barak Mongol. Masih awas pula matanya yang menyipit menangkap beberapa pasukan berkulit legam matang tengah duduk bersila serta bertepuk-tepuk tangan di sekeliling sebuah lidah unggun. Menyuarakan himne bariton yang tak ia pahami maknanya.

Tetapi rupanya gulita malam belum pekat benar menangkup seluruh tanah dari terang basir gemintang. Juga cahaya yang meredup dari bulan separo di langit tengah. Sehingga sosoknya yang kamuflase oleh balutan satin hitam masih tampak di mata para prajurit jaga Mongol.

"Hei, siapa itu?!" teriak salah seorang prajurit jaga.

"Eh, dia lari masuk ke dalam hutan bambu," timpal prajurit jaga yang lainnya dengan suara lantang.

Fa Mulan terkesiap.

Teriakan salah seorang prajurit jaga Mongol itu menggugah malam yang senyap sehingga riuh mengundang perhatian seperti koak bulbul yang garing. Pasukan Mongol yang sedang mengaso sontak keluar beramai-ramai.

Lalu Fa Mulan seperti terbang, menjauhi barak musuh yang kini sudah menyemut dengan pasukan Mongol. Ia melompat seperti katak, dari satu dahan bambu ke dahan bambu berikutnya.

Ratusan pasukan Mongol mengejarnya dengan golok dan tombak yang terhunus hendak mencacah tubuhnya. "Jangan lari!" teriak prajurit jaga yang lainnya sembari terus mengejar Fa Mulan.

Memang tidak ada satu pun prajurit Mongol yang dapat menandingi kecepatan dan lesatan larinya. Dengan gingkang dan Taichi Chuan yang dipelajarinya semasa kanak-kanak dulu, kemampuan beladirinya memang jauh di atas rata-rata para prajurit Mongol itu.

Tetapi masalahnya ia tidak ingin takabur.

Sehebat apapun seseorang pastilah ia memiliki kelemahan. Apalagi dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan seperti sekarang. Seekor harimau akan takluk bila menghadapai jutaan koloni semut. Subtil itu yang sering didengung-dengungkan para pebijak di dalam dunia persilatan. Dan ia mematuhi semua itu demi keselamatan dirinya sendiri.

Fa Mulan masih terus berlari di antara dahan-dahan batang bambu.

Pasukan Mongol yang mengejarnya hanya dapat mengerubung, lalu menyebar dalam kelompok-kelompok kecil dan menutup beberapa jalan keluar dari hutan bambu tersebut sehingga mencegah upaya kabur buronan mereka.

Menyadari jalan keluar dari hutan bambu telah ditutup, Fa Mulan memilih bersembunyi di atas salah satu dahan batang bambu. Di bawahnya tampak sepuluh orang prajurit Mongol berdadap sedang menebas-nebas golok mereka ke segala arah di balik rerumpun gulma dan dedaunan bambu.

Seorang prajurit mengarahkan sinar lentera yang dibawanya ke segala arah. Tetapi lentera kecil mereka tidak cukup kuat menyinari area persembunyiannya sehingga untuk beberapa saat ia dapat bernapas lega, dan menunggu sampai prajurit- prajurit Mongol itu menjauh agar ia dapat mengendap kabur meninggalkan daerah musuh.

"Sialan! Orang itu kabur seperti menghilang tiba-tiba," umpat seorang prajurit Mongol berstola kelabu. "Pasti bukan orang biasa!"

"Mungkin. Tapi siapa, ya?" tanya seorang prajurit lainnya dengan nada penasaran.

"Barangkali mata-mata musuh."

"Ya, jelas mata-mata. Kalau bukan, mana mungkin orang tersebut mengendap-endap seperti maling."

"Ah, jangan-jangan kamu tadi salah lihat." "Tapi, saya lihat seperti orang."

"Jangan-jangan musang atau rusa." "Entahlah."

"Hah, atau jangan-jangan hantu?!"

"Hus, jangan sembarangan ngomong! Ini hutan bambu, tahu?!" "Habis, gelap. Mana saya tahu siapa yang tampak mengendap- endap tadi. Ya, sudah. Coba kita cari sekali lagi, mengitari daerah sebelah barat."

"Ayo."

Kesepuluh prajurit tersebut meninggalkan area persembunyiannya. Fa Mulan melompat turun saat sinar lentera telah melamur dan berangsur menghilang dari pandangannya, berganti dengan cahaya patah-patah dari bulan separo yang suram, yang menelusup di antara celah-celah tipis rimbun dedaunan. Namun ia tidak dapat sertamerta keluar dari jalan masuk tadi lagi. Sebab di sana telah tampak sepuluh prajurit Mongol lain yang mementang jalan, yang juga tengah mencari- carinya.

Untuk dapat keluar dari hutan bambu itu maka tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain bertarung dengan mereka.

Tetapi Fa Mulan masih menimbang-nimbang. Barangkali tindakannya itu akan memancing amarah panglima perang Mongol, dan mempercepat penyerangan mereka ke Tionggoan. Lalu akhirnya ia masih harus menunggu sampai prajurit-prajurit Mongol tersebut berlalu, dan membiarkan dirinya tetap terkurung di dalam hutan bambu dekat barak kaum nomad Mongol tersebut. Tetapi ia tersentak ketika dilihatnya prajurit-prajurit Mongol itu mengarah ke arah utara hutan bambu. Berjalan menjauhi dirinya seiring derik jangkrik di sela-sela gulma.

Napasnya tertahan.

Langkah-langkah para prajurit yang menirus dari matanya lebih menakutkan ketimbang klaustrofobia yang menghinggapi benak setiap manusia. Digigitnya bibir. Ia terlalu ceroboh meninggalkan Khan tidak terlalu jauh dari hutan bambu ini. Ia terlalu gegabah menyertakan Khan ke arena tempur. Seharusnya ia sudah dapat menerka hal terburuk yang akan dialami oleh kuda kesayangannya itu. Tetapi ia terlalu percaya diri dan terlalu berani memata-matai pihak Mongol sampai ke barak mereka seorang diri. Padahal Shang Weng sudah mati-matian menahannya di pos pengawasan binara Tembok Besar. Ia memang terlalu keras kepala.

Sepasang kakinya melemas.

Ia merosot bertekuk lutut di tanah, memegang sebatang bambu menahan limbung tubuhnya. Restan ketakutan masih membayang di benaknya.

Oh, Khan yang malang! pekiknya dalam hati. Semoga Dewata melindungi Khan!

Sungguh. Disesalinya keputusannya yang membahang. Patriotisme memang akan terasa sia-sia bila dilakukan tanpa kontemplasi. Ia telah bertindak salah. Kini ia terjebak di sarang musuh. Dan baru sekali ini merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan sesuatu yang amat dicintainya sejak kanak-kanak dulu.

Khan belahan jiwanya! "Hei, kuda siapa ini?!" Tubuh Fa Mulan menegak.

Telinganya mendengung seolah-olah dikitari ribuan tawon. Suara bariton seorang prajurit yang menyapu keheningan hutan bambu menggigilkan tubuhnya. Ia berdiri dari berlutut.

Respirasinya mengembang tak wajar. Jantungnya berdetak seperti tabuh nekara. Memukul-mukul sampai dinding dadanya seakan-akan hendak pecah.

Khan tidak boleh mati! jeritnya dalam hati.

Lalu ia keluar dari tempat persembunyiannya, hendak menyelamatkan kuda hitam kesayangannya tersebut. Tetapi langkahnya tertahan saat tumitnya terangkat sejengkal dari tanah. Lompatan gingkang nya gagal oleh sebuah cekalan pada bahunya. Ada sebuah cakar berlengan kokoh yang menariknya kembali turun ke tanah.

Fa Mulan sontak menebas si Pencekal bahunya itu dengan pukulan telapak begitu kakinya menjejaki tanah. Ia memukul mengikuti gasingan tubuhnya, dari arah samping ke belakang punggung badan. Namun orang itu mengelit dinamis dengan mengayang seperti batang bambu yang menyusur tanah ditiup angin lantas kembali menegak dengan tubuh tegap. Cacah telapak tangannya gagal menebas kepala orang yang berbadan proporsional itu. Rupanya ia berhadapan dengan seseorang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Orang itu pasti bukan prajurit biasa, pikir Fa Mulan.

Menyadari tebasan telapak tangannya hanya menerpa angin, Fa Mulan mulai melancarkan serangan yang lebih dahsyat. Ia harus segera melumpuhkan orang itu agar dapat menolong Khan. Ia langsung menggunakan jurus Telapak Fa-nya, salah satu jurus andalan keluarganya para pemarga Fa.

Pemuda yang menghentikan langkahnya untuk menolong Khan tadi juga mengambil ancang-ancang menyambut serangan Fa Mulan. Ia mengulurkan tangan kirinya ke depan, menelapak dan lurus sejajar dengan wajahnya yang menggelap karena gulita.

Sementara tangan kanannya mengepal nyaris menempel di samping pipinya membentuk jurus serupa pedanuh dengan sepasang kaki yang membentuk kuda-kuda.

Tidak lama kemudian Fa Mulan sudah melesat cepat seperti anak panah yang terlontar dari busur. Dengan menghimpun seluruh tenaga ke sepasang telapak tangannya, ia mulai melakukan tebasan-tebasan ke titik mematikan dari tubuh pemuda itu. Ia menusuk-nusukkan telapaknya ke arah bagian ulu hati pemuda itu. Satu titik lemah yang paling rentan dan mematikan.

Namun pemuda itu terlalu tangguh untuk ditaklukkan meskipun Fa Mulan sudah menggunakan jurus-jurus mautnya. Kali ini ia serius ingin menghabisi pemuda itu. Ia tidak ingin membuang- buang waktu bertarung dengan kungfu tingkat dasar hanya untuk melumpuhkan. 

Khan dalam bahaya besar.

Ia tidak ingin kuda belahan jiwanya itu terbantai oleh prajurit jaga Mongol. Itulah yang membahangkan amarahnya, dan ingin segera mengakhiri pertarungan dengan menggunakan jurus pamungkas. Tetapi kali ini lawannya bukan keroco, orang yang memiliki ilmu silat rendah. Pemuda itu tidak dapat diremehkan.

Semakin kalap ia melancarkan pukulan, ia malah terdesak oleh tangkisan-tangkisan efektif pemuda itu yang berbalik dan berubah menjadi serangan balasan.

Jurus Telapak Fa yang digunakannya ternyata belum dapat melumpuhkan pemuda itu. Beberapa kali telapak tangannya membentur pepohonan, dan hanya menyisakan ngilu di sekujur lengannya. Sedikit frustasi, ia langsung menggunakan jurus andalannya yang lain, Tinju Bunga Matahari.

Jurus yang digunakannya tersebut lebih lembut ketimbang Telapak Fa. Jurusnya kali ini pun lebih akurat karena tidak semata-mata mengandalkan telapak tangan dan lengan sebagai penebas serta pemukul, tetapi lebih variatif karena jurusnya kali ini ditunjang dengan tendangan-tendangan yang meliuk.

Fa Mulan balik menyerang.

Ia sedikit di atas angin. Pemuda itu terundur beberapa langkah ke belakang. Ia kesulitan menangkis tendangan Fa Mulan yang berputar-putar di udara, dan sesekali mencangkul ke arah kepalanya. Tinju kepalan tangannya yang keras dan bertubi-tubi pun dapat ditepis oleh Fa Mulan dengan taktis. Jurus yang diilhami dari geletar dan kedinamisan bunga matahari yang diciptakannya tersebut memang menyulitkan pemuda itu.

Beberapa kali tinjunya itu terperangkap ke dalam jemari tangan Fa Mulan, lalu selang berikutnya kepalan tangannya yang meninju itu seperti terbelit oleh tangan Fa Mulan.

Dan ketika tubuh pemuda itu terentak maju oleh tarikan tangan Fa Mulan, maka seketika pula itu tangan Fa Mulan yang lainnya segera menumbuk dadanya. Pemuda itu terempas, terjerembab di tanah. Tetapi ia tidak ambruk. Tubuhnya yang tegap segera bangkit setelah jatuh.

Lalu ketika berhadap-hadapan saat masing-masing mengambil posisi kuda-kuda, Fa Mulan baru dapat menangkap jelas wajah pemuda itu. Sertamerta mulutnya ternganga. Sama sekali tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan pemuda yang pernah bertarung dengannya beberapa bulan lalu.

"Nona Fa?!" Ada teriakan bernada pekik mendahului sebelum Fa Mulan membuka pelepah bibirnya.

Fa Mulan mengernyitkan keningnya. "Pendekar Kao?!" "Kenapa Anda dapat kemari, Nona Fa?!" tanya pemuda yang bernama Kao Ching itu dengan nada heran.

"Saya. "

Kao Ching memintas. "Hei, sebaiknya kita tidak bicara di sini. Saya khawatir pasukan Mongol akan menemukan Anda. Mudah- mudahan mereka tidak mendengar suara pertarungan kita barusan."

"Ta-tapi, Khan. "

"Khan? Siapa dia?"

"Nama kuda saya. Saya harus menyelamatkan kuda saya itu!" Kao Ching kembali menarik bahu Fa Mulan. "Jangan! Jangan ke sana. Berbahaya. Nona Fa pasti akan tertangkap kalau ke sana. Di sana banyak prajurit Mongol."

"Ta-tapi kuda saya. "

"Jangan khawatir. Orang Mongol sangat mendewakan kuda. Mereka tidak akan membunuh kuda Anda, Nona Fa." "Tapi, Khan pasti. "

"Tidak usah cemas begitu, Nona Fa. Kuda Anda pasti dibawa ke tenda istal. Saya janji akan membebaskan kuda Anda setelah diri Anda sendiri selamat. Saya akan menjelaskan kepada prajurit jaga bahwa, kuda tersebut merupakan kuda saya yang tersesat di dekat barak, sehingga mereka tidak akan curiga kalau kuda tersebut adalah milik jasus Yuan. Sekarang, cepat sembunyi sebelum pasukan Mongol menemukan Anda di sini.

Untuk sementara waktu, Anda dapat bersembunyi dengan aman di tempat saya di sebelah timur dalam hutan bambu ini. Setelah menginap sampai malam ini, besok fajar Anda sudah dapat kembali ke markas Anda di pos pengawasan Tembok Besar." Pemuda itu menarik tangan Fa Mulan setengah paksa, meninggalkan area tengah hutan bambu. Ia sedikit lega setelah mendengar janji pemuda berdarah Mongol itu kepadanya.

Mereka berdua berjalan dengan langkah separuh mengendap. Cepat. Namun tetap berusaha bersikap mawas menghindari beberapa tumpukan dedaunan yang dapat menyebarkan suara riuh kala terinjak.

Setelah kurang lebih tiga ratus kaki berjalan dari tengah hutan bambu, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk bambu beratap rumbia. Ada gagak yang hinggap dan bertengger di cangkrang bambu samping gubuk sewaktu Kao Ching mendorong pintu. Sesaat sepasang daun pintu tua itu berderit seirama dengan koak parau dari tembolok unggas berbulu hitam tersebut. Suaranya yang sember dan patah-patah seperti mengartikulasi keberadaan baureksa yang bergentayangan di dalam hutan bambu.

Daun pintu serupa jaro itu terpentang.

Di dalam masih menyala sebuah penerangan dari lampu minyak samin. Fa Mulan masuk mengikuti langkah pemuda itu yang sudah menyeret satu bangku bambu untuknya.

"Nona Fa. "

"Panggil nama saya saja, Pendekar Kao," pintas Fa Mulan. "Mulan."

Kao Ching tersenyum. Dua kawah kecil di sudut bibirnya terbentuk natural dan manis. "Baik, Mulan."

"Gubuk ini. "

Kao Ching berdeham. "Gubuk ini dulunya milik sepasang petani rebung. Tapi sejak tanah lapang di seberang hutan bambu ini dijadikan markas oleh pasukan Mongol, mereka pun mengungsi ke tempat lain. Di gubuk inilah saya tinggal, menjauhi pasukan Mongol yang pongah. Saya sengaja tidak tinggal di tenda barak karena saya ingin menghindari peperangan. Rasanya lebih tenang hidup menyendiri di sini. Pikiran dan perasaan saya lebih tenteram. Saya dapat bermeditasi tanpa terganggu oleh hiruk- pikuk militan barak," jelasnya panjang-lebar.

Fa Mulan mengangguk-angguk lalu menyisir suasana di dalam gubuk kecil itu dengan matanya. Tidak ada apa-apa selain sebuah meja dengan sepasang bangku yang terbuat dari bambu. Di sudut kiri gubuk yang berlantai tanah tersebut, terdapat amben bambu beralas majun setinggi keting. Di atas amben terlihat balok bantal dari batang bambu berlapis kain serupa yang sudah sobek dan mengumal. Dinding-dinding gubuk nyaris kosong tak tercantol apa-apa selain sebuah busur bergagang mohair dan karpai anak panah dari kulit rusa.

"Saya prihatin dengan situasi yang semakin menegang di daerah ini. Petani-petani angkat kaki dari hutan bambu ini. Tidak ada ketenangan lagi. Ah, sebagai Mongol saya merasa bersalah karena secara tidak langsung telah mengganggu ketenteraman penduduk di hutan bambu ini."

Fa Mulan mengangguk.

Dilihatnya binar pada sepasang mata bola yang meredup di hadapannya. Penyesalan dan keprihatinan yang tulus bermuasal dari nurani. Pemuda itu memang prajurit resi.

"Maafkan saya," sesal Fa Mulan, menggugah keterdiaman yang mengambang di dalam gubuk. "Saya sudah mengganggu barak Mongol."

"Tugas yang membawa Anda kemari," tukas Kao Ching. "Itu bukan kesalahan Anda pribadi."

"Tapi, saya ada dalam posisi jasus, Pendekar Kao."

"Jasus lawan bukan berarti musuh, apalagi ditimpali dengan sebilah pedang tanpa musabab."

"Seharusnya Anda dapat menangkap saya. Bukannya malah menghindarkan saya dari sergapan pasukan Mongol tersebut." "Kalau saya ingin menangkap Anda, sedari tadi saat Anda masuk ke hutan bambu ini, Anda pasti sudah saya tangkap basah sedang mengintai barak Mongol."

"Oh, ternyata sudah sedari tadi Anda mengetahui keberadaan saya di hutan bambu ini, Pendekar Kao?"

"Ya. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mengintai barak Mongol itu adalah Anda, Mulan."

"Kenapa Anda tidak menangkap saya?" "Korelasinya apa?"

"Saya ini pihak yang berseberangan dengan Anda. Saya merupakan musuh Mongol."

"Tapi saya tidak pernah menganggap Anda musuh."

"Kenapa? Bukankah saya ini telah mengintai kekuatan armada perang Mongol, dan suatu ketika pasti akan membocorkan data itu kepada pihak Yuan? Saat ini saya merupakan orang yang paling berbahaya bagi pasukan Mongol."

"Lalu, apakah dengan menangkap Anda akan membawa perubahan signifikan untuk kesejahteraan rakyat Mongol?" Fa Mulan terkesiap. Dipejamkannya mata meresapi sejenak keteduhan dalam kalimat-kalimat pemuda itu. Masih adakah prajurit resi seperti Kao Ching di dunia ini? batinnya sembari menghela napas panjang kemudian.

"Maksud Anda?" tanyanya, ruap ekspresi yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya.

Kao Ching mengangkat kepalanya sejurus. "Seperti yang sudah saya katakan kepada Anda sewaktu kita bertarung di pos pengawasan Tembok Besar dulu, bahwa saya tidak setuju dengan perang. Perang tidak membawa faedah apa-apa bagi Mongol maupun Yuan. Perang adalahlah destruktifitas yang hanya akan menghancurkan kedua belah pihak. Menang jadi arang, dan yang kalah menjadi abu. Jadi, untuk apa saya menangkap Anda?"

"Tapi. "

"Anda memiliki alasan untuk mengintai, seperti yang pernah saya lakukan dulu, memata-matai Yuan dan jasus Mongol sendiri di daerah perbatasan Tembok Besar. Saya yakin Anda tidak bermaksud batil. Saya percaya Anda adalah prajurit darwis. Prajurit sejati yang resi."

"Saya tidak seagung apa yang Anda maksud, Pendekar Kao," tolak Fa Mulan, tersenyum di ujung kalimatnya. Kao Ching tertawa. "Ya, mungkin tidak serealis itu. Tapi, paling tidak Anda adalah prajurit yang berhati baik."

Fa Mulan turut tertawa. "Kalau baik, saya tidak akan menjadi prajurit wamil. Tapi saya akan menjadi pertapa, mengajarkan kebenaran dan kebajikan kepada semua manusia." "Mengejawantahkan kebenaran dan kebajikan tidak harus menjadi resi. Sebagai prajurit yang bersenjatakan pedang dan tombak, tidak berarti Anda tak dapat mengaplikasikan kebajikan kepada semua orang. Prajurit yang gagah berani dan penuh dengan pengorbanan merupakan wujud resi dalam bentuk lain. Prajurit yang demikian tidak akan memandang perang sebagai alternatif destruktif untuk mencapai tujuan tahana yang anani.

Tapi perang adalah proses akumulasi sebuah cita-cita murni tanpa bahang ambisi. Perang untuk mempertahankan negara dan memperjuangkan rakyat kecil yang tertindas adalah sahih. Bukankah begitu, Mulan?"

Gadis berambut bukung itu mengangguk. "Tapi, sesungguhnya Andalah prajurit resi itu, Pendekar Kao."

Kao Ching menggelengkan kepalanya pelan. "Saya hanya pengelana gurun, Mulan."

"Apa bedanya dengan saya yang prajurit biasa?" aku Fa Mulan merendah sembari menggambarkan maksud kalimatnya dengan mengarahkan telunjuknya ke dadanya. Mereka terbahak.

Fa Mulan sejenak melupakan harab yang bakal memporak- porandakan dua kubu, Tionggoan dan Mongolia. Juga ripuh tentang Khan, kuda kesayangannya. Ia menghela napas, menghirup udara dingin dari selusupan dedaunan bambu dan gulma yang membawa renyai embun ke cupu hidungnya.

Satu orang prajurit sejati seperti Kao Ching memang tidak terlalu berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan kebajikan di tanah babur Tionggoan. Tetapi ia yakin itu adalah awal mula kebajikan yang mulai menunas di tanah kerontang Tionggoan.

Dan hal itu merupakan sebagian kecil dari mimpinya yang sempurna.

***

Nyanyian rerimbun daun bambu yang diembus angin masih menyentuh dinding-dinding gulita. Suara itu menelusup di antara gulma dan reranting. Beberapa partikel itu menghilang ke senyap langit. Lalu sebagian kecil masuk ke dalam gubuk, membelai indera pendengaran kedua anak manusia itu dalam syahdu birama malam.

Kao Ching mengungkap terus-terang. "Beberapa hari lagi pasukan Mongol akan menyerang Yuan, Mulan!"

"Saya sudah tahu dari jasus Yuan yang sudah lama mengintai di daerah ini. Terima kasih atas risalah Anda, Pendekar Kao," tanggap Fa Mulan, memejamkan matanya sesaat.

Kao Ching menarik napas panjang. "Saya prihatin atas rencana penyerangan Mongol itu, Mulan."

"Mungkin semua itu takdir. Saya pun gamang. Pada akhirnya rakyat jugalah yang akan menderita akibat perang. Ah, kita harus bagaimana lagi?!" sahut Fa Mulan resah.

"Yah, saya pun sudah pasrah, Mulan. Saya tidak memiliki legitimasi apa-apa mengurungkan niat ayah angkat saya untuk menyerang Tionggoan. Beliau sudah dibahang ambisi, sebentuk jumawitas setelah berhasil menaklukkan beberapa daerah gegurun dan kota kecil di luar Tionggoan."

"Ya, sudahlah, Pendekar Kao. Maharana tak mungkin dielakkan lagi. Saya hanya bisa berharap semoga semuanya lekas berlalu."

"Ya, semoga semuanya lekas berlalu." Fa Mulan mengembuskan napas keras.

Ia menundukkan kepala, menatap lantai tanah merah di dalam gubuk sebagai reaksi kerisauannya. Pandangannya mengitari kaki-kaki meja, dan berhenti pada jendul di sisi dalam sepatunya. Tiba-tiba, kelopak matanya meruak. Tertuju fokus pada benda yang menyisip di antara matakaki dan batas sepatu. Ia teringat sesuatu yang sudah lama menyertainya ke mana pun juga. Belati 'Rajawali Satu'!

"Belati 'Rajawali Satu'!" serunya tanpa sadar.

Kao Ching terperangah. Menatap lamat gadis yang berseru tanpa sadar di hadapannya. Ia seolah mendengar swara dari svargaloka. Matanya berbinar-binar. Permata belahan jiwanya yang hilang karena kecerobohannya telah teridentifikasi melalui gadis yang tengah duduk di hadapannya.

"Belati 'Rajawali Satu'?!" tanyanya mendesis. "Kenapa Anda bisa tahu perihal belati tersebut?!"

Fa Mulan mengeluarkan belati milik Kao Ching yang terjatuh saat bertarung dengannya di pos pengawasan Tembok Besar lalu, yang selalu disimpannya pada sisi sebelah dalam lapiknya. Kao Ching menahan napas ketika melihat kilau keemasan belati yang beberapa saat menghilang darinya. Ia mengembuskan napas. Sungguh. Dewata seolah mengutus gadis itu untuk menyerahkan kembali belahan jiwanya yang hilang.

"Belati ini milik Anda, Pendekar Kao!" sahut Fa Mulan, menyodorkan belati bersarung emas itu kepada pemiliknya yang semula. "Jatuh tercecer saat kita bertarung dulu. Saya menemukannya, dan selalu membawanya ke mana pun saya pergi. Saya berharap suatu saat belati ini akan kembali kepada pemiliknya. Dan ternyata belati ini memang berjodoh dengan Anda. Nampaknya belati ini sangat berarti buat Anda. Betul, bukan?"

Kao Ching mengangguk dalam-dalam, menerima belati bersarung emas yang diangsurkan Fa Mulan kepadanya di atas meja. Dipandanginya lamat-lamat belati itu setelah berada di tangannya. Membolak-balik mata belati yang tajam serta mengilap tersebut beberapa saat setelah mengeluarkannya dari sarungnya yang estetik.

"Terima kasih, Mulan. Terima kasih karena Anda telah menyimpan belati saya dengan baik. Belati ini merupakan benda wasiat mendiang ayah kandung saya kepada saya. Sebenarnya ada dua. Belati yang lainnya, yang bernama 'Rajawali Dua' telah diberikan kepada Auw Yang Kauw," ucapnya berterima kasih, lalu menjelaskan muasal belatinya tersebut.

"Auw Yang Kauw?" Fa Mulan bertanya penasaran. "Siapa dia, Pendekar Kao?"

Kao Ching memaparkan. "Auw Yang Kauw adalah saudara angkat setaklik saya yang kini tinggal di Kiangsu. Dia sebenarnya totok Mongol. Tapi dia memakai nama Tionggoan seperti saya sejak lahir."

"Saudara angkat setaklik?" tanya Fa Mulan dengan dahi mengerut. "Maksud Anda apa, Pendekar Kao?"

"Kisahnya panjang," jawab Kao Ching. "Ya, kisahnya sangat panjang, kenapa sampai dia memakai nama salah satu suku Han, bahkan berasimilasi dan tinggal di Tionggoan. Bila berjodoh, kita akan bertemu lagi dan, saya akan menceritakan kepada Anda detil kisah masa kecil saya dan Auw Yang Kauw alias Si Putra Matahari itu, Mulan."

Fa Mulan mengangguk.

Memang bukan saat yang tepat bila malam ini ia mendengar kisah silam Kao Ching yang pasti menyimpan banyak kenangan. Sebab malam ini ia merasa lelah.

Sangat lelah.

Bab 41

Cinta adalah pias deru

dari bayu yang bercampur debu ia berembus dari hati manusia

dan melentuk majas dalam rahimnya sendiri

- Kao Ching

Elegi Cinta di antara Maharana

***

"Apakah jabatan itu demikian penting bagimu, A Kauw?" "Penting atau tidak, saya hanya ingin dihormati oleh semua orang."

"Oh, A Kauw. " "Sudahlah, Ibu. Saya hanya tidak ingin dihina. Saya ingin mengangkat harkat keluarga kita sehingga tak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat melecehkan kita lagi."

"Ibu tidak menginginkan segala kemuliaan yang menjadi majas dalam benakmu itu! Yang Ibu inginkan hanya satu, yaitu kebahagiaanmu. Bukan kejayaan, bukan kekayaan. Tapi, kebahagiaanmu."

"Sebelum cita-cita saya terwujud, selamanya saya tidak pernah akan bahagia."

"Apalagi yang kurang, A Kauw?! Bukankah A Ling merupakan permata yang tak ternilai di dalam keluarga kita?!"

"Jangan menyebut-nyebut nama cucu Ibu untuk menghalangi niat saya mewujudkan cita-cita saya!"

"Kalau begitu, bagaimana dengan Chang Mei?" "Perempuan itu pilihan Ibu, bukan pilihan saya. Dan. "

"Ya, Dewata! Kamu sudah keterlaluan, A Kauw! Biar bagaimanapun, dia adalah istrimu."

"Dia istri sekaligus penghalang langkah saya yang Ibu sodorkan kepada saya!"

"Ti-tidak benar. "

"Saya harus pergi!"

Pemuda itu menggabruk sepasang daun pintu sehingga terpelanting dan ruyak. Gubuk yang menaunginya belasan tahun sungguh tak layak lagi. Ia bersumpah untuk berjuang memperbaiki derajat kehidupan mereka.

"Nak, jangan pergi!" "Saya harus pergi!"

"Ambisi akan menghancurkanmu, A Kauw!" "Saya sudah tidak tahan hidup menderita, Ibu!"

"Bersabarlah, A Kauw. Tidak selamanya kita hidup menderita begini."

"Sampai kapan kita harus bersabar?!" "Ta-tapi. "

"Kenapa Ibu selalu melarang saya?! Kenapa Ibu selalu memasung langkah saya?! Kenapa?!"

"Ibu tidak memasungmu, A Kauw. Ibu hanya tidak ingin kamu dihancurkan oleh ambisi dan emosi yang meledak-ledak begitu. Lihat, apa yang telah kamu korbankan demi cita-cita naifmu." "Saya tidak naif! Saya hanya ingin memperoleh apa yang seharusnya menjadi hak kita! Oh, sungguh bedebah keadaan yang telah mengombang-ambingkan kita ke dalam penderitaan ini!"

"Bukan keadaan yang salah! bukan takdir yang salah! Tidak ada yang salah. Hanya saja kamulah yang telah dibahang ambisi." "Maaf, saya harus pergi!"

Seketika itu pemuda tersebut meninggalkan kampung halamannya. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya menyongsong cita-cita setinggi langit. Tak jua tangisan bayinya yang masih memerah. Juga jeritan pilu perempuan muda yang telah setia menyertainya selama ini.

"Nak, belajarlah kepada kesederhanaan Kao Ching!" Kao Ching?!

Kepala pemuda bertubuh jangkung itu serasa meledak. Sepasang gerahamnya mengatup. Kenapa semua orang membangga-banggakan saudara setakliknya itu?!

Demi langit dan bumi, ia bersumpah untuk dapat menjadi orang paling terpandang di Tionggoan!

Bab 42

Angin menjemput rani di gerbang tua kala mahardika termenung dan sendiri di antara tubir bingkai jendela

dan pada kelopak daun pintu

yang menderit dan menggerus parau karena lapuk Sungguh,

seketika itu tak terdengar lagi sebentuk nada pondik

Istana, Istana telah terbakar

baunya yang kobong menyeruak sampai di sini di manakah engkau para rani

akan hilangkah segala sekar wangi dan rupa rupawan?

Masa hanya mengendus kematian tanpa tangis dan makam tanpa nisan

lewat cupu hidungnya yang telah mengaroma making

- Bao Ling

Makam Tanpa Nisan

***

Setelah memata-matai barak Mongol, Fa Mulan kembali ke pos pengawasan Tembok Besar. Ia menyampaikan kebenaran berita buruk rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan itu kepada Shang Weng yang, sudah bersiaga dengan kekuatan penuh. Armada perang Yuan telah membentengi Tembok Besar, yang merupakan salah satu jalan masuk utama ke Ibukota Da- du.

Sementara itu Kao Ching melarikan diri dari barak Mongol, dan ia kembali ke Kiangsu menemani ibu kandungnya. Ia mengambil keputusan yang kontroversial sesaat sebelum armada perang Mongolia menyerang Tionggoan. Ia mengundurkan diri dari kemiliteran Mongolia setelah menolak melibatkan diri dan memimpin dalam penyerangan besar-besaran pasukan Mongol ke Tionggoan. Ia pun memutuskan hubungan dengan ayah angkatnya - Genghis Khan - untuk selama-lamanya. Dan sejak saat itu Fa Mulan tidak pernah bertemu dengan pemuda berdarah Han-Mongol itu lagi.

Festival Barongsai yang akan diselenggarakan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan di Ibukota Da-du urung terlaksana. Penyerangan besar-besaran pasukan Mongol di daerah perbatasan Tembok Besar telah membatalkan acara yang, semula bakal dilaksanakan untuk merayakan kemenangan Yuan atas pasukan pemberontak Han.

Prajurit Yuan pimpinan Shang Weng dan Fa Mulan tidak sanggup membendung armada perang berkuda Mongol. Divisi Kavaleri Fo Liong yang semula ampuh melumpuhkan pasukan pemberontak Han di daerah perbatasan Tembok Besar dulu dapat ditaklukkan oleh kaum nomad Mongol tersebut dengan pasukan berpanahnya.

Shang Weng dan Fa Mulan serta beberapa ribu prajurit Yuan yang masih selamat melarikan diri ke Kiangsu, daerah terdekat yang masih dapat mereka capai untuk bersembunyi. Di sana mereka menyusun siasat pembalasan dan pengusiran pasukan Mongol yang sudah menguasai dusun-dusun kecil di Tionggoan. Setelah itu mereka semua perlahan kembali ke Kamp Utara di Tung Shao. Bergabung dengan beberapa ribu pasukan cadangan dari dua divisi militer. Divisi Infanteri dan Divisi Kavaleri Danuh yang masih solid.

Di Ibukota Da-du, Kaisar Yuan Ren Zhan sudah terkepung oleh beberapa ratus jasus handal Han pimpinan Jenderal Shan-Yu, dan ratusan anggota klan Perkumpulan Naga Muda pimpinan Ta Yun yang, mengail di air keruh. Mereka menyerang pada saat konsentrasi para atase militer Yuan terpusat ke daerah-daerah perbatasan dan pos pengawasan Tembok Besar sehingga cuai dengan pengamanan Sang Kaisar. Akibatnya, para pemberontak bahkan berhasil menerobos masuk ke dalam Istana Da-du setelah membunuh beberapa atase militer Yuan, termasuk Jenderal Gau Ming dan Perdana Menteri Shu Yong.

Namun upaya pembunuhan Kaisar Yuan Ren Zhan dapat digagalkan oleh beberapa pengawal handal Istana Da-du. Kaisar Yuan Ren Zhan lolos dari maut. Ia dilarikan ke Kamp Utara di Tung Shao. Semua keluarga dan kerabat Istana Da-du beberapa hari sebelumnya telah melarikan diri ke kediaman Pangeran Yuan Ren Qing di Istana Kiangsu.

Di Tung Shao, Fa Mulan berupaya keras menghimpun kekuatan baru dari prajurit-prajurit Yuan yang tersisa. Juga menarik simpatisan rakyat jelata di dusun-dusun sekitar Kamp Utara untuk bersatu padu melawan pasukan Mongol yang sudah menyerbu dan menyerang Tionggoan. Di markas militer Tung Shao itu pula Fa Mulan bekerja keras tanpa lelah menyusun strategi baru untuk mempertahankan Tionggoan yang sudah berada di ujung tanduk.

"Maaf, makanan untuk Asisten Fa," sahut seorang prajurit yang membawa nampan berisi makanan untuk Fa Mulan yang tengah duduk di belakang meja tulisnya di dalam tenda.

Fa Mulan mengangkat muka. Tangannya yang masih memegang pena kuas mengambang di udara. Manuskrip strategi perang yang ditulisnya berhenti pada lajur gigir. "Terima kasih. Taruh di atas meja makan."

"Siap, Asisten Fa."

"Eit, tunggu. Makanan apa-apa saja hari ini?"

"Selain nasi, ada sayur asin dan daging burung dara yang hanya khusus disuguhkan kepada Asisten Fa dan Kapten Shang." "Kalian sendiri makan apa hari ini?"

"Kami hanya makan nasi jagung."

"Kalau begitu, ganti makanan saya itu dengan nasi jagung!" "Ta-tapi. "

"Ini perintah! Saya hanya ingin makan kalau makanan yang disuguhkan kepada saya sama dengan yang kalian makan hari ini."

"Ta-tapi, Asisten Fa. "

"Cepat ganti! Bagikan makanan yang agak lezat ini kepada prajurit-prajurit yang sakit dan terluka parah." "Siap, Asisten Fa."

Bab 43

Hwasan antara sekar bunga dan papa dunia

adakah yang lebih indah dan buruk darinya?

- Oey Young Elegi Pengemis

***

Gadis itu sudah mendengar berita buruk yang terjadi di Ibukota Da-du. Meski pulau yang didiaminya terpencil dari segala kisruh, namun tak urung kabar miris itu sampai juga ke telinganya.

Kehidupan penduduk dusun di Pulau Bunga yang tenang tenteram tampaknya sudah mulai terusik.

Namun, ia tidak peduli. Dunianya masih penuh dengan bunga. "A Young. "

Gadis itu menoleh, sejenak mengalihkan pandangannya dari indah warni bunga. Ada suara sember yang menyita perhatiannya dari ritualitas pagi. Tarian serumpun bambu oleh embus sejuk angin. Pucuk dedaunan yang-liu yang basah oleh embun. Serta kicau pipit serupa senandung penyingsing malam. "Ada apa, Pek Thong?" "Hihihi."

Pertanyaan gadis berbola mata bagus itu disambut dengan cekikikan. Giginya yang nyaris ompong terkuak lewat bibirnya yang ringsing - satu gambaran nyata tentang fisik yang telah termakan usia.

"Kenapa tertawa?" Oey Young bertanya, lebih sekedar menanggapi kehadiran orangtua yang masih bersifat kekanak- kanakan itu ketimbang rasa penasarannya atas sikap anehnya. "Saya suka dengan keadaan kisruh di Ibukota Da-du."

Oey Young sontak tersenyum. Dilemparkannya sebatang perdu liar yang sedari tadi digenggamnya. "Kenapa bisa begitu?" Chie Pek Thong melonjak riang, bertepuk-tepuk tangan. "Yah, karena saya senang saja."

Oey Young menggeleng-geleng. "Kamu memang aneh, Phek Thong."

"Memangnya kenapa?" sanggah orangtua berbadan gemuk itu dengan dahi mengerut. "Memangnya salah apa?"

"Tidak ada yang salah." "Lalu. "

"Masalahnya, Tionggoan dalam bahaya."

"Peduli amat," cibir Chie Phek Thong, mengibaskan tangannya. "Memangnya kamu juga peduli?" Oey Young kini terbahak. "Memangnya apa pedulimu terhadap saya?"

Orangtua berambut perak itu kembali melonjak, bertepuk-tepuk tangan. "Nah, sama, bukan?"

"Maksudmu?"

"Sekarang, apa korelasi Tionggoan terhadap kita kalau kita peduli?"

"Yah, paling tidak kita ikut prihatin atas penyerbuan Mongol ke Ibukota Da-du."

"Peduli amat!"

"Kamu tidak nasionalis, Phek Thong." "Lha, kamu sendiri bagaimana?!" "Saya. "

"Hihihi. "

"Apanya yang lucu?"

"Tidak ada yang lucu, sebenarnya." "Lalu. "

Chie Phek Thong bukannya menjawab, ia malah menguap lebar seolah acuh tak acuh. "Huaaap."

Oey Young tersenyum melihat tingkah bocah orangtua tersebut. Lalu, seperti turut bertindak apatis, ia pun tak mencecar jawaban dari mulut sahabat tuanya itu. Diedarkannya matanya ke serumpun bambu yang bergeletar lembut ditiup angin. Sesekali memejamkan matanya menikmati semilir angin yang membelai dingin tengkuknya.

"Peduli amat mereka bunuh-bunuhan. Peduli amat apa yang akan mereka lakukan. Perang atau tidak, pejabat tinggi negara tetap sama saja."

"Tetap sama bagaimana?" tanya Oey Young datar, tak bermaksud untuk ditanggapi. Tangannya berusaha menjangkau setangkai yang-liu di sampingnya, yang telah bermekaran seperti kupu-kupu bersayap merah jambu.

Chie Pek Thong membeliak-beliakkan dan membolakan matanya. "Tetap sama maksud saya adalah, mereka tetap diperbudak oleh harta dan kekuasaan."

Oey Young terbahak spontan.

Chie Phek Thong mengernyitkan dahi. "Kenapa tertawa?" "Saya sama sekali tidak menyangka kalau seorang Chie Phek

Thong bisa seposesif begitu menanggapi aktualisasi yang terjadi di Istana," urai Oey Young setelah menyurutkan tawanya. "Kenyataannya. "

"Kenyataannya memang begitu, bukan? Pejabat dan petinggi negara semuanya sama saja. Mereka tidak ada bedanya dengan tikus. Setiap hari mereka menggorogoti padi di lumbung rakyat. Bukankah itu yang melatarbelakangi sikap antipatimu, Pek Thong?" "Nah, kalau begitu, untuk apa kita harus peduli?!"

"Sebaga rakyat Tionggon, bukankah merupakan kewajiban kita untuk mempertahankan kedaulatan negara dari serbuan bangsa asing?"

"Mempertahankan kedaulatan negara kamu bilang?! Hei, bukannya saya apatis di saat negara di ambang kehancuran, tapi saya lebih melihat kalau Tionggoan memang sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Kamu pikir para pejabat dan petinggi Istana peduli terhadap kondisi chaos negara? Huh, jangankan berkorban, peduli saja mereka ogah. Paling juga mereka sudah kabur memboyong harta-benda mereka sebelum agresor menduduki Istana Da-du. Eit, lupa. Sekaligus memboyong selir- selir mereka!"

"Justru karena itulah diperlukan kepedulian orang-orang seperti kita, Phek Thong."

"Seribu tahun pun Tionggoan akan selamanya kelam."

"Kamu pesimistis, Phek Thong. Harus siapa lagi kalau bukan kita yang berandil menyelamatkan Tionggoan?"

Chie Phek Thong kembali menguap. "Sudah, sudah. Aku jadi mengantuk membahas persoalan negara. Biarkan saja mereka memetik buah dari hasil batil yang mereka tanam di masa lalu." "Hei, jangan nirapologis begitu. Toh, rakyat jugalah yang akan menderita bila pasukan besar Mongolia menguasai Tionggoan." Chie Pek Thong terkikik. "Siapa suruh. "

"Kamu memang terlalu kekanak-kanakan, Phek Thong!" "Bukannya begitu, A Young. Tapi, saya sudah muak melihat tingkah laku apostasi petinggi dan pejabat Istana yang tiran dan korup. Itu hukuman bagi mereka!"

"Menghujat para pejabat dan petinggi Istana tanpa apologis tidak ada gunanya sementara stabilitas Tionggoan sudah berada di ujung tanduk."

"Kalau begitu, kamu saja yang jadi pejabat di Istana menggantikan mereka. Saya ingin lihat, apa kamu bisa menjalankan roda pemerintahan kita yang sudah semberawut, A Young! Apa kamu bisa menyelamatkan Tionggoan?!"

"Hei, kamu pikir gampang menjadi pejabat Istana?"

"Saya tidak berpikir begitu. Hanya, saya ingin tegaskan kepada kamu kalau memimpin itu jauh lebih sulit daripada memerintah." "Memang begitu, Phek Thong. Jika seseorang telah menduduki takhta tertinggi, biasanya ia akan lupa dengan apa yang telah dicanang-canangkannya dahulu."

"Apa misalnya?"

"Membela rakyat kecil. Menyejahterakan rakyat dan negara. Mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi masing-masing penguasa."

"Tapi yang terjadi saat mereka telah berada di pucuk kekuasaan adalah sebaliknya, A Young."

"Justru itulah. Mereka tidak dapat berpikir rasional lagi karena dibuai oleh kekuasaan. Gemerlap harta telah membutakan nurani mereka sehingga apa yang menjadi landasan dan cita- cita semula - kesejahteraan rakyat - akan jauh dari harapan. Mereka tidak lagi memimpin, tapi memerintah. Bukankah hal itu disebut ingkar janji?"

"Makanya. "

"Makanya itu dalih kamu bersikap apatis, bukan?" "Alasannya memang begitu. Tapi, meski seapatis

bagaimanapun, saya tetap prihatin juga terhadap nasib bangsa kita yang caruk-maruk ini."

"Berarti, kamu masih memiliki nurani."

"Tidak juga. Tapi, boleh dibilang kalau saya peduli terhadap nasib bangsa kita ini, itu lantaran saya iba terhadap Kaypang." "Kaypang?!"

Kaypang?! Oey Young terperangah. Ia paham betul nasib sekelompok masyarakat marjinal yang membentuk komunitas di Ibukota Da-du tersebut. Kemiskinan merupakan predikat yang membedakan mereka dari Tionggoan. Mereka terbuang dan tersisih.

"Sejak Khung Lung meninggal setahun lalu, praktis tidak ada lagi yang memimpin Kaypang. Komunitas marjinal tersebut tercerai- berai. Mereka semakin melarat dan menderita."

Oey Young menarik napas panjang. Sejenak direnunginya kalimat Chie Phek Thong. Khung Lung identik dengan suara rakyat. Selama puluhan tahun ia telah memimpin sekelompok masyarakat miskin dengan penuh toleransi. Afeksinya terhadap nasib sebagian orang yang bernasib kurang beruntung telah memaksa raganya meninggalkan segala keningratan. Ia keluar dari Istana, membaur dan hidup papa selama akhir hayatnya.

Kaypang, sebuah komunitas bagi orang-orang yang terbuang merupakan belahan jiwanya. Ia hidup dan mati demi rakyat kecil. "Khung Lung. "

Oey Young kembali menghela napas. Kalimat tak rampung Chie Phek Thong seolah mempertegas paparan lembar suram Istana di benaknya. Korupsi yang merajalela, peneguhan kekuasaan dengan tumbal nyawa rakyat yang tak berdosa, serta seribu satu macam problema bangsa lainnya. Hatinya tertohok. Sungguh sebuah kesalahan besar telah berpaling dari kenyataan pahit itu. Dan sungguh merupakan dosa tak terampuni lari dari semua luka bangsa tersebut.

Sekian belas tahun, ia tak mengindahkan semua kejadian miris yang melanda Istana. Diasingkannya dirinya dari pikuk masalah. Ia lari dari kenyataan. Meninggalkan Istana Ching. Meninggalkan kedua orangtuanya. Sampai kalimat gurau Chie Phek Thong menyadarkannya untuk kembali. Kembali memikirkan masalah besar yang tengah dihadapi bangsa.

"Khung Lung adalah tokoh panutan dan paternalistik. Ia adalah pahlawan rakyat kecil. Kita bukan apa-apa dibandingkan dengan dia," lanjut Chie Phek Thong.

"Tentu, tentu," angguk Oey Young mengakuri, berusaha mengatasi keterperangahannya akibat kalimat-kalimat Chie Phek Thong barusan. "Kita memang bukan apa-apa dibandingkan dengan tokoh masyarakat marjinal itu."

"Ah, sudahlah, Oey Young," Chie Phek Thong mengibaskan tangannya dengan sikap apatis. "Saya mengantuk. Huaaap!" Lalu, lekaki tua bertubuh tambun itu melesat secepat angin. Meninggalkan Oey Young yang masih menyendiri. Terpekur meresapi setiap kalimat bersirat kebajikan. Dan selang berikutnya, Oey Young sudah berada di lintas kenangan silam. Ia terseret jauh ke belakang. Mengenang setiap jengkal lapak masa, sisik-melik kemanusiaan yang suram, yang telah ditorehkan oleh Istana.

Bab 44

Jangan menangis dara sebab lara telah reda biarlah bulir airmata menjadi permata mengilau mengaura

dalam setiap lafaz napasmu

- Oey Young

Senandung untuk para Papa

***

"Nama kamu siapa?"

Gadis kecil itu menggeleng. Rambutnya yang masai tersibak mengikuti arah goyangan lemah pada lehernya. Lalu ia menunduk seperti biasa. Tak berani bersirobok mata.

"Saya tidak memiliki nama, Puan," jawabnya datar. Perempuan muda itu membeliakkan mata. "Seseorang harus memiliki nama."

"Tapi, sungguh, saya tidak punya nama." "Aneh."

"Maaf. "

"Ya, sudahlah. Kalau kamu tidak ingin menyebut nama, toh saya tidak bisa memaksa."

"Tapi. "

"Tidak apa-apa." "Ta-tapi. " "Tidak apa-apa. Saya tidak akan marah. Kalau sudah siap nanti, kamu pasti akan menyebutkan nama kamu sendiri."

Perempuan itu tersenyum. Menegakkan badannya setelah membungkuk menyejajari tinggi sepinggang anak perempuan yang ditemuinya barusan di gerbang Istana. Lantas dibimbingnya bocah perempuan jalan sembilan itu ke ruang dalam Istana.

Namun gadis cilik itu menghentikan langkahnya. "Maaf, Puan. "

"Ada apa?"

"Saya tidak pantas. "

"Pantas atau tidak, sayalah yang berhak menentukan. Bukan orang lain. Bukan para dayang Istana. Bukan pula para kasim Istana. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."

"Tapi. "

"Ikutlah. Kamu tidak akan diapa-apakan. Hei, kamu sudah tiga hari tidak makan, bukan?"

"I-iya. Tapi. "

"Jangan takut."

"Bu-bukan begitu. "

Namun perempuan bertubuh lampai itu tetap memaksa, menyeret setengah memaksa bocah cilik berbaju kumal tersebut. Langkahnya yang tertahan diikuti oleh empat orang dayang istana yang sedari tadi setia mengikuti majikannya. "Orangtua kamu di mana?"

"Saya tidak memiliki orangtua, Puan."

Perempuan muda yang dipanggil dengan 'Puan' itu menghentikan langkahnya. Ia kembali membungkuk setengah badan, bersihadap dengan gadis cilik tanpa nama yang ditemuinya lusuh di gerbang istana tadi. Kemudian ditatapnya lamat gadis kecil yang tengah dituntunnya itu dengan dahi mengerinyit.

Seolah dapat membaca jalan pikiran perempuan berhati emas itu, gadis cilik itu lekas-lekas menyahut menegaskan.

"Betul, Puan, saya tidak memiliki orangtua. Saya tidak bohong. Sedari kecil, saya tidak pernah sekalipun melihat wajah kedua orangtua saya."

Perempuan aristokrat itu tersenyum geli melihat bocah dekil itu kegugupan.

"Siapa bilang kamu bohong? Saya percaya, saya percaya. Tapi. "

"Tapi apa, Puan?"

"Seperti juga nama, seseorang harus memiliki orangtua." "Tapi. "

"Ya, sudah. Mungkin kamu enggan menyebutkan nama kedua orangtua kamu."

"Ta-tapi, saya memang. " "Ya, sudah. Segera makan. Nanti kamu bisa sakit. Berdebat lama-lama tidak ada gunanya. Yang penting, perut kamu harus diisi dulu."

Gadis cilik itu manggut. Tidak membantah lagi. Dilihatnya perempuan muda puak terpandang itu mengibaskan tangannya mengaba supaya dayang-dayangnya segera menyiapkan makanan. Perutnya semakin keroncongan.

"Tidak keberatan kalau kamu saya panggil dengan nama Oey Young?"

Gadis cilik itu mengerinyit. "Oey Young?!" "Ya. Oey Young."

"Artinya apa, Puan?" "Teratai yang Indah." "Teratai yang Indah?!" "Kenapa? Tidak suka?" "Bu-bukan begitu. "

"Lalu, apa?"

"Saya tidak cantik, Puan. Saya tidak pantas menyandang nama sedemikian indahnya."

"Siapa bilang begitu?" "Kenyataannya. "

"Di manapun ia tumbuh, Teratai tetap akan indah. Sekalipun Teratai tumbuh di tengah kolam berlumpur." "Sa-saya. "

"Sudahlah, Oey Young. Makanlah. Nanti kamu bisa jatuh sakit." "Te-terima kasih, Puan!"

"Nah, begitu baru yang namanya anak manis."

Gadis cilik itu tersenyum. Dari sanalah hidup barunya berawal, dan merangkai kenangan yang mengiang sepanjang masa hidupnya....

Bab 45

Dentam rebana

mengiramai ritme gelinjang kaki mungil para jelita Mongku Ada wajah riang

dan tubuh ramping berkulit halus sewarna tembaga meliuk-liuk liar serupa kobra

mengitari unggun yang tiap sebentar melelatu indah serupa Fo Liong

Gadis-gadis berhidung bangir tersenyum sungguh, sungguh tak menyadari perana yang mendesis

serupa pematuk berbisa di Gobi

- Kao Ching

Tarian Dara Mongku ***

1208, Ulan Bator - Mongolia

Kao Niang menatap bayi yang tengah digendongnya dengan rupa baur. Airmatanya menitik tiap sebentar. Rambun seharian baru saja membawa kawat buruk. Orang yang dikasihinya, tumpuan segala harapan telah pergi untuk selama-lamanya.

Hamdan Nai-Ramdak terbantai dalam sebuah insiden berdarah di Ulan Bator.

Perang saudara yang melanda Mongolia telah merenggut nyawa suaminya sebagai korban kebiadaban zaman. Meski gagal menggulingkan kekuasaan Temujin menjadi Khan Agung dalam sebuah kudeta di tanah gurun, namun Bughut Orchibat - jenderal pembangkang - telah membinasakan banyak prajurit Temujin, juga rakyat tak berdosa.

Hatinya meradang.

Rambun semakin menyiksanya. Menggigit luar biasa dengan dinginnya yang dingin. Sementara bayi belum bernama dalam pelukannya itu terus menangis. Seolah-olah tahu kabar buruk yang dibawa oleh seorang peternak kuda tua kepada ibunya. "Kao Niang. "

Ada suara paruh tangis yang menggema di belakangnya. Ia menoleh setelah membalik badan. Daun tenda tersibak, partikel salju berhamburan masuk menyertai Layla Khubilai yang berjalan tergopoh setengah berlari ke hadapannya. Ia tampak menggendong bayi. Persis seusia bayi yang tengah digendongnya.

"Layla. "

"Abadur. "

Kao Niang menggumam. Ia sudah tahu kalimat apa yang hendak disampaikan oleh sahabatnya itu. Airmatanya kembali menitik. "Saya prihatin," desisnya.

Layla Khubilai bertanya pelan. "Kamu sudah tahu?!" Anggukan getasnya menjawabi.

Dibelainya rambut tipis bayinya yang masih memerah. Dirapatkannya selimut beledu kulit rusa yang membebat tubuh mungil itu yang kini telah tertidur. Perempuan yang tengah terkapar dalam luka di hadapannya tengah menggigit bibir.

Keras. Sampai nyaris berdarah. "Hamdan. "

"Dia juga tewas di tangan pasukan pemberontak pimpinan Jenderal Bughut Orchibat, Layla!"

"Ke-kenapa. "

"Seperti juga suamimu Abadur, Hamdan suami saya pun merupakan korban perang. Biarlah Dewata yang menghukum pembunuh-pembunuh kejam itu, Layla!"

"Sa-saya. " "Mungkin peristiwa tragis yang menimpa kita berdua ini merupakan takdir langit. Kita tidak boleh berkubang terus- menerus dalam kesedihan, Layla. Bayi kita masih memerlukan perhatian kita!"

"Tapi. "

"Besarkan bayi-bayi kita ini. Semoga mereka nantinya dapat menjadi pahlawan kebenaran bagi Mongolia."

"Tapi kita tidak memiliki siapa-siapa lagi, Kao Niang!" "Kita harus mandiri!"

"Mana bisa. "

"Layla, kalau sudah cukup besar, bayi-bayi ini dapat kita titipkan kepada Temujin. Beliau adalah pemimpin bijak yang welas asih. Saya yakin beliau dapat mendidik anak-anak kita dengan baik." Kepala Layla Khubilai menegak.

Sepasang matanya berbinar riang setelah disaput dukacita kehilangan orang yang paling dikasihinya. Ia mengangguk. Sertamerta mengakuri usulan Kao Niang, sahabatnya dari suku Han bersuamikan Mongol.

"Temujin tidak memiliki anak laki-laki," jelas Kao Niang. "Pasti dengan senang hati beliau akan menerima anak-anak kita!" "Terima kasih, Dewata nan Agung!" Layla mendongak, seolah memanjatkan doa syukur ke langit, di balik tenda kulit kempa lembu. "Tolonglah kami. Biarkan bayi-bayi kami ini dapat hidup layak bersama Temujin!"

Seperti merasakan pijar bahagia sahabatnya itu, Kao Niang kontan menepuk lembut punggung tangan Layla Khubilai dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggendong bayinya yang masih terlelap, dan sesekali terlihat menguap.

"Nama bayimu siapa, Kao Niang?"

Kao Niang mengembangkan senyumnya. Obat penawar lara ada pada wajah polos tanpa dosa bayinya. Tempat menaruh segala harapan. Karenanya ia memutuskan untuk tetap hidup.

"Kao Ching!" "Kao Ching?!"

"Kao yang teguh. Kao adalah marga kami. Sementara Ching dalam bahasa Han berharafiah teguh. Saya tidak ingin peristiwa tragis yang merenggut ayahnya menjadi kenangan abadi di benak saya. Makanya, bayi ini tak saya beri nama marga Hamdan. Biarlah semua berlalu ditelan sang waktu. Bayi ini saya beri nama yang berasal dari marga keluarga saya. Kao. Jadi, bayi ini bernama Kao Ching. Si Teguh Kao."

"Kamu cukup bijak untuk dapat melupakan masalah." "Yah, hanya itu saja yang dapat saya lakukan." "Saya salut dengan ketabahan kamu!"

"Saya berusaha sebisa mungkin melupakan semua peristiwa tragis itu. Saya hanya dapat menaruh harapan setinggi-tingginya kepada Kao Ching."

"Saya berniat mengikuti langkahmu!" "Jadi. "

"Bayi ini belum bernama. Setiap menyebut nama Abadur, hati saya seperti ditusuk pedang. Saya ingin melupakan dia seperti kamu melupakan Hamdan."

"Kamu beri nama apa bayimu, Layla?"

"Saya belum menemukan nama yang cocok. Yang pasti, saya tidak ingin menggunakan marga ayahnya."

"Yah, mungkin itu lebih baik. Mongolia memang menyimpan banyak kenangan buruk di dalam benak kita masing-masing." "Bagaimana kalau kamu yang menamainya, Kao Niang?" Kao Niang terkesiap.

Terkejut atas permintaan Layla Khubilai. Dalam kalangan suku Han, permintaan barusan merupakan penghormatan yang tiada tara. Ia melebarkan bibir. Mengurai senyum bijak.

"Mana boleh begitu, Layla. Nama merupakan roh anak kita. Tidak boleh dinamai sembarangan. Terlebih-lebih diberikan oleh sembarang orang. Saya tidak boleh. "

"Tapi, saya tidak ingin bayi saya ini mereplikasi sifat ayahnya. Dia tidak boleh menjadi prajurit. Saya harus menjauhkan dia dari bayang kelam Mongolia. Makanya. " "Makanya kamu meminta saya menamainya dengan nama Han, bukan?"

Perempuan berwajah tirus kecoklatan itu mengangguk. Sepasang mata besarnya masih membasah. Tetapi ia tidak dirangsa nelangsa lagi. Hatinya sedikit lapang bila mengingat buah hatinya yang masih tertinggal. Tempat menumbuhkan segala harapan.

"Tolonglah, Kao Niang. "

"Saya tidak bisa, Layla. Bukannya saya tidak mau menolongmu. Tapi, dalam kultur kami, hal tersebut sangat tabu."

"Ja-jadi. "

"Dia tetap Mongol meskipun berganti nama sekalipun, Layla!" "Tapi. "

"Kao Ching lain. Dia masih memiliki darah Han. Kamu tahu. "

"Kao Niang. "

"Bersabarlah, Layla. Mungkin sedikit hari kamu dapat menemukan nama yang tepat untuk bayimu."

"Tapi, saya. "

"Biarlah bayimu tumbuh secara alamiah, Layla. Nama untuk dia hanya soal waktu. Melupakan kenangan sepat tidak sertamerta dapat dilakukan, meski bayimu itu berganti kulit sekalipun." "Baiklah kalau kamu bersikeras menolak, Kao Niang. Tapi, paling tidak kamu mengusulkan satu nama untuk bayi saya ini." "Nama Han?"

"Tentu saja. Saya tidak ingin kenangan Mongol selalu bercokol di benak saya."

"Tapi. "

"Ayolah, Kao Niang. Anggap saja saya sedang memohon, sekali ini saja. Hanya satu nama."

"Tapi saya tidak berhak. "

"Kamu berhak, Kao Niang!"

"Arwah Abadur akan menyalahkan saya!"

"Tidak. Bukankah dia pernah mengatakan kalau anak-anak kita nanti akan dipersatukan dalam ijab?"

Kao Niang kembali terkesiap.

Ia teringat sesuatu. Tentang taklik yang pernah disepakati oleh Hamdan dan Abadur. Kelak bila anak mereka lahir sebagai perempuan dan laki-laki, maka kedua anak tersebut akan dinikahkan. Bila kedua-duanya terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, maka mereka akan dijadikan saudara angkat. Maka Hamdan dan Abadur pun sepakat untuk membuat benda materiil simbol ikatan itu.

Dibuatlah dua belati bersarung emas. Anak yang terlahir duluan akan mendapat belati yang berukir aksara ®Rajawali Satu', dan

anak yang terlahir kemudian akan mendapat belati serupa berukir aksara ®Rajawali Dua'. "Auw Yang Kauw, Si Rajawali Dua!"

Badan Layla Khubilai sontak menegak. Ia mengernyit dengan pikiran magel. Atas dasar apa sahabatnya itu memilih nama Han itu? Dan seperti sudah tahu apa yang bersemayam di benaknya, Kao Niang langsung menjawabi pertanyaan yang hanya berdenting sekilas di kepalanya tersebut.

"Auw Yang Kauw berarti Putra Matahari. Si Putra Matahari. Matahari yang diharapkan dapat terus-menerus memancarkan sinarnya untuk kehidupan manusia."

"Rajawali Dua. "

"Itu nama belati bersarung emas untuk putramu. Abadur pasti sudah menceritakan kepadamu, bukan?"

Sesaat Layla Khubilai masih mengernyit.

Mencoba menghimpun serangkaian kalimat yang pernah disampaikan oleh mendiang suaminya menyikapi taklik yang sudah disepakatinya dengan almarhum Hamdan. Dan akhirnya ia mengangguk setelah memori hal itu terkuak di benaknya. "Karena bayimu lahir lebih lambat tiga hari dari bayi saya, maka

otomatis dia menerima belati ®Rajawali Dua' itu, Layla."

"Saya paham. Jadi hari ini, Kao Ching bayimu, dan bayi saya, Auw Yang Kauw, resmi menjadi saudara angkat!"

"Ya. Semoga kedua bayi kita ini dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara kita, Mongolia!" "Semoga Dewata melimpahkan anugerah kepada bayi-bayi kita." Layla Khubilai kembali mendongak. Kao Niang mengikuti tingkah perempuan muda tersebut tanpa sadar. Seolah sedang berusaha mengintip Dewata di balik tenda kulit kempa lembu.

Namun yang terlihat hanyalah kerangka-kerangka tenda dari tiang-tiang mahoni. Juga partikel-partikel rambun yang menitik di punggung tiang-tiang tersebut akibat embusan angin yang menelusup di celah-celah sobekan tenda. Beberapa di antaranya melekat di dinding-dinding tenda. Lainnya jatuh tepat di wajah dan rambut kedua perempuan muda itu.