-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 06

Jilid 06

Bab 26

Pada langit bergemintang

swara datang mendenting dari hati memantul pada tubir-tubir Tembok Besar apakah salah bila cinta ini meranggas?

Belum sempat kutebas kebas gemuruh kala ia sudah mengoyak keping hati ini asmara, asmara

jangan datang menyergapku saat Tionggoan masih terluka

- Fa Mulan

Nyanyian Asmara di Tembok Besar

***

"Kenapa tertawa?"

Shang Weng mengatupkan bibir. Berusaha menahan tawa yang masih meruap dari kerongkongannya. Gadis yang baru saja mengungkapkan perasaan hatinya itu mematung di hadapan.

Seperti tidak percaya atas keterusterangannya barusan, ia mengulaikan kepala sebagai reaksi jengah keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka dapat mengungkapkan isi hatinya. Entah dorongan kekuatan gaib mana yang mendesak-desaknya untuk berkata jujur. Jujur terhadap rasa cintanya kepada pemuda bermata elang itu, yang sudah lama dipendamnya semasa wamil dulu.

"Tidak apa-apa," jawab Shang Weng tersipu.

Fa Mulan masih tidak berani menatap wajah Shang Weng yang menyumringah. Bahkan ketika pemuda itu menggandeng tangannya untuk turun dari Tembok Besar dan masuk ke dalam tendanya, ia masih serasa bermimpi. Apakah ini emansipatif dan afeksiliasi yang kali pertama dilakukan seorang perempuan selama ditabukan ribuan tahun lamanya?!

Sungguh.

Ia merasa ajaib dengan kejadian barusan!

"Jangan bohong. Pasti ada apa-apa kalau Anda tertawa begitu, Kapten Shang."

"Sungguh. Tidak ada apa-apa," elak Shang Weng sembari menggayutkan sepasang tangannya yang kokoh di bahu Fa Mulan. Sesekali telapak tangannya menghapus titik-titik airmata yang masih basir menempel di pipi gadis satria itu.

"Tidak ada apa-apa?" cecar Fa Mulan, sekilas melirik Shang Weng yang masih menatapnya dengan lembut. "Kalau tidak apa- apa kenapa Anda tertawa?"

"Itu karena. " "Karena apa?" "Hm, saya pikir. "

"Anda pikir apa?!" "Sa-saya pikir. "

Shang Weng tergeragap, menggantungkan kalimatnya sehingga tak rampung. Sesaat menekuk wajahnya dengan menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya yang sipu. Sementara itu Fa Mulan masih berusaha mencecar pemimpin tertinggi di Kamp Utara tersebut dengan beragam pertanyaan bernada penasaran.

"Pikir apa, Kapten Shang?!"

Tawa Shang Weng kembali meledak. Kali ini ia sudah tidak mampu membendung sesuatu yang menggelitik di hatinya. Gadis satria itu ternyata juga terdiri dari daging dan darah! "Saya pikir seorang Fa Mulan yang perkasa pantang mengeluarkan airmata."

"Hah, Anda meledek saya, Kapten Shang?!" jerit Fa Mulan, tanpa sadar menepuk-nepuk lembut dada Shang Weng. "Anda jahat, ya?!"

"Bukan. "

Fa Mulan memberengutkan bibir.

Sedikit merasa jengah atas sikap Shang Weng yang gurau. Ia melototkan mata menggambarkan protes. Tetapi pemuda itu malah membahanakan tawanya sehingga tenda tempat mereka bernaung seolah hendak runtuh.

"Habis, tadi saya tidak melihat Fa Mulan yang tegar dan perkasa. Tapi Fa Mulan yang gemulai, menangis layaknya gadis-gadis lain."

"Anda sudah keterlaluan, Kapten Shang!"

"Saya tidak peduli apakah saya keterlaluan atau tidak. Yang pasti saya merasa sudah menang."

"Menang?! Menang kenapa?!"

"Menang karena berhasil membuat seorang gadis satria yang heroik di Tung Shao sampai menangis berlinang air bah!" "An-Anda. "

Shang Weng belum melepaskan tangannya yang menyandar di bahu Fa Mulan. Tawanya sudah menjelma menjadi senyum. Ia menatap lekat-lekat wajah yang menyumringah jengah di hadapannya. Yang kini menunduk entah karena digolak rasa apa di hatinya.

"Tolong jangan panggil saya dengan nama Kapten lagi." "Memangnya kenapa?"

"Kamu sudah menjadi milik saya."

"Saya tidak mau bersikap kurang ajar terhadap atasan saya atas alasan apa pun. Apa kata prajurit-prajurit lainnya bila menyaksikan tindakan saya yang tidak santun begitu pada Anda. Maaf, saya tidak bisa memberi contoh yang kurang baik pada prajurit-prajurit lainnya."

"Saya adalah kekasih kamu. Begitu pula sebaliknya, kamu adalah kekasih saya. Jadi kamu memiliki legitimasi untuk itu." "Siapa bilang begitu?" Fa Mulan kembali melototkan mata. "Kalau saya cinta Anda, itu belum tentu berarti saya harus menjadi milik Anda, Kapten Shang. Jadi. "

"Tapi kamu sangat berarti bagi saya, Mulan. Saya ingin kita lalui hari-hari yang panjang ini bersama-sama. Saya ingin menikahi kamu!"

Fa Mulan terkesiap.

Sesaat seperti terentak oleh permintaan Shang Weng yang tulus untuk menikahinya. Namun diwajarkannya sikap dengan tersenyum. Seolah tidak terpengaruh oleh kalimat indah selantun litani dari svargaloka tersebut.

"Saya belum siap," tolaknya. "Masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain urusan pribadi. Kaisar Yuan Ren Zhan masih membutuhkan kita sebagai abdi negara. Untuk saat ini, yang saya pikirkan hanya masalah negara. Lagipula, saya tidak dapat hidup tenang kalau keadaan negara terus dirongrong perang." "Tapi sampai kapan, Mulan?!" protes Shang Weng, melepas tangannya dari bahu Fa Mulan. "Apa kamu lupa kalau suatu saat kita semua akan tua?!" "Tentu saja semua orang akan menjadi tua. Saya juga tahu kalau tidak ada seorang pun yang dapat luput dari hukum alam tersebut. Tapi, alangkah bahagianya kalau dunia ini tenang tenteram tanpa perang. Sebagai prajurit, saya bertanggung jawab moral memikirkan masalah-masalah negara. Bukankah memerangi semua masalah keamanan negara merupakan tanggung-jawab semua warga? Terus terang, saya tidak dapat lepas tangan menyaksikan kekacauan-kekacauan yang terjadi. Saya tidak akan pernah dapat hidup tenang seandainya lari dari tanggung-jawab. Jadi, saya harap Anda bisa paham keputusan saya untuk tidak memberikan jawaban saat ini."

"Saya salut dengan keputusan kamu. Tapi, kapan kamu dapat memikirkan diri kamu sendiri?"

"Saya bahagia apabila negara kita tenteram, Kapten Shang." "Tapi tidak mesti sampai sebegitu ekstrimnya mengorbankan diri, Mulan!"

"Mati untuk negara pun saya rela." "Kamu keras kepala!"

"Mungkin. Tapi saya rasa apa yang saya korbankan belum ada apa-apanya bagi negara."

Shang Weng mendengus. "Kepentingan negara dan kepentingan pribadi dapat berjalan seiring, Mulan."

"Tidak mudah membagi dua kepentingan sekaligus secara adil dan berimbang, Kapten Shang." "Tapi. "

Fa Mulan bangkit berdiri dari duduknya.

Sosoknya membayang sebesar gergasi di dinding kulit kempa lembu tenda disorot cahaya penerangan lampu minyak ketika ia sudah menjarak tiga kaki dari meja. Dijauhinya Shang Weng yang masih duduk dengan rupa gelisah di meja kayu persegi tendanya.

Kali ini ia memang harus menampik akumulatif cinta pemuda itu. Pernikahan merupakan momen indah yang masih serupa angan- angan di benaknya. Sungguh. Ia memang belum siap untuk menerima hal yang mengawang-awang tersebut meski cetusan akur darinya hanya sebatas menganggukkan kepala.

"Maafkan saya, Kapten Shang. Biarlah semua itu kita serahkan kepada Dewata di langit."

Shang Weng mengangguk getas.

Kalimat sanggahan yang hendak keluar dari tenggorokannya mendadak membeku di bibir. Angannya untuk membangun rumah tangga dengan gadis itu terempas jatuh ke tanah.

Mungkin ia perlu belajar untuk bersabar. Menunggu sampai hati gadis itu terenyuh. Dan menerima utuh kehadiran dirinya.

Sebab maharana memang masih merisaukan hati gadis itu. Patriotismenya jadi tertantang. Memang benar. Bangsa ini memerlukan kepedulian. Jauh di atas kepentingan-kepentingan pribadi.

"Maaf kalau saya tadi sedikit memaksa," ujar Shang Weng lirih. "Semua saya lakukan karena saya sangat mencintai kamu." "Tidak apa-apa, Kapten Shang," balas Fa Mulan, berbalik dari tatapannya yang terawang pada dinding kulit kempa lembu tenda. Seperti menyadari dirinya telah larut dalam kubangan durja, ia pun menyeret langkahnya dan duduk kembali di belakang meja. "Saya dapat memafhumi tindakan Anda yang progresif."

Shang Weng mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Fa Mulan. Ditatapnya lamat lekuk garis wajah gadis itu yang kini menjingga keperakan ditimpa sinar lampu minyak. Ketegasan pada raut belia itu telah menggambarkan serangkaian perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Juga pahit getir kenangan yang semakin mendewasakannya.

"Saya tidak perlu mendengar kalimat maafmu, Mulan." "Kenapa?"

"Saya tidak merasa kamu pernah berbuat salah terhadap saya." "Tapi, saya selalu membuat Anda gusar."

"Itu karena kesalahan saya sendiri."

"Kalau bukan permintaan maaf, lantas saya harus berbuat apa untuk menebus kesalahan saya kepada Anda, Kapten Shang?" "Hei, untuk apa minta maaf kalau kamu tidak pernah berbuat salah sama saya."

"Lalu. "

"Saya cuma minta kamu jangan memanggil saya lagi dengan Kapten."

"Saya tidak bisa!"

"Harus bisa! Ini perintah!"

"Dipenggal pun saya tidak akan pernah mau." "Kenapa?"

"Karena Anda adalah atasan saya."

"Hei, siapa juga yang bilang kalau saya ini merupakan bawahan kamu."

"Justru karena itu saya harus tetap memanggil Anda dengan Kapten. Kecuali. "

"Kecuali apa?"

"Kecuali saya yang Kapten, dan Anda yang Asisten." "Hah?! Jadi, kamu bermaksud menggantikan posisi saya?" "Memangnya kenapa kalau iya?"

"Hei, berarti kamu bermaksud makar ya?"

"Bukan makar. Tapi merebut kekuasaan dari tangan Anda." "Hah, bernyali sekali!"

"Apa salah? Memangnya, hanya Anda yang dapat menduduki jabatan posisi atas?" "Kalau begitu, saya memiliki alasan kuat untuk memenggal kepalamu!"

"Hah, sebegitu kejamnya?"

"Ya, masih lebih baik kalau cuma kepala kamu yang dipenggal. " "Memangnya. "

"Tentu saja. Kalau hukuman untuk kamu itu 'harus segera menikahi saya', apa kamu mau?"

Fa Mulan terkikik.

Suram suasana serupa mendung tadi kini disaput senyum dan tawa. Shang Weng mengurai kalimat jenaka. Membiarkan gadis yang dikasihinya terbahak untuk sesaat.

"Hah, memangnya kita ini sedang membahas masalah apa? Memangnya Anda ini Sang Kaisar yang ingin saya kudeta apa?" Mereka masih tertawa ketika terdengar derap-derap kuda yang menderas mengarah ke tenda, memecah kesunyian malam di Tembok Besar. Fa Mulan berdiri. Menyeret langkahnya ke ujung tenda. Menyibak salah satu daun tenda sebelum melongokkan kepala keluar. Dilihatnya lima prajurit jaga tengah mendekati sang Penunggang Kuda.

"Maaf mengganggu istirahat kalian," sahut sang Penunggang Kuda. "Saya Prajurit Kurir Bao Ling. Datang membawa maklumat atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan!" 

Bab 27

Inikah maklumat

yang mengguntur dari langit serta titah setajam pedang dari mulut Sang Dewa?

Jika darah sebagai tumbalnya dan airmata imbalannya

apa jadinya semesta?

- Bao Ling Refleksi Maklumat

***

Fa Mulan mengusap wajah.

Diamatinya wajah penasaran Bao Ling yang mengabarinya perihal undangan Istana Da-du kepadanya, sesaat setelah Shang Weng pamit keluar dan kembali untuk beristirahat ke dalam tendanya.

"Anda harus menghadiri undangan dari pihak Istana Da-du itu, Asisten Fa."

"Saya merasa tidak punya korelasi apa-apa terhadap acara kabir Kaisar Yuan Ren Zhan tersebut, Bao Ling."

"Justru karena kontribusi Anda yang besarlah sehingga Kaisar Yuan Ren Zhan, melalui Jenderal Gau Ming bersikeras menghadirkan Anda pada Festival Barongsai nanti." "Untuk apa?"

"Saya tidak berani berasumsi. Tapi kalau bukan sebagai bentuk ungkapan terima kasih Istana Da-du kepada Anda, apa lagi yang mendasari sampai pihak Istana Da-du mengeluarkan maklumat untuk memanggil Anda?"

"Pihak Istana Da-du terlalu membesar-besarkan kemenangan kita atas pemberontak Han di Tung Shao. Padahal, pertempuran sama sekali belum berakhir. Mereka hanya terdesak mundur.

Nah, suatu saat kalau mereka merasa sudah kuat, pasti mereka akan menyerang Ibukota Da-du kembali. Makanya, saya tidak ingin mengambil kesimpulan kalau kita ini sudah menang. Dan tidak perlu dirayakan secara besar-besaran begitu."

"Asisten Fa. "

Fa Mulan mengangkat sebelah tangannya ke hadapan Bao Ling yang masih membujuk dengan wajah cemas. Amanat Jenderal Gau Ming atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan mesti dipatuhinya sebagai sebuah keputusan mutlak. Sebagai prajurit Yuan, ia tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan kepadanya apabila gagal menjalankan perintah tersebut.

"Sudahlah, Bao Ling," Fa Mulan menyalib sembari mengibaskan tangannya yang menggantung di udara tadi. "Sampaikan saja terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk pihak Istana Da- du." Bao Ling tercengang dengan wajah lesi. "Tapi, mana boleh Anda tak mengacuhkan amanat yang merupakan maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan, Asisten Fa?!"

Fa Mulan menghela napas panjang.

Euforia kemenangan atas pemberontak Han di Tung Shao menggamangkan hatinya. Bukan atas sanksi hukuman yang kelak dijatuhkan kepadanya bila menolak hadir pada Festival Barongsai tersebut. Bukan pula terhadap sebentuk pembangkangan yang melalaikan maklumat penguasa tertinggi Tionggoan.

Namun lebih dari semua itu.

Lebih dari semua itu. Bahwa perjuangan yang belum rampung dan maharana yang terus-menerus merundung tanah Tionggoan merupakan hal yang masih menggalaukan hati. Sukses penangkalan musuh belum pantas dianggap sebagai sebuah kemenangan. Segalanya masih membabur.

"Asisten Fa. "

"Sampaikan saja pesan saya itu."

"Ta-tapi, Anda tidak bisa semudah itu menampik undangan atas nama Kaisar Yuan Ren Zhan, Asisten Fa. An-Anda tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada Anda bila menolak!"

"Bao Ling, tolong. Saya tahu ini berat. Tapi, saya juga punya alasan untuk tidak mengikuti undangan pihak Istana Da-du." "Tapi, ini perintah, Asisten Fa!" Fa Mulan menggigit bibir.

Inilah otoriterisasi tiran yang berlangsung turun-temurun. Berlangsung berabad-abad lamanya. Pemaksaan kehendak atas nama kekuasaan telah menyebabkan tanah Tionggoan menelangsa. Rakyat tertindas dan menjadi korban maharana yang menggembur.

"Apa saya akan dipancung hanya lantaran hal itu?" Fa Mulan terbahak. "Apa saya akan dipenggal hanya karena tidak mengikuti keinginan Kaisar Yuan Ren Zhan untuk menghadiri acara kabir tersebut? Naif, naif sekali!"

Bao Ling menelan ludahnya dengan susah-payah.

Ia masih menunduk, tak berani menatap nanar pada kedalaman sepasang manik mata bagus Fa Mulan. Hanya takzim mendengarkan desisan satu-satunya gadis yang berani menyaru menjadi laki-laki dan bergabung sebagai prajurit di Dinasti Yuan. "Saya tidak berani berasumsi, Asisten Fa. Tapi. "

"Bukannya saya menolak undangan dari pihak Istana Da-du tersebut, Bao Ling. Tapi, ada kalanya saya memang harus menentang kehendak yang tidak sesuai dengan nurani saya. Bukankah lebih baik kalau biaya pesta kemenangan yang besar itu dibagi-bagikan untuk rakyat? Kaisar Yuan Ren Zhan bisa membeli beras yang sangat banyak untuk kemudian dibagi- bagikan kepada rakyat miskin di dusun-dusun. Bukannya menghambur-hamburkan harta negara untuk Festival Barongsai yang tidak terlalu membawa faedah apa-apa bagi kepentingan rakyat, kecuali kepentingan politis semata."

"Ya, ya. Saya mengerti penolakan Anda, Asisten Fa. Tapi, bukankah tidak ada salahnya bila Anda menghadiri acara tersebut? Formalitas saja."

"Itulah yang tidak saya inginkan, Bao Ling. Menghadiri acara tersebut sama juga berarti saya menyetujui tindakan euforia Kaisar Yuan Ren Zhan. Lagipula, saya memang tidak ingin dianggap tokoh sentral keberhasilan Yuan menumpas pemberontakan Han."

"Tapi. "

"Keberhasilan kita menggagalkan pemberontakan Han itu tidak terlepas dari andil banyak pihak. Semua yang terlibat di dalam pertempuran Tung Shao memiliki jasa yang sama. Tidak ada yang lebih, dan tidak ada yang kurang. Bagaimana tanggapan orang-orang yang sudah turut bertempur dan berjasa dalam kemenangan Yuan apabila, Fa Mulan seorang dirilah yang dianggap kunci utama keberhasilan tersebut. Bukankah itu akan menyakiti hati mereka? Bukankah hal itu merupakan ketidakadilan bagi mereka? Nah, itulah salah satu alasan mengapa saya enggan menghadiri Festival Barongsai itu, Bao Ling."

Sesaat Bao Ling tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi kekerasan hati Fa Mulan yang menolak mengikuti undangan dari pihak Istana Da-du tersebut. Seumur hidupnya, ia belum pernah menemui gadis setegar Fa Mulan. Gadis itu tak gentar meski kelak menerima sanksi yang paling buruk sekalipun.

Idealismenya yang sekokoh karang itu memang patut dijadikan teladan. Tetapi mengabaikan maklumat Kaisar Yuan Ren Zhan sama juga dengan bunuh diri. Entah kapan, seperti menunggu kelamnya sang malam, maka kematian pun tak dapat dihindarkan.

"Asisten Fa. "

"Maaf, Bao Ling. Saya sudah menyusahkanmu. Tapi, saya tetap memilih tinggal di sini demi keamanan Tionggoan. Masih banyak hal yang perlu saya lakukan di sini ketimbang mengikuti Festival Barongsai. Di sini, saya bisa berkontemplasi. Saya tidak mau memandang enteng musuh yang sudah mundur ke barak mereka."

"Tapi, perbatasan Tembok Besar ini sudah dibentengi dengan prajurit dari Divisi Kavaleri Fo Liong, Asisten Fa. Anda jangan terlalu mencemaskan soal musuh yang bakal kembali. Kekuatan mereka sekarang sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan divisi kita yang baru." "Saya tidak ingin takabur dengan kekuatan armada perang kita yang canggih. Karenanya, saya dan Kapten Shang Weng tetap mawas. Mungkin ada hal-hal yang luput dari perhatian.

Barangkali mereka tengah menyusun taktik dan strategi baru untuk dapat menaklukkan Ibukota Da-du. Entahlah."

Bao Ling diam menyimak.

Dinalarinya inti kalimat yang barusan dikemukakan oleh Fa Mulan. Tak sadar ia mengangguk mengakuri. Mereka memang tidak boleh lengah barang sekedip mata pun. Kekuatan musuh tidak dapat ditakar dengan melihat armada perangnya. Hal itu telah terbukti di Tung Shao. Ketika prajurit Yuan terdesak oleh pasukan pemberontak Han, Fa Mulan yang sedang memimpin di garda depan sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi secara logis dengan kekuatan besar musuh. Toh pada akhirnya juga ia dapat memenangkan pertempuran berkat strateginya yang gemilang.

"Maaf, Asisten Fa. Saya tidak mengintervensi kehendak Anda. Tapi, saya tidak tahu harus berbuat apa atas maklumat Kaisar tersebut. Tentu saja keputusan Anda itu akan berefek buruk bagi penegakan kedisiplinan dalam militer. Maaf sekali lagi. Tindakan Anda itu akan dianggap pembangkangan!"

Fa Mulan mengusap wajah. "Saya tahu konsekuensi apa yang akan saya dapat jika menolak menghadiri undangan dari pihak Istana Da-du tersebut. Saya tahu. Sebagai prajurit, saya akan mempertanggung-jawabkan tindakan saya yang dianggap pembangkangan ini!"

"Asisten Fa. "

"Jangan khawatir, Bao Ling. Saya tidak akan melibatkan kamu. Kalau Kaisar Yuan Ren Zhan gusar dan murka soal ini, maka saya akan menyerahkan kepala saya dengan sukarela untuk dipenggal algojo Istana. Saya tidak akan melarikan diri. Saya siap mati untuk itu!"

"Ta-tapi. "

"Sudahlah, Bao Ling. Saya rela mati demi kebenaran. Mudah- mudahan kematian saya - bila dijatuhi hukuman penggal di kemudian hari karena dianggap membangkang, kelak dapat membuka mata hati Kaisar Yuan Ren Zhan supaya dapat melihat lebih jernih penderitaan-penderitaan rakyat. Saya siap menjadi tumbal demi kemakmuran di Tionggoan ini."

"Saya tidak berani berasumsi hukuman itu pasti dijatuhkan pada diri Anda, Asisten Fa. Saya menilai tidak ada alasan yang tepat kalau Kaisar Yuan Ren Zhan mengambil keputusan keliru itu.

Rasanya terlalu mahal mengorbankan seorang patriot hanya lantaran dia indisipliner - tidak menghadiri undangan yang ditujukan kepadanya atas nama Sang Kaisar. Saya harap Kaisar akan mempertimbangkan hal itu bila Anda tetap bersikeras dengan keputusan Anda yang semula itu, Asisten Fa."

"Yah, saya harap juga begitu. Bagaimanapun, Kaisar Yuan Ren Zhan jauh lebih bijak dibandingkan dengan Kaisar Yuan Ren Xie, ayahandanya."

"Betul, Asisten Fa."

"Yah, mudah-mudahan saja ada pengampunan buat saya. Paling tidak, kalau Kaisar Yuan Ren Zhan pun menghukum saya, mudah-mudahan hukuman itu hanya sebatas sanksi administratif saja. Itu pun kalau beliau mengingat jasa-jasa saya di Tung Shao."

"Ya. Saya yakin Kaisar Yuan Ren Zhan pasti bertindak bijak. Hm, kalau begitu, saya tidak akan mendesak Anda lagi untuk menghadiri undangan Istana Da-du itu, Asisten Fa."

"Terima kasih atas pengertianmu, Bao Ling." Bao Ling mengangguk.

Kali ini ia benar-benar mengakuri semua tindakan tegas Fa Mulan. Dan tidak dapat membujuk dan memaksa gadis itu lagi untuk menghadiri Festival Barongsai yang akan diselenggarakan di kawasan Istana Ibukota Da-du.

"Hm, kalau begitu, saya mohon pamit."

"Eh, tunggu," panggil Fa Mulan, menghentikan niat Bao Ling yang hendak beranjak dari kursinya. "Udara semakin dingin. Hm, sebentar. Saya akan menyeduhkan arak untuk kamu." "Tidak usah repot-repot, Asisten Fa." "Tidak. Cuma arak kampung."

Fa Mulan bergerak setelah terpaku beberapa lama di belakang meja tendanya. Dijawilnya dua cawan kecil yang menelungkup di atas meja. Membaliknya dengan sebuah gerakan tak lazim.

Seperti menjentik, cawan tersebut terdorong mengarah tepat di depan Bao Ling. Lalu diangkatnya teko kecil yang terbuat dari tembikar itu dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain menelapak di tengah badan teko. Dengan menggunakan tenaga dalam yang tersalur melalui telapak tangan kanannya, cairan arak yang hendak diseduhkannya untuk Bao Ling memancar keluar dan tepat tak luput dari bibir cawan tanpa harus dituangkan sebagaimana lazimnya.

"Hebat. Rupanya ilmu Telapak Fa masih sehebat dulu," puji Bao Ling kagum. "Saya salut."

Fa Mulan tersenyum. "Tidak juga. Di waktu-waktu luang begini, biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk melatih ilmu-ilmu beladiri yang sudah saya pelajari dahulu. Mungkin saja saya dapat mengomposisikaannya dengan beberapa ilmu silat lainnya."

Bao Ling tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya di akhir kalimat Fa Mulan. Ia terkenang masa-masa pelatihan semasa wamil dulu. Fa Mulan adalah salah satu prajurit wamil Kamp Utara yang paling tekun dan disiplin. Tubuhnya yang terbilang kecil merupakan sebuah keterbatasan. Untuk itulah ia setiap hari melatih fisiknya seperti tanpa lelah. Ia pun berlatih jauh lebih banyak dari porsi latihan prajurit lainnya. Ia akan berusaha melakukan apa yang gagal dilakukannya dalam sebuah simulasi. Ia mengenyahkan keterbatasan fisiknya itu menjadi suatu kelebihan.

Dalam kurun waktu tak terbatas, ia menyiangi dirinya dengan tempaan-tempaan keras dan penderitaan-penderitaan yang satir menyakitkan. Namun selayaknya fenomena agrarisis, maka ketika masa tunas telah tumbuh, gadis itu telah menjelma menjadi salah satu pemimpin para prajurit di Kamp Utara.

Kemenangan atas pemberontak Han di Tung Shao juga menjadi salah satu bukti keberhasilannya yang gilang gemilang.

Tentu saja semua itu tidak dapat diraih semudah membalik telapak tangan. Keberhasilan tersebut memang dibangun dari hasil kerja keras. Semangatnya yang pantang menyerah juga telah membentuknya menjadi prajurit paling tangguh di antara semua prajurit yang ada di Tionggoan!

"Anda masih seperti yang dulu, Asisten Fa. Ulet dan tekun. Pantas saja kalau hanya dalam beberapa tahun kungfu Anda sudah dapat disejajarkan dengan pesilat-pesilat tangguh di Tionggoan." "Kamu terlalu melebih-lebihkan." "Tapi kenyataannya. "

Fa Mulan terbahak. "Sudahlah, Bao Ling. Menjadi pesilat tangguh bukan cita-cita saya. Lagipula, saya mempelajari beragam dan menciptakan beberapa ilmu silat hanya sebatas beladiri saja. Tidak bermaksud apa-apa. Kalau kamu menyanjung-nyanjung saya terus, nanti saya bisa menjadi pongah."

"Tapi, Anda memang hebat. Ilmu silat Anda juga merupakan salah satu unsur kekuatan seorang Fa Mulan, patriot Yuan di Tung Shao. Bukankah begitu, Asisten Fa?"

"Aduh, Bao Ling. Kekuatan itu tidak dapat ditakar dengan ketangguhan dan kebolehan ilmu silat yang dimiliki seseorang. Seseorang yang dianggap tangguh dan satria, tidak hanya semata-mata lantaran dia memiliki kemampuan serta keterampilan beladiri yang lihai dan baik. Sebenarnya banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi satria."

"Tapi, kalau bukan faktor kekuatan fisik seperti ilmu silat dan beladiri yang baik, memangnya seorang yang dianggap tangguh dan satria tersebut harus mengandalkan apa?"

Fa Mulan tersenyum. "Nah, kamu mulai seperti Yao." "Yao?" Bao Ling mengerutkan dahinya. Ia teringat prajurit mantan wamil seangkatannya di Kamp Utara tersebut. "Memangnya ada apa dengan Yao, Asisten Fa?"

Fa Mulan meneguk araknya. "Yao dulu selalu mengandalkan kekuatan fisik. Salah satu kelebihan Yao adalah postur tubuhnya yang besar, kekar, dan tegap. Tapi, tahukah kamu, hal itu sama sekali tidak menjamin dia dapat mengalahkan lawannya yang bertubuh jauh lebih kecil darinya."

"Maksud Asisten Fa?"

"Yao pernah bertarung dengan saya di Tung Shao." "Dan Asisten Fa dapat mengalahkannya?"

"Benar. Tapi, hal itu bukan karena saya memiliki kemampuan beladiri lebih dari dia. Kami sesungguhnya memiliki ilmu silat yang setara meski berbeda aliran. Namun pada kenyataannya, dia tidak dapat mengalahkan saya dalam pertarungan di Tung Shao tempo hari karena dia semata-mata mengandalkan kekuatan otot. Bukan disertai kekuatan otak."

Bao Ling mengangguk-angguk mafhum.

Ia tahu Yao memang memiliki tubuh sebesar beruang. Kekuatan fisiknya sungguh luar biasa. Kemam puan beladiri gulat Mongolnya juga sangat berbahaya. Ia dapat meremukkan tulang-tulang lawan hanya dengan satu telikungan.

"Yao mengandalkan kekuatan fisiknya semata-mata. Selain sebagai sebuah kelebihan, hal itu juga merupakan kelemahan Yao." "Kelemahan?"

"Ya, kelemahan. Karena menganggap lebih kuat dari lawannya, maka dia akan merangsek terus-menerus tanpa menyadari kalau energi dari tenaga besarnya tersebut suatu waktu dapat habis. Biasanya, lawan yang cerdik akan memanfaatkan hal itu sebagai senjata taktik. Lawan akan berkelit dan mengelak terus sampai tenaga besar orang seperti Yao itu terkuras. Jika sudah begitu, maka lawan dapat dengan mudah mengalahkan petarung seperti Yao, yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Jadi intinya, kekuatan fisik itu dapat menjadi bumerang."

"Jadi maksud Asisten Fa, adalah lebih baik memadukan kekuatan otot atau fisik itu dengan kekuatan otak?"

"Benar. Karena kekuatan fisik itu memiliki keterbatasan yang bila sampai pada titik tertentu akan mengalami penurunan drastis.

Sementara kekuatan otak itu nyaris tak terbatas. Kekuatan otak tersebut dapat hadir dalam keadaan paling genting sekalipun.

Yah, seperti saat prajurit kita terdesak oleh pasukan pemberontak Han di Tung Shao tempo hari. Berkat ide taktik kamuflase dengan ribuan kuda tanpa penunggang, kita akhirnya dapat memukul mundur musuh yang menyemut di Tung Shao. Kekuatan otak itu di sini termasuk kecerdikan, strategi, taktik, gagasan maupun ide, dan banyak hal lain yang dapat dipergunakan sebagai senjata pamungkas seseorang dalam sebuah pertarungan."

"Wah, Anda benar-benar lihai, Asisten Fa."

Fa Mulan terbahak. "Ah, sudahlah, Bao Ling. Jangan memuji saya lagi. Saya tidak ingin menjadi pongah. Karena pongah juga merupakan salah satu bumerang bagi seorang pesilat dan petarung."

Bao Ling turut terbahak.

Sesaat diamatinya wajah tirus gadis seangkatannya semasa wamil dulu dengan rona kagum sebelum meneguk araknya. Sayang ia belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya kepada gadis manis itu.

Bab 28

Adakah yang lebih khidmat dari indah yang-liu yang mengembang di bawah naungan layar biru dan pada gerai bulir-bulir embun pagi?

Majas apa gerangan

yang dapat melamur ranggas maharana

dan pada sekumpulan pedang-pedang mengilap Bersuaralah satria

biar tubir-tubir karang

dan lembah-lembah nan menghijau menyampaikan jawaban darimu untuk menguak enigma tak bertepi

- Bao Ling Elegi Enigma

***

"Lengan seragam kamu sobek, kenapa?"

Fa Mulan menangkap sobekan sebesar jari kelingking di lengan kanan seragam Bao Ling dengan ekor matanya saat pemuda itu tengah menenggak araknya. Senyum pemuda itu melamur di akhir pertanyaan Fa Mulan. Ia kembali teringat pada penyerangan misterius terhadapnya dalam perjalanan ke pos pengawasan Tembok Besar ini. Saat bertarung, lengan seragamnya sobek. Mungkin tersangkut ranting pepohonan saat ia bersalto dan bergulingan di tanah menghindari sabetan pedang penyerangnya. Entahlah. Mungkin juga lesatan anak panah yang mendesing di dekat tubuhnya ketika diserang pedanuh dari semak-belukar hutan.

"Saya dihadang oleh beberapa orang di hutan Hwa saat hendak kemari."

Fa Mulan membelalak kaget. "Kamu tidak apa-apa?!"

"Saya tidak apa-apa. Orang yang menghadang saya ternyata salah satu prajurit Istana," jelas Bao Ling, mengernyitkan keningnya karena masih penasaran dengan gelimun maksud pembunuhan dirinya. Tak sadar ia menggeleng. Semuanya masih serupa enigma di benaknya. "Namanya Zhung Pao Ling!" "Zhung Pao Ling?!"

"Dia adalah Kepala Intelijen Yuan. Dia merupakan salah satu orang kepercayaan Jenderal Gau Ming. Saya tidak tahu apa maksud dia mencoba membunuh saya di hutan Hwa." "Masalah pribadi?"

Bao Ling menggeleng. "Bukan. Meski sering bertemu di Istana Da-du, tapi saya tidak terlalu akrab dengan Zhung Pao Ling.

Mungkin karena saya dan dia menjalani tugas-tugas yang berbeda. Jadi, saya rasa bukan karena masalah pribadi. Lagipula, saya tidak pernah merasa pernah menyinggung ataupun menyakiti hatinya."

"Aneh," desis Fa Mulan dengan sepasang alis yang nyaris bertaut. "Benar-benar aneh."

Bao Ling menghela napas. "Justru itulah yang meresahkan saya, Asisten Fa. Mungkin ada konspirasi yang berkembang di dalam Istana untuk mengganggu stabilitas Yuan."

"Maksudmu. "

"Saya tidak berani berasumsi. Tapi kalau benar, maka saya lebih berpraduga kalau hal tersebut didalangi oleh pihak jasus yang sudah memasuki lingkungan Istana," rekanya, lalu mengembuskan napasnya dengankeras, ekspresi kegalauannya perihal peristiwa miris yang dialaminya di hutan Hwa. "Tapi, bukankah Zhung Pao Ling merupakan prajurit kepercayaan Jenderal Gau Ming?" tanya Fa Mulan penuh selidik. "Jangan-jangan. "

Bao Ling mengelus-elus dagunya dengan dahi mengerut. "Benar. Tapi, saya sama sekali tidak pernah berasumsi kalau aktor instabilator itu adalah Jenderal Gau Ming. Mana mungkin beliau yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar Istana Da-du itu dapat membangkang begitu? Bukankah beliau sudah bersusah-payah bahu-membahu membangun Kekaisaran Yuan sejak ayahanda Kaisar Yuan Ren Zhan berkuasa dulu?

Menciptakan instabilator dalam Kekaisaran Yuan itu sama juga berarti beliau meruntuhkan rumah tangganya sendiri yang telah dibangunnya dengan susah-payah. Bukankah begitu, Asisten Fa?"

"Tentu, tentu," Fa Mulan mengangguk-angguk, mengakuri dalih keyakinan Bao Ling terhadap Jenderal Gau Ming yang sudah lama mengabdi untuk Istana. "Meski saya jarang berada di Istana, tapi saya tahu dedikasi macam apa yang dimiliki Jenderal Gau Ming. Tidak mungkin beliau yang melakukan semua rencana busuk tersebut meskipun ada indikasi semacam itu yang mengarah kepada beliau."

"Saya justru khawatir jasus musuh sudah demikian jauh masuk ke Istana, sehingga keselamatan Kaisar Yuan Ren Zhan dan beberapa petinggi militer lainnya tidak dapat terjamin dengan baik lagi. Saya harus menyampaikan kasus ini secepatnya kepada Jenderal Gau Ming setiba di Istana Da-du nanti," tambah Bao Ling, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada lawan bicaranya.

"Ya, saya rasa kamu harus secepatnya kembali ke Istana," desak Fa Mulan, turut merasa khawatir dengan perkembangan terakhir di Istana Da-du. "Situasi Istana pasti tidak kondusif.

Bahaya dapat mengancam kapan saja. Di balik keberhasilan Yuan, ternyata kemenangan tersebut menyimpan banyak kelemahan serta hal-hal yang tidak terduga. Mungkin hal itu masih luput dan belum diketahui oleh pejabat intelijen kita.

Euforia kemenangan Yuan atas pemberontakan Han membuat pejabat militer kita lengah. Yuan sebetulnya masih di ambang bahaya!"

"Betul, Asisten Fa," akur Bao Ling, menganguk-anggukkan kepalanya keras. "Makanya, paling tidak Anda bisa berandil menyelamatkan negara kembali dengan menghadiri acara Festival Barongsai tersebut," lanjutnya meminta.

Fa Mulan menimbang-nimbang. "Saya belum dapat memberikan jawaban sekarang. Tapi, saya pasti akan mengambil keputusan bila negara dalam bahaya. Mungkin saya akan menyusul kamu nanti ke Ibukota Da-du."

"Terima kasih, Asisten Fa," sahut Bao Ling dengan mata berbinar-binar. "Istana memang sangat membutuhkan atensi Anda."

Fa Mulan mengangguk. "Sayang kemenangan kita direcoki oleh euforia. Itu salah satu kelemahan dalam maharana. Musuh dapat menyusun kekuatan baru. Buktinya, Zhung Pao Ling yang loyal pun dapat berubah. Otak Zhung Pao Ling bahkan sudah dirasuki oleh niat jahat pihak musuh. Dan pasti dia telah bekerja sama dengan pihak lawan yang hendak menjatuhkan Kekaisaran Yuan."

"Saya kira memang begitu, Asisten Fa," yakin Bao Ling. "Apakah Han Chen Tjing dan Jenderal Shan-Yu dalang semua itu, Bao Ling?" tanya Fa Mulan, lebih pada mempertegas orang- orang yang sedari tadi telah dianggapnya dalang dari konspirasi instabilator di Istana Da-du.

"Boleh jadi. Tapi tidak semudah itu menyuap seorang prajurit kepercayaan yang sudah mengabdi belasan tahun untuk Istana Da-du. Kecuali ada hal-hal yang sama sekali di luar dugaan kita," jawab Bao Ling lugas.

"Lantas, kenapa hanya kamu yang dijadikan target pembunuhan?" tanya Fa Mulan penasaran.

Bao Ling mengedikkan bahunya. "Entahlah. Saya tidak paham. Tapi mungkin ini ada kaitannya dengan Anda, Asisten Fa."

Fa Mulan terlonjak. "Saya?!" tanyanya, sesaat berdiri dari bangkunya tanpa sadar. Tidak lama kemudian ia duduk kembali dengan dahi yang mengerut.

Bao Ling mengangguk. "Ya."

"Korelasinya apa?" cecar Fa Mulan gelisah.

"Mungkin saja mereka tidak ingin Anda menghadiri acara Festival Barongsai tersebut. Sebagai Prajurit Kurir, saya merupakan kunci penyampaian maklumat Istana Da-du kepada Anda. Jadi, membinasakan saya merupakan tindakan penting untuk menggagalkan kehadiran Anda di Istana Da-du pada acara Festival Barongsai nanti," jelas Bao Ling, kali ini tidak terlalu yakin dengan prediksinya.

Fa Mulan menyentuh cawannya namun tidak meminum araknya. Hanya spontanitas keterkejutannya. "Kenapa?!"

Bao Ling menggerakkan kedua bahunya. "Karena mereka, entah siapa, ingin melamur simbol kemenangan Yuan. Kalau boleh, melenyapkan simbol itu untuk selama-lamanya."

"Maksudmu. "

"Sebenarnya, pembunuhan itu ditargetkan kepada Anda, Asisten Fa. Sementara saya hanyalah imbas dari rencana jahat mereka." "Tapi, kita semua memang menjadi target pembunuhan. Itu konsekuensi kita sebagai prajurit, bukan?" "Benar. Tapi, konspirasi misterius tersebut tidak semudah apa yang Anda bayangkan, Asisten Fa. Rencana pembunuhan itu sarat dengan muatan politis. Mengungkap siapa biang rencana inferior tersebut tidaklah semudah menyibak cadar. Dalam maharana, seperti yang Anda utarakan dulu sewaktu di Tung Shao bahwa, kawan dapat berubah menjadi lawan. Dan begitu pula sebaliknya, lawan dapat menjelma menjadi kawan."

"Hm, kalau begitu, ini pasti ada kaitannya dengan pejabat tinggi Istana Da-du. Atau paling tidak, petinggi-petinggi militer Yuan." "Tepat. Kalau bukan begitu, mana mungkin orang-orang seperti Zhung Pao Ling dapat berubah menjadi serigala. Kawan menjadi lawan."

"Dan kalau saya mati misalnya, maka mereka telah melenyapkan salah satu simbol kemenangan Yuan di Tung Shao. Bukankah begitu prediksi skenario dari rencana musuh, Bao Ling?"

"Tepat."

"Tapi, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kemenangan kita di Tung Shao itu andil kolektif. Bukan tindakan gagah berani orang per orang."

"Saya mengerti, Asisten Fa. Tapi ini semua menyangkut politik yang pelik, dan mungkin jauh dari segala prakiraan kita. Kadang- kadang simbol itu lebih penting dibandingkan sejumlah kekuatan bala militer. Buktinya, Divisi Kavaleri Fo Liong sangat ditakuti oleh kaum pemberontak karena melihat eksistensi keefektifan divisi baru Yuan tersebut, yang dapat melumpuhkan banyak musuh di dalam sebuah pertempuran. Padahal, Divisi Kavaleri Fo Liong hanya terdiri dari beberapa ribu prajurit saja. Nah, Anda bisa bandingkan dengan jumlah prajurit dari Divisi Infanteri atau Divisi Kavaleri Danuh yang memiliki prajurit bahkan sampai hampir setengah juta orang - sebelum banyak yang gugur dalam pertempuran melawan pemberontak Han."

Fa Mulan menjentikkan jarinya. "Saya sependapat soal itu. Dalam hal ini, bukan berarti Divisi Kavaleri Fo Liong tidak memiliki kelemahan. Hanya saja, mereka belum menemukan taktik dan cara untuk melumpuhkan armada tempur baru Yuan tersebut," ulasnya yakin.

"Ya. Itulah sebabnya mereka memilih untuk mundur karena dikalahkan oleh rasa gentar yang majas. Padahal, belum tentu kekuatan militer Yuan - Divisi Kavaleri Fo Liong - sekuat praduga mereka. Itulah yang saya katakan simbol, Asisten Fa. Simbol itu dapat berupa jargon, kisah patriotisme dan ketangguhan, dan banyak lagi hal lainnya. Ya, termasuk Anda. Anda adalah simbol kemenangan Yuan atas kubu pemberontak. Khususnya untuk pertempuran di Tung Shao," papar Bao Ling setelah menyimpulkan penyebab mundurnya musuh dari zona tempur di Tung Shao beberapa bulan lalu.

"Saya sama sekali tidak ingin menjadi simbol, Bao Ling. Apalah arti sebuah pengakuan bagi saya. Padahal, apa yang saya lakukan itu semata-mata hanya untuk menyelamatkan negara dari ambang bahaya. Jadi, selain atas nama negara dan rakyat, tidak ada inisiatif dan motivasi apa-apa lagi yang melatarbelakangi niat saya melakukan aksi-aksi - yang bagi kalian adalah tindakan patriotik dan fenomenal - tersebut.

Semua itu hanya bela negara. Lagipula, saya ini prajurit yang berkewajiban membela negara, bukan? Hei, apa saya mesti berpangku tangan melihat negara kita diserang?"

"Saya mengerti, Asisten Fa. Tapi dalam Kenyataannya, simbol kemenangan itu sudah demikian melekat pada diri Anda.

Sekarang, Anda sudah menghadapi dilematisasi. Musuh Anda sudah berada di mana-mana. Anda sekarang mesti waspada. Ingat, kawan bisa menjadi lawan. Demikian pula sebaliknya," tutur Bao Ling sembari mempermainkan jemari tangannya di atas meja, mengusap tetesan arak yang sedikit meluber dari bibir cawannya. "Hm, tapi saya yakin kalau seorang Fa Mulan dapat mengatasi semua itu dengan ketangguhannya," lanjutnya, lalu tersenyum di akhir kalimatnya.

Fa Mulan menyembulkan senyumnya mendengar pujian Bao Ling. "Tapi, sampai di mana batas kemampuan seorang Fa Mulan, Bao Ling? Apa memangnya Fa Mulan terlahir berbeda dengan manusia-manusia lainnya? Apa memangnya Fa Mulan memiliki otot besi dan tulang baja sehingga sekokoh karang. Hei, kamu pikir saya ini pemberani apa? Fa Mulan juga memiliki rasa gentar. Dalam pertempuran, Fa Mulan juga takut ditikam dengan pedang," ujarnya panjang-lebar. "Yang pasti, Fa Mulan itu tidak setangguh pradugamu."

"Tapi. "

"Sudahlah, Bao Ling. Saya ini prajurit murni. Bukan siapa-siapa. Kalau mereka menganggap saya ini simbol kemenangan Yuan, ya terserahlah. Tapi yang pasti saya merasa tetap sebagai prajurit biasa."

Bao Ling terdiam, mencerna semua kalimat bijak yang disampaikan Fa Mulan dengan kesungguhan yang berasal dari palung hati. Sesaat dipejamkannya mata. Menikmati keindahan batin tak terkira dari seorang perempuan satria.

Ia semakin jatuh hati padanya.

"Maaf, Asisten Fa. Mungkin saya harus pamit. Sudah jauh larut malam," pamit Bao Ling, berdiri lalu melangkah keluar tenda sebelum sekali lagi menatap sepasang mata telaga gadis yang diam-diam dicintainya itu. 

Bab 29

Kaki-kaki kecilnya lincah menari

elok tubuhnya mengirama ditabuh rebana

namun merdu urung mengurai senyum sang jelita Gerangan apa puan nan rupawan berdurja

dalam kemilau intan permata dan mahkota bermute berlian

adakah cinta semekar yang-liu di istana naga?

- Bao Ling

Elegi Putri Yuan Ren Xie

***

Pangeran Yuan Ren Qing memasuki balairung Istana Pangeran dengan rupa gerun. Suhu udara di Kiangsu yang mulai mendingin di penghujung musim semi malah menggerahkannya. Rencananya nyaris terbongkar. Untung jasus yang didelegasikannya untuk membunuh Bao Ling meninggal langsung saat pertarungan di sebuah hutan dalam perjalanan menuju pos pengawasan Tembok Besar. Kalau tidak, jasus yang tertawan dapat membuka mulut. Dan akibatnya, ia tahu sanksi apa yang akan dilakukan oleh Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan kepadanya. Hukum pancung!

Dihelanya napas galau.

Selama ini ia memang belum dapat menemukan orang-orang yang tangguh. Strateginya untuk merebut kekuasaan dari tangan kakaknya agaknya mesti dipikirkan matang-matang. Jangan sampai rencananya itu terbongkar sebelum ia dapat menduduki Kursi Tunggal Sang Naga di Istana Da-du.

Apalagi setelah meledaknya pemberontakan Han pimpinan Han Chen Tjing di Tung Shao dan perbatasan Tembok Besar, Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan jadi lebih mawas dan hati-hati. Tentu pengawalan Istana Da-du akan semakin diperketat dengan hadirnya prajurit-prajurit dan pengawal-pengawal tangguh.

Untuk itulah ia mesti bersikap sabar, menunggu perkembangan berikutnya. Menurut data intelijen Yuan, jasus-jasus Han yang dikoordinir oleh mantan Jenderal Shan-Yu telah menyusup ke dalam Istana Da-du untuk membunuh Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia berpikir, ada baiknya dua pihak itu saling menghancurkan sebelum ia mengambil alih kekuasaan dari tangan kaisar.

Hal itu jauh lebih mudah ketimbang ia harus mengkudeta kakaknya tersebut. Lagipula, kekuatan militer pengikutnya belum menunjukkan eksistensi dapat mengalahkan militer sahih Yuan pimpinan Jenderal Gau Ming dan Perdana Menteri Shu Yong.

Selain itu, militer Yuan telah memiliki beberapa prajurit berdedikasi tinggi seperti Fa Mulan dan Shang Weng yang berasal dari Kamp Utara. Kehebatan kedua orang itu telah ia dengar jauh-jauh hari sesaat sebelum kemenangan gemilang mereka menggagalkan pemberontakan Han di Tung Shao.

Saat ini ia memang harus bekerja keras bila hendak menduduki takhta tertinggi di Tionggoan. Satu-satunya cara yang paling tepat agar memuluskan langkahnya ke puncak kekuasaan adalah, menyingkirkan satu per satu orang-orang kepercayaan Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan. Salah satunya adalah Perdana Menteri Shu Yong dan Prajurit Kurir Bao Ling yang cerdas.

Sebab mereka merupakan kekuatan utama Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan.

Sementara itu, Jenderal Gau Ming sendiri belum dapat dianggap berbahaya karena eksistensi militer Yuan yang dipimpinnya selama ini mengalami pasang-surut. Keberhasilan menumpas pemberontakan Han pun bukan karena andil orang tua itu. Jadi jika menilik sepak terjangnya, jenderal tua itu memang bukan merupakan kendala besar kendati ia sangat terbantu oleh kecerdikan Fa Mulan di garda depan pertempuran.

Ia duduk di salah satu kursi.

Menggabruk tanpa sadar meja kecil persegi di sampingnya sampai cawan perak yang berisi teh hijau di sana atasnya meriak nyaris tumpah. Beberapa pengikutnya yang sedari terdiam terlonjak kaget. Mereka masih berdiri dengan sikap menundukkan kepala. "Tidak becus! Semuanya tidak becus!"

Pangeran Yuan Ren Qing menatap satu per satu wajah yang menekuk itu. Belum ada yang berani angkat suara untuk mengemukakan sanggahan atas amarah pemimpin mereka tersebut. Zhung Pao Ling gagal mengeksekusi Bao Ling yang menjadi target pelumpuhan kaki-tangan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia malah terbunuh dalam insiden pertarungan itu.

"Kalian yang berjumlah puluhan orang tidak dapat mengalahkan satu orang?! Hah, kalau menangani hal-hal kecil seperti itu saja tidak bisa, bagaimana mungkin kalian dapat membantu saya mengambil alih kekuasaan dari tangan Kaisar Jumawa itu?! Huh, benar-benar tidak becus. Apa keistimewaan Prajurit Kurir Bao Ling sehingga kalian seperti mati kutu begitu?!" geram Pangeran Yuan Ren Qing, menggabruk meja sekali lagi. "Saya kecewa terhadap kalian! Sangat kecewa!"

Seorang pendekar berikat kepala bulu domba tampak maju satu kaki dari tempatnya mematung tadi. Ia mengepalkan tangannya ke depan, menghormat dengan mimik ragu.

"Maafkan kami, Yang Mulia" tuturnya. "Tapi kami sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat Bao Ling setangguh itu." "Saya tidak ingin mendengar alasan ketidakmampuan kalian menaklukkan orang kepercayaan Jenderal Gau Ming itu!"

sembur Pangeran Yuan Ren Qing, sontak berdiri dari duduknya. Menyeret kakinya dengan langkah berat, mendekati pendekar yang mendalih atas kegagalan mereka membunuh Bao Ling. "Saya tidak mau tahu bagaimana dan apa cara kalian menghadapi orang itu. Yang saya inginkan hanya satu.

Enyahkan orang itu!"

Pendekar itu terdiam, kembali menundukkan kepala setelah sesaat mengangkat muka ketika mengurai alasan barusan. Ia mundur kembali pada barisan yang menjajar rapi di hadapan sang Pemimpin. Enam pendekar lainnya yang berseragam merah bata tampak kikuk. Sesaat bahkan seolah menahan napas yang keluar dari lubang hidung mereka.

Pangeran Yuan Ren Qing berjalan kembali menuju kursinya setelah mengibaskan jubahnya dengan satu entakan keras - jelas merupakan aplikasi kemarahannya yang belum surut dari ubun-ubun.

"Kalian tahu, apa akibatnya seandainya Zhung Pao Ling tidak mati tapi tertawan?!" gusarnya setelah duduk kembali di kursinya. "Apa jadinya seandainya dia membuka mulut?! Apa kalian semua ingin dipenggal?! Rencana kita kacau! Kacau! Bao Ling pasti akan mencari tahu, untuk apa Zhung Pao Ling hendak membunuhnya! Sekarang dia pasti akan mencari siapa dalang yang menyuruh Zhung Pao Ling membunuhnya! Hal tersebut pasti akan dilaporkannya kepada Jenderal Gau Ming. Lalu, sebentar lagi pasti berita tersebut akan sampai dan terdengar di telinga KaisarJumawa itu."

Suasana senyap menyelubungi ruang pertemuan pangeran. Dari sinilah awal mula mufakat mereka untuk menghabisi satu per satu prajurit-prajurit berdedikasi Sang Kaisar. Rencana tersebut sudah dianggap matang setelah konsentrasi Kaisar Yuan Ren Zhan dan beberapa atase militernya terburai oleh pemberontakan Han yang terjadi di Tung Shao serta beberapa kaum nomad Mongol di perbatasan Tembok Besar.

Dibiarkannya kekuatan Yuan dan kubu pemberontak Han beradu sehingga melemah. Dengan begitu, ia dapat memanfaatkan situasi tersebut sebagai taktik titik lemahnya kekuatan Kaisar Yuan Ren Zhan.

Pangeran Yuan Ren Qing ingin mengail di air keruh!

Namun ada sesuatu yang tidak disangka-sangkanya. Jauh dari prakiraannya yang semula. Pertempuran di Tung Shao ternyata dimenangkan oleh pasukan Yuan berkat kecerdikan Fa Mulan. Sementara itu kekuatan Yuan juga berangsur menguat berkat bantuan pihak Barat yang menjual meriam-meriam mereka kepada Kaisar Yuan Ren Zhan. Hal tersebut memang tidak lepas dari andil besar Perdana Menteri Shu Yong yang berhasil melobi salah seorang atase militer Inggris di London, Sir Arthur Jonathan. Berkat andil perdana menteri Yuan itu pulalah, militer Yuan memiliki pasukan dari divisi baru yang sangat tangguh dan ampuh menaklukkan pemberontak Han.

Kendati demikian, rencana Pangeran Yuan Ren Qing untuk merebut takhta dari tangan kakak kandungnya masih tetap akan dilaksanakan. Apa pun yang terjadi. Kegagalan beberapa hari lalu saat jasusnya gagal mengeksekusi mati Bao Ling, tidak mempengaruhi niat dan ambisinya. Ia tetap akan menggulingkan kepemimpinan Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan secara klandestin.

Beberapa saat lamanya Pangeran Yuan Ren Qing memangu dengan benak yang terbebat masalah. Bawahan dan pengikutnya, pesilat-pesilat Kiangsu yang vulgar dan batil masih juga mematung. Dan tak sepatah kata pun meluncur dari bibir salah satu di antara mereka.

"Ah, sudahlah, Wu Kuo!" seru Pangeran Yuan Ren Qing kepada pemimpin pendekarnya, kali ini lebih melunak. "Bawalah orang- orangmu untuk kembali melakukan rencana kita. Saya harap kalian tidak akan gagal lagi!"

Wu Kuo yang bertaucang dengan bandana bulu domba itu maju sedepa dari tempatnya berdiri. Tangannya kembali terangkat dan mengatup di depan wajahnya. Kali ini pula sikapnya sedikit lebih tegas dan tegap setelah sedari tadi berdiri dengan lunglai. "Siap, Yang Mulia. Hamba akan melaksanakan amanat Yang Mulia dengan sebaik-baiknya. Demi kejayaan kita semua!" Pangeran Yuan Ren Qing mengangguk tanpa memandang ke arah pesilat-pesilatnya, eksekutor rencana pelbagai pembunuhan pengabdi-pengabdi tangguh Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia hanya menggerakkan tangannya mengaba sebagai tanda supaya mereka boleh pergi meninggalkan balairung.

*** "Ayah!"

Pangeran Yuan Ren Qing terlonjak dari lamunannya. Entah sudah berapa lama ia duduk menyendiri dan terpatung di kursinya sampai suara lembut putrinya itu menyapa dari arah bingkai pintu balairung pangeran.

"A Xie," balasnya lemah terhadap gadis remaja yang melangkah setengah berlari ke arahnya. "Apa yang Ayah pikirkan?"

"Oh, tidak ada apa-apa."

Putri Yuan Ren Xie kini telah menggelayut manja di bahu ayahnya. "A Xie tidak percaya. Ayah pasti sedang banyak masalah. Ayo, ceritakan. Mungkin A Xie bisa kasih solusi." Pangeran Yuan Ren Qing tersenyum.

Binar amarah mendadak melenyap saat menatap keteduhan di mata putri tunggalnya tersebut. Gadis itu merupakan satu- satunya pelipur lara kala ia tengah dirundung galau. Diciuminya dahi gadis yang baru menginjak usia enam belas itu dengan penuh kasih sayang sesaat sebelum sepasang tangan gemulai putrinya tersebut memijiti pundaknya.

"Anak kecil tahu apa masalah orangtua?" elak Pangeran Yuan Ren Qing, membiarkan dirinya dipijat. "Anak kecil jangan suka mencampuri urusan orangtua. Anak kecil seharusnya hanya bermain, bukan?"

"Ah, Ayah! Ayah selalu begitu! Ayah selalu menganggap A Xie anak kecil!" ujar Putri Yuan Ren Xie dengan mulut manyun, pura-pura sewot. "Kapan Ayah dapat menganggap A Xie dewasa?!"

Pangeran Yuan Ren Qing tertawa.

"Sedang memikirkan persoalan apa, Ayah?" cecar Putri Yuan Ren Xie sembari memijit-mijit pundak serta menumbuk-numbuk lembut punggung ayahnya. "Persoalan Istana, ya?"

Pangeran Yuan Ren Qing berdeham. "Ah, anak kecil tahu apa soal Istana?"

"Tentu saja A Xie harus tahu," elak Putri Yuan Ren Xie lincah. "A Xie putri Ayah, bukan?"

"Iya. Siapa bilang Putri Yuan Ren Xie bukan anak Ayah?" "Makanya. "

"Makanya kamu nyinyir ingin tahu, ya?"

Putri Yuan Ren Xie menghentikan pijitannya seolah memerotes kalimat ayahnya barusan. "Ayah jahat! Ayah suka mempermainkan A Xie!"

Lelaki tua dengan pelipis yang ditumbuhi uban tersebut sontak merangkul tubuh putri tunggalnya. Menariknya kembali berdiri di sisinya setelah gadis itu protes dan pura-pura hendak beranjak menjauhinya.

"Kamu marah sama Ayah, ya?"

"Habis, Ayah selalu mempermainkan A Xie!"

"Baik, baik. Ayah janji tidak akan mempermainkan kamu lagi," bujuk Pangeran Yuan Ren Qing. "Ayah senantiasa akan membahagiakan kamu."

Putri Yuan Ren Xie tersenyum dengan rupa menang, memeluk ayahnya yang sudah melingkarkan sepasang tangan dipinggulnya.

"Jadi, Ayah berjanji akan memberikan dan mengabulkan apa saja yang A Xie minta?"

"Ya. Apa saja," angguk Pangeran Yuan Ren Qing, masih menyembulkan senyum. "Apa yang tidak pernah Ayah berikan kepada kamu?"

"Ah, Ayah pasti bohong!"

"Bohong apa?" tanya Pangeran Yuan Ren Qing dengan suara separuh tertawa, membelai-belai janggutnya yang sedikit melingkar di bawah dagunya seperti ekor bekisar. "Sekarang, kamu minta apa? Bilang saja. Hm, pasti akan Ayah penuhi." "Benar, Ayah?!" Putri Yuan Ren Xie bertanya, antusias dengan dengan mata membola.

Pangeran Yuan Ren Qing mengangguk keras. "Iya, benar. Untuk kamu, apa saja akan Ayah berikan."

"Benar Ayah tidak akan bohong?" tanya Putri Yuan Ren Xie, mencecar. Alisnya bergerak naik-turun. Seulas senyum nakal mengembang di bibirnya.

"Ayah berjanji. Nah, apa yang ingin kamu minta?"

Putri Yuan Ren Zhan mempererat pelukan pada bahu ayahnya. Bibirnya dicondongkan, mendekat dan nyaris menyentuh telinga kiri salah seorang adik kandung Kaisar Yuan Ren Zhan.

"A Xie ingin ke Ibukota Da-du menyaksikan Festival Barongsai, Ayah," bisiknya manja.

Pangeran Yuan Ren Qing membeliak. Senyumnya melamur perlahan. Dipandanginya lamat wajah ayu di hadapannya - buah hatinya yang paling berharga. Satu-satunya penerus atas seluruh aset dan pengharapan yang telah dicita-citakannya sejak lama. Tampuk tertinggi kepemimpinan Tionggoan akan berada di tangannya, dan segala penerus yang berasal dari darah- dagingnya sendiri!

"Tapi, tidak aman berada di Ibukota Da-du pada saat-saat seperti ini, A Xie!" tolaknya lembut. "Di sini kamu tenang. "

"Tapi Ayah sudah berjanji!" protes Putri Yuan Ren Qing, turun dari pangkuan ayahnya. "Ayah tidak boleh mengingkari janji Ayah tadi!"

"A Xie. "

Putri Yuan Ren Xie mengentakkan kakinya. "Ayah bohong!" "Bukan begitu. "

"Bukan begitu bagaimana?! A Xie kecewa sama Ayah!" Pangeran Yuan Ren Qing masih berusaha membujuk. Dicobanya menggapai pergelangan pipih Putri Yuan Ren Xie, namun gadis itu mengentak keras tangannya kala telapak tangan tua itu telah menggenggam jemarinya. Dihindarinya cekalan tangan Pangeran Yuan Ren Qing dengan melangkah mundur sedepa sehingga lelaki tua itu hampir tersuruk dari kursinya.

"Ayah melarang kamu ke Ibukota Da-du semata-mata demi keselamatan kamu, A Xie," urai Pangeran Yuan Ren Qing setelah membenarkan duduknya yang sedikit melorot dari ke kursinya. "Bukannya Ayah mengingkari janji. Bukannya Ayah mengekang hidup kamu."

"Tapi, Ayah tidak adil!"

"Ayah akan mengabulkan apa saja permintaan kamu asal jangan permintaanmu untuk menyaksikan Festival Barongsai di Ibukota Da-du itu."

"Kenapa?! A Xie bisa jaga diri. A Xie bukan anak kecil lagi, Ayah!"

"Semua suku bangsa di Tionggoan akan menghadiri Festival Barongsai tersebut, A Xie. Sangat tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekacauan di sana-sini. Lagipula, pihak musuh - khususnya kaum pemberontak Han - pasti masih akan terus merongrong Istana. Jadi, sangat tidak aman bila kamu hadir di sana. Apalagi kamu adalah Putri, bangsawan Yuan yang dapat dijadikan sasaran empuk penjahat."

"Jangan mengurai dalih, Ayah!"

"A Xie, tolong dengar Ayah. Sekali ini saja. Ayah sangat sayang sama kamu. Ayah tidak membatasi kebebasanmu. Tapi, situasi dan kondisi di Ibukota Da-du memang tidak aman - riskan dari bahaya. Setiap saat dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap saat dapat terjadi pertempuran. Ayah hanya mengkhawatirkan keselamatan kamu jika tetap bersikeras berangkat ke Ibukota Da-du."

"A Xie tidak peduli!" umpat Putri Yuan Ren Xie, bersikeras dengan keputusannya untuk berangkat ke Ibukota Da-du. "Pokoknya, A Xie harus pergi!"

"Ayah harap kamu dapat mengerti, A Xie."

"A Xie juga berharap Ayah dapat menepati janji Ayah tadi!" "A Xie. "

"Ayah jahat! Ayah pembohong!" "A Xie. "

"Tidak peduli Ayah izinkan atau tidak, A Xie tetap akan pergi!" "A Xie!" bentak Pangeran Yuan Ren Qing, sudah tidak mampu membendung kesabarannya. "Jangan keras kepala!"

Putri Yuan Ren Xie menderaikan airmata karena kesal dengan ultimatum ayahnya yang tetap bersikeras melarangnya menyaksikan pesta akbar Festival Barongsai di kawasan Istana, di Ibukota Da-du beberapa hari lagi. Ia berlari keluar dari balairung tanpa menghiraukan panggilan ayahnya lagi sesaat setelah menggabruk daun pintu.

Pangeran Yuan Ren Qing menghela napas panjang. Menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk keresahannya. Putri tunggalnya itu memang keras kepala. Mungkin ia sudah salah mendidik selama ini. Afeksi yang berlebihan darinya semasa kanak-kanak sampai sekarang terhadap putrinya telah membentuk sosoknya menjadi gadis manja.

***

Ada suara gerit menyentuh ubin. Perlahan pintu terkuak bersamaan terobosan sinar benderang matahari siang yang menerangi kamar pekat Putri Yuan Ren Xie.

"Makanan untuk Putri." "Saya tidak mau makan!" "Ada apa, Putri? Apa Putri sakit?"

Selantun suara lembut bertanya dalam nada prihatin sesaat setelah Putri Yuan Ren Xie menengkurap di atas tempat tidur, menelungkupkan kepalanya berbantal sepasang punggung tangan yang terlipat di bawah dahi. Tampak seorang gadis dayang mendekat setelah mematung sebentar di bawah bingkai pintu, dan masuk ke kamar Sang Putri yang tidak terkunci. "Sudah, sudah. Pergi sana. Jangan ganggu saya lagi!"

"Tapi. "

"Pergi, pergi!"

Gadis dayang itu mundur setindak setelah mematuhi perintah Putri Yuan Ren Xie. Nampan yang berisi makanan lezat di tangannya nyaris jatuh karena guntur amarah tersebut. Watak fluktuasi putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing itu memang kerap meresahkannya - bukan sekali ini saja, tetapi hal inferior tersebut bahkan sudah menjadi ritual harian. Namun demikian, sedini mungkin dipahaminya karakter Sang Putri sebagai bentuk hakiki hieraki. Iklim itu telah terbentuk turun-temurun di dalam lingkungan monarki Istana. Sebagai gadis yang terlahir dari kalangan jelata, disadarinya benar hal itu sebagai bagian dari takdir. Takdir yang telah membawa kehidupannya ke Istana. Dan mengabdi sebagai salah seorang dayang.

Hari ini dayang dapur Istana dibuat kelimpungan oleh ulah Sang Putri. Menu makanan yang sudah tersaji untuknya di ruang makan Istana tak sesumpit pun disentuhnya. Putri Tong Fha akhirnya memerintahkan agar dayang dapur segera menyajikan makanan baru untuk dihidangkan di dalam kamar putri tunggalnya tersebut. Karena setiap begitu - mangkir di ruang makan, ia tahu kalau Putri Yuan Ren Xie sedang marah.

Putri Yuan Ren Xie kembali menguraikan airmata. Ia belum dapat menerima keputusan tegas ayahnya yang melarangnya ke Ibukota Da-du untuk menyaksikan Festival Barongsai.

Amarahnya dilimpahkan kepada Fang Mei yang sudah menyertainya sejak masa kanak-kanak. Gadis sebaya Sang Putri itu sudah menjadi salah satu kerabat paling dekat.

Mengawal, merawat, dan tumbuh bersama-sama di dalam lingkungan Istana Pangeran selama sekian belas tahun.

"Tapi, Anda belum makan. Saya khawatir Anda bisa jatuh sakit," sahut Fang Mei dalam nada memelas.

"Apa pedulimu kalau saya sakit?!" bentak Putri Yuan Ren Xie dengan suara paruh tangis. "Ayah saja tidak peduli terhadap saya lagi!"

"Tapi. "

"Ayah jahat! Ayah sudah tidak sayang lagi terhadap saya! Ayah melarang saya menghadiri Festival Barongsai di Ibukota Da-du. Padahal, Ayah sudah berjanji akan mengabulkan apa saja permintaan saya sebelumnya," keluh Putri Yuan Ren Xie. "Tapi, tiba-tiba saja Ayah mengingkari janjinya ketika mengetahui permintaan saya tersebut adalah main ke Istana Da-du."

Fang Mei sudah memberanikan diri melangkah.

Dengan separo menjinjit dan hati-hati, diletakkannya nampan makanan Putri Yuan Ren Xie di atas meja kamar setelah menggeser sebuah lampu minyak berkanopi lampion merah ke tepi. Diletakkannya satu per satu mangkuk dan piring yang berisi nasi putih, juga sayur-mayur serta beberapa lauk-pauk yang tampak masih mengepulkan asap.

Putri Tong Fha memerintahkannya agar menyajikan makanan baru bagi Sang Putri setelah gadis itu tidak hadir makan siang bersama di ruang makan Istana Kiangsu tadi. Aroma lezat kaki babi kecap dan bebek peking serta sayur asin tumis kesukaan Sang Putri menyeruak di seputar kamar. Namun Putri Yuan Ren Xie tak bergeming meski perutnya sebetulnya sudah lapar. Ia masih saja sesenggukan di atas ranjangnya.

Setelah selesai meletakkan semua makanan itu ke atas meja, Fang Mei melangkah lebih dekat ke arah Putri Yuan Ren Zhan yang masih tidur menengkurap. Ia duduk di gigir ranjang Sang Putri dengan sikap kikuk. Sesaat tidak tahu harus berbuat apa. Dipilin-pilinnya bilah-bilah rambut yang menjuntai di bahu sebagai reaksi keresahannya, sampai ia mampu mengumpulkan keberanian untuk mengajak Putri Yuan Ren Xie berdialog. Ia harus bersabar untuk itu. Kalau tidak, Putri Yuan Ren Xie pasti akan mengamuk dan sungguh-sungguh mengusirnya.

Ditunggunya amarah Putri Yuan Ren Xie mereda. Dengan begitu ia dapat membujuk supaya Sang Putri mau makan seperti wanti- wanti Putri Tong Fha kepadanya.

"Yang Mulia mungkin lagi banyak masalah sehingga tidak dapat mengambil keputusan mengizinkan Putri ke Ibukota Da-du.

Kalau masalah beliau sudah berkurang dan satu per satu teratasi, Putri dapat pelan-pelan kembali membujuk Yang Mulia. Barangkali beliau dapat berubah pikiran, dan mengizinkan Putri main ke Istana Da-du," ujar Fang Mei setelah merasa cukup memiliki keberanian untuk memulai percakapan.

"Saya kecewa terhadap Ayah!" balas Putri Yuan Ren Xie, masih tidur menengkurap sembari sesekali menyeka airmatanya dengan punggung tangan. "Sangat kecewa!"

"Iya. Tapi, Putri jangan sampai bersedih begitu," bujuk Fang Mei lembut. "Besok Putri dapat kembali membujuk-bujuk Yang Mulia. Bilang, Putri tidak akan apa-apa selama bersama saya. Saya pasti menemani Putri ke Ibukota Da-du jika diizinkan oleh Yang Mulia."

"Tapi. "

"Sudahlah, Putri. Putri lebih baik makan dulu. Makanan untuk Putri nanti keburu dingin." "Saya tidak lapar!"

"Tapi kalau tidak makan, Putri bisa sakit." "Ayah pasti lebih senang kalau saya sakit!" "Putri jangan ngomong begitu."

"Kalau tidak begitu, kenapa Ayah mengingkari janjinya?! Pasti Ayah tidak sayang sama saya lagi. Kalau saya sakit, Ayah pasti tidak akan peduli! Saya benci Ayah! Saya benci!"

"Putri. "

"Jangan ganggu saya lagi!" sergah Putri Yuan Ren Xie pedas. "Kalau perlu makan saja makanan itu!"

Fang Mei menghela napas panjang.

Disikapinya dengan bijak sifat Putri Yuan Ren Zhan yang masih kekanak-kanakan. Untuk itulah ia tidak segera pergi meninggalkan kamar anak majikannya - seperti yang diperintahkannya sedari tadi. Ia tetap bersabar. Menunggu sampai amarah Sang Putri mereda, dan mau menyentuh hidangan yang telah disajikannya di atas meja.

Dalam seribu degupan jantung makanan yang sudah disiapkan juru masak Istana Kiangsu itu pasti akan membasi, pikirnya. Dan sudah merupakan kewajibannya untuk mengganti makanan tersebut dengan masakan yang baru. Dapur Istana Kiangsu akan menjadi tempat yang paling sibuk karenanya. Sepanjang hari dapur Istana Kiangsu terus mengepulkan asap. Berkarung- karung beras dan ribuan pon daging asap serta sayur-mayur berkualitas baik harus disuplai untuk memenuhi kebutuhan para rani dan puak bangsawan di Istana Kiangsu.

Namun dalam kenyataan sehari-hari, makanan tersebut tidak selamanya habis. Banyak makanan-makanan untuk keluarga Istana Kiangsu itu malah mubazir dan dibuang percuma.

Beberapa di antaranya menjadi makanan untuk hewan piaraan - anjing-anjing - anak-anak pejabat negara di Istana Kiangsu.

Fang Mei kembali menghela napas panjang. Pikirannnya menerawang jauh dan terpatri pada satu titik nadir. Sebenarnya, jatah bahan mentah makanan dalam sehari untuk keluarga Istana Kiangsu itu bahkan dapat menghidupi rakyat miskin di beberapa puluh dusun kecil.

Kadang-kadang, ia menitikkan airmata bila mengingat basir kelimpahan yang tersia-siakan itu jika, menghubung-hubungkan dengan nasib melarat keluarganya di kampung dulu. Sesaat kenangan membawanya ke sebuah dusun kecil di mana ia dilahirkan oleh sepasang petani miskin. Kehidupan keras alam pedesaan telah membawanya kemari, masuk sebagai hamba di Istana Kiangsu.

Banyak di antara orangtua memiliki cita-cita sederhana namun merupakan keinginan tertinggi untuk menghindari kemiskinan buat anak-anak mereka kelak. Bagi keluarga yang beruntung memiliki akses masuk ke Istana Kiangsu, anak laki-laki merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi kasim. Mereka bahkan rela mengorbankan anak-anaknya untuk dikebiri agar terhindar dari malapetaka busung lapar yang, selalu menjadi momok paling menakutkan di dusun suatu waktu. Selain itu, menjadi pegawai kekaisaran merupakan kebanggaan - meskipun hanya sebagai kasim yang bertugas mengurus segala keperluan rumah-tangga Sang Pangeran dan para garwanya.

Ia adalah salah satu anak dari keluarga yang beruntung.

Kurang lebih dua belas tahun yang lalu, orangtuanya menitipkan ia kepada salah satu kerabatnya yang memiliki akses sebagai dayang-dayang di Istana Kiangsu. Ketika itu Pangeran Yuan Ren Qing dan Putri Tong Fha baru saja dikaruniai seorang putri. Untuk mengurus dan merawat sang Bayi, Putri Tong Fha memerlukan lebih banyak dayang-dayang yang dapat meringankan beban tugasnya sebagai ibu muda kala itu. Di samping itu, putrinya pasti memerlukan teman bermain. Maka nasib membawanya masuk ke dalam Istana Kiangsu. Saat itu pula, ia terpilih sebagai salah satu dayang kanak-kanak yang bertugas menemani Putri Yuan Ren Xie bermain-main.

"Putri. "

Putri Yuan Ren Xie masih membisu. Hanya sesekali terdengar isaknya yang lirih. Fang Mei masih takzim menunggu. Sesekali mengarahkan ekor matanya ke arah munjungan makanan yang sama sekali belum tersentuh.

Sebentar lagi makanan sarat gizi tersebut akan memubazir dan dibuang ke ruang sampah dapur. Mendadak hatinya menggiris. "Saya mohon Anda mau mencicipi makanan di atas meja, Putri," bujuk Fang Mei dengan suara sember. "Biar sedikit saja.

Sebentar lagi makanan itu pasti jadi basi."

Putri Yuan Ren Xie membalik tubuhnya dari menengkurap ke menelentang. Airmatanya masih basir menempeli pipinya yang tembam. Fang Mei menyambut sepasang mata berair tersebut dengan menyembulkan senyum separo paksa.

"Ayolah, Putri. Anda harus makan sedikit saja." "Saya tidak berselera makan, A Mei."

"Tapi kalau Anda sakit karena tidak makan, maka saya pasti akan dihukum oleh Yang Mulia - ayahanda Anda, Putri." "Kalau saya sakit, itu bukan karena kesalahan kamu. Tapi karena kesalahan Ayah."

"Tapi, mana boleh Anda. "

"Sudahlah, A Mei. Keluarlah. Bawalah makanan itu kembali ke dapur. Biarkan saya sendiri di sini. Saya tidak ingin diganggu." "Tapi. "

"A Mei!" "Putri. "

"Ada apa lagi?!"

"Saya tidak ingin Putri bersedih terus-menerus seperti itu." "Saya sakit hati dan kecewa terhadap kekerasan hati Ayah, A Mei."

"Mungkin Yang Mulia punya alasan yang kuat sehingga tidak mengizinkan Anda berangkat ke Ibukota Da-du."

"Tapi, Ayah memang otoriter!"

Putri Yuan Ren Xie bangkit dari menelentang, duduk bersila di atas kasur tataminya. Ditentangnya mata Fang Mei dengan mata menyorot protes. Ia tidak senang gadis dayang itu malah membela-bela ayahnya. Selama ini, meski ia mendapatkan semua fasilitas yang dibutuhkan dan diinginkan dari ayahnya, tetapi ia selalu merasa tidak puas. Ia selalu merasa ada yang kurang.

Sejak kecil, ia hanya dekat dengan Fang Mei - dayang-dayang yang sampai saat ini menemaninya. Ayahnya terlalu sibuk dengan urusan politik negara. Sementara itu, ibunya pun ikut- ikutan sibuk dengan protokoler kenegaraan sehingga melupakan satu hal yang paling mendasar bagi dirinya. Kasih sayang.

Afeksi mereka dicetuskan dalam sebentuk pemberian materi yang tidak pernah memuaskan batinnya. Emosinya melabil. Dan membentuknya menjadi gadis remaja yang manja dan tidak mandiri.

"Mungkin bukan maksud Yang Mulia mengekang-ngekang hidup Anda, Putri. Barangkali hanya alasan keselamatan Anda semata," papar Fang Mei sembari menundukkan kepalanya, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata yang menggurat gusar di hadapannya. "Tionggoan baru saja usai dari pemberontakan. Ibukota Da-du masih belum stabil benar.

Apalagi, saya dengar Festival Barongsai itu diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai negeri. Jadi sangatlah riskan kalau Putri hadir di sana tanpa pengawalan ekstra ketat."

Putri Yuan Ren Xie mengibaskan tangannya. "Huh, tahu apa kamu tentang Ayah, A Mei?!"

"Maaf, Putri. Saya hanya. "

"Jangan bawel!" "Tapi. "

Putri Yuan Ren Xie tiba-tiba berdiri dengan mata berbinar-binar. "Sudahlah, A Mei. Malam ini kita akan pergi diam-diam ke Ibukota Da-du. Sekarang kamu siap-siap saja. Bawa bekal secukupnya. Awas, jangan sampai ketahuan!" sahutnya antusias, mendadak mendapat gagasan untuk kabur dari Istana Kiangsu sesaat setelah melangkah sedepa dari gigir ranjang.

Fang Mei melototkan mata.

"A-apa, Putri?!" tanyanya berbisik, lalu turut berdiri dan mengekori Putri Yuan Ren Xie. "Ki-kita akan diam-diam pergi ke Ibukota Da-du?!"

"Iya!" jawab Putri Yuan Ren Xie, juga dalam nada berbisik. "Ssstt... jangan berisik. Kita akan kabur dari sini. Ingat, jangan sampai ketahuan."

"Ta-tapi, bagaimana caranya, Putri?!"

"Gampang. Kalau sudah gelap, kita akan menelusup keluar gerbang. "

"Tapi, kita bakal ketahuan. Banyak prajurit pengawal gerbang yang menjaga pintu keluar-masuk Istana. Saya khawatir. "

"Sudahlah. Jangan bawel lagi. Nanti malam kita menyamar sebagai prajurit. Curi beberapa seragam prajurit di ruang ganti. Juga dua ekor kuda di istal belakang Istana. Setelah berhasil keluar dari gerbang, maka kita akan menyamar lagi sebagai rakyat jelata."

"Ta-tapi. "

"Sstt! Kerjakan saja apa yang saya perintahkan! Ayo, tunggu apa lagi?! Lekas siapkan bekal kamu. Jangan khawatir soal sangu.

Saya memiliki banyak simpanan uang emas. Jadi kita tidak bakal kelaparan selama di dalam perjalanan nantinya."

Fang Mei mengangguk dengan wajah lesi.

Sesaat hatinya menggamang dan tidak tahu harus berbuat apa, kecuali hanya mengakuri semua kalimat Putri Yuan Ren Xie yang serba mendadak serta sangat mengejutkan. Hendak kabur ke Ibukota Da-du.

***

"Putri Yuan Ren Xie!"

Putri Yuan Ren Xie tersentak oleh sebuah suara yang menyapanya dari belakang. Ia terundur tanpa sadar sehingga tumitnya menginjak dedaunan yang mengerontang di tanah saat sudah hampir keluar dari gerbang Istana. Fang Mei menahan limbungan tubuh Sang Putri. Setelah itu ia lekas maju ke depan seolah-olah menutupi tubuh Putri Yuan Ren Xie dari segala mara bahaya yang mengancam.

"Tzeba Dalan?!" tanyanya dengan nada desis, mengerutkan keningnya saat lapat-lapat dari jarak tak seberapa menangkap sosok yang sudah dikenalinya sejak lama - seorang pemuda peranakan Mongol yang sudah berasimilasi dengan Tionggoan. "Untuk apa kamu berada di tempat ini?! Bukankah tempat kamu berada di ruang dapur Istana?"

Lelaki bertubuh tegap dan berkulit sedikit gelap itu tetap diam. Matanya yang tajam hanya menatap sesekali pada Fang Mei yang berseragam prajurit. Selanjutnya ia mematrikan pandangannya kembali pada wajah lesi Putri Yuan Ren Xie - juga dengan pakaian prajurit - yang belum surut benar dari keterkejutannya. "Ada apa, Tzeba?!" cecar Fang Mei sinis, tidak senang pemuda itu menghalangi niat mereka untuk kabur. Namun diam-diam disyukurinya karena ternyata orang yang menghadang langkah mereka keluar dari gerbang Istana Kiangsu itu hanyalah seorang juru masak Istana.

"Anda hendak ke mana, Putri?!" tanya Tzeba Dalan tanpa bergeming dari tempatnya berdiri. Ia tak mengacuhkan pertanyaan Fang Mei. Kalimatnya terfokus pada Sang Putri yang sama sekali tidak mengenalinya.

"Bukan urusan kamu, Tzeba!" bentak Fang Mei, berusaha menggeser tubuh tegap lelaki berperawakan dingin itu dengan satu dorongan tangan.

"Tapi akan menjadi urusan Istana Kiangsu bila sampai kalian pergi diam-diam!" tuntut Tzeba Dalan, bersikeras untuk tidak menggeserkan badannya meskipun Fang Mei telah mendorongnya dengan sekuat tenaga tadi.

"Tahu apa kamu tentang Istana, Tzeba!" salak Fang Mei, sudah tidak dapat mengendalikan kesabarannya. Samar-samar didengarnya bunyi lembut gong para prajurit jaga yang berkeliling di sekitar Istana Kiangsu. "Tolong minggir sekarang juga. Ingat, jangan macam-macam. Ini bukan urusanmu!" "Tindakan kalian sangat riskan," sahut Tzeba Dalan, masih berusaha mementangi jalan kedua gadis itu. "Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian di luar?!"

Putri Yuan Ren Xie sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Diayunkannya telapak tangan kanannya, bermaksud menampar pipi pemuda yang masih ngotot mencegah tindakan mereka - hendak kabur ke Ibukota Da-du tanpa seizin Pangeran Yuan Ren Qing tersebut. Namun sigap Tzeba Dalan mengelak, melengoskan kepalanya sehingga tamparan itu luput dari pipinya.

"Kurang ajar!" semprot Putri Yuan Ren Xie dengan telapak tangan yang masih menggantung di udara. "Kamu pikir siapa kamu?! Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?!" Santun Tzeba Dalan menghormat. Dikepalkannya sepasang telapak tangannya ke depan, sesegera mungkin meredakan amarah Sang Putri dengan menunjukkan sikap penyesalan. "Maaf, maafkan saya, Putri," ujarnya. "Saya tidak bermaksud melawan Putri. Tapi, saya hanya khawatir dengan keselamatan Putri. Di luar sangat berbahaya. Banyak musuh yang mengincar nyawa puak Istana, termasuk Anda. Maaf, tindakan kurang

santun saya tadi hanyalah untuk mencegah supaya hal-hal yang tidak diinginkan itu jangan sampai terjadi pada diri Putri." "Keselamatan kami bukan urusan kamu, Tzeba," timpal Fang Mei ragu. Ia sedikit termakan kalimat-kalimat subtil Tzeba Dalan barusan. Memang sangat berbahaya berada di dunia luar. Apalagi perjalanan ke Ibukota Da-du merupakan tindakan gegabah terlebih tanpa pengawalan. "Kamu tidak akan dihukum penggal kalau besok Yang Mulia sudah tahu tentang pelarian kami ini. Kamu hanya juru masak Istana Kiangsu. Tidak ada hubungannya dengan pelarian kami ini. Kecuali jika kamu membocorkan masalah ini kepada Yang Mulia. Jadi, kalau kamu tidak ingin terlibat dalam masalah, tolong jangan memberitahu soal ini kepada Yang Mulia!"

"Tapi keselamatan Putri merupakan kewajiban semua insan Istana Kiangsu, A Mei. Tidak peduli apakah dia seorang tukang masak sekalipun seperti saya ini."

"Sudahlah, Tzeba. Jangan sok pahlawan!" sergah Fang Mei sinis. "Kamu dan saya adalah dayang dari kalangan jelata. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi puak bangsawan hanya dengan menjadi jasus pihak Istana Kiangsu."

"Saya hanya semata-mata memikirkan keselamatan Putri. Tidak ada hal lain yang melatarbelakangi niat saya menghalangi tindakan kalian, A Mei. Terlebih-lebih seperti sangkamu tadi." Putri Yuan Ren Xie maju setindak, menyejajari tubuh Fang Mei yang melangkah mendekati pemuda di hadapannya barusan.

Ditatapnya mata elang yang memancarkan sorot kesungguhan. Tzeba Dalan memang bermaksud baik. Sayang tindakannya tersebut terlalu represif. Sehingga ia jelas dapat dianggap membangkang - salah satu tindakan yang paling fundamental di dalam tatanan kekaisaran. Akibatnya ia dapat dijatuhi sanksi hukuman yang paling berat pula. Pancung!

"Siapa pun kamu, terima kasih karena kamu sudah memikirkan keselamatan kami," sahut Putri Yuan Ren Xin tanpa disangka- sangka.

Amarah gadis itu berubah menjadi simpati. Kendati begitu, ia tetap bersikeras untuk meninggalkan Istana Kiangsu. Dan kabur ke Ibukota Da-du untuk menyaksikan Festival Barongsai yang akbar.

"Tapi, kami harus tetap pergi. Mohon kamu jangan menghalangi langkah kami lagi. Pangeran Yuan Ren Qing, ayah saya sendiri saja tidak dapat melarang saya. Terlebih-lebih orang lain. Jadi, saya harap kamu dapat memaklumi tindakan kami ini!" pintanya tegas.

Tzeba Dalan tergugu. Entah harus berbuat apa untuk menggebah keinginan Putri Yuan Ren Xie yang tetap bersikeras meninggalkan Istana Kiangsu secara diam-diam. Ia tahu maksud dan tujuan Putri Yuan Ren Xie ke Ibukota Da-du meskipun tidak pernah mendengar secara langsung dari siapa pun. Festival Barongsai yang sebentar lagi akan diadakan di Ibukota Da-du memang telah menyedot perhatian banyak orang. Pesta akbar itu sarat dengan nuansa politis Istana. Merupakan lambang kemenangan Yuan atas musuh-musuh Tionggoan. Untuk tujuan itu pulalah Putri Yuan Ren Xie bersikukuh tetap berangkat ke Ibukota Da-du meskipun Pangeran Yuan Ren Qing sama sekali tak mengizinkannya.

Meski hanya bertugas sebagai juru masak di Istana Kiangsu, tetapi ia mengetahui dan memahami situasi politik yang berkembang saat ini di Tionggoan. Di mana-mana tengah bergejolak pemberontakan. Perang telah meranggas, dan menyengsarakan rakyat jelata. Ia sadar suatu ketika maharana dapat menghancurkan kesatuan negeri tua ini. Dan bila tiba saatnya, nyawa manusia pun tak ada harganya sama sekali.

Gerakan-gerakan dan kumpulan-kumpulan klandestin akan merajalela. Kisruh di mana-mana. Semua orang saling berebut kekuasaan. Ambisi telah membakar jiwa-jiwa yang ambigu.

Sehingga setiap jengkal ranah Tionggoan bakal dilumuri darah anak-anak manusia sendiri.

Ia gamang.

"Saya mohon urungkan niat Anda itu, Putri!" pinta Tzeba Dalan sekali lagi dengan rupa baur. "Semua ini demi kebaikan Putri sendiri!"

Putri Yuan Ren Xie tak menggubris. Dilangkahkannya kakinya, gegas menghindari pentangan tangan Tzeba Dalan yang mulai mengarah kasar. Fang Mei melototkan matanya sebelum satu tendangannya melayang ke arah wajah pemuda itu. Spontan ia melakukan penyerangan ketika melihat Putri Yuan Ren Xie mendapat kesulitan. Namun sekali lagi pemuda itu sigap, menepis tendangan cangkul Fang Mei dengan punggung tangannya.

"Kamu akan dipenggal, tahu!" teriak Fang Mei, masih melancarkan satu-dua pukulan ke arah Tzeba Dalan agar dapat keluar dari gerbang belakang Istana Kiangsu.

Pemuda yang berbulang khatifah gelap tersebut hanya menangkis, tidak membalas atau melancarkan pukulan. Fang Mei mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menaklukkan juru masak Istana Kiangsu itu. Tetapi pukulannya kopong menghantam angin.

Rupanya perkelahian mereka tersebut menggaduh. Desau duel dan tangkisan pukulan yang bertenaga itu terdengar oleh beberapa prajurit jaga yang tengah meronda, mengelilingi Istana Kiangsu di sebelah barat bangunan balairung. Mereka menghentikan langkah sejenak, menyimak suara gaduh itu dengan telinga menegak, lalu sepakat untuk menuju ke arah asal suara riuh tersebut.

Putri Yuan Ren Xie tergeragap ketika menangkap sebias sinar lentera di kegelapan malam. Juga ketika daun telinganya yang cangut mendengar derap-derap yang menderas, langkah serombongan prajurit jaga berpakaian gelap tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.

Seharusnya ia sudah berada di luar gerbang belakang Istana Kiangsu seandainya juru masak peranakan Mongol itu tidak menghalang-halangi rencananya. Kini segalanya merunyam. Prajurit-prajurit jaga itu sudah mengarah kemari. Dan pasti sebentar lagi rencana yang telah disiasatinya dengan rapi sejak siang hari tadi akan hancur berantakan. Semuanya gara-gara orang yang bernama Tzeba Dalan itu. Ia sudah menggagalkan impiannya dapat hadir di Ibukota Da-du menyaksikan Festival Barongsai. Airmatanya sudah menitik.

"Ayo, cepat sembunyi di belakang," ujar Tzeba Dalan, menghentikan pertarungannya dengan Fang Mei. Dituntunnya kedua gadis itu sesegera mungkin ke rerimbunan belukar di bawah batang-batang cemara udang samping tembok Istana Kiangsu. "Tidak jauh dari sini, di sebelah timur tembok ini, ada lubang kecil yang dapat kalian lalui. Lubang itu adalah gorong- gorong air yang sudah tidak terpakai. Tidak jauh. Setelah itu kalian dapat keluar dari Istana Kiangsu ini dengan selamat tanpa diketahui oleh prajurit jaga. Seandainya tadi kalian bersikeras hendak melewati gerbang belakang, kalian pasti dapat tertangkap. Gerbang belakang sudah diawasi oleh prajurit jaga. Rupanya ada perubahan dalam sistem keamanan di Istana Kiangsu ini yang belum kalian ketahui. Yang dulunya tidak terjaga, kini sudah diawasi. Jadi, lubang itu adalah satu-satunya jalan yang dapat mengantar kalian keluar tanpa diketahui. Nah, cepat. Tunggu apa lagi?"

Putri Yuan Ren Xie dan Fang Mei langsung merunduk dan setengah merayap, melata seperti ular di tanah. Mereka bergerak menjauhi Tzeba Dalan dengan benak baur. Tidak lama berselang pemuda itu telah berhadapan dengan prajurit-prajurit jaga. Kedua gadis itu terus merangkak tanpa sempat berpikir tindakan aneh Tzeba Dalan barusan, yang membebaskan mereka dan malah menunjukkan jalan tikus untuk dapat keluar dari Istana Kiangsu dengan aman.

"Tadi kami mendengar ada suara gaduh. Sepertinya suara perkelahian," samar dari kejauhan Putri Yuan Ren Xie dan Fang Mei menangkap pembicaraan itu. Mereka sudah masuk ke dalam lubang yang gelap dan lembap.

"Perkelahian?" ulang Tzeba Dalan, berakting seolah-olah tidak yakin dengan kalimat yang didengarnya barusan.

Seorang prajurit jaga menimpali. "Ya. Juga teriakan."

"Tidak ada orang lain di sini selain saya," tegas Tzeba Dalan, meyakinkan lima orang prajurit jaga yang tengah menginterogasinya. Ia berusaha bersikap wajar dengan tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa di tempatnya berdiri.

"Tapi, kami mendengar suara gaduh yang berasal dari sini," sanggah seorang prajurit yang memegang lentera.

Tzeba Dalan mengurai dalih. "Mungkin bukan berasal dari sini." "Sedang apa kamu di sini, Tzeba?" tanya prajurit yang memegang lentera. Wajahnya yang berminyak di bawah caping mengilap ditimpa sinar jingga lentera. Alisnya nyaris bertaut.

Mematrikan pandangannya pada sekujur tubuh Tzeba Dalan, lalu memainkan gotri matanya menelusuri ujung sepatu sampai ujung rambut pemuda berkulit kecoklat-coklatan itu.

"Oh, tidak. Saya hanya latihan wushu," bohong Tzeba Dalan, masih mewajarkan sikapnya dengan mengurai alasan secepat lesatan anak panah yang melintas di memori kepalanya. "Sumpek di dapur setiap hari. Jadi jika ada waktu luang, biasanya saya membugarkan otot-otot saya di sini dengan melatih jurus-jurus dasar."

"Oh, pantas. Kami sangka ada perkelahian. Rupanya kamu hanya berlatih wushu," ujar prajurit lainnya yang bertubuh agam. Tzeba Dalan kembali mengurai senyum. "Benar. Saya hanya berlatih wushu."

"Syukurlah tidak ada apa-apa," sahut prajurit yang memegang lentera. "Kalau begitu, kami pamit dulu."

"Eh, tunggu. Kalian ada arak tidak?" seru Tzeba Dalan, menahan langkah kelima prajurit tersebut yang sudah menjauhinya setindak.

"Ada," jawab kelima prajurit jaga itu nyaris bersamaan. "Memangnya kamu mau minum, ya?" tanya salah satu prajurit jaga tersebut, melangkah mundur setindak kembali. Mendekati Tzeba Dalan yang tengah mengangguk.

"Iya," jawab Tzeba Dalan cepat-cepat di akhir anggukannya. "Itu kalau ada."

"Ada, ada!" seru prajurit bertubuh agam, juga menyeret sepasang kakinya yang tegap melangkah mendekati pemuda yang bertugas sebagai koki di Istana Kiangsu. "Tapi, cuma arak kampung. Tidak seperti arak di ruang dapur, pasti lezat karena merupakan arak untuk keluarga Istana Kiangsu."

Ketiga prajurit lainnya turut melangkah.

Tzeba Dalan tersenyum. "Memang. Tapi mana boleh saya menyentuhnya barang seteguk saja. Hei, saya tidak mau mengambil risiko kena penggal karena berani mencicipi arak lezat Istana Kiangsu yang hanya dapat disuguhkan untuk Pangeran Yuan Ren Qhing dan kerabat-kerabat beliau," sahutnya setengah bergurau, menggambarkan kalimat penggal tadi dengan menaruh telapak tangan kanannya di pangkal leher. Kelima prajurit jaga itu terbahak. "Hahaha. "

"Makanya, saya ingin menumpang minum sama kalian," ujar Tzeba Dalan lagi, mengulur-ulur waktu agar Putri Yuan Ren Xie dan Fang Mei sudah berhasil keluar Istana Kiangsu melalui lubang tikus yang telah ditunjukkannya.

"Oh, boleh, boleh. Tapi, nanti sebentar lagi. Sudah hampir waktunya pergantian tugas dan rotasi jaga. Setelah itu kita akan minum-minum bersama sampai puas di dalam binara jaga.

Jangan bilang kami ini tidak menghargai jasa-jasamu. Kalau bukan karena kamu, dapat dari mana makanan lezat yang setiap hari disuguhkan kepada kami? Semua itu berkat olahan dan masakan kamu yang lihai."

"Ah, kalian terlalu melebih-lebihkan. Apalah artinya seorang Tzeba Dalan. Bukankah begitu?"

"Hahaha. Hm, kami akan menghubungi kamu lagi di sini. Nah, teruskanlah latihanmu itu," urai prajurit yang memegang lentera tersebut setelah meredakan tawanya.

Kelima prajurit jaga itu melangkah. Mereka kembali bertugas meronda, mengelilingi halaman Istana Kiangsu yang asri.

Tidak lama kemudian terdengar derau-derau dari gerakan pukulan. Tzeba Dalan kembali berakting, pura-pura meneruskan latihan wushunya ketika prajurit-prajurit jaga yang sudah dikenalnya itu mulai menjauhinya.

Ia tersenyum ketika prajurit-prajurit jaga tersebut telah menirus dari matanya. Taktiknya untuk mengulur-ulur waktu berhasil meluputkan Putri Yuan Ren Xie dan Fang Mei dari perhatian para prajurit jaga.

Semoga mereka berdua dapat sampai ke tempat tujuan dengan selamat, harapnya cemas.

Bab 30

Rembulan memutih dalam tirai-tirainya yang patah cahyanya melamur disaput lentera merah

yang menyala menggelimun tanpa bayang-bayang

Malam memekat oleh sunyi gulita

hanya sesekali terdengar parau gong dari kejauhan juga lolongan anjing yang giris

seketika tangis langit pun pecah basah bumi seiring gelegar guntur

menggiriskan dingin pada nyawa-nyawa yang melayang dan Dewata yang meratap

- Bao Ling Elegi Malam

***

Bao Ling sudah memacu kudanya menuju ke Ibukota Da-du dengan benak baur. Ia memang tidak berhasil membawa Fa Mulan ikut serta dalam Festival Barongsai seperti yang diamanatkan oleh Istana. Tetapi ia sadar kalau keadaan memang tidak memungkinkan lagi. Gadis itu memiliki alasan yang kuat untuk tidak menghadiri pesta akbar yang diselenggarakan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan tersebut. "Sampaikan saja manuskrip ini untuk Jenderal Gau Ming. Saya sudah menulis semua permintaan maaf saya. Juga alasan tentang kemangkiran saya pada Festival Barongsai nanti.

Memang saya harus memutuskan, apakah saya tetap di sini, atau ke Ibukota Da-du. Tapi saya sudah menimbang-nimbang dengan matang, mungkin ada baiknya untuk sementara saya masih harus berada di sini. Meski kelihatan aman, tapi pengawasan perbatasan Tembok Besar ini tidak boleh diabaikan. Masih banyak jasus musuh yang berusaha masuk melalui jalan strategis di sini. Jika tidak terjadi apa-apa, saya akan menyusul kemudian. Berangkatlah kamu duluan. Semoga Festival Barongsai itu dapat berlangsung dengan aman." Perkaranya memang bukan soal keinginan hati untuk mengikuti atau mangkir, gerutunya dalam hati ketika gadis itu menyerahkan manuskrip yang telah ditulisnya sesaat sebelum ia berangkat pagi dini hari tadi. Namun ada hal-hal yang belum disadari pihak Istana Da-du, yang pada kenyataannya sudah terlihat oleh Fa Mulan sebagai prajurit garda depan dalam sebuah pertempuran. Intuisinya yang tajam merupakan proses dari asimilasi sebagai prajurit yang berhadapan langsung dengan musuh.

Fa Mulan adalah gadis dengan sosok yang berbeda. Kehadirannya sebagai prajurit Yuan di Kamp Utara merupakan bagian tak terpisahkan dari situasi yang tidak menentu di Tionggoan. Rongrongan musuh di perbatasan dan juga gejolak- gejolak yang bermuasal dari Istana sendiri telah membawa gadis itu ke dalam maharana. Ia pun menyusup ke Kamp Utara setelah menyamar sebagai laki-laki. Mematuhi keharusan wamil bagi setiap anggota keluarga yang ada di Tionggoan - menggantikan posisi ayahya yang sudah tua dan pincang. "Penyamaran saya di Kamp Utara bukan semata-mata karena menggantikan ayah saya yang sudah tua, Bao Ling!"

"Tapi apa pun alasannya, sangat tidak realistis kalau kamu mengemban dan memikul semua tanggung jawab yang mahaberat ini, Mulan."

"Saat negara sedang di ambang bahaya, realistis atau tidak, bagi saya itu hal yang sangat relatif. Kamu pikir perempuan tidak bisa mengaplikasikan loyalitas kebangsaannya untuk membela negaranya sendiri?"

"Bukan begitu. Namun, tanggung jawab itu sudah menjadi kewajiban kaum laki-laki! Perang adalah dunia laki-laki.

Melibatkan perempuan atau anak-anak adalah dosa besar." "Itulah leluri yang sudah mendarah daging di Tionggoan ini. Perempuan selalu berada pada strata kedua. Kalau begini terus- menerus, apa jadinya bangsa kita yang senantiasa dikungkung oleh pranata gender?"

"Masalahnya ini perang, Mulan! Bukan soal kaummu yang terpinggirkan!"

"Perang atau bukan, apa bedanya?" "Kamu keras kepala, Mulan!"

"Mungkin. Tapi tidak sekeras iklim hakam antara laki-laki dan perempuan yang kalian ciptakan sendiri turun-temurun. Saya sedih dengan situasi yang menyudutkan begini. Ketika saya berhasil melumpuhkan beberapa musuh-musuh di perbatasan, yang ada dalam pikiran saya adalah, ini sudah merupakan tugas dan telah menjadi tanggung jawab saya sebagai prajurit. Saya tidak pernah berpikir bahwa, yang melumpuhkan lawan-lawan di perbatasan adalah Fa Mulan - seorang perempuan yang notabene terpinggirkan. Tapi apa yang ada di dalam pikiran kalian ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang mengisi benak saya pada waktu itu. Dan ketika kalian mengetahui bahwa, Fa Mulan ternyata adalah seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, maka dia harus mendapat hukuman penggal! Hah, kenapa?! Kenapa kalian tidak pernah adil menyikapi ini semua! Kenapa kalian tidak pernah melihat duduk persoalannya dengan mata hati dan nurani? Apa salah perempuan sehingga meskipun mereka berkorban demi negara, namun tetap akan dipenggal karena dianggap melanggar tatanan yang telah kalian buat dan sepakati."

***

Memang, ketika itu penyamaran Fa Mulan sebagai laki-laki akhirnya terbongkar juga. Saat itu Fa Mulan terluka parah setelah bertempur mempertahankan daerah perbatasan Tembok Besar dengan beberapa ratus kaum nomad Mongol, seminggu setelah dimutasikan dari Tung Shao ke Tembok Besar untuk membantu prajurit Divisi Infanteri yang telah bertugas di sana.

Ketika dalam masa perawatan itulah identitas Fa Mulan terbongkar. Tabib yang tengah memeriksanya melaporkan kepada Shang Weng bahwa Fa Mulan ternyata seorang perempuan. Seketika itu pula Shang Weng murka luar biasa. Ternyata selama ini militer Kamp Utara telah kecolongan. Sudah barang tentu hal itu merupakan aib dan coreng malu untuk sebuah barak yang dianggap suri teladan. Barak yang memiliki reputasi gemilang - dengan ribuan perwira dan prajuritnya yang berdisiplin tinggi di antara seluruh jajaran kemiliteran Tionggoan. Shang Weng menanggung malu.

Waktu itu pula, ia langsung menghunuskan pedangnya ke arah leher Fa Mulan yang saat itu terkulai lemah berlutut di tanah. Chien Po yang melihatnya langsung turun tangan. Prajurit bertubuh besar itu langsung mengayunkan toyanya, menangkis mata pedang yang hendak menebas kepala Fa Mulan.

Yao turun membantu. Ia menghalau beberapa pengawal Shang Weng yang hendak membantu menyerang.

"Kalian semua pembangkang!" teriak gusar Shang Weng pada waktu itu.

"Tidak ada maksud kami untuk melawan Anda, terlebih-lebih membangkang seperti yang Anda tuduhkan kepada kami, Kapten Shang!" bantah Chien Po, masih sigap melindungi Fa Mulan dari bahaya saat itu.

"Betul, Kapten Shang. Apa yang dikatakan Chien Po memang benar. Kami hanya menunjukkan solidaritas, membantu saudara kami - Fa Mulan - yang terkulai lemah. Dia sedang terluka parah, Kapten Shang. Seharusnya kita membantunya. Bukannya bertindak yurisdikasi ketika segalanya masih belum jelas benar duduk-perkaranya," tambah Yao menentang.

"Apanya yang tidak jelas?! Jelas-jelas perempuan ini telah mencoreng nama baik militer Kamp Utara ini!"

"Nama baik?! Sebegitu tinggikah nilai nama baik di mata Anda sehingga rela mengorbankan nyawa prajurit loyal Anda, Kapten Shang?!" tanya Chien Po sinis.

"Jangan membela perempuan ini lagi kalau kalian tidak ingin dihukum karena dianggap makar!"

Waktu itu pula ia memberanikan dirinya menantang Shang Weng. Ia tidak peduli seandainya ia pun dihukum penggal karena dianggap membangkang atau makar. Yang pasti, ia tidak dapat membiarkan gadis yang tengah sekarat itu dibantai tanpa musabab jelas.

"Fa Mulan tidak bersalah! Apa hanya lantaran dia perempuan sehingga harus dibunuh?!" imbuhnya, turut menentang pada waktu itu.

"Jangan ikut campur, Bao Ling!"

"Maaf atas kelancangan saya, Kapten Shang. Tapi, tolong sarungkan pedang Anda kembali! Urungkan niat Anda itu. Fa Mulan bukan musuh yang harus Anda hadapi dengan pedang yang terhunus. Kalau Anda ingin membunuh gadis ini, silakan langkahi mayat saya dulu!" tantangnya lagi.

"Ya, benar. Langkahi mayat kami dulu," timpal Chien Po dan Yao bersamaan.

"Kalian. "

Pada saat itu perkelahian tidak dapat dihindarkan. Bao Ling berduel dengan Shang Weng, dan Chien Po serta Yao menghadapi prajurit-prajurit pengawal Shang Weng. Beberapa puluh prajurit wamil yang simpati terhadap Fa Mulan - termasuk prajurit yang bertugas sebagai juru masak barak - juga turut bertarung dengan prajurit-prajurit pengawal Kamp Utara. Namun upaya tersebut sia-sia belaka, sekalipun Bao Ling dapat mengalahkan Shang Weng setelah bertarung cukup lama.

Sementara itu Chien Po dan Yao tidak berkutik menghadapi serangan dan keroyokan ratusan prajurit pengawal yang termasuk bagian dari Divisi Infanteri. Begitu pula dengan prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. Mereka ditangkap. Dan bersama Fa Mulan dimasukkan ke dalam tenda tahanan selama beberapa hari.

Ia sendiri melarikan diri dari Kamp Utara. Untuk sementara bersembunyi di sebuah dusun dekat barak, sampai menunggu situasi mengkondusif sebelum melakukan rencana pembebasan Fa Mulan. Selama beberapa hari ia mengintai Kamp Utara.

Suatu hari Shang Weng mendadak mengambil keputusan yang kontroversial. Ia membebaskan Fa Mulan beserta semua prajurit wamil yang ditawannya tempo hari meski mereka semua tetap dalam pengawasan ketat prajurit pengawal Divisi Infanteri. "Untuk kasus manipulasi identitas diri Fa Mulan, akan saya serahkan sepenuhnya kepada atase militer pusat," alasan Shang Weng waktu itu kepada prajurit-prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. "Merekalah yang akan memutuskan, apakah Fa Mulan bersalah atau tidak. Apakah dia akan mendapat dispensasi pengampunan atau tidak - bila divonis bersalah. Kita tunggu saja dengan sabar keputusan dari atase militer Yuan di Ibukota Da- du."

Dalih itu memang meredakan amarahnya sehingga ia pulang kembali ke barak setelah lari dan bersembunyi beberapa hari di sebuah dusun. Begitu pula dengan para prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. Mereka menunggu amar dari atase militer Yuan di Ibukota Da-du. Apakah Fa Mulan mendapat pengampunan atau tidak.

Fa Mulan sendiri apatis kalau atase militer Yuan akan bermurah hati memberikan pengampunan. Ia tahu bagaimana keras dan tegasnya hukum kemiliteran Yuan. Ia pasrah. Tetapi tidak sedikit pun momok sanksi hukuman pancung itu menggentarkannya.

Ia memang tidak takut mati!

"Saya pantas dipenggal, Kapten Shang! Saya harap Anda jangan membuang-buang waktu lagi. Saya siap mati sekarang. Saya tidak akan menyesal. Saya bangga mati demi membela negara dan keluarga saya. Jadi, hunuskanlah pedang Anda sekarang, Kapten Shang," ujar Fa Mulan tanpa merasa gentar pada waktu itu.

"Saya tidak memiliki legitimasi untuk menghakimi kamu, Mulan." "Anda adalah pemimpin tertinggi di Kamp Utara. Anda berhak mengeksekusi saya. Saya memang telah bersalah menipu militer Yuan." "Saya tidak bisa putuskan kamu bersalah atau tidak. Semua keputusan serta sanksi yang akan dijatuhkan atas perbuatan manipulasi identitas diri kamu itu ada di tangan atase militer di Ibukota Da-du. Saya minta maaf atas sikap vulgar saya terhadap kamu tempo hari. Saat itu saya tidak dapat menahan diri. Saya emosi. Tidak seharusnya saya bersikap sekasar itu terhadap kamu."

"Percuma mengulur-ulur waktu. Toh pada saatnya nanti, kepala saya akan dipenggal!"

"Mulan. "

"Anda jangan menanggung beban perasaan bersalah hanya karena membunuh seorang Fa Mulan. Apalah artinya seorang Fa Mulan yang telah menyebabkan nama baik militer Yuan rusak dan tercoreng malu!"

"Jangan mendesak saya untuk mengambil keputusan sepihak, Mulan!"

"Saya hanya tidak ingin dipermainkan oleh ajal, Kapten Shang. Kalau saya memang harus mati hari ini, segeralah bunuh saya. Kalau Anda dan atase militer Yuan mengulur-ulur waktu, hal itu sama saja dengan menyiksa dan membunuh saya perlahan- lahan. Hal tersebut jauh lebih menyakitkan ketimbang Anda membunuh saya sekarang."

"Sa-saya tidak ingin kamu mati, Mulan! Saya akan berusaha memperjuangkan nasib kamu di hadapan pejabat-pejabat militer itu. Saya. "

"Kenapa?! Bukankah saya ini biang perusak nama baik militer Kamp Utara?! Kenapa hidup saya perlu Anda pertahankan?

Bukankah lebih baik kalau saya mati saja agar. "

"Jangan menyiksa saya lagi dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu, Mulan. Saya sudah cukup menderita selama ini. Ah, saya tidak tahu mengapa harus berhadapan dengan dilematisasi seperti ini!"

"Maaf, karena sayalah sehingga Anda. "

"Tidak. Jangan salahkan dirimu. Sekarang, jangan menyalahkan siapa-siapa."

"Tapi saya sudah pasrah." "Kamu tidak boleh menyerah!"

"Saya tidak pernah merasa kalah. Kematian saya kelak di ujung golok algojo Istana Da-du merupakan kemenangan. Saya hanya dikalahkan oleh ironi bangsa ini. Kalah karena terlahir di dalam zaman yang tidak tepat, di mana perempuan tidak pernah mendapat tempat yang layak di tanah kelahirannya sendiri. Di mana perempuan harus dipenggal karena dianggap melampaui batas kodrati yang telah digariskan oleh artifak leluri laki-laki." "Tapi kamu tetap berjasa bagi Yuan."

"Saya tidak pernah berharap dan berpamrih ketika melaksanakan tugas-tugas serta kewajiban-kewajiban yang sudah menjadi tanggung jawab seorang prajurit."

"Tapi, atase militer Yuan di Ibukota Da-du mesti jeli melihat serta mempertimbangkan jasa-jasamu itu."

"Saya tidak bisa mempengaruhi keputusan para atase militer dengan memaparkan jasa-jasa baik yang pernah saya lakukan untuk negeri ini, agar saya dapat bebas dari tuntutan hukum.

Saya hanya berharap mereka dapat bertindak bijak dan obyektif menyikapi kasus saya ini."

Shang Weng memang memperjuangkan nasib Fa Mulan di markas besar militer Yuan, di hadapan puluhan petinggi militer dan panglima perang yang akan memutuskan sanksi hukuman untuk gadis itu. Namun seperti yang telah diduganya, para atase militer Yuan tetap bersikeras untuk menjatuhkan hukuman pancung kepada Fa Mulan sebagai kata sepakat pertemuan militer akbar tersebut.

"Ma-maafkan saya, Mulan!"

"Tidak apa-apa. Lakukan saja perintah para atase militer Yuan itu, Kapten Shang."

"Am-ampuni saya, Mulan. Eksekusi akan dilakukan tujuh hari lagi. Saya bersedia melakukan apa saja untukmu sebelum. "

"Laki-laki pantang mengeluarkan airmata, Kapten Shang. Jangan menangis lagi. Fa Mulan tidak perlu ditangisi. Inilah bentuk kemenangan saya yang paling gemilang, menghadapi kematian dengan tenang dan tegar!"