-->

Bayangan Darah Jilid 03

Jilid 03

Hati Lauw Nen terperanjat mendengar ucapan Cung San Siang Kiat itu, buru-buru ia menggoyang-goyangkan tangan : "Ini mana boleh, ini mana boleh?"

Harus tahu bahwa kedudukan Cung San Siang Kiat di dunia kang ouw sangat tinggi, boleh dikatakan mereka adalah orang yang terkemuka. Walaupun Lauw Nen belum mengerti apa- apa, ia pun tahu orang semacam Cung San Siang Kiat sekali- sekali tidak boleh menjadi pengiringnya. Maka buru-buru ia menolak. Tapi tak disangka keduanya berkata berbarengan : "Toa kong cu, walaupun masih muda, tapi berwibawa. Orang sangat kagum padamu. Kalau kami bisa jadi pengiringmu, itu adalah suatu kehormatan besar bagi kami. Orang-orang Bu lim makin bercerita Cung San Siang Kiat bisa bergaul dengan Toa kong cu; kedudukan Cung San Siang Kiat pun akan turut meninggi. Toa kong cu, kenapa kau tidak mau membantu kami?"

Ucapan seperti itu, orang yang berbudi pekerti takkan mau mengucapkan perkataan. Andaikata Cung San Siang Kiat tidak mempunyai sesuatu niat, mereka pun takkan mau mengucapkannya. Tetapi terdengar Lauw Nen, ia sangat terhibur, dan seakan terasa tubuhnya melayang-layang, hatinya pun tergerak. Tapi ia masih pura-pura tidak mau, katanya : "Ah, kurang enak rasanya."

Sun Ang dan Yo Bun Cing berdua, masing-masing mendorong Lauw Nen sebelah, katanya : "Mari, kita ke kota dulu membeli hadiah, kalau perlu kita beli yang mewah sedikit."

Lauw Nen terpaksa mengikuti mereka.

Di kota Kauw So, semua barang tersedia, apalagi Cung San Siang Kiat mempunyai banyak uang; keliling sebentar, mereka telah mendapat apa yang diperlukan. Mereka berdua membeli pakaian pelayan, dan menekan topi yang bersegi enam itu ke bawah menutupi sebagian muka. Mereka berdiri di samping Lauw Nen yang berpakaian sangat mentereng, tampaknya mereka betul-betul seperti pengiring. Setelah siap segalanya, di senja hari mereka bertiga menuju ke rumah Go Toa hiap.

Sesampai di pintu, Lauw Nen berteriak : "Tolong beri tahu Go toa hiap, Boan pwe (anak muda) Lauw Nen, sengaja datang untuk minta maaf pada Go toa ko, harap kami diterima!"

Lwee kang Lauw Nen memang ada dsarnya, ia berteriak dari pintu, suaranya terus mengalun ke dalam. Go Thian Kheng, Go Eng Kiat dan Go So Lan sedang membicarakan kesalahan Lauw Nen, tiba-tiba mendengar suara Lauw Nen. Pada waktu Go Eng Kiat telah mendehem, ia berkata pada ayahnya : "Thia sudahlah, aku rasa kita tidak sanggup menerima penyesalannya."

"Eng Kiat, sekali ini kaulah yang salah, seorang satria harus berdada besar. Jika ia datang untuk minta maaf, kenapa kita harus menolaknya? Mari, kita terima dia. So Lan, kau juga ikut!" kata Go Thian Kheng.

"Aku tidak mau ikut!" Go So Lan membalik tubuhnya. "Thia, orang macam itu, Thia masih mau menyuruh adik

menemuinya?" seru Eng Kiat. Go Thian Kheng menghela napas, tidak lagi berkata apa- apa. Bersama Eng Kiat, ia keluar, sampai ke ruang besar ia melihat Lauw Nen telah duduk dengan baik. Di belakangnya ada dua pengiring berdiri, di tengah ruang besar terletak hadiah. Go Thian Kheng berkata sambil menggoyangkan kepalanya : "Nak Lauw pergi dan kembali lagi, apakah hanya untuk mengantarkan hadiah?"

Lauw Nen menunggu di ruang besar lama sekali, kemudian ia hanya melihat Go Thian Kheng keluar dengan anaknya Go Eng Kiat, dan tidak melihat Go So Lan, hatinya merasa kurang. Kini ia terpaksa berdiri, tapi ia langsung bertanya : "Mana Go kouw nio?"

Lauw Nen bicara sembarangan, kedua ayah anak itu telah agak marah, tapi masih memandang Lauw Thian Hauw, maka tidak menunjukkan kemarahannya.

"Kedatangan kamu ini, sebetulnya mau apa?" kata Go Eng Kiat dengan nada dingin.

Lauw Nen berpikir, kalau ia merusak suasana, lebih-lebih ia tidak dapat menemui Go lagi. Lebih baik minta maaf dulu, apa takutnya? Maka buru-buru ia bediri sambil menjura : "Aku sengaja datanga untuk minta maaf pada Go toa ko..."

Perkataannya belum habis, tiba-tiba ia merasakan punggungnya di desak suatu tenaga yang sangat kuat hingga membuatnya tidak dapat berdiri dengan teguh. Tubuhnya tak kuasa lagi membongkok ke depan dan menubruk Go Eng Kiat. Perubahan itu, boleh dikatakan mendadak sekali, dalam sekejap saja Lauw Nen merasakan tubuhnya hampir beradu dengan Go Eng Kiat. Pada waktu yang sama, Go Eng Kiat mengeluarkan serangan mendesak. Lauw Nen dalam keadaan kewalahan, Lauw Nen pun menepukkan tangannya. Terdengar suara "plak", tangan mereka telah beradu. Tenaga dalam Go Eng Kiat memang jauh lebih tinggi daripada Lauw Nen, apalagi Lauw Nen mengeluarkan pukulannya dalam keadaan tergesa- gesa. Tenaganya tidak cukup, begitu tangan mereka beradu, seluruh tubuh Lauw Nen mental melayang ke atas dan menubruk sebuah tiang ruang yang melintang di atas.

Lauw Nen mengulurkan tangan mencekalnya. Ia baru ingin meloncat turun, tapi keadaan di ruang besar itu telah mengalami perubahan besar. Cung San Siang Kiat yang selalu mematung menyaru sebagai pengiring, yang satu mengibaskan sepasang lengan jubahnya meluncurkan serangan belasan senjata rahasia, deruannya nyaring bagaikan halilintar menyambar-nyambar, persis seperti sebuah jala yang terancam dari senjata rahasia sedang menjala Go Thian Kheng. Yang satu lagi mengibaskan lengan jubahnya mengeluarkan berpuluh-puluh ular halus yang berbisa.

Laju ular berbisa itu cepat sekali, kesemuanya menyerang kaki Go Thian Kheng, bersama senjata rahasia membuat suatu jaring menutupi Go Thian Kheng. Lagi pula Cung San Siang Kiat menyerang setelah mendorong Lauw Nen, sedikit pun tidak ada gejala sebelumnya. Meskipun Go Thian Kheng adalah seorang jago silat yang berpengalaman dalam kang ouw, tapi ia pun tidak menduga Lauw Nen dapat membawa kedua pengiring dan menyerangnya sekejam ini.

Setelah melihat serangan itu, Go Thian Kheng tahu ia akan celaka, tapi ia tak dapat mengelak lagi. Dalam kerepotan, ia berteriak, lengan jubahnya mengebat ke atas dan menimbulkan suara "huuoooonnngg", sebuah angin keras menerjang ke atas menjatuhkan sebagian dari senjata yang menyerangnya. Sedangkan lengan jubah yang dikibaskannya, karena tenaga dalamnnya terpusat, biarpun terbuat dari kain, tapi kini kerasnya bagai besi, dan menyapu sisa senjata rahasia yang masih menyerangnya.

Bersamaan itu ular di bawah telah menyerang kakinya.

Buru-buru Go Thian Kheng menotolkan kakinya ke tanah dan tubuhnya terangkat ke udara, teriaknya : "Cung San Siang Kiat, rupanya kamu! Lengan jubah kirinya menggulung, dan timbullah angin yang bergulung-gulung menggulung ular-ular itu menjadi satu gulungan dan tidak dapat bergerak lagi.

Semuanya itu hanya terjadi dalam sekejap saja. Lauw Nen mencekal tiang, tubuhnya masih tergantung di udara. Melihat keadaan begitu, ia menjadi terpaku. Dan pada waktu itu terpaku itulah, sebuah suara menderu. Go Eng Kiat telah lewat dari sampingnya dan hinggap di atas tiang. Kelima jarinya bagaikan kait mencekal belakang leher Lauw Nen dengan erat sekali, dan mengangkat tubuh Lauw Nen ke atas tiang, lalu diinjaknya dada Lauw Nen hingga Lauw Nen kepayahan. Lauw Nen tahu, kali ini ia telah terjebak oleh kelicikan Cung San Siang Kiat, tapi kini nasi telah jadi bubur, apa mau dikata lagi, menyesalpun sudah terlambat!

Ketika Lauw Nen tertekan, keadaan di bawah pun telah berubah; Cung San Siang Kiat menyerang dari atas dan bawah seara mendadak sekali, kira mereka sekali tindak saja mereka akan berhasil. Tapi mereka tidak mendua ilmu Go Thian Kheng begitu tinggi hingga hanya menggunakan lengan jubah sudah dapat menangkis seluruh serangan mereka, dan Go Thian Kheng telah dapat mengenali mereka.

Dalam keadaan begitu, boleh dikatakan tidak berguna lagi untuk tinggal disitu lebih lama lagi! Kedua orang itu memang licik, begitu serangan mereka tidak berhasil lantas buru-buru ingin kabur. Mereka menunduk mundur ke belakang, terdengar duar suara "Bang! Bang!" mereka atelah mendobrak pintu masuk dan telah berada di luar, lalu meloncat keluar dari tembok. Go Thian Kheng ingin menguber tapi ia takut kalau ia pergi, ular-ular itu akan bergentayangan di rumah melukai orang. Maka ia terus menggetarkan lengannya, jari tengahnya terus menekan-nekan, setiap tekanannya itu menimbulkan angin keras. Begitu angin keras mengenai ular, ularnya akan terjolor kejang,kepalanya pecah. Dalam sekecap saja, dia tas tanah telah dipenuhi denganular yang mati kaku, baunya amis sekali. Setelah Go Thian Kheng membinasakan seluruh ular- ular itu, ia pergi dan tidak melihat bayangan Cung San Siang Kiat lagi!

Waktu itu, dalam rumah itu telah gempar. Go So Lan pun berlari keluar, melihat bangkai ular memenuhi tanah, tiang- tiang rumah dipenuhi dengan senjata rahasi, semuanya kebiru-biruan. Sekali lihat saja sudah tahu, bahwa senjata rahasia itu telah direndam dalam cairan berbisa. Go So Lan tidak tahu bagaimana persoalannya, ketika ia masih bingung, Go Thian Kheng telah kembali masuk. Go Eng Kiat pun berteriak dari atas tiang : "Thia, yang dua kabur, masih ada satu lagi yang belum kabur, bagaimana kita akan membereskannya?"

Go So Lan menengadah, kini ia baru tahu di atas tiang masih ada dua orang lagi!

"Bawa dia turun," kata Go Thian Kheng dengan suara berat.

Go Eng Kiat mengangkat kakinya menendang Lauw Nen, hingga Lauw Nen terjatuh dari atas ke bawah. Di udara Lauw Nen melempangkan tubuhnya ingin berdiri, tapi tidak disangka, pada waktu itu juga Go Eng Kiat pun ikut turun.

Sebuah tendangan lagi bersarang di pinggangnya, "plak". Ia terjatuh di atas tanah, Go Eng Kiat mengangkat kakinya lagi dan menginjak punggung Lauw Nen. Lauw Nen tertelungkup, tidak dapat meronta, dan di pinggir mulutnya persis ada dua ekor ular mati, bau amis membuatnya mau muntah. Ia merasa sengsara sekali.

Kini boleh dikatakan Lauw Nen merasa sangat malu sekali, ingin rasanya ia masuk ke dalam lubang seandainya di tanah itu ada lubangnya. Go Thian Kheng duduk sambil berkata : "Lepaskan dia, diapun tidak bisa kabur lagi."

Go Eng Kiat mengangkat kakinya, da Lauw Nen menekan tanah lalu berdiri. Begitu berdiri, Lauw Nen mencari jalan ingin kabur. Tapi ia segera tahu, itu adalah suatu hal yang tidak mungkin. Karena Go Thian Kheng, Go Eng Kiat, Go So Lan bertiga sedang mengurungnya di tengah-tengah dan mereka memandangnya dengan pandangan yang jijik dan hina. Begitu Lauw Nen melihat pandangan Go So Lan, hatinya telah luluh. Ia tahu, semuanya telah tamat.

Pandangan Go Thian Kheng bagaikan sebuah belati, menyapu-nyapu tubuh Lauw Nen, katanya : "Nak Lauw, kelakuanmu ini, apakah ayahmu tahu?"

Lauw Nen terperanjat, soal ini kalau diketahui oleh ayahnya, bagaimana akibatnya nanti, sungguh ia tidak berani memikirkannya. Padahal soal ini, boleh dikatakan ia telah diperdaya. Tapi ia bertabiat keras, ia tidak mau mengutarakan bagaimana ia tertipu. Ia mengira, jika ia mengutarakan asal usulnya ia tertipu, walaupun dapat pembebasan dari Go Thian Kheng, tapi ia akan merasa lebih malu lagi, karena bahkan ia tidak dapat membedakan manayang baik mana yang buruk, seperti seorang tolol saja diperalat Cung San Siang Kiat untuk membalas dendam mereka. Berpikir demikian, lebih baik tidak bersuara.

Maka meskipun ia kaget tapi ia tetap tidak mau bersuara. Go Eng Kiat mendehem. Katanya sambil tertawa dingin :

"Thia buat apa banyak bicara dengan orang macam ini,

serahkanlah pada saya. Akan saya bawa ke rumah Lauw toa hiap, biar Lauw toa hiap yang menghukumnya.

Go Thian Kheng geleng-geleng kepala. "Jangan, aku ada caraku sendiri. Kamu berdua pergilah!"

Ajaran rumah Go memang ketat, kalau ia sudah bicara begitu, Go Eng Kiat tidak berani bicara lagi. Walaupun masih ada yang hendak dikatakannya, buru-buru ia keluar dengan adikna. Go Thian Kheng meletakkan kedua tangannya di belakang, melangkah pelan-pelan menghampiri Lauw Nen : "Nak, kau masih muda, belum tahu baik buruk, kelicikan kang ouw, hati orang tidak dapat diduga. Kalau salah gaul, akibatnya tidak dapat dibayangkan, harus hati-hati!"

Go Thian Kheng bersusah payah menasehati Lauw Nen, bukan saja Lauw Nen tidak merasa menyesal, bahkan menjadi ia lebih marah lagi. Pikirnya, sekarang aku berada di dalam tanganmu, mau diapakan juga sesuka hatimu, buat apa bicara yang tidak karuan, apakah aku akan berterima kasih padamu?"

Lauw Nen makin muak, katanya sambil tertawa dingin : "Kau mau bunuh boleh bunuh, mau iris boleh iris. Aku mana ada semangat untuk mendengar ocehanmu!"

Lauw Nen bicara begitu, malah membuat Go Thian Kheng tercengang dan memandang Lauw Nen sesaat, lalu geleng- geleng kepala. Ia tidak marah, sebaliknya ia masih tertawa : "Nak Lauw, obat manjur pahit, nasehat orang menusuk telinga. Kalau kau tidak suka dengar, aku tidak memaksamu. Kau mau pergi, pergilah. Soal hari ini, aku takkan beri tahu ayahmu. Kalau kemudian kau akan berhati-hati itu sudah cukup!"

Maksud Go Thian Kheng, kebanyakan Lauw Nen masih kurang pengalaman, maka baru bergaul dengan orang jahat. Setelah menerima pelajaran kali ini, tentu ia tidak akan berani berlaku sembarangan lagi, dan buat apa pula memberitahu ayahnya? Soal begini kalau diketahu Lauw Thian Hauw,ia akan dipukul setengah mati. Maka Go Thian Kheng menyuruh Lauw Nen pergi, dan memberitahunya, bahwa ia takkan beri tahu pada ayahnya. Tapi tak disangka Go Thian Kheng mengambil suatu tindakan yang salah besar! Andaikata menuruti ucapan Go Eng Kiat, membawa Lauw Nen pulang ke rumahnya dan minta Lauw Thian Hauw menghukumnya. Tentu saja Lauw Thian Hauw takkan sampai hati untuk membunuh anaknya, walaupun memberi hukuman besar, jiwa anaknya selamat. Sedangkan Lauw Nen akan betul-betul mendapat suatu pelajaran. Seperti kali ini, Lauw Nen mendengar, hatinya merasa gembira dan timbullah rasa beruntungnya, hingga di kemudian hari ia sering membuat kerusuhan. Go Thian Kheng berhati luhur, ia mengampuni orang tapi jangan lupa pada orang berhati serigala, sekali-sekali tidak boleh diampuni.

Hati Lauw Nen merasa sangat gembira tapi yang malah mengukur perut satria dengan hati orang kecil. Ia taku Go Thian Kheng tidak memegang janji, ia mundur sambil berseru

: "Kalau kau adalah seorang kecil yang suka memfitnah orang, cerita saja, apakah aku takut padamu?"

Setelah mendengar ucapan itu, Go Thian Kheng tidak berkata apa-apa lagi, hanya menghela napas panjang- panjang. Dalam helaan napas Go Thian Kheng, Lauw Nen telah berlalu. Ia berlari kira-kira setengah li, melihat tidak ada orang mengubernya baru ia bernapas lega. Sesaat, biarpun ia berada di tengah-tengah hujan salju, keringatnya masih bercucuran. Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalannya. Sesaat kemudian, ia tiba kembali di pondok tadi.Ia masuk ke dalam pondok, memikirkan kejadia tadi, bagai sebuah mimpi buruk. Ia menghela panjang, tiba-tiba dari atas kepalanya mengalun suara tertawa "ha ha".

Lauw Nen terperanjat, buru-buru ia keluar sambil menengadah. Ia melihat Cung San Siang Kiat, Sun Ang dan Yo Bun Cing berdua melayang ke bawah dari atas pondok.

Bahkan keduanya menjura Lauw Nen : "Lauw toa kong cu. Kau pun aman?"

Kali ini, betul-betul Lauw Nen terpaku. Ia mengira setelah kejadian di rumah Go toa hiap, Cung San Siang Kiat pasti telah kabur terbirit-birit,dan tidak bermuka lagi untuk bertemu dengannya. Tapi tak dikira, keduanya seakan tidak ada apa- apa! Lagi pula melihat keadaan mereka melayang ke bawah dari atas, soal mereka sengaja sembunyi di atas untuk menunggu kedatangannya. Lauw Nen tercengang, katanya dengan marah : "Kamu masih ada muka untuk menemui aku?"

Cung San Siang Kiat dengar, mereka saling pandang sejenak. Kata Sun Ang : "Jie te, apakah kita telah menyakiti Lauw toa kong cu?"

"Aku kira tidak, tapi entah kenapa Lauw toa kong cu bisa menjadi marah?" kata Yo Bun Cing dengan wajah seakan ia difitnah.

Mendengar ucapan mereka yang akan cuci tangan dari kejadian tadi, Lauw Nen menjadi marah, bentaknya : "Apa yang sedang kamu ocehkan?" Ia memang mempunyai tabiat toa ya (tuan besar), ia membentak sambil melayangkan tanganya ke muka Sun Ang. Tak disangka tanganya belum menyentuh Sun Ang, malah telah dicekal Sun Ang. Kelima jari Sun Ang bagaikan kait baja mencekal urat nadinya, hingga membuat separuh tubuhnya kejang-kejang tidak dapat bergerak. Tapi wajah Sun Ang masih tersenyum simpul.

"Lauw toa kong cu, di tubuhku banyak sekali senjata rahasia. Kau jangan sembarang pegang, kalau tidak hati-hati, kena kuncinya, kau akan celaka."

"Tubuhku pun banyak binatang berbisa. Lauw toa kong cu jangan sembarangan pegang," kata Yo Bun Cing sambil tertawa.

Kelima jari Sun Ang mengendor, dan mengirimkan sebuah tenaga yang kuat hingga Lauw Nen terpental ke belakang beberapa tindak. Lauw Nen terperanjat dan marah, hatinya tahu ia tidak dapat melawan mereka tapi ia tidak mau mengalah, berdiri mematung tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Lauw toa kong cu, seperti kejadian di rumah Go tadi, kau jangan taruh dalam hati. Kami memang kurang sabar, melihat Go kouw nio tidak mengacuhkan engkau maka kami turun tangan ingin membinasakan Go Thian Kheng dan merebut Go kouw nio. Tapi tak disangka keparat Go Thian Kheng itu sangat lihai, hingga kami tidak berhasil. Lauw toa kong cu jangan marah, rencana satu gagal, masih ada rencana kedua!" kata Sun Ang.

Mendengar ucapan Sun Ang, Lauw Nen menjadi bingung.

Ia mengerutkan alisnya : "Rupanya kamu turun tangan di rumahnya Go tadi karena aku?" ucapan Lauw Nen ini dimaksudkan untuk mengejek mereka. Tapi kedua orang itu tidak segan-segan manggut : "Ya, betul. Lauw toa kong cu karena siapa?"

Untuk sesaat Lauw Nen pun tidak dapat berkata lagi. "Tidak perduli kamu siapa, dan rencana apa pun yang

kamu miliki, aku tidak berani mencobanya lagi. Sekarang kita

berpisah saja. Silahkan!" kata Lauw Nen sambil melambaikan tangannya.

"Jie te, bukankah itu sayang sekali?" Sun Ang menghela napas.

"Ya, kalau rencana kita berhasil, Go kouw nio pasti berada dalampelukan Lauw toa kong cu. Sayang sekarang Lauw toa kong cu mau mengusir kita. Biarlah kita persi saja," kata Yo Bun Cing.

Mereka melambaikan tangan untuk berlalu, tapi ucapan mereka tadi sangat menggatalkan hati Lauw Nen. Ketika mereka berdua baru bertindak beberapa langkah, Lauw Nen buru-buru memanggilnya : "Jie wi tolong berhenti dulu, apa rencana kalian. Saya mau dengar." 

Cung San Siang Kiat berhenti, tapi keduanya sama-sama geleng kepala : "Lebih baik jangan dibicarakan. Kalau rencananya berhasil, yang senang bukan kita. Kalau gagal lagi, mungkin orang akan membenci kita." Lauw Nen tidak berdaya, dengan terpaksa ia menjura pada mereka : "Jie wie, taruhlah tadi siao te yang salha, coba kalian ceritakan."

"Go Thian Kheng mempunyai sebuah buku Lwee kang yang ditulis oleh Ciang Bun Jin ketujuh dari Khong Thong Pay, apakah Lauw toa kong cu tahu?" kata Sun Ang tertawa.

"Tentu saja tahu, karena soal itu Khong Thong Pay dan Go toa hiap entah telah ribut beberapa kali. Orang-orang Bu lim, siap yang tidak tahu?" kata Lauw Nen.

Cung San Siang Kiat menganggap dengan hebat : "Lauw toa kong cu memang berpengetahuan luas!"

Sebuah perkataan lagi yang membuat Lauw Nen merasa melayang-layang, dan melenyapkan kejengkelan dalam hatinya. Desaknya : "Apa pula hubungannya dengan rencana kamu?"

"Benda itu dianggap antik oleh Go toa hiap; kita dapat memilikinya. Jangankan seorang anak gadis, ada sepuluh juga ia akan tukarkan dengan kau!" kata Sun Ang dengan suara rendah.

Hati Lauw Nen berdetak, pikirnya : "Betul, ucapan itu memang betul!" Tapi ia berpikir lagi, "Bukankah perbuatan itu seperti kentut saja? Kalau buku itu dianggap antik oleh Go Thian Kheng, mana mungkin ia memilikinya? Ia merasa sangat kecewa dan geleng-geleng kepala, diucapkan sama saja dengan sia-sia!"

"Bagaimana sia-sia? Go Thian Kheng dengan ayahmu adalah kawan karib, bukankah ayahmu memiliki sebuah buku Lwee kang bernama "Thian Cing 24 jurus?" Buku itu terdiri dari dua puluh empat keping giok kan?"

DAlam hati Lauw Nen merasa malu. Bahkan ia belum pernah melihat bagaimana coraknya 'Thian Cing 24 jurus' itu. Tapi ke-24 keping batu Giok itu tahu. Maka ia mengangguk : "Tidak salah. 24 keping giok!"

"Apa warnaya, bagaimana besarnya; dan apa yang tertulis di atasnya?" kata Sun Ang.

Padahal Lauw Nen belum pernah melihatnya, tapi ia tidak mau mengaku. Pikirnya Sun Ang pun belum pernah melihatnya, sembarangan saja kata, Sun Ang juga takkan tahu, maka ia sembarangan saja bicara.

"Ia memang itu, kita pergi mencari 24 keping Giok, kita memalsukan 'Thian Cing 24 jurus' ayahmu, dengan barang palsu itu kita tukar dengan barang Go Thian Kheng. Katakan saja ayahmu mau melihatnya. Thian Cing 24 jurus hebat sekali, maka Go toa hiap tidak mungkin tidak mau!"

"Itu mana mungkin, masa Go toa hiap tidak bisa membedakan mana yang palsu mana yang asli?" Lauw Nen menggaruk-garuk kepalanya.

"Kalau dibawa kami, memang ia takkan percaya," kata Yo Bun Cing.

Lauw Nen memikirkan kejadian di rumah Go tadi, ia geleng- gelengkan kepala : "Aku pun tidak bisa lagi."

"Kalau begitu, kau boleh cari toa ci mu," desak Sun Ang. "Toa ci ku sangat berangasan, aku tidak tahu apakah ia

mau?"

"Kami sudah atur semuanya. Walaupun toa ci mu sangat berangasan, tapi kalau dia melihat mutiara, mukanya selalu saja cerah. Ia takkan marah, bukan?" kata Sun Ang.

Memikirkan toa ci-nya yang sangat serakah itu, hati Lauw Nen pun merasa geli. Sun Ang membentangkan tangannya, dalam telapaknya telah ada dua butir mutiara. Begitu melihat mutiara yang dua butir itu, mata Lauw Nen menjadi terang. Lauw Hung suka dengan mutiara atau berlian, koleksinya banyak sekali. Bahkan ada pula yang didapatnya dari rampasan, ada kalanya ia pamerkan di hadapan Lauw Nen. Maka telah banyak melihat barang semacam itu, tetapi Lauw Nen belum pernah melihat mutiara yang sebesar dan sejernih bulan purnama itu. DAn teriaknya lepas : "Mutiara bagus,mungkin berharga puluhan ribu Liang (satuan uang pada jaman itu)."

"Lauw toa kong cu terlalu pandang rendah sepasang mutiara ini. Gubernur Chin kong kong berani bayar 240 ribu liang! Aku masih tidak mau lepaskan hingga Chin kong kong naik pitam, dia menyebar orang membuat susah aku. Maka aku pergi meninggalkan Kang Lam," kata Sun Ang.

Mulut Lauw Nen terus "cet cet cet" memuji tak henti- hentinya. Sun Ang mengantarkan sepasang mutiara itu ke hadapan Lauw Nen : "Toa kong cu, kalau kau memberi mutiara ini pada Lauw li hiap (pendekar wanita) dan minta dia datang ke Kang Lam, pasti dia setuju."

Lauw Nen menjadi tolol mendengar perkataan itu, katanya dengan kaku : "Sun toa ko katamu, kau berikan mutiara ini padaku?"

"Ya, kau masih ragu akan ketulusan hatiku?" kata Sun Ang. "Bukan, tentu saja bukan. Tetapi mutiara ini telah ditawar

gubernur sebanyak 240 ribu liang, tapi kau tidak mau dijual,

malah kau diuber karenanya. Tapi... kau berikan padaku?" kata Lauw Nen.

Sun Ang menepuk bahu Lauw Nen sambil berkata : "Lauw kong cu, kita bersahabat bukan? Demi kawan, menyeberangi lautan api tidak jadi soal, apa lagi cuma dua butir mutiara?

Persetan dengan segala gubernur. 240 ribu liang apa pula gunanya? Betul tidak?"

Betapa ksatrianya ucapan itu, hingga Lauw Nen tidak hentinya mengangguk : "Betul, betul, ucapan toako betul, tapi Sun toa ko, siao te... menerima hadiah tanpa jasa, bukankah sangat memalukan?"

"Orang sendiri berkata begitu, bukankah menjadi sangat asing? Hal itu tidak boleh terlambat, kau cepatlah pergi cari Lauw li hiap, kita palsukan Thian Cing 24 jurus, kau jangan sebut-sebut kami di hadapan Lauw li hiap. Kami akan menunggu disini, pada waktu itu akan kami berikan 24 keping giok palsu. Suruhlah Lauw li hiap bawa ke rumah Go, setelah kami mendapatkan benda itu, kami akan membuat rencana lagi untukmu," sela Yo Bun cing.

Saat ini, Lauw Nen sangat berterima kasih pada mereka berdua. Ia terua mengangguk-angguk dan berlalu.

Satu bulan kemudian, musim semi telah tiba, bunga-bunga mulai berkembang. Lauw Hung dan Lauw Nen berdua memacu kuda mereka dengan cepat menuju ke kota Kong So.

Ketika merke di pondok, terdengar suara orang memanggil

: "Lauw toa kong cu, harap berhenti!"

Sepanjang perjalanan Lauw Nen terus kuatir adakah Cung San Siang Kiat telah siap dengan 'Thian Cing 24 jurus' palsu, kini tiba-tiba mendengar suara Sun Ang, hatinya menjadi girang. Buru-buru ia menghentikan kudanya.

Sun Ang dan Yo Bun Cing telah keluar dari pondok. Begitu Lauw Nen berhenti, Lauw Hung pun berhetni, sesampai Cung San Siang Kiat di hadapan mereka, terdengar bentakan Lauw Hung : "Kamu siapa?"

Jangan pandang dia seorang wanita, teriakan itu memang penuh dengan kewibawaan.

Sun Ang dan Yo Bun Cing tertegun, terdengar Lauw Hung membentak sekali, dan mengayunkan pecut kudanya menghantam kepala Sun Ang. Tubuh Sun Ang sangat lincah, ia menunduk dan "ser" sekali, ia telah mundur bagai anak panah terlepas dari busurnya.

Tetapi, daya mundur Sun Ang cepat, Lauw Hung pun tidak lambat. Pecutannya baru sampai setengah, Sun Ang telah mundur. Buru-buru ia menarik kembali pecutnya dan tangan kirinya menekan pelan kudanya, orangnya telah meninggalkan pelanan dan melayang ke depan!

Lauw Nen melihat toa ci-nya begitu bertemu Cung San Siang Kiat telah turun tangan tidak memperdulikan apalagi, hatinya menjadi gusar. Teriaknya : "Toa ci berhenti!"

Lauw Nen menyusul di hadapan Sun Ang "plak plak plak" tiga kali lecutan Lauw Hung dapat dielakkan Sun Ang dengan lincah.

Mendengar teriakan Lauw Nen, Lauw Hung membenak : "Berhenti? Apakah kau tahu siapa mereka?"

"Aku tahu, mereka adalah kawan baikku Cung San Siang Kiat."

Tubuh Lauw Hung, tiba-tiba bagaikan angin puyuh balik berputar, dan memutar kembali ke samping Lauw Nen.

Dibalikannya pecut dan memecut kepala Lauw Nen.

Pecutan itu mendadak sekali, buru-buru Lauw Nen menelentangkan tubuhnya ke belakang, pecut itu telah bersarang di pinggangnya hingga Lauw Nen kesakitan tidak dapat duduk dengan mantap dan terjatuh ke bawah.

Lauw Hung menunduk, mencekal dada Lauw Nen, seperti mencengkaram anak ayam. Bentaknya : "Kau berkawan dengan orang jahat. Tunggu aku membereskan kedua binatang itu, kita pulang melihat ayah!"

Muka Lauw Nen pucat pias, suaranya pun gemetar.

Katanya dengan terputus-putus : "Ci mereka... bukang orang jahat... sekarang mutiara... yang sangat kau sukai itu... adalah pemberian mereka."

Lauw Hung dengar. Ia jadi tertegun. Walaupun wajahnya masih menunjukkan kemarahan, tapi ucapannya telah menjadi lunak : "Kenapa mereka memberi kau mutiara?"

Lauw Nen memandang Cung San Siang Kiat. Yo Bun Cing melangkah dengan pelan sambil tersenyum : "Lauw li hiap jangan marah. Kami berdua sudah lama kagum dengan li hiap tapi tak ada jodoh untuk berkenalan, maka ketika kami kenal sama Lauw kong cu, kami berikan mutiara itu sebagai penghubung."

"Aliran putih dan hitam bagaikan air dan api, sangat tidak cocok. Siapa pengen dengan mutiara kamu?"

Mulutnya mengucapkan ;Air dan api sangat tidak cocok', tapi ia tidak turun tangan. Dibandingkan dengan ketika ia mengenali Cung San Siang Kiat yang terkenal dengan kejahatan mereka tadi, terus langsung memcut, nyata sekali bedanya!

Yo Bun Cing masih tersenyum simpul : "Ucapan li hiap memang betul, sepasang mutiara itu memang tidak berharga dibandingkan barang berharga dalam gudang itu, bedanya jauh sekali!"

Lauw Hung dengar, antara sadar dan tidak, ia telah mengendorkan cekalannya dari dada Lauw Nen. Ia mulai tertarik, "Gudang barang berharga apa?" tanyanya.

Kini ia tidak lagi acuh akan 'aliran putih dan h itam sangat tidak cocok'.

Yo Bun Cing bagaikan menyesali keterlanjuran ucapannya.

Ia tidak lagi berkata apa-apa.

Ketika ini Sun Ang baru mendekat, "Jie te, kita ingin bersahabat dengan Lauw li hiap, meskipun gudang berharga itu adalah suatu rahasia besar tapi bilang sama Lauw li hiap tidak jadi soal bukan?"

Ketika Lauw Hung melihat sepasang mutiara saja sudah bukan main girangnya, kini mendengar mutiara sebesar itu belum terhitung apa-apa. Apalagi benda pusaka dalam gudang itu, pasti tak ternilai harganya.

Ia gemar mengoleksi benda pusaka, suka dipamerkan di mata orang, hatinya telah menjadi serakah. Kini ia mendengar ada kesempatan yang sebaik ini, mana ia mau melewatkannya? Buru-buru katanya : "Ya, kitakan sudah jadi kawan."

Ucapan itu terlepas dari mulutnya,ia berpikir dalam hatinya.

Agaknya berkata begitu kurang pada tempatnya, diri sendiri dengan bajingan Cung San Siang Kiat itu, mana boleh dikatakan sahabat? TEtapi segera ia terpikir gudang yang menyimpan barang-barang berharga, hatinya dikeraskannya. Pikirnya hanya sekali ini saja, setelah mereka mengucapkan tempat gudang itu, bertarung lagipun masih keburu. Maka ia mengulagi perkataannya sekali lagi : Kita kan sudah jadi kawan, ceritakan juga tidak bakal jadi apa-apa bukan?"

Sun Ang dan Yo Bun Cing segera menyahut berbarengan : "Kami mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kesudian Lauw li hiap. Gudang itu berada di pedalaman Miauw Ciang dimiliki oleh seorang Miauw Ciang yang sangat perkasa... Kim Goan cu su."

Setelah mendengar ucapan mereka, Lauw Hung menjadi marah. Bentaknya : "Kentut, kamu berani mempermainkan aku?"

Orang-orang kang ouw semua tahu bahwa Kim Goan cu su mendirikan alirannya tersendiri yang berlainan dengan aliran putih maupun aliran hitam. Ilmunya tinggi sekali, tadinya ia mau menguasai Tiong Goan (daerah dataran tengah), tapi diketahui oleh orang Bu lim daerah dataran tengah duluan, mereka menunggu di dekat Miauw Ciang. begitu Kim Goan keluar, lantas diserbut. Dalam 16 hari Kim Goan telah kehilangan 78 jago silat, akhirnya disadarkan oleh seorang Hwe shio dari Siauw Lim She, dan kembali ke Miauw Ciang tidak lagi mau bertempur.

Walaupun ia belum pernah datang ke Tiong Goan, tapi pertarungan selama 16 hari itu telah membuat namanya tersohor di Tiong Goan.

Kini mereka mengatakan bahwa gudang itu milik Kim Goan, ini mana mungkin dapat dirampas untuk dijadikan milik pribadi? Diucapkan juga jadi sia-sia belaka dan tidak heran kalau Lauw Hung jadi marah.

Tapi segera Sun Ang berkata dengan tersenyum : "Lauw li hiap jangan marah dulu, ada yang tidak kau ketahui. Biarlah kami ceritakan lebih jelas."

Lauw Hung dengar, rasanya keadaan itu dapat diperbaiki, katanya buru : "Silahkan, silahkan."

"Kim Goan cu su ingin menukarkan gudangnya itu dengan satu benda, sedangkan dia sendiri, karena janjinya dahulu, ia tidak dapat mendatangi Tiong Goan. Dan kami berdua kebetulan pernah ke Miauw Ciang maka tu su berpesan pada kami supaya mencari orang yang dimaksud," kata Sun Ang.

"Dia mau tukar apa? Ah, tentu kamu berdua sudah memasuki gudang itu, apa saja isinya?" kata Lauw Hung mengosok-gosok tangannya girang sekali.

"Ah" teriak mereka berdua, lalu menarik napas : "Lauw li hiap, gudang itu diisi dengan benda pusaka yang termahal di dunia ini, setelah Kim Goan cu su menyilahkan kami menyaksikannya, dia menyuruh kami memilih salah satu benda, kami merasa kurang enak untuk memilih yang baik, maka kami hanya mengambil dua butir mutiara yang tidak begitu bagus. Setelah sampi di ibu kota ada yang berani bayar 240 ribu liang." Setelah mendengar ucapan itu, hati Lauw Hung tergerak : "Entah apa yang di kehendaki?"

"Itulah yang sulit,yang mau ditukarnya itu adalah sebuah buku catatan silat yang dimiliki Kang Lam toa hiap... Go Thian Kheng. Kami pernah berunding dengan Go toa hiap, tapi rupanya kurang cocok, lalu diusirnya keluar!"

Ucapan-ucapan Cung San Siang Kiat belum pernah didengar oleh Lauw Nen sebelumnya, hingga membuat dirinya terus mengedip-ngedipkan matanya. Tapi ia takut mengganggu mereka maka ia tidak berani bertanya sembarangan. Ia terpaksa berdiam diri.

Mendengar ucapan Yo Bun Cing, Lauw Hung pun tak tertahan lagi mengerutkan alis matanya : "Rupanya agak sulit juga. Demi buku silat itu, Go toa hiap pernah ribut dengan Go Tay Pay berkali-kali. Ia sangat menyayanginya, laksana menyayangi nyawanya sendiri. Bagaimana kita mendapatkannya?"

"Kini, Lauw li hiap ingin mendapat gudang pusaka, itu tidak mungkin tanpa buku silat tersebut. Bahkan Lauw kong cu ingin mencari istri pun harus mengandalkan buku silat itu."

"Apa maksudnya?" Lauw Hung melirik pada Lauw Nen.

Dan Lauw Nen tidak berani berbohong, diceritakannya kisahnya dengan muka merah padam.

"Bagaimana urusannya, buku silat itu hanya satu; mau ditukar dengan istri, mana pula dapat ditukar dengan gudang pusaka padaku?" bentak Lauw Hung.

"Lauw li hiap jangan gusar, kalau kita sudah memiliki buku silat itu, kami mempunyai rencana yang baik sekali," ujar Sun Ang.

"Baiklah, mana barang palsumu?" Lauw Hung mengangguk. "Sun Ang mengulurkan tangannya merogoh dadanya dan mengeluarkan 24 keping batu Giok, semuanya adalah giok jernih, di atasnya telah terukir dengan huruf-huruf, tampaknya memang merupakansuatu benda luar biasa.

Lauw Hung memegang kepingan-kepingan giok itu, dalam hatinya berpikir sejenak. Ia tahu bahwa ia akan berhasil meminjamkan buku silat Go toa hiap karena ia berpura-pura mengemban perintah ayahnya. Apalagi ia membawa kepingan-kepingan batu giok itu.

Tetapi, kalau Go toa hiap tahu bahw ia telah terjebak, bagaimana pula nanatinya? Kalau bertanya pada ayah, apa hukuman yang akan diterima dari ayahnya? Lauw Hung berpikir demikian, hatinya jadi ragu-ragu.

Tetapi gudang pusaka Kim Goan cu su sangat menarik pula. Biarpun ia ragu-ragu tapi perkataan 'tidak' belum terucapkan keluar dari awal sampai akhir.

Sun Ang yang berdiri di samping telah mengetahui keragu- raguan Lauw Hung. Segera ia terkekeh-kekeh : "Dengar cerita dari dunia kang ouw bahwa ilmu Lauw li hiap mempunyai sikap ksatria yang dapat mengambil suatu keputusan dengan cepat dan tegas dalam menghadapi berbagai hal. Kini kami menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri, itu adalah benar. Kami merasa hidup kami tidak tersia-sia dapat berkenalan dengan Lauw li hiap."

Tadinya Lauw Hung belum dapat mengambil suatu keputusan, kini dipuji oleh Sun Ang, ia merasa lebih sukar lagi mengucapkan 'tidak'. Segera jawabnya : "Baiklah, kita berangkat menemui Go toa hiap."

Dan berangkatlah mereka berempat menuju ke kota Kouw So!

Sampai di depan pintu rumah Go toa hiap, Lauw Nen dan Cung San Siang Kiat hanya menunggu di pinggir jalan. Sedangkan Lauw Hung terus menghadap depan pintu minta ditemui.

Setelah Lauw Hung masuk, Lauw Nen menggerutu pada Cung San Siang Kiat : "Kamu berdua, kenapa berikan buku silat itu pada kakakku? Ia selalu menganggap diri lebih tinggi dari orang lain, bagaimana aku dapat melamar anak gadis Go to hiap dengan buku silat itu?"

Yo Bun Cing mengatupkan kipas dan mengetuk bahu Lauw Nen dengan pelan-pelan : "Kalau kau percaya pada kami, kau tidak perlu kuatir,kami ada rencana sendiri."

Lauw Nen tidak berdaya. Ia terpaksa menunggu di pinggir jalan dengan gusar, sungguh pun baru lewat setengah jam tapi sekujur tubuhnya telah bermandikan keringat.

Sesaat kemudian, barulah terlihat Lauw Hung keluar dari rumah Go toa hiap, hampir saja Lauw Nen ingin menubruknya, tapi ditahan oleh Yo Bun Cing. Setelah Lauw Hung berada di depan mereka, hati Lauw Nen masih bersitegang hingga tidak dapat mengeluarkan suara, masih Lauw Hung dulu yang membuka mulut : "Rencana kalian berdua memang tidak salah, Go toa hiap telah memberikan buku silatnya padaku."

"Ah, sungguh menarik sekali. buku itu sangat terkenal dalam dunia kang ouw, entah apa isi sebetulnya. Lauw li hiap, coba perlihatkan pada kami."

Kini Lauw Hung telah menganggap mereka sebagai kawan baiknya. Setelah mendengar ucapan Sun Ang, ia tidak ragu- ragu memberikan sebuah potongan bambu yang telah dicat dengan merah sekali pada Sun Ang seraya berkata : "Ada di dalam bambu..."

Ucapan 'ini' belum sempat keluar dari mulutnya, Sun Ang telah mengeluarkan tangan menyambutnya, berbarengan denganitu tubuhnya telah melesat ke belakang dengan mendadak. Pada waktu itu, Yo Bun Cing mengibaskan tangannya, sekejap saja terdengar dengunganyang ramai sekali, sekelompok tawon berbiwa telah menerjang ke depan.

Melihat keadaan berbubah sedemikian, Lauw Hung dan Lauw Nen terpaku, dan pada keterpakuan mereka itulah tawon-tawon berbisa telah sampai di hadapan mereka. Lauw Hung berteriak sambil mengibaskan tangannya, angin keras yang ditimbulkan karena pukulan tangannya telah dapat menghalau lajunya tawon-tawon berbisa itu. Memandang ke depan, dilihatnya Sun Ang hampir belok di tikungan, dan Yo Bun Cing pun sedang mundur.

Pada saat ini, terjadilah suatu kejadian yang diluar dugaan Lauw Hung. Dilihatnya Sun Ang yang hampir menikung di belokan mengibaskan tangan melepaskan berpuluh-puluh senjata rahasia ke arah Yo Bun Cing.

Yo Bun Cing mundur dengan punggungnya, sedangkan senjata rahasia yang dilepaskan Sun Ang itu tidak bersuara. Ketika Yo Bun Cing mengetahuinya, dua buah pisau terbang telah menancap di punggungnya. Tubuh Yo Bun Cing menjolor lalu berputar, pada saat ini, senjata rahasia lain telah menancap dalam tubuhnya. Yo Bun Cing hanya berteriak tertahan lalu roboh di atas tanah.

Lauw Hung terpaku pula memukulkan kedua telapak tangannya lagi. Lauw Nen pun mengibas-ngibaskan lengan jubahnya. Mereka berdua telah menerjang ke depan. Ketika lewat di sisi mayat Yo Bun Cing matanya terbelalak orangnya telah mati.

Setelah menikung mereka tidak melihat bayangan Sun Ang, buru-buru mereka berdua keluar masuk dari gang ke gang- gang namun bayangan Sun Ang tetap tidak tampak.

Lauw Hung dan Lauw Nen keluar masuk gang tetapi berapa banyaknya gang-gang dalam kota Kouw So ini sedangkan Sun Ang telah berlari duluan. Bahkan ketika ia ambil langkah seribu,ia masih sempat membinaskaan kawan seperjuangannya selam bertahun-tahun, mencaplok sendiri buku silat Go toa hiap, ia memang berniat kabur. Kini mana mungkin teruber oleh kakak beradik ini? Ketika hari telah menjadi gelap, keduanya tetap tidak berhasil. Kini mereka berdua merasa sangat menyesal sekali, teramat menyesal.

Malam hari mereka berhenti dengan lesu. Lauw Hung marah sekali tapi Sun Ang telah lenyap tanpa bekas.

Amarahnya itu dengan sendirinya dilampiaskan ke arah Lauw Nen hingga Lauw Nen dicaci maki sepuas hatinya. Lauw Nen sangat takut pada kakaknya. Mula-mula ia diam saja tidak bersuara. Tetapi ia telah terjebak sekali bahkankini terjebak untuk kedua kalinya. Benar-benar ia jadi marah ditambah lagi dengan cacian Lauw Hung, hatinya semakin marah hingga ia tak dapat menahan dirinya lagi : "Sudahlah, jangan mencaci lagi. Kau telah mendapatkan dua buah mutiara tetapi aku, apa yang yang aku dapat?"

Lauw Hung mendengar Lauw Nen masih berani membuka mulut, bagai api disiram minyak mengayunkan tangannya menghantam Lauw Nen.

Lauw Nen melihat pukulan Lauw Hung itu sungguh mengandung tenaga yang dahsyat sekali hingga membuatnya terbirit-birit menyingkir. Tapi angin yang timbul karena pukulannya tetap membuat tubuh Lauw Nen terhuyung ke belakang.

Lauw Hung menekan pinggangnya, bentaknya : "Kau tidak senang?"

Berturut-turut Lauw Nen mengalami kerugian, dan kini ia tahu pula bahwa ia bukan tandingan kakaknya. Maka ia tidak berani melampiaskan kemarahannya pada Lauw Hung tapi menumpahkan segala itu pada diri Go Thian Kheng, Go Eng Kiat dan Go So Lan. Serta merta ia menggigit bibirnya, mendengus dan tertawa nyaring.

"Puih" Lauw Hung meludahinya, lalu pergi sendirian. Lama setelah kepergian Lauw Hung, Lauw Nen pun meninggalkan kota Kouw So dengan membawa kedongkolan hatinya.

Ia menekan perasaannya pulang ke rumah, dan berlutu di hadapan ayahnya mengaku salah. Pada hari-hari berikutnya ia berlatih silat dengan tekun. Dasarnya memang baik, orangnya boleh dikatakan cerdik, ilmu silat Lauw Thian Hauw adalah Lwee k khi kang asli, maka lima tahun kemudian ilmunya maju dengan pesat sekali. Tentang persoalan menipu buku silat Go toa hiap dengan ke-24 keping giok palsu itu, Lauw Hung dan Lauw Nen kakak beradik sama sekali tidak mengusik- ngusiknya. Maka Lauw Thian Hauw dapat dikelabui, sedikit pun ia tidak tahu.

Sejak kebentur di rumah Go, Lauw Thian Hauw tidak pernah lagi mengundunginya, hanya mendengar orang-orang yang datang dari Kang Lam, bahw Go Thian Kheng sedang melatih dirinya, dan tidak mau menerima tetamu. Sampai akhirnya, ada orang datang dari Kang Lam membawa berita Go Thian Kheng, yang mengatakan bahwa ia berlatih silat tidak hati-hati, hingga kesurupan membahayakan dirinya sendiri. Hal itu adalah lima tahun kemudian.

Berita itu, didengar oleh Lauw Thian Hauw, boleh dikatakan di luar dugaannya. Tapi bagi Lauw Nen, tidak sekali-kali tidk. Sementara itu ilmu silat Lauw Nen telah maju pesat. Ia pun tahu, kenapa Go toa hiap dapat dibohongi bukunya secara gampang sekali dengan Thian Cing 24 jurus palsu. Bukan saja karena ia membawa giok palsu itu adalah Lauw Hung, pun karena huruf-huruf yang terlukis di atas batu-batu giok itu memang ada hubungannya dengan ilmu silat yang dalam. Silat itu mungkin saja dicuri Cung San Siang Kiat dari suatu tempat, tentu saja suatu silat yang tidak lengkap, tapi Go Thian Kheng percaya dengan sepenuh hatinya dan berlatih menurut petunjuk-petunjuk yang terukir di atas batu giok itu, maka ia sampai kesurupan membahayakan dirinya sendiri. Ini boleh dikatakan suatu hal dalam dugaannya.

Mendengar berita itu, hati Lauw Nen merasa syukur.

Orangnya sangat mendendam. Selama lima tahunini, belum pernah ia melupakan penghinaan yang diterima di rumah Go. Maka ia begitu tekun berlatih silat. Itu pun karena ia mengharapkan pada suatu hari akan dapat membalas dendamnya. Tapi ia pun berpikir, walaupun ilmu silatnya maju pesat, namun untuk mengalahi Go toa hiap, masih tetap tidak mampu. Maka ia terus mendendam kebenciannya dalam hati. Saat ia mendengar berita Go toa hiap kesurupan dan membahayakan dirinya sendiri, mana mungkin ia dapat menahan rasa girang dalam hatinya?

Dari mulut tamu Kang Lam itu, ia pun tahu pada tahu lalu Cu Ka Pauw Piauw cu (ketua benteng Cu Ka) mengajak anaknya melamar Go So Lan dan telah menetapkan perkawinan itu. Dalam waktu singkat ini, Go Eng Kiat akan mengawal adiknya ke utara untuk melangsungkan pernikahan. Sedangkan ke-73 piauw kek dari Kang Lam, mendengar berita itu, malah mengajak Go Eng Kiat dan Go So Lan kakak beradik untuk mengawal barang ke Lo Yang, ingin menggunakan ketenaran nama Go Thian Kheng untuk mencegah hal-halyang tidak diingini di tengah-tengah perjalanan, dan Go Eng Kiat pun telah setuju.

Di rumah Lauw, banyak tetamu yang datang berkunjung, mereka pada bercerita demikian. Rupanya setiap orang telah mengetahui hal Go Eng Kiat menemani adiknya dan mengawal kereta brang itu. Go Eng Kiat yang masih muda belia dan perkasa itu, boleh merasa sangat bangga!

Go Eng Kiat makin bangga, Lauw Nen semakin dendam.

Pada suatu senja, ia mengutarakan suatu alasan pada ayahnya, dan membawa tiga ekor kuda gagah, siang malam memacunya berganti-ganti. Go Eng Kiat membuka jalan dengan kedudukan sebagai ketua piauw tao, dari ke-73 piauw kek, semua perampok pada minggir memberi jalan. Mendengar ini, Lauw Nen lebih gondok lagi. Ingin rasanya ia segera menyeberang sungai menyerang Go Eng Kiat dan Go So Lan secara mati-matian. Kalau pada lima tahun yang lalu, pasti telah dilakukannya.

Tetapi selama lima tahun ini, ia telah mendapat berbagai pengalaman. Dan ia tahu lima tahun yang lalu, dirinya bukanlah tandingan Go Eng Kiat. Selama ini, walaupun ilmu silatnya maju pesat, namun lawannya pun tidak tinggal diam. Kalau bertindak sendirian, jangan-jangan belum dapat mengalahkan lawannya. Maka harus mencari akal lain, tidak boleh bertindak sembarangan. Ia telah mendengar Go Eng Kiat dan Go So Lan pasti mengambil jalan ini menyeberang sungai menuju ke utara. Maka satu dua hari ini, ia terus mundar mandir di tempat penyeberangan. Pada sore hari berikutnya, ketika ia sedang memandangi air sungai yang berombak-ombak dan memikirkan bagaimana menuntut balas sakit hatinya, tiba-tiba merasakan ada seseorang menghampirinya dengan diam-diam.

Begitu merasa ada orang mendekatinya, hati Lauw Nen telah bersiap siaga. Namun ia tetap diam saja, hanya tangan kanannya diangkat sedikit dan jari telunjuknya telah menyentuh gagang pedangnya. Didengarnya orang itu telah mendekat lagi, hanya berjarak empat lima kaki di belakangnya. Saat ini barulah ia menghunus pedangnya dan menusuk ke belakang.

Tangan kanannya menusuk, tangan kirinya telah menghunus yang satunya lagi. Bersamaan dengan itu, tubuhnya berputar dengan cepat. Pedang kirinya pun telah membabat dari atas ke bawah, rupanya tusukan tangan kanannya tadi adalah tusukan palsu. Ketika tubuhnya berputar, tusukan pedang kanan itu telah berubah membabat dari bawah ke atas. Kedua pedang panjang itu bagaikan sebuah naga, berubah tak henti-hentinya, hanya sekejap saja, kilatan pedang telah berkelebatan, orang yang di belakangnya itu tertegun sejenak, sepasang pedang Lauw Nen itu telah dimainkan secara sempurna sekali.

Kedua pedang itu sama-sama membabat ke arah leher orang itu, setelah dimainkan dengan sempurna, benar-benar dapat dengan segera memindahkan kepala orang yang mendekat itu. Tetapi ketika pedang Lauw Nen telah sampai di leher orang itu, tiba-tiba ia menghentikan tangannya, sepasang pedang yang sangt tajam itu telah berhetni di kanan kiri leher orang itu, ujung pedang telah nempel di kulit.

Walaupu belum sampai memecahkan kulit, namun perasaan tegang antara hidup dan mati malah lebih hebat daripada luka parah, telah mencengkam orang itu! Mukanya pucat pasi, mulutnya ternganga, tapi tidak dapat bersuara. Lauw Nen memandang orang itu, dilihatnya kepala orang itu lancip membentuk segi tiga, alisnya mencelat ke atas, rupanya bukan orang baik-baik. Ketika ia baru mau bertanya, tiba-tiba ia melihat seorang lagi yang berumur setengah baya melompat-lompat menghampirinya. Sampai di depannya, lalu menjura : "Sudilah kiranya pendekar budiman mengampuni anak buah kami yang tidak berniat jahat ini!"

Lauw Nen tertawa dingin : "Dia tidak berniat jahat? Kenapa dia menghampiri aku dengan diam-diam?"

ORang setengah baya itu berkata sambil tertawa : "Pang cu kami mengundang pendekar budiman untuk berbicara. Budak ini tidak mengundang pendekar budiman secara hormat.

Semoga pendekar budiman sudi memandang Pang cu kami, dan mengampuninya!"

Lauw Nen bertanya dengan heran : "Siapa Pang cu kamu?" "Hilir sungan Yangze, Ching li pang (ikatan ikan li hijau)

pangcu Chen Yauw Cing," kata orang itu. Hati Lauw Nen berdetak, serunya : "Oh, rupanya Chen pang cu yang disebut orang... SAm Yauw Liong Bun (tiga kali loncat gerbang naga)! Untuk apa dia mau menemui aku?"

"Pendekar budiman telah berhari-hari mundar mandir di tepi sungai, apakah sedang..." orang itu maju setindak dan berkata dengan suara rendah. Sampai disini ia berhenti sejenak, dan tertawa misterius. Lalu sambungnya dengan suara yang lebih ditekan rendah : "Apakah sedang mengintai Go Engkiat dan adiknya?"

"Kalau ya mau apa? Kalau bukan mau apa?" Lauw Nen tertegun lagi.

"Harap pendekar budiman bicara dengan Pang cu kami, nanti bisa tahu," suara rendah dari orang itu.

"Dimana Pang cu kamu?" berkata Lauw Nen.

Orang itu menunjuk ke sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah sungai : "Pang cu kami menunggu di atas kapal itu."

Lauw Nen menarik kembali pedangnya sambil melangkah mundur, menarik napas panjang, dan mukanya pun telah normal kembali.

Orang itu menunjuk lagi ke sebuah perahu kecil di tepi sungai : "Pendekar, silahkan."

Hati Lauw Nen mengumpat dalam hatinya. Chen Yauw cing, Pang cu dari Cing li pang ini termasuk seorang yang aneh di hilir sungai Yangze, ilmu silatnya walaupun tidak seberapa, namun ia memiliki kepandaian yang lain. Ilmu dalam airnya baik sekali, dapat menduduki tempat ketiga, hanya dibawah dari Kim Li Tong Po dari sungai kuning, dan Pwee Sa (hiu terbang) Ong Lang dari lautan Timur. Ia dapat berdiam di dalamair selama 9 hari 9 malam, dan mahir sekali membuat senjata dalam air. Anak buahnya banyak sekali, walaupun seorang jago silat nomor satu takkan mampunya melawannya dalam air. Sedangkan sungai Yangze ini adalah jalan utama yang menghubungi bagian utara dan selatan, maka Ching li pang adalah satu perkumpulan yang besar, dan nama pang cu-nya pun terkenal. Lauw Nen berpikir dalam hati mendengar nada orang itu. Rupanya Chen Yauw Cing pun juga sedang mengintai kakak beradik Go Eng Kiat. Dirinya sedang sangsi apakah ia akan berhasil kalau bertindak sendirian. Andaikata dapat bantuan dari Chen Yauw Cing, itu adalah suatu hal yang baik sekali. Setelah berpikir,ia tertawa : "Baiklah, mari!" Dienjot tubuhnya dan melayang hingga di perahu kecil. Sedang kedua orang itu harus mengambil jalan darat, melangkah beberapa tindak baru sampai di perahu kecil. Dengan segera mereka mengayuh mendayung ke depan. Lajunya cepat sekali, hanya sekejap saja telah tiba di pinggir kapal.

Ada lima enam orang berdiri di haluan yang terdepan, berbadan pendek, berjubah hijau, kulitnya kehitam-hitaman, rauta mukanya cerah. Hati Lauw Nen menebak-nebak orang pendek itu pastilah pang cu dari Ching li pang. Dan ia memang berhasrat menunjukkan kepandaiannya, ketika perahu itu masih berjarak lima enam kaki dari kapal, ia telah memusatkan tenagannya melayangkan tubuhnya. Haluan kapal itu kira-kira setinggi satu tombak, tapi melayangnya tubuh Lauw Nen persis mencapai satu tombak lima enam kaki, lalu diberatkan tubuhnya, orangnya telah turun di atas dek.

Ilmu Gin kang (mengentengkan tubuh) itu, walaupun belum dapat digolongkan kedalam kelas berat,tapi menimbang usianya masih sangat muda, hal itupun menjadi hebat sekali! Demikian ia berdiri, dilihatnya pada wajah mereka itu terpancang perasaan kagum dan ia merasa sangat bangga, katanya sambil menjura : "Yang mana Chen pang cu?"

Segera si pendek menyahut : "Saya Chen Yauw Ting, dapatkah anda memberi tahu nama besar anda?"

Lauw Nen ingin seera menyebut namanya. Tapi otaknya berputar lagi, ia mengumpat dalam hatinya : "Mungkin aku akan kerja sama dengan Ching li pang untuk menghadapi kakak beradik Go Eng Kiat. Lebih baik tidak menyebut nama aslinya." Maka ia tertawa : "Kita kebetulan bertemu, untuk apa menyebut nama? Pang cu ada urusan apa, bicaralah terus terang."

Ching li pang cu bukan orang sembarangan, mendengar ucapan Lauw Nen, ia segera mengerti lawannya tidak mau menyebutkan namanya. Ia pun tertawa : "Silahkan pendekar budiman masuk ke dalam untuk bicara."

Lauw Nen berpikir dalam hati, dirinya tidak bisa main dalam air. Andaikata Ching li pang mau mencelakainya, di atas dek ini tempatnya masih cukup besar, ia masih dapat bersilat.

Tapai kalau masuk ke dalam, bukankah tidak menguntungkan baginya? Maka ia geleng-geleng kepala : "Kapal ini berada di tengah-tengah sungai, tidak ada orang lain yang mendengar, bicaralah disini saja."

"Baik, baik! Pendekar membawa sepasang pedang, tentunya sangat mahir dalam ilmu pedang!"

"Tidak berani, tidak berani!" sahut Lauw Nen.

"Apakah anda kenal dengan keluar Go dari Kang Lam?" berkata Chen pang cu.

Lauw Nen mendengar, hatinya mengumpat : "Pembicaraan itu telah mulai." Ia mengerutkan keningnya : "Beberapa tahun yang lalu ada sedikit perselisihan."

"Maka kedatangan anda sekali ini untuk membuat suatu kerusuhan atas diri mereka, bukan?" Chen pang cu tertawa.

"Memang demikian, apakah pang cu pun mempunyai rencana demikian?" berkata Lauw Nen dengan nada yang berat.

Kedua-duanya telah berbicara terus terang maka kedua- duanya pun tertawa terbahak-bahak. "Ilmu silat anda tinggi sekali, itulah yang kami andalkan.

Kami telah menyelidiki. Besok sore ada intan berlian sebanyak 12 kereta akan menyeberangi sungai, ketika itu semua orang yang berada di atas kapal penyeberang adalah orang-orang kami. Kapal sampai di tengah sungai, orang-orang kami akan meloncat ke dalam air, membolongi kapal dari bawah. Hanya kami kuatir kakak beradik Go Eng Kiat dan Go So Lan akan mengamuk, maka kami minta pertolongan anda," kata Chen pang cu.

Hati Lauw Nen merasa girang sekali, inilah suatu hal yang diidam-idamkannya. Sahutnya buru-buru : "Baik sekali."

"Kita blak-blakan. Kalau telah berhasil, anda minta berapa?" Chen pang cu tertawa.

"Semua harta benda menjadi milikmu, sedikitpun aku tidak mau," kata Lauw Nen.

Chen pang cu tertegun :"Pendekar tidak mau kerja sama?" "Tentu saja bukan, aku hanya mengingini orangnya,"

berkata Lauw Nen.

Chen pang cu baru sadar : "Ya, jagoan mau si cantik, memang seharusnya demikian. Saya pasti akan menyuruh saudara-saudara kami untuk berhati-hati terhadap nona Go, supaya jangan melukainya. Agar dapat dipersembahkan pada anda dengan utuh.

***

Sementara itu, seluruh Ching li pang, dari atas sampai ke bawah, pada bersuka ria menunggu besok sore. Setelah kedua belas kereta intan berlian itu sampai di tengah sungai, mereka akan turun tangan "kerjain". Malamnya Lauw Nen nginap di kapal, hatinya pun merasa girang, hingga ia bolak balik tidak dapat pules.

Keesokannya sang surya mulai timbul, membuat permukaan sungai itu menjadi keemas-emasan, bagikan beribu-ribu ular kecil yang bertubuh emas seliran di atas air. Pemandangannnya indah sekali, sesaat kemudian matahari baru meninggi, keemas-emasan di permukaan sungai itu pun lenyaplah sudah. Lauw Nen mundar mandir di atas dek kapal dengan gelisah. Orang Ching li pang banyak yang telah meloncat ke dalam air, berenang ke tengah, lalu timbul lagi. Kepandaian mereka dalam air memang mengagumkan, setelah mereka menyelam tidak tampak mereka lagi. Hati Lauw Nen merasa tegang, karena menyergap Go Eng Kiat secara terang-terangan ini, hanya boleh berhasil, tidak boleh gagal. Kalau gagal, taruhlah seandainya dapat lolos, walaupun bumi ini lebar, tapi tidak ada tempat lagi baginya untuk berpijak. Namun dalam ketegangan itu, ia pun bergembira, karena ia melihat orang Ching li pang banyak, rencana mereka begitu rapih, ditambah lagi dengan senjata yang dibuat untuk dipergunakan di dalam air oleh Chen Yauw Cing, harapan berhasil itu besar sekali. Kalau saja berhasil, ia akan menghadapkan Go So Lan, ketika itu baik Go So Lan mau atau tidak, ia akan... Lauw Nen berpikir sampai disini, hatinya sungguh-sungguh gatal tak tertahankan!

Setelah keemas-emasan lenyap dari permukaan sungai, terdengar suara Chen pang cu berkata dari dek : "Pendekar, silahkan keluar!"

Lauw Nen menekan pedang yang berada di pinggangnya, membungkuk, lalu keluar menghampiri dek. Dilihatnya Chen pang cu telah menggenggam kulit ikan, tangannya memegang sebuah tombak pendek yang bermata tiga, dan menunjuk ke depan : "Lihatlah, kapal mereka telah datang."

Buru-buru Lauw Nen berpaling, dilihatnya ada sebuah kapal besar sedang bergerak dari seberang sana. Di kedua sisi kapal, paling tidak ada 70 atau 80 pengayuh, mendayung dengan teratur. Sedangkan di atas kapal, terletak belasan kereta barang, di setiap kereta ditancapkan berbagai bendera yang beraneka warna. Itulah lambang dari Piauw Kek masing- masing. Di haluan tertancap sebuah bendera merah, di tengah-tengah bendera itu tertera sebuah guci besar yang berwarna emas. Di tengah-tengah guci itu tertulis sebuah huruf "Go" yang berwarna hitam. Merah, kuning dan hitam

ketiga warna itu sangat menyolok dan menyilaukan mata yang memandangnya. Begitu melihat guci emas itu berkibar ditiup angin, hati Lauw Nen agak mengkerut. Tapi segera pula ia melihat, di bawah bendera besar di haluan kapal itu berdiri seorang putri yang menggunakan pakaian berwarna kuning.

Sementar itu, kapal Lauw Nen berada di tengah sungai, dengan kapal penyeberang itu masih berjarak jauh sekali,tidak tampak jelas siapa gadis itu. Namun Lauw Nen pun segera tahu, itulah Go So Lan yang siang malam terus terbayang- bayang dalam benaknya, yang telah beberapa kali memalukannya,namun belum dapat berkenalan padanya. Ia pikir, seandainya nanti berhasil, bukan saja ia akan dapat membalas sakit hati dan dendamnya, bahkan ia akan memiliki si cantik. Lalu ia menggigit bibirnya : "Chen pang cu, kapan kita mulai turun tangan?"

Chen Yauw Cing menyipitkan matanya memandang ke depan : "Sudah dekat, di bawah kapal penyeberang itu kini telah dipenuhi oleh orang-orang kami, sampai di pertengahan kapal itu akan mulai tenggelam."

"Dan apa yang dapat aku lakukan?" tanya Lauw Nen. "Ilmu silat Go Eng Kiat sangat hebat, kepandaian dalam air

pun boleh, walaupun kapal itu tenggelam, ia masih dapat mengeluarkan kepandainnya maka kami telah khusus menyediakan sebuah perahu supa pendekar dapat melawannya. Lihatlah!" Chen Yauw Cing menunjukkan tangannya. Lauw Nen berpaling, dan dilihatnya sebuah perahu yang aneh sekali. Perahu itu bulat, garis tengahnya enam kaki, sekelilingnnya dilingkari dengan kulit besi. Ada 8 orang pendayungnya, mereka duduk di bawah lindungan kulit besi, pengayuhnya dikeluarkan melalui lubang besi.

Lauw Nen memandang perahu sejenak, ia tidak mengerti apa maksudnya. Ia menengadah, sebelum ia bertanya, Chen Yauw Cing telah berkata duluan : "Kau berdiri di perahu itu dimana saja Go Eng Kiat berada, mereka akan membawa kau ke dekatnya, supaya kau dapat menghadapinya. Jangan biarkan dia naik, aku rasa kau menghadapinya dari atas, sedangkan dia berada di bawah, ditambah lagi dengan sergapan orang kami dari bawah air, kita pasti akan berhasil!"

Sementara itu, kapal penyeberang telah mendekat. Lauw Nen berkata dengan suara berat : "Aku masih ada pertanyaan, kali ini, Go Eng Kiat memikul beban yang sangat berat dari 70 lebih Piauw kek, setelah kejadian nanti, apakah Ching li pang tidak takut kelak ada orang datang membalas dendam?"

Chen Yauw Cing tertawa : "Engkau jangan menguatirkan kami, kami mempunyai akal namun engkau yang harus berhati-hati."

Ucapan itu menyinarkan Lauw Nen, katanya : "Chen pang cu, pinjamkan aku sebuah topeng!"

"Tentu saja boleh." Chen Yauw Cing tertawa, merogoh dadanya dan mengeluarkan sebuah topeng kulit manusia,disambut oleh Lauw Nen dan dikenakannya.

Kapal penyeberang itu telah lebih dekat, gadi syang berdiri di haluan kapal itu memanglah Go So Lan. Pandangan Lauw Nen terus menatap tubuh Go So Lan dari jauh, hatinya berdebar-debar, hingga suara teriakan yang hebat dari kapal penyeberang itu pun tidak diketahuinya, sampai Chen pang cu mendorongnya, baru ia sadar. Dilihatnya kapal penyeberang itu mulai miring, kereta-kereta di atas kapal itu telah miring ke satu sisi, bahkan ada yang telah jatuh ke dalam air.Bahkan pendayungnya pun pada terjatuh ke sungai. Keadaaan di atas kapal itu menjadi kacau balau, suara orang bergemuruh, terdengar suara ada seseorang berteriak : "Jangan panik, jangan panik, siapa yang mencari ribut dengan oran gshe Go? Mencegat kereta barang di tengah sungai?"

Chen pang cu meloncat sambil bereriak : "Ching li pang dari sungai Yangze!" Berikut teriakannya itu, kedua tangannya mengacung ke atas dan tubuhnya beranjak melompat ke atas tiga kaki tingginya, lalu terjun ke dalam air. Ilmu Chen pang cu sederhana sekali, namun kepandaian dalam air hebat sekali. Ketika nyemplung ke dalam air bahkan tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Melihat Chen pang cu terjun ke air, Lauw Nen pun buru- buru mengangkat tubuhnya meloncat turun dari kapalnya. Ketika orangnya masih di udara, terdengar dua buah suara "Cring, cring", kedua pedangnya telah terhunus dari sangkarnya. Kini ilmunya sangat tinggi. Setelah meloncat, ia turun di perahu bundar dengan perlahan.

Ke-delapan pendayung berteriak bersama-sama penagayuhnya bererak serentak, perahu itu telah meluncur ke depan.

Hanya dalam sekejap saja kapal penyeberang itu telah tenggelam separuhnya. Segala sesuatu di atas kapal itu, hampir seluruhnya telah jatuh ke dalam sungai. Orang-orang Ching li pang semuanya jago-jago air, barang-barang jatuh ke sungai, sama saja seperti masuk ke dalam kantong mereka. Di atas kapal peneyberang itu hanya tertinggal belasan hewan yang masih terikat dengan tambang, berteriak-teriak dan merontak tak henti-hentinya. Ada beberapa kuda yang bertenaga kuat, telah meronta memutuskan tali pengikat, seliweran di atas air. Orang-orang Ching li pang yang menyelam tadi, kini telah ada separuh yang timbul kembali, mereka berteriak : "Ching li pang! Ching li pang! Teriakan itu menggema di atas sungai. Di sungai itu banyak perahu dan kapal-kapal yang menyeberang kesana kemari, namun begitu mendengar teriakan 'Ching li pang', mereka segera berhenti, memutar haluan meninggalkan tempat kejadian itu. Di atas sungai yang lebar itu, jadilah dunia Ching li pang yang seenak perut menggarong di siang hari bolong. Dengan demikian tahulah bahwa Ching li pang memang mempunyai pengaruh yang besar di sekitar sini!

Di atas sungai menjadi kacau balau. Orang-orang pada berkelahi, hingga memercikkan air. Berkelahi dalam air, kecuali orang yang bertenaga dalam yang sangat tinggi. Kalau tidak, ilmunya tidak dapat digunakan. Taruhlah jurus sangat hebat pun menjadi lamaan karena halangan air, tidak dapat dilancarkan secara sempurna. Sedangkan orang-orang Ching li pang mendapatkan keuntungan yang besar, mereka ssemua mengenakan pakaian ketat dan senjata mereka adalah tombak kecil yang kurus panjang atau Pun Cui Go Be Ce (tombak alis mata pemecah air), dimainkan dalam air dengan lincah sekali. Terlebih-lebih pakaian ketat mereka telah direndam berkali- kali dengan minyak kayu Tong, dibabat dengan senjata kalau bukan tenaga yang sangat kuat, tidak dapat melukai tubuh mereka. Kerusuhan di atas sungai itu telah dapat dibedakan siapa yang menang siapa yang kalah. Orang-orang piauw kek, kalau bukan terluka dan berenang terbirit-birit meninggalkan tempat itu, telah menjadi mayat terapung di atas sungai. Dari tubuh mereka mengalir darah segar yang membuat air itu menjadi merah, hanya ada dua orang bergerak di atas sungai laksana dua ekor ikan besar, meloncat kian kemari dengan lincah sekali. Lauw Nen mengenali kedua orang itu, yang satu adalah Go Eng Kiat yang bertubuh pendek dan yang satu lagi ialah Ching li pang pang cu.

Chen pang cu tampaknya dengan sengaja mengelak berhadapan dengan Go Eng Kiat. Kalau Go Eng Kiat menghampirinya, buru-buru ia mengelak, dan Lauw Nen kini sedang dengan mati-matian mencari kemana jatuhnya Go So Lan. Ia tidak dapat melihat bayangannya, ketika hatinya sedang gusar, tiba-tiba mendengar teriakan orang Ching li pang : "Nona Go telah tertangkap!"

Lauw Nen segera menjadi bersemangat, baru ia ingin menyuruh pendayung mendayung ke arah Go So Lan, terdengar suara "war" dari air. Chen pang cu telah meloncat ke perahu dari dalam air, katanya setelah turun di perahu : "Ayo, lekas hadapi Go Eng Kiat!"

Lauw Nen mengangguk, lengan ke-delapan pendayung itu bergerak, perahunya telah meluncur menyambar Go Eng Kiat, yang telah melukai belasan orang Ching li pang. Namun melihat barang-barangnya telah lenyap ditelan oleh sungai, keadaan itni tidak dapat diperbaiki lagi, hatinya menjadi gusar dan marah, mukanya pucat, matanya membara. Begitu melihat ada perahu menghampirinya, ia berteriak dan menusukkan senjatanya ke arah perahu itu.

Sekeliling perahu itu dilapisi dengan kulit besi, tusukan Go Eng Kiat, walaupun tenaga cukup kuat, namun tidak berhasil merusaknya. Tetapi tenaga tusukannya itu membuat tubuhnya terpental ke atas permukaan air, walaupun ilmu dalam air Go Eng Kiat cukup baik, tapi mana sebanding orang-orang Ching li pang. Kini ia berada di atas permukaan air, dan melihat Ching li pang cu ada di atas perahu, hatinya menjadi girang dan mengumpat dalam hatinya. Seandainya dapat menangkap pang cu, barang-barang yang lenyap itu mungkin dapat dicari kembali.

Go Eng Kiat sedari kecil dibesarkan di Kang Lam, sedikit banyak ia mengetahui seluk beluk Ching li pang. Ia tahu orang-orang Ching li pang tidak ada yang berilmu tinggi, tapi ilmu dalam air sangat hebat, bahkan pang cunya tidak terkecuali. Maka ia sedikit pun tidak menghiraukan orang bertampang jelek yang berdiri di samping pang cu itu. Begitu ia keluar dari air, berteriak dan menerjang dengan palu dalam tangannya.

Beberapa tahun ini, ilmu silat Go Eng Kiat maju pesat sekali. Jurusannya itau dikeluarkan ketika tubuhnya masih berada di udara, sedangkan senjata palunya itu adalah senjata yang berat. Kalau tenaganya tidak kuat, jurus itu belum keluar, orangnya jangan-jangan bisa jatuh. , Namun jurus Go Eng Kiat dikeluarkan dengan manis sekali, bayangan palu itu menekan dari ke-delapan penjuru; dengan segera menutup perahu bundar itu. Walaupun Chen Yauw Cing ingin kabur, tapi telah terlambat.

Hanya sekejap saja, roh Chen Yauw Cing telah bergemetar.

Ia berteriak ketakutan, dan pada ketika teriaknya itulah terdengar suara "Cring cring" dua kali. Dua buah pedang telah menusuk dari bawah ke atas, kedua pedang itu dilancarkan oleh Lauw Nen, jurusan itu ialah "Siang Niau Tou Lim" (sepasang burung masuk ke hutan)! Kedua pedang itu baru dilancarkan, Go Eng Kiat yang berada di udara itu telah terperanjat, karena ia mendengar suara senjata memecah udara begitu dahsyat. Lantas ia tahu bahwa orang yang melancarkan serangan pedang itu ilmunya tidak dapat dianggap enteng. Di dalam Ching li pang boleh dikatakan tidak ada orang yang berkepandaian sedemikian tingginya, kalau demikian Ching li pang telah mengundang orang luar?"

Ketika pikiran itu berputar-putar di benak Go Eng Kiat, sepasang pedang panjang itu hampir menusuk tubuhnya. Ia tahu tidak mungkin lagi untuk menangkap Chen Yauw Cing. Ia membalikkan palunya menghantam sepasang pedang yang datang menusuk itu. Namun tangan Lauw Nen diturunkan, sepasang pedangnya telah mengelak dan tubuh Go Eng Kiat telah turun di atas perahu. Baru Go Eng Kiat sampai di atas perahu, Chen Yauw Cing telah berteriak, memiringkan tubuhnya dan meloncat ke dalam air. Ke-delapan pendayung itu pun turut meloncat ke dalam air, sedangkan Lauw Nen telah menyerang tiga jurus sebelum Go Eng Kiat dapat berdiri dengan tegap.

Tiga jurus enam pedang, tenaganya dahsyat sekali, hingga membuat Go Eng Kiat agak kewalahan. Namun palunya yang bersegi delapan itu, walaupun tidak dapat digunakan dalam air, setelah sampai di atas perahu, keadaannya telah berubah, dapat menyerang dapat pula berjaga. DAlam sekejap saja, terdengar suara "Cring cring" yang tak habis-habisnya. Ia telah dapat mengelak seluruh serangan yang dilancarkan oleh Lauw Nen, lalu teriaknya : "Siapa kamu?"

Namun Lauw Nen diam saja, ketiga jurusnya tidak berhasil. Ketika ia melancarkan jurus ke-empat, tubuhnya menunduk, sepasang pedangnya yang satu duluan dan yang satu lagi menyusul dari belakang menyerang bagian bawah Go Eng Kiat. Go Eng Kiat mengangkat tubuhnya melambung tiga kaki tingginya, baru ia ingin menyerang dengan palunya, tiba-tiba ia mendengar teriakan suara yang halus : "Toa ko!" Segera Go Eng Kiat menoleh, dan dilihatnya ada sebuah perahu kecil yang terus hilir dengan cepatnya. Chen pang cu berdiri di atas perahu, di sisinya adalah Go So Lan yang telah terikat kencang. Go Eng Kiat melihat keadaan itu, ia meraung, tidak mau lagi bertempur dengan Lauw Nen. Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan meloncat ke dalam air.

Loncatannya itu dengan tidak sengaja telah mengelak serangan Lauw Nen untuk kelima jurus. Tapi Lauw Nen melihat Go Eng Kiat ingin kabur, dihempaskannya tanganya, sebuah suara berdesir, pedang panjangnya telah melesat dari tangannya. Pedang panjangnya telah melesat dari tangannya, terus menembusi pinggang Go Eng Kiat. Tenaga lemparan itu begitu dahsyatnya, hingga pedang panjang itu terus terbenam hingga sampai ke gagangnya, luka Go Eng Kiat menyemburkan darah segar!"

Begitu berhasil, dan melihat Go So Lan berada dalam tangan orang Ching li pang, hati Lauw Nen menjadi girang, pedang kedua Lauw Nen telah melayang lagi. Go Eng Kiat telah tertusuk dengan sebuah pedang panjang, napasnya hampir saja putus, mana mungkin ia dapat mengelak dari serangan kedua itu. Segera ia tertusuk kembali, tubuhnya terjatuh, separuh dirinya masih tersangkut di atas perahu. Lauw Nen menunduk mencabut sepasang pedangnya, teriaknya : "Berhasil, sudah berhasil!"

Dengan membawa Go So Lan sebagai tahanan, perahu Chen pang cu telah mendekati Lauw Nen, dan Lauw Nen melompat pindah perahu : "Pang cu, kita telah berhasil!"

"Chen pang cu tertaw : "Kita laksanakan perjanjian kita."

Ia takut Lauw Nen akan mengingkari janjinya, maka ia bertanya demikian. Seandainya kini Lauw Nen ingin minta bagi harta benda itu, maka Chen Yauw Cing akan turun tangan menyerangnya. Namun Lauw Nen tidak berminat atas harta benda. Setelah ia berdiri dan melihat Go So Lan telah berada di samping, hatinya berdetak dengan kencang mengetuk dinding jantungnya : "Tentu saja menurut perjanjian kita; kereta intan berlianitu menjadi milikmu, aku hanya menghendaki orangnya saja."

Chen Yauw Cing tertawa lebar : "Anda memang betul-betul seoran ksatria; orangnya disini, ambillah!"

Berkata Chen Yauw Cing sambil tangannya mendorong ke depan. Dorongannya itu persis mengenai tubuh Go So Lan yang terikat kencang, hingga tubuh Go So Lan melesat ke depan dan terjatuh di hadapan Lauw Nen. Buru-buru Lauw Nen membentangkan tangannya memeluk Go So Lan. Saat ini, tubuh Go So Lan telah ditotok jalan darahnya dan diikat lagi, ia tidak dapat melawan. Lauw Nen dapat memeluknya dengan sesuka hati, sedangkan wajahnya telah pucat sekali. Memeluk si cantik dalam pelukannya, hati Lauw Nen berdebar-debar dengan kencang. Ketika ia tidak tahu harus berbuat apa, ia mendengar suara taw Chen pang cu : "Pendekar, selamat tinggal!" tubuhnay meronjak dan terjun ke dalam air. Setelah Chen Yauw Cing terdun ke dalam air, perahu kecil itu pun bertambah cepat lajunya.

Perahu kecil itu menuruti air hilir sudah cukup cepat, dikayuh lagi, kecepatannya bertambah tinggi, bagai sebuah anak panah yang terlepas dari busurnya terus meluncur ke bawah, hanya sekejap saja kapal besar itu telah tertinggal jauh sekali. Kira-kira berjarak enam tujuh li, Lauw Nen terus memeluk Go So Lan dengan perasaan was-was, hingga tidak dapat menentukanapa yang harus diperbuatnya.

Setelah hilir enam tujuh li, perahu kecil itu belok masuk ke sebuah anak sungai yang sempit, yang ditumbuhi rumput air yang tinggi. Sampai di tengah rumput, perahu kecil itu berhenti. Ke-delapan pendayung itupun berdiri dengan serempak, salahsatu yang agak berumur menjura pada Lauw Nen : "Pendekar, kami hanya dapat mengantar sampai disini saja, selanjutnya berhati-hatilah sendiri!"

Belum sempat Lauw Nen membalas menjura, ke-delapan orang itu telah terjun ke dalam air, berenang pergi meninggalkan perahu kecil itu. Di dalam air, ke-delapan orang itu semuanya seperti ikan, lincahnya bukan main, sebentar saja telah lenyap.

Setelah kepergian ke-delapan orang itu, di perahu kecil hanya tertinggal Lauw Nen dan Go So Lan sja berdua. Buru- buru Lauw Nen meletakkan Go So Lan di tengah-tengah perahu,dan ia sendiri mundur ke buritan mengayuh. Anak sungai itu bercabang-cabang banyak sekali, Lauw Nen tidak perduli dimana; hanya memilih tempat yang sunyi, lebih sunyi tempatnya lebih terlantar, rumput air tingginya menelan manusia. Setelah memastikan takkan ada orang yang datang, Lauw Nen baru menghentikan perahu itu. Orangnnya di buritan, tapi ia dapat melihat Go So Lan yang berada di tengah-tengah perahu. Ia dapat berbuat sesuka hatinya. Tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, buru-buru ia menghampiri Go So Lan.

Kini, hari telah senja, matahari hampir terbenam, sisa sinarnya membuat langit-langit menjadi merah, rumput air berbayang menjatuhkan bayangan di atas perahu, seakan membuat perahu itu berada di sebuah jala besar. Setelah Lauw Nen masuk ke tengah, napasnya pun menjadi kasar. Di dalam perahu itu agak gelap, namun Lauw Nen masih dapat melihat muka Go So Lan yang pucat pasi itu. Meskipun wajah Go So Lan pucatpasi, namun nampaknya masih memiliki suatu kecantikan yang sulit dilukiskan.

Lauw Nen mengulurkan tangannya, ia merasa heran, karena tangannya bergemetar. Ia bertanya pada diri sendiri : "Taku apa? Apa yang kau takuti" Takkan ada orang y ang lewat disini. Go So Lan telah menjadi sebuah daging empuk di dekat mulutnya, apa yang ditakuti? Ia berpikir bolak balik, tidak ada yang harus ditakuti, tapi getaran tangannya kian lama kian hebat. Tadinya ia ingin meraba sesukanya di muka Go So Lan, namun kini tangannya baru terulur separuh, terpaksa ia tarik kembali karena getaran yang sangat hebat itu. DAn ia menarik napasnya panjang-panjang :"Go kouw nio, aku... bukakan totokanmu!" Begitu ia membuka mulut, terasa suaranya pun berubah, parau seperti diucapkan oleh orang lain, hingga didengar oleh dirinya sendiri pun terasa tidak sedap.

Setelah bertanya, ia tertawa pahit,karena teringat akan Go So Lan yang kena totok tentu saja tidak dapat menyahut pertanyaannya. Namun hal itu berubah di luar dugaannnya, terdengar Go So Lan menyahut : "Siapa kau?"

Suara Go So Lan dingin dan tenang, bukan merupakan bentakan tetapi perkataan setenang itu membuat getaran yang diterima oleh Lauw Nen dahsyat sekali. Tubuhnya beranjak melompat ke atas, "Buk" suara benturan. Rupanya kepalanya telah membentur atap dari penutup perahu itu, penutup itu hanya terbuat dari tikar rumput dan kertas, mana dapat menahan tenaga tubrukannya? Suara "bles" kepala Lauw Nen telah nongol di luar, persis menghadap ke barat.

Pancaran sinar matahari memancar ke mukanya. Sesaat itu tentu saja tubuh Lauw Nen tidak merasa sakit apa pun, namun perasaan dalam hatinya, seperti telah disambar oleh geledek. Rasanya getarannya serasa tidak terbendung lagi. Untuk sesaat, bahkan ia lupa untuk menarik kembali kepalanya.

Tentu saja Lauw Nen tidak mengira bahwa orang-orang Ching li pang sederhana sekali walaupun Go So Lan telah tertotok hingga tubuhnya tak dapat bergerak namun totokan itu cetek sekali maka Go So Lan dapat membuka mulut berbicara, hanya saja ia terus tidak bersuara! Lauw Nen mematung dengan kepala di luar dan tubuhnya di dalam, hatinya berdebar-debar. Terus hingga matahari senja tenggelam kegelapan mulai menutupi bumi dan menutupi dia. Dia baru merasa mendapat perlindungan, hatinya mulai senang. Ia bertanya pada dirinya sendiri : "Lauw Nen, oh Lauw Nen! Apa yang kau takuti?"

Maksudnya bertanya pada dirinya sendiri, ialah untuk mendapatkan jawaban 'tidak takut' untuk memberanikan diri sendiri. Tetapi setelah bertanya begitu, ia berpikir lebih banyak lagi, hingga membuatnya tidak dapat tidak takut!

Memang benar, Go So Lan telah berada dalam tangannya, disini, tidak mungkin ada orang. Go So Lan dapat diperlakukan sesuka hatinya. Ia dapat melampiaskan nafsu binatang.

Tetapi, apa ia dapat meloloskan dirinya? Kedua belas kereta intan berlian itu, dikawal serentak oleh 73 piauw kek. Ching li pang turun tangan di siang hari bolong. Setelah kehilangan barang-barang itu, apakah ke-3 piauw kek dapat melewatkannya begitu saja? Andaikata seorang Ching li pang tertangkap raut mukanya, senjata yang dipakainya, tentu saja dapat diketahui orang, mau bersembunyi dimana? Skandalnya sekali ini, ditukar dengan harga yang sangat mengejutkan orang, membuat orang bergemetar walaupun tidak dingin, membuat orang tidak berani memikirkannya lagi! Hingga disini, Lauw Nen tak tertahan lagi merasa menyesal. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, apa gunanya menyesal lagi?"

Sang malam makin lama makin tebal, suara kodok membisingkan telinga. Lauw Nen mulai merubah pikiran. Ia berpikir, kalau tidak menggunakan kekerasan, hingga membuat Go So Lan rela berbaik padanya. Tabiat wanita menurut keluar. Siapa tahu andaikata dirinya dengan Go So Lan telah menjadi suami istri kelak, ia dapat membantu merahasiakan perbuatan yang terkutuk itu. Kalau memang begitu bukankah si cantik itu akan menjadi milik abadinya? Inilah suatu hal yang baik sekali. Berpikir hingga disini, napasnya baru merasa lega. Tubuhnya memendek, kepalanya kembali masuk ke dalam perahu.

Sementara itu, rembulan telah memancarkan sinar lembut ke dalam perahu. Lauw Nen baru menarik kembali kepalanya, lantas terdengar Go So Lan berkata dengan dingin : "Siapa kau, kenapa tidak berani menunjukkan muka aslim?"

Timbul lagi perasaan takut dalam hati Lauw Nen, namun segera ia berkata pada dirinya : "wanita selalu suka ucapan yang manis-manis, lagi pula gampang sekali untuk menjebaknya. Mengapa tidak merayu untuk menghilangkan rasa marahnya?" Maka sebelum Lauw Nen membuka mulutnya, ia menghela napas panjang-panjang : "Go kouw nio, aku terpaksa berbuat demikian karena aku sangat tertarik padamu. Kau harus dapat memaafkan aku."

Go So Lan mendengar. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mendehem tertawa dingin.

Tertawa dingin membuat Lauw Nen seakan jatuh ke dalam lubang es. Untuk sesaat, tubuhnya merasa kedinginan hingga ucapan yang telah tersedia dalam lubuk hatinya itu tidak dapat diucapkan lagi. Untuk sesaat, ia tidak tahu apa yangharus dilakukan. Ia membeku sejenak, lalu perangai bengisnya kambuh kembali. Bentaknya : "Kalau kau tidak mau turut pada aku, kau akan menerima siksaan!"

Dalam bayangannya, Go So Lan hanyalah seorang wanita yang lemah. Dalam keadaan begini, masih ia tidak minta ampun? Kalau ia membuka mulut memohon, nanti bakal dirayu lagi. Tapi tak disangka, rayuannnya tadi hanya mendapat tertawa dingin sebagai balasannya. Kini ia menggunakankekerasan mengancam Go So Lan. Go So Lan pun masih membalas dengan tertawa dingin!