-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 09

Bab 09

Biauw Cia-sa mengira tadi dia telah dihadang oleh anak buahnya Pu-couw-siancu, tapi dari arah melarikan diri yang di tuju kali ini tentu tidak ada yang menghalanginya, apa lagi keadaan Pu-couw-siancu tampak sedang bengong memikirkan sesuatu, jadi mungkin tidak sempat mengeluarkan perintah.

Walaupun dia kembali dihadang, juga tidak menjadi masalah.

Bagaimana pun dia tidak akan menemui ajal-nya, jadi tidak salah mencobanya.

Jika dia berhasil melarikan diri, bukankah dia kembali menjadi bebas.

Selain itu Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat yang sudah tahu Cui Lian-hoa berada di dalam genggaman nya, maka dia tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap dia!

Tubuh dia yang melayang kurang lebih dua tombak, tiba- tiba seperti batu yang berat jatuh ke atas tanah, untungnya tulang dia kuat, bukan saja tulangnya tidak patah, malah masih bisa langsung berdiri.

Dengan ganas dan ketakutan dia menatap hweesio tua itu dan berkata: "Kenapa kau hanya membantu dia tidak mau membantu aku? Apakah karena dia cantik?"

Tadi hweesio tua hanya sedikit mengibaskan lengan bajunya, menjentikan jari di dalam lengan bajunya.

Satu hawa dingin sudah melesat ke arah Biauw Cia-sa yang sedang berlari cepat.

Jurus ini adalah salah satu jurus hebat Siauw-lim-si yang telah menggemparkan dunia ratusan tahun tapi jarang dilihat orang, jurus ini disebut Ban-ji-to-go-cie (Jari Budha menembus kesulitan).

Hweesio tua itu sambil tersenyum berkata:

"Jangan khawatir, Sicu tidak akan mati, tapi di kemudian hari Pinceng tidak berani menjamin."

Lalu hweesio tua menggoyangkan tangannya tanda menyuruh dia pergi dan berkata lagi:

"Pergilah ke depan kuil, dan tunggu disana, Pincengmasih ada pesan untukmu."

Diam-diam Biauw Cia-sa mengerahkan tenaga dalamnya, terasa di dalam tubuhnya paling sedikit ada tiga puluh enam jalan darah selain kesemutan juga terasa sakit, dia jadi sangat terkejut.

Dia tidak berani bicara lagi, lalu pergi keluar hutan.

Mata Pu-couw-siancu jernih dan jelas hitam dan putihnya, dia menjadi sadar. Dia berkata:

"Lo-hweesio, apakah kau tidak lupa masih ada seorang Pek-jiu-cian-kiam To Sam-nio yang bisa membunuh dia?"

Tong-leng-siang-jin tidak menjawab, dia hanya berkata: "Sicu juga silahkan pergi, Pinceng masih ada tamu lain." Pu-couw-siancu berpikir sejenak baru berkata: "Apakah Ban-ji-to-go-cie dari Siauw-lim-si lebih

lihay dari pada Coan-sen-pian-cie dari perguruan kami?'" Akhirnya pertanyaannya tepat ditanyakan pada orang yang tepat, sebab jika membicarakan tinggi rendah dan kehebatan ilmu silat yang tiada duanya di dunia ini, tidak ada yang lebih pantas dari pada Tong-leng-siang-jin yang menjadi salah satu dari Ngo-tai-siang-jin di Siauw-lim-si?

Kata Hweesio tua itu:

"Tidak, Coan-sen-pian-cie dan Ban-ji-to-go-cie tujuan dan kegunaannya sangat berbeda, yang satu untuk membunuh orang, yang satu lagi menghapus kejahatan yaitu menolong orang, jadi tidak bisa disama ratakan.

Kedua jurus jari ini masing-masing mempunyai kelebihan, keadaannya berimbang, siapa pun tidak bisa mengalahkan siapa, jika Ban-ji-to-go-cie mampu menga lahkan Coan-sen-pian-cie, maka Sen Hai-kun pasti memberi tahu padamu, dan sangat mungkin tidak akan diajarkan padamu, dia adalah orang yang sangat percaya diri dan ingin menang sendiri, betul tidak?"

Mendadak Pu-couw-siancu menyadari, hweesio tua ini ternyata sangat mengenal Sen Hai-kun yang sangat misterius dan jarang diketahui orang.

Malah bisa ditafsirkan mereka adalah teman lama, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu begitu banyak?

Apakah di sisi Sen Hai-kun ada pengkhianat? Hingga telah membocorkan tidak sedikit rahasia dia?

Tong-leng-siang-jin kembali berkata: "Nanti kalau bertemu dengan Sen Hai-kun, tolong beritahu dia, Pinceng sudah terlalu tua, sudah tidak sanggup lagi, tapi Pinceng ada seorang generasi penerus.

Walaupun masih seorang hweesio kecil, tapi sangat angkuh dan tidak mau kalah, dia berharap bisa bertarung dengan Sen Hai-kun, itu adalah harapan dia seumur hidupnya!"

Pu-couw-siancu sambil mengerutkan alis berkata: "Hweesio kecil ini siapa namanya?"

"Nama preman dia tidak perlu disebutkan! Sebutan hweesio dia adalah Wie-it (hanya satu satunya)."

Dia seperti teringat pada hal yang lucu, malah mengangkat kepala, tertawa terbahak-bahak, berkata lagi:

"Dia baru berusia dua puluh tahun? Mmm, mungkin juga dua puluh satu tahun. Tapi dia mempunyai banyak harapan yang cerah. Misalnya di bidang ilmu silat, orang yang saru satunya dia ingin kalahkan adalah Sen Hai-kun, di bidang agama Budha, satu-satunya harapan dia adalah hati terang dan tahu masalah, menuju kesempurnaan, di bidang wanita, dia juga memiliki harapan satu-satunya "

Pu-couw-siancu melihat dia terhenti sejenak, jadi tidak tahan bertanya:

"Dia berharap apa?"

"Dia berharap sepanjang hidupnya tidak akan bertemu dengan wanita yang bisa menggetarkan hati-nya, dia sadar ini satu ujian yang sangat berbahaya, tentu saja Pinceng juga sangat setuju dengan maksud-nya." Pu-couw-siancu tersenyum dan berkata: "Boleh tidak aku bertemu dengan dia?"

"Tidak bisa," hweesio tua dengan jujur menolak, dan melanjutkan perkataannya: "Karena Sicu adalah wanita yang satu-satunya tidak dia harapkan bertemu."

Pu-couw-siancu pelan mengangkat bahunya, lalu mengangkat tangan merapihkan rambut panjang-nya. Tidak banyak bicara lagi, meninggalkan tempat itu sambil tersenyum.

((oodwoo))

Di dalam hutan pohon Hong keadaan tenang dan hening, hweesio tua yang berdiri tidak bergerak, tiba-tiba di hadapannya muncul satu orang.

Hweesio tua itu membuka mata melihatnya, sedikit pun dia tidak merasa heran, berkata:

"Akhirnya Sicu datang juga?"

Orang itu memakai baju putih melayang-layang ditiup angin, muda dan tampan.

Tapi dalam ketenangannya tampak kekuasaan, d i dalam sorot matanya tampak ambisi menguasai dunia.

Dia membungkuk hormat katanya:

"Aku tidak tahu hweesio tua menunggu aku, maka datang terlambat."

"Pinceng tidak sengaja menunggumu, Pinceng hanya saja tahu Sicu mungkin akan mencari Pinceng, maka Pinceng melakuan dengan sambilan saja! Jika Sicu sudah datang, itu bagus sekali."

Orang berbaju putih adalah ketua perkumpulan Thi-pian- tan, Li Poh-hoan yang berambisi menguasai dunia persilatan. Dia berkata:

"Mohon penjelasan maksud kata 'bagus' itu?" "Guruku adalah Goan-seng Tai-cun-cia, dia adalah ketua Siauw-lim dua masa sebelumnya, yang menggantikan kedudukannya adalah Thi-kau-siang-jin, dia adalah adik seperguruan almarhum guruku."

Li Poh-hoan dengan hormat berkata:

"Para Siang-jin dari kuil Siauw-lim-si aku sudah mendengarnya, di dalam hatiku sangat salut dan menghormati mereka. Tapi kenapa Lo-hweesio menceritakan hal yang sudah lama lewat ini?

Walaupun para ketua Siauw-lim-si dahulu menggemparkan dunia dan dihormati, lalu apa hubungannya dengan sekarang?"

Tong-leng-siang-jin pelan berkata:

"Susiok Pinceng pernah berpesan, jika bertemu dengan keturunan Leng-hiat Li Cap-pwee, yang jadi sahabat lamanya, Pinceng harus melindunginya."

Li Poh-hoan terpaku sesaat lalu berkata: "Ah! Begitu, kiranya begitu!"

Tidak heran begitu dia bertemu dengan Siang-jin yang sudah amat tua ini, langsung dia diajarkan satu jurus pedang yang sangat hebat.

Tentu saja saru jurus pedang ini amat berguna sekali buatnya.

Terhadap jurus It-cie-pek-pian Pu-couw-siancu" itu, dia akan kewalahan menghadapinya, dia tentu terpaksa sekuat tenaga menggunakan jurus pedang pembunuh. Jadi sangat mungkin kedua belah pihak akan sama sama terluka. Malah mungkin kedua belah pihak akan kehabisan tenaga dan tidak bisa bangkit berdiri. Maka satu jurus pedang yang diajarkan hweesio tua itu, akan menghindarkan mala petaka, dan sekarang dia baru mengerti alasannya kenapa hweesio tua ini mengajarkan jurusnya.

Dia menghela nafas dalam sekali, lalu mengangkat kepala bersiul panjang, melampiaskan semangat yang bergelora di dalam dadanya melalui siulan panjang ini.

Dada segera merasa lebih nyaman. Dengan terharu dia berkata:

"Kebiasaan para Lo-cianpwee yang sangat berperasaan, bisa dilihat dari sini, bisa dilihat dari sini. "

Tong-leng-siang-jin menatap dia sejenak, tidak tahan berkata:

"Sementara ini kembalilah Sicu ke Siang-yang, berpikirlah beberapa hari, sebab Pinceng melihat masih ada satu mala petaka yang akan terjadi."

Semangat Li Poh-hoan jadi terbangkit, dengan tersenyum tenang berkata:

"Terima kasih banyak atas petunjuk Siang-jin, aku tahu harus bagaimana berbuat. Terima kasih banyak dan mohon pamit."

00-00

Walau jurus pedang Li Poh-hoan sangat hebat dan orangnya cerdas, tapi dia tidak tahu harus berbuat bagaimana!

Karena Li Poh-hoan tidak tahu mala petaka apa yang disebutkan oleh si hweesio tua, maka tidak mungkin dalam sekejap mata dia mendapatkan cara untuk menghadapinya. Yang dia punya hanyalah semangat dan ambisi, maka dia berani menghadapi lawan sekuat apa pun, tanpa terkejut dan tidak takut.

Tapi di dunia inipun banyak orang hebat, orang pemberani, mereka pun pernah mengalami kekalahan, maka keberanian dan semangat bukanlah cara untuk menguraikan masalah dan mengalahkan mala petaka.

Aturan ini sangat jelas dan mudah dimengerti.

© * ® * © Di lapangan di depan kuil Han-san.

Biauw Cia-sa yang penampilannya bungkuk berambut putih duduk di atas batu di sisi benteng.

Jembatan kuno yang berada di sisi kiri pintu kuil dengan mantap melintang di atas sungai.

Tidak ada pucuk baru yang tumbuh diranting pohon Hong, juga tidak terlihat pohon Liu melambai lambai.

Biauw Cia-sa sedikit pun tidak tertarik pada pemandangan di depan matanya, yang dia inginkan adalah mengedipkan matanya, seperti main sulap, lalii pergi jauh dari kota Soh-ciu.

Karena Pek-jiu-cian-kiam To Sam-nio berada di sekitar ini. Dia bisa saja setiap saat mendadak muncul.

Walaupun Biauw Cia-sa adalah pesilat tinggi dalam ilmu pedang, di dunia persilatan jarang menemui tandingan.

Tapi To Sam-nio adalah orang khusus yang bisa mengalahkan dia, orang yang pasti dapat mengambil nyawanya, maka To Sam-nio benar-benar diutus Can-bian- tok-kiam-bun untuk menangkap dia. Benar saja ketakutannya Biauw Cia-sa tidak sia sia, dia tas perahu di sisi sungai ada dua orang naik ke darat.

Yang berjalan di depan adalah To Sam-nio, wajahnya yang cantik terlihat dingin sekali.

Sorot mata dia juga dingin.

Mendadak udara seperti berhenti berjalan, di ikuti langkah kakinya juga bersamaan terhenti.

Di lapangan yang kosong, dia sudah melihat Biauw Cia- sa. Tapi orang ini mana mungkin orang perguruan nya?

Jika dia bukan orang perguruannya, lalu kenapa bisa membuat dia timbul tiga macam perasaan yang hanya ada di perguruannya?

Dia berkata:

"Siau-cian, pergi kesana suruh orang tua itu menyingkir, aku mau duduk di atas batu itu."

Di belakang dia adalah pelayannya.

Setelah menyahut pelayannya lalu pergi melaksanakan perintahnya, tapi di dalam hati dia bingung tidak mengerti. Sebab menurut yang dia tahu, To Sam-nio suka kebersihan, sampai kursi yang baru di duduki orang pun dia tidak mau menempatinya, maka sekarang begitu dia mau duduk di atas batu itu, sungguh sangat mengherankan.

Melihat Siau-cian datang menghampirinya, hati Biauw Cia-sa berdebar-debar seperti mau meloncat keluar, kepala seperti mau pecah.

Habislah, pembalasan dari perguruan sungguh sangat mengesalkan, sangat menakutkan, walaupun masih berjarak beberapa tombak, dia sudah merasakannya. Siau-cian dengan dingin berkata: "Pergilah, jangan duduk di sini, tempat ini akan kami gunakan."

Biauw Cia-sa hampir saja berteriak: "Terima kasih Tuhan."

Saat itu buru-buru dia bangkit berdiri, dan cepat-cepat pergi jauh.

Tapi sayang tiga puluh enam jalan darah di rubuhnya tidak mau menuruti keinginan dirinya, dia ingin berjalan lebih cepat sedikit pun tidak bisa.

Saat dia berjalan, sorot mata To Sam-nio dari atas turun ke bawah melihatnya.

Saat itu tidak tahan dia mengerutkan alisnya, di dalam hati berpikir, jelas orang tua itu gerakannya sangat kaku, tentu saja sedikit pun tidak punya ilmu silat dan tenaga dalam!

Jika orang ini orang yang mempelajari jurus hebat Can- bian-tok-kiam dari Lam-kang, maka seperti matahari terbit dari barat, tidak mungkin.

Dia lama berdiri dan berpikir, dari dalam kuil berjalan keluar empat orang laki-laki berbaju perak bercelana hitam, dua orang itu membawa golok, dua orang lainnya membawa pedang, wajahnya serius dan beringas.

Di belakang empat orang ini adalah Pu-couw-siancu yang wajahnya seperti bunga di musim semi.

Saat Pu-couw-siancu berada di depan To Sam-nio, empat orang laki-laki itu sudah berdiri di empat sudut terpisah, membentuk saru kepungan.

Saat ini To Sam-nio sudah melupakan hal lainnya. Dia melirik sekali keadaan sekeliling, sambil tersenyum berkata: "Siancu memanggil pelaksana hukum baju perak yang sulit ditemui, malah sebanyak empat orang, kelihatannya bermaksud melaksanakan hukuman pada aku?"

Suaranya lembut, tingkahnya tenang.

Sepertinya yang mau dihadapi oleh Pu-couw-siancu adalah orang lain, bukan dia.

Pu-couw-siancu sedikit tercengang, katanya:

"Kau seperti tidak mengerti, apakah kau mengira empat orang pelaksana hukum berbaju perak juga tidak bisa berbuat apa-apa pada dirimu?"

Kata To Sam-nio:

"Tidak, empat pesilat tinggi yang tidak takut mati, di tambah sangat mengetahui jurus pedangku, itu sudah cukup, aku hanya menyesal, kemarin siasat secara diam- diam membunuh, yang telah dengan susah payah diatur, ternyata tidak berhasil membunuhmu.

Apa lagi kemarin Li Poh-hoan telah membantu aku, melukai dua orang pembantumu, membuat kau terjerumus dalam kesendirian, kenapa aku masih tidak berhasil? Aku sungguh tidak mengerti!"

Wajah Pu-couw-siancu sangat tidak enak di pandang, berkata:

"Ternyata kau juga ingin mendapatkan posisi-ku, baiklah, serahkan plat emas pengampun nyawa, maka aku juga akan melupakan hal ini."

To Sam-nio mengeluarkan sebuah plat emas kecil, sesudah menghormat dengan sepasang tangan menyerahkannya, sambil menghela nafas berkata:

"Siancu kedudukanmu yang di bawah satu orang di atas ribuan orang, membuatku semakin ber-pikir semakin takut. Walaupun aturan ketua memaksa kau tidak berani sombong dan lengah, tapi dengan dunia yang luas ini, dan selalu muncul orang yang berbakat, sungguh sulit bisa menghindarnya!"

Keluhannya sudah menjawab semua pertanyaannya. Ternyata setiap orang yang dianggap pantas oleh ketua

Tong-to-bun Sen Hai-kun, akan di beri kekuasaan khusus

boleh membunuh Pu-couw-siancu, jika berhasil maka dia akan menggantikan kedudukan Pu-couw-siancu.

Jika gagal, asalkan menyerahkan plat emas pengampun nyawa, maka dia akan diampuni.

Tapi setelah menyerahkan plat emas ini, maka selamanya dia tidak pantas lagi memperebutkan kedudukan ini.

Wajah To Sam-nio yang dalam sekejap sudah berubah menjadi sangat hormat bukan tidak ada alasannya.

Pu-couw-siancu mengangkat kepala berpikir sejenak lalu berkata:

"Bagaimana dengan Biauw Cia-sa? Ilmu silat-nya' cukup bagus bukan?"

To Sam-nio sangat terkejut dan berkata:

"Dia adalah pengkhianat perguruan, ilmu silatnya tergolong tujuh pesilat tinggi di perguruan, dia bukan orang yang mudah dihadapi.

Jika Siancu ingin menghadapi dia, selain mengutus aku seorang, jika mengutus orang lain, paling sedikit harus mengutus dua orang pelaksana hukum secara bersama- sama baru bisa menangkap-nya." Pu-couw-siancu berkata:

"Aku tidak ingin menghadapi dia, kau juga paling baik melupakan dia, ini adalah perintahku." Baru saja To Sam-nio menundukan kepala mengiyakan, Pu-couw-siancu sudah berkata lagi:

"Perintah keduaku adalah segera berangkat dan bunuh Hoyan Tiang-souw, tapi jangan berharap aku mengutus orang membantumu. Jika kau berhasil melaksanakan tugas ini, maka kedudukanmu akan bertambah teguh, dan bisa mendapatkan rahasia ilmu awet muda!"

Setelah perkataannya habis dia menggoyang goyangkan tangannya.

To sam-nio tidak berani bertanya apapun, buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.

Pu-couw-siancu merubah gerakan tangannya jadi mengapai.

Biauw Cia-sa melihat di belakang tidak ada orang, baru berani memastikan gerakan dia adalah memanggil dirinya, maka buru-buru dia menghampiri.

Tapi sayang tubuh dia tidak mau mendengar perintahnya karena tidak ada tenaga.

Makanya gerakan dia malah lebih lambat dari pada orangbiasa berjalan cepat.

Pu-couw-siancu berkata pada dia: "Sekarang walaupun To Sam-nio sudah tidak berani lagi mengejar dan membunuhmu, tapi aku tetap masih bisa memerintahkan dia merubah pikirannya." "Iya, iya, aku tahu," kata Biauw Cia-sa gugup.

"Kau cari akal bunuh Li Poh-hoan, jika dalam saru bulan, dia masih belum mati, maka kaulah yang mati."

Biauw Cia-sa segera menjawab, tapi balik bertanya: "Siancu, ilmu silat yang kupelajari dengan susah payah

selama dua puluh tahun telah ditotok oleh hweesio tua itu, untuk berjalan pun tidak bisa cepat, bagaimana bisa menghadapi Li Poh-hoan?"

Tapi Pu-couw-siancu sudah berjalan meninggal kan tempat itu, dia hanya berpesan satu kata:

"Kau cari akal sendiri."

Bagaimana mungkin Biauw Cia-sa punya akal? Satu- satunya cara hanya memohon pada hweesio tua yang aneh itu.

Tong-leng-siang-jin seperti dewa yang tergugah oleh ketulusan hatinya, mendadak muncul di dalam pandangannya.

Dia sepertinya tidak tahu apa yang telah terjadi, sambil menganggukkan kepala berkata:

"Bagus, Sicu sangat penurut, masih menunggu Pinceng disini."

Biauw Cia-sa tertawa pahit berkata:

"Mana mungkin aku tidak menuruti kata-kata anda? tiga puluh enam jalan darah di tubuhku di totok, jika anda tidak berbaik hati membukanya, aku bisa hidup lewat tiga hari, bisa dianggap ajaib."

Tong-leng-siang-jin berkata:

"Jangan memandang seorang hweesio begitu krji, sebenarnya Pinceng hanya menotok satu jalan darahmu, hanya saja salah menggunakan tenaga, hingga membual Sicu merasa tiga puluh enam jalan darahmu sudah tertotok. Pergilah, setelah lewat tiga hari Sicu akan sembuh kembali."

Setelah mendengar hal itu, Biauw Cia-sa menjadi bengong tidak bisa bicara. Di dunia sekarang ini, apakah betul ada ilmu silat sehebat ini!

Tentu saja dia tahu hweesio tua ini pasti bukan salah menggunakan tenaganya, kata-katanya hanya berkelakar saja.

Hweesio tua itu malah menemani dia berjalan. Lalu dia sambil berkata:

"Terus terang, jika To Sam-nio tidak melihat keadaan tubuhmu bermasalah, tidak berilmu silat dan tenaga dalam, mana dia mau melepaskan dirimu, Pinceng duga Sicu pasti sudah bertemu dengan dia?"

Hweesio tua yang aneh dan pantas mati, apakah di dunia ini masih ada hal yang tidak dia ketahui?

Biauw Cia-sa menghela nafas, berkata:

"Untung di dalam kuil Siauw-lim-si, setiap hweesio yang seperti kau ini tidak banyak, jika sebalik-nya orang yang melakukan kejahatan pasti setiap malam tidak bisa tidur."

00 - © - 00

Di hari ke delapan Biauw Cia-sa sudah menemu kan Li Poh-hoan.

Cara penemuannya sangat mudah.

Dia menggunakan nama Li Poh-hoan mem-bunuh tiga orang dunia persilatan yang ternama, dan dia masih tetap berdandan jadi seorang tua bungkuk berambut putih, menginap di penginapan Hong-pin di luar gerbang Cong- kin.

Berita tentang Li Poh-hoan membunuh orang, seluruhnya dia beri tahukan pada setiap orang yang duduk di sisinya saat dia makan dan minum arak. Maka di hari ke delapan Li Poh-hoan sudah menemukan dia.

Pertemuannya di Liu-lang-bun-eng di pinggir See-ouw. Di sana ada lapangan rumput hijau yang sangat luas,

luasnya sampai untuk pertempuran lima ratus orang juga

tidak akan terasa sempit.

Bulan ketiga di Kang-lam, burung Eng terbang melayang-layang dan rumput tumbuh tinggi.

Tapi sekarang bulan terang dilangit, burung Ying sudah tidur. Di lain pihak siapa pun sudah tidak ada gairah menikmati keindahan pantai dan bulan.

Li Poh-hoan masih tetap berpakaian putih, tangan kirinya menggenggam pedang panjang berikut sarungnya.

Wajah dia walahpun tampak santai, tapi jika di teliti langsung mengerti, dia sedikit pun tidak berani' ceroboh, pedang di tangan kirinya, tangan kanan dapat mencabutnya setiap saat.

Sebaliknya kedua tangan Biauw Cia-sa kosong tidak memegang apa-apa, sepertinya lebih berani dari pada Li Poh-hoan, tiba-tiba dia membuka topi nelayan wanitanya, maka tampak wajah seorang wanita.

Usia tiga puluh tahun lebih, tidak cantik juga tidak buruk.

Li Poh-hoan kebingungan sambil mengerutkan alis berkata:

"Tadi kau berdandan seorang laki-laki tua, sekarang berubah menjadi seorang wanita, aku benar-benar harus mengenalimu?" "Bertemu kenapa harus berkenalan!" Biauw Cia-sa malah mengeluarkan sebuah sajak ternama! Lalu dia melanjutkan berkata:

"Malam ini tidak peduli aku mati atau hidup, menang atau kalah, pokoknya aku akan membiarkan kau melihat wajah asliku, juga membiarkan kau tahu namaku, nama aku adalah Biauw Cia-sa, begitu cukuplah."

"Baiklah, kau sangat terbuka, aku ucapkan terima kasih terlebih dulu." Li Poh-hoan bukan saja orangnya tampan, tingkah lakunya juga seperti putra bangsawan, dia berkata lagi, "Apakah Li Poh-hoan dulu pernah melakukan kesalahan padamu?

"Tidak ada, sedikit pun tidak ada." Saat Biauw Cia-sa menjawab, dalam hatinya mendadak jadi mengerti, kenapa Pu-couw-siancu menyuruh dia membunuh Li Poh-hoan.

Orang yang romantis seperti dia, jika ber-dekatan dengannya, dia akan tidak mampu mengen-dalikan dirinya, lebih baik cepat-cepat membunuhnya, supaya tidak ada pikiran di kemudian hari.

Dia kembali berkata:

"Pokoknya aku mau membunuhmu, urusan lain tidak perlu dibicarakan."

Li Poh-hoan tersenyum dan berkata:

"Ternyata kau pun seperti pembunuh bayaran, ku lihat kau cukup bengis tapi kurang licik, kau pasti bukan pembunuh bayaran profesional kelas satu."

"Aku memang bukan pembunuh bayaran profesional......" dia hanya mengatakan tujuh kata, tapi

Li Poh-hoan sudah memperhitungkan gerakan dia

selanjutnya. Yang dimaksud gerakannya, khusus ditujukan pada Biauw Cia-sa.

Pertama-tama dia melepaskan sabuk yang di ikat di pinggangnya, bentuknya seperti sabuk kulit yang digunakan orang zaman sekarang.

Karena sabuk yang tipis dan kecil ini dibelitkan dua kali lingkaran dipinggangnya, dan jika lingkaran pinggang dia dihitung dua puluh empat inci, maka panjang dua kali lingkaran itu adalah empat puluh delapan inci.

Tentu saja sabuk itu bukan untuk mengikat pinggang dan celana.

Tapi sebenarnya adalah sebilah pedang yang tipis, lentur, dan kecil.

Sarung pedang yang membungkusnya mung-kin kulit ular yang sulit didapat.

Dan gerakan kedua Biauw Cia-sa adalah melepaskan sarung pedang itu, pedang lentur itu mendadak menjadi tegang lurus, juga mengeluarkan sinar biru perak.

Bersamaan waktu itu, sarung pedang di tangan kirinya juga sudah dibelitkan di telapak tangannya, sehingga hanya ujung jarinya masih terlihat, seluruh telapak tangannya seperti memakai sanmg tangan.

Gerakan selanjutnya adalah menyerang.

Walaupun serangannya cepal d«n berujung gulung, setiap serangannya hampir tidak celahnya, tapi Lj Poh-hoan tetap masih bisa menghitung serangan dia seluruhnya enam belas kali.

Karena serangannya tidak terputus, jadi tidak terlihat ada sambungannya, orang yang melihat seperti seekor ular datang membelit. Li Poh-hoan menunggu sampai gerakannya habis, kakinya sudah bergeser mundur delapan langkah, tentu saja pedang panjangnya pun sudah dikeluarkan, menggunakan tangan kanan dengan mantap menggenggamnya.

Sekarang dia benar-benar merasakan kelihayan Can- bian-tok-kiam, salah satu jurus pedang ternama masa kini.

Sejak dia turun gunung, dia sudah bertarung dengan pesilat-pesilat masa kini, banyaknya tidak terhitung, tapi tidak pernah dia mengalami keadaan seperti sekarang, setelah mundur delapan langkah, dia masih belum mampu membalas menyerang.

Jurus pedang Biauw Cia-sa tidak ada putusnya, setiap jurus terus bersambungan.

Laksana jarum dan benang yang bersambung-an, rotan dan pohon yang berbelitan.

Pedangnya pun mungkin beracun. Tapi Li Poh-hoan berani bertaruh huruf racun di dalam kata-kata Can-bian- tok-kiam, racunnya pasti bukan ditunjukan pada racun obat, tapi semacam racun asal sekali tersentuh pasti akan membunuh musuhnya.

Tentu saja racun ini sebuah racun yang sangal menakutkan, jauh lebih berbisa dari pada racun obat.

Setelah Li Poh-hoan mundur delapan langkah dia masih tetap harus mundur terus, untung saja Liu-lang-bun-eng adalah sebuah tempat datar yang cukup luas, salah satu dari delapan pemandangan indah.

Jadi walaupun Li Poh-hoan terpaksa harus mundur, mundur sebanyak dua ratus langkah pun tidak akan tercebur ke dalam danau.

Tapi Li Poh-hoan tidak mundur sejauh itu. Di hitung mulai dari kedua kalinya, saat langkah ke tujuh tiba-tiba pedang dia secepat kilat menusuk.

"Traang tiaang tiaang" tiga tusukan pedang-nya, mengenai pedang tipis lawan, dan ujung pedang-nya tepat mengenai kurang lebih empat inci dari ujung pedang Biauw Cia-sa.

Serangan pedang yang rapat seperti ular ber-bisa dan tidak ada putusnya sekarang menjadi pecah dan kacau.

Apa lagi setelah Li Poh-hoan menambahkan tiga serangan susulan, walaupun Biauw Cia-sa dapat menangkisnya, tapi jurus pedangnya menjadi kehilang-an daya isapnya. Malah jadi seperti sepiring pasir yang berantakan.

Tiba-tiba ujung pedang Li Poh-hoan berubah arah, langsung menusuk telapak tangan kiri Biauw Cia-sa.

Biauw Cia-sa tidak mau mundur, telapdk tangannya bergerak memukul ujung pedangnya.

Dari angin keras yang timbul akibat pukulan tangannya bisa diketahui Biauw Cia-sa sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam dan kecepatannya.

Walaupun telapak tangannya telah dibelit kulit ular dari sarung pedang, tapi kecepatan dan kekuatan pedang lawan mungkin bisa menembus telapaknya walaupun telapak tangannya dibungkus plat besi.

Bentrokan terjadi antara telapak tangan dan ujung pedang dengan kecepatan yang sulit digambar-kan.

Biauw Cia-sa mengeluarkan jeritan kesakitan. Tubuhnya mengikuti datangnya pedang lawan berguling setengah lingkaran, jatuh di atas tanah. Terlihat tangan kiri dia menjulur keluar, pedang Li Poh- hoan sudah menembus pergelangan tangan dia, menancap dalam sekali ke dalam tanah berumput.

Selain itu sebelah kaki Li Poh-hoan sudah menginjak pedang lentur berwarna biru peraknya, begitu mengerahkan tenaga dalam, pedang lentur itu melengkung masuk ke dalam tanah, dalamnya sampai satu kaki.

Saking sakitnya Biauw Cia-sa sampai mencucur kan keringat dingin. Dia mengadukan giginya berkata:

"Bunuhlah aku, jika kau berani bunuhlah aku."

Wajah Li Poh-hoan dingin dan bengis. Tampangnya bukan seorang yang welas asih, yang tidak tega membunuh orang. Dia berkata:

"Ku dengar Can-bian-tok-kiam dari Lam-kang, mempunyai jurus hebat lain dan tenaga dalam Cie-kiam-ci- hiat (Jari pedang menusuk jalan darah), tapi kau pun jangan lupa, orang lainpun bisa menusuk jalan darah. Walaupun harus menggunakan pedang bukan menggunakan jari, tapi hasilnya tidak ada perbedaan, sekarang jalan darahmu sudah kutotok, sudah tidak mampu melawan, menurut pandanganku asalkan hasilnya begini, menggunakan pedang atau menggunakan jari pun bisa saja, bagaimana menurutmu?"

Biauw Cia-sa memang heran, kenapa dia merasakan sangat sakit?

Apakah tusukan pedang yang menotok jalan darah, bisa membuat sakitnya berkali lipat?

Dalam waktu singkat dia sudah tidak tahan lagi, sorot matanya yang bengis sudah berabah menjadi lemah. Dan akhirnya sampai teriak: "Aduh., aduh".

Sekarang dia mana bisa berpikir dan punya semangat membicarakan masalah lainnya. Sekarang yang paling penting adalah bagai-mana mengurangi rasa sakitnya.

Dia sendiri sadar rasa sakitnya sangat menakut kan, dalam keadaan biasa, walaupun lawan mematah-kan beberapa tulangnya, dia masih mampu bertahan.

Tapi sekarang pedang lawan hanya menembus pergelangan tangan, tapi sakitnya tidak tertahankan.

Setiap gumpal daging, setiap ototnya seperti mengerut dan sakit. Keadaan aneh ini tentu saja datangnya dari jalan darah yang ditembus oleh pedang panjang. Karena dia berkonsentrasi untuk meringankan sakitnya, makanya otak dia mendadak menjadi lincah.

Sambil merintih dengan keras berkata:

"Li-pangcu, aku ada hal yang mau dilaporkan."

Dia sudah menggunakan kata terhormat 'lapor', tidak berani berteriak-teriak tidak karuan.

oo)))dw(((oo