Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 11

Bab 11

Raja Cee Hoan Kong terkejut, buru-buru dia mengeluarkan perintah supaya tentaranya segera mundur. Karena keadaan sudah mulai gelap, tentara Cee sudah menyalakan obor untuk menerangi jalan yang akan mereka lewati.

Tetapi tiba-tiba obor-obor itu padam disambar angin yang sangat kencang. Kejadian ini membuat tentara yang berjalan saling bertabrakan karena gelap. Sekalipun berkali-kali mereka pasang kembali obor mereka, tetapi selalu padam lagi tertiup angin.

Koan Tiong mengikuti Raja Cee Hoan Kong melarikan kudanya dengan kencang. Tetapi sebelumnya dia sudah memberi tahu anak buahnya yang berjalan di depan supaya membunyikan gembreng. Dengan demikian Koan Tiong berharap anak buahnya bisa mengikuti mereka dari belakang dengan bantuan suara gembreng.

Langit telah gelap-gulita, hawa pun dingin sekali, arah timur, barat, utara dan selatan, empat penjuru tidak kelihatan. Semua serba gelap. Dengan membabi-buta tentara Cee berlomba lari sekuat-kuatnya. Mereka tidak tahu sudah berapa jauhnya dan sampai di mana? Mereka lari ketakutan bagaikan dikejar hantu saja.

Sesudah berlari sampai setengah mati, mereka baru merasakan agak nyaman. Angin yang tidak nyaman itu sekarang telah tidak terasa lagi. Mereka beramai-ramai duduk untuk melepaskan lelah. Di langit sekarang mereka bisa menyaksikan cahaya rembulan yang baru muncul.

Raja Cee Hoan Kong mengeluarkan perintah agar tentaranya mendirikan tenda sambil menunggu datangnya fajar. Tatkala cahaya merah mulai bersinar di ufuk timur, suara burung yang berkicau mulai terdengar riuh sekali, suatu tanda hari sudah pagi. Segera Raja Cee Hoan Kong memeriksa tentara dan panglimanya. Ternyata semua panglima dan tentaranya selamat, kecuali Kho Hek seorang yang tidak kelihatan. Tetapi tentara dan kuda-kuda mereka sebagian telah binasa.

Melihat markas tentaranya berada di tepi jurang gunung yang berbahaya dan keadaannya sangat sunyi, Koan Tiong khawatir musuh datang menyerang, hal itu sungguh berbahaya sekali. Maka itu Koan Tiong memerintahkan tentaranya mencari jalan untuk meninggalkan tempat itu.

Perintah itu segera dilaksanakan. Sesudah tenda-tenda tentara dirobohkan, pasukan Cee berangkat meninggalkan tempat itu. Tetapi sungguh aneh, mereka berjalan menuju ke timur – buntu, berbalik menuju ke barat – tertutup, dan berjalan memutar pun sama saja. Mereka sudah berjalan lama sekali dan sudah banyak yang kelelahan, tetapi belum juga mereka menemukan jalan untuk keluar dari situ. Waktu itu wajah Cee Hoan Kong jadi pucat, karena pikirannya sangat kusut.

Koan Tiong yang cerdas dan tidak mudah putus asa itu berkata kepada Cee Hoan Kong.

”Hamba pernah mendengar cerita orang, katanya kuda-kuda tua di daerah ini bisa mengenali jalan-jalan di negeri Bu Ciong dan San-jiong. Kuda-kuda itu khabarnya kebanyakan berasal

dari daerah utara. Coba perintahkan saja pada Houw Ji Pan supaya memilih beberapa ekor

kuda tua. Kemudian kuda-kuda itu kita lepaskan. Kita tinggal mengikuti ke mana kuda-kuda

itu berjalan. Maka kita akan bisa keluar dan menemukan jalan yang benar.” kata Koan Tiong.

Raja Cee Hoan Kong menuruti saran itu, dia perintahkan Houw Ji Pan melaksanakan siasat tersebut.

Begitu kuda-kuda tua itu dilepas oleh tentara Cee, kuda itu berjalansendiri. Sedang panglima dan tentara Cee mengikuti kuda tua itu berjalan. Sesudah berjalan berbelok-belok tidak karuan, akhirnya benar saja kuda-kuda tua itu bisa menemukan jalan dan sampai keluar dari mulut jurang.

”O, sungguh kasihan tentara Cee yang menanggung sengsara. Ke manakah Jenderal Hong Hoa yang menyesatkan pasukan Cee itu?” begitu pikir Koan Tiong. ”Pantas Hong Hoa

melarikan kudanya demikian cepat. Ke mana Jenderal Kho Hek dia bawa?”

**

Dikisahkan perjalanan Hong Hoa bersama Kho Hek.

Sesudah berjalan sekian lamanya, Kho Hek menoleh ke belakang. Dia kaget karena dia tidak melihat pasukan Raja Cee yang jumlahnya banyak ada di belakang mereka. Dia minta agar Hong Hoa mau menunggu sebentar agar bisa bersama-sama. Jenderal Hong Hoa tidak meladeni permintaan Kho Hek, malah dia perintahkan tentaranya berjalan lebih cepat lagi.

Akhirnya Jenderal Kho Hek jadi curiga. Dia tahan kudanya tidak mau mengikuti kehendak Hong Hoa. Tapi Hong Hoa segera menarik dan mendesak Kho Hek agar mengikuti kehendaknya. Saat itu Kho Hek sadar bahwa Hong Hoa berniat jahat. Kho Hek melakukan perlawanan tetapi terlambat Hong Hoa sudah memerintahkan anak buahnya menangkap Kho Hek yang segera mereka ikat kaki dan tangannya. Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan Kho Hek mereka jadikan tawanan.

Ketika Hong Hoa sampai di gunung Yan-san, dia langsung menemui Tap Li Oh. Raja Kho- tiong ini tampak senang melihat Hong Hoa datang dengan wajah berseri-seri.

”Bagaimana, apa kau sudah berhasil memancing mereka?” tanya Raja Tap Li Oh. ”Tentu, tuanku!!” kata Hong Hoa sambil tertawa.

”Syukurlah!” kata Tap Li Oh girang.

”Tetapi, mana Raja Bit Louw?” kata Tap Li Oh terkejut. ”Mengapa Raja Bit Louw tidak ikut kemari? Apa dia terkepung musuh?”

”Akh, dasar dia memang sedang sial!” sahut Hong Hoa. Dia pura-pura berduka. ”Kenapa dia?” tanya Tap Li Oh. ”Ketika ada di gunung Ma-pian-san sedang melawan musuh, dia kalah tentaranya menderita rusak berat, dia dan panglimanya meninggal di medan perang.” kata Tap Li Oh.

”O, kasihan!” kata Tap Li Oh.

”Tetapi, tuanku jangan berduka. Dengan pura-pura menyarah aku sudah berhasil menjebak tentara Cee bersama rajanya ke padang pasir! Hamba juga berhasil menawan panglima mereka bernama Kho Hek.” kata Hong Hoa.

Mendengar laporan itu Tap Li Oh girang juga. Dia perintahkan tawanan itu dibawa menghadap kepadanya.

Tidak berapa lama dengan dikawal oleh beberapa prajurit Kho Hek dibawa menghadap. Kho Hek berdiri dengan gagah tidak mau berlutut di hadapan raja Kho-riong tersebut. Melihat sikap Kho Hek yang gagah, Tap Li Oh suka padanya.

”Jenderal, jika kau suka aku mau memakaimu!” kata Tap Li Oh. Kho Hek tertawa terbahak- bahak.

”Hm! Kau jangan mimpi, aku tidak suka mengabdi padamu!” kata Kho Hek dengan gagah. Tap Li Oh kaget. Dia awasi jenderal itu.

”Kau jahanam terkutuk!” kata Kho Hek sambil menunjuk ke arah Hong Hoa. ”Kau curang menipu Rajaku dan aku dan kau bawa aku kemari. Tetapi ingat tidak lama lagi pasukan Rajaku akan tiba. Kalian akan dibinasakan semua!”

Jenderal Hong Hoa gusar sekali, dia melompat dan menghunus pedangnya. Dia tebas batang leher Kho Hek hingga tewas.

Sesudah itu Tap Li Oh menghimpun angkatan perangnya akan menyerang ke kota Bu-te-shia. Ketika Yan Cong Kong mendengar laporan dan melihat sendiri tentara bangsa Kho-tiok datang dan mengepung kota, dia terkejut. Dia juga tidak mengetahui ke mana Raja Cee Hoan Kong pergi. Dia heran bagaimana tentara musuh bisa datang begitu mendadak. Ditambah lagi tentara yang ada di bawah perintahnya sangat sedikit. Dia yakin tidak akan sanggup melawan musuh. Serangan musuh malah sudah dimulai. Terpaksa dia memerintahkan tentaranya menyalakan api. Kemudian menerjang keluar kota. Mereka langsung kabur ke gunung Toan- cu-san.

Kejadian tersebut terjadi pada saat pasukan Raja Cee Hoan Kong baru saja keluar dari padang pasir See-cek. Sesudah pasukannya segar kembali Raja Cee Hoan Kong memerintahkan tentaranya segera kembali ke Bu-te-shia.

Di sepanjang jalan kelihatan rakyat yang panik meninggalkan kota Bu-te-shia.

Melihat keadaan demikian Koan Tiong jadi curiga, dia perintahkan anak buahnya bertanya pada rakyat yang panik itu.

Beberapa di antaranya memberi keterangan.

”Kami dengar tentara Kho-tiok sudah berhasil mengusir tentara negeri Yan. Kami adalah rakyat kota Bu-te-shia yang bersembunyi atas perintah Raja Sekarang kami.akan kembali ke kota Bu-te-shia!” kata orang itu. Sesudah mendapat laporan itu Raja Cee Hoan Kong terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat.

”Jangan khawatir, Tuanku,” kata Koan Tiong pada Cee Hoan Kong, ”aku sudah menyiapkan sebuah tipu-muslihat untuk menghancurkan musuh.”

”Lakukanlah,” kata Cee Hoan Kong.

Koan Tiong memerintahkan Houw Ji Pan membawa tentaranya. Mereka diperintahkan supaya menyamar menjadi rakyat negeri Kho-tiok. Kemudian mereka membaur bercampur dengan rakyat Kho-tiok dan masuk ke dalam kota. Mereka mendapat perintah khusus dari Koan Tiong pada tengah malam mereka harus menebitkan kebakaran besar untuk mengacaukan musuh.

Sesudah Houw Ji Pan berangkat, Koan Tiong memerintahkan pada Si Tiao menyerang pintu kota selatan, Lian Ci melabrak pintu kota barat, Pangeran Kai Hong menyerang pintu kota timur. Hanya pintu kota utara yang tidak diganggu, karena memang sengaja agar musuh kabur dari sana.

Tetapi Koan Tiong telah memerintahkan Ong-cu Seng Hu dan Sek Peng untuk menyembunyikan tentara mereka di luar pintu kota tersebut. Mereka harus menunggu sampai Tap Li Oh keluar kota, baru mereka mencegat dan menangkapnya. Begitu Koan Tiong selesai mengatur anak buahnya, dia dan Raja Cee Hoan Kong menarik mundur tentaranya dan mendirikan perkemahan jauhnya dari Bu-te-shia sekitar 10 li.

Pada saat pihak Cee sedang mengatur siasat, waktu itu Tap Li Oh baru memadamkan kebakaran di dalam kota. Sesudah itu dia memerintahkan anak buahnya memanggil rakyat negerinya supaya kembali ke kota Bu-te-shia. Dia perintahkan Hong Hoa mengumpulkan angkatan perang, bersiap untuk bertempur melawan musuh.

Sorenya tiba-tiba dari empat penjuru kota terdengar suara letusan meriam. Segera dari juru kabar datang memberi laporan pada raja Kho-tiok.

”Tentara Cee sudah sampai dengan berbareng mereka telah mengepung pintu kota.” kata pelapor tersebut.

Mendengar laporan itu bukan main kagetnya Hong Hoa.

”Sungguh aneh pasukan Cee bisa datang begitu cepat!” kata Hong Hoa.

Buru-buru dia pimpin tentara dan rakyat negeri naik ke atas kota untuk menjaga dengan ketat benteng kota.

Pada tengah malam, mendadak di beberapa tempat yang letaknya di dalam kota terbit kebakaran. Jenderal Hong Hoa menjadi semakin repot, dia perintahkan anak buahnya mencari keterangan siapa yang sudah membakar kota.

Waktu itu Houw Ji Pan bersama sepuluh orang pengikutnya sudah sampai di depan pintu kota selatan. Mereka merusak pintu kota. Begitu melihat pintu kota terbuka, Si Tiao memberi tanda pada tentaranya untuk menerjang masuk ke dalam kota. Melihat pintu kota telah rusak Jenderal Hong Hoa merasa tidak punya harapan untuk bisa mempertahankan kota lagi. Buru-buru dia angkat Tap Li Oh dan dinaikkan ke atas kudanya, dengan tergesa-gesa mencari jalan untuk menyingkirkan diri. Dia mendapat kabar di pintu

kota utara tidak dijaga oleh tentara musuh, mereka lari ke pintu utara, membuka pintu kota

dan mengaburkan kuda sekencang-kencangnya.

Tetapi sebelum bisa kabur jauh, tiba-tiba di depan mereka kelihatan banyak sekali obor. Kemudian disusul oleh suara genderang dan sorak-sorai tentara musuh. Mereka kaget setengah mati seolah nayawanya melayang.

Pasukan Cee itu terbagi di dua jalan, yang satu dipimpin oleh Ong-cu Seng Hu dan yang

lainnya dipimpin oleh Sek Peng. Mereka langsung menyerang.

Jenderal Hong Hoa maju bersama kudanya untuk bertempur melawan Ong-cu Seng Hu, sedang Gut Lut Kouw melawan Sek Peng. Pertempuran mereka seru sekali, tetapi sebelum ada keputusan siapa yang menang atau kalah, Pangeran Kai Hong, Si Tiao dan Houw Ji Pan dari pasukan Cee datang. Mereka mengepung Hong Hoa dan rajanya.

Jenderal Hong Hoa tertimpa musibah dia tewas di tangan Houw Ji Pan, Tap Li Oh tertangkap oleh Ong-cu Seng Hu, Gut Lut Kouw terbunuh oleh Sek Peng, sedang tentara musuh sebagian besar telah binasa.

Pertempuran berlangsung sampai siang hari. Sesudah musuh dikalahkan Ong-cu Seng Hu bersama panglima lainnya menyambut Raja Cee Hoan Kong yang mereka persilahkan masuk ke dalam kota.

Raja Cee Hoan Kong memerintahkan agar Tap Li Oh dibawa menghadap. Sesudah diterangkan dosanya Raja Tap Li Oh dihukum mati. Kemudian Raja Cee memerintahkan menggantung kepala raja itu di pintu kota utara.

Di antara tentara Jiong ada yang cerita bagaimana Kho Hek tapa ampun telah dibunuh.

Raja Cee Hoan Kong sangat sedih. Dia menghela napas dan mencatat jasa-jasa Kho Hek. Ketika Raja Yan Cong Kong sudah mendapat kabar bahwa Raja Cee berhasil memenangkan peperangan, dia girang sekali. Buru-buru Raja Yan ini kembali ke Bu-te-shia akan menemui Raja Cee.

Pertemuan kedua raja itu sangat menggembirakan, Raja Yan menghaturkan terima kasih pada Raja Cee.

”Dari tempat yang jauh aku datang membantumu. ” kata Raja Cee. ”Untung aku berhasil mengalahkan bangsa San-jiong dan Kho-tiok. Tanahnya aku hadiahkan kepadamu. Silakan kau kelola.”

”Hamba tidak berani menerima hadiah itu,” kata Raja Yan. ”Cukup asal hamba bisa menjaga tanah pusaka dari leluhur hamba saja.”

”Negeri bangsa Jiong dan Kho-tiok berdekatan dengan negaramu. Tetapi sangat jauh dengan negaraku. Aku ingin negara itu tetap aman, jadi kupercayakan kepadamu. Aku harap anda tidak menolak pemberian ini. ” kata Raja Cee bersungguh-sungguh. ”Hanya ingat bila negerimu sudah aman dan makmur, jangan lupa mengirim upeti ke Kerajaan Ciu. Itu sudah cukup bagiku!” ”O, sungguh susah bisa bersahabat dengan Raja seperti anda. Kebaikan anda sangat luar biasa! Aku ucapkan banyak terima kasih atas semua ini. Entah kapan aku bisa membalas budimu ini.” kata Raja Yan.

Raja Cee tertawa. Dia menasihati Raja Yan dan bersyukur jika Raja Yan mau tetap berserikat dengannya. Setelah kembali ke negeri Yan dan sesudah membagi-bagi hadiah pada yang berjasa termasuk Raja dari negeri Bu Ciong, Raja Cee akan kembali ke negaranya. Karena tentaranya pun sudah cukup istirahat.

Di sepanjang jalan saat Raja Yan dan Cee pulang, mereka menyaksikan pemandangan yang memilukan hati, banyak tempat-tempat yang rusak lantaran perang.

Ketika berjalan hampir sampai di Kui-cu-kwan, mereka berpapasan dengan pasukan Pao Siok Gee yang datang menyambut.

Raja Cee Hoan Kong merasa senang, dia puji kecakapan Pao Siok Gee dalam mengurus perbekalan tentaranya. Sesudah sampai di negeri Yan terpaksa Raja Cee harus berpisah dengan Raja Yan. Raja Cee berpesan agar siaga supaya musuh tidak mengacau kembali. Kemudian mereka berpisah karena Cee Hoan Kong akan kembali ke negaranya.

Raja Yan mengantarkan Raja Cee sampai sejauh 50 li dari negaranya. Kejadian ini membuat Raja Cee terharu sekali. Raja Cee Hoan Kong menghadiahkan tanah untuk Raja Yan Cong Kong yang baik hati itu. Ketika mereka berrpisah mereka menangis sedih.

Sejak saat itu dan selanjutnya negara Yan menjadi bertambah luas dan makmur karena

mendapat tambahan tanah hadiah dari Raja Cee. Kemudian negeri Yan menjadi negara besar di bagian utara Tiongkok.

Ketika semua Raja Muda mendengar dan mengetahui bagaimana Raja Cee yang begitu baik, mau membantu negeri Yan memerangi musuhnya. Juga Raja Cee tidak merasa sayang pada tanah miliknya dan dihadiahkan kepada negara Yan, mereka merasa kagum dan taat.

Sekarang mereka sudah tidak merasa cemas negara mereka akan dicaplok oleh negara Cee. Mereka malah memuji kebijaksanaan Raja Cee tersebut.

Dalam perjalanan pulang Raja Cee Hoan Kong sampai di tapal batas antara negeri Louw dan negeri Cee. Di tempat itu dia disambut oleh Louw Cong Kong yang mengucapkan selamat atas keberhasilan Raja Cee tersebut.

Melihat Raja Louw begitu hormat dan mencintai Raja Cee, maka dengan senang hati Raja Cee menghadiahkan barang-barang milik bangsa Jiong kepada Raja Louw. Tentu saja Raja Louw girang bukan main.

Waktu itu masa pemerintahan Louw Cong Kong pada tahun yang ke-32 atau pemerintahan Baginda Ciu Hui Ong tahun ke-15. Pada bulan Pe-gwe (bulan delapan Imlek) Louw Cong Kong meninggal dunia, karena itu di negeri Louw terjadi kekacauan yang hebat.

Sesudah Raja Louw meninggal dunia, negeri Louw jadi kalut sekali. Pangeran Keng Hu alias Tiong, adalah kakak tiri dari Raja Louw Cong Kong. Sedang adik satu ibu Keng Hu bernama Gee alias Siok, masih terhitung adik tiri dari Raja Louw Cong Kong juga.

Raja Louw Cong Kong mempunyai adik satu ibu bernama Pangeran Yu. Nama pangeran Yu diambil dari tanda di tengah telapak tangannya yaitu mirip huruf ”Yu” (Sahabat/teman).

Nama aliasnya dipanggil Kui, sehingga dia juga disebut Kui Yu. Tiga bersaudara itu sekali

pun diberi jabatan sebagai Tay-hu, tetapi karena ada embel-embel saudara kandung dan saudara tiri, ditambah lagi memang Kui Yu lebih pandai dari dua saudaranya, maka tidak heran Raja Louw Cong Kong lebih mencintai dan percaya kepada Kui Yu.

Ketika Raja Louw Cong Kong baru berkuasa tiga tahun, dia pernah pergi jalan-jalan ke panggung di tanah Long. Dari atas panggung itu ia melihat anak perempuan orang she Tong bernama Beng Jim. Paras Beng Jim demikian elok, sehingga sangat menarik hati Raja Louw Cong Kong. Semakin dipandang semakin tergoda sang raja ini. Akhirnya timbul niatnya, lalu Raja Louw memerintahkan budaknya memanggil gadis tersebut.

Ketika ditawari akan dijadikan isteri Raja Louw, Beng Jim merasa khawatir, kelak ia akan disia-siakan oleh Raja Louw. Maka itu dia menolak kehendaknya Raja Louw Cong Kong. Tetapi karena Raja Louw Cong Kong ingin sekali mendapatkan nona manis itu. Dan sang raja seperti orang yang lupa daratan. Raja Louw berkata, ”Kemarilah nona manis! Jika kau mau

jadi isteriku, kau akan kujadikan permaisuri!”

Beng Jim yang cerdik, berkata pada Raja Louw Cong Kong. Dia mau dinikahi asal Raja

Louw mau bersumpah untuk menepati janjinya itu. Karena sedang tergila-gila oleh Beng Jim tanpa berpikir panjang, Raja Louw dengan senang bersumpah di hadapan Beng Jim.

Begitulah malam itu Raja Louw Cong Kong mengajak Beng Jim bermalam di atas ranggon.

Esok harinya Beng Jim dibawa pulang ke istana. Mereka hidup manis dan bahagia selama setahun lebih, kemudian Beng Jim melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Pan. Waktu itu Raja Louw Cong Kong hendak mengangkat Beng Jim menjadi permaisuri.

Kemudian Raja Louw memohon kepada ibunya, Bun Kiang, supaya sang ibu memberi izin untuk mengangkat Beng Jim menjadi permaisuri.

Ibusuri Bun Kiang tidak meluluskan permintaan putranya itu, karena dia sudah menetapkan bahwa Raja Louw Cong Kong harus menikah dengan puteri Raja Cee Siang Kong dari negeri Cee.

Ketika itu putri Raja Cee Siang Kong masih bayi, Raja Louw harus menunggu hampir selama 20 tahun lagi baru boleh menikah. Maka dalam tempo demikian lamanya, meski pun Beng Jim belum diangkat menjadi permaisuri, tetapi ia sudah memegang kekuasaan di istana, sehingga seperti dia sudah menjadi permaisuri.

Setelah putri Raja Cee Siang Kong yang bernama Kiang Si dewasa, dia dinikahkan dengan Raja Louw serta menjadi permaisuri. Ketika itu Beng Jim sedang sakit keras. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Tidak berselang beberapa lama, dia melepaskan napasnya yang penghabisan. Dengan memakai aturan penguburan seorang selir, Raja Louw Cong Kong menguburkan jenazah Beng Jim.

Sesudah sekian lama menjadi suami istri Kiang Si belum punya anak juga; sedang adiknya yang menjadi permaisuri ke-dua dari Raja Louw, telah melahirkan seorang putra yang diberi nama Ke.

Raja Louw Cong Kong mempunyai seorang gundik atau selir she Hong. Dia putri Raja Si Kouw, dan telah melahirkan seorang putra yang diberi nama Sin. Selir Hong Si hendak menitipkan Sin kepada Kui Yu, supaya di kemudian hari Sin bisa menjadi ahli waris. Tapi Kui Yu menolak dengan mengatakan, ”Chu Pan usianya lebih tua.”

Dengan demikian Hong Si pun tidak berani mengeluarkan keinginannya itu. Sekali pun Raja Louw Cong Kong telah mengangkat Kiang Si menjadi permaisuri, tetapi ia tidak mencintainya. Luarnya saja dia memberlakukan aturan, tetapi sebenarnya dia tidak begitu perhatian kepada Kiang Si.

Memang Kiang Si seorang perempuan yang kurang bahagia, karena Raja Louw Cong Kong tidak mencukupi kesenangan batinnya. Tidak heran kalau dia senantiasa merasa sangat mendongkol.

Pada suatu hari Kiang Si melihat Pangeran Keng Hu yang berperawakan tegap dan parasnya cakep. Tanpa disadarinya dia jatuh cinta kepadanya. Diam-diam Kiang Si memerintahkan budaknya yang bisa dipercaya menyampaikan maksud hatinya. Pangeran Keng Hu pun menyatakan setuju. Kedua orang durhaka itu melakukan hubungan rahasia. Hubungan percintaan mereka semakin menjadi erat. Kemudian Kiang Si mengadakan persekutuan rahasia dengan Siok Gee. Mereka sepakat suatu ketika mereka akan mengangkat Pangeran Keng Hu menjadi Raja dan Siok Gee yang akan menjadi perdana menterinya.

Tatkala Raja Louw Cong Kong sudah yang ke-31 tahun menjadi raja, terjadilah musibah di negaranya. Sudah berbulan-bulan tidak turun hujan. Akibatnya tanaman banyak yang rusak dan orang-orang banyak yang terserang penyakit. Raja Louw Cong Kong hendak mengadakan sembahyang untuk minta hujan.

Sehari di muka sebelum upacara sembahyang dilaksanakan, di paseban rumah pejabat she Liang (turunannya Liang Cu) diadakan acara hiburan musik Tionghoa. Menteri Liang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik sekali. Pangeran Pan mencintai gadis itu. Bahkan saat memadu cinta Pangeran Pan berjanji, jika kelak dia menjadi raja, maka gadis itu akan diangkat menjadi permaisurinya.

Suatu saat ketika ada keramaian di rumah pejabat Liang itu. Nona Liang naik ke tangga yang disandarkan ke tembok. Maksudnya untuk menonton permainan musik tersebut. Pada saat si nona manis sedang memuaskan matanya, ketika itu Gi Jin Kiat (tukang kuda bernama Kiat) melihat dia. Gi Jin Kiat menghampiri dan sengaja bernyanyi demikian nyanyiannya:

”Kembang To yang bagus dan licin, di musim Tang (salju) yang dingin bertambah wangi,. Dalam hati seperti terkancing, tapi tidak bisa melewati tembok yang tinggi,.

Ingin sekali bersama-sama memiliki sayap, berubah menjadi belibis berjalan pergi.”

Ketika itu Pangeran Pan pun ada di rumah menteri Liang. Dia juga hendak menyaksikan keramaian itu. Ketika dia dengar nyanyian itu, dia jadi curiga. Kemudian pergi keluar hendak menyelidik. Saat itu Pangeran Pan melihat Gi Jin Kiat sedang bertingkah genit di hadapan kekasihnya.

”Akh, kurang ajar sekali jahanam ini!” gerutu Pangeran Pan dengan sangat marah. Pangeran Pan memerintahkan orangnya menangkap tukang kuda itu. Kemudian Gi Jin Kiat dicambuk 300 kali. Darahnya berhamburan di tanah. Sesudah Gi Jin Kiat menangis sesambatan dan minta-minta ampun, barulah siksaan itu dihentikan.

Ketika Pangeran Pan pulang ke istana, dia memberi tahu ayahnya tentang kejadian itu.

”Karena Gi Jin Kiat melakukan pelanggaran, maka aku hajar dia setengah mati,” kata Pangeran Pan.

Mendengar laporan Pangeran Pan, Raja Louw Cong Kong pucat wajahnya. ”Jika Gi Jin Kiat melanggar aturan, seharusnya kau bunuh saja dia! Jangan cuma dicambuk begitu. Aku tahu benar kegagahan Gi Jin Kiat. Bisa dikatakan di kolong langit tidak ada tandingannya. Kau telah menghajar dia sampai setengah mati. Pasti dia dendam kepadamu. Aku khawatir suatu saat dia membalas dendam padamu!” kata Raja Louw Cong Kong.

”O, Ayah jangan khawatir soal itu!” kata Pangeran Pan. ”Dia manusia, aku pun manusia. Mengapa aku harus takut kepadanya!”

Dugaan Raja Louw Cong Kong ternyata benar terjadi. Sedikit pun tidak meleset. Karena dihajar, Gi Jin Kiat sakit hati kepada Pangeran Pan. Sebisanya dia hendak membalas dendam.

Gi Jin Kiat kemudian melamar kerja kepada Pangeran Keng Hu. Karena Gi Jin Kiat

mengetahui Pangeran Keng Hu sedang berusaha mendapatkan tahta, pasti pangeran itu berniat menyingkirkan Pangeran Pan, begitu pikir Jin Kiat.

Pada tahun berikutnya di musim Ciu, Raja Louw Cong Kong sakit keras. Dia yakin penyakitnya sulit disembuhkan kembali. Raja Louw merasa curiga melihat kelakuan Pangeran Keng Hu. Raja juga menduga pasti Pangeran Siok Gee ikut dalam komplotan itu. Raja Louw sengaja memanggil Pangeran Siok Gee. Raja Louw dengan berpura-pura bertanya.

”Menurutmu siapa yang pantas diangkat menjadi raja, apabila aku menutup mata?” kata Louw Cong Kong.

Mendengar pertanyaan Raja Louw, Pangeran Siok Gee girang sekali. Kemudian Pangeran Siok Gee menjawab.

”Dari semua Pangeran, Pangeran Keng Hu-lah yang terpandai. Jika Pangeran Keng Hu yang menjadi raja, maka negeri Louw akan aman dan tentram. Karena sudah lumrah, ketika kandanya meninggal, sang adiklah yang menggantikan kedudukannya!” kata Siok Gee.

Jawaban Siok Gee membuat Raja Louw terperanjat. Tetapi dia diam saja. Sesudah Siok Gee meninggalkannya, buru-buru Raja Louw memanggil Pangeran Kui Yu menghadap. Kepada Pangeran Kui Yu baginda pun menanyakan siapa yang pantas menggantikan dirinya, jika dia wafat.

”Bukankah Tuanku dulu pernah berjanji hendak mengangkat Beng Jim menjadi permaisuri?” kata Pangeran Kiu Yu. ”Sekarang sesudah Beng Jim tidak mendapatkan kedudukan itu,

pantaskah Tuanku sekarang mengabaikan putranya?”

”Ya, kau benar. Tetapi Siok Gee memberi saran padaku, lebih baik aku mengangkat Keng Hu. Bagaimana pendapatmu?” kata Raja Louw Cong Kong dengan napas tersengal-sengal.

”Keng Hu seorang yang kejam, dia tidak kenal budi dan persaudaraan,” kata Kui Yu. ”Siok Gee menyarankan Keng Hu menjadi raja, karena dia saudara kandung Keng Hu. Mereka

berkomplot, maka itu jangan Tuanku hiraukan sarannya. Sekali pun hamba harus mati, hamba tetap akan membela Pangeran Pan!”

Raja Louw Cong Kong mengangguk tanda setuju, tetapi tidak bisa bicara lagi. Baginda

kelihatan sangat kelelahan.

Pangeran Kui Yu sangat sedih melihat penyakit kakaknya yang begitu berat. Dengan amat berat Kui Yu pamit. Kemudian Kui Yu memerintahkan budak istana pergi ke rumah Pangeran Siok Gee. Dia berpesan pada pesuruh itu. ”Katakan pada Pangeran, atas perintah Raja Louw Cong Kong meminta agar Pangeran Siok

Gee menunggu di rumah Tay-hu Kiam Kui. Karena ada utusan Raja yang hendak datang ke

tempat itu menemuinya!” kata Kui Yu.

Ketika pesuruh Kui Yu sampai dan mengabarkan perintah Kui Yu. Bukan main senangnya Siok Gee mendengar khabar itu. Dia bergegas pergi ke rumah Tay-hu Kiam Kui. Tetapi sebelum Siok Gee tiba di rumah Kiam Kui, Pangeran Kui Yu sudah mengirim sebotol arak yang sudah dicampur racun dan bulu burung Tim. Bersama barang itu disertakan sepucuk surat kepada Kiam Kui. Dengan pesan agar Kiam Kui menyerahkan arak dan surat itu kepada Pangeran Siok Gee.

Kedatangan Siok Gee disambut dengan hormat oleh Kiam Kui. Sesudah Siok Gee dipersilahan duduk, Kiam Kiu menyerahkan surat dari Pangeran Kui Yu.

Dengan sangat girang Siok Gee menyambut surat itu karena dia menduga bunyi surat itu pasti

membawa keberuntungan bagi dirinya. Dengan hati-hati sekali dia buka surat itu dan membacanya:

”Raja Louw memerintahkan untuk menghadiahkan kematian kepada Pangeran. Jika Pangeran bersedia meminum arak itu akan segera mati, tetapi anak dan cucu turun-temurun tidak akan kehilangan kedudukannya. Jika menolak, maka Pangeran dan semua sanak-keluarga Pangeran akan dihabisi seluruhnya.

Kui Yu”

Bukan main kagetnya Pangeran Siok Gee setelah membaca surat itu, wajahnya pucat sekali dan sekujur tubuhnya gemetar. Dengan wajah kecut dan mata berkedip-kedip dia menghadap ke arah Kiam Kui, seperti mau minta dikasihani.

”Lekas minum arak itu, Pangeran!” kata Kiam Kui sambil menyodorkan arak bercampur racun itu.

”Ampun, Tay-hu, kasihanilah jiwaku!” ratap Siok Gee yang tidak mau menerima botol arak itu.

Karena Siok Gee menolak maka Kiam Kui lalu memegang kepala Siok Gee dan memaksa meminumkan racun tersebut ke mulut sang pangeran. Sungguh manjur racun tersebut. Seketika itu juga Siok Gee membelalakan matanya. Kemudia roboh. Dari mata, hidung maupun mulut sang pangeran keluar darah. Maka tewaslah Siok Gee dengan sia-sia. Kiam Kui segera mengurus jenazah Siok Gee dan dia mengirim laporan kepada Kui Yu. Pada malam itu Raja Louw Cong Kong menutup mata.

Kui Yu segera mengangkat Pangeran Pan serta mengurus urusan perkabungan atas wafatnya Raja Louw. Kemudian Kui Yu juga mengeluarkan maklumat pada rakyat, pada tahun depan menjadi tahun pertama Raja baru duduk di tahtanya.

Semua negara yang mendapat khabar tentang wafatnya Raja Louw, mereka semua mengirim utusan untuk menyatakan ikut berduka-cita. Jenazah Raja Louw Cong Kong kemudian dikebumikan dengan upacara yang sangat indah.

** Pada musim Tang (Sakju) di bulan Cap-gwe (bulan sepuluh Imlek), karena kakek luar Pangeran Pan, Tong Sin (ayah Beng Jim), meninggal dunia. Pangeran Pan berangkat ke rumah keluarga Tong untuk menjenguk.

Sudah lama Pangeran Keng Hu sedang mencari jalan hendak membunuh Pangeran Pan, saat mendapat kesempatan yang baik ini, dia segera memanggil Gi Jin Kiat. Ketika Gi Jin Kiat datang, Keng Hu bertanya.

”Apa kau masih ingat sakit hatimu pada orang yang menghajarmu?” kata Keng Hu.

”O, masih! Aku tidak bisa melupakannya!” sahut Gi Jin Kiat dengan gemas. ”Apa sudah tiba saatnya aku melakukan pembalasan?”

”Ya, sudah! Ibarat naga atau ular bersayap terpisah dari air, dengan mudah orang bisa membinasakannya. Begitu keadaan musuh besarmu saat ini. Sekarang dia berada di rumah keluarga Tong. Segera kau ke sana bunuh dia! Dengan demikian aku akan menjadi Rajamu!” kata Keng Hu.

”Jika Pangeran bersedia bertanggung jawab, mengapa aku tidak berani melaksanakan perintah itu!” jawab Gi Jin Kiat.

”Baik!” kata Keng Hu.

Gi Jin Kiat senang sekali, dia segera membawa sebilah pisau tajam, sesudah pamit pada Keng Hu, dia berangkat ke rumah famili Tong.

Tiba di sana hari pun hampir tengah malam. Gi Jin Kiat langsung memanjat tembok dan masuk ke dalam pekarangan rumah famili Tong. Sesampai di dalam Gi Jin Kiat bersembunyi di sebuah pondokan yang letaknya ada di ruang bagian luar.

Ketika fajar menyingsing, seorang budak keluarga Tong dari dalam rumah membuka pintu hendak pergi mengambil air. Melihat kesempatan baik itu Gi Jin Kiat mengikuti masuk ke dalam rumah. Dia langsung menghampiri sampai ke kamar Pangeran Pan.

Waktu itu Pangeran Pan sedang turun dari ranjang dan hendak memakai kasut atau sandalnya, setelah melihat Gi Jin Kiat dia terkejut.

”Mau apa kau datang kemari?” bentak Pangeran Pan.

”O, aku datang untuk membalas dendam atas perlakuanmu tahun lalu!” jawab Gi Jin Kiat.

Gi Jin Kiat yang telah maju langsung menyerbu, sedang Pangeran Pan segera mengambil pedang yang diletakan di kepala ranjangnya. Pangeran Pan membacok Gi Jin Kiat, sehingga dahinya terluka. Gi Jin Kiat karena sangat marah, meski pun sudah terluka berat, dia tidak rasakan, dengan tangan kirinya dia menangkap pedang Pangeran Pan, dan dengan tangan kanan mencabut pisau terus menikam iga Pangeran Pan.

”O! Celaka aku kali ini!” teriak Pangeran Pan. Kemudian tubuhnya terguling ke lantai.

”Mampuslah kau!” teriak Gi Jin Kiat sambil menusuk tubuh Pangeran Pan berulang-ulang. Tidak lama kemudian nyawa Pangeran Pan melayang ke alam baka. Ketika para budak di rumah itu mendengar suara jeritan Pangeran Pan, semua kaget sekali. Buru-buru mereka melaporkan hal itu kepada famili Tong.

”Celaka Kongcu Pan telah dibunuh oleh seorang penjahat!” lapor mereka.

Serempak para famili Tong masing-masing membawa senjata tajam, secara bersamaan menyerang pada Gi Jin Kiat.

Waktu itu Gi Jin Kiat baru merasakan luka sangat sakit, dia tidak bisa melawan sebagaimana mestinya. Maka tubuh Gi Jin Kiat pun tercincang hingga hancur.

Mendengar khabar tentang kecelakaan yang terjadi atas Pangeran Pan sehingga pangeran tewas. Kui Yu yakin pasti semua itu perbuatan Keng Hu. Karena Kui Yu khawatir ikut terembet-rembet, segera dia menyingkirkan diri ke negeri Tan.

Pangeran Keng Hu pura-pura marah kepada Gi Jin Kiat. Dia menjatuhkan semua kesalahan kepada si pembunuh tersebut. Dia perintahkan agar pasukan istana membereskan seluruh sanak keluarga Gi Jin Kiat. Ini untuk membuktikan bahwa Keng Hu sangat peduli atas kematian Pangeran Pan tersebut. Dengan demikian Pangeran Keng Hu hendak menarik dukungan dan simpatik rakyat kepadanya.

Kemudian Keng Hu pergi menemui Kiang Si untuk menceritakan tentang hal itu. Alangkah girangnya Kiang Si setelah mengetahui Pangeran Pan sudah binasa. Dia hendak segera mengangkat Keng Hu menjadi raja.

”O, sekarang belum saatnya,” kata Keng Hu pada kekasihnya, ”karena dua Pangeran lagi belum terbunuh! Maka aku belum boleh bertindak!”

”Kalau begitu apa kita harus mengangkat Pangeran Sin?” tanya Kiang Si.

”O, jangan!” sahut Keng Hu. ”Pangeran Sin usianya lebih tua, pasti akan mendapat kesulitan. Lebih baik kita angkat Pangeran Kee.”

Kiang Si menuruti jalan pikiran Keng Hu tersebut. Pangeran Keng Hu segera menjalankan upacara berkabung atas wafatnya Pangeran Pan. Kemudian dia sendiri pergi ke negeri Cee untuk memberi tahu bahwa Pangeran Pan telah wafat. Kemudian Keng Hu menyuap Si Tiao supaya membantu bicara pada Raja Cee Hoan Kong, agar Raja Cee mensahkan pengangkatan Pangeran Kee menjadi raja di negeri Louw.

Atas bantuan Raja Cee yang sudah digosok oleh Si Tiao, Pangeran Kee yang baru berumur 8 tahun itu, diangkat menjadi raja bergelar Bin Kong.

Raja Louw Bin Kong adalah putera Siok Siang, sedang Siok Siang adalah adik permaisuri Kiang Si. Louw Bin Kong terhitung cucu luar dari Raja Cee Hoan Kong. Sekali pun Raja Louw Bin Kong masih sangat muda, tetapi otaknya jernih dan pikirannya tajam. Dengan

hanya melihat tingkah-laku orang, dia bisa tahu bahwa Pangeran Keng Hu dan Kiang Si atau Ai Kiang hendak berkhianat kepadanya. Maka tidak heran di dalam istana dia takut pada setan perempuan, sedang di luar istana dia ngeri kepada iblis lelaki itu.

Oleh karena Raja Louw Bin Kong mengetahui pada masa itu famili luarnya, Raja Cee Hoan Kong sangat berpengaruh. Dia menganggap perlu untuk minta bantuan kepada famili luarnya itu. Maka dengan tidak membuang waktu lagi, Raja Louw Bin Kong mengirim utusan ke negeri Cee. Utusan itu membawa pesan Louw Bin Kong yang memohon pada Raja Cee Hoan Kong untuk bisa bertemu di tanah Lok-kouw (Tanah milik negeri Cee). Permohonan Raja Louw Bin Kong itu oleh Raja Cee Hoan Kong dikabulkan.

Tatkala Raja Louw Bin Kong sudah tiba di tanah Lok-kouw dan bertemu dengan Raja Cee Hoan Kong, sambil memegang lengan baju Raja Cee, Louw Bin Kong menceritakan secara perlahan-lahan. Bagaimana Pangeran Keng Hu punya niat buruk terhadapnya. Dia bercerita begitu dengan tidak hentinya mengucurkan air mata.

Raja Cee Hoan Kong menjadi kasihan sekali pada Louw Bin Kong. Dengan sangat terharu dia berkata, ”O, anakku, kau tidak perlu khawatir. Kau akan kubantu. Sekarang coba kau katakan padaku, di antara para menteri yang ada di negeri Louw, siapa yang paling pandai dan bisa

dipercaya?”

”Hanya Kui Yu yang paling pandai, dan dia dapat diandalkan.Tetapi sekarang dia sudah menyingkirkan diri ke negeri Tan.”

”Mengapa dia tidak kau panggil pulang saja?”

”Hamba khawatir Keng Hu curiga dan akan menghalangi kehendakku.” kata Louw Bin Kong. ”Bilang saja aku yang mengingnkannya begitu, siapa yang berani membantahku?”

”Ya, kalau begitu baiklah,” kata Louw Bin Kong dengan girang. Louw Bin Kong menghaturkan terima kasih.

Kemudian satu sama lain berpisah dan pulang ke negaranya masing-masing.

Begitu sampai di negeri Louw, Raja Louw Bin Kong mengirim utusan ke negara Tan. Utusan itu membawa pesan begini: Atas perintah Raja Cee Hoan Kong, maka Pangeran Kui Yu dipanggil pulang ke negara Louw. Raja Louw Bin Kong berjanji akan menunggu kedatangannya di tanah Long.

Ketika Kui Yu sudah sampai di tanah Long, Raja Louw Bin Kong mengajaknya naik kereta bersama-sama pulang ke negeri Louw. Sesampai mereka di istana, Louw Bin Kong segera mengangkat Kui Yu menjadi Perdana Menteri. Kemudian Raja Louw mengeluarkan maklumat, bahwa diangkatnya Kui Yu atas saran dan permintaan Raja Cee Hoan Kong.

Sehingga semua menteri terpaksa tunduk pada keputusan itu.

Waktu itu jatuh pada tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong yang ke-enam.

Ini tahun pertama Raja Louw Bin Kong memerintah di negara Louw. Pada musim Tang (Gugur), karena Raja Cee merasa khawatir para menteri di negeri Louw tidak melaksanakan kehendaknya dengan baik. Raja Cee memerintahkan Tay-hu Tiong Sun Ciu datang ke negara Louw. Tujuannya untuk memantau dengan seksama, dan mengawasi tigkah-laku Pangeran Keng Hu.

Waktu Tiong Sun Ciu bertemu dengan Raja Louw Bin Kong, Raja Louw yang masih kecil hanya menangis saja. Tetapi tidak bisa bicara. Melihat hal itu Tiong Sun Ciu mengerti apa yang terjadi pada Louw Bin Kong. Tiong Sun Ciu lalu menghiburnya. Kemudian Tiong Sun Ciu menemui Pangeran Sin. Tiong Sun Ciu berbincang dengan Pangeran Sin. Ternyata pangeran ini cekatan dan pandai bicara. ”Nah, ini baru orang yang pantas dan bisa membereskan negara,” pikir Tiong Sun Ciu. Dia memuji kepandaian Pangeran Sin tersebut.

Sesudah itu Tiong Sun Ciu pamit. Tiong Sun Ciu berkunjung ke tempat Pangeran Kui Yu.

”Jagalah Pangeran Sin dengan baik, segera usahakan untuk menyingkirkan Pangeran Keng Hu!” kata Tiong Sun Ciu.

Perdana Menteri Kui Yu memperlihatkan telapak tangannya pada Tiong Sun Ciu.

Melihat kelakuan Kui Yu tersebut Tiong Sun Ciu segera sadar, bahwa Kui Yu bermaksud mengatakan. Jika cuma seorang diri saja, dia tidak bisa bergerak dengan sempurna. Tiong Sun Ciu berjanji akan memberi tahu rajanya, bila terjadi keributan dia tidak akan tinggal diam.

Setelah berbincang sejenak, Tiong Sun Ciu pamit, pergi ke gedung tamu yang memang disediakan untuk dia bermalam.

Malamnya Pangeran Keng Hu berkunjung ke tempat Tiong Sun Ciu bermalam. Dia membawa berbagai persembahkan yang banyak.

Tiong Sun Ciu sudah mengerti maksud kedatangannya itu. Dengan sangat mendongkol dia berkata, ”Jika Kong-cu bisa bekerja setia kepada negerimu, Rajaku akan senang sekali. Kau tidak perlu menyuapku dengan segala bingkisan!” kata Tiong Sun Ciu.

Meski pun Keng Hu berulang-ulang mengucapkan kata-kata manis, dan meminta supaya barang antarannya diterima. Tiong Sun Ciu tetap menolak. Keng Hu cemas dan kesal sekali. Buru-buru dia pamit pulang.

Pada esok harinya....

Tiong Sun Ciu pamit pada Raja Louw Bin Kong dan pulang kembali ke negeri Cee.

Begitu sampai di negerinya dan berjumpa dengan Raja Cee Hoan Kong, dia sampaikan apa yang dialaminya di negeri Louw.

”Tuanku, menurut pendapat hamba, jika Keng Hu tidak disingkirkan, maka kekacauan di negara Louw tidak akan beres-beres!” kata Tiong Sun Ciu.

”Kalau begitu, apa tidak lebih baik aku kerahkan angkatan perang kita untuk mengusir dia?” tanya Cee Hoan Kong.

”Kejahatan Keng Hu belum kentara benar, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membasmi dia!” kata Tiong Sun Ciu. ”Menurut hamba, Keng Hu sudah tidak senang di bawah perintah lagi, maka bisa dipastikan di negeri Louw bakal terjadi huru-hara. Sebaiknya kita tunggu berberapa saat. Bila apa yang hampa perkirakan itu terjadi, barulah kita singkirkan dia!

Dengan demikian alasan kita kuat untuk membasminya!” ”Ya, kau benar,” kata Raja Cee Hoan Kong.

Dugaan dari Tiong Sun Ciu benar-benar terjadi.

Pada tahun ke-dua pemerintahan Raja Louw Bin Kong, napsu Keng Hu hendak merampas tahta kerajaan semakin keras. Dia agak ragu-ragu, karena Raja Louw Bin Kong adalah cucu luar dari Raja Cee Hoan Kong. Ditambah lagi di samping Raja Louw ada Perdana Menteri Kui Yu. Kui Yu dengan sepenuh hati membantunya. Keng Hu tak berani segera bertindak. Pada suatu hari......

Pada saat Keng Hu sedang duduk terpekur dengan pikiran kusut, tiba-tiba penjaga pintu menghadap.

”Di luar ada Tay-hu Pok I minta bertemu.” kata anak buahnya.

Buru-buru Keng Hu keluar untuk menyambut. Dia ajak tamunya masuk ke kamar tulisnya. Sesudah itu dia persilakan tamunya itu duduk.

”Tay-hu apa maksud kedatanganmu ini?” tanya Keng Hu.

”Aku punya beberapa bau sawah, letaknya dekat sawah milik Tay-hu Sin Put Hai,” kata Pok I

dengan sangat marah. ”Semua sawahku sudah dirampas oleh Sin Put Hai dengan paksa!

Masalah ini sudah aku adukan kepada Cu-kong. Tetapi Cu-kong sengaja melindungi Sin Put Hai. Mungkin karena dia gurunya. Malah Cu-kong membujuk aku supaya aku mengalah saja kepada Put Hai. Hal ini tidak kusukai, maka aku datang pada Pangeran supaya kau membantu meluruskan perkara ini. Dan kau mau membujuk Cu-kong supaya berlaku adil!”

Mendengar pengaduan Pok I tersebut seolah Keng Hu punya harapan bagus. Karena dia bisa menggunakan Pok I sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Segera dia perintahkan semua anak buahnya merngundurkan diri dari hadapan mereka.

”Usia Cu-kong masih sangat muda, dia belum tahu apa-apa,” kata Keng Hu. ”Baik akan aku bicarakan masalah ini. Aku rasa dia akan menurut pada nasihatku.” kata Keng Hu sesudah mereka tiggal berdua saja. ”Apalagi jika kau mau membantu usaha besarku, maka urusanmu akan beres sendirinya, bagaimana?”

”Tetapi Kui Yu ada di sini. jika aku bergerak, aku khawatir malah berbalik kita yang akan celaka.” kata Pok I.

”Hai, mengapa kau harus takut kepada Kui Yu? Kau jangan khawatir! Bukankah Cu-kong kita itu masih seperti anak-anak? Di waktu malam dia sering keluar dari pintu istana untuk jalan-jalan di pasar? Maka jika kau menyembunyikan orang di dekat pintu istana. Saat dia keluar segera kalian tikam dia. Kemudian sebarkan khabar bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh seorang penjahat! Siapa yang tahu itu perrbuatan kita?” kata Keng Hu.

”Kemudian pasti Kok-bo (Ibunegara) Kiang Si akan mengangkatku menjadi Raja. Saat itu akan kuusir Kui Yu, kemudian kita bunuh Sin Put Hai. Kemudian kukembalikan sawah- sawahmu. Bahkan kau akan kuberi pangkat. Apa itu tidak bagus?”

Bujukan Keng Hu menarik perhatian Pok I malah dia berjanji dan bersedia bekerja sama

dengan Keng Hu. Sesudah berbincang lagi beberapa saat, Pok I pamit pulang. Beberapa hari kemudian......

Dengan giat Pok I berusaha mencari orang gagah yang mau melaksanakan tugas yang diberikannya. Suatu hari dia bertemu dengan Ciu Ah yang siap melakukan tugas dari Pok I tersebut. Ciu Ah dijanjikan akan diberi hadiah besar, jika dia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ciu Ah dibekali sebilah pisau yang tajam, dan diminta bersembunyi di dekat pintu keluar istana. Mungkin sudah nasib, Raja Louw Bin Kong harus meninggal. Malam itu dia keluar dari istana hendak pergi jalan-jalan.

Kesempatan itu oleh Ciu Ah tidak disia-siakan. Saat Louw Bin Kong lengah, Ciu Ah menikamkan pisau belatinya hingga Louw Bin Kong akhirnya tewas. Para pengikut Raja Louw Bin Kong kaget, mereka berteriak-teriak.

”Ada penjahat! Ada penjahat!”

Mereka langsung mengepung Ciu Ah. Dengan sigap anak buah Louw Bin Kong berhasil menangkap Ciu Ah. Ketika mereka beramai-ramai akan menyeret Ciu Ah, Pok I bersama anak buahnya tiba. Mereka langsung berhadapan dengan anak buah Louw Bin Kong. Karena kalah banyak anak buah Louw Bin Kong lari tunggang-langgang. Sedang Ciu Ah berhasil mereka rebut kembali dari tangan anak buah Louw Bin Kong. Sesudah mendengar peristiwa itu Keng Hu segera pergi ke rumah Sin Put Hai dan langsung membunuhnya.

Ketika Kui Yu mendengar khabar telah terjadi huru-hara di istana, sekalipun masih malam dan gelap Kui Yu menemui Pangeran Sin. Dia bangunkan Pangeran Sin dan menceritakan kejadian yang menimpa Raja Louw. Sehingga bagi Pangeran Sin sangat berbahaya jika tidak pergi dari negeri Louw. Maka Kui Yu lalu mengajak Pangeran Sin melarikan diri ke negeri Chu.

Rakyat sangat suka pada Kui Yu, setelah mereka mengetahui Raja Louw telah tewas dibunuh dan perdana mentri Kui Yu pergi ke negeri orang mereka kalap. Mereka marah sekali kepada Pok I dan sangat benci kepada Keng Hu.

Hari itu juga terjadi kekacauan besar. Pasar dan toko ditutup. Ribuan rakyat berbondong- bondong mendatangi rumah Pok I. Kemudian mereka mengamuk dan membunuh apa saja yang mereka temukan di sana. Dengan demikian Pok I dan sanak-keluarganya habis dibasmi seluruhnya. Sesudah keluarga Pok I habis, massa bergerak dan akan membunuh Keng Hu.

Semakin lama massa jadi bertambah banyak jumlahnya.

Keng Hu sadar rakyat Louw kurang suka kepadanya, maka menurut jalan pikirannya waktu itu, lebih baik dia segera menyingkirkan diri saja. Jika tidak maka pasti dia akan celaka.

Sebelum kabur dan menentukan akan kabur ke mana, Keng Hu berpikir. ”Ketika Raja Cee ingin pulang ke negaranya, Raja Cee pernah meminjam tentara negeri Ki hingga dia bisa kembali Jika mereka aku suap dengan barang berharga, dan Raja Ki tersebut bersedia membujuk Raja Cee, maka jiwaku akan selamat!” begitu Keng Hu berpikir.

Sesudah pikirannya mantap, Keng Hu berdandan seperti seorang saudagar atau pedagang. Sengaja dia isi gerobaknya dengan barang-barang berharga. Dengan hati berdebar dan rasa khawatir Keng Hu diam-diam berangkatcara ke negeri Ki akan minta bantuan.

Mendengar Keng Hu mencari selamat sendiri dan sudah kabur ke negeri Ki, Kiang Si jadi tak tenang. Malah dia berniat menyusul kekasihnya yang kabur itu ke negeri Ki.

”Jangan Tuanku, jangan pergi ke sana,” kata budaknya coba mencegah. ”Lantaran Tuanku bersekongkol dengan Keng Hu, hingga Tuanku berdosa pada Raja dan rakyat negeri Louw. Jika Tuanku pergi menyusul dia dan bergabung kembali, pasti orang tidak mau. Mereka akan mencari Tuanku sampai dapat. Ingat Tuanku, Kui Yu ada di negeri Chu. Dia sangat disayang oleh rakyat Louw. Lebih baik Tuanku ke sana untuk minta dilindungi oleh Pangeran Kui Yu dan minta belas-kasihannya.” Usul budaknya itu disetujui oleh Kiang Si. Maka buru-buru Kiang Si pun melarikan diri ke negeri Chu. Begitu sampai di negeri Chu, dia minta bertemu dengan Pangeran Kui Yu. Tetapi sayang sang pangeran menolak bertemu dengannya.

Setelah Kui Yu tahu Keng Hu dan Kiang Si telah kabur dari negeri Louw, dia ajak Pangeran Sin pulang ke negeri Louw, tetapi sebelum pulang ke negeri Louw, Kui Yu melaporkan kesulitan negeri Louw pada Raja Cee.

Ketika khabar buruk itu sampai kepada Raja Cee Hoan Kong, Raja Cee berunding dengan

Tiong Sun Ciu: ”Sekarang negeri Louw sudah kehilangan rajanya, apa baik jika negeri itu kita ambil alih?” kata Raja Cee.

”Jangan, kita tidak boleh berbuat begitu,” cegah Tiong Sun Ciu. ”Negeri Louw sebuah negeri yang memperhatikan benar peraturan. Sekalipun negerinya kacau, lantaran menterinya berontak, tetapi itu hanya untuk sementara waktu saja. Apalagi Pangeran Sin sangat cerdas, ditambah lagi dia dibantu oleh Pangeran Kui Yu yang mampu membereskan masalah kekacauan di negeri Louw. Maka dalam waktu singkat negeri Louw akan aman sentausa. Itu lebih baik. Maka sebaiknya Tuanku membantu mereka!”

Raja Cee Hoan Kong setuju pada pendapat Sun Tiong Ciu. Maka dia perintahkan Kho He membawa 3000 tentara Cee ke Lam-yang untuk membantu negeri Louw. Tatkala Kho He sampai di negeri Louw, ketika itu Pangeran Sin dan Kui Yu baru saja pulang ke negerinya.

Dengan manis budi Pangeran Sin dan Kui Yu menyambut kedatangan Kho He, dan mereka menghaturkan terima kasih atas bantuan dari Raja Cee tersebut.

Melihat wajah Pangeran Sin yang cakep dan angker, sedang bicaranya sangat sopan, Kho He merasa senang dan sayang kepadanya. Waktu itu juga Kho He berdamai dengan Kui Yu untuk mengangkat Pangeran Sin menjadi raja dan bergelar Louw Hi Kong. Kho He pun memerintahkan tentaranya membantu rakyat Louw membangun kota Lok-bun. Mereka juga ikut mengamankan negeri Louw dari gangguan negeri Ki dan Chu.

Setelah semua urusan beres, Kui Yu memerintahkan pada Pangeran He Su supaya ikut dengan Kho He ke negeri Cee untuk mengucapkan terima kasih pada Raja Cee. Kui Yu juga

mengirim utusan ke negeri Ki untuk minta bantuan agar Raja Ki membunuh Keng Hu dan

dijanjikan akan diberi hadiah besar.

**

Ketika Keng Hu melarikan diri ke negeri Ki, dia sengaja membawa barang berharga dan mempersembahkannya kepada Raja Ki. Dengan demikian kedatangan Keng Hu ke sana diterima dengan baik oleh Raja Ki. Tetapi setelah datang utusan dari negeri Louw yang meminta supaya Keng Hu dibinasakan dan dia dijanjikan akan diberi hadiah besar, maka timbul pikiran tamak dari Raja Ki. Raja Ki segera memerintahkan orang menemui Keng Hu. Orang itu menyampaikan pesan Raja Ki.

”Negeri Ki sangat kecil, karena Keng Hu menumpang di sini, Raja Louw kurang senang. Jika karena gara-gara itu, negeri Ki harus berperang dengan negeri Louw, Raja kami khawatir negeri Ki akan hancur berantakan. Maka Raja kami berharap, Anda meninggalkan negeri kami.” kata utusan Raja Ki. Ucapan utusan Raja KI itu membuat Keng Hu kaget, ia jadi berduka sekali. Dia langsung bengong dan memikirkan nasibnya yang buruk itu. Sesudah utusan pergi Keng Hu jadi bingung harus ke mana dia pergi? Karena Keng Hu terlalu lama mengambil putusan, Raja Ki kurang senang. Kemudian Raja Ki mengirim orang untuk mengusir Keng Hu.

Mau tidak mau maka terpaksa Keng Hu harus angkat kaki dari negeri Ki. Dia teringat kepada Si Tiao yang sudah pernah makan suap darinya, maka dia berharap dia bisa membantu kepadanya. Dari negeri Ki lalu Keng Hu pergi menuju ke negeri Cee.

Dasar orang jahat seperti anjing gudik, sampai ke mana pun dia datang pasti akan diusir orang, begitu juga nasib Keng Hu sekarang. Ketika dia berjalan dan sampai di perbatasan

negeri Cee, pembesar yang bertugas di perbatasan negeri Cee, karena tahu kejahatannnya, lalu menahan Keng Hu di sebuah pondok di tanah bun-sui.

Waktu itu Pangeran He Su yang baru saja menemui Raja Cee dalam perjalanan pulang, sampai di Bun-sui. Begitu dia bertemu dengan Keng Hu, dan mengetahui betapa menderitanya Keng Hu, lalu mengajak Keng Hu pulang ke negeri Louw. Tapi Keng Hu tahu diri berdosa besar, dia menolak ajakan Pangeran He Su tersebut. Dia hanya berpesan dan minta tolong.

”Tolong kau sampaikan permintaan ampunku kepada Raja yang baru dan kepada Kui Yu, jika aku diberi ampun baru aku berani pulang.” kata Keng Hu.

Pangeran He Su berjanji bersedia membantu Keng Hu mengajukan permohonan ampunnya. Begitu sampai di negeri Louw, sesudah mengisahkan perjalannya sebagai utusan ke negeri Cee pada Louw Hi Kong dan Kui Yu, Pangeran He Su lalu menceritakan kesusahan Keng Hu dan menyampaikan permohonan ampunnya.

Mendengar keadaan Keng Hu begitu Raja Louw Hi Kong jadi kasihan pada Keng Hu dan hendak meluluskan permohonannya.

”Jangan, Tuanku jangan ampuni dia,” kata Kui Yu coba mencegah. ”Jika seseorang yang berani membunuh seorang Raja tidak dibinasakan, hal ini akan menjadi contoh yang buruk di kemudian hari.”

Raja Louw Hi Kong menuruti nasihat dari Kui Yu dan mengurungkan niatnya memberi ampun. Kemudian dengan diam-diam Kui Yu menemui He Su.

”Kau pergi temui Keng Hu, katakan padanya. Jika dia mau bunuh diri, maka sanak familinya akan selamat. Tetapi jika tidak jangan salahkan aku!” kata Kui Yu tegas.

Pangeran He Su menerima baik perintah itu, dia pergi lagi ke Bun-sui akan menemui Keng Hu. Sesampai di tempat tersebut dia merasa berat sekali untuk menyampaikan pesan Kui Yu tersebut. Kemudian He Su menangis terisak-isak di depan pintu rumah Keng Hu. Mendengar ada orang menangis di depan pondoknya, Keng Hu terkejut. Dia mengenali suara He Su, karena itu dia menggelengkan kepalanya.

”O, Allah kalau begini aku harus mati!” ratap Keng Hu. Dia sudah putus harapan. ”He Su tidak langsung masuk menemuiku, tetapi dia menangis begitu sedih, pasti permohonan ampunku ditolak.”

Sehabis berkata begitu Keng Hu membuka angkin (ikat pinggang), dengan angkin itu dia menggantung diri di sebuah pohon sehingga mati. Ketika He Su mengetahui Keng Hu sudah mati, dia rawat jenazahnya sebagaimana mestinya,

kemudian baru dia pulang untuk melaporkan peristiwa itu kepada Louw Hi Kong. Meski pun

sang paman jahat, tetapi mendengar kematiannya Louw Hi Kong berduka juga.

Ketika Louw Hi Kong dan Kui Yu sedang duduk membicarakan kematian Keng Hu, tiba-tiba

tiba kabar Raja Ki datang hendak minta uang hadiah atas meninggalnya Keng Hu. Raja Ki mengutus adiknya yang bernama Eng No.

”O, mana bisa begitu!” kata Kui Yu dengan mendongkol. ”Orang Ki tidak pernah menangkap Keng Hu dan mengantarkannya ke sini.Mana bisa mendapat ganjaran!”

Kui Yu minta izin akan mengerahkan pasukan menyambut kedatangan Eng No sebagai utusan Raja Ki itu.

Raja Louw Hi Kong meloloskan pedang yang tersangkut di pinggangnya, kemudian dia serahkan kepada Kui Yu.

”Nama pedang ini Beng-lo, panjangnya tidak sampai satu kaki, tajamnya tidak ada

bandingannya. Pedang ini boleh dianggap sebagai barang wasiat, Paman.” kata Louw Hi Kong.

Kui Yu menghaturkan terima kasih atas pemberian itu, lalu dia sandang pedang Beng-lo tersebut di pinggangnya. Sesudah itu dia pamit pada Louw Hi Kong, dia pimpin tentaranya ke tanah Li (tanah milik negeri Louw).

Di tempat itu baik Kui Yu, maupun Pangeran Eng No sudah mengatur angkatan perangnya

untuk bertempur. Kui Yu berpikir keras.

”Raja Louw baru diangkat menjadi Raja, urusan negara belum rapih. Jika harus berperang dan aku kalah, pasti akibatnya buruk sekali. Aku tahu Eng No gagah, tetapi dia bodoh. Lebih baik akan aku gunakan akal untuk mengalahkannya.” Pikir Kui Yu.

Begitu sudah mantap dengan rencananya, Kui Yu keluar dari barisannya dan minta bicara dengan Eng No. Eng No tidak keberatan, dia keluar dari barisannya untuk menemui Kui Yu.

”Kongcu, sebenarnya kita berdua yang saling bermusuhan. Maka tidak pantas kita menyeret tentara kita yang tidak berdosa. Aku dengar kau gagah dan pandai berperang. ” kata Kui Yu.

”Jika kau bersedia mari kita bertarung satu lawan satu. Mari kita buktikan siapa yang paling jagioan di antara kita?”

”Ya, begitu baik!” sahut Eng No dengan angkuh.

Mereka segera memerintahkan tentaranya mundur. Kemudian Kui Yu dan Eng No berkelahi satu lawan satu. Mereka saling serang-menyerang. Mereka masing-masing mengeluarkan kemampuannya. Tetapi sesudah 50 jurus lebih belum ketahuan muncul pemenangnya.

Putera Kui Yu, yang bernama Hang Hu, usianya baru 8 tahun, dia sangat disayang oleh Kui Yu. Saat itu dia ikut dalam barisan dan menyaksikan ayahnya bertarung. Melihat ayahnya belum memenangkan pertarungan, anak ini tiba-tiba berteriak-teriak.

”Beng-lo ada di mana! Beng-lo ada di mana!” teriaknya. Teriakan putera Kui Yu itu membuat Kui Yu sadar. Dia pura-pura terdesak dan mundur supaya Eng No maju mengejarnya. Saat Eng No mengejar, Kui Yu mengelak. Dengan cepat dia cabut pedang Beng-lo dari sarungnya. Begitu Eng No sudah dekat Kui Yu menebas tubuhnya. Maka sekali tebas Eng No pun binasa. Tetapi pada pedang itu tidak terlihat ada tanda darah sedikit pun.

Tentara Ki yang melihat tuannya telah binasa semua berlarian simpang-siur seperti daun kering tertiup angin. Kui Yu segera memimpin tentaranya pulang sambil bernyanyi.

Kedatangan Kui Yu disambut oleh Raja Louw Hi Kong sendiri di sebuah lapangan. Sesudah kembali ke istana Raja Louw mengangkat Kui Yu menjadi Perdana Menterinya.

”Tuanku tidak perlu memberi kemuliaan terlalu besar pada hamba,,” kata Kui Yu. ”Hamba

dengan Keng Hu dan Siok Gee sama-sama turunan raja almarhum. Karena hendak membela tanah Louw, hamba telah meracun Siok Gee dan menggantung Keng Hu. Karena demi negara, terpaksa hamba membinasakan mereka! Sekarang kedua pangeran sudah lenyap, jika hamba terima hadiah dari Tuanku maka hamba sangat malu.”

”Tapi mereka berdua jahat! Apa tidak boleh aku memberi karunia pada Paman?” kata Louw Hi Kong.

”Tidak, memang tidak ada salahnya,” sahut Kui Yu. ”Meski pun mereka berniat jahat, tetapi perbuatannya belum terbukti! Maka hamba usul agar Tuanku membebaskan keluarganya dan mengangkat kembali keluarga mereka. Dengan demikian hubungan persaudaran kita tetap kekal!” kata Kui Yu.

”Ya, baiklah,” sahut Hi Kong, yang segera mengizinkan Kong-sun Go dan Kong-sun Chu, masing-masing putra Keng Hu dan Siok Gee meneruskan jabatan ayah mereka. Yang satu dihadiahi tanah di Seng, yang lain mendapat tanah di Houw. Sementara Kui Yu tetap menjadi perdana menteri.

***

Pada tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong yang ke-17.....

Bangsa Tek menyerang ke negeri Heng, dari situ mereka berpindah menyerang ke negeri We. Raja We karena tidak tahan, mengirim utusan minta bantuan kepada Raja Cee. Tetapi Raja Cee yang sudah berjanji hendak membantunya, tidak segera mengerahkan tentaranya, karena masih menunggu sampai musim Cun. Pada musim Cun itulah baru Raja Cee akan mengerahkan tentaranya. Dia akan bergabung dengan tentara Raja Muda yang lain. Karena saat diminta bantuan tentara Cee masih kelelahan sehabis melabrak bangsa Jiong.

Di musim Tang, menteri dari negeri We yang bernama Leng Sok, datang ke negeri Cee. Dia memberitahu pada Cee Hoan Kong.

”Bangsa Tek telah menghancurkan negeri We dan membunuh Raja We I Kong.” kata menteri Leng Sok. ”Sekarang kedatangan hamba kemari hendak menyambut Pangeran Hui akan

diangkat menjadi raja di negeri We.”

Alangkah kagetnya Raja Cee Hoan Kong ketika mendengar khabar buruk itu. Sedikit pun dia tidak menyangka negeri We begitu cepat runtuhnya.

(Kisah ini mundur sedikit ke belakang.) Ketika tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong ke-9. Raja We I Kong ketika itu baru bertahta di negeri We. Setelah menjadi raja sembilan tahun lamanya, sifatnya berubah menjadi buruk. Dia selalu bersenang-senang dan malas. Dia juga sombong sekali. Tegasnya dia tidak mau menghiraukan urusan negara.

Kegemaran We I Kong adalah memelihara burung bangau. Setiap hari dan setiap dia keluar berjalan-jalan selalu membawa sekawanan burung bangaunya. Dia samakan burung bangau

itu seperti pengikutnya. Orang-orang yang merawat burung bangaunya digaji bagus. Raja We

juga membiarkan anak buahnya memeras rakyat. Hasil pajaknya oleh dia dipakai berfoya- foya. Raja We tidak memperdulikan rakyatnya menderita kelaparan, asalkan bangau- bangaunya gemuk-gemuk.

Pangeran Hui adalah paman dari Raja We I Kong. Sudah berkali-kali Pangeran Hui menasihati Raja We. Tetapi Raja We I Kong tidak mau mendengarkan nasihatnya.

Buru-buru Pangeran Hui pindah ke negeri Cee. Raja Cee Hoan Kong malah menikahkan dia dengan anak perempuan famili Raja Cee. Pangeran Hui pun jadi betah tinggal di negeri Cee.

Raja bangsa Tek, So Mhoa namanya. Dia mempunyai beberapa ribuan tentara. Setiap saat dia berniat mengacau di daratan Tiongkok. Tatkala Raja So Mhoa mendengar khabar Raja Cee pergi menyerang kaum Jiong, dia gusar sekali,

”Jika Raja Cee berani menyerang ke negeri yang jauh, pasti dia juga suatu ketika bisa menyerang negaraku,” kata Raja So Mhoa. ”Sebelum mereka menyerang ke negaraku, lebih baik aku dahului mereka!”

Kemudian raja bangsa Tek ini mengerahkan 20.000 tentaranya menyerang ke negeri Heng. Mereka berhasil menaklukkan Raja negeri Heng. Kemudian serangan mereka dipindahkan ke negeri We.

Ketika bangsa Tek mulai menyerang negeri We, waktu itu We I Kong hendak memuat

bangau-bangaunya ke dalam kereta, karena dia akan pergi jalan-jalan. Dia kaget sekali ketika tiba-tiba diberi tahu, bahwa orang Tek datang menyerang negaranya. Dia batalkan niatnya berjalan-jalan. Lalu menyiapkan angkatan perang untuk menghadapi musuh.

Raja We I Kong memberi hadiah sebuah gelang batu giok kepada Cio Ki Cu; dan hadiah anak panah pada Leng Sok. Dia minta mereka berjaga mengamankan negaranya.

”Sekarang urusan di dalam negeri semua aku serahkan kepada kalian berdua,” kata We I

Kong. ”Di dalam peperangan ini, jika aku tidak bisa mengalahkan bangsa Tek, pasti aku tidak akan pulang kembali.”

Dua Tay-hu tersebut merasa terharu mendengar ucapan junjungannya itu. Dengan air mata berlinang-linang mereka berjanji akan memperhatikan pesan tersebut.

Sesudah meninggalkan pesan itu, We I Kong mengumpulkan kereta perang dan tentaranya. Dia memerintahkan Ki Khong menjadi Tay-ciang (Jenderal Besar), I Pek menjadi pembantunya, Ui I menjadi Sian-hong (Pemimpin Pasukan Pelopor), Khong Eng Ce memimpin pasukan bala-bantuan di bagian belakang. Raja We keluar akan membangun perkemahannya. 

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain