-->

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 05

Jilid 05

Kemudian goloknya dicabut, mata Liang Zi-qi terbuka, yang dia lihat hanya ada darah.

Qing Yong-lu sudah roboh, darah memenuhi bajunya, lukanya masih mengeluarkan darah—apakah itu yang disebut teman lama?

Darah menetes dari goloknya, dia mengusap wajahnya, wajahnya basah oleh keringat, tangannya basah oleh darah.

Ada setetes darah yang masuk ke matanya, membuat dia melihat dunia ini seperti dibanjiri oleh warna merah.

Di telinganya terdengar teriakan Qing Yong-lu, dia pun merasa teriakan itu bercampur dengan darah. Dia menjadi seperti sudah gila, dia membawa goloknya berlari ke arah kereta kuda yang beratap. Zheng Kang melihat Liang Zi-qi membawa golok yang masih dipenuhi oleh darah menghampirinya, dia sudah tahu bahwa Liang Zi-qi sudah membunuh Qing Yong-lu, Zheng Kang sangat marah,” kau benar-benar seorang pengkhianat!

Karena pecah berkonsentrasinya tombak Wang Kuai berhasil menusuk tulang rusuknya, nada suara marahnya berhenti berubah menjadi teriakan kesakitan, hanya dalam waktu sekejap pentungan Song Wei Liang sudah memukul ke arah kepalanya, dan kepala Zheng Kang pun pecah, otaknya berhamburan kemana-mana.

Tuan Xu dikelilingi oleh dua orang laki-laki dan dua orang perempuan yang wajahnya ditutup, walaupun ilmu silatnya tinggi, sekarang dia sudah tidak akan bisa bertahan lagi....

Liang Zi-qi tidak bisa melihat dan juga tidak bisa mendengar, dia langsung menghampiri kereta yang beratap itu, kecuali Qing Yong-lu ketiga kereta itu adalah sasarannya hari ini karena ini adalah pesan yang diperintahkan ketua.

Setelah dekat, dia mengerakan goloknya membelah kereta itu, segera terdengar suara jeritan, seorang perempuan sudah terbelah menjadi dua, karena terhalang oleh atap kereta, darahnya tidak bersemburan kemana-mana.

Dia tetap tidak bisa melihat, dia hanya ingat masih ada satu kali ayunan lagi, maka selesailah tugasnya.

Sasarannya kali ini adalah istri muda Xu Bai Wan dan putrinya.

Si Kupu-kupu Ni Jing Hua pertama kali yang berjalan ke arah kereta itu, tapi tadi dia sempat dihadang oleh si Golok Sakti Huang, dia hanya mengintip di kereta yang satu berisi Nyonya Xu, dia tidak berminat kepadanya, yang dia inginkan adalah Nona Xu, istri muda Xu juga masih boleh, dia masih menginginkannya.

Tapi si Golok Sakti Huang selalu bergerak untuk melindungi kereta-kereta, itu membuatnya sulit untuk mendekat.

Sekarang dia melihat Liang Zi-qi berjalan ke arah sana, dia merasa sangat senang dan berkata, “Kakak Liang, bantu aku membunuh mereka, kau akan sangat berjasa, aku hanya minta perempuan yang berada di dalam kereta.”

Tapi Liang Zi-qi seperti tidak mendengar perkataannya, dia menendang orang-orang yang menghalangi langkahnya, kemudian dia mengayunkan goloknya membelah kereta, segera dua kepala perempuan tergeletak ke bawah, darah pun bermuncratan. Karena si Golok Sakti sudah diperintahkan oleh Tuan Xu untuk menjaga keselamatan keluarganya, begitu melihat Liang Zi-qi berkelakuan seperti orang gila yang mendekati kereta, dia sudah berusaha menghalanginya, tapi begitu melihat istri muda Tuan Xu mati dengan mengenaskan, dia pun terkejut.

Ada seseorang yang masuk dan mengambil kesempatan orang itu menusuknya dari belakang, Huang sangat marah, dia membalikkan badan dan mengayunkan golok, segera orang yang menusuknya dari belakang kepalanya terbelah menjadi dua, otak berhamburan kemana-mana. Saat itu Huang pun ikut roboh.

Ni Jiang Hua melihat semua kejadian ini dia segera datang dan menusuk tubuh Huang, kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah kereta yang berada dibelakang.

Dia tahu bahwa di dalam kereta itu berisi Nona Xu yang cantik, kedua istri muda Tuan Xu sudah mati, tapi dia tidak menyayangkan mereka, yang paling penting adalah Nona Xu masih hidup.

Tapi saat itu dia melihat Liang Zi-qi sudah mulai mengayunkan goloknya lagi, Ni Jing Hua berteriak, “Berhenti!” terlihat sebuah kilat melewatinya atap kereta sudah terbabat hingga terjatuh tapi tidak terlihat darah atau pun jeritan.

Ni Jing Hua segera menghalangi Liang Zi-qi dan membentak, “Hei marga Liang, apakah kau tidak mendengar kata-kataku?”

“Ada apa?” suara Liang Zi-qi terdengar sangat dingin dan tidak ada perasaan, kedua matanya bersorot marah seperti menyemburkan api dan seperti sedang meneteskan darah, bila sekarang menyuruhnya membunuh istri dan anak, saat itu juga dia pasti akan langsung mengayunkan goloknya.

“Aku sudah mengatakan bahwa nona yang berada didalam kereta adalah milikku, apakah kau tuli dan tidak mendengarnya?”

“Siapa kau ini? Berani bicara begitu terhadapku?”

Ni Jing Hua juga marah dan menjawab dengan dingin, “Aku ingin membunuh atau membakar rumah, bahkan bermain perempuan, semua ini adalah hakku, semua orang di dunia persilatan tahu sifatku ini, aku tidak seperti dirimu yang seperti sedang menggantung kepala kambing tetapi menjual daging anjing. (Ini adalah pepatah yang artinya: 'berpura-pura baik tapi sebenarnya sangat jahat')”

Rasa marah membuat tubuh Liang Zi-qi bergetar, otot-otot tangannya mulai bertonjolan, dia siap mengayunkan goloknya. “Kentut kau! Berpura-pura menjadi orang baik didepan orang-orang dunia persilatan, kau mau apa terhadapku?”

“Aku akan membunuhmu!”

Liang Zi-qi sangat marah dan dia berteriak, goloknya dimiringkan, dia mengarah pada bahu dan leher lawan.

Suara Ni Jing Hua memang keras, tapi tangannya sudah terasa lemas, dia tahu bahwa dia bukan lawan Liang Zi-qi, melihat Liang Zi-qi akan mengayunkan goloknya dia terus mundur. Sepertinya Ni Jing Hua akan mati di bawah golok Liang Zi-qi.

Tiba-tiba ada seorang perempuan berteriak, “Berhenti!”

Golok Liang Zi-qi yang siap akan diayunkan berhenti di tengah udara kemudian dia menurunkannya, Liang Zi-qi mundur dua langkah.

Dihadapannya berdiri seorang perempuan yang wajahnya ditutup, suaranya keras dan dingin, dia berkata, “Liang Zi-qi, apa yang kau lakukan?”

“Aku....” Liang Zi-qi tahu siapa perempuan itu, dia benar-benar marah tapi dia tidak berani menjawab pertanyaan perempuan itu, dia pun tidak berniat untuk membela diri, dia tetap berjalan menuju kereta.

Atap sudah terputus oleh golok, di dalam kereta ada seorang gadis, karena ketakutan badannya gemetar, wajahnya cantik, matanya terpejam. Melihat Liang Zi-qi datang dia hanya bengong memandanginya.

Liang Zi-qi melihat keadaan disana kemudian dia terpaku.

Setelah melewati semua kejadian itu, dia sudah semakin sadar, melihat gadis itu, dia terkejut dan berpikir, “Yu-rong sifatnya keras, bila tahu aku melakukan kejahatan ini, dia tidak akan mengampuniku, aku sudah mengantarkan dia ke Biksu Xuan Gui untuk belajar pedang, mengapa dia berada disini?”

Perempuan tadi berteriak lagi, “Hei marga Liang, apakah kau tidak tega membunuhnya?”

Ni Jing Hua berteriak, “Biksuni Liao Yin, jangan bunuh dia, berikan saja dia kepadaku! Anggaplah ini hadiah untukku!” Liang Zi-qi segera tersadar dari keadaan bengongnya, dia mulai berpikir, “Kami sudah membunuh ayah dan ibunya, bila dia jatuh di tangan Ni Jing Hua, gadis ini akan dilecehkan kemudian diperkosa akhirnya dia pun akan dibunuh Ni Jing Hua.”

Dia tidak berkata apa-apa, matanya dipejamkan, goloknya diayunkan, terdengar suara jeritan.

Kesadaran mengikuti perginya suara jeritan itu....

Setelah dia sadar, dia melihat Wang Kuai sedang memerintahkan anak buahnya membawa barang-barang yang diangkut di punggung keledai, beberapa anak buahnya mengangkut mayat-mayat yang bergelimpangan, mereka akan membawanya ke kaki gunung untuk dikuburkan, karena disana sudah disiapkan sebuah lubang besar unruk mengubur mayat-mayat ini, bila jumlah mayat bertambah pun, tempat itu masih bisa muat....

Dua puluh bendera phoenix ungu sudah robek dan terlempar, tertiup oleh angin gunung, seperti kupu-kupu yang sedang beterbangan.

“Ketua Biao, kami pergi.” Suara ini dekat di telinga, tapi sepertinya juga datang dari tempat yang jauh.

= ooOOoo =

“Ketua Biao, sudah terjadi sesuatu ”

Yang berkata adalah Zhang Qi, dia adalah murid Zheng Kang, kali ini dia pun ikut mengantarkan Tuan Xu ke Yang Zhou, dia ikut dengan Zheng Kang. Tapi dia dapat pulang dalam keadaan selamat.

Tangannya memegang bendera yang sudah robek, wajahnya dipenuhi dengan keringat.

Yang membawanya masuk adalah Peng Zhi-xiao, kepala kantor Biao Zhen Yuan milik Meng Ju-zhong.

Dia sedang mengobrol dengan kakak angkatnya yang bernama Zhou Ke-dong di ruang tamu Mendengar kata-kata Zhang Qi, dia sangat terkejut hingga cangkirnya terlepas dari pegangannya dan terjatuh, air teh pun membasahi celana dan sepatunya.

Zhou Ke-dong tampak lebih tenang, walaupun dia sempat bengong tapi itu hanya sebentar, tapi dalam hati sebenarnya dia merasa sangat terkejut. Dia berusaha menenangkan dirinya dan berkata, “Zhang Qi, jangan terburu-buru, jelaskan dengan teliti, tolong berikan kursi kepadanya.”

“Terima kasih, Tuan Zhou.” Zhang Qi tidak duduk, dia berkata lagi, “Aku mempunyai seorang bibi yang tinggal di Tian Shui, kami melakukan perjalanan melewati Tian Shui, aku meminta ijin kepada guru untuk menengok bibiku setelah makan siang, setelah itu aku menyusul rombongan, baru saja melewati Shi Men, dijalanan sudah dipenuhi dengan darah, aku melihat bendera yang sobek ini dan aku tahu telah terjadi sesuatu.”

“Apakah kau melihat ada perampok? Apakah dari pihak kita masih ada yang hidup dan kembali kesini?” Yang bertanya adalah Meng Ju-zhong, sekarang dia tampak lebih tenang.

“Tidak ada, aku menanyakannya kepada orang yang lewat, mereka tidak melihat siapa pun disana.”

Biasanya bila perampok merampas barang atau merampok uang, kusir atau pengangkut barang tidak akan dibunuh, tapi kali ini tidak seorang pun yang hidup— ingin mencari uang atau barang yang hilang, itu pun sudah tidak mungkin.

Meng Ju-zhong terdiam, kemudian dia berkata, “Kau boleh pergi!”

Kata Zhou Ke-dong, “Adik Kedua, disana adalah daerah kekuasaan Long Nan San Xiong, mereka pasti akan tahu kejadian ini.”

“Benar,” jawab Meng Ju-zhong, dia berkata kepada Peng Zhi-xiao, “Siapkan upeti dan bawa beberapa orang pergi untuk mengunjungi mereka, dan selidiki siapa yang melakukan semua ini?”

Peng Zhi-xiao segera berlalu dari sana.

“Kakak Ketua,” Meng Ju-zhong seperti yang sangat sedih dan menghela nafas terus, dia berkata lagi, “Ini sungguh sangat merepotkan, barang yang hilang adalah barang antaran, tapi orang Biao Wei Yuan tidak ada yang tersisa, Yi Zhang Qing adalah macan betina, bagaimana kita harus menjelaskan kepadanya?”

Yi Zhang Qing adalah julukan untuk Che Ling Yun.

“Memang setelah diberi penjelasan dia akan mengerti, tapi kantor Biao adalah bisnis yang selalu menghadapi bahaya, kebetulan kali ini Qing Yong-lu bertemu dengan musibah, apa yang harus kita katakan kepadanya?” Zhou Ke-dong menghela nafas dan berkata, “Kakak Qing memang sedang sial, selama beberapa tahun ini dia selalu gagal mengantarkan barang, apakah dia sudah bersalah kepada orang golongan hitam? Maka mereka sengaja mengerjainya?”

“Ini sangat sulit untuk dijelaskan, Kakak tolong temani aku untuk menjelaskan kepada Yi Zhang Qing, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepadanya.”

Yi Zhang Qing adalah istri Qing Yong-lu, begitu mendengar namanya orang-orang pun sudah tahu, dia adalah seorang perempuan yang sifatnya keras, seperti sifat seorang laki-laki, dia tidak akan mau menerima penjelasan begitu saja.

Sekarang dia sedang pingsan di kursi besar, putrinya yang bernama Qing Li Hua menangis, dia menyuruh dua orang pelayan menjaga ibunya.

Meng Ju-zhong dan Zhou Ke-dong duduk di tempat yang agak jauh, mereka duduk di ruang tamu, ternyata mereka pun ikut meneteskan air mata.

Setelah pingsan lama akhirnya Yi Zhang Qing Che Ling Yun sadar juga, dia menghela nafas dan berkata, “Adik, sekarang sudah terjadi musibah ini, aku hanya seorang perempuan, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa.”

Dia memeluk putrinya dan berkata lagi, “Kalian berdua sudah mengetahui dengan jelas bagaimana keadaan kantor Biao Wei Yuan, peristiwa ini sudah membuat banyak anak buah kantor Biao Wei Yuan mati, sepertinya untuk memberi uang duka kepada keluarga mereka pun aku tidak sanggup,” dia menangis lagi.

“Kakak ipar,” kata Meng Ju-zhong, “Kita adalah teman, apalagi dalam bisnis ini kita berpatungan, aku harus ikut bertanggung jawab. Aku sudah menyuruh anak buahku pergi kesana untuk memeriksa, Tuan Xu sekeluarganya pun sudah meninggal, mengambil kembali barang dan uang yang kita bawa itu bukan hal penting lagi, sekarang yang paling penting adalah kita harus mencari mayat Kakak Qing dan teman- teman lainnya, kantor Biao aku masih memiliki sedikit uang, biarlah aku yang menanggung semuanya.”

“Tidak,” kata Che Ling Yun, “Bisnis ini sudah kau serahkan kepada kami, sebelum berangkat suamiku sering membicarakan tentang kebaikan Adik, setelah terjadi musibah ini Adik tidak boleh mengeluarkan uang lagi,” dia menghela nafas dan berkata lagi, “Aku sudah berulang kali menasihati dia agar menutup kantor Biaonya, biarpun kita hidup dengan sederhana itu tidak apa-apa, tapi dia tidak pernah mau mendengarnya, sekarang... aku dan putriku tidak memerlukan rumah sebesar ini, kami akan menjual rumah ini supaya kami bisa memberi uang duka kepada keluarga dari orang-orang kantor Biao Wei Yuan yang meninggal.”

“Bila uang itu habis, bagaimana dengan hidup Kakak Ipar?” Jawaban Che Ling Yun hanya tangisan.

Kata Meng Ju-zhong, “Kakak Qing pernah mengatakan ingin menjual kantor itu, tapi aku mengatakan walau bagaimanapun kantor Biao Wei Yuan ini sudah lama berdiri, mana bisa ”

Meng Ju-zhong melihat Che Ling Yun yang masih menangis, dia berkata lagi, “Waktu itu Kakak Qing meminta uang sebanyak 3,000 tail perak, aku mengatakan agar jangan terburu-buru, sekarang sudah terjadi hal seperti itu, bila Kakak Ipar tidak keberatan, aku akan menawarkan uang sebanyak 5,000 tail perak untuk membeli kantor itu.”

“Mana bisa aku merugikan Adik?”

“Kakak Ipar jangan berkata seperti itu, sewaktu aku masih miskin, Kakak Qing lah yang menolongku, ada pepatah yang mengatakan: 'budi secangkir air, membalasnya harus dengan mata air', hanya saja sekarang ini aku tidak memiliki uang sebanyak itu, putraku baru saja membeli rumah dan puluhan petak sawah, dia sudah menghabiskan ribuan tail perak, bila Kakak Ipar tidak keberatan, tinggallah dulu disana, sisanya aku akan membayar sebanyak 3,000 tail perak untuk mencukupi kebutuhan hidup Kakak Ipar dan putri Kakak, masalah kantor Biao, serahkan saja kepadaku, aku yang akan mengurusnya, bagaimana menurut pendangan Kakak Ipar?”

Seperti yang pernah Qing Yong-lu katakan bahwa harga kantor Biao Wei Yuan dan rumah hanya seharga beberapa ribu tail, Meng Ju-zhong menjanjikan seperti itu, dia tidak kehilangan sifat pendekarnya, tapi dia mengalami kerugian cukup besar.

Zhou Ke-dong yang mendengarnya juga merasa terkejut.

Kata Che Ling Yun, “Kantor Biao Wei Yuan sudah bangkrut, kami ibu dan anak seperti mendapatkan musibah, kami merasa malu menerima kebaikan Adik.”

“Ini bukan kebaikan tapi semua ini adalah kewajibanku, bila Kakak Ipar tidak keberatan, kita tentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.”

Di sebuah ruangan yang terang dan luas. Sejak dulu disana adalah tempat untuk menerima tamu atau teman dari kantor Biao Wei Yuan, tapi sekarang sudah menjadi milik kantor Biao Zhen Yuan. Di ruangan itu sudah berkumpul puluhan penduduk Lan Zhou yang terkenal, pelayan hanya bisa berdiri dihalaman luar.

Akhirnya jenasah Qing Yong-lu bisa ditemukan, mereka mencarinya diantara tumpukan mayat, tulang belulang dan daging yang sudah membusuk, tapi baju yang dipakainya masih bisa dikenali sehingga tidak sulit membedakan mayat Qing Yong-lu dengan mayat yang lainnya. Dan di dada kanan mayat Qing Yong-lu masih tertancap sebuah pisau terbang, menancap hingga di batas pegangan pisau terbang itu.

Ini membuatnya mati saat itu juga, dada kirinya terdapat luka golok, menembus hingga ke jantungnya. Qing Yong-lu sudah meninggal, ada beberapa tempat yang terluka sudah tidak dipermasalahkan lagi.

Sekarang mayat sudah terbaring di dalam peti mati. Orang bila sudah mati disimpan dimana pun tidak menjadi masalah, peti itu disimpan di tengah ruangan.

Che Ling Yun dan Qing Li Hua berdiri di sisi peti mati, mereka mengenakan pakaian duka, mereka menangis terus menerus.

Meng Ju-zhong yang berada disisi ruangan, terlihat tangannya terikat kain berwarna hitam, dia sedang berbicara dengan seseorang, “. phoenix ungu disobek, Kakak Qing

mati terbunuh, karena itu rasa malu kantor Biao Wei Yuan menjadi rasa malu bagi kantor Biao Zhen Yuan juga, aku berharap teman-teman dari dunia persilatan mau membantu kami membalaskan dendam ini, kantor Biao Zhen Yuan akan memeriksa siapa yang telah merampok Kakak Qing. Kantor Biao Wei Yuan mengalami bencana, kakak ipar dan putrinya tidak mau lagi meneruskan usaha kantor Biao Wei Yuan, aku tidak berani mengambil kantor ini, tapi aku membelinya dengan harga lima ribu tail perak. ”

Orang-orang di ruangan itu banyak yang merasa terkejut. Hanya ada satu rumah dengan beberapa kamar, mana bisa dijual dengan harga yang sangat mahal?

“Apakah Ketua Meng, sudah memikirkannya dengan baik?”

“Ketua Meng memang selalu mempunyai hati penolong, dia benar-benar tidak asal bicara, hal ini patut untuk dikagumi.”

Dalam suara terkejut dan kekaguman itu, Meng Ju-zhong berkata lagi, “Uang bisa dicari, Nyonya Che terkena musibah, sebenarnya aku harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi, hanya saja kantor Biao Zhen Yuan memerlukan banyak uang untuk menafkahi banyak orang, dan kebetulan putraku baru saja membeli rumah dan sawah, sekarang aku akan mengoperkannya kepada Nyonya Che, sawah itu bisa diolahnya untuk mencari uang, sewaktu aku membelinya aku menghabiskan uang sebanyak 4,000 tail perak lebih, aku hanya menghitung 2,000 tail perak untuk Nyonya Che ”

Ruangan itu ramai lagi dengan dengungan pujian. Tapi diantara pujian itu ada yang berteriak, “Kantor Biao Wei Yuan ”

Yang berteriak adalah Che Ling Yun, setelah berteriak kemudian dia pingsan, semua orang disana melihat pelayan mengurus nyonyanya.

Qing Li Hua pun berteriak, “Ayah!” ada seseorang yang mendekati peti mati itu, terdengar cangkir yang jatuh kemudian hancur berantakan, tapi suara ini tidak menarik perhatian orang-orang disana, bukan karena mereka tidak mendengar, sebenarnya seseorang sejak tadi sudah memperhatikan orang yang memegang cangkirnya hingga terjatuh, karena dia selalu memperhatikan orang itu, tapi orang itu tidak merasa.

Apalagi tempat yang berada di dekat pintu, disana dia tidak akan menarik perhatian banyak orang.

= ooOOoo =

Liang Zi-qi tidak tahu bagaimana dia bisa sampai dirumahnya, karena telinganya selalu mendengar suara tangisan, jeritan, bentakan dan senjata yang saling beradu, semuanya bercampur menjadi satu, menjadikan suara itu menggetarkan hatinya, kemudian dia tiba-tiba jatuh pingsan. Wajahnya bersimbah dengan air mata, yang ada di depan matanya hanya darah dan darah.

Dia dipapah oleh Wu Bao Lin dan Zhao Zhen Xing, mereka masuk ke kantor Biao Yang Tai. Wu Bao Lin dan Zhao Zhen Xing adalah murid Liang Zi-qi, sedangkan Wu Bao Lin masih keponakan istrinya.

Wu Xiao Feng melihat suaminya seperti itu, dia merasa sangat terkejut, kemudian dia memapahnya masuk ke kamar tidur.

“Bao Lin, mengapa pamanmu menjadi seperti ini?”

“Aku juga tidak tahu, sehabis minum arak paman menjadi seperti itu.” “Cepat panggilkan tabib!”

“Tidak perlu!” kata Liang Zi-qi tiba-tiba, “Aku tidak apa-apa, kau memanggil tabib untuk apa?” suara Liang Zi-qi terdengar besar, dia mulai sadar. “Bila kau tidak mau ya sudah, mengapa harus marah-marah?” Wu Xiao Feng marah, tapi dia tetap membuatkan teh untuk suaminya dan dia bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Tidak apa-apa, mungkin aku terlalu lelah, nanti juga akan sembuh.”

Kata Wu Xiao Feng, “Bao Lin, kalian pergilah dulu, ada yang ingin kutanyakan kepada pamanmu.”

Begitu mereka pergi, setelah yakin tidak ada orang disana Wu Xiao Feng membalikkan badannya, kedua matanya melihat ke arah suaminya.

“Mengapa kau terus menatapku?” tanya Liang Zi-qi.

Pertanyan tidak dijawab oleh istrinya, yang ada tatapan matanya semakin tajam. “Kau ini kenapa?” tanya Liang Zi-qi membentak.

“Kau bertanya kepadaku, seharusnya aku yang bertanya kepadamu, beberapa hari apa yang sudah terjadi? Kita adalah suami istri, kita harus jujur satu sama lain, selama dua hari ini kau menutupi sesuatu dariku.”

“Aku tidak menutupi apa-apa darimu ”

Wu Xiao Feng berkata lagi, “Kau boleh tidak mengaku juga boleh tidak mengatakan apa pun kepadaku, kau jangan menganggapku perempuan yang tidak mengerti bisnis, tapi aku tahu beberapa tahun ini kantor Biao Yong Tai milik kita tidak pernah menerima order, tapi kau masih bisa bertahan hidup, uang pun tidak pernah kekurangan, aku ingin bertanya

kepadamu, dari mana kau dapatkan uang itu? Kau tidak perlu cepat-cepat menjelaskannya, anak Ting sudah besar, ilmu silatnya pun tinggi, kau tidak mengijinkan dia bekerja maka itu dia hanya menganggur dan tiap hari hanya bermain, apakah dengan bermain terus bisa menjadi anak yang baik, dia selalu menggunakan banyak uang, uang itu dari mana datangnya? Pasti kau yang memberikannya, dari mana kau dapatkan uang itu?”

Kata Liang Zi-qi, “Apakah anak Ting sudah berubah menjadi seperti itu? Mengapa aku sampai tidak tahu?”

Kata Wu Xiao Feng dengan dingin, “Kau pasti tidak akan tahu karena kau terlalu sibuk, apakah kau bisa memberitahuku kau sibuk dengan pekerjaan apa?” Suara Wu Xiao Feng terdengar gemetar dan air matanya mulai menetes, Liang Zi-qi tidak tahu dia harus bagaimana menjawabnya... menyimpan semuanya di dalam hati benar-benar tidak enak, dia harus mengeluarkan semuanya.

Liang Zi-qi adalah orang dunia persilatan sesungguhnya, dia juga merupakan keturunan Golok Keluarga Liang, apakah dia harus....

Liang Zi-qi terlihat ragu-ragu, dia mendengar Wu Xiao Feng bicara lagi, “Putri kita, anak Rong sudah besar, kau menyuruhnya pergi ke Tian Shui untuk belajar ilmu pedang, mengapa anak gadis tidak boleh memakai golok? Sebenarnya guru anak Rong dengan dirimu sama-sama mempunyai ilmu silat yang tinggi, mengapa bukan kau sendiri yang mengajar putrimu, kau ” Wu Xiao Feng menangis lagi.

Liang Zi-qi hanya bisa menghela nafas. Bagaimana dulu dia bisa masuk ke dalam lingkaran setan ini?

Kejadian ini berlangsung lima tahun yang lalu.... kantor Biao Yong Tai menerima order pengiriman uang sejumlah 100,000 tail perak untuk membeli arak.

Waktu itu Liang Zi-qi sendiri yang memimpin perjalanan, dia membawa Wu Bao Lin dan Zhao Zhen Xing, dua orang anak buah andalan kantor Biao, ada juga tukang pukul sebanyak dua puluh orang.

Di bawah gunung Long Shou, orang-orang golongan hitam merampok mereka, ilmu silat tinggi mereka tinggi-tinggi dan jumlah mereka pun banyak. Dalam pertarungan sengit itu, semua uang dan barang dirampok.

Waktu itu bendera phoenix ungu sudah terkenal, teman golongan putih atau hitam selalu memberi jalan kepada mereka.

Liang Zi-qi meminta tolong kepada Meng Ju-zhong, dengan sekuat tenaga Meng Ju- zhong berusaha membantunya.

Meng Ju-zhong membawa dua orang kantor Biao dan Liang Zi-qi pergi ke gunung Long Shou lagi. Dengan mudah mereka mendapatkan kembali barang yang sudah dirampoknya.

Liang Zi-qi sangat berterima kasih. Tapi kemudian Liang Zi-qi baru tahu bahwa semua ini adalah perangkap.

Pemimpin perampok gunung Long Shou, langsung disulap menjadi pengurus kantor Biao Zhen Yuan Tapi semua itu sudah terlambat. Liang Zi-qi semakin terjerumus kedalam perangkap itu dan tidak bisa keluar. Keadaan membuatnya tidak mudah keluar....

Sekarang istrinya menanyakan apa yang sudah terjadi, dia harus bagaimana menjawabnya. Dia hanya diam dan terus diam. Menangis, menangis menahan sakit.

Sebenarnya sikap diamnya Liang Zi-qi lebih menyakitkan dibandingkan dengan tangisan Wu Xiao Feng.

Karena rasa sakit Liang Zi-qi tidak bisa diungkapkan, hanya bisa dikuburkan di dalam hatinya.

Hati siapa yang bisa menahan beban yang begitu berat?

Kata Wu Xiao Feng, “Aku adalah perempuan, aku tidak ingin tahu mengenai hal lainnya, tapi aku ingin bertanya, dua hari yang lalu kau membawa Bao Lin, kalian berdua untuk melakukan pekerjaan apa?”

Ya Tuhan, kenapa dia menanyakan hal yang tidak boleh kujawab?

Hati Liang Zi-qi bergetar, tiba-tiba dia berteriak, “Pertanyaanmu sudah selesai belum? Aku aku harus menjawab bagaimana?”

Suaranya seperti teriakan serigala liar. Suara ini juga membuat Wu Xiao Feng kaget, dia terdiam.

Wu Xiao Feng selalu menurut kepada suaminya, melihat suami terlihat begitu sakit, dia tidak akan bertanya lagi.

Tapi Liang Zi-qi dengan pelan berkata, “Baiklah, dua hari lagi aku.... aku akan memberitahu semuanya kepadamu ”

Walaupun dia menjawab seperti pak tua yang sedang sakit tapi akhirnya dia memberi jawaban juga.

Di perpustakaan kantor Biao Zhen Yuan.

Ruangannya besar dan terang, dihias dengan sangat mewah, di dinding tergantung lukisan dan kaligrafi dari orang terkenal. Sama sekali berbeda dengan suasana lima tahun yang lalu sewaktu Liang Zi-qi baru datang kesitu. Meng Ju-zhong duduk di belakang sebuah meja besar. Melihat Liang Zi-qi masuk, dia hanya berkata, “Kak Liang, kau mencariku ada perlu apa?”

Logatnya ramah, wajah selalu tersenyum, tapi begitu Liang Zi-qi melihat senyum itu, hatinya bergetar.

“Aku ”

Liang Zi-qi melihat Shen Zhong-yuan yang duduk disudut, dia berhenti berkata.

“Ada apa, katakan saja!” Meng Ju-zhong tertawa, “Semua hal yang terjadi disini, pengurus Shen sudah tahu.”

Shen Zhong-yuan kakinya seperti pincang, wajahnya berkumis, dia kurus dan kering. Disebut seperti itu karena dia menjadi pengurus kantor Biao Zhen Yuan, Liang Zi-qi baru melihat dengan teliti, matanya kadang-kadang terbuka, kadang-kadang dipejamkan. Begitu matanya terbuka, matanya bersorot begitu menakutkan.

Seperti binatang buas yang melihat mangsanya. Ilmu silatnya sangat tinggi, sempoa yang terbuat dari tembaga adalah senjata pembunuhnya yang sangat lihai. Kesemuanya ini mungkin hanya Liang Zi-qi saja yang tahu.

Walaupun Liang Zi-qi selalu memperhatikan dia, tapi lima tahun sudah berlalu dia masih tidak tahu identitas Shen Zhong-yuan. Sepertinya sejak lahir, dia sudah mahir memainkan ilmu silat dan dia tiba-tiba muncul di gunung Long Shou....

“Adik, aku, aku ingin menutup kantor Biao Yong Tai.”

“Oh, ternyata begitu. Kantor Biao Yong Tai sudah dua tahun tidak berjalan dengan baik bisnisnya, tutup atau buka, itu sama saja.”

“Tidak, bukan itu alasannya Aku ingin menutup kantor Biao dan juga ingin mengundurkan diri dari dunia persilatan.”

“Ini bukan masalah besar,” kata Meng Ju-zhong sambil tersenyum, “Kakak sudah beberapa kali muncul di dunia persilatan, selalu dengan kain penutup wajah. Kau boleh menutup kantor tapi kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lain.”

“Tidak, aku benar-benar tidak ingin muncul lagi didunia persilatan.” “Maksud Kakak, kau tidak ingin bekerja sama lagi denganku?” “Mungkin seperti itu.”

“Ini tidak baik, apakah aku sudah bersalah kepadamu?”

“Tidak, tidak ada, semua persoalan aku tidak menjalankannya dengan serius.”

“Apa betul? Aku ingat sewaktu kantor Biao mu kehilangan barang antaran di gunung Long Shou bukankah kau dengan tergesa-gesa datang mencariku, apakah kau ingin buktinya?”

“Benar, saksinya berada di depan mata.”

Wajah Liang Zi-qi memerah dan dia berkata, “Sampai mati pun aku akan selalu merasa berterima kasih kepada Kakak. Hanya saja beberapa tahun ini, aku merasa tenagaku semakin berkurang, sehingga sulit berkelana di dunia persilatan untuk mencari makan.”

“Tidak, aku melihat golok tujuh bintangmu masih gagah dan tidak kekurangan tenaga,” Meng Ju-zhong tertawa sinis, dia berkata lagi, “Mungkin kali ini setelah kau bertarung dengan si Kait Perak yang tak Terkalahkan maka hati nuranimu tidak mengijinkannya, bukankah begitu?”

Sorot mata Meng Ju-zhong terus menatap wajah Liang Zi-qi.

Liang Zi-qi yang dilihat terus, dia merasa gemetar, tangannya pun mengeluarkan keringat dingin.

Meng Ju-zhong tertawa lagi, “Sebenarnya Kakak tidak perlu merasa begitu, hukum di dunia persilatan adalah yang kuat memakan yang lemah.”

Liang Zi-qi mendengar semua itu, otaknya seperti ingin meledak. Dia memaksa dirinya untuk tetap tenang dan berkata, “Jujur bicara, aku sudah tidak tahan lagi. Selama beberapa tahun ini, Adik sudah memberikan begitu banyak kebaikan kepadaku dan aku pun sudah memiliki sedikit uang. Apalagi anggota keluargaku tidak begitu banyak, walaupun nanti aku tidak akan bekerja lagi, setidaknya aku masih bisa bertahan hidup selama beberapa tahun lagi.”

“Tidak bisa,” jawab Meng Ju-zhong dengan dingin, “Kakak berpengalaman didunia persilatan. Kakak pasti tahu, di dunia persilatan tidak ada jalan untuk kembali, mana ada perahu yang berada di tengah laut menarik layarnya untuk kembali?”

“Adik, mohon lepaskanlah aku, marga Liang adalah laki-laki sejati. Dulu apa yang sudah kulakukan untukmu, anggaplah aku tidak tahu ” Meng Ju-zhong memotong kata-katanya dan berkata, “Apakah Kakak sedang bercanda? Kau tahu persoalan terlalu banyak.”

“Tapi aku akan tutup mulut.” “Mungkin itu tidak akan bisa.” “Mengapa?”

“Karena Wu Bai Lin dan Zhao Zhen Xing bukan patung.”

“Aku bisa mengurus urusan mereka, walaupun kantor Biao Yong Tai akan tutup, tapi mereka bisa tetap menjadi penjaga rumah.”

“Kau harus tahu, kita bekerja sama dalam bisnis ini tidak seperti biasanya.” “Aku tahu, aku akan hidupi mereka sampai tua.”

Meng Ju-zhong tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kalau Kakak masih hidup, Kakak masih bisa mengurus mereka, bila Kakak mati, bagaimana? Kakak harus ingat, aku lebih kecil darimu sepuluh tahun lebih. Aku tidak mau sewaktu aku tua nanti akan mendapatkan masalah besar.”

“Kalau begitu, mereka berdua akan kuserahkan kepadamu untuk menjadi anak buah Adik.”

“Aku tidak butuh mereka.” “Kalau begitu ”

Kata Meng Ju-zhong, “Satu-satunya cara adalah menyuruh mereka tutup mulut selamanya!”

Di dunia ini hanya orang mati yang akan tutup mulut selamanya.

Liang Zi-qi berteriak, “Tidak, tidak. Aku tidak mau tanganku membunuh lagi.” “Kalau begitu, kesimpulannya kau tidak mau menutup mulut mereka?”

“Aku tidak bisa melakukannya.”

“Kalau begitu, kau harus menemaniku selamanya.” “Tidak, tidak bisa, Adik, mohon lepaskan aku. Aku....aku akan berlutut kepadamu, aku mohon!”

Liang Zi-qi benar-benar berlutut kepadanya, tapi Shen Zhong-yuan sudah membantunya berdiri.

Liang Zi-qi merasa tangan Shen Zhong-yuan keras dan bertenaga, kelima jarinya seperti kait.

Liang Zi-qi sangat tahu keadaan disana, bila Meng Ju-zhong memberi tanda, maka sepasang tangan ini akan segera mengantarkan nyawanya ke kuburan.

Tapi Meng Ju-zhong hanya tertawa dan berkata, “Jangan bercanda lagi, aku tahu selama beberapa hari ini kau terlalu lelah juga berpikir tidak enak, pulanglah ke rumah kemudian beristirahat, sambil berpikir. Aku percaya kau pasti tidak akan meninggalkanku. Pulanglah dulu, masalah ini kita tunda dulu, beberapa hari lagi baru kita bicarakan.”

Terpaksa Liang Zi-qi kembali lagi ke rumah.

Shen Zhong-yuan tertawa dengan dingin dan berkata, “Aku akan membuat dia tutup mulut selamanya.”

Kata Meng Ju-zhong sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak! Yang aku butuhkan bukan Liang Zi-qi yang sudah dimasukkan ke dalam peti mati melainkan Liang Zi-qi yang bisa memainkan golok tujuh bintang.”

“Aku mengerti.”

“Bila kau sudah mengerti, kau sendiri yang melakukan semuanya jangan sampai ada orang ketiga yang tahu.”

“Ya, tapi. ”

= ooOOoo =

Liang Zi-qi minum arak hingga mabuk berat. Pelayan rumah makan menyewakan sebuah kereta untuk mengantarkan dia pulang.

Wu Xiao Feng mengira Liang Zi-qi mabuk dikarenakan kemarin malam mereka bertengkar. Dengan cepat dia memasakkan obat untuk suaminya. Sampai malam suaminya baru sadar, begitu dia terbangun, dia melihat istrinya sedang terjaga disisinya, Liang Zi-qi merasa malu. Dia memejamkan mata dan menarik nafas.

“Kakak,” dengan lembut Wu Xiao Feng memanggil suaminya, “Bagaimana keadaanmu, apakah kau masih marah kepadaku?”

“Tidak, aku tidak pernah marah kepadamu.”

“Tapi sudah beberapa tahun ini kau tidak pernah mabuk. ”

“Apakah aku mabuk? Tidak aku belum pernah mabuk, ambilkan arak lagi.”

“Kakak. ”

“Cepat ambilkan arak.”

Wu Xiao Feng tampak ragu, kemudian dia menuangkan secangkir teh untuk Liang Zi-qi. Liang Ziqi minum seteguk, dia langsung membanting cangkirnya. Mata Wu Xiao Feng penuh dengan air mata.

Liang Zi-qi seperti disadarkan oleh suara cangkir yang pecah. Dia berteriak, “Apa yang terjadi padaku?”

“Kau membanting cangkir ”

“Orang yang sudah mabuk memengang cangkir pun sudah tidak kuat.” “Tidak, Kak, ini semua karena kau terlalu banyak minum.”

“Benar, aku memang sudah minum banyak, bila tidak minum lagi apa yang bisa kulakukan?”

Wu Xiao Feng membereskan cangkir yang pecah. Dia membuat secangkir teh lagi untuk Liang Zi-qi.

Liang Zi-qi mengambil cangkir teh itu dan meminumnya. Sebenarnya teh itu sangat panas.

“Apakah anak Ting berada di rumah?” “Dia sedang pergi bermain, belum pulang.” “Suruh Bao Lin, agar membawa anak Ting pulang.” “Apakah ada hal penting?”

Liang Zi-qi ingin mengatakannya tapi dia tampak ragu. Tidak lama kemudian dia menarik nafas dan berkata, “Tidak ada apa-apa, hanya beberapa hari ini, aku tidak bertemu dengannya.”

Biasanya Liang Zi-qi belum pernah memperhatikan anaknya yang bernama Liang Yu Ting. Wu Xiao Feng melihat liang Zi-qi tiba-tiba memperhatikan anaknya, hatinya hanya bisa tertawa dengan kecut.

“Baiklah, hari ini aku sudah minum terlalu banyak, tidurlah denganku disini.”

Walaupun usia Wu Xiao Feng sudah mencapai setengah abad tapi mendengar permintaan suaminya, dia tetap merasa....

Lampu baru saja dipadamkan, tiba-tiba di atap rumah ada suara yang berbunyi.

Suara ini adalah suara seseorang yang berjalan di atap rumah. Langkahnya ringan dan cepat, hanya dalam waktu sekejap, dia sudah berada di depan mata.

Walaupun Liang Zi-qi baru sadar dari mabuknya, tapi tubuhnya masih bisa bergerak dengan lincah. Segera dia bangun dan memakai baju. Dengan cepat dia melayang keluar jendela.

Baru saja dia meloncat ke atap rumah, dia sudah melihat ada cahaya kilat yang menghampirinya. Segera dia menunduk dan menepi, sebuah pisau terbang sudah menancap di kusen jendela.

Di depannya ada sesosok bayangan yang lewat, dia ingin mengejar tapi dia sudah melihat ada dua bayangan yang naik ke atap dan mengejar.

Melihat bayangan itu, Liang Zi-qi sudah tahu mereka adalah Wu Bao Lin dan Zhao Zhen Xing.

Wajahnya tersenyum begitu melihat pisau terbang. Disana ada sehelai kertas yang tertulis: 'Marga Liang, kau jangan macam-macam, aku tunggu jawabanmu'.

Hari begitu terang, gunung pun terlihat sangat indah. Hujan turun dengan lebat, batu yang ada terlihat sangat aneh tapi juga indah. Katanya, gua dewa terletak di sekitar sini, di luar gua ada lapangan. Di lapangan ada padang rumput.

Sepasang muda mudi sedang berlatih ilmu pedang. Si gadis menyerang terus, si pemuda hanya menerima dan bertahan terhadap serangannya.

Pemuda itu tampan dan gagah. Bajunya berwarna putih membuatnya terlihat lebih luwes, senjata yang dipakainya adalah pedang panjang. Tubuhnya terlindung dari cahaya pedang itu.

Gadis itu cantik seperti bunga, tubuhnya tinggi semampai, mengenakan baju berwarna hijau muda, mengayun pedang seperti sedang melayang, benar-benar sangat indah tapi juga gagah.

Tiba-tiba kedua pedang beradu mengeluarkan percikan api, segera mereka berpisah dengan meloncat kebelakang.

Si gadis membersihkan keringat di dahinya dan berkata, “Kakak Seperguruan, seperti yang guru katakan bahwa ilmu pedangmu kurang tenaga. Kalau tadi kita benar-benar bertarung, tanganmu sudah terpotong atau pinggangmu terluka olehku.”

“Belum tentu,” kata pemuda itu, “Kau hanya mendengar kata-kata guru, sebenarnya kau juga harus mengubah gerakan tanganmu karena ilmu pedangmu bercampur dengan ilmu golok keluarga Liang. Entah ilmu apa yang kau mainkan sebenarnya.”

Gadis itu adalah putri Liang Zi-qi bernama Liang Yu-rong.

Pemuda itu adalah kakak seperguruannya yang bernama Li Ke Ming. Mereka belajar ilmu silat di Yu-quan-guan dengan Biksu Xuan Gai.

Liang Yu-rong melihat kakaknya mengatakan semua kekurangannya, dia berkata, “Jangan cerewet, aku baru belajar ilmu pedang selama tiga tahun dan aku sudah belajar golok keluarga Liang sejak kecil, mana bisa dengan cepat aku melupakannya?”

Liang Yu-rong berkata lagi, “Bila kita sedang bertarung antara hidup dan mati, tiba-tiba ada musuh yang menyerang, dengan cara seperti tadi, apakah kau harus berteriak?”

“Hei jurus ini tidak akan bagus karena kau memakai pedang tapi menggunakan jurus golok.” Karena merasa lucu, dia tertawa sendiri.

Li Ke Ming merasa malu, wajah yang putih memerah, dia tidak bisa mengatakan apa- apa. Liang Yu-rong melihatnya, dia ingin tertawa lagi tapi tidak tega. Dia mendekat dan menghibur, “Kakak, aku hanya bercanda, jangan anggap serius. Kita belajar ilmu pedang tidak lupa juga belajar pedang tujuh bintang. Jurus pedangku yang salah akan kuubah.”

Segera Li Ke Ming tertawa dan berkata, “Adik, kau pasti sudah merasa lelah, sekarang kita latihan senjata rahasia. Guru mengatakan bahwa panah tanganmu sangat bagus, apakah kau mau mengajarkannya kepadaku?”

“Ya, aku akan mendengar kata-kata Kakak.” Dia tertawa lagi. Li Ke Ming melihat wajah seorang gadis yang tertawa manis, dia sampai terbengong-bengong.

Melihat wajahnya yang bengong, Liang Yu-rong merasa malu dan berhenti tertawa, dia berkata, “Kakak yang pertama melempar atau aku?”

“Pastinya kau duluan, aku akan melihat caramu.”

“Aku yang akan melemparkan terlebih dulu, aku ingin mencari sasaran benda hidup, kemana kita akan mencarinya?”

Liang Yu-rong melihat ke langit.

Langit tampak terang dan bersih seperti baru saja dicuci, apalagi pada siang hari semua burung bersembunyi di balik pohon.

Di langit tidak terlihat mahluk hidup.

Tiba-tiba di langit yang jauh muncul titik hitam, titik itu sedang terbang menuju ke arah mereka.

Li Ke Ming melihatnya segera dia berteriak, “Adik, dari arah sana ada seekor burung. Oh, itu seekor merpati! Apakah kau bisa mengenainya hingga jatuh?”

“Tidak menjadi masalah, lihatlah!” Liang Yu-rong dengan penuh semangat menunggu, tangannya pun pelan-pelan diangkat, tiba-tiba dia menghentikan gerakannya dan berteriak, “Dia adalah burungku, si Kacang Merah!”

Dia sangat senang, seperti seorang anak laki-laki nakal. Dia segera bersiul.

Merpati itu mendengar siulannya, segera berputar-putar di udara, kemudian turun dan mendarat ditangan Liang Yu-rong yang sudah terulur. Merpati itu tampak sehat dan lincah, di kepalanya ada bulu berwarna merah sebesar kacang merah. Dia adalah merpati pos yang dipelihara Liang Yu-rong.

Liang Yu-rong terus menerus memujinya, “Waktu itu ayahku melakukan perjalanan melewati Tian Shui untuk menjengukku. Aku menyuruh ayah membawa pulang si Kacang Merah, sekarang dia sudah kembali.”

Dia mengelus-elus bulu si Kacang Merah. Liang Yu-rong baru melihat ternyata kaki si Kacang Merah terselip sehelai kain, segera dia melihat.

Kain itu tertulis: 'anak Rong, di rumah terjadi perubahan. Sesudah membaca surat ini, segera pulang. Sampaikan hormat ayah kepada Biksu Xuan Gui. Ayah'.

Wajah Liang Yu-rong langsung berubah, air matanya mulai menetes.

Li Ke Ming terkejut dan berkata, “Adik, tahan dulu emosimu, tidak akan terjadi apa-apa pada ayahmu!”

“Tidak, kau tidak akan tahu, ayahku selalu bersifat tenang, bila tidak ada masalah besar, dia tidak akan menyuruhku untuk segera pulang.”

“Tapi paman tidak bicara apa-apa di dalam surat ini.”

“Karena tidak jelas, berarti ada hal yang sulit diungkapkan oleh ayah.”

Li Ke Ming menggeleng kepala dan berkata, “Ayahmu adalah ketua Biao Yong Tai dan juga orang terkenal didunia persilatan, terhadap putrinya sendiri, apa yang sulit diungkapkan?”

Liang Yu-rong menarik nafas dan menjawab, “Inilah yang masalahnya, ini membuktikan bahwa telah terjadi sesuatu yang penting pada keluargaku.” Dia terdiam sebentar kemudian berkata, “Sekarang juga aku harus bertemu dengan guru.”

Li Ke Ming tiba-tiba teringat pada sesuatu, dia berkata, “Aku tahu mengapa paman menyuruhmu cepat-cepat pulang pasti ada hal yang penting.”

“Kau tahu tentang apa?” “Sebenarnya kau juga tahu.”

Liang Yu-rong segera cemberut dan berkata, “Kau tidak mau mengatakannya, ya sudah!” “Apa benar kau tidak tahu?”

Wajah Liang Yu-rong segera memerah.

“Baiklah, aku akan mengatakannya. Mungkin ini adalah tentang perjodohanmu ”

“Sembarangan bicara!”

“Aku tidak sembarangan bicara. Kita sudah bersama-sama hampir tiga tahun, apa yang kau inginkan selalu aku turuti, tapi kau selalu menolak membawaku untuk bertemu dengan ayahmu. Apa alasannya? Apakah tidak....” Li Ke Ming terus bicara, tiba-tiba dia mendengar ada suara tangisan. Dia melihat Liang Yu-rong sedang menangis.

“Adik. ”

Liang Yu-rong semakin keras menangis.

Li Ke Ming langsung berkata, “Maaf, Adik, aku sudah salah berbicara.”

Li Ke Ming melihat Liang Yu-rong masih terdiam, dia berkata lagi, “Aku akan berlutut untuk meminta maaf kepadamu.” Setelah berkata begitu dia segera belutut.

Liang Yu-rong segera memapah bangun dan berkata, “Jangan begitu!”

Li Ke Ming melihatnya dan berkata, “Apakah kau tahu, aku sayang kepadamu?”

Wajah Liang Yu-rong memerah dan dengan malu-malu dia juga berkata, “Aku aku

juga sayang kepadamu.”

Dengan senang Li Ke Ming setengah berteriak, “Apakah benar?”

Liang Yu-rong mengangguk, Li Ke Ming membuka tangan lebar-lebar. Liang Yu-rong tampak ragu, tidak lama kemudian, dia sudah masuk ke dalam pelukan Li Ke Ming. Manis, hangat, mereka saling memeluk dan lupa dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini....

Liang Yu-rong berkata, “Kakak, jangan begitu, sekarang aku harus bertemu dengan guru.”

Dia melihat Li Ke Ming yang masih bengong. Liang Yu-rong berkata, “Benar-benar seperti orang bodoh.” Kata Li Ke Ming, “Adik, kau.... dan aku akan pulang bersama-samamu ke Lan Zhou supaya kau ada yang menemani sepanjang perjalanan.”

Liang Yu-rong berkata, “Tidak, aku tidak bisa membawamu, apalagi sekarang ini.”

Hati Liang Yu-rong sudah mulai tenang, dengan tersenyum dia berkata, “Jangan berpikir macam-macam dulu, Kakak tenang saja berlatih ilmu pedang disini. Aku pulang dulu, beberapa hari lagi aku akan kembali.”

Liang Yu-rong membalikkan badan berjalan ke kaki gunung. Dia berjalan dengan sangat cepat. Li Ke Ming masih bengong melihat bayangan Liang Yu-rong yang semakin menjauh.

= ooOOoo =

Bulan sabit bergantung di atas langit. Cahaya bulan seperti air. Angin berhembus sepoi- sepoi melewati sungai, membawa udara basah membuat orang merasa segar.

Seekor kuda putih berjalan dengan pelan. Orang yang menunggang kuda itu berbaju panjang berwarna biru, pinggangnya terselip sebuah golok, sarung golok yang terbuat dari kulit berkualitas tinggi, kudanya pun dihias dengan indah.

Dia adalah seorang pemuda dari dunia persilatan, tapi dia tidak bersemangat berjalan.

“Orang-orang biasanya selalu berkata bahwa mucikari menyukai uang, dan selalu menyukai gadis yang cantik. Benar-benar tidak salah, Nona Xiu Chan tadi sudah setuju malam ini akan menemaniku, tapi si mucikari malah melarangnya, uang sebesar sepuluh tail perak, apakah itu masih kurang? Tadi dia sudah berjanji, sekarang berubah lagi. Sekali menaikkan harga hingga lima puluh tail perak, lima puluh tail perak di tempat lain bisa bermain selama beberapa hari! Tidak, Xiu Chan tidak sama dengan gadis lain, tubuhnya, tawanya.... apalagi dia masih muda, pantas bila mucikari itu meminta lima puluh tail perak. Tapi sayang, beberapa hari ini uangku sudah habis, kalau tidak. hai, besok aku akan membawa dua ratus tail perak.”

Sewaktu dia sedang berkhayal tiba-tiba di depannya ada yang berteriak, “Cepat! Tolong

! tolong!”

Itu adalah suara teriakan perempuan. Pemuda itu terpaku, kemudian dengan cepat dia memecut kudanya.

Kuda seperti panah meluncur ke depan. Di sisi jalan, di dekat hutan, ada dua bayangan yang sedang berkelahi. Begitu mendengar ada kuda yang mendekat, salah satu dari mereka tiba-tiba berdiri. Dengan cepat dia masuk ke dalam hutan, tapi yang satu lagi, dengan tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Dia adalah seorang perempuan.

“Tolong ”

Begitu suara teriakannya berhenti, dia sudah roboh dan mengeluarkan suara rintihan.

Dia berhenti dan turun dari kuda kemudian berlari ke arah perempuan itu. Gerakannya sangat cepat.

Pemuda itu sudah berdiri di depan perempuan tadi, dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Ada orang jahat, Pendekar, tolonglah aku!” Perempuan itu mengangkat kepalanya untuk bicara.

Pemuda itu terpaku, karena perempuan itu adalah seorang gadis yang sangat cantik, karena berlari kedua belah pipinya menjadi kemerahan, matanya berkilau, karena terkejut, dia menjadi lebih cantik lagi....

Di bawah sinar bulan, gadis cantik itu bertambah cantik lagi. Pemuda itu merasa detak jantung bertambah cepat, suaranya pun sedikit gemetar.

Dia mencoba menahan diri, kemudian berkata, “Sekarang sudah aman, kau boleh pulang dengan tenang.”

“Aku, kakiku terkilir, sangat sakit!” “Ini. ”

“Apakah kau bisa memapahku?”

Pemuda itu tampak ragu tapi otaknya berpikir dengan cepat, “Perempuan ini tidak seperti Nona Xiu Chan yang berdandan sangat rapi tapi dia lebih cantik dari Xiu Chan ”

Boleh dikatakan, permintaan gadis itu adalah keinginan hatinya... dengan lembut dia memapah gadis itu.

Perempuan itu benar-benar seperti terkilir dan merasa kesakitan. Begitu tangannya dilepaskan, badannya lemas dan terjatuh ke sebelah pemuda itu, dia berteriak kesakitan. Pemuda itu ingin mengambil kesempatan ini untuk memeluk si gadis tapi hanya sebentar dia mundur selangkah.

Hanya dengan sebelah tangan dia memapah gadis itu tapi pemuda itu merasa pundaknya begitu lemas seperti tidak bertulang. Hampir bersamaan dengan itu, harum tubuh dan bedaknya memasuki hidungnya... hatinya bergetar lagi.

Dia berkata, “Nona, rumahmu dimana? Hari sudah begitu malam kau masih belum pulang?”

“Aku akan pergi ke rumah nenek, bila pulang terlalu malam, aku tinggal di kota Liu Quan.” Dia tertawa dan berkata, “Terima kasih Pendekar sudah menolongku, aku harus pulang.” Dia melepaskan tangan pemuda itu.

Tapi begitu gadis itu membalikkan tubuhnya, dia terjatuh lagi. Pemuda itu dengan cepat memapahnya lagi. “Nona, kaki, kakimu ”

“Kakiku sakit sekali, bagaimana aku bisa pulang?” suaranya berubah membuat orang menjadi tertarik.

Pemuda itu berkata, “Kalau.... kalau Nona bersedia, aku akan mengantarkan Nona sampai di rumah.”

Gadis itu ragu, kemudian dia berkata, “Aku malu bila harus merepotkanmu ”

Pemuda itu berkata, “Tidak apa-apa, rumahku juga ke arah sana, jadi sekalian kita jalan kesana.”

“Tapi. ”

“Mengapa, apakah kau tidak mau?”

“Tapi kau hanya mempunyai seekor kuda.” “Tak apa, Nona saja yang naik kuda.” “Tapi aku tidak bisa naik kuda.”

“Aku akan berada disisi untuk menjagamu, kau tidak akan terjatuh.” Sambil memapahnya naik ke atas kuda pemuda itu memegang tubuh gadis yang lembut itu, satu tangannya memegang kakinya, benar-benar membuat hatinya menjadi kacau.

Baru saja berjalan beberapa langkah, gadis itu berteriak lagi, “Aduh, aku ”

“Ada apa?”

“Pendekar, kau juga naik, aku, aku takut.”

Pemuda itu sangat senang, segera dia naik ke atas kuda dengan cepat, lincah, luwes, dan indah.

Kuda itu terkejut dan berlari kecil, gadis itu berteriak lagi, “Jangan biarkan dia lari, aku takut. ”

Tali kekang kuda pun ditarik kuda pun berhenti berlari. Dua tubuh berjarak begitu dekat, malah boleh dikatakan sidah menempel menjadi satu.

Pemuda itu tertawa dengan sembunyi-sembunyi, dengan puas dia mencium harum gadis itu, yang membuat orang menjadi mabuk, harum itu keluar dari tubuhnya yang hangat.

Kuda berjalan dengan pelan.

Tiba-tiba gadis itu bertanya, “Pendekar, apakah kau adalah orang Lan Zhou?” Pemuda itu tertawa.

“Aku bertanya kepadamu, apakah kau tinggal di Lan Zhou?” “Aku tidak berbohong kepadamu.”

“Mengapa aku belum pernah melihatmu, apa margamu?”

“Aku adalah Liang Yu Ting, kantor Biao Yong Tai adalah milik ayahku.”

“Ternyata kau adalah Pendekar Muda Liang, maafkan aku,” suaranya manis dan empuk.

Hati Liang Yu Ting sudah tidak tahan lagi, dia berkata, “Siapa nama Nona?” “Margaku Qiao, bernama Xiao Mei.” “Nama yang indah seperti orangnya.”

Qiao Xiao Mei tertawa dan membalikkan badannya. “Apakah kau menyukainya?”

Tadinya dia duduk di atas kuda, sekarang dia sudah masuk ke dalam pelukan Liang Yu Ting.

Awalnya Liang Yu Ting tampak ragu, kemudian dia membuka tangan lebar-lebar memeluk gadis itu.

Badannya yang lembut, harum tubuhnya menusuk ke hidungnya, sekarang Liang Yu Ting mabuk kepayang, dia mencium gadis itu dengan dalam.... dan semakin dalam. Gadis itu menyambut ciumannya dengan penuh perasaan.

Kuda tidak berjalan lagi, semakin lama kedua badan itu semakin gemetar. “Nona Qiao, aku, aku.... ingin. ”

“Apakah kau.... menginginkanku ”

Waktu itu dari tempat yang jauh terdengar suara derap kuda yang berlari. Suara kuda yang lari di malam yang sunyi terdengar lebih jelas.

Tapi Liang Yu Ting sama sekali tidak mendengarnya, dia hanya memikirkan kenikmatan yang akan dirasakannya.

Dia menarik nafas dan ingin memeluk tubuh itu lebih erat kemudian menjatuhkan diri. Tapi tiba-tiba dia merasa tubuh bagian perutnya terasa sakit, ada benda dingin yang masuk ke dalam perutnya. Rasa sakitnya menusuk hingga ke jantung, dia tahu apa yang sudah sudah terjadi.

Dia mendorong tubuh lembut itu, kedua tangannya tidak bisa mengeluarkan jurus apa pun, dia hanya bisa mencakar.

Secara kebetulan dia mencakar rambut gadis itu, tiba-tiba dia merasa ada angin telapak menyerang ke dadanya.

Dia menjerit, tubuhnya yang besar terjatuh dari kuda, dia hanya memberontak kemudian tidak bergerak lagi. Tapi tangannya masih dengan erat mencengkram rambut gadis itu. Ternyata gadis itu botak. Hanya saja Liang Yu Ting tidak bisa melihat. Gadis itu masih ingin melakukan hal lainnya tapi suara kuda sudah mendekat.

Kuda yang datang adalah seekor kuda yang bagus, berlari dengan cepat. Di bawah sinar bulan terlihat dengan jelas bahwa penunggang kuda itu membawa pedang.

Begitu melihat ada yang roboh dengan cepat dia berlari arah kesana

= ooOOoo =

Malam begitu sepi, kantor Biao Yong Tai lebih sepi.

Sudah beberapa tahun ini bisnis kantor Biao Yong Tai tidak berjalan. Banyak pelayan dan tukang angkut barang yang dipecat, tersisa hanya beberapa puluh orang.

Mereka seperti penjaga rumah, tidak ada orang yang berani datang mencari golok keluarga Liang dan mencabut kumis harimau ini.

Hari sudah malam, orang-orang kantor Biao sudah tidur, hanya saja di kamar itu lampu masih menyala.

Di bawah sinar lampu duduklah seorang laki-laki setengah baya. Dia sedang mengerutkan dahinya.

Diatas mejanya ada beberapa helai kertas, tangannya memegang pena, tapi kertas itu tetap putih. Dia adalah ketua kantor Biao Yong Tai, Liang Zi-qi.

Putranya sampai saat ini belum pulang, pengurus rumah dan Wu Bao Lin sudah beberapa hari mencarinya tapi tetap tidak menemukan dia.

“Si kacang merah sudah dilepaskan lima hari yang lalu, seharusnya anak Rong sudah sampai di rumah. Walaupun dia anak perempuan, tapi dia sangat pintar. Melihat surat yang kukirim, dia pasti tidak akan tinggal diam. Apakah terjadi sesuatu pada si Kacang Merah?”

Beberapa hari ini Liang Zi-qi makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Dia berharap putra dan putrinya berada di depan dia. Sehingga mereka sekeluarga bisa mencari jalan keluar, apakah mereka harus pergi jauh, atau....

Tawa dingin Meng Ju-zhong, wajah seram Shen Zhong-yuan terus melintas dikepalanya. Mereka tidak akan dengan mudah melepaskan dia dan keluarganya. Sampai hari ini Liang Zi-qi belum memberi jawaban kepada mereka, berharap mereka tidak akan terburu-buru ingin membunuhnya.

“Tapi semua tetap harus siap sedia, bila terjadi sesuatu terhadapku, anak-anak harus tahu penyebabnya. Tapi anak-anak harus tahu tentang apa? Apakah aku harus memberitahu kepada mereka bahwa ayah mereka adalah algojo yang membunuh teman dunia persilatan? Atau memberitahu kepada mereka bahwa hati nurani ayahnya merasa bersalah, dia ingin melepaskan diri dari persekongkolan yang menjijikkan ini? Atau memberitahu kepada mereka.... Tuhan, apakah kata-kata ini boleh kutulis di atas kertas ini?”

“Kakak Liang, ternyata kau!”

Di depannya tiba-tiba muncul bayangan Qing Yong Lu. Tubuhnya penuh dengan darah, dia berteriak, “Kakak Liang, cepat bunuh aku, biar aku tidak merasa kesakitan  ”

Hati Liang Zi-qi bergetar, air matanya menetes, dia merasa malu. Air mata sudah mengalir ke wajahnya dan menetes ke kertas yang berada di atas meja.

Tiba-tiba di malam yang sepi itu terdengar siulan aneh. Siulannya tajam membuat sakit telinga, berarti orang yang bersiul itu mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.

Liang Zi-qi tahu siapa orang yang datang, hatinya terkejut. Dia ingin mematikan lampu, dia segera menulis di atas kertas.

Bukannya dia tidak mau melindungi orang-orang kantor Biao. Dia tahu dia sudah tidak bisa mengurusi mereka.

Yang tersisa sekarang hanya sedikit bukti untuk anak-anaknya supaya dengan mudah....

Hanya dalam waktu sejekap di halaman terdengar suara ribut dan jeritan, suara senjata saling beradu, semua sudah bercampur aduk.

Liang Zi-qi seperti tidak mendengar, dia tahu waktu hidupnya sudah tidak banyak. Dia harus secepatnya menulis, tapi di luar kamar sudah terdengar seseorang yang berkata, “Marga Liang, kenapa kau seperti seekor kura-kura? Cepat keluar untuk menyambut kematianmu!”

Liang Zi-qi tampak ragu sebentar, dengan cepat dia menyelipkan kertas yang sudah ditulis dengan puluhan kata, disebuah buku yang berada di rak buku. Dari dinding dia mengambil golok tujuh bintang. Dia memecahkan jendela dan melayang menuju halaman.

Di atas atap berdiri dua orang, yang satu adalah si Sempoa Besi Shen Zhong-yuan, yang satu lagi adalah Fei Tian Zhi Zhu (laba-laba terbang kelangit) Han Wu-niang.

Hati Liang Zi-qi bergetar lagi dan dia berkata, “Kalian berdua datang ke kantor Biao ku, ada keperluan apa?”

“Hei marga Liang, jangan pura-pura, kami kesini hanya untuk menanyakan bagaimana keputusanmu?” Yang bicara adalah Shen Zhong-yuan.

Liang Zi-qi marah dan berkata, “Mana ada orang memakai cara seperti ini, bertanya mengenai sebuah keputusan! Apakah kalian ingin memaksaku?”

“Terserah kau akan mengatakan apa! Jujur katakan, sebelum kau mengambil keputusan, istrimu dan anak buahmu tidak akan terluka, tapi kau juga harus tahu bagaimana sifatku. Kesabaranku ada batasnya, kau didepan mereka bicaralah, kita akan tetap bekerja untuk si Sayap Emas Da Peng. Dengan begitu kita masih tetap teman.”

“Bila aku tidak mau bicara, bagaimana?”

Dengan dingin Shen Zhong-yuan menjawab, “Nama kantor Biao Yong Tai akan hilang dari dunia persilatan!”

Liang Zi-qi tertawa terbahak-bahak, “Kau terlalu percaya diri!”

Shen Zhong-yuan juga tertawa dan berkata, “Hei marga Liang, kemampuan ilmu silat kita masing-masing, sudah tahu, apakah kau ingin bertarung?”

“Kalau begitu turunlah!”

“Apakah kau sudah mengambil keputusan?” “Aku bersiap menghadapi kematian.” “Baiklah, aku akan mengabulkannya!”

Shen Zhong-yuan ingin turun dari atap, tapi Han Wu-niang yang berada disisinya berkata, “Kakak Shen, sisakan dia untukku, kau cari yang lain, semua harus dibunuh hingga bersih, tidak boleh tersisa!” Shen Zhong-yuan mengiyakan, dia membalikkan badan kemudian pergi ke tempat lain.

Di halaman tampak orang-orang dibagi menajdi tiga kelompok, pihak sedikit melawan pihak banyak, sungguh sangat tidak seimbang.

Wu Xiao Feng dikelilingi oleh tiga orang biksuni muda, mereka membawa pedang panjang, membuat golok Wu Xiao Feng tidak bisa bergerak. Ketiga biksuni itu seperti kucing yang sedang bermain dengan tikus, mereka tidak membunuhnya.

Wu Bao Lin bertarung dengan Feng Yan Zhang, baru memasuki 20-30 jurus, Wu Bao Lin sudah merasa lelah, dia dipaksa berputar-putar.

Zhao Zhen Xing bertarung dengan Lei Qi. Hanya dalam 30-40 jurus, Zhao Zhen Xing kelihatan akan kalah.

Di sisi sebelah sana masih ada Peng Zhi-xiao pena jaksa terselip di pinggangnya. Tangannya memegang puluhan biao (senjata rahasia), setiap saat bisa dilepaskan.

Di halaman banyak orang Biao yang terjatuh dan tidak bisa bangun lagi.

Shen Zhong-yuan melihat keadaan disana, dia tertawa dingin dan berteriak, “Paksa mereka masuk kehalaman belakang!”

Hanya dalam waktu singkat, orang-orang kantor Biao Yong Tai terkumpul dihalaman belakang. Mereka dipaksa mundur kesana.

Liang Zi-qi dan Han Wu-niang bertarung dengan sengit, Liang Zi-qi berpikir, “Kenapa kita dipaksa kehalaman belakang?”

Shen Zhong-yuan yang berada di atas atap berteriak, “Marga Liang, bukalah mata lebar-lebar untuk melihat, mereka masih hidup, sekarang hanya menunggu kata- katamu, apakah kau mau melihat mereka mati didepanmu?”

“Suamiku, sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah mereka adalah....” Wu Xiao Feng berteriak, belum habis kata-katanya sebuah pedang panjang sudah melayang mendekati mereka, dengan goloknya dia mencoba menghindari pedang itu dan mundur beberapa langkah.

Tiba-tiba dia merasa dibelakangnya ada senjata yang menyerang, dengan golok dia menahan dan melindungi kepalanya.

Dia berteriak lagi, “Suamiku, katakanlah ada apa!” Shen Zhong-yuan tertawa dingin dan berkata, “Marga Liang, istrimu sedang bertanya, apakah kau sudah menjadi bisu?”

Liang Zi-qi marah dan berkata, “Marga Shen, kalau kau adalah laki-laki sejati, tumpahkan semua masalah ini kepadaku, jangan mencari orang lain!”

Shen Zhong-yuan tertawa dingin dan berkata, “Jangan harap! Aku hitung sampai tiga, bila kau tidak setuju, aku akan menyuruh mereka mati di depanmu!”

“Apakah kau berani!”

“Satu!” pesan Shen Zhong-yuan kepada Peng Zhi-xiao, “Bersiap untuk membunuh mereka!”

Liang Zi-qi tahu Shen Zhong-yuan sangat kejam, apa pun akan dia lakukan. Istrinya tidak tahu apa-apa, kedua muridnya hanya kambing hitam. Dia tidak tega mereka mati karena dia, tapi apa daya.