Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 09

Bab 09

Selang enam hari kemudian......

Sengaja setiap hari selama seminggu Liang Ci pergi menantang perang, tetapi tentara Jiong tidak mau keluar untuk bertempur.

Ketika itu Koan Tiong memperkirakan Pin Si Bu bersama Houw Ji Pan dan pasukannya sudah hampir sampai di sarang bangsa San-jiong. Koan Tiong segera menyiapkan angkatan perangnya untuk menerjang ke benteng musuh.

Segera Koan Tiong memerintahkan semua anak buahnya mengangkut sekarung tanah. Tanah tersebut dimaksudkan untuk menutupi galian yang dibuat oleh musuh. Begitu pasukan Cee sampai, mereka harus melemparkan karung berisi tanah itu ke dalam lubang atau parit. Lama kelamaan parit itu akan tertutup kembali dan bisa dilewati oleh kereta perang tentara Cee.

Begitu persiapan pasukan Cee yang besar jumlahnya sudah beres, mereka bergerak maju sambil bersorak-sorak. Ketika mereka sudah sampai di mulut gunung, sambil bersorak-sorak dan mengangkuti tanah mereka singkirkan batu besar dan balok yang menghadang di mulut jalan.

Ketika serangan yang bergelombang itu datang, Raja Bit Louw dan Jenderal Sok Moai sedang enak-enak berpesta-pora sambil minum arak. Mendengar suara teriakan dan sorak-sorai yang riuh sekali, mereka kaget. Tiba-tiba anak buahnya datang melapor.

”Tentara Cee sudah datang menyerang masuk dari mulut gunung.” kata anak buahnya.

Dengan sangat tergopoh-gopoh raja San-jing bersama Jenderal Sok Moai mengambil senjata mereka. Mereka naik ke atas kuda hendak menyambut serangan musuh. Tetapi di saat sedang panik datang laporan baru. ”Dari sebelah barat pasukan Cee datang menyerang!” kata pelapor tersebut.

Mendengar kabar tersebut Jenderal Sok Moai bingung, karena yakin tidak akan mampu membendung serangan musuh yang bagaikan air bah itu. Buru-buru Sok Moai mengajak Raja Bit Louw melarikan diri ke arah tenggara.

Ketika Pin Si Bu melihat raja dan jenderal bangsa San-jiong kabur, dia mencoba mengejarnya. Dia kejar mereka sampai beberapa li jauhnya, tetapi karena melihat jalan gunung tersebut sangat berbahaya, sementara orang San-jiong melarikan kudanya seperti terbang, Pin Si Bu tidak yakin bisa menyusul mereka. Maka apa boleh buat terpaksa Pin Si Bu kembali.

Dalam peperangan ini tentara Cee berhasil merampas perbekalan dan kuda-kuda serta kerbau, kambing maupun alat senjata musuh. Sedang perempuan-perempuan rampasan dari negeri Yan pun sudah bisa dibebaskan kembali. Karena tidak punya pilihan, rakyat bangsa San-jiong bersedia menyerah kepada Raja Cee Hoan Kong.

”Ke mana kaburnya Raja kalian?” kata Cee Hoan Kong.

”Negeri kami bertetangga dengan negeri Kho-tiok, kami sangat rukun. Dulu Raja kami

mengirim utusan untuk minta bantuan pada mereka. Tetapi sebelum bantuan datang, kami sudah dikalahkan oleh tuanku! Kami rasa mungkin Raja kami lari ke sana!” kata orang yang ditanya.

”Apakah negeri Kho-tiok itu kuat?” tanya Raja Cee. ”Berapa jauhnya negeri itu dari sini?”

”Kho-tiok sebuah negara cukup besar terletak di sebelah tenggara,” sahut orang itu. ”Dari sini sekitar 100 li jauhnya. Di negeri itu ada sungai bernama Pi-ji, jika kita sudah menyeberangi sungai itu, maka kita sudah ada di tapal batas negeri Kho-tiok. Tetapi jalan dan

pegunungannya sangat berbahaya!”

”Aku tidak peduli bagaimana berbahayanya,” kata Raja Cee. ”Aku pikir bangsa Kho-tiok sahabat bangsa San-jiong, pasti sama jahatnya! Aku tidak takut mereka kuat, tetapi kami harus menaklukkannya, baru aku puas!”

Mendengar niat Raja Cee ini, rakyat bangsa San-jiong jadi ngeri. Ketika itu Kho Hek yang mendapat perintah dari Pao Siok Gee untuk mengangkut 50 kereta ransum sudah kembali. Hal ini menambah kegembiraan Raja Cee. Sesudah istirahat mereka kemudian meneruskan perjalanan mereka.

***

Raja Bit Louw dan Jenderal Sok Moai dan sisa pasukannya kabur ke negeri Kho-tiok. Begitu sampai mereka langsung menemui Tap Li Oh raja negeri Kho-tiok. Bit Louw berlutut di hadapannya sambil menangis. Kemudian Bit Louw menceritakn kekalahannya dari tentara negeri Cee.

Mendengar pengaduan Bit Louw, Tap Li Oh terkejut. Dia bangunkan Bit Louw yang sedang berlutut di hadapannya. ”Aku menyesal belum sempat mengirim pasukan kepadamu,” kata Tap Li Oh. ”Baru-baru ini aku terserang penyakit, jadi agak kurang sehat. Aku tidak mengira serangan tentara Cee

begitu cepat.”

Raja Bit Louw tetap berduka.

”Untuk sementara kau boleh tinggal dulu bersamaku,” kata Tap Li Oh melanjutkan

ucapannya. ”Di negeriku terdapat sungai bernama Pi-ji, dalamnya sulit dijajaki. Mereka tidak

akan mampu menyeberang sungai itu, jika mereka tidak memakai rakit untuk menyeberang. Mereka tidak akan sampai ke mari, kecuali punya sayap! Karena lama bertahan di seberang sana, lama-lama makanan mereka akan habis. Akhirnya terpaksa mereka harus mundur. Saat

itu aku akan mengambil daerahmu yang sudah mereka duduki!” kata Tap Li Oh.

”Aku masih khawatir tentara Cee itu pandai-pandai. Mereka bisa membuat rakit sendiri,” kata Hong Hoa.

”Aku rasa sepanjang tepi sungai harus kita jaga ketat! Selain mencegah musuh menyeberang, sebelum mereka bergerak sudah terpantau oleh kita.”

”Pendapatmu tidak masuk akal,” kata Tap Li Oh. ”Seandainya benar mereka bisa membuat rakit sendiri, mustahil kita tidak mengetahuinya?!”

Raja Tap Li Oh tidak mempedulikan saran Jenderal Hong Hoa. Dia terlalu yakin pada kehebatan sungai Pi-ji. Akibatnya dia jadi lengah dan kurang siaga. Bahkan gerak-gerik musuhpun tidak mereka pantau. Malah dia ajak sahabatnya Bit Louw bersenang-senang.

Dikisahkan di pihak angkatan perang Cee.....

Ketika Raja Cee Hoan Kong dan pasukan perangnya sudah berjalan kira-kira 10 li jauhnya. Hoan Kong menyaksikan gunung berjajar-jejer menghadang di depannya. Di sana-sini batu- batu besar dan terjal terhampar luas, semak belukar dan pohon-pohonnya sangat lebat.

Keadaan medan seperti itu sungguh sangat menyulitkan bagi kereta perang tentara Cee bisa bergerak. Raja Cee jadi cemas bukan main.

Hanya Koan Tiong yang tetap tenang dan sedikit pun dia tidak gentar melihat keadaan itu. Dia tidak kehabisan akal. Koan Tiong terpekur mencari siasat. Tidak berapa lama dia mulai mengeluarkan perintahnya.

”Di tempat ini kita harus membangun perkemahan tentara!” kata Koan Tiong. ”Dengan demikian pasukan kita bisa istirahat dengan baik.”

Segera anak buahnya membuat markas mereka dengan cepat. Sesudah selesai mereka pun istirahat. Ada yang masak nasi ada yang masak air minum dan sebagainya. Sesudah mereka makan kenyang dan cukup istirahat, kembali Koan Tiong mengeluarkan perintah.

”Sekarang kalian kumpulkan kayu-kayu kering, rumput kering dan apa saja yang mudah terbakar! Sesudah itu barang-barang yang mudah terbakar itu letakan di hutan rimba itu. Lalu kalian bakar!” kata Koan Tiong.

”Baik, Tiong-hu!” jawab anak buahnya. Tentara Cee bekerja keras mengumpulkan bahan yang mudah terbakar, tidak berapa lama bahan-bahan itu sudah terkumpul cukup banyak. Sesudah itu hutan tersebut mereka bakar. Tidak berapa lama api pun sudah berkobar menghanguskan pepohonan, rumput-rumput yang tinggi dan sebagainya.

Tempat yang tadinya hutan-rimba dan semak-belukar, kini rumput dan pohon itu telah berubah menjadi lautan api raksasa. Lima hari lima malam lamanya api raksasa itu berkobar- kobar, seolah-olah lautan api saja. Akibat kobaran api itu rumput-rumput telah berubah

menjadi debu, pohon-pohon telah menjadi areng. Binatang-binatang buas atau beracun pun tidak ketahuan ke mana larinya.

Sesudah kobaran api raksasa itu padam, Koan Tiong memerintahkan tentaranya membuka jalan. Mereka membongkar dan menggali bukit dijadikan jalan setapak di samping-samping gunung. Dengan demikian kereta perang dan kuda bisa berjalan dengan sedikit leluasa tanpa halangan.

Para panglima Cee menyatakan kekhawatirannya. Mereka menyaksikan banyak sekali gunung

yang tinggi dan berbahaya. Gunung-gunung itu menghadang di tengah jalan yang akan

mereka lalui. Situasi ini terutama sangat menyulitkan bagi pasukan kereta perang mereka bergerak.

”Kuda-kuda bangsa Jiong bisa berlari cepat di tempat ini. Mereka sudah terbiasa dengan daerah ini. Sebaliknya kereta perang kita tidak bisa bergerak begitu seperti kuda-kuda mereka!” kata Koan Tiong pada semua panglima Cee.

”Karena itu pasukan kita jadi tidak bersemangat!” kata panglimanya.

”Akan kutulis dua buah lagu untuk membangkitkan semangat mereka.” kata Koan Tiong. ”Lagu apa, Tiong-hu?” tanya mereka.

”Lagu naik dan turun gunung,” jawab Koan Tiong sambil tersenyum.

Kemudian Koan Tiong membuat syair atau nyanyian ”Naik Gunung” dan Turun Gunung”. Sesudah selesai dia perintahkan semua panglimanya mempelajari nyanyian itu. Kemudian nyanyian itu diajarkan pada tentaranya.

Nyanyian ”Naik Gunung” ciptaan Koan Tiong itu syairnya demikian: ”Gunung berderet-deret jalan pun terputar-putar.

Pohon berbaris batu berderet seperti lankan.

Awan tipis membuat udara dingin dan segar.

Kami giring kereta kami naik ke gunung yang tinggi.

Hong Pek pegang les Ji-ji memegang cambuk membuat larinya kencang. Seperti juga burung terbang yang memiliki sayap kekar.

Bertolak mendaki ke atas gunung dengan tidak merasa sukar.” Sedang ”Nyanyian Turun Gunung” berbunyi demikian:

”Naik gunung tidak susah turun gunung lebih mudah. Roda menggelinding mantap tidak menyimpang.

Suara kereta berderit-derit seperti mendengar suara balang. Melewati beberapa tikungan sampai di tanah rata yang terang. Habiskan rumah kaum Jiong yang sering bikin orang bimbang. Musnahkan negeri Kho-tiok beroleh ganjaran berjalan pulang.”

Begitu semua tentara Cee sudah bisa menyanyikan kedua lagu itu, mereka bergerak maju. Sambil berjalan dan berderap mereka menyanyikan nyanyian itu dengan bersemangat. Tentara jadi bersemangat dan senang sekali. Dengan demikian mereka melupakan rasa lelah mereka saat berjalan. Dengan tidak terasa kereta-kereta perang itu bergerak naik turun gunung dengan cepat.

Setelah berjalan melewati beberapa gunung, akhirnya mereka sampai di sebuah bukit yang

tinggi sekali. Kereta-kereta perang besar dan kecil berjalan dengan lancar. Tetapi suatu ketika deretan kereta ini berhenti tidak bisa berjalan terus.

Tidak lama datang orang melapor pada Cee Hoan Kong.

”Di depan kita ada bukit yang sangat berbahaya! Bukit itu tinggi sekali, dan di kedua tepi

bukit itu penuh batu yang terjal dan licin. Hanya ada jalan setapak kecil sekali. Jalan itu hanya bisa dilewati sebuah kereta perang saja!” kata prajurit yang melapor.

Mendengar laporan itu Cee Hoan Kong terkejut. Dia khawatir dan berkata.

”Oh, jika di tempat ini ada tentara musuh bersembunyi, jika mereka menyerang, pasti kita akan mendapat kerusakan besar!” kata Raja Cee Hoan Kong.

Pada saat Cee Hoan Kong sedang kebingungan, tiba-tiba dari sudut gunung dia melihat seekor makhluk keluar. Makhluk itu mirip manusia. Tetapi jelas bukan manusia, binatang pun bukan binatang. Panjang makhluk itu kira-kira satu kaki lebih. Mengenakan baju merah dan kopiah berwarna ungu. Sepasang kaki makhluk itu tidak memakai sepatu. Makhluk itu datang ke

hadapan Cee Hoan Kong sambil memberi hormat tiga kali. Sikap makhluk itu seperti orang sedang menyambut tamunya. Sesudah mengusap bajunya dan menggerakkan tangan kanannya, makhluk itu menghilang di balik gunung. Melihat kejadian itu Raja Cee Hoan Kong jadi semakin khawatir, lalu dia bertanya kepada Koan Tiong.

”Apa kau melihatnya, Tiong-hu?” kata Cee Hoan Kong. ”Tidak,” sahut Perdana Menteri itu.

Raja Cee Hoan Kong menceritakan apa yang dilihatnya tadi.

”Oh, bagus! Dalam nyanyian hamba, hamba juga menyebut makhluk itu Ji-ji,” kata Koan Tiong dengan girang.

”Apa Ji-ji itu?” tanya Cee Hoan Kong heran.

”Hamba dengar di tanah utara ada malaikat gunung bernama Ji-ji,” kata Koan Tiong. ”Dia memperlihatkan diri pada calon Raja Jagoan. Pasti itu makhluk yang disebut Ji-ji! Dia

bersikap hormat, tandanya dia minta tuanku mengerahkan angkatan perang. Dia usap bajunya, dia memberi tanda di depan kita ada mata air. Dia gerakan tangan kanannya, artinya air sungai bagian kanan dalam sekali. Dia minta tuanku mengambil jalan di sebelah kirinya!” Mendengar keterangan itu Cee Hoan Kong manggut-manggut. Dia kagum juga merasa aneh sekali.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Oktober 2022 :)

On Progres......

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain