-->

Bayangan Darah Jilid 05

Jilid 05

Jurus pedang ini boleh dikatakan sangat pedas. Andaikata Thian Auw Siang Jin tertusuk pedang Lauw Thian Hauw, nyawanya tentu saja akan melayang. Tapi kalau Lauw Thian Hauw kena pukulan besi Kim Thian Auw Siang Jin,ia pun tidak dapat hidup. Kini Lauw Thian Hauw tidak bermaksud mau mengadu jiwa dengan Thian Auw Siang Jin. Dalam keadaan begini, ia menggunakan jurus itu hanyalahuntuk menghentikanserangan Thian Auw Siang Jin. Kalau membicarakan soal ilmu silat, Lauw Thian Hauw tidak mungkin berada di atas Thian Auw Siang Jin, tetapi jurusnya 'Ang Jit Se Cen' ini adalah suatu ilmu yang sukar sekali melukiskan kedalamannya, ditambah lagi dengan tenaga Lwe kang-nya, walaupun ujung pedang itu masih berjarak jauh dari sasarannya, tetap tenaga pedangnya telah tiba dulu.

Thian Auw Siang Jin tiba-tiba merasakan ada sebuah aliran dingin yang menyerang lehernya dengan mendadak, hatinya menjadi sangat terperanjat. Dalam sekejap saja ia mundur dengan tiba-tiba, tentu saja serangan Kim besinya pun turut mundur. Lauw Thian Hauw melihat lawannya mundur, ia pun tidak menyerang lagi lalu berdiri dengan memegang pedangnya seraya berkata : "Siang Jin, musuh kita hampir tiba, apakah kita masih mau saling hantam?"

Thian Auw Siang Jin berdiri mematung, tidak bersuara. Ketika Lauw Thian Hauw belum dapat meraba apakah

Thian Auw Siang Jin masih mau saling hantam atautidak, tiba-

tiba dari tempat tidak jauh mengalun sebuah suara yang sangat jelas : "Silat kamu berdua sangat menakjubkan, hingga melebarkan pandangan mataku, kalian berdua berilmu sangat tinggi, kenapa masih mau meniru orang biasa yang suka

rebut-rebutan?"

Tadi ketika Lauw Thian Hauw dan Thian Auw Siang Jin berhantam, hati mereka masing-masing telah mengetahui ilmu lawantidak dapat diremehkan dan tidak boleh diabaikan, harus memusatkan seluruh konsentrasi, itu tidak perlu dikatakan lagi. Lauw Hung dan adik-adiknya pada merasa sangat terperanjat. Mereka sama sekali tidak memperhatikan siapa yang telah datang itu. Ketika orang itu membuka suara, semua orang menjadi terperanjat. Reaksi Thian Auw Siang Jin yang paling cepat, walaupun sepasang maatanya buta tapi telah membalikkan tubuhnya, mengangkat Kim besinya melindungi tubuhnya. Orang-orang lainnya pada melihat memandang ke depan, dan melihat sesosok bayangan kurus setengah baya sedang berdiri di bawah pohon. Orang setengah baya itu mengenakan pakaian yang berwarna hijau, yang melambai-lambai ditiup angin, membuat orang yang melihatnya merasa bahwa dia adalahs seorang suci. Wajahnya serius, membuat orang merasa hormat melihatnya. Tetapi kini wajahnya diliputi dengan kesedihan, di tubuhnya tidak bersenjata apa-apa. Yang aneh adalah di dalamnnya tergenggam sebuah pisau buntung, pisau itu tipis kurus, rupanya pisau Liu Yap (daun pohon Liu) yang biasa digunakan oleh kaum wanita, sedangkan orang ini adalah seorang lelaki. Kenapa ia menggenggam sebuah pisau Liu Yap, bukankah hal ini sangat mengherankan? Tetapi itu adalah perasaan Lauw Hung dan Lauw Nen belaka, Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong berdua hampir saja menjadi pingsan ketika melihat pisau Liu Yap yang buntung itu.

Lauw Jok Hong telah terhuyung terjatuh ke atas tanah ketika dikebas oleh lengan jubah Thian Auw Siang Jin di luar tembok tadi. Waktu itu Thian Auw Siang Jin tidak bermaksud untuk membunuh orang, maka ia tidak menggunakan tenaga dalamnya. Kalau tidak biarpun ada sepuluh Lauw Jok Hong, pasti telah binasa semuanya. Lauw Jok Hong merangkak hingga ke depan pintu dantelah kaget berkali-kali, hampir saja ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Kini, begitu melihat Liu Yap yang telah hilang ujungnya itu, kedua lututnya telah menjadi lemas, hampir saja terkulai di atas tanah.Malah Lauw Hwie lebih gagah daripada kakaknya, walau dalam hatinya pun merasa sangat terperanjat melihat keadaan Lauw Jok Hong yang kurang beres; tiba-tiba terkulai di atas tanah, pasti membangkitkan perasaan curiga pada orang-orang lain. Maka buru-buru ia mencekal lengan Lauw Jok Hong dan menahannya sekuat tenaga supaya tidak terjatuh. Mereka berdua tadinya memang berdiri berdampingan, maka tidak ada orang yang memperhatikan mereka.

Lauw Thian Hauw masih tetap berdiri tidak bergerak, matanya yang tajam itu telah menyapu tubuh orang setengah baya berkali-kali. Dilihatnya orang yang berdiri itu walaupun bermuka murung, seakan dalam hatinya ada sesuatu hal yang memilukan hatinya, tapi wajahnya berwibawa dan gagah. Sekali pandang Lauw Thian Hauw telah tahu bahwa orang itu ahli silat yang tinggi.

Tetapi untuk sesaat Lauw Thian Hauw tidak dapat menerka asal usul orang. Ia terus memandang orang itu sambil terus tersenyum pahit dalam hatinya, karena dalam satu hari ini saja, kesukaran yang dihadapinya sudah cukup banyak dan ia tidak mau menyakiti siapa-siapa lagi. Maka ia berkata dengan tegas : "Saya dengan sahabat ini, karena sedikit salah paham lalu berantam hingga ditertawakan anda. Semoga anda tidak turut campur dan berlalulah!"

Ucapannya cukup ramah, tapi ia telah mengusir tamunya. Namun orang setengah baya itu tidak marah : "Tapi ilmu silat kamu berdua hebat sekali, maka saya mau tidak mau berhenti melihatnya. Di sepanjang jalan sya selalu mendengar orang- orang pada menyebut-nyebut nama Lauw Thian Hauw, saya kira anda pastilah Lauw Toa Hiap itu."

Lauw Thian Hauw hanya menginginkan orang itu cepat- cepat berlalu, maka ia membuka suara lantas mengusir tamu itu. Tapi tidak diduganya, bukan saja tidak pergi, malah telah menyebutkan namanya. Biasanya Lauw Thian Hauw pasti merasa sangat gembira karena dengan demikian ia telah menambah seorang kawan lagi. Tapi kini ia lebih suka berbuat sebaliknya. Ia hanya berkata dingin : "Saya memang she Lauw, dan nama besar kamu? Apakah saya boleh tahu?"

Orang setengah baya itu menghela napas. Ia tidak menyebutkan siapa dirinya, hanya berkata : "Nama Lauw Toa Hiap tenar dimana-mana. Betul saja berilmu sangat tinggi, andaikata saya tidak ada urusan yang penting, tentu saya senang minta petunjuk."

Lauw Thian Hauw berkata dingin : "Rupanya anda masih ada keperluan, silahkan saja."

Orang itu membalikkan tubuhnya ingin melanjutkan perjalannya. Baru saja ia melangkah setengah tindak, ia telah membalikkan kembali tubuhnya : "Lauw Toa Hiap, tadi saya dengar Lauw Toa Hiap mengatakan ada musuh besar, saya kira musuh besar yang disebut Toa Hiap itu pastilah sebuah setan iblis yang sangat hebat.Kalau saya dapat dipakai, saya takkan menolak."

Hati Lauw Thian Hauw telah mengomel, kenapa di dunia ini ada orang yang bertele-tele seperti dia ini? Tetapi orang itu baik hati. Andaikata ia betul dimarahi, jangan-jangan ia akan menjadi musuh lagi. Maka ia menahan marahnya dan berkata dengan sabar : "Bukan pula musuh yang maha besar, saya sendiri dapat menghadapinya. Silahkan saja anda berlalu."

"Oh," kata orang setengah baya itu,lalu ia membalikkan tubuhnya dengan pelan. Ketika ia membalikkan tubuhnya, kebetulan berpapasan pandangan Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua. Tiba-tiba ia tertegun dan pandangannya berhenti di tubuh Lauw Jok Hong. "Ih," katanya : "Siauw Ko (kakak kecil) ini siapa namamu? "Boleh kasih tahu?"

Lauw Thian Hauw bersusah payah menunggu orang itu mau pergi, tiba-tiba oran gitu bertanya lagi pada Lauw Jok Hong. Kalau begini terus, kapan ia baru bisa pergi? Lalu katanya dengan tidak sabar : "Dia adalah anakku, tentu anda juga mengenalinya. Buat apa bertanya lagi?"

Andaikata orang lain, kalau bukan ngeloyor pergi pastilah marah. Tapi orang setengah itu tidak. Ia hanya berkata : "Oh, rupanya anak anda." Ia berkata sambil tak henti-hentinya memandang Lauw Jok Hong.

Hati Lauw Jok Hong bergidik dipandang orang dengan cara begitu dan tidak dapat bersuara.

Terpaksa Lauw Hwie yang bertanya : "Eh, buat apa kamu melihatnya terus?"

"Aku melihat paras muka Lauw kong cu ini persis dengan apa yang diuraikan seorang yang hampir putus nyawanya maka aku memandangnya agak banyak." Hati Lauw Hwie berdetak, katanya : "Apa yang kau ocehkan disini?"

Orang setengah baya itu geleng-geleng kepala dengan pelan-pelan tetapi sepasang matanya masih tetap memandang pada Lauw Jok Hong. Katanya : "Bukan sembarangan ngoceh, orang yang diuraikan oleh orang yang hampir mati itu ialah berwajah cerah, mukanya agak pucat, umurnya sekitar dua puluhan, di atas alis kirinya ada sebuah bintikan merah, bibirnya tipis, bukankah kesemuanya itu sama dengan wajahnya?"

Orang setengah baya itu berkata sambil mengulurkan tangannya menunjuk-nunjuk ke muka Lauw Jok Hong, setiap kali ia menunjuk ke arah Lauw Jok Hong, daging di muka Lauw Jok Hong turut bergoyang-goyang. Lauw Hwie yang berada di sampingnya itu pun sangat kaget hingga tidak dapat berkata apa-apa.

Lauw Hung yang paling berangasan, ia dulu y ang tidak sabar, bentaknya : "Orang ini rupanya gila."

Orang setengah baya itu menghela napas, menyodorkan tangannya, lalu pelan-pelan membalikkan tubuhnya, dan berkata pada Lauw Hung : "Toa kouw nio, kau tahu orang hampir mati itu siapa?"

Amarah Lauw Hung telah memuncak lagi, katanya : "Biar nenek moyang kau pun bukan urusan aku! Kau masih belum mau pergi?"

Lauw Thian Hauw yang berdiri di sebelah itu pun sudah melotot, dalam keadaan ini, siapa saja akan angkat kaki seribu. Orang setengah baya itu malah betul-betul seekor ular berkulit lembut, bukan saja ia tidak pergi, malah ia geleng- geleng kepala : "Dia bukan nenek moyangku, kau salah terka. Ia, matinya sangat menyedihkan."

Lauw Hung dan Lauw Thian Hauw melihat orang setengah baya itu terus ngoceh tak habis-habisnya, seakan bukan sungguh-sungguh tapi bukan pula main-main. Tampangnya seperti seorang jago silat dari rimba persilatan, tapi ucapannya seperti ucapan bajingan, sungguh tidak dapat menduganya dari mana orang ini. Siap-siap mengusirnya dengan kekerasan, amarah dalam hatinya pun telah memuncak. Tiba-tiba mendengar ucapan terakhir orang itu 'matinya sangat menyedihkan' hatinya tak tertahan lagi bergidik. Karena ketika orang setengah baya itu mengucapkan perkataan itu, nadanya sangat menyeramkan, membuat bulu roma orang yang mendengarnya berdiri.

Lauw Thian Hauw adalah seorang jago silat yang berpengalaman, pengetahuannya luas. Ia telah dapat merasakan persoalan itu agak lain, karena hati seseorang kalau bukan betul-betul menerima suatu pukulan yang sangat hebat, sekali-kali tidak mungkin berkata dengan suara yang sangat menyeramkan itu. Lalu Lauw Thian Hauw melangkah setindak : "Siapa anda yang telah mati?"

Orang setengah baya itu menengadahkan mukanya yang sangat murung : "Hari demi hari aku membesarkannya, coba kau bilang, siapa dia itu?"

Lauw Thian Hauw menganggup : "Kalau begitu, dia anakmu?"

Orang setengah baya itu berkata dengan nada pahit : "Ya, hari demi hari aku pelihara dia. Selama 20 tahun kalau dia sakit, atau kulitnya pecah sedikit, hatiku sangat sedih. Kini ia telah mati, matinya sangat menyedihkan!"

Hati Lauw Thian Hauw ingin mengusir orang itu lebih cepat lebih baik, namun ia tahu, kalau ia ingin orang yang seperti permen karet itu segera pergi ia harus menggunakan sedikit akal. Maka ia berkata dengan sabar : "Betul, di dunia ini tidak ada hal yang lebih sedih lagi daripada kepala putih mengantarkan kepala hitam. Tapi anak anda telah mati dan tidak mungkin hidup kembali, apa gunanya kau cerita di hadapan kami?" Tiba-tiba orang setengah baya itu tertawa dengan suara yang sangat tajam : "Kalau tidak memang aku sudah harus pergi, sebelum anakku mati, ia telah bertemu dengan aku dan napasnya belum putus. Lalu ia menguraikan orang yang membunuhnya, katanya : "Orang yang membunuhnya itu adalah sepasang muda mudi, seperti kakak beradik, rupa pemuda itu persis seperti Siauw Ko ini. Sebelum sempat mengatakan rupa pemudi itu, napasnya telah putus. Ha, ha, memang hal-hal di dunia ini sangat kebetulan sekali, bukankah begitu?"

Pertanyaan yang terakhir ini, sekalilagi mengagetkan orang-orang yang berada disitu. Lauw Thian Hauw berpaling memandang Thian Auw Siang Jin, dilihatnya Thian Auw Siang Jin telah duduk di bawah pohon dengan tenang, seakan tidak mau turut campur dengan persoalan yang terjadi di hadapannya.

Lalu Lauw Thian Hauw berpaling kembali : "Apa maksud perkataan anda ini?"

Orang setengah baya itu berkata : "Waktu itu aku berpikir dimana aku harus mencari orang itu? Anakku mati konyol, dendam ini pasti tidak terbalas. Siapa tahu ketika aku sampai disini, kebetulan sekali aku menemuinya!" Orang setengah baya itu berkata panjang lebar, tapi tiba-tiba ucapannya berbalik terus menganggap Lauw Jok Hong adalah pembunuh anaknya."

Lauw Hung dengar sampai disini, ia tidak dapat bersabar lagi, bentaknya : "Sialan anak kau mati apa hubungannya dengan orang lain, malah kau datang kemari sembarangan memfitnah orang. Kalau kau tidak pergi lagi, pasti aku membuat kau tidak dapat bergerak lagi."

Orang setengah baya itu melirik pada Lauw Hung dengan pandangan hina. Betapa berangasannya sifat Lauw Hung, mana ia dapat menahannya? Tidak menunggu oran gitu berkata lagi, ia telah membentak; memendekkan tubuhnya "hur' tangannya telah menghantam ke depan. Bagi Lauw Hung itu adalah sangat ramah karena ia tidak menggunakan senjata. Tubuh orang setengah baya itu masih tetap tidak bergerak, dalam sekejap saja 'bum'. Pukulan tangan Lauw Hung itu tepat mengenai dada orang setengah baya itu. Suara yang timbul seperti suaranya gendang kulit sapi.

Pukulan tangan Lauw Hung itu, ketika hampir menyentuh dada orang setengah baya itu, ia telah merasakan tenaga dalamnya telah menembus ke dalam tubuh orang setengah baya itu. Walaupun suara itu kedengarannya agak aneh, tapi lawannya pasti akan roboh ke tanah. Betul saja, tepat seperti apa yang diduganya, setelah menerima pukulannya, orang setengah baya itu terhuyung-huyung ke belakang. Setelah mundur tiga tindak baru berhenti. Tiba-tiba tubuhnya berbalik, cepat sekali telah berada di hadapan Lauw Jok Hong. Kini ia menghadapi Lauw Jok Hong dengan punggungnya, tetapi tiba- tiba ia mengulurkan tangannya berbalik menyambar dada Lauw Jok Hong, kelima jarinya bagai sebuah kaitan, dan telah mencengkeram dada Lauw Jok Hong.

Perubahan itu sungguh di luar dugaan orang-orang disitu. Dengan dadanya tercengkeram, Lauw Jok Hong merintih-rintih

: "Aku... aku..." ia baru mengucapkan dua kali 'aku', orang setengah baya itu telah menggoyangkan tangannya mengangkat Lauw Jok Hong ke hadapannya. Kini kebetulan sekali Lauw Thian Hauw telah menyerang dengan pedang yang terhunus, tiba-tiba Lauw Jok Hong terseret di hadapan orang setengah baya itu. Kalau pedang panjang Lauw Thian Hauw ditusukkan terus, nyawa Lauw Jok Hong pasti melayang.

Untung ilmu silat Lauw Thian Hauw sangat tinggi, ia dapat menahan pedangnya tepat pada waktunya, tapi ujung pedang itu hanya berjarak dua tiga inci dari punggung Lauw Jok Hong. Melihat wajah orang setengah baya itu, seakan tidak terjadi apa-apa. Ia mencengkeram dada Lauw Jok Hong, kelima jarinya telah masuk ke dalam daging Lauw Jok Hong. Tapi kini suara yang dikeluarkannya itu menjadi sangat lunak sekali.

Berkata orang setengah baya itu : "Kau yang melakukannya, ya? Kau sendiri tahu, kau yang melakukan perbuatan itu, ya?"

Lauw Jok Hong terasa dadanya ditekan oleh suatu tenaga yang sangat dahsyat. Hampir saja ia tidak dapat menarik napas, taruhlah ia mau bicara namun sangat sulit diucapkannya. Apalagi ia sangat kaget, sungguh ia tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya berteriak dalam tenggorokannya, entah apa yang harus dilakukannya, kaki dan tangannya terus menari-nari, lucu sekali tampangnya itu. Setelah Lauw Thian Hauw menahan serangan pedangnya, tiba-tiba tubuhnya memiring. Ujung pedangnya telah menuding tenggorokan orang setengah baya itu, tetapi orang setengah baya itu masih saja menganggap sepi, seakan tidak ada apa-apa yang terjadi. Ia terus bertanya pada Lauw Jok Hong : "Kau yang melakukannya, ya? KIni, kau tidak perlu akui lagi!"

Lauw Thian Hauw berteriak, tangannya diulurkannya lagi, ujung pedang itu telah menyentuh tenggorokan orang setengah baya itu hingga membuat kulit orang setengah baya itu terbenam sedikit ke dalam lalu Lauw Thian Hauw berteriak

: "Lekas lepaskan!"

Orang setengah baya itu menengadahkan kepalanya, lalu geleng-geleng kepalanya. Andaikata lehernya tidak bergerak, walaupun ujung pedang Lauw Thian Hauw telah menyentuh kulit lehernya, tapi ia takkan luka. Kini ia geleng-geleng kepalanya, lehernya bergoyang ke kanan dan ke kiri lalu kulitnya tergores mengeluarkan darah. Namun orang setengah baya itu masih tetap seakan tidak merasakan apa-apa, katanya : "Kau suruh aku lepaskan? Ha, Ha, kau kira kau menudingkan ujung pedang itu pada leherku, lalu aku bisa lepaskan? Terus terang ku katakan, biarpun kau menindah kepalaku dengan sebuah gunung, aku pun takkan lepaskan!"

Ujung pedang Lauw Thian Hauw telah maju lagi, dan sedikit masuk ke daging, darahnya telah menetes keluar. Bentak Lauw Thian Hauw : "Kalau kau masih tidak lepaskan, aku takkan berlaku sungkan lagi!" Tenaga yang digunakannya di atas pedang itu adalah ilmu berpuluh-puluh tahun, dankini pedang itu telah masuk ke daging lawannya sedikit, dalam pikirannya, hidup mati lawannya adalah suatu hal sekelebatan saja.

Orang setengah baya itu berkata dengan perlahan : "Aku tidak lepaskan, kaupun tidak dapat mematikan aku!"

Lauw Thian Hauw tertegun, entah apa maksudnya orang setengah baya itu berkata demikian. Terdengar suara 'krok', kepala orang itu telah memanjang ke atas. Ketika kepalanya memanjang ke atas, kepalanya telah meninggi sekali lipat, lehernya pun menjadi kurus. Lehernya mengurus, pedang yang tadinya menancap sedikit di dagingnya kini tidak lagi menyentuh lehernya. Perubahan ini, boleh dikatakan sama sekali tidak pernah diduga oleh Lauw Thian Hauw. Ketika Lauw Thian Hauw tertegun, orang setengah baya itu telah melesat dengan mengapit Lauw Jok Hong.

Sementara itu bukan saja Lauw Thian Hauw, bahkan Thian Auw Siang Jin pun berdiri dengan tiba-tiba. Itu berarti walaupun ia tak dapat melihat tapi dalam sekejap saja ia pun telah mengetahui perubahan antara Lauw Thian Hauw dengan orang setengah baya itu,dan tahu apa yang telah terjadi dan sangat kagum atas kepandaian luar biasa dari orang setengah baya itu.

Tubuh Lauw Thian Hauw berputar lagi, 'ces', pedang telah menyerang kembali. Orang setengah baya itu menggoyangkan tangannya dan mengangkat tubuh Lauw Jok Hong untuk menahan serangan pedang Lauw Thian Hauw.

Lauw Thian Hauw melancarakan serangannya bagaikan kilat, 'ser ser ser ser', dalam sekejap saja ia telah menyerang empat kali. Namun keempat serangan itu, walaupun serangannya sangat keras, tapi setelah ditarik kembali di tengah jalan. Itu karena disebabkan setiap kali ia menyerang, orang setengah baya itu selalu menangkisnya dengan tubuh Lauw Jok Hong hingga memaksa Lauw Thian Hauw mau tidak mau menarik kembali serangannya. Setelah menyerang empat kali, Lauw Thian Hauw tahu, dalam keadaan begitu, andaikata mau menjaga Lauw Jok Hong, ia takkan mendapat keuntungan sedikit pun, maka dalam hatinya sangat terperanjat dan marah. Lalu mengacungkan tangannya : "Kamu masih tinggal diam saja?"

Dari tadi Lauw Hung sudah mau turun tangan, tapi karena serangan Lauw Thian Hauw terlalu cepat, ia tidak ada kesempatan untuk menyerang. Mendengar teriakan Lauw Thian Hauw itu, ia dulu yang telah menyerang dengan pedangnya. Tetapi baru mau turun tangan, orang setengah baya itu berteriak. Tubuhnya telah terangkat ke atas dengan Lauw Jok Hong masih tetap terapit, di atas udara setinggi dua tombak itu, tubuhnya terus berputar seperti sebuah roda, dalam sekejap saja ia telah berada sejauh enam tujuh tombak. Gerakannay itu cepat sekali, tidak ada orang yang dapat menandinginya. Baru jatuh di tanah, tubuhnya telah terbang kembali hingga membingungkan orang yang melihatnya.

Ketika Lauw Thian Hauw menjadi tenang dan ingin menguber, dalam sekejap itulah orang setengah baya telah berada sejauh belasan tombak dengan membawa Lauw Jok Hong. Lauw Thian Hauw berteriak panjang : "Mau kabur kemana?" Tubuhnya beranjak ingin menguber, tetapi baru melangkah setindak, Thian Auw Siang Jin telah berkata dengan dingin : "Sudahlah, jangan diuber. Kau takkan dapat mengubernya."

Lauw Thian Hauw membentak marah : "Apa katamu?"

Perkataan Thian Auw Siang Jin lebih dingin lagi, ia mendehem : "Itulah ilmu mengentengkan tubuh In Pan Ban Li (awan bergulung sepuluh li) yang sangat tinggi dari pulau Lam Hai Thian In. Kau tidak tahu?"

Begitu mendengar ucapan Thian Auw Siang Jin, Lauw Thian Hauw terpaku. Dan kini, orang setengah baya itu telah hilang dengan membawa Lauw Jok Hong. Lauw Thian Hauw berdiri mematung. 'In Pan Ban Li' dari pulau Thian In. Kalau begitu... orang itu adalah Thian In Tau Cu (pemilik pulau Thian In)?"

"Tidak disangka pengetahuanmu sangat sempit. Thian In Tau Cu telah berusia lebih dari seratus tahun, itu adalah anaknya."

Tiba-tiba Lauw Thian Hauw menghempaskan kakinya, dan berpaling pada Lauw Hwie. Tadinya ia ingin marah pada Lauw Hwie, karena Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua selalu bermain sama-sama. Andaikata Lauw Jok Hong berbuat kejahatan, Lauw Hwie pasti tahu. Tetapi ketika ia membalikkan tubuhnya, melihat Lauw Hwie telah mundur dengan diam-diam.

LTW membentak : "mau apa kau?"

Lauw Hwie telah mundur sampai ke sudut jalan, mendengar bentakan Lauw Thian Hauw, ia mempercepat langkahnya, sekejap saja telah lenyap.

Lauw Thian Hauw membentak : "Berhenti!" Suaranya itu menggeledek, jangankan di sudut itu, biar sejauh satu li pun orang masih dapat mendengarnya.

Tetapi rupanya Lauw Hwie tidak mendengar perkataan ayahnya lagi, karena ketika Lauw Thian Hauw memburu sampai ke sudut jalan itu, ia tidak lagi melihat Lauw Hwie. Dalam sekejap ini, hati Lauw Thian Hauw menjadi sangat kacau balau. Berdiri di sudut jalan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, bahkan ketika Lauw Hung menghampirinya dan memanggil-manggilnya, ia pun tidak mendengar panggilan Lauw Hung itu.

Dan pada saat ini Lauw Hwie telah berlari beberapa tombak dengan mati-matian. Ia terus berlari sejauh lima enam li baru berhenti, napasnya terengah-engah. Sekelilingnya sunyi sekali, kecuali dia sendiri, tidak ada orang lain lagi. Wajahnya menjadi normal kembali dengan pelan-pelan. Dilihatnya di bagian timur terdapat hutan belantara. Ia berpikir dalam hatinya, lebih baik bersembunyi dulu disitu, tetapi sesampai disitu, apakah ada tempat untuknya bersembunyi, ia tidak dapat memastikannya.

Lauw Hwie berlari ke timur menuju hutan. Sesampai di hutan itu, dilihatnya pohon tinggi-tinggi, udaranya pun menjadi agak lembab, dan hatinya merasa agak aman sedikit.

Ia bersandar di bawah pohon beristirahat sebentar, baru memikirkan bagaimana harusnya. Katakan saja ia telah dapat kabur dari rumahnya tapi apakah ia dapat mengelak dari kejaran So Beng Hiat In? Lauw Hwie pun meraskan, orang yang mau dicari So Beng Hiat In belum tentu dirinya, tetapi orang setengah baya yang membawa pergi Lauw Jok Hong itu, cepat atau lambat pasti tahu Lauw Jok Hong bukan berbuat sendirin. Ia pun turut andil, apakah dirinya akan dapat lolos? Makin pikir, hatinya makin bergidik. Terasa bersembunyi di hutan ia pun kurang aman, lalu ia manjat ke atas pohon, hingga tubuhnya tertutup rapat di dedaunan yang lebat, baru ia dapat menghela napas. Lalu terpikir lagi, ia tidak dapat begitu saja seterusnya, jadi harus bagaimana?

Di atas sana, ia terus merobek-robek daun tapi ia tak dapat memikirkan apa dayanya. Ketika hatinya merasa gusar, tiba- tiba dari atas pohon di seberangnya mengalun suara tertawa "hi hi'. Setelah sampai ke tempat yang dirasakan paling aman, lalu terdengar suara tertawa itu dengan mendadak, membuat hatinya menjadi sangat terperanjat. Buru-buru ia menengadah menari dari mana datangnya suara itu. Suara itu kedengarannya tidak begitu jauh, kira-kira hanya berjarak satu tombak, tapi karena daun-daun di situ sangat lebatnya, hingga ia tak dapat melihat siapa orangnya yang tertawa itu. Hati Lauw Hwie bergidik, hingga tak berani bernapas keras.

Berselang sesaat, tidak terjadi apa-apa lagi. Lauw Hwie mengumpat dalam hatinya, suara tadi, kebanyakan bukan suara ketawa orang, siapa tahu karena perasaannya terlalu tegang maka kalau ada sedikit suara saja, lantas curiga.

Berpikir sampai disini, harinya agak menjadi lega. Tiba-tiba suara "hi hi' itu telah mengalunlagi. Kali ini kedengarannya lebih dekat lagi dari tadi.

Dalam sekejap saja, bulu roman Lauw Hwie pada berdiri.

Terasa ada aliran dingin menjalar dari kepalanya turun ke bawah, sekujur tubuh bagai sebatang es, membeku tak dapat bergerak lagi. Karena sejak suara tertawa pertama tadi mengalun ke telinganya, ia terus memusatkan perhatiannya memandang ke depan, sementara itu boleh dikataan sedikit suara pun tidak ada. Tetapi suara tertawa yang kedua kali sampai ke telinganya, suara itu telah mendekat lagi. Siapa yang dapat berjalan di atas pohon dan tidak menimbulkan sedikit suara pun? Memang hati Lauw Hwie lagi ketakutan, dan bercuriga, kini tentu saja hatinya lebih kaget lagi dan kepalanya menjadi kaku. Berselang sesaat, baru ia dapat menghela napas, dan bertanya dengan susah payah : "Siapa?"

Tetapi tidak ada orang yang menjawab pertanyaannya itu.

Hati Lauw Hwie tahu, dua kali berturut-turut, ia takkan mungkin salah dengar. Maka ia bertanya lagi dengan mengeraskan suaranya : "Siapa?" Sekali ini, pertanyaannya itu ada reaksinya. Itu adalah sebuah suara y ang aneh dan ditarik panjang-panjang : "Aku..."

Suara itu sangat tidak sedap didengar, tak tertahan lagi tubuhnya mengkerut. Tadinya suara itu mengalun dari jarak lima enam tombak, tapi daun pohon sangat sekali, maka tidak dapat melihat orangnya. Kini ia menggeserkan tubuhnya sedikit dan cabang dimana ia berdiri itu bergoyang ke bawah. Pada saat cabang itu bergoyang ke bawah, ia telah melihat seseorang di hadapannya. Orang itu berjongkok di atas sebuah dahan, bagai seekor monyet, sepasang matanya berputar-putar memancarkan sinar yanganeh dan sangat menyilaukan. Begitu pandang, hatinya menjadi lebih kaget lagi.

Cabang itu melambunglagi, dan tertutup kembali oleh

daun-daun. Melihat orang itu begitu dekat darinya, Lauw Hwie sangat terperanjat. Buru-buru ia menekan gagang pedangnya bertanya : "Siapa kau?"

Orang itu menarik lagi suaranya menjadi panjang : "Aku ialah aku..." lalu sambungnya seperti menyanyi tapi bukan menyanyi : "Aku adalah nenek moyang dari raja-raja, aku adalah saudaranya Giam Ong (raja neraka)."

Hati Lauw Hwie berdetak-detak. Ia mengumpat dalam hatinya, orang ini bicara sampai seperti seorang gila, tingkah lakunya sukar ditebak, lebih-lebih cepat pergi dari situ. Tiba- tiba ia memiringkan tubuhnya, mengumpulkan tenaga murninya melompat ke bawah. Ia melompat dari ketinggian dua tiba tombak, ketika sampai di atas tanah, terjatuh dan menggelinding ke depan. Tapi ia tidak berhenti, kedua tangannya menekan ke tanah, tubuhnya terangkat dan melayang sejauh tujuh delapan tombak sampai di belakang sebatang pohon. Ia memandang ke depan, dilihatnya tidak ada orang yang mengubernya, lalu menghela napas. Ia berpikir tidak boleh ada kejadian apa-apa lagi, rupanya bersembunyi dalam hutan ini, bukanlah suatu akal yang baik, lebih baik pergi ke tempat yang jauh.

Lauw Hwie membalikkan tubuhnya berlari lagi, tak lama kemudian telah keluar hutan itu. Ia sengaja mencari jalan kecil yang sangat sunyi, terus berlari sejauh enam tujuh li baru berhenti. Baru ia duduk, dikirnya ia telah aman sama sekali, siapa tahu dari belakangnya telah mengalun lagi suara tertawa "hi hi."

Suara "hi hi" itu seakan sebuah pedang tajam menusuk Lauw Hwie, hingga membuat Lauw Hwie melompat berdiri. Membali tubuhnya, dilihatnya seorang kurus yang berpakian aneh sekali, sepasang matanya lebar bersinar-sinar berdiri di belakangnya. Lauw Hwie menarik napas : "Kau... kau terus mengikuti aku dari belakang?"

Orang itu tertawa lagi : "Ya, aku terus berada di belakangmu."

Lauw Hwie mundur setindak, kini ia berhadapan dengan orang itu, dan rasa takutnya telah berkurang tidak seperti tadi lagi. Lalu pelan-pelan menjadi tenang : "Siapa kau?"

Orang itu membuka mulutnya, terlihat giginya panjang- panjang dan tajam-tajam, sangat mengerikan orang. "Bukankah telah ku katakan tadi padamu?" Aku adalah saudara Giam Ong."

Lauw Hwie memaksa dirinya tertawa : "Kau berdongeng."

Orang itu seakan sangat bangga atas dirinya sendiri, ia tertawa terkekeh lagi.

Ketika orang itu sedang asyik tertawa, Lauw Hwie telah mundur lagi beberapa langkah. Orang itu tiba-tiba berhenti tertawa. "Nona kecil, ku lihat mukamu pucat sekali, hatimu tidak tenang, rupanya ada suatu hal y ang mengganjal dalam hatimu?" Ketika orang itu bicar, suaranya selalu ditarik panjang- panjang, menengadah atau menggoyang-goyangkan kepala, seakan ia menyanyi di atas panggung. Tetapi pertanyaan itu diucapkannya dengan sangat serius sekali, tidak ada bedanya dengan orang biasa. Karena hati Lauw Hwie takut, lalu mendengar orang itu bertanya demikian, ia menjadi terperanjat lagi. Buru-buru ia menggoyangkan tangannya. "Tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa."

Orang itu mendehem. "Kalau begitu aku yang salah lihat." Lauw Hwie tidak bisa menjawab, hanya tertawa pahit.

Orang itu menggoyang-goyangkan tangannya, membalikkan tubuhnya terus melangkah maju. Lauw Hwie tidak menyangka orang itu akan pergi begitu saja hingga hatinya merasa sangat gembira. Ketika orang itu melangkah lima langkah, hati Lauw Hwie berdetak. Pikirnya, meskipun paras dan tingkah lakunya sangat aneh, tapi kelihatannya sedikit pun tidak bermaksud jahat pada dirinya. Mungkinjuga ia telah mengetahui dirinya sedang mengalami kesukaran dan mau membantunya dengan setulus hati? Kini memang dirinya berada dalam kesukaran, kenapa lantas menolak kebaikan hatinya? Lauw Hwie terus berlari mengharpkan ia dapat lolos dari kejaran orang itu. Tapi kini pikirannya telah berubah. Bukan saja ia tidak lari, malah berteriak memanggil : "Cian Pwe silahkan berhenti dulu!"

Orang itu masih berjalan dengan pelan.

"Kau kan tidak ada apa-apa, buat apa memanggil aku?"

Lauw Hwie maju beberapa tindak, "Saya... memang ada suatu hal. Cuma baru pertama kali bertemu dengan Cian Pwe... saya tidak berani menyusahkan Cian Pwe hanya karena persoalan saya itu."

Memang Lauw Hwie sangat cerdik, sekarang pun ucapannya sangat menarik. Orang itu tertawa : "Ini baru bagus, apa persoalannya?" Ia berkata sambil membalikkan tubuhnya. Lauw Hwie berpikir sejenak, lalu katanya : "Be... berapa hari yang lalu, sya... saya berkelahi dengan orang, lalu dengan tidak sengaja orang itu terbunuh."

Apa yang hendak dikatakan Lauw Hwie adalah ia telah membunuh seseorang. Tetapi diucapkannya dengan cara yang sangat halus seperti kesalahan itu bukan terletak pada dirinya.

Orang itu memutar-mutar matanya, lalu menggoyangkan kepalanya : "Rupanya salah bunuh. Hal itu dapat menjadi besar, dapat pula menjadi kecil. Andaikat membunuh seseorang pengemis kotor, dan membunuh seorang raja, sama-sama seorang manusia, tapi besar kecilnya tidak sama."

Berkata Lauw Hwie, "Orang itu ialah..." Baru berkata sampai disni, ia telah berhenti.

Lauw Hwie berpikir, mau tak mau ia harus minta bantuan orang ini, maka ia harus menceritakannya, lalu menggigit bibirnya dan berkata : "Orang itu datang dari pulau Thian In, ia menamakan dirinya cucu dari pemilik pulau itu."

Orang itu meluruskan tubuhnya, tadinya ia membongkokkan tubuhnya seperti seekor monyet besar, kini tubuhnya diluruskan, tingginya ada delapan kaki, rupanya seorang tinggi semampai, tetapi tubuhnya hanya diluruskannya sebentar, segera membongkok lagi : "Nak. Ini agak sukar sedikit, tadi aku melihat anak pemilik pulau Thian In, kau tahu, ia datang mencari kau."

Kata Lauw Hwie : "Saya tahu, dia... telah membawa kakakku."

Orang itu mendehem : "Aku sudah mengerti, kamu kakak beradik membunuh orang itu, ya?"

Muka Lauw Hwie berubah dan berkata dengan terputus- putus : "Ya... kami berdua yang... menghadapinya... tetapi... orang itu yang turun tangan lebih dulu, maka kami terpaksa melayaninya." Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Belum tentu, belum tentu."

Hati Lauw Hwie berdetak-detak, apa yang dikatakannya pada orang itu memanglah omong kosong belaka, tetapi ia tidak tahu bagaimana orang itu dapat tahu apa yang dikatakannya itu tidak benar. Buru-buru ia berkata : "Benar begitu."

"Hi hi" orang itu tertawa : "Nona kecil, rupanya kau telah lupa siapa aku."

Lauw Hwie tertegun : "Siapa kau?"

"Aku adalah saudara Giam Ong!" kata orang itu. "Berdongeng!" ujar Lauw Hwie.

"Bukan berdongeng, kalau aku adalah saudara Giam Ong, tentu aku mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di neraka. Kalau ada setan-setan yang mati penasaran datang mengadu, mereka harus melalui aku dulu. Aku memungut uang semir, baru mereka dapat lahir kembali di dunia hari itu. Kebetulan aku ketemu anak itu, yang berlumuran darah, harta bendanya telah hilang semuanya, sepeserpun tidak ada lagi. Baru bertemu dengan aku, lantas dia berteriak : "Aku penasaran sekali..."

Cerita itu diuraikan secara menarik sekali, kalau orang yang mendengarnya tidak ada hubungan apa-apa, walaupun nadanya terasa agak aneh, paling-paling hanya bisa tertawa geli. Tetapi didengar dalam telinga Lauw Hwie, karena ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan hal itu, maka ia terasa sangat menyeramkan. Tubuhnya gemetaran, dan giginya terus beradu-adu hingga menimbulkan suara tek tek tek.

Orang itu menampakkan giginya lagi : "Nona kecil, apa yang diceritakan roh penasaran itu padaku, lain dengan apa yang ku dengar dari kau!" Kata Lauw Hwie terputus-puts : "Dia... dia... itu... berbohong..." Ucapan itu belum habis, tapi ia telah merasakan perkataannya itu lucu sekali, karena orang itu telah tahu segala-galanya. Apakah memang ia betul-betul telah bertemu dengan roh penasaran di neraka?

Orang itu berkata dengan serius : "Oh rupanya roh penasaran itu bohong. Kalau begitu dia yang salah! He anak itu berani membohongi aku, nanti aku tangkap lagi untuk ditanya lebih lanjut."

Muka Lauw Hwie menjadi pucat : "Apa... apa... yang kamu katakan?... Mau... menangkap roh anak itu?"

"Ya!" kata orang itu.

Lauw Hwie tertawa pahit, coba menenangkan dirinya, katanya : Apakah kamu bisa? Kamu bisa menangkap roh?"

Orang itu mengakak : "Kau lupa lagi siapa aku?"

Lauw Hwie mengumpat dalam hatinya : mungkin orang ini sedang bergurau, siapa yang dapat menangkap roh? Kalau terus menerus merasa takut, ini pun bukan suatu cara baik, maka ia memberanikan dirinya bertanya : "Tentu saja tidak lupa, kamu adalah saudara Giam Ong."

"Ya, aku adalah saudaranya Giam Ong, masa aku tidak bisa menangkap roh untuk ditanyai? coba kamu lihat, aku panggil dia datang, dia pasti datang."

Sampai disini, orang itu berteriak dengan meninggikan suaranya : "Hai! Roh penasaran, ayo keluar!"

Mendengar orang itu berteriak dengan sungguh-sunguh, Lauw Hwie yang berdiri di sampingnya itu berpikir dalam hatinya, mungkin orang ini sedang bersandiwara, sudah sampai disini, seharusnya ia sudah berhenti, masa ia bisa betul-betul memanggil roh. Tetapi, ketika Lauw Hwie berpikir demikian, tiba-tiba muncullah seorang dengan terhuyung- huyung dari semak-semak. Semak itu berjarak jauh juga dari Lauw Hwie, tapi disinari matahari, dapat dilihat dengan jelas. Ketika melihat ada orang betul-betul keluar dari semak, Lauw Hwie ternganga. Orang itu datangnya cepat sekali, sekejap saja ia telah sampai di hadapan mereka. Dilihatnya rambut orang itu acak-acakan, sekujur tubuhnya kotor berlumuran darah, seakan memang betul-betul roh penasaran. Setelah melihat dengan jelas, Lauw Hwie menjerit sambil melompat mundur tiga tindak, ia berdiri di depan batu besar, dalam sekejap saja napasnya terengah- engah.

Orang yang berlumuran darah itu, dikepalanya terdapat sebuah luka bekas bacokan, dilihat sepintas lalu, luka masih mengucurkan darah segar, sangat mengerikan. Apalagi dilihatnya dalam mata Lauw Hwie, lebih mengerikan lagi, karena orang berlumuran darah itu adalah orang yang dibunuhnya.

Suatu hal yang tak dapat dipercaya adalah roh penasaran itu bisa muncul di siang hari bolong. Tetapi orang yang yang berdiri di hadapannya itu dapat dilihatnya amat jelas sekali. Orang mati tidak mungkin hidup kembali dan Lauw Hwie tahu seseorang mengalami luka separah itu, sukar untuk hidup lagi. Kalau demikian, yang berdiri di hadapannya itu manusia atau bukan? Kalau bukan orang... apa pula yang berlumuran darah itu?

Mata Lauw Hwie terbelalak, orang yang berlumuran darah itu sungguh sangat menakutkan hingga membuat bulu romanya berdiri, dan tubuhnya tak tertahan lagi bergidik dua kali.

Lauw Hwie tidak mau memandang orang itu lebih lama, namun matanya terus menatap ke depan, hingga ia tidak mempunyai keberanian untuk mengalihkan pandangannya. Orang berlumuran darah itu makin lama makin dekat, sampai di hadapan Lauw Hwie dan orang setengah baya itu, lalu berhenti. Gerak geriknya tidak bersuara setelah berhenti. Ia pun tidak bersuara, tetapi sepasang matanya, terus memancarkan sinar cerah yang sukar dilukiskan, memandang Lauw Hwie. Lauw Hwie merasakan matanya berkunang- kunang, kepalanya ingin pecah. Tiba-tiba ia menjerit, lalu meranjakkan tubuhnya ingin kabur.

Tetapi, baru tubuhnya melesat, orang setengah baya itu telah mencekal tangannya dan menariknya : "Mari, mari, roh penasaran itu telah datang. Kamu berdua boleh saling berikan keterangan, biar aku menjadi sebagai Giam Ong untuk sementara dan emngambil suatu keputusan yang adil!" Suara orang setengah baya itu sangat menyeramkan, ditambah lagi dengan pandangan aneh yang dilontarkan orang yang berlumur darah itu, hingga dalam sekejap saja membuat Lauw Hwie merasakan seakan-akan dirinya benar-benar berada di neraka, lidahnya kaku, tubuh membeku, tidak dapat bicara.

Orang setengah baya itu tertawa cekikikan : "Eh, kenapa kau tidak bicara? Tadi kau masih ngomong, katamu orang yang kau bunuh itu memang harus mati, kini roh penasaran itu telah ku panggil, kenapa kau tidak mau bicara?"

Kini hati Lauw Hwie kaget setengah mati. Ia berusah memiringkan kepalanya untuk tidak melihat orang yang berlumur darah itu dan tenggoroknya menjadi kering, tidak bisa mengatakan apa-apa. Didesak oleh orang setengah baya itu, baru ia berkata dengan sangat terpaksa : "Kau... kau sebenarnya siapa?"

Orang setengah baya itu tertawa lagi : "Pertanyaanmu itu, tanya aku atau tanya dia?"

"Tanya kau!" kata Lauw Hwie dengan napas yang terengah-engah.

"Ai," orang itu tertawa lagi : "Nona kecil, kenapa daya ingatmu jelek sekali. Sudah berapa kali ku katakan adalah saudaranya Giam Ong." Lauw Hwie tadinya adalah seorang yang sangat cerdik, tapi kini hatinya kacau balau, ia tidak berdaya apa-apa : "Kau jangan mempermainkan aku lagi, kau mau apa, katakanlah terus terang!"

Orang setengah baya itu berkata dengan perlahan : "Aku mau apa? Orang yang mati di bawah tanah itu bukan aku, aku tidak mau apa-apa,cuma roh penasaran ini yan gmau membuat perhitungan denganmu. Aku pun tidak tahu ada keruwetan apa antara kamu seorang manusia dan setan ini, biarlah kamu sendiri yang urus, aku tidak mau turut campur," katanya sambil melepaskan tangan Lauw Hwie, dan memiringkan tubuhnya. Ketika ia memiringkan tubuhnya, tidak terlihat ada gerakan apa, tiba-tiba tubuhnya telah mental ke atas, bagaikan sebuah tonggak yang dipentalkan ke udara.

Setelah tubuhnya mental di udara, orang setengah baya itu menggoyangkan kedua tangannya, lalu tubuhnya turun ke bawah. Baru menyentuh tanah lalu mental kembali, dalam sekejap saja telah hilang bayangannya.

Melihat orang setengah baya itu pergi, hati Lauw Hwie terperanjat, karena setelah orang itu pergi, tinggalkan ia seorang diri yang berhadapan dengan 'roh penasran' itu. Bagaiman ia tidak menjadi lebih kaget lagi? TEtapi ia balik berpikir, tadi ketika ia ingin kabur, 'roh penasaran' itu tidak berbuat apa-apa; malah orang setengah baya itu yang mengulurkan tangan mencekal dirinya. Kini orang itu telah pergi, kalau tidak kabur sekarang,tunggu kapan lagi?

Pikirannya itu terjadi dalam sekejap saja. Setelah ada keputusan,ia tidak sungkan lagi, tubuhnya beranjak melesat ke atas, empat lima kali jungkir balik, orangnya telah berada sejauh tujuh delapan tombak. Ia tidak mendengar ada suara orang mengubernya dari belakang, hatinya menjadi tenang. Tetapi ia tidak berani menoleh ke belakang, terus lari kalang kabut ke depan. Sekejap saja ia telah lari sejauh enam tujuh li, dilihatnya di depannya ada sebuah desa kecil. Di depan desa itu terdapat beberapa pohon dan ada beberapa orang di bawahnya yang sedang makan-makan dan minum-minum. Begitu melihat ada manusia, hati Lauw Hwie menjadi agak tenang, langkahnya diperlambat, hatinya masih juga kaget, jangan-jangan 'roh penasaran' itu masih mengikutinya dari bealkang. Setelah ia melihat di belakangnya betul-betul tidak ada orang lagi, baru ia dapat menghela napas dengan lega, mengangkat kakinya maju perlahan-lahan. Sampai di hadapan orang desa itu pada menengadah melihatnya. Lauw Hwie merasa sangat dahaga, ia berlaku tidak sungkan-sungkan mengangkat teko teh seraya berkata : "Minta tehnya." Ia mengambil teko dulu baru bicara, lalu mengambil sebuah cawan menuang teh, dan pada saat inilah ia baru tahu wajah orang-orang desa itu agak aneh, mata mereka pada melihatnya.

Lauw Hwie berkata dengan agak marah : "Lihat apa? aku cuma minta secawan air teh, bukan minta nyawa kamu. Ada apa yang patut dilihat?"

Orang-orang desa itu semuanya peladang, di samping mereka terletak pacul, rupanya mereka baru pulang dari ladang. Tetapi kini, wajah mereka menjadi pucat-pucat semuanya. Masih lumayan kalau Lauw Hwie tidak bersuara, setelah ia bersuara, terdengar teriak mereka : "Ada hantu." Mereka berteriak sambil mengangkat kaki seribu. Tingkah laku orang-orang desa yang mendadak itu membuat hati Lauw Hwie berdebar-debar, ia hanya menganggap 'roh penasaran' itu berada di belakangnya lagi, maka mengagetkan orang- orang itu hingga mereka kabur. Buru-buru ia menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Ketika ia menoleh lagi, melihat ada satu dua orang desa yang bergerak agak lamban yang masih berteriak-teriak, hingga membuatnya menjadi marah. Buru-buru ia mengumpulkan tenaga murninya mengangkat tubuhnya. Walaupun orang-orang desa itu berlari dengan cepat, tapi mana dapat menandingi ilmu mengentengkan tubuh Lauw Hwie? Sekali kelebat saja,ia atelah dapat menyusul seorang desa yang larinya terbelakang sekali. Diulurkannya tangannya mencekal bahu orang itu, dan menarik secara kasar : "Mengapa kau berteriak? Dimana hantu itu?" Wajah orang desa itu menjadi pucat sekali, katanya terputus-putus : Kau... kau... bukan... hantu?"

Lauw Hwie dengar, agak terperanjat : "Aku hantu? Ada apa yang aneh di mukaku?" katanya sambil mengusap-usap mukanya. Ketika tangannya meraba pipinya, ia jadi terpaku.

Rupanya apa yang dirabanya itu adalah sesuatu yang basah dan dingin, seakan darah segar yang hampir membeku tapi belum beku sama sekali. Hati Lauw Hwie sangat terperanjat, buru-buru ia menurunkan tangannya, dilihatnya tangannya itu penuh dengan warna merah menyala, apa lagi kalau bukan darah?

Muka Lauw Hwie penuh dengan darah. Dari mana datangnya darah itu? Dan kapan pula darah itu terpoles di mukanya? Ia mematung saking kagetnya, tentu saja ia tidak berniat untuk mencekal orang desa itu lebih lama. Orang desa ituterlepas dari cengkeraman mau, ia lari terbiri-birit.

Lauw Hwie terpaku, sesaat kemudiania baru mendusin. Ia tahu persoalan hari ini agak aneh, yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya. Orang setengah baya yang mengaku saudaranya Giam Ong itu, orang yang berlumuran darah itu... kesemuanya ini, jangan-jangan ditujukan pada dirinya sendiri. Kalau tidak berusaha mengelak, jangan-jangan dirinya akan tertimpa balasan hukum karma.

Ketika ia memikirkan keadaan dirinya sendiri yang berada dalam bahaya, timbullah suatu perasaan yang sangat takut dalam hatinya. Segera ia terasa, walaupun dunia ini sangat besar, tapi tidak ada tempat baginya untuk berteduh. Ia mengitari pohon-pohon itu, membuat satu lingkaran. Tiba-tiba ia menengadah, dilihatnya ada asap mengepul dari desa itu, hati Lauw Hwie berdetak dan mengumpat dalam hatinya, desa ini sangat terpencil,kalau bersembunyi disana, jangan-jangan musuhnya takkan dapat mencarinya.

Ia berpikir dapat bersembunyi di desa itu, buru-buru mengangkat tubuhnya melesat melayang ke depan.

Sepanjang jalan, ia telah berpikir masak-masak, tidak langsungmasuk ke desa itu, hanya berhenti di sebuah gubuk yang berada di luar tembok dari desa itu. Ia mendekati tembok, pasang kuping dengan seksama, terdengar ada suara rintihan yang mengalun dari dalam. Tampaknya seakan ada orang yang sedang sakit di dalam gubuk itu. Lauw Hwie merasa sangat tepat dengan pikirannya, buru-buru mendatangai pintu depan dan mendorongnya. Pintu itu berdenyit terbuka, terdengar suara tarikan napas yang terengah-engah dari dalamnya.Kemudian ada suara orang berkata dengan tidak ada tenaganya : "Kau sudah kembali?

Cepat berikan aku secawan air."

Lauw Hwie berdiri di pintu tidak bersuara. Lalu ia melangkah masuk, karena dalam gubuk itu sangat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa. Berselang sesaat baru dapat melihat isi gubuk itu, kecuali sebuah bale, sebuah perapian, tidak ada lagi yang lain. Boleh dikatakan kosong melompong. Di atas bale itu ada sebuah tikar, di atas tikar itu ada seorang meringkuk, rupanya orang inilah yang merintih dan minta air tadi. Lauw Hwie mengumpat dalam hatinya, orang ini tentulah orang yang termiskin di desa ini. Betul apa yang dikatakan pepatah, orang kaya biar jauh di balik gunung, masih ada yang tanya, orang miskin di sebelah tidak ada yang sebut- sebut. Keluarga ini rupanya tidak mempunyai anak, yang satu berbaring di atas bale sedang sakit, yang satu lagi, taruhlah hilang beberapa hari, tentu tidak ada orang tahu. Kalau begitu, ia hanya membunuh dua orang ini, lalu ia dapat bersembunyi beberapa hari lamanya.

Lauw Hwie berpikir sambil melangkah maju, sampai di pinggir bale, katanya : "Kau mau air." Orang yang meringkuk itu merintih : "Ya, aku haus sekali. aku terluka hampir 70 lubang, hampir saja kau mati kehausan."

Tadinya Lauw Hwie bicara seraya mengangkat tangannya untuk memukul mematikan orang itu. Tetapi tiba-tiba ia mendengar orang itu berkata demikian, ia tertegun. Dan ketika tertegun itulah, orang yang berbaring di atas bale telah bangkit duduk. Cahaya di dalam gubuk itu sangat gelap.

Ketika orang itu duduk Lauw Hwie pun dapat melihat muka orang itu penuh dengan kotoran bekas darah, sepasang matanya memancarkan sinar yang aneh dalam kegelapan. Dia bukan orang lain, di adalah 'roh penasaran' yang hendak dielaknya.

Sekejap saja, Lauw Hwie ingin melangkah mundur, tetapi kedua kakinya menjadi lemas, dan 'gedebuk', ia terkulai di atas tanah. Buru-buru ia menekan pinggiran bale ingin bangkit berdiri, terdengar orang yang berlumuran darah itu bicara lagi

: "Lauw Ko nio, lama tidak jumpa, kau baik-baik saja?" Ia membuka suara, terasa suasana lebih menyeramkan lagi, hingga sekujur tubuh Lauw Hwie menjadi dingin. Mana mungkin Lauw Hwie menjawabnya? Ia hanya berusaha untuk menggerakkan tubuhnya supaya tidak begitu dekat dengan bale-bale itu. Tetapi ini pun tidak dapat dilaksanakannya.

Malah 'roh penasaran' itu yang bergerak lagi dan mengulurkan tangan menekan lengan Lauw Hwie. Kedua tangan Lauw Hwie menekan pinggiran bale, melihat orang itu menekan tangannya, buru-buru ia ingin menarik tangannya, tapi sudah terlambat, tangannya ditekan iotu dengan kuat. Lauw Hwie merasakan tangan orang itu dingin sekali, tangan orang hidup sungguh tidak mungkin sedingin ini. Kini yang menekan tangannya, seakan bukan tangan melainkan sebatang es.

Lauw Hwie berkata dengan napas terengah-engah : "Kau... kau... kau..." Orang itu membuka mulutnya menampakkan gigi putihnya yang menyeramkan itu, katanya : "Lauw ko nio, tentu kau kenal padaku bukan?" Aku adalah orang yang menanya jalan tempo hari, kau tidak lupa bukan?"

Lauw Hwie dengar, kepalanya mendengung, terasa olehnya dunia ini berputar-putar. Ia hanya teringat ucapan ini, "Aku adalah orang yang menanya jalan tempo hari."

Hari itu... hari itu... dalam ketidaksadarannya, Lauw Hwie samar-samar teringat kembali pada hari itu.

***

Hari itu udara cerah sekali, di atas jalanan ada dua ekor kuda yang sedang berpacu. Di belakang kuda itu diikuti oleh empat ekor anjing pemburu yang bertampang galak-galak, dan raungan mereka nyaring sekali, di atas kepala mereka sedang terbang berputar dua ekor burung elang pemburu. Di atas punggung kuda itu ada sepasang muda mudi, gagah perkasa, mereka itu adalah Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie. Keduanya meninggalkan rumah pergi berburu. Hari ini cerah sekali, tapi mangsa mereka tidak begitu banyak. Lauw Jok Hong mengangkat pecutnya mengajak Lauw Hwie menuju ke gunung. Jalan gunung itu berliku-liku. Setelah melewati enam tujuh li, di depan tidak ada jalan lagi. Lalu Lauw Jok Hong berhenti, katanya : "Moy cu, jangan-jangan disini ada mangsa besar." Ucapan Lauw Jok Hong baru habis, terdengar dalam semak di hadapan mereka berkeresekan gerakan. Lauw Hwie sangat cepat, segera membentangkan busurnya dan 'ser' sebuah anak panah dilepaskannya. Tetapi tidak ada hewan yang keluar, hanya seseorang tiba berdiri dari semak itu.

Tangannya mengapit panah yang dilepas Lauw Hwie tadi. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua menjadi terperanjat, dan "Ah!" teriak mereka.

Dalam semak itu ada orang, ini di luar dugaan Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, dan panah yang dilepaskan Lauw Hwie tadi, kini berada dalam tangan orang itu. Rupanya oran gitu pandai silat, itulah yang membuat Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie menjadi kaget. Tetapi mereka mengandalkan ketenaran nama ayah mereka di kalangan kang ouw, mereka bukan saja tidak menyatakan penyesalan mereka, malah memandangnya dengan pandangan hina. Orang itu berkata seraya mengangkat panah : "Kalian berdua menganggap manusia sebagai hewan, itu adalah keliru."

***

Walaupun orang itu membuka mulut dengan nada kurang puas, tapi masih disertai senyum simpul. Kalau saja Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua mengucapkan sedikit perkataan rasa penyesalan mereka, hujan ribut itu pasti takkan terjadi. Tetapi Lauw Hwie telah menjadi marah dulu melihat anak panah yang dilepasnya berada dalam tangan orang itu, katanya seraya tertawa dingin : "Kau adalah manusia?

Jangankan tadi kau bersembunyi di semak, aku tidak dapat membedakannya, sekarang kau berdiri, aku pun tidak dapat membedakannya!"

Orang itu dengar, mukanya segera berubah. Orang ini masih muda, sekitar berumur 24 atau 25 tahun, wajahnya tidak tampan, boleh dikatakan agak jelek. Tetapi biar ia lebih jelek lagi, masih tetap seorang manusia; mengapa dikatakan tidak dapat dibedakan apakah ia manusia atau hewan setelah berdiri? Setelah mukanya berubah, orang itu maju setindak seraya berkata : "Nona ini, apa maksud ucapanmu itu?"

Lauw Jok Hong menengadah ingin membentak, tetapi sebelum ucapannya terlontar, tiba-tiba ia melihat orang itu telah mengulurkan tangannya menuding Lauw Hwie. Di tangan kanannnya terlingkar oleh sebuah gelang zamrud. Gelang zamrud itu terukir dua ekor naga yang seakan-akan hidup, ini rupanya adalah barang pusaka yang tidak ternilai harganya.

Begitu melihat gelang zamrud itu, pikir Lauw Jok Hong telah berubah. Ia pun buru-buru melangkah maju setindak sembari mengulurkan tangan kirinya ke belakang dan digoyang-goyangkannya pada Lauw Hwie, minta Lauw Hwie jangan bersuara. Ia berkata sambil tertawa : "Sahabat jangan marah, adik saya masih kecil, ucapannya kalau menyakiti hati sahabat biarlah saya yang minta maaf."

Tadinya Lauw Hwie masih tidak mengerti kenapa Lauw Jok Hong tiba-tiba saja dapat berlagak serendah hati itu. Ia pun buru-buru melangkah maju setindak. Baru ia dapat melihat pandangan mata Lauw Jok Hong jatuh di atas pergelangan orang itu. Rupanya di pergelangan orang itu terdapat sebuah gelang zamrud yang berharga sekali. Kini barulah ia mengerti, maka ia diam saja tidak bersuara.

Orang itu mendengar Lauw Jok Hong telah minta maaf, mukanya pun menjadi cerah, katanya dengan ramah : "Itu tidak apa-apa, cuma agaknya kurang baik kita bicara lantas menyakiti hati orang."

Lauw Jok Hong tertawa : "Memang betul ucapan anda, kalau kita tidak beradu, kita tidak kenal. Mari kita berkawan!" Ia mengulurkan tangan.

Orang itu melihat Lauw Jok Hong berwajah tampan, pakaiannya mewah. Walaupun agak congkak, tapi tampaknya tidak seperti orang jahat, lebih-lebih ia tidak curiga Lauw Jok Hong bisa berniat jahat, maka ia pun mengulurkan tangan menjabat tangan Lauw Jok Hong. Tapi di luar dugaannya, Lauw Jok Hong adalah orang yang sangat licik, begitu ia mencekal tangan orang itu, lantas ditariknya dengan kuat.

Tarikan itu sangat kuat, ditambah dengan orang itu sama sekali tidak bersiaga, kena tarikan begitu, keruan saja orang terpeleset ke depan.

Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong berdua tidak pernah berbuat baik, tapi kerja sama untuk berbuat jahat baik sekali. Begitu orang itu terjatuh ditarik Lauw Jok Hong, segera Lauw Hwie melangkah maju mengangkat tangannya memukul punggung orang itu dengan keras sekali. Lauw Hwie memukul, Lauw Jok Hong melepas tangan mundur. Pukulan Lauw Hwie itu keras sekali, yang kena sasarannya itu adalah tempat penting, sekejap saja orang itu mendehem dan terjungkir di atas tanah. Dan Lauw Jok Hong tidak tinggal diam, buru-buru ia melangkah kakinya menendang kepala orang itu.

Kedua serangannya itu mengenai tempat penting, orang itu menjerit, baru sampai setengah ia telah pingsan.

Lauw Jok Hong berkata dengan girang : "Moy cu, kau lepaskan gelangnya, biar aku geledah tubuhnya, apakah ada barang berharga lainnya."

Lauw Hwie tertawa terkekeh-kekeh : "Hari ini berburu, tak disangka orang ini menjadi sasaran kita, sungguh menarik sekali." Dengan kuat ia melepaskan gelang zamrud itu.

Kini Lauw Jok Hong telah mendapatkan sebuah kantong kulit ikan dari tubuh orang itu, dibalikannya kantong kulit ikan itu mengeluarkan isinya. Tetapi ketika isi kantong kulit ikan itu tertumpah, ia menjadi terpaku. Lauw Hwie yang sedang tertawa terkikik itu pun menjadi terpaku pula. Buru-buru Lauw Jok Hong mencekal mulut kantong, agar isinya tidak terus keluar, yang keluar separuh itu saja sudah cukup membuat mereka ternga-nga. Terlihat di atas rumput berserakan mutiara-mutiara sebesar lengkeng dan intan-intan yang kehijau-hijauan, yang berkilau-kilauan disinari matahari.

Mereka berdua belum pernah melihatnya, walaupun dalam mimpi.

Keduanya tertegun sesaat, lalu Lauw Hwie menarik napas panjang : "Oh Thian, apakah orang ini dewa harta?"

"Jangan banyak bicara, lekas kumpulkan barang-barang ini.

Jangan sampai dilihat orang, kita boleh dikatakan sangat beruntung," kata Lauw Jok Hong.

Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong berdua, buru-buru memunguti intan berlian yang berserakan di atas rumput itu satu persatu. Dimasukannya kembali ke dalam kantong kulit ikan, Lauw Jok Hong mendesak lagi : "Ayo, kita lari." "Lari?" kata Lauw Hwie.

"Tentu saja, kita telah mendapatkan keuntungan yang besar sekali. Apa lagi yang kita tunggu? kata Lauw Jok Hong.

"Ya, masa membiarkan orang ini menjadi saksi hidup?" kata Lauw Hwie.

"Ah," kata Lauw Jok Hong : "masih kau yang lebih teliti." Ia membalikkan tangan mencabut pedangnya, lalu ditusukannya ke ulu hati orang itu.

Tusukan itu keras sekali, tapi entah karena Lauw Jok Hong terlalu gembira atau hatinya merasa nyeri, ketika ia menusukkan pedangannya tangannya gemetar, hingga tidak mengenai sasarannya, hanya bahu orang itu yang tertusuk.

Tadinya orang itu pingsan, tapi tiba-tiba bahunya tertusuk, kesakitan yang mendadak itu malah membuatnya siuman, membuka matanya, segera meraung dan meranjak berdiri. Lauw Jok Hong melihat orang itu tadinya terkapar tidak berkutik, kini malah berdiri kena tusukannya, hingga membuatnya terperanjat bukan kepalang. Ia pun berteriak dan mundur lima enam tombak, baru ia dapat berdiri. Kini orang itupun telah berdiri; pedang panjang Lauw Jok Hong masih tertancap di bahunya, darahnya terus mengucur keluar dan telah melumuri setengah dari tubuhnya menjadi merah. Muka orang itu menjadi hijau, wajahnya jelek sekali, sepasang matanya memancarkan sinar aneh memandang Lauw Jok Hong.

Dalam keadaan begini, Lauw Jok Hong telah menjadi kelabakan untuk sesaat, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Malah Lauw Hwie yang agak tenang, melihat keadaannya kurang beres, segera ia menghunus pedangnya.

Lauw Hwie berada di belakang orang itu, suara cabutan pedang itu membuat orang itu membalikkan tubuhnya. Lauw Hwie melihat pandangan orang itu penuh dengan kebencian, hatinya pun berdetak, hanya menjaga dadanya dengan pedang, tidak berani menyerang. Terdengar orang itu menjerit dua kali yang sangat tidak sedap didengar, lalu mengulurkan tangannya mencabut pedang yang tertancap di bahunya, pedang panjang itu tercabut, darah segarnay mancur dari lukanya. Segera orang itu mengulur tangan menotok jalan darah di sekitar bahunya untuk mencegah darahnya terus mengalir, lalu mengalihkan pedang ke tangan kirinya, seraya menjerit : "Sudah bertahun-tahun tidak datang ke Tiong Goan, rupanya dunia persilatan Tiong Goan telah sangat berubah!"

"Lauw Hwie melihat, setelah orang itu menotok jalan darahnya, tangan kanannya telah terkulai ke bawah, rupanya tidak dapat digerakkan lagi. Kini hatinya menjadi tenang kembali, karena biarpun orang itu berilmu sangat tinggi, ia hanya tinggal separuh, masa kami kakak beradik berdua tidak mampu melawan orang yang tinggal separuh itu?

Segera Lauw Hwie tertawa dingin : "Keadaannya masih seperti biasa, hanya orang tolol yang bisa mati penasaran."

Orang itu tertawa panjang : "Ya?" Gerakannya cepat sekali, ucapannya baru habis, tubuhnya telah melesat satu tombak lebih dan telah berada di hadapan Lauw Hwie. Walaupun ia memegang pedang dengan tangan kirinya, tadi gerakannya cepat sekali. Dan senjata yang biasa digunakan orang ini bukanlah pedang, karena jurusan pedang yang dilancarkannya itu aneh sekali, pedang panjang itu membacok lurus-lurus dari atas ke bawah. Lauw Hwie tidak mengira gerakan orang itu secepat ini, terasa sebuah angin kencang menyerang mukanya. Segera Lauw Hwie menelentangkan tubuhnya ke belakang, ketika ia rebah, bersamaan dengan itu ia telah melepaskan lima enam buah senjata rahasia berbisa ke arah orang itu dari lengan jubahnya dengan kecepatan kilat.

Bacokan orang itu baru sampai setengah, tiba-tiba ia mengirimkan pedangnya membuat sebuah lingkaran menangkis senjata rahasia Lauw Hwie, Lauw Hwie menggunakan kesempatan ini untuk beranjak lalu melayang sejauh tujuh delapan tombak, teriaknya : "Ji ko, buat apa kau berdiri mematung disitu? Lekas turun tangan!"

Setelah menangkis senjata rahasia, orang itu seakan bayangan mengikuti bendanya. Segera ia telah berada di muka Lauw Hwie dan menusuk untuk kedua kalinya. Lauw Hwie mengelak lagi. Lauw Jok Hong menyaksikan dengan hati berdebar-debar. Walaupun ia mendengar panggilan Lauw Hwie tetapi ia masih tetap mematung, tidak bererak sedikitpun, hingga membuat Lauw Hwie tidak bisa menangkis serangan dahsyat dari orang itu. Terpaksa ia mundur lagi, dalam sekejap saja ia telah mundur lima enam tombak dan terus menjerit-jerit tak henti-hentinya. Tampaknya orang itu tambah lama tambah gagah. Walaupun tubuhnya tidak bergerak, namun mata Lauw Jok Hong tidak pernah lepas dari Lauw Hwie dan orang itu. Dilihatnya ketika orang itu menyerang keempat jurus, karena tenaganya terlalu keras, luka bahunya menyemburkan darah lagi.

Melihat keadaan ini, hati Lauw Jok Hong menjadi girang, teriaknya : "Moy cu jangan takut, kita tidak perlu tangan.

Orang ini pasti takkan dapat bertahan!" Padahal waktu Lauw Jok Hong tidak perlu berteriak, Lauw Hwie pun telah tahu.

Ketika tadi Lauw Jok Hong menusukkan pedangnya, tenaganya keras sekali, pedang itu hampir saja menembusi bahu orang itu, maka kini lukanya itu mengeluarkan darah lagi membasahi bahu, tubuhnya menjadi merah. Ketika orang itu membalikkan tubuh menerjang terus membabatkan pedangnya, darahnya terus memercik ke sekeliling mengikuti kelebatan sinar pedangnya. Melihat keadaan begini, biar orang ini berilmu lebih tinggi lagi, ia takkan mungkin bertahan lama.

Berpikir sampai disini, hati Lauw Hwie menjadi tenang.

Setelah hatinya tenang, gerakannya lebih manis lagi. Orang itu menyerangnya empat lima jurus lagi, tenaganya telah berkurang, akhirnya mundur ke sebuah pohon dan bersandar di pohon itu menarik napas terengah-engah. Kata Lauw Hwie sambil tertawa : "He jurus pedangmu hebat sekali! Kenapa tiba-tiba berhenti?"

Orang itu meraung menerjang lagi. Kali ini terjangannya baru sampai setengah,sudah kehabisan napas."Gedebuk" terkulai di atas tanah dan tidak dapat bangun lagi. Lauw Hwie tertawa mengakak, orang itu membalikkan tangannya melemparkan pedang dalam tangannya pada Lauw Hwie, tapi kini tenaganya telah habis. Walaupun pedangnya masih dapat menyambar Lauw Hwie tapi setelah sampai di muka Lauw Hwie, tangannya tidak kuat dan dapat ditangkis jatuh oleh Lauw Hwie dengan pedangnya.

Tadinya Lauw Jok Hong tidak berani mendekat, kini ia buru-buru mendekat bagai seorang jagoan, lalu mengangkat kakinya menginjak punggung orang itu tiga kali hingga orang itu mengeluarkan darah dari ketujuh lubangnya dan pingsan tak sadarkan diri. Lalu Lauw Jok Hong melangkah maju memungut pedangnya baru ia mengangkat tangannya ingin menurunkan tangan jahat tiba-tiba terdengar suara Kim yang

nyaring, mengalun sampai ke telinganya. Kedua kakak beradik itu terperanjat, buru-buru menoleh. Terdengar suara Kim itu datangnya dari bawah pohon bambu tidak jauh dari tempat itu.

Kalau ada suara KIm mengalun, tentu ada orangnya.

Sedangkan apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini, sekali-kali tidak boleh diketahui oleh orang lain. Maka hati mereka berdua sangat kaget, saling pandang lalu mereka melangkah keluar dari semak-semak. Sekejap saja mereka telah mendapatkan kembali kuda mereka lalu memacu kuda mereka pulang ke rumah. Di tengah jalan, mereka pun pernah membicarakan persoalan ini. Mereka sama-sama mengira orang itu pasti takkan hidup lagi. Mereka telah membunuh orang, bahkan tidak tahu siap orang itu. Sesampai di rumah, dengan hati-hati mereka menanam intan berlian itu, untuk sementara waktu tidak berani dikeluarkan. Yang membuat hati mereka kecut adalah suara Kim dari pohon bambu itu. Maka ketika mereka mendengar Thian Auw Siang Jin memainkan Kim itu, segera menjadi kaget dan ingin membunuhnya.

Begitu So Beng Hiat In muncul, mereka kakak beradik mengira perbuatan mereka telah diketahui orang hingga persoalan Lauw Nen dan Lauw Hung terbongkar, baru hati mereka merasa tenang. Setelah anak pemilik pulau Thian In datang, baru mereka tahu bahwa orang yang mereka bunuh itu adalah cucu dari pemilik pulau Thain In itu. Lauw Jok Hong dibawa orang, Lauw Hwie mengira ia aman dengan jalan melarikan diri, tapi sama sekali ia tidak menduga ibsa bertemu dengan orang aneh yang mengaku dirinya sebagai kakak Giam Ong, dan memanggil seorang yang tidak mungkin hidup lagi ke hadapannya. Hal ini betul-betul membuatnya menjadi ternganga, telinganya mengiang-ngian tak henti-hentinya. Ia tidak dapat bicara, sedangkan orang berlumur darah itu terus melangkah setindak demi setindak menghampirinya.

Orang berlumur darah itu terus maju mendekati Lauw Hwie, setelah hanya berjarak empat lima kaki baru berhenti. Lalu melebarkan mulutnya tertawa : "Lauw ko nio, mengapa melotot begitu padaku? Apakah tidak kenal padaku?"

Lauw Hwie ingin berteriak, tetapi ketakutan yang tidak ada suaranya itu seakan sebuah lengan yang kuat mencekal lehernya erat-erat hingg tidak memungkinkan dirinya untuk bersuara. Kerongkongannya terus berbunyi kerokokan hingga didengar sendiripun terasa bulu tengkuknya berdiri.

Orang berlumur darah itu cekikikan : "Lauw ko nio, kau sedang meniru bunyi kodok?"

Lauw Hwie meronta dengan sekuat tenaga, baru dapat ia mengucapkan sepatah kata yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan itu : "Kau jangan sembarangan ngomong, siapa yang meniru... bunyi kodok?"

Kini kesadaran Lauw Hwie betul-betul sangat kacau, maka ia tidak membela apakah ia telah membunuh orang atau tidak, tetapi membantah perkataan orang yang mengtakan dirinya meniru bunyi kodok.

'Saudara Gim Ong' dengar, ia tertawa terbahak-bahak : "Ini lucu sekali, kau tidak membicarakan persoalan nyawa orang yang sangat penting itu, malah membantah yang bukan- bukan. Ini ada baiknya, biarlah kamu ngobrol-ngobrol dulu, aku mau istirahat sebentar."

Ia melekukkan tangan menjadi bantal lalu berbaring di atas tanah. Kini perasaan Lauw Hwie sangat kacau, ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilakukan orang, hanya menatap orang yang berlumuran darah itu saja.

Tiba-tiba dalam benaknya yang hampir kaku itu terpikir suatu hal. Ia teringat akan So Beng Hiat In.

Dan hampir saja berbarengan, ia telah menganggap orang yang berlumuran darah itu adalah So Beng Hiat In.

Seseorang yang telah mati, sekali-kali tidak mungkin hidup kembali. Sedangkan orang itu mengalami luka sangat parah. Taruhlah memiliki dua batang nyawa, ia pun harus mati.

Kenapa orang ini masih dapat berdiri di hadapannya dan membuka mulut bicara? Orang yang di hadapannya itu pastilah So Beng Hiat In. Sekujur tubuhnya berlumuran darah, dan bersekongkol dengan 'saudara Giam Ong' mempermainkan dirinya. So Beng Hiat In telah berada di hadapanku!

Walaupun So Beng Hiat In tidak muncul lagi di kalangan kang ouw selama dua puluh tahun, tetapi orang-orang Bu lim memperbincangkan persoalan So Beng Hiat In dari mulut ke mulut banyak sekali. Maka setiap orang yang mempelajari ilmu silat, di sanubari mereka telah tertanam suatu kepercayaan yang mendalam, bahwa ketika So Beng Hiat In muncul,itu suatu mala petaka besar yang akan membinasakan seluruh keluarga. Orang yang menganggap dirinya gagah seperti Lauw Thian Hauw, begitu melihat bayangan darah saja telah kewalahan, apalagi Lauw Hwie?

Kini Lauw Hwie memikirkan So Beng Hiat In telah berdiri di hadapannya, otaknya yang telah menjadi kaku, tiba-tiba mendengung seakan meledak. Bersamaan dengan dengungan itu, hal-hal kejahatan yang diperbuatnya pada masa silam, semuanya terbayang kembali, hingga hatinya sendiripun merasakan bahwa So Beng Hiat In muncul di hadapannya adalah suatu hal yang sangat wajar sekali, kalau tidak tentu itu kurang adil.

Tetapi pikirannya itu hanya melesat sekali saja dalam benaknya. Ia lantas berpikir, ia tidak harus mati, yang mau dicari So Beng Hiat In tidak seharusnya dia, akan tetapi toa ko dan toa ci-nya. Maka ia beranjak dengan satu gerakan yang sangat aneh, lalu berdiri menunjuk pada orang yang berlumuran darah itu sambil tertawa terkikik-kikik : "Kau, sangat tidak adil!"

Orang berlumuran darah itu malah tertegun, sampai 'Saudara Giam Ong' yang beristirahat di samping itu pun turut membuka matanya, wajahnya menunjukkan perasaanyang sangat heran.

Orang yang berlumuran darah itu menoleh, melirik pada 'saudara Giam Ong' yang disebut belakangan ini menganggukkan kepala, seakan menyuruhnya terus bercakap- cakap dengan Lauw Hwie.

Keadaan ini menunjukkan bahwa orang yang berlumuran darah itu bukanlah roh penasaran ataupun So Beng Hiat In yang hidup dalam dongengan, tapi kini Lauw Hwie karena saking takutnya maka syaratnya sangat tegang, mana ia masih memperhatikan segala tingkah laku lawan yang kecil itu? Ia menjerit lagi : "Ini sangat tidak adil!"

Orang yang berlumuran darah dan saudara Giam Ong merasa sangat heran sekali, mereka tidak mengerti apa maksudnya Lauw Hwie berkata begitu.

"Tidak adil, tidak adil?" tanya orang yang berlumuran darah itu.

Suara Lauw Hwie kian lama kian nyaring, jeritnya : "Tidak adil, kenapa kau tidak mencarai Toa ci atau Toa ko-ku?

Kenapa justru aku yang kau cari?"

"Dengan dasar apa aku mencari mereka? Mereka tidak pernah membunuhku," kata orang yang berlumuran dadrah.

Lauw Hwie menjerit lagi sambil tertawa : "Kau jangan pura- pura, kau siapa, jangan kira aku tidak tahu!"

Orang berlumuran darah itu tercengang, dan membalikkan sedikit tubuhnya menghadap dan menggoyang-goyangkan tangannya pada 'saudara Giam Ong'. Andaikata keadaan Lauw Hwie normal, tentu ia tahu bahwa gerak gerik orang yang berlumuran darah itu menunjukkan persoalannya telah diketahui oleh mereka.

Kini, 'saudara Giam Ong' pun berdiri.

Tetapi Lauw Hwie sama sekali tidak mengetahui segalanya ini, masih terus menjerit : "Kau adalah So Beng Hiat In!"

Tadinya orang yang berlumuran darah dan 'saudara Giam Ong'pada melangkah menghampiri Lauw Hwie tetapi ketika mendengar jeritan Lauw Hwie itu, mereka sama-sama berhenti, dan serentak bertanya : "Apa katamu?"

Lauw Hwie menunjuk pada orang yang berlumuran darah itu dan tertawa terkikik-kikik, suaranya sama dengan orang biasa tertawa, namun wajahnya menunjukkan rasa ketakutan yang amat sangat, ditambah lagi dengan wajah yang pucat pasi bagai mayat, maka suara tawanya itu sangat mengerikan orang yang mendengarnya, h ingga dapat mendirikan bulu roma. Ia berkata dengan tangan yang gemetar : "Aku sudah mengenali kau, kau adalah So Beng Hiat In, yang sangat disegani oleh orang-orang Bu lim baik golongan putih maupun golongan hitam. Kau telah meninggalkan bayangan darah di tembok rumahku, kenapa kau datang mencariku? Dan bukan Toa ci atau Toa ko-ku? Selama ini aku baru membunuh dua orang, mana setanding dengan mereka? Mana setanding dengan mereka? Kau..."

Ia menjerit dengan suara yang amat nyaring, bersama dengan itu mukanya terus berubah, tapi bukan dari putih menjadi merah melainkan dari putih menjadi hijau, dan tampaklah mukanya kian lama kian hijau, lama kelamaan menjadi biru, sedangkan perkataannya belum lagi habis, "gedebuk", ia telah terjatuh di atas tanah. Hanya baru saja ia jatuh, lalu bangkit kembali, tubuhnya terhuyung-huyung dan wajahnya menunjukkan perasaan yang sangat ketakutan dan membiru, sekali pandang saja sudah tahu, karena saking takutnya, empedunya telah pecah, mengalir dalam darahnya, maka kulitnya telah menjadi biru. Lauw Hwie memandang pada orang yang berlumuran darah dan 'saudara Giam Ong', menjerit dengan tubuh yang gemetar : "Jangan bunuh aku... jangan bunuh aku... aku bukan apa-apa, carilah orang lain..."

Orang yang berlumuran darah itu menghela napas, seraya membuka kedok yang dikenakan di mukanya.

Setelah kedoknya terbuka, terlihatlah mukanya yang kurus dan pucat tidak bersemangat, rupanya adalah pemuda yang baru sembuh dari sakit keras.

Pemuda itu berkata dengan perlahan : "Lauw kouw nio, walaupun kamu telah mencelakai aku namun aku beruntung telah bertemu dengan seorang yang berilmu tinggi dan terhindar dari maut. Kini kau pun telah menerima hukuman karmanya, aku pun tidak mau menyakiti kau lagi. Hanya sekantong perhiasan itu sangat berguna, sudah kau kemanakan semuanya?"

Mata Lauw Hwie terbelalak memandang pemuda itu.

Wajah pemuda itu tidak lagi menakutkan, karena ia telah lepaskan kedoknya.

Tapi kini Lauw Hwie tidak normal lagi, dalam pandangannya, pemuda itu masih berlumuran darah. Darah itu terus melebar, akhirnya menjadi bayangan dadrah yang berbentuk manusia, persis bayangan darah yang ada di tembok rumahnya.

Lauw Hwie tidak menjawab pertanyaan pemuda itu, h anya membesarkan tenggorokannya menjerit, ketika ia menjerit, rambutnya seakan berdiri semuanya.

Kalau orang bukan merasa sangat ketakutan, keadaan itu tidak mungkin terjadi.

Melihat keadaan ini, pemuda itu tidak dapat lagi bertanya lebih lanjut, lalu membalik memandang 'saudar Giam Ong'. Yang disebut belakangan ini geleng-geleng kepala sambil menghela napas : "Aku ini tidak percaya dengan nasib atau hukum karma, andaikata di dunia ini memang ada hukum karma, dan di dunia ini takkan ada orang jahat lagi. Tapi kini aku tidak bisa percaya lagi. Dulu ia berlaku kejam padamu, tapi kini ia pun telah menerima hukuman karmanya.

Pemuda itu bertanya dengan kaget : "Dia... kenapa dia?" "Kau tidak lihat? Empedunya telah pecah dan mengalir ke dalam darahnya, maka seluruh tubuhnya menjadi hijau.

Walaupun ia masih hidup, tetapi melihat apa saja, seekor semut atau seekor burung, ia bisa kaget. Daun rontok, dia kira langit roboh. Kau tunjuk dia, ia pun mengira kau hendak mengorek jantungnya. Sepanjang hari ia berada dalam keadaan yang sangat ketakutan, tapi tidak tahu kapan ia akan mati."

Pemuda itu mendengar dengan seksama. Setelah ucapan 'saudara Giam Ong' habis, pemuda itu baru dapat tersenyum dengan terpaksa : "Cian pwe, kalau begini akulah yang mencelakainya, karena aku menyamar sebagai roh penasaran itu."

'Saudara Giam Ong' melotot : "Kentut, kalau ia tidak berbuat jahat, mana mungkin sekaget ini? Inilah namanya hukum karma. Kini kita tidak tahu dimana letaknya sekantong perhiasan itu," katanya sambil mengebaskan lengan bajunya dan menerbangkan beberapa helai daun rontok dari tanah, dan membuatnya berterbangan di muka Lauw Hwie.

Persis seperti apa yang dikatakan oleh 'saudara Giam Ong', melihat daun-daun berterbangan di mukanya, Lauw Hwie menjerit ketakutan dan membalikkan tubuhnya kabur. Ia lari ke depan dengan cepat sekali, wajar saja kalau ada debu dan ranting pohon yang terbawa. Bagi orang mana saja, hal ini tidaklah mengagetkan. Tetapi empedu Lauw Hwie telah pecah, ia akan menjerit karena suara dan bayangan apa saja, lalu jatuh, tapi ia tidak berani merangkak di atas tanah. Buru-buru ia bangun lagi, baru lari lagi beberapa langkah jatuh lagi.

Melihat tubuhnya gemetar dan menjerit-jerit terus-terusan, tidak ada orang yang tega melihatnya. Pemuda itu telah mengatupkan matanya tidak sampai hati melihatnya. Setelah Lauw Hwie pergi jauh, 'saudara Giam Ong' mengulurkan tangan mendorong pemuda itu : "Sudah jauh, bukalah matamu. Hm, kata orang, tidak ada orang yang lebih tahu sang anak daripada ayahnya sendiri. Aku lihat tidak betul semuanya, kalau ayahmu sangat tahu akan dirimu, masa ia menyuruh kau yang tidak becus ini berkelana di dunia persilatan? Kau cuma cocok berdiam saja di pulau Thian In, untuk melayani kakekmu merokok."

Pemuda itu tersenyum pahit : "Aku... tidak becus, Cian pwe jangan tertawakan. Ayah saya menyuruh saya jalan duluan. Ia akan menyusul dari belakang, sekarang entah bagaimana keadaannya?"

"Aku sudah ceritakan pada kau, setelah kau pingsan dipukul mereka, entah berselang berapa lama, seakan ada orang di samping mu, kaupun tidak tahu siapa dia. Hanya kau telah menceritakan salah satu di antara mereka. Lalu kau pingsan lagi, orang yang pertama menolong kau itu, tentulah ayahmu yang tidak becus itu," kata saudara Giam Ong.

"Cian pwe jangan mencemoohkan ayah saya," kata pemuda itu.

"Itu salah ayahmu sendiri, kenapa sudah setua ini dia belum juga jadi pemilik pulau. Orang-orang hanya menyebutnya sebagai anak pemilik pulau Thian In, seakan dia masih seorang anak muda saja layaknya; siapa tahu jenggotnya sudah panjang, anaknyapun sudah dekat punya istri," kata saudara Giam Ong.

Pemuda itu berkata denganmuka yang bersemu merah : "Kakek saya masih hidup, wajar saja kalau ayah saya jadi anak pemilik pulau Thian In."

Saudara Giam Ong mendehem : "Apakah harus terus bernaung di bawah ayahnya? Kalau aku, cari saja salah satu pulau di lautan, apakah hal itu sangat sulit? Biar pulau itu tandus, aku adalah pemiliknya, kan lebih gagah daripada jadi anak pemilik pulau?"

Pemuda itu boleh dikatakan belum pernah mendengar perkataan demikian selama hayatnya, maka untuk sesaat ia hanya dapat tercengang, entah apa yang harus dikatakannya, lalu ia geleng-geleng kepala mengalihkan pokok pembicaraan : "Kata Cian pwe orang itu adalah ayah saya, kalau begitu kenapa ia meninggalkan saya?" Saudara Giam Ong menggelengkan kepalanya : "Ia tidak mengingatkankau, ia hanya mengira kau sudah mati, lalu cepat-cepat mengubur kau. Setelah itu ia menangis tersedu- sedu baru ia pergi."

Kata pemuda itu : "Apakah Cian pwe melihatnya?" "Tidak pernah, tetapi ilmu menangis ayahmu sangatlah

baik, dari sejauh satu li lebih aku sudah dapat mendengar suara tangisan ayahmu. Begitu aku dengar ada suara tangisan, aku tahu pasti ada yang mati, dan hatiku menjadi sangat gembira..." kata saudara Giam Ong.

Pemuda itu bertanya dengan tidak sabar : "Gembira?" Saudara Giam Ong mempelototkan matanya : "Tentu saja,

kalau ada yang mati kesepuluh saudaraku itu ada kerja, kalau tidak mereka sangat senggang."

Untuk sesaat pemuda itu tidak mengerti : "Kesepuluh saudaramu?"

"Eh? Ya, kesepuluh saudaraku, masa kau lupa?" kata saudara Giam Ong seraya tersenyum pahit, lalu sambungnya : "Ketikaitu aku cari-cari, betul saja ada satu kuburan baru, tetapi aku tahu, orang yang dikubur itu belum mati."

Pemuda itu ingn bertanya bagaimana bisa tahu orang itu belum mati, tetapi ditahannya tidak bertanya.

Pemuda itu tahu, kalau ia bertanya, jawabannya pastilah 'Eh? Aku adalah saudara Giam Ong, masa aku tidak tahu?' dan sia-sialah pertanyaannya itu.

Sambung saudara Giam Ong : "Tetapi ayahmu tidak tahu aku telah menolong kau, beberapa hari ini ia pasti mencari orang yang seperti diuraikan oleh kau itu, untuk membalas dendamnya."

Pemuda itu berkata dengan suara lembut : "Ayah saya pasti sangat sedih, andaikata ia tahu aku belum mati, betapa girangnya nanti."

Ucapan pemuda itu sangat wajar, tetapi saudara Giam Ong geleng-geleng kepala dengan kencang : "Salah, salah, salah besar!" Mata pemuda itu terbelalak, entah apa yang salah. Saudara Giam Ong berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya : "Coba kau pikir, kau sudah mati, dan ayahmu bersedih, semuanya kan itu beres. Kalau ia berjumpa lagi dengan kau, tentu ia takkan bersedih lagi, tapi suatu saat kau akan mati lagi, dan ia pasti bersedih sekali lagi. Ia punya hanya satu anak tunggal, tapi kau menyedihkan dia dua kali, apakah kau memang ada kejadian demikian?"

Pemuda itu tertegun, "Apakah saya pasti... pasti mati sebelum ayah saya?"

Saudara Giam Ong tertawa : "Taruhlah ia mati lebih dulu, kau pun akan bersedih, kepedihan ini adalah perbuatanmu sendiri. Kalau kau mati lebih dulu, mana ada kesedihan lagi?"

Hati pemuda itu sangat kacau dibuatnya, ia memandang saudara Giam Ong dengan terpaku, dan saudara Giam Ong tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba hati pemuda itu cerah, ia pun tertawa. "Kamu bukan saudara Giam Ong, tapi nenek moyang Hwe Shio."

Saudara Giam Ong tertawa cekikikan : "Tidak perduli apakah itu saudara Giam Ong atau nenek moyang Hwe Shio semuanya itu sama saja, cuma manusia yang membeda- bedakannya dengan jelas. Bukankah hal ini sangat lucu?"

Kini pemuda itu telah mengerti, keduanya berjabatan tangan, mereka tertawa dan menari-nari sambil pergi. Dilihat orang, yang satu tua dan satu muda ini adalah oran gila, namun hati mereka sangat cerah, tidak memikirkanapa-apa. Tidak lama kemudian, mereka telahpergi jauh, dan suara tertawa mereka tidak lagi terdengar.

***