-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 07

Bab 07

Karena dikepung oleh tiga orang famili Touw yang gagah perkasa, Chu Goan tidak mampu menghadapi mereka. Terpaksa Chu Goan mundur ke arah pintu dengan maksud hendak melarikan diri dari istana. Tetapi sebelum tercapai maksudnya, pedang Touw Pan sudah keburu menyamber ke kepalanya. Pada saat itu juga Chu Goan tersungkur jatuh ke lantai dan tewas. Ketika Touw Kok O-to melihat Touw Liam terikat di tiang istana, buru-buru dia membukakan ikatan pada tubuh Touw Liam.

Sesudah kekacauan dipadamkan mereka berlutut di depan pintu kamar Permaisuri Bun. Dengan sikap menghormat mereka menanyakan kesehatan Sang Ratu juga menjelaskan apa yang telah terjadi di depan kamarnya. Mereka menjelaskan bahwa Chu Goan telah binasa.

”Terima kasih atas cape-lelah kalian semua!” kata Permaisuri Bun.

Sesudah semua menteri memberi hormat, kemudian mereka meninggalkan istana Sang Ratu.

Esok harinya, ketika Raja Couw Seng Ong Him Tan ada di istana, sesudah semua menteri menjalankan kehormatan, Raja Couw memerintahkan anak buahnya untuk membunuh habis sanak keluarga Chu Goan. Raja memerintahkan menempelkan maklumat di jalan-jalan yang penting. Memberitahukan pada rakyat bahwa Chu Goan berdosa besar hingga dihukum mati.

Raja memberi hadiah pada famili Touw yang berjasa itu. Di antara kaum Touw, Touw-kok O- to yang paling pandai mengatur pemerintahan. Dialah menteri negeri Couw yang paling utama. Dia putera dari Touw Pek Pi. Kakek Touw-kok O-to bernama Touw Jiak Go, ibunya seorang putri Raja In. Ketika meninggal usia Touw Pek Pi masih sangat muda. Terpaksa Touw Pek Pi ikut dengan ibunya tinggal di negeri In. Ketika Touw Pek Pi sudah dewasa, dia mengadakan hubungan gelap dengan putri Raja In. Ketika putri Raja In itu hamil dan

ketahuan oleh ibunya, si nyonya melarang orang buka rahasia. Kemudian putrinya dilarang berhubungan lagi dengan Touw Pek Pi.

Touw Pek Pi karena malu pergi ke negeri Couw dan bekerja di negerii Couw. Putri In melahirkan seorang anak lelaki, Nyonya Raja In takut suaminya mengetahui rahasia itu. Dia memerintahkan budaknya membungkus bayi tersebut dengan baju dan membuangnya di suatu tempat dalam sebuah rimba.

Pada suatu hari Bong Tek, Raja In melihat ada seekor harimau sedang menyusui bayi. Ketika pulang ke istana dia memberitahu isterinya. Nyonya Raja terpaksa berterus terang. Bahwa putri mereka telah mengadakan hubungan gelap dengan Touw Pek Pi. Hubungan itu sampai melahirkan seorang anak lelaki. Karena takut dimarahi oleh sang raja, maka anak itu dibuang ke tengah rimba.

”Mungkin anak yang sedang disusui oleh harimau itu, anak putri kita Tuanku?” kata Ratu. Mendengar keterangan itu bukan main girangnya Raja In. Dia tidak gusar, malah girang sekali. Dia perintahkan anak buahnya mengambil anak bayi yang disusui oleh harimau itu. Kemudian dia memerintahkan menterinya mengantarkan putri dan bayinya itu ke tempat Touw Pek Pi di negeri Couw. Tentu saja Touw Pek Pi girang bukan main. Dia menghaturkan

terima kasih atas budi baik Raja In tersebut. Karena menurut ucapan orang Couw kata susu itu disebut Kok, dan kata harimau disebut O-to, maka dengan mengambil maksud kata susu macan, bayi itu dia beri nama Touw-kok O-to alias Cu Bun. Sesudah Touw-kok O-to dewasa, dia belajar ilmu pemerintahan dan kemiliteranm. Touw Pek Pi sudah menjadi menteri di negeri Couw dia meninggal dunia. Maka Touw-kok O-to-lah yang meneruskan jabatan ayahnya.

Sesudah Chu Goan meninggal posisi Leng-i di negeri Couw telah lowong. Raja Couw berniat mengangkat Touw Liam menjadi Leng-i untuk menggantikan Cu Goan.

”Tuanku hamba tidak punya kepandaian untuk menjadi seorang Leng-i,” kata Touw Liam

menolak kedudukan itu. ”Saat ini negeri Cee bermusuhan dengan negeri Couw. Raja Cee memakai Koan Tiong dan Leng Cek sebagai penasihatnya. Kepandaian mereka sangat tinggi. Tidak heran jika negerinya jadi kaya-raya dan tentaranya sangat kuat. Kepandaian hamba mana bisa dibandingkan dengan mereka berdua. Apabila Tuanku hendak memperkuat pertahanan negara Couw juga untuk menjadi jago di Tiong-goan (Tiongkok). Hamba rasa Tuanku harus memakai Touw-kok O-to. Jika bukan dia hamba tidak yakin akan berhasil!”

kata Touw Liam.

Baginda sadar Touw-kok O-to sangat dihormati oleh semua menteri di negeri Couw. Sesudah mendengar dukungan dari Touw Liam pada Touw-kok O-to, Baginda pun setuju sekali mengangkat Touw-kok O-to menjadi Perdana Menterinya.

Raja Couw Seng Ong segera mengangkat Touw-kok O-to menjadi Leng-i di negeri Couw. Orang-orang di negeri Couw dilarang memanggil namanya dengan Touw-kok O-to, melainkan memanggilnya dengan sebutan Chu Bun saja.

Ketika itu jatuh pada tahun pemerintahan Raja Ciu Hui Kong yang ke-13. Sejak Touw-kok O- to alias Chu Bun menerima jabatan menjadi Leng-i, dia senantiasa berusaha untuk memajukan negeri Couw. Chu Bun sadar negeri Couw sangat lemah. Kekayaan terbesar berada di tangan para menteri baginda. Karena itu dia bermaksud mengatur kekayaan negeri Couw dengan baik. Lalu dia membuat undang-undang dengan tujuan agar semua menteri di negara Couw mengembalikan harta mereka; separuh saja kepada negara. Tetapi Chu Bun bukan sekedar

memberi gagasan saja. Dia malah menjadi pelopor pertama yang mengembalikan separuh dari harta miliknya kepada negara. Pelaksanaan pengembalian kekayaan ini terutama dimulai dari marga Touw dulu. Karena tindakan Chu Bun ini tidak seorang pun menteri di negeri Couw yang membangkang. Mereka dengan sukarela mengembalikan sawah, tanah dan usaha mereka separuhnya kepada negara.

Melihat posisi, kota Teng-shia sangat bagus. Di bagian selatan kota Teng-shia terlindung oleh sungai Siang-tam-hoo, sedang di bagian utaranya terlindung oleh sungai Han-kang-hoo.

Menurut pendapat Chu Bun di tempat itu sangat baik untuk sebuah Ibukota negara. Kemudian

Chu Bun mengajukan gagasan itu pada Raja Couw. Dengan senang hati Raja Couw pun menyetujuinya.

Sesudah istana itu selesai dibangun, Raja Couw pun pindah dari kota Tam-yang ke kota Teng- shia, nama kota itu diganti dengan nama yang baru disebut Teng-touw.

Selain itu, Chu Bun dengan giat melatih angkatan perang negeri Couw. Dia juga

menempatkan orang-orang yang pandai mengurus tentara maupun negara. Dia mendapatkan seorang bernama Kut Goan dan Touw Ciang untuk membantu mengurus pemerintahan di negeri Couw dengan baik.

Karena kepandaian Chu Bun dalam mengurus pemerintahan di negeri Couw, ditambah lagi dia dibantu oleh orang-orang yang pandai, maka dalam waktu singkat negeri Couw menjadi sangat makmur, aman dan tentram sekali. **

Ketika Raja Cee Hoan Kong mendengar tentang kemajuan di negeri Couw, dia kaget. Tetapi segera dia mengetahui mengapa negeri Couw bisa begitu maju dan makmur. Rupanya Raja Couw pandai menempatkan orang-orang yang luar biasa kemampuannya. Raja Cee Hoan Kong menjadi agak gentar pada negeri Couw ini. Dia khawatir suatu saat kemajuan dan

kekuatan tentara negeri Couw itu akan menjadi bahaya bagi negaranya. Karena itu dia berniat hendak mengajak semua Raja Muda di Tiongkok mengerahkan tentara mereka untuk menyerang lebih dahulu pada negeri Couw; sebelum mereka didahului oleh negeri Couw tersebut. Tetapi sebelum melaksanakan niatnya itu Cee Hoan Kong menyampaikan maksudnya itu kepada Koan Tiong.

”Raja Couw telah mengangkat dirinya menjadi Kaisar di bagian selatan Tiongkok. Daerah mereka sangat luas dan angkatan perangnya pun sangat kuat. Aku rasa sekalipun Kaisar Ciu yang kuat tidak akan bisa menaklukannya,” kata Koan Tiong. ”Apalagi sekarang Raja Couw sangat mengandalkan Chu Bun untuk mengurus pemerintahan. Sehingga keadaan negerinya demikian aman. Karena itu tidak mudah kita kalahkan dengan kekuatan angkatan perang kita! Sedang Tuanku baru mampu menggabungkan semua Raja Muda, tetapi belum bisa menyenangkan semua orang. Bahkan belum mampu menaklukkan setiap hati Raja Muda yang bergabung dengan kita. Maka hamba khawatir angkatan perang semua Raja Muda pun tidak bisa kita gunakan dengan leluasa. Maka Tuanku harus melakukan berbagai kebajikan supaya semua Raja Muda takluk hatinya. Untuk menaklukan negeri Couw, kita harus menundanya dulu dan menunggu saat yang baik, baru kita bergerak. Dengan demikian usaha kita baru bisa berhasil dengan baik!”

Mendengar nasihat Koan Tiong tersebut, Raja Cee mengangguk. Dia sadar akan kelemahannya itu. Tetapi kemudian Raja Cee berkata lagi.

”Selama ini negeri Ciang masih berdaulat, mereka belum takluk kepada kita, apa tidak lebih baik kita serang saja mereka?” kata Raja Cee Hoan Kong.

”Sekalipun negeri Ciang sangat kecil, tetapi leluhur mereka berasal dari turunan Kiang Tay Kong,*) mereka satu She (Marga) dengan Raja Cee. Jika kita menghancurkan sesama satu She, hal ini menjadi kurang pantas. Lebih baik Tuanku perintahkan Ong-cu Seng Hu memimpin pasukan perang pergi meronda di kota Ki, seolah-olah Tuanku mau menyerang negeri Ciang. Dengan berbuat demikian pasti Raja Ciang jadi ketakutan dan datang menakluk, sehingga tidak usah mendapat nama buruk kita bisa mendapatkan daerahnya.” kata Koan Tiong.

Raja Cee Hoan Kong setuju pada pendapat Koan Tiong, begitulah dia langsung menjalankan siasat tersebut. Benar saja Raja Ciang jadi ketakutan ketika melihat gerakan tentara Cee yang hendak menyerang ke wilayahnya. Dia segera menyatakan ketaatnya.

Raja Cee Hoan Kong memuji kepandaian Koan Tiong.

”Hai, sesungguhnya harus kuakui, Tiong-hu memang seorang yang pandai!” kata Raja Cee Hoan Kong.

**

Pada suatu hari, saat Raja Cee sedang berunding dengan para menterinya. Tiba-tiba ada anak buahnya yang melapor. ”Tuanku dari negeri Yan telah datang seorang utusan. Dia mengatakan negerinya kedatangan tentara bangsa San-jiong. Raja Yan minta bantuan pada Tuanku.” kata pelapor itu.

Mendengar khabar itu Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong. ”Jika Tuanku hendak menyerang negeri Couw, Tuanku harus menundukkan dulu bangsa Jiong, jika bahaya dari bangsa Jiong sudah lenyap, baru Tuanku akan berhasil menaklukan negeri Couw!” kata Koan Tiong.

*) Kiang Tay Kong adalah nama Kiang Cu Gee. Tokoh terkenal dalam Roman klasik Tiongkok berjudul ”Hong Sin”.

Letak negeri San-jiong di tanah Leng-ci. Negara itu di bagian barat berbatasan dengan negeri Yan, di sebelah timur dan selatan dekat dengan negeri Cee dan Couw. Bangsa San-jiong dinilai sangat jahat oleh orang Tiongkok. Mereka mengandalkan daerahnya yang dilindungi gunung yang tinggi-tinggi, hutan yang lebat dan angkatan perang yang kuat. Karena itu mereka tidak mau tunduk kepada negara lain. Mereka juga sering masuk ke wilayah Tiongkok untuk melakukan kerusuhan dan perampokan secara semena-mena.

Mendengar khabar Raja Cee hendak menjadi jago di benua Tiongkok, dengan sengaja Raja bangsa San-jiong mengerahkan angkatan perang mereka yang besar, datang mengacau di negeri Yan. Maksud mereka hendak merenggangkan hubungan antara negeri Yan dan negeri Cee.

Raja negeri Yan, Yan Cong Kong, karena merasa tidak sanggup menangkis serangan bangsa San-jiong, dia perintahkan seorang utusan untuk minta pertolongan ke negeri Cee.

Mendengar khabar negeri Yan diserang oleh bangsa San-jiong, Koan Tiong langsung

memberi saran pada Raja Cee Hoan Kong.

”Kita harus segera mengirim bala-bantuan ke negeri Yan.” kata Koan Tiong.

Tetapi Cee Hoan Kong sangsi. Melihat Raja Cee Hoan Kong ragu-ragu Koan Tiong berkata dengan sabar.

”Pada saat ini negeri yang berbahaya bagi kita, di selatan adalah negeri Couw. Di bagian Utara bangsa San-jiong, dan di bagian barat bangsa Tek. Mereka mirip duri dalam daging! Maka itu menjadi tugas Tuanku untuk melenyapkan mereka. Sekalipun bangsa Jiong tidak mengusik negeri Yan, tetapi kita tetap harus berusaha menaklukkan mereka.

Apalagi negeri Yan sudah mereka serang dan raja negeri Yan datang minta pertolongan kepada kita. Mau tidak mau kita harus menyapu bersih bangsa San-jiong itu sampai tuntas!” kata Koan Tiong.

Mendengar keterangan Koan Tiong tersebut Raja Cee Hoan Kong setuju juga pada saran dari Koan Tiong tersebut. Selang beberapa hari Raja Cee sudah menyiapkan pasukan perangnya, kemudian berangkat ke negeri Yan.

**

Raja bangsa San-jiong bernama Bit Louw. Sudah dua bulan dia mengacau di negeri Yan. Mereka telah berhasil merampas harta-benda dan anak-isteri rakyat biasa. Mereka juga melakukan bermacam-macam kejahatan. Tetapi setelah mereka mendengar pasukan Cee sudah hampir tiba, mereka merasa jerih juga. Raja San-jiong mengajak tentaranya pulang dengan membawa barang rampasan ke negaranya. Ketika pasukan Cee sampai di San-bun-kwan (tanah negara Yan), mereka telah disambut oleh Raja Yan yang menghaturkan terima kasih kepada Raja Cee atas kesediaannya membantu mereka. Karena dengan tidak menghiraukan perjalanan yang jauh, Raja Cee datang menolong. Karena ketakutan bangsa San-jiong pulang ke negaranya. Dengan sikap yang hormat dan merendah Raja Cee membalasnya.

”Ini sudah menjadi kewajiban kami membantu sesama Raja Muda,” kata Raja Cee Hoan Kong.

”Tetapi bangsa San-jiong yang kabur berhasil membawa hasil jarahan mereka,” kata Koan

Tiong kurang puas, ”pasti mereka akan datang lagi karena mereka belum jera. Mereka belum merasakan hajaran yang hebat dari kita. Jika tentara kita sudah mundur, orang San-jiong akan datang kembali. Sebaiknya kita gunakan saat yang baik ini untuk melabrak mereka sekarang

juga! Dengan demikian kita bisa menyingkirkan bahaya di kemudian hari.” ”Aku sependapat dengan Tiong-hu,” kata Raja Cee Hoan Kong.

Raja Yan sangat girang, ia ingin bangsa San-jiong itu musnah sama sekali dari muka bumi.

”Dari sini ke arah timur sekitar 10 li ada sebuah negeri bernama Bu Ciong, sekalipun raja di Bu Ciong bangsa Jiong juga, tetapi mereka tidak tunduk pada pengaruh bangsa San-jiong.

Maka itu kita bisa minta bantuan pada mereka untuk menjadi penunjuk jalan.” kata Raja Yan.

Raja Cee Hoan Kong girang, dia sediakan emas dan perak sebanyak-banyaknya. Kemudian memerintahkan Sek Peng mengantarkan bingkisan itu kepada Raja di Bu Ciong.

Tatkala Sek Peng sudah sampai di Bu Ciong, dia serahkan bingkisan itu kepada Raja Bun

Ciong. Sesudah bingkisan diterima dan setelah berbincang sesaat Sek Peng menjelaskan maksud kunjungannya.

”Raja kami ingin minta bantuan dari tuanku untuk menjadi penunjuk jalan ke tempat bangsa San-jiong. Jika tuanku tidak keberatan bantuan itu sangat kami harapkan.” kata Sek Peng.

Karena Raja Bu Ciong sudah mendapat bingkisan, dia langsung setuju saja.

”Baik karena mereka juga musuh kami,” kata Raja Bu Ciong.

Dia memerintahkan panglima bernama Houw Ji Pan memimpin 2000 tentara Bu Ciong membantu Raja Cee berperang melawan bangsa San-jiong.