--> -->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 02

Bab 02

”Sayang kepada rakyat, bagaimana aturannya?”

”Satu kaum mengurus kaum keluarganya sendiri, satu keluarga mengurus kerabatnya. Sama- sama mengurus pekerjaannya masing-masing, dan sama-sama menerima hasilnya. Dengan demikian maka rakyat bisa saling mencintai. Bebaskan dosa-dosa lama para terhukum,

perintahkan mereka merawat abu leluhurnya. Mereka dan Tuanku harus menolong orang yang miskin dan orang yang tidak punya turunan. Dengan demikian rakyat bisa bertambah banyak. Periksa hati-hati segala hukuman atau dendaan, peringan pembayaran pajak. Dengan demikian rakyat bisa menjadi kaya dan negara menjadi makmur. Hargai orang pandai atau seorang ter- pelajar, suruh mereka mengajar di dalam negeri sendiri. Dengan demikian rakyat bisa tahu adat-istiadat. Timbang dulu dengan benar segala perintah yang hendak dikeluarkan, supaya ketika sudah dikeluarkan tidak sampai diubah lagi. Dengan demikian maka rakyat bisa menjadi orang yang jujur dan patuh. Begitulah namanya sayang kepada rakyat.”

”Jika rasa sayang pada rakyat sudah berjalan baik, untuk mengenakan aturan pada rakyat harus bagaimana?” tanya Raja Cee lagi.

”Pelajar, petani, para tukang dan para pedagang, mereka harus digolongkan menjadi empat golomngan rakyat. Pelajar harus dibiasakan belajar di sekolah, anak petani harus dibiasakan belajar bertani, anak para tukang dan anak para pedagang, masing-masing harus terus menekuni bidang penghidupannya. Mereka tidak baik bertukar-tukar propesi dengan

pekerjaan lain. Dengan demikian penghidupan rakyat bisa jadi enak dan tenteram.”

”Jika rakyat sudah enak dan aman hidupnya, tetapi alat perang tidak mencukupi. Bagaimana harus mengaturnya?”

”Kalau hendak mencukupi alat senjata, harus diadakan dendaan untuk menebus hukuman seseorang yang tertangkap dan kedapatan bersalah. Orang yang berdosa berat harus ditebus dengan seperangkat pakaian perang yang terbuat dari kulit badak. Orang yang bedosa ringan harus ditebus dengan sebuah tameng yang tersalut besi. Orang yang berdosa sangat kecil boleh didenda dengan barang logam. Orang yang dosanya tidak jelas, boleh diberi ampun.

Yang perkaranya seri satu sama lain, boleh didenda dua belas anak panah. Nanti logam itu jika sudah terkumpul banyak, yang bagus dilebur dibuat pedang atau tombak. Sedangkan besi yang jelek dilebur dibuat cangkul atau parang untuk para petani.”

”Alat perang sudah cukup, tetapi pemakaian uang tidak cukup. Bagaimana baiknya?” kata raja.

”Buat parit di gunung dan jadikan itu tambang emas supaya jadi uang. Masak air laut supaya menjadi garam. Penghasilan ini bisa berlangsung terus-menerus di kolong langit selamanya. Terima segala barang-barang yang murah harganya, kumpulkan di suatu tempat atau gudang. Suatu saat barang-barang itu bisa dijual atau dilelang dengan mendapat keuntungan. Buatkan 300 barak untuk perempuan pelacur,*) yaitu untuk menyenangkan para saudagar yang berdagang keliling. Nanti jika mereka berdatangan dan bermalam di sana, pasti barang-barang mereka terkumpul banyak di tempat itu. Kemudian baru kenakan pada mereka bea atau pajak. Dengan demikian pasti cukup pemakaian uang kita.”

”Uang sudah cukup, tapi asrama atau markas tentara masih kurang banyak, pengaruh tentara belum besar. Bagaimana mengaturnya?”

”Tentara perlu dipilih yang pandai-pandai saja tidak perlu terlalu banyak. Kekuatan harus hatinya, bukan tenaganya. Sebaiknya Tuanku mengatur angkatan perang itu dengan rapih dan tentara harus merawat alat senjata mereka dengan benar-benar. Di dunia ini, hamba belum pernah mendengar ada panglima perang yang bisa menang perang, manakala tentaranya tidak teratur dengan rapih dan alat perangnya tidak terawat baik! Apabila Tuanku hendak memperkuat angkatan perang, paling utama harus memperbaiki dulu dengan benar tentaranya. Jika kiranya Tuanku percaya kepada hamba, hamba mohon Tuanku memperbaiki lebih dahulu pemerintahan di dalam negeri serta mengurus keadaan tentara kita.”

”Bagaimana pemerintahan di dalam negeri harus aku urus?” tanya baginda.

”Negeri ini harus dibagi menjadi 21 bagian atau wilayah; enam bagian untuk orang

pertukangan dan perniagaan. Lima belas bagian untuk anak sekolah atau orang terpelajar. Orang-orang pertukangan dan perniagaan maksudnya untuk mencukupi keuangan negara. Orang-orang terpelajar untuk mencukupi bala-tentara. Para petani untuk mencukupi bahan makanan kita semua.”

”Bagaimana caranya untuk mencukupi bala-tentara?”

”Lima buah rumah dijadikan satu Kui, di tempat itu harus diangkat seorang Kui-tiang. Dari sepuluh Kui harus dijadikan satu Li, di tempat itu harus diurus oleh seorang Yu-su. Empat Li dijadikan satu Lian, di tempat itu harus diangkat seorang Lian-tiang. Dari sepuluh Lian dijadikan satu Hiang, di tempat itu diatur oleh seorang Liang-jin. Ini namanya peraturan bala- tentara. Lima buah rumah menjadi satu Kui, ialah lima orang menjadi satu barisan. Kui-tiang yang memimpin mereka. Sepuluh Kui menjadi satu Li, jumlahnya 50 orang menjadi satu pasukan kecil. Li-yu-su yang memimpin mereka. Empat Li menjadi satu Lian, jumlahnya 200 orang dan menjadi satu pasukan. Lian-tiang yang memimpin mereka. Yang sepuluh Lian menjadi satu Hiang, jumlahnya 2000 orang dan menempati satu asrama. Hiang-liang-jin yang memimpin mereka. Di dalam lima Hiang harus diangkat seorang Su-tiang, dari jumlah 10.000 serdadu dijadikan satu pasukan dan dipimpin oleh lima Hiang. Dari 15 Hiang bisa terdapat 300 orang, lalu mereka dipecah menjadi tiga pasukan perang. Tuanku yang memimpin pasukan yang berada di tengah. Dua orang putera Kho He masing-masing mengepalai satu pasukan.

Dalam empat musim pada saat senggang, iseng-iseng boleh pergi berburu. Sekalian untuk berlatih perang. Musim Cun disebut So, saat itu untuk mencari binatang yang tidak hamil. Binatang itu boleh diburu. Pada musim He disebut Biao, saat ini untuk menghindari bahaya merusak tanaman dan pepohonan. Pada musim Ciu disebut Sian, jalankan pembasmian pada segala binatang buas dan berbahaya. Pada musim yang disebut Siu, saat ini untuk melakukan pemeriksaan pasukan keamanan, juga sekaligus untuk memberi ganjaran kepada yang berpahala. Kemudian perintahkan rakyat belajar soal kemiliteran.**) Tentara diatur di

asramanya, dan asrama tentara harus diatur di sebuah tegalan jauh dari kota. Juga jauh dari rumah penduduk. Apabila mereka sudah memahami pelajaran kemiliteran, jangan biarkan mereka berpindah-pindah. Mereka semua harus bersembahyang kepada Allah (beragama) dan mengangkat sumpah. Satu sama lain harus saling membela. Susah dan senang harus bersama- sama. Dalam perang di waktu malam bisa saling mengenali suara masing-masing. Ini penting sehingga tidak jadi salah bunuh. Jika berperang di siang hari mata mereka harus bisa saling mengenali. Dengan demikian mereka tidak kalut. Dengan demikian mereka akan selalu

bergembira dan senang. Meskipun mereka mati di medan perang, mereka akan merasa puas. Tegasnya tinggal bersama-sama senang, mati bersama-sama sedih. Berjaga bersama-sama keras, perang bersama-sama gagah. Jika negeri Cee punya 30.000 prajurit saja, sudah cukup untuk negeri Cee menjagoi di kolong langit!”

”Jika tentara sudah kuat, bolehkah kita segera menaklukan Raja-raja Muda yang ada di sekitar kita?” tanya baginda.

”Jangan! Sebelum Kerajaan Ciu dijaga kuat dan tetangga negeri belum menaluk. Jika Tuanku hendak menaklukan seluruh Raja Muda, sebaiknya junjung tinggi Kerajaan Ciu dulu. Kita harus damai dan rukun dengan tetangga negeri.” kata Koan Tiong.

”Kalau begitu, bagaimana seharusnya mengaturnya?”

”Periksa dulu tanah-tanah yang menjadi wilayah kita,” kata Koan Tiong. ”Kembalikan tanah- tanah milik rakyat yang terampas. Lakukan kunjungan ke daerah dan kirim utusan ke berbagai negara dan bawa bingkisan berharga. Tetapi kita jangan menerima barang antaran orang kepada kita. Dengan demikian maka di seluruh penjuru negeri, suka kepada. Pasti mereka bersedia mendekati negeri kita. Perintahkan 80 orang terpelajar dengan naik kereta, naik kuda, dan membekal pakaian dan uang. Mereka harus pergi mengembara ke empat penjuru negeri. Tugas mereka adalah untuk mengundang orang-orang pandai di seluruh dunia supaya datang ke negara kita. Perintahkan orang kita membawa barang berharga dan suruh mereka berjualan di empat penjuru negeri. Tujuannya adalah untuk menyelidiki keadaan orang-orang dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Jika kita menemukan tanah yang sangat bagus, maka negara itu harus kita duduki. Kita boleh memperluas tanah jajahan. Manakala ada yang

berbuat keji, maupun kekacauan serta mengusir atau membunuh raja mereka. Binasakan dia. Tuanku boleh membangun kekuasaan dan pengaruh. Dengan demikian bisa diharapkan semua Raja Muda yang ada di berbagai negeri akan berdatangan untuk megabdi kepada Tuanku.

Kemudian Tuanku ajak mereka menghormati Kerajaan Ciu, dan perintahkan agar mereka melanjutkan mengantar upeti ke negeri kita. Dengan demikian Kerajaan Ciu bisa dimuliakan kembali. Jika semuanya sudah bisa terjadi, sekalipun Tuanku hendak menolak gelar Hong- pek, pasti akan Tuanku miliki juga.”

Begitulah dengan beruntun sampai selama tiga hari Raja Cee Hoan Kong dan Koan Tiong telah membicarakan masalah mengurus negara. Karena mereka mendapat kecocokan, maka mereka tampak tak pernah merasa bosan.

Raja Cee Hoan Kong yakin Koan Tiong memiliki kepandaian yang luar biasa. Tentu saja Cee Hoan Kong girang sekali. Dia pantang tidak makan barang bernyawa selama tiga hari.

Kemudian dia mengadakan sembahyang di kelenteng Raja Cee Siang Kong almarhum. Dia bilang dia akan mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Menterinya.

Mula-mula Koan Tiong menampik jabatan yang diberikan oleh Cee Hoan Kong. Tetapi Cee Hoan Kong dengan manis budi berkata, ”Aku terima baik segala saran dan nasihatmu untuk menjalankan pemerintahan di negeri Cee. Aku ingin cita-citaku tercapai seperti yang aku harapkan. Karena itu aku hendak mengangkatmu menjadi Perdana Menteriku, tetapi mengapa kau menolaknya?” ”O, bukan hamba menolak!” kata Koan Tiong. ”Hamba mendengar ada pepatah kuno mengatakan: Adanya sebuah hutan rimba, bukan hanya karena sebatang pohon. Begitu pun terjadinya samudera yang luas. Juga bukan cuma karena sebuah sungai. Maka jika Tuanku hendak melaksanakan usaha besar dan mulia itu, sudah seharusnya Tuanku memakai lima orang budiman yang lainnya.”

”Siapakah kelima orang budiman itu?” tanya Raja Cee Hoan Kong.

”Pandai mengimbangi keadaan. Mengerti harus bicara tegas atau lunak. Dalam hal ini hamba tidak bisa menyamai Sek Peng. Hamba mohon angkatlah dia menjadi Tay-su-heng. Membuka tanah untuk meluaskan pertanian, dan mengumpulkan ransum sebanyak-banyaknya. Atau memperbaiki penghasilan dari tanah. Dalam hal ini hamba tidak bisa seperti Leng Wat, hamba mohon Tuanku mengangkatnya menjadi Tay-su-tian. Di lapangan yang luas, kereta perang atau tentara tidak berani bergerak, tetapi sekali ia bunyikan genderang perang,. tiga pasukan tentara tidak menghiraukan bahaya maut dan mereka akan maju terus. Dalam hal ini hamba tidak bisa dibandingkan dengan Ong-cu Seng Hu, maka hamba mohon angkatlah dia menjadi Tay-su-ma. Memutuskan perkara dengan adil, tidak membunuh yang tidak bersalah, dan tidak menghukum orang yang tidak berdosa. Dalam hal ini hamba tidak bisa menandingi Pin Si Bu, maka hamba mohon Tuanku mengangkat dia menjadi Tay-su-li. Tidak peduli dia Raja atau siapa saja, dengan setia diberinya nasihat.

Dia tidak takut kepada hukuman mati, juga tidak serakah pada kekayaan atau kebesaran. Dalam hal ini hamba tidak bisa disamakan dengan Tong Kok Gee, maka hamba mohon Tuanku mengangkat dia menjadi Tay-kan. Jika Tuanku hendak mengatur negeri dan

memperkuat angkatan perang. Maka dari ke-lima pembesar yang hamba sebutkan tadi, hamba kira mau tidak mau harus Tuanku pakai mereka. Dengan dibantu oleh mereka, jika Tuanku hendak menjadi jago dari Raja-raja Muda di kolong langit ini, meskipun hamba ini tidak pandai. Apa boleh buat hamba bersedia memangku jabatan Perdana Menteri yang Tuanku tawarkan kepada hamba.”

Mendengar saran-saran dari Koan Tiong serta mendengar kesediaannya untuk menjadi Perdana Menteri asal dibantu oleh ke-lima orang yang pandai itu, Raja Cee Hoan Kong senang sekali. Segera dia mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Mentri. Sedang Sek Peng kawan-kawannya, mereka berjumlah lima orang, semua diberi jabatan menurut saran Koan Tiong.

Sesudah itu Raja Cee Hoan Kong memerintahkan membuat undang-undang. Sesudah selesai lalu digantungkan di depan pintu kota. Raja Cee Hoan Kong ingin melaksanakan gagasan Koan Tiong.

Koan Tiong memegang pemerintahan negeri Cee sebagai P.M. Dia dibantu oleh lima orang budiman. Dengan giat dan rajin mereka mengurus pekerjaannya.

**

Pada suatu hari.....

Raja Cee Hoan Kong berpikir.

”Ada beberapa sifatku yang kurang baik. Aku sangsi minta pendapat pada Tiong-hu!” pikir Raja Cee. Karena ingin maju terpaksa dia bicara juga. ”Perangiku buruk,” kata Raja Cee. ”Aku terlalu suka bersenang-senang. Aku senang berburu, juga paras elok. Apa sifatku itu berbahaya bagi keutuhan negeri ini?” kata Raja Cee.

”Tidak, itu tidak jadi soal,” sahut Koan Tiong.

”Kalau begitu apa yang menjadi hambatan dalam memerintah sebuah negara?” kata baginda lagi.

”Dalam pemerintahan seorang Raja tidak memakai orang-orang yang pandai dan bijaksana. Itu adalah hambatan yang pertama. Sudah tahu mereka pandai tetapi kita tidak memakainya, itu yang menjadi hambatan yang ke-dua. Memakai orang pandai tetapi tidak diandalkan, merupakan hambatan yang ke-tiga. Mengandalkan mereka tetapi dicampur dengan orang yang derajatnya rendah, itu merupakan hambatan yang ke-empat.” kata Koan Tiong.

”Baiklah, aku akan memperhatikan masalah itu,” kata Cee Hoan Kong dengan perasaan senang.

**

Sejak saat itu Raja Cee Hoan Kong memercayakan benar semua masalah kepada Koan Tiong. Akhirnya Cee Hoan Kong menghormati Koan Tiong yang diberi gelar ”Tiong Hu”. Koan

Tiong mendapat kehormatan lebih dari pada Kho He.

Raja Cee Hoan Kong mengumumkan pada semua pembesar.

”Jika di dalam negeri ada masalah besar. Pertama-tama harus dilaporkan dahulu kepada Tiong-hu, Koan Tiong. Baru kemudian disampaikan kepadaku. Berbagai perkara yang akan dijalankan, semua harus sepengetahuan dari Tiong Hu, Koan Tiong.” kata Raja Cee.

Para pejabat dan siapa pun di negeri Cee dilarang memanggil Koan Tiong dengan nama panggilan Ie Gouw atau namanya lagi. Mereka diharuskan memanggilnya dengan sebutan ”Tiong” saja. Tidak perduli orang itu berpangkat tinggi atau rendah.

**

Ketika Raja Louw mendengar khabar negeri Cee telah mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Menteri, dengan sangat gusar ia berkata, ”Ah, sungguh aku menyesal! Mengapa aku dulu tidak mendengar usul Si Pek, sekarang aku kembali terhina oleh seorang anak kecil!”

Semakin dia berpikir hatinya jadi semakin panas. Dia siapkan angkatan perangnya hendak menyerang ke negeri Cee. Dia berniat membalas sakit hati ketika dia dikalahkan pada saat berperang di Kian-si.

Ketika mendengar khabar negeri Louw akan menyerang ke negerinya, Raja Cee mendongkol sekali.“Aku tidak suka orang menyerang ke negeri Cee, maka aku akan mendahului mereka. Apa kau stuju?” kata Raja Cee pada Koan Tiong.

”Disiplin tentara kita belum sempurna betul. Saat ini belum boleh dipakai untuk berperang dulu,” sahut Koan Tiong.

Koan Tiong mencoba mencegah niat Cee Hoan Kong yang sangat berambisi itu. Tetapi karena geram sekalipun dinasihati oleh Koan Tiong, Cee Hoan Kong tidak mau meladeninya. Segera dia mengangkat Pao Siok Gee menjadi jenderal. Dia diperintahkan memimpin angkatan perangnya. Dia diperintah langsung menyerang tanah Tiang-ciak. Ketika Raja Louw Cong Kong sudah mendapat laporan bahwa angkatan perang negeri Cee sudah datang menyerang lebih dahulu sebelum diserang. Louw Cong Kong kaget, dia

memanggil Si Pek untuk membicarakan masalah itu.

”Negeri Cee sangat angkuh dan keterlaluan menghina kita. Aku ingin tahu bagaimana

pendapat dan akalmu untuk melabrak angkatan perang mereka?” kata Louw Cong Kong. ”Hamba punya usul ada seseorang yang bisa melawan mereka,” sahut Si Pek.

”Siapa itu?” tanya Louw Cong Kong.

”Namanya Co We,” kata Si Pek. ”Sekarang sedang hidup menyepi di kampung Tong-peng. Terus terang sejak dulu dia belum pernah menjadi pejabat. Hamba tahu betul, dia pandai dan pantas menjadi seorang Perdana Menteri atau panglima perang.”

Mendengar penjelasan itu Raja Louw Cong Kong girang sekali. Dia minta Si Pek pergi mengundang Co We untuk dijadikan panglima perang.

Sesudah pamit pada rajanya, Si Pek langsung pergi. Ketika sudah bertemu dengan Co We, Si

Pek langsung menyampaikan undangan Raja Louw kepada Co We.

”Ha, ha, ha, kalau begitu orang yang makan daging tidak punya tipu-muslihat. Dia mencari

akal pada orang yang cuma makan sayuran!” kata Co We sambil tertawa.

”Kau benar,.“ kata Si Pek, ”sebab orang yang makan sayuran banyak akalnya.Dia lebih baik dari orang yang makan daging.”

Kedua sahabat itu berbincang-bincang cukup lama. Semula Co We menolak undangan itu. Tetapi Si Pek memaksa terus. Akhirnya Co We mau ikut menemui Lauw Cong Kong. Ketika mereka sampai, Louw Cong Kong menyilakan Co We duduk. Dia menanyakan berbagai masalah. Akhirnya bicara soal yang dihadapi oleh Louw Cong Kong.

”Jika kita berperang melawan tanpa menggunakan siasat, mana bisa kita mengalahkan mereka.” kata Raja Louw .

”Dalam masalah militer kita harus melihat situasi di medan perang, karena itu tidak bisa dikatakan harus bagaimana,” sahut Co We dengan sabar. ”Jika Tuanku percaya, hamba bersedia memimpin pasukan. Soal taktik perangnya, nanti saja di lapangan.”

Mendengar ucapan Co We, Raja Louw senang sekali. Dia ajak Co We naik kereta perang bersamanya. Mereka memimpin pasukan besar berangkat menuju ke daerah Ciang-ciak.

**

Di pihak angkatan perang Cee....

Mendengar laporan tentara Raja Louw sudah hampir sampai di Ciang-ciak, Pao Siok Gee buru-buru mengatur rapih angkatan perangnya. Mereka disiapkan untuk bertempur mati- matian.

Tidak berapa lama Raja Louw Cong Kong bersama angkatan perangnya tiba di Ciang-ciak. Dia segera mengatur angkatan perangnya untuk bisa langsung bertempur dengan musuh. Ketika berperang di Kian-si angkatan perang Cee yang dipimpin oleh Pao Siok Gee pernah mengalahkan tentara Louw. Sekarang Pao Siok Gee jadi kurang waspada terhadap lawannya. Dia anggap ringan kekuatan musuh. Dengan tidak banyak bicara lagi Pao Siok Gee memerintahkan maju perang. Angkatan perangnya segera bertempur. Pao Siok Gee berjanji

jika menang anak buahnya akan diberi hadiah. Mendengar suara genderang perang dibunyikan bagaikan suara guntur, Raja Louw Cong Kong memerintahkan anak buahnya menyambut kedatangan musuh. Tapi Co We mencegahnya.

”Angkatan perang negeri Cee sedang bersemangat. Kita harus sabar dan harus menunggu saat yang tepat melawan mereka.” kata Co We.

Setelah berkata begitu Co We mengeluarkan ancaman pada anak buahnya. ”Jika kalian berani membuat gaduh, maka kalian akan segera dibunuh.” kata Co We.

Ketika tentara negeri Cee datang menerjang. Angkatan perang Louw sangat kokoh bagaikan tahang besi. Sulit digempur! Karena tentara Cee tidak bisa mengalahkannya, terpaksa mereka harus mundur.

Tidak lama kemudian dari pasukan Cee terdengar bunyi genderang perang. Tiba-tiba datang pasukan Cee menerjang. Tetapi kembali mereka harus mundur lagi, karena tentara negeri Louw masih tetap diam bertahan seperti semula.

”Tentara Louw takut berperang. Bunyikan lagi genderang perang! Pasti mereka akan segera mundur!” seru Pao Siok Gee dengan girang.

Pao Siok Gee memerintahkan tentaranya maju perang mereka menyerang lebih hebat lagi. Mendengar suara genderang perang dibunyikan oleh pihak Cee, barulah Co We berkata, ”Nah, sekarang saatnya untuk mengalahkan tentara Cee! Tuanku perintahkan tentara kita menyerang!” kata Co We.

Tiba-tiba dari pihak Louw terdengar bunyi genderang perang. Dengan serempak tentara Louw melabrak pasukan Cee. Genderang perang pihak Cee sudah berbunyi dua kali. Tentara Louw tidak keluar menyambut. Pao Siok Gee jadi penasaran. Dia mengira tentara Louw benar-benar takut berperang. Tetapi di luar dugaannya, begitu genderang perang Louw dibunyikan, tiba- tiba majulah tentara Louw menyerbu. Tentara yang membawa tombak, golok, kapak dan anak panah meluncur bagaikan air bah saja. Kedatangnya begitu mendadak dan hebat sekali.

Begitu cepatnya seumpama orang mendengar suara guntur. Dan orang tidak sempat menutup telinganya. Dalam waktu singkat tentara Cee mendapat kerusakan besar. Terpaksa mereka kabur lipat kuping dengan tidak mau mendengar komando yang diberikan oleh Pao Siok Gee.

Melihat tentara Cee sedang kalut dan kabur. Raja Louw hendak memberi tanda agar tentaranya mengejar musuh. Tapi Co We mencegahnya.

”Jangan! Akan hamba periksa dulu keadaan musuh.” kata Co We.

Sambil berkata begitu Co We turun dari atas kereta perangnya, dia mengawasi ke arah tentara Cee. Sesudah itu, dia naik lagi ke atas kereta perangnya. Dia memandang ke jurusan lain seketika lamanya. Baru sesudah itu dia berkata, ”Nah, sekarang boleh kejar mereka!”

Raja Louw Cong Kong memberi komando pada tentaranya untuk mengejar tentara Cee. Mereka mengejar sampai 30 li lebih jauhnya. Sesudah berhasil merampas senjata cukup banyak dan tawanan tentara Cee, angkatan perang Louw kemudian ditarik mundu pulang ke negerinya. ***

1) Si Pek memang cerdas. Daripada Kwan Tiong dipakai di negeri Cee, dan tidak bekerja pada junjungannya, lebih baik Kwan Tiong binasa. Sehingga mereka sama-sama tidak memiliki orang gagah ini. Siasat ini sungguh licin dan tak heran jika kisah klask ”Tong Ciu Liat Kok” pada zaman Cun Ciu ini sangat digemari karena penuh akal dan intrik yang menarik.

2) Siang Tay-hu = Perdana Menteri.

*) Semacam lokalisasi pelacuran.

**) Latihan militer sipil dimaksudkan jika mendadak ada mobilisasi umum.

Tatkala Raja Louw Cong Kong sudah kembali ke istananya,ia menyatakan kagum dan bertanya kepada Co We.

”Coba kau jelaskan padaku, mengapa hanya dalam sekali serang kau bisa memenangkan peperangan itu?” kata baginda.

Co We tersenyum dan berkata, ”Dalam masalah perang, semangat tempur tentara yang paling penting. Semangat perang yang tinggi baru bisa memenangkan peperangan. Jika semangat tentara lemah, maka kita akan kalah. Genderang adalah suatu tanda untuk membangkitkan semangat prajurit. Pertama kali dibunyikan, semangatnya masih tinggi. Ketika bunyi genderang yang ke-dua kalinya, jadi agak lemah kurang bersemangat. Ketika terdengar bunyi genderang yang ketiga kalinya, semangat itu pun habislah! Mengapa hamba melarang memukul genderang, itu karena hamba hendak memelihara semangat tempur tentara kita.

Ketika musuh sudah tiga kali membunyikan tambur, jelas sudah semangat tempur musuh sudah lemah! Barulah kita membunyikan tambur yang pertama, sehingga semangat tentara kita sedang kuat-kuatnya. Karena yang masih bersemngat menerjang pada musuh yang mulai loyo, sudah tentu kita jadi pemenangnya.”

”Selain itu,” kata Louw Cong Kong dengan paras ceria, ”pertama, apa yang hendak kau lihat maka kau tidak mengizinkan tentara kita mengejar musuh? Kemudian, apa yang sudah kau lihat maka kau memerintahkan tentara kita mengejar musuh? Aku harap kau suka

menjelaskannya.”

”Orang Cee banyak akalnya,” sahut Co We, ”aku khawatir mereka menyembunyikan tentara mereka di suatu tempat. Maka kekalahan atau mudurnya mereka belum bisa dipercaya penuh. Sesudah aku mendapat kenyataan kereta perang mereka sudah kalang-kabut dan bendera- benderanya tidak teratur rapih. Baru aku yakin, sesungguhnya mereka sudah kalah! Mereka sedang kabur ”sipat kuping”. Maka aku perintahkan pasukan mengejar mereka.”

”Hai, kiranya kau mengerti benar tentang ilmu berperang,” memuji Raja Louw dengan girang. Kemudian baginda memberi jabatan sebagai Tay-hu pada Co We, serta memberi hadiah besar pada Si Pek yang sudah bisa mencarikan orang pandai itu.

Waktu itu jatuh pada musim Cun (Semi) tahun Ciu Cong Ong ke-13. Dalam peperangan itu pihak Louw mendapat kemenangan besar. Pihak Cee telah mendapat kerusakan besar dengan tersipu-sipu mereka pulang ke negaranya. Ketika Raja Cee Hoan Kong melihat tentaranya banyak yang binasa, dia uring-uringan.

”Keluarnya angkatan perang kita tidak ada gunanya, bagaimana bisa menalukin semua Raja- raja Muda!” ”Cee dan Louw sama-sama mempunyai seribu pasukan kereta perang,” kata Pao Siok Gee, ”Satu sama lain keadaannya tidak berbeda. Sedang ketangguhan dan kelemahannya pun menurut hamba serupa juga. Dulu ketika berperang di Kian-si, kita yang menjadi tuan rumah. Kita mampu mengalahkan Louw. Sekarang kita berperang di Tiang-ciak. Louw yang menjadi

tuan rumah dan kita mendapat kerusakan besar. Jika Tuanku setuju, hamba bersedia menerima titah tuanku untuk minta bantuan pada negeri Song. Apabila Cee dan Song bergabung tentaranya, pasti kita akan mampu mengalahkan negeri Louw!” Raja Cee Hoan Kong meluluskan permohonan Pao Siok Gee untuk menemui Raja Song.

**

Ketika Pao Siok Gee sudah bertemu dengan Raja Song, kepada Raja Song Pao Siok Gee menyatakan.

”Atas perintah Raja Cee hamba datang untuk meminta bala-bantuan dari negeri Song.” kata Pao Siok Gee.

Song Bin Kong memang sekutu negeri Cee. Sejak Cee Siang Kong memerintah negeri Cee, mereka berdua memang sudah berserikat. Sekarang mendengar Pangeran Siao Pek telah menggantikan kedudukan Cee Siang Kong almarhum. Song Bin Kong pun ingin meneruskan persahabatannya dengan negeri Cee. Kedatangan Pao Siok Gee disambut gembira. Dalam suatu pembicaraan resmi mereka segera menetapkan perjanjian dengan Pao Siok Gee. Mereka siap mengadakan perserikatan. Raja Song Bin Kong pun berjanji, pada musim He di bulan

Lak-gwe, (bulan enam Imlek), angkatan perangnya akan dikirim ke kota Long-shia (tanah negeri Louw) untuk bergabung dengan angkatan perang Cee. Dengan gembira Pao Siok Gee mengucapkan terima kasih pada Raja Song; sesudah itu dia pamit, kembali ke negeri Cee. Sesampai di negerinya dia melapor pada Raja Cee Hoan Kong.

Raja Cee sangat girang, dia membuat perjanjian dengan Raja Song. Tatkala sudah sampai waktunya yang telah ditetapkan. Raja Song mengirim Lam-kiong, Tiang Ban sebagai jenderal perangnya. Dia dibantu oleh Beng Hek. Sedang di pihak Cee telah diperintahkan Pao Siok Gee menjadi jenderal dibantu oleh Tiong Sun Ciu. Masing-masing mereka mengepalai

pasukan besar. Mereka berkumpul di kota Long-shia. Tentara Cee mendirikan perkemahan di bagian Timur-laut, dan tentara Song mendirikan perkemahannya di bagian Tenggara.

Juru khabar dari tentara Louw segera mewartakan pada Raja Louw, bahwa tentara musuh

sudah tiba hendak menyerang.

Setelah Raja Louw Cong Kong menerima laporan, wajahnya segera berubah pucat, dengan

suara gemetar ia berkata, ”Kedatangnya Pao Siok Gee dengan pasukannya sudah tentu dengan amat gusar, sementara itu dia dibantu oleh tentara Song yang dipimpin oleh Lam-kiong Tiang Ban, seorang panglima perang yang sudah tersohor kegagahannya. Di negeri kita pasti tidak ada yang akan sanggup melawan dia! Aku dengar kedua pasukan itu sangat kuat. Apakah kita bisa melawan mereka?”

”Cu-kong, izinkan hamba pergi memeriksa angkatan perang mereka,” kata Pangeran Yan. ”Baik, kau boleh berangkat!” kata Raja Louw Cong Kong.

Pangeran Yan segera pergi untuk mengintai markas musuh dan keadaan angkatan perang musuh. Sesudah melakukan penyelidikan, tidak berapa lama Pangeran Yan sudah kembali lagi hendak melapor. ”Bagaimana menurut apa yang sudah kau selidiki?” tanya Raja Louw Cong Kong.

”Pao Siok Gee, orangnya teliti dan selalu berhati-hati, tentaranya tampak teratur rapih sekali,” sahut Pangeran Yan, ”tapi Lam-kiong, Tiang Ban karena terlalu menganggap dirinya hebat, dan menganggap tak ada yang berani kepadanya, tampak pasukannya kacau! Mereka kelihatan tidak melakukan penjagaan. Maka jika kita keluar dari pintu kota I-bun yang letaknya di sebelah selatan, kemudian melabrak perkemahan tentara Song, niscaya kita bisa mengalahkannya. Apabila pasukan Song sudah kalah, tentara Cee pasti gentar karena harus berperang dan ditinggal sendirian.”

”Tetapi kau bukan tandingan Tiang Ban,” kata Louw Cong Kong dengan rasa khawatir. ”Hamba ingin mencobanya,” sahut Pangeran Yan.

”Kalau begitu, baikah, aku akan membantumu,” kata Louw Cong Kong. Dia mengizinkan keinginan Pangeran Yan.

Pangeran Yan segera memerintahkan orangnya mengambil 100 lembar kulit macan, lalu dipakai untuk menutupi kuda anak buahnya. Ketika sinar rembulan tampak remang-remang, Pangeran Yan memimpin tentaranya. Kulit macan yang dikenakan pada kuda mereka. sungguh anggun. Mereka sengaja merebahkan bendera perang pasukan Pangeran Yan.

Perlahan-lahan mereka menuju ke pintu kota. Membuka pintu kota I-bun perlahan-lahan dan bergerak keluar kota. Mereka bergerak perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara.

Setelah hampir sampai ke perkemahan tentara Song, Pangeran Yan melihat tentara Song masih enak-enak tidur. Pangeran Yan mengeluarkan perintah pada tentaranya supaya menyalakan api, berbareng membunyikan genderang perang. Pasukannya langsung mengamuk kalang-kabut di tengah asrama tentara Song yang sedang tidur lelap.

Ketika tentara Song sadar dari tidurnya, dari sinar api mereka melihat ada sekelompol macan berjalan mendatangi. Mereka semua sangat ketakutan, mereka kabur saling mendahului berebut untuk bisa selamat dari terkaman harimau. Lam-kiong Tiang Ban sekalipun gagah perkasa, karena melihat tentaranya sudah sangat kalut, terpaksa ikut mundur bersama tentaranya.

Pasukan Raja Louw Cong Kong yang menyusul pasukan Pangeran Yan pun telah sampai. Mereka bergabung dengan tentara Pangeran Yan. Pada malam itu mereka mengejar tentara Song sampai ke tanah Seng-kiu (tapal batas negeri Co). Lam-kiong Tiang Ban sangat gusar, dia tahan kereta perangnya sambil berkata kepada Beng Hek.

”Hari ini kita harus berperang secara mati-matian, jika tidak pasti kita tidak akan luput dari bahaya!” kata Tiang Ban.

”Baik!” sahut Beng Hek.

Beng Hek maju dengan kereta perangnya hendak bertempur dengan musuh. Dia bertemu dengan Pangeran Yan. Mereka berdua langsung saling serang-menyerang dengan sengit sekali.

Sementara itu Lam-kiong Tiang Ban sudah memutarkan senjata Cian-kek panjangnya menerjang Raja Louw dan pasukan besarnya. Bala-tentara negeri Louw takut sekali kepada Tiang Ban yang gagah itu. Ketika Tiang Ban maju, tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Melihat begitu Raja Louw Cong Kong menoleh ke arah Coan Sun Seng yang ada di sampingnya.

”Aku dengan tenagamu yang sangat kuat sekali, apakah kau sanggup bertempur melawan Tiang Ban?” kata Raja Louw.

Dengan tidak banyak bicara lagi Coan Sun Seng segera memutarkan senjata Thian-kek besarnya. Dia hadang majunya Tiang Ban dan mereka pun langsung bertarung.

Raja Louw Cong Kong dari atas kereta mengawasi pertarungan kedua orang gagah itu, tetapi belum berselang lama, Raja Louw Cong Kong melihat Coan Sun Seng tidak bisa mengalahkan Tiang Ban yang gagah itu. Raja Louw Cong Kong berkata kepada pengikutnya, ”Lekas ambil busur dan anak panah Kim-pok-kouw!”

Anak buah Louw Cong Kong segera menyerahkan busur dan anak panah yang diminta. Kemudian Louw Cong Kong menarik busur dan membidik ke arah Lam-kiong Tiang Ban. Setelah busur panah lepas, anak panah itu menyambar pada bahu kanan Tiang Ban. Anak panah otu masuk sampai ke tulang.

Tiang Ban terkejut, dengan tangannya dia akan mencabut anak panah itu.

Melihat tangan Tiang Ban agak ayal, buru-buru Copan Sun Seng membarenginya dengan menusuk paha kiri Tiang Ban. Tiang Ban kaget dan sangat kesakitan. Dia jatuh terguling ke tanah. Ketika dia hendak bangun kembali, tiba-tiba Coan Sun Seng sudah keburu melompat turun dari keretanya. Dengan kedua tangannya Coan Sun Seng menekannya. Tak lama tentara Louw berbareng datang menangkapnya.

Sementara itu Beng Hek melihat jenderalnya ditawan musuh, dia tinggalkan keretanya lari ”sipat kuping”. Melihat tentaranya sudah mendapat kemenangan besar, Raja Louw memerintahkan membunyikan gemdreng untuk memberi tanda berhenti perang. Coan Sun Seng menggiring Lam-kiong Tiang Ban yang dia bawa ke markas besarnya.

Sekalipun bahu dan pahanya terluka parah, Tiang Ban masih bisa berdiri tegak. Sedikitpun tidak tampak dia sedang kesakitan. Raja Louw Cong Kong kagum melihat kegagahan Tiang Ban, dia perintahkan orangnya merawat lukanya dengan baik.

Setelah Pao Siok Gee mengetahui pasukan perang Song mendapat kerusakan berat, dia merasa tidak yakin mampu melawan musuh. Segera dia perintahkan tentaranya pulang. Kemudian melaporkan kepada Cee Hoan Kong apa yang telah terjadi atas angkatan perang negeri Song.

Mendengar laporan itu Raja Cee jadi berduka, mau tidak mau terpaksa dia harus bersabar untuk menunggu saat yang baik akan membuat pembalasan.

Pada tahun itu juga Raja Cee Hoan Kong memerintahkan Tay-su-heng Sek Peng pergi ke Kerajaan Ciu, akan memberi tahu tentang diangkatannya dia menjadi Raja Cee. Dia juga meminang puteri Kaisar Ciu. Kaisar Ciu dengan senang hati menyetujui permohonan Raja Cee tersebut.

***

Setahun kemudian....

Kaiser Ciu memerintahkan Raja Louw menjadi wali untuk mengurus perkawinan Ong-hi (putrinya Kaisar Ciu) dengan Raja Cee. Sedang raja dari negeri Ci, Coa dan We sesuai peraturan di masa itu, mereka masing-masing mengirimkan puteri mereka untuk ikut bersama Ong-hi pergi ke negeri Cee. Puteri-puteri mereka dijadikan selir Raja Cee.

Karena Raja Louw berjasa menjadi Cu-hun (Wali) dalam pernikahan Raja Cee, maka negara

Cee dengan negara Louw akur kembali dan jadi bersahabat lagi.

**

Tatkala datang musim Ciu (Semi), di negeri Song telah timbul bahaya banjir. Mendapat khabar buruk ini Raja Louw yang berpikir dia sudah bersahabat baik dengan Raja Cee,

menganggap buat apa bermusuhan dengan negeri Song? Segera dia memerintahkan orangnya untuk pergi memberi pertolongan ke negeri Song. Karena ingat Raja Louw begitu baik budi, Raja Song juga memerintahkan orangnya pergi mengucapkan terima kasih. Dia minta pada

Raja Louw supaya Lam-kiong Tiang Ban dikembalikan. Permohonan itu oleh Raja Louw

segera dikabulkan.

Sejak saat itu negara Louw, Song dan negara Cee, tiga negara, menjadi bersahabat kekal, satu sama lain tidak mendendam sakit hati soal lama mereka.

Ketika Lam-kiong Tiang Ban pulang ke negeri Song, ia disindir oleh Song Bin Kong. Sambil tertawa Raja Song berkata pada Tiang Ban, sebenarnya Raja Song waktu itu cuma bergurau.

”Sekian lama aku sangat menghormatimu, tetapi siapa sangka akhirnya kau telah menjadi

tawanan orang di negeri Louw? Maka mulai saat ini aku jadi tidak menaruh hormat lagi

kepadamu!” kata Song Bin Kong sambil tersenyum.

Ejekan Song Bin Kong ini membuat Tiang Ban jadi sangat malu. Hatinya mendongkol sekali, dia berlalu dari hadapan rajanya. Dia juga tak bisa bicara apa-apa.

Ketika mendengar rajanya senang bercanda tak beraturan, Kiu Bok khawatir. Di kemudian

hari, gurauan Rajanya itu akan menjadi sebuah bencana besar. Dengan diam-diam Kiu Bok pergi menemui Raja-muda Song Bin Kong.

”Tuanku,” kata Kiu Bok, ”di antara Raja dan hambanya, harus bergaul menurut peraturan

yang berlaku. Tuanku tidak boleh bercanda keterlaluan. Jika hamba-hamba tuanku diajak

bercanda, dia tidak akan menaruh hormat lagi kepada kita. Orang itu bisa jadi sombong dan tidak mempedulikan peraturan. Akhirnya dia akan berbuat durhaka. Dari itu harap tuanku mengubah tabiat yang buruk itu.”

”Ah, itu tidak jadi soal, sebab aku dengan Tiang Ban sering bercanda, kok,” kata Raja Song. Dia kurang memperhatikan nasihat Kiu Bok ini. Melihat Cu-kongnya begitu, Kiu Bok pamit dan berjalan pulang dengan hati masgul.

**

Ketika Baginda Ciu Cong Ong naik tahta dan memerintah sudah 15 tahun lamanya. Waktu itu baginda menderita sakit dan kemudian meninggal dunia. Tay-cu (Pangeran) Ouw Ce segera naik tahta menggantikannya. Dia memakai gelar Hi-ong (disebut juga Li Ong atau Kaisar Li). Kaisar Li Ong mengirim utusan untuk memberitahu pada Raja Song dan lain-lain negeri.

Pada suatu hari.....

Raja Song Bin Kong mengajak permaisuri dan selir-selirnya jalan-jalan di taman bunga di istananya. Orang-orang di istana itu sudah mendengar bahwa Lam-kiong Tiang Ban pandai sekali memainkan kek. Seperti melemparkan kek ke udara beberapa tombak tingginya, lalu kek itu disambut dengan tangannya. Beratus-ratus kali belum pernah meleset. Kemudian mereka memohon pada Raja Song Bin Kong agar diizinkan menonton permainan kek Tiang Ban tersebut.

Raja Song Bin Kong tidak keberatan. Dia perintahkan Tiang Ban memainkan permainan

keknya. Perintah itu oleh Tiang Ban tidak dibantah. Dia mengeluarkan kepandaiannya di depan keluarga raja. Permainan itu sungguh indah sekali, sehingga orang-orang di istana tidak hentinya bersorak-sorak dan memujinya.

Raja Song Bin Kong merasa iri hati. Dia perintahkan budak istana pergi mengambil papan

tio-ki (catur Tionghoa), Raja Song Bin Kong mengajak Tiang Ban main tio-ki. Dia juga

mengajak bertaruh, jika ada yang kalah dia akan didenda minum arak sepuluh mangkuk besar.

Dalam hal main tio-ki Raja Song Bin Kong pandai sekali, karena itu Tiang Ban secara

beruntun kalah sampai lima kali. Dia sudah didenda minum arak sebanyak 50 mangkuk.

Hawa arak dalam sepuluh bagian sudah naik delapan atau sembilan bagian ke otaknya. Tegasnya bisa dikatakan Tiang Ban sudah sinting.

Sekali pun sudah mabuk berat Tiang Ban belum mau menyerah kalah. Dia ajak Song Bin Kong bermain terus. Raja Song Bin Kong yang merasa dirinya sangat pintar, lalu menertawakan Tiang Ban. Sambil berkata menyindir.

”Hai, segala orang perantaian turunan pecundang, betul tidak tahu malu! Kau masih berani menantang main padaku!” kata raja Song.

Mendengar sindiran yang pedas itu, hati Tiang Ban sangat mendongkol. Dengan muka guram dia duduk bercokol seperti kera yang sedang marah.

Ketika Raja Song Bin Kong sedang mentertawakan Tiang Ban, tiba-tiba seorang budak istana datang melapor.

”Di istana telah datang utusan dari Kaisar Ciu. Dia bilang Kaisar Cong Ong telah wafat. Penggantinya Kaisar Li Ong.” kata pelapor.

”Jika Kerajaan Ciu sudah berganti Kaisar,” kata Raja Song Bin Kong, ”aku harus mengirim utusan pergi ke Ibukota Ciu untuk mengucapkan selamat.”

Sudah lama Tiang Ban berniat akan pergi melihat keadaan kota raja. Ketika mendengar Raja Song Bin Kong hendak mengirim utusan. Dia memohon sambil berkata, ”Hamba belum pernah melihat keindahan kota raja, hamba ingin sekali menjadi utusan pergi ke sana.” kata Tiang Ban.

”Ha, ha, ha! Apa kau kira di negeri Song ini sudah tidak punya orang lain lagi? Sehingga segala orang perantaian seperti kau dijadikan utusan negara Song?” kata Bin Kong sambil tertawa. Orang-orang di istana itu semua tertawa bergelak-gelak. Wajah Tiang Ban berubah jadi marah padam. Dia sangat malu segera berbalik menjadi marah. Apalagi waktu itu memang dia sedang mabuk arak. Hal itu membikin dia lupa peraturan antara Raja dan hambanya. Dengan suara keras dia menista Raja Song begini:

”O, Raja yang sempit pikiran! Apa kau belum tahu seorang perantaian bisa membunuh orang!” kata Tiang Ban dengan sengit. Melihat Tiang Ban bersikap kurang ajar, Raja Song Bin Kong gusar. Sambil berjingkrak dia balas memaki: ”Bangsat perantaian! Mengapa kau begitu berani kurang ajar kepadaku?!” kata Raja Song.

Sambil berkata begitu Song Bin Kong merebut tian-kek milik Tiang Ban hendak ditusukkan

kepadanya.

Tiang Ban tidak merebut tian-kek miliknya itu, tapi langsung mengangkat papan tio-ki yang terus dia pukulkan ke kepala Song Bin Kong. Pukulan Tiang Ban sangat keras, sehingga Raja Song terguling jatuh ke lantai. Tiang Ban membarenginnya lagi dengan tinjunya. Dengan sekali pukul saja Song Bin Kong putus nyawanya.

Orang-orang di istana panik melihat Raja Song sudah binasa. Mereka semua jadi sangat ketakutan. Mereka berlarian simpang-siur menyelamatkan diri. Kemarahan Tiang Ban masih belum reda. Dia ambil tian-keknya dan pergi keluar. Begitu sampai di pintu istana, justru dia bertemu dengan Tay-hu Kiu Bok.

”Ciang-kun, Cu-kong ada di mana?” tanya Kiu Bok.

”Raja dungu itu tidak tahu aturan, dia sudah kubunuh!” sahut Tiang Ban dengan suara gemas. ”Ah, barangkali Ciang-kun sedang mabuk dan bergurau?” kata Kiu Bok sambil tertawa.

”Tidak, aku tidak mabuk! Aku bicara sebenarnya!” kata Lam-kiong Tiang Ban. Sikap Tiang Ban sangat gagah. Dia tunjukkan tangannya yang masih berlumuran darah. Setelah melihat bukti tersebut, Kiu Bok menjadi marah. Dengan nyaring dia menista.

”Hei, pengkhianat yang durhaka! Jika begitu Allah tidak akan membiarkan kau tinggal hidup!” kata Kiu Bok.

Kiu Bok mengambil sepotong kayu, dia pukul Tiang Ban sekuat-kuatnya. Tetapi raksasa yang kekuatannya tidak terhingga itu, melemparkan tian-keknya ke tanah. Kemudian dia berkelahi dengan Kiu Bok dengan tangan kosong tanpa senjata. Tiang Ban menggunakan tangan kirinya menangkis dan menjatuhkan kayu di tangan Kiu Bok. Sedang tangan kanannya menjotos kepala Kiu Bok.

Tinju Tiang Ban begitu keras. Saat itu juga kepala Kiu Bok hancur, dan giginya rontok melompat dan menancap di pintu sampai tiga dim dalamnya. Sesudah membinasakan Kiu Bok, raksasa itu menjemput kembali tian-keknya. Dengan langkah perlahan dia pergi naik kereta. Tidak seorang pun yang berani menghalangi perjalanannya lagi.

Ketika itu Raja Song Bin Kong baru menjadi raja 10 tahun lamanya. Hoa Tok, Perdana Mentri negeri Song, ketika mendengar huru hara terjadi. Dia ambil pedangnya. Dia naik di kereta, kemudian memimpin pasukan hendak memadamkan huru-hara tersebut. Setelah berjalan sampai di bagian barat Istana Tengah, ia berpapasan dengan Lam-kiong Tiang Ban.

Tatkala Tiang Ban melihat Hoa Tok, dengan tidak banyak bicara lagi dia angkat keknya. Dia tusuk Hoa Tok, yang segera terjungkel dari keretanya. Sesudah itu segera pula ia menusuknya sekali lagi, hingga Hoa Tok tewas.

Sesudah membunuh Perdana Mentri Hoa Tok, Tiang Ban mengangkat adik misan Raja Song Bin Kong, yaitu Pangeran Yu menjadi raja. Dia usir seluruh kaum keluarga Song Bin Kong dari istana. Para pangeran, putera-putera Raja Song Bin Kong melarikan diri ke kota Siao, sedang Pangeran Gi Wat melarikan diri ke kota Pok. Tiang Ban berpikir, ”Pangeran Gi Wat, seorang yang pandai dan cerdas, apalagi ia adik kandung Raja Song Bin Kong almarhum. Jika ia dibiarkan hidup dan tinggal di Pok, di kemudian hari pasti ia akan datang menyerang untuk

membuat pembalasan.” pikir Tiang Ban. ”Aku harus membunuh Gi Wat, jika pangeran yang pintar itu sudah binasa, pangeran yang lainnya aku tidak khawatir.”.

Sesudah pikirannya tetap, Tiang Ban segera memerintahkan puteranya, Lam-kiong Ngiu

bersama Beng Hek memimpin pasukan perang pergi mengepung kota Pok. Pangeran Gi Wat segera memimpin tentara di Pok dengan sungguh-sungguh menjaga kota tersebut.

Sampai musim Tang (Musim Gugur) bulan Cap-gwe (bulan sepuluh Imlek). Siao-siok Tay Sin telah mengajak kaum Tay, Bu, Soan, Bok dan Cong, lima keluarga bergabung dengan tentara negeri Co. Mereka beramai-ramai menolongi kota Pok.

Ketika Pangera Gi Wat melihat tentara musuh datang ke Pok, dia membuka pintu kota keluar berperang dengan musuh.

Lam-kiong Ngiu dan Beng Hek ketika diserang oleh musuh dari luar dan dari dalam, mereka tidak tahan dan melarikan diri. Sial bagi Lam-kiong Ngiu dia dibinasakan oleh Gi Wat.

Tentara Song menyatakan bersedia menyerah. Beng Hek tidak berani pulang ke negeri Song, ia pergi menumpang di negeri We.

Tay Siok Pi mengajukan saran kepada Gi Wat.

”Sebaiknya tuanku memakai bendera tentara Song yang takluk, lalu mengatakan Lam-kiong Ngiu sudah berhasil merampas tanah Pok dan menangkap tuanku. Sekarang sedang pulang.” kata Tay Siok Pi.

Pangeran Gi Wat senang sekali, ia setujui dengan muslihat usul Tay Siok Pi tersebut.

Gi Wat memerintahkan beberapa orang menyamar berpakaian tentara Song, mereka berangkat

lebih    dulu. Di     sepanjang   jalan    mereka menyiarkan      khabar bohong      tersebut. Benar saja Lam-kiong Tiang Ban mempercayai khabar bohong itu. Dia tidak siaga malah senang sekali.

Setelah semua pangeran sampai di depan pintu kota, mereka masuk ke dalam kota. Mereka berseru-seru hanya ingin menangkap pengkhianat Tiang Ban seorang. Yang lain tidak perlu khawatir.

Melihat situasi yang kurang baik itu, Tiang Ban bingung. Buru-buru dia lari ke dalam istana hendak mengajak Pangeran Yu kabur.

Di istana ia melihat banyak tentara bersenjata lengkap siap bergerak. Tidak lama keluarlah seorang budak istana. Dia memberi tahu Tiang Ban.

”Pangeran Yu sudah dibinasakan oleh tentara para pangeran!” kata si pelapor.

Tiang Ban kaget seperti orang terkesima. Berulang-ulang ia menghela napas panjang-pendek. Dia merasa putus harapan. Kemudian dia berpikir di antara semua negeri hanya negeri Tan yang tidak akrab dengan negeri Song. Dia hendak melarikan diri ke negeri Tan. Tetapi tiba- tiba ia ingat pada rumahnya. Di sana masih ada ibunya yang sudah berusia 80 tahun lebih. Dia tidak tega meninggalkan ibunya. Maka pulanglah dia ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, buru-buru dia dukung ibunya. Kemudian ia naikkan ke gerobak kecil. Dengan tangan kanan mendorong gerobak. Sedangkan tangan kirinya memegang tian-keknya. Kemudian Tiang Ban menerjang keluar dari pintu kota. Semua orang sudah tahu tenaga Tiang

Ban sangat kuat, sehingga tidak seorang pun yang berani mencegah atau menghalanginya.

Dari negeri Song ke negeri Tan jauhnya kira-kira 200 li lebih, ini bukan jarak yang dekat, malah sebuah perjalanan yang sangat jauh. Tetapi aneh sekali tenaga Tiang Ban begitu luar biasa. Dia mendorong kereta itu hanya dalam sehari saja sudah sampai di negeri Tan.

**

Ketika semua pangeran sudah membunuh Pangeran Yu, mereka mengangkat Pangeran Gi Wat menjadi raja bergelar Song Hoan Kong. Begitu naik tahta, Raja Song Hoan Kong mengangkat Tay Siok Pi menjadi Tay-hu, serta memilih orang yang pandai di istana itu dari kaum keluarganya. Mereka diangkat menjadi Kong-ciok Tay-hu. Sedang Siao-siok Tay Sin diperintahkan menjaga kota Siao. Raja Song Hoan Kong mengirim utusan pergi ke negeri We untuk minta izin menangkap Beng Hek. Selain itu Song Hoan Kong juga mengutus orang ke negeri Tan akan menangkap Lam-kiong Tiang Ban.

Pangeran Bak I, putera almarhum Raja Song Soan Kong dari isteri muda baginda, waktu itu usianya baru lima tahun. Dia berdiri di samping Raja Song Hoan Kong. Mendengar Raja Song Hoan Kong mengeluarkan titah tersebut, sambil tertawa dia berkata, ”Wah, jika

putusannya begitu pasti Tiang Ban tidak akan datang!”

Raja Song Hoan Kong terheran-heran mendengar kata-kata Bok I, ia bertanya, ”He, anak kecil, kenapa kau berkata begitu?”

”Kegagahan, ialah sesuatu yang orang paling kagumi,” kata Bak I. ”Padahal kegagahan Tiang Ban sangat luar biasa, Song malah membuangnya. Pasti negeri Tan yang akan menerima dia. Pendeknya jika kita pergi dengan tangan kosong, bagaimana Raja Tan mau meladeni kita?”

Mendengar ucapan anak kecil yang cerdik itu, Raja Song Hoan Kong baru sadar. Segera dia perintahkan utusan yang akan pergi ke negeri Tan membawa barang bingkisan berharga untuk menyuap Raja Tan.

Ketika utusan Song sudah sampai di negeri We, utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya pada Raja We Hui Kong.

Raja We segera mengumpulkan semua pejabat negara. Kemudian dia bertanya, ”Mana yang lebih baik, menyerahkan Beng Hek pada negeri Song, atau tidak menyerahkannya?” Sebagian besar menteri-menterinya memberi saran lebih baik melindungi Beng Hek dan menolak permintaan dari Raja Song. Tetapi seorang menteri segera maju ke hadapan Raja We.

”Tidak, kita tidak boleh berbuat begitu!” kata Tay-hu Kong-sun Ji.

Dia tidak sepakat dengan menteri-menteri yang lain. Kemudian Kong-sun Ji melanjutkan pendapatnya.

”Di dunia ini kejahatan di mana pun sama saja;” kata Kong-sun Ji. ”Kejahatan di negeri Song dan kejahatan di negeri We sama saja! Jika membiarkan seseorang berbuat jahat, apa faedahnya bagi negeri We? Apalagi negeri We dan negeri Song bersahabat sudah lama; jika kita tidak menyerahkan Beng Hek kepada mereka, pasti Raja Song akan gusar. Jika hanya untuk menyelamatkan seorang penjahat dan tidak menghiraukan persahabatan yang sudah dijalin lama. Itu bukan suatu kebijakan yang harus dijalankan.”

”Ya, itu baru betul!” kata Raja We yang menyetujui saran dari Kong-sun Ji,

Kemudian Raja We memerintahkan orangnya segera mengikat Beng Hek untuk diserahkan kepada raja di negeri Song.

**

Tatkala utusan Song yang satu lagi sudah sampai di negeri Tan, untusan ini pun menyerahkan barang antaran sebagai suap kepada Raja Tan Soan Kong. Untusan memberitahu bahwa Raja Song meminta tolong untuk menangkap Tiang Ban. Dengan girang Raja Tan menerima barang bingkisan tersebut, dia berjanji akan mengantarkan Tiang Ban ke negeri Song.

Utusan Song mengucapkan terima kasih kemudian kembali ke negerinya. Sepulang utusan Song itu Raja Tan Soan Kong berpikir.

”Tenaga Lam-kiong Tiang Ban kuat sekali, pasti sulit untuk ditangkap. Dia bakal melawan jika tidak menggunakan tipu-muslihat.” pikir Raja Tan.

Sesudah berpikir cukup lama, dia panggil Pangeran Kiat. Sambil berbisik Tan Soan Kong bertanya.

”Bagaimana cara yang harus kita jalankan untuk menangkap Tiang Ban tersebut?” kata Raja Tan.

Pangeran Kiat berjanji akan memperhatikan pesan Raja Tan itu. Begitu selesai bicara Pangeran Kiat pergi ke tempat Tiang Ban. Dengan segala hormat Pangeran Kiat disambut baik oleh Tiang Ban. Pangeran Kiat dipersilakan duduk dan disuguhi air teh yang harum. 

”Terus terang aku mau katakan, Rajaku mendapatkan Ciang-kun (Jenderal), sama dengan telah mendapatkan sepuluh buah kota saja,” kata Pangeran Kiat dengan manis. ”Pendeknya sekalipun orang Song datang dan mereka meminta sampai ratusan kali agar kami menyerahkanmu, Pasti Rajaku tidak akan mau meluluskannya. Karena Rajaku khawatir Ciang-kun curiga, maka beliau memerintahkan aku untuk menyampaikan pikirannya kepada Ciang-kun. Tetapi, apabila Ciang-kun berpendapat negeri Tan terlalu kecil, dan Ciang-kun berniat hendak tinggal di negeri yang lebih besar, Rajaku tidak keberatan. Beliau berharap Ciang-kun mau bersabar sampai beberapa bulan lagi. Karena Rajaku sedang membuatkan sebuah kereta untuk perjalanan Ciang-kun.”

”Oh, aku mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Maha Raja Tan kepadaku!” kata Tiang Ban dengan air mata berlinang-linang. ”Jika Tuanku bisa memakaiku, buat apa aku mencari negeri lain?”

”Jika Ciang-kun sudi tinggal di sini, pasti Rajaku akan merasa sangat beruntung!” kata Pangeran Kiat dengan pura-pura girang. Dia segera mengambil arak dan menyuguhkannya kepada Tiang Ban sebagai ucapan selamat. Tiang Ban tidak hentinya mengucap terima kasih. Hatinya sangat girang. Dia minum arak itu dengan sepuas-puasnya. Sebentar-bentar dia tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Pangeran Kiat pura-pura mengangkat saudara dengan Tiang Ban. Sesudah minum arak beberapa saat lagi, barulah Pangeran Kiat permisi pulang.