-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 08

Jilid 08

Bab 36

Adakah suara semerdu genta di pegunungan Shongsan atau gemerisik air

yang mengalir dari lembah Henan lalu bermuara pada bening hatimu?

tataplah rembulan dari balik tektum Shaolin ada cahya mengaurora

membias putih serupa lotus nirwana

- Bao Ling

Litani dari Shaolin

***

Gemerincing pepontoh yang terbuat dari sekati emas di pergelangan tangan kanannya selalu mengirama setiap mengikuti liuk tubuhnya. Namun tiap sebentar nada serupa denting lonceng kecil itu melengang saat tangan kurus tersebut senggang tak bergerak. Culim gading itu menyentuh gigir bibirnya yang adun. Matanya memejam menikmati mariyuana yang membasuh hangat paru-parunya.

Riuh lazim yang membirama pada suhian yang disinggahinya mendadak melenyap oleh senyap. Lelaki-lelaki hidung belang menyingkir. Gajak defaitisme telah menjadi kemafhuman bila pemuda berkulit halus itu bertandang ke sana. Sebasung prajurit telah memagari tempat itu ketika kereta tandunya mengarah ke sana.

"Yang Mulia. "

Kelopak mata pemuda itu membuka sebentar di antara tabir asap beraroma senggeruk yang menggelimun di kamar terasri suhian. Baunya yang sengak menembus dinding-dinding beku di empat sudut ruang meski daun jendela langkan di samping ranjangnya mementang lebar. Di bawah sana, riuh aktivitas masyarakat kota masih berputar seperti siklus. Tetapi ia tidak peduli sebab dedaunan bernila kenikmatan itu telah melunturkan kesadarannya. Dan menulikan sepasang gendang telinganya meski sepotong sapaan sehalus satin itu telah berulang kali membentur indera pendengarannya.

Mucikari bertubuh besar itu mendekat dengan langkah jinjit tanpa gerus. Tak sedikit pun terdengar bunyi kerak pada papan loteng. Tetapi ia nyaris tersuruk karena terlalu membungkuk.

Namun ia telah sigap berdiri tegak seusai bunyi lebap, lalu berhenti sejenak sembari membenarkan letak kondenya yang bergeser letak. Bibirnya memekar paksa kala sepasang mata sayu yang tergolek soak di atas mohair seberharga emas permata itu meliriknya dengan rona ganjil.

Satu kamar khusus untuk Pangeran Yuan Ren Long, lengkap dengan seperangkat perabot tipikal Istana Da-du telah disiapkanya sejak lama. Selama ini tidak ada yang kurang.

Semuanya istimewa. Juga permintaan-permintaannya yang irasional. Tetapi hari ini wajah pemuda puak Istana Da-du itu yang mengerut tua sebelum waktunya tersebut semakin mengerut. Nyaris tidak ada senyum sejak memasuki bingkai pintu suhian. Kontrasisasi yang telah menyulur antara kemegahan jauhar dan jiwa-jiwa nan rapuh pada setiap nadi di dalam tubuhnya.

Apa ada yang salah? pikirnya gamang. Kenapa Sang Pangeran tidak pernah puas dengan segala sesuatu yang terbaik, yang dipersembahkan kepadanya dengan segenap jiwa?!

Ia yang rucah memang tidak pantas bicara panjang-lebar untuk mengungkapkan dalih pembenaran atas nama apapun. Terlebih- lebih membela diri. Wajahnya yang pucat magel itu mengerut kecewa karena tidak diacuhkan sejak kalap murka ditumpahkan kepadanya beberapa saat barusan. Seantipati apapun ia terhadap pemuda bertubuh jerangkong itu, ia mesti terus menyenangkan hati Sang Pangeran. Maka senyumnya tak boleh menguncup barang sedetik pun. Sebab tidak ada apologi untuknya bila Sang Pangeran murka. Putra sulung kaisar penguasa Tionggoan itu sangat jauh dari apologetis.

"Yang Mulia. "

Pemuda itu kembali memejamkan matanya. Setiap hari. Setiap waktu. Asap bertuba itu telah merangsa tubuhnya. Mendeklinasi otaknya sehingga mengimbesil. Tidak ada sosok tegap berlamina di Istana Da-du dari seorang putra mahkota pewaris tunggal takhta naga. Semuanya sirna oleh kenikmatan sesaat. Erotisasi babur yang meledak-ledak pada nafsu purba yang membangkitkan birahi ganjil. Seperti epidemi dengue yang menjalar cepat dan mematikan setiap sel-sel darah merah di dalam tubuhnya. Entah berapa bocah perempuan yang telah menjadi korbannya.

"Yang Mulia. "

"Berengsek!"

Tiba-tiba Pangeran Yuan Ren Long mengempaskan culim mariyuananya. Ia berdiri dari berbaring. Menggabruk meja kecil di samping ranjang. Sebuah tekoan dan cawan perak di atas meja terpelanting, dan menumpahkan arak istimewa di dalamnya. Perempuan bertubuh besar itu terlompat karena kaget. Ia seperti lampion kertas yang melempem ciut karena dikoyak air hujan di luar beranda rumah.

Secara tidak sengaja panggilannya itu telah mencucuh amarah tanpa alasan Pangeran Yuan Ren Long. Sepasang pengawal khusus Sang Pangeran berpaling setelah menatap ke arah yang berlawanan, berjaga-jaga sebagaimana lazimnya untuk mencegah segala kemungkinan soe terburuk yang dapat menimpa tuan mereka. Mereka seperti anjing-anjing yang lihai mengendus dan senantiasa setia menjaga majikannya.

"Kapan kamu dapat menyediakan saya lagi barang segar, Li Chun?!" teriak Pangeran Yuan Ren Long murka. "Setiap kalau saya datang, yang kamu sodorkan daging busuk dan bangkai! Cih, kamu pikir saya ini apa?!"

Perempuan gemuk bernama Li Chun itu menggelemetar. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi, apa yang telah hamba serahkan kepada Anda adalah gadis-gadis perawan terbaik di desanya masing-masing."

"Apa?!" ledak Pangeran Yuan Ren Long dengan sepasang mata membola merah. "Terbaik kamu bilang?!"

"Ampun, Yang Mulia. Tapi, gadis-gadis itu tidak ada yang berusia di atas tiga belas tahun!"

"Jangan membantah!" Pangeran Yuan Ren Long kembali menggabruk meja sehingga pepontoh di pergelangan tangannya menggemerincing hebat. "Ingat, lain kali jangan sodori saya bangkai busuk begitu!"

Li Chun sudah hampir kelengar. "Am-ampun, Yang Mulia. Ham- hamba paham, hamba paham," balasnya cepat dengan suara tercekat. "Hamba tidak akan mengulangi perbuatan hamba yang bodoh ini lagi, Yang Mulia."

"Nah, saya tidak mau tahu. Pokoknya, besok kamu sudah harus menyediakan saya gadis cilik sesuai permintaan saya. Bukannya bangkai-bangkai busuk seperti tadi! Kalau sampai besok tidak ada, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan kepala. Mengerti?!" "Ba-baik, Yang Mulia," angguk Li Chun dengan keringat yang menetes deras di sekujur tubuhnya. "Hamba akan melaksanakan perintah Yang Mulia. Hamba tidak akan mengecewakan Yang Mulia lagi. Hamba pasti akan mencarikan gadis-gadis cilik yang jauh lebih cantik."

"Bagus," seru Pangeran Yuan Ren Long dengan suara melunak. "Nah, sekarang keluarlah. Jangan ganggu saya lagi. Cepat laksanakan perintah saya sebelum saya berubah pikiran."

Li Chun pamit setelah membungkuk dalam-dalam. Ia berjalan dengan langkah mundur seperti seekor undur-undur sampai di bawah bingkai pintu. Sementara itu Pangeran Yuan Ren Long melanjutkan madat. Ia berbaring separo berselonjor di atas ranjang, menikmati asap tuba yang kembali membuai pikirannya sampai melanglang ke negeri penuh bunga.

Hari ini memang tidak ada gadis cilik yang menjadi obyek pelampiasan seks Sang Pangeran. Lima gadis yang telah disodorkan mucikari suhian itu kepadanya tadi ditolaknya mentah-mentah. Salah satu gadis yang baru jalan sepuluh malah dicampakkan dan dicakar sampai dadanya yang tanpa gundukan serta baru ditumbuhi puting serupa noktah berwarna kecoklatan itu berdarah. Satu gadis lainnya yang bertubuh ringkih ditendang sampai terjengkang. Salah satu tulang iganya patah. Gadis cilik itu menjerit dan menangis kesakitan, namun tidak lama karena Li Chun sudah membekap mulutnya dengan selendang satinnya, dan menyeretnya dengan cara menjambak rambutnya keluar dari kamar Sang Pangeran. Ketiga gadis cilik lainnya menahan tangis mereka. Keluar perlahan-lahan setelah diseret setengah paksa oleh Li Chun yang sudah masuk kembali ke kamar Sang Pangeran. Gadis yang ditendang tadi sudah pingsan.

"Li Chun sialan! Sundal kamu!" teriaknya tadi ketika menolak gadis-gadis cilik yang rata-rata masih berusia di bawah tiga belas. "Binatang apa yang kamu sodorkan kepada saya, hah?! Mereka semua bukan orang! Mereka semua babi! Babi! Najis, najis!"

Pemuda berwajah lesi itu tidak meminati gadis cilik yang telah disiapkan Li Chun jauh-jauh hari. Padahal, kelima gadis cilik itu merupakan anak-anak petani yang diculik oleh para suro, orang suruhan Li Chun di desa-desa dan dusun-dusun miskin. Mereka adalah anak-anak perawan yang masih kecil-kecil. Selain menculik, kadang-kadang Li Chun juga membeli anak-anak gadis itu dengan imbal sekarung beras atau beberapa potong daging babi pada penduduk papa desa miskin yang tengah dilanda busung lapar. Beberapa orangtua memang sengaja menjual anak gadis mereka kepada tuan tanah atau cukong dari kota. Mereka terpaksa melakukan hal itu demi kelangsungan hidup anak gadis mereka sendiri. Tidak jarang di antara mereka mafhum kalau anak gadis mereka kelak akan dijadikan pelacur di suhian dan gadis penghibur di kedai-kedai arak di kota.

Tetapi, entah setan apa yang merasuki pikiran Pangeran Yuan Ren Long hari ini. Ia tidak suka dan menampik gadis cilik yang masih polos serta belum pula akil-balig itu. Masih untung mereka tidak dibunuh di tempat. Biasanya kalau hati Sang Pangeran sedang riang, maka ia akan membawa pulang gadis-gadis cilik itu, dan menempatkan mereka di bungalo salah satu Istana Da- du. Memanjakan mereka seperti permaisuri. Lalu setelah itu, bila hasrat libidonya yang eksplosif meletup-letup, maka ia akan mengumpulkan gadis-gadis cilik pilihannya untuk disiksa di sebuah ruang khusus yang telah ia buat sebelumnya. Di sana, satu per satu bocah perempuan itu dicemeti sampai berdarah- darah. Biasanya mereka akan diikat pada sebuah bolide serupa kincir air pada kolam buatan, lalu diputar berpusing timbul- tenggelam sampai gadis cilik tersebut menjerit-jerit bahkan sampai pingsan.

Perbuatan bejat itu selalu dilakukannya selama berjam-jam sampai ia merasa puas. Dinikmatinya setiap jerit giris dan teriakan kesakitan pada saat cemetinya menyambuk munjung pantat gadis-gadis cilik yang disiksanya tersebut. Ia akan terbahak-bahak kesenangan, jeda sejenak kala merasa lelah lalu minum arak sampai mabuk. Beberapa gadis cilik lainnya diikat pada dinding ruang yang lembab dan basah. Pakaian mereka dirobek pada bagian payudara dan vagina. Setelah puas menyambuk, maka ia akan menjilat-jilat dan menggigit puting payudara mereka yang baru tumbuh seperti sepasang jamur kecil. Juga menusuk-nusuk secara vulgar lubang kemaluan gadis-gadis cilik itu dengan jemarinya - bahkan dengan gagang pedang dan gotri-gotri. Di antara mereka biasanya ada yang langsung mati karena kesakitan. Setelah itu, ia akan mengsanggamai jasad gadis cilik yang telah meninggal belum seberapa lama akibat azab dan siksaannya yang biadab. Yang beruntung tidak mati, biasanya akan mengalami pendarahan pada vagina dan anus mereka. Namun biasanya gadis-gadis cilik tersebut tidak dapat bertahan hidup lama. Luka infeksi pada sobekan vagina maupun anus mereka akibat ulah pedofilia Pangeran Yuan Ren Long menjadi penyebab utama kematian. Jasad-jasad gadis cilik itu biasanya dibuang begitu saja di pinggir hutan atau di sungai.

Dan hal tersebut telah menjadi rutinitasnya selama bertahun- tahun semenjak menginjak usia akil balig. Toga tanpa batas sebagai pewaris takhta yang digenggamnya seperti mengesahkan setiap tindakannya. Ia tidak peduli seberapa banyak korban dari perbuatan maksiatnya. Ia menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu inferiornya seolah-olah anak-anak gadis yang menjadi korbannya bukan manusia.

Setelah itu maka ia mencampakkan mayat-mayat mereka begitu saja di tepi hutan atau dalam sungai. Selang berikutnya onggokan mayat tersebut akan mendetritus dirangsa belatung. Sebagian lagi akan menjadi santapan binatang buas di hutan. Tabir asap mariyuana masih menutupi wajahnya. Sebagian zat hasil oksidasi itu bergelung-geleng serupa ular kahyangan.

Beberapa lagi menyerupai halimun okultis yang berangsur membentuk dewi rancak di benaknya. Ia menikmati zat adiktif yang menjalari urat-urat syarafnya dengan mata memejam.

Imajinasinya leluasa membentuk virtual yang diingininya. Kadang-kadang ia menjadi burung yang bebas terbang di awan- awan. Kadang-kadang ia menjadi seorang kaisar di antara raja diraja, dan menguasai seluruh dunia dengan segala isinya.

Kadang-kadang, ia menjadi penguasa persilatan dengan adikong-adikong di sampingnya. Tetapi ia paling senang memvisualisasikan dirinya menjadi makhluk perkasa serupa gergasi yang dapat menyetubuhi seribu gadis cilik dalam semalam tanpa mengalami ejakulasi sekali pun.

Dari hari ke hari zat adiktif tersebut telah merangsa sel-sel kelabu pada otaknya tanpa disadarinya. Mariyuana telah membentuknya menjadi makhluk hipofremia. Akal sehatnya jauh melanglang tanpa arah. Dari waktu ke waktu ia menimbun dosa atas perbuatannya yang jalang. Dari waktu ke waktu ia telah menimbun musuh tanpa disadarinya. Musuh-musuh yang menyimpan kesumat karena ulah batilnya yang merenggut nyawa-nyawa kecil bagian dari keluarga mereka.

Tinggal menunggu waktu saja sampai hari pembalasan itu tiba.

Bab 37

Apakah berahi lebih laknat daripada anjing-anjing adikong

yang menjilati tuannya sang parafrenia? berangas itu mendetak

seperti derap-derap kuda dari kejauhan di lorong-lorong kelam kota

Ada kelana menghisab deru

dari paruh waktu yang tinggal sepenggal hingga maut mengendus serupa pelacak hipokrisi rana baginya adalah hipofremia lapak ajal bagi sang dara

- Bao Ling

Elegi Pangeran Yuan Ren Long

***

Adalah gerakan bawah tanah dan mason bernama Perkumpulan Naga Muda yang hendak membunuh Pangeran Yuan Ren Long. Sepak-terjang putra sulung Kaisar Yuan Ren Zhan itu sudah sangat meresahkan masyarakat di pedalaman dan dusun-dusun. Setiap hari terjadi penculikan anak perempuan. Selang berikutnya, anak perempuan tersebut diketemukan telah tewas mengenaskan dengan kondisi jasad yang memprihatinkan.

Kebanyakan di antara jasad-jasad itu sudah membusuk. Vagina dan anus mereka robek oleh benda tumpul yang sengaja dirancap untuk meruyak cupu kecil tanpa pubis itu.

"Saya bersumpah akan membunuh laknat itu atas nama Dewata di langit!" sumpah Ta Yun berapi-api dengan wajah beringas dan mengeras. "Saya akan menghabiskan keturunan Yuan! Saya akan meruntuhkan Kekaisaran Yuan!"

Seorang pemuda berbadan tegap menghampirinya di samping meja usang dalam sebuah rumah tua separo rubuh yang dijadikan markas mereka selama ini. Beberapa pemuda, bertampang kasar dan bercambang turut melangkah, mendekati Ta Yun yang masih mengepalkan telapak tangannya menahan geram.

"Ketua Ta, apa tindakan kita selanjutnya?" tanya pemuda berbadan tegap itu.

"Kita tunggu perintah dari Jenderal Shan-Yu," Ta Yun menjawab diplomatis.

Seorang pemuda menyanggah dengan nada tidak sabar. "Tapi, kita tidak dapat membiarkan anak-anak perempuan kita menjadi korban terus menerus, Ketua Ta!"

Ta Yun mengangkat kepalanya, menatap tajam seperti hendak menentang mata pemuda berwajah kasar yang menuntut tadi. Pemuda itu hanya membalas menatap sebentar. Hanya sebentar karena ia menundukkan kepalanya dalam-dalam seperti kura-kura yang menyusup dalam karapaksnya setelah melihat binar benci di kedalaman mata ketua Perkumpulan Naga Muda tersebut. Ia tidak berani bersirobok mata dengan Ta Yun yang masih menyisakan amarah perihal ulah tak manusiawi salah satu putra Kaisar Yuan Ren Zhan. Sungguh. Pemuda berambut gimbal sepinggang itu tidak senang ditantang dengan pertanyaan begitu.

"Tentu, tentu! Kita tidak dapat membiarkan binatang buas itu berkeliaran, dan memakan korban terus-menerus!" tanggapnya dengan nada berapi-api. "Tapi, kita tidak boleh bertindak gegabah. Kalau tindakan kita tanpa dilandasi rencana terlebih dahulu, itu sama saja dengan mengirim nyawa!"

"Betul, Ketua Ta. Saya sependapat dengan Anda. Kita harus bersabar sebelum melakukan gerakan penghancuran," timpal salah seorang yang berdiri pada jejeran baris belakang. Ia tampak lebih dewasa meskipun usianya masih sebaya dengan pemuda-pemuda yang hadir dalam pasamuan di rumah separo rubuh itu.

Ta Yun mengangguk-angguk.

Melekuk senyumnya karena berhasil menghimpun kekuatan jelata di daerah pedalaman dan dusun-dusun. Juga beberapa ratus anggota keluarga miskin perkotaan untuk melakukan makar terhadap Kekaisaran Yuan.

Siasatnya berhasil.

Ia berhasil menebarkan simpati pada klan Perkumpulan Naga Muda - sebuah klan hasil bentukannya selama di Ibukota Da-du bersama Jenderal Shan-Yu yang berkendali di belakang layar. Ia pun berhasil menumbuhkan sikap antipati pada Kekaisaran Yuan yang dianggap tiran dan bengis. Kasus tragis pembunuhan korban-korban pedofilia gadis cilik yang dilakukan Pangeran Yuan Ren Long telah membakar amarah penduduk, dan hal itu mengandili bergabungnya mereka di Perkumpulan Naga Muda. Perkumpulan Naga Muda memang merupakan kendaraan politik Ta Yun dan Jenderal Shan-Yu untuk membunuh Kaisar Yuan Ren Zhan. Klan tersebut juga setali tiga uang dengan Kelompok Topeng Hitam pimpinan Han Chen Tjing - salah seorang tokoh jelata paling berpengaruh di suku Han. Setelah pasukan pemberontak Han gagal menaklukkan Ibukota Da-du dan terpukul mundur oleh prajurit Yuan pimpinan Fa Mulan di Tung Shao, mereka akhirnya menyusun strategi lain untuk melenyapkan Sang Kaisar.

Maka dibentuklah sebuah klan yang bergerak klandestin. Menyusup di Ibukota Da-du. Mengikuti Festival Barongsai sebagai salah satu peserta barongsai. Dan menyusun rencana utama untuk membunuh pemimpin tertinggi Tionggoan.

Perkumpulan Naga Muda merupakan klan kolaborasi antara rakyat jelata dan perompak ganas Kelompok Topeng Hitam pimpinan Han Chen Tjing. Anggotanya terdiri dari pemuda- pemuda kampung yang sigap dan bersemangat. Mereka bergabung dengan sukarela tanpa dipaksa.

Ta Yun membakar hati mereka dengan memaparkan kenyataan- kenyataan miris yang telah dilakukan oleh salah satu keturunan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia juga menebarkan empati kala menyumbangkan dan menyisihkan sejumlah uang klan Perkumpulan Naga Muda untuk biaya pemakaman jasad-jasad gadis cilik yang tewas di tangan seorang pedofilia imbesil, sehingga rakyat jelata bersimpati pada klan tersebut.

Biaya penguburan tersebut merupakan sumbangsih yang sangat besar bagi rakyat miskin di pedesaan. Pemakaman yang layak merupakan upaya terakhir keluarga korban untuk menghormati almarhumah gadis-gadis cilik tak berdosa tersebut. Dalam setiap acara pemakaman, Ta Yun selalu hadir. Di sana ia kembali membakar rakyat dengan propaganda antipemerintah. Juga sebagai ajang penerimaan anggota baru klan Perkumpulan Naga Muda.

Ta Yun sangat cerdik memanfaatkan situasi. Ia memancing di air keruh. Ia tahu, jasus atau prajurit intelijen pemerintah sibuk mengawasi para peserta Festival Barongsai sehingga tidak menyadari kehadiran klan klandestin baru yang sudah mengakar di Ibukota Da-du. Mereka juga lebih memusatkan perhatian pada pengawasan di daerah perbatasan saja. Jadi untuk sementara ia dan klan Perkumpulan Naga Muda berada pada posisi yang sangat aman. Selain itu ia memilih markas di sudut kota, di sebuah rumah tua tak berpenghuni.

Jauh dari pikuk dan aktivitas urban masyarakat perkotaan. "Ketua Ta, saya dengar kabar kalau Pangeran Yuan Ren Long sering main ke rumah bordil 'Teratai Emas', tidak jauh dari Istana Da-du," celetuk seorang pemuda bertubuh kurus dengan penampilan tidak terurus. Bajunya tidak terkancing sehingga dada tipisnya tampak menonjolkan tulang rusuknya yang serupa jeroang. "Dari sanalah dia menjemput anak-anak perempuan itu untuk kemudian diboyong ke Istana Da-du."

"Saya sudah tahu itu, A Yong," kata Ta Yun, melirik sekilas ke pemuda ringkih dan kotor itu, lalu menatap bergantian pemuda lain yang berada di deretan terdepan darinya. "Setiap minggu dia pasti ke sana. Rupanya, mucikari pemilik suhian itulah yang menjadi perantara. Dia menyuplai gadis-gadis cilik itu kepada Pangeran Yuan Ren Long. Perbuatan itu sungguh keterlaluan.

Tapi, jangan khawatir, Saudara-Saudara. Saya sudah menugaskan beberapa orang mata-mata untuk mengetahui gerakan perempuan jalang itu. Juga dari mana dia mendapatkan gadis-gadis cilik tersebut. Kalau tertangkap tangan, saya pasti akan membunuh dia di tempat!"

Semua pemuda yang hadir di dalam pasamuan tersebut tampak menganggukkan kepala. Beberapa di antara mereka manggut- manggut puas atas jawaban Ta Yun yang akan menyikapi secara tegas tindakan tak berprikemanusiaan Pangeran Yuan Ren Long.

"Saya dengar juga, hari ini merupakan jadwal Pangeran Berengsek itu mengunjungi rumah bordil 'Teratai Emas', Ketua Ta," timpal pemuda dekil itu kembali.

"Ya, saya tahu," angguk Ta Yun, sengaja mengeraskan suaranya ketika mengatakan 'tahu' tadi. Agaknya ia ingin menegaskan posisi dirinya yang serbatahu kepada anggota- anggota bawahannya, buah dari kadar solipsismenya yang berlebihan. "Tapi, kita tidak dapat sembarang bertindak. Di sana, Pangeran Trocoh itu dikawal oleh adikong-adikong tangguh.

Lagipula, ada beberapa puluh prajurit yang menjaga pintu gerbang masuk suhian. Jadi, tidak mudah menyusup ke sana tanpa perhitungan yang matang dan cermat."

Pemuda ceking yang bernama A Yong itu menyanggah. "Tapi, bukankah kita dapat menyamar sebagai tamu suhian atau apalah, Ketua Ta?"

"Tidak gampang. Tetamu dan pelanggan tetap yang hadir di sana saja diusir jika Pangeran Yuan Ren Long hadir di sana. Mereka baru dapat berkunjung lagi saat Pangeran Busuk itu meninggalkan suhian. Semua minuman ataupun makanan untuk Pangeran Bejat itu diawasi ekstra ketat. Adikong-adikongnya akan mencicipi terlebih dahulu minuman ataupun makanan yang disodorkan kepadanya sebelum si Cabul itu sendiri menikmati minuman dan makanan itu," urai Ta Yun, melipat tangannya di dada dengan sikap tengil.

"Maaf, Ketua Ta," sergah seorang pemuda yang berwajah kasar dan bercambang tadi. "Kalau begitu, selamanya kita tidak akan pernah dapat membunuh Pangeran Berengsek itu! Bukankah hari ini merupakan saat yang tepat untuk membunuh Laknat Jalang pembunuh anak-anak perempuan itu?! Kalau Anda mengulur-ulur waktu, saya khawatir Pangeran Berengsek itu akan menjadi-jadi, merajalela membunuh anak-anak gadis yang tidak berdosa. Dan, kita tidak pernah akan dapat membunuhnya jika selalu diliputi rasa cemas dan takut!"

Emosi Ta Yun mengubun kembali.

Digabruknya meja usang di depannya sampai papan meja tersebut patah. Partikel debu tampak mengepul seperti asap dan menabir di depan wajahnya yang memerah. "Saya tidak takut! Saya tidak takut! Dia pasti mati di tangan saya!" teriak Ta Yun dengan suara mengideofon. "Tidak ada yang akan lolos dari tangan saya! Kalian pikir saya tidak geram apa?! Kalian pikir saya tidak peduli terhadap tindakan brutal Pangeran Busuk itu?! Saya ingin membunuhnya! Saya ingin mencincang-cincang dia! Tapi, belum saatnya! Belum saatnya!" Peserta pasamuan diam membisu.

Hanya terdengar derak papan meja yang patah di akhir guntur kalimatnya tadi. Sekarang tak ada yang berani bicara atau menyanggah. Darah muda pemimpin mereka itu kerap meledak- ledak seperti kepundan yang setiap dapat memuntahkan lahar amarah. Dan ia tidak akan segan-segan mendepak anggota- anggotanya yang membangkang, tidak setuju dengan jalan pikirannya.

Ambang sunyi tidak berlangsung lama. Ada suara gabrukan pada daun pintu usang di samping tempat pasamuan berlangsung. Seorang pemuda berwajah persegi dengan hidung bercupa besar seperti cingur babi masuk dengan napas terengah-engah di tengah daun pintu yang terpentang.

"Ce-celaka, Ketua Ta!" sahutnya keras-keras, masuk di ruangan pasamuan.

Ta Yun mencodakkan kepalanya setelah menunduk beberapa saat lamanya tadi, menatap repihan papan kayu yang patah oleh gabrukan tinjunya tadi. Disambutnya pemuda yang berbaju kumal dan penuh debu itu.

"Ada apa, A Seng?!" tanya Ta Yun tegas dan berwibawa. Pemuda yang bernama A Seng itu menghela napas panjang, berusaha menormalkan suaranya yang menggemeletar.

Diruyupkannya mata sesaat sebelum menjawab.

"Chiang Kok dan Ma Wing menerobos masuk ke dalam rumah bordil 'Melati Emas'. Mereka berdua bermaksud membunuh Pangeran Yuan Ren Long yang hari ini bertandang ke sana!" Rahang Ta Yun mengeras.

Gerahamnya menggemeletuk sehingga terdengar seperti derak sisa pada bilah papan meja usang yang patah tadi. Pemuda- pemuda lainnya semakin mendekat, seperti semut yang menyerubungi gula.

"Kurang ajar!" tukas Ta Yun, meletupkan amarahnya yang belum menyurut. "Mereka berdua itu sok jagoan! Heh, dipikirnya membunuh Pangeran Busuk itu semudah membunuh anjing buluk apa?!"

"La-lalu, kita harus berbuat apa sekarang, Ketua Ta?!" tanya A Seng gugup. Tubuhnya masih menggelemetar hebat meski sudah diwajarkannya dengan bersikap tegar.

"Mereka berdua keras kepala!" Ta Yun mengumpat seperti menggumam, otot lehernya mengejang membentuk galur-galur hijau serupa sulur daun. "Padahal, sudah berkali-kali saya menasehati kalau tindakan kita tidak boleh dilakukan tanpa rencana. Sekarang, mereka malah mengantar nyawa ke hadapan Pangeran Berengsek itu!"

"Tunggu apa lagi?!" seru Ta Yun mengambil ancang-ancang untuk lari membantu kedua anggotanya yang nekat ingin membunuh Pangeran Yuan Ren Long. "Kita bebaskan mereka dari suhian itu. Kenakan cadar atau topeng hitam kita. Jangan sampai identitas diri kita terbongkar. Cepat!"

Ta Yun melompat segesit kijang. Disambarnya senjata trisulanya yang berdiri vertikal menyandar pada dinding kusam di belakangnya. Trisula merupakan senjata andalannya. Tombak panjang bermata tiga itu telah banyak memakan korban di medan laga. Masih setia menyertainya dalam serentetan pertempuran. Pemuda yang lainnya ikut setelah mengambil senjata masing-masing. Beberapa puluh pemuda itu menggunakan pedang. Beberapa lagi tombak. Juga golok maupun gada dan kapak.

Mereka menghambur keluar dari markas dengan mengenakan pakaian hitam-hitam. Beberapa pemuda langsung melompat di atas kuda masing-masing, dan menggebah kuda tersebut dengan sepasang tumit sehingga binatang bernapas kuat itu lari seperti kemukus. Malam gulita jadi riuh oleh derap-derap yang semakin menderas.

Ta Yun mengekor di belakang.

Kudanya melangkah lambat namun pasti.

Bab 38

Ada aroma kematian

pada gulita yang merayap congkak melamur terang senandika para eling maka berkuasalah para rana

di antara bangkai dan malam Lalu Dewata mengutus fajar

mengusir rangda suram pada malam dan dini hari dengan sorot dan binar matanya yang benderang Tetapi roh-roh suro langit

dan mahardika istana masih bertempur

di antara bangkai dan malam serta kota yang kobong Lantas terang seperti tak bermakna

sebab siang yang bergelimun gemawan kelam tiap sebentar mencurahkan hujan airmata

- Bao Ling

Kisruh Kota pada Suatu Malam

*** Tidak ada mimik yang lebih jijik daripada melihat wajah mesum puak Istana Da-du itu yang, sepanjang hari hidup berhura-hura menghamburkan dirham untuk mengeksplotasi imajinasi seksualnya. Lebih kotor ketimbang basir sperma kering yang menempel pada repih himen dalam vagina korbannya, serta sisa tinja bercampur nanah darah yang keluar dari anus jasad-jasad gadis cilik yang telah diperkosa lantas dibunuhnya itu. Lebih bau dan busuk dibandingkan liang vagina dan anus jasad-jasad gadis cilik tersebut yang boyak membusuk dirancap batang penis serupa jagung. Juga benda-benda tumpul tanpa nyawa lainnya, yang mengsanggamai gadis-gadis cilik itu sehingga kehilangan nyawa, dan menjadi kadaver untuk disanggamai kembali oleh makhluk imbesil dari Istana Da-du tersebut.

Lalu pada akhirnya dendam telah membawa dua orang pemuda ke suhian ini. Dan saat ini pula tengah bergulat melawan pengawal-pengawal tangguh Istana Da-du.

Mereka belingsatan seperti sepasang kelelawar yang siap mencabik-cabik mangsanya. Namun keduanya tak berdaya, sebab angin menerbangkan mereka pada arah yang salah, di mana sekumpulan elang siap mematuk dengan paruh dan cakarnya yang tajam.

Tombak dan pedang diarahkan pada tubuh rapuh mereka, seperti langkisau yang datang tiba-tiba dan tanpa henti. Tetapi kedua penyusup dari klan Perkumpulan Naga Muda itu masih gesit berkelit. Mereka sudah terperangkap. Dan hanya menggunakan sisa-sisa tenaga mereka untuk bertahan. "Pangeran Berengsek!" Ma Wing berteriak, berupaya membakar hatinya yang menciut karena terdesak oleh pengawal-pengawal tangguh Pangeran Yuan Ren Long yang ternyata memiliki ilmu silat tinggi. "Kami bunuh kamu!"

Wajah Pangeran Yuan Ren Long yang pucat semakin melesi. Rileksisasi rutinnya terganggu. Ia hanya terpaku duduk di atas ranjangnya tanpa bicara apa-apa. Culim gading mariyuananya tergeletak di papan loteng saat jatuh dari tangannya karena shock. Sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak, upaya pembunuhan dirinya dari dua orang sinting yang nekat menerobos masuk pagar betis prajurit di dalam suhian.

Gadis-gadis penghibur menjerit-jerit ketakutan.

Suasana suhian melantak oleh ulah dua pemuda yang menerobos masuk hendak membunuh tamu agung Pangeran Yuan Ren Long yang bertandang hari ini. Tidak ada gelak tawa para gadis yang mengundang birahi untuk diayuti para lelaki hidung belang. Hasrat syahwat itu mendadak menyurut seperti inereksi pada penis. Semuanya berubah menjadi ketakutan.

Sementara itu di luar orang-orang sudah berkerumun di pinggir jalan, keluar dari hunian mereka masing-masing. Menyaksikan keributan yang mendadak meriuh di dalam suhian. Riuh tak galib yang biasanya berasal dari tetamu yang birahi seperti bulbul di bubungan, mengoak-ngoak berisik meruyak atmosfir malam mencari pasangan betinanya.

"Ayo, keluar kamu pengecut! Tahunya hanya membunuh anak- anak perempuan!" timpal Chiang Kok, menjerit dengan suara memarau. "Kalau berani hadapi kami!"

Namun, upaya mereka akhirnya kandas di tengah pertarungan. Emosi dan amarah telah mencelakakan diri mereka sendiri.

Upaya balas dendam tanpa rencana malah menghancurkan raga mereka. Ajal kini tinggal sejengkal. Kawruh yang sebatas telah dimatikan oleh bahang yang menggeliat liar di ubun-ubun. Kelinci tak akan pernah menang bila berhadapan langsung dengan harimau. Tetapi hal tersebut telah serupa. Pertarungan tidak seimbang itu hanya akan menambah tetesan darah yang sebentar lagi akan mengotori lantai papan suhian.

Sepasang pengawal tangguh Pangeran Yuan Ren Long belum turun tangan. Mereka berdiri dengan sikap santai di depan bingkai pintu Sang Pangeran, dan menyaksikan dari langkan pertarungan hidup-mati yang masih berlangsung di lantai bawah. Mereka memang belum perlu turun membantu sebasung prajurit Yuan yang juga memiliki ilmu silat cukup lumayan tersebut. Chiang Kok dan Ma Wing memang sudah habis. Hanya roh mereka yang belum enggan berpisah dari badan, dan masih menempel saat cacahan-cacahan pedang dan sodokan-sodokan ujung mata tombak mengiris otot-otot mereka. Satu sabetan pedang prajurit Yuan sudah menembus trabekula lengan Ma Wing. Sementara Chiang Kok sudah tertusuk tombak di bahu sebelah kanannya. Darah sudah mengucur di mana-mana.

Namun ia masih melakukan perlawanan sekedar memperpanjang napas yang masih mengembus lewat sepasang cupu di hidungnya.

"Kalian adalah anjing-anjing Yuan!" teriak Ma Wing, menahan rasa sakit yang menggerogoti lengannya yang mengebas karena telah kehilangan banyak darah.

Ia terhuyung dan menyandar pada salah satu dinding suhian. Sebuah pigura prosa beraksara indah terlepas dari dinding oleh oleng punggunggnya yang menggabruk. Pigura itu hancur terinjak-injak bersamaan dengan tumbangnya tubuh ringkih Ma Wing.

Satu tusukan tombak telah memboyak otot perutnya. Memburai sebagian ususnya yang menjuntai keluar seperti trematoda dalam genangan lumpur merah. Kepalanya terantuk di lantai, tepat di samping satin dasar kaligrafi prosa yang sangat indah itu, yang kini lecek dan memburam oleh darah yang berpropulsi dari mulutnya. Matanya menutup sesaat sebelum puisi yang tersalin dalam satin putih itu membayang lalu berangsur melamur dari benak untuk selama-lamanya.

Ke manakah sepasang angsa itu pergi sementara biru air di Sungai Yangtze terus mengalir

dan kanopi daun bambu yang mekar di gigir memanggil-manggil Oh, cintaku

angsa putih nan gemulai

pagi akan bercerita tanpa elegi dan dendang sukacita

telah ditiupkan para penggembala lewat serunai bambu kuning

yang melantun tanpa henti

di antara kemuning hamparan lalang Kemarilah angsa-angsaku

Sebab di sini ada cinta yang platonis

Pemuda itu mengembuskan napasnya yang terakhir dengan wajah separo menyeringai. Seperti tersenyum dan tenang. Mungkin reaksi sakit yang tak tertahankan. Mungkin juga karena dibuai lena estetika yang termaktub dalam lektur prosa itu.

Tetapi ia memang telah binasa. Sungguh-sungguh mati dikoyak oleh tombak dan pedang prajurit-prajurit Yuan serupa taring nan tajam anjing-anjing dan serigala-serigala hutan, sehingga roh badan halus pergi meninggalkan raganya. Lalu roh tersebut akan melayang-layang entah ke mana, dan tak akan pernah kembali pada tubuh kasarnya yang rusak oleh pertempuran barusan.

"Ma Wing!" teriak Chiang Kok saat melihat Ma Wing tergeletak dan terbujur mati di salah satu sudut suhian.

Namun teriakannya terhenti oleh sabetan pedang yang kembali meruyak dadanya. Tubuhnya limbung. Tetapi ia tidak mau terkapar, dan tetap bertahan berdiri meskipun prajurit-prajurit Yuan terus menebas-nebaskan pedang mereka ke punggungnya. Ia mati berdiri dengan pedang yang menyangga tubuhnya. Matanya terbuka. Tidak menutup. Seolah-olah sebuah penegasan bahwa ia tidak pernah kalah dalam pertempuran ini meskipun rohnya telah pula berpulang ke langit, dan Sang Dewa Kematian telah mencatat namanya dalam loh batu sebagai salah satu penghuni akhirat.

Setelah mengetahui kedua penyerang misterius itu tewas di tempat dari kedua pengawal tangguhnya, maka Pangeran Yuan Ren Long memberanikan diri keluar dari kamarnya. Di atas langkan loteng ia melihat ke bawah. Kedua pemuda yang hendak membunuhnya sudah mati dengan tubuh tercabik-cabik. Lalu seperti harimau yang mengaum, ia berteriak seolah mengekspresikan kegembiraannya atas terbunuhnya pemuda- pemuda yang ingin menghabisi nyawanya.

"Cepat panggil Li Chun! Panggil dia menghadap saya, dan penggal kepalanya di hadapan saya!"

Tak lama setelah mengeluarkan perintah dengan nada gusar, mucikari pemilik suhian itu pun terdengar menjerit-jerit ketakutan. Ia meratap seperti seorang ibu yang ditinggal mati anak tunggalnya. Empat orang prajurit Yuan bertubuh besar seketika mematuhi perintah tuannya tersebut. Mereka melangkah dengan sigap ke arah suara tangisan itu.

Li Chun menggigil ketakutan di bawah salah satu meja seperti seekor tikus gurun yang bersembunyi dari puluhan ekor ular kobra yang hendak mematuknya.

Dua orang prajurit Yuan tampak menyeret dengan kasar perempuan bertubuh besar itu supaya keluar dari kolong meja. Masing-masing prajurit Yuan itu memegang satu lengan mucikari suhian tersebut. Dua prajurit lainnya mengikuti dari belakang.

Tubuh Li Chun yang bergelambir tampak serupa babi yang mengiuk-ngiuk mencium aroma kematian dari golok penjagal. Ia diseret jauh sampai di tengah ruang. Di sana ia diberdirikan.

Setelah tegap berdiri, tungkai kaki dan punggungnya ditendang agar memosisi melutut di hadapan Pangeran Yuan Ren Long, yang berdiri dengan sikap jumawa di atas langkan loteng. "A-ampun, Yang Mulia! Ampun! Ham-hamba tidak menduga kalau hari ini ada penyusup yang masuk dan hendak membunuh Anda!" sahut Li Chun terbata-bata.

"Alasan mati! Kamu bertanggung jawab atas serangan terhadap saya hari ini! Kamu tidak becus mengawasi tempat ini!" teriak Pangeran Yuan Ren Long sembari berkacak pinggang. "Kamu harus menerima sanksi berat atas upaya pembunuhan diri saya tadi itu!"

Li Chun meraung-raung ketakutan sampai celananya membasah oleh urinnya sendiri. "Ta-tapi Yang Mulia. "

"Prajurit," seru Pangeran Yuan Ren Long tanpa belas kasihan. "Penggal kepalanya!"

Lalu satu sabetan pedang telah memisahkan kepala perempuan itu dari badannya. Kepalanya jatuh menggelicir seperti buah kelapa tua, menggelinding melewati kaki-kaki kursi, dan berhenti kala membentur salah satu kaki meja di sisi dinding. Darah yang mengalir kental dari pangkal lehernya yang terpenggal serupa kuah bubur kacang merah, selazim makanan yang biasa disantap para prajurit Yuan di medan pertempuran.

"Gantung kedua mayat anjing-anjing Han itu di tengah kota!" perintah Pangeran Yuan Ren Long bengis. "Supaya mereka semua tahu, apa akibatnya bila coba-coba melawan saya!" "Siap, Yang Mulia!" teriak adikong-adikong itu serempak. Pangeran Yuan Ren Long tertawa terbahak-bahak seperti anak kecil yang asyik dengan sebuah permainan. Lantas, seakan- akan tidak pernah terjadi apa-apa, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Berbaring dan melanjutkan memadat.

Para prajurit Yuan segera membersihkan suhian. Lalu mereka menggantung kedua mayat pemuda Han itu di balai kota setelah membuang tubuh dan kepala Li Chun di pinggir hutan. Tempat biasanya mereka membuang mayat-mayat gadis cilik yang telah diperkosa dan dibunuh oleh Pangeran Yuan Ren Long.

Bab 39

Duhai sang jelita

Putri Yuan Ren Xie yang diukir sang malam serupa lektur prosa di atas satin Tersenyumlah

sebab kembang pada taman telah memekar jangan kuncupkan riang

serupa tembang lara para rana

- Bao Ling

Duhai Sang Jelita

***

Ong Chen Hwa ternganga. Dirinyalah yang pertama-tama melihat dan mendapati kedua mayat sahabatnya itu tergantung di balai kota. Kedua jasad anggota klan Perkumpulan Naga Muda tersebut nyaris tidak berbentuk lagi serupa daging babi asap. Keduanya tergantung dengan tubuh telanjang di dua pilar tiang kayu setinggi lima belas kaki.

Badan mereka tergantung pada temali yang mengikat di pangkal leher. Dan pada masing-masing tubuh yang mulai melebam dan membiru itu ada secarik kain putih yang bertulisan: 'Anjing-anjing Han. Mati serupa bangkai akibat melawan Yuan'. Tergantung di antara selangkangan masing-masing jasad itu. Terikat pada pangkal pelir masing-masing mayat tersebut.

Airmatanya menitik. Kudanya menyampir di samping dinding sebuah rumah tua. Sahabat-sahabatnya yang lain tiba tidak lama setelah ia berusaha ke tempat mayat-mayat itu digantung, di antara luberan manusia yang menyaksikan dari bawah.

Tetapi langkahnya tertahan. Ada tangan tegap yang sigap menghentikan niatnya untuk membebaskan mayat-mayat Chiang Kok dan Ma Wing yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berada.

"Jangan gegabah!" teriak seseorang di belakangnya.

Ong Chen Hwa menyahut tanpa memalingkan wajah. Ia sudah tahu si empunya suara. "Tapi, kita tidak dapat membiarkan Pangeran Berengsek itu menginjak-injak harga diri kita sebagai bangsa Han, Ketua Ta!" Ta Yun mengibaskan tangannya setelah melepas cekalannya pada bahu pemuda bermata bola itu. "Persetan dengan harga diri kalau pada akhirnya kita semua akan mati konyol! Ingat, jangan mengulangi kesalahan Chiang Kok dan Ma Wing!" "Tapi, saya tidak dapat membiarkan jasad-jasad mereka digantung terus-menerus di atas sana, dan sebentar lagi pasti akan membusuk!"

"Saya juga tidak ingin hal itu terjadi. Tapi kalau kamu maju ke depan, maka kamu akan masuk perangkap mereka. Kamu akan mencelakakan kita semua kalau sampai tertangkap."

"Mati pun saya rela, Ketua Ta!"

"Bukan persoalan mati atau hidup, A Hwa! Tapi, ini menyangkut keselamatan semua anggota klan Perkumpulan Naga Muda.

Tahu apa akibatnya kalau kamu tertangkap?! Kamu akan disiksa sampai mengaku dan membeberkan semua nama anggota klan kita. Bukan saja anggota barongsai kita akan dicekal, tapi kita semua juga akan dipenggal!"

"Ini kesalahan kita, Ketua Ta!" seru Ong Chen Hwa menentang. "Kita terlalu lamban menyelamatkan mereka!"

Ta Yun mengepalkan tangannya. "Bukan kesalahan kita! Semua itu merupakan kesalahan mereka. Chiang Kok dan Ma Wing-lah bertindak tanpa perhitungan. Mereka tidak pernah berkonsultasi kepada klan Perkumpulan Naga Muda kalau akan menyerang Pangeran Yuan Ren Long di rumah bordil 'Melati Emas' hari ini!" "Tapi. "

"Bersabarlah, A Hwa," hibur Ta Yun, menepuk-nepuk pundak salah satu anggotanya. "Saat ini kita tidak dapat berbuat apa- apa untuk menyelamatkan mereka. Menjelang Festival Barongsai, prajurit Yuan memang telah disiagakan untuk berjaga-jaga. Mereka terlalu banyak dan tampak berkeliaran di mana-mana. Rupanya kita harus menyusun siasat baru untuk dapat membunuh Pangeran Berengsek itu. Chiang Kok dan Ma Wing merupakan tumbal. Mudah-mudahan kesalahan yang menyebabkan kematian mereka, dapat kita tebus dengan memenggal kepala Pangeran Berengsek itu di kemudian hari."

Ong Chen Hwa mengangguk mafhum. Emosinya sedikit mereda. Benaknya yang tadi dipenuhi amarah berangsur menjernih. Apa yang disampaikan pemimpin klan Perkumpulan Naga Muda tersebut memang benar. Mereka tidak boleh bertindak sembarangan atau kematian dan nyawa yang sia-sia menjadi taruhannya.

Ia akhirnya mengikuti nasehat Ta Yun untuk tidak bertindak gegabah, mengurungkan niatnya yang semula hendak menerobos kerumunan massa, lalu melawan puluhan prajurit Yuan yang berjaga-jaga di bawah pilar-pilar tiang di mana mayat-mayat Chiang Kok dan Ma Wing tergantung. Mereka semua akhirnya mundur kembali ke markas. Dan lebih memilih membiarkan jasad-jasad sahabat mereka itu tetap tergantung dan membusuk sampai beberapa hari ketimbang terpancing masuk ke perangkap musuh.

Yuan masih terlalu kuat dan tangguh untuk dilawan.