--> -->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 03

Bab 03

Esok harinya.....

Tiang Ban pergi berkunjung ke rumah Pangeran Kiat. Ini sebagai balasan atas kunjungan pangeran itu untuk menghaturkan terima kasihnya.

Waktu itu Pangeran Kiat sudah mengatur siasat untuk menerima kedatangan Tiang Ban. Dia sengaja membuat pesta kehormatan untuk saudara angkatnya itu.

Sesudah makan minum sampai setengah mabuk, Pangeran Kiat menyuruh beberapa

perempuan cantik keluar untuk membujuk dan merayu supaya Tiang Ban minum arak lebih banyak.

Tiang Ban dengan senang hati terus minum hingga mabuk keras. Tanpa terasa dia tertidur lelap di tempat duduknya. Begitu melihat Tiang Ban tertidur, dan ini suatu kesempatan yang baik. Pangeran Kiat tidak ayal lagi, segera memerintahkan beberapa orang gagah memborgol dan membungkus Lam-kiong Tiang Ban. Dia diikat dengan tali dari kulit kerbau. Ibu Tiang Ban yang sudah tua pun dimasukkan ke dalam kerangkeng. Kemudian dia perintahkan orang mengawal tawanan tersebut untuk dibawa ke negeri Song.

Hasil tipu-muslihat Raja Tan yang dijalankan oleh Pangeran Kiat telah berhasil menangkap Tiang Ban yang gagah perkasa. Seperti pepatah mengatakan: semut mati di gudang gula, orang mati karena tertipu!

Tatkala sampai di tengah perjalanan, Tiang Ban baru sadar dari pingsannya. Dia kaget sekali karena dirinya sudah terikat keras sekali. Tetapi perlahan-lahan dia segera mengerti. Apa yang telah terjadi. Bahwa dia sudah tertipu oleh Raja Tan. Sekarang pasti dia sedang dikirim ke negeri Song. Dia berusaha berontak mengerahkan tenaganya. Tetapi karena kulit kerbau itu sangat keras dan tubuhnya terlibat oleh tali kulit yang kuat, dia tidak bisa meloloskan diri.

Akhirnya setelah hampir sampai di kota raja negeri Song, karena usaha keras dari Tiang Ban kulit kerbau itu bisa dia putuskan sebahagian. Sekarang tangan dan kakinya bisa lolos.

Melihat kaki dan tangan raksasa itu nongol, semua jadi ketakutan. Buru-buru mereka mengambil martil besar untuk dipakai memukul tangan Tiang Ban. Pukulan yang keras itu membuat tulang kaki dan tangannya patah. Dengan demikian dia tidak bisa berontak lagi. Ketika Raja Cee Hoan Kong mendengar khabar bahwa Tiang Ban telah tertawan, bukan main senang hatinya. Dia perintahkan orangnya untuk mengikat Tiang Ban dan dijadikan satu dengan Beng Hek. Mereka dibawa ke tempat terbuka untuk dipertontonkan kepada orang banyak. Kemudian mereka berdua segera menjalankan hukuman cingcang hingga anggota tubuhnya hancur. Sedang ibu Tiang Ban yang sudah berusia 80 tahun lebih pun dihukuman mati.

Raja Song Hoan Kong ingat pada Hoa Tok yang meninggal lantaran membela raja. Raja Song mengangkat anak Hoa Tok menjadi Su-ma. Sejak saat itu keluarga Hoa Hoa menjadi menteri turun temurun di negeri Song.

** Dikisahkan di negeri Cee....

Sejak kalah perang di Cang-ciak, Raja Cee Hoan Kong menyesal sekali. Dia begitu lancang mengerahkan angkatan perangnya. Dengan demikian dia mendapat kenyataan, bahwa Koan Tiong lebih pintar dari padanya. Maka dia serahkan semua urusan militer kepada Perdana Menterinya itu.

Sesudah tidak memikirkan urusan negara, Raja Cee Hoan Kong sekarang hidup tenang. Tiap

hari dia bersenang-senang saja. Dia bermesraan dengan perempuan-perempuan cantik. Jika

orang memperingatkan agar dia mau mengurus negara, ia selalu menjawab, ”Mengapa urusan itu tidak kau serahkan kepada Tiong-hu saja?”

Salah seorang di antara budak Raja Cee Hoan Kong, Si Tiao namanya. Ia ingin bekerja di

dalam istana, tetapi tidak bisa, karena ia seorang lelaki. Kemudian ia mengebiri dirinya sendiri. Sesudah itu ia memohon kepada Raja Cee supaya bisa bekerja di istana. Raja Cee merasa kasihan kepadanya. Permintaannya diluluskan. Si Tiao pandai sekali bermuka-muka. Raja Cee Hoan Kong semakin sayang kepadanya. Karena dipercaya Si Tiao selalu berada di samping baginda.

Ada lagi seorang budak yang berasal dari Yong-ip. Namanya Bu alias Ek Ge. Dia sering dipanggil dengan sebutan Yong Bu. Ek Ge. Orang ini banyak akalnya, ia pandai bekerja. Dia juga pandai memanah dan berkendaraan. Dia juga paham sekali perihal masak-masak. 

Pada suatu hari.....

Permaisuri We-ki sakit keras. Buru-buru Ek Ge membuatkan makanan dan menyuguhkannya kepada Permaisuri We-ki. Setelah We-ki makan masakan itu, ajaib sekali, penyakit langsung baik.     Karena itu Permaisuri We-ki sangat sayang kepada Ek Ge

Ek Ge sering menyediakan makanan enak untuk Si Tiao. Ek Gi tahu benar Si Tiao sangat disayang oleh Raja Cee. Jika Si Tiao mau bicara pada raja, maka di kemudian hari ia bakal hidup beruntung. Apa yang diharapkan oleh Ek Ge menjadi kenyataan.

Pada suatu hari......

Si Tiao memuji kepandaian Ek Ge di depan Raja Cee. Terutama tentang kepandaian Ek Ge dalam memasak makanan lezat. Raja Cee Hoan Kong memerintahkan agar Ek Ge segera dipanggil menghadap.

”Apa betul kau pandai masak?” tanya Raja Cee. ”Ya, hamba mengerti juga,” sahut Ek Ge.

”Bermacam-macam daging binatang buruan, semua sudah aku coba makan. Cuma daging

manusia yang belum pernah aku coba. Apa kau bisa mendapatkan masakan daging itu?” kata Hoan-kong sambil tersenyum.

Raja Cee sengaja berkata begitu karena hendak mengganggu tukang masak yang dikatakan pandai masak itu.

”Ya, baiklah! Nanti hamba buatkan makanan serupa, supaya Tuanku bisa mencicipinya,” kata Ek Ge. Kemudian dia pamit dan berlalu dari hadapan Raja Cee. Raja Cee Hoan Kong kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Dia anggap tukang masak itu barangkali otaknya sudah miring. Mustahil dia begitu gila berani masak daging manusia. Pada waktu Raja Cee Hoan Kong makan tengah hari, Ek Ge mengantarkan sepiring daging matang yang begitu empuk seperti susu kambing. Sedang rasanya begitu enak dan manis sekali.

Sehabis makan makanan yang lezat, Raja Cee bertanya kepada Ek Ge. ”Hei, daging apa yang kau masak, enak sekali?” tanya Raja Cee.

Ek Ge berlutut dan berkata, ”Itulah daging manusia, tuanku.” jawab Ek Ge.

Raja Cee Hoan Kong terkejut. Sambil menggebrak meja dia berkata, ”Ach, kau gila barangkali! Dari mana kau dapat daging itu? Apa kau sudah membunuh orang?”

”Tidak tuanku, mana hamba berani sembarangan membunuh orang di istana tuanku,” sahut Ek Ge dengan sabar. ”Anak sulung hamba baru berusia tiga tahun. Hamba pikir jika seorang hamba yang setia pada rajanya, ia tidak memperdulikan rumah tangganya. Asalkan bisa memenuhi keinginan dan perintah rajanya. Karena tuanku belum pernah makan daging manusia, maka hamba bunuh anak sulung hamba itu Kemudian dagingnya hamba masak untuk disuguhkan kepada tuanku.”

”O, kalau begitu benar-benar kau sangat mencintaku!” kata Raja Cee Hoan Kong dengan terharu. ”Nah mulai sekarang kau boleh bekerja bersama-sama Si Tiao menjadi pengikutku.”

Dengan girang Ek Ge menghaturkan terima kasih.

Karena Raja Cee mengira Ek Ge sangat cinta kepadanya, ditambah lagi Permaisuri We-ki pun senantiasa memuji kepandaiannya. Akhirnya Ek Ge dipercaya dan disayang oleh Raja Cee.

Sejak saat itu Si Tiao dan Ek Ge mendapat kekuasaan besar untuk mengurus pekerjaan di istana. Sifat manusia pada umumnya tidak mengenal puas. Mereka sekarang merasa iri kepada Koan Tiong.

***

Pada suatu hari......

Si Tiao dan Ek Ge menghasut dan memburuk-burukan Koan Tiong kepada Raja Cee Hoan Kong. Mereka bilang. ”Menurut hamba seorang raja memberi perintah. Sedang hambanya

yang menjalankan perintah itu. Tetapi sekarang keadaannya terbalik, tuanku. Tuanku terlalu mempercayai Koan Tiong!” kata Si Tiao.

”Ini semua artinya sama saja bahwa negeri Cee sudah tidak punya Raja lagi!” kata Ek Ge.

”Ha, ha, ha!” Raja Cee Hoan Kong tertawa. ”Kalau begitu kalian belum tahu, bagaimana hubunganku dengan Tiong-hu Koan Tiong!”

Raja Cee Hoan Kong mengerti kedua orang itu hendak menghasut Koan Tiong.

”Jika kalian ingin tahu, aku dengan Tiong-hu seperti tubuh dengan anggota tubuh. Ada paha baru bisa disebut tubuh. Ada Tiong-hu baru aku bisa menjadi Raja. Kalian berdua dari golongan rendah, kalian dilarang ikut campur urusan Tiong-hu!” kata Raja Cee. Mendengar penjelasan dari Raja Cee, Raja Cee pun tahu apa maksud ucapan mereka. Kedua orang itu diam bagai orang terkesima. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi.

Sesudah Cee Hoan Kong mengandalkan Koan Tiong mengurus pemerintahan di negeri Cee

kira-kira tiga tahun lamanya, negeri tersebut telah menjadi sangat aman dan makmur.

Pada masa itu keadaan di negeri Couw sedang jayanya. Mereka telah mengalahkan negeri Teng, membasmi negeri Koan, menaklukan negeri Sui. Sesudah mengalahkan negeri In, kemudian berserikat dengan negeri Sit. Dengan demikian seluruh negeri-negeri kecil yang terletak di sebelah timur sungai Han-sui, tidak ada yang tidak takluk di bawah perintah negeri Couw. Raja-raja kecil itu terpaksa harus mengantar upeti ke negeri Couw. Dari semua negara, kecuali negeri Coa yang sangat mengandalkan kehebatan negeri Cee. Sebab Raja Coa berbesan dengan Raja Cee. Raja Coa pun berserikat dengan Raja-raja Muda di Tiongkok. Itu sebabnya mereka belum mau mengalah kepada negeri Couw. Sampai pada masa Raja Hin Cu yang menjadi raja di negeri Couw dengan gelar Bun Ong,

Raja Coa belum mau mengalah juga. Kehebatan Raja Couw Bun Ong ini, lantaran dia dibantu oleh beberapa orang pandai yang bekerja padanya, seperti Touw Ki, Kut Tiong, Touw Pek Pi, Wan Ciang, Touw Liam dan Yo Koan. Dengan demikian keadaan negeri Couw menjadi semakin jaya saja. Kekuatannya itu telah membuat Raja Couw Bun Ong punya niat hendak menyerang ke daerah Tiong-goan (Tiongkok).

Ketika itu raja di negeri Coa dengan raja di negeri Sit bagai bersaudara. Mereka sama-sama mengawini puteri negeri Tan. Tetapi raja dari negeri Coa telah kawin lebih dahulu. Sedang raja dari negeri Sit kawin belakangan.

Permaisuri Sit yang disebut Kui-si atau Sit-kui, parasnya sangat cantik luar biasa.

Pada suatu saat karena hendak menjenguk ayah-bundanya, Sit-kui pulang ke negeri Tan. Kebetulan mereka harus melwati jalan di negeri Coa.

Sementara itu Coa Ai-houw yang mendapat khabar Ie-nya (ipar perempuannya), bakal lewat di negerinya, ia merasa kurang pantas jika tidak menyilakan Ie-nya itu singgah dulu di negerinya. Dia memerintahkan orangnya pergi menyambut Sit-kui dan diajak datang di istananya.

Karena Sit-kui pikir ia masih famili dengan Coa Ai-houw, karena Ta-ci (saudara perempuan yang tertua) menjadi permaisuri raja negeri Coa, maka dia menerima baik undangan itu.

Dengan sikap hormat Raja Coa menerima kedatangan Sit-kui. Hari itu diadakan perjamuan di dalam istana. Ketika sudah duduk bersantap, karena melihat paras Sit-kui yang elok sekali, timbul birahi di hati Raja Coa. Kemudian dia bertingkah ceriwis dan mengucapkan kata-kata cabul di hadapamn Ie-nya ini. Dia mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh dan sedikit pun tidak menghormati tamunya.

Melihat kelakuan Raja Coa yang gila, tidak ada basa-basi dan ceriwis itu, Sit-kui jadi sangat murka. Dengan tidak permisi lagi dia pergi, hingga Raja Coa jadi malu sekali.

Ketika Sit-kui atau Ratu Sit sudah kembali dari negeri Tan dan akan kembali lagi ke negeri Sit. Nyonya Kui yang cantik manis in,i tidak mau singgah lagi di istana Raja Coa. Dia khawatir diganggu lagi oleh raja yang ceriwis itu.

Suatu hari ketika Raja Sit mengetahui Raja Coa telah kurang ajar pada istrinya, dia sangat gusar. Sebisanya dia mencari akal hendak melakukan pembalasan pada Raja Coa. Beberapa hari lamanya Raja Sit memutar otak mencari akal. Akhirnya dia mendapat suatu ide yang bagus.

Sesudah itu dia mengirim utusan pergi mengantar barang upeti ke negeri Couw. Kepada utusan itu Raja Coa mengirim surat. Bunyinya demikian:

”Karena negeri Coa sangat bersandar kepada Tiongkok, ia angkuh dan tidak mau takluk

kepada tuanku. Dengan ini kami sarankan agar tuanku serang saja negeri Coa tersebut. Gunakan siasat, seolah-olah Couw akan menyerang negeri kami. Nanti kami pura-pura minta bantuan. Jika Raja Coa datang membantu. Saat itu ia harus diserang. Saat itu Raja Coa akan tertangkap, dan terpaksa dia akan takluk kepada tuanku.

Tertanda Raja Sit.”

Ketika utusan dari negeri Sit sampai. Dia sampaikan surat dari Raja Sit kepada Raja Couw Bun Ong. Membaca saran itu Raja Couw sepakat akan menggunakan siasat itu. Bahkan dia sangat girang atas saran itu. Saran dari Raja Sit tersebut suatu keuntungan baginya. Raja Couw segera mengerahkan angkatan perangnya. Sesuai rencana Raja Couw berpura-pura hendak menyerang ke negeri Sit. Ketika angkatan perang negeri Couw sudah dekat ke

perbatasan negeri Sit, sesuai rencana Raja Sit buru-buru mengirim utusan untuk minta pertolongan kepada negeri Coa.

Mendengar negara saudara iparnya mendapat bahaya, Raja Coa Ai-houw tanpa ragu memimpin pasukan perang. Mereka datang akan menolong. Tetapi pada saat pasukan negeri Coa sedang membangun asrama tentaranya dan sebelum perkemahannya rampung, tiba-tiba tentara Couw datang menyerang mereka.

Tentara Coa tidak sanggup menahan serangan yang hebat dari pasukan Couw. Raja Coa buru- buru kabur ke kota negeri Sit. Tetapi Raja Sit yang sangat kesal oleh ulah Raja Coa yang pernah menggoda isterinya, sengaja menutup pintu kota dan tidak mau menyambut kedatangan Raja Coa tersebut. Maka tentara Coa akhirnya mendapat kerusakan besar. Coa Ai- houw sendiri melarikan kudanya untuk menyelamatkan diri.

Tentara Couw mengejar mereka. Setelah sampai di Sin-ya (tanah kerajaan Coa). Tentara Couw berhasil menangkap Coa Ai-houw hidup-hidup. Dia dibawa menghadap pada Raja Couw Bun Ong.

Raja Sit mengadakan pesta besar untuk mengucapkan selamat atas kemenangan tentara Couw itu. Sesudah perjamuan selesai, Raja Sit mengantarkan Couw Bun Ong keluar dari negerinya. Waktu itu Raja Coa baru sadar, dia telah ditipu oleh Raja Sit. Tentu saja dia amat sakit hati.

Setelah Raja Couw pulang ke negerinya. Raja Couw mengeluarkan perintah untuk membunuh Raja Coa. Dagingnya akan dimasak untuk menyembahyangi klenteng leluhur Raja Couw.

”Jangan! Harap baginda jangan bunuh dia,” kata Yo Koan. Dia mencegah kehendak Couw Bun Ong. ”Bukankah baginda saat ini menginginkan Tiongkok. Jika tuanku bunuh Raja Coa, maka Raja Muda yang lain jadi ketakutan. Dengan demikian mereka tidak mau takluk. Lebih baik kembalikan dia ke negerinya. Biarkan dia takluk di bawah perintah tuanku.”

”O, tidak! Tidak bisa begitu!” kata Raja Couw. ”Kau sendiri tahu, karena Raja Coa berlindung kepada Tiongkok, dia begitu bersikap kepala batu, maka sekarang harus dibinasakan!” Yo Koan berusaha mencegah niat rajanya itu, tetapi Raja Couw tetap menolak sarannya; dengan begitu sehingga tiga sampai empat kali Yo Koan memberi nasihat. Tetapi Raja Couw selalu tidak mau menurut, sehingga Yo Koan jadi mendongkol dan sengit sekali. Dengan

tangan kirinya dia pegang lengan baju Raja Couw. Sedang dengan tangan kanannya dia cabut

pedangnya. Dia mengancam sang junjungan seraya berkata, ”Hamba lebih suka mati bersama- sama baginda. Tetapi hamba tidak tega melihat baginda kehilangan Raja-raja Muda!”

”Ya, baik . .Baik . . . aku ikuti nasihatmu. . aku turuti kehendakmu!” kata Raja Couw Bun Ong dengan ketakutan.

Kemudian dia memerintahkan orangnya membebaskan Raja Coa dari hukuman mati.

”Nah, jika baginda bersedia mendengar omongan hamba, ini adalah rejeki dari negeri Couw,” kata Yo Koan sambil melepaskan kembali cengkeramannya pada tangan baju Couw Bun Ong. ”Tetapi salah seorang hamba tuanku telah berani memaksa pada rajanya, karena dosanya maka ia harus dihukuman mati. Maka hamba mohon supaya baginda menjatuhkan hukuman kepada hamba ini!”

”O, tidak! Kau tidak bersalah,” kata Raja Couw. ”Aku tahu betul hatimu dan kau memang seorang menteri yang setia. Maka atas sikapmu tadi, aku tidak menganggap kau berdosa.”

”Meskipun baginda mengampuni hamba, tetapi hamba tidak berani mengampuni diri hamba!” kata Yo Koan dengan suara keras, ia lantas angkat pedangnya dan membacok kakinya sendiri.

”Lihatlah!” kata Yo Koan pada sekalian pembesar. ”Orang yang jadi hamba tidak memegang aturan rajanya. Ini boleh menjadi contoh!”

Menyaksikan kejadian itu Raja Couw menggoyangkan kepalanya, ia merasa kagum pada kejujuran hati Yo Koan. Kemudian ia perintahkan orangnya menyimpan kaki Yo Koan di gudang negara, sebagai tanda bahwa Raja Couw telah bersalah karena tidak mau mendengar nasihat menterinya yang setia, dan memerintahkan tabib mengobati Yo Koan.

Di kemudian hari sekalipun Yo Koan sudah sembuh, ia tidak bisa berjalan lagi. Raja Couw mengangkat dia menjadi Tay-hu untuk memegang kekuasaan di pintu kota dan memberi gelar kehormatan kepada Yo Koan yang disebut Tay-pek.

Kemudian Raja Couw mengizinkan Raja Coa kembali ke negerinya. Tetapi sebelum Raja Coa berangkat; Raja Couw mengadakan perjamuan untuk mengucapkan selamat jalan kepada Raja Coa.

Di ruang pesta Raja Coa dilayanin oleh perempuan-perempuan cantik, di antaranya ada seorang yang memainkan tetabuhan pi-pe (gitar Tionghoa), parasnya sangat elok sekali. Sambil menunjuk ke arah perempuan elok yang main pi-pe itu Raja Couw berkata pada Raja Coa.

”Perempuan itu parasnya paling elok di antara semua perempuan di istanaku ini. Aku rasa sangat pantas dia menyuguhi secawan arak pada Kun-houw (Raja-muda).” Kata Raja Couw.

Sesudah berkata begitu Raja Couw memberi perintah pada perempuan cantik itu, supaya ia mengantarkan secawan besar arak untuk disu€guhkan kepada Raja Coa.

Raja Coa menyambut arak itu dengan gembira dan meminumnya sampai cawannya kering. Kemudian ia membalas menuangkan secawan besar arak, dengan sikap hormat menyuguhkannya kepada Raja Couw. Raja Couw Bun Ong segera menenggak kering cawan araknya; ia tertawa terbahak-bahak menyatakan kegirangannya. Kemudian saking senang hatinya ia bertanya kepada Raja Coa Ai-houw.

”Apakah selama ini Kun-houw sudah pernah melihat kecantikan perempuan yang luar biasa atau belum?” kata Raja Couw Bun Ong.

Pertanyaan itu telah membangkitkan pikiran Coa Ai-houw. Dia ingat pada Raja Sit musuh besarnya. Dia sakit hati karena Raja Sit telah menipu dirinya. Akhirnya dia ditangkap oleh Raja Couw. Dia sangat sakit hati. Sekarang Raja Couw mengajukan pertanyaan tentang perempuan cantik. Dia pikir ini saatnya untuk membalas dendam pada Raja Sit.

”Jika tuanku mau membicarakan soal keelokan seorang perempuan,” kata Ai-houw, ”Harus kuakui, sejak aku menjadi manusia, belum pernah aku melihat ada perempuan secantik Sit- kui. Terus terang kukatakan, dia lebih cantik dari bidadari dari kayangan!”

”Eh! Benarkah begitu?” kata Raja Couw penasaran. ”Coba kau ceritakan kecantikannya itu?”

”Matanya seperti air kencana,” kata Raja Coa, ”mukanya serupa dengan bulan purnama, perawakannya tinggi dan bentuk tubuhnya sedang, gerak-geriknya ayu sekali, . . . wah! . . . aduh! . . . sudahlah! . . . pendeknya untuk dilihat kecantikannya tidak ada duanya!”

”Kalau aku bisa melihat sekali saja Sit Hu-jin, sekalipun aku harus mati pun, aku tidak penasaran!” kata Raja Couw dengan sangat kagum.

”Ha, ha, ha, kenapa harapan Sri Baginda begitu kecil!” kata Raja Coa menghasut. ”Buat keangkeran dan keagungan baginda dan negeri Couw, sekalipun puteri Raja Cee dan negeri Song, tidak sulit baginda mendapatkannya. Apalagi hanya perempuan yang tinggal di bawah pengaruh baginda seperti negeri Sit?”

Mendengar umpan dan pujian dari Raja Coa, raja Couw Bun Ong girang sekali. Hari itu dia meneruskan pesta sampai puas. Sesudah perjamuan selesai, Raja Coa Ai-houw pamit pada Couw Bun Ong. Dia pulang ke negeri Coa.

Sepulang tamunya, Raja Couw ingat terus omongan Raja Coa, sehingga ia ingin sekali bisa mendapatkan Sit-kui, isteri Raja Sit itu.

Pada suatu hari......

Raja Couw pura-pura mengatakan hendak jalan-jalan memeriksa ke negeri jajahannya. Sesudah berkunjung ke tempat-tempat lain, ia juga berkunjung ke negeri Sit. Dengan sangat hormat Raja Sit menyambut kedatangan Raja Couw di tengah jalan. Raja Couw dipersilakan datang ke istana Raja Sit. Di istana Raja Sit mengadakan pesta besar. Ketika semua sudah mulai duduk bersantap, Raja Sit mengangkat secawan arak untuk disuguhkan kepada Raja Couw sebagai ucapan selamat.

Raja Couw menyambut cawan arak itu, tetapi sambil tersenyum ia berkata, "Tempo hari aku sudah berjasa membalaskan saakit hati isteri anda. Sekarang kebetulan aku sampai di sini. Apa boleh aku minta isterimu datang menemuiku untuk menyuguhkan secawan arak kepadaku?" Raja Sit Tetapi karena ia sangat takut pada pengaruh Raja Couw yang besar kuasanya,

sekalipun merasa keberatan untuk meluluskan permintaannya, ia tidak berani membantah. Apa boleh buat ia perintahkan orangnya pergi memberitahukan hal itu kepada isterinya.

Selang tidak berapa lama kedengaran suara anting-anting dan gelang beradu. Itu menandakan

seorang perempuan berpakaian rebo sedang berjalan mendatangi. Tidak lama terlihat Nyonya

Sit-kui maju ke hadapannya untuk mengucapkan terima kasih. Raja Couw Bun Ong

membalas hormatnya, tetapi matanya terus mengawasi dengan tajam ke arah Sit-kui yang elok itu.

Kemudian Sit Kui mengambil cawan batu giok yang ia isi dengan arak. Dengan sangat hormat ia suguhkan arak itu kepada Raja Couw. Waktu itu kelihatan putihnya tangan Sit-kui serupa dengan warna cawan batu giok arakyang ada di tangannya itu. Melihat kecantikan Nyonya

Sit-kui begitu luar biasa, Raja Couw merasakan semangatnya bagaikan terbang ke angkasa. Dengan hati kebat-kebit ia berpikir.

"Astaga! Betul-betul omongan Raja Coa tidak salah sedikitpun. Perempuan yang begini cantik aku cuma bisa melihatnya di dalam sebuah lukisan puteri kahyangan. Aku tidak menyangka ternyata bisa juga ada di antara manusia. Akh, ini perkara yang ganjil sekali!" pikir Raja Couw.

Dia akan menyambut cawan arak itu dari tangan Sit-kui. Sebaliknya Sit-kui kelihatan tenang dan tidak bingung atawa gugup sedikitun. Dia serahkan cawan arak itu kepada budak istana untuk disampaikan kepada Raja Couw, yang terus diminum kering araknya oleh sang raja.

Nyonya Sit-kui memberi hormat lagi, lalu minta permisi akan masuk kembali ke dalam keraton.Raja Couw meluluskan permohonannya itu, tapi mata Raja Couw terus mengincar pada wanita manis yang berjalan begitu elok dan masuk ke dalam keraton. Ketika itu kelakukan Raja Couw mirip seekor luak atau musang sedang mengincar seekor ayam yang gemuk. Perbuatan ini tentu saja membuat gondok hati Raja Sit. Tetapi dia tidak berani berkata apa-apa lantaran sangat takut.

Setelah pesta selesai, Raja Couw dengan diatar oleh Raja Sit pergi ke gedung tamu yang memang sudah dirapikan buat tempat dia bermalam.

Malam itu Raja Couw Bun Ong tidak bisa tidur pulas. Paras Nyonya Sit-kui yang botoh dan manis terbayang terus di matanya. Dia putar otaknya mencari akal untuk bisa mendapatkan si wanita manis itu. AKhirnya dia mengambil pusan hendak merebut dengan paksa saja dari tangan Raja Sit.

Begitulah esok harinya Raja Couw mengatur meja perjamuan di gedong tamu dengan alasan untuk membalas penghormatan Raja Sit kepadanya. Dia undang Raja Sit, tetapi dengan diam- diam dia mengatur tentara yang disembunyikannya di suatu tempat.

Mendapat undangan itu Raja Sit dengan tergopoh-gopoh pergi mengunjungai ruang pesta. Dengan senang Raja Cow mengajak Raja Sit mengadakan pesta makan minum, tetapi sesudah minum sampai setengah mabuk, Raja Couw berpura-pura mabuk dan berkata kepada Raja Sit.

"Aku telah berjasa besar kepada isteri Kunhouw, sekarang tiga pasukan tentaraku ada di sini. Apakah isteri anda bisa menolong menyuguhi mereka arak?"kata Raja Couw. "Isteriku seorang perempuan yang lemah," kata Raja Sit, "aku rasa dia tidak akan mampu untuk melayani mereka yang demikian banyak. Hamba harap baginda mau berkasihan kepadanya,"

"Hei, apa kau bilang? Kau berani melupakan kewajibanmu dan berani membantah kehendakku!" kata Raja Couw dengan gusar sambil menggebrak mejda. "Ayo, mana orang- orangku, mengapa kalian tidak segera menangkap raja durhaka ini!"

Ketika Raja Sit hendak bicara untuk membela diri, tentara Couw yang bersembunyi sudah keburu keluar. Wan Ciang dan Touw Tan, dua panglima Couw yang gagah perkasa itu, sudah menangkap dan mengikat Raja Sit.

Kemudian Raja Couw memimpin tentaranya masuk ke dalam keraton Raja Sit untuk mencari Sit-kui. Ketika Sit-kui mendapat khabar telah terjadi kerusuhan di kediaman tamu negara, dengan menghela napas dia berkata. "Suamiku telah memimpin seekor macan buas masuk ke dalam rumahnya, sekarang kita yang jadi korbannya!" kata Nyonya Sit-kui. Sehabis berkata begitu buru-buru Nyonya Sit-kui lari ke dalam kebun di belakang istana dia hendak menceburkan diri ke dalam sumur.

Waktu itu Touw Tan keburu sampai di tempat itu. Melihat Sit-kui akan berbuat nekat, dengan cepat dia kejar. Dia pegang baju Sit-kui dan berkata, "Hu-jin apakah kau tidak mau menolong Sit-houw? Mengapa kalian suami isteri mau mati semuanya?". Sit-kui tertegun sejenak tidak bisa berkata apa-apa.

Touw Tan segera membawa kembang dunia itu menghadap pada Raja Couw. Dengan perkataan lemah-lembut Raja Couw Bun Ong menghibur nyonya manis itu. Dia berjanji tidak akan membunuh Raja Sit dan tidak akan merusak rumah abu leluhur Raja Sit. Di saat itu juga dia angkat Sit-kui menjadi permaisurinya. Sit-kui dinaikin ke kereta dan terus dibawa pulang ke negeri Couw.

Karena paras Sit-kui seperti kembang To, maka orang memberinya gelar To Hoa Hu-jin (Nyonya Bunga To). Kemudian Raja Couw menempatkan Raja Sit di tanah Ji-sui. Dia diberi sepuluh buah rumah dan tanah perusahaan untuk penghidupannya juga untuk merawati rumah abu leluhurnya. Tapi karena Raja Sit telah kehilangan mustika berjiwanya, dia senantiasa menanggung kesal dan mendongkol serta terus berduka. Selang tidak berapa lama dia terserang penyakit hebat dan meninggal dunia. Ya, sungguh kasihan!

Pada tahun pertama sejak bertahtanya Kaisar Ciu yang bernama Baginda Ciu Li Ong pada musim Cun (Semi) bulan Chia-gwe (bulan satu Imlek). Raja Cee Hoan Kong mengadakan sidang di istananya. Sesudah semua menteri sipil dan militer menjalankan penghormatan, Raja Cee Hoan Ong berkata pada Koan Tiong.

”Nasihat Tiong-hu sudah aku jalankan dengan baik. Aku sudah menjalankan pemerintahan di negeri Cee dengan baik. Juga sudah sesuai dengan ajaran dari Tiong-hu. Sekarang angkatan perang di negeri Cee sudah baik. Prajuritnya terlatih semuanya; ransum untuk angkatan perang sudah tersedia cukup. Rakyat negeri Cee pun semuanya sudah mengerti adat-istiadat dan mereka tahu kewajibannya. Aku pikir ada baiknya aku mengadakan perserikatan dengan Raja-raja Muda untuk menetapkan sebagai jago di daratan Tiongkok. Apakah Tiong-hu rasa

ini sudah saatnya atau belum?” kata Raja Cee Hoan Ong.

”Keadaan Raja-raja Muda pada masa ini, yang negaranya paling kuat dari negeri Cee masih banyak,” kata Koan Tiong. “Di selatan masih ada negeri Couw, di barat ada negeri Cin dan Chin. Mereka semua semata-mata hanya mengandalkan kegagahan mereka belaka. Mereka tidak mau tunduk kepada Kaisar Ciu. Maka sulit untuk menjadi jagoan di antara mereka.

Kerajaan Ciu, sekalipun sekarang sudah mulai lemah, tetapi sebenarnya Kerajaan Ciu menjadi

pemimpin di benua ini. Hanya karena mereka telah salah memindahkan Ibukota mereka ke sebelah timur, (menjadi Tong Ciu), sehingga Raja-raja Muda tidak mau datang menyatakan kepatuhan mereka. Banyak yang tidak mau mengantar upeti lagi. Terutama sejak Raja The berhasil memanah bahu Kaisar Ciu Hoan Ong, Raja-raja Muda semakin tidak mengindahkan kekuasaan Kerajaan Ciu. Bahkan Raja Couw mengangkat dirinya menjadi Kaisar. Menteri

dari negeri Song dan The telah membunuh raja mereka. Jelasnya telah banyak terjadi perkara yang tidak patut, tetapi tidak ada kerajaan yang berani memerangi mereka. Sekarang Kaisar Ciu Cong Ong baru saja wafat dan Kaisar yang baru telah menggantikannya. Baru-baru ini di negeri Song telah terjadi kekacauan. Panglima Lam-kiong Tiang Ban telah membuat huru- hara. Sekalipun panglima yang berkhianat itu sudah terbunuh, tetapi kedudukan Raja Song masih belum mantap. Sekarang sebaiknya Tuanku mengirim utusan menghadap ke istana Ciu. Tuanku boleh memohon kepada Kaisar Ciu supaya beliau mengeluarkan firman memberi izin kepada kita untuk membuat perhimpunan besar. Kita kumpulkan seluruh Raja-raja Muda serta menetapkan kedudukan Raja Song. Jika kedudukan Raja Song telah disahkan, kemudian baru kita muliakan Kaisar Ciu. Minta semua Raja-raja Muda menaruh hormat kembali kepada Dewan Kerajaan Ciu. Jika di antara negeri-negeri ada yang lemah, kita harus membantunya. Negara yang kuat kita ajak berserikat. Bagi raja yang membuat huru-hara dan tidak menuruti perintah kita, maka kita ajak semua Raja Muda untuk memeranginya. Apabila seluruh negeri sudah mengetahui masalah ini, maka masing-masing Raja Muda akan mengajak teman- temannya datang menghadap ke istana Cee. Dengan demikian, kita tidak usah sering

mengeluarkan kereta perang kita, tetapi usaha untuk menjadi jago segera akan terbukti.”

Alangkah girangnya Raja Cee Hoan Kong mendengar ucapan Koan Tiong tersebut. Dia setuju pada saran yang dikatakan Perdana Menterinya itu. Raja Cee segera memerintahkan seorang utusan pergi ke kota Lok untuk mengucapkan selamat kepada Baginda Ciu Li Ong. Sekaligus memohon supaya dia diberi izin untuk menghimpun Raja-raja Muda dan menetapkan kedudukan Raja Song.

Utusan itu pamit pergi ke kota Kaisar Ciu. Sesampai di Lok-yang dia menyampaikan pesan Raja Cee Hoan Kong kepada Kaisar Ciu. Utusan itu menceritakan keinginan Raja Cee Hian Kong..

”Siao Pek ternyata tidak lupa kepada Dewan Kerajaan Ciu, ini keberuntungan kami,” kata Kaisar Ciu Li Ong. ”Kami tahu Raja-raja Muda yang tinggal di sebelah hulu sungai Su-sui, bisa dikatakan Siao Pek menjadi kepalanya. Bagaimana kami tidak meluluskan

permohonannya?” kata Kaisar Ciu.

Kaisar Ciu Li Ong segera mengeluarkan firman seperti yang diminta oleh Raja Cee. Firman itu dia serahkan kepada utusan itu. Utusan negeri Cee mengucapkan terima kasih, dia pamit pulang. Setelah sampai di negeri Cee, dia sampaikan hasil kerjanya kepada Raja Cee.

Raja Cee Hoan Kong girang. Dia memerintahkan orangnya menberi kabar ke negeri Song, Louw, Tan, Coa, We, The, Co dan Ti. Dia menyatakan atas perintah Kaisar Ciu, dia hendak membuat perhimpunan Raja-raja Muda dan akan diadakan pada awal bulan Sha-gwe (bulan tiga Imlek) di tanah Pak-heng (tanah negeri Cee).

Tatkala hampir sampai waktu yang ditentukan, Raja Cee Hoan Kong bertanya kepada Koan Tiong. ”Untuk pergi ke tempat persidangan, kita harus membawa kereta perang dan tentara berapa banyak?” kata Raja Cee Hoan Kong.

”Tuanku tidak perlu membawa tentara,” sahut Koan Tiong. ”Karena Tuanku menerima titah Kaisar Ciu untuk menemui semua Raja-raja Muda. Mana pantas membawa kereta perang dan tentara? Karena perhimpunan ini diadakan dalam keadaan aman.”

Raja Cee Hoan Kong membenarkan ucapan Koan Tiong. Dia perintahkan tentaranya mendirikan panggung tiga tingkat. Panggung itu tingginya tiga tombak, di kiri digantungkan lonceng, di sebelah kanan diletakan genderang, di atas panggung diatur tempat duduk kaisar. Tetapi kursi ini dikosongkan. Sedang di tepi panggung disediakan tempat duduk untuk Raja- raja Muda. Batu giok, kain sutera dan lain-lain perhiasan diatur rapih sekali. Di tempat itu disediakan beberapa rumah untuk istirahat para tamu.

Ketika tiba saatnya, Raja Song Hoan Kong datang lebih dulu. Dia menemui Raja Cee Hoan Kong. Raja Song mengucapkan terima kasih kepada Cee Hoan Kong, karena ditolong menetapkan kedudukannya sebagai Raja Muda.

Dengan manis budi Raja Cee melayani Raja Song bicara. Pada esok harinya......

Raja Tan Soan Kong dan Tio Cu, dua raja telah sampai. Sedang Coa Ai-houw sekalipun merasa sakit hati kepada Raja Couw, sudah takluk kepada Raja Couw, tetapi dia datang ke pertemuan para Raja Muda itu.

Empat Raja Muda yang melihat Raja Cee datang tidak membawa angkatan perangnya, mereka segera mengundurkan kereta perang mereka kira-kira dua puluh li jauhnya.

Waktu itu akhir bulan Ji-gwe (bulan dua Imlek), tetapi Raja-raja Muda yang diundang belum kumpul seluruhnya. Raja Cee jadi kurang senang, dia berunding dengan Koan Tiong.

”Raja-raja Muda yang diundang banyak yang belum datang,” kata Raja Cee Hoan Kong, ”apa tidak lebih baik kita ubah waktu pertemuannya. Kita harus menunggu sampai mereka kumpul semua?”

”Peribahasa mengatakan: Tiga orang saja bisa menjadi perserikatan. Sekarang sudah ada empat Raja Muda yang datang. Jumlah ini tidak bisa dikatakan sedikit,” kata Koan Tiong dengan sabar. ”Jika Tuanku mengubah waktu pertemuannya, ini melanggar janji dan

menghilangkan kepercayaan mereka. Apalagi jika sudah ditunggu tetapi masih belum datang juga. Itu artinya melalaikan perintah Kaisar Ciu! Jika sejak awal Raja muda tidak taat pada

perintah ini. Bagaimana nanti?”

”Bagaimana baiknya, apa kita langsung membuat perserikatan atau cuma membuat pertemuan saja?” tanya Cee Hoa Kong.

”Pikiran para Raja Muda belum bersatu, biar kita lihat jika mereka sudah berkumpul semua. Jika mereka tidak bubar, baru saat itu boleh diadakan perserikatan,” sahut Koan Tiong. Raja Cee menyatakan setuju. Dia berjanji akan melakukan apa yang dikatakan oleh Koan Tiong.

Pada awal bulan Sha-gwe (bulan tiga Imlek), waktu itu udara cerah sekali. Dengan gembira Raja Muda lima negara itu berkumpul di panggung bagian bawah. Begitu mereka sudah menjalankan hormat satu sama lain, Raja Cee Hoan Kong mulai angkat bicara. ”Karena Dewan Pemerintah Kaisar Ciu sudah lama tidak diindahkan lagi oleh para Raja

Muda, maka terjadi banyak kekacauan dan pemberontakan. Sekarang aku telah menerima

titah Kaisar Ciu untuk mengumpulkan semua Raja Muda. Maksudnya untuk mengembalikan wibawa ”Dewan Kerajaan Ciu”. Maka hari ini aku usulkan agar diangkat seseorang untuk menjadi pemimpin semua Raja Muda. Dia yang akan memegang kekuasaan besar untuk

mengurus pemerintahan yang harus dijalankan di seluruh negeri ini.”

Sesudah Raja Cee berkata begitu, di tempat itu segera diadakan perundingan. Tetapi Raja-raja Muda itu merasa sangsi. Mereka bingung semua. Jika mereka mengangkat Raja Cee, tetapi keturunan Raja Song bergelar Kong (hertog), sedang Raja Cee cuma bergelar Houw (graaf/pangeran). Menurut aturan semestinyam Raja Song yang derajatnya lebih tinggi dan berhak jadi pemimpin. Sebaliknya jika mereka mengangkat Raja Song, tetapi Raja Song baru saja jadi raja. Sedang kedudukan yang diperolehnya justru berkat bantuan Raja Cee. Maka Raja Song pasti tidak berani menduduki posisi lebih tinggi dari Raja Cee, penolongnya.

Begitulah sesudah ditimbang pergi datang sekian lamanya, Raja Tan Soan Kong bangkit dari tempat duduknya dan berkata, ”Tentang titah Baginda Ciu Li Ong untuk mengumpulkan Raja-raja Muda, Baginda telah menyerahkan masalah ini kepada Cee-houw, karena itu harus Cee-houw yang diangkat menjadi kepala perserikatan?”

Semua Raja Muda membenarkan ucapan Raja Tan, tidak ada yang membantah pendapat Raja Tan.

Raja Cee Hoan Kong berulang-ulang hendak mengalah, tetapi tidak urung dia diangkat menjadi pemimpin mereka. Kemudian para Raja Muda masuk ke panggung tingkat atas. Raja Cee menjadi kepala, yang ke-dua Raja Song-kong, ke-tiga Raja Tan-houw, ke-empat Raja Coa-houw dan yang ke-lima Raja Ti-cu. Sesudah berbaris tertib dan tetap, lonceng dan genderang dibunyikan. Pertama-tama mereka menjalankan upacara adat. Mereka menghadap ke arah tempat tinggal Kaisar Ciu. Kemudian satu sama lain memberi hormat seperti sesama saudara tercinta.

Sementara itu Tiong Sun Ciu datang membawa sepucuk surat perjanjian. Dia berlutut membacakan surat perjanjian yang bunyinya kira-kira begini:

”Pada hari ini, Cee-houw Siao Pek, Song-kong Gi Wat, Tan-houw Ci Kiu, Coa-houw Hian Bu dan Ti-cu Kek, dengan mentaati titah Sri Baginda Ciu Li Ong telah berhimpun di Pak-heng, dan satu sama lain berjanji hendak bersama-sama menunjang pada Dewan Kerajaan Ciu, menolong negeri yang lemah dan mengangkat negeri yang jatuh; apabila ada yang melanggar perjanjian ini, semua negeri akan bersama-sama memerangi padanya.”