-->

Bayangan Darah Jilid 07

Jilid 07

Lauw Nen pasang gengsi, hanya acuh tak acuh saja pada mereka itu, tetapi mereka terus memuji-muji. Beberapa hari ini, ia memacu kudanya dengan tergesa-gesa, kalau ada orang yang memandang padanya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dan kini serta merta saja ada orang yang memuji-mujinya, tentu saja ia sangat gembira. Apa yang digelisahkannya selama ini disingkirnya mengibul-ngibul mengikuti pujian mereka.

Berselang sesaat kapal itu telah tiba di seberang.

Semuanya naik ke darat, memacu kuda mereka sejauh empat lima li, lalu terlihatlah sebuah pondok di pinggir jalan; dalam pondok itu duduk empat lima orang, dari jauh orang-orang tadi telah turun dari kuda masing-masing. Hanya Lauw Nen seorang yang langsung menuju pondok itu. Dipandangnya orang-orang yang berada dalam pondok itu, yang satu adalah Su Seng (pelajar), yang satu kurus tinggi, mengenakan jubah panjang yang berwarna merah, orangnya sudah tua, yang satu lagi adalah Tau To.

Di antara ketiga orang itu, Lauw Nen kenal dua orang.

Yang satu adalah orang tua berjubah panjang yang berwarna merah, dialah Hua San Sin Liong, yang satu lagi ialah Tau To itu. Hua San Sin Liong tak usah dikatakan lagi adalah Hua San ciang bun, dan Tau To itu bernama Sa Tau To, walaupun namanya cukup menyeramkan, tapi orangnya sangat baik, dan sangat benci dengan kelaliman. Kalau ada orang dari aliran hitam yang mendengar namanya, tentu ia akan angkat kaki seribu.

Kini Lauw Nen bertemu dengannya, hatinya pun menjadi berdetak-detak memukul rongga dada. Tetapi ia berpikir kembali, urusanku belum tentu ada orang yang tahu, kenapa musti takut? Maka buru-buru ia turun dari kudanya dan menjura : "Ji wi lo pek (kedua orang tua), saya Lauw Nen memberi hormat."

Hua San Sin Liong berkata dahulu : "Eh, kenapa ayahmu tidak datang?"

Lauw Nen menjadi tertegun, ia tidak tahu apa maksudnya Hua San Sin Liong yang serta merta bertanya begitu.

Setelah tertegun sejenak, baru Lauw Nen berkata : "Beliau ada sedikit urusan, tidak bisa datang."

Cit Sa Tau To, Hua San Sin Liong dan Su Seng itu, semuanya merasa agak heran. Berkata Cit Sa Tau To : "Ini terang Lauw Thian Hauw yang salah, kata Go to hiap hanya mengundang kita berempat untuk membicarakan suatu hal, kenapa justru dia yang tidak datang. Sungguh mengherankan."

"Dia sudah mengutus anaknya, sama juga," kata Su Seng.

Hua San Sin Liong bertanya lagi : "Apakah ayahmu mengutus kau untuk menggantikannya?"

Lauw Nen berpikir dalam hatinya, sedikitpun aku tidak tahu apakah ayah sudah menerima undangan atau tidak, mana mungkin ia mengutus aku? Tetapi melihat gelagat begini, kalau mengatakan bukan, tentu buntutnya akan menjadi panjang.

Lauw Nen selalu bersikap pintar sendiri maka kini ia menganggukkan kepalanya : "Ya, saya disuruh menggantikan beliau. Memang beliau masih ada sedikit urusan yang penting dan tidak bisa datang, semoga Lo Pek dapat memaafkannya." Sikap Lauw Nen kini memang sangat tepat. Cit Sa Tau To mengangguk : "Kalau Singa Emas Lauw Thian Hauw tidak bisa datang, sudahlah. Yang ini adalah Hok toa hiap Hok Tong Hong, yang sangat benci dengan kekejaman. Kalau ketemu dengan orang jahat, tentu tidak ada ampun lagi. Walaupun ia tidak kenal dengan ayahmu, tapi sangat dikagumi. Mari ku perkenalkan."

Mendengar kata-kata yang sangat benci dengan kekejaman, tentu tidak ada ampun lagi, kaki Lauw Nen tak tertahan lagi menjadi gemetaran. Seorang Cit Sa Tau To sudah cukup mendebarkan hatinya, apalagi ditambah dengan seorang Hok Tong Hong yang sangat benci dengan orang jahat.

Ci Sa Tau To perkenalkan Hok Tong Hong padanya, karena kakinya telah menjadi lemah maka segera ia berlutut. Kalau orangnya telah berlutut, mulutnya mau tidak mau tentu berkata : "Boan pwe Lauw Nen memberi hormat pada Hok toa hiap."

Wajah Hok Tong Hong berseri-seri, tidak seangker Cit Sa Tau To, tidak pula seperti Hua San Sin Liong yang berwibawa itu. Kalau orang tidak berbuat salah, bertemu dengannya tidak ada apa-apa, tetapi kalau seorang jahat melihat wajah Hok Tong Hong yang tegas itu pasti tidak bisa tenang.

Sementara itu Hok Tong Hong pun mengangkat tubuhnya : "Nak Lauw tak usah begini, kalau kau bisa mewakili ayahmu, tentu kau memiliki kepandaian yang melebihi orang."

Kata-kata Tok Hong diucapkan dengan ramah sekali, namun peluh Lauw Nen telah membasahi punggungnya. Lalu ia bangun dan berdiri di samping ketiga orang itu, tubuhnya menggigil.

Orang bertiga itu ngobrol lagi dari barat ke timur, kemudian Hua San Sin Liong berdiri sambil berkata : "Kita berangkat sekarang juga, meskipun lebih pagi dari waktu yang dijanjikan oleh Go toa hiap, tetapi kalau ia telah mengundang kita, tentu ada hal yang sangat penting sekali. Biarlah kita tiba lebih pagi, supaya dia tidak kuatir." "Betul mari kita berangkat sekarang juga," kata Cit Sa Tau To sambil melangkah keluar dari pondok. Mulutnya bersuit, terlihatlah seekor kedelai yang berbulu hitam di sekujur tubuhnya berlari-lari dari kejauhan menghampiri Cit Sa Tau To, lalu tubuhnya beranjak naik ke punggungnya seraya berkata : "Aku berangkat dulu!" Kedelai hitam itu pun sangat lincah, kata-kata Cit Sa Tau To belum habis, telah berlari duluan, dalam sekejap saja telah berada sejauh tujuh delapan belas tombak.

Hua San Sin Liong menepukkan tangannya, segera ada beberapa murid Hua San pay yang membawa tiga ekor kuda. Lauw Nen, Hua San Sin Liong dan Hok Tong Hong bertiga serentak naik ke kuda, lalu berpacu ke depan.

Lauw Nen duduk di atas kuda, hatinya terus berpikir tak hentinya. Karena bahkan ia sendiri tidak tahu kemana tujuan mereka ini, namun kalau sudah menjadi wakil dari ayahku, tentu saja tak dapat bertanya kepada orang mau kemana, karena pertanyaan itu akan menjadi sangat lucu bukan?

Sepanjang jalan, hatinya tidak tentram, berkali-kali ia ingin kabur, tetapi bersama-sama dengan jago-jago silat seperti Hua San Sin Liong dan Hok Tong Hong, kalau ingin kabur dan tidak diketahui oleh dua orang itu, hal ini tidaklah mungkin.

Hakekatnya Lauw Nen pun tidak mempunyai keberanian itu, maka membuat hatinya tidak tenteram, bahkan masih mau berpura-pura seperti sangat gembira.

Mereka terus menuju ke selatan, pada senja ketiga harinya, ketiga kuda itu telah berada di depan sebuah tembok kota.

Dalam tiga hari ini, hanya tahu tujuannya ke selatan tetapi tidak tahu tempat apa itu. Kini, ketika menengadah, terlihat di atas gerbang ada huruf 'Kouw Souw', begitu lihat, hampir saja Lauw Nen terjatuh dari atas kudanya.

Buru-buru ia menghentikan kudanya : "Ini...inilah kota Bayangan Darah - PHO Kouw Souw!"

Hok Tong Hong memutar kepalanya menoleh : "Betul, nak Lauw. Kenapa mukamu jelek sekali?" Kini Lauw Nen masih dapat duduk di atas kudanya. Ini boleh dikatakan suatu keajaiban! Bahkan ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hok Tong Hong. Ia hanya berpikir dalam hatinya : "Go toa hiap, Go toa hiap, apakah Go Thian Kheng pendekar besar kota Kouw Souw? Bagaimana? Ia mencekal tali kuda erat-erat, hingga jari-jarinya menjadi hijau, namun masih saja dicekalnya dengan erat, peluh telah meleleh dari atas keningnya.

Hati Hok Tong Hong terasa semakin heran, ia menarik kuda surut ke belakang, lalu : "Nak Lauw, kenapa kau?" Ia berkata sembari memegang nadi Lauw Nen.

Lwe kang Hok Tong Hong sangat tinggi, tentu saja kini ia tidak menggunakan tenaga, hanya sedikit saja yang keluar. Tetapi karena ia telah mencekal nadi Lauw Nen, hingga tubuh Lauw Nen tergetar, "ah" jeritnya, seperti tersentak dari mimpinya.

Hok Tong Hong bertanya pula : "Ada apa?"

Tetapi Lauw Nen menjawab yang tidak ada hubungannya : "Kota Kouw Souw, inilah kota Kouw Souw!"

Hok Tong Hong memandang Hua San Sin Liong sejenak, dan yang belakangan ini mengerutkan keningnya. Tentu saja ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Lauw Nen.

Hok Tong Hong bertanya lagi : "Nak Lauw, apakah ada orang yang akan membokong kau?"

Kini, dalam hati Lauw Nen masih saja gelisah, tetapi akhirnya ia dapat menangkan diri. Pikiran berputar-putar dalam benaknya, ia berpikir dalam hatinya, aku sekali-kali tidak boleh datang ke rumah Go toa hiap, tetapi kini tentu saja ia tidak dapat menimbulkan suatu kecurigaan. Serta merta ia memaksa dirinya untuk tertawa : "Bukankah sekarang kita ke rumah Go toa hiap?"

Hok Tong Hong mengangkat kedua bahunya : "Apa yang kau risaukan, katakanlah terus terang!"

Lauw Nen berpikir, apabila kini tidak menyahut serampangan, mungkin sekali akan menimbulkan kecurigaan dalam hati mereka. Andaikata mereka curiga, tentu akan lebih sulit baginya untuk kabur, maka sahutnya : Tadi ketika aku menengadah, seolah melihat sesosok bayangan yang melesat dari atas tembok, rupanya mirip sekali dengan Go toa hiap maka aku sangat kaget."

Hua San Sin Liong tertawa dingin berkali-kali : "Tentu matamu sudah rabun, setelah kesurupan Go toa hiap tidak lagi dapat bergerak, ditambah lagi dengan kecelakaan yang menimpa anak-anaknya. Ia terlalu sedih, dan matanya pun telah menjadi buta, mana mungkin ia bisa melesat dari atas

tembok?"

Ketika Lauw Nen mendengar kata-kata 'kecelakaan yang menimpa anak-anaknya', hatinya hampir saja meloncat keluar dari rongga dadanya, buru-buru ia berkata : "Ya, ya. Tentulah mataku sudah rabun."

Hok Tong Hong dan Hua San Sin Liong berdua tidak lagi bersuara. Ketika kuda itu meneruskan perjalanannya memasuki gerbang kota, hati Lauw Nen berdebar, berdetak- detak memukul dinding jantungnya. Ia sengaja memperlambat langkah kudanya tertinggal di belakang, setelah melihat kedua ekor kuda di depannya belok di sudut jalanan, buru-buru ia turun dari kudanya, mengulurkan tangannya memukul pantat kuda, dan kuda itu terus berlari ke depan, lalu digerakkannya tubuhnya melesat ke samping memasuki sebuah gang kecil, melangkah dengan tergesa-gesa. Sekejap saja, telah keluar dari ujung gang itu, menengok kanan kiri, di sebelah kanannya ada rumah makan yang penuh dengan langganannya, hingga suara keramaian itu terdengar dari jauh.

Hati Lauw Nen kini terasa sangat ketakutan, melihat begitu banyak orang di dalam rumah makan, hingga terbitlah pikirannya untuk terjun ke dalam keramaian orang-orang itu. Ia masih takut lari kurang cepat, maka ia terus surut dengan punggungnya memasuki rumah makan itu. Ia terus surut sambil memandang kiri kanan, takut diketahui orang. Tapi di luar dugaannya, meskipun ia dapat menjaga depannya, namun belakangnya tidak terjaga. Baru ia masuk ke dalam rumah makan itu, telah menubruk seseorang. Buru-buru Lauw Nen memutar tubuhnya menengadah dan menjadi tertegun.

Orang yang ditubruknya bukan orang lain, melainkan Cit Sa Tau To! "Eh," seru Cit Sa Tau To, "kenapa kau sendirian?

Kemana mereka berdua? Apakah sudah pergi ke rumah Go toa hiap?"

Saat ini, sungguh sulit bagi Lauw Nen. Ia menarik napas berkali-kali : "Aku... setelah masuk kota... karena sangat tamak melihat... pemandangan kota, maka... maka telah terpisah dari... mereka."

Lauw Nen dengan segera dapat berbohong begitu, sungguh merupakan suatu keajaiban. Cit Sa Tau To mendehem sekali, katanya : "Itu tidak apa-apa, kini mungkin mereka sudah sampai. Mari kita pergi sama-sama!"

Dalam keadaan begini, kecuali mengiyakan, apalagi yang dapat dikatakan Lauw Nen?

Ia keluar dari rumah makan itu bersama Cit Sa Tau To, hatinya tidak tahu apa yang dirasakannya, lalu bertanya dengan lembut : "Bukan kau.. pergi lebih dulu dari kami? Kenapa sampai sekarang baru tiba?"

"Semalam aku sudah sampai," kata Cit Sa Tau To.

Hati Lauw Nen menjerit-jerit. Semalam ia telah tiba, kenapa sekarang tidak berada di rumah Go toa hiap dan bisa keluyuran di rumah makan, kenapa justru aku ketemu dengannya disini, hingga aku tidak bisa kabur.

Lauw Nen belum bersuara, terdengar Cit Sa Tau To berkata pula : "Semalam aku sudah sampai di depan rumah Go toa hiap, tetapi keadaannya telah berobah sama sekali. Aku paling takut ketemu dengan Go toa hiap sendirian. Apabila ia mengeluh kepadaku, aku tidak bisa tahan, maka aku lebih baik terlambat sedikit."

Hati Lauw Nen tertawa pahit, dan berpikir dalam hatinya, kau tidak mau ketemu Go toa hiap sendirian, tapi telah menyuruh aku. Maka ia mengikut Cit Sa Tau To dari belakang. Di sepanjang jalan ia masih terus memikirkan untuk kabur, tetapi tidak berani bertindak semberono. Justru pada waktu ia tidak bisa membuat suatu keputusan itulah, mereka telah sampai di depan rumah Go toa hiap. Sampai kini Lauw Nen hanya dapat mengeraskan hatinya, dan mengumpat di hatinya, apa yang telah ku kerjakan belum tentu orang tahu, lebih baik mengeraskan kepala menerima percobaan kali ini. Setelah urusan ini beres baru membuat rencana lain. Apabila terus ketakutan, jangan-jangan akan menimbulkan kecurigaan.

Setelah berkeputusan, hatinya pun menjadi tenang dan dilepaskannya pandangan memandang keadaan rumah Go toa hiap. Tempat ini bukan pertama kali ia datangi tetapi keadaan sekarang telah jauh berbeda dengan dulu. Dulu ketika masih jayanya, banyak orang yang keluar masuk, hingga membuat suatu kesan pada orang yang melihatnya bahwa pemilik rumah ini pergaulannya tentulah luas sekali. Tetapi kini rumah itu telah menjadi sepi sekali, pintu yang bercat merah itu tidak terurus lagi. Di sudut pintu, bahkan ada jaring laba-laba yang besar, genteng rumahnya ada yang runtuh, hampir saja mirip dengan sebuah rumah yang tidak berpenghuni. Hati Lauw Nen pun merasa ngeri memandangnya. Pantas kawan karib Go toa hiap, Cit Sa Tau To, hanya mundar mandir di depan, tidak berani masuk menemui Go toa hiap.

Mereka berdua baru tiba di pintu, lalu terdengar suara kaki kuda berdetakan. Hua san Sin Liong pun telah tiba. Mereka melihat Lauw Nen bersama Cit Sa Tau To, timbul perasaan heran : "Kenapa saja kau?"

Lauw Nen menyahut sembarangan, keduanya tidak bertanya lebih lanjut hingga Lauw Nen merasa sangat lega.

Hok Tong Hong dan Hua san Sin Liong berdua memandang sejenak, lalu tak tertahan lagi menghela napas. Hok Tong Hong naik ke anak tangga, tangannya mencekal anting-anting pintu, lalu dipukulnya tiga kali. Sesaat kemudian barulah terdengar ada langkah orang, kemudian pintu itu menguak terbuka. Seseorang yang sudah berusia lanjut mendongakkan kepalanya memandang sesaat, rupanya tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang berkunjung itu. Hua san Sin Liong yang melangkah masuk lebih dahulu, katanya : "Lo Go, kami telah datang!"

Suara Hua san Sin Liong menggeledek terus mengiang- ngiang hingga mengagetkan orang tua itu, dan tertunduk di atas tanah.

Kemudian terdengar suara berat mengalun dari dalam : "Apakah kalian telah datang? Silahkan masuk! He he, bahkan aku pun tidak bisa menyambut, sungguh... sungguh tidak enak."

Hua san Sin Liong dan kawan-kawan berempat berbareng menuju ke dalam baru orang tua itu berdiri menutup kembali pintunya. Orang tua itu lalu mengikuti keempat orang itu, mereka melalui ruangan besar yang berdebu; melangkah masuk ke sebuah pintu, kemudian terdengar lagi suara Go Thian Kheng yang berat : "Silahkan kalian belok ke kiri, doronglah pintu ketiga dan akan dapat menjumpai aku!"

Suara berat itu, tentu saja berasal dari mulut Go Thian Kheng, hingga membuat Lauw Nen sangat sukar untuk mempercayainya. Dari sini dapat dibayangkan kecelakaan yang menimpa Go toa hiap selama bertahun-tahun ini, sungguh sukar untuk dilukiskan. Setiap Lauw Nen melangkah setindak, debaran hatinya pun bertambah kencang. Tapi kini keadaan telah menjadi sedemikian rupa, taruhlah ia ingin mundur, tentu hal ini tidak mungkin lagi. Setelah Hua san Sin Liong mendorong pintu itu, Lauw Nen berdiri di paling belakang memandang ke dalam. Dilihatnya kamar itu cukup luas, namun perabotnya sederhana sekali, hanya terdapat lima buah kursi dan seorang tua yang kurus kering duduk di salah satu kursi itu.

Hua san Sin Liong melangkah setindak tetapi sekonyong- konyong tubuhnya membeku, lalu menjerit : "Kau... kau adalah..."

Daging di muka Go Thian Kheng bergerak, entah ia sedang menangis atau sedang tertawa, lalu berkata : "Aku tidak dapat dibandingkan lagi dengan masa lalu, tapi apakah kalian tidak mengenali aku lagi?" Hua san Sin Liong pada saling berpandangan satu sama lainnya, tidak bersuara.

Hua san Sin Liong, Hok Tong Hong dan Cit Sa Tau To bertiga sungguh tidak tahu apa yang harus mereka katakan, karena dari atas tubuh orang kurus kering itu tidak lagi dapat diketemukan wajah Go toa hiap pada masa lalu. Lauw Nen tadinya terus tidak bisa bertenang, namun ketika ia melihat Go toa hiap telah menjadi seperti orang mati, hatinya terperanjat dan dapat bertenang. Seorang tua yang kurus kering telah kesurupan lagi, dan tidak dapat bergerak seperti ini, apa yang harus ditakuti?

Ketika Lauw Nen tahu tempat yang akan dikunjungi ini adalah rumah Go toa hiap, pinggangnya belum pernah lempeng hingga sampai saat ini. Ia baru dapat membusungkan dadanya melangkah tetap.

Go Thian Kheng terus tertawa kering berkepanjangan : "Akhirnya kawan-kawan karibku pada datang, sungguh senang aku. Silahkan duduk, silahkan duduk! Setelah mengalami malapetaka ini, aku tidak lagi bisa bergerak bahkan sepasang mataku pun menjadi buta. Aku kini sama saja dengan tengkorak hidup. Ha ha." Ia berkata sambil tertawa kering, tetapi kata-katanya itu masuk ke telinga ketiga kawan karibnya lalu mereka menjadi terperanjat. Mereka bertiga saling berpandangan sejenak, lalu berteriak bersama-sama : "Lo Go... tetapi hanya kata itulah yang keluar dari mulut mereka, kemudian menjadi senyap kembali.

"Eh," Go Thian Kheng merasa heran: "Kenapa Lauw Thian Hauw tidak datang?"

"Ayah saya ada sedikit urusan penting, sungguh! Ia tidak bisa datang, maka ia menyuruh saya kemari, paman Go, dengan ini saya memberi hormat."

Kata-kata Lauw Nen itu terlepas dari mulutnya, terlihatlah kulit wajah Go Thian Kheng bergerak-gerak sangat mengerikan. Dalam sekejap saja, di bawah kulit wajahnya itu seolah-olah ada beribu-ribu ulat kecil yang bergerak-gerak, hingga sangat mengerikan orang yang melihatnya. Sedangkan dalam tubuhnya meledakkan suara kerekekan.

Buru-buru Hok Tong Hong berkata : "Lo Go, kenapa kau?

Lauw Thian Hauw tidak datang, memang ia kurang bersahabat. Tapi telah menyuruh anak sulungnya datang, ini sama saja. Apalagi, andaikata terjadi apa-apa, kami bertiga pun sudah bersiap membantumu."

Sehabis berkata, Hok Tong Hong baru melihat wajah Go Thian Kheng menjadi normal kembali, suara yang meledak dari dalam tubuhnya pun tidak terdengar lagi. Lama kemudian baru terdengar ia menarik napas panjang : "Baik sekali, baik sekali!" Wajahnya menjadi begitu, hakekatnya karena dalam hatinya memendam suatu perasaan marah yang sangat dalam. Tetapi dalam sekejap saja, ia telah mengatakan baik sekali, baik sekali berulang-ulang, hingga membuat Hok Tong Hong bertiga tidak mengerti apa gerangannya, mereka hanya saling pandang saja.

Hanya hati Lauw Nen yang merasa ketakutan, karena memang ia telah berbuat sesuatu kejahatan. Tadi ketika ia melihat wajah Go Thian Kheng, wajah itu memang sangat mengerikan, dan hatinya pun menjadi sangat terperanjat. Lalu ia berpikir dalam hatinya : "Apa yang telah aku lakukan tempo hari, memberikan Thian Ching 24 jurus palsu pada Go Thian Kheng, hal ini hanya Cung San Siong Kiat yang tahu, dan setelah Cung San Siong Kiat menerima hasilnya, entah telah lenyap kemana, tidak pula tahu apakah dia telah dapat menguasai ilmu silat itu? Taruhlah dia telah pandai, tentu dia takkan menyebut persoalan itu di depan Go Thian Kheng.

Sedangkan perampokan yang dilakukan bersama Cing li pang di tengah-tengah sungai Yangtze, kecuali pang cu-nya Chen Yauw Cing yang masih hidup, semuanya telah binasa. Kini Chen Yauw Cing tidak tahu berada dimana, perbuatanku itu tentu saja tidak ada yang tahu. Kenapa aku harus takut?

Berpikir sampai disini, nyalinya pun menjadi besar, lalu katanya : "Apabila Go lo pek ada pesan, saya pasti lakukan sekuat tenaga. Harap Go lo pek jangan kuatir." "Baik sekali," kata Go Thian Kheng sambil memutar-mutar kepalanya pelan-pelan menghadap Lauw Nen. Terlihatlah sepasang matanya itu terbelalak besar sekali, lobang mata cekung ke dalam, buram dan gelap, hitam dan putihnya tidak dapat dibedakan, nyata sekali bahwa ia tak dapat melihat apa yang berada di depannya.

Hati Lauw Nen menjadi takut lagi, tiba-tiba Go Thian Kheng berkata sekata demi sekata : "Sayang sekali kini aku tidak dapat melihat kau lagi, bagaimana wajahmu dahulu bahkan aku tidak ingat lagi. Sungguh aku sangat menyesal kenapa tempo hari tidak melihat wajahmu lebih jelas, supaya sekarang aku dapat ingat akan wajahmu." Kata-kata itu, sangat menyeramkan, bahkan Hok Tong Hong, Cit Sa Tau To dan Hua san Sin Liong yang sama sekali tidak tahu persoalannya itu pun turut menjadi kaku, jangan katakan Lauw Nen lagi. Dengan segera muka Lauw Nen berobah : "Saya... saya tidak perlu diingati oleh lo pek."

Go Thian Kheng tertawa kering lagi : "Tadinya memang aku telah melupakan kau, tetapi setengah bulan ini aku terus menerus teringat pada kau."

Lauw Nen memang tahu kesalahannya, kata-kata Go Thian Kheng itu membuat dirinya semakin tidak enak. Untuk sesaat ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, hanya memaksa dirinya tersenyum pula.

Cit Sa Tau To adalah orang yang sangat tidak sabaran, sampai disini ia sudah tidak sabar lagi, lalu teriaknya dengan keras : "Lo Go, kau tergesa-gesa memanggil kami kesini, ada persoalan apa? Kalau ada lekas katakan!"

Go Thian Kheng memutar lagi kepalanya. Ketika kepalanya bergerak, lehernya menimbulkan suara kerekekekan yang aneh, wajahnya lesu. Sebelum berkata, ia menghela napas dulu : "Rumahku ditimpa malapetaka, aku kira kalian juga sudah mendengarnya."

Cit Sa Tau To berkata : 'Ya, kami semua sudah tahu, kau kesurupan pun kami sudah tahu lebih lama lagi. Cuma kami tidak sempat menengok kau, maka kau marah karena ini?"

Go Thian Kheng tertawa terkikik-kikik : "Aku kesurupan karena ilmuku yang tidak becus, kenapa aku bisa marah pada kalian? Apa yang ku maksudkan ialah tentang anak-anakku yang mati di tengah-tengah sungai Yangtze."

"Oh!" seru Hok Tong Hong bertiga, dan menunggu ucapan Go Thian Kheng seterusnya. Tetapi dalam kesenyapan itulah, tiba-tiba terdengar suara "kek kek kek" dan "tet tet tet".

Buru-buru Hok Tong Hong bertiga mencari dari mana mulanya suara itu, rupanya suara itu ditimbulkan oleh Lauw Nen. Suara "kek kek kek" itu adalah giginya yang sedang beradu, sedangkan suara "tet tet tet" itu adalah suara tubuhnya yang sedang gemetar yang menggetarkan kursi.

SEBELAS

Kalau Lauw Nen lebih tolol lagi, ia pun tidak mungkin tidak mengerti, pada saat ini ia telah berada dalam keadaan yang sangat berbahaya. Tetapi mendengar Go Thian Kheng tidak berbicara tentang persoalan lain, justru mengatakan kejadian di tengah-tengah sungai Yangtze yang telah menelan kedua anaknya itu. Sungguh ia tidak bisa tidak terperanjat, giginya tidak bisa tidak beradu, tubuhnya tidak bisa tidak gemetaran.

Hok Tong Hong mengangkat kedua bahunya : "Nak Lauw kenapa kau?"

CIT SA TAU TO dan Hua san Sin Liong berdua, meskipun tidak bertanya, tapi dalam hati mereka telah curiga.

Bersamaan dengan itu, dalam hati mereka pun terpikir, Lauw Thian Hauw adalah jago silat yang ternama di kalangan kang ouw, kenapa ia mempunyai anak yang begini.

Hati Lauw Nen telah berdetak-detak keras hampir saja meloncat keluar dari rongga dadanya. Ditanya oleh HTT, ia ingin menjawab tetapi suaranya hanya berkerokokan dalam tenggorokannya, tidak ada sepatah kata yang keluar.

Terdengar suara Go Thian Kheng menyambung lagi : "Menurut perkiraan aku, tubuh nak Lauw tidak enak, ya nak Lauw?" Lauw Nen meronta sekuatnya, katanya dengan terbata- bata : "Tet te... ya ya... tet tet... ya... tet tet... ti... tidak enak... tet tet... "

"Itu tidak apa-apa, sebentar lagi kau akan menjadi enak," kata Go Thian Kheng.

"Se... tet tet... moga... demikian," kata Lauw Nen.

CIT SA TAU TO berkata : "Persoalan anak-anakmu itu, kamipun telah mendengarnya. Itu adalah perbuatan orang- orang Cing li pang, tetapi setelah kejadian itu, semua orang Cing li pang dari atas sampai ke bawah telah binasa semuanya."

Lauw Nen berpikir dalam hatinya, kalau aku tidak bersuara lagi, hal ini semakin tidak enak. Maka ia berkata dengan sekuat tenaganya : "Ya, orang Cing li pang... tet tet... tet tet... telah mati semuanya... tet tet... hal ini... tet tet... tidak dapat diperiksa lagi."

Tetapi Go Thian Kheng berkata dengan perlahan-lahan : "Tetapi kejahatan tidak dapat ditutup untuk selama-lamanya. Orang-orang Cing li pang dari atas sampai ke bawah semuanya mati di bawah Cheng Yauw Ting, pang cu

Cing li pang itu menelan kedua belas kereta harta itu, lalu kabur jauh-jauh. Tetapi ia telah tertangkap oleh Su te (adik seperguruan) ku yang telah berpisah bertahun-tahun."

Go Thian Kheng berkata sampai disitu, terdengar suara gedebuk. Lauw Nen telah terjatuh berikut kursi-kursinya ke tanah. Lauw Nen berkali-kali mengganggu perkataan Go Thian Kheng, hingga membuat Cit Sa Tau To tidak sabar. Lalu bentaknya : "Kenapa lagi kau?"

Setelah terjatuh, tubuh Lauw Nen melingkar menjadi satu, dan bergemetar tak henti-hentinya. Karena kepalanya melingkar ke dalam maka tidak tampak wajahnya. Tetapi melihat lingkaran itu pun tidak menyerupai manusia, maka Cit Sa Tau To tak tertahan bertanya pula : "Ada apa? Ada

apa?"

Go Thian Kheng berkata dengan perlahan-lahan : "Tidak apa-apa, sebentar lagi ia akan baik." Cit Sa Tau To, Hua san Sin Liong, Hok Tong Hong adalah orang-orang yang telah berpengalaman di dunia kang ouw. Betapa lihainya mereka, sampai kini, tentu saja mereka telah tahu seluk beluknya. Maka meskipun hati mereka telah bercuriga namun mereka tidak bersuara lagi, dan tidak pula ada yang mengangkat tubuh Lauw Nen.

Go Thian Kheng menyambung lagi : "Su te-ku menangkap Chen Yauw Cing. Begitu mendengar asal usul su te-ku, ia menjadi terbirit-birit, diceritanya seluruh kejadian di tengah sungai Yangtze tempo hari. Rupanya hari itu anak-anakku itu bukan dikalahkan oleh orang Cing li pang, tetapi kalah di bawah tangan seorang yang diundang Cing li pang!"

"Siapa orang itu?" bentak CIT SA TAU TO.

Go Thian Kheng berteriak nyaring : "Su te bawa Chen Yauw Cing kemari!" Suara teriakannya itu meskipun nyaring, tetapi mengalun jauh sekali. Dan sekejap saja terdengar suara langkah kaki orang, kemudian pintu terbuka; seorang kurus yang berusia lima puluhan masuk dengan membawa seorang lagi.

Setelah terjatuh ke tanah, hampir saja Lauw Nen menjadi pingsan, matanya menjadi hitam berkunang-kunang, hatinya terus menjerit-jerit, tubuhnya terus dilingkarnya erat-erat.

Sayang ia tidak memiliki ilmu melarikan diri dari bawah tanah, kalau tidak ia telah masuk ke dalam tanah. Ia menyesalkan dirinya kenapa bisa sampai ke tepi sungai Yangtze dan mengikuti Hok Tong Hong bersama kawan-kawannya sampai kesini, tapi nasi telah menjadi bubur, apa boleh buat, menyesalpun tidak ada gunanya, dan hatinya pun terus berputar-putar mencari akal untuk kabur. Terus sampai ketika orang kurus itu membawa seseorang lagi masuk ke kamar itu, baru dibukanya matanya melirik, dan kagetlah dia. Orang yang dibawa masuk itu adalah Chen Yauw Cing! Lalu ia menjerit sekali "ah".

Berikut jeritannya itu, tubuhnya itu pun seolah ditarik oleh suatu tenaga yang dahsyat. Tiba-tiba ia berdiri dan melayang ke atas, lalu "gedebuk" jatuh lagi ke tanah. Padahal kini setiap orang pada duduk semuanya, tidak ada yang bertindak, makanya tubuh Lauw Nen bisa berdiri dan meloncat, semuanya disebabkan karena hatinya merasa sangat kaget, seluruh syarat-syarat dan ototnya menjadi sangat tegang. Lauw Nen tergeletak di atas tanah, orang kurus itu melepaskan tangannya melemparkan Chen Yauw Cing ke bawah. Chen Yauw Cing merangkak dua tindak, tiba-tiba melihat Lauw Nen, lantas berteriak seolah ketemu dengan setan iblis : "Dia! Ya dia! Dialah yang membunuh orang!

Dialah yang memperkosa orang!"

Setelah Chen Yauw Cing berteriak, Lauw Nen tertawa nyaring : "Tutup mulutmu, apakah soal begini dapat dikatakan dengan sembarangan?" Ia membentak sembari mengulurkan tangan memukul muka Chen Yauw Cing, Chen Yauw Cing tidak sempat mengelak, mukanya telah ketampar dengan cepat sekali, hingga membuatnya terpelanting ke belakang.

Tetapi Chen Yauw Cing sempat pula mencekal bahu Lauw Nen, maka ketika ia terpelanting Lauw Nen pun turut terbawa. Lauw Nen berteriak : "Lepaskan aku, aku sudah berjanji dengan kau, setelah berhasil kau boleh ambil harta, aku mau orangnya, sekarang buat apa kau mencekal aku? Lepaskan!" Kedua tangannya memukul serampangan, kedua kakinya menendang-nendang tak karuan, terus menghantam Chen Yauw Cing. Biar Chen Yauw Cing terjatuh ke atas tanah, ia masih membalas. Maka kedua orang itu terus bergumulan di atas tanah, persis seperti dua ekor anjing gila berkelahi.

Sampai disini, sungguh Go Thian Kheng tidak perlu berkata apa-apa lagi. Cit Sa Tau To, Hok Tong Hong dan Hua san Sin Liong bertiga, hati mereka telah jelas sejelas-jelasnya. Mereka bertiga serentak berdiri : "Lo Go, kami mengucapkan selamat atas dendammu yang sudah terbalas

itu."

Go Thian Kheng tertawa kering : "He he aku pun tidak menyangka dendamku itu terbalas secepat ini. Aku mengundang kamu datang bersama Lauw Thian Hauw, maksudku untuk menanyainya, apa yang akan dikatakannya. Tapi tak disangka, Lauw Thian Hauw sendiri tidak datang. Ia menyuruh bangsat ini kemari, kita pun tidak usah bersusah payah lagi. Yo su te, bawalah aku dan tamu-tamu ini keluar!"

Orang kurus setengah baya itu mengiyakan, lalu mengangkat Go Thian Kheng, keluar bersama-sama CTT dan meninggalkan Lauw Nen yang masih bergumul dengan Chen Yauw Cing. Kini mereka berdua sama sekali tidak seperti jago silat dari Bu lim, tentu saja tidak dapat diceritakan jurus apa yang dipakai mereka. Setelah orang-orang itu pergi, tiba-tiba Lauw Nen meloncat. Ilmu silatnya memang lebih tinggi daripada Chen Yauw Cing, maka setelah melompat, dilemparnya Chen Yauw Cing ke tembok.

Chen Yauw Cing berteriak, lalu tubuhnya mental kembali, lalu diinjak oleh Lauw Nen ke atas tanah. Mulutnya masih berguman : "Kedua belas... kereta itu semuanya berisi intan berlian... yang mahal... " Mulutnya terbuka dan memuntahkan darah segar. Keadaan sangat mengerikan, ketika melihat Chen Yauw Cing. Lauw Nen berada dalam keadaan setengah gila tetapi kini napasnya yang terengos-engos mulai menjadi tenang. Hal yang pertama diketahuinya ialah kamar itu tidak ada orang lagi."

Lauw Nen tidak mungkin tidak tahu, kalau mau kabur dari tangan Hua san Sin Liong, Hok Tong Hong dan Cit Sa Tau To bertiga, hal ini sama sekali tidak mungkin. Tetapi mau tidak mau ia harus kabur.

Dengan terhuyung-huyung ia melangkah ke pintu dan berhenti sejenak, lalu dibukanya, melongok keluar dilihatnya tidak seorang pun yang ada di luar, hal ini adalah di luar dugaan Lauw Nen. Buru-buru ia lari, baru ia melangkah beberapa tindak, terdengarlah suara gemuruh yang meledak dari keempat penjuru.

Kini Lauw Nen telah menjadi seekor burung yang ketakutan. Setelah mendengar suara ledakan itu, belum lagi jelas suara apakah itu dan ia telah menjadi sangat ketakutan. Buru-buru menyurut beberapa tindak, matanya memandang ke depan, dilihatnya dari lorong yang gelap gulita itu ada segumpal barang yang tengah bergulung-gulung menyambarnya.

Barang itu bergulung-gulung dicampuri dengan kembang api yang merah. Lauw Nen tidak tahu permainan apakah yang ada di depannya itu. Ia hanya berdiri terpaku, tetapi tidak lama kemudian barulah ia mengerti. Itu adalah segumpal asap yang sedang bergulung-gulung.

Kekagetan Lauw Nen kini bukan kepalang tanggung, ia berteriak nyaring. Buru-buru diputar tubuhnya ingin kabur, tetapi tubuhnya baru berputar, ia menjadi terpaku lagi, karena asap di depannya lebih dekat lagi.

Buru-buru ia memutar tubuhnya kembali, asap itu telah bergulung dari empat penjuru mengepungnya. Asap itu segumpal demi segumpal seakan terus menghimpit kepadanya. Terasa lehernya seakan dicekek oleh tangan, membuat napasnya sesak. Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya baru terbuka, asap telah nyelusup masuk ke dalam mulutnya serasa tenggorokannya disilet. Ia menerjang maju dalam gumpalan asap itu, ia belum melihat lidah apinya tetapi telinganya telah menangkap suara yang meledak, dan kembang api yang menyambar di sekeliling tubuhnya serasa pakaiannya pun telah terbakar, rambutnya pun telah hangus. Ia tidak memperdulikan kesakitan di tenggorokannya, berteriak keras. Meskipun teriakannya keras, namun tertutup oleh suara ledakan yang dahsyat itu. Ia terus berlari, sampai akhirnya ia melihat lidah apinya.

Lidah api itu seakan seekor naga berbisa menyambar dirinya. Pada saat ini, suatu perasaan sakit yang mematikan menyerang dirinya dan membuat tubuhnya menjadi melingkar. Ia ingin berteriak tapi tidak bisa lagi, tetapi masih ada suara yang terus timbul dari tubuhnya. Itu suara sate panggang yang biasa kita dengar, suara itu didengar dalam telinganya, seakan ada dua orang yang sedang tertawa.

Mereka itu adalah Go Eng Kiat dan Go So Lan.

Andaikata kini Lauw Nen tidak terlalu kesakitan, dan tidak berada dalam keadaan setengah sadar, seharusnya ia mendengar suara tertawa seseorang yakni suara tawa Go Thian Kheng.

Tetapi kini Lauw Nen sama sekali tidak mendengarnya. Apa yang dirasakannya hanyalah kesakitan, lidah api yang seperti pisau itu terus mengiris-ngiris tubuhnya. Ia berteriak, berbalik, ia belum pernah memikirkan bahwa kematian itu sedemikian sengsaranya.

Kini, sejauh 10 tombak dari rumah Go tiu, Hok Tong Hong, Hua san Sin Liong, Cit Sa Tau To, Go Thian Kheng dan Su te- nya sedang mengamati rumah yang tengah di telan oleh api.

Go Thian Kheng bertanya dengan suara kering parau : "Bagaimana apinya?"

Berkata Hok Tong Hong : "Apinya sedang mengamuk, ia tidak mungkin lolos."

Dari mata Go Thian Kheng yang keluar itu meleleh air mata

: "Eng Kiat dan So Lan berdua, mereka dilahirkan dibesarkan di rumah ini. Kini, orang yang membunuh mereka itu telah dibakar hidup-hidup disini, arwah merekapun akan menjadi tenang, karena itu aku si tua bangka ini telah dapat membalas dendam mereka!"

Sampai disini, Go Thian Kheng menghela napas panjang- panjang, helaan itu panjang sekali. Sesaat kemudian, napasnya masih terus menghembus, CIT SA TAU TO menjadi terperanjat lebih dulu, serunya : "Lo Go, kenapa kau?"

Tetapi Go Thian Kheng tidak menjawabnya, dan masih tetap menghembuskan napasnya.

Tiba-tiba Hok Tong Hong maju setindak, mengulurkan tangannya memegang punggung Go Thian Kheng. Walaupun gerakan tangannya cukup cepat, sebelum tangannya menyentuh punggung Go Thian Kheng, muka Go Thian Kheng telah menjadi pucat pasi. Hok Tong Hong menjadi tertegun, buru-buru menarik tangannya kembali, lalu meraba hidung Go Thian Kheng, tapi napasnya telah hilang.

Hok Tong Hong menjadi sedih, isaknya : "Lo Go telah berpulang." Su te Go Thian Kheng memeluk tubuhnya : "Ku ucapkan terima kasih pada kalian bertiga. Suheng ku pernah berkata, kalau dendamnya telah terbalas, ia tidak ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Ya, kalian bertiga tak usah bersedih."

Meskipun mulutnya menghibur orang, tapi suaranya menjadi terisak. Ia tidak berkata lebih lanjut, tubuhnya bergerak ke depan, sekejap saja telah hilang.

Orang bertiga itu memutar tubuh mereka, memandang lagi api yang sedang membakar sejadi-jadinya. Mereka bertiga tidak bersuara, hanya memandang dengan membisu. Hingga senja tiba, hari mulai gelap, apinya masih membakar dengan dahsyat hingga memerahkan sebelah langit.

Hua san Sin Liong yang berkata lebih dulu : "Kitapun sudah harus pergi."

CIT SA TAU TO menghela napas : "Ya, ai, Lo Go mengundang kita karena soal ini, bermimpipun aku tidak dapat membayangkannya."

Hok Tong Hong berkata dengan perlahan-lahan : "Ji wi, kita masih belum boleh berpisah."

CIT SA TAU TO melotot : "Ada apa lagi, aku tidak mau ikut lagi!"

Ketika ia mengucapkan "ada apa lagi", padahal terpikir olehnya, maka baru disusul dengan kata-kata "aku tidak mau ikut lagi". Karena ia tahu, kata-kata Hok Tong Hong itu adalah untuk mengajaknya menemui Lauw Thian Hauw, mereka dengan Lauw Thian Hauw adalah kawan karib, mana mungkin menceritakan perihal anaknya yang telah dibakar hidup-hidup itu kepadanya? Maka katanya ia tidak mau ikut lagi.

"Cit Sa, kau tidak boleh tidak pergi," kata Hok Tong Hong. "Pergilah kau sendiri," kata Cit Sa Tau To.

"Harus kita bertiga yang pergi, Lo Lauw baru percaya.

Kalau aku pergi sendirian, Lauw Thian Hauw tidak mungkin percaya, lalu berhantam, aku tidak melawannya. Kalau begini bukankah kau yang telah mencelakai aku?" kata Hok Tong Hong serasa geleng-geleng kepala. "Memang kau adalah orang yang rewel sekali, hanya berpikir yang bukan-bukan saja. Aku lihat Lo Lauw bukan orang yang tidak mengerti," kata CTTT sambil mendelikkan matanya.

"Kau mau pergi, bukan?" tanya Hok Tong Hong.

Cit Sa Tau To mengangguk, lalu Hok Tong Hong memutar kepalanya memandang Hua san Sin Liong : "Ai, kalau Lo Lauw tahu soal ini, entah bagaimana sedihnya ia nanti."

Cit Sa Tau To berkata dengan tidak sabar : "Jangan ribut- ribut lagi, kalau mau pergi, pergilah sekarang. Kebakaran ini apalagi yang harus dilihat."

Lalu mereka bertiga berangkat menuju ke utara. Ilmu mengentengkan tubuh mereka bertiga bukan main cepatnya, melesat di kegelapan bagaikan meteor saja.

Mereka terus menuju ke utara. Hari ketiganya tiga di tepi sungai Yangtze, terlihat murid Hua San Pay sedang berkumpul di tepi sungai.

Di antara murid-murid Hua San itu, terdapat pula dua orang yang berselendangkan karung berpakaian Toa ha, kedua belah pihak seakan sedang berbicara. Dari jauh, Cit Sa Tau To mendehem : "Orang tua Hua San, tidak seharusnya kau dipanggil Hua san Sin Liong tapi Hua San Ni Couw (belut)."

Hua san Sin Liong berkata dengan nada berat : "Kurang ajar!"

Cit Sa Tau To menunjuk ke depan, "Kenapa tidak. Coba kau lihat, orang-orangmu sedang mesra-mesraan dengan orang Sang Bun Pang."

Hua san Sin Liong pun kurang senang dengan orang-orang Sang Bun Pang, tapi tabiatnya sangat keras. Cit Sa Tau To berkata begitu, ia harus membantah baru senang. Maka katanya : "Orang-orang Sang Bun Pang cuma bertingkah agak aneh sedikit, tapi tidak jahat."

"Pasti ramai nih, orang-orang baik tapi bertingkah seperti kematian ibu saja," berkata Cit Sa Tau To. "Memang mereka disebut Sang Bun Pang," kata Hua san Sin Liong.

Cit Sa Tau To mendelik ingin berkata lagi. Orang-orang Hua San di depan itu, ada yang telah melihat Hua san Sin Liong dan kawan-kawan, ada seorang yang berteriak :

"Suhu datang!"

Tujuh delapan belas orang serentak menghampiri, lalu berlutut. Ada seorang yang berkata : "Suhu, ada dua orang Sang Bun Pang yang datang ke Hua San mencari Suhu tapi Suhu tidak ada, maka kami mengajaknya kemari."

Hua san Sin Liong mengebaskan lengan bajunya, angin dahsyat yang timbul karenanya itu membangunkan murid- murid Hua San. Lalu ia menengadah melihat orang Sang Bun Pang.

Kedua orang itu buru-buru menjura. "Kami memberi hormat pada Ciang Bun."

Hua san Sin Liong mendehem. "Ada apa?"

Tadinya ia ingin berkata "Tidak ada hubungan apa-apa antara Hua San Pay dan Sang Bun Pang, ada soal apa?". Tetapi teringat akan kata-kata Cit Sa Tau To yang tidak enak tadi, kalau berkata begitu malah menunjukkan ketakutan padanya. Maka ia hanya bertanya pendek saja

"Ada apa?"

Mereka berdua berkata seraya membongkok : "Atas undangan Pang cu, harap Hua San Ciang bun datang ke Yen ka cung."

Hua san Sin Liong tertegun. "Yen ka cung? Bukankah desa Kauw Bwe Liong Yen Ling?"

Berkata mereka berdua : "Yen cung cu telah meninggal. Kematiannya aneh sekali, kami orang-orang Sang Bun Pang curiga soal ini ada hubungannya dengan Lauw Thian Hauw si Singa Emas itu. Tetapi persoalannya bagaimana, masih mau menunggu hasil analisa dari jago-jago silat semua golongan.

Ucapan kedua orang itu sangat sopan, tidak membesar- besarkan, tetapi kata-kata mereka itu agak luar biasa, maka didengar oleh orang yang mempunyai hubungan baik dengan Lauw Thian Hauw, kata-kata itu sangat menusuk.

Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua hanya mengerutkan alis saja, belum berkata apa-apa. Tapi Cit Sa Tau To telah mewakili : "Kentut, kamu orang-orang Sang Bun Pang, dari atas sampai ke bawah, tidak ada satu yang bukan bajingan. Dengan hak apa, kamu mencurigai orang, siapa tahu kalau Yen Ling itu mati dibunuh oleh orang kamu sendiri?"

Tiba-tiba muka orang-orang Sang Bun Pang itu berubah, menengadah serentak :"Anda hanya main-main atau bersungguh-sungguh?"

Cit Sa Tau To membentak : "Anak sial, kau dengar dulu dengan jelas. Aku Cit Sa Tau To kapan pernah bermain dengan orang?"

Berkata Hua san Sin Liong : "Dimana si Singa Emas itu sekarang?"

Kata kedua orang itu : "Dia berada di Yen ka cung... kami telah lama mendengar nama besar Cit Sa Tau To, dan sekarang Tau To menghina kami orang Sang Bun Pang... "

Ucapan kedua orang itu belum habis, Cit Sa Tau To telah berteriak : "Mau apa kamu? Aku mau memukul kamu berdua orang-orang bajingan ini!"

Diangkatnya tangannya yang sebesar kipas itu. Sebelum dipukul, anginnya telah menderu-deru hingga membuat muka kedua orang itu berubah, serentak turut ke belakang.

Cit Sa Tau To tertawa terbahak-bahak : "Memang cepat larinya kaki anjing, kalau terlambat selangkah, mayat kamu sudah bergelimpangan disini."

Kedua orang itu tahu, kalau mereka tidak pergi, apa yang dikatakan Cit Sa Tau To pasti bisa dibuatnya. Seorang jago tidak mau menerima kerugian begitu saja, maka mereka memutar tubuh berlari.

Cit Sa Tau To masih marah : "Anak sial. Tidak membunuh kamu, hatiku menjadi kesal!" Berkata Hok Tong Hong : "Cit Sa, kau jangan terburu napsu. Sang Bun Pang orangnya banyak, kau tidak boleh mencari kerusuhan!"

Karena tadi Cit Sa Tau To sedang memikirkan kalau ketemu dengan Lauw Thian Hauw, bagaimana mengutarakannya.

Kebetulan sekali kedua orang Sang Bun Pang itu membicarakan Lauw Thian Hauw adalah pembunuh Yen Ling, maka ia menjadi marah. Saat itu ia hanya marah-marah, dan tidak memperdulikan akibatnya. Diperingati Hok Tong Hong, baru ia merasa ngeri. Meskipun tabiatnya keras, tapi licik juga. Ia tertegun sejenak, lalu tertawa : "Hm, kita bertiga. Mau jadi apa kalau takut pada

Sang Bun Pang?"

Sekali kata saja, ia telah menyeret serta Hok Tong Hong dan Hua san Sin Liong berdua. Ucapannya itu boleh dikatakan tepat sekali mengenai hati Hua san Sin Liong karena Hua san Sin Liong adalah seorang yang suka sekali bertanding.

Taruhlah hatinya marah-marah, tapi ia tak mungkin mengucapkan apa-apa karena kalau ia mengucapkan apa-apa, bukankah itu berarti bahwa ia takut kepada Sang Bun Pang?

Tapi Hua san Sin Liong diam saja, Hok Tong Hong tidak mungkin tidak bersuara. Katanya sambil tertawa : "Cit Sa kau licik sekali, kau yang membuat kerusuhan tapi mau mengikut- sertakan kami berdua. Aku lihat, kami berdua belum tentu dapat dijebak olehmu."

Cit Sa Tau To telah berkeputusan, maka segera ia berkata : "Terjebak atau tidak itu lain soal, dari ucapan kedua orang itu tadi, tampaknya mereka telah menahan Lauw Thian Hauw di Yen ka cung. Masa kita biarkan saja?"

Hok Tong Hong tertawa terbahak-bahak : "Tak disangka mulutmu cukup lincah."

"Tidak berani, tidak berani. Mari kita sama-sama pergi ke Yen ka cung!"

"Kita adalah kawan karib Lauw Thian Hauw, tentu saja kita pergi. Buat apa kau banyak mulut?" kata Hok Tong Hong.

"Betul," kata Hua san Sin Liong. Mereka bertiga menyeberang sungai terus menuju ke utara. Mereka boleh dikatakan jago silat kelas satu di Bu lim. Setiap tempat yang dilewati mereka, pasti ada pendatang baru yang mengunjungi mereka. Apa yang diperbincangkan mereka, semuanya soal Yen ka cung tetapi bagaimana keadaan sebenarnya, tidak seorang yang tahu. Padahal hari itu di hari senja, ketika matahari telah tenggelam di ufuk barat, mereka telah tiba di Yen ka cung. Terlihat di depan pintu ada delapan orang Sang Bun Pang berjejer. Mereka itu adalah jago-jago Sang Bun Pang.

Hua san Sin Liong bertiga tiba di depan Yen ka cung, kedelapan jago silat Sang Bun Pang itu datang menyambut : "Hua San Ciang Bun, tuan Hok, Pang cu kami telah menunggu lama. Silahkan masuk!" Mereka bahkan tidak menyebut nama Cit Sa Tau To.

Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua merasa heran sekali, karena mereka menyilahkan dengan hormat, tentu saja tidak ada alasan untuk menolak. Namun mereka dengan sengaja tidak menyebut Cit Sa Tau To, hakekatnya ingin memalukan Cit Sa Tau To. Sedangkan Cit Sa Tau To datang bersama-sama dan tidak mungkin untuk meninggalkan Cit Sa Tau To seorang diri.

Hok Tong Hong maju setindak, lalu menjura pada kedelapan orang itu : "Tuan-tuan kami datang bertiga, beri tahu pada Pang cu kamu, kami datang ke Yen ka cung ada urusan bukan untuk mencari ribut!"

Harus diketahui bahwa Lauw Thian Hauw adalah seorang jago silat nomor wahid, jika orang Sang Bun Pang menuduhnya telah membunuh Yen Ling, ini adalah suatu hal besar yang luar biasa. Hok Tong Hong bukan saja telah mengatakan bahwa mereka ingin membela Lauw Thian Hauw, tapi telah pula mengisyaratkan pada orang-orang itu, meskipun Cit Sa Tau To telah menyakiti Sang Bun Pang, tapi kini bukanlah waktunya untuk membuat suatu perhitungan.

Sikap kedelapan orang itu baik sekali, setelah mendengar kata-kata Hok Tong Hong, mereka berkata : "Betul sekali ucapan Hok toa hiap, tetapi kalau ada orang yang mengatakan orang-orang Sang Bun Pang dari atas sampai ke bawah adalah bajingan, tentu saja ia tidak mau berkawan dengan kami.

Tentu saja ia harus tahu diri, dan pergi jauh-jauh dari sini!" Antara kedelapan orang gitu, hanya satu yang bicara. Tetapi enam belas biji mata, semuanya melirik pada Cit Sa Tau To. Muka kedelapan orang itu menunjukkan pandangan yang menghina. Kini, bukan saja wajah Cit Sa Tau To berubah, bahkan Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua pun turut menjadi marah.

Hok Tong Hong berpikir dalam hatinya, jangan mengira Cit Sa Tau To itu adalah buah yang empuk. Dengan

mengandalkan banyak orang, kamu akan dapat keuntungan. Kalau aku sudah berkata terus terang dan kamu tidak mau mendengar, buat apa aku menjadi penengah.

Maka tidak menunggu Cit Sa Tau To marah, ia berkata lagi

: "Orang datang dari jauh-jauh. Mau pergi atau tidak, itu bukan urusan aku!" Ia melihat pada Hua san Sin Liong, keduanya lalu melangkah masuk.

Tadinya Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua tahu, setelah tiba di Yen ka cung, antara Cit Sa Tau To dan Sang Bun Pang pasti akan timbul keributan. Maka pada saat mereka datang, mereka telah berdiri di depan Cit Sa Tau To. Sementara itu Hua san Sin Liong masih berada di belakang, terus menggoyang-goyangkan tangan pada Cit Sa Tau To, supaya ia jangan bersuara. Kalau tidak, dengan tabiat Cit Sa Tau To yang berangasan itu, pasti telah marah sedari tadi, mana mungkin bisa bertahan sampai sekarang? Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua melihat orang-orang Sang Bun Pang tidak mendengar kata, ganti mereka menjadi marah, dan bersiap untuk tidak mau turut campur, biarkan saja Cit Sa Tau To sendiri yang ribut. Lalu mereka berdua melangkah maju, meninggalkan Cit Sa Tau To sendiri yang berhadapan dengan kedelapan jago silat Sang Bun Pang.

Kali ini tepat mengenai hati Cit Sa Tau To. Ia sengaja untuk mencari ribut, malah ia menahan dirinya untuk tidak menjadi marah. Dengan tertawa cengar cengir ia melangkah maju dua tindak. Cit Sa Tau To adalah seorang jago silat yang tersohor di Bu lim. Meskipun ia melangkah dengan cengar cengir dan tidak segera ingin berkelahi, tetapi wajah kedelapan orang itu sangat tegang. Kedelapan orang itu masih berjejer, tapi tangan kiri mereka memegang tangan kanan kawan yang berada di sebelahnya. Apalagi pegangan itu sangat aneh, telapak ketemu telapak persis seperti orang yang sedang bersalaman dengan erat-erat. Kedelapan orang itu telah menjadi satu.

Sementara itu Hua san Sin Liong dengan Hok Tong Hong berdua sedang menggunakan ilmu 'Toan Im Jit Mi (mengirimkan pesan pada yang berkepentingan saja) yang sangat tinggi kepada Cit Sa Tau To : "Hati-hati! Kalau Sang Bun Pang menyuruh mereka menjadi benteng pertama, tentu mereka itu ada asal usulnya. Jangan lengah!"

Kata-kata itu, hanya Cit Sa Tau To sendiri yang dengar.

Ia tidak menyahut, hanya tertawa-tawa saja, sambil melangkah lagi dua tindak, dan hanya berjarak empat lima kaki dari tempat kedelapan orang itu, memiringkan kepalanya memandang mereka. Sesaat kemudian barulah ia berkata : 'Telah ku lihat di tengah hari. Kalau bajingan, tetap saja bajingan!"

Muka kedelapan orang itu berubah, gerakan mereka berubah lagi. Orang yang berada di tengah-tengah mundur, orang yang berada di kedua samping merapat ke dalam.

Tadinya mereka berjejer, kini telah membentuk kaki kuda, tetapi tangan kedelapan orang itu masih tetap berpegangan erat-erat satu sama lainnya.

Cit Sa Tau To tertawa lagi : "Berubah-rubah masih tetap bajingan!" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kedelapan orang itu berteriak serentak, dua orang yang paling dekat dengannya tiba-tiba telah mengirimkan pukulan. Orang- orang Sang Bun Pang itu semuanya berjumlah delapan orang tetapi karena mereka saling berpegangan, maka yang dapat memukul hanyalah dua orang. Yang satu di kepala, yang satu di buntut. Tangan yang dapat digerakkan pun hanya satu, yang satu lagi masih memegang tangan orang lain. Yang memukul kini adalah orang yang di kepala dan di buntut itu. Terlihatlah mereka membalikkan tangan, yang satu ke atas, yang satu ke bawah. Pukulan mereka itu menderu-deru.

Tenaga itu melayang-layang, sukar ditangkap, itulah tenaga Lwe kang yang lembut.

Meskipun Cit Sa Tau To masih tertawa cengar cengir tetapi dalam hatinya ia telah mengambil suatu keputusan. Ketika kedelapan orang tadi bergandengan tangan, ia telah melihat bahwa itu adalah suatu ilmu dalam yang dapat saling kirim, dapat mengumpulkan tenaga beberapa orang pada seorang. Tetapi ilmu itu tidak mudah dipelajari, bukan saja orang-orang yang mempelajari ilmu itu harus mempunyai tenaga dalam yang sama, ilmu silat yang sama. Yang lebih penting ialah hati mereka harus bersatu. Ini bukanlah suatu hal yang mudah.

Maka di kalangan kang ouw, jarang sekali ada yang mempelajari ilmu tersebut. Tetapi kini, mereka sekali datang delapan orang, ini adalah hal yang lebih sukar lagi. Ilmu ini, tentu saja, lebih banyak orang kekuatannya pun semakin hebat. Mereka berjumlah delapan orang, taruhlah setiap orang mempunyai tenaga dalam selama lima tahun, dijumlah menjadi satu, semuanya meliputi 40 tahun. Maka hati Cit Sa Tau To sungguh tidak berani menganggap enteng kepada mereka.

Kini kedua orang itu telah memukul. Cit Sa Tau To berhitung dalam hatinya, biarlah aku terima dulu pukulan mereka itu, supaya aku tahu ada berapa dalam tenaga dalam mereka, baru aku membuat rencana lain nanti. Andaikata bahkan pukulan mereka itu tidak dapat diterima, tentu saja aku tidak perlu melawan mereka lagi. Maka setelah melihat pukulan itu tiba, tubuhnya memendek dan berteriak : "Bagus sekali!" Kedua tangannya membalik menimbulkan angin yang menderu-deru, lalu didorongnya kedua tangannya. Ilmu silat Cit Sa Tau To adalah Ha Mo Sin kang (ilmu menaklukkan iblis) yang keras dari Hek Bun Sin kang, kebetulan sekali menjadi kebalikan dari ilmu Sang Bun Pang yang lembut itu.

Setelah pukulannya keluar, suaranya bergemuruh, hampir saja keempat tangan itu beradu. Tetapi saat ini, tiba-tiba terjadilah suatu perubahan.

Kedua orang Sang Bun Pang yang di kepala dan di buntut itu, tadinya menyerang Cit Sa Tau To dengan pukulan tangan, tetapi ketika Cit Sa Tau To ingin menerima pukulan itu, tiba- tiba kedua tangan mereka beradu "plok" mengelak dari hantaman Cit Sa Tau To. Kini mereka saling berpegang. Ketika tangan mereka berpegang, telapak tangan mereka telah menempel dengan erat. Sementara itu, dua orang yang berada di tengah-tengah, kini berpencar. Kedelapan orang itu bergerak serentak. Dan kedua orang yang berada di tengah tadi, kini telah berada di kepala dan yang satu lagi di buntut, dengan cepat sekali telah berada di belakang Cit Sa Tau To.

Mereka masing-masing mengulurkan tangan memukul punggung Cit Sa Tau To. Jurus ini bukan saja tenaga mereka saling kirim, tetapi gerakan mereka pun menunjukkan ilmu mengentengkan tubuh yang lihai. Perubahan jurus itu adalah ilmu 'It Ji Teng Coa Tin' (barisan ular panjang) dari Sang Bun Pang.

Cit Sa Tau To mengulurkan tangannya untuk menerima pukulan orang-orang Sang Bun Pang tapi tidak jadi, sedangkan punggungnya telah terserang. Ini sama sekali tidak diduga oleh Cit Sa Tau To.

Cit Sa Tau To tahu kalau ia memutar tubuhnya menghadapi lawannya, lawannya pasti memiliki perubahan yang semakin tidak terduga. Kalau terus-terusan begitu, lama kelamaan ia akan jatuh dalam tangan kedelapan orang itu. Ilmu kedelapan orang itu memang sangat lihai, tapi di antara mereka itu tidak ada satu yang ternama. Andaikata Cit Sa Tau To sampai kalah di bawah tangan orang-orang yang tidak ternama itu, bagaimana ia akan jadi orang lagi di kemudian hari? Maka kini, seluruhnya ia memutar tubuhnya melawan lawannya, atau mengirimkan pukulan ke belakang, tetapi ia tidak berbuat demikian, melainkan mengumpulkan tenaga murninya, mengangkat tubuhnya melesat ke atas.

Tiba-tiba tubuh Cit Sa Tau To melayang ke udara setinggi tiga tombak dan berjungkir balik tujuh delapan kali. Tentu saja setiap kali ia berjungkir balik, tubuhnya agak menurun.

Setelah tujuh delapan kali jungkir balik, tubuhnya berada di atas tanah. Dan meninggalkan orang-orang Sang Bun Pang itu sejauh delapan tombak. Setelah bebas dari kepungan mereka, ia langsung masuk ke pintu Yen ka cung.

Perubahan ini terjadi dalam sekejap saja. Ketika tubuh Cit Sa Tau To berjungkir balik di atas udara, kecepatannya bagai angin puyuh, dari mula sampai akhir, kejadian itu terjadi dalam sekejap saja. Biar barisan kedelapan orang itu berobah semakin hebat lagi pun takkan dapat menghalanginya lagi.

Kakinya baru menginjak tanah, lantas ia tertawa : "Hua San, Lo Hok, aku telah masuk. Kenapa kau belum juga

datang?"

Kedelapan orang itu berkata serentak : "Rupanya Cit Sa Tau To mahir menguasai ilmu angkat kaki seribu!" Ucapan kedelapan orang itu senada, maka suaranya nyaring sekali.

Ketika ucapan mereka baru keluar, Cit Sa Tau To berteriak nyaring, tubuhnya melayang kembali ke udara. Dan berjungkir balik lagi.

Tadi ia berjungkir balik dari atas ke bawah, tetapi kini, dari bawah ke atas; makin lama makin tinggi. Dalam sekejap saja, telah berjungkir balik tujuh delapan kali, tubuhnya melayang setinggi tiga tombak. Perobahan ini, dibandingkan dengan tadi ketika tiba-tiba ia kabur, boleh dikatakan semakin tidak terduga.

Kini ia berada di atas kepala kedelapan orang itu. Ketika kedelapan orang itu masih bingung, terdengarlah suara tertawa besar Cit Sa Tau To dari udara yang menggetarkan bumi. Kemudian diikuti oleh suara nyaring yang memecahkan udara, terlihat tujuh buah sinar yang keluar dari samping tubuh Cit Sa Tau To. Tujuh buah sinar itu menerjang ke bawah dengan kecepatan yang tinggi sekali. Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua melihat tujuh buah sinar itu menyambar ke bawah, hati mereka menjadi terperanjat. Karena mereka tidak menyangka bahwa Cit Sa Tau To akan menggunakan senjata maut... Cit Sek Sin So (pisau ajaib tujuh warna) yang menggetarkan kalangan kang ouw. Senjata itu telah lama tidak digunakannya dan jarang sekali digunakannya kalau tidak terpaksa. Bahkan ia pernah bersumpah, kalau ia menggunakan senjata itu, harus mengenai musuhnya. Kini ketujuh senjata itu ditembakkan serentak, musuhnya berjumlah delapan orang, paling tidak akan ada tujuh orang yang kena; apabila tidak mati, pasti luka parah. Dengan demikian, dendamnya dengan Sang Bun Pang akan diperdalam sedangkan asal mulanya hanyalah karena orang belaka. Ini sungguh adalah suatu hal yang tidak patut sekali.

Ketika Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua terperanjat, dari dalam Yen ka cung ada dua orang yang keluar dengan kecepatan meteor. Kecepatan mereka itu tidak kalah dari kecepatan Cit Sek Sin So. Namun mereka datang dari tempat jauh, sedangkan Cit Sek Sin So dari atas, jaraknya hanya tiga tombak saja. Kedua bayangan orang itu, sebelum mereka mendekat, tangan mereka telah melayang. Suara "ces ces" berbunyi tak henti-hentinya, melayanglah belasan senjata rahasia. Ada yang menyambar Cit Sek Sin So, ada yang menyambar Cit Sa Tau To. Senjata rahasia yang menyambar Cit Sek Sin So itu tentu saja ingin menyentuhkan Cit Sek Sin So itu. Tetapi Cit Sek Sin So Cit Sa Tau To itu, walaupun namanya senjata rahasia, tetapi setiap buahnya panjang kira- kira dua kaki, semuanya ditempa dari waja murni, berbentuk segi tiga. Kedua ujungnya lancip, tengah-tengahnya gemuk, tajamnya bukan main, setiap batangnya berat 10 kati. Di atasnya dihiasi dengan tiga butir intan. Setiap batang Sin So, warna intannya lain-lain, maka baik siang maupun malam, ketika Cit Sek Sin So itu melayang, terlihat tujuh buah sinar berbeda yang sangat menyilaukan mata. Orang-orang Bu lim yang menggunakan senjata rahasia banyak sekali, berapa macamnya pun tidak terhitung, tetapi kalau mengenai kemewahan dan kekerasan, Cit Sek Sin So boleh dikatakan nomor satu. Cit Sek Sin So itu begitu berat, kalau terpukul dengan senjata kecil, tentu saja tidak ada pengaruhnya.

Kini tubuh Cit Sa Tau To melayang lagi ke atas untuk menghindari senjata rahasia yang menyerangnya, sembari berteriak : "Yang mau hidup jangan bergerak!"

Kedelapan orang itu, begitu melihat Cit Sek Sin So menyambar, mereka mau melepaskan ilmu tenaga dalam yang saling kirim itu, dan ingin coba kabur. Tiba-tiba mendengar Cit Sa Tau To yang berada di atas kepala mereka itu berteriak demikian. Kedelapan orang itu biasa berkelana di kalangan kang ouw segera sadar lalu mematung tidak bergerak.

Lalu terdengar suara "ser ser ser" tujuh kali, antara kedelapan orang itu ada tujuh orang yang merasakan paha kanan mereka menjadi dingin, masing-masing ada sebatang Sin So yang menembusi celana dalam mereka, turun dari kulit kaki mereka dan menancap di samping kaki mereka. Untuk sesaat, ketujuh orang itu sungguh tidak dapat percaya apakah mereka masih hidup di atas dunia ini.

Cit Sa Tau To memberatkan tubuhnya turun ke bawah.

Tentu saja ketika Cit Sa Tau To menginjakkan kakinya di atas tanah, kedelapan orang itu masih berdiri mematung. Cit Sa Tau To berteriak : "Hei kamu sekalian, ketujuh Sin So ku itu sangat mahal, apakah kalian tidak mau mengembalikannya?"

Setelah teriakan Cit Sa Tau To itu, kedelapan orang itu baru tersentak, mereka mengangkat kaki serentak dan surut ke belakang, di atas tanah tertancap tujuh batang Sin So dengan rata, ketujuh orang itu memang betul-betul telah dikenai Sin So, tetapi hanya menembusi celana mereka saja, lalu melesat ke bawah, bahkan tidak melukai kulit mereka barang sedikitpun. Cit Sa Tau To menggunakan tenaga dalamnya sempurna sekali, sasarannya pun tepat sekali, keahliannya itu sungguh sangat menakjubkan.

Hua san Sin Liong dan Hok Tong Hong berdua, sampai kini mereka baru merasa lega. Sedangkan kedua orang yang keluar dari dalam tadipun menjadi lega melihat ketujuh orang itu tidak apa-apa.

Kedua orang ini tampaknya seperti saudara kembar, alisnya panjang, mukanya pun panjang, wajahnya seakan-akan menangis, sedihnya bukan main, seolah-olah istri mereka dirampas orang, anak-anak mereka dibunuh orang saja layaknya. Kini serentak menjura pada Cit Sa Tau To : "Kami sangat kagum!" Nada mereka pun seperti terisak, hingga membuat orang merasa tidak enak mendengarnya.

Cit Sa Tau To menoleh berpapasan muka dengan kedua orang itu, hatinya pun berdetak, pikirnya dalam hati : "Kenapa kedua orang ini? Melihat wajah mereka yang seperti menangis minta dikasihi itu, siapa yang sampai hati berkelahi dengan mereka?"

Tabiat Cit Sa Tau To sangat berangasan, tetapi hatinya sangat baik.

Serta merta ia pun menjura pada kedua orang itu : "Kalau hati kamu tidak senang, nangislah di tempat jauh. Tidak ada yang saya takuti, cuma takut pada orang yang menangis."

Kedua orang itu hanya tertawa pahit dan tidak menjawab perkataan Cit Sa Tau To. Kini yang satunya berkata : "Cit Sek Sin So ini memang luar biasa, katanya tapi barang ini sangat sulit dicari, tentu saja kami kembalikan."

Kata yang seorang lagi : "Tentu jangan-jangan kita akan ditertawakan nanti."

Siapa Cit Sa Tau To ini, mendengar kedua orang itu berkata demikian, lantas ia tahu meskipun kedua orang itu bertampang sedih, tetapi mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Mendengar ucapan mereka seakan mereka ingin menunjukkan sedikit kepandaian dengan memainkan Cik Sek Sin So. Aku kesohor karena mengandalkan benda itu, sekali-kali tidak boleh dianggap mainan oleh mereka, lebih baik cepat- cepat ku ambil kembali. Berpikir sampai disini, tubuh Cit Sa Tau To beranjak melesat ke depan, tetapi ketika tubuhnya baru bergerak, kedua orang itu telah turun tangan.

Harus diketahui bahwa kedua orang itu memang adalah saudara kembar, mereka menjabat wakil Pang cu dalam Sang Bun Pang, mereka adalah Lay Ki dan Lay Nen. Ketika masih kanak-kanak, ketemu dengan peristiwa ajaib, ilmu silat mereka tinggi sekali. Hal ini dapat dilihat dari gerakan mereka ketika melesat dari dalam tadi.

Sehabis Lay Kie dan Lay Nen berkata, ketika Cit Sa Tau To masih berpikir, kedua orang itu telah serentak mengangkat tangan kanan mereka, jari tengah mereka digetarkan tujuh kali, dengan kecepatan yang tinggi sekali, setiap getaran menimbulkan suara plek yang lemah, tujuh buah suara telah menyambut ke depan.

Sementara ini, Cit Sa Tau To ingin mengambil Cit Sek Sin So-nya. Ia segera berhenti ketika dilihatnya ada empat belas cahaya, setiap dua cahaya menyambar satu Cit Sek Sin So.

Melihat keadaannya, kedua orang itu sedang melepaskan senjata rahasia, seakan ingin mementalkan Cit Sek Sin So yang tertancap di atas tanah. Setelah Cit Sek Sin So berhenti, hatinya merasa geli. Jangankan Cit Sek Sin So itu separuhnya tertancap di tanah, taruhlah dicabut dengan tangan, itu pun meminta banyak tenaga. Taruhlah Sin So itu tergeletak di atas tanah, berat setiap batangnya pun melebihi 10kati. Melihat senjata yang dilepaskan mereka, cahayanya halus sekali seperti tidak bertenaga; mana mungkin Cit Sek Sin So dapat dipentalkan!

Ia ingin melihat kegagalan kedua orang itu, tentu saja ia tidak mau melangkah lagi, dan laju ke 14 cahaya itu cepat sekali. Baru ia berhenti, terdengarlah suara berdentingan tujuh kali, ke-14 Sang Bun Ting (paku Sang Bun) yang hanya setengah dim panjangnya telah mengenai ketujuh Cit Sek Sin So. Di luar dugaan Cit Sa Tau To, setiap batang Sin So-nya telah mental melayang ke atas kena sambaran dua buah paku Sang Bun.

Melihat keadaan itu, hati Cit Sa Tau To sangat terperanjat.

Tubuhnya beranjak lagi, menguber, mengambil kembali ketujuh batang Sin So-nya. Tetapi tubuhnya baru bergerak, kedua saudara kembar itu telah menggetarkan kembali jari tengah mereka tujuh kali, 14 batang paku Sang Bun telah melayang lagi.

Meskipun gerakan tubuh Cit Sa Tau To sangat cepat, tapi mana dapat dibandingkan dengan kecepatan senjata rahasia yang dilepaskan oleh saudara kembar itu? Dengan membawa desiran angin, ke-14 paku Sang Bun itu telah melampaui Cit Sa Tau To dan telah mengenai ketujuh batang Sin So yang berada di udara.

Tubuh Cit Sa Tau To berada di udara, melihat keadaan itu hatinya menjerit. Ia tahu kekuatan paku Sang Bun tu, tadi saja dapat mementalkan Cit Sek Sin So yang masih tertancap di tanah, apalagi sekarang Cit Sek Sin So berada di udara, mana tahan untuk beradu dengan paku Sang Bun itu?

Betul saja, ketika hati Cit Sa Tau To menjerit, setelah kena sambaran paku Sang Bun, Cit Sek Sin So-nya telah melayang ke atas bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, sekejap saja ketujuh batang Sin So itu telah jatuh ke dalam tembok Yen ka cung.

Dalam keadaan begini, Cit Sa Tau To tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Diuber tidak enak, tidak diuber tidak enak hingga membuatnya menjadi canggung.