Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 10

Bab 10

”Jika di depan kita ada sungai yang menghadang,” kata Koan Tiong, ”sebaiknya kita tahan

tentara kita di sini! Kita atur penjagaan dengan baik. Pertama-tama kita kirim orang untuk menyelidiki keadaan sungai itu. Harus kita ketahui berapa dalam dan ceteknya air sungai itu. Kemudian baru tentara kita dimajukan.”

Cee Hoan Kong setuju pada pendapat Koan Tiong. Kemudian dia perintahkan seorang mata- mata pergi mencari tahu keadaan sungai dan posisi musuh mereka saat itu.

Tidak berapa lama mata-mata yang dikirim tersebut sudah kembali lagi melapor kepada Cee

Hoan Kong.

”Turun dari gunung sekitar lima li jauhnya, di situ menghadang sebuah sungai bernama Pi-ji. Sungai itu luas dan dalam sekali. Sekalipun di musim Tang (dingin/salju) air sungai itu tidak bisa beku. Tadinya di tempat itu disediakan rakit-rakit untuk orang menyeberangi sungai tersebut, tetapi sekarang rakit-rakit itu sudah diangkut oleh raja Kho-tiok ke seberang sana! Maksudnya supaya tentara Cee tidak bisa menyeberangi sungai tersebut. Semakin kita ke sebelah kanan, air sungai itu semakin dalam. Tetapi jika terus berjalan ke sebelah kiri kira- kira tiga li jauhnya, sekalipun sungainya lebih luas, tapi airnya sangat dangkal. Jika orang turun dan berjalan kaki di air tersebut, dalamnya hanya sebatas lutut saja.”

”Hai, kalau begitu terbukti alamat malaikat Ji-ji itu benar!” kata Cee Hoan Kong girang.

”Syukur, sungguh syukur sekali!” kata Yan Cong Kong. ”Sepengetahuanku, orang belum pernah mengetahui ada bagian sungai Pi-ji yang bisa diseberangi dengan cara dituruni atau ngerobok?”

”Dari sini ke Kota-raja Kho-tiok masih berapa jauh?” tanya Cee Hoan Kong.

”Lewat sungai Pi-ji kita berjalan lagi menuju ke arah timur,” sahut Raja Yan, ”pertama kita akan bertemu gunung Toan-cu-san, ke-dua gunung Ma-pian-san, ke-tiga gunung Song-cu-san. Kita terus berjalan melewati tiga gunung tersebut, sesudah 30 li jauhnya, kita akan menemukan tiga buah kuburan raja Kho-tiok di zaman Kerajaan Siang. Sesudah berjalan lagi 20 li maka sampailah kita di kota Bu-te-shia, yaitu ibukota negeri Kho-tiok.”

Dengan tidak menunggu sampai Raja Cee Hoan Kong bicara, Houw Ji Pan minta izin akan bergerak bersama angkatan perangnya lebih dahulu.

”Tunggu dulu, sekarang pasukan perang kita harus diatur lagi,” kata Koan Tiong. ”Jika tentaramu saja yang maju sendiri, bagaimana jika dihadang oleh musuh. Kau akan terkepung sendiri. Maka pasukan harus dipecah dan bergerak dari dua jurusan!”

Raja Cee Hoan Kong dan panglima yang lain pun sepakat pada pendapat Koan Tiong tersebut. Koan Tiong segera memerintahkan tentaranya menebang bambu untuk dibuat rakit atau getek. Karena pekerjaan itu dikerjakan oleh orang banyak, ditambah lagi Cee Hoan Kong sangat baik pada semua tentaranya. Maka dengan gembira mereka mengerjakan rakit itu dengan cepat sekali. Dalam waktu singkat sudah ratusan rakit selesai. Koan Tiong segera memerintahkan agar rakit-rakit itu dimuati kereta perang dan kuda mereka. Kemudian rakit itu diseret ke tepi sungai. Begitu seluruh rakit sudah terkumpul di kaki gunung, Koan Tiong membagi tentara Cee menjadi dua bagian. Ong-cu Seng Hu dan

Kho Hek mengepalai satu pasukan tentara. Pasukan tersebut dijadikan barisan depan. Dengan

naik rakit mereka akan menyeberang dari sebelah kanan. Kong-cu (Pangeran) Kai Hong dan

Si Tiao ikut bersama Raja Cee Hoan Kong membawa pasukan belakang untuk menjadi pasukan pembantu. Pin Si Bu dan Houw Ji Pan mengepalai satu pasukan tentara barisan depan. Dengan cara menerjuni sungai itu, mereka menyeberang dari sebelah kiri.

Koan Tiong dan Lian Ci ikut bersama Yan Cong Kong memimpin barisan belakang. Sesudah ada di seberang pasukan itu berkumpul di gunung Toan-cu-san.

Raja negeri Kho-tiok, Tap Li Oh tinggal di kota Bu-te-shia. Karena sudah lama tidak

mendapat kabar tentang pasukan Cee yang ada di seberang sungai, dia memerintahkan mata- matanya untuk menyelidik di sungai Pi-ji. Ketika mata-matanya itu sampai di tepi sungai, saat itu mata-mata itu melihat seluruh sungai sudah penuh oleh rakit-rakit bambu tentara Cee. Di atas rakit terdapat kereta perang, kuda-kuda dan tentara Cee yang siap menyeberangi sungai Pi-ji. Melihat hal itu buru-buru mata-mata itu pulang dan melapor pada Tap Li Oh.

Mendengar laporan dari mata-matanya, bukan main kagetnya Tap Li Oh. Segera dia perintahkan Jenderal Hong Hoa mengepalai 5000 tentara untuk menghadang majunya tentara musuh.

Raja Bit Louw kaget dan merasa ngeri, tetapi karena malu, dia diam dan mencoba menabahkan hatinya.

”Biar aku dan Sok Moai yang akan memimpin pasukan depan!” kata Bit Louw.

”Tidak usah!” kata Jenderal Hong Hoa. ”Orang yang sudah menjadi pecundang tidak ada gunanya diajak maju lagi ke medan perang!”

Raja Bit Louw dan Jenderal Sok Moai mendongkol sekali, tetapi tidak bisa bicara apa-apa. Dengan sombong Jenderal Hong Hoa naik kuda berangkat ke medan perang. Melihat jenderalnya yang gagah berani itu, Tap Li Oh senang sekali. Dia yakin panglima perangnya itu akan mampu mengusir musuh mundur dari negerinya. Tetapi dia merasa kasihan kepada Bit Louw yang duduk bengong saja seperti patung. Lalu dia hibur Bit Louw dengan manis.

”Gunung Toan-cu-san yang letaknya di bagian barat-daya, merupakan jalan yang sangat penting. Aku harap kau bersama Sok Moai mau menjaga tempat itu. Aku akan menyusul belakangan!” kata Tap Li Oh.

Raja Bit Louw setuju menerima perintah itu, sekalipun hatinya sangat mendongkol kepada Jenderal Hong Hoa yang telah menghinanya.

Sebelum pasukan Jenderal Hong Hoa sampai ke tepi sungai, mereka telah berpapasan dengan pasukan Kho Hek yang berjalan di depan.

Kedua pasukan itu dengan tidak banyak bicara lagi langsung serang-menyerang dengan seru sekali. Memang benar tenaga Jenderal Hong Hoa sangat kuat. Baru bertarung beberapa jurus Kho Hek tidak sanggup melawannya. Ketika Kho Hek berniat kabur, untunglah Ong-cu Seng Hu sudah keburu datang. Melihat musuh yang baru datang, Hong Hoa meninggalkan Kho Hek dan menyerang Ong-cu Seng Hu; serangan itu langsung disambut, sehingga mereka berdua jadi bertempur dengan seru sekali. Kali ini Hong Hoa ketemu tandingannya, sehingga sekalipun sudah bertempur 50 jurus lebih, belum ada yang menang atau kalah.

Sementara itu Raja Cee bersama pasukan besarnya telah sampai, Pangeran Kai Hong di sebelah kanan, Si Tiao di sebelah kiri, dengan berbareng datang menerjang pasukan musuh.

Jenderal Hong Hoa ketika melihat datangnya bala-tentara Cee seperti sekawanan lebah banyaknya, dia jadi panik dan merasa jerih, buru-buru dia balikkan kudanya untuk melarikan diri.

Panglima dan tentara Cee segera mengamuk dengan sengit, sehingga 5000 tentara Kho-tiok telah binasa lebih dari separuhnya. Sisanya semua menyerah pada pasukan Cee.

Setelah Jenderal Hong Hoa kabur cukup jauh dari medan pertempuran, dan suara riuh pun

sudah tidak kedengaran lagi, barulah dia berani menoleh ke belakang. Bukan main kagetnya, sebab tidak seorang pun tentaranya yang ikut bersamanya. Sambil uring-uringan dia melarikan kuda tunggangnya, ketika hampir sampai di gunung Toan-cu-san, dia menjadi semakin kaget, sebab di tempat itu sudah penuh pasukan berbendera negeri Cee, Yan dan Bu Ciong.

Ternyata itu pasukan Pin Si Bu dan yang lainnya yang telah menyeberangi sungai dengan cara ngerobok (masuk) ke sungai Pi-ji. Mereka juga sudah bisa menduduki gunung milik tentara musuh.

”Wah, kali ini celaka aku!” pikir Hong Hoa yang gemetar sekujur tubuhnya,

Dia tahan kudanya dan tidak berani lewat di tempat itu. Sesudah diam seketika lamanya dan sudah dapat berpikir, dia tinggalkan kudanya. Dengan menyamar menjadi penebang kayu, dari jalan kecil dia merayap di kaki gunung, dengan demikian selamatlah dia.

Ketika itu tentara Raja Cee Hoan Kong sudah mendapat kemenangan besar. Dia bersama tentaranya maju dan sudah sampai di gunung Toan-cu-san. Di sini seluruh tentara Cee bergabung dengan yang lainnya. Mereka segera mendirikan perkemahan mereka di tempat itu. 

**

Dikisahkan Raja Bit Louw yang mendapat perintah dari Tap Li Oh. Dia bersama Jenderal Sok Moai memimpin pasukannya, tetapi baru berjalan sampai di gunung Ma-pian-san, dia telah mendapat kabar bahwa gunung Toan-cu-san sudah diduduki oleh musuh. Karena angkatan perang Cee sangat tangguh, Bit Louw tidak berani merebut kembali gunung itu. Kemudian dia mendirikan perkemahannya di gunung Ma-pian-san.

Ketika Jenderal Hong Hoa sudah berjalan cukup jauh dan sampai di gunung Ma-pian-san. Hong Hoa mengenali pasukan perang yang ada di situ orang sendiri. Kebetulan sekali pada waktu itu perutnya sedang kelaparan. Dia berharap di tempat itu dia bisa mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya. Buru-buru dia datang ke perkemahan itu. Begitu sampai Hong Hoa langsung bertanya pada pengawal perkemahan.

”Siapa pemimpin pasukannya?” kata Hong Hoa. ”Raja Bit Louw!” jawab yang ditanya. Mendengar jawaban itu Jenderal Hong Hoa jadi tidak enak hati. Dia ingat di depan rajanya dia telah menghina Raja Bit Louw dan panglimanya itu. Jika raja negeri San-jiong itu mengetahui dia kalah, pasti dia akan diejeknya. Tadinya Hong Hoa akan meneruskan kembali perjalannya dengan menahan lapar ke kota Bu-te-shia, tetapi karena perutnya sangat kelaparan, terpaksa sekalipun malu dia masuk juga ke perkemahan itu.

Melihat Jenderal Hong Hoa datang dalam keadaan payah, Raja Bit Louw segera mengetahui, bahwa Hong Hoa telah kalah perang. Karena Bit Louw masih ingat bagaimana Hong Hoa telah mengejek dia, maka Bit Louw berpikir.

”Inilah saatnya aku membalas ejekannya!” pikir Bit Louw.

”Aku dengar kau jago perang dan tidak pernah kalah, eh mengapa kau berpakaian begini dan datang sendirian kemari?” kata Bit Louw sinis sambil tersenyum.

Mendengar ejekan itu Hong Hoa malu bukan main. Mukanya berubah merah, tetapi saking kelaparan, apa boleh buat dia ceritakan tentang kekalahanya. Kemudian dia dengan terpaksa menebalkan mukanya minta makanan.

Kembali Bit Louw tersenyum dan menyindir, dengan sengaja dia tidak mau memberi apa yang diminta oleh Hong Hoa, tetapi hanya memerintahkan orangnya memberinya nasi kering dan air mentah saja.

Jenderal Hong Hoa sangat mendongkol, tetapi dia tidak berani berkata apa-apa. Terpaksa dia makan nasi kering itu sekedar untuk menahan rasa laparnya. Kemudian dia minta diberi seekor kuda tunggang, karena dari situ ke kota Bu-te-shia perjalanannya masih sangat jauh. Sengaja Bit Louw memberinya seekor kuda yang kaki terluka dan agak pincang.

Jenderal Hong Hoa tidak berani menampik pemberian itu, lalu dia pamit pada Bit Louw dan berangkat menuju ke kota Bu-te-shia.

Begitu Hong Hoa sudah pergi, Bit Louw dan Sok Moai tertawa terbahak-bahak. Mereka senang sekali sebab sudah bisa membalas penghinaan pada panglima yang sombong itu.

Di sepanjang jalan Hong Hoa merasa gemas dan kesal sekali kepada Bit Louw, karena selain sudah dihina, dia juga dikasih kuda yang jalannya pincang, sehingga memperlambat perjalanannya. Mulut Hong Hoa tidak hentinya mengomel panjang pendek, dia merasa sangat sakit hati dan bersumpah akan membalas hinaan tersebut. Begitu sampai di kota Bu-te-shia, langsung Hong Hoa menemuin Tap Li Oh, dan langsung melapor.

”Karena di tepi sungai Pi-ji tidak dijaga, sehingga tentara musuh bisa menyebrang dengan gampang. Begitu sampai hamba dikalahkan oleh panglima Cee.” kata Hong Hoa.

Raja Tap Li Oh kaget dan kebingungan. Wajahnya berubah pucat pasi. Melihat hal itu perdana menterinya yang bernama Gut Lut Kouw menghiburnya.

”Tuanku jangan cemas,” kata Gut Lut Kouw. ”Aku masih bisa berdaya mengusir musuh!” ”Bagaimana caranya?” tanya Tap Li Oh.

”Di sebelah utara negeri kita ada sebuah padang pasir yang disebut See-cek. Tempat itu sangat gersang. Rumput dan tumbuh-tumbuhan di sana tidak jadi karena tidak ada air setetespun.” kata Gut Lut Kouw. ”Sejak dahulu kala tempat itu dijadikan tempat membuang mayat orang yang meninggal di negeri ini. Tidak heran jika di tempat itu bergeletakan tulang- belulang manusia. Celakannya, kata orang di tempat itu ada angin jahat sering bertiup. Jika ada orang yang terserang angin itu bisa celaka.”

”Hm! Sungguh berbahaya!” kata Tap Li Oh.

”Benar, tuanku. Selain gersang tempat itu jalannya sulit dikenali. Jika ada orang salah jalan

sulit bisa keluar dari situ. Kita harus mengirim orang yang berpura-pura tunduk pada tentara

Cee. Orang ini harus memancing musuh supaya terjebak masuk ke daerah itu. Dengan tidak

usah berperang musuh akan rusak berat. Jika mereka sudah tidak bersemangat lagi, kita labrak mereka habis-habisan!” kata Gut Lut Kouw.

”Apa tentara Cee bisa kita pancing ke sana?” kata Tap Lie Oh masih sangsi.

”Sudah pasti mereka akan datang,” sahut Gut Lut Kouw. ”Caranya memancing mereka begini: Tuanku bersama keluarga harus bersembunyi di Yang-san. Rakyat harus meninggalkan kota dan bersembunyi juga. Dengan demikian kota jadi sunyi-senyap.

Perintahkan seorang panglima tuanku untuk pura-pura menyerah. Jika ditanya katakan pada Raja Cee, bahwa tuanku sudah kabur ke See-cek untuk meminjam tentara. Jika mereka mendengar penjelasan ini, pasti Raja Cee akan mengejar kita ke See-cek. Jelas mereka akan masuk ke dalam jebakan kita, bukan?” kata Gut Lut Kouw.

Raja Tap Lie Oh sangat girang dia tertawa terbahak-bahak. ”Aku setuju,” kata Tap Li Oh.

”Tuanku izinkan hamba menjalankan tipu pura-pura menyerah pada mereka!” kata Jenderal Hong Hoa.

”Ya, baik, aku izinkan!” kata Tap Lie Oh.

Raja memerintahkan 1000 tentaranya kepada Hong Hoa dengan pesan harus berhati-hati. Hong Hoa berjanji akan memperhatikan pesan itu, lalu ia pamit pergi akan melaksanakan tipu-muslihatnya.

Raja Tap Li Oh mengeluarkan perintah pula agar rakyat negeri pergi bersembunyi di sela-sela gunung, sedang dia dan seluruh menterinya bersama keluarganya pergi bersembunyi juga.

Dengan demikian keadaan kota Bu-te-shia menjadi kosong dan sepi sekali.

Ketika Hong Hoa baru sampai di tengah jalan mencari akal. Dia berpikir bagaimana caranya supaya Raja Cee mau percaya bahwa dia takluk sungguh-sungguh. Sesudah dipikir-pikir, akhirnya dia mendapat ide bagus.

”Sebaiknya aku bunuh Raja Bit Louw dengan membawa kepala raja San-jiong itu, pasti Raja Cee akan percaya sekali aku takluk kepadanya. Dengan demikian aku juga bisa membalas sakit hatiku.” pikir Hong Hoa. ”Rajaku pun, aku rasa tidak akan marah aku membunuh dia. Karena ini demi berhasilnya tipu-muslihat Gut Lut Kouw!”

Sesudah berpikir begitu Hong Hoa pergi ke gunung Ma-pian-san akan menemui Bit Louw. Waktu itu Raja Bit Louw masih belum bertempur dengan pasukan Cee, karena masing- masing tidak berani sembarangan maju perang. Ketika Raja Bit Louw mendapat kabar Jenderal Hong Hoa datang dengan membawa bala-bantuan, dengan sangat girang dia keluar dari bentengnya dan menyambut kedatangannya. Melihat Raja Bit Louw datang menyambut, dengan menggunakan saat yang baik itu, Hong Hoa mengayunkan goloknya menabas leher Raja Bit Louw hingga terjatuh ke tanah dan tewas.

Melihat rajanya dibunuh, Jenderal Sok Moai sangat marah, segera dia mengambil golok dan naik kuda, langsung menyerang Hong Hoa. Tetapi Hong Hoa tidak tinggal diam, dia melakukan perlawan yang hebat. Maka terjadilah peperangan yang kacau antara pasukan Bit Louw dengan pasukan Hong Hoa.

Berperang belum beberapa jurus, Sok Moai merasa tidak sanggup melawan Hong Hoa, dia melarikan kudanya ke benteng Houw Ji Pan untuk menyerahkan diri. Tetapi Houw Ji Pan tidak menerima begitu saja, dia perintahkan tentaranya menangkap Sok Moai, dan segera dipenggal batang lehernya. Setelah Hong Hoa mengalahkan tentara Raja Bit Louw, dia pimpin pasukannya ke markas tentara Cee dengan maksud menyarah. Sesampai di benteng tentara Cee, Hong Hoa minta bertemu dengan Raja Cee. Di hadapan Raja Cee dia serahkan kepala Raja Bit Louw.

”Di mana rajamu sekarang?” tanya Cee Hoan Kong.

”Raja kami sudah kabur ke daerah See-cek, dia akan minta bantuan. Hamba sudah menasihatinya supaya menyarah, tetapi Raja hamba menolak. Hamba sendiri segera datang untuk minta ampun kepada tuanku,” kata Hong Hoa. ”Jika tuanku mau hamba bersedia menjadi penunjuk jalan mengejar mereka!”

Mendengar keterangan Jenderal Hong Hoa yang rapih, ditambah dia membawa bukti kepala Raja Bit Louw, Raja Cee Hoan Kong jadi percaya sekali pada keterangannya. Raja Cee langsung setuju dan minta Hong Hoa menjadi penunjuk jalan bagi mereka. Maka berangkatlah tentara gabungan pimpinan Cee Hoan Kong menuju ke See-cek dan akan dituntun jalannya oleh Jenderal Hong Hoa yang baru menyerah. Karena khawatir Tap Lie Oh keburu kabur jauh, Raja Cee Hoan Kong meninggalkan rekannya Raja Yan Cong Kong dan tentaranya untuk menjaga kota yang baru direbutnya. Raja Cee membawa seluruh angkatan perangnya. Sekalipun masih lelah Cee Hoan Kong bernafsu mengejar musuh.

Jenderal Hong Hoa girang sekali hatinya. Kebetulan Raja Cee Hoan Kong pun setuju dia berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Dia hanya didampingi oleh Jenderal Kho Hek dari tentara Cee. Berangkatlah Raja Cee Hoan Kong dengan cepat menuju ke See-cek. Dengan bersemangat tentara Cee seperti berlomba maju terus.

Sekalipun tentara Raja Cee Hoan Kong telah berjalan cepat, tetapi mereka masih saja ketinggalan jauh oleh Hong Hoa. Mereka semua jadi sangat heran. Anehnya tidak lama Jenderal Hong Hoa pun sudah tidak kelihatan lagi bayang-bayangannya. Lenyap seperti ditelan hantu.

Sementara langit pun mulai gelap tandanya hari telah sore. Sejauh mata memandang yang tampak hanya hamparan padang pasir saja. Yang tampak hanya padang pasir yang rata dan remang-remang putih. Kabut bergulung-gulung membuat cahaya langit menjadi semangkin gelap. Angin yang dingin meniup tidak hentinya. Lama-lama tentara yang tadinya merasa nyaman tertiup angin itu, sekarang mulai merasakan tidak enak. Tubuhnya sakit dan kepala mereka mulai pening. Memang ternyata tempat itu sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin tentara dan kuda akan binasa karenanya. Waktu itu Raja Cee Hoan Kong dan Koan Tiong sedang berdampingan di atas kuda mereka.Melihat dan merasakan keadaan yang kurang nyaman itu Koan Tiong berbisik pada Raja Cee Hoan Kong.

”Hamba pernah mendengar di daerah utara ada padang pasir yang sangat berbahaya! Barangkali ini tempatnya. Lebih baik jangan kita teruskan pengejaran ini,” bisik Koan Tiong.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain