Terima Kasih buat yang sudah donasi, semoga rezeki cianpwee sekalian dilipatgandakanšŸ™

Asmara Pedang dan Golok Bab 15

Bab 15

Di dalam rumah selain gelap, sedikit pun tidak ada suara, sampai nafas dan suara batuk pun lama tidak terdengar, sepertinya orang-orang di dalam rumah ini sudah mati semua!

Li Poh-hoan sudah cukup lama berdiri di luar rumah, dia tetap tidak bergerak. Wajah dia yang tampan dan tubuhnya yang tegap lurus dan tinggi, juga tidak terlihat di dalam kegelapan malam.

Mendadak dia mendorong membuka pintu rumah, masuk dengan langkah besar, dan mengeluar-kan batu api menyalakan lampu dengan sinar redup, tapi cukup menerangi seluruh rumah.

Di dalam rumah memang tidak ada orang hidup, di atas lantai walaupun ada dua sosok manusia, tapi semuanya sudah mati, maka tidak bisa disebut orang, hanya bisa disebut mayat.

Li Poh-hoan dengan teliti memeriksa sejenak, mendadak dari dalam kantongnya mengeluarkan sebuah benda berserat warna abu-abu yang dilipat persegi. Sekali mengayunkan tangannya sudah berubah menjadi jaring serat selebar dua kaki panjang tiga kaki, lalu memasang telinga mendengarkan.

Sinar lemahnya seperti malam bintang tidak bersinar, lima orang diam-diam berjalan mendekati ramah itu.

Di dalam rumah menembus keluar sinar lampu yang kekuning-kuningan, mungkin masih ada orang belum tidur di tengah malam ini. Lima orang itu dibagi menjadi dua kelompok, dua orang di depan, satu laki-laki satu perempuan, yang di belakang adalah dua laki laki satu perempuan.

Begitu dua orang yang di depan menghentikan langkahnya, tiga orang di belakang juga mendekat, berdiri diam tidak bersuara. Kelihatan dua orang yang di depan kedudukannya lebih tinggi dari tiga orang yang ada di belakang.

Lemahnya sinar bintang membuat orang tidak bisa melihat dengan jelas wajah semua orang.

Tapi yang perempuan itu sudah membuka suara, lembut dan merdunya suaranya, orang yang pernah mendengarnya pasti tidak bisa lupa dia adalah Pu-couw-siancu.

Wajah yang laki laki itu walaupun sulit bisa dilihat dengan jelas, tapi suaranya menjelaskan masih sangat muda, ucapannya cepat dan jelas, rasanya wajah nya tidak akan buruk.

Laki-laki muda itu berkata:

Sebenarnya di luar sedikit suara pun tidak adaj tapi dia seperti orang lemah syawat penuh curiga, matanya dengan cepat melihat ke atas tiang atap......

"Siancu, kita sudah memeriksanya, di dalam rumah sedikit pun tidak ada suara, lebih baik kita masuk saja melihatnya, bagaimana?"

Suara Pu-couw-siancu manis membuat hati orang menjadi segar, sambil tertawa lembut dia berkata:

"Baiklah, yang lain berpencar, jika ada orang keluar, kecuali ada perintah, semua dihadang dan dibunuh!" Perintah ini sangat tidak berperasaan dan kejam, tapi diucapkan oleh suara yang manis, sungguh sangat tidak serasi.

Dua laki-laki satu perempuan yang berdiri hormat menyahut sekali, lalu berpencar bersembunyi di kegelapan malam.

Pu-couw-siancu dan laki-laki muda itu berjalan pelan- pelan, lalu mendorong membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Di bawah sinar lampu terlihat mata cantik Pu-couw- siancu seperti air jernih, wajah yang secantik bunga bersinar-sinar, cantik sekali.

Tapi yang laki-laki muda itupun tampan dan bisa menarikperhatian semua orang.

Terlihat wajah dia seperti memakai bedak, bibir seperti memakai lipstik, matanya hitam putih sangat jelas dan juga lincah, rasanya lebih cantik dari pada wanita cantik, apa lagi tingkahnya sedikit genit, jadi tampak sedikit lebih menonjol.

Mereka melihat dua mayat di dalam rumah, memeriksanya dengan teliti, lalu melihat-lihat ke sekeliling, baru kembali ke sisi meja.

Pu-couw-siancu duduk di kursi, laki-laki tampan itu berdiri disisinya.

Pu-couw-siancu berkata: "Liong Siang-yang, kau ingin berkata apa?" Laki-laki tampan itu dengan lembu t berkata: "Siancu, jika bicaraku salah, tolong jangan salahkan aku!"

Pu-couw-siancu menganggukan kepala, lalu mengangkat kepala melihat-lihat ke atas ke setiap tiang atap. Tapi gerakan dia ini selain tidak ada penjelasan, juga tidak ada ekspresi.

Maka pikiran dan perasaan apa yang ada di dalam hatinya, siapa pun tidak bisa tahu.

Sambil tertawa Liong Siang-yang berkata menjilat: "Siancu, dua orang ini pesilat tinggi. Yang satu mati karena memukul kepalanya sendiri, yang satunya lagi di bunuh oleh hawa pedang. Jika mereka bukan pesilat tinggi, maka yang satu sulit bisa meng-hancurkan kepala sendiri, yang satunya lagi juga tidak pantas dibunuh oleh 'hawa pedang' ilmu silatyang sangat tinggi ini!" Pu-couw-siancu berkata:

"Betul sekali, tapi siapa yang membunuh mereka?

Sudah berapa lama dia pergi? Kita bisa mengejarnya tidak? Bagaimana keadaan kakakku?" ,

Sederetan pertanyaan yang sulit dijawab.

Liong Siang-yang berpikir sejenak lalu berkata: "Aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka, tapi mayatnya sudah dingin, itu bisa dilihat orangnya sudah lama pergi. Tapi. "

Mendadak dia mengangkat kepala melihat-lihat pada tiang atap, baru berkata:

"Tapi pembunuhnya mungkin sudah pergi jauh, juga mungkin masih ada disini, terhadap hal ini aku tidak yakin!"

Pu-couw-siancu terdiam menundukan kepala, menutupi matanya yang mendadak menyorot sinar tajam dan dingin.

Dia terkejut oleh kehebatan ilmu silat Liong Siang-yang dan kemampuan penyelidikannya yang sangat teliti.

Sebenarnya siapa pun ingin anak buahnya berkemampuan tinggi, tapi Liong Siang-yang adalah wakilnya, kedudukannya sama dengan To Sam-nio dulu. Maka keadaannya jadi berbeda!

Dia mengangkat kepalanya sedikit, ekspresinya selain khawatir juga kesepian.

Liong Siang-yang melihat sampai matanya berkedip- kedip, baru berkata:

"Siancu kau kenapa? Kau merasa keadaannya sangat tidak menyenangkan?"

Terdengar suara Pu-couw-siancu yang sangat sedih dan berkata:

"Benar, aku merasa keadaannya sangat tidak menyenangkan, kukira ini siasatnya Biauw Cia-sa. sampai To Sam-nio pun sudah celaka."

Liong Siang-yang keheranan:

"Ternyata kau mengutus dia kesini untuk melindungi kakakmu. Tapi kenapa dia tidak ada disini? Walaupun dia sudah dicelakai oleh Biauw Cia-sa, seharusnya ada jejaknya walaupun sedikit!"

"Justru karena sedikit jejak pun tidak ada, aku jadi khawatir." Pu-couw-siancu berkata, "yang paling aku khawatirkan adalah di kemudian hari aku bertemu dengan dia, tapi dia terluka, dengan demikian jadi menjelaskan kenapa dia datangnya lebih telat dari pada kita."

Liong Siang-yang berguman:

"Betul, betul! Sebenarnya dia sudah datang kesini, sebelum kejadian juga sudah bicara dengan Biauw Cia-sa, sehingga kakakmu hilang misterius, anak buahnya Biauw Cia-sa juga tewas. Kita bukan saja sia-sia kemari, mungkin masih ada musuh yang tidak diketahui. " "Muncul musuh yang tidak diketahui, walau pun tidak bagus. Tapi saat ini yang paling aku khawatir kan adalah kakakku!"

Liong Siang-yang melihat dia sangat depresi, dan tidak pura-pura, dia jadi merasa keheranan:

"Kau masih memikirkan kakakmu? Aku ingat pada suatu kali guru pernah mengatakan, pikiran di antara kalian kakak beradik sudah tidak nyambung lagi, kau tidak akan merindukan dia lagi, malah di dalam mimpi pun kau tidak akan bertemu dengan dia. Tapi sekarang kau. "

Pu-couw-siancu menghelah nafas pelan:

"Jika dia tidak dalam keadaan bahaya, tentu aku tidak akan memikirkan dia. " ^

Hemm, aku memang tidak memikirkan dia. Tapi buat apa kau tahu? Pikiran di dalam hatinya Pu-couw-siancu, sedikit pun tidak mempengaruhi ekspresi kesedihan di wajahnya.

Ketua Tong-to-bun Sen Hai-kun tentu merawat mu seperti merawat aku dulu bukan? Kau mungkin akan mengambil alih kedudukanku, maka guru memberitahukan rahasiaku, apakah begitu?

Tapi mengenai mengambil alih kedudukan dia masih ada waktu untuk mengatasinya, hal terpenting sekarang adalah hawa membunuh yang datang dari atas itu.

Orang yang mampu menimbulkan hawa membunuh yang dingin ini, di dunia sangat sedikit.

Hoyan Tiang-souw dan Li Poh-hoan bisa termasuk ke dalam hitungan ini. Jika dia Li Poh-hoan, maka masalah akan lebih sulit dan akan menghabiskan banyak pikiran untuk menghadapinya!

Dengan sebelah tangan menopang dagunya, bayangan sikutnya di atas meja hitam sangat putih dan licin.

Bibir dia tidak bergerak, mata pun tidak bergerak. Tapi dari pusarnya berkumpul segulung arus panas, seperti bola api.

Jika itu bola api betulan, mungkin perut siapa pun tidak bisa menampungnya.

Ketika bola api ini panasnya sampai pada taraf yang paling tinggi, tiba-tiba penglihatannya berubah seperti ada seperti tidak ada.

Dengan kata lain, bola api ilu memang nyata ada, tapi juga seperti bayangan yang tidak nyata.

Saat ini otak Pu-couw-siancu sedikit pun tidak berpikir pada hal lain, ketika tubuhnya mulai bergerak, bayangannya muncul lagi, lalu dia seperti berkata pada orang lain dengan pikirannya, dia berkata:

"Aku ingin kau menempuh bahaya!"

Dalam pikirannya, dia tidak tahu, bagian yang mana mengeluarkan jawaban. Jawabannya adalah:

"Siancu silahkan katakan, tentu aku harus menuru tperintah menempuh bahaya i tu!'

'Pikiran' dia berkata lagi:

"Aku ingin kau memancing keluar musuh yang tidak terlihatitu. Kau mungkin sudah tahu maksudku!" "Aku tahu!" kata suara misterius itu. "Bagus, lakukanlah. Kau boleh menggunakan cara yang paling lihay, tapi ingat kau harus bisa ber-tahan sampai lima jurus. Jika kurang dari lima jurus mungkin aku tidak akan sempat datangmembantu!"

"Jika aku sampai tidak mampu bertahan lima jurus, aku mati pun tidak menyesal!" kata suara itu.

Di bawah sinar kuning redup, di dalam rumah sedikit pun tidak ada suara.

Pu-couw-siancu dan Liong Siang-yang, yang satu sedih, yang satu lagi bola matanya berputar-putar memeriksa keadaan di sekeliling.

Siapa pun tidak tahu mereka telah berbicara cukup banyak (sebenarnya mereka berbicara di dalam hati, makanya bisa disebut pikirannya menyambung).

Ilmu aneh dan misterius ini, adalah salah satu ilmu silat Sen Hai-kun yang paling rahasia, disebut Yang-yan-hoan- sim-kang (Ilmu matahari berganti ha ti).

Ilmu aneh ini dibagi dua bagian, yang satu adalah Sim- suo (Kunci hati), yang satu lagi adalah Sim-jiau (Jembatan hati).

Yang pertama disebut ilmu mengunci pikiran, yang belakangan disebut ilmu menghubungkan pikiran. Kemampuan kedua ilmu ini sangat aneh dan misterius, kadang malah tidak terlihat manfaatnya.

Tapi sekarang jelas sudah manfaat Yang-yan-hoan-sim- kang.

Terhadap saudara kembarnya, hubungan batin Pu-couw- siancu yang sejak lahir sudah terputus. Di lain pihak, Pu- couw-siancu Cui Lian-gwat dengan Liong Siang-yang, malah bisa berbicara menggunakan pikiran nya.

Pu-couw-siancu bangkit berdiri, sengaja dengan suara pelan berkata: "Aku keluar dulu memeriksa, aku tidak akan pergi jauh, tapi aku juga akan menggunakan anak buah di luar."

Liong Siang-yang berbisik:

"Kau tenang saja keluar memeriksa, tapi kenapa anak buah di luar harus ditarik?"

"Aku merasa musuh sepertinya masih ada di sekitar ini, malah aku bisa mencium baunya. Makanya aku akan memeriksa seluruh kekuatannya, kau seorang menjaga disini sudah cukup!"

"Benar!" Liong Siang-yang menganggukkan kepala menjawab, "Siancu tenang saja, walaupun aku bertemu dengan musuh, paling sedikit aku masih mampu bertahan seratus jurus lebih, aku pikir ada waktu selama ini, Siancu pasti bisa tepat waktu kembali lagi membantuku!"

"Tentu bisa, asal kau mampu bertahan lima puluh jurus itu sudah cukup!"

$ $ $

Malam semakin larut, lampu akan padam.

Pu-couw-siancu segera pergi keluar rumah, bukan saja tubuhnya menghilang di kegelapan malam, wajah kejinya pun tidak ada orangyangbisa melihat-nya.

Tapi kenyataan tidak bisa menyalahkan dia, sebab Yang- yan-hoan-sim-kang dibandingkan dengan Coan-sen-pian-cie dan Sin-ie-tay-hoat lebih sulit dipelajari.

Kecuali Sen Hai-kun menganggap orang ini bisa diberi tugas berat, sudah bisa menggantikan kedudukannya, baru diajarkan ilmu berbicara pikiran yang sangat hebat ini. Maka bagaimana pentingnya Liong Siang-yang di mata Sen Hai-kun, sampai menaruh harapan pada dia, jelas seperti huruf hitam di atas kertas putih.

Terhadap orang yang mungkin mengambil alih kedudukanmu, malah mungkin bisa mengambil nyawa mu, bagaimana akalmu menghadapi dia?

Dalam sejarah mau pun kehidupan nyata, keadaan seperti ini banyak sekali contohnya.

Dan cara menghadapinya juga sulit dihitung. Pokoknya tergantung kepintaran orang masing-masing, kelembutan hati berbeda-beda, caranya lembut atau keji pun berbeda- beda.

Karena itu cara menghadapinya tidak ada satu patokan yang pasti, itu hanya tergantung pilihanmu saja!

Liong Siang-yang membuka mulurnya lebar-lebar menguap dan meluruskan pinggangnya.

Walaupun dia bersifat kelaki-lakian, tapi juga bersifat kewanitaan, hingga orang tidak tahan menganggap dia adalah wanita... malah wanita cantik.

Mendadak matanya menatap tajam, kantuknya tersapu hilang. Dalam matanya yang seperti berlian, menyorot sinar waspada yang amat tajam, dia melihat keluar pintu lapangan yang gelap.

Dalam sekejap mata mendadak di depan pintu muncul seorang laki-laki yang wajahnya sempit mata-nya besar, tubuhnya kurus tinggi, kerutan di keningnya dan garis wajahnya, menerangkan usia dia diantara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Kedua belah pihak saling menatap sejenak, di dalam mata besar laki-laki itu tampak tersenyum dengan bersemangat.

Sebenarnya sudut bibir dia sedikit pun tidak bergerak, tapi dari matanya orang bisa tahu dia sedang tersenyum, malah tertawa yang bersemangat.

Jika seorang wanita melihat senyum laki-laki seperti ini, tentu tidak akan merasakan keheranan.

Tapi terhadap laki-laki tidak mudah muncul keadaan begini.

Maka seharusnya Liong Siang-yang merasa terkejut dan heran, baru betul.

Reaksi Liong Siang-yang di luar dugaan, dia tidak marah, malah dengan genit mengangkat bahunya dengan lembutberkata:

"Siapa kau?"

"Aku Un Ci-eng, apa kau pernah mendengar nama ini?" "Belum pernah," Suara Liong Siang-yang meng anclung

rasa sesal dan berkata lagi, "kau dari perguruan mana? Kau mahir ilmu silat apa?"

Un Ci-eng menggelengkan kepala:

"Tidak perlu sedih, jika kau pernah mendengar namaku, aku malah merasa tidak baik. Aku tidak ada perguruan, senjataku juga kampungan sekali, yaitu sebuah palu tembaga dan sebuah pahat besi."

Liong Siang-yang tertawa lalu berkata:

"Wajahmu sempit, tapi matamu besar sekali, sekarang aku menemukan lagi, gigi kau sangat putih." Mendadak dia berbicara menyimpang dari arah pembicaraan.

Un Ci-eng tertegun karenanya, berkata: "Lalu kenapa?"

"Walaupun kau seperti punya rasa permusuhan denganku, tapi jika kita tidak punya dendam kesumat, bukankah lebih baik kita berteman saja? Tentu saja bukan teman biasa, tapi teman yang akrab! Baik tidak?"

Sejenak Un Ci-eng ragu-ragu, di dalam matanya kembali tampak senyum bergairah. Dia berkata:

"Aku bisa pertimbangkan usulmu, biasanya aku tidak ada gairah pada wanita, tapi aku bukan kayu atau patung batu, aku juga harus melampiaskan!"

Perbincangan seperti ini sungguh menyebalkan.

Namun di dunia ini justru ada orang menyebal-^ kan seperti ini, bisa menikmati perbincangan yang menyebalkan semacam ini.

Liong Siang-yang melihat-lihat keluar, berkata: "Sekarang tidak akan ada orang yang datang lagi?"

Jika mereka siap melakukan hal yang tidak bisa dilihat orang, lalu ada orang datang tentu akan merasa canggung dan tidak baik.

"Tidak akan ada orang yang datang lagi!" dalam suaranya terdengar sangat yakin.

Tapi masalahnya adalah darimana keyakinan-nya datang?

Pu-couw-siancu dan anak buahnya dua orang laki-laki dan satu orang wanita itu, kemana perginya? Un Ci-eng mendekati Liong Siang-yang, sampai tubuh mereka bersentuhan.

Sehingga muncullah pemandangan yang aneh.

Setelah beberapa saat tiba-tiba Un Ci-eng seperti memeluk wanita saja, dia memeluk Liong Siang-yang, dan mencium bibirnya, setelah itu baru berkata:

"Kau sungguh cantik, aku tidak pernah melihat orang secantik kau!"

Senyum Liong Siang-yang sangat genit, pipinya yang putih lembut bersinar seperti bunga Tho, dia berkata:

"Masih banyak yang belum pernah kau lihat! Ada sebuah benda setelah kau melihatnya, dijamin kau sulit melupakannya seumur hidup. "

"Benda apa itu?"

"Bunga mawar dan durinya, hanya saja bunga mawar semacam ini bukan bunga mawar seperti biasanya, durinya mengandung racun yang sangat berbisa.

Siapa pun jika tertusuk, segera akan bertemu dengan Giam-lo-ong! Maka kau paling bagus jangan melihatnya seumur hidup, jika tidak tentu seumur hidupmu sulit melupakannya!"

Sepasang mata Un Ci-eng yang besar itu menyempit menjadi satu garis, seperti tertawa tapi tidak

tertawa, katanya:

"Aku harap tidak melihat bunga mawar semacam itu.

Bagaimana dengan kau? Kau ini bunga apa?"

Saat dia bicara terlihat sepasang tangan dia meraba-raba tubuh lawan. Rupanya dia menganggap Liong Siang-yang sebagai wanita!

Liong Siang-yang malah tidak malu atau marah!

Dia malah berlaku seperti wanita, tubuhnya bergoyang- goyang di dalam pelukan Un Ci-eng.

Kejadian seperti ini, orang yang melihat tentu akan muntah.

Tapi melihat wajah Liong Siang-yang yang tampan, kulitnya yang putih, dan gerakannya seperti seorang wanita, semua membuat orang merasa alami dan masuk akal.

Sepertinya dia dilahirkan untuk dipeluk laki-laki.

Dalam jenis yang sama, tidak peduli laki-laki atau perempuan, bisa saja melakukan gerakan selanjut-nya, tidak hanya sebatas berciuman berpelukan.

Un Ci-eng mulai melakukan serangan berikutnya, dan Liong Siang-yang tampak tidak bermaksud menolaknya.

Mereka pertama kali bertemu di tempat seperti ini dan di dalam situasi seperti ini.

Siapa yang percaya mereka bisa langsung bermesraan?

Apakah benar seperti cerita orang-orang, setiap homosek memiliki satu kemampuan aneh, di dalam puluhan ratusan ribu orang, langsung bisa menemukan teman kencannya?

Tiba-tiba Liong Siang-yang menekan tangan Un Ci-eng yang bergerak kemana-mana, karena tangan ini tidak saja sudah masuk ke dalam bajunya, dan malah mau membuka kancing dan ikat bajunya, mau melepaskan baju dia.

Dia tersenyum dan berkata:

"Jangan terburu-buru, kau tidak melihat disini tidak ada ranjang yang nyaman dan hangat?" Nafas Un Ci-eng terengah-engah, berkata: "Siapa yang perlu ranjang? Asal ada meja sudah cukup!"

Liong Siang-yang tetap menekan tangannya: "Tidak bisa, aku suka ranjang yang nyaman dan hangat. Aku percaya kau juga pasti suka, makanya kenapa kita tidak ganti tempat saja?"

"Di kemudian hari masih banyak waktu untuk menikmatinya. Tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi, kau menurutlah padaku?"

Liong Siang-yang menarik wajahnya sedikit ke belakang, sehingga kedua belah pihak bisa saling melihat dengan jelas.

Wajah Un Ci-eng tampak gelisah dan terburu-buru, seperti seorang laki-laki yang sudah berada di atas tubuh telanjang wanita, tapi sesaat tidak tahu jalan masuknya, dia sudah tidak sabaran.

Liong Siang-yang seperti seorang wanita cantik, tang sedang mempermainkan laki-laki yang tidak sabaran.

Dia sangat genit dan tersenyum simpul.

Bibirnya yang merah dan giginya yang putih, kulitnya yang hangat licin, membentuk daya tarik yang amat besar, dan membuat orang marah tidak bisa melampiaskan kegairahannya.

Dia berkata lembut:

"Buat apa kau begini terburu-buru? Aku takut ada orang tiba-tiba menerobos masuk, juga takut ada orang asing tiba- tiba muncul. Tentu saja takut dia seorang pesilat tinggi kelas satu, dan yang paling menakutkan adalah dia mungkin tidak setuju dengan perbuatan kita, sehingga dia mungkin akan membunuh kita berdua!" Un Ci-eng tertegun sejenak, tubuh dan wajah-nya mendadak berubah.

Berubah menjadi sangat dingin dan waspada. Liong Siang-yang kembali berkata:

"Kita pindah tempat ada baiknya, tidak ada buruknya, apakah kau setuju dengan usulku?"

Un Ci-eng ketakutan:

"Ada pesilat tinggi tidak dikenal? Siapa dia? Coba kau terka, salah menerka juga tidak masalah!"

"Mungkin Mo-to Hoyan Tiang-souw? Di jaman sekarang selain dia, siapa yang bisa membuat Pu-couw-siancu ketakutan? Menurutmu betul tidak?"

Un Ci-eng menganggukan kepala: , "Tidak salah. " t

Mendadak dia bersuara "Heek!"

Wajahnya berubah menjadi pucat seperti kertas putih, sorot matanya pun sudah kehilangan sinarnya.

"Kau.   kau menggunakan cara apa?"

Liong Siang-yang tersenyum, dia mengangkat tangan mengusap wajahnya dan berkata:

"Dengan cara apa kau bisa dilumpuhkan? Jika aku adalah kau, aku pasti bisa menduganya!"

Suara Un Ci-eng terlihat sangat lemah, tidak bertenaga.

Dia berkata:

"Apakah Soh-yang-sam-kou (Tiga kancing mengunci matahari) dari aliran Kong-tong? Tapi jurus hebat dari aliran Kong-tong ini sudah ratusan tahun menghilang, kau mungkin bukan murid dari Kong-tong? Siapa kau sebenarnya?"

"Siapa aku sepertinya bukan masalah penting, siapa dirimu itu baru penting. Ini dilihat dari sudut pandangku, apa kau setuju?"

Un Ci-eng tertawa pahit dan berkata: "Aku setuju atau tidak setuju, rasanya juga tidak bisa merubah keadaan!"

Dia sudah tahu lawan sedang mempermainkan dirinya, maka sambil tertawa pahit dia berusaha mengumpulkan tenaga dalamnya.

Liong Siang-yang menunggu sebentar, lalu tertawa sambil berkata:

"Kau tidak perlu berusaha lagi, di dunia ini ada bermacam-macam jurus pengunci jalan darah dan pemotong tenaga dalam, Soh-yang-sam-kou disebut nomor satu. Menurut aku walaupun tidak disebut nomor satu, juga bisa disebut nomor dua!"

Un Ci-eng tertawa pahit dan berkata: "Benar saja jurus rahasia Soh-yang-sam-kou dari aliran Kong-tong, hay, tidak kusangka Khu-eng (Elang yatim) Un Ci-eng benar-benar roboh di bawah jurus hebat aliran ini!"

Liong Siang-yang menggelengkan kepala tanda tidak setuju:

"Ku dengar kau mahir ilmu Siau-yang-sin-kang (Ilmu tenaga sinar matahari), maka Lui-cui-tian-couw mu (Palu petir pahat listrik) benar-benar sedahsyat geledek. Juga karena itulah selama dua puluh tahun, kau berkelana tidak pernah bertemu dengan lawan yang setanding, dan orang yang ingin kau bunuh, pasti tidak bisa hidup. "

Un Ci-eng mengerutkan alisnya dalam-dalam, berkata: "Kau tadi mengatakan tidak pernah mendengar namaku?"

"Kata-kataku kadang bisa dipercaya kadang tidak. Ketika kau memandang aku sebagai wanita, saat di dalam hatimu timbul gairah yang tidak normal padaku, maka kata-kataku sama sekali tidakbisa di percaya!"

Dia berjalan mengelilingi tubuh kurus Un Ci-eng dan berkata lagi:

"Aku jelas seorang laki-laki, tapi kau justru menganggap aku seorang wanita, jadi kenapa aku harus berkata jujur padamu?"

Kata-kata dia tidak peduli benar atau salah, juga tidak peduli nadanya penuh dengan hawa kematian dan kejam. Tapi wajah dia begitu cantik, bibir merah gigi putih mengeluarkan bau harum, sungguh sulit bagi orang, tidak menganggap dia seorang wanita cantik. 

Un Ci-eng tetap mencoba mengumpulkan tenaga dalamnya.

Dengan susah payah selama dua puluh tahun lebih dia berlatih Siau-yang-sin-kang, maka walau pun seluruh tenaga dalamnya di kurangi menjadi tiga bagian, saat ini pasti tidak mampu melawan pesilat tinggi dunia persilatan.

Tapi baju di seluruh tubuhnya tetap sedikit mengembang bergetar-getar, hanya bicara soal ini saja, itu sudah bukan keberhasilan pesilat biasa!

Liong Siang-yang mengangguk kepala, bau harum menyembur ke wajah lawan sambil tertawa dia berkata:

"Bagus, sangat bagus, tapi aku sampai sekarang hanya tahu aku adalah Khu-eng Un Ci-eng. Pesilat tinggi kelas satu yang sifatnya suka menyendiri, mungkin juga satu- satunya orang di jaman sekarang yang berhasil melatih Kiu- hoa-siau-yang-sin-kang. Tapi aku tetap tidak tahu siapa kau sebenarnya?"

Un Ci-eng keheranan:

"Jika aku Un Ci-eng, maka akulah Un Ci-eng, selain itu aku bisa siapa lagi?"

Liong Siang-yang mengangkat tangan, jarinya yang putih mulus mencubit-cubit wajah dia.

"Yang ingin aku tahu adalah kedudukanmu sekarang ini, bukan namamu, kenapa kau mau menjadi musuhku? Siapa yang menyuruh kau melakukan ini?"

Perbincangan mereka berputar-putar, akhirnya sampai pada masalah yang sebenarnya. Un Ci-eng tertawa pahit berkata: "Kau kira aku bisa mengatakannya?" "Orang lain tentu saja tidak bisa. Tapi kau adalah pesilat kelas satu, kau pasti tidak mau hanya karena uang lalu sembarangan membunuh orang.

Mungkin kau sudah menyelidiki aku, tahu banyak tentang diriku. Tapi sayang kau tidak berhasil mengetahui aku berhasil mempelajari jurus Soh-yang-sam-kou yang hebat itu. Sekarang kau beritahu aku, siapa yang menyuruhmu membunuhku?"

Mata Un Ci-eng mengawasi keluar jendela sejenak, dengan pelan berkata:

"Apa untungnya bagiku kalau aku katakan?"

"Kalau kau mengatakan, kau tidak perlu khawatir tidak bisa melihat matahari besok, kau malah bisa menjadi temanku, kau bisa bantu aku menghadapi beberapa bahaya, atau mengusir orang-orang yang aku benci!"

Un Ci-eng seperti tergoda, berkata: "Kau sungguh mau melakukan ini? Kau tidak bohong?"

"Kenapa aku harus bohong? Ada seorang pesilat tinggi seperti kau, tentu saja lebih baik dari pada seluruh anak buahku!"

Un Ci-eng berpikir sejenak lalu berkata:

"Kalau begitu kau buka dulu totokan dua belas jalan darah di tubuhku, sebab aku sudah merasakan tidak enak!"

Liong Siang-yang menggunakan jarinya yang mulus itu mencubit-cubit wajahnya dan berkata:

"Tidak sulit membuka totokan ini, sebenarnya aku tidak menotok dua belas jalan darah besarmu. Hanya saja ilmu jari dari Soh-yang-sin-kang memang aneh sekali, laksana jurus rahasia Ban-ji-to-go-cie dari Siauw-lim, orang yang terkena jari ini tiga ratus enam puluh jalan darah di tubuhnya seperti tersumbat?"

Tiba-tiba seluruh tubuh Un Ci-eng tergetar, matanya melotot lebih besar lagi dan berkata:

"Apa kau sudah membukanya? Kenapa hanya mencubit- cubit wajahku sudah bisa membukanya?"

Liong Siang-yang tertawa, tangan kirinya tidak tahu bagaimana sudah dijulurkan ke dalam perutnya, telunjuk jari tengah dan jari manis bersama-sama disentilkan dengan pelan.

Wajah Un G-eng kembali berubah besar, hati-nya menyesal sekali.

Yang dia sesalkan adalah kenapa dirinya tidak bisa mengambil kesempatan ini, saat lawan membuka totokannya yang keji, segera bergerak mundur ke belakang! Sekarang dia sudah dilumpuhkan lagi, tampaknya sudah tidak ada kesempatan tawar menawar lagi! Dia mengeluh dan berkata:

"Baiklah, tampaknya jika aku tidak mengalah, jika tidak percaya padamu, maka tidak perlu ada yang dibicarakan lagi."

Liong Siang-yang memasang telinganya: "Siapa yang menyuruh kau?" "Pu-couw-siancu!"

"Dia?" Liong Siang-yang tertegun, sesaat baru berkata lagi, "dia sungguh pintar, dia tahu siapa orang yang benar- benar berbahaya! kulihat aku pasti tidak bisa melawan dia, jika aku cukup pintar, paling baik adalah cepat-cepat menyerah pada dia."

"Jika kau menyerah, bagaimana dengan aku?" Suara Un Ci-eng penuh ketakutan, sebab jika Liong Siang-yang menyerah, maka segala yang terjadi malam ini tentu saja akan dilaporkan semuanya.

& & &

Angin dingin meniup ke dalam, api lampu di dalam rumah bergoyang-goyang orang yang bertarung dan berbincang Liong Siang-yang dan Un Ci-eng mendadak meninggalkan rumah.

Dia yang telah membocorkan rahasia, bagaimana mungkin Pu-couw-siancu mau mengampuninya?

Liong Siang-yang kembali mencubit wajah kurusnya sambil tertawa berkata:

"Masalahmu, kau bereskan sendiri, aku harap kau bisa melanjutkan hidupmu. Laki-laki berumur empat puluh seperti sekuntum bunga, semua orang berkata begitu. Aku harap kau jangan mati di usia sekuntum bunga " Un Ci-eng meloncat mundur dua belas kaki. "Aku sulit bisa percaya ini adalah kenyataan, tapi apa benar kau telah membuka totokan jalan darah-ku. Bagaimana aku harus berpikir?"

Perbincangan kedua orang ini dari pertama sampai terakhir, sangat seru juga berubah-rubah sulit diduga.

Sedangkan jurus Soh-yang-sam-kou Liong Siang-yang sangat hebat, beberapa kali dilakukannya, dimata ahli, seperti kembang api yang paling bagus dari Tong-kwan.

Lima sinar dengan sepuluh warna sangat meriah, membuat orang tidak keburu melihatnya.

Tidak ada   orang   yang   tidak   tertarik   melihatnya.

Akibatnya......

Angin dingin bertiup masuk dari lubang di atap rumah. Di sana tadinya ada genteng yang amat rapat dan rapih,

tapi mendadak hilang tujuh delapan buah, maka terjadi sebuah lubang besar, juga karena itu angin dingin meniup masuk dari sana.

Li Poh-hoan tengkurap di atas tiang atap. Punggung dan lehernya tertiup angin dingin hingga merasa tidak nyaman. Tapi yang benar-benar tidak nyaman dua puluh kali lipat adalah hawa membunuh dari ketajaman jari.

Dia tahu jari yang bisa membuat hawa menjadi dingin, membuat darah orang membeku, hati menjadi ciut, adalah jari yang enak dilihat dan bagus sekali!

O))~~dw~~((O

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain