-->

Bayangan Darah Jilid 06

Jilid 06

Lauw Jok Hong dikepit oleh orang setengah baya itu di bawah ketiaknya, tangan orang setengah baya itu bagai kakak tua mengepit pinggangnya keras sekali, hingga membuat tulang iganya terus berbunyi, seakan ada yang patah, hampir saja membuatnya tidak berani menarik napas. Sepanjang jalan ia merintih-rintih, entah telah berapa jauh, tiba-tiba ia merasa lepas dari kepitan, dan "buk" jatuh ke atas tanah. Lauw Jok Hong dikepit orang itu hingga matanya berkunang-kunang, setelah lepas untuk sementara masih tidak dapat melihat apa- apa, tangannya meraba-raba, dan teraba sebuah batu nisan, lalu ia setengah berlutut ingin berdiri. Sementara ini, matanya telah mulai dapat melihat. Ia melihat dirinya sedang berlutut di hadapan sebuah kuburan baru, dan yang dipegangnya itu adalah sebuah batu nisan. Di batu nisan itu terukir huruf "Kuburan Tan Beng Teng dari Pulau Thian In". Tadinya Lauw Jok Hong tidak tahu siapa itu "Tan Beng Teng", tetapi di bawah huruf "Tan Beng Teng" itu terdapat pula huruf Pulau Thian In.Lauw Jok Hong bukan orang tolol, tentu saja ia mengerti, orang yang terkubur dalam kuburan baru itu bukanlah orang lain, dia adalah anak dari orang setengah baya di hadapannya ini, anak muda yang mati di bawah tangannya dan Lauw Hwie. Ia siuman dari keadaan setengah pingsan, dan tiba-tiba melihat batu nisan ini. Terasa kepalanya berdengung, hampir saja ia jatuh pingsan lagi. Tubuhnya telah setengah berdiri, kini kedua lututnya menjadi lemas, kembali ia tertunduk di atas tanah, kepalanya berputar dengan kaku mencari kemana perginya orang setengah baya itu.

Baru ia menoleh, sudah melihat orang setengah baya itu.

Orang setengah baya itu berdiri di samping batu nisan, sebelah tangannya memegang batu nisan itu, jari tangannya yang pucat itu terletak tidak jauh dari jari tangan Lauw Jok Hong.

Lauw Jok Hong terperanjat, buru-buru ia menarik tangannya, tubuhnya tercelentang ke belakang, lalu ia merangkak, hatinya sangat terperanjat oleh karena secara mendadak saja ia mengetahui jaraknya dengan orang setengah baya itu sangat dekat sekali. Setelah ia merangkak dua tindak, hatinya pun berdebar-debar. Rupanya ia tahu orang setengah baya itu memandang kuburan baru dengan pandangan kaku, sama sekali tidak memperhatikan dirinya. Andaika ia dapat menggunakan kesempatan ini untuk kabur... berpikir hingga disini, hatinya lebih tegang lagi, sampai membuat kaki dan tangannya tidak mendengar komando. Ia terpaksa menggelindingkan tubuhnya sejauh tujuh delapan kaki, lalu merangkak kembali dengan kaki dan tangannya beberapa tombak, lalu menggunakan sekuat tenaganya untuk berdiri dan angkat kaki kabur.

Lauw Jok Hong sekali-kali tidak berani menoleh ke belakang, karenaia tidak berani memikirkan bahwa ia mempunyai kesempatan yang sebaikini untuk kabur dari cengkeraman lawannya. Ia lari dengan mati-matian, hingga seluruh tulang belulangnya serasa ingin copot, dan peluhnya bercucuran dari kening mengaburkan pandangannya. Ia lari hingga tenggorokannya bagai dibakar dan sampai kakinya menjadi lemas, lalu terjatuh, baru ia terpaksa berhenti.

Ia tergeletak di atas tanah, napasnya terengah-engah, pelan-pelan peluhnya kering ditiup angin dan ia telah dapat melihat keadaan di depannya. Namun, ketika ia membuka matanya memandang ke depan, tiba-tiba saja ia menjerit panjang-panjang, ia loncat lagi dan lari mati-matian lagi.

Padahal ia telah sangat letih, tapi ia mau tidak mau harus lari, karena ketika ia dapat melihat, barang pertama yang dapat dilihatnya itu adalah batu nisan. Tadinya ia telah lari sejauh 20 li,tetapi setelah tejatuh, hal ini bagaimana tidak mengagetkan hatinya? Bagaimana tidak menyuruhnya untuk berlari lagi?

Sekali ini, derita yang diterimanya dari setiap langkahnya bahkan tidak dapat dilukiskan, tetapi ia tidak berani berhenti. Ia lari sekuat tenaganya, baru tiga empat li telah terjatuh lagi. Matanya berkunang-kunang menjadi gelap, tidak dapat melihat apa-apa. Ia terkulai di atas tanah, menarik napas dengan terengah-engah tangannya mencakar-cakar. Tiba-tiba teraba sebuah batu, dan memegangnya dengan kedua tangannya. Segera terasa batu itu bersegi empat, dan hatinya berdetak, kedua tangannya bergemetar meraba ke atas, matanya menjadi berkunang-kunang, dan tidak dapat melihat apa-apa, tetapi tangannya yang gemetar itu telah teraba huruf "pulau Thian In".

Lauw Jok Hong masih ingin berteriak, namun mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar, malah segumpal darah segar yang keluar dari mulutnya. Hal ini membuatnya menjadi lebih berkunang-kunang lagi, ia tidak bertenaga untuk kabur, dan terpaksa bergelindingan, sepanjang jalan darah segar terus keluar dari mulutnya. Ia bergelinding sebanyak tujuh delapan kali, lalu tangannya menekan ke tanah, tiba-tiba ia melonjak berdiri dan lari lagi.

Ketika pertama kali ia lari, ia tidak tahu ada orang mengikutinya dari belakang, lebih-lebih tidak tahu orang yang mengikutinya dari belakang itu memegang batu nisan. Ilmu mengentengkan tubuh orang setengah baya itu sangat tinggi, walaupun membawa sebuah batu nisan, namun gerakannya tetap tidak menimbulkan sedikit suarapun. Ketakutan Lauw Jok Hong yang sangat amat itu membuatnya tidak berani menoleh ke belakang, telinganya hanya terdengar suara deruan angin karena langkah larinya yang kencang. Bagimana ia dapat mengetahui ada orang mengikutinya dari belakang? Setelah Lauw Jok Hong terjatuh di atas tanah, buru-buru orang setengah baya itu meletakkan batu nisan ke hadapan Lauw Jok Hong. Inilah sebabnya kenapa setelah Lauw Jok Hong berlari sejauh dua tiga puluh li, batu nisan itu masih saja berada di kanan kirinya.

Pada saat ini, Lauw Jok Hong karena saking kagetnya telah berada dalam keadaan setengah gila. Ditambah lagi dengan larinya yang memakan banyak tenaga, mengakibatkan ia muntah darah sepanjang. Namun ia masih terus lari, setiap jatuh tentu ia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri. Tetapi orang setengah baya yang mengikutinya dari belakang itu tidak mempunyai rasa kasihan, walaupun demikian di wajahnya pun tidak terlihat rasa gembira karena dendamnya sedang terbalas. Karena betapapun ia menyiksa musuhnya, anaknya takkan hidup kembali.

Lauw Jok Hong terus berlari. Dalam keadaan setengah sadar, ia teringat permainan yang selalu dilakukannya ketika ia pergi berburu : "Ia memburu hewan, hewan itu dikepung anjing berburunya, elang pun ikut memburu dengan berputar- putar di atas kepalanya, membuat hewan tersebut ketakutan. Namun ia tidak lantas turun tangan, ia senang melihat naluri ingin hidup dari hewan itu dalam kesengsaraannya. Tapi kini ia sendiri telah menjadi hewan buruan. Terakhir kali Lauw Jok Hong jatuh, ia tidak bertenaga lagi untuk berdiri dan rebah dengan napas ngos-ngosan. Orang setengah baya itu mengangkat batu nisan. Baru ia ingin menghantamkannya ke kepala Lauw Jok Hong. Hantaman itu kalau kena kepala Lauw Jok Hong, pasti saja kepalanya akan pecah berantakan, dan pada saat inilah terdengar suara kakek tua : "Tunggu dulu!

Ada dendam apakah tuan dengan orang ini? Sudah mengubernya sampai sedemikian rupa masih tidak melepaskannya?"

Orang setengah baya itu mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba, dilihatnya seorang kakek-kakek yang agak pendek, rambutnya telah memutih, umurnya kira-kira 70 tahun. Di pinggang kakek itu terselip sebuah pedang pendek yang agak lebar, rupanya agak aneh, sarungnya pun terbuat dari besi, sudah berkaratan pula. Orang setengah baya itu tertegun.

Baru ia tahu, ketika ia nguber Lauw Jok Hong, ia telah sampai di sebuah lembah. Lembah ini penuh dengan bunga-bunga dan pohon-pohon, disana terdapat sebuah batu besar yang putih bersih diukir menjadi sebuah papan catur, apalagi seorang tua yang bongkok duduk disana. Rupanya kedua orang tua itu sedang asyik main catur, melihat dirinya menguber Lauw Jok Hong lalu mencegah menghentikan hantaman batu nisan itu.

Orang setengah baya itu menghela napas, lalu menjura : "Saya adalah Tan Heng dari pulau Thian In."

"Oh," kata orang tua itu : "Kalau begitu, pemilik pulau Tan adalah..."

"Ayah saya," sela Tan Heng tidak menunggu orang tua itu menghabiskan ucapannya.

Orang tua itu menganggukkan kepalanya : "Entah apa yang telah dibuat orang itu hingga menyakiti tuan?"

"Ia merampok dan membunuh anakku," kata orang setengah baya itu dengan nada sedih. Orang tua itu menunjuk menatap Lauw Jok Hong. Kini Lauw Jok Hong telah pingsan, mukanya pucat penuh dengan darah, tampaknya persis seperti mayat. Setelah melihat sejenak, berkatalah orang tua itu : "Orang ini masih sangat muda! Dia..." belum habis ucapannya, ia telah kaget, buru- buru ia melangkah, teriaknya : "Si bongkok mari lekas!"

Tadinya si bongkok itu terus duduk di pinggir batu, sedang dengan seksama meneliti permainannya, tidak memperdulikan apa yang telah terjadi disitu. Setelah mendengar teriakan orang tua itu, baru ia menengadah : "Ada apa?"

Begitu si bongkok menengadah, sungguh mengagetkan orang, karena di mukanya penuh dengan bintik-bintik yang besar-besar dan kecil-kecil. Ada yang merah, ada yang hitam, ada yang biru, sungguh sangat mengerikan.

Tan Heng melirik pada pada si bongkok itu sejenak, serunya : "Inikah Hua To?"

"Hm," sahut si bongkok itu acuh tak acuh. "Ya."

"Ayo lekas, apakh anak muda itu masih dapat ditolong?" kata orang tua itu lagi.

Si bongkok berkata dengan dingin : "Tua bangka Thio, kau dengan begitu melihat orang lantas menolong, anak muda ini bukan sanak bukan pula familimu. Aku sangat malas untuk menolongnya, ayo kita main catur saja."

Kata orang tua itu sambil menghempaskan kakinya : "Kali ini kau salah hitung, inilah anaknya orang she Lauw itu. Ciu ji (anak saya) telah memperistri anak gadis sulung orang she Lauw itu, kau bukan tidak tahu, kenapa kau bilang bukan sanak bukan famili dengan aku?"

Si bongkok itu tidak bisa menjawab, berdiri dengan sangat terpaksa, mulutnya menggumam : "Sanak begitu juga sudah terlalu jauh, hampir saja tidak ada hubungannya sama sekali, biarlah, coba ku lihat kalau ia sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam neraka, aku pun tidak dapat menolongnya," katanya sambil menuju ke Lauw Jok Hong yang telah pingsan itu.

Tan Heng yang berdiri di sebelah itu merasa sangat canggung sekali. Siapa si bongkok itu, sekali pandang sja ia sudah tahu. Dialah tabib yang sangat ternama di kalangan dunia persilatan, sakit parah apa saja kalau sudah sampai ke tangannya, semuanyaakan menjadi sembuh kembali.

Tubuhnya bongkok (To), dan kebetulan ia ber-she Hua, maka orang-orang kang ouw menamakannya Hua To. Sakit yang diderita Lauw Jok Hong sangat parah, tapi kalau diobatinya, pasti bisa sembuh. Apalagi dari perkataan orang tua itu, ia telah tahu orang tua itu bukanlah orang lain, dialah jago silat pedang yang sangat tersohor Thian Kiam Thio Hoa.

Thian Kiam Thio Hoa dan Singa Emas Lauw Thian Hauw adalah bermisan, Thio Pek Yauw anak Thio Hoa, memperistri anak gadis Lauw Thian Hauw, Lauw Hung. Hal ini diketahui semua orang. Tan Heng berpikir dalam hatinya, kalau ia ingin mencegah Hua To untuk mengobati Lauw Jok Hong, tentulah dia bukan tandingan kedua orang tua itu, lalu ia menjadi marah. Teriaknay : "Setan ini sangat kejam, ia telah membunuh anakku. Ia harus menerima hukum karma, jangan tolong dia."

Kepandaian Hua To memang sangat lihai, namun ia sangat malas untuk mengobati orang. Mendengar teriakan Tan Heng itu, segera ia berhenti dan tidak mau menolongnya.

Thian Kiam Thio Hoa berkata dengan tergesa-gesa : "Sahabat Tan, saya rasa kau keliru, dia adalah anak Singa Emas Lauw Thian Hauw!"

Tan Heng mendengar, ia jadi tertawa terbahak-bahak. Suara tawa Tan Heng sangat seram, hingga membuat Thio

Hoa dan Hua To menjadi mengerutkan alisnay. Tan Heng tertawa sesaat, lalu jeritnya : "Aku keliru? Coba kau bangunkan dia, dan tanyalah sendiri padanya."

Thio Hua menunduk memegang Lauw Jok Hong. Walaupun tubuhnya agak kate, namun tangannya besar dan memerah, diulurkannya memegang Lauw Jok Hong. Terlihatlah mukanya menjadi serius, dalam sekejap saja, dalam sekejap saja di atas kepalanya telah mengepul asap putih. Jelas sekali ia sedang mengirimkan tenaga aslinya ke tubuh Lauw Jok Hong. Hua To membalikkan tubuhnya, mulutnya entah sedang menggumamkan apa. Keadaan ini, semua orang juga tahu bahwa ia tidak mau turut terlibat, namun ia tidak dapat tidak memandang muka Thian Hua, maka ia tidak dapat segera angkat kaki.

Tan Heng masih memandang Lauw Jok Hong dengan wajah marah.

Berselang sesaat, terdengarlah tenggorokan Lauw Jok Hong berbunyi kerokokan. Suara itu makin lama makin rapat, seakan dalam tenggorokannya itu terdapat beberapa ekor kata yang sedang berbunyi. Berselang lagi sesaat, terdengar suara "wuaaah", darah biru muntah keluar dari mulut Lauw Jok Hong. Pelan-pelan ia siuman, membuka matanya, dalam pandangannya itu masih terdapat rasa ketakutan. Buru-buru Thio Hoa berkata : "Nak Lauw, apakah kau kenal padaku?"

Mendengar suara manusia, tubuh Lauw Jok Hong tak tertahan lagi bergemetar. Dengan suara payah ia melirik,tapi matanya berkunang-kunang, dilihatnya di depannya ada beberapa bayangan orang, ia berteriak dengan kaget : "Jangan bunuh aku... jangan bunuh aku!" 

"Thio Hoa menghela napas : "Nak Lauw, aku adalah Thio Hoa."

Tadinya hati Lauw Jok Hong sangat takut, begitu mendengar nama Thio Hoa segera menjadi tenang. Dalam sekejap saja, hampir saja ia berteriak saking kegirangannya. Aku sudah tertolong! Ia tahu Thio Hoa adalah seorang jago silat yang lihai. Bertemu dengan Thio Hoa, nyawanya akan terjamin. Hatinya menjadi tenang, darahnya pun mengalir dengan lancar, dan telah dapat melihat bayangannya di depannya dengan jelas. Ia melihat Tan Heng berdiri di samping dengan wajahnya yang marah, dan ia tahu bagaimana persoalannya. Lauw Jok Hong sangat penakut, tapi kelicikannya tidak berkurang. Sementara ini ia mendengus dengan suara parau : "Paman Thio, orang ini... ingin membunuh saya tanpa sebab... paman Thio... cobalah paman pertimbangkan..." Tadi Tan Heng menyuruh Thio Hoa membangunkan Lauw Jok Hong dan bertanya padanya. Namun kini, setelah Lauw Jok Hong siuman, ia telah berkata demikian untuk angkat tangan, hingga muka Tan Heng dan Thio Hoa pada berubah.

Muka Thio Hoa berubah karena luka Lauw Jok Hong begitu parah. Kalau tadi dia bukan lagi main catur dengan Hua Toa, pasti Lauw Jok Hong ini telah mati di bawah tangan Tan Heng. Ia tidak tahu asal usul persoalannya, hanya menganggap Lauw Jok Hong adalah anaknya Lauw Thian Hauw, tentu saja berkelakuan baik. Rupanya Tan Heng sedang memfitnah Lauw Jok Hong.

Sedangkan Tan Heng menjadi kian marah karena mendengar ucapan Lauw Jok Hong yang ingin angkat tangan itu, bentaknya : "bocah cilik, kau tidak mau mengaku?"

Lauw Jok Hong elah menyadari bahwa Thio Hoa tidak tahu persoalannya dan telah berdiri di pihaknya, maka hatinya makin berani lagi : "Orang ini memfitnah saya telah membunuh anaknya, dan menculik saya. Sepanjang jalan saya disiksanya. Ilmu silatnya sangat tinggi, saya tidak dapat menandinginya... maka ia mau mencabut nyawa saya... he he, orang yang belajar silat tentu tidak takut mati, tapi kalau menyuruh aku mati konyol, akupun tidak mau!" Ucapan Lauw Jok Hong itu sangat keras dan dapat menggerakkan hati orang.

Thian Kiam Thio Hoa beranjak berdiri, kedua tangannya mendorong Lauw Jok Hong hingga mental ke muka Hua To, lalu serunya : "Si bongkok, kalau kau tidak mau berkawan dengan aku, jangan perdulikan dia!"

Hua To menghela napas, tangan kirinya membalik menyambut Lauw Jok Hong yang mental ke hadapan itu. Berbarengan dengan itu, tangan kanannya mementil, dan masuklah sebuah pil ke dalam mulut Lauw Jok Hong. Nyata sekali ia tidak mau mengobati luka Lauw Jok Hong, karena Thio Hoa mengancamnya dengan pemutusan hubungan hingga membuatnya mau tidak mau harus membantu. Tetapi ia sangat tidak rela maka ia dengan perasaan yang sangat mendongkol mementilkansebuah pil ke arah mulut Lauw Jok Hong dan tidak memintanya membuka mulutnya. Sedangkan pentilan itu keras sekali, setelah pil itu dekat, Lauw Jok Hong ingin membuka mulut tapi sudah tidak keburu lagi, terdengarlah sebuah suara "plak", darah berpercikan, pil itu telah menembus bibir atas Lauw Jok Hong, bahkan merontokkan sebuah giginya, hingga membuat Lauw Jok Hong kesakitan dan menelan pil itu berikut giginya yang copot tadi.

Lauw Jok Hong sakit bercampur marah. Ia ingin berteriak menjerit-jerit, tapi cara pengobatan Hua To memang agak kelewatan, namun obatnya sangat manjur. Ketika mulutnya terbuka dan belum sempat menjerit, lalu terasa sebuah hawa dingin yang sejuk mengalir dari tenggorokkannya sampai ke menyeluruh ke tubuhnya. Darahnya mengalir dengan lancar, tenggorokkannya terasa agak nyaman, matanya yang berkunang-kunang boleh dikatakan lenyap dalam seketika.

Lauw Jok Hong tidak mungkin tidak tahu, inilah khasiatnya obat itu, maka ia ternganga tidak dapat bersuara.

Di lain pihak, setelah Thio Hoa mendorong Lauw Jok Hong, dalam hatinya ia tahu Hoa To adalah kawan sehidup semati dengannya selama puluhan tahun, dan ditambah lagi dengan ancaman pemutusan hubungan, Hoa Toa itu pasti turun tangan membantunya menyembuhkan Lauw Jok Hong. Maka menengok pun ia tidak,lalu melangkah menghampiri Tan Heng denganmemegang gagang pedangnya : "Sudah lama aku dengar ilmu silat Pulau Thian In adalah suatu cabang silat yang tersendiri, di luar golongan putih maupun golongan hitam, sekarang aku dapat membuka mataku, sungguh merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan."

Muka Tan Heng menjadi berubah tidak menentu : "Thio toa hiap, apa maksud ucapanmu ini?"

Thio Hoa menengadah sambil tertawa. "Di hadapan orang, buat apa cerita yang bukan-bukan? Persoalannya sudah sampai sedemikian rupa, apakah kau masih dapat berpangku tangan?" Tan Heng mengekang dirinya hingga ia tidak jadi marah pada Thio Hoa, hanya berkata dingin : "Tidak disangka Thian Kiam Thio Hoa yang tersohor di Bu lim ini adalah seorang yang tidak dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang salah mana yang betul, rupanya adalah seorang yang pikun!"

"Thio Hoa tersohor selama puluhan tahun, orang-orang Bu lim baik dari golongan putih, maupun dari golongan hitam, kalau bertemu dengannya pasti memberi hormat, mana pernah ada orang yang berani memarahi dia sedemikian rupa? Tabiatnya sangat keras, mana mungkin bersabar lagi, segera ia menjadi marah, tangannya bergoyang, terdengar suara "crang". Ia telah menghunuskan pedangnya yang tergantung di pinggangnya dengan bentuk aneh itu. Pedang itu hitam legam, sama sekali tidak menyolok dan lagi pedang itu tampaknya sangat berat. Karena tergenggam dalam tangan Thio Hoa, pedang itu tidak dapat mantap, ujungnya menjurus ke bawah seakan tidak dapat menahan keberatannya. Tan Heng tersenyum dingin : "Baiklah, kalau memang harus turun tangan, saya pasti temani. Tetapi kau tidak membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sungguh akan menjadi bahan tertawaan oleh orang-orang Bu lim."

***

Thian Kiam Thio Hoa menjerit, lalu memendekkan tubuhnya, pedang aneh dalam tangannya itu telah menerjang ke depan dan menimbulkan angin kencang. Pedang aneh itu telah menjadi pelangi hitam,kedahsyatan tenaganya tidak ada tandingannya! Ilmu pedang, biasanya mementingkan kelincahan, tetapi jurus Thio Hoa itu dilancarkan secara keras sekali, seakan yang berada dalam tangannya itu bukanlah pedang melainkan kampak. Tan Heng melihat Thio Hoa menyerang dengan dahsyat sekali, hatinya berdetak, dan buru-buru mengumpulkan tenaga murninya menyenjot tubuhnya. Ilmu mengentengkan tubuh dari pulau Thian In sangat terkenal di kalangan Bu lim, sekali enjot saja telah mencapai ketinggian satu tombak lebih, dan dengan sendirinya telah dapat mengelakkan serangan Thio Hoa yang bertubi-tubi itu. Terdengar Thio Hoa tertawa lebar, tangan kirinya membalik dan telah menggenggam sebuah pedang lagi, kedua tangannya menggunakan pedang dan dibuatnya dua buah lingkaran. Kedua lingkaran itu menderu-deru memekakkan telinga, angin dahsyat dari bawah ke atas terus membubung tinggi. Sekejap saja batu-batu kecil itu telah terkumpul dan seakan membentuk sebuah menara.

Pada saat itu, tubuh Tan Heng yang melayang ke udara itu turun ke bawah. Ketika tubuhnya gak turun sedikit, terasa ada tenaga yang dahsyat telah mengepungnya dari empat penjuru, Tan Heng tahu keadaanitu tidak menguntungkan dirinya, buru-buru ia mengumpulkan kembali tenaga murninya. Ilmu mengentengkan tubuhnya terlalu tinggi, seharusnya ia masih dapat melambung kembali enam atau tujuh kaki setelah mengumpulkan tenaga murninya, namun kini di sekeliling tubuhnya telah terdesak oleh tenaga dahsyat yang berputar-putar itu.

Ketika Tan Heng mengumpulkan tenaga murninya, tubuhnya hanya melayang lagi satu kaki, segera ia merasakan bagian bawah tubuhnya memberat, seakan dipeluk erat-erat, bahkan menimbulkan suatu tenaga yang menariknya ke bawah. Kini andaikata Tan Heng dapat ditarik ke bawah oleh tenaga dahsyat itu, tubuhnya akan bercampur dengan batu- batu kecil dan diputar-putar oleh tenaga dahsyat itu tak henti- hentinya. Dan kalau diserang lagi oleh Thio Hoa, ia takkan mempunyai tenaga untuk melawan lagi. Pedang Thio Hoa itu didapatkannya dari daerah sebelah barat, pedang apa itu dan terbuat dari apa, orang-orang Bu lim tak seorang yang tahu. Pedang itu berat sekali, tubuh Thio Hoa pendek kate. Ada cerita lucu mengenai dirinya, ketika ia mendapatkan pedang itu dan digantungkannya di pinggang, tak pernah lepas dari tubuhnya. Kedua tangannya memegang pedang, dan membuat lingkaran yang bertenaga dahsyat sekali, kalau tidak ada andalan, tentu tidak dapat melawannya. Sedangkan Tan Heng datang dari lautan seberang, walaupun pernah mendengar nama Thio Hoa, tapi belum mengetahui berapa dalam ilmu silatnya, maka begitu berantam, ia telah menggunakan ilmu mengentengkan tubuhnya melesat ke udara mengelakkan serangan Thio Hoa.

Kini bagian bawah Tan Heng telah memberat, hatinya menjadi kacau, lalu terjungkir, dan Tan Heng sangat terperanjat, buru-buru ia mengumpulkan tenaga murninya kembali. Seharusnya tubuhnya telah tertarik ke bawah, dengan kumpulan tenaga murninya itu walaupun tubuhnya tak dapat melayang ke atas, namun dapat mengimbangi tenaga dahsyat yang hendak menariknya ke bawah itu dan tubuhnya masih tetap berada di udara. Cuma tenaga murninya hanya dapat mengimbangi tenaga yang menariknya ke bawah, tapi tidak dapat melenyapkan tenaga yang berputar-putar itu, maka tubuhnya telah terjungkar lagi. Tan Heng menjadi sangat kaget, buru-buru ia mengumpulkan tenaga murninya secara beruntun, hingga dalam sekejap saja ia telah mengumpulkan tujuh belas kali.

Itulah ilmu mengentengkan tubuh 'In Pan Ban li' yang tersohor di kalangan dunia kang ouw, andaikata Thio Hoa kini tidak menyerangnya dengan tenaga dahsyat, ke-17 kali mengumpulkan tenaga murninya itu membuatnya berbalik sejauh 10 tombak lebih dan kakinya tidak menginjak tanah barang sedikitpun. Kini tubuhnya terus berbalik-balik di udara tak henti-hentinya, tidak melayang ke atas dan tidak pula jatuh ke bawah, hingga membuat Hua To yang sangat berpengalaman itu pun menjadi tercengang. Walaupun ia telah banyak pengalaman, serunya : "Ilmu yang baik sekali!"

Pengumpulan ke-17 kali tenaga murni Tan Heng itu telah dapat melenyapkan tenaga dahsyat Thio Hua, begitu kakinya merasa leluasa, Tan Heng telah berbalik sejauh dua tombak dan berdiri tegak disana. Thian Kiam Thio Hoa pun tertegun, serunya : "Bagus!"

Harus diketahui, jurus 'Jit Gwe Bo Kwong' (matahari dan bintang tidak bersinar) nya tadi semenjak menguasai ilmu ini, entah telah bertemu berapa banyak jago-jago silat, dan tidak pernah tidak menarik musuh dari atas ke bawah. Maka serunya 'bagus' itu, betul-betul diserukan dari lubuk hatinya. Setelah mundur dua tombak, Tan Heng merasa kepalanya berat dan kakinya enteng, hampir saja ia terjatuh. Harus diketahui, ketika ia berputar-putar 17 kali di udara tadi, dan setelah mundur lalu masih dapat berdiri dengan tegap, ini membuktikan bahwa ilmuamemang telah sempurna sekali.

Dan timbullah rasa sayang dalam hati Thio Hoa, tidak lagi turun tangan, bentaknya : "Kau berilmutinggi, kenapa masih mau menganiaya seorang pemuda?"

Tan Heng tertawa dingin : "Kau memang pikun, andaikat Singa Emas Lauw Thian Hauw itu adalah orang baik- baik,kenapa So Beng Hiat In bisa muncul di tembok rumah?" Sehabis perkataan Tan Heng ini, Thio Hua, Hua To dan Lauw Jok Hong pada terperanjat.

Dalam hati Lauw Jok Hong, ia lebih bingung lagi, kenapa orang ini bisa tahu hal ini? Lauw Jok Hong mana menyangka, pertama ketika ia setengah sadar tadi telah menggumam membocorkannya. Kedua, ketika Tan Heng bertemu dengan Lauw Thian Hauw dan Thian Auw Siang Jin tadi, iapun sedikit banyak telah tahu persoalan itu dari wajah-wajah mereka.

Maka ia dapat memastikan bahwa Lauw Thian Hauw sedang menghadapi malapetaka.

Thio Hua berseru setelah tertegun : "Kau... kau kata apa?" Tan Heng tertawa dingin : "Pergilah kau ke rumah Lauw

Thian Hauw, kau akan mengerti. Kenapa mesti banyak tanya?"

Persahabatan Thio Hua dan Lauw Thian Hauw sangat akrab, kalau tidak mana mungkin bisa jadi bermisan. Kini hati Thio Hua berdetak tak henti-hentinya. Mukanya berubah, kedua tangannya berbalik memasukkan kembali pedangnya, lalu tubuhnya telah melesat ke depan. Hoa To berteriak dengan kencang : "Hei, bagaimana dengan orang ini?"

"Simpanlah dulu, aku mau pergi ke rumah Lauw Thian Hauw dulu!" teriak Thio Hua. Belum habis ucapannya, orang itu telah pergi jauh sekali.

Tubuh Tan Heng pun turut melesat ke depan, tetapi ia baru mengikuti Thio Hua empat lima tombak, tiba-tiba ia merubah niatnya. Tubuhnya mendadak berbalik dan telah berada di hadapan Hoa To.

Mata Hoat To mendelik : "Kalau Thio Hua memberikan orang ini padaku, kau jangan coba-coba main-main dengan aku."

Tan Heng tertawa dingin : "Kau jangan kuatir, rumah Lauw tidak jauh dari sini, Thio Hua akan segera kembali. Ketika itu mana dia masih mau mengurusi yang tidak-tidak." Ia memandang Hoa To dari sejauh enam tujuh kaki, dan Hoa To pun menganggap di sampingnya tidak ada manusia.

Setelah tubuh Thio Hua melesat ke depan, makin lama larinya makin cepat. Tak lama kemudian telah mendekati rumah Lauw. Ia belum dapat melihat ada siapa disna, telah mendengar bentrokan senjata yang terus mengalun ke telinganya.

Thio Hua bukan orang sembarangan. Sekali dengar suara bentrokan senjata itu saja, sudah tahu bahwa di depannya itu ada orang sedang berkelahi dan orang itu berilmu sangat tinggi.

Buru-buru Thio Hua membelok ke ujung jalan, sebelumnya orangnya tiba ia telah menjerit dulu : "Kak Thian Hauw, apakah kau ada disitu?" Orangnya tiba di belakang suaranya.

Setelah dekat, terdengar Thian Hauw mendehem. "Hua Lo ko(kakak tua) kau ya?" Ia berhenti dua kali untuk mengucapkan perkataan itu. Ini menunjukkan ia tidak ada waktu untuk bicara.

Thio Hua berhenti dan memandang ke depan, dilihatnya Thian Hauw berputar dengan pedangnya, yang dimainkan dengan secara sempurna sekali. Sedangkan orang-orang yang menggumulnya itu ada sebanyak tujuh delapan orang. Melihat Lauw Thian Hauw dikeroyok, hati Thio malah menjadi tenang. Karena So Beng Hiat In tidak mungkin mengajak temannya mengeroyok orang. Dengan ilmu silat yang dimiliki oleh So Beng Hiat In, dan andaikata ia mau mengeroyok Thian Hauw, ini akan menjadi suatu hal yang sangat lucu sekali.

Melihat bukan So Beng Hiat In, hati Thio Hua menjadi tenang, teriaknya : "Berhenti!"

Teriakannya memang cukup menggetarkan bumi, beberapa orang yang mengeroyok Lauw Thian Hauw itu sedang melancarkan serangan yang lincah sekali, kini pada berhenti. Setelah mereka berhenti, hati Thio menjadi terperanjat memandang mereka. Dilihatnya di pinggang mereka diikat dengan karung goni, kepala mereka mengenakan kembang putih, itulah kedelapan Tong cu dari Sang Bun Pang.

Kedudukan dan kekuatan Sang Bun Pang dalam dunia kang ouw tidak dapat dianggap remeh. Pang cu-nya belum keluar, Lauw Thian Hauw telah kewalahan untuk menghadapinya.

Bagaimana kalau Pang cu datang, bukankah lebih sulit lagi? Tetapi kenapa Lauw Thian Hauw bisa bermusuhan dengan orang-orang dari Sang Bun Pang ini? Thio Hua sangat terperanjat, tapi wajahnya tidak berubah, tetapi merah padam. Ia melangkah dengan tegap sambil berkata : "Senang sekali aku masih diberi muka oleh kalian, kita bisa berunding dengan baik-baik. Kenapa harus berkelahi?"

Di antara orang-orang Sang Bun Pang itu, ada seorang kurus tinggi yang melangkah keluar, lalu menjura. "Rupanya Thian Kiam Thio toa hiap, karena persoalan Yen Cung cu maka kami minta petunjuk Lauw toa hiap. Silahkan Thio toa hiap nonton saja di pinggir saja."

Setelah dengar, Thio Hoa lebih terperanjat lagi, serunya : "Yen Cung cu? Apakah Kauw Bwe Liong Yen Cung cu?"

"Ya," sahut orang kurus itu.

"He," kata Thio Hua : "Kalian keliru, Yen Cung cu dan Lauw Singa Emas adalah kawan karib, kenapa kalian mengataknnya mereka bermusuhan?" Orang kurus itu tertawa dingin. "Thio toa hiap, Yen Cung cu telah meninggal secara sangat menyedihkan sekali."

Thio Hua menjadi lebih terperanjat lagi. Ia menggumam dalam hatinya. Ia hanya main catur dengan Hua To selama tiga bulan dalam lembah itu, dalam tiga bulan ini tidak pernah berkelana di kalangan dunia kang ouw, kenapa sekarang telah terjadi hal yang sebesar ini di kalangan dunia kang ouw?

Ketika ia masih tertegun, orang kurus itu telah berkata lagi : "Yen Cung cu meninggal di rumah Lauw toa hiap, dan ada beberapa hal yang tidak jelas, maka kami datang bertanya pada Lauw toa hiap."

Hati Thio Hua semakin terperanjat, katanya : "Kalau begitu, apakah kalian telah mencurigai Lauw toa hiap yang membunuh Yen Cung cu? Inipun agak lucu bukan?"

Orang kurus itu berkata dengan suara yang sangat menyeramkan : "Kami upn tidak berani berpikir demikian. Sayang Lauw toa hiap tidak dapat menceritakan sebab musababnya, tentu saja kami ingin mencari penjelasannya."

Lauw Thian Hauw kewalahan menghadapi kedelapan orang itu, kalau bukan Thio Hua datang tepat pada waktunya, mungkinia tak dapat bertahan sampai sekarang. Sampai kini ia baru dapat tenang, sedangkan ilmu silat Thio Hua, ia sangat jelas. Apalagi dirinya bermisan dengan Thio Hua, tentu Thio Hua akan membantunya untuk menghadapi musuh-musuhnya. Maka hatinya menjadi lebih tenang lagi, lalu teriaknya : "Berak apa yang kurang jelas? Yen Cung cu mati di tangan Tung Hai Siang Kui, aku telah ceritakan pada kamu?"

Orang kurus itu berkata : "Kami masih berpegang pada pendirian kami, Yen Cung cu mati kena tusukan pedang dua kali, dan isi dalam tubuhnya hancur kena tenaga dalam, jangankan Tung Hai Siang Kui tidak menggunakan pedang, apakah Tung Hai Siang Kui tersohor dengan ilmu tenaga dalam itu?"

Thio Hua menjadi tertegun : "Apakah kalian tidak salah lihat?" Orang kurus itu tertawa dingin : "Mayat Yen Cung cu, kini kami telah letakkan di Yen ka cung, perkumpulan kami telah menyebarkan undangan untuk mengundang jago-jago silat datang ke Yen ka cung untuk memeriksa mayat Yen Cung cu, apakah ia benar-benar mati di bawah tangan Tung Hai Siang Kui? Seperti apa yang dikatakan pepatah, keadilan itu berada di hati orang. Kalau Thio toa hiap tidak keberatan, silahkan datang untuk turut menyaksikannya."

Kini hati Thio Hua sangat ragu-ragu, mundur maju.

Gerakan Sang Bun Pang sangat tegas, itu diketahui orang- orang Bu lim. Andaikata mereka tidak berada di atas angin, mana mungkin mereka dapat bertindak seyakin ini? Tetapi kalau Yen Cung cu dibunuh oleh Lauw Thian Hauw, dalam pandangan Thio Hua, itupu adalah suatu hal yang sangat mustahil. Hatinya ragu-ragu, lalu memandang Lauw Thian Hauw. Dan Lauw Thian Hauw seakan pernah berbuat salah, melihat Thio Hua memandang dirinya, buru-buru ia menenangkan dirinya, tapi hatinya masih berdetak-detak, dan berteriak dengan sengaja : "Hua Lo ko, apakah kau percaya ocehan mereka itu?"

Kata Thio Hua : "Tentu saja aku tidak percaya, tapi, tapi..."

Mendengar ucapan Thio Hua itu, hati Lauw Thian Hauw telah tahu bahwa Thio Hua pun sudah curiga akan dirinya, dan ia menjerit dalam hatinya. Kalau Thio Hua bertanya lebih lanjut, tentu ia akan membuat kesalahan. Maka ia buru-buru memotong ucapan Thio Hua, teriaknya : "Hua Lo ko jangan percaya ucapan mereka. Mari kita sama-sama mengusir

bocah-bocah Sang Bun Pang ini, kalau kita tidak dapat mengusir mereka, percuma saja kita belajar silat," katanya sambil menghunuskan pedangnya dan lantas menyerang si orang kurus.

Orang kurus itu sangat lincah, serangan pedang Lauw Thian Hauw itu diikuti dengan tenaga dalam yang sangat dahsyat, tetapi betapa gesitnya gerakan orang kurus itu, bagai sehelai kertas melayang-layang mengelak serangan itu.

Serangan Lauw Thian Hauw itu tidak mengenai sasarannya, malah orang kurus itu tertawa dingin : "Lauw toa hiap, kini kami berjumlah delapan orang, dan kalau kau bermimpi untuk membinasakan kami seluruhnya, hal ini lebih sulit daripada terbang ke langit." Ia berkata dengan suara yang menyeramkan, ucapannya itu bagai belati tajam menusuk hati Lauw Thian Hauw, dan menyebabkannya berhenti sejenak, tidak dapat lantan menyerang lagi.

Dalam keadaan begini, pandangan mata Thio Hua yang telah berkelana di kalangan dunia kang ouw bertahun-tahun lamanya, mana mungkin tidak dapat melihat hati Lauw Thian Hauw yang telah menjadi kecut sekali? Timbul perasaan curiga terhadap diri Lauw Thian Hauw, maka ia tidak ingin ikut campur, hanya berkata : "Thian Hauw Heng, Sang Bun Pang memfitnah kau demikian, kenapa kita tidak sama-sama pergi ke Yen ka cung untuk menjelaskan hal yang sebenarnya?

Ketika itu Sang Bun Pang tidak dapat lagi menutupi mata orang Bu lim."

Singa Emas Lauw Thian Hauw sama dengan Thio Hua, sama-sama jago lama, mana mungkin tidak mengerti makna kata Thio Hua itu? Walaupun ucapannya itu masih memihak pada dirinya, namun kenyataannya ia telah sangat curiga pada dirinya.

Selama hidup Lauw Thian Hauw, entah telah berapa kali mengalami hal-hal yang beasr, tapi kini hatinya ragu-ragu. Karena andaikata mengikuti apa yang dikatakan Thio Hua, pada waktu itu kawan-kawan dan sanak famili Kauw Bwe Liong Yen LIng pasti berkumpul disana. Kalau dirinya berbuat jahat, tentu ia tidak merasa takut. Tapi Yen Ling betul-betul mati di bawah tangannya, kalau ditanyai ramai-ramai mana mungkin ia berbohong lagi.

Dan tampaknya tidak bisa berkunjung ke Yen ka cung. Tapi kalau tidak pergi, apa pula alasannya? Dan lagi, kemunculan So Beng Hiat In teLah berselang beberapa saat, tampaknya iblis yang berilmu sangat tinggi dan muncul secara tidak menentu itu sudah harus muncul. Kalau begini, Yen ka cung malah akan menjadi suatu tempat yang ideal untuk bersembunyi sementara. Karena jago-jago silat yang diundang Sang Bun Pang, dalam empat lima hari ini belum tentu datang semuanya. Sebelum orangnya sampai semua, orang Sang Bun Pang takkan mengajak dirinya berkelahi. Malah kalau ada yang hendak mencari ribut dengannya, orang Sang Bun Pang malah membantunya untuk mengusirnya, karena orang Sang Bun Pang menganggap dirinya sebagai bukti, dan mau memaksa dirinya untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi di kalangan orang ramai. Tentu saja mereka tidak mengharapkan dirinya akan dibunuh oleh siapa saja.

Singa Emas Lauw Thian Hauw berpikir bolak balik, berpikir sampai disini, hatinya menjadi girang. Karena kalau So Beng Hiat In tidak muncul, dirinya akan mendapat kegembiraan, kalau So Beng Hiat In datang semoga mereka berkelahi dan rusak kedua-duanya dan dirinya akan aman sentosa. Ia berpikir bolak balik, sementara tidak berkata apa-apa, pandangan mata orang-orang itu tertuju pada dirinya, Thio Hua sungguh tidak dapat bersabar lagi, katanya : "Thian Hauw heng, emas murni tidak takut dibakar. Menurut aku, mau tidak mau kau harus pergi ke Yen ka cung."

Lauw Thian Hauw menggerutu dalam hatinya : "banyak urusan." Tapi mulutnya berkata : "Tentu saja, mana saya takut sama orang? Tetapi kalau pada saat itu, orang-orang Sang Bun Pang akan mencari keributan tanpa sesuatu alasan..."

Berkata sampai disini, matanya memandang Thio Hua.

Segera Thio Hua menyahutnya : "Thian Hauw Heng, mengenai itu kau jangan kuatir. Kita akan bergandengan tangan. Orang yang dapat mengalahkan kita, mungkin tidak ada!"

Lauw Thian Hauw tertawa tertawa terbahak-bahak. Orang kurus itu sampai kini baru membuka mulut : "Kalau

Lauw toa hiap mau pergi, hal ini paling baik. Orang-orang yang kami undang adalah tokoh dari dunia persilatan, yang menjadi kawan baik semasa hidup Yen cung cu. Paling lama enam atau tujuh hari, mereka akan tiba semuanya, dan sudilah kamu berdua tinggal di Yen ka cung beberapa hari lamanya."

Pikiran Lauw Thian Hauw telah tetap, ia ingin bersembunyi sementara di Yen ka cung maka ia berkata dengan sangat gembira : "Itu tidak jadi soal, sudah kumpul semuanya, dan saya akan ceritakan apa yang sebenarnya. Kalau kalian masih tidak percaya juga, itu bukan urusan saya lagi."

Orang kurus itu berkata dengan dingin : "Kalau begitu, silahkan Lauw toa hiap berangkat sekarang."

Mereka berdelapan telah berpencar membuat suatu lingkaran mengepung Lauw Thian Hauw dan di tengah- tengah, kini hendak memaksa mereka berdua berangkat sekarang juga; lalu Thio Hua menjadi marah : "Perkataan apa itu? Apakah Lauw toa hiap tidak dapat meninggalkan pesan pada anak-anaknya? Dan akupun masih ada sedikit urusan yang hendak aku rundingkan dengannya. Kamu jalan dulu, kami akan menyusul dari belakang."

Kedelapan orang itu saling pandang sejenak, dari awal sampai akhir, terus saja orang kurus itu yang bicara. Ia hanya menjura pada Thio Hua : "Thio toa hiap berkata begitu, tentu kami tidak kuatir. Tetapi Thio toa hiap, kami masih ada beberapa perkataan yang tidak dapat tidak kami ucapkan, mau dengar atau tidak, itu terserah."

"Silahkan," kata Thio Hua.

"Thio toa hiap, kau adalah orang baik. Dan kami dari Sang Bun Pang, dari atas sampai ke bawah, semuanya sangat kagum pada Thio toa hiap, maka ada satu pepatah yang mengatakan, hati mencelakai orang tidak boleh ada, hati berwaspada terhadap orang tidak boleh tidak ada, tuan bergaul dengan orang hina dina itu, haruslah hati-hati!"

Setelah perkataannya habis, wajah Thio toa hiap dan Lauw Thian Hauw berdua berubah. Lauw Thian Hauw baru ingin marah, tapi orang kurus itu telah mengibaskan tangannya.

Kedelapan orang itu termasuk dia sendiri telah mundur, sebentar saja telah lenyap dari pandangan. Orangnya tealh pergi, taruhlah Lauw Thian Hauw ingin marah, tapi tidak ada musuhnya, dan ia hanya dapat tertawa pahit : "Hoa Lo ko, coba kau lihat. Bagaimana aku harus bicara?"

Hati Thio Hua sangat curiga : "Thian Hauw Heng, di luar ini bukan tempat untuk bicara. Aku ada hal yang sangat penting yang hendak ku katakan pada kau."

Lauw Thian Hauw menggerutu dalam hatinya, katanya : "Silahkan!"

Keduanya masuk ke dalam pintu, Thio Hua telah melihat tembok yang roboh itu, sedangkan pelayan-pelayan rumah itu tidak ada lagi barang satupun, ruang besar sangat kacau balau. Lalu Thio Hua bertanya : "Ba... bagaimana persoalannya?"

Ditanya Thio begitu, Lauw Thian Hauw teringat kembali kejadian yang baru lalu, dan menghela napas panjang : "Hua Lo ko, sulit untuk diceritakan sekaligus."

Thio Hua berkata dengan lembut : "Thian Hauw Heng, kita adalah kawan karib, bermisan lagi, kalau ada apa-apa katakanlah secara terang, aku baru saja bertemu dengan anaknya pemilik pulau Thian In..."

Thio berkata sampai disitu, dan Lauw Thian Hauw telah sangat terperanjat, "Oh" serunya.

Sambung Thio Hua lagi : "Ia sedang menyiksa anakmu, akulah yang menolongnya."

Hati Lauw Thian Hauw bertambah kacau lagi, pertanyaan itu sia-sia belaka, karena ketika anaknya diculik orang diapun menyaksikannya. Hatinya sangat bingung dan membuatnya tertawa pahit saja, hingga Thio Hua merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak perlu bertanya lebih lanjut, tapi hatinya telah percaya dengan apa yang diucapan oleh Tan Heng, anak pemilik pulau Thian In itu. Katanya : "Menurut kata-kata sahabat Tan, Thian Hauw Heng, rumahmu telah muncul So..."

Ucapan "So" nya baru keluar, Lauw Thian Hauw telah berteriak : "Sudah!" Ia hanya berteriak sekali, tapi napasnya telah terengos-engos. Orang-orang pandai silat, kalau bukan hatinya merasa sangat kaget, mana mungkin terjadi hal ini? Apalagi orang yang mempunyai Lwe kang tinggi seperti Lauw Thian Hauw, terlebih-lebih tidak boleh terjadi begitu.

Teriaknya itu, walaupun hanya "sudah" sepatah, tapi bagi Thio Hua, tak diragukan lagi telah menjadi "ya". Dalam sekejap saja, serasa tubuh Thio Hua menjadi dingin, dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, hanya memandang Lauw Thian Hauw secara kaku. 

Sedangkan Lauw Thian Hauw menjadi pucat pasi, kedua jago silat di kalangan kang ouw yang berilmu sangat tinggi, kini hanya saling pandang membisu.

Setelah mendengar kata-kata Tan Heng, segera Thio Hua datang ke rumah Lauw Thian Hauw. Pertama karena persahabatannya dengan Lauw Thian Hauw yang sangat dalam, kedua karena ia pun tidak percaya akan kata-kata Tan Heng maka tidak ada yang ditakutinya. Tapi kini, dalam sikap Lauw Thian Hauw ia tealh melihat So Beng Hiat In, hal itu tidak dapat dipungkiri lagi, kemarahan dalam hatinya tak terlukiskan. Dalam keadaan begini, biarpun kawan akrab, dan bermisan lagi, hatinya tidak dapat terhindar dari pikiran untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memandang Lauw Thian Hauw, wajahnya murung, tapi tidak berkata apa-apa. Hati Lauw Thian Hauw berdetak-detak kencang, tapi ia membuat suatu senyuman canggung dengan paksa, ketika ia bicara, nadanya pun sangat berlainan dengan biasanya, parau dan kering : "Hua Lo ko, kenapa kau memandang aku begitu?"

Thio Hua pun tertawa "he he" dua kali, dan hatinya berpikir, bagimana supaya Lauw Thian Hauw mau mengatakan yang sebenarnya. Ketika ia berpikir demikian, ia telah mempunyai niat untuk tidak mau mencapuri urusan itu. Terdengar suaranya : "Tidak apa-apa, hanya... hanya... he he... hanya..."

Bolak balik, yang keluar dari mulutnya hanyalah "hanya" dan "he he" saja, dan suara yang sangat kaku itu, siapapun dapat mendengarnya.

Sampai waktu ini, kalau Lauw Thian Hauw masih tidak dapat melihat maksud hati Thio Hua, betul-betul ia adalah seorang dungu. Hatinya terperanjat dan marah, lalu tertawa pahit berkepanjangan, karena hal itu ada dalam dugaannya. So Beng Hiat In muncul di rumahnya, walaupun ia berusaha untuk menyembunyikannya, dan malah karena hal ini ia telah membunuh Kauw Bwe Liong Yen Ling, tetapi rupanya hal itu tidak dapat disembunyikan lebih lama lagi, dan mulai bocor keluar. Hal ini, andaikata sampai tersebar di luar, orang serumahnya sama saja dengan menderita penyakit kusta, bahkan antara ayah dan anakpun tidak dapat saling tolerir, apalagi orang lain. Dan hal ini tidak dapat menyalahkan Thio Hua maka Lauw Thian Hauw hanya tertawa kering berkali-kali.

Mereka berdua menjadi sahabat akrab selama puluhan tahun, di kalangan kang ouw tidak ada yang tidak tahu bahwa mereka adalah kawan sehidup semati, tetapi kini mereka hanya saling pandang dan tertawa kering, keadaan begitu agak menggelikan.

Setelah tertawa kering sejenak,Lauw Thian Hauw berkata : "Hoa Lo ko, hal ini kau tidak boleh percaya, itu adalah suatu fitnah yang dilontarkan musuhku, kalau kawan karib seperti Hua Lo ko ini sampai percaya hal ini, entah aku harus bagaimana jadi manusia lagi."

Kata-kata Lauw Thian Hauw itu hanyalah suatu penjelasan, supaya Thio Hua mau percaya, dan dirinya akan mendapat satu tenaga untuk membantunya. Tetapi ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir "entah aku harus bagaimana jadi manusia lagi", suaranya ini gemetar karena hatinya memendam ketakutan yang sangat dalam, yang disebabkan karean teringat perubahan hari ini.

Walaupun Thio Hua mendengar Lauw Thian Hauw membantah keras, namun persoalan itu sudah terang seterang-terangnya. Lalu ia mundur beberapa tindak : "Thian Hauw Heng, kau bersiap-siaplah, dan pergilah ke Yen Ka Cung, nampaknya kunjungan itu tak dapat dielakkan. Tapi aku masih ada sedikit urusan, perkenankanlah aku permisi dulu."

Lauw Thian Hauw tidak dapat berbuat apa-apa : "Hua Lo ko, kalau kau memang ada urusan, silahkan!" Thio terus mundur ke pintu. Ia membuka mulutnya ingin menceritakan tentang soal Lauw Jok Hong secara teliti pada Lauw Thian Hauw, tetapi akhirnya ia menelan kembali perkataannya, lalu membalikkan tubuhnya berlari keluar.

Kedatangannya ke situ, justeru karena persoalan Lauw Jok Hong, tetapi akhirnya tidak sempat mengutarakan keseluruhannya, hanya sedikit saja menyinggung Lauw Jok Hong telah ditangkap orang, lalu pergi."

Ia berlari sembari terus berpikir-pikir dalam hatinya, kalau sudah kembali ke lembah itu, bagaimana aku akan ceritakan pada Hoa To, Tan Heng dan Lauw Jok Hong? Setelah berlari sejauh empat lima li, baru hatinya mendapatkan suatu keputusan, yakni supaya Hoa To diamkan saja Lauw Jok Hong itu dan tidak mau turut campur persoalan pelik itu.

***

Setelah Thio Hua pergi, Lauw Thian Hauw menggerakkan tubuhnya pelan-pelan, melangkah mendekati pintu. Dilihatnya Thio Hua lari bagai sang bayu, bahkan tidak menoleh sedikitpun, dan hatinya terasa tidak enak. Ia tahu kali ini dirinya telah berada di tepi jurang, dan dari punggungnya ada sebuah tenaga yang besar hendak mendorongnya masuk ke dalam jurang. Kalau ada sedikit salah saja, dan tamatlah seluruh nama yang diperolehnya selama puluhan tahun dari dunia kang ouw. Tentu saja ia tidak ingin jatuh begitu saja, ia harus mencekal apa saja yang dapat menahan dirinya, ia harus minta bantuan orang lain! Ketika ia berpikir sampai disini, sungguh ingin menangis rasanya, tetapi ia tidak jadi menangis malah tertawa terbahak-bahak tidak normal.

Kini senja makin tebal, seluruh pekarangannya yang besar itu tertutup dalam kegelapan. Penjaga rumah, pelayan semuanya pada bersembunyi, karena tahu ada persoalan yang luar biasa terjadi dalam rumah itu. Pelitapun tidak dinyalakan. Ketika malam makin gelap, suara tawanya itu semakin menakutkan orang. Bahkan Lauw Thian Hauw sendiripun merasa tidak sedap mendengar suara tawanya sendiri. Namun dalam keadaan begini, memang ia membutuhkan sedikit suara untuk memberanikan dirinya. Maka ia terus tertawa tak henti- hentinya, terus hingga ketika ada sebuah suara "plak" dari sudut ruang besar di belakangnya berbunyi.

Lauw Thian Hauw adalah seorang jago silat yang memiliki Lwe kang yang sangat tinggi, walaupun pada waktu itu hatinya sedang kacau balau, bahkan tertawa terbahak-bahak, namun suara "plak" itu segera masuk ke dalam telinganya.

Suara tawanya segera berhenti dan membalikkan tubuhnya, berteriak panjang dan kedua tangannya segera memukul keluar, tenaga kedua tangannya itu dahsyat sekali. Itulah tenaga Lwe kang-nya yang telah mencapai ketingkat enam, yang bergulung-gulung bagai ombak menampar pantai.

Tenaganya kuat bukan kepalang tanggung, dalam sekejap saja terdengar suara meja kursi berantakan karena tersapu oleh tenaga tangannya. Ditengah-tengah suara berantakan itu terselip sebuah suara megap dari seseorang lalu suara gedebuk yang nyaring sekali bagaikan ada sebuah benda besar yang menghantam tembok. Kemudian suara tenaga Lwe kang Lauw Thian Hauw yang menyambar-nyambar ke depan, ketika tenaga tangannya telah buyar, lalu ruangan itu menjadi sunyi kembali.

Ketika itu ruang besar telah menjadi gelap gulita, tidak tampak apa-apa. Lauw Thian Hauw memukul setelah mendengar suara "plak" tadi, dan setelah pukulannya itu, samar-samar ia mendengar suar megap. Tetapi kini, ia sendiri tidak tahu siapa yang telah dipukulnya itu, hanya berdiri dalam kegelapan. Berselang sesaat, tiba-tiba ia mendengar suara kerisik dari depannya, seperti ada sesuatu yang jatuh di atas tanah.

Padahalsuara itu tidak begitu nyaring, tapi didengar dalam keadaaan sunyi itu, membuat orang merasa ngeri dan mendirikan bulu roma. Lauw Thian Hauw tak tertahankan lagi menjadi gemetar, lalu dikeluarkannya sebuah penyulut api.

Karena tangannya pun gemetaran, maka penyulut itu disulutnya berkali-kali baru bisa nyala. Begitu api menyala, Lauw Thian Hauw memandang ke depan. Sekejap saja seakan tulang punggungnya dicerai orang dan disiram dengan air es, sekujur tubuhnya menjadi dingin.

Di hadapannya itulah terdapat sebuah bayangan darah.

Sebuah bayangan darah yang menyala.

Tubuh Lauw Thian Hauw malah tidak gemetar lagi, karena ia tidak bertenaga lagi untuk gemetar, tubuhnya telah menjadi kaku. Sebuah bayangan darah! Ya, sebuah bayangan darah lagi telah muncul di hadapannya. ITu sebuah bayangan darah yang benar-benar, darah segarnya masih menetes-netes ke bawah. Ya, sebuah bayangan darah! Tenggorokan Lauw Thian Hauw seakan ada api membara, matanya memandang ke depan dalam-dalam, terus hingga penyulut api itu telah membakar tangannya baru ia tersentak, lalu cahaya api itu padam.

Tenggorokan Lauw Thian Hauw berbunyi kerokokan. Dalam kegelapan seakan ia mempunyai perlindungan, tetapi kenyataannya ia lebih merasa kosong dan ngeri lagi. Dengan terhuyung-huyung ia mundur beberapa tindak, lalu katanya dengan susah payah : "Ba... baiklah... apakah kau... mencari aku?"

Ucapannya itu menimbulkan gema dalam ruangan yang sunyi. Dalam kebingungan, Lauw Thian Hauw merasa ada orang yang menyahutnya, lalu katanya lagi : "Waktu itu... aku tidak berbuat kejahatan apa-apa, aku cuma... pergi begitu saja. Padahal kejadian itu telah lewat begitu lama, apakah... kau tidak mau memaafkan aku?"

Setelah melihat bayangan darah di tembok, hati Lauw Thian Hauw hanya merasa takut. Tapi setelah ia bicara, ia menjadi marah, karena ia tahu bahwa kejahatan yang dibuat Lauw Hung dan Lauw Nen jauh lebih banyak dan jauh lebih berat daripadanya, kenapa justeru So Beng Hiat In datang mencarinya? Maka ia menjadi nekad : "Baiklah, ayo kemari, aku akan adu nyawa dengan kau!"

Lauw Thian Hauw berdiri di kegelapan menunggu serangan So Beng Hiat In, tetapi berselang sesaat, sekelilingnya masih tetap sunyi, tidak ada suara apa-apa. Lauw Thian Hauw adalah seorang jago silat yang telah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan,maka kini hatinya menjadi tenang kembali, dan mulai berpikir lagi. Ia mengumpat dalam hatinya, kedatangan bayangan darah itu sangat mencurigakan, justeru pada waktu di belakangku ada sesuatu, bayangan darah itu baru muncul, So Beng Hiat In telah muncul sekali di tembok rumahku, biasanya tidak mungkin timbul lagi. Seandainya sampai terjadi kedua kalinya, itu berarti orang rumahku paling tidak harus mati dua orang.

Lauw Thian Hauw berpikir sambil menyalakan kembali penyulut apinya, dan memandang ke depan tajam-tajam, bayangan darah itu masih tetap sangat mengerikan. Tetapi kali ini, kecuali bayangan darah di tembok itu, ia melihat pula pakaian orang yang berlumuran darah di kaki tembok.

Walaupun pakaian itu penuh berlumuran darah, tetapi masih dapat dikenalinya. Rupanya pakaian itu adalah pakaian orang rumahnya.

Lauw Thian Hauw tertegun sejenak, lalu melangkah menghampiri tembok itu. Kini ia baru mengerti asal mulanya bayangan darah itu. Tiba-tiba ia dapat menghela napas lega. Dikebutnya lengan jubahnya yang kanan, dan timbul sebuah angin yang dahsyat menyambar tembok itu. Lalu bayangan darah itu tiba-tiba lenyap, tapi batu-batu temboknya berterbangan dan terlihatlah sebuah lubang besar yang berbentuk manusia.

Rupanya ketika Lauw Thian Hauw mendengar suara "plak" dari belakangnya, ada seorang pelayang yang masuk ke dalam ruang besar. Apa maksud kedatangan pelayan itu tentu saja tidak ada orang yang tahu, sedangkan syaraf Lauw Thian Hauw berada dalam puncak ketegangannya, maka begitu mendengar ada suara, segera ia memukul dengan kedua tanganya. Coba bayangkan betapa lihainya tenaga Lwe kang- nya. Taruhlah pelayan itu agak mengerti sedikit ilmu silat, mana mungkin ia bisa menahannya. Begitu kena dipukul, pelayan itu megap, dan meninggal seketika, sedangkan mayatnya terbang ke tembok karena pukula Lwe kang Lauw Thian Hauw.

Tenaga pukulannya itu besar tidak kepalang tanggung, hingga membuat mayat pelayan itu menjadi segumpal darah dan menancap ke dalam tembok. Dan sesungguhnya tembokitu telah menjadi bolong, hanya karena Lwe kang Lauw Thian Hauw sangat sempurna, maka batu-batu tembok yang telah hancur itu tidak segera berantakan dan meninggalkan sebuah bayangan darah di tembok itu. Sedangkan pakaian pelayan itu tidak dapat lekat di tembok, maka terjatuh di kaki tembok.

Pelayan itu meninggal dengan sangat mengerikan sekali.

Hal ini sudah cukup menggemparkan, tetapi sejak membunuh Kauw Bwe Liong Yen Ling, hati Lauw Thian Hauw telah agak gila. Baru seorang pelayan mati, jangan saja sampai So Beng Hiat In datang mencarinya. Ia takkan perduli. Tapi sungguh ia telah ketakutan bukan kepalang tanggung, kini baru ia dapat menghela napas lega. Dilemparnya penyulut api, dan berkata sendiri : "Takut apa, he, apa yang ditakuti!"

Ia berkata pada dirinya sendiri untuk memberanikan dirinya, tapi tiba-tiba ada orang yang menyahut dari belakangnya : "Kalau tidak taku, kenapa kau gemetaran?"

Mendengar suara itu, segera Lauw Thian Hauw membalikkan tubuhnya dan memukul. Padahal suara itu hanya beberapa kata saja, tenaga dahsyatnya telah dipukulnya ke depan, tetapi perkataan yang seram itu masih terucapkan sampai selesai. Tenaga pukulannya menyerang ke depan, terdengarlah suara gemuruh, daun pintu ruang besar telah rontok. Dalam kegelapan, belum tampak ada manusia. Lauw Thian Hauw baru saja bebas dari perasaan ketakutan yang sangat mendalam, tapi kini telah berada kembali ke dalam keadaan sangat ketakutan. Tubuhnya melesat, menghampiri sebuah tiang besar, berdiri lalu bersandar pada tiang besar itu. Kemudian katanya : "Siapa? Siapa?" Suara yang menyeramkan itu berkumandang lagi dari atas kepalanya : "Kalau memang tidak taku, siapa juga tidak takut!"

Tiba-tiba kedua tangan Lauw Thian Hauw memukul lagi ke atas, tenaganya lebih dahsyat lagi. Dua batang kaso sebesar paha telah putus dengan segera dan genteng berjatuhan, atap rumah itu telah berlobang besar.

Setelah atap rumah itu bolong, cahaya bulan dan bintang masuk ke dalam ruang. Dalam kegelapan, Lauw Thian Hauw merasa takut. Tetapi kini, setelahada cahaya masuk, hatinya menjadi lebih tidak tenang lagi. Dalam kegelapan, ia tidak tahu kapan musuhnya akan datang, dan tidak dapat melihat musuhnya, tapi paling tidak musuhnapun tidak dapat melihat dirinya, ia masih bersembunyi. Tetapi kini ada cahaya, ia tidak dapat lagi bersembuni. Hatinya berdetak, tubuhnya melesat, dengan segera dan cepat ia mundur ke pojok ruang yang paling gelap.

Setelah Lauw Thian Hauw bersembunyi, hatinya menjadi agak tenang. Buru-buru ia perluas pandangannya memandang sekeliling, ingin mempelajari siapa gerangan mengumandangkan suara, yang sangat seram dari kegelapan tadi. Ketika ia memandang ke sekeliling dengan hati was-was, terasa sseakan dirinya seperti seekor tikus. Sebetulnya, barang siapa yang menyatroni rumah Lauw Thian Hauw, yang kaget seharusnya orang yang tidak dikenal itu sendiri. Namun kini, karena ia telah membuat suatu kejahatan, malah ia yang lebih kaget daripada orang itu. Bahkan tidak berani melihat cahaya, dan bersembunyi dalam kegelapan, memandang ke sekeliling dengan ketakutan.

Berpikir sampai disini, Lauw Thian Hauw hampir tak dapat menahandirinya untuk tertawa.Tetapi pada saat inilah,suara yang menyeramkan itu berkumandang lagi. Kali ini suara itu masih tetap datang dari arah atas : "Kau telah bersembunyi? He He, meskipun kau naik ke langit atau masuk ke dalam tanah, kau takkan dapat bersembunyi. He he, he he!" Bulu roma Lauw Thian Hauw dibuat berdiri oleh suara tawa dingin itu, segera ia menarik napas dan membentak : "Siapa kau?" Suara bentakan itu sangat menakutkan orang, dan terus berkumandang keluar, hingga getarannya menjatuhkan lagi beberapa genteng.

Tetapi setelah bentakannya itu berlalu, suasana menjadi sunyi lagi.Tak ada orang yang menyahut.

Lauw Thian Hauw menghibur diri sendiri. Ia berpikir dalam hatinya, orang itu pasti telah kabur mendengar bentakan ku tadi, kalau orang itu dapat digertak, tentu saja bukan So Beng Hiat In. Kalau bukan So Beng Hiat In, buat apa aku merasa takut, ai, tampaknya aku tidak boleh bersembunyi disini terus, lebih baik cepat-cepat pergi ke Yen ka cung.

Meskipun Lauw Thian Hauw tidak becus, tapi ia tetap adalah orang kang ouw. Ia dapat memegang harta bendanya, dapat pula melepaskannya begitu teringat hanya di Yen ka cung lah ia baru dapat menggunakan tenanga Sang Bun Pang untuk melawan So Beng Hiat In. maka ia tidak ragu-ragu lagi, tubuhnya melesat dan telah keluar dari ruang besar, ia lari sambil mengangkat tubuhnya, melayang dari atas tembok rumahnya.

Ketika tubuhnya turun lagi, suara keresek yang lemah sekali. Suara itu boleh dikatakan paling lemah, tetapi betapa pekanya pendengaran Lauw Thian Hauw, ia telah dapat mendengarnya. Segera ia membalikkan tangannnya menyapu ke belakang. Tangannya menyaput-nyapu, tubuhnya baru berbalik, gerakannya boleh dikatannya cepat sekali,namun orang yang mengikutinya lebih cepat lagi. Ketika ia membalik- balikkan tubuhnya, hanya terlihat bayangan orang berkelebatan, orang itu tealh berada di sebelah kirinya.

Kemudian dari belakangnya terdengar lagi suara tertawa dingin : "he". Dalam waktu sependek itu, orang itu telah melesat dari sampingnya yang membuat setengah lingkaran, sampai di belakangnya. Dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu mengentengkan tubuh orang itu. Lauw Thian Hauw sangat terperanjat, dikebaskan tangan kirinya, menyapu ke belakang. Ketika pukulan tangan keduanya memuntahkan tenaga dahsyat menyapu ke belakang, tenaga pukulan pertamanya baru sampai ke pintu. Lalu terdengar suara benda berantakan. Dan Lauw Thian Hauw tidak ada waktu untuk melihat, apakah pintu rumahnya telah hancur atau tidak. Segera ia membalikkan tubuhnya lagi, dan ketika ia membalik, dilihatnya bayangan orang itu berkelebat dan telah sampai di belakangnya lagi. Ketika ia tertegun, pukulan tangan keduanya telah sampai ke belakang pohon besar, hingga membuat cabang-cabang dan daun-daun pada rontok berjatuhan dan menderu-deru melayang keempat penjuru.

Lauw Thian Hauw telah memukul berkali-kali, meskipun gerakannya cepat sekali, namun orang itu masih saja berkelebatan. Kecepatannya adalah suatu barang aneh yang belum pernah disaksikannya sebelumnya. Lauw Thian Hauw tertegun sejenak, lalu mengangkat tubuhnya melayang ke depan. Sekali angkat telah berada sejauh tujuh delapan tombak. Beruntun ia melayang-layang belasan kali, dan telah berada di depan sebuah batang kayu yang besar lalu menyandarkan tubuhnya di pohon itu memandang ke depan, Tapi di depannya kosong melompong, tidak ada orang.

Napasnya terengos-engos, tadi ia mengumpat dalam hatinya, tubuhnya melayang-layang belasan kali, kecepatannya tinggi sekali, rupanya aku telah terhindar dari kejaran orang itu.

Demi waspada, ia berdiam sejenak, setelah merasa tidak ada apa-apa baru ia menggerakkan tubuhnya meninggalkan pohon itu. Tapi ia masih tetap waspada, kalau-kalau ada perobahan apa-apa, maka tubuhnya berputar sekali, menunduk membuat suatu kuda-kuda 'hung hung' ia telah memukul empat kali.

Tetap tidak ada reaksi setelah pukulannya keempat kali itu, baru ia melangkah maju. Ketika ia mulai melangkah, cahaya rembulan sangat tenang. Tetapi setelah lari sejauh sepuluh li, awan hitam bergulungan menutupi bulan, membuat bumi menjadi gelap gulita. Sepanjang jalan, hatiLTH terus berpikir, siapa gerangan orang yang mengumandangkan suara seram dan mengawasi diriku, tetapi memiliki ilmu mengentengkan tubuh yang sangat sempurna itu. Ia teringat pula, setelah sampai di Yen ka cung, walaupun dapat menggunakan Sang Bun Pang, tapi orang-orang Sang Bun Pang dari atas sampai ke bawah telah semuanya membenci diriku, aku harus menghadapinya dengan hati-hati. Bersamaan dengan itu, ia pun harus mendengar dengan seksama keadaan di belakangnya, ia terus berlari dalam keadaan begitu. Di kejauhan samar-samar telah tampak ada pelita yang sedang berkedipan.

Lauw Thian Hauw bukan pertama kali datang ke Yen ka cung, tentu sja ia tahu tempat api pelita itu adalah Yen ka cung. Kini malam telah kelam seskali, di Yen ka cung masih ada lampu yang menyala. Ini adalah di luar dugaan Lauw Thian Hauw. Ia agak ragu-ragu, lalu terus lari ke depan.

Sekejap saja ia telah dapat melihat di pintu gerbang Yen ka cung tergangung empat buah teng long besar. Dasarnya putih bertulisan biru, dari kiri ke kanan adalah empat huruf 'Thian San Eng Chai' (dunia kehilangan seorang jago) itu adalah teng long kematian, di depan pintu gerbang itu berjejer berdiri delapan orang penjaga.

***

SEPULUH

Dalam pintu gerbang, setiap tiga tombak ada empat orang lelaki penjaga berdiri dengan tegapnya. Di ruang dalam yang besar terang benderang, sayup-sayup terdengar suara tangisan. Lauw Thian Hauw sampai di pintu gerbang, kedelapan orang penjaga tadi berpencar menjadi dua baris, satu sebelah kanan dan satu sebelah kiri, menyambut kedatangan Lauw Thian Hauw. Di pundak kedelapan orang itu, semuanya digantungi selendang yang terbuat dari karung goni, sekali pandang saja telah tahu itu adalah pakaian orang Sang Bun Pang. Setelah berhadapan, mau tidak mau Lauw Thian Hauw harus melenyapkan rasa takut dalam hatinya. Masih berjarak empat lima tombak dari pintu gerbang, langkahnya diperlambat. Ia maju setindak dengan tegap, tak lama kemudian sampailah ia ke hadapan kedelapan orang itu. Salah satu dari kedelapan orang itu bertanya : "Siapa nama tuan, supaya kami dapat melapor."

Lauw Thian Hauw tertawa dingin : "Ah ini mah agak lucu, aku sering datang ke Yen ka cung, tapi kini, aku harus ditanya oleh orang Sang Bun Pang. Ini aturan apa? Apakah setelah Yen cung cu meninggal, seluruh pekarangan besar Yen ini telah menjadi milik Sang Bun

Pang?"

Kedelapan orang itu saling berpandangan. Lauw Thian Hauw mengira mereka pasti akan bertindak, tapi di luar dugaannya, kedelapan orang tidak berkata apa-apa, lalu mundur serentak. Bersamaan dengan itu, ada dua orang melangkah maju menghampiri Lauw Thian Hauw. Kedua orang itu pernah berantem dengan Lauw Thian Hauw, maka mereka dapat saling mengenali masing-masing. Lauw Thian Hauw tertawa dingin : "Rupanya Yen ka cung telah menjadi milik Sang Bun Pang. Ini adalah suatu berita ajaib dari kalangan Bu lim."

Orang itu pun tertawa dingin : "Tidak salah, orang Sang Bun Pang dari atas sampai ke bawah, semuanya berada di Yen ka cung. Tetapi kedatangan orang-orang Sang Bun Pang kemari adalah untuk menuntut balas atas kematian Yen ka cung, semoga Lauw Toa hiap tidak salah sangka."

Lauw Thian Hauw tertawa dingin berkepanjangan : "Aneh, orang-orang Sang Bun Pang suka berdiam di Yen ka cung, kenapa pula mesti salah sangka. Ucapan kamu itu agak aneh."

Kedua orang itu tidak berkata apa-apa lagi, lalu membalikkan tubuh mereka sambil berkata : "Silahkan Lauw toa hiap masuk bersama kami."

Lauw Thian Hauw mengikuti kedua orang itu melangkah masuk. Dalam rumah Yen itu, ia melihat penjagaan orang- orang Sang Bun Pang sangat ketat, kalau ingin menggunakan tenaga Sang Bun Pang untuk melawan So Beng Hiat In tentu saja mengharapkan penjagaan yang semakin ketat semakin baik. Dalam keadaan demikian, andaikata So Beng Hiat In datang, tentu segera ia akan tahu. Pada waktu itu, kalau bisa dilawan ya lawan, kalau tidak bisa dilawan, pun masih dapat kabur lagi pula. Mendengar ucapan kedua orang tadi, rupanya ketua Sang Bun Pang pun berada disini juga, paling tidak ia merasa aman untuk beberapa hari. Maka hatinya pun menjadi agak tenang, langkahnya menjadi tegap.

Peti mati Yen Ling diletakkan di tengah-tengah ruang besar itu. Lilin dan hio dinyalakan, sampai di depan peti mati Lauw Thian Hauw memberi soja : "Yen Ling, kau mati penasaran, tapi aku tidak merasa berbuat salah. Meskipun dengan demikian menggemparkan dunia kang ouw, tapi kematianmu akan menjadi terang."

Suaranya sangat lantang, membela dirinya sendiri. Jago- jago silat dari Sang Bun Pang pada berdiri di samping dengan muka yang masam, semuanya pada membisu. Setelah ucapannya habis, ia membalikkan tubuhnya dan berkata : "Dimana ketua kamu, semoga aku dapat bertemu dengannya."

Kedua orang mengajak Lauw Thian Hauw masuk tadi berkata dingin : "Pang cu sedang ada urusan, silahkan Lauw toa hiap beristirahat dulu."

Lauw Thian Hauw berpura-pura marah : "Apa maksud ucapanmu ini? Aku datang sendiri, apakah kau mengira aku mau kabur?"

Kedua orang itu saling pandang, lalu berkata dengan nada berat : "Lauw toa hiap, untuk mencegah kejadian yang tidak diingini terpaksa harus diatur demikian. Paling lama setengah bulan, jago-jago dari berbagai aliran akan tiba semuanya.

Pada waktu itu tentu akan ada kejadian, nanti ternyata kalau Sang Bun Pang yang bersalah, kami rela menerima hukuman!"

Lauw Thian Hauw berkata sambil tertawa dingin : "Ksatria memang pemberani, aku tidak pernah berbuat kejahatan, apa yang aku takuti?" "Memang demikian yang paling baik! Silahkan! kata mereka berdua.

Mereka membawa Lauw Thian Hauw ke tengah-tengah pekarangan kecil, di sepanjang jalan Lauw Thian Hauw telah merasakan ada orang-orang yang bersembunyi di sekeliling pekarangan kecil itu.

Setelah memasuki pekarangan, ada dua orang yang berdandan seperti pelayan menghampiri. Meskipun kedua orang itu berdandan seperti pelayan, tapi sekali lihat saja Lauw Thian Hauw tahu bahwa kedua orang itu adalah jago silat yang mempunyai kepandaian tinggi baik gwa kang maupun Lwe kang. Dalam hati Lauw Thian Hauw merasa geli, ia berpura-pura tidak tahu, dibiarkannya saja kedua orang itu melayaninya. Ia berpikir dalam hatinya : "So Beng Hiat In muncul, dalam tujuh hari pasti ada akibatnya. Kini satu hari boleh dikatakan sudah lewat, masih enam hari lagi; aku akan dapat berdiam disini, semoga saja orang-orang Sang Bun Pang dapat melawan So Beng Hiat In. Hal ini tentu saja sangat baik, kalau tidak, biarlah menggunakan tangan So Beng Hiat In untuk melenyapkan orang-orang Sang Bun Pang, hal inipun sangat baik. Aku cuma harus waspada saja, itu tidak akan menjadi soal.

Lauw Thian Hauw boleh dikatakan telah berdiam dengan tenang di pekarangan Yen ka cung untuk sementara, tetapi anak-anaknya, yang satu lelaki dan yang satu perempuan, keduanya masih dak dik duk, tidak bisa bertenang. Ketika Lauw Jok Hong dibawa oleh Tan Heng, Lauw Nen, Lauw Hung dan Thian Auw Siang Jin, semuanya ada bersama Lauw Thian Hauw. Ketika Lauw Thian Hauw sedang berantem dengan orang-orang Sang Bun Pang, tidak ada orang lainnya lagi.

Rupanya setelah Lauw Jok Hong dibawa pergi, kejadian itu ada perobahan sedikit.

Lauw Jok Hong dibawa Tan Heng dengan ilmu mengentengkan tubuh 'In Pan Ban Li'. Lauw Thian Hauw tidak dapat mengubernya, tentu saja hatinya merasa gelisah. Ketika ia berbalik, Lauw Hwie pun telah lenyap, hingga membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Dan pada saat inilah, Thian Auw Siang Jin berkata : "Lauw toa hiap, kedua orang itu memang harus mati, menurut aku, kau tidak perlu pergi mencari mereka lagi!"

Tubuh Lauw Thian Hauw agak gemetar. "Siang Jin, kenapa kau harus berkata begitu? Pada waktu itu kalau Pek Touw Cit Ji tidak berbuat kejahatan, mana mungkin So Beng Hiat In muncul???"

Ucapan Lauw Thian Hauw belum habis, tiba-tiba Thian Auw Siang Jin telah berteriak keras. Rupanya ucapan Lauw

Thian Hauw itu telah menyakiti hatinya, maka teriakannya itu bagai raungan seekor hewan, sangat tidak enak didengar, dan telah memutuskan ucapan Lauw Thian Hauw.

Thian Auw Siang Jin berteriak berkali-kali, lalu berhenti. Pandangannya yang sangat buas itu, hingga membuat hati jago silat seperti Lauw Thian Hauw menjadi menggigil. Sesaat kemudian, Thian Auw Siang Jin baru berkata : "Aku sudah tahu, orang serumahmu, setiap orang mempunyai cukup alasan untuk mengundang So Beng Hiat In."

Begitu ucapan Thian Auw Siang Jin terlepas, Lauw Hung dan Lauw Nen pada menengadahkan kepala mereka memandang Lauw Thian Hauw. Karena setelah kejadian itu, mereka tidak tahu apa yang pernah dilakukan oleh Lauw Thian Hauw. Ketika Lauw Thian Hauw melihat anaknya memandang ke arahnya dengan pandangan curiga, hatinya menjadi lebih gelisah lagi. Kalau ia tidak gusar, sama saja ia telah mengakui kejahatannya.

Hati Lauw Thian Hauw menjadi gusar, mukanya berubah.

Dan lagi di bawah pandangan mata Lauw Hung dan Lauw Nen semakin ia berusaha berlagak langgeng, semakin menjadi kaku. Lauw Nen tidak berkata apa-apa, tapi Lauw Hung yang bertanya : "Thia, kau pun ada urusan?"

Lauw Thian Hauw membentak : "Bohong, aku ada urusan apa?" Ia berusaha mewajarkan suaranya, tetapi kenyataannya suaranya sangat kering dan parau, seakan menjerit minta diampuni. Mana sama dengan bentakan yang berwibawa? Ia tidak membuka suara tidak apa-apa, setelah ia bersuara, Lauw Nen pun menjerit "ya" dan tubuhnya tak tertahan lagi mundur beberapa tindak.

Teriak Lauw Thian Hauw : "Nen ji, berhenti!"

Semakin Lauw Thian Hauw berteriak, Lauw Nen berlari semakin cepat. Kata "berhenti" Lauw Thian Hauw baru habis, tubuh Lauw Nen telah berbalik lalu berlari-lari sambil menoleh berteriak : "Toa ci, So Beng Hiat In bukan datang mencari kita, kau masih tidak mau pergi?"

Ilmu mengentengkan tubuh Lauw Nen tidak begitu bagus, tetapi kini larinya cepat sekali bagaikan segumpal asap, sekejap saja telah lenyap.

Diteriaki oleh Lauw Nen begitu, muka Lauw Hung pun berubah. Ia menggerakkan tubuhnya, mundur dua tindak. Hati Lauw Thian Hauw lebih gusar lagi, teriaknya : "Hung ji!"

Harus diketahui, setelah Lauw Jok Hong diculik orang, Lauw Hwie dan Lauw Nen berturut-turut pergi. Pukulan itu sangat dahsyat baginya, tetapi ia masih dapat menahannya.

Hanya pada saat inilah, ketika ia melihat Lauw Hung pun ingin pergi, ia tidak dapat lagi menahannya. Karena Lauw Hung anak pertamanya, yang sangat disayanginya. Andaikata Lauw Hung pun pergi meniggalkannya, sungguh ia tak dapat menahan pukulan ini.

Maka setelah ia berteriak, bukan saja mukanya berobah, bahkan tubuhnya pun turut menggigil. Ia berteriak, Lauw Hung mundur lagi dua tindak seraya berkata : "Thia, kebencian ada pangkalnya, hutang ada penagihnya. Kalau So Beng Hiat In datang mencari kau, tentu saja... aku... aku tidak bisa berdiam lebih lama lagi disini."

Lauw Thian Hauw berkata dengan napas terengos-engos : "A Hung, kau dengar kata-kataku. Aku... tidak ada persoalan apa-apa, So Beng Hiat In... "

Ketika ia berkata sampai disini, Lauw Hung telah mundur sejauh dua tombak, dan pada saat ini Lauw Thian Hauw berkata pada Lauw Hung seakan minta dikasihani : "A Hung, mereka telah pergi semuanya, kau musti harus berada di sampingku, kau adalah anak yang paling ku sayangi, kau... ah, kau... "

Sampai disini, Lauw Thian Hauw terasa matanya menjadi gelap berkunang-kunang, ia tidak berdiri dengan teguh. Ia terhuyung tiga tindak, pundaknya menubruk sebatang pohon, "bruk" pohon itu telah patah.

Tubrukan itu membuat Lauw Thian Hauw menjadi lebih sadar, ia memandang ke depan tajam-tajam. Tadi karena ia bicara dengan nada yang hampir diminta dikasihani, sedangkan Lauw Hung terus mundur maka matanya menjadi gelap berkunang-kunang. Tetapi kini ketika ia sadar memandang ke depan, Lauw Hung pun telah lenyap. Dalam sekejap saja itu, Lauw Thian Hauw terasa seakan tubuhnya kosong hampa, ia seakan merasa tidak dapat lagi untuk berdiri teguh, tetapi seakan melambung tinggi mengawang-awang.

Lauw Thian Hauw membuka mulut ingin berteriak "A Hung" tetapi bahkan bayangan Lauw Hung pun tidak tampak lagi.

Tarohlah ia menjerit memecahkan tenggorokannya, apa pula gunanya? Ia mencekal erat-erat pohon yang telah buntung, dan berdiri begitu saja, terus sampai ketika Thian Auw Siang Jin tertawa terkikik-kikik, baru ia terhenyak : "Apa yang kau tertawakan?"

Thian Auw Siang Jin tertawa sambil berkata : "Aku merasa geli, keempat anak-anakmu telah pergi meninggalkan kau.

Hatimu tentu sangat sedih bukan?"

Perkataan Thian Auw Siang Jin itu bagai sebilah belati menusuk ulu hati. Lauw Thian Hauw menjadi pingsan, Thian Auw Siang Jin tertawa lagi : "Lauw toa hiap, kau pun berpandangan sempit. Memelihara dan membesarkan anak, tentu saja mereka akan pergi semuanya, soalnya cuma cepat atau lambat saja, buat apa kau sesedih itu? Ha ha ha ha, ha ha." Ia tertawa seraya mementilkan Kim besinya dan mengumandangkan suara "cring cring" dalam suara tawa dan suara Kim itu. Ia membalikkan tubuhnya melangkah ke depan, hanya Lauw Thian Hauw tertinggal seorang, yang masih tetap berdiri mematung. Berselang sesaat baru ia menggerakkan tubuhnya memandang pohon yang patah dan tembok yang runtuh, berikut pintu yang sunyi senyap. Sungguh ia tidak dapat percaya, pintu yang pernah ramai itu, dalam satu hari saja telah dapat berobah sedemikian rupa, lebih-lebih ia tidak percaya anak-anaknya bisa meninggalkannya satu persatu.

Ia terpaku disana lama sekali, baru ia mendengar dari belakangnya ada suara langkah kaki yang gaduh. Pertama ia mendengar suara langkah itu, ia masih mengira Lauw Hung dan Lauw Nen berdua telah kembali. Tak tertahan lagi ia menoleh, namun yang datang adalah jago dari Sang Bun Pang. Waktu itu kemarahan dalam hati Lauw Thian Hauw telah memuncak, taruhlah tidak ada orang yang datang ia pun akan melampiaskan amarahnya pada batang pohon atau tembok secara membabi buta, maka begitu orang Sang Bun Pang datang, ia lantas menerjang. Kedua belah pihak belum sempat bicara, langsung berhantam. Sambil berhantam, hati Lauw Thian Hauw semakin tenang. Ia berpikir kalau berhantam begini terus, ini pun bukan suatu cara baik. Ketika itulah Thio Hua pun tiba.

Kemudian Thio Hua melihat keadaannya kurang beres lalu pergi. Ketika Lauw Thian Hauw tinggal sendirian, ia baru merasa takut akan kedatangan So Beng Hiat In, maka akhirnya biar di tengah malampun ia langsung menuju ke Yen ka cung.

Kita ceritakan saja Lauw Nen yang pergi duluan. Ia berlari sejauh belasan li, ia sendiri pun tidak tahu dari mana datangnya tenaga itu, hingga ia dapat berlari dengan cepat sekali tanpa berhenti. Ketika ia tidak dapat lagi mengangkat kakinya dan terjatuh ke tanah, ia bangun kembali dan berlari lagi sampai akhirnya ia betul-betul tidak dapat bergerak lagi, baru rebah di atas tanah, napasnya terengos-engos. Waktu itu, meskipun pakaiannya telah basah kuyup tetapi hatinya sangat lega, karena ia telah kabur dan dapat mengelak dari kedatangan So Beng Hiat In yang minta nyawa itu. Ia menoleh ke belakang, tidak ada yang mengubernya. Ia ingin meninggalkan tembok yang bergambar So Beng Hiat In itu, semakin jauh semakin baik.

Dan tibalah ia di sebuah kota kecil, lalu dibelinya seekor kuda dan dipacunya kuda itu terus menerus siang malam tak henti-hentinya dua tiga hari ini. Kudanya telah mati berekor- ekor dan ia telah berada sejauh enam tujuh ratus li dari rumahnya.

Dalam dua tiga hari ini, setiap saat ia masih mengkuatirkan kedatangan So Beng Hiat In, karena siapa yang dicari oleh So Beng Hiat In itu, ia sendiripun tidak dapat memastikannya.

Tetapi ia tahu kelakuannya sendiri sudah cukup untuk mengundang So Beng Hiat In, maka hatinya masih tetap merasa takut.

Namun tiga telah berlalu, tetap tidak ada kejadian apa-apa, tak tertahan lagi hatinya merasa lega. Ia masih terus melanjutkan perjalanannya, terus sehingga ia terpaksa menghentikan kudanya. Itu disebabkan karena di depannya telah terbentang sebuah sungai yang lebar.

Dalam tiga hari ini, Lauw Nen memacu kudanya siang malam, bahkan tidak berhenti barang sedikitpun, ketemu kota kecil paling-paling ia membeli bekal lalu menunggang kudanya lagi. Ia hanya mengharapkan pergi dari rumah, semakin jauh semakin baik dan tidak perduli kemana tujuannya. Sampai saat ini, setelah berada di tepi sungai, dihentikan kudanya, dan memandang ke depan serta merta hatinya berdetak, lalu menjerit dalam hatinya "ah" tanpa setahuku, kenapa aku sudah sampai ke tempat ini, tempat musuhku? Itulah Yangtze kiang, permukaan sungai yang lebar, airnya yang deras; tidak salah lagi inilah Yangtze kiang.

Lauw Nen tahu ia telah berada di tepi sungai Yangtze, dan hatinya menjadi sangat terperanjat. Semenjak ia bekerja sama dengan Ching Li Pang merampok di tengah-tengah sungai kereta barang yang dikawal oleh Go Eng Kiat dan adik Go So Lan, dan telah mencelakai kedua kakak beradik itu, setelah kejadian itu setiap ada orang menyebut nama sungai Yangtze, hatinya bergoncang berdetak-detak memukul rongga dadanya dan tentu saja ia takkan mau datang ke sungai Yangtze lagi, tapi kini, tanpa sesadarnya, ia telah berada di tepi sungai Yangtze.

Terasa hatinya berdebar-debar, dan segera teringat : "Aku telah berada disini tanpa sesadar ku, apakah ini suatu alamat buruk? Tetapi segera pula ia memberanikan dirinya sendiri.

Tidak, hal itu tidak ada yang tahu, kalau ada yang tahu tentu aku sudah dicari ke rumahku, mana mungkin bisa sampai sekarang? Berpikir sampai disini, hatinya lebih bernyali, digerakkannya kudanya lagi menyusuri tepi sungai.

Tak lama kemudian, ia telah melihat ada tempat penyeberang di depannya. Dari jauh ia melihat disana ada tujuh delapan orang yang sedang menuntun kuda menaiki kapal penyeberangan yang besar, sekali lihat saja ia tahu orang-orang itu adalah ahli silat.

Melihat ada orang, hati Lauw Nen menjadi ragu-ragu, tidak ingin maju, tapi kini ia telah dekat sekali dengan tempat itu dan orang-orang itu telah melihat dirinya.

Lalu terdengar teriakan salah satu di antara mereka : "Eh, bukankah ini Lauw kong cu?"

Lauw Nen tertegun, orang yang bersuara itu tadinya telah berada di atas kapal, tapi kini ia berteriak sambil melompat kembali ke tepi sungai. Gerakannya cepat sekali, dalam sekejap saja telah mendekati Lauw Nen. Agaknya Lauw Nen kenal dengan wajah itu, tetapi untuk sesaat ia tidak ingat siapakah gerangan orang ini. Tadinya dengan hati yang berdebar-debar : "Si... siapa... tuan?"

Hatinya bingung, katanya terputus-putus.

"Tentu saja Lauw kong cu tidak ingat lagi kepadaku.

Setahun yang lalu saya pernah berkunjung ke rumah Lauw toa hiap dan melihat ketampanan Lauw kong cu, maka sampai sekarang belum lupa. Saya adalah Lie Ci Siang, salah satu dari ketiga pendekar pedang Hua San, apakah kong cu masih ingat?" Lauw Thian Hauw adalah pendekar budiman yang sangat kesohor, entah ada berapa banyak orang-orang Bu lim yang pernah berkunjung ke rumahnya, mana mungkin ia ingat orang sebanyak ini? Kini, ia pun belum mendengar dengan jelas kata-kata orang itu, ia hanya mendengar satu patah kata

;setahun yang lalu saya pernah berkunjung ke rumah Lauw toa hiap', dan hatinya telah menjadi sangat girang. Karena hal itu terjadi setahun yang silam, dan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu tentu saja dia tidak tahu.

Hati Lauw Nen tidak begitu takut lagi, malah ia pasang aksi, tidak turun dari kudanya. Katanya : "Oh ya, ya, saya seperti pernah melihat anda. Apakah anda mau menyeberang?"

"Betul, apakah Lauw kong cu pun mau menyeberang?" berkata Lie Ci Siang, sambil berteriak : "Hei, pendayung, tunggu dulu! Putra Lauw toa hiap akan menyeberang juga." Setelah teriakan Lie Ci Siang itu, meskipun Lauw Nen tidak mau menyeberang, kini mau tidak mau ia harus ikut menyeberang.

Ia meloncat dari kudanya : "Sahabat Lie, kau berbuat begini, sampai aku merasa tidak enak." Biarpun mulutnya mengatakan 'tidak enak', tetapi perasaan bangganya terlukis di wajahnya.

"Tidak apa-apa, mereka adalah orang-orang Bu lim, kalau dapat berkenalan dengan Lauw kong cu, sungguh menjadi suatu hal yang sangat beruntung sekali, lagi pula setelah kami menyeberang, kami akan bertemua dengan Hua San Sin Liong."

Begitu mendengar Hua San Sin Liong (naga sakti dari Hua San), Lauw Nen tak tertahan lagi berteriak "Ah", lalu katanya : "Rupanya Ciang bun Hua San pay, Hua San Sin Liong sudah datang juga. Apakah ada kejadian besar di Kang Lam?"

"Bukan pula suatu hal yang besar, cuma beberapa jago- jago silat menerima undangan Go toa hiap, katanya ada urusan yang mau dibicarakannya. Kami berada di dekat Hua San, setelah menerima kabar itu kami pun ingin melihat keindahan Kang Lam. Tentu saja kami tidak mempunyai hak untuk turut membicarakan persoalan itu, tetapi kalau Lauw kong cu lain sama sekali. Kau akan menjadi tamu agung," kata Lie Ci Siang.

Lie Ci Siang terus memuji-muji Lauw Nen, hingga membuat Lauw Nen menjadi bangga sekali. Ketika ia mendengar kata- kata "Go toa hiap", hatinya pun tertegun sejenak. "Kenapa Go toa hiap", ucapan ini hampir saja terlepas dari mulutnya.

Tetapi kini, ia telah naik ke atas kapal, tujuh delapan orang itu terus langsung mengerumuninya. Lie Ci Siang memperkenalkan mereka satu persatu pada Lauw Nen, yang tidak lain hanyalah semacam Hua San San Kiam, dan Lok Pan Song Hiung.