-->

Ibu Hantu Jilid 1

Jilid 1

GUNUNG FUNG-SAN terdapat dibilangan daerah Ouw-lam, gunung tersebut terkenal akan keindahan alamnya. juga akan keterjalan dari bukit-bukitnya, dimana terdapat binatang-binatang buas.

Gunung Fung-san pernah digemparkan dengan terjadinya suatu pertempuran antara jago-jago kosen didaratan Tionggoan, yang berkumpul digunung ini.

Jago-jago yang sedang memperebutkan gelar sebagai jago nomor wahid didaratan Tionggoan mengadakan pertemuan digunung ini dan mengadakan Pie-bu, mengadu kepandaian ilmu silat, untuk menentukan siapa yang lebih sempurna ilmu silatnya.

Pertemuan antara jago-jago silat itu terdiri dari berbagai aliran, semua jago-jago silat, baik dari golongan Hek, hitam, maupun dari golongan Pek, putih, semuanya berkumpul menjadi satu. Juga orang yang mengambil jalan aliran yang tidak menentu, yang mempunyai sifat ugal-ugalan, sering membawa lagak semau hatinya, kadang-kadang berbuat kebaikan dan kadang-kadang melakukan kejahatan, juga banyak berkumpul digunung Fung-san pada saat itu.

Tetapi karena benyak berkumpulnya jago-jago dari berbagai golongan terkadang sering juga diantara pertempuran Pie-bu itu terdapat seorang jago dari kalangan Hek- to menggunakan tipu akal muslihat yang licik, yang sering menimbulkan kerusuhan.

Dan, pertemuan besar antara jago-jago silat seluruh daratan Tionggoan itu baru berakhir setelah menjelang setengah bulan lebih, dengan keluar sebagai Tay-hiap- eng-hiong-tee-it, pendekar besar nomor satu didaratan Tionggoan, adalah Ciang-bun- jin dari Siauw Lim-sie.

Gelar jago nomor wahid itu jatuh kepada Hong-thio Siauw Lim-sie, dan hal itu sebetulnya memang telah wajar, mengingat bahwa Siauw Lim-sie adalah pusat dari segala macam ilmu silat yang ada didaratan Tionggoan. Dahulu kala dengan datangnya Cauw-su Tat-mo kedaratan Tionggoan, tersebarlah ilmu silat alirannya yang akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa pintu perguruan ilmu silat.

Sebetulnya Ciang-bun-jin diri Bu-tong Pay dan Kun-lun Pay pun mempunyai kesempatan untuk merperebutkan gelar dari Tay-hiap-eng-hiong-tee-it, tetapi mereka kalah satu gebrak dan dibawah satu tingkat kalau dibandingkan dengan Hong-thio Lim Sie, yang kala itu dipegang oleh Pie Goan Sian-su. Maka dari itulah mau tak mau Ciang-bun-jin Bu-tong Pay dan Ciang-bun-jin dari Kun-lun Pay harus mengalah, menyerahkan gelar atau jabatan Tay-hiap-eng-hiong-tee-it itu kepada Pie Goan Sian- su, Ciang-bun-jin Siauw Lim-sie itu.

Begitu juga Ciang-bun-jin dari pintu perguruan lainnya yang mengikuti pertemuan besar itu, Tay-hwee, terdiri berbagai pintu perguruan silat lainnya, termasuk Go-bie Pay, Tay-kek Pay, Siang-lun Pay, Eng-jiauw Pay. Dan dari golongan hitam, Hek-to, berbagai golongan turut ambil bagian, termasuk dari golongan Hek-siang Pay, Pian-mo Pay dan termasuk orang-orang Beng-kauw pun ikut serta. Semuanya memperebutkan jabatan dari Tay-hiap-eng- hiong-tee-it, mereka mengeluarkan seluruh kepandaian mereka dan mengerahkan seluruh apa yang mereka bisa lakukan.

Juga yang dari perorangan banyak yang mengambil bagian, begitu juga dari pihak kerajaan, banyak yang turut serta untuk memperebutkan gelar tersebut.

Tetapi ketelinga Hong-thio Siauw Lim-sie telah sampai sebuah berita yang mengejutkannya, yaitu dia mendengar bahwa jago-jago dari pihak kerajaan mau merebut kedudukan Tay-hiap-eng-hiong-tee-it itu didalam Tay-hwee, atau pertemuan besar tersebut, hanyalah untuk menguasai jago-jago rimba parsilatan kalau memang mereka dapat merebut kedudukan.

Sebetulnya Hong-thio Siauw Lim-sie tidak bermaksud untuk memperebutkan kedudukan sebagai jago nomor wahid didalam rimba persilatan tersebut, tetapi disebabkan dia mendengar berita itu, maka mau tak mau dia jadi mengambil bagian dan mati-matian berusaha merebut kedudukan tersebut, agar kedudukan Tay-hiap- eng-hiong-tee-it itu tidak terjatuh ketangan jago-jago dari pihak kerajaan.

Kalau memang kedudukan jago nomor wahid didaratan Tionggoan itu terjatuh ditangan jago-jago pihak kerajaan, semuanya bisa repot, karena jago kerajaan itu akan menguasai dan mengendalikan seluruh jago-jago dirimba persilatan untuk kepentingan kerajaan dari Boan, yang pada saat itu kedudukan raja Boan-ciu didaratan Tionggoan sebagai penjajah.

Dan nyatanya, Hong-thio Siauw Lim-sie Pie Goan Sian-su telah berhasil merebut kedudukan Tay-hiap-eng-hiong-tee-it, dan setiap kata-katanya akan didengar dan dilaksanakan oleh semua jago-jago rimba persilatan.

Soal pertemuan digunung Fung-san tersebut telah terjadi lima tahun yang lalu, dan sekarang gunung Fung-san tertinggal sepi kembali, hanya tertinggal dan tersisa pada pemandangannya yang indah permai.

Tetapi biarpun begitu, masih banyak juga jago-jago rimba persilatan yang melancong ke gunung ini untuk menikmati keindahan alam yang terdapat digunung tersebut.

Tetapi, selain itu, digunuug Fung-san ini tidak pernah terjadi suatu peristiwa besar seperti lima tahun yang lalu.

Pertemuan raksasa dari jago-jago didalam kalangan Kang-ouw, sungai telaga itu, telah berlalu, tertinggal hanya gunung Fung-san yang tetap menjulang dengan megahnya.

Dan pada hari itu digunung Fung-san, tampak seorang anak muda berpakaian serba putih, dengan topi dan dandanan sebagai seorang Siu-chay, pelajar, sedang menunggang seekor kuda yang berbulu serba putih juga, yang dibiarkan jalan perlahan-lahan dijalan pegunungan Fung-san yang kecil dan sempit itu.

Rupanya pemuda yang berpakaian sebagai pelajar itu sedang menikmati pemandangan gunung Fung-san, yang tampak disekitarnya, sebentar-sebentar dia menggumam memuji keindahan gunung ini. Wajah pemuda Siu-chay itu sangat tampan, juga tubuhnya yang gemulai itu, tampak tergoncang-goncang setiap kuda tunggangannya melangkah.

Usia Siu-chay muda itu berkisar diantara delapan belas tahun, dan dengan alisnya yang tebal, hidungnya yang bangir, dan bibirnya yang tipis, menunggang diatas kuda yang berbulu putih, menyebabkan tampaknya si Siu-chay gagah sekali.

Hawa udara pagi digunung Fung-san memang menyegarkan dan melapangkan dada, dan pemuda itu bisa menghirup hawa udara pagi digunung ini dengan penuh kesegaran.

“Pemandangan yang indah, dengan air terjunnya, dengan segala burung dan binatang lainnya, dan pohon-pohon Siong serta bunyinya kicauan sang burung yang berterbangan indah, memang menambah keindahan gunung Fung-san ini!!” mengumam Siu-chay itu.

Setelah mengumam begitu, si Siu-chay mengedut tali kekang kudanya, sehingga kuda tunggangannya jalan lebih cepat.

Siu-chay itu tampak menarik napas.

“Hanya sayangnya gunung yang indah ini pada lima tahun yang lalu pernah dipakai sebagai medan laga dan tanah-tanah pegunungan ini dibanjiri oleh darah- darah yang kotor, darah-darah yang berasal dari orang-orang berhati tamak ingin memperebutkan gelar Tay-hiap-eng-hiong-tee-it!” mengumam Siu-chay itu lagi.

Tiba-tiba seekor burung elang lewat didekat atas kepalanya sambil mengeluarkan suara pekikan yang luar biasa nyaringnya.

Siu-chay itu menengadah keatas, memandang kearah burung elang itu yang telah terbang menjauh.

“Burung elang itu juga menambah keindahan gunung Fung-san ini!” mengumam Siu-chay itu lagi. “Hanya sayang, burung elang itu juga jahat dan tamak, dia sering mengincer mangsanya dari atas, seperti juga orang-orang pada lima tahun yang lalu memperebutkan gelar Tay-hiap-eng-hiong-tee-it!!”

Siu-chay itu menghela napas lagi, dia mengedut kekang kudanya, dan melarikan kudanya.

Biarpun kuda si Siu-chay berlari agak keras, tetapi tubuh pemuda pelajar itu tetap bercokol diatas kuda tunggangannya dengan enak, tidak tampak sedikitpun dia tergoncang dipermainkan oleh larinya sang kuda. !

Tetapi ketika sampai ditikungan jalan pegunungan tersebut, tiba-tiba pelajar itu menahan tali les kudanya, sehingga kudanya terhenti dengan cepat. Rupanya kuda tunggangan si Siu-chay yang berbulu mulus serba putih itu sangat jinak dan taat sekali kepada majikannya.

Si Siu-chay menahan lari kuda tunggangannya, karena dia melihat sebelah muka terdapat sebuah rumah yang agak besar, yang dibangun digunung yang sepi begitu.

Hal ini memang seharusnya mengherankan, tetapi bagi Siu-chay ini telah biasa, dia telah menduga, tentu yang menempati rumah itu adalah seorang jago rimba persilatan yang telah bosan akan keduniawian dan hidup mengasingkan diri disitu. Lama si Siu-chay duduk bercokol diatas pelana kudanya, dia mengawasi kearah rumah itu.

Akhirnya pemuda pelajar ini mengambil keputusan untuk singgah dirumah terpencil itu.

Dia menjalankan kudanya perlahan-lahan menghampiri rumah tersebut.

Waktu dia sampai dirumah itu, dilihatnya keadaan rumah itu sangat bersih sekali, pekarangan rumah banyak ditumbuhi oleh berbagai pohon-pohon bunga tampak terawat bersih.

Si Siu-chay jadi tersenyum.

“Orang yang mengasingkan diri dipegunungan yang sunyi dan sepi ini tentu seorang yang senang akan keindahan, dan tentu orang itu akan sejiwa dan sependapat, akan cocok sekali, sebab akupun menyukai keindahan dan kebersihan!!” pikir si pelajar sambil melompat turun dari kudanya.

Dengan menuntun kudanya si pelajar berbaju putih itu menghampiri rumah tersebut perlahan-lahan.

Pintu pekarangan rumah itu tertutup. Si Siu-chay mengulurkan tangannya akan mengetuk daun pintu, tetapi belum lagi tangannya dapat menyentuh pintu itu, dari dalam telah terdengar orang berkata dengan suara yang perlahan dan ramah sekali, tetapi jelas sekali terdengarnya. Ini menyatakan orang itu mempunyai kepandaian Lwee-kang, tenaga dalam, yang sempurna sekali.

“Rupanya hari ini Loo-hu memperoleh seorang tamu dari jauh!!” kata orang didalam rumah itu. “Silahkan masuk! Silahkan masuk!!”

Siu-chay berpakaian serba putih itu tersenyum, dia memang telah menduga sebelumnya bahwa yang tinggal dirumah terpencil digunung Fung-san tersebut adalah seorang jago yang sudah mengasingkan diri.

Dia menambatkan kuda putihnya, kemudian mendorong daun pintu yang tidak terkunci.

Dengan langkah yang tenang Siu-chay ini melangkah memasuki pekarangan rumah tersebut.

Dia membungkukkan tubuhnya, dengan merangkapkan kedua tangannya, dia menjura kearah dalam rumah itu.

“Boanpwee Lie Cie Kiat datang menghunjuk hormat kepada Loo-cianpwee!!” katanya dengan suara yang nyaring.

Terdengar orang tertawa sabar.

“Selamat datang digubukku yang buruk ini! Selamat datang!!” kata orang didalam rumah itu. “Silahkan masuk anggap dirumah sendiri!!”

Si Siu-chay tersenyum, dia masuk keruangan tengah dari rumah itu.

Begitu masuk keruangan tengah rumah itu, pertama-tama Siu-chay tersebut melihat perabotan rumah tangga yang sederhana dan terbuat dari bahan kayu cendana. Bersih sekali ruangan itu, dan si Siu-chay juga melihat seorang lelaki tua dengan baju panjang dan jenggot dan misainya yang panjang telah berubah putih seluruhnya itu menghampiri kearahnya, menyambut kedatangannya.

“Oh, rupanya Loo-hu mendapat penghormatan dari seorang, terpelajar yang mau singgah digubukku yang buruk ini!” kata lelaki tua itu. “Aku girang menerima kedatanganmu, Lie Siu-chay!!”

Si pelajar tersenyum, dia membalas menjura kepada lelaki tua itu.

“Bolehkah Boanpwee mengetahui nama besar Loo-cianpwee dan she harum Loo-cianpwee?” katanya.

Lelaki tua itu tersenyum ramah.

“Loo-hu hanya seorang kasar tak berpendidikan, harap Lie Siu-chay jangan menertawakan diriku! Aku she Wong dan bernama tunggal Kian. Mari duduk! Silahkan duduk!”

Melihat penyambutan lelaki tua yang mengaku bernama Wong Kian itu, si Siu- chay jadi malu dan jengah sendirinya, karena Wong Kian menyambut kedatangannya dengan ramah dan penuh penghormatan.

Dia duduk disebuah kursi kayu cendana dan Wong Kian duduk didepannya. “Rupanya Lie Siu-chay habis melakukan perjalanan yang jauh?” tanya tuan

rumah dengan ramah.

Si Siu-chay mengangguk.

“Benar Loo-cianpwee, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke Kang-lam!” menyahuti Siu-chay itu, yang menurut pengakuannya bernama Lie Cie Kiat. “Dan kebetulan Boanpwee lewat digunung Fung-san yang indah ini, maka Boanpwee mengambil kesempatan untuk menikmati pemandangan gunung Fung-san yang permai!”

Laki-laki tua itu, Wong Kian, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang dan bibirnya tersenyum.

“Memang! Memang! Pemandangan gunung Fung-san memang terkenal indah! Bukankah Lie Pian, pujangga yang terkenal pada abad yang lalu pernah mengatakan : “Hidup sehari dialam yang indah sama dengan hidup seribu tahun dineraka!!”. dan

bukankah dengan keindahan yang ada digunung Fung-san ini Hian-tee bisa panjang umur!” dan setelah berkata begitu, Wong Kian tertawa gelak-gelak.

Lie Cie Kiat juga tertawa. Manis tertawanya anak muda she Lie ini.

“Benar perkataan Loo-cianpwee!” menyahuti dianya ini. “Perkataan Lie Pian memang benar dan indah sekali! Ternyata Loo-cianpwee berpengetahuan luas, sehingga perkataan Lie Pian yang sudah seabad itu masih Loo-cianpwee ingat!!”

Wong Kian tertawa gelak-gelak mendengar perkataan si anak muda she Lie itu, dia tertawa sampai tubuhnya tergoncang. “Kau bisa saja, Hian-tee!!” kata Wong Kian dengan cepat. “Aku orang gunung mana bisa disamakan dengan yang terpelajar? Tentang perkataan Lie Pian itu hanya boleh kupetik cerita-cerita orang pandai yang pernah kukenal!!”

Melihat orang merendahkan diri, si pelajar she Lie juga cepat mengeluarkan kata-kata yang merendah.

Dan Lie Cie Kiat merasa tabiat dan sikap orang sangat cocok dengan dirinya, juga pengetahuan Wong Kian didalam soal sastra ternyata sangat luas, sehingga mereka jadi saling tukar pikiran.

Didalam waktu yang singkat sekali, mereka merasa saling cocok, dan mereka bercakap-cakap sampai menjelang sore tanpa terasa.

Waktu Lie Cie Kiat akan pamitan, Wong Kian telah menahannya, walaupun Cie Kiat telah memaksa akan berangkat, tetapi tetap saja Wong Kian menahannya.

“Hari sudah menjelang senja, dan sejauh sepuluh lie Hian-tee tidak akan dapat menjumpai sebuah rumah lagipun! Maka lebih baik Hian-tee bermalam disini saja!!” desak si tuan rumah dengan ramah.

Cie Kiat jadi tidak enak hati kalau dia menolak terus kebaikan Wong Kian.

Akhirnya dia menerima juga penawaran si kakek.

Cie Kiat diberikan sebuah kamar yang bersih, yang terletak sebelah menyebelah dengan kamar si kakek.

Cie Kiat merebahkan dirinya dipembaringan yang bersih itu. Dia memang merasa letih, dan dengan rebah dipembaringan yang menyebabkan keletihannya itu berangsur-angsur jadi lenyap.

Hanya, yang tidak dimengerti oleh Cie Kiat, dia tidak melihat orang lainnya selain kakek yang mengaku bernama Wong Kian itu.

Apakah si kakek tua hanya berseorang diri saja menetap ditempat yang begitu sepi? Lagi pula yang membuat Cie Kiat jadi heran, adalah wajah si kakek yang guram, seperti sedang menghadapi suatu persoalan yang rumit.

Walaupun tadi mereka telah berpasang omong dengan gembira, mata Cie Kiat tidak bisa dikelabui, karena dia melihat dibalik tertawa kakek itu tersimpan suatu kesedihan yang luar biasa, yang tersimpan didasar hati lelaki tua itu.

Sebetulnya Cie Kiat ingin menanyakan kesulitan yang sedang dihadapi oleh Wong Kian, agar dia bisa membantu kesulitan tuan rumah yang ramah itu, namun sebagai seorang yang berkelana didalam kalangan Kang-ouw. Cie Kiat mengetahui benar, bahwa tidak boleh usil terhadap urusan orang. Kalau memang si kakek senang mendengar bahwa dia mau menolong, tetapi kalau sebaliknya? Atau si kakek jadi tersinggung dan bergusar, bukankah akan merusak hubungan baik diantara mereka.

Maka dari itu, selama si kakek tidak mau memberitahukan kesulitannya itu, Cie Kiat juga tidak mau menanyakan urusan orang.

Akhirnya, Cie Kiat jadi tertidur nyenyak, hawa gunung Fung-san yang sejuk menyebabkan pemuda pelajar she Lie ini terlena dengan nyenyak..... *

* *

KETIKA MENJELANG tengah malam, Cie Kiat jadi terbangun dari tidurnya, karena dia mendengar suara gedebukan yang berisik sekali.

Dengan cepat Cie Kiat melompat dari pembaringannya, tetapi dia tidak lantas keluar.

Sebagai seorang pengelana didalam kalangan Kang-ouw, maka dengan sendirinya Cie Kiat mengerti pertarungan Kang-ouw, dia tidak boleh mencampuri urusan orang. Entah kakek Wong itu didatangi oleh orang yang ingin membalas dendam atau memang kakek Wong sedang melakukan sesuatu, maka Cie Kiat tidak boleh terlalu usil mencampuri urusan orang she Wong itu, karena Cie Kiat juga melihat bahwa Wong Kian memang orang Kang-ouw yang sudah mengasingkan diri.

Kalau sampai dia keluar dan terlihat oleh Wong Kian, mungkin orang she Wong itu akan salah paham, dan bisa-bisa terjadi kericuhan.

Tetapi sedang Cie Kiat memasang pendengarannya, suara gedebukan yang berisik itu telah lenyap.

Suasana disekitar ruangan itu jadi sunyi kembali.

Baru saja Cie Kiat ingin kembali kepembaringan untuk melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu, tiba-tiba daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.

“Lie Siu-chay Lie Siu-chay!!” terdengar suara Wong Kian, si tuan rumah.

Cie Kiat jadi heran, disampiag itu juga dia mendengar suara Wong Kian gemetar, seperti ada suatu yang hebat, yang menimpah diri orang she Wong itu.

Cepat-cepat Cie Kiat membuka pintu kamarnya itu, tampak Wong Kian berdiri dimuka dengan wajah yang agak pucat.

“Ada apa, Wong Loo-cianpwee?” tanya si pemuda she Lie ini.

“Kalau nanti kau mendengar apa saja atau terjadi apa saja, janganlah Hian-tee keluar dari kamar ini! Keselamatanmu jadi tidak terganggu........” kata Wong Kian dengan wajah yang pucat. “Dengan berdiam diri didalam kamar, dirimu tidak akan diganggu oleh siapapun! Kau dengar Hian-tee? Jangan sekali-sekali keluar dari kamar ini?”

Lie Cie Kiat jadi heran, tetapi dia tetap membawa sikap yang tenang. “Sebetulnya ada apakah, Loo-cianpwee?” tanyanya dengan cepat. “Bolehkah

Boanpwee mengetahuinya?”

Kakek tua she Wong itu menarik napas dalam-dalam, tampaknya dia gelisah sekali.

“Malam ini akan terjadi keributan, rumahku akan didatangi oleh beberapa musuh, dan mereka tidak akan menganggu Lie Siu-chay, asalkan Hian-tee jangan keluar biarpun apa yang terjadi diluar kamar ini! Mudah-mudahan saja bisa menghadapi mereka..... tetapi kalau tidak dapat, mereka juga tidak akan mengapa- apakan Hian-tee...... katakan saja kepada mereka kalau sampai mereka memergoki dirimu, bahwa kau adalah seorang pelancong yang kebetulan bermalam dirumahku!!” kata Wong Kian. 

Cie Kiat mwngangguk, walaupun hatinya masih diliputi kabut keheranan.

“Nah, tutuplah kembali pintu kamarmu ini, Hian-tee!” kata Wong Kian sambil memutar tubuhnya.

Cie Kiat mengawasi kakek tua she Wong itu berlalu keluar.

Dikunci daun pintu kamarnya perlahan-lahan, anak umda she Lie ini jadi berpikir, peristiwa hebat apakah yang sedang dialami oleh kakek she Wong itu? Dan Cie Kiat jadi diliputi oleh berbagai pertanyaan yang tidak terpecahkan.

Dia merebahkan dirinya kembali diatas pembaringannya. Suasana pada malam itu sangat sunyi sekali.

Tetapi keadaan yang sunyi itu samar-samar dipecahkan oleh suara rintihan seseorang, perlahan sekali suara rintihan itu, tetapi pendengaran Cie Kiat yang tajam tetap saja dapat menangkapnya dengan jelas.

Dia jadi tambah heran dan bingung mendengar suara rintihan itu.

Siapakah yang mengeluarkan suara rintihan itu, dan kalau didengar dari suara rintihan itu menurut Lie Cie Kiat pasti luka orang itu berat sekali dan orang itu sangat menderita sekali.

Saking tertariknya Cie Kiat turun dari pembaringan kembali, dia menuju kepintu, dari celah daun pintu dia mengintip keluar.

Tetapi diruang tengah tidak tampak sesuatu apapun.

Rupanya orang yang mengeluarkan suara rintihan itu sedang terluka dan berada didalam kamarnya Wong Kian.

Cie Kiat berdiri sesaat lamanya didekat pintu kamarnya, sampai akhirnya dia menghela napas dan kembali kepembaringan.

Direbahkan dirinya dipembaringan tersebut dengan hati penuh diliputi oleh berbagai pertanyaan yang tidak terpecahkan olehnya.

Lama juga Cie Kiat rebah dengan alam pikiran yang melayang-layang.

Dan dihati pelajar she Lie ini, dia sudah mengambil suatu keputusan, bahwa biar apa saja nanti yang terjadi, dia harus menolong Wong Kian, karena tuan rumah ini sangat ramah dan baik hati sekali.

Terbukti saja tadi, tuan rumah she Wong tersebut telah memerlukan datang dan memberi tahukan bahwa kalau ada apa-apa Cie Kiat diminta jangan keluar dari kamarnya, itu menunjukkan bahwa si tuan rumah menguatirkan keselamatan diri tamunya, maka dia berpesan begitu. Dan, untuk membalas kebaikan hati si tuan rumah biar apa saja yang akan menimpah keluarga Wong tersebut, Cie Kiat sudah bertekad akan menolongnya. !

Dan menurut dugaan Cie Kiat, Wong Kian tentunya sedang menghadapi suatu persoalan yang rumit, mungkin diri orang tua she Wong itu akan didatangi oleh seorang jago yang kosen luar biasa lebih liehay dari diri Wong Kian sendiri, maka menyebabkan orang tua she Wong itu jadi gelisah sekali. Dan orang yang berada didalam kamar Wong Kian, yang mengeluarkan suara rintihan, tentunya kawan Wong Kian menurut dugaan Cie Bun.

Cie Kiat jadi rebah terus penuh kewaspadaan, matanya tak terpejamkan sekejappun.

Malam semakin larut, dan hawa udara pegunungan Fung-san yang menerobos melalui kisi-kisi jendela menyebabkan Cie Kiat dapat merasakan hawa dingin itu.

Tetapi suasana malam yang sunyi digunung Fung-san itu dipecahkan oleh suara tertawa yang nyaring mengerikan, karena suara tertawa itu selain melengking tinggi, juga berirama tinggi rendah tak menentu.

Semakin lama suara tertawa yang menyeramkan itu semakin mendekat.

Cie Kiat jadi berwaspada, dia duga musuhnya Wong Kian telah mendatangi.

Ditiupnya api penerangan kamar itu, dan kamar Cie Kiat seketika jadi gelap gulita.

Suara tertawa yang mengerikan itu akhirnya terdengar berada dekat sekali dengan rumah Wong Kian.

Selain dari suara tertawa yang mengerikan itu, suara lainnya tak terdengar.

Sunyi sekali.

Didengar dari suara tertawa yang mengerikan itu datangnya begitu cepat, maka Cie Kiat telah dapat menduga tingginya kepandaian dari orang yang mengeluarkan suara tertawa tersebut. Tentunya Gin-kang orang itu sudah sempurna sekali.

Gin-kang ialah ilmu entengi tubuh.

Suara tertawa itu akhirnya lenyap, diganti oleh suara ‘Braaaaakkkk’ yang berisik sekali, rupanya pintu rumah Wong Kian kena digedor oleh orang yang mengeluarkan suara tertawa itu sampai pecah berantakan.

“Anjing she Wong.... keluarlah untuk menerima kematianmu!” terdengar suara bentakan yang menyeramkan.

Tidak ada sahutan, sepi sekali.

Kembali terdengar suara tertawa yang mengerikan.

“Apakah anjing she Wong ini telah berubah menjadi benar-benar seekor anjing yang pengecut dan tidak tahu malu? Apakah aku perlu masuk kedalam untuk mengambil jiwamu?” terdengar suara orang yang menyeramkan itu.

Pendengaran Cie Kiat yang tajam dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan, mungkin Wong Kian telah melangkah keluar dari dalam kamarnya. “Bagus! Bagus! Rupanya kau belum berubah menjadi seorang Siauw-cut!!” terdengar suara orang yang mengerikan dan mendirikan bulu tengkuk itu.

“Loo-hu memang sudah lama menantikan kedatanganmu, Hek Sin Mo!!” terdengar suara Wong Kian yang sabar sekali. “Dan aku telah siap sedia menerima kedatanganmu ini!!”

“Bagus! Bagus! Puteramu kemarin masih bernasib bagus, dia bisa terlolos dari kematian ditanganku karena ada seorang Hwee shio gundul Siauw Lim-sie yang ikut campur! Hmmm, kepala gundul itu telah kukirim ke Giam-lo-ong..... dan sekarang jiwa kalian ayah dan anak harus terbinasa ditanganku!!”

“Apakah kau yakin bahwa Loo-hu akan binasa ditanganmu?” tanya Wong Kian dengan suara yang dingin.

Kembali terdengar orang yang mempunyai suara menyeramkan itu tertawa.

Saat itu Cie Kiat telah membuka pintu kamarnya, dia melompat kebelakang sebuah tiang penglarian, dan melompat keatas penglarian tersebut dengan ringan sekali, sehingga tidak terlihat oleh Wong Kian atau orang yang dipanggil oleh kakek Wong itu sebagai Hek Sin Mo atau iblis hitam.

Begitu Cie Kiat dapat melihat rupa dan wajah orang yang dipanggil Hek Sin Mo oleh Wong Kian, dia jadi terkejut dan hampir mengeluarkan seruan tertahan.



DIANTARA CAHAYA LAMPU penerangan diruang itu, maka wajah Hek Sin Mo dapat terlihat jelas oleh Cie Kiat.

Hek Sin Mo benar-benar luar biasa.

Wajahnya mengerikan, seperti juga wajah iblis saja.

Lagi pula sangat hitam, dan mungkin itu sebabnya dia diberi julukan Hek Sin Mo, atau iblis hitam.

Rambutnya yang terurai lepas itu sebagian menutupi wajahnya, bajunya yang bergedombrangan berkibar tertiup angin yang menerobos masuk kedalam ruangan itu.

Kala itu Hek Sin Mo sedang berdiri menghadap kearah Wong Kian, menyeramkan sekali keadaannya, lebih-lebih waktu dia tertawa, tubuhnya tergoncang dengan hebat.

Wong Kian juga berdiri dihadapan iblis itu dengan tenang, tetapi wajahnya tampak agak pucat. Dipinggangnya tampak tersoren sebelah pedang, tampaknya kakek tua itu jadi gagah dan angker sekali. “Wong Kian.... telah sepuluh tahun aku mencari-cari dirimu, putera dan ayah, akhirnya dapat juga kutemui!!” kata Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. “Hmm biarpun kau mempunyai sayap untuk terbang, hari ini tidak akan kubiarkan

kau hidup terus. sakit hati ayahku harus terbalas himpas!”

Wong Kian tertawa tawar.

“Persoalan ayahmu sebetulnya sangat panjang kalau diceritakan, tetapi percuma saja, biarpun kuceritakan dengan jujur, tentu kau tidak akan mau mempercayainya!!” kata Wong Kian dengan sabar.

Mendengar perkataan Wong Kian, Hek Sin Mo menggedikkan kepalanya, sehingga rambutnya itu tersingkap dan tampak kedua matanya yang memancar bengis serta tajam sekali, seperti juga tusukan sebilah pisau.

“Kau ingin mengatakan bahwa dirimu tidak bersalah didalam soal kematian ayahku, bukan?” tanya Hek Sin Mo dengan suara menyeramkan. “Bukankah kau ingin mengelakkan kematianmu dengan bermacam-macam alasan?”

Wong Kian tertawa tawar, wajahnya guram sekali, tampaknya dia berduka. “Jadi sudah kukatakan, biarpun kuceritakan panjang lebar dengan penuh

kejujuran, dan menyatakan bahwa aku tidak bersalah didalam soal kematian ayahmu, toh kau tidak akan mempercayainya! Baiklah..... kalau memang kau mau membunuh Loo-hu, bunuhlah! Majulah!!” dan dari suaranya, dapat diketahui bahwa si kakek she Wong itu telah putus asa dan sangat berduka campur perasaan gusar.

Kembali Hek Sin Mo tertawa gelak-gelak dengan nada suara mengandung ejekan.

“Kau tidak perlu mengeluarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal!” bentak Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. “Aku mempunyai banyak bukti-bukti bahwa kaulah yang telah membunuh ayahku!!”

Wong Kian menarik napas berduka.

“Baiklah! Karena kau telah menuduhku terus menerus bahwa diriku adalah pembunuh ayahmu, akupun tidak ingin menyangkalnya lagi! Majulah bunuhlah

aku!!” kata si kakek she Wong tersebut.

“Anjing she Wong, apakah kau bermaksud untuk mengadakan perlawanan disaat-saat kematianmu ini?” bentak Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. Dia tampaknya mulai bersiap-siap akan menyerang.

Kembali Wong Kian menarik napas berduka, dia mencabut pedangnya diangkatnya pedang itu, dipandanginya sesaat lamanya, kemudian tahu-tahu dia melemparkan pedangnya itu kesamping, sehingga jatuh bergontrangan dilantai?

“Bunuhlah! Aku tidak akan memberikan perlawanan!” kata Wong Kian kemudian dengan suara yang perlahan sekali, rupanya dia telah mengetahui liehaynya Hek Sin Mo, dan akan percuma saja dia memberikan perlawanan, karena akan lebih tersiksa lagi.

Si iblis tertawa menyeramkan sekali. “Bagus! Bagus!” katanya dengan suara yang mendirikan bulu tengkuk. “Ternyata kau memang tahu diri!!”

Dan setelah berkata begitu, Hek Sin Mo mengibaskan lengan jubahnya, dia bersiap-siap akan menyerang.

Tetapi selagi iblis hitam itu akan menyerang Wong Kian, tiba-tiba dari dalam kamar menerobos keluar sesosok bayangan dengan cepat menubruk kearah si iblis!

“Kalau memang kau mau membunuh, bunuhlah aku! Bunuhlah aku! Ayahku tidak bersalah apa-apa!!” teriak sosok bayangan itu dengan kalap.

Wajah Wong Kian jadi pucat pasi.

“Tie-jie kembali!” bentak Wong Kian dengan suara yang keras.

Tetapi sudah terlambat, sosok bayangan yang kalap itu telah menubruk si iblis hitam dengan sebilah pedang ditangannya, dan mata pedang tampak mengincer kearah dada Hek Sin Mo.

Hek Sin Mo terkejut hanya sesaat, untuk kemudian dia tertawa dingin.

Tampak si iblis menggerakkan tangannya, dan terdengarlah suara jeritan yang menyayatkan hati. mendirikan bulu tengkuk.

Tubuh Wong Kian tampak mengejang, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Apa yang telah terjadi?

Cie Kiat juga mementang matanya lebar-lebar untuk melihat apa yang terjadi, dan waktu dia telah dapat melihat dengan tegas, hati anak muda she Lie ini jadi menggidik sendirinya.

Tampak Hek Sin Mo berdiri dengan jari-jari tangannya berlumuran darah, iblis itu telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan.

Juga tampak orang yang menubruk si iblis, yang dipanggil oleh Wong Kian dengan sebutan Tie-jie, anak Tie, masih berdiri menjublek, kemudian ambruk kelantai dengan kepala berlumuran darah, rupanya batok kepalanya telah ditembusi oleh kelima jari tangan dari si iblis!!

Inilah hebat!

Tie-jie, anak Tie itu telah binasa dengan mengenaskan sekali! Dan, itulah suatu kematian yang benar-benar mengerikan sekali!

Cie Kiat sendiri sampai menggidik melihat keganasan Hek Sin Mo.

Tampak Wong Kian masih berdiri seperti mayat hidup, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar, menahan perasaan sedih, gusar dan penasaran menjadi satu.

Tie-jie, anak Tie, adalah putera tunggalnya, maka menyaksikan kebinasaan putera tunggalnya itu didepan matanya sendiri, bisa dibayangkan kesedihan yang diderita kakek tua she Wong ini. Kala itu si iblis hitam telah tertawa gelak-gelak lagi dengan suara yang menakutkan.

“Lihat! Puteramu memang tolol!” katanya dengan suara yang serak menyeramkan. “Tadi sore dia lolos dari tanganku, karena dia memperoleh In-jin, tuan penolong, tetapi dengan tidak terduga dia telah mengantarkan jiwanya dengan cuma- cuma! Hmmm dasarnya memang ayah dan anak harus binasa ditanganku!!”

Dan setelah berkata begitu, si iblis menatap dengan pancaran mata yang menyeramkan.

Tubuh Wong Kian jadi menggigil menahan perasaan duka dan gusar didalam hatinya.

“Kau.... kau.... kau benar-benar iblis laknat!!” maki Wong Kian dengan suara yang gemetar menahan perasaan murka yang bukan main.

Melihat sikap Wong Kian, Hek Sin Mo tertawa mengejek.

“Kaupun akan segera menyusul puteramu itu!!” katanya dengan suara yang menyeramkan, karena suaranya itu tidak mengandung perasaan sedikitpun.

Wong Kian menyadari, bahwa dia tidak akan sanggup melawan iblis ini, tetapi karena menyaksikan kematian putera tunggalnya itu didepan matanya sekali, maka rasa gusar dan nekad telah menguasai diri kakek ini.

“Baiklah! Hari ini aku adu jiwa denganmu, iblis laknat!!” teriak Wong Kian dengan kalap, dia mengambil pedangnya yang tadi telah dilemparkan keatas lantai.

Hek Sin Mo mengeluarkan suara yang aneh, seperti suara raungan.

Sedang si kakek membungkuk akan mengambil pedangnya, Hek Sin Mo telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat menubruk kearah Wong Kian.

Maksud si iblis sebelum Wong Kian bisa menjangkau pedangnya itu, dia mau menghabiskan terlebih dahulu riwayat hidup kakek itu.

Tetapi biar bagaimana Wong Kian adalah seorang jago silat yang kosen, begitu dia merasakan samberan angin dari cengkeraman tangan Hek Sin Mo pada batok kepalanya, cepat-cepat dia mengegoskan kepalanya kesamping, sehingga cengkeraman tangan Hek Sin Mo jadi jatuh pada tempat kosong.

Hek Sin Mo melihat serangannya gagal menemui tempat kosong, jadi tambah gusar.

Dengan cepat dia menarik pulang tangannya itu, disusul oleh tangan lainnya yang disapukan dari samping kearah batok kepala Wong Kian.

Tangan Hek Sin Mo yang satu ini juga bermaksud akan mencengkeram kepala Wong Kian.

Kalau memang sampai batok kepala Wong Kian kena dicengkeram oleh jari-jari tangan Hek Sin Mo, maka akan habislah hidup kakek tua she Wong itu, karena kepalanya akan kena ditoblos bolong oleh kelima jari-jari tangan Hek Sin Mo yang sangat berbahaya. Pada saat itu Wong Kian telah berhasil mengambil pedangnya, dan dia merasakan samberan angin serangan kepala pada batok kepalanya, maka tanpa menoleh lagi, disaat dia memutar tubuh, tangannya juga bergerak, ditangannya mana tercekal pedangnya, sehingga ujung pedang itu mengincer akan merobek perut Hek Sin Mo.

Si iblis agak terkejut melihat kenekadan dari Wong Kian.

Jurus yang digunakan oleh kakek tua she Wong itu adalah jurus untuk mengadu

jiwa.

Dan dengan menggerakkan pedangnya itu, si kakek she Wong bermaksud untuk

binasa bersama.

Hek Sin Mo jadi mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat mengenjotkan kakinya sehingga tubuhnya melambung tinggi, pedang Wong Kian lewat dibawah kakinya.

Hek Sin Mo memang kosen sekali.

Disaat tubuhnya sedang melambung begitu, disaat dia sedang melayang tahu- tahu kedua kakinya bergerak secara berantai.

Si iblis bermaksud akan menendang kedua mata Wong Kian.

Kalau sampai mata Wong Kian kena ditendangnya, pasti si kakek akan kehilangan ketenangan dan keseimbangan tubuhnya, dan dengan mudah si iblis akan membinasakannya!

Tapi Wong Kian bukan orang lemah, dia bisa bergerak cepat.

Waktu melihat sabetan pedangnya itu gagal mengenai sasarannya, dengan cepat dia telah melompat kesamping, sehingga tendangan kedua kaki Hek Sin Mo kembali mengenai tempat kosong.

Dan menggunakan kesempatan sedang si iblis terapung diudara, dikala kedua kakinya terulurkan dalam tendangan berantainya, maka Wong Kian menyabetkan pedangnya, dengan maksud akan memapas putus kedua kaki lawannya.

Hek Sin Mo jadi terkejut.

Tetapi dia liehay, maka walaupun kedua kakinya sedang terancam bahaya buntung, toh tetap saja dia dapat bersikap tenang.

Dengan cepat dia menggunakan jurus memberati tubuh seribu kati. Dengan begitu tubuhnya jadi meluncur turun lebih cepat.

Dan, disaat tubuhnya meluncur turun begitu, maka Hek Sin Mo mengulurkan tangannya, dengan menggunakan kedua jari tangannya dia menotok kearah biji mata Wong Kian, dengan maksud akan menarik keluar biji mata lawannya!

Wong Kian terkejut juga melihat lawannya selain dapat menghindarkan serangan pedangnya, malah telah berbalik menyerang dirinya.

Dia sampai mengeluarkan jeritan tertahan saking terkejut. Untuk menarik pulang pedangnya jelas sudah tidak keburu.

Dan untuk melompat menghindarkan serangan itu, juga sudah tidak akan keburu.

Maka akhirnya si kakek jadi nekad.

Dengan tidak memperdulikan kedua matanya akan buta tercongkel oleh kedua jari tangan Hek Sin Mo, dia telah memutar pedangnya, yang ditusukkan kepada perut si iblis.

Hek Sin Mo memang telah bersiap-siap, maka disaat dia melihat orang akan mengadu jiwa dan pedangnya menyambar dengan cepat, maka si iblis telah mengulurkan tangannya, tangan yang satunya lagi, dipakai untuk menyentil pedang Wong Kian, sehingga pedang itu tergetar dan terpental hampir terlepas dari cekalan tangan kakek she Wong itu.

Sedangkan tangan kanannya yang dipakai untuk menotok kedua biji mata Wong Kian masih meluncur terus.

Hati si iblis jadi girang, dia duga serangannya pasti akan berhasil.

Sedangkan Wong Kian sendiri waktu merasakan pedangnya kena disentil oleh si iblis sampai terpental dan menimbulkan perasaan sakit pada telapak tangannya, habislah seluruh harapan si kakek untuk hidup terus.

Dia pasrah saja dengan memejamkan matanya menunggu saat-saat kematiannya.

Tetapi, berbareng dengan Wong Kian mendengar Hek Sin Mo menjerit kesakitan.

Si kakek Wong, jadi heran, dia membuka matanya, dan dilihatnya si iblis sedang melompat mundur memegangi tangan kanannya, dimana kedua jari tangannya yang dipakai untuk menotok mata Wong Kian tadi, tersapat putus! Darah tampak mengalir keluar.

Wajah si iblis jadi pucat sekali.

Wong Kian jadi heran, tetapi seketika itu juga dia mengetahui bahwa dirinya telah ditolong oleh seseorang yang berkepandaian tinggi sekali.

Maka hati kakek she Wong ini jadi girang sekali, dia jadi mempunyai harapan untuk hidup terus.

Hati si kakek Wong Kian jadi bertanya-tanya, siapakah yang telah menolong dirinya? Tentunya orang itu seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai nama sangat harum, sebab telah bisa melukai si iblis hitam yang terkenal ganas dan liehay ini......... dengan matanya, Wong Kian menatap sekeliling ruangan itu, tetapi tidak tampak seorang manusiapun!

*

* * TERNYATA yang telah menolong dan menyelamatkan jiwa Wong Kian adalah pemuda pelajar yang bernama Lie Cie Kiat, yang kala itu sedang bersembunyi dipenglarian tiang rumah itu.

Sedangkan si iblis hitam yang telah tersapat kedua jari tangannya, jadi memandang dengan mata mencilak keseluruh ruangan itu.

Tampaknya dia murka sekali.

Tadi disaat serangannya hampir mengenai sasarannya, disaat kedua jari tangannya akan berhasil mengorek biji mata Wong Kian, dengan tidak terduga, manyambar dua buah pisau kecil, yang telah menyabet dan menabas putus kedua jari tangannya.

Maka dari itulah Hek Sin Mo segera mengetahui bahwa Wong Kian telah dibantu oleh seorang jago yang kosen sekali, yang tidak mau menampakkan dirinya.

Dengan murka Hek Sin Mo menatap kearah Wong Kian.

“Hmmm..... aku tidak sangka bahwa kau adalah seorang manusia yang rendah sekali!” memaki si iblis dengan suara yang menyeramkan. “Apakah dengan meminta pertolongan seseorang kau ingin membokongku? Hmm, tak mudah! Kau tetap harus binasa ditanganku!” dan setelah berkata begitu, si iblis hitam telah melompat akan menubruk dan mencengkeram kepala Wong Kian dengan tangannya yang masih utuh.

Tetapi Wong Kian telah mantap hatinya. Ketenangannya telah pulih!

Maka dari itu, dengan cepat dia menggerakkan pedangnya akan menabas tangan orang yang menyambar kearah batok kepalanya.

Tetapi Hek Sin Mo seperti telah kalap, dengan cepat dia telah menarik pulang tangannya itu, dan dipakai untuk menyerang lagi.

Kalau memang dibandingkan kepandaian Wong Kian dengan Hek Sin Mo, maka Wong Kian masih kalah satu tingkat.

Itulah sebabnya, sekarang dikala si iblis telah membarengi menyerang lagi dengan nekad, si kakek she Wong itu jadi terdesak hebat.

Dengan cepat-cepat melompat mundur, dia menjauhi diri si iblis.

Melihat orang melompat kebelakang menjauhi dirinya, dia tertawa mengejek. “Apakah kau masih tidak mau memperlihatkan diri?” bentak si iblis dengan

suara yang bengis.

Tetapi si iblis membentak bukannya untuk menyerang Wong Kian, melainkan tangannya itu terayun, dan terdengar suara ‘serrrrr, serrrrr’, berulang kali, rupanya dia menyerang kearah atas penglarian tiang rumah itu dengan senjata rahasia yang berbentuk jarum yang halus-halus.

Cie Kiat tadi tanpa sengaja telah mengeluarkan suara seruan tertahan, karena melihat jiwa Wong Kian terancam bahaya kematian, dan suara seruan tertahannya yang sangat perlahan sekali itu, yang mungkin tidak akan terdengar oleh manusia biasa, telah menyebabkan si iblis mengetahui tempat persembunyiannya.

Jarum-jarum halus yang dipakai oleh Hek Sin Mo untuk menimpuk Cie Kiat diatas penglarian itu, meluncur dengan kecepatan yang luar biasa.

Terdengar suara ‘iiiihhhh’, disusul oleh suara ‘tring-tring-tring’ berulang kali tampak jarum-jarum halus yang dilemparkan oleh Hek Sin Mo berhamburan jatuh keatas lantai.

Si iblis terkejut.

Tadi dia menyerang dengan tiba-tiba, dan itu dapat disebut setengah membokong.

Tetapi orang yang diserang dan sedang bersembunyi diatas penglarian itu dapat menangkis jarum-jarum halus miliknya itu, dan itu menandakan bahwa orang yang sedang bersembunyi itu sangat kosen sekali.

Si iblis jadi terkejut juga.

Dia mengawasi kearah penglarian.

Tampak sesosok bayangan putih melayang turun.

Waktu Hek Sin Mo mengawasi dengan tegas, tampak olehnya dihadapannya berdiri seorang pelajar berpakaian serba putih.

Wajah Siu-chay itu sangat ganteng dan gagah sekali, tampan gemulai. Mata Hek Sin Mo jadi mencilak bermain tak hentinya.

Rupanya iblis tersebut sangat gusar sekali.

Siu-chay itu yang tak lain tak bukan dari Lie Cie Kiat, begitu melompat turun dihadapan si iblis, dia telah tersenyum manis sekali.

Sikap Cie Kiat sangat tenang sekali.

“Maaf! Maaf!” kata Cie Kiat dengan suara yang sabar. “Tadi Hak-seng telah begitu berani lancang ikut campur urusan Jie-wie.... tetapi mengingat bahwa mata adalah alat yang terpenting bagi manusia, maka kalau sampai Wong Loo-cianpwee kehilangan kedua biji matanya, bukankah itu harus dibuat sayang.”

Betapa gusarnya Hek Sin Mo mendengar perkataan si pelajar berpakaian serba putih ini, tubuh si iblis jadi menggigil gemetaran menahan hawa amarahnya.

“Pelajar bau, ada sangkut paut apa kau dengan anjing she Wong itu?” tegur si iblis dengan suara yang menyeramkan.

Muka Hek Sin Ho memang telah menyeramkan sekali, pandangan matanya juga sangat menakutkan, apa lagi sekarang dia sedang bergusar, maka tampaknya lebih menyeramkan lagi.

Tetapi Cie Kiat dapat bersikap tenang sekali, dia tetap tersenyum dengan manis. “Hak-seng adalah orang pelancongan, dan kebetulan Hak-seng kemalaman, sehingga Hak-seng jadi bermalam dirumah Wong Loo-cianpwee!” menyahuti Cie Kiat dengan cepat. “Mengingat kebaikan Wong Loo-cianpwee yang telah memperlakukan diriku dengan baik serta ramah tama, maka biar bagaimana aku harus membalas budi kebaikan Wong Loo-cianpwee! Bagaimana aku bisa berdiam diri saja kalau memang jiwa Wong Loo-cianpwee terancam didepan mataku?! Maka, Hak-seng minta agar Heng-thay mau memberikan kelonggaran bagi selembar jiwa Wong Loo-cianpwee! Persoalan diantara Jie-wie memang tidak ingin Hak-seng ketahui sedikitpun dan persoalan Jie-wie memang tidak ingin Hak-seng ketahui.......

dengan memberanikan diri Hak-seng ingin meminta kebijaksanaan Heng-thay agar membebaskan Wong Loo-cianpwee dari kematian!”

Wajah Hek Sin Mo yang sudah hitam jadi semakin hitam karena gusarnya. “Pelajar setan!” bentaknya dengan suara yang menyeramkan. “Setelah kau

menabas putus kedua jari tanganku, masih kau berani meminta pengampunan bagi

selembar jiwa anjingnya orang she Wong itu?”

Cie Kiat tetap membawa sikapnya yang tenang.

“Tenang Heng-thay!” katanya sambil tersenyum. “Kau harus berpikir dengan kepala dingin. Bukankah Heng-thay telah membunuh putera Wong Loo-cianpwee, maka kedua jari tangan Heng-thay itu adalah imbalannya saja! Sebetulnya kalau memang mau diperhitungkan hutang piutang ini, Heng-thay masih untung !”

Tenang sikap Cie Kiat, dia membahasakan orang dengan sebutan Heng-thay, yang artinya saudara, sedangkan untuk dirinya dia membahasakan Hak-seng, suatu sebutan aku yang merendah.

Wajah Hek Sin Mo jadi berubah merah padam, dia gusar sekali, sampai tubuhnya gemetaran.

Atau dengan tidak terduga dia membentak keras, tahu-tahu tubuhnya telah melompat menerjang kearah Cie Kiat, jari-jari tangannya terpentang menyeramkan sekali. !



WONG KIAN sejak Cie Kiat muncul dengan tiba-tiba dan dirinya tertolong dari kematian oleh pemuda pelajar ini, hatinya jadi tergoncang hebat, dia jadi menatap kesima kepada Cie Kiat, karena sedikitpun dia tidak menyangka bahwa pelajar yang lemah gemulai itu liehay sekali ilmu silatnya.

Maka dari itu, waktu melihat Hek Sin Mo menyerang dengan hebat kepada Cie Kiat, tanpa disadarinya Wong Kian jadi berteriak : “Hati-hati Lie Hian-tee!!” Cie Kiat menoleh dan tersenyum kepada Wong Kian, menyatakan rasa terima kasihnya atas perhatian si kakek terhadap keselamatan dirinya.

Setelah itu, dikala cengkeraman tangan Hek Sin Mo yang telah sampai dekat dengan batok kepalanya dan disertai angin yang keras sekali, Cie Kiat dengan cepat menggeser kakinya setindak kesamping, dan dengan berputar setengah lingkaran, dia telah dapat mengelakan serangan si iblis.

Hek Sin Mo terkejut melihat cara mengelakkan serangan dari si anak muda pelajar itu.

Dia juga heran, karena gerakan Cie Kiat begitu gesit dan lincah sekali.

Tetapi karena dia telah dikuasai oleh hawa amarah yang meluap-luap, maka dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, kembali dia menerjang menyerang.

Kedua tangannya sekaligus terjulur, jari-jari tangannya terpentang lebar seperti juga kuku garuda yang terpentang.

Jari tangannya yang terluka tertabas putus, masih tampak mengalirnya si darah merah sehingga dengan muka yang hitam legam dan rambut yang terurai lepas

itu, benar-benar si iblis jadi menyeramkan sekali.

Cie Kiat tertawa dingin, dia melihat orang selalu menyerang dengan jurus yang mematikan.

Pelajar she Lie ini jadi gusar juga.

Dia lihat orang telengas dan tidak boleh diberi hati.

Maka dari itu, sambil mengeluarkan suara siulan yang panjang, tahu-tahu tubuh pemuda ini berputar, kaki kirinya tertekuk dalam-dalam, dan tahu-tahu tangannya yang kanan telah menerobos dengan kuat akan menggempur dada si iblis hitam tersebut.

Hek Sin Mo kembali jadi terkejut. Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat menarik pulang serangannya.

Dia melompat kebelakang dengan mandi keringat dingin.

Tak diduga olehnya, didalam usia begini muda ternyata pelajar she Lie itu telah mempunyai kepandaian yang luar biasa liehaynya.

Dengan mata yang bengis dan sambil mengerutkan sepasang alisnya dia mengawasi Lie Cie Kiat dengan penuh kegusaran.

“Siapa kau sebetulnya, bocah?” bentak Hek Sin Mo dengan suara keras mengguntur.

Cie Kiat tertawa, dia mengibaskan bajunya perlahan-lahan, menyentil bajunya yang putih bersih itu dengan jari tangannya.

“Hak-seng she Lie dan bernama Cie Kiat, dan bolehkah Hak-seng mengetahui nama besar Heng-thay?” kata Cie Kiat tetap tersenyum. Betapa gusarnya si iblis, karena orang selalu bersikap tenang dan seperti tidak memandang sebelah mata padanya, maka dengan mendengus sengit, dia berteriak dengan suara yang melengking tinggi : “Orang she Lie...... terimalah kematianmu!” dan kedua tangan Hek Sin Mo telah bergerak menyerang dengan hebat lagi.

Tetapi biar bagaimana Lie Cie Kiat adalah seorang pemuda yang perkasa, kosen sekali, maka dia melihat datangnya serangan itu dengan bibir tetap tersungging senyuman.

Didalam hati si pemuda she Lie ini juga berpikir bahwa dia tidak berlaku terlalu sungkan dan baik hati terhadap si iblis, karena tanpa dihajar si iblis tentu tidak akan jeri.

Maka dari itu, Cie Kiat menunggu tibanya serangan dari si iblis hitam tersebut.

Disaat kedua serangan tangan Hek Sin Mo hampir mengenai sasarannya, maka Cie Kiat tahu-tahu mengeluarkan suara siulan, tubuhnya berputar-putar dengan cepat seperti juga bayangan, sehingga Hek Sin Mo jadi terkejut.

Saking kagetnya Hek Sin Mo jadi merandek, dan mengawasi saat kearah berputarnya Cie Kiat, agar dia dapat menyerang lagi.

Tetapi si iblis telah melakukan suatu kesalahan besar didalam seumur hidupnya.

Karena dia merandek begitu, tahu-tahu ‘dukkkkk!’ tangan Cie Kiat telah menggempur dada si iblis, gempuran Cie Kiat kuat sekali, sehingga Hek Sin Mo bersuara ‘hekkk’ dan tubuhnya terguling, terjerembab dilantai.

Tetapi Hek Sin Mo adalah seorang iblis yang liehay sekali, dia bisa bergerak dengan cepat, begitu tubuhnya menyentuh lantai, dia sudah melompat bangun dengan jurus ‘Iee-ie-ta-teng’ atau ‘ikan gabus meletik’ dan waktu sudah dapat berdiri tetap kembali, tampak wajah Hek Sin Mo sangat pucat serta bibirnya bergemetaran.

“Kau.... kau ” suara si iblis tidak lampias waktu dia berkata begitu.

Cie Kiat tertawa kecil melihat lagak si iblis. Sikap pemuda she Lie ini tenang luar biasa.

“Tadi Hak-seng telah katakan, kalau dihitung laba-ruginya, maka Heng-thay masih beruntung hanya kukutungi kedua jari tanganmu saja.” kata Cie Kiat dengan suara yang sabar. “Coba kalau memang aku bermaksud jahat, bukankah dengan mudah aku dapat membunuhmu? Membinasakan diri Heng-thay sama mudahnya seperti juga membalik telapak tangan..... Heng-thay masih memerlukan latihan selama tiga puluh tahun untuk dapat menandingi diriku! Hmm, kepandaian yang dimiliki oleh Heng-thay itu sama sekali tak ada artinya untukku!”

Betapa gusar dan mendongkolnya Hek Sin Mo.

Seumur hidupnya baru kali ini dia dihina orang tanpa daya.

“Orang she Lie!” akhirnya dia membentak dengan suara yang bengis. “Baiklah hari ini aku rubuh ditanganmu, tetapi kau ingat, tiga tahun lagi aku akan mencarimu! Biarpun kau lari keujung bumi atau belahan bumi mana saja, hmmm, aku pasti akan berada disitu juga! Tentang jiwa anjing orang she Wong itu biarlah kuberi pengampunan selama tiga tahun, nanti setelah membinasakan dirimu baru akan kubinasakan dia!” dan setelah berkata begitu tahu si iblis hitam telah mengenjotkan kakinya, tubuhnya melesat keluar..... didalam waktu yang singkat sekali dia telah lenyap ditelan kegelapan malam....

Melihat si iblis telah berlalu, Wong Kian cepat-cepat menghampiri Lie Cie Kiat. Dia menekuk kedua kakinya berlutut didepan Cie Kiat.

“In-jin telah menolong selembar jiwa tuaku.... dan aku berterima kasih sekali, entah dengan apa Loo-hu harus membalas budi kebaikan In-jin ini!!” kata si kakek dengan suara yang berduka sekali, wajahnya juga sangat pucat.

Cie Kiat cepat-cepat menyingkir kesamping, dia tidak mau menerima pemberian hormat dari si kakek.

“Jangan begitu, Wong Loo-cianpwee!” kata Cie Kiat dengan cepat. “Tadi kebetulan memang aku ingin menghajar iblis jahat itu..... hanya sayang, aku tidak keburu untuk menolong jiwa puteramu itu.....!!” dan Cie Kiat melirik kearah mayat Tie-jie yang masih menggeletak dilantai dengan bermandian darah merah yang telah membeku.

Mendengar disebutnya puteranya itu, air mata si kakek she Wong jadi tidak bisa dibendung lagi.

Dia menangis dengan tubuh yang tergetar, sedangkan Cie Kiat jadi repot membujuknya.

Sebagai seorang jago kawakan, maka dengan cepat Wong Kian dapat menguasai perasaannya.

Cepat sekali dia bisa menguasai dirinya dan tidak menangis lagi.

Dengan muka yang berduka, dia berkata perlahan sekali : “Ah, rupanya memang sudah karma....... nasib Tie-jie yang jelek, dia harus berpulang terlebih dahulu!” mengumam kakek tua she Wong itu dengan sedih.

Cie Kiat cepat-cepat menghiburnya lagi.

“Wong Loo-cianpwee!” kata Cie Kiat akhirnya. “Bolehkah aku mengetahui persoalan yang terjadi antara Loo-cianpwee dengan iblis itu?”

Si kakek she Wong menghela napas.

“Ya, semuanya telah terjadi, dan kukira tidak ada salahnya kuceritakan semuanya kepadamu, Hian-tee!” kata Wong Kian. “Peristiwa ini sebetulnya diawali oleh suatu peristiwa pada enam belas tahun yang lalu.....” dan Wong Kian mulai menuturkan sebab musabab dari persengketaannya dengan Hek Sin Mo.

*

* *

ENAM BELAS tahun yang lalu, Wong Kian dan puteranya yang bernama Wong Siang Tie, menetap dikampung Eng-sian-chung didalam bilangan wilayah In- lam. Saat itu sebetulnya Wong Kian memang sudah ingin mencari suatu tempat yang sepi untuk hidup menyendiri, menjauhkan diri dari segala keramaian duniawi.

Sebagai seorang jago yang kosen dan berpergalaman, Wong Kian bermaksud akan mendidik Wong Siang Tie, puteranya itu, yang kala itu berusia dua puluh tahun, didalam segi ilmu silat dan surat, agar puteranya ini menjadi Bun Bu Coan-chay, pandai ilmu surat dan pandai ilmu silat.

Tetapi Wong Siang Tie kurang cerdas, sehingga Wong Kian agak berduka, karena puteranya itu mempunyai harapan yang tipis untuk menjadi, seorang pendekar yang menonjol.

Maka dari itu dengan tekun, Wong Kian mendidik puteranya tersebut dengan penuh kesabaran.

Pada suatu hari, dikala Wong Kian sedang duduk berangin dimuka rumahnya, karena siang itu hawa udara sangat panas, tampak berlari-lari mendatangi Loo-sam, seorang lelaki tua yang menjadi tetangganya.

“Kian-heng.   cepat kau lihat!” teriak Loo-sam begitu dia sampai didekat Wong

Kian, sehingga mengejutkan orang she Wong ini. “Lihatlah Kian-heng puteramu itu.... dia berkelahi hebat sekali! Oh...... sampai terjadi peristiwa berdarah!! Lihatlah cepat. !” pucat sekali wajah si Loo-sam itu.

Wong Kian juga terkejut mendengar laporan Loo-sam, tanpa bertanya lebih lanjut, dengan cepat Wong Kian berlari dengan Gin-kangnya menuju ketempat yang ditunjuk oleh Loo-sam.

Benar saja, waktu Wong Kian sampai didekat pasar, disebelah utara kampung itu, tampak Wong Siang Tie, puteranya, sedang dikeroyok oleh beberapa anak muda. Ditanah bergelimpangan empat atau lima anak muda yang telah menjadi mayat!

Tampak sekali, Siang Tie sedang mengamuk dengan kalap, dan beberapa orang anak muda yang mengeroyoknya berusaha bisa merubuhkan diri Siang Tie.

Waktu Wong Kian sampai ditempat peristiwa tersebut, dia membentak dengan suara yang mengguntur, karena dia sangat gusar : “Tie-jie tahan!!”

Siang Tie jadi terkejut mendengar bentakan ayahnya, dia jadi gugup, dengan cepat dia melompat mundur kedekat ayahnya.

Anak-anak muda yang mengeroyok dirinya jadi menahan senjata masing-masing waktu melihat Wong Kian.

Salah seorang yang bernama Pie Kim Ceng, seorang anak muda yang terkenal paling bergajulan dikampung itu, yang termasuk mengeroyok Wong Siang Tie telah maju kedepan.

“Wong Lo-peh!” katanya dengan berani. “Puteramu telah membunuh beberapa kawan kami, maka biar bagaimana kami harus membunuhmu pula! Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa!!”

Wajah Wong Kian jadi berubah merah padam. “Sebetulnya peristiwa apakah yang telah menyebabkan kalian jadi saling hantam begini?” tegurnya dengan tidak senang.

“Puteramu pulang dalam keadaan mabok, dan tidak keruan, tidak hujan tidak angin, tahu-tahu dia menyerang kami dengan pedangnya itu, sehingga terpaksa kami mengadakan perlawanan...... dan lihatlah! Beberapa kawan kami telah binasa dan kejadian ini akan berbuntut hebat, karena pembesar setempat juga tidak akan mau mengerti!!”

Wajah Wong Kian jadi berubah pucat, dia menoleh kepada puteranya. “Benarkah kau telah melakukan hal itu?” tegur Wong Kian dengan suara yang

bengis, matanya juga memancarkan cahaya yang mengerikan.

Wong Siang Tie jadi gemetar melihat wajah ayahnya, sejak kecil dia memang sudah dididik keras, sehingga dia tidak beani berdusta.

Maka atas pertanyaan ayahnya itu, dia mengangguk.

“B.... benar.....!” menyahuti Siang Tie. “Tetapi ayah....... mereka yang terlebih dahulu mengolok-ngolok diriku!”

“Ploookkk!” tahu-tahu tangan Wong Kian melayang menghajar pipi puteranya. Siang Tie terkejut, dia jadi kesakitan berbareng kaget.

“Thia. !” panggilnya dengan suara yang berduka. Thia berarti ayah.

Wajah Wong Kian bengis sekali.

“Mengapa kau membikin huru hara?” bentak Wong Kian dengan suara yang keras.

“Aku..... aku dikeroyok dengan tidak tahu menahu persoalannya, ayah!” kata Siang Tie dengan cepat. “Mereka............ mereka telah menyiksa Ye Hoa. !”

Ye Hoa atau nama sebenarnya adalah Hoan Ye Hoa adalah tunangan Siang Tie. Wajah Wong Kian jadi berubah.

“Dimana sekarang Hoa-jie?” tanya Wong Kian dengan suara yang berubah agak lembut.

“Dirumahnya Thia....... mereka diganggu oleh anak-anak bergajulan ini!!” menyahuti Siang Tie.

Wong Kian menoleh kepada anak muda berandal itu, juga menatap kepada Kim Ceng.

Baru saja dia mau menanyakan persoalan yang lebih jelas, tampak mendatangi Pie Lay, ayah Kim Ceng.

Pie Lay terkenal paling memanjakan puteranya, sifatnya berangasan sekali, maka setiap kali ada sesuatu hal yang bersangkut paut dengan diri puteranya, pasti dia akan memenangkan puteranya tanpa melihat persoalannya terlebih dahulu. Ini kalipun, dikala dia mendengar puteranya sedang ribut-ribut, cepat-cepat dia datang kesitu.

Pie Kim Ceng melihat kedatangan ayahnya, jadi tambah semangat, terbangun semangatnya.

“Ayah, anakmu telah dihina orang!” dia mengadu kepada Pie Lay sambil menghampiri.

Pie Lay paling berangasan, dia memang paling tidak senang kalau mendengar puteranya dihina orang.

“Mana orangnya?” tanyanya dengan suara yang kasar. “Akan kuhajar mampus orang yang berani menghina puteraku!!”

Kim Ceng menunjuk kapada Wong Kian.

“Mereka ayah dan anak mau mengeroyok aku!“ katanya dengan suara yang nyaring.

Tanpa menanya lebih lanjut, Pie Lay telah maju mendekati Wong Kian.

Tidak mengucapkan sepatah katapun dia telah mengayunkan kepalannya yang bertenaga itu kepada Wong Kian.

Melihat ini Wong Kian jadi mendongkol sekali, karena datang-datang Pie Lay menyerang dirinya tanpa menyelidiki dulu pihak mana yang bersalah.

“Tahan!!” bentak Wong Kian mengelakkan serangan orang. Tetapi Pie Lay masih menyerang terus.

Terpaksa Wong Kian harus melayaninya.

Sedang Pie Kim Ceng telah bersama-sama kawannya menghampiri Siang Tie, mereka mengeroyok lagi puteranya Wong Kian ini.

Pertempuran yang pincang ini terjadi cukup seru, tetapi pihak Wong Kian yang terdesak hebat, karena pihak lawan berjumlah banyak.

Lebih-lebih Siang Tie, dia terdesak hebat sekali, dia jadi kalut cara bertempurnya.

Pada suatu kali dikala pedang Kim Ceng sedang menyambar kearah dadanya, Siang Tie menangkisnya, tetapi disebabkan tenaganya telah habis bertempur sejak tadi, pedangnya terlepas, dari cekalannya dengan keras.

Dan dengan tidak terduga pedang itu terbang kearah Pie Lay. Orang she Pie itu jadi terkejut.

Dia berusaha menangkisnya.

Tetapi gagal dan pedang itu menancap didadanya.

Wong Kian yang melihat itu juga jadi mengeluarkan seruan tertahan. Tetapi dia sudah tidak keburu untuk menolong Pie Lay, sebab tubuh orang she Pie itu telah terkulai rubuh tanpa nyawa.

Pedang Siang Tie menancap tepat pada jantungnya. Semua yang menyaksikan itu jadi terkejut.

Lebih-lebih Kim Ceng, dia mengeluarkan jeritan kalap, dan menyerang kepada Wong Kian.

“Akan kuadu jiwa denganmu!” serunya sambil menyerang Wong Kian, karena didalam dugaan anak muda ini ayahnya telah terbunuh oleh Wong Kian.

Wong Kian ingin menjelaskan, tetapi Kim Ceng sudah kalap benar.

Sampai akhirnya Wong Kian jadi main mundur dan berlari karena dia takut nanti melukai Kim Ceng lagi.

Rupanya semakin lama Kim Ceng semakin kalap, tahu-tahu dengan tidak terduga, dia telah menggorok lehernya sendiri!

Darah merah seketika juga muncrat dari lehernya!

Rupanya saking gusar dan tidak bisa melampiaskan kemurkaannya itu, Kim Ceng jadi putus asa, dia telah membunuh dirinya sendiri!

Semua orang yang melihat hal itu jadi terkejut sekali.

Tetapi mereka juga tidak bisa memberikan pertolongan kepada anak muda she Pie itu.

Tubuh ayah dan anak yang telah menjadi mayat itu menggeletak tak bernyawa digenangi darah merah.

Tiba-tiba dari kejauhan tampak berlari-lari seorang anak muda.

Dia adalah Pie Kim Siu, putera nomor dua dari Pie Lay dia melihat kematian ayah dan kakaknya itu.

Dengan kalap dia mau menyerang Wong Kian, tetapi orang yang ada didekat situ telah menahanya.

Wong Kian dan Siang Tie sendiri berdiri terpaku bengong disitu, mereka jadi menyesal sekali sampai terjadi perkara jiwa begitu.

Dan, sejak dari saat itulah, Wong Kian dan puteranya tidak pernah tampak lagi dikampung tersebut, mereka telah lenyap, entah kemana.

Begitu juga Kim Siu, dia rupanya mengembara untuk mencari guru pandai, guna membalas dendamnya.

Itulah kejadian enam belas tahun yang lalu, dan setelah berselang sepuluh tahun kemudian dari terjadinya peristiwa keluarga Pie itu, terdengar muncul didalam kalangan Kang-ouw seorang jago yang bengis sekali kepada lawannya, kepandaiannya liehay sekali, dan tangannya sangat telengas, setiap lawannya pasti akan terbinasa ditangannya. Iblis itu diberi gelaran Hek Sin Mo, Iblis hitam, karena wajahnya memang hitam.

Wong Kian sendiri mengetahui, bahwa iblis itu Kim Sin, putera Pie Lay maka untuk menghindarkan diri dari keruwetan, dia mengasingkan diri digunung Fung-san.

Tetapi tidak diduga iblis itu masih dapat mengendus tempat menetapnya itu. Malah siangnya Siang Tie, putera dari Wong Kian, telah dilukai oleh iblis itu.

Dan malamnya hampir saja Wong Kian terbinasa ditangan iblis tersebut kalau

memang tidak ada Lie Cie Kiat pelajar berbaju putih itu. !

Hanya yang membikin hati Wong Kian jadi berduka sangat ialah puteranya itu, Wong Siang Tie telah terbinasakan ditangan iblis tersebut. !



SETELAH mendengar semua cerita Wong Kian, Cie Kiat jadi menghela napas. Dihiburnya kakek itu.

Kemudian Cie Kiat juga membantu Wong Kian mengubur Siang Tie.

Selama itu tampak sekali wajah Wong Kian sangat berdusta guram karena hatinya sangat berduka.

Malam itu mereka lalui dengan pasang omong saja, karena keduanya tidak dapat tertidur.

Menjelang fajar, Cie Kiat pamitan dari kakek she Wong tersebut.

“Kita harus tabah menghadapi segala sesuatu yang menimpah diri kita, Wong Loo-cianpwee!” kata Cie Kiat waktu dia melompat keatas kudanya. “Dan segala kedukaan yang kita derita akan lenyap bila kita bisa mengendalikan perasaan kita itu !”

Wong Kian mengangguk membenarkan perkataan pemuda she Lie itu dengan sedih.

“Benar Lie Hian-tee, tetapi sebagai seorang ayah, biar bagaimana aku tak bisa melenyapkan perasaan dukaku itu, karena kematian hati seorang putera akan menyebabkan hati yang telah lapuk ini akan berduka terus!”

Cie Kiat menarik napas.

“Ya..... kau benar Wong Loo-cianpwee!” kata Cie Kiat lagi. “Aku bisa merasakan kesedihan yang kau derita!”

Cie Kiat mengelus-elus kudanya sesaat lamanya, keduanya jadi saling membisu. Tiba-tiba Cie Kiat menoleh memandang Wong Kian. “Wong Loo-cianpwee. panggilnya.

“Ya?”

“Baiklah kita berpisah dulu, pertemuan kita ini walaupun hanya satu malam saja, toh serasa kita telah bersahabat seribu tahun! Nah, sampai jumpa lagi!” dan Cie Kiat mengedut tali les kudanya, sehingga kuda itu larat dengan cepat.

“Selamat jalan, Lie Hian-tee!!” teriak Wong Kian dengan suara yang nyaring.

Tetapi Cie Kiat sudah tidak mendengar teriakan Wong Kian, sebab dia telah melarikan kudanya dengan cepat sekali.

Waktu sampai didekat perut gunung itu, Cie Kiat menahan kekang kudanya.

Pemandangan disekitar tempat itu sangat indah sekali, lebih-lebih udara pagi yang segar menyebabkan Cie Kiat jadi berdiam diri sesaat disitu untuk menikmati keindahan gunung Fung-san.

Tiba-tiba sedang dia duduk terpaku dipelana kudanya itu, terdengar suara orang bersyair dengan suara yang parau :

Tung, tung, tung.

Suara tongkat terbentur batu. Tung, tung, tung.

Si pengemis membawa tempurung. Burung gagak terbang mencari makan. Jenderal pergi berperang.

Rakyat kecil bekerja keras mencari makan. Semuanya ingin mengisi perut.

Tung, tung, tung.

Suara gagak bertalu-talu. Tung, tung, tung.

Si pengemis merangkak dijalan.

Tung, tung, tung...... tung, tung, tung......

Syair yang dilagukan oleh orang itu tidak menyerupai syair apapun, sangat kacau dan tidak keruan sekali.

Dari balik semak belukar tampak keluar seorang pengemis tua yang ditangannya memegang sebatang tongkat.

Pengemis itu jalan dengan dibantu oleh tongkatnya itu.

Cie Kiat mengawasi pengemis itu dengan tetap duduk diatas kuda tunggangannya.

Pengemis itu menoleh kepadanya, dan dia berhenti menyanyi.

Tampak matanya mencilak memain sesaat lamanya, kemudian dia tersenyum. Dan kemudian dia meneruskan langkahnya.

Seperti juga pengemis itu tidak memperdulikan Cie Kiat. Cie Kiat memajukan kudanya menghadang didepan pengemis itu.

“Lo-peh, kearah manakah jurusan untuk menuju ke Liong-gak-chung?” tanya si pemuda sambil melompat turun dari kudanya.

Pengemis itu berjalan terus, dia seperti juga tidak mendengar pertanyaan Cie Kiat. Melihat hal ini, Cie Kiat jadi heran berbareng curiga.

Dia jadi mau mengambil kesimpulan apakah si pengemis ini tuli pendengarannya?!

Cepat-cepat dihadangnya lagi.

“Lo-peh...... kemanakah jurusan untuk menuju ke Liong-gak-chung?” tanya Cie Kiat kembali. Dia memanggil orang dengan sebutan Lo-peh, yang berarti paman.

Pengemis itu mengangkat kepalanya, dia menatap Cie Kiat lama sekali, dengan biji mata yang memain tak berhentinya.

“Siapakah Kong-cu?” tanyanya kemudian.

Pengemis ini memanggil Cie Kiat dengsn sebutan Kong-cu, yang berarti tuan, untuk panggilan anak muda.

Cepat-cepat Cie Kiat merangkapkan kedua tangannya, dia memberi hormat kepada pengemis itu.

“Siauw-tee she Lie dan bernama Cie Kiat!” menerangkan anak muda she Lie itu, dan dia juga sambil menjura begitu, sengaja dia mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, yang menyambar kearah si pengemis.

Sengaja Cie Kiat melakukan hal itu, karena dia melihat gerak-gerik si pengemis ini lain dengan pengemis-pengemis biasanya, dan dia ingin mengujinya apakah pengemis ini mengerti ilmu silat atau tidak.

Si pengemis seperti juga tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diuji oleh pemuda she Lie itu.

Dia membungkukkan tubuhnya menjura juga kepada Cie Kiat.

“Maaf! Maaf Lie Kong-cu..... ada keperluan apakah Kong-cu menghadang perjalananku?” tanyanya. Dan dengan berbuat begitu, dengan membungkuk memberi hormat kepada Cie Kiat, tenaga serangan Lwee-kang Cie Kiat jadi punah.

Hati Cie Kiat jadi tercekat juga, karena biasanya, biarpun orang liehay sekali, kalau menyambut serangan tenaga Lwee-kang yang dilancarkan olehnya seperti tadi, pasti orang itu akan tergoncang tubuhnya atau setidak-tidaknya akan terhuyung mundur beberapa langkah.

Namun pengemis ini sedikitpun tidak bergeming tubuhnya.

Hal ini menandakan betapa tingginya tenaga dalam dari pengemis tersebut. Maka dari itu Cie Kiat juga tidak berani memandang rendah kepada pengemis

ini. “Siauw-tee ingin menanya sedikit kepada Lo-peh :” kata Cie Kiat cepat. “Kearah manakah harus kita tempuh untuk menuju ke Liong-gak-chung?”

“Jadi Lie Kong-cu ingin menuju ke Liong-gak-chung?” tanya si pengemis itu dengan mengerutkan sepasang alisnya.

Cie Kiat mengangguk. “Ya. !” dia menyahuti.

Si pengemis mengangguk-anggukkan kepalanya, alisnya tetap berkerut, dia juga memandangi si anak muda dengan mata yang tajam sekali.

Kemudian dia baru berkata : “Apakah Kong-cu tahu bahwa di Liong-gak-chung dua hari lagi akan ada keramaian?”

Cie Kiat jadi heran.

“Keramaian apakah Lo-peh?” tanyanya dengan cepat.

Si pengemis kembali menatapi Cie Kiat dengan pandangan mata yang tetap tajam.

“Apakah benar-benar Kong-cu tidak mengetahui keramaian apa yang akan diadakan disana?” tanyanya seperti juga dia tidak mempercayai perkataan Cie Kiat tadi.

Cie Kiat mengangguk dengan pasti.

“Benar Lo-peh..... aku tidak mengetahui bahwa dua hari lagi dikampung Liong- gak-chung itu akan diadakan keramaian! Dan kalau boleh Siauw-tee mengetahui, keramaian apakah yang akan diadakan disana?”

Si pengemis kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dikampung itu akan diadakan Pie-bu”, dia menerangkan. “Pie-bu itu diadakan oleh Siang Wang-gwee untuk memungut seorang mantu yang mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi!!”

“Oh, keberanian itu sudah biasa!” kata Cie Kiat tertawa setelah mendengar keterangan si pengemis.

“Benar! Kalau memang hanya Pie-bu untuk memilih menantu sudah biasa, tetapi disamping itu juga akan diadakan suatu sayembara, siapa yang dapat memenangkan pertandingan didalam Pie-bu itu, akan memperoleh selembar peta penyimpanan harta yang tidak ternilai harganya!”

Cie Kiat jadi mengeratkan alisnya.

“Jadi Pie-bu memilih menantu dan memperebutkan peta harta itu kedua-duanya diadakan oleh Siang Wang-gwee?” tanya Cie Kiat.

Pengemis itu menganggu.

“Benar.....!” menyahuti si pengemis. “Dan itulah sebabnya pada hari-hari belakangan ini banyak berdatangan anak-anak muda kekampung Liong-gak-chung untuk mengadu nasib, sebab kalau sampai terpilih sebagai menantu dari Siang Wang- gwee. Berarti dia akan segera menjadi kaya raya!”

Cie Kiat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.

“Tetapi aku tidak mempunyai minat untuk memperebutkan kedudukan menantu Siang Wang-gwee itu, Lo-peh!” kata Cie Kiat sambil tertawa. “Aku hanya ingin mengunjungi kampung itu untuk mengurus suatu persoalan!!”

Si pengemis jadi heran mendengar perkataan Cie Kiat.

“Apakah kau benar-benar tidak ingin memperebutkan kedudukan menantu Siang Wang-gwee itu?” tanya seperti juga dia tidak percaya akan kata-kata si anak muda she Lie itu. “Biasanya. jangan kata anak-anak muda seperti kau, sedangkan kakek-

kakek seperti aku ini banyak juga yang berdatangan untuk mengadu nasib! Kau tahu, Siang Sio-cia, nona Siang sangat cantik sekali!!”

Cie Kiat hanya tertawa tawar.

“Tetapi hatiku tidak tertarik pada persoalan itu Lo-peh!” katanya dengan cepat. “Dan, kemanakah jurusan untuk menuju kekampung Liong-gak-chung?”

Si pengemis menunjuk dengan tongkatnya.

“Kau jalan terus mengikuti jalan ini, dan setelah kurang lebih sepuluh lie, kau menuruni sebuah lembah, dikaki lembah itulah kau akan menemui sebuah kampung yang besar, kampung Liong-gak-chung yang sedang kau cari itu!” menerangkan si pengemis.

“Terima kasih Lo-peh!” kata Cie Kiat sambil melompat keatas kudanya.

Si pengemis tertawa dingin waktu dia melihat anak muda she Lie itu telah berlari.

Dia merogoh sakunya mengeluarkan selembar kain, disitu dia membikin sebuah lukisan bunga.

Disamping lukisan bunga yang baru dibuatnya itu, telah terdapat tujuh belas lukisan bunga lainnya.

“Hmm..... sudah tujuh belas orang yang terlebih dahulu datang ke Liong-gak- chung, dan anak muda tadi termasuk yang kedelapan belas!” dan si pengemis kembali tertawa dingin berulang kali.

Dimasukkan kembali kain itu kedalam sakunya, dia mulai berjalan lagi dengan langkah yang gontai, dengan dibantu oleh tongkatnya.

Sedangkan mulutnya tetap mengoceh menyanyikan lagunya yang tidak keruan. “Tung tung tung, si pengemis membawa tempurung. Burung gagak terbang

mencari makan, jenderal pergi berperang, rakyat kecil bekerja keras mencari makan,

semuanya ingin mengisi perut, tung tung tung....” dan langkah kaki si pengemis yang gontai itu semakin cepat, suara nyanyiannya semakin terdengar jauh samar sekali......

* * *

LIE CIE KIAT membedal kudanya dengan cepat, dia ingin cepat-cepat tiba dikampung Liong-gak-chung.

Dikampung ini dia harus membunuh seseorang, yaitu seorang penjahat besar. Perintah itu adalah perintah gurunya harus ditaati artinya, sebelum Cie Kiat turun gunung. Su-hunya pernah berpesan, agar dia mendatangi kampung Liong-gak-chung untuk membunuh seorang penjahat besar yang bernama Liang Ban Cen.

Didalam waktu yang sangat cepat sekali. Cie Kiat telah melalui sepuluh lie lebih dan dia melihat memang benar disitu terdapat sebuah lembah, seperti apa yang dikatakan oleh si pengemis tadi.

Cepat-cepat Cie Kiat menuruni lembah itu.

Kuda putihnya itu. Pek-ma sangat penurut sekali juga sangat gesit luar biasa, disamping tenaga yang sangat kuat sekali.

Dan disamping itu, disamping melakukan tugasnya untuk membunuh penjahat besar yang bernama Liang Ban Cen, Cie Kiat juga jadi tertarik untuk menyaksikan keramaian yang akan berlangsung dikampung tersebut.

Dia ingin melihat perebutan kedudukan menantu bagi Siang Wang-gwee.

Lagi pula, Cie Kiat juga ingin melihat rupa dari Siang Sio-cia, yang dikatakan oleh si pengemis sangat cantik itu.

Hanya beberapa lie saja, akhinya Cie Kiat sampai juga dikampung Liong-gak- chung.

Kampung ini ternyata cukup ramai.

Waktu Cie Kiat sedang memasuki kampung ini, tampak disebelah utara pintu kampung itu, orang sedang sibuk menghiasi sebuah Lui-thay, sebuah panggung untuk orang Pie-bu.

Cie Kiat menduga bahwa gedung yang ada didekat Lui-thay itu tentunya gedung Siang Wang-gwee, karena tampaknya sangat ramai sekali.

Cie Kiat menuju kesebuah rumah penginapan yang terdapat tidak jauh dari situ.

Dia menyerahkan Pek-ma, kuda putihnya itu, kepada seorang pelayan rumah penginapan itu, dan meminta sebuah kamar untuknya.

Tetapi waktu Cie Kiat akan menaiki undakan tangga, pundaknya disenggol oleh seseorang yang sedang menuruni tangga itu.

Tampaknya orang itu menyenggolkan pundaknya pada pundak Cie Kiat tanpa sengaja, tetapi Cie Kiat tahu bahwa orang itu sedang mencoba dirinya.

Tenaga sentuhan pundak orang itu sangat kuat sekali, coba kalau memang orang yang ditubruknya itu orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat, tentu akan terpental terpelanting terguling dari undakan tangga itu. Untung saja yang disentuhnya itu adalah Cie Kiat, yang mempunyai kepandaian tinggi dan kosen sekali, maka senggolan orang yang mengandung tenaga Lwee-kang tidak menyebabkan Cie Kiat jadi terbanting.

Hati Cie Kiat jadi mendongkol.

Baru saja orang itu mau cepat-cepat pergi, Cie Kiat telah mengulurkan tangannya mendorong pundak orang itu.

Dorongan Cie Kiat bukan sembarangan dorongan.

Dorongan tangan Cie Kiat itu mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat sekali, karena anak muda she Lie ini telah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya tiga bagian pada telapak tangannya.

Orang itu terkejut waktu merasakan menyambarnya angin serangan pada pundaknya, tetapi belum sempat dia mengelakkan, tahu-tahu punggungnya sudah kena didorong, sehingga tanpa ampun lagi orang itu jadi terjerunuk, dan jatuh terguling dari undakan anak tangga, terbanting keras dilantai.

Orang-orang yang ada diruangan itu jadi menoleh semuanya, dan mereka datang mengerumun.

Cie Kiat sendiri telah menghampiri.

Orang yang terbanting keras itu telah merangkak bangun, dan Cie Kiat dapat melihat bahwa muka orang itu sangat bengis sekali.

Cambang bauknya tampak tambah lebat sekali diwajahnya.

Dengan pancaran mata yang gusar, orang itu mendelik kepada Cie Kiat. Sambil tertawa Cie Kiat mendekati orang itu.

“Tuan turun dari tangga itu terlalu kesusu, sehingga jatuh....!” kata Cie Kiat tetap tertawa. “Lain kali makanya berlakulah sedikit hati-hati!”

Dan setelah berkata begitu, Cie Kiat memutar tubuhnya menaiki tangga itu lagi.

Orang itu tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengawasi Cie Kiat dengan pandangan mata yang bengis sekali, penuh oleh rasa dendam.

Setelah si anak muda she Lie masuk kedalam kamarnya, orang itu cepat-cepat memutar tubuhnya dan keluar dari rumah penginapan tersebut, dan menghilang dijalanan.

Cie Kiat merebahkan dirinya dipembaringan.

Dia jadi heran, mengapa orang itu tadi ingin mencoba dirinya dengan menyentuhkan pundaknya pada pundak Cie Kiat?!

Siapakah orang itu?

Dan, apa lagi maksudnya dia melakukan hal itu?

Kalau dilihat dari wajahnya, orang itu bukan termasuk orang baik-baik. Juga tentunya orang itu tidak bermaksud baik kepada Cie Kiat pancaran matanya tidak mengandung maksud baik terhadap pemuda she Lie itu.

Tetapi Cie Kiat tidak mau terlalu memusingkan persoalan orang itu.

Dia memejamkan matanya dan ingin beristirahat sesaat, guna memulihkan tenaganya, agar malam ini juga dia bisa melakukan tugasnya guna merampas jiwa dari perjahat besar yang bernama Liang Ban Cen itu.

Tetapi sedang si pemuda she Lie ini beristirahat, dia mendengar diluar suara ribut-ribut.

Mulanya suara ribut-ribut itu tidak menarik perhatian Cie Kiat tetapi akhirnya dia jadi tertarik juga, sebab dia mendengar ada yang berteriak. “Mana......?! Mana pelajar bau itu? Hu, hari ini tanganku memang sudah gatal ingin membunuh orang!!!”

Perlahan-lahan dan tenang Cie Kiat turun dari pembaringan.

Dia menghampiri pintu kamarnya, dibukanya dan dia berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang tenang.

Dilihatnya diruangan bawah telah ada beberapa orang yang mempunyai tampang semuanya sebagai buaya darat. Tamu-tamu dipenginapan tersebut telah bubar, semuanya bersembunyi didalam kamar masing-masing.

Salah seorang diantara orang-orang itu melihat Cie Kiat. “Lihat! Orang itu bukan?” teriaknya.

Semua kawan-kawannya yang berjumlah delapan orang menoleh kearah Cie

Kiat.

Anak muda she Lie yang mempunyai mata tajam sekali dapat melihat diantara

orang-orang itu terdapat orang yang tadi menubruknya waktu dia mau menaiki anak tangga itu.

“Hmm..... rupanya dia datang membawa kawan-kawannya untuk membalas sakit hatinya!” pikir Cie Kiat.

Sedangkan orang yang tadi telah kena dibikin malu oleh Cie Kiat telah melihat anak muda she Lie itu, dia berteriak dengan suara yang keras : “Benar! Dialah pelajar busuk yang telah mencari gara-gara denganku!”

Dengan cepat kesembilan orang itu meluruk kearah Cie Kiat, mereka beramai- ramai menaiki tangga itu.

Cie Kiat tertawa dingin.

Dia melompat turun dari atas loteng itu dengan tubuh yang ringan sekali, dan dengan sendirinya dia telah berada diruangan bawah.

Orang-orang itu jadi merandek sejenak, tetapi akhirnya dengan mengeluarkan teriakan-teriakan yang ribut, kesembilan orang itu berlomba untuk turun kembali.

Cie Kiat berdiri dengan tenang, menantikan kedatangan kesembilan orang itu. “Hmmm, buaya darat ini semuanya harus dihajar!” pikir Cie Kiat. “Aku harus memberi pelajaran yang lumayan kepada mereka agar lain kali mereka tidak terlalu mengumbar kejahatan mereka!!”

Sedang si anak muda she Lie ini berpikir begitu, kesembilan orang yang ingin mengeroyoknya telah sampai didekatnya.

Beramai-ramai mereka menyerang Cie Kiat.

Tetapi Cie Kiat sangat tenang sekali, tubuhnya tahu-tahu berkelebat-kelebat dengan cepat.

Setiap Cie Kiat menggerakkan tangannya maka terdengar suara menjerit kesakitan dari salah seorang pengeroyoknya.

Dan dalam waktu yang sangat singkat sekali, sudah tampak Cie Kiat berdiri dipinggir ruangan itu dengan tenang, sedangkan kesembilan pengeroyoknya telah menggeletak dalam keadaan terluka.

Mereka menderita bermacam-macam luka yang membikin mereka menjerit-jerit tak hentinya. Ada yang patah tangannya, ada yang patah kakinya, ada yang tulang rusuknya rusak terhajar oleh kepalan tangan Cie Kiat.

“Hmmm macam kalian ini ingin mengeroyok diriku?” ejek Cie Kiat dengan

suara yang tawar. “Apakah kalian tidak mau cepat menggelinding pergi dari sini? Apakah perlu kutambah lagi?”

Kesembilan orang itu menatap Cie Kiat, dengan pandangan mata yang beringas. Rupanya mereka sangat mendendam sekali.

Tetapi mereka tidak berani untuk maju lagi.

Mendengar perkataan Cie Kiat mereka jadi saling berebutan berlari keluar. Didalam waktu yang sangat singkat, ruangan itu telah sepi kembali.

Tamu-tamu dirumah penginapan itu baru berani keluar, mereka memuji-muji keliehayan anak muda she Lie itu, yang dalam waktu yang sangat singkat telah dapat merubuhkan kesembilan buaya darat yang sangat terkenal kejahatannya dikampung ini.

Cie Kiat tidak mau melayani pujian-pujian dari orang-orang itu, dia telah masuk kedalam kamarnya lagi.

Untuk menantikan sang malam, maka Cie Kiat tidur beberapa jam, agar semangatnya nanti terkumpul penuh, guna menghadapi Liang Ban Cen, penjahat besar yang harus dibunuhnya menurut perintah Su-hunya. !

  

MALAM ITU dikampung Liong-gak-chung sangat sunyi sekali, karena semua orang lebih banyak telah bersembunyi didalam selimut yang tebal dan tertidur nyenyak didalam kamar masing-masing.

Tetapi diantara kesunyian malam itu, tampak sesosok bayangan putih yang berkelebat-kelebat digenting rumah penduduk dengan gerakan yang gesit sekali.

Dia menuju kearah selatan kampung itu.

Waktu sampai dimuka sebuah gedung yang besar, bayangan itu berhenti sesaat, dia memandang sekitar tempat itu.

Awan yang menutupi rembulan bergeser, sehingga cahaya rembulan yang terang itu menerangi wajah sosok bayangan putih tersebut.

Ternyata orang itu adalah Lie Cie Kiat, pemuda pelajar yang berpakaian serba putih.

Tadi sore dia telah menyelidiki letak rumah gedung dari Liang Ban Cen, dan dia telah mengetahui letak dari gedung itu.

Keadaan gedung Liang Ban Cen sangat sunyi sekali, juga tidak ada seorang manusia disekitar tempat itu.

Tetapi sebagai seorang yang menerjunkan dirinya didalam kalangan Kang-ouw, mau tak mau Cie Kiat harus berlaku selalu waspada.

Setelah mengawasi sekitar tempat itu dan memperoleh kenyataan bahwa tidak ada manusia disekitarnya, Cie Kiat mengenjotkan tubuhnya keatas dinding.

Dari dinding itulah dia memasuki gedung yang sangat besar dan mewah itu. Didalam gedung tersebut juga sangat sepi sekali.

Dia menuju kearah sebuah kamar yang masih ada penerangannya. Cie Kiat menggunakan lidahnya untuk memecahkan kertas jendela. Dia mengintip kedalam kamar melalui lobang yang dibuatnya itu.

Tampak didalam kamar tersebut dua orang bertubuh tinggi besar dan bermuka menyeramkan sekali.

Begitu melihat kedua orang itu, Cie Kiat jadi tertawa dingin didalam hatinya.

Ternyata kedua orang itu adalah dua orang pengeroyoknya dirumah penginapan pada siang tadi.

Malah yang seorang, yang mempunyai muka menyeramkan sekali, yang cambang bauknya lebat, adalah orang yang telah menubruknya di anak tangga rumah penginapannya. Cie Kiat mengambil sebutir batu, dilemparkan batu itu, sehingga menimbulkan suara yang nyaring.

Kedua orang itu, yang tampaknya sedang melakukan tugas menjaga keamanan gedung itu, mendengar suara timpukan batu yang dilemparkan Cie Kiat.

Cepat-cepat kedua orang itu menyembat senjata mereka dan keluar dari dalam kamar.

Mata mereka mencilak memain mengawasi taman itu, yang tidak tampak seorang manusiapun, karena Cie Kiat telah bersembunyi dibelakang sebuah gunung- gunungan.

Kedua orang itu penasaran sekali, mereka mencari-cari terus.

“Lo-kiu...... barangkali terlalu was-was, sebetulnya suara itu mungkin dari kucing yang melompat melalui dinding.” kata salah seorang diantara kedua orang itu.

Kawannya yang dipanggil Lo-kiu, yang berberewok lebat itu menggelengkan kepalanya.

“Kita tidak boleh berlaku ceroboh, Lo-ma!” katanya. “Tadi jelas-jelas kita mendengar suara timpukan batu, pasti ada orang yang ingin memancing kita! Kita harus waspada!”

Sedang dia berkata begitu, tahu-tahu telah berkelebat dihadapan mereka sesosok bayangan putih, yang tahu-tahu telah berdiri menjeglek didepan kedua orang ini.

Lo-ma dan Lo-kiu kaget sekali, mereka mengawasi untuk melihat rupa orang. Begitu melihat wajah orang yang berdiri dihadapan mereka, yang tidak lain dari

Cie Kiat, keduanya jadi mengeluarkan jeritan tertahan.

Mereka kaget tidak kepalang.

Karena mereka telah merasakan keliehayan Cie Kiat.

Seperti telah berjanji, keduanya tahu-tahu memutar tubuh mereka untuk melarikan diri, sedang mulut mereka hampir terpentang untuk berteriak meminta pertolongan kepada kawan-kawan mereka.

Tetapi Cie Kiat dapat bergerak cepat.

Belum lagi kedua orang itu sempat melarikan diri dan berteriak, dia telah mengulurkan kedua tangannya, dan tubuh kedua orang itu jadi terjungkel rubuh, karena mereka telah tertotok.

Cie Kiat mencengkeram baju Lo-kiu.

“Dimana kamar Liang Ban Cen?” bentaknya dengan suara yang bengis. Lo-kiu dan Lo-ma jadi ketakutan sekali, mereka jadi tergugu.

“Sekali saja kau berteriak, akan habislah riwayat kalian!” ancam Cie Kiat. “Cepat katakan dimana kamar Liang Ban Cen!”

“Siauw-jin Siauw-jin tidak tahu!” kata Lo-kiu dengan ketakutan. Lo-kiu juga membahasakan dirinya dengan sebutan Siauw-jin, suatu kata-kata yang terlalu merendah, yang berarti si budak.

Cie Kiat tertawa dingin.

“Apakah kalian mau kusiksa dulu baru mau membuka mulut?” bentak Cie Kiat dengan suara yang bengis.

Lo-kiu dan Lo-ma jadi ketakutan.

“Aku bicara! Aku mau bicara!” kata Lo-ma dengan ketakutan, karena dia memang telah merasakan kehebatan tangan si pelajar she Lie ini.

“Cepat sebutkan!” bentak Cie Kiat dengan suara yang bengis.

“Dibelakang geduag ini terdapat sebuah ranggon, dan disebelah kanannya itu terdapat sebuah kamar itulah kamar dari Liang Toa-ya!!” kata Lo-ma dengan cepat.

“Hmmm...... kalian jangan coba-coba main-main dengan diriku, kalau memang kau berdusta, hmmm, aku akan balik lagi untuk mencabut jiwa kalian!” dan setelah berkata begitu Cie Kiat menotok jalan darah kedua orang ini, sehingga mereka tidak bisa bergerak dan berteriak.

Lo-ma dan Lo-kiu ditinggal oleh Cie Kiat mengeletak ditanah. Cie Kiat sendiri telah menuju kebelakang gedung itu.

Benar saja, waktu dia sampai dibelakang itu dilihatnya ada sebuah ranggon yang indah.

Cie Kiat mencari-cari yang disebutkan Lo-ma. Dilihatnya kamar itu sangat gelap sekali.

Cie Kiat tertawa dingin, dia menggenjotkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat lompat keatas genting.

Tetapi baru saja Cie Kiat sampai diatas genting itu, terdengar suara yang menyeramkan dari dalam kamar itu : “Mengapa datang seperti seorang Siauw-cut! Kalau memang seorang lelaki seorang Ho-han, masuklah!”

Cie Kiat tertawa dingin.

“Jangan bicara tekebur orang she Liang hari ini adalah hari kematianmu!” kata Cie Kiat. “Keluarlah untuk menerima kematianmu!!”

Cie Kiat berkata begitu, karena dia menduga bahwa yang berkata itu tentu Liang Ban Cen.

Dulu gurunya memang pernah mengatakan, bahwa Liang Ban Cen mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, sukar diukur, dan Su-hunya berpesan bahwa Cie Kiat harus berlaku hati-hati.

“Hmmm...... rupanya kau memang mencari mampus berani memasuki sarang macan!” terdengar suara yang menyeramkan itu, disusul kemudian dengan suara ‘braakkk!’ suara terbukanya daun jendela. Tampak sesosok tubuh keluar dari dalam kamar itu dengan gerakan yang gesit sekali.

Cie Kiat juga melompat turun dari atas genting itu. Mereka jadi berdiri saling berhadapan.

Cie Kiat melihat bahwa orang yang bernama Liang Ban Cen itu mempunyai potongan muka segi empat, bengis sekali, dan bertubuh agak pendek.

Waktu melihat Cie Kiat, orang she Liang itu tertawa menyeramkan.

“Oh rupanya kau pelajar bau yang telah menghajar anak buahku?” bentaknya. Cie Kiat tertawa tawar.

“Ya...... Hak-seng yang telah menghajar orang-orangmu!” katanya dengan suara yang dingin. Sengaja dia membahasakan dirinya dengan sebutan Hak-seng, aku si murid.

Mata Ban Cen mencilak bengis.

“Bagus! Bagus! Rupanya kau mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma dan sengaja mencari mampus!” kata Ban Cen dengan suara yang menyeramkan. “Tinggalkan namamu, agar nanti kau tidak binasa secara penasaran!”

Cie Kiat mendongkol melihat sikap orang yang tekebur begitu. Dia tidak senang melihat kecongkakan orang.

“Namaku tidak berharga untuk kau dengar!” katanya dengan tawar. “Tetapi karena kau telah menanyakan dan kalau memang kau binasa tanpa mengetahui namaku, tentu kau akan penasaran sekali, baiklah, aku akan memberitahukannya! Dengarlah baik-baik, nama tuan besarmu ini Cie Kiat dan she Lie!!”

Betapa gusarnya Ban Cen, tubuhnya sampai menggigil.

“Pelajar setan!” bentaknya dengan bengis, dan tangan kanannya yang mencekal sebatang ruyung telah bergerak dengan kecepatan yang luar biasa akan mengemplang kepala Cie Kiat.

Tetapi mata Cie Kiat sangat jeli, dia dapat melihat gerakan lawannya itu.

Dengan cepat Cie Kiat menggeser kaki kirinya kesamping dan kemudian mengibaskan lengan jubahnya.

Dengan begitu, ruyung Ban Cen jadi jatuh pada tempat kosong, dan tahu-tahu ruyungnya itu akan dilibat oleh lengan jubah si pelajar she Lie ini.

Ban Cen jadi tersikap hatinya, dia cepat-cepat menarik pulang ruyungnya. Mereka jadi berdiri saling berhadapan lagi.

“Hari ini adalah saat kematianmu!” kata Cie Kiat dengan suara dingin. “Bukankah kau akan menerima kematianmu dengan puas? Aku sengaja mau membunuhmu karena kejahatan yang kau lakukan telah luber melewati takerannya! Hmmm dosa-dosamu sudah tidak terampunkan lagi!” Mendengar perkataan Cie Kiat muka Ban Cen jadi berubah merah padam.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras. Ban Cen kembali menyerang dengan ruyungnya.

Kali ini Ban Cen menyerang dengan jurus yang berangkai, dari dua jurusan. Dia mengincer dada dan perut Cie Kiat.

Cie Kiat mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Hmmm....... ternyata kepandaianmu tidak seberapa!” kata Cie Kiat mengejek untuk membangkitkan kegusaran orang she Liang itu.

Dan sambil berkata begitu, Cie Kiat juga bergerak dengan cepat.

Kedua tangannya itu menyentil kedua jurusan dan terdengar suara ‘tring-tring’ dua kali, ruyung Ban Cen terpental, dan orang she Liang itu merasakan telapak tangannya pedih sekali.

Setelah itu Cie Kiat tidak tinggal diam, dengan terdengarnya suara ‘sreeetttt!’ ditangan Cie Kat telah tergenggam pedangnya!

Biasanya Cie Kiat paling jarang sekali menggunakan pedangnya yang tersimpan rapih dibalik jubah pelajarnya itu, dia tidak akan menggunakan pedangnya kalau memang dia tidak bermaksud untuk mengambil jiwa lawannya!

Dan sekarang, karena dia memang ingin merampas jiwa Ban Cen, dia jadi menggunakan pedangnya itu!

Melihat Cie Kiat telah mencabut pedangnya, wajah Ban Cen jadi berubah. Dia tadi telah melihat betapa gesit dan liehaynya anak muda she Lie ini.

Dari beberapa gebrakan itu saja Ban Cen telah mengetahui bahwa kepandaiannya masih berada disebelah bawah anak muda she Lie tersebut.

Dengan sendirinya hati orang she Liang itu jadi agak tergoncang.

Tetapi Ban Cen adalah seorang Ok-pak yang jahat dan kejam terhadap orang- orang lemah, maka dia sudah biasa menghadapi segala persoalan dengan keinginan menang diatas angin.

Maka menghadapi Cie Kiat kali inipun dia tidak mau memperlihatkan rasa jerinya itu.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang luar biasa kerasnya, Ban Cen telah melompat tinggi sekali, dan ruyungnya bergerak ketika jurusan mengincer pundak, kepala dan dada si pemuda she Lie ini.

Cie Kiat tidak bergerak dari tempatnya dia menantikan sampai serangan orang hampir tiba.

Dan dengan suara kecepatan yang luar biasa sekali, disaat serangan Ban Cen hampir mengenai dirinya, Cie Kiat bergerak melesat kekamar, pedang melintang dengan kecepatan tidak terduga, tahu-tahu Ban Cen ambruk ditanah dengan perut yang pecah dan isi perut yang berhamburan ditanah!! Ternyata tadi waktu tubuh Ban Cen sedang meluncur turun, Cie Kiat telah mencuatkan mata pedangnya, pada perut Ban Cen, yang menyebabkan orang she Liang itu terbeset perutnya oleh ujung pedang Cie Kiat.

Tampak Cie Kiat sedang menyeka pedangnya, dan memasukan kedalam sarungnya pula.

Dengan begitu berakhirlah riwayat seorang Ok-pak. Dan untuk seterusnya kampung Liong-gak-chung akan aman.

Dengan mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuh Cie Kiat melesat keatas genting, dan melalui genting-genting penduduk, Cie Kiat kembali kerumah penginapannya.

Dan, malam itu Cie Kiat tertidur nyenyak.

*

* *

KEESOKAN HARINYA kampung Liong-gak-chung digemparkan dengan berita terbinasanya Liang Ban Cen.

Berita itu disambut dengan gembira oleh penduduk kampung Liong-gak-chung, karena Liang Ban Cen terkenal seorang Ok-pak yang paling jahat.

Dengan terbunuhnya Ok-pak she Liang itu, maka penduduk kampung Liong- gak-chung dapat hidup lebih tenang.

Sedangkan Cie Kiat tidur sampai menjelang tengah hari baru terbangun!

Dia cepat-cepat mencuci muka dan menyalin pakaiannya. Kemudian Cie Kiat mencari sebuah rumah makan, dia sarapan, dan setelah mengisi penuh perutnya, Cie Kiat berjalan-jalan mengelilingi kampung yang besar tersebut.

Dia juga menuju kepintu utara dari kampung itu.

Didepan gedung Siang Wang-gwee yang tampaknya sangat ramai itu, karena para tamu telah berdatangan dan menginap ditempat yang sengaja disediakan oleh Siang Wang-gwee, Cie Kiat berhenti sesaat, dan mengawasi orang-orang yang sedang merapihkan panggung Lui-thay yang akan digunakan malam ini.

Sedang Cie Kiat berdiri disitu mengawasi kemewahan gedung Siang Wang- gwee, tampak sebuah kereta berhenti dimuka gedung tersebut.

Si anak muda she Lie jadi tertarik, dia mengawasi kereta itu.

Tampak dari dalam kereta keluar seorang gadis yang memakai gaun merah dan wajahnya sangat cantik sekali.

Melihat kecantikan gadis itu, Cie Kiat sampai berdiri terpaku, mengagumi kecantikan gadis tersebut.

Alis gadis itu yang menyerupai bulan sabit, dan matanya yang gemerlapan seperti bintang bertaburan, bibirnya yang merekah dan potongan tubuhnya yang gemulai indah itu, menyebabkan semangat Cie Kiat seperti terbetot. Apa lagi entah disengaja atau tidak gadis itu menoleh kepada Cie Kiat dan tersenyum sejenak.

Semangat Cie Kiat seperti terbang.

Waktu gadis itu masuk kedalam gedung Siang Wang-gwee, Cie Kiat masih berdiri terpaku ditempatnya, dia masih mengawasi kearah pintu gedung dimana tadi si gadis menghilang.

Lama Cie Kiat berdiri disitu, menantikan kalau-kalau gadis bergaun merah itu keluar kembali.

Tetapi sampai mendekati senja, gadis itu masih belum juga keluar.

Kereta yang ditumpangi gadis itu sejak tadi telah meninggalkan gedung Siang Wang-gwee.

Akhirnya dengan lesu Cie Kiat kembali ke rumah penginapannya.

Sejak kembali dari depan gedung Siang Wang-gwee itu, bayang-bayang gadis bergaun merah yang memasuki gedung Siang Wang-gwee selalu saja terbayang didepan mata Cie Kiat, sangat mengganggu hati anak muda she Lie tersebut.

Akhirnya, Cie Kiat mengambil keputusan, malam ini dia akan mengunjungi gedung Siang Wang-gwee, agar dapat melihat dan menikmati kecantikan gadis bergaun merah yang telah dapat membetot semangatnya. !

*

* *

MENJELANG MALAM gedung Siang Wang-gwee sangat terang menderang.

Juga tamu-tamu yang berdatangan tak hentinya, sehingga ruangan tengah taman gedung Siang Wang-gwee yang memang sengaja disediakan untuk menampung tamu-tamu itu hampir tak cukup.

Lui-thay yang didirikan disamping gedung juga dihiasi oleh kain-kain merah kecil dan api penerangan yang terang menderang.

Siang Wang-gwee sendiri yang menerima dan menyambut setiap tamu-tamunya.

Diantara tamu-tamu yang berdatangan itu, tampak seorang pelajar yang berpakaian serba putih dan bermuka tampan.

Siang Wang-gwee menyambut kedatangan pelajar berbaju putih itu dengan ramah.

Tetapi setelah mengeluarkan beberapa patah perkataan, Siang Wang-gwee meminta maaf kepada pelajar itu untuk menyambut tamu yang lainnya.

Didalam pandangan mata Siang Wang-gwee bahwa pemuda pelajar berbaju putih itu tentunya murid dari seorang guru silat dan datang kegedungnya ini juga untuk ikut mengadu nasib. Maka dari itu tidak begitu diperhatikan oleh Siang Wang- gwee. Dan orang-orang Siang Wang-gwee juga memberikan tempat untuk Siu-chay itu pada deretan anak-anak muda yang akan ikut memperebutkan kedudukan untuk menjadi menantu Siang Wang-gwee.

Sebetulnya, kalau memang Siang Wang-gwee mengetahui siapa sebenarnya pelajar itu, tentu dia akan memperlakukannya lebih hormat lagi.

Dialah Lie Cie Kiat.

Tetapi Cie Kiat sangat tenang dan ramah sekali, dia tidak berkecil hati Siang Wang-gwee menyambut dirinya hanya dalam waktu yang begitu pendek.

Dia memaklumi bahwa Siang Wang-gwee tentu sedang repot menyambut tamu- tamu lainnya.

Dia duduk dikursi yang diperuntukkan bagi dirinya.

Anak-anak muda lainnya yang sudah datang terlebih dahulu, semuanya memandang ke arah Cie Kiat dengan pandangan mata mengiri, sebab mereka melihat wajah Cie Kiat sangat tampan sekali, sehingga mereka merasa kecil diri.

Cie Kiat tidak melayani tatapan mata dari anak-anak muda itu, dia hanya mengawasi tenang kearah Lui-thay.

Para tamu yang berdatangan masih terus juga mengalir tak hentinya.

Semakin lama ruangan yang disediakan oleh Siang Wang-gwee semakin penuh sesak.

Semua yang menjadi tamu dari Siang Wang-gwee terdiri dari jago-jago silat berbagai golongan.

Mereka juga mempunyai muka yang berbeda-beda, ada yang bermuka simpatik, ada yang bermuka bengis dan bermacam-macam lagi.

Sejak memasuki ruangan itu, Cie Kiat sudah menyapu dengan menggunakan matanya seluruh ruangan itu, mencari-cari gadis bergaun merah.

Bagi para pendekar wanita yang ingin menyaksikan keramaian, disediakan tempat khusus untuk wanita, disebelah timur ruangan itu.

Tetapi dikelompok wanita itu, Cie Kiat juga tidak melihat gadis bergaun merah itu lagi.

Cie Kiat jadi tidak tenang, dia bergelisah sekali, ingin cepat-cepat dapat melihat dan menikmati wajah cantik yang dimiliki oleh gadis bergaun merah itu.

Tak lama kemudian, setelah sebagian besar para tamu telah berdatangan, maka tampak Siang Wang-gwee naik keatas Lui-thay dia menjura keseluruh penjuru.

“Hari ini adalah hari untuk mencari menantu dari aku si tua Siang Pay Kie, maka dengan rendah hati aku mempersilahkan anak-anak muda yang belum menikah untuk main-main puteriku didalam segi ilmu silat, kalau memang puteriku itu, Siang Kie Lan dapat dirubuhkan, maka orang itu akan menjadi menantuku! Tetapi ingat, sayembara memilih menantu ini hanya diperbolehkan bagi anak muda yang berusia paling tinggi dua puluh delapan tahun atau setinggi-tingginya tiga puluh tahun, sedangkan para golongan tua, hanya dapat menyaksikan keramaian saja. !”

Kata-kata Siang Wang-gwee itu disambut dengan suara tertawa dan sorak sorai yang ramai dari orang-orang yang memenuhi ruangan itu.

Siang Wang-gwee menoleh kesamping, dia mengapei tangannya. Tampak sesosok bayangan melompat keatas panggung.

Orang yang baru naik keatas panggung itu adalah seorang gadis yang memakai baju serba hijau, dia menghadap kedalam panggung, sehingga dia berdiri membelakangi orang-orang dibawah panggung.

“Nah kawan-kawan.... semuanya bisa menjadi saksi dari hari pemilihan menantuku ini!” kata Siang Wang-gwee lagi. “Dan kepada pemuda yang beruntung dapat mengalahkan ilmu silat puteriku ini, akan kuhadiahkan selembar peta harta yang tidak ternilai harganya!!”

Kata-kata Siang Wang-gwee ini kembali disambut meriah oleh orang-orang yang ada dibelakang panggung.

Lie Cie Kiat mengerutkan alisnya, dia serasa kenal dan pernah melihat puterinya Siang Wang-gwee ini, tetapi dia lupa, entah dimana, karena si gadis, Siang Kie Lan, berdiri agak miring kearah timur, sehingga tidak bisa melihat muka gadis itu.

Kalau dilihat dari potongan tubuhnya yang indah gemulai itu, tentu puteri Siang Wang-gwee ini mempunyai wajah yang cantik sekali.

Pada saat itu Siang Wang-gwee telah berkata lagi : “Sebetulnya aku malu untuk mengadakan sayembara pemilihan menantu ini, tetapi karena tabiat puteriku sangat buruk dan berhati sangat keras, terpaksa aku mengadakannya juga. Dia telah mengatakan kepadaku bahwa puteriku ini tidak akan mau tunduk kepada suami yang lebih rendah kepandaiannya! Maka dari itu, dengan jalan begini, Loo-hu, aku si tua, bisa memperoleh menantu yang berkepandaian lebih dari Lan-jie!!”

Dan setelah berkata begitu. Siang Wang-gwee menoleh kepada puterinya.

“Lan-jie, cepat kau memberi hormat kepada para Cian-pwee dan kawan- kawan!!” kata Siang Wang-gwee.

Siang Kie Lan, puteri Siang Wang-gwee memutar tubuhnya, dia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, tampak sikapnya agak malu-malu.

Cie Kiat hampir mengeluarkan seruan tertahan waktu dapat melihat muka Kie Lan dengan tegas.

Ternyata puteri Siang Wang-gwee itu adalah gadis bergaun merah yang dicari- carinya sejak tadi. Hanya bedanya sekarang puteri Siang Wang-gwee memakai baju yang serba hijau, sehingga Cie Kiat tidak lantas dapat mengenalinya. !

  

TAMPAK SIANG KIE LAN tersenyum manis sekali, dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada orang banyak, yang disambut dengan riuh sekali oleh suara pujian-pujian akan kecantikan yang dimiliki oleh gadis ini.

Tampaknya gadis tersebut bangga sekali, sedangkan Cie Kiat sendiri jadi seperti kesima menikmati kecantikan wajah Kie Lan.

Dia tidak menduga sebelumnya bahwa puteri Siang Wang-gwee adalah gadis yang bergaun merah, yang telah dapat membetot semangatnya, dan perkataan si pengemis yang dijumpainya ditengah jalan memang benar, jangankan anak-anak muda yang berlomba-lomba untuk memperoleh gadis ini, sedangkan kakek-kakek akan berlomba untuk memiliki gadis tersebut.

Matanya yang lentik dan indah itu, memancar bening, kedua alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, hidungnya yang bangir seperti juga buah Tho, dan bibirnya yang merekah, rambutnya yang panjang tergelung hitam legam itu, menambah kecantikan yang dimiliki oleh gadis tersebut.

Setelah sorak sorai agak rendah, tampak Siang Wang-gwee maju kedepan, tampaknya dia bangga sekali semua orang mengagumi kecantikan puterinya itu.

“Nah kawan dan saudara-saudara sekalian kata Siang Wang-gwee dengan suara yang nyaring. “Loo-hu kira lebih baik Pie-bu ini kita mulai saja, dan akan dimulai diurut dari nama yang terdaftar, nanti pemenang tunggalnya baru akan berhadapan dengan puteriku, kalau memang orang itu berhasil menundukkan puteriku tersebut, berarti mereka akan terangkap jodoh dan akan menjadi menantu keluarga Siang!”

dan setelah berkata begitu Siang Wang-gwee menoleh kepada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari panggung itu, yang mungkin juga bujang keluarga Siang tersebut.

“Kiam-jie, coba kau mulai bacakan nama orang yang akan maju Pie-bu untuk yang pertama!” kata Siang Wang-gwee kepada bujangnya itu, yang dipanggil Kiam- jie.

Kiam-jie mengangguk, dia maju ketengah panggung kemudian dengan suara yang lantang, disaat Siang Wang-gwee dan Kie Lan turun dari atas panggung. dia berkata : “Pie-bu akan segera dimulai dan orang yang memperoleh kehormatan untuk pembukaan Pie-bu ini adalah Oey Tiong Ho, berasal dari Hu-lam, dan berusia dua puluh empat tahun, melawan Sin Tiauw Jie, yang berasal dari Kwie-cu, berusia dua puluh dua tahun!! Silahkan maju!!”

Setelah berkata begitu, Kiam-jie menyingkir kesamping, sedangkan dari bawah telah melompat dua sosok tubuh keatas panggung.

Orang jadi bersorak ramai.

Kedua orang itu ternyata dua anak muda bertubuh kurus dan berpakaian sebagai seorang ahli silat. Wajah pemuda yang disebut Oey Tiong Ho, mempunyai muka yang keren, sedangkan pemuda yang seorangnya, yang dipanggil Sin Tiauw Jie, mempunyai muka biasa saja.

Keduanya segera saling memberi hormat setelah mereka berhadapan kemudian mereka menjura berbareng kearah bawah panggung memberi hormat kepada hadirin.

Kiam-jie telah berteriak lagi : “Pertandingan boleh dimulai, dan syarat yang harus diingat, pertandingan ini hanyalah untuk menguji kepandaian silat, maka kalau dapat jangan sampai terjadinya peristiwa berdarah.

Oey Tiong Ho mambawa sikap yang tenang, sedangkan Sin Tiauw Jie tampak agak gugup.

Tiong Ho mencabut sebatang pedang pendek, sedangkan Sin Tiauw Jie mencabut sebatang golok.

Mereka masing-masing merangkapkan kedua tangan mereka saling memberi hormat dengan jurus silat pertama dari pintu perguruan mereka masing-masing, kemudian tanpa banyak bicara, keduanya saling gebrak.

Pedang dan golok berkelebatan dengan cepat sekali, menyilaukan mata suara bentrokan senjata tajam itupun terdengar nyaring.

Orang-orang yang menyaksikan jadi memandang penuh perhatian.

Cie Kiat mengawasi sesaat pertandingan itu, tetapi dilihatnya kepandaian kedua orang yang sedang bertanding itu tidak begitu luar biasa, mungkin kalau dipakai untuk bertempur didalam kalangan Kang-ouw, anak-anak muda itu dengan cepat akan dipercundangkan lawannya!”

Apa lagi Tiong Ho tampaknya banyak sekali menjual lagak, setiap gerakan tubuhnya dibuat-buat, sehingga membikin Cie Kiat jadi mendongkol, mungkin juga dia ingin memperlihatkan kepada Siang Kie Lan, betapa gagahnya dia!

Suatu kali, dikala Sin Tiauw Jie menyerang dengan goloknya kearah dada Tiong Ho, maka anak muda she Oey itu telah mengeluarkan suara bentakan : “Lepas !”

disusul kemudian dengan suara ‘trang’ yang keras, tampak golok Sin Tiauw Jie terlepas dari cekalannya, jatuh gedombrangan dilantai Lui-thay itu.

Sin Tiauw Jie tampak berdiri kejang dengan muka yang pucat, rupanya dia kaget goloknya bisa dibikin terlepas oleh Tiong Ho.

Kiam-jie telah maju ketengah, dan berkata dengan suara yang lantang : “Pertandingan yang pertama kali ini dimenangi oleh Oey Tiong Ho, berasal dari Hu- lam dan berusia dua puluh empat tahun!!”

“Dan semua orang bersorak dengan ramainya, sedangkan Tiong Ho telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat dengan sikapnya yang bangga.

Sin Tiauw Jie telah melompat turun dari panggung setelah dia memungut goloknya kembali. Lesu sekali anak muda she Sin tersebut.

Kiam-jie pada saat itu telah berkata lagi : “Setiap para pemenang harus melawan seorang lagi, dan kalau memang pertandingan yang nomor dua ini dimenangkan oleh Oey Siauw-hiap, maka dia boleh beristirahat, untuk nanti maju lagi dikala pertempuran penentuan!!”

Dan Kiam-jie menoleh kepada kertas yang ada ditangannya.

“Kali ini yang akan menjadi lawan Oey Tiong Ho Siauw-hiap adalah Bu Tie dari Kang-say, berusia dua puluh enam tahun! Silahkan maju Bu Siauw-hiap!!”

Belum lagi suara Kiam-jie lenyap, tampak sesosok bayangan telah melompat keatas panggung dengan gerakan yang gesit sekali.

Ternyata anak muda yang disebut she Bu itu adalah seorang anak muda bertubuh kate, pendek sekali, sikapnya juga lucu.

“Harap Oey-heng berlaku sedikit murah hati kepada Siauw-tee......!” katanya dengan merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada Oey Tiong Ho.

Tiong Ho juga cepat-cepat membalas hormat orang. Dia mengeluarkan kata-kata merendah juga.

Setelah itu, keduanya mulai bersiap-siap akan bertempur.

Senjata Bu Tie adalah sepasang pedang, dia memutar-mutar kedua pedangnya sedemikian rupa, sehingga menyerupai kitiran.

Lalu dengan mengeluarkan suara bentakan tampak Bu Tie menyerang dengan hebat kepada Tiong Ho.

Tiong Ho terkejut melihat cara menyerang orang, tetapi dia tidak takut, karena memang anak muda she Oey ini sangat berani sekali. Maka dari itu dia juga mulai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silatnya.

Diluar mereka tampaknya saling menghormati, tetapi ternyata mereka sedang berlomba-lomba dengan sengit ingin merebut kemenangan, karena dengan memperoleh kemenangan, mereka bisa menjadi menantu Siang Wang-gwee, yang berarti memperoleh seorang isteri yang cantik sekali seperti Kie Lan.

Cie Kiat memandang kearah jalannya pertempuran, sekali pandang saja Cie Kiat telah mengetahui bahwa Tiong Ho akan kalah ditangan Bu Tie, karena kepandaian Bu Tie satu tingkat lebih tinggi dari Tiong Ho.

Dan memang sebenarnya, tak lama kemudian, dengan mengeluarkan bentakan yang mengguntur, Bu Tie melancarkan serangan yang berangkai kearah lawannya, sehingga Tiong Ho jadi gelagapan dan gugup sekali.

Tetapi itu tidak lama, karena sesaat kemudian terdengar suara jeritan ‘Aduh!!’ dari Tiong Ho, tampak tubuhnya terhuyung-huyung dan wajahnya sangat pucat sekali. Rupanya pundaknya telah kena dilukai oleh Bu Tie.

Tiong Ho jadi gusar, dia memandang Bu Tie dengan pancaran mata mengandung hawa pembunuhan.

Baru saja dia mau menyerang dengan kalap kepada Bu Tie. Kiam-jie telah maju berteriak dengan suaranya yang lantang : “Pertandingan yang kedua ini dimenangkan oleh Bu Tie, berasal dari Kang-say, berusia dua puluh enam tahun  pemenang pertama Oey Tiong Ho Siauw-hiap kena

disingkirkannya. !” teriak Kiam-jie dengan lantang.

Wajah Tiong Ho jadi pucat dan tubuhnya gemetar lesu.

Dengan wajah yang masih pucat Tiong Ho melompat turun panggung.

Sebelum pergi, dia menoleh kepada Bu Tie dengan tatapan mata mengandung permusuhan, rupanya dia kecewa kena dirubuhkan orang sehingga kesempatan untuk menjadi menantu Siang Wang-gwee terlepas lagi dari tangannya.

Kiam-jie telah berteriak lagi :

“Jago nomor empat yang akan turun bertempur adalah..... ” dan seterusnya Kiam-jie menyebutkan nama-nama dari jago-jago muda yang akan turut Pie-bu.

Pertandingan demi pertandingan dilalui.

Dan biasanya selalu saja pertandingan itu dimenangkan sekali orang seseorang, kemudian pemenang itu akan dirubuhkan kembali oleh orang selanjutnya.

Begitulah seterusnya, dan orang-orang menyaksikan keramaian tersebut dengan tertarik.

Tetapi bagi Cie Kiat pertandingan itu tidak ada artinya dan tidak menarik hatinya, sebab jago-jago yang turut Pie-bu rata-rata mempunyai kepandaian biasa saja.

Lie Cie Kiat lebih banyak memandang kearah ujung sebelah Timur, dimana tampak Siang Kie Lan sedang duduk disitu dengan tenang dan memandangi jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.

Sikap si gadis agung sekali, dia duduk bagaikan seorang dewi, cantik sekali, wajahnya pun berseri-seri.

Hati Cie Kiat jadi berdebar keras, dia merasakan hatinya itu tergoncang memandangi kecantikan gadis she Siang yang menjadi puterinya Siang Wang-gwee itu.

Pertandingan masih berjalan terus, dan jalannya pertempuran yang silih berganti jagonya itu, benar-benar tidak menarik perhatian Cie Kiat sedikitpun.

Selama berlangsungnya pertempuran itu, semangat Cie Kiat jadi seperti melayang-layang tak keruan, dan dia seperti juga berada dilambungi oleh alunan irama asmara, dimana dia dibenamkan kedalam khayalan yang indah-indah......

membayangkan kecantikan gadis she Siang itu   !

*

* *

SUATU KALI perhatian Cie Kiat jadi tertarik kepanggung juga, sebab semakin lama jago-jago yang turun bertempur diatas panggung itu semakin liehay, kepandaian mereka mulai luar biasa. Apalagi waktu pertempuran yang terakhir itu dimenangkan oleh Ma Cin tampak sesosok bayangan tinggi besar melompat keatas panggung.

“Aku juga jadi gatal telapak tanganku, aku ikut untuk main-main sebentar denganmu, orang she Ma!” terdengar orang tinggi besar itu berkata dengan suara yang nyaring.

Kiam-jie terkejut, karena Pie-bu ini telah disusun menurut nama yang telah tercantum.

Dia menghampiri orang yang mempunyai tubuh tinggi besar dan mempunyai wajah agak menyeramkan.

Ma Cin sendiri waktu melihat orang itu, dia jadi tergoncang hatinya.

Karena ketika itu juga dia mengenali bahwa orang tersebut adalah Song Kie Pa, musuhnya beberapa tahun yang lalu, dan pertikaian diantara mereka disebabkan oleh karena memperebutkan wanita, yang akhirnya diakhiri dengan kematian wanita yang direbuti oleh mereka, karena gadis itu saking ketakutan telah membunuh diri.

Dan dulu, Ma Cin telah berhasil mengalahkan Kie Pa, itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sekarang Kie Pa telah menemuinya disini, tentu orang she Song tersebut tidak mengandung maksud baik. Lagi pula, tentunya Kie Pa juga telah mempunyai kepandaian yang tinggi.

“Siauw-hiap..... ini... ini. ” Kiam-jie gugup sekali.

Kie Pa menoleh kepadanya, dia tersenyum dengan tawar.

“Aku hanya ingin main-main sebentar dengan Ma Tay-hiap ini!” katanya dengan suara mengejek. “Hmmm.... jadi gatal telapak tanganku ini dan ingin bermain-main sebentar diatas panggung ini! Aku tidak bermaksud untuk memperebutkan Siang Sio-cia, jadi tegasnya aku hanya ingin main-main dengan Ma Tay-hiap diluar garis dari semestinya.”

Kiam-jie jadi gugup.

“Tetapi.... ini.... nanti bagaimana. ” dan dia benar-benar gugup sekali.

Kie Pa tertawa.

“Aku hanya mengganggu sebentar saja dan lagi pula kalian akan menyaksikan suatu keramaian toh?” tanya Kie Pa dengan cepat.

Kiam-jie tidak bisa mengambil keputusan.

Dia cepat-cepat turun dari panggung menghampiri Siang Wang-gwee. Dia memberitahukan kepada hartawan she Siang itu.

Dan, Siang Wang-gwee ternyata senang menyaksikan keramaian, dia mengijinkan.

Maka dari itu, Kiam-jie kembali keatas panggung dan meneriaki dengan suara yang lantang : “Karena sesuatu hal, maka Pie-bu yang berlangsung akan diseling dulu oleh pertandingan antara Ma Siauw-hiap dengan tuan ini!! Dan, kita akan menyaksikan suatu keramaian!!”

Mendengar itu Ma Cin mendongkol sekali, dia tidak bisa mengatakan tidak mau, sebab kalau terjadi hal itu, mukanya mau ditaruh dimana?

Maka dari itu terpaksa dia menghadapi Song Kie Pa juga.

Pada saat itu Kie Pa telah tertawa dingin, menyeramkan sekali wajahnya. “Orang she Ma. hayo kita mulai!” tantangnya.

Ma Cin terpaksa bersiap-siap.

Cie Kiat yang menyaksikan gerakan dan gerak-gerik dari Kie Pa, dia bisa memperoleh kesan bahwa orang she Song ini tidak bermaksud baik.

Dia mengawasi terus, dengan penuh perhatian.

Dilihatnya Song Kie Pa tanpa sungkan-sungkan lagi, dengan mengeluarkan bentakan yang keras, dia telah merangsek menyerang menggunakan Poan-koan- pitnya.

Ma Cin cepat-cepat mengelakkan, kena ujung Poan-koan-pit dari Song Kie Pa mengincer dada dan pundaknya.

Pedangnya juga diputar untuk melindungi dirinya, sedangkan kakinya digeser kesamping menjauhi Kie Pa.

Didalam waktu yang sangat singkat sekali, mereka telah bertempur dengan seru.

Tetapi biar bagaimana orang telah melihat dengan jelas bahwa Ma Cin berada dibawah angin.

Lagi pula, Ma Cin tampaknya sangat terdesak sekali oleh setiap serangan Kie

Pa.

Malah, waktu Kie Pa melancarkan serangan berangkai, butir-butir keringat

dingin membanjiri muka Ma Cin.

Dia agak gugup, menangkis serangan setiap orang she Song itu.

Gerakannya juga sering gugup, yang menyebabkan suatu keuntungan yang tidak kecil bagi Kie Pa.

Ternyata, setelah terjadinya pertempuran yang dulu, antara Ma Cin dan Kie Pa, orang she Song itu telah mencari seorang guru dan belajar kembali dengan tekun, sehingga sekarang dia muncul dengan kepandaiannya yang khusus, yaitu Poan-koan- pit yang liehay dan berbahaya.

Ma Cin juga merasakan bahwa dia semakin lama semakin terdesak dibawah angin.

Biar bagaimana dia mau mempertahankan diri jangan sampai rubuh ditangan Kie Pa. Tetapi setiap serangan Kie Pa selalu mematikan, dan juga sangat berbahaya. Hal itu membikin Ma Cin jadi terdesak hebat.

Malah pedang Ma Cin jadi sering menyerang tempat kosong, dia kalah gesit kalau dibandingkan dengan diri Song Kie Pa.

Suatu kali, dengan mengeluarkan seruan panjang, Kie Pa melompat tinggi.

Poan-koan-pitnya menotok kearah batok kepala Ma Cin.

Ma Cin melihat ancaman bahaya itu, kalau memang dia kena diserang, niscaya jiwanya bisa melayang ditangan orang she Song ini.

Maka dari itu, cepat-cepat dia menggeser kakinya, dengan cepat dia melompat kesamping untuk menghindarkan diri dari serangan Song Kie Pa.

Namun, tangan Kie Pa ternyata liehay sekali, dia mementangkan tangannya lebar-lebar sehingga waktu Ma Cin melompat kesamping, tetap saja Poan-koan-pit Kie Pa mengikuti sasarannya itu terus.

Ma Cin kaget sekali, hatinya mencelos, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, rupanya dia kaget sekali.

Kalau memang kepalanya itu berhasil ditotok oleh ujung Poan-koan-pit Kie Pa, maka jiwanya akan melayang dengan penasaran.

Dan didalam keadaan terdesak begitu Ma Cin cepat-cepat melemparkan dirinya bergulingan dilantai Lui-thay, dia sudah tidak memperdulikan rasa malu lagi dan harga diri, yang penting dia mau menyelamatkan dirinya.

Kie Pa telah meluncur turun, dan belum sampai Ma Cin berdiri tetap, Kie Pa telah melancarkan serangan yang berangkai kembali.

Ma Cin jadi terperanjat, semangatnya terbang, karena waktu dia berdiri tahu- tahu ujung Poan-koan-pit lawan telah berada di dekat dadanya.

Dia berusaha membuang diri lagi kebelakang, dan Poan-koan-pit itu dapat dielakkan, hanya topinya yang masih sempat terkait oleh ujung Poan-koan-pit Song Kie Pa.

Ma Cin jadi mengeluarkan keringat dingin dan hatinya tergoncang hebat, sedangkan orang-orang yang menyaksikan pertempuran yang seru ini jadi bersorak dengan gembira. !

Cie Kiat juga melihat, bahwa tak lama lagi Ma Cin pasti akan rubuh ditangan Kie Pa. !

 SIANG KIE LAN mengikuti jalan pertempuran itu dengan penuh perhatian, rupanya dia tertarik sekali.

Cie Kiat juga melihat, berulang kali gadis she Siang ini mengeluarkan seruan kaget waktu Ma Cin terdesak dan terancam jiwanya.

Sedangkan Song Kie Pa masih terus melancarkan serangan-serangan yang mematikan.

Akhirnya dengan mengeluarkan bentakan yang keras, kembali dia melancarkan serangannya.

Ma Cin yang telah terdesak hebat, dan juga terancam bahaya mati atau bercelaka, dia jadi nekad.

Waktu melihat Poan-koan-pit lawan meluncur menyerang dirinya lagi, dia memutar kakinya setengah lingkaran, tahu-tahu dia mendekam, dan pedangnya berkelebat!

Itulah suatu jurus ilmu silat yang akan mengadu jiwa! Hal itu bisa menyebabkan lawan dan dirinya akan mati bersama-sama.

Orang-orang dibawah panggung yang melihat kenekatan Ma Cin, jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Sedikitpun orang-orang itu tidak menyangka bahwa Ma Cin akan bisa berlaku senekad begitu.

Tampak Kie Pa tidak menarik pulang serangannya, dia meneruskannya.

Tampak pedang dan Poan-koan-pit berkelebat dengan cepatnya, terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati!

Tampak Kie Pa terhuyung-huyung dengan bahu yang terluka mengeluarkan darah, dan Ma Cin masih rebah dilantai Lui-thay dengan tidak bernyawa lagi, karena dadanya telah kena ditoblos oleh Poan-koan-pit Kie Pa, yang nembus sampai kebelakang, kejantungnya, sehingga seketika itu juga orang she Ma direnggut nyawanya oleh utusan Giam-lo-ong, si raja akherat.

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi seperti kesima, mereka mengawasi terpaku, sampai akhirnya orang-orang dibawah panggung tersadar dengan cepat dan mengeluarkan suara seruan-seruan yang berisik.

Kiam-jie sendiri kaget melihat ada korban yang jatuh didalam pertandingan itu. Lebih-lebih Siang Wang-gwee.

Dia melompat keatas panggung dengan muka yang guram, memperlihatkan ketidaksenangan hatinya.

“Siapakah Heng-thay, mengapa kau membunuh saudara Ma yang sedang melakukan Pie-bu didalam perlombaan ini?” tanya Siang Wang-gwee dengan tak senang, suara si hartawan she Siang juga tawar sekali.

Kie Pa masih memegangi bahunya yang terluka, dia tersenyum. “Maaf Siang Wang-gwee, hal itu tak sengaja kulakukan!” kata Kie Pa dengan cepat. “Dan harap Siang Wang-gwee mau mengerti, setiap pertempuran tentu ada yang kalah ada yang menang, ada yang terluka ada yang mati! Maka dari itu, kebinasan saudara Ma itu adalah biasa didalam suatu pertempuran.”

Mendengar perkataan Kie Pa, Siang Wang-gwee jadi tambah mendongkol.

Tetapi belum lagi dia sempat berkata, telah melompat keatas panggung sesosok tubuh.

Belum lagi kakinya menginjak lantai Lui-thay, sosok tubuh itu telah berkata : “Benar! Didalam pertempuran memang ada yang mati dan ada yang terluka! Itu memang wajar! Dan aku Ong Kim Hok ingin sekali berkenalan dan main-main sebentar dengan saudara!!”

Tampak orang yang berteriak itu seorang anak muda bertubuh tegap, walaupun tidak begitu tinggi. Anak muda yang mengaku bernama Ong Kim Hok itu mempunyai muka yang tampan dengan rambut yang tersisir rapih, dia memakai baju ringkas berwarna kuning gading. Sikapnya gagah sekali.

Kie Pa menoleh kepada orang itu, dia mengerutkan alisnya.

Sedangkan anak muda she Ong itu telah menoleh kepada Siang Wang-gwee. “Siang Wang-gwee, biarkanlah aku main-main sebentar dengan saudara ini!!”

katanya dengan cepat. “Dan, kalau memang aku harus rubuh dan terbinasa ditangan saudara itu aku rela !”

“Tetapi ini...... ini. ” Siang Wang-gwee jadi serba salah.

“Didalam suatu pertempuran memang harus ada yang terluka dan menang. Itu wajar. maka biarlah Siauw-tee ingin main-main sebentar dengan saudara itu, untuk

menambah pengalaman!!”

Dan setelah berkata begitu, Ong Kim Hok menoleh kepada Kie Pa, dia tersenyum tenang sekali, katanya : “Saudara, siapakah she dan nama saudara!” tegurnya.

“Aku she Song dan bernama Kie Pa....... dan kukira antara kau dengan diriku tidak ada sangkutan apa-apa, kita seumpama air sumur dan air kali, yang tidak saling bertemu dan tidak saling mengganggu, mengapa kau ingin mencampuri urusan ini?”

Ong Kim Hok tertawa tenang.

“Aku sebetulnya datang kemari hanyalah untuk menyaksikan keramaian, tetapi tadi kulihat perbuatanmu kurang jujur, sebelum kau bunuh saudara Ma Cin, kau telah melemparkan segenggam jarum, sehingga dia jadi gugup dan menggunakan kesempatan itu kau telah menusuk dadanya sehingga dia binasa! Coba kalau tidak, mungkin kau yang akan terbinasa!”

Ditegur begitu, wajah Kie Pa jadi berubah pucat, bibirnya gemetar. “Kau. kau seenakmu menuduhku!” bentak Kie Pa dengan gugup.

Ong Kim Hok tertawa tawar, sikapnya tenang sekali. “Hmmm....... apakah kau anggap para Loo-cianpwee yang duduk dibawah panggung itu tidak mempunyai mata dan buta semuanya?” balik tanya Kim Hok dengan suara yang keras. “Apakah kau anggap para Loo-cianpwee itu semuanya orang tolol yang tidak bisa melihat perbuatan busukmu?!” Hmmm...... coba kau dengar!” dan Kim Hok menoleh kebawah panggung.

“Para Loo-cianpwee dan saudara-saudara lainnya, apakah diantara saudara- saudara ada yang melihat perbuatan busuk orang she Song ini?” tanya Kim Hok dengan suara yang nyaring.

“Benar! Benar! Orang she Song itu sangat busuk sekali, dia menggunakan jarum Bwee-hoa-ciam uatuk merubuhkan Ma Cin!!” terdengar beberapa suara yang membenarkan perkataan Kim Hok.

Kim Hok tertawa tawar, dia menoleh lagi kepada Song Kie Pa.

“Bagaimana orang she Song? Apakah kau masih mau mungkir lagi bahwa kau telah melakukan suatu perbuatan busuk sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa?!”

Dibongkar tipu busuknya itu, Kie Pa jadi murka sekali, tubuhnya sampai gemetaran.

Dia memang dendam kepada Ma Cin, dan sudah mengambil keputusan untuk membunuh orang she Ma itu. dan ternyata niatnya itu terkabul.

Tetapi dia memang telah menggunakan jarum-jarum Bwee-hoa-ciam, yang ditimpakkan kepada muka Ma Cin, yang membuat orang she Ma itu jadi gugup.

Jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang dilemparkan oleh Song Kie Pa sangat halus sekali.

Kalau memang bukan seorang ahli yang sudah sempurna ilmu silatnya, tentu tidak akan mengetahui permainan busuk dari orang she Song itu.

“Aku...... aku tidak akan serendah begitu untuk melakukan perbuatan busuk yang kau katakan itu!” bentak Song Kie Pa dengan gusar.

Kembali Kim Hok tertawa tawar, dia membawa sikap yang mengejek. “Apakah kau ingin bukti?” tanyanya.

Kie Pa bimbang sesaat, tetapi kemudian dia membentak : “Coba kau buktikan....

kalau memang kau tidak bisa membuktikan perkataanmu itu, hmmmm, akan kubunuh lumat padamu!!”

Kim Hok tidak melayani orang she Song itu lagi, dia menghampiri kearah mayat Ma Cin.

Dia berjongkok disitu untuk mencabut beberapa jarum Bwee-hoa-ciam yang menancap dikening dan dimata Ma Cin.

Tetapi waktu Kim Hok sedang berjongkok untuk mengambil jarum-jarum itu, tampak Song Kie Pa sangat gelisah sekali. Dilihat olehnya bahwa Kim Hok berjongkok membelakanginya, sehingga tampak punggungnya terbuka untuk diserang.

Karena saking gugupnya, takut kalau tipu busuknya yang digunakan untuk membunuh Ma Cin terbongkar, Kie Pa dengan nekad telah menusukkan Poan-koan- pitnya menyerang jalan darah Tay pie-hiatnya si anak muda she Ong.

Kim Hok sedang berjongkok, tetapi dia liehay sekali, dia dapat mendengar angin serangan yang datang menyerang dirinya.

Juga Kim Hok mendengar beberapa orang mengeluarkan seruan tertahan, termasuk Siang Wang-gwee sendiri.

Sengaja Kim Hok tidak membalikkan tubuhnya, dia membiarkan serangan sampai datang dekat benar.

Disaat ujung Poan-koan-pit dari Song Kie Pa hampir berhasil menotok jalan darah Tay pie-hiatnya, dengan tidak terduga tubuh Kim Hok agak doyong kemuka, dan tahu-tahu dia berputar dalam posisi tetap berjongkok, dan kakinya melayang kearah perut Kie Pa, sedangkan tangannya berhasil merampas senjata orang.

Kie Pa sendiri terkejut.

Tahu-tahu dia merasakan pitnya kena dirampas oleh Kim Hok dan perutnya dirasakan sakit sekali, karena kaki anak muda she Ong itu telah bersarang diperutnya.

Tubuh Kie Pa terhuyung-huyung dan ambruk dilantai Lui-thay. Kim Hok pada saat itu telah berdiri.

Dia menatap Kie Pa dengan tatapan mata yang mengejek dan dia juga tersenyum dingin.

“Hmmm..... rupanya kau benar-benar seorang Siauw-cut yang tidak tahu malu!” kata Kim Hok dengan mendongkol. Siauw-cut berarti penjahat kecil. “Untuk apa kau menyerang orang secara membokong begitu?”

Wajah Kie Pa pucat sekali, dia tahu bahwa anak muda she Ong ini kosen sekali ilmu silatnya, berada disebelah atas dirinya.

Kim Hok menimang-nimang kedua Poan-koan-pit Song Kie Pa yang direbutnya.

Dipandanginya sesaat sambil tertawa dingin, kemudian dia melemparkannya kesamping.

Senjata yang tidak ada harganya! kata Kim Hok dengan suara tawar. “Percuma kau menggunakan senjata kalau kau bertempur selalu menggunakan akal licikmu !

Hmmm, kematian dari Ma Cin harus kau tebus dengan jiwamu juga!!”

Dan waktu berkata begitu, wajah Kim Hok jadi bengis, tampak hawa pembunuhan rupanya dia mendongkol tadi menyaksikan Kie Pa berbuat suatu kecurangan, melakukan sesuatu yang tidak jujur didalam pertempurannya dengan Ma Cin, yang menyebabkan kematian orang she Ma itu. Lebih-lebih tadi waktu Kim Hok berjongkok orang she Song itu telah menyerangnya secara membokong maka hal itu menambah kegusaran anak muda she Ong tersebut.

Orang-orang dibawah panggungpun sangat gusar sekali kepada Song Kie Pa, mereka semuanya memaki dengan makian yang menyakitkan anak telinganya.

Kie Pa telah merangkak berdiri, wajahnya pucat sekali, dan tubuhnya agak menggigil.

Dilihatnya oleh Kie Pa bahwa Kim Hok telah maju selangkah demi selangkah kearahnya.

Dan Song Kie Pa menyadari bahwa dirinya bukan menjadi tandingan Kim Hok.

Lagi pula dia tahu, kalau sampai dia kena dibekuk hidup-hidup oleh anak muda she Ong, pasti akan disiksa oleh orang banyak yang kala itu sedang bergusar kepadanya.

Dengan mempunyai pikiran begitu, dan lagi pula dia sedang ketakutan, tahu- tahu dihatinya timbul suatu kenekadan.

Diawasinya Kim Hok yang sedang menghampiri dirinya selangkah demi selangkah.

Waktu dilihatnya anak muda she Ong itu telah berada dekat sekali dengan dirinya dengan tidak terduga Song Kie Pa menerjang menyerudukkan kepalanya kearah perut Kim Hok!

Dia ingin mengadu jiwa dengan Kim Hok!

Orang-orang yang berada dibawah panggung jadi mengeluarkan seruan tertahan, semuanya kaget dan menguatirkan keselamatan diri anak muda she Ong itu.

Kim Hok sendiri juga menyadari bahwa orang she Song itu sangat licik sekali.

Dan, dia melihat orang menyeruduk kearahnya dengan cepat, Kim Hok tidak jadi gugup, dia cepat-cepat mengulurkan tangannya akan menempeleng kepala orang she Song itu, dan kalau tempelengannya itu berhasil mengenai kepala Song Kie Pa, maka dengan sendirinya kepala orang she Song tersebut akan pecah hancur terpukul tangan Kim Hok.

Tetapi belum lagi tangan Kim Hok berhasil memukul kepala Song Kie Pa, tahu- tahu meluncur dekat sekali beberapa titik-titik halus kemukanya.

Kim Hok terperanjat, segera juga dia menyadari bahwa titik-titik yang menyerang dirinya itu adalah jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang dilepas oleh Song Kie Pa!

Terpaksa Kim Hok menarik pulang tangannya, dan untuk melindungi dirinya dari serangan jarum-jarum yang halus-halus itu, dia membuang diri kesamping, bergulingan dilantai Lui-thay !