Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 13

Bab 13

”Negeri Kang dan negeri Ui karena tidak tahan oleh kekejaman raja dari negeri Couw, telah mengirim utusan datang ke sini untuk minta berserikat. Aku pikir aku hendak menerima permohonan mereka. Kelak jika kita menyerang negeri Couw, akan aku minta mereka

membantu kita dari dalam. Bagaimana menurut Tiong-hu, boleh tidak?” kata Raja Cee.

”Menurut hamba lebih baik permintaan mereka ditolak saja,” kata Koan Tiong, ”sebab negeri Kang dan negeri Ui sangat jauh dari negeri Cee dan lebih dekat dengan negeri Couw. Selama mereka tunduk pada negeri Couw, negara mereka tetap utuh!”

”Alasan Tiong-hu?” kata Raja Cee.

”Jika mereka bergabung dengan kita dan memutuskan hubungan dengan negeri Couw, pasti Raja Couw akan marah besar. Suatu ketika Couw akan menyerang mereka. Jika sudah begitu mereka minta bantuan pada kita. Mau tidak mau kita harus menolong mereka, tetapi jaraknya terlampau jauh. Jika kita tidak menolonginya, itu artinya kita melanggar perjanjian perserikatan. Padahal semua Raja Muda sudah takluk kepada Cee, apa itu bukan jadi berabe buat kita? Negara mereka negara kecil.” kata Koan Tiong.

”Tetapi negeri yang begitu jauh karena mendengar kehebatan kita, dia mengirim utusan ke tempat kita. Jika permohonan mereka kita tolak, apa itu tidak akan berakibat buruk. Misalnya dari negeri yang jauh jadi kurang kepercayaan kepada kita.” kata Raja Cee. 

”Jika Tuanku berpikir begitu, apa boleh buat terima saja mereka! Tetapi Tuanku beri tanda ucapan hamba di tembok, supaya di kemudian hari tidak lupa tentang kejadian ini.” kata Koan Tiong.

Raja Cee Hoan Kong menurut kata-kata Koan Tiong dicatat. Baru dia panggil utusan negeri Kang dan Ui.

”Permohonan kalian dikabulkan. Tetapi ingat di musim Cun pada bulan satu kami akan menyerang ke negeri Couw. Kalian harus membantu kami.” kata Raja Cee.Utusan itu berjanji akan memperhatikan pesan Raja Cee.

”Selain itu negeri Si telah membantu negeri Couw melakukan kejahatan. Mereka juga harus diserang!” kata utusan itu.

”Baik, akan kutaklukan dulu negeri Si, baru aku serang negeri Couw!” kata Raja Cee berjanji.

Setelah utusan negeri Kang dan Ui pulang, Raja Cee Hoan Kong menulis surat kepada Raja Ci yang negerinya dekat dengan negeri Si, dia minta Raja Ci supaya mengerahkan tentaranya membasmi negeri Si.

Perintah Raja Cee Hoan Kong segera dilaksanakan oleh Raja Ci, dia serang negeri Si. Raja Ci berhasil mengalahkan negeri Si. Raja Cee memerintahkan Raja Ci menempatkan tentaranya di kota raja Si.

Raja Louw Hi Kong mengutus Kui Yu ke negeri Cee untuk minta maaf, karena negeri Louw sedang bertikai dengan negeri Chu dan negeri Ki, sehingga mereka tidak bisa membantu Raja Cee dalam masalah negeri Heng dan negeri We. Dia juga mengucapkan selamat, karena

negeri Kang dan Ui telah berserikat.

”Jika Raja Cee akan berperang Raja kami siap membantu,” kata Kui Yu. Raja Cee Hoan Kong senang juga menerima Kui Yu.

”Tidak lama lagi kami akan menyerang ke negeri Couw!” kata Raja Cee. ”Hamba berjanji akan membantu,” kata Kui Yu.

Sesudah itu pulanglah Kui Yu ke negaranya.

Saat Raja Cee sedang mengadakan persiapan untuk menyerang negeri Couw. Saat itu tentara Couw sudah sampai di perbatasan negeri The.

Ketika Raja The Bun Kong mengetahui kedatangan tentara Couw itu, dia kaget. Sekarang pasukan Couw datang dengan lebih besar jumlahnya. Karena khawatir negara dan rakyatnya hancur lebur, Raja The akan memilih untuk minta berdamai saja. ”Jangan! Kita tidak boleh menyerah!” kata Khong Siok. ”Ketika negeri Cee berselisih dengan negeri Couw. Itu semua karena kita. Raja Cee sangat baik kepada kita, sebaliknya sekarang kita akan melupakan jasanya. Ini sungguh tidak pantas sekali. Sebaiknya kita bertahan, pasti Raja Cee akan datang membantu kita!”

Raja The Bun Kong berpikir. ”Ucapan Khong Siok ada benarnya,” pikir Raja The.

Segera dia mengutus orang ke negeri Cee untuk minta bantuan. Ketika utusan Raja The sampai, Raja Cee kaget. Tetapi segera dia mengatur siasat.

”Katakan pada Rajamu, dia harus menyebarkan khabar bohong. Katakan tidak lama lagi bala- bantuan dari negeri Cee akan segera tiba. Pasti Raja Couw kaget dan akan mengendurkan serangannya. Ingat suatu saat aku minta Raja The mengirim pasukan untuk bersama-sama menyerang ke negeri Couw!” kata Raja Cee.

”Baik, Tuanku. Hal ini akan hamba sampaikan pada Raja kami,” kata utusan itu. Sesudah itu utusan itu pulang ke negaranya dan menyampaikan pesan Raja Cee.

Sementara itu Raja Cee Hoan Kong mengirim utusan ke negeri-negeri serikatnya. Mereka harus berkumpul di suatu tempat, kemudian bersama-sama menyerang ke negeri Couw.

***

Setelah berganti tahun, pada awal musim Cun bulan Chia-gwe (bulan satu Imlek), Raja Cee Hoan Kong mengerahkan angkatan perangnya akan menyerang ke negeri Coa. Koan Tiong diangkat menjadi kepala perang, Si Tiao menjadi Sian Hong (Pemimpin Pasukan Pelopor), Sek Peng, Pin Si Bu, Pao Siok Gee dan Pangeran Kai Hong menjadi kepala pasukan pembantu.

Sekalipun Raja Coa sudah tahu negerinya bakal kedatangan musuh, karena merasa punya andalan negeri Couw yang sangat kuat, dia tidak merasa gentar sedikit pun. Dia juga tidak bersiaga. Ketika pasukan gabungan yang dipimpin Raja Cee tiba, baru dia mengatur tentaranya untuk menangkis serangan tersebut.

Si Tiao yang bawa barisan depan mulai menyerang, dari pagi sampai sore dia melabrak negeri Coa. Tetapi tidak berhasil merebut benteng musuh. Terpaksa dia harus berhenti untuk istirahat karena hari pun mulai gelap.

Setelah megetahui Si Tao yang menjadi Sian Hong dari barisan Cee, Raja Coa Bok Kong jadi sangat girang. Karena dia sudah tahu siapa Si Tiao.

Pada tengah malam Raja Coa perintahkan anak buahnya dengan diam-diam mengantarkan barang bingkisan yang berharga mahal kepada Si Tiao. Dia minta supaya Si Tiao tidak menyerang kotanya dengan sungguh hati.

Memang Si Tiao ini manusia serakah. Dengan senang dia terima bingkisan itu. Karena ingin dianggap baik, Si Tiao membuka rahasia kekuatan angkatan perang Cee.

”Raja kami pura-pura akan menyerang negeri Coa, tetapi sebenarnya akan menghajar negeri Couw!” kata Si Tiao pada uitusan Raja Coa. ”Jika rajamu mau selamat segera tinggalkan kota itu. Karena tentara gabungan akan menghancurkannya!”

Ketika itu utusan Raja Coa kembali dan menceritakan apa yang dikatakan Si Tiao kepada

Raja Coa, sehingga sang raja sangat terkejut. Malam itu juga dia bawa keluarganya. Dia minta dibukakan pintu kota dan kabur ke negeri Couw. Rakyat yang mendapat khabar bocoran segera berlarian simpang-siur.

Esok harinya......

Melihat kota negeri Coa sepi Si Tiao memimpin pasukannya masuk ke dalam kota. Sesudah itu segera dia mengirim utusan melapor pada Raja Cee bahwa dia telah berhasil menduduki kota musuh.

Raja Coa Bok Kong yang melarikan diri telah sampai di negeri Couw, langsung dia menemui Raja Couw Seng Ong, kemudian dia menceritakan apa yang akan dilakukan tentara gabungan negeri Cee seperti yang diceritakan oleh Si Tiao kepadanya. Raja Couw sebenarnya memang sedang mencari tahu tentang rencana serta gerak-geriknya pasukan Raja Cee. Sesudah memperoleh keterangan dari Raja Coa segera dia bersiap-siap. Dia akan menangkis serangan musuh yang akan segera tiba. Dia perinrahkan Touw Ciang agar pasukannya ditarik mundur.

”Batalkan serangan ke negeri The, tarik kembali seluruh angkatan perang kita!” perintah Raja Couw pada utusan.

Utusan itu segera menyusul Touw Ciang yang akan menyerang ke negeri The. Dengan tergesa-gesa pasukan Couw yang dipimpin oleh Touw Ciang dan Touw Liam bergegas kembali ke negeri Couw. Kemudian disiagakan untuk menghadapi serangan mendadak dari tentara gabungan negeri Cee.

Selang beberapa hari kemudian, Raja Cee bersama pasukan perangnya sampai di kota Raja Coa. Di situ Si Tiao menyambut kedatangannya. Dia menceritakan bahwa dia berhasil merebut kota raja negeri Coa.

”Raja Coa sendiri telah melarikan diri. Mungkin ke negeri Couw.” kata Si Tiao.

Selang beberapa hari kemudian pasukan perang dari tujuh negara sudah tiba. Mereka berturut- turut berdatangan. Pertama-tama Raja Seng Hoan Kong, Raja Louw Hi Kong, Raja Tan Soan Kong, Raja We Bun Kong, Raja The Bun Kong, Raja Cee Ciao Kong dan Raja Khouw Bok

Kong, semua membawa pasukan perang yang tampaknya sangat gagah.

Di antara Raja-raja Muda itu, Raja Khouw Bok Kong yang sekalipun sedang sakit telah memaksakan diri memimpin pasukan perangnya datang lebih awal ke tanah Coa. Dengan demikian Raja Cee Hoan Kong menjadi sangat hormat dan memperhatikannya.

Pada malam itu penyakit Raja Khouw Bok Kong menjadi bertambah sangat berat, dan akhirnya meninggal dunia.

Raja Cee bersama Raja-raja Muda yang lain menyatakan berduka-cita. Selama tiga hari mereka tinggal di negeri Coa untuk mengurus jenazah dan perkabungan atas wafatnya Raja Khouw. Raja Cee berpesan pada pejabat negara Khouw supaya jenazah Raja Khouw dibawa pulang ke negaranya. Dan diizinkan dimakamkan dengan upacara raja-raja agung.

Sesudah mengurus soal perkabungan, Raja Cee Hoan Kong baru mengajak semua Raja-raja Muda mengerahkan pasukan perang untuk menyerang ke negeri Couw.

Tiba di perbatasan negeri Couw, di tempat itu kelihatan seorang yang berpakaian sangat rapi. Orang itu sengaja menghadangkan keretanya di tepi jalan. Dia sengaja menghadang lajunya angkatan perang gabungan tersebut. ”Apa yang datang ini pasukan perang Raja Cee?” seru orang itu. ”Jika benar harap tahan dulu! Aku mau bicara sebentar dengan Raja Cee. Namaku Kut Goan, selain sebagai famili Raja Couw atas perintah Rajaku, aku sudah lama menunggu kedatangan Raja Cee di sini!”

Tentara gabungan negeri Cee yang berjalan di muka segera menyampaikan pesan orang yang mengaku bernama Kut Goan tersebut kepada Raja Cee Hoan Kong.

Mendengar laporan itu Raja Cee keheranan, dia bertanya pada Koan Tiong:

”Heran sekali. Bagaimana orang Couw bisa tahu lebih dulu bakal sampainya angkatan perang gabungan ini?” kata Raja Cee.

”O, jelas pasti ada orang yang sudah membocorkan rahasia kita!” sahut Koan Tiong dengan mendongkol. ”Sekarang jelas, jika Raja Couw sudah mengirim utusan untuk mencegat

angkatan perang kita, sudah pasti mereka sudah siaga dan mengatur angkatan perangnya.” ”Lalu bagaimana akal kita sekarang?” kata Raja Cee.

”Sabar jangan cemas. Hamba akan menemui utusan itu dan akan hamba tegur dia. Dia akan hamba ajak adu bicara sampai dia malu sendiri. Akhirnya mereka takluk tanpa kita harus

berperang dengan mereka!” kata Koan Tiong.

Sesudah berkata begitu, Koan Tiong keluar dari barisannya, begitu bertemu dengan Kut Goan dia memberi hormat. Kut Goan membalas hormat yang disampaikan oleh Koan Tiong.

”Rajaku telah mendengar, Maharaja Cee telah mengerahkan angkatan perang gabungan akan berkunjung ke negeri Couw. Karena itu dia memerintahkan aku sebagai utusan menunggu di sini. Bahkan Raja kami mengatakan Raja Cee dan Couw masing-masing punya wilayah dan kekuasaan di masing-masing wilayahnya. Misalnya Raja Cee berkuasa di lautan Utara.

Sedangkan Raja Couw berkuasa di lautan Selatan. Sudah sekian lama belum pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Tetapi sekarang tiba-tiba pasukan gabungan dari negeri Cee datang ke tempat kami. Karena itu kami mohom diberi keterangan apa maksudnya?” 

”Atas izin Kaisar Ciu, Raja kami membuat perserikatan Raja-raja Muda dengan tujuan menjunjung tinggi ”Dewan Kerajaan Ciu”. Sejak dulu Raja Couw selalu mengirim upeti rumput mao pada Kaisar Ciu.” kata Koan Tiong. ”Akibat Raja Couw tak mengirim rumput Mao, maka di negara Ciu tidak punya bahan untuk arak yang baik. Ditambah lagi ketika Kaisar Ciu Ciao Ong memaklumkan perang ke Selatan, dia tidak pernah kembali lagi ke

negaranya. Menurut keterangan, beliau hilang di daerah Couw. Untuk masalah-masalah itulah Raja kami datang sebagai wakil Kerajaan Ciu untuk meminta penjelasan.”

”Sebenarnya bukan cuma negeri Couw yang menghentikan mengantar upeti, negara lain pun banyak yang tidak lagi mengantar upeti,” kata Kut Goan. ”Tetapi jika Kerajaan Ciu menurut agar kami mengantar rumput mao, kami akan mengusahakannya. Tetapi mengenai tidak kembalinya Kaisar Ciu Ciao Ong, dan Raja Cee akan menimpakan kesalahan itu pada Raja Couw, hamba tidak terima. Mengenai wafatnya Kaisar Ciu tersebut, banyak saksinya.

Menurut saksi mata wafatnya Kaisar Ciu Ciao Ong, karena perahunya terbalik di sungai. Jika Raja anda mau menyelidikinya, dan bertanya-tanya pada orang-orang yang hidup di sepanjang sungai pasti mendapat keterangan yang lebih pasti lagi. Nah sekian dulu, hal ini akan aku sampaikan pada Rajaku.”

Sesudah berkata begitu, Kut Goan mengundurkan keretanya pulang. Koan Tiong pun kembali untuk menemui Raja Cee Hoan Kong. ”Orang-orang Couw sangat tangguh, mereka tak bisa kita kalahkan dengan adu lidah, kita harus maju untuk mendesak mereka!” kata Koan Tiong.

Koan Tiong segera memerintahkan seluruh angkatan perang gabungan maju terus. Mereka bergerak dan kini sudah sampai di Keng-san (tanah negeri Couw). Di tempat ini tentaranya diperintahkan membangun perkemahan. Mereka bertahan di sana.

Di antara Raja-raja Muda banyak yang heran, mereka tidak tahu apa maksud Koan Tiong

bertahan di tempat itu. Dari negeri jauh mereka datang untuk memerangi negeri Couw, sampai di situ malah Koan Tiong memerintahkan mereka bertahan di Keng-san. Koan Tiong tidak langsung memerintahkan mereka menyeberangi sungai Han. Tidak heran banyak Raja Muda yang bertanya kepada Koan Tiong tentang maksud Koan Tiong tersebut.

”Raja Couw mengirim seorang utusan, maka aku yakin mereka sudah siap-siaga.” kata Koan Tiong. ”Dalam perang jika sudah dimulai, tidak mudah untuk damai kembali. Kita menempatkan pasukan di sini, maksudya untuk menunjukkan keangkeran pasukan kita.

Apabila Raja Couw merasa ngeri melihat tentara gabungan yang begini banyak, niscaya dia akan mengirim utusan lagi untuk berunding dan minta damai. Coba bayangkan, ketika kita datang dengan niat memerangi negeri Couw; kemudian kita pulang saat negeri Couw minta damai dan takluk. Bukankah hasilnya sama juga, kita telah mencapai maksud kita dengan

baik?”

Mendengar ucapan Koan Tiong banyak Raja Muda yang belum yakin pada ucapan itu.

Mereka berpikir sangat mustahil, negeri Couw yang terkenal tangguh tiba-tiba akan menyerah begitu saja tanpa berperang. Tidak heran jika di tempat berkumpul pasukan gabungan terjadi perdebatan. Masing-masing mengajukan argumentasi sendiri-sendiri. Tetapi diskusi itu tidak satu pun yang menjadi keputusan yang final.

***

Pada saat Raja Couw Seng Ong mendapat keterangan dari Raja Coa Bok Kong bahwa Raja Cee bersama Raja-raja Muda yang lain hendak menyerang negerinya, dia jadi merasa khawatir. Kemudian dia menganggkat Touw Kok O-to (Chu Bun) menjadi panglima perang, untuk memimpin angkatan perang berjaga di sebelah Selatan sungai Han-sui. Chu Bun hanya menunggu. Jika angkatan perang musuh sudah menyeberangi sungai, dia harus segera memaklumkan peperangan yang hebat.

Pada suatu hari, juru kabar datang melapor pada Raja Couw Seng Ong.

”Entah mengapa tentara musuh mendirikan kemah mereka di Keng-san. ” kata pelapor. Sebelum Raja Couw bisa berkata apa-apa, Chu Bun menyampaikan pendapatnya.

”Koan Tiong sangat paham ilmu perang, jika dia pikir siasatnya belum sempurna pasti dia tidak akan menyerang.” kata Chu Bun. ”Sekarang tentaranya bertahan di Keng-san. Pasti dia sedang menjalankan siasat. Sebaiknya Tuanku mengirim utusan untuk memata-matai mereka. Apakah pasukannya kuat atau lemah? Baru kita pikirkan apa yang harus kita jalankan. Damai atau perang?”

”Ya, aku mengerti, Chu Bun,” kata Raja Couw Seng Ong. ”Tetapi siapa yang harus pergi menjadi utusan lagi?” ”Kut Goan sudah kenal dengan Koan Tiong lebih baik suruh dia yang pergi lagi ke sana,” kata Chu Bun.

”Tetapi kepergian hamba untuk membicarakan soal damai atau perang?” kata Kut Goan pada Raja Couw Seng Ong. ”Jika untuk urusan damai dengan senang hamba bersedia pergi. Jika masalah perang, sebaiknya Tuanku menyuruh menteri yang lain saja. Dulu hamba sudah janji akan mengurus urusan mengantarkan rumput mao ke negeri Ciu.”

”Dalam hal ini aku memberi kuasa penuh kepadamu,” sahut Raja Couw Seng Ong, ”apa itu berdamai atau perang! Kau boleh mengambil putusan sendiri, aku tidak akan menyalahkan kau.”

Kut Goan pamit pada Raja Couw Seng Ong untuk pergi ke perkemahan musuh. Kala Kut Goan sampai di perkemahan Cee, dia menemui penjaga.

”Tolong sampaikan pada Rajamu, aku Kut Goan ingin bertemu untuk membicarakan masalah penting,” kata Kut Goan.

Penjaga masuk dan melapor. Mendengar laporan itu Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong.

”Kedatangan utusan Couw kembali, pasti hendak membicarakan soal perdamaian, harap Tuanku suka berlaku hormat kepadanya.” kata Koan Tiong.

Cee Hoan Kong manggut-manggut.

”Baik! Izinkan dia masuk!” kata Raja Cee.

Kedatangan Kut Goan disambut dengan hormat oleh Cee Hoan Kong, sesudah itu utusan Couw itu dipersilakan duduk. Baru Raja Cee bertanya.

”Apa maksud kedatangan Sian-seng kemari?” kata Raja Cee.

”Karena Rajaku tidak mengantar upeti, sehingga Tuanku sudah datang memeranginya. Karena itu Rajaku mengaku salah,” kata Kut Goan.

”Jika tidak keberatan, harap Tuanku menarik mundur pasukan perang Tuanku dulu. Pasti Rajaku akan datang untuk minta berdamai.”

”Jika Tay-hu bisa membujuk Rajamu melaksanakan aturan dan mau mengantar upeti, itu sudah cukup apa yang diinginkan oleh Kaisae Ciu,” kata Raja Cee. ”Maka aku pun tidak perlu cari ribut lagi.”

”Hamba berjanji akan mengaturnya,” kata Kut Goan.

Sesudah memberi kepastian Kut Goan pamit akan kembali ke negaranya. Begitu sampai Kut Goan melaporkan apa yang dia bicarakan dengan Raja Cee kepada Raja Couw. ”Hamba sudah berunding dengan Raja Cee. Dia bersedia mundur beberapa li dari Keng-san. Sedang hamba berjanji akan mengatur pengiriman upeti ke negeri Ciu. Hamba harap Tuanku tidak melanggar perjanjian hingga membuat malu seluruh bangsa Couw!” kata Kut Goan.

Selang sesaat kemudian sesudah Kut Goan melapor, juru kabar datang memberi kabar.

”Sekarang tentara Cee bersama pasukan raja yang lain sedang membongkar kemah mereka.

Tidak lama lagi mereka akan meninggalkan Keng-san!” kata si pelapor.

Raja Couw masih belum percaya, dia kirim mata-matanya untuk mencari keterangan lebih jauh. Ketika itu juru kabar sudah kembali lagi.

”Benar, pasukan gabungan itu sudah mundur 30 li jauhnya dari tempat semula. Sekarang mereka membangun perkemahan di Siao-leng. Mereka bilang mereka agak jerih pada tentara Couw!” kata mata-mata itu.

Mendengar laporan itu dengan sangat menyesal Raja Couw berkata. ”Jika mundurnya Raja Cee karena jerih kepada kita, sungguh sayang sekali kita sudah berjanji hendak mengirim upeti!”

”Apa Tuanku punya niat hendak ingkar janji?” kata Chu Bun. ”Apa yang Raja-raja itu telah lakukan itu untuk menunjukan bahwa mereka memegang kepercayaan, jika sampai kita ingkar janji, sungguh sangat tidak baik.”

Raja Couw tercengang, dia berpikir ucapan Chu Bun sangat pantas, sehingga mau tidak mau dia terpaksa mengawal delapan gerobak terisi emas, kain sutera dan barang lain. Mereka pergi ke Siao-leng untuk memberi hadiah kepada delapan Raja Muda dan sebuah gerobak berisi rumput mao untuk diantar ke negeri Ciu.

Waktu itu Raja Khouw Hi Kong telah memerintahkan Pek To memimpin pasukan perang untuk berkumpul di Siao-leng, karena dia merasa berhutang budi pada Raja Cee Hoan Kong, sebab jenazah ayahnya, Khouw Bok Kong, telah diantarkan ke negerinya dan diizinkan dikubur dengan upacara agung.

Kedatangan Pek To membuat Raja Cee Hoan Kong girang, dia puji sikap Raja Khouw Hi Kong setia pada perserikatan.

Ketika Raja Cee Hoan Kong menerima khabar Kut Goan datang lagi, Raja Cee segera waspada. Dia perintahkan pasukan semua Raja Muda siaga. Siapa tahu kedatangan pasukan Cee akan menyerang mereka.

Sesampai Kut Goan di perkemahan tentara gabungan, dia langsung menemui Raja Cee. Kut Goan menyerahkan kiriman barang dari rajanya. Tentu saja Raja Cee dan kawan-kawannya girang. Barang itu dibagi-bagikan di antara raja dan anak buahnya. Sesudah memeriksa antaran rumput mao, Raja Cee berpesan.

”Sebaiknya anda yang mengantarkan ke Kerajaan Ciu!” kata Raja Cee pada Kut Goan. ”Apakah Tay-hu sudah pernah melihat angkatan perang Tiongkok?” tanya Cee Hoan Kong.

”Karena hamba tinggal di Selatan, belum pernah melihatnya. Hamba sangat bersyukur jika Tuanku mau menunjukannya kepada hamba.” Kata Kut Goan. Cee Hoan Kong mengajak Kut Goan naik kereta bersamanya, mereka menjalankan kereta itu

untuk melakukan pemeriksaan barisan tentara Raja-raja Muda. Karena banyaknya perjalanan

mereka cukup makan waktu.

Tidak lama dari pasukan Cee terdengar suara genderang. Kemudian suara genderang disambut oleh pasukan lainnya, sehingga suaranya gemuruh sekali.

”Coba Tay-hu perhatikan,” kata Cee Hoan Kong dengan angkuh, ”aku memiliki angkatan perang demikian besar. Apa jika kami berperang tidak akan menang?”

Kut Goan tersenyum, dia berkata: ”Kehebatan Tuanku hingga bisa menjadi pemimpin Perserikatan Raja Muda di Tiongkok, semua karena Tuanku bernaung di bawah Kaisar Ciu! Memang Tuanku sendiri bijaksana, sehingga raja mana yang berani membantah? Tetapi sebaliknya, jika Tuanku hanya mengandalkan tentara Tuanku dan kegagahan sendiri.....

Ambil contoh negeri Couw kami. Sekalipun terhitung negara kecil, dia punya Hong-shia yang tinggi, dan sungai Han-sui yang airnya dalam. Sekalipun Tuanku serang habis-habisan belum tentu bisa direbut!”

Mendengar sindiran itu Raja Cee Hoan Kong merasa malu, sehingga mukanya berubah merah, dia berkata sambil tertawa.

”Ha, ha, ha! Ternyata Tay-hu seorang menteri Couw yang berbudi luhur!Aku ingin mengikat tali persahabatan dengan negaramu. Bagaimana pendapat Tay-hu?” kata Raja Cee.

”Atas budi Tuanku ingin membagi rejeki pada negeri kami maka sepatutnya Raja kami

berserikat dengan Tuanku!” kata Kut Goan. ”Mana berani Raja kami mengasingkan diri, tentu dia akan senang sekali berserikat dengan Tuanku!”

Raja Cee Hoan Kong merasa girang sekali, malam itu dia minta Kut Goan bermalam di perkemahannya. Kemudian diadakan pesta besar.

Esok harinya.....

Di Siao-leng telah didirikan sebuah panggung, di atas panggung telah berkumpul semua raja- raja dan menteri-menteri besar. Di situ segera diadakan perjanjian, mulai dari saat itu sampai di kemudian hari semua negeri-negeri tidak boleh bertikai satu sama lain. Sesudah selesai melaksanakan upacara, Kut Goan menghaturkan terima kasih kepada semua raja-raja.

Sementara itu Koan Tiong mengadakan pembicaraan dengan Kut Goan, dia minta panglima negeri The, bernama Tam Pek, supaya dikembalikan, sedang Kut Goan juga mengajukan permintaan supaya Raja Coa dihapus dosanya. Begitulah kedua pihak sepakat, masing-masing menerima baik perjanjian tersebut.

Kut Goan pamit pulang ke kotanya, akan memberi tahu pada Raja Couw Seng Ong bagaimana kesudahan misinya itu.

Koan Tiong mengeluarkan perintah akan menarik seluruh angkatan perang gabungan akan kembali ke negaranya masing-masing.

Ketika Raja Couw sudah mengetahui angkatan perang semua Raja-raja Muda sudah ditarik mundur, pikiranya berubah. Dia mau membatalkan pengiriman rumput Mao ke Kerajaan Ciu. Kut Goan kaget lalu membujuk Raja Couw agar tidak ingkar janji. Sesudah dibujuk oleh Kut Goan dan Chu Bun baru Raja Couw menurut. Dia perintahkan Kut Goan mengantarkan upeti itu ke Kerajaan Ciu.

Baginda Ciu Hui Ong sangat girang ketika menerima upeti rumput Mao, sekalipun harga barang itu tidak seberapa, tetapi dia senang. Terutama selama ini Raja Couw telah membangkang, sekarang dia taat mengirim rumput Mao.

Kaisar Ciu memuji Kut Goan dengan kata-kata manis. Dia juga berpesan pada Kut Goan

supaya menyampaikan pesannnya, agar Raja Couw mengamankan daerah Selatan dan jangan mengganggu daerah Tiong-goan.

”Hamba akan memperhatikan pesan ini, hamba berjanji!” kata Kut Goan.

Sesudah itu Kut Goan pamit dan pulang ke negaranya. Baru saja Kut Goan mengundurkan diri, datang Sek Peng dari negeri Cee. Dia mengabarkan bahwa Raja Cee sudah berhasil menaklukkan negeri Couw di Selatan. Kaisar baru tahu kalau Raja Couw mengirim upeti rumput Mao karena Raja Cee telah menaklukannya. Kaisar mengucapkan terima kasih pada Raja Cee.

Ketika Sek Peng memohon pada Baginda ingin bertemu dengan Putera Mahkota The, tampak Kaisar Ciu kurang senang. Tetapi Kaisar Ciu segera memerintahkan Pangeran Tai bersama Putera Mahkota The keluar menemui Sek Peng.

Melihat sikap Kaisar Ciu, Sek Peng menduga ada apa-apa di dalam keluarga kaisar ini. Diam- diam dia mencoba menyelidikinya.

Sepulang Sek Peng ke negeri Cee dia melapor pada Raja Cee. Tetapi di akhir laporannya dia menyampaikan sesuatu pada Raja Cee. ”Hamba lihat di dalam istana Kaisar Ciu telah terjadi sesuatu. Pasti akan timbul huru-hara,” kata Sek Peng.

”O, kau bilang bakal terjadi huru-hara?!” kata Raja Cee Hoan Kong terperanjat, ”Bagaimana bisa begitu?”

”Putera sulung Baginda Ciu Hui Ong bernama The, dilahirkan oleh almarhum Permaisuri Kiang Si. Sudah diangkat menjadi Putera Mahkota,” kata Sek Peng. ”Tetapi sejak Kiang Si meninggal, Permaisuri ke-dua Tan Kui menjadi sangat dicintai oleh Baginda, sehingga dia diangkat menjadi Hong-houw (Permaisuri Utama). Beliau juga berputera, namanya Tai,

lantaran sang ibu dicintai oleh Kaisar Ciu, anaknya pun jadi lebih disayang. Malah Baginda punya niat hendak menurunkan Putera Mahkota The dan mengangkat Pangeran Tai menjadi Putera Mahkota. Sekarang Tuanku menjadi pemimpin perserikatan Raja-raja Muda, jika di Kerajaan Ciu terjadi huru-hara, pasti Tuanku akan jadi pusing. Maka Tuanku harus buru-buru berupaya untuk mencegah kekacauan itu!” Raja Cee Hoan Kong memanggil Koan Tiong untuk diajak berunding.

Ketika Koan Tiong sudah mendengar cerita keadaan di Kerajaan Ciu, ia mulai bicara. ”Hamba punya siasat untuk menentramkan Kerajaan Ciu,” kata Koan Tiong.

”Siasat bagaimana, Tiong-hu?” tanya Cee Hoan Kong dengan girang. ”Jika Tay-cu (Putera Mahkota) sampai terancam bahaya, pasti karena familinya terlalu sedikit.” kata Koan Tiong. ”Sekarang Tuanku buat surat untuk Kaisar, mohon agar Putera Mahkota diizinkan menemui semua Raja-raja Muda. Dengan demikian Putera Mahkota jadi 

diakui sah sebagai calon Kaisar. Jika Kaisar Ciu hendak menurunkan dan menggantinya

dengan putera ke-dua, pasti semua Raja Muda akan menolak. Dengan demikian rencana Kaisar akan gagal total.”

Raja Cee Hoan Kong setuju benar pada saran Koan Tiong tersebut. Segera Raja Cee mengutus Sek Peng menyampaikan permohonan pada Kaisar Ciu, agar Putera Mahkota di musim Hee datang ke Siu-ci (tanah negeri We). Karena Raja Muda ingin bertemu dengan Putera Mahkota. Kepada semua Raja Muda, Raja Cee juga berpesan agar nanti datang ke pertemuan tersebut.

Saat Sek Peng datang bertemu Kaisar Ciu dan menyampaikan keinginan para Raja Muda

untuk bertemu dengan Putera Mahkota The. Hal itu disampaikan oleh Raja Cee Hoan Kong. Kaisar Ciu Hui Ong sebenarnya tidak setuju. Dia tidak mau mengizinkan Putera Mahkota menemui Raja-raja Muda.

Tetapi karena Kaisar Ciu takut menghadapi Perserikatan Raja Muda yang dipimpin Raja Cee, terpaksa mengabulkannya.

***

Pada tahun berikutnya di musim Cun (Semi), Raja Cee Hoan Kong memerintahkan Tan Keng Tiong pergi ke Siu-ci untuk membangun istana persinggahan Putera Mahkota.

Tepat pada musim He bulan Go-gwe (bulan lima), Raja Cee, Song, Louw, Tan, We, The, Khouw dan Co, delapan raja muda semua sudah berkumpul di Siu-ci. Tidak lama Putera Mahkota The pun sampai.

Raja Cee Hoan Kong mengajak semua Raja Muda menyambut. Sementara Pangeran The bersikap sopan sekali. Dia bersikap sebagai tamu yang ingin menemui tuan rumah. Tetapi Raja Cee mencegahnya.

”Jangan, Tuanku tidak pantas bersikap demikian. Kami ini adalah bawahan Tuanku,” kata Raja Cee.

Segera diadakan pesta besar Raja Cee bersama yang lain mengucapkan selamat kepada Pangeran The. Mereka berdiam di sana cukup lama dan bergantian mengadakan pesta. Tetapi Pangeran The agak risih. Dia bilang dia sudah terlalu lama berada di luar istana Kaisar Ciu.

”Aku ingin pulang,” kata Pangeran The pada suatu hari. ”Di sini aku hanya menyusahkan semua Raja Muda.”

”Jangan!” kata Raja Cee. ”Tuanku tinggal beberapa bulan lagi, supaya Kaisar tahu bahwa anda disukai oleh para Raja Muda di sini!”

Raja Cee lalu menceritakan bahwa Kaisar Ciu berniat menurunkan Pangeran The dan akan mengangkat Pangeran Tai. Sesudah mendengar penjelasan dari Raja Cee akhirnya Pangeran The pun menurut. Dia mengucapkan terima kasih pada semua raja, terutama kepada Raja Cee.

Karena sudah sekian lama Pangeran The tidak pulang-pulang, Kaisar Ciu Hui Ong sadar dan sudah bisa menduga-duga apa yang telah terjadi. Bahwa Raja Cee sangat menghormati Pangeran The yang hendak dia lucuti kedudukannya. Akhirnya Kaisar Ciu jadi mendongkol sekali.

Sedang permaisuri dan puteranya terus mendesak Kaisar Ciu dan mempengaruhinya, sehingga

Kaisar bertambah benci kepada Pangeran The. Pada suatu hari......

Kaisar Ciu memanggil P.M. Ciu Kong Khong dan ia sampaikan kemendongolan hatinya. ”Cee Houw (Raja Cee) sekalipun katanya telah membuat Raja Couw tunduk, tetapi sebenarnya belum pernah mengalahkannya.” kata Kaisar Ciu. ”Kerajaan Couw sangat

tangguh dan tentaranya gagah berani. Tetapi sekarang seolah mereka tunduk dan mau mengantarkan upeti pada kita. Dilihat tingkah-lakunya, Raja Couw agak lebih baik jika dibanding dengan Raja Cee yang curang.”

P.M. Ciu Kong Khong mengangguk saja.

”Coba kau bayangkan,” kata Kaisar Ciu lagi. ”Raja Cee bersama komplotannya telah mengajak Pangeran The berdiam di suatu tempat.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]