-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 04

Bab 04

Hoyan Tiang-souw sadar Pek-mo-ci-to hcnsi benar harus keluar dari sarungnya.

Karena di kedua sisi jalan masuk Kinm li mendadak muncul satu orang, baju mereka yang berwarna coklat membuat mereka tampak tidak berbeda dengan batu dan pohon yang ada di sekeliling-nya.

Selain itu di atas jembatan yang tingginya beberapa tombak masih ada satu orang lagi.

Mengenai hal ini tidak perlu Hoyan Tiang-souw melihat ke atas juga sudah mengetahuinya.

Dia mengetahui ini dari gabungan hawa membunuh mereka bertiga, maka pandangan matanya sudah tidak terlalu penting lagi.

Baju putih terlihat melayang-layang, tampan laksana pohon Giok, wajah Li Poh-hoan dingin sekali, seluruh tubuhnya juga mengeluarkan hawa membunuh yang menakutkan.

Hoyan Tiang-souw memperhitungkan, dia memutuskan dalam jurus pertama dia sebisanya harus membereskan Li Poh-hoan dulu, jika bisa membereskan dia dalam satu jurus, maka sisa ancaman dari ketiga orang lainnya akan berkurang lebih dari setengahnya.

Begitu Mo-to dia keluar, hanya mengeluarkan ribuan bayangan pelangi yang mencolok mata, tapi tidak menyerang pada Li Poh-hoan, malah menahan orang berbaju coklat yang berada di gerbang Pie-yu-tong-thian.

Tidak peduli Li Poh-hoan setampan apa, dalam hati Hoyan Tiang-souw tetap saja tidak ada perasaan yang baik terhadapnya.

Maka serangan dia ini menggunakan perasaan bukan berdasarkan keadaan, tapi menyerang orang baju coklat bukan Li Poh-hoan, membuat dia sendiri merasa bingung, kenapa bisa melakukan tindakan ini, menangkap bangsat bukannya menangkap rajanya dulu? Jika membunuh Li Poh-hoan terlebih dulu, lalu menghadapi tiga anak buahnya bukankah akan lebih mudah?

Pokoknya walaupun dia telah membunuh satu anak buahnya, tapi tetap saja harus bertarung dengan dia. Lalu kenapa bisa melakukan tindakan yang salah ini?

Di tangan kanan orang berbaju coklat itu memegang kapak sepanjang tiga kaki, badan kapaknya tebal dan mata kapaknya tajam, berkilat-kilat menyeramkan orang.

Begitu dia tertawa keras, kapaknya di ayunkan membacok, jurus kapaknya tidak ada variasi, seperti sedang membelah kayu bakar saja.

Kilatan ribuan bayangan Mo-to Hoyan Tiang-souw mendadak jadi satu, gerakannya berubah dari . menyerang menjadi bertahan, "Traang!" dia menangkis , keluar serangan kapak lawan. Ternyata walaupun serangan kapak orang berbaju coklat itu sangat sederhana, kedahsyatannya sungguh sulit digambarkan.

Walaupun kau bisa dengan satu sabetan golok memenggal kepalanya, tapi serangan kapak dia ini juga

pasti akan mengenaimu, walaupun tidak mengenai tempat yang vital, tampak diapun tidak peduli.

Cara bertarung yang tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri seperti ini, sungguh membuat orang jadi tidak mengerti, kenapa dia masih bisa hidup sampai sekarang?

Jika bukan seorang pesilat tinggi kelas satu, satu jurus ini bagaimana pun harus mempertaruhkan nyawa, tidak ada cara lain lagi.

Akibat dari mempertaruhkan nyawa, walaupun orang baju coklat tidak mati, mungkin juga harus menjadi orang cacad.

Tapi dia selain tidak cacat, tampaknya tidak terluka sedikit pun.

Hati Hoyan Tiang-souw jadi tergetar, tapi kemudian tenang lagi, sambil menekan goloknya dia bertanya:

"Kau pernah berlatih ilmu Yang-kang?"

Sorot mata orang baju coklat itu tampak sedikit kaku, tapi jelas tidak cacad mental. Sebab dia berkata dengan sangat jelas:

"Jika kau tidak tahu, memberitahukan padamu juga tidak ada gunanya."

Hoyan Tiang-souw mengangkat alis tebalnya: "Memberitahukan pada orang lain mungkin tidak ada

gunanya, tapi untukku lain." Orang berbaju coklat pasti merasakan kata-kata pemuda yang gagah berani ini tidak sembarangan. Maka dia bertanya:

"Kenapa kau lain? Siapa pun setelah mati sama saja, bangsawan atau jenderal dengan pedagang kecil, prajurit tidak ada bedanya."

"Sebab Mo-to ku ini bisa memecahkan dua puluh satu macam ilmu Gwakang atau Lweekang, asalkan kau memberitahukan padaku, ilmu silat apa yang kau pelajari, maka aku akan memberitahukan padamu golokku ini bisa tidak membunuhmu."

Dia memang bicara sejujurnya.

Sebab walaupun dia tahu golok pusaka di tangannya bisa memecahkan dua puluh satu macam ilmu Gwakang mau pun Lweekang yang paling hebat, juga tahu jenis setiap macam tenaga dalam, masalah-nya adalah dia tidak tahu orang ini menggunakan ilmu yang mana. Supaya bisa tahu lebih banyak, dia jadi mengatakan rahasianya, dia berharap lawan mau menjawabnya, dengan demikian lain kali dia bisa mengenal ilmu silat ini.

Kata orang berbaju coklat:

"Sembarangan bicara, sembarangan bicara." terhenti sejenak lalu berkata lagi, "tapi aku juga merasa kau tidak membohongi aku."

Li Poh-hoan berdiri di tepi danau sambil menggendong tangan, sikapnya santai sekali, dengan keras dia berkata:

"Kata-katamu benar, dia orang yang tidak bisa membohongi orang. Dia berkata dia tidak tahu, pasti tidak tahu, tenaga dalam macam apa yang kau gunakan untuk, melindungi diri, sedikit pun tidak bohong!" \ "Kalau begitu itu bagaimana dengan kau? Kau tahu tidak?" kata orng berbaju coklat.

"Aku tentu saja tahu!" kata Li Poh-hoan.

"Ternyata kalian bukan satu kelompok? Tapi kenapa kalian semua menyerangku? Dimana aku pernah berbuat salah pada kalian?" kata Hoyan Tiang-souw.

Orang berbaju coklat tertawa terbahak-bahak, tapi jawabannya tidak bertele-tele, suaranya sangat dingin dan menusuk telinga:

"Kau harus mati, dia juga tidak boleh hidup, kami selalu tidak mau meninggalkan seorang musuh kuat, bagaimana denganmu?"

Hoyan Tiang-souw tidak bisa membantah: "Aku pun sama. Tapi kapan kalian ber-musuhan denganku? Aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang dirimu, juga tidak pernah bertemu denganmu!"

"Sekarang kau sudah mendengar dan melihat, maka kau menjadi musuhku!"

Aturan begini sungguh tidak masuk akal sekali. Tapi, jika orang sangat teguh pendiriannya, tampaknya itu adalah hal yang tidak bisa dikutak-kutik lagi.

Kau boleh membunuh dia, boleh mengancam dia tidak boleh bicara. Tapi kau tidak bisa merobah pendiriannya.

Hoyan Tiang-souw dengan keras berkata:

"Li Poh-hoan, kelihatannya kau juga tidak bisa berpangku tangan. Tapi kenapa dua puluh lebih anak buahmu sedikit pun tidak ada kabarnya? Apakah aku salah lihat? Orang-orang itu bukan anak buahmu?"

Li Poh-hoan berkata: "Kau tidak salah lihat, sungguh tidak kusangka tampangmu begitu kasar, tapi otakmu begitu teliti!" Kata orang berbaju coklat:

"Ku jamin pada kalian, tidak ada orang yang bisa menerobos datang kemari."

Li Poh-hoan memasang telinganya, meneliti sejenak, sambil mengerutkan alis berkata:

"Tidak ada alasan, ilmu silat anak buahku cukup bagus, di antaranya malah ada yang tidak hanya bagus. Walaupun kalian mengerahkan banyak pesilat tinggi menjaga di semua jalan, tapi paling sedikit juga hams terdengar suara pertarungan."

Orang berbaju coklat sambil tertawa dingin: "Li Poh-hoan, kau tahu tidak siapa aku?" Li Poh-hoan menggelengkan kepala. "Kalau begitu hatiku jadi lega."

"Lega? Apa maksudnya?" tanya Li Poh-hoan keheranan.

Hoyan Tiang-souw menyela perbincangan mereka, suara dia seperti geledek berkata:

"Li Poh-hoan, apakah sekarang kau masih ingin membunuhku?"

Li Poh-hoan tersenyum:

"Sekarang tidak, tapi di kemudian hari aku tetap tidak akan melepaskanmu!"

Sedikit pun dia tidak menutup-nutupi, seperti sikap seorang Enghiong saja.

"Bagus, masalah denganmu aku juga tidak akan tinggal diam." Dia mengangkat sepasang alisnya, dengan penuh amarah dan hawa membunuh yang kental berkata lagi, "kita perhitungkan saja sekarang, tidak perlu menunggu hari lainnya!"

Jika keadaan berkembang seperti yang dipikir-kan oleh Hoyan Tiang-souw, maka akan terjadi pertarungan segi tiga, tidak peduli dari pihak mana, mungkin saja diserang atau menyerang oleh pihak lainnya, keadaan begini pasti sangat kacau dan bahaya sekali.

Pertarungan segi tiga semacam ini sungguh sungguh tidak bisa diatur, dan sangat membahayakan pihak mana pun, siapa pun orangnya mungkin tidak akan suka cara bertarung seperti ini.

Orang berbaju coklattertawa keras dan berkata: "Bagus, bagus sekali!"

Terdengar suara Li Poh-hoan sedikit tergesa-gesa, tidak seperti tadi tenang dan percaya diri.

"Kalian bodoh, semuanya......" mendadak dia berhenti bicara.

Setiap orang tentu tahu, pasti dia ingin memaki mereka itu gila.

Li Poh-hoan hanya berhenti sejenak saja, sudah kembali mengumpat:

"Bagaimana bisa mengukur tinggi rendahnya ilmu silat dengan memakai cara ini? Apa lagi aku dengan Hoyan Tiang-souw hanya satu orang saja, tapi kalian ada tiga orang banyaknya?"

Dalam hati Hoyan Tiang-souw timbul satu perasaan aneh, tampaknya dia harus tahu jati diri ketiga orang baju coklat ini, sebab dia seperti pernah mendengar tentang mereka. Tapi sekarang dia tidak ingat. Sebenarnya Siapa orang-orang baju coklat ini?

Orang baju coklat mengangkat kapaknya, hawa dingin menyebar.

Wajahnya yang tidak tampan, sekarang tampak semakin bengis.

Dengan suara keras dia berkata:

"Li Poh-hoan, kuharap bisa membunuhmu dulu, hati- hatilah!"

Kata hati-hati ini seperti memberitahukan saat menyerang.

Beberapa orang jelas tidak mau memberi tahukan pada lawan saat menyerang, tapi sering kali tidak tahan memberitahukan terlebih dahulu atau berteriak.

Namun di antara dia dengan Li Poh-hoan ada Hoyan Tiang-souw, maka hawa membunuh yang dahsyat dari kapaknya hanya bisa menerjang pada Hoyan Tiang-souw.

Begitu sorot mata Hoyan Tiang-souw menyapu, dia bisa melihat celahnya hawa dahsyat kapak lawan.

Sebenarnya dahsyat itu hanya tekanan yang tidak berbentuk dan tidak bersuara. Seperti besi yang dibakar sampai merah, kau bisa melihat warna merah-nya, bisa merasakan panasnya. Kau tahu itu bahaya, dan sama sekali tidak boleh tersentuh oleh besi itu.

Tapi panasnya tetap saja tidak tampak.

Sehingga jika kau bisa tahu bagian mana dari panas itu yang berkurang panasnya, keputusannya tidak bisa menggunakan mata, hanya bisa mengguna-kan perasaan.

Maka jika tadi mengatakan Hoyan Tiang-souw . bisa 'melihat' celahnya hawa dahsyat lawan, jika \ mengatakannya dengan tegas, dia hanya bisa mengatakan merasakannya saja.

Golok dia pun segera bergerak.

Tapi dalam waktu yang singkat ini, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba dia bisa terpikir Ji-hong hweesio

yang berkhotbah di kuil Han-san, bukan terpikir wajah atau pakaian dia.

Sebuah gerakan tangannya membuat Hoyan Tiang-souw menghentikan langkahnya.

Gerakan tangan itu adalah sebuah jurus golok yang sangat hebat, saat itu Hoyan Tiang-souw sampai terpesona, hingga tanpa sadar dia menghentikan langkah mendengarkan kata-kata hweesio tua itu.

Jurus golok itulah yang teringat oleh dia saat ini.

Jika dia masih ingin bicara dengan lawan, bukan menentukan mati hidup dalam satu jurus, di dunia ini tampaknya hanya jurus ini yang paling tepat sekali.

Hoyan Tiang-souw menirukan gerak tangan hweesio tua itu, dengan santainya mengayunkan Mo-to nya sekali.

Orang baju coklat terkejut, lalu menarik kapaknya dan mundur ke belakang tiga langkah besar, karena dia memaksa menarik kembali kapak dan seluruh tenaga dalamnya, maka sesaat nafas dia jadi terengah-engah.

Satu-satunya yang dia rasakan adalah bayangan Mo- tonya Hoyan Tiang-souw yang sudah membentuk satu jaring yang sangat besar, menunggu dia masuk dan terjerumus ke dalamnya.

Tentu saja dia tidak boleh terjurumus ke dalam jaring lawan, maka dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya menarik kembali serangan kapaknya. Hoyan Tiang-souw tidak memalingkan kepalanya ke belakang melihat Li Poh-hoan, dengan keras dia berkata:

"Li Poh-hoan, sebenarnya apa nama tenaga dalam yang melindungi orang ini?"

Li Poh-hoan bukan menjawab malah balik tanya:

"Golok yang kau gunakan di tanganmu adalah Hiat- seng-mo-to, tapi jurus yang digunakan malah jurus golok Tay-ceng-pek (Kasih dan kesedihan) dari aliran Budha, kau ini sebenarnya setan atau Budha?"

Hoyan Tiang-souw berkata:

"Jawab dulu pertanyaanku!"

"Baiklah, aku jawab dulu pertanyaanmu, ilmu pelindung tubuh dia adalah Joan-kang (Ilmu silat lembut) yang bisa disetarakan dengan Yang-kang (Ilmu silat keras) Sik-gan- tang (Batu bertahan) dari perguruan Tai-san, disebut Ci- hen-bian-bian (Kebencian yang tidak habis-habisnya).

Maka kau dari awal sudah salah lihat, dia bukan berlatih ilmu silat keras, tapi berlatih ilmu silat lembut yang lebih tahan banting dari kulit sapi yang tebalnya satu inci, apakah kau pernah mendengar ilmu silat Ci-hen-bian-bian ini?"

Ci-hen-bian-bian, mendengar sebutannya saja sudah tahu, lebih lengket dan tahan banting dari pada gulali, siapa pun orangnya tidak sulit menerkanya berdasarkan sebutannya.

Hoyan Tiang-souw berkata:

"Jurus golokku baru saja dipelajari dari kuil Han-san." Walau dia sudah menjawab pertanyaannya Li Poh-hoan,

tapi Li Poh-hoan masih bertanya lagi: "Apakah golokmu bisa memecahkan ilmu silat lembut itu?"

Hoyan Tiang-souw berkata:

"Tentu saja bisa, ilmu silat lembut seperti dia hanya berada di urutan ke sembilan belas dalam tingkatan tenaga dalam lembut, walaupun bukan yang paling lemah, tapi juga tidak terlalu jauh!"

Orang seperti dia mungkin termasuk dalam golongan orang yang kasar, mudah marah, maka kata-kata yang diucapkannya, mudah dimengerti, mudah percaya.

Sampai orang baju coklat juga kelihatannya tidak terkecuali, maka dalam sorot matanya tersirat sinar waspada dan tergetar.

Dia kembali bertanya:

"Li Poh-hoan, apakah kau sekarang sudah tahu jati diri mereka?"

Orang baju coklat tetap tidak bergerak, mungkin dia pun merasa keheranan, ingin mengetahui jawabannya.

Sebelum Li Poh-hoan menjawab dia memasang telinga mendengarkan sebentar, baru berkata:

"Aneh, kenapa sedikit pun tidak ada gerakan, anak buahku tidak mungkin bisa dirobohkan dengan begitu mudah."

Dia tidak menjawab pertanyaannya, malah membuat satu pertanyaan lagi.

Maka Hoyan Tiang-souw dan orang baju coklat diam menunggunya.

Li Poh-hoan kembali berkata: "Melihat dari berbagai gejalanya, mereka mungkin dari perkumpulan Tong-hai-kong-jin (Orang gila dari laut timur)."

Tong-hai-kong-jin bukan nama satu orang tapi nama satu organisasi yang menyeramkan, walaupun mereka menyebut dirinya 'orang gila', sebenarnya benar gila atau tidak sulit dibuktikan.

Sebab selama dua puluh tahun lebih organisasi ini demi uang telah membunuh banyak orang.

Tapi jejak mereka sangat rahasia, di dalam dunia persilatan selain beberapa orang yang ada hubungannya dengan mereka, kebanyakan tidak tahu ada perkumpulan yang menyeramkan ini.

Hoyan Tiang-souw malah tahu dan menganggukkan kepala, dia ingat lima enam tahun lalu, Kang-bun-ciang-jin, Cin Sen-tong yang tiada duanya di dunia pernah menceritakannya.

Walaupun dia tidak tahu seluk beluknya, tapi Cin Sen- tong menganggap organisasi itu, meng-khawatirkan dan membuat dia sangat berhati-hati!

Bagi dia, ini sudah cukup.

Maksud cukup disini adalah Hoyan Tiang-souw sudah boleh memutuskan membunuh mereka atau tidak.

Karena di dunia ini selain ayah ibu dan saudara yang ada hubungan darah, tidak termasuk di dalam-nya, orang yang berhubungan paling dekat dengan dia, Cin Sen-tong yang paling penting. .

Pek-mo-ci-to di tangan Hoyan Tiang-scuw, adalah- pemberian Cin Sen-tong yang telah direbut kembali dari seorang pesilat tinggi kelas satu yang sangat lihay dan menakutkan, lalu diberikan pada dia (golok ini tadinya milik ayah Hoyan Tiang-souw, Hoyan Cu-khek).

Selain itu, dia pun telah mengajarkan jurus golok hasil terjemahan dari huruf Khu-pa-li yang ada di batang golok oleh seorang ahli pusaka kuno, Hai-liong-ong (Raja naga laut) Lui Auw-houw.

Maka bisa dikatakan keberhasilan Hoyan Tiang-souw hari ini, adalah jasa CinSen-tong.

Saat itu Hoyan Tiang-souw hampir saja dibunuh oleh Jin-bin-souw-sim Toh Ceng-tie (manusia berhati binatang), orang paling jahat nomor satu di dunia, waktu itu Cin Sen- tong datang tepat pada waktunya dan berhasil mengusir Toh Ceng-tie.

Selain itu, Cin Sen-tong masih pergi ke Chun-hong-lou di Yang-ciu meminta obat mujarab pada Liu Siang-hen untuk menyelamatkan nyawa Hoyan Tiang-souw.

Maka jika ada seseorang dipandang hina oleh Cin Sen- tong, buat Hoyan Tiang-souw tidak perlu memutar otak lagi, dia akan langsung memenggal dengan goloknya.

Di lain pihak, jika ada musuh yang di khawatirkan oleh Cin Sen-tong, tanpa berpikir lagi, dia akan memperhatikannya.

Sekarang tiga orang baju coklat dari Tong-hai-kong-jin adalah termasuk kelompok orang yang boleh dibunuh, tapi juga harus berhati-hati menghadapinya.

Orang lain tentu saja tidak akan terpikir di otaknya Hoyan Tiang-souw bisa ada pikiran yang sangat aneh ini, yang paling baik dari Hoyan Tiang-souw adalah wajah dia yang pemberani dan sifatnya yang mudah marah. Orang semacam dia, biasanya akan salah di sangka, dia tampak kurang pintar, kekuatan pikirannya rendah, juga tidak akan menipu orang.

Setelah tahu dia bukan saja tidak bodoh, malah sering membuat jebakan dan menjebak seseorang terjerumus ke dalamnya, saat mengetahui juga sudah terlambat, menyesal pun tidak keburu.

Sekarang Hoyan Tiang-souw sedang mengguna kan keunggulan dirinya. Dengan marah dia berteriak:

"Mainan apa itu Tong-hai-kong-jin? Kalian dari Tong- hai, mau apa datang ke Hang-ciu?"

Logika dia sungguh tidak tepat. Kenapa orang dari utara tidak boleh datang ke selatan?

Apa lagi dia sendiri juga orang dari utara, lalu kenapa dia sekarang ada di Hang-ciu?

Orang berbaju coklat jadi tertegun oleh pertanyaan ini, walaupun dia anggota perkumpulan Kong-jin, tapi otaknya tidak sekacau Hoyan Tiang-souw.

Hoyan Tiang-souw masih marah dan berkata:

"Tujuan kalian pasti untuk menghadapi aku. Tidak perlu menanyakan pada orang juga sudah tahu, maka aku mau memenggal tiga kepala anjing kalian dulu, baru menghadapi Li Poh-hoan."

"Bagus, itu janji." Jawab Li Poh-hoan.

Hoyan Tiang-souw mengangkat golok dilintang kan di depan dada, suaranya gemuruh memekakan telinga:

"Laporkannama kalian dan tunggu dipenggal!" Sikap dia membuat para pesilat tinggi dari perkumpulan Kong-jin mengerti, yaitu jika tidak melaporkan namanya, dia pasti akan marah sekali.

Jika seseorang dalam keadaan marah sekali, bisa mengesampingkan nyawanya, berusaha sebisanya membacokmu.

Tentu saja ini adalah hal yang sangat tidak menguntungkan, melaporkan nama bukankah juga tidak masalah?

Buat apa karena urusan ini membantu hawa membunuh lawannya?

Maka orang berbaju coklat berkata: "Aku adalah Sui Bu- seng, kau pasti belum pernah mendengar namaku."

"Memang belum pernah dengar, tapi kau bisa berhasil melatih tenaga dalam pelindung tubuh Ci-hen-bian-bian, dan jurus kapakmu sangat keji, sangat tidak serasi dengan nama kau itu."

Sui Bu-seng dengan tawa keji berkata: "Bagaimana dengan kau? Namamu Tiang-souw (panjang umur). Tapi kau kira orang seperti dirimu ini, bisa tidak panjang umur? kulihat kau bisa hidup sampai usia tiga puluh tahun sudah bagus sekali, tapi usia tiga puluh tahun tidak bisa disebut panjang umur, bagaimana menurutmu?"

"Umurku panjang atau pendek tidak ada hubungannya denganmu, dua orang lainnya siapa nama mereka?"

"Yang menghadang di jalan yang mengguna-kan senjata Souw-seng (Umur bintang) adalah Cia San, sesudah kau bertemu dengan tongkat Souw-sengnya mungkin bisa berumur panjang!" Dia lalu tertawa terbahak-bahak, tapi orang lain tidak ada yang bereaksi.

Maka dia melanjutkan:

"Yang berada diatas jembatan batu itu adalah Hwan Tong-cing, senjata yang dia gunakan adalah Cui-hun-pian (Pecut pengejar roh), kedengarannya tidak enak."

"Kapakmu ini disebut apa?" Sui Bu-sengmengangkatbahu:

"Sepertinya ada orang menyebut dia Ciat-hu (Kapak patah), aku juga tidak menolaknya. Coba pikir jika jurusnya kurang keji, kurang hebat, mungkin membunuh seekor ayam juga tidak bisa, jadi mau tidak mau harus keji dan hebat, kenapa harus di ributkan?"

Li Poh-hoan berpikir, teori sesat orang ini bisa membuat orang banyak berpikirk, dengan amarah Hoyan Tiang-souw yang timbul tiba-tiba, sungguh mirip sekali manfaatnya.

Maka dia tidak mau memikirkannya, karena masih ada hal lain yang harus segera diketahuinya, paling tidak juga harus tahu sedikit.

Mendadak dengan marah dia membentak:

"Hoyan Tiang-souw, kau tidak punya alasan untuk menyerang, sebab tujuan mereka adalah aku. Tampaknya kau tidak tahu mereka adalah tiga pesilat tinggi dari tujuh pesilat tinggi hebat di perkumpulan Tong-hai-kong-jin, menurut kabar tujuh pesilat hebat mereka jarang sekali keluar.

Kali ini malah sekaligus datang tiga orang, bisa dilihat mereka masih sangat menghargai aku marga Li, kupikir tidak seharusnya aku membuat mereka kecewa, hari ini aku harus membunuh mereka bertiga, baru bisa mengetahui kabar yang aku perlukan."

Hoyan Tiang-souw terkejut sekali dan berkata:

"Setelah membunuh mereka semua, bagaimana kau bisa mendapatkan keterangan dari mereka?" Li Poh-hoan berkata:

"Bukan dari mereka, tapi dari orang lainnya lagi, keterangan yang ingin aku dapatkan, mungkin hanya para petinggi mereka yang tahu, setelah membunuh mereka, maka akan memancing keluar para pesilat tinggi lainnya." Kata Sui Bu-seng marah:

"Kentut. Pertama, aku pun tahu semuanya. Kedua, kami yang mau membunuhmu bukannya kau membunuh kami. Ketiga, kami telah mendapat laporan, tahu kau pasti saat ini datang kemari, maka kami sudah mengaturnya dengan baik. Hemm..! Hemm! Kau kira kau sangat pintar, sangat mampu? Kenapa tidak kau pikirkan, begitu banyak anak buahmu, bagaimana bisa mendadak semuanya diam tidak ada pergerakan? Satu orang pun tidak ada yang datang membantu?"

Keadaan inilah yang paling mencurigakan dan paling menakutkan.

Li Poh-hoan yakin jika bukan lawan telah menyiapkan sebuah jebakan, tidak mungkin anak buahnya yang begitu banyak bisa mendadak hilang, paling sedikit saat bertarung atau saat meregang nyawa mereka berteriak.

Jika Sui Bu-seng dengan terang-terangan telah menjelaskan semua ini, itu satu hal yang berharga.

Tapi Li Poh-hoan malah sambil tersenyum berkata: "Walaupun kalian sudah melumpuhkan semua anak buahku dengan cara yang amat hina, tapi itu tetap kabar yang bagus. Paling sedikit di dalam hati kalian sudah ada ketakutan, tidak berani menggunakan cara lain menghadapiku, berdasarkan ini, walaupun kalian bertiga bersama-sama mengeroyok aku, tapi masih merasa tidak yakin, khawatir ada orang yang membantu aku, maka langkah pertama kalian harus melumpuhkan dulu anak buahku.

Tindakan seperti ini jelas bukan kebiasaan perkumpulan Tong-hai-kong-jin. Jadi jelas kalian membunuh bukan karena disewa orang, hanya ber-tindak atas perintah."

Sui Bu-seng tertawa dingin:

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

"Kukira perkumpulan kalian sekarang ini sudah tidak bisa berpendirian sendiri, harus men-dengarkan perintah orang lain, tentu saja kau tidak akan memberitahu padaku siapa yang memerintahkan itu, tapi aku pasti berhasil menyelidikinya."

Sui Bu-seng tertawa sambil mengangkat kepala dan berkata:

"Kau sebentar lagi akan mati, masih mau menyelidiki apa lagi?"

Suara Li Poh-hoan sangat serius, sedikit pun tidak terasa main-main, berkata:

"Belum tentu. Walaupun aku sudah mati, masih ada Hoyan Tiang-souw. Jika dia bisa menyelidiki kalian diperintah oleh siapa, lalu menyebarkan ke dunia persilatan, maka orang bisa tahu harus bagaimana melindungi diri, dan bagaimana caranya menghadapi kalian." Sui Bu-seng kebingungan dan berkata: "Tapi jika kau sudah mati, apa gunanya hal ini bagimu? Jadi aku tidak akan mau melakukannya. "

Li Poh-hoan berkata:

"Kau adalah kau, dan aku adalah aku. Misalnya sekarang aku menyerang pada Cia San yang ada disisi ku ini, jika aku menganggap dia ini setara dengan Hoyan Tiang-souw, aku tidak akan memberitahukan terlebih dahulu, tidak seperti kau tadi saat menyerang-kan dengan kapak masih berteriak terlebih dulu."

Sui Bu-seng keheranan:

"Apa maksud kata katamu ini?"

"Maksudku adalah aku akan menyerang Cia San dulu."

Kata-katanya belum selesai, tampak sinar pedang berkelebat, pedangnya dengan lurus ditusukan pada Cia San yang berjarak kurang lebih dua tombak.

Jurus pedangnya sedikit mirip dengan 'kapak' nya Sui Bu-seng, yaitu sama sekali tidak ada variasinya.

Ada juga sedikit perbedaannya, yaitu jurus kapaknya Sui Bu-seng sama sekali tidak memperhitung kan untung ruginya, begitu bertarung langsung bertaruh nyawa.

Tapi jurus pedangnya Li Poh-hoan bukan saja tidak ada sifat kekejian, malah membuat orang merasa walaupun telah tertusuk oleh dia, belum tentu akan mati!

Perbedaannya sedikit tapi sangat penting, sebab bisa melemahkan semangat tempur lawan, bisa membuat lawan bertindak tidak mengambil cara bertarung mati bersama- sama.

Tongkat Souw-seng Cia San sedikit pun tidak terlambat. "Huut huut huut!" sekaligus membuat tiga sapuan, menangkis pedang.

Tubuh Li Poh-hoan laksana angin melayang ke kiri, dan menusukan pedangnya.

Gerakan tongkat Cia San kali ini laksana gelombang, berturut-turut menggerakan tongkatnya dua belas kali dan berhasil menangkis serangan pedang lawan, jurus tongkat dia sangat tertutup dan juga keji, dalam dua belas gerakan tongkatnya, tiga gerakannya berupa serangan.

Tapi karena serangan pedang lawannya sangat berbahaya dan menakutkan, maka tongkat Souw-seng tidak ada kesempatan menyerang.

Begitu Li Poh-hoan berputar, dia sudah berada di belakang rubuhnya, dan kembali pedangnya menusuk.

Cia San berjongkok sambil membalikan rubuh, menyapukan tongkatnya sampai mengeluarkan suara.

Bayangan tongkat laksana gunung, serangan-nya berjumlah delapan belas jurus.

Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Sui Bu-seng dan yang lainnya tahu akan hal ini.

Tahu seratus delapan duri beracun yang ada di badan tongkat sudah berdiri semua, asalkan tergores sedikit, dewa sekali pun juga jangan harap bisa hidup.

Tampak gerakan pedang Li Poh-hoan tidak cepat juga tidak lambat, pedang menusuk ke dalam bayangan tongkat, seperti bambu menusukan ke dalam air danau yangjernih.

Gerakan tongkat Cia San sudah habis di jurus ke delapan belas, belum sempat dia mengganti jurus baru, mendadak melihat pedang lawan sudah datang menusuk hanya tinggal berjarak dua inci lagi. Saat itu juga wajahnya menjadi pucat pasi, sorot matanya yang kejam sudah menghilang semua.

Tapi pikiran dalam hatinya lebih banyak dari biasanya, juga lebih cepat.

.....Walaupun ilmu pedang Li Poh-hoan sangat hebat, tapi dia hanya menggunakan satu jurus, sedangkan dia harus secepat kilat menangkisnya dengan delapan belas jurus tongkat.

.....delapan belas jurusnya laksana kilat, laksana guntur, tapi masih harus mundur ke belakang lima langkah.

.....tusukan pedangnya dengan santai menerobos masuk ke dalam jaringan tongkat, dan kecepatan-nya belum pernah terlihat sebelumnya.

..... sebenarnya jurus pedang apa yang dia gunakan?

Di saat seperti ini Cia San merasa banyak hal yang harus dia pikirkan, tapi dia tidak bisa menahan pikirannya yang berputar memikirkan jurus pedang aneh dari Li Poh-hoan.

Tapi pikirannya sia-sia, sebab kesempatan berpikirnya sudah tidak bisa di teruskan lagi.

Baru saja pedangnya Li Poh-hoan berkelebat sekali, sekejap sudah langsung menghilang lagi.

Pedangnya sudah kembali masuk ke dalam sarungnya, dan di tenggorokan Cia San sudah ber-tambah sebuah lubang.

Darah segar menyembur sejauh beberapa kaki, tapi tidak ada setetes pun yang bisa mengenai baju putihnya Li Poh- hoan.

Sui Bu-seng yang berada di sana dan Hwan Tong-cing yang berada di atas jembatan batu tentu saja tidak akan bersorak-sorak, walaupun jurus pedang Li Poh-hoan lebih hebat lagi satu kali lipat, mereka tetap saja tidak akan bersorak dan tepuk tangan.

Tapi lain dengan Hoyan Tiang-souw, dia bisa saja melakukan hal ini, pertama tiga jurus pedangnya Li Poh- hoan yang bisa membunuh lawan memang hebat sekali, kedua bersorak dan bertepuk tangan bisa menjatuhkan semangat tempur orang dari Tong-hai-kong-jin itu.

Tapi karena dia sedang asyik mempelajari jurus pedangnya Li Poh-hoan, dia pun melupakan hal ini.

Sui Bu-seng berteriak tiga kali, Hwan Tong-cing pun berteriak dua kali, lalu meloncat turun ke bawah jembatan batu.

Suara mereka sangat bengis, terdengar sangat menakutkan. Jelas mereka sudah menjadi gila. Terlihat sudah bukan orang normal lagi.

Suara Hoyan Tiang-souw seperti geledek:

"Li Poh-hoan, jurus pedang apa yang tadi kau gunakan?"

Kelihatannya dia sedikit pun tidak terganggu oleh teriakan bengisnya Sui Bu-seng dan Hwan Tong-cing, dua orang gila itu.

Li Poh-hoan pun sama tidak terganggu, sambil tersenyum dia menjawab:

"Jurus pedang ini disebut San-tian-jit-sa (Tujuh kilat membunuh), jurus pedang keluargaku!"

Jurus pedangnya walaupun disebut San-tian, tapi bukan sekali menyerang langsung bergerak secepat kilat menyerang tujuh jurus, kecepatannya adalah menunjukan saat mengenai titik kematian lawannya, kecepatannya secepat kilat. Tentu saja Hoyan Tiang-souw tidak akan salah menafsirkannya, saat ini dia baru bersorak dan tepuk tangan dan berkata:

"Jurus pedang hebat, benar-benar jurus pedang hebat yang tiada duanya di dunia."

Melihat Sui Bu-seng sudah melangkah sambil mengangkat kapaknya, dalam hati Li Poh-hoan merasa lucu, sebab baru sekarang Hoyan Tiang-souw bersorak dan tepuk tangan, bukankah itu sudah terlambat?

Mo-to yang di jepit di bawah ketek Hoyan Tiang-souw mendadak bergulir ke telapak tangannya, tangan kanannya sudah memegang pegangan golok.

Dia masih tetap berhadapan dengan Li Poh-hoan, tidak memalingkan kepala, goloknya pun tidak keluar dari sarungnya.

Langkah Sui Bu-seng jadi terhentak berhenti, dia tidak peduli setelah membelah mati Hoyan Tiang-souw, baru menerjang menghadapi Li Poh-hoan, atau sebaliknya.

Tapi walaupun golok orang ini masih di dalam sarungnya, aura nya yang seperti sepasukan tentara sudah mendesak orang menjadi sesak nafas, jelas dia bukan seorang yang mudah dibunuh dengan sekali bacokan saja.

Kenyataannya, Sui Bu-seng pernah merasakan kelihayannya Mo-to, di dalam hati sadar untuk memenangkan pertarungan dengan susah payah saja sudah sulit, maka dia tidak berani berkhayal hal yang tidak mungkin ini.

Langkah Sui Bu-seng sudah terhenti, Hwan Tong-cing sudah melakukan serangan, dengan satu teriakan keras sambil meloncat ke bawah melecutkan cambuknya dari atas jembatan menyerang Li Poh-hoan. Orang ini yang termasuk dalam tujuh pesilat tinggi hebat perkumpulan Tong-hai-kong-jin, Cui-hun-pian di tangannya bersinar warna keemasan menyilaukan mata, panjangnya sampai tujuh kaki besarnya sebesar telur bebek.

Jika cambuknya terbuat dari logam emas, dan juga di dalam batangnya tidak kosong, paling sedikit beratnya ada seribu kati lebih, malah mungkin dua ribu kati.

Siapa pun jika memiliki emas seberat seribu atau dua ribu liang di tangan, tidak perlu bekerja apa-apa lagi, sudah bisa hidup senang seumur hidup.

Tapi ada sebagian orang tidak berpikir demi-kian, walau di tangannya memiliki emas dua puluh ribu liang, tetap saja dia masih bekerja.

Tapi juga tidak ada alasan menggunakan begitu banyak emas untuk membuat sebuah cambuk panjang.

Maka Li Poh-hoan lebih percaya Cui-hun-pian itu hanya dipoles emas, dan bagian tengahnya kosong.

Kalau bagian tengahnya kosong, bukan meman dang rendah Hwan Tong-cing sampai tidak bisa menambah beberapa puluh kati tembaga saja tidak mampu, tapi dengan bagian tengahnya kosong baru bisa ada keanehan.

Misalkan di dalam cambuknya tersembunyi senjata gelap atau cairan racun atau benda-benda yang menakutkan ini.

Dia memutar tubuhnya, berdiri di sebelah utara, dan bersamaan itu mencabut pedangnya lalu diayunkan, pedangnya bergetar membentuk bayangan pedang yang tidak terhitung banyaknya, gerakannya seperti air beriak sedikit pun tidak ada hawa mem-bunuh. Sinar emas juga laksana kilat datang menyapu, dari atas tengah dan bawah berbunyi tiga kali, setiap sapuan cambuk ditangkis oleh pedang, sama sekali tidak bisa menembus.

Mata Hwan Tong-cing melotot wajahnya menyeringai sambil berteriak, cambuk emasnya menyapu laksana angin kencang, berturut-turut cambuknya menyerang tujuh kali, ke tujuh jurus cambuk ini sekaligus dilakukan, di saat berganti jurus sedikit pun tidak ada celah.

Sesaat beribu sinar emas laksana jaring yang amat besar, menutup pada Li Poh-hoan.

Setelah tujuh cambukan lalu tujuh cambukan lagi, semua jurusnya menyerang dengan amat ganas.

Di bandingkan dengan serangan pedang Li Poh-hoan kelihatannya malah lebih lemah.

Walaupun sinar pedang laksana riak gelom-bang air jernih, tapi masih dapat menangkis serangan ganas cambuk lawan, setiap orang bisa melihat dia hanya bisa bertahan tidak bisa menyerang.

Bertahan itu adalah objek.

Objek itu mengandung arti lemah, kalah, dan menuruti.

Tapi bertahan juga ada gunanya, misalnya saat lawan sedang bersemangat menyerang, tidak baik bertarung keras dengannya.

Saat itu harus melakukan pertahanan yang kuat, menunggu semangat lawan mengendur baru mencari celah lawan dan balas menyerang.

Tapi Li Poh-hoan seperti tidak bermaksud itu.

Walaupun dia masih menggunakan jurus pedang seperti air danau jernih yang tenang, menangkis gelombang serangannya Hwan Tong-cing (setiap gelombang tepat tujuh jurus).

Tapi Hoyan Tiang-souw dan Sui Bu-seng sama sama merasa dia ini bukan bertahan untuk menunggu kesempatan balas menyerang.

Sui Bu-seng sudah lama bekerja sama dengan Hwan Tong-cing, menyaksikan Hwan Tong-cing sudah menyerang empat gelombang tapi masih belum berhasil, keadaan ini walaupun tidak begitu bagus, tapi juga tidak aneh.

Tapi Hwan Tong-cing selalu berteriak marah bukan hanya berteriak saja, tapi karena keadaan yang sangat tidak bagus.

Menurut perkiraan Hoyan Tiang-souw, alasan Li Poh- hoan bukan mumi hanya untuk bertahan saja, malah dia menjelaskan dengan mulutnya:

"Jurus pedang yang bagus, setiap gerakan pedang selalu bisa menangkis cambuk emas, selalu bergerak diri tik yang sama, di bagian kedua cambuk, sungguh jurus pedang yang bagus."

Kata Li Poh-hoan:

"Aku hanya takut kau salah paham, mengira aku hanya punya cara menyerang tidak punya cara untuk bertahan, maka dengan menggunakan jurus keluargaku yang disebut Cap-ji-sin-kiam (Dua belas jurus ilmu pedang). Jurusku ini disebut Chun-sui-pi-it-thian (Musim semi air hijau ada di langit.), kau jangan tertawakan."

Sambil bertahan dia dengan tenang berbicara, malah ramah sekali. Itu bisa dilihat dia pasti bukan terpaksa bertahan, tapi dalam pertahanan yang masih menyimpan banyak tenaga. Hoyan Tiang-souw dengan suara keras yang beberapa kali lipat dari orang biasa berkata:

"Kenapa kau memberitahukan jurus pedangmu padaku?"

© ® ©