Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 11

Jilid 11

Hati Zhou Ke-dong bergetar, “Pasti perampok itu datang!”

Bendera Zi Feng menggetarkan dunia persilatan, didaerah Gan Shu (nama propinsi), biasanya orang-orang dunia persilatan selalu mundur bila melihat bendera itu tapi sekarang hanya beberapa orang saja sudah berani mendekat Zhen Yuan, berarti mereka bukan orang biasa.

Benar saja, kuda-kuda itu berhenti di depan dan menghadang jalan mereka.

Zhou Ke-dong segera berlari ke depan dan berkata, “Teman-teman, bendera Zi Feng ingin meminjam jalan untuk lewat.”

Salah satu dari mereka berkata, “Mengapa harus meminjam jalan untuk lewat? Kalau tahu diri tinggalkan uang kalian untuk membayar jalan kami.”

Melihat orang yang berjalan dari luar yang berbicara ini adalah orang yang tadi sempat lewat, laki-laki yang berbaju kotor itu.

Karena Zhou Ke-dong merasa dia yang sudah salah melihat orang, dia merasa kesal dan berkata, “Apakah Tuan tidak melihat bahwa kami berasal dari Lan Zhou kantor Biao Zhen Yuan. Aku harap Tuan jangan membuat kesulitan dengan kami.”

Laki-laki kotor itu tertawa dan berkata, “Sejak tadi aku sudah melihat, itu hanya sebuah bendera kecil. Jujur katakan, selama setahun ini yang lewat jalan ini kebanyakan adalah orang-orang kantor Biao kalian. Kalau kami terus menunggu dan melepaskan kalian, apakah Tuan ingin kami mati kelaparan karenanya?” Salah satu orang Zhen Yuan berkata kepada Zhou Ke-dong, “Ketua, biarkan aku bicara dengan dia melalui senjata.”

Zhou Ke-dong mengangguk, orang itu segera maju dan berkata, “Silakan Tuan sebutkan nama, aku Chen Zhong ingin mencoba keahlianmu!”

Laki-laki itu tertawa dingin dan berkata, “Siapa kau? Apa pantas kau berteriak-teriak disini? Kembalilah kedalam barisanmu, ganti orang yang lebih pantas untuk bertarung denganku!”

Chen Zhong marah. Dengan pentungan berantai tiga dia maju. Baru saja dia akan bergerak tiba-tiba ada beberapa titik sinar terang yang datang menyerang.

Dia kaget. Dia memainkan senjata untuk melindungi tubuhnya. Dua buah biji besi sempoa mengenai pentungan Chen Zhong dan langsung berjatuhan.

Waktu itu dia merasa bersyukur, tapi tiba-tiba sebuah biji sempoa datang lagi dan mengenai tangan kanannya. Rasa sakit membuat senjata pentungannya terjatuh.

Zhou Ke-dong maju dan berkata, “Teman, orang yang menggunakan senjata rahasia melukai orang, harap keluar untuk berbicara!”

Di depannya mucul seorang laki-laki berumur tiga puluh tahunan. Dia tampak kurus, dengan santai dia berkata, “Apakah Tuan adalah Pendekar Zhou? Kami paman dan keponakan tahu Pendekar Zhou adalah orang terkenal juga mempunyai bendera Zi Feng. Kita bersahabat dengan siapa pun yang berasal dari dunia persilatan, begitu juga Tuan. Barang yang Tuan bawa sangat dibutuhkan sekali oleh teman-temanku di gunung ini. Kami tidak akan sungkan-sungkan, kami ingin meminta barang yang Tuan bawa. Kalian pergilah! kami tidak akan melukai kalian. Ketua Zhou, apakah dengan begitu keadaan menjadi lebih baik?”

Zhou Ke-dong tertawa dingin dan berkata, “Terima kasih Tuan tidak membunuh kami. Seharusnya aku menuruti perintah Tuan, tapi kantor kami pun berbisnis, bila aku hanya menjaga nyawa sendiri dan melepaskan barang pelanggan, kelak tidak akan ada orang yang mau berbisnis lagi dengan kami. Harap Tuan bisa mengerti keadaan kami.”

Laki-laki kurus itu berkata lagi, “Kelihatannya Pendekar Zhou tidak mau menuruti permintaan kami, terpaksa kami harus bertarung dengan kalian. Baiklah, silahkan keluarkan jurusmu!”

Zhou Ke-dong membawa golok dan berkata, “Silakan Anda memberi petunjuk!” Golok Zhou Ke-dong segera digerakan, laki-laki kurus itu segera mengeluarkan sempoa besinya dan digoyangkan.

Dia berkata, “Jangan sungkan!”

Zhou Ke-dong baru saja maju dan ingin bertarung, terdengar ada suara benda yang terbang ke arahnya.

Dia tahu ini adalah senjata rahasia yang dilepaskan kearahnya. Dengan golok dia berusaha melindungi diri. Beberapa buah biji sempoa telah terpukul jatuh, tapi juga membuat pergelangannya terasa sakit.

Hatinya agak gentar, tapi dia tetap menyerang. Dia terus menyerang, laki-laki kurus itu tidak menghindar.

Sempoa besi hanya digerakkan ke atas dan kebawah, dia bisa mengatasi jurus-jurus Zhou Ke-dong juga bisa balas menyerangnya, mereka berdua bertarung dengan sengit.

Laki-laki kotor yang satu lagi segera membawa beberapa orang menuju barisan barang.

Chen Zhong berteriak, dengan pentung tiga rantainya, dia mencoba menghalangi laki- laki kotor itu. Orang itu tidak banyak bicara. Dia mengayunkan pedang ke arah leher Chen Zhong.

Dengan pentungannya Chen Zhong menahan serangan itu tapi jurusnya tidak mengenai sasaran, malah dia melihat pedang lawannya mencoba menusuk ke arah rusuknya. Dia terkejut dan mundur beberapa langkah.

Tapi bayangan pedang sudah mengikuti gerakannya, terpaksa pentung tiga rantai itu dimainkan dengan cepat dan dia pun terus mundur.

Orang kantor Biao, Li Gang melihat Chen Zhong hampir kalah, dia berkata, “Kakak Chen, jangan takut, aku akan membantumu!” menyusul suara bentakannya, dia membawa kait dan menyerang leher.

Kedua kait itu membawa angin kencang menyerang kearah laki-laki kotor itu. Laki-laki itu mencoba menahan dan mundur selangkah.

Li Gang mengira musuh mulai takut, menyusul jurus pertama, jurus kedua pun dikeluarkan lagi. Dua buah kait seperti angin terus menggulung ke dada musuh.

Laki-laki kotor itu membentak, “Tidak tahu diri!” Segera pedang digerakkan. Dengan tenaga dalamnya dia mementalkan kembali kedua kait itu. Kaki kirinya menendang dengan tepat dan mengenai pantat kanan Li Gang. Karena sakit Li Gan jatuh tersungkur hingga beberapa meter.

Chen Zhong mencoba membantu, pentung tiga rantai terus dimainkan. Yang dia serang adalah bagian bawah musuh.

Laki-laki itu meloncat beberapa meter untuk menghindar tapi dia juga menyerangkan pedangnya dengan miring.

Segera Chen Zhong menyambut dengan jurus Membawa Api Membakar Langit. Tapi kali ini musuh menyerang dengan jurus tipuan. Dengan senjata di atas, kaki menendang, sebuah tendangan mengenai tubuh Chen Zhong.

Chen Zhong kesakitan dan roboh seketika.

Li Gang berbalik dan mulai menyerang lagi, dia melihat Chen Zhong terluka, dia hanya terpaku sebentar tapi pedang lawan sudah melaju ke wajahnya.

Dengan cepat pentungannya disabetkan, terlihat cahaya pedang berputar mendekat pentungan. Ujung pedang sudah mengikuti gerak pentungan itu lalu turun, karena Li Gang kurang cepat melepaskan tangannya, maka jari tangan kirinya sudah terpotong.

Darah bercipratan, dia berteriak, pentungan pun dilemparnya dan dia melarikan diri.

Dua orang kantor Biao Zhen Yuan yang ilmu silatnya hanya biasa-biasa mencoba bertarung dengan orang-orang laki-laki yang kotor itu. Tapi sama sekali tidak bisa berkutik.

Orang-orang kantor Biao sangat banyak, tapi ilmu silat mereka pun hanya biasa. Dalam sekejap sewaktu mereka sudah porak poranda, pedagang obat yang melihat keadaan seperti itu, mereka pun berteriak melarikan diri, kuli-kuli pun ikut melarikan diri.

Tiga orang kantor Biao Zhen Yuan berusaha melawan tapi dalam 20-30 jurus mereka sudah berhasil dikalahkan. Mereka pun lari untuk menghindarkan kematian.

Laki-laki kotor itu menyuruh anak buahnya mengawasi barang-barang yang berada di punggung keledai. Kemudian dia membalikan badan dan berteriak, “Ketua Zhou, dengarkan nasihatku, Tuan mengaku kalah saja. Kantor Biao Zhen Yuan sudah kaya, mereka tidak akan peduli dengan uang yang sedikit ini, Tuan tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk membela semua. Jika Tuan sulit berbicara dengan Ketua Meng, lebih baik kau sampaikan pesan dariku. Kalau aku bisa berhadapan dengan Ketua Meng, semua barang ini akan kukembalikan dengan utuh.”

Zhou Ke-dong sudah tahu, dia sudah kalah....

Dia bertarung dengan laki-laki kurus itu kurang lebih 40-50 jurus. Awalnya masih bisa membuat perlawanan beberapa jurus tapi begitu melewati tiga puluh jurus, musuh malah seperti hanya mempermainkannya.

Dia hanya bertahan tapi tidak bisa membalas, hanya pada waktu Zhou Ke-dong menyerang dengan gigih, dan membalas menyerang dengan jurus yang aneh.

Sangat jelas musuh sudah berada di atas angin, kalau musuh benar-benar menyerang sejak tadi, dia sudah kalah. Melihat keadaan seperti itu, dia hanya bisa mengaku kalah.

Zhou Ke-dong mundur beberapa langkah dan berkata, “Silakan Tuan berdua memberitahukan nama, supaya Ketua Meng mudah mencari Tuan nanti.”

Laki-laki kotor itu berkata, “Kami paman dan keponakan adalah orang dunia persilatan, kami tidak akan membohongi orang. Asalkan kau melaporkan hal ini kepada Ketua Meng, datanglah ke Gan Liang Dao (nama tempat), kami paman dan keponakan pasti akan mencari dan menyambutnya. Tapi aku pesan wanti-wanti kepada kalian, persoalan ini tidak boleh diketahui oleh La-shou Guan-yin, Lu Yue-juan. Kalau tidak kami akan menjual semua barang-barang ini dan melarikan diri ke tempat lain.”

Kata-katanya sudah selesai, dia dan laki-laki kurus itu sudah meloncat naik ke atas kuda dan berlari meninggalkannya.

Zhou Ke-dong masih terpaku melihat dua ekor kuda yang berlari makin jauh itu, hatinya menjadi bimbang....

Kantor Biao Zhen Yuan kehilangan uang sejumlah 50.000 tail perak. Dengan wajah lesu Zhou Ke-dong membawa anak buah dan pelanggannya pulang kembali ke Lan Zhou.

Dia tahu Meng Ju-zhong belum pulang dari tugasnya, dia tidak berani masuk ke kota Lan Zhou. Diam-diam dia tinggal di sebuah penginapan diluar kota. Beberapa hari kemudian dia baru melihat Meng Ju-zhong yang pulang.

“Adik,” Zhou Ke-dong memanggil Meng Ju-zhong masuk ke dalam kamar. Meng Ju-zhong belum juga duduk, dengan wajah sedih dia berkata, “Kakak yang bodoh ini tidak berguna, Biao yang dibawa olehku sudah dirampok orang.”

Meng Ju-zhong terpaku dan berkata, “Siapa yang turun tangan waktu itu?”

Dengan suara kecil Zhou Ke-dong memberitahu, “Aku merasa sangat malu. Sampai sekarang aku masih tidak tahu siapa mereka dan datang dari mana? Mereka paman dan keponakan, mereka berdua berilmu silat sangat tinggi, aku tidak pernah mendengar di jalan Gan Liang ada dua orang seperti ini.”

Meng Ju-zhong mengerutkan dahi, dalam hati dia berpikir, “Semenjak perampok- perampok dibasmi oleh La-shou Guan-yin, jalan di Gan Liang sepertinya tidak ada orang berilmu silat lebih tinggi dari Zhou Ke-dong. Mengapa sekarang tiba-tiba bisa muncul dua orang yang begitu lihai?”

Kata Zhou Ke-dong lagi, “Adik, yang membuatku merasa aneh adalah ”

Zhou Ke-dong menceritakan semua pesan dari paman dan keponakan itu kepada Meng Ju-zhong dan berkata, “Karena itu aku pulang ke Lan Zhou. Masuk kekota pun aku tidak berani, aku takut. ”

Meng Ju-zhong memotong kata-katanya dan berkata, “Kau benar, coba pikir, kau pasti tidak tahu siapa dia, kalau ketahuan oleh Tetua Lu dia pasti akan sangat berang. Hal ini sudah kau lakukan, kantor Biao Zhen Yuan masih sanggup mengganti kerugian ini.”

Kata Zhou Ke-dong, “Apakah hanya begitu saja?”

Meng Ju-zhong tertawa dan berkata, “Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kau kira apakah mereka akan menunggu kita meminta kembali barang Biao yang hilang itu?”

“Maksud Adik adalah ”

“Menurutku, mereka berdua adalah perampok tunggal. Kebetulan bertemu dengan kita, dia langsung merampok, sesudah merampok mereka cepat-cepat kabur. Kita tahu di Qi Lian Shan sepanjang ratusan kilometer tidak ada yang berani merampok bendera Zi Feng.”

Zhou Ke-dong berkata, “Adik benar, tapi 50.000 tail perak bukan jumlah kecil, aku ”

“Bila Kakak ingin menyampaikan sesuatu, coba katakan!” Kata Zhou Ke-dong, “Aku kira paman dan keponakan itu, sudah mendapat barang Biao yang kita bawa, dia tidak perlu lagi berbohong, lebih baik kita turuti saja kemauan mereka, pergi.  ”

Meng Ju-zhong tersenyum dan berkata, “Maksud Kakak, kita pergi ke gunung Qi Lian Shan?”

Zhou Ke-dong tersenyum dan mengangguk.

Kata Meng Ju-zhong tertawa, “Kalau Kakak bermaksud seperti itu, kita jalan-jalan sebentar pun tidak apa-apa.”

Zhou Ke-dong tertawa kecut dan berkata, “Tapi, kita dipaksa oleh mereka.”

Meng Ju-zhong menarik nafas dan berkata, “Baiklah, aku akan mengikuti kemauanmu ”

= ooOOOoo =

Penginapan Xing Long berada di kota Yong Chang, penginapan itu sudah lama berdiri dan juga terkenal, kamar tidurnya besar dan juga bersih.

Meng Ju-zhong dan Zhou Ke-dong memesan sebuah kamar.

Malam hari, sewaktu mereka baru saja akan tidur, tiba-tiba ada suara dari kejauhan yang mendekat, mereka berdua segera duduk. Suara itu kemudian berhenti. Tampaknya mereka sudah berada di atas atap.

Meng Ju-zhong dan Zhou Ke-dong segera membawa senjata dan membuka jendela lalu keluar dari jendela.

Begitu turun dari jendela orang itu sudah membalikkan badan berjalan ke arah Dong Men. Mereka berdua hanya ragu sebentar, tapi akhirnya bergerak juga mengikuti orang itu.

Orang yang berada di depan memakai baju ketat polos. Ilmu meringankan tubuhnya tinggi, berjalan diatas atap seperti berjalan di permukaan tanah saja.

Meng Ju-zhong dan Zhou Ke-dong dengan ilmu meringankan tubuh mengejar mereka, hanya dalam waktu singkat mereka sudah keluar dari Dong Men, setelah beberapa kilometer lagi, dia baru berhenti disebuah hutan. Meng Ju-zhong dan Zhou Ke-dong juga berhenti melangkah.

Kemudian dari hutan muncul seseorang, dia berkata, “Pendekar Zhou benar-benar bisa dipercaya. Apakah orang itu adalah Ketua Meng?”

Jawab Meng Ju-zhong, “Betul, bagaimana aku harus memanggil kalian? Apakah kalian adalah orang yang merampok Biao Zi Feng?”

Orang itu tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, “Apakah Ketua Meng bisa berpindah tempat lain untuk berbicara?”

Zhou Ke-dong berbisik kepada Meng Ju-zhong, “Adik, orang itu berilmu silat tinggi, lebih baik jangan turuti keinginannya.”

“Bila sudah datang kemari jangan takut lagi.”

Meng Ju-zhong berteriak kepada orang itu, “Semua yang diatur oleh Tuan, aku setuju, harap Tuan membawa jalan.”

Orang itu berjalan kira-kira lima puluh meter, dia berhenti dan membalikkan badan. Di bawah sinar bulan terlihat badannya yang kurus, wajah juga tirus tapi kedua matanya terlihat sangat bersemangat.

Dia memberi hormat, kemudian berkata, “Ketua, harap tunggu disini sebentar!”

Segera dia pergi, tidak lama kemudian dia sudah kembali. Tangannya membawa sebuah bungkusan kain dan berkata, “Ketua Meng, ini adalah uang yang ditinggalkan oleh Pendekar Zhou, bila dihitung dengan bunga semuanya berjumlah 60.000 tail perak. Maaf, aku mengambil keputusan, semua barang diganti dengan emas, harap Ketua Biao Meng mau menerimanya.”

“Apakah artinya ini, Tuan?”

“Sudah lama aku mendengar nama besar Tuan, tapi tidak ada kesempatan untuk bertemu. Bila tidak dilakukan dengan cara ini, aku tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Tuan.”

Kata Meng Ju-zhong, “Mungkin Tuan ada maksud yang lain?”

“Betul, jujur saja aku ingin berteman dengan Ketua Meng dan berteman juga dengan ” = ooOOOoo =

Hari ini di depan pintu kantor Biao Zhen Yuan tiba-tiba ada suara ketukan ikan kayu. Yang mengetuk ikan kayu itu adalah seorang biksuni yang berumur sekitar dua puluh tahunan.

Walaupun dia cantik, tapi kepala dan wajahnya penuh debu seperti baru datang dari tempat

jauh.

Ada yang membentak, “Disini adalah kantor Biao, kami berbisnis menggunakan senjata dan mengeluarkan darah, kami tidak mempunyai uang untuk sedekah. Cepat pergi!”

Kata biksuni itu, “Aku hanya ingin mencari Meng Ju-zhong, apakah dia ada di rumah?”

Penjaga itu sengaja menertawakannya dan berkata, “Ketua Biao kami berada di rumah tapi dia tidak mempunyai waktu menemuimu ”

Belum selesai perkataan penjaga itu, terlihat tangan biksuni itu bergetar, segera angin keras bertiup kewajah dan badan penjaga yang besar itu, penjaga itu terhempas melewati tangga dan terjatuh di depan pintu. Kemudian terguling ke halaman.

Seorang penjaga lainnya berlari sambil berteriak, “Cepat, ada orang yang mencari gara- gara!”

Dari ruang tamu segera muncul dua orang laki-laki. Salah satunya adalah Lei Qi dan yang satu lagi adalah Feng.

Begitu mereka turun dari tangga mereka melihat ada seorang biksuni yang sedang memasuki halaman. Lei Qi marah dan membentak, “Disini adalah kantor Biao Zhen Yuan, biksuni tidak diijinkan membuat keributan disini!”

“Tolong beritahu kepadaku Meng Ju-zhong berada dimana?” Suaranya keras dan dingin.

Lei Qi tertawa dan berkata, “Ketua Biao mana boleh sembarangan bertemu denganmu? Bila ada apa-apa, sampaikan saja kepadaku?”

Feng ikut berkata, “Kalau kau ingin meminta sedekah kepada kami, itu juga tidak apa- apa, tidak perlu bertemu dengan Ketua Biao.”

“Suruh Meng Ju-zhong keluar, aku tidak ada waktu mengobrol dengan kalian!” Feng marah dan membentak, “Mengapa kau begitu tidak tahu diri? Silakan keluar!”

Feng sudah mengeluarkan serangan untuk mendorongnya keluar, dia tahu biksuni ini berilmu silat tinggi karena itu dia sudah menggunakan 80% tenaganya, tapi biksuni itu sama sekali tidak bergerak.

Hanya menggerakkan tangannya seperti mengusir debu, tangannya seperti ular terus membelit tangan Feng, Feng kaget dan terus meloncat mundur.

Lei Qi melihat keadaan itu, segera dia mengeluarkan sebuah pecut besi. Dia mengayunkan pecut besinya, tenaga besar yang dikeluarkan menjadikan pecut membawa angin kencang. Ini sudah bukan gerakan untuk mengusir biksuni itu lagi.

Tapi biksuni itu sama sekali tidak menaruh hati terhadap perbuatan mereka. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Begitu pecut besi itu mendekatinya, tiba-tiba dia bergeser dari tempatnya dan bersamaan dengan itu kakinya sudah menendang. Kakinya seperti kilat sudah menendang pantat Lei Qi.

Lei Qi sama sekali tidak mengira lawan akan bergerak begitu cepat. Untung ilmu silatnya tidak rendah, segera dengan menahan rasa sakitnya. Pecut diayunkan lagi tapi hanya dalam beberapa jurus, dia sudah merasa kalang kabut.

Feng membawa pentung tiga rantainya untuk membantu Lei Qi melawan musuh.

Biksuni itu tertawa dingin, tubuhnya seperti seekor kupu-kupu yang bermain diantara pecut dan pentung. Dia tidak melukai musuh tapi selalu bisa mementahkan serangan lawan.

Hanya dalam sekejap mereka sudah melampaui 20-30 jurus, biksuni itu melihat Lei Qi dan Feng masih tidak mau mundur. Dia marah dan berkata, “Benar-benar tidak tahu diri, jangan salahkan aku kalau aku turun tangan keras.”

Segera dia mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pedannya seperti bayangan cahaya. Tiba-tiba ada yang membentak, “Berhenti!”

Mereka bertiga segera meloncat dan keluar dari lingkaran pertempuran.

Terlihat di depan mereka telah berdiri seorang nyonya muda yang berbaju ungu. Dia terlihat cantik dan juga anggun. Dia adalah Du Xiang-jun, disisi kiri dan kanannya ada dua orang pelayan. Lei Qi datang memberi hormat dan berkata, “Nyonya, dia. ”

“Dua orang laki-laki bertarung dengan seorang biksuni, apakah pantas? Cepat mundur!”

Kemudian Du Xiang-jun memberi hormat kepada biksuni itu dan berkata, “Biksuni datang ke kantor Biao Zhen Yuan sebenarnya ada keperluan apa?”

“Siapa kau?” suara biksuni itu dingin seperti besi tapi pedangnya sudah disarungkannya.

Semenjak Du Xiang-jun menikah dengan Meng Ju-zhong, sifat dulunya yang gagah dan sombong, sebagian sudah berkurang.

Melihat lawannya bertanya dengan tidak sopan, dia hanya tertawa dan berkata, “Aku adalah istri Meng Ju-zhong. Suamiku tidak di rumah, kalau ada keperluan aku juga bisa mengambil keputusan untuknya.”

Wajah biksuni itu menjadi pucat, matanya mengeluarkan sorot dingin.

Dia melihat Du Xiang-jun kemudian dia berkata, “Kalau begitu aku permisi ”

Kata-katanya belum selesai, dia sudah membalikkan badan dan pergi.

“Berhenti!” Du Xiang-jun membentak, “walaupun kantor Biao Zhen Yuan bukan tempat penting, tapi cukup terkenal di dunia persilatan mana bisa kau datang dan pergi seenaknya!”

“Kau mau apa?” tanya biksuni itu.

Kata Du Xiang-jun dengan tertawa, “Hua Shan Zi Feng, Du Xiang-jun hanya ingin Anda mau mengunjukkan beberapa jurus padaku.”

“Baiklah, aku setuju. Keluarkanlah jurusmu!”

Du Xiang-jun dari tangan pelayan menerima pedang, kemudian meloncat kehadapan lawannya. Dia melihat biksuni itu tidak bergerak, Du Xiang-jun tertawa dingin dan berkata, “Kau jangan sombong, keluarkanlah senjatamu!”

Biksuni itu seperti mengenal nama Hua Shan Zi Feng, dia ragu kemudian mengeluarkan pedang dan ujung pedang diarahkan ke bawah. Dia berkata, “Silakan memberi petunjuk!”

Du Xiang-jun melihat dia tidak mengeluarkan serangan. Dia berkata, “Maaf.” Langsung menyerang kewajah lawan.

Biksuni itu dengan jurus Kucing Mencuci Muka, menentahkan jurus Du Xiang-jun. dengan cepat dia menyerang tangan lawan, jurusnya cepat menyerang dan bertahan.

Mereka bertarung kadang dekat kadang menjauh.

Dalam hati Du Xiang-jun berpikir, “Siapakah dia? Zhui Hun Duo Ming-jian Fa nya sangat mahir.”

Biksuni itu juga berpikir, “Dia memainkan pedang begitu tenang dan mahir, benar-benar tidak kecewa dijuluki Hua Shan Zi Feng.”

Mereka berdua tidak berani berbuat ceroboh. Biksuniitu memainkan pedang membuat lapangan penuh dengan bayangan pedang.

Du Xiang-jun tidak kalah hebatnya, dengan 72 jurus ilmu pedang Hua Shan dia bisa mematahkan serangan bertubi-tubi.

Mereka berdua mengeluarkan jurus-jurus mereka yang paling kuat. Saat itu adalah siang hari, di bawah terik matahari, dua buah bayangan dihalaman meloncat-loncat juga berputar-putar seperti kupu-kupu yang terbang kesana sini. Walaupun sudah melewati 30-40 jurus tapi tetap tidak ada yang kalah atau pun menang.

Du Xiang-jun melihat Zhui Hun Duo Ming-jian Fa milik biksuni sangat mahir, dia takut dia akan kalah dan merusak nama baiknya, dia segera memainkan ilmu pedang Hua Shan yang paling tinggi... 72 jurus pedang Hua Shan yang paling hebat dikeluarkan.

Sebilah pedang ke atas dan ke bawah, membuat lapangan penuh dengan bayangan pedang seperti naga yang naik ke langit, kadang-kadang segera turun seperti hujan pedang, cepat seperti kilat.

Jika dilihat sudah tidak seperti sejurus demi sejurus dimainkan, melainkan seperti sekumpulan cahaya membungkus badannya.

Biksuni itu tahu kalau terus bertarung dia akan kalah dan akan malu. Dengan pedangnya dia memainkan jurus Setan Mendorong Gilingan. Dia sudah meloncat ke depan pintu. Du Xiang-jun tidak ingin membiarkan dia lepas, segera ujung pedangnya mengikuti biksuni. Biksuni itu berhenti melangkah hanya melihat tangannya bergetar, tiga buah pisau sudah terbang keluar.

Karena Du Xiang-jun tidak siap, dia kaget, dia pun mundur. Dengan jurus Naga Hitam Membungkus Tiang, disekelilingnya terbungkus dengan bayangan cahaya.

Terdengar suara senjata beradu dan mengeluarkan percikan api. Semua pedang terbang itu kemudian berjatuhan.

Biksuni itu dengan cepat keluar dari gerbang halaman. Begitu keluar dia menabrak seseorang.

Dia kaget, begitu melihat orang yang ditabraknya dia kaget dan berteriak, “Kau ”

Orang yang datang itu tak lain adalah Meng Ju-zhong. Dia mendengar suara juga melihat wajah, hanya dalam waktu singkat dia sudah mengenal orang yang ditabraknya.

Hatinya bergejolak, dia berteriak, “Ternyata kau!”

Wajah biksuni itu segera berubah. Dengan marah dia berkata, “Marga Meng kau

benar-benar tega dan kejam!”

Suaranya berubah terus, belum habis perkataannya dia sudah berlari menghilang di dalam kerumunan orang.

Hati Meng Ju-zhong sangat kacau, dia masih bengong berdiri disana. Dia melihat ke depan tapi sepertinya tidak melihat apa pun.

Du Xiang-jun ikut keluar untuk melihat keadaan, dia juga bengong sendiri ditangga. Tidak mengerti apa yang terjadi.

Malam ini. Sinar bulan masuk dari jendela.

Du Xiang-jun baru melahirkan. Dia mendapatkan seorang bayi perempuan. Meng Ju- zhong sangat senang, seharian dia sibuk mengurusi ini dan itu.

Tamu-tamu sudah pulang, rumah pun kembali sepi seperti biasanya. Kelahiran di malam hari membawa kesunyian. Di perpustakaan yang mewah tidak dipasang lampu, Meng Ju-zhong duduk di kursinya yang besar, hatinya tidak tenang. Dia terus berpikir.

Semenjak Han Wu-niang datang ke kantor Biao Zhen Yuan, itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu.

Du Xiang-jun perempuan yang sangat lembut dan pengertian. Sebenarnya ini sangat aneh dan tidak biasa.

Du Xiang-jun pun sebenarnya merasa aneh dan banyak pertanyaan yang ingin diajukan, tetapi karena suaminya tidak mengatakan apa pun, dia tidak menanyakannya satu kata pun.

Tapi semenjak peristiwa itu hidup Meng Ju-zhong tidak pernah merasa tenang. Setiap hari dia selalu bengong, tidak enak duduk makan bahkan tidur.

Dia teringat kembali sewaktu itu dia berada Gui Yun Dong. Kelembutan Han Wu-niang, tubuhnya yang lembut dan hangat berada di depan matanya.

Dulu jika teringat kepada Han Wu-niang, dia selalu memeluk istrinya erat-erat. Dia memejamkan mata menganggap istri yang dipeluknya adalah tubuh Han Wu-niang. Dia begitu mesra memperlakukan istrinya dan mulai meraba....

Tapi semenjak Du Xiang-jun hamil, hasratnya tidak bisa disalurkan. Di dalam tubuhnya seperti ada air yang bergejolak ingin keluar dari tubuhnya. Dia tidak tahan lagi, tiba-tiba ada bayangan seseorang seperti setan menyelip masuk.

Meng Ju-zhong segera sadar dari khayalannya dan membentak, “Siapa!”

Yang datang adalah seorang perempuan cantik dan molek.... Orang itu berdiri diam di pintu.

Di kegelapan dia melihat perempuan itu....

Meng Ju-zhong mengira itu hanya khayalannya saja, tapi ada suara seseorang. Hanya melihat orang itu tertawa, tidak begitu lama dia menangis...

“Kakak Meng, kau benar-benar kejam....” belum habis perkataannya, dia sudah menangis.

Hati Meng Ju-zhong bergetar dan berkata, “Apakah kau kau adalah Han Wu-niang?” “Kau masih ingat padaku ”

Hati Meng Ju-zhong bergejolak, dia ingin memeluk tapi tampak ragu. Dia berkata, “Kau mengapa kau datang kemari?”

“Kau, kau adalah milikku! Kantor Biao Zhen Yuan separohnya adalah milikku juga, mengapa aku tidak boleh datang kemari?” Suara Han Wu-niang semakin tinggi dan keras.

Orang yang selalu dirindukan oleh Meng Ju-zhong berada di depan matanya. Beberapa saat dia ingin memeluk tapi begitu memikirkan istrinya, Du Xiang-jun, apalagi Guru La- shou Guan-yin yang jarang berbicara, apalagi dengan sifatnya yang selalu berubah- ubah.

Dia segera menahan dirinya dan berkata, “Seharusnya kau tidak datang kesini, ah....

semua sudah terlambat!”

“Tidak, tidak terlambat sama sekali!” suara Han Wu-niang seperti akan menangis. Dia berkata lagi, “Tidak, Kakak Meng, aku tahu kau mengalami kesulitan, aku tidak berharap mengambil dirimu semuanya. Aku hanya menginginkanmu separuh atau bahkan kurang, apakah boleh?”

Meng Ju-zhong tidak bisa menahan dirinya lagi, dia maju beberapa langkah. Kemudian dengan erat memeluk Han Wu-niang dan berkata, “Wu-niang.... aku.... telah bersalah kepadamu ”

Dua bibir segera menempel menjadi satu, menghisap yang manis juga menghisap yang pahit.

Dengan penuh perasaan Meng Ju-zhong merasakan Han Wu-niang tubuhnya gemetar, nafasnya pun bertambah kencang. Tangannya dari pundak turun kepinggang dan terus ke....

“Tidak!” Han Wu-niang berteriak dan mendorong Meng Ju-zhong, dia berkata, “Waktunya tidak tepat. Kakak Meng, La-shou Guan-yin sangat lihai, adikmu ini tidak berani membuatnya marah.”

“Kalau begitu....Wu-niang, aku....” Meng Ju-zhong sudah sadar. Dia ragu, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia mendengar Han Wu-niang berkata, “Kakak Meng, masih ada yang harus kusampaikan. Bila kau mempunyai waktu, ikutlah denganku ke Wu Quan Shan. Disana ”

Meng Ju-zhong tidak ragu, dia segera mengangguk.

Pemandangan Wu Quan Shan sangat indah, apalagi di malam hari.

Sinar bulan turun dari daun menyinari dua buah bayangan orang yang berada di padang rumput. Mereka begitu dekat seperti satu orang.

“Wu-niang, beberapa tahun ini apakah kau hidup dengan baik?” Meng Ju-zhong bertanya dengan suara kecil.

“Baik....” Han Wu-niang dengan sedih berkata, “Untung aku tidak mati di dunia persilatan ini.”

Kata Meng Ju-zhong, “Apakah Shui Jing Shi Tai tidak bersamamu? Ilmu silatnya kan sangat lihai.”

“Aku, aku telah membunuhnya.”

“Oh.   mengapa kau lakukan?” Meng Ju-zhong terkejut, dia melepaskan Han Wu-niang

yang masih berada dalam pelukannya. Tapi dia menangis, dia tampak begitu gugup. Meng Ju-zhong tidak tega, dia kembali memeluk Han Wu-niang lagi dan berkata, “Wu- niang, walaupun dia tega memisahkan kita, tapi dia tetap gurumu, mengapa kau ”

“Kakak Meng,” wajah Han Wu-niang penuh rasa malu bercampur dengan rasa sesal. Dia ragu tapi terus berkata, “Waktu itu guru memaksaku ke Zhong Yuan. Beberapa bulan kemudian, aku baru tahu bahwa aku telah.... mengandung.... anakmu ”

Meng Ju-zhong terkejut dan bertanya, “Apa? Anakku?”

“Benar, anakmu,” Han Wu-niang tertawa kecut, “Guru beberapa kali memberi obat kepadaku supaya kandunganku gugur, tapi diam-diam aku membuangnya. Dan dia pun marah, banyak tabib yang sudah dibunuh oleh guru. Aku pun tersiksa bahkan hampir mati, tapi akhirnya aku bisa melahirkan dengan selamat. Bayinya adalah seorang anak laki-laki, dia putih dan gemuk, sangat lucu ”

Meng Ju-zhong terkejut sekaligus senang, tapi Han Wu-niang terus melanjutkan, “Aku pernah berjanji kepadamu akan melahirkan anakmu yang putih dan gemuk. Aku sudah menepati janji. Beberapa bulan sakit yang menyiksa itu sudah hilang." “Sekarang anak kita berada dimana?” Meng Ju-zhong sangat ingin mengetahui keberadaan anaknya.

“Kakak Meng, aku akan cerita...”

Di bawah sinar bulan, air mata Han Wu-niang terus mengalir. Meng Ju-zhong memeluk pundaknya sambil mendengarkan cerita Han Wu-niang....

“Dia membawaku ke Zhong Yuan, tadinya kami ingin pergi ke tempat paman guru. Tapi karena aku hamil, kami tidak bisa pergi kesana. Aku pun dibawa oleh guru berkeliling disekitar Zhong Yuan, karena kandunganku tidak bisa digugurkan, guru pun berubah sikap. Dia sangat memperhatikanku. Begitu aku sudah melahirkan anak, dia lebih berusaha untuk menjagaku. Anak kita lahir di Ma Si Jiao. Tempat itu adalah sebuah kota kecil. Setelah aku melahirkan anak Yang, kami tinggal di kota itu. Kata guru hari itu ada bazaar, dia ingin membawa anak Yang pergi kesana sambil berjalan-jalan. Siapa yang menyangka hingga matahari terbenam, mereka belum pulang, aku kesana mencari mereka. Di tempat itu ternyata sudah tidak ada orang, terpaksa aku kembali ke rumah. Aku berharap begitu tiba di rumah mereka berdua sudah berada disana, tapi aku kecewa. Sewaktu aku pulang, dirumah pun tidak ada lampu, pasti tidak ada orang. Tapi di kamar ada seseorang, dia adalah guruku. Dia sedang minum dan aku bertanya kepadanya kapan dia pulang. Dia mengatakan bahwa sejak tadi dia sudah pulang dan bertanya aku kemana saja. Aku mencari Guru dan anakku di bazaar, dimana anak Yang? Aku mengira anak Yang sudah terlalu lelah hingga tertidur. Aku mencari ke ranjang kecilnya. Tapi aku tidak menemukan dia disana. Guru dengan santai berkata, 'Dao Qing, kita meninggalkan Kong Dong sudah tiga tahun. Selama tiga tahun ini kita terus berkeliling, sama sekali tidak seperti seorang biksuni, penyebab semuanya adalah gara-gara anak itu....' Hatiku bergetar, aku tidak menyangka anak Yang akan dibuang begitu saja oleh guru, padahal selama dua tahun itu, beliau sangat sayang kepadanya, aku masih ragu dan bertanya lagi, 'Guru, Anda jangan bercanda, sekarang anak Yang berada dimana?' Jawabannya sangat dingin dia masih terlihat santai, 'Aku tahu bahwa kalian adalah ibu dan anak, hubungan kalian sangat erat, dalam waktu dekat ini kau pasti akan sulit untuk melupakannya, tapi nanti pun kau akan terbiasa, kau bereskan saja barang-barang, besok kita berangkat mencari   ' Sampai saat ini aku baru percaya

bahwa semua kata-katanya benar, dimana anakku sekarang berada? Seperti disambar geledek, aku langsung merasa pusing dan roboh, terjatuh ke bawah. Setelah beberapa saat aku pingsan, aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, yang aku tahu aku sadar karena mendengar jeritanku sendiri, karena aku bermimpi anak Yang dibuang oleh guru di suatu tempat kotor dan sepi dan dia sedang menangis karena ketakutan dan kelaparan, kemudian datang seekor serigala, dia membuka mulutnya yang besar....

Terdengar guru dengan pura-pura berkata, 'Nak, ada apa? Mengapa kau tiba-tiba pingsan?' Hatiku benar-benar merasa marah, 'Ini adalah kesalahan guru, bila kau tidak mengembalikan anakku, aku tidak akan melepaskanmu!' Aku masih mencoba menahan kemarahanku, kembali aku bertanya kepada guru, 'Guru, apakah kau bisa memberitahuku, dimana Guru membuang anakku?' Wajah guru dingin seperti besi dan dia menjawab, 'Mengapa kau masih saja keras kepala ingin mencarinya? Sekarang ini dia pasti sudah dimakan oleh anjing liar atau serigala.'

Setelah mendengar perkataan guru, aku pingsan lagi, tapi hanya sebentar, aku sudah tersadar lagi, aku merasa guru sedang memijatku, dalam hati aku berpikir, 'Anak Yang sudah berusia dua tahun dan dia bisa menangis, dia pasti bisa berteriak juga, dia bisa mencari seseorang, mengapa dia bisa dimakan oleh binatang? Tidak, aku harus mencarinya, tapi guru tidak mengijinkanku pergi mencarinya, aku harus bagaimana?' Sewaktu pikiranku sedang kacau, kudengar guru berkata lagi, 'Kau sudah sadar sejak tadi, mengapa masih berpura-pura pingsan?' Kemudian aku membuka mataku dan melihat rumah sudah dipasang lampu, aku berkata kepada guru, 'Guru, tolong bawa anak Yang kembali ke rumah ini, kelak aku pasti akan menuruti semua perkataan Guru,   aku   mohon   dengan   sangat.' Dengan dingin guruku berkata, 'Jangan harap, jangan lupa bahwa kau itu adalah seorang biksuni, seorang biksuni tidak diijinkan memiliki terlalu banyak perasaan.' Aku menjadi terdiam, karena terlalu banyak bicara tidak akan ada gunanya, dia kira aku menyetujui perbuatannya? dia tertawa dan melanjutkan lagi, 'Muridku yang baik, sekarang    lebih    baik    kau    tidur,    besok    kita     akan     pergi     dari     sini.' Dalam hati aku berpikir, 'Mungkin kau tidak akan mempunyai lagi hari esok.' Aku sudah mengambil keputusan, aku harus membunuhnya. Karena bila aku tidak membunuhnya aku tidak akan bisa menemukan anakku.”

Meng Ju-zhong mendengar semua cerita Han Wu-niang dan berkata, “Memang dia pantas untuk dibunuh, tapi bukankah ilmu silatnya tinggi? Kau pasti berhati-hati.”

Han Wu-niang hanya tersenyum dan dia berkata lagi, “Dalam mimpi pun dia tidak akan menyangkanya bahwa aku akan membunuhnya. Dia tidak ada persiapan sama sekali, itu akan sangat memudahkanku membunuh dia, aku sudah mengambil keputusan, maka hatiku pun menjadi tenang, pada saat dia tertidur dengan nyenyak, aku masih membuka kedua mataku, karena dalam hatiku masih banyak persoalan dan harus kupikirkan, maka aku tidak bisa tidur. Tapi guru tertidur dengan nyenyak, aku turun dari tempat tidur dan mendekati tempat tidur guruku. Dia sama sekali tidak mengetahuinya. Aku mengeluarkan sebuah pisau belati, saat aku akan menusuknya, aku masih merasa ragu, tapi dalam waktu singkat guru pun terbangun, tapi semua itu sudah terlambat, karena saat itu pisau belati sudah menancap tepat dijantungnya. Matanya membelalak dan berkata, 'Dao Qing, aku tahu.... kau.... membenciku.... tapi.... aku.... tidak....

menyangka.... kau.... akan membunuhku.... anakmu....dia.... tidak.... mati.... dia berada di.... suatu....' Kata-katanya belum selesai, nafasnya sudah berhenti, aku benci kepada diriku sendiri, mengapa aku membunuhnya terlalu kejam, dia belum memberitahuku, dimana anak Yang, tapi semua itu sudah terlambat, dia mengatakan bahwa anak Yang sudah diambil oleh seseorang, mungkin anak Yang diberikan kepada seseorang, tapi aku merasa lega karena anak Yang masih hidup di dunia ini, karena dimana pun dia berada saat ini aku akan terus mencarinya hingga menemukannya. Aku membakar rumah itu lalu sejumlah uang dan sedikit baju kubawa, aku mulai mencari anakku, setelah dua hari aku baru tahu bahwa anak itu diambil oleh seorang biksu tua dari sisi jalan. Kakak, tempat itu adalah kaki gunung Jiu Hua, ditempat itu sangat terkenal dengan agama Budha. Disana banyak kuil, mungkin ada sekitar tiga puluh kuil, biksu digunung itu pun sangat banyak, mungkin bisa mencapai ribuan, aku sudah mencari disana selama setengah bulan, akhirnya aku berhasil menemukan biksu yang membawa anak Yang ”

“Apakah kau sudah menemukan anak Yang?” tanya Meng Ju-zhong.

Han Wu-niang tertawa kecut dan dia menggelengkan kepalanya, “Dia membawa anak Yang pulang, hari kedua dia memberikan anak Yang kepada orang lain, karena kuil dimana dia tinggal sangat kecil, hanya berisi lima orang biksu, mereka sama sekali tidak bisa mengasuh anak yang baru berusia dua tahun, biksu itu memberitahuku bagaimana wajah dan suara orang yang membawa anak Yang pergi, sepertinya orang itu berasal dari dunia persilatan, tapi dunia persilatan begitu besar dan luas dan begitu banyak orang, bagaimana dan kemana aku mencari orang yang membawa anak Yang? Apalagi aku tidak pernah melihat wajahnya, bahkan namanya pun aku tidak tahu. Tapi aku masih berusaha mencari selama beberapa hari terakhir, setelah itu aku baru mendapatkan kabar bahwa orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi, karena dia bukan orang sana, jadi tidak ada seorang pun yang tahu namanya. Aku mulai merasa putus asa, kemudian aku menangis sejadi-jadinya. Waktu itu aku ingin kembali ke daerah ini, selain itu aku pun tidak tahu kau berada dimana. Apalagi ilmu silatku tidak begitu lihai, mungkin sebelum bertemu denganmu, aku sudah dibunuh orang.”

Dia menangis lagi dan melanjutkan kembali, “Aku berpikir cukup lama, setelah itu aku baru mengambil keputusan, bibi guruku berada di kuil Yun Shui, keempat muridnya telah dewasa, tiga orang sudah menjadi orang biasa dan mereka pun sudah menikah, di kuil itu sekarang tersisa satu orang muridnya, dia mendengar aku diperintahkan oleh guru untuk pergi kesana sebelum dia meninggal untuk mempelajari ilmu silat, dia sama sekali tidak menaruh curiga. Jadi semenjak itu aku tinggal di kuil itu.”

Han Wu-niang menceritakan semia ini, sepertinya dia bercerita dengan sepenuh tenaga, saat ceritanya selesai dia pun seperti seorang anak kecil hanya diam di dalam pelukan Meng Ju-zhong, dia tidak bergerak sama sekali. Meng Ju-zhong memeluknya terus, hatinya bergejolak, air matanya pun berlinang membasahi pipinya, dia mengecup wajah Han Wu-niang yang seperti sedang tertidur, dia belum bergerak.

Sinar bulan seperti arus air. Angin musim panas di malam hari membawa rasa dingin.

Tapi pasangan yang masih berpelukan ini seperti api yang membakar sesuatu, mengeluarkan kobarnya yang besar, hingga cukup untuk membakar kedua orang itu.

Rasa nikmat seperti hujan dan angin badai, Meng Ju-zhong dengan terengah-engah berkata, “Wu-niang.... aku.... harap selalu bisa bersamamu terus ”

Han Wu-niang pun berkata, “Aku pun ingin seperti itu, bila memang bisa aku tidak akan iri kepada marga Du itu.”

“Apakah benar?” Meng Ju-zhong sangat senang, dia berkata lagi, “Ini lebih baik, kau bisa lebih memperhatikanku ”

Meng Ju-zhong tampak berpikir sebentar, kemudian dia berkata, “Wu-niang, beberapa hari lagi datanglah ke perpusatakaanku, aku akan mempersiapkan sedikit uang dan carilah sebuah tempat untuk membangun sebuah kuil, kau akan tinggal selamanya disana, kita pun lebih bisa. ”

Han Wu-niang tertawa, dengan manja dia berkata, “Apakah besok aku tidak boleh pergi kesana?”

Meng Ju-zhong terpaku, kemudian dia tertawa dan berkata, “Bila kau mau, kapan waktu pun pintu perpusatakaanku selalu terbuka untukmu. ”

Han Wu-niang dengan erat memeluk Meng Ju-zhong, dia pun membalas pelukan Han Wu-niang....

Tiba-tiba Han Wu-niang melepaskan diri dari pelukan Meng Ju-zhong, dengan marah dia berkata, “Kakak Zhong, yang memisahkan kita adalah Biksu Guang Mu, aku aku

ingin membunuh dia, untuk melampiaskan semuanya.”

Meng Ju-zhong sangat terkejut, dia berkata, “Tidak boleh, Kong Dong Pai banyak pesilat tangguh, kau tidak bisa bergerak sembarangan ”

“Tidak,” kata Han Wu-niang, “Kakak Zhong, jangan merasa khawatir, aku tidak akan melakukan hal gegabah, nama Kong Dong Pai sangat terkenal di dunia persilatan, tapi ilmu silat Biksu Guang Mu tidak tinggi, Kakak Zhong, tunggulah kabar dariku.” = ooOOOoo =

Pagi. Di Gunung Kong Dong.

Terdengar suara lonceng berbunyi dengan nyaring, murid-murid di gunung itu mulai berlatih ilmu silat.

Kuil mulai ramai.

Di luar Wen Dao Gong ada delapan orang murid generasi ketiga, mereka sedang berdiri, memakai baju berwarna abu.

Ada satu orang yang bertubuh kecil dan memakai baju polos. Dari belakang bahunya tersembul pegangan pedang, walaupun kepalanya terbungkus kain tapi tetap terlihat bahwa dia adalah seorang perempuan.

“Siapa!”

Suaranya tidak keras tapi terdengar sangat berwibawa, sepertinya orang itu tidak mendengar. Dia tetap naik tangga.

Delapan orang murid itu bersama-sama mencabut pedang masing-masing, tapi orang itu seperti bayangan yang lewat. Mata mereka berkilau kemudian terdengar suara senjata beradu.

Dua buah pedang tampak sudah putus, dua pedang terlepas dari pegangan kemudian melayang dan terjatuh.

Empat orang murid yang berdiri agak jauh dari sana merasa terkejut, tapi itu hanya berlangsung sebentar mereka sudah mulai mengayunkan pedang.

“Siapa yang berani membuat keributan diluar!” Suara bentakan keluar dari dalam kuil. Suaranya tidak keras, terdengar sedikit tua, tapi sangat nyaring, berarti orang itu memiliki tenaga dalam yang tinggi.

Kemudian terdengar suara pintu terbuka, matahari bersinar masuk ke dalamnya.

Di dalam kuil banyak gambar dewa dan suasananya sangat sepi. Di dalam sana ada seorang biksu tua yang sedang duduk, kumisnya yang berada di bawah dada tertiup angin, dia adalah pengurus Wen Dao Gong, Guang Mu.

Murid-murid generasi tiga berdiri di pinggirnya. Orang yang wajahnya tertutup itu masuk dengan cepat. Ada beberapa orang mencoba melarangnya, tapi sudah tidak sempat.

“Aku adalah orang yang tidak terkenal di dunia persilatan, ingin bertemu dengan Guru.” Orang itu menutup kembali pintu kuil.

Wen Dao Gong yang berada di Gunung Kong Dong adalah perkumpulan terkenal diantara delapan perkumpulan, juga termasuk enam besar perkumpulan yang memiliki ilmu pedang hebat di dunia persilatan.

Biasanya Kong Dong Shan dijaga dengan ketat, masuk ke atas gunung pun harus melalui tiga pintu dan ada beberapa murid berilmu silat tinggi yang menjaga disana.

Walaupun Wen Dao Gong letaknya tidak terjauh dari kaki gunung, tapi biasanya orang persilatan jarang bisa sampai di pintu utama Wen Dao Gong. Tapi orang ini dengan tenang bisa sampai di pintu utama berarti ilmu silatnya sangat tinggi.

Biksu Guang Mu melihat lawan dengan nama 'orang tidak terkenal' itu. Dia tahu orang itu tidak mau diketahui namanya, dia pun tidak banyak tanya lagi.

Dengan pelan dia berkata, “Kau sudah sampai di pusat kuil, kau tidak perlu lagi menutup wajahmu, silakan kau buka tutup wajahmu, biar aku tahu siapa kau.”

“Permintaan dari orang yang akan mati, tidak bisa kutolak!”

Tutup wajah dibukanya, terlihat seraut wajah yang cantik tapi kedua bola matanya mengeluarkan api. Api kemarahan.

Guang Dao melihat yang datang adalah seorang perempuan, hatinya bergetar, “Kapan aku pernah berbuat salah kepada seorang perempuan?”

Dia berpikir sebentar lalu berkata, “Apakah kau datang karena ada perlu?”

Yang datang tak lain adalah Han Wu-niang. Dia berhadapan dengan orang yang dulu pernah memukul kekasihnya dan merusak kebahagiaannya.

Dia sangat marah dan berkata, “Kau selalu berada di atas, kau telah banyak berbuat kejahatan. Bila aku menceritakannya, kau juga tidak akan ingat. Hari ini aku datang untuk menagih darah yang dulu pernah kau torehkan.”

Biksu Guang Mu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Bila kau tidak mengatakannya berarti kau sengaja datang ke Wen Dao Gong untuk membuat keributan. Jangan mengira kau sudah sampai di pintu utama maka kau tidak peduli dengan aturan. Aku beritahu kepadamu, cepat mengaku kesalahanmu dan pergi sekarang juga selagi masih sempat  ”

Kata Han Wu-niang, “Jangan banyak bicara, keluarkan jurusmu! Walaupun aku tidak mempunyai nama di dunia persilatan, tapi aku tidak mau dinasihati begitu saja. Aku akan membunuhmu!”

“Kau sangat berani!” Biksu Guang Mu sangat marah.

Dengan telapak, dia sudah mendorong. Dengan pedang Han Wu-niang menahan serangan tenaga telapak ini.

Dia berkata, “Jangan sombong! Jangan salahkan aku, cepat keluarkan senjatamu!”

Sebenarnya Biksu Giang Mu bukan orang yang sombong, hanya saja dia adalah ketua Gong Dong. Di kuilnya sendiri menyerang seorang perempuan muda dengan pedang adalah perbuatan sangat memalukan.

Dia tidak menjawab, tapi sepasang pedangnya terus mendorong dan mengeluarkan angin pukulan.

Han Wu-niang sudah memainkan beberapa jurus pedang, dia membentak, “Kau yang cari mati! Jangan salahkan aku!”

Pedang Han Wu-niang sudah berubah menjadi kilauan tajam dan dia mulai menyerang.

Hanya dalam beberapa jurus, Biksu Guang Mu sudah dipaksa mundur, kalau tidak menggunakan senjata, dia akan kalah dengan malu.

Dia mundur mendekati dinding dan mengambil pedang yang tergantung. Dengan jurus Hakim Membuka Buku, dia memakai tenaga hingga ke ujung pedangnya. Dengan cepat dia bisa mematahkan serangan Han Wu-niang.

Mereka berdua bertarung di dalam kuil, kadang seperti terbang, kadang bersatu lalu terpisah, hanya sebentar mereka sudah mengeluarkan 20-30 jurus.

Sekarang di luar kuil terdengar sangat ramai, banyak murid-murid Kong Dong yang berdatangan tapi karena mereka tidak mendapat perintah dari ketua untuk membantu, mereka hanya diam di luar, tidak berani masuk. Han Wu-niang melihat Biksu Guang Mu sangat mahir menggunakan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa. Tenaga dalamnya pun sangat tinggi, bertarung dengan waktu yang lama di kuil orang lain, pasti tidak akan menguntungkan baginya.

Pikirannya berputar dengan cepat, dia memaksa Guang Mu mundur selangkah.

Dia pun dengan cepat meloncat dan berteriak, “Biksu Guang Mu, kukatakan kepadamu, bila mereka datang menyerang untuk membantumu, aku akan membunuh mereka, jangan salahkan aku bila berbuat kejam.”

“Membunuhmu tidak perlu banyak orang, kau terima ”

Kata-kata Biksu Guang Mu belum selesai, dia melihat ada cahaya seperti kilat, dua buah pisau terbang terbang ke arahnya. Yang satu ke arah tenggorokan, yang satu lagi ke arah perut. Guang Mu sangat terkejut.

Han Wu-niang mengambil kesempatan selagi berbicara dengan Guang Mu kemudian dia melepaskan senjata rahasianya.

Guang Mu sangat marah terhadap serangan yang licik ini. Dengan jurus Dewa Kematian Melambaikan Lengan Baju, dia menyapu jatuh dua buah senjata rahasia itu.

Tapi pisau terbang Han Wu-niang sangat aneh. Sebuah pisau terbang datang lagi menyerangnya, karena terlambat menghindar, pisau terbang itu tepat mengenai dada kanannya, darah pun bercipratan. Rasa sakit menusuk hingga ke hati, dia berteriak dan mundur.

Han Wu-niang maju, bersiap untuk membunuh tapi murid-murid yang berada di luar, melihat ketua mereka terluka, segera berteriakan dan masuk.

Musuh sangat banyak, Han Wu-niang hanya sendiri. Dia tidak berani menunggu lebih lama lagi, segera dia mengayunkan pedang dan berlari keluar pintu.

Di dalam kuil itu sangat kacau dan ribut. Tempat sembahyang menjadi tempat pertarungan hidup dan mati. Suara teriakan, suara senjata beradu menjadi satu.

Walaupun murid-murid Kong Dong sangat banyak tapi Han Wu-niang masih ingin melarikan diri dari sana. Dengan cepat dia keluar dari tempat sembahyang.

Tiba-tiba ada suara bentakan, “Siluman dari mana berani masuk ke kuil kami dan membuat keributan!” Di dalam suara bentakan muncul empat orang biksu yang memakai baju berwarna kuning, mereka berumur sekitar lima puluh tahunan, mereka datang untuk mengawasi pintu.

Begitu dilihat oleh Han Wu-niang, hatinya segera menciut, karena salah satu dari mereka adalah guru Meng Ju-zhong yaitu Biksu Huang Shi.

Alasan pertama, Han Wu-niang takut kepada ilmu silatnya, dia juga tahu bahwa Biksu Huang Shi pernah menolong Meng Ju-zhong.

Han Wu-niang tidak berani bertindak macam-macam kepada Biksu Huang Shi, juga tidak mau bertarung dengannya, karena itu dia maju kesebelah kanan.

Karena murid-murid yang menghadang jalannya kurang cepat, Han Wu-niang dengan cepat meloncat dan menerobos pecah jendela dan segera kabur dari sana.

= ooOOOoo =

Tamu-tamu baru pulang, Meng Ju-zhong sudah menghilang.

Dalam hati Du Xiang-jun berpikir, “Apakah suamiku terlalu banyak minum arak?”

Dia menyerahkan Meng Shao-hui yang baru berusia seratus hari ke tangan ibu asuh anaknya dan tergesa-gesa mencari suaminya.

Suaminya tidak berada di dalam kamar, dia mencari ke perpustakaan Meng Ju-zhong.

Perpustakaan tidak terpasang lampu, dia ingin pergi mencari lagi ke tempat lain, tiba- tiba Du Xiang-jun mendengar di dalam ada suara tawa.

Du Xiang-jun merasa curiga, pelan-pelan dia mulai mencari tahu. ternyata itu adalah suara cabul, segera darahnya naik hingga keubun-ubun dan dia menendang pintu kamar.

Pintu terbuka...

Meng Ju-zhong dan Han Wu-niang sedang saling membuka baju dan tertawa-tawa, tiba-tiba pintu ditendang, membuat mereka sangat kaget.

Han Wu-niang melihat yang datang adalah Du Xiang-jun, dia kaget bukan kepalang. Dia tidak sempat lagi memakai baju, segera kakinya menginjak meja, dengan jurus Burung Walet Melalui Tirai, dia melarikan melalui jendela. Du Xiang-jun sama sekali tidak menyangka orang tadi adalah biksuni yang beberapa bulan lalu datang untuk membuat keributan.

Begitu dia melihat semuanya jelas, orang itu sudah melarikan diri karena itu dia merasa kesal dan marah.

Dia duduk di sebuah kursi dan dengan marah dia berkata, “Suamiku, kemarin waktu dia datang, aku sudah merasa curiga. Demi menjaga wibawamu, aku tidak mengusutnya lagi, aku tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini...katakan, siapa dia!”

Terpaksa Meng Ju-zhong mengatakan semua yang berhubungan dengan Han Wu- niang, tapi dia tetap menutupi bahwa sudah beberapa bulan ini mereka sering bertemu. Dia berkata hari ini secara kebetulan mereka bertemu....

Du Xiang-jun adalah seorang pendekar, tapi hatinya sangat lemah. Cerita yang sedih membuat hatinya menjadi kacau, dia pun meneteskan air mata.

Dia menarik nafas dan berkata, “Suamiku, kita sudah beberapa tahun menikah, hal seperti ini sebenarnya harus kau ceritakan lebih awal kepadaku. Sekarang sudah terjadi peristiwa seperti ini, perasaan itu akan terus ada, jika terus begitu ini kan sangat tidak baik. Katakanlah, bagaimana cara kau menyelesaikannya?”

Meng Ju-zhong melihat Du Xiang-jun, dalam hati dia merasa senang. Dia berkata, “Budimu berat seperti gunung, kehidupan yang akan datang aku pun tidak akan bisa membayarnya. Hari ini aku yang bersalah kepadamu, juga bersalah kepada bumi dan langit. Aku tidak akan melakukan itu lagi.”

“Aku percaya kepadamu,” kata Du Xiang-jun. dia menarik nafas dan berkata, “Mendengar ceritamu, aku juga merasa perempuan itu patut dikasihani. Untung kejadian seperti hari ini tidak ada yang melihat. Jika masalah ini sudah selesai, kelak kau harus bertemu dengannya dan beritahu kepadanya jika dia ingin tinggal di Lan Zhou, aku tidak keberatan. Tapi tidak kuijinkan dia masuk kantor Biao Zhen Yuan selangkah pun, jika tidak ilmu 72 jurus Lian Huan Jian tidak akan mengenal ampun kepadanya.”

“Aku akan menuruti perintahmu.” Hati Meng Ju-zhong sangat senang, dia menjawab begitu cepat.

Mereka berdua tidak memperhatikan, sebelum Du Xiang-jun datang, La-shou Guan-yin sudah melihat semua kejadian itu. Sekarang pembicaraan antara suami istri itu pun sudah didengarnya dengan jelas. Dia tertawa kecut sambil menarik nafas. Dengan pelan dia pergi dari sana.

Hari kedua, Lu Yue Jun menghilang tidak ada seorang pun yang tahu dia pergi kemana. Tidak lama kemudian, di dekat Lan Zhou ada sebuah kuil kecil sudah dibangun.

Di depan kuil tergantung sebuah papan nama yang besar. Papan nama itu tertulis Bai Yun An.

Sewaktu pembukaan kuil, banyak orang yang datang untuk bersembahyang dan suasana sangat ramai.

Ketua kuil itu adalah seorang perempuan yang sudah digundulkan, bernama Han Wu- niang, namanya diganti dari Xuan Qing menjadi Liu Yin.

Semua ini adalah ide yang cemerlang dan bisa mengelabui mata orang lain.

Ketua Biao Zhen Yuan, Jin Chi Da Peng, Meng Ju-zhong tiba-tiba menjadi orang Budha yang terkenal.

Rak di perpustakaannya pun ditambah dengan beberapa koleksi buku tentang Budha. Tidak ada yang tahu dia kekasih gelap Han Wu-niang dengan cara mengubah wajahnya dan bersembahyang di kuil ini.

Sebenarnya dia hanya ingin bertemu dengan Guru Liu Yin

Kuil yang sepi dan indah menjadi tempat pertemuan mereka. Akhirnya mimpi Han Wu- niang dan Meng Ju-zhong pun terkabul.

“Kakak Meng!” Han Wu-niang setengah telanjang dalam pelukan Meng Ju-zhong. Dengan lembut dia berkata, “Aku bisa mendapatkan kenikmatan. Aku merasa sudah lebih dari cukup. Aku hanya ingin bertanya, apakah kau mencintai Du Xiang-jun?”

Meng Ju-zhong ragu-ragu lalu dia berkata, “Waktu aku sedang miskin dan susah, mereka guru dan murid menolongku dan membangun kantor Biao Zhen Yuan. Aku bukan orang yang bisa melupakan budi yang sudah diberi oleh orang lain begitu saja.”

Han Wu-niang segera duduk dan berkata, “Hanya sedikit uang, kau sudah menjadi seperti itu, apa hebatnya? Aku juga bisa membantu Kakak membangun usaha yang besar.” Meng Ju-zhong tertawa dan berkata, “Wu-niang, jangan memikirkan itu lagi sebab masalah itu bukanlah hal yang mudah.”

Han Wu-niang tertawa dan berkata, “Aku sudah memikirkan jalan terbaik daripada jauh- jauh mengantarkan barang Biao dan sepanjang perjalanan penuh dengan resiko, lebih baik kita merampok barang Biao. Kakak, kita harus bisa mencari jalan pintas. ”

Suara Han Wu-niang semakin kecil, Meng Ju-zhong semakin senang mendengarnya.

Meng Ju-zhong teringat dua tahun yang lalu saat berada di Qing Lian Shan dia teringat kepada si Sempoa Besi, Shen Zhong-yuan.

Dia berkata, “Wu-niang, kata-katamu masuk akal, ada seorang pendekar di dunia persilatan, orang dari dunia hitam pun berkata seperti itu.”

Han Wu-niang terpaku dan bertanya, “Siapakah dia?”

“Dia adalah orang yang berada di Qi Lian Shan, dia dijuluki dengan Sempoa Besi, Shen Zhong-yuan. Aku mengira kita harus mengajaknya untuk bekerja sama.”

Kata Han Wu-niang, “Dia berada di sebelah barat. Kita harus mencari orang lain yang berasal dari timur. Dengan begitu kita baru bisa sukses.”

“Kalau begitu Mai Ji Shan Long, Nan San Xiong pun bisa kita ajak bekerja sama.” Pada hari kedua. Seorang biksuni muda mulai berjalan ke arah Mai Ji Shan.

Sekarang Du Xiang-jun dengan marah dan kecewa sudah meninggalkannya.

Hati Meng Ju-zhong seperti gelombang air laut dia kembali lagi dari lamunannya yang panjang, dia telah memikirkan peristiwa dulu, seperti asap timbul didepan matanya hal

yang beberapa hari lalu sudah terjadi masuk kembali ke dalam otaknya.

Dia terus berpikir mengenai Liang Yu-rong yang tiba-tiba saja menghilang, hal ini membuat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, makan pun tidak enak.

Dalam hati dia marah, “Semua orang-orangku sangat bodoh, mereka memakai uangku. Satu demi satu telah menjadi kaya, biasanya mereka adalah orang yang gagah berani, tapi sekarang sewaktu aku membutuhkan mereka, tidak ada satu pun yang bisa menjalankan tugasnya, apakah gadis ini sudah terbang ke atas langit? Peng Zhi-xiao pun tidak tahu diri, Qi Fang adalah seorang gadis dari keluarga terpandang, apakah putriku seperti pemikiran Peng Zhi-xiao begitu rendah? Dia berani menyalahkan putriku, sepertinya dia sudah tidak tidak ingin hidup lebih lama lagi! Chun Hong pun sudah mulai berubah, dia hanya meladeniku saja, sama sekali tidak ada perasaan. Apakah dia mengira aku akan menikahkan dia dengan Peng Zhi-xiao. Uang hilang, kekasih gelap pun pergi.... walaupun aku bukan Zhu Ge Liang tapi juga bukan lampu yang harus irit minyak. Dua ribu tail perak lebih baik digunakan untuk membeli rumah dan menyimpannya disana. Setiap waktu aku pun bisa kesana dan menikmatinya sendiri. Kalau dia memang benar-benar mempunyai anak, aku mempunyai cukup biaya untuk menghidupi mereka. Marga Peng itu, terpaksa dia harus. ”

Karena Meng Ju-zhong terlalu banyak pikiran, dia tertidur di kursi.

Begitu terbangun, matahari sudah berada ditengah-tengah langit. Tapi dia merasa kepalanya masih pusing. Dia ingin siang ini minum arak beberapa cangkir, sesudah itu dia ingin tidur lagi.

Tapi ada persoalan bisnis yang datang mencarinya, bagaimana pun bisnis harus tetap berjalan. Meng Ju-zhong terpaksa meladeni pelanggan. Akhirnya pelanggan itu pergi juga.

Sekarang hari semakin malam, dengan cepat dia makan malam kemudian dengan cepat memanggil Shen Zhong-yuan ke ruang rahasianya.

Shen Zhong-yuan adalah pengurus kantor Biao Zhen Yuan, dia tahu apa yang sedang dipikirkan Meng Ju-zhong. dia belum duduk tenang pembicaraan mereka sudah masuk ke inti permasalahan.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]