-->

Gelang Kemala Jilid 08

Jilid 08  

“Thian Lee, kalau engkau bersikap baik dan menolong sesama, maka orang di seluruh dunia ini adalah anak keluargamu! Sekarang ini kalau tidak salah, sudah tiba waktunya buah sian- tho yang berada di Pulau Ular Emas masak. Kalau engkau bisa mendapatkan buah sian-tho itu, sungguh besar manfaatnya. Buah itu dapat menyembuhkan segala macam luka dalam, juga yang mengandung racun betapa hebat pun. Pergilah engkau ke Pulau Ular Emas di Lautan Po-hai dan kalau mungkin, dapatkan buah sian-tho itu. Kalau engkau dapat menyerahkan buah sian-tho kepadanya, tidak ada hadiah yang lebih indah bagi Tabib Dewa itu kecuali buah itu. Akan tetapi ingat, kalau engkau harus berebutan dengan orang-orang kang-ouw, jangan sampai engkau menanam permusuhan. Dan peringatanku yang paling utama, jangan sekali-kali engkau membunuh orang dengan sengaja!"

"Teecu akan melaksanakan semua pesan Suhu."

"Dan kurasa, ayah atau ibumu tentu mempunyai keluarga. Engkau dapat melakukan penyelidikan di tempat asal orang tuamu, kukira engkau tentu akan menemukan keluarga ayahmu atau ibumu."

Demikianlah, setelah mendapat banyak nasihat dari gurunya, Thian Lee lalu meninggalkan Pegunungan Himalaya di mana gurunya tinggal sebagai seorang pertapa dan melakukan perjalanan ke timur menuju ke Lautan Pohai. Akan tetapi kedatangannya terlambat. Ketika tiba di pantai itu dia mendengar percakapan antara Cin Lan dan empat orang pengepungnya. Dari perca-kapan itu tahulah dia bahwa sian- tho telah didapatkan oleh gadis cantik jelita itu yang kini dikepung dan hendak dirampas oleh empat orang kang-ouw yang kelihatannya bernapsu benar hendak merampas sian-tho. Dia hanya menonton saja dari jauh. Ketika Cin Lan mengamuk dengan dayungnya, diam-diam Thian Lee kagum bukan main. Gadis itu lihai sekali! Dan memiliki tenaga yang hebat. Akan tetapi dia melihat pula betapa gadis itu terengah, seperti orang kesakitan dan melihat empat orang itu yang tadinya sudah merasa jerih itu kini men-desak maju untuk menyerang gadis yang sedang menderita kesakitan. Maka diam-diam dia cepat memungut empat buah kerikil dan dengan kerikil itu dia me-nyambit ke arah tangan empat orang itu meruntuhkan senjata mereka. Perbuatannya ini tidak ketahuan oleh siapa pun dan empat orang itu lalu melarikan diri,

Demikianlah, Thian Lee lalu menghampiri Cln Lan untuk menolong karena dilihatnya gadis itu seperti kesakitan, akan tetapi malah dihardik dan dicurigai. Dia memandang gadis itu pergi bersama Si Nelayan.

Thlan Lee merasa tidak puas. Dia melihat sesuatu pada wajah gadis itu, sesuatu yang aneh, seperti ada cahaya yang luar biasa pada wajah gadis itu. Dan melihat betapa gadis itu tadi seperti menderita panas dingin, dia menduga bahwa gadis itu agaknya tentu menderita luka dalam atau bahkan keracunan. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan kalau gadis itu demikian angkuhnya, bahkan agaknya mencurigainya? Dia pun membatalkan niatnya pergi ke Pulau Ular Emas seperti dipesankan suhunya. Bukankah buah sian-tho telah didapatkan oleh gadis itu? Dan gadis i.tu agaknya luka parah, dan dia pun. dapat menduga bahwa buah sian- tho itu diinginkan oleh banyak orang. Sangat boleh jadi keselamatan gadis itu terancam. Siapa tahu masih akan datang banyak orang kang-ouw untuk berusaha merampas buah sian-tho itu dari tangan si gadis yang menarik hatinya.

Karena mengandung kekhawatiran terhadap keselamatan gadis angkuh itu, diam-diam Thian Lee lalu membayanginya. Setelah tahu di mana gadis itu menginap, dia lalu menginap di rumah yang berdekatan agar dia dapat diam-diam menjaga keselamatan gadis itu kalau-kalau ada orang yang hendak rnenyerangnya. Dia sendiri merasa heran mengapa dia begitu mengkhawatirkan gadis yang sama sekali tidak pernah dikenalnya, bahkan gadis yang bersikap angkuh kepadanya.

Keahgkuhan sikap Cin Lan itu tidaklah aneh. Sejak kecil ia hidup sebagai putera pangeran yang dihormati oleh semua orang. Lingkungan ini sedikit ba-nyak membentuk dirinya memiliki keang-kuhan. Kedudukan atau harta benda memang besar sekali pengaruhnya terhadap sikap seseorang. Orang yang berkeduduk-an tinggi atau yang berharta banyak menganggap dirinya orang yang penting, atau setidaknya memiUki kelebihan dibandingkan orang lain, apalagi dibanding-kan orang kebanyakan, seperti misalnya kaum petani yang mereka anggap bodoh dan miskin. Itulah sebabnya ketika didekati seorang pemuda yang berpakaian petani, tentu saja Cin Lan bersikap acuh dan angkuh. Dan bahkan ia mencurigai pemuda itu yang dianggapnya hendak menginginkan pula buah sian-tho yang telah dimilikinya.

Setelah tiba di rumah nelayan itu, Cin Lan girang melihat kudanya terawat dengan baik. la terpaksa bermalam di rumah nelayan itu karena maklum bahwa kalau ia melakukan perjalanan malam, amat berbahaya. Bukan saja berbahaya karena perjalanan dilakukan dalam cuaca gelap, akan tetapi juga siapa tahu orang-orang kang-ouw itu akan menghadang perjalanannya. la harus berhati-hati se-kali mulai sekarang, menjaga sian-tho itu agar jangan sampai dirampas orang. Diam-diam ia merasa heran mengapa empat orang itu tadi tidak jadi menye-rangnya, bahkan melepaskan senjata me-reka dan melarikan diri. Padahal ketika itu ia sedang menderita karena hawa panas dan dingin yang mengamuk dalam dirinya. Malam ini ia pergunakan untuk beristirahat, dan sudah beristirahat, hawa yang bertentangan di dalam perut nya itu pun mereda dan tidak mengamuk lagi.

Maka keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Lan sudah berpamit kepada ne-layan itu setelah membayar sewa perahu bahkan memberi lebih dari yang dijanjikan. Dengan cepat ia menunggang kuda putihnya meninggalkan tempat itu menuju ke barat.

la sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mengikutinya dengan ilmu berlari cepat yang luar biasa. Bayangan itu tidak dapat tertinggal oleh larinya kuda putihnya. Demikian cepat bayangan itu berlari sehingga yang nampak hanya bayangan berkelebat saja. Bayangan itu bukan lain adalah Thian Lee! Pemuda itu setelah menguasai Thian-te Sin-kang dapat menggunakan tenaga saktinya untuk berlari cepat bukan main. Gurunya, Tan Jeng Kun adalah seorang ahli berlari cepat dan memiliki gin-kang yang hebat. Setelah mengajarkan gin-kang kepada Thian Lee, kemudian Thian Lee menguasai Thian-te Sin-kang, gin-kang muridnya ini bahkan mengejar dan melampaui tingkat gurunya!

Setelah melewati sebuah bukit, ketika menuruni lereng bukit itu, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki yang bersenjata ruyung dan golok menghadang perjalanan Cin Lan. Gadis itu terpaksa meloncat dari atas kudanya karena ia khawatir kalau dua orang itu menyerang kudanya, kuda itu bisa celaka. Setelah meloncat turun dan membiarkan kudanya lepas, ia lalu menghadapl dua orang itu sambil melintangkan tongkatnya di depan dada. Ia memang sudah siap siaga dan memba-wa tongkat dari rumah nelayan itu, tong-kat dari kayu yang amat kuat.

"Kalian menghadang perjalananku ada .maksud apakah?" bentaknya dengan suara keren.

Dua orang itu bertubuh tinggi besar dan nampaknya gagah sekali. Yang seorang berkepala botak dan kuncirnya panjang besar dilingkarkan ke lehernya. Dia tertawa dan berkata, "Nona, sebetulnya kami berdua rnerasa malu untuk mengganggu seorang nona muda seperti engkau. Karena itu, biarlah kami melepaskan engkau lewat asal engkau rnenyerahkan buah sian-tho yang kaubawa kepadaku."

"Benar, Nona. Sebaiknya kita berdamai saja. Tidak ada gunanya engkau melawan Bu-tek Siang-liong (Sepasang Naga Tanpa Tanding) dan kami pun segan mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis remaja," kata orang ke dua yang matanya lebar hidungnya pesek.

Cin Lan tidak ingin banyak cakap lagi, "Tidak ada sian-tho untuk kalian dan kalau kalian hendak menggunakan kekerasan, aku pun tidak takut!" kata Cin Lan sambil melintangkan tongkatnya memasang kuda-kuda.

"Ha-ha-ha, kami mendengar engkau memang lihai. Akan tetapi jangan harap akan dapat menang menandingi kami. Sekali lagi, serahkan sian-tho kepada kami kalau engkau ingin selamat!" kata Si Botak.

"Benar, Nona. Kami membutuhkan se-kali karena seorang paman kami mende-rita sakit, perlu obat itu!" kata Si Hi-dung Pesek. "Biarlah kami mau menukar-nya dengan apa saja untuk

sian-tho itu, Nona." Hemm, mereka bukan sembarangan perampok, melainkan membutuhkan sian-tho untuk obat orang sakit, "Enak saja," kata Cin Lan. "Apa kaukira hanya pa-manmu saja yang sakit? Kalau aku me-miliki sian-tho itu pun untuk mengobati orang sakit, maka tidak mungkin kuserahkan kepadamu."

"Kalau begitu, kami terpaksa akan menggunakan kekerasan," kata Si Botak yang sudah menggerakkan ruyungnya untuk menyerang. Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali Cin Lan dapat mengelak. Si Hidung Pesek juga menggerakkan goloknya membacok. "Tranggg ...!" Golok itu terpental oleh tangkisan tongkat di tangan Cin Lan dan mulailah Cin Lan memutar tongkatnya memainkan Hok-mo-tung-hoat. Tenaga dari dalam perutnya tiba- tiba bangkit"I dan menjalar ke seluruh tubuh sehingga gerakannya menjadi amat kuat dan cepat.

Dua orang itu terkejut bukan main. Mereka adalah dua orang kang-ouw yang tinggi ilmu kepandaiannya dan keduanya, memiliki tenaga besar. Akan tetapi menghadapi gadis remaja itu, mereka bukan saja kalah cepat, akan tetapi juga kalah kuat tenaganya! Hampir mereka tidak dapat percaya dan Si Botak menggerakkan ruyungnya sepenuh tenaga menghantam ke arah kepala Cin Lan. Gadis itu menerima hantaman itu dengan tongkatnya.

"Takkk!" Ruyung terpental dan sekali Cin Lan menggerakkan kakinya, Si Botak itu terjengkang roboh. Si Hidung Pesek menyambar dengan goloknya. Cin Lan mengelak dan begitu tongkatnya menyambar dengan gerakan membalik, pundak Si Hidung Pesek dihantam tongkat dan dia pun terpelanting roboh. Kedua orang itu merangkak bangun dan segera melarikan diri. Cin Lan tidak mengejar karena tiba-tiba saja ia merasa kepalanya pening bukan main, dadanya sesak seperti kemarin ketika menghadapi pengeroyokan empat orang itu.

Melihat dua orang lawannya sudah melarikan diri, Cin Lan hendak melompat ke atas punggung kudanya, akan tetapi tiba-tiba ia terguling. Tubuhnya diserang hawa panas dan dingin bergantian dan ia pun tidak kuat bertahan lagi dan roboh pingsan di dekat kudanya.

Bayangan yang sejak tadi membayanginya, yaitu Thian Lee, melihat ini semua dan segera dia lari menghamplri. Diperiksanya nadi pergelangan tangan gadis itu dan dia terkejut bukan main. Ada hawa yang amat kuat bergerak dalam tubuh gadis itu, hawa panas dan hawa dingin yang luar biasa kuatnya, seolah kedua hawa itu saling berebut menguasai tubuh si gadis itu, Thian Lee menduga bahwa gadis ini telah mempelajari ilmu sin-kang yang hebat akan tetapi saiah latih&n agaknya. Maka, dia lalu mengulurkan kedua tangan dan menempelkan di bagian perut gadis itu. Sambil menyalurkan sin-karignya dia membantu gadis itu agar hawa yang mengamuk di tubuhnya itu dapat dikendalikan dan di-kumpulkan ke dalam tan-tian.

Cin Lan siuman kembali. Begitu membuka mata melihat seorang pemuda bercaping menempelkan kedua tangannya ke perutnya, ia terkejut selengah mati, mengira bahwa pemuda itu hendak berbuat kurang ajar kepadanya.

"Jahanam !" Teriaknya dan ia meloncat bangun, lalu menyerang Thian Lee kalang-kabut.

Thian Lee sudah siap siaga dan mengelak ke sana-sini, sama sekali tidak menangkis. Setelah menyerang beberapa jurus, tiba-tiba dua hawa yang bertentangan itu mengamuk demikian hebatnya dalam tubuh Cin Lan sehingga ia terguling lagi. "Nona, harap jangan salah mengerti. Aku hanya ingin menolongmu. Mungkin engkau keracunan. Ada dua unsur hawa panas dan dingin menguasai tubuhmu. Mungkin Nona salah latihan. Dua tenaga yang saling berlawanan itu tidak boleh menguasai dirimu pada saat yang sama.

Ketika engkau menyerang, engkau mengerahkan tenaga dan kedua tenaga itu bangkit bersama, lalu mengamuk berbareng sehingga membuat engkau roboh sendiri."

Cin Lan sadar bahwa ia salah sangka. "Kau... kau... siapakah? Kau pandai mengobati?"

"Aku hanya orang yang kebetulan lewat dan melihat keadaanmu, Nona. Aku pernah mempelajari ilmu pengobatan sedikit dan kalau Nona suka menurut nasihatku, mungkin engkau dapat menguasai dua tenaga yang berlawanan itu. Nah, duduklah bersila, Nona, seperti ini!" Thian Lee lalu duduk berslla di depan gadis itu. Cin Lan yang tahu benar bahwa keadaannya ini agaknya karena gigitan dua ekor ular emas dan ular putih, maka ia pun percaya akan ucapan pemuda itu dan ia pun menurut, lalu duduk bersila menirukan pemuda itu"

"Bernapaslah yang dalam, menggunakan pernapasan perut, tarik napas sampai ke tan-tian, tahan sebentar dan hembus-kan napas melalui mulut. Sama sekali jangan mengerahkan tenaga, biarkan te-naga yang bergolak itu tenang dan masuk kembali ke tan-tian bersama pernapasan. Nah, begitu baik. Sekarang bernapaslah terus seperti itu, sampai keadaanmu tenang kembali."

Cin Lan menuruti nasihat itu dan benar saja. la merasa peningnya hilang dan dua tenaga yang mengandung hawa panas dan dingin itu tidak lagi menga-muk biarpun masih terasa tarik- menarik di dalam bawah pusar.

"Engkau harus menguasai dUa tenaga itu dan menyalurkan salah satu saja pada suatu saat, jangan keduanya. Akan tetapi hal ini membutuhkari latihan yang tekun, Nona."

Cin Lan mulai tertarik dan berterima kasih. "Sobat, engkau ternyata seorang yang baik sekali. Engkau telah menolongku dan aku berterima kasih kepadamu. Bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Aku bernama Song Thian Lee," jawab Thian Lee singkat.

"Dan aku she Tang, bernama Cin Lan," gadis itu memperkenalkan diri. Nama yang sama sekali asing bagi Thian Lee.

"Nona Tang, mulai sekarang engkau harus menjaga dirimu baik-baik. Dan sedapat mungkin jagalah jangan sampai engkau berkelahi karena kalau engkau salah menggunakan dua tenaga itu berbareng, engkau akan mencelakai dirimu sendiri."

"Terima kasih, Sobat. Aku akan berhati-hati menjaga diri. Nah, selamat tinggal, aku harus segera pulang karena guruku sudah menanti. Dia sedang sakit keras!"

Tanpa keterangan lain tahulah kini Thian Lee mengapa nona itu mati-matian mempertahankan sian-tho, kiranya untuk mengobati gurunya. Seorang gadis yang berbakti kepada gurunya!

Timbul rasa kagum dan tenangnya. "Selamat jalan, Nona. Semoga gurumu cepat sembuh," katanya dan dia melihat betapa gadis itu dengan hati-hati tanpa pengerahan tenaga menaiki kembali kudanya sambil membawa tongkat dan bun-talan pakaiannya. Kuda itu lalu dibalapkan dan Thian Lee lalu diam-diam mem-bayangi dari jauh. Dia masih mengkhawa-tirkan kalau-kalau gadis itu akan diha-dang orang kang-ouw lagi di tengah perjalanan. Maka dia harus inembayangi sampai akhirnya Cin Lan tiba di kuil Kwan-im-bio di luar kota raja. Melihat gadis itu sudah tiba di tempat tujuan, Thian Lee lalu meninggalkannya dan dia segera memasuki kota raja. Memang dia sendirl hendak pergi ke kota raja untuk bertanya-tanya kepada orang di sana di mana letaknya dusun Tung-sin-bun, tempat tinggal mendiang ayah dan ibunya ketika dia masih kecil, di mana ayahnya dikabarkan tewas dikeroyok pasukan karena dianggap pemberontak.

* * *

Cin Lan memasuki kuil, disambut dengan gembira sekali oleh Tiong Hwi Nikouw ketika mendengar bahwa gadis itu telah berhasil memperoleh buah sian-tho, Cin Lan segera memasuki kamar di mana Pek I Lokai beristirahat dan men-dapatkan gurunya tengah duduk bersila dengan napas yang lemah.

Pek I Lokai membuka matanya ketika gadis itu menyentuh tangannya dan dia tersenyum. "Engkau sudah pulang, Cin Lan?"

"Benar, Suhu dan teecu telah berhasil mendapatkan buah sian-tho, sekarang sedang direbus oleh Tiong Hwi Nikouw."

"Hemm, engkau seorang murid yang baik dan berbakti, Cin Lan. Ayahmu Sang Pangeran sudah kebingungan dan beberapa kali bertanya ke kuil ini."

"Sebetulnya kebetulan saja teecu mendapatkan buah sian-tho, Suhu. Buah itu bahkan pemberian orang karena dija-dikan perebutan dan teecu tidak mungkin bisa mendapatkan kalau tidak diberi orang itu. Di sana banyak sekali orang kang-ouw yang hendak memperebutkannya, akan tetapi semua takut dan kalah terhadap orang ini. la bahkan rnengirim salam untuk Suhu."

"Siapakah orang itu, Cin Lan?"

"la adalah Nyonya Siangkoan. Ketika mendengar bahwa buah sian-tho itu teecu cari untuk mengobati Suhu, ia lalu memberikan buah itu kepadaku dan mengirim salam untuk Suhu."

"Ah, Hui Cu. !" Pek I Lokai menghela napas.

Pada saat itu, Tiong Hwi Nikouw masuk membawa periuk obat dan menuangkan air rebusan sian-tho itu ke dalam mangkok dan menyerahkannya kepada Pek I Lokai. Pengemis tua itu lalu meminumnya sampai habis.

Ternyata obat itu memang manjur bukan main. Setelah direbus sampai tiga kali dan airnya diminumkan kepada Pek I Lokai, kakek itu segera sembuh kembali. Pulih kembali kesehatannya dan setelah sehat benar, barulah dia memanggil Cm Lan dan disuruhnya murid itu menceritakan pengalamannya. Cin Lan menceritakan semua pengalamannya, bahkan menceritakan pula tentang ia digigit ular emas dan ular putih yang menimbulkan tenaga panas dan dingin di dalam tubuhnya.

"Ah, digigit ular emas? Tak salah lagi, ular putih itu tentulah ular salju! Ular emas itu yang racunnya mendatangkan hawa panas di tubuhmu, sedangkan ular salju mendatangkan racun hawa dingin. Tentu kini tubuhmu penuh dengan kedua hawa itu. Engkau beruntung sekali Cin Lan karena kalau engkau hanya digigit seekor saja dari mereka, engkau tentu sudah mati!

Agaknya racun kedua ekor ular itu bertemu dalam badanmu, bahkan saling memunahkan dan engkau selamat, bahkan menerima hawa yang amat kuat, akan tetapi yang saling ber- tentangan. Coba kaukerahkan hawa itu pada tanganku."

Pek I Lokai lalu menjulurkan kedua tangannya ke depan, disambut oleh kedua tangan Cin Lan. Lalu gadis itu mengerahkan sin-kangnya dan seketika dua hawa yang berlawanan itu muncf dan mengamuk membuat Pek I Lokai terpen-tal ke belakang!

"Siancai...! Engkau beruntung sekali, Cin Lan!" katanya, akan tetapi sementara itu Cin Lan sudah memegangi kepalanya yahg menjadi pening dan dadanya yang sesak. la cepat bersila dan mengatur pernapasan seperti yang diajarkan oleh Thian Lee sehingga keadaannya pulih kembali. Terkejut Pek I Lokai melihat ini.

"Dua tenaga itu berebutan untuk menguasai dirimu. Dari mana engkau dapat melatih diri mengatur mereka agar tenang kembali?"

Cin Lan menceritakan pertemuannya dengan Thian Lee dan Pek I Lokai berseru kagum, "Pemuda itu tentulah seorang ahli pengobatan yang pandai sekali! Sekarang engkau akan kuben pelajaran untuk menguasai dua tenaga yang berlawanan itu, Cin Lan. Tenaga yang panas itu boleh disebut. Ang-coa-kang dan yang dingin itU Pek-coa-kang dan kalau engkau sudah dapat memisahkan itu, mengguna-kannya secara terpisah, engkau akan memiliki kekuatan sin-kang yang hebat sekali."

"Baik, Suhu. Akan tetapi sekarang teecu harus pulang dulu ke kota raja agar ayah dan Ibu tidak merasa khawatir."

Gadis itu lalu pulang, disambut dengan girang oleh Pangeran Tang Gi Su dan isterinya, dan juga menerima teguran karena selama beberapa hari tidak pu-lang. Cin Lan minta maaf dan menceritakan bahwa selama beberapa hari itu ia mencarikan obat untuk gurunya yang ter- ancam maut karena luka dalam.

Demikianlah, mulai hari itu Cin Lan berlatih sin-kang di bawah bimbingan dan petunjuk Pek I Lokai sehingga setelah lewat dua bulan, ia mampu menguasai dan mengendalikan dua tenaga berhawa panas dan dingin yang berada dalam tubuhnya.

Akan tetapi, ia pun merasa bersedih karena setelah latihannya selesai, Pek I Lokai berpamit untuk melanjutkan perantauannya meninggalkan Kwan-im-blo.

"Tidak mungkin aku tinggal selamanya di sini, Cin Lan. Kalau selama ini aku berada di sini hanya karena aku harus mengajarmu sampai tamat. Sekarang, engkau sudah mempelajari Hok-mo-tung-hoat dengan baik. Aku sudah nnerasa puas, apalagi engkau memiliki Pek-coa- kang dan Ang-coa-kang. Aku tidak khawatir lagi karena engkau sudah mampu menjaga diri sendiri dengan baik. Nah, selamat tinggal, muridku. Jangan lupa semua nasihat dan pesanku. Biarpun eng-kau puteri pangeran, jadilah seorang pendekar wanita yang baik dan lindungi kepentingan orang-orang lemah yang tertindas."

Cin Lan menangis ditinggal suhunya. la merasa sayang sekali kepada Pek I Lokai yang selama ini menjadi seorang guru yang baik dan yang menyayangnya. Kasih sayang dapat menimbulkan ikatan batin dan kalau datang masa perpisahan, maka ikatan itu akan membuat batin tersiksa dan merasa sakit. Ikatan seperti! ini timbul dari pengaruh si. aku yang ingin senang sendiri. Kalau yang disayang pergi, maka tirnbullah rasa kecewa dan iba kepada dirinya sendiri yang direnggut dari kesenangannya, maka lalu menderita. Dapatkah kita mencinta orang lain dengan bebas dari ikatan? Hanya mungkin kalau si aku yang mementingkan diri sendiri tidak berkuasa atas batin kita. Kalau kita benar-beriar menyayang, tentu yang dipentingkan dia yang kita sayang, bukan aku yang menyayang. Kalau sudah begitu, maka penderitaan tidak akan muncul.

Cin Lan kini kembali ke dalam istana ayahnya dan jarang keluar dari rumah, kecuali kalau pergi berburu binatang seperti biasa. la tekun melatih diri dengan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari Pek I Lokai dan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah memiliki tenaga sin- kang yang luar biasa hebatnya.

* * *

Pada waktu itu, di dunia persilatan terdapat empat orang datuk besar yang dianggap sebagai orang-orang terpandai yang mewakili daerah masing-masing. Yang berkuasa di timur, di sepanjang pantai bahkan di lautan adalah Si Raja Angin Timur Siangkoan Bhok. Di barat terdapat Thian-tok (Racun Dunia) Gu Kiat Seng. Di utara terdapat seorang datuk besar bangsa Mancu berjuluk Pak-thian-ong (Raja Dunia Utara) Durhai. Adapun di selatan terdapat Thian- te Mo-ong (Raja Iblis Langit Bumi) Koan Ek. Empat orang datuk besar ini dianggap sebagai para datuk yang paling tinggi tingkatnya, walaupun masih banyak para datuk besar lainnya, namun nama mereka tidaklah sebesar yang empat orang ini.

Empat orang datuk besar. ini, sesuai dengan tingkat masing-masing, tidak mau saling mengalah dan setiap lima tahun sekali i'nereka mengadakan pertemuan di suatu tempat untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling lihai. Dengan cara ini mereka selalu menggembleng diri dan menggali ilmu baru untuk me-menangkan pertandingan yang diadakan lima tahun sekali itu. Pada lima tahun terakhir, yang keluar sebagai pemenang adalah Pak-thian-ong Dorhai, walaupun hanya sedikit selisihnya dari yang lain. Mereka telah sepakat untuk mengadakan pertemuan di Thai-san pada hars yang ditentukan.

Pada waktu itu, Thai-san merupakan pegunungan yang gawat dan jarang ada orang berani mendaki gunung itu. Hal ini dikarenakan gunung itu dihuni dua orang datuk yang terkenal pandai dan juga ke-ras hati bersama para anak buahnya. Datuk-datuk itu bukan lain adalah Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) dan sahabatnya, Hek-bin Mo-ko (Iblis Muka Hitam) yang pernah kita kenal ketika Hek-bin Mo-ko menantang Tan Jeng Kun beberapa tahun yang lalu. Sin-ciang Mo-kai pernah dikalahkan oleh Tan Jeng Kun dan sahabatnya, Hek-bin Mo-ko hendak menuntut balas namun dia pun dikalahkan oleh Tan Jeng Kun. Kini, kedua orang datuk itu tinggal di Thai-san bersama kurang lebih lima puluh orang anak buah mereka.

Pada hari yang ditentukan itu, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, tinggi besar bermuka a merah, nampak gagah sekali, memegang sebatang dayung baja yang dipergunakan sebagai tongkat, mendaki Bukit Thai-san seorang diri. Langkahnya lebar dan pendakian yang berat itu terasa nngan saja baginya, langkahnya tegap seolah-olah jalan itu tidak mendaki. Dia mendaki ke arah puncak gunung melalui timur.

Selagi dia mendaki dengan langkah tegap dan tenang, tiba-tiba terdengar gerengan yang menggetarkan gunung dan di depannya telah berdiri seekor biruang yang besarnya melebihi orang tinggi be-sar itu. Biruang itu besar dan berat sekali, berdiri di atas kaki belakangnya dan kedua kaki depan bergerak-gerak seperti bertepuk tangan sambil menggereng-gereng.

Orang yang memegang dayung itu berhenti melangkah dan memandang bi-natang itu dengan sikap tenang, lalu bicara kepada diri sendiri. "Hemm, pernah aku makan masakan kaki biruang dan enak sekali, akan tetapi entah bagaimana rasanya daging biruang yang dipanggang. Jangan-jangan alot dan keras. Pergilah, biruang, aku tidak ingin makan dagingmu!"

Akan tetapi biruang itu mana mengerti omongan manusia. Dia bahkan nampak marah. Binatang-binatang lain yang mendengar gerengan ini saja sudah bersembunyi ketakutan dan di kejauhan terdengar auman harlmau yang agaknya seperti- hendak menyambut gerengan tan-tangan ini. Hanya harimau yang berani melawan biruang hitam ini, yang kuku kaki depannya panjang-panjang dan ketika menggereng, bibirnya tersingkap memperlihatkan taring yang tajam meruncing.

Namun, pria bermuka merah itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum mengejek dan berkata kepada dirinya sendiri, "Agaknya biruang ini sudah bosan hidup!"

Biruang itu lalu menyerang dengan terkaman dahsyat ke arah Si Muka Me-rah. Akan tetapi dengan mudahnya orang itu melangkah ke samping dan ketika tubrukan biruang itu luput, dia sudah menggerakkan dayungnya ke arah bela-kang kepala biruang itu.

"Prakkk!" Biruang itu tersungkur dengan kepala pecah dan tidak bergerak lagi.

"Ha-ha-ha-ha!" pria itu tertawa ter-bahak dan dia kelihatan gagah perkasa sekali. Tak lama kemudian dia sudah membuat api unggun dan mengambll sebuah kaki belakang biruang itu dan memanggang daging paha. Ternyata dia membawa pula garam dan bumbu dan tak lama kemudian tercium bau sedap daging panggang yang dibumbui bubukan bawang kering, garam dan merica.

"Hemm, enak juga'" kata orang itu sambil menggigiti daging paha yang masih mengepulkan uap panas itu. Perutnya memang sudah lapar maka tentu saja daging biruang itu disambut dengan girang. Akan tetapi baru enak-enaknya dia makan, tiba-tiba muncul enam orang tinggi besar yang bersenjata golok. Mereka ini adalah anak buah Hek-bin Mo-ko. Tadi enam orang itu mendengar ge-rengan biruang dan cepat datang ke situ untuk menangkap biruang itu.

Siapa kira .setelah tiba di situ, mereka melihat ada orang sedang makan daging paha biruang panggang! Mereka menjadi marah karena mereka menganggap bahwa semua binatang yang berada di Pegunungan Thai-san adalah hak milik mereka.

"Bangsat dari mana berani berburu binatang di sini tanpa seijin kami!" bentak seorang dari mereka.

Orang bermuka merah itu bukanlah ofang biasa. Dia adalah seorang di antara empat datuk besar yang hendak mengadakan pertemuan di puncak Thai-san dan dia itu bukan lain adalah Majikan Pulau Naga yang bernama Siangkoan Bhok yang berjuluk Raja Angin Timur! Mendengar dirinya dimaki, tentu saja Siangkoan Bhok merasa tidak senang. Kalau menurutkan kebiasaannya, sekali orang memakinya, tentu orang itu menebusnya dengan nyawanya! Akan tetapi dia sedang makan, maka katanya tak sabar,

"Aku sedang makan, tidak bernafsu membunuh. Pergilah kalian jauh-jauh dari sini!"

Akan tetapi enam orang itu tentu saja tidak takut dan mereka sudah mengepung sambil mengamang-amangkan golok mereka. "Menyerahlah engkau untuk kuseret ke depan ketua kami!" kata mereka mengancam.

Bangkit amarah di hati Siangkoan Bhok. Pandang matanya mulai mencorong dan makannya berhenti. Dayungnya masih disandarkan kepada batang pohon dan dia kini memegang paha biruang yang tinggal sedikit dagingnya menempel pada tulang besar itu. Dia bangkit berdiri perlahan-lahan dan berkata,

"Aku menyerah kepada kalian? Suruh datang ke sini ketuamu! Dia harus me-nyerah kepadaku!"

Enam orang itu menjadi semakin ma-rah dan serentak mereka maju menye-rang dengan golok mereka. Akan tetapi, Siangkoan Bhok berkelebat dengan tulang kaki biruang di tangannya dan terdengar bunyi keras enam kali dan orang itu terlukai. Lima orang yang terkena han- taman tulang pada kepalanya seketika tewas yang seorang lagi kebetulan hanya terkena pundaknya dan dia dapat melari-kan diri pontang-panting.

Tak lama kemudian orang yang berlari itu datang lagi dengan dua belas orang kawannya dan mereka segera maju me-ngeroyok Siangkoan Bhok. Akan tetapi datuk ini tetap mempergunakan tulang kaki blruang mengannuk dan dalam waktu sing kat saja, sepuluh orang roboh dengan kepala remuk sedangkan tiga orang lainnya melarikan diri tunggang langgang! Dapat dibayangkan hebatnya kepandaian Raja Angin Timur ini. Hanya dengan tulang paha biruang, dalam beberapa gebrakan saja dia telah menewaskan lima belas orang pengeroyok yang sesungguhnya bukanlah orang-orang lemah. Padahal dia sama sekali tidak menggunakan sen-jatanya, dayung baja yang masih disan-darkan di batang pohon!

Siangkoan Bhok melernpar tulang.paha itu dan meludah. Selera makannya sudah lenyap dan dia bersungut-sungut. "Orang-orang konyol yang sudah bosao hidup. Huh!" Dia menyambar dayungnya, lalu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.

Sementara itu, dari arah yang berlawanan, yaitu dari barat seorang pendek gendut yang membawa kebutan kebutan pendeta, juga mendaki lereng Pegunungan Thai-san. Orang itu bertubuh pendek gendut seperti bulat, akan tetapi ketika dia mendaki lereng, tubuhnya se-perti menggelundung naik. Kedua kaki yang pendek itu ternyata dapat berlari cepat. Pakaiannya seperti pertapa dan semua anggauta tubuh orang ini seolah bulat. Kepalanya bulat, matanya, hidung-nya, mulutnya. Melihat pakaiannya yang longgar dan tubuhnya yang bulat itu sungguh dia mirip seorang kanak-kanak yang besar. Akan tetapi wajahnya jelas membayangkan usianya yang sedikitnya tentu ada lima puluh tahun. Rambutnya juga sudah bercampur uban dan rambut itu disembunyikan di dalam sebuah topi' batok.

Tentu tak seorang pun akan mengira bahwa Si Gendut Pendek ini adalah seorang datuk besar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw. Julukannya adalah Thian-tok (Racun Dunia) dan namanya Gu Kiat Seng, datuk besar dari dunia barat. Datuk ini puluhan tahun menjelajah daerah Sin-kiang dan Tibet dan namanya amat terkenal sebagai datuk yang jaranfi menemukan tandingan.

Selagi Thian-tok berjalan seperti menggeli.nding naik, tiba-tiba bermun-culan dua puluh orang tinggi besar yang bengis. Mereka itu sebagian dari anak buah Hek-bin Mo-ko yang sedang berburu binatang. Melihat seorang asing mendaki bukit, mereka segera menghadangnya dan seorang di antara mereka membentak, "Heii, tak seorang pun boleh mer'asuki wilayah kami tanpa ijin. Engkau srang cebol cepat turun lagi dan menyingkir dari sini atau cepat menyerah untuk kami bawa menghadap pimpinan kami!"

"Heh-heh-heh, mana ada orang memi-liki gunung sebesar ini? Sepanjang yang kudengar, Gunung Thai-san ini tidak ada orang yang memilikinya, kecuali mungkin saja pemerintah. Sudahlah, pergi dari hadapanku, jangan membuat lelucon!" kata Racun Dunia Gu Kiat Seng, sikapnya acuh saja.

"Kami tidak bergurau, cepat pergi atau menyerah, atau kami akan rneng-gunakan kekerasan!" bentak seorang lain sambil menodongkan goloknya ke arah kepala yang bulat tertutup topi batok itu.

"Kalian mencari mati? Ingat, hari ini aku tidak bernafsu untuk membunuh orang. Pergilah!" kata pula Thian-tok.

Tentu saja ancaman seorang yang cebol itu tidak berkesan, bahkan dua puluh orang itu tertawa bergelak dan menganggap Si Cebol itu gila. . "Bacok saja lengannya agar menjadi lebih pendek, kawan!" kata seorang dan orang yang menodongkan goloknya tadi benar-benar membacok ke arah tangan kanan yang memegang kebutan itu. Akan tetapi, tiba-tiba kebutan itu menyambar dan golok itu telah dilibat dan dirampas, kemudian secepat kilat kebutan itu digerakkan, golok rampasan meluncur ke depan dan tahu-tahu lengan kanan Si Pemilik Golok telah ditabas buntung! Dia menjerit kesakitan dan semua orang menjadi terkejut, juga marah melihat lengan kawannya terbacok buntung. Mereka itu lalu mengepung dan menyerbu dengan ganasnya. Akan tetapi, mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan. Si Pendek itu tidak berpindah dari tempat dia berdiri, akan tetapi kebutannya bergerak cepat membentuk lingkaran yang tahu-tahu semua orang itu berteriak-teriak, golok mereka terampas ke-butan dan banyak lengan yang terbabat buntung! Sedikitnya empat belas orang buntung lengannya terbabat golok sendiri dan yang enam orang lainnya melarikan diri diikuti mereka yang terluka.

Si Pendek itu membuang golok yang masih terlibat kebutannya, memandang ke arah lengan- lengan yang berserakan di atas tanah, tertawa bergelak lalu melanjutkan pendakiannya ke puncakThai-san seolah- olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Bukan lihainya Si Pendek Gendut ini yang membuntungi lengan sekian banyaknya orang dengan golok mereka sendiri. Dasar nasib sial para anak buah datuk sesat Hek-bin Mo-ko mengancam dan akan membuntungi lengan seorang datuk besar seperti Thian-tok!

Sementara itu, ketika Hek-bin Mo-ko dan pembantunya, Sin-ciang Mo-kai men-dengar laporan anak buahnya bahwa banyak anak buahnya yang tewas dan buntung lengannya oleh orang-orang yang naik ke puncak, mereka menjadi marah bukan main. Sambil membawa sisa anak buahnya yang tinggal sedikit, kurang lebih dua puluh orang saja lagi, mereka berdua lalu melakukan pengejaran ke puncak Thai-san. Ketika tiba di pundak Thai-san yang rata dan merupakan puncak yang ditum-buhi pohon- pohon, kedua orang datuk sesat itu bersama anak buahnya melihat dua orang duduk berhadapan dan bercakap-cakap di atas tanah bertilamkan daun-daun kering. Mereka duduk bersila dan bercakap-cakap dengan santainya. Seorang di antaranya bertubuh tinggi kurus dengan pakaian berwarna hitam putih dan di dadahya bergambar tanda Im-yang dan di punggungnya tergantung sepasang pedang. Adapun orang ke dua, adalah seprang tinggi besar yang bertelanjang dada, bajunya tidak dikancingkan, tubuhnya kokoh kuat dan dia memakai sabuk rantai yang besar. Si Tinggi Kuriis itu adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek, datuk besar selatan berusia lima puluh lima tahun. Sedangkan yang tinggi besar kulitnya gelap bertelanjang dada itu ada-lah Pak-thian-ong Dorhai, datuk besar utara berusia enam puluh tahun. Agaknya kedua orang datuk dari selatan dan utara ini datang lebih dahulu dari rekan- rekan yang lain dan mereka berdua duduk sila berhadapan dan mengobrol. Tentu saja mereka mengetahui akan munculnya Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai bersama dua puluh orang anak buah mereka, akan tetapi kedua orang datuk besar, itu enak-enak saja bercakap-cakap tanpa mempedulikan mereka yang datang mengepung tempat itu.

Sebetulnya, dua orang datuk yang telah membunuhi dan membuntungi para anggauta gerombolan anak buah Hek-bin Mo-ko bukanlah dua orang yang kini duduk di puncak. Akan tetapi Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai sudah marah sekali, mereka tidak lagi bertanya- tanya, langsung saja mereka meloncat ke dekat dua orang kakek itu.

"Siapa kalian berani mengacau di Thai-san kami?" bentak Hek-bin Mo-ko dengan marah sekali. Tangan kanannya memegang senjatanya yang menggiriskan, yaitu sebatang ruyung besar dan berat yang berduri.

"Hayo bangkit dan terima pembalasan kami'." bentak pula Sin-ciang Mo-kai yang sudah melintangkan tongkatnya di depan dada. Tongkat pengemis iblis ini ujungnya memakai racun sehingga kalau memukul dan melukai lawan, lawan dapat keracunan.

Thian-te Mo-ong dan Pak-thian-ong saling pandang, lalu Thian-te Mo-ong tertawa. "Setan Utara, bagaimana pendapatmu? Kauhadapi yang memegang ruyung dan aku menghadapi yang bertongkat, bagaimana?"

Pak-thian-ong Dorhai mengangguk. "Baiklah, dua orang ini menjemukan se-kali!" katanya dan dia pun bangkit ber-diri dan menghadapi Hek-bin Mo-ko. Dua orang yang sama-sama tinggi besar itu kini saling berhadapan dan Hek-bin Mo-ko yang sudah marah sekali karena banyak anak buahnya yang tewas dan buntung lengannya, sudah mehggerakkan ruyungnya ke atas kepala, memutar-mutar ruyungnya sehingga mengeluarkan bunyi bersuitan dan ada angin menyambar-nyambar dari putaran ruyungnya.

"Engkau yang membunuhi anak buahku?" bentaknya.

Dorhai adalah seorang datuk besar yang aneh. Blarpun dia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu, akan tetapi dibentak dan ditantang begitu, dia tidak menyangkal. "Kalau benar demikian, kau mau apa?" balasnya dengan benfakan yang memandang rendah.

"Hutang nyawa bayar nyawa! Belasan orang mati, engkau harus menebusnya dengan nyawamu!" Setelah berkata demikian, ruyungnya lalu menyerang dengan dahsyatnya. Pak- thian-ong melangkah kesamping dengan tenangnya sehingga ruyung itu luput dan menyambar di samping tubuhnya. Melihat betapa sambaran ruyungnya dapat dielakkan sedemikian mudahnya, Hek-bin Mo-ko menjadi penasaran dan ruyung itu sudah membalik dan menyambar lagi dengan cepat dan kuatnya, menyerang ke arah paha lawan. Akan tetapi Pak- thian-ong Dorhai dengan sikap yang tetap tenang, mengangkat kaki kanannya menangkis ruyung.

"Plakkk!" Ruyung terpental oleh tangkisan telapak kaki itu sedangkan Pak-thian-ong sama sekali tidak terguncang. Hal ini saja sudah membuktikan betapa kuatnya datuk besar ini.

Namun Hek-bin Mo-ko menjadi bertambah penasaran. Di dunia kang-ouw namanya sudah terkenal sebagai seorang datuk yang sakti, dan jarang ada orang mampu menandingi ruyungnya. Bagaimana sekarang orang menghadapi ruyungnya dengan tangan kosong dan menangkis begitu saja dengan kakinya? Kembali ruyung menyambar dengan dahsyat dibarengi bentakannya,

"Hyaaaatttt !" Dan ruyung itu menyambar pula ke arah kepala Pak-thian-.ong. Sekali lagi

Pak-thian-ong menghadapil ruyung itu dengan tangkisan, kini ta-ngannya yang menerima ruyung itu. Tangan kirinya, dengan telapak tangannya yang lebar, menyambut ruyung itu dengan tenang saja.

"Plakkkk!" kembali ruyung itu terpen-tal keras setelah Hek-bin Mo-kp merasakan betapa ruyungnya bertemu, dengan bendak lunak yang seolah menyedot semua tenaga serangannya, kemudian tiba-tiba ruyungnya terpental. Telapak tangan lawan itu seperti terbuat dari karet yang kenyal saja!

Melihat bahwa lawan bukanlah seorang lemah dan ruyung itu cukup ber-bahaya, Pak-thian- ong Dorhai lalu meng-gerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu dia telah melolos sabuk rantainya dari pinggang! Ketika ruyung menyambar kembali, rantai itu menangkis. Terdengar suara keras dan ruyung itu terpental hampir terlepas dari tangan Hek-bin Mo-ko yang menjadi terkejut bukan main. Akan tetapi dia menyerang terus dengan lebih ganas. Pak-thian-ong menjadi ma-rah. Rantainya menyambar ke depan memapaki ruyung dan melibat ruyung itu.

Terjadi tarik menarik, akan tetapi tangan kiri Pak-thian-ong melakukan dorongan ke arah lawan dengan telapak tangan terbuka. Hek-bin Mo-ko. menge-luarkan suara kaget. Dorongan itu men-datangkan hawa yang amat kuat, mem-buat dia terdorong mundur dan pada saat itu, rantai ditarik keras dan ruyung itu telah terlepas; dari tangan pemiliknya. Sambil tertawa Pak- thian-ong melemparkan ruyung rampasan itu jauh ke bela-kangnya, kemudian dia memasang kembali sabuk rantainya di pinggang. Kalau saja Hek-bin Mo-ko seorang yang tahu diri, tentu dia sudah mengaku kalah. Akan tetapi dia adalah seorang yang sudah biasa memaksakan kehendaknya dengarr kekerasan, maka melihat ruyung-nya sudah terampas, dia tidak mundur malah menyerang lagi dengan kedua ta-ngannya! Serangan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Pak-thian-ong dan pada saat berikutnya, Hek-bin Mo-ko mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu tendangan kilat! Kedua kakinya menyambar bergantian ke arah tubuh lawan dengan kekuatan yang dahsyat sekali.

Akan tetapl dia tidak tahu bahwa Pak-thian-ong Dorhai adalah seorang Mancu yang ahli gulat. Satu di antara kepandaiannya yang hebat adalah ilmu gulat. Maka, melihat kedua kaki itu menyambar berulang-ulang, dia lalu menggerakkan kedua tangannya dan di lain saat kedua kaki Hek-bin Mo-ko sudah dapat ditangkapnya! Dan dengan gerakan menekuk kedua kaki itu dengan jari-jari tangannya yang amat kuat, dia memutar kaki itu sehingga terdengar suara ber-keretakan dan sambungan tulang-tulang lutut kedua kaki itu putus! Hek-bin Mo-ko mengeluarkan gerengan kesakitan dan tubuhnya sudah dilemparkan sampai beberapa meter jauhnya, ke arah anak buahnya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Sementara itu, Sin-ciang Mo-kai dengan tongkat beracunnya juga sudah menyerang Thian-te Mo-ong yang tinggi kurus. Diserang oleh tongkat beracun yang amat berbahaya itu, tadinya Thian-te Mo-ong juga hanya mengelak saja. Akan tetapi melihat betapa tongkat itu cukup berbahaya dan Jawannya bukan seorang lemah, dia pun mengelak ke belakang sambil mencabut sepasang pedangnya. Kemudian dengan gerakan yang, sangat cepat, sepasang pedang itu beru-bah menjadi dua gulungan sinar keperak-an dan setelah bergebrak beberapa jurus saja terdengar suara keras dan tongkat itu telah patah-patah disambar sepasang pedangnya! Melihat tongkat orang sudah patah-patah, Thian-te Mo-ong dengan tenang juga menyarungkan kembali pedangnya.

Seperti juga rekannya, Sin-ciang Mo-kai tidak tahu diri, seolah lupa bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih tangguh darinya. Dia berjuluk Sin-ciang (Tangan Sakti), maka kini dia me-lempar potongan tongkatnya dan menggu-nakan kedua tangannya untuk menyerang dengan hebat. Dia masih belum mau melihat kenyataan bahwa tongkatnya patah- patah hanya dalam beberapa jurus saja dan menganggap hal itu terjadi ka-rena keampuhan pedang lawan. Kini dia menyerang dengan tangan kosong karena melihat lawannya sudah menyimpan kembali pedangnya.

Thian-te Mo-ong mengeluarkan suara terkekeh mengejek dan melayani serang-an kedua tangan kosong itu. Sejenak mereka saling serang, kemudian ketika Sin-ciang Mo-kai menyerang dengan pu-kulan kedua tangan, Thian-te Mo-ong menanti sampai kedua tangan itu datang dekat, kemudian tiba-tiba sekali dia menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya yang amat kuat.

"Krek, Krek!" Dua kali kedua tangan itu ditangkis dan akibatnya, kedua lengan Sin-ciang Mo- kai patah tulangnya. Kedua lengan itu tergantung lemas dan dia mengeluh kesakitan. Pada saat itu, kaki Thian-te Mo-ong menendangnya dan tu-buhnya terlempar jauh, hampir menimpa tubuh Hek-bin Mo-ko!

Melihat kawannya juga kalah dengan kedua tangan patah tulangnya, Hek-bin Mo-ko membelalakkan mata dan bertanya dengan suara penasaran, "Siapakah kalian?"

Thian-te Mo-ong Koan Ek menjawab tenang, "Aku tidak pernah menyembunyikan nama dan julukan. Orang menyebutku Thian-te Mo-ong Koan Ek Si Iblis Selatan."

"Dan aku datang dari utara, orang menyebutku Pak-thian-ong Dorhai," kata raksasa tinggi besar yang bertelamane dada itu.

Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai terbelalak dan hampir mereka memukul kepala sendiri. Bagaimana tolol mereka itu! Tanpa bertanya dulu telah rnenye-rang para datuk besar! Mereka t,,enjadi ketakutan dan juga menyesal sekali. Ini namanya mencari penyakit. Tentu saja mereka sudah pernah mendengar nama dua orang datuk besar ini, dan takut kalau-kalau mereka tidak diampuni, me-reka lalu mengajak anak buah rnereka pergi dari situ dengan cepat. Hek-bin Mo-ko digotong pergi dan mereka menu-runi puncak. Mulai hari itu, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai meninggalkan Thian-san, tidak berani lagi tinggal di situ, apalagi anak buahnya tinggal sedikit lagi. Bahkan dia lalu membubarkan anak buahnya dan mencari jalan hidup masing-masing. Baru saja rombongan itu pergi, ter-dengar suara bergelak dari timur dan muncullah Raja Angin Timur Siangkoan Bhok yang menyeret dayungnya.

"Bagus, kalian sudah membersihkan puncak ini'" katanya sambil menghampiri kedua orang datuk besar itu.

Terdengar pula suara terkekeh dari barat dan muncul Thian-tok Gu Kiat Seng. "Anjing-anjing itu memang menjemukan sekali, di mana-mana menggonggoog dan menyalak membikin bising!"

"Bagus, bagus," kata Thian-te Mo-ong. "Sekarang kita berempat sudah berkumpul semua. Kita segera dapat memulai!"

"Nanti dulu," kata Pak-thian-ong Dor-hai. "Masih ada seorang yang belum juga keluar!" Berkata demikian, Pak-thian-ong menoleh ke belakang dan sekali dia menekuk lutut dan kedua tangannya mendorong, ada angin yang kuat sekali mendorong ke arah semak belukar di belakangnya. Akan tetapi sambaran angin itu membalik dan dari belakang semak belukar terdengar suara orang tertawa halus dan muncullah seorang kakek tinggi kurus yang berpakaian serba putih penuh tambalan, pakaiannya yang amat seder-hana itu cukup bersih, tangannya meme-gang sebatang tongkat bambu. Orang itu bukan lain adalah Pek I Lokai yang mun" cul sambil terkekeh.

"He-he-he, kiranya Pak-thian-ong masih tetap hebat dan lebih dahulu me-ngetahui kehadiranku. Inl saja sudah me-nunjukkan bahwa dia tetap menjadi orang yang patut disebut Datuk Besar."

"Pek I Lokai, apakah engkau datang hendak mengganggu pertemuan kami?" bentak Thian-tok yang berwatak berangasan.

"Aihh, Thian-tok! Sejak kapan aku menjadi manusia yang usil suka mencam-puri urusan orang lain? Kalian berempat hendak mengadu ilmu untuk menentukan sebutan Datuk Besar tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi lima tahun yang lalu aku terlambat datang menjadi penonton, sekali ini aku tidak mau terlambat lagi dan aku ingin menjadi penonton dan saksi. Apakah tidak boleh?"

Tiba-tiba Majikan Pulau Naga, Si Raja Angin Timur Siangkoan Bhok ber-kata, "Pek I Lokai, tentu saja engkau boleh menjadi penonton. Bahkan kita me-merlukan seorang saksi yang dapat dipercaya agar dalam pertandingan ini tidak terjadi kecurangan."

"Bagus, bagus sekali! Engkau masih saja gagah perkasa seperti dulu, Siang-koan Bhok. Dan di sini sekaligus mengucapkan terima kasih kepadamu atas pemberian Sian-tho kepada muridku."

Mendengar ucapan itu, Siangkoan Bhok mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah. "Isteriku memberikan Sian-tho itu ada maksudnya, tahu tidak engkau?"

Pek I Lokai mengangkat alisnya. "Ada maksudnya? Apa maksud itu?" "Putera kami tertarik kepada muriditiu. Isteriku memberikan Sian-tho karena ia ingin mengambil mantu muridmu itu!"

"Heiii, sudah cukup. Katakan maksud-mu datang ke sini, Pek I Lokai. Kami tidak mau diganggu oleh siapapun iuga! kata Thian-te Mo-ong. "Apakah engkau hendak menantang seorang di antara kami?"

Pek I Lokai mengangkat tongkat bambunya dan berkata sambil tersenyunH cerah. "Aih, Thian-te Mo-ong, engkau tetap galak, sudah kukatakan bahwa aku sengaja datang untuk menjadi penonton. Dan tadi Siangkoan Bhok mengatakan bahwa aku dapat menjadi saksi. Baiklah, aku akan menjadi saksi untuk melihat bahwa jalannya pertandingan haruslah adil. Kalau kalian berempat percaya kepadaku, aku akan mengaturnya supaya seadil-adilnya!"

"Bagus, aku terima usulmu dan engkau boleh menjadi saksi yang mengatur?" kata Pak-thian- ong. "Bagaimana hendak kauatur pertandingan antara kami berempat ini?"

"Begini aturanku. Aku akan mengundi* siapa yang akan bertanding melawan siapa sehingga akan ada dua partai pertandingan. Kemudian, yang menang akan dipertandingkan dengan yang menang antara partai satu dan partai dua. Dengan demikian, cukup dengan tiga kali pertandingan saja akan cukup dapat memilih siapa yang paling jagoan di antara kalian berempat."

Empat orang datuk itu mengangguk-angguk setuju. "Nah, sekarang aku hen-dak mengundi. Akan kutulis nama masing-masing di atas sehelai daun, kemudian empat helai daun itu akan kulemparkan ke atas sampai ada dua daun yang jatuh menelungkup dan dUa yang telentang. Nah, dua yang tertelungkup itu akan saling bertanding, demikian pula dua yang telentang.

Bagaimana, setujukah?"

"Setuju," kata empat orang itu karena menganggap undian seperti itu cukup adil. Pek I Lokai lalu menuliskan nama mereka masing-masing di atas sehelai gdaun. Kemudian, disaksikan empat orang itu, dia melempar empat helai daun itu ke atas. Mula-mula, jatuhnya daun tidak tepat, ada satu yang telentang tiga me-nelungkup, maka lalu diulang lagi. Setelah diulang sampai empat kali, barulah jatuhnya tepat, yaitu dua daun menelungkup dan dua telentang.

Setelah di-periksa, yang telentang itu adalah nama Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong sedang yang menelungkup adalah nama Tung-hong-ong dan Thian-tok. Ini berarti bahwa Pak- thian-ong Dorhai akan bertanding melawan Thian-te Mo-ong Koan-Ek, sedangkan Tung- hong-ong Siangkoan Bhok akan bertanding melawan Thian-tok Gu Kiat Seng. Pemenang dari dua partai pertandingan ini kemudian akan dipertandingkan dan pemenangnya itulah yang juara!

"Thian-te Mo-ong, engkau mendapat-kan aku sebagai lawan pertama. Mari kita segera mulai!" kata Pak-thian-ong Dorhai sambil melolos sabuk rantainya.

"Kita pun boleh mulai sekarang, Thian-tok!" kata Siangkoan Bhok sambil melintangkan dayungnya.

Dua pasang pedang lawan itu sudah siap untuk saling serang. Akan tetapi Pek I Lokai menengahi dan berkata, "Nanti dulu. Kalian berempat adalah datuk-datuk besar empat penjuru yang namanya terkenal di dunia persilatan. Kalau terjadi pertandingan mati-matian, tentu di antara kalian ada yang akan terluka parah dan mungkin tewas. Sungguh sayang kalau terjadi hal seperti itu, oleh karena itu sebelumnya aku minta kalian berjanji bahwa kalian hanya akan berusaha saling mengalahkan, tanpa melukai parah atau membunuh. Dengan ilmu kepandaian kalian yang sudah mencapai tingkat tinggi, tentu kallan mampu men-cegah terjadinya hal itu."

Akan tetapi Pak-thian-ong berkata, "Pek I Lokai, jangan seperti anak kecil. Pertandingan silat tentu saja terdapat resiko terluka. Kaml yang sudah sengaja hendak mengadu ilmu, sudah tahu sepenuhnya akan hal itu dan tidak akan menyesal. Tentu kami tldak akan saling membunuh, akan tetapi kalau sampai ada yang kalah dan terluka, hal itu bagaimana dapat dicegah?"

Siangkoan Bhok juga berkata, "Sudah-lah. Terluka dalam adu kepandaian meru-pakan hal biasa, siapa juga tidak akan menyesal. Akan tetapi jelas bahwa kita tidak akan saling membunuh. Sudah puaskah engkau dengan pernyataanku ini, Pek I Lokai?"

"Baik, baik, kalian boleh mulai, aku menjadi penonton. Ingat, tidak boleh menggunakan kecurangan dalam adu tenaga, tidak boleh menggunakan senjata rahasia dan sekali-kali tidak boleh menyerang untuk membunuh. Nah, mulailah!"

Pek I Lokai lalu berdiri di pinggir untuk menjadi penonton. Dua pasang datuk besar itu sudah saling berhadapan dan Thian-te Mo-ong lebih dulu mencabut sepasang pedangnya dan mulai menyerang kepada Pak-thian-ong dengan sepasang pedangnya. Pak-thian-ong memutar sabuk rantainya dan terdengarlah bunyi dencing nyaring dan nampak bunga api berpijar ketika pedang bertemu rantai. Segera kedua orang itu sallng menyerang dengan hebatnya.

Sementara itu, Thian-tok Gu Kiat Seng juga sudah menggerakkan kebutan-nya, menyerang Siangkoan Bhok dengan gerakan yang amat cepat dan kuat, namun Siangkoan Bhok juga sudah menggerakkan dayungnya, menangkis dan balas menyerang.

Pek I Lokai menonton dengan hati senang. Dia tahu bahwa keempat orang itu memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi sekali dan untuk keluar sebagai pemenang bukanlah hal yang mudah.Tentu pertandingan itu akan rnemakan waktu lama. Dialah yang untung, karena dengan menonton itu dia dapat mengamati jurus-jurus yang hebat, cara-cara pemecahan jurus hebat itu dan sekali menonton sam& berharganya dengan pengalaman bertanding bertahun- tahun, walaupuh dia sendiri sudah tidak menghendaki pelajaran tambahan dalam ilmu silat.

Tingkat kepandaiannya sendiri kalau dibandingkan dengan tingkat empat orang itu, agaknya masih kalah sedikit.

Dan memang pertandlngan itu hebat bukan main. Kini sudah lewat setengah jam, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah atau menang dalam dua partai pertandingan itu. Pertandingan semakin berlangsung cepat sehlngga tubuh keempat orang itu tidak nampak lagi, terbungkus gulungan sinar senjata mereka.

Mendadak Pek I Lokai menengok ke kiri karena telinganya mendengarkan suara lain, mendengar akan munculnya banyak orang. Tak lama kemudian muncullah sepasukan yang dipimpin oleh seorang panglima besar yang begitu tiba di situ lalu mengangkat sebuah lengki dan mengibar-ngibarkankan ke atas. Lengki adalah sebuah bendera titah raja, tanda bahwa pemegang lengki adalah seorang yang menjadi utusan Kaisar. "Atas nama dan perintah Yang Mulia Sri Baginda Kaisar, kami menyerukan agar pertandingan dihentikan!" Suara panglima besar itu nyaring sekali, tanda bahwa dia memiliki khi-kang yang kuat dan memang dia sudah biasa memberi aba-aba kepada pasukan sehingga suara itu melengklng tinggi dan terdengar sampai jauh.

Mendengar bahwa teriakan itu me-nyinggung nama Yang Mulia Sri Baglnda Kaisar, empat orang yang sedang bertanding itu terkejut dan otomatis nnereka berlompatan ke belakang dan menghentikan pertandingan yang sedang berlangsung seru itu. Mereka semua menghadap panglima itu dengan pandang mata bertanya-tanya.

Dan Pak-thian-ong Dorhai yang melihat lengki atau bendera titah raja itu, segera memberi hormat dan bertanya, "Ciangkun, apa hubungannya Sri Baginda Kaisar dengan pertandingan di antara kami?" Bagaimanapun juga, dla adalah seorang bangsa Mancu, maka tentu saja dia lebih mentaati dan menghormati Kaisar dan Pemerintah Mancu yang kini berkuasa di seluruh Cina.

Panglima besar itu dengan sikap tegak lalu berkata dengan suaranya yang lantang, "Yang Mulia Sri Baginda Kaisar sudah mendengar akan diadakannya pertandingan di antara para datuk di sini dan Yang Mulia tidak menyetujui pertandingan yang dapat menimbulkan permu- suhan itu. Yang Mulia menghendaki agar pertandingan dihentikan dan mengajak keempat Locianpwe untuk bersama-sama menegakkan kemakmuran rakyat dengan menjadi pembantu pemerintah. Maka, kami diutus untuk menjemput Su-wi-lo-cianpwe (Keempat Orang Gagah) untuk menghadap Yang Mulia dan menerima anugerah kedudukan."

Empat orang datuk itu terpaksa maju berlutut karena pembawa titah kaisar dianggap mewakili kehadiran kaisar dan mereka menghaturkan terima kasih.

"Hamba siap untuk menaati perintah Yang Mulia dan sekarang juga hamba hendak menghadap Yang Mulia," kata Pak-thian-ong Dorhai.

Akan tetapi tlga orang yang iain menolak untuk menerima kedudukan. Mereka juga berlutut menghaturkan terima kasih dan diwakili oleh Siangkoan Bhok, mereka berkata, "Mohon beribu ampun bah-wa hamba tidak dapat menerima kedu-dukan walaupun kami selalu siap untuk membantu usaha pemerintah menegakkan kemakmuran rakyat."

Panglima besar itu tidak memaksa mereka yang tidak mau ikut, dan mereka segera meninggalkan tempat itu bersama Pak-thian-ong Dorhai yang sudah siap untuk menerima anugerah kedudukan i yang diberikan Kaisar kepadanya.

"Sudahlah, aku mau pergi saja dari sini, kembali ke selatan," kata Thian-te Mo-ong Koan Ek dan sekali berkelebat, dia pun lenyap dari situ.

"Ha-ha-ha, Pak-thian-ong masih terpikat oleh kedudukan, ternyata dia masih lemah. Aku pun akan kembali ke barat!" kata Thian-tok Gu Kiat Seng dan dia pun melompat pergi.