-->

Gelang Kemala Jilid 14

Jilid 14

“Aku tidak takut kepadanya, Ayah.

Akan tetapi lalu muncul jagoan lain yang lebih lihai pula dan selagi aku terdesak, muncul Thian Lee itu yang menolong dan melarikan aku darl bahaya. Bahkan dahulu, ketika aku mencarikan obat untuk Suhu dan menderita keracunan karena gigitan ular, Thian Lee pula yang menyelamatkan nyawaku. Dan tadi dia sudah menolong Ayah."

"Kalau begitu, penyerangan tadi tentu sebagai akibat dari ulahmu yang mengacau rumah kakanda Pangeran Tua!" kata Pangeran Tang Gi Su dengan penuh penyesalan.

"Belum tentu, Ayah." bantah Cin Lan. "Kenapa belum tentu?"

"Kalau mereka itu sakit hati kepadaku, kenapa yang diserang Ayah? Tidak, pasti ada hal lain yang penuh rahasia. Baru hadirnya demikian banyaknya tokoh kang-ouw di rumah Paman Pangeran Tua itu saja sudah mencurigakan. Apakah Ayah bermusuhan dengannya?"

Pangeran Tang Gi Su menghela napas panjang. "Bermusuhan secara langsung dan pribadi memang tidak ada sama sekali. Akan tetapi pendirian kami memang berbeda, bahkan berlawanan. Kalau aku setia kepada Sri Baginda K.aisar, kakanda Pangeran Tang Gi Lok Itu menentang kebijaksanaan Kaisar, bahkan sering mencela dan kelihatan membenci."

Pada keesokan harinya, mereka semua mendengar tentang pembunuhan atas diri dua orang menteri yang setia kepada Kaisar, dibunuh dalam kamarnya oleh penribunuh yang amat lihai dan tidak diketahui siapa karena selir dan para dayang pejabat tinggi ini hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali'.

Hal ini amat mengejutkan Pangeran Tang Gi Su dan dia pun bergerak pergi menghadap Kaisar untuk membicaraka.a peristiwa itu termasuk peristiwa penyerangan atas dirinya. Kaisar menasihatkan agar Pangeran Tang Gi Su menjaga diri baik-baik dan melakukan penjagaan yang ketat, sementara itu dia malah menugaskan Pangeran Tang Gi Su untuk rnenyelidiki perkara pembunuhan dan penyerangan atas dirinya itu sampai tuntas. Dan untuk keperluan itu. Pangeran Tang Gi Su mendapat kekuasaan untuk menggunakan pasukan sebanyak mungkin,

Setibanya di rumah, Pangeran Tang Gi Su merasa pusing karena tugas itu amat sukar dan berat. Melihat keadaan ayahnya, Cin Lan lalu bertanya,

"Ada berita apakah, Ayah'? Ayah nampak begitu bingung setelah kembali dari istana."

Pangeran Tang Gi Su menceritakan tentang tugas yang dibebankan kepadanya oleh Kaisar. "Jangan khawatir, Ayah. Aku akan membantu Ayah dan aku akan melakukan penyelidikan sampai terbongkar rahasia ini."

"Hati-hati, engkau, Cin i-an., Musuh amat berbahaya, jangan engkau terlalu sembrono seperti yang sudah-sudah."

"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan minta bantuan Thian Lee untuk melakukan penyelidikan."

Ketika Cin Lan sedang duduk seorang diri di dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah ibunya, seorang diri. la segera bangkit menyambut ibunya. Biasanya kalau ada keperluan, ibunya yang menyuruh pelayan me-manggilnya dan jarang sekali ibunya memasuki kamarnya

"Ibu, ada keperluan apakah Ibu?" tanyanya melihat wajah ibunya yang serius.

"Aku ingin bicara denganmu, Cin Lan," kata ibunya yang lalu duduk di kursi menghadapi meja. Cin Lan juga lalu duduk di dekat ibunya.

"Bicara apakah, Ibu?" "Tentang sahabatmu itu. "Sahabatku? Yang mana, Ibu?" "Yang menolong ayahmu itu."

"Ah, maksud Ibu, Song Thian Lee?"

"Benar, aku... aku merasa seolah wajah pemuda itu tidak asing bagiku. Dan engkau ingat, nama marganya Song!" "Kalau begitu, kenapa Ibu?"

"Lupakah engkau? Mendiang ayahmu menjodohkan engkau dengan putera keluarga Song! Gelang kemalamu itu. "

"Ah, gelang kemala? Sudah dirampas penjahat ketika di kuil itu, Ibu." "Sayang sekali."

"Ah, Ibu terlalu memikirkan perjodohan itu. Padahal, aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tidak suka dijodohkan sejak aku kecil. Aku tidak dapat menerima perjodohan itu, dan Ibu begitu memikirkan sehingga setiap orang she Song Ibu curigai."

"Ah, engkau selalu bicara dermkian anakku. Perjodohan yang diatur bleh ayah tirimu, engkau tidak mau menerimanya, dan perjodohan yang diatur oleh iayah kandungmu sendiri, engkau pun tidak suka!"

"Memang aku hanya suka berjodoh dengan orang yang berkenan di hatiku, Ibu, bukan dipaksakan, baik oleh mendiang ayah kandungku maupun oliete ayah tiriku," kata Cin Lan dengan kukuh. Ibunya hanya menghela napas panjang dan ;A,tidak mau membicarakan hal itu lagi.

* * *

Lee Cin berjalan seorang diri. Ia sudah mendapat perkenan dari gurunya untuk melakukan perjalanan seorang diri, bahkan mendapat tugas yang berat dari gurunya, yaitu membunuh musuh besar gurunya yang tinggal di Hong-san. Gurunya sendiri, Ang-tok Mo-li, kembali ke Bukit Ular di Lembah Huang-ho.

"Carilah dia sampai dapat. Kalau sudah bertemu, lawanlah ia. Kalau engkau kalah kembalilah ke Bukit Ular, aku sendiri yang akan menghadapinya," demikian kata subonya.

Akan tetapi Lee Cin memang berwatak bebas dan liar. la menggunakan kesempatan ini untuk berpesiar, bersenang-senang idaft tiaak langsung pergi ke Hong-san memenuhi pesan gurunya.

Selagi ia menyusuri tepi Sungai Kuning, di sebuah jalan yang sunyi mendadak ia bertemu dengan seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun yang tinggi besar, gagah perkasa bermuka merah yang memegang sebatang dayung baja sebagai tongkat. Adapun di sisi kakek gagah perkasa ini melangkah seorang pemuda yang tampan dan juga bertubuh tinggi besar.

Lee Cin tidak mengenal siapa mereka, maka ia pun tidak memperhatikan. Akan tetapi pemuda itu memperhatikannya. Siapa orangnya yang tidak akan tertarik kepada gadis yang lincah dan cantik jelita ini? Muka yang bulat telur itu manis sekali. Hidungnya mancung agak berjungat ke atas, lucu sekali. Mulutnya kecil mungil dengan sepasang bibir yang merah basah tanpa gincu, dihias lesung pipit di kanan kiri biblrn/a. Sedang usianya baru delapan belas tahun, bagaikan bunga sedang mekar-mekarnya! "Nona manis, engkau hendak pergi ke 'manakah?" tiba-tiba pemuda itu menegur dan berdiri menghadang di depan Lee Cin.

Gadis itu mengerutkan alisnya, kemudian tertawa. Demikian manis ketika ia tertawa sehingga pemuda itu semakin terpesona, "Hi-hik, ada monyet bercelana mau ganggu nonamu? Pergilah sebelum kuhajar engkau! Hayo pergi!"

"Nona, engkau sungguh cantik jelita. Heran aku, mendengar makianmu, aku tidak marah malah semakin tertarik. Marilah, Nona, kita bersahabat!" Pemuda itu menjulurkan tangan hendak memegang tangan Lee Cin. Gadis ini mulai marah dan tiba-tiba tangannya bergerak rnenam-par ke arah muka pemuda itu.

"Wuuuuttt... plakkk!" Tamparan itu "tlapat ditangkis pemuda itu dan tahulah Lee Cln bahwa ia berhadapan dengan seorang yang cukup pandai. Tentu saja pemuda itu pandai karena dia adalah Siangkoan Tek, sedangkan orang tua gagah perkasa itu adalah Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga! Melihat ulah pu-teranya, Siangkoan Bhok mengambil sikap tidak peduli, bahkan lalu duduk di atas batu 'besar dan termenung.

Melihat tamparannya ditangkis, Lee Cin segera menyerang kembali, klni lebih hebat. Dan ternyata pemuda itu mampu mengelak dan balas menyergap hendak merangkul! Dan terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka. Setelah mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar tangguh dan mampu menandinginya, Lee Cin menjadi marah dan ia pun mengerahkan sin-kang panas yang mengandung racun. Perlu diketahui bahwa semenjak menjadi murid Ang-tok Mo li, tentu saja Lee Cin juga mempelajari. penggunaan racun dalam pukulannya, yaitu suatu keahlian dari Ang-tok Mo-li yang membuat kuku jari datuk wanita itu menjadi beracun. Lee Cin tldak sampai demikian hebat pengaruh racun dalam dirinya, akan tetapi ia dapat mengerahkan tenaga beracun panas.

Siangkoan Tek tidak tahu bahwa pu-kulan itu mengandung hawa beracun. Dia menangkis dengan tenaga sin-kang pula. "Dukkk. !" Ketika kedua tangan bertemu, pemuda itu

terhuyung dan menye-ringai kesakitan. Lengannya terasa panas t^seperti dibakar.

Melihat lawannya terhuyung, Lee Cin mengejar dan mengirim pukulan lagi. "Dukk!" Sekali ini dara itulah yang terhuyung karena tangannya yang memukul bertemu dengan dayung yang menangkisnya.

Kakek itu yang menangkisnya dan kakek itu kini melihat tangan kanan Lee Cin yang berubah kemerahan. "Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah)!" serunya. "Apa hubunganmu dengan Ang-tok Mo-li?" bentaknya.

Lee Cin adalah seorang yang tidak mengenal takut. "Apa urusanmu bertanya tentang Subo?"

“Hemm, jadi engkau murid Ang-tok Mo-li? Bagus, sebelum kubunuh la, lebih dulu kubunuh muridnya!" Dan kakek itu lalu menyerang dengan dayungnya

Melihat sambaran dayung yang dah-syat bukan main, Lee Cin meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya. Sinar merah nampak berkilat ketika ia mencabut pedangnya dan terjadilah pertandingan yang amat seru antara Lee Oin dan Siangkoan Bhok. Akan tetapi segera ternyata bahwa gadis itu terdesak hebat. Siangkoan Bhok adalah datuk besar dari timur dan dijuluki Tung-hong-ong (Raja Angin Timur). Ilmu kepandaiannya sudah mencapai puncak yang tinggi sekali.

Biarpun Lee Cin mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun setelah berhasil bertahan sampai lima puluh jurus, akhirnya ia pun roboh tertotok gagang dayung dan tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat dlgerakkan lagi! Siangkoan Bhok mengangkat dayungnya dan membentak, "Sekarang mampuslah kau!"

"Jangan, Ayah!" Siangkoan Tek berseru dan melompat maju menghalangi ayahnya. "Hemm, mau apa engkau?" bentak ayahnya.

"Ayah, terus terang saja... ateu tergila-gila kepadanya. Aku menginginkan gadis ini, Ayah!"

"Hemmm, sesukamulah. Akan tetapi setelah itu, bunuhlah!" Dan dia pun duduk kembali bersila di atas batu besar dan tidak mempedulikan lagi kepada puteranya.

Siangkoan Tek menjadi girang sekali dan dia lalu memondong tubuh yang hangat dan lemas itu, dibawanya pergi ke balik semak-sernak belukar! Sudah jelas apa yang dikehendakinya. Dia hendak memperkosa gadis yang cantik jelita itu. Dan mengetahui hal ini, ayahnya sama sekali tidak mempedulikannya. Dapat diketahui bagaimana watak kedua orang manusia ayah dan anak ini!

Setelah merebahkan tubuh Lee Cin ke atas rumput dl balik semak-semak Siang-koan Tek lalu menciumi wajah yang manis itu dan selagi dia hendak meraba pakaian Lee Cin, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,

"Manusia keji!" Dan seorang pemuda tiba-tiba menerjangnya dengan tendangan sehingga Siangkoan Tek yang sudah dikuasai nafsu berahi itu tidak dapat menghindar dan tubuhnya kena ditendang sampai terpental dan bergulingan!

Pemuda berpakaian serba biru itu lalu menepuk kedua pundak Lee Cin satu kali dan tiba-tiba Lee Cin sudah dapat bergerak kembali. Gadis ini cepat meloncat dan menyambar pedangnya yang terletak di atas tanah, demikian pula pemuda itu sudah mencabut pedangnya. Akan tetapi tlba-tiba Siangkoan Bhok sudah berdiri dl hadapan mereka dengan senjata dayungnya.

Sementara itu, Siangkoan Tek bangkit dan meraba-raba pahanya yang tertendang tadi. Melihat ayahnya sudah menghadapi dua orang itu, dia pun diam saja karena yakin bahwa ayahnya sudah lebih dari cukup untuk menandingi dua orang itu.

Siangkoan Bhok marah melihat puteranya ditendang tadi dan dia sudah menggerakkan dayungnya menyerang kedua orang muda itu. Pemuda baju biru itu bertubuh jangkung tegap dan usianya sekitar dua puluh dua tahun. Dia rnenggerakkan pedangnya dengan mantap dan bersama Lee Cin, tanpa bersepakat lagi, mereka lalu mengeroyok kakek yang amat tangguh itu.

Akan tetapi, biarkan- pemuda itu pun cukup lihai, tetap saja dia dan Lee Cin bukanlah lawan Siangkoan Bhok yang terlampau lihai bagi mereka. Lewat lima puluh jurus, senjata dayung itu telah mengenai tubuh mereka berdua dan membuat mereka terpental dan bergu-lingan.

Dengan langkah lebar Siangkoan Bhok mengejar dan tahu-tahu dayungnya sudah menodong di dada pemuda berbaju biru. Pemuda itu sama sekali tidak nam-pak takut, melainkan memandang kepada kakek itu dengan mata melotot penuh kemarahan.

"Engkau agaknya yang disebut Raja Angin Timur Siangkoan Bhok, bukan? Nah, bunuhlah aku kalau hendak membunuh. Aku memang bukan lawanmu!" kata pemuda itu dengan tegas.

Mendengar disebutnya julukan Raja Angin Timur ini, baru Lee Cin tahu dan ia pun terkejut. Sudah lama ia mendengar nama besar datuk ini dari subonya dan ia pun bangkit dan memandang de-ngan khawatir sekali. Pinggangnya yang tadi kena pukul dayung terasa nyeri se-kali, akan tetapi tidak ada tulang yang patah.

Sementara itu, ketika Siangkoah Bhok mendengar ucapan pemuda itu, dia tidak segera memukulkan dayungnya dan berbalik lalu bertanya, "Engkau jelas murid Siauw-lim-pai. Siapa gurumu?"

"Guruku adalah In Kong Thaisu," Kata pemuda itu dengan suara bangga.

Mendengar disebutnya nama ini, wajah Siangkoan Bhok berubah, alisnya yang tebal itu berkerut. "Hemmm, melihat muka In Kong Thaisu, biarlah aku sekali ini tidak membunuhmu!" Setelah berkata demikian, tangan kirinya bergerak dan jari-jari tangannya menotok ke arah dada kanan pemuda itu.

"Dukkk'." Pemuda Itu mengeluarkan rintihan dan muntah darah.

"Nah, biarlah In Kong Thaisu meraba, apakah It-yang-ci yang dikuasainya itu mampu menyembuhkanmu! Dan engkau nona iblis, engkau kubebaskan agar dapat mengantarnya pulang ke Siauw-lim-si, kalau saja dia masih kuat!" katanya mengejek, lalu dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada puteranya, "Mari kita pergi”

"Akan tetapi, Ayah Gadls itu”.

"Diam! Mari ikut aku pergi. Sekali aku mengeluarkan kata-kata, tidak dapat ditarik kembali!" kata ayahnya dan pemuda itu bersungut-sungut, akan tetapi tidak berani membantah lagi dan dia hanya menoleh dan memandang kepada Lee Cin dengan sinar mata penuh penyesalan dan penuh kebencian!

Setelah kedua orang itu pergi, Lee Cin berlutut di dekat pemuda itu.

"Siapakah engkau dan di mana tempat tinggalmu? Mari kuantar engkau pulang." "Sudah tidak ada gunanya. Lukaku hebat sekali... parah dan tidak dapat sembuh. Nona,

tinggalkan saja aku. Kalau sampai mereka kembali, engkau akan celaka," kata pemuda itu terengah-engah dan mencoba untuk bangkit berdiri.

Lee Cin membantu dan memapahnya dan gadis ini menjadi marah. "Kaukira aku ini orang macam apa? Engkau menderita begini karena tadi telah menolongku. Aku pun harus menolongmu, tidak peduli bahaya apa yang mengancamku. Katakan siapa namamu dan ke mana aku harus membawamu menemui gurumu.

Melihat gadis itu bicara dengan nada marah, pemuda itu terkejut dan memandang heran dan kagum, lalu dia pun menjawab, "Namaku Thio Hui San, kebetulan sekali guruku sedang berkunjung ke kuil yang diketual Susiok, tidak jauh dari sini. Aku tadi sedang berjalan-jalan ketika "

"Sudah, jangan panjang-panjang. Keadaanmu payah, tidak boleh banyak bicara. Mari kita pergi, tunjukkan jalannya," kata Lee Cin yang masih merangkul dan memapah pemuda itu. Pinggangnya sendiri masih terasa nyeri maka mereka lalu tertatih-tatih berangkat.

Untung bahwa kuil itu memang tidak jauh dari situ, berada di tepi sungai dan di lereng sebuah bukit kecil. Kuil itu cukup besar dan terdapat banyak murid Siauw-lim-pai berada di situ.

Ketika melihat Hui San datang dipapah seorang gadis, tentu saja semua orang merasa heran sekali. Sebetulnya, kuil di mana terdapat murid-murid Siauw-lim-pai itu merupakan tempat terlarang bagi wanita. Akan tetapi karena Hui San datang dalam keadaan terluka dan dipapah seorang wanita, para murid itu hanya memandang saja dan ada yang melaporkan ke dalam.

Setelah tiba di depan ruangan paling muka, keluarlah dua orang hwesio. Seorang hwesio tinggi kurus dan seorang hwesio yang tingginya sedang akan tetapi perutnya gendut seperti patung Jai-hud.

Hwesio yang gendut itulah yang rnenegur, "Hui San, engkau tahu bahwa tempat ini merupakan larangan bagi wa-nita. Mengapa engkau datang dengan se-orang gadis, dan engkau menderita luka parah kenapakah?"

"Suhu, teecu terluka oleh Siangkoan Bhok dan nona ini menolongku sampai ke sini karena teecu tidak kuat berjalan sendiri," keluh Thio Hui San. "Harap maafkan teecu dan nona ini "

Ketika itu Lee Cin melepaskan rangkulannya dan Hui San segera jatvh terkulai dengan lemas.

Lee Cin bertolak pinggang mengha-dapi dua orang hwesio itu, sama sekali tidak nampak takut. "Muridmu terluka parah, mungkin akan mati dah engkaU masih meributkan soal peraturan segala macam. Biarpun aku seorang wanita, kalau aku masuk ke sini, aku rnerugikan apakah?"

Sekarang hwesio yang tinggi kurus yang mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata, "Omitohud Sejak dahulu kuil kami ini memang merupakan larangan bagi wanita untuk memasukinya, dan larangan itu tidak pernah dilanggar oleh siapa pun. Akan tetapi karena engkau telah menolong murid keponakanku, kami mengucapkan terima kasih kepadamu dan sekarang, mari kuantar Nona keluar dari sini!" Biarpun ucapan itu ter-dengar halus, akan tetapi jelas bahwa hwesio kurus itu telah mengusirnya! Lee Cin tersenyum mengejek.

"Kalian agaknya menjauhi wanita seolah wanita itu wabah menular, agaknya kalian semua sudah lupa bahwa kalian dahulu dilahirkan oleh seorang wanita! Tidak perlu diantar, aku bisa keluar sendiri!" Setelah berkata demlkian, dara ini memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu. Para hwesio dan murid yang mendengar ucapan itu hanya menjadi bengong saja.

In Kong Thaisu sendiri, hwesio yang gendut itu tidak mempedulikan sikap Lee 'Cin tadi dan kini dia sudah memeriksa denyut nadi dan dada Hui San.

"Hemm, Siangkoan Bhok sungguh keji. Tangannya tetap memancarkan maut dan agaknya dia membalas kekalahannya dari pinceng dahulu kepada murid pinceng." Dia menghela napas panjang dan menyuruh seorang hwesio di situ untuk membantu Hui San memasukl kuil. "Apakah Si Angin Timur itu mendendam kepadamu, Suheng?" tanya hwesio kurus itu yang bernama In Tiong Hwesio, Sute dari In Kong Thaisu, ketika dia berjaian masuk bersama slihengnya.

"Ah, terjadinya sudah belasan tahun yang lalu. Pernah kami bentrok dan bertanding sampai ratusan jurus, tidak ada yang kalah atau menang. Akhirnya, dengan It-yang-ci aku dapat merobohkannya, walaupun aku juga mengalami luka dari tangannya, akan tetapi tidak separah lukanya. Agaknya dia mengetahul bahwa Hui San muridku, maka dia sengaja melukai Hui San agar aku mencoba menyembuhkannya dengan It-yang-ci."

Setelah merebahkan Hui San di pem-baringan, In Tiong Hwesio berkata kepada suhengnya, "Sayang sekali kepandaianku belum mencapai tingkat untuk menggunakan It-yang-ci dalam penyembuhan. Akan tetapi, engkau akan menghamburkan banyak tenagamu untuk menyembuhkan itu, Suheng. Dan untuk memulihkan kembali tenagamu tentu rnembutuhkan waktu yang lama sekali."

Suhengnya mengangguk-angguk. "Omi-tohud, semua sudah takdir. Pinceng tidak membutuhkan tenaga itu, sekarang yang membutuhkannya adalah Hui San, mengapa tidak pinceng gunakan? Nah, silakan keluar dulu, Sute dan harap pesan semua murid agar tidak mengganggu pinceng sewaktu melakukan pengobatan."

"Pinceng mengerti, Suheng," kata In Tiong Hwesio yang segera keluar dari ruangan itu dan menutupkan pintunya, kemudian dia memesan kepada para muridnya agar tidak mendekati ruangan itu.

Watak Lee Cin memang aneh. Makin dilarang, ia menjadi makin ingin tahu. Kalau saja ia tidak dilarang memasuki kuil, bahkan andaikata diterima dengan ramah dan dipersilakan masuk, ia tidak akan mau dan akan pergi begitu saja setelah mengantar Hui San sampai di tempatnya. Akan tetapi justeru karena dilarang, maka kini setelah tiba di luar kuil ia lalu menyelinap dan memasuki kuil kembali melalui tembok belakang! la melompati pagar tembok di belakang, tiba di kebun belakang dan menyelinap masuk lagi secara sembunyi.

Tak lama kemudian ia sudah mendekam di atas ruangan di mana In Kong Thaisu sedang mengobati Hui San dan mengintai ke dalam! la melihat Hui San duduk berdila di atas pembaringan dan In Kong Thaisu bersilat secara aneh, kadang menggunakan sebuah jari telunjuknya untuk menotok jalan darah di punggung Hui San yang tidak berbaju. Diam-diam Lee Cin memperhatikan semua itu dan mencatat dalam ingatannya semua gerakan yang dilakukan .In Kong Thaisu. Tanpa disadari, gadis ini telah mempelajari jurus-jurus dari It- yang-ci yang diperagakan In Kong Thaisu, juga ia melihat ke mana jari telunjuk itu menotok jalan darah.

In Kong Thaisu memainkan semua jurus It-yang-ci dengan menotok jalan darah di pundak, punggung, kemudian dada Hui San setelah memutar tubuh pemuda itu menghadapnya.

Setelah sele-sai, uap putih keluar dari ubun-ubun kepala yang gundul itu dan In Kong Fhaisu berhenti, lalu berkata, "Bahaya telah lewat, akan tetapi engkau masih harus bersamadhl mengumpulkan hawa murni selama tiga jam." Setelah berkata demikian, dengan tubuh lemas hwesio itu sendiri juga lalu duduk bersila. Agaknya dia telah mengeluarkan tenaga terlalu banyak sehingga kehabisan tenaga.

Sementara itu, demikian asiknya Lee Cin mengintai sampai ia tidak tah bahwa ada seorang hwesio mendekatinya dari belakang. Tiba-tiba saja hwesio itu membentak, "Apa yang kaulakukan di sini?"

Lee Cin kaget seterigah mati dan saking kagetnya ia lalu meloncat turun ke dalam ruangan itu! Hwesio murid Siauw-lim-pai itu mengejarnya.

"Hendak lari ke mana kau?" bentaknya dan dia pun meloncat turun ke dalam ruangan di mana Hui San dan In Kong Thaisu masih duduk bersila. Ketika hwesio itu sudah tiba di depan Lee Cin, secara otomatis Lee Cin lalu menggerakkan tangan dan karena pikirannya masih penuh dengan hafalan tentang jurus-jurus It-yang-ci yang tadi diperagakan In Kong Thaisu, maka kini ia pun menyerang dengan jurus It-yang-ci! Lee Cin memang sudah memiliki tenaga sin- kang yang kuat sekali, maka gerakannya itu cukup hebat dan biarpun hwesio itu sudah mengelak, tetap saja dadanya tertotok. Hanya karena Lee Cin belum dapat melakukan jurus itu dengan tepat sekali, maka totokan itu meleset dan hanya membuat hwesio itu terjengkang saja.

Pada saat itu, In Tiong Hwesio yang mendengar suara ribut-ribut memasuki ruangan itu dan alangkah heran dan kagetnya melihat Lee Cin berada di ruangan itu dan seorang muridnya terjengkang.

"Omitohud! Apa yang terjadi di sini?" katanya. Akan tetapi melihat hwesio tinggi kurus ini, Lee Cin khawatir kalau ia diserang lebih dulu, maka ia melanjut-kan gerakannya, menyerang dengan It-yang-ci pula! In Tiong Hwesio adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandaL Biarpun ilmunya belum setinggi In Kong Thaisu, akan tetapi dia mengenal lt-yang-ci dan cepat ia mengibaskan lengan bajunya yang lebar untuk menangkis dan melanjutkan dengan kibasan lengan baju untuk balas menyerang. Akan tetaoi Lee Cin cukup lihai dan cepat menghindar.

"Tahan. !!" Tiba-tiba In Kong Thaisu berteriak dan kedua orang itu pun ber-henti saling

serang. Teriakan In Kong Thaisu itu berwibawa sekali dan Lee Cin berdiri sambil memandang, siap untuk menghadapi teguran.

"Nona, dari mana engkau mempelajari It-yang-ci?" tanya In Kong Thaisu sambil bangkit berdiri menghadapi Lee Cin, suaranya penuh tuntutan dan pandang matanya mencorong. Sedangkan Thio Hui San juga hanya dapat memandang saja. Dia bingung dan tidak mengerti mengapa Lee Cin memasuki ruangan itu bahkan merobohkan seorang hwesio dengan jurus It- yang-ci yang amat sukar.

"Maaf, Losuhu," kata Lee Cin dengan sejujurnya. "Ketika diusir dari sini, aku menjadi penasaran sekali dan ingin melihat kuil ini ada apanya maka melarang wanita memasukinya. Kalau aku tidak dilarang, tentu tidak ingin melihat. Tanpa sengaja aku melihat Losuhu mengobati muridnya. Karena tertarik melihat gerakan-gerakan totokan itu, maka aku men-jadi terpikat dan diam-diam aku memperhatikannya dari awal sampai akhir. Kemudian aku ketahuan dan karena khawatir diserang, aku lalu lebih dulu menyerangnya, dan tanpa kusadari aku me-mainkan jurus-jurus yang tadi aku lihat ketika mengintai."

"Omitohud. kiranya pinceng sendiri yang mengajarimu It-yang-ci! Sungguh aneh dan

agaknya memang sudah ditentukan Yang Maha Bijaksana bahwa engkau berjodoh dengan It- yang-ci, Nona muda. Baiklah, engkau sudah melihat dan menghafalkan jurus-jurus It-yang-ci, ini berbahaya sekali, baik bagimu maupun bagi orang lain. Maka pinceng akan mengajarkan It-yang-ci kepadamu agar engkau dapat menguasai dengan benar dan baik. Akan tetapi lebih dulu engkau harus bersumpah bahwa engkau tidak akan nengajarkannya kepada orang lain dan akan menggunakan It-yang-ci untuk berbuat kebaikan, bukan kejahatan."

Lee Cin menjadi girang bukan main. la tahu bahwa It-yang-ci itu merupakan ilmu simpanan dari hwesio sakti itu, mana cepat ia menjatuhkan diri berlutut. "Saya bersumpah kalau diberi pelajaran It-yang-ci tidak akan mengajarkannya kepada orang lain dan tidak akan meng- gunakan untuk kejahatan'" la lalu memberi hormat seperti layaknya seorang murid, akan tetapi hwesio itu mencegahnya.

"Omitohud, tidak perlu engkau mengangkat guru kepada pinceng. Pinceng akan mengajarkan It-yang-ci, bukan berarti engkau menjadi murid pinceng. Eng-kau tetap murid gurumu, siapa pun adanya dia. Nah, mari kita pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat)!"

Demikianlah, mulai hari itu Lee Cin dilatih It-yang-ci oleh In Kong Thaisu, dan karena dara ini memang berbakat baik sekali dan mempunyai ingatan yang kuat, maka selama tiga hari saja ia sudah dapat menguasai ilmu itu. Untuk menyempurnakan, ia tinggal berlatih saja.

Pada hari ke tiga, ketika ia berlatih seorang diri, In Kong Thaisu mengham-pirinya dan berkata setelah sejenak memperhatikan cara gadis itu berlatih. "Engkau sudah menguasainya dengan baik, Lee Cin. Sekarang tergantung kepadamu ssendiri untuk dapat menguasai dengan sempurna, yaitu dengan melatih diri. Juga terserah kepadamu apakah kelak engkau akan memegang teguh sumpahmu untuk merahasiakan ilmu ini, tidak meng-ajarkan kepada orang lain dan tidak melakukannya untuk kejahatan. Kalau engkau melanggar, tentu engkau pula yang akan menanggung akibat buruknya."

Biarpun ia seorang gadis yang berpembawaan liar karena sejak kecil hidup bersama Ang-tok Mo-li, akan tetapi pada hakekatnya Lee Cin adalah seorang gadis yang mengenal aturan dan mengenal budi. la cepat memberi hormat dengan berlutut di depan kaki hwesio itu.

"Saya menghaturkan terima kasih atas petunjuk Locianpwe dan saya tentu akan memegang teguh janji dan sumpah saya."

"Omitohud, pinceng girang sekali, Lee Cin. Nah, sekarang engkau boleh pergi meninggalkan tempat inl."

Lee Cin lalu berpamit dan pergilah ia meninggalkan kuil itu. Setibanya di luar kuil, dia mendengar panggilan dari belakang, "Nona !"

Lee Cin berhenti melangkah dan ketika ia menengok, ternyata yang memanggilnya adalah Hui San. la melihat pemuda itu telah sembuh sama sekali dan ini membuktikan betapa amouhnya ilmu It-yang-ci untuk pengobatan.

"Engkau telah sembuh. Aku girang sekali eh, siapa tadi namamu?" Lee Cin mengingat-ingat

akan tetapi lupa lagi.

"Namaku Thio Hui San, Nona. Dan kalau boleh aku mengetahui namamu "

"Tentu saja boleh. Namaku Lee Cin, Bu Lee Cin." "Nama yang indah dan gagah, seperti orangnya," Hui San memuji.

Lee Cin tersenyum. "Aih, kiranya engkau seorang pemuda yang pandai me-muji dan merayu pula."

Hui San juga tersenyum. "Sama sekali tidak memuji atau merayu, Nona. Aku bicara sejujurnya. Aku pun gerhbira sekali bahwa engkau telah menerima pelajaran It-yang-ci dari Suhu, padahal aku sendiri belum diajari It-yang-ci. Akan tetapi setelah Suhu mengajarkannya ke-padamu, dia berjanji akan mengajarku pula."

"Ini semua berkat pertolonganmu ke-padaku, Hui San. Kalau engkau tidak menolongku dari tangan ayah dan anak Siangkoan itu, mungkin sekarang aku sudah mati dan tidak bertemu dengan gurumu yang mengajarkan tt-yang-ci kepadaku. Kelak, kalau bertemu lagi de-ngan jahanam Siangkoan Tek, tentu akan kubunuh dia dengan It-yang-ci!"

"Tidak perlu bicara tentang pertolongan, Nona. Sebaliknya, kalau tidak ada engkau yang menolongku membawa aku ke kuil, tentu aku sudah mati dalam perjalanan pula. Orang-orang seperti kita inl memang harus saling tolong menolong dalam menghadapi orang-orang jahat."

"Hemm, engkau boleh berkata demikian karena engkau adalah murid Locian-pwe In Kong Thaisu. Engkau memang sepantasnya menjadi seorang pendekar budiman. Akan tetapi aku... ah, aku hanya, seorang gadis kasar yang bodoh."

"Tidak sama sekali, Nona. Dalam pandanganku, engkau adalah seorang yang amat baik, gagah perkasa dan berbudi mulia. Aku... aku ingin agar selama hidupku menjadi... sahabat baiknnu, Nona."

"Hui San, engkau ingin menjadi sahabatku, akan tetapi engkau masih bersungkan-sungkan menyebutku nona segala.

“Engkau sudah tahu bahwa namaku Lee Cin."

Hui San tersenyum. "Baiklah, Lee Cin. Aku girang sekali dapat menyebut namamu."

"Sudahlah, aku harus pergi, Hui San. Selamat tlnggal dan mudah-mudahan kita akan dapat berjumpa kembali."

"Nanti dulu, Lee Cin! Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu? Ke mana aku harus mencarimu?"

Lee Cin tersenyum manis. "Hui San, engkau akan terkejut setengah mati ka-lau mengetahui di mana tempat tinggalku dan siapa pula guruku. Sudahlah, tidak perlu engkau tahu karena hal itu hanya akan membuatmu menyesal dan kecewa kepadaku."

"Tidak, aku bersumpah, siapapun juga gurumu dan di mana pun tempat tinggalmu, tidak akan membuatku kecewa dan aku akan tetap mencarimu di sana."

"Benarkah? Engkau mau tahu? Nah, tempat tinggalku di Bukit Ular di Lembah Huang-ho." Hui San terbelalak. "Bukit Ular di Lembah Huang-ho? Tidak salahkah itu? Setahuku hanya ada satu tempat yang disebut Bukit Ular di Lembah Hyang-ho. "

"Memang hanya satu," sambung Lee Cin sambil tersenyum manis. la "idak akan merasa menyesal atau heran kalau nanti Hui San terkejut dan berbalik tidak suka lagi kepadanya setelah mendengar siapa gurunya. Nama gurunya sudah amat terkenal sebagai seorang datuk sesat yang suka membunuh orang tanpa berkedip mata.

"Kaumaksudkan, tempat tinggal Ang-tok Mo-li?" tanya Hui San, masih terheran-heran. "Tepat sekali. Memang Ang-tok Mo-li itulah guruku. Engkau terkejut dan menyesal?"

"Sungguh mati, aku terkejut bukan main, Lee Cin. Dan tidak kusangka-sangka, akan tetapi menyesal? Kecewa Rasanya tidak, karena engkau adalah seorang gadis yang, gagah perkasa dar berbudi mulia. Gurumu tidak ada sangkut-pautnya dengan kepribadianmu."

"Benarkah itu?"

"Aku berani bersumpah. Dan untuk membuktikan bahwa aku tidak menyesal atau kecewa, sekali waktu aku tentu akan berkunjung ke Bukit Ular untuk mencarimu."

"Hemm, engkau akan dibunuh guruku!"

"Aku tidak khawatir. Bukankah ada engkau di sana? Kecuali kalau engkau membiarkan aku dlbunuh gurumu, apa boleh buat, akan tetapi hal itu tidak membuat aku mundur."

"Heii, Hui San, kenapa sih engkau ngotot hendak mengunjungi aku? Sampai-sampai engkau berani mengorbankan atau mempertaruhkan nyawamu?"

Tiba-tiba Hui San mengangkat dada. "Seorang gagah harus berani jujur dan berterus terang, Lee Cin. Engkau berta-nya? Baiklah, akan kujawab. Aku berani nekat karena aku cinta padamu! Nah, sudah lega sekarang, isi hatiku sudah kukeluarkan. Terserah kepadamu apakah engkau dapat menerima cintaku ataukah tidak."

Kini Lee Cin merasa terkejut. Jawaban itu sungguh tidak pernah diduganya. Selama ini, banyak pria yang tergila-gila kepadanya. Walaupun tidak ada yang berterus terang menyatakan cinta. Akan tetapi semua itu tidak pernah ditang-gapinya sama sekali, karena ia mengang-gap para pria itu hanya ingin mempermainkannya. Dan selama ini hatlnya baru pertama kali pernah tertarik pada pria, yaitu kepada Song Thian Lee. Walaupun Thian Lee belum menanggapi perasaan hatinya, akan tetapi ia masih tetap mengharapkan agar kelak Thian Lee menjadi jodohnya. Dan kini, tahu-tahu dan tiba-tiba saja pemuda Siauw-lim-pai yang tampan dan gagah perkasa ini menyatakan cinta kepadanya!

Wajahnya menjadi kemarahan dan ia merasakan jantungnya berdebar panuh ketegangan. Belum pernah ia merasa tegang seperti saat ini, dan dengan salah ting-kah ia lalu pergi sambil berkata, "Aku tidak tahu... sungguh aku tidak tahu. " Dan ia pun melarikan diri dari tempat

itu, meninggalkan Hui San yang menjadi bengong karena pemuda ini tidak mengerti akan sikapnya itu. Gadis yang dicintanya itu mendengar pernyataan cintanya, tidak menerima, juga tidak me-nolak, melainkan pergi dan menjawab tidak tahu. Dia tidak berani mengejar, lalu menarik napas panjang penuh kebimbang-an dan kembali memasuki kuil. Hari itu dia harus kembali bersama suhunya ke Kwicu, tempat tinggal suhunya, di sebuah Kuil Siauw-lim-si yang besar.

Setelah meninggalkan Kuil Siauw-llm, Lee Cin melanjutkan perjalanannya. Yang dituju adalah Hong-san karena ia hendak memenuhi pesan subonya untuk menemui Souw Tek Bun, yang oleh subonya dikatakan musuh besar subonya itu. la sendiri tidak pernah bertemu dengan Souw Tek Bun dan tidak tahu dia orang macam apa, akan tetapi subonya berpesan agar ia membunuhnya. Selama menjadi murid Ang-tok Mo-li, Lee Cin merasa betapa gurunya itu amat sayang kepadanya, mendidiknya dengan tekun dan mencukupi semua kebutuhannya. Dan selama ini subonya tidak pernah menyuruh ia melakukan pekerjaan penting atau berat.

Sekarang, setelah ilmunya dianggap mencukupi, subonya minta agar ia membunuh musuh besar subonya yang bernama Souw Tek Bun. Maka ia harus melakukan ini, untuk membalas budi subonya yang ber-limpah-limpah. Menurut subonya, Souw Tek Bun adalah bengcu dunia kang-ouw. Tentu berilmu tinggi! Akan tet.ipi ia tidak takut, apalagi sekarang ia telah menguasai It-yang-ci, walaupun baru ber-latih' selama tiga hari saja Ilmu itu memang belum dapat ia pergunakan dengan baik, kurang latihan, akan tetapi gerakannya sudah lumayan menambah kelincahannya.

Ketika ia sudah tiba di kakl pegunungan Hong-san yang sunyi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh munculnya tiga orang. Tentu saja ia makin terkejut ketika mengenal bahwa orang itu bukan lain adalah Coat-beng-kwi, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi! la merasa heran bukan main. Sepanjang pengetahuannya, tiga orang datuk perampok inl telah ditangkap oleh pasukan pemerintah di kota Pao-ting ketika mereka cerai-berai melarikan diri setelah dihajar oleh ia dan Thian Lee yang membantu Souw-pangcu. Bagai-mana sekarang mereka dapat muncul di sini?

Memang demikianlah. Tiga orang to-koh sesat ini tadinya sudah dikepung dan ditangkap pasukan. Mereka tidak melaku-kan perlawanan, akan tetapi ketika mereka digiring ke rumah tahanan, tiga orang ini memberontak dan berhasil me-larikan diri. Mereka menjadi orang

buru-an pemerintah. Dan secara kebetulan saja mereka kini tiba di kaki Pegunungan Hong-san dalam usaha mereka menyembunyikan diri.

Merasa bahwa ia seorang diri tidak mungkin dapat menandingi tiga orang itu, Lee Cin bermaksud menghindarkan dirl. Akan tetapi, tiga orang itu sudah melihatnya. Terutama sekali Thian-lo-kwi yang pernah ia kalahkan.

"Heii, berhenti kau!" Thian-lo-kwi membentak dan tiga orang itu sudah berloncatan mengejar Lee Cin. Karena sudah ketahuan, Lee Cin juga tidak melanjutkan larinya. la bahkan membalikkan tubuhnya tanpa mengenal takut. Memang kalau melawan satu demi satu, ia sama sekali tidak takut dan merasa yakin akan merobohkan mereka semua.

“iHemm, kiranya kalian, pecundang-pecundang yang sudah kalah. Mau apa kalian mengejarku?" Lee Cin balas membentak.

"Iblis betina, sekarang tibalah saatnya kami membalas kekalahan kami tempo hari!" Thian-lo- kwi membentak marah.

Lee Cin tersenyum. "Bagus!' Kalian belum jera? Boleh maju satu-satu, kalau kalian memang gagah." Ia sengaja me-nantang demikian dengan harapan tiga orang itu akan merasa malu untuk me-ngeroyoknya. Akan tetapi, orang yang merasa sakit hati, mana mengenal. rasa malu lagi? Coat-beng-kwi sudah menca-but goloknya, sedangkan dua orang kakaknya, Thian-lo- kwi dan Bu-tek Lo-kwi telah mencabut pedang masing-masing. Dan tanpa banyak cakap lagi tiga orang tokoh sesat ini segera mengepung dan menyerang Lee Cin. Lee Cin sudah melolos Ang-coa-kiam, pedang tipisnya yang dipakai sebagai sabuk, dan melawan ma-ti-matian. la maklum bahwa tiga orang tua itu kalau maju bersama merupakan lawan yang amat tangguh, akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan membalas dengan gulungan sinar pedangnya yang kemerahan.

Tiga orang itu.kalau maju satu lawan satu, tidak akan menang melawan Lee Cin. Biarpun Bu- tek Lo-kwi sendiri yang paling lihai di antara mereka, akan mengalami kesulitan kalau bertanding mela-wan Lee Cin. Akan tetapi sekarang me-reka maju bertiga dan tentu saja dapat saling bantu dan pengeroyokan itu akhir-nya membuat Lee Cin terdesak hebat. Didesak oleh tiga orang yang menyerang untuk membunuhnya. Lee Cin menjadi repot juga. Untuk memanggil ular-ularnya, ia tidak sempat lagi meniup sulingnya, ia didesak hebat sehingga main mundur, berloncatan ke sana sini dan hanya berkat kelincahan gerakan tubuhnya sajalah yang membuat Lee Cin masih belum dapat dirobohkan walau penge-royokan itu sudah berlangsung hampir seratus jurus!

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Lee Cin itu, tiba-tiba mun-cul seorang kakek tinggi kurus yang ber-pakalan hitam putih. Di bajunya bagian dada ada lukisan Im- yang. Kakek ini berusia hampir enam puluh tahun namun masih nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Dia ini bukan lain adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek, datuk besar dari selatan itu, begitu muncul dan melihat seorang gadis cantik jelita dikeroyok tiga orang itu, dan sedang didesak hebat, dia membentak,

"Tiga ekor anjing srigala mengeroyok seekor harimau betina, sungguh tidak tahu malu!" Dia menyerbu ke dalam medan pertempuran itu dan empat orang yang sedang bertanding itu dilanda angin yang kuat sehingga mereka terkejut dan berlompatan mundur sambil memandang ke arah kakek tinggi kurus itu.

Coat-beng-kwi yang brangasan itu menjadi marah. Dia melangkah maju dan membentak, "Kau orang gila dari mana datang mencampuri urusan kami!" Setelah berkata demikian, dia menggerakkan golok besarnya membacok k.e arah kakek tinggi kurus itu.

Thian-te Mo-ohg menyenngai, sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi ketika golok itu sudah menyambar dekat di kepalanya, tangan kirinya menyambar dari bawah dan tahu-tahu golok itu telah ditangkapnya! Coat-beng-kwi terkejut ketika goloknya tertahan.

Akan tetapi melihat orang itu berani menangkap goloknya yang tajam, dia menjadi girang dan segera mengerah-kan tenaganya untuk membuat tangan yang mencengkeram goloknya itu menjadi buntung. Akan tetapi goloknya tidak dapat dia gerakkan, bahkan ketika ditarik hendak dilepaskan dari cengkeraman, golok itu tidak bergerak seolah telah terjepit oleh jepitan baja yang amat kuat.

Thian-te Mo-ong mengerahkan tenaganya pada tangan kiri yang mencengkeram dan "krekk'" golok itu telah patah menjadi dua dan bagian ujungnya kini berada di dalam tangannya. "Nah, ini makan golokmu sendiri!" bentaknya dan sekali tangan kirinya bergerak, ujung golok itu telah menyambar bagaikan sebatang anak panah melesat dari busurnya. Jarak di antara mereka dekat sekali, maka Coat-beng-kwi tidak sampai lagi untuk mengelak atau menangkis karena tahu-tahu ujung goloknya itu telah menancap dl dadanya. Dia mengeluarkan teriakan keras dan roboh terjengkang, tewas karena ujung golok yang tajam itu telah memasuki dadanya dan merobek jantungnya! Melihat ini, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi menjadi terkejut bukan main, dan juga marah. Mereka berdua segera menggerakkan pedang mereka, menyerang Thian-te Mo-ong dengan dahsyat. Yang diserang mengelak ke belakang dan di lain saat Thian-te Mo-ong sudah memegang pedang yang berkilauan. Akan tetapi, Thian-lo-kwi dan Bu-tek Lo-kwi yang sudah marah melihat kematian adik mereka, tidak peduli dan mereka berdua segera menyerang lagi dengan tusukan dan bacokan maut. Akan tetapi kini nampak dua gulung sinar pedang yang demikian kuat sehingga mengejutkan dua orang pengeroyok itu. Akan tetapi keka-getan mereka sudah terlambat. Dua gulungan sinar pedang itu telah menghimpit sinar pedang mereka dan menekan sede-mikian hebatnya sehingga mereka tidak mampu menghindarkan diri lagi. Terpaksa mereka menggunakan pedang untuk me-nahan dan melindungi diri mereka dari sambaran gulungan dua sinar pedang yang demikian kuatnya itu. Namun, ini juga tidak dapat bertahan lama. Belum sampai dua puluh jurus, Thian-lo-kwi terpelanting roboh dengan leher tertembus pedang! Bu-tek Lo-kwi terkejut dan juga marah, menggerakkan pedang^ dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya me-ngirim pukulan jarak jauh sambij mengerahkan sin-kangnya. Akan tetapi Thian-te, Mo-ong menyambut pukulan tangan kiri ini dengan sambaran pedangnya.

"Crokk. !" Lengan kiri Bu-tek Lo-kwi buntung sebatas siku! Bu-tek Lo kwi terkejut sekali

dan melompat mundur. Mukanya menjadi pucat dan matanya terbelalak inemandang orang tinggi kurus itu.

"Katakan siapa engkau. bentaknya dengan terengah menahan rasa nyeri.

"Selamanya Thian-te Mo-ong tidak pernah menyembuhyikan nama." kata kakek itu sambil tertawa mengejek.

Bukan main kagetnya Bu-tek Lo-kwi mendengar nama ini. Tenu saja dia su-dah mendengar akan nama besar datuk selatan itu. Karena baru sekarang berte-mu, tadi dia tidak menduga bahwa yang dilawannya adalah Datuk Selatan. Dia sudah mendengar akan kekejaman datuk ini, maka dia pun menjadi putus harapan untuk dapat keluar dengan selamat, dan dia menjadi nekat. Sambil membentak nyaring, dia melompat ke depan sambil menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi, pedang itu tertangkis oleh pedang kiri Thian-te Mo-ong dan pedang kanan datuk itu sudah menembus dada Bu-tek Lo-kwi dan robohlah tokoh sesat itu dan tewas seketika!

Lee Cin memandang dengan kaeum. Bukan main lihainya kakek itu dan ia pun tidak merasa heran. Ia tadi men-dengar pengakuan kakek itu dan sudah Aama pula ia mendengar akan nama besar Ihian-te Mo-ong sebagai Datuk Besar Selatan. Ia tidak pergi karena tadi ia mgin sekah melihat perkelahian itu. Baru setelah ketiga orang itu roboh tewas, ia tenngat betapa bahayanya orang seperti Datuk SeJatan ini. Dan kini sudah terlambat baginya untuk melarikan diri dan terpaksa ia wenghadapi Thian-te Mo-ong

''Jadi engkaukah yang berjuluk Thian-te Mo-ong? Suboku sering bercerita tentang Datuk Besar Selatan. Ternyata pujian guruku bukan kosong belaka. Engkau memang lihai sekali, Thian-te Mo-orig dan aku berterima kasih kepadamu telah menolongku dari tangan mereka." Thian-te Mo-ong tertawa. "Ha-ha-ha,'' subomu Ang-tok mo-li itu, Cantik jelita, sayang mukanya pucat selalu. Engkau jauh lebih jelita, Nona. Dan aku Thian-te Mo-ong selamanya kalau melakukan sesuatu tentu ada pamrihnya. Tadi aku menolongmu dan membunuh tiga ekor anjing ini pun tentu ada pamrihnya. "Hemm, apakah pamrihmu, Mo-ong?"

"Aku tertarik kepadamu. Kalau bukan engkau yang dikeroyok, untuk apa aku mencampuri urusan mereka? Engkau cantik dan berbakat pantas menjadi muridku. Maka, engkau harus menjadi muridku selama dua tahun!"

"Tidak, Subo tertu marah sekali”.

"Ha-ha, soal Ang-tok Mo-li serahkan saja kepadaku. Aku yang akan memberi tahu kepadanya kelak. Engkau harus mulai sekarang ikut dengan aku!"

Diam-diam Lee Cin merasa terkejut dan khawatir sekali. Jelas ia tidak mampu melawan kakek ini dan sekali kakek ini sudah mengambil keputusan, bagaimana mungkin ia dapat mengubahnya?

Dan ia tahu bahaya besar mengancam dirinya kalau ia ikut dengan kakek itu untuk menjadi muridnya. Pandang mata kakek itu saja sudah membuat bulu romanya berdiri! Lee Cin lalu cepat mengeluarkan sulingnya, melompat ke bela-kang sambil meniup sulingnya. Suara sulingnya melengklng-lengking dan melihat ini, Thian-te Mo-ong hanya menyeringai saja, seolah melihat pertunjukan yang menarik hati. Tentu saja dia sudah tahu bahwa selain ilmu- ilmunya yang lain Ang-tok Mo-li terkenal sebagai seorang ahli racun dan juga pawang ular. Dan dia tahu apa artinya suara suling yang melengking-lengking itu. Agaknya gadis ini mewarisi juga ilmu pawang ular. Tadi dia langsung saja dapat menduga bahwa gadis itu murid Ang-tok Mo-li dengan melihat pedang merah dan gerakan ilmu pedang yang nnelingkar-Ungkar seperti gerakan ular itu,

Tak lama kemudian, nampak banyak sekali ular berdatangan ke tempat itu, berkumpul di depan Lee Cin yang meniup suling. Lee Cin menghentikan tiupan sulingnya dan berkata, "Mo-ong, aku tidak mau ikut denganmu. Cepat pergi tinggalkan aku."

"Ha-ha, kalau aku tidak mau pergi tanpa engkau?"

"Akan kukerahkan ular-ular ini untuk mengeroyokmu!" ancam Lee Cin, siap untuk meniup sulingnya.

"Ha-ha-ha, boleh! Ingin aku melihatnya!" kata kakek itu sambil tertawa,

Lee Cin segera meniup sulingnya dan puluhan ekor ular itu serentak membalik dan merayap ke arah Thian-te Mo-ong! Kakek itu lalu meruncingkan mulutnya dan terdengarlah sultan- suitan yang nyaring sekali. Suara suitan ini bercarnpur aduk dengan suara suling, seolah menye-ret suara suling sehingga tiupan suling terdengar sumbang. Dan kini ular-ular itu menjadi kacau, tidak jadi menyerang Thian-te Mo-ong melalnkan berputar-putar seperti keblngungan oleh perintah suling yang tidak karuan itu.

Tiba-tiba Thian-te Mo-ong meloncat ke arah Lee Cin dan menyerangnya dengan cengkeraman. Lee Cin cepat meloloskan pedangnya, akan tetapi tahu-tahu suUngnya telah dirampas kakek itu sehingga ia tidak dapat lagi menguasai ular-ularnya. Binatang-binatang itu setelah tidak lagi rnendengar suara suling, perlahan-lahan lalu merayap pergi agaknya ketakutan melihat dua orang saling bertanding. Lee Cin menggerakkan pedangnya untuk membela dirl. Dan kakek itu hanya menggunakan suling rampasan tadi. Setelah lewat tiga puluh jurus, akhirnya Lee Cin roboh tertotok suling!

Pada saat itu, ada angin menyambar dan suling itu telah dirampas orang dari tangan Thian-te Mo-ong. Kakek ini terkejut bukan main. Jarang ada orang yang akan mampu merampas suling itu dari tangannya sedemiklan mudahnya. Tadi, setelah merobohkan Lee Cin dia menjadi lengah dan ketika ada angin dahsyat menyambar, dia mengelak tidak tahu bahwa sulingnya yang diarah orang itu. Dan kini, suling itu telah berpindah tangan!

Lee Cin menjadi girang bukan main ketika melihat siapa yang muncul di situ. Thian Lee! Akan tetapi Thian-te Mo-ong mengerutkan alisnya, semakin penasaran dan marah ketika melihat bahwa yang merampas sulingnya hanyalah seorang pemuda yang sederhana! Thian Lee lalu menghampiri Lee Cin dan sekali dia menggerakkan suling itu, tubuh Lee Cin telah dibebaskannya dari totokan dan suling itu dia serahkan kembali kepada Lee Cin.

"Untung engkau segera muncul Thiah Lee. Akan tetapi hati-hatilah, kakek itu adalah Thian-te Mo-ong, Datuk Selatan dan dia lihai sekali."

Thian Lee memandang ke arah tiga sosok mayat yang berserakan di situ dan dia bertanya, "Lee Cin, apakah yang telah terjadi di sini?"

"Aku dikeroyok Coat-beng-kwi dan dua orang kawannya. Agaknya mereka itu dapat meloloskan diri ketika ditangkap dan kebetulan bertemu denganku di sini. Aku dikeroyok tiga dan kewalahan. Lalu muncul Thian-te Mo-ong membunuh mereka bertiga."

"Ah, dia menolongmu dan kenapa kemudian bertanding denganmu?"

"Habis, dia hendak memaksa aku ikut dengan dia sebagai murid. Aku tidak dan dia memaksaku."

Sementara itu, Thian-te Mo-ong menjadi semakin jengkel melihat dua orang muda itu bercakap-cakap berdua tanpa mempedulikan dirinya, seolah dia tidak berada di tempat itu.

"Hei, orang muda, siapakah engkau yang berani menentangku? Mengakulah sebelum engkau mati tanpa nama!" bentaknya dan Thian-te Mo-ong melangkah maju menghampiri Thian Lee.

Pemuda ini lalu menghadapi kakek itu dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada. "Maafkan aku locianpwe, Bukan sekali-kali aku hendak menentang Locianpwe, melainkan nona ini adalah seorang sahabatku dan aku minta Locianpwe tidak mengganggunya iagi."

"Siapa namamu dan siapa pula gurumu?"

"Namakii Song Thian Lee dan guruku banyak, Locianpwe, di antara mereka adalah Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi," Thian Lee tidak mau menyebutkan nama Tan Jeng Kun yang tidak ingin dikenal orang, dan dia menyebutkan nama dua orang gurunya yang pertama dan ke dua dengan harapan bahwa nama dua orang tokoh sesat itu akan membuat kakek ini tidak akan mengganggunya lebih lanjut karena telah mengenal guru-gurunya.

"Ah jadi engkau murid Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi? Hemm, bahkan kedua orang gurumu itu saja tidak akan berani menentangku! Akan tetapi engkau muridnya, sudah berani kurang ajar terhadapku. Aku harus memberi hajaran kepadamu!"

"Locianpwe, aku tidak mencan permusuhan dengan siapapun juga. Harap suka membiarkan kami berdua pfergi dari sini."

"Hemm, tidak semudah itu Engkau harus mengenal dulu kelihaianku, dan kalau Nona itu hendak membantumu mengeroyokku, boleh saja!" Kakek itu menantang dengan sombong.

Lee Cin yang merasa penasaran dan marah kepada kakek itu lalu berkata dengan nada mengejek, "Mo-ong, jangan takabur! Melawan Thian Lee seorang saja engkau tidak akan menang, kalau aku ikut pula maju mengeroyok, tentu dalam belasan jurus saja engkau sudah akan bertekuk lutut. Akan tetapi aku tahu bahwa Thian Lee bukanlah seorang yang suka main keroyokan, maka aku hendak melihat bagaimana engkau akan mampu menandinginya." Lee Cin bukan, hanya mengejek, melainkan ia sudah dapat menyelami watak Thian Lee yang gagah perkasa. Tentu pemuda itu tidak mau kalau ia ikut mengeroyok kakek itu. Demikianlah sifat seorang yang gagan perkasa dan ia tahu bahwa watak Thian Lee adalah watak seorang pendekar yang gagah perkasa.

Thian-te Mo-ong marah sekali. "Kalau begitu, engkau lihat betapa aku akan menghajar murid Liok-te Lo-mo dan Jeng-ciang-kwi ini. Thian Lee, bersiaplah engkau!"

Thian Lee tidak berani memandang ringan kakek ini. Dia sudah mendengar akan nama besar Empat Datuk Besar di dunia persilatan dan kakek di hadapannya ini adalah seorang di antara mereka. Kalau dia ingin dapat menandingi ilmu kepandaian kakek ini, dia harus menge- rahkan seluruh tenaga dan kemampuannya.

"Aku telah siap, Locianpwe," katanya dengan sikap menghormat.

"Sambutlah ini!" bentak Thian-te Mo-ong. Bentakannya nyaring dan mengandung tenaga khi- kang sepenuhnya, kemudian tangan kirinya meluncur ke depan dengan cengkeram ke arah muka Thian Lee sedangkan tangan kanan menyusul gerakan pancingan itu menghantam ke arah perutnya. Hantaman tangan kanan kini dilakukan dengan Iwee-kang (tenaga dalam) sepenuhnya sehingga tangan yang terbuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara angin menderu.

Namun, dengan ringan sekali Thian Lee mengelak, mula-mula menarik kepalanya ke belakang, lalu memutar tubuh sehingga pukulan lawan ke arah perutnya mengenai tempat kosong. Akan tetapi Thian-te Mo-ong sudah menyusulkan serangan berikutnya dan kini bahkan kedua tangannya menghantam ke arah kepala dari atas bawah. Thian Lee tidak mundur dia memang ingin menguji tenaganya untuk menghadapi tenaga Mo-ong, maka dia mengangkat kedua tangannya menangkis sambil mendorong dengaft tenaga Thian-te Sin- kang.

Tidak dapat dihindarkan lagi dua pa- a sang lengan itu bertemu di udara.

"Dukkkk!" Dua tenaga yang dahsyat saling bertemu dan akibatnya, tubuh Thian-te Mo-ong agak terpental ke belakang sedangkan kedua kaki Thian Lee masuk ke dalam tanah sampai lima sentimeter! Keduanya maklum bahwa tenaga sin-kang mereka seimbang dan hal ini sungguh mengejutkan Thian-te Mo-ong. Mo-ong tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya dan pemuda itu mampu menahan pukulannya. Padahal menurut perhitungannya, bahkan Liok- te Lo-mo atau bahkan Jeng-ciang-kwi sendiri belum tentu akan mampu menahannya! Bagaimana mungkin murid mereka dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya? Tentu saja dia tidak tahu bahwa selain mempunyai dua orang guru itu, Thian Lee masih digembleng oleh orang yang lebih lihai lagi, yaitu Tan Jeng Kun dan bahkan lebih dari itu, Thian Lee telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat dahsyat dari seorang sakti dan telah makan ja-mur ular belang yang membennya tenaga ,! yang hebat.

Kini Thlan-te Mo-ong menjadi penasaran sekali dan mulailah dia menyerang pemuda itu dengan ilmu silatnya tangan kosong yang ampuh. Iblis Selatan ini memiliki ilmu silat tangan kosong yang berdasarkan Im dan Yang sehingga ter-dapat perubahan-perubahan yang saling bertentangan. Kadang pukulannya menggeledek, keras mengandung tenaga kasar yang amat kuat, dan tiba-tiba saja pukulannya berubah lembut namun mengandung tenaga lembut yang berbahaya ka» rena dapat mendatangkan luka dalam tubuh lawan.

Akan tetapi betapa terkejutnya krtika dia melihat pemuda itu dapat menandinginya! Bahkan dalam tenaga sin-kang, pemuda itu pun telah menguasai tenaga kasar dan lemas secara bergantian sehingga dapat melayaninya dengan baik. Kalau dia menggui akan tenaga kasar, pemuda itu pun menyambutnya dengan tenaga kasar dan bagaimanapun juga, dia sudah tua dan melawan seorang pemuda, dia tidak dapat mengandalkan tenaga kasar. Akan tetapi kalau dia menggunakan tenaga lemas, pernuda itu pun menyambutnya dengan tenaga dalam yang halus namun mengandung kekuatan seperti hawa dan air.

Thian Lee juga tidak berani mengalah terhadap kakek yang sakti ini. Dia tahu bahwa balas menyerang menjadi perta-hanan yang baik, maka dia pun nembalas serangan kakek itu sehingga terjadilah pertandingan yang amat menarik. Saling pukul, saling totok, saling cengkeram dan saling menendang. Akan tetapi semua se-rangan, baik dari Mo-ong maupun dari Thian Lee dapat dielakkan atau ditangkis oleh lawan. Mereka sudah bertanding sampai seratus jurus dan belum nampak tanda-tanda siapa yang lebih unggul. Sementara itu, soal usia merupakan ke-nyataan yang tak dapat dielakkan lagi. Thian-te Mo-ong mulai merasa lelah dan kalau pertandingan tangan kosong itu dilanjutkan, dia akan kalah, bukan kalah karena ilmu silat, melainkan kalah karena kehabisan napas!

"Singgg. !" Nampak dua sinar berkelebat dan kakek itu telah mencabut sepasang pedangnya!

Akan tetapi agaknya dia masih menjaga nama besarnya sebagai seorang datuk, maka dia tidak segera menyerang, melainkan berdiri tegak dan berkata dengan sikap yang angkuh.

"Orang muda, keluarkan senjatamu!" tantangnya, keringatnya mengucur.

Thian Lee tidak berani memandang rendah lawannya, akan tetapi diam-diam dia girang sekali. Kalau dengan tangan kosong, entah berapa lamanya dia harus bertanding karena kakek itu benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau bersenjata, lain lagi karena dia dapat mengandalkan Jit-goat Kiam-sut. Maka dia pun segera menurunkan buntalan pakaiannya yang sejak tadi menempel di punggungnya, lalu mengambil pedangnya. Ketika dia menghunus pedang itu nampak sinar berkilat menyilaukan mata dan pedang Jit-goat Sin- kiam telah berada di tangan kanannya sedangkan sarung pedang berada di tangan kirinya.

Sarung pedang itu pun terbuat dari baja murni yang tipis namun kuat, sehingga dapat pula dipergunakan sebagai perisai untuk mengimbangi pedang lawan.

"Locianpwe, aku sudah siap!" kata? Thian Lee. Lee Cin melihat betapa kakek itu agak terengah dan muka serta lehernya basah oleh keringat, sedangkan Thian Lee masih nampak biasa. Hal ini membuatnya semakin kagum. Tadi ketika melihat jalannya perkelahian, dara ini sudah kagum sekali kepada Thlan Lee. Kini melihat betapa jelas kakek itu kewalahan, ia girang bukan main dan ia tidak lupa mengejek,

"Mo-ong, hati-hati engkau. Sebentar lagi, kalau tidak lehermu yang putus, tentu napasmu! Aku berani bertaruh!"

Thian-te Mo-ong tidak mempedulikan ejekan gadis itu. Dia cukup kaget melihat pedang di tangan Thian Lee. Biarpun dia tidak mengenal pedang itu, akan tetapi sebagai seorang ahli dia mengenal pedang pusaka yang ampuh. Sepasang pedangnya sendiri juga terbuat dari bahan baja yang murni, amat tajam dan juga kuat. Akan tetapi dia mengertii bahwa pedang yang berada di tangan pemuda itu lebih ampuh lagi.