Terima Kasih buat yang sudah donasi, semoga rezeki cianpwee sekalian dilipatgandakan๐Ÿ™

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 09

Jilid 09

Kata Chun Hong dengan manja, “Kapan aku pernah minta agar menjadi istri mudamu? Kau pernah mengatakan, kau akan membelikan sebuah rumah untukku di luar kota agar kita berdua sering ”

“Tidak, aku mempunyai cara yang lebih bagus lagi.”

Chun Hong terpaku dan bertanya, “Cara apa? Cepat beritahu kepadaku!”

Meng Ju-zhong tertawa licik dan berkata, “Aku akan menyuruh Peng Zhi-xiao menikahimu, kau akan menjadi istri Peng Zhi-xiao.”

Mendengar perkataan Meng Ju-zhong ini, pikiran Chun Hong seperti lewat begitu saja.

“Peng Zhi-xiao masih muda dan juga sehat, wajahnya tampan, ilmu silatnya tinggi, di kantor Biao Zhen Yuan, dia termasuk orang penting. Bila kau bisa menjadi istrinya yang sah itu lebih baik daripada menjadi kekasih gelap si tua ini!”

“Tapi, jangan terkena tipuannya lagi....” Dia segera berkata lagi, “Tidak, aku tidak mau menikah dengan Peng Zhi-xiao!” Suaranya besar, teguh seperti besi.

Meng Ju-zhong tidak menyangka bahwa Chun Hong akan berkata seperti itu, dia kaget, matanya terus menatap tubuh dari seseorang yang masih marah,

“Kenapa?”

Chun Hong masuk lagi ke dalam pelukannya dan berkata, “Aku tidak mau, aku ingin selalu bersamamu.”

Meng Ju-zhong memeluknya dan berkata, “Sayang, aku tidak tega meninggalkanku, aku pun demikian. Tenanglah, Peng Zhi-xiao hanya seorang pegawai kantor Biao. Kalau ada tugas, dia harus pergi, bila dilihat dari luar, sepertinya kau menikah dengannya tapi kau tetap akan melahirkan anak banyak dariku.” Chun Hong kaget dan berkata, “Maksudmu ”

Meng Ju-zhong tertawa sinis, “Aku akan menyuruhnya bertanggung jawab atas kehamilanmu, aku akan segera membuktikannya!”

Tubuh yang lembut digendongnya ke tempat tidur....

Hati Chun Hong yang sedang memikirkan kehidupan baru sekarang sirna. Yang dia tunggu hanyalah kenikmatan yang sesaat....

Ruangan begitu gelap. Meng Ju-zhong tampak bermalas-malasan di tempat tidur.

Tiba-tiba Chun Hong teringat dengan pembicaraan tadi, sambil membereskan jenggot Meng Ju-zhong dia bertanya, “Tuanku, apakah kau tega memberikanku kepada si marga Peng itu?”

“.... benar, aku sudah memikirkannya dengan teliti, ini adalah cara yang terbaik, kelak. ”

Chun Hong segera bangun dan berkata, “Aku tahu, kau sudah bosan terhadapku, kau ingin membuangku seperti lap kotor, aku tidak mau.”

Suaranya berubah, dia mulai meneteskan air mata.

Meng Ju-zhong tertawa, wajahnya tertawa penuh dengan rencana busuk, dia berkata, “Sayang, jangan berkata seperti itu, aku tidak benar-benar memberikanmu kepada Peng!”

“Sudahlah, orang sepertimu selalu mengatakan hal yang enak didengar, tapi sebenarnya hatimu seperti besi, keras dan tajam. Mungkin sebentar lagi, kau akan segera melupakanku ”

Belum habis perkataannya, Meng Ju-zhong sudah memeluknya dengan erat.

Hanya menikmati kehangatan sebentar, Chun Hong berkata lagi, “Kau tidak mau meninggalkanku tapi kau menyuruhku supaya mau menikah dengan Peng Zhi-xiao. Aku yang rugi besar, kau harus memiliki sedikit kebijaksanaan.”

“Oh. katakanlah, kau mau apa, aku akan memberikannya kepadamu.” “Aku....” Chun Hong tampak sedikit ragu kemudian dia berkata, “Aku ingin supaya kau mengangkat Peng Zhi-xiao menjadi wakil ketua kantor Biao. Bila aku menikah dengannya, setidaknya aku akan merasa bangga.”

“Ini....” Meng Ju-zhong memikirkannya sebentar, kemudian dia tertawa dan berkata, “Benar-benar rubah kecil, kau belum menikah dengannya, tapi hatimu sudah berpindah padanya.”

Meng Ju-zhong ingin mencium Chun Hong tapi ditolaknya. “Katakanlah dulu, apakah bisa?”

“Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu.”

“Kau harus memberikan dua ribu tail perak kepadaku, selimut, baju harus dari bahan dengan kualitas yang bagus.”

“Ini, ini mana boleh seperti itu?” Meng Ju-zhong menggelengkan kepalanya, “Kau membeli barang keperluan menikah dengan uangku, bagaimana di mata orang lain?”

Chun Hong tertawa dan berkata, “Tidak perlu secara terang-terangan memberikan kepadaku, bukankah kau sudah merundingkan hal ini dengan nyonya? Hanya tolong kau berpesan kepada nyonya agar dia sayang kepadaku, pasti dia mau memberikannya.”

Meng Ju-zhong tertawa dengan senang dan berkata, “Sayang, kau banyak ide aneh ”

Chun Hong tertawa dan mendekat. Hanya dalam waktu sekejap, suara berat dan suara terengah-engah sudah memenuhi perpustakaan yang mewah ini.

Hari kedua, matahari baru saja menembus kabut pagi. Matahari mengeluarkan cahayanya yang paling berkilau, langit timur sudah mulai terlihat cahaya fajar.

Meng Qi-fang tidak bisa tidur semalaman, sekarang dia bangun dari mimpi buruk. Dia merasa bosan hanya tidur, dia juga malas berdandan, malas mandi, memakai baju pun asal-asalan saja.

Dia keluar dari kamarnya dan pergi ke taman belakang. Melewati dua belokan, dia sudah bertemu dengan seorang gadis.

Rambut gadis itu belum disisir, wajahnya merah terlihat seperti sangat senang, dia sedang berjalan sambil menundukkan kepala. Nona kecil yang berdiri disisinya pun tidak dilihatnya. Dia adalah pelayan yang bernama Chun Hong.

Sekarang dia tenggalam dalam khayalannya, dia akan menikah dengan Peng Zhi-xiao. Sebenarnya sudah lama dia menikmati kelembutan Peng Zhi-xiao.

Pertama Peng Zhi-xiao masih merasa takut, Peng Zhi-xiao tidak bisa membuat dia menikmati semuanya. Terakhir-terakhir karena sudah tidak ada yang ditakutinya, membuat dia merasa senang dan apa yang dia dapat dari Peng Zhi-xiao tidak didapat dari Meng Ju-zhong.

Tidak lama lagi, dia akan benar-benar menjadi istrinya, dia tidak perlu lagi bersembunyi.

“Mungkin anak yang berada dalam perutku ini adalah milik Peng Zhi-xiao. Si tua bangka itu menyuruhku makan obat untuk menggugurkannya, aku tidak mau melakukannya. Aku akan melahirkan putranya, aku juga malas pergi ke Pengurus Shen untuk meminta obat. Si pincang itu pasti akan mengambil keuntungan dariku! Apalagi Meng Ju-zhong, si tua bangka itu  ”

“Berhenti!”

Tiba-tiba ada yang membentak, seperti suara geledek. Chun Hong terkejut. Dia baru melihat, ternyata yang berteriak itu adalah Meng Qi-fang.

Segera dia tertawa dan berkata, “Selamat pagi, Nona!”

Dia berhenti disisi jalan karena dia ingin melarikan diri dari sana. “Aku menyuruhmu berdiri disana!”

Chun Hong terkejut dan terpaku, segera dia berhenti dan bertanya, “Nona, ada pesan apa?”

Meng Qi-fang tertawa dingin dan menjawab, “Kau sangat sombong, bila tidak ada perlu, apakah aku tidak boleh menyuruhmu berdiri disana?”

“Nona ”

“Aku menyuruhmu berdiri disana untuk mendengarkan perkataanku!” “Ya ” Yang satu sangat sombong dan galak, yang satu lagi dengan diam dia menunduk dan menerima apa yang akan dikatakan oleh Nona Meng.

Meng Qi-fang berkata, “Siapa yang mengijinkan kau berebut denganku?” “Hamba tidak berani. ”

“Kau harus tahu, kau adalah seorang pelayan. Pelayan seperti seekor anjing, tapi tidak disangka kau siluman rubah. Katakan, mengapa kau menggaet Peng Zhi-xiao?”

“Nona, bukan aku.... tapi dia. ”

“Perempuan jalang, kau kira kau ini cantik, mengapa Peng Zhi-xiao bisa suka kepadamu?”

“Nona, kau jangan ”

“Kentut! Apa yang tidak bisa kulakukan?” Meng Qi-fang  tiba-tiba menampar Chun Hong, karena tidak siap Chun Hong dipukul hingga kepalanya terasa pusing.

Pipinya bengkak, sudut bibirnya mengeluarkan darah, karena marah Meng Qi-fang memukul terus tapi Chun Hong tiba-tiba ke pinggir dan menghindar ke belakang.

Karena jurus Meng Qi-fang meleset, membuat dia lebih marah lagi. Segera dia menyerang secara bertubi-tubi tapi semua ini bisa dihindari oleh Chun Hong.

Karena pukulan Meng Qi-fang tidak tepat mengenai sasaran, dia sangat marah dan berkata, “Pelayan busuk, kau masih bisa ilmu silat, aku akan menghajarmu beberapa jurus lagi.”

Tangan Meng Qi-fang segera bergerak, ilmu Duo Ming Zhui Hun-jian sudah dikeluarkan. Bayangan telapak dan angin sudah seperti hujan menimpa Chun Hong, walaupun Chun Hong sudah lama berada di kantor Zhen Yuan, dia hanya mengerti sedikit ilmu silat.

Sekarang mana bisa dia menahan serangan lawan, apalagi dia sama sekali tidak berani membalas.

Kelihatannya keadaaan ini sangat berbahaya, dia berteriak, “Tolong, tolong, Nona akan membunuhku!”

“Berhenti!” Terdengar disisi sana ada yang berteriak. Chun Hong mendengar suara itu. Hatinya merasa sangat senang karena itu gerak langkah kakinya menjadi agak lambat, sehingga sepasang kaki lawannya berhasil menyapu dan menendang pinggangnya. Dia kesakitan, tubuhnya pun terlempar.

“Anak Fang, kau kenapa?” Yang menyentak adalah Meng Ju-zhong.

Dia sangat marah. Tapi setelah dia mendapat keuntungan. Hatinya sangat senang. Dia marah, “Ayah, perempuan jalang ini melanggar aturan keluarga kita, dia berani membantah, aku harus menghukumnya.”

“Tuan Besar. ” Chun Hong kesakitan karena tadi terjatuh, telapak tangannya terluka.

Hatinya sangat kesal, melihat Meng Ju-zhong datang dia ingin mengadu tapi apa yang harus dia katakan? Sekarang dia hanya bisa menangis.

Meng Ju-zhong serba salah, dia menarik nafas dan berkata, “Chun Hong, pergilah ke Pengurus Shen untuk menerima hukuman pelanggaran aturan.” Dia membalikkan badan menghadap putrinya dan berkata, “Putriku yang baik, masalah pelayan, tidak perlu mengurusnya. Pengurus Shen akan membereskan masalah ini. Jangan marah lagi, mari ke perpustakaan, ada yang ingin kusampaikan.”

= ooOOO =

Hari sudah malam.

Di dalam kamar tidak terpasang lampu, kelihatan agak gelap.

Peng Zhi-xiao duduk di kursi, dia tampak sedang berpikir. Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu dan masuk.

Sewaktu dia akan membuka mulut untuk bertanya, “Siapa?” dia segera menarik kata- katanya kembali dan berdiri.

Dia membuka lebar tangannya dan berteriak, “Sayang, kau baru datang!”

Orang yang datang itu berwajah lumayan cantik, tubuhnya mengeluarkan wangi yang menarik hati. Dia adalah Chun Hong.

“Jangan ”

Tapi dia sudah dipeluk oleh Peng Zhi-xiao. Perkataan lain sudah ditutup oleh bibir yang panas. Tubuhnya terasa lemas dan wangi badan merasuk syaraf Peng Zhi-xiao. Badannya mulai gemetar dan dia menggendong Chun Hong ke tempat tidur.

“Tidak, jangan! Aku ada perlu maka aku baru kesini.” Suara Chun Hong masih terengah-engah, tangannya mendorong pundak Peng Zhi-xiao.

Tapi Peng Zhi-xiao berkata, “Bila ada perlu nanti baru kau katakan.” “Tidak, tuan besar menyuruhku datang kesini.”

Hati Peng Zhi-xiao bergetar, segera dia sadar dan melepaskan Chun Hong dan duduk kembali di kursi.

Dia menarik nafas dan berkata, “Susah-susah kau baru bisa datang kemari, tapi kau malah ada perlu. Cepatlah katakan ada perlu apa?”

“Jangan marah!” Chun Hong mencium wajah Peng Zhi-xiao, kemudian dia tertawa dan duduk di sisi ranjang. Dia berkata, “Aku membawa kabar baik. Tuan Besar menyuruhku untuk menikah denganmu?”

“Apakah betul?”

Walaupun Peng Zhi-xiao sudah mendengarnya langsung dari Meng Ju-zhong, tapi dia tidak mengira bahwa kabar gembira ini akan datang begitu cepat. Apalagi yang menyampaikan adalah Chun Hong sendiri.

Dengan senang dia berteriak, juga ingin memeluk Chun Hong.

“Diam disana dan duduklah!” dengan dingin Chun Hong berkata, “Jangan begitu, kau kira aku tidak tahu. Kau hanya menganggap aku adalah penghiburanmu. Yang kau sukai sebenarnya adalah Nona Besar Meng Qi-fang.”

Wajah Peng Zhi-xiao penuh dengan rasa duka dan berkata, “Tuhanlah yang tahu, ini tidak benar. Kau harus berpikir orang sepertiku, mana sepadan dengan dia? Apalagi sifatnya seperti itu, aku  ”

Kata Chun Hong, “Sudahlah, dia berpikir kau seperti anjing jantan yang ingin kawin, tadi pagi dia masih. ”

Peng Zhi-xiao segera membela diri dan berkata, “Chun Hong, coba kau dengarkan, mungkin dia hanya sesaat menyukaiku tapi ini tidak akan bertahan lama. Hal ini tidak akan ada akhirnya. Apa yang terjadi pagi tadi aku sudah tahu. Sifatnya memang seperti itu. Dia mencari pelampiasan, belum tentu semua ini demi aku.”

“Kau masih membela dia!”

“Tidak, aku tidak membela dia. Sudah ada bukti didepan mata. Kau lebih jelas melihatnya daripada aku, kecuali ibunya tidak ada orang yang bisa menasihatinya, seperti kau, aku pun hanya bisa menahan diri.”

Chun Hong mengangguk. Dalam hati dia berpikir, “Walaupun dia lihai tapi aku yang mendapat kekasihnya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.”

Karena hatinya senang, wajah langsung tersenyum, senyuman itu sangat manis tapi juga terlihat centil.

Peng Zhi-xiao tenggelam dalam pesona tawa ini, dia ingin mencium tapi tiba-tiba dia teringat dengan obrolan tadi.

Dia bertanya, “Chun Hong, apakah benar ketua Biao akan menikahkanmu kepadaku?”

Kata Chun Hong, “Tuan besar sendiri yang menceritakannya kepadaku, yang kutakutkan malah tidak akan terjadi. ”

Peng Zhi-xiao dengan cepat berkata, “Tuhan yang berada di atas, aku berani bersumpah ”

Kata-katanya belum selesai, sudah ditutup oleh tangan yang lembut dan kecil, wangi badannya terus tercium oleh lubang hidung Peng Zhi-xiao. Dia merasa tangan yang lainnya sudah diletakkan di pahanya dan mulai meraba.

Suaranya lembut dan menggoda, “Kakak, kita sudah lama tidak. ”

Belum habis berkata, Peng Zhi-xiao dengan lembut sudah memeluknya dan mereka jatuh ke atas tempat tidur....

= ooOOOoo =

Peng Zhi-xiao baru saja mengantar Chun Hong ketempatnya dan sedang memikirkan kenikmatan tadi, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara ketukan.

Dia mengira Chun Hong kembali lagi untuk mengambil sesuatu yang terlupakan, dia segera membukakan pintu. Di bawah sinar bulan, ada seorang yang berdiri dengan wajah seperti es. “Kau ” Peng Zhi-xiao terkejut.

“Kenapa, kalau bukan aku, lalu siapa?” “....Nona silakan masuk!”

Yang datang tak lain adalah Meng Qi-fang. Dia berdandan sangat rapi, baju dan gaunnya berwarna hijau muda. Dia merias wajahnya dengan menor. Kelihatan sangat centil.

Meng Qi-fang tertawa dingin dan berkata, “Apakah kau berani menolakku dari luar pintu?” Dia masuk ke kamar dan duduk di sebuah kursi.

Peng Zhi-xiao tampak sangat gelisah, dia berkata, “Nona, sudah malam begini datang mencariku, ada keperluan apa?”

“Apa? Apakah tidak ada perlu maka tidak boleh kesini mencarimu? Apakah aku tidak boleh duduk disisi Pendekar Peng?”

“Boleh, boleh, Nona mau datang ke kamarku, aku merasa bangga.”

“Aku ingin bertanya kepadamu, bagaimana kau menanggapi hubungan kita?”

Meng Qi-fang begitu berani mengatakan semua ini, membuat Peng Zhi-xiao gemetar. Dia berkata, “Nona, maafkanlah aku, jangan menggangguku lagi!”

Meng Qi-fang marah dan berkata, “Aku yang mengganggumu? Di kantor sini, aku tidak pernah benar. Ayah terus mendesakku, ibu marah kepadaku, kau juga mengatakan bahwa aku telah mengganggumu, apakah di dunia ini masih ada jalan untukku?”

Suaranya keras, air mata mulai menetes, benar-benar patut dikasihani.

Peng Zhi-xiao tahu apa yang sudah diatur Meng Ju-zhong, dia juga tidak mau membuat nona galak ini menjadi marah. Sekarang dia hanya diam berdiri, sama sekali tidak ingin melihat wajah yang menangis didepannya.

Dia berkata, “Nona, hitung-hitung kau berbuat baik kepadaku, jangan ”

“Apakah aku begitu menakutkan hingga mengagetkanmu?” Peng Zhi-xiao tertawa kecut dan berkata, “Sebenarnya Nona tidak menakutkan, Nona adalah seorang gadis lembut dan jujur, baik hati. Tapi aku, pekerjaanku sangat berbahaya. Beberapa hari yang lalu, Nyonya baru. ”

“Kenapa kau menghubungkannya dengan ibuku?”

“Ini adalah perkataanku yang sejujurnya, Nyonya sudah berpesan bila aku masih mengobrol dengan Nona, kepalaku akan dipenggal.”

“Kalau begitu, kau takut kepada ibuku?” “Itu sudah pasti, juga kepada Ketua Biao.”

“Tidak, dengarkan aku. Mereka adalah mereka, aku adalah aku. Kalau kau suka kepadaku, kita pergi sekarang juga, kita pergi ke tempat jauh. Di desa, digunung, atau dihutan aku tidak peduli, asal kau yang memilih tempatnya.” Sambil berdiri Meng Qi- fang berjalan ke arah Peng Zhi-xiao.

Wajah Peng Zhi-xiao pucat dan berteriak, “Tidak, Nona ”

“Mengapa, kau tidak mau?”

“Aku adalah seorang pesilat, aku tidak mempunyai keberanian ini. ”

“Sudahlah!” Meng Qi-fang membentak, “Sepertinya kau tidak menginginkanku lagi, aku bukan orang yang tidak bisa menikah, mengapa harus meminta-minta kepadamu? Tapi bila kau tidak menginginkanku lagi, aku tidak memaksamu tapi kau juga tidak boleh menginginkan perempuan jalang yang bernama Chun Hong itu.”

“Nona ini. ”

“Kalau begitu, sepertinya kau memang menginginkan dia? Apakah kau menginginkan siluman rubah itu? Kau takut kepada ayah dan ibuku, tapi kau tidak takut kepadaku, betul kan? Baiklah, kalau kau berani menginginkan Chun Hong, aku akan memenggal kepalamu dan juga dia. Kepala kalian aku kuberikan kepada anjing liar sebagai makanan.”

Walaupun kata-katanya pedas, tapi dia tidak tahan dengan kepedihan hatinya. Suaranya bergetar seperti hampir menangis. Belum habis kata-katanya, dia sudah membalikkan badan dan pergi melangkah keluar. Peng Zhi-xiao melihat sosok belakangnya, dalam hati dia hanya bisa tertawa dengan kecut.

= ooOOOoo =

Perpustakaan Meng Ju-zhong.

Sudah malam disana belum memasang lampu, hanya ada sinar bulan yang masuk dari jendela.

Pintu tidak ditutup, ada bayangan orang yang sedang bersembunyi dan masuk, dengan suara kecil dia memanggil, “Tuan Besar, apakah kau menyuruhku kemari?”

Yang berkata adalah Chun Hong. Dia berdiri di pintu, dia tidak mengunci pintu juga tidak berjalan masuk.

Meng Ju-zhong berdiri dan berkata, “Betul sayangku, kemarilah!”

“Tidak, aku tidak mau.” Dengan manja dia berkata, “Kau berbohong kepadaku, apa yang kau katakan semua tidak ada kenyataannya.”

“Sejak kapan aku berbohong kepadamu?” Meng Ju-zhong mengambil kertas yang di berada atas meja dan berkata, “Lihatlah, semua sudah aku siapkan. Itu adalah cek sesuai dengan jumlah yang kau inginkan.”

Mata Chun Hong menjadi bercahaya. Kegembiraannya terlihat di wajahnya, dia ingin memeluk Meng Ju-zhong tapi segera menghentikannya.

Begitu dia agak tenang dia berkata, “Apakah karena uang ini, maka kau menyuruhku kemari?”

“Tidak, aku dengar dari Pengurus Shen kau tidak pergi kesana untuk mengambil obat, bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau sudah hamil tiga bulan, kau menginginkan apa lagi?”

Dengan manja Chun Hong berkata, “Bukankah kau mengatakan aku boleh melahirkan seorang putra untukmu? Aku minta Jiam Si, katanya kali ini anaknya adalah anak laki- laki, aku tidak tega menggugurkan dia.”

Dengan terkejut Meng Ju-zhong berkata, “Tidak boleh.” “Katanya kau adalah ketua Biao.” Dengan tersenyum Chun Hong berkata lagi, “Bukankah aku sudah mau menikah dengan si marga Peng itu? Anggaplah ini adalah anaknya, dia tidak akan tahu, kalau dia tahu juga tidak apa-apa. Dia hanya seorang pegawai, dia tidak akan bertanya macam-macam.”

Chun Hong menutup pintu, sambil bicara dia masuk ke dalam kamar.

Meng Ju-zhong mendekat dan memeluk. Dia tertawa dan berkata, “Sayang, aku tidak tahu kau mempunyai ide ini!”

“Aku belajar dari Tuan Besar. ”

Belum habis berkata, dua bibir saling menyatu, memeluk, meraba dua tubuh bergetar

bersama, nafasnya pun terengah-engah.

Pada saat itu terdengar ada suara yang berbunyi, kemudian terlihat ada cahaya lampu. Lilin pun dinyalakan.

“Siapa?” Meng Ju-zhong membentak, tapi tidak ada yang menjawab.

Saat ketua Biao beristirahat, siapa pun tidak diijinkan untuk masuk ke dalam ruangannya, apalagi....

Hal ini membuat Meng Ju-zhong menjadi marah, dia tidak mau meninggalkan tubuh yang lembut itu, tapi begitu melihat orang yang datang itu dia kaget bukan kepalang.

Di bawah sinar lilin tampak bayangan seseorang. Berbaju ungu, rambutnya digelung, wajahnya cantik dan juga anggun, tapi dingin seperti es.

Dia adalah Hua Shan Zi Feng.

Du Xiang-jun berdiri diam disana, sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Wajahnya pucat, kedua matanya bersorot menghina.

Chun Hong terkejut sampai rohnya terasa sudah tidak menempel di tubuhnya. Dia gemetaran, dengan cepat dia memakai baju dalamnya, dia segera turun dari tempat tidur dan berlutut. Dia berkata, “Nyonya, aku minta ampun, aku ”

“Aku tidak menyalahkanmu, dia adalah tuan besarmu, cepat pakai baju dan keluar dari sini!” Suaranya dingin membuat orang merasa lebih terkejut. Tapi begitu Chun Hong mendengar perkataan nyonyanya, dia merasa senang dan berkata, “Terima kasih, Nyonya!”

Kemudian dia bangun untuk berpakaian, dia berkata, “Nyonya, hamba pergi dulu!”

Dia seperti anjing yang lewat di sisi Du Xiang-jun. dia takut bila Du Xiang-jun akan membunuhnya dengan jurus telapaknya, sesampainya di depan pintu, dia tidak melihat ada gerakan apa pun, hatinya baru merasa tenang.

Du Xiang-jun menahan kemarahan, dia duduk disebuah kursi, dengan pelan dia bertanya, “Tuan Besarku, ada apa ini, katakanlah alasanmu!”

Tubuh Meng Ju-zhong yang tadinya masih bergejolak, sekarang menjadi dingin, dingin sekali. Walaupun dia sudah memakai baju, tapi badannya masih gemetar.

Dia berkata, “Istriku, Chun Hong ”

“Jangan sebut namanya lagi, dia adalah seorang pelayan, mengapa dia berani masuk ke perpustakaanmu!”

“Ini. ”

“Ju-zhong, kita menjadi suami istri sudah dua puluh tahun lebih, putra putri kita sudah dewasa, tidak disangka kau bisa melakukan perbuatan seperti seekor anjing!”

“Istriku, aku ”

Du Xiang-jun tidak mau mendengarkan pembelaannya. Dengan marah dia berkata, “Dulu guruku mengatakan bahwa kau bukan orang baik tapi aku selalu membelamu, karena dia marah sehingga meninggalkan dunia persilatan. Ini semua salahku, aku sangat menyesal! Sudahlah semua sudah terjadi, akhirnya aku sendiri yang melihat semua ini...inilah karma. Terus terang masing-masing orang memiliki keinginan, aku tidak ingin memaksamu lagi, rumah ini aku berikan untukmu, aku akan mencari guruku ”

Sambil menangis dia bicara seperti itu, kemudian dia berdiri dan segera melangkah pergi.

“Istriku!” Meng Ju-zhong menangis dan menarik lengan baju istrinya. Dia berlutut dan berkata, “Istriku, aku bersalah, demi pernikahan kita yang sudah berjalan lama, maafkanlah aku!” Du Xiang-jun menarik nafas dan berkata, “Sungguh memalukan ”

Dia pergi begitu saja, Meng Ju-zhong terpukul dan duduk kembali di kursi. Lama dia terdiam melamun juga terkenang masa lalunya....

= ooOOOoo = Gunung Kong Dong.

Pemandangan disana sangat indah, hutan rimba menutup langit membuat gunung ini terlihat bertambah indah, air yang jernih mengalir melewati kaki gunung.

Tampak ada seorang biksu muda kecil, dia sedang memikul air sambil bernyanyi menuju ke atas gunung.

Wajahnya tampan, bajunya berwarna abu, dia adalah biksu kuil Wen Dao Ging, murid generasi kedua dari Biksu Huang Shi, bernama Yuan Ming, nama biasanya adalah Meng Ju-zhong.

Dia sudah tinggal di kuil Wen Dao Gong sudah enam tahun dan dia menjadi murid Biksu Huang Shi selama empat tahun. Walaupun dia sudah menguasai Zhui Hun Duo Ming-jian Fa dengan lancar, tapi dia tetap harus menanggung pekerjaan berat. Memikul air untuk air minum generasi kedua.

Air mengalir melewati Wen Dao Gong, tapi ketua Kong Dong atau pemimpin selalu menginginkan air dari mata air Huang Long untuk membuat teh, karena itulah dia mengambil air dari gunung itu dan ini adalah pekerjaan Yuan Ming.

Ini sebenarnya pekerjaan yang melelahkan, tapi karena sudah terbiasa dia tidak merasa lelah. Apalagi sekarang dia sedang merasa senang.

Setiap pagi dia bangun pagi dengan senang membawa ember kosong yang besar kemudian naik ke atas gunung. Walaupun di gunung banyak tanjakan yang terjal, tapi dia tetap berjalan seperti melayang.

Ada suara nyanyian mengikuti arah angin bertiup, suaranya merdu dan enak didengar. Yuan Ming dengan cepat mencari sumber suara itu, dia sudah melihat dibalik pepohonan ada empat orang biksuni yang sedang mengumpulkan kayu bakar.

Salah satu dari mereka naik ke atas pohon pinus yang besar dan sedang mematahkan kayu yang sudah mati yang berada dipohon itu. Di bawah pohon ada seorang biksuni kecil sedang menunjuk tempat kayu yang mati, dia berteriak, “Kakak Xuan Qing, kayu itu sudah kuning, apakah itu sudah mati? Bisakah kau mematahkannya?”

Biksuni yang bernama Xuan Qing, Yuan Ming mengenalnya.

Sudah beberapa bulan ini, mungkin karena bantuan Tuhan, Yuan Ming mengenal dia adalah Nona Xuan Qing dari Qing Shui Guan, juga tahu bahwa nama aslinya adalah Han Wu-niang....

Perkenalannya dengan biksuni Xuan Qing adalah kebetulan saja, pada saat itu adalah siang hari, Biksu Huang Shi baru saja pulang dari kota. Yuan Ming tahu bahwa gurunya menyukai kebersihan, setiap kali pulang dari luar, dia pasti ingin mandi. Dia membawa dua ember kosong untuk mengambil air dari Sungai Ying.

“Tolong, tolong ” Dari kejauhan ada yang berteriak minta tolong.

Suaranya datang dari dasar Jing He (sungai). Yuan Ming segera berlari ke arah suara itu, hanya dalam waktu sekejap dia sudah tiba disana.

Dia melihat di pinggir sungai hanya terdapat sebuah ember kosong, yang satu lagi sudah terhanyut air sungai.

Di sungai tampak seseorang yang kadang muncul ke atas air, kadang tenggelam. Dia berteriak minta tolong, dia adalah seorang perempuan.

“Seorang biksu tidak boleh dekat dengan perempuan, apalagi menolong orang yang terhanyut, aku pasti akan menyentuh tubuhnya....

Tapi menolong orang adalah mengumpulkan pahala tujuh tingkat, apalagi seorang biksu harus berbuat baik, masa melihat orang dalam keadaan bahaya tidak menolongnya?

Meskipun dia laki-laki atau perempuan, anggaplah dia yang memang harus kutolong ”

Beberapa pikiran seperti kilat melintas di dalam otaknya, dia hanya ragu dalam waktu singkat sudah meletakkan gentong kosong dan langsung meloncat kedalam air, melewati arus sungai yang deras, mengeluarkan tangan kanannya, mencengkram leher orang itu dan berteriak, “Jangan takut, aku akan menolongmu!”

Dia mencengkeram leher baju orang itu dan berenang kembali ke tampat tadi.... Orang yang tenggelam, bila tangannya berhasil memegang sesuatu pasti akan dicakarnya. Karena dia memiliki insting ingin bertahan hidup dan bernafas, perempuan itu juga mengeluarkan kedua tangan. Kaki Yuan Ming dipegangnya erat-erat dan tidak dilepaskannya lagi.

Yuan Ming sudah masuk Wen Dao Gong selama beberapa tahun, dia terbiasa berenang di Sungai Jing. Berenang atau menyelam tidak masalah baginya tapi menolong orang yang tenggelam, dia sama sekali tidak berpengalaman.

Sekarang kakinya ditarik dan dipeluk oleh perempuan itu, bagaimana dia bisa berenang?

“Cepat, cepat, lepaskan aku, aku akan menarikmu kedarat!” Dia berteriak, mungkin perempuan itu tidak mendengar kata-katanya dan tetap tidak dilepaskan.

Air Sungai Jing mengalir dengan deras, apalagi didaerah sana adalah daerah paling deras, kelihatannya mereka berdua akan tenggelam.

Yuan Ming melepaskan tangan yang mencengkram leher baju perempuan itu dan dengan sekuat tenaga melepaskan kedua tangan perempuan yang masih dengan sekuat tenaga memeluk kakinya. Tapi apa boleh buat, pelukannya begitu kuat, terpaksa Yuan Ming dengan cepat menotok nadi tangan perempuan itu.

Kedua tangan yang ditotok itu menjadi lemas, dia kembali memegang kerah baju perempuan itu dan menariknya ke darat.

Sesampainya di darat, Yuan Ming baru melihat bahwa yang dia tolong adalah seorang biksuni yang cantik dan baru berusia 16-17 tahun.

Karena dia telah minum air sungai terlalu banyak, dia pun pingsan. Mata terpejamkan, terlihat bulu matanya yang panjang.

Dari balik bajunya yang basah terlihat tubuhnya yang langsing dan montok. Badan yang begitu indah. Karena perutnya sudah terisi oleh banyak air sungai, maka terlihat sedikit buncit.

Dia hanya bengong, bajunya yang basah pun lupa diperasnya.

Bayangan dari orang yang barusan dilihatnya seperti perpustakaan yang membuat debu-debu yang tersimpan di lubuk hati yang paling dalam beterbangan seperti tertiup angin. Selama beberapa tahun debu yang menumpuk di dalam hatinya dan selama beberapa tahun ingatannya yang dulu, sekarang muncul dan mengambang, mengantarkannya ke dunia nyata....

Apakah Tuhan yang mengatur semua ini? Atau hanya kebetulan?

Mengapa dalam dua macam kehidupan ini, ada wajah yang hampir sama. Walaupun warna kulit dan baju tidak sama, tapi itu pun sulit dibedakan apalagi bulu matanya yang panjang, begitu matanya terbuka, dia bisa bicara.

Enam tahun yang lalu, waktu seperti panah begitu cepat lewat di depannya, walaupun berlangsung seperti itu tapi itu pun seperti sangat lama, sekarang dia mengenang kembali perasaan itu, rasanya baru kemarin terjadi.

Karena wabah, ayah dan ibu secara berturut-turut meninggal. Demi ayah ibunya supaya tenang di dalam kubur, dia menjual tenaganya menjadi tukang pikul buku di Tian Zhu. Karena dia rajin dan memiliki tenaga yang besar, maka dia sangat disayang oleh pengurus keluarga Zhu juga Tuan Zhu.

Walaupun hanya menjadi pelayan, tapi dia tidak kekurangan makan atau pun pakaian, hidup pun terasa tenang.

Kalau saja Tuan Zhu tidak mempunyai putri manja dan bersikap semaunya, maka tidak akan terjadi sesuatu peristiwa.

Nona Zhu berumur enam belas tahun, seorang gadis yang sudah cukup untuk dinikahkan tapi entah mengapa, Nona Zhu akrab dan dekat dengannya.

Awalnya Nona Zhu sering mencari alasan menyuruhnya mengerjakan sesuatu, tapi semakin lama dia menjadi genit atau mengatakan kata-kata cabul untuk menggodanya.

Waktu itu Meng Ju-zhong baru berusia tiga belas tahun, dia tidak begitu paham mengenai masalah cinta dan mencintai.

Walaupun Nona Zhu tidak berbeda jauh usianya dari usia Meng Ju-zhong, tapi dia sudah mengerti tentang lawan jenis dan menginginkan kelembutan dari lawan jenisnya.

Dia tahu yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat kaya tapi laki-laki itu bungkuk dan sering sakit-sakitan. Umurnya pun sudah tiga puluh tahun.

Dia melihat Meng Ju-zhong yang tampan dan juga masih muda, dia ingin Meng Ju- zhong bisa memenuhi hasratnya. Perasaan terpendam benar-benar melahirkan tenaga yang tidak terbayangkan, perasaan ini membuat Nona Zhu terlihat bodoh dan kebingungan, bahkan lupa dengan identitasnya sendiri. Membuat Meng Ju-zhong mabuk kepayang dan tidak bisa menguasai dirinya lagi. Akhirnya perbuatan mereka diketahui juga oleh orang-orang.

Karena keburukan dalam keluarga tidak boleh diketahui oleh orang luar, Meng Ju- zhong harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya ini.

Tuan Zhu mengikuti peraturan di rumah, Meng Ju-zhong dipukul hingga terluka parah, sebisa mungkin hingga pingsan dan mati.

Semua orang mengira dia sudah mati dan melemparkan mayatnya ke luar kota. Mungkin dia memang tidak harus mati. Biksu Huang Shu yang kebetulan lewat disana membawanya pulang ke Wen Dao Gong....

Setelah agak lama melamun, Yuan Ming merasa dia harus mengeluarkan air dari perut biksuni itu, bila terlambat menolong, dia akan mati karena kekurangan nafas.

Segera dia memeluk biksuni itu, lalu wajahnya diletakkan di atas sebuah batu dan kedua tangannya memijat pinggang buksuni itu. Air yang tertelan tadi segera keluar dari mulutnya.

Hanya dalam waktu sekejap dia mulai siuman.

Pertama tubuhnya yang bergerak kemudian dia mengigau, “Guru ”

Karena Yuan Ming belum pernah menolong orang, dia merasa sangat senang, dia berkata, “Biksuni kecil, apakah kau merasa agak baikkan?”

Biksuni itu membalikkan badannya, dia ingin duduk tiba-tiba dia melihat Yuan Ming dengan jelas dan berteriak, “Kau, kau siapa? Kau mau apa ”

Dia merasa mengenal orang itu, dia juga mengetahui bahwa tubuhnya basah dan dia segera mengerti dengan keadaan sebenarnya.

Apa yang telah terjadi, dia merasa malu dan bertanya, “Apakah kau yang sudah menolongku ”

Dia sekarang sudah teringat kembali dengan musibah yang menimpanya, gentong kayu terlepas dari kaitannya, dia mencoba mengambilnya dari sungai, tapi malah dia sendiri yang tercebur ke dalam sungai.... Meng Ju-zhong ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa membuka mulutnya, akhirnya dia hanya mengangguk.

Biksuni itu berdiri dan membereskan bajunya, dia berkata, “Terima kasih kau sudah menolongku, aku permisi pulang.”

“Kita adalah sesama murid Budha, tidak perlu merasa sungkan.”

Yuan Ming baru teringat bahwa gurunya masih menunggu air untuk mandi. Dengan cepat dia berkata, “Aku sudah keluar cukup lama, aku takut guruku marah, akupun permisi.”

Baru berjalan beberapa langkah, di belakang ada yang berkata, “Biksu kecil, silakan....

aku ”

Dia berhenti dan membalikkan badan, baru dia sadar disana adalah sisi sungai yang sangat curam. Dia adalah seorang perempuan lemah, biasanya perempuan sulit untuk memanjat apalagi dia sudah terendam air sungai cukup lama, dia pasti tidak kuat.

Bagaimana dia bisa pulang? Dia ragu, tadinya dia menolong orang karena terpaksa bersentuhan tubuhnya, sekarang bila dia membantu lagi, maka dia akan menyentuh tubuh

biksuni itu....

Setengah memapah, dia berjalan disisi sungai yang curam. Memapah tangannya yang seperti tidak bertulang, badannya lembut dan lemah.

Hati Meng Ju-zhong terasa kacau, dia berharap disisi jalan sepanjang sungai ini semakin curam dan selama-lamanya tidak akan sampai di tempat tujuan....

Tapi akhirnya dalam waktu sebentar mereka sudah sampai. Dia melepaskan tangan biksuni itu tapi dia sedikit bingung.

Biksuni kecil itu berteriak lagi, “Gentong kayu, gentong kayuku hanya tinggal satu, bila diketahui guru, dia akan ”

Dia menangis, air mata mulai menetes, Meng Ju-zhong melihat biksuni itu bertambah cantik.

Dia seperti menjadi bodoh, dia ingin menolongnya dengan sekuat tenaga, tapi apa yang dia bisa lakukan? Tiba-tiba dia melihat ukuran gentong kayunya dengan gentong kayu milik biksuni itu sama, dia berkata, “Jangan takut, gentong kayuku boleh kau pinjam dulu.”

“Apakah bila gurumu tahu, kau pun akan terkena marah?”

“Gentong air yang aku sering pakai ada beberapa buah, kau jangan merasa khawatir.”

Yuan Ming memikul air, tangan kanannya mengangkat satu gentong, lalu mengantar biksuni kecil itu sampai di depan di Qing Shui Guan, kemudian dia kembali lagi ke Wen Dao Gong, mengambil gentong air baru mengambil air ke sungai....

Hatinya merasa senang karena tadi sewaktu mereka akan berpisah biksuni itu dengan malu-malu memberitahu bahwa dia bernama Xuan Qing.

Semenjak itu setiap kali mengambil air dia selalu pergi pagi-pagi dan pulang sangat terlambat. Dia mengharapkan bisa bertemu dengan Xuan Qing, tapi dia selalu kecewa.

Jika secara kebetulan bertemu, dia hanya akan tertawa malu dan mengobrol dengannya satu dua kata tapi ini pun sudah membuat hati Yuan Ming berbunga-bunga, sepertinya hari terasa lebih tenang, angin pun berhembus lembut.

Saat yang membuatnya senang adalah dia memberitahukan nama aslinya, dia bermarga Han dan bernama Wu-niang. Yuan Ming pun memberitahu nama aslinya.

Ada suara tawa yang membangunkan Yuan Ming dari khayalannya, terdengar Xuan Qing berkata, “Kau kira aku tidak bisa mematahkan kayu ini? Hanya sekali pukul kayu itu pasti patah, apakah kau percaya?”

Biksuni kecil itu tertawa dan berkata, “Kakak berhasil menguasai telapak pia pia (semacam alat musik) sebanyak 50%. Aku mendengar guru bercerita hanya aku belum pernah melihatnya. Bila sekarang Kakak bisa memperlihatkannya, kami bisa melihatnya dengan puas."

“Baiklah, sekarang kalian lihat!” Xuan Qing mengangkat tangannya dengan tenaga penuh kayu yang sudah mati itu pun segera patah.

“Ilmu yang bagus,” Yuan Ming melihat dari kejauhan, dia kagum dan juga memuji. Kayu berjatuhan, tapi ada sesuatu yang keluar dari hutan babi hutan.

Babi itu terdiam sebentar kemudian membalikkan badan seperti mengamuk. Kemudian berteriak dan menyerang ke seorang biksuni kecil. Hal ini terjadi begitu tiba-tiba, biksuni kecil itu terkejut dan berdiri mematung.

Xuan Qing juga kaget, dia melihat adik seperguannya berada dalam bahaya, dia meloncat dari atas pohon dan mengeluarkan serangan dan mengenai pantat babi hutan itu.

Babi hutan itu tidak begitu besar, dia dipukul hingga berguling dan berteriak berlari masuk kembali ke dalam hutan.

Biksuni-biksuni itu melihat babi hutan masuk kedalam hutan, mereka sangat senang.

Dengan tertawa mereka mengelilingi Xuan Qing dan tertawa, “Kakak Tertua, kau benar- benar hebat, babi hutan pun takut kepada pukulanmu.”

Tapi Xuan Qing seperti tidak menyukainya pujian mereka, dia terdiam kemudian berkata, “Adik-adik, babi hutan binatang yang galak yang tadi itu hanya yang kecil, sekarang setelah dirugikan, kelak babi hutan besar akan datang untuk membalas dendam, lebih baik kita cepat pulang!”

Biksuni kecil itu tertawa dan berkata, “Kakak jangan mengagetkan kami, babi hutan bukan orang, mana bisa dia mengerti tentang balas dendam?”

“Bila kalian tidak percaya, sudahlah. Tapi kayu yang kita ambil sudah cukup, mari kita pulang!”

“Tidak!” jawab biksuni kecil itu, “Guru sedang pergi. Kakak, lebih baik hari ini kita main dulu.”

Xuan Qing terlihat ragu kemudian dia berkata, “Aku takut. ”

Yuan Ming takut bila dia melihat terlalu lama, keadaannya akan diketahui, dia menarik nafas dan membawa gentong kembali ke atas gunung, hanya beberapa langkah hatinya seperti kehilangan sesuatu, dia membalikkan badan lagi untuk melihat....

Meng Ju Hong dengan cepat mengisi air dan menelusuri jalan yang tadi dia lewati, karena berjalan turun gunung maka itu dia bisa berjalan lebih cepat.

Baru saja memutari satu gunung, tiba-tiba dia mendengar lagi suara ribut. Suara ini seperti campuran suara perempuan berteriak dan suara babi hutan mengamuk.

“Celaka!” Meng Ju-zhong segera berlari ke depan, ternyata benar apa yang dia perkirakan. Dari jauh dia melihat ada seorang biksuni kecil memanjat pohon kecil, dia berteriak karena di bawah pohon ada dua ekor babi hutan yang sedang menggigit pohon itu dengan giginya yang tajam.

Babi hutan yang lain kira-kira sebanyak 5-6 ekor seperti yang sudah gila, mereka berteriakan. Mereka menyerang tiga biksuni lainnya, mereka bertiga bisa ilmu silat tapi mereka tidak membawa senjata, mereka memakai kayu untuk dijadikan pedang.

Dua biksuni lagi tidak bisa silat, kayu pun tidak berguna. Mereka sudah kalang kabut, untung mereka bisa ilmu meringankan tubuh baru bisa lolos dari keadaan yang berbahaya ini.

Hanya Xuan Qing yang lebih tua, juga bisa menjadikan kayu sebagai pedang. Tapi dia diserang oleh tiga ekor babi hutan. Dia diserang karena dia melindungi adik-adik seperguruannya.

Yuan Ming segera meletakkan gentong kayu, berlari dan berteriak, “Kawan, jangan takut, aku datang menolong.”

Dia berlari. Pikulan gentong dia jadikan pentungan, segera menyapu babi hutan yang berada disisi Xuan Qing.

Babi hutan adalah binatang bodoh tapi dia bisa mendengar, dia tahu ada yang datang. Babi itu ingin melarikan diri tapi terlambat, pentungan sudah mengenai lehernya. Karena kesakitan, babi itu lari ketempat jauh.

Dua ekor babi hutan lainnya melihat temannya diserang hingga terluka. Mereka meninggalkan Xuan Qing dan mulai menyerang Yuan Ming.

Xuan Qing melihat Yuan Ming datang, hatinya menjadi lebih tenang. Pukulannya pun lebih mantap. Sebuah kayu mengenai mata babi itu, karena kesakitan babi itu berteriak dan kabur.

Yuan Ming melihat dua ekor babi menyerangnya, dia terkejut, karena terlambat menghindar, bajunya digigit dan sobek.

Tapi bersamaan dengan itu dia juga berhasil memukul babi itu dengan kayu dan mengenai pantarnya, babi pun berteriak dan melarikan diri.

Babi yang lain pun sudah berlarian hingga tidak meninggalkan jejak. Hutan kembali sepi lagi. Matahari yang berwarna merah sudah tenggelam masuk ke dalam gunung, hanya menyisakan awan yang berwarna merah.

Para biksuni kecil itu berkumpul dan memberi hormat kepada Yuan Ming, “Terima kasih sudah menolong kami!”

Yuan Ming diam-diam melihat wajah Xuan Qing yang berkeringat, dia menjawab, “Ini adalah kewajiban seorang umat Budha.”

Biksuni-biksuni melihat dia yang malu-malu, mereka bersamaan tertawa membuat wajah Yuan Ming bertambah merah.

“Kalian mungkin masih terkejut, aku akan mengantar kalian pulang.”

Yuan Ming melihat Xuan Qing, waktu itu Xuan Qing pun sedang melihat ke arah Yuan Ming, dua pandangan bertemu segera keluar percikan api asmara. Mereka sama-sama menunduk.

Salah satu dari biksuni itu melihat mereka berdua yang malu-malu, dia berkata, “Dia ingin mengantar kita, kita harus merasa senang. Adik-adik, mari kita pergi.”

Dia sengaja memanggil adik-adik, tapi tidak memanggil kakak seperguruannya. Mereka sudah tahu, walaupun mereka tidak berbicara tapi mereka tertawa dan terburu-buru pergi meninggalkan mereka berdua.

Xuan Qing berkata, “Kakak Yuan Ming, terima kasih, kau sekali lagi menolongku.” “Adik Wu-niang.” Begitu memanggil, wajah Yuan Ming sudah memerah karena malu.

Sewaktu dia bermimpi kadang dia juga sering meneriakkan namanya tapi hanya hari ini dia baru berani mengatakan langsung di depan Xuan Qing.

Yuan Ming berkata, “Kita tidak perlu merasa sungkan, siapa pun yang melihat kejadian itu, pasti akan menolong, apalagi. ”

Hati Xuan Qing bergetar, sekarang dia melihat biksuni-biksuni yang lain sudah meninggalkan dia. Dia tergesa-gesa berkata, “Aku harus pergi.”

Dengan cepat dia meninggalkan Yuan Ming.

Yuan Ming berkata, “Adik Wu-niang, aku akan mengantarkanmu pulang.” “Tidak perlu!” Xuan Qing menolak tapi begitu melihat wajah Yuan Ming begitu kecewa, dia tidak tega dan berkata lagi, “Baiklah, tapi jangan ”

Mereka berdua bersama-sama berjalan melewati gunung.

Dibawah sinar matahari yang terbenam, terlihat bayangan mereka begitu dekat. Angin malam yang berhembus lembut seperti mendengar kata-kata mereka yang begitu mesra.

Malam sudah tiba, Qing Shui Gan sudah terlihat.

“Kak Ju-zhong.” Xuan Qing berhenti melangkah dan berkata, “Pulanglah, kalau terlambat pulang, gurumu akan marah.”

“Tidak, aku mengantarkanmu sampai di luar kuil.”

“Jangan, bila guru melihat semua ini, beliau akan marah kepadaku.” “Bukankah gurumu tidak berada di dalam kuil?”

“Walaupu beliau tidak ada, itu pun tidak boleh, adik-adik seperguruan kalau kau tidak

mau pulang, aku juga tidak mau berjalan lagi.” Dia benar-benar meletakkan kayu bakar itu di bawah.

Yuan Ming ragu sebentar, dia meletakkan gentong kayu itu dan memandang dia lalu berkata, “Wu-niang, aku ”

Karena merasa malu Xuan Qing menundukkan kepala dan bertanya, “Kak Ju-zhong, apakah masih ada hal lainnya yang penting? Kalau tidak ada lebih baik kau juga cepat pulang nanti. ”

Tiba-tiba tangannya dipegang oleh tangan yang besar, hati Xuan Qing bergetar. Dia melihat ada sepasang mata sedang memandang ke matanya.

Segera Xuan Qing merasa badannya gemetaran dan berkata, “Kak Ju-zhong, kau, kau jangan begitu ”

“Wu-niang, aku hanya ingin bersamamu melewati waktu yang lebih panjang, apakah tidak boleh?”

Suara Yuan Ming ringan dan lembut, benar-benar membuat hatinya bergetar. Xuan Qing menjadi mabuk kepayang, hatinya timbul perasaan lembut. Kelembutan tiba-tiba berubah menjadi api yang berkobar, membakar tubuhnya, dia merasa lemas, dia tidak menjawab karena badannya sudah limbung hingga terjatuh ke depan dan disambut oleh sepasang tangan yang kuat.

Xuan Qing merasa dadanya begitu lebar, begitu kuat, cukup untuk....

Wajah yang panas sudah menempel di wajahnya, hati Xuan Qing bergetar tapi tubuhnya tidak berani bergerak. Dengan penuh perasaan dia diam di pelukan yang lebar itu.

Kemudian kedua tangan kecilnya dengan pelan-pelan memegang leher, bibir bergeser dan

mencari....

Mereka berdua tidak mengatakan apa pun, sekarang tidak bersuara lebih baik dibanding ada ada suara.

Mereka sudah melupakan keadaan sekeliling. Angin berhembus sepoi-sepoi, suara daun berbunyi gemirisik adalah musik yang indah, hanya sebentar seperti sudah menghilang.

Kelembutan sudah terjatuh ke jurang yang dalam, terjatuh ke jurang yang dalam....

“Kakak, guru menyuruh kami mencarimu pulang!” Teriakan terdengar dari jauh seperti guntur, membuat mereka terkejut dan terbangun dari buaian mimpi. Dua tubuh yang panas itu tiba-tiba terpisah.

Xuan Qing mengira adik seperguruannya yang memanggil sudah berada di depan dan mengetahui keadaan mereka tadi, dia terkejut dan berkata, “Cepat pergi!”

Dengan cepat dia mengambil kayu bakar yang tadi dia letakkan di bawah, tapi dari belakang Meng Ju-zhong memeluknya lagi.

Suaranya seperti angin panas membuat hatinya bergetar. “Adik yang baik, aku masih rindu kepadamu.”

Dengan lembut Yuan Ming berkata lagi, “Apakah kita bisa sering bertemu?”

“Tidak.” Begitu dia mengatakan tidak, dia merasa tidak tega dan berkata lagi, “Bagaimana nanti.”

“Tidak, aku ingin tahu jawabanmu.” Yuan Ming tidak melepaskan dia, malah pelukannya lebih kuat, membuat orang menjadi lembut, dia ragu kemudian dengan tergesa-gesa berkata, “Setengah bulan lagi guru akan pergi, kita bertemu di malam itu bagaimana?”

“Dimana?”

“Apakah kau tahu Gui Yun Dong? (Gua Gui Yun) disanalah ”

= ooOOOoo =

Waktu itu Yuan Ming benar-benar seperti seekor binatang, dia menganggap Xuan Qing yang lembut dan hangat itu adalah Nona Zhu yang dulu pernah menggodanya. Dengan kasar dia menarik baju dan gaun Xuan Qing, kemudian melampiaskan....

Xuan Qing hanya memberontak sebentar, kemudian dengan lembut dia menurut dan menerima. Biar saja bila semuanya sudah terjadi dan dia merasa malu, sakit, atau bahkan menangis, tapi dia mengira Meng Ju-zhong benar-benar suka kepadanya, apa yang dia lakukan kepadanya adalah wajar, perlu dan harus....

Sekarang dia menempelkan wajahnya yang panas didada Meng Ju-zhong yang lebar, mengatakan kata-kata yang dia sendiri pun tidak mengerti. Hatinya penuh dengan rasa manis, hangat seperti telah susah payah, akhirnya nenemukan tempat berteduh.

Yuan Ming terengah-engah, kemudian degup jantungnya yang berdebar kencang baru reda. Dia mulai sadar apa yang telah dia lakukan.

Dia mulai merasa malu, dia berkata, “Adik Wu-niang, aku maafkan aku.”

“Mengapa kau harus begitu?” Xuan Qing dengan manja berkata, “Ini sangat baik, aku akan selalu menjadi milikmu, lebih awal atau akhir aku akan tetap memberikannya kepadamu.”

“Tidak, tidak boleh, kita tidak boleh ”

“Apa!” Xuan Qing kaget dan bangun. Dia berteriak, “Apakah kau membuatku seperti ini, setelah itu membuangku?”

“Tidak!” Yuan Ming juga duduk. Tangan Yuan Ming diletakkan di pundak Xuan Qing yang bersih dan lembut. Dengan suara kecil dia berkata, “Wu-niang, kita berdua adalah biksu dan biksuni, jodoh kita hanyalah mimpi.” Xuan Qing berkata, “Tidak, bukan mimpi, Kak Ju-zhong, aku tidak bisa meninggalkanmu. Kita pergi, pergi jauh meninggalkan Kong Dong. Kita pergi keperbatasan mencari tempat, hidup seperti orang-orang desa biasa. Pagi-pagi ke sawah bekerja, malam pulang... aku akan melahirkan anak-anak sehat dan gemuk.”

Sambil berkata seperti itu dia masuk lagi ke dalam pelukan Yuan Ming. Dengan lembut dia berkata, “Kakak, apakah kau setuju?”

Sampai sekarang Yuan Ming baru tahu bahwa Xuan Qing begitu baik, perasaan dan tubuhnya sama-sama terasa hangat.

Kehangatan tubuhnya merasuk hingga ke dalam sukmanya, membuat dia mabuk. Dengan erat dia memeluk Xuan Qing.

Ciuman bertubi-tubi, didaratkan di pipi, bibir, sehingga Xuan Qing hampir tidak bisa bernafas hatinya pun menjadi kacau.

Xuan Qing pun dengan lembut membalas mencium Yuan Ming. Mereka berdua dengan puas menikmati bau dari lawan jenisnya, hanya dalam waktu singkat, kedua tubuh yang masih setengah telanjang mulai gemetar.

Keadaan ini memberitahu Yuan Ming bahwa dia harus berlaku lembut, tapi gerakannya malah kasar seperti seekor binatang. Xuan Qing tenggelam di samudra yang bergelombang, dia tertawa dengan manis, dia membiarkan Yuan Ming....

Yuan Ming sekali lagi merasa puas.

Tiba-tiba dia mendengar suara bentakan keras, “Kau seperti seekor anjing, kau menghina muridku! Keluar!”

Yuan Ming terkejut hingga rohnya seperti terlepas dari tubuhnya. Dengan cepat dia meninggalkan tubuh yang lembut itu. Setelah itu baru memakai baju, dia sudah melihat seorang biksuni yang berumur lima puluh tahunan berdiri disana. Wajah dingin seperti lempengan besi.

Dia adalah penanggung jawab kuil Qing Shui Guan. Shui Jing Shi Tai.

“Kau sudah menghina muridku, kau harus mati” Shui Jing Shi Tai berteriak, dengan jurus Wu Ding Kai Shan (Lima Orang Menbuka gunung), telapak kanannya sudah membawa angin kencang, menghujam ke arah kepala Yuan Ming. Tubuh Yuan Ming masih tidak bertenaga, mana bisa dia menghindar? Dia merasa sudah dikelilingi oleh angin pukulan, dalam hati dia berteriak, “Mati aku ”

“Guru!” terlihat Xuan Qing berteriak.

Walaupun dia belum selesai memakai baju, tapi dia sudah berdiri dan menarik tangan biksuni Shui Jing dan berteriak, “Guru, ini bukan salahnya, aku yang mengajaknya kemari ”

“Apa?” Shui Jing berhenti bergerak dan marah, “Apakah semua ini adalah ulahmu juga?”

“Guru, murid yang mengajaknya bukan salah dia!”

Terdengar suara tamparan.

Yuan Ming masih dalam keadaan kaget, sudut mulut Xuan Qing sudah berdarah. Dia ingin menjelaskan tapi waktu ini pun Yuan Ming merasa ada angin pukulan menyerangnya dan mengenai nadi. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, tapi dia menahan sakit ini supaya tidak mengeluarkan suara.

“Perempuan jalang, kau berani melanggar peraturan kuil, melakukan hal yang memalukan, aku harus memusnahkanmu!” Kata-kata Shui Jing memang kejam, tapi suaranya lebih kecil, tangan yang siap diayunkan, terayun lemas di sisi tubuhnya.

Dia bertanya, “Muridku yang baik, kau harus jujur kepada guru, apakah kau diperkosa oleh binatang ini?”

“Guru,” Xuan Qing berlutut dan berkata, “Muridmu ini masih memiliki hati orang biasa, aku telah berdosa, ini juga membuat Guru marah. Guru, aku harap Anda mengijinkan muridmu ini mengikuti Kakak Meng pergi. Laki-laki bekerja di sawah, perempuan menenun, seperti kehidupan orang biasa, Guru tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku lagi.”

“Kau keterlaluan!” Shui Jing marah lagi dan membentak, “Perempuan jalang! Gurumu mengurusmu selama sepuluh tahun lebih, aku hanya berharap supaya kau meneruskan pekerjaanku dan menjadi pengurus Qing Shui Guan, tidak kusangka.... baiklah aku tidak bisa mengharapkanmu lagi, hari ini aku akan membunuhmu, biar rohmu juga bertanggung jawab

kepada nenek moyangmu.” Tangan Shui Jing mulai melayang, Yuan Ming dengan cepat berlutut dan berteriak, “Shi Tai (panggilan biksuni yang sudah berumur) jangan salahkan dia, akulah yang menggodanya, lepaskanlah dia!”

Shui Jing marah dan berkata, “Kalian berdua yang tidak tahu malu, bila kalian benar saling mencintai, tapi jangan harap aku akan merestuinya. Biarlah, aku lihat bagaimana reaksi Biksu Guang Mu dan bagaimana cara beliau menghukummu? Setelah itu baru aku akan membereskan si jalang ini.”

Dengan terpincang-pincang Meng Ju-zhong berjalan dijalan setapak gunung kecil. Dia bingung karena tidak ada tujuan, tapi kakinya melangkah dari arah Gua Gui Jun.

Dia berjalan dengan susah payah, hanya di dalam hatinya ada kekuatan yang memberinya semangat.

Shui Jing melakukan apa yang telah dia katakan, dia mengikat Yuan Ming membawa dia ke Wen Dao Gong, lalu melihat Biksu Guang Mu mengumpulkan semua orang yang berada di kuil.

Dihadapan semua orang, dia dipukul sebanyak empat puluh kali di pantat, kemudian mencabut namanya dan diusir dari kuil.

Semenjak itu Meng Ju-zhong bukan seorang biksu lagi, dia sudah menjadi orang biasa, bisa menikah, mempunyai anak dan menikmati hidup berkeluarga.

Tapi pukulan sebanyak empat puluh kali di pantat membuatnya merasa sakit karena kulitnya terkelupas. Dia merasa kecewa, yang membuat dia bertahan hanyalah seseorang yang sedang menunggu di Gua Gui Yun.

Entah siapa yang sudah memasang tikar, mungkin diatas tikar masih ada bukti dari perwujudan kasih sayang mereka.

Matahari dengan perlahan muncul, cahayanya seperti tangan yang beribu-ribu mengangkat awan pagi yang cerah.

Hutan sudah terbangun, angin pagi berhembus sepoi-sepoi, dari jauh terdengar suara hutan cemara bergejolak, pohon Yang Liu menari-nari, burung yang indah sedang berkicau. Jika dalam keadaan biasa Meng Ju-zhong akan merasa sangat senang dengan keadaan ini. 

Di dalam kuil Wen Dao Gong, kecuali ada paman guru yang galak, masih ada kakak dan adik seperguruan yang bermacam-macam. Yang membuat dia berpikir adalah gurunya, Biksu Huang Shi yang pernah menolongnya. Walaupun beliau orang ramah tapi juga susah untuk didekati.

Hanya alam yang bisa membuat jiwanya merasa bebas, apalagi semenjak bertemu dengan Xuan Qing, kehidupan di luar kuil terasa lebih cocok.

Dalam suasana sepi dia bisa melihat harapan hidup atau memikirkan kehidupannya yang akan datang.

Kemarin sesudah makan siang, dengan lancar pekerjaannya berhasil diselesaikan. Dengan gelisah dia menunggu matahari terbenam, makan malam pun tidak dimakannya.

Dia beralasan ingin berlatih silat di luar, membawa sedikit makanan kering dan menunggu disini, akhirnya orang yang ditunggu-tunggunya muncul. Tapi, apa yang akan dia lakukan?

Shui Jing Shi Tai di gunung Kong Dong adalah orang yang sangat lihai, dia akan menghukum Xuan Qing dengan cara apa? Apakah dengan cara seperti Biksu Guang Mu menghukumnya? Badannya begitu lemah, apakah dia bisa tahan?

Tikar masih terbentang disana. Di atas tikar masih tersisa harum tubuh Xuan Qing. Tikar itu masih ada, tapi dia tidak terlihat. Meng Ju-zhong merasa sedih, air matanya pun menetes.

Semenjak ayah dan ibunya meninggal, dia belum pernah menangis. Beberapa tahun yang lalu, sewaktu dipukuli pun dia tidak meneteskan air mata.

Dia hanya merasa sedih, marah dan berusaha menahan pukulan sebanyak empat puluh kali. Dia mengira itu memang hukuman yang harus ditanggungnya, dia merasa malu, dia juga merasa menyesal terhadap perlakuannya terhadap Xuan Qing yang masih suci.

Tapi sekarang air matanya seperti air sungai tidak bisa berhenti menetes. Tapi dia tidak mau menghapusnya, dia membiarkan air matanya menetes, seakan air mata ini bisa membersihkan penyesalan didalam hatinya.

Matahari sudah bersinar, dia tidak bisa menangis lagi, sepertinya air mata sudah habis dan kering. Otaknya terasa kosong, dia seperti melihat tapi apa pun dia tidak terlihat.

Tiba-tiba di luar gua, ada suara langkah ringan, dia merasa kaget dan juga senang. Pasti dia yang datang! Segera dia berdiri dan ingin keluar dari gua. Tapi dia merasa suara langkahnya tidak mirip, dia kembali duduk di atas tikar.

Sesosok bayangan masuk ke dalam gua, Meng Ju-zhong tidak melihat tapi ada suara yang dikenalnya berkata, “Yuan murid Yuan, apakah kau berada disini?”

Yang datang adalah Biksu Huang Shi.

“Guru ” Meng Ju-zhong berdiri dan berteriak, dia tidak bisa bicara hanya meneteskan

air mata.

“Anak, apakah kau tersiksa,” Biksu Huang Shi menarik nafas dan berkata, “Kakak Guru Huang Mu sifatnya lurus, apalagi ada Shui Jing Shi Tai di sisinya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa ”

“Guru, ini memang salahku ”

“Tidak,” Biksu Huang Shi memotong kata-katanya dan berkata, “Orang bukan kayu atau rumput, yang tidak memiliki perasaan. Aku, sebagai gurumu juga pernah mengealami hal seperti itu, aku mengerti perasaanmu.”

Meng Ju-zhong ragu tapi dia berkata, “Guru, aku sudah dikeluarkan dari Kong Dong Pai dan diusir dari Wen Dao Gong, apakah kau masih mau mengakui aku ini adalah muridmu?”

Biksu Huang Shi tertawa dan berkata, “Itu omongan anak-anak. Meskipun kau bukan murid Kong Dong Pai lagi, tapi kau tetap muridku, kenapa seorang guru tidak boleh mengakuinya?”

“Terima kasih, Guru!” Meng Ju-zhong berlutut.

Biksu Huang Shi berkata lagi, “Tapi kau harus ingat, begitu kau turun dari sini, bila kau sudah kaya, kau tidak boleh mengatakan bahwa aku adalah gurumu, kalau kehidupanmu biasa, itu tidak apa-apa.”

Meng Ju-zhong terpaku dan berkata, “Tidak Guru, muridmu tidak bisa menuruti perintahmu.”

“Mengapa?”

“Guru, bila aku kelak hidupku sengsara, itu tidak apa-apa, sampai mati pun aku tidak akan mengatakan bahwa aku adalah muridmu. Tapi bila aku menjadi kaya, aku akan mengatakan pada semua orang, tentang kebaikan dan budi Guru. Tenanglah Guru, muridmu ini tidak akan mencoreng wajah Guru.”

Biksu Huang Shi tertawa dan berkata, “Kau benar-benar muridku yang baik. Tapi jangan salah paham, coba pikir bila kau berkecimpung di dunia persilatan dan hanya menjadi orang biasa, lalu kau mengatakan bahwa kau adalah muridku, kau bisa apa? Tapi bila kau sudah kaya, dan mengatakan bahwa kau adalah muridku akan banyak yang menyampaikan hal ini hingga ke gunung Kong Dong, itu akan merepotkan.”

Meng Ju-zhong berpikir sebentar lalu berkata, “Guru benar tapi orang sepertiku tidak akan berjaya.”

“Tidak, kau berbadan bagus dan pintar, semua ini adalah modalmu untuk belajar ilmu silat. Tenaga dalammu dan ilmu pedang pun sudah ada dasar, hanya saja peraturan Kong Dong terlalu ketat. Mereka terlalu kaku menuruti peraturan dan ini merugikan bakatmu.”

Biksu Huang Shi dari balik bajunya mengeluarkan sebuah buku kecil. Dia berkata, “Kita adalah guru dan murid, kita berjodoh. Kelak kau tidak akan bisa melihat ilmu Kong Dong lagi, gurumu membawakan buku rahasia ini. Berlatih beberapa hari disini, soal makanan aku akan mengantarkannya sendiri.”

Meng Ju-zhong menerima buku ini, dia merasa kaget. Tulisan di dalam buku itu sangat rapi, Chui Hun Duo Ming-jian Pu dalam beberapa huruf.

Harus dimengerti, di dunia persilatan murid-murid belajar ilmu silat selalu disampaikan langsung, dari buku silat itu, dia tahu bahwa ilmu yang dipelajari baru sedikit.

“Guru,” Meng Ju-zhong berlutut dan berkata, “Buku rahasia ini Anda dapatkan dari mana?”

Biksu Huang Shi tertawa kecut dan berkata, “Kau jangan banyak tanya, cepatlah belajar! Tapi ingat beberapa hari ini kau harus mengembalikan kepadaku dan tidak boleh ada yang tahu bahwa kau bersembunyi disini, lebih-lebih tidak boleh disalin.”

“Aku pasti menuruti perintah Guru.”

Begitu biksu Huang Shi pergi, Meng Ju-zhong segera melihat buku rahasia ini, tapi hati yang rindu tidak bisa diredakan begitu saja.

Sudah lewat semalam dia baru mengerti hanya berpikir tidak ada gunanya. Dia berkonsentrasi, mulai melihat dan mencari tahu. Meng Ju-zhong adalah orang yang pintar, dia tahu bahwa ilmu silat Kong Dong sangat dalam, dalam waktu hanya beberapa hari ini saja tidak akan bisa menguasai semuanya.

Dia bertekad menghafal di luar kepala. Hanya beberapa hari satu buku Zhui Hun Duo Ming-jian Fa berhasil dia hafalkan.

Pada suatu sore, Biksu Huang Shi datang dengan tergesa-gesa, dia tidak membawa sayur atau pun makanan, dia hanya memberi beberapa uang kecil kepada Meng Ju- zhong dan berkata, “Muridku, tidak tahu siapa yang mengetahui bahwa kau bersembunyi disini. Besok mereka pasti akan datang dan mengusirmu, cepat tinggalkan tempat ini. Bawalah uang ini! Cukup untuk hidup satu bulan lebih. Kelak guru sudah tidak bisa mengurusmu lagi.”

Meng Ju-zhong berlutut kepadanya dan menangis, “Budi Guru lebih tinggi dari gunung, setiap saat murid akan mengingat semua budi Guru. Mungkin sekarang aku tidak bisa membalasnya tapi setelah reinkarnasi aku akan menjadi kuda atau sapi, pasti akan datang untuk membalas budi Guru.”

Dia mengembalikan buku rahasia itu kepada Biksu Huang Shi. Segera dia menyimpan di balik bajunya dan pergi, tapi dia berhenti sebentar dan berkata, “Nak, ada satu hal yang harus aku beritahu kepadamu. Mungkin setelah kita berpisah, kita tidak akan bertemu lagi. Aku tidak mau rahasia ini kubawa sampai masuk peti mati. ”

Kata Meng Ju-zhong, “Guru, aku sedang mendengarkan.”

“Ini mengenai kelahiranmu,” kata Biksu Huang Shi, “Sebenarnya kau bukan anak kandung marga Meng.”

Meng Ju-zhong terkejut dan bertanya, “Apakah kata-kata Guru ini benar?”

Biksu Huang Shi berkata, “Waktu itu aku baru pulang dari Tian Shui, aku menemukan seorang bayi yang dibuang. Bayi itu adalah kau, kau tahu Wen Dao Gong tidak bisa menghidupi bayi yang baru lahir. Saat itu suami istri Meng tidak mempunyai anak, aku memberikanmu kepada mereka, tidak disangka ”

Tanya Meng Ju-zhong, “Guru, ibu dan ayah kandungku sebenarnya siapa?”

Biksu Huang Shi menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak tahu. Sudah beberapa tahun aku berusaha mencari mereka tetapi tetap tidak mengetahuinya. Setelah melihat keadaan dapat dikatakan bahwa ayah ibumu adalah orang dunia persilatan, karena itu marga Meng memberimu nama Ju-zhong. Harap bila kau sudah besar kau bisa meneruskan cita-cita ayah dan ibumu ”

Hati Meng Ju-zhong terguncang, dia menangis, Biksu Huang Shi menghibur, lalu tergesa-gesa pergi dari sana.

Perasaaan Meng Ju-zhong bergejolak seperti samudra, tapi juga seperti lembaran putih.

Hari yang begitu cerah.

Sesosok bayangan sedang berhati-hati masuk kepagar Qing Shui Guan. Dia melempar sebuah batu kedalam kemudian menunggu. Merasa tidak terjadi apa-apa, dia sudah terbang masuk ke dalam halaman.

Setelah mendarat dia langsung bersembunyi di balik pohon cemara yang besar dan diam tidak bergerak.

Di bawah sinar bulan terlihat dia sangat gagah dan ganteng. Dia adalah Meng Ju- zhong. Dia akan meninggalkan Kong Dong, dia hanya mengkhawatirkan keadaan Xuan Qing Han Wu-niang yang berada di Kong Dong.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain