-->

Kesatria Berandalan Bab 1

Bab 1

Yo-kun memulai pembunuhan Pedang api penuh bau amis darah

Di bawah terik matahari yang membakar.

Seseorang berdiri tegak di tengah lapang yang terlantar tanpa ada penutup atau penghalang, dia membiarkan matahari yang terik menyengat kulitnya, hingga mukanya penuh dengan keringat yang mengucur, jubahnya telah basah, tapi dia tetap berdiri seperti sebuah patung tembaga, sedikitpun tidak bergerak, sampai-sampai matanya pun tidak berkedip.

Di bawah sorotan matahari yang terus menerus, rambut dan jubahnya yang basah seperti ada uap air mengepul ke atas, sekujur tubuh orang ini seolah-olah dikepung uap air tersebut, jika di lihat sepintas orang tersebut seperti menguap ke udara bersama air, tetapi jika dilihat dengan seksama lagi tidak begitu sebenarnya.

Sudah 2 jam orang ini berdiri di bawah terik matahari, dia tetap seperti arca batu sedikitpun tidak bergerak, jubah yang basah oleh keringat sesudah kering basah lagi, kering basah lagi, tidak henti-hentinya serat-serat air itu menguap terus, dia seperti terbuat dari air saja, sebab bagaimanapun jika tubuh manusia sudah terpanggang begitu lama oleh panasnya matahari akan menjadi dendeng kering!

Hari ini adalah hari terpanas dalam 10 tahun terakhir ini!

Sampai burung-burung yang biasanya berkicau merdu, terbang tinggi dan rendah setiap hari, tidak lagi mengepakkan sayapnya, juga tidak berbunyi merdu. Semua bertengger di atas dahan di bawah rindangnya daun-daun pohon, lenyaplah kelincahan di hari-hari biasanya.

Tapi orang ini sekali berdiri di bawah terik matahari sampai 2 jam lamanya!

Mungkin orang ini orang aneh?

Setidaknya dipandang dari sudut manusia normal, dia termasuk orang aneh.

Tapi jika teliti sekali, dia sedikitpun tidak aneh.

Muka dia yang terjemur sudah menjadi merah, tapi wajahnya tampak biasa-biasa saja, sorotan matanya panas seperti matahari yang membakar, sama sekali tidak berkedip, melotot pada ujung jari kakinya.

Mendadak dalam tiupan angin yang lembut, ada suara kaki orang berjalan yang amat enteng. Seseorang seolah- olah pemain sulap, muncul begitu saja di tengah sinar matahari dan udara panas, cepat sekali sudah berdiri disisi orang aneh ini.

Orang yang berjemur tidak bereaksi sedikitpun terhadap kehadiran orang di samping dirinya, dia tetap tidak bergeming, sorot matanya masih seperti sediakala menatap ujung jari kakinya sendiri. Nyawanya pun seperti sudah meninggalkan tubuhnya mengikuti serat air yang tadi menguap ke udara.

Orang yang berjemur tidak bereaksi tapi orang yang datang malah tidak tahan.

Sepasang mata yang menyorot tajam dan dingin bagaikan jarum yang runcing menatap diri orang berjemur itu, dengan datar, pelan dan santai berkata:

"Liu Yam-yo, sudah berapa lama kau berjemur disini?

Kukira kau sudah mati dijemur oleh teriknya matahari!" Liu Yam-yo yang berdiri di bawah teriknya matahari tetap tidak bergerak. Tapi sorotan matanya mulai bergeser dari ujung kakinya ke arah muka orang yang baru datang ini. Dengan pedas berkata:

"Tong Kwee-seng, kau tidak datang pun aku tidak akan mati terjemur!"

Wajah Tong Kwee-seng yang putih bersih hanya sebentar saja sudah mengucurkan keringat sebesar butiran kacang kedelai. Dia menjulurkan tangannya menyeka keringat di mukanya, dia menyahut sambil tertawa ringan:

"Jika berdiri sebentar lagi, rasanya aku yang akan mati terjemur, mari kita berbincang-bincang disana saja!"

Sambil berkata, sepasang matanya menatap ke bawah sebuah pohon besar yang berjarak beberapa tombak jauhnya dari sana.

Pohon besar itu dahan dan daunnya amat subur, terasa rindang, dan kokoh berteduh disana, sebuah tempat yang sejuk dan nyaman!

Tapi Liu Yam-yo memandang pun tidak, sorot matanya yang panas seperti api tetap melotot pada wajah Tong Kwee-seng yang tidak berhenti mengucurkan keringat. Dia berkata dengan singkat:

"Bicarakan disini juga bisa."

Sambil mengangkat tangan menyeka keringat di muka, Tong Kwee-seng berseru dengan tertawa getir:

"Kau bisa menahan tetapi aku sudah tidak tahan." Dia berkata sambil berjalan menuju bawah pohon yang rindang itu. "Tahan atau tidak bagimu sekarang sudah tidak penting lagi!" dalam sinar mata Liu Yam-yo seperti ada kilatan api berkilau, tiba-tiba dia bergerak maju selangkah.

Mendengar perkataan itu. Tong Kwee-seng terkejut, sambil menutarkan tubuhnya dia bertanya:

"Apa maksud perkataanmu?" sorotan matanya yang dingin dan tajam seperti 2 bilah pisau runcing, memandang muka Liu Yam-yo yang merah.

"Maksud perkataanku adalah..." Liu Yam-yo sengaja tidak meneruskan perkataannya.

Sorotan mata Tong Kwee-seng yang memandang Liu Yam-yo berubah menjadi pertanyaan.

Mendadak, Liu Yam-yo menyentak dengan suara keras: "Sebab kau sudah menjadi orang mati!" belum habis

perkataannya, tangannya bergerak, dari lambaian lengan bajunya, seberkas sinar merah yang menyilaukan mata

tampak muncul dari dalam tangannya. Kilauan seperti api menyala menerjang masuk ke arah pinggang Tong Kwee- seng!

Sekejap saja sekujur tubuh Tong Kwee-seng seperti terbakar api, dia meloncat sekuatnya, sayang lompatannya tidak berhasil, dengan berat dia terhempas kembali ke permukaan bumi. Dan selamanya tidak akan bisa melompat lagi.

Sebilah pedang pendek yang berwarna merah telah menancap dalam-dalam di bagian pinggang Tong Kwee- seng, hanya menyisakan gagang pedang sebesar ibu jari yang berwarna merah seperti bola api, yang digenggam oleh tangan kanan Liu Yam-yo. Darah segar segera mengalir keluar dari pinggang Tong Kwee-seng yang terluka, memerahkan sebagian besar baju panjang sutra putih yang dikenakannya.

Paras muka Liu Yam-yo muncul sebuah senyuman yang panas seperti api, dia tidak mencabut pedang pendek yang terbenam di dalam tubuh Tong Kwee-seng, sehingga Tong Kwee-seng tidak segera meninggal.

Tapi rasa sakit membuat wajah putih bersih Tong Kwee- seng bercucuran keringat seperti hujan, dia menyeringai tidak berupa lagi, tubuhnya bergoncang keras, dari dalam matanya menyorot sinar kemarahan, kebencian serta penuh ke tidak mengertian. Dia bertanya dengan suara parau:

"Kenapa kau membunuhku?"

Liu Yam-yo tidak menjawab malah balik bertanya: "Apakah kau sekarang merasa lebih nyaman dan tidak

panas seperti tadi lagi?"

Saat ini Tong Kwee-seng bukan saja tidak merasa panas, malahan seperti merasa kedinginan yang amat sangat, dia seperti terperosok ke dalam lubang es yang amat dingin.

"Kenapa kau membunuhku?" Tong Kwee-seng mengulang lagi pertanyaan semula, tubuhnya bergontai hampir roboh.

Sekujur tubuh Liu Yam-yo seperti segumpal bara api, dengan pedas menyentak:

"Kau masih bisa bertanya padaku?"

Dalam matanya terbesit rasa terkejut, mendesis dengan suara pelan dan getir:

"Kau sudah tahu semuanya?" Sinar mata Liu Yam-yo seperti mau melumatkan sekujur tubuh Tong Kwee-seng menjadi abu:

"Kau kira mampu mengelabui aku?"

Tong Kwee-seng yang mendengar, tubuhnya bergetar hebat, dia mengeluh:

"Ternyata kau selalu tidak mempercayaiku?" Liu Yam-yo dengan suara keras menghardik:

"Kau kira aku bisa percaya dengan orang sepertimu?"

Kepala Tong Kwee-seng menunduk dengan lesu. "Katakan! Sebenarnya kau telah membocorkan masalah

ini pada siapa saja?" Liu Yam-yo menggoyang sedikit tangan yang memegang tangkai pedang, sekujur tubuh Tong Kwee-seng menggelepar kesakitan, kepala yang menunduk, tiba-tiba mengangkat memekik dengan mata mendelik:

"Kau kira aku akan memberitahu padamu. Tidak akan, selamanya tidak akan!" selesai berkata, kepala yang mengangkat sekali lagi menunduk lemas, sosok tubuhnya pun melorot ke bawah pelan-pelan!

Muka Liu Yam-yo berobah, dia segera merentangkan tangan, menopang kepala Tong Kwee-seng, terlihat ujung bibir Tong Kwee-seng yang terkatup rapat merembes keluar sedikit darah segar.

"Mampus kau jahanam!" Liu Yam-yo mencerca sambil mengangkat kaki, sebuah tendangan mengenai tubuh Tong Kwee-seng dan terbanglah tubuhnya jauh kesana.

Jasad Tong Kwee-seng menyemburkan hujan darah, jatuh terhempas jauh di bawah pohon besar seperti seonggok tanah becek. Liu Yam-yo menghempaskan tangan kanannya yang memegang pedang, bercak-bercak darah yang menempel pada batang pedang seperti untaian manik-manik rontok semua ke tanah. Tangannya membalik dan pedang pendeknya sudah tersimpan kembali di balik lengan bajunya. 

"Kau salah besar! Jangan kira dengan tidak memberitahu, aku tidak bisa melacak!" sorotan mata Liu Yam-yo seperti api, dengan puas menatap agak lama pada jasad Tong Kwee-seng yang terlentang di bawah pohon, dia lalu mengebutkan lengan bajunya dengan cepat berlalu dari tempat itu.

ooo0dw0ooo

Hari ini perasaan hati Lok Cin-pek sedang nyaman, dia duduk seorang diri di tengah saung kecil yang berada di taman belakang, dengan santai sedang menikmati arak Soat-piau-hiang yang dibuat sendiri dan disimpan dalam guci beberapa tahun silam.

Beberapa tahun belakangan ini usahanya berkembang dengan pesat, masalah apapun dia selalu mengerjakan sendiri, dia juga mengingatnya dengan jelas. Selama beberapa tahun belakangan ini, untuk kedua kalinya dia bisa menikmati arak seorang diri sambil duduk dalam saung dengan santainya.

Pertama, dia telah mengalahkan lawan paling kuat dalam hidupnya, yaitu menjatuhkan ketua sanggar Golok kilat, Jauw Lam-san. Saat itu kekuatan mereka berimbang dalam segala bidang di kota ini.

Setelah mengalahkan Jauw Lam-san, lalu dia memporak porandakan sanggar Golok kilat, mengambil alih segala asset dan tanahnya, menyatukan dengan kekuatan yang dimilikinya, setelah itu semua usahanya mulai merangkak maju, 2 hari yang lalu kekuatannya telah mencakup ke setiap pelosok kota. Mulai saat ini, dia boleh membebaskan pikirannya, tanpa harus mengkhawatirkan ini itu lagi, sebab tidak ada lagi orang yang berani mengusik kumis macan ini kalau masih sayang pada nyawanya.

Itulah sebabnya, sejak pagi dia sudah berada dalam saung kecilnya untuk minum-minum.

Ini juga penyebab hatinya begitu lapang, senang, dan gembira.

Meneguk arak yang harum, menikmati ke indahan dalam taman yang dirancang dan ditata apik, penuh dengan gunung-gunungan, kolam ikan, air mancur, pepohonan, dedaunan, bunga, dan rumput-rumputan. Muka Lok Cin- pek mengembang sebuah senyuman puas yang mendalam!

Saat ini, saat dia minum arak, siapapun tidak boleh mengganggu, ini adalah kebiasaannya, juga merupakan peraturannya.

Tetapi ketika dia sedang meneguk cawan yang ke-6, kening dan kedua alisnya menjadi berkerut, sorotan matanya penuh dengan kemarahan

Dia mendengar suara kaki berjalan dengan tergopoh- gopoh menuju ke taman belakang ini.

Siapa yang begitu berani menerobos masuk saat dia sedang minum-minum? Apa dia tidak takut mati?

Lok Cin-pek menggenggam keras cawan kemala putih di tangannya, sepasang matanya dengan seksama memandang pintu masuk taman, dia mau melihat, sebenarnya siapa yang begitu berani menerobos masuk saat dia sedang asyik minum arak! Akhirnya dia dapat melihat orang itu.

Dia adalah anak buahnya yang paling bisa dipercaya, Su Li-yung, dia bukan saja pegawainya yang sangat membantu, juga orang paling cekatan, paling hebat pula.

Lok Cin-pek memandang Su Li-yung yang berlari tergopoh-gopoh masuk ke taman, kemarahannya memuncak sehingga tangan yang memegang cawan bergoyang disebabkan bertambahnya tenaga, "poppp" sebuah suara yang nyaring terdengar, cawan kemala putih dalam genggamannya hancur menjadi kepingan halus arak yang kental dan wangi mengalir bertetesan di atas meja.

Kalau orang lain, tentu Lok Cin-pek tidak ragu-ragu lagi sudah membunuhnya, sebab yang menerobos masuk ke dalam taman adalah Su Li-yung, dia tidak tega membantainya, kemarahannya yang tidak dapat tersalurkan, membuat cawan antik kemala putih yang digenggam di tangan yang menjadi sasaran pelampiasannya.

Sepasang mata Lok Cin-pek terus mengikuti diri Su Li- yung yang menghampiri dengan berlarian, setelah langkah Su Li-yung berhenti di depan saung, sorotan matanya pun berhenti di atas sosok Su Li-yung.

Su Li-yung tidak sempat memperhatikan perasaan Lok Cin-pek, sebab di luar sudah terjadi masalah yang serius, dengan tangan terjuntai, dia membungkukkan tubuh memandang wajah murka Lok Cin-pek di dalam saung, dengan suara tersengal-sengal melapor:

"Ta-ya di luar ada orang yang menunjuk nama anda ingin bertemu!"

Amarah yang ditahan-tahan Lok Cin-pek akhirnya meledak, dengan suara tinggi nada marah membentak: "Apa katamu? Apa kau sudah buta, tidak melihat aku sedang minum disini?"

Setelah mendengar suara bentakan, Su Li-yung baru sadar Lok Cin-pek sedang marah besar. Dia paham, semua ini disebabkan oleh dirinya yang berani menerobos masuk ke dalam taman, sehingga membuyarkan kesenangan dia menengak arak seorang diri, Dengan gugup secepatnya dia memberi penjelasan:

"Tindakan orang itu amat kejam, sekalian pengawal sudah menahan dia sekuat tenaga, tetapi sekali dia mengayunkan tangan, beberapa orang sudah langsung terbunuh, melihat keadaan kurang yang menguntungkan, maka hamba memberanikan diri menerobos masuk untuk meminta petunjuk Ta-ya!"

Bagaimanapun Lok Cin-pek adalah orang yang pernah melakukan pekerjaan besar, setelah mendengar laporan tadi dia segera menenangkan diri, bertanya:

"Siapa dia sebenarnya?"

"Yo-kun, Liu Yam-yo!" jawab Su Li-yung.

Daging di sudut mata Lok Cin-pek bergerak-gerak, pupilnya pun mengecil, dia berkata: "Oooh, rupanya dia!"

"Yahhh, aku!" tahu-tahu orang yang disebut sudah muncul bersamaan dengan suaranya. Liu Yam-yo laksana segumpal api sebentar saja sudah menerobos masuk ke dalam taman, tiba di depan saung.

Puluhan orang berbaju biru yang dengan ketat mengejar dan menghalangi Liu Yam-yo, juga ikut menerjang ke dalam, tapi tidak ada yang dapat menahannya. Setelah mengejar sampai di depan pintu taman, satu persatu berhenti dengan sendirinya, mereka tidak berani mengejar lagi, hanya berdiri di luar taman, memandang Liu Yam-yo masuk ke dalam taman.

Kali ini Liu Yam-yo mengenakan jubah merah menyala, dengan rambut dikuncir selendang merah, serasi dengan mukanya yang merah keunguan, sepintas sekujur tubuhnya terlihat seperti segumpal api menyala, menyemburkan hawa panas yang amat menyengat.

Lok Cin-pek yang duduk di dalam saung pun merasakan hawa panas yang menyengat, dia mengangkat tangan mengibas-ibaskan lengan bajunya.

Su Li-yung yang berdiri sangat dekat lebih merasakan hawa panas itu, dia sampai mundur 2 langkah terdesak oleh hawa panas yang memancar dari tubuh Liu Yam-yo.

Sepasang mata Lok Cin-pek menyipit menjadi seperti seutas benang, menatap kencang pada Liu Yam-yo, mengeluarkan perkataan:

"Apa kau yang dijuluki 'Yo-kun' Liu Yam-yo yang amat tersohor itu?"

Panas seperti api Liu Yam-yo berseru: "Tidak salah, itulah aku!"

Tiba-tiba dengan suara dingin Lok Cin-pek membentak: "Berani sekali kau!"

Liu Yam-yo tertawa menyahut: "Betul, aku selalu amat berani!"

Air muka Lok Cin-pek membeku, dengan suara keras membentak:

"Kau tahu apa akibatnya jika berani menerjang masuk ke dalam taman ini?"

Sepasang mata Liu Yam-yo membara seakan-akan menyemburkan api: "Lok Ta-ya, peraturanmu itu tidak berguna bagiku! Aku bukan budakmu!"

Lok Cin-pek terdiam sejenak, dia berputar, dengan suara amat tinggi menghardik:

"Bagaimana dengan beberapa anak buahku yang telah kau bantai?"

Dengan acuh Liu Yam-yo menyahut:

"Itu salah anak buahmu, tidak tahu baik buruknya, berani bertindak menghalangi aku yang ingin bertemu denganmu!"

Seluruh tubuh Lok Cin-pek bergetar hebat, dia sangat marah mendengar perkataan Liu Yam-yo. Saat dia akan bertindak, dia balik berpikir sebentar, sambil menahan diri dia bertanya:

"Kau mencari aku ada keperluan apa?"

Mendadak tubuh Liu Yam-yo seperti mengepul hawa panas, katanya:

"Perkataan tadi semua adalah sampah. Hanya ini yang paling enak."

Dari dulu Lok Cin-pek belum pernah diejek orang, mendengar perkataan begini, dia kembali naik pitam hingga wajahnya berubah drastis, seperti segera akan meledak.

Tapi tepat saat itu Liu Yam-yo berkata:

"Lok Ta-ya jangan marah dulu, kau jangan bertanya aku ada keperluan apa kemari? Biarlah aku yang memberitahu padamu!"

Terpaksa Lok Cin-pek menelan hawa nafsunya, diam seribu bahasa, dengan tenang mendengar Liu Yam-yo meneruskan perkataannya. Siapa sangka Liu Yam-yo memutar perkataannya balik bertanya:

"Lok Ta-ya, kabarnya Tong Kwee-seng adalah teman akrabmu, betulkan itu?"

Lok Cin-pek melihat dia tiba-tiba merubah arah pembicaraan, dia tidak bisa menangkap apa yang dia inginkan, dia terkesiap dan mengangguk:

"Betul sekali. Tong Kwee-seng adalah teman karibku.

Apa ada hubungannya dengan kedatanganmu ini?"

Senyuman Liu Yam-yo seperti bunga api melayang, dengan suara memuji berkata:

"Ternyata Lok Ta-ya seorang yang cerdas, hanya disinggung sedikit sudah mengerti." Dia berkata lagi, "Apakah Tong Kwee-seng pernah menyinggung diriku didepan mu?"

Lok Cin-pek mengangguk berkata:

"Pernah. Kalau tidak darimana aku bisa tahu sekali melihatmu?"

Sorotan mata Liu Yam-yo seperti bunga api mi'loinpat amat perhatian bertanya:

"Dia mengatakan apa saja padamu?"

Lok Cin-pek agak bingung melihat Liu Yam-yo: "Masalah ini aku kurang ingat, apakah urusan ini yang

membuatmu datang untuk menanyaiku?" Liu Yam-yo mengangguk berkata:

"Betul, aku mau menanyakan sejelas mungkin Tong Kwee-seng mengatakan apa saja mengenai diriku padamu!" Cara bicara Liu Yam-yo membuat marah Lok Cin-pek, dingin sekali dia berkata:

"Ini masalah pribadi. Aku dengan Tong Kwee-seng tidak ada kewajiban harus melapor padamu, apalagi aku sudah tidak ingat dan aku pun tidak ingin mengatakan!"

Liu Yam-yo dengan tegap maju 1 langkah, dia berkata dengan suara yang tinggi dan keras:

"Lok Toa-ya, kalau kau belum ingin mati sebaiknya mengikuti saranku, mengingat sejelas-jelasnya, jangan ada yang terlewatkan, sebutkan dengan jelas kata per-kata!"

Sejak Lok Cin-pek berhasil menaklukan Jauw Lam-san tidak pernah ada orang berani bicara selancang begini di hadapannya, dia jadi sewot sehingga mukanya hijau membesi, lama sekali dia tidak sanggup berkata-kata karena kemarahannya yang memuncak:

"Liu Yam-yo, memangnya siiapa dirimu? Berani sekali mengancam aku! Su Li-yung! Habisi dia!"

Su Li-yung yang sejak tadi berdiri di sisi sudah tidak tahan menyaksikan kecongkakan Liu Yam-yo, begitu mendapat perintah secepatnya dia menyahut, tanpa mencabut senjata, tubuhnya langsung menyerbu ke depan, sebuah bogem mentah secepat kilat menghantam ke depan dada Liu Yam-yo.

Dalam mata Liu Yam-yo terlihat sorotan api, tanpa berkata sepatah katapun, dia membalas sebuah tonjokan menyongsong kepalan Su Li-yung yang mendekat di depan dadanya.

Su Li-yung berlatih Gwakang sudah mencapai taraf akhir, kepalannya jika dipukulkan kekuatannya bisa membelah batu keras, 9 ekor lembu besarpun tidak mampu menahan pukulannya jika telah mengerahkan 80% tenaganya. Melihat Liu Yam-yo berani mengadu pukulan, hatinya amatlah senang. Tenaga kepalannya ditambah menjadi 100%, maksudnya ingin melumpuhkan sebelah lengan Liu Yam-yo.

"Bummm!"

2 pukulan beradu, kepalan Su Li-yung seakan-akan menghantam pelat besi yang dibakar sampai merah membara, segumpal hawa panas yang amat sangat keluar dari kepalan Liu Yam-yo mengalir ke dalam kepalan Su Li- yung, seolah-olah aliran listrik menjalar ke seluruh lengannya. Dia memekik sekerasnya karena rasa sakit yang tidak tertahankan, secepatnya melompat mundur.

Setelah di teliti dengan seksama, terlihat seluruh lengan berikut kepalannya sudah berubah menjadi seperti arang, kulit dan daging mengkerut dan kering, begitu digerakkan, kulit dan dagingnya seperti kulit ular terbelah-belah dan rontok. Sakitnya hingga menusuk hati, dia memekik kesakitan, rasa ngeri dan takut tidak berkesudahan.

Dilihat dari keadaannya, sebelah lengan kanan-nya sudah dipastikan remuk.

Setelah 2 kepalan Liu Yam-yo beradu dengan Su Li- yung, dia terus tidak pernah bergerak, tetap berdiri di tempatnya, tersenyum lebar pada Su Li-yung laksana sinar matahari yang hangat dan nyaman.

"Lie-yang-sin-kang (ilmu sakti terik matahari)" Lok Cin- pek sepintas melihat seluruh lengan Su Li-yung yang terbakar gosong, mimiknya berubah cepat, tidak tertahankan dia memekik:

"Kau sungguh kejam!"

Liu Yam-yo tertawa sinis, katanya: "Lok Ta-ya, yang lebih kejam masih ada di belakang, sebenarnya kau mau mengatakan tidak?"

Lok Cin-pek mendelikkan mata sambil berujar:

"Jangan kira sesudah kau menunjukan keahlian mu, aku jadi harus takut padamu? Jangankan aku sudah lupa apa yang pernah Tong Kwee-seng ceritakan padaku, anggap aku masih ingatpun, aku tidak akan memberitahukan padamu!"

Air muka Liu Yam-yo sekilat tampak merah bagaikan api membara, sepasang matanya berapi-api dengan suara keras menyentak:

"Tua bangka, kau mencari mati!"

Para pengawal berebut langkah menyerbu masuk ke dalam saung, tapi sebuah tonjokan sudah melayang keluar menghantam Lok Cin-pek.

Kepalan belum tiba, Lok Cin pek sudah merasakan panasnya angin kepalan yang menyambar, dia bengong sebentar... karena sudah ada contoh di depan, dia tidak berani beradu keras lawan keras, tubuhnya bergeser ke samping menghindari ketajaman serangan lawan.

"Blboppp..." angin pukulannya mengenai tiang saung di belakang tubuh Lok Cin-pek, tiang saungnya segera tampak bekas gosong hitam terkena sambaran api yang dalam.

Lie-yang-sin-kang yang lihay sekali!

Hati Lok Cin-pek bergetar, dia tidak berani lengah, lengan bajunya dibalikkan, tangannya melambai, lalu selembar cambuk lentur berlapis emas dengan suara "huhhh" seperti naga terbang menari-nari, cepat seperti kilat sudah menggulung ke arah Liu Yam-yo. Liu Yam-yo menghindar dan mendongakkan kepala dengan cekatan dapat menghindari gulungan cambuk lentur berlapis emas yang menyambar.

Kemudian tubuhnya berdiri tegap, dua kepalan nya bersama-sama menghantam, angin pukulan bagaikan bara api segera melesat laksana anak panah! Orangnya pun berbalik meluncur keluar saung!

Serangkaian tindakan Liu Yam-yo itu membuat bingung Lok Cin-pek. Beberapa pukulannya yang dilancarkan Liu Yam-yo tidak ditujukan pada Lok Cin-pek tetapi sasarannya adalah ke tiga tiang saung!

Tetapi hanya sebentar dia sudah menyadarinya!

Dampak angin pukulan itu membuat 3 tiang saung yang tersisa patah tersambar angin pukulan yang seperti bara api. "bruuuk!" suara keras menyusul, saung kecil itu ambruk karena tiangnya patah!

Semua di luar dugaan Lok Cin-pek, Liu Yam-yo tidak menyerang manusia tapi menyambar tiang saung. Di saat dia mau keluar dari saung itu, sudah terlambat, dia membentak keras, sekujur tubuhnya menahan arus saung yang roboh, lalu meloncat ke udara, dalam suara gemuruh kayu-kayu patah, genting-genting pecah, Lok Cin-pek menerobos wuwungan atap saung, dan meloncat sampai setinggi 3 meter lebih di udara.

Ketika berada di udara, sekilas terlihat Liu Yam-yo sedang bertarung dengan Su Li-yung, maka tubuh dan pinggangnya segera berputar, seperti burung elang menukik miring menyerang Liu Yam-yo. Seutas cambuk lentur bersepuh emas mengeras menyerupai tombak, menotok dan menusuk nadi di belakang leher Liu Yam-yo! Dengan tangan kosong Liu Yam-yo sedang bertarung menghadapi Su Li-yung, tiba-tiba dia merasa ada angin keras menyerang di belakang lehernya. Dia memang orangnya cerdik dan gesit, kebetulan saat itu kepalan Su Li- yung datang menyerang mukanya, dalam kesibukannya dia segera berjongkok ke bawah, kepalannya menyerang perut Su Li-yung!

Secepat itu pula terdengar 2 suara "poppp!" dan "dukkkk" yang tersabet bukan Liu Yam-yo tapi Su Li-yung!

Kasihan Su Li-yung, setelah sebelah lengan kanannya gosong dan remuk, sekarang tidak saja perutnya dihantam kepalan Liu Yam-yo, yang lebih mematikan lagi, tenggorokannya tertusuk oleh "tombak" Lok Cin-pek!

Cambuk lentur Lok Cin-pek yang ingin menusuk nadi besar di belakang leher Liu Yam-yo, telah salah sasaran malah menusuk kerongkongan Su Li-yung!

Su Li-yung tidak bisa bersuara, hanya bisa membelalakan sepasang mata sipitnya yang tampak putus asa, dia langsung menemui ajalnya.

Lok Cin-pek seolah-olah tidak percaya, cambuk lentur yang ditusukkan ke arah Liu Yam-yo malah mengenai tenggorokan Su Li-yung, dia terkesima sesaat.

Tepat pada itu tiba-tiba Liu Yam-yo menggerakan tubuh secepat kilat berdiri, sebuah pukulan ditonjokkan ke dada Lok Cin-pek!

Pukulan ini teramat cepat!

Secepat halilintar yang menyambar, guruh yang menghantam.

Tubuh Lok Cin-pek masih di udara, saat itu tubuhnya sedang turun, tentu saja keadaannya tidak bisa leluasa seperti di darat, dia sama sekali tidak mampu menghindar pukulan Liu Yam-yo. Tampak angin pukulan hampir mengenai tubuhnya, kepalan pun segera mengenai dadanya!

Bagaimanapun Lok Cin-pek tetap seorang Lok Cin-pek yang sangat pengalaman, disaat yang gawat sekali, dia tegar tidak menghindar pun tidak menepi, hanya kakinya menendang, cambuknya menyabet, kaki menerjang perut, cambuk melilit leher.

Cara bertarung begini sangat berbahaya, kurang hati-hati sedikit akan menemukan ajal bersama-sama, kalau Liu Yam-yo tidak segera menarik diri dan melepaskan pukulannya, meskipun dia mampu dengan sebuah pukulan telak menghabisi nyawa Lok Cin-pek, dia sendiri pun akan tewas di bawah tendangan dan pecutan Lok Cin-pek!

Sebuah jurus yang bagus berguna mencari kehidupan dari celah kematian!

Berdasarkan status dan kedudukan Lok Cin-pek, saat ini dia masih tetap kuat dan perkasa begini, benar-benar termasuk jarang ada.

Maksud kehadiran Liu Yam-yo adalah membunuh, bukan mengadu jiwa, sudah barang tentu dia tidak sebodoh itu untuk menyudahi kehidupannya dengan mati bersama, sambil mendehem kesal dia segera menekukkan lengannya menarik kembali pukulannya, mengangkat rubuh balik meluncur mundur beberapa meter jauhnya.

Akhirnya Lok Cin-pek lolos dari maut, dia segera memantapkan diri, menghela napas panjang, dan menenangkan jantungnya yang berdebar-debar.

"Kau hebat juga!" Liu Yam-yo ibarat segumpal api yang menyala, berdiri tegap di kejauhan sambil tertawa mengejek, "Lok Ta-ya, kalau kau mengatakan sekarang masih ada kesempatan! Belum terlambat!"

Lok Cin-pek melirik lagi pada mayat Su Li-yung yang tergeletak di tanah. Dengan penuh kesal dan dendam menyahut:

"Jangan berharap aku akan mengatakannya!" Dengan tertawa Liu Yam-yo menyentak:

"Tua bangka, kalau memang begitu maumu, aku akan

membuatmu tidak bisa mengatakan selamanya!"

Selesai berkata bagaikan api melahap hutan, dia kembali menyerang Lok Cin-pek, sepasang kepalannya menghantam bersama-sama, yang saru menyerang kepala dan muka, yang lainnya menghantam perut dan dada!

Lok Cin-pek tidak berani menghadapi secara langsung, tubuhnya berputar laksana kincir angin, seperti angin puyuh menggulung punggung Liu Yam-yo, cambuk lentur bersepuh emas bagai halilintar berkilau-kilau di udara, menyabet pinggang Liu Yam-yo!

Liu Yam-yo mengangkat tubuhnya melompat tinggi, membuat cambuk lentur menyabet lewat dari bawah kakinya.

Tubuh Liu Yam-yo yang berada di udara, kakinya menendang ke arah mata Lok Cin-pek, kepalan tangan kanannya bersuara gemuruh menghantam ubun-ubun Lok Cin-pek! Tapi tangan kirinya belum bergerak!

Lok Cin-pek menghardik keras, tubuhnya menengadah balik meloncat. Saat itu juga Liu Yam-yo mengayunkan lengan baju tangan kanannya, seberkas api sinar biru menyala seperti petir terbang keluar dari lengan bajunya!

Lok Cin-pek yang sedang terangkat tubuhnya terkejut luar biasa, cambuk lentur berlapis emasnya meliuk-liuk berseliweran di udara, berupaya menangkis api biru yang seperti kilat menyembur ke depan dadanya.

Kalau dipikir memang tidak masuk akal, tapi ternyata api biru itu bisa menerobos masuk ke dalam jaringan cambuk Lok Cin-pek.

"Bleppp" api biru sudah menusuk masuk ke dalam jantungnya.

Tidak tertahan Lok Cin-pek mengeluarkan jeritan yang mengerikan, seketika itu bayangan cambuk menjadi kacau balau, tubuh yang terangkat sampai setengah jalan itu tiba- tiba seperti meteor menukik jatuh, "gedebuk" dia terhempas ke tanah, mulutnya menganga besar, mata membelalak, seluruh tubuh berkelojotan beberapa kali, kepalanya miring ke pinggir dan tidak bergerak lagi!

Di depan dadanya, tepat di bagian jantungnya tertancap sebuah pedang pendek berwarna merah yang tangkainya bertatahkan sebuah manik yang indah.

Liu Yam-yo dengan ringan melayang turun di sisi rubuh Lok Cin-pek, menggunakan ujung jari kaki menyentuh tubuh Lok Cin-pek, sambil tertawa dingin berguman sendiri:

"Tua bangka, sekarang kau mau ngomong pun sudah tidak mampu!"

Liu Yam-yo membungkukkan tubuh mencabut pedang pendek yang tertancap di dada Lok Cin-pek, menggeserkan tubuh agar terhindar dari semburan darah dari arah jantung Lok Cin-pek kepada jubahnya.

Sekali mengibaskan tangan, bercak-bercak darah segar yang menempel di batang pedang semua terkepret bersih, tangannya sekali membalik, lengan bajunya tersingkap, dia segera menyimpan pedang pendek itu ke dalam lengan bajunya, sekali lagi mengawasi 2 sosok mayat di tanah. Dia tidak menuju ke pintu taman, tapi meloncat laksana seekor burung terbang, melintas ke atas tembok rumah, sekali lagi melompat sudah hilang di balik tembok yang jauh.

ooo0ooo

Yam Ciu-san bukan saja kakak angkat Lok Cin-pek dia juga teman karib Tong Kwee-seng.

Hari ini, sejak bangun tidur dia sudah menerima kabar bahwa Lok Cin-pek telah mati dibantai oleh seorang pemuda yang mengenakan jubah merah yang sekujur tubuhnya menyerupai segumpal api menyala. Yam Ciu-san terkejut dan marah, sebuah cangkir porselen hijau sampai terlepas dari tangannya, terjatuh hingga hancur berantakan.

Yam Ciu-san belum mengetahui mengenai Tong Kwee- seng telah meninggal terlebih dahulu!

Tetapi asal dia mengetahui Lok Cin-pek sudah tewas pun sudah cukup.

Lok Cin-pek adalah adik angkatnya, adik angkat dibunuh orang, dendam demikian berat bagaimana pun harus dibalas, kepalannya langsung memukul meja, membentak dengan gigi yang gemeretak:

"Jika aku tidak mampu membunuh orang yang bermarga Liu, aku hidup pun tidak ada artinya!" Suara bentakannya baru habis, seorang pesuruh sudah tergopoh-gopoh berlarian masuk dengan mimik yang gugup dia berkata:

"Lapor majikan, di luar rumah ada seorang pemuda mengenakan jubah merah seperti segumpal api menyala, dia mengaku bernama Liu Yam-yo minta bertemu dengan Tuan."

"Betul saja, baru menceritakan Co-coh, Co-coh-nya sudah tiba!"

Sontak saja Yam Ciu-san berdiri dari tempat duduknya.

Dia berseru:

"Hmmm, dia berani datang kemari, baguslah akupun tidak perlu susah mencarimu!"

"Ambilkan pedangku, cepat!" dia mengibaskan lengan jubah dengan langkah besar tergesa-gesa keluar.

Pesuruh tadi menyahut, segera berlari ke ruang belakang mengambil pedang panjang Yam Ciu-san.

Saat sedang berjalan menuju depan rumah, hati Yam Ciu-san berpikir cepat, dia pun menjadi tenang, tidak seperti saat menerima kabar kematian Lok Cin-pek, yang penuh amarah dan terkejut!

Masalah Liu Yam-yo, sedikit banyak dia sudah mendengar juga kabar tentang asal usul orang ini dari mulut Tong Kwee-seng.

Memang yang diketahui tidak banyak, tetapi dia sudah mendapat tahu bahwa Liu Yam-yo berasal dari Pek-hwee- jiauw (agama menyembah api) di Tibet, mengenai dia berguru pada siapa, itu yang belum dia ketahui. Tetapi ditilik dari kemampuan Liu Yam-yo sampai bisa membantai Lok Cin-pek, sudah dapat dipastikan Liu Yam- yo punya kemampuan tinggi.

Dia tidak banyak tahu mengenai Liu Yam-yo tapi dia mengenal sekali adik angkatnya Lok Cin-pek, kemampuan Lok Cin-pek memang kalah sedikit dari dirinya, tapi dia juga tokoh wahid dari setumpukan orang-orang yang berkemampuan tinggi, kalau tidak mana mungkin dia mampu mengalahkan Jauw Lam-san dan melahap habis daerah kekuasaannya?

Sambil berjalan sambil berpikir, tibalah dia dia depan rumah, sekarang dia sudah sama sekali tenang dan sadar.

Sebelum keluar pintu, jauh-jauh sudah tampak di luar pintu kira-kira 1 tombak ada sesuatu yang menyerupai segumpal api menyala, seorang pemuda memakai baju merah, berdiri dengan tenang disana.

Dua alis Yam Ciu-san mengkerut, sekali pandang dia sudah tahu, Liu Yam-yo adalah orang yang sulit dihadapi, tapi dia dengan mantap melangkah keluar pintu besar.

Matanya memandang muka Liu Yam-yo yang seperti bola api, sekujur, tubuhnya merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Liu Yam-yo.

Liu Yam-yo menatap Yam Ciu-san yang berjalan mendekat, mimiknya sama sekali tidak ada perubahan, hanya terlihat 2 alisnya mengangkat.

Belum sampai Yam Ciu-san buka suara menyapa, Liu Yam-yo berebut bicara duluan:

"Apakah anda Yam Ciu-san, Yam Toa-cung-cu (bos besar pesanggrahan)?" Yam Ciu-san menilik Liu Yam-yo dari atas ke bawah, lalu menyahut dan manggut-manggut:

"Itulah aku. Kau Liu Yam-yo?"

Sorotan mata Liu Yam-yo seperti bara api sedang membakar muka Yam Ciu-san, dia tidak menjawab malah balik bertanya:

"Masa Tong Kwee-seng tidak pernah menyinggung tentang aku pada Yam Ta-cung-cu?"

Di bawah tatapannya, muka Yam Ciu-san merasa seperti sakit terbakar, hatinya jadi bergetar, dia bergeser ke samping agar bisa terhindar dari tatapannya, lalu menyahut dengan suara amat dingin:

"Anak muda special sepertimu, sobat Tong kwee-seng pula, mana mungkin dia tidak membicarakan kau padaku?"

Api dalam mata Liu Yam-yo menyorot, dia segera bertanya:

"Dia mengatakan apa saja pada anda, Yam Ta-cung-cu?"

Yam Ciu-san tidak menjawab, balik bertanya: "Kenapa kau membunuh Lok Cin-pek?" Liu Yam-yo tertawa keras, katanya:

"Sebab Lok Toa-ya adalah teman Tong Kwee-seng, dan lagi dia tidak bersedia menceritakan apa saja yang Tong Kwee-seng katakan mengenaiku, demi kecermatan aku terpaksa membuat dia tidak bisa mengatakan untuk selamanya!"

Tentu saja orang mati selamanya tidak akan bisa mengatakan apa-apa lagi.

Yam Ciu-san sekuat tenaga menekan emosi yang timbul bergulung-gulung. Dia bertanya dengan tenang: "Kalau begitu, kau juga telah membunuh Tong Kwee- seng?"

Liu Yam-yo mengangguk-angguk:

"Betul, dia sudah kubunuh!"

"Kenapa?" Yam Ciu-san melanjutkan pertanyaannya. "Sebab, dia mengetahui rahasiaku, tapi dia tidak bisa

menahan diri dan mengatakan lagi pada orang lain!"

"Rahasia apa yang diketahui dia?" dalam kesempatan ini Yam Ciu-san cepat-cepat bertanya.

Liu Yam-yo tidak mau menjawab, dia balik bertanya: "Mungkinkah Tong Kwee-seng tidak mengatakan

padamu?"

Sampai disini pahamlah iYam Ciu-san, rahasia besar Liu Yam-yo telah diketahui oleh Tong Kwee-seng dan pernah diceritakan pada orang lain, belakangan diketahui oleh Liu Yam-yo maka Tong Kwee-seng di bunuh. Dari mulut Tong Kwee-seng, dia tidak mendapat jawaban sebenarnya bahwa dia sudah mengatakan pada siapa saja, tapi hanya mengira- ngira, dia menyusurinya mulai dari teman-teman Tong Kwee-seng, pertama Lok Cin-pek dulu, tapi tidak mendapatkan hasil, mungkin saja Tong Kwee-seng tidak pernah menceritakan pada Lok Cin-pek, maka Lok Cin-pek pun dihabisi, dan sekarang dia datang mencari dirinya.

Yam Ciu-san pun menduga dan berpikir, rahasia Liu Yam-yo pasti sebuah rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapapun!

Sebab itu Yam Ciu-san dengan tegas berkata:

"Aku sama sekali tidak mengetahui apa rahasia mu, hanya pernah mendengar namamu dari mulut Tong Kwee- seng!" "Benarkah begitu?" dengan tidak percaya Liu Yam-yo menatap Yam Ciu-san.

Yam Ciu-san samar-samar merasa mukanya seperti sakit terbakar, dengan dingin sekali berujar:

"Kalau kau tidak percaya akupun tidak bisa apa-apa!" Dengan acuh Liu Yam-yo menyahut:

"Aku pernah terkecoh saru kali, tidak gampang percaya lagi pada perkataan orang lain!"

Yam Ciu-san menjadi marah dan membentak: "Kalau begitu, harus bagaimana baru percaya?"

"Aku akan percaya, kalau kau Yam Toa-cung-cu sudah mati di depanku!" Kata Liu Yam-yo tertawa.

Yam Ciu-san menghela napas, dia menahan gejolak emosinya, tertawa sinis:

"Kau sudah gila Liu Yam-yo, ku kesampingkan dulu hutangmu membunuh Lok Cin-pek, aku mau melihat sebesar apa kemampuanmu sampai minta aku mati di depanmu!"

Liu Yam-yo tertawa laksana sinar mentari yang nyaman di awal musim semi di bulan dua. Dia berujar:

"Yam Toa-cung-cu, tidak peduli kau tahu atau tidak rahasiaku, demi kebaikan dan keamanan, terpaksa aku membiarkan kau untuk mengenal cara aku membantai manusia!"

Sejak umur 17 tahun Yam Ciu-san sudah terjun ke dunia persilatan, umur 31 tahun sudah tersohor. Sejak itu, tidak ada seorang pun berani berkata sombong begini terhadapnya, tidak tertahan emosinya memuncak sehingga wajahnya menjadi pucat, dia berteriak: "Mana pedangku?"

Pesuruh yang sejak tadi berdiri di belakangnya, segera maju selangkah, dengan kedua belah tangan menyerahkan pedang itu padanya.

Dengan pedang dalam genggaman, hawa membunuh jadi semangkin tebal!

Saat ini pedangnya belum dicabut!

Kalau pedang sudah dicabut, dengan hawa pedang saja mungkin sudah akan bisa membunuh orang!

Bagaimanapun Yam Ciu-san tetap Yam Ciu-san! "Chianggg!"   suara   sudah   terdengar,   pedang   sudah

meninggalkan    sarungnya,    hawa     membunuh     sudah

memuncak, hawa pedang terasa menakutkan. Orang-orang Yam Ciu-san juga seperti pedang tajam yang meninggalkan sarungnya, nafsu membunuhnya menggebu-gebu!

Berhadapan dengan keadaan begini, Liu Yam-yo tidak berani ceroboh, tangan kanannya membalik, dari kibasan lengan baju yang melayang, terlihat tangan kanannya yang menggenggam sebuah pedang pendek berwarna merah menyala, yaitu pedang api.

Sesaat saja hawa pembunuhan semangkin tebal di sekeliling tempat itu, keras dan mengerikan!

Dua orang berdiri saling menatap, lama sekali belum juga bergerak.

Akhirnya Liu Yam-yo tidak kuat menahan. Pedang pendek yang menyerupai ular api. Dari ujung pedang menelan dan meludahkan seberkas bunga pedang menyerupai api yang membakar, meliuk-liuk menyambar ke depan dada Yam Ciu-san!

Mulut Yam Ciu-san memekik keras: "Bagus!"

Pedang panjang dipelintirkan di depan dada. Terdengar suara "ting!ting!ting!" 7 kali berturut-turut berbunyi. 7 perubahan pedang yang menyerang urat nadi utama ke arah dada dari Liu Yam-yo telah diurainya!

Yam Ciu-san pantas menerima sebutan ahli pedang oleh orang-orang Bu-lim, sorotan matanya tajam, selalu tepat kalau bertindak, satu serangan tidak lebih, satu seranganpun tidak kurang, tepat 7 kali gerakan untuk menahan 7 pembahan pedang yang digerakan oleh Liu Yam-yo padanya.

7 serangan Liu Yam-yo terkena hadangan, dia sama sekali tidak ragu-ragu lagi, sebuah lagi serangan baru secara kaku ditusukkan juga ke dada Yam Ciu-san!

Kali ini jurusnya tidak pakai variasi!

Yam Ciu-san yang telah menahan satu jurus pedang dengan 7 perubahan pedang dari Liu Yam-yo itu, menghadapi tusukan telak yang tanpa embel-embel ini tidak seluwes menahan 7 serangan tadi. Dengan wajah serius dia bergeser ke samping melayang mundur 1 langkah. Pedang panjangnya menangkis tusukan itu,

"tinggg!" bersuara tepat menusuk di ujung pedang Liu Yam-yo.

Selanjutnya, Yam Ciu-san tidak lagi memberi kesempatan pada Liu Yam-yo, setelah menahan tusukan tadi dia langsung memutar pergelangan tangannya. Bunga pedang berubah menjadi beratus-ratus ribu bintang-bintang yang menakutkan, menyerang ke seluruh tubuh Liu Yam- yo.

Liu Yam-yo memainkan pedang sambil mundur! Yam Ciu-san maju mengikuti pedang, sampai puncaknya berubah menjadi satu, mendesak menusuk Liu Yam-yo.

Liu Yam-yo mundur sekali lalu berhenti. Sinar merah dari pedang pendek nampak jelas, dengan terpaksa menahan serangan Yam Ciu-san ini.

Setelah satu serangannya, Yam Ciu-san meneruskan lagi dengan 17 kali serangan berikutnya.

Setelah mundur satu langkah, Liu Yam-yo memainkan pedang menahan 17 serangan ini!

Setelah menahan seragkaian serangan, dia membalikan tangan kembali menyerang. Yam Ciu-san pun terdesak mundur satu langkah!

Dua orang ini sama-sama berteriak keras, secepatnya bergumul lagi menjadi satu, hanya tampak 2 berkas sinar pedang satu merah sahi putih saling serang saling bergumul, cepat melawan cepat, bertarung untuk mempertahankan nyawanya.

Tetapi 2 buah bayangan manusia yang saling bergumul ini saling kejar terbang ke atas dan ke bawah, cepat sekali sudah berpisah, masing-masing melompat mundur 1 langkah, mata memandang mata saling mengawasi dengan bengis.

Dalam serangan cepat ini masing-masing tidak bisa mengungguli lawanya, lengan baju Yam Ciu-san sudah tersabet dan robek, sedangkan selendang merah pengikat rambut Liu Yam-yo juga terpotong sebagian!

Dua orang ini saling memandang sejenak, seolah-olah sudah membuat janji, membungkam tidak bersuara, sama- sama menggerakan pedang menyerang lawannya. Kali ini Liu Yam-yo berturut-turut menyerang 107 jurus. Yam Ciu-san dengan santai mengatasinya satu persatu, lalu Yam Ciu-san menyerang 101 jurus, juga diatasi oleh Liu Yam-yo satu persatu.

Setelah serangan cepatnya berlalu, keduanya sama-sama ingin mendahului menyergap, dalam waktu bersamaan, berbarengan dengan kecepatan luar biasa menyerang!

Menurut aturan, kalau dua orang berbarengan menyerang, yang rugi pasti Liu Yam-yo, sebab pedangnya pendek, sedang pedang Yam Ciu-san panjang, dari sini saja sudah jelas.

Secara kebetulan dua pedang bersama-sama ditusukkan, dan ujung pedang pun bentrok dengan ujung pedang!

Tiba-tiba dua pedang yang satu merah satu putih saling melengket. Yam Ciu-san dan Liu Yam-yo masing-masing mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, memusatkan seluruh perhatian pada ujung pedangnya.

Sekarang pertarungan berobah menjadi mengadu tenaga dalam.

Menurut perhitungan, kalau mengadu tenaga dalam Yam Ciu-san pasti lebih unggul, tapi kenyataan ternyata lain, setelah keduanya agak lama saling ngotot, tiba-tiba Yam Ciu-san memekik keras, sekujur tubuhnya seperti udang mentah meloncat ke atas, secepatnya melepaskan tangan yang memegang pedang tersebut.

Kenapa Yam Ciu-san seperti orang kesurupan?

Begitu memandang tampak jelas, pedang pendek di tangan Liu Yam-yo seperti baru keluar dari anglo, pelat besinya seperti terbakar sampai merah menyala, pedang panjang Yam Ciu-san pun menjadi merah sekujurnya dan mengeluarkan asap putih, juga sudah menjadi bengkok seperti mie.

Penyebab Yam Ciu-san menghempaskan pedang di tangannya dikarenakan panas yang tersalurkan melalui pedang panjangnya, membuat kulit terasa kering daging pun matang, sakitnya tidak tertahankan, dia sudah tidak tahan menggenggamnya, pedangpun terhempas!

"Lie-yang-sin-kang" memang hebat sekali, sayang Yam Ciu-san sama sekali tidak tahu sehingga dia masuk perangkap!

Liu Yam-yo menggunakan kesempatan ini, menggerakan tangan kanannya, pedang yang menempel di atas pedang pendek dengan suara "syuttt" terbang menuju ke arah Yam Ciu-san!

Betul tangan kanan Yam Ciu-san cedera, tetapi dia masih mempunyai tangan kiri, sekali dijulurkan, dia sudah bisa menangkap pedang panjangnya yang sudah tidak berupa itu.

Siapa yang menyangka, baru saja dia menangkap tangkai pedang panjang yang masih terasa panas, sejalur lidah api seperti pelangi terbang melintas menyabet ke muka dan kepala dia.

Ternyata Liu Yam-yo pun melemparkan pedang pendek dari tangannya.

Yam Ciu-san segera memiringkan kepalanya.

Tubuh Liu Yam-yo seperti hantu menyelinap tiba, dengan sebelah telapak menghantam dadanya!

Yam Ciu-san sudah tidak mampu berkelit lagi, dengan telak terkena pukulan telapak Liu Yam-yo. Sekujur tubuh terasa seperti disambar petir, baju di depan dada Yam Ciu-san berdesir-desir mengepul asap putih menyebar bau gosong, setelah berkelojot beberapa kali "gedebuk" mengikuti suara itu. Yam Ciu-san terjatuh ke belakang, terduduk di tanah.

Sekali ini dengan jelas terlihat didepan dada Yam Ciu- san ada sebuah cap telapak tangan yang gosong menghitam, agak melesak masuk ke dalam daging, keadaan begini persis seperti dicap dengan besi telapak yang dibakar menjadi merah!

Organ dalam tubuh Yam Ciu-san sudah hancur terkena pukulan, napasnya sudah amat lemah, mukanya seperti kertas putih, dia membuka mulut seperti mau mengatakan sesuatu, tapi dari awal sampai akhir dia tidak mampu mengatakan sepatah katapun. Lalu 2 matanya menutup, kepala menepi, tergeletak miring di tanah, tewas dengan penuh rasa dendam.

Jongos-jongos yang berdiri di depan pintu halaman, melihat Yam Ciu-san terkena hantaman dan terjatuh ke tanah, mereka sudah berlarian masuk ke dalam rumah menyampaikan berita duka ini.

Liu Yam-yo dengan santai memungut pedang pendeknya di tanah dan menyimpan ke dalam lengan bajunya, dengan bersiul pergi secepatnya.

Saat jagoan-jagoan dari kampung datang semua, batang hidung Liu Yam-yo sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanya mayat Yam Ciu-san yang terkapar di tanah.

ooo0dw0ooo

Liu Yam-yo sudah menemukan teman karib Tong Kwee- seng yang ketiga, Kao Ceng. Hari ini Kao Ceng agak muram, sebab kucing persia kesayangannya mati tanpa penyebab.

Hari-hari biasa saat seperti begini dia pasti dengan santainya sedang menikmati Liong-king-cha (Teh Liong- king) yang istimewa sambil duduk di tepi kolam ikan dalam taman belakang.

Orang ini berbeda dengan orang sungai telaga yang lainnya, dia tidak suka minuman keras, hanya suka minum teh, tentu harus teh yang terbaik yang no.1!

Selain perlu sekali, dia selalu tidak minum arak.

Hari ini dikarenakan kucing Persia kesayangannya mati, mendadak membuat tehnya pun tidak diminum. Dengan hati yang gelisah, tidak terasa dia berjalan sampai Swat-lim (Hutan salju) yang dia suka.

Hutan salju adalah tempat yang banyak tumbuh pohon- pohon Bwee, saat bunga Bwee bermekaran, bunganya yang putih bersih seperti salju, sejauh mata memandang, salju seolah-olah menutupi hutan itu, maka dinamakan Swat-lim (Hutan salju).

Sekarang musim bunga Bwee sedang mekar, dimana- mana memutih seperti lautan salju.

Mencium semerbak wangi bunga Bwee yang menyejukkan hati, perasaan hati Kao Ceng yang mumet mulai mencair, jalan-jalan dalam hutan bunga Bwee, membuat orang merasa berada di tengah dunia yang serba putih.

Kao Ceng berjalan-jalan di hutan Bwee, sesudah segala perasaan kesalnya hilang, hatinya terasa enteng dan gembira. Tiba-tiba dia merasa matanya seperti berkunang-kunang, dia melihat di tengah hutan bunga Bwee yang menyerupai lautan salju itu muncul satu titik merah menyala, amat menyolok dalam dunia yang seperti salju ini.

Dia mengira matanya yang kabur dan salah melihat, dia mengedip-ngedipkan mata, dilihatnya lagi dengan jelas, tidak salah lagi. Di belakang sebuah pohon liwee yang tidak begitu jauh, ada sebuah bayangan merah sedang berkibar.

Berikutnya dia terkejut dan membelalakan mata, mengamati orang itu pelan-pelan berputar keluar dari belakang pohon Bwee.

Seorang pemuda yang mengenakan jubah merah sangat mencolok dalam hutan Bwee, seperti segumpal api yang menyala.

Api yang membara ini mulai mendekat padanya, cepat sekali telah tiba di depannya dan berhenti sejauh 2 tombak.

Kao Ceng berkedip pun tidak, terus menatap orang aneh yang menyerupai segumpal api menyala ini sampai dia benar-benar berhenti, tiba-tiba dia seperti sadar dengan tidak terasa berseru:

"Kau 'Yo-kun' Liu Yam-yo?"

Pemuda yang menyerupai api menyala itu menjawab: "Betul inilah aku!" Dia menyambung lagi, "Kao Toako,

apakah betul kucing Persia kesayanganmu mati?" Kao Ceng tercengang, selanjutnya mengangguk: "Kenapa kau bisa tahu?"

Liu Yam-yo tertawa bagaikan api berkobar-kobar: "Tahu, sebab akulah yang membunuhnya!" Darah panas Kao Ceng tiba-tiba naik, pupil matanya mengecil, air mukanya menjadi merah karena dia naik pitam, dengan suara marah menghardik:

"Kenapa kau melakukan itu?"

Dalam mata Liu Yam-yo menyorot sinar api membara, katanya:

"Sebab aku tahu binatang itu kesayanganmu, kalau dibunuh hatimu pasti susah, kalau harimu susah, kau pasti akan datang ke hutan Bwee ini untuk menghibur diri."

Kao Ceng yang mendengar Liu Yam-yo berkata begitu, bertambah mendengar bertambah ngeri.

'Orang ini mengetahui diriku sampai jelas begini, tetapi aku sama sekali tidak paham soal dia, hanya dari mulut Tong Kwee-seng aku pernah mendengar nama orang ini dan soal rupa dan keistimewaan dia berpakaian'

Sampai Liu Yam-yo selesai berkata, hatinya sudah tenang kembali, secuil kemarahannya sudah tidak ada, sebab dia tahu, harus tenang menghadapi pemuda di depan mata yang seperti segumpal api membara ini.

Orang ini muncul disini, mengatakan perkataan model begini, pasti tidak bermaksud baik, inilah yang pertama terpikir oleh Kao Ceng.

Kao Ceng selalu unggul dalam pemikirannya yang cerdas, halus dan apik, dia percaya tebakan kali ini tidak meleset.

"Kenapa kau bisa yakin sekali aku pasti akan datang ke hutan Bwee ini?" Kao Ceng ingin dari pembicaraan ini mengenal lebih jauh tentang orang ini.

Inilah yang disebut Se-ki-se-bi, Pek-ciam-pek-seng (mengenali diri sendiri dan pihak lawan, seratus kali perang pasti seratus kali menang), kata-kata mutiara yang bijak dan mashyur ini selalu dipegang oleh Kao Ceng sebagai pedoman hidup sejak dia terjun ke dunia persilatan.

Penyebab ini pula yang dapat membuat dia mampu bertahan hidup sampai sekarang di sungai telaga yang ganas ini.

Tetapi Liu Yam-yo dengan gamblang berkata:

"Sebab aku mengetahui betul kebiasaanmu, kalau mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan dan mengesalkan, kau pasti akan mengunjungi hutan Hwee ini sekedar jalan-jalan, aku membunuh kucing persia-mu justru untuk memancingmu kemari."

"Sebenarnya kau masih mengetahui berapa banyak tentang diriku?" Kao Ceng sama sekali tidak beranjak, dengan tenang mengawasi Liu Yam-yo.

Tetapi Liu Yam-yo tidak menjawab, dia malah bertanya dengan tiba-tiba:

"Apa kau ingin tahu sebabnya aku menggiring kau kemari?"

Tidak perlu ditanya lagi pasti dia ingin tahu, memang dalam hati Kao Ceng ingin tahu penyebabnya, tetapi dia berpura-pura acuh sekali, dia tidak menjawab, hanya dengan tenang memandang Liu Yam-yo saja.

Mungkin sejak awal Liu Yam-yo sudah ingin mengatakan sehingga dia meneruskan berkata:

"Aku memancing mu kesini untuk membunuh mu!" Angkuh sekali perkataannya!

Tetapi Kao Ceng tidak berpikir begitu, dia tidak pernah memandang remeh pihak lawan manapun. Dia paham, seseorang berani berbicara begini pasti memiliki kemampuan tinggi.

Sekarang dia hanya ingin mengetahui penyebab Liu Yam-yo ingin membunuhnya. Itulah sebabnya dia bertanya:

"Kenapa?"

"He...he...he!" Liu Yam-yo menjawab sambil tertawa, "kau adalah orang ketiga yang menanya begitu padaku!"

Dalam hati Kao Ceng bergetar, tapi wajahnya tetap tenang seperti biasa, dengan tawar bertanya lagi:

"Dua orang itu siapa?"

Liu Yam-yo menjawab kata perkata:

"Lok Cin-pek dan Yam Ciu-san!"

Hati Kao Ceng melonjak keras, spontan bertanya: "Kau yang membunuh mereka?"

"Ya," alis Liu Yam-yo melayang.

"Kenapa?" sorotan mata Kao Ceng bagaikan jarum runcing mendelik pada Liu Yam-yo.

"Sebab mereka adalah teman Tong Kwee-seng!" "Tentu masih ada penyebab yang lebih penting bukan?" Tiba-tiba Liu Yam-yo tertawa:

"Tebakanmu tepat sekali!" Dia berkata lagi, "terus terang aku beritahu, aku membunuh mereka karena aku mencurigai mereka mendapatkan berita dari Tong Kwee- seng mengenai salah satu rahasiaku!"

Seberkas sinar melintas di dalam mata Kao Ceng: "Kau curiga bahwa aku juga tahu rahasiamu?" "Betul!" angguk Liu Yam-yo.

"Itu sebabnya kau mau membunuh aku?" Kao Ceng mendelik lagi.

"Tepat lagi tebakanmu kali ini!" Liu Yam-yo mendesah, "kau pintar sekali!"

"Berdasarkan apa kau menuduh aku mengetahui rahasiamu?" Tanya Kao Ceng "tidak tahan lagi.

"Berdasarkan kau juga teman Tong Kwee-seng, lunya Tong Kwee-seng seorang yang mengetahui rahasiaku."

Api dalam sorotan mata Liu Yam-yo berkobar, "berdasarkan 2 penyebab ini sudah cukup alasanku untuk

membunuhmu!"

"Alasan yang konyol, sama sekali tidak berdasar!" Kao Ceng amat marah bersahut, "kau percaya hdak kalau aku tidak pernah mendengar rahasiamu?"

"Aku ingin sekali percaya," Liu Yam-yo sekali lagi mendesah, "tapi sayang, demi kebaikan, aku tetap lidak mempercayaimu, jadi aku tetap harus membunuh kau!"

Kao Ceng pura-pura mengepal kedua kepalannya dengan amat acuh berkata:

"Kalau begitu, kau tetap saja mau membunuhku baru bisa tenang?"

Mengangguk-angguk Liu Yam-yo berkata: "Tepat lagi perkataanmu!"

"Baik, silahkan saja kalau sanggup!" Kao Ceng berujar begitu sedikitpun tidak membawa kemarahan. "Kau sabar sekali!" Liu Yam-yo berkata sambil maju selangkah, "paling tidak kau lebih tenang daripada Lok Cin- pek dan Yam Ciu-san!"

Hanya berbeda satu langkah saja, Kao Ceng sudah merasakan tekanan gelombang panas yang mendesak dia, yang ditebarkan dari tubuh Liu Yam-yo, saat maju selangkah.

Sebentar saja dia sudah merasa sekujur tubuhnya gerah dan pengap, seolah-olah tubuhnya berada di dekat anglo yang panas, hatinya menjadi tegang, dia teringat perkataan Tong Kwee-seng dulu, pernah berkata padanya mengenai "Lie-yang-sin-kang Liu Yam-yo yang lihay sekali!" sambil berkata dia menggeser satu langkah ke samping, menghindar berhadapan langsung dengan Liu Yam-yo.

"Berapa banyak lagi kau mengetahui tentang aku?" Liu Yam-yo mendesak maju lagi satu langkah!

Hati Kao Ceng berpikir, dia tidak bicara lagi, tubuhnya menerjang, tangan kanannya dibalik, pedang panjang sudah lepas dari sarungnya, "shattt, shattt, shattt!" 9 kali serangan berturut-turut di lancarkan, sinar pedang mengepung Liu Yam-yo.

Liu Yam-yo berkelit ke kiri dan kanan, berturut-turut menghindar dari 9 tusukan itu, dia juga terdesak mundur satu langkah.

Begitu mundur lalu maju lagi, malah Liu Yam-yo menyerang maju dengan cara menyesampingkan tubuh, "shot, shot, shot!" sambung menyambung mengeluarkan 3 pukulan!

Tiga kepalan itu ditujukan kepada pedang Kao Ceng!

Kao Ceng hanya merasakan ada segulung aliran udara yang panas tiada tara menyerang pedang panjangnya, karena belum pernah tahu bagaimana lihaynya Lie-yang- sin-kang Liu Yam-yo, maka dia tidak berani menentang begitu saja. Dia melangkah dan berputar, menghindar dari 3 gulung angin pukulan itu, dalam waktu bersamaan pedangnya memapas lengan kanan Liu Yam-yo.

Lengan kanan Liu Yam-yo membalik: "Chianggg!" mengikuti suara itu dalam tangan Liu Yam-yo sudah memegang sebuah pedang pendek yang merah seluruhnya menepis pedang panjang Kao Ceng.

Kao Ceng mundur selangkah, matanya mencuri memandang, terlihat dibelakang tempat tadi dia berdiri, di atas dahan sebuah pohon Bwee, ada 3 lubang bekas kepalan yang menghitam matang seperti dicap oleh besi panas yang dibakar, tidak terasa hatinya menjadi miris, dia bertambah hati-hati lagi!

Liu Yam-yo menghardik keras, sekujur tubuhnya bagaikan segumpal api menghampiri Kao Ceng, lidah api berputar dan berloncatan, sebentar saja dia telah menyerang 8 kali sabetan pedang dan 1 kali pukulan.

Kao Ceng dengan nyaring membentak, menghindar yang berat menempuh yang ringan, berkelit 8 kali membalas 1 kali, sekuat tenaga menghantam pada kepala Liu Yam-yo!

Satu sabetan bertenaga penuh Kao Ceng membuat Liu Yam-yo mau tidak mau menarik kembali kepalannya!

Kao Ceng mengambil kesempatan ini mengejar, satu sabetan pedang dengan 6 perubahan, satu perubahan dengan 4 serangan! Sebentar saja dia sudah melancarkan 24 kali tusukan kepada Liu Yam-yo.

Bara api di tangan kanan Liu Yam-yo menari-nari, "ting, ring, ting" 24 kali terdengar suara sambung menyambung, dia menahan 24 kali sabetan Kao Ceng! Selanjutnya sebuah pukulan dilakukan rata dengan dada ke arah dada depan Kao Ceng!

Kao Ceng memutar tubuhnya, mengumpat di belakang sebuah pohon Bwee.

Angin pukulan itu menyabet pohon Bwee "krekkk!" Bunga Bwee dipohon itu seperti serat-serat salju berterbangan jatuh ke tanah, dahan pohon patah menjadi 2 bagian langsung roboh ke belakang, di tempat yang patah itu seperti terbakar api.

Kao Ceng terdesak meloncat ke samping dari belakang pohon yang runtuh, sebab dia bisa tertindih oleh pohon yang tumbang itu.

Bertepatan itu, Liu Yam-yo dengan pedang bagaikan pelangi terbang melesat menuju Kao Ceng.

Kaki Kao Ceng baru menapak ke tanah, pedang beserta lawannya sudah mengejar tiba, dia menarik napas dalam- dalam, memainkan pedangnya untuk menyong-song dan menahan, secara kaku mendadak menjatuhkan diri ke tanah, begitu tubuh Liu Yam-yo yang terbang melesat datang itu.

Kao Ceng menerobos kabur lagi ke belakang sebuah pohon Bwee yang lain.

Dia tidak ingin memaksakan diri melawan Liu Yam-yo, dia juga tidak mau mati konyol tanpa diketahui keluarga atau teman-temannya, dia memutuskan menghindar untuk sementara waktu.

Liu Yam-yo sudah nekad, bagaimana pun Kao Ceng mesti dimusnahkan, tubuhnya baru mendarat, segera menerjang lagi, berikut pedangnya melesat lagi menuju Kao Ceng. Saat melesat itulah, kepalan tangan kirinya diputar dengan cepat menghantam ke arah pohon Bwee lompat Kao Ceng menyembunyikan diri.

"Prakkk!" bersuara keras, pohon Bwee itu seperti sudah tua dan rapuh, patah begitu saja terkena .ingin pukulan, bunga Bwee yang bertangkai-tangkai rontok dan melayang- layang berjatuhan ke tanah, rambut di kepala dan tubuh kedua orang ini jadi penuh terkena kepingan-kepingan daun dari bunga Bwee.

Bunga Bwee yang jatuh di tubuh Kao Ceng masih tetap putih bersih seperti salju. Tetapi bunga Bwee yang jatuh ke tubuh Liu Yam-yo sedetik berubah menjadi gosong kering dan bergulung (keriting) lalu hancur menjadi abu.

Begitulah dua orang ini, satu berlari satu mengejar di dalam hutan salju pohon-pohon Bwee itu.

Pohon-pohon Bwee yang luas itu mendapat celaka yang tidak ringan!

Demi ingin membunuh Kao Ceng, Liu Yam-yo seperti api melahap hutan, pohon-pohon Bwee yang dilalui semua menjadi arang, bunga Bwee menjadi abu.

Suatu kali saat Kao Ceng akan terlampaui, tiba-tiba tubuh Kao Ceng mengangkat ke udara, melompat ke atas puncak tangkai dan daun pohon Bwee, seolah-olah dia berjalan di atas salju!

Liu Yam-yo menghantam dengan kepalan, menyabet dengan pedang, sudah 7-8 pohon Bwee yang roboh, tapi tetap tidak dapat menghalangi Kao Ceng di atas pohon "berjalan di atas salju"

Dengan menggaur keras, Liu Yam-yo yang sudah gemas sudah sampai puncak kemarahannya sepasang kaki menghentak tanah, mengacung-acungkan lengan dan seluruh tubuh seperti seekor burung api merah yang terbang menyerbu ke puncak pohon, begitu dilihat Kao Ceng yang berjalan di atas salju sudah puluhan meter jauhnya.

Hati Liu Yam-yo kesal, dia ingin sekali menyulut api membakar seluruh hutan Bwee ini untuk menahan Kao Ceng, saat dia naik pitam itulah bayangan tubuh Kao Ceng yang di depan dengan tergesa-gesa melontarkan diri turun ke tanah.

Liu Yam-yo bertambah gusar, dia menginjak daun mengejar secepatnya, begitu dia turun ke tanah, sosok tubuh Kao Ceng sudah hilang entah kemana.

Melihat begitu, kemarahan dia tidak terbendung lagi, bogemnya menghantam, pedangnya menyabet, hancur dan musnahlah Pohon Bwee yang luas seperti dibakar saja.

Kao Ceng sudah kabur, jadi untuk pertama kalinya Liu Yam-yo tidak dapat membunuh orang yang ingin dibunuhnya.

Untuk pertama kalinya dia merasakan kegagalan.

ooo0dwooo