-->

Warisan Berdarah Jilid 7

Jilid 7

“twako, tidak demikian seharusnya jika melihat betapa gagahnya twako mengungkapkan isi hati tadi, begitu jernih dan mantap didengar telinga.” mendengar pernyataan itu sontak kao-ciang tercenung dan membaca sikapnya

“maafkan aku hoa-moi, atas kelemahan hatiku.”

“tidak ada yang perlu saya maafkan twako, tapi twako sendirilah yang harus memaafkan diri twako, supaya twako tidak menghukum nasib dengan keputus asaan, berniat menutup diri dari jodoh, luar biasa banyak wanita didunia ini twako, yang mungkin satu dua adalah jodoh twako.” luar biasa hikmat yang keluar dari mulut putri tersayang bun-bu-siucai ini, yang mampu langsung menawarkan kekecewaan kao-ciang, luar biasa sakit memang penolakan itu bagi kao-ciang, namun luar biasa juga hikmat yang didengarnya, sehingga tidak adalah seharusnya yang ditangisi, hidup masih panjang, dunia sangat luas, satu dua wanita masih ada yang menantikan bahtera cintanya untuk berlabuh.

“terimakasih han-siocia, sekarang hatiku sudah merasa ringan.”

“hihihi….ada apa ini twako, cepat sekali twako mengasingkanku dengan perubahan panggilan itu.”

“eh..oh…hehehe…maafkan aku hoa-moi, kamu demikian bijaksana, dan wawasanmu demikian dalam, sehingga hati ini takluk.”

“hihihi…..kali ini dimaafkan twako, tapi lain kali aku akan menangis loh twako, dan cukuplah puja puji itu, twako juga luar biasa, dalam waktu singkat mampu tanggap dengan kenyataan.”

“hmh….baiklah twako aku hendak berkemas, karena sebentar lagi siang.” “baiklah hoa-moi, kemanakah khu-sicu?”

“tadi aku suruh mandi, mungkin sebentar lagi suheng akan kembali dari sungai.” jawab bwee-hoa, dan ia pun meninggalkan kao-ciang.

Setelah makan siang, khu-wei-lun dan han-bwee-hoa melanjutkan perjalanan, keduanya saling berlomba melintasi hutan dan bukit, canda dan tawa mereka yang saling berlomba terdengar ceria dan berpadu dengan pekikan monyet-monyet yang terkejut dan kicauan punai didahan serta gemerisik dedaunan yang dipermainkan belaian angin yang berhembus, dan ketika masuk malam terpaksa keduanya bermalam di alam terbuka, karena kota satu hari perjalanan lagi

“kita bermalam dihutan ini hoa-sumoi.”

“baik suheng.” sahut bwee-hoa sambil duduk setelah setengah hari berlomba lari dengan suhengnya “capek sumoi?” tanya wei-lun lembut penuh nada saying

“hmh….iya, sepertinya aku akan lelap tidurnya malam ini.”

“tentu sumoi, tidurlah yang nyenyak, suheng akan menjagamu.” terasa hangat nada suara yang mengandung perhatian melimpah itu, inilah lelaki yang menggetarkan sukma bwee-hoa, suhengnya yang tergolong tidak muda lagi, termasuk dia juga sudah boleh dikatakan sudah matang karena umurnya hampir dua puluh tiga, oleh pemuda ini sejak mereka bertemu di jengzhou, dan melakukan perjalanan bersama, rasa simpatinya mulai tumbuh.

Sikap suhengnya yang tegas, bijak dan berwibawa saat mengorek keterangan dari siburik dihutan sebelah utara jengzhou telah meneribitkan rasa kagum, dan kemudian saat mereka bicara di beranda likoan, kelembutan bicara suhengnya semakin menggetarkan sukmanya walaupun pembicaraan itu menceritakan gadis yang mana, tapi hatinya tidak menyurutkan getaran hati itu, tapi memang keduanya adalah sastrawan yang sarat dengan kebijakan-kebijakan yang demikian apik menjalani alur laksana air yang mengalir, tenang dan nyaman.

Selama tiga hari setelah meninggalkan jengzhou, isyarat-isyarat getaran itu semakin nyata bagi bwee-hoa, namun ia harus bijak menguasa perasaannya, sejauh manakah perhatian melimpah ini? apakah hanya sekedar suheng dan sumoi, yang bahkan apakah limpahan perhatian ini, tidak menutup kemungkinan karena ia adalah putri dari suhu suhennya, terlebih bahwa suhengnya ini telah memiliki sosok gadis pujaan.

“hihihi…apakah suheng juga akan mengusiri nyamuk dari sekitarku?”

“hehehe…kalau soal, kita lihat nanti saja, tapi untuk saat ini sepertinya api unggun ini sudah cukup mengusir nyamuk.”

“suheng, apakah suheng menagkap sesuatu dari sikap kao-taihap?” “benar, aku melihat perubahan drastis pada sikapnya.” “artinya suheng mengetahui ada sesuatu yang terjadi dihati kao-taihap tentang diriku.” “kenapa sumoi mengatakan seperti itu?” tanya wei-lun dengan seulas senyum

“karena suheng melihat ada perubahan, tentunya suheng mengetahui keadaan kao-taihap sebelum perubahan.”

“hehehe…kamu pintar sekali sumoi, benar aku mengetahui keadaan kao-sicu, kenapa sumoi menanyakannya?”

“tidak kenapa-napa suheng, sekedar bertanya tentu bolehkan, hihihihi…”

“boleh saja sumoiku, semoga saja engkau mendapatkan apa yang ingin kamu tahu dari maksud mempertanyakan hal itu.”

“hihihihi….apakah syair ayah yang berhubungan dengan itu?” “hehehe..apakah sumoi hendak meledekku?”

“tidak suheng, aku hanya ingin mendengar suheng bersyair, apakah permintaan kecil tidak akan suheng perkenankan?”

“baiklah sumoi, dengarlah suheng bersyair sebagaimana suhu ajarkan.” “malam bertabur bintang, teranglah jalan untuk dilalui

siang cerah oleh mentari, nyatalah segala yang disinari menjenguk hati manusia, laksana gulita yang menyelimuti sibak gulita dengan pelita, sibaklah hati manusia dengan uji uji hati dihadapkan pada dua pilihan, sejatikah atau koukati

sejati penuh asa memaklumi, koukati penuh tipu kuasa dan iri”

“alangkah merdunya suaramu suheng.” puji bwee-hoa samabil membuka mata setelah menikmati alunan syair yang dilantunkan wei-lun

“tapi suara somoi laksana sihir saat menyanyi, indah lembut tiada yang mengingkari.” “hihihi…suheng bisa saja kalau memuji.”

“laparkah kamu sumoi?”

“sedikit suheng, apakah suheng lapar.”

“aku kelaparan setelah menyanyi, hehehe…”

“kalau begitu makanlah suheng, sebentar aku akan panaskan dendeng bekal dari bao-hujin.” ujar bwee- hoa, segera ia bangkit dari sandarannya dan membuka buntalan, sebungkus dendeng daging kijang dipanaskan dan diberi bumbu, aroma sedap membetik selera, lalu bwee-hoa meletakkan tiga sayatan dendeng diatas daun dan memberikannya pada suhengnya, keduanyapun makan dengan nikmat,

Keesokan harinya, bwee-hoa bangun dan melihat suhengnya bersandar disebuah pohon, sepertinya baru saja tertidur, cahaya mentari menerobos rimbunnya dedaunan, bwee-hoa berdiri menyelimuti suhengnya dengan selimutnya, lalu ia pergi kesebuah sungai yang mengalir tidak jauh dari tempat mereka bermalam, setelah selesai mandi, ia kembali, suara langkahnya membuat wei-lun membuka mata.

“ternyata sudah pagi.” desahnya sambil bengkit dari sandarannya dan menatap bwee-hoa “kamu sudah selesai mandi sumoi?”

“sudah suheng, dan suheng pergilah mandi, airnya sejuk dan nyaman suheng.” jawab bwee-hoa, wei-lun berdiri hendak melipat selimut “biar aku saja suheng, suheng mandilah!”

Khu-Wei-lun segera pergi kesungai setelah memberikan selimut pada sumoinya, memang air yang jernih itu sejuk dan nyaman, segar rasanya tubuh wei-lun, setelah merasa bersih dan puas, wei-lun keluar dan mengeringkan badan, lalu berganti pakaian, kemudian ia kembali dan aroma dendeng bakar sudah merebak menerbitkan selera, keduanya pun makan, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Kota bao kota kecil berpenduduk padat terlihat sibuk, anak-anak nampak ceria saling berkejaran, teriakan jeritan mereka berpadu dengan suara tawa para orang dewasa yang sedang merias sebuah rumah yang cukup besar di belahan pasar itu.

“ada apakah twako, sepertinya akan ada perayaan dirumah itu.” tanya wei-lun

“benar kongcu, itu rumah liu-wangwe, besok malam akan diadakan pesta pernikahan putrinya. “oo, begitu, pantas meriah ternyata mau mempersiapkan raja sehari.”

“pelayan..! seru seorang tamu yang baru datang, pelayan itu segera meninggalkan wei-lun bwee-hoa, tamu yang baru datang itu terkesima menatap wajah bwee-hoa

Setelah lelaki itu selesai makan, ia mendekati meja wei-lun dan bwee-hoa “selamat sore taihap dan lihap, bukankah jiwi ini dari sin-siucai-bukoan?”

“selamat sore juga taihap, benar dugaan taihap, memang kami dari sin-siucai-bukoan di kaifeng, lalu dengan siapakah kami berhadapan?”

“hahaha…. pertemuan yang amat menyenangkan, saya adalah Yu-liang dari hangzhou, kalau boleh tahu siapakah nama taihap dan lihap?

“saya bernama Khu-wei-lun dan ini sumoi saya han-bwee-hoa.”

“hahaha….teryata putri “siuaw-taihap” terimalah hormatku han-lihap!” sahut Yu-liang sambil menjura “Yu-taihap luar biasa jeli, sehingga demikian cermat menduga.” sahut bwee-hoa balas menjura

“tokoh seperti “siauw-taihap” bengcu, siapakah yang tidak kenal, terlebih keluargaku demikian hormat dan bangga beli bercerita tentang bengcu.”

“kalau boleh tahu bagaimana bisa keluarga Yu berbuat demikian?” sela wei-lun

“khu-taihap, kakekku adalah Yu-jiang atau lebih dikenal dengan julukan “tung-sin-tianglo”

“oh, ternyata yu-sicu adalah cucu cianpwe tung-sin-tianglo, ayah sering memuji-muji kebijakan Yu- cianpwe” sela bwee-hoa.

“hehehe..hendak kemanakah tujuan jiwi-taihap?”

“kami hendak ke shijajuang yu-taihap, besok kami akan melanjutkan perjalanan.” “ada apakah di shijajuang, kalau boleh khu-taihap?”

“kami sedang mengejar coa-hiat-kwi-bo yang kemungkinan besar melarikan diri kesana.” “he…”coa-hiat-kwi-bo” aku juga sedang mengejarnya.” seru yu-jiang

“oh…ya, bagaimana ceritanya yu-taihap, sehingga yu-taihap memburunya?” tanya bwee-hoa

“tiga hari yang lalu saya bertemu dengan mereka disebuah hutan.” jawab yu-jiang dan kemudian ia bercerita Disebuah hutan dua orang sedang istirahat, seorang dari mereka keduanya adalah nenek tua berwajah seram yang dikenal dengan coa-hiat-kwi-bo, sementara yang satu lagi adalah lelaki paruh baya bermata besar dan pinggangnya melingkar rantai besi dengan dua bandul berduri, dia dijuluki “ban-kin-mo” (setan selaksa kati), keduanya sudah satu hari satu malam berlari tanpa henti meninggalkan markas.

Coa-hiat-kwibo, ketika malam itu hendak mau tidur, namun ia tergangu dengan suara ribut-ribut diluar, lebih tiga puluh anak buahnya melaporkan tentang kejadian di hutan dimana saat Han-bwee-hoa menyatroni mereka.

“siapa perempuan muda itu!” bentaknya dengan marah

“ka..kami tidak tahu kwi-bo, tapi kesaktiannya luar biasa, dia memakai senjata kipas dan dibahunya tersampir sal warna hitam.”

“hmh…sepertinya itu murid-murid si bengcu, kalian bersiap untuk menyambut kedatangannya kesini, kalau ia berani datang kesini, itu artinya ia cari mampus.” ujar kwi-bo, hatinya meragu apakah ia akan dapat mengatasi murid bengcu, namun karena ia memiliki “ban-kin-mo” ia membesarkan hatinya.

Saat malam sudah sangat larut siburik dan dua rekannya tiba, dan melaporkan tewasnya empat orang dari mereka, dan menceritakan dua orang sastrawan itu, mendengar yang akan datang bukan seorang murid bengcu, tapi dua orang, coa-hiat-kwi-bo langsung pucat dan berubah pikiran, malam itu juga dia memerintahkan untuk melarikan diri

“kita segera meninggalkan tempat ini, kita lari berpencar, dan kalian bertiga menyusul saya ke shijajuang.” perintahnya sambil meninggalkan si burik dan dua temannya.

“tidak lama gerombolan itupun angkat dari bukit itu, kwi-bo dan ban-kin-mo, keduanya mengerahkan lari cepat, sehingga setelah sehari semalam mereka pun sampai disebuah hutan.

“kita istirahat sebentar, cepat carikan buruan untuk kita makan!”

“baik kwi-bo.” sahut ban-kim-mo dan segera pergi mencari binatang buruan, dan tidak berapa lama, ban- kin-mo datang membawa seekor ular sebesar lengan orang dewasa, daging ular itu pun dipotong-potong lalu dibakar, setelah itu keduanya pun menyantapnya dengan lahap.

Baru saja keduanya selesai makan, Yu-liang lewat didepan mereka, yang kebetulan tempat coa-hiat-kwibo dekat sungai, dan Yu-liang hendak memmbersihkan kelici tangkapannya

“selamat siang jiwi-cianpwe, maaf aku melintas karena hendak kesungai itu”

“lewat..lewat saja, dan jangan ganggu kami.” sahut ban-kin-mo ketus, sambil senyum yu-liang melanjutkan langkahnya, sambil berpikir siapa gerangan dua orang itu.

Saat Yu-liang kembali kwi-bo dan ban-kin-mo sudah pergi, lalu yu-liang menggunakan bekas api yang digunakan oleh kwi-bo, sambil menyannyi kecil yu-liang membakar daging kelinci buruannya, sambil menunggu daging kelinci matang, yu-liang bersandar di tempat kwi-bo bersandar, dan dengan tidak sengaja ia menumukan sehelai kain bertuliskan

‘tung-hong-bio (kelenteng angin timur) Hoa-ban-keng” (kitab seribu bunga)’

“ini kitab milik kow-kong-bo (nenek bibi) Yu-bian-sutai.” pikir Yu-liang, Yu-bian-suthai adalah adik dari Yu- jiang kekeknya yu-liang.

“sial..nenek itu pasti coa-hiat-kwi-bo, yang menurut nenek bibinya sudah dua kali mengincar kitab tersebut sejak sepuluh tahun yang lalu, Yu-liang berdiri dan mengira-ngira kearah mana dua orang tadi pergi, dan tanpa berpikir panjang lagi ia mengejar kearah timur, dan sayangnya coa-hiat-kwi-bo melanjutkan perjalanan ke arah utara, sehingga sampai malam ia tidak menemukan bayangan dua orang yang dikejarnya, akhirnya ia sampai kekota bao dan bertemu dengan wei-lun dan bwee-hoa.”

“jadi coa-hiat-kwi-bo” mencuri kitab keluarga kalian yu-taihap?” “ya, dan kain itu adalah kain pembungkus kitab itu.”

“hoa-ban-keng” kitab tentang apakah isinya yu-taihap, kalau boleh tahu?”

“kitab itu tentang ramuan dan obat-obatan, han-siocia, dan kebetulan kita satu tujuan, tentu kita boleh jalan bersama bukan?” jawab yu-liang dengan mata berbinar gembira.

“bagaimana menurut suheng?”

“itu pun baik sumoi, kita akan lebih kuat mengahadapi gerombolan coa-hiat-kwibo.”

“aha….aku senang sekali han-siocia, khu-taihap.” sahut Yu-liang. Sambil menjura dan dibalas adik kaka seperguruan itu.

“apakah khu-taihap sudah memesan kamar?” “belum yu-taihap, ini aku hendak memesan kamar.”

“aha..biarkan aku saja khu-taihap.” sela yu-liang sambil bergegas mendekati kasir dan memesan tiga kamar, dan setelah itu mereka diantar pelayan kekamar masing-masing, wei-lun langsung istirahat dan tertidur, sementara bwee-hoa mencuci muka dan kembali keluar menuju beranda di tingkat dua.

Yu-liang datang menghampiri yang berkebetulan keluar juga dari kamarnya “sedang bersantai han-siocia?” sapanya ramah

“benar yu-taihap, kota kecil ini lumayan padat ya?” “benar han-siocia, kemanakah Khu-taihap?”

“mungkin suhengku itu langsung tidur karena ia memang dua hari ini kurang tidur.” “ooh begitu, sudah berapa lama han-siocia dan khu-taihap mengejar coa-hiat-bo?” “baru beberapa hari yu-taihap, kami mengejarnya sejak dari kota jengzhou.” “kenalkah yu-taihap pada coa-hiat-kwi-bo?”

“saya mengenalnya lewat cerita nenek bibi saya, coa-hiat-bo itu sangat culas, dan juga sangat sakti, racun di kukunya sangat berbahaya.”

“berapakah umurmu sekarang han-siocia?” “eh…hihihi….tumben kok nanya umur segala yu-taihap?”

“aha….canggung rasanya dengan sebutan taihap dan siocia ini, jika aku tahu umurmu, tentu aku bisa tahu harus memanggil bagaimana.

“hmh…umurku hampir dua puluh tiga.”

“oh kalau begitu pantas aku memenaggil moi-moi, karena umurku sudah dua puluh empat tahun, hehehe…”

“lalu berapakah umur khu-taihap, hoa-moi?”

“sepertinya liang-twako harus memanggil suhengku dengan twako, karena umurnya hampir dua puluh enam tahun.”

“apakah khu-twako sudah menikah?”

“hmh….belum, hihihi…kenapa emangnya liang-twako?” “ah….tidak, hanya ingin tahu saja.” sahut yu-liang sambil nyengir

“bagaimana kabar tianglo, twako? tanya bwee-hoa mencoba mengalihkan pembicraan

“kakek sehat dan baik-baik saja, hehehe..kadang kalau dipikir kalau orang sudah pikun, maunya macam- macam.”

“maksudnya gimana yu-twako?” tanya bwee-hoa heran “kamu tidak akan tersinggung kan hoa-moi?” “eh..bagaimana pula aku akan tersinggung yu-twako?” “ya….masalahnya ini berhubungan dengan hoa-moi.”

“oh..begitukah, katakanlah twako, aku tidak akan tersinggung.” “ah..aku jadi risih dan malu jadinya.”

“hihihi…kok malah risih, kalau risih tidak usahlah dikatakan, twako.”

“ti…tidak…maksudku kapan-kapan sajalah aku sampaikan, lagian pun kita akan berjalan bersama.” “ooh, begitu, terserah yu-twako saja.” sahut bwee-hoa lembut.

“kita jalan-jalan yuk hoa-moi, kota kecil ini tidaklah seberapa besar, kita jalan-jalan cari angin sambil menunggu waktu sore, mau kan hoa-moi?” pinta yu-liang dengan muka memelas

“hihihihi….baik..baiklah twako, tapi aku ini kawan bicara yang membosankan.”

“hehehe…hoa-moi bisa saja.” sahut yu-liang, lalu keduanya turun dari tingkat atas, dan keluar likoan.

Setelah senja datang keduanya kembali ke likoan, diberanda atas mereka melihat khu-wei-lun sedang duduk, pakaiannya sudah berganti, dan wajahnya kelihatan segar, ditingkat atas keduanya menuju beranda

“suheng sudah mandi!?”

“sudah hoa-sumoi, kalian dari mana?”

“kami tadi jalan-jalan melihat-lihat keadaan kota, khu-twako.” jawab yu-liang

“aku kekamar dulu, suheng dan hendak mandi.” sela bwee-hoa, kemudian ia berbalik dan menuju kamarnya.

“demikian juga aku khu-twako, aku kemar dulu yah?”

“baiklah liang-te.” sahut khu-wei-lun, yu-liang segera pergi kekamarnya, dan tidak lama kemudian malam pun tiba, tiga orang itu makan di ruang makan

“adakah tadi kalian mrlihat tempat menarik dikota ini, liang-te?”

“dipinggir kota sebela selatan ada sebuah telaga yang bagus, permukaan telaga banyak terdapat bungai teratai merah.”

“betul suheng, telaga kecil dan sangat indah dipandang dari gerbang kota.” “hehehe..kalian membuat aku jadi penasaran.”

“hihihi….besok kita lewat sana, kok, sebab kata liang-twako, selain dari gerbang barat, dari gerbang selatan juga juga bisa kekota Taili.” “oh begitu, baguslah kita lewat gerbang selatan.” sahut khu-wei-lun.

Di sebuah likoan Kota wuhan seorang dara muda nan cantik rupawan menuruni tangga hendak makan diruang bawah, dia adalah han-sian-hui, tadi siang ia sudah berpisah dengan keponakannya, karena keponakannya hendak kekota lam-hong, pakaiannya yang ringkas berwarna kuning, dan sebuah sal warna putih bergambar burung merak bersulam benang warna emas tersampir di pundaknya, yang memakai sal warna putih ini hanya ia dan suhengnya Han-fei-lun, dengan anggun ia duduk sambil memesan makanan.

Tidak terlalu lama ia menanti, hidangan makan malam pun tiba, dengan perlahan ia menikmati makannya, beberapa pasang mata mengamatinya penuh selidik, bukannya ia tidak tahu, tapi hanya tidak ingin menggubrisnya

“sendirian siauw-siocia?” sapa sebuah suara dari seorang yang tiba-tiba mendekat, sian-hui menatapnya dengan lekat, seorang kongcu paruh baya, wajahnya gagah dan tampan

“benar kongcu, apakah kongcu hendak menemani?”

“hehehe…sudah barang tentu sauw-siocia, kenalkan aku adalah Lai-san pemilik hampir semua likoan besar di kota ini.”

“aku adalah Han-sian-hui, seorang pengelana.”

“saya dengar tadi siang siauw-socia bersama seseorang, kemanakah sekarang temanmu itu siauw-socia?” “oh benar aku tadi bersama keponakanku, dan ia telah pergi untuk melanjutkan perjalanan ke barat.”

“Lai-kongcu seorang yang amat sukses di kota ini, bagaimanakah usaha kongcu akhir-akhir ini sehubungan dengan maraknya tirani yang menyebar?”

“dalam kondisi seperti ini, memang sulit, tapi untuk apa kita bicarakan hal yang membuat pusing tersebut.” “lalu hal apakah sebaiknya kita bicarakan kongcu?”

“benar-benar tadi tertarik dengan dirimu, bahkan setelah kita bicara, demikian nyata nada bicaramu melampaui umurmu siocia, aku benar-benar kagum.” puji lai-san sambil nyengir memeperlihatkan giginya yang putih rapi, benar-benar seorang lelaki mapan yang pamogaran.

“hihi…lai-kongcu pandai sekali memilihkan kata, tentu ada maksud terkandung sehingga lai-kongcu bercapek-capek untuk menyapaku.”

“hehehe..hahaha…wajahmu itu hui-moi yang membuat aku tak dapat menahan diri, wajahmu itu demikian memukau dan menawan hati.”

“hmh…maksudnya kongcu ada niat untuk menjadikan aku jadi bagian dari keluarga kongcu?” “ah…luar biasa cermat dan tanggapnya dikau hui-moi.” sahut Lai-san makin berdebar.

“lai-kongcu, niatmu itu bagus, tapi orang kelana sepertiku ini apakah tepat bagimu?”

“kenapa tidak tepat hui-moi, aku memiliki harta yang banyak, sementara engaku wanita kelana yang amat menawan, kamu akan kujadikan wanita termegah di kota ini, dan menjadi ratu dirumahku, rumahku hui- moi, sangat besar dan megah dibelahan selatan kota. ”

“bukankah itu amat muluk lai-kongcu, burung buas di letakkan disangkar, tentunya sangkar akan berantakan, lain hal kalau itu burung hong.”

“kamu bukanlah burung buas, tapi burung hong yang amat kusanjung.” “hihi..lai-kongcu, apakah kamu atau saya yang mengetahui tentang diri saya?”

“tentulah engkau lebih mengetahui dirimu, hui-moi, tapi yang pasti wanita suka dengan cinta dan harta.” “aku hendak istirahat lai-kongcu, dapatkah aku permisi?”

“oh….bagaimana hoa-moi istirahat di paviliunku saja, hanya tiga blok dari sini, disana hoa-moi akan dilayani oleh para pembantu saya.”

“usahamu ini sia-sia lai-kongcu, karena hal hubungan laki-laki dan perempuan belum terpikirkan olehku.”

“saat ini benar apa yang kamu katakan hui-moi, tapi bukankah cinta akan tumbuh seiring rasa nyaman dan keindahan-keindahan yang dialami?”

“hihi..kongcu demikian faham tentang cinta dan wanita, sudah berapakah istrimu kongcu?”

“ah…kenapa engkau menanyakan istriku, jika kau ingin istri-istriku kucerai, makan akan kuceraikan demi cintaku padamu hui-moi.”

“hihihi…..ternyata hanya setipis kulit ari.”

“apa maksudmu hui-moi, apa yang setipis kulit ari?” “hatimulah yang aku maksud lai-kongcu.” “ke..kenapa engkau berkata demikian, hui-moi?”

“karena hatimu tidak ada cinta, melainkan hanya birahi sesaat yang membara, sudahlah kongcu, aku mau istirahat, permisi!” han-sian-hui berdiri dan meninggalkan lai-san yang melonggo

“tunggu dulu hui-moi!” serunya sambil berdiri, namun sian-hui tidak menggubrisnya dan naik ketingkat atas, dan baru saja ia masuk kedalam kamar, empat orang pelayan mengetuk pintunya, hui-sian membuka daun pintu

“ada apa sicu?” tanya sian-hui heran

“untuk rasa kekaguman kongcu, kongcu mengirim hadiah ini pada siocia.” Jawab pelayan itu, dan dua orang lainnya mengangsurkan sebuah nampan dari perak, dan diatasnya ada sebuah tusuk rambut dari emas murni, ujungnya berbentuk kepala burung hong, dan juntai rantainya berbandul mutiara sebanyak sepuluh buah.

“tolong diterima siocia, sebab kalau tidak kami berempat akan mendapat celaka.” ujar pelayan dengan pandangan memohon

“oh……sampai sedemikiankah sicu?”

“benar siocia, lai-kongcu tidak hanya orang terpandang yang kaya, namun juga dia seorang sakti yang perkasa.”

“hmh…baiklah aku terima demi kenyamanan kalian berempat.”

“terimakasih siocia, jadi legalah hati kami.” sahut pelayan, lalu mereka mohon pamit dan berlalu dari hadapan Han-sian-hui.

Han-sian-hui memperhatikan tusuk rambut yang tentu luar biasa mahalnya

“hmh…..bagaimana ditengah kondisi seperti ini, kongcu ini masih seroyal seperti ini?” pikir han-sian-hui sambil mempermainkan sepuluh mutiara yang menggantung indah di batang tusuk kundai itu

“sebaiknya aku coba selidiki kejanggalan ini, mana tahu dari sini aku akan dapat petunjuk untuk mengetahui siapa pimpinan makar hek-to di wilayah ini.” kembali hatinya berkata, lalu sian-hui menyimpan tusuk kundai itu dalam buntalannya, dan kemudian ia keluar dari likoan dengan melompat ke atas atap dan berlari ke arah selatan. Tumpukan rumah di bagian selatan ini, memang tergolong mewah dan besar-besar, sesaat sian-hui bingung ditengah komplek rumah mewah itu, namun matanya yang awas menangkap sebuah bayangan dipunggungnya ada sebuah buntalan, bayangan itu bergerak cepat dan menyusup dibelakang sebuah rumah yang amat besar dan luas, sian-hui dengan langkah ringan dan gesit menyusup kehalaman belakang, dan disebuah panggung tiga orang sedang duduk, mereka melingkari sebuah meja berbentuk bundar.

Dan tidak lama kemudian kelihatan Lai-san menuju panggung tersebut dan duduk disebuah kursi paling ujung

“bagaimana hasil kerja kalian!?”

“saya berhasil menggondol harta khu-taijin, kongcu.” sahut lelaki berkepala botak, dan kepala plotos itu diikat dengan kulit harimau dan dibagian depat pengikat ada besi berbentuk bulan sabit

“bagus coa-kui, lalu bagaimana dengan kamu toan-li?” lai-san menatap lelaki bergenggot tanpa kumis dan wajahnya di cat putih

“aku juga berhasil kongcu.”

“lalau bagaimana kamu datang terlambat!?”

“ditengah jalan aku bertemu dua pendekar, dan terjadi pertarungan.” “lalu bagaimana?”

“aku dapat melukai seorang dari padanya, dan aku terus melarikan diri, untungnya yang seorang tidak mengejar.”

“hmh…..kamu he-kin bagaimana pula?”

“kali ini aku tidak berhasil kongcu.” Jawab lelaki yang termuda diantara tiga orang itu, umurnya tiga puluh tahun sepantaran dengan Lai-san, sepertinya ia sedang terluka dalam

“kenapa kamu tidak berhasil?”

“ketika aku hendak menyusup kerumah Yang-taijin, seorang sastrawan memergokiku, lalu kami berkelahi, dalam dua puluh jurus aku ambruk dan mengalami luka.”

“lalu bagaimana kamu lepas dari sastrawan itu?”

“aku sebenarnya pingsan saat itu dan sastrawan itu menungguiku, setelah aku siuman ia menanyaiku.” “apa!? jadi kamu membocorkan keberadaan kita!?” bentak lai-san dengan mata berkilat

“tidak kongcu, untungnya sastrawan itu dapat kukelabui.” “mengibuli bagaimana, maksudmu?”

“aku megatakan padanya bahwa aku terpaksa sekali, karena anak, istri dan ibuku yang tua membutuhkan makan, dan aku mengatakan usahaku yang membuka dagangan alat rumah tangga terpaksa tutup karena bangkrut akibat tindakan semena-mena para hartawan yang memeras warga.”

“lalu apakah sastrwan itu percaya?”

“ia percaya, bahkan memberikan dua keping uang tembaga, dan menyuruhku pergi”

“hmh…untunglah kalau begitu, kalian tahukan bahwa kita hanya memafaat kesempatan makar yang dilakukan oleh koai-kok-lohap yang berkedudukan di khangsi, dan walaupun ia tidak marah dengan tindakan kita, namun kita harus licin mengeruk harta penduduk yang ada, namun kita tidak di anggap penjahat, jadi sebisanya kita menjauhi bentrokan fisik dengan para pendekar.” “lalu bagaimana sekarang kongcu?” tanya toan-li

“kita tidak bertindak dahulu sebelum menyelidiki siapa sastrawan yang tiba-tiba datang kekota ini.”

“sastrawan itu berumur lebih tiga puluh tahun kongcu, dan dia memakai sal warna hitam bersulam merak dari benang emas.”

“eh..sal katamu?” sela lai-san dengan wajah pucat

“kongcu kenapa? apa yang terjadi kongcu!?” tanya ketiganya bersamaan dan heran melihat wajah lai-san yang tiba-tiba pucat.

“aduh habislah kita …” keluh lai-san

“kongcu yang tenang, dan ceritakan kenapa kongcu jadi seperti ini?” dan tanpa mereka sadari Han-sian- hui telah berdiri di pintu panggung laksana dewi malam yang turun dari langit

“ternyata dibalik likoanmu inilah usahamu kongcu!” tegur sian-hui, empat orang itu melihat ke arah sian- hui, kontan lai-san berteriak

“mari kita ringkus wanita ini!” empat orang itu langsung menerjang, dengan gesit dan kuat sian-hui memapaki serangan empat lawannya.

Empat orang itu mengeluh karena tangan mereka terasa kesemutan setelah berbentur tangan dengan sian-hui, mereka hendak menyerang kembali, namun mereka sudah mendapat masing-masing dua tamparan, mereka terhuyung dan terlempar, muka mereka bergurat bilur memanjang bekas tamparan yang menggunakan kipas yang sedang berlipat, bilur itu pecah mengeluarkan darah dan perihnya luar biasa, terlebih batang hidung remuk dan cupu hidung sompal, bilur itu membentuk kali, dimulai dari pelupuk kedua mata hinga sudut kedua bibir robek berdarah.

“ampunkan kami hui-moi!” pinta lai-san dengan memelas sambil berlutut, tiga anak buahnya kontan mengikuti kelakuan lai-san

“angkat kepalamu lai-kongcu!” bentak sian-hui, lai-san langsung mengangkat kepala dengan tubuh menggigil karena takut dan rasa nyeri diwajahnya.

“sejauh mana engkau mengetahui misi koa-kok-lohap?” “aku tidak tahu persis han-lihap.”

“tapi engkau mengetahui akan makar koai-kok-lohap, bukan?”

“itu benar, tap aku hanya mendengar dengan seorang tai-ong yang menjadi anak buah koi-kok-lohap yang beroperasi di luar kota.”

“apa yang kamu tahu dari temanmu itu, ceritakan cepat!”

“di…dia mengatakan bahwa lima tahun lagi bengcu akan tewas ditangan tiga orang luar biasa, dan makar ini hanya permulaan untuk membuat bengcu sibuk.”

“apa dia mengatakan siapa tiga orang itu?” “ti…tidak lihap, dia tidak mengatakan padaku.”

“hmh…lalu tentang makar yang berlaku saat ini, bagaimana bentuknya?”

“dia mengatakan bahwa empat senior hek-to mengepalai makar ditiap wilayah, dan di wilayah ini dipegang oleh koai-kok-lohap dan berkedudukan di kota khangsi.”

Tiba-tiba sian-hui melepas papan sandaran kursi, dan kemudian mengambil moupit dari balik bajunya, sian-hui menulis sesuatu diatas papan itu. “kamu he-kin, cepat bawa papan ini dan temui sastrawan itu!” “ba-baik lihap.” sahut He-kin dan segera pergi.

“kalian tunggu sampai murid keponakanku datang mengurus kalian!” ujar sian-hui, dan dengan cepat tubuhnya berkelabat laksana menghilang saja.

Han-sian-hui kembali ke penginapan untuk istirahat dan tidur, he-kin mencari-cari dipenginapan sastrawan yang telah mengalahkannya, sudah tiga penginapan ia datangi, orang heran melihat adik seperguruan majikan mereka datang-datang bertanya seorang sastrawan sambil membawa papan bertulisan, dan akhirnya ia melihat sastrawan itu sedang minum di sebuah kedai dipinggiran taman kota yang malam itu sedang ramai, dan memang taman kota itu setiap malam selalu ramai karena banyak atraksi dan permainan yang disuguhkan sponsor taman hiburan itu.

kedai minum itu dipadati orang, dan ketika he-kin masuk, semua orang menatap heran, he-kin mendekati sastrawan yang berumur tiga puluh tiga tahun, namanya adalah Liu-sam.

“eh kamu, ada apa sicu kemari?”

“maaf taihap, aku hendak mengantar ini kepada taihap.” ujar he-kin sambil memberikan papan bertulisan itu, liu-sam menerima papan itu dan membaca tulisan yang tertera

‘sutit! uruslah lai-kongcu dan konco-konconya, dan bereskan tai-ong anak buah koai-kok-lohap yang beroperasi diluar kota, dan aku akan ke khangshi menemui “koai-kok-lohap”

Sukouwmu Han-sian-hui’

Liu-san segera keluar dan menarik He-kin keluar kedai

“bawa aku ketempat lai-kongcu!” perintahnya, He-kin mengangguk dan membawa Liu-sam kerumah Lai- kongcu

Lai-kongcu dan dua temannya segera menghadap Liu-sam “kamu lai-kongcu?” tanya liu-sam

“benar taihap, dan ampunkan kami.” sahut lai-san memelas

“sudah baik sukouwku tidak menurunkan tangan keras, sekarang katakan apa yang kalian lakukan sehinga sukouw memberi tanda salah pada muka kalian?”

“ka..kami telah menjarah harta para waga kota ini.” jawab lai-san

“hmh….kumpulkan semua barang jarahan kalian selama ini, sekaligus setengah dari hartamu!” “ta..tapi kenapa harta saya juga.” sahut lai-san

“kamu tidak mendengar apa yang ku katakan!?” bentak liu-sam, ketar-ketir hati lai-sam mendapat bentakan itu, lalu empat orang itu mengangkut barang jarahan selama ini yang disimpan diruang bawah tanah dikamar Lai-san.

Pada pagi harinya harta itu pun dikembalikan, dan setengah harta lai-san dibagi-bagikan pada warga miskin, kota wuhan gempar dengan peristiwa itu, han-sian-hui tidak mendengar keadaan itu, karena pagi- pagi sekali ia sudah jauh meninggalkan kota wuhan, larinya yang luar biasa cepat laksana kilat menyambar melintasi hutan dan bebukitan, jurang dan tebing terjal tidak menjadi halangan bagi adik tercinta sang bengcu ini.

Dua minggu kemudian, han-sian-hui sampai dikota khangshi, hari itu sudah sore, suara tangisan terdengar oleh telinga sian-hui yang tajam, suara itu dari dalam hutan ditepi jalan lebar yang hendak memasuki kota khangsi, han-sian-hui segera masuk kedalam hutan, seorang wanita muda dengan pakaian compang camping menagis sambil bersandar lemah disebuah pohon, mata sayu penuh air mata memandang kedatangan han-sian-hui

“cici, kau kenapa dan siapa yang telah berbuat ini kepadamu?” tanya sian-hui dengan tatapan iba. “tolonglalah aku..uuuu…uuuu…”

“pasti cici, aku akan menolongmu, marilah kugendong cici.” sahut sian-hui, dengan ringan sian-hui menggendong wanita itu.

“kemanakah aku harus mengantamu cici?” “uuu..uuuu…. aku tinggal diselatan kota.”

“baik….kuatkan hatimu cici, sebentar lagi cici akan sampai dirumah dan luka cici akan segera diobati.” ujar sian-hui dengan lembut menghibur, mendengar perkataan yang menghibur itu wanita itu terdiam dan hatinya terkejut ketika ia seperti terbang, dan sebentar saja mereka sudah sampai dipintu gerbang, lalu dengan petunjuk wanita itu mereka sampai kerumah seorang tihu.

Bu-tihu dan istrinya dengan haru menyambut putrinya yang sejak semalam hilang, Bu-ing nama wanita itu kemarin siang sedang berbelanja kepasar, baru saja ia keluar dari toko membeli minyak wangi dan bedak untuk riasannya, tiga orang menyergapnya saat melewati gang sepi, tiga orang itu membawanya keluar gerbang kota dan masuk kedalam hutan.

Setelah bu-ing siuman dari pingsannya, ia terkejut berada didalam hutan bersama tiga orang lelaki berwajah sangar menakutkan

“hehehe…manis…sudah seminggu kami mengincar tubuhmu yang denok aduhai itu.”

“ja..jangan…ganggu aku, to..tolong kasihani aku…pergilah kalian.” pinta bu-ing memohon, namun tiga orang itu tertawa-tawa sambil mulai meraba-raba tubuh bu-ing

“jangan..ttolooong….” jerit bu-ing, namun siapakah yang mendengar ditengah hutan itu, makin beringas tiga orang itu menegangi bu-ing

“breett..auh,,tidak,..tidak,,ja..jangan to,,hup…” bu-ing meronta dan hendak berteriak minta tolong, namun mulutnya langsung dibekap.

“aduh…sialan… buk…” tangan orang yang membekap mulutnya digigit, sehingga orang itu terkejut dan kesakitan, dan ia marah lalu meninju muka bu-ing, kepla bu-ing terasa pusing, pandangannya nanar, tapi tetap meronta, tiga orang itu makin geram dan marah, dan dua kali tamparan menghantam pipinya, ia merasa makin pening dan akhirnya ia pingsan.

Tiga orang yang sudah dikuasai iblis itu melampiaskan nafsu bejat mempermainkan tubuh bu-ing hingga larut malam, entah sudah berapa kali mereka menggilir tubuh bu-ing, bu-ing sendiri sudah tiga kali sadar dan pingsan lagi karena tekanan yang batin dan sakit tubuhnya yang dipermainkan, setelah hari pagi, mereka meninggalkan bu-ing yang pingsan, dan saat hari sudah siang, bu-ing siuman dan sadar, tubuhnya yang terkulai tidak bisa digerakkan, mukanya yang memar terasa nyeri, dia mengingat apa yang terjadi padanya, hatinya hancur dan remuk redam, ia berusaha bangkit dan berdiri, namun belum tegak ia berdiri tubuhnya limbung dan jatuh sehingga kepalanya terantuk pada pohon, bu-ing kembali pingsan.

Kemudian saat sore hari ia siuman, dan mencoba duduk, kembali hal yang menmpanya terbayang dipelupuk matanya, hatinya sedih dan putus asa, dan menangislah ia sekuat-kuatnya, dan saat itu Han- sian-hui mendengar tangisan itu dan datang menolong dan membawanya kembali kerumahnya.

“diamanakah lihap menemukan putri saya?” tanya bu-tihu setelah anaknya diantar kekamar dan seorang tabib sedang memeriksanya

“aku menemukan cici dihutan sebelah timur, loya.” “ah….malang benar nasib anakku.” keluhnya sedih.

“loya dan keluarga semoga tabah, musibah ini tidak dihendaki, tapi sudah merupakan garis hidup yang harus dijalani, mengeluhkan dan menyesalinya tiadak berguna sama sekali, hanya kerelaan menerima untuk saling menguatkan hati.” ujar han-sian-hui dengan lembut, bu-tihu memnadang wanita muda yang cantik ini, hatinya mandah dan takluk dengan kata-kata yang menyusup ditelinganya, kata-kata itu penuh kebenaran dan penuh hiburan pada hatinya yang nelangsa.

“siapa dan darimanakah engkau lihap?”

“aku han-sian-hui dan aku berasal dari kaifeng loya.”

“kata-katamu sangat kuat penuh hiburan han-siocia, terimaksih telah membawa anakku kembali dan terimakasih dengan kata-kata hikmat yang telah saya dengar.

“kembali kasih loya, sudah jamak bahwa antara sesama untuk saling tolong menolong.” “menginaplah disini han-siocia, tolong jangan ditolak.”

“baik…baiklah loya dan terimaksih.” sahut han-sian-hui, lalu bu-tihu meanggil seorang pelayan untuk membawa Han-sian-hui kekamar tamu.

Han-sian-hui segera mandi dan berganti pakaian, dan baru saja ia selesai berdadndan, seorang pelayan memanggilnya untuk makan, lalu ia pun keluar dari kamar dan mengikuti pelayan keruang kamar, diruangan itu sudah menunggu bu-tihu dan istrinya serta dua putra bu-tihu, yang sulung adalah bu-can berumur dua puluh tiga tahun, dan yang kedua adalah anak ketiga dari bu-tihu berumur tujuh belas tahun, namanya bu-hun, bu-ing adalah anak kedua dari bu-tihu.

“silahkan han-siocia, marilah kita makan!” ajak bu-tihu

“baik loya.” sahut han-sian-hui, lalu duduk dikursi yang telah disediakan, dan merekapun mulai makan, setelah selesai makan dan para pelayan mengangkati mangkok dan cangkir

“kenalkan han-siocia, ini adalah Bu-can putra pertamaku dan ini bu-hun putra ketigaku.” ujar bu-tihu memperkenalkan dua anaknya, sian-hui menjura hormat dan tersenyum ramah

“tentunya han-siocia seorang gadis kangowu yang banyak merantau dan berkelana, bukan?” “benar can-kongcu, tapi saya baru kali ini keluar dari rumah.”

“apakah kiranya han-lihap dapatkah mengatasi keadaan kota yang dirundung petaka ini?”

“dapat tidak bisa saya pastikan can-kongcu, tapi aku akan usahakan untuk mengatasinya, katakanlah kongcu petaka apa yang dihadapi kota ini.”

“seorang iblis menguasai kota ini dan membuat warga menjadi takut, han-lihap.” “dimanakah iblis itu can-kongcu?”

“dia berada di pavilion dipinggir telaga biru digerbang barat, tapi saya tidak menyarankan han-siocia kesana.”

“kenapa demikian can-kongcu?”

“maaf han-siocia, kamu demikian cantik dan lembut, sementara iblis itu demikian kasar dan menakutkan, julukanya yang memakai siluman saja sudah membuat roma merinding.”

“apakah julukannya koai-kok-lohap can-kongcu?” “hmh..benar , bagaimana han-siocia tahu?”

“karena aku memang hendak menemuinya can-kongcu.” “eh…untuk apa, kenapa han-siocia hendak menemuinya?” “sudah tugas kami untuk menghentikan kezaliman dan sepak terjangnya yang merugikan banyak orang.” “oh…begitu, apa kamu tidak takut celaka nanti han-siocia?”

“hihihi….can-kongcu tidak usah mencemaskanku, semoga saja aku dapat mengatasinya.” sahut han-sian- hui.

“semoga saja han-lihap berhasil membunuhnya sehingga kota ini kembali aman seperti sedia kala.” sela bu-hun

“benar, kita doakan saja agar han-lihap berhasil.” tambah bu-tihu

“doa loya dan keluarga sangat aku butuhkan, dan maaf loya dan hujin serta jiwi-kongcu, aku hendak kemar.”

“oh..silahkan han-siocia. tentunya engkau lelah setelah melakukan perjalanan panjang.” “terimakasih loya.” sahut han-sian-hui, lalu ia pun kembali kekamarnya.

Sesampai didalam kamar, han-sian-hui segera keluar dari jendela, dan dengan gerakan gesit dan ringan, ia menuju arah barat, dan tidak lama han-sian-hui sampai ditepi telaga biru, dan ia melihat sebuah pavilion mewah dan dijaga banyak anak buah, dengan gerakan yang halus dan ringan han-sian-hui menyusup ke areal pavilion, dua orang penjaga yang sedang meronda langsung disergap oleh han-sian-hui, dan sekali ketuk, dua orang itu pingsan.

Han-sian-hui masuk lebih dalam sambil melompat dan mengendap-endap “malam ini dingin sekali yan twako.”

“bukan malam ini saja yang dingin, kok-te, disini memang selalu dingin.” “tapi malam ini rasanya lebih dingin.”

“ah….aku merasa biasa saja, kok, kamu saja yang mungkin ingin cari tubuh hangat untuk dicumbui, hehehehe…..”

“memang sih, sudah sebulan aku hanya bertugas didalam, sementara twako baru tiga hari disini setelah enak-enak diluar sana.”

“hehhehe…tapi kan ada beberapa pelayan didapur, kok-te.”

“malam mana sempat twako, lohap sudah seminggu ada disini, kalua ia tidak ada tugas jaganya agak sedikit santai.”

“sepertinya ada dua tamu kita yang baru kok-te, siapakah mereka?” “mereka datang bersama lohap, keduanya adalah murid lohap.”

“ooh, begitu, eh..tuk….tuk…” dua orang itu terkejut melihat perempuan tiba-tiba datang melayang namun keterkejutan mereka hanya sesaat, karena keduanya sudah pingsan.

Han-sian-hui memasuki lorong yang menghubungkan dengan bangunan induk, bangunan induk dijaga sepuluh orang di bagian gerbang, dan sulitlah untuk melewatinya tanpa diketahui, karena hanya lewat gerbang itulah satu-satunya jalan masuk kedalam rumah induk, tanpa ragu han-sian-hui menerjang kedepan, sepuluh orang itu terkesiap.

“buk…tuk…tuk….” dalam satu gebrakan tiga orang sudah ambruk pingsan, tujuh orang itu terkejut melihat hasil serangan han-sian-hui yang hanya satu gebrakan itu, dan han-sian-hui tidak mau berlama-lama, ia menyerang dengan kecapatan luar biasa, sehingga empat orang ambruk lagi dengan tidak sadrkan diri, tinggallah tiga orang dengan nyali yang sudah menciut, tapi mereka boleh berlega, karen koai-kok-lohap dan kedua muridnya sudah berada ditempat itu. Murid kedua koai-kok-lohap langsung menyerang han-sian-hui, namun dia kelabakan karena tubuhnya langsung diterpa serangkum hawa kuat, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan supaya dia jangan terjatuh, namun gimana tidak, tubuhnya melayang keluar dari pagar hingga tubuhnya tercebur kedalam telaga, koai-lohap terkejut, melihat muridnya dalam sekali gebrak sudah terlempar dan tercebur kedalam telaga, dengan amarah ia menyerang han-sian-hui.

“dhuar…..” dua sin-kang bertemu, koai-kok-lohap terpental kedalam rumah dan melabrak sebuah lemari hingga hancur, sementara tubuh han-sian-hui hanya bergetar.

Dari adu sin-kang itu nyatalah bagaimana cianpwe hek-to ini masih kalah tenaga, koai-kok-lohap bangkit dengan sesak dalam dada, ia segera keluar dan menyerang dengan sangat cepat, pertempuran seru pun berlangsung cepat, tapi mau bagaimana, baik sin-kang maupun gin-kang pentolan hek-to ini kalah, dan lebih lagi ilmu silat yang han-sian-hui merupakan ilmu-ilmu pilihan, hingga dalam lima puluh jurus koai-kok- lohap terdesak hebat, murid pertama koai-kok-lohap segera masuk kedalam kencah pertarungan untuk membatu suhunya, dengan masuknya murid pertama ini tekanan yang mendesak koai-kok-lohap mengendur.

Serangan han-sian-hui terpecah, namun gerakan kipasnya luar biasa cepat dan kuat, gerakannya indah dan gerak tipu yang amat berbahaya, hingga hanya dua puluh jurus suhu dan murid itu dapat mengimbangi, selebihnya keduanya sudah kewalahan, terus terdesak mundur

“duk…bugh…bugh…tuk..” tangan koai-kok menangkis tendangan sian-hui, namun tubuh hui segera berbalik, dan kaki kirinya telak menghantam leher koai-kok-lohap, sehingga koai-kok lohap terhempas ketanah, lalu dengan gerakan luar biasa, sian-hui bersalto kebelakang dan kakinya meluncur ke arah si murid, si murid menangkap kaki sian-hui, dan hendak menghentakkannya ke tiang, namun sebelum niat itu dilaksanakan, tubuh sian-hui melipat sehingga tubuh si murid tertarik kedapan, dan sebuah ketukan gagang kipas menghantam keningnya.

Murid pertama koai-kok-lohap ambruk tewas dengan mata mendelik, karena kepalanya retak, hidung dan telinganya mengucurkan darah segar, koi-kok-lohap menatap sendu pada muridnya, hatinya ciut dengan kenyataan bahwa gadis muda ini dengan sangat mudahnya mengalahkan mereka, dalam segala hal ia kalah telak dibandingkan dengan gadis muda ini, koai-kok-lohap memejamkan mata untuk menerima serangan terakhir dari sian-hui, namun sian-hui hanya berdiri menatapnya, koi-kok-lohap membuka matanya.

“lohap! apa yang kalian rencanakan terhadap saudaraku siuaw-taihap!?”

“jangan kamu harap dapat informasi dariku, sebaiknya cepat jatuhkan tanganmu!”

“lohap! kamu sudah tidak berdaya, dan aku tidak akan menyerang orang yang tidak berdaya.” “lalu apakah engkau akan membiarkanku begitu saja?”

“benar, tapi kemungkinan kamu akan kusiksa untuk mengatakan siapa tiga orang yang kalian persiapkan untuk mencelakakan saudaraku.”

“hehehe…siksaan apa yang hendak kau lakukan pada tubuh tua ini?” tantang koai-kok-lohap, dan tiba-tiba ia memukul kepalanya hingga pecah, dan ia tewas seketika.

Han-sian-hui terkejut melihat kenekatan koai-kok-lohap yang tidak disangka-sangka itu, sehingga han- sian-hui tercenung sejenak, lalu sian-hui berbalik, dan ia melihat murid kedua kok-kok-lohap yang duduk lemas di pelantaran panggung, sian-hui menatapnya dengan tajam

“apakah kamu senekat pimpinanmu!? jika ia pukullah kepalamu hingga pecah!” bentak sian-hui, murid itu hanya menunduk dengan hati ciut

“hmh…kenapa kamu tidak lakukan!?” makin kuat suara bentakan sian-hui, sehingga membuat murid itu tersentak.

“a..aku tidak berani, ampunkan aku lihap.” “boleh…asal kamu mengatakan siapa tiga orang yang hendak mencelakakan saudaraku, siuaw-tauhap.” sahut sian-hui dengan nada dingin, si murid terdiam dan menunduk

“katakanlah sebelum habis kesabaranku!” “me…mereka adalah tiga murid dari ang-gan-kwi.” “ang-gan-kwi, dimana mereka sekarang!?” “mereka ada di lembah merak kota Tianjin, lihap.”

“hmh….bagus, kamu sudah selesai dengan saya.” ujar sian-hui dan segera berkelabat meninggalkan pavilion.

Sian-hui kembali kerumah bu-tihu, dengan mudah ia masuk kembali ke dalam kamarnya, dan tidur dengan pulas, keesokan harinya, setelah mandi sian-hui keluar dari kamarnya, dan sarapan pagi bersama keluarga bu-tihu

“apa rencana han-siocia hari ini?”

“rencana saya hendak melanjutkan perjalanan can-kongcu.” “hmh…jadi kamu tidak akan pergi kemarkas siluman itu, kan?” “pagi ini tidak, jadi urusan saya disini sudah selesai.” “hehehe….saya maklum han-siocia dengan tindakanmu.” “maklum bagaimana maksudnya can-kongcu?”

“kamu hendak pergi, tentu karena tahu diri tidak akan mampu mengalahkan siluman itu.” “begitukah menurutmu, kongcu?”

“benar han-siocia, tubuhmu yang lemah gemulai itu bagaimana akan menghadapi siluman, sementara sudah beberapa taihap mati ditanngan siluman itu, bahkan dua kauwsu terkenal dikota ini dihabisi dengan mudah oleh siluman itu, hmh…kota ini memang sudah tidak ada harapan.” ujar bu-can dengan nada putus asa.

“apa yang harus kukatakan can-kongcu, tapi setiap kejahatan akan tetap kalah dengan kebaikan, kebatilan akan hancur oleh kebenaran, dan oleh karena itu sebaiknya kita tetap optimis bahwa tirani siluman itu akan berhenti dan hilang dari kota ini.”

“benar apa kata han-siocia, kita hanya punya harapan, semoga saja akan ada pendekar yang akan menghabisi orang-orang jahat itu.” sela Bu-tihu

“hmh…sampai kapan kita terus berharap, sepertinya aku tak yakin?” bantah can-kongcu, sambil berdiri dan meninggalkan ruang makan.

Setelah sarapan pagi, han-sian-hui mohon pamit pada keluarga bu-tihu, bu-tihu tidak juga Manahan dan mengucapkan terimakasih pada bantuan sian-hui membawa anaknya yang malang kembali kerumahnya, han-sian-hui dengan cepat meninggalkan kota khangshi, semnatar pada siang harinya kota khangshi gempar dengan cerita heboh yang luar biasa, cerita matinya siluman penghuni pavilion telaga bitu menyentak warga, dan tidak terkecuali bu-tihu dan keluarga, can-kongcu tekejut, dan bahkan saat sore, berita itu bertambah, bahwa yang membunuh siluman itu adalah seorang perempuan muda, dan kejadiannya semalam.

“apakah mungkin han-siocia yang melakukannya can-ko?”

“ah…..tidak tahulah hun-te, masih banyak wanita muda kalangan kangowu yang mungkin saja dikota ini semalam.” “tapi aku yakin bahwa han-siocia yang melakukannya, can-te, karena dia sudah melakukan tugasnya, sehingga ia pergi dari kota ini.”

“tapi dia sendiri yang mengatakan tidak akan pergi kesana.”

“untuk apa dia pergi tadi pagi, kalau semalam ia sudah membunuh siluman itu.” sahut bu-hun, bu-can terdiam dan tercenung, dan hatinya sependapat dengan perkatan adiknya.

“jika memang benar ia yang telah membunuh siluman itu, alangkah menyebalkan sikap saya padanya.” “Can-ko sih, kalau bicara asal nyaplak saja,.”

“ah….sudahlah hun-te, lagian dia juga sudah pergi.”

“nah… kumat lagi, ia memang sudah pergi, dan sikapmu ini tidak membuat dia sebal, tapi aku jadi ikut sebal.” sahut can-hun, sambil pergi meninggalkan bu-can yang melonggo sendiri.

Kota lamhong malam itu hening dan mencekam, sudah hampir dua tahun keadaan kota ini tidak lagi nyaman, kota ini dalam katakutan karena cengkraman tiga orang iblis penghuni “hong-teng” (puncak hong) dua li jauhnya dari gerbang kota sebelah barat, tiga iblis yang dimaksud adalah tiga orang pentolan hek-to bawahan dari hek-sha-mo, yang pertama di sebut “ang-bin-moko (setan jahat muka merah) wajahnya dicat nerah, kemudian yang kedua “hek-bin-moko” (setan jahat muka hitam) wajahnya dicat hitam, dan yang ketiga lelaki yang wajahnya di cat hijau, disebut (jeng-bin-moko) setan jahat muka hijau).

Tiga iblis ini berdiam di puncak hong, dan sekali sebulan mereka masuk kedalam kota untuk mengambil mangsa, berupa harta dan tiga wanita cantik, demikianlah malam itu merupakan malam menakutkan bagi penduduk lam-hong, sehingga sejak sore, semua penduduk sudak mengunci diri dalam rumah, dengan hati berdebar cemas dan takut, saat itu dari gerbang sebelah timur terlihat sosok lelaki memasuki gerbang, lelaki itu adalah Han-liang-jin, dengan langkah mantap ia menapaki jalan kota yang terbuat dari batu bata, dan sampai sejauh itu ia memasuki kota, tidak ada seorang pun manusia yang yang ia jumpai.

“hmh..kota ini bukan kota mati.” pikirnya, karena pendengaran yang tajam dan matanya yang awas, menangkap kehidupan didalam rumah, lalu setelah memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk memahami keadaan yang janggal itu, tiba-tiba han-liang-jin melompat ke atas atap, dan ia rebah untuk mengintai hal-hal yang mungkin mencurigakan, dan satu jam berlalu, liang-jin hendak bangkit, namun ia lamgsung merunduk karena tiga bayangan tiba-tiba berkelabat dan melintasi jalan raya, dengan hat-hati liang-jin mengikuti tiga orang tersebut.

Tiga orang itu masuk ke sebuah halaman rumah yang tergolong besar, rumah itu dihuni oleh Lou-taijin, seorang pegawai bagian keuangan, Han-liang-jin mendengar helaan nafas tegang dari dalam rumah, memang dua puluh pengawal rumah lou-taijin, sedang bersiap dan waspada menanti segala kemungkinan, dibagian dalam pintu utama dijaga ketat oleh enam orang, dibagian pintu samping ada tiga orang, begitu huja dipintu baguan kakan, sementara dibelakang, empat orang menjaga pintu belakang, dan empat orang lagi berjaga di pintu kamar lou-taijin sekeluarga.

“hehehe….ang-bin, rumah taijin ini dijaga ketat, bagaimana menurutmu?”

“biarkanlah ia berusaha, tapi yang jelas tiga iblis dihalangi bagaimanapun tetap akan mendapat hal yang diincar dan disukainya.”

“bagaimana menurut kalian, kita amsuk secara berterangan atau main mkucing-kucingan.” sela ang-jeng sambil menatap kiri kanan.

“sevaiknya kita masuk saja, dan gondol harta serta putri taijin dan anak mantunya.” sahut hek-bin.

“hehehe….mari kita berpesta!” teriak ang-bin, dan tanganya dikibaskan, sehingga serangkum cahaya melesat hendak membobol pintu utama.

Namun sebelum sebelum cahaya itu menjebol pintu, sebuah kekuatan menghantam cahaya itu hingga redup dan pudar “bangsat..!, tunjukkan dirimu siapa yang berani main-main dengan tiga iblis!” teriaknya saking gemas dab kesalnya, namun tidak ada waban, sehingga ketiganya clingukan menatap keadaan disekitar mereka, karena kesal jeng-bin melesat kearah pintu utama, dan kakinya sudah mengarah lurus hendak melabrak pintu

“aduuh…” jeritnya, dan tubuhhnya limbung, untungnya ia masih dapat menguasai kuda-kudanya hingga ia tidak jatuh.

“bangsaat…kalau ada nyali kenapa tak tampakkan diri!” teriak hek-bin dengan nada marah, dan tiba-tiba atap rumah turun bayangan hitam, dan berdiri keren dihadapan mereka

“katakan! siapa dirimu!” bentak hek-bin, menatap lelaki tampan berpakaian sastrawan itu.

“aku liang-jin, dan kalian tentu pengacau yang telah mencengkram kota ini dengan kejahatan-kejahatan kalian.

“sudaj tahu demikian masih berani berdepan dengan tiga iblis, apa nyawamu rangkap siucai bodoh!?” sahut hek-bin dengan nada menantang.

“nyawaku bukan urusanmu muka hitam, jadi jangan belagu entar mati kutu.”

“dasar siucai bangsat! sela hek-bin sambil menyerang dengan amarah, terjangan demikian cepat, namun bagi sin-san-taihap (pendekar kipas sakti) serangan itu mudah untuk dielakkan, dan bahkan ketika ssrangan itu lewat disampingnya, sebuah cengkraman masuk ke lambung, dan hek-bin melompat ke samping, namun…

“buk….augh…” lambung hek-bin tetap jadi sasaran sehingga membuat hek-bin menjerit kesakitan.

Dua iblis lainnya, lansung menyerang untuk membantu hek-bin, dengan lincah liang-jin mengelak dan menangkis serangan tiga lawannya, yang tingkat ilmunya lumayan tinggi itu,. Orang-orang didalam menonton dari celah lubang angin, hati mereka sedikit lega, melihat bahwa sasstrawan itu memihak pada mereka, dan hati mereka menjadi gembira, setelah benar-benar memperhatikan orang yang melawan tiga iblis, seorang dari mereka berbisik gembira

“bukankah sastrawan itu adalah “sin-san-taihap” lao-te?

“oh..benar sekali twako, hehehe…kena batunya tiga iblis itu sekarang.” sahut yang lain.

Pertarungan diluar makin cepat, lingkaran kipas yang mengurung senjata tiga iblis itu maklin luas sehingga mengurung gerakan tiga iblis, dan pada jurus ke enam puluh, jeng-bin menjerit karena daun kipas merobek urat nadi ditangannya, pedangnya jatuh ketanah dan darah mengucur dari pergelangan tangan, dan empat gebrakan berikutnya, sebuah tendangan telak menghantam dada hek-bin, tubuh hek-bin terlempar dua tombak keseberang jalan, dan fatal bagi ang-bin yang posisinya terpojok ke didnding pagar akibat ancaman sabetan daun kipas sebelumnya, tidak dapat mengelak saat gagang kipas kembali berkiblat ke arahnya dalam satu gerakan memutar dari sin-san-taihap setelah kakainya menghantam dada hek-bin “tuk…prook..” tulang kepala ang-bin remuk, dia limbung dan ambruk ketanah dengan hidung dan telinga mengucurkan darah, ang-bin tewas dengan mata mendelik.

Jeng-bin yang melihat rekannya ambruk dan tidak lagi bergerak, makin pucat wajahnya saat matanya beradu pandang dengan Liang-jin, hatinya ketar-ketir, sementara diseberang jalan hek-bin tergeletak pingsan setelah dua kali muntah darah

“katakan! kalian siapa dan apa yang telah kalian perbuat dengan kota ini!” “a..ampunkan selembar nyawaku taihap, ku mohon…” pinta jeng-bin sambil berlutut “katakan dulu siapa kalian!” bentak liang-jin

“kami adalah “see-kwi-sam” (tiga iblis dari barat), dan ka..kami te..telah beroperasi disini sudah lebih setahun.” Jawab jeng-bin terbata-bata. “kalian telah menjadi momok bagi kota ini, dan kalian pasti bagian dari makar yang merebak diseluruh wilayah bukan?”

“be..benar taihap?” jawab jeng-bin dan tiba-tiba pintu rumah terbuka dan tujuh orang pengawal Lou-taijin

“kami berterima kasih pada “sin-san-taihap” yang telah menyelamatkan kota ini dari cengkraman tiga bajingan ini.” kata orang yang menjadi pimpinan pengawal lou-taijin, sementara tiga orang dari mereka menyalakan beberapa lampion yang tergantung didepan rumah, dan halaman rumah itu pun terang, demikian juga lampion dalam rumah juga menyala terang.

“sama-sama ciangbun, dan setelah aku menanyai orang ini, aku akan serahkan mereka e tangan ciangbun.”

“hehehe…silahkan taihap!” sahut si-ciangbun

“katakan padaku, bagaimana pola makar yang kalian lakukan diseluruh wilayah!” ujar liang-jin kembali menatap jeng-bin, jeng-bin makin gelisah dengan keadaannya sehingga ia terdiam

“cepat katakan!” bentak liang-jin

“ba..baik taihap, se..sebenarnya pola ini buah pikiran empat senior kami.” “siapa-siapa mereka itu?”

“yang pertama adalah hek-kwi, hek-sha-mo, koi-kok-lohap, dan coa-hiat-kwibo.” “diamana mereka sekarang!?”

“mereka berada diwilayah masing-masing yang telah disepakati.” “untuk wilayah barat ini, siapa dari seniormu yang menguasai?” “untuk wilayah ini di tangani oleh hek-sha-mo.”

“hmh…..dimana sekarang hek-sha-mo?” “hek-sha-mo berkedudukan di kota Lijiang.” “dimananya di kota lijiang?”

“di “coa-lim” (hutan ular) sebelah selatan kota.”

“baik…dan sekarang ciangbu, aku serahkan orang ini, dan dua orang rekannya tolong dikuburkan.” ujar liang-jin, dan memang benarlah bahwa hek-bin juga sudah meregang nyawa dengan rongga dada remuk.

“teriumaksih sin-san-taihap, dan marilah masuk kedalam untuk istirahat, dan kalian masukkan jeng-bin-kwi ke penjara, dan kuburkan dua rekanya!” perintah si-ciangbu pada lima orang bawahannya, lalu si-ciangbu membawa liang-ji kedalam rumah dan bertemu dengan lou-tai-jin

“terimakasih taihap, alangkah lega dan bahagianya hati kami setelah kota ini bebas sari cengkraman tiga iblis itu.”

“sama-sama taijin, dan sudah hal yang patut yang saya lakukan taijin.” sahut Liang-jin. “lalu apa yang hendak taihap lakukan selanjutnya?”

“karena keadaan disini sudah aman, saya berencana kekota lijiang yang kemungkinan mengalami nasib yang sama dengan kota ini.”

“memang benar taihap, ada tujuh kota di wilayah berat ini yang menjadi sasaran para durjana itu, apakah taihap juga akan membebaskan kota-kota itu dari tirani yang mencengkram warganya?” “bukan aku taijin, tapi yang jelas, formasi para pendekar akan menelusuri kota-kota tersebut.” “maksudnya para pendekar telah bersatu padu turun tangan untuk mengatasi keadaan ini?” “benar sekali tai-jin, dan saya seorang dari bagian itu.”

“ooh….begitu rupanya, sungguh ini merupakan kabar gembira yang sangat melegakan hati, semoga situasi di wilayah ini cepat teratasi oleh para pendekar.” sahut lou-taijin dengan wajah cerah dan senang.

“benar taijin, kita doakan saja, semoga keadaan ini cepat kembali normal.” Ujar liang-jin, setelah bercakap- cakap dengan lou-tai-jin sampai jauh malam, kemudian liang-jin istirahat, dan baginya disediakan kamar untuk istirahat dan tidur dirumah lou-taijin.

Keesokan harinya Han- Liang-jin pamit pada lou-taijin untuk melanjutkan perjalan, dengan rasa puas dan bahagia lou-taijin menghadiahkan seekor kuda pilihan pada liang-jin, Liang-jin tidak enak untuk menolak, maka kuda pilihan itu diterimanya, dengan menunggang kuda tinggi kekar itu liang-jin keluar dari kota lamhong, sal warna hitam yang tersampir di bahunya melambai-lambai saat kuda itu berlari cepat melintasi jalan tanah, suara bergedebug menggema di sela-sela larinya yang kencang.

Tiga minggu kemudian sampailah Han-liang-jin kekota Lijiang, keadaan kota nampak lesu, wajah cemas dan gelisah tergambar jelas diwajah para penduduk, kota yang dulunya ramai dan sibuk terlihat lengang, dan hanya beberapa toko yang kelihatan terbuka, salah satunya likoan yang dimasuki oleh lian-jin, seorang pelayan datang menyambutnya dan mempersilahkan duduk

“tolong makan siang dengan lauk ayam goreng dan sayuran capcai, twako!” ujar liang-jin ramah, pelayan segera berbalik untuk mengambil makanan yang dipesan, lalu dengan cekatan ia menghidangkan dimeja liang-jin.

“kota ini sepi sekali twako!”

“benar siucai, sudah lebih setahun keadaan kota seperti ini.” “apa yang terjadi twako?”

“warga kota ini benasib sial sejak kemunculan iblis yang bercokol di hutan sebelah selatan.” “apa yang dilakukan iblis yang dimaksud twako pada penduduk kota?”

“setiap minggu mereka datang memasuki kota dan berbuat sewenang-wenang, dan dua hari yang lalu mereka datang dan membunuh beberapa warga setelah mengambil hartanya.”

“apakah hutan disebelah selatan itu bernama hutan ular?” “benar siucai, bagaimana siucai tahu?”

“aku mendengarnya dalam perjalanan kesini.”

“siucai kenapa kesini, kota ini berbahaya dan bisa-bisa siucai akan jagi korban disini.”

“tidak apa-apa twako, aku juga hanya sekedar lewat, dan setelah makan aku akan melanjutkan perjalanan.” sahut liang-jin senyum ramah.

Setelah selesai makan, liang-jin membayar makanan dan keluar dari likoan, dengan menunggang kudanya, kudanya berjalan lambat menyusuri jalanan kota menuju gerbang selatan, setelah keluar dari gerbang selatan kudanya lari congklang, liang-jin mengawasi keadaan sekitarnya, setalah satu jam kudanya lari congklang, dipinggir sebuah hutan ia dicegat sepuluh orang dengan wajah sangar mengancam.

“heh sastrawan  tengik!  cepat tinggalkan kuda dan barang bawaanmu!” bentak seorang lelaki botak bertubuh kekar “heh..botak jelek, apakah hutan ini yang dinamakan hutan ular!?” sahut liang-jin “bueh..bangsat di ancam malah menghina.” ujar si botak dengan mata berkilat tajam “botak! kenapa tidak jawab pertanyaanku malah mencak-mencak tidak karuan.”

“sial…ringkus kutu buku tidak berguna ini!” teriak si botak, sembilan orang rekannya bergerak menerjang ke arah liang-jin, tetapi liang-jin mengibaskan kipasnya dan serangkum hawa sakti menerpa kuat sehingga tiga orang terjungkal, dan yang lainnya undur terkejut.

“sial…kenapa mundur, cepat tebas kepalanya! teriak si botak, namun enam orang itu meragu, dan tiba-tiba liang-jin melompat dari kudanya dan meluncur ke arah si botak, si botak dengan bringas melompat menyambut liang-jin

“plak…ih…bug..bug…agh…” kepala si botak dikemplang liang-jin, dan dua pukulan telak bersarang pada bahu dan perut sio botak, si botak melenguh terbungkuk merasakan guncangan pada perutnya yang nyeri, mukanya berkedut manahan sakit pada bahunya yang ngilu dan perutnya seperti mau masuk kerongga dadanya, sehinga dadanya sesak luar biasa.

Enam orang bawahannya melonggo dengan hati kecut dan wajah pucat pias “cepat bawa aku menemui pimpinanmu hek-sha-mo!” bentak liang-jin pada si botak

“hahaha..hahaha…siapa yang berani mati berurusan dengan hek-sha-mo!” sahut sebuah suara, dan tawa itu mengandung daya serang luar biasa, karena bisa memecahkan gendang telinga, namun suara tawa itu tidak ada pengaruhnya bagi liang-jin

“hek-sha-mo keluarlah! hegh….” sahut liang-jin membalas, dan kontan pemilik tawa terhenti dan terdengar seperti kesembelit, dan liang-jin langsung bergerak kedalam hutan ke arah suara yang tersemblelit, dan liang-jin berhadapan dengan kakek berjubah hitam dan lima orang tangan kanannya.

Wajah kakek itu pucat akibat bentakan suara liang-jin yang membalas suara tawanya, dari adu kekuatan ini saja, hek-sha-mo tahu bahwa ia tidak akan menang dengan lawan muda ini

“apakah aku berhadapan dengan murid sin-siucai-bukoan?” “benar, dan apakah kamu orang tua yang disebut hek-sha-mo?”

“hmh……sudah tingkat keberapakah kamu di jajaran murid-murid siauw-taihap?”

“aku tidak tahu tingkat yang kamu maksud orang tua, dan aku tidak perduli apa perlunya bagimu menanyakannya, yang jelas sekarang kau harus mempertanggung jawabkan keberutalan kamu yang menyebar kejahatan di kota lijiang.”

“seraang..!” teriak hek-sha-mo pada lima orang pembantunya, lalu enam orang itu menyerang dengan luar biasa cepat, pertempuran pun berlangsung dengan ramai, keroyokan enam orang itu lumayan kuat, namun yang mereka hadapi bukan orang lemah, tapi sin-san-taihap putra dari siauw-taihap musuh besar mereka, dengan gesit liang-jin menghadapi keroyokan hebat itu.

Hek-sha-mo mengerahkan seluruh kemampuan itu mendesak liang-jin, kerja sama dengan lima pembantunya membuat benteng pertahanan yang kuat, hingga sampai tujuh puluh jurus, han-liang-jin masih belum mendapat celah untuk melemahkan formasi keroyokan itu, dan sepuluh jurus kemudian liang- jin menngambil moupit dari balik bajunya, ilmunya kwi-hut-san-sian digabung dengan ilmu in-hua-bun-pit, dan serangan itu amat kuat dan dahsyat, hingga dalam sepuluh jurus

“beret..tuk….crass….tuk…” dua pembantu hek-sha-mo ambruk meregang nyawa, yang satu urat lehernya putus dirobek daun kipas, dan juga kepala pada belakang telinga kena totolan moupit, sementara seorang yang lain telinganya putus di sabet daun kipas dan totolan moupit menghantam keningnya.