Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 15 (Tamat)

Jilid 15 (Tamat)

berputar, tapi sebenarnya mereka saling mengagumi.

Dalam hati Du Xiang-jun berpikir lagi, “Katanya ilmu pedang Zhui Hun Duo Ming-jian Fa datang dari Kong Dong Pay, sekarang aku benar-benar melihatnya dan semua ini tidak bohong.”

Han Wu-niang pun berpikir, “Ilmu pedang Hua Shan Pay benar-benar hebat.”

Han Wu-niang berteriak, “Perempuan jahat, disini terlalu sempit, lebih baik kita lanjutkan bertarung diluar!”

“Setuju!”

Setibanya di luar, mereka kembali bertarung. Orang-orang kantor Biao Zhen Yuan mendengar suara senjata yang beradu dan ada suara ribut-ribut, mereka pun segera keluar dan membawa senjata.

Du Xiang-jun membentak, “Aku dan dia sedang bertarung, kalian tidak boleh melihatnya, pergilah kalian! Yang berani melanggar akan kuhukum!”

Dia terus bicara, tapi tangannya terus bergerak menyerang Han Wu-niang, dia maju atau mundur. Han Wu-niang dengan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa mencairkan serangan Du Xiang-jun.

Orang-orang kantor Biao tahu bagaimana kehebatan ilmu pedang Du Xiang-jun dan mereka pun tahu bagaimana baiknya nyonya mereka, tapi selain itu dia adalah orang yang serius, walaupun tahu ilmu silat mereka tidak jauh berbeda, tapi mereka tetap menurut pada kata-kata Du Xiang-jun, mereka pergi menjauh.

Matahari mulai terbenam, dua buah bayangan orang yang terlihat ditanah tampak terbang kesana sini, atas, bawah, mereka benar-benar mengeluarkan seluruh ilmu yang pernah mereka pelajari dan dalam waktu singkat mereka mengeluarkan puluhan jurus, tapi tetap tidak dapat dipastikan siapa yang menang dan kalah. Han Wu-niang tidak bisa mengalahkan lawannya, dia tahu bahwa dia bertarung dikandang musuh, bila dalam waktu yang lama tidak bisa memenangkan pertarungan ini, dia akan mendapatkan kerugian, dengan jurus Hakim Membuka Buku, dia menyerang sekaligus berjaga. 

Dengan pedang dia memaksa lawan mundur keluar pintu. Sambil melemparkan tiga buah pisau terbang seperti kilat, kemudian dia mengambil kesempatan ini untuk kabur.

Du Xiang-jun sudah mengetahui bagaimana kelihaian pisau terbang Han Wu-niang, maka pada saat bertarung dia selalu waspada, begitu melihat jurus pedangnya berubah, dia sudah tahu bahwa serangan lain akan segera menyusul, begitu melihat ada tiga titik cahaya mendekat dengan pedang dia mencoba untuk menangkisnya.

Dia meloncat tinggi melewati kepala lawan dan pada waktu itu juga, sebuah panah tangan sudah meluncur melewatinya.

Han Wu-niang melihat lawannya begitu cepat mengubah jurusnya, segera dia menundukkan kepalanya tapi pedang sudah diangkatnya ke atas, kedua pedang saling beradu dan timbul percikan api, saat itu dia merasa pundaknya bergetar kemudian ada rasa sakit menusuk hingga ke hati ternyata dia sudah terluka pundaknya, sewaktu dia mengangkat pedangnya dia sudah mengeluarkan sebuah jurus, begitu melihat lawan turun, kedua pedang beradu lagi.

Han Wu-niang merasakan tangan kanannya sakit dan tidak bertenaga, dia sudah tidak bisa menguasai pedangnya lagi, kemudian pedang panjangnya pun melayang jatuh sejauh beberapa meter, dia merasa terkejut dan ingin berusaha meloloskan diri dari sana.

Tapi ilmu pedang Du Xiang-jun tetap ganas, dia terus menyerang Han Wu-niang, dia menggabungkan jurus pedang dan tendangan yang diarahkan ke tulang rusuk.

Han Wu-niang sudah terluka di dua tempat, dia sudah tidak tahan lagi, baru saja dia berjalan beberapa langkah, dia langsung jatuh, dia berusaha untuk bangun tapi dia merasakan ada hawa dingin yang terasa oleh permukaan kulitnya, ternyata pedang yang berkliauan sudah mengarah pada tenggorokannya.

Du Xiang-jun membentak, “Han Wu-niang, apa yang ingin kau katakan?”

Hati Han Wu-niang sudah hancur, dia hanya bisa membentak, “Bunuh saja aku!” belum selesai bicara, dia sudah mendekatkan pedang lawan ketenggorokannya. Walaupun Du Xiang-jun benci dengan kelakuan Han Wu-niang, tapi dia tidak tega membunuhnya, lebih-lebih tidak berpikir bahwa dia akan senekat itu.

Du Xiang-jun berteriak dan meloncat menjauh, Han Wu-niang sudah terguling-guling pedang pun terjatuh, seperti bayangan Du Xiang-jun mengikutinya dari belakang dan dengan cepat dia menyerang membuat lawannya tetap berada di tanah dan tidak dapat berdiri.

Dengan cepat Han Wu-niang sudah memegang pedang dan diletakkan di lehernya sendiri, dia berteriak, “Du Xiang-jun, jangan terlalu memaksaku, bila tidak aku akan bunuh diri di depanmu!”

Du Xiang-jun sangat kaget dengan kelakuan Han Wu-niang.

Dalam pertarungan itu dua orang saling beradu, senjata tidak memiliki mata, dia hanya tahu membunuh atau melukai lawan, tapi memaksa orang lain untuk bunuh diri, itu adalah hal lain lagi.

Du Xiang-jun tidak tega melihat ada orang yang akan bunuh diri di depannya, dia berteriak, “Meng Ju-zhong, kekasihmu ingin bunuh diri, kau masih tidak mau keluar?”

Sebenarnya Meng Ju-zhong sejak tadi sudah berada diluar pintu, dia hanya bengong menyaksikan Du Xiang-jun dan Han Wu-niang bertarung mempertaruhkan nyawa, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu bahwa ilmu silatnya berada di bawah mereka, apalagi tadi dia sudah mematahkan pedangnya, dia hanya bisa menggosokkan kedua tangannya dan badannya keluar keringat.

Begitu melihat Han Wu-niang kalah dan ingin bunuh diri, hatinya seperti dibakar api, tapi dia tidak bisa mengambil keputusan apa pun, begitu mendengar Du Xiang-jun berteriak, dia seperti mendengar perintah dari raja dan saat itu juga dia berlari sambil berteriak, “Wu-niang, jangan pergi begitu cepat!”

Han Wu-niang hanya tertawa sedih dan berkata, “Kakak Meng, sekarang aku melihat kau yang begitu mencemaskanku, ini saja sudah membuatku merasa puas,” air mata Han Wu-niang terus mengalir, dia menolehkan kepalanya melihat ke arah Du Xiang-jun dan berkata, “Adik Du, bolehkah kau kupanggil seperti itu sebelum aku mati? Kau adalah seorang perempuan, rasa cemburu adalah sifat asli dari seorang perempuan dan aku tidak akan menyalahkanmu, tapi tolong percayalah kepada kata-kataku, aku dan Kakak Meng benar-benar sudah mempunyai seorang putra, aku memberi nama kepadanya Hua Yang, tapi anakku, Hua Yang sudah dicelakai oleh guruku, anak Yang, aku sangat rindu kepadamu, kau mati terlalu. ” Dia memejamkan matanya, menghela nafas panjang dan berkata lagi, “Adik Du, kau tidak tega membunuhku dan aku berterima kasih untuk hal ini, tapi aku merasa bahwa hidup ini terlalu melelahkan dan sudah tidak berarti lagi, hari ini aku bisa mati ditanganmu dan bisa melihat Kakak Meng yang mencemaskanku, aku sudah merasa cukup beruntung dan juga merasa puas.”

“Wu-niang, kau jangan mati!” Meng Ju-zhong menangis dan berteriak.

Du Xiang-jun menjadi lebih tidak tega lagi melihat Han Wu-niang yang ingin bunuh diri, dia maju dan berniat untuk menotok tangan Han Wu-niang yang memegang pedang, atau setidaknya dia akan merebut pedang itu.

Tapi Han Wu-niang merasakannya dan membentak, “Jangan maju!”

Sambil membentak tangannya terlihat gemetar, ujung pedang itu sudah merobek kulitnya, darah pun mulai keluar, terpaksa Du Xiang-jun mundur mengikuti permintaan Han Wu-niang.

Dia berkata, “Kakak Han, kau jangan seperti itu ”

Han Wu-niang berkata, “Kalian tidak perlu mengurusiku, anak Fang berada di kuil Bai Yun, beberapa hari yang lalu keadaannya masih baik, hari ini dia memanggil tiga orang hidung belang, mereka minum arak dan membuat keributan, aku sudah tidak bisa mencegahnya lagi, aku datang untuk....Ada pepatah yang mengatakan: 'burung akan mati, kicaunya pun akan terdengar menyedihkan, orang yang akan mati kata-kata yang keluar pun adalah kata-kata baik'.”

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun sangat terkejut, mereka bertanya, “Apakah semua itu benar?”

Han Wu-niang mengangguk.

Pada saat itu ada dua orang pemuda yang terburu-buru datang, mereka berlari sangat cepat, mereka adalah orang-orang dari dunia persilatan.

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun terkejut mendengar suara derap langkah mereka, maka mereka membalikkan kepala untuk melihat, tapi mereka berdua tidak sempat melihat, Han Wu-niang sempat melihatnya.

Seumur hidupnya sifat Han Wu-niang sangat keras, dia tidak tahan diancam oleh pedang orang lain, apalagi yang datang adalah orang dunia persilatan yang tingkatannya rendah, dia merasa malu. Han Wu-niang berteriak, “Cepat cari anak Fang, Kakak Meng, aku pergi mendahuluimu!” kata-katanya sudah selesai tangan kanannya sudah bergerak.

Sebenarnya Meng Ju-zhong sudah memperhatikan Han Wu-niang sejak awal, kata- kata yang diucapkan Han Wu-niang tidak seperti biasanya, dalam hati dia berteriak, “Celaka!” segera dengan jurus mencengkram pedang, tangan kanannya menotok tangan Han Wu-niang, ini adalah jurus Zhui Hun Duo Ming Juan Fa yang paling tinggi, biasanya jurus ini tidak pernah gagal, tangannya bergerak secepat kilat, benar-benar sangat memukau, tapi tetap saja dia terlambat, pedang Han Wu-niang sudah menggorok lehernya sendiri dan darah seperti air terus mengalir.

Meng Ju-zhong merasa sangat menyesal, dia memeluk tubuh yang sudah penuh dengan darah, dia berkata, “Wu-niang, jangan pergi. ”

Kedua pemuda itu semakin mendekat. Mereka adalah Pin Ming Er Lang, Qi Hua Yang dan si Walet Besi, Zhou Shi-hui.

Zhou Shi-hui mendengar teriakan Han Wu-niang yang terakhir, dia hanya bisa terpaku, kemudian dia berlari hampir seperti terbang, dalam sekejap bayangannya sudah tidak terlihat.

Hati Qi Hua Yang seperti dibakar oleh amarah, dia segera mendekat dan mendorong Meng Ju-zhong, dia langsung memeluk Han Wu-niang, dia menangis, “Ibu, ibu....

putramu datang terlambat mendatangi ibu. Ibu, bukalah matamu, lihatlah aku! Ibu, aku adalah anakmu  ”

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun sangat kaget dan hanya bengong, mata Han Wu- niang terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.

Qi Hua Yang berteriak, “Ibu, aku ada disini, aku adalah anakmu, anak Yang, ibu, kau ”

Suara Han Wu-niang seperti seekor nyamuk yang berdenging, dia berkata, “Anak....Yang? anak....Yangku? Apa.... kah.... benar. ”

“Ibu, ini aku, mengapa kau tega melakukan ini? Ibu ”

Han Wu-niang sangat gembira, tubuhnya bergerak, darah keluar lagi dari lehernya, mulutnya bergerak-gerak, tapi tidak ada suara. Qi Hua Yang mendekatkan telinganya ke bibir Han Wu-niang, terdengar ibunya berkata, "Anak.... Yang, ibu.... mu.... berbuat.... dosa besar....Maaf.... kan.... aku. Kematian....

ku.... tidak....ada.... hubungannya.... dengan mereka ”

Kata-katanya belum selesai, kepala Han Wu-niang sudah terkulai, akhirnya nafasnya pun berhenti.

Qi Hua Yang memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa, dia berlutut dan menangis, dia berdiri, darah Han Wu-niang menetesi bajunya.

Meng Ju-zhong tampak ragu, tapi dia tetap memanggil, “Pendekar Qi, harap Anda mau tinggal.”

Qi Hua Yang membalikkan tubuhnya dan berkata, “Ada apa?” suaranya sangat datar, tapi matanya berkobar seperti api.

“Pendekar Qi, dengarkan aku dulu.”

Qi Hua Yang bekerja di kantor Biao Zhen Yuan dan selama itu Meng Ju-zhong selalu berusaha mencari kesalahannya, sekarang dia tidak bisa berkata sepatah kata pun, apalagi beberapa hari yang lalu dia menyuruh Han Wu-niang membunuhnya, sekarang ini perasaan Meng Ju-zhong bercampur aduk menjadi satu.

Dia berkata lagi dengan ragu, “Pendekar Muda Qi mengakui bahwa Wu-niang adalah ibumu, aku adalah Meng Ju-zhong, berarti aku adalah ayahmu ”

Qi Hua Yang tidak menunggu perkataan Meng Ju-zhong hingga selesai, dia meludah dan tertawa dengan dingin, lalu berkata, “Siapa itu Meng Ju-zhong? Aku tidak pernah mendengar ada nama itu di dunia persilatan.” Dia berkata lagi, “Liao Yin Shi Tai adalah ibu kandungku, tapi aku tidak mempunyai ayah, dulu tidak ada nanti pun juga tetap tidak ada, Tuan jangan berharap terlalu tinggi!”

Kata-katanya belum selesai, dia membalikkan badan dan pergi, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil, “Pendekar Muda, apakah kau adalah Pin Ming Er Lang?”

Dia membalikkan badan dan bertanya, “Siapa kau?”

Du Xiang-jun mendekat dan berkata, “Aku adalah Du Xiang-jun, aku pernah mendengar bahwa gurumu adalah si Baju Hijau, Ma Zao-ling.”

Qi Hua Yang mengangguk dan berkata, “Ternyata Tema Hua Shan Zi Feng Du. Apakah Tetua ada petunjuk untukku?” Kata Du Xiang-jun dengan hati-hati, “Walaupun ibumu bukan dibunuh olehku, tapi dia mati karena diriku, aku merasa sangat menyesal,” kemudian dia melanjutkan lagi, “Apakah Pendekar Muda ingin bertemu dengan gurumu? Mari ikutlah denganku.”

Qi Hua Yang terpaku dan berkata, “Apakah guruku berada disini juga?” Du Xiang-jun mengangguk.

Qi Hua Yang terdiam sebentar, kemudian dia berkata lagi, “Merepotkan Tema untuk membawa jalan.”

Mereka pun berjalan beriringan.

“Istriku.... Xiang-jun....” Di belakang mereka ada yang berteriak, tapi tidak ada seorang pun yang menoleh.

Meng Ju-zhong melihat darah yang berada dipermukaan tanah dengan bengong. Seperti Yun Gou, Qing Yong-lu yang terbaring di sana, lukanya masih mengeluarkan darah....

Tiba-tiba Qing Yong-lu menghilang berubah menjadi Liang Zi-qi dan Wu Xiao Feng, luka mereka pun mengeluarkan darah, kemudian ada Feng Jian Zhang, Peng Zhi- xiao.... Ada beberapa, beberapa puluh orang yang dikenalnya bahkan ada juga yang tidak dikenalnya, semua terbaring dihadapannya, setiap tubuh orang-orang itu penuh dengan darah.

Darah, darah!

Yang dia lihat hanya ada darah segar. Darah mengalir semakin banyak hingga membanjiri sepasang kakinya, masih....

Meng Ju-zhong berteriak dan mundur dua langkah, dia menenangkan dirinya dan baru bisa melihat dengan jelas bahwa yang berada dihadapannya hanya ada darah yang keluar dari mayat Han Wu-niang.

Dia jongkok dan berkata dalam hati, “Wu-niang, apakah kau benar-benar sudah meninggalkanku? Bukan aku yang membunuhmu, tapi karena aku kau mati. Wu-niang, aku bersalah kepadamu! Xiang-jun meninggalkanku, anak Feng meninggalkanku. Dimana anak Hui? Apakah dia akan kembali?"

Sepertinya dia sudah merasa lelah, kedua kakinya sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya yang tinggi dan besar, sehingga dia terjatuh dan terduduk ditanah.” = ooOOOoo = Di kuil Bai Yun.

Di tempat suci agama Budha terdengar suara tawa.

Hari mulai malam, dibelakang kuil Bai Yun, diasrama para biksuni. Para hidung belang yang sering datang ke kuil Bai Yun melihat Liao Yin Shi Tai pergi lama dan belum pulang sampai sekarang. Mereka jadi tidak ingin pergi dari sana, beberapa orang biksuni muda masih tertawa dan bergurau.

Di kamar Meng Qi-fang.

Di tengah kamar ada sebuah meja kecil, di atas meja terdapat makanan yang lengkap.

Meng Qi-fang sedang tertawa, dia sedang memainkan sebuah alat musik, walaupun tidak mahir, tapi iramanya masih bisa dinikmati.

Dia ditemani oleh seorang pemuda yang sedang meniup sulingnya, dua orang pemuda lainnya mengiringi musik itu dengan tepuk tangan, setelah menyelesaikan sebuah lagu, mereka tepuk tangan.

Salah satu dari pemuda itu berkata, “Nona Meng, kau benar-benar hebat, permainanmu lebih indah dibandingkan dengan gadis-gadis yang berada di rumah pelacuran.”

Seorang pemuda lagi berkata, “Jangan samakan Nona Meng dengan gadis-gadis yang berada di rumah bordil,” dia mendekat dan berkata, “Apakah kata-kataku ini benar, Nona Meng?”

Meng Qi-fang tertawa, tapi pemuda yang bertubuh gemuk itu merasa terkejut, wajahnya yang gemuk tampak bergetar, dia berkata, “Kalian dengar, bukan aku yang memuji, Nona Meng sangat cantik, apakah sekarang kalian mempercayainya?”

Pemuda yang lainnya berkata, “Kita sudah lama bermain dan bergurau, hari sudah mulai gelap, kita harus segera pergi, bila bertemu dengan Liao Yin Shi Tai, dia akan mengusir kami.”

“Apa yang kalian takutkan?” Jawab si gemuk itu, “Asal Nona Meng mau menemani kami, diusirpun tidak apa-apa.”

Bicara ya bicara, tapi pantatnya seperti ada duri, dia duduk dengan tidak tenang, tapi akhirnya dia duduk kembali. Pemuda yang meniup suling itu tampak ketakutan, dia pamit ingin pulang.

Tapi Meng Qi-fang tertawa dan berkata, “Kalian tidak boleh pergi, hari ini aku sedang merasa senang, kalian harus menemaniku hingga dini hari.”

Ketiga pemuda itu tampak senang, tapi mereka pun masih merasa takut.

Kata salah satu pemuda itu, “Nona Meng, kami sangat senang bila disuruh menemanimu, tapi bila Liao Yin Shi Tai pulang, kami akan digampar kemudian ditendang, kami tidak akan tahan bila diperlakukan begitu.”

Kata Meng Qi-fang dengan marah, “Hanya begitu saja kalian sudah takut, baiklah kalian pergi saja, pergi yang jauh, jangan temui aku lagi, bila tidak aku akan mematahkan kaki kalian!”

Pemuda gemuk itu berkata, “Baiklah, aku tidak takut, paling-paling aku hanya akan dipukul, entah dia akan memukulku seperti apa.” Segera dia berkata lagi, “Bila aku bersedia dipukul, apakah Nona Meng bersedia memberikan hadiah untukku.”

Tanya Meng Qi-fang, “Apa yang kau inginkan dariku?”

Pemuda gemuk itu berkata, “Aku ingin memegang dan meraba tangan Nona Meng.” Meng Qi-fang tertawa dan berkata, “Meraba hingga puas?”

Kedua pemuda yang lainnya pun berkata, “Kami pun tidak takut kena pukul. ”

Tiba-tiba pintu kamar ditendang seseorang. Ketiga pemuda itu merasa terkejut, mereka berdiri dengan cepat, mereka membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang, ternyata yang datang bukan Liao Yin Shi Tai, melainkan seorang pemuda tampan, mereka bertiga langsung merasa tenang, dan menghembuskan nafas lega.

Pemuda gemuk itu melihat kesempatan di depan mata dibuyarkan oleh pemuda itu, dia marah dan berkata, “Siapa kau? Mengapa berani datang kesini? Cepat pergi!”

Yang berdiri di luar adalah Zhou Shi-hui. Dia melihat keadaan kamar itu, rasa marah dan juga benci membakar tubuhnya, kedua matanya seperti ada api melihat ke arah Meng Qi-fang.

Meng Qi-fang yang dilihat dengan cara seperti itu merasa malu dan wajahnya memerah, dia bertanya, “Ada apa kau kesini?” Pemuda peniup suling itu pernah bertemu dengan Zhou Shi-hui sepertinya dia tahu bahwa Zhou Shi-hui bukan orang yang mudah untuk ditakut-takuti, apalagi Meng Qi- fang sepertinya kenal dengan pemuda itu, segera dia berkata, “Tuan sudah datang, kita hukum dia minum tiga cangkir arak, mari kita minum!”

Wajahnya tertawa tangannya menarik Zhou Shi-hui supaya mendekati mereka dan minum bersama.

Ketika Zhou Shi-hui mengibaskan tangannya, pemuda itu sudah terbang melayang ke lemari yang berada dipinggir tempat tidur.

Meng Qi-fang marah dan berkata, “Marga Zhou, kau mau apa?”

“Adik Fang, cepat pulang, paman dan bibi sedang mencarimu, kau ”

“Tidak, aku tidak mau pulang, mengapa kau berani memerintahku?”

Salah satu dari pemuda itu ingin membela Meng Qi-fang, dia membentak, “Hayo pergi, bila tidak aku akan memecahkan kepalamu!" walaupun dia berteriak, tapi kakinya tidak bergeser.

Zhou Shi-hui seperti tidak melihat mereka bertiga, dengan sabar dia berkata, “Adik Fang, walaupun paman pernah membuat kesalahan, kau harus mengatakan kepadanya, jangan terus bersembunyi disini, ayo ikut pulang denganku!”

“Tidak, aku tidak mau pulang, kau jangan menasihatiku!” walaupun suaranya keras, tapi dari sudut matanya keluar air mata.

Pemuda gemuk itu takut Meng Qi-fang akan dibawa oleh Zhou Shi-hui, dia maju dan membentak, “Bocah tengik, Nona Meng sedang bermain dengan kami, mengapa kau banyak ulah?”

Zhou Shi-hui sangat marah dia tidak ada tempat untuk melampiaskan kemarahannya, melihat ketiga pemuda yang menyebalkan itu sangat tepat untuk tempat pelampiasannya, dia berkata, “Kalianlah yang membawa Nona Meng ke tempat seperti ini, hari ini aku akan menghajar kalian!”

Pemuda gemuk itu merasa matanya hanya melihat kilatan, tidak jelas apa yang sudah terjadi, giginya sudah rontok.

Zhou Shi-hui tertawa terbahak-bahak, tapi begitu dia membalikkan badannya dia melihat Meng Qi-fang sudah menghilang. Zhou Shi-hui sangat terkejut, dia mengejar Meng Qi-fang, tapi di sekitar sana tidak ada orang, kemudian dia naik ke atas atap, dari sana dia melihat ada bayangan perempuan sedang berlari, segera dengan ilmu meringankan tubuh dia mengejar bayangan itu.

Di bawah sinar matahari yang sudah terbenam, angin dingin mulai berhembus.

Zhou Shi-hui terus berlari, tapi dalam hatinya timbul bermacam-macam pikiran, “Aku mendengar dari Kakak Qi bahwa Paman Meng banyak berbuat kesalahan dan sepertinya Adik Fang sudah mengetahuinya, sehingga dia pun meninggalkan rumah. Jika sekarang aku tidak menolongnya, dia akan terjerumus makin dalam. sikapnya yang jelek kepadaku, semua ini karena dia mengira aku seperti kakakku yang saat ini menghilang entah kemana, begitu jahat dan bersifat playboy. Dia memang kakak satu ibu. Namanya sangat buruk, pantas bila orang bersikap seperti itu terhadapku. Seandainya aku benar-benar berbuat baik kepadanya, aku takut dia ”

Ilmu meringankan tubuh Meng Qi-fang benar-benar tinggi. Zhou Shi-hui dengan semangat mengejarnya. Hanya dalam sekejap dia bisa melihat dari kejauhan bayangan punggungnya.

Mereka sudah berlari kurang lebih 4-5 kilometer. Tapi tetap menjaga jarak 20-30 meter. Tiba-tiba Meng Qi-fang berhenti berlari dan meloncat, kemudian menghilang.

Zhou Shi-hui ingat di depan sana adalah Sungai Wu-quan. Dari sana bisa masuk ke Huang He (nama sungai).

Walaupun air tidak terlalu dalam tapi sangat deras. Zhou Shi-hui kaget, dengan cepat dia sudah tiba ditepi sungai.

Benar saja ada seseorang yang terapung dipermukaan air dan mengikuti arus. Zhou Shi-hui tahu bahwa dia tidak bisa berenang tapi dia tidak berpikir lama, dia terjun ke dalam air.

Air sungai di musim gugur, rasa dinginnya menusuk hingga ketulang.

Zhou Shi-hui muncul di permukaan air. Air yang masuk ke dalam mulutnya tidak sempat dikeluarkan, kaki dan tangannya digerakkan supaya bisa berenang.

Dia semakin dekat dan merasa senang. Tangannya diulurkan, dia berhasil menarik baju orang itu dan memeluk tubuhnya. Pada saat dia merasa senang, tiba-tiba ada sebuah gelombang besar yang datang, membuat mulut dan hidungnya kemasukan air. Dia masih bisa bertahan tapi dia mulai merasa pusing, kemudian jatuh pingsan.

Begitu Zhou Shi-hui tersadar dari pingsan, dia merasa bajunya basah. Tubuhnya yang dingin tertiup angin musim gugur. Dia menggigil kedinginan, tapi bahu bagian atas terasa sangat hangat.

Dia merasa ada tangan lembut yang sedang membersihkan wajahnya dan ada air hangat yang menetes ke wajahnya. Zhou Shi-hui merasa aneh, begitu dia membuka mata, dia sudah melihat ada seraut wajah cantik yang sedang menatap dirinya.

Wajah itu adalah Meng Qi-fang.

Air hangat yang menetes ke wajahnya adalah air mata Meng Qi-fang. Zhou Shi-hui merasa kaget sekaligus bahagia, dia ingin memejamkan mata dan menikmati rasa hangat ini.

Tapi Meng Qi-fang dengan suara manja berkata, “Jangan berpura-pura lagi! Kau sudah tidak apa-apa, cepatlah bangun! Kau telah menindih kakiku, kakiku sakit.”

Zhou Shi-hui merasa malu dan tertawa, “Adik Fang, apakah kau yang telah menolongku?”

“Bukankah tadi aku yang terjatuh ke dalam air, mengapa sekarang malah aku yang menolongmu?”

“Adik Fang, jangan menertawakanku. Aku memang tidak pandai berenang.” “Kalau begitu mengapa kau terjun ke dalam air untuk menolongku?”

“Aku ” Wajah Zhou Shi-hui memerah. Tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba

Zhou Shi-hui seperti teringat sesuatu dan berkata, “Kau jahat, aku ingat, kau sangat pandai berenang. Kau terjun ke dalam air sengaja ingin mempermainkanku.”

Kata Meng Qi-fang, “Kalau begitu, aku yang menipumu terjun ke air, wah dosaku sangat besar!”

“Adik Fang, jangan salah paham, aku yang sudah salah bicara. Kalau aku benar-benar bisa.... bisa menolong Adik Fang, walaupun di depanku adalah gunung pisau atau lautan api, aku pasti tetap akan menghadapinya.” Meng Qi-fang tertawa, kecantikannya seperti sekuntum bunga yang baru mekar, dengan manja dia berkata, “Kalian dua bersaudara sama-sama pandai bicara dan menipu gadis-gadis supaya kami menyukai kalian.”

“Adik Fang,” dengan serius Zhou Shi-hui berkata, “Kau salah menilaiku, walaupun kami dilahirkan dari ibu yang sama, tapi aku merasa kami sangat berbeda jauh. Adik Fang, kau boleh menanyakan hal ini kepada orang lain, apakah aku pernah merayu gadis lain? Bila itu benar, biar aku akan disambar geledek.”

Meng Qi-fang berkata, “Tidak perlu bicara lagi, sejak dulu aku tahu kau hanya baik kepada seorang gadis. ”

Sebelum selesai bicara, dia sudah tertawa.

Tapi Zhou Shi-hui malah terlihat sangat serius, dia berkata, “Jangan salah paham kepada kebaikan orang, katakan siapa gadis itu?”

Meng Qi-fang menunjuk hidungnya sendiri dan berkata, “aku ”

Zhou Shi-hui tahu bahwa dia sudah terpancing, dia berteriak, “Kau jahat,” dan dia mengangkat tangannya berpura-pura ingin memukul Meng Qi-fang. Tapi Meng Qi-fang malah sudah masuk ke dalam pelukannya.

Awalnya Zhou Shi-hui tampak canggung, tapi akhirnya dia pun memeluk tubuh itu dengan erat.

“Kak Shi-hui, apakah selamanya kau akan begitu baik kepadaku?” tanya Meng Qi-fang.

“Bila aku berbohong, Tuhan akan....” Kata-kata Zhou Shi-hui belum selesai, mulutnya sudah ditutup oleh sebuah bibir kecil.

Zhou Shi-hui tampak kaget sebentar, akhirnya dia pun dengan sepenuh perasaan balas mencium Meng Qi-fang. Dua bibir dengan rapat menempel, ini adalah ciuman bahagia.

Awalnya mereka berciuman dengan lembut dan lambat, lama kelamaan bibir mereka seperti saling menghisap, akhirnya bibir, mulut dan lidah dimainkan di dalam mulut masing-masing.

Mereka seperti lupa dengan keadaan disekeliling mereka. Mereka ingin perasaan ini selamanya tidak akan berubah. Zhou Shi-hui terhanyut di dalam keharuman gadis itu, hati Meng Qi-fang bergetar. Tiba- tiba Meng Qi-fang mendorongnya. Wajah mereka memerah. Dengan suara terengah- engah mereka mengakhiri ciuman itu.

Meng Qi-fang melihat Zhou Shi-hui yang masih bengong. Dia tertawa dan berkata, “Kakak Hui, kita harus pulang sekarang, bukankah kau datang untuk menjemputku?”

Zhou Shi-hui mengangguk dan dengan pelan berdiri....

Di seberang sungai, dibelakang sebuah pohon besar ada bayangan ungu yang terus melihat mereka. Dia melihat sepasang pemuda pemudi itu berpelukan dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu. dia tertawa dengan bahagia.

= ooOOOoo =

Sebuah kabar terus menyebar membuat kota Lan Zhou menjadi heboh.

Kantor Biao Zhen Yuan, ketua Biao Meng Ju-zhong sudah memesan tempat disebuah rumah makan terkenal dan terbesar di Lan Zhou, sebuah rumah makan yang bernama Yu Jing Lou yang letaknya bersebelahan dengan kantor Biao. Dia membuat sebuah pesta besar, mengundang orang-orang terkenal di Lan Zhou.

Orang-orang yang mengantar undangan menyebarkan berita, “Bila tidak menerima undangan tepat pada waktunya, semua orang boleh datang kesana.”

Sudah lama kantor Biao Zhen Yuan memiliki bisnis yang maju dan besar, namanya pun terkenal. Ketua Biao Meng Ju-zhong juga orang terkenal di dunia persilatan, biasanya pedagang-pedagang besar dan orang-orang kaya selalu menjilat, sekarang mereka tiba-tiba diundang, mereka merasa ada suatu kebahagiaan datang dari langit.

Mereka merasa sangat senang. Tapi banyak juga yang bertanya-tanya. “Bukan tahun baru Imlek, bukan pula hari besar, mengapa Ketua Biao mengundang begitu banyak orang, perbuatannya menghabiskan banyak uang?”

“Kantor Biao Zhen Yuan selalu mendapatkan keuntungan besar, hanya sedikit disisihkan untuk makan-makan, tidak akan menjadi masalah.”

“Bos Zao pun memiliki bisnis dan keuntungan besar, kapan dia pernah mengundang kita makan-makan?”

“Bisnisku tidak seperti Ketua Meng yang begitu besar. Bisnisku bagaikan sehelai rambut Ketua Meng.” Orang yang datang menghadiri undangan pasti banyak, anggota Gai Bang (kumpulan pengemis) yang memiliki telinga panjang pasti sudah mendengarnya sebelum undangan itu disebar, mereka pasti akan datang. Di kantor pun sudah penuh sesak.

“Banyak orang dunia persilatan terkenal sudah datang, mereka tampak sangat bersemangat. Mungkin sebelumnya Ketua Meng sudah memberi undangan?”

Di dalam kerumunan banyak orang, ada yang seperti ayah dan anaknya, yang satu tua dan yang satu muda, wajah mereka terlihat sangat serius.

Mereka mengobrol dengan suara kecil. Jika orang biasa pasti tidak akan bisa mendengar dan hanya bisa melihat bibir mereka yang bergerak.

“Ayah, penjahat tua Meng itu sedang merencanakan apa? Apakah dia sedang mengumpulkan semua orang terkenal Lan Zhou untuk membela diri?”

“Dia tidak mempunyai alasan apa pun untuk membela diri. Dosanya terlalu banyak dan bukti-bukti yang ada sudah kuat. Dia hanya sedang berjalan menuju kematian.”

“Dendam Adik Rong akhirnya pasti bisa dibalas, aku kagum kepadanya. Masalah yang begitu berat, dia sendiri bisa menyelesaikannya.”

“Bukankah awalnya kau selalu mengkhawatirkan keadaannya? Kau memaksa dia harus pulang ke rumah kita.”

“Bukankah ayah juga seperti itu, Ayah lupa bahwa Ayah yang menyuruhku datang kesini dan menyuruhnya pulang? Tapi Ayah mengelak.”

Pak Ma itu tertawa dan terus berjalan ke arah rumah makan. Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu dan menghentikan langkahnya, dia berkata, “Anakku, kita kesebelah sana.”

“Bukankah Ju Ying Lou sudah berada di depan? Mengapa ”

“Tidak, kita tidak akan pergi ke Ju Ying Lou.” “Mengapa?”

“Sudah banyak orang persilatan yang datang, disana tidak akan terjadi sesuatu, mungkin kantor Biao Zhen Yuan yang akan terjadi sesuatu.”

Gadis itu berpikir sebentar dan berkata, “Mungkin Ayah benar.” Ayah dan anak itu masuk ke sebuah gang kecil. Kemudian mereka berjalan menuju kantor Biao Zhen Yuan.

Ju Ying Lou adalah rumah makan bertingkat dua, pintu utama sangat besar dan bersih. Arak dan sayur-sayurnya sangat enak dan terkenal.

Hari hampir siang, di rumah makan yang dihias dengan begitu indah sepertinya akan terjadi peristiwa besar.

Di depan rumah makan sudah penuh sesak. Ada yang naik kuda atau kereta kuda, ada pula yang berjalan. Di dalam rumah makan tercium wangi arak dan sayur.

Semua orang berbicara suasana begitu ramai, tamu-tamu sudah hampir datang semua, sayur-sayur pun sudah terhidang di atas meja. Hanya saja yang mempunyai hajat masih belum muncul dan pesta pun belum bisa dimulai. Banyak orang kantor Biao yang sibuk membantu.

Di atas loteng ada sebuah ruangan, tempat itu dihias lebih mewah dan indah. Orang- orang mulai merasa kesal menunggu terus, akhirnya mereka mulai membicarakan sesuatu.

Hanya beberapa orang dunia persilatan yang wajahnya dingin seperti air walaupun sedang berbicara, tapi hati mereka tidak berkonsentrasi.

Tiba-tiba di ruangan bawah terdengar suara ribut, kemudian ada suara orang yang naik tangga, muncullah tiga orang.

Yang paling depan berbadan tinggi dan besar, matanya tampak sangat bersemangat dan di dagunya terurai kumis panjang. Dia adalah ketua Biao Zhe Yuan, Meng Ju- zhong. Bajunya berwarna ungu dan terbuka di bagian dada, wajahnya sama sekali tidak terlihat bahagia.

Yang berada dibelakangnya adalah kakak angkat Meng Ju-zhong, bernama Zhou Ke- dong.

Orang yang berada di paling belakang adalah si Playboy Terbang, Meng Shao-hui. Biasanya dia tampak bersemangat dan selalu ceria, tapi sekarang tidak tampak, yang ada hanya ekspresi lesu dan tangannya membawa sebuah kotak mewah berukuran kurang lebih satu meter. Mereka bertiga berdiri di depan hadirin. Meng Ju-zhong memberi hormat kepada hadirin dan berkata, “Aku, Meng Ju-zhong sangat senang kalian sudah bisa hadir disini. Aku memberi hormat kepada kalian.”

Dia menyapa beberapa orang dunia persilatan Lan Zhou. Kemudian dia melihat ke tengah ruangan, sepertinya sedang mencari seseorang dan orang yang dicarinya tidak ada.

Dia menghela nafas kemudian berkata, “Hadirin, kantor Biao Zhen Yuan selama beberapa tahun ini selalu diberi semangat oleh orang-orang Lan Zhou, didukung oleh teman-teman persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. Dengan bendera Zi Feng, aku bisa bertahan hingga sekarang, aku merasa sangat puas karena itu sekarang mari kita bersulang untuk semua.”

Dia mengambil gelas arak dan meminumnya sekaligus hingga habis. Para hadirin ikut bersulang, hanya ada beberapa orang yang sejak tadi tidak memegang gelas arak sama sekali.

Meng Ju-zhong berkata lagi, “Waktu terus berjalan dan umur pun bertambah, walaupun aku masih belum terlalu tua tapi aku merasa tenagaku sudah mulai berkurang. Aku bermaksud mencuci tangan di baskom emas dan menggantungkan golokku. Karena itu urusan Kantor Biao aku serahkan kepada putraku ”

Ruangan itu menjadi sangat ribut dan ramai, mereka sama sekali tidak menduga akan terjadi hal seperti ini.

Semua tahu bahwa usia Meng Ju-zhong sekarang ini adalah masa keemasan bagi orang-orang seusianya, apalagi umur Meng Ju-zhong hanya empat puluh tahun lebih. Sekarang dia berniat keluar dari dunia persilatan, sepertinya ini masih terlalu dini.

Terdengar Meng Ju-zhong dengan suara keras berkata lagi, “Hadirin, anak Hui masih muda dan tidak berpengalaman dan baru saja mulai bekerja serius, dia pasti akan banyak membuat kesalahan kepada teman-teman, aku harap para tamu dan pendekar bisa berlapang dada yang luas dan lebar untuk memaafkan dia.”

Dia membalikkan badan dan berkata kepada Meng Shao-hui, “Silakan kau bersulang bersama denganku kepada tetua-tetua dunia persilatan.”

Meng Shao-hui memberi hormat kepada hadirin kemudian mengangkat cangkirnya ke atas. Pada waktu itu juga seperti ada suara seseorang yang berkata marah, “. apakah kau

benar-benar mau menerima jabatan Ketua Biao ini?” Ini adalah suara Liang Yu-rong yang sedang marah.

Kemarin malam.

Mata Liang Yu-rong melotot dengan besar, dia melotot melihat ke arah Meng Shao-hui. Matanya terlihat ada sinar merah dan ada juga kesedihan. Wajahnya dingin seperti es. Di bawah sinar bulan terlihat dia sangat pucat.

Meng Shao-hui menggelengkan kepalanya, menghela nafas dan berkata, “Menjadi seorang anak, aku benar-benar terpaksa melakukan semua ini. Harap Nona Rong mau memaafkan aku.”

“Apakah kau tahu, dosa ayahmu sangat dalam dan dia pantas mati?” Meng Shao-hui tidak menjawab tapi mengangguk.

Liang Yu-rong terpaku dan berkata, “Bila di dalam pesta itu dia mengambil kesempatan untuk mencuci tangan di baskom emas, menipu para tamu dan pendekar disana. Semua dosanya akan beralih kepadamu, apakah kau bersedia menanggungnya?”

Meng Shao-hui mengangguk dan berkata, “Maafkan aku, Nona Rong. Semenjak aku dewasa, ayah selalu merundingkan segala sesuatunya denganku, hanya hanya dulu

aku tidak pernah mengaku kepadamu. Sekarang aku akan menggantikan ayah, itu benar-benar tidak bisa kutolak.”

“Tidak!” Liang Yu-rong sangat kaget, dia berteriak, “Aku tidak percaya, kau bohong kepadaku. Kau mengatakan bahwa kau tidak tahu apa-apa.... betulkan? Kakak Hui, katakan kau tidak tahu semua ini! Katakan ”

“Tidak, Nona Rong,” suara Meng Shao-hui terdengar mantap tapi wajahnya tidak ada ekspresi. Dia menghela nafas dan berkata, “Semua sudah terjadi, aku tidak akan membohongimu lagi semua kelakuan ayahku, aku sudah tahu semua rencananya.”

“Tidak! Kau bohong.... tidak. ” Liang Yu-rong menangis di bawah sinar bulan, tubuhnya

gemeter.

Meng Shao-hui takut pertahanannya akan bobol. Dia tidak berani melihat ke arah Liang Yu-rong, dia memejam matanya. Dengan sekuat tenaga dia memejamkan mata, tapi Meng Shao-hui tahu matanya sudah dipenuhi dengan air mata. Begitu matanya dibuka, air matanya pasti akan menetes.

Terdengar suara yang tamparan.

Tapi Meng Shao-hui tidak merasa sakit, dia hanya merasa hatinya pedih. Berat rasanya dia berbohong kepada orang yang dia cintai.

Hatinya merasa sakit, seperti sedang meneteskan darah. Kemudian terdengar suara langkah diiringi suara tangisan menjauh dan semakin menjauh.

Walaupun cukup lama terjadi tapi suara itu tetap terngiang ditelinganya. Beberapa kali dia berniat ingin mengejar tapi dia hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan diri.

Bibirnya sobek karena digigit tapi dia tidak merasa sakit. Akhirnya dia membuka mata, air mata sudah mengalir seperti mata air. di depan matanya tidak terlihat apapun....

Dia melihat sangat jelas, dia sudah menghilang....

Dia tidak tahu apa yang sudah dikatakan ayahnya, juga tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Hingga ayahnya berteriak memanggil, dia baru sadar dari lamunannya.

Dia hanya mendengar perkataan ayahnya, “Anak, beri hormat dan bersulang kepada semua tetua.”

Meng Shao-hui mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi, tapi pikirannya tetap kosong.

Terdengar Meng Ju-zhong terbatuk dengan suara keras kemudian pelan-pelan berkata, “Hadirin, kantor Biao Zhen Yuan beberapa tahun ini berbisnis sukses dan keuntungannya pun besar. Sebagian adalah hasil jerih payah orang-orang kantor Biao, tapi kebanyakan uang yang dihasilkan tidak halal,” kata-kata ini seperti bom yang meledak, membuat ruangan besar itu menjadi agak ribut.

Tidak ada yang tahu apa yang sudah dikatakan oleh Meng Ju-zhong, hanya saja wajah mereka penuh dengan pertanyaan.

“Hadirin, harap tenang!” Meng Ju-zhong berteriak.

Segera ruangan yang tadinya ramai mendadak menjadi sepi tidak bersuara. Sebatang jarum jatuh pun sepertinya bisa terdengar. Meng Ju-zhong melanjutkan lagi, “Aku ingin mengucapkan beberapa perkataan, beberapa tahun ini, diluar sepertinya bisnisku berjalan dengan benar tapi kenyataannya secara sembunyi-sembunyi aku dengan bersekongkol dengan orang golongan hitam ”

Dia sangat tenang seperti menceritakan tentang masalah orang lain. Dia menceritakan sudah sepuluh tahun lebih dia bersekongkol dengan penjahat besar si Sempoa Besi, Shen Zhong-yuan, Gunung Mai Ji, Long Nan San Xiong, lalu membunuh orang-orang sesama dunia persilatan dan lainnya. Semua hal yang berdosa dan kejahatannya dia ceritakan, hanya tidak menceritakan hubungannya dengan ketua kuil Bai Yun, Liao Yin Shi Tai.

Hadirin yang berada di ruangan besar itu menjadi terkejut. Ada yang mengangkat cangkir araknya dan lupa meletakkannya kembali. Ada yang menganga dan lupa menutup mulurnya.

Ada yang berpikir, “Ketua Meng selalu serius, mengapa hari ini dia bergurau, apakah ”

Hanya beberapa orang yang belum menyentuh cangkirnya tidak merasa seperti itu, tapi hal ini pun membuat hati mereka bergetar, mereka merasa semua ini benar-benar di luar dugaan.

Meng Ju-zhong tidak memandang hal itu, dia terus berkata, “....Long Nan San Xiong beberapa hari yang lalu dengan darah menyiram Jalan Shu dan Mai Ji Shan. Semua uang dan barang masih utuh, aku menyatukannya dengan uang yang kudapat, yaitu uang yang penuh dengan darah. Aku sudah mencatatnya dibuku. Buku ini berada dikotak yang dibawa oleh putraku. Setelah ini aku berharap kalian bisa mengawasi dan membagikan uang-uang itu kepada keluarga yang sudah meninggal. Di dalam kotak itu masih ada catatan lain, aku harap para tetua bisa mengurusnya, aku ”

Sewaktu dia sedang bercerita, tiba-tiba disisinya ada bunyi sesuatu. Terlihat Zhou Ke- dong sudah memegang sebuah belati dan menancapkannya ke perutnya sendiri.

Darah seperti mata air keluar dari luka itu, tubuhnya sempoyongan. Dia sudah roboh di kursi.

Meng Ju-zhong melihatnya sebentar, sepertinya dia tidak merasa aneh. Meng Ju-zhong melanjutkan memberi hormat kepada hadirin yang masih terbengong-bengong.

Dia berkata, “Di dunia persilatan selalu mengatakan: 'jika ada dendam harus mencari orangnya. Jika mempunyai hutang harus mencari yang berhutang'. Dengan darahku yang panas aku serahkan diriku untuk membayar teman-teman yang dirugikan didunia persilatan, aku berharap pendekar-pendekar dan para tetua, bahwa hutang ini jangan dialihkan kepada putra dan putriku. Aku akan merasa sangat berterima kasih. Tentang si penjahat besar Sempoa Besi, Shen Zhong-yuan, beberapa tahun ini dia bersembunyi di kantor Biao Zhen Yuan dan menjadi pengurus rumahku. Tadi aku sudah mengajaknya datang kemari dan aku juga berharap dia bisa berterus terang. Tapi aku sudah menunggu lama dia belum datang juga. Aku takut kalian akan terlalu lama menunggu jadi aku sendiri yang datang kesini.”

Kata-katanya sudah selesai, dia mencabut pedang dari sarungnya. Suara pedang membuat Meng Shao-hui terbangun dari keterkejutannya.

Dia tahu ayahnya akan bunuh diri, segera dia menarik tangan ayahnya dan berteriak, “Ayah, jangan  ”

Karena tangan kanan Meng Ju-zhong tidak bisa diputar, dengan cepat dia membawa pedangnya dan meloncat.

Partai Kong Dong Pai dengan Zhui Hun Duo Ming-jian Fa jurus Dewa Kematian Melempar Koas, ini adalah jurus melempar pedang untuk membunuh musuh.

Ilmu pedang Kong Dong Pai milik Meng Ju-zhong sangat mahir karena jurus ini benar- benar sebuah ilmu silat murni.

Pedang yang mengkilat itu menancap di sebuah tiang yang berjarak beberapa meter. Karena tenaga yang dikeluarkan besar, maka pedang itu pun menembus tiang, hanya keluar ujung pedang sepanjang 5-6 centimeter.

Meng Shao-hui tidak tahu apa yang dimaksud oleh ayahnya. Dia melepaskan tangan ayahnya.

Terlihat Meng Ju-zhong meloncat lagi. dia meloncat menuju tiang itu. Meng Shao-hui sangat kaget, dia mengulurkan tangannya untuk menarik tangan ayahnya tapi hanya tertarik bajunya hingga sobek.

Begitu melihat dengan teliti, tubuh Meng Ju-zhong sudah tergantung di ujung pedang itu, dan darah pun menetes dari bajunya.

“Ayah!” Meng Shao-hui berteriak dan berlari kesana. Di dalam ruangan besar itu terlihat sangat kacau. Sewaktu Meng Shao-hui dan Meng Ju-zhong tadi kerumah makan. Di taman belakang di balik semak-semak kantor Biao Zhen Yuan ada dua orang dengan sembunyi- sembunyi keluar dari sana.

Yang satu adalah laki-laki dan satunya adalah perempuan, mereka adalah Shen Zhong- yuan dan Chun Hong.

Mereka berdua tertawa dengan sinis. Dengan terburu-buru mereka masuk ke perpustakaan Meng Ju-zhong, kemudian cepat-cepat keluar dari sana.

Tangan mereka membawa sebuah bungkusan, mereka melihat kekiri dan kanan. Segera berjalan menuju pintu belakang taman bunga.

Mereka sudah hampir tiba dipintu belakang. Mereka baru merasa lega, tapi tiba-tiba ada suara dingin yang berkata, “Pengurus Shen, bukankah ketua Biao Meng Ju-zhong menyuruhmu pergi ke Ju Ying Lou? Mengapa kau malah berjalan kearah sini?”

Shen Zhong-yuan mengenali yang berbicara ini adalah Qi Hua Yang. Dia terkejut dan berpikir, “Bukankah si marga Meng pernah mengatakan bahwa orang ini harus dibunuh, mengapa ”

Chun Hong maju dua langkah dan tertawa genit. Dia berkata, “Apakah kau adalah Qi Hua Yang, sedang apa kau?”

Dengan dingin Qi Hua Yang menjawab, “Kalian mengira jika pohon telah tumbang maka kera-kera akan bubar, kalian ingin melarikan diri? Kalian ingin pergi, itu tidak menjadi masalah, tapi Ketua Meng Muda berpesan, siapa pun yang ingin meninggalkan kantor Biao Zhen Yuan dipersilakan tapi harus menunggu hingga tuan muda kembali. Dan menurut catatan nama orang itu baru diberi gaji. Bila dia belum pulang dan ada yang ingin pergi terlebih dulu, semua tidak boleh dibawa. Kalian pun tidak terkecuali. Walaupun bungkusan kalian tidak besar, tapi tetap tidak boleh dibawa.”

Shen Zhong-yuan tertawa dingin dan berkata, “Aku adalah pengurus keluarga Meng dan belum dipecat. Kau hanya seorang pegawai kantor Biao, apakah pantas memerintahku? Cepat minggir!”

Dengan santai Qi Hua Yang berkata, “Memang aku hanya pegawai kecil, tapi aku diperintah untuk mengawasi jalan ini, siapa pun tidak bisa lolos dari sini begitu saja.”

Shen Zhong-yuan marah dan berkata, “Siapa dirimu berani bicara seperti itu kepadaku?” Tangan kanan Qi Hua Yang mengeluarkan sebuah pedang yang lentur. Pedang ini seperti seekor ular.

Tiba-tiba Qi Hua Yang sudah memutar lima kali lingkaran. Semua lingkaran sama besar. Sebuah lingkaran diteruskan ke lingkaran lainnya, seperti Mei Hua (nama bunga).

Shen Zhong-yuan sangat berpengalaman, pengetahuannya tentang dunia persilatan juga banyak. Dia segera mengetahui ini adalah ilmu Da Mo, jurus pedang lentur Ma Ti Mei Hua (Kaki Kuda Mei Hua).

Dia juga tahu jurus Qi Hua Yang tadi sudah terlatih selama sepuluh tahun lebih dan begitu dia melihat lawan memainkan pedang lentur itu begitu mahir. Dia tahu ilmu silat orang itu bukan biasa-biasa saja.

Dalam hati dia kaget, “Mengapa aku tidak mengetahui ilmu silatnya begitu tinggi?”

Pikirannya segera berputar. Wajahnya mengeluarkan tawa licik. Dia berkata, “Guru Qi, jangan marah, kita adalah orang persilatan, aku orang yang mengerti peraturan.”

Dari balik bungkusan dia mengeluarkan sebuah kuda giok yang bersadel emas asli, talinya pun terbuat dari rantai emas, terlihat sangat indah.

Dia menyuruh Chun Hong memberikan kepadanya dan tertawa, “Pendekar Qi, kita bukan orang yang tidak saling kenal, aku memberikan kuda giok ini kepadamu sebagai uang lewat, bagaimana?”

Qi Hua Yang sama sekali tidak melihat ke arah kuda giok itu. Dengan tertawa dingin dia berkata, “Sepertinya Pengurus Shen seorang pencuri besar. Walaupun kau meninggalkan bungkusan itu, aku juga tidak akan melepaskanmu. Bila ingin pergi dari sini, barang yang berada disakumu juga harus diperiksa.”

Shen Zhong-yuan marah besar dan berkata, “Kau cari mati!”

Segera dia berhadapan dengan Qi Hua Yang. Dari balik dadanya dia mengeluarkan sempoa besi. Dengan sebuah jurus Tai Shan Ya Ding (Tai Shan Menekan Kepala), dengan ganas dia memukul Qi Hua Yang.

Jurus ini memakai tenaga yang sangat kuat, senjata belum sampai, angin sudah terasa.

Meskipun Qi Hua Yang sedikit mengetahui siapa sebenarnya pengurus Shen ini, tapi dia tidak menyangka bahwa ilmu silat Shen Zhong-yuan begitu tinggi. Dengan cepat dia mundur selangkah. Kemudian tangannya memainkan pedang lentur. Pedang ini seperti ular bergerak dengan lincah, terus mencoba melilit tangan lawan.

Tapi Shen Zhong-yuan tidak memberi kesempatan pedang lentur itu menghampirinya, dengan sempoa besi dia menahan pedang lawan juga menyerang ke dada lawan. Benar-benar hebat ilmu silat Shen Zhong-yuan.

Qi Hua Yang mundur lagi untuk menahan serangan itu. Mereka berdua dengan cepat saling menyerang, hanya dalam waktu singkat mereka sudah melewati sepuluh jurus lebih.

Shen Zhong-yuan tahu selama beberapa hari ini kantor Biao Zhen Yuan sudah menjadi pusat perhatian dunia persilatan, beberapa hari ini banyak orang persilatan yang berdatangan. Dia tahu jika terlalu lama bertarung disana, sama dengan mencari mati.

Segera dia memutar otak mencari jalan keluar juga merobah serangannya. Dengan sebat Qi Hua Yang menyerang kepinggangnya, Shen Zhong Yuan dengan sempoa besi mencoba menahan.

Ujung pedang lentur itu seperti petir menyerang, dia kaget dan berteriak, kemudian mundur beberapa langkah. Tapi tangannya sudah terkena pedang lentur itu.

Terdengar suara sempoa besi Shen Zhong-yuan berbunyi keras. Dua biji sempoa besi, sebatang tusuk sempoa secepat kilat meluncur. Sasarannya adalah kedua mata dan tenggorokan lawan.

Qi Hua Yang terkejut, kepalanya ditundukkan. Dia menghindari biji sempoa besi dan dengan pedang lentur itu memukul batang tusukan sempoa.

Batang tusukan sempoa itu bisa dipukulnya dan terjatuh ke bawah kakinya. Tapi di telapak Shen Zhong-yuan sekarang sudah ada lima biji sempoa besi lainnya.

Dia mengambil kesempatan pada saat lawan memukul batang tusuk sempoa, sekali lagi dia melempar lima biji sempoa itu.

Lima titik bintang terbang melayang ke arah dada lawan dan menotok lima nadi. Tenaganya yang besar membawa angin yang kencang.

Pedang lentur Qi Hua Yang sudah berhasil menahan tusukan batang sempoa. Kemudian dia mendengar ada suara senjata rahasia yang datang, segera dia meloncat kepinggir. Untung gerakannya cepat sehingga bisa menghindar, tapi sebutir biji sempoa berhasil mengenai liang rusuknya. Karena sakit, begitu dia turun untuk menghindar, dia hampir terjatuh dan roboh.

Shen Zhong-yuan tertawa aneh dan berkata, “Hei tikus, tadi kau diberi kesempatan tapi tidak mau menerimanya, sekarang aku akan mengantarkanmu keliang kuburan!”

Dalam suara bentakan, dia sudah mendekat, sempoa besinya digoyangkan. Pada saat yang begitu berbahaya, terlihat ada sebuah kilauan cahaya yang membawa angin.

Begitu mendengar ada suara yang datang, Shen Zhong-yuan tahu bahwa situasi tidak menguntungkan baginya. Dengan cepat dia meloncat ke belakang. Tapi senjata yang datang sudah mengenai sempoa besinya.

Dia merasa tangannya tergetar dan sakit. Sempoa besinya segera pecah, biji sempoa berhamburan kemana-mana.

Shen Zhong-yuan kaget. Dia sudah melihat Hua Shan Zi Feng, Du Xiang-jun dan seorang nenek berambut putih seperti terbang datang ke arahnya.

Dia mengenal nenek tua itu, dia adalah La-shou Guan-yin Lu Yue-juan. Segera rohnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya dia bersiap-siap untuk melarikan diri.

Tapi sudah ada suara yang membentak, “Penjahat, kau mau lari kemana?” Didekat telinganya, terdengar suara seperti lonceng.

Begitu Shen Zhong-yuan melihat, dia terkejut karena dia hampir menabrak seorang pak tua.

Orang ini tinggi dan besar, wajahnya kuning langsat, kumisnya putih, dia memakai baju biru di bagian dadanya terbuka, pembawaannya gagah dan berwibawa.

Shen Zhong-yuan seperti berada dalam keadaan hidup dan mati. Walaupun dia sudah tahu siapa dia, tapi dia seperti binatang yang terkurung siap bertarung.

Dia berteriak dengan sekuat tenaga, sepasang tangannya mengeluarkan tenaga yang sangat besar. “Kau sangat berani!”

Pak tua itu juga marah. Dia menghindar kemudian tangan kanannya digoyangkan ke depan tapi jari tangan kiri seperti kait mencengkram baju Shen Zhong-yuan. Jarinya hanya bergerak sedikit tapi tubuh Shen Zhong yuan sudah seperti layang- layang yang putus dari benangnya terbang menjauh.

Pak tua ini adalah Ma Zao-ling.

Dia tahu di Ju Ying Lou banyak pendekar, tidak akan terjadi apa pun disana. Dia membawa putrinya kekantor Biao Zhen Yuan, saat itu mereka bertemu dengan Shen Zhong-yuan yang ingin melarikan diri....

Badan Shen Zhong-yuan berada di udara, seperti terjatuh di atas awan. Tiba-tiba dia mendengar, “Penjahat, serahkan nyawamu!”

Dia belum tersadar sudah melihat cahaya yang berkilauan. Darah muncrat, belum sempat merasa sakit, badannya sudah terbelah menjadi dua.

Du Xiang-jun sudah tiba disana, Ma Zao-ling mendekat dan berkata, “Keponakan, sepertinya ini terlalu kejam.”

Kata Du Xiang-jun sedikit malu, “Tema tidak tahu suamiku bisa berbuat begitu banyak dosa, semua ini karena dia yang merencanakannya.”

“Kalau begitu dia pantas mendapatkan balasan seperti itu,” kata Ma Zao-ling.

Pin Min Er Lang, Qi Hua Yang membawa Chun Hong yang keadaannya seperti ayam kalah beradu.

= ooOOOoo =

Di sebelah timur Lan Zhou, dijalan Gu Shi Zhou dibawah sinar matahari, ada dua ekor kuda putih sedang berjalan.

Kuda-kuda itu gagah dan bagus, orang yang menunggang kuda terlihat yang satu cantik dan yang satu tampan.

Yang berada d depan adalah Pendekar Berbaju Putih, Li Ke Ming.

Liang Yu-rong berada di belakang. Dia sudah meninggalkan samarannya dan kembali menjadi perempuan. Baju yang disulam tampak feminin membuatnya bertambah cantik.

Liang Yu-rong yang berada diatas kuda sebentar-sebentar menoleh ke belakang seperti sedang mengenang peristiwa beberapa bulan ini, semua yang sudah dialaminya. Sepertinya dia tidak mau meninggalkan kota tua itu karena itu dia selalu melihat kebelakang, membuat Li Ke Ming yang ingin cepat-cepat pulang harus berhenti beberapa kali menunggu dia.

“Adik!” Li Ke Ming berteriak, “Cepatlah jalannya!”

“Jika aku berjalan terlalu pelan, silahkan kau pergi dulu. Dari tadi juga aku tidak menyuruhmu menemaniku,” Liang Yu-rong malah berjalan lebih lambat lagi.

Dulu Li Ke Ming selalu menjadi kakak seperguruan Liang Yu-rong. Semenjak datang ke Lan Zhou dan terjadi peristiwa di Wu Quan Shan, membuatnya merasa malu dan juga menyesal.

Apalagi dalam persoalan membongkar dosa dan kejahatan Meng Ju-zhong, Liang Yu- rong adalah orang yang paling berjasa.

Dia selalu merasa tidak cocok dengan adik seperguruan ini. Beberapa hari ini dia selalu menurut apa yang dikatakan dan diperintah Liang Yu-rong, semua ini untuk mendapatkan kembali cinta Liang Yu-rong.

Tapi Liang Yu-rong tidak pernah meladeni dia lagi. Untung beberapa hari lalu Ma Xiu- juan membantu menasehatinya.

Hari ini Liang Yu-rong baru mau berjalan dengan dia. Siapa yang tahu, baru saja keluar pintu Lan Zhou, Liang Yu-rong sudah marah.

Terpaksa Li Ke Ming kembali lagi dan berkata, “Adik, bukankah kita sudah berjanji hari ini harus sampai di rumah Kakak Ma, mengapa kau berjalan begitu lambat?”

Liang Yu-rong terdiam, seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Li Ke Ming.

“Kenapa kau ini? Dua hari ini kau seperti kehilangan sesuatu, selalu tidak berkonsentrasi.”

“Kau jangan ” Tadinya dia ingin mengatakan 'sembarangan bicara', tapi Liang Yu-rong

merasa itu tidak pantas. Dengan cepat dia menyahut, “....sembarangan menebak. Kau sangat mahir menunggang kuda, kita coba berlomba siapa yang berlari lebih cepat?”

“Baiklah, aku setuju!” Kuda mereka adalah kuda yang tinggi dan besar, begitu dipecut delapan kaki kuda berlari dengan cepat, seperti guntur. Hanya dalam waktu singkat mereka sudah menempuh puluhan kilometer.

Liang Yu-rong berada di depan, Li Ke Ming tidak jauh berada dibelakangnya. Dia sedang siap memecut kudanya lagi, tiba-tiba hatinya bergetar, “Apakah aku pantas pergi begitu saja?”

Pikirannya belum tenang, pikiran lain timbul lagi. Beberapa hari ini apa yang dipikirkan di dalam otaknya semua muncul ke permukaan. “Apakah dia benci kepadaku? Tidak mungkin? Hatinya sangat terbuka, dia juga sangat membenci kejahatan. Ayahnya penuh dengan dosa, semua orang pun sudah tahu. mengapa dia tidak mengerti rasa dendamku? Sudah beberapa hari dia tidak datang menengokku. Apakah kantor Biao Zhen Yuan ada perubahan besar sehingga dia menjadi sibuk? Tapi, bukankah dia sudah mengangkat Qi Hua Yang menjadi wakil ketua Biao untuk membantunya? Mereka berdua pasti bisa bekerja bersama dan kalau dia tidak akan mempunyai waktu, dia bisa menitipkan pesan untukku melalui Pendekar Qi. Bagaimanapun semenjak dia menolongku, aku belum berterima kasih langsung kepadanya, malah memarahi dia dengan kata-kata yang kasar. Walaupun aku membenci Meng Ju-zhong, tapi aku tidak

boleh melampiaskan semua kebencian ini kepadanya. Tapi sudah beberapa kali aku bersikap jelek kepadanya. Tapi dia tidak pernah marah mungkin kali ini dia juga tidak akan menyalahkanku. Apakah dia sakit? Seorang anak muda dalam beberapa hari harus melewati perubahan besar, mungkin dia tidak bisa bertahan.... tapi aku ”

Dia berpikir terus, kudanya pun menjadi berjalan lambat.

Li Ke Ming berlari sebentar tapi melihat Liang Yu-rong tidak menyusul, dia membalikkan badan untuk melihat. Dia melihat kuda Liang Yu-rong diam dan Liang Yu-rong pun sedang terpaku disana.

Li Ke Ming merasa aneh dan berpikir, “Ada apa dengan dia? Kata orang hubungannya dengan si Playboy Terbang cukup serius.... apakah ”

Li Ke Ming ragu tapi dia tetap mendekati Liang Yu-rong.

Terdengar suara kuda berlari ke arahnya. Liang Yu-rong pun terbangun dari khayalannya.

Melihat Li Ke Ming sepertinya sedang marah, Liang Yu-rong berkata, “Ilmu menunggang kudamu tetap kau yang lebih mahir.”

Kemarahan Li Ke Ming yang sejak tadi ditahannya mulai meledak. Melihat Liang Yu-rong tertawa, dia pun tidak berani mengatakan apa pun yang membuat Liang Yu-rong emosi, dia berkata, “Adik, hari sudah siang, lebih baik kita lebih cepat berjalan.” Kemudian dia berjalan dulu.

Liang Yu-rong menarik nafas, dia juga mengikuti Li Ke Ming dari belakang. Pada waktu itu dari belakang ada suara kuda yang berlari dengan kencang, seekor kuda seperti angin topan berlari menghampirinya.

Orang itu menunggang kuda sangat mahir, Keempat kaki kuda seperti tidak menginjak tanah. Hanya dalam waktu singkat kuda sudah berada di depan, kuda itu segera berhenti. Kaki depannya naik ke atas.

Li Ke Ming dan Liang Yu-rong terkejut. Mereka juga menghentikan kuda mereka. Yang datang adalah Ketua Biao Zhen Yuan yang baru yaitu Meng Shao-hui.

Begitu kuda dihentikan, kedua mata Meng Shao-hui terus melihat Liang Yu-rong tapi dia sama sekali tidak bicara. Liang Yu-rong hanya sebentar memandangnya, lalu dengan cepat menundukkan kepalanya.

Li Ke Ming yang berada dipinggir melihat keadaan seperti itu, dia sangat marah. Tapi dia berusaha menahan emosinya dan berpura-pura tidak mengenali Meng Shao-hui.

Li Ke Ming bertanya, “Siapakah Tuan ini? Mengapa menghalangi jalan kami?”

Pertanyaannya tidak dijawab, tapi terdengar Meng Shao-hui berkata kepada Liang Yu- rong, “Nona Rong, apakah kau akan pergi begitu saja?”

Liang Yu-rong gemetar, hatinya bergelombang, bergejolak. Liang Yu-rong tidak menjawab, tapi kepalanya semakin menunduk.

Li Ke Ming makin marah, dia berkata, “Siapa kau? Pendekar Berbaju Putih dari Tian Shui bertanya kepadamu, apakah kau tidak berani menjawabnya?”

Meng Shao-hui melihat dia sebentar lalu dengan santai berkata, “Aku adalah ketua Biao Zhen Yuan. Aku ada perlu ingin berbicara dengan Nona Rong. Karena semua ini tidak ada hubungannya denganmu, aku berharap kau bisa pergi ketempat lain sebentar, kami ingin bicara empat mata.”

Li Ke Ming meludah, dengan dingin dia berkata, “Ternyata kau adalah putra Jin Chi Da Peng, penjahat Meng. Aku adalah murid golongan putih Yu-quan-guan. Aku tidak sudi bicara dengan sampah dunia persilatan. Hayo pergi!” Meng Shao-hui sangat marah, tapi dia berusaha menahan emosinya dan dia tidak menjawab.

Liang Yu-rong yang berada di pinggir sudah berteriak, “Kakak, jangan ”

Li Ke Ming marah dan berkata, “Kenapa? Apakah kata-kataku tidak enak didengar? Dia diam-diam membantu ayahnya yang licik, melakukan kejahatan, kali ini dia beruntung, tapi mungkin sifat aslinya tidak akan berubah ”

Kata-katanya belum selesai, dia sudah merasa pusing. Karena pipi kanan ditampar, dia terkejut tapi Meng Shao-hui sudah membalikkan badan pergi dan duduk kembali di atas kudanya.

Li Ke Ming marah, dia mencabut pedang dan membentak, “Kau cari mati!” dia meloncat dari sadel kuda.

Dengan jurus Bintang Meteor Menyebar Bulan, dia menusuk muka Meng Shao-hui. Dia merasa Meng Shao-hui tidak mungkin tidak menahannya, tapi ternyata Meng Shao-hui hanya mengerakkan badannya oleng sedikit ke belakang, ujung pedang sudah melewati wajahnya.

Li Ke Ming meloncat turun dari kudanya dan menusuk kebagian perut lawan. Meng Shao-hui tetap bisa menghindar.

Karena dua jurus Li Ke Ming tidak mengenai sasaran, dia merasa malu dan juga marah. Dia menyerang dengan sebuah jurus lagi, ujung pedang seperti bayangan lingkaran perak.

Karena Meng Shao-hui berada diatas kuda, dia sulit memutar badannya.

Dia mencoba turun dari kuda. Karena sedikit terlambat, baju belakangnya telah terpotong oleh pedang Li Ke Ming menjadi serpihan kecil dan melayang seperti kupu- kupu.

Meng Shao-hui melihat lawan datang lagi untuk menyerang, hal ini benar-benar membuatnya marah besar.

Dia membentak, “Kau ini kenapa tidak tahu diri? Aku sudah mengalahkan tiga jurus padamu, kau masih menginginkan apa lagi?”

“Aku ingin kau mati!” Di depan adik seperguruan, sudah berkali-kali serangannya tidak mengenai sasaran, semua membuat Li Ke Ming malu. Marah, benci dan kesal bercampur menjadi satu.

Tidak seperti biasanya pedang panjangnya gagal terus, sedangkan Setiap jurus yang dikeluarkan lebih hebat dari jurus sebelumnya.

Dia seperti ingin mempertaruhkan nyawanya. Tapi ilmu silatnya terlalu jauh dibandingkan dengan lawannya.

Meng Shao-hui hanya dengan tangan kosong saja melayaninya. Hanya dalam waktu singkat puluhan jurus dikeluarkan.

Meng Shao-hui melihat Li Ke Ming tetap tidak tahu diri, dia mulai marah dan membentak, “Kalau kau tidak mau berhenti, jangan salahkan aku tidak sopan!”

Kata-kata Meng Shao-hui tidak didengar oleh Li Ke Ming. Dia masih terus mengangkat pedang untuk menyerang dan menyerang ke bagian dada Meng Shao-hui.

Jurus ini adalah Gelombang Ganas Menggulung Udara. Ini adalah jurus istimewa perguruannya untuk membunuh orang, cepat dan ganas. Ujung pedangnya bergetar mengarah nadi-nadi lawan dibagian dada.

Meng Shao-hui tahu jurus ini sangat lihai. Dengan cara apa pun dia mencoba untuk menghindar, sulit untuk memecahkan serangan ini. Dalam keadaan marah dia berteriak dengan keras.

Tiba-tiba dia merobah posisinya. Telapak kanan dari samping dijulurkan dan memukul pedang lawan. Tapi tangan kiri dengan jurus Lima Setan Mencabut Nyawa memukul kepala lawan.

Terasa oleh Li Ke Ming ada bayangan lewat, tapi tenaga angin telapak sudah berada di atas kepala. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menghindar lagi. Dalam hati dia berpikir, “Habislah aku!”

Liang Yu-rong yang berada dipinggir tahu persis keadaan seperti itu. Liang Yu-rong segera naik kuda melihat kearah mereka berdua.

Dia tahu Meng Shao-hui terus menerus mengalah. Kalau tiba-tiba dia membalas, jurus yang dikeluarkan pasti sangat berbahaya dan ternyata jurus yang dipakainya adalah jurus Lima Setan Mencabut Nyawa. Dia tahu nyawa Li Ke Ming pasti tidak akan tertolong lagi. Liang Yu-rong kaget, segera dia mencabut pedang dan siap-siap menolong. Tapi dia merasa tangannya gemetar.

Hanya dalam waktu singkat itu, banyak pikiran seperti berkelebat diotaknya, “Ayah dari orang yang berada didepanku adalah pembunuh keluargaku, tapi orang ini baik dan berpandangan luas, dua kali dia telah menolong nyawaku dan juga pernah.... aku juga ternyata sangat berat berpisah dengannya. Tapi bila dia memukul kepala Li Ke Ming, kakak seperguruan pasti akan mati, bagaimana aku harus menceritakan semua ini kepada guru? Kalau aku sekarang mengeluarkan jurus Gadis Memainkan Alat Tenun, mungkin Meng Shao-hui bisa menghindar dari jurusku. Mungkin juga tangannya saja yang akan terluka. Tapi tidak akan membahayakan nyawanya."

Li Ke Ming sepertinya sudah pasrah dan memeramkan matanya, karena ragu-ragu akhirnya diapun terlambat menolongnya....

Serangannya Meng Shao-hui sudah sampai, tapi ternyata tidak mengakibatkan kematian. Tangannya hanya mendorong pundak Li Ke Ming hingga terdorong jatuh ke tanah.

Pikiran Liang Yu-rong masih berkecamuk. Dia tidak mau Meng Shao-hui melukai Li Ke Ming, dia juga tidak mau Li Ke Ming melukai Meng Shao-hui.

Begitu melihat Li Ke Ming selamat hatinya menjadi lega, segera dia menghampiri Meng Shao-hui dan berkata, “Kau mau apa kau kemari?”

Meng Shao-hui dengan wajah mengharap menjawab, “Adik Rong.... aku ingin memohon sesuatu kepadamu maukah kau menjadi istriku.?”

Wajah Liang Yu-rong menjadi kemerahan dan malu, terlihat sinar kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.

Disebelah sana terlihat Li Ke Ming masih terpaku diam, entah sedang mencoba mendengar jawaban Liang Yu-rong atau masih terkejut karena nyawanya hampir saja melayang.

= T A M A T =
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Oktober 2022 :)

On Progres......

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain