-->

Mulan Ksatria Putri Tionggoan Jilid 03

Jilid 03

Bab 11

Kularikan kegamanganku ke Gobi bercerita pada basir pasir

dan sekawanan rajawali tentang perintah Si Raja Gurun Ayah segala nomad

yang diamanatkan kepadaku Ia berkata

taklukkan Tionggoan agar kita dapat bernaung dalam sebuah negeri Istana

namun tak kugubris seruannya

sebab ambisi hanya majas fatamorgana

- Kao Ching Temujin Suatu Hari

***

Gumpalan awan menghitam di bujur ekuator langit. Beberapa walet beterbangan mengitari barak-barak di bawah kaki bukit Tung Shao. Di antaranya menelusup di rimbunan daun bambu. Sesekali melesat sangat rendah, mendekati beberapa pasukan Han yang sedang mengaso.

Ada meja hyang yang ditata menghadap sebelah timur. Dialasi satin kuning telur dengan seperangkat alat pemuja, meja kayu persegi itu tampak angker mengundang pewaka. Jenderal separo baya, Shan-Yu, mengenakan jubah kelabu menjuntai menyisir tanah. Mengibaskan pedang perak ularnya di atas kepala, sejurus mengarahkannya ke depan, menusuk selembar fu yang tergeletak di samping paidon bersetanggi ladan.

Diangkatnya fu itu ke atas api lilin yang sedang mengobar. Bibirnya bergetar kemu. Serangkaian mantra mengalir bersamaan dengan mengabunya jimat dari kertas tersebut. Sebasung manekin jerami berdiri di depan paidon yang masih menyembulkan tabir asap. Simbol-simbol aneksorsis, wujud kasatmata dalam manekin yang ia buat dan diurapi dengan roh- roh para arwah gentayangan.

Ritual bulanannya. Ia hidup dari autotrop hawa dingin tsar chi. Ilmu Telapak Penghancur Tengkorak ciptaan Auw Yang Pei San yang ia dalami mesti dialiri dengan tenaga negatif yang berasal dari makhluk-makhluk halus dimensi lain. Setiap rembulan memurna gelap, ia akan mengundang arwah-arwah untuk bersekutu. Menghimpun kekuatan gelap demi mewujudkan ambisinya. Agar suatu saat kelak tidak ada pendekar manapun di Tionggoan mampu mengalahkannya.

Ia akan menjadi penguasa di negeri itu! "Jenderal Shan-Yu. "

Ada sapaan yang melantun tepat ketika ia telah menyelesaikan ritualnya. Ia melepas jubah kelabu bersulam emas membentuk gambar anominitas di belakangnya. Disampirkannya pedang ular peraknya di punggung setelah memasukkannya ke dalam sarung ukir bambu kuning. Sebilah tali serupa pita merah mengikat pada pundak sebagai pegangan pedang ular peraknya.

"Ada utusan dari Mongol yang ingin bertemu, Jenderal Shan," jawab salah seorang pasukan Han yang mengenakan lemena. Jenderal bermata elang itu mengangguk, mengaba dengan tangannya supaya orang itu menyingkir. Ia berjalan perlahan menuju tenda induk. Tempat pertemuan dan rapat militer biasa dilakukan.

"Hormat saya, Kao Ching, utusan Pemimpin Agung Mongolia, Genghis Khan!" sapa seorang pemuda bertubuh terbilang kecil untuk orang-orang Mongol menyambut kehadirannya di tenda induk. Tampak mengepalkan tangannya ke muka wajah.

Menghormat lebih dahulu.

Shan-Yu mengangguk sebagai balasan. Tangannya mengaba, menunjuk sebuah kursi guci tembikar yang mengelilingi meja persegi porselen. Pemuda berkostum gembala dengan busur yang menyampir di punggungnya itu duduk di salah satu bangku berembos burung hong.

"Senang berjumpa dengan Anda, Pendekar Kao," balas Shan- Yu berformalitas dengan wajah dingin. "Ada angin apa yang membawa Anda kemari?"

Ia sudah mendengar nama mashyur Kao Ching. Seorang anak gembala berayah Mongol dan beribu Han yang dipelihara oleh kaum nomad Mongol. Jawara memanah itu dijuluki Si Pendekar Danuh. Akurasitas bidikan anak panahnya tak tertandingi oleh siapa pun. Mampu menjatuhkan dua burung dalam satu kali bidikan. Selama beberapa tahun sepeninggal ayah kandungnya, ia dipelihara oleh Genghis Khan. Tetapi kemudian berpisah karena Kao Ching diambil kembali oleh ibu kandungnya, dan hidup bersama di Provinsi Kiangsu, Tionggoan Utara. Di Tionggoan, Kao Ching sangat populer karena kerap memenangi sayembara memanah yang sering diadakan oleh puak terpandang dan kalangan bangsawan di Istana. Namun beberapa tahun kemudian ia menghilang dari Provinsi Kiangsu, kembali tanpa ibunya ke Ulan Bator.

Kao Ching tersenyum. "Hanya ingin menyampaikan salam Genghis Khan untuk Anda, Jenderal Shan."

Shan-Yu terbahak. "Temujin selalu begitu. Pantas dia disegani banyak lawan."

Kao Ching tersenyum mengikuti derai tawa Shan-Yu. Temujin adalah nama kecil Genghis Khan, pemimpin kaum nomad Mongol yang berusaha mencari identitas diri dengan menaklukkan negara lain. Merebut wilayah kekuasaan negara lain taklukannya supaya rakyat Mongol dapat menetap dan bertempat tinggal.

"Kalau boleh tahu, mungkin ada hal lain yang ingin disampaikannya kepada saya di balik titipan salamnya?" Shan- Yu bertanya, hendak langsung ke pokok masalah. Ia sudah tahu benar tabiat pemimpin nomad Mongol itu. Ia tidak ingin membuang-buang waktu berbasa-basi. Fajar nanti pasukannya akan memulai penyerangan besar-besaran ke puncak bukit Tung Shao. Membantai prajurit-prajurit Yuan pimpinan mantan prajurit wamil Fa Mulan dan atasannya, Kapten Shang Weng.

Pemuda jago danuh itu kembali mengatupkan kedua tangannya ke muka wajah. "Maaf, Jenderal Shan. Pemimpin kami menyampaikan kalau sudah beberapa bulan ini pasukan Han pimpinan Anda yang berada di gigir Sungai Onon telah meresahkan penduduk sekitar. Mereka kadang-kadang merampok dan memperkosa warga di dusun perbatasan. Itulah sebabnya saya diutus kemari untuk menyampaikan keresahan rakyat Mongol kepada Anda."

Wajah Shan-Yu memerah. Sesaat. Tetapi ia kemudian terbahak seolah tidak termakan singgungan. Kao Ching mengangguk- angguk seolah membiramai tawa lelaki beralis bulan sabit tersebut.

"Saya baru mendengar hal itu dari Anda, Pendekar Kao," sahut Shan-Yu dingin. "Tentu saja saya akan memenggal kepala prajurit saya itu bila memang bertindak arogan seperti yang Anda katakan tadi!"

"Genghis Khan akan sangat berterima kasih bila Anda turun tangan menangani masalah itu," tutur Kao Ching santun. "Tentu, tentu. Saya tidak ingin mengecewakan Temujin. Kedua kubu kita seharusnya bersatu, karena sama-sama memiliki tujuan menggulingkan Kekaisaran Yuan!"

Kao Ching mengangguk. Ia melenguh dalam hati. Tentu saja kalimat dari Shan-Yu itu hanya perona manis. Sebab ribuan tahun kaum nomad Mongol tidak pernah akur dengan suku Han. Namun memang kali ini kedua kubu yang sering bertikai itu memiliki tujuan yang sama. Merebut wilayah kekuasaan Kaisar Yuan Ren Zhan yang sangat luas dan gembur!

"Sampaikan salam balik untuk Temujin. Tolong katakan supaya beliau tidak usah khawatir," ujar Shan-Yu, masih berusaha bersikap manis. "Saya akan mengawasi pasukan Han lebih ketat!"

"Terima kasih, Jenderal Shan," balas Kao Ching. "Pasti akan saya sampaikan pesan Anda."

Shan-Yu mengangguk-angguk. Ekor matanya menatap sinis pada pemuda di depannya. Ia mengatupkan rahang menahan amarah. Wibawanya teremehkan oleh kaum nomad pimpinan Genghis Khan. Huh, dipikirnya siapa dia?! makinya dalam hati. Suku gembala temurun peternak kuda di gurun. Bisa apa dia selain bergerombol memanjat Tembok Besar?!

Suasana dalam tenda induk yang diambangi kebisuan seperti menyebarkan atmosfer permusuhan. Dua sosok itu mengarca. Seolah bertempur di alam benak masing-masing. Kao Ching mengedarkan mata, menyusuri benda-benda di bawah tenda kempa kulit seukuran lima kali tenda biasa prajurit. Tatapannya memusat pada satu titik. Di belakang sebuah meja kerja tampak selembar lukisan monokrom tujuh ekor kuda dengan grafiti kanji di bawahnya. Di lantai tanah, tampak selembar kulit kempa macan tutul menengkurap dengan kepalanya yang masih utuh - diawetkan.

Shan-Yu mengelus-elus pedang ular peraknya di hadapan Kao Ching. Sebuah simbolitas penantangan. Selama menjadi kakitangan Han Chen Tjing, ia pernah sekali terlibat bentrok dengan beberapa barbarian Mongol. Terutama untuk daerah bagian selatan dekat perbatasan Tembok Besar, kedua kubu itu sering berpapasan. Kaum nomad Mongol memang sangat membencinya. Sewaktu masih menjabat di militer Dinasti Yuan, Shan-Yu banyak membinasakan barbarian Mongol yang berusaha melewati Tembok Besar. Genghis Khan sangat dendam kepadanya. "Saya tidak mau berlama-lama mengganggu Jenderal Shan lagi."

Shan-Yu mengangguk membalas pamitan anak muda peranakan Mongol itu, masih dengan wajah sedingin salju. Seekor walet nyaris menabrak pucuk tenda ketika Kao Ching bertabe pamit. Tidak banyak hal yang dapat ia lakukan untuk meraba kekuatan pasukan Han yang terdiri dari kumpulan rakyat jelata. Mirip dengan barbarian Mongol, pikirnya. Mereka memang menggunakan kekuatan jelata. Tinggal mana yang lebih cerdik dan memiliki strategi taktis untuk dapat merebut negeri Tionggoan yang subur.

Bab 12

Ketika aku mendapat sebuah kemenangan aku tidak mengulang taktik itu

namun merespons berbagai keadaan dalam cara-cara yang tidak terbatas Taktik-taktik militer mirip dengan air seperti air membentuk alirannya berdasarkan permukaan

sebuah pasukan menang dengan menyesuaikan diri

terhadap musuh yang dihadapinya Dan sama seperti air yang inkonstansi dalam perang pun

tak pernah ada kondisi yang konstansi

- Sun Tzu

Refleksi Seni Rana

***

Aroma kemenangan memang sudah selenggang. Kurang lebih seratus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh membentuk pagar betis, merangkai rantai manusia yang menutup Tung Shao dari sebelah timur sampai barat. Di belakang rantai manusia, ribuan kuda tanpa penunggang telah berbarikade serupa defile. Kurang lebih sepuluh ribu prajurit Divisi Infanteri yang masih tersisa memegang panji-panji dan umbul-umbul Dinasti Yuan bertiang tombak. Mereka melangkah perlahan menuruni bukit, seolah hendak menyongsong pasukan pemberontak Han di bawah bukit.

Fa Mulan telah mendelegasikan masing-masing Pati memegang kendali atas seratus ribu kuda tanpa penunggang beserta prajurit di garda depan. Bao Ling bertanggung jawab atas barikade selatan. Chien Po pada barikade utara. Sementara Yao dan ia sendiri memegang kendali perintah di barikade timur dan barat. Dari kejauhan kesatuan barikade tersebut membentuk asumsi kekuatan tetralogi yang sangat tangguh. Sebuah empat mata rantai yang saling mengikat, dan mendukung antara satu dengan lainnya.

"Yao, Chien Po, Bao Ling!" Fa Mulan berteriak, memimpin di garis depan. "Kerahkan semua armada untuk merangkak perlahan! Semua prajurit Divisi Kavaleri Danuh dan Divisi Infanteri merengsek maju, berteriak sekeras-kerasnya!" Maka yang terjadi berikutnya adalah puncak Tung Shao menyemut oleh prajurit Yuan. Menghitam seperti arak-arakan gemawan yang siap menjelma menjadi badai hujan. Dari kaki bukit, Shan-Yu terpana. Tubuhnya menggigil. Ia serasa tak

percaya. Teriakan-teriakan yang menggema sampai ke bawah bukit bagai raungan halilintar. Ia serasa berhadapan dengan avalans. Siap melumat dan menguburnya di dalam endapan salju yang akan membekukan tubuhnya. Napasnya seketika tercekat.

"Mundur! Mundur semuanya! Mundur kembali ke barak Utara!" Tiga ratus ribu pasukan pemberontak Han mundur cepat dari zona tempur. Shan-Yu menggeram dengan wajah memerah menahan malu. Ia telah dikalahkan oleh prajurit wamil, Fa Mulan. Digebahnya pasukannya kembali ke gigir Sungai Onon, menyeberangi derasnya gelombang air. Dan pulang ke kamp mereka setelah melintasi Danau Baikal di perbatasan Mongolia. "Keparat! Bala bantuan Yuan lebih besar dari jumlah pasukan kita!" gusar Shan-Yu pada asistennya, Ta Yun.

"Da-dari mana mereka dapat memperoleh tambahan prajurit sedemikian cepatnya, Jenderal Shan?!"

Shan-Yu menggeleng di atas punggung kuda putihnya. "Tidak tahu. Tapi, saya rasa Kaisar Yuan Ren Zhan telah menghimpun rakyat di pesisir untuk menjadi wamil."

"Tapi, bukankah rakyat di pesisir telah bersimpati pada kita, Jenderal Shan?" tanya Ta Yun yang mengenakan bandana dari bahan mohair di atas kepalanya yang berambut lebat sepinggang.

"Tidak, tidak semuanya!" jawab Shan-Yu separo membentak. "Kaisar Berengsek itu sudah menyuap orang-orang itu supaya mau ikut dengan mereka!"

Daerah pesisir yang dimaksud adalah semenanjung Hainam. Sebuah negeri kepulauan kecil dengan penduduk padat. Masih independen. Orang-orang dari negeri putih baru saja meninggalkan daerah itu karena dianggap tidak memiliki lahan apa-apa yang dapat digarap kecuali ikan dan garam.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Jenderal Shan?!" tanya Ta Yun, sang pendekar bertubuh karang berohkan senjata trisula. Dadanya yang menggelembung telah menggambarkan kekuatan fisiknya yang sekuat banteng.

"Untuk sementara kita kembali ke kamp dulu. Setelah itu, saya akan berkonfirmasi dengan Pimpinan Han yang masih berada di perbatasan Tembok Besar. Mungkin kita himpun kekuatan baru lagi. Lalu kembali menggempur pihak Yuan."

"Tapi, apakah kita telah membuang-buang waktu, Jenderal Shan?"

"Maksudmu, kita tetap melawan prajurit Yuan yang berjumlah kurang lebih satu juta personel itu?!"

"Bukan. "

"Kalau saya meladeni mereka bertempur tadi, sama juga saya bunuh diri!"

"Ten-tentu. "

"Jadi selagi ada waktu untuk lolos, lebih baik kita kabur dulu. Sampai suasana kondusif untuk melakukan penyerangan kembali."

"Ya-ya! Seharusnya memang begitu, Jenderal Shan!" Ta Yun tergagap.

Trivialitas berpikirnya mengubunkan amarah Shan-Yu. Segera diakurinya dalih Shan-Yu untuk menarik diri dari zona tempur. Aversinya itu memang demi keselamatan semua pasukan Han. "Mungkin pasukan yang berasal dari Tung Shao ini akan membantu pasukan Pemimpin Han di perbatasan Tembok Besar. Mungkin kita akan mendobrak pertahanan musuh yang sedikit melemah di sana. Beberapa ribu pasukan kita di sana telah berhasil menaklukkan prajurit Yuan," ujar Shan-Yu menuai harapan. "Apa boleh buat. Ternyata strategi kita gagal di Tung Shao. Padahal, mulanya daerah itu telah diprakirakan akan dapat dengan mudah kita rebut. Justru sebaliknya dengan daerah di perbatasan Tembok Besar yang sama sekali tidak menjadi target kemenangan, kecuali untuk membuyarkan konsentrasi pakar strategi perang Yuan! Huh, saya tidak menyangka Fa Mulan dapat mengkoordinir semua prajurit Yuan secepat dan setangkas itu!"

Ta Yun mengepalkan tangannya di atas punggung kuda ketika melewati daerah paya di gigir Sungai Onon.

"Keparat Si Anak Kampung Fa Mulan itu! Akan saya bunuh dia kalau ketemu!" teriaknya tertahan menahan geram.

Shan-Yu mengangguk. "Padahal beberapa waktu lalu, saya sudah nyaris membunuh pemimpin Kamp Utara, Shang Weng, di dusun Nio. Untung dia dapat kabur. Tapi saya yakin dia terluka parah. Bahkan mungkin tewas di atas bukit sana!" "Jangan khawatir, Jenderal Shan," Ta Yun menghibur. "Saya sudah menyusupkan beberapa orang jasus di Ibukota Da-du. Mereka akan membunuh perwira-perwira Yuan bila tidak terkawal nanti!"

"Bagus!"

"Bahkan beberapa di antaranya sudah menelusup ke dalam lingkungan Istana Da-du, meskipun belum sampai ke Area Terlarang Kaisar Yuan Ren Zhan karena ketatnya pengawalan." "Tinggal menunggu waktu saja, kepala Kaisar Yuan Ren Zhan akan saya serahkan kepada Han Chen Tjing!"

Shan-Yu terbahak.

Mafelanya yang berwarna coklat tanah mengibar diembus angin sungai. Ratusan ribu serdadu mengekor di belakangnya.

Beberapa ribu pasukan mengusung peralatan tempur di pundak mereka. Sebagian lagi duduk di pedati dan muntit kuda yang mengangkut logistik militer.

Keciprat air yang mengirama oleh sapuan ratusan ribu pasang kaki di tepi sungai menimbulkan bunyi mayor. Burung-burung gereja beterbangan dari dahan-dahan rerimbunan daun bambu. Merasa terusik oleh sekelompok makhluk pengganggu. Mereka ketakutan, menjauh ke arah bukit. Dan hinggap di belantara pinus yang sudah tak berambun.

Pagi baru saja disaput oleh siang ketika mereka tiba di dermaga Sungai Onon. Dermaga tersebut merupakan dermaga darurat yang sengaja dibangun sewaktu penyerangan ke bukit Tung Shao. Di sana masih menyandar ribuan perahu dan rakit bambu. Dermaga itu dijaga oleh seribu orang serdadu Han, yang khusus bertugas mengawasi keselamatan transportasi air sederhana itu. Tidak ikut menyerang ke kaki bukit Tung Shao. Shan-Yu turun dari punggung kudanya.

Langkahnya diikuti Ta Yun yang mengekor hendak mengaso. Mereka duduk di rerimbun bambu, menyandarkan punggung pada batang bambu sembari menunggu barkas khusus untuk para perwira tinggi yang sedang disiapkan oleh beberapa serdadu. Kali ini air sungai tidak terlalu menderas. Jadi mereka dapat menjauh dari kejaran prajurit Yuan dengan mudah.

Sewaktu mereka melakukan penyerangan beberapa bulan lalu, air sungai sedikit meluap karena avalans salju dari bukit Tung Shao.

Shan-Yu tidak mau menempuh risiko masuk bersembunyi menelusup ke dusun-dusun. Cepat atau lambat mereka pasti akan tertawan. Apalagi penduduk dusun-dusun sekitar juga sudah mengantipati kehadiran pasukan Han, yang dianggap telah mengganggu ketenteraman mereka. Bahkan beberapa dusun telah mereka hancurkan, dijadikan markas militer dan lumbung logistik.

"Jenderal Shan, apa tidak ada cara lain untuk menghadapi kekuatan besar mereka selain kolaborasi pasukan dari daerah perbatasan Tembok Besar?" Ta Yun bertanya, lebih menyerupai bahan pemecah kebisuan ketimbang pertanyaan strategi. "Maksudmu. "

"Maksud saya, apakah kita tidak dapat bekerja sama dengan Temujin. "

Shan-Yu sontak berdiri dari duduknya. Ditatapnya sepasang mata sipit di hadapannya dengan tubuh membahang. Suaranya menggelegar. "Saya tidak sudi bekerja sama dengan kaum nomad!"

Ta Yun terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Ada dalih yang hendak diutarakannya. Tetapi urung terucap karena tergebah amarah Shan-Yu yang sudah meledak-ledak. Tentu saja bukan bekerja sama harafiah. Namun hanyalah bagian dari strategi pinjam tangan. Artinya, kaum barbarian Mongol dibiarkan bertempur di garis depan dengan prajurit Yuan sampai kedua belah pihak melemah. Dan ketika itu mereka akan masuk menyerang dari belakang memanfaatkan keadaan.

"Temujin terlalu angkuh!" damprat Shan-Yu. "Bagaimana mungkin kita dapat bekerja sama dengan orang seperti itu! Apalagi, kita memiliki kepentingan politik yang sama. Huh, mustahil Si Mongol Tua ingin berbagi tanah Yuan yang gembur." "Maafkan atas kelancangan saya tadi, Jenderal Shan!" Ta Yun bangkit berdiri, mengatupkan sepasang tangannya cepat di pangkal kalimat tabiknya. "Saya memang belum berpengalaman. Mohon Anda memaklumi."

"Lebih baik kita pikirkan strategi lain ketimbang harus bekerja sama dengan orang yang maneris begitu!" Ta Yun mengangguk. Diakurinya dengan terpaksa kalimat Shan- Yu yang mangkas. Dihelanya napas. Sebaiknya ia tutup mulut saja. Para perwira tinggi selalu merasa tinggi. Jarang mau menerima masukan dan usul bawahannya. Sifat laten Shan-Yu itu setali tiga uang dengan pemimpin tertingginya, Han Cheng Tjing. Selain keras kepala, mereka juga sama-sama ambisius! "Maaf, Jenderal Shan," sapa seorang serdadu yang membungkuk dalam-dalam. "Barkas untuk Anda sudah siap.

Apakah kita dapat berangkat sekarang?" Shan-Yu mengangguk.

Bab 13

Angin mengajarku menari melambungkan aku setingkat aku seperti walet di udara Kepak-kepaknya mengirama

menyatu dengan awan nan putih Inilah kehalusan budi

yang diajarkan alam padaku

- Fang Wong

Refleksi Taichi Chuan

*** Keberhasilan Fa Mulan memukul mundur musuh disambut gegap gempita oleh pihak Istana Da-du. Kaisar Yuan Ren Zhan tidak pernah segembira kali ini. Berkali-kali ia memuji kecerdikan strategi dan taktik kamuflase Fa Mulan di Tung Shao. Para atase militer di markas besar militer pusat sama sekali tidak menyangka Fa Mulan dapat menerapkan strategi jitu untuk menggentarkan lawan tanpa terjadi pertumpahan darah. Mereka sepakat untuk menaikkan pangkat Fa Mulan pasca pemberontakan Han nanti.

Sementara itu berita tentang mundurnya pasukan Han pimpinan Jenderal Shan-Yu dari zona tempur Tung Shao menjatuhkan moral pasukan Han lain, yang beberapa di antaranya sudah melintasi Tembok Besar. Han Chen Tjing kecewa. Karena daerah yang dianggapnya lemah dan hanya dijaga prajurit Divisi Infanteri, justru dapat menaklukkan serdadunya yang berkekuatan sangat besar.

Ia sekarang seperti mati kutu.

Di perbatasan Tembok Besar sendiri sudah tidak mudah mereka lewati lagi. Kaisar Yuan Ren Zhan telah menambah armada perangnya dengan satu divisi baru yang sangat tangguh, Divisi Kavaleri Fo Liong. Prajurit-prajurit Yuan itu dibekali dengan Fo Liong. Sebuah senjata pemusnah massal. Dapat menghancurkan lawan satu peleton dari jarak jauh dengan sekali tembakan.

Keparat, makinya dalam hati.

Persekutuan dengan Setan Putih! Kaisar Yuan Ren Zhan memang harus dipenggal. Kepalanya akan dipersembahkan untuk para leluhur Han, sumpahnya.

Han Chen Tjing melompat seperti terbang.

Ditumpahkannya amarahnya dengan serangkaian jurusnya yang memukul angin. Kibasan-kibasan Telapak Tangan Besi-nya berdesing-desing. Membelah beberapa dahan-dahan pohon cemara udang tanpa senjata, hanya dengan telapak tangannya yang sekuat sangkur baja.

Mantan biksu itu berputar-putar sesaat seperti propeler, menghamburkan pasir ke segala arah. Beberapa dari partikel pasir itu melubangi dedaunan akasia di dalam halaman rumah. Ia masih berputar, berkelebat seperti kepak-kepak elang, lalu berhenti pada satu titik ketika tangannya yang kokoh seperti beton itu menghantam satu batang pohon cemara udang.

Tenaga dalam Kingkong-nya membekas di pohon. Lalu selang berikutnya batang pohon tersebut berderak, membelah dan patah.

Sepuluh tahun yang lalu ia dikeluarkan dari biara Shaolin setelah bertarung dan melukai Fang Wong. Di biara Shaolin, Han Chen Tjing sering melakukan keonaran. Ia juga indisipliner. Selain itu ia diam-diam selalu belajar ilmu silat dari perguruan hitam. Biksu Pha Tou mengusirnya dengan paksa setelah berduel di halaman biara.

Pertarungan tersebut berlangsung seimbang. Pada waktu itu Biksu Pha Tou sama sekali tidak menyangka Han Chen Tjing dapat menandinginya. Padahal ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan kungfunya. Bahkan kungfu yang belum diajarkan kepada murid-murid baru.

Dalam akhir pertarungan itu, Han Chen Tjing dapat ditaklukkan. Tetapi Biksu Pha Thou terluka parah. Dan akhirnya meninggal dunia setahun kemudian akibat akumulasi pukulan Telapak Tangan Besi Han Chen Tjing, yang menghancurkan organ dalam tubuh biksu tua wakil pemimpin biara itu.

Han Chen Tjing kabur dari biara Shaolin dengan menanggung malu. Ia tidak rela. Dan berniat membalas dendam suatu hari. Berbekal kesumat itulah ia semakin giat mempelajari beberapa ilmu silat yang ada di Tionggoan. Ia ingin membalas kekalahannya saat bertarung dengan Biksu Pha Tou.

Tiga tahun setelah kejadian miris itu, ia kembali ke Shaolin hendak menantang Biksu Pha Tou. Namun alangkah kecewanya ia saat mendapati kenyataan bahwa Biksu Pha Tou ternyata sudah meninggal. Karena tidak mungkin dapat bertarung lagi dengan biksu tua yang mengalahkannya dulu, maka ia mengobrak-abrik seluruh ruangan biara.

Ia hendak mengalihkan tantangannya ke Biksu Yang Fei - pemimpin tertinggi biara. Wong Qi Bei dan Huan Chen-Liang yang saat itu sedang berguru di Shaolin mencegah niatnya dengan bertarung di luar biara. Mereka menghadang Han Chen Tjing yang ingin menantang Biksu Kepala pemimpin tertinggi Shaolin tersebut setelah sebelumnya mendapat legitimasi untuk menjaga Shaolin, dan mematuhi amanat agar tidak seorang pun dapat mengganggunya bermeditasi di ruang bawah tanah biara. Pertarungan tidak seimbang itu dapat dimenangkan dengan mudah oleh Han Chen Tjing. Setelah mengalahkan Wong Qi Bei dan Huan Chen-Liang, Han Chen Tjing kembali mengaduk-aduk biara. Ketika itu ia hendak mencari Fang Wong, saudara seperguruannya yang dikalahkannya beberapa tahun lalu.

Rupanya ia masih menyimpan dendam kepada Fang Wong, yang memergokinya belajar ilmu silat hitam - sebuah pantangan besar bagi para biksu Shaolin - dan menganggapnya sebagai biang pengadu yang menyebabkan dirinya diusir dan dikeluarkan secara tidak hormat dari Shaolin.

Fang Wong yang masih terluka akibat pertarungannya dengan Han Chen Tjing tiga tahun lalu, ternyata sudah meninggalkan biara sejak setahun lalu. Pemuda itu kabur ke sebuah dusun di sebelah tenggara Tionggoan. Di sana ia mengalami masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Pukulan Telapak Tangan Besi dan Kingkong Han Chen Tjing memang telah membuatnya menjadi orang setengah lumpuh.

Di dusun itu ia diobati oleh seorang tabib tua yang tinggal beserta seorang putrinya. Selama hidup sebagai petani, Fang Wong selalu dihantui oleh peristiwa tragis yang hampir merenggut nyawanya. Sosok Han Chen Tjing selalu membayanginya. Setahun kemudian ia mengidap skizofrenia. Tidak lama berselang menjelang penyembuhan, ia diilhami sebuah fenomena alam sehingga dapat menciptakan wushu unik, Taichi Chuan.

Dalam masa-masa penyembuhan luka dalam dan trauma psikisnya, ia mengajari anak-anak kampung wushu ciptaannya. Salah satu muridnya yang paling menonjol adalah Fa Mulan.

Satu-satunya anak gadis yang belajar wushu kepadanya secara sembunyi-sembunyi.

Setelah biara Shaolin diobrak-abrik oleh Han Chen Tjing, Wong Qi Bei melarikan diri ke Guandong. Di sana ia hidup madani.

Menjadi tabib setelah belajar medika tradisional Tionggoan - akupuntur dan Totok Nadi, dan membuka sebuah kedai obat. Sementara itu Huan Chen-Liang hijrah ke Shandong. Di sana ia mengikuti jejak Wong Qi Bei. Membuka kedai tekstil, menjual aneka kain dan benang yang dibeli dari pedagang-pedagang Mongol yang sudah mengelilingi berbagai negeri melalui Jalan Sutra. Mereka memang menghindari hiruk-pikuk dunia persilatan yang babur.

Han Chen Tjing pun pulang kembali dengan tangan kosong dan dendam tanpa balas. Selama masa transisi batinnya yang penuh dengan angkara dan amarah itu, ia pun melibatkan dirinya di dalam kancah politik. Ia membentuk klan Kelompok Topeng Hitam yang antipemerintah dan bergerak klandestin melawan Kekaisaran Yuan. Namun pada kenyataannya, klan bentukannya tersebut telah melenceng jauh dari misinya yang semula.

Kelompok Topeng Hitam lebih dikenal sebagai kelompok garong dibandingkan klan klandestin yang bertujuan menggulingkan Kekaisaran Yuan.

Gerakan-gerakan Han Chen Tjing berhenti seketika ketika Shan- Yu berdiri di ambang pagar halaman. Lamunannya pun membuyar oleh selantun kalimat bariton lelaki itu.

Shan-Yu mengabari dengan suara sayup. "Saya membawa kabar buruk!"

"Saya sudah tahu!" seru Han Chen Tjing dingin. Disekanya peluh yang membanjiri tengkuk dan lehernya dengan sapuan ujung lengan bajunya.

"Saya tidak menyangka Fa Mulan dapat secepat itu merangkum banyak prajurit di Tung Shao!" Shan-Yu mengurai alasan. Han Chen Tjing mengibaskan tangannya. "Sudahlah. Yuan Ren Zhan memang cerdik. Dia lebih berbahaya dari ayahnya, Yuan Ren Xing."

"Ketua Han, jadi apa selanjutnya rencana Anda untuk menghancurkan Dinasti Yuan?" Shan-Yu melangkah. Berhenti simetris dengan sebatang cemara yang tumbang oleh pukulan dahsyat Telapak Tangan Besi Han Chen Tjing.

"Kita tidak memiliki serdadu sebanyak mereka!" urai Han Chen Tjing ragu. "Menyerang mereka secara frontal di Tembok Besar sudah tidak mungkin kita lakukan lagi!"

"Apa Fo Liong mereka begitu hebat, Ketua Han?!" "Anda sudah mendengarnya juga, Jenderal Shan?" "Dari jasus yang sudah menyelinap ke Ibukota Da-du." Han Chen Tjing berdeham.

Ia menarik napas panjang. Mengembuskannya kemudian, juga dengan birama panjang. Shan-Yu mengelus ujung janggutnya yang menghitam seperti ekor bekisar. Ia masih menanti jawaban.

"Kalau tidak hebat, pasukan kita tidak mungkin mundur dari perbatasan Tembok Besar!" jawab Han Chen Tjing akhirnya setelah berhasil mengusai emosinya.

"Saya tidak menyangka Yuan Ren Zhan dapat menggalang kekuatan dengan Setan Putih!" Shan-Yu menimpali, matanya memicing bengis.

"Semua itu karena andil Perdana Menteri Shu Yong," sahut Han Chen Tjing, melangkah sedepa dari tempatnya berdiri. "Dia memiliki banyak relasi dengan Negeri Putih. Setan Putih-Setan Putih itu membantu mereka, memasok Fo Liong untuk menghancurkan kita!"

"Keparat!" Shan-Yu meninju telapak tangannya sendiri. "Untuk saat ini saya tidak tahu harus berbuat apa-apa. Semua

rencana kita gagal. Pasukan kita yang berhasil melewati Tembok Besar sudah dibabat habis oleh prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong. Kecuali gerilya dan menelusup di Ibukota Da-du, saya sungguh tidak tahu rencana apa lagi yang akan dapat kita terapkan!" imbuh Han Chen Tjing dengan rupa bingung.

Shan-Yu merapatkan gerahamnya. Dicengkeramnya keras- keras gagang pedang ular peraknya saat pemimpin tertinggi Han itu melangkah masuk ke ruang dalam rumah tanpa memedulikannya. Ia benar-benar merasa menjadi orang yang tidak berguna. Ia bersumpah untuk memenggal kepala Sang Kaisar suatu saat nanti. Dan menyerahkannya sebagai hadiah untuk lelaki berilmu silat tinggi itu.

"Jenderal Shan. "

Shan-Yu menoleh.

Di ambang pagar halaman tampak Ta Yun berlari ke arahnya. Tiba dua depa dari hadapannya disertai sebuah bungkukan tabe. Wajahnya menyumringah.

"Saya baru mendapat kabar dari beberapa jasus di Ibukota Da- du, Jenderal Shan," paparnya. "Mereka mengatakan kalau Kaisar Yuan Ren Zhan akan melakukan pesta kemenangan di Istana Da-du. Mereka akan mengadakan Festival Barongsai." Shan-Yu mengerutkan dahinya. "Festival Barongsai?!"

Ta Yun mengangguk. "Ya, Festival Barongsai. Menurut jasus kita, acara Festival Barongsai tersebut akan dihadiri oleh seluruh peserta barongsai yang ada di Tionggoan. Pihak Istana Da-du sudah menyebarkan undangan ke seluruh penjuru negeri.

Festival Barongsai itu direncanakan akan berlangsung pada saat purnama purna, awal dua bulan depan nanti!"

Tubuh Shan-Yu menegak. "Kalau begitu, siapkan orang-orang kita yang berwushu tinggi. Kita akan menelusup masuk sebagai peserta lomba barongsai. Segeralah berkemas, ikut saya ke Ibukota Da-du besok pagi. Samarkan identitas kita sebagai petani. Jangan sampai kepergok prajurit penjaga gerbang.

Wajah kita pasti sudah disebar di seluruh pelosok negeri sebagai buronan!"

"Baik, Jenderal Shan!" 

Bab 14

Ia meniti hamparan beledu merah di sepanjang tangga istana langkahnya seirama tabal

yang ditabuh pendekar Tionggoan

gadis junjungan langit Fa Mulan menapak perlahan Di puncak itu Sang Kaisar menyambutnya

sebab ia telah berjaya menyelamatkan Tionggoan tetapi ia menolak, menggeleng dengan wajah lesi katanya, ini hanya langkah kecil kemanusiaan!

Karena aku hanyalah sehelai yang-liu yang tak berdaya di rimba samsara

- Bao Ling

Prajurit Garda Langit

***

"Prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong sudah memukul mundur pasukan pemberontak Han di perbatasan Tembok Besar!" Bao Ling menyampaikan kabar pemotivasi kepada Fa Mulan. "Saya juga mendapat kabar, Kaisar Yuan Ren Zhan akan segera mengirim beberapa ribu prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong untuk membantu kita, memperkuat pertahanan di Tung Shao ini."

Fa Mulan tidak menanggapi.

Diulurkannya sepasang tangannya di lidah unggun. Meskipun musim salju sudah mulai bergeser, tetapi partikel dingin belum lagi hilang benar dari puncak bukit. Noktah-noktah putih salju masih terlihat menangkup di sana-sini seperti teratai. Indah sekali.

Sudah sebulan momentum fenomenal itu lewat. Tetapi Fa Mulan tetap mawas. Tidak mau lengah barang sekejap. Karenanya, ia menolak undangan Jenderal Gau Ming agar dirinya hadir dalam seremoni keberhasilan yang akan diselenggarakan di Istana Da- du.

Lagipula, ia masih menyertai Shang Weng yang masih dalam tahap penyembuhan, setelah terluka parah dalam sebuah pertempuran di dusun bawah bukit kurang lebih satu setengah bulan lalu.

"Kaisar Yuan Ren Zhan juga akan mengadakan Festival Barongsai," tambah Bao Ling, turut menjulurkan tangannya ke lidah api. "Hampir semua pendekar hebat Tionggoan akan hadir di Istana Da-du

Fa Mulan mendengus. "Seharusnya Kaisar Yuan Ren Zhan tidak boleh bereuforia begitu!" ujarnya dengan nada tidak senang.

Kabar gembira yang disampaikan Bao Ling barusan malah menggundahkan hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurungkan ekspresifitas euforia Kaisar Yuan Ren Zhan di Ibukota Da-du. Bao Ling terbahak.

Deretan giginya yang gading menyembul indah. Ada pancaran intelektualitas di sana. Tidak bernada melecehkan. Fa Mulan melirik sesaat, lalu memalingkan kembali kepalanya ke arah lidah unggun, seperti tak mengacuhkan kehadiran pemuda itu dengan menggosok-gosok telapak tangannya di lidah unggun. "Saya kagum sama Anda, Asisten Fa," ujar Bao Ling, lalu menderaikan tawanya kembali di ujung kalimat.

"Kagum kenapa?"

Fa Mulan menelengkan kepalanya, seolah memosisikan indera pendengarannya agar dapat menangkap desibel suara lawan bicaranya dengan jelas tanpa harus memalingkan wajah. "Selama ini tidak ada yang berani mengeritik Kaisar Yuan Ren Zhan."

"Apa tidak boleh?"

"Boleh saja," Bao Ling tersenyum. "Tapi. "

"Tapi apa?!" Fa Mulan menghentikan aktivitas menghangatkan badan. Menatap pemuda berwajah bersih di hadapannya yang kini sudah terkikik.

"Tentu saja kalau bernyali besar, siap-siap kehilangan kepala," lanjut Bao Ling, menaruh telapak tangan di lehernya, lalu menariknya untuk menggambarkan kalimat penggal yang ia maksud. "Kalau semua orang memiliki sifat megalomania begitu, apa jadinya dengan dunia ini?!" Fa Mulan menyergah, merapatkan baju hangat kulit rusanya.

"Kalau tidak ada orang yang seperti kaisar atau Jenderal Shan- Yu, dunia ini akan terasa sepi," tepis Bao Ling, duduk di salah satu akar tebangan batang pinus. "Tawar seperti air di Sungai Yangtze."

"Dalih keesepian tidak boleh dijadikan alasan untuk saling membunuh!" Fa Mulan mengerutkan wajahnya seperti kurang senang dengan alasan Bao Ling. "Tidak ada kedamaian. Hanya diisi dengan perang dan perang!"

"Mungkin itulah seninya hidup."

"Itu asumsi. Padahal, di luar dari pertumpahan darah, banyak hal yang dapat memperindah hidup. Banyak hal yang dapat mengusir sepi yang menjadi asumsimu tadi."

"Saya tidak paham, Asisten Fa. Saya hanya belajar dari fenomena alam. Seperti siklus hidup. Sesuatu yang radiah untuk mempertahankan hidup. Merupakan rantai karnivora dan herbivora pada hewan misalnya. Bukankah kita juga begitu.

Hanya seorang prajurit. Digembleng, latihan, dan berperang. Kalau tidak ada perang, apa gunanya kita sebagai prajurit?!" "Tapi, manusia dibekali dengan akal!" Fa Mulan membantah. "Agar kita dapat memilah mana jalan yang baik, dan mana yang salah. Seperti manusia, hewan pun begitu. Hewan dibekali dengan insting. Mereka diberi naluri untuk mengendus, mana jalur terbaik memperoleh makanan dan tempat yang cocok untuk berkoloni sebagai eksistensi kehidupan."

"Tapi. "

"Bao Ling, eksistensi kehidupan itu tidak sesederhana apa yang kamu bayangkan."

"Maksud Asisten Fa?!"

"Denyut nadi dunia tidak hanya terletak pada bagaimana makhluk hidup itu berkembang biak dan mempertahankan hidup. Tapi lebih dari itu, bagaimana kehidupan makhluk hidup itu dapat berselaras dengan alam. Sehingga akan terbentuk keharmonisan. Seperti Tao Te Cing."

"Saya tidak menyangka Asisten Fa dapat memahami filsuf Tao." "Sewaktu di kampung, saya diajari banyak hal oleh Guru Fang Wong."

"Fang Wong?!"

Fa Mulan mengangguk. "Selain wushu Taichi Chuan, beliau juga mengajarkan saya banyak filsafat indah Tao. Tentang harmonisasi dan inharmonisasi hidup kita dengan alam." "Hebat!" Bao Ling berdecak kagum. "Pantas Taichi Chuan begitu dahsyat. Padahal, hanya mengandalkan tenaga lawan sendiri sebagai senjata kita." "Tentu. Karena sesungguhnya alam telah memberi kita beragam arteri. Inharmonisasi tentu akan mengacaukan siklus. Sehingga terjadi disfungsi yang mereduksi diri sendiri," papar Fa Mulan, mereplikasi kalimat bijak yang pernah didengarnya dari gurunya, Fang Wong, semasa kecilnya di kampung dulu. "Kamu pernah mendengar tentang pendekar Auw Yang Pei San?"

Bao Ling mengangguk. "Pendekar Telapak Penghancur Tengkorak, pendekar batil dari Pulau Bunga!"

"Betul. Dia merupakan contoh nyata tentang inharmonisasi, absurditas negatif yang mencelakakan dirinya sendiri." "Bukankah dia sudah meninggal, Asisten Fa?"

"Meninggal termakan oleh ketamakan dirinya sendiri. Sesungguhnya, Auw Yang Pei San adalah pendekar hebat. Sayang dia sangat ambisius untuk dapat mengalahkan semua pendekar yang ada di dunia ini. Dia mempelajari semua ilmu silat. Apa saja. Tanpa memilah-milah ilmu silat tersebut. Tanpa menyeleksi dari golongan dan kalangan apa ilmu silat itu berasal, hitam atau putih."

"Pantas. "

"Suatu hari dia mencuri Kitab Aurora ciptaan Chie Pek Tong ketika pendekar tua itu sedang bertapa. Auw Yang Pei San mengaplikasikan ilmu silat Aurora yang, sebenarnya belum rampung ditulis oleh Pendekar Kekanak-Kanakan terebut. Karena terjadi disinteraksi antara ilmu Aurora tersebut dengan karotis dan serabut kelabu di otaknya, maka dia pun mengalami paranoia. Setahun kemudian dia meninggal karena pecahnya pembuluh darah di kepalanya," papar Fa Mulan berpanjang- lebar. "Itulah kompensasi inharmonisasi dengan alam."

Bao Ling mengangguk mafhum.

Sewaktu masih berstatus pelajar, ia memang banyak mempelajari filsafat dari filosofi besar Konfusius dan Lao Tzu. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memperkaya Tionggoan dengan khazanah budaya. Pemikiran mereka selaras dalam damai, jauh dari pikuk pertumpahan darah yang bermuasal dari ambiguitas ambisi.

Dan apa yang telah didengarnya dari Fa Mulan telah mengsingularis sebuah pemahaman tentang kuintesens alam di benaknya. Satu hal yang belum disadarinya betul. Satu hal yang belum tentu dapat diperolehnya dari serangkaian hari yang dilaluinya di bangku perguruan.

Gemintang masih membenderang.

Titik-titik yang memutih keperakan itu bagai pusar quasar yang menghitung peradaban manusia. Tanah tua yang ringkih dan lelah bernama bumi itu pasti jenuh menyaksikan pembantaian anak-anak manusia yang memijaki dan membasuhnya dengan kucuran darah seolah tanpa henti. Fa Mulan masih mengarca. Masih pula menghangatkan sepasang tangannya yang jenjang pada bara abnus. Bao Ling mengisi benaknya dengan kalimat subtil. Mungkin semacam sangu untuk kearifannya kelak.

"Asisten Fa, menurut Anda, apakah Kaisar Yuan Ren Zhan bijak atau tidak?" Bao Ling bertanya, memecah kebisuan. Suaranya ditelan kesunyian malam.

"Menurutmu bagaimana?" Fa Mulan balik bertanya, mencoba menambah bara unggun yang mulai meredup dengan kayu bakar baru.

"Yang jelas, Kaisar Yuan Ren Zhan tidak sebengis ayahnya!" "Perubahan ke arah yang lebih baik, itu kemajuan. Meski hanya sebuah langkah kecil, tapi itu merupakan kemajuan besar bagi terciptanya kedamaian di Tionggoan ini."

"Tapi, musuh-musuh seperti terus-menerus merongrongnya. Saya khawatir hal itu membuat Kaisar Yuan Ren Zhan menjadi bengis seperti ayahnya, Kaisar Yuan Ren Xing."

"Tergantung bagaimana Kaisar Yuan Ren Zhan menyikapi semuanya itu."

"Maksud Asisten Fa?!"

"Musuh selalu ada. Kebatilan dan kebajikan senantiasa seiring di dunia ini. Musuh adalah iblis yang selalu bersemayam di benak dan pikiran kita. Kalau kita menuruti hawa nafsu, maka musuh akan bertambah kuat. Jadi genosida atas musuh atau lawan kita sama juga menjadikan kita musuh di mata musuh. Balas dendam akhirnya seperti tanpa batas."

"Jadi menurut Asisten Fa, harus bagaimana kita menyikapi musuh-musuh kita?"

"Fenomena alam telah mengajarkan kepada kita, bahkan jauh sejak belum terbentuknya kehidupan di bumi ini."

"Apa itu, Asisten Fa?" "Air."

"Air?"

"Ya. Air merupakan contoh nyata tentang kekuatan yang mahadahsyat. Air dapat mengikis karang. Tapi air merendah. Bahkan air menghidupi semua makhluk hidup tanpa pandang bulu."

"Saya sama sekali tidak dapat menduga kalau Asisten Fa dapat sedetil itu menghayati fenomena alam."

"Saya hanya mereplikasi fenomena alam tersebut."

"Tapi hal itu sudah membawa banyak manfaat besar dalam kehidupan Anda, Asisten Fa."

Fa Mulan mengangguk. "Manusia berhati luhur, rendah hati, dan tidak sombong merupakan personifikasi air. Setiap orang dapat mengejawantah serupa air. Sebab, setiap manusia membawa benih-benih dan nilai-nilai kebajikan pada saat terlahir. Begitu pula sebaliknya. Semuanya itu terkandung di dalam setiap nurani manusia."

"Apakah Kaisar Yuan Ren Zhan dapat mengaplikasikan sifat alamiah air itu, Asisten Fa?"

"Kenapa tidak? Kaisar Yuan Ren Zhan memiliki potensi itu. Jauh lebih besar ketimbang rakyat jelata."

"Saya belum terlalu paham, Asisten Fa."

"Dengan autokrasi yang dimilikinya, Kaisar Yuan Ren Zhan dapat mengejawantahkan kebajikan seluas-luasnya. Mula-mula mungkin di lingkungan keluarga dan Istana. Kemudian berkembang ke lingkup yang lebih luas, rakyat dan negara." "Tapi, sejauh ini saya jarang mendapati ada tokoh kaisar semacam itu dalam lektur filsuf manapun, Asisten Fa.

Kebanyakan kaisar di Tionggoan merupakan figur-figur tiran dan lalim."

Fa Mulan mengangguk. "Benar. Mayoritas kaisar yang berkuasa di Tionggoan memang seperti yang kamu katakan tadi." "Kenapa, Asisten Fa?" tanya Bao Ling penasaran.

Fa Mulan menjawab dengan memantominkan kalimatnya. Kedua tangannya terangkat memperagakan maksud yang hendak disampaikan dengan jelas kepada Bao Ling.

"Karena mereka telah terikat oleh benang merah masa lalu. Masa lalu yang melilit mereka dalam angkara. Maka, yang terjadi adalah penggulingan kekuasaan dan kudeta dari waktu ke waktu!"

Bao Ling manggut-manggut. "Saya harap hal miris tersebut tidak terjadi terhadap Kaisar Yuan Ren Zhan!"

"Tentu. Supaya ada kemajuan dalam langkah peradaban!" tukas Fa Mulan tegas.

Bao Ling kembali mengangguk.

Ada intensitas rasio yang menerang dalam benaknya seperti pancaran gemintang dari hasil nova. Setapak kecil langkah bijak manusia, merupakan langkah besar peradaban dunia. Pulsar subtil itu sampai ke dasar hatinya. Membentuk sebait arif pemahaman.

"Malam ini saya mendapat satu pengalaman batin yang sangat berharga melalui Asisten Fa," aku Bao Ling jujur.

Fa Mulan tersenyum. "Kamu banyak membaca lektur Konfusius, bukan?"

Bao Ling mengangguk. "Sering, Asisten Fa."

"Nah, kalau begitu kamu pasti akan memahami apa yang telah saya katakan," ujar Fa Mulan.

"Terima kasih, Asisten Fa. Sungguh, saya sama sekali tidak menyangka Asisten Fa dapat seserba bisa seperti ini." "Maksudmu. "

"Maksud saya, Fa Mulan adalah seorang gadis yang luar biasa." Fa Mulan terbahak. "Semuanya hanya replikasi. Saya hanya menyampaikan apa yang telah saya dengar dan baca.

Selebihnya, tidak ada. Jadi, tidak ada yang patut dibanggakan pada diri saya."

"Anda terlalu merendah, Asisten Fa!" "Itulah sifat air!"

Fa Mulan kembali terbahak.

Bao Ling turut melepaskan tawanya mengiramai tawa gadis atasannya itu.

Di balik celah daun tenda, sepasang mata menatap dengan rupa ganjil.

Bab 15

Jangan menatapku begitu

karena kelopak matamu seperti yang-liu yang menggulanai malamku

dengan tikaman sebilah rindu Purna hatiku patah

ada yang tak terbantah kau memang memanah

menjatuhkan hatiku ke tanah

- Shang Weng Elegi Suatu Malam ***

"Kapten Shang. "

Pemuda itu menepis secawan teh yang telah diseduhkan Fa Mulan untuknya. Cawan yang masih mengepulkan asap panas itu terpelanting. Pecah di tanah. Gadis itu terkesiap. Wajahnya memerah. Nila tingkah pemuda itu menghadirkan gulana.

Kerongkongannya mengerontang. Ia serasa di tubir curam. "Kapten Shang, apa luka Anda menyeri?"

"Saya tidak perlu dibelaskasihani!"

Fa Mulan lunglai. Terduduk lemas di bangku. Secawan teh dan kenangan raib oleh sekibas tindak sarkastis. Sesaat ia mengharap ini mimpi. Tetapi ia memang tidak tengah bermimpi. Pemuda itu Shang Weng. Memang Shang Weng yang sesaat tadi telah berubah menjadi sosok lain. Secarik tabula rasa telah ternoktah. Pemuda itu asing di matanya!

"Ada apa sebenarnya, Kapten Shang?!" tanyanya menggugat setelah tidak berhasil membendung amarah. "Apa saya telah melakukan sebuah kesalahan besar sehingga secawan teh ini pun menjadi sasaran amukan tanpa dalih?!"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan," sahut Shang Weng, duduk memunggungi Fa Mulan yang berdiri dengan rupa galau. "Keluarlah!"

"Saya perlu penjelasan Kapten Shang sebelum angkat kaki dari sini!" tantang Fa Mulan dengan suara bergetar samar. Deferensnya menguap. Ia tidak peduli kini tengah berhadapan dengan siapa.

"Penjelasan apa?!"

"Penjelasan tentang kenapa Kapten Shang bertindak vulgar begitu!"

"Ini perintah atasan," Shang Weng menghardik. "Mau keluar atau tidak?!"

"Dipenggal pun saya tidak akan keluar sebelum Kapten Shang bersikap satria mengatakan ada apa sebenarnya!" Fa Mulan melototkan mata. Ia tidak ingin ditekan tanpa salah.

"Kamu sudah tahu jawabannya saat di luar berduaan dengan Bao Ling tadi!" Shang Weng mengarahkan telunjuknya ke daun tenda simultan dengan teriakannya yang tenor. "Apa perlu saya jelaskan lagi!"

Fa Mulan terundur setindak ke belakang. Perutnya mual. Tiba- tiba ia ingin tertawa sekaligus menangis. Ia benci melihat wajah tampan itu! Ia benci melihat seringainya yang bacar! Ia benci mendengar jeritannya yang ideofon!

Ia benci semuanya! "Saya sudah mengerti!"

"Saya tidak suka kamu bergaul dengan Bao Ling!"

"Atas dasar apa Kapten Shang melarang saya bergaul dengan Bao Ling?!"

"Saya mencintai kamu!"

Fa Mulan mengibaskan tangannya.

Kalimat barusan hanyalah sebentuk pluralistis pokta yang tidak ingin didengarnya saat ini! Sebab segenap simpatinya sudah runtuh hanya oleh satu perkara. Seorang satria dan romantika cengeng!

Hah, sebuah perpaduan ironi!

"Mau ke mana?!" Shang Weng menarik lengan gadis yang sudah melangkah dua tindak setelah kibasan tangannya menguncup.

"Saya malas membahas masalah pribadi," jawab Fa Mulan apatis. "Maaf, saya ingin istirahat di dalam tenda saya!" "Tunggu. Bukan maksud saya. "

"Tidak ada yang perlu Kapten Shang jelaskan lagi. Saya tidak marah. Saya hanya kecewa terhadap sikap Kapten Shang yang kekanak-kanakan begitu!"

"Saya menyesal. Tapi semua yang saya lakukan tadi karena saya mencintai kamu. Saya tidak ingin ada orang lain yang merebut hati kamu!"

"Maaf, Kapten Shang. Jangan memusingkan saya dengan hal- hal cengeng begitu!"

Shang Weng tergeragap. Kalimat Fa Mulan menohok hatinya. Ia terkapar tidak berdaya oleh kekuatan cinta. Sesuatu yang lebih menyakitkan dari tombak musuh yang menghunus dada kirinya satu setengah bulan lalu!

Hatinya tercacah!

"Ka-kamu mencintai Bao Ling?!" desak Shang Weng, memegang erat bahu Fa Mulan, dan mengguncang- guncangkannya perlahan. "Kamu mencintai dia, bukan?!"

Fa Mulan menatap nanar sepasang mata yang berkaca-kaca itu. Tiba-tiba ia merasa muak dengan romantisme babur tersebut. Ia ingin menyudahi semuanya. Sebab kenangan tentang sosok satria dan pertempurannya yang heroik di Tung Shao mendadak melenyap bagai kemarau semusim diguyur hujan sehari!

Dan ia akhirnya mengangguk dengan sebilur luka yang langsung menganga di hatinya!

"Ja-jadi. "

"Tolong hargai hak saya untuk tidak ingin diganggu, Kapten Shang!"

"Tapi. "

"Negara Yuan lebih membutuhkan perhatian kita. Rasanya belum pantas kita mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan negara!"

"Mulan. "

"Maaf, Kapten Shang," Fa Mulan mengentakkan bahunya. Sepasang tangan kekar Shang Weng terkulai. "Selamat malam!" Fa Mulan melangkah.

Shang Weng mengekorinya dengan mata. Ia tidak tahu harus bertindak apa. Gadis itu melebihi seribu musuh yang pernah ditaklukkannya. Digigitnya bibir. Tungkainya melemas. Ia terjatuh di tanah dengan sepasang lutut yang menopang tubuh.

Cinta Fa Mulan yang sakral telah mengalahkannya. Ia tersungkur tak berdaya.

Sepasang mata elangnya membasah!