-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 03

Bab 03

Dalam pandangan Hoyan Tiang-souw dia sedang berdiri di atas lapangan liar, seratus lebih jemaat di sekeliling yang sedang mendengarkan khotbah seperti tidak ada, dalam matanya hanya ada seorang hweesio tua itu.

Hweesio tua itu tetap masih bersikap serius, tapi sorot mata dan suaranya sangatlembut, dia berkata: "Ku rasa aku sudah tahu siapa dirimu!" "Belum tentu, tapi aku tahu kau adalah Ji-hong Lo-hweesio." Kata Hoyan Tiang-souw.

Senyum hweesio tua itu selain penuh kasih juga terasa sangat akrab, dia berkata lagi:

"Ku kenalkan satu orang padamu, mau tidak?" "Terima kasih, tapi sekarang ini aku tidak mau menemui siapa pun, apa lagi dia!"

Setelah berkata Hoyan Tiang-souw sendiri merasa terkejut, kenapa dia bisa menolak begitu cepat dan tegas.

Siapa 'dia'? Hoyan Tiang-souw tidak bisa menjelaskan, dan Ji-hong hweesio pun tidak mengatakan.

Hweesio besar dan tosu yang sudah tinggi ajarannya, dari aliran Budha dan To, tingkah lakunya sering muncul yang aneh-aneh dan sulit diduga.

Ji-hong hweesio melihat Hoyan Tiang-souw melangkah keluar ruangan, melihat dia menundukan kepalanya sedikit, supaya tidak membentur ranting pohon di luar ruangan.

Hweesio tua itu tidak memanggil lagi, ekspresi di wajahnya selain tersirat sedikit kesedihan, tidak ada yang lainnya lagi!

# # # Di luar kuil Han-san ada saru sungai kecil, jembatan kuno yang melintang di atas sungai itu entah sudah dibangan berapa ribu tahun lalu.

Baru saja Hoyan Tiang-souw naik ke atas jembatan, jalannya mendadak tertahan.

Saat ini di sisi jembatan ada dua perahu kecil dengan terpal hitam sedang berhenti disana.

Dari masing-masing perahu kecil keluar dua orang wanita.

Mata Hoyan Tiang-souw jadi terbelalak besar.

Kenapa bisa begitu kebetulan? Cui Lian-hoa juga bisa datang ke kuil Han-san di Soh-ciu ini?

Dia menatap tajam pada wajah Cui Lian-hoa yang cantik seperti bunga di musim semi, rubuhnya semampai pohon Yang-liu.

Melihat dia melenggang naik ke darat, dia sampai tidak tahan mendesah "heh!", perasaan aneh yang sulit dikatakan yang tadinya memenuhi dada, tampak tiba-tiba menghilang.

Dengan gerakan indah Cui Lian-hoa memutar tubuhnya setengah putaran, lalu menengadahkan kepalanya melihat pada Hoyan Tiang-souw.

Gelombang matanya membuat orang tidak tahan. Begitu lembut dan jernih seperti air danau See-ouw, membuat Hoyan Tiang-souw bisa mendengar suara jantungnya berdetak.

Tapi air danau yang jernih tenang pun pasti ada sedikit gelombangnya, tapi kenapa di dalam matanya yang amat cantik itu, sedikit pun tidak ada riak gelombang? Apakah dia sudah tidak mengenal aku lagi?

Ataukah tidak sudi? Hatinya yang dag dig dug mendadak menciut, terasa sedikit sakit, tampaknya dadanya seperti tembus ditusuk oleh sorot mata Cui Lian-hoa dan meninggal-kan beberapa bekas di dalam jantungnya.

Walau demikian, Hoyan Tiang-souw masih bisa melihat di belakang Cui Lian-hoa adalah gadis pelayan yang cantik.

Dua orang wanita yang naik ke darat dari satu perahu lainnya, salah satunya adalah nyonya cantik setengah baya, memakai pakaian sutra asli yang warnanya terang, celana dan lengan bajunya melayang layang ditiup angin, menambah daya tariknya.

Di belakang dia juga ada seorang gadis pelayan, di pinggangnya terselip sebilah pedang pendek.

Bukan saja dia bisa melihat orang-orang ini, juga masih bisa mendengar Cui Lian-hoa bertanya pada gadis pelayan:

"Iiih! Siau-cian, orang itu dia bukan?" Siau-cian yang cantik melirik ke atas jembatan dengan pelan berkata:

"Benar, pasti dia."

Cui Lian-hoa menggeleng gelengkan kepala: "Apa gunanya dia mengikuti aku?" "Mungkin untuk melihat kau dari kejauhan, selain dia, juga masih banyak orang yang begitu!"

Hati Hoyan Tiang-souw bertambah terluka, tubuhnya segera berputar ke arah ujung jembatan kuno lainnya.

Saat melangkah, telinganya masih bisa mendengar Cui Lian-hoa berkata:

"Suara heh orang lainnya itu mengandung tenaga dalam dan menyembunyikannya, tenaga dalam-nya sangat tinggi, aku hanya berharap dia jangan terus mengikuti aku. " Apakah Cui Lian-hoa dan nyonya cantik setengah baya, bersama dua gadis pelayan akan masuk ke dalam kuil Han- san? Atau pergi ke tempat lain?

Hoyan Tiang-souw tidak tahu mereka akan pergi kemana, tapi dalam hatinya timbul perasaan lain.

Dia membisu di atas pesawahan yang tanahnya gemuk itu, kesedihan hatinya masih terasa, itu karena Cui Lian- hoa sudah tidak mengenal dia lagi.

Pertama bertemu hanya kejadian kemarin malam, kenapa hari ini sedikitbayangannya pun sudah tidak ada?

Kalau begitu dia sendiri harus lebih tuntas dari pada dia, melupakan dia.

Selanjutnya jika nanti dia bertemu lagi di tengah jalan, dia pun harus bersikap seperti tidak pernah bertemu dengan dia, harus lewat seperti tidak melihat dia,.

... tapi sejak kemarin sampai hari ini, bayangan di dalam kepalanya selalu bayangan dia, sehingga keadaan hatinya jadi gusar, kacau, tidak teratur.

.... jika aku benar-benar ingin melupakan dia, kenapa masih mau mengikuti dan menyelidiki sastrawan baju putih ini?

Tidak jauh di depan dia ada seorang sastrawan muda yang berbaju putih, juga sedang berjalan di atas galangan sawah, sendirian dan kesepian.

Sastrawan baju putih ini tadi berdiri di ujung seberang di atas jembatan kuno, dari kejauhan menatap Cui Lian-hoa.

Ketika sorot mata Cui Lian-hoa menyapu ke arahnya, Hoyan Tiang-souw masih keburu melihat matanya yang bergelombang. Inipun penyebab kenapa hatinya bertambah beberapa bekas luka.

Menyimak dari perkataannya, dia juga tidak mengenal sastrawan baju putih itu.

Karena sastrawan baju putih itu selalu membuntuti dia, maka jadi mengenal dia.

Sebenarnya hal ini biasa dan lumrah, siapa pun orangnya jika beberapa hari terus-menerus diikuti oleh seseorang, bagaimana mungkin bisa tidak mengenal wajah orang itu?

Tapi karena dalam matanya timbul riak dan meluas, maka persoalannya jadi berbeda sekali.

Walaupun dia tidak punya perasaan suka padaku Hoyan Tiang-souw, tapi dalam sorot matanya tidak seharusnya sedikit bayangan diriku pun tidak ada, padahal orang lain itu juga seorang yang asing, tapi perasaannya tampak bergelombang.

Siapakah sastrawan berbaju putih itu? Apakah dia sangat tampan?

Ilmu silatnya sangat tinggi? Ilmu sastranya sangat bagus?

Atau sangat kaya?

Mendadak dia tersadar, dia sudah berjalan sampai Ho- ciu di barat laut Soh-ciu.

Ho-ciu adalah tempat bersejarah yang tersohor, setiap hari libur di musim semi dan musim gugur banyak orang datang melancong, hari biasa pun tidak sedikit pengunjungnya.

Sastrawan baju putih itu berdiri di bawah panggung ribuan orang, ada beberapa orang kebetulan berdiri disisinya, itu juga jadi tidak mengherankannya. Kemudian dia melewati pintu gerbang Pie-yu-tong-thian (tempat tinggal para dewa menurut aliran To) dan berdiri di sisi Kiam-ti (danau pedang), beberapa orang masih berada di sisinya, juga tidak menjadi perhatian orang lain.

Kiam-ti walaupun amat termasyur, tapi sebenarnya tidak luas, hanya sebuah danau di antara dua tebing batu.

Menurut cerita makam rahasia raja Bu, Ho-Iu, di bangun di dasar danau dengan rahasia, benar atau bohong cerita ini sampai sekarang tidak ada orang yang tahu.

Walaupun Hoyan Tiang-souw ingin melihat wajah sastrawan berbaju putih itu, tapi dia tidak berjalan ke tepi Kiam-ti, malah berdiam di atas jembatan batu yang tinggi.

Orang-orang di atas jembatan selain bisa melihat Kiam-ti yang berada di bawah, juga bisa melanjutkan perjalanan ke kuil In-yan yang berada di tempat yang lebih tinggi, pagoda Ho-ciu yang terkenal itu berada di dalam kuil itu.

Tadinya terhadap sastrawan berbaju putih ini dia hanya ingin tahu dan merasa kesal saja.

Tapi sekarang sudah timbul satu perasaan aneh.

Hoyan Tiang-souw pernah memikirkan dengan teliti, tapi tetap tidak bisa menjelaskan sebenarnya apa perasaan anehnya? kenapa bisa timbul perasaan itu?

Untungnya dia tidak perlu berteman dengan orang ini, maka setelah dipikir-pikir, perasaannya lalu dibuang jauh- jauh.

Sastrawan berbaju putih itu masih tetap berdiri di tepi danau, mata Hoyan Tiang-souw tidak perlu terus menerus mengawasinya.

Saat dia melihat ke sekeliling, tampak ada beberapa pelancong dengan langkah tergesa-gesa berjalan keluar, sekarang masih pagi, kenapa orang-orang mau cepat-cepat pulang?

Mata dia sangat tajam, semut berjarak satu dua ratus langkah juga bisa dilihatnya.

Maka dia bisa melihat ada dua orang laki-laki yang berperawakan tegap membuka baju depannya memperlihatkan senjata tajam yang berkilat-kilat pada para pelancong yang barusan tiba, itulah yang membuat para pelancong buru-buru membalikan tubuh berjalan pulang kembali.

Orang yang berseragam seperti kedua laki-laki besar itu, jika dihitung dari atas kebawah dan di sekelilingnya, kira- kira ada dua puluh lebih.

Jika tidak dengan mata kepala sendiri melihat mereka memperlihatkan senjatanya, Hoyan Tiang-souw masih mengira mereka pun para pelancong.

Sorot mata dia tidak melihat ke danau itu lagi, tapi segera melihat ke seberang ujung jembatan batu sana.

Sastrawan berbaju putih itu dengan santai jalan datang.

Entah kapan di pinggangnya sudah terselip sebilah pedang panjang, jika pedang ini barusan di ambil dari Kiam-ti, maka jika bukan iblis dia pasti setan.

Mendadak Hoyan Tiang-souw mengerti kenapa perasaan yang aneh itu tadi terasa.

Memang mudah jika dibicarakan, tapi saat dia saling berhadapan, tetap saja wajah lawan masih belum terlihatjelas.

Sepasang mata Hoyan Tiang-souw sama sekali tidak sakit, dia tetap masih bisa melihat setiap semut yang berjarak seratus dua ratus langkah. Tapi sastrawan berbaju putih itu tidak peduli keberadaannya dimana, jika bukan membelakangi, pasti dia sedang menggunakan tangannya mengusap hidung atau mengusap-usap mata atau wajahnya.

Pokoknya kau hanya bisa melihat sebagian wajahnya saja, tidak bisa melihat wajahnya dengan sepenuhnya, inilah yang membuat perasaan aneh itu.

Sastrawan berbaju putih berhenti pada jarak tujuh langkah, saat ini dia berada di atas jembatan, angin gunung meniup bajunya yang seputih salju itu.

Perawakannya yang tinggi tegap, matanya yang hitam pekat, kulit mudanya yang kekar licin, keseluruh an itu cukup membuat orang terpaksa harus memuji-nya, "Tampan sekali."

Tangan kiri dia tetap masih menutupi bagian mulut dan hidungnya, membuat Hoyan Tiang-souw masih harus menggunakan daya pikir yang tinggi, baru bisa menggambarkan keseluruhan wajahnya.

"Aku Li Poh-hoan," sastrawan berbaju putih berkata, "aku tahu siapa kau, maka tidak perlu banyak basa-basi lagi!"

Hoyan Tiang-souw yang mendengar, sampai menjadi bengong.

Tapi dia pun merasa mempersoalkan ini sangat tidak perlu, sangat lucu.

Saat dia mengangkat alis tebalnya, lalu berkata: "Aku tidak bisa melihat seluruh wajahmu, ada apa dengan dirimu? Apakah bibirmu sumbing, atau bengkok?"

"Semua bukan." Suara Li Poh-hoan jelas dan tegas, nadanya juga ramah dan sopan, "Aku tahu Hoyan-heng ingin melihat wajahku, maka aku sengaja menutup sebagian, supaya tidak menghilangkan rasa ingin tahumu, supaya dapat memancing kau datang kesini dan berbicara denganku!"

"Untuk apa?" suara Hoyan Tiang-souw tanpa sadar, samar-samar suaranya seperti geledek, jika berteriak marah, tentu akan lebih menakutkan, "aku tidak punya teman, juga tidak perlu teman, kau tidak perlu membuang-buang waktu."

"Kalau begitu, kita bicarakan saja hal yang bukan mengenai persahabatan."

Hoyan Tiang-souw menggelengkan kepala, sebab dia sudah merasakan Mo-to di kereknya sedikit meloncat- loncat, ingin keluar dari sarungnya:

"Kuharap kau jangan mengganggu aku. Kau sangat menyebalkan, sudah berbicara begini banyak, wajahmu tetap masih ditutupi, tapi mengenai kesalahan ini tidak perlu sampai harus mati, maka paling bagus kau jangan sampai mengganggu aku."

"Menurut pandanganmu, nona Cui yang tadi berada di sisi jembatan batu di luar kuil Han-san itu, cantik tidak?" tanya Li Poh-hoan.

Hoyan Tiang-souw mengerutkan alis tebalnya, ternyata nama Cui Lian-hoa pun dia sudah tahu, tapi apakah dia tahu yang lainnya lagi?

Li Poh-hoan berkata lagi:

"Jika ada orang mengatakan dia tidak cantik, aku akan mendebatnya, malah akan bertarung dengan dia, tapi kau berbeda." Hoyan Tiang-souw mulai merasa sedikit tertarik, tanyanya:

"Apa beda nya dengan aku?"

"Karena kau adalah lawan yang amat kuat!"

Hoyan Tiang-souw jadi ingin tertawa keras, pikirnya, 'Lawan kuat bagaimana? Sungguh kata-kata yang tidak

ada gunanya, kemarin Cui Lian-hoa baru saja bertemu

denganku, hari ini sudah seperti orang asing lagi. Tadi saat dia melihatmu, di dalam matanya timbul gelombang, bagaimana mungkin aku jadi lawan beratmu? Lagi pula jika di dunia ini ada orang ketika sedang mengejar wanita, lalu berharap orang lain menganggap dia tidak cantik, dari mana aturannya?'

"Kau suka berpikiran apa pun boleh." Hoyan Tiang-souw berkata, "Tapi pendapatku tidak akan diberitahukan padamu."

Li Poh-hoan tampak tidak terkejut:

"Inilah jawaban yang pantas dan rendah hati. Aku sudah sangat puas, hanya saja boleh tidak aku menanyakan satu hal lagi padamu?"

Orang ini tampak sedikit membingungkan, sedikit kacau.

Merasa sangat puas dengan jawaban yang sama sekali tidak ada artinya, lalu buat apa tadi menanya-kan?

"Kau mau bertanya, tanyalah!" Hoyan Tiang-souw berpendapat menghabiskan pikiran demi orang semacam ini, cepat atau lambat dia sendiri juga akan berubah jadi seperti orang ini, bingung dan kacau balau.

Maka dia sekalian saja memalingkan wajahnya, malas melihat dia lagi. Wajah Li Poh-hoan sesaat berubah besar, saat ini Hoyan Tiang-souw mendadak merasa ada gerakan.

Dia membalikan tubuh langsung meloncati pagar jembatan, Mo-to nya "Sreet!" keluar dari sarung-nya, mengeluarkan kilatan cahaya yang menyilaukan mata.

Yang dia hadapi ternyata bukan Li Poh-hoan, tapi seorang berbaju hijau yang melayang terbang hampir mencapai bawah jembatan.

Di tangan orang itu memegang satu benda panjang kecil seperti bambu, tampak dari kolong jembatan dia menusukan bambu itu ke atas.

Tempat tusukannya adalah tempat dimana Hoyan Tiang- souw tadi berdiri.

Jika jembatan batu itu terbuat dari kertas, dan bambu yang panjang itu berubah jadi bor, maka tusukan ini akan tepat mengenai kaki kanan Hoyan Tiang-souw. Kenyataannya, walaupun jembatan itu terbuat dari batu, tapi ujung bambu runcing orang berbaju

hijau itu menembus keluar dari jembatan itu sepanjang tiga dim, ujung bambu itu ternyata kawat baja tajam yang berwarna hitam pekat.

Kawat baja ini seperti menusuk tahu menembus keluar dari batu jembatan yang tebal dan keras.

Saat gerakan orang berbaju hijau itu selesai, Hoyan Tiang-souw sudah mulai turun ke bawah dan melihatnya dengan jelas. Juga melihat dia ditekan oleh hawa membunuh yang dahsyat dari Mo-to sampai seluruh rubuhnya gemetar.

Begitu sinar golok seperti kilat berkelebat, tubuh orang berbaju hijau sudah di penggal menjadi dua dari batas pinggang ke atas, sambil menyemburkan darah dia roboh ke bawah.

Dalam hati Hoyan Tiang-souw sedikit pun tidak ada perasaan kasihan. Sebab jika dia tidak punya sedikit keberuntungan, kebetulan memalingkan wajah dan melihat bayangan orang di tebing yang basah. Maka dia bukan saja tidak bisa membalas serangan, malah telapak kakinya sudah ditusuk berlubang.

Tadi begitu tenaga dalamnya menekan, tubuh-nya langsung terangkat, lalu dengan cepat meluncur ke bawah lima enam kaki, sesudah itu turun dengan pelan-pelan.

Ketika dia sedang turun, kakinya bergerak mengungkit, membuat batang besi yang panjang di tangan orang berbaju hijau itu terlepas dari tangannya, dan melesat ke atas.

Tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat, satu sinar pedangyang sangat terang datang menusuk.

Tusukan pedang ini laksana datang dari dunia luar, penuh dengan hawa membunuh.

Orang yang mengendalikan pedang ini adalah I.i Poh- hoan, sekarang wajahnya sudah bisa terlihat secat m keseluruhan, baju sastrawan yang putih menambah wajahnya yang tampan tampak jadi lebih tampan. Tapi sorot matanya tampak sangat dingin dan keji.

Dalam keadaan ini Hoyan Tiang-souw jadi lupa menangkap batang besi yang panjang itu, sebab jika tidak bisa melindungi nyawanya, lalu apa gunanya dia bisa menangkap batang besi panjang itu?

Dengan kata lain dia harus memusatkan dirinya menghadapi tusukan pedang Li Poh-hoan yang seperti datang dari dunia luar dan penuh dengan hawa membunuh. Tapi dia tetap saja tidak bisa menahan hatinya yang tergetar oleh wajah lawannya yang sangat ta mpa n.

Sebenarnya dia tidak pernah mengalami keiadi-nn seperti ini, kalau marah sudah sering terjadi, tapi kaldu hatinya sampai tergetar karena hal ini, sama sekali tidak pernah dialaminya.

Kalau kejadian ini terjadi pada orang lain dia tidak peduli, tapi jika terhadap dia, itu adalah masalah besar yang bisa mengakibatkan nyawanya hilang.

Benar saja karena hal ini dia jadi kehilangan kesempatan, sinar pedang tahu-tahu sudah mendesak maju sampai kurang dari tiga kali.

Jarak tiga kaki jika kakinya berada di atas tanah, mungkin paling sedikit masih bisa melancarkan tiga empat jurus golok yang berbeda untuk meng-had.ipi datangnya pedang itu.

Apa boleh buat, sekarang tubuhnya masih berada di udara, dan juga terlalu banyak menggunakan tenaga dalam untuk mengatur kecepatan tubuhnya turun ke bawah, walaupun tidak kehabisan tenaga, tapi sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat kaki menginjak tanah.

Pedang musuh hanya ditusukan biasa-biasa saja, tapi kedahsyatannya sulit digambarkan.

Yang paling menggetarkan Hoyan Tiang-souw adalah ketika melihat serangan lawannya, tidak tampak ada satu celah pun.

Di dalam keadaan kritis ini, bagaimana dia ada waktu untuk berpikir mencari akal?

Dia segera mengangkat golok dan diayunkan, titik yang diarah ujung pedang lawannya. Bagi orang biasa, jika ingin berhasil menyabet ujung pedang dengan menggunakan golok, tentu saja hal yang mustahil.

Walaupun seorang pesilat tinggi kelas satu dunia persilatan, hal ini adalah pekerjaan yang amat sulit dan sangat bahaya, kecuali orang yang memegang pedang itu adalah sebuah balok kayu yang tidak ada reaksinya. Jika tidak, asalkan ujung pedangnya digeser sedikit, maka tidak akan bisa mengenainya, jika lawan juga adalah seorang pesilat tinggi, maka itu akan tambah pulit dan sangat berbahaya.

Tusukan pedang itu selain dahsyat juga mantap seperti Tai-san.

Kelebatan Mo-to malah laksana es.

Hawa membunuh dari kedua senjata itu membuat hawa di sekeliling mendadak turun.

"Traang!" Mo-to benar-benar mengenai ujung pedang itu.

Saat ini tubuh kedua orang itu segera turun ke bawah, gerakan Hoyan Tiang-souw membuat siapapun terperanjat, sebab dia masih bisa menyerang lagi dengan goloknya, membuat gulungan-gulungan sinar, mengurung lawannya.

Tapi dari ratusan bayangan golok itu, hanya satu yang asli yaitu yang membacok tenggorokan, jika bacokan golok ini mengena, dijamin kepala Li Poh-hoan terpenggal dan jatuh ke dalam Kiam-ti.

Terhadap ratusan bayangan golok ini, Li Poh-hoan hanya membalas satu tusukan pedang, kali ujung pedangnya satu inci pun tidak melesat, tepat mengenai golok.

"Traang!" kedua orang itu terdorong beberapa kaki. Hoyan Tiang-souw berteriak:

"Jurus pedang bagus!", suaranya keras laksana geledek. Tubuhnya meluncur kekiri, ujung kakinya mendongkel, tepat mengenai batang besi panjang itu.

Gerakannya membuat batang besi panjang itu tidak terjatuh ke dalam Kiam-ti.

Menurut kabar dalamnya Kiam-ti sulit diukur, jika ada benda yang jatuh ke dalamnya, siapa yang bisa mengambilnya kembali?

Li Poh-hoan bersalto satu kali, posisi tubuhnya menjadi tertelungkup, dia menjulurkan tangan tepat memegang batang besi panjang itu.

Kedua orang itu tidak bertarung lagi, terbang turun di tepi Kiam-ti.

Li Poh-hoan mengangkat-angkat batang besi panjang di tangannya, sambil tertawa dingin berkata:

"Jika kau ingin merebut pedang pusaka ini, tanya dulu pada pedangku yang bukan pedang pusaka ini!"

Sedikit hawa amarah keluar dari ujung alisnya Hoyan Tiang-souw dan berkata:

"Siapa yang mau merebut barangmu?"

Saat ini amarahnya mendadak hilang, dan berubah menjadi wajah keheranan, katanya lagi:

"Katamu batang bambu ini pedang? Ku lihat dari sudut mana pun tidak mirip."

Li Poh-hoan mengangkat sepasang bahunya dan berkata:

"Aneh, aku malah jadi percaya kata-katamu." Yang dia percayai tentu saja Hoyan Tiang-souw tidak berniat merebut pedang pusaka. Dia berkata lagi, "Pedang ini adalah benda pusaka dari luar negeri, namanya Tok-coa- sim (Lidah ular beracun). Dalam keadaan biasa hanyalah sebatang tongkat panjang, tapi dalam keadaan mendesak dengan pengerahan tenaga dalam, maka akan mengeluarkan ujung pedang sepanjang tiga dim, sangat tajam dan kecil seperti kawat baja. Kau tadi mungkin sudah melihatnya, batu juga jadi seperti tahu, apa lagi tubuh manusia, jangan dikatakan lagi." .

Hoyan Tiang-souw memang tadi melihat dengan mata kepala sendiri, maka dia membantah:

"Kenapa kau mengutus orang diam-diam ingin membunuhku? Dengan ilmu silatmu, sangat pantas bertarung secara terang-terangan. Kenapa mengguna kan cara hina diam-diam membunuh orang?"

Li Poh-hoan balik bertanya:

"Tadi kau jelas sudah berada dalam bahaya, jelas sulit bisa lolos dari serangan pedangku, kenapa mendadak kekuatan golokmu bisa menjadi sangat dahsyat, membuat aku tidak sempat merubah arah pedang, sehingga golokmu bisa mengenai ujung pedangku? apa sebabnya?"

Dalam hati Hoyan Tiang-souw timbul dua wajah lain yang ketampanannya seperti Li Poh-hoan.

Dua orang ini berbeda aliran, yang satu aliran lurus yang disebut Kiam-liu (Pedang marga Liu) dan pemiliknya adalah tuan muda Liu Siang-hen, salah satu keluarga dari dua keluarga besar dunia persilatan Chun-hong-hoa-goat- lou di Yang-ciu.

Ketampanan dia, jaman sekarang boleh dikatakan tidak satu orang pun yang bisa menandinginya.

Satu wajah lagi yang beraliran sesat adalah Toh Ceng-tie, julukannya Jin-bin-souw-sim (Manusia berhati binatang). Orang ini punya kelainan jiwa, sialnya dia memiliki kepandaian sangat tinggi dan menguasai ilmu hebat dari berbagai perguruan silat, penuh dengan akal busuk. Siapa pun yang bertemu dengan dia (termasuk beberapa gurunya), terpaksa menyalahkan dirinya sendiri, mungkin dalam kehidupan sebelumnya kurang berbuat amal hingga dosanya banyak.

Toh Ceng-tie juga sangat tampan. Dulu Hoyan Tiang- souw hampir saja dibunuh olehnya, jadi harinya masih membenci padanya.

Maka ketika dalam hati dia muncul dua wajah yang satu aliran lurus dan yang satu lagi sesat, dia merasa Li Poh- hoan termasuk orang Toh Ceng-tie, saat itu dia jadi naik pitam.

Tadi dia hanya untung-untungan mengibaskan goloknya dan tepat mengenai ujung pedangnya.

Rahasia ini rasanya tidak perlu dibongkar, maka Hoyan Tiang-souw hanya tersenyum tidak berbuat apa-apa. Jawaban yang diberikan juga bukan yang ditanyakan, berkata:

"Ujung pedangmu pun bisa mengenai golokku, kau memang pantas menjadi lawanku."

Kata Li Poh-hoan:

"Saat ujung pedangku terkena oleh golokmu, pedangku sudah menjadi tumpul, ketajamannya sudah berkurang ratusan kali dibandingkan sebelumnya.

Makanya tusukan pedangku, seperti memakai palu menghantam golok, orang yang ilmu silatnya lebih rendah dariku, mungkin juga bisa melakukan hal ini." "Kau terlalu merendah, jika orang itu ilmu silat dan jurus pedangnya lebih rendah darimu, pasti tidak akan mampu melakukannya."

"Tentang masalah ini, aku tidak akan berdebat denganmu." Li Poh-hoan berkata lagi, "hal lain yang ingin aku katakan adalah masalah permusuhan, kau tahu tidak, jika kita berdua bermusuhan, akibatnya adalah jika bukan kau yang mati, maka aku yang meninggal, pasti tidak ada jalan ketiga?"

"Mengenai masalah kita jadi musuh atau tidak kuncinya ada di tanganmu bukan padaku." Kata Hoyan Tiang-souw

Li Poh-hoan sambil melirik, berkata lagi: "Benarkah?

Coba kau pikir-pikir lagi, apakah benar atau tidak?" Hoyan Tiang-souw berpikir keras.

Kata kata ini betul saja tidak benar. Sebab jika Li Poh- hoan tidak bisa melepaskan Cui Lian-hoa, dia tidak henti- hentinya mengejar, dan dia sendiri tidak bisa melupakan Cui Lian-hoa, maka dia menjadi musuh cintanya.

Orang biasa bertemu dengan musuh cinta, setelah melakukan pertarungan akan mendapatkan cinta, yang menang tidak perlu dikatakan, tapi yang kalah biasanya juga hanya bisa mengeluh lalu pergi jauh.

Tapi jika terjadi pada orang yang berilmu silat tinggi, maka persoalannya menjadi ruwet.

Buat orang biasa sangat sulit dengan emosinya membunuh orang menggunakan senjata, tapi bagi pesilat tinggi dunia persilatan bisa melakukannya, tidak saja bisa, malah sangat mudah sekali.

Inilah besarnya perbedaan. Misalkan Li Poh-hoan kalah dalam persainggan cinta, dengan mudahnya dia akan mencari Hoyan Tiang-souw dan bertarung dengannya.

Sebaliknya Hoyan Tiang-souw juga sama.

Walau Hoyan Tiang-souw tahu pasti tidak akan melakukannya, tapi kemungkinannya ada, maka tidak bisa mencegah orang ada pikiran seperti ini.

Hoyan Tiang-souw tertawa pahit, berkata: "Kalau begitu kau mau apa?" '

Jawaban Li Poh-hoan cepat sekali, jelas dia sudah memikirkannya:

"Kau kembalilah ke utara, maka tidak akan ada masalah lagi."

Hoyan Tiang-souw melototkan matanya:

"Aku bukan orang yang takut pada masalah, kau harus ingat ini."

"Aku tahu, aku juga tidak mau mengusikmu, namun jika kau menghalangi aku, kau suruh aku berbuat bagaimana?"

Tiba-tiba Hoyan Tiang-souw merasakan golok pusakanya kembali bergerak-gerak dalam sarungnya.

Hai, Mo-to nya kembali ingin keluar sarung, ingin merasakan darah manusia.

Hai, pertarungan dan pembunuhan yang tidak ada akhirnya, tapi apakah ada cara lain lagi?

Orang yang berada dalam dunia persilatan sudah tidak bisa berbuat sekehendak hati, dan manusia yang sudah masuk dalam jaringnya nasib lebih-lebih tidak bisa berbuat sekehendak hati, malah sampai hati pun tidak bisa berbuat sekehendaknya! Hai...... -V v V-

Ketika hari kemarin, sebuah tempat di satu ruangan besar di pantai See-ouw.

Di dalam ruangan hanya ada wanita, tapi bukan tidak ada laki laki, hanya laki-lakinya sudah menjadi mayat, darah segar berhamburan memenuhi lantai, bau amis darah membuat orang menjadi pusing dan ingin muntah.

Nyonya setengah baya berbaju hijau dengan dingin berkata:

"Hoyan Tiang-souw sudah pergi, langkah dia sedikit terburu-buru, seperti yang melarikan diri saja, ada apa sebenarnya? Apakah dia sudah menemukan bahaya? Jika ada bahaya, lalu bahaya apa?"

Cui Lian-hoa melihat keluar jendela, tapi dia terlalu jauh dari jendela, maka tidak bisa melihat permukaan air danau yang jernih dan gunung yang hijau, tapi dia bisa merasakan cerahnya musim semi dan udaranya.

Namun semua ini akan segera menghilang, bukan menghilang seperti datang dan perginya musim semi, tapi dia sendiri yang telah kehilangan kekuatan-nya merasakan....

.... setelah manusia mati, segala yang ada di dunia ini terhadap dia sama saja, menghilang.

Aku mungkin tahu kenapa dia terburu-buru 'melarikan diri', tentu saja bukan karena bahaya, orang ini jika ada bahaya yang bisa membuat dia takut, itu baru satu kejadian aneh.

"Kau tahu jawabannya," wanita berbaju hijau dingin berkata, "begitu lihat sorot matamu aku sudah tahu kau mengetahuinya, jika kau rela mati demi jawaban ini, itupun bukan tidak boleh."

Cui Lian-hoa sadar yang dia hadapi adalah wanita yang pintar, licik dan keji, dia balik bertanya:

"Apakah setelah aku menjawab maka aku boleh tidak mati?"

"Belum tentu, aku tidak bisa menjamin hal ini." "Tadi kenapa kau tidak membunuh kami? Apakah kau benar- benar merasa ragu jika sampai tidak bisa membunuh aku, akan menimbulkan akibat yang sangat berat?"

"Tidak salah, Mo-to nya Hoyan Tiang-souw bukan golok biasa, jika aku bisa tidak bertarung dengan dia, tentu itu yang paling bagus."

Akhirnya Cui Lian-hoa mengatakan jawaban-nya: "Hoyan Tiang-souw mungkin hanya ingin menghindar dariku, maka dia sampai sekarang belum tahu apakah aku benar-benar tidak bisa bersilat? Apakah aku bisa kembali bebas dan lain-lainnya, sudah langsung pergi."

"Jawaban ini kedengarannya sangat aneh, jarang membuat orang tidak bisa percaya, tapi, tampak-nya tidak ada alasan lain yang lebih bagus. Mmm, mari kita pergi, lebih cepat lebih bagus, jangan sampai para petugas keamanan datang kesini, hingga menambah kerepotan."

Langkah pertama dia menyuruh pergi dulu empat wanita lainnya yang juga sangat cantik.

Lalu menyuruh Cui Lian-hoa berganti pakaian laki-laki, termasuk dia sendiri juga.

Sehingga Cui Lian-hoa berubah jadi seorang sastrawan, dan wanita berbaju hijau menjadi seorang pelayannya. "Apakah kita pergi ke Pheng-lai di Soatang?" sambil ganti baju Cui Lian-hoa bertanya padanya.

"Mungkin ya mungkin tidak," wanita baju hijau tidak mau memberitahukannya dan berkata lagi, "selanjutnya dalam perjalanan kau adalah tuan muda Cui, aku adalahpelayanmu Lo-cia.

Palingbaik kau jangan banyak bicara, jika terpaksa harus bicara, kau harus merubah suaramu menjadi suara laki-laki, pokoknya jangan sampai membuat orang menimbulkan masalah, jika ada masalah, aku akan menusuk dulu tubuhmu dua belas tusukan pedang."

Walaupun orang yang paling kuat di dunia, jika tubuhnya ditusuk dua belas kali oleh pedang, mungkin ingin tidak mati juga tidak bisa.

Apa lagi Cui Lian-hoa, dia bukanlah orang yang sangat kuat, tentu saja tidak bisa tidak mati.

Makanya Cui Lian-hoa bercermin pada kaca memeriksa apakah ada yang salah atau tidak, dia melihat dirinya menyamar menjadi laki-laki, ternyata sangat tampan juga!

Jika dalam perjalanan dia punya kesempatan berkenalan dengan wanita, sehingga mereka jatuh cinta padanya, itupun bukan hal yang aneh.

Dengan suara kasar dia bertanya:

"Lo-cia, kenapa kau melepaskan empat wanita itu, sedangkan aku tidak?"

"Mmm, suaramu tampak tidak ada yang salah. Apa gunanya empat wanita itu untukku? Aku kan bukan laki- laki, walaupun laki-laki juga tidak perlu wanita sebanyak itu."

Cui Lian-hoa berkata: "Karena kau bukan laki-laki, maka tidak tahu cara berpikir laki-laki, jarang sekali laki-laki merasa kebanyakan wanita, pada dasarnya bagi mereka ber-harap lebih banyak wanita lebih bagus."

"Kata-katamu mungkin tidak salah, pokoknya aku bukan laki-laki, malah sangat benci pada laki-laki, makanya aku tidak menyelidiki cara berpikir mereka."

Di wajah Cui Lian-hoa tidak tampak ada reaksi, tapi di dalam hatinya dia sangat terkejut.

Wanita ini jika sampai membenci laki-laki, mungkin tidak hanya menyukai wanita? Untungnya dia sudah berkata lagi.

"Sebenarnya terhadap wanita pun aku membencinya, itulah sebabnya kenapa aku lebih suka membunuh orang dari pada menolong orang.

Aku hanya berharap di sepanjang jalan nanti aku tidak menemukan alasan untuk membunuhmu. Jika ada, aku pasti tidak akan melepaskanmu! Kau ingatitu!"

Cui Lian-hoa sangat yakin dia bukan berkata hanya untuk menakut-nakuti.

Dulu dia pernah bertemu dengan orang yang suka membunuh, mereka laki-laki juga wanita.

Maka dia sangat yakin dia bukan menakut- nakuti dirinya.

Tapi, jika dia ingin sekali membunuhku, kenapa harus mencari alasan? Buat apa dia mencari kerepotan? apakah setelah menemukan alasannya lalu membunuh, bisa membuat dia merasa lebih senang, lebih gembira?

Teniu saja bukan begitu.

Cui Lian-hoa sangat yakin akan hal ini. Orang yang suka membunuh, merubah caranya bisa menambah kesenangannya, seperti seorang yang suka makan pasti lebih suka masakan enak yang lebih bermacam-macam.

Tapi jika ingin membunuh tapi tidak bisa dibunuh, ingin makan tapi tidak bisa dimakan. Kejadian ini pasti rasa sengsaranya lebihbesar dari pada kesenangannya.

Lalu apa yang membuat dia terkekang?

Jika terkekang oleh keadaan luar, siapa orang dibalik layar itu?

Apakah karena Kie Ting-hoan yang paling berkuasa di keluarga Kie di Pheng-lai itu?

"Jalan!" Teriak Lo-cia dan mendorong dia. Cui Lian-hoa sempoyongan beberapa langkah, baru bisa memantapkan diri.

Tapi dia sudah merasakan saat telapak tangan Lo-cia menyentuh punggungnya, jari kelingkingnya telah menotok jalan darah di punggungnya, segera seluruh tubuhnya menjadi sebentar dingin sebentar panas, keadaan begini berturut-turut terjadi tiga kali.

Inilah jurus pedang Can-bian-tok-kiam yang dirubah menjadi jurus jari untuk menotok jalan darah, selama beberapa ratus tahun seluruh pesilat tinggi dunia persilatan di seluruh dunia, semua sangat takut pada jurus hebat dari Lam-kiang ini.

Sebab menggunakan pedang menusuk jalan darah sudah merupakan jurus hebat yang tiada dua-nya, bisa menggunakan jari menggantikan pedang, tentu saja ini lebih hebat lagi. Tidak hanya itu saja, yang paling memusingkan kepala, paling menakutkan adalah masih ada racun yang masuk ke dalam jalan darah. Maka walaupun tusukannya tidak mengenai jalan darah penting, tapi sudah membuat orang tidak bisa berbuat apa- apa, malah hanya bisa tinggal diam menunggu dibunuh.

Justru karena menggunakan jari tidak menggunakan pedang, maka dalam pertarungan menjadi sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan senjata tajam.

Bagaimana kau bisa tahu saat lawan menarik tangan atau menepuk bahumu, apakah dia sudah menggunakan jurus hebat yang mematikan atau tidak.

Manusia sering bertemu dengan beberapa kejadian, jika kau bukan sahabat wanita ini, malah di dalam hati sadar dia adalah musuh.

Maka di tempat atau dalam keadaan tertentu, dia bisa menarik-narikmu atau mendorongmu, kau tidak mungkin setiap kali berbuat seperti menghadapi musuh berat, bersalto menghindarnya.

Inilah sebab sebenarnya kenapa sampai pesilat tingkat tinggi juga merasa takut dan pusing terhadap jurus hebat Cie-kiam-ci-hiat (Jari pedang menusuk jalan darah).

Walaupun Cui Lian-hoa merasakan jeroan di dalam tubuhnya mengerut, sangat tidak nyaman. Tapi dia tidak terlalu memperhatikannya.

Dia hanya mengucap sampai jumpa pada See-ouw, apa lagi saat dari kejauhan melihat pagoda Liu-ho yang megah dan cantik, di'dalam hatinya tidak tahan timbul perasaan sedih yang dalam! Sebab dalam dua tiga tahun yang lalu, dia pernah melihat pagoda ini entah sudah berapa kali, juga sering naik ke dalamnya.

Sungai Kian-tang mengalir berliku-liku, di sisi lain pemandangan pegunungan yang sunyi, siapa yang bisa melupakan hari-hari yang biasa-biasa namun aman sentosa ini? Tapi sekarang mendadak dia dipaksa masuk ke dalam dunia persilatan lagi, yang hidup atau matinya sulit diramalkan.

Penglihatan ini apakah penglihatan terakhir kalinya? Apakah masih ada kesempatan menaiki pagoda yang ternama ini?

)))>>odwo<<(((