Asmara Pedang dan Golok Bab 10

Bab 10

"Mulutmu tidak disumbat, mau berkata apa katakan saja," kata Li Poh-hoan.

Sambil merintih Biauw Cia-sa berkata:

"Karena kesakitan otakku jadi tidak bisa ber-pikir, mungkin melupakan kata-kata penting, apa lagi yang ada hubungannya dengan Pu-couw-siancu. "

Li Poh-hoan tertawa dingin dan berkata: "Rasa sakit kadang bisa membuat otak orang lebih sadar. Apa lagi aku, sebenarnya tidak ingin mendengar kata- kata. "

Tapi begitu muncul wajah cantik Pu-couw-siancu yang bisa menggetarkan hati orang, dia tidak tahan langsung menendang sekali pada Biauw Cia-sa.

Biauw Cia-sa yang ditendang seharusnya semakin merasa sakit, tapi yang terjadi malah sebalik-nya, dia menghela nafas panjang, rintihannya segera berhenti.

"Katakanlah." Li Poh-hoan mendesak dia, "Aku tidak punya banyak waktu, kau telah menimbulkan banyak kerepotan untukku, walaupun aku tidak takut pada murid dan teman-orang orang itu jika datang membalas dendam padaku.

Tapi kulihat lebih bagus sebisanya menjelaskan pada mereka, mengenai dirimu, mungkin kau masih belum lupa, rasa sakit tadi bukan?"

Biauw Cia-sa tidak berani membuang-buang waktu. Pertama, khawatir membuat Li Poh-hoan jadi marah.

Kedua, pergelangan tangannya yang ditembus oleh pedang, harus cepat-cepat diobatinya, jika terlalu banyak mengeluarkan darah, walau ilmu silatnya tinggi juga akan mati.

Di dunia tidak terhitung banyaknya orang bunuh diri dengan memotong pergelangan tangannya, tempat yang dipotong adalah tempatnya ini.

Dia berkata:

"Aku adalah pengkhianat Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kang. " Li Poh-hoan menggoyang-goyangkan tangan-nya tidak sabar dan berkata:

"Aku tahu, begitu kau menyebutkan namamu aku sudah ingat, jaringan perkumpulanku tidak akan membuat berita yang aku tidak tahu."

Biauw Cia-sa buru-buru berkata: "Makanya aku takut bertemu dengan orang dari perkumpulan kami, apa lagi orang yang mampu membunuh aku."

Li Poh-hoan menganggukan kepala, katanya: "Jika aku adalah kau, mungkin juga akan begitu, tapi sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

"Di sisi Pu-couw-siancu ada seorang wanita, dia sangat cantik, mungkin kau sudah bertemu dengan dia, dia adalah To Sam-nio, julukannya Pek-jiu-cian-kiam." *?

"Aku pernah melihat dia, juga pernah melihat dia menggunakan pedangnya, tapi walaupun jurus pedang dan tenaga dalamnya lebih bagus darimu, tapi aku percaya perbedaannya tidak terlalu jauh, apa sebab kau begitu ketakutan ketika menyebut dia, hingga suaramu juga jadi gemetar?"

Kata Biauw Cia-sa:

"Jika dia diperintah oleh ketua untuk mengejar dan membunuh aku, di dalam tiga jurus, dia pasti bisa mengalahkan aku, dalam tiga bulan aku pun pasti akan mati.

Hanya saja tiga bulan ini sebelum aku mati, aku akan menderita siksaan yang mengerikan sekali, tidak lebih ringan dari kesakitan yang tadi kualami, coba kau pikir, jika menderita siksaan seperti itu selama tiga bulan baru bisa mati, siapa yang bisa tahan?" Li Poh-hoan tersenyum dan menjawab:

"Maka aku sarankan padamu, saat kau melihat dia, segera cabut pedang bunuh diri."

Biauw Cia-sa sedikit pun tidak merasa lawan berkelakar, wajah dan nadanya pun sangat serius. Dia berkata:

"Benar, sejak lama aku sudah memutuskan melakukan hal itu, tapi jika ada cara lain, atau ada kesempatan menghindar, tentu saja aku tidak mau melepaskan peluang ini."

Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan: "Aku telah menangkap kakak kembarnya Pu-couw-siancu, memaksa dia memerintahkan To Sam-nio supaya jangan membunuh aku, tapi Pu-couw-siancu mau aku lakukan satu hal, yaitu kau!"

Karena darah terus mengalir dari pergelangan tangannya, makanya Biauw Cia-sa yakin lebih baik segara menyelesaikan kata-katanya, jika tidak dia yang akan mati segera dan pasti bukan Li Poh-hoan.

Li Poh-hoan tertegun beberapa saat, kepalanya berbunyi terus.

Pu-couw-siancu mau membunuhku? Kenapa?

Kenapa dia mau membunuh aku?

Apakah kata-kata yang lembut hangat di bawah pohon Hong di pinggir sungai, cium dan peluk yang manis dan memabukan, semuanya palsu?

Laki-laki mana pun pasti tidak akan percaya bisa ada kejadian yang demikian. Mula-mula Li Poh-hoan pun demikian, tapi setelah berpikir lama, tidak demikian.

Sebab dia tahu jika wanita berubah menjadi kejam, kekejamannya jauh berlipat ganda lebih lihay dari pada laki- laki.

Lebih-lebih wanita cantik.

Apa lagi Biauw Cia-sa tidak ada alasan membohongi dia.

Siapa yang mau berkelakar seperti ini, mempertaruhkan nyawanya sendiri?

Dia mengambil keputusan dengan bertekad membuang jauh asmara pribadinya, juga membuang jauh-jauh kepahitan di dalam dadanya.

Maka sorot matanya kembali menyorotkan keperkasaan seekor bunmg elang melayang ribuan li untuk menguasai dunia.

Dia berkata:

"Siapa nama kakaknya Pu-couw-siancu? Di manb dia sekarang? Bagaimana aku bisa menemuinya? Dan sudah berapa banyak orang yang mengetahui persembunyiannya?"

Benar saja, kepintarannya diatas rata-rata orang, dalam pandangannya dia mempunyai rencana yang jauh ke depan.

Dalam sekejap saja dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Juga sudah terpikir Biauw Cia-sa pasti pernah membocorkan rahasia ini.

Dia harus segera mendahului lawan, seperti misalnya Tong-to-bun nya Pu-couw-siancu, dia adalah musuh terkuatnya, maka dia jangan sampai kalah cepat.

Setelah kakak Pu-couw-siancu berada ditangan-nya, keadaannya akan lebih menguntungkan. Apa lagi jika mereka adalah saudara kembar! Maka wajah mereka pasti sangat mirip sekali?

Oooo oooO

Air yang mengalir di sungai tidaklah begitu jernih, alirannya juga tidak deras.

Tertanam berbagai macam pohon di kedua sisinya, apa lagi pohon Liu, selalu membuat dada dipenuhi oleh lembutnya asmara.

Pokoknya, tidak berbeda dengan pemandangan yang menenangkan setiap kali sungai mengalir jauh, sepanjang mata memandang terlihat padi hijau di sawah.

Tapi jika setiap kali melihatnya, selalu dipenuhi oleh perasaan yang sulit digambarkan, masuk ke dalam hati dan tulang, malah ke dalam mimpi......

Hoyan Tiang-souw berdiri di atas pelabuhan sederhana di pinggir sungai, malah sedikit kesal sambil mengerutkan alis tebalnya.

Mo-to yang dibungkus oleh kain, dikepit di ketek kirinya.

Walaupun tidak setiap orang tahu itu adalah sebilah golok, tapi siapa pun tidak begitu berani banyak melihat pada orang yang berwajah gagah dan dingin.

Tentu saja, di dunia ini banyak pemuda yang bersifat kasar dan mudah gusar.

Atau mengira dirinya yang paling hebat. Tidak punya masalah juga sering mencari masalah pada orang lain.

Jika ada orang yang menatapnya, maka dia akan mengira itu adalah hinaan hingga dia mencak mencak.

Tentu saja dia tidak mau membiarkan begitu saja pada orang yang menatap dirinya. Sehingga banyak orang yang jujur dan baik, jika bertemu dengan orang semacam ini, terpaksa sebisanya tidak melihat dia, supaya tidak menimbulkan masalah.

Alasan Hoyan Tiang-souw merasa kesal, bukan lah pemandangannya kurang bagus.

Tapi karena sungai di Kang-lam ini sungguh terlalu banyak.

Sungai-sungai ini walaupun tidak terlalu besar, tapi harus ada jembatan yang menghubungkan baru bisa menyeberanginya, jika tidak ada, maka harus memakai perahu penyeberangan.

Buat Hoyan Tiang-souw, sebenarnya dia bisa saja meloncat menyeberanginya, namun dia menemu-kan manusia di Kang-lam terlihat lebih banyak dari pada semut, paling tidak jauh lebih banyak dari pada manusia di utara.

Makanya di setiap pelabuhan sungai, pasti ada banyak orang sedang menunggu perahu penyeberangan, sehingga dia tidak begitu leluasa menyeberangi sungai dengan cara meloncatinya.

Itulah satu-satunya alasan yang membuat dia menjadi kesal terhadap sungai.

Perihal pemandangannya, sebenarnya dia juga sangat menikmatinya, sangat menyukainya.

Matahari pagi tidak begitu terik, angin musim semi bertiup di wajahnya masih ada sedikit rasa dingin.

Tapi Hoyan Tiang-souw sudah membuka lebar baju di dadanya, menampakan ototnya yang menonjol kuat, dan bulu dada yang hitam.

Tiba-tiba tanpa sadar tangannya menutup bajunya yang terbuka itu. Maka dia terlihat jadi tidak terlalu kasar. Dia melakukan ini karena melihat ada seorang wanita cantik datang mendekat, sehingga tanpa sadar melakukan reflek ini.

Wanita cantik ini bukan saja sudah dikenal, juga tahu dirinya pasti tidak mudah melupakannya.

Hari itu ketika di kuil Han-san di luar kota Soh-ciu, wanita setengah baya ini mengikuti Cui Lian-hoa (sebenarnya adalah Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat).

Saat itu wajah dan sorot mata dia dingin sekali. Sekarang pun tidak berubah, tetap dingin cantik menekan orang.

Dia sekali pun tidak melihat pada Hoyan Tiang-souw. Tapi jelas dia dengan teliti memperhatikan tujuh delapan orang kampung yang berada di pelabuhan penyeberangan.

Setelah semuanya di awasi, lalu berpaling melihat pada pohon Liu yang berada agak jauh di sebelah kiri.

Hoyan Tiang-souw merasakan Mo-to nya seperti ingin meloncat keluar, di dalam hati menjadi keheranan, kenapa pada saat ini ada gejala bahaya dan pertempuran? Apakah semua ini datang dari wanita cantik yang dingin ini?

Perahu penyeberangan lama tidak datang, para orang kampung mulai ribut, tapi sedikit pun tidak berguna, karena orang tua yang mengemudikan perahu penyeberangan itu, mendadak melepaskan tali perahunya dan meninggalkan pantai.

Lalu melaju mengikuti arus air, malah mendayung menambah kecepatan, hingga dalam waktu tidak lama sudah jauh sekali.

Orang-orang yang mau menyeberang menggunakan bahasa Oh yang tidak dimengerti oleh Hoyan Tiang-souw, setelah ribut-ribut sejenak, tiba-tiba semuanya berjalan pergi ke hilir sungai.

Mungkinkah disana masih ada pelabuhan penyeberangan atau sejenisnya?

Dalam hati Hoyan Tiang-souw hanya ter-senyum dingin, tapi dia tidak pergi mengikuti orang-orang itu.

Tidak berapa lama, di pelabuhan hanya tinggal lima orang saja.

Hoyan Tiang-souw salah satu diantaranya.

Dia melihat di belakang wanita dingin itu adi seorang gadis pelayan yang cantik.

Dan lebih jauh lagi ada dua orang laki-laki besar berbaju hijau, pinggangnya diikat oleh kain warna perak.

Jelas semuanya membawa senjata tajam.

Tadinya Hoyan Tiang-souw tidak mempeduli-k^n orang lain membawa senjata apa, tapi perasaannya yang tajam sejak lahir memberitahukan, satu orang membawa golok panjang, yang satu lagi membawa pedang panjang.

Jika perasaannya sudah memberitahu, dia ingin tidak mau tahu juga tidak bisa.

Di depan sudah dikatakan orang-orang Kang-lam banyaknya seperti semut, jadi seharusnya muncul lagi orang baru, tapi kenyataannya tidak, sudah begitu lama tidak ada orang yang datang lagi.

Kenapa bisa timbul keadaan yang aneh dan tidak masuk akal ini.

Hoyan Tiang-souw sama sekali tidak berminat memikirkannya, dia sama sekali tidak ingin tahu. Sudah satu jam lewat, Hoyan Tiang-souw hanya memandangi air sungai, sampai hidung pun tidak pernah bergerak.

Wanita dingin dengan suara merdu seperti kicauan burung berkata:

"Hoyan Tiang-souw, aku adalah To Sam-nio dari Lam- kang."

Saat ini baru Hoyan Tiang-souw memalingkan kepala melihat pada dia. Alis tebalnya sedikit berdiri, matanya menyorot sinar sebengis macan tutul. Suara-nya yang seperti berteriak, dengan keras berkata:

"Jika kau ingin membunuh aku, maka cepatlah lakukan, tidak perlu banyak omong kosong."

Wajah To Sam-nio tampak warna keheranan dan berkata:

"Apakah kau sedikit pun tidak ingin tahu alasan aku berbuat begini padamu?"

Hidung Hoyan Tiang-souw mengeluarkan dengusan sekali dan berkata:

"Kenapa aku harus tahu? Kau kan bukan orang yangpertama ingin membunuhku."

Kata-katanya masuk akal juga.

Dengan sebutan dan keadaan Mo-to Hoyan Tiang-souw saat ini, mengalami penghadangan macam apa pun, itu adalah hal yang sangat wajar sekali.

Jika tidak ada orang yang berusaha membunuh dia, itu bani hal yang mengherankan. Alasannya tentu saja asalnya dari dia, tanpa alasan yang jelas telah banyak membunuh pesilat tinggi dunia persilatan.

Kata To Sam-nio:

"Kau sangat aneh, setiap laki-laki selalu hidup demi kebesaran nama, demi wanita, atau tidak demi apa-apa, tapi kau tidak sama, sama sekali tidak sama."

Hoyan Tiang-souw menatap tajam. Sorot matanya seperti Mo-to dia yang sangat ternama itu, mengeluarkan sinar gaib yang aneh. Dia berkata:

"Aku pun hanya seorang laki-laki, hanya begitu saja!"

Suara To Sam-nio berubah jadi sepuluh kali lipat lebih lembut, sampai dia sendiri pun merasa keheranan, sebab selama hidupnya suara dia tidak pernah selembut, semerdu sekarang ini.

Apa lagi lawan adalah seorang laki-laki. Dia berkata: "Kau tidak sama, kau sepertinya hidup demi membunuh

orang, apa sebabnya? Apakah di dalam hatimu ada begitu

banyaknya dendam dan kebencian?"

"Tidak ada, jangan sembarangan omong," 1 loyan Tiang- souw tanpa sungkan membantahnya, "Sekarang ini kau lah yang ingin membunuhku dulu, bukan aku ingin membunuh kau dulu."

To Sam-nio tertegun sejenakbam berkata: "Betul, betul, tapi kenapa kita bisa begini?" Jangan kata Hoyan Tiang- souw tidak bisa menjawab, walaupun bisa dia malas mengucapkannya.

Mata dia hanya menatap tubulinya yang seksi, dari atas keba wah dan dari bawah keatas. Sorot mata seperti ini, sangat mudah membuat orang salah menafsirkan, dia adalah hidung belang yang sangat suka wanita.

To Sam-nio dengan hati hati dan teliti memperhatikan dia beberapa saat. Bam dia berkata:

"Kau tidak memandang aku seorang wanita yang cantikbukan?"

Hoyan Tiang-souw tidak menjawab malah balik bertanya:

"Kenapa kalau cantik? Apakah jika aku mengatakan kau cantik, lalu kau tidak jadi menyerang dan membunuhku?"

To Sam-nio berpikir sebentar baru berkata: "Aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu, usia aku sudah tiga puluh dua tahun, sebelum ini, aku tidak pernah demi memikiran laki laki sehingga pikiranku berubah, aku pun tidak peduli apa pikiranmu, aku tetap akan membunuhmu."

Tanpa alasan yang jelas, Hoyan Tiang-souw berkata: "Apa yang dikatakanmu semuanya kosong, buat apa

dibicarakan?"

To Sam-nio menggelengkan kepala tidak setuju:

"Tidak semuanya kosong, paling sedikit aku telah mempertimbangkan buatmu, kau adalah laki laki pertama yang membuat aku mempertimbangkan."

Hoyan Tiang-souw sedikit pun tidak merasa bangga atau tergerak hatinya, suaranya masih tetap sekasar semula. Dia berkata:

"Aku merasa tetap saja omong kosong." Lalu dia menutup mulutnya rapat-rapat, membuat orang yang melihat, tahu dia sudah bertekad tidak membuka mulut lagi.

Bagaimana pun To Sam-nio adalah seorang wanita, sedikit banyak pasti ada rasa ingin tahu terhadap laki-laki.

Apa lagi laki-laki aneh seperti Hoyan Tiang-souw, tingkahnya sulit diduga, membuat rasa ingin tahunya tidak tertahan jadi bergejolak dalam hatinya.

"Aku tahu kau tidak ingin bicara lagi, tapi paling sedikit jika mendengarkan tidak akan meng-ganggu bukan? Aku diperintah oleh Pu-couw-siancu, nona Cui untuk mengejar dan membunuhmu.

Mungkin kau ada perhatian, atau juga mungkin tidak ada perhatian, tapi aku sangat perhatian, sebab jika aku tidak bisa membunuhmu, aku pasti balik mati dibunuhmu."

Tapi ini adalah keputusan dia, sama sekali tidak ada hubungan dengan Hoyan Tiang-souw, maka dia tetap menutup mulurnya, hanya melihat dia dengan dingin.

To Sam-nio berkata lagi:

"Mohon tanya, apakah aku ada cara tanpa bertarangbisa membunuhmu?"

Perkataannya sampai sekarang, tetap masih omong kosong.

Hoyan Tiang-souw ingin sekali memberitahu, 'aku dengan kau barang apa pun tidak tahu, juga tidak ada minat mengetahuinya. Maka bagaimana aku bisa tahu, apa upayamu tidak mau mendengar perintah tapi bisa membunuh aku?' Apa lagi wanita ini walaupun cantik juga dingin, sampai dia sendiri pun harus mengakuinya bahwa dia cantik sekali, tapi dia tidak punya cara supaya bisa menyukai dirinya.

Itu karena Mo-to yang dikepit di kereknya......

Tapi akhirnya dia bicara juga: "To Sam-nio, kembalilah ke Lam-kang, selamanya jangan datang lagi kemari."

"Cara ini tidak bisa dilakukan." To Sam-nio berkata sambil menggelengkan kepala, "walaupun aku datang dari Lam-kang, tapi sekarang sudah menjadi orang elitnya Tong- to-bun. Aku harus melakukan tugas penggempur elit, salah satu contohnya adalah membunuhmu, ketua kami adalah Sen Hai-kun, apakah kau pernah mendengar nama besarnya?"

"Tidak pernah, aku pun tidak ingin tahu." "Kau mau bicara, itu membuktikan aku cukup bagus." To Sam-nio sepertinya pandai memuji diri sendiri, dia berkata lagi, "maka aku pun akan mem-balas kebaikanmu."

"Tidak perlu, sungguh tidak perlu." Hoyan Tiang-souw tidak tahan jadi tertawa dingin, tapi orang lain melihat tawa dinginnya, malah seperti tawa bengis.

Tidak perlu membahas tertawanya terlihat seperti apa, tapi dia tidak akan tertawa tanpa ada alasan.

Itu karena dia tahu yang dimaksud To Sam-nio 'membalas kebaikan', sebenarnya adalah mau mengambil nyawanya.

Hanya ingin dia mati saja!

To Sam-nio malah sangat jujur, mengakunya:

"Aku terpaksa membunuhmu, aku harus melakukannya, aku membocorkan rahasia ini, anggap saja sebagai pembalas kebaikanmu." Hoyan Tiang-souw menganggukan kepala.

Suara To Sam-nio berubah menjadi dingin sekali, katanya lagi:

"Bagaimana keadaan di dalam sebenarnya, di katakan pun tidak akan jelas, tapi ada satu benda setelah kau melihatnya maka kau akan tahu."

Dia mengangkat tangan dan menggerakan jarinya, gadis pelayan cantik yang ada di belakangnya seperti boneka ditarik benang pengendalinya, meloncat ke depan, mengeluarkan satu bungkusan kecil warna merah.

Dengan sepasang tangan disodorkan ke depan Hoyan Tiang-souw supaya dilihatnya.

"Sssst," Mo-to keluar dari sarungnya tiga inci, suara nyaring dingin dan keras terdengar di pinggir sungai yang sepi, malah seperti bunyi lonceng besar-menggetarkan hati orang-orang.

Kulit mata Hoyan Tiang-souw tidak pernah berkedip, tangan kanannya yang kuat dan mantap sudah mencabut keluar Mo-to, dan juga sudah disabet-kan.

Di udara berkelebat sinar yang menyilaukan mata, tapi setiap orang bisa melihat muncul dua tetes air mata, jelasnya seperti lukisan.

Kepala gadis pelayan yang cantik mendadak meninggalkan tubuhnya, "Huut!" terbang sejauh dua tombak lebih, bersamaan bungkusan kecil warna merah di tangannya juga terbang lebih jauh lagi. Benda apa itu sebenarnya? Hoyan Tiang-souw sama sekali tidak tahu. Golok dia menggulung kembali, tepat menge-nai Tok-kiam yang bisa melengkung, berwarna biru perak, tipis kecil, dan juga bisa berubah kadang keras kadang lentur! Tangan mulus To Sam-nio memegang Tok-kiam, dia meloncat miring ke samping beberapa kaki.

Dia malah masih bisa tertawa dan berkata:

"Jurus golok yang sangat tidak ada perasaan, nama Mo- to memang tidak salah."

Dua orang laki-laki besar berbaju hijau dengan ikat pinggang perak yang berdiri agak jauh sudah meloncat menghampiri, mereka masing-masing berdiri di kedua sisi di belakang Hoyan Tiang-souw, sehingga membentuk segi tiga, dengan To Sam-nio mengurung Hoyan Tiang-souw.

To Sam-nio berkata lagi:

"Kau sudah membunuh pelayanku Siau-cian, kau membunuh seorang gadis muda yang begitu cantik, hatimu sedikit pun tidak tergerak? Sedikit pun tidak sedih?"

Jawaban Hoyan Tiang-souw malah menggunakan Mo-to yang dingin tidak berperasaan.

Tiba tiba Pek-mo-ci-to menyambar seperti kilat, terbang melintang membacok ke arah laki-laki besar berbaju hijau di sebelah kanan belakang.

Bukan karena orang ini melintangkan goloknya, maka sengaja mencari kesialannya (orang yang menggunakan golok, sering khusus mencari musuh yang menggunakan golok). Tapi jika ingin memecahkan kurungan musuh, orang ini adalah titik kelemahan yang paling tepat juga paling mudah diserang.

Laki-laki besar berbaju hijau itu segera menyabetkan golok panjangnya, maka diantara dua orang yang menyerang dan yang bertahan itu timbul kilatan ratusan sinar. Jurus golok dia dan tenaga dalam yang dikerahkannya memang cukup mengejutkan orang.

Tapi ini adalah masalah kedua, yang paling aneh adalah dalam kilatan ratusan sinar itu, dalam sekejap mata, Hoyan Tiang-souw bisa melihat dirinya.

Masih tidak aneh jika bisa melihat pantulan bayangan dirinya, yang lebih aneh adalah dia malah bisa melihat tampang dirinya yang alis tebalnya berdiri miring ke atas dan matanya yang beringas seperti harimau.

Dalam waktu yang singkat ini, dalam tabir golok yang bukan cermin itu, bagaimana mungkin bisa melihat dirinya begitu banyak dan begitu jelas? *

Untung saja hawa amarah yang keluar dari ujung alisnya Hoyan Tiang-souw tidak muncul di dalam tabir sinar goloknya, maka dia tetap mampu mempertahankan semangat keberingasannya.

Dia sangat percaya bahwa hawa amarahnya juga bisa dilihat (hawa amarah dia memilik sifat khusus yang bisa membeku seperti benda padat).

Mungkin sabetan golok ini akan jauh berkurang tenaganya, sehingga tidak bisa melanjutkan tujuan asalnya.

Artinya tidak bisa meneruskan sabetannya.

Begitu dia berteriak laksana petir, hawa amarah nya mendesak masuk ke dalam telinga dan hati orang.

Di dalam teriakannya, setiap orang kembali melihat dua tetes besar air mata yang jernih, air mata ini mendadak muncul di Mo-to itu.

oo)))-dw-(((oo
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]