Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 15

Bab 15

Raja Cee Hoan Kong manggut-manggut. ”Baiklah,” kata Raja Cee..

Sampai di Kui-kiu, di sana semua raja muda sudah berkumpul, sedang Ciu Kong Khong juga sudah datang.

Waktu itu Raja Song Hoan Kong sudah wafat, Pangeran Chu Hu telah mengalah kepada

kakak tirinya, Pangeran Bak I yang akan menjadi Raja Song. Namun Bak I tidak berani

menerima kedudukan itu. Maka terpaksa Chu Hu yang menjadi raja dengan gelar Song Siang Kong.

Ketika Song Siang Kong mendapat undangan dari Raja Cee, sebab dia raja yang taat, sekalipun sedang berkabung dia menghadiri pertemuan.

Sesudah mengetahui hal-ikhwal Raja Song Siang Kong, dan dia juga melihat sikapnya. Dia membisiki Raja Cee.

”Raja Song sangat murah hati, dia bersedia mengalah kepada kakak tirinya untuk menjadi raja,” kata Koan Tiong. Ini bisa dikatakan dia seorang raja yang budiman. Ditambah lagi,

sekalipun sedang berkabung dia hadir dalam pertemuan ini. Jelas dia taat setulusnya pada kita. Soal ahli waris sebaiknya Tuanku titip saja kepadanya.”

Raja Cee Hoan Kong manggut menyatakan setuju.

Koan Tiong menemui Raja Song. ”Rajaku ingin membicarakan soal penting dengan Tuanku,” kata Koan Tiong.

Dengan tidak ayal lagi Raja Song Siang Kong datang di kemah Raja Cee Hoan Kong. Sesudah satu sama lain melaksanakan adat-istiadat Raja Cee memegang lengan Raja Song. Kemudian Raja Cee menceritakan niatnya. Di akhir pertemuan Raja Cee berpesan.

”Aku harap kau mau mendukung Pangeran Ciao di kemudian hari,” kata Raja Cee. ”Baik, hamba berjanji akan melaksanakan pesan Tuanku ini,” kata Raja Song.

Tibalah saat pertemuan dimulai semua raja dan menteri telah hadir seluruhnya. Mereka

tampak agung sekali. Semua Raja Muda menyilakan utusan Kaisar Ciu naik ke atas panggung yang disediakan.Sekalipun Kaisar Ciu tidak hadir, tetapi kursi untuknya telah di sediakan.

Semua raja-raja menghadap ke arah sana.

Sesudah melaksanakan upacara adat, semua Raja-raja Muda mengambil tempat duduk mereka menurut kedudukannya masing-masing.

Ciu Kong Khong berdiri dan berkata, ”Kaisar telah bersujud pada almarhum Baginda Bun Ong. Sekarang Sri Baginda memerintahkan aku untuk menyerahkan hadiah pada para Raja Muda!” kata Ciu Kong Khong. Raja Cee akan turun dari kursinya untuk menghaturkan terima kasihnya, tetapi dicegah oleh Ciu ong Khong. ”Tuanku sudah berusia lanjut, Kaisar memberi izin Tuanku tidak perlu menjalankan upacara adat-istiadat,” kata Ciu Kong Khong.

Raja Cee mengangguk akan menurut perintah Ciu Kong Khong, tetapi Koan Tiong segera maju dan berkata. ”Sekalipun Kaisar sangat murah hati, tetapi sebagai bawahan Raja kami tidak boleh tidak hormat!” kata Koan Tiong.

Raja Cee mengerti apa maksud ucapan Koan Tiong. Dia segera maju.

”Hamba bawahan Kaisar Ciu, mana berani hamba berlaku tidak hormat dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang menteri!” kata Raja Cee.

Sesudah berkata begitu, Raja Cee Hoan Kong turun dari tangga, memberi hormat serta menghaturkan terima kasih. Kemudian baru naik lagi akan menerima barang sembahyang itu.

Sikap Raja Cee membuat kagum seluruh Raja-raja Muda yang lain. Sesudah itu Raja Cee Hoan Kong kembali mengingatkan semua raja muda supaya menjunjung tinggi ”Dewan

Kerajaan Ciu”. Kemudian dikeluarkanlah lima pantangan: 1) Dilarang menahan air mata, 2). Dilarang menahan orang yang mau membeli beras, 3) Dilarang sembarangan mengangkat Putra Mahkota, 4). Dilarang mengangkat gundik atau Selir menjadi Permaisuri, 5). Dilarang kaum wanita ikut campur dalam urusan pemerintahan negara. Jangan kasih orang perempuan campur tangan dalam urusan pemerintah negeri.

Sesudah itu pertemuan ditutup, semua raja muda dan utusan Kaisar mengucapkan selamat berpisah. Mereka lalu kembali ke negaranya masing-masing.

Sekembalinya Raja Cee Hoan Kong ke negaranya, dia menganggap dirinya berjasa besar.

Seolah sudah tak ada yang bisa menandinginya lagi, menyatakan dia telah membangun sebuah istana yang megah. Bahkan saat naik kereta sedang jalan-jalan, dia mengenakan

pakaian kebesaran mirip pakaian Kaisar. Rakyat banyak yang mencela kelakuan Raja Cee ini. Mereka menganggap Raja Cee Hoan Kong sangat keterlaluan. Sedang Koan Tiong pun membuat loteng tiga tingkat, sangat indah.

Perbuatan Koan Tiong tersebut membuat Pao Siok Gee kurang senang, dia berkunjung ke gedung sahabatnya itu. ”Tiong-hu, aku tidak mengerti pada sikapmu?” kata Pao Siok Gee.

”Raja kita hidup mewah, kau juga kut-ikutan. Raja kita melanggar aturan kau juga ikut! Apa pantas begitu?”

”O, sahabatku, jelas kau tidak mengerti maksudku,” sahut Koan Tiong. ”Jika aku berbuat begitu, sebenarnya aku hendak menyindir Cu-kong kita.”

Pao Siok Gee sekalipun mengangguk, tetapi dia tetap tidak puas dan tidak yakin pada alasan yang disampaikan oleh Koan Tiong tersebut.

***

Dikisahkan perjalanan pulang Ciu Kong Khong. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Raja Chin Hian Kong yang berniat datang ke pertemuan Raja Cee. Tatkala Ciu Kong Khong memberi tahu pertemuan sudah selesai, Raja Chin sangat menyesal, dengan membanting kakinya dia berkata, ”Sayang sekali negeriku terlalu jauh, sehingga terlambat datang! Ah, mengapa nasibku jelek sekali!” ”Harap Tuanku tidak kecewa,” kata Ciu Kong Khong. ”Sekarang Raja Cee karena merasa jasanya besar, kelakuannya mulai sombong! Seumpama rembulan sesudah bulat, akan bersinar separuh kembali. Begitu juga air, jika sudah terlalu penuh akan meluap. Tunggu saja meluap dan somplaknya Raja Cee tak akan lama lagi. Jadi jangan Tuanku menyesal.”

Mendengar keterangan itu Raja Chin pun pulang ke negaranya.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain