Sekarang sudah ada bahasa sunda dan jawa di fitur google translate, mudah-mudahan ada tambahan bahasa daerah lagi ke sistem google translate :)

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 10

Jilid 10

Biksu Huang Shi sangat baik kepadanya, apalagi sewaktu dia diusir dari Wen Dao Gong, dia sangat perhatian kepadanya. Tapi yang harus dia katakan sudah dikatakan, yang harus dipesan pun sudah disampaikan.

Tapi Xuan Qing belum pernah muncul.

Dia bersembunyi di Gui Yun Dong karena tidak mau terlihat oleh orang lain, tapi ada apa dengan Xuan Qing?

Di pikiran Meng Ju-zhong banyak pertanyaan, “Apakah dia sama sepertiku, diusir dari Qing Shui Guan? Kalau begitu lebih baik kami mencari sebuah desa lalu hidup bersama. Laki-laki ke sawah dan perempuan menenun, ini adalah cita-cita Xuan Qing. Aku pun tidak ada yang harus kupikirkan. Tapi kalau dia tahu aku berada di Gui Yun Dong, dia akan mencariku, apakah dia melupakan Gui Yun Dong? Tidak, dia tidak akan diusir dari Qing Shui Guan karena gurunya sangat sayang kepada dia. Gurunya akan mendidik dia untuk menjadi pengurus Qing Shui Guan. Shui Jing Shi Tai pasti tidak akan mengusirnya, tapi kenapa dia tidak menengokku di Gui Yun Dong? Apakah dia dikurung oleh Shui Jing Shi Tai?” pertanyaan Meng Ju-zhong begitu banyak, tapi dia tidak bisa mendapatkan jawabannya. Walaupun dia sudah berdiri di Qing Shui Guan, pikiran itu masih melekat di otaknya. Tapi melihat keadaan Qing Shui Guan membuatnya merasa kaget.

Belum malam, semua lampu sudah dimatikan, sangat gelap dan sepi, hanya jangkrik disudut tembok terus bernyanyi.

“Mengapa belum malam tapi semua sudah tidur?”

Dia berjalan ke sebuah kamar, biasanya disana adalah kamar tidur para biksuni, tapi sekarang sama sekali tidak terdengar ada suara. Dia mendorong pintu kamar, pintu pun terbuka.

Dengan bantuan sinar bulan dia melihat di dalam kamar itu kosong, hanya tertingal beberapa perabot yang kasar.

Hatinya bergetar, dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia melihat ke sekelilingnya, semua hampir sama. Sekarang Qing Shui Guan sudah menjadi kuil yang ditinggalkan.

“Mereka sudah pergi, Shui Jing Shi Tai meninggalkan semua ini apakah karena aku?”

= ooOOOoo =

Beberapa hari kemudian, di Lan Zhou kantor Biao Wen Yuan kedatangan seorang pemuda.

Walaupun bajunya compang camping dan wajah yang lesu tapi masih terlihat bahwa dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Berbadan sehat, tegap dan lincah, dia memberitahu bahwa namanya adalah Meng Ju-zhong.

Ketua Biao Yun Gou (Kait Perak) dengan ramah menerimanya. "Tidak ada musuh... Wei Yuan..."

Suara yang gagah dan tinggi berteriakan, kemudian dari kaki gunung orang itu mengeluarkan puluhan keledai dan kuda yang membawa muatan.

Di depan ada dua pasang tukang pikul. Mereka pun menunggang kuda. Dibelakang ada tiga ekor kuda yang tinggi, yang menunggang kuda itu adalah orang-orang kantor Biao.

Orang yang berada di sebelah kira-kira berumur tiga puluh tahun. Dia tinggi dan besar, dia membawa sepasang pentungan besi. Di daerah propinsi Gan Shu dia mempunyai sedikit nama. Dia bernama Zhou Ke-dong.

Yang sebelah kanan adalah seorang pemuda berusia delapan belas tahunan. Dia sangat gagah, disisi sadel tergantung sebuah pecut besi, dia bernama Lei Qi.

Diantara mereka ada seorang pemuda yang berumur dua puluh tahunan. Berwajah tampan, memakai baju biru, dia membawa pedang panjang. Dia adalah Meng Ju- zhong.

Dia masuk kantor Biao Wei Yuan sudah tiga tahun lebih, dengan bekal ilmu silat Zhui Hun Duo Ming-jian Fa yang aneh dan lihai, dia berhasil bekerja sebagai orang kantor Biao Wei Yuan.

Beberapa kali perjalanan berhasil sangat sukses. Dia pun mulai dikenal orang dan menjadi pegawai tetap kantor Biao Wei Yuan.

Kali ini dia akan mengantar 30,000 tail perak dan barang yang terbuat dan kulit ke Xi An. Karena Qing Yong-lu memiliki bisnis lain dan dia akan pergi Su Zhou, maka dia menyuruh Meng Ju-zhong menjadi penanggung jawab perjalanan kali ini. Zhou Ke- dong dan Lei Qi menjadi asistennya.

Hari itu secara kebetulan mereka melewati Shi Men Shan, di jalan tiba-tiba muncul dua ekor kuda yang berlari dengan cepat, membuat jalan menjadi berdebu.

Semua orang di kantor Biao langsung siap siaga dan mereka masing-masing dengan reflek memegang senjata. Hanya dalam waktu singkat mereka sudah mendekat dan kecepatannya tidak berkurang.

Walaupun mereka lewat tapi mata mereka tidak melihat kepada barang yang mereka bawa. Setelah lewat mereka pun tidak menoleh, hanya berlari dengan cepat.

Zhou Ke-dong yang agak berpengalaman dan dia juga lebih sering melihat, dia merasa aneh. Dia berkata, “Mereka begitu tergesa-gesa, sebenarnya ada apa?”

Kata Meng Ju-zhong, “Kakak, siapakah mereka? Ada apa? Apakah mereka akan merampok kita?”

Zhou Ke-dong menggelengkan kepala dan berkata, “Mereka adalah dua bersaudara. Di dunia persilatan mereka sangat terkenal, mereka dipanggil Ming Shan Dua Pendekar si Wajah Hijau dan Harimau Putih Yong. Ilmu silat mereka sangat tinggi. Katanya mereka sudah menjadi anggota Gunung Niao Shu si Wajah Ketawa Yan Jun Hong. Kelihatannya sasaran mereka bukan kita. Ming Shan Dua Pendekar mana mau merampok?”

Kata Meng Ju-zhong, “Tapi, bila terus melanjutkan perjalanan, di depan sana adalah Long Nan, disana paling banyak orang golongan hitam, kita harus berhati-hati.”

Kira-kira setengah jam kemudian, dibelakang ada suara kuda yang berlari. Mereka melewati mereka seperti angin membawa debu-debu tebal.

Orang-orang kantor Biao mengeluarkan keringat dingin. Begitu kuda-kuda itu lewat, tangan yang memegang senjata belum diturunkan, kali ini yang datang bukan Dua bersaudara Ming Shan, melainkan si Wajah Ketawa Yan Jun Hong.

Walaupun mereka tidak merampok, tapi Meng Ju-zhong sempat kaget. Dia berpikir, “Ini pertama kalinya aku menjadi penanggung jawab perjalanan, jangan berbuat kesalahan dan terjadi apa-apa dengan rombonganku. Kami harus dengan selamat tiba ditujuan dan berhasil mengirimkan barang ini.”

Barisan rombongan terus berjalan, gunung sudah berada dibelakang mereka. Semua orang merasa lebih tenang.

Pada sore hari mereka sudah tiba di Qi Xing Kou. Bila berhasil melewati Qi Xing Kou, mereka sudah mencapai perbatasan Shan Xi.

Qi Xing Kou adalah sebuah perbatasan, tempat ini sangat berbahaya.

Di sebelah kiri adalah jurang yang terjal, hutan yang lebat menutupi langit. Di sebelah kanan pun jurang. Di bawah jurang mengalir sungai Wei. Air sungai sangat deras seperti kuda yang lepas dari tali.

Tiba-tiba di depan kaki gunung muncul dua puluh ekor kuda. Mereka berjalan dengan pelan semakin mendekati mereka.

Tiba-tiba ada tiga ekor kuda berlari dengan kencang menghampiri rombongan. Begitu lewat, semua orang bisa melihat bahwa mereka adalah si Wajah Ketawa Yan Jun hong dan dua Bersaudara Ming Shan.

Mereka sepertinya sudah kalah bertarung karena Fan Jun tangannya terikat oleh kain dan kedua orang lainnya pun terlihat tidak karuan.

Orang-orang kantor Biao merasa aneh, mereka bertiga bukan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu silat, siapa yang berhasil memukul mereka sampai seperti itu? Tapi hanya dalam waktu singkat, sepuluh ekor lebih kuda yang berada dibelakang sudah menyusul. Setelah berada beberapa meter jaraknya dari mereka, kuda-kuda itu berhenti dan menghalangi jalan.

Zhou Ke-dong sudah tahu bahwa perampok mulai beraksi. Dia memberi hormat dan berkata, “Aku adalah Zhou Ke-dong dari Lan Zhou, kantor Biao Wei Yuan, teman-teman berasal dari golongan mana? Kami numpang jalan untuk lewat.”

Pemuda yang berkulit hitam itu tertawa dan berkata, “Kantor Biao Wei Yuan adalah teman, kami juga tidak berniat untuk merampok. Tapi hari ini saudara-saudara kami sedang tidak lancar mencari uang, terpaksa kami harus meminjam uang untuk mengganti hasil rampokan tadi yang gagal.”

Meng Ju-zhong melihat barisan sana. Yang benar-benar bisa ilmu silat sepertinya tidak terlalu banyak, yang lain hanya anak buah mereka. Dia tidak menganggapnya.

Baru saja dia ingin bertarung dengan mereka, terdengar Lei Qi berteriak, “Kakak Meng, orang yang tadi datang bertiga sedang menuju kesini.”

Begitu dia menoleh, benar saja ada tiga ekor kuda yang sudah kembali lagi. Dengan pelan mereka berjalan menghampiri mereka.

Meng Ju-zhong merasa terkejut tapi dia tetap berjalan ke depan dan berkata kepada mereka, “Apakah kalian bertiga juga ingin masuk dalam air keruh ini menangkap ikan?”

Si wajah Ketawa Yan Jun Hong jika ingin membunuh orang tidak pernah berwajah sadis, dia tertawa dan berkata, “Tidak, tidak. Long Nan San Xiong menginginkan kalian. Aku tidak berani campur tangan. Aku hanya ingin membagi sedikit keuntungan, tapi bila mereka tidak sanggup, kami tetap akan membantu.”

Meng Ju-zhong tertawa dingin, tangan kirinya memegang tali. Orangnya sudah terbang melayang, dengan jurus pedang menusuk leher Yan Jun Hong.

Yang Jun Hong tertawa terbahak-bahak segera dia mencabut penanya, mengeluarkan jurusnya, gerakannya sangat cepat. Hanya terdengar suara senjata beradu dan mengeluarkan percikan api.

Meng Ju-zhong merasa tangannya kesemutan dan pedang terjatuh. Dia ingin mengeluarkan serangannya lagi tapi si Harimau Putih, Fan Yong sudah menyerang dengan golok gergajinya. Meng Ju-zhong dengan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa segera menjemput serangan itu dan membalas. Hanya dalam waktu singkat mereka sudah beradu puluhan jurus, tiba-tiba ada yang membentak, “Berhenti!”

Meng Ju-zhong dan Fan Yong segera berhenti dan mundur beberapa langkah.

“Hai, anak muda siapa gurumu? Yang kau pakai adalah jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa, apakah kau adalah murid Kong Dong?”

Kong Dong adalah perkumpulan besar dan juga terkenal dengan jurus-jurus pedangnya. Apalagi disebelah barat laut perkumpulan Kong Dong sangat terkenal.

Biasanya orang-orang di dunia persilatan selalu takut dan juga hormat kepada perkumpulan ini. Bila terjadi sesuatu, mereka sering melepaskan orang-orang Kong Dong.

Biksu Huang Shi membiarkan Meng Ju-zhong memakai namanya walaupun dia sudah diusir oleh Kong Dong Pai. Ini semua dilakukan oleh gurunya untuk melindungi Meng Ju-zhong, bila dia berkelana didunia persilatan, dia akan merasa lebih aman, tapi Meng Ju-zhong bersifat keras, dia tidak akan memberitahu kepada si Harimau Putih bahwa dia adalah murid Biksu Huang Shi.

Dia menjawab, “Aku hanya belajar ilmu silat apa adanya, tidak ada hubungannya dengan Kong Dong Pai.”

“Kalau begitu, sudahlah.” Yan Jun Hong tertawa dan berkata, “Kalian bersaudara menyerang secara bersamaan dan musnahkan dia.”

Jurus yang dipakai oleh si Wajah Hijau adalah ilmu tongkat, meskipun tangannya terluka, tapi tongkatnya tetap bisa bermain dengan galak. Dia siap bergabung dengan saudaranya. Dua senjata dimainkan, benar-benar terlihat sangat kompak.

Ilmu Meng Ju-zhong hampir setara dengan salah satu dari kedua orang itu. Sekarang dua lawan satu, dengan waktu yang cepat mereka sudah menyerang Meng Ju-zhong, membuat dia menjadi kalang kabut.

Pada waktu itu juga di barisan pembawa barang terjadi keributan. Zhou Ke-dong dan Lei Qi sedang bertarung dengan para perampok itu.

Ketiga perampok itu walaupun mereka masih muda tapi ilmu silat mereka tinggi. Walaupun Zhou Ke-dong dan Lei Qi memiliki ilmu silat yang lumayan tapi dengan jumlah yang sedikit melawan jumlah banyak tetap akan susah menang. Semua orang disana melihat mereka bertarung, dalam suasana kacau itu mereka sudah masuk kedalam barisan pembawa barang, tukang pikul yang melihat keadaan seperti itu, segera melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

Para perampok itu tidak mengejar, mereka membawa barang rampokan itu ke sebuah jalan bercabang.

Meng Ju-zhong melihat barang bawaannya dirampok, karena tidak berkonsentrasi terhadap pertarungannya, dia tersapu oleh tongkat, karena merasa sakit akhirnya dia mundur beberapa langkah.

Fan Yong yang melihat ada kesempatan, dengan golok gergajinya langsung menyerang, karena terdesak Meng Ju-zhong melepaskankan pedangnya sebagai senjata rahasia, tampak sebuah kilauan menusuk kedada lawan.

Fan Jun dengan tongkatnya menyerang ke arah Meng Ju-zhong, karena sekarang di tangannya sama sekali tidak ada senjata, dia tidak bisa menahan serangan Fan Jun yang begitu kuat, dia terkejut, tubuhnya pun berputar.

Beberapa meter darinya adalah sebuah jurang dan dasar jurang itu adalah sebuah sungai yang deras.

Begitu Meng Ju-zhong melihat situasi seperti ini, dia tidak bisa menghentikan laju tubuhnya, dia terguling kebawah dan merasakan badannya sakit, dia terjun seperti sebuah bintang jatuh, dia hanya berpikir, “Kali ini aku pasti akan mati.”

Dia mendengar ada sesuatu yang berbunyi, setelah itu dia pingsan. Matahari sudah terbenam, malam akan segera tiba...

Meng Ju-zhong mulai tersadar, ternyata dia tersangkut di sebuah pohon cemara yang tumbuh di sisi jurang, dia melihat ke bawah, dia langsung terlonjak kaget, karena beberapa puluh meter di bawahnya adalah Sungai Wei yang arusnya deras dan bergelombang, bila dia terjatuh ke bawah badannya pasti akan langsung hancur lebur.

Angin berhembus dari hutan, dia harus segera meninggalkan tempat itu, dia menengadah ke atas dan melihat ada rotan yang tumbuh di dekat sana dan dapat dijadikan tali untuk memanjat ke atas, ujung tali itu membelit pohon cemara tempatnya tersangkut. Dengan menahan sakit dia mencoba memanjat naik keatas jurang. Walaupun hanya sebentar, tapi Meng Ju-zhong merasa dia sudah melewati waktu berjam-jam dan akhirnya dia berhasil mencapai mulut jurang.

Di kegelapan malam dia bisa melihat sisa pertempuran siang tadi, dia dapat melihatnya dengan jelas.

Beruntung dia tidak melihat mayat yang bergelimpangan di sana, dia merasa tenang. Akhirnya dia menemukan pedangnya kemudian memungutnya. Lalu dia mengikuti jalan menuju tempat tadi.

Sekarang dia harus berbuat bagaimana? Dia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa? Apakah dia harus kembali ke Lan Zhou?

Barang dan uang yang dibawanya dari Lan Zhou, sudah dijarah oleh para perampok tadi, apakah dia bisa mengganti semua kerugian yang telah terjadi?

Bila dia tidak kembali, bagaimana harga dirinya sebagai laki-laki sejati untuk mempertanggung jawabkan semua ini di depan dunia persilatan?

Dia terdiam lama dan tampak ragu, akhirnya dia memutuskan untuk mencari sebuah tempat dan menginap, hal lainnya akan dia pikirkan esok hari. Tapi jalan yang dia lewati sepanjang puluhan kilometer, tidak terlihat desa atau pun penginapan.

Sekarang perutnya mulai keroncongan, seluruh tubuhnya terasa sakit, dia harus menempuh perjalanan yang jauh, apakah dia kuat menanggung semua ini? Tapi bila dia tidak menjalankannya, bagaimana dia melewati kehidupan ini?

Sudah setengah jam lebih, malam akan semakin larut. Dia melihat di kejauhan ada sebuah kuil. Dia langsung merasa senang, segera dia berlari mendekati kuil itu.

Ternyata itu adalah sebuah kuil tua, patung-patung dewa yang berada di dalam kuil itu, seperti sedang menertawakan manusia-manusia yang kesakitan, tidak terlihat wajah yang ramah atau baik hati.

Patung dewa itu pun sudah terkelupas, malah ada sebagian yang sudah hancur. Di sayap kanan kuil ada sebuah kamar, sepertinya dulu adalah kamar para biksu atau biksuni.

Di sayap kiri kuil adalah tempat untuk menyimpan kayu bakar, tapi pintu dan jendela sudah tidak ada. Meng Ju-zhong merasa nasibnya begitu sial, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ada sebuah kuil tua tempat untuk bernaung sementara ini keadaaannya lebih baik dibandingkan bila dia harus tidur di tempat terbuka.

Untung dia masih memiliki persediaan daging asin dan makanan kering. Walaupun tidak ada air minum, tapi itu sudah cukup mengisi perutnya yang kelaparan.

Di sudut tampak sisa tumpukan kayu bakar, dia berbaring disana, setelah perut kenyang dia bisa tidur.

Matahari pagi bersinar masuk melalui jendela, Meng Ju-zhong terbangun, dia merasa seluruh tubuhnya terasa sakit, dia merasa malas untuk bangun.

Semua barang bawaannya hilang, yang merampok mereka adalah komplotan si Wajah Tertawa Yan Jun Hong.

Dalam radius puluhan kilometer ini, mereka tidak akan berani membawa hasil jarahannya, mereka bukan orang bodoh, apalagi Yan Jun Hong pernah menyinggung akan membagi hasil dengan rata.

Walaupun orang golongan hitan adalah orang-orang yang galak dan sadis, tapi mereka tidak pernah melanggar kata-kata mereka sendiri.

Siapa mereka itu? Barang yang diantar ke tempat tujuan semua menghilang, siapakah mereka? Dia tidak bisa menemukan jawabannya, ini benar-benar keterlaluan....

Dia berusaha berdiri, lalu duduk bersila dan mulai mengatur nafasnya, sekarang dia merasakan tubuhnya tidak terlalu sakit, dia pun keluar dari pintu kuil.

Mata terasa silau.

Di bawah sinar matahari pagi, di halaman kuil tampak sebuah kereta beratap, tirai kereta terbuat dari kain wol berwarna ungu, tutup kereta itu pun berwarna ungu tua.

Kereta pun dicat dengan warna ungu, Tampak dua ekor kuda yang diikat di bawah pohon juga berwarna ungu. Sama sekali tidak terlihat warna lain, sadel dan lonceng di kepala kuda pun berwarna ungu.

Meng Ju-zhong merasa terkejut, “Dari mana datangnya orang kaya ini? Semuanya terlihat begitu mewah. Sepertinya pemiliknya adalah perempuan yang menyukai warna ungu ” Entah mengapa secara sembunyi-sembunyi dia berjalan menghampiri kereta itu, mungkin karena Meng Ju-zhong merasa aneh, dengan perlahan dia membuka tirai kereta...

Bagian dalam kereta terlihat mewah, ada dua buah tempat duduk, masing-masing tempat duduk ada dua buah bantal duduk yang berwarna ungu....

Sorot mata menyelidik segera berhenti, karena di tempat untuk meletakkan kaki tergeletak sepuluh atau mungkin dua puluh tail lebih uang emas. Berat tiap tail uang emas itu pasti ada beberapa gram.

Uang yang berwarna kuning bisa membuat mata orang menjadi silau, pikiran jahatnya segera timbul.

“Aku tidak akan mengambil banyak, aku hanya akan mengambil lima tail saja, itu sudah cukup untuk mengganti kerugian yang sudah aku hilangkan. Orang kaya selalu malas, mungkin saat ini mereka belum bangun, tapi walaupun aku ketahuan oleh mereka aku pun tidak akan takut.”

Walaupun dia mengatakan dia tidak takut, tapi dia tetap melihat sekelilingnya dengan waspada, kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengambil uang emas itu, lalu dia membalikkan badan bersiap-siap akan pergi dari sana.

Tapi baru saja dia maju selangkah, terdengar ada suara merdu tapi dingin, “Bila kau masih

ingin hidup, kembalikan uang itu!”

Suara itu tidak terlalu besar tapi sangat jelas, seperti berada di sisi telinganya.

Dia terkejut kemudian membalikkan badan untuk mencari orang itu, tapi tidak terlihat siapa pun disana.

Dalam hati dia berpikir, “Mungkin aku sudah salah dengar. Mana orangnya?”

Dia tampak ragu, tapi dia segera lari, terlihat ada angin yang berkelebat, tampak bayangan ungu seperti seekor burung besar terbang melewati kepalanya kemudian turun dan menghadang jalan Meng Ju-zhong.

Ternyata dia seorang perempuan dan berbaju ungu, tutup kepalanya pun berwarna ungu. Walaupun cantik tapi dia terlihat gagah. Orang itu secantik Mei Hua tapi dingin seperti bunga crysan yang terkena salju. Kedua matanya bersinar terang. Dia benar-benar sangat gagah. Bila dia bersuara membuat orang terkejut.

Dia bertanya, “Apakah kau begitu menyukai uang itu? Aku akan memberikannya kepadamu. Telan uang itu!”

Meng Ju-zhong hanya bengong, walaupun dia merasa tidak enak, tapi dia masih bisa tertawa dan berkata, “Nona, aku sangat menyesal, aku pun terpaksa meminjam dulu uang ini kepadamu, aku minta maaf karena telah bersalah kepadamu.”

Kata-katanya belum selesai, melihat lawannya tidak siap dia sudah mengeluarkan pedangnya. Jurus-jurusnya tampak lihai mengeluarkan cahaya, membuat mata menjadi silau.

Gadis itu terkejut dan berusaha menghindar.

Meng Ju-zhong tidak menyerang gadis itu, dia hanya ingin membuat gadis itu takut sehingga dia bisa melarikan diri.

Pada saat dia melihat gadis itu berusaha menghindar, sesuai dengan keinginannya, dia membuat cahaya pedang di sekeliling tubuhnya, kemudian dengan cepat dia turun dari gunung.

Tapi terlihat ada bayangan seseorang datang yang berusaha menghalangi jalannya, karena Meng Ju-zhong terburu-buru, dia tidak bisa menghentikan laju tubuhnya, dia hanpir menabrak dan masuk ke dalam pelukan orang itu.

Dia melihat orang itu adalah seorang nyonya tua yang berusia sekitar empat puluh tahunan. Dia memliki wajah yang sabar dan baik hati, tapi masih terlihat kegagahan dan keberaniannya. Hal ini membuat Meng Ju-zhong tidak berani menatapnya.

Meng Ju-zhong sadar bahwa dia sudah bertemu dengan seorang pesilat tangguh dengan kemampuan ilmu silatnya, mencoba pun sepertinya akan sia-sia saja.

Segera dia menyimpan pedangnya di belakang, kemudian dia memberi hormat, “Aku terpaksa melakukannya, karena aku tidak mempunyai jalan keluar lainnya.”

Nyonya itu menjawab dengan dingin, “Bocah, kelihatannya kau pintar dan baik, aku ingin bertanya kepadamu, kau murid Kong Dong generasi keberapa?” “Aku berkelana di dunia persilatan seorang diri, tidak ada hubungannya dengan Kong Dong Pai.”

Nyonya itu tertawa dan berkata, “Tapi ada beberapa jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa. kau memiliki dasar cukup kuat, kau bisa membuat muridku mundur, kalau kau bukan murid Kong Dong, mengapa ilmu pedangmu begitu bagus? Jujurlah bicara, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun.”

“Tetua, aku hanya bisa beberapa jurus ilmu pedang, aku tidak tahu apa yang disebut dengan Zhui Hun Duo Ming-jian Fa.”

“Apakah perkataanmu benar?”

Nyonya itu segera mengeluarkan jurus, dengan jarinya sebagai pengganti pedang, dia langsung menusuk ke dagu Meng Ju-zhong.

Melihat musuh yang menyerang dengan tiba-tiba, dengan cepat dia menahan serangan itu, jurus yang dia gunakan adalah Zhui Hun Duo Ming-jian Da pada bagian Jaksa Membalikkan Buku.

Dia tahu bahwa nyonya tua itu sedang mencoba kemampuan ilmu silatnya, dia segera memutuskan untuk menggunakan ilmu lain, walaupun itu bukan jurus Zhui Hun Duo Ming-jian Fa, tapi jurus itu tetap sangat dasyat.

Karena jurus itu begitu tiba-tiba, nyonya itu tidak menyangka akan diserang, dia terpukul mundur setengah langkah, dia tertawa, “Bocah ini benar-benar lincah dan pintar, dari mana dia belajar jurus pedang yang begitu aneh?”

Meng Ju-zhong tertawa di dalam hati, dia berkata, “Sejak kecil aku sudah kehilangan orang tua, aku ikut dengan guru-guru yang menjual jasa dengan menggunakan ilmu silatnya sepanjang kami berkelana, aku belajar dari mereka, harap Nyonya jangan menertawakan kemampuanku ini.”

Nyonya itu tampak berpikir sebentar lalu berkata, “Hari ini aku sedang gembira, aku akan memaafkanmu, tadi kau mengatakan karena terpaksa dan karena keadaan maka kau mencuri, apa maksudmu? Katakan dengan jelas, bila alasanmu masuk akal, aku, La-shou Guan-yin (Dewi Guan Yin Tangan Pedas) akan melepaskanmu, mungkin malah bisa membantumu.”

Hati Meng Ju-zhong bergejolak, dalam hati dia berpikir, “La-shou Guan-yin adalah julukan yang menusuk telinga, mengapa aku tidak tahu di dunia persilatan ada orang seperti itu?” Tadi dia sudah melihat kemampuan silat guru dan murid ini, melihat nyonya tua itu memiliki sifat seorang pendekar, dia tahu bila mereka ingin mencelakakannya, dia tidak akan sanggup membalas, dia tampak ragu, tapi dia tetap menceritakan kejadian kemarin pada waktu barangnya dijarah, terakhir dia berkata lagi, “Sudah lama aku tidak mempunyai pekerjaan, dengan susah payah aku baru menemukan pekerjaan ini, bila sekarang aku sudah menghilangkan begitu banyak barang, aku akan kehilangan pekerjaan dan aku akan kelaparan lagi dan juga ”

Perempuan yang berbaju ungu itu berkata, “Yang kau ceritakan tadi adalah si Wajah Tertawa Yan Jun Hong yang merampokmu, apakah salah satu dari mereka berwajah hitam, mereka adalah perampok.”

“Benar, mengapa Nona bisa tahu?” tanya Meng Ju-zhong.

Nona itu tidak menjawab, dia berkata kepada gurunya, “Guru, yang dia maksud adalah Hei Hu dan Wang Kuai.”

“Benar,” kata La-shou Guan-yin, dia berkata, “Nona Jiu, aku lihat pemuda ini patut untuk dikasihani, bantulah dia mencari barangnya yang sudah dirampok, mintalah kembali kepada mereka, dan kembalikan kepadanya.”

Wajah nona itu memerah dan berkata, “Aku akan menuruti pesan Guru.”

“Baiklah,” kata La-shou Guan-yin kepada Meng Ju-zhong, “Apakah kau tahu Mai Ji Shan?”

Meng Ju-zhong mengangguk.

Kemudian La-shou Guan-yin berkata, “Kami akan kesana dulu untuk meminta barangmu kembali, setelah itu kau baru menyusul kesana.”

Kereta beratap sudah disiapkan.

Kusirnya adalah seorang perempuan setengah baya, hanya terlihat pecut yang dimainkan. Kereta pun berlari dengan cepat.

Walaupun ilmu meringankan tubuh Meng Ju-zhong cukup tinggi, tapi langkah kedua kakinya tetap akan kalah dari lari empat ekor kuda, apalagi saat ini tubuhnya masih terasa sakit, dia tidak bisa berlari dengan cepat.

Dia hanya bisa melihat kereta ungu itu menghilang dibawah kaki gunung. Pada siang hari.

Meng Ju-zhong baru sampai ke Yuan Yang Chen (nama kota). Setelah berjalan ratusan kilometer, membuat dia merasa sangat lelah dan keringat sudah bercucuran.

Dia melihat di luar kota banyak terdapat puluhan keledai berikut barang yang sedang berhenti disana. Ada dua puluh orang lebih sedang mengurus keledai itu.

Terlihat ada kereta yang beratap penuh dengan warna ungu. Karena senang, kakinya berlari semakin cepat.

“Kakak Meng, kau ” Yang menyambut dia adalah Lei Qi.

Dia ingin berkata, tapi melihat keadaan mereka, segera dia mengganti pertanyaan, “ apakah kita hanya kebetulan bertemu?”

Meng Ju-zhong berhenti melangkah dan berkata, “Apakah semua orang baik-baik saja?”

Kebiasaan orang golongan hitam merampok, mereka berusaha tidak melukai orang- orangnya, lebih-lebih berusaha tidak melukai para kuli.

Kali ini kedua belah pihak kekuatannya tidak seimbang tapi orang kantor Biao Wei Yuan tidak ada seorang pun yang terluka.

Zhou Ke-dong berjalan menghampirinya dan berkata, “Adik Meng, darimana kau berhasil mengundang dua orang yang begitu lihai? Pagi tadi di kota kami bertemu dengannya, dia tahu kami adalah orang kantor Biao Wei Yuan. Dia menyuruh kami menunggu disini. Belum dua jam lewat, barang yang dirampok sudah dikembalikan dengan utuh. Kau benar-benar hebat!”

Meng Ju-zhong tidak memberitahu bahwa dia mencuri emas, dia hanya berkata mengenai hal lainnya, dia langsung berjalan menghampiri kereta ungu itu, untuk bertemu dengan La-shou Guan-yin.

Terlihat dia sedang tertawa dan berdiri disisi kereta.

Meng Ju-zhong segera menghampiri dan berkata, “Aku, Meng Ju-zhong telah dibantu oleh Tetua telah berhasil mengambil kembali uang dan barang yang hilang, budi besar ini akan kubalas. Walaupun ilmu silatku sangat terbatas tapi seumur hidup aku bersedia akan menjadi pelayan Tetua, kemana pun atau apa pun yang diperintahkan, pasti akan kukerjakan!”

La-shou Guan-yin hanya tersenyum dan berkata, “Dengan kau yang hanya mempunyai kemampuan seperti itu, seumur hidup pun tidak akan bisa membantuku. Peristiwa ini hanya kebetulan dan berjodoh, kau tidak perlu merasa sungkan.”

Wajah Meng Ju-zhong memerah dan berkata, “Apakah Tetua bisa memberitahu nama Tetua, seumur hidup aku akan selalu mengingatnya.”

“Sudahlah!” kata La-shou Guan-yin. Kemudian dia berkata, “Anak Jun, mari kita pergi untuk makan.”

Dia membalikkan kepala terlihat di leher belakangnya ada tanda berwarna hijau sebesar ibu jari dan berbentuk agak panjang. Dia ragu sebentar tapi tetap menarik lengan baju perempuan itu.

Meng Ju-zhong baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba mendengar ada suara langkah. Dia menoleh, ternyata perempuan itu kembali lagi.

Tangannya membawa kain ungu bergambar phoenix, sebesar telapak tangan. Gambar Phoenix itu seperti terbang, benar-benar sangat indah.

Meng Ju-zhong merasa aneh, gadis itu tertawa dan berkata, “Kali ini kalian akan pergi ke Xi An, sepanjang jalan sangat berbahaya. Hanya memakai bendera Wei Yuan saja kurang cukup. Pasanglah tanda ini di tiang benderamu, mungkin ini bisa menjamin perjalanan kalian akan aman. Kalau kalian sudah pulang ke Lan Zhou, aku akan mengambilnya kembali.”

“Terima kasih atas kebaikan Nona.”

Meng Ju-zhong membawa bendera Phoenix berwarna ungu yang terbuat dari kain wol. Melihat gadis itu pergi, hatinya terasa kosong.

Terlihat gadis itu berjalan tidak terlalu jauh, dia masih membalikkan badan untuk melihatnya. Empat mata saling beradu pandang, wajah gadis itu memerah, hati Meng Ju-zhong pun bergetar dan dia terpaku.

Zhou Ke-dong berjalan mendekatinya dan berteriak, “Adik Meng, kita harus beres-beres dan bersiap-siap untuk berangkat.” Dia melihat tangan Meng Ju-zhong membawa sehelai bendera Phoenix berwarna ungu dan bertanya, “Adik, itu barang apa?” Meng Ju-zhong berkata, “Ini adalah pinjaman dari nona tadi. Katanya dengan benda ini sepanjang perjalanan kita pasti akan aman dan tidak mengalami hambatan, apakah betul atau tidak?”

Zhou Ke-dong berpikir sebentar dan berkata, “Pengalamanku belum terlalu banyak, mungkin mereka berdua adalah orang Zi Feng yang terkenal di dunia persilatan, tapi di dunia persilatan banyak hal aneh, lebih baik kita percaya saja dari pada tidak. Turutilah kata-kata mereka, bendera Phoenix ungu dipasang diatas bendera Wei Yuan mungkin akan ada gunanya.”

Barisan pun mulai bergerak.

Sekarang yang tidak sama adalah di atas bendera Wei Yuan telah bertambah dengan bendera kecil Zi Feng. Kelihatannya sangat aneh. Kuli-kuli dan orang-orang disana ingin tertawa tapi tidak ada seorang pun yang berani bicara.

Malam ini mereka akan menginap di kota Bao Ji. Seharian tidak terjadi apa-apa. Hari kedua mulai mereka berjalan lagi.

Hari sudah siang, udara semakin panas untungnya angin yang berasal dari sungai terbawa sedikit dan terasa lembab sehingga mengurangi panasnya udara siang itu.

Tiba-tiba dari atas sungai datang empat buah perahu beratap. Karena menelusuri arus air, mereka berjalan sangat cepat. Setelah dekat, dua perahu itu melemparkan jangkar, dua perahu lainnya meneruskan perjalanan mereka.

Karena barisan belakang hanya berjalan dengan cepat agar cepat sampai di tempat tujuan, mereka tidak memperhatikan hal ini. Kemudian kedua perahu itu mendekati darat dan masuk ke balik pepohonan setinggi orang.

Tiba-tiba ada suara peluit yang berbunyi, segera dari semak-semak muncul puluhan laki-laki berbadan tegap.

Yang memimpin adalah seorang yang tinggi dan besar. Wajahnya penuh dengan jambang, pundaknya membawa sebuah dayung.

Dia berkata, “Teman-teman, di depan sudah tidak ada jalan lagi, bila ingin lewat harus mengeluarkan uang jalan.”

Zhou Ke-dong sudah beberapa kali melewati Guan Zhong, dia sudah tahu di sungai Wei banyak perompak. Dia melihat wajah orang yang galak, dayungnya yang hitam dan mengkilap. Itu adalah dayung yang terbuat dari besi. Dia segera maju ke depan dan berkata, “Apakah Kakak adalah Pendekar Chao? Aku adalah Zhou Ke-dong dari Lan Zhou, dari kantor Biao Wei Yuan. Kami membawa barang Biao dan lewat kesini, belum sempat mengunjungi rumah Kakak, kami mohon maaf!”

Chao Yong Rui dengan dingin berkata, “Tidak perlu begitu, aku hanya kenal uang. Bila kalian tidak mengerti, kami akan mengambil barangnya!”

“Tunggu!” kata seorang laki-laki tinggi kurus seperti orang yang baru sembuh dari sakit. Tapi matanya terlihat sangat bersemangat. Dia adalah Wei Shui pelayan Jin Yu.

Dia mendekat Chao Yong Rui dan berkata, “Adik, aku lihat keledai yang berada di paling depan, di atas bendera mereka masih ada bendera Zi Feng. Kita jangan berbuat ceroboh. Coba kau lihat dulu kesana!”

Mereka berdua berjalan ke depan, sekarang mereka sudah melihat dengan jelas.

Chou Yong Rui menghela nafas dan berkata, “Mengapa kantor Biao Wei Yuan memiliki bendera Zi Feng?”

Jin Yu tertawa dan berkata, “Kurang ajar, apakah Hua Shan Zi Feng memberikan bendera ini untuk mereka permainkan? Kakak, kita perlu uang, tapi nyawa kita lebih berharga. Aku rasa, lebih baik kita pergi saja.”

Chao Yong Rui ragu kemudian dia berkata, “Aku setuju dengan kata-kata Kakak.”

Jin Yu berteriak, “Hai teman-teman, tolong sampaikan kepada Hua Shan Zi Feng, Pendekar Lu, titip salam dari Wei Shui Yu Shao (Pemimpin Nelayan Wei Shui = nama sungai).”

Kemudian terdengar lagi dua buah suara peluit yang berbunyi, Wei Shui Yu Shao terburu-buru naik ke atas perahu dan pergi.

Lei Qi berada dibelakang. Dia tahu ada puluhan laki-laki naik ke jalan untuk menghadang jalan mereka, tapi sekarang terlihat para penjahat itu mundur lagi, dia merasa aneh, dia bertanya, “Kenapa penjahat-penjahat ini mundur dengan sendirinya?”

Zhou Ke-dong tertawa kecut dan berkata, “Sudah lama aku mendengar kekejaman Wei Shui Yu Shao. Hari ini puluhan nyawa mungkin sudah tertolong oleh bendera kecil Phoenix ungu ini.”

Lei Qi menjadi terkejut, Meng Ju-zhong pun demikian. = ooOOOoo =

Beberapa hari kemudian ketika Meng Ju-zhong sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ada suara orang berteriak, “Apakah kau adalah Meng Ju-zhong?”

Begitu Meng Ju-zhong melihat, dia segera mengenal perempuan yang bertanya adalah kusir La-shou Guan-yin.

Dia segera berkata, “Aku adalah Meng Ju-zhong, apakah nyonyamu sudah berada di Lan Zhou?”

Perempuan itu menjawab, “Benar, aku diperintahkan oleh nyonyaku untuk mengundang Tuan Meng!”

Begitu pulang dari Xi An, Meng Ju-zhong sudah tahu La-shou Guan-yin dalam beberapa hari ini pasti akan meminta kembali bendera Zi Feng, karenanya bendera itu dia selalu membawa di balik bajunya.

Dia berkata, “Bendera Zi Feng selalu kubawa, aku ingin mengembalikannya sendiri dan juga ingin mengucapkan terima kasih. Silakan Anda membawa jalan!”

Di penginapan Wan Yuan.

La-shou Guan-yin sedang duduk di sebuah kursi besar. Tangannya memegang cangkir dan dia sedang minum teh dengan nikmat, berkali-kali dia minum, dia baru sadar cangkir itu sudah kosong.

Dia tertawa sendiri kemudian cangkir itu diisinya oleh air teh tapi dia malah lupa untuk minum.

Sudah beberapa hari ini, selalu terpikirkan olehnya    “Menghitung hari, seharusnya dia

sudah pulang. Ada bendera Zi Feng, di jalan dia pasti tidak akan apa-apa. Tapi apakah orang itu benar-benar 'dia'? mungkin tidak salah kecuali tanda lahir yang berwarna hijau itu. Umurnya pun cocok dan sesudah tiba di Lan Zhou, aku sudah mencari informasi bahwa dia seorang yatim piatu.... Waktu itu dia dipungut oleh seorang biksu tapi kemudian guru pernah membantuku mencari di beberapa propinsi, tapi tidak ada jejaknya. Mengapa sekarang tiba-tiba dia muncul.... Melihat ilmu silatnya, dia menguasai jurus-jurus ilmu Kong Dong Pai. Kalau bukan sejak kecil dia berada di Wen Dao Gong, mengapa dia bisa menguasai Zhui Hun Duo Ming-jian Fa dengan lancar? Tapi guru sudah beberapa kali mengunjungi Biksu Guang Mu. Guru Guang Mu selalu membantah bahwa dia pernah memungut seorang bayi dan pemuda ini pun menutupi asal usul ilmu yang dipakainya.  Apakah ada sesuatu yang tidak beres  dan harus ditutupi? Tapi anak Jun sangat mencintainya, mengapa tidak sekalian kujodohkan mereka? Aku tidak percaya aku tidak bisa mencari identitasnya! Tapi. ”

Tiba-tiba dia mendengar ada suara langkah orang. Kemudian ada yang berkata, “Nyonya, Meng Ju-zhong dari kantor Biao Wei Yuan ingin mengunjungimu.”

Meng Ju-zhong masuk, tapi La-shou Guan-yin tidak berdiri. Dia dengan dingin berkata, “Apakah Meng Ju-zhong sudah datang, duduklah!”

“Terima kasih, di tempat Tetua tidak ada tempat untuk hamba,” Meng Ju-zhong membungkukkan badan memberi hormat. Dia berkata lagi, “Aku dibantu oleh Tetua dan murid Tetua, budi ini tidak bisa kuungkapkan dengan bahasa. Aku hanya bisa membalasnya dengan memberi penghormatan.”

Dia melihat gadis itu tidak berada disana, entah mengapa hatinya menjadi bimbang. Dengan kedua tangannya, dia mengembalikan bendera Zi Feng dan berkata, “Nama Tetua dan muridmu benar-benar sangat terkenal. Aku sudah dibantu oleh bendera ini, dengan selamat kami bisa kembali ke Lan Zhou. Sekarang dengan utuh kukembalikan Zi Feng ini kepada Anda.”

La-shou Guan-yin berpikir sebentar, kemudian dia berkata, “Simpanlah dulu bendera ini padamu.”

Meng Ju-zhong menjadi bengong juga merasa kaget.

Kemudian Lu Yue-juan berkata lagi, “Duduklah, ada yang ingin kutanyakan.” Meng Ju-zhong berkata, “Terima kasih.” Dan dia pun duduk.

Tiba-tiba kedua mata Lu Shou Guan Yin menatapnya. Dia melihat wajah Meng Ju- zhong dan berkata, “Guru Meng, waktu itu kau pernah berkata bahwa sejak kecil kau sudah tidak mempunyai orang tua, sebenarnya kau bermarga apa? Dan di rumah apakah masih mempunyai keluarga?”

Meng Ju-zhong bengong lagi, dia ragu tapi tetap menjawab, “Aku adalah orang Jing Zhou. Waktu aku berumur sembilan tahun, orang tuaku meninggal terkena wabah. Di rumah tidak ada siapa-siapa lagi.”

“Sekarang berapa umurmu?” “Aku berusia 22 tahun.” Hati Lu Yue-juan bergetar dan menghela nafas, “Kau menjadi pegawai Biao sudah dua tahun lebih, apakah kau sudah menikah?”

Meng Ju-zhong teringat Gui Yun Dong di gunung Kong Dong.

Di Gui Yun Dong di kantor Biao, dia memiliki posisi sangat penting dan diperhatikan,

dia belum berkeluarga karena masih teringat kepada Xuan Qing yang terus melekat di benaknya.

Hari berganti hari, sekarang entah dia berada dimana? Dia sedang berpikir, tiba-tiba dibentak oleh La-shou Guan-yin dengan suara yang keras, “Apakah kau tidak mendengar kata-kataku!”

Meng Ju-zhong terpaku kemudian berkata, “Aku hidup sendiri, tidak memiliki apa pun, mana berani aku memikirkan ingin hidup berumah tangga?”

Dia mednengar La Shao Guan Yin berkata dengan dingin, “Sekarang bila ada seorang perempuan, dia tidak melihat keuanganmu, apakah kau mau menikah dengannya?”

Perjodohan seperti ini jarang ada dan jarang terdengar.

Meng Ju-zhong ragu sebentar, dia tahu apa yang akan terjadi bila dia menolaknya, tapi dia tetap menjawab dengan ragu, “Siapa orang yang dimaksud oleh Tetua itu?”

“Aku bertanya kepadamu, jawabannya hanya mau atau tidak!” kata La-shou Guan-yin dengan dingin dan juga keras.

Meng Ju-zhong berpikir sebentar dan berkata, “Tetua, aku mau menerima kebaikan Tetua, guru dan murid berat seperti Gunung Tai (Taysan), seumur hidup aku tidak bisa membalas kebaikan Tetua tapi pernikahan bukanlah hal yang mudah. Bila Tetua tidak memberitahukan marga dan bagaimana gadis itu, aku tidak bisa menjawabnya.”

La-shou Guan-yin menarik nafas dan berkata, “Yang aku maksud adalah muridku.”

Meng Ju-zhong merasa senang, dia berusaha menahan getaran hatinya dan berkata, “Aku sudah menerima budi dari Tetua, tapi aku tidak tahu bahwa Tetua ”

La-shou Guan-yin tertawa dan berkata, “Jujur bicara, aku bermarga Lu, aku adalah murid Hua Shan. Aku dijuluki La-shou Guan-yin sebenarnya aku tidak bisa menyerupai Dewi Guan Yin. Bila julukan La Shou (tangan pedas, telengas), aku harus lihat terhadap siapa aku harus melakukannya?” Kemudian dia berkata lagi, “Muridku bermarga Du, bernama Xiang-jun, teman-teman memanggilnya dengan sebutan Hua Shan Zi Feng (Phoenix Ungu dari Hua Shan). Bendera yang kau pegang tadi adalah cirinya menempuh perjalanan di dunia persilatan. Ai.... hampir berusia dua puluh tahun, muridku banyak mengenal orang tapi selalu merasa tidak cocok, sekarang dia menyukaimu dan dia menyuruhku agar menjodohkannya dengan dirimu. Aku bukan mak comblang tapi aku akan berusaha, apakah ”

Sesosok bayangan cantik tiba-tiba muncul ke dalam pikirannya, membuat bayangan Han Wu-niang tergeser.

Tawa dan gerakannya membuat hati orang bergetar, apalagi dia.... Meng Ju-zhong menjadi terpesona. Dia tenggelam dalam khayalannya, apa yang dikatakan Lu Yue Jun tidak didengarnya lagi.

“Hai, ada apa denganmu?” tanya Lu Yue-juan.

Meng Ju-zhong terpaku, dengan cepat dia berkata, “Muridmu begitu cantik, ilmu silatnya pun tinggi, aku ”

Lu Yue-juan tertawa, walaupun dia tertawa tapi wajahnya tidak terlihat tertawa. Dia berkata, “Mungkin ini adalah jodohmu dari kehidupan sebelumnya. Aku mengakuinya, kau tidak perlu berpura-pura. Jujur bicara, muridku dijodohkan denganmu, itu masih lebih dari cukup, hal ini sudah ditetapkan tapi aku tidak mau muridku menjadi istri seperti pelayan. Kau harus memiliki pekerjaan yang mantap. Kau dirikan dulu sebuah kantor Biao, baru akan kuijinkan kau menikah dengannya. Bila muridku hidup bahagia, wajahku pun akan merasa terang.”

Tadinya Meng Ju-zhong merasa senang, sekarang dia merasa sedih. Dia berkata, “Tetua Lu, aku baru menjadi guru di sebuah Biao selama dua tahun ini. Gajiku kecuali untuk makan sudah tidak tersisa seberapa.”

Lu Yue-juan berkata, “Aku hanya bertanya apakah kau mempunyai keinginan seperti itu?”

“Aku selalu mempunyai keinginan seperti itu, benar-benar sangat menginginkannya.”

Kata Lu Yue-juan, “Itu sudah cukup, hal lainnya seperti uang, aku memiliki sedikit simpanan. Bila ingin mendirikan sebuah kantor Biao itu lebih dari cukup ”

Ini adalah persoalan penting di dunia persilatan Lan Zhou. Meng Ju-zhong mendapatkan kegembiraan ganda. = ooOOOoo =

Meng Ju-zhong kemudian menikah dengan Hua Shan Zi Feng dan membuka kantor Biao Zhen Yuan. Orang-orang terkenal di Lan Zhou datang memberi selamat kepadanya. Pesta berlangsung selama tiga hari tiga malam, tamu-tamu terus berdatangan.

Bendera Zhen Yuan berwarna krem, ditengah-tengah bendera itu terdapat sulaman burung Phoenix berwarna ungu. Phoenix itu seperti ingin terbang... orang dunia persilatan menyebutnya dengan sebutan bendera Zi Feng.

Kakak angkat Meng Ju-zhong, Zhou Ke-dong dan Lei Qi keluar dari kantor Biao Wei Yuan dan mereka bekerja membantu kantor Biao Zhen Yuan.

= ooOOOoo =

Dari jauh sudah terlihat puluhan gunung es yang tinggi seperti menusuk ke atas langit.

Disini adalah daerah Ming Shan. Sebuah lembah panjang. Dikeliling oleh pohon dan rumput yang sangat hijau, bunga-bunga liar begitu indah.

Di jalan ada barisan orang. Di depan terdapat para kuli dan di belakang ada beberapa guru Biao mengikuti mereka. Mereka menunggang kuda yang berbadan tinggi.

Yang menarik perhatian adalah diantara guru-guru Biao itu ada seorang perempuan. Dia cantik tapi juga gagah, dia mengenakan baju berwarna ungu ketat, dia naik seekor kuda yang berwarna ungu.

Lebih terlihat gagah dan berani. Dia adalah Hua Shan Zi Feng, Du Xiang-jun.

Kali ini perjalanan membawa Biao, dia tahu sepanjang jalan sangat berbahaya. Walaupun dia sedang hamil, dia tetap mengkhawatirkan keadaan suaminya dan memaksa untuk ikut.

Dia melihat kiri dan juga ke kanan. Melihat pemandangan yang begitu indah, dia sangat tertarik karena itu kudanya pun berjalan semakin pelan.

Tiba-tiba mendengar Meng Ju-zhong berkata, “Adik Jun, kita berjalan agak cepat kita sudah tertinggal jauh.”

Du Xiang-jun tertawa dan berkata, “Kakak Zhong, tadinya aku mengira Ming Shan adalah daerah miskin, tidak kusangka ternyata Ming Shan begitu indah.” Meng Ju-zhong juga tertawa dan berkata, “Aku juga belum pernah kesini, aku hanya tahu nama Jiu Zhai Gou. Walaupun penduduknya sedikit tapi pemandangan disini sangat berbeda, tempat ini sudah terkenal kemana-mana. Bila Adik Jun suka, begitu kita selesai mengantar barang-barang ini, aku akan menemanimu bermain selama beberapa hari.”

Du Xiang-jun berkata, “Tidak perlu menunggu sampai kita pulang, sekarang pun kita bisa berjalan-jalan dan melihat-lihat.”

Meng Ju-zhong menggelengkan kepala dan berkata, “Jangan, masa kita bermain harus ditemani oleh semua orang?”

“Siapa yang mau ditemani oleh mereka?” Du Xiang-jun tertawa dan berkata, “Biarkan mereka pergi dulu, kita bermain sebentar lalu kita susul mereka.”

Walaupun Meng Ju-zhong terlihat ragu, tapi dia tetap mengikuti kemauan istrinya. Dia memberitahu kepada barisan barang-barang bahwa dia memiliki keperluan sebentar.

Mereka berdua menikmati pemandangan dari kejauhan juga menelusuri sungai, naik ke gunung, tidak jauh terlihat danau yang begitu cantik.

Air danau berwarna biru dan bersih, di bawah danau banyak terdapat rumput, di bawah sinar matahari terlihat biru, kuning, Jingga dan hijau sangat indah.

Langit berwarna biru, awan yang putih, gunung es, hutan yang terlihat di permukaan danau benar-benar cantik seperti lukisan.

Du Xiang-jun merasa hatinya tenang, melihat ini Meng Ju-zhong pun merasa puas. Tiba-tiba terdengar ada yang berteriak, “Ketua Biao ”

Rasa kaget membuat wajah Meng Ju-zhong berubah, dia berkata, “Adik Jun, sepertinya telah terjadi sesuatu pada mereka. Cepat kita lihat kesana!”

Du Xiang-jun tahu ada yang tidak beres, dia menarik tangan Meng Ju-zhong segera berlari ke gunung. Karena kuda berada di bawah gunung, mereka terpaksa kesana dengan ilmu meringankan tubuh, dengan cepat mereka berlari.

Hanya sebentar mereka sudah tiba di bawah gunung.

Ada seorang tukang pikul menunggu kuda. Begitu melihat mereka datang, segera berteriak, “Ketua Biao, didepan sana ada perampok. Zhou Ke-dong dan Lei Qi, mereka berdua sedang bertarung dengan perampok itu. Perampok itu sangat lihai, Tuan Zhou menyuruhku kesini untuk mencari Ketua Biao ”

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun tidak menunggu dia menghabiskan ceritanya, mereka sudah naik ke atas kuda. Dengan cepat berlari ke depan.

Dua ekor kuda berlari dengan cepat, hanya dalam waktu singkat mereka sudah melewati puluhan kilometer.

Mereka melihat di jalan ada 20-30 orang sedang berkumpul. Zhou Ke-dong, Lei Qi terluka. Mereka berjalan dengan terpincang-pincang menuju ke arah mereka.

“Ketua Biao, kita tidak berguna, uang ”

Du Xiang-jun mencegah Zhou Ge Dong berbicara dan berkata, “Jumlah perampok itu ada berapa orang, mereka pergi ke arah mana?”

“Mereka juga berjumlah dua puluh orang, arah mereka ”

Du Xiang-jun tidak mendengar sampai habis, dia sudah berlari ke arah yang ditunjuk.

Meng Ju-zhong tahu bagaimana sifat istrinya, dia juga tidak melarang. Dia berkata kepada Zhou Ke-dong, “Kau urus saudara-saudara kita, aku akan kesana untuk melihat.”

Dengan cepat dia sudah menunggang kuda....

Kuda berlari dengan cepat, hanya sekejap sudah terlihat di depan sana ada beberapa orang-orang yang berkumpul. Mereka sedang mengelilingi api, sepertinya mereka sedang makan. Du Xiang-jun tidak berhenti berlari.

Dari kumpulan orang itu ada yang membentak, “Siapa! Kalian datang untuk apa?”

Di dalam suara bentakan itu, orang-orang mulai berdiri. Beberapa laki-laki keluar dari kumpulan itu. Masing-masing membawa senjata yang tampak berkilau.

Melihat lawan tidak menjawab, ada yang membentak lagi, “Harap berhenti, apakah tidak melihat Mo Tian Liang berada disini?”

Du Xiang-jun menghentikan kudanya dan berkata, “Suruh ketua kalian keluar untuk berbicara dengan kami!” Mereka melihat yang datang adalah seorang perempuan. Dia berkata, “Nyonya, pagi- pagi sudah mencari ketua kami, ingin ketua kami. ”

Kata-katanya belum selesai, sudah terlihat kilauan seperti kilat. Senjata rahasia sudah dilempar, dia ingin mengelak tapi pedang tangan sudah menancap dilehernya. Tubuhnya yang besar sudah terjatuh dengan posisi terlentang.

Beberapa laki-laki berteriak dengan kaget. Mereka menyerang bersama-sama, tapi sudah ada yang membentak, “Berhenti!”

Du Xiang-jun berhenti untuk melihat. Tiga orang laki-laki yang mengenakan baju ketat datang menghampirinya.

Yang satu memberi selamat dan berkata, “Pendekar perempuan berilmu silat tinggi. Si Ular Belang Mo Tian Ling (nama tempat) Yang Tian Hua (nama orang), pendeta Yi Deng berada disini. Ada apa sehingga Anda datang kemari?”

Du Xiang-jun turun dari kudanya, dengan dingin berkata, “Kelihatannya Tuan adalah ketua Mo Tian Ling?”

“Betul.” “Baiklah.”

Biarpun Du Xiang-jun berilmu silat tinggi, dia bersifat ramah, dia tahu barang yang dijarah mereka berada disini. Dia tidak terburu-buru meminta kembali, dia hanya tertawa dan berkata, “Aku adalah Hua Shan Zi Feng, kantor Biao Zhen Yuan milikku dan suamiku. Kami jarang melewati daerah sini dan tidak tahu bahwa kalian berada disini karena itu kami tidak sempat mengunjungi kalian. Sekarang kalian merampok barang Biao kami, mungkin ini karena kesalahpahaman. Ada pepatah yang mengatakan: 'yang tidak tahu bisa dimaafkan'. Sekarang aku sudah menjelaskan semuanya, harap Ketua bisa mengembalikan barang Biao milik kami. Kita tetap tidak akan saling bermusuhan dan menjadi teman.”

Yang Tian Hua tertawa dingin dan berkata, “Apakah aku bisa memuntahkan kembali barang yang sudah kumakan karena perkataanmu? Sepertinya Anda ini terlalu na'if?”

Du Xiang-jun marah dan berkata, “Apa kemauan Tuan Yang?”

Tiba-tiba Yang Tian Hua mengeluarkan pedang dari sarungnya. Ujung pedang menusuk ke dada Du Xiang-jun dan berkata, “Tinggalkan dulu beberapa bekas luka!” Jurus ini sangat cepat. Dia cepat tapi Du Xiang-jun lebih cepat lagi.

Tubuhnya dimiringkan, dia sudah berada disisi laki-laki itu dan tertawa, “Kita tidak akan bertarung dulu.”

Segera tangannya bergerak, kelima jarinya sudah seperti kait mencengkram tangan musuh.

Pendeta itu menusuk tempat kosong, dia ingin menarik kembali pedangnya tapi pergelangan terasa kesemutan. Pedang pun berhasil direbut oleh lawan.

Tiba-tiba dia melihat ada cahaya berkilau, dia kaget dan mundur beberapa langkah.

Pendeta Yi Deng adalah ketua ketiga dari Mo Tian Ling. Walaupun dia termasuk seorang biksu, tapi hatinya licik dan tangannya pun telengas. Apalagi jurus pedang miliknya sangat aneh, ilmu silatnya pun tinggi. Tidak disangka baru bergerak beberapa gebrak, senjatanya sudah hilang dari tangannya.

Ketua kedua adalah si Kingkong Tangan Besi, Feng Zhan Wu. Dia bertubuh pendek dan kurus, dia laki-laki cabul. Melihat Pendeta Yi Deng kehilangan senjata, dia berteriak, “Ilmu silat yang hebat.”

Segera dia mengayunkan goloknya. Golok yang tajam membawa cahaya yang berkilauan. Tapi Golok Feng Zhan Wu belum sempat membabat kaki Du Xiang-jun, Du Xiang-jun sudah lebih dulu membuat Feng Zhan Wu tidak berkutik.

Yang Tian Hua melihat keadaan ini sangat bahaya, dia kaget dan berteriak, “Tolong jangan bunuh!”

Pedang panjang Du Xiang-jun terus menusuk, hati Feng Zhan Wu mencelos. Dia pun memejamkan mata menunggu ajal menjemput, tapi dia hanya merasa wajahnya sedikit perih sama sekali tidak terluka.

Ternyata Du Xiang-jun tidak membunuh Feng Zhan Wu. Begitu ujung pedang mengenai wajah Feng Zhan Wu, dia segera menarik kembali pedangnya.

Du Xiang-jun menarik kembali pedang dan berkata, “Maaf!” dan dia mundur dua langkah.

Fang Zhan Wu berdiri dan tangannya memegang golok. Dia sangat malu, dia mundur ke belakang Yang Tian Hua. Mulutnya berkomat-kamit tidak tahu apa yang dikatakannya, mungkin hanya dia sendiri yang tahu. Yang Tian Hua dari balik punggungnya mengambil sepasang tombak pendek. Walaupun tombak itu kecil tapi terbuat dari perak asli. Di bawah sinar matahari terbenam mengeluarkan cahaya perak yang berkilauan.

Dia menaruh silang tombak kecil dan berkata, “Ilmu silat Pendekar Du benar-benar membuat orang menjadi kagum. Aku ingin bertarung beberapa jurus.”

Dari kejauhan terdengar suara kuda berlari, ternyata Meng Ju-zhong sudah tiba disana. Dari kejauhan dia sudah melihat bahwa istri tercintanya sedang berhadapan dengan tiga orang musuh.

Meng Ju-zhong tidak tahu istrinya sudah menang dua kali, dia berteriak, “Adik Jun, aku datang!”

Kudanya belum berhenti, tapi Meng Ju-zhong sudah meloncat dari punggung kuda. Dia seperti seekor burung besar terbang dan turun disisi Du Xiang-jun.

Du Xiang-jun tertawa dan berkata, “Kakak, kau tunggu aku dipinggir. Aku ingin bertarung dulu dengan Ketua Yang.”

Meng Ju-zhong mengira masih ada dua orang musuh yang berada dibelakang yang belum dikalahkan. Dia mengangguk dengan tertawa.

Mata Yang Tian Hua dan dua orang lainnya kembali ke Du Xiang-jun. Dia mengambil pedang Pendeta Yi Deng yang menancap ditanah dan dia mengeluarkan pedangnya sendiri.

Pedang berkilauan di bawah cahaya matahari terbenam, ini adalah pedang yang bagus dan juga tajam.

Du Xiang-jun memberi hormat dan berkata, “Ketua Yang, pertarungan ini hanya sampai saling totol saja, tidak usah saling membunuh. Siapa yang menang Biao itu akan milik pemenangnya, bagaimana?”

Pada pertarungan tadi, Du Xiang-jun sudah menang. Sekarang disisinya ada suami yang menemani, kepercayaan dirinya bertambah lagi.

Tapi dia tetap ingin bertarung untuk menentukan barang dan uang tersebut dimiliki oleh siapa. Dia tidak ingin bermain licik, hal ini membuat Yang Tian Hu kagum kepadanya. Yang Tian Hua pernah merasai ilmu silat Du Xiang-jun, sama sekali tidak berani berbuat ceroboh. Dua tombak dimainkan seperti ular keluar dari air, seperti cahaya berkilauan.

Ujung pedang Du Xiang-jun berada di bawah, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, dia berkata, “Mohon memberi petunjuk!”

Yang Tian Hua, tangan kiri dan tangan kanannya terus bergerak. Dua buah tombak seperti ular kobra mengeluarkan lidahnya. Dia memakai jurus keluarga tombak Yang, dengan 36 jurusnya yang selalu berubah-ubah.

Du Xiang-jun dengan ilmu Hua Shan Lian Huan Jian Fa bertahan dengan sangat ketat. Sesudah melewati dua puluh jurus menyerang semakin gencar, yang berjaga pun semakin ketat.

Karena Du Xiang-jun terlalu cepat memainkan pedang, Yang Tian Hua tidak jelas melihat ke arah mana Du Xiang-jun akan menyerang, dia hanya bisa memainkan kedua tombaknya untuk berjaga.

Tiba-tiba Du Xiang-jun mengubah jurusnya. Pedang panjangnya memaksa dua tombak itu menjadi satu. Ujung pedang sudah menurun ke arah tombak dan dengan miring memotong kedua tombak itu.

Karena terlalu cepat, tubuh Yang Tian Hua terdorong miring, pedang yang dingin itu sudah mengenai jarinya.

Yang Tian Hua terkejut dan berpikir, “Jari-jariku bisa terpotong! Mau mundur pun sudah tidak ada waktu!”

Sewaktu dia berpikir seperti itu, pedang panjang Du Xiang-jun sudah ditarik kembali. Pedang tersebut tidak memotong ke depan malah mundur ke belakang.

Yang Tian Hua segera tahu bahwa Du Xiang-jun tidak mau membunuhnya. Dia merasa malu juga kecewa kepada dirinya sendiri.

Kedua tombaknya dilemparkan. Tapi pedang panjang itu berkilau lagi. Pedang berputar ke bawah kedua tombak itu dan mengangkat tombak itu supaya tidak terjatuh.

Du Xiang-jun berkata, “Kau dan aku sama kuatnya, tidak ada yang menang.” Kedua tombak itu melayang dan Yang Tian Hua menyambutnya. Dia sangat berterima kasih. Walaupun sudah tahu bahwa dia kalah, tapi dia tetap memberi muka kepada lawan.

Yang Tian Hua dengan cepat menjatuhkan dua tombaknya kemudian memberi hormat. Dia tahu jurus keluarga Yang 36 jurus, sudah dipakainya sebanyak 35 jurus baru kalah.

Du Xiang-jun hanya menggunakan ilmu yang biasa saja, bila dia menyerang dengan serius mungkin dalam belasan jurus dia sudah kalah.

Yang Tian Hua ingin mengatakan beberapa kata sebagai ucapan terima kasih, Du Xiang-jun sudah menghampirinya dan berkata, “Ketua Yang, mengenai uang dan barang, harap Ketua bersedia memberi kelonggaran.”

Kalah dari orang lain, harus mengakui kekalahannya sendiri, ini adalah aturan dunia persilatan sejak dulu, apalagi lawan sudah beberapa kali tidak melukai mereka.

Yang Tian Hua menarik nafas dan berkata, “Uang dan barang akan dikembalikan kepada pemiliknya. Harap Pendekar Du bersedia memaafkan kami!”

Waktu itu terdengar ada suara aneh. Begitu suara aneh ini berhenti, sudah terdengar suara seperti guntur. Beberapa ekor kuda dengan cepat seperti terbang datang menghampiri mereka. Hanya dalam sekejap mata, mereka sudah berada di depan mata.

Ada yang berteriak, “Ketua Yang, apakah kau berhasil, aku ingin memdapat sedikit hasil!”

Yang Tian Hua tidak menjawab, tapi wajahnya berubah warna. Yang datang adalah tujuh orang laki-laki berbadan tegap, kelihatannya mereka sudah tahu keadaan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dengan cepat mereka turun dari kuda dan berputar- putar, mengelilingi orang yang berada di lapangan.

Salah satu dari mereka adalah seorang laki-laki tinggi besar berumur sekitar empat puluh tahunan, dia berkata, “Ketua Yang, apakah kedua orang ini adalah pemilik uang dan barang itu?”

Yang Tian Hua tidak menjawab, tapi mengangguk.

Du Xiang-jun melihat yang datang bukan orang baik-baik. Dia merasa menyesal, “Tadi aku terlalu baik. Apakah si marga Yang ini akan bergabung dengan mereka? Bila sudah terjadi seperti itu, menyesal pun tiada gunanya.” Du Xiang-jun tertawa dingin dan berkata, “Kalian dari golongan mana? Apakah kalian juga ingin mengambil barang Biao ini?”

Laki-laki tinggi besar itu tertawa dan menjawab, “Kelihatannya kau baru masuk dunia persilatan, apakah Long Men Bang (Perkumpulan Pintu Naga), Hei Shou Qi Sha (Pembunuh Tujuh Harimau Hitam) kau tidak mengenal nama-nama ini? Tapi kau sudah berani datang ke daerah sini untuk mencari makan?”

Kata Meng Ju-zhong dengan santai, “Long Men Bang di dunia persilatan memiliki sedikit nama, tapi Hei Shou Qi Sha, aku sama sekali tidak pernah mendengarnya?”

Yang Tian Hua melihat situasinya menjadi tegang, mungkin akan terjadi pertarungan. Kedua belah pihak pun tidak mau mengalah, karena itu dia ingin lepas dari masalah ini.

Dia memberi hormat kepada Du Xiang-jun dan berkata, “Pendekar Du, aku tadi sudah mengatakan, uang dan barang akan kukembalikan kepadamu, hal lainnya tidak ada hubungannya denganku.”

Tiba-tiba ada suara berat yang berkata, “Tidak ada hubungannya denganmu, tapi ada hubungan denganku!”

Seorang bayangan muncul dari dalam lingkaran.

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun segera merasa senang dan memberi hormat, “Murid memberi hormat kepada Tetua.”

Yang datang adalah La-shou Guan-yin, Lu Yue-juan.

Dia seperti tidak melihat orang-orang galak itu, dengan tertawa dia berkata, “Kalian bawa pulang uang dan barang ini, disini biar aku yang atasi.”

Meng Ju-zhong dan Du Xiang-jun segera memasukkan pedang ke sarungnya, membalikkan badan dan ingin berlalu.

Yang Tian Hua tahu nyonya tua yang di depannya lebih-lebih tidak boleh membuat kesalahan kepadanya, dia mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri.

Segera tujuh bilah pedang bergabung menjadi bayangan seperti salju, menyerang ke tubuh Lu Yue-juan. Hei Shou Qi Sha adalah pembunuh-pembunuh Long Men Bang. Mereka berhati kejam, tangannya pun telengas. Mereka ingin mengambil kesempatan sebelum Lu Yue-juan mencabut pedang dan langsung membunuhnya.

Mereka biasa bergabung untuk membunuh orang. Mereka sangat kompak. Tujuh bilah pedang bersama-sama menyerang, menuju ke tujuh titik rawan lawan, membuat musuh bisa menghindari serangan ke kepala, tapi tidak bisa menghindari serangan ke kaki. Bisa menahan serangan bagian atas tapi tidak bisa menghindari serangan tengah.

Hanya terdengar suara TING TING TONG TONG bunyi terdengar begitu kacau, Lu Yue-juan sudah mengumpulkan ketujuh pedang Hei Shou Qi Sha, semua berada di tangannya.

Hei Shou Qi Sha berteriak kaget dan dengan cepat mundur. Mereka ingin melarikan diri.

Tapi Lu Yue-juan sudah membentak, “Berhenti! Siapa yang kabur, akan mati dulu!” Benar saja Hei Shou Qi Sha tidak ada seorang pun yang berani bergerak.

Terdengar Lu Yue-juan berkata lagi, “Menurut peraturanku yang biasa, kalian menyerangku dengan senjata, pasti kalian akan kubunuh hingga tak bersisa. Tapi aku melihat muka muridku hari ini, maka aku berbaik hati. Aku hanya menyerahkan kembali kerugian yang kuperoleh, siapa yang menyerangku pada bagian itu, maka aku akan mengembalikannya disitu juga. Apakah aku salah? Kukira kalian pun pasti tahu.”

Dari bawah dia mengambil sebilah pedang. Dia menunjuk ke seorang laki-laki kurus dan berkata, “Ini adalah pedangmu. Dengan pedang ini tadi kau sudah menusuk lutut kiriku, sekarang kukembalikan kepadamu!”

Laki-laki kurus itu terkejut dan berlari. Baru saja dia melangkah dua langkah, dia sudah mendengar suara baju yang ditiup angin. Sesosok bayangan sudah lewat, dia belum melihat jelas pedang sudah menusuk lutut bagian kiri. Karena sakit dia berteriak dan terjatuh.

Hei Shou Qi Sha tahu tidak bisa menghindar lagi, mereka masing-masing mencari kesempatan untuk melarikan diri, tapi yang terdengar hanya suara teriakan.

Sudah ada beberapa orang terjatuh lagi. Ada seorang laki-laki tinggi besar, tadi dia menusukkan pedang kedada kiri Lu Yue-juan. Sekarang dia berlari yang paling cepat, tapi baru saja beberapa meter, dia sudah dihadang oleh Lu Yue-juan.

Lu Yue-juan tertawa dan berkata, “Walaupun mereka menyerang tempat nadi yang penting tapi itu tidak berbahaya, hanya kau yang berbuat paling kejam. Aku ingin melihat kalian, selain tangan kalian hitam apakah hati kalian pun hitam?”

Laki-laki tinggi besar itu kaget hingga semangatnya pun sudah terbang. Dia berteriak, “Ampun! Ampun!”

Suaranya belum habis, dia merasa dadanya terasa dingin. Begitu dilihat, baju pada bagian dadanya sudah berlubang sebesar mulut cangkir.

Dari luar hingga kebeberapa susun baju di dalamnya sudah sobek. Tapi permukaan kulitnya hanya terlihat ada sebuah lingkaran merah.

Sangat jelas, bila lawan menambah sedikit tenaga saja cukup untuk mengeluarkan jantungnya.

Meng Ju-zhong mendapat seorang putra, bisnis kantor Biao Zhen Yuan sempat terhenti beberapa bulan.

Dua tahun kemudian, setiap kali mengawal Biao yang menghadang bahaya, diantara barisan barang dan uang, pasti ada sebuah kereta beratap yang mengikuti, di dalamnya pasti ada Lu Yue-juan dan muridnya juga putra Meng Ju-zhong... Meng Shao-hui.

Setiap kali kantor Biao Zhen Yuan mengantarkan barang jika bertemu dengan perampok kelas teri, Du Xiang-jun lah yang meladeni. Bila perampok yang berilmu silat agak tinggi, selalu Lu Yue-juan lah yang keluar. Banyak perampok yang mati atau terluka ditangan Lu Yue-juan.

Walaupun orang-orang golongan hitam sangat membenci mereka tapi mereka juga takut dan segan kepada mereka, seperti takut kepada harimau. Begitu melihat bendera Phoenix Ungu, mereka tidak akan berani mengganggu barisan itu.

Bendera Zi Feng terkenal dimana-mana, kantor Biao Zhen Yuan semakin sukses, setelah itu Lu Yue-juan dan Du Xiang-jun baru berani pensiun.

Saat itu juga, Meng Ju-zhong dibantu oleh Lu Yue-juan terus memperdalam ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian Fa dan kemajuannya cukup pesat. Ilmu silatnya sudah tidak seperti dulu. Di dunia persilatan dia sudah mendapat nama baik yaitu Jin Chi Da Peng.

Bersamaan dengan ini, Lu Yue-juan sudah mencari tahu bahwa Meng Ju-zhong adalah murid Kong Dong Pai generasi kedua. Biksu Huang Shi juga tahu bahwa dia adalah....

= ooOOOoo =

Qi Lian Shan (nama gunung) panjangnya ribuan kilometer.

Tanah disana sangat tandus, berjalan hingga puluhan kilometer lagi ke sebelah utara adalah jalan sutra dan kain. walaupun jalan itu sudah menjadi hutan, tapi disini tetap merupakan jalan yang harus dilewati jika ingin pergi ke Xin Jiang (propinsi Xin Jiang).

Karena itu sejak dulu hingga sekarang banyak perampok-perampok berkumpul di daerah sana, ada yang berkelompok hingga 3-5 orang untuk merampok rumah atau barang lalu membunuh orang.

Di daerah sana selalu dianggap oleh pedagang sebagai tempat yang paling rawan. Tapi semenjak Lu Yue-juan membasmi sebagian perampok, jalanan disana boleh dikatakan sudah agak aman.

Kebetulan ada urusan dan harus pergi ke Si Chuan. Meng Ju-zhong membawa Lei Qi dan beberapa orang pergi ke selatan.

Kali ini yang dibawa adalah obat-obatan, perjalanan ini dipimpin oleh Zhou Ke-dong. Dia membawa empat orang Biao juga puluhan kuli. Mereka berjalan menuju jalan sutra.

Xin Jiang adalah daerah dingin. Disana ada beberapa macam obat yang sangat mahal seperti empedu beruang, tanduk badak dan lain-lain.

Di Zhong Yuan (Tionggoan) obat tersebut sangat langka, tapi obat yang biasa ada di Xin Jiang malah sedikit karena itu setiap tahun pedagang orang yang kaya selalu membawa obat-obat itu pulang ke Xin Jiang untuk ditukar dengan barang-barang khas Xin Jiang. 

Setiap kali berdagang pasti akan mendapat untung beberapa ratus ribu tail perak. Kota An Xi adalah tempat banyak orang berkumpul.

Karena itu mengantarkan obat-obatan untuk berdagang, kantor Biao adalah tempat yang paling layak. Hari ini mereka berjalan ke Feng Cheng Bao (nama kota), tiba-tiba terdengar dari belakang ada suara kuda berlari. Hanya sekejap mata, dua ekor kuda sudah datang.

Kuli-kuli yang berada di depan kaget dan wajah mereka pun berubah, tapi dua ekor kuda yang berlari itu tidak berhenti malah terus berlalu.

Hanya dalam waktu singkat dari belakang terdengar lagi suara kuda berlari, orang- oarng Biao sudah siap siaga.

Kuda sudah mendekat, ternyata yang datang adalah seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahunan. Dia sangat kotor, bajunya pendek, kain bajunya kasar, tapi dia tidak seperti orang dunia persilatan, melihat ini semua menjadi agak tenang.

Kurang lebih dua jam lagi matahari akan terbenam, didalam gunung muncul lagi 7-8 ekor kuda dan berjalan menghampiri mereka.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain