-->

Ilmu Pedang Pengejar Roh Jilid 02

Jilid 02

Dengan tenang dia mengatakannya, tapi Shu Yu-zhu malah terdiam lama dan baru berkata, “Kita berusaha menyuruh anak Hao menghalangi kepergian anak Juan hingga lewat tujuh hari baru kita kuburkan jenasah Lu Yi-feng.”

Walaupun Zheng Yu menyetujui ide Shu Yu-zhu tapi dalam hatinya dia mempunyai ide lain. Kemudian dia mencari Li Hao untuk menjalankan rencana ini.

Langit mulai turun salju dan jatuh tepat di wajah Lu Yue-juan. Dia merasa sangat kedinginan.

Semenjak Lu Yue-juan meninggalkan Wisma Bai-ma, dengan lari cepat sekejap dia sudah berjalan sejauh 3-4 kilometer. Tiba-tiba kudanya terpeleset, dia merasa kaget tapi untung tidak terjadi sesuatu padanya.

Dia tahu dengan cara berjalan seperti itu kudanya akan mati kelelahan, karena itu dia mulai berjalan pelan-pelan.

Semenjak jenasah Lu Rui dan Gao Yiang dibawa ke Wisma Bai-ma, hatinya selalu merasa tertekan.

Sekarang begitu melihat pemandangan yang indah walaupun tidak didampingi seorang pun dari keluarganya, tapi dia malah merasa hatinya tenang dan bebas.

Ayahnya tidak sempat mengatakan siapa pembunuh yang sudah mencelakainya, dia sudah keburu mati terlebih dulu.

Lu Yue-juan selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, tapi walau bagaimanapun ayahnya sudah memberi petunjuk agar pergi ke Yu-quan Kuan untuk meminta bantuan kepada paman gurunya.

Bukan sekali dua kali dia mendengar Zhui Hun Duo Ming-jian Fa milik Biksu Yuan Chen sangat lihai.

Di sampingnya masih ada seorang murid yang masih muda, dia bernama Ma Zao-ling. Sejak kecil dia sudah ikut dengan gurunya, dia juga pintar dan lincah. Dia sudah mendapatkan seluruh ilmu dari gurunya, Yuan Chen.

Selama dua tahun ini walaupun baru lulus dari belajar ilmu silat, tapi di dunia persilatan dia sudah sangat terkenal, dia dijuluki dengan Qing Shan Ke (Tamu Berbaju Hijau).

Bila guru dan murid itu mau turut campur, dendam ayahnya pasti bisa terbalas.

Tidak lama kemudian kudanya sudah bisa berlari dengan cepat lagi. Dia telah tiba di sebuah kota.

Di ujung kota itu terdapat sebuah toko. Disana banyak tersedia sayuran dan arak, karena sejak pagi dia belum sarapan, oleh karena itu dia merasa sangat lapar maka dia pun segera turun dari kudanya dan berjalan memasuki toko itu.

Pelayan toko dari kejauhan sudah kelihatan datang menyambutnya. Yang satu siap memberi makan kuda, yang satu lagi menanyakan, “Nona, mau pesan sayur apa?”

Tanya Lu Yue-juan, “Apakah ada makanan dan minuman yang enak?” Pelayan melihat dia begitu tergesa-gesa, dia tidak berani bertanya. Segera mereka menyampaikan pesan Lu Yue-juan ke dapur, lalu membawakan teh yang baru diseduh.

Hanya sebentar sayur dan nasi sudah diantar kemejanya. Walaupun tamunya mengatakan ingin makanan yang sederhana tapi pelayan melihat bahwa Lu Yue-juan adalah orang kaya, mereka membuatkan makanan yang beraneka macam.

Lu Yue-juan lahir di keluarga kaya, dia sangat royal, dia minum dan makan tidak mempedulikan harganya. Hanya sebentar sayur dan nasi sudah habis, dia pun merasa kenyang.

Tiba-tiba di luar toko ada suara yang bertengkar.

Yang satu berkata, “Kau mau lari kemana? Disini bukan tempat makan bubur, cepat pergi!”

Sepertinya pelayan tadi yang berkata seperti itu.

Tapi yang satu lagi dengan suara memelas berkata, “Jangan menghinaku, aku bukan pengemis, aku juga mempunyai uang.”

Pelayan itu tahu pengemis ini marah, dia juga marah. Tapi setelah didengar lagi teliti....

sudah tidak ada suara.

Gordyn toko dibuka, seorang pengemis muda tampak sedang mabuk. Rambutnya berantakan dan wajahnya kotor, bajunya compang camping, kakinya sedikit pincang, dia masih menggunakan sebuah kayu yang dijadikan sebagai tongkat. Dia seperti pengemis yang berada dijalanan.

Pengemis itu masuk ke rumah makan, dia melihat kesekelilingnya. Kemudian melihat Lu Yue-juan yang sedang duduk sendiri, dia melihat agak lama.

Lu Yue-juan melihat sorot matanya seperti aliran listrik, matanya tampak sangat bersemangat.

Hatinya bergetar, dia teringat sewaktu ayahnya masih hidup sering mengajar dan mengatakan, “Di dunia persilatan, biksu, pengemis dan perempuan jangan diganggu. Mungkin saja orang itu adalah pesilat tangguh ”

Tiba-tiba dia berpikir, “Aku juga seorang perempuan apakah aku juga tidak boleh diganggu?” Dia tertawa sendiri.

Tawa Lu Yue-juan terlihat oleh pengemis itu. Dia segera mendengar dan dengan tertawa dia berkata, “Nona, kau seorang sendiri tapi memesan begitu banyak sayur, apakah kau bisa menghabiskan semuanya? Bagikan saja kepadaku sebagian agar aku bisa mengirit uangku.”

Lu Yue-juan sudah tahu dia bukan pengemis biasa, tidak boleh menganggap remeh kepadanya.

Melihat dia begitu serius, Lu Yue-juan pura-pura berkata, “Bukankah kau mempunyai uang, kenapa kau mau saja memakan sisa nasi dan sayur dari orang lain?”

Jawab pengemis itu, “Aku mempunyai uang, tapi ada di kantong orang lain.”

Lu Yue-juan merasa lucu, dia tertawa dan berkata, “Kalau begitu makanlah sayuran ini, aku sudah kenyang.”

Pengemis itu merasa sangat berterima kasih kepada Lu Yue-juan lalu duduk. Dengan serius dia pun mulai makan, pelayan pun tidak berani melarangnya.

Sayur yang dipesan Lu Yue-juan salah satunya terdapat sayur ikan Angxiao. Karena sayur itu sangat enak, Lu Yue-juan sendiri hampir menghabiskan setengah ekor.

Si pengemis itu menjepit kepala ikan dengan sumpit. Hanya sekali jepit, ikat itu sudah terbalik....

Lu Yue-juan pernah melihat ayahnya yang makan dengan cara seperti itu sedangkan dia sendiri tidak bisa.

Sekarang melihat orang ini bisa melakukannya, dalam hati dia berpikir, “Mungkin dia adalah orang kaya, tapi dia hanya pura-pura menjadi pengemis.... dunia persilatan penuh dengan bahaya. Aku sendiri sekarang ini berada di luar, tidak perlu banyak bicara dengan orang yang tidak kukenal.”

Dia berdiri dan ingin segera pergi dari sana, terdengar ada suara jernih yang berkata, “Nona, aku berterima kasih untuk kebaikanmu. Bila ada jodoh kelak kita pasti akan bertemu lagi, aku akan membalas budimu. Nona sepertinya sedang tergesa-gesa dan sepertinya juga banyak pikiran, bila ada kesusahan aku akan bersedia membantumu.” Lu Yue-juan melihat mulut pengemis itu tidak bergerak tapi ada suara yang keluar. Hatinya tergerak juga dengan tertawa kecut, “Benar, aku sedang mengalami kesulitan, tapi sayang kau tidak bisa membantu.”

Dia tidak banyak bicara lagi, segera membalikkan badan dan pergi.

Kota Xin Xiang dan Tian Shui hanya berjarak 30 kilometer lebih. Sesampainya di kota Xin Xiang hari sudah mulai sore. Di kota itu ada sebuah penginapan, yang bernama Penginapan Kai Sheng.

Lu Yue-juan memesan sebuah kamar dan menginap. Dia bersiap-siap akan bangun pagi kemudian berangkat ke Yu-quan-guan.

Malam hari. Malam sangat dingin dan angin pun berhembus dengan kencang. Kira-kira pukul dua dini hari, ada beberapa orang naik ke atas tembok. Mereka seperti setan datang ke penginapan Kai Sheng.

Sesampainya di penginapan, empat orang tinggi datang dari empat penjuru penginapan. Dua orang sudah naik ke atas tembok, hanya dalam waktu singkat, mereka sudah menghilang.

Lu Yue-juan karena merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, dia tidak bisa tidur.

Tiba-tiba dia terdengar di atas atap ada suara orang yang berjalan, dia merasa kaget. Segera dia memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya untuk menawar racun. Kemudian menyiapkan pedang di sisinya dan berpura-pura tertidur nyenyak.

Suara langkah itu berhenti, seseorang seperti suara mutiara tergantung terbalik di luar jendela.

Di sisi telinganya terselip sebuah kupu-kupu yang terbuat dari kain fanel. Terdengar kertas jendela sobek, kemudian ada bau wewangian yang masuk ke dalam kamar.

Walaupun Lu Yue-juan sudah menelan obat penawar, tapi dia tetap tidak berani bertindak ceroboh. Dia memencet hidungnya dan berpura-pura bersin, membuat musuh terpancing dengan reaksinya.

Benar saja, orang yang berada di luar jendela terkena tipuannya. Dia segera turun dari posisi menggantungnya. Dengan ujung pedang dia mencongkel pintu. Hanya sebentar dia sudah masuk kedalam kamar. Di dalam kegelapan, Lu Yue-juan melihat ada dua orang yang masuk. Walaupun ilmu silatnya tidak rendah tapi dia tetap masih kaget.

Salah satu dari mereka bertanya, “Kakak Keempat sudah lama aku menyukainya, perempuan ini sangat cantik, tapi selalu tidak ada kesempatan. Sekarang biarkan aku yang memeluknya.”

Yang satu lagi menjawab, “Bila perbuatan kita tidak diketahui oleh kakak tertua, tidak masalah bagiku.”

Orang itu tertawa dan berkata, “Terima kasih, Kakak Keempat.” Dia menyimpan senjatanya dan mendekati tempat tidur.

Lu Yue-juan yang masih sadar merasa sangat marah, tapi dia menahan kemarahannya. Begitu orang itu mendekat, dia berteriak, “Kau cari mati!”

Pedangnya pun sudah mengeluarkan serangan, terlihat kilauan pedang berkelebat dan terdengar suara yang berteriak. Ternyata tangan orang itu sudah terpotong.

Lu Yue-juan sudah meloncat terbang seperti ikan. Ujung pedang langsung menuju ke tenggorokan musuh dan dagu. Karena marah, serangannya cepat, ganas dan tepat.

Terlihat orang itu akan mati di bawah pedang Lu Yue-juan, tapi orang yang dipanggil kakak keempat itu dengan jurus Chun Feng Fei Liu (Pohon Yang Liu Tertiup Angin Semu), berusaha menolongnya hanya terlihat ada cahaya pedang, dua senjata sudah saling beradu. Walaupun nyawa tertolong tapi pundaknya sudah tergores.

Yang dipanggil kakak keempat melihat temannya terluka, dia tidak ingin bertarung lebih lama lagi. Dengan cepat dia membawa orang yang terluka itu kemudian melarikan diri.

Lu Yue-juan datang ke Yu-quan-guan karena ingin bertemu dengan Biksu Yuan Chen demi membalaskan dendam ayahnya.

Sekarang dia melihat orang itu datang bukan untuk memerkosa, dia tidak ingin begitu saja melepaskan, dia mengejar dan membentak, “Kalian mau lari kemana?”

Sesudah berkata dia segera melepaskan senjata rahasianya yang berupa pedang kecil. Orang yang dipanggil kakak keempat itu sangat berpengalaman. Begitu dia melarikan diri dia sudah bersiap-siap terhadap serangan senjata rahasianya Lu Yue-juan. Dia sudah mendengar ada suara senjata rahasia menyambar.

Walaupun dia menghindar dengan cepat, tapi pedang pendek itu tetap menancap ditangannya. Walaupun merasa sakit dia tetap dengan sekuat tenaga berusaha melarikan diri.

Lu Yue-juan tidak mau lawannya meloloskan diri dengan jurus Yan Zi Chuan Lian (Burung Walet Melewati Gordyn), dia mengejar mereka.

Melihat lawan sudah naik ke atas atap, dia masih tetap mengejar dan ikut naik ke atas atap. Tapi pada saat kakinya belum berdiri dengan mantap, ada sebuah pengait yang menunggunya.

Walaupun dia bisa menghindar, tapi dia melihat disana sudah ada lima orang menanti. Hatinya bergetar dan berpikir, “Apakah Yin-shan Wu-mo sudah datang?”

Dia tampak ragu, terdengar salah satu dari mereka berkata, “Ilmu pedang gadis ini sangat lihai, mari kita pergi!”

Lu Yue-juan mengira musuhnya takut kepada pedangnya. Walau agak terlambat tapi dia tetap mengejarnya.

Orang-orang ini ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi. Yang dipanggil kakak keempat ini meskipun tangannya sudah terluka dan sedang menggendong temannya, tapi di atas atap dia tetap meloncat dan berlari seperti melayang.

Karena ingin membalas dendam, Lu Yue-juan tidak berpikir panjang lagi, dia terus mengejar mereka. Dalam waktu singkat dia sudah berada di luar kota.

Hari mulai terang, tapi bulan sabit masih menggantung di langit, bintang-bintang masih berkilauan. Di depan matanya adalah pegunungan, dikaki gunung itu adalah hutan yang gelap.

Lu Yue-juan teringat ayahnya pernah berkata, “Bila ada hutan janganlah masuk.” Dia pun segera berhenti.

Ketika dia berhenti melangkah, orang yang dikejarnya juga berhenti dan membalikkan badan berkata, “Dari dulu aku sudah mendengar bahwa pak tua Lu Yi-feng mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tidak disangka putrinya begitu penakut.” Karena Lu Yue-juan marah dia membentak, “Siapa yang takut dengan kalian? Siapa kalian?”

Orang itu tertawa dingin dan menjawab, “Bila terhadap pak tua Lu Yi-feng aku tidak berani sombong, tapi bila terhadapmu yang di ibaratkan dengan burung yang masih kecil, itu sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan. Kami adalah Yin-shan Wu- mo, aku adalah si Dewa Kematian Enam Jari, Guo Shi Luo.”

Orang-orang ini tak lain adalah Yin-shan Wu-mo, yang masuk ke kamar Lu Yue-juan kemudian tangannya terputus adalah si Rubah Hitam, Yin Shaolin. Yang terkena senjata rahasia pedang adalah Yu Wen Huan.

Yin Shao-lin adalah seorang hidung belang, dia selalu membawa wewangian obat bius untuk membuat para gadis tidak sadarkan diri, kemudian diperkosa.

Tadinya dia ingin mengambil kesempatan ini untuk mengerjai Lu Yue-juan, tapi tidak disangka berniat mencuri ayam, ayamnya tidak dapat malah umpannya habis dan dia terluka di tangan Lu Yue-juan.

Mengira ayahnya mati di tangan Yin-shan Wu-mo, begitu melihat mereka dia sangat marah. Kemarahan membuatnya membentak dengan suara keras, “Penjahat, ganti nyawa ayahku!”

Dengan jurus-jurus yang ganas dan pedang Long Quan (Pedang Mata Air Mata Naga), dia menusuk ke dada Guo Shi Luo.

"Apakah kau pantas bertarung dengan kakak tertuaku?” Si Wajah Hijau Yu Wen-bing bergerak sudah memainkan sepasang kaitnya.

Begitu melihat adiknya, Yu Wen Huan terkena pedang kecil milik Lu Yue-juan, dia bertambah marah lagi. Dengan gerakan cepat, sepasang kait kanan sudah menyerang ke dada dan kait kiri menyerang perut musuhnya.

Menghadapi musuh yang begitu kuat seperti itu, beberapa kali Lu Yue-juan berada dalam bahaya. Dia memutar pedangnya kemudian menusuk kaki kanan Yu Wen-bing, ini adalah salah satu jurus Zhui Hun Dao Ming Jin, yang dinamakan Yan Hun Chan Zu (Roh Sedih Mengikat Kaki). Jurus ini bisa menyerang kaki musuh juga bisa menghindari serangan musuh. Jurus ini benar-benar sangat lihai.

Yu Wen-bing kaget, dengan cepat dia mengeluarkan jurus Liu Xing Duo Di (Meteor Jatuh Kebumi) untuk menghindar. Jurus pedang Lu Yue-juan sangat lihai, begitu ujung pedang mengenai tanah, dengan tenaga pantulan dia melayang keatas dan melewati kepala Yu Wen-bing. Ujung pedang sudah menepis belakang kepala dan pundak musuh.

Yu Wen-bing bukan pesilat biasa, dia bisa menghindari pedang musuh, berbarengan dengan itu tangan kirinya mengait tubuh musuh.

Tapi Lu Yue-juan sudah bersiap-siap menghadapi serangan itu. Pedang yang tadinya ingin dijulurkan ditariknya kembali dan membalikkan badannya untuk menusuk leher musuh.

Karena gerakan Yu Wen-bing agak lambat, pundak kirinya terkena tusukan. Baju dan dagingnya pun sudah terkoyak, membuatnya berteriak dan mundur beberapa langkah.

Di belakang terdengar ada suara. Suara ini menyerang kebagian belakang badannya Lu Yue-juan, dia tahu pasti ada orang yang menyerangnya dari belakang.

Dia jongkok untuk menghindar, ternyata ada sebuah pecut yang menyerangnya. Orang yang memegang pecut gergaji ini adalah Yin-shan Wu-mo yang kedua.

Orang itu berperawakan kurus dan tinggi, dia bernama Ba Shen Lang, Zhou Qing-yun.

Sebenarnya Zhou Qing-yun adalah seorang pencuri kuda yang terkenal. Dia sangat mahir menunggang kuda, apalagi dalam memainkan pecut, pengalamannya sudah puluhan tahun.

Dia mencuri kuda seperti hanya bermain-main. Waktu itu karena dia dikejar oleh musuhnya, dia lari ke arah utara, secara kebetulan dia bertemu dengan Yin Shan Lao Mo (Setan Tua dari Yin Shan) Mu Rong Kai. Karena Zhou Qing-yun sangat kagum kepada nama Mu Rong Kai, juga karena takut dikejar oleh musuh, dia rela menjadi murid Yin Shan Lao Mo.

Mu Rong Kai melihat dia sangat mahir bermain pecut, sengaja dia membuatkan pecut yang sekarang digunakan olehnya. Pecut itu berbentuk seperti gergaji, panjangnya 4.5 meter, dari kejauhan pecut itu bisa menyerang musuh, dari dekat juga bisa menjaga dirinya.

Jika orang terkena pecut ini, maka kulit dan dagingnya akan terkoyak. Ini adalah senjata yang sangat lihai.

Lu Yue-juan pernah mendengar ayahnya yang bercerita tentang hal ini, tapi tidak pernah melihat senjata itu. Tapi dia juga tidak takut dengan pecut itu,

Lu Yue-juan marah dan berkata, “Tidak tahu malu menyerang orang dari belakang!” Segera dia memutarkan pedangnya, dengan cepat menusuk ke wajah musuh.

Zhou Qing-yun membentak, “Kau datang tepat pada waktunya.” Dengan pecut itu dia sudah melilit pedang Lu Yue-juan.

Walaupun Lu Yue-juan masih muda, tapi karena dia lahir di keluarga pesilat, dia agak mengerti tentang ilmu pecut.

Dia tahu ilmu apa yang diinginkan oleh musuhnya. Begitu pedangnya mau dilibat, segera dia tarik kembali. Dengan miring dia memotong pecut itu.

Zhou Qing-yun tidak bisa melilit pedang Lu Yue-juan lagi malah beberapa gigi gergaji sudah ditebas oleh pedang Lu Yue-juan. Zhou Qing-yun kaget dan mundur beberapa langkah.

Walaupun Yu Wen-bing terluka karena terkena pedang, tapi lukanya tidak begitu berat, melihat Zhou Qing-yun tidak bisa menahan serangan Lu Yue-juan. Dia maju untuk membantu temannya.

Mereka berdua bergabung melawan Lu Yue-juan. Karena Lu Yue-juan kurang pengalaman juga kurang bersikap tenang, dalam beberapa puluh jurus kemudian dia sudah terdesak kalang kabut.

Dalam waktu itu ada sesosok bayangan orang sedang berjalan ke arah mereka. Dewa Kematian Enam Jari, Guo Shi Luo segera mengenal bahwa orang itu adalah Li Hao.

Dia ingat dengan perintahnya kali ini dan berteriak, “Adik Kedua, hati-hati jangan melukai Lu Yue-juan. Nona menyerahlah, kami tidak akan melukaimu!”

Tapi dia tidak memperhatikan hal lain, bahwa dibelakang Li Hao sejauh beberapa meter ada orang lain, kadang-kadang berjalan kadang-kadang bersembunyi.

Begitu Li Hao mendekati tempat mereka bertarung, dan dia bersembunyi disemak- semak. Bayangan orang itu sudah berputar dan masuk ke kuburan kemudian segera menghilang.

Di bawah sinar bulan yang seperti air, cahaya menyinari tiga bayangan orang yang sedang bertarung. Mereka sudah bertarung sebanyak puluhan jurus.

Lu Yue-juan sudah merasa lelah, sebelah tangannya harus menahan jurus musuh, sedangkan tangan yang lainnya harus menahan senjata kait lawan. Yu Wen-bing dan Zhou Qing-yun sudah menuruti perintah Guo Shi Luo agar tidak membunuh, Lu Yue-juan dibuatnya terengah-engah dan berkeringatan oleh mereka.

Dalam pertarungan itu, Zhou Qing-yun sudah melihat Lu Yue-juan semakin kelelahan dan lemah. Hatinya sangat senang. Begitu Lu Yue-juan mengeluarkan sebuah jurus yang agak lambat dan dapat ditahan oleh Yu Wen Bong, dia segera memecut kaki Lu Yue-juan. Pecut itu mengenai Lu Yue-juan.

Lu Yue-juan berteriak dan hampir terjatuh. Dengan ujung pedang dia menahan tubuhnya. Zhou Qing-yun tertawa terbahak-bahak, dia sudah siap-siap ingin menangkap Lu Yue-juan hidup-hidup....

Pada saat keadaan begitu tegang, terdengar suara lengan baju yang tertiup angin. Dari atas langit terlihat bayangan seseorang.

Dia turun tepat di antara Lu Yue-juan dan Zhou Qing-yun.... tubuhnya belum berhenti dengan benar, tongkatnya sudah memukul Zhou Qing-yun.

Angin yang dihasilkan dari tongkat itu membawa angin besar. Zhou Qing-yun kaget dan mundur, begitu meneliti, ternyata yang datang adalah orang dengan rambut yang berantakan, bajunya compang camping, ternyata dia adalah seorang pengemis yang masih muda.

Dengan suara membentak Zhou Qing-yun bertanya, “Siapa kau? Berani benar kau mengurusi urusan Yin-shan Wu-mo!”

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak, dengan dingin dia berkata, “Jangan tanya siapa aku! Dengan nama Yin-shan Wu-mo, kalian menghina seorang perempuan, aku tidak bisa menerimanya. Kalau berani, bertarunglah denganku!”

Zhou Qing Yuan membentak dan berkata, “Kau cari mati!”

Dengan pecut gergaji dia sudah memecut ke arah pinggang pengemis. Jurus ini begitu cepat, ganas dan bertenaga besar, benar-benar sangat lihai.

Tapi pengemis itu hanya diam, begitu pecut itu hampir mengenai tubuhnya, dengan tangan kiri dia mengangkat tongkatnya. Dengan ringan dia menyapu pecut itu, tapi pecut itu telah melilit tongkat.

Begitu tongkat itu sudah terlilit, Zhou Qing-yun berteriak, “Lepas!” Dengan tenaga tangan kanan, dia menarik, tongkat sudah melayang sejauh beberapa meter.

Hati Zhou Qing-yun sangat senang, tapi hanya sejenak segera dia melihat sebilah pedang secepat cahaya menyerangnya. Dia sangat kaget, dia ingin menarik kembali tangannya, tapi sudah terlambat.

Ditengah suara teriakan, dia sudah melihat darah bermuncratan di depan matanya. Karena telapak tangannya sudah terpotong mengikuti pecut yang melayang sejauh beberapa meter.

Zhou Qing-yun terluka. Dalam suasana yang begitu penuh dengan kekagetan, dia baru bisa melihat tangan pengemis itu sudah memegang sebilah pedang. Pedang ini adalah sebilah pedang pusaka.

Dia takut disusul oleh serangan lanjutan lawan, walaupun tangan kanannya terasa sakit, tangan kirinya mengeluarkan dua pisau terbang dan dilemparkan kearah pengemis itu kemudian dia pun mundur.

Ternyata tongkat pengemis itu bagian tengahnya kosong. Di dalam tongkat tersimpan sebilah pedang. Begitu tongkat itu diterbangkan, tangan kanannya sudah memegang pegangan pedang dan tiba-tiba menyerang lawan.

Lawannya tidak menyangka dengan semua kejadian ini. Sekarang dua pisau terbang menyerang dia, tapi begitu tangannya diputar, pisau itu terjatuh ke bawah.

Sekarang Yu Wen-bing baru sadar dan tahu bahwa dia sudah bertemu seorang pesilat tangguh. Dia terdiam sebentar kemudian tiba-tiba mengeluarkan jurus Dua Naga Keluar dari Air, kaitannya sudah mengait pinggang si pengemis.

Tidak disangka pengemis itu seperti mempunyai mata di punggungnya. Begitu kait diulurkan, dia sama sekali tidak membalikkan kepala untuk melihat, hanya dengan sebuah gerakan, terdengar suara kait yang terputus dan berdenting karena terjatuh ke tanah.

Yu Wen-bing kaget dan terpaku. Sekarang pengemis itu sudah membalikkan badan, dengan pedang dia menggambar lingkaran dan ujung pedangnya sudah berada di depan mata Yu Wen-bing. Dengan kaget Yu Wen-bing mencoba menghindar dia juga ingin melarikan diri.

Pengemis itu seperti ingin melindungi Lu Yue-juan dan dia tidak mengejar Yu Wen-bing. Lu Yue-juan belum jelas melihat siapa yang datang membantunya, tapi dia tahu orang yang membantunya adalah seorang pesilat tangguh. Dia menarik nafas, tubuhnya terasa lelah. Ada rasa dingin yang menyerang ke dalam jantungnya, tak terasa dia terjatuh dan pingsan.

Perubahan yang terjadi begitu cepat, walaupun Dewa Kematian Enam Jari, Guo Shi Luo berpengalaman didunia persilatan, perubahan ini tetap membuatnya terkejut. Dia tidak bisa menebak dari mana asalnya jurus-jurus pengemis ini, dia juga tahu dirinya bukan lawan yang seimbang dengan si pengemis.

Dia tampak ragu kemudian dia membungkukkan badan memberi hormat dan berkata, “Aku adalah Guo Shi Luo, aku dititipkan seseorang untuk menjaga nona ini supaya nona ini bisa menghindari bencana, siapakah Anda? Mengapa ikut campur ke dalam air keruh ini?”

Meskipun Guo Shi Luo berbicara dengan sikap sangat hormat tapi pengemis itu hanya menjawab dengan dingin, “Kau mengundang tamu dengan todongan senjata, apakah ini masuk akal? Kau tidak perlu tahu siapa aku? Aku harus campur tangan dalam masalah ini, kalau kau tidak terima kau boleh ikut bertarung melawanku!”

Gao Shi Luo merasa perkataannya dari luar pengemis ini terlihat lemah tapi di dalamnya terlihat keras.

Walaupun sangat marah tapi dengan terpaksa dia berkata, “Kalau begitu kelak kita akan bertemu lagi!”

Guo Shi Luo menyuruh anak buahnya pergi.

Pengemis itu mengawasi semua musuhnya pergi, setelah tidak kelihatan lagi baru dia memeriksa luka Lu Yue-juan.

Walaupun dia tahu bahwa Lu Yue-juan adalah seorang perempuan, sangat tidak sopan bila dia memeriksa lukanya. Tapi serangan Yin-shan Wu-mo tadi sangat lihai, dia sudah tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi.

Dia memegang tangan Lu Yue-juan dan memeriksa nadinya, ternyata Lu Yue-juan sudah terkena serangan Xuan Yin.

Segera dia mendudukkan Lu Yue-juan di depannya, tangan kanannya ditempelkan ke punggung Lu Yue-juan dan menyalurkan tenaga dalam kedalam tubuh Lu Yue-juan untuk mengeluarkan racun dan mengobati luka. Sinar bulan yang lembut menyinar wajah Lu Yue-juan yang cantik. Mulutnya indah seperti bunga yang baru keluar dari air, begitu indah membuat orang segera menaruh hati.

Si pengemis itu walaupun sedang mengobati luka Lu Yue-juan, tapi melihat keadaan ini tetap membuat hatinya bergetar. Tapi dia berusaha membuyarkan pikiran itu, dia melihat ke tempat jauh dan jauh....

Hanya dalam waktu sebentar tubuh Lu Yue-juan yang tadinya terasa dingin mulai menjadi hangat. Lu Yue-juan mulai berkeringat, dengan perlahan pengemis itu menarik tenaga dalamnya juga menarik kembali pandangannya. Dengan pelan dia membaringkan Lu Yue-juan di bawah dan pergi begitu saja.

Walaupun Lu Yue-juan memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi dia lahir di keluarga kaya, sudah terbiasa sudah hidup enak. Dia tidak tahan dengan rasa lelah yang dideritanya hari ini dan sudah mengalami

pertarungan yang sengit. Walaupun racun Xuan Ying Zhang sudah dikeluarkan, tapi dia tidak bisa segera sadar.

Dalam keadaan sadar dan tidak sadar, sepertinya dia bertemu dengan kakak seperguruan Chen Kui. Anehnya kenapa kakak seperguruannya memakai baju compang camping, yang membuat dia lebih heran adalah mengapa kakak memeluk dan mencium dia....

Walaupun Lu Yue-juan sudah lama jatuh cinta kepada kakak kedua yang sejak kecil tumbuh bersama. Tapi sekarang setelah dia dipeluk dan dicium, Lu Yue-juan tetap merasa malu dan dia berkata, “Kakak, kau.... jangan seperti itu nanti terlihat orang ”

Tidak tahu seterusnya dia harus berkata apa lagi, karena mulutnya sudah ditutup oleh mulut lain dan dipeluk lebih erat lagi.

Lu Yue-juan merasa malu dan wajahnya pun memerah, tapi dia juga merasa senang. Kedua tangannya dibuka dan menerima ciuman itu....

Sewaktu dia sedang menikmatinya, dia merasa sepasang tangan nakal meraba ke pinggang dan terus ke bawah.... Lu Yue-juan terkejut dan segera tersadar, dia juga membuka matanya lebar-lebar.

Di bawah sinar bulan, terlihat bahwa yang memeluknya ternyata bukan Chen Kuai melainkan Li Hao. Kaget bukan kepalang, dia memberontak dan berteriak, “Kau, lepaskan aku!”

Tapi Li Hao tetap memeluknya dan tidak mau melepaskan, dia berkata, “Adik, aku rindu kepadamu. Paman sudah meninggal, akulah satu-satunya kerabatmu ”

Lu Yue-juan marah dan merasa malu, dia menampar Li Hao juga memukulnya. Pukulannya mengenai dada Li Hao, kesempatan ini digunakan oleh Lu Yue-juan untuk lepas dari pelukan Li Hao. Pedangnya tidak ada, segera dia berlari ke belakang.

Dia mengeluarkan pedang pendek dan meloncat, dia sudah berdiri dengan jari menjepit pedang, kemudian dia membentak, “Kau mau apa?”

“Adik, tidak perlu sampai begitu, dengarkan dulu. ”

Lu Yue-juan makin marah dan berkata, “Siapa adikmu? Kau adalah binatang, cepat pergi dari sini!”

Li Hao marah dan berkata, “Adik, kau sudah dilukai oleh Yin-shan Wu-mo, aku berhasil mengusir mereka juga membantumu mengobati luka, mengapa perlakuanmu seperti ini terhadapku?”

Waktu itu karena Lu Yue-juan sudah merasa lelah, apalagi sudah terkena pukulan penjahat, dia segera pingsan. Siapa yang sudah menolongnya, dia sama sekali tidak tahu. Begitu mendengar penjelasan kakak sepupunya, hatinya pun menjadi tidak tega untuk membunuh.

Dia berkata, “Kau sudah menolongku, aku merasa sangat berterima kasih. Tapi kenapa kau begitu kurang ajar kepadaku?”

Li Hao menjawab, “Aku mengaku salah, jangan beritahu hal ini kepada bibi.” Kemarahan Lu Yue-juan mereda dan dia bertanya, “Mengapa kau bisa datang kesini?”

Li Hao tampak ragu, kemudian dia menjawab, “Setelah terjadi banyak hal di Wisma Bai- ma, kau pergi ke tempat jauh seorang diri. Aku merasa tidak tenang, karena itu aku mengikutimu hingga kesini. Untung tidak terjadi apa-apa denganmu.”

Setelah mendengar kata-katanya, dia menyimpan pedangnya ke pinggang. Melihat pedangnya berada dibalik semak-semak, dia segera mengambilnya.

Tidak disangka sewaktu dia akan mengambil pedang terdengar senjata rahasia yang berbunyi. Di malam yang sunyi, Lu Yue-juan tidak memiliki persiapan sama sekali, dia sudah terkena sebuah batu kecil dan batu itu sudah menotoknya, membuat badannya menjadi lumpuh separuh.

Dengan cepat Li Hao datang dan dia menambah beberapa totokan lagi, kemudian tertawa, “Adik, kau jangan menyalahkanku karena bibi sudah menjodohkanmu denganku. Kau selalu bersikap dingin kepadaku, terpaksa malam ini kita jadikan tanah yang gersang ini sebagai tempat tidur. Bintang di langit menjadi saksi, kita lewatkan malam pengantin pertama disini.”

Dia memeluk Lu Yue-juan dengan erat, walaupun Lu Yue-juan marah dan malu hingga ke titik terakhir, tapi tubuhnya terasa lemah dan sama sekali tidak bisa digerakkan maupun memberontak. Dia hanya bisa marah, tapi tidak memiliki cara untuk menghentikan kelakuan Li Hao.

Waktu itu dari arah kuburan ada yang tertawa terbahak-bahak. Dalam suara tawa muncul bayangan seseorang yang turun.

Begitu menapakkan kakinya, orang itu berkata, “Mana ada saudara sepupu yang menghina adik sepupunya sendiri? Benar-benar jarang dilihat. Aku ingin bertanya dari segi perasaan dan segi aturan, posisimu berada dimana?”

Terpaksa Li Hao melepaskan Lu Yue-juan. Begitu dia melihat orang itu, rohnya serasa sudah terbang jauh karena orang yang datang tak lain adalah orang yang tadi sudah mengalahkan Yin-shan Wu-mo.

Tapi dia tetap berkata, “Tuan, kami adalah saudara sepupu, mengapa kau turut campur masalah orang lain?”

Pengemis itu terdiam, kemudian dengan dingin dia tertawa. Kedua matanya sangat tajam menatap Li Hao.

Lu Yue-juan berteriak, “Tuan, tolonglah aku. Aku tidak mengaku bahwa dia adalah ”.

Li Hao tidak mendengar kata-kata Lu Yue-juan selanjutnya, dia sudah melarikan diri. Pengemis itu tidak mengejarnya.

Melihat Li Hao sudah melarikan diri, baru dia membalikkan kepala dan berkata kepada Lu Yue-juan, “Aku pernah makan nasi dan sayur milik Nona. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan membalas budi. Sekarang semua hutangku sudah lunas. Maaf, aku harus pergi.” Dia membalikkan badan dan langsung pergi. Lu Yue-juan mengawasinya pergi, Lu Yue-juan ingin tertawa dan berkata, “Mengapa kau menolong seseorang tidak sampai tuntas, totokanku belum terbuka, kau sudah ingin pergi?”

Si pengemis terpaku, kemudian dia tertawa dan berkata, “Aku lupa, aku tidak tahu Nona sudah tertotok. Apalagi laki-laki dan perempuan tidak boleh saling memegang, ini adalah peraturan sejak dulu. Aku adalah seorang pengemis dan Nona adalah seorang putri yang kaya, membunuh pun aku tidak berani. ”

Lu Yue-juan tahu dia sedang bercanda, tapi dia yang meminta pertolongan jadi dia tidak boleh marah. Lu Yue-juan hanya tertawa dan berkata, “Aku tahu ilmu silatmu sangat tinggi. Kau jangan sengaja menutup-nutupinya, walaupun aku sendiri bisa membuka totokannya tapi harus memakan waktu yang agak lama. Di pengunungan terpencil seperti ini, seseorang yang ditotok nadinya sama sekali tidak bisa melawan. Aku minta agar kau mau membantuku.”

Pengemis itu tertawa dan berkata, “Hutang budi kepada Nona sudah kubayar, sekarang kau menyuruhku membuka totokan, nona harus menyetujui satu hal.”

Lu Yue-juan melihat pengemis ini selalu tertawa, dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh pengemis itu. Dia tidak bisa menjawab permintaannya, terdengar pengemis itu berkata lagi, “Nona, kalau kau pelit lebih baik kita bertemu di lain waktu saja.”

Lu Yue-juan melihat dia benar-benar ingin pergi, dengan cepat Lu Yue-juan berkata, “Kau tidak memberitahu apa yang kau inginkan, mana bisa aku menyetujuinya?”

"Betul juga,” Pengemis itu tertawa dan berkata, “Aku hanya ingin tahu nama Nona saja.”

Lu Yue-juan menarik nafas dan tertawa menjawab, “Aku bermarga Lu, bernama Yue- juan ”

Belum habis dia bicara, pengemis itu sudah berkata, “Ternyata Nona adalah putri dari Wisma Bai-ma. Ayah Nona baru saja meninggal, mengapa Nona pergi jauh seorang diri?”

Sambil bicara dia memungut gumpalan tanah, kemudian dia menghancurkannya kemudian menebarkannya ke tubuh Lu Yue-juan. Tanah seperti hujan berjatuhan ke tubuh Lu Yue-juan.

Lu Yue-juan bengong sebentar, tapi dia segera merasa nadinya bergetar di beberapa tempat, kemudian rasa kakunya mulai menghilang. Lu Yue-juan melihat cara pengemis itu membuka totok begitu hebat. Dia merasa sangat kagum dan berkata, “Terima kasih kau sudah ”

Tiba-tiba Lu Yue-juan berpikir, “Aku ini sangat bodoh, mengapa aku bisa langsung percaya begitu saja kepadanya? Ilmu silatnya Li Hao hanya begitu saja apakah itu mungkin. ? Sekarang kelihatannya orang ini mungkin yang menolongku.”

Lu Yue-juan berkata, “Tadi yang mengusir Yin-shan Wu-mo pasti kau, apakah benar? Aku ingin menanyakan nama dan margamu, kelak aku akan ”

Kata si pengemis itu, “Masalah kecil jangan terus tergantung di mulut. Aku hanya seorang pengemis, bukan pendekar tapi bila harus memberantas kejahatan dan membantu yang lemah, aku pasti akan melakukannya.” Dia berkata lagi, “Aku belum bertanya, Nona akan pergi kemana?”

Dengan sedih Lu Yue-juan menjawab, “Kakakku dan ayahku berturut-turut meninggal tapi aku tidak tahu siapa musuhku yang sebenarnya? Kali ini aku akan pergi ke kuil Yu- quan-guan untuk meminta bantuan kepada Paman Guru Yuan Chen agar mau membantuku membalas dendam.”

Pengemis itu berpikir sebentar dan berkata, “Menurut pendapatku, Nona tidak perlu pergi ke Yu-quan-guan.”

Lu Yue-juan terkejut dan bertanya, “Apa maksudmu?”

"Nona akan sia-sia pergi ke Yu-quan-guan, Nona harus segera kembali ke Wisma Bai- ma. Masalah membalas dendam keluarga, Nona kurang mampu melakukannya.”

Lu Yue-juan tidak mengerti. Dia berpikir sebentar dan berkata, “Aku sudah mengambil keputusan harus pergi kesana, walaupun Pendekar sudah menolong nyawaku, aku tidak bisa menuruti kata-katamu.”

Pengemis itu menggelengkan kepala dan berkata, “Kalau begitu Nona harus menjaga diri, aku harus pergi.”

Dia segera membalikkan badan dan pergi.

Lu Yue-juan baru ingat belum menanyakan namanya, dia merasa bingung....

Lu Yue-juan sudah pergi dari Wisma Bai-ma, Li Hao pun menghilang, hati Chen Kuai semakin merasa curiga. Tapi dia sendiri tidak mengerti apa alasan mereka pergi. Chen Kuai adalah turunan dari keluarga pesilat. Dulu ayah Chen Kuai di dunia persilatan adalah seorang yang cukup terkenal, jurus Ying Cao (Cakar Elang) dan ilmu kaitnya pernah menjagoi dunia persilatan. Tapi sayang umurnya sangat pendek, ketika Chen Kuai berumur lima tahun, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Ayahnya bersahabat dengan Lu Yi-feng, sebelum meninggal ayahnya sudah berpesan kepada seorang pelayan agar membawanya ke Wisma Bai-ma.

Karena Chen Kuai sudah tidak mempunyai orang tua, maka Lu Yi-feng menerima menjadi muridnya, pelayan yang mengantar dan Chen Kuai sendiri sudah menganggap Wisma Bai-ma adalah tempat tinggal mereka.

Sekarang karena Lu Yue-juan dan Li Hao telah pergi meninggalkan Wisma Bai-ma, maka tugas menjaga peti mati Lu Yi-feng jatuh ke tangan Chen Kuai. Beberapa hari ini dia memperhatikan tingkah laku istri gurunya, walaupun dia datang untuk bersembahyang tapi dia sama sekali tidak terlihat sedih. Karena itu Chen Kuai semakin bertambah curiga.

Pada hari kedua setelah kematian Lu Yi-feng, pelayan tua itu membersihkan ruangan dimana Lu Yi-feng sering berlatih silat. Dia menemukan biji sempoa yang sudah terbelah menjadi dua.

Pertama kali melihatnya dia tidak menaruh curiga, tiba-tiba dia teringat kepada pengurus wisma yang bernama Zheng Yu yang sering menggunakan sempoa, walaupun dia hanya seorang pelayan tapi karena sudah lama bekerja di keluarga pesilat dia menjadi curiga dan disimpannya biji sempoa itu di balik bajunya.

Dia memperhatikan sempoa milik Zheng Yu ternyata sudah diganti dengan yang baru. Dia merasa terkejut, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa terkejutnya. Kemudian dia pun menyerahkan biji sempoa itu kepada Chen Kuai.

Sepuluh tahun lebih Chen Kuai selalu menganggap Zheng Yu tidak bisa ilmu silat, paling-paling hanya bisa menendang. Sekarang setelah melihat biji sempoa itu, dia terus mengawasi Zheng Yu.

Pengurus ini mempunyai tubuh yang kurus, wajahnya seperti yang lemah, tapi jalannya terlihat cepat dan ringan. Kedua matanya sering bersorot dingin. Semua ini adalah ciri- ciri dari pesilat tangguh.

Chen Kuai tahu semenjak gurunya meninggal, orang ini sudah tidak takut-takut lagi kepada siapa pun. Bila dulu dia sedang, dia akan mengunci diri, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu siapa dia sebenarnya. Jika beberapa hal ini dihubung-hubungkan, mengenai identitas Zheng Yu dan hubungannya dengan Shu Yu-zhu, Chen Kuai mulai merasa curiga. Dia ingin memecahkan teka-teki ini. sehingga bila nanti Biksu Yuan Chen telah datang, dia bisa menjadi saksi.

Setelah makan malam, dia melihat seorang pelayan kecil yang bernama Lu Sheng sedang bermain. Dia mendekatinya kemudian memanggilnya.

Chen Kuai mengeluarkan uang dan memberikannya kepada Lu Sheng sambil berkata, “Lu Sheng, aku ingin meminta bantuanmu, ini ada sedikit uang untuk membeli baju baru.”

Lu Sheng terkejut dan berkata, “Tuan Muda ingin mengetahui tentang apa? Aku tidak berani menerima uang ini.”

"Aku memberikan uang ini untukmu, mengapa kau harus takut?” Akhirnya Lu Sheng menerimanya.

Chen Kuai melihat di sekeliling sana tidak ada orang, dia berkata, “Sudah 4-5 hari ini aku menjaga peti mati guru, aku merasa lelah dan sedikit merasa pusing. Sekarang kau tidur dulu, nanti menjelang tengah malam gantikan aku selama setengah jam.”

Kata Lu Sheng, “Tuan Muda, bila menggantikan Tuan Muda berjaga satu malam, itu tidak masalah. Tapi pengurus sudah berpesan begitu sudah malam semua pelayan harus kembali ke kamar tidur masing-masing dan tidak diijinkan untuk berkeliaran di luar, jika ketahuan olehnya, aku tidak berani menanggung resikonya.”

Kata Chen Kuai dengan marah, “Kau hanya takut kepadanya, apakah kepadaku kau tidak takut?”

Begitu melihat Lu Sheng begitu terkejut, dia mengganti kata-katanya, “Kau tidak perlu merasa takut, bila ada yang bertanya kau tinggal katakan bahwa aku yang menyuruhmu.”

Chen Kuai berpesan lagi, “Sebelum giliranmu menjaga peti mati, datang dulu ke kamarku dan mengganti pakaianmu dengan bajuku, supaya bisa mengurangi kecurigaan orang-orang. Kau harus berhati-hati jangan sampai ketahuan oleh orang lain.”

Sebenarnya Lu Sheng sangat ketakutan dan juga khawatir. Menjelang tengah malam ada sesosok bayangan yang diam-diam berjalan ke arah peti mati. Kemudian ada satu lagi bayangan dengan cepat berlari keluar.

Orang yang keluar belakangan bersembunyi di sudut dinding melihat keadaan disana sebentar, kemudian melihat ke halaman depan lalu ke belakang. Ternyata dia adalah si Pena Besi Pengait Perak, Chen Kuai.

Di pinggang Chen Kuai terselip sebatang Pan Guan Bi (Pena Hakim) dan dipundaknya menggendong sebuah kait tangan besi, wajahnya ditutup dengan kain hitam, dan berpakaian khusus untuk keluar malam.

Chen Kuai melewati Wisma Bai-ma. Wisma ini benar-benar sangat mewah dan megah. Tiang yang diukir, kolam yang dipenuhi dengan teratai, jembatan melengkung menghiasi danau. Dia melihat Zheng Yu tidak berada di kamarnya, apakah dia benar- benar....

Dia tahu Zheng Yu berilmu silat tinggi, maka dengan sembunyi-sembunyi dia naik ke atas atap dan menunggu sambil melihat ke sekelilingnya.

Sampai keadaan sunyi kemudian dia mengambil posisi menggantung terbalik untuk melihat ke dalam kamar. Begitu melihat keadaan di kamar, benar-benar membuat dia bergolak amarahnya.

Ternyata di dalam kamar Shu Yu-zhu sudah berdandan dengan sangat cantik. Dia berada dalam pelukan seseorang. Orang ini kurus dan berbaju mewah. Dia tak lain adalah Zheng Yu.

Dalam hati Chen Kuai berpikir, “Benar-benar pasangan ini berselingkuh. Dan perempuan ini pasti sudah membunuh guru!”

Dari balik ikat pinggangnya, dia mengeluarkan tiga buah pisau terbang. Baru saja akan dilempar, terdengar Shu Yu-zhu dengan manja berkata, “Kau hanya bersenang-senang disini, bila anak Juan datang membawa Biksu Yuan Chen, bagaimana caramu menghadapinya?”

Jawab Zheng Yu sambil tertawa, “Mungkin anak Juan sementara ini tidak akan kembali.”

Chen Kuai yang berada di luar mendengar semua kata-kata Zheng Yu, hatinya bergetar. Dia berpikir, “Aku harus mendengar dia mengatakan adik berada dimana sekarang ini, setelah itu baru membunuh dia!” Terlihat Shu Yu-zhu menggeliat keluar dari pelukan Zheng Yu dan berkata, “Apa maksud kata-katamu?”

Zheng Yu tertawa dan berkata, “Menurutku, anak Juan tidak bisa pergi ke Yu-quan- guan. Sekarang ini dia sudah jatuh ke tangan Guo Shi Luo.”

Tanya Shu Yu-zhu, “Bukankah aku sudah berpesan agar mereka jangan ikut campur!”

"Apakah kau mengira keponakan tersayangmu itu bisa mengerjakan sesuatu? Ilmu silatnya lebih rendah dari anak Juan. Pasti anak Juan tidak mau mendengar kata- katanya, karena itu aku harus menyiapkan orang untuk membuat anak Juan menyerah.”

Shu Yu-zhu berkata, “Diantara Yin-shan Wu-mo, Si Mo dan Wu Mo bukan orang baik- baik, bila anak Juan jatuh ke tangan mereka, apa yang akan terjadi pada anak Juan?”

Zheng Yu tertawa licik dan menjawab, “Kau benar-benar perempuan yang tidak bisa berpikir panjang. Kau tenang saja! Aku hanya menyuruh mereka menculik anak Juan, kemudian menyuruh keponakanmu muncul untuk menolongnya, anak Juan akan sangat berterima

kasih kepada Li Hao, mungkin dengan begitu dia akan setuju dengan pernikahannya. Bukankah ini cara yang paling baik?”

Shu Yu-zhu tertawa dan berkata, “Idemu benar-benar banyak dan brilian!”

Chen Kuai mendengar obrolan mereka, dia merasa ingin melemparkan senjata rahasianya lagi. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat. Dia melihat kebalik gunung buatan, keluar tiga sosok bayangan. Chen Kuai segera bersembunyi untuk mendengarkan.

Ketiga orang itu tiba di bawah loteng dan memanggil, “Kakak Shu, aku Guo Shi Luo ingin bertemu.”

Zheng Yu yang di loteng menjawab, “Kalian naik saja ke atas!”

Terdengar suara langkah yang tidak teratur, mereka bertiga sudah naik ke atas.

Chen Kuai sudah tahu bahwa Guo Shi Luo adalah Ketua Yin-shan Wu-mo, dia juga dijuluki dengan Dewa Kematian Enam Jari.

Semenjak Mu Rong Kai mati, tidak ada lagi orang yang memiliki ilmu Xuan Yin lebih tinggi darinya. Yang membuat Chen Kuai heran adalah mengapa Guo Shi Luo memanggil Zheng Yu dengan sebutan kakak seperguruan? Yang satu lagi kakak seperguruan perempuan itu siapa?

Zheng Yu dan Shu Yu-zhu sedang duduk disisi ranjang, terdengar Zheng Yu bertanya, “Mengapa Adik Seperguruan Yu Wen menjadi seperti ini? Dimana anak Juan berada sekarang?”

Chen Kuai baru bisa melihat dengan jelas diantara dua orang itu, yang satu, tangan kanannya terluka. Walaupun sudah dibalut tapi bajunya masih ada noda bercak darah.

Guo Shi Luo dengan kesal berkata, “Kakak, persoalan menjadi rumit. Tadinya kami dengan mudah menangkap telah putrimu, tapi tiba-tiba muncul seorang pengemis muda membantunya. Ilmu pedangnya sangat tinggi. Setelah dia pergi, aku baru ingat bahwa ilmu pedang yang dimiliki olehnya adalah ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian. Ilmunya ternyata berada di atas Pak Tua Lu Yi-feng. Hanya dalam beberapa jurus, Adik Zhou sudah kalah dan kehilangan telapak tangannya. Mungkin dia akan cacat seumur hidup. Yu Wen dan Zhou dilukai oleh putrimu. Adik Yin, tangannya putus sebelah ”

Zheng Yu bertanya, “Dimana anak Juan berada sekarang ?” "Tidak tahu, mungkin ikut dengan pengemis itu.”

Zheng Yu bertanya, “Apakah dia benar-benar sudah tiba di Yu-quan-guan?”

Jawab Guo Shi Luo, “Tidak, dia pergi kesana pun percuma karena Yuan Chen sedang menutup pintu rumahnya rapat-rapat untuk berlatih silat. Dia tidak akan meladeni siapa pun yang datang, termasuk putrimu    Tapi murid Yuan Chen yang dijuluki dengan Qing

Shan Ke Ma Zao-ling sudah pergi entah kemana. Mungkin si pengemis itu adalah dia. Kakak harus bersiap-siap, dia akan datang bersama putrimu untuk membuat keributan.”

Zheng Yu terdiam lama, tiba-tiba wajahnya penuh dengan hawa membunuh. Dengan galak dia berkata, “Tidak disangka rencanaku harus gagal di tangan putriku sendiri. Baiklah, kalian sementara diam disini dulu. Kita harus waspada bila Ma Zao-ling datang untuk membuat keributan. Kita harus bergabung untuk membereskannya. Terhadap putriku kalian jangan lemah hati, asalkan tidak terancam nyawanya.”

Chen Kuai merasa heran, dalam hati dia berpikir, “Mengapa penjahat Zheng Yu selalu memanggil adik seperguruan dengan panggilan anak Juan? Apakah adik adalah putri dari penjahat ini.... jika beberapa orang ini bergabung menghadapi Ma Zao-ling. Meskipun ilmu silatnya tinggi, tapi dia tidak akan dapat mengalahkan empat orang pesilat tangguh ini, apalagi mereka sudah merencanakan akan menyergap. Aku harus memberitahu mereka.” Dia sudah mengambil keputusan dan dia menarik badan dari posisi menggantung di jendela. Sewaktu dia akan pergi dari sana, tidak terduga dia menginjak genteng yang pecah. Walaupun suaranya kecil tapi sudah terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam kamar, terpaksa dia turun dan berlari keluar dari wisma.

“Siapa!”

Yang pertama terdengar adalah suara bentakan, kemudian sudah ada beberapa bayangan ikut melayang keluar....

Chen Kuai tahu dia tidak akan sanggup melawan mereka, terpaksa dia berlari lebih cepat lagi.

Orang yang pertama kali keluar dari kamar itu adalah Zheng Yu.

Tidak lama mengejar, Zheng Yu sudah tahu orang yang berlari itu adalah Chen Kuai. Dia berpesan, “Kalian tetap berada di tempat, biar aku sendiri yang menghadapinya!”

Bukan Zheng Yu merasa sombong, melainkan ilmu silatnya memang benar-benar tinggi. Dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, dia seperti kilat sudah keluar dari tembok Wisma Bai-ma. Chen Kuai hanya beberapa meter di depannya.

Dia membentak, “Kau mau lari kemana?”

Diringi dengan suara bentakan itu, tujuh butir biji sempoa sudah dilepaskan ke punggung Chen Kuai.

Chen Kuai tahu di belakangnya ada senjata rahasia yang diarahkan untuk menyerangnya. Dia ingin menghindar tapi takut tidak keburu, terpaksa dia membalikkan badan. Dengan kait perak dia menggambar lingkaran.

Terdengar beberapa kali suara benturan, biji-biji sempoa itu terjatuh tapi benturan kait perak itu membutuhkan tenaga yang besar, sehingga mengendorkan tangan Chen Kuai sehingga menjadi lemas.

Walaupun Chen Kuai sudah tahu bahwa Zheng Yu adalah murid Yin Shan Lao Mo, tapi dia tidak menyangka bahwa ilmu silat Zheng Yu begitu lihai, hal itu membuat Chen Kuai merasa kaget.

Musuh sudah berada di depan mata, terpaksa dia memegang pena dan berkata, “Ternyata adalah Pengurus Zheng, kau mempunyai ilmu silat begitu tinggi dan bersembunyi di Wisma Bai-ma, sekarang apa yang kau mau?” Zheng Yu tertawa dingin dan menjawab, “Gurumu sudah mati, beberapa putra dan muridnya pun sedang menunggu dia dijalan kematian. Mungkin dia juga akan mengundangmu agar mau menemaninya. Menyerahlah!”

Segera dia membunyikan sempoa besinya. Suara sempoa besi dapat membuat hati orang menjadi kacau.

Jawab Chen Kuai, “Belum tentu!”

Dengan sebelah tangan dia memegang kait, menyerang ke tangan musuh, sebelah tangan memegang pena kemudian menyerang perut musuhnya.

Satu jurus dengan dua gerakan yang berbeda, cepat dan ganas benar-benar pantas dijuluki Pena Besi Pengait Perak.

Walaupun Chen Kuai adalah murid Lu Yi-feng, tapi Lu Yi-feng tidak mau ilmu silat turunan keluarga Chen musnah. Dia membantu mengajarkan ilmu silat Chen Zi Yuan kepada putranya.

Karena Chen Kuai pintar dan berbakat, dengan cepat ilmu keluarga Chen dikuasainya, dan beberapa bagian ilmu Zhui Hun Duo Ming-jian pun dikuasai olehnya, karena itu begitu ilmunya dikeluarkan, terlihat sangat aneh dan sukar diduga....

Tapi Zheng Yu adalah pesilat tangguh, dia sama sekali tidak merasa aneh dengan jurus itu.

Begitu Zheng Yu melihat pena besi dan kait perak bersamaan keluar, dia berkata, “Lebih baik begitu.”

Tiba-tiba dia menarik tangannya dan mundur beberapa langkah. Dia sudah mengumpulkan semua tenaga dalamnya. Dengan tenaga dalamnya, dia menggoyang sempoanya, hanya sekejap biji-biji sempoa itu seperti hujan melesat mengarah ke wajah Chen Kuai.

Ini adalah jurus yang paling ganas yang bisa membunuh orang. Biasanya orang persilatan jika tiba-tiba bertemu serangan mendadak seperti itu akan sangat sulit untuk menghindar. Walaupun tidak langsung jatuh, tapi dia akan kehilangan perlawanan.

Tapi Chen Kuai adalah murid Lu Yi-feng, meskipun hatinya merasa berdebaran tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Kait peraknya diputarkan, dia bisa memukul jatuh semua biji-biji sempoa yang menyerang itu. Tapi tangannya menjadi kesemutan karena telah menggunakan tenaga yang besar. Zheng Yu mengambil kesempatan ini untuk mendekat ke sisi Chen Kuai. Dengan telapak tangan kirinya dia menepuk pundak Chen Kuai.

Chen Kuai tahu bahwa gurunya mati di tangan Zheng Yu, dan dia bukan tandinganya Zheng Yu. Sekarang dengan sekuat tenaga dia berusaha menyerang Zheng Yu.

Dia nekad ingin bersama-sama terluka atau mati dengan Zheng Yu, tiba-tiba dia merasa ada sambaran telapak tangan yang dingin sekali menyerangnya. Dia gemetaran karena kedinginan. Walaupun dengan terburu-buru bisa menghindar, tapi angin serangan telapak itu sudah mengenai pundak kirinya.

Mereka berdua, yang satu ingin memusnahkan ilmu silat keluarga Lu dan murid Lu, karena itu jurus yang dikeluarkan sangat ganas. Dan yang satu lagi ingin membalas dendam gurunya, dia berjuang mati-matian.

Kedua orang itu mengeluarkan jurus andalan masing-masing, setelah melewati dua puluh jurus lebih tetap tidak ada yang kalah atau pun menang, keadaan masih berimbang.

Chen Kuai sudah mulai bisa meraba gerakan ilmu silat musuhnya, jika musuh lengah, dia akan melarikan diri.

Pada waktu itulah dia merasa pundak bagian kiri timbul rasa yang sangat dingin menjalar melalui jalan darah menyerang ke jantung, dia merasa terkejut. Dia ingin dengan tenaga dalam menutup jalan darah nadi itu, tapi musuh menyerang terus tanpa berhenti. Dia tidak mempunyai waktu untuk menutup jalan darahnya. Dia hanya bisa menahan beberapa jurus lagi, dia merasa tubuh sebelah kiri menjadi kaku, gerakan tangannya menjadi lambat dan tidak bertenaga.

Zheng Yu sudah tahu keadaan Chen Kuai, dengan berteriak keras dia menyerang wajah Chen Kuai dengan sempoa besinya. Tapi ini hanya jurus tipuan, segera dengan telapak kirinya dia menyerang ke dada Chen Kuai.

Chen Kuai berteriak dengan keras, jatuh dengan posisi terlentang. Zheng Yu merangsak terus, dia ingin menambah satu pukulan lagi untuk menghabisi nyawa Chen Kuai tapi tiba-tiba ada yang bersiul panjang dari kejauhan.

Walaupun suara siulan itu tidak begitu menusuk telinga tapi suaranya tinggi dan jelas, berarti orang yang bersiul ini mempunyai tenaga dalam yang tinggi dan juga nafas yang kuat. Zheng Yu terkejut, dia tahu Chen Kuai sudah terkena pukulan Xuan-yin-zhang, dan dia tidak akan bisa hidup lama lagi. Dia segera membalikkan badan dan kembali ke Wisma Bai-ma.

Bayangan seseorang seperti seekor burung terbang mendekati Chen Kuai. Dia melihat Chen Kuai, ternyata dia masih hidup, dia segera dipapah dan kemudian didudukkan. Dia kaget karena tubuh Chen Kuai sangat dingin.

Dia menempelkan telapak tangannya ke punggung Chen Kuai dan berkata, “Saudaraku, bagaimana keadaanmu?”

Chen Kuai merasa ada aliran hangat yang masuk kedalam jatungnya. Dia mulai tersadar, melihat orang yang menolongnya adalah seorang pengemis, dia tampak ragu dan bertanya, “Siapakah kau?”

Orang itu merasa tubuh Chen Kuai yang dingin menolak tenaga hangat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. Hatinya lemas karena dia tahu dia tidak akan bisa menolong anak muda ini lagi.

Dengan terus terang dia berkata, “Aku adalah Ma Zao-ling dijuluki Qing Shan Ke. Kau siapa, siapa yang sudah melukaimu?”

Chen Kuai tahu dia adalah kakak seperguruan yang belum pernah ditemuinya. Chen Kuai sangat senang dan berkata, “Aku adalah si Pena Besi Pengait Perak, Chen Kuai. Aku dan Tuan berasal dari satu perguruan. Aku mendengar bahwa kau dan Adik Lu....Yue-juan.... 

pergi bersama....Zheng Yu adalah seorang penjahat besar. Shu Yu-zhu dan   Yin-shan

Wu-mo.... bersekongkol. Di wisma itu.... sudah ada orang Yin Shan Mo yang bersembunyi, kalian.... kalian bila masuk ke wisma.... harus hati-hati.... Tolong jaga....

adik seperguruanku....Lu Yue-juan ”

Kata-kata belum selesai, dia sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pengemis itu melihat Chen Kuai mati di pangkuannya, dia merasa sangat sedih.

Ternyata pengemis ini adalah murid dari Biksu Yuan Chen, Mao Zao-ling. Biksu-biksu di kuil Yu-quan-guan sangat banyak, tapi mereka hanya menguasai ilmu silat biasa saja. Biksu Yuan Chen berhasil memilih seseorang yang memiliki bentuk tulang yang bagus, pintar dan lincah. Tapi dia bukan berasal dari kalangan biksu untuk menjadi penerus ilmunya, orang ini adalah Ma Zao-ling. Puluhan tahun Biksu Yuan Chen mengajar dia, dia benar-benar sudah berhasil mendapatkan semua ilmu Yu-quan-guan. Baru saja terjun ke dunia persilatan, dia sudah mendapat julukan manis Qing Shan Ke.

Dengan hati sedih, Ma Zao-ling menggali tanah dengan pedangnya kemudian menguburkan Chen Kuai.

Dia tahu Wisma Bai-ma tidak sembarangan orang bisa masuk, apalagi dia tidak tahu situasi wisma itu. Dia tidak ingin sembarangan masuk.

Dalam hati dia berpikir, “Aku harus kembali untuk menunggu Lu Yue-juan, bila tidak. ”

= oo OO oo =

Lu Yue-juan saat ini sedang menunggu kuda putih yang sangat dia sayangi. Dia berjalan melewati gunung yang berliku-liku. Dengan wajah sedih dan tubuh yang lesu, dia kembali ke Wisma Bai-ma.

Kemarin dengan semangat tinggi dia pergi ke Yu-quan-guan, dia sudah memberitahu identitasnya dan ingin bertemu dengan Biksu Yuan Chen, tapi pengurus kuil memberitahu bahwa Biksu Yuan Chen sedang pergi jauh dan menolak dia masuk ke dalam kuil. Karena dia memaksa, terpaksa pengurus itu membawanya untuk bertemu dengan Biksu Dong Xu.

Akhirnya Biksu Dong Xu berkata, “Kakak Seperguruan Yuan Chen hanya sedang menutup diri untuk berlatih silat, bukan pergi jauh. Tentang masalah keluarga Lu yang mempunyai perselisihan dengan Yinshan Wu-mo, kakak sudah mengetahuinya dan dia menyuruh muridnya Ma Zao-ling pergi kesana untuk membantu. Apakah kau tidak bertemu dengannya?”

Karena terus menunggu pun tidak akan bisa bertemu dengan Biksu Yuan Chen. Dari percakapannya dengan Biksu Dong Xu, Lu Yue-juan bisa mengambil kesimpulan walaupun Biksu Yuan Chen dengan Lu Yi-feng berasal dari perguruan yang sama tapi hubungan mereka tidak erat.

Yang bernama Ma Zao-ling, walaupun namanya terkenal tapi kemampuan ilmu silat sebenarnya sampai dimana, dia sama sekali tidak tahu. Bila Ma Zao-ling sudah pergi ke Wisma Bai-ma, mengapa dia sama sekali tidak pernah bertemu dengannya di tengah perjalanan?

Maju sulit mundur pun susah. Setelah memutari satu gunung, dia akan melewati sebuah hutan yang besar disana. Tiba-tiba di atas pohon ada suara yang terdengar. Segera Lu Yue-juan membentak, “Siapa!”

Suara itu baru berhenti, ada seseorang yang turun dari pohon.

Lu Yue-juan mengira yang datang adalah Yin-shan Wu-mo, dia tidak melihat siapa orang itu langsung mengeluarkan tiga buah pedang kecilnya.

Karena hatinya sedang kesal, maka dengan cara yang tidak dipikir-pikir lagi dia melepaskan pedang-pedangnya.

Tiga buah pedang dari tiga jurusan, semua mengarah pada tempat yang fatal. Ini adalah suatu yang mematikan. Bila terkena satu pedang saja musuh akan segera mati.

Tapi orang yang datang ternyata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, walaupun badannya berada di udara dan karena tidak bisa menghindar lagi, dengan kedua jarinya dia menjepit dua pedang pendek dan pedang yang terakhir dengan jurus Burung Merak Mengangguk, dia menangkap pedang itu dengan giginya.

Dengan ringan dia melayang turun ke bawah, tiga buah pedang pendek itu dikumpulkan, dan berkata, “Untung aku sudah siap, bila tidak Nona Lu Yue-juan yang begitu galak akan mencelakakan aku dan aku akan mati terpanggang pedangmu. Pedang ini kukembalikan padamu.”

Karena mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi, membuat Lu Yue-juan menjadi bengong.

Orang itu memakai baju biru, pedang panjangnya berada di belakang punggungnya. Wajahnya tampan, badannya gagah, berdiri menjulang seperti sebuah pohon yang kokoh.

Mendengar suara dan bentuk wajahnya, Lu Yue-juan seperti pernah bertemu dengannya, tapi dia tidak ingat.

Entah mengapa wajah Lu Yue-juan memerah dan bertanya, “Siapakah kau?”

Orang itu tertawa dan menjawab, “Nona benar-benar pelupa, kita baru saja berpisah dua hari yang lalu dan Nona sudah melupakanku?”

Tiba-tiba Lu Yue-juan teringat sosok tubuh pengemis itu. Lu Yue-juan tertawa dan berkata, “Ternyata kau, aku lupa menanyakan namamu?” "Kau sudah lihat dengan jelas, siapa aku ini?”

Tiba-tiba dari punggungnya dia mengeluarkan pedang panjang dan melemparkan ke pohon pinus dimana tadi dia bersembunyi. Pohon sebesar tangan itu tumbang ke bawah. Dia melayang dan menyambut pedang yang telah menebang pohon itu. Kemudian dia turun ke tempat tadi dan pedang dimasukkan ke dalam sarungnya.

Melempar pedang kemudian meloncat, lalu menyambut pedang dan turun ke tempat asal. Gerakannya cepat, bersih dan indah. Nafasnya tenang dan hatinya pun terasa santai. Dia berdiri tegak disana.

Lu Yue-juan tahu gerakan tadi adalah gerak ciri khas ilmu silat dari perguruan mereka, karena gerakan indah dan aneh itu memerlukan tenaga besar membuat ilmu ini sulit untuk dikuasai. Jika ada orang yang berhasil menguasai jurus ini dengan begitu sempurna maka dia pasti adalah pesilat tangguh di pergururan mereka.

Lu Yue-juan berteriak dan berkata, “Kau adalah Qing Shan Ke, Ma Zao-ling!”

Sudah beberapa hari dia merasa tidak enak hati, sekarang dia tidak bisa menutupi perasaan gembiranya lagi.

"Benar, aku adalah Ma Zao-ling, Adik benar-benar bisa melihat.”

Lu Yue-juan memberi hormat dan berkata, “Lu Yue-juan memberi hormat kepada Kakak.”

Kata Ma Zao-ling, “Aku sudah menasihati Adik supaya tidak perlu pergi ke Yu-quan- guan, sekarang kau merasa sia-sia bukan?”

Lu Yue-juan dengan manja berkata, “Kakak tidak memberitahu identitasmu, bagaimana aku bisa tahu siapa kakak ini?”

Lalu Lu Yue-juan bertanya, “Selama dua hari ini Kakak pergi kemana?”

"Ke Bai-ma Sheng Zhuang (Wisma Bai-ma), tidak disangka keadaan disana begitu kacau balau dan berat, terpaksa aku kembali untuk menunggumu.”

Hati Lu Yue-juan bergetar dan dia berkata, “Apakah di wisma sudah terjadi perubahan? Bagaimana keadaan ibuku?" "Yang kau tanyakan itu adalah ” Tiba-tiba Ma Zao-ling sadar, Lu Yue-juan sama sekali

tidak mengetahui bahwa Zheng Yu dan Shu Yu-zhu sudah bersekongkol dengan Yin- shan Wu-mo.

Sementara ini dia tidak akan memberitahu kepada Lu Yue-juan. Dia hanya menyampaikan hal mengenai kematian Chen Kuai....

Belum habis dia berkata, Lu Yue-juan sudah berteriak, “Apa yang kau katakan, Kakak Chen kenapa?”

"Dia mati di bawah telapak Yuan Yin.”

Dengan histeris Lu Yue-juan menangis dan berkata, “Kakak Chen, kau tega meninggalkanku.”

Selama beberapa hari ini musibah datang berturut-turut, air matanya sudah kering. Dengan sedih dia bertanya, “Kakak Ma, siapa yang sudah membunuhnya?”

Ma Zao-ling melihat dia dengan sedih, dalam hati dia juga merasa tidak enak. Dia menarik nafas dan berkata, “Dia adalah pengurus Wisma Bai-ma Zheng Yu.”

Lu Yue-juan terpaku dan berkata, “Apakah Zheng Yu bisa mengeluarkan jurus Yuan Yin Zhang?”

Ma Zao-ling tertawa kecut dan menjawab, “Dia bisa melakukannya dan ilmunya berada di atas Yin-shan Wu-mo ”

Kata Lu Yue-juan dengan cemas, “Apakah ibuku sudah dibunuh olehnya ”

Ma Zao-ling ingin mengetahui keadaan wisma, dia ingin memberitahu semua hal kepada Lu Yue-juan, tapi Ma Zao-ling juga ada rasa khawatir. Mungkin bila semua begitu tiba-tiba diberitahukan kepada Lu Yue-juan, dia tidak akan bisa bertahan menghadapi perubahan ini.

Dia tampak ragu, kemudian berkata, “Bagaimana keadaan ibumu, aku tidak begitu jelas mengetahuinya, sebentar lagi kau akan bertemu dengan dia. Tapi Wisma Bai-ma sudah bukan Wisma Bai-ma yang dulu lagi. Bila kau kembali kesana, kau juga harus berhati- hati.”

Lu Yue-juan mendengar kata-katanya, dia merasa aneh dan curiga. Walaupun menaruh curiga, dia tetap mengangguk. Bulan tergantung tinggi di atas langit dan angin berhembus sangat dingin. Sudah pukul dua dini hari, Ma Zao-ling dan Lu Yue-juan sudah memakai baju ketat berwarna hitam- hitam. Dengan ilmu meringankan tubuh, diam-diam mereka sudah menuju Wisma Bai- ma.

Karena Lu Yue-juan mengkhawatirkan keadaan ibunya, hatinya berkobar-kobar seperti api. Ilmu meringankan tubuhnya dipakai sebisa mungkin. Dia hanya merasa gunung, batu, pohon dengan cepat berlalu di belakangnya. Tapi begitu melihat Ma Zao-ling, hatinya menjadi santai dan nafas pun menjadi tenang.

Dengan santai dia mengikuti Ma Zao-ling.

Lu Yue-juan sangat kagum dan berpikir, “Umurnya paling-paling 1-2 tahun di atasku, tapi ilmunya seperti bumi dan langit. Bagaimana paman guru bisa mengajar orang ini?”

Hanya sebentar saja mereka sudah tiba di pagar Wisma Bai-ma.

Lu Yue-juan baru saja ingin meloncati tembok masuk, tiba-tiba Ma Zao-ling menghadang di depan. Dia terpaku sebentar, melihat ada dua pisau terbang seperti petir meluncur ke arah mereka.

Tapi dengan cepat Ma Zao-ling dengan jurus Dua Naga Mencakar, sepasang tangannya bersamaan keluar dan menjepit pisau terbang kemudian dia menggetarkan tangan melemparkan kembali dua pisau terbang itu.

Sekarang Lu Yue-juan baru melihat di balik pohon ada sesosok bayangan orang.

Orang itu mengira ilmu pisau terbangnya sudah sangat mahir, dia yakin musuhnya pasti roboh dan mati, tidak disangka begitu dia muncul, dua kilauan sudah seperti kilat meluncur kembali ke arahnya.

Karena tidak siap, dua pisau sudah menancap di pundaknya. Dia menahan rasa sakit dan ingin kabur, tapi sayang orang itu sudah....

Ma Zao-ling dengan tangannya sebagai pengganti pedang, hanya dalam satu jurus dia sudah menotok nadi di leher orang itu. Badan yang besar langsung roboh.

Begitu diteliti, ternyata orang ini adalah Zhou Qing-yun. Walaupun telapak tangan kanannya sudah tidak ada, tapi tangan kirinya yang mahir ilmu pisau terbang tetap ada.

Kata Ma Zao-ling dengan dingin, “Di kota Xin Yang, aku sudah melepaskanmu, tapi kau tidak mengubah kelakuanmu. Kali ini jangan menyalahkanku!” Lu Yue-juan menyusul Mao Zao-ling, begitu melihat orang itu adalah Zhou Ling Yun dengan marah dia berkata, “Kak, tidak perlu banyak bicara lagi!”

Tiba-tiba pedang panjangnya sudah ditusukkan kedada Zhou Ling Yun, darah bermuncratan kemana-mana.

Ma Zao-ling menarik nafas dan berkata, “Adik, mengapa kau begitu tergesa-gesa, aku belum menanyakan bagaimana keadaan Wisma Bai-ma, tapi kau sudah ”

Lu Yue-juan tahu dia terlalu tergesa-gesa. Rasa malu membuat wajahnya menjadi merah, dia berkata, “Mengapa kau tidak memberitahuku dulu?”

Ma Zao-ling mendengar bantahan Lu Yue-juan, dia hanya bisa tertawa kecut. Kemudian mereka meloncat melewati dinding, lalu berjalan kehalaman belakang.