-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 06

Bab 06

Tan Lo-hen menggerakan tangan, sebilah golok panjang yang sangat tajam, seperti sulap sudah berada di tangannya.

Hawa golok yang amat dingin dari kejauhan mengikuti arah ujung golok menutup Hoyan Tiang-souw.

Dengan melihat gerakan mencabut golok saja, semua orang sudah tahu ilmu goloknya sudah sampai ke tingkat paling top.

Hati beberapa orang jadi mengerut karenanya, mereka semua adalah anggota dari Thi-pian-tan-pang.

Karena Tan Lo-hen adalah kelompok mereka, dan sudah bersama-sama selama beberapa tahun, dan manusia punya perasaan.

Maka di dalam hati mereka memihak pada Tan Lo-hen, dan mengkhawatirkannya. Dengan kata-kata yang lebih tepat adalah setelah semua orang melihat gerakan golok Tan Lo-hen yang luar biasa, seperti seorang yang ternama, mereka malah jadi meng-khawatirkan dia, karena jelas jika dua macan bertarung pasti ada satu yang terluka.

Jika salah satunya bukan macan tapi kelinci, mungkin paling banter bokongnya ditendang orang dan masalahnya selesai.

Golok panjang Tan Lo-hen satu mili pun tidak bergerak. Tapi hawa golok yang tidak ada wujudnya, berubah menjadi angin golok. Baju Hoyan Tiang-souw memang sedikit berkibat-kibar, dia merasa tampaknya lawan ingin menggunakan angin golok yang dingin dan tajam itu, untuk mengangkat amarah dia.

"Sreeng," Pek-mo-ci-to keluar tiga inci. Sinar goloknya berkelebat.

Ibarat kau mencuri pandang pada matahari melalui celah jari, tetap saja tidak bisa membuka mata karena silaunya, maka terhadap golok Hoyan Tiang-souw semua orang bisa melihat tapi tidak bisa menatap nya.

Mata Tan Lo-hen pun tidak tahan, dia sedikit memejamkan mata, hingga angin goloknya jadi melemah. Tapi dia masih tetap tegar, sedikit pun tidak takut.

Hati Hoyan Tiang-souw tergerak, amarahnya kembali berkurang hampir setengahnya.

Tentu saja karena Mo-tonya pun memiliki satu tenaga gaib, bisa membuat penjahat ketakutan.

Jika bukan seorang penjahat, pembawa Mo-to hanyalah lebih tajam dari pada golok yang paling bagus dan paling tajam.

Orang ini tidak ada sikap ketakutannya.

Jadi dia bukanlah orang yang jahat dan licik.

Itulah sebabnya, kenapa amarahnya Hoyan Tiang-souw berkurang.

Tapi dia tetap siap bertarung terus, karena dia sudah cukup banyak pengalaman, tahu benar sifat orang semacam ini, tahu Tan Lo-hen pasti tidak akan mau mundur sedikit pun. Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang baik atau orang jahat.

Tan Lo-hen bukan saja tidak mau mundur, malah sudah menyerang duluan.

Dia meloncat ke atas, tubuhnya yang tegar ringan dan lincah laksana garuda.

Terbang ke atas sampai setinggi tiga tombak, dari atas udara dengan dahsyat menyerang ke bawah.

Loncatan dia sedikit pun tidak ada variasi, sehingga setiap orang bisa melihat dengan jelas.

Tapi serangan golok dia secepat kilat menyabet ke kiri membacok ke kanan, dan perubahan tidak menentu, membuat mata orang sulit menerka arahnya.

Ketika mau turun, golok panjang dia telah disebetkan sebanyak tiga belas kali.

Hoyan Tiang-souw mundur ke belakang dua langkah, (hal ini sangat diluar dugaan orang, karena melihat amarah dia seperti macam orang yang mati pun tidak mau mundur)

Tapi dua langkah mundurnya, membuat orang menjadi kagum. Sebab setiap bacokan Tan Lo-hen hanya meleset kurang satu dua inci saja, tiga belas bacokan golok laksana angin ribut bergulung lewat, karena itulah Hoyan Tiang- souw mundur dua langkah.

Jika membiarkan Tan Lo-hen melanjutkan serangannya, tentu Hoyan Tiang-souw harus mundur lagi kebelakang.

Tan Lo-hen juga tidak berniat menghentikan serangannya, jurus golok dia juga tidak hanya tiga belas jurus golok ini saja. Tapi karena Mo-to Hoyan Tiang-souw sudah keluar dari sarungnya, di dalam kilatan sinar terang terselip dua sinar yang berbentuk tetes air mata.

Sabetan goloknya, hanya Tan Lo-hen yang merasakan Mo-to itu memang ada tenaga gaibnya.

Maka jika dia tetap mau menyerang, Mo-to itu seperti telah menjelma entah jadi berapa banyaknya, menunggu dia masuk untuk di bunuh.

Jika demikian, asalkan tidak menyerang atau tidak maju bukankah akan aman?

Disinilah gaibnya, jika tidak maju menyerang, maka Mo- to itu bisa maju dan menyerang sekali.

Dan juga bisa membuat Tan Lo-hen merasa di tubuhnya seperti ada sepuluh celah lebih yang bisa diserang.

Menyerang tidak bisa, bertahan juga tidak mampu. Tan Lo-hen terpaksa berteriak sekali, lalu mundur ke belakang tiga langkah besar.

Hoyan Tiang-souw berdiri tegak laksana gunung, Mo-to sudah masuk lagi ke dalam sanmgnya, dia tidak melanjutkan serangannya, melihat tampang-nya terlihat dia tidak perlu bertarung lagi.

Tan Lo-hen jadi naik pitam, berdasarkan apa kemenangan bisa di tentukan dalam satu jurus saja?

Walaupun benar kemenangan sudah ditentu-kan, itupun tidak perlu membusungkan dada, mata melotot menampilkan tampang galak!

Dia tertawa saking marahnya, lalu "Huut!" meloncat ke atas delapan kaki.

Golok panjangnya dibacokan, secepat kilat seganas macan. Sebenarnya dia telah salah paham pada Hoyan Tiang- souw. Seumur hidup tampang Hoyan Tiang-souw memang begitu, membusungkan dada, mata melotot marah, tampang yang galak, tampang dia selain tampang ini tidak ada tampang lain lagi.

Tan Lo-hen menyerang seperti gila, bacokannya sambung menyambung. Kakinya belum menyentuh tanah, dia sudah membacokan goloknya sebanyak lebih dari lima belas kali bacokan.

Setiap bacokannya melewati ujung hidung, mata atau tenggorokan, titik kematiannya Hoyan Tiang-souw, setiap bacokan hanya kurang satu dua inci saja dari sasarannya..

Hoyan Tiang-souw terus mundur ke belakang, setelah lima belas bacokan golok dia sudah mundur tiga langkah, tapi cara mundurnya pun lebih gagah lebih anggun dibandingkan orang lain.

Sama sekali tidak terlihat mundur dengan pontang panting?

Akhirnya amarahnya yang sudah ditahan, kembali menyembur keluar dari kedua ujung alis tebalnya.

Ada sebagian orang memang menggemaskan dan membuat orang marah.

Jelas-jelas tidak ada permusuhan dan dendam kesumat, buat apa harus bertarung mengadu nyawa?

Bicara mengenai ilmu silat, apakah jurus golokmu sangat bagus, lalu tidak mengizinkan orang lain memiliki jurus golok bagus? Aturan dari mana ini?

Sekali dia naik darah, Mo-to kembali keluar dari sarungnya, sinar golok laksana kilat muncul di kegelapan malam, membuat mata yang penonton jadi berkunang- kunang.

Tapi mata Tan Lo-hen tidak berkunang-kunang, serangan golok Hoyan Tiang-souw yang terdahulu, walaupun hanya ada dua titik sinar berbentuk air mata, tapi tidak menjadi perhatian Tan Lo-hen.

Sekarang mau tak mau dia bukan saja memperhatikan malah bertambah terkejut sekali, karena dia telah melihat dua titik sinar yang mencolok mata, yang berbentuk air mata itu muncul di dalam sinar golok itu!

Apa artinya dua tetes air mata ini, dia tidak tahu, dia tidak sempat memikirkannya, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah sekuat tenaga membacok-an goloknya tujuh kali berturut-turut, bukan dibacokan pada musuh, hanya untuk membuat tabir di depan Mo-to itu.

Dia berharap tabir goloknya bisa menahan Mo-to supaya tidak mengenai tubuhnya, inilah satu-satunya yang bisa dia harapkan.

Siapa pun orangnya pasti mengakui tabir golok yang dibuat Tan Lo-hen sangat kerap sekali, malah bisa dibilang satu tetes air pun tidak akan bisa menembus.

Tapi Mo-to tetap saja bisa menembus tabir golok itu, sedikit pun tidak terhalang.

Sepertinya tabir golok itu ada satu celah yang sangat besar.

Mo-tonya Hoyan Tiang-souw tiba-tiba bergerak miring ke samping setengah kaki.

Tan Lo-hen berteriak keras, lengan kirinya terbang sejauh tujuh atau delapan kaki, darah segera mengucur. Jika golok Hoyan Tiang-souw tidak bergerak miring sedikit, yang terbang keluar itu bukan lengan^ kirinya tapi kepalanya.

Tan Lo-hen mengangkat golok panjangnya tegak ke langit, posisinya masih sangat menantang.

Jika jurus dia ini adalah serangan terakhir yang mengerahkan seluruh sisa tenaganya, walaupun dia sendiri hancur lebur tapi harus berhasil, kedahsyat-annya tentu saja bisa menggetarkan bumi dan langit.

Tapi masalahnya, dalam hati Tan Lo-hen tidak didukung oleh dendam kesumat yang amat sangat.

Walaupun ada dendam kesumat seperti ini, apakah pikiran dia bisa atau tidak mencapai taraf ini, itu juga menjadi pertanyaan.

Di dunia ini ada banyak hal yang bisa dilaku-kan oleh orang yang memang memiliki cinta atau benci yang amat sangat.

Tapi jika hal itu melebihi kapasitas kemampuan nya, dan terlalu banyak lebihnya, saat itu walaupun cinta atau benci yang amat sangat pun tidak bisa dilakukannya!

Tan Lo-hen sadar dia harus bisa melakukan serangan golok yang amat dahsyat itu, baru bisa mem-balikan kekalahannya menjadi kemenangan. Tapi serangan golok sedahsyat ini hanya mudah diucapkan saja?

Diam-diam dia menghela nafas, dalam hatinya sama sekali tidak ada dendam.

Kemampuan sendiri kalah oleh lawan, malah lawan mengampuni dan tidak membunuh dia, lalu apa lagi yang harus disesalkan? Li Poh-hoan meloncat dua tombak lebih turun di sisinya, saat kakinya baru saja menginjak tanah, dia segera menggerakan tangannya menotok delapan jalan darah di sekeliling lengannya yang terputus, darah segar segera berhenti mengalir.

Tampang Hoyan Tiang-souw masih terlihat galak, matanya melotot, dada dibusungkan.

Dia tidak menghalangi Li Poh-hoan menolong, juga tidak bicara.

Dia tidak bicara tapi Li Poh-hoan sudah bicara:

"Tan Lo-hen, kau adalah pesilat tinggi dalam bidang ilmu golok, yang belajar Tay-hong-ciam (Memotong angin besar) dari See-cui (perbatasan barat) yang tiada duanya di dunia. Tapi apakah kau tidak tahu jurus pertama Hoyan Tiang-souw adalah jurus golok perguruan Budha yang tiada bandingannya? Kenapa dia menggunakan jurus golok yang bukan untuk membunuh?"

Tan Lo-hen keheranan:

"Jurus golok perguruan Budha yang tiada bandingannya? Tapi jurus golok itu amat lihay, bukan jurus golok yang bisa membunuh orang."

"Aku hanya mengatakan bukan untuk membunuh orang, sebab kau tidak bisa menembus pertahanannya, dan tidak bisa diam berdiri saja, sehingga kau terpaksa mundur ke belakang."

Tan Lo-hen berusaha menahan kesakitan akibat luka di lengannya, dengan nada keheranan dan curiga berkata:

"Memang aku mundur, tapi apa salahnya kalau mundur?" Jika dia bukan seorang pesilat tinggi yang sudah ^ berlatih tenaga dalam dan tenaga luar, luka parah atas putus lengannya, mungkin sudah dari tadi pingsan dan roboh ke tanah.

Kata Li Poh-hoan:

"Mendorong mundur dirimu, maksudnya mem beri kau satu kesempatan mendinginkan kepala, dan

bersamaan waktu itu kau juga mendapatkan cara untuk berdamai atau sekalian saja melarikan diri.

Tapi kesempatan ini tidak kau gunakan, itu bisa diketahui walaupun jurus golokmu sangat tinggi, tapi latihan hatinya kurang cukup."

Wajah Tan Lo-hen semakin pucat, katanya: "Terima kasih atas nasihat Pangcu, hamba sekarang sudah mengerti!"

Dia membalikan tubuh dan langsung pergi, tidak ada orang yang menghalangi dia.

Hoyan Tiang-souw bertanya: "Tadi kau menyebut Tay- hong-ciam dari See-cui, apakah yang ilmu goloknya sangat ternama?" Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Bukan saja ternama, malah sangat ternama, beratus tahun di dunia persilatan ada yang disebut tujuh golok besar ternama, Tay- hong-ciam adalah salah satunya!"

"Tapi jika aku tidak tahu, maka itu jadi tidak ternama. Aku pernah membunuh seorang yang dijuluki Swat-heng- kin-leng (Es melintang di gunung Kin) Cin Hong, setelah itu baru tahu dia adalah muridnya Ceng-kuncu Ku Jin- houw, menurut kabar jurus golok mereka juga salah satu dari tujuh golok besar ternama." "Aku sudah tahu hal ini, jurus goloknya Ceng-kuncu Ku Jin-houw di dunia disebut Ji-kian-ji-poan-su-hwan-to-hoat (jurus golok dua licik dua khianat empat bagian), menurut kabar, jika berhasil melatih Ta-kian-siau-kian-ta-poan-siau- poan empat macam jurus golok ini, lalu bisa menggabungkan dan menggunakannya, maka walaupun pun terhadap seorang penjahat nomor satu dunia, ingin memenggal kepalanya semudah mengambil benda di dalam kantong!"

Pembicaraan ini sebenarnya menarik sekali, apa lagi Hoyan Tiang-souw sebagai orang dunia persilatan, Mo-to dia walaupun lihay, tapi pengalamannya masih kurang.

Maka seharusnya lebih menarik bagi dia.

Tapi manusia adalah mahluk yang paling ruwet.

Hoyan Tiang-souw bukan saja tidak melanjut-kan pertanyaannya, malah mengepal tangannya dan berkata:

"Terima kasih atas pemberitahuannya, sampai jumpa lagi."

Habis bicara dia pergi dengan langkah besar, setelah melewati jembatan kuno, langsung masuk ke dalam kuil Han-san.

XoXoX

Kamar tamunya cukup luas dan bersih, ranjang sprei dan yang lainnya pun sangat bersih.

Orang yang sedang mengembara tentu saja tidak bisa terlalu pilih-pilih.

Ada kamar semacam ini untuk menginap, mungkin sedikit sekali orang yang merasa tidak puas. Hari sudah mulai gelap, koridor di luar jendela^ dua lentera telah dinyalakan, tapi di dalam kamar yang lebih gelap, lampunya masih belum dinyalakan.

Di bawah jendela ada satu meja persegi, dan beberapa kursi.

Cui Lian-hoa duduk menghadap ke jendela yang terbuka lebar, memandang pekarangan kecil yang gelap.

Wajah dia tampak kesepian, tapi tidak ketakutan.

Walaupun dia duduk sendirian di kegelapan, tapi dia tahu ada sepasang mata yang mengawasi dia di sebelah kamarnya.

Jika bukan mata, maka pasti telinga yang sedang mendengarkan gerakan dia.

Apa pun tidak dipikirnya di dalam hati dia, kadang berkelebat kejadian masa lalu, dia juga cepat cepat berusaha melupakannya.

Jika bicara lebih dalam lagi, kejadian besar ini seumur hidupnya yang paling menyakitkan, juga paling menyedihkan, paling dirindukan, juga berusaha tidak dimunculkan di d alam hatinya.

Apa lagi kejadian lalu yang hanya sekelebat, atau kerinduan yang tawar?

Mata dan telinga di sebelah kamar adalah milik wanita berbaju hijau yang menjadi murid perguruan Can-bian-tok- kiam dari Lam-kiang, sekarang penampil-an dia adalah pelayannya 'tuan muda Cui' Lo-cia.

Sebenarnya dia bermarga Biauw namanya Cia-sa, di namanya memang ada huruf Cia. Nama ini walaupun aneh, tapi siapa yang tahu apakah nama ini adalah terjemahan dari nama suku minoritas Biauw?

Biauw Cia-sa duduk di dalam kegelapan, satu tangannya mengusap mempermainkan kancing ikat pinggangnya.

Jika bajunya dibuka, maka akan tampak ikat pinggang ini hitam pekat, kurang lebih sebesar ibu jari.

Inilah Tok-kiam (Pedang beracun) yang dimiliki oleh setiap murid Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kiang yang namanya menggetarkan dunia.

Cui Lian-hoa tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan Biauw Cia-sa, hanya tahu dia pasti ada gunanya bagi dia.

Lentera di koridor mengeluarkan sinar kuning gelap, sedikit bergoyang-goyang ditiup angin musim gugur.

Dengan perasaan hati yang mentertawakan dirinya, dia malah menghujat, di sudut bibirnya tampak tersenyum pahit, diam memikirkan sesuatu.

Sekarang dia lebih merasakan kesepian di musim gugur dan pembunuhan di musim gugur, lentera yang bergoyang- goyang itu, menambah rasa kesepian yang amat sangat.

Tapi jika di sisinya duduk seorang teman akrab, walaupun situasinya sama, berani dipastikan keadaan hati pasti tidak akan sama.

Hay, kehidupan manusia ini semuanya kosong, juga menghilang dalam sekejap mata.

Tapi mimpi ini.  hay, mimpi ini kapan bisa bangun?

Akhirnya terdengar suaranya Biauw Cia-sa dari kamar sebelah, dia berkata: "Adik kembarmu Cui Lian-gwat, apakah kau tahu dimana dia sekarang berada? Apa yang sedang dia lakukan, kau tahu tidak?"

Oh langit, benar-benar mengorek lagi pikiran yang di pendam di dalam hati.

Orang yang sebisanya dilupakan, kenapa justru diungkit? "Apapun aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu." Dia

menjawab dengan nada yang amat sedih.

Biauw Cia-sa tidak terlihat datang meng-hampiri, dari sebelah berkata lagi:

"Aku juga tidak ingin tahu, jujur saja terhadap laki-laki mana pun aku tidak ada gairah.

Tapi aku pernah melihat Pek-jiu-cian-kiam (Tangan seratus pedang seribu) To Sam-nio, dia adalah pesilat tinggi yang lebih tua dan kelasnya lebih tinggi satu kelas dariku, tentu saja aku sangat berhati-hati memperhatikan dia. Kau juga tentu bisa mengerti, To Sam-nio tidak ada di Lam- kiang, ada urusan apa dia lari ke Kang-lam?"

Dalam hati Cui Lian-hoa tiba-tiba timbul bayangan wajah Hoyan Tiang-souw yang muda yang pemberani yang pemarah, juga sedikit mengandung rasa terkejut ketakutan itu.

Hari itu dia buru-buru pergi (melarikan diri demi menghindar dari dia), dimana dia sekarang?

Apakah dia tahu, walaupun aku adalah orang dari keluarga Cui di Hoa-goat-lou, tapi telah kehilang-an ilmu silat, sama sekali tidak mampu melawan Biauw Cia-sa?

Jika dia tahu, akankah dia meninggalkan aku.

Pikiran yang tidak ada gunanya ini datangnya tidak pada waktu yang tepat. Demi ini dia diam-diam tertawa pahit.

Sekarang sebenarnya dia bisa saja memikirkan adiknya.

Jika bajunya dibuka, maka akan tampak ikat pinggang ini hitam pekat, kurang lebih sebesar ibu jari.

Inilah Tok-kiam (Pedang beracun) yang dimiliki oleh setiap murid Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kiang yang namanya menggetarkan dunia.

Cui Lian-hoa tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan Biauw Cia-sa, hanya tahu dia pasti ada gunanya bagi dia.

Lentera di koridor mengeluarkan sinar kuning gelap, sedikit bergoyang-goyang ditiup angin musim gugur.

Dengan perasaan hati yang mentertawakan dirinya, dia malah menghujat, di sudut bibirnya tampak tersenyum pahit, diam memikirkan sesuatu.

Sekarang dia lebih merasakan kesepian di musim gugur dan pembunuhan di musim gugur, lentera yang bergoyang- goyang itu, menambah rasa kesepian yang amat sangat.

Tapi jika di sisinya duduk seorang teman akrab, walaupun situasinya sama, berani dipastikan keadaan hati pasti tidak akan sama.

Hay, kehidupan manusia ini semuanya kosong, juga menghilang dalam sekejap mata.

Tapi mimpi ini.  hay, mimpi ini kapan bisa bangun?

Akhirnya terdengar suaranya Biauw Cia-sa dari kamar sebelah, dia berkata:

"Adik kembarmu Cui Lian-gwat, apakah kau tahu dimana dia sekarang berada? Apa yang sedang dia lakukan, kau tahu tidak?" Oh langit, benar-benar mengorek lagi pikiran yang di pendam di dalam hati.

Orang yang sebisanya dilupakan, kenapa justru diungkit? "Apapun aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu." Dia

menjawab dengan nada yang amat sedih.

Biauw Cia-sa tidak terlihat datang meng-hampiri, dari sebelah berkata lagi:

"Aku juga tidak ingin tahu, jujur saja terhadap laki-laki mana pun aku tidak ada gairah.

Tapi aku pernah melihat Pek-jiu-cian-kiam (Tangan seratus pedang seribu) To Sam-nio, dia adalah pesilat tinggi yang lebih tua dan kelasnya lebih tinggi satu kelas dariku, tentu saja aku sangat berhati-hati memperhatikan dia. Kau juga tentu bisa mengerti, To Sam-nio tidak ada di Lam- kiang, ada urusan apa dia lari ke Kang-lam?"

Dalam hati Cui Lian-hoa tiba-tiba timbul bayangan wajah Hoyan Tiang-souw yang muda yang pemberani yang pemarah, juga sedikit mengandung rasa terkeju t ketakutan itu.

Hari itu dia buru-buru pergi (melarikan diri demi menghindar dari dia), dimana dia sekarang?

Apakah dia tahu, walaupun aku adalah orang dari keluarga Cui di Hoa-goat-lou, tapi telah kehilang-an ilmu silat, sama sekali tidak mampu melawan Biauw Cia-sa?

Jika dia tahu, akankah dia meninggalkan aku.

Pikiran yang tidak ada gunanya ini datangnya tidak pada waktu yang tepat.

Demi ini dia diam-diam tertawa pahit.

Sekarang sebenarnya dia bisa saja memikirkan adiknya. Adik kembarnya Cui Lian-gwat yang wajah dan tubuhnya persis sama, malah pikirannya juga bisa saling kontak.

A-Gwat (selama ini dia memanggil adiknya A-Gwat) entah bagaimana bisa belajar ilmu sesat, sehingga mendadak memutuskan kontak batin yang sudah ada sejak mereka dilahirkan?

Tidak begitu saja, ilmu silatku juga semakin hari semakin mundur, sehingga akhirnya hilang semua.

Dan sifat kami sejak lahir yang nakal suka jail, malah kadang sedikit jahat, juga telah hilang semua.

Aku sadar sekarang ini aku seperti seekor anak kambing, hatiku terasa lebih bersih dari pada bunga teratai, tapi bagaimana dengan adik? Apakah dia juga sama dengan aku?'

Cui Lian-hoa tidak berani memikirkan hal ini dalam beberapa tahun ini.

Dia menyembunyikan diri di rumah petani yang berada di bawah pagoda Liu-ho di sisi sungai Kian-tang, seperti burung onta menyembunyikan kepalanya di dalam tumpukan pasir, apa pun tidak berani dipikirkannya lagi.

Tapi sekarang dia dipaksa harus memikirkan-nya.

Karena Biauw Cia-sa telah menyebut Cui Lian-gwat, lalu kenapa menyebut dia?

"Bagaimana aku bisa tahu? Orang yang namanya To Sam-nio, bagaimana sedikit pun tidak ada bayangan, walaupun dia datang ke Kang-lam untuk mencarimu, aku tetap saja sama sekali tidak tahu apa apa?"

Suara Biauw Cia-sa di sebelah mengandung nada beringas: "Aku ingin sekali menghajarmu, sebab To Sam-nio yang mengikuti Cui Lian-gwat, tampaknya sudah menjadi pelayan dia, melihatmu aku jadi seperti melihat Cui Lian- gwat, maka aku jadi ingin marah."

Kata-kata orang ini tampaknya kurang aturan. Tapi' kepalan ada di depan mata, sedangkan pejabat pemerintah ada di tempat jauh, kadang tidak ada aturan juga jadi ada aturan.

Tentu saja Cui Lian-hoa tidak mau dipukul, maka buru- buru dia berkata:

"Jika To Sam-nio benar-benar datang ke Tiong-goan mencarimu, hal ini tidak mengherankan. Sebab kulihat kau sudah menjadi pesilat tinggi Can-bian-tok-kiam, maka pasti harus mengutus pesilat tinggi untuk menghadapi pengkhianat ini, kenapa To Sam-nio jadi pelayannya adikku? Apakah hubungan di antara mereka pun sama seperti hubungan kami?"

"Tidak sama," Nada bicara Biauw Cia-sa sangat yakin, lanjutnya, "Adikmu adalah majikannya To Sam-nio, dia bisa memerintahkan To Sam-nio mengerjakan apa saja. Menurut pandanganku, adikmu memiliki kekuatan gaib yang sulit diduga, dia lebih menakutkan dari pada To Sam- nio!"

Cui Lian-hoa menundukan kepalanya berpikir.

Lentera di kolidor yang bergoyang-goyang sudah tidak membangkitkan kerinduannya, mimpi misterius juga sudah menjauh dari dia!

Tentu saja bayangannya Hoyan Tiang-souw pun menghilang!

Sebenarnya di dalam hati dia, bayangannya juga tidak terlalu melekat. "Sebenarnya apa maumu?" tanya Cui Lian-hoa.

"Aku bisa mencari akal mencari Cui Lian-gwat, kau adalah kakaknya, dan dia adalah majikannya To Sam-nio, masalahnya jadi lebih sederhana.

Aku akan membuat dia tahu, nyawamu dan berhubungan dengan nyawaku, kukira di dalam hati dia, nyawamu lebih penting dan lebih berharga dari pada nyawaku, maka dia tidak akan segan memberi pesan pada To Sam-nio."

"Tindakan begini mungkin tidak bisa men-jamin." Cui Lian-hoa berkata dengan jujur.

Tapi dia juga tahu, Biauw Cia-sa pasti tidak percaya, maka dia berkata lagi:

"Kemana kita pergi mencari mereka?"

"Bukan kita, tapi aku sendiri." Kata-kata Biauw Cia-sa kedengaran dingin sekali, "jika aku tidak bisa hidup, kau juga sama, walaupun kita tidak bersama sama, tapi aku bisa menjamin akan hal ini."

((( dw )))

Li Poh-hoan masih bersandar di pagar jembat-an, baju putihnya berkibar-kibar ditiup angin musim gugur.

Ambisi ingin menguasai dunia di dalam sorot matanya semakin memudar.

Akhirnya dia menarik nafas panjang sekali, lalu melangkah menuju kuil Han-san.

Sampai di depan jembatan, ada tujuh delapan belas orang di sana mengawasi dia dengan sorot matanya. Tujuh delapan belas orang itu tersebar dimana-mana, bukan di satu tempat. Sorot mata Li Poh-hoan berhenti di atas seorang pemuda yang berbaju sastrawan, lalu beralih kepada seorang laki- laki besar yang bertubuh tegap yang keningnya lebar hidungnya pesek.

Setelah dia menganggukan kepalanya sedikit, dua orang itu segera lari menghampiri.

Mereka masih sangat muda, kira-kira berusia dua puluh tiga empat tahun.

Kelihatannya Li Poh-hoan lebih tua tiga empat tahun dari mereka.

Yang memakai baju sastrawan adalah Oey Go-siang, sedangkan laki-laki besar hidung pesek di panggil Pek Ie- seng.

Mereka adalah murid atau anaknya anggota lama Thi- pian-tan-pang, setelah dasar ilmu silatnya cukup bagus di usia enam tujuh belas tahun, maka dipilih keluar mengembara dan mencari pengalaman, supaya bisa lebih maju lagi.

Ini adalah salah satu cara Thi-pian-tan-pang membina orang berbakat selama ratusan tahun.

Murid yang terpilih diijinkan keluar mengem-bara dan memperdalam ilmu, setelah beberapa tahun ketika kembali lagi pasti sudah menjadi seorang pesilat tinggi kelas satu.

Oey Go-siang dan Pek Ie-seng mengikuti Li Poh-hoan dari belakang, melangkah masuk ke dalam kuil kuno Han- san.

Sepatah kata pun mereka tidak bertanya, atau bersuara, tapi di dalam hati mereka tahu, kepergian ini sangat penting sekali. Tangan kanan Oey Go-siang mencabut kipas lipat bertulang baja sepanjang satu setengah kaki yang diselipkan di punggungnya, dengan pelan dipukul-pukulkanke telapak tangan kiri.

Pek Ie-seng juga tidak tahan mengusap-usap tameng besi seberat empat puluh sembilan kati yang disimpan di dalam kantong kain.

Li Poh-hoan melangkah melewati palang pintu gerbang kuil kuno, setelah berhenti sejenak, dengan pelan berkata:

"Jangan menunjukan sikap seperti siap bertarung, belum tentu kita akan bertarung."

Oey Go-siang dan Pek Ie-seng bersama-sama menjawab dengan pelan:

"Ya!"

Maka mereka meredam hawa membunuhnya, menganggap dirinya sedang melancong dan datang untuk sembahyang.

Di dalam kuil Han-san ada pohon Hong yang sering dilihat di luar, tumbuhnya sangat subur dan enak dilihat. Ruang Lo-han di kedua sisi kiri dan kanan terlihat sepi dan tidak ada orang.

Melihat ke dalam dari jalan batu, di ruangan besar tampak tenang dan damai, rupanya juga tidak banyak orang. ,

Maka Li Poh-hoan dengan santai berjalan ke pekarangan sebelah kanan, melewati pintu bundar, belum lagi menikmati kebun yang sangat indah, terlihat di dalam satu ruangan di sebelah kanan lagi ada banyak orang.

Yang pertama muncul adalah Hoyan Tiang-souw. Dia sedikit pun tidak memalingkan kepala, dengan langkah besar keluar dari ruangan, segera sudah berada di depan Li Poh-hoan.

Sepasang mata besarnya yang berkilat-kilat itu menatap Li Poh-hoan, seperti sedang melihat mahluk aneh.

Sambil tersenyum Li Poh-hoan berkata: "Ada apa dengan diriku, apakah mendadak berubah menjadi sangat buruk dan aneh? Atau berubah menjadi sangat tampan?"

Hoyan Tiang-souw menggelengkan kepala: "Dia tidak mempedulikan aku, seperti orang asing yang tidak pernah bertemu."

Orang ini biasanya bersuara seperti geledek, tapi karena volume suaranya diatur, maka suara dia jadi terdengar pelan juga tidak mengherankan.

Yang aneh adalah buat apa dia berbicara pelan? Hoyan Tiang-souw berkata lagi: "Dia sudah berubah, dia bukan yang dulu lagi, kita masih ada satu pertarungan, maka aku peringatkan padamu, lebih baik kau jangan berpikiran aneh- aneh pada nona Cui."

Senyum Li Poh-hoan sekarang berubah menjadi senyum santai, dia balik bertanya:

"Jika kau bertemu dengan gadis yang sangat cocok, apakah kau mau melewatkannya begitu saja?"

Hoyan Tiang-souw tertegun sejenak, berkata: "Aku sudah melewatkannya!"

Li Poh-hoan mengangkat angkat bahu:

"Setiap orang berhak menentukan keinginan dirinya, silahkan!" Hoyan Tiang-souw berjalan keluar, tanpa melihat kebelakanglagi.

O  O  O

Tidak sedikit orang dalam ruangan yang luas ini, selain Ji-hong hweesio yang sedang duduk bersila di atas kursi sembahyang di sudut tembok, masih ada lima orang biasa yang memakai baju hweesio, semua nya laki-laki.

Tapi jumlah wanitanya juga tidak sedikit.

Nona Cui, To Sam-nio dan dua orang pelayan mereka saja sudah empat orang.

Mereka berempat dan lima orang laki-laki berbaju hweesio semua duduk bersila di atas bantal duduk, mereka terbagi dua baris menghadap Ji-hong hweesio, seperti sedang mendengarkan penjelasan Ji-hong hweesio tentang ajaran Budha.

Tapi Ji-hong hweesio bukan saja tidak bersuara, malah tubuhnya sedikit menyandar ke belakang.

Hanya orang yang ketakutan, tanpa sadar posisi duduknya seperti ini.

Sebenarnya apa yang ditakutkan oleh Ji-hong hweesio?

Bukan saja Ji-hong hweesio ketakutan, sampai lima orang umat yang berbaris di depan, empat orang wanita itu, posisi duduknya juga tampak kaku dan tidak normal.

Siapa pun yang melihat, tahu semua ini di sebabkan oleh 'ketakutan'.

Di pintu ruangan muncul bayangan putih tinggi semampai, di pinggangnya ada sebilah pedang. Orang ini wajahnya tampan sekali, matanya berkilat- kilat, menyapu sekali pada semua orang. Termasuk kepada Ji-hong hweesio.

Saat sorot matanya menyapu Ji-hong hweesio, hatinya jadi tergerak.

Dia melihat hweesio itu mendadak mengangkat tangannya memberi salam tanpa berkata, saat lengan-nya diturunkan ke bawah, bahu sikut dan pergelangan tangannya bergoyang-goyang.

Orang berbaju putih ini adalah Li Poh-hoan.

Di dalam hati dia seperti sadar akan sesuatu, tapi dia sendiri tidak mengerti.

Maka setelah dia berpikir sebentar baru dia melangkah masuk ke dalam ruangan dan dengan keras berkata:

"Aku Li Poh-hoan dari Siang-yang, mohon maaf telah mengganggu ketenangan Lo-hweesio."

Ji-hong hweesio seperti terpaksa menaikkan semangatnya, berkata:

"Li Poh-hoan Sicu? Bagus juga Sicu datang kemari, bagaimana pun ketenanganku sudah terbiasa diganggu, lebih satu orang juga tidak apa-apa!"

Suara Li Poh-hoan bulat dan merdu, berkata: "Tidak hanya aku, masih ada dua orangku, yang satu adalah Oey Go-siang, yang satunya lagi Pek Ie-seng."

"Nama mereka bagus-bagus, Oey Go-siang begitu terdengar pasti seorang yang tegar, tidak mudah menyerah. Dan Pek Ie-seng seorang yang membenci kejahatan dan kebiasaan buruk, tapi satu orang dengan tiga orang sama saja, silahkan kalian masuk dan duduk."

Dengan bersuara keras Li Poh-hoan berkata: "Yang aku cari adalah nona Cui, aku sudah mengikuti dia sejak dari Ho-hui sampai kemari."

Nona Cui sedikit pun tidak bergerak, sampai alisnya pun tidak diangkat.

To Sam-nio malah berdiri sambil memalingkan kepala dia berkata:

"Li-pangcu ada petunjuk apa?"

"Maaf bukan ingin memberi petunjuk, aku hanya merasa heran kenapa To Sam-nio yang jauh dari Thian-lam, yang menggemparkan Thian-lam, bisa menjadi pelayan nona Cui? Sebenarnya siapa nona Cui?"

Suara dia nyaring dan ramah, orangnya pun tampan sekali.

To Sam-nio melihat dia dengan tertegun.

Sambil bicara Li Poh-hoan menjulurkan tangan merapihkan rambutnya yang melayang-layang, gerakannya sangat tenang, tapi akibatnya sangat dahsyat.

Tiba-tiba kipas tulang besi hitam Oey Go-siang maju menyerang, dia menggetarkan ujung kipasnya, dan menjelma menjadi tujuh titik sinar hitam.

Di lain pihak Pek Ie-seng pun mengayunkan tameng besi yang masih terbungkus kantong kain itu, dengan dahsyat menghantam.

Gerakan Li Poh-hoan yang membetulkan rambutnya ternyata adalah perintah untuk menyerang.

Wajah To Sam-nio berubah dia membentak: "Keji benar kau!" Setelah berkata, dia menggerakan pergelangan tangannya, lima garis sinar hijau, segaris mengikuti segaris terbang keluar.

Dia melepaskan sinar hijau yang seperti garis itu bukan hanya diarahkan pada Oey Go-siang dan Pek Ie-seng saja, tapi juga termasuk Li Poh-hoan.

Sedangkan Oey Go-siang dan Pek Ie-seng ini juga bukan menyerang To Sam-nio atau nona Cui, mereka hanya menyerang ke arah dua orang pelayan cantik yang duduk di paling kiri dan paling kanan.

Sebenarnya semua orang tahu, dalam pertarung an yang mempertaruhkan nyawa seperti ini, harus segera mengambil sikap menyerang lawan harus menyerang kudanya, menangkap bangsat harus menangkap rajanya dulu.

Maka tidak heran jika dua pesilat tinggi anak buah Li Poh-hoan mendadak menyerang.

Yang mengherankan adalah, yang diserang mereka bukan nona Cui, juga bukan To Sam-nio, hanya dua orang pelayannya.

Dua orang pelayan itu memutar tubuh dan meloncat ke atas, laksana kapas melayang layang ditiup angin, selain ringan juga cepat sekali.

Tangan mereka memegang pedang yang sudah dicabutnya.

Mata pedangnya bersinar menyilaukan mata, saat keluar dari sarung, pedang sudah menyapu tiga putaran.

Tampaknya ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi, jurus pedangnya juga hebat dan aneh, pasti bisa menangkis serangan mendadak dari Oey Go-siang dan Pek Ie-seng. Siapa sangka Li Poh-hoan pun ternyata ikut dalam serangan mendadak pada dua pelayan itu.

Dia bukan menyerang, tapi menyabetkan pedangnya, membuat lima garis sinar hijau yang dilepaskan oleh To Sam-nio, disentak dan terbang keluar.

Saat To Sam-nio melepaskan senjata rahasianya walaupun sedikit lebih lambat dari pada serangan Oey Go- siang dan Pek Ie-seng, tapi walaupun lebih belakang tibanya ternyata lebih dulu, malah yang paling pertama mendapat serangan adalah Li Poh-hoan.

Maka Li Poh-hoan menyabetkan pedangnya membalikan senjata rahasia lawan, dua garis balik menyerang pelayan di sebelah kiri, dan dua garis lainnya menyerang pelayan di sebelah kanan.

Sisa satu lagi malah balik menyerang To Sam-nio.

Begitu dia menyabetkan pedangnya, bukan saja bisa menangkis senjata gelap, malah masih bisa menggunakan tiga macam tenaga yang berbeda, balik menyerang tiga orang lawannya, ketajaman mata, jurus pedang dan tenaga semacam ini, sungguh jarang ada di dunia.

To Sam-nio mengangkat tangannya, menerima kembali senjata rahasianya, itulah jarum kecil tiga inci berwarna biru.

Sisa empat jarum biru lainnya menancap pada sepasang kaki ke dua pelayan itu.

Saat itu dua macam senjatanya Oey Go-siang dan Pek Ie-seng ditangkis oleh gulungan pedang mereka, serangan yang dilakukan oleh Oey Go-siang dan Pek Ie-seng Bai adalah serangan keras. Walaupun kedua pelayan itu bisa menangkis, tapi tidak bisa memperhatikan yang lainnya.

Setelah sepasang kakinya terkena jarum baru mereka sadar.

Dua orang gadis cantik itu langsung menjadi kaku, lalu bersama-sama roboh ke tanah.

Pertarungan pertama ini hanya dalam waktu sekejap mata sudah selesai.

Oey Go-siang dan Pek Ie-seng juga hanya menyerang satu jurus langsung mundur lagi, diam berdiri di samping Li Poh-hoan.

To Sam-nio mengeluarkan dua butir obat, masing- masing dimasukan ke dalam mulut dua orang pelayannya. Bersamaan mengusap sepasang kaki mereka di tempat yang terkena jarum.

Setelah kembali ke samping nona Cui, sambil tertawa kaku berkata:

"Nona Cui, Li Poh-hoan memang sulit di hadapi, A-sia dan A-siu malah terluka jarumku, walau pun telah diberikan obat penawarnya, tapi dalam dua tiga hari ini tidak bisa bergerak seperti biasanya."

Nona Cui masih tetap duduk tidak bicara, pelan-pelan memalingkan kepalanya, sepasang mata-nya yang seperti intan menatap pada Li Poh-hoan, dan tersenyum padanya.

Senyumannya membuat orang serasa ditiup angin timur yang lembut, ratusan bunga bermekaran.

Dia mengangkat wajahnya yang secantik bunga Tho, rambut panjangnya yang hitam melayang-layang ke belakang, ke cantikannya seperti dewi saja. Dia menunjukan giginya yang putih rapih dalam senyumnya, menambah kemanisannya.

Suaranya bulat merdu:

"Margaku Cui, orang lain menyebut aku Pu-couw-siancu (Dewi tidak gelisah)."

Li Poh-hoan menarik nafas dalam-dalam, baru bisa meredakan hatinya yang bergejolak, menganggukkan kepala tanda menyapa dan berkata:

"Li Poh-hoan memberi hormat pada dewi!"

Pu-couw-siancu memutar matanya, wajahnya berubah menjadi kurang senang.

Li Poh-hoan yang melihat, hatinya jadi tertekan.

Untung dia masih ingat sesuatu, buru-buru menekan gejolak hatinya.

Dia tahu emosi setiap orang bisa bergejolak, tapi jika terpengaruh oleh senyum atau gerakan wanita, maka itu sangat tidak baik.

Pu-couw-siancu berkata:

"Ku dengar, di dunia persilatan, kau adalah laki-laki sejati yang berjiwa ksatria. Tapi aku tidak mengira kau bisa menyerang dengan tiba-tiba, malah menghina kedua pelayanku."

"Aku sangat menyesal, tapi aku juga tahu mereka seperti sayapnya dirimu, jika sekarang mereka masih bisa bertarung, menambah rasa waspadaku berlipat ganda juga mungkin masih tidak cukup."

Pu-couw-siancu tertawa dan berkata: "Penglihatanmu tajam, orangnya juga gagah dan tampan, jika suatu hari aku bisa menyukai laki-laki, aku rasa sangat mungkin kau yang pertama ku pertimbangkan."

Dia sudah bukan gadis yang berusia lima enam belas tahun, seharusnya sejak lama sudah merasakan daya tariknya kaum laki-laki.

Tapi jika dia mengatakan, suatu hari nanti akan menyukai laki-laki, itu sama dengan mengakui dirinya sama sekali tidak suka laki-laki.

Li Poh-hoan tersenyum sambil sedikit mem-bungkukan rubuh, menandakan terima kasih. Pu-couw-siancu berkata lagi: "Tidak sedikit pesilat tinggi berada di Thi-pian-tan- pang, organisasinya juga kokoh, dan kau sendiri selain pandai juga pemberani, penuh ambisi.

Ingin membuat organisasi yang bersifat daerah yang terkurung di perairan Han-sui memperluasnya menjadi organisasi terbesar di dunia persilatan, seseorang jika mempunyai ambisi besar tentu saja bagus, tapi apakah waktunya tepat atau tidak, itu mau tidak mau harus membuka mata lebar-lebar melihatnya dengan jelas."

"Mohon Siancu memberitahukan organisasi apa yang Siancu pimpin?"

Pu-couw-siancu dengan jujur berkata: "Aku hanya seorang murid dari Tong-tee-see (Perkumpulan di wilayah di timur)."

"Tong-tee-see...Tong-tee-see......" Li Poh-hoan berpikir dalam hati, bolak-balik membacanya, otaknya berputar terus, tapi sedikit pun tidak ada bayangan.

Tong-tee-see, pasti sebuah organisasi yang diam-diam di dirikan akhir-akhir ini. Tapi mungkin dia bohong.

Juga mungkin dia tidak bohong mengatakan nama sebenarnya tapi jarang diketahui orang.

Di dalambotani banyak contoh seperti ini, saat kita melihat nama ilmiahnya sama sekali tidak tahu benda apa itu, tapi setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, ternyata itu adalah pepohonan yang biasa kita lihat.

Makanya Li Poh-hoan sesaat tidak yakin dia ini bohong atau tidak.

Dan juga tidak berani meyakinkan dirinya sebagai Pangcu Thi-pian-tan, berambisi menguasai seluruh dunia, tapi malah tidak pernah mendengar sebutan lawan yang sangat lihay ini.

Dia mengangkat kepala dan menghela nafas, berharap dengan keluhan ini bisa menghilangkan perasaan lemah dan menyayangkan dirinya di dalam hati.

Perasaan semacam ini muncul secara mendadak saat pertama kali dia melihat Pu-couw-siancu.

Laki laki mana pun di dunia ini tidak peduli sepintar apa, pengetahuannya setinggi apa.

Juga tidak peduli usahanya sesukses apa.

Begitu di hadapan wanita, laki-laki adalah laki laki, hanya begitu saja.

Dia merasa dia sendiri sangat sulit bisa menganggap dia adalah musuh terbesarnya.

Tapi 'merasa' hanyalah reaksi dari perasaan.

Akal sehatnya memberitahu dia harus tegas melihat dia adalah musuh terbesarnya, menghadapi dia harus sangat hati-hati, kejam dan tanpa perasaan. Pertentangan memenuhi dadanya. Membuat sorot j matanya meredup, tubuh serasa tidak begitu tegak, begitu santai.

Tawa manis Pu-couw-siancu sudah terdengar lagi, dia melanjutkan perkataannya:

"Tidak usah bersusah payah memutar otak lagi, ku dengar kau mempunyai sembilan anak buah setia yang disebut Sam-kang-sam-goan-sam-pu-tong (Tiga keras, tiga lemah lembut, tiga tidak sama), apakah mereka semuanya sudah datang? Apakah Oey Go-siang dan Pek Ie-seng adalah dua diantaranya?"

Mulut Oey Go-siang dan Pek Ie-siang seperti disumbat oleh kaos kaki bau, sampai bibirnya sedikit pun tidak bergerak.

"Kali ini aku hanya membawa dua diantaranya, yaitu Oey Go-siang dan Pek Ie-seng."

Pu-couw-siancu mendengus sekali: "Walaupun kau hanya membawa dua orang, tapi aku tidak menganggap kau memandang sebelah mata padaku, sebab kau sendiri sudah datang."

Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Benar, aku pun tidak berani memandang sebelah mata kepadamu."

Pu-couw-siancu tersenyum manis: "Jika demikian, kita tidak perlu menyuruh bawahan kita mempertaruhkan nyawa mereka."

Tubuh dia mendadak terbang ke atas delapan sembilan kaki, masih dalam posisi duduk memalingkan kepalanya ke belakang.

Orang-orang tidak bisa mengerti jika dia duduk tidak bergerak, tapi kenapa bisa terbang naik ke atas? Dalam sekejap mata, dewi yang sangat cantik ini mendadak posisinya berubah menjadi tengkurap, tampaknya dia bisa berbaring di atas udara, meluncur ke arah Li Poh-hoan tanpa membuat debu bertebaran.

Setiap gerakan dia semuanya sangat menarik. Ketika Oey Go-siang dan Pek Ie-seng sadar, dia sudah mendekat dengan ketua perkumpulan dan melakukan penyerangan, sekarang mereka bukan sedang menonton sandiwara, tentu saja juga bukan sedang nonton orang sedang akrobatik, tapi sedang dalam pertarungan nyawa.

Begitu sadar,, kedua orang itu menjadi sangat menyesal.

Tangan Li Poh-hoan sudah menekan pegangan pedangnya. Kakinya memutar melangkah ke kiri dua langkah, berputar ke kanan lima langkah, dalam sekejap mata sudah berpindah delapan kali di tempat yang berbeda.

Tubuh Pu-couw-siancu yang tengkurap di udara, juga bergerak meluncur berpindah-pindah tempat, akhirnya menginjakan kakinya di tanah, seperti orang biasa berdiri di tanah.

0 O 00 O 0